--> -->

Taiko Bab 05 : Bangsawan Pandir

Bab 05 : Bangsawan Pandir

"PERMISI!" sebuah suara berseru untuk kedua kalinya.

Otowaka, yang kebetulan bebas tugas hari itu, sedang tidur siang di asrama resimennya. la terbangun, mengangkat kepala, dan melihat berkeliling.

"Siapa itu?"

"Ini aku!" suara itu berkata dari balik tanaman pagar. Dari atas balkon, Otowaka melihat seseorang berdiri di luar pagar. Ia melangkah ke teras.

"Siapa itu? Kalau memang ada perlu, pergilah ke gerbang depan."

"Gerbangnya terkunci."

Otowaka berusaha melihat wajah orang itu, lalu berseru, "Astaga, kau si Monyet, anak Yaemon, bukan?"

"Ya."

"Kenapa tidak kaukatakan dari tadi? Kenapa kau malah kasak-kusuk seperti hantu di luar?"

"Soalnya gerbang depan tidak terbuka, dan waktu aku mengintip dari belakang, aku melihat Tuan sedang tidur," ia berkata penuh hormat. "Kemudian Tuan tampak agak gelisah, sehingga aku memutuskan untuk memanggil sekali lagi."

"Kau tidak perlu malu-malu begitu. Sepertinya istriku yang mengunci gerbang waktu dia pergi berbelanja. Biar kubukakan untukmu."

Setelah Hiyoshi membasuh kaki dan memasuki rumah, Otowaka menatapnya untuk waktu lama, sebelum berkata, "Ke mana saja kau selama ini? Sudah dua tahun berlalu sejak kita bertemu di jalan. Selama itu tak ada berita apa kau masih hidup atau sudah mati, dan ibumu khawatir sekali. Apa kau sudah memberitahunya bahwa kau baik-baik saja?"

"Belum."

"Kau belum pulang ke rumahmu?"

"Aku sempat pulang sebentar sebelum datang ke sini."

"Dan sampai sekarang kau belum juga menemui ibumu?"

"Sebenarnya, semalam aku diam-diam pergi ke rumah kami, tapi setelah melihat wajah ibuku, aku segera berbalik dan menuju ke sini."

"Kau memang aneh. Bukankah rumah itu tempat kau dilahirkan? Kenapa kau tidak memberitahu mereka bahwa kau sehat-sehat saja, agar mereka tidak cemas terus?"

"Aku pun sudah rindu sekali pada Ibu dan Kakak, tapi waktu aku meninggalkan rumah, aku bersumpah bahwa aku baru akan kembali setelah berhasil menjadi orang. Dalam keadaan seperti sekarang, aku tak bisa menghadap ayah tiriku."

Sekali lagi Otowaka menatap pemuda di hadapannya. Jubah katun Hiyoshi yang semula berwarna putih kini tampak kotor karena debu, hujan, dan embun. Rambutnya yang tipis dan berminyak, tulang pipinya yang terbakar matahari, melengkapi kesan kelelahan. Ia kelihatan seperti orang yang gagal mencapai cita-citanya.

"Bagaimana kau cari makan selama ini?" "Aku menjual jarum."

"Kau tidak bekerja untuk seseorang?"

"Aku sempat mengabdi di dua atau tiga tempat. Memang bukan rumah tangga samurai kelas tinggi, tapi..."

"Seperti biasa, kau segera bosan sendiri, bukan?

Berapa umurmu sekarang?" "Tujuh belas."

"Tak ada yang bisa dilakukan jika seseorang memang bodoh, tapi jangan terus-menerus bersikap tolol. Ada batasnya. Orang pandir memiliki kesabaran untuk diperlakukan seperti orang pandir, tapi itu tidak berlaku untukmu dan kesalahan-kesalahanmu. Bagaimana ibumu tidak bersedih dan ayah tirimu tidak malu? Monyet! Apa yang akan kaulakukan sekarang?"

Meski Otowaka menegur Hiyoshi karena kurang tekun, ia juga merasa kasihan pada anak ini. Otowaka dulu berteman dekat dengan Yaemon, dan ia sadar bahwa Chikuami memperlakukan anak-anak tirinya dengan kasar.

Ia berdoa agar Hiyoshi suatu hari nanti berhasil menjadi orang, demi almarhum ayahnya. Pada saat itulah istri Otowaka kembali dari pasar, dan ia segera angkat bicara untuk membela Hiyoshi. "Dia anak Onaka, bukan anakmu! Jadi, kenapa kau memarahinya? Kau hanya buang-buang napas saja. Aku kasihan padanya." Ia mengambil buah semangka yang sejak tadi didinginkan di dalam sumur, membelahnya, lalu menawarkannya pada Hiyoshi.

"Dia baru tujuh belas tahun, bukan? Ah, berarti dia memang belum tahu apa-apa. Umurmu sendiri sudah lewat empat puluh tahun, tapi kau masih juga prajurit biasa. Sebaiknya kau jangan anggap dirimu istimewa."

"Diam," ujar Otowaka. Ia tampak tersinggung. "Justru karena aku tidak ingin melihat anak-anak muda melewatkan hidup mereka seperti aku, aku merasa terpanggil untuk memberikan nasihat. Begitu menjalani upacara akil balig, mereka sudah dianggap dewasa, meski kenyataannya mungkin berbeda.

Tapi kalau mereka sudah berusia tujuh belas tahun, mereka tidak boleh bersikap seperti anak-anak lagi. Ini barangkali kurang sopan, tapi lihatlah junjungan kita, Tuan Nobunaga. Berapa umurnya menurutmu?" Otowaka hendak melanjutkan ucapannya, tapi kemudian cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan—mungkin karena enggan bertengkar dengan istrinya.

"Oh, ya, kemungkinan besar besok kami akan pergi berburu lagi dengan Yang Mulia. Setelah itu, dalam perjalanan pulang, kami akan berlatih menyeberangi Sungai Shonai dengan berkuda dan berenang. Siapkan barang-barangku—sepotong tali untuk baju tempurku, dan sandal jeramiku."

Hiyoshi, yang sejak tadi menundukkan kepala sambil mendengarkan percakapan antara suami-istri itu, duduk tegak dan berkata, "Maafkan aku jika aku bersikap lancang."

"Kau mau mulai resmi-resmian lagi?"

"Aku tidak bermaksud begitu. Apakah Tuan Nobunaga sering pergi berburu dan berenang?"

"Sebetulnya tidak pada tempatnya aku berkata begini, tapi dia memang anak muda yang sukar diatur."

"Dia agak sembarangan, bukan?"

"Kadang-kadang memang begitu, tapi dia bisa juga bersikap sopan sekali."

"Dia memiliki reputasi buruk di seluruh negeri."

"O ya? Hmm, yang jelas dia tidak populer di antara musuh-musuhnya."

Hiyoshi tiba-tiba berdiri dan berkata, "Aku minta maaf karena telah mengganggu hari libur Tuan."

"Kau sudah mau berangkat lagi? Kenapa kau tidak menginap di sini saja, paling tidak untuk satu malam? Apakah aku membuatmu tersinggung?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Aku takkan menghalangimu kalau kau tetap berkeras, tapi kenapa kau tidak pergi menemui ibumu?"

"Baiklah. Malam ini juga aku akan pergi ke Nakamura." "Syukurlah." Otowaka mengantar Hiyoshi sampai ke pintu gerbang, tapi dalam hati ia merasa ada yang tidak beres.

Malam itu Hiyoshi tidak pulang ke rumahnya. Di mana ia bermalam? Barangkali ia tidur di tempat keramat di pinggir jalan, atau di bawah cucuran atap sebuah kuil. Ia dibekali uang oleh Matsushita Kahei, tapi di Nakamura, setelah mengintip melalui pagar tanaman untuk melihat apakah ibunya baik-baik saja, ia telah melemparkan uang itu ke pekarangan. Tak sepeser pun tersisa di kantongnya, namun karena malam di musim panas tidak panjang, ia hanya perlu menunggu sebentar sampai fajar tiba.

Pagi-pagi sekali ia meninggalkan Desa Kasugai dan menuju ke arah Biwajima. Ia berjalan santai dan makan sambil berjalan. Ia punya beberapa gumpal nasi terbungkus daun teratai yang diikat pada sabuknya. Tapi bagaimana ia bisa makan tanpa uang?

Makanan bisa ditemui di mana-mana, sebab makanan merupakan pemberian surgawi untuk umat manusia. Ini merupakan salah satu keyakinan Hiyoshi. Burung-burung dan binatang-binatang memperoleh karunia dari surga, tapi manusia telah ditakdirkan untuk bekerja. Sangatlah memalukan jika seseorang hidup untuk makan semata-mata. Jika mereka mau bekerja, dengan sendirinya mereka akan menerima rahmat dari surga. Dengan kata lain, Hiyoshi lebih mementingkan bekerja daripada makan.

Setiap kali timbul niat bekerja dalam diri Hiyoshi, ia akan berhenti di tempat pembangunan gedung dan menawarkan tenaganya untuk membantu para tukang kayu atau tukang batu. Jika melihat seseorang menarik kereta berat, ia akan mendorong dari belakang. Jika melihat ambang pintu yang kotor, ia akan bertanya apakah ia boleh meminjam sapu untuk membersihkannya.

Tanpa diminta pun ia tetap bekerja atau menciptakan pekerjaan, dan karena ia melakukannya secara sungguh-sungguh, orang-orang selalu memberinya imbalan berupa semangkuk makanan atau sedikit uang untuk bekal di jalan. Hiyoshi tidak malu dengan cara hidupnya, sebab ia tidak merendahkan diri seperti binatang. Ia bekerja untuk dunia, dan ia percaya bahwa segala kebutuhannya akan terpenuhi dengan sendirinya.

Di Kasugai pada pagi itu, ia melewati bengkel pandai besi yang buka pagi-pagi. Istri pandai besi harus mengurus anak-anak mereka, jadi setelah Hiyoshi membantu membereskan bengkel, membawa kedua ekor sapi ke lapangan rumput, dan bolak-balik ke sumur untuk mengisi wadah-wadah air, ia diberi sarapan serta nasi untuk sore hari.

Sepertinya cuaca akan panas lagi, ia berkata dalam hati, sambil menatap langit pagi. Makanan yang ia santap menyambung hidupnya satu hari lagi, tapi pikirannya tidak sejalan dengan pikiran orang lain. Dengan cuaca seperti ini, Nobunaga tentu akan pergi ke sungai. Dan Otowaka mengatakan bahwa ia pun akan ikut ke sana.

Di kejauhan Hiyoshi melihat Sungai Shonai. Dengan tubuh basah karena embun, ia bangkit dari rumput dan menatap keindahan air.

Setiap tahun, mulai musim semi sampai musim gugur, Nobunaga tak pernah melewatkan kesempatan untuk berlatih menyeberangi sungai. Tapi di mana? Mestinya aku menanyakannya pada Otowaka kemarin. Matahari bersinar cerah. Aku tunggu di sini saja, ujar Hiyoshi dalam hati, lalu duduk di dekat semak belukar. Tuan Nobunaga... Tuan Nobunaga, pemimpin marga Oda yang terkenal serampangan. Seperti apa orangnya? Tak henti-hentinya nama itu bergaung di, kepala Hiyoshi, tak peduli ia tidur atau terjaga.

Hiyoshi ingin bertemu dengannya. Niat inilah yang pada pagi itu membawanya ke tepi sungai. Nobunaga memang pewaris Oda Nobuhide, tapi apakah ia sanggup bertahan lama dengan wataknya yang sembrono dan kasar? Pendapat umum mengatakan bahwa ia bodoh dan cepat naik darah.

Selama bertahun-tahun Hiyoshi mempercayai kabar burung itu, dan ia sedih karena provinsi asalnya diperintah oleh orang yang tak pantas menjadi penguasa. Tapi setelah melihat sendiri keadaan di provinsi-provinsi lain, ia mulai berubah pikiran. Perang tidak dimenangkan pada hari pertempuran.

Setiap provinsi memiliki ciri masing-masing, dan kenyataan tidak selalu sama dengan yang tampak. Sebuah provinsi yang sepintas lalu kelihatan lemah mungkin saja menyimpan kekuatan tersembunyi. Sebaliknya, provinsi-provinsi yang dianggap kuat— seperti Mino dan Suruga—mungkin saja digerogoti kebusukan dari dalam.

Dikelilingi oleh provinsi-provinsi besar dan kuat, wilayah kekuasaan marga Oda dan Tokugawa tampak kecil dan miskin. Namun di dalam provinsi-provinsi kecil itu terdapat kekuatan yang tidak dimiliki oleh provinsi-provinsi yang lebih besar, kekuatan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup.

Jika Nobunaga memang sebodoh yang dikabarkan orang, bagaimana ia bisa mempertahankan Benteng Nagoya? Nobunaga kini berusia sembilan belas tahun. Tiga tahun telah berlalu sejak ayahnya wafat. Selama tiga tahun, pewaris kekuasaan yang berusia muda, sembarangan, dan berkepala kosong ini, tanpa bakat maupun kecerdasan, bukan saja sanggup mempertahankan kedudukannya, tapi juga berhasil mengendalikan keadaan sampai ke pelosok-pelosok provinsi. Bagaimana ia dapat melakukan ini? Beberapa orang mengatakan bahwa ini bukan berkat Nobunaga, melainkan karena jasa pengikut-pengikutnya yang setia—Hirate Nakatsukasa, Hayashi Sado, Aoyama Yosaemon, dan Naito Katsusuke. Kekuasaan kolektif orang-orang inilah yang sesungguhnya merupakan penopang marga Oda, sedangkan Nobunaga tak lebih dari boneka belaka. Selama para pembantu kepercayaan penguasa sebelumnya masih hidup, semuanya akan berjalan dengan baik, namun jika satu atau dua dari mereka meninggal, dan tiang penopang runtuh, kehancuran marga Oda hanya soal waktu saja. Di antara mereka yang menanti-nanti saat itu terdapat Saito Dosan dari Mino dan Imagawa Yoshimoto dari Suruga. Tak seorang pun yang tidak sependapat dengan pandangan ini.

"Hiyaa!"

Mendengar teriakan perang, Hiyoshi menoleh ke arah sumber suara itu.

Awan debu kuning terlihat di dekat sungai. Ia berdiri dan memasang telinga. Aku tak bisa melihat apaapa, tapi pasti ada sesuatu di sana, ia berkata dalam hati. Mungkinkah ada pertempuran? Ia berlari sejauh seratus meter, lalu melihat apa yang sedang terjadi. Pasukan Oda yang ditunggu-tunggunya sejak pagi telah sampai di sungai dan sudah mulai melakukan manuver-manuver.

Latihan seperti ini sering disebut "memancing di sungai" atau "berburu dengan burung rajawali" atau "latihan renang militer". Namun, apa pun namanya, bagi para panglima perang tujuannya hanya satu, yaitu peningkatan kesiapsiagaan pasukan. Abaikan persiapan militer, dan hidupmu akan segera berakhir.

Tersembunyi di tengah-tengah rumput tinggi, Hiyoshi mendesah tertahan.

Di tepi seberang, sebuah perkemahan darurat terlihat di antara tanggul sungai dan dataran rumput di atasnya. Tirai-tirai dengan lambang marga Oda tergantung di antara sejumlah pondok istirahat, melambai-lambai tertiup angin. Prajurit-prajurit tampak berkeliaran, tapi Nobunaga tidak kelihatan. Di sisi sungai sebelah sini ada perkemahan serupa. Hiyoshi mendengar kuda-kuda meringkik dan mengentak-entakkan kaki, dan suara para prajurit di kedua sisi sungai cukup keras untuk menimbulkan riak kecil di permukaan air. Seekor kuda tanpa penunggang berenang di tengah sungai, dan akhirnya naik ke darat.

Ini yang mereka sebut latihan renang? pikir Hiyoshi sambil terheran-heran.

Pendapat umum ternyata keliru. Nobunaga dianggap berhati lemah dan bengis, namun seandainya ada yang minta bukti, akan terungkap bahwa tak seorang pun pernah memastikan apakah anggapan itu benar atau salah.

Semua orang melihat Nobunaga meninggalkan bentengnya pada musim semi dan musim gugur, dan semuanya langsung menyimpulkan bahwa ia hendak memancing atau berenang. Tapi, setelah melihatnya dengan mata sendiri, Hiyoshi menyadari bahwa tujuannya bukan untuk berenang dan bersantai. Yang dilihatnya adalah latihan militer habis-habisan.

Mula-mula para samurai berkuda membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka mengenakan pakaian yang biasa digunakan untuk berjalan-jalan.

Tapi begitu terdengar tiupan sangkakala, diiringi dentuman genderang perang, mereka segera berganti formasi dan menyerbu ke tengah sungai. Air sungai seolah-olah mendidih. Samurai melawan samurai, satu kelompok prajurit biasa melawan kelompok lain. Tombak-tombak bambu berubah menjadi angin puyuh, tetapi para pembawanya hanya saling memukul, bukan saling menusuk. Tombak-tombak yang tidak mengenai sasaran menghantam permukaan air. Tujuh atau delapan jendral berkuda mengibarkan panji masing-masing, sambil mengacungkan tombak.

"Daisuke! Aku di sini!" seorang samurai muda berseru dari atas kudanya.

Ia tampak menonjol di antara prajurit bawahan, karena memakai baju tempur di atas jubah rami berwarna putih. Di tangannya, sebilah pedang indah berwarna merah terang tampak berkilau-kilau. Ia memacu kudanya ke sebelah kuda Ichikawa Daisuke, sang ahli tombak dan memanah, dan tanpa peringatan menghantam pinggang laki-laki itu dengan tombaknya.

"Kurang ajar!" Sambil berteriak dan merebut tombak dari tangan penyerangnya, Daisuke mengubah posisi tangan dan menyerang dada lawannya itu. Si samurai muda mengelak dengan gerakan anggun. Wajahnya menjadi merah padam. Ia menangkap tombak Daisuke dengan satu tangan, dan mengangkat pedangnya yang merah dengan tangan satunya. Namun, karena tak sanggup mengimbangi tenaga Daisuke, ia terdorong ke belakang dan jatuh ke sungai. "Itu Nobunaga!" Hiyoshi berseru tanpa sadar. Ia tak percaya ada bawahan yang berani bersikap begitu lancang terhadap majikannya. Tapi dari kejauhan ia tak dapat memastikan apakah orang itu memang Nobunaga. Seakan-akan lupa diri, Hiyoshi berdiri sambil berjinjit. Sementara itu, pertempuran purapura di dangkalan sungai terus berlangsung. Jika benar Nobunaga yang terdorong dari kuda tadi, para pengikutnya tentu akan bergegas untuk membantunya, tapi ternyata tak seorang pun memperhatikannya.

Tak lama kemudian, seorang prajurit naik ke tepi seberang di sebelah hilir pertempuran. Orang itulah yang tadi terlempar dari kudanya, dan ia mirip sekali dengan Nobunaga. Ia menarik tubuhnya ke darat seperti seekor tikus yang basah kuyup, lalu segera mengentakkan kaki sambil berseru,

"Tak ada yang bisa mengalahkanku!"

Daisuke melihatnya dan menunjuk, "Pemimpin pasukan timur ada di sebelah sana! Kepung dia dan tangkap dia hidup-hidup!"

Langsung saja beberapa prajurit biasa bergegas ke arah Nobunaga. Air bercipratan ke segala arah. Dengan menggunakan tombak bambu, Nobunaga menghantam helm salah seorang prajurit dan berhasil menjatuhkan orang itu. Kemudian ia melemparkan tombak ke arah lawan berikutnya.

"Jangan biarkan mereka mendekat!"

Sekelompok    anak     buahnya     datang     untuk melindunginya dari serangan musuh. "Aku butuh busur!" Dua pembantu muncul dari balik tirai pondoknya.

Mereka membawa beberapa busur pendek dan melesat ke tempat ia menunggu, beberapa nyaris kehilangan keseimbangan. "Jangan sampai mereka berhasil menyeberangi sungai!" Sambil memberikan perintah kepada pasukannya, ia menarik tali busur, melepaskan anak panah itu, lalu segera mengambil panah berikut. Panah-panah itu memang panah latihan tanpa ujung runcing, tapi beberapa prajurit "musuh" yang terkena telak di kening langsung tumbang. Nobunaga melepaskan begitu banyak panah, sehingga sulit untuk membayangkan bahwa hanya ia seorang diri yang menembak. Dua kali tali busurnya putus. Setiap kali Nobunaga berganti busur tanpa kehilangan waktu, dan kembali memanah. Sementara ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan posisi, barisan pertahanan di sebelah hulu dipaksa bertekuk lutut.

Pasukan barat menyerbu tanggul sungai, mengepung markas Nobunaga, dan melepaskan teriakan kemenangan.

"Kalah!" Sambil tertawa Nobunaga mengempaskan busurnya. Ia berbalik dan menghadap pasukan musuh yang bersorak-sorai. Daisuke dan Hirata Sammi, si ahli strategi, turun dari kuda dan bergegas ke arah Nobunaga.

"Tuanku tidak cedera?" "Aku tak mungkin celaka di dalam air."

Nobunaga tampak tersipu-sipu. Ia berkata pada Daisuke, "Besok kemenangan akan ada di pihakku. Besok kalian akan kugempur habis-habisan."

Ketika ia bicara, alisnya terangkat sedikit. "Kalau kita sudah kembali ke benteng," ujar Sammi, "apakah tuanku berkenan mendengarkan kritik hamba mengenai strategi tuanku hari ini?"

Nobunaga tidak menanggapinya. Ia telah melepaskan baju temput, lalu terjun ke sungai untuk menyegarkan diri.

***

Melihat wajah Nobunaga yang tampan serta kulitnya yang putih, orang segera tahu bahwa leluhurnya luar biasa rupawan. Jika berhadapan dengan seseorang, sorot matanya yang tajam seakan-akan menembus orang itu.

Ketika akhirnya menyadari kelebihannya itu, ia menyelubungi sorot matanya dengan tawa, meninggalkan lawan bicaranya terheran-heran. Dan bukan hanya Nobunaga saja, kedua belas saudara laki-laki serta ketujuh saudara perempuannya pun memperlihatkan ciri-ciri keningratan, baik dari segi kehalusan budi pekerti maupun penampilan fisik.

"Ini mungkin menjemukan bagi tuanku, dan tuanku mungkin bertanya, 'Apa? Lagi?' Tapi, sama halnya dengan doa yang harus diucapkan siangmalam—bahkan pada waktu sedang makan— tuanku harus mengenang para leluhur. Marga Oda didirikan oleh seorang biksu dari Kuil Tsurugi. Di masa lampau, salah seorang leluhur tuanku merupakan anggota marga Taira yang konon keturunan Kaisar Kammu. Jadi ingadah, dalam tubuh tuanku mengalir darah kekaisaran. Hamba sudah tua, hanya inilah yang dapat hamba sampaikan."

Terus-menerus Nobunaga mendengar petuah ini dari Hirate Nakatsukasa, salah satu dari keempat pengikut kepercayaan ayahnya, yang diangkat menjadi walinya pada waktu Nobunaga pindah dari Benteng Furuwatari, tempat kelahirannya, ke Nagoya. Nakatsukasa merupakan pengikut yang luar biasa setia, tetapi bagi Nobunaga ia hanya laki-laki tua yang aneh dan membosankan. Setiap kali mendengar petuahnya, Nobunaga bergumam,

"Ah, aku tahu, Pak Tua. Aku tahu," lalu berbalik dan pergi. Meskipun Nobunaga tidak mendengarkannya, orang tua itu melanjutkan, seakan-akan mengulangi rangkaian doa,

"Ingatlah Yang Mulia ayahanda tuanku. Untuk mempertahankan Owari, pada pagi hari beliau bertempur di perbatasan sebelah utara, lalu menghadapi serangan dari timur pada malamnya. Hari-hari saat beliau sempat melepaskan baju tempur dan bercengkerama dengan anak-anak beliau bisa dihitung.

Walaupun tak henti-hentinya terlibat perang, kesetiaan beliau terhadap Kaisar sangat tinggi, dan beliau mengutus hamba ke ibu kota untuk memperbaiki dinding-dinding Istana Kekaisaran, sekaligus untuk menyerahkan empat ribu kan. Kedermawanan beliau juga tampak dalam pembangunan Kuil Besar di Ise. Seperti itulah ayahanda tuanku. Dan di antara leluhur tuanku..."

"Pak Tua! Cukup sudah! Entah berapa kali aku telah mendengar cerita ini!" Setiap kali Nobunaga merasa tak senang, daun telinganya menjadi merah. Tapi sejak kecil hanya sebatas itulah ia dapat memperlihatkan perasaan tak senangnya. Nakatsukasa telah memahami watak Nobunaga. Ia juga sadar bahwa usaha untuk menyentuh perasaan Nobunaga akan lebih bermanfaat daripada mengajaknya bicara secara akal sehat. Jika junjungannya mulai resah, ia segera berganti taktik.

"Bagaimana kalau hamba menyiapkan kekang?" "Kau mengajakku berkuda?"

"Jika tuanku berkenan." "Kau ikut juga, Pak Tua."

Berkuda merupakan kegemaran Nobunaga. Ia tak pernah puas hanya mengelilingi lapangan berkuda. Ia akan membawa kudanya menjauhi benteng, lalu berbalik dan memacunya dengan kecepatan penuh.

Ketika berusia tiga belas tahun, Nobunaga pertama kali ambil bagian dalam sebuah pertempuran. Pada usia lima belas, ia telah kehilangan ayahnya. Dengan bertambahnya usia, sikapnya semakin congkak. Pada upacara perabuan ayahnya, Nobunaga mengenakan pakaian yang tak pantas untuk kesempatan yang begitu resmi.

Di bawah tatapan para tamu yang seakan-akan tak percaya pada penglihatan mereka, Nobunaga menghampiri altar, meraih segenggam abu dupa, lalu melemparkannya ke wadah tanah liat berisi abu mendiang ayahnya.

Kemudian ia mengejutkan semua orang dengan segera kembali ke benteng.

"Memalukan sekali. Betulkah dia pewaris provinsi ini?"

"Pemuda berkepala kosong yang tak dapat diharapkan."

"Siapa menyangka bahwa dia begitu lancang?"

Itulah pandangan mereka yang menilai sesuatu berdasarkan kulitnya saja.

Tetapi orang-orang yang merenungkan situasi itu secara lebih mendalam segera mencucurkan air mata kesedihan untuk marga Oda.

"Adiknya, Kanjuro, teramat santun, dan bersikap penuh hormat dari awal sampai akhir," salah seorang pelayat mengemukakan. Mereka menyesalkan bahwa bukan dia yang diangkat sebagai pewaris. Tetapi seorang biksu yang duduk di bagian belakang ruangan berkata perlahan, "Jangan salah... ini laki-laki dengan masa depan. Dia menakutkan." Komentar ini kemudian disampaikan kepada para pengikut senior, namun tak ada yang menanggapinya secara serius. Beberapa waktu sebelum wafat pada usia empat puluh enam, Nobuhide telah mengatur pertunangan Nobunaga dengan anak perempuan Saito Dosan dari Mino, dengan perantaraan Nakatsukasa. Sudah bertahun-tahun Mino dan Owari saling bermusuhan, jadi pernikahan itu bersifat politik. Taktik-taktik semacam itu sudah hampir merupakan keharusan di sebuah negeri yang tengah dilanda perang.

Dosan pun segera menyadari maksud terselubung di balik rencana itu. Meski demikian, ia memberikan putri kesayangannya kepada sang Pewaris kepemimpinan marga Oda, yang dari provinsi-provinsi tetangga sampai ke ibu kota telah dikenal sebagai orang pandir. Dosan menyetujui pernikahan itu, namun diam-diam ia berniat menguasai Owari.

Sifat pandir, kasar, dan tak tahu aturan yang terdapat dalam diri Nobunaga seakan-akan terus bertambah parah. Tetapi ia memang sengaja ingin memberikan kesan demikian pada orang lain. Di bulan keempat Tahun Temmon kedua puluh dua, Nobunaga merayakan ulang tahun kesembilan belas.

Karena ingin berjumpa dengan menantunya, Saito Dosan mengusulkan untuk mengadakan pertemuan pertama mereka di Kuil Shotokuji di Tonda, di perbatasan kedua provinsi. Kuil itu merupakan kuil aliran Buddha Ikko dan terletak agak terpisah dari ketujuh ratus rumah di desa itu.

Diiringi rombongan besar, Nobunaga meninggalkan Benteng Nagoya, menyeberangi Sungai Kiso dan Hida, lalu terus maju sampai ke Tonda. Sekitar lima ratus anak buahnya membawa busur panjang atau senjata api; empat ratus orang lagi membawa tombak sepanjang enam meter, dan mereka diikuti oleh tiga ratus prajurit biasa. Mereka berjalan sambil membisu. Sekelompok penunggang kuda di tengah-tengah iring-iringan itu mengelilingi Nobunaga. Mereka siap menghadapi setiap keadaan darurat.

Musim kemarau sudah di ambang pintu. Gandum di ladang-ladang berwarna kuning pucat. Embusan angin dari arah Sungai Hida terasa menyegarkan. Suasana siang itu penuh kedamaian, dan dahan-dahan perdu menggantung melewati pagar-pagar. Rumahrumah di Tonda tampak kokoh dan memiliki banyak lumbung.

"Itu mereka." Dua samurai berpangkat rendah dari marga Saito ditempatkan sebagai pengintai di batas desa. Mereka segera berbalik untuk memberi laporan. Burung-burung gereja bertengger di deretan pohon yang membelah desa, dan berkicau riang. Kedua samurai tadi berlutut di muka sebuah pondok kecil, dan berkata dengan suara rendah, "Iring-iringan telah tiba. Tak lama lagi mereka akan lewat di sini."

Pondok yang gelap, kotor, dan berlantai tanah itu berisi orang-orang yang membawa pedang-pedang mencolok dan mengenakan kimono-kimono berpotongan resmi.

"Baik. Kalian berdua sembunyi di semak-semak di belakang." Kedua samurai itu pembantu pribadi Saito Dosan dari Mino, yang sedang bersandar pada ambang jendela di sebuah ruang kecil. Matanya tertuju ke luar. Banyak cerita mengenai Nobunaga beredar di masyarakat. Seperti apa dia sebenarnya? Dosan bertanya-tanya. Orang macam apa dia? Sebelum pertemuan resmi, aku ingin melihatnya dulu. Cara berpikir seperti ini memang khas Dosan, itu sebabnya

ia berada di sini, mengintai dari pondok di tepi jalan. "Orang-orang Owari telah datang, tuanku."

Dosan menggeram sebagai tanggapan, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan. Setelah mengunci pintu, para pengikutnya merapatkan wajah ke celah-celah dan lubang-lubang di pintu-pintu kayu. Tak ada yang bersuara.

Kicauan burung-burung kecil di pepohonan pun tak terdengar lagi.

Kecuali bunyi sayap mengepak ketika mereka tibatiba terbang, suasana hening. Bahkan embusan angin lembut pun tidak menimbulkan suara.

Pasukan Owari terus mendekat. Para pembawa senjata api, dengan senapan yang telah digosok sampai mengilap, berbaris sepuluh-sepuluh, membentuk kelompok empat puluh orang; gagang-gagang tombak tampak menyerupai hutan ketika lewat di depan orang-orang Mino. Dengan napas tertahan Dosan mengamati gaya berjalan para prajurit serta susunan pangkat mereka. Suara langkah pasukan diikuti oleh derap langkah kuda. Dosan tak dapat melepaskan mata dari pemandangan di hadapannya.

Di tengah-tengah para penunggang kuda terdapat seekor kuda yang teramat gagah, dengan berangus berkilauan. Di pelana mewah yang dihiasi indung mutiara, duduk Nobunaga, tangannya menggenggam tali kekang berwarna ungu dan putih. Ia sedang asyik berbincang-bincang dengan para pengikutnya.

"Apa ini?" adalah kata-kata yang keluar dari mulut Dosan. Ia tampak terheran-heran. Penampilan Nobunaga teramat tidak lazim. Dosan telah diberitahu bahwa sang Penguasa Owari biasa berpakaian aneh, tapi ini melebihi segala cerita yang pernah didengarnya.

Nobunaga terayun-ayun di atas pelana. Rambutnya dikonde dan diikat dengan jalinan pita berwarna hijau pucat. Ia mengenakan mantel katun berpola cerah yang lengannya hanya satu. Baik pedang pendek maupun pedang panjangnya dihiasi kerang laut dan dibalut dengan jerami padi suci.

Tujuh atau delapan benda tergantung pada ikat pinggangnya: sebuah kantong rabuk, sebuah labu kecil, sebuah kotak obat, sebuah kipas, sebuah ukiran kuda, dan beberapa permata. Di bawah jubah pendek yang terbuat dari kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan baju brokat emas berkilauan.

Nobunaga berbalik di pelananya dan berseru, "Daisuke, inikah tempatnya? Inikah Tonda?" Seruannya begitu keras, hingga terdengar jelas oleh Dosan di tempat persembunyiannya. Daisuke, yang bertindak sebagai pengawal, merapat ke junjungannya.

"Ya, dan Kuil Shotokuji, tempat tuanku akan bertemu dengan Yang Mulia mertua tuanku, ada di sebelah sana. Anjuran hamba, mulai sekarang kita bersikap sebaik mungkin."

"Kuil ini milik sekte Ikko, bukan? Hmm, tenang sekali, ya? Tak ada perang di sini, sepertinya." Nobunaga menatap ke atas, mungkin karena melihat siluet burung elang di langit biru. Kedua pedang di pinggangnya berdenting pelan ketika saling bersenggolan atau membentur benda-benda yang tergantung pada sabuknya.

Setelah Nobunaga berlalu, para pengikut Dosan harus memaksakan diri untuk tidak tertawa berderaiderai. Wajah-wajah mereka memperlihatkan betapa mereka berjuang untuk menahan tawa pada saat menyaksikan adegan menggelikan tadi.

"Sudah habis?" tanya Dosan. Lalu, "Itukah akhir iring-iringannya?"

"Ya, hanya itu."

"Kalian sempat memperhatikannya?" "Dari jauh."

"Hmm, penampilannya ternyata tidak bertentangan dengan kabar burung yang beredar. Wajahnya tampan dan fisiknya pun bolehlah, tapi di sini ada sesuatu yang kurang," ujar Dosan. Sambil tersenyum puas, ia mengangkat jarinya ke kepala.

Beberapa pengikut terburu-buru masuk lewat pintu belakang. "Mohon tuanku segera kembali ke kuil. Tak jadi soal kalau Nobunaga menjadi curiga, tapi bagaimana jika para pengikutnya pun merasa begitu? Bukankah kita harus lebih dulu berada di kuil?"

Mereka segera keluar lewat pintu belakang, lalu menyusuri jalan pintas yang tersembunyi untuk menuju kuil. Tepat pada waktu barisan terdepan pasukan Owari tiba di gerbang depan Kuil Shotokuji, Saito Dosan dan para pengikutnya menyelinap lewat gerbang belakang, bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Mereka segera berganti pakaian dan menuju jalan utama. Gerbang kuil telah penuh orang. Karena semua orang Mino dikumpulkan untuk penyambutan resmi, kuil utama, hall besar, serta ruang penyambutan tamu dibiarkan dalam keadaan kosong.

Kasuga Tango, salah seorang pengikut senior Dosan, berpaling pada junjungannya yang sedang duduk, dan perlahan-lahan menanyakan bagaimana Dosan hendak mengatur pertemuan itu.

Dosan menggelengkan kepala. "Tak ada alasan bagiku untuk pergi menyambutnya." Ia menganggap Nobunaga semata-mata sebagai menantu.

Takkan ada masalah jika itu satu-satunya pertimbangan. Namun Nobunaga merupakan penguasa sebuah provinsi, sama halnya dengan Dosan, dan para pengikutnya tentu berasumsi bahwa pertemuan itu akan diadakan antara dua orang yang sederajat. Meskipun Dosan juga mertua Nobunaga, bukankah lebih pantas jika pertemuan pertama mereka diselenggarakan sebagai pertemuan antara dua penguasa provinsi? Itulah yang terbayang dalam benak Tango, dan ia menanyakannya secara hati-hati. Dosan menjawab bahwa itu tidak perlu.

"Kalau begitu, bagaimana kalau hamba sendiri yang menyambutnya?"

"Tidak. Itu juga tidak perlu. Sudah cukup kalau dia disambut oleh Hotta Doku."

"Jika itu kehendak tuanku."

"Kau akan ikut dalam pertemuan nanti. Pastikan ketujuh ratus orang di koridor yang menuju ke sini berbaris dengan baik."

"Hamba pikir mereka sudah siap di sana." "Sembunyikan para prajurit berpengalaman, dan

suruh mereka berdeham pada waktu menantuku lewat. Siapkan pasukan busur dan senapan di halaman. Dan perintahkan yang lain untuk pasang tampang berwibawa."

"Tentu, tuanku. Takkan ada kesempatan yang baik untuk memamerkan kekuatan Mino dan menggertak menantu tuanku beserta anak buahnya. Hamba akan menunggu di ruang penyambutan."

Dosan tampak seolah-olah ingin menguap, dan ia meregangkan tubuhnya pada saat bangkit hendak pergi.

Tango merasa perlu melengkapi perintah yang diterimanya. Ia menuju koridor dan memeriksa pasukan pengawal, lalu memanggil seorang bawahan dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Nobunaga sedang menaiki tangga di pintu masuk utama. Di sekelilingnya ada lebih dari seratus pengikut Saito, mulai dari sesepuh marga sampai samurai muda yang masih dalam masa percobaan. Mereka berlutut berdampingan, bersujud untuk menghormati tamu agung yang baru tiba.

Tiba-tiba Nobunaga berhenti dan berkata, "Apakah ada ruangan untuk beristirahat?" Ucapannya tanpa basa-basi, dan yang mendengarnya langsung terdiam.

"Baik, tuanku."

Semua orang yang sedang membungkuk serempak mengangkat kepala.

Hotta Doku maju setapak demi setapak, lalu bersujud di depan kaki sang Penguasa Owari. "Harap ikuti hamba. Silakan beristirahat sejenak di sini, tuanku." Sambil membungkuk-bungkuk ia mengatur tamunya ke sebelah kanan pintu utama, menyusuri sebuah lorong. Nobunaga menoleh ke kanan, lalu ke kiri. "Hmm, kuil ini cukup bagus. Ah, pohon wisteria di sini sedang berbunga. Wangi bunganya sungguh menawan!" Sambil berkipaskipas, ia memasuki ruangan itu bersama para pembantunya. Setelah beristirahat selama satu jam, Nobunaga bangkit dari balik sekat pembatas ruangan dan berkata, "Ho! Aku perlu seseorang untuk menunjukkan jalan. Ayah mertuaku tentu ingin berbincang-bincang denganku. Di mana sang Penguasa Mino?"

Rambutnya telah ditata ulang. Sebagai ganti baju

kulit harimau dan macan tutul, ia mengenakan jubah sutra putih yang dihiasi sulaman benang emas berupa lambang marganya, di bawah baju resmi tak berlengan berwarna ungu tua. Pedang pendeknya diselipkan ke balik tali pinggang, sedangkan pedang panjang dibawanya di tangan kanan. Seluruh penampilannya telah berubah, menyerupai orang istana.

Para pengikut Mino membuka mata lebar-lebar, dan pengikut-pengikutnya sendiri pun, yang sudah terbiasa melihatnya berpakaian janggal, tampak terheranheran. Tanpa ragu-ragu Nobunaga mulai menyusuri koridor. Ia menatap ke kiri-kanan, lalu berkata dengan lantang, "Aku merasa rikuh kalau dikawal seperti ini. Aku lebih suka menemui mertuaku seorang diri."

Doku mengedipkan mata ke arah Kasuga Tango yang baru saja bergabung.

Mereka berdiri di sisi berlawanan di hall besar, dan segera memperkenalkan diri. "Hamba Hotta Doku, pengikut senior Tuan Saito Dosan."

"Hamba juga pengikut senior. Hamba bernama Kasuga Tango. Tuanku telah menempuh perjalanan jauh, dan hamba gembira melihat tuanku tiba dalam keadaan sehat. Sungguh membahagiakan bahwa hari pertemuan ini begitu cerah."

Sementara kedua laki-laki itu masih sibuk berbasabasi, Nobunaga bergegas menyusuri koridor, melewati orang-orang yang berbaris di sepanjang dinding. "Ah, ukiran ini bagus sekali," katanya sambil mengamati lubang angin di atas pintu. Ia memperlakukan para prajurit seakan-akan mereka hanya rerumputan di tepi jalan. Setelah sampai di ruang penyambutan, ia bertanya pada Doku dan Tango, "Inikah tempatnya?"

"Ya, tuanku," jawab Doku, masih tersengal-sengal karena terpaksa mengejar Nobunaga.

Nobunaga mengangguk, lalu melangkah masuk. Dengan tenang ia duduk, menyandarkan punggung pada sebuah tiang di pinggir ruangan. Ia menatap ke atas, seakan-akan mengagumi lukisan-lukisan di langitlangit. Sorot matanya tenang, roman mukanya sabar. Orang-orang istana pun jarang memiliki roman muka seelok Nobunaga. Tapi orang yang hanya menaruh perhatian pada tampangnya takkan menyadari sifat menantang yang tercermin dalam matanya. Di salah satu sudut ruangan terdengar bunyi berdesir ketika seorang laki-laki berdiri. Dosan melangkah keluar dari bayangbayang. Ia lalu duduk dalam posisi lebih tinggi dari Nobunaga.

Nobunaga pura-pura tidak memperhatikannya. Atau lebih tepat, ia berlagak tak peduli sambil mempermainkan kipasnya. Dosan melirik ke samping.

Tak ada ketentuan mengenai tata cara mertua berbicara dengan menantunya.

Ia menahan diri dan membisu. Suasana tegang. Alis Dosan serasa ditusuk-tusuk jarum. Doku, yang tak sanggup menahan ketegangan itu lebih lama, mendekatkan diri pada Nobunaga dan membungkuk terus sampai mencapai tatami.

"Tuan yang duduk di sebelah sana adalah Tuan Saito Dosan. Berkenankah tuanku menyapa beliau?" Nobunaga berkata, "Begitukah?" lalu menjauhkan punggungnya dari pilar dan duduk tegak. Ia membungkuk satu kali dan berkata, "Kami Oda Nobunaga. Kami merasa gembira karena bisa bertemu Tuan."

Seiring dengan perubahan sikap serta sapaan Nobunaga, sikap Dosan pun melunak. "Sudah lama kami mengharapkan perjumpaan ini. Kami bahagia bahwa keinginan yang telah tertunda-tunda sekian lama akhirnya dapat terwujud."

"Pertemuan ini juga menenteramkan hati kami. Ayah Mertua sudah mulai berumur, tapi beliau menjalani kehidupan dalam keadaan sehat."

"Apa maksudnya, sudah mulai berumur? Kami baru mencapai usia enam puluh tahun ini, tapi kami sama sekali tidak merasa tua. Anandalah yang baru menetas dari telur! Ha... ha! Puncak kejayaan seorang laki-laki dimulai pada usia enam puluh."

"Kami bahagia memiliki ayah mertua yang dapat dijadikan tempat bersandar."

"Bagaimanapun, hari ini hari yang diberkahi. Kami berharap pada pertemuan berikut Ananda bisa memperlihatkan wajah seorang cucu."

"Dengan senang hati."

"Ananda sungguh murah hati! Tango!" "Ya, tuanku."

"Mari makan." Dosan memberikan isyarat mata pada Tango.

"Tentu, tuanku." Tango tidak yakin apakah ia membaca pesan dalam pandangan junjungannya dengan tepat, tetapi tampang masam Dosan telah lenyap sejak pertemuan dimulai. Tango mengartikannya sebagai perubahan taktik. Sang mertua kini hendak menjamu menantunya. Sebagai ganti makanan seadanya yang semula dipesan, kini diperlukan hidangan yang lebih istimewa.

Dosan tampak puas dengan pengaturan Tango. Ia mendesah lega. Mertua dan menantu mengangkat gelas sambil saling memuji. Suasana kaku yang pada awalnya mewarnai pertemuan, kini berubah menjadi ramah-tamah.

"Ah, aku ingat lagi!" Nobunaga tiba-tiba berkata, seakan-akan ada sesuatu yang baru saja terlintas di benaknya. "Tuanku Dosan—Ayah Mertua—dalam perjalanan ke sini, aku bertemu seseorang yang sungguh aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Hmm, dia juga orang tua, dan dia mengintip iringiringan dari jendela gubuk rakyat jelata. Meskipun baru kali ini aku bertemu dengan ayah mertuaku, waktu aku pertama menatap wajah Ayah Mertua, ehm... Ayah Mertua mirip sekali dengan orang itu. Bukankah ini aneh sekali?" Sambil tertawa, Nobunaga menyembunyikan mulut di balik kipas yang setengah terbuka.

Dosan terdiam, seolah-olah baru menelan minuman pahit. Baik Hotta Doku maupun Kasuga Tango langsung bermandikan keringat. Seusai acara makan, Nobunaga berkata, "Ah, sudah terlalu lama aku merepotkan Ayah Mertua. Aku ingin menyeberangi Sungai Hida dan mencapai tempat menginap sebelum malam tiba. Aku mohon diri."

"Kau berangkat sekarang?" Dosan ikut berdiri. "Aku enggan melihatmu pergi, tapi aku pun tak dapat menahanmu." Ia sendiri sudah harus kembali ke bentengnya sebelum gelap.

Hutan tombak sepanjang enam meter membelakangi matahari sore, dan beranjak ke arah timur. Dibandingkan mereka, pasukan tombak dari Mino tampak lesu dan kurang bersemangat.

"Ah, aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Suatu hari nanti anak-anakku akan mengemis-emis untuk menyelamatkan nyawa di depan si pandir itu! Tapi tak ada yang bisa dilakukan," Dosan berkeluh kesah kepada para pengikutnya, sambil berayun-ayun di dalam tandu.

***

Genderang perang berdentum-dentum, dan suara sangkakala berkumandang di ladang-ladang. Beberapa anak buah Nobunaga sedang berenang di Sungai Shonai, beberapa sedang berkuda di ladang, atau berlatih dengan tombak bambu. Begitu mendengar sangkakala, mereka langsung menghentikan kegiatan masing-masing dan berbaris di depan pondok, menunggu Nobunaga menaiki kudanya. "Sudah waktunya kembali ke benteng."

Lebih dari sejam Nobunaga berenang, berjemur di tepi sungai, lalu terjun ke air lagi. Akhirnya ia berkata, "Kita harus pulang," kemudian bergegas ke pondoknya. Ia melepaskan cawat putih yang dipakainya saat berenang, mengeringkan tubuhnya, dan mengenakan pakaian berburu dan baju tempur ringan.

"Kudaku!" ia memerintah dengan tak sabar. Perintah-perintah yang ia berikan selalu menyebabkan para pengikutnya kelabakan. Mereka berusaha memahaminya, tapi sering kali dibuat bingung, karena junjungan mereka gemar bermain-main dan cenderung bertindak secara tak terduga. Beruntung ada Ichikawa Daisuke untuk mengimbanginya. Kalau anak buah Nobunaga sudah kalang kabut akibat ketidaksabarannya, dengan satu kata dari Daisuke, semua prajurit dan kuda akan berbaris seperti semaian padi.

Nobunaga tampak puas. Ia menyuruh pasukannya menghadap ke Benteng Nagoya, dan mereka meninggalkan sungai, dengan Nobunaga di tengahtengah iring-iringan. Latihan hari ini berlangsung selama empat jam.

Matahari musim kemarau yang terik berada tepat di atas kepala. Pasukan dan kuda-kuda yang basah kuyup terus berjalan. Bau busuk naik dari rawa-rawa, belalang-belalang hijau melompat menghindar. Keringat membasahi wajah pucat para prajurit. Nobunaga menggunakan siku untuk menyeka keringat dari wajah. Perlahan-lahan wajahnya kembali cerah.

"Siapa makhluk aneh yang berlari di sana?"

Mata Nobunaga seakan-akan berada di mana-mana. Setengah lusin prajurit, yang telah melihat orang itu sebelum Nobunaga, menembus rerumputan tinggi ke tempat Hiyoshi bersembunyi. Sejak pagi Hiyoshi telah menunggu kesempatan untuk mendekati Nobunaga. Diam-diam ia mengawasi gerakgerik Nobunaga di sungai. Sebelumnya ia sempat diusir oleh para pengawal.

Karena itu ia memutuskan untuk mencari jalur yang akan ditempuh Nobunaga untuk kembali ke benteng, dan menyusup ke rerumputan tinggi di pinggir jalan.

Sekarang atau tidak sama sekali! Hiyoshi berkata dalam hati. Jiwa raganya telah bersatu, dan yang dilihatnya hanyalah sang Penguasa Owari di atas kuda. Hiyoshi berteriak sekuat tenaga, tanpa menyadari apa yang diucapkannya. Ia tahu bahwa ia mempertaruhkan nyawa. Ada kemungkinan ia akan terbunuh oleh tombak-tombak panjang di tangan para pengawal, sebelum sempat mendekati Nobunaga untuk menjelaskan maksudnya. Tapi ia tidak gentar. Pilihannya hanya dua: maju seiring gelombang pasang ambisinya, atau tenggelam tersesat arus bawah.

Sambil melompat berdiri, ia melihat Nobunaga, memejamkan mata, dan bergegas ke arahnya.

"Perkenankan hamba mengajukan permohonan! Terimalah hamba sebagai pelayan! Hamba ingin mengabdi dan rela menyerahkan nyawa untuk tuanku!" Itulah yang hendak dikatakannya, tapi ia terlalu bergairah, dan pada waktu ia dicegat oleh tombak-tombak para pengawal, suaranya terputus dan yang terdengar hanyalah serangkaian bunyi tak bermakna.

Ia tampak lebih papa daripada rakyat jelata yang paling miskin. Rambutnya kotor, penuh debu. Wajahnya cemong karena keringat dan debu yang melekat. Para pengawal menebas kakinya dengan tombak-tombak mereka, tapi ia berjumpalitan dan mendarat tiga meter dari kuda Nobunaga.

"Hamba ingin mengajukan permintaan, tuanku!" ia berseru sambil melompat ke arah sanggurdi kuda Nobunaga.

"Enyahlah!" suara Nobunaga menggelegar.

Prajurit di belakang Hiyoshi menyambar kerah bajunya dan mengempaskannya ke tanah. Hiyoshi hendak ditusuk tombak, tapi Nobunaga berseru, "Tahan!"

Kenekatan orang asing berpenampilan jorok ini telah mengusik rasa ingin tahunya. Mungkin karena Nobunaga dapat merasakan harapan yang menggelora dalam tubuh Hiyoshi.

"Apa maumu?"

Suara itu membuat Hiyoshi hampir lupa pada rasa nyeri dan para pengawal.

"Ayah hamba mengabdi kepada ayah tuanku sebagai prajurit infanteri. Namanya Kinoshita Yaemon. Hamba putranya, Hiyoshi. Setelah ayah hamba meninggal, hamba tinggal bersama ibu hamba di Nakamura. Sejak semula hamba berharap bisa mendapat kesempatan mengabdi pada tuanku, karena itu hamba berusaha mencari seorang perantara, tapi akhirnya ternyata tak ada jalan selain mengajukan permohonan ini secara langsung. Hamba mempertaruhkan nyawa untuk ini. Hamba bersedia dibunuh di sini juga. Jika tuanku berkenan menerima hamba sebagai pelayan, hamba rela mengorbankan nyawa untuk tuanku. Jika tuanku berkenan, terimalah satusatunya nyawa yang hamba miliki. Dengan cara ini, baik ayah hamba, yang berada di bawah rerumputan dan dedaunan, maupun hamba sendiri, yang lahir di provinsi ini, akan dapat mewujudkan keinginan yang paling hakiki." Kata-kata Hiyoshi meluncur cepat, hampir seperti ucapan orang kesurupan. Tapi keinginannya yang menggebu-gebu berhasil menyentuh hati nurani Nobugana. Kesungguhan Hiyoshi lebih mempengaruhi Nobunaga daripada kata-kata yang diucapkannya.

Ia melepaskan tawa terpaksa. "Aneh betul orang ini," ia berkata pada salah seorang pembantunya. Kemudian, sambil kembali berpaling pada Hiyoshi, "Jadi, kau ingin mengabdi pada kami?"

"Ya, tuanku."

"Keterampilan apa yang kaumiliki?"

"Hamba tidak mempunyai keterampilan, tuanku." "Kau tidak mempunyai keterampilan, tapi ingin mengabdi pada kami?"

"Selain rela menyerahkan nyawa untuk tuanku, hamba tidak mempunyai bakat khusus."

Pandangan Nobunaga melekat pada Hiyoshi, sudutsudut mulutnya mulai membentuk senyuman. "Sudah beberapa kali kau menyapa kami dengan sebutan 'tuanku', padahal kau belum diizinkan menjadi pengikut kami. Apa maksudmu menyebut kami seperti itu, padahal kau tidak mengabdi pada kami?"

"Sebagai warga Owari, hamba sejak semula beranggapan bahwa jika hamba suatu hari mengabdi pada seseorang, orang itu pasti tuanku. Maafkan hamba telah bersikap lancang."

Nobunaga mengangguk-angguk dan berpaling pada Daisuke. "Orang ini cukup menarik," katanya.

"Memang." Daisuke menampilkan senyum dibuatbuat.

"Permohonanmu dikabulkan. Kau diterima. Mulai hari ini, kau jadi pengikut kami."

Hiyoshi, penuh haru, tak sanggup mengungkapkan kegembiraannya.

Tidak sedikit pengikut Nobunaga yang terkejut, tapi sekaligus mengakui bahwa junjungan mereka bersikap sesuai dengan wataknya.

Ketika Hiyoshi tanpa malu-malu memasuki barisan, mereka mengerutkan kening dan berkata, "Hei, tempatmu paling belakang. Berpeganganlah pada buntut kuda beban." "Ya, ya." Hiyoshi menurut dan mengambil tempat di buntut iring-iringan.

Ia merasa berada di negeri impian.

Ketika iring-iringan itu melanjutkan perjalanan ke Nagoya, semua jalan yang dilewati segera melengang, seakan-akan dibersihkan oleh sapu. Laki-laki dan perempuan berlutut dan bersujud rendah-rendah, sampai kepala menyentuh tanah, baik di depan rumah masing-masing maupun di tepi jalan.

Nobunaga tak pernah menahan diri, bahkan di tempat umum sekalipun.

Ia berdeham pada waktu berbicara dengan para pengikutnya, sekaligus tertawa. Jika merasa haus, ia makan semangka di atas pelana kudanya, lalu meludahkan biji-bijinya ke tanah.

Untuk pertama kali Hiyoshi menyusuri jalan-jalan ini. Pandangannya terus melekat pada punggung junjungannya. Dalam hati ia berkata, "Akhirnya kutemukan jalannya. Inilah jalan yang harus kutempuh."

Benteng Nagoya muncul di hadapan mereka. Air di parit mulai berwarna hijau. Setelah melewati Jembatan Karabashi, iring-iringan itu melintasi pekarangan luar, lalu menghilang melalui gerbang benteng. Kelak tak terhitung lagi berapa kali Hiyoshi melewati jembatan dan gerbang ini.

*** Musim gugur telah tiba. Sambil menatap para penuai di sawah-sawah yang dilewatinya, seorang samurai berbadan pendek melangkahkan kakinya ke arah Nakamura. Setelah tiba di rumah Chikuami, ia memanggil dengan lantang, "Ibu!"

"Oh! Hiyoshi!"

Ibunya telah melahirkan lagi. Sambil duduk di tengah-tengah kacang merah yang disebarkannya agar mengering, ia menggendong bayinya, membiarkan kulitnya yang lembut terkena sinar matahari. Roman mukanya berubah ketika ia menoleh dan melihat perkembangan yang telah terjadi pada diri putranya. Apakah ia bahagia atau sedih? Matanya berkaca-kaca dan bibirnya gemetar.

"Ibu, ini aku. Semuanya baik-baik saja?"

Hiyoshi mengambil tempat di tikar jerami di samping ibunya. Bau susu tercium dari payudara ibunya. Ibunya memeluknya seperti memeluk si bayi yang tengah menyusu.

"Ada apa lagi?" ia bertanya.

"Tidak ada apa-apa. Hari ini aku bebas tugas. Ini pertama kali aku meninggalkan benteng sejak aku pergi ke sana."

"Ah, bagus. Kau muncul begitu mendadak, jadi Ibu langsung mengira kau gagal lagi." Ia mendesah lega, dan tersenyum untuk pertama kali sejak Hiyoshi tiba. Ia menatap putranya yang telah dewasa, mengamati pakaian sutranya yang bersih, ikatan rambutnya, pedangnya yang pendek dan yang panjang. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.

"Ibu, kini saatnya Ibu merasa bahagia. Akhirnya aku berhasil menjadi pengikut Nobunaga. Oh, aku hanya masuk dalam kelompok pelayan, tapi sesungguhnya aku mengabdi sebagai samurai."

"Bagus." Onaka menempelkan lengan bajunya yang compang-camping ke wajah, tak sanggup menegakkan kepala.

Hiyoshi segera merangkulnya. "Untuk menyenangkan Ibu, pagi ini aku mengikat rambutku dan mengenakan pakaian bersih. Tapi aku takkan berhenti sampai di sini. Aku akan membuktikan bahwa aku sanggup membuat Ibu betul-betul bahagia. Ibu, aku berdoa agar Ibu diberi umur panjang!"

"Waktu Ibu mendengar apa yang terjadi pada musim kemarau yang lalu... Ibu tak menyangka akan melihatmu seperti ini."

"Tentunya Otowaka yang memberitahu Ibu."

"Ya, dia datang dan memberitahu Ibu bahwa kau berhasil menarik perhatian Yang Mulia, dan diangkat menjadi pelayan di benteng. Kebahagiaan Ibu saat itu tak terlukiskan."

"Kalau hal kecil seperti itu saja sudah membuat Ibu bahagia, bagaimana di masa mendatang? Pertama-tama aku ingin memberitahu Ibu bahwa aku diizinkan menggunakan nama belakang."

"Nama apa yang kaupilih?"

"Kinoshita, seperti ayahku. Tapi nama depanku diganti menjadi Tokichiro." "Kinoshita Tokichiro."

"Betul. Nama yang bagus, bukan? Untuk sementara Ibu masih harus puas dengan rumah kumuh dan pakaian usang ini, tapi bergembiralah. Ibu adalah ibu Kinoshita Tokichiro!"

"Belum pernah Ibu sebahagia sekarang." Kalimat ini diulanginya berkali-kali, dan setiap kata yang diucapkan Tokichiro disambutnya dengan air mata. Tokichiro senang melihat ibunya begitu bahagia. Siapa lagi di dunia ini yang akan sungguh-sungguh berbahagia karena hal yang demikian sepele? Ia bahkan membayangkan bahwa tahun-tahun pengembaraan, kelaparan, dan penderitaan ikut memberikan sumbangan pada saat yang berbahagia ini.

"Oh, ya, bagaimana kabarnya Otsumi?" "Dia sedang membantu panen."

"Dia baik-baik saja? Dia tidak sakit, bukan?"

"Dia tetap seperti dulu," ujar Onaka, teringat masa remaja Otsumi yang tidak menyenangkan.

"Kalau dia kembali, tolong sampaikan bahwa penderitaannya takkan berlangsung untuk selamalamanya. Tak lama lagi, kalau aku sudah jadi orang, dia akan memiliki sabuk dari kain satin, lemari berlaci dengan lambang emas, dan segala keperluan untuk pernikahannya. Ha... ha! Ibu pasti berpikir aku hanya omong kosong, seperti biasanya."

"Kau sudah mau pergi lagi?"

"Peraturan benteng sangat ketat. Jadi," ia merendahkan suaranya, "tidak sepantasnya kita mengulangi ucapan orang-orang yang menganggap Yang Mulia tak sanggup memimpin provinsi. Sebenarnya, Tuan Nobunaga yang terlihat oleh umum dan Tuan Nobunaga di Benteng Nagoya sangatlah berlainan."

"Mungkin memang begitu."

"Situasinya memilukan. Hanya segelintir saja orang yang bisa diandalkannya. Baik para pengikutnya maupun saudara-saudaranya sendiri, sebagian besar dari mereka menentangnya. Dalam usia sembilan belas tahun, dia seorang diri. Pendapat bahwa penderitaan petani-petani kelaparan merupakan penderitaan paling memilukan, keliru sekali. Jika kita dapat memahami ini, kita bisa lebih sabar. Kita tidak boleh menyerah hanya karena kita manusia. Kami sedang menempuh jalan menuju kebahagiaan, junjunganku dan aku."

"Ibu turut bahagia, tapi kau tak perlu buru-buru. Tak jadi soal seberapa tinggi kedudukanmu kelak, kebahagiaan Ibu tak mungkin lebih besar dari sekarang."

"Baiklah kalau begitu. Jaga diri Ibu baik-baik."

"Tak bisakah kau tinggal sebentar lagi, supaya kita bisa mengobrol lebih lama?"

"Tugas-tugasku sudah menunggu."

Ia bangkit sambil membisu dan meletakkan sejumlah uang ke tikar jerami ibunya. Kemudian ia menatap pohon kesemek, bunga serunai di pagar, dan gudang penyimpanan di belakang.

Ia tidak kembali lagi tahun itu, tapi menjelang akhir tahun, Otowaka mengunjungi ibu Tokichiro, membawakan sedikit uang, obat-obatan, dan kain untuk membuat kimono. "Dia masih pelayan," Otowaka melaporkan.

"Dia bilang jika dia bisa mendapatkan rumah di kota, dia akan mengajak ibunya tinggal bersama-sama setelah dia berumur delapan belas dan gajinya naik sedikit. Dia agak aneh, tapi cukup ramah, dan dia disukai di sana. Dalam insiden sembrono di Sungai Shonai, dia beruntung bisa lolos dari maut."

Tahun baru itu, Otsumi untuk pertama kali mengenakan pakaian baru.

"Adikku yang mengirimnya untukku, Tokichiro di Benteng Nagoya!" ia memberitahu semua orang. Ke mana pun ia pergi, ia selalu saja mengulangi, "Adikku berbuat ini" dan "Adikku berbuat itu."

***

Terkadang suasana hati Nobunaga berubah. Ia jadi pendiam dan bermuram sepanjang hari. Kemurungan luar biasa ini seakan-akan merupakan upaya bawah sadar untuk mengendalikan sifat lekas marahnya.

"Bawa Uzuki ke sini!" ia tiba-tiba berseru pada suatu hari, lalu bergegas ke lapangan berkuda. Ayahnya, Nobuhide, menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berperang, nyaris tanpa kesempatan untuk bersantai di benteng. Dalam setahun, lebih dari enam bulan ia habiskan untuk berperang di barat dan timur. Hampir setiap pagi ia menyempatkan diri mengadakan upacara peringatan bagi para leluhur, menerima sembah sujud para pengikut, mendengarkan kuliah mengenai naskah-naskah kuno, dan berlatih bela diri serta menangani urusan pemerintahan provinsinya sampai malam. Setelah matahari tenggelam, ia mempelajari risalah-risalah mengenai strategi militer atau mengadakan pertemuan dewan, atau berusaha menjadi kepala keluarga yang baik. Ketika Nobunaga menggantikan ayahnya, kebiasaan ini berakhir.

Tidaklah sesuai dengan wataknya untuk setiap hari menjalani acara rutin yang ketat. Ia selalu mengikuti kata hatinya, pikirannya menyerupai awan-awan di saat hujan badai yang turun mendadak, ide-ide bermunculan tiba-tiba dan menghilang dengan tiba-tiba pula. Jiwa-raganya seakan-akan berada di luar tata atur yang berlaku.

Hal ini memaksa pembantu-pembantunya untuk selalu berjaga-jaga. Hari itu ia sempat duduk membaca buku, lalu pergi ke tempat sembahyang untuk berdoa bagi para leluhurnya. Dalam keheningan tempat sembahyang, seruannya meminta kuda terasa mengejutkan bagaikan halilintar. Para pembantunya tak dapat menemukan junjungan mereka di tempat mereka mendengar suaranya. Mereka bergegas ke kandang dan mengikutinya ke lapangan berkuda. Ia tidak berkata apa-apa, tapi ekspresi wajahnya menyalahkan mereka karena bergerak terlalu lamban.

Uzuki, kuda kesayangannya, berwarna putih. Jika Nobunaga merasa tidak puas dan memainkan pecut, kuda tua itu beraksi tanpa semangat.

Nobunaga terbiasa menggiring Uzuki dengan menarik moncongnya, sambil mengeluh mengenai kelambanan kuda itu. Kemudian ia akan berkata, "Beri dia air." Seorang tukang kuda lalu mengambil sendok besar, membuka mulut Uzuki, dan menuangkan air ke dalamnya, dan Nobunaga akan memasukkan tangannya ke dalam mulut kuda itu untuk meraih lidahnya.

Hari ini ia berkata, "Uzuki! Lidahmu bengkak.

Pantas langkahmu jadi berat." "Sepertinya dia memang kurang sehat."

"Jadi, Uzuki pun sudah terpengaruh usia?"

"Dia sudah ada di sini sejak masa Yang Mulia ayah tuanku. Mestinya dia sudah cukup tua."

"Rasanya di Benteng Nagoya bukan Uzuki saja yang mulai tua dan lemah. Sepuluh generasi telah berlalu sejak zaman shogun pertama, dan dunia sudah dikuasai oleh upacara dan tipu muslihat. Semuanya sudah tua dan jompo!"

Ucapan Nobunaga lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Ia melompat ke atas pelana, dan mengelilingi lapangan berkuda. Bakatnya sebagai penunggang kuda tak diragukan lagi. Semula ia berguru pada Ichikawa Daisuke, tapi belakangan ini ia lebih suka berkuda seorang diri.

Tiba-tiba Uzuki dan Nobunaga disusul oleh seekor kuda berwarna gelap yang dipacu dengan kecepatan luar biasa. Tertinggal di belakang, Nobunaga menjadi geram dan mengikuti kuda itu sambil berseru, "Goroza!"

Goroza berusia dua puluh empat tahun. Pemuda penuh semangat itu putra sulung Hirate Nakatsukasa, dan menjabat sebagai kepala penembak Benteng Nagoya. Nama lengkapnya Gorozaemon, dan ia memiliki dua adik, Kemmotsu dan Jinzaemon.

Nobunaga semakin gusar. Ia telah dikalahkan! Ini tak dapat diterima!

Uzuki dipecutnya dengan keras. Kuda itu berlari begitu kencang, hingga kakinya nyaris tak terlihat menyentuh tanah, dan berhasil mendahului kuda Goroza.

Goroza berseru, "Hati-hati, tuanku, kukunya akan retak!"

"Ada apa? Kau tak sanggup mengimbangi kecepatannya?" balas Nobunaga.

Sambil menahan malu Goroza mulai mengejar, menusuk-nusuk kudanya dengan pijakan kaki. Kuda Nobunaga terkenal dengan nama "Uzuki marga Oda", bahkan di antara musuh-musuh marga. Kuda Goroza tak sanggup menyainginya, baik dari segi nilai maupun kemampuan. Namun kuda itu masih muda, dan Goroza lebih pandai berkuda dibandingkan Nobunaga.

Jarak antara mereka terus mengecil, mulai dari dua puluh panjang badan, menjadi sepuluh, lalu lima, lalu satu, dan kemudian sehidung. Nobunaga berusaha keras agar tidak tersusul, tapi ia sendiri mulai kehabisan napas.

Goroza melewatinya, meninggalkan junjungannya terselubung awan debu.

Merasa dipermalukan, Nobunaga melompat turun. "Kaki kuda itu bagus," ia menggerutu. Tak mungkin ia mengakui kekalahannya sebagai kesalahannya sendiri.

"Dia takkan gembira dikalahkan Goroza," salah seorang pembantunya berkomentar. Cemas karena ledakan amarahnya tak terhindarkan, mereka bergegas ke arah junjungan mereka. Satu orang mencapai Nobunaga sebelum yang lain, dan sambil berlutut menawarkan sendok air berlapis sampang.

"Seteguk air, tuanku?" Orang itu ternyata Tokichiro, yang belum lama ini diangkat menjadi pembawa sandal. Meski jabatan "pembawa sandal" seakan-akan tak ada artinya, peningkatan jabatan dari pelayan menjadi pembantu pribadi dalam waktu demikian singkat membuktikan bahwa Tokichiro memperoleh perlakuan istimewa. Dalam waktu singkat Tokichiro telah maju pesat, dengan bekerja keras dan menenggelamkan diri dalam tugas-tugasnya.

Meski demikian, junjungannya tidak memperhatikannya. Ia tidak menatap atau mengucapkan satu suku kata pun. Ia meraih sendok air tanpa berkata apa-apa, menghabiskan airnya dengan sekali teguk, lalu menyerahkannya kembali.

"Panggil Goroza!" ia memberi perintah.

Goroza sedang mengikat kudanya ke pohon di pinggir lapangan berkuda.

Ia langsung menanggapi panggilan Nobunaga dan berkata, "Aku memang bermaksud menemuinya." Dengan tenang ia mengusap keringat pada wajah, mengatur pakaian, dan merapikan rambutnya yang kusut. Goroza telah membulatkan tekad.

"Tuanku," kata Goroza, "rasanya hamba telah bersikap lancang." Ia berlutut. Kata-katanya diucapkan dengan nada tenang.

Raut wajah Nobunaga melunak. "Aku puas berkejarkejaran denganmu. Sejak kapan kau memiliki kuda sehebat itu? Dan siapa namanya?"

Para pelayan menarik napas lega.

Goroza mengangkat kepala dan tersenyum. "Tuanku memperhatikannya? Kuda itu kebanggaan hamba. Hamba bertemu pedagang kuda dari utara yang sedang dalam perjalanan ke ibu kota untuk menjualnya pada seorang bangsawan. Harganya tinggi dan uang hamba tidak cukup, jadi hamba terpaksa menjual warisan keluarga, sebuah cawan teh yang diberikan oleh ayah hamba. Cawan itu bernama Nowake, dan nama itulah nama yang hamba pilih untuk kuda hamba."

"Hmm, kalau begitu tidaklah mengherankan kalau aku melihat kuda istimewa hari ini. Aku menginginkan kuda itu."

"Tuanku?"

"Aku mau membayar berapa saja yang kauminta, tapi kuda itu harus jadi milikku." "Dengan segala hormat, hamba tak dapat memenuhi permintaan tuanku."

"Apakah aku tidak salah dengar?" "Hamba terpaksa menolak."

"Kenapa? Kau bisa membeli kuda bagus yang lain." "Kuda yang baik sulit didapat, seperti halnya teman

yang baik."

"Justru karena itu kau sebaiknya menyerahkannya padaku. Saat ini aku sedang menginginkan kuda kencang yang belum dipacu sampai batas kemampuannya."

"Hamba terpaksa menolak. Hamba menyayangi kuda itu, bukan demi kebanggaan dan kesenangan hamba semata-mata, tapi juga karena di medan laga kuda itu memungkinkan hamba untuk mengabdi tuanku dengan sebaik-baiknya, yang merupakan tujuan utama seorang samurai. Tuanku menginginkan kuda itu, tapi tak ada alasan bagi seorang samurai untuk menyerahkan sesuatu yang begitu penting baginya."

Diingatkan pada kewajiban seorang samurai untuk mengabdi pada junjungannya, Nobunaga tak dapat memaksa Goroza untuk menyerahkan kuda itu, tapi ia pun tak sanggup menekan keinginannya. "Goroza, kau sungguh-sungguh menolak permintaanku?"

"Hmm, dalam hal ini, ya."

"Kurasa kuda itu terlalu bagus untuk kedudukan sosialmu. Seandainya kau punya kedudukan seperti ayahmu, kau dapat memiliki kuda seperti Nowake. Tapi berhubung kau masih muda, kau belum pantas untuk itu."

"Dengan segala hormat, hamba terpaksa mengemukakan hal ini. Bukankah sayang jika seseorang memiliki kuda sehebat Nowake, lalu hanya berkuda keliling kota sambil makan semangka dan buah kesemek di atas pelana? Bukankah lebih baik jika Nowake ditunggangi prajurit seperti hamba?"

Akhirnya alasan sesungguhnya terungkap juga. Katakata yang meluncur dari mulutnya lebih merupakan cerminan kejengkelan yang dialaminya setiap hari, daripada bukti perhatiannya pada kuda itu.

Hirate Nakatsukasa mengunci pintu dan mengurung diri di kediamannya selama lebih dari dua puluh hari. Ia telah mengabdi pada marga Oda selama empat puluh tahun tanpa terputus, dan mengabdi pada Nobunaga sejak Nobuhide berpesan menjelang ajalnya, "Aku mempercayakannya kepadamu," lalu mengangkat Nakatsukasa sebagai wali Nobunaga, sekaligus sebagai pengikut utama provinsi.

Suatu hari, menjelang malam, ia menatap ke dalam cermin dan merasa terkejut betapa rambutnya telah menjadi putih. Sesungguhnya memang sudah waktunya rambutnya menjadi putih. Usianya sudah melewati enam puluh, tapi ia tak punya waktu untuk memikirkan umur. Ia menutup daun cermin dan memanggil pelayannya, Amemiya Kageyu.

"Kageyu, kurirnya sudah berangkat?"

"Sudah, beberapa saat lalu hamba menyuruhnya berangkat."

"Kemungkinan besar mereka akan datang, bukan?" "Hamba kira mereka akan datang bersama-sama." "Sake-nya sudah siap?"

"Sudah, Tuan. Hamba juga telah menyiapkan makanan."

Musim dingin sudah hampir berakhir, tetapi bungabunga prem masih menguncup. Cuaca tahun itu teramat dingin, dan lapisan es tebal di kolam tak pernah mencair, biarpun sehari saja. Orang-orang yang dipanggil Nakatsukasa adalah ketiga putranya yang masing-masing menempati rumah sendiri. Berdasarkan kebiasaan yang berlaku, putra sulung serta adikadiknya tinggal bersama ayah mereka sebagai satu keluarga besar, tapi Nakatsukasa menginginkan mereka tinggal terpisah-pisah. Ia tinggal seorang diri, dengan alasan bahwa tugas-tugasnya mungkin akan terbengkalai jika ia harus memikirkan anak-anak dan cucu-cucunya. Ia telah membesarkan Nobunaga seperti putranya sendiri, namun belakangan ini Nobunaga bersikap dingin terhadapnya. Nakatsukasa sempat menanyakan kejadian di lapangan berkuda pada beberapa pelayan Nobunaga. Sejak itu ia tampak seperti menahan malu.

Goroza, sebagai orang yang menyulut ketidak-

senangan Nobunaga, tidak lagi pergi ke benteng. Ia menyendiri. Shibata Katsuie dan Hayashi Mimasaka, dua pengikut marga Oda yang sejak dulu selalu menentang   Nakatsukasa,   menyadari   kesempatan mereka, dan dengan mengangkat-angkat Nobunaga mereka berhasil memperbesar jarak antara Nobunaga dan walinya. Posisi mereka menjadi kuat karena mereka lebih muda, dan kekuasaan serta pengaruh mereka sedang menanjak.

Pengasingan selama dua puluh hari membuat Nakatsukasa tersadar akan usianya. Kini ia merasa lelah, tanpa semangat untuk berselisih dengan orangorang itu. Ia juga menyadari keterasingan junjungannya, dan mencemaskan masa depan marga. Ia sedang membuat salinan rapi dari sebuah dokumen panjang yang disusunnya sehari sebelumnya.

Udara cukup dingin untuk membekukan air di tempat tinta.

Kageyu memasuki ruangan dan berkata, "Gorozaemon dan Kemmotsu telah tiba." Mereka belum mengetahui sebab mereka dipanggil, dan sedang duduk di dekat kompor arang, menunggu.

"Aku kaget, tak menyangka akan ada panggilan seperti ini. Aku langung khawatir dia jatuh sakit," ujar Kemmotsu.

"Ya, ehm, kurasa dia sudah mendengar apa yang terjadi. Kelihatannya aku akan dimarahi habishabisan."

"Kalau hanya untuk itu, dia pasti bertindak lebih cepat. Kupikir ada urusan lain lagi."

Meski sudah dewasa sekarang, mereka tetap menganggap ayah mereka agak menakutkan. Mereka menunggu dengan cemas. Putra ketiga, Jinzaemon, sedang dalam perjalanan ke provinsi lain.

"Hari ini dingin sekali, bukan?" ayah mereka berkomentar sambil membuka pintu geser. Kakak-beradik itu menyadari betapa rambutnya bertambah putih, dan betapa badannya menjadi kurus.

"Ayahanda baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bertemu kalian. Ini mungkin pengaruh usiaku, tapi kadangkadang aku merasa kesepian sekali."

"Tak ada urusan mendesak yang harus segera diselesaikan?"

"Tidak, tidak. Sudah lama sekali kita tak pernah makan malam bersama sama dan mengobrol sepanjang malam. Ha... ha! Bersantailah!" Sikapnya sama seperti biasanya. Di luar terdengar suara benturan pada atap, barangkali hujan es, dan udara seakan-akan bertambah dingin. Berada bersama ayah mereka membuat kedua putranya melupakan hawa dingin. Suasana hati Nakatsukasa begitu cerah, sehingga Gorozaemon tidak menemukan kesempatan untuk memohon maaf atas perbuatannya. Setelah piring-piring disingkirkan, Nakatsukasa memesan secawan teh hijau yang sangat digemarinya.

Mendadak, seakan-akan cawan teh di tangannya membuatnya teringat sesuatu, ia berkata, "Goroza, kudengar kau membiarkan cawan teh Nowake, yang kupercayakan padamu, jatuh ke tangan orang lain. Betulkah itu?"

Goroza menanggapinya dengan terus terang. "Ya. Ananda tahu cawan teh itu warisan keluarga, tapi ada seekor kuda yang sangat Ananda inginkan, jadi Ananda menjual cawan itu untuk membelinya."

"Begitu? Hmm, bagus. Jika kau bersikap seperti itu, setelah aku tiada pun kau tentu takkan mengalami kesulitan dalam mengabdi Yang Mulia."

Nada suaranya berubah tajam. "Pada waktu menjual cawan teh dan membeli kuda itu, sikapmu patut dipuji. Tapi jika aku tidak salah dengar, kau mengalahkan Uzuki, dan ketika Yang Mulia meminta kudamu, kau menolak. Betulkah itu?"

"Itulah sebabnya beliau kini tak senang terhadap Ananda. Ananda menyesal karena telah menyebabkan banyak kesulitan bagi Ayahanda."

"Tunggu sebentar." "Ayahanda?"

"Jangan pikirkan aku! Mengapa kau menolak?

Sikapmu sungguh tercela."

Gorozaemon tak dapat berkata apa-apa. "Hina!"

"Begitukah perasaan Ayahanda? Ananda sungguh menyesal."

"Kalau begitu, mengapa tidak kaukabulkan permintaan Yang Mulia?"

"Ananda seorang samurai yang rela menyerahkan nyawa jika junjungan Ananda menginginkan demikian, jadi untuk apa Ananda bersikap kikir mengenai hal lain? Tapi Ananda membeli kuda itu bukan demi kesenangan Ananda, melainkan agar Ananda dapat mengabdi sebaik-baiknya di medan laga."

"Aku tahu itu."

"Jika Ananda menyerahkan kuda itu, Tuan Nobunaga mungkin akan senang. Tapi Ananda tak dapat menerima sikap mementingkan diri sendiri yang selalu ditampilkan beliau. Beliau melihat seekor kuda yang lebih kencang daripada Uzuki dan mengabaikan perasaan para pengikutnya. Patutkah itu? Bukan Ananda saja yang berpendapat bahwa marga Oda sedang terancam bahaya. Ananda percaya bahwa Ayahanda lebih memahami persoalan ini dibandingkan Ananda. Meski beliau terkadang seperti jenius, sikap beliau yang egois dan terlalu memberi hati patut disayangkan, walaupun itu memang sudah watak beliau. Kami, para pengikut, semakin mencemaskan watak beliau. Memenuhi setiap keinginannya memang tampak seperti kesetiaan, tapi sebetulnya itu tidak baik. Karena itulah Ananda sengaja berkeras kepala."

"Tindakanmu keliru." "Begitukah?"

"Kau mungkin menganggap tindakanmu sebagai wujud kesetiaanmu, tapi sesungguhnya kau hanya memperburuk watak beliau yang pada dasarnya sudah kurang baik. Aku menggendong beliau sejak beliau masih bayi, bahkan lebih sering daripada putraputraku sendiri. Aku tahu wataknya. Mungkin saja beliau jenius, tapi beliau pun tak luput dari kekurangan. Bahwa kau menyinggung perasaan beliau, itu tak ada artinya sama sekali."

"Mungkin saja. Ini tak pantas untuk dikatakan, tapi Kemmotsu dan aku, dan sebagian besar pengikut, menyesalkan bahwa kami mengabdi pada si pandir ini. Hanya orang-orang seperti Shibata Katsuie dan Hayashi Mimasaka yang gembira memiliki majikan seperti beliau."

"Itu tidak benar. Tak peduli apa yang dikatakan orang, aku tak percaya. Kalian semua harus mengikuti Yang Mulia sampai pada saat terakhir, tak peduli apakah aku masih hidup atau sudah tiada."

"Jangan khawatir mengenai itu. Ananda tidak akan menyimpang dari prinsip-prinsip Ananda, biarpun Ananda tidak disenangi oleh sang Junjungan."

"Hatiku tenang, kalau begitu. Tapi aku telah menjadi pohon tua. Seperti dahan-dahan cangkokan, kalian harus menggantikan tempatku."

Ketika mereka merenungkan kemudian, Gorozaemon dan Kemmotsu menyadari bahwa banyak sekali yang tersirat dalam ucapan Nakatsukasa pada malam itu, tapi mereka kembali ke rumah masing-masing tanpa menyadari bahwa ayah mereka telah bertekad untuk mati.

Kematian Hirate Nakatsukasa diketahui keesokan paginya. Ia telah membelah perutnya secara sempurna. Kedua putranya tidak menemukan penyesalan mau pun kegetiran di wajahnya yang telah tak bernyawa. Ia tidak meninggalkan wasiat pada keluarganya—hanya sepucuk surat yang ditujukan kepada Nobunaga. Setiap kata dalam surat itu mencerminkan kesetiaan mendalam dan kekal ter-hadap junjungannya.

Ketika menerima kabar mengenai kematian pengikut utamanya, Nobunaga tampak amat terpukul. Dengan kematiannya, Nakatsukasa telah memberikan peringatan kepada junjungannya. Ia mengenal kejeniusan alami serta kekurangan-kekurangan Nobunaga, dan ketika Nobunaga membaca surat itu, bahkan sebelum matanya mulai berkaca-kaca, dadanya serasa telah ditusuk-tusuk rasa sakit setajam lecutan cemeti.

"Pak Tua! Maafkan aku!" ia tersedu-sedu. la telah menyakiti Nakatsukasa yang merupakan pengikutnya, tetapi lebih dekat dengannya daripada ayahnya sendiri. Dan dengan insiden kuda itu, ia telah memaksakan kehendaknya pada Nakatsukasa seperti biasa.

"Panggil Goroza!"

Ketika si Kepala Penembak bersujud, Nobunaga duduk di lantai, menghadapnya.

"Pesan yang ditinggalkan ayahmu untukku membuat hatiku tersayat-sayat. Aku takkan pernah melupakannya. Tak ada lagi yang dapat kukatakan untuk memohon maaf." Ia hampir bersujud di depan Goroza, tetapi pemuda itu meraih tangannya dengan penuh hormat. Junjungan dan pengikut saling berangkulan sambil berurai air mata.

Tahun itu, penguasa Oda mendirikan sebuah kuil di kota benteng, yang dipersembahkan untuk keselamatan mendiang walinya. Ketika ditanya, "Kuil ini akan diberi nama apa? Sebagai pendiri, tuanku perlu memberi pengarahan kepada biksu kepala untuk memilih sebuah nama," Nobunaga menjawab,

"Orang tua itu akan lebih senang dengan nama pilihanku." Ia meraih sebuah kuas dan menulis, Kuil Seishu.

Di kemudian hari, ia sering mendatangi kuil itu secara mendadak, meskipun ia jarang mengadakan upacara peringatan atau duduk bersama para biksu dan membaca naskah sutra.

"Pak Tua! Pak Tua!" Sambil berjalan-jalan mengelilingi kuil, ia sering bergumam seorang diri, lalu tiba-tiba kembali ke benteng. Kunjungankunjungan ini menyerupai tingkah orang tidak waras. Pernah ketika sedang berburu dengan burung rajawali, ia mencabik-cabik tubuh seekor burung kecil dan melemparkan dagingnya ke udara sambil berkata, "Pak Tua! Ambillah hasil tangkapanku!" Pada kesempatan lain, waktu sedang memancing, ia mencemplungkan kakinya ke air dan berkata, "Pak Tua! Jadilah Buddha!" Kegarangan dalam suara dan sorot matanya menimbulkan kecemasan dalam hati para pembantunya.

***

Nobunaga merayakan ulang tahun kedua puluh satu pada tahun pertama Koji. Di bulan Mei ia menemukan dalih untuk berperang melawan Oda Hikogoro, yang secara resmi menjabat sebagai kepala marga Oda. Nobunaga menyerang benteng Hikogoro di Kiyosu, dan setelah menaklukkannya, pindah dari Nagoya ke sana.

Tokichiro mengamati kemajuan majikannya dengan rasa puas. Nobunaga dikelilingi sanak saudara yang memusuhinya—tak terkecuali paman-paman dan saudara-saudara kandung—dan menyingkirkan mereka dari jalannya jauh lebih penting daripada menangani musuh-musuh lain.

"Dia harus diawasi!" Hikogoro telah memberi peringatan sejak jauh-jauh hari. Dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menekan Nobunaga, ia berencana untuk memusnahkan Nobunaga. Penguasa Benteng Kiyosu, Shiba Yoshimune, dan putranya, Yoshikane, merupakan pengikut setia Nobunaga. Ketika Hikogoro mengetahui ini, ia berseru geram, "Tak tahuterima kasih!" dan memerintahkan Yoshimune dieksekusi. Yoshikane melarikan diri dan memperoleh perlindungan dari Nobunaga, yang menyembunyikannya di Benteng Nagoya. Pada hari yang sama, Nobunaga memimpin pasukannya dan menyerang Benteng Kiyosu, memacu semangat anak buahnya dengan teriakan tempur, "Untuk membalas dendam atas pembunuhan sang gubernur! Untuk melakukan serangan terhadap pemimpin marga, Nobunaga harus memiliki alasan kuat. Tetapi ini juga sebuah kesempatan untuk menyingkirkan beberapa rintangan yang menghalangi jalannya. Ia mengangkat pamannya, Nobumitsu, sebagai penguasa Benteng Nagoya, namun tak lama kemudian Nobumitsu menjadi korban pembunuhan.

"Kau saja yang ke sana, Sado. Kau satu-satunya orang yang dapat mewakiliku di Benteng Nagoya." Ketika Hayashi Sado menerima tugas itu, beberapa pengikut Nobunaga mendesah, "Ternyata dia tetap saja si pandir. Begitu kita pikir dia mulai menunjukkan kebolehannya, dia melakukan suatu kesalahan, seperti mempercayai Hayashi!"

Mereka mempunyai alasan untuk menaruh curiga pada Hayashi. Ketika ayah Nobunaga masih hidup, tak ada pengikut yang lebih setia daripada Hayashi. Justru karena itu Nobuhide menunjuknya dan Hirate Nakatsukasa sebagai wali anaknya setelah ia meninggal. Tapi karena Nobunaga kemudian terbukti tak dapat diatur, Hayashi melepaskan segala harapannya. Ia malah bersekongkol dengan adik laki-laki Nobunaga, Nobuyuki, dan ibunya, yang tinggal di Benteng Suemori, untuk menggulingkan Nobunaga.

"Rupanya Nobunaga tidak mengetahui pengkhianatan Hayashi," Tokichiro mendengar beberapa pengikut yang cemas berbisik-bisik dalam lebih dari satu kesempatan. "Kalau dia mengetahuinya, tak mungkin dia mengangkat Hiyashi sebagai penguasa Nagoya." Namun Tokichiro tidak merisaukan junjungannya. Ia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana majikannya akan mengatasi masalah ini. Sepertinya orang yang berwajah ceria di Kiyosu hanya Nobunaga dan salah seorang pembawa sandalnya.

Salah satu kelompok pengikut senior Nobunaga, termasuk Hayashi Sado, adik laki-lakinya, Mimasaka, dan Shibata Katsuie, tetap memandang junjungan mereka sebagai orang pandir tanpa harapan.

"Aku mengakui, pada pertemuan pertama dengan ayah mertuanya, Nobunaga tidak memperlihatkan tingkah hampa seperti biasanya. Tapi itu hanya karena keberuntungan semata-mata. Dan selama percakapan resmi antara mereka, sikapnya begitu memalukan, sampai-sampai ayah mertuanya pun terkejut. Seperti bunyi pepatah, 'Tak ada obat untuk orang pandir.' Dan tindak-tanduknya setelah itu tak dapat dimaafkan, tak peduli dari sudut mana pun orang melihatnya." Shibata Katsuie dan yang lain telah meyakinkan diri bahwa tak ada harapan untuk masa depan, dan lambat laun pandangan mereka menjadi rahasia umum. Ketika Hayashi Sado diangkat sebagai penguasa Nagoya, ia sering dikunjungi oleh Shibata Katsuie, dan dalam waktu singkat benteng itu telah menjadi tempat persemaian komplotan pengkhianat.

"Hujannya terasa menyenangkan, bukan?"

"Ya, menurutku pemandangan laut bertambah menarik karenanya." Sado dan Katsuie sedang duduk berhadap-hadapan di sebuah pondok teh yang dinaungi pepohonan, di pekarangan benteng. Musim hujan telah berlalu, tapi hujan masih turun dari langit kelabu, menyebabkan buah prem yang masih hijau berguguran.

"Kemungkinan besok cuaca akan lebih cerah," saudara laki-laki Sado, Mimasaka, berkata pada dirinya sendiri sambil berlindung di bawah dahan-dahan pohon prem. Ia keluar untuk menyalakan lentera di taman. Setelah menghidupkannya, ia berhenti sejenak dan memandang berkeliling. Akhirnya, ketika kembali ke pondok teh, ia melaporkan dengan suara rendah, "Semuanya tampak aman. Tak ada siapa-siapa di sekitar sini, jadi kita bebas berbicara." Katsuie mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja. Kemarin aku diam-diam pergi ke Benteng Suemori. Aku diterima oleh Tuan Nobuyuki dan ibu Nobunaga, dan aku membahas rencana-rencana kita dengan mereka. Kini keputusan ada di tanganmu."

"Bagaimana tanggapan ibunya?"

"Dia sependapat dengan kita, dan tidak keberatan. Dia menganggap Nobuyuki lebih patut menjadi penguasa daripada Nobunaga."

"Bagus. Dan bagaimana dengan Nobuyuki?"

"Dia mengatakan, jika Hayashi Sado dan Shibata Katsuie memberontak melawan Nobunaga, dengan sendirinya dia akan bergabung dengan mereka, demi kebaikan marga."

"Kau mempengaruhi mereka, bukan?"

"Hmm, ibunya berbelit-belit, sedangkan Nobuyuki berhati lemah. Jika aku tidak menghasut mereka, tak ada alasan bagi mereka untuk bergabung dengan kita." "Kita takkan kekurangan alasan untuk menggulingkan Nobunaga, asalkan kita memperoleh persetujuan mereka. Di antara para pengikut, bukan kita saja yang cemas melihat kebodohan Nobunaga

dan memikirkan keselamatan marga."

'"Demi Owari dan seratus tahun lagi bagi marga Oda!' akan menjadi seruan pemacu semangat kita, tapi bagaimana dengan persiapan-persiapan militer?"

"Kita mendapatkan kesempatan baik sekarang. Aku bisa bergerak cepat dari Nagoya. Jika genderang perang berbunyi, aku akan siap."

"Bagus. Hmm, kalau begitu..." Katsuie mencondongkan tubuh ke depan.

Saat itu sesuatu jatuh ke tanah di pekarangan. Ternyata hanya beberapa buah prem yang belum matang. Hujan berhenti sejenak, tetapi tetes-tetes air yang terbawa angin masih berjatuhan ke atap pondok. Bagai seekor anjing, sebuah sosok manusia merangkak dari kolong lantai. Buah-buah prem tadi tidak jatuh begitu saja. Orang berpakaian serbahitam yang menyembulkan kepala dari bawah pondok, sengaja melemparkan buah-buah itu. Ketika semua mata di dalam ruang berpaling, ia memanfaatkan kesempatan itu dan menghilang ditelan angin dan kegelapan.

Ninja merupakan mata dan telinga bagi sang penguasa benteng. Setiap orang yang memimpin sebuah benteng, terkungkung di dalam temboktembok dan terus-menerus dikelilingi pengikut, sangatlah tergantung pada mata-mata. Nobunaga mempekerjakan ninja yang hebat. Bahkan pengikutpengikut terdekatnya pun tidak mengetahui jati diri orang itu.

Nobunaga mempunyai tiga pembawa sandal: Matasuke, Ganmaku, dan Tokichiro. Meskipun hanya pelayan, mereka memiliki tempat tinggal terpisah dan secara bergantian bertugas di sekitar pekarangan.

"Ganmaku, ada apa?"

Tokichiro dan Ganmaku berteman dekat. Ganmaku sedang berbaring terbungkus selimut, tidur. Tak ada yang lebih disukainya daripada tidur, dan ia menggunakan setiap kesempatan untuk memejamkan mata.

"Perutku sakit," Ganmaku berkata.

Tokichiro duduk di tepi tempat tidur. "Kau bohong. Aku baru kembali dari kota, dan dalam perjalanan pulang kubeli makanan lezat."

"Apa?" Ganmaku menyembulkan kepalanya, tapi, menyadari bahwa ia dikelabui, segera kembali ke bawah selimut.

"Dasar! Jangan goda orang sakit. Ayo keluar dari sini. Kau menggangguku."

"Bangunlah. Matasuke tidak ada di sini, dan ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

Dengan enggan Ganmaku menyingkirkan selimutnya. "Orang memang tidak boleh tidur..."

Sambil mengumpat, ia berdiri dan keluar untuk berkumur dengan air yang mengalir dari mata air di pekarangan. Tokichiro mengikutinya.

Pondok mereka gelap, namun letaknya tersembunyi di tengah-tengah pekarangan benteng. Pemandangan ke arah kota membentang lebar, membuat hati meluap-luap.

"Ada apa? Apa yang ingin kautanyakan?" "Mengenai semalam."

"Semalam?"

"Kau boleh pura-pura tak mengerti, tapi aku tahu semuanya. Kurasa kau pergi ke Nagoya."

"O ya?"

"Kurasa kau pergi untuk memata-matai kegiatan di benteng dan mendengarkan pembicaraan rahasia antara Hayashi Sado dan Shibata Katsuie."

"Sst, Monyet! Jaga mulutmu!"

"Hmm, kalau begitu, katakan yang sebenarnya. Jangan sembunyikan rahasia dari seorang sahabat. Aku sudah lama mengetahuinya, tapi tidak mengatakan apa-apa dan hanya memperhatikan gerak-gerikmu. Kau ninja kepercayaan Tuan Nobunaga, bukan?"

"Tokichiro, matamu tak dapat dikelabui. Bagaimana kau tahu?"

"Kita berbagi tempat tinggal, bukan? Tuan Nobunaga juga sangat penting bagiku. Banyak orang seperti aku merasa cemas mengenai Tuan Nobunaga, walaupun kami tidak memperlihatkannya."

"Itu yang ingin kautanyakan padaku?"

"Ganmaku, aku bersumpah demi dewa-dewa bahwa aku takkan memberitahu orang lain." Ganmaku menatap Tokichiro dengan tajam. "Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi di siang hari seperti sekarang, kita akan terlihat orang lain. Tunggu sampai waktunya tepat."

Ketika Ganmaku merasa keadaan sudah aman, ia memberitahu Tokichiro apa saja yang sedang terjadi dalam tubuh marga. Dan dengan bekal pengertian serta simpati bagi keadaan sulit yang dihadapi junjungannya, Tokichiro melayaninya dengan lebih baik lagi. Namun dalam pikirannya tak sedikit pun terlintas rasa was-was untuk masa depan sang penguasa muda yang dikelilingi pengikut-pengikut dengan rencana-rencana busuk.

Para pengikut Nobunaga akan membelot, dan hanya Tokichiro, pelayannya yang masih baru, yang menaruh kepercayaan padanya.

Entah bagaimana tuanku akan mengatasi masalah ini, pikir Tokichiro.

Namun sebagai pelayan, perkembangannya hanya dapat ia awasi dari jauh.

Menjelang akhir bulan. Nobunaga, yang biasanya bepergian dengan beberapa pengikut saja, secara tak terduga minta diambilkan kuda, lalu meninggalkan benteng. Jarak dari Kiyosu ke Moriyama tidak terlalu jauh, dan ia selalu memacu kudanya ke sana dan kembali sebelum sarapan.

Namun pada hari itu Nobunaga membelok ke timur ketika mencapai persimpangan, dan membawa kudanya menjauhi Moriyama. "Tuanku!"

"Mau ke mana lagi dia sekarang?" Terkejut dan bingung, lima atau enam pelayan berkuda mengejarnya. Para prajurit infanteri dan pembawa sandal tentu saja tertinggal jauh, terseok-seok menyusuri jalan. Hanya dua pelayannya, Ganmaku dan Tokichiro, meski semakin tertinggal, terus berlari sekuat tenaga, bertekad agar kuda junjungan mereka tidak menghilang dari pandangan.

"Demi dewa-dewa! Kita akan mendapat kesulitan!" kata Tokichiro. Mereka saling pandang, masingmasing menyadari bahwa mereka harus tetap berkepala dingin. Ini karena Nobunaga sedang menuju Benteng Nagoya—yang menurut cerita Ganmaku pada Tokichiro merupakan markas komplotan yang ingin menggantikan Nobunaga dengan adik laki-lakinya!

Nobunaga, dengan wataknya yang sukar ditebak, memacu kudanya ke tempat yang penuh bahaya, di mana tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Tak ada tindakan yang lebih berbahaya, dan Ganmaku serta Tokichiro pun merisaukan keselamatan junjungan mereka.

Namun yang paling dikejutkan oleh kunjungan tak terduga ini ternyata Hayashi Sado, sang penguasa Benteng Nagoya, dan adik laki-lakinya.

"Tuanku! Tuanku! Cepat! Tuanku Nobunaga ada di sini!"

"Apa? Apa maksudmu?" Seakan tak percaya pada telinganya sendiri, ia tidak beranjak dari tempatnya. Ini tak mungkin terjadi.

"Dia datang ke sini hanya dengan lima atau enam pengikutnya. Tiba-tiba saja mereka masuk lewat gerbang utama. Dia sedang tertawa keras-keras mengenai sesuatu dengan para pengikutnya."

"Betulkah ini?"

"Hamba bersumpah! Ya!"

"Nobunaga di sini? Apa artinya?" Sado menjadi panik tanpa alasan.

Wajahnya memucat. "Mimasaka, menurutmu, apa yang diinginkannya?"

"Apa pun tujuannya, lebih baik kita segera menyambutnya."

"Ya. Cepat!"

Ketika berlari menyusuri koridor utama, mereka sudah mendengar langkah Nobunaga dari arah pintu masuk. Kakak-beradik itu menjatuhkan diri ke lantai.

"Ah! Sado dan Mimasaka. Kalian berdua baik-baik saja? Sebenarnya aku ingin berkuda ke Moriyama, tapi kuputuskan untuk mampir ke Nagoya dulu untuk minum teh. Ah, segala sembah sujud ini terlalu resmi. Lupakan formalitas. Cepat bawakan teh untukku." Sambil bicara ia bergegas melewati mereka, lalu duduk di pelataran, di ruang utama benteng yang sangat dikenalnya. Kemudian ia berpaling kepada para pengikut yang mengejarnya dengan napas tersengalsengal. "Panas sekali, ya? Betul-betul panas," katanya sambil mengipas-ngipas udara ke kerahnya yang terbuka.

Dalam waktu singkat teh telah disajikan, lalu kuekue, dan kemudian bantal-bantal—urutannya serbakacau, karena semua orang dibuat bingung oleh kunjungan tak terduga ini. Hayashi Sado dan adiknya segera menghadap dan menyembah, tanpa dapat mengabaikan kekalutan para pelayan, lalu mengundurkan diri dari hadapan junjungan mereka.

"Sekarang sudah siang. Dia pasti lapar. Kemungkinan besar dia akan segera memesan makanan. Pergi ke dapur dan suruh mereka menyiapkan sesuatu." Sementara Sado memberi perintah, Mimasaka menarik lengan bajunya dan berbisik, "Katsuie ingin bertemu."

Hayashi mengangguk dan membalas perlahanlahan, "Aku segera datang. Kau duluan saja."

Hari itu Shibata Katsuie telah lebih dulu tiba di Benteng Nagoya. Sebetulnya ia sudah hendak pergi setelah mengikuti pertemuan rahasia, tetapi kekacauan akibat kedatangan Nobunaga menghalanginya berangkat.

Terperangkap, ia, dengan tubuh gemetar, merangkak ke sebuah ruang rahasia. Sado dan Mimasaka menemuinya di sana, dan menarik napas lega.

"Ini betul-betul di luar dugaan! Mengejutkan sekali!" kata Sado.

"Beginilah ciri khasnya," balas Mimasaka. "Kita tak pernah tahu apa yang akan dilakukannya! Tak ada yang lebih buruk dari tingkah orang pandir!" Sambil melirik ke arah ruangan tempat Nobunaga sedang duduk, Shibata Katsuie berkata, "Mungkin karena itulah dia dapat mengecoh Saito Dosan, si musang tua itu."

"Mungkin saja," ujar Sado.

"Sado." Raut wajah Mimasaka tampak geram. Ia melihat berkeliling dan merendahkan suaranya, "Bukankah paling baik kalau kita melakukannya sekarang?"

"Apa maksudmu?"

"Dia hanya disertai lima atau enam pelayan!

Bukankah ini suatu anugerah dari dewa-dewa?" "Membunuhnya?"

"Tepat. Sementara dia makan, kita susupkan beberapa prajurit tangguh, dan pada waktu aku masuk untuk melayaninya, kuberi aba-aba, dan kita membunuhnya."

"Tapi bagaimana kalau kita gagal?" tanya Sado. "Bagaimana bisa gagal? Kita siapkan orang-orang di

pekarangan dan di semua koridor. Mungkin akan ada beberapa korban, tapi kalau kita menyerangnya dengan segenap kekuatan..."

"Bagaimana menurutmu, Sado?" Mimasaka bertanya dengan gelisah.

Hayashi Sado menundukkan kepala di bawah tatapan Katsuie dan Mimasaka. "Hmm, barangkali inilah kesempatan yang kita tunggu-tunggu."

"Jadi, kita sepakat?"

Sambil saling menatap, ketiga laki-laki itu hendak bangkit. Ketika itulah mereka mendengar suara langkah penuh semangat menyusuri koridor. Pada detik berikutnya, pintu geser membuka.

"Oh, kalian ada di sini. Hayashi! Mimasaka! Aku sudah selesai minum teh dan makan kue. Aku akan kembali ke Kiyosu sekarang."

Lutut ketiga orang itu terasa berat, dan mereka gemetar ketakutan. Tiba-tiba Nobunaga melihat Shibata Katsuie. "Hai! Kaukah itu, Katsuie?"

Nobunaga berkata sambil tersenyum di hadapan Katsuie yang langsung bersujud menyembahnya. "Waktu aku tiba, aku sempat melihat kuda yang persis kuda milikmu. Rupanya memang kudamu?"

"Ya... hamba kebetulan lewat, tapi tuanku lihat sendiri, hamba mengenakan pakaian sehari-hari. Karena itu hamba beranggapan bahwa hamba tidak pantas menghadap tuanku, dan menunggu di belakang sini."

"Bagus sekali, lucu sekali. Lihatlah diriku. Perhatikan betapa lusuhnya pakaianku."

"Maafkan hamba, tuanku."

Nobunaga menggelitik tengkuk Katsuie dengan kipasnya. "Dalam hubungan antara junjungan dan pengikut, rasanya kurang akrab kalau kita terlalu memikirkan penampilan atau diperbudak oleh sopan santun! Biar orang-orang istana dan di ibu kota saja yang memikirkannya. Bagi marga Oda, tata krama samurai pedesaan sudah memadai."

"Ya, tuanku." "Ada apa, Katsuie? Kau gemetar."

"Perasaan hamba lebih kacau lagi, karena hamba mungkin telah membuat tuanku tersinggung."

"Ha... ha... ha... ha! Aku memaafkanmu. Berdirilah. Jangan, tunggu, tunggu. Tali sepatuku terbuka. Tolong ikatkan, Katsuie, mumpung kau masih di bawah."

"Tentu, tuanku." "Sado."

"Tuanku?"

"Aku telah mengganggumu, bukan?" "Tentu saja tidak, tuanku."

"Bukan aku saja yang mungkin datang secara tak terduga, tapi juga tamu-tamu dari provinsi musuh. Waspadalah, kau yang bertanggung jawab!"

"Hamba tak pernah lengah, dari pagi sampai malam."

"Bagus. Aku patut bersyukur karena memiliki pengikut yang dapat diandalkan. Tapi ini bukan hanya untuk aku saja. Kalau kau membuat kesalahan, orangorang ini juga akan kehilangan kepala. Katsuie, kau sudah selesai?"

"Tali sepatu tuanku sudah terikat." "Terima kasih."

Nobunaga meninggalkan ketiga laki-laki yang masih bersujud itu. Ia menuju pintu masuk lewat jalan memutar dari koridor utama, lalu pergi.

Katsuie, Sado, dan Mimasaka saling tatap. Sesaat mereka tak sanggup bergerak. Namun, setelah tersadar, mereka terburu-buru mengejar Nobunaga dan sekali lagi bersujud di pintu masuk. Namun Nobunaga sudah tidak kelihatan. Para pengikutnya, yang selalu terlambat, berusaha agar tidak ketinggalan lagi. Tapi, dari para pelayan, hanya Ganmaku dan Tokichiro yang muncul di belakang, walaupun tak sanggup mengimbangi kecepatan junjungan mereka.

"Ganmaku?" "Hah?"

"Untung saja tidak terjadi apa-apa."

"Ya." Mereka bergegas mengikutinya, gembira karena melihat sosok junjungan mereka, jauh di depan. Seandainya terjadi sesuatu tadi, mereka telah bersepakat untuk memberitahu Benteng Kiyosu dengan isyarat asap dari menara isyarat, dan jika perlu, membunuh para penjaga.

Benteng Nazuka merupakan titik penting dalam pertahanan Nobunaga, dan berada di bawah pimpinan seorang saudaranya, Sakuma Daigaku. Suatu hari di awal musim semi, sebelum fajar, orangorang di benteng itu terjaga akibat kedatangan mendadak sejumlah prajurit. Mereka segera bangkit. Pasukan musuhkah? Bukan, orang-orang itu ternyata sekutu mereka.

Di tengah kabut, seorang prajurit berseru dari menara pengintai. "Orang-orang di Nagoya memberontak! Shibata Katsuie memimpin seribu orang, Hayashi Mimasaka lebih dari tujuh ratus!"

Benteng Nazuka kekurangan orang. Beberapa penunggang kuda diutus untuk menyampaikan laporan ke Kiyosu. Nobunaga masih tidur. Tapi ketika mendengar berita itu, ia segera mengenakan baju tempur, meraih tombak, dan berlari keluar tanpa dikawal seorang pengikut pun. Dan kemudian, di depan Nobunaga berdiri seorang prajurit biasa, menunggu dengan kuda di Gerbang Karabashi.

"Ini kuda tuanku," ia berkata sambil menyerahkan tali kekang kepada Nobunaga.

Raut wajah Nobunaga tampak lain dari biasanya, seakan-akan terkejut karena didahului seseorang. "Siapakah kau?" tanyanya.

Sambil melepaskan helm, prajurit itu hendak berlutut. Nobunaga sudah duduk di pelana. "Tidak perlu. Siapakah kau?"

"Pembawa sandal tuanku, Tokichiro."

"Monyet?" Sekali lagi Nobunaga terheran-heran. Mengapa justru pembawa sandal ini, yang sebenarnya bertugas di pekarangan, orang pertama yang siap bertempur? Perlengkapannya sederhana, namun ia memakai pelindung dada, pelindung tulang kering, dan sebuah helm. Nobunaga gembira sekali melihat penampilan Tokichiro.

"Kau siap bertempur?"

"Hamba menunggu perintah tuanku." "Baiklah! Ikuti aku!"

Nobunaga dan Tokichiro baru menembus kabut pagi yang sedang menipis sejauh dua atau tiga ratus meter ketika mereka mendengar gemuruh dua puluh, tiga puluh, lalu lima puluh penunggang kuda, diikuti empat ratus atau lima ratus prajurit infanteri yang mengubah kabut menjadi hitam.

Orang-orang di Nazuka telah bertempur dengan gagah berani. Nobunaga, seorang diri, menerjang barisan musuh.

"Siapa yang berani menentangku? Aku di sini, Sado, Mimasaka, Katsuie! Berapa orang yang kalian lawan? Mengapa kalian memberontak terhadapku? Keluar dan bertempurlah, satu lawan satu!" Suaranya yang menggelegar penuh amarah meredam teriakan para pemberontak. "Pengkhianat semuanya! Aku akan menghukum kalian! Melarikan diri juga perbuatan membangkang!"

Mimasaka begitu ketakutan, sehingga lari menyelamatkan diri. Suara Nobunaga mengikutinya bagaikan gemuruh. Ternyata orang-orang yang diandalkan Mimasaka pun masih menganggap Nobunaga sebagai junjungan mereka. Ketika Nobunaga masuk ke tengah-tengah barisan dan berbicara dengan mereka, orang-orang itu tak sanggup mengarahkan tombak kepadanya.

"Tunggu! Pengkhianat!" Nobunaga menyusul Mimasaka yang tengah berusaha melarikan diri dan menghabisinya dengan tombak. Sambil menghilangkan darah yang menempel, ia berpaling pada anak buah Mimasaka dan menyatakan, "Walaupun dia memberontak terhadap junjungannya, dia takkan pernah menjadi penguasa provinsi. Daripada diperalat oleh komplotan pengkhianat dan membawa aib bagi anak-cucu kalian, lebih baik kalian minta ampun sekarang juga. Bertobatlah!"

Ketika mendengar bahwa sayap kiri pasukan pemberontak kocar-kacir dan Mimasaka tewas, Katsuie mencari perlindungan di Benteng Suemori bersama ibu dan adik Nobunaga.

Ibu Nobunaga menangis dan menggigil ketika diberitahu bahwa pasukan mereka mengalami kekalahan. Nobuyuki gemetaran. Katsuie, sang jendral pasukan pemberontak yang ditaklukkan, berkata, "Sebaiknya kutinggalkan kehidupan duniawi." Ia mencukur kepala, melepaskan baju tempur, dan memakai jubah biksu Buddha. Keesokan harinya, bersama Hayashi Sado dan Nobuyuki serta ibunya, ia pergi ke Kiyosu untuk memohon ampun atas kejahatannya.

Permintaan maaf ibu Nobunaga sangat mengena. Setelah memperoleh pengarahan dari Sado dan Katsuie, ia memohon agar ketiga laki-laki itu dibiarkan hidup. Berlawanan dengan dugaan mereka, Nobunaga tidak marah. "Kumaafkan mereka," ia berkata pada ibunya, dan kepada Katsuie yang bermandikan keringat ia bertanya, "Biksu, mengapa kaucukur kepalamu? Mengapa kau begitu bingung?" Ia menampilkan senyum dibuat-buat dan berkata tajam pada Hayashi, "Kau juga. Ini tak pantas bagi orang seusiamu. Setelah kematian Hirate Nakatsukasa, aku mengandalkanmu sebagai tangan kananku. Aku menyesal telah menyebabkan kematian Nakatsukasa." Kedua mata Nobunaga berkaca-kaca, dan sesaat ia terdiam. "Tidak, tidak. Akulah yang menyebabkan Nakatsukasa bunuh diri dan kalian berkhianat. Mulai sekarang, aku akan mempertimbangkan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dan kalian akan mengabdi padaku, dengan sepenuh hati. Kalau tidak, percuma saja menjadi pejuang. Mana yang lebih patut bagi seorang samurai, mengabdi pada junjungannya, atau menjadi ronin tak bertuan?"

Mata Hayashi Sado terbuka. Ia melihat seperti apa Nobunaga sesungguhnya, dan akhirnya memahami bakat alamnya. Ia mengucapkan janji kesetiaan dengan tulus, dan mundur dari hadapan Nobunaga, tanpa mengangkat kepala.

Namun rupanya adik Nobunaga sendiri tidak memahami semuanya ini. Nobuyuki memandang rendah kemurahan hati Nobunaga dan berpikir, "Kakakku yang bengis tak bisa berbuat apa-apa karena ibuku ada di sini."

Buta, dan terlindung oleh kasih sayang seorang ibu, Nobuyuki terus berkomplot. Nobunaga menyesalkan dan berkata dalam hati, "Sesungguhnya aku rela menutup mata terhadap kelakuan Nobuyuki. Tapi karena dia, banyak pengikutku mungkin membangkang dan khilaf dalam tugas mereka sebagai samurai. Walaupun dia adikku, dia harus mati demi kebaikan marga." Setelah menemukan dalih, Nobunaga menangkap Nobuyuki dan menghabisinya.

Sejak itu tak ada lagi yang menganggap Nobunaga orang pandir. Bahkan sebaliknya, semua orang meringkuk ketakutan karena kecerdasan dan ketajaman matanya.

"Obatnya agak terlalu mujarab," Nobunaga terkadang berkomentar sambil tersenyum tajam. Namun Nobunaga telah mengambil langkah-langkah persiapan. Sesungguhnya ia tidak bermaksud mengelabui para pengikut dan sanak saudaranya dengan memainkan peran si pandir. Namun, sejak kematian ayahnya, ia dibebani tanggung jawab untuk melindungi provinsi dari musuh-musuh di semua penjuru. Ia memilih penyamarannya karena alasan keamanan. Ia terpaksa mengecoh para pengikut dan sanak saudara untuk mengelabui musuh-musuhnya dan mata-mata mereka. Tapi selama itu Nobunaga terus menambah pengalaman dengan mengamati keadaan sekitarnya.

Seandainya ia sejak semula menampilkan diri sebagai penguasa yang baik, musuh-musuhnya akan memperoleh kesempatan untuk menyusun strategi baru.

***

Si kepala pelayan, Fujii Mataemon, menyerbu masuk dan memanggil-manggil Tokichiro yang sedang beristirahat di dalam pondok. "Monyet, cepat."

"Ada apa?"

"Kau disuruh menghadap." "Hah?"

"Tuan Nobunaga tiba-tiba menanyakanmu dan menyuruhku membawamu ke sana. Kau melakukan kesalahan?"

"Tidak."

"Pokoknya cepat ke sana," Fujii mendesaknya, lalu bergegas ke arah tak terduga. Ada sesuatu yang mengusik pikiran Nobunaga ketika ia memeriksa gudang-gudang, ruang-ruang dapur, serta tempattempat penyimpanan kayu bakar dan arang pada hari itu.

"Hamba membawanya serta." Fujii bersujud ketika majikannya berjalan melewatinya. Nobunaga berhenti. "Ah, kau membawanya ke sini?" Matanya tertuju

pada Tokichiro yang menunggu di belakang Fujii. "Monyet, majulah!"

"Tuanku?"

"Mulai hari ini kutempatkan kau di dapur." "Terima kasih banyak, tuanku."

"Walau di sana bukan tempat kau bisa menonjolkan diri dengan tombak, dapur merupakan bagian yang sangat penting dari pertahanan kita. Aku sadar bahwa kau tak perlu diberitahu, tapi bekerjalah dengan tekun."

Pangkat dan gaji Tokichiro segera dinaikkan. Sebagai petugas dapur, ia tidak lagi tergolong pelayan. Namun pemindahan ke dapur dianggap memalukan bagi seorang samurai, dan dipandang sebagai penurunan martabat. "Dia berakhir di dapur." Tugas dapur dianggap hina oleh para prajurit, semacam tempat buangan bagi orang-orang tanpa kemampuan.

Bahkan para pembantu rumah tangga yang lain serta para pelayan samurai pun memandang rendah terhadap penugasan di dapur, sementara bagi para samurai muda, tempat itu tidak menyimpan kesempatan atau harapan untuk maju. Mataemon bersimpati pada Tokichiro dan menghiburnya.

"Monyet, kau dipindahkan ke tempat tugas yang kurang penting, dan aku bisa membayangkan bahwa kau tidak puas. Tapi upahmu telah naik, bukankah itu berarti kau sudah maju sedikit? Sebagai pembawa sandal, meski kedudukanmu rendah, terkadang kau bekerja di depan kuda junjungan kita, dan masih ada harapan untuk naik pangkat. Di pihak lain, kau mungkin harus merelakan nyawamu. Kalau kau di dapur, kau tidak perlu cemas mengenai hal-hal seperti itu. Tak mungkin kau menjual sapi namun tetap mengharapkan susunya."

Tokichiro mengangguk dan menjawab, "Ya, ya." Tapi dalam hati ia tidak kecewa sama sekali. Justru sebaliknya, ia gembira sekali karena kenaikan pangkat di luar dugaan ini. Ketika mulai bekerja di dapur, halhal pertama yang diamatinya adalah suasana suram, lembap, dan jorok, serta orang-orang menyedihkan yang menyiapkan makanan, yang tak pernah melihat matahari bahkan di siang hari bolong, dan si kepala juru masak yang sudah tua, yang telah bekerja bertahun-tahun tanpa istirahat di tengah-tengah bau air rebusan rumput laut.

Ini tak bisa dibiarkan, pikir Tokichiro. Ia tidak tahan berada di tempat-tempat muram. Bagaimana kalau dibuat jendela besar di dinding sebelah sana, agar udara dan cahaya bisa masuk? Ia bertanya dalam hati. Namun bagian dapur pun memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri, dan karena orang yang bertanggung jawab sudah tua, segala sesuatu menjadi masalah.

Tokichiro diam-diam memastikan seberapa banyak persediaan ikan asin telah busuk, serta memeriksa bahan makanan yang setiap hari diantar oleh para pemasok. Tak lama setelah Tokichiro ditugaskan di dapur, pedagang-pedagang itu sudah merasa lebih senang.

"Entah kenapa, kalau hamba tidak dibentak-bentak terus, hamba merasa wajib membawa barang-barang yang lebih bermutu dan menurunkan harga," salah seorang saudagar berkata.

"Jika berhadapan dengan Tuan Kinoshita, seorang pedagang jadi merasa malu sendiri. Tuan mengetahui harga sayur-mayur, ikan asin, dan beras! Tuan juga jeli dalam menilai barang-barang. Kami gembira karena Tuan dapat menumpuk persediaan barang dengan harga begitu rendah."

Tokichiro tertawa dan berkata, "Omong kosong, aku bukan pedagang, jadi ini bukan masalah kepandaian berdagang. Aku tidak bermaksud mencari keuntungan. Masalah sesungguhnya, bahan pangan yang kalian antarkan dipakai untuk menyiapkan makanan anak buah tuanku. Hidup seseorang tergantung pada apa yang dimakannya. Jadi, kelangsungan hidup benteng ini amat tergantung pada makanan yang disiapkan di dapur. Tujuan pengabdian kita adalah menyajikan yang terbaik untuk mereka." Sesekali ia mengajak para pemasok minum teh bersamanya, dan ketika mereka mulai santai, ia akan menjelaskan berbagai hal pada mereka.

"Kalian pedagang, jadi setiap mengantarkan barang ke benteng, kalian langsung memikirkan keuntungan yang akan kalian peroleh. Rasanya tak mungkin kalian merugi, tapi bayangkan apa yang akan terjadi seandainya benteng ini jatuh ke tangan provinsi musuh? Bukankah kalian akan kehilangan tagihan selama bertahun-tahun, baik pokok maupun bunganya? Dan jika benteng ini diambil alih oleh jendral dari provinsi lain, posisi kalian pun akan digantikan oleh para saudagar yang datang bersamanya. Jadi, kalau kalian menganggap marga tuanku sebagai akar, kita, sebagai dahan-dahannya, akan tetap sejahtera. Bukankah ini cara terbaik untuk memandang masalah keuntungan? Karena itu, keuntungan jangka pendek yang kalian peroleh dari barang-barang yang kalian antarkan, tidak sejalan dengan kepentingan jangka panjang."

Tokichiro juga bersikap bijaksana terhadap si kepala juru masak. Ia selalu minta pendapat orang tua itu, biarpun masalahnya sudah jelas. Ia patuh kepadanya, walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Tetapi di antara rekan-rekannya ada juga yang menyebarkan fltnah keji dan ingin menyingkirkannya.

"Dia sok sibuk."

"Dia selalu ikut campur." "Dasar monyet merepotkan."

Sepak terjang Tokichiro mengundang kejengkelan orang lain, namun ia menghadapi gosip seperti itu dengan sikap tak peduli. Rencana renovasi dapur yang disusunnya disetujui oleh si kepala juru masak maupun oleh Nobunaga. Ia menyuruh tukang kayu membuat lubang angin di langit-langit dan melubangi dinding untuk memasang jendela besar. Pagi dan sore, sinar matahari membanjiri dapur Benteng Kiyosu yang selama puluhan tahun begitu gelap, sehingga makanan harus dimasak dengan bantuan cahaya lilin, bahkan di siang hari, dan bau pengap pun hilang terbawa embusan angin sejuk.

Tokichiro sudah siap menghadapi komentarkomentar bernada sumbang.

"Makanan cepat busuk." "Debunya kelihatan jelas."

Tokichiro tidak menanggapi keluhan-keluhan itu. Setelah itu, tempatnya menjadi bersih. Jika orang dapat melihat sampah, mereka akan berusaha menguranginya. Setahun kemudian, dapur telah menjadi tempat yang cerah dan terbuka dengan suasana sibuk, persis seperti wataknya sendiri.

Pada musim dingin itu, Murai Nagato, yang sampai saat itu bertugas sebagai pengawas arang dan kayu bakar, diberhentikan, dan Tokichiro ditunjuk sebagai penggantinya. Mengapa Nagato dipecat? Dan mengapa justru Tokichiro yang diangkat menjadi pengawas arang dan kayu bakar?

Tokichiro merenungkan kedua pertanyaan itu pada saat menerima penugasan dari Nobunaga. Aha! Tuan Nobunaga ingin lebih menghemat arang dan kayu bakar. Ya, begitulah perintahnya tahun lalu, namun rupanya langkah penghematan yang diambil Murai Nagato tidak berkenan di hatinya.

Tugas barunya membawa Tokichiro ke setiap sudut pekarangan benteng, ke semua tempat arang dan kayu bakar digunakan—di ruang-ruang kerja, pondokpondok istirahat, ruang-ruang pendamping, di dalam dan di luar, di mana saja orang menyalakan api di musim dingin. Terutama di tempat para pelayan dan barak-barak para samurai muda, tumpukan arang tampak membukit, suatu bukti pengeluaran yang tidak perlu.

"Tuan Kinoshita datang! Tuan Kinoshita ada di sini!"

"Siapa Kinoshita ini?"

"Tuan Kinoshita Tokichiro, yang diangkat sebagai pengawas arang dan kayu bakar. Dia sedang berkeliling sambil memasang tampang geram."

"Ah, monyet itu?" "Mana abunya?"

Terburu-buru para samurai muda menimbun arang yang sedang merah membara dengan abu, dan mengembalikan arang yang masih hitam ke tempatnya. Mereka tampak puas dengan hasil usaha mereka.

"Semuanya ada di sini?" Ketika Tokichiro masuk, ia berjalan melewati orang-orang yang menggerombol, lalu menghangatkan tangannya di atas tungku. "Diriku yang tak berguna ini diperintahkan mengawasi persediaan arang dan kayu bakar. Aku akan berterima kasih sekali jika kalian bersedia membantu."

Para samurai muda bertukar pandang dengan gelisah. Tokichiro meraih jepitan besar yang ditempatkan di tungku.

"Udara tahun ini dingin sekali, bukan? Menimbun arang yang sedang membara seperti ini... percuma saja kalau hanya jemari kalian yang hangat." Dicongkelnya arang merah. "Jangan terlalu irit kalau membakar arang. Aku tahu jumlah arang yang boleh dipakai setiap harinya telah ditetapkan, tapi rasanya tidak pada tempatnya kalau kita terlalu kikir. Jangan ragu-ragu membakar arang. Ambillah sebanyak yang kalian perlukan dari gudang."

Ia mendatangi barak-barak para prajurit biasa dan para pelayan samurai. Semuanya dipersilakan memakai arang sesuai kebutuhan. Padahal sebelumnya orang-orang itu didesak-desak untuk berhemat!

"Dia amat bermurah hati sejak menempati posisinya yang baru, bukan? Barangkali Tuan Kinoshita menjadi besar kepala karena kenaikan pangkat yang tiba-tiba ini. Tapi kalau kita terlalu mengikuti anjurannya, janganjangan justru kita yang akan dimarahi habishabisan."

Setelah dipersilakan memakai arang sebanyakbanyaknya, para pengikut malah menetapkan batasbatas sendiri.

Biaya tahunan untuk arang dan kayu bakar di Benteng Kiyosu melebihi seribu gantang padi. Setiap tahun banyak sekali pohon ditebang dan diubah menjadi abu. Selama dua tahun masa jabatan Murai Nagato, tidak ada penghematan sama sekali. Justru sebaliknya, biayanya semakin meningkat.

Dan yang paling parah, seruannya untuk berhemat malah mengusik dan mengganggu ketentraman para pengikut. Langkah pertama Tokichiro adalah membebaskan para pengikut dari tekanan ini. Kemudian ia menghadap Nobunaga dan menyampaikan usul sebagai berikut: "Di musim dingin, para samurai muda, para prajurit biasa, dan para pelayan menghabiskan hari-hari mereka di dalam ruangan sambil makan, minum, dan bersenda gurau. Sebelum menyuruh mereka menghemat arang dan kayu bakar, dengan segala kerendahan hati hamba mengusulkan agar tuanku lebih dulu mengambil tindakan untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk ini."

Nobunaga segera memberikan perintah kepada para pengikut seniornya. Mereka mengumpulkan kepala pelayan dan para komandan pasukan infanteri dan membahas kewajiban para pengikut di masa damai: perbaikan perlengkapan tempur, kuliah, meditasi Zen, dan perjalanan inspeksi mengelilingi provinsi. Kemudian, yang paling penting, latihan militer dengan senjata api dan tombak, pekerjaan perbaikan benteng, dan untuk para pelayan, jika mereka mempunyai waktu, pemasangan tapal kuda. Tujuannya? Agar mereka tidak bersantai-santai. Bagi seorang komandan militer, para samurainya sama pentingnya seperti anak-anaknya sendiri. Ikatan antara junjungan dan pengikut yang telah bersumpah setia sama kuatnya seperti ikatan darah antara sanak saudara.

Di hari pertempuran, orang-orang itulah yang akan mengorbankan nyawa mereka di depan matanya. Jika ia tidak menyayangi mereka, atau jika kasih sayang dan kebajikan itu tidak dirasakan, takkan ada prajurit gagah berani yang rela mati untuknya. Karena itu, mudah sekali bagi seorang pemimpin untuk bersikap terlalu baik hati di masa damai.

Nobunaga menjalankan jadwal kegiatan harian dengan ketat, sehingga tidak tersisa waktu luang untuk para pengikutnya. Selain itu, ia juga memerintahkan agar para pelayan wanita yang menangani pekerjaan rumah tangga menjalani latihan di mana mereka berpura-pura terkurung dalam benteng yang sedang dikepung pasukan musuh. Dengan demikian, seisi benteng tidak mempunyai kesempatan untuk bersantai. Ini tentu saja juga berlaku untuk dirinya sendiri. Kalau Tokichiro berada di sekitarnya, wajahnya menjadi cerah.

"Monyet, bagaimana perkembangannya?"

"Baik. Perintah tuanku sudah mulai menunjukkan hasil, tapi masih banyak yang harus dikerjakan."

"Belum cukup juga?"

"Masih banyak yang harus dibenahi." "Apa yang masih kurang?"

"Cara hidup di benteng masih harus diperkenalkan kepada para warga kota."

"Hmm, betul juga." Nobunaga mendengarkan Tokichiro. Para pengikutnya selalu memperhatikannya dengan tampang masam dan tidak setuju. Sedikit sekali ada orang seperti Tokichiro, yang dalam waktu begitu singkat memperoleh kenaikan status demikian pesat, mulai dari tinggal di barak pelayan sampai diperkenankan duduk di depan Nobunaga, dan lebih sedikit lagi orang yang bisa menghadap sang Penguasa untuk menyampaikan saran.

Tak mengherankan kalau mereka mengerutkan kening, seakan-akan perbuatan Tokichiro telah melewati batas. Namun yang jelas, pemakaian arang dan kayu bakar, yang tahun lalu mencapai lebih dari seribu gantang padi, telah berkurang banyak pada pertengahan musim dingin.

Karena para pengikut tidak memiliki waktu luang, mereka tidak bersantai-santai di depan tungku, mengambur-hamburkan arang. Kalaupun ada sedikit waktu kosong, orang-orang tidak memerlukan api untuk menghangatkan badan, karena mereka bergerak terus dan melatih otot-otot tanpa henti, sehingga bahan bakar hanya digunakan untuk memasak. Bahan bakar yang semula habis dipakai dalam tiga puluh hari, kini cukup untuk tiga bulan.

Meski demikian, Tokichiro belum puas dengan hasil yang dicapainya.

Kontrak-kontrak pengadaan arang dan kayu bakar diberikan pada musim panas tahun berikutnya. Bersama kelompok pemasok, ia berangkat untuk mengadakan peninjauan tahunan yang sampai saat ini hanya menjadi formalitas belaka. Kegiatan para pejabat yang menanganinya terbatas pada bertanya berapa jenis pohon ek yang terdapat di bukit ini, dan berapa di bukit itu. Diantar oleh para pemasok, Tokichiro mencatat segala sesuatu yang dilihatnya dengan teliti. Ia yakin bahwa ia dapat memahami keadaan di desa-desa dan kota-kota, namun, karena kurang pengalaman, ia tak dapat memastikan berapa jumlah bahan bakar yang mungkin diperoleh dari satu bukit, menebaknya pun ia tak sanggup. Dan ia harus mengakui bahwa seluk-beluk pembelian arang dan kayu bakar berada di luar jangkauannya.

Sama seperti para pejabat sebelumnya, ia mengikuti acara peninjauan sambil bergumam, "Hmm, hmm. Begitukah? Ya, ya." Sesuai kebiasaan, seusai peninjauan para pemasok mengundang sang pejabat untuk menghadiri jamuan makan malam di rumah tokoh masyarakat setempat. Sebagian besar waktu dihabiskan dengan berbasa-basi.

"Terima kasih atas kesediaan Tuan mengunjungi tempat terpencil ini."

"Tak banyak yang dapat kami sajikan, tapi harapan kami, Tuan merasa seperti di rumah sendiri."

"Semoga di masa mendatang kami tetap berkenan di hati Tuan."

Satu per satu mereka menyanjung Tokichiro. Tentu saja sake-nya disajikan oleh gadis-gadis cantik. Mereka terus berada di sisinya, membilas cawannya, mengisinya kembali, dan menawarkan aneka hidangan lezat. Setiap permintaan Tokichiro langsung dipenuhi. "Ah, sake ini lezat sekali," katanya. Ia sedang bergembira, tak ada alasan untuk bersikap lain. Minyak wangi yang dipakai gadis-gadis itu seakan-akan mengusap hidungnya dengan lembut. "Mereka cantik-

cantik," ia berkata. "Semuanya."

"Yang Mulia suka perempuan?" salah seorang pemasok bertanya dengan riang.

Tokichiro membalas dengan nada serius, "Aku suka perempuan dan sake. Segala sesuatu di dunia itu baik. Tapi kalau kita tidak hati-hati, hal-hal yang paling baik pun bisa berbalik dan mencelakakan kita."

"Silakan nikmati sake, dan juga kembang-kembang muda itu."

"Terima kasih. Ehm, karena kalian sepertinya canggung untuk membicarakan bisnis, biar aku saja yang mengawalinya. Tolong tunjukkan daftar pohon bukit yang kita datangi tadi!" Mereka segera membawanya untuk diperiksa oleh Tokichiro. "Ah, mendetail sekali," ia berkomentar. "Apakah ada perbedaan dalam jumlah pohon?"

"Tidak ada," mereka meyakinkannya.

"Di sini tertulis bahwa delapan ratus gantang telah diantarkan ke benteng. Mungkinkah sedemikian banyak arang dan kayu bakar berasal dari bukit sekecil itu?"

"Pembelian tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Ya, semuanya berasal dari bukit yang kita tinjau tadi."

Keesokan paginya, ketika para pedagang hendak menghadap, mereka diberitahu bahwa Tokichiro telah berangkat ke bukit sebelum fajar. Langsung saja mereka menyusul ke sana. Mereka menemukannya sedang mengawasi sekelompok prajurit, petani setempat, dan penebang pohon. Semuanya membawa potongan-potongan tali, masing-masing sepanjang satu meter.

Mereka mengikat satu potongan tali ke setiap pohon. Karena mereka mengetahui jumlah potongan tali, pada waktu mereka selesai dan mengadakan penghitungan, mereka dapat menentukan jumlah pohon di bukit itu.

Ketika membandingkan jumlah pohon dengan angka yang tertulis dalam daftar, Tokichiro mendapatkan perbedaan mencolok.

Ia duduk di sebuah tunggul pohon. "Panggil para pemasok ke sini," ia berkata pada salah seorang anak buahnya.

Para pedagang bahan bakar bersujud di hadapannya. Jantung mereka berdebar-debar karena membayangkan apa yang akan terjadi. Tak peduli berapa kali diadakan peninjauan, jumlah pohon di atas bukit bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat ditentukan oleh seorang amatir, dan sampai saat ini, para pengawas persediaan bahan bakar selalu mempercayai angka yang tertera dalam daftar. Kini para pemasok berhadapan dengan seorang pejabat yang tak dapat dikelabui.

"Bukankah angka di daftar ini berbeda sekali dengan jumlah pohon sesungguhnya?"

Mereka menjawab ya, tapi dengan ragu-ragu dan penuh ketakutan.

"Apa maksud kalian, 'ya'? Kenapa bisa begitu? Kalian lupa betapa lama Yang Mulia telah menjadi pelanggan kalian? Kalian penuh kepalsuan dan tidak menunjukkan rasa terima kasih. Hanya keuntungan semata-mata yang kalian pikirkan. Kebohongan kalian jelas-jelas tertulis di sini."

"Rasanya tuduhan Yang Mulia agak berlebihan, bukan?"

"Angka-angkanya berbeda. Aku ingin tahu kenapa. Berdasarkan daftar ini, hanya enam puluh atau tujuh puluh gantang dari setiap seratus yang dipesan— artinya, hanya enam ratus atau tujuh ratus dari setiap seribu—yang betul-betul diantarkan ke gudang."

"Tidak, ehm, yah, kalau dilihat begitu..." "Diam! Tak ada alasan bagi orang-orang yang memasok bahan bakar dari bukit ini untuk melakukan penipuan besar seperti ini selama bertahun-tahun. Jika dugaanku betul, kalian telah menipu para pejabat dan menggelapkan uang provinsi."

"Kami... kami tidak tahu harus berkata apa." "Seharusnya kalian diadili karena perbuatan kalian,

dan seluruh harta kalian disita. Namun para pejabat terdahulu pun ikut bersalah. Karena itu, untuk kali ini kalian takkan dituntut... tapi dengan syarat sebagai berikut: kalian harus mencantumkan jumlah pohon yang sesungguhnya. Dan awas saja kalau angka yang kalian ajukan secara tertulis menyimpang dari kenyataan. Jelas?"

"Ya, Yang Mulia." "Ada satu syarat lagi." "Yang Mulia?"

"Ada pepatah lama: 'Jika satu pohon kautebang, tanamlah sepuluh.' Berdasarkan yang sejak kemarin kulihat di bukit-bukit ini, pohon-pohon ditebang setiap tahun, tapi hampir tak ada yang ditanam. Kalau ini berlanjut terus, akan terjadi banjir, dan sawahsawah serta ladang-ladang di kaki bukit-bukit ini akan hancur. Seluruh provinsi akan menjadi lemah, dan jika itu sampai terjadi, kalianlah yang akan menderita akibatnya. Kalau kalian benar-benar ingin mendapatkan keuntungan, kalau kalian mengharapkan kemakmuran sejati bagi keluarga kalian dan menginginkan kebahagiaan bagi anak-cucu kalian, bukankah hal pertama yang harus kalian pikirkan adalah bagaimana membuat provinsi lebih kuat?"

"Ya," mereka sependapat.

"Sebagai denda dan hukuman atas keserakahan kalian, mulai sekarang kalian harus menanam lima ribu bibit untuk setiap seribu pohon yang kalian tebang. Camkan perintah ini! Kalian setuju?"

"Kami berutang budi pada Yang Mulia. Kami bersumpah untuk menanam bibit pohon sebanyak itu."

"Kalau begitu, aku akan menaikkan pembayaran untuk kalian sebanyak lima persen."

Beberapa saat kemudian, ia memberitahu para petani yang membantunya bahwa ia telah memerintahkan para pemasok bahan bakar untuk mengadakan penghijauan. Upah yang akan diterima para petani untuk menanam seratus bibit masih harus ditentukan, tapi kemungkinan besar biayanya akan ditanggung oleh benteng. Setelah menjelaskan hal itu, ia berkata, "Mari kita kembali."

Para pemasok merasa lega karena sikap yang diambil Tokichiro. Ketika menuruni bukit, mereka saling berbisik, "Ini betul-betul di luar dugaan. Kalau berurusan dengan orang itu, sedetik pun kita tak boleh lengah."

"Dia sangat cerdik."

"Walaupun kita takkan mendulang uang seperti dulu, kita juga tidak akan rugi."

Begitu sampai di kaki bukit, para pemasok ingin segera kembali ke rumah masing-masing, tapi Tokichiro hendak membalas jamuan mereka semalam. "Urusan kita sudah tuntas. Sekarang kita bisa bersantai bersama-sama," ia berkeras.

Ia menjamu mereka di sebuah kedai minum setempat, dan minum sake sampai kepalanya terasa ringan.

***

Tokichiro bahagia. Seorang diri, tapi bahagia. "Monyet!" ujar Nobunaga—kadang-kadang ia masih

memanggil dengan julukan itu— "Sejak kau ditempatkan di dapur, kau sudah menghemat banyak. Tapi kemampuanmu akan tersia-sia di tempat seperti itu. Aku akan memindahkanmu ke kandang."

Dalam kedudukannya yang baru, Tokichiro berhak atas upah sebesar tiga puluh kan. Ia pun memperoleh rumah di bagian kota yang khusus disediakan untuk para samurai. Anugerah ini membawa senyum ke wajah Tokichiro. Salah satu yang pertama-tama dilakukannya adalah mengunjungi bekas rekan kerjanya, Ganmaku.

"Kau ada waktu sekarang?" ia bertanya. "Kenapa?"

"Aku ingin pergi ke kota dan mentraktirmu minum sake?"

"Ehm, entahlah." "Ada apa?" "Kau sudah diangkat menjadi pengurus dapur. Aku tetap saja pembawa sandal. Tidak sepantasnya aku pergi minum-minum bersamamu."

"Jangan macam-macam. Jika aku berpandangan seperti itu, aku takkan datang ke sini untuk mengajakmu. Jabatan pengurus dapur terlalu tinggi untukku, tapi sekarang aku dipindahkan ke kandang, dengan upah tiga puluh kan."

"Wah!"

"Aku datang ke sini karena kau pengikut setia Yang Mulia, walaupun kau hanya pembawa sandal. Aku ingin kau ikut merasakan kebahagiaanku."

"Ini memang kesempatan yang pantas dirayakan.

Tapi, Tokichiro, kau lebih jujur daripada aku." "Hah?"

"Sikapmu sangat terbuka padaku, tanpa menyembunyikan apa-apa, sementara aku merahasiakan banyak hal darimu. Sesungguhnya aku sering menjalankan tugas khusus, seperti yang waktu itu kautanyakan. Untuk setiap tugas, aku menerima bonus besar langsung dari tangan Yang Mulia. Uangku selalu dikirim ke rumahku."

"Kau punya rumah?"

"Jika kau pergi ke Tsugemura di Omi, kau akan menemukan bahwa aku memiliki keluarga dan sekitar dua puluh pelayan."

"Ah, begitu?"

"Jadi, tidak sepantasnya aku membiarkanmu menjamuku. Tapi, kalau kita berdua terus menanjak, bersama-sama, kita berdua akan menjamu dan dijamu."

"Aku tidak menyadarinya."

"Nasib kita berada di masa depan—begitulah pandanganku."

"Kau benar, nasib kita berada di masa depan." "Lebih baik kita memikirkan masa yang akan

datang."

Tokichiro semakin bahagia. Dunia tampak cerah. Di matanya tak ada yang terselubung kegelapan maupun bayang-bayang.

Dalam posisinya yang baru, Tokichiro hanya memperoleh tiga puluh kan, tapi ia merasa gembira karena jumlah yang tak seberapa itu merupakan penghargaan untuk pengabdiannya selama dua tahun. Pengeluaran tahunan untuk bahan bakar telah berkurang lebih dari setengah, namun bukan imbalannya saja yang membuatnya senang. Ia juga memperoleh pujian:

"Kau telah bekerja dengan baik. Orang seperti kau di tempat seperti itu adalah sia-sia." Dipuji seperti ini oleh Nobunaga merupakan kebahagiaan yang takkan pernah dilupakannya. Nobunaga seorang pemimpin, dan ia tahu bagaimana harus berbicara dengan anak buahnya. Kegirangan Tokichiro seakan-akan tanpa batas. Orang lain mungkin menganggapnya kurang waras ketika ia, seorang diri dan sambil tersenyumsenyum, sesekali memperlihatkan lesung pipi, meninggalkan benteng dan berjalan-jalan keliling Kiyosu.

Pada hari ia berganti tugas, ia diberi cuti lima hari. Ia akan mengurus perlengkapan rumah tangga, mencari seorang pengurus rumah, dan mungkin seorang pelayan, meski ia menduga bahwa rumah yang diterimanya berada di sebuah jalan belakang, memiliki pintu gerbang yang tidak mencolok, dikelilingi pagar tanaman dan bukannya tembok, dan hanya terdiri atas lima kamar. Ini pertama kalinya ia menjadi tuan di rumahnya sendiri. Ia berganti arah untuk mengamatinya. Lingkungan sekitarnya hanya dihuni oleh orang-orang yang bekerja di kandang. Ia menemukan rumah si pemimpin kelompok, dan melakukan kunjungan kehormatan. Namun orang itu sedang keluar, jadi ia berbicara dengan istrinya.

"Tuan belum menikah?" wanita itu bertanya. Tokichiro membenarkannya.

"Hmm, ini agak merepotkan Tuan. Di sini ada beberapa pelayan dan sejumlah perabot tak terpakai. Bagaimana kalau Tuan mengambil apa saja yang Tuan butuhkan?"

Dia murah hati, pikir Tokichiro ketika keluar lewat pintu gerbang.

Wanita itu ikut keluar dan memanggil dua pelayannya.

"Ini Tuan Kinoshita Tokichiro yang baru saja ditugaskan di kandang. Sebentar lagi dia akan pindah ke rumah kosong dengan tanaman paulownia. Antar dia ke sana, dan kalau kalian ada waktu, bersihkan rumahnya sekalian."

Diantar oleh kedua pelayan itu, Tokichiro pergi melihat rumah dinasnya.

Rumahnya ternyata lebih besar dari yang dibayangkannya. Ketika berdiri di muka gerbang depan, ia bergumam, "Hmm, ini rumah bagus."

Setelah mencari keterangan, ia diberitahu bahwa penghuni sebelumnya bernama Komori Shikibu. Rumahnya sudah agak lama kosong, dan banyak yang perlu diperbaiki, namun di mata Tokichiro rumah itu lebih menyerupai tempat kediaman yang mewah.

"Kebetulan sekali ada tanaman paulownia di sini, sebab kembang itu sudah merupakan lambang keluarga Kinoshita sejak zaman para leluhur kami," Tokichiro berkata kepada yang menyertainya. Ia tidak yakin apakah itu benar, tapi kedengarannya cocok. Ia merasa pernah melihat lambang seperti itu pada pelindung dada ayahnya.

Jika suasana hatinya sedang riang seperti sekarang, ia selalu bersikap hangat terhadap orang-orang di sekitarnya, dan jika tak ada urusan mendesak, tak ada keharusan untuk berkepala dingin, ia sering terbawa perasaan dan cenderung banyak omong. Akan tetapi, setelah ucapan-ucapannya meluncur dari mulut, ia menegur diri sendiri karena telah bersikap kurang bijaksana, bukan karena kata-katanya bersumber dari niat buruk, melainkan karena urusan seperti itu tidak dianggap penting olehnya. Kecuali itu, ia hendak menghindari kritik bahwa si Monyet besar mulut. Ia sendiri mungkin mengakuinya dalam hati, "Memang, aku agak besar mulut." Namun, bagaimanapun, orangorang cerewet dan berjiwa picik, yang karena kegemarannya banyak omong, mempunyai prasangka buruk terhadapnya, tak pernah menjadi sekutunya selama kariernya yang gemilang."

Beberapa saat kemudian ia terlihat di pusat kota Kiyosu yang ramai, tempat ia membeli perabotan. Setelah itu, di sebuah toko pakaian bekas, ia melihat sepotong mantel yang biasanya dipakai di atas baju tempur, dengan lambang berupa kembang paulownia berwarna putih. Tokichiro langsung masuk untuk menanyakan harganya. Ternyata murah. Ia segera membayar dan cepat-cepat mencobanya. Mantel itu agak longgar untuknya, namun tetap pantas, sehingga ia terus memakainya ketika melanjutkan perjalanan.

Kain katunnya yang tipis dan berwarna biru berdesir seiring tiap langkahnya, dan bahan yang berkesan mewah, seperti brokat emas, disetik hanya di bagian kerah. Ia bertanya-tanya siapa pemakai sebelumnya, orang yang menambahkan lambang berwarna putih pada punggung mantel itu.

Andai Ibu bisa melihatku sekarang! pikirnya riang.

Di bagian kota yang makmur itu ia diserang oleh perasaan yang nyaris tak tertahankan, yang membawanya kembali ke toko tembikar di Shinkawa.

Ia teringat betapa menyedihkan penampilannya ketika itu, telanjang kaki, mendorong kereta bermuatan barang-barang tembikar melewati orangorang yang menatapnya dengan pandangan aneh, para penghuni kota yang gagah-gagah.

Ia berhenti di depan sebuah toko tekstil yang menjual kain tenun bermutu tinggi dari Kyoto.

"Jangan lupa untuk mengantarkannya," ia berpesan sambil menyerahkan uang untuk barang-barang yang dibelinya.

Ketika melangkah keluar, ia menyadari bahwa ia selalu mengalami hal yang sama: setelah bersantai selama setengah hari, dompetnya selalu kosong.

"Roti Kukus" terbaca pada sebuah papan dengan huruf-huruf terbuat dari kulit kerang. Papan itu tergantung dari atap di sebuah pojok jalan.

Roti kukus seperti ini merupakan makanan khas Kiyosu, dan di dalam toko-toko yang penuh sesak, para pendatang bercampur baur dengan penduduk setempat.

"Selamat datang," ujar seorang gadis pelayan bercelemek merah. "Silakan masuk. Tuan ingin makan di sini, atau membeli roti untuk dibawa pulang?"

Tokichiro duduk di salah satu kursi dan berkata, "Kedua-duanya. Aku ingin makan sepotong di sini. Setelah itu, tolong antarkan satu kotak—satu kotak besar—ke rumahku di Nakamura. Tanyakan pada sais kereta barang, kapan dia akan menuju ke arah sana. Aku akan tinggalkan uang untuk membayar ongkosnya."

Seorang laki-laki yang membelakangi Tokichiro sedang sibuk bekerja, namun rupanya ia sang pemilik toko. "Terima kasih banyak atas kunjungan Tuan." "Usahamu tampak maju. Aku baru berpesan agar

beberapa potong roti diantar ke rumahku." "Dengan senang hati, Tuan."

"Tidak perlu cepat-cepat, tapi tolong masukkan surat ini ke dalam kotaknya." Ia menyerahkan sepucuk surat pada si pemilik toko. Pada sampulnya tertulis, Untuk Ibunda. Tokichiro.

Si pemilik toko mengambilnya dan menanyakan

apakah kiriman itu perlu segera diantar.

"Tidak. Kapan-kapan saja. Sudah sejak dulu roti kukus di Kiyosu merupakan kegemaran ibuku."

Sambil bicara, ia menggigit roti di tangannya. Rasanya yang lezat membangkitkan sejuta kenangan, dan dalam sekejap saja membuat matanya berkacakaca. Ia teringat masa mudanya, ketika ia melewati toko ini sambil berharap agar ia sanggup membelikan beberapa potong roti untuk ibunya, dan sepotong untuk dirinya sendiri. Tetapi waktu itu ia terpaksa terus mendorong keretanya sambil memaksakan diri untuk bersabar.

Seorang samurai, yang sejak tadi memandang ke arah Tokichiro, menghabiskan rotinya, berdiri, lalu memanggil, "Tuan Kinoshita!" Ia didampingi seorang gadis muda.

Tokichiro membungkuk rendah dan penuh hormat. Orang itu Asano Mataemon, seorang pemanah. Sejak Tokichiro masih berstatus pelayan, Mataemon sudah bersikap ramah terhadapnya. Karena toko roti cukup jauh dari benteng, Mataemon tampak santai dan riang gembira.

"Tuan seorang diri?" ia bertanya. "Ya."

"Kenapa tidak bergabung dengan kami? Aku bersama putriku."

"Oh, putri Tuanku?" Tokichiro menatap ke arah gadis berusia enam belas atau tujuh belas tahun yang sedang mengatur posisi duduk agar membelakanginya, sehingga hanya tengkuknya yang putih yang terlihat di sela-sela kerumunan orang. Gadis itu sungguh menawan. Bukan hanya Tokichiro, yang memiliki mata tajam untuk keindahan, yang berpendapat demikian. Semua orang pasti sependapat. Gadis itu cantik sekali, seorang wanita yang jauh di atas ratarata.

Setelah dipersilakan oleh Mataemon, Tokichiro duduk di hadapan pemilik sepasang mata cerah itu.

"Nene," ujar Mataemon. Nama itu indah, sangat cocok dengan penampilan si gadis. Kedua matanya tampak bersinar-sinar di tengah raut wajahnya yang halus. "Ini Kinoshita Tokichiro. Baru-baru ini dia mendapat kenaikan pangkat, dari pengurus dapur menjadi petugas kandang. Kau harus berkenalan dengannya."

"Ya, ehm..." Nene tersipu-sipu. "Aku sudah mengenal Tuan Kinoshita."

"Hah? Apa maksudmu, sudah mengenal? Kapan dan di mana kalian bertemu?" "Sudah beberapa kali Tuan Kinoshita mengirimkan surat dan hadiah untukku."

Mataemon tercengang. "Ini sungguh mengejutkan.

Apakah kau membalas surat-suratnya?"

"Aku tidak pernah mengirimkan balasan."

"Bagus, tapi tidak memperlihatkan surat dan hadiahnya padaku, ayahmu sendiri, itu tak dapat dimaafkan."

"Aku selalu memberitahu Ibu, dan setiap kali dia mengembalikan hadiah-hadiah itu, kecuali hadiahhadiah untuk kesempatan khusus."

Mataemon menatap putrinya, lalu Tokichiro. "Sebagai ayah, aku selalu khawatir, tapi kali ini aku kurang waspada. Aku sama sekali tidak tahu. Aku memang mendengar bahwa si Monyet lihai, tapi aku tak pernah membayangkan bahwa dia akan tertarik pada putriku!"

Tokichiro menggaruk-garuk kepala. Ia malu sekali, wajahnya menjadi merah padam. Ketika Mataemon mulai tertawa, ia agak lega, namun tetap tersipu-sipu. Meskipun ia tidak tahu bagaimana perasaan Nene terhadapnya, ia telah jatuh cinta pada gadis itu.