--> -->

Taiko Bab 09 : Panglima Bergigi Hitam

Bab 09 : Panglima Bergigi Hitam

PINTU kayu bergeser tanpa suara. Penuh hormat Sai membungkuk di hadapan Nobunaga, lalu menutup pintu perlahan-lahan.

"Tuanku sudah terjaga?" "Jam berapa sekarang?" "Jam Kerbau, tuanku." "Bagus."

"Hamba menunggu perintah tuanku."

"Bawakan baju tempurku dan suruh orang-orang menyiapkan kudaku. Dan buatkan sarapan untukku."

Sai bekerja efisien, dan untuk mengurus kebutuhankebutuhan pribadinya. Nobunaga selalu berpaling padanya. Perempuan itu pasrah pada nasib dan tidak cerewet. Setelah membangunkan pelayan yang tidur di ruang sebelah, ia memberitahu samurai yang sedang bertugas jaga agar mengambil kuda Nobunaga, lalu ia membawa masuk makanan majikannya.

Nobunaga meraih sumpit. "Jika fajar tiba, kita telah memasuki hari kesembilan belas di Bulan Kelima."

"Ya, tuanku."

"Di seluruh negeri takkan ada yang makan pagi sedini ini. Hmm, lezat sekali. Aku minta semangkuk lagi. Apa lagi yang ada?"

"Sedikir lumut laut kering dan beberapa buah berangan." "Kau tidak mengecewakanku." Dengan riang Nobunaga menghabiskan buburnya dan makan dua atau tiga buah berangan. "Ah, nikmatnya. Sai, ambilkan rebanaku." Nobunaga sangar menghargai rebana yang diberi nama Narumigata olehnya. Ia menempelkannya ke bahu dan memukulnya dua atau tiga kali. "Bunyinya nyaring sekali! Mungkin karena masih pagi sekali, tapi bunyinya lebih jernih daripada biasanya. Sai, mainkan sepenggal Atsumori agar aku bisa menari."

Dengan patuh Sai mengambil rebana dari tangan Nobunaga dan mulai memainkannya. Di bawah jemarinya yang luwes, bunyi rebana terdengar jelas dan seluruh benteng seakan-akan bernyanyi:

Bangunlah! Bangunlah! Hidup manusia

Hanya lima puluh tahun di bawah langit...

Nobunaga berdiri. Ia mulai melangkah dengan gemulai, dan menembang seiring irama rebana.

Jelas bahwa dunia ini

Tak lebih dari mimpi yang sia-sia. Hidup hanya sekali.

Adakah yang tidak akan hancur?

Suaranya lebih bergema dan lantang daripada biasa. Dan ia menembang seakan-akan hendak menyambut ajal yang telah dekai.

Seorang samurai bergegas menyusuri selasar. Baju tempurnya bergemerin-cing ketika ia berturut di lantai kayu. "Kuda tuanku telah siap. Kami menanti perintah tuanku."

Tangan dan kaki Nobunaga berhenti di tengahtengah tarian. dan ia berpaling kepada orang itu. "Bukankah kau Iwamuro Nagaro?"

"Ya, tuanku."

Iwamuro Nagato mengenakan baju tempur lengkap dan membawa pedang panjangnya. Namun Nobunaga belum memakai baju tempur, dan malah sedang menari diiringi rebana di rangan seorang dayang. Nagato tampak kaget, dan dengan sangsi ia menatap berkeliling. Yang menyampaikan perintah agar menyiapkan kuda untuk menghadapi pertempuran adalah pelayan Nobunaga sendiri. Semua orang lelah karena kurang tidur, dan si pelayan pun gelisah sekali. Mungkinkah ada kesalahan? Nagato telah berpakaian dengan terburu-buru, tapi ia menjadi bingung ketika melihat Nobunaga tampak santai. Biasanya, kalau Nobunaga berkata. "Kuda!" ia akan menghambur keluar sebelum para pengikutnya sempat bersiap-siap. jadi sudah sepatutnya Nagato terheran-heran.

"Masuklah." ujar Nobunaga, tangannya masih dalam posisi seperti ketika ia berhenti menari. "Nagato, kau sungguh beruntung. Kau satu-satunya orang yang sempat menyaksikan tarian perpisahanku dengan dunia ini."

Setelah Nagato memahami maksud junjungannya, ia merasa malu atas kesangsiannya dan bergeser ke pojok ruangan.

"Bahwa dari sekian banyak pengikut junjungan hamba, hambalah satu-satunya yang menyaksikan tarian terpenting dalam hidup beliau, sungguh itu berkah yang patut hamba nikmati. Meski demikian, hamba bermaksud mohon izin untuk menembang menyambut kepergian hamba dari dunia ini."

"Kau bisa menembang? Bagus. Sai, dari awal lagi." Si dayang hanya membisu dan menundukkan kepala bersama rebana di tangannya. Nagato menyadari bahwa ketika Nobunaga mengatakan tarian, yang dimaksudnya adalah Atsumori.

Hidup manusia

Hanya lima puluh tahun di bawah langit. Jelas bahwa dunia ini

Tak lebih dari mimpi yang sia-sia. Hidup hanya sekali

Adakah yang tidak akan hancur?

Ketika Nagato bernyanyi, ia mengenang tahuntahun pengabdiannya yang dimulai pada waktu Nobunaga masih kanak-kanak. Menari dan penyanyi menjadi satu dalam jiwa. Air mata Sai tampak berkilau terkena cahaya lentera yang menerangi wajahnya yang putih, dan ia terus memukul rebana. Pagi itu ia memainkannya lebih terampil dan lebih bersemangat daripada biasa.

Nobunaga melemparkan kipasnya dan berseru. "Menyongsong kematian!" Ketika mengenakan baju tempur, ia berkata. "Sai, jika kau mendengar kabar bahwa aku gugur, segeralah bakar benteng ini, sampai tak ada yang tersisa."

Perempuan ini meletakkan rebana, dan dengan kedua tangan di lantai, ia menjawab. "Baik, tuanku," tanpa mengangkat kepala.

"Nagato! Bunyikan sangkakala!" Nobunaga menghadap ke benteng dalam, tempat tinggal putri-putrinya yang elok, lalu ke tanda peringatan para leluhurnya. "Selamat tinggal," ia berkata dengan emosi meluapluap. Kemudian ia mengencangkan tali helmnya dan bergegas keluar.

Tiupan sangkakala yang memanggil pasukan ke medan laga memecahkan keheningan menjelang fajar. Bintang-bintang tampak berkilauan di celah-celah awan.

"Yang Mulia Nobunaga berangkat perang!" Berita itu dibawa oleh seorang pelayan, mengejutkan para samurai yang berpapasan dengannya.

Para petugas dapur dan orang-orang yang terlalu tua untuk bertempur dan akan menjaga benteng bergegas ke gerbang untuk mengantar rekan-rekan mereka. Menghitung mereka akan memberikan gambaran cukup jelas mengenai jumlah laki-laki yang tersisa di Benteng Kiyosu—tak sampai lima puluh atau empat puluh. Nyatalah bahwa mereka kekurangan orang, baik di dalam benteng maupun di medan laga.

Kuda yang ditunggangi Nobunaga pada hari itu bernama Tsukinowa. Di gerbang, desir daun-daun muda terdengar mengiringi angin, dan cahaya lenteralentera berkelip-kelip. Nobunaga melompat ke aras kuda, ke atas pelana berhiaskan kulit kerang, dan berderap ke gerbang utama. Rumbai-rumbai pada baju tempur dan pedangnya berkerincing ketika ia memacu kudanya.

Mereka yang tinggal di benteng lupa diri dan bersorak-sorai sambil menyembah. Nobunaga mengucapkan beberapa kata perpisahan kepada orang-orang tua ini, yang telah mengabdi kepadanya selama bertahun-tahun. Ia merasa kasihan kepada mereka dan kepada putri-putrinya yang akan kehilangan benteng serta junjungan. Tanpa menyadarinya, mata Nobunaga berkaca-kaca.

Dalam sekejap Tsukinowa telah berderap keluar benteng, menyambut fajar.

"Tuanku!"

"Tuanku!"

"Tunggu!"

Junjungan dan pembantu hanya berjumlah enam penunggang kuda. Dan seperti biasa, para pengikutnya harus bersusah payah agar tidak tertinggal. Nobunaga tidak menoleh ke belakang. Musuh berada di sebelah timur; sekutu-sekutu mereka pun ada di garis depan,

Pada saat mencapai tempat mereka akan menemui ajal. matahari pasti sudah tinggi di langit. Ketika memacu kudanya, Nobunaga berkata dalam hati. "Dilihat dari sudut kehidupan abadi, lahir di provinsi ini dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi tak ada artinya.

"Ho!"

"Tuanku!" seseorang tiba-tiba memanggil dari persimpangan jalan di kota.

"Yoshinari?" Nobunaga membalas seruan itu. "Ya. tuanku."

"Dan Katsuie?" "Hamba, tuanku."

"Kalian bergerak cepat!" Nobunaga memuji mereka dan bertanya sambil berdiri di sanggurdi, "berapa kekuatan kalian?"

"Seratus dua puluh penunggang kuda di bawah Mori Yoshinari, dan delapan puluh di bawah Shibata Katsuie. Jadi semuanya sekitar dua ratus. Kami sengaja menunggu untuk mengawal tuanku."

Di antara para pemanah di bawah Yoshinari terdapat Mataemon. Tokichiro juga ikut bergabung, memimpin tiga puluh prajurit infanteri.

Nobunaga langsung melihatnya. Ah. Monyet pun ikut. Dari atas kuda. ia mengamati kedua ratus prajurit yang penuh semangat itu. Inilah pengikutpcngikutku, ia berujar dalam hati, dan matanya berbinar-binar. Dibandingkan lautan musuh yang berkekuatan empat puluh ribu orang, pasukannya sendiri tak lebih dari perahu kecil atau segenggam pasir. Tapi Nobunaga memberanikan diri bertanya, mungkinkah Yoshimato memiliki pengikut-pengikut seperti ini? Ia bangga, baik sebagai jendral maupun sebagai laki-laki. Kalaupun mereka akan dikalahkan, orang-orangnya takkan mati sia-sia. Mereka akan meninggalkan jejak di bumi pada waktu mereka menggali liang kubur sendiri.

"Fajar hampir menyingsing. Mari berangkat!" Nobunaga menunjuk ke depan.

Ketika kudanya berderap menyusuri Jalan Raya Atsuta ke arah timur, kedua ratus prajuritnya bergerak bagaikan awan. mengaduk-aduk kabur pagi yang mengambang setinggi arap rumah-rumah di kedua tepi jalan. Tak ada baris-berbaris. Semua orang bergerak sendiri-sendiri. Biasanya, jika penguasa provinsi berangkat ke medan tempur, rakyat jelata akan menghentikan segala kegiatan dan memenuhi tepi jalan untuk mengelu-elukan pasukan. Lalu para prajurit akan lewat sambil berbaris, memperlihatkan panjipanji dan pataka, sementara sang komandan memamerkan wibawa dan kekuasaannya. Dan mereka menuju medan perang, enam langkah untuk setiap pukulan genderang, dengan segala kemegahan. Namun Nobunaga sama sekali tidak memedulikan lagak kosong seperti itu. Begitu cepat ia dan pasukannya bergegas maju, sehingga mereka tak sempat membentuk barisan yang teratur.

Mereka akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Dengan sikap seolah-olah berseru. "Siapa pun yang datang, datanglah!" Nobunaga memimpin anak buahnya. Tak ada yang menggeluyur. Justru sebaliknya, ketika mereka maju, jumlah mereka semakin besar. Karena perintah untuk mengangkat senjata begitu mendadak, mereka yang tak siap pada waktunya kini bergegas bergabung dari kiri-kanan, atau menyusul dari belakang.

Bunyi langkah dan suara mereka membangunkan orang-orang yang masih tidur. Sepanjang jalan, para petani, saudagar, dan pengrajin membuka pintu, dan orang-orang bermata mengantuk berseru, "Ada pertempuran!"

Belakangan mereka mungkin menebak bahwa orang di depan, yang berderap membelah kabut pagi adalah junjungan mereka, Oda Nobunaga. Tapi sekarang tak ada yang melihatnya.

"Nagato! Nagato!" Nobunaga berbalik ke pelananya, tapi Nagato tidak kelihatan; ia berada lima puluh meter di belakang, di tengah-tengah kekacauan. Mereka yang langsung mengikutinya adalah Katsuie dan Yoshinari, lebih banyak orang bergabung dengan mereka di jalan masuk ke Atsuta.

"Katsuie!" Nobunaga berseru. "Sebentar lagi kita akan mencapai gerbang kuil. Hentikan pasukan di depannya. Bahkan aku pun takkan berangkai tanpa berdoa." Sejenak kemudian ia tiba di gerbang. Dengan cekatan ia melompat ke tanah, dan biksu kepala yang telah menunggu, bersama sekitar dua puluh pcmbantu, bergegas maju dan meraih tali kekang. "Terima kasih atas sambutan ini. Aku datang untuk mengucapkan doa." Biksu Kepala menunjukkan jalan. Jalan menuju kuil, yang diapit oleh pohon-pohon cryptomeria, basah karena tetes-tetes embun. Biksu Kepala berdiri di samping mata air keramat, dan mempersilakan Nobunaga menyucikan diri. Nobunaga meraih ciduk bergagang kayu, mencuci tangan, dan berkumur. Kemudian ia menciduk sekali lagi, dan menghabiskan airnya dengan satu teguk.

"Lihat! Pertanda baik!" Nobunaga mengangkat kepala dan bicara cukup keras agar terdengar oleh pasukannya, ia menunjuk ke langit. Fajar akhirnya menyingsing, Dahan-dahan sebatang pohon tua tampak kemerah-merahan karena sinar matahari pagi. dan sekawanan burung gagak menggaok nyaring. "Gagak-gagak suci!" Para samurai di sekitar Nobunaga memandang arah yang ditunjuk.

Sememara itu, si Biksu Kepala, juga berbaju tempur lengkap, telah naik ke tempat yang sangat suci. Nobunaga menduduki tikar. Si Biksu membawa aki di atas tatakan kayu. dan menyajikannya di dalam cawan tembikar tanpa upacara. Nobunaga menghabiskan isi cawan itu. bertepuk tangan dengan keras, memejamkan mata ketika berdoa, agar hari mereka dapat menjadi cermin yang memantulkan wujud para dewa.

Pada waktu Nobunaga meninggalkan Kuil Atsuta, pasukannya telah membengkak menjadi hampir seribu orang; begitu banyak orang datang untuk bergabung. Ia meninggalkan kuil lewat gerbang selatan, dan menaiki kembali kudanya. Nobunaga mendatangi kuil bagaikan angin badai, tapi kini ia mengurangi kecepatan. Tubuhnya terayun-ayun ketika ia berkuda menghadap ke samping, dengan kedua tangan berpegangan pada bagian depan dan belakang pelana.

Fajar telah menyingsing, dan para warga Atsuta. termasuk kaum perempuan dan anak-anak yang berdiri di muka rumah masing-masing dan di persimpangan untuk menonton, terpanggil oleh bunyi langkah kuda yang saling berlomba memperebutkan tempat pertama.

Kerika menyadari kehadiran Nobunaga. mereka semua tampak terkejut, lalu berbisik-bisik.

"Betulkah dia hendak maju ke medan tempur?" "Apa aku tidak salah lihat?"

"Peluang mereka kurang dari satu banding sepuluh ribu."

Perjalanan dari Kiyosu ke Atsuta ditempuh Nobunaga tanpa henti, dan kini ia merasa lelah. Sambil duduk menyamping di atas pelana, dengan tubuh agak condong ke belakang, ia bersenandung pelan.

Ketika pasukannya tiba di persimpangan di perbatasan kota, mereka berhenti mendadak. Asap hitam tampak mengepul di dua tempat dan arah Marune dan Washizu. Roman muka Nobunaga sedih. Rupanya kedua benteng itu telah jatuh. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu cepat-cepat berkata kepada para pengikutnya, "Kita tidak menyusuri jalur pesisir. Laut sedang pasang, jadi percuma saja kita lewat sana. Kita akan menyusuri jalan pegunungan, menuju benteng di Tange." Sambil turun dari kuda, ia berkata pada salah seorang pengikutnya, "Panggil para kepala kampung Atsuta ke sini."

Orang itu menghadap massa yang berkerumun di tepi jalan, dan berseru cukup keras agar terdengar. Beberapa prajurit ditugaskan mencari kepala kampung. Dalam waktu singkat, dua dari mereka dibawa ke hadapan Nobunaga.

"Kalian sudah cukup sering melihatku, jadi aku tentu sudah tidak asing bagi kalian. Tapi hari ini kalian akan menyaksikan pemandangan istimewa: kepala bergigi hitam dan sang Penguasa Suruga. Kalian belum pernah melihatnya, tapi kalian akan melihatnya hari ini, sebab kalian dilahirkan di provinsiku, Owari. Pergilah ke tempat yang tinggi dan saksikanlah pertempuran besar ini.

"Berkelilinglah ke Atsuta, dan suruh orang-orang mengumpulkan panji perayaan. Usahakan agar musuh menyangkanya sebagai panji dan pataka. Ikatkan kain merah, kain putih, dan kain warna apa saja di dahandahan pohon dan di puncak-puncak bukit, dan penuhi langit dengan pita-pita yang berkibar-kibar. Pahamkah kalian?"

Ketika mereka telah berangkai lagi dan ia menoleh ke belakang beberapa saat kemudian, ia melihat panji dan pataka tak terhitung banyaknya berkibar-kibar di atas Atsuta. Sepertinya pasukan besar dari Kiyosu telah tiba di Atsuta dan sedang berkemah di sana.

Panasnya udara menyesakkan napas, lebih panas dibandingkan pada awal kemarau di tahun-tahun lalu—seperti yang akan dikenang oleh orang-orang tua di kemudian hari. Matahari semakin tinggi dan kudakuda menginjak-injak tanah yang belum tersiram hujan sesama sepuluh han. Seluruh pasukan berselubung debu.

Hidup atau mati—bersama tali kekang, tangan Nobunaga menggenggam keduanya ketika ia berderap maju. Dalam pandangan para prajurit. Nobunaga tampak sepetti pembawa maut yang gagah, atau seperti pemimpin menuju kehidupan yang lebih baik. Tak peduli pandangan mana yang diambil, maupun bagaimana hasil akhirnya, kepercayaan pada sang pemimpin menguasai seluruh pasukan ketika mereka mengikutinya tanpa mengeluh.

Menyambut maut! Menyambut maut! Menyambut maut! Di benak Toltichiro pun inilah satu-satunya pikiran yang berkecamuk. Kalaupun ia tak ingin bergerak maju, karena semua orang di sekitarnya melangkah serempak, ia seperti ditelan gelombang besar, dan kakinya tak punya kesempatan berhenti. Walaupun tidak banyak berpengaruh, ia komandan tiga puluh prajurit infanteri. Karena itu ia tak bisa berkeluh kesah, tak peduli betapa buruk situasi yang mereka

hadapi.

Menyambut maut! Menyambut maut!

Upah para prajurit infanteri sedemikian rendah, hanya pas-pasan untuk menghidupi keluarga. Dan bisikan putus asa dari hati nurani mereka juga menggema dalam diri Tokichiro. Patutkah orang menyia-nyiakan nyawa seperti ini? Tentunya inilah yang akan terjadi, dan tiba-tiba Tokichiro menyadari bahwa ia mengabdi kepada jendral yang menggelikan. Harapannya begitu besar ketika ia pertama-tama mendatangi Nobunaga. dan kini orang itu seakan-akan mengirim prajurit-prajuritnya—termasuk Tokichiro— ke gerbang kematian. Tokkhiro memikirkan semua hal yang ingin dikerjakannya di dunia ini. dan membayangkan ibunya di Nakamura.

Inilah yang terlintas dalam pikiran Tokichiro, tapi semuanya muncul dan tenggelam dalam sekejap saja. Suara langkah seribu pasang kaki dan gemerincing baju tempur seolah-olah berkata, "Mati! Mati!"

Wajah para prajurit terbakar matahari, bersimbah peluh, berselubung debu. Dan meskipun watak Tokichiro yang riang masih tampak, bahkan dalam situasi segenting ini. hari ini pikirannya sejalan dengan yang lain. "Bertempur! Sampai mati!"

Para prajurit terus maju, siap mengorbankan nyawa. Ketika melewati bukit demi bukit, mereka semakin mendekati awan asap hitam yang telah terlihat sebelumnya.

Barisan terdepan baru saja mencapai puncak sebuah bukit ketika seorang laki-laki berlumuran darah dan terluka parah terhuyung-huyung menghampiri mereka, sambil meneriakkan sesuatu yang tak dapat mereka pahami.

Orang itu pengikut Sakuma Daigaku yang berhasil meloloskan diri dari Marune. Setelah dibawa ke hadapan Nobunaga. sambil terengah-engah karena lukanya, ia menguasai diri dan memberikan laporan. Tuanku Sakuma gugur sebagai pahlawan dalam kobaran api yang dinyalakan oleh musuh, dan Yang Mulia Iio menerima ajal secara gagah dalam pertempuran di Washizu. Hamba malu karena hamba satu-satunya orang yang masih hidup, tapi hamba meloloskan diri atas perintah Tuan Sakuma untuk memberitahu Yang Mulia apa yang telah terjadi. Pada waktu melarikan diri, hamba mendengar teriakan kemenangan musuh, begitu keras, sehingga bumi dan langit ikut bergetar. Tak ada yang tersisa di Marune dan Washizu selain pasukan musuh."

Setelah mendengar laporan itu. Nobunaga berseru, "Tohachiro." Maeda Tohachiro masih kanak-kanak, dan karenanya hampir tenggelam dalam kerumunan para prajurit. Ketika Nobunaga memanggilnya, ia menjawab dengan seruan lantang dan menghampiri Nobunaga dengan semangat tinggi.

"Ya, tuanku?"

"Tohachiro, mana tasbihku?"

Tohachiro telah berhati-hati agar tasbih junjungannya tidak terjatuh selama perjalanan. Ia membungkusnya dengan kain dan mengikatnya pada baju tempur. Kini ia cepat-cepat melepaskannya dan menyodorkannya ke hadapan Nobunaga. Tasbih itu terbuat dari manik-manik besar berwarna perak, dan menyebabkan jubah kematian Nobunaga yang ber-warna hijau muda semakin mencolok.

"Ah, menyedihkan sekali. Baik Iio maupun Sakuma telah pergi ke dunia berikut. Sesungguhnya aku ingin mereka menyaksikan sepak terjangku." Nobunaga duduk tegak di atas pelana dan merapatkan tangan untuk berdoa.

Asap hitam dari Washizu dan Marune membakar langit bagaikan asap dari api perabuan. Seluruh pasukan menatapnya sambil membisu. Sejenak Nobunaga memandang ke kejauhan, lalu tiba-tiba berbalik. memukul pelananya, dan berseru. "Hari ini hari kesembilan belas. Hari ini akan menjadi hari kematianku, juga kematian kalian. Selama ini kalian menerima upah rendah, dan hari ini kalian menghadapi takdir sebagai prajurit tanpa pernah menikmati nasib baik. Rupanya inilah yang telah digariskan bagi pengikut-pengikutku. Tapi mereka yang mengambil langkah berikut bersamaku akan menyerahkan nyawa padaku. Mereka yang masih berat untuk melepaskan hidup ini boleh pergi tanpa perlu merasa malu."

Para komandan dan prajurit menjawab serempak. "Tidak! Patutkah junjungan kami gugur seorang diri?"

Nobunaga melanjutkan. "Jadi, kalian rela berkorban nyawa demi orang pandir seperti aku?"

"Tuanku tak perlu bertanya." salah seorang jendral membalas.

Nobunaga memacu kudanya dengan satu pukulan cemeti. "Maju! Pasukan Imagawa berada tepat di depan!" Ia melaju di muka pasukannya, tetapi bersembunyi di tengah awan debu yang diterbangkan oleh pasukan yang bergegas maju. Diselubungi debu. sosok samar penunggang kuda itu tampak hebat sekali.

Jalanan melewati jurang, lalu melewati sebuah edan. Ketika mendekati perbatasan provinsi, tanah mulai tidak rata. "Itu dia!"

"Tange! Benteng Tange!" para prajurit saling memberi tahu sambil terengah-engah. Bentang-benteng di Narume dan Washizu sudah jatuh, sehingga mereka pun cemas mengenai nasib Tange. Kini mata mereka berbinar-binar. Tange masih berdiri tegak, para pejuangnya pun masih hidup.

Nobunaga memacu kudanya memasuki benteng dan berkata pada komandannya. "Percuma saja kita mempertahankan tempat kecil ini, jadi biarkan saja musuh menguasainya. Harapan pasukan kita terletak di tempat lain.

Para pejuang Tange bergabung dengan pasukan Nobunaga, dan tanpa istirahat mereka bergegas ke benteng di Zenshoji. Begitu menyadari kedatangan Nobunaga. pasukan penjaga Zenshoji melepaskan teriakan. Namun mereka tidak mengelu-elukan kedatangannya, seruan mereka lebih menyerupai raungan menyedihkan.

"Dia datang!"

"Yang Mulia Nobunaga!" Nobunaga junjungan mereka, tapi tak seorang pun dari mereka mengetahui kemampuannya sebagai pemimpin pasukan. Sungguh di luar dugaan mereka bahwa Nobunaga sendiri tiba-tiba mendatangi benteng terpencil tempat mereka sudah pasrah menghadapi ajal. Kini mereka semua mendapat semangat baru, dan mereka siap mari untuk membela panji-panjinya. Pada saat yang sama. Sassa Narimasa. yang sudah pergi ke arah Hoshizaki dan menghimpun lebih dari tiga ratus penunggang kuda, bergabung dengan pasukan Nobunaga.

Nobunaga mengumpulkan para prajurit dan memerintahkan untuk mengadakan perhitungan. Pagi itu, waktu mereka meninggalkan benteng, junjungan dan pengikut hanya berjumlah enam atau tujuh orang. Kini jumlah anggou pasukannya mencapai hampir tiga ribu. Dalam pengumuman resmi, mereka disebut berjumlah paling tidak lima ribu orang. Nobunaga menyadari bahwa inilah segenap kekuatan yang dapat dihimpun dalam wilayah kekuasaannya, yang mencakup setengah dari wilayah Owari. Tanpa pasukan penjaga benteng maupun pasukan cadangan, hanya orang-orang inilah yang dimiliki marga Oda.

Senyum puas tersungging di bibirnya. Keempat puluh ribu oung yang tergabung dalam pasukan Imagawa kini telah berada dalam jarak panggil. Untuk mempelajari susunan serta semangat juang mereka, pasukan Oda menyembunyikan panji-panji dan mengamati keadaan dari tepi bukit. Kesatuan Asano Mataemon berkumpul di lereng utara, agak terpisah dan pasukan utama. Mereka pemanah, namun pertempuran hari ini takkan melibatkan busur dan panah, sehingga orang-orangnya membawa tombak. Ketiga puluh prajurit infanteri di bawah Tokichiro juga bersama mereka, dan ketika si komandan  memberi aba-aba istirahat.  Tokichiro segera meneruskannya kepada orang-orangnya sendiri.

Mereka menanggapinya dengan menarik napas dalam-dalam dan menjatuhkan diri ke rumput.

Tokichiro mengusap wajahnya yang bermandikan keringat dengan lap kotor. "Hei! Ada yang bisa pegang tombakku sejenak?" Para anak buahnya baru saja duduk, tapi salah seorang dari mereka berseru, "Siap!" lalu berdiri dan meraih tombaknya. Kemudian, ketika Tokichiro mulai melangkah, orang itu mengikutinya dari belakang.

"Kau tidak perlu ikut.* "Tuan hendak ke mana?"

"Aku tidak butuh bantuan. Aku ingin buang air besar, dan baunya pasti tak sedap. Kembalilah." Sambil tenawa, ia menghilang di semak-semak, di tepi jalan sempit. Mungkin karena menyangka Tokichiro hanya bergurau, si bawahan menunggu beberapa saat dan memandang ke arah Tokichiro menghilang.

Tokichiro menuruni lereng selatan, melihat berkeliling sampai menemukan tempat yang cocok. Ia melepaskan ikat pinggang dan berjongkok. Pasukan mereka berangkat begitu terburu-buru tadi pagi. sehingga ia nyaris tak sempat mengenakan baju tempur, dan sama sekali tak punya waktu untuk buang air. Bahkan selama mereka bergegas dari Kiyosu ke Atsuta dan Tange, jika mereka berhenti di suatu tempat, hal pertama yang dipikirkannya adalah buang air, seperti dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah sangat melegakan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah di bawah langit yang biru bersih.

Namun di sini pun aturan di medan perang tidak mengizinkan orang bersikap lalai. Acap kali. jika dua pasukan saling berhadapan, patroli-patroli musuh akan meronda sampai jauh dari perkemahan mereka, dan kalau mereka menemukan seseorang sedang mengosongkan isi perut, mereka akan menembaknya demi kesenangan belaka. Jadi, Tokichiro tak bisa tenang benar ketika menatap langit. Sewaktu memandang ke kaki bukit, ia melihat sungai di bawah berliat-liut mengalir ke laut di Tanjung Chita. Ia juga melihat jalan yang berkelok-kelok ke arah selatan di tepi timur sungai.

Washizu terletak di daerah perbukitan di sebelah utara jalan, dan mungkin telah dibumihanguskan. Di ladang-ladang dan desa-desa ia melihat sosok-sosok orang dan kuda yang tampak bagaikan semut. "Ternyata banyak sekali."

Mungkin karena ia tergabung dalam pasukan provinsi kecil, tapi ketika ia melihat jumlah musuh, ungkapan klise "seperti awan dan kabut" segera melintas di kepalanya. Dan ketika teringat bahwa yang dilihatnya hanyalah sebagian pasukan musuh, ia tak heran bahwa Nobunaga sudah bertekad untuk mati. Tapi bukan, ini bukan sekadar urusan orang lain. Mengosongkan isi perut mungkin hal terakhir yang dikerjakannya di dunia ini.

Manusia memang aneh. Masih hidupkah aku besok? Sementara merenungkan hal-hal seperti itu, ia menjadi sadar bahwa seseorang sedang menaiki bukit.

Musuh? Demikian dekat dengan medan pertempuran, reaksi itu muncul secara intuitif, bahkan hampir merupakan naluri, dan kini ia bertanya-tanya apakah ada pengintai musuh yang hendak menyusup ke balik markas Nobunaga. Ketika Tokichiro cepatcepat mengencangkan ikat pinggang dan bangkit, orang yang sedang mendaki bukit itu tiba-tiba telah berhadapan dengannya, dan keduanya berdiri berpandangan, seakan-akan telah berjanji hendak bertemu di sini.

"Kinoshita!" "Inuchiyo!"

"Kenapa kau ada di sini?" "Kenapa kau ada di sini?"

"Aku mendapat kabar bahwa Nobunaga mengerahkan pasukan dan telah bertekad mati dan aku datang untuk gugur bersamanya."

"Aku gembira kau datang." Penuh haru Tokichiro mengulurkan tangan kepada teman lamanya, dan mereka bersalaman erat; tak terhitung betapa banyak emosi yang terkandung dalam jabat tangan mereka. Baju tempur Inuchiyo bagus sekali. Mulai dari bulubulunya sampai ke tali pengikat, semuanya baru dan berkilau-kilau. Sebuah jubah dengan lambang kembang prem terpasang pada punggungnya.

"Kau tampak gagah," ujar Tokichiro dengan kagum. Tiba-tiba ia teringat Nene. yang ditinggalkannya di Kiyosu. Tapi ia memaksa pikirannya untuk kembali ke Inuchiyo. "Ke mana saja kau selama ini?"

"Aku menunggu saat yang tepat."

"Ketika Nobunaga membuangmu, pernahkah terlintas di benakmu untuk mengabdi kepada marga lain?"

"Tidak, kesetiaanku tak pernah bercabang. Setelah dibuang pun aku merasa hukuman ini membuatku lebih manusiawi, dan aku berterima kasih karenanya."

Mata Tokichiro berkaca-kaca. Inuchiyo tahu bahwa pertempuran hari ini akan membawa kematian bagi seluruh marga Oda dan Tokichiro merasa gembira tak tertahankan melihat temannya datang ke sini karena ingin gugur bersama bekas junjungannya.

"Aku mengerti. Mari, Inuchiyo. Ini pertama kalinya Nobunaga beristirahat sejak kami berangkat. Sekaranglah waktunya. Ayo."

"Tunggu. Kinoshita. Aku tidak mau menghadap Nobunaga."

"Kenapa tidak?"

"Aku tidak bermaksud datang kc sini pada waktu Nobunaga mungkin menahan perasaan sesungguhnya, dan aku tak ingin para pengikutnya menyangka aku ingin menarik keuntungan dari keadaan ini."

"Ada apa denganmu? Semua orang akan mati. Bukankah kau datang karena ingin gugur membela panji-panji junjunganmu?"

"Itu benar."

"Nah, kalau begitu jangan khawatir. Gunjingan hanya berpengaruh pada mereka yang hidup."

"Tidak, lebih baik mati tanpa mengatakan apa-apa. Dan ini hasratku yang paling dalam, tak peduli Nobunaga mengampuniku atau tidak. Kinoshita?"

"Ya?"

"Bersediakah kau menyembunyikan aku di tengah kesatuanmu selama beberapa saat?"

"Tentu saja. tapi aku hanya membawahi tiga puluh prajurit infanteri. Kehadiranmu akan mencolok sekali."

"Aku akan memakai ini." Inuchiyo menutupi helmnya dengan sesuatu yang mirip selimut kuda. dan menyusup kc antara anak buah Tokichiro. Jika berjinjit, ia dapat melihat Nobunaga dengan jelas. Dan ia mendengar mara Nobunaga yang bernada tinggi timbul-tenggelam terbawa angin.

Bagaikan seekor burung yang terbang rendah, seorang penunggang kuda mendekati Nobunaga dari arah tak terduga. Seluruh pasukan menoleh ke arahnya.

"Ada apa? Kau bawa berita?"

"Bagian terbesar kekuatan Imagawa, pasukan di bawah Yoshimoto dan tcndral-jendralnya baru saja mengubah arah dan menuju Okehazama!"

"Apa?" tanya Nobunaga dengan mata berbinarbinar. "Hmm, kalau begitu Yoshimoto mengambil jalan ke Okehazama tanpa berpaling ke arah Odaka?"

Sebelum ia selesai berbicara, sebuah seruan terdengar, "Lihat! Ada lagi!"

Saru penunggang kuda, lalu dua—pengintaipengintai untuk pasukan Nobunaga. Orang-orang menahan napas ketika para pengintai memacu kuda masing-masing ke arah perkemahan. Melengkapi laporan sebelumnya, mereka menyampaikan perkembangan terakhir pada Nobunaga.

"Bagian terbesar pasukan Imagawa mengambil jalan Okehazama. tapi kini mereka menyebar di dekat Dengakuhazama. agak ke selatan dari Okehazama. Mereka telah memindahkan markas, dan sepertinya sedang beristirahat dengan Yoshimoto di tengahtengah mereka."

Nobunaga terdiam sejenak, matanya secerah mata pedang. Kematian. Hanya kemattan yang dipikirkannya. Dengan menggebu-gebu. dalam kegelapan total, sambil menyerahkan diri pada nasib. Keinginannya hanya satu—gugur secara jantan. Ia sudah memacu kudanya dari fajar sampai matahari tinggi di langit. Kini, tiba-tiba, bagaikan seberkas sinar yang menembus awan kemungkinan untuk meraih kemenangan melintas di benaknya.

Kalau semuanya berjalan baik...

Sesungguhnya, sampai detik itu ia tak percaya pada kemenangan, padahal kemenanganlah satu-satunya yang diperjuangkan oleh seorang prajurit.

Penggalan-penggalan gagasan muncul dan menghilang dalam pikiran manusia, seperti arus gelombang tanpa akhir, sehingga hidup manusia terbentuk sekilas demi sekilas. Sampai ke saat kematiannya. ucapan dan perbuatan seseorang direntukan oleh rangkaian penggalan ini. Gagasan dapat menghancurkan seseorang. Setiap hari dalam kehidupan seseorang terbentuk melalui keputusannya untuk menerima atau menolak gagasan yang muncul mendadak seperti itu.

Dalam keadaan biasa, ada waktu untuk menentukan pilihan setelah mempertimbangkannya masakmasak, tapi takdir kadang menghadang tanpa peringatan. Jika keadaan genting, ke kanan atau ke kirikah ia harus berpaling? Nobunaga kini telah mencapai persimpangan itu, dan tanpa sadar ia menentukan nasibnya.

Tentu saja waktu dan pendidikannya berpengaruh besar dalam mencegahnya melangkah ke arah yang salah. Bibirnya terkatup rapat. Meski demikian, ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

Tiba-tiba seorang pengikut berseru, "Tuanku, sekaranglah waktunya! Yoshimoto pikir dia telah mengetahui kekuatan kita setelah merebut Washizu dan Marune. Dia tentu takabur karena keberhasilan pasukannya. Dia sedang menikmati kemenangan dan membiarkan semangat juangnya merosot. Inilah waktu yang tepat. Kalau kita melancarkan serangan mendadak ke markas Yoshimoto, kemenangan pasti akan berpihak pada kita."

"Betul!" Nobunaga berseru sambil menepuk pelana. "Itulah yang harus kita lakukan. Aku akan mendapatkan kepala Yoshimoto. Dengakuhazama berada tepat di sebelah timur."

Namun para jendral rampak risau dan waswas ketika mendengar laporan para pengintai, dan mereka berusaha mencegah Nobunaga.

Tapi Nobunaga tidak ambil peduli. "Kalian semua orang tua uzur! Mengapa kalian gentar? Kalian tinggal mengikutiku. Kalau aku masuk ke dalam api, kalian pun ikut masuk. Kalau aku akan berjalan di atas air, kalian akan mengikutiku. Kalau tidak, menyingkirlah dan saksikan sepak terjangku dari jauh." Sambil tertawa dingin, ia meninggalkan mereka dan memacu kudanya menuju barisan terdepan.

***

Siang. Tak seekor burung pun rerdengar di bukit-bukit yang hening. Angin telah berhenti, dan matahari yang terik seakan-akan membakar segala sesuaru yang ada di bawah langit. Daun-daun tampak tergulung anu layu seperti tembakau kering.

"Di sebelah sana!" Diikuti sekelompok orang, seorang prajurit berlari menaiki lereng berumput.

"Cepat siapkan petak."

Beberapa prajurit membabat semak belukar dengan sabit besar, yang lainnya membuka gulungan tirai dan mengikatnya ke dahan-dahan pinus dan pohon sutra di sekitar mereka. Dalam sekejap mereka telah membuat petak berbatas tirai, yang akan digunakan sebagai markas Yoshimoto.

"Wah! Panasnya bukan main!" salah satu dari mereka mengeluh.

"Kata orang, jarang-jarang hawanya sepanas sekarang!"

Mereka mengusap keringat.

"Lihat, aku sudah basah kuyup. Bahkan kulit dan logam di baju tempurku terlalu panas untuk disentuh."

"Kalau kubuka baju tempur ini agar kena angin, tenru rasanya lebih enak. Tapi sebentar lagi para jendral sudah tiba."

"Hmm. mari kita melepas lelah sejenak." Hanya sedikit pohon di bukit berumput itu. Jadi prajuritprajurit itu duduk di bawah bayang-bayang pohon kamper besar. Setelah beristirahat sebentar, mereka merasa lebih sejuk.

Bukit Dengakuhazama lebih rendah dibanding gunung-gunung di setenarnya, tak lebih dari bukit kecil di tengah lembah bundar. Dari waktu ke waktu, daun-daun di bukit ini mendadak berdesir karena angin sejuk yang turun dari Taishigadake.

Salah satu prajurit menatap ke langit sambil mengoleskan salep ke kakinya yang melepuh, dan bergumam pada diri sendiri. "Ada apa?" prajurit lain bertanya. "Lihat."

"Lihat apa?"

"Awan badai bergumpal. Kemungkinan besar nanti malam akan hujan."

"Ah, syukurlah. Tapi asal tahu saja, bagi mereka yang bertugas memperbaiki jalan dan membawa barang-barang, hujan lebih buruk daripada serangan musuh. Moga-moga hujannya tidak begitu deras.'*

Tak putus-putusnya angin menggoyang-goyang tirai yang telah mereka pasang.

Perwira yang bertanggung jawab menatap berkeliling dan berkata pada anak buahnya. "Ayo, berdirilah. Malam ini Yang Mulia akan tinggal di Benteng Odaka. Beliau sengaja membuat musuh mengira pasukan kita akan bergerak dari Kutsukake ke Odaka, tapi dengan mengambil jalan pintas lewat Okehazama, beliau merencanakan untuk tiba nanti malam. Tugas kita adalah memeriksa semua jembatan, tebing, dan selokan di sepanjang jalan yang akan dilalui beliau. Ayo berangkat."

Mereka beranjak, dan bukit itu kembali tenteram seperti semula. Suara jangkrik terdengar di sana-sini. Tapi tak lama kemudian tangkah kuda terdengar di kejauhan. Tak ada tiupan sangkakala, tak ada bunyi genderang, dan mereka bergerak setenang mungkin di antara puncak-puncak bukit. Namun, meski telah berusaha, debu dan kebisingan yang ditimbulkan demikian banyak kuda tak dapat ditutup-tutupi. Bunyi kaki kuda menginjak batu dan akar segera memenuhi udara, dan pasukan utama di bawah Imagawa Yoshimoto membanjiri bukit dan daerah sekitar Dengakuhazama dengan prajurit-prajurit, kuda-kuda, panji-panji, dan tirai-tirai.

Yoshimoto berkeringat paling hebat. Ia telah terbiasa hidup nyaman, dan setelah melewati usia empat puluh, tubuhnya pun membengkak. Jelas sekali ia tersiksa oleh manuver-manuver ini. Badannya yang gemuk ditutupi kimono berwarna merah dan lempengan dada berwarna putih, la mengenakan helm berukuran besar yang dimahkotai oleh delapan naga. dengan lima lempengan pelindung tengkuk. Selain itu, ia memakai pedang panjang bernama Matsukurago yang sudah beberapa generasi berada dalam keluarga Imagawa. sebilah pedang pendek—juga hasil karya pandai besi terkenal—sarung tangan, pelindung tulang kering, dan sepatu bot. Berat seluruh perlengkapannya mungkin lebih dari empat puluh kilo, dan tak ada tempat sama sekali bagi angin untuk menyusup masuk.

Bersimbah peluh, Yoshimoto terus berkuda di bawah panas yang membakar. Akhirnya ia tiba di Dengakuhazama.

"Apa nama tempat ini?" Yoshimoto bertanya begitu terlindung di balik tirai markasnya. Di sekelilingnya berdiri orang-orang yang bertugas melindunginya— para pelayan, jendral. pengikut senior, dokter, dan lain-lain. Salah seorang jendral menjawab, "Ini Dengakuhazama. Letaknya tidak jauh dari Okehazama."

Yoshimoto mengangguk dan menyerahkan helmnya pada seorang pelayan. Setelah pelayan lain membuka tali pengikat baju tempurnya, ia melepaskan pakaian dalamnya yang basah kuyup dan mengenakan jubah putih yang bersih. Angin bertiup lembur. Betapa menyegarkan, pikir Yoshimoto.

Sesudah tali pinggang baju tempurnya dikencangkan kembali, kursi dipindahkan ke kulit macan tutul yang diletakkan di rumput. Perlengkapan mewah yang mengikutinya ke mana-mana mulai dibongkar.

"Apa itu?" Yoshimoto minum seteguk teh. terkejut oleh bunyi yang menyerupai gemuruh meriam.

Para pembantunya ikut memasang telinga. Salah satu dari mereka menyingkap tepi tirai dan menatap ke luar. Ia menemukan pemandangan memesona— matahari terik tampak bermain-main dengan awan yang terkoyak-koyak dan menimbulkan pusaran cahaya di langit.

"Guntur di kejauhan. Hanya bunyi gunrur di kejauhan," si pengikut melaporkan.

"Guntur?" Yoshimoto memaksakan senyum, sambil menepuk-nepuk punggung sebelah bawah dengan tangan kiri. Para pembantunya memperhatikannya, tapi sengaja menahan diri dan tidak menanyakan sebabnya. Pagi itu, ketika mereka berangkat dari Kutsukake, Yoshimoto terjatuh dari kudanya. Kembali menanyakan cederanya hanya akan mempermalukan Yoshimoto.

Sesuatu sedang terjadi. Tiba-tiba terdengar bunyi langkah kuda dan orang dari kaki bukit, mendekat ke arah markas. Yoshimoto langsung berpaling pada salah satu pengikutnya dan bertanya cemas, "Apa lagi sekarang?"

Tanpa menunggu perintah untuk mencari penyebabnya, dua atau tiga prajurit bergegas keluar, membiarkan angin masuk. Kali ini penyebabnya bukan guntur. Suara kaki kuda dan langkah orang telah mencapai puncak bukit. Kesatuan itu berkekuatan sekitar dua rarus orang, dan mereka membawa kepala-kepala musuh sang diperoleh di Narumi—suatu gambaran nyata bagaimana pertempuran berlangsung.

Kepala-kepala itu dibawa agar diperiksa oleh Yoshimoto.

"Kepala para samurai Oda di Narumi. Susun semuanya dengan rapi. Mari kita lihat." Yoshimoto tampak bersemangat. "Siapkan kursiku!"

Sambil mengatur posisi dan menutup wajah dengan kipas, ia memeriksa ketujuh puluh kepala yang dibawa ke hadapannya saru per satu. Setelah selesai. Yoshimoto berseru, "Betapa banyak darah!" dan berbalik sambil memerintahkan agar tirai ditutup kembali. Awan hutan umpak tersebar-sebar di langit siang. "Hmm, hmm. Angin sejuk naik dari rurang. Sebentar lagi sudah siang, bukan?" "Tidak, tuanku. Jam Kuda telah berlalu." salah satu pembantunya balas.

"Pantas saja aku lapar. Siapkan makan siang, dan biarkan pasukan makan dan beristirahat."

Seorang pembantu bergegas keluar untuk meneruskan perintahnya. Di balik tirai, para jendral, pelayan, dan juru masak berjalan mondar-mandir, namun suasana tenang. Sekali-sekali, utusan dari kuilkuil dan desa-desa di sekitar datang untuk menyerahkan sake dan hidangan khas setempat.

Yoshimoto mengamati orang-orang ini dari jauh. dan memutuskan, "Kita akan memberikan imbalan pada mereka saat kita kembali dari ibu kota."

Setelah penduduk-penduduk setempat berlalu. Yoshimoto minta dibawakan sake dan ia bersantai di atas kulit macan tutul. Para komandan di luar tirai menghadap satu per satu, dan mengucapkan selamat atas kemenangan di Narumi. yang menyusul penaklukan Marune dan Washizu.

"Kalian tentu kurang senang dengan perlawanan tak berarti yang kita temui sampai sekarang." Yoshimoto berkata dengan tampang jenaka ketika ia menawarkan sake pada seluruh pengikut dan pembantunya. Sikapnya semakin meluap-luap.

"Kekuasaan Yang Mulia-lah yang membawa keadaan menguntungkan ini. Tapi, seperti dikatakan oleh Yang Mulia, jika keadaan terus seperti ini, tanpa musuh yang bisa digempur, para prajurit akan mengeluh bahwa disiplin dan latihan kita sia-sia belaka." "Bersabarlah. Besok malam Benteng Kiyosu akan kita rebut, dan walaupun orang-orang Oda telah terpojok, tentu masih tersisa semangat juang dalam diri mereka. Kalian semua akan memperoleh kesempatan untuk membuktikan keberanian di medan tempur."

"Hmm, kalau begitu Yang Mulia bisa tinggal selama dua atau tiga hari di Kiyosu, sambil menikmati pemandangan bulan dan hiburan lainnya."

Sementara mereka bercakap-cakap, matahari menghilang di balik awan. tapi dengan aki mengalir bebas, tak ada yang memperhatikan langit yang semakin gelap. Ketika tiupan angin mengangkat tirai, hujan pun mulai turun. Namun Yoshimoto dan para jendralnya asyik tertawa dan mengobrol, membahas siapa yang akan tiba paling dulu di Benteng Kiyosu pada keesokan harinya, dan mencemooh Nobunaga.

Sementara Yoshimoto sedang mengcjck-cjck musuhnya, Nobunaga sedang bergegas menaiki lereng Taishigadake. Ia telah mendekati markas Yoshimoto.

Taishigadake tidak terlalu tinggi maupun terjal, tapi pepohonan di lereng-lerengnya amat lebat. Hanya para penebang kayu yang sering ke sini, jadi agar sejumlah besar kuda dan orang dapat lewat dengan cepat, mereka terpaksa menebang pohon, menginjak-injak semak belukar, melompati celah, dan menyeberangi sungai.

Nobunaga berseru pada pasukannya. "Jika kalian jatuh dari kuda, tinggalkan saja! Jika panji-panji tersangkut di dahan-dahan, biarkan saja! Pokoknya, bergegaslah! Yang penting adalah mencapai markas Yoshimoto dan mendapatkan kepalanya. Jangan bawa barang sama sekali! Terjanglah pasukan musuh dan tembus barisan mereka. Jangan buang waktu dengan memenggal setiap lawan yang berhasil kalian jatuhkan. Bantai mereka dan hadapi lawan berikut, selama tubuh kalian masih bernyawa. Kalian tak perlu berusaha menjadi pahlawan. Sepak terjang yang gagah berani tak bermanfaat sama sekali. Bertempurlah tanpa mementingkan diri sendiri, dan kalian akan menjadi pejuang Oda sejati."

Para prajurit mendengarkan kata-katanya seperti mendengarkan guntur sebelum badai. Langit sore telah berubah sama sekali, dan kini rampak bagaikan tinta gelap. Angin berembus dari lapisan debu, lembah, rawa-rawa, akar-akar pohon, dan bertiup ke dalam kegelapan.

"Kita sudah hampir sampai! Dengakuhazama berada di balik bukir itu. Kalian siap mati? Jika kalian tertinggal, kalian hanya akan membawa aib bagi keturunan kalian sampai akhir zaman!"

Bagian terbesar pasukan Nobunaga tidak bergerak membentuk formasi. Beberapa prajurit terlambat, sementara yang lain telah maju. Namun semangat mereka terpacu oleh suaranya.

Nobunaga berseru-seru sampai serak, dan orangorang sukar menangkap kata-katanya. Tapi itu tidak diperlukan lagi. Bahwa ia memimpin mereka, itu sudah cukup. Sementara itu, hujan mulai turun. Tetes-tetes airnya cukup besar untuk menimbulkan rasa nyeri ketika mengenai pipi dan hidung. Ini disertai angin kencang yang merontokkan daun-daun. sehingga mereka tak dapat memastikan apa yang menghantam wajah mereka.

Tiba-tiba kilat nyaris membelah bukit menjadi dua. Sejenak langit dan bumi tak dapat dibedakan— keduanya diliputi asap putih. Ketika hujan mulai mereda, air bercampur lumpur mengalir di lerenglereng.

"Itu dia!" teriak Tokichiro. Ia berbalik dan menunjuk ke arah perkemahan Imagawa. melewati pasukan jalan kaki yang berkedip-kedip untuk menghalau hujan. Petak-petak bertirai yang dipasang oleh pihak musuh seakan-akan tak terhitung banyaknya, dan semuanya basah kuyup karena hujan. Di depan mereka, rawa-rawa terbentang. Di baliknya terlihat lereng Dengakuhazama.

Ketika menatap ke arah itu, anak buah Tokichiro melihat sekutu-sekutu mereka menyerbu. Mereka mengacungkan pedang, tombak, dan lembing. Nobunaga telah berpesan agar mereka membawa beban seringan mungkin, dan banyak prajurit yang telah menanggalkan helm dan membuang panji-panji.

Menyusup melalui pepohonan, terperosok di lerenglereng berumput, mereka segera menghampiri petakpetak musuh. Sesekali kilat biru di kehijauan menerangi langit, dan hujan putih serta angin hitam menyelubungi dunia dalam kegelapan.

Sambil berseru pada anak buahnya. Tokichiro bergegas melalui rawa-rawa dan mulai mendaki bukit. Prajurit-prajuritnya terpeleset dan jatuh, tapi terus berada di belakangnya. Dibandingkan istilah terjun ke dalam keributan, lebih tepat dikatakan bahwa kesatuan Tokichiro tertelan bulat-bulat oleh pertempuran.

***

Tawa menggema di sekitar markas Yoshimoto pada waktu guntur bergemuruh. Ketika angin bertambah kencang pun, batu-batu yang menindih tirai-tirai petak itu tetap di tempat.

"Biarlah angin mengusir hawa panas!" mereka berkelakar sambil terus minum. Tapi mereka berada di medan perang dan berencana untuk tiba di Odaka pada malam hari, sehingga tak seorang pun mereguk zake sampai melebihi batas.

Kemudian diumumkan bahwa makan siang sudah siap. Para jendral memerintahkan agar makanan dibawa ke hadapan Yoshimoto, dan ketika mereka menghabiskan isi cawan masing-masing, tempat nasi dan panci besar berisi sup diletakkan di depan mereka. Secara bersamaan hujan mulai turun, mengenai panci, tempat nasi, tikar jerami, dan baju tempur. Akhirnya mereka menyadari bahwa langit lelah gelap, dan mereka mulai memindahkan tikar-tikar. Di dalam petak ada pohon kamper yang begitu besar, sehingga diperlukan tiga orang untuk mengelilinginya dengan tangan terentang. Yoshimoto berdiri di bawah pohon itu, terlindung dari hujan. Yang lain bergegas menyusul, sambil membawakan tikar dan mangkukmangkuknya.

Ayunan pohon raksasa itu terasa mengguncangkan tanah, dan dahan-dahannya berderu-deru dalam angin kencang. Daun-daun berwarna cokelat dan hijau beterbangan seperti debu dan mengenai baju tempur, asap dari api unggun bertiup sampai hampir sejajar dengan permukaan tanah, menyesakkan napas Yoshimoto dan jenderal-jendralnya serta membuat mau mereka berair.

"Mohon Yang Mulia bersabar sejenak. Kami akan memasang atap." Salah satu jendral memanggil prajurit-prajurit, namun tidak memperoleh jawaban. Di tengah percikan hujan dan deruan pohon, suaranya hanyut terbawa angin, sehingga tak ada yang membalas. Hanya bunyi kayu api berderak-derak terdengar dari petak dapur yang terus mengeluarkan asap.

"Panggil komandan pasukan jalan kaki!" Ketika salah satu jendral bergegas keluar, sebuah bunyi aneh terdengar di sekitar. Bunyi itu menyerupai erangan yang seakan-akan berasal dari dalam bumi—benturan dahsyat antara pedang dan pedang. Dan badai bukan saja menyerang permukaan kulit Yoshimoto. Pikirannya pun mulai dilanda rasa bimbang.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Yoshimoto dan jendraljendralnya tampak teramat heran. "Apakah kita dikhianati? Apakah orang-orang saling bertempur?"

Karena belum juga menyadari apa yang terjadi, para samurai dan jendral di sisi Yoshimoto segera membentuk dinding pelindung mengelilinginya.

"Ada apa?" mereka berseru. Tapi pasukan Oda telah membanjiri perkemahan, dan kini berhamburan di luar tirai.

"Musuh!"

"Orang-orang Oda!"

Tombak-tombak saling beradu, dan bara api beterbangan di atas orang-orang yang sedang bertikai. Yoshimoto, masih di bawah pohon kamper besar, seakan-akan tak sanggup bicara. Ia menggigit-gigit bibir dengan giginya yang hitam, rupanya tak kuasa menerima kenyataan yang sedang berlangsung di depan matanya. Para jendralnya mengelilinginya dengan wajah geram, sambil berseru ke sana kemari.

"Apakah ada pemberontakan?" "Pemberonlakkah orang-orang ini?"

Tak ada jawaban selain jeriran. dan meskipun mendengar teriakan-teriakan dari sekeliling, mereka tetap belum percaya bahwa musuh telah menyerang. Tapi hanya sejenak saja mereka menyangsikan pendengaran mereka. Para prajurit Oda muncul di hadapan mereka, dan teriakan-teriakan perang dalam logat Owari yang aneh serasa menusuk-nusuk telinga para pengikut Yoshimoto. Dua atau tiga prajurit musuh bergegas ke arah mereka.

"Hai! Penguasa Suruga!"

Baru ketika melihat orang-orang Oda mendekat, berteriak seperti roh jahat, melompat dan merosot di lumpur, mengacungkan tombak dan lembing, mereka akhirnya menyadari situasi sesungguhnya.

"Orang-orang Oda!" "Serangan mendadak!"

Kekacauan yang timbul bahkan lebih hebat dibandingkan jika mereka diserang pada malam hari. Mereka telah menganggap enteng Nobunaga. Sekarang waktu makan siang. Selain amukan badai dahsyat, inilah yang menyebabkan musuh berhasil menyusup ke perkemahan, tanpa diketahui. Namun sebenarnya barisan terdepan mereka sendirilah yang membuat markas Yoshimoto merasa aman.

Kedua jendral yang diberi tugas mengamankan markas berkemah kurang dari satu mil dari bukit, tapi tiba-tiba. tanpa peringatan dari para pengintai, pasukan musuh masuk menyerbu, tepat di depan mata Yoshimoto dan perwira-perwira tingginya.

Sejak semula Nobunaga sengaja menghindari perkemahan barisan depan. Ketika mereka melewati Taishigadake dan menuju Dengakuhazama. Nobunaga sendiri ikut mengacungkan tombak dan melawan prajurit-prajurit Yoshimoto. Kemungkinan besar para prajurit yang menjadi korban tombak Nobunaga tidak mengetahui siapa lawan mereka. Setelah mencederai dua atau tiga orang. Nobunaga berderap ke arah petak berurai.

"Pohon kamper!" Nobunaga berseru ketika salah satu anak buahnya berlari melewatinya. "Jangan biarkan si Penguasa Suruga lolos! Dia pasti di petak di bawah pohon kamper!" Nobunaga langsung bisa menebak di mana Yoshimoto berada, hanya dengan mengamati susunan perkemahan.

"Tuanku!" Dalam kekacauan di medan tempur, kuda Nobunaga nyaris menabrak prajurit yang berlutut di hadapannya dengan tombak berlumuran darah di sampingnya. "Siapa kau?"

"Maeda Inuchiyo.,tuanku." "Inuchiyo? Hmm, bertempurlah!"

Hujan membasahi jalan-jalan setapak yang berlumpur, dan angin menyapu permukaan ranah. Beberapa cabang pohon kamper dan pohon-pohon pinus di sekitarnya pauh dan jatuh berdebam. Air menetes dari dahan-dahan dan mengenai helm Yoshimoto.

"Tuanku, ke sinilah! Lewat sini." Empat atau lima pengikut Yoshimoto membentuk lingkaran di sekelilingnya dan menuntunnya dari satu petak ke petak lain. bermaha menghindari bencana.

"Apakah Penguasa Suruga ada di sini?" Begitu Yoshimoto pergi, seorang prajurit Oda bersenjatakan tombak menantang salah satu jendral yang masih bertahan di markas. "Majulah, biar kucabut nyawamu." si jendral membalas, sambil menahan tombak si prajurit dengan tombaknya sendiri.

Penyerangnya memperkenalkan diri, napasnya tersengal-sengal. "Aku Macda Inuchiyo, pengikut Nobunaga."

Si jendral menjawab dengan menyebutkan nama dan pangkatnya. Ia menerjang ke depan, tapi Inuchiyo melangkah ke samping, sehingga serangan tombak tidak mengenai sasaran.

Inuchiyo melihat kesempatannya, tapi ia tak sempat menarik rombaknya yang panjang, jadi ia hanya menghantam kepala lawannya dengan gagang tombak. Helmnya berbunyi seperti gong, dan jendral yang tcrluka itu merangkak keluar. Pada saat itu, dua orang lagi menyebutkan nama masing-masing. Ketika Inuchiyo pasang kuda-kuda. seseorang menabrak punggungnya. Inuchiyo terhuyung-huyung dan jatuh karena tersandung mayat seorang prajurit.

"Kinoshita Tokichiro!" Di suatu tempat, sahabatnya sedang memperkenalkan diri. Inuchiyo tersenyum, angin dan hujan mengenai pipinya. Pandangannya terhalang lumpur. Ke mana pun ia menoleh, ia melihat darah. Ketika terpeleset dan jatuh, ia masih sempat melihat bahwa tak ada kawan maupun lawan di dekatnya. Mayat-mayat bergelimpangan. Sandal jeraminya berubah warna menjadi merah ketika ia melangkah melewati sungai darah. Di mana si panglima bergigi hitam? Ia menginginkan kepala Yoshimoto.

Hujan menderu. Angin berseru.

Tapi Inuchiyo tidak sendirian dalam pencariannya. Kuwabara Jinnai, seorang ronin dari Kai. berbaju tempur dari pinggang ke bawah, dengan tombak berlumuran darah di tangannya, berlari mengelilingi pohon kamper sambil berseru parau. "Aku mencari si Pengusa Suruga! Mana pemimpin besar yang bernama Yoshimoto?" Tiupan angin menyingkap tepi tirai, petir menyambar, dan ia melihat laki-laki dengan mantel merah di luar baju tempur, dengan helm berhiaskan delapan naga.

Suara berang yang memarah-marahi para pengikut mungkin saja milik Yoshimoio, "Jangan pikirkan aku! Ini keadaan darurat! Aku tidak butuh banyak orang di sekelilingku. Kejarlah musuh yang datang untuk menyerahkan kepala. Bunuhlah Nobunaga! Daripada melindungiku. benempurlah!" Bagaimanapun, ia panglima pasukan gabungan tiga provinsi, dan lebih cepat memahami situasi daripada orang-orang lain. Kini ia murka melihat para komandan dan prajurit berlari kocar-kacir di sekitarnya.

Dengan hati-hati, beberapa prajurit bersusah payah menyusuri jalan berlumpur. Setelah mereka melewati tempat persembunyiannya. Jinnai mengangkat tirai yang basah dengan ujung tombaknya, untuk memastikan bahwa orang yang didengarnya adalah Yoshimoto.

Yoshimoto sudah tidak di sana. Petaknya telah kosong. Sebuah mangkuk nasi terbalik, dan butir-butir nasi berserakan dalam genangan air. Selain itu hanya ada empat atau lima batang kayu membara.

Jinnai menyadari bahwa Yoshimoio pergi terburuburu dengan hanya disertai beberapa orang, jadi kini ia beralih dari satu petak ke petak lain, berusaha mencarinya. Sebagian besar tirai telah terkoyak dan ambruk, atau berlumuran darah dan terinjak-injak.

Sepertinya Yoshimoto sedang mencoba meloloskan diri. Tentunya ia takkan melarikan diri dengan berjalan kaki. Jika memang demikian, ia tentu menuju tempat kuda. Namun di suatu perkemahan dengan begitu banyak petak, di tengah-tengah pertempuran, tidaklah mudah mengetahui tempat musuh mengikat kuda. Dan binatang-binatang itu pun tidak merumput dengan tenang. Di tengah hujan, benturan senjata, dan percikan darah, mereka menjadi panik, dan beberapa berlarian tak terkendali di sekeliling perkemahan.

Di manakah dia bersembunyi? Jinnai berdiri sambil memegang tombaknya, membiarkan air hujan mengalir turun lewat pangkal hidung, masuk ke kerongkongannya yang kering. Tiba-tiba seorang prajurit yang tidak mengenalinya sebagai musuh menarik-narik seekor kuda abu-abu tepat di hadapannya.

Rumbai-rumbai berwarna merah tergantung dan pelana berlapis kulit kerang dengan pinggiran berlapis emas; tali kekang berwarna ungu-putih terpasang pada kekang yang terbuat dari perak. Ini pasti kuda jcndral. Jinnai menyaksikan kuda itu dibawa ke sekelompok pohon pinus. Di antara pohon-pohon itu sebuah petak berurai tampak hampir ambruk, bagian yang masih tegak berkibar-kibar teniup angin.

Jinnai mdompat maju dan mengangkat tirai itu. Di hadapannya berdiri Yoshimoto. Seorang pengikut memberitahunya bahwa kudanya telah siap, dan Yoshimoto baru hendak melangkah keluar.

"Penguasa Suruga. namaku Kuwabara Jinnai. Aku membela panji-panji Oda. Aku datang untuk mengambil kepalamu. Bersiaplah menghadapi maut!" Sambil menyebutkan nama, Jinnai menusuk punggung Yoshimoto, dan suara benturan tombak dan baju tempur terngiang-ngiang di telinga mereka. Seketika Yoshimoio membalik, dan pedangnya membelah tombak Jinnai menjadi dua. Jinnai melompat mundur sambil berseru, gagang tombak di tangannya hanya tersisa setengah meter.

Jinnai membuangnya dan berteriak. "Pengecut! Mengapa membelakangi lawan yang telah memperkenalkan diri?"

Dengan pedang terhunus Jinnai menerjang ke arah Yoshimoto, namun ditangkap dari belakang oleh prajurit Imagawa. Setelah dengan mudah mencampakkan orang itu, ia diserang dari samping oleh prajurit musuh lainnya, Ia berusaha menghindari ayunan pedangnya, tapi prajurit pertama telah menggenggam mata kakinya, sehingga ia tak dapat bergerak cepat. Pedang prajurit kedua memotong tubuh Jinnai menjadi dua.

"Tuanku! Mohon segera pergi dari sini! Pasukan kita kacau-balau dan tak sanggup menguasai musuh. Kemunduran ini patut disesalkan, tapi hanya bersifat sementara." Wajah prajurit itu berlumuran darah. Prajurit satunya, dengan tubuh berlepotan lumpur, melompat berdiri, lalu keduanya mendesak Yoshimoto agar segera berangkat.

"Sekarang! Cepatlah, tuanku!" Namun kemudian...

"Aku datang untuk menghadapi Yoshimoto yang termasyhur. Namaku Hattori Koheira. dan aku mengabdi Yang Mulia Nobunaga." Seorang laki-laki bertubuh raksasa menghadang di depan mereka. Yoshimoto mundur selangkah ketika tombak si raksasa menerjang.

Prajurit pertama menahan tusukan itu dengan tubuhnya dan jatuh tertembus, sebelum sempat mengayunkan pedang. Prajurit kedua segera maju, tapi ia pun tertusuk oleh tombak Koheita. dan roboh menimpa mayat kawan seperjuangannya.

"Tunggu! Mau ke mana kau?" Tusukan tombak secepat kilat mengejar Yoshimoto, yang sedang mengelilingi pangkal pohon pinus.

"Aku di sini!" Dengan pedang siap menebas. Yoshimoto memelototi Koheita. Koheita kembali menusukkan tombak dan mengenai bagian samping baju tempur lawannya. Tapi baju tempur itu ditempa dengan baik. dan lukanya tidak dalam. Yoshimoto pun tidak gentar.

"Bangsat!" teriak Yoshimoto dan membelah tombak itu dengan pedangnya.

Koheira telah membulatkan tekad. Sambil membuang tombak, ia melompat maju. Namun Yoshimoto berlutut dan mengayunkan pedangnya ke arah kaki Koheita. Pedangnya tajam sekali. Bunga api beterbangan dari pelindung tulang kering, dan tempurung lutut Koheita terbelah seperti buah delima. Koheita jatuh ke belakang, dan Yoshimoto jatuh ke depan, helmnya yang bermahkota menghantam tanah.

Ketika Yoshimoto mengangkat kepala, seseorang berseru, "Aku Mori Shinsuke!"

Mori menangkap kepala Yoshimoto dari belakang, dan keduanya jatuh terguling-guling. Pada waktu mereka bergulat, pelindung dada Yoshimoto tertarik ke depan, dan darah mengucur dari luka tombak yang baru saja diterimanya. Terjepit di bawah, Yoshimoto menggigit telunjuk tangan kanan Mori sampai putus. Dan bahkan setelah kepalanya terpenggal, jari Mori yang putih masih tersembul di antara bibir Yoshimoto yang ungu dan giginya yang dihitamkan.

***

Menang atau kalahkah mereka? Tokichiro bertanya-tanya sambil terengah-engah.

"Hei! Di mana kita!" serunya pada semua orang yang mungkin berada dalam jarak dengar, namun tak seorang pun bisa memastikan di mana mereka berada. Hanya setengah dari anak buahnya masih bernyawa, dan semuanya dalam keadaan linglung.

Hujan telah mereda dan angin pun telah melemah. Sinar matahari menembus lapisan awan yang terkoyakkoyak. Setelah badai berlalu, neraka Dengakuhazama pun berangsur-angsur menghilang, dan kini yang tertinggal hanyalah bunyi jangkrik.

"Berbarislah!" Tokichiro memberi perintah.

Para prajurir berbaris serapi mungkin. Ketika menghitung kesatuannya. Tokichiro menemukan anak buahnya telah berkurang dari tiga puluh menjadi tujuh belas, dan empat di antara mereka sama sekali tak dikenalnya.

"Kalian berasal dari kesatuan mana?" ia menanyai salah satu.

"Dari kesatuan Toyama Jintaro. Tapi ketika kami sedang bertempur di tepi bukit sebelah barat, hamba terperosok masuk jurang dan kehilangan jejak kesatuan hamba. Kemudian hamba melihat kesatuan ini mengejar-ngejar musuh, jadi hamba memutuskan untuk bergabung."

"Baiklah. Nomor tujuh?"

"Hamba mengalami hal yang sama. Hamba mengira bertempur bersama rekan-rekan hamba, tapi waktu hamba melihat sekeliling, hamba menyadari bahwa hamba berada di tengah-tengah kesatuan ini."

Tokichiro tidak menanyai yang lain. Kemungkinan beberapa anak buahnya terbunuh dalam pertempuran, sementara beberapa lagi tercerai-berai dan bergabung dengan kesatuan lain. Namun bukan hanya para prajurit yang kehilangan arah di tengah pertempuran. Kesatuan Tokichiro pun terpisah dari pasukan utama dan resimen Mataemon, dan mereka sama sekali tidak mengetahui di mana mereka berada.

"Kelihatannya pertempuran telah berakhir." Tokichiro bergumam ketika memimpin orangorangnya ke arah tempat mereka datang semula.

Air lumpur yang mengalir di rawa-rawa dari bukitbukit sekitar bertambah sejak langit kembali cerah. Ketika melihat betapa banyak mayat bergelimpangan di sungai-sungai dan menumpuk di lereng-lereng, Tokichiro merasa takjub bahwa ia sendiri masih hidup.

"Mestinya kita yang menang. Lihat saja! Semua mayat di sekitar sini samurai lmagawa." Tokichiro menunjuk ke segala arah. Melihat pola mayat-mayat musuh tersebar di sepanjang jalan, arah yang ditempuh pasukan musuh ketika melarikan diri segera terlihat.

Namun anak buahnya hanya menggerutu, terlalu lelah untuk mengumandangkan himne kemenangan.

Mereka hanya segelintir orang, dan mereka tersesat. Medan perang tiba-tiba hening sekali, dan itu bisa saja berani bahwa seluruh pasukan Nobunaga telah binasa. Mereka dicekam ketakutan bahwa mereka terkepung musuh dan setiap saat bisa dibantai.

Kemudian mereka mendengarnya. Dari Dengakuhazama tiga teriakan kemenangan menggelegar, cukup keras untuk mengguncang langit dan bumi. Teriakanteriakan dalam logat Owari.

"Kita menang! Kita menang! Ayo!" Tokichiro bergegas maju. Para prajurit, yang sampai sekarang nyaris tak sadar, mendadak pulih sepenuhnya. Karena tak ingin tertinggal, mereka terseok-seok mengikuti Tokichiro ke arah sorak-sorai.

Magomeyama merupakan bukit rendah berbentuk bundar, tidak jauh dari Dengakuhazama. Kerumunan serdadu berlumuran darah. lumpur, dan hujan memadati daerah dari bukit sampai ke desa. Pertempuran telah usai dan orang-orang berkumpul kembali. Hujan telah berhenti, matahari kembali bersinar, dan kini uap putih tampak naik ke lautan manusia itu.

"Di mana resimen Tuan Asano?" Dengan menembus kerumunan prajurit, Tokichiro berusaha kembali bergabung dengan kesatuannya. Ke mana pun ia berpaling, ia menabrak atau menyenggol baju tempur berdarah. Meski sejak semula ia telah membulatkan tekad untuk bertempur dengan gagah, ia kini merasa malu. Ternyata ia tak sempat melakukan apaapa untuk menarik perhatian orang-orang.

Baru setelah menemukan kesatuannya dan berdiri berdesak-desakan dengan para prajurit lain, Tokichiro akhirnya yakin bahwa mereka menang. Melihat berkeliling dari bukit, ia merasa aneh karena musuh yang ditaklukkan tidak tampak sama sekali.

Masih penuh percikan lumpur dan darah. Nobunaga berdiri di atas bukit. Hanya beberapa langkah dari kursinya, sejumlah prajurit sedang menggali lubang besar. Setiap kepala musuh diperiksa, lalu dilemparkan ke dalam lubang. Nobunaga menyaksikannya dengan telapak tangan ditangkupkan, sementara prajurit-prajurit di sekitarnya berdiri membisu.

Tak seorang pun mengucapkan doa. Namun inilah tata cara yang harus diikuti jika prajurit mengubur prajurit. Kepala-kepala yang dikubur dalam lubang itu merupakan tanda peringatan bagi mereka yang masih hidup dan akan bertempur lagi. Kepala musuh yang paling tak berarti pun diperlakukan penuh kekhidmatan.

Dengan batas misterius antara hidup dan mati di depan kaki, mau tak mau seorang samurai memikirkan apa artinya hidup sebagai prajurit. Semua orang berdiri memberi hormat. Setelah lubang itu ditimbuni tanah, mereka menatap pelangi indah yang membentang di langit cerah.

Ketika orang-orang memperhatikan pemandangan itu, segerombolan pengintai kembali setelah bertugas di sekitar Odaka.

Barisan depan Yoshimoto di Odaka berada di bawah pimpinan Tokugawa Ieyasu. Mengingat keterampilan yang diperlihatkan Ieyasu ketika menghancurkan benteng-benteng di Washizu dan Marune, Nobunaga tak boleh memandang enteng terhadapnya. "Ketika mereka mendapat kabar bahwa Yoshimoto terbunuh, perkemahan di Odaka seakan-akan dilanda panik. Namun kemudian mereka berkali-kali mengutus pengintai, dan setelah mengetahui apa yang terjadi, mereka segera tenang kembali. Sekarang ini mereka sedang bersiap-siap kembali ke Mikawa menjelang malam, dan sepertinya mereka tak ingin

bertempur."

Nobunaga mendengarkan semua laporan, dan dengan caranya sendiri mengumumkan pawai kemenangan mereka. "Hmm, kalau begitu." katanya, "marilah kita pulang."

Matahan belum tenggelam, dan kini pelangi yang tadinya sudah mulai memudar kembali terlihat cemerlang. Satu kepala diikat ke pinggir pelana Nobunaga, sebagai tanda mata. Kepala itu tentu saja kepala Imagawa Yoshimoto yang termasyhur.

Pada waktu mereka tiba di gerbang Kuil Atsuta. Nobunaga tutun dari kuda dan masuk ke dalam tempat suci, sementara para perwira dan anak buahnya berdesak-desakan sampai ke gerbang utama, lalu menyembah. Sebuah bel tangan berdenting entah di mana. dan beberapa api unggun membanjiri hutan sekitar kuil dengan cahaya kemerah-merahan.

Nobunaga memberikan seekor kuda suci unruk kandang kuil. Setelah itu, ia kembali terburu-buru. Baju tempurnya seolah-olah semakin berat, dan ia merasa lelah sekati. Namun, ketika menyusuri jalan setapak yang diterangi cahaya bulan, jiwanya terasa ringan, seperti kalau ia memakai kimono musim panas yang tipis.

Dibandingkan Atsuta, Kiyosu teramat ingar-bingar. Setiap pintu dihiasi lentera, api unggun menari-nari di setiap persimpangan, dan orang tua, anak-anak, bahkan gadis-gadis muda berdiri di jalan, menatap para prajurit sang tampak gagah, sambil bersorak-sorai. Kerumunan orang memadati tepi jalan. Kaum perempuan mencari-cari apakah suami-suami mereka berada di tengah barisan yang sedang menuju benteng. Orang-orang tua memanggil-manggil nama putra-putra mereka, dan gadis-gadis berusaha menemukan kekasih masing-masing. Tapi semuanya mengelu-elukan

Nobunaga. "Nobunaga!"

Nobunaga lebih berarti bagi mereka daripada putra, suami, maupun kekasih mereka sendiri.

"Tataplah kepala si Pemimpin orang-orang Imagawa!" Nobunaga berseru di atas kuda. "Inilah tanda mata yang kubawakan untuk kalian. Mulai besok, tak ada lagi pertikaian di perbatasan. Kalian harus rajin dan bekerja keras. Bekerja keras dan bersenang-senang!"

Begitu masuk ke dalam benteng. Nobunaga segera memanggil dayangnya. "Sai! Sai! Sebelum melakukan apa pun, aku ingin mandi dulu! Dan siapkan bubur nasi."

Seusai mandi, ia mengumumkan hadiah untuk lebih dari seratus dua puluh orang yang ikut ambil bagian dalam pertempuran hari itu. Tindakan prajurit berpangkat paling rendah pun tidak lolos dari pengamatan Nobunaga. Terakhir ia berkata, "Inuchiyo diberi izin untuk kembali." Malam itu juga kabar ini disampaikan pada Inuchiyo, sebab ketika seluruh pasukan memasuki gerbang benteng, ia sendiri berhenti di luar, menunggu sabda dari Nobunaga.

Tokichiro tidak memperoleh pujian sama sekali. Dan tentu saja ia pun tidak mengharapkannya. Meski demikian, ia telah memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada upah sebesar seribu kan. Untuk pertama kali seumur hidup, ia melewati garis antara hidup dan mati, ia telah mengalami pertempuran, dan ia pun telah menyaksikan betapa Nobunaga memahami sifat manusia, dan betapa besar kemampuannya sebagai pemimpin.

Junjunganku sungguh hebat, kata Tokichiro dalam hati. Akulah orang pating beruntung di dunia, setelah Tuan Nobunaga. Mulai saat itu, Tokichiro tidak lagi menganggap Nobunaga sekadar sebagai junjungan dan majikan. Ia menjadi murid Nobunaga, mempelajari kelebihan-kelebihannya, dan memusatkan segenap jiwa untuk memperbaiki diri, si putra petani yang menganggap dirinya begitu bodoh dan tak berpendidikan.