--> -->

Taiko Bab 11 : Benteng di Atas Air

Buku Tiga ~ Tahun Eiroku Kelima 1562

Bab 11 : Benteng di Atas Air

PADA masa itu, jalan-jalan di kota benteng Kiyosu sering diramaikan oleh suara anak-anak yang menyanyikan pantun mengenai para pengikut Nobunaga:

Tokichi katun Goroza beras Katsuie rahasia Gigit jari, Sakuma

"Tokichi katun"—Kinoshita Tokichiro—berangkat dari Kiyosu sebagai jendral yang memimpin pasukan kecil. Walaupun iring-iringan prajurit seharusnya semarak, iring-iringan ini justru tidak bersemangat. Ketika Shibata Katsuie dan Sakuma Nobumori berangkat ke Sunomata, pasukan mereka diiringi tabuhan genderang dan panji-panji kebesaran. Dibandingkan mereka, Tokichiro tampak seperti kepala rombongan peninjau, atau mungkin seperti pemimpin pasukan pengganti yang berangkat ke garis depan.

Beberapa mil dari Kiyosu, seorang penunggang kuda terlihat mengejar mereka dari arah benteng, memanggil-manggil agar mereka menunggu.

Orang yang mcmimpin iring-iringan kuda beban menoleh ke belakang dan berkata, "Itu Tuan Maeda Inuchiyo." Ia mengutus seseorang ke depan untuk memberitahu Tokichiro.

Perintah istirahat disampaikan dari mulut ke mulut. Mereka belum berjalan jauh, sehingga belum sempat berkeringat, tapi para perwira dan prajurit menghadapi tugas ini dengan setengah hati. Seluruh pasukan tak percaya bahwa mereka sanggup meraih kemenangan. Dan jika wajah-wajah mereka diamati. terlihat jelas bahwa semuanya gelisah dan tidak memperlihatkan keinginan untuk bertempur.

Inuchiyo turun dari kuda dan berjalan di antara barisan prajurit, mendengarkan percakapan mereka.

"Hei! Kita bisa istirahat." "Belum apa-apa sudah istirahat?"

"Jangan bicara begitu. Setiap kesempatan istirahat harus kita manfaatkan."

" Inuchiyo?"

Begitu melihat sahabatnya. Tokichiro turun dari kuda dan bergegas menyambutnya.

"Pertempuran yang kautuju merupakan titik balik bagi marga Oda." Inuchiyo tiba-tiba berkata. "Aku percaya penuh padamu, tapi para pengikut lain merasa waswas. Suasana di kota pun tidak tenang. Aku mengejarmu untuk mengucapkan selamat jalan. Tapi dengar, Tokichiro, menjadi jendral dan memimpin pasukan sangat berbeda dengan tugas-tugasmu sebelum ini. Terus teranglah, Tokichiro, betul-betul siapkah kau?" "Jangan khawatir," Tokichiro menunjukkan ketetapan hatinya dengan mengangguk tegas, lalu menambahkan. "Aku sudah menyusun rencana."

Namun, ketika Inuchiyo mendengar rencana ini ia mengerutkan kening. "Aku mendengar bahwa kau mengutus pelayanmu untuk membawa sepucuk surat kc Hachisuka, segera setelah kau menerima perintah dari Yang Mulia."

"Kau sudah tahu? Sebenarnya aku merahasiakannya."

"Aku mendengarnya dari Nene."

"Mulut perempuan selalu bocor, bukan? Ini agak menakutkan."

"Bukan, ketika aku memandang lewat gerbang untuk memberi selamat padamu, aku kebetulan mendengar Nene berbicara dengan Gonzo. Dia baru kembali dari Kuil Atsuta untuk mendoakan keberhasilanmu."

"Kalau begitu, kau sudah punya bayangan mengenai apa yang akan kulakukan."

"Hmm, kau yakin bahwa bandit-bandit yang hendak kaujadikan sekutu itu berscdia membantumu? Bagaimana kalau tidak?"

"Mereka pasti bersedia."

"Hmm, aku tidak tahu apa yang kaugunakan sebagai umpan, tapi pernahkah pemimpin mereka memberi isyarat bahwa dia setuju dengan usulmu?"

"Aku tak ingin yang lain mendengarnya." "Ah, ini rahasia?" "Lihat ini." Tokichiro mengeluarkan sepucuk surat dari balik baju tempurnya, lalu tanpa berkata apa-apa menyerahkannya pada Inuchiyo. Surat itu dibawa Gonzo pada malam sebelumnya dan berisi jawaban dari Hachisuka Koroku. Inuchiyo membacanya sambil membisu, tapi ketika mengembalikannya, ia menatap Tokichiro dengan heran. Sesaat ia tidak tahu harus berkata apa.

"Kurasa kau mengerti."

"Tokichiro, bukankah surat ini berisi penolakan? Di sini tertulis bahwa marga Hachisuka sudah selama sekian generasi menjalin hubungan dengan marga Saito, dan Hachisuka Koroku juga menegaskan bahwa memutuskan hubungan pada waktu seperti ini untuk mendukung marga Oda, merupakan tindakan tak bermoral. Ini jelas-jelas sebuah penolakan. Bagaimana kau menafsirkannya?"

"Persis seperti yang tertulis.'' Tokichiro mendadak menundukkan kepala. "Sebenarnya aku enggan bersikap kasar setelah kau memperlihatkan persahabatanmu dengan mengejarku demikian jauh. Tapi kalau kau masih menghargaiku, kerjakan sajalah tugas-tugasmu di benteng semenrara aku pergi dan jangan khawatir."

"Kalau kau bisa berkata demikian, kau tentu yakin bahwa kau akan berhasil. Kalau begitu, sampai ketemu."

"Terima kasih." Tokichiro menyuruh samurai di sampingnya mengambil kuda Inuchiyo.

"Jangan, kau tidak perlu resmi-resmian. Silakan berangkat."

Ketika Tokichiro menaiki kudanya kembali, tunggangan Inuchiyo pun telah siap. "Sampai ketemu lagi."

Sejumlah panji berwarna merah polos lewat di depan mata Inuchiyo. Tokichiro menoleh dan tersenyum. Beberapa capung merah beterbangan di langit biru. Tanpa berkata apa-apa. Inuchiyo memutar kudanya ke arah Benteng Kiyosu.

***

Lumutnya tebal sekali. Kalau memandang pekarangan luas yang mengelilingi tempat kediaman marga Hachisuka, yang begitu mirip pekarangan kuil yang dilarang dimasuki, orang tentu bcrtanya-tanya berapa abadkah usia lumut itu. Rumpun-rumpun bambu tumbuh di bawah bayang-bayang batu-batu besar. Suasana pada sore di musim gugur itu betul-betul hening.

Lumutnya masih bertahan. Hachisuka Koroku berkata dalam hati ketika ia melangkah ke pekarangan. Lumut itu membuat ia teringat para leluhurnya yang sudah tinggal di Hachisuka sejak beberapa generasi lalu. Apakah generasiku juga akan berlalu tanpa sanggup mengangkat martabat keluarga? Di pihak lain, ia berusaha menghibur diri. Pikirnya, di masa seperti ini para leluhurku mungkin malah setuju kalau aku hanya mempertahankan apa yang kumiliki sekarang. Tapi selalu ada sebagian dirinya yang tak dapat diyakinkan akan kebenaran pemikiran itu.

Pada hari-hari penuh damai seperti sekarang, orang yang menatap rumah tua yang menyerupai istana dan dikelilingi kehijauan pada keempat sisinya ini takkan percaya bahwa pemiliknya hanyalah seorang pemimpin gerombolan ronin, dengan beberapa ribu anak buah yang menteror daerah sekitar bagaikan kawanan serigala. Dengan beraksi secara sembunyisembunyi, baik di Owari maupun Mino, Koroku berhasil menghimpun kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar, sehingga berani menentang keinginan Nobunaga.

Ketika berjalan melintasi pekarangan, Koroku tibatiba berpaling ke rumah utama dan memanggil. "Kameichi! Bersiaplah, lalu keluar ke sini."

Puira sulung Koroku, Kameichi, berusia sebelas tahun. Ketika mendengar suara ayahnya, ia meraih dua tombak latihan dan menyusul ke pekarangan.

"Sedang apa kau tadi?" "Membaca."

"Kalau kau ketagihan membaca buku, kau akan melalaikan ilmu bela diri, bukan?"

Kameichi memalingkan muka. Anak itu berbeda dengan ayahnya yang berbadan kekar, wataknya cenderung lembut dan intelektual. Dalam pandangan orang lain, Koroku telah mendapatkan pewaris yang pantas, namun ia sendiri justru merasa kecewa. Sebagian besar ronin di bawah komandonya yang berjumlah lebih dari dua ribu merupakan pejuang udik yang liar dan tak berpendidikan. Jika pemimpin marga tak sanggup menguasai mereka, marga Hachisuka akan musnah. Hukum alam menyatakan bahwa yang lemah akan dimangsa oleh yang kuat.

Setiap kali Koroku menatap putranya, yang begitu berbeda dengannya, ia takut bahwa ini merupakan akhir garis keturunannya, dan ia menyesalkan kepribadian Kameichi yang lembek. Setiap kali Koroku memiliki sedikit waktu senggang, ia memanggil putranya ke pekarangan dan berusaha menyuntikkan kegarangan yang ada dalam dirinya melalui latihan bela diri.

"Ambil tombak." "Baik."

"Pasang kuda-kuda biasa dan ayunkan tombak tanpa mcmandangku sebagai ayahmu."

Koroku mendatarkan tombak dan menyerang putranya, seakan-akan menghadapi orang dewasa.

Kameichi hampir memejamkan mata ketika mendengar gelegar suara ayahnya, dan melangkah mundur. Tanpa ampun tombak Koroku menghantam bahu Kameichi. Kameichi berteriak keras, terempas ke tanah, dan kehilangan kesadaran.

Istri Koroku, Matsunami, segera menghambur keluar dari rumah dan bergegas menghampiri putranya. "Di mana ayahmu memukulmu? Kameichi! Kameichi!" Matsunami tampak gusar karena suaminya memperlakukan anaknya dengan kasar. Langsung saja ia menyuruh para pelayan mengambil air dan obat. "Perempuan bodoh!" Koroku memarahinya.

"Kenapa kau menangis dan menghibur dia? Kameichi lemah karena kau membesarkannya begitu. Dia takkan mati. Menyingkirlah!"

Para pelayan yang membawa air dan obat hanya berani menatap Koroku dari jauh.

Matsunami menghapus air matanya. Dengan saputangan yang sama, ia membersihkan darah yang mengalir dari bibir Kameichi. Bibir Kameichi mungkin tergigit ketika ia terkena hantaman tombak. arau pecah terkena batu pada waktu ia jatuh.

"Pasti sakit. ya? Di mana lagi kau dipukul?" Matsunami tak pernah berdebat dengan suaminya,. tak peduli perasaan apa yang berkecamuk di hatinya. Sama halnya dengan perempuan-perempuan lain pada zamannya, satu-satunya senjata yang ia miliki adalah air mata.

Akhirnya Kameichi siuman. "Aku tidak apa-apa, Bu. Tidak apa-apa. Pergilah." Ia meraih tombaknya dan mengertakkan gigi sambil menahan sakit, untuk pertama kali memperlihatkan kejantanan yang pasti membuat ayahnya senang.

"Siap!" serunya.

Raut wajah Koroku melunak dan ia tersenyum. "Seranglah aku dengan semangat seperti itu," katanya pada putranya.

Tepat pada saat itu seorang pengikut bergegas melewati gerbang tengah. Berpaling ke arah Koroku, ia melaporkan bahwa seorang laki-laki yang mengaku utusan Oda Nobunaga baru saja mengikat kudanya di gerbang utama. Laki-laki itu berpesan bahwa ia harus berbicara empat mata dengan Koroku.

"Apa yang harus kami lakukan?" si pengikut bertanya. Lalu menambahkan. "Orang itu agak aneh. Dia masuk begitu saja dan menatap sekelilingnya, seakan-akan mengenal tempat ini. Lalu dia bergumam. 'Ah, seperti kembali ke rumah sendiri.' dan 'Burungburung dara masih juga mendekut,' dan 'Wah, pohon itu sudah besar sekarang,' Rasanya sukar dipercaya bahwa dia kurir Oda."

Koroku memiringkan kepala. Kemudian ia bertanya. "Siapa namanya?"

"Kinoshita Tokichiro."

"Ah!" Tiba-tiba seluruh keraguan Koroku seakanakan lenyap. "Begitukah? Sekarang aku mengerti. Ini pasti orang yang pernah mengirim pesan untukku. Aku tidak mau menemuinya. Suruh dia pergi!"

Si pengikut segera berbalik untuk melaksanakan perintah.

"Aku ada permintaan," ujar Matsunami. "Izinkanlah Kameichi untuk tidak mengikuti latihan, hari ini saja. Dia kelihatan agak pucat. Dan bibirnya bengkak."

"Hmm, baiklah. bawa dia masuk." Koroku menyerahkan tombak dan anaknya kepada Matsunami. "Tapi jangan terlalu memanjakan dia. Dan jangan biarkan dia terlalu banyak membaca, hanya karena kaupikir itu baik untuknya." Koroku berjalan ke arah rumah, dan baru hendak melepaskan sandalnya di ambang serambi, ketika pengikut tadi muncul lagi.

"Tuanku, orang itu semakin aneh saja. Dia tidak mau pergi. Bukan itu saja, dia malah masuk lewat gerbang samping dan langsung menuju kandang, mencegat seorang tukang sapu dan seorang pesuruh, dan berbincang-bincang dengan kedua orang itu, seakan-akan sudah lama mengenal mereka."

"Usir dia. Kenapa kau bersikap begitu lembek terhadap utusan marga Oda?"

"Hamba bahkan melangkah lebih jauh, tapi ketika orang-orang keluar dari barak untuk melemparnya ke luar, dia minta agar hamba sekali lagi menghadap tuanku. Dia berpesan bahwa tuanku tentu akan mengingatnya, jika hamba memberitahu tuanku bahwa dia Hiyoshi yang tuanku temukan di tepi Sungai Yahagi sepuluh tahun lalu."

"Sungai Yahagi!" Koroku sama sekali tak ingat. "Tuanku tidak ingat?"

"Tidak."

"Hmm, kalau begitu dia memang aneh. Dia hanya mengoceh tak keruan. Bagaimana kalau hamba memberi pelajaran padanya, lalu menyuruh dia pulang ke Kiyosu?"

Kelihatan jelas bahwa si pengikut mulai dongkol karena terpaksa bolak-balik terus. Dengan pandangan yang seakan-akan berkata. "Hah, tunggu saja!" ia berbalik dan telah berlari sampai ke gerbang ketika Koroku yang berdiri di tangga serambi, memanggilnya. "Tunggu!"

"Tuanku?"

"Tunggu sebentar. Mungkin ini si Monyet?" "Tuanku tahu namanya? Dia memang menyuruh

hamba menyebutkan nama Monyet seandainya tuanku tidak mengingat Hiyoshi."

"Ternyata memang si Monyet," gumam Koroku. "Tuanku mengenalnya?"

"Dulu dia pernah tinggal di sini. Waktu itu dia bertugas menyapu pekarangan dan mengurus Kameichi."

"Tapi rasanya agak aneh kalau dia kini datang sebagai utusan Oda Nobunaga."

"Aku pun tidak memahaminya. Seperti apa rupanya?"

"Seperti orang terhormat." "Oh?"

"Dia memakai mantel pendek di luar baju tempurnya, dan sepertinya dia datang dari jauh. Baik pelana maupun sanggurdinya berlepotan lumpur, dan di pelananya ada keranjang rotan untuk membawa makanan dan perlengkapan lain untuk melakukan perjalanan."

"Hmm, biarkan dia masuk." "Biarkan dia masuk?"

"Supaya yakin, aku ingin melihat tampangnya." Koroku duduk di serambi dan menunggu.

Jarak dari benteng Nobunaga ke Hachisuka tidak seberapa jauh. Berdasarkan hak, desa itu seharusnya termasuk daerah kckuasaan marga Oda, tapi Koroku tidak mengakui Nobunaga, dan ia pun tidak menerima upah dari marga Oda. Ayahnya dan marga Saito dari Mino saling mendukung, dan rasa setia di kalangan ronin amat kuat. Sesungguhnya, di zaman yang kacau-balau itu, mereka tetap menjunjung tinggi kesetiaan dan keksatriaan, begitu juga kehormatan melebihi para samurai. Walau ditakdirkan hidup sebagai perampok, di antara sesama ronin terjalin ikatan bagaikan ayah dan anak, sehingga ketidaksetiaan dan ketidakjujuran tak mungkin diterima.

Pembunuhan Dosan dan kematian Yoshitatsu tahun lalu telah menimbulkan serangkaian masalah di Mino. Koroku pun terkena akibatnya. Upah yang biasa diberikan kepada marga Hachisuka pada waktu Dosan masih hidup telah terhenti sejak orang-orang Oda menutup semua jalan dari Owari ke Mino. Meski demikian, Koroku takkan mencampakkan kesetiaannya. Justru sebaliknya, rasa permusuhannya terhadap marga Oda semakin tajam dan dalam tahun-tahun terakhir, ia secara tak langsung membantu beberapa pembelot yang menyeberang dari kubu Nobunaga. Koroku juga menjadi satu dari enam tokoh penghasut utama yang bergerak di wilayah marga Oda.

"Hamba telah mcmbawanya ke sini," pengikut tadi berkata dari gerbang kayu. Sekadar untuk berjaga-jaga, lima atau enam anak buah Koroku mengelilingi Tokichiro ketika ia masuk. Koroku menatap tajam ke arahnya. "Masuk." Katanya sambil mengangguk dengan angkuh.

Laki-laki yang bcrdiri di hadapannya berpenampilan biasa-biasa saja. Ucapan pertamanya pun begitu. "Hmm, sudah lama kita tidak berjumpa."

Koroku memandangnya tanpa berkedip. "Ternyata memang si Monyct. Wajahmu tidak berubah banyak."

Meski Koroku tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya, namun dalam hati ia tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat perubahan pada pakaian Tokichiro. Koroku kini teringat jelas malam sepuluh tahun lalu di tepi Sungai Yahagi, ketika Tokichiro dengan kimononya yang kotor, dengan tengkuk, tangan, dan kaki tertutup debu, tidur di pinggiran sungai. Pada waktu dibangunkan oleh seorang prajurit, tanggapan Tokichiro berupa kata-kata besar yang dilontarkan demikian berapi-api, sehingga semuanya bertanya-tanya siapa ia sesungguhnya. Tapi setelah diterangi cahaya lampu, mereka menemukan bahwa ia hanyalah seorang anak muda bertampang aneh.

Ucapan Tokichiro bernada merendah, seakan-akan tidak membedakan kedudukannya dulu dengan sekarang. "Hmm, aku memang agak lalai setelah pergi dari sini. Aku gembira melihat Tuan dalam keadaan sehat seperti biasa. Tuan Muda Kameichi pasti sudah besar sckarang. Istri Tuan juga sehat-sehat saja? Setelah kembali ke sini, sepuluh tahun rasanya seperti sekejap saja." Kemudian, sambil memandang berkeliling ke arah pohon-pohon dan atap-atap bangunan, ia terus bernostalgia bagaimana ia dulu setiap hari mengangkat air dari sumur, bagaimana ia dimarahi oleh majikannya, bagaimana ia menggendong Kameichi. dan bagaimana ia menangkapkan jangkrik untuknya.

Namun rupanya Koroku tidak terpengaruh oleh cerita Tokichiro. Ia malah memperhatikan setiap gerakan Tokichiro, dan akhirnya berkata dengan tajam. "Monyet," ia menyapa Tokichiro seperti dulu. "kau telah menjadi samurai?" Sebenarnya pertanyaan itu sudah dijawab oleh pakaian yang dikenakan Tokichiro, tapi Tokichiro tidak terganggu sama sekali.

"Ya, meski upah yang kuterima tak seberapa jumlahnya, tapi aku sudah menjadi samurai. Mogamoga kabar ini dapat menyenangkan hati. Sesungguhnya. aku datang jauh-jauh dari posku di Sunomata. antara lain karena menduga bahwa Tuan akan gembira mendengarnya."

Koroku memaksakan senyum. "Zaman sekarang memang enak. Bahkan orang seperti kau pun diangkat menjadi samurai. Siapa majikanmu?"

"Yang Mulia Oda Nobunaga." "Tukang gertak itu?"

"Oh, ya..." Tokichiro sedikit mengubah nada suaranya. "Aku agak menyimpang dengan membicarakan urusan pribadiku. Hari ini aku datang sebagai Kinoshita Tokichiro atas perintah Yang Mulia Nobunaga." "Bcgitukah? Kau bertugas sebagai utusan?"

"Aku akan masuk. Permisi." Sambil berkata begitu, Tokichiro melepaskan sandalnya menaiki tangga serambi tempat Koroku sedang duduk, lalu duduk dengan tenang, menempati kursi kehormatan di ruangan itu.

"Huh!" Koroku menggerutu. Ia tidak mempersilakan Tokichiro masuk tapi Tokichiro tetap melangkah masuk dan duduk tanpa ragu-ragu. Koroku berpaling ke arahnya dan berkata, "Monyet?"

Walaupun sebelumnya Tokichiro menjawab ketika dipanggil dengan nama ini, kali ini ia menolak. Ia hanya menatap Koroku. yang lalu menggodanya karena sikap kekanak-kanakan ini. "Ayo, Monyet. Kau tiba-tiba mengubah sikapmu," katanya, "tapi sampai sekarang kau bicara seperti orang biasa denganku. Apakah kau kini ingin diperlakukan sebagai utusan Nobunaga?"

"Itu betul."

"Hmm, kalau begitu, pulanglah sekarang juga. Keluar dari sini, Monyet!" Koroku berdiri dan melangkah ke pekarangan. Suaranya bernada kasar, dan matanya menyala-nyala. "Nobunaga mungkin berpendapat bahwa Hachisuka termasuk wilayahnya, tapi sesungguhnya hampir seluruh Kaito berada di bawah kekuasaanku. Seingatku, baik aku maupun para leluhurku tak pernah mendapat sebutir beras pun dari Nobunaga. Tak masuk akal kalau tiba-tiba dia memperlakukanku scbagai pengikutnya. Puanglah, Monyet. Dan kalau kau berani lancang, aku akan membunuhmu!" Koroku memelototi Tokichiro dan melanjutkan. "Setelah kembali ke sana, beritahu Nobunaga bahwa dia dan aku setaraf. Kalau dia ada urusan denganku, dia harus datang sendiri. Kau mengerti. Monyct?"

"Tidak."

"Apa?"

"Sayang sekali. Betulkah Tuan tak lebih dari pemimpin gcrombolan bandit bodoh?"

"A... apa?! Beraninya kau!" Koroku melompat ke serambi dan menghadapi Tokichiro sambil menggenggam gagang pedang panjangnya. "Monyet, coba kauulangi itu sekali lagi."

"Duduklah." "Diam!"

"Tidak, duduklah. Ada yang harus kukatakan pada Tuan."

"Jaga mulutmu!"

"Tidak, aku justru akan memperlihatkan kebodohan Tuan. Ada sesuatu vang perlu kuajarkan. Duduklah!"

"Kau..."

"Tunggu, Koroku! Kalau Tuan hendak membunuhku, inilah tempatnya dan tuanlah orang yang akan melakukannya, jadi kurasa tak ada alasan untuk tcrburu-buru. Tapi jika Tuan membunuhku, siapa yang akan mengajari Tuan?"

"Kau... kau gila!" "Pokoknya. duduk dulu. Ayo, duduklah. Singkirkan kepongahanmu yang tak berguna. Yang akan kuceritakan padamu tidak sekadar menyangkut Yang Mulia Nobunaga dan hubungan beliau dengan marga Hachisuka. Yang paling penting adalah bahwa kalian berdua sama-sama dilahirkan di Negeri Jepang, Menurutmu, Yang Mulia Nobunaga bukan penguasa provinsi ini. Hmm, ucapanmu ini masuk akal. dan aku pun setuju. Tapi aku tak dapat menerima bahwa kau mengakui wilayah Hachisuka sebagai milikmu sendiri. Kau keliru."

"Keliru bagaimana?"

"Bagian mana pun dari negeri ini yang diakui sebagai milik pribadi. apakah itu Hachisuka atau Owari, sebuah teluk, atau bahkan tanah sepetak pun, tidak lagi merupakan bagian dari Kekaisaran. Bukankah begitu, Koroku?"

"Hmm."

"Dengan scgala hormat, berbicara seperti itu mengenai sang Tenno—pemilik negeri ini sesungguhnya—ah, bukan, berdiri di hadapanku sambil memegang pedang pada waktu aku mengatakan ini, merupakan penghinaan yang tak ada duanya. Rakyat jelata pun takkan bersikap seperti ini, sedangkan Tuan pemimpin tiga ribu ronin, bukan? Duduk, dan dengarkanlah!"

Seruan tcrakhir itu bukan sekadar unjuk keberanian, melainkan tercetus dari hati nurani. Pada saat genting itulah sescorang memanggil dari dalam rumah.

"Tuan Koroku, duduklah! Tuan tak dapat berbuat lain."

Siapakah itu? Koroku bertanya-tanya sambil menengok. Tokichiro pun heran, dan menoleh ke arah suara itu. Kemudian dalam pantulan cahaya kehijauan dari pekarangan dalam seseorang terlihat berdiri di pintu koridor. Setengah tubuh laki-laki itu terlindung dalam bayang-bayang tembok. Mereka tak dapat memastikan siapa orang itu, tapi sepintas lalu ia sepertinya mengenakan jubah biksu.

"Oh. Tuan Ekei bukan?" ujar Koroku.

"Betul. Aku telah bersikap lancang dengan berseru dari luar, tapi aku telah mendengar apa yang kalian ributkan." kata Ekei. Ia masih berdiri di tempat semula.

"Kami tentu telah mengusik ketenangan Tuan." kata Koroku dengan tenang. "Maafkan aku Yang Terhormat. Aku akan segera mengusir utusan yang tak tahu diri ini."

"Tunggu, Tuan Koroku." Ekei melangkah ke serambi. "Tuan tidak boleh bersikap kasar." Ekei, biksu pengembara berusia sekitar empat puluh tahun, yang kebetulan sedang bertamu. Tapi perawakannya lebih cocok untuk seorang prajurit. Yang paling menarik pcrhatian adalah mulutnya yang lebar. Melihat gelagat bahwa biksu ini. yang sedang bertamu di rumahnya, mungkin berpihak pada Tokichiro. Koroku menatap tajam ke arahnya. "Mengapa Tuan Ekei berkata begitu?"

"Hmm, begini. Tak ada alasan bagi Tuan untuk menyangkal kebenaran ucapan utusan ini. Tuan Kinoshita menyatakan bahwa baik wilayah ini maupun Provinsi Owari bukan milik Nobunaga dan marga Hachicuka, melainkan milik sang Tenno. Dapatkah Tuan membantah kebenaran pernyataan ini? Tidak. Tuan tak dapat membantahnya. Mengemukakan ketidak-puasan terhadap negeri ini sama saja dengan berkhianat kepada sang Tenno, dan inilah yang hendak dikatakan Tuan Kinoshita. Jadi duduklah sejenak, terimalah kebenaran dan dengarkan baik-baik apa yang akan disampaikan utusan ini. Setelah itu, Tuan bisa memutuskan apakah Tuan akan mengusirnya atau memenuhi permintaannya. Inilah pendapatku."

Koroku bukan bandit bodoh yang tak berpendidikan. Ia sudah mempelajari dasar-dasar kesusastraan Jepang, dan ia mengetahui tradisi-tradisi negerinya, serta dari garis keturunan mana ia berasal.

"Maafkan aku. Aku telah bersikap bodoh dengan menentang prinsip-prinsip kcwajiban moral. Aku akan mendengarkan utusan ini."

Melihat bahwa Koroku sudah tenang dan kembali duduk. Ekei merasa puas. "Kalau begitu, tidak sepatutnya aku terus berada di sini. Perkenankanlah aku mcngundurkan diri dari hadapan Tuan. Tapi, Tuan Koroku, sebelum Tuan memberikan jawaban pada utusan ini sudikah Tuan mampir sejenak ke kamarku? Ada sesuatu yang ingin kukatakan." Kcmudian Ekei berlalu.

Koroku mengangguk, lalu berpaling pada Tokichiro. "Monyet—bukan, maksudku Yang Terhormat Utusan Yang Mulia Oda—urusan apa yang hcndak Tuan bicarakan dcnganku?"

Tanpa sadar Tokichiro membasahi bibir. Perasaannya mengatakan bahwa pcrtemuannya dengan Koroku telah mencapai titik balik. Apakah ia akan sanggup membujuk Koroku dengan lidah fasih dan kepala dingin? Pembangunan benteng di Sunomata, seluruh sisa hidupnya, dan pada gilirannya. kejayaan atau kehancuran marga junjungannya, semuanya tergantung apakah Koroku menjawab ya atau tidak. Tokichiro pun merasa tegang.

"Sesungguhnya kunjunganku berkaitan dengan pesan mengenai pendirian Tuan yang kukirim melalui pembantuku, Gonzo, sebelum ini."

"Mengenai itu, aku menolak tegas, scperti yang kutulis dalam surat jawabanku. Tuan membaca jawabanku atau tidak?" Koroku mcmotong dengan ketus.

"Aku membacanya." Ketika melihat bahwa lawan bicaranya takkan mengubah pendiriannya. Tokichiro mcnundukkan kepala dengan lesu. "Tapi Gonzo mengantarkan surat yang ditulis olehku. Hari ini aku mengantarkan permintaan Yang Mulia Nobunaga."

"Siapa pun yang menanyakannya, aku tetap pada pendirianku. Aku tidak akan mendukung marga Oda. Dan jawaban itu tak perlu kutulis dua kali."

"Hmm, kalau begitu, apakah Tuan hendak membawa garis keturunan yang diwariskan oleh para leluhur Tuan menuju kchancuran?"

"Apa?"

"Jangan ccpar naik darah. Sepuluh tahun lalu aku sendiri sempat menikmati keramahan Tuan. Sebenarnya patut disayangkan bahwa orang seperti Tuan hidup tersembunyi di sini, tanpa dapat memberikan sumbangan berarti. Baik dari segi kepentingan umum maupun dari segi kepentinganku sendiri, aku akan menyesal sekali jika marga Hachisuka musnah akibat kesalahan sendiri. Kedatanganku ke sini merupakan upaya terakhir untuk membalas budi baik marga Hachisuka yang pernah kuterima."

"Tokichiro." "Ya?"

"Kau masih muda. Kau belum mampu menjalankan tugas untuk majikanmu dengan mengandalkan kepandaian lidah. Kau hanya membuat gusar lawan bicaramu, padahal aku tak ingin marah pada anak muda seperti kau. Sebaiknya kau pergi saja sebelum kau melangkah terlalu jauh."

"Aku tidak akan pergi sebelum aku selesai menyampaikan pesan yang dipercayakan padaku."

"Aku menghargai semangatmu, tapi sikapmu seperti orang pandir."

"Terima kasih. Prestasi-prestasi besar, yang melebihi kemampuan manusia, biasanya memang menyerupai tindak-tanduk orang pandir. Tapi orang bijak tidak menyusuri jalan kebijaksanaan. Misalnya, aku menduga bahwa Tuan menganggap diri Tuan lebih bijak daripada diriku. Tapi, kalau diamati secara sungguh-sungguh, Tuan persis seperti si dungu yang duduk di atap sambil menyaksikan rumahnya terbakar. Tuan tetap keras kepala, meskipun api sudah berkobar di sekeliling Tuan. Padahal Tuan hanya memiliki tiga ribu ronin."

"Monyet! Lehermu semakin dekat saja ke pedangku!"

"Apa? Leherku yang terancam bahaya? Kalaupun Tuan tetap setia pada marga Saito, orang-orang seperti apakah mereka itu? Mereka telah melakukan pengkhianatan dan kekejian. Pernahkah Tuan melihat ada provinsi lain dengan hubungan antarmanusia yang begitu buruk? Bukankah Tuan mempunyai putra? Bukankah Tuan mempunyai keluarga? Coba perhatian Mikawa. Yang Mulia Tokugawa Ieyasu pun telah bersekutu dengan marga Oda. Pada saat marga Saito runtuh pada siapa Tuan akan menggantungkan diri? Jika Tuan mengandalkan orang-orang Imagawa, Tuan akan dicegat oleh pihak Mikawa; jika Tuan minta bantuan dari Ise, Tuan akan dikepung oleh pihak Oda. Tak peduli siapa yang Tuan pilih sebagai sekutu, bagaimana Tuan akan melindungi keluarga Tuan? Tuan akan terkucil dan menuju kehancuran, bukankah begitu?" Koroku membisu, seakan-akan tercengang, seakanakan termakan oleh kepandaian bicara Tokichiro. Tetapi, walaupun kesungguh-sungguhan Tokichiro tercermin pada wajahnya ketika ia bicara, ia tak pernah memelototi lawan bicaranya atau terlalu mendesak. Dan kesungguh-sungguhan, jika diungkapkan dengan penuh semangat, akan terdengar fasih, meski sebenarnya tergagap-gagap.

"Aku mohon agar Tuan sekali lagi mempertimbangkan keputusan Tuan. Tak ada orang berakal di dunia ini yang menyetujui kelaliman di Mino. Bersekutu dengan provinsi yang tak mengenal hukum berarti mengundang bencana. Kalau Tuan sudah berhasil menghancurkan diri sendiri, akankah ada yang memuji Tuan sebagai martir yang gugur karena mengikuti Jalan Samurai? Lebih baik Tuan akhiri persekutuan tak berharga ini, dan bertemu satu kali saja dengan junjunganku, Yang Mulia Nobunaga. Walaupun sering dikatakan bahwa seluruh negeri penuh dengan pejuang, tak seorang pun di tanah ini yang dapat menyaingi Yang Mulia Nobunaga. Apakah Tuan mengira bahwa dunia tidak akan berubah? Hal ini tak pantas diucapkan, tapi sesungguhnya keshogunan telah mencapai akhir perjalanannya. Tak seorang pun menaati sang Shogun, dan para bawahannya tak sanggup memegang kendali pemerintahan. Semua provinsi sibuk memperkuat wilayah masing-masing, memperkokoh pasukan sendiri, mengasah senjata, dan menumpuk bedil. Satusatunya cara untuk tetap hidup adalah dengan mengetahui siapa di antara panglima-panglima itu yang berusaha menegakkan suatu orde baru."

Untuk pertama kali Koroku mengangguk tanda setuju.

Tokichiro mendekatinya. "Orang itu berada di antara kita dan dia memiliki pandangan jauh ke depan. Hanya saja orang-orang biasa tak mampu melihatnya. Tuan berkeras mempertahankan kesctiaan Tuan terhadap marga Saito, tapi Tuan begitu sibuk dengan kesetiaan sepele sehingga tidak menghiraukan kesetiaan yang lebih besar. Ini patut disayangkan, baik bagi Tuan maupun bagi Yang Mulia Nobunaga. Hapuslah hal-hal tak berarti dari benak Tuan dan berpikirlah secara lebih luas. Waktunya sudah tiba. Betapapun tak berartinya aku, aku tdah ditugaskan untuk mendirikan benteng di Sunomau. Dan dengan benteng itu sebagai pangkalan, aku mendapat perintah memimpin barisan depan untuk menyerbu ke Mino. Marga Oda tidak kekurangan komandan yang cerdas dan berani. Dengan menunjuk orang bawahan seperti aku, Yang Mulia Nobunaga telah melakukan tindakan berani. Beliau menunjukkan bahwa beliau bukan pemimpin biasa seperti yang lain. Dalam perintah Yang Mulia Nobunaga tersirat bahwa Benteng Sunomata akan bcrada di bawah komando orang yang membangunnya. Bagi orang-orang seperti kita, adakah kesempatan untuk maju selain sekarang? Di pihak lain, secara perorangan kita takkan dapat berbuat banyak. Tidak, aku tidak akan memperindah katakataku. Kupikir aku bisa memanfaatkan kesempatan ini dan aku mempertaruhkan nyawaku dengan datang ke sini untuk membujuk Tuan. Tapi aku tidak datang dengan tangan kosong. Di luar ada tiga kuda yang membawa emas dan perak scbagai kompensasi untuk menutup biaya militer untuk anak buah Tuan. Aku akan berterima kasih sekali jika Tuan berkenan mencrimanya." Sctdah Tokichiro selesai bicara, seseorang mcmanggil Koroku dari pekarangan.

"Paman," seorang prajurit berkata sambil menyembah.

"Siapa yang memanggilku 'Paman'?" Koroku menganggapnya ganjil dan memandang prajurit itu dengan saksama.

"Sudah lama kita tidak berjumpa," si prajurit berkata, lalu mengangkat kepala. Koroku tertegun. Tanpa sadar ia membuka mulut.

"Tenzo?"

"Ya. Paman."

"Mau apa kau di sini?"

"Aku tak menyangka bahwa aku akan bcrjumpa lagi dengan Paman, tapi berkat kebaikan hati Tuan Kinoshita aku ditugaskan untuk menyertainya dalam misi ini."

"Apa? Kalian datang bersama-sama?"

"Setelah aku membelot dan lari dari Hachisuka, aku dipekerjakan sebagai ninja oleh marga Takeda di Kai selama waktu yang cukup panjang. Kemudian, kirakira tiga tahun lalu aku diperintahkan memata-matai marga Oda, jadi aku pergi ke kota Benteng Kiyosu. Ketika aku di sana, aku dipcrgoki oleh anak buah Yang Mulia Nobunaga dan dimasukkan ke penjara. Tapi bcrkat jasa baik Tuan Kinoshita, aku akhirnya dibebaskan."

"Jadi, sekarang kau pembantu Tuan Kinoshita?" "Tidak, sctdah dibebaskan dari penjara—dan dengan

bantuan Tuan Kinoshita—aku bergabung dengan pasukan ninja marga Oda. Tetapi Tuan Kinoshita hendak berangkat ke Sunomata, aku memohon izin untuk menyertainya."

"Oh?" Koroku mcngamati keponakannya sambil terheran-heran. Perubahan watak Tenzo bahkan lebih besar daripada perubahan penampilannya. Sang keponakan yang tak dapat diatur, yang oleh orangorang Hachisuka pun dianggap brutal dan tak beradab tak kelihatan lagi. Kini tindak-tanduknya penuh sopan-santun. Ia menyesali masa lalunya. dan minta maaf atas segala kejahatan yang pernah dilakukannya. Sepuluh tahun lalu—betul-betul sepuluh tahun lalu— Koroku hendak mencincang tubuh kcponakannya itu! Kala itu, karena marah atas perbuatan Tenzo, Koroku mengejar Tenzo sampai ke perbatasan Kai untuk menghukumnya. Tapi sekarang, ketika memandang mata Tenzo yang tabah Koroku hampir tak sanggup mengingat kemarahannya dulu. Ini bukan sekadar rasa simpati bagi orang sedarah. Kepribadian

Tenzo memang sudah berubah. "Aku tidak menyinggung soal ini, karena kupikir bisa dibicarakan belakangan," kata Tokichiro. "tapi aku mohon agar Tuan bersedia mengampuni keponakan Tuan, Tenzo telah menjadi pengikut Oda yang sctia. Dia pun telah mohon maaf atas perbuatannya dulu. Dia sering berkata bahwa dia ingin memohon maaf secara langsung pada Tuan tapi terlalu malu untuk kembali ke sini. Jadi, karena aku memang ada urusan di Hachisuka, kupikir ini kesempatan baik baginya. Kuminta dia mcngambil kuda untuk menyertaiku. Aku berharap hubungan antara paman dan keponakan dapat kembali mulus seperti sediakala."

Mendengar penjelasan Tokichiro, Koroku pun tak sampai hati mengungkit-ungkit sesuatu yang terjadi scpuluh tahun lalu. Dan ketika Koroku membiarkan pintu hatinya terbuka, Tokichiro tidak mcnyia-nyiakan kesempatan itu.

"Tenzo, sudah kausiapkan emas dan perak yang kita bawa?" Pada waktu bicara dengan Tcnzo,. suara Tokichiro tentu saja bernada memerintah.

"Sudah. Tuan."

"Hmm, kalau begitu mari kita periksa. Suruh seorang pelayan membawanya ke sini."

"Baik. Tuan."

Tapi ketika Tcnzo mulai melangkah, Koroku berseru dengan terburu-buru, "Tunggu, Tenzo. Aku tak bisa menerima pemberian ini. Kalau aku menerimanya itu berarti aku berjanji mengabdi pada marga Oda. Tunggu sampai aku selesai mcmikirkannya." Wajah Koroku yang memerah menccrminkan pertentangan yang terjadi dalam batinnya. Secara mendadak ia berdiri dan masuk ke rumah.

Sejak kembali ke kamarnya, Ekei sibuk melengkapi catatan perjalanannya, tapi kini ia tiba-tiba berdiri.

"Tuan Koroku." ujar Ekei sambil mengintip ke kamar Koroku, tapi laki-laki itu tidak ada di sana. Ekei pergi ke ruang sembahyang, mengintip ke dalam dan menemukan Koroku sedang duduk bersilang tangan di depan tempat pemujaan leluhur.

"Sudahkah Tuan memberikan jawaban kepada utusan Yang Mulia Nobunaga?"

"Dia belum pergi, tapi semakin lama aku semakin tak sanggup mendengarkan omongannya, jadi kubiarkan saja dia di serambi."

"Kemungkinan besar dia takkan mau pergi." ujar Ekei, tapi Koroku tetap membisu.

"Tuan Koroku," Ekei akhirnya berkata. "Ada apa?"

"Kudengar utusan itu pernah dipekerjakan sebagai pelayan di sini."

"Aku hanya mengenalnya dengan nama 'Monyet'. dan sama sekali tidak tahu dari mana dia berasal. Kutemukan dia di tepi Sungai Yahagi, lalu kuberi pekerjaan."

"Ini tidak baik." "Tidak baik?"

"Tuan belum menghapus gambaran itu dari benak Tuan. Dalam hati, Tuan tetap menganggap dia sebagai pelayan yang dulu. Ini yang menyebabkan Tuan tak dapat melihat siapa laki-laki yang kini berdiri di hadapan Tuan."

"Begitukah?"

"Belum pernah aku merasa begitu terkejut seperti hari ini."

"Kenapa?"

"Karena wajah utusan itu. Kebanyakan orang tentu sependapat bahwa wajahnya tidak biasa. Mengamati tampang orang lain hanyalah sebuah hobi dan jika aku mcnilai watak seseorang dengan menatap wajahnya, biasanya kurahasiakan kesimpulanku. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh terpana. Kelak orang itu akan melakukan sesuatu yang luar biasa."

"Si muka monyct itu?"

"Ya. Suatu hari nanti, orang itu mungkin menggerakkan seluruh negen. Seandainya dia tidak berada di Ncgeri Matahari Terbit dia mungkin menjadi seorang raja."

"Apa maksud Tuan Ekei?"

"Dari semula sudah kuduga bahwa Tuan takkan menanggapi permintaannya secara sungguh-sungguh, jadi kuceritakan ini semua sebelum Tuan mengambil keputusan. Singkirkanlah segala prasangka. Kalau Tuan memandang seseorang, pandanglah dia dengan mata hati, jangan dengan mata kepala. Kalau Tuan membiarkan orang itu pergi dengan membawa penolakan Tuan, Tuan akan menyesal selama seratus tahun berikut."

"Bagaimana Tuan Ekei bisa bicara seperti ini mengenai seseorang yang belum pernah Tuan temui sebelumnya?"

"Aku mengatakan ini bukan sekadar karena mengamati wajahnya. Aku tertegun waktu mendengar uraiannya mengenai keadilan dan kebenaran. Da tidak terpengaruh oleh ejekan dan ancaman Tuan dan dia menyangkal segala ucapan Tuan dengan tulus dan jujur. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa kelak dia akan menjadi orang besar."

Koroku langsung mcnyembah di hadapan Ekei, dan berkata dengan tegas. "Dengan segala kerendahan hati, aku tunduk pada kata-kaia Tuan. Terus terang, jika kubandingkan diriku dengan dia, bukan diriku yang keluar sebagai pemenang. Akan kusingkirkan kesombonganku yang tak berguna dan segera memberikan jawaban positif. Aku sungguh berterima kasih atas petunjuk Tuan."

Koroku langsung pergi. Matanya berbinar-binar seakan-akan ia telah menyaksikan kelahiran sebuah era baru.

Beberapa jam setelah Tokichiro tiba di Hachisuka, dua penunggang kuda membelah kegelapan malam dalam pcrjalanan menuju Kiyosu. Ketika itu tak ada yang tahu bahwa mereka Koroku dan Tokichiro. Malam itu juga Nobunaga bcrbicara dengan keduanya di sebuah ruangan kecil di dalam benteng. Pembicaraan rahasia mereka berlangsung beberapa jam. Hanya orang-orang terpilih, termasuk Tenzo yang mengetahui maksud kedatangan mereka.

Kecsokan harinya Koroku mengadakan rapat perang. Semua yang memenuhi undangan adalah ronin. Sudah bertahun-tahun mereka berada di bawah komando Koroku dan mereka mengakui kepemimpinannya dengan cara yang sama seperti para panglima provinsi menaati keputusan-keputusan Shogun. Masing-masing pemimpin mengepalai sekelompok pejuang di desa atau kubu pertahanannya, menunggu hari mereka dibutuhkan. Semuanya merasa heran melihat kehadiran Watanabe Tenzo dari Mikuriya. yang sepuluh tahun lalu telah mcmbangkang terhadap Koroku.

Setelah semuanya mengambil tcmpat duduk, Koroku mengumumkan keputusannya untuk membatalkan persekutuan dengan marga Saito dan beralih kepada marga Oda. Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan mengapa keponakannya kembali. Pada akhir pidatonya Koroku berkata. "Aku tahu bahwa beberapa dari kalian tidak setuju dan bahwa ada yang memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Saito. Aku tidak akan memaksa kalian. Kalian boleh pergi tanpa ragu-ragu dan aku takkan mendendam pada siapa pun yang menyeberang ke pihak Saito."

Namun tak seorang pun bangkit untuk pergi. Tak seorang pun memperlihatkan perasaan sesungguhnya. Tokichiro minta izin pada Koroku untuk berbicara dengan orang-orang itu. "Aku menerima perinrah dari Yang Mulia Nobunaga untuk membangun benteng di Sunomata. Aku bisa membayangkan bahwa kalian semua sampai sckarang hidup sesuka hati. Tapi pernahkah kalian menempati sebuah benteng? Dunia sedang berubah. Gunung-gunung dan lembah-lembah tempat kalian bisa hidup bebas mulai lenyap. Kalau tidak begitu, takkan ada kemajuan. Kalian bisa menempuh hidup sebagai ronin karena sang Shogun tak berdaya. Apa kalian pikir keshogunan akan sanggup bertahan lebih lama? Negeri ini sedang berubah, era baru telah menyingsing. Kita tak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk anak-cucu kita. Kalian memiliki kesempatan untuk membentuk rumah tangga sendiri, untuk menjadi samurai sejati. Jangan biarkan kesempatan ini berlalu bcgitu saja."

Setclah ia   selesai,   seluruh   ruangan   diliputi

keheningan. Tapi tak ada tanda-tanda perasaan tak senang. Orang-orang itu yang biasanya hidup tanpa memikirkan masa depan, kini merenungkan ucapan Tokichiro.

Satu orang memecahkan keheningan. "Aku tidak keberatan."

Ia diikuti oleh yang lain, yang memberikan jawaban sama. Mereka sadar bahwa mereka telah mempertaruhkan nyawa dengan mendukung marga Oda dan ketetapan hati mereka tampak membara dalam sorot mata masing-masing. ***

Bunyi kapak mcnebang pohon... disusul bunyi cipratan air ketika pohon itu jatuh ke Sungai Kiso. Sebuah rakit dibuat dan didorong ke dalam arus, mengambang ke arah hilir untuk berjumpa dengan air Sungai Ibi dan Yabu dari utara dan barat, lalu mencapai gosong pasir yang luas—Sunomata. Perbatasan antara Mino dan Owari. Lokasi pembangunan benteng, tempat Sakuma Nobumori, Shibata Katsuie, dan Oda Kageyu menemui kegagalan yang sama.

"Dasar tolol, mereka hanya buang-buang waktu saja." Dari scberang sungai, para prajurit Saito memperhatikan kesibukan itu sambil berkelakar dan melindungi mata dari sinar matahari.

"Ini sudah keempat kali." "Mereka belum kapok juga."

"Siapa Jendral Pasukan Mayat kali ini? Sungguh menyedihkan walaupun dia dari pihak musuh. Paling tidak, aku akan mengenang namanya."

"Dia bernama Kinoshita Tokichiro. Aku belum pernah mendengar tentang orang ini."

"Kinoshita... Ah. dialah yang mereka juluki si Monyet. Dia hanya perwira berpangkat rendah. Nilainya tak lebih dari lima puluh atau enam puluh kan."

"Orang tak berarti seperti itu dijadikan pemimpin?

Kalau begitu, musuh kita tentu tidak serius." "Siapa tahu ini jebakan untuk kita."

"Mungkin saja. Barangkali mereka berencana menarik perhatian kita ke sini, lalu menyeberang di tcmpat lain."

Semakin lama para prajurit Mino mcmperhatikan kegiatan pembangunan di sisi seberang, semakin tak peduli mereka. Sekitar satu bulan telah berlalu, Tokichiro memimpin para ronin dari Hachisuka, yang mulai bekerja begitu mereka tiba. Dua atau tiga kali hujan turun deras, tapi itu malah membantu menghanyutkan rakit-rakit kayu. Ketika air sungai mcmbanjiri gosong pasir pada suatu malam pun orang-orang Hachisuka segera bahu-membahu, seolaholah tidak terjadi apa-apa. Apakah awan hujan akan tiba sebelum mereka sempat menyelesaikan tembok tanah? Alam atau manusiakah yang akan menang?

Para ronin bekerja seperti orang yang telah lupa cara makan dan tidur. Kedua ribu orang yang berangkat dari Hachisuka telah menjadi lima atau enam ribu pada saat mereka tiba di tcmpat tujuan.

Tokichiro hampir tidak perlu menggunakan tongkat panglima. Anak buahnya sigap dan bekerja keras, dan hari demi hari pekerjaan mereka tcrus maju, tepat di depan matanya.

Para ronin tcrbiasa menempuh perjalanan di pegunungan maupun daratan. Dan mereka jauh lebih memahami prinsip-prinsip pengendalian banjir dan konstruksi tanah daripada Tokichiro.

Tujuan mereka adalah membuat tempat ini menjadi milik mereka. Dengan pekerjaan ini, mereka meninggalkan cara hidup lama yang penuh pesta pora dan kemalasan. Mereka merasakan kepuasan serta kesenangan yang timbul karena mengerjakan sesuatu yang berarti.

"Hmm, gundukan tanah ini tidak akan jebol, walaupun diterjang banjir bandang," kata salah seorang ronin dengan bangga.

Sebelum bulan pertama berlalu, mereka telah meratakan daerah yang lebih luas daripada pekarangan benteng, dan bahkan telah membangun jalan ke daratan.

Di tepi seberang, orang-orang Mino mengamati tempat pembangunan. "Bentuknya sudah mulai kelihatan, ya?"

"Mereka belum mendirikan tembok batu, jadi bentuk bentengnya belum tampak, tapi fondasinya sudah siap."

"Aku tidak melihat tukang kayu atau tukang plester."

"Aku yakin mereka masih memerlukan seratus hari sampai mereka bisa mendatangkan tukang kayu dan tukang plester."

Tanpa semangat, sekadar untuk mengusir rasa bosan para prajurit memandang ke seberang. Sungai itu cukup lebar. Pada hari-hari cerah, kabut tipis naik dari permukaan air. Sulit untuk melihat tepi seberang dengan jelas, tapi sesekali ada hari ketika bunyi batu dipotong dan seruan-scruan dari tempat pembangunan terbawa angin ke sisi berlawanan.

"Apakah kita akan melancarkan serangan mendadak kali ini? Tepat di tengah-tengah pembangunan?"

"Kelihatannya tidak. Ada perintah tegas dari Jendral Fuwa."

"Bagaimana perintahnya?"

"Jangan lepaskan satu tembakan pun. Biarkan musuh bekerja sesuka hati."

"Kita diperintahkan menyaksikan mereka menyelesaikan benteng itu?"

"Menurut rencana semula, kita seharusnya menggempur musuh dengan serangan tunggal pada wakiu mereka baru mulai bekerja. Berdasarkan rencana kedua, kita disuruh menyerbu ketika benteng setengah jadi lalu memporak-porandakannya. Tapi sekarang kita diperintahkan menunggu sampai mereka merampungkan pekerjaan."

"Dan setelah itu?"

"Merebut benteng mereka, tentu saja!"

"Aha! Kita biarkan musuh menyelesaikan pekerjaan, lalu mengambil alih benteng mereka."

"Sepertinva begitulah rencananya."

"Hei, cerdik juga. Kedua jendral Oda, Katsuie dan Sakuma memang agak sukar ditaklukkan, tapi komandan yang baru ini, si Kinoshita, tak lebih dari prajurit biasa." Celoteh orang itu ditanggapi dengan pandangan tajam oleh salah satu prajurit lain.

Tiba-tiba orang ketiga bergegas memasuki pos jaga. Sebuah perahu yang datang dari arah hulu telah mencpi. Seorang jendral berkumis melangkah ke darat, diikuti oleh beberapa pembantu. Seekor kuda dituntun mengikutinya.

"Si Macan datang!" kata salah seorang penjaga.

"Si Macan dari Unuma, di sini!" Mereka saling bcrbisik dan melirik. Inilah komandan Benteng Unuma, di hulu sungai; terkenal sebagai salah satu jendral paling garang di Mino, nama sesungguhnya adalah Osawa Jirozaemon. Orang ini demikian menakutkan, sehingga para ibu di Inabayama biasa berkata. "Si Macan datang!" untuk mendiamkan anakanak mereka yang sedang menangis.

"Apakah Jendral Fuwa ada di sini?" tanya Jirozaemon.

"Ada, tuanku. Beliau sedang di perkemahan." "Sesungguhnya aku tidak keberatan menemui dia di

perkemahan, tapi tempat ini lebih cocok untuk berbicara. Segeralah panggil dia ke sini."

"Siap, tuanku." Prajurit itu langsung pergi.

Tak lama kemudian Fuwa Heishiro, diikuti oleh prajurit tadi serta lima atau enam bawahannya. melangkah cepat ke arah tepi sungai. "Si Macan! Mau apa dia?" Fuwa bergumam.

"Jendral Fuwa, terima kasih atas kesediaan Tuan menemuiku di sini."

"Oh, tidak apa-apa. Bagaimana aku dapat mcmbantu?"

"Di seberang sana." Osawa menunjuk ke seberang sungai. "Pasukan musuh di Sunomau?"

"Betul. Tentunya mereka diawasi siang dan malam." "Tentu saja! Percayalah, kami terus-menerus berjaga-

jaga."

"Hmm, meski benteng yang kupimpin berada di hulu, aku tidak hanya memikirkan pertahanan Unuma."

"Ya, tentu saja."

"Sesekali aku menaiki perahu auu berjalan mcnyusuri tepi sungai untuk melihat keadaan di bagian hilir, dan waktu aku tiba hari ini, aku terkejut sekali. Mungkin sudah terlambat, tapi kalau kuamati perkemahan ini aku mendapat kesan bahwa suasananya agak terlalu santai. Apa rencana Jendral sekarang ini?"

"Apa maksud Tuan, 'sudah terlambat'?"

"Maksudku, pembangunan benteng musuh telah mencapai tahap mengejutkan. Kelihaiannya pihak musuh telah membangun tanggul kedua, menyiapkan fondasi, dan sudah mendirikan setengah tembok batu mereka, sementara Jendral mengawasi mereka tanpa ambil pusing."

Fuwa menggerutu, kesal.

"Bagaimana kalau para tukang kayu telah menyiapkan kayu untuk benteng di pegunungan di balik Sunomata? Dan bukankah ada kemungkinan mereka telah menyiapkan hampir segala sesuatu, mulai dari jembatan jungkat sampai perlengkapan interior, belum lagi tembok-tembok? Begitulah pandanganku mengenai situasi ini." "Hmm... begitu."

"Sekarang ini, pada malam hari pasukan musuh pasti lelah karena bekerja keras sepanjang siang. Mereka pun lalai mcmbentuk pos pcrtahanan. Bukan itu saja, para pekerja dan pengrajin. yang hanya akan menjadi penghalang saat pertempuran pecah, tinggal bersama para prajurit. Seandainya kita sekarang melancarkan serangan besar-besaran. menyeberangi sungai dalam kegelapan. dan menyerang dari arah hulu, hilir, dan dari tepi sungai, kita bisa menumpas musuh sampai ke akar-akarnya. Tapi jika kita lalai, suatu pagi dalam waktu dekat ini kita akan bangun dengan kaget karena menemukan sebuah benteng tiba-tiba telah berdiri kokoh. Sebaiknya kita hindari kejutan seperti itu."

"Betul."

"Kalau begitu, Tuan setuju?"

Tawa Fuwa meledak. "Astaga, Jendral Osawa! Jadi aku dipanggil ke sini karena Tuan khawatir mengenai itu?"

"Aku mulai ragu apakah Tuan memiliki mata, sehingga aku memutuskan untuk menjelaskan situasinya di sini, di tepi sungai."

"Tuan melangkah terlalu jauh! Sebagai komandan militer, pikiran Tuan sungguh dangkal. Kali ini aku sengaja membiarkan pihak musuh membangun benteng mereka. Tidakkah Tuan mcnyadarinya?"

"Tentu saja.   Dan   aku   menduga   bahwa   Tuan berencana untuk membiarkan mereka menyelesaikan pembangunan, lalu menyerang, dan selanjutnya memanfaatkan benteng itu sebagai pangkalan pasukan Mino untuk merebut keunggulan di Owari."

"Tepat."

"Sejak semula aku yakin bahwa itulah pemikiran Tuan, tapi sesungguhnya strategi ini sangat berbahaya jika Tuan tidak tahu siapa yang Tuan hadapi. Aku tak bisa diam saja dan menyaksikan kehancuran pasukan kita sendiri."

"Kenapa rencana ini akan membawa kehancuran bagi pasukan kita? Aku tidak mengerti."

"Bersihkanlah telinga Tuan dan perhatikan baikbaik bunyi apa yang terdengar dari seberang. Tuan akan menyadari seberapa jauh kemajuan pembangunan benteng yang telah dicapai. Bunyi yang terdengar menunjuk-kan bahwa para prajurit pun terlibat dalam pembangunan. Ini berbeda dengan Nobumori dan Katsuie. Kali ini pemimpin mereka betul-betul menggebu-gebu. Sudah jelas bahwa komando jatuh ke tangan seseorang berkepribadian unggul, biarpun dia dari pihak Oda."

Fuwa memegangi perutnya dan tertawa, mengejek Osawa karena memberi penilaian terlalu tinggi kepada lawan mereka. Walaupun Fuwa dan Osawa bertempur di pihak yang sama, jalan pikiran keduanya tidak segaris. Osawa mendecakkan lidahnya dengan keras.

"Apa boleh buat. Silakan tertawa scpuas hati. Nanti Tuan akan lihat sendiri." Dengan ucapan terakhir ini, Osawa memanggil pembawa kudanya, lalu pergi sambil mendongkol.

Sebelum sepuluh hari berlalu, ramalan Osawa Jirozaemon telah terbukti tepat. Pembangunan benteng di Sunomata maju pesat dalam tiga malam saja.

Ketika para penjaga terbangun pada pagi setelah malam ketiga dan memandang ke seberang sungai. benteng itu sudah hampir rampung.

Fuwa menggosok-gosok tangan dan berkata, "Bagaimana kalau kita mengusir mereka dari sana?"

Pasukan Fuwa telah terlatih menyeberangi sungai dan melakukan serangan pada malam hari. Seperti pernah mereka lakukan sebelumnya, mereka mendekati dan mengepung Sunomata di tengah malam buta, berencana merebutnya dengan sekali pukul.

Tapi kali ini mereka memperoleh sambutan berbeda. Tokichiro dan para ronin di bawah komandonya telah siap siaga. Mereka membangun benteng ini dengan cucuran keringat dan darah. Apakah orang-orang Saito menyangka mereka akan menyerahkannya begitu saja? Gaya tempur para ronin sama sekali tidak mengikuti aturan. Berbeda dengan prajurit-prajurit Nobumori dan Katsuie, orang-orang ini bagaikan serigala. Dalam pertempuran yang terjadi, perahu-perahu pasukan Mino disiram minyak dan dilalap api. Ketika Fuwa menyadari bahwa anak buahnya tak mampu merebut posisi unggul, ia memberikan perintah mundur. Tapi pada waktu kata-kata itu meluncur dari mulutnya, semuanya sudah terlambat.

Dikejar-kejar dari tembok batu ke tepi sungai, para prajurit Mino masih bcruntung bisa menyelamatkan nyawa. Hampir seribu orang telah menjadi mayat. Sejumlah serdadu yang telah kehilangan rakit terpaksa melarikan diri ke arah hulu atau hilir, tapi orang-orang Hachisuka tidak bcrmaksud membiarkan mereka lolos. Bagaimana mungkin pasukan Mino lolos dari kejaran para ronin yang begitu terbiasa dengan medan berat?

Serangan malam itu berhasil ditangkal. Fuwa melipatgandakan kekuatannya dan sekali lagi menyerbu Sunomata. Gosong pasir dan air sungai rampak merah oleh darah. Tapi ketika matahari terbit, pasukan di dalam benteng mengumandangkan nyanyian kemenangan.

"Sarapan pagi ini akan terasa lebih lezat!"

Fuwa menjadi nekad, dan sambil menunggu datangnya badai malam itu, ia merencanakan serangan ketiga secara habis-habisan. Serbuan pasukan Mino datang dari arah hulu dan hilar.

Ke arah hulu, di Bentcng Unuma, hanya pasukan Osawa Jirozaemon yang tidak menanggapi seruan untuk mengadakan serangan umum. Pertempuran malam itu begitu mengerikan, sehingga para ronin pun kehilangan banyak orang dalam air sungai yang penuh lumpur. Tapi pasukan Mino dipaksa mengaku bahwa mereka menderita kekalahan total.