--> -->

Taiko Bab 01 : "Monyet! Monyet!"

Buku Satu ~ Tahun Temmon Kelima 1536

Bab 01 : "Monyet! Monyet!"

"ITU tawonku!" "Bukan, punyaku!" "Pembohong!" 

Bagai angin puyuh, tujuh atau delapan bocah lakilaki berlari melintasi ladang. Mereka mengayunayunkan tongkat ke hamparan kembang sesawi berwarna kuning dan kembang lobak berwarna putih bersih untuk mencari tawon-tawon dengan kantong madu, yang biasa disebut tawon Korea. Anak Yaemon, Hiyoshi, baru berusia enam tahun, tapi wajahnya yang berkerut-kerut tampak seperti buah prem yang diasamkan. Ia lebih kecil dibandingkan anak-anak lainnya, namun sifatnya yang ugal-ugalan dan liar tak tertandingi.

"Bodoh!" ia berseru ketika jatuh terdorong oleh anak yang lebih besar, saat mereka memperebutkan seekor tawon. Sebelum sempat bangun, ia terinjak oleh anak lain. Hiyoshi menjegal kaki anak itu.

"Tawon itu milik siapa saja yang bisa menangkapnya! Kalau kau bisa menangkapnya, tawon itu jadi milikmu!" katanya sambil melompat berdiri dan menangkap seekor tawon yang sedang terbang. "Yow! Yang ini milikku!"

Dengan tangan terkepal, Hiyoshi maju sepuluh langkah, kemudian membuka kepalannya. Ia membuang kepala dan kedua sayap tawon yang ditangkapnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Perut tawon itu penuh madu manis. Anak-anak itu, yang tak pernah mengenal gula, betul-betul takjub bahwa ada sesuatu yang begitu manis. Sambil setengah memejamkan mata, Hiyoshi membiarkan madu itu mengalir ke kerongkongannya, lalu mengecap-ngecapkan bibir. Anak-anak lain hanya bisa menonton.

"Monyet!" seru seorang bocah besar yang dijuluki Ni'o, satu-satunya yang tak dapat diimbangi oleh Hiyoshi. Karena mengetahui hal ini, yang lainnya ikutikutan.

"Babon!"

"Monyet!"

"Monyet, monyet, monyet!" mereka mengejek. Bahkan Ofuku, bocah yang bertubuh paling kecil,

ikut bergabung. Meski usianya sekitar delapan tahun, ia hanya sedikit lebih besar dari Hiyoshi yang berumur enam tahun.

Tapi penampilannya berbeda jauh; kulitnya putih, dan mata serta hidungnya menempati posisi yang pantas di wajahnya. Sebagai putra warga desa yang kaya, Ofuku-lah satu-satunya yang mengenakan kimono sutra. Nama sebenarnya mungkin Fukutaro atau Fukumatsu, namun namanya telah disingkat dan diberi awalan o, seperti kebiasaan di antara putraputra orang berada.

"Kau selalu ikut-ikutan!" ujar Hiyoshi sambil melotot ke arah Ofuku. Ia tak peduli dipanggil monyet oleh yang lain, tapi dengan Ofuku masalahnya sedikit berbeda. "Kau sudah lupa bahwa akulah yang selalu membelamu, dasar pengecut!"

Diingatkan seperti itu, Ofuku tak bisa berkata apaapa. Keberaniannya mendadak lenyap, dan ia menggigit-gigit kukunya. Meski masih kanakkanak, dituduh tidak tahu terima kasih membuatnya lebih malu daripada dimaki sebagai pengecut. Yang lainnya mengalihkan pandangan, perhatian mereka berpindah dari tawon madu ke awan debu kuning yang terlihat di seberang ladang-ladang.

"Lihat, ada pasukan!" salah seorang bocah berteriak. "Samurai!" anak lain berkata. "Mereka baru pulang

perang."

Semua anak melambaikan tangan dan bersoraksorai.

Penguasa Owari, Oda Nobuhide, dan tetangganya, Imagawa Yoshimoto, merupakan musuh bebuyutan. Situasi ini menimbulkan pertempuran-pertempuran kecil yang tak ada habisnya di sepanjang perbatasan. Suatu ketika, pasukan Imagawa menyeberangi perbatasan, membakar desa-desa, dan menghancurkan hasil panen. Pasukan Oda keluar dari benteng-benteng di Nagoya dan Kiyosu, menyergap pasukan musuh dan membantai mereka sampai ke orang terakhir. Pada musim dingin berikutnya, baik pangan maupun tempat berteduh tidak tersedia dalam jumlah mencukupi, tapi rakyat tidak menyalahkan penguasa mereka. Kalau mereka harus kelaparan, mereka menanggungnya; kalau mereka harus kedinginan, mereka menanggungnya juga. Berlawanan dengan perkiraan Yoshimoto, penderitaan mereka justru mempertebal kebencian mereka terhadapnya.

Anak-anak itu telah melihat dan mendengar hal-hal seperti itu sejak mereka lahir. Ketika melihat pasukan penguasa mereka, mereka seperti melihat diri sendiri. Tak ada yang lebih mengasyikkan bagi mereka daripada melihat prajurit-prajurit bersenjata lengkap.

"Ayo, kita tonton mereka!"

Anak-anak itu bergegas ke arah para serdadu, kecuali Ofuku dan Hiyoshi yang masih saling memelototi. Ofuku, si pengecut, sebenarnya ingin ikut dengan yang lain, namun tatapan Hiyoshi memaksanya untuk tetap di tempat.

"Aku menyesal." Dengan takut-takut Ofuku menghampiri Hiyoshi, lalu melingkarkan lengannya pada bahu anak itu. "Maafkan aku, ya?"

Wajah Hiyoshi menjadi merah karena marah, dan ia menyentakkan bahunya. Tapi, melihat Ofuku sudah hampir menangis, ia berusaha menahan diri. "Kenapa kau harus ikut-ikutan mengata-ngataiku?" ia menyalahkan Ofuku. "Yang lain selalu mengejekmu dengan memanggilmu 'si anak Cina'. Tapi pernahkah aku mengolok-olokmu?"

"Tidak."

"Anak Cina pun, kalau sudah jadi anggota kelompok kita, adalah salah satu dari kita. Itulah yang selalu kukatakan, bukan?" "Ya." Ofuku menggosok-gosok mata. Lumpur larut oleh air matanya, menimbulkan bintik-bintik di sekitar mata.

"Bodoh! Justru karena kau cengeng kau dipanggil 'si anak Cina. Ayo, kita lihat para prajurit itu. Kalau kita tidak cepat-cepat, mereka keburu lewat." Sambil menggandeng tangan Ofuku, Hiyoshi berlari menyusul yang lain.

Pejuang-pejuang kawakan dan panji-panji kebesaran menyembul di atas awan debu. Pasukan itu terdiri atas sekitar dua puluh samurai berkuda dan dua ratus prajurit infanteri. Di belakang mereka menyusul gerombolan pembawa tombak, lembing, dan busur. Setelah melintasi Dataran Inaba dari Jalan Atsuta, mereka mulai mendaki tanggul Sungai Shonai. Anakanak itu melewati kuda-kuda dan menaiki pematang dengan tergesa-gesa. Dengan mata berbinar-binar Hiyoshi, Ofuku, Ni'o, dan semua teman mereka memetik bunga mawar, bunga violet, dan bunga-bunga liar lainnya dan melemparkannya ke udara, sambil terus berseru-seru sekuat tenaga,

"Hachiman! Hachiman!" memanggil-manggil dewa perang, dan, "Kemenangan untuk prajurit-prajurit kita yang gagah berani!" Baik di desa-desa maupun di jalanjalan, anak-anak selalu berseru seperti ini jika melihat prajurit-prajurit.

Sang jendral, para samurai berkuda, dan para prajurit biasa yang berjalan dengan langkah berat, semuanya membisu. Wajah-wajah mereka yang keras menyerupai topeng. Mereka tidak memperingatkan anak-anak agar tidak terlalu mendekati kuda-kuda, mereka juga tidak melemparkan senyuman.

Pasukan ini rupanya bagian dari bala tentara yang dipukul mundur dari Mikawa, dan penampilan mereka membuktikan bahwa pertempuran berlangsung sengit. Baik kuda-kuda maupun para prajurit tampak lelah.

Orang-orang yang terluka dan berlumuran darah bersandar pada bahu rekan-rekan mereka. Darah kering tampak berkilauan, hitam seperti pernis, pada baju tempur dan gagang-gagang tombak. Wajah para prajurit tertutup debu bercampur keringat, sehingga hanya mata mereka yang masih tampak.

"Beri air untuk kuda-kuda," seorang perwira memberi perintah. Para samurai di atas kuda meneruskan perintah itu dengan suara lantang.

Perintah pertama itu disusul oleh perintah untuk beristirahat. Para penunggang kuda turun dari kuda masing-masing, sedangkan para prajurit infanteri segera berhenti di tempat. Sambil menarik napas lega, mereka menjatuhkan diri ke rumput tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di seberang sungai, Benteng Kiyosu tampak kecil. Salah seorang samurai adalah adik laki-laki Oda Nobuhide, Yosaburo. Ia duduk di sebuah kursi Oda Nobuhide dan menatap langit, dikelilingi oleh setengah lusin pembantunya yang membisu.

Orang-orang membalut   luka-luka   di   kaki   dan tangan. Dari raut wajah mereka terlihat jelas bahwa mereka mengalami kekalahan yang menyesakkan.

Tapi ini tidak penting bagi anak-anak. Waktu melihat darah, mereka membayangkan diri sebagai pahlawan-pahlawan bermandikan darah; waktu melihat kilauan lembing dan tombak, mereka yakin bahwa musuh berhasil dihancurkan. Karena itu, mereka tampak besar hati dan berseri-seri.

"Hachiman! Hachiman! Kemenangan!"

Setelah kuda-kuda selesai minum, anak-anak juga melempar bunga ke arah binatang-binatang itu sambil bersorak-sorak memberi semangat.

Seorang samurai yang berdiri di samping kudanya melihat Hiyoshi dan memanggil, "Anak Yaemon! Bagaimana kabar ibumu?"

"Siapa? Aku?"

Hiyoshi menghampiri pria itu dan menatap lurus ke wajahnya yang kotor. Sambil mengangguk, si samurai meletakkan satu tangannya ke kepala Hiyoshi yang basah oleh keringat. Usia samurai itu tidak lebih dari dua puluh tahun. Karena kepalanya dipegang oleh orang yang baru kembali dari medan pertempuran, Hiyoshi dihinggapi rasa bangga yang meluap-luap.

Apa betul keluargaku mengenal samurai seperti ini? ia bertanya-tanya.

Teman-temannya, yang menyaksikan adegan itu dari dekat, melihat betapa bangganya Hiyoshi.

"Kau Hiyoshi, bukan?" "Ya." "Nama yang bagus. Ya, nama yang bagus."

Si samurai muda sekali lagi menepuk kepala Hiyoshi, lalu bertolak pinggang, menegakkan tubuh sambil terus mengamati wajah anak itu.

Sesuatu membuatnya tertawa.

Hiyoshi selalu cepat berteman, bahkan dengan orang-orang dewasa. Kenyataan bahwa kepalanya ditepuk-tepuk oleh orang asing—seorang samurai pula—membuat kedua matanya berbinar-binar. Dalam sekejap segala rasa canggungnya menguap.

"Tapi asal tahu saja, tak ada yang memanggilku Hiyoshi. Nama itu hanya dipakai oleh ayah dan ibuku."

"Mungkin karena tampangmu mirip..." "Mirip monyet?"

"Hmm, untung saja kau sadar." "Semua orang memanggilku begitu."

"Ha, ha!" Si samurai memiliki suara keras dan tawa yang sepadan.

Orang-orang di sekitar mereka ikut tertawa, sementara Hiyoshi, sambil berlagak tak peduli, mengeluarkan potongan batang padi-padian dari jaketnya dan mulai mengunyahnya. Sari tanaman yang berbau rumput itu terasa manis.

Dengan acuh tak acuh ia meludahkan sisa batang yang telah terkunyah habis.

"Berapa umurmu?" "Enam."

"Betul?" "Tuan, dari mana Tuan berasal?" "Aku kenal baik dengan ibumu." "Hah?"

"Adik perempuan ibumu sering datang ke rumahku. Kalau kau sampai di rumah nanti, sampaikan salamku pada ibumu. Katakan padanya, Kato Danjo berharap dia selalu dalam keadaan sehat."

Seusai istirahat, para prajurit dan kuda kembali berbaris, lalu menyeberangi Sungai Shonai di suatu tempat dangkal. Sambil melirik ke belakang, Danjo cepat-cepat menaiki kudanya. Dengan pedang dan baju tempur yang dikenakannya, ia memancarkan kesan agung dan penuh kuasa.

"Katakan padanya bahwa seusai perang aku akan berkunjung ke rumah Yaemon." Danjo melepaskan seruan, memacu kudanya, dan memasuki air sungai yang dangkal untuk bergabung dengan pasukannya.

Hiyoshi, dengan sisa sari padi-padian tadi masih terasa di mulut, menatapnya seperti sedang bermimpi.

***

Setiap kunjungan ke gudang penyimpanan membuat ibu Hiyoshi bertambah sedih dan tertekan. Ia pergi ke sana untuk mengambil acar, beras, atau kayu bakar, dan setiap kali ke sana, ia jadi diingatkan bahwa persediaan mereka semakin menipis. Bayangan tentang masa depan menyebabkan tenggorokannya bagai tersumbat. Ia hanya mempunyai dua anak, Hiyoshi, enam tahun, dan kakak perempuan Hiyoshi yang berumur sembilan tahun, Otsumi—namun keduanya belum cukup besar untuk melakukan pekerjaan berarti. Suaminya, yang terluka dalam suatu pertempuran, tak dapat melakukan apa-apa selain duduk di depan perapian, menatap ketel teh yang tergantung pada sebuah kait besi dengan pandangan kosong, sekalipun di musim panas, pada waktu api tidak menyala.

Barang-barang itu... aku akan merasa lebih baik kalau semuanya dibakar saja, perempuan itu berkata dalam hati.

Pada salah satu dinding gudang tersandar sebatang tombak dengan gagang dari kayu ek hitam. Di atasnya ada helm prajurit infanteri dan beberapa benda yang sepertinya merupakan bagian dari sebuah baju tempur tua. Waktu suaminya masih berangkat ke medan perang, inilah perlengkapan terbaik yang dimilikinya. Tapi sekarang semuanya telah tertutup jelaga dan tak berguna lagi, sama seperti suaminya. Setiap kali melihat barang-barang itu, ia merasa muak. Bayangan akan perang membuatnya merihding.

Tak peduli apa kata suamiku, Hiyoshi takkan kuizinkan jadi samurai, ia memutuskan.

Ketika menikah dengan Kinoshita Yaemon, ia menganggap paling baik memilih seorang samurai sebagai suami. Meski kecil, rumah tempat ia lahir di Gokiso merupakan rumah samurai, dan walaupun Yaemon hanya prajurit infanteri, ia pengikut Oda Nobuhide. Ketika mereka menjadi suami-istri, dengan bersumpah bahwa "di masa depan kita akan memperoleh seribu ikat padi", baju tempur itu merupakan lambang harapan mereka, dan lebih penting artinya daripada peralatan rumah tangga yang diinginkannya. Tak dapat disangkal bahwa baju itu menyimpan banyak kenangan indah. Namun membandingkan impian masa muda mereka dengan kenyataan yang kini mereka hadapi hanyalah membuang-buang waktu. Suaminya keburu cacat sebelum sempat mencatat prestasi di medan perang. Karena ia hanya prajurit biasa, ia terpaksa mengakhiri pengabdiannya pada Oda Nobuhide.

Mencari nafkah terasa berat selama enam bulan pertama, dan akhirnya ia menjadi petani. Tapi sekarang pekerjaan itu pun tak sanggup ia tekuni.

Terpaksalah istrinya turun tangan. Dengan membawa kedua anak mereka, istri Yaemon memetik daun mulberry, membajak ladang-ladang, menggiling padi, dan menangkal kemiskinan selama bertahun-tahun. Namun bagaimana dengan masa depan? Dalam hati ia bertanya-tanya, seberapa lama tenaga di kedua lengannya masih dapat bertahan, dan hatinya terasa sedingin dan sesuram gudang penyimpanan mereka. Akhirnya ia memasukkan bahan-bahan untuk makan malam— padi-padian, beberapa irisan lobak yang dikeringkan— ke dalam keranjang bambu dan meninggalkan gudang. Usianya belum mencapai tiga puluh tahun, tapi kelahiran Hiyoshi bukan kelahiran yang mudah, dan sejak itu warna kulitnya pucat bagaikan buah persik yang belum matang.

"Ibu." Itu suara Hiyoshi. Anak itu muncul dari bagian samping rumah, mencari ibunya. Ibunya tertawa lembut. Ia masih menyimpan satu harapan— membesarkan Hiyoshi dan menjadikannya putra dan pewaris yang cepat dewasa, sehingga sanggup menyediakan sedikit sake bagi suaminya, setiap hari. Pikiran itu membuatnya terhibur.

"Hiyoshi, Ibu di sebelah sini."

Hiyoshi berlari ke arah suara ibunya, lalu menggenggam lengan yang memegang keranjang itu.

"Tadi, di tepi sungai, aku ketemu seseorang yang kenal Ibu."

"Siapa?"

"Seorang samurai! Kato... siapa begitu. Dia bilang dia kenal Ibu, dan dia kirim salam. Dia menepuknepuk kepalaku dan menanyaiku macam-macam."

"Hmm, itu pasti Kato Danjo."

"Dia ikut pasukan besar yang baru pulang perang.

Dan dia naik kuda yang bagus! Siapa dia?" "Hmm, Danjo tinggal di dekat Kuil Komyoji." "Terus?"

"Dia bertunangan dengan adik Ibu." "Bertunangan?"

"Ya ampun, kenapa kau terus bertanya?" "Tapi aku tidak mengerti."

"Mereka akan menikah."

"Hah? Maksud Ibu, dia akan menjadi suami adik perempuan ibuku?"

Hiyoshi tampak puas, dan tertawa.

Meskipun berhadapan dengan anaknya sendiri, ketika melihat senyum Hiyoshi yang kurang ajar dan seakan-akan memamerkan semua gigi, ibunya pun langsung mendapat kesan bahwa Hiyoshi bocah nakal yang terlalu cepat dewasa.

"Ibu, di gudang ada pedang yang kira-kira sepanjang ini, bukan?"

"Ya. Kenapa memangnya?"

"Boleh aku minta? Pedang itu kan sudah tua, dan Ayah tidak memakainya lagi."

"Kau main perang-perangan lagi?" "Boleh, kan?"

"Sama sekali tidak!" "Kenapa tidak?"

"Apa jadinya kalau anak petani terbiasa membawa pedang?"

"Hmm, suatu hari nanti aku bakal jadi samurai." Hiyoshi mengentakkan kakinya seperti anak manja, dan menganggap pembicaraan mereka sudah selesai. Ibunya memelototinya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Bodoh!" ia memarahi Hiyoshi, dan sambil menghapus air matanya dengan kikuk, ia menarik tangan anak itu. "Lebih baik kau membantu kakakmu mengambil air." Ia kembali ke rumah sambil menyeret anaknya.

"Tidak! Tidak!" Hiyoshi melawan sekuat tenaga. "Tidak! Aku benci Ibu! Ibu bodoh! Tidak!" Tapi ibunya terus menarik. Tiba-tiba suara batuk, bercampur asap dari perapian, keluar dari jendela yang ditutupi anyaman bambu. Mendengar suara ayahnya, Hiyoshi langsung terdiam. Usia Yaemon baru sekitar empat puluh tahun, namun karena mesti melewatkan hari-harinya sebagai orang cacat, suara batuknya yang parau lebih kedengaran seperti suara laki-laki yang umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun.

"Ibu akan memberitahu ayahmu bahwa kau selalu membuat masalah," ibunya berkata sambil mengendurkan genggaman tangannya. Hiyoshi menutupi wajah dengan kedua tangannya, dan mengusap matanya sambil menangis tertahan.

Ketika menatap bocah yang sukar diatur ini, ibunya bertanya-tanya bagaimana masa depannya kelak.

"Onaka! Kenapa kau membentak-bentak Hiyoshi lagi? Tidak seharusnya kau berbuat begitu. Untuk apa kau bertengkar sampai menangis dengan anakmu sendiri?" Yaemon bertanya dari balik jendela.

"Kalau begitu, kau saja yang memarahinya," ujar Onaka dengan nada menyalahkan.

Yaemon tertawa. "Kenapa? Karena dia mau bermain dengan pedang tuaku?"

"Ya."

"Dia hanya ingin bermain." "Justru karena itu."

"Dia anak laki-laki, dan dia anakku. Apa salahnya?

Berikan pedang itu padanya."

Terheran-heran Onaka menatap ke arah jendela, dan menggigit bibirnya dengan geram.

Aku menang! Hiyoshi bersuka ria, menikmati kemenangannya, tapi hanya untuk sesaat. Begitu ia melihat ibunya berurai air mata, kemenangannya mendadak terasa hambar.

"Oh, jangan menangis! Aku sudah tidak menginginkan pedang itu. Aku akan membantu kakakku." Ia bergegas ke dapur. Kakaknya sedang membungkuk sambil meniupkan udara lewat potongan bambu, untuk menyalakan api di dalam tungku yang terbuat dari tanah liat.

Hiyoshi melompat masuk dan berkata, "Hei, apa aku perlu ambil air?"

"Tidak, terima kasih," jawab Otsumi. Ia menatap adiknya dengan heran, lalu menggelengkan kepala sambil bertanya-tanya apa gerangan maksudnya.

Hiyoshi menyingkap tutup tempat air dan mengintip ke dalam. "Oh, sudah penuh. Kalau begitu, aku akan merendam kedelai."

"Jangan, kau tidak perlu merendam apa-apa. Jangan mengganggu."

"Mengganggu? Aku hanya mau membantumu. Aku ambilkan acar, ya?"

"Ibu kan baru saja pergi ke gudang untuk mengambil acar."

"Hmm, kalau begitu, apa yang bisa kulakukan?" "Kalau saja kau mau berkelakuan baik, Ibu pasti

senang."

"Bukankah aku sedang berkelakuan baik sekarang? Api di tungku sudah menyala? Biar kuhidupkan untukmu. Coba geser sedikit."

"Aku tidak perlu bantuan!" "Ayo, geser sedikit. "

"Lihat apa yang kaulakukan! Kau membuat apinya mati!"

"Bohong! Kau yang membuatnya mati!" "Bukan!"

"Banyak omong!"

Hiyoshi, kesal karena kayu bakar tidak mau menyala, menampar pipi kakaknya. Otsumi menangis dan mengadu pada ayahnya. Karena mereka berada di sebelah ruang keluarga, dalam sekejap suara ayah mereka sudah menggemuruh di telinga Hiyoshi.

"Jangan pukul kakakmu. Laki-laki tidak pantas memukul perempuan! Hiyoshi, kemari sekarang juga!" Di balik dinding pemisah, Hiyoshi menelan ludah dan memelototi Otsumi. Ibunya masuk dan berdiri di ambang pintu. Ia cemas karena kejadian ini sudah

terulang untuk kesekian kali.

Yaemon memang menakutkan. Dia ayah yang paling menakutkan di seluruh dunia. Hiyoshi tidak berani membantah. Ia duduk tegak dan menatap ayahnya.

Kinoshita Yaemon sedang duduk di depan perapian. Di belakangnya terlihat tongkat yang ia perlukan untuk berjalan. Tanpa tongkat itu, ia tidak sanggup pergi ke mana-mana, bahkan ke kamar mandi pun. Sikunya bersandar pada sebuah peti kayu yang dipergunakannya untuk memintal dan mengumpulkan rami, sebuah pekerjaan sampingan yang kadangkadang ditekuninya. Meski cacat, ia bisa berbuat sedikit untuk membantu keuangan keluarga.

"Hiyoshi!" "Ya, Ayah?"

"Jangan menyusahkan ibumu." "Ya."

"Dan jangan bertengkar dengan kakakmu. Pikirkan apa kata orang. Bagaimana seharusnya sikapmu sebagai laki-laki, dan bagaimana kau harus memperlakukan perempuan yang mesti dilindungi?"

"Ehm... aku... aku tidak..."

"Diam! Aku punya telinga. Aku tahu di mana kau berada dan apa yang kaukerjakan, biarpun aku tidak pernah keluar dari ruangan ini."

Hiyoshi gemetar. Ia percaya pada apa yang dikatakan ayahnya.

Namun Yaemon tidak dapat menutupi kasih sayangnya pada putra satu-satunya ini. Lengan dan tangannya sendiri tak mungkin kembali ke keadaan semula, tapi ia percaya bahwa melalui putranya, darahnya akan terus mengalir selama seratus tahun. Kemudian ia kembali menatap Hiyoshi, dan suasana hatinya berubah. Seorang ayah merupakan penilai terbaik untuk putranya, tapi dalam angan-angannya yang paling muluk pun, Yaemon tak dapat membayangkan bagaimana bocah ingusan bertampang aneh ini akan mengangkat harkat keluarga dan menghapus aib dari nama mereka. Meski demikian, Hiyoshi tetap satu-satunya putra yang ia miliki, dan Yaemon menaruh harapan besar pada anak itu.

"Pedang di dalam gudang... kau menginginkannya, Hiyoshi?"

"Ehm..." Hiyoshi menggelengkan kepala. "Kau tidak berminat?"

"Aku menginginkannya, tapi..."

"Kalau begitu, kenapa kau tidak berterus terang?" "Ibu melarangku."

"Itu karena perempuan benci pedang. Tunggu di sini."

Yaemon meraih tongkatnya, lalu berjalan pincang ke ruang sebelah.

Berbeda dengan rumah petani miskin, rumahnya terdiri atas beberapa ruangan. Keluatga ibu Hiyoshi pernah tinggal di sini. Kerabat Yaemon tidak banyak, tapi istrinya mempunyai saudara di sekitar situ.

Meski tidak dimarahi, Hiyoshi tetap merasa tidak enak. Yaemon kembali, membawa pedang pendek terbungkus kain. Pedang ini bukan pedang berkarat dari gudang.

"Hiyoshi, ini milikmu. Pakailah kapan saja kau suka."

"Milikku? Betul?"

"Tapi, mengingat umurmu, aku lebih suka kau tidak memakainya di tempat umum. Bisa-bisa kau ditertawakan orang-orang. Kau harus cepat besar, supaya bisa memakai pedang ini tanpa jadi bahan tertawaan. Pedang ini dibuat atas pesanan kakekmu...." Setelah terdiam sejenak, Yaemon kembali angkat bicara. Sorot matanya sayu dan lidahnya terasa kaku.

"Kakekmu petani. Waktu dia mencoba mengangkat derajatnya, dia memesan pedang ini pada seorang pandai besi. Keluarga besar Kinoshita pernah memiliki gambar silsilah, tapi gambar itu musnah dalam suatu kebakaran.

Dan jauh sebelum kakekmu sempat berbuat sesuatu, dia sudah mati terbunuh. Zaman itu penuh keguncangan, dan banyak orang mengalami nasib sama."

Sebuah lampu dihidupkan di ruang sebelah, namun ruang tempat mereka berada diterangi oleh api di dalam tungku. Hiyoshi mendengarkan ayahnya sambil menatap lidah api yang merah. Entah Hiyoshi memahaminya atau tidak, Yaemon merasa ia tidak dapat membicarakan hal-hal seperti ini dengan istri atau anak perempuannya.

"Kalau saja gambar silsilah Kinoshita masih utuh, aku bisa bercerita mengenai para leluhur kita. Tapi masih ada silsilah lain, dan silsilah itu sudah diteruskan padamu. Ini." Yaemon mengusap pembuluh biru di pergelangan tangannya. Darah.

Hiyoshi mengangguk, lalu menggenggam pergelangan tangannya sendiri.

Ia pun mempunyai darah seperti itu dalam tubuhnya. Semuanya sudah jelas! Tak ada silsilah keluarga yang lebih hidup dari ini.

"Aku tidak tahu siapa leluhur kita sebelum zaman kakekmu, tapi aku yakin di antara mereka ada orangorang besar. Kurasa ada yang menjadi samurai, mungkin juga orang-orang terpelajar. Darah mereka terus mengalir, dan sekarang sudah diteruskan kepadamu."

"Ya." Hiyoshi kembali mengangguk.

"Tapi aku bukan orang besar. Aku hanya orang cacat. Karena itu, Hiyoshi, kau harus menjadi orang besar!"

"Ayah," ujar Hiyoshi sambil membuka mata lebarlebar, "aku harus jadi orang seperti apa, supaya bisa disebut orang besar?"

"Hmm, sebenarnya kau bisa melakukan apa saja. Tapi paling tidak kau bisa menjadi prajurit yang gagah berani dan memakai warisan dari kakekmu ini. Jadi, kalau saatnya tiba nanti, Ayah bisa mati dengan tenang."

Hiyoshi tidak berkata apa-apa. Ia tampak bingung. Ia kurang percaya diri dan tidak berani menatap mata ayahnya.

Dia masih kanak-kanak, Yaemon menanggapi reaksi putranya yang kurang memuaskan. Barangkali bukan garis darah yang menentukan, melainkan lingkungan. Dan hatinya diliputi perasaan gundah gulana.

Istri Yaemon telah menyiapkan makan malam, dan kini menunggu sambil membisu sampai suaminya selesai bicara. Jalan pikirannya dan jalan pikiran suaminya sama sekali bertentangan. Ia menyesalkan bahwa suaminya mendorong anak mereka untuk menjadi samurai. Dalam hati ia berdoa untuk masa depan Hiyoshi. Tidak seharusnya ayahmu berkata seperti ini. Hiyoshi, ucapan ayahmu merupakan cermin kekecewaannya. Jangan ikuti jejak ayahmu, ia ingin berpesan. Tak apa kalau kau memang bodoh, tapi jadilah petani, biarpun kau hanya memiliki sejengkal tanah. Namun akhirnya ia berkata, "Mari makan. Hiyoshi dan Otsumi, duduk lebih dekat ke tungku." Dimulai dengan ayah anak-anak, ia membagikan sumpit dan mangkuk.

Meski hidangan yang tersaji merupakan hidangan yang biasa mereka makan—semangkuk sup bening setiap kali Yaemon melihatnya, ia merasa sedikit lebih sedih, sebab ia laki-laki yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan anak dan istri. Hiyoshi dan Otsumi meraih mangkuk masing-masing.

Pipi dan hidung mereka tampak memerah, dan mereka menghabiskan makanan itu dengan lahap. Tak terbayang oleh mereka bahwa yang mereka santap itu adalah makanan orang miskin. Bagi mereka, tak ada yang lebih mewah daripada makanan ini.

"Masih ada tahu yang kita dapat dari saudagar tembikar di Shinkawa, dan masih ada sayur-mayur di gudang, jadi Otsumi dan Hiyoshi harus makan banyak," ujar Onaka untuk meyakinkan suaminya mengenai keadaan

keuangan mereka. Ia sendiri tidak mengangkat sumpit sampai kedua anaknya kenyang dan suaminya selesai makan. Seusai makan malam, mereka beranjak ke tempat tidur. Keadaan kurang-lebih sama di hampir semua rumah. Tak ada lampu menyala di Nakamura setelah malam tiba.

Begitu hari menjadi gelap, suara langkah-langkah kaki terdengar melintasi ladang-ladang dan menyusuri jalan—suara pertempuran di sekitar. Ronin, para pengungsi, dan kurir-kurir yang sedang menjalankan misi rahasia, semua lebih suka bepergian pada malam hari.

Hiyoshi sering diganggu mimpi buruk. Apakah karena ia mendengar suara langkah di tengah malam buta, ataukah perebutan kekuasaan yang memenuhi mimpi-mimpinya? Malam itu ia menendang Otsumi yang berbaring di sebelahnya, di tikar mereka, dan ketika kakaknya berseru kaget, ia berteriak, "Hachiman! Hachiman! Hachiman!"

Ia melompat berdiri dan terjaga seketika. Walaupun ditenangkan oleh ibunya, ia tetap setengah terjaga dan terbawa luapan perasaan untuk waktu lama.

"Dia demam. Bakar sedikit bubuk moxa di tengkuknya," Yaemon menasihati.

Ibu Hiyoshi menjawab, "Mestinya kau tidak menunjukkan pedang itu, atau bercerita mengenai leluhurnya."

*** Tahun berikutnya terjadi perubahan besar di rumah mereka. Yaemon jatuh sakit dan meninggal. Ketika menatap wajah ayahnya yang telah meninggal, Hiyoshi tidak menangis. Pada waktu penguburan, ia melompat-lompat riang.

Di musim gugur, di usia Hiyoshi yang kedelapan, rombongan tamu kembali mengunjungi rumah mereka. Sepanjang malam mereka menyiapkan makanan, minum sake, dan menyanyi. Salah seorang saudara memberitahu Hiyoshi, "Si pengantin pria akan menjadi ayahmu yang baru. Dia dulu berteman dengan Yaemon, dan juga mengabdi pada keluarga Oda. Namanya Chikuami. Kau harus menjadi anak yang patuh."

Sambil makan kue beras, Hiyoshi masuk dan mengintip ke dalam.

Ibunya telah mendandani wajahnya dan kelihatan sangat cantik. Ia duduk dengan mata tertunduk, di sebelah laki-laki setengah baya yang tak dikenal Hiyoshi. Melihat itu, Hiyoshi jadi gembira. "Hachiman! Hachiman! Lemparkan bunga!" ia berseru, dan malam itu ia lebih gembira dari siapa pun.

Musim panas tiba. Padi tumbuh subur. Setiap hari Hiyoshi dan anak-anak desa yang lain berenang telanjang di sungai, menangkap dan menyantap kodok-kodok kecil berwarna merah di ladang-ladang. Daging kodok merah bahkan lebih lezat daripada kantong madu tawon Korea. Ibu Hiyoshi yang mengajarkan bahwa kodok bisa dimakan. Menurut ibunya, daging kodok merupakan obat bagi penyakit anak-anak, dan sejak itu daging kodok menjadi makanan kesukaannya.

Sepertinya, setiap kali Hiyoshi sedang bermain, Chikuami datang mencarinya.

"Monyet! Monyet!" ayah tirinya memanggil.

Chikuami pekerja keras. Dalam waktu kurang dari setahun ia telah berhasil membenahi keuangan keluarga, dan hari-hari kelaparan pun berlalu.

Jika Hiyoshi ada di rumah, ia terus diberi tugas dari pagi sampai tengah malam. Kalau ia malas atau nakal, tangan Chikuami yang besar akan melayang ke kepalanya. Hiyoshi sangat membenci perlakuan ini. Ia tidak keberatan bekerja keras, tapi ia berusaha untuk tidak menarik perhatian ayah tirinya, walau hanya sejenak. Setiap hari, tanpa kecuali, Chikuami tidur siang. Dan begitu ada kesempatan, Hiyoshi menyelinap ke luar rumah. Namun tak lama kemudian Chikuami sudah mencarinya sambil memanggil-manggil, "Monyet! Ke mana monyet kita?"

Kalau ayah tirinya sudah mulai mencari, Hiyoshi langsung menghentikan kegiatan yang sedang dilakukannya, lalu menyusup di antara tanaman millet. Chikuami akan bosan mencari, dan kembali ke rumah. Kemudian Hiyoshi akan melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil melepaskan teriakan kemenangan. Ia tak pernah memedulikan bahwa setelah pulang ke rumah ia tidak boleh ikut makan malam dan akan dihukum.

Baginya permainan itu terlalu mengasyikkan untuk dilewatkan begitu saja.

Hari itu Chikuami mencari-cari Hiyoshi di tengah tanaman millet. Ia tampak gelisah, matanya bergerak ke kiri-kanan. "Mana setan cilik itu?"

Hiyoshi bergegas menaiki tanggul ke arah sungai. Ketika Chikuami sampai di bantaran sungai,

tampak Ofuku sedang berdiri sendirian di sana. Hanya anak itulah yang mengenakan pakaian di musim panas, dan ia tak pernah ikut berenang ataupun makan kodok merah.

"Ah, kau anak dari toko tembikar, bukan? Kau tahu di mana monyet kami bersembunyi?" tanya Chikuami. "Aku tidak tahu," jawab Ofuku sambil menggelengkan kepala beberapa kali. Ia agak ngeri

menghadapi Chikuami.

"Kalau kau bohong, aku akan pergi ke rumahmu dan memberitahu ayahmu."

Ofuku si pengecut langsung pucat. "Dia bersembunyi di perahu itu." Ia menunjuk sebuah perahu kecil yang ditarik ke pinggir sungai. Ketika ayah tirinya menghampiri perahu itu, Hiyoshi meloncat keluar seperti hantu sungai.

Chikuami melompat dan memukulnya sampai jatuh. Hiyoshi terdorong ke depan, mulutnya membentur sebuah batu. Darah mengalir di antara giginya.

"Aduh! Sakit sekali!" "Salahmu sendiri!" "Aku minta maaf!"

Setelah menampar Hiyoshi dua-tiga kali, Chikuami mengangkat bocah itu dan bergegas pulang. Meski Chikuami selalu memanggil Hiyoshi dengan julukan "monyet", ia bukannya tidak menyukai anak tirinya. Tapi, karena begitu bersemangat ingin menghapus kemiskinan mereka, ia merasa harus bersikap tegas terhadap semua orang, dan ia juga ingin memperbaiki watak Hiyoshi—kalau perlu dengan kekerasan.

"Kau sudah sembilan tahun, dasar anak tak berguna," Chikuami marahmarah.

Begitu tiba di rumah, ia mencengkeram lengan anak itu dan memukulnya beberapa kali lagi dengan tangan terkepal. Ibu Hiyoshi mencoba mencegahnya.

"Anak ini tidak boleh dimanja!" Chikuami membentak.

Waktu Onaka mulai menangis, Hiyoshi dipukul sekali lagi.

"Kenapa kau menangis? Aku memukul monyet kecil brengsek ini untuk kebaikannya sendiri. Dia hanya bikin masalah saja!"

Mula-mula, setiap kali dipukul, Hiyoshi membenamkan wajah ke kedua tangannya dan memohon ampun. Sekarang ia hanya meraung-raung—hampir seperti orang kesurupan—sambil melontarkan katakata kasar.

"Kenapa? Katakan kenapa? Kau muncul entah dari mana, berlagak jadi ayahku dan petantang-petenteng ke sana kemari. Tapi... tapi ayah kandungku..." "Bagaimana kau bisa berkata begitu!" Ibunya men-

dadak pucat, megap-megap, dan menutupi mulutnya dengan satu tangan. Chikuami semakin gusar.

"Bocah tak tahu diri!" Ia melemparkan Hiyoshi ke gudang, dan memerintahkan Onaka untuk tidak memberinya makan malam. Mulai saat itu sampai gelap, teriakan-teriakan Hiyoshi terdengar dari gudang.

"Biarkan aku keluar! Bodoh! Kepala batu! Apa semuanya sudah tuli? Kalau kalian tidak membiarkanku keluar, akan kubakar tempat ini sampai rata dengan tanah!"

Ia terus meraung-raung. Suaranya mirip lolongan anjing. Tapi menjelang tengah malam ia akhirnya tertidur. Kemudian ia mendengar sebuah suara memanggil-manggil namanya, "Hiyoshi, Hiyoshi!"

Ia sedang bermimpi tentang ayahnya yang telah tiada. Dalam keadaan setengah sadar, ia memanggil, "Ayah!" Kemudian ia mengenali sosok yang berdiri di hadapannya itu. Ternyata ibunya. Ibunya diam-diam menyelinap keluar dari rumah untuk membawakan sedikit makanan.

"Makan ini dan tenangkan dirimu. Besok pagi aku akan minta maaf pada ayahmu."

Hiyoshi menggelengkan kepala dan menggenggam baju ibunya. "Bohong. Dia bukan ayahku. Ayahku sudah mati, kan?"

"Aduh, kenapa kau berkata begitu? Kenapa kau sangat keras kepala? Aku kan selalu berpesan agar kau menjadi anak baik."

Hati ibunya serasa disayat-sayat. Tapi Hiyoshi tidak mengerti mengapa ibunya menangis sampai tubuhnya terguncang-guncang.

Keesokan paginya, Chikuami mulai membentakbentak Onaka dari waktu matahari terbit. "Semalam kau pergi ke gudang dan memberinya makan, ya? Karena kau terlalu memanjakan dia, wataknya takkan pernah bertambah baik. Otsumi juga tidak boleh pergi ke gudang hari ini."

Pertengkaran antara suami-istri itu berlangsung sepanjang pagi, sampai ibu Hiyoshi akhirnya pergi sambil menangis. Ia baru kembali menjelang matahari tenggelam, ditemani seorang biksu dari Kuil Komyoji. Chikuami tidak bertanya ke mana istrinya pergi tadi. Ia sedang duduk di luar bersama Otsumi, menganyam tikar. Keningnya berkerut-kerut.

"Chikuami," si biksu berkata, "istrimu mendatangi kuil untuk menanyakan apakah anakmu bisa diterima sebagai pembantu pelaksana upacara. Apakah kau keberatan?"

Tanpa berkata apa-apa, Chikuami menatap Onaka yang berdiri di luar gerbang belakang sambil terisakisak.

"Hmm, mungkin ada baiknya. Tapi bukankah dia perlu penyokong?"

"Kebetulan istri Kato Danjo, yang tinggal di kaki Bukit Yabuyama, bersedia. Dia dan istrimu bersaudara, bukan?"

"Ah, jadi dia pergi ke rumah Kato?" Chikuami tampak getir, meskipun ia tidak keberatan Hiyoshi pindah ke kuil. Ia menerima tawaran itu tanpa banyak komentar, dan setiap pertanyaan dijawabnya pendekpendek saja.

Sambil menyuruh Otsumi melakukan sesuatu, Chikuami menyimpan peralatan taninya, lalu mulai bekerja dengan giat.

Setelah diizinkan keluar dari gudang, Hiyoshi berulang kali mendapat peringatan dari ibunya. Sepanjang malam ia digigiti nyamuk, dan wajahnya tampak bengkak. Ketika diberitahu bahwa ia akan pindah ke kuil, ia langsung berlinangan air mata. Namun dalam sekejap ia sudah tenang kembali.

"Tinggal di kuil lebih baik," katanya.

Hari masih terang, dan si biksu melakukan persiapan yang diperlukan bagi Hiyoshi. Ketika saat perpisahan makin mendekat, bahkan Chikuami pun kelihatan agak sedih.

"Monyet, kalau kau sudah tinggal di kuil, kau harus mengubah sikapmu dan belajar disiplin," ia berpesan pada anak tirinya. "Kau harus belajar membaca dan menulis. Kami ingin melihatmu menjadi pendeta dalam waktu singkat."

Hiyoshi bergumam sedikit dan membungkuk. Dari balik pagar, ia berkali-kali menoleh dan menatap sosok ibunya yang menyaksikannya menghilang di kejauhan. Kuil kecil itu berdiri di puncak bukit bernama Yabuyama, agak terpencil dari desa. Biksu kepala di kuil Buddha aliran Nichiren itu telah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Dua pendeta muda bertugas merawat semua bangunan dan pekarangan. Akibat perang saudara yang telah berlangsung bertahuntahun, desa itu dilanda kemiskinan, dan jemaat kuil itu tinggal sedikit. Hiyoshi, yang segera menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, bekerja keras, seakanakan ia telah menjadi orang lain. Ia cerdas dan penuh energi. Para biksu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan berjanji untuk mendidiknya dengan baik. Setiap malam ia diberi latihan kaligrafi serta pendidikan dasar, dan Hiyoshi memperlihatkan daya ingat yang luar biasa.

Suatu hari seorang biksu berkata padanya, "Saya bertemu ibumu di jalan kemarin. Saya memberitahunya bahwa kau baik-baik saja."

Hiyoshi belum bisa memahami kesedihan ibunya, tapi kalau ibunya gembira, ia ikut gembira.

Ketika musim gugur di usianya yang kesepuluh tiba, ia mulai merasakan bahwa lingkungan kuil terlalu membatasi gerak-geriknya. Kedua pendeta muda telah pergi ke desa-desa tetangga untuk memohon sedekah. Di tengah kepergian mereka, Hiyoshi mengambil sebilah pedang kayu yang disembunyikannya, serta sebatang tongkat buatan tangan. Kemudian ia berdiri di puncak bukit dan berseru pada teman-temannya yang sedang bersiap-siap main perang-perangan. "Hai, pasukan musuh, kalian bodoh semua! Ayo, kalian boleh serang aku dari segala penjuru!"

Meskipun waktunya tidak tepat, lonceng besar di menara lonceng tiba-tiba berbunyi. Orang-orang di kaki bukit terheran-heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Sebongkah batu melayang ke bawah, kemudian sebuah tegel, yang mengenai dan mencederai anak perempuan yang sedang bekerja di ladang sayur.

"Ini ulah anak di kuil itu. Dia mengumpulkan anakanak desa dan mereka main perang-perangan lagi."

Tiga atau empat orang mendaki bukit dan berdiri di depan ruang utama kuil. Pintunya terbuka lebar dan bagian dalamnya penuh abu. Baik ruangan melintang maupun tempat suci tampak porak-poranda. Pedupaan pun pecah. Panji-panji kelihatannya telah digunakan untuk tujuan tidak semestinya.

Tirai-tirai yang terbuat dari kain brokat berwarna emas telah terkoyak dan dilemparkan begitu saja, dan kulit gendang tampak sobek.

"Shobo!"

"Yosaku!" para orangtua memanggil anak-anak mereka.

Hiyoshi tidak menampakkan batang hidungnya; anak-anak yang lain pun tiba-tiba menghilang.

Ketika para orangtua telah kembali ke kaki bukit, kuil itu seakan-akan dilanda gempa. Semak belukar berdesir, batu-batu melayang, dan lonceng kembali berdentang. Matahari akhirnya tenggelam, dan anakanak, biru lebam dan berdarah, terpincang-pincang menuruni bukit.

Setiap malam, pada waktu para pendeta kembali dari memohon sedekah, penduduk desa mendatangi kuil dan mengeluh. Tapi, ketika para pendeta kembali malam itu, mereka hanya dapat saling menatap dengan terkejut.

Pedupaan di muka altar telah terbelah dua. Penyumbang benda berharga itu seorang laki-laki bernama Sutejiro, saudagar tembikar dari desa Shinkawa, salah seorang dari sedikit jemaah kuil yang masih bertahan. Pada waktu menyerahkan sumbangannya, tiga atau empat tahun sebelumnya, ia berpesan,

"Pedupaan ini dibuat oleh guruku, mendiang Gorodayu. Aku menyimpannya sebagai tanda mata. Beliau menghiasinya berdasarkan ingatan, dan beliau berhati-hati sekali ketika membubuhkan pigmen warna biru. Aku menyumbangkannya pada kuil ini dengan harapan agar pedupaan ini dijaga sebaikbaiknya sampai akhir zaman."

Biasanya pedupaan itu disimpan di dalam peti, tapi seminggu sebelumnya istri Sutejiro telah berkunjung ke kuil. Pedupaan dikeluarkan dari kotak penyimpanannya dan digunakan dalam upacara, namun tidak dikembalikan lagi.

Para biksu tampak pucat. Mereka semakin cemas ketika membayangkan kemungkinan pimpinan mereka bertambah sakit jika mendengar kabar buruk itu.

"Ini pasti ulah si Monyet," salah seorang biksu menduga-duga.

"Betul," rekannya sependapat. "Setan-setan cilik yang lain tak mungkin membuat kekacauan seperti ini."

"Apa yang bisa kita lakukan?"

Mereka menyeret Hiyoshi ke dalam, dan melemparkan pecahan pedupaan ke wajahnya. Meski tak ingat bahwa ia memecahkan pedupaan, Hiyoshi berkata, "Mohon ampun."

Permintaan maafnya membuat para biksu semakin berang, sebab Hiyoshi berbicara dengan tenang, tanpa menunjukkan tanda penyesalan.

"Kafir!" mereka memaki anak itu, lalu mengikatnya ke sebuah pilar besar, dengan kedua tangan di balik punggung.

"Kami akan membiarkanmu di sini selama beberapa hari. Barangkali kau akan dimakan tikus," para biksu mengancam.

Hal-hal seperti itu sering menimpa diri Hiyoshi. Kalau teman-temannya datang, ia takkan bisa bermain dengan mereka. Dan ketika mereka datang keesokan harinya, mereka melihat ia sedang dihukum, lalu segera kabur.

"Lepaskan aku!" ia berseru pada mereka. "Kalau tidak, akan kuhajar kalian!"

Peziarah-peziarah setengah baya dan seorang perempuan desa yang mengunjungi kuil mengejeknya, "Hei, bukankah itu monyet?" Saat itu Hiyoshi sudah cukup tenang untuk bergumam, "Awas, nanti kubalas." Tubuhnya yang kecil, terikat pada pilar kuil yang besar, tiba-tiba dipenuhi oleh rasa berkuasa yang amat besar. Namun ia tetap merapatkan bibir, dan walaupun sadar akan bahayanya, ia memasang wajah menantang sambil mengutuki nasib.

Ia tertidur, dan akhirnya terbangun oleh air liurnya sendiri. Hari itu seakan-akan tak ada akhirnya. Dengan bosan ia menatap pedupaan yang telah pecah. Pembuatnya telah membubuhkan tulisan dengan huruf-huruf kecil di dasar bejana itu: Dibuat dengan pertanda baik. Gorodayu.

Seto, sebuah desa yang berdekatan, dan sebenarnya

seluruh provinsi itu, terkenal karena barang-barang tembikarnya. Sebelum ini Hiyoshi tidak merasa tertarik, tapi kini, setelah melihat gambar pemandangan pada pedupaan, daya khayalnya mulai bekerja.

Pemandangan di manakah itu?

Gunung-gunung dan jembatan-jembatan batu, menara-menara dan orang-orang, pakaian-pakaian dan perahu-perahu yang semuanya belum pernah ia lihat, rergambar dengan warna biru di atas porselen putih. Semua itu mengusik rasa ingin tahunya.

Negeri manakah itu? ia bertanya-tanya.

Ia tak bisa menebaknya. Ia memiliki kecerdasan seorang bocah dan selalu haus akan pengetahuan, dan dengan semangat menggebu-gebu untuk mendapatkan jawaban, ia memaksa daya khayalnya untuk menemukan jawaban yang dapat mengisi kekosongan itu.

Mungkinkah ada negeri seperti itu?

Sementara ia berpikir keras, sesuatu terlintas di benaknya sesuatu yang pernah diajarkan padanya atau pernah didengarnya, tapi telah terlupakan.

Ia memeras otak.

Negeri Cina! Itu dia! Gambar itu gambar Negeri Cina! Ia merasa puas dengan dirinya. Ia menatap porselen berglasur itu, dan pikirannya melayang sampai ke Cina.

Akhirnya hari berganti malam. Para biksu kembali dari meminta-minta sedekah. Di luar dugaan mereka, Hiyoshi tidak berurai air mata. Mereka menemukannya sedang tersenyum lebar.

"Hukuman pun tak mempan. Dia tak bisa ditolong lagi. Lebih baik dia kita kembalikan ke orangtuanya."

Malam itu, salah seorang biksu memberi Hiyoshi makan malam, lalu membawanya ke rumah Kato Danjo di kaki bukit.

Kato Danjo sedang berbaring di dekat pintu. Ia seorang samurai, terbiasa menghadapi pagi dan malam di medan pertempuran. Jarang-jarang ia memiliki waktu untuk bersantai, dan pada kesempatankesempatan langka seperti itu, ia merasa tinggal di rumah terlalu damai baginya. Ketenangan dan istirahat merupakan dua hal yang patut ditakuti ia mungkin ketagihan.

"Oetsu!" "Ya?" Suara istrinya datang dari arah dapur. "Ada yang mengetuk pintu gerbang." "Paling-paling tupai."

"Bukan, ada orang di luar."

Sambil mengelap tangan, Oetsu pergi ke gerbang dan langsung kembali.

"Ada pendeta dari Komyoji," ia melaporkan. "Dia membawa Hiyoshi."

Wajahnya yang muda tampak kesal.

"Aha!" Danjo, yang telah menduga bahwa ini bakal terjadi, berkata sambil tertawa, "Rupanya si Monyet dapat cuti." Danjo mendengarkan cerita si biksu mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi baru-baru ini.

Sebagai orang yang menyokong penerimaan Hiyoshi di kuil, ia minta maaf pada semua pihak yang terlibat, dan mengambil alih tanggung jawab atas anak itu.

"Kalau dia memang tidak cocok sebagai biksu, tak ada yang dapat dilakukan. Kami akan mengirimnya pulang ke Nakamura. Saya minta maaf atas segala masalah yang ditimbulkannya."

"Tolong jelaskan semuanya pada orangtua anak itu," si biksu memohon, dan ketika ia berbalik, langkahnya mendadak lebih ringan, seakan-akan bahunya telah terbebas dari beban berat. Hiyoshi tampak bingung. Penuh curiga ia menatap berkeliling. Dalam hati ia bertanya-tanya, rumah siapakah yang didatanginya. Ia tidak mampir ke sini waktu pergi ke kuil, dan ia pun tidak diberitahu bahwa ia memiliki saudara yang tinggal di dekat situ.

"Hmm, bocah cilik, kau sudah makan malam?" tanya Danjo. Ia tersenyum.

Hiyoshi menggelengkan kepala. "Kalau begitu, makan saja kue-kue ini."

Sambil mengunyah, Hiyoshi mengamati tombak yang tergantung di atas pintu, dan lambang pada dada baju tempur, lalu menatap tajam ke arah Danjo.

Betulkah ada yang tidak beres dengan anak ini? Danjo bertanya pada dirinya sendiri. Ia merasa ragu-ragu. Ia membalas tatapan Hiyoshi, namun Hiyoshi tidak mengalihkan mata ataupun menundukkan kepala. Tak ada tanda-tanda kelainan jiwa. Ia malah tersenyum ramah.

Danjo mengalah dan tertawa. "Kau sudah besar sekarang, ya? Hiyoshi, kau masih ingat aku?"

Ucapan ini mengusik kenangan samar-samar dalam ingatan Hiyoshi, mengenai seorang laki-laki yang pernah menepuk-nepuk kepalanya ketika ia berusia enam tahun.

Sesuai dengan kebiasaan para samurai, Danjo hampir selalu bermalam di benteng di Kiyosu atau di medan laga. Hari-hari saat ia tinggal di rumah bersama istrinya bisa dihitung. Kemarin ia pulang secara tak terduga, dan besok ia sudah harus kembali ke Kiyosu. Dalam hati Oetsu bertanya-tanya, berapa bulan akan berlalu sebelum mereka bisa bersama-sama lagi?

Anak itu menyusahkan saja! pikir Oetsu. Kedatangan Hiyoshi tidak menguntungkan. Ia mengangkat wajahnya sambil tersipu malu. Bagaimana pandangan keluarga suaminya? Apakah ini betul-betul anak saudara perempuannya?

Ia bisa mendengar suara Hiyoshi yang melengking dari ruang duduk suaminya, "Tuan ini yang menunggang kuda dengan samurai-samurai lain waktu itu."

"Kau masih ingat, ya?"

"Tentu." Hiyoshi melanjutkan dengan nada akrab, "Kalau begitu, Tuan bersaudara denganku. Tuan bertunangan dengan adik perempuan ibuku."

Oetsu dan seorang pelayan pergi ke ruang keluarga untuk mengambil baki. Mendengar bahasa yang digunakan Hiyoshi serta suaranya yang keras, Oetsu merasa malu. la membuka pintu geser dan memanggil suaminya.

"Makan malam sudah siap."

la melihat suaminya sedang adu panco dengan Hiyoshi. Wajah anak itu tampak merah, pantatnya terangkat seperti ekor tawon. Danjo pun bertingkah seperti anak kecil.

"Makan malam?" ia bertanya. "Nanti supnya dingin."

"Kau makan duluan saja. Anak ini lawan tangguh.

Kami lagi asyik. Haha! Dia memang ajaib!"

Danjo tampak senang dengan sikap Hiyoshi yang apa adanya. Bocah itu, yang memang selalu cepat berteman dengan siapa pun, hampir sepenuhnya menguasai pamannya. Setelah adu panco, mereka melanjutkan dengan boneka jari. Mereka terus melakukan permainan anak-anak, sampai Danjo tertawa terpingkal-pingkal.

Keesokan harinya, menjelang keberangkatannya, Danjo berkata pada istrinya yang tampak murung, "Kalau orangtuanya tidak keberatan, bagaimana kalau kita membiarkannya di sini? Aku sangsi dia bakal berguna, tapi kurasa masih lebih baik daripada memelihara monyet sungguhan."

Gagasan itu kurang berkenan di hati Oetsu. Ia menemani suaminya sampai ke pintu gerbang, lalu berkata, "Jangan. Dia akan mengganggu ibumu. Itu tidak boleh terjadi."

"Terserah kau saja."

Oetsu tahu bahwa setiap kali Danjo pergi dari rumah, pikiran suaminya terpusat pada majikannya dan pada pertempuran-pertempuran. Apakah dia akan pulang dalam keadaan hidup? Ia bertanya-tanya. Apakah begitu penting bagi seorang laki-laki untuk mengukir nama bagi dirinya? Oetsu memperhatikan sosok suaminya menjauh, dan membayangkan bulanbulan penuh kesepian yang menunggunya. Kemudian ia menyelesaikan semua pekerjaan di rumah, dan berangkat bersama Hiyoshi, menuju Nakamura.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang laki-laki yang datang dari arah berlawanan. Ia tampak seperti pedagang, mungkin pemilik sebuah usaha besar. Ia mengenakan mantel gemerlapan, sebilah pedang pendek, dan di kakinya, kaus kaki kulit berhiaskan gambar bunga ceri. Usianya sekitar empat puluh tahun, dan penampilannya ramah-tamah.

"Bukankah Nyonya istri Tuan Danjo? Hendak ke manakah Nyonya?"

"Ke rumah saudara perempuanku di Nakamura, untuk mengantar anak ini pulang." Oetsu mengangkat tangan Hiyoshi sedikit lebih tinggi.

"Ah, tuan cilik ini. Inilah bocah yang diusir dari Komyoji."

"Tuan sudah mendengar beritanya?"

"Oh, ya. Sebenarnya aku baru kembali dari kuil itu." Dengan gelisah Hiyoshi menatap berkeliling. Belum pernah ia dipanggil tuan cilik. Ia tersipu-sipu karena

malu.

"Ya ampun, Tuan mengunjungi kuil karena anak ini?"

"Ya, para biksu datang ke rumahku untuk minta maaf. Aku diberitahu bahwa pedupaan yang kusumbangkan pada mereka telah terbelah dua."

"Setan kecil ini yang bertanggung jawab!" ujar Oetsu.

"Nyonya tidak boleh berkata begitu. Hal-hal semacam ini mungkin saja terjadi."

"Aku mendengar bahwa pedupaan itu merupakan karya langka dan terkenal."

"Betul, hasil karya Gorodayu. Aku mengabdi kepada beliau selama perjalanannya ke Negeri Ming."

"Bukankah dia juga menggunakan nama Shonzui?" "Ya, tapi beliau jatuh sakit dan meninggal beberapa waktu lalu. Beberapa tahun belakangan ini, banyak barang porselen berwarna putih-biru dibuat dengan tulisan 'Karya Shonzui Gorodayu', tapi semuanya palsu. Satu-satunya orang yang pernah mengunjungi Negeri Ming dan membawa kembali teknik pembuatan tembikar mereka kini telah berada di alam baka."

"Aku juga diberitahu bahwa Tuan mengadopsi anak Tuan Shonzui yang bernama Ofuku."

"Itu betul. Anak-anak mengejeknya dengan julukan 'si Anak Cina." Si saudagar menatap Hiyoshi. Mendengar nama Ofuku disebut-sebut, ia bertanyatanya, siapa gerangan laki-laki di hadapannya ini.

"Rupanya," si saudagar melanjutkan, "Hiyoshi ini satu-satunya yang mau membela Ofuku. Jadi, ketika Ofuku mendapat kabar tentang kejadian terakhir itu, dia minta padaku untuk menengahinya. Ternyata banyak hal lain telah terjadi. Para biksu menceritakan kelakuan Hiyoshi yang buruk, dan aku tidak berhasil membujuk mereka untuk menerimanya kembali."

Dada si saudagar bergerak naik-turun karena tertawa.

"Orangtuanya pasti sudah memiliki rencana untuknya," laki-laki itu berkata, "tapi seandainya dia hendak dikirim ke tempat lain, jika orangtuanya menganggap usaha seperti usahaku cocok untuknya, aku ingin membantu. Entah kenapa, kurasa dia cukup menjanjikan."

Setelah mohon diri dengan sopan, ia meneruskan perjalanannya. Beberapa kali Hiyoshi menoleh ke arahnya, sambil terus berpegangan pada lengan baju Oetsu.

"Bibi, siapakah orang itu?"

"Namanya Sutejiro. Dia saudagar besar yang berdagang barang tembikar dari mancanegara."

Selama beberapa saat Hiyoshi berjalan sambil membisu.

"Negeri Ming, di manakah itu?" ia tiba-tiba menanyakan apa yang baru didengarnya.

"Itu sebutan lain untuk Cina."

"Di mana itu? Seberapa besar negerinya? Apakah mereka juga punya benteng dan samurai dan pertempuran di sana?"

"Jangan rewel. Lebih baik kau diam saja, mengerti?" Oetsu mengguncang lengannya dengan kesal, tapi omelan bibinya dianggap angin lalu saja oleh Hiyoshi. Ia mendongakkan kepala dan menatap langit biru. Langit itu sungguh menakjubkan. Kenapa warnanya begitu biru? Kenapa manusia harus terpaku di tanah? Kalau saja manusia bisa terbang seperti burung, barangkali ia sendiri juga bisa mengunjungi Negeri Ming. Sebenarnya burung-burung yang tergambar di pedupaan sama saja dengan burung-burung di Owari.

Hiyoshi ingat bahwa pakaian yang dikenakan orangorang di lukisan itu tampak berbeda, begitu juga bentuk kapal-kapal mereka, namun burung-burungnya sama. Mungkin karena burung tidak mengenai batas negara. Langit dan bumi merupakan satu negara besar bagi mereka.

Aku ingin berkunjung ke negara-negara lain, pikir Hiyoshi.

Hiyoshi belum pernah memperhatikan betapa kecil dan miskinnya rumah orangtuanya. Tapi, ketika ia dan Oetsu mengintip ke dalam, untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa rumah itu gelap bagaikan ruang bawah tanah, biarpun di siang hari bolong. Chikuami tidak kelihatan. Barangkali ia sedang pergi untuk menyelesaikan suatu urusan.

"Selalu saja membuat onar," Onaka berkata setelah mendengar laporan mengenai perbuatan terakhir Hiyoshi. Ia mendesah panjang. Raut wajah anak itu acuh tak acuh. Tapi mata Onaka tidak menyorotkan tatapan menyalahkan ketika menatap Hiyoshi. Ia justru terkejut betapa anaknya itu bertambah besar dalam waktu dua tahun. Dengan curiga Hiyoshi menatap bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Entah kapan, anggota keluarganya telah bertambah satu. Dengan sekonyong-konyong ia meraih kepala si bayi, menariknya dari puting ibunya, dan mengamatinya.

"Kapan bayi ini lahir?" ia bertanya.

Ibunya tidak menjawab, melainkan berkata, "Kau telah jadi kakak. Karena itu, kau harus bersikap seperti seorang kakak."

"Siapa namanya?" "Kochiku." "Namanya aneh," ia berkomentar, sambil merasa amat berkuasa atas anak kecil itu. Seorang kakak bisa memaksakan kehendaknya pada seorang adik.

"Mulai besok, aku akan menggendongmu di punggungku, Kochiku," ia berjanji. Tetapi pegangannya terlalu keras, dan Kochiku mulai menangis.

Ayah tirinya muncul ketika Oetsu tengah bersiapsiap pergi. Onaka telah memberitahu adiknya bahwa Chikuami sudah bosan berusaha menghapus kemiskinan mereka. Kini ia hanya duduk-duduk sambil minum sake, dan wajahnya tampak merah ketika ia memasuki rumah.

Begitu melihat Hiyoshi, ia langsung berteriak. "Bajingan! Kau diusir dari kuil dan berani datang ke

sini?"