--> -->

Taiko Bab 08 : Sandera Yoshimoto

Bab 08 : Sandera Yoshimoto

RAKYAT di Provinsi Suruga tidak menyebut ibu kota mereka dengan nama Sumpu. Bagi mereka, kota itu adalah Tempat Pemerintah, dan bentengnya dikenal sebagai Istana. Para warga, mulai dari Yoshimoto dan para anggota marga Imagawa sampai ke penduduk kota, yakin bahwa Sumpu merupakan ibu kota provinsi terbesar di pantai timur. Kotanya diliputi suasana aristokrat, dan orang-orang biasa pun meniru gaya kota kekaisaran Kyoto.

Dibandingkan Kiyosu, Sumpu merupakan dunia lain. Suasana di jalan-jalannya dan tindak-tanduk para warga, bahkan kecepatan melangkah orang-orang, dan cara mereka berpandangan dan berbicara. Para warga Sumpu tampak santai dan penuh percaya diri. Pangkat mereka tercermin dari kemewahan pakaian yang mereka kenakan, dan jika keluar rumah, mereka menutupi mulut dengan kipas. Seni musik, tari. dan sastra tumbuh subur. Ketenteraman yang terlihat pada semua wajah berasal dari suatu mata air ketenangan di masa lampau. Sumpu diberkahi. Jika cuaca sedang baik, orang bisa melihat Gunung Fuji; jika berkabut, alunan ombak terlihat di pohon-pohon cemara di Kuil Kiyomidera. Pasukan Imagawa amat dan Mikawa. wilayah kekuasaan marga Tokugawa hanya merupakan provinsi bawahan. Dalam tubuhku mengalir darah Tokugawa, tapi aku berada di sini. mnagikut-pcngikutku di Okazaki terus mempertahankan bentengku. Provinsi pun tetap ada, namun sang Penguasa terpisah dari para pengikutnya... Siang-malam Tokugawa Ieyasu memikirkan hal-hal ini, tapi ia takkan membicarakannya secara terbuka, ia merasa iba kepada para pengikutnya. Tapi, ketika merenungkan keadaannya sendiri, ia bersyukur bahwa ia masih hidup.

Ieyasu baru berusia tujuh belas, tapi ia telah menjadi ayah. Dua tahun setelah upacara akil balignya, Imagawa Yoshimoto mengatur pernikahan Ieyasu dengan putrì seorang saudaranya. Putra Ieyasu lahir di musim semi berikutnya, jadi umurnya belum mencapai enam bulan. Ieyasu sering mendengar tangis bayinya dari ruang tempat mejanya berada. Istrinya belum pulih dari persalinan dan masih dirawat di ruang bersalin.

Kalau ayah berusia tujuh belas tahun ini mendengar bayinya menangis, ia mendengar suara darah dagingnya sendiri. Tapi ia jarang menjenguk keluarganya, ia tidak memahami perasaan kasih sayang terhadap anakanak yang sering dibicarakan orang lain. Ia mencoba mencari perasaan ini di hatinya, dan mendapati perasaan itu bukan hanya cuma sedikit, melainkan benar-benar sangat tipis. Sadar akan kekurangannya sebagai suami dan ayah, ia merasa kasihan pada istri dan anaknya. Namun, setiap kali ia merasa demikian, rasa ibanya tidak ditujukan pada keluarganya sendiri, melainkan kepada para pengikutnya yang jatuh miskin dan terhina di Okazaki.

Setiap kali memaksakan diri untuk memikirkan putranya, ia jadi sedih. Tak lama lagi dia akan menempuh perjalanan melewati hidup yang getir, dan akan mengalami kemelaratan yang sama seperti aku.

Pada usia lima tahun, Ieyasu dikirim sebagai sandera kepada marga Oda. Ketika mengenang kesengsaraan yang telah dilaluinya, mau tak mau ia menaruh belas kasihan pada bayinya yang baru lahir. Kesedihan dan tragedi kehidupan manusia pasti akan dialami juga oleh anaknya. Namun sekarang ini, dari luar, orang-orang hanya melihat bahwa ia dan keluarganya mendiami rumah yang tak kalah mewah dari rumah orang-orang lmagawa.

Apa itu? Ieyasu keluar ke teras. Seseorang di luar telah menarik tanaman rambat yang tumbuh di pohon-pohon di pekarangan, dan memanjat ke atas tembok.

"Siapa itu?" Ieyasu berseru. Kalau orang itu berniat buruk, ia tentu akan kabur. Namun tidak terdengar suara langkah. Ieyasu mengenakan sandal dan melewati gerbang belakang. Seorang laki-laki sedang menyembah, seakan-akan telah menanti kedatangannya. Sebuah keranjang anyaman berikut tongkat tergeletak di sampingnya.

"Jinshichi?"

"Sudah lama sekali, tuanku."

Empat tahun sebelumnya, ketika ia akhirnya mendapat izin dari Yoshimoto. Ieyasu pernah kembali ke Okazaki untuk berziarah ke makam para leluhurnya. Dalam perjalanan itu salah seorang pengikut, Udono Jinshichi, menghilang. Ieyasu terharu ketika melihat keranjang dan tongkat serta sosok Jinshichi yang telah berubah.

"Kau menjadi biksu pengembara."

"Ya, ini penyamaran yang baik untuk berkeliling negeri."

"Kapan kau tiba di sini?"

"Baru saja. Hamba ingin menemui tuanku sebelum berangkat lagi."

"Empat tahun telah berlalu. Aku menerima laporanlaporanmu, tapi karena tidak mendapat kabar darimu setelah kau berangkat ke Mino, aku menyangka yang terburuk telah terjadi."

"Hamba terperangkap dalam perang saudara di Mino, dan selama beberapa waktu, pengamanan di pos-pos perbatasan sangat ketat."

"Kau mengunjungi Mino? Waktunya tepat sekali." "Hamba tinggal di Inabayama selama satu tahun.

Seperti tuanku ketahui, benteng Saito Dosan dihancurkan, dan kini Yoshitatsu yang menjadi penguasa Mino. Setelah keadaan mulai tenang, hamba pindah ke Kyoto dan Echizen, melewati provinsiprovinsi utara dan melanjutkan perjalanan ke Owari."

"Kau pergi ke Kiyosu?"

"Ya, hamba berada di sana selama beberapa saat." "Berceritalah. Walaupun aku berada di Sumpu, aku bisa menduga apa pmg akan terjadi di Mino, tapi situasi marga Oda tidak semudah itu memperkirakan." "Apakah hamba perlu menulis laporan dan

menyerahkannya nanti malam?"

"Jangan, jangan secara tertulis." Ieyasu berpaling ke gerbang belakang, tapi rupanya ia masih memikirkan sesuatu.

Jinshichi merupakan mata dan telinga yang menghubungkannya dengan luar. Sejak berusia lima tahun, Ieyasu tinggal bersama marga Oda, dengan orangorang Imagawa, berpindah-pindah dalam pengasingan di provinsi musuh. Sebagai sandera, ia tak pernah mengenal kebebasan, sampai sekarang pun keadaannya belum berubah. Mata, telinga, dan jiwa seorang sandera tertutup, dan jika ia tidak berusaha sendiri, tak ada yang menegur maupun memberi semangat padanya. Walaupun demikian, justru karena terkungkung sejak masa kanak-kanak, Ieyasu menjadi ambisius.

Empat tahun yang lalu, ia mengutus Jinshichi ke provinsi-provinsi lain agar ia dapat mengetahui apa saja yang terjadi di dunia—suatu tanda awal ambisi Ieyasu yang semakin berkembang. "Kita akan terlihat di sini, dan kalau kita masuk ke rumah, para pengikutku akan curiga. Kita ke sana saja." Dengan langkah panjang Ieyasu berjalan menjauhi rumahnya. Tempat kediaman Ieyasu berada di salah satu daerah paling sepi di Sumpu. Jika berjalan menjauhi tembok luar, dalam waktu singkat orang sudah sampai ke tepi Sungai Abe. Waktu Ieyasu masih kanak-kanak yang terus digendong oleh para pengikutnya, ia selalu dibawa ke Sungai Abe kalau ia mengatakan ingin bermain di luar. Aliran sungai itu tak pernah berhenti, dan tepiannya seakan-akan tak pernah berubah. Pemandangan ini membawa banyak kenangan bagi Ieyasu.

"Jinshichi, lepaskan tali perahu," ujar Ieyasu sambil melangkah ke sebuah perahu kecil. Pada waktu Jinshichi menyusulnya dan mendorong galah, perahu itu mengambang menjauhi tepi sungai, seperti daun bambu terbawa arus. Junjungan dan pengikut berbicara dengan bebas, sadar bahwa untuk pertama kali mereka terlindung dari pandangan orang. Dalam tempo satu jam, Ieyasu menyerap seluruh informasi yang dikumpulkan Jinshichi dalam pengembaraannya selama empat tahun. Namun, selain apa yang dipelajari Jinshichi, masih ada sesuatu yang samarsamar tersembunyi dalam hati Ieyasu.

"Kalau orang-orang Oda jarang menyerang provinsi lain dalam beberapa tahun terakhir—berbeda dengan di masa kekuasaan Nobuhide—itu berarti mereka sedang berbenah diri," ujar Ieyasu.

"Tak peduli apakah orang-orang yang menentangnya merupakan kerabat atau pengikut. Nobunaga mencurahkan perhatiannya secara penuh pada tugas itu. Dia menjatuhkan mereka yang harus dijatuhkan, dan mengusir mereka yang harus diusir. Dia hampir berhasil membersihkan Kiyosu dari orang-orang itu." "Nobunaga sempat menjadi bahan tertawaan orangorang Imagawa. dan menurut kabar burung dia hanya anak manja yang bodoh."

"Dia sama sekali bukan orang pandir seperti yang dikabarkan orang," kata Jinshichi.

"Sudah lama aku menduga bahwa cerita itu hanya desas-desus jahat. Tapi kalau Yoshimoto membicarakan Nobunaga, dia mempercayai segala omong kosong itu, dan dia tidak menanggapinya sebagai ancaman."

"Semangat tempur orang-orang Owari berbeda sama sekali dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu."

"Siapa saja pengikut andalannya?" tanya Ieyasu. "Hirate Nakatsukasa sudah mati, tapi dia masih

mempunyai sejumlah orang seperti Shibata Katsuie, Hayashi Sado, Ikeda Shonyu, Sakuma Daigaku, dan Mori Yoshinari. Baru-baru ini seorang laki-laki luar biasa bernama Kinoshita Tokichiro bergabung dengannya. Orang itu berpangkat rendah, namun entah kenapa namanya sering menjadi buah bibir para penduduk kota."

"Bagaimana pandangan orang-orang mengenai Nobunaga?"

"Inilah yang paling mengherankan. Pada umumnya seorang penguasa provinsi mencurahkan perhatiannya untuk memerintah rakyatnya. Dan rakyat selalu tunduk pada junjungannya. Tapi di Owari keadaannya berbeda."

"Dari segi apa?" Jinshichi berpikir sejenak. "Entah bagaimana cara mengatakannya? Dia tidak melakukan hal-hal yang luar biasa, tapi selama ada Nobunaga, rakyat Owari merasa tenang menghadapi masa depan—dan walaupun mereka sadar bahwa Owari sebuah provinsi kecil dan miskin dengan penguasa tak berharta, inilah anehnya, seperti penduduk sebuah provinsi kuat, mereka tidak takut perang maupun cemas mengenai masa depan mereka."

"Hmm. Kira-kira apa sebabnya?"

"Barangkali karena Nobunaga sendiri. Dia memberitahu mereka apa saja yang terjadi hari ini dan apa yang akan terjadi besok, dan dia menentukan tujuan yang hendak mereka capai bersama-sama."

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tanpa bermaksud berbuat demikian, Jinshichi membandingkan Nobunaga yang berusia dua puluh lima tahun dengan Ieyasu yang delapan tahun lebih muda. Dalam beberapa hal, Ieyasu jauh lebih matang daripada Nobunaga—tak ada sifat kekanak-kanakan tersisa dalam dirinya. Keduanya menjadi dewasa dalam keadaan sulit, tapi sesungguhnya mereka tak dapat dibandingkan. Pada umur lima tahun Ieyasu telah diserahkan kepada musuh, dan kekejaman dunia telah menyebabkan hatinya menjadi dingin.

Perahu kecil itu membawa Jinshichi dan Ieyasu ke tengah sungai, dan waktu terus berjalan selama pembicaraan rahasia mereka. Setelah selesai, Jinshichi membawa mereka kembali ke tepi. Jinshichi cepat-cepat memikul keranjang dan meraih tongkatnya, ia mohon diri dan berkata. "Hamba akan menyampaikan pesan tuanku kepada para pengikut. Masih ada lagi, tuanku?"

Ieyasu berdiri di tepi sungai, langsung cemas kalaukalau mereka akan terlihat. "Tak ada. Pergilah cepat." Sambil menganggukkan kepala untuk menyuruh Jinshichi berangkai, ia tiba-tiba berkata, "Beritahu mereka bahwa aku sehat-sehat saja—tak sekali pun aku jatuh sakit." Kemudian ia berjalan ke rumahnya seorang diri.

Para pelayan istrinya telah mencarinya ke manamana, dan ketika mereka melihatnya kembali dari sungai, salah seorang berkata. "Tuan Putri sedang menunggu, berkali-kali kami disuruh mencari tuanku. Tuan Putri sangat mencemaskan tuanku."

"Ah, begitukah?" ujar Ieyasu. "Tenangkan dia dan katakan padanya bahwa aku segera datang." Setelah itu ia pergi ke kamarnya sendiri. Ketika duduk, ia menemukan pengikut lain, Sakakibara Heishichi, telah menantinya.

"Tuanku habis berjalan-jalan ke tepi sungai?" "Ya... untuk mengisi waktu. Ada apa?" "Seorang kurir datang."

"Dari mana?"

Tanpa menjawab, Heishichi menyodorkan sepucuk surat yang dikirim oleh Sessai. Sebelum membuka sampulnya, dengan penuh hormat Ieyasu menempelkannya ke kening. Sessai adalah biksu aliran Zen yang bertindak sebagai instruktur militer untuk marga Imagawa. Bagi Ieyasu, ia merupakan guru, baik dalam hal mempelajari kitab-kitab maupun ilmu bela diri. Suratnya ringkas:

Ceramah rutin untuk Yang Mulia dan tamu-tamunya akan diberikan malam ini. Tuan akan ditunggu di gierbang Barat Laut Istana.

Hanya itu. Tetapi kata "rutin" merupakan kata sandi yang sangat dikenal Ieyasu. Kata itu menunjuk-kan bahwa Yoshimoto dan para jendralnya bertemu untuk membahas rencana menuju ibu kota.

"Mana kurirnya?"

"Ia sudah pergi. Apakah tuanku akan pergi ke Istana?"

"Ya." jawab Ieyasu, sibuk dengan pikirannya sendiri. "Hamba menduga tak lama lagi rencana menuju ibu kota akan diumumkan." Beberapa kali Heishichi sempat mendengarkan rapat penting dewan perang yang membahas masalah itu. Ia mengamati wajah Ieyasu. Ieyasu menggumamkan sesuatu, seakan-akan

tidak tertarik.

Penilaian orang-orang Imagawa perihal kekuatan Owari dan mengenai Nobunaga sangat berbeda dari apa yang baru saja dilaporkan Jinshichi. Yoshimoto merencanakan memimpin pasukan besar, yang merupakan gabungan kekuatan Provinsi Suruga, Totomi. dan Mikawa ke ibu kota, dan mereka menduga akan mendapat perlawanan di Owari.

"Kalau kita maju dengan pasukan besar, Nobunaga akan menyerah tanpa penumpahan darah." Pandangan dangkal ini dikemukakan oleh beberapa anggota dewan perang, namun meski Yoshimoto dan para penasihatnya, termasuk Sessai tidak menganggap Nobunaga demikian rendah, tak seorang pun dari mereka memandang Owari seserius Ieyasu. Ia pernah mengutarakan pendapatnya, tapi disambut dengan tawa mengejek. Bagaimanapun, Ieyasu hanyalah seorang sandera yang masih muda, dan oleh para panglima ia tidak dipandang sebelah mata.

Perlukah aku menyinggung hal ini nanti? Biarpun masalah ini kutekankan...

Ieyasu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri,

dengan surat dari Sessai di hadapannya, ketika seorang dayang tua menyapanya dengan pandangan cemas. Istrinya sedang gundah, kata perempuan tua itu, dan Ieyasu diminta menjenguknya sejenak saja.

Istri Ieyasu perempuan yang hanya memikirkan diri sendiri. Ia sama sekali tak peduli pada masalah negara dan situasi suaminya. Tak ada yang mengusik pikirannya selain urusan sehari-hari serta perhatian suaminya. Dayang tua tadi memahami ini, dan ketika ia melihat Ieyasu masih berbicara dengan seorang pengikutnya, ia menunggu dengan gelisah sambil membisu, sampai pelayan perempuan lain menyusul dan berbisik ke telinganya. Si dayang tak punya pilihan. Sekali lagi ia memotong pembicaraan dan berkata, "Ampun, tuanku... Maafkan hamba atas kelancangan ini, tapi Tuan Putri sangat rewel." Sambil membungkuk ke arah Ieyasu, ia mendesaknya dengan takut-takut agar segera menemui istrinya.

Ieyasu sadar bahwa tak ada yang lebih disulitkan oleh situasi ini daripada para pelayan istrinya, sedangkan ia sendiri laki-laki sabar. "Ah, baiklah." katanya sambil menoleh. Lalu ia berkata pada Heishichi, "Hmm... lakukan persiapan yang diperlukan, dan beritahu aku kalau sudah waktunya." Ia berdiri. Kedua perempuan di hadapannya berlari dengan langkah kecil-kecil, ekspresi wajah mereka seperti orang yang baru saja terselamatkan dari bencana.

Bagian dalam rumahnya berjarak cukup jauh, jadi bukan tanpa alasan jika istrinya sering rindu untuk bertemu dengannya. Setelah melewati banyak belokan di selasar tengah yang beratap, akhirnya ia sampai di ruang pribadi istrinya.

Pada hari pernikahan mereka, pakaian si pengantin pria miskin dari Mikawa tak dapat mengimbangi kemewahan dan kegemerlapan baju Putri Tsukiyama. putri angkat Imagawa Yoshimoto. "Laki-laki dari Mikawa"—menyandang sebutan itu, Ieyasu menjadi sasaran celaan marga Imagawa. Dan dari tempat tinggalnya yang terpisah, istri Ieyasu memandang hina para pengikut dari Mikawa, tapi membanjiri suaminya dengan curahan cinta yang buta dan berpangkal pada diri sendiri, ia juga lebih tua daripada Ieyasu. Dalam batas-batas kehidupan suami-istri yang hambar, Putri Tsukiyama menganggap Ieyasu tak lebih dari seorang pemuda penurut yang berutang nyawa pada orangorang Imagawa.

Setelah melahirkan di musim semi sesudah pernikahan mereka, ia semakin mementingkan diri sendiri. Setiap hari ia memperlihatkan kekerasan hatinya.

"Oh, kau sudah bangun. Keadaanmu sudah lebih baik?" Ieyasu menatap istrinya, dan sambil bicara, hendak membuka pintu geser. Pikirnya, jika istrinya melihat keindahan warna-warni dan langit musim gugur, suasana batinnya akan lebih cerah.

Putri Tsukiyama duduk di ruang tamu dengan ekspresi dingin pada wajahnya yang pucat kelabu, ia mengerutkan alis sambil berkata, "Biarkan tertutup!"

Ia tidak seberapa cantik, tapi, seperti umumnya para perempuan yang dibesarkan di lingkungan keluarga kaya, kulitnya berkilau lembut. Disamping itu, baik wajahnya maupun ujung-ujung jarinya begitu putih, hingga hampir tembus cahaya, mungkin karena ia baru pertama kali melahirkan. Kedua tangannya terlipat rapi di pangkuan.

"Silakan duduk, tuanku. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan." Mata dan nada suaranya sedingin abu. Tapi sikap Ieyasu sama sekali bukan seperti yang diharapkan dari seorang suami muda—perlakuan lemah lembut terhadap ini lebih panras bagi laki-laki yang telah matang. Atau mungkin ia mempunyai pandangan tertentu mengenai perempuan, sehingga orang yang seharusnya paling disayangi justru dinilainya secara objektif.

"Ada apa?" ia bertanya sambil duduk di hadapan istrinya, seperti yang diminta. Namun, semakin patuh Ieyasu, semakin tak masuk akal sikap yang diperlihatkan istrinya.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apakah tuanku pergi ke luar beberapa saat yang lalu? Seorang diri, tanpa pelayan?" Matanya mulai berkaca-kaca. Darah mulai naik ke wajahnya yang masih kurus akibat persalinan. Ieyasu mengetahui keadaan kesehatannya maupun wataknya, dan ia tersenyum, seolah-olah hendak menghibur bayi.

"Beberapa saat yang lalu? Aku bosan membaca, jadi aku berjalan-jalan menyusuri tepi sungai. Kapan-kapan kau juga harus ke sana. Warna-warni musim gugur diiringi bunyi serangga—suasana di tepi sungai sangat menyenangkan pada musim ini."

Putri Tsukiyama tidak mendengarkan. Ia menatap lurus ke arah suaminya, menegurnya tanpa kata, karena lelah berbohong. Ia duduk tegak dengan sikap tak peduli, tapi tanpa sikap sibuk sendiri seperti biasanya. "Aneh. Kalau kau pergi untuk mendengarkan suara serangga dan mengagumi warna-warni musim gugur, mengapa kau harus naik perahu ke tengah sungai dan bersembunyi begitu lama?"

"Aha... ternyata kau mengetahuinya."

"Mungkin aku memang terkungkung di sini, tapi aku tahu segala sesuatu yang kaulakukan." "Begitukah?" Ieyasu memaksakan senyum, tapi tidak menyinggung pertemuannya dengan Jinshichi.

Walaupun perempuan ini telah menikah dengannya, Ieyasu tak sanggup meyakinkan diri bahwa ia betul-betul istrinya. Jika pengikut atau kerabat ayah angkatnya berkunjung, Putri Tsukiyama akan menceritakan segala sesuatu yang diketahuinya, dan ia pun terlibat surat-menyurat dengan rumah tangga Yoshimoto. Ieyasu harus lebih berhati-hati terhadap kecerobohan istrinya daripada terhadap mata-mata Yoshimoto.

"Sebenarnya aku menaiki perahu di tepi sungai tanpa pikir panjang. Kusangka aku sanggup mengemudikan perahu, tapi waktu perahunya terbawa arus, aku tak dapat berbuat apa-apa." Ia tertawa. "Persis seperti anak kecil. Di mana kau waktu melihatku?"

"Kau bohong. Kau tidak sendirian, bukan?"

"Hmm, beberapa saat kemudian seorang pelayan menyusulku."

"Tidak, tidak. Tak ada alasan untuk mengadakan pertemuan rahasia di dalam perahu dengan seseorang yang kelihatan seperti pelayan."

"Siapa yang menyampaikan omong kosong ini padamu?"

"Walaupun aku terkurung di sini, masih ada orang setia yang memikirkanku. Kau punya gundik, bukan? Atau kalau bukan itu, barangkah kau sudah bosan denganku, dan berencana melarikan diri ke Mikawa. Menurut desas-desus yang beredar, kau telah memperistri perempuan lain di Okazaki. Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Aku tahu kau menikahiku hanya karena takut terhadap marga Imagawa."

Tepat pada waktu tangisnya meledak, Sakakibara Heishichi muncul di ambang pintu. "Tuanku, kuda tuanku sudah siap. Sudah hampir waktunya.

"Kau mau pergi?" Sebelum Ieyasu sempat menjawab. Putri Tsukiyama mendahuluinya. "Belakangan ini kau semakin sering keluar pada malam hari, jadi ke mana lagi kau hendak pergi sekarang?"

"Ke Istana." Tanpa mengacuhkan istrinya, Ieyasu mulai berdiri.

Tapi Putri Tsukiyama tidak puas dengan jawaban singkatnya. Kenapa suaminya harus ke Istana malammalam begini? Dan apakah ia akan pergi sampai tengah malam, seperti biasanya? Siapa yang akan menyertainya? Ia mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.

Sakakibara Heishichi menunggu majikannya di luar pintu, dan walaupun ia hanya seorang pengikut, ia mulai tak sabar. Ieyasu, sebaliknya, menenangkan istrinya dengan riang, dan akhirnya berangkat. Putri Tsukiyama mengabaikan peringatan Ieyasu bahwa ia akan sakit lagi, dan mengantar suaminya sampai ke pintu.

"Pulanglah secepatnya," ia memohon, seluruh cinta dan kesetiaannya tercurah dalam kata-kata itu.

Sambil membisu, Ieyasu berjalan ke gerbang utama. Namun, ketika ia berangkat, disaksikan bintangbintang di langit dan diterpa angin sejuk, ia mengusap-usap bulu tengkuk kudanya dan suasana hatinya berubah sama sekali—suatu bukti bahwa darah muda mengalir dalam tubuhnya. "Heishichi. Sepertinya kita akan terlambat, bukan?" Ieyasu serunya.

"Tidak. Dalam surat itu tidak tercantum jam tertentu, jadi bagaimana kira bisa terlambat?"

"Bukan itu masalahnya. Meski Sessai sudah tua, dia tak pernah terlambat. Aku akan merasa pedih jika aku, sebagai anak muda dan seorang sandera, terlambat muncul pada suatu pertemuan sementara para pengikut senior dan Sessai sudah hadir. Cepatlah," ia berkata, dan memacu kudanya.

Selain seorang tukang kuda dan tiga pelayan. Heishichi-lah satu-satunya pengikut yang menyertai Ieyasu. Ketika Heishichi berupaya mengimbangi kuda majikannya, ia menitikkan air mata bagi Ieyasu yang sudah memperlihatkan kesabaran pada istrinya dan kepatuhan pada Istana—artinya, pada Imagawa Yoshimoto—padahal sikap itu tentu sangat menyakitkan baginya.

Sebagai pengikut, ia telah bersumpah untuk melepaskan junjungannya dari segala belenggu, ia harus membebaskan Ieyasu dari posisinya sebagai bawahan dan mengembalikannya ke kedudukan sebagai penguasa Mikawa. Dan bagi Heishichi, setiap hari yang berlalu tanpa mencapai tujuan merupakan satu hari penuh ketidaksetiaan.

Ia terus berlari, menggigit-gigit bibir sambil berikrar, dengan mata berkaca-kaca.

Selokan pertahanan mulai terlihat. Setelah mereka menyeberangi jembatan, k ada lagi toko-toko dan rumah rakyat jelata. Diapit oleh pohon-pohon dinding-dinding putih dan gerbang-gerbang megah kediaman atau kerja orang-orang Imagawa tampak berderet-deret. "Bukankah itu si Penguasa Mikawa? Tuanku Ieyasu!" Sessai berseru dari bayang-bayang pepohonan.

Hutan pinus yang mengelilingi benteng merupakan lapangan militer di saat perang, tapi di masa damai jalan-jalan setapaknya yang panjang dan lebar digunakan sebagai tempat berkuda.

Ieyasu segera turun dari kuda, dan membungkuk penuh hormat ke arah Sessai.

"Terima kasih atas kesediaan memenuhi undangan kami, Yang Mulia."

"Pesan-pesan ini selalu datang secara mendadak.

Tuan tentu direpotkan sekali."

"Sama sekali tidak." Sessai seorang diri. Kakinya terbungkus sandal tua berukuran sebanding dengan tubuhnya, Ieyasu mulai berjalan bersamanya, dan sebagai penghormatan pada gurunya, satu langkah di belakangnya, menyerahkan tali kekang pada Heishichi.

Ketika mendengarkan gurunya, Ieyasu tiba-tiba dilanda rasa terima kasih yang tak dapai diungkapkan dengan kata-kata. Takkan ada yang menyangkal bahwa penahanan sebagai sandera oleh provinsi lain merupakan nasib buruk, tapi ketika merenungkannya, Ieyasu menyadari bahwa kesempatan untuk belajar dari Sessai justru merupakan suatu keberuntungan.

Sukar sekali menemukan guru yang baik. Seandainya ia tetap di Mikawa, ia takkan pernah mendapat kesempatan berguru pada Sessai. Jadi. ia takkan pernah menerima pendidikan klasik dan militer yang dimilikinya sekarang—ataupun latihan Zen yang dianggapnya pelajaran paling berharga yang ia peroleh dari Sessai.

Mengapa Sessai, seorang biksu aliran Zen, mengabdi pada penguasa marga Imagawa dan bersedia menjadi penasihat militernya, menjadi tanda tanya bagi provinsi-provinsi lain, dan mereka menganggapnya agak ganjil. Karena itu ada orang yang menjuluki Sessai "biksu militer" atau "biksu duniawi", namun seandainya garis keturunannya diteliti, mereka akan menemukan bahwa ia masih tergolong kerabat Yoshimoto. Meski demikian, Yoshimoto hanya menguasai Suruga. Totomi, dan Mikawa, sedangkan kemasyhuran Sessai tidak mengenal batas; ia milik seluruh jagat raya.

Tetapi Sessai telah menggunakan bakatnya untuk kepentingan orang-orang Imagawa. Begitu melihat tanda-tanda bahwa orang-orang Imagawa akan kalah perang melawan marga Hojo, biksu itu membantu Suruga merundingkan perjanjian damai yang tidak merugikan Yoshimoto. Dan ketika ia mengatur pernikahan Hojo Ujimasa dengan salah seorang putri Takeda Shingen, sang penguasa Kai, provinsi kuat di perbatasan utara, serta pernikahan putri Yoshimoto dengan putra Shingen, ia memperlihatkan kemampuan politik tinggi dengan mengikat ketiga provinsi itu sebagai sekutu.

Ia bukan biksu yang menyendiri berbekal tongkat dan topi lusuh, ia bukan biksu Zen "murni". Bisa dikatakan bahwa ia biksu politik, biksu militer, atau bahkan biksu bukan biksu. Apa pun julukan yang diberikan padanya, keharuman namanya tak terusik.

Sessai selalu berbicara seperlunya, tapi satu hal yang dikatakannya pada Ieyasu di pelataran Kuil Rinzai terus melekat di kepala Ieyasu. "Bersembunyi di gua. mengembara seorang diri seperti awan dan air mengalir—bukan itu saja yang membentuk seorang biksu besar. Tujuan seorang biksu selalu berubahubah. Di dunia sekarang, hanya memikirkan pencerahanku sendiri dan menjalani kehidupan seperti orang yang 'mencuri ketenteraman gunung dan padang', dan bersikap seakan-akan aku membenci dunia, merupakan penerapan ajaran Zen yang terlalu terfokus pada diri sendiri."

Mereka menyeberangi Jembatan Cina dan melewati Gerbang Barat Laut. Sukar dipercaya bahwa mereka berada di balik tembok sebuah benteng. Rasanya seperti istana sang Shogun dipindahkan ke sini. Ke arah Atago dan Kiyomizu, puncak Gunung Fuji yang agung tampak samar di keremangan senja. Lampulampu di relung-relung selasar yang membentang sejauh mata memandang telah dinyalakan. Perempuan-perempuan yang cantik bagaikan putri istana berlalu, membawa kolo atau botol-botol sake.

"Siapa itu di pekarangan?" Imagawa Yoshimoto menutupi wajahnya yang agak memerah dengan kipas berbentuk daun ginkgo. Ia baru saja melewati jembatan bulan sabit. Pelayan-pelayan yang meng-ikutinya pun mengenakan pakaian mewah dan menyandang pedang.

Salah seorang pelayan kembali menyusuri selasar dan bergegas ke pelarangan. Seseorang menjerit. Bagi telinga Yoshimoto, kedengarannya seperti suara wanita, jadi karena menganggapnya ganjil, ia berhenti. "Ke mana pelayan tadi?" Yoshimoto bertanya setelah beberapa menit. "Dia belum kembali. Iyo, coba

kaulihat."

Iyo melangkah ke pekarangan. Walaupun disebut pekarangan, kawasan mi demikian luas hingga seakanakan membentang sampai ke kaki Gunung Fuji. Bersandar pada sebuah pilar, Yoshimoto mengetukngetuk kipasnya dan bersenandung seorang diri.

Ia cukup pucat untuk disangka wanita, karena menggunakan dandanan muka berwarna terang. Usianya empat puluh tahun, dan ia sedang di puncak kejayaannya sebagai laki-laki. Yoshimoto menikmati dunia dan kemakmurannya. Rambutnya ditata dengan gaya bangsawan, giginya dihitamkan, dan di bawah hidungnya membentang kumis. Dalam dua tahun terakhir, berat badannya bertambah, dan karena dilahirkan dengan badan panjang dan kaki pendek, ia kini tampak sedikit cacat. Tapi pedangnya rang berlapis emas dan pakaiannya yang mewah menyelubunginya dengan pancaran penuh martabat. Akhirnya seseorang kembali, dan Yoshimoto berhenti bersenandung.

"Kaukah itu, lyo?"

"Bukan, ini Ananda, Ujizane."

Ujizane adalah putra dan pewaris Yoshimoto. dan penampilannya menunjukkan bahwa ia tak pernah mengenal susah.

"Mengapa kau berada di pekarangan menjelang senja?"

"Ananda sedang memukul Chizu, dan waktu Ananda mencabut pedang, dia langsung kabur."

"Chizu? Siapa Chizu?"

"Dia gadis yang mengurus burung-burung Ananda." "Seorang pelayan?"

"Ya."

"Apa yang dilakukannya hingga kau terpaksa menghukumnya dengan tanganmu sendiri?"

"Dia menjengkelkan. Dia bertugas memberi makan seekor burung langka yang dikirimkan pada Ananda dari Kyoto, dan dia membiarkannya lepas." Ujizane berkata dengan sungguh-sungguh. Ia sangat menyayangi burung hias. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan bahwa jika seseorang menemukan seekor burung langka dan mengirimkannya pada Ujizane. Ujizane akan bahagia sekali. Jadi, tanpa perlu mengangkat jari, ia telah menjadi pemilik koleksi burung dan kandang yang luar biasa. Menurut kabar angin, ia lebih mementingkan burung daripada nyawa manusia. Ujizane begitu murka, seakan-akan urusannya merupakan masalah negara yang sangat penting.

Sebagai ayah yang sabar, Yoshimoto hanya menggerutu kecewa ketika menghadapi amarah konyol yang diperlihatkan putranya. Meski Ujizane pewarisnya, setelah menunjukkan ketololan seperti ini, para pengikut takkan memandangnya sebelah mata.

"Bodoh!" seru Yoshimoto, berniat mengungkapkan kasih sayangnya yang mendalam. "Ujizane. berapa usiamu? Upacara akil baligmu sudah lama berlalu. Kau pewaris marga Imagawa. tapi kau tidak berbuat apa-apa selain menghibur diri dengan memelihara burung. Kenapa kau tidak melakukan meditasi Zen, atau mempelajari perjanjian-perjanjian militer?"

Dibentak begitu oleh seorang ayah yang hampir tak pernah memarahinya. Ujizane menjadi pucat dan terdiam. Pada dasarnya, ia menganggap ayahnya mudah ditangani, namun pada usianya sekarang ia juga sudah dapat mengamati tindak-tanduk ayahnya secara kritis. Kini, daripada berdebat, ia memilih merengut dan mendongkol. Ini pun dipandang sebagai kelemahan oleh Yoshimoto. Ia sangat menyayangi putranya yang tolol, dan ia sadar bahwa ia tak pernah memberi contoh baik bagi Ujizane. "Cukup. Mulai sekarang kau harus lebih mengekang diri. Bagaimana, Ujizane?"

"Ya."

"Kenapa kau kelihatan kecewa?" "Ananda tidak kecewa."

"Hmm, kalau begitu, pergilah! Ini bukan waktunya memelihara burung."

"Baiklah, tapi..."

"Apa yang ingin kaukatakan?"

"Apakah sekarang waktunya untuk minum sake bersama perempuan-perempuan dari Kyoto, serta menari dan memukul gendang sepanjang sore?"

"Jaga mulutmu!" "Tapi, Ayahanda..."

"Diam!" Yoshimoto berkata sambil melemparkan kipasnya ke arah Ujizane.

"Mestinya kau lebih tahu diri. Bagaimana aku bisa mengangkatmu sebagai pewarisku, kalau kau tidak memperlihatkan minat pada masalah militer dan tidak mau mempelajari seluk-beluk pemerintahan dan ekonomi? Ayahmu mendalami Zen ketika masih muda, melalui segala macam kesulitan, dan mengambil bagian dalam pertempuran yang tak terhitung jumlahnya. Kini aku penguasa provinsi kecil ini, tapi suatu hari nanti aku akan memerintah seturuh negeri. Kenapa aku diberin putra yang begitu kecil hati dan bercita-cita kerdil? Tak ada yang patut kukeluhkan selain kekecewaanku terhadapmu."

Para pengikut Yoshimoto gemetar ketakutan di selasar. Mereka masing-masing menatap lantai sambil membisu. Bahkan Ujizane pun menundukkan kepala dan memandang kipas ayahnya yang tergeletak di kakinya.

Pada saat itu seorang samurai masuk dan mengumumkan. "Yang terhormat Tuan Sessai, Tuan Ieyasu, dan para pengikut senior menanti tuanku di Paviliun Jeruk Mandarin."

Paviliun Jeruk Mandarin didirikan di lereng bukit yang ditumbuhi pohon jeruk mandarin, dan ke sanalah Yoshimoto mengundang Sessai dan para penasihat lainnya, dengan alasan mengadakan upacara teh pada malam hari.

"Ah! Begitukah? Semuanya sudah datang? Sebagai tuan rumah, tidak sepatutnya aku terlambat." Yoshimoto berkata seakan-akan terselamatkan dari konfrontasi dengan putranya, lalu menyusuri selasar ke arah berlawanan.

Sejak semula upacara minum teh itu hanya tipu muslihat belaka. Namun bayangan menari-nari yang ditimbulkan oleh cahaya lentera menyelubungi tempat itu dengan suasana anggun, cocok untuk upacara minum teh pada malam hari. Tapi begitu Yoshimoto masuk dan pintu-pintu ditutup, para pengawal menerapkan pengawasan yang begitu ketat, sehingga air pun tak dapat menyusup tanpa diketahui.

"Yang Dipertuan Agung." Seorang pengikut mengumumkan kedatangan junjungannya, seakanakan mengumumkan kedatangan seorang raja. Di dalam ruangan besar itu, sama seperti di kuil-kuil. sebuah lentera redup berkelip-kelip. Sessai dan para pengikut senior duduk membentuk barisan, dengan Tokugawa Ieyasu di ujungnya. Barisan orang itu membungkuk ke arah junjungan mereka.

Pakaian sutra Yoshimoto terdengar berdesir dalam keheningan. Ia mengambil tempat duduk, tanpa disertai pelayan maupun pembantu. Kedua pembantunya menjaga jarak dua atau tiga meter di belakangnya.

"Maafkan keterlambatanku," Yoshimoto menanggapi salam para pengikutnya. Kemudian, secara khusus ia berkata pada Sessai. "Ini tentu merupakan beban bagi Yang Terhormat." Belakangan ini Yoshimoto selalu menanyakan kesehatan Sessai pada waktu mereka bertemu. Sudah sejak lima atau enam tahun ini Sessai sering sakit-sakitan, dan dalam bulanbulan terakhir terlihat jelas bahwa ia bertambah tua.

Sessai telah membimbing, melindungi, dan mengilhami Yoshimoto sejak masa kanak-kanaknya. Yoshimoto menyadari bahwa ia mencapai kejayaannya berkat keahlian Sessai sebagai negarawan, serta kemampuannya menyusun rencana. Jadi, mula-mula Yoshimoto merasakan pertambahan usia Sessai seperti pertambahan usianya sendiri, tapi ketika mengetahui bahwa kekuatan marga Imagawa tidak berkurang karena tidak mengandalkan Sessai, dan bahwa kekuatannya justru semakin berkembang, ia mulai percaya bahwa keberhasilannya merupakan akibat dari kemampuannya sendiri.

"Karena aku kini telah dewasa.'' Yoshimoto pernah berkata pada Sessai. "jangan risaukan urusan pemerintahan provinsi atau urusan militer. Nikmatilah sisa waktumu, dan pusatkanlah pikiranmu pada penyebaran Jalan Buddha." Jelaslah bahwa ia mulai mengambil jarak terhadap Sessai.

Namun dari sudut pandang Sessai, Yoshimoto menyerupai anak kecil yang terseok-seok, dan ia merasakan keprihatinan yang sama. Sessai memandang Yoshimoto persis seperti Yoshimoto memandang putranya, Ujizane. Sessai menganggap Yoshimoto tak dapat diandalkan. Ia tahu bahwa Yoshimoto merasa kikuk dengan kehadirannya dan telah berupaya menjauhkannya, tapi ia terus berusaha membantu, baik dalam urusan pemerintahan maupun militer. Sejak awal musim semi tahun itu, tak satu pun dari kesepuluh pertemuan di Paviliun Jeruk Mandarin yang tidak diikutinya.

Apakah mereka akan bergerak sekarang, atau menunggu sedikit lebih lama? Pertemuan ini akan menentukannya, dan masa depan seluruh marga Imagawa tergantung pada keputusan yang akan diambil.

Diiringi suara jangkrik, pertemuan yang akan mengubah peta kekuasaan seluruh negeri berlangsung di bawah pengamanan ketat. Ketika nyanyian serangga tiba-tiba terhenti, para pengawal langsung mondarmandir menyusuri semak-semak di luar paviliun. "Sudahkah kau menyelidiki apa yang kita bicarakan pada penemuan terakhir?" Yoshimoto bertanya pada salah seorang jendralnya.

Jendral itu merentangkan beberapa dokumen di lantai dan membuka penemuan dengan memberi penjelasan secara garis besar. Ia telah menyusun laporan mengenai kekuatan militer dan ekonomi marga Oda. "Mereka dikabarkan sebagai marga kecil, tapi belakangan ini terlihat tanda-tanda bahwa ekonomi mereka berkembang pesat." Sambil bicara, ia memperlihatkan beberapa diagram pada Yoshimoto. "Owari dipandang sebagai satu kesatuan, tapi di bagian timur dan selatan ada beberapa tempat, seperti benteng Iwakura, yang telah bersumpah setia pada tuanku. Disamping itu, ada sejumlah orang yang walaupun pengikut Oda, diketahui merasa bimbang mengenai kesetiaan mereka. Jadi, dalam keadaan sekarang, kurang dari setengah, mungkin hanya dua per lima, dari seluruh Owari yang berada di bawah kekuasaan marga Oda."

"Begitu," ujar Yoshimoto. "Sepertinya mereka hanya marga kecil, persis seperti yang kita dengar. Hmm, berapa banyak prajurit yang sanggup mereka kerahkan?"

"Mengingat mereka hanya menguasai dua per lima dari Owari, wilayah mereka mampu menghasilkan sekitar seratus enam puluh ribu sampai tujuh puluh ribu gantang padi. Dengan perhitungan bahwa sepuluh ribuu gantang padi cukup untuk sekitar dua ratus lima puluh orang, walaupun seluruh pasukan Oda dikerahkan, jumlah mereka takkan melebihi empat ribu orang. Dan jika dikurangi dengan jumlah pengawal di benteng-benteng, hamba meragukan kemampuan mereka untuk mengumpulkan lebih dari sekitar tiga ribu orang."

Tiba-tiba Yoshimoto tertawa. Kalau tertawa, telah menjadi kebiasaannya untuk mencondongkan badannya sedikit dan menutupi giginya yang hitam dengan kipas. "Tiga atau empat ribu, katamu? Hah, itu nyaris tak cukup antuk mendirikan provinsi. Sessai berpendapat bahwa musuh yang harus diperhatikan saat kita bergerak menuju ibu kota adalah orang-orang Oda, dan kalian semua pun berulang kali menyinggung marga itu. Karena itulah aku minta agar laporan-laporan ini disusun. Tapi apa yang akan dilakukan tiga atau empat ribu orang di hadapan pasukanku? Apa sulitnya menjadikan mereka bulanbulanan, lalu menghancurkan mereka dengan sekali pukul?"

Sessai tidak mengatakan apa-apa; yang lain pun tetap membisu. Mereka tahu bahwa Yoshimoto takkan berubah pikiran. Rencana itu sudah tersusun sejak bertahun-tahun, dan tujuan segala persiapan militer serta administrasi wilayah marga Imagawa adalah gerakan Yoshimoto ke ibu kota serta penguasaan seluruh negeri. Waktunya sudah tiba dan Yoshimoto tak sanggup menahan diri lebih lama lagi. Meski demikian, jika beberapa pertemuan telah diadakan sejak musim mi dengan maksud mengambil keputusan, sedangkan tujuan belum juga tercapai, itu berarti dalam kelompok penentu ini terdapat seseorang yang berpendapat bahwa waktunya belum tepat. Suara sumbang ini milik Sessai. Ia bukan hanya berpendapat bahwa waktunya belum tiba, melainkan juga memberikan saran agar pembenahan administrasi internal diutamakan dulu. Ia tidak mengkritik ambisi Yoshimoto untuk menyatukan seluruh negeri, tapi ia juga tidak memberikan persetujuannya.

"Marga Imagawa merupakan marga termasyhur pada masa ini." ia sempat berkala pada Yoshimoto. "Jika suatu ketika tak ada yang mewarisi kekuasaan sang Shogun, anggota marga Imagawa-lah yang harus tampil ke depan. Kau harus memelihara cita-cita besar ini, dan mulai sekarang kau melatih diri agar mampu memerintah seluruh negeri." Sessai sendirilah yang mengajari Yoshimoto untuk berpandangan luas. Daripada menjadi penguasa sebuah benteng, jadilah penguasa seluruh provinsi. Daripada jadi pemimpin satu provinsi, jadilah pemimpin seluruh distrik. Daripada memerintah seluruh distrik, lebih baik memerintah seluruh negeri.

Semua orang memberi nasihat seperti ini. Dan semua anak samurai menghadapi dunia yang kacau dengan ajaran ini terpatri di kepala. Ini pula yang menjadi fokus latihan yang diberikan Sessai pada Yoshimoto. Jadi, sejak Sessai bergabung dengan dewan pimpinan Yoshimoto, pasukan marga Imagawa berkembang pesat. Dengan langkah pasti Yoshimoto meniti tangga menuju kekuasaan tertinggi. Namun belakangan ini Sessai merasakan pertentangan antara ajaran yang diberikannya pada Yoshimoto dan perannya sebagai penasihat—ada sesuatu yang membuatnya bimbang mengenai penyatuan seluruh negeri yang direncanakan Yoshimoto dengan rasa percaya diri yang semakin kuat.

Dia tidak memiliki kemampuan untuk itu, pikir Sessai. Seiring peningkatan rasa percaya diri Yoshimoio, terutama pada tahun-tahun belakangan ini, pemikiran Sessai jadi semakin konservatif. Inilah puncaknya. Kemampuan Yoshimoto sebagai penguasa takkan berkembang lagi. Aku harus berusaha agar dia mau membatalkan niatnya. Inilah sumber kesedihan Sessai. Tapi harapan bahwa Yoshimoto, yang begitu bangga akan kemajuan duniawinya, tiba-tiba bersedia membatalkan niat untuk meraih kekuasaan tertinggi amatlah kecil. Keberatan Sessai disambut dengan tawa dan dipandang sebagai tanda bahwa ia mulai uzur, dan karena itu tidak mendapat tanggapan. Yoshimoto menganggap seluruh negeri sudah berada dalam genggamannya.

Ini harus diakhiri secepatnya. Sessai tidak lagi mengingatkannya. Malah sebaliknya, dalam setiap pertemuan ia bersikap teramat hati-hati.

"Kesulitan apa yang mungkin menghadangku jika aku bergerak menuju Kyoto dengan seluruh kekuatanku serta pasukan gabungan Suruga, Totomi. dan Mikawa?" Yoshimoto kembali bertanya. Ia merencanakan untuk menempuh perjalanan ke ibu kota tanpa penumpahan darah, mempelajari kondisi di semua provinsi yang akan dilaluinya, dan menyiapkan kebijakan diplomasi sejak jauh hari. untuk sedapat mungkin menghindari pertempuran. Namun pertempuran pertama dalam perjalanan menuju Kyoto bukanlah melawan provinsi-provinsi kuat seperti Mino atau Omi. Pertempurannya akan berlangsung melawan marga Oda dari Owari. Mereka tak berarti. Tapi mereka tidak bisa diajak berdamai melalui diplomasi, atau disuap dengan uang.

Mereka memang musuh yang merepotkan. Dan bukan hanya sekarang atau kemarin. Selama empat puluh tahun terakhir, marga Oda dan marga Imagawa berperang, iika sebuah benteng direbut, benteng lain akan jatuh ke tangan lawan, dan jika sebuah kota dibakar, sepuluh desa akan musnah dilahap api. Bahkan dari zaman ayah Nobunaga dan kakek Yoshimoto pun kedua marga itu seakan-akan berikrar bahwa mereka akan terus saling menggempur di perbatasan kedua provinsi.

Ketika desas-desus mengenai rencana Yoshimoto sampai ke telinga marga Oda, mereka segera memutuskan untuk menentukan nasib dalam satu pertempuran besar. Bagi Yoshimoto, orang-orang Oda merupakan korban ideal untuk pasukannya yang hendak maju ke ibu kota, dan ia terus mematangkan rencana untuk melawan mereka. Inilah pertemuan terakhir dewan perang. Sessai, Ieyasu,. dan para pembantunya meninggalkan istana. Mereka menempuh perjalanan pulang dalam keadaan gelap gulita, tak satu lentera pun menyala di Sumpu.

"Tak ada yang dapat kita lakukan sdain berdoa agar keberuntungan berada di pihak kita." gumam Sessai. Semakin tua seseorang, bahkan jiwa yang paling gemilang pun kembali kekanak-kanakan. "Dingin sekali rasanya." Padahal malam itu bukanlah malam yang patut disebut dingin.

Belakangan, ketika orang-orang mengingat keiadian ini, jelas bahwa itulah awal memburuknya kesehatan si biksu. Itulah malam terakhir kaki Sessai menapak di bumi. Dalam kesunyian musim gugur. Sessai meninggal dengan tenang, tanpa diketahui.

***

Di tengah-tengah musim dingin tahun itu. pertempuran-pertempuran kecil di sepanjang perbatasan mendadak berkurang. Namun sesungguhnya ini merupakan masa penggalangan kekuatan untuk menjalankan rencana yang lebih besar. Tahun berikutnya gandum di ladang-ladang subur di provinsiaaovinsi pesisir tumbuh tinggi. Bunga-bunga ceri berguguran, dan wangi daun-daun muda naik ke langit.

Awal musim panas. Dari Sumpu. Yoshimoto memberi perintah kepada pasukannya untuk bergerak menuju ibu kota. Kemegahan pasukan Imagawa membuat dunia terbelalak kagum. Dan pengumumannya menyebabkan provinsi-provinsi kecil gemetar ketakutan. Pesannya singkat dan jelas:

Mereka yang menghalangi pasukanku akan dihancurkan. Mereka yang menerimanya dengan penuh kesopanan akan diperlakukan dengan baik.

Seusai Perayaan Anak-Anak Laki-Laki, Sumpu diserahkan ke tangan pewaris Yoshimoto, Ujizane, dan pada hari kedua belas di bulan kelima, pasukan utama mulai bergerak, diiringi sorak-sorai rakyat. Para prajurit gagah, dengan pancaran cemerlang menyaingi matahari, berangkat menuju ibu kota. Pasukan itu mungkin terdiri atas dua puluh lima ribu atau dua puluh enam ribu orang, tapi sengaja dikabarkan sebagai pasukan berkekuatan empat puluh ribu orang. Pada hari kelima belas, barisan terdepan memasuki kota Chiryu. dan mendekati Narumi pada hari ketujuh belas, mereka membakar desa—di bagian Owari itu. Cuaca terus baik dan hangat. Alur-alur di ladang gandum dan tanah yang sedang berbunga tampak memutih. Di sana-sini di langit biru terlihat kepulan asap hitam yang berasal dari yang dibakar. Namun tak satu letusan senapan pun datang dan marga Oda. Para petani telah diperintahkan untuk mengungsi, dan meninggalkan apa pun bagi pasukan Imagawa yang terus mendesak.

"Kalau begini, bisa-bisa benteng di  Kiyosu juga dalam keadaan kosong!"

Para perwira dan prajurit Imagawa merasakan baju tempur mereka menjadi beban di tengah kejemuan di jalan-jalan yang datar dan tenteram.

Di Benteng Kiyosu, lentera-lentera menyala seperti biasa. Namun lentera-lentera itu seakan-akan dinyalakan untuk menghadapi hantaman badai dahsyat yang akan datang. Pohon-pohon yang berdiri tak bergerak di pekarangan benteng mengingatkan akan ketenangan di pusat badai. Dan sampai sekarang belum juga ada petunjuk dari benteng kepada rakyat. Tak ada perintah untuk mengungsi atau mempersiapkan penahanan, bahkan tak ada pengumuman untuk membangkitkan semangat. Para pedagang membuka toko seperti biasa. Para pengrajin bekerja seperti biasa. Para petani pun pergi ke ladang seperti biasa. Tapi lalu lintas di jalan-jalan telah terhenti selama beberapa hari.

Kota agak lebih sepi dan desas-desus merajalela. "Kudengar Imagawa Yoshimoto menuju ke barat

dengan pasukan berkekuatan empat puluh ribu orang."

Setiap kali para warga yang gelisah bertemu, mereka mengira-ngira nasib mereka.

"Tak ada jalan untuk bertahan. Kekuatan kita tak sampai sepersepuluh pasukan Imagawa."

Dan di tengah-tengah suasana serbaragu, mereka melihat para jendral melewati kota, satu per satu. Beberapa di antara mereka adalah komandan yang meninggalkan benteng untuk kembali ke wilayah masing-masing, tapi ada juga yang mengambil tempat di benteng.

"Mungkin mereka sedang membahas apakah lebih baik menyerah kepada orang-orang Imagawa. atau mempertaruhkan nasib marga dengan bertempur." Dugaan rakyat jelata menyangkut hal-hal yang tak dapat mereka saksikan, namun biasanya tanda-tanda yang tampak tak luput dari pengamatan mereka. Sebenarnya masalah tersebut sudah beberapa hari menjadi pokok pembicaraan di benteng. Pada setiap pertemuan, para jendral terbagi dalam dua kutub.

Para pendukung "rencana aman" dan "utamakan marga" berpendapat bahwa sebaiknya mereka menyerah pada orang-orang Imagawa. Tetapi perbedaan pendapat itu tidak berlangsung lama. Dan ini karena Nobunaga telah membulatkan tekad.

Satu-satunya alasan ia mengadakan pertemuan dengan para pengikut senior adalah untuk menyampaikan keputusannya pada mereka, bukan guna membahas rencana pertahanan maupun kebijaksanaan untuk mengamankan Owari. Setelah mendengar keputusan Nobunaga, banyak jendral memberi tanggapan positif, dan dengan semangat baru, kembali ke benteng masing-masing.

Kemudian Kiyosu kembali tenteram seperti biasa, dan jumlah prajurit tidak bertambah secara mencolok. Namun, seperti bisa diduga, malam itu Nobunaga berulang kali dibangunkan agar membaca pesan yang dibawa oleh kurir-kurir.

Keesokan malamnya, segera setelah menyelesaikan makan malam sederhana, Nobunaga pergi ke ruang utama untuk membahas situasi militer. Di sana, para jendral yang belum meninggalkan benteng masih terus mengelilinginya. Semuanya kurang tidur, dan wajahwajah pucat mereka memperlihatkan kecerahan hati. Para pengikut yang tidak terlibat langsung dalam pembicaraan berdesak-desakan di ruang sebelah dan di ruang setelah itu. Orang seperti Tokichiro duduk dalam ruangan yang terpisah jauh. Dua malam sebelumnya, begitu juga malam kemarin dan malam ini. mereka cemas dan tak bersuara, seakan-akan menahan napas. Dan pasti tak sedikit orang yang menatap lentera-lentera dan rekan-rekan mereka, sambil berpikir, "Ini sama saja dengan menjaga jenazah."

Di tengah kegalauan, suara tawa terdengar dari waktu ke waktu. Nobunaga-lah yang tertawa. Mereka yang duduk di tempat jauh tidak mengetahui apa yang ditertawakan, tapi mereka mendengarnya berulangulang.

Tiba-tiba seorang kurir terdengar berlari menyusun selasar. Shibata Katsuie, yang bertugas membacakan laporan dari garis depan di hadapan Nobunaga, menjadi pucat sebelum kata-kata melewati bibirnya.

"Tuanku!"

"Ada apa?"

"Pesan keempat sejak pagi tadi baru saja tiba dari benteng di Marune."

Nobunaga memindahkan sandaran tangannya ke depan. "Bagaimana?"

"Kelihatannya malam ini pasukan lmagawa akan bergerak ke Kutsukake."

"Begitukah?" Hanya ini yang dikatakan Nobunaga, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela kecil di atas pintu. Bahkan Nobunaga pun tampak bingung. Meski sejak beberapa saat lalu orang mengandalkan ketegaran Nobunaga, kini perasaan putus asa menyusup ke hati mereka. Kutsukake dan Marune berada di wilayah kekuasaan marga Oda. Dan jika garis pertahanan penting itu telah terputus. Dataran Owan nyaris tanpa pertahanan, dan jalan menuju Benteng Kiyosu tak terhalang lagi.

"Apa yang akan tuanku lakukan?" tanya Katsuie. seakan-akan tak sanggup lagi menahan kesunyian. "Kami mendengar pasukan Imagawa mungkin berjumlah empat puluh ribu orang. Kekuatan kita sendiri kurang dari empat ribu orang. Di Benteng Marune paling banyak hanya ada tujuh ratus orang. Walaupun barisan terdepan Imagawa, pasukan di bawah pimpinan Tokugawa Ieyasu, hanya berjumlah dua ribu lima ratus orang, Marune tetap menyerupai kapal yang dipermainkan gelombang."

"Katsuie. Katsuie!"

"Sanggupkah kita mempertahankan Marune dan Washizu sampai fajar..."

"Katsuie! Tulikah kau? Mengapa kau berceloteh tanpa ujung-pangkal? Percuma saja mengulang-ulangi yang sudah jelas."

"Tapi..." Tepat pada saat Katsuie angkat bicara, ia dipotong oleh suara langkah kurir berikut. Orang itu bicara dengan gaya sok penting dan ambang pintu ruang sebelah.

"Hamba membawa berita penting dari bentengbenteng di Nakajima dan Zenshoji." Laporan-laporan dan pasukan di garis depan yang telah bertekad untuk bertempur sampai titik darah penghabisan selalu bernada menyedihkan, dan kedua laporan yang baru tiba pun bukan perkecualian. Kedua-duanya dimulai dengan. "Ini mungkin pesan terakhir kami untuk Benteng Kiyosu..."

Kedua laporan terakhir dari garis depan berisi serupa. Kedua-duanya menjelaskan susunan pasukan musuh, dan kedua-duanya meramalkan serangan pada keesokan harinya.

"Ulangi bagian mengenai susunan pasukan musuh." Nobunaga memberi perintah pada Katsuie, sambil bertopang pada sandaran tangan. Katsuie kembali membacakan bagian itu, bukan hanya untuk Nobunaga, tapi untuk semua yang sedang duduk berbaris di situ.

"Pasukan musuh yang menuju benteng di Marune: sekitar dua ribu lima ratus orang. Pasukan musuh yang menuju benteng di Washizu: sekitar dua ribu orang. Pasukan pendamping: tiga ribu orang. Pasukan ulama yang mengarah ke Kiyosu: sekitar enam ribu orang. Pasukan utama Imagawa: sekitar lima ribu orang." Sambil terus membaca. Katsuie menambahkan bahwa tidak terlihat dari angka-angka itu berapa banyak gerombolan musuh yang bergerak sambil menyamar. Setelah selesai. Katsuie meletakkan gulungan berisi pesan ke hadapan Nobunaga. Semuanya menatap lentera putih sambil membisu.

Mereka akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Jalan hidup mereka telah ditentukan. Tak ada tempat untuk debat berkepanjangan. Namun mereka merasa tersiksa, karena mereka hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Washizu, Marune, maupun Zenshoji tidak berjarak jauh. Dengan memacu kuda, tempat-tempat itu bisa dicapai dengan cepat. Pasukan Imagawa hampir terlihat di depan mereka, empat puluh ribu orang, menerjang bagaikan air bah. Suara mereka hampir tertangkap oleh telinga.

Dari salah satu sudut terdengar suara orang tua yang dilanda kesedihan, "Tuanku sudah mengambil keputusan jantan, tapi janganlah beranggapan bahwa gugur di medan tempur merupakan satu-satunya jalan bagi para samurai. Bukankah lebih baik tuanku mempertimbangkannya kembali? Walaupun dicap pengecut, hamba merasa masih ada tempat untuk berpikir, untuk menyelamatkan marga dari kemusnahan." Orang itu Hayashi Sado, orang yang paling lama mengabdi dari antara mereka semua. Bersama Hirate Nakatsukasa, yang melakukan bunuh diri untuk memperingatkan Nobunaga, ia salah satu dari ketiga pengikut senior yang oleh Nobuhide. menjelang ajalnya, ditugaskan untuk mengurus Nobunaga. Dan ia satu-satunya yang masih hidup dari ketiga orang itu. Saran Hayashi diterima baik oleh semua yang hadir. Dan dalam hati mereka berdoa agar Nobunaga mau mendengarkan kata-kata orang tua itu.

"Jam berapa sekarang?" tanya Nobunaga. mengalihkan pembicaraan.

"Jam Tikus." balas seseorang dari ruang sebelah. Ketika kata-kata bertambah lemah dan malam semakin larut, semuanya seperti diliputi kemurungan.

Akhirnya Hayashi menyembah, dan dengan kepalanya yang ubanan tertunduk ke lantai, ia bicara ke arah Nobunaga, "Tuanku, mari kita pertimbangkan sekali lagi. Mari mengadakan perundingan. Hamba memohon. Kalau tajar tiba, seluruh pasukan dan benteng-benteng kita terancam remuk di tangan pasukan Imagawa. Kita terancam kekalahan total. Daripada begitu, lebih baik mengadakan perundingan perdamaian. Ikat mereka dalam perundingan perdamaian sebelum..."

Nobunaga meliriknya. "Hayashi?" "Ya, tuanku."

"Kau sudah tua. Jadi tentu sukar bagimu untuk duduk berlama-lama. Pembicaraan kita sudah selesai, dan malam telah larut. Pulanglah dan beristirahatlah." "Ini sudah melebihi batas,..." ujar Hayashi sambil berurai air mata. Ia menangis karena mengira akhir marga telah dekat. Ia pun bersedih karena dianggap orang tua tak berguna. "Jika tuanku telah membulatkan tekad, hamba takkan mengatakan apa-apa lagi mengenai keinginan tuanku untuk bertempur."

"Jangan!"

"Tampaknya keinginan tuanku untuk bertempur tak tergoyahkan lagi."

"Memang begitu."

"Pasukan kita kecil—kurang dari sepersepuluh pasukan musuh. Jika bertempur melawan mereka, peluang kita kurang dari satu banding seribu, jika kita mengurung diri di dalam benteng, kita masih sempat menyusun rencana."

"Menyusun rencana?"

"Kalau kita sanggup menahan pasukan Imagawa selama dua minggu atau satu bulan saja, kita bisa mengutus kurir ke Mino atau Kai untuk minta bantuan. Mengenai strategi lain, di sini cukup banyak orang yang tahu bagaimana mengganggu musuh."

Nobunaga tertawa begitu keras, hingga gemanya terdengar memantul langit-langit. "Hayashi, itu strategi untuk keadaan normal. Kaupikir ini normal untuk marga Oda?"

"Pertanyaan tuanku tak memerlukan jawaban." "Walaupun kita memperpanjang hidup selama lima

atau sepuluh hari, yang tak dapat dipertahankan tetap tak dapat dipertahankan. Tapi ada yang berucap. 'Arah perjalanan nasib tak pernah diketahui.'

"Kalau kupikir-pikir, aku menarik kesimpulan bahwa kita telah mencapai titik terendah kesengsaraan. Dan kesengsaraan kita sungguh menarik. Dan, tentu saja, juga amat besar. Meski demikian, mungkin inilah kesempatan seumur hidup yang disediakan nasib bagiku. Andai kata kita mengurung diri dalam benteng, haruskah kita berdoa agar diberi umur panjang tanpa kehormatan? Orang dilahirkan untuk mati. Relakanlah hidup kalian untukku. Bersama-sama kita akan maju di bawah langit biru dan gugur seperti prajurit sejati." Setelah selesai berbicara. Nobunaga langsung mengubah nada suaranya.

"Hmm, kalian semua kelihatan kurang tidur." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Hayashi. kau tidurlah juga. Semuanya perlu tidur. Aku yakin tak seorang pun di antara kita begitu pengecut, sehingga tak sanggup memejamkan mata."

Setelah kata-kata itu terucap, rasanya tak pantas untuk tidak tidur. Namun sesungguhnya tak seorang pun dari mereka tidur nyenyak selama dua malam terakhir. Nobunaga satu-satunya perkecualian. Ia tidur lelap pada malam hari, bahkan sempat tidur sebentar pada siang hari, bukan di kamar tidurnya, melainkan di mana saja.

Sambil bergumam seakan-akan pasrah, Hayashi membungkuk ke arah junjungannya dan rekanrekannya, lalu mengundurkan diri.

Seperti gigi yang dicabut, semua orang berdiri dan pergi satu per satu. Akhirnya tinggal Nobunaga di ruang pertemuan yang luas. Ia tampak tenang, seolaholah tak ada yang membebani pikirannya. Ketika menoleh ke belakang, ia melihat dua pelayan yang tidur sambil saling bersandar. Salah satu dan mereka. Tohachiro. baru berusia tiga belas tahun. Ia adik Maeda lnuchiyo. Nobunaga memanggilnya.

"Tohachiro!"

"Tuanku?" Tohachiro duduk tegak, menghapus air liur yang mengalir dari sudut mulutnya dengan satu tangan.

"Kau tidur nyenyak." "Maafkan hamba."

"Bukan, bukan. Aku tidak bermaksud memarahimu. Justru sebaliknya, aku memujimu. Aku pun akan tidur sejenak. Ambilkan sesuatu untuk bantal."

"Tuanku hendak tidur di sini?"

"Ya. Fajar cepat tiba pada musim ini, jadi sekaranglah waktu yang baik unruk tidur sebentarsebentar. Ambilkan kotak di sebelah sana. Biar kupakai itu saja." Nobunaga merebahkan diri sambil bicara, menopang kepala dengan siku, sampai Tohachiro membawakan kouk yang diminu. Tubuhnya terasa bagaikan perahu yang mengambang. Tutup kotak itu dihiasi gambar pinus, bambu, dan pohon prem—lambang-lambang keberuntungan. Sambil menyelipkannya ke bawah kepala. Nobunaga berkata. "Bantal ini akan memberikan mimpi baik." Kemudian, sambil tertawa-tawa kecil, Nobunaga memejamkan mata, dan akhirnya, ketika si pelayan mematikan lampu-lampu satu per satu, senyum tipis pada wajahnya menghilang seperti salju yang mencair. Ia segera terlelap, wajahnya tampak damai di sela-sela bunyi mendengkur

Tohachiro merangkak keluar untuk memberitahu para samurai di ruang jaga. Para pengawal merasa muram, menyangka bahwa akhirnya telah dekat. Dan yang mutlak, tentu saja, tak ada yang menanti mereka selain kematian Orang-orang di dalam benteng berhadapan langsung dengan kematian, sementara waktu sudah melewati tengah malam

"Aku tidak keberatan mati. Masalahnya, dengan cara apa kita akan mati?"

Inilah dasar kegelisahan mereka, dan pertanyaan itu tetap berkecamuk dalam dada masing-masing. Karena itu, di antara mereka masih ada orang-orang yang belum membulatkan tekad.

"Beliau tidak boleh kedinginan." Sai, dayang Nobunaga, berkata, dan menyelimuti Nobunaga dengan kain penutup tempat tidur. Setelah itu, Nohunaga tidur selama dua jam.

Persediaan minyak di dalam lampu-lampu kini hampir habis, apinya yang nyaris padam menimbulkan bunyi gemercik. Tiba-tiba Nobunaga mengangkat kepala dan berseru.

"Sai! Sai! Siapa yang ada di sini?"