--> -->

Taiko Bab 12 : Menjerat Si Macan

Bab 12 : Menjerat Si Macan

TAHUN itu tidak ada serangan mendadak lagi dari pihak Mino. Sementara itu, Tokichiro hampir selesai dengan pekerjaan interior serta pekerjaan garis pertahanan luar yang masih tersisa. Pada awal bulan pertama di tahun berikutnya, ia, disertai Koroku, menghadap Nobunaga untuk mengucapkan selamat Tahun Baru, sekaligus memberikan laporan.

Selama Tokichiro pergi telah terjadi perubahan besar. Rencana yang pernah diusulkannya ternyata diterima. Benteng Kiyosu, yang memiliki kekurangan dari segi letak maupun persediaan air, telah ditinggalkan. Nobunaga memindahkan tempat kediamannya ke Gunung Komaki. Para penduduk kota Kiyosu pun hijrah bersama junjungan mereka, dan sedang membangun kota baru di kaki Benteng Komaki.

Ketika Nobunaga menerima Tokichiro di bentengnya yang baru, ia berkata, "Aku telah berjanji. Kau boleh menempati Benteng Sunomata, dan upahmu kunaikkan menjadi lima ratus kan." Menjelang berakhirnya pertemuan mereka. Nobunaga memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan memberikan nama baru pada pengikutnya yang telah berjasa. Mulai saat itu Tokichiro akan dipanggil Kinoshita Hideyoshi. "Kalau kau sanggup membangunnya, benteng itu milikmu," begitulah janji Nobunaga semula. Tapi ketika Hideyoshi kembali untuk melaporkan bahwa pembangunan benteng telah selesai. Nobunaga hanya berkata. "Kau boleh menempati Bentcng Sunomata." dan tidak menyinggung soal kepemilikan. Sebenarnya tak banyak bedanya, tapi Hideyoshi menganggapnya sebagai isyarat bahwa kemampuannya untuk menjadi komandan benteng belum terbukti. Hal ini disimpulkannya ketika mendengar bahwa Koroku yang barubaru ini menjadi pengikut marga Oda berkat rekomendasi Hideyoshi ditugaskan di Sunomata sebagai pembantu Hideyoshi. Tetapi Hideyoshi bukannya mendongkol karena sikap junjungannya, melainkan berkata. "Dengan segala kerendahan hati. Tuanku, daripada menerima upah lima ratus kan yang hendak tuanku anugertahkan, perkenankanlah hamba merebut tanah dengan nilai yang sama dari Mino. Setelah memperoleh izin Nobunaga, pada hari ketujuh di tahun yang baru Hideyoshi kembali ke Sunomata.

"Kita membangun benteng ini tanpa menyebabkan

satu pun pengikut Yang Mulia mengalami cedera, dan tanpa menggunakan satu pun pohon atau batu dari wilayah kesatuan Yang Mulia. Barangkali kita juga bisa merebut tanah dari tangan musuh dan hidup dengan upah dari para dewa. Bagaimana menurutmu, Hikoemon?"

Koroku telah melepaskan nama lamanya, dan sejak Tahun Baru, menggantinya menjadi Hikoemon.

"Menarik juga." Hikoemon membalas. Kini ia sepenuhnya setia pada Hideyoshi. Ia bersikap seolaholah ia pengikut Hideyoshi, dan sama sekali melupakan hubungan mereka sebelumnya.

Dengan mengerahkan pasukannya setiap kali ada kesempatan, Hideyoshi menyerang daerah-daerah sekitar. Tentunya tanah yang berhasil ia rebut semula merupakan bagian dari Mino. Tanah yang ditawarkan Nobunaga padanya bernilai lima ratus tapi tanah yang ditaklukkan Hideyoshi bernilai lebih dari dua kali lipat.

Ketika Nobunaga mengetahui ini, ia memaksakan senyum. "Si Monyet itu saja sudah cukup untuk merebut seluruh Provinsi Mino. Ternyata ada orang di dunia ini yang tidak pernah mengeluh."

Sunomata telah diamankan. Nobunaga merasa seolah-olah Mino sudah jatuh ke tangannya. Tetapi meski mereka menyangka telah berhasil menggeser perbatasan Mino, pusat kekuatan marga Saito, yang dipisahkan oleh Sungai Kiso dari Owari, tetap tak terusik.

Dengan memanfaatkan benteng baru di Sunomata sebagai pangkalan, Nobunaga dua kali mencoba menembus pertahanan Mino, tapi gagal. Ia merasa seperti menghantam dinding besi. Namun ini tidak mengejutkan bagi Hideyoshi maupun Hikoemon. Bagaimanapun, kali ini pihak musuh bertempur untuk mempertahankan nyawa. Pasukan Owari yang kecil takkan mungkin mengalahkan Mino dengan taktik-taktik biasa.

Dan masih ada lagi. Setelah pembangunan benteng selesai, pihak musuh menyadari kelalaian mereka dan mempetajari Hideyoshi dengan lebih saksama. Monyet ini muncul entah dari mana, dan meskipun ia tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh marga Oda, ia jelas pejuang yang hebat dan panjang akal, yang tahu bagaimana menggerakkan anak buahnya. Reputasinya justru lebih cepat menanjak di mata pihak musuh daripada di mata orang-orang Oda, dan akibatnya pasukan musuh semakin memperkuat pertahanan mereka. Orang-orang Saito menyadari bahwa mereka tak boleh lalai lagi.

Setelah mengalami dua kekalahan, Nobunaga mundur ke Gunung Komaki untuk menanti penghujung tahun. Tapi Hideyoshi tidak menunggu. Dari bentengnya ia dapat memandang Dataran Mino sampai ke Pegunungan Tengah. Berdiri dengan tangan terlipat, ia bertanya dalam hati. "Apa yang harus kita lakukan dengan Mino?" Pasukan besar yang dikerahkannya tidak bermarkas di Gunung Komaki maupun di Sunomata. melainkan di dalam benaknya. Begitu turun dari menara jaga dan kembali ke ruangannya, Hideyoshi menyuruh Hikoemon menghadap.

Hikoemon muncul seketika. dan bertanya. "Apa yang dapat hamba lakukan untuk tuanku?" Tanpa mcngindahkan hubungan mereka sebelumnya, ia memberi hormat pada laki-laki yang lebih muda itu.

"Mendekatlah sedikit." "Dengan izin tuanku. "Yang lain boleh pcrgi sampai aku memanggil kalian." Hideyoshi berkata kepada para samurai yang mengelilinginya. Kemudian ia berpaling pada Hikoemon. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

"Baik. Apa itu?"

"Tapi pertama-tama," Hideyoshi berkata sambil merendahkan suara. "kurasa kau lebih mengenal kondisi Mino daripada aku. Menurutmu, di mana letak dasar kekuatan Mino, yang membuat kita tak dapat tidur nyenyak di Sunomata?"

"Pada orang-orang mereka yang paling mampu. hamba rasa."

"Pada orang-orang yang paling mampu. Jadi, pasti tidak berkaitan Saito Tatsuoki."

"Tiga Serangkai dari Mino mengucapkan sumpah setia pada masa ayah dan kakek Tatsuoki."

"Siapa Tiga Serangkai itu?"

"Hamba rasa tuanku pasti sudah mendengar kabar mengenai mereka. Ada Ando Noritoshi, komandan Benteng Kagamijima." Hideyoshi meletakkan satu tangan pada lutut dan menjulurkan satu jari sambil mengangguk. "Iyo Michitomo, komandan Benteng Sone."

"He-he." Jari kedua.

"Dan Ujiie Hitachinosuke, penguasa Benteng Ogaki." Jari ketiga.

"Ada lagi?"

"Hmm." Hikoemon memiringkan kepala. "Selain mereka, masih ada Takenaka Hanbei. Tapi sudah beberapa tahun terakhir ini dia menghentikan pengabdiannya pada marga Saito, dan hidup menyendiri di Bukit Kurihara. Hamba rasa tuanku belum memperhitungkan dia."

"Hmm, kalau begitu, pertama-tama kita bisa menyimpulkan bahwa Tiga Serangkai itu merupakan tonggak utama kekuatan Mino. Betulkah itu?"

"Hamba kira begitu."

"Itulah yang ingin kubicarakan denganmu. Menurutmu, adakah cara untuk merobohkan tonggak itu?"

"Hamba menyangsikannya," Hikoemon menanggapi. "Laki-laki sejati adalah laki-laki yang berpegang teguh pada ucapannya. Dia tidak tcrgoda oleh nama dan kemasyhuran. Sebagai contoh, seandainya Tuanku diminta mencabut tiga gigi sehat, tuanku tentu takkan melakukannya, bukan?"

"Masalahnya tidak sesederhana itu. Pasti ada jalan...." Hideyoshi menjawab perlahan-lahan. "Pasukan musuh beberapa kali melakukan serangan pada waktu kita sedang membangun benteng, tapi ketika itu ada satu jendral musuh yang tidak berbuat apa-apa."

"Siapa itu?"

"Osawa, komandan Benteng Unuma."

"Ah, Osawa Jirozacmon, si Macan dari Unuma." "Orang itu... si Macan... mungkinkah kita bisa

menghubungi dia melalui seorang kerabatnya?" "Osawa mcmpunyai adik laki-laki, namanva Mondo." ujar Hikoemon. "Sudah beberapa tahun adik hamba, Matajuro, maupun hamba sendiri, menjalin hubungan baik dengannya."

"Ini berita bagus." Hideyoshi melampiaskan kegembiraannya dengan bertepuk tangan. "Di mana tempat tinggal Mondo ini?"

"Kalau hamba tidak salah, dia mengabdi di kota Inabayama."

"Utus adikmu sekarang juga. Moga-moga saja dia bisa menemukan Mondo."

"Kalau perlu, hamba sendiri yang akan pergi," jawab Hikoemon. "Apa rencana tuanku?"

"Dengan menggunakan Mondo. aku ingin menjauhkan Osawa dari marga Saito. Setelah itu, aku akan memanfaatkan Osawa untuk mcmisahkan Tiga Scrangkai dari Mino satu per satu, persis seperti mencabut gigi."

"Hamba ragu apakah tuanku sendiri dapat melakukannya, tapi untung saja Mondo tidak seperti kakaknya, dan sangat memperhatikan keuntungan pribadi."

"Tidak. Mondo saja tidak cukup untuk membujuk si Macan dari Unuma. Kita memerlukan pemain lain untuk memasukkan harimau itu ke dalam kerangkeng. Dan kupikir kita bisa menggunakan Tenzo untuk itu." "Bagus! Tapi rencana apa yang telah tuanku siapkan

untuk mereka bcrdua?"

"Begini, Hikoemon." Hideyoshi bergerak mendekat dan membisikkan rencananya ke telinga Hachisuka Hikoemon.

Sesaat Hikoemon menatap Hideyoshi. Rambut Hideyoshi dan rambutnya sendiri sama-sama hitam, jadi dari mana ide gemilang itu muncul? Ketika membandingkan kecerdikan Hideyoshi dengan dirinya sendiri, Hikoemon terkagum-kagum.

"Hmm, aku ingin Matajuro dan Tenzo segera mulai bergcrak." Hideyoshi berkata.

"Hamba mengerti. Tapi mereka akan menyusup ke wilayah musuh. Jadi mereka harus menunggu sampai tengah malam sebelum menyeberangi sungai."

"Kuminta kau menjelaskan rencana ini secara terperinci pada mereka, lalu memberikan perintah selanjutnya."

"Tentu, tuanku."

Setelah tahu apa yang harus dilakukannya. Hikoemon mengundurkan diri dari ruangan Hideyoshi. Saat ini, lebih dari setengah pasukan di benteng terdiri atas bekas ronin dari Hachisuka. Kini mereka telah menetap dan menjadi samurai.

Adik Hikoemon, Matajuro, dan kcponakannya, Tcnzo, menerima perintah dari Hikoemon, menyamar sebagai saudagar dan meninggalkan benteng malam itu untuk menuju sarang musuh, kota Inabayama. Baik Tenzo maupun Matajuro cocok sekali untuk misi semacam ini. Satu bulan kemudian, setelah menyelesaikan tugas, mereka kembali ke Sunomata.

Di seberang sungai di Mino, desas-desus mulai beredar:

"Ada sesuatu yang mencurigakan pada diri si Macan dari Unuma."

"Osawa Jirozaemon sudah bcrtahun-tahun bersekongkol dengan Owari."

"Pantas saja dia tidak mengindahkan perintah Fuwa ketika pembangunan benteng di Sunomata sedang berlangsung. Seharusnya mereka bekerja sama, tapi Osawa sama sekali tidak mengerahkan pasukannya."

Desas-desus ini mengundang spekulasi lebih lanjut. "Dalam waktu dekat, Yang Mulia Tatsuoki akan

memanggil Osawa Jirozaemon ke Inabayama untuk minta pertanggungjawaban atas kekalahan di Sunomata."

"Benteng Unuma akan disita. Segera setelah si Macan pergi ke Inabayama."

Scsungguhnya desas-desus yang beredar di Mino ini timbul akibat hasutan Watanabe Tenzo, dan di baliknya ada Hideyoshi yang duduk di bentcng di Sunomata.

"Tidakkah kau sependapat bahwa waktunya sudah tiba? Berangkatlah ke Unuma sekarang juga." Hideyoshi berkata pada Hikoemon. "Aku telah menulis surat yang harus kauserahkan pada Osawa."

"Baik, tuanku."

"Kau harus bisa membujuknya. Atur hari dan tempat pertemuan." Dengan membawa surat Hideyoshi. Hikoemon diam-diam mengunjungi Unuma. Ketika mendengar bahwa utusan rahasia dari Sunomata tiba di bentengnya. Osawa bertanya-tanya apa gerangan maksudnya. Si Macan dari Unuma yang garang ini sudah beberapa waktu kelihatan sedih dan tidak bahagia. Berpura-pura sakit, ia menghindari semua orang. Belum lama ini ia menerima panggilan untuk segera datang ke Inabayama, dan baik keluarga maupun para pengikutnya merasa cemas. Osawa sendiri mengumumkan bahwa sakitnya terlalu parah untuk melakukan perjalanan, dan sepertinya ia memang tidak berminat meninggalkan bentengnya. Desas-desus tadi juga telah sampai ke Unuma, dan Osawa menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Ia menyesalkan tuduhan palsu yang dilontarkan oleh pengikut-pengikut yang gemar memfitnah. Ia pun menyesalkan kekacauan yang melanda marga Saito karena kebodohan Tatsuoki. Namun tak ada yang dapai diperbuatnya, dan ia tahu bahwa suatu hari ia akan terpaksa melakukan seppuku. Pada saat inilah Hikoemon mendatanginya secara diam-diam dari Sunomata. Osawa memutuskan untuk bertindak. "Aku akan menemui dia," kata Osawa.

Surat Hideyoshi diserahkan pada Osawa. Begitu

selesai membaca surat itu. Osawa membakarnya. Kemudian ia memberikan jawaban secara lisan. "Waktu dan tempat pcrtemuan akan kuberitahukan dalam beberapa hari. Kuharap Yang Mulia Hideyoshi akan berada di sana."

Setelah itu, dua minggu berlalu. Sebuah pesan dari Unuma tiba di Sunomata dan Hideyoshi, disertai sepuluh orang saja, termasuk Hikoemon, menuju tempat pcrtemuan yang telah ditentukan, sebuah rumah sederhana tepat di tengah-tengah antara Unuma dan Sunomata. Sementara para pengikut dari kedua belah pihak tetap berjaga-jaga di tepi sungai. Hideyoshi dan Osawa menaiki perahu kecil dan menuju ke tengah Sungai Kiso. Pada waktu mereka duduk berlutut saling berhadapan, yang lain bertanyatanya apa gerangan yang sedang mereka bicarakan. Perahu kecil itu bagaikan selembar daun yang dipermainkan arus sungai dan pembicaraan itu berakhir tanpa kejadian yang tak diinginkan.

Setelah kembali ke Sunomata, Hideyoshi memberitahu Hikoemon bahwa Osawa mungkin akan berkunjung dalam waktu sekitar satu minggu. Dan benar saja, beberapa hari kemudian Osawa diam-diam pergi ke Sunomata. Hideyoshi menerimanya dengan ramah, dan pada hari itu juga ia membawa Osawa ke Benteng Komaki, sebelum orang lain sempat menyadari kehadirannya. Seorang diri Hideyoshi lalu menghadap Nobunaga.

"Hamba datang bcrsama Osawa Jirozaemon, si Macan dari Unuma." Hideyoshi melaporkan pada Nobunaga. "Setelah mendengar uraian hamba, pendiriannya berubah dan dia bertckad meninggalkan orang-orang Saito untuk bergabung dengan marga Oda. Kalau tuanku sudi berbicara langsung dengannya, tuanku akan mendapatkan seorang jendral yang luar biasa berani, sekaligus mempcroleh Benteng Unuma, tanpa perlu berbuat apa-apa."

Nobunaga, dengan kesan heran pada wajahnya, tampak merenungkan ucapan Hideyoshi. Hideyoshi agak terpukul karena junjungannya tidak memperlihatkan kegembiraan. Ia tidak mengharapkan pujian atas usahanya, tapi menarik si Macan yang garang dari Unuma dari tangan musuh, dan membawanya ke sini untuk menemui Nobunaga, sesungguhnya mcrupakan hadiah yang sangat berarti.

Semula Hideyoshi menyangka Nobunaga akan senang. Tapi ketika memikirkannya, ia sadar bahwa ia telah bertindak tanpa memohon restu terlebih dulu dari Nobunaga. Mungkin itulah sebabnya. Raut muka Nobunaga mendukung kesimpulan itu. Seperti bunyi pepatah lama, paku yang terlalu menonjol akan dihantam dengan palu. Hideyoshi menyadari hal ini, dan ia terus-menerus mengingatkan dirinya bahwa ia terlalu menonjol. Meski demikian, ia tak sanggup duduk berpangku tangan, tidak melakukan sesuatu yang ia tahu menguntungkan bagi pihaknya.

Akhimya dengan enggan Nobunaga menganggukkan kcpala. Hideyoshi membawa Osawa ke dalam.

"Tuanku sudah dewasa sekarang." kata Osawa dengan nada ramah. "Mungkin tuanku mengira ini pertama kali kita bertemu, tapi sesungguhnya hari ini hamba mendapat kehormatan untuk berjumpa kedua kalinya. Pertemuan pertama terjadi lima betas tahun lalu, di Kuil Shotoku di Tonda, ketika tuanku menemui bekas junjungan hamba, Yang Mulia Saito Dosan. Ketika itu hamba salah seorang pembantunya." Nobunaga hanya menjawab. "Begitukah?" Seperti-

nya ia sedang mempelajari watak tamunya.

Osawa berbicara dengan tulus, tanpa berusaha menyanjung Nobunaga. Ia pun tidak mencoba menyenangkan hati Nobunaga sambil merendah. "Mcski tuanku musuh hamba, hamba terkesan dengan sepak terjang tuanku dalam tahun-tahun terakhir. Ketika hamba pertama kali melihat tuanku di Kuil Shotoku, tuanku kelihatan seperti anak muda yang nakal. Tapi setelah apa yang hamba lihat hari ini, hamba menyadari bahwa pemerintahan tuanku berlainan dengan pendapat umum." Osawa berbicara sebagai orang dengan kedudukan setaraf, terus terang dan seadanya. Osawa bukan saja laki-laki pemberani, ia pun berbudi luhur, pikir Hideyoshi.

"Kita akan bertemu lagi dalam kesempatan lain dan meneruskan perbincangan ini. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan hari ini." ujar Nobunaga, lalu berdiri dan mengakhiri pertemuan.

Beberapa waktu kemudian ia memanggil Hideyoshi untuk bertemu empat mata. Apa pun yang dikatakan Nobunaga, setelah itu Hideyoshi tampak bingung sekali. Tapi, tanpa menceritakan apa-apa pada Osawa, ia memainkan peran tuan rumah yang baik dan menghibur Osawa di Bentcng Komaki.

"Ucapan Yang Mulia akan kubeberkan setelah kita kembali ke Sunomata." Setelah mereka kembali ke benteng Hideyoshi dan mendapat kesempatan bcrbicara berdua saja. Hideyoshi berkata. "Jendral Osawa, aku telah menempatkan Tuan ke dalam posisi sulit, dan satu-satunya cara untuk menebusnya adalah dengan kematianku. Tanpa berunding dengan Tuan Nobunaga, aku menduga bahwa Yang Mulia berpikiran sama denganku, dan akan menyambut gembira kedatangan Tuan sebagai sckutu. Tapi ternyata pandangan beliau berlainan sekali dengan pandanganku." Hideyoshi mendesah. Kemudian, sambil terdiam, ia menundukkan kcpala.

Osawa pun telah mcnyadari bahwa sambutan Nobunaga kurang menggembirakan. "Tuan kelihatan cemas sckali, tapi sebenarnya tak ada alasan untuk bersikap demikian. Aku bukannya tak bisa hidup tanpa upah dari Yang Mulia. Berbicaralah terus terang."

"Aku takkan cemas kalau hanya itu masalahnya." Hideyoshi nyaris tak sanggup bicara, tapi tiba-tiba ia duduk lebih tegak seakan-akan baru saja menemukan jalan keluar. "Lebih baik kuceritakan semuanya. Begini, Jendral Osawa, ketika aku hendak pergi tadi, Tuan Nobunaga memanggilku secara diam-diam dan memarahiku karena tidak memahami seni siasat. Yang Mulia bertanya, kenapa Osawa Jirozaemon, orang yang memiliki reputasi begitu tinggi di Mino, bisa terbujuk oleh kelincahan lidahku dan ingin menjadi sekutunya. Aku sama sekali tidak berpikir sejauh ini." "Ya, aku bisa membayangkannya."

"Yang Mulia juga memberitahuku bahwa Osawa dari Benteng Unuma inilah yang menjadi macan pelindung Mino, dan telah bertahun-tahun menimbulkan kesulitan bagi Owari. Yang Mulia mengisyaratkan bahwa mungkin justru aku yang terkecoh dan dikelabui oleh kepandaian lidah serta keberanian Tuan. Tuan lihat sendiri, Yang Mulia penuh prasangka."

"Memang."

"Yang Mulia juga merasa bahwa jika Tuan tinggal lebih lama di Benteng Komaki, itu berarti kami memberi kesempatan pada Tuan untuk mengamati pertahanan provinsi. Karena itu aku diperintahkan untuk segera mcmbawa Tuan kembali kc Sunomata. Membawa Tuan kembali ke sana dan..." Hideyoshi terdiam, seakan-akan tenggorokannya tersumbat. Osawa pun mcrasa cemas, tapi ia menatap mata Hideyoshi, mendesaknya untuk menyelesaikan kalimat itu.

"Sulit bagiku untuk mengungkapkannya, tapi inilah perintah Yang Mulia, jadi aku ingin Tuan mengetahuinya. Aku diperintahkan untuk membawa Tuan kembali ke Sunomata. mengurung Tuan di dalam benteng, dan membunuh Tuan. Yang Mulia menganggap ini sebagai kesempatan emas—yang tidak boleh dilewatkan."

Ketika Osawa mcmandang berkeliling, ia menyadari bahwa tak ada prajurit yang menyertainya, dan bahwa ia berada di benteng musuh. Dan betapapun ia tak mengenal takut, bulu kuduknya berdiri.

Hideyoshi melanjutkan. "Jika aku menaati perintah Yang Mulia, aku akan melanggar janji yang telah kuberikan pada Tuan, dan ini berarti menginjak-injak kehormaian seorang samurai. Aku tak bisa berbuat begitu. Namun di pihak lain, jika aku menegakkan kehormatan samurai, aku melanggar perintah Yang Mulia. Aku telah sampai di suatu titik di mana aku tak bisa maju maupun mundur. Jadi, sepanjang perjalanan dari Gunung Komaki, aku merasa sedih dan patah semangat, dan ini kurasa telah menimbulkan kecurigaan dalam diri Tuan. Singkirkanlah segala keraguan Tuan. Pemecahan masalah ini telah tergambar jelas dalam benakku."

"Apa maksud Tuan? Apa yang akan Tuan lakukan?" "Dengan melakukan bunuh diri, kurasa aku bisa

minta maaf, baik pada Tuan maupun pada Yang Mulia Nobunaga. Tak ada jalan lain. Jendral Osawa, mari kita angkai cawan perpisahan. Setelah itu, aku pasrah pada nasib. Aku menjamin bahwa takkan ada yang mengusik Tuan. Tuan bisa meninggalkan benteng ini dalam perlindungan kegelapan malam. Jangan risaukan aku, tenangkanlah hati Tuan!"

Osawa mendengarkan ucapan Hideyoshi sambil membisu, tapi matanya berkaca-kaca. Berlainan dengan kegarangan yang telah menyebabkan ia memperoleh julukan si Macan, air mata ini merupakan air mata laki-laki biasa. Terlihat jelas bahwa Osawa sangat peka terhadap kebenaran. "Aku berutang budi pada Tuan," ia terbata-bata, dan mengusap matanya. Mungkinkah ini sang jendral yang telah ambil bagian dalam pertempuran yang tak terhitung banyaknya? "Dengarlah, Tuan Hideyoshi. Melakukan seppuku merupakan tindakan yang tak dapat dimaafkan."

"Tapi kalau aku tidak melakukannya, tak ada cara lain untuk memohon maaf pada Tuan dan Yang Mulia Nobunaga."

"Tidak, apa pun alasan Tuan, tidak sepatutnya Tuan membelah perut dan membantuku. Kehormatanku sebagai samurai takkan mengizinkannya."

"Akulah yang memulai semuanya dan mengundang Tuan ke sini. Aku jugalah yang keliru meraba jalan pikiran Yang Mulia. Jadi, untuk memohon maaf pada Tuan dan  Yang Mulia,  sudah seharusnya aku membayar untuk kejahatan ini dengan menyerahkan nyawaku. Kuharap Tuan tidak berusaha mencegahku." "Tak peduli kesalahan apa yang menurut Tuan telah Tuan lakukan, aku pun ikut bersalah. Urusan ini tidak  pantas ditebus  dengan  nyawa  Tuan. Peerkenankanlah aku menawarkan kepalaku untuk membalas kepercayaan Tuan. Bawalah kepalaku kembali ke Komaki." Osawa mulai mencabut pedang

pendeknya.

Dengan terkejut Hideyoshi menarik tangan Osawa. "Apa yang hendak Tuan lakukan?"

"Lepaskan tanganku."

"Tidak. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada membiarkan Tuan melakukan seppuku."

"Aku mengerti. Karena itulah aku menawarkan kepalaku. Seandainya Tuan merencanakan siasat busuk, aku akan memperlihatkan bahwa aku sanggup melarikan diri dari sini, walaupun untuk itu aku terpaksa meninggalkan tumpukan mayat. Tapi hatiku tersentuh oleh jiwa samurai yang Tuan miliki."

"Tunggu dulu. Berpikirlah scjenak. Rasanya ganjil bahwa kita sama-sama berlomba untuk menemui kematian. Jendral Osawa, kepcrcayaan Tuan padaku bcgitu besar. Aku punya rencana yang memungkinkan kita tctap hidup, sekaligus mempertahankan kehormatan kita scbagai samurai. Tapi apakah Tuan masih memiliki kebesaran hati untuk membantu marga Oda satu langkah lagi?"

"Satu langkah lagi?"

"Pada dasarnya, keraguan Nobunaga merupakan ccrminan rasa hormatnya pada Tuan. Jadi, seandainya Tuan melakukan sesuatu yang betul-betul membuktikan dukungan Tuan kepada marga Oda, keraguan Yang Mulia akan segcra mencair."

Malam itu Osawa meninggalkan Benteng Sunomata dan menuju suatu tempat yang tidak diketahui. Apa rencana yang diperlihatkan Hideyoshi kepadanya? Tak seorang pun mengetahuinya, tapi belakangan semua orang mengerti. Seseorang mempengaruhi Iyo, Ando, dan Ujiie—Tiga Scrangkai dari Mino, tonggak utama kekuasaan marga Saito—dan mengusulkan agar mereka mengikat janji dengan pihak Oda. Orang yang bicara dengan begitu fasih dan yang berjasa memperkenalkan mereka, tak lain dari Osawa Jirozaemon.

Tentu saja Hideyoshi tidak melakukan seppuku, Osawa pun selamat, dan Nobunaga memperoleh empat jendral termasyhur dari Mino sebagai sekutu, tanpa pernah meninggalkan bentengnya. Kebijakan Nobunaga atau kecerdikan Tokichiro-kah yang membawa kebcruntungan ini? Sepertinya pikiran junjungan dan pengikut saling mempengaruhi. dan tak seorang pun sanggup memastikan siapa sesungguhnya yang memegang kendali.

***

Nobunaga berwatak tak sabar. Ia telah melakukan pengorbanan besar untuk membangun benteng di Sunomata, dan pembangunan itu pun memakan waktu banyak, jadi dapat dimengerti kalau ia merasa kecewa.

"Untuk membalas kematian ayah mertuaku, aku akan menghancurkan marga tak bermoral itu, dan akan membebaskan orang-orang yang menderita di bawah pemerintahan yang lalim." Inilah penjelasan mengenai motif Nobunaga, agar pertempurannya dapat diterima oleh dunia. Tapi, seiring dengan waktu, kata-kata itu tentu saja kehilangan pengaruh. Di samping itu terbayang-bayang kemungkinan bahwa kemampuannya dipertanyakan oleh marga Tokugawa dari Mikawa, dan Nobunaga sadar bahwa mereka mengawasi gerak-gcriknya dari belakang.

Kekuatan Oda menjadi pertanyaan, dan persskutuan Oda-Tokugawa terancam karenanya. Meski demikian, Nobunaga merasa tak sabar. Memang, ia telah menarik Osawa dan Tiga Serangkai dari Mino ke pihaknya, tapi ini saja belum membuahkan kemenangan baginya.

Menundukkan Mino dengan sekali pukul merupakan permintaan yang diucapkannya dalam suatu rapat perang. Rupanya, sejak Okehazama, kepercayaan Nobunaga pada konsep "sckali pukul" menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Karena itu, pada beberapa kesempatan, orang seperti Hideyoshi mengemukakan keberatan mereka. Dalam rapat uniuk membahas pcnaklukan Mino pada musim panas itu, Hideyoshi duduk mcmbisu di kursi paling rendah selama rapat berlangsung.

Ketika dimintai pendapat, ia menjawab, "Hamba pikir, mungkin waktunya belum tepat."

Jawaban ini amat tidak berkenan di hati Nobunaga yang lalu bertanya dengan nada menjurus marah, "Bukankah kau yang bcrkata bahwa jika si Macan dari Unuma berhasil menarik Tiga Serangkai dari Mino ke pihak kita, Mino akan runtuh dengan sendirinya, tanpa kita harus mcninggalkan benteng?"

"Hamba mohon maaf, tapi kekuatan dan kekayaan Mino sepuluh kali lebih besar daripada kekuatan dan kekayaan Owari."

"Dulu kau   khawatir   mengenai   jendral-jendral tangguh yang dimiliki Mino. dan kini kau risau karena kekayaan dan kekuatan provinsi itu. Kalau begitu, kapan kau akan menyerang mereka?" Nobunaga tidak lagi minta pendapat Hideyoshi mengenai apa pun. Rapat perang berjalan terus. Akhirnya diputuskan bahwa di musim panas nanti, sebuah pasukan besar akan berangkat dari Gunung Komaki menuju Mino. Sunomata akan digunakan scbagai pangkalan utama.

Pertempuran untuk menyeberangi sungai dan memasuki wilayah musuh berlangsung lebih dari satu bulan. Selama itu, banyak orang terluka dikirim kembali. Laporan mengenai kemenangan tak pernah terdengar. Pasukan yang telah lelah bertempur, mundur sambil membisu. Para prajurit dan jendral sama-sama merapatkan bibir dan bersikap murung.

Ketika ditanya mengenai jalannya pertempuran oleh orang-orang yang tetap tinggal di benteng, mereka semua menundukkan kepala dan menggeleng. Mulai saat itu Nobunaga pun terdiam. Kelihaian jelas ia telah mendapat pelajaran bahwa tidak semua pertempuran berlangsung seperti pertempuran Okehazama. Benteng Sunomata menjadi sunyi dan hanya dikunjungi oleh angin musim gugur dari arah sungai.

Tiba-tiba Hikoemon dipanggil oleh majikannya. "Di antara bekas ronin-mu. mestinya banyak yang lahir di provinsi lain, dan tentunya juga ada beberapa yang berasal dari Mino." Hideyoshi membuka percakapan.

"Ya, memang begitu." "Adakah di antara mereka yang lahir di Fuwa?" "Hamba akan mencari tahu."

"Bagus. Kalau kau menemukan seseorang, maukah kau mcnyuruhnya ke sini?" Dalam waktu singkat Hachisuka Hikoemon sudah membawa salah satu bekas ronin, seorang laki-laki bernama Saya Kuwaju ke pekarangan tempat Hideyoshi menunggu. Orang itu tampak kuat dan berusia sekitar tiga puluh tahun.

"Kau bernama Saya?" Hideyoshi bertanya. "Ya, Tuanku."

"Dan kau berasal dari Fuwa di Mino?" "Dari sebuah desa bernama Tarui."

"Hmm, kurasa kau cukup mengenal daerah itu." "Hamba tinggal di sana sampai usia dua puluh

tahun, jadi sedikit-banyak hamba mengenalnya." "Kau mempunyai sanak saudara di sana?" "Adik perempuan hamba."

"Ceritakan sedikit mengenai adikmu."

"Adik hamba menikah dengan petani dan hamba rasa dia sudah dikaruniai keturunan sckarang."

"Berminakah kau kcmbali ke sana? Sekali saja?" "Hamba tak pcrnah memikirkannya. Kalau adik

hamba mendengar bahwa kakaknya, si ronin, hendak pulang kampung dia mungkin akan mcrasa rikuh terhadap kerabat suaminya dan para warga desa yang lain."

"Tapi masa itu sudah bcrlalu. Sekarang kau pengikut Benteng Sunomata dan samurai terhormat. Kau tak perlu malu karenanya, bukan?" "Tapi Fuwa merupakan titik strategis di bagian barat Mino. Untuk apa hamba memasuki wilayah musuh?"

Hideyoshi mengangguk berulang kali, dan sepertinya memutuskan sesuatu dalam hati. "Aku ingin kau menyertaiku. Kita akan menyamar, agar tidak menarik perhatian. Datanglah ke gerbang kayu di pekarangan ini menjelang malam."

Hikoemon bertanya dengan ragu-ragu, "Ke manakah tuanku hendak pcrgi mendadak begini?"

Hideyoshi merendahkan suara dan berbisik ke telinga Hikoemon. "Ke Bukit Kurihara."

Hikoemon menatap Hideyoshi, seakan-akan menyangsikan kewarasannya. Ia telah menduga bahwa Hideyoshi merencanakan sesuatu, tapi Bukit Kurihara! Setelah mendengar jawaban majikannya, Hikoemon tak sanggup mcnyembunyikan rasa kagetnya. Bekas pengikut marga Saito, seorang laki-laki yang dipandang scbagai ahli strategi, hidup menyendiri di bukit itu. Orang tersebut bernama Takenaka Hanbei. Beberapa waktu lalu, Hideyoshi telah mempelajari watak orang itu serta hubungannya dengan marga Saito.

Nah, seandainya kita bisa menuntun kuda ini seperti kita menarik Osawa dan Tiga Serangkai dari Mino... Inilah garis besar rencana Hideyoshi, namun bahwa ia sendiri akan menyusup ke wilayah musuh dan mendatangi Bukit Kurihara, itu tak terbayangkan. "Tuanku sungguh-sungguh hendak pergi ke sana?"

tanya Hikoemon, seakan-akan tak percaya. "Tentu saja."

"Sungguh-sungguh?" Hikoemon mendesak.

"Kenapa kau mempersoalkan ini?" Hideyoshi rupanya berpendapai bahwa tak ada yang perlu dicemaskan. "Pertama-tama hanya kau seorang yang mengetahui rencanaku, dan kami akan pergi secara diam-diam. Kuminta kau mengatur semuanya di sini. sementara aku pergi beberapa hari."

"Tuanku akan pergi seorang diri?* "Tidak, aku akan membawa Saya."

"Pergi berdua dengan Saya sama saja dengan pergi tanpa senjata. Tuanku yakin bahwa tuanku sanggup membujuk Hanbei untuk menjadi sekutu kita dengan memasuki wilayah musuh seorang diri?"

"Itu memang tugas berat." Hideyoshi seolah-olah bergumam pada diri sendiri. "Tapi aku akan mencobanya. Kalau aku pergi dengan hati terbuka, hubungan Hanbei dengan marga Saito betapapun eratnya, takkan berpengaruh banyak."

Tiba-tiba Hikoemon teringat kepandaian lidah Hideyoshi ketika berdebat dengannya di Hachisuka. Meski demikian, Hikoemon meragukan apakah Hideyoshi akan sanggup mengajak Hanbei turun dari Bukit Kurihara. Biarpun dengan kefasihan bicara yang dimilikinya. Kalaupun berhasil. dan Hanbei memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggalnya, tetap ada kemungkinan Hanbei memilih berpihak ke Mino.

Menurut desas-desus kala itu, Hanbei telah menarik diri dari percaturan dunia, dan menjalani kehidupan tenteram di Bukit Kurihara. Tapi jika suatu hari marga Saito terancam bahaya, ia akan kembali untuk memimpin pasukan mereka. Memang benar, ketika orang-orang Saito menangkal serangan besar pasukan Oda, Hanbei tidak muncul di barisan depan. melainkan mengamati awan-awan perang dari Bukit Kurihara, mengirim hasil renungannya satu per satu kepada marga Saito dan mengajarkan strategi-strategi rahasia pada mereka. Tidak sedikit orang yang meneruskan cerita ini, seakan-akan kebenarannya telah terbukti. Tugas ini memang sulit—Hideyoshi sendiri mengakuinya, Hikoemon pun sependapat dan ia melepaskan suara menyerupai erangan.

"Ambisi tuanku sungguh sulit diwujudkan." Roman mukanya tampak waswas.

"Hmm..." Wajah Hideyoshi menjadi lebih cerah. "Sebenarnya tak banyak yang perlu dicemaskan. Mungkin saja sesuatu yang sukar ternyata mudah sekali, sebaliknya sesuatu yang kelihatannya mudah mungkin teramat sulit. Kurasa yang paling menentukan adalah apakah aku sanggup membuat Hanbei percaya pada ketulusanku atau tidak. Mengingat siapa lawan bicaraku nanti, aku tidak merencanakan tipu daya maupun muslihat."

Ia mulai melakukan persiapan untuk perjalanan rahasianya. Walaupun beranggapan bahwa upaya Hideyoshi sia-sia belaka. Hikoemon tak dapat mencegahnya. Hari demi hari rasa hormatnya terhadap Hideyoshi yang panjang akal dan berbudi luhur semakin besar dan ia yakin bahwa kemampuan orang itu jauh di atas kemampuannya sendiri.

Malam pun tiba. Seperti telah disepakati. Saya menunggu di gerbang kayu di pekarangan benteng. Penampilan Hideyoshi sama lusuhnya dengan Saya.

"Nah, Hikoemon, uruslah segala sesuatu dengan baik," kata Hideyoshi, lalu mulai melangkah seolaholah hanya ingin berjalan-jalan di taman. Sesungguhnya jarak dari Sunomata ke Bukit Kurihara tidak seberapa jauh—mungkin sekitar sepuluh mil. Pada hari-hari cerah, Bukit Kurihara kelihatan samar-samar di kejauhan. Tapi barisan pegunungan itu merupakan pertahanan Mino terhadap musuh. Hideyoshi mengambil jalan memutar menyusuri pegunungan, dan mcmasuki Fuwa.

Untuk mengetahui adat kebiasaan serta ciri khas orang yang tinggal di sana, pertama-tama orang harus mengamati keadaan alam kawasan itu. Fuwa terletak di antara bukit-bukit di kaki pegunungan di bagian barat Mino, dan merupakan semacam leher botol pada jalan yang menuju ibu kota.

Warna-warni musim gugur di Sckigahara tampak sangat indah. Tak terhitung banyaknya sungai yang membelah daerah itu. seperti urat darah. Sejarah kuno dan legenda-legenda melekat pada akar tumbuhtumbuhan, menandakan masa lalu yang berdarah. Pegunungan Yoro mcmbentuk perbatasan dengan Provinsi Kai dan awan-awan terus-menerus datang dan pergi di sckitar Gunung Ibuki. Takenaka Hanbei penduduk asli daerah itu. Konon ia dilahirkan di Inabayama, tapi melewatkan sebagian besar masa kanak-kanaknya di kaki Gunung Ibuki. Ia lahir pada tahun Tmmon keempat, berarti usianya kini baru dua puluh delapan tahun tak lebih dari seorang anak muda yang masih mempelajari ilmu kemiliteran. Satu tahun lebih muda dari Nobunaga, satu tahun lebih tua dari Hideyoshi. Meski demikian. ia telah menjauhi persaingan untuk meraih prestasi besar di sebuah dunia yang dilanda kekacauan, dan membangun tcmpat bertapa di Bukit Kurihara bagi dirinya. Ia mencintai alam, berteman dengan kitabkitab kuno, dan menulis puisi, tanpa pernah menemui para tamu yang mendatangi rumahnya. Penipukah Hanbei? Tuduhan ini pun sering dilontarkan padanya, tapi nama Hanbei dijunjung tinggi di Mino, dan reputasinya telah sampai ke Owari.

Aku ingin benemu dan menilai wataknya, itulah pikiran pertama yang melintas dalam benak Hideyoshi. Patut disayangkan jika Hideyoshi berlalu begitu saja tanpa pernah bertemu dengan laki-laki yang begitu langka dan luar biasa ini, padahal mereka dilahirkan ke dunia yang sama. Kecuali itu, jika Hanbei terbawa ke kubu lawan, Hideyoshi akan terpaksa membunuhnya. Dengan tulus Hideyoshi berharap ini takkan pernah terjadi, sebab ia akan sangat menyesali hal ini. Aku akan menemuinya, tak peduli apakah ia menerima tamu atau tidak.