--> -->

Suling Pusaka Kemala Jilid 29 (Tamat)

Jilid XXIX (Tamat)

"TAHUKAH engkau, apa nama lagu yang biasa dimainkan dengan tiupan suling oleh Puteri Chai Li?" tanya Kaisar Cheng Tung kepada Ki Seng.

Ki Seng diam saja, tidak mampu menjawab dan tampak bingung, wajahnya berubah agak pucat.

"Hayo jawab!" bentak Kaisar Cheng Tung. "Hamba....hamba tidak ingat lagi..... sudah terlalu lama "

Kaisar menoleh kepada seorang perwira pengawal. "Ambil suling itu dan serahkan kepada Han Lin."

Kepala pengawal itu menghampiri Ki Seng. Tanpa berkata apapun Ki Seng menyerahkan suling itu dan kepala pengawal membawanya kepada Han Lin dan menyerahkan suling itu.

Han Lin menerima dan menempelkan suling itu pada dada dan bibirnya dengan rasa haru yang mendalam karena dia teringat kepada ibunya.

"Han Lin, tahukah engkau lagu apa yang sering dimainkan ibu kandungmu dengan suling ini?" tanya Kaisar Cheng Tung.

"Hamba tahu, Yang Mulia. Lagu itu adalah sebuah lagu Mongol yang berjudul Suara Hati Seorang Gadis."

Kaisar Cheng Tung tersenyum dan mengangguk-angguk. "Dan engkau dapat memainkan lagunya dengan Suling Pusaka Kemala itu?"

"Akan hamba coba, Yang Mulia."

"Mainkanlah dan buktikan kepada semua orang bahwa sebenarnya engkaulah Pangeran Cheng Lin yang aseli." Keadaan menjadi hening sekali karena semua orang ingin sekali mendengar apakah Han Lin benar-benar akan dapat mainkan suling itu dengan benar. Yang tahu akan kebenarannya tentu saja hanya Kaisar Cheng Tung karena dia seoranglah yang mengenal lagu yang biasa dimainkan Puteri Chai Li itu.

Dari dalam keheningan itu mencuat keluar suara suling yang mengalun merdu dan Kaisar Cheng Tung memejamkan kedua matanya. Lagu Suara Hati Seorang Gadis itu membawanya melayang ke masa lalu dan terbayanglah dalam benak-nya gadis Mongol jelita yang menjadi kekasihnya, Puteri Chai Li duduk dengan agungnya dan meniup suling itu.

Ketika suara suling itu berhenti, Kaisar Cheng Tung membuka kedua matanya dan ternyata sepasang bola mata itu ber-linang air mata. "Han Lin, engkaulah Pangeran Cheng Lin yang aseli, engkau-lah puteraku, putera Chai Li. , kesini-

lah, Cheng Lin, biarkan aku memeluk-mu!"

Han Lin merangkak maju menghampiri dan Kaisar Cheng Tung lalu merangkul-nya. Sepasang mata Han Lin atau Pangeran Cheng Lin bercucuran air mata. Dia terharu, bahagia dan juga sedih teringat akan ibunya.

Terdengar tepuk tangan dan semua orang tercengang dan memandang. Ternyata yang bertepuk tangan itu adalah sian Eng. Saking girangnya ia lupa diri, Ia sedang berada dalam istana, di ruangan persidangan lagi. Akan tetapi sungguh aneh, ketika semua orang memandangnya, para menteri dan pejabat itu serentak ikut bertepuk tangan karena merekapun merasa gembira.

Akan tetapi suara tepukan gemuruh itu masih kalah oleh nyaringnya teriakan yang keluar dari mulut Ki Seng, "Keparat Han Lin! Engkau atau aku yang akan mati di sini!"

Semua orang terkejut dan menengok, Ki Seng sudah bangkit dengan marah sekali. Wajahnya menjadi merah dan menyeramkan, matanya mencorong seperti mata harimau dalam kegelapan. Melihat ini, Kaisar Cheng Tung berseru kepada para pengawal, "Tangkap pangeran palsu yang jahat ini!"

Pasukan pengawal segera dipimpin dua orang perwira pengawal, siap untuk mengepung.

"Yang Mulia ayahanda Kaisar, perkenankanlah hamba

yang akan menandinginya." kata Han Lin atau Pangeran Cheng Lin kepada ayah kandungnya.

"Jangan, Cheng Lin, biar pasukan yang menangkapnya. Dia berbahaya sekali." kata Kaisar Cheng Tung yang mengkhawatirkan keselamatan putera yang baru ditemukan itu.

"Omitohud ! Sri Baginda, biarkan saja mereka berdua itu

membuktikan apa yang benar dan siapa salah di antara mereka. Yang benar akhirnya tentu menang dan yang salah kalah!" kata Cheng Hian Hwesio. Mendengar ucapan paman kakeknya yang juga menjadi guru dari kedua orang muda itu, Kaisar Cheng Tung percaya dan merasa tenang. Dia memberi isarat kepada para pengawal dengan tangannya. Para pengawal itu disuruh mundur oleh dua orang perwira dan mereka hanya berjaga-jaga di pinggiran. Sementara itu, Han Lin atau Pangeran Cheng Lin melangkah maju menghampiri Ki Seng yang sudah siap dan bertekad untuk mengamuk dan terutama sekali membunuh Han Lin yang telah membuka rahasianya. Dia tahu bahwa kiranya tidak mungkin baginya untuk dapat lolos keluar dari istana yang terjaga ketat itu.

Tidak mungkin baginya untuk melawan pasukan kota raja yang berjumlah ribuan. Akan tetapi dia tidak mau mati begitu saja menerima hukuman. Dia harus dapat membunuh Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa dan kalau mungkin, dia hendak membunuh pula kaisar! Akan tetapi pertama-tama dia harus membunuh Han Lin yang dianggap musuh besarnya. Kini dua orang muda itu berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga meter. Han Lin berdiri dengan sikap tenang sekali, kedua bola matanya masih basah. Sebaliknya Ki Seng berdiri agak membungkuk seperti seekor biruang hendak menerkani mangsanya.

"Han Lin, engkau merusak kebahagiaan hidupku. Engkau harus mati di tangan ku!" bentak Ki Seng dan suaranya sudah tidak seperti biasa lagi, tidak lembut ramah melainkan parau dan mengandung ancaman yang mengerikan.

"A-seng, kalau ada orang tersesat dan melakukan kejahatan, hal itu masih wajar. Akan tetapi engkau selalu membalas kebaikan orang dengan kejahatan, hal itu sungguh keterlaluan sekali. Suhu Cheng Hian Hwesio menampung dan menerima-mu sebagai murid yang disayangi, namun apa balasmu? Engkau membunuh Paman Nelayan Gu dan Paman Petani Lai dua orang pembantu setia Suhu Cheng Hian Hwesio, engkau membakar pondok suhu dan bahkan berani menyerang dan hendak membunuh Suhu Cheng Hian Hwesio. Kemudian, sebagai saudara seperguruan-mu, aku besikap jujur dan baik kepada-mu, menceritakan riwayatku yang kurahasiakan kepada orang lain. Akan tetapi apa yang kaulakukan terhadap aku? Engkau mencuri Suling Pusaka Kumala, bukan itu saja, bahkan engkau mengatur siasat untuk melempar fitnah keji kepadaku sehingga nyaris aku dihukum mati. Kemudian, yang sungguh amat jahat sekali, engkau diterima dan diperlakukan dengan penuh kebijaksanaan dan baik sekali oleh Sri Baginda Kaisar, engkau dijadikan seorang pangeran yang mulia dan dihormati, akan tetapi apa balasmu? Engkau bersekongkol dengan Pangeran Cheng Boan untuk membunuhi semua pangeran agar kelak engkau yang akan menggantikan kedudukan Kaisar. Sungguh dosamu tak mungkin dapat diampuni, A-seng!"

Pada saat itu terdengar suara gaduh di sebelah kiri. "Heii, kau kira akan dapat melarikan diri dariku?" Tampak bayangan merah muda berkelebat. Tahu-tahu Sian Eng sudah mencengkeram leher baju Pangeran Cheng Boan yang hendak melarikan diri secara diam-diam dan sekali banting, tubuh Pangeran Cheng Boan yang gendut itupun terpelanting keras dan roboh menelungkup, Punggungnya diinjak kaki kanan Sian Eng sehingga dia tidak mampu berkutik.

"Yang Mulia, apa yang harus hamba lakukan dengan pengkhianat ini?" tanya Sian Eng sambil memandang ke arah Kaisar Cheng Tung. Perbuatan dan sikap gadis ini sungguh lancang sekali dan bisa dianggap kurang sopan di hadapan Kaisar. Akan tetapi Kaisar Cheng Tung menganggap gadis pemberani itu tangkas dan lucu. Dia tersenyum dan memberi perintah kepada kepala pengawal.

"Tangkap Pangeran Cheng Boan yang berkhianat itu dan jebloskan dulu dalam penjara menanti keputusan hukuman!"

"Ampun, ampunkan hamba, kakanda kaisar !" Pangeran

Cheng Boan meratap. Akan tetapi para pengawal sudah menangkap, membelenggu dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.

"A-seng, sekutumu sudah ditangkap. Lebih baik engkau menyerah untuk ditangkap dan diadili sebagaimana mestinya." kata Han Lin.

"Mampuslah engkau!" bentak Ki Seng yang menjadi semakin marah melihat. Pangeran Cheng Boan sudah ditangkap. Habislah semua harapannya. Selain Pangeran Cheng Boan, tidak ada lagi yang akan dapat membela dan mendukungnya. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia menggunakan jurus Sin-liong-to-sim (Naga Sakti Menyambar Hati), sebuah jurus dari ilmu silat Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang ampuh dan yang dia pelajari dari Cheng Hian Hwesio. Kedua tangannya membentuk cakar naga dan mencengkeram ke arah dada Han Lin. Jari-jari kedua tangan Ki Seng itu seakan telah berubah menjadi baja dan kalau cakarannya mengenai dada lawan, dada itu akan terkoyak dan hatinya akan dapat dirogoh dan disambar keluar!

Han Lin mengenai jurus ini karena diapun telah mempelajari Sin-liong Ciang hoat dari Cheng Hian Hwesio. Dia tahu betapa dahsyat dan berbahaya serangan Ki Seng itu, Dengan tenang namun cepat dia menggeser kakinya ke belakang lalu tubuhnya condong ke kiri, merendah dan kelagi kedua tangan Ki Seng lewat dia menghantam dari bawah dengan tangan kanannya ke arah lambung kanan lawan.

Serangan balik ini dilakukan cepat sekali. Gerakan Han Lin ini mengelak dan seka-ligus menyerang maka tentu saja berbahaya bagi lawan karena tidak tersangka-sangka. Namun Ki Seng sudah memutar lengan kanan yang luput mencengkeram tadi ke kanan bawah menangkis pukulan tangan kanan Han Lin.

"Dukkk!" Dua buah lengan bertemu dan keduanya terdorong ke belakang oleh kekuatan yang dahsyat. Kiranya keduanya tadi telah mempergunakan sin-kang yang amat kuat. Mereka bersiap lagi dan segera terjadi pertandingan yang amat seru. Ouw Ki Seng bersilat dengan Sin liong Ciang- hoat dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling dahsyat.

Walaupun Han Lin juga pernah mempelajari ilmu silat ini, namun dibandingkan Ki Seng, dia kalah matang dalam latihan. Karena itu, dia menandingi ilmu silat Ki Seng Itu dengan ilmu silat Ngo-heng Sin-kun yang dia pelajari dari Bu-beng Lo-jin.

Cheng Hian Hwesio ketika menurunkan ilmu ilmunya kepada Han Lin untuk dapat menandingi Ki Seng, telah melihat bahwa Ngo-heng Sin-kun yang dikuasai Han Lin cukup tangguh dapat mengatasi Sin-liong Ciang-hoat. Dan ternyata perhitungan hwesio tua itu benar. Pertandingan tangan kosong itu berlangsung seru dan tampaknya seimbang. Namun perlahan- lahan Han Lin mulai mendesak Ki Seng. Mereka saling terjang dengan pengerahan sin-kang yang amat kuat sehingga gerakan kedua tangan mereka mendatangkan angin pukulan yang bersuitan, bahkan angin pukulan itu terasa oleh mereka yang berada dalam ruangan persidangan yang luas itu. Ki Seng mencoba menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk mengungguli lawannya, namun Han Lin mengimbanginya dengan gin-kang yang tidak kalah ringannya. Tubuh kedua orang muda itu berkelebat dan kadang lenyap.

Bagi yang ilmu silatnya tidak berapa tinggi, sukar sekali untuk dapat mengikuti gerakan kedua orang itu. Yang tampak hanya dua bayangan orang berkelebat ke sana - sini, berputaran dan sukar mengenal mana Han Lin dan mana Ki Seng. Akan tetapi Cheng Hian Hwesio dapat mengikuti pertandingan itu dan dia melihat betapa perlahan tetapi pasti, Han Lin mulai mendesak Ki Seng.

"Haiiiiittt !!" Tiba-tiba Ki Seng membentak nyaring. Dia

mengerahkan tenaga sin-kang dan menggunakan jurus Sin- liong-hoan-sin (Naga Sakti Memutar Tubuh). Tubuhnya yang tadinya mengelak atas pukulan Han Lin dan membalik, kini berputar cepat sekali dan tahu-tahu kedua tangan membentuk cakar dan menyerang. Yang kiri mencakar ke arah kepala Han Lin, sedangkan yang kanan mencengkeram ke arah perut.

Serangan ini hebat bukan main, Han Lin mengenal jurus ini dan tahu bahwa cakaran tangan kiri ke arah muka Han Lin itu hanya gertakan atau untuk mengalihkan perhatian saja sedangkan inti penyerangan terletak pada cengkeraman tangan kanan ke arah perutnya. Karena itu, cepat dia mengelak ke kanan sehingga cengkeraman tangan kiri lawan itu luput. Ketika cengkeraman tangan kanan Ki Seng mengejar dan menyambar ke arah perutnya, Han Lin yang sudah memperhitungkan itu cepat menangkis dengan tangan kirinya dan pada saat itu juga kaki kanannya mencuat dan menendang ke arah perut Ki Seng. Ki Seng yang tidak mengenal Ngo-heng Sin-kun terkejut sekali. Tidak sempat lagi dia mengelak atau menangkis, maka dia mengerahkan sin- kang untuk melindungi perutnya dengan kekebalan.

"Wuuuttt dukkk!" Tubuh Ki Seng terpental sampai

empat meter jauhnya. Akan tetapi dia turun berdiri dan sama sekali tidak menderita luka dalam, hanya terasa agak nyeri pada kulit perut yang tertendang.

Melihat barisan pengawal bersenjata tombak panjang berjajar di sebelah kiri, tiba-tiba Ki Seng menubruk ke kiri dan dengan gerakan cepat sekali dia telah menotok lemas seorang perajurit pengawal dan merampas tombaknya. Tanpa mengeluarkan kata-kata dia menerjang ke depan dan menyerang Han Lin yang bertangan kosong itu dengan tombaknya. Dia memainkan tombaknya seperti senjata tongkat atau tombak itu kini membentuk sinar panjang bergulung-gulung dan menyerbu ke arah Han Lin bagaikan seekor naga mengamuk. Inilah In-liong-tung-hoat (Ilmu Tongkat Naga Awan), ilmu tongkat ampuh gemblengan Cheng Hian Hwesio. Tongkat atau tombak di tangan Ki Seng itu menyambar-nyambar secara bergelombang dengan dahsyat sekali, suaranya mengiuk-ngiuk dan ke manapun tubuh Han Lin berkelebatan mengelak, sinar tombak itu terus mengejarnya bagaikan tangan maut. Menghadapi tongkat yang menyambar-nyambar ganas itu, Han Lin terdesak hebat dan dia hanya mampu mengelak dan kadang menangkis dengan lengannya.

"Han Lin, sambutlah tongkat pinceng ini!" tiba-tiba terdengar seruan Cheng Hian Hwesio dan dia sudah melemparkan tongkat bambunya kepada Han Lin yang melompat ke belakang. Pemuda itu girang sekali dan cepat menyambar tongkat bambu milik Hwesio tua itu.

"Terima kasih, suhu!" katanya dan kini Han Lin bagaikan seekor harimau tumbuh sayap. Dia memiliki ilmu tongkat yang amat hebat, juga amat aneh gerakannya, yang disebut Sin- tek-tung (Tongkat Bambu Sakti) dan kebetulan sekali tongkat bambu milik Cheng Hian Hwesio itupun merupakan sebatang tongkat bambu. Maka begitu dia memutar tongkat-nya, terdengarlah suara menderu-deru yang menyambut gulungan sinar tombak yang dimainkan Ki Seng. Terjadilah pertandingan silat tongkat yang amat dahsyat. Bayangan dua orang yang kadang tampak kadang tidak itu terselimuti dua gulungan sinar yang saling menghimpit dan saling mendesak, diseling bunyi nyaring beradunya batang tombak dan tongkat,,

Melihat kemahiran Ki Seng yang dapat mengimbangi permainan tongkat Han Lin, Cheng Hian Hwesio menghela napas panjang dan berkata seorang diri lirih. "Omitohud, bakat yang demikian hebat mengapa terdapat pada orang yang berwatak demikian rendah? Pinceng telah salah lihat, pinceng memang bodoh sekali. Omitohud "

Sian Eng yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Cheng Hian Hwesio berkata lirih untuk menghibur. "Banyak sekali orang yang kita kira sebaik-baiknya orang akan tetapi ternyata sejahat-jahat-nya orang, lo-cian-pwe, Saya sendiri juga terkecoh oleh Suma Kiang yang teramat jahat, padahal dahulu saya kira dia sebaik-baiknya orang di dunia ini."

Pertandingan itu berlangsung seru dan mati-matian. beberapa kali Kaisar Cheng Tung merasa khawatir dan hendak memberi perintah kepada para pengawal untuk mengeroyok Ki Seng, akan tetapi ketika bertemu pandang dengan Cheng Hian Hwesio dia melihat kakek itu menggelengkan kepala kepadanya sehingga hatinya tenang kembali karena dia mengerti bahwa kakeknya yang menjadi guru kedua orang muda yang sedang berkelahi itu agaknya yakin bahwa Cheng Lin akan keluar sebagai pemenang.

Memang demikianlah. Cheng Hian Hwesio yang dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan baik melihat bahwa seperti yang dahulu pernah diperhitungkannya, melihat dengan jelas bahwa Han Lin atau Cheng Lin masih lebih tangguh. Kini tongkat bambu itu mulai mengurung dan mendesak tombak di tangan Ki Seng. Pada saat pertandingan sudah berlangsung hampir lima puluh jurus, tiba-tiba Ki Seng mengeluarkan bentakan nyaring dan tombaknya menusuk ke arah dada Han Lin. Pemuda ini melihat datangnya tombak yang amat cepat dan kuat itu, mencondongkan tubuhnya ke kanan dan ketika tombak meluncur di bawah lengan kirinya yang dia kembangkan dia cepat menggunakan lengak kirinya untuk menjepit tombak dan tangan kirinya menangkap batang tombak. Pada saat yang sama, tangan kanannya yang memegang tongkat bambu sudah menggerakkan tongkat bambu yang menotok ke arah pergelangan tangan kanan Ki Seng.

Tentu saja Ki Seng terkejut dan terpaksa melepaskan tombaknya dari pegangan tangan kanan. Akan tetapi tongkat bambu itu dengan cepatnya menyambar ke arah pergelangan tangan kiri sehingga kembali Ki Seng terpaksa melepaskan pegangan tangan kirinya. Dengan sendirinya tombak itu berpindah ke tangan kiri Han Lin.

Ki Seng melompat mundur, wajahnya berubah pucat. Kalau dinilai sebagai sebuah pertandingan, jelas bahwa dia sudah kalah dua kali. Pertama kali dia kalah dalam mengadu ilmu silat tangan kosong tadi, kemudian untuk kedua kali-nya dia kalah dalam bertanding menggunakan senjata. Melihat lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin melepaskan tombak rampasan dan tongkat bambu kepada Sian Eng.

"Eng-moi, kembalikan tongkat kepada suhu!" katanya. Sian Eng dengan cekatan menyambar dua batang senjata yang di lemparkan kepadanya itu. Kemudian dia menyerahkan kembali tongkat bambu kepada Cheng Hian Hwesio dan tombak kepada pengawal sebagai pemiliknya.

Ki Seng kini sudah berhadapan dengan Han Lin, keduanya bertangan kosong. "A-seng, lebih baik engkau menyerahkan diri untuk diadili." kata Han Lin.

"Persetan dengan kamu!" Ki Seng membentak dan dia sudah menerjang lagl dengan tangan kosong. Dia mengerahkan tenaga dalamnya dan ketika dia menyerang, dari kedua telapak tangannya keluar uap putih yang mendahului pukulannya menyambar ke arah Han Lin. Han Lin mengenal ilmu vang dahsyat itu. Itulah Pek in Hoat-sut (ilmu Sihir Awan Putih). Baru uap putih itu saja sudah dapat melumpuhkan semangat lawan karena mengandung kekuatan sihir yang amat ampuh! Akan tetapi dia sudah tahu bagaimana untuk menghadapi ilmu ini, atas petunjuk Cheng Hian Hwesio dahulu ketika menggemblengnya. Ketika awan putih itu menjadi semakin tebal dan seperti hidup menyerbu ke arahnya, dia lalu mengeluarkan teriakan yang melengking dan menggetarkan seluruh ruangan itu. Itulah Imu Sai-cu Ho - kang (Auman Singa) yang dapat membuyarkan segala macam kekuatan sihir dan kedua tangannya didorongkan ke depan dengan pengerahan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang (Tenaga Sakti Matahari Bulan).

"Wirrrr...!" Uap putih yang tebal itu ketika dilanda getaran suara seperti auman singa seolah ditiup angin keras dan membalik! Ki Seng yang menjadi marah nekat menerjang maju sambil memukul dengan kedua tangan terbuka didorongkan ke arah dada Han Lin. Han Lin menyambutnya dengan kedua tangannya pula. Kini kedua orang itu sudah mengambil keputusan untuk mengadu tenaga mempertahankan nyawa.

"Blarrrr !" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di

udara dan dua tenaga raksasa yang dahsyat bertumbukan. Bahkan sebelum telapak tangan mereka bersentuhan, mereka berdua sudah terdorong oleh tenaga kuat sekali sehingga keduanya terpental ke belakang! Han Lin ter-huyung dan wajahnya pucat sekali, napasnya agak terengah. Dia mengalami pukulan hebat di dalam dadanya, akan tetapi masih dapat dia tahan dengan tenaga saktinya. Sebaliknya, Ki Seng terlempar ke belakang dan hampir saja terbanting roboh. Biarpun dia dapat menahan sehingga tidak sampai roboh, namun dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah segar, tanda bahwa dia sudah menderita luka dalam. Melihat keadaan Ki Seng, kembali Han tin berkata, "A-seng, lebih baik menyerah agar dapat diadili."

"A-seng, engkau manusia tolol!" Sian Eng berseru dan tanpa ragu kini ia menyebut orang yang tadinya dianggap sebagai Pangeran Cheng Lin dengan nama A-seng, menirukan Han Lin. "Engkau hanya diperalat oleh Pangeran Cheng Boan untuk membunuhi semua pangeran Kalau sudah berhasil, engkau sendiri akan disingkirkan dan dibunuh olehnya! Lebih baik engkau menyerah. Engkau tidak akan mampu menang melawan Lin-ko!"

Mendengar ini, Ki Seng mengerutkan alisnya. Kini terbukalah matanya bahwa dia telah dipermainkan dan diperalat Pangeran Cheng Boan. Baru dia menyadari dan sekarang baru dia mengerti mengapa begitu mudahnya dia menggauli dan berjina dengan para selir pangeran itu. Kiranya para selir itu memang diumpankan untuk memancingnya.

Kesadaran ini membuat dia menjadi semakin marah dan karena yang dihadapi hanya Han Lin maka semua kemarahannya dia tumpah-kan kepada pemuda itu.

"Mampuslah kau!" bentaknya dan kini dia menerjang dengan menggunakan kedua jari telunjuknya. Terdengar suara bercuitan ketika dua buah jari telunjuk itu menyerang ke arah tubuh Han Lin. Itulah It-yang-ci, ilmu menotok jalan darah yang amat hebat itu. Untung bagi Han Lin bahwa digembleng Cheng Hian Hwesio dan mempelajari It-yang-ci.

Kalau tidak, tentu dia berada dalam bahaya ketika Ki Seng menyerangnya dengan ilmu yang ampuh itu. Melihat serangan ini, Han Lin juga memainkan It-yang-ci untuk mengimbanginya. Terkejutlah hati Ki Seng melihat ini dan mengertilah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat mengalahkan Han Lin dan bahwa gurunya, Cheng Hian Hwesio yang mengajari Han Lin dengan ilmu itu. Tiba- tiba dia menjadi bingung dan mencari akal. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh tertangkap dan tidak boleh mati sebelum dia membuat perhitungan dengan Pangeran Cheng Boan yang telah mempermainkannya, dengan para anak buah Pangeran Cheng Boan yang diam-diam membuat persekongkolan untuk memperalat dia dan kemudian dia akan dibunuh kalau sudah berhasil.

Dalam adu ilmu It-yang-ci, kembali Ki Seng terdesak. Hal ini terjadi bukan karena dia kalah matang dalam latihan, bahkan sesungguhnya dia lebih matang J daripada Han Lin karena dia telah lebih lama menguasai It-yang-ci. Akan tetapi pada saat itu hatinya gelisah dan sebagian perhatiannya tercurah pada usaha untuk mencari akal dan mencari jalan agar dia terlepas dan lolos dari tempat itu.

Tiba-tiba Ki Seng mengeluarkan teriakan melengking yang mengejutkan semua orang dan tubuhnya mencelat ke belakang. Tanpa dapat disangka-sangka sebelumnya, dia telah berada di dekat Pangeran Cheng Hwa dan memegang lengan kiri Pangeran Mahkota itu dengan tangan kirinya sedangkan jari telunjuk kanannya sudah menempel pada pelipis pangeran itu.

"Semua diam dan menjauh! Sedikit saja ada gerakan Pangeran Cheng Hwa ikan kubunuh lebih dulu. Aku hanya ingin keluar dari istana tanpa gangguan. Aku tidak akan membunuhnya kalau aku dapat keluar dari sini tanpa dihalangi!" Setelah berkata demikian, dia mendorong Pangeran Cheng Hwa untuk berjalan menuju pintu besar ruangan itu. Semua orang terkejut bukan main sehingga mereka hanya berdiri dan dengan muka pucat seperti telah berubah menjadi patung. Kemudian, para perwira pasukan pengawal membuat gerakan maksudnya hendak mengerahkan pasukan untuk menyerang Ki Seng dan menolong Pangeran Cheng Hwa.

Akan tetapi Kaisar Cheng Tung segera berseru, "Jangan ada yang bergerak! Biarkan dia keluar dari istana asal dia tidak mengganggu Pangeran Cheng Hwa. Akan tetapi kalau dia berani membunuh Pangeran Cheng Hwa, biar dia larl ke ujung dunia sekalipun, dia harus ditangkap dan kami akan menjatuhkan hukuman yang paling berat yang pernah diterima seorang manusia!"

"Jangan khawatir, Sribaginda! Hamba tidak akan mengganggu Pangeran Cheng Hwa! Akan tetapi seluruh penghuni rumah Pangeran Cheng Boan akan hamba basmi!" Setelah berkata demikian, Ki Seng mendorong Pangeran Cheng Hwa keluar dari ruangan itu dan terus keluar dari dalam istana. Para pengawal tidak ada yang berani bergerak.

"Hamba akan membayanginya dan menjaga keselamatan Kakanda Pangeran Cheng Hwa!" kata Han Lin dan diapun melangkah keluar. Sian Eng dan Kiok Hwa juga segera kekiar mengikuti Han Lin. Para perwira menggerakkan pasukan pengawal bergerak keluar pula. Mereka tidak berani menyerang Ki Seng, akan tetapi hanya membayangi dari belakang.

Ki Seng tahu bahwa dia dibayangi banyak orang, akan tetapi dia tidak perduli karena yakin bahwa selama Pangeran Cheng Hwa berada di bawah ancamannya, tak seorangpun akan berani menyerangnya. Dan mereka yang membayangi, juga Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa, tidak berani mengikuti terlalu dekat.

Setelah tiba di depan istana Pangeran Cheng Boan, beberapa orang perajurit pengawal yang mengenai baik Ki Seng dan Pangeran Cheng Hwa, memberi hormat. Ki Seng mencabut sebatang pedang vang tergantung di pinggang kepala jaga, kemudian dia berkata kepada Pangeran Cheng Hwa. "Pangeran, aku membebaskanmu di sini!" Setelah berkata demikian, Ki Seng melompat dan berlari cepat memasuki istana Pangeran Cheng Boan.

Begitu dia masuk ke dalam gedung besar dan mewah seperti istana itu mulailah pembantaian yang mengerikan itu terjadi. Beberapa orang pelayan yang menyambut keluar, roboh seketika terbacok pedang. Darah mulai membanjir. Ki Seng terus memasuki bagian tempat tinggal para selir. Tujuh orang selir Pangeran Cheng Boan yang menjadi kekasihnya itu menyambut dengan heran, akan tetapi mereka itu satu demi satu roboh dan te-was dibantai Ki Seng.

Mendengar suara ribut-ribut, muncullah Suma Kiang, Toa Ok dan Sian Hwa Sian-li. Mereka terbelalak kaget dan heran melihat ke tujuh orang selir Pangeran Cheng Boan telah rebah malang melintang mandi darah dan melihat Ki Seng yang berdiri di ruangan itu memegang sebatang pedang yang berlumuran dara dan sikap pemuda itu ketika memandang kepada mereka menyeramkan. Tiga orang pembantu Pangeran Cheng Boan ini tadi-pun ikut menonton ke lapangan di depan istana ketika Han Lin, Sian Eng dan Kiok Hwa hendak dijatuhi hukuman penggal kepala. Mereka melihat kekacauan ketika muncul Cheng Hian Hwesio menggagalkan pelaksanaan hukuman mati itu. Mereka tidak berani berbuat sesuatu, apalagi karena Pangeran Cheng Boan juga tidak berbuat sesuatu. Ketika Kaisar memerintahkan agar membawa tiga orang hukuman itu ke ruangan sidang dalam istana, dan memerintahkan semua menteri dan pangeran untuk ikut pula menyaksikan persidangan, mereka bertiga tentu saja tidak dapat ikut masuk. Mereka segera kembali ke istana Pangeran Cheng Boan untuk menanti perkembangan selanjutnya.

Mereka tidak tahu dan tidak dapat menduga apa yang telah terjadi di dalam istana. Maka kemunculan Ki Seng yang membantai para selir dan pembantu rumah tangga Pangeran Cheng Boan sungguh mengejutkan hati mereka.

Sian Hwa Sian-li Kim Goat yang merasa akrab dengan Ki Seng, bahkan menjadi kekasih pemuda itu, menghampiri dan menyentuh lengan Ki Seng sambil bertanya, "Pangeran, apakah yang telah terjadi? Engkau membunuh mereka ini?

Apa artinya semua ini. ?" Akan tetapi melihat wanita cantik ini dan sikapnya yang manis, Ki Seng teringat bahwa wanita inipun ikut bersekutu memperalat dia, maka sebagai jawaban pertanyaannya itu tiba-tiba saja tangan kirinya menyerang dengan totokan It- yang-ci ke arah dada Sian Hwa Sian-li. Serangan itu dilakukan secara mendadak dan tidak terduga-duga oleh wanita yang berdiri amat dekat itu. Serangan It-yang-ci memang dahsyat sekali, apalagi dalam jari tangan Ki Seng sudah mengandung racun Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa). Sian Hwa Sian-li terkejut dan mencoba untuk melempar tubuh ke samping.

"Siuutt... tukkk!" Jari telunjuk kiri Ki Seng masih mengenai pundak wanita itu, Sian Hwa Sian-li menjerit karena merasa pundaknya seperti tertusuk besi panas membara. Ia terhuyung-huyung dan pada saat itu, pedang di tangan Ki Seng menyambar ke arah lehernya. Darah muncrat dan Sian Hwa Sian-li roboh dan tewas seketika.

Akan tetapi Suma Kiang dan Toa Ok sudah dapat mengatasi rasa kaget mereka. Melihat Ki Seng menyerang Sian Hwa Sian-li mereka cepat mencabut pedang masing- masing. Toa Ok mencabut Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) dan Suma Kiang mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dan mereka berdua langsung saja menyerang Ki Seng dari kanan kiri, pada saat Ki Seng membabatkan pedang-nya ke leher Sian Hwa Sian-li tadi.

Pada saat Sian Hwa Sian-li roboh, pedang Toa Ok menyambar dari kanan dan sepasang pedang Suma Kiang menyambar dari kiri. Ki Seng mendengar sambaran tiga batang pedang dari kanan kiri itu. Dia cepat memutar pedangnya yang sudah merobohkan Sian Hwa Sian-li tadi untuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi sekali ini penyerangnya adalah datuk-datuk persilatan yang amat lihai. Bukan saja mereka berdua itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, akan tetapi juga pedang-pedang yang mereka pegang adalah pedang ampuh yang terbuat dari baja pilihan. "Tran-trang-trakk !" Pedang di tangan Ki Seng yang tadi

dirampasnya dari kepala jaga, patah-patah dan pedang Toa Ok masih menyambar ke arah lehernya. Ki Seng miringkan kepalanya dan menarik ieher ke belakang, akan tetapi tetar saja ujung pedang itu menyentuh kulit pundaknya. Baju robek berikut kulitnya. Pada saat itu, pedang kiri Suma Kiang juga sudah merobek celana dan melukai paha kanannya. Darah mengucur dari pundak dan paha. Akan tetapi Ki Seng terus mengamuk, biarpun dia hanya menggunakan kaki tangannya karena pedangnya telah patah-patah. Akan tetapi kedua orang lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama sekali Toa Ok yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih sedikit saja dibandingkan tingkat Ki Seng. Kedua lengan Ki Seng yang kadang terpaksa dia pergunakan untuk menangkis pedang, sudah penuh luka dan berlumuran darah. Juga dadanya terkena pukulan tangan kiri Toa Ok yang mengandung racun. Dia masih berusaha untuk melawan mati-matian, akan tetapi dia menjadi bulan-bulanan tiga batang pedang itu sehingga tubuhnya penuh luka. Dia seperti bermandi darahnya sendiri dan akhirnya, sebuah tusukan pedang di tangan Toa OkA menembus dadanya. Robohnya Ki Seng dalam keadaan mengerikan karena tubuh-nya penuh luka. Dia tewas seketika.

Pada saat itu, Han Lin dan Sian Eng berlompatan masuk. Tadi mereka menonton perkelahian itu dari luar dan tempat itu sudah dikepung para perajurit. Para perajurit pengawal Pangeran Cheng Boan sudah dilucuti.

Toa Ok dan Suma Kiang adalah datuk persilatan yang selain berkepandaian tinggi juga sudah mempunyai banyak pengalaman. Akan tetapi ketika mereka melihat munculnya Han Lin dan Sian Eng, wajah mereka berubah pucat dan timbul rasa takut dalam hati mereka. Mereka memandang ke luar, akan tetapi semakin kecut rasa hati mereka melihat betapa gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan itu telah dikepung ketat oleh banyak sekali pasukan kerajaan. Sian Eng sudah menghampiri Suma Kiang yang masih memegang sepasang pedangnya. Gadis inipun sudah memegang Ceng-liong-kiam. Pedangnya ini tadinya dirampas ketika ia ditangkap, akan tetapi pedang yang dijadikan satu di antara barang bukti itu tadi diserahkan kepadanya oleh seorang perwira yang menerima tugas dari kaisar untuk menyerahkan pedang Ceng-liong-kiam kepadanya dan pedang Im-yang-kiam kepada Han Lin. Karena itu kini ia menghampiri bekas ayah dan juga gurunya itu dengan Ceng-liong-kiam di tangan. Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kebencian melihat orang yang pernah merawat dan membimbingnya, orang yang pernah bersikap amat baik dan penuh kasih sayang kepadanya, akan tetapi juga orang yang telah| menyebabkan kematian ayah dan lbu kandungnya, yang telah memperkosa ibui kandungnya.

Melihat sinar mata penuh kebencian dan kemarahan dari gadis itu ditujukan kepadanya, Suma Kiang merasa ngeri dan juga sedih. Kasih sayangnya terhadap gadis ini masih terkandung dalam hati-nya. Dia selalu menganggap gadis ini sebagai anak kandungnya sendiri yang tidak pernah dia miliki.

"Eng-ji, engkau mau apakah?" tanyanya dan suaranya

menggetar.

"Mau membunuhmu, membalaskan kematian ayah dan ibu kandungku!" kata Sian Eng. suaranya lirih namun penuh ancaman.

"Akan tetapi..... aku tidak membunuh mereka "

"Engkau yang menyebabkan kematian mereka! Engkau harus mati di tanganku!"

"Eng-ji, ingat, aku ayahmu, aku men-didik dan merawatmu, aku selalu menyayangmu !"

"Cukup! Tak perlu banyak merengek, lihat pedangku dan bersiaplah untuk mati!" bentak Sian Eng yang segera menyerang dengan pedangnya. Biarpun hatinya sedang merasa sedih sekali karena dalam keadaan terjepit dan terancam seperti itu, orang yang dianggapnya sebagai anak sendiri dan yang disayanginya tidak membela bahkan hendak membunuhnya, terpaksa Suma Kiang menggerakkan sepasang pedangnya untuk menangkis. Akan tetapi Sian Eng melancarkan serangan bertubi-tubi sehingga Suma Kiang harus mengerahkan tenaga dan mainkan siang-Kiamnya untuk melindungi dirinya.

Sementara itu, begitu melihat Han Lin di hadapannya, Toa Ok maklum bahwa tidak ada gunanya lagi bicara karena sejak pemuda itu masih kecil mereka sudah saling berhadapan sebagai musuh. Maka, dia tidak berkata apapun dan langsung saja menggerakkan pedangnya untuk menyerang dengan dahsyat. Sinar emas bergulung-gulung ketika dia mema-inkan Kim-liong-kiam. Namun, dengan tenang Han Lin menggerakkan Im-yang Po-kiam yang telah berada di tangan kembali ketika perwira pengawal menyerahkan pedang itu kepadanya.

Seperti juga Suma Kiang, Toa Ok maklum sepenuhnya bahwa dia sudah terkepung dan agaknya tidak mungkin melepaskan diri. Bagaimanapun juga dia pasti akan tertangkap dan kalau sampai tertangkap, dia pasti akan dijatuhi hukuman mati. Melawan mati, tidak melawanpun mati. Dia seorang gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan.

Pantang baginya untuk mati sebagai seekor babi disembelih. Lebih baik mati sebagai seekor harimau yang membela diri dan melawan sampai titik darah terakhir!

"Hyiaaatt !!" Toa Ok menyerang dengan pengerahan

tenaga sekuatnya. Pedangnya berubah menjadi sinar emas menyambar ke arah leher Han Lin. Han Lin bersikap tenang namun waspada. Ketika sinar emas itu menyambar ke lehernya, dia cepat melangkah mundur sambil merendahkan tubuhnya sehingga sinar emas itu menyambar di atas kepalanya. Namun sinar emas itu membalik dan terus mengejarnya dengan serangan bertubi-tubi berupa bacokan atau tusukan. Dahsyat sekali desakan serangan pedang dari Toa Ok itu. Han Lin mengerahkan gin-kang sehingga tubuhnya menjadi ringan sekali dan dapat bergerak dengan cepat bukan main sehingga semua sambaran pedang itu dapat dia elakkan. Akan tetapi dia tidak dapat mengelak terus, Toa Ok adalah seorang yang amat lihai dan kalau dia hanya mengelak terus, berarti dia terancam bahaya maut. Han Lin mulai membalas dan sambaran pedang pusaka Im-yang Pokiam itu dahsyat bukan main. Toa Ok tak mungkin dapat mengelak terhadap sambaran pedang itu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan Kim-liong-pang. Sepasang pedang bertemu di udara, kuat bukan main karena kedua pihak telah mempergunakan seluruh sin-kang mereka,

"Singgg..... trang trakkk!" Pada pertemuan pedang yang

ketiga kalinya, Toa Ok melompat ke belakang dengan muka pucat karena pedangnya telah patah menjadi dua potong! Pedang Naga Emas yang telah menemaninya berkelana di dunia persilatah selama sepuluh tahun. kini patah. Ini merupakan firasat buruk sekali baginya. Pedang yang telah membunuh entah berapa ratus orang itu, yang belum pernah rusak menghadapi senjata lawan yang bagaimanapun juga, kini bertemu dengan Im-yang Pokiam yang berada di tangan Han Lin. Sebetulnya bukan karena keampuhan Im-yang Pokiam saja yang membuat pedang Kim-liong-kiam di tangan Toa Ok itu patah, melainkan terutama sekali karena Han Lin mengerahkan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang ketika menggerakkan pedang itu.

"Keparat!" Toa Ok memaki dan dia melontarkan pedang yang tinggal sepotong itu ke arah Han Lin. Jangan dipandang ringan lontaran pedang buntung ini. Lontaran yang mengandung tenaga sakti itu membuat pedang buntung itu meluncur seperti anak panah cepatnya dan pedang buntung itu masih dapat menembus apa saja yang menjadi sasaran. Han Lin sama sekali tidak memandang ringan serangan ini. Dia lalu menggerakkan pedangnya, menangkis ke arah atas. "Cringgg cepp!" Pedang buntung itu melenceng ke atas dan

menancap ke langit-langit ruangan itu sampai ke gagangnya. Melihat lawannya sudah tidak memegang senjata, Han Lin juga menyarungkan pedang ke punggungnya lagi.

"Toa Ok, menyerahlah saja agar engkau dapat diadili." kata Han Lin membujuk. Betapapun sakit hatinya kalau dia teringat akan semua perbuatan Toa Ok kepadanya, namun pemuda ini masih selalu ingat dan menjunjung tinggi semua ajaran yang pernah diterimanya dari Bu Beng Lojin dan Cheng Hian Hwesio. Dia tidak mau sembarangan membunuh kalau hal itu masih dapat dicegahnya.

Akan tetapi Toa Ok menjadi semakin marah melihat pedangnya patah. Sebetulnya kalau saja dia tidak dikuasai nafsu amarahnya, melihat Han Lin menyarungkan pedangnya itu saja dia sudah harus menginsyafi betapa pemuda itu telah mengalah kepadanya. Namun, kemarahan membutakan mata hati dan mengenyahkan semua pertimbangan akal budi.

Sambil mengeluarkan suara gerengan seekor binatang terluka, dia sudah menerjang ke depan. Serangannya aneh sekali.

Tubuhnya berpusing dan kedua tangan dan kakinya menyerang bertubi-tubi dengan pukulan yang mengeluarkan uap hitam ber-bau amis. Itulah ilmu silat Pat-hong Hong-ci (Delapan Penjuru Angin Hujan) dan pukulan itu mengandung ilmu Ban tok-ciang (Tangan Selaksa Racun)!

Maklum akan kelihaian lawan dengan ilmu silatnya yang dahsyat itu, Han Lin atau Pangeran Cheng Lin segera mainkan ilmu andalannya, yaitu Ngo-heng Sin-kun (Silat Sakti Lima Unsur) dan untuk mengimbangi pukulan lawan yang mengandung Ban-tok-ciang, dia mengerahkan Jit-goat Sin- kang (Tenaga Sakti Matahari dan Bulan). Terjadilah perkelahian tangan kosong yang hebat sekali. Yang tampak hanya bayangan tubuh Han Lin berkelebatan di sekitar bayangan tubuh Toa Ok yang berpusing seperti gasing. Kadang-kadang dua buah lengan bertemu dan ruangan itu seolah tergetar. Mereka saling serang dan sekali ini, karena tidak melihat kemungkinan melarikan diri, Toa Ok mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Han Lin melawannya dengan hati-hati sehingga pertandingan itu berlangsung seru.

Sementara itu, Suma Kiang sudah terdesak hebat oleh Sian Eng. Setelah Sian Eng menerima bimbingan dan gemblengan ilmu silat selama lima tahun dari Hwa Hwa Cin-jin, tingkat ilmu silatnya memang sudah lebih tinggi dibandingkan tingkat Suma Kiang. Akan tetapi ini bukan satu-satunya sebab mengapa ia dapat mendesak Suma Kiang dengan mudah.

Sebetulnya kalau Suma Kiang menghendaki, dengan kematangan pengalamannya, tidak akan begitu mudah bagi Sian Eng untuk mengalahkannya.

Yang membuat Suma Kiang lemah melawan Sian Eng karena saat itu seluruh kasih sayangnya terhadap Sian Eng bangkit. Teringat dia ketika gadis itu masih kecil, sering digendong dan ditimangnya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Bagaimana sekarang dia akan tega untuk membunuh atau bahkan melukai anak yang tersayang itu? Gejolak hati dan pikirannya ini membuatnya lemah dan permainan pedangnya menjadi kacau. Namun, karena pengalaman yang matang membuat gerakan pedangnya seperti otomatis, seolah sepasang pedang itu telah menyatu dan menyambut kedua tangannya, maka dia masih terus dapat menghindarkan diri dari semua serangan Sian Eng dengan elakan atau tangkisan.

Akan tetapi, setelah puluhan jurus lewat, Suma Kiang menjadi semakin terdesak dan akhirnya, ketika sepasang pedang Suma Kiang menggunting pedang Sian Eng yang membacok ke arah kepalanya, menahan pedang itu sehingga terjepit sepasang pedang, tiba-tiba saja tangan kiri Sian Eng memukul dengan dorongan telapak tangan ke arah dada Suma Kiang.

"Wuuuttt.....dessss. !!" Itulah pukulan Toat-beng Tok-

ciang (Tanga Beracun Mencabut Nyawa) yang amat ampuh, tepat mengenai dada Suma Kiang. Biar-pun Suma Kiang telah mengerahkan sin-kang untuk melindungi dadanya, tetap saja tubuhnya terjengkang, sepasang pedangnya terlepas dan tubuhnya terbanting keras ke belakang. Dia telah menderita luka dalam dadanya. Sian Eng melompat maju mengejar dan ujung pedangnya telah menempel di leher Suma Kiang!

Suma Kiang yang sudah telentang tak berdaya itu memandang kepada Sian Eng. "Eng-ji, di tempat ini juga aku menyelamatkanmu ketika engkau tertangkap, dan di tempat ini juga engkau akan membunuhku? Bunuhlah, anakku, kalau itu yang kau inginkan, bunuhlah " kata Suma Kiang yang

sudah putus asa.

Sian Eng tertegun. Terbayang ia ketika ia malam-malam datang ke gedung ini, kemudian ia dikeroyok dan dijatuhkan oleh Pangeran Cheng Lin palsu. Ia tentu sudah mati kalau saja Suma Kiang tidak menahan Toa Ok kemudian mengakuinya sebagai puterinya sehingga ia tidak sampai dibunuh.

Terbayang pula olehnya akan semua kebaikan yang pernah dilimpahkan orang yang kini ditodongnya itu kepadanya dan diapun menarik napas panjang dan menarik kembali pedangnya. Para perwira memimpin anak buah mereka untuk menangkap Suma Kiang yang lalu diborgol dan dibawz pergi dari situ sebagai tawanan.

Pada saat itu, perkelahian antara Han Lin dan Toa ok sudah mencapai puncaknya Ketika dengan marah dan penasaran Toa Ok memukul lagi dengan penggunaar Ban-tok-ciang sekuatnya, Han Lin menyambutnya dengan totokan satu jari It yang-ci.

"Ciuuuuuttt tukkk!" Toa Ok mengeluarkan teriakan aneh

ketika telapak tangannya bertemu dengan totokan jari telunjuk Han Lin. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan diapun roboh terpelanting muntah darah. Han Lin memberi isarat kepada perwira pengawal yang cepat mengerahkan anak buahnya untuk menangkap dan membelenggu Toa Ok. Kakek tinggi besar yang usianya sudah tujuh puluh tahun ini sudah tidak berdaya dan menurut saja ketika ditangkap.

Seluruh penghuni gedung itu ditangkap dan dimasukkan penjara, menunggu jatuhnya hukuman yang diberikan oleh pengadilan. Beberapa hari kemudian sidang pengadilan dibuka dan Pangeran Cheng Boan. Suma Kiang. dan Toa Ok dijatuhi hukuman mati karena mereka di-anggap orang-orang yang bersekongkol untuk memberontak dan mengatur pembunuhan terhadap para pangeran. Adapun anggauta keluarga Pangeran Cheng Boan dan para pelayan yang bekerja padanya juga mendapat hukuman buang karena mereka dianggap orang- orang yang dapat membahayakan keluarga istana.

Cheng Hian Hwesio diterima oleh Kaisar Cheng Tung dan diangkat menjadi kepala kuil istana di mana kakek yang udah amat tua itu dapat melewatkan sisa hidupnya dengan tenteram dan tenang.

Han Lin diterima sebagai anak kandung Kaisar Cheng Tung dan dinobatkan menjadi seorang pangeran. Pengangkatan sebagai Pangeran Cheng Lin itu dirayakan dengan pesta yang dikunjungi oleh seluruh keluarga istana dan para menteri dan pejabat tinggi.

Lo Sian Eng dan Tan Kiok Hwa yang sejak peristiwa itu untuk sementara diminta tinggal di istana keputrian, hadir pula dalam perayaan pesta itu. Kedua orang gadis ini merasa gembira dan berbahagia sekali melihat pria yang mereka cinta itu duduk dengan anggun dan gagah dalam pakaian pangeran yang indah dan mewah, membuat dia tampak semakin tampan dan gagah. Akan tetapi, diam-diam ada perasaan pedih di hati mereka. Mereka melihat seolah-olah Han Lin kini berada jauh tinggi di antara bintang-bintang sedangkan mereka berada di atas tanah yang demikian rendah. Akan tetapi Kiok Hwa tampak tenang saja sedangkan Sian Eng dapat menutupi kepedihan hatinya dengan wataknya yang gembira dan wajahnya yang cerah. Ia tersenyum-senyum manis seperti biasa. Akan tetapi dari pandang mata mereka, dua orang gadis ini dapat saling menjenguk dan melihat keadaan hati masing-masing. Semenjak Sian Eng mengetahui betapa Kiok Hwa yang dia tahu saling mencinta dengan Han Lin mengalah dan sengaja pergi meninggalkan ia dan Han Lin berdua, perasaan hati Sian Eng terhadap Kiok Hwa sudah berubah sama sekali. Kalau dulu ia merasa cemburu dan benci, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Apalagi setelah Kiok Hwa menolongnya dan menyembuhkannya ketika ia terluka di dalam pondok hutan itu bersama Han Lin, ia merasa suka dan kagum sekali kepada Kiok Hwa. Ia merasa benar akan perbedaan antara ia dan Kiok Hwa. Kiok Hwa seorang gadis budiman, cantik jelita dan lemah lembut budi pekertinya, ramah dan tulus sikapnya. Sebaliknya ia sendiri adalah seorang gadis yang keras dan kasar, mudah marah.

Kini ia melihat bahwa Han Lin sudah benar dan tepat kalau memilih Kiok Hwa.

Dua orang gadis itu sudah berhenti makan minum dan keduanya duduk termenung. Tiba-tiba Pangeran Cheng Lin atau Han Lin menghampiri meja mereka. Dua orang gadis itu memandang dan segera berdiri. Yang mereka hadapi sekarang bukanlah Han Lin pemuda biasa lagi, melainkan Pangeran Cheng Lin yang harus mereka hormati.

Pangeran Cheng Lin tersenyum melihat dua orang gadis itu bangkit berdiri. "Mari kalian berdua ikut aku ke taman, aku hendak bicara dengan kalian. Di sini terlalu banyak orang dan terlalu berisik, tidak leluasa kita bicara." katanya dan dua orang gadis itu hanya mengangguk dan mengikutinya keluar dari ruangan itu melalui pintu samping dan mereka memasuki taman istana yang luas dan indah. Pangeran Cheng Lin berjalan dengan tenang, tanpa berkata-kata, menuju ke sebuah pondok merah mungil yang berdiri di dekat kolam ikan. Hari sudah siang dan matahari bersinar cerah. Akan tetapi duduk di pondok itu sungguh nyaman dan sejuk. Selain pondok itu memberi keteduhan, juga di sekitar pondok tumbuh banyak pohon cemara dan di kolam itu terdapat air mancur yang mengeluarkan bunyi gemercik.

Mereka duduk berhadapan terhalang sebuah meja bundar kecil. Dua orang gadis itu duduk dengan kepala tunduk.

Mereka merasakan suasana yang sejuk nyaman, akan tetapi juga merasa canggung dan salah tingkah. Dua orang gadis Itu menundukkan muka dan menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan tanpa mengetahui apa yang menyebabkan hati mereka merasa tegang. Kehadiran pemuda itu sebagai seorang pangeran tulen sungguh membuat mereka menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus bersikap, tidak tahu harus mengeluarkan suara bagaimana. Bahkan Sian Eng yang biasanya tabah dan tidak pernah merasa rikuh itu, kini kedua pipinya menjadi kemerahan dan rasanya ingin menangis karena bingung dan salah tingkah.

Akhirnya Kiok Hwa yang dapat lebih dulu menenangkan hatinya. Gadis ini memang biasanya bersikap tenang menghadapi apapun juga dan dapat menguasai perasaannya sepenuhnya.

"Pangeran, apakah yang hendak paduka bicarakan dengan kami berdua?"

Pangeran Cheng Lin tersenyum mendengar sebutan pangeran dan paduka yang dipergunakan Kiok Hwa itu. "Ain, Hwa-moi, aku masih tetap Lin-ko seperti dulu. Apa salahnya engkau memanggilku dengan sebutan tetap Lin-ko? Namaku Han Lin atau Cheng Lin sama saja, dapat kau sebut Lin-ko."

Setelah Kiok Hwa bicara, timbul keberanian dalam hati Sian Eng dan iapun menatap wajah pemuda itu dan berkata tegas. "Enci Kiok Hwa benar. Paduka adalah seorang pangeran, bagaimana kami berani mempergunakan sebutan akrab seperti dulu lagi?"

"Wah, Eng-moi, engkau juga ikut-ikutan. Bukankah hubungan antara kita masih akrab seperti dahulu? Justeru aku mengajak kalian berdua ke sini untuk membicarakan tentang hubungan antara kita bertiga."

Dengan lembut Kiok Hwa bangkit berdiri. "Pangeran Cheng Lin, biarlah saya mohon pamit saya akan pergi, saya tidak

berhak mengganggu paduka berdua adik Sian Eng. Paduka cocok sekali untuk berjodoh dengan adik Sian Eng yang amat mencintai paduka. Selamat tinggal, pangeran. Selamat tinggal dan berbahagialah, adik Sian Eng " Kiok Hwa membalikkan

tubuhnya dan hendak melangkah pergi meninggalkan taman.

"Nanti dulu, Hwa-moi!" Pangeran Cheng Lin melompat dekat gadis itu dan memegang lengannya. "Engkau tidak boleh pergi meninggalkan aku begitu saja!"

Melihat pemuda itu menahan kepergian Kiok Hwa dan memegangi lengannya. Sian Eng juga bangkit berdiri dan ia berkata dengan tegas. "Tidak, enci Kiok Hwa! Engkau tidak boleh pergi meninggalkan Pangeran Cheng Lin. Bukan engkau yang harus pergi, melainkan aku! Pangeran Cheng Lin, saya mohon diri, saya tidak boleh mengganggu ikatan cinta antara paduka dan enci Kiok Hwa. Paduka sepantasnya berjodoh dengan enci Kiok Hwa karena saya tahu bahwa paduka dan ia saling mencinta. Saya tidak tahu diri. Selamat tinggal, pangeran, selamat tinggal, enci Kiok Hwa!" Sian Eng menahan isaknya dan berlari dari dalam pondok.

"Eng-moi. tunggu!" Pangeran Cheng Lin berlari cepat

mengejar dan dia menyambar dan memegang lengan Sian Eng. "Tidak, engkau juga tidak boleh pergi. Mari, dengarlah dulu kata-kataku, kita bertiga bicara dulu. Setelah itu baru kalian boleh mengambil keputusan!" Dia menarik lengan Sian Eng dan gadis itu terpaksa menurut dan berjalan kembali ke dalam pondok. Setelah tiba di dekat Kiok Hwa, Sian Eng melepaskan diri dan merangkul Kiok Hwa sambil mengusap air matanya.

"Aku ingin melihat engkau berbahagia! enci." katanya lirih. "Aku juga tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu, adik

Eng." kata Kiok Hwa sambil balas merangkul.

"Kalian duduklah, Hwa-moi dan Eng moi. Hatiku terharu dan kagum sekali melihat kalian. Kalian adalah orang-orang yang berjiwa besar dan berhati mulia, memiliki cinta kasih sejati. Cinta kasih sejati tidak membuat orang tidak mementingkan kesenangan dan kepentingan diri pribadi, melainkan mementingkan kebahagiaan orang yang dikasihinya. Akupun sayang kepada kalian, tidak perlu aku berdusta. Aku mencintamu, Hwa-moi. Akan tetapi akupun amat sayang padamu, Eng-moi. Aku tidak ingin melihat kalian menderita. Aku ingin melihat kalian berbahagia. Karena itu, tidak mungkin aku hidup berbahagia berdua saja dengan adik Tan Kiok Hwa kalau hal itu akan membuat adik Lo Sian Eng kesepian dan menderita, sebaliknya akupun tidak mungkin dapat hidup berbahagia berdua saja dengan Eng-moi kalau hal itu akan membuat Hwa-moi kesepian dan merana." Pangeran Cheng Lin berhenti sebentar dan menghela napas panjang.

Kesempatan itu dipergunakan Kiok Hwa untuk berkata dengan nada penuh pertanyaan.

"Pangeran, lalu apa maksud paduka? Ucapan paduka itu sungguh membingungkan."

"Benar sekali pertanyaan enci Kiok Hwa? Apa sih maumu, Pangeran? Paduka bicara seperti teka-teki, begini tak benar dan begitu salah. Lalu bagaimana baik-nya?" tanya Sian Eng.

Wajah Pangeran Cheng Lin berubah kemerahan. "Aku....

eh, aku tidak bermaksud ingin mencari senang sendiri....

maksudku begini saja: Hanya ada dua pilihan, yaitu kita

bertiga hidup bersama dan menikmati kebahagiaan hidup bersama. atau kalau hal itu tidak mungkin kalian lakukan, biarlah kita bertiga berpisah dan mengambil jalan hidup masing-masing. Aku sungguh tidak ingin mendapatkan yang satu dan kehilangan yang lain."

Kiok Hwa bangkit berdiri, juga Sian Eng dan mereka berdua saling pandang dengan mata terbelalak.

"Maksudmu ?" Kiok Hwa memandang pemuda itu

dengan sinar mata tajam penuh selidik.

" paduka ingin menikah dengan kami berdua?" sambung

Sian Eng.

Pangeran Cheng Lin menghela napas panjang lalu mengangguk, menahan perasaan rikuhnya. "Kalau kalian setuju. Itulah jalan terbaik bagiku. Aku akan berusaha untuk bersikap adil dan akan membahagiakan kalian berdua."

Pada saat itu terdengar tepuk tangan dari luar pondok dan Pangeran Cheng Lin cepat bangkit berdiri. Kiranya Pangeran Cheng Hwa yang melangkah masuk sambil tertawa dan bertepuk tangan.

"Bagus, bagus sekali! Kionghi (selamat), adinda Cheng Lin!

Tentu saja engkau boleh menikah dengan mereka, karena sebagai pangeran, engkau diperkenankan memiliki sampai lima orang isteri."

Pangeran Cheng Lin sudah maju menyambut Pangeran Cheng Hwa dan otomatis Sian Eng dan Kiok Hwa juga maju memberi hormat. Tanpa disengaja Kiok Hwa berdiri di sebelah kanan Pangeran Cheng Lin dan Sian Eng berdiri di sebelah kirinya. Mendengar ucapan Pangeran Cheng Hwa itu, kedua orang gadis itu terbelalak dan serentak mereka menoleh dan memandang kepada Pangeran Cheng Lin dengan alis berkerut.

"Lima orang......? Wah..... tak mungkin itu " kata Kiok

Hwa. "Lima orang isteri? Tidak sudi aku. Aku dan enci Kiok Hwa berdua saja sudah cukup. Kalau ada yang lain lagi, seorang lagi saja, aku akan minggat!" teriak Sian Eng cemberut.

"Ha-ha-ha-ha!" Pangeran Cheng Hwa terbahak. "Kionghi, adinda, kionghi. !" Dan sambil terus tertawa dia

meninggalkan pondok itu.

Pangeran Cheng Lin menggerakkan kedua tangannya. Tangan kirinya merangkul pundak Sian Eng dan tangan kanannya merangkul pundak Kiok Hwa. "Jangan khawatir, aku akan hidup selamanya dengan kalian berdua calon-calon isteriku yang tercinta, tidak akan ada yang lain."

"Paduka berani bersumpah, pangeran?" Seperti diatur saja, ucapan ini keluar dan bibir kedua orang gadis itu.

"Aku bersumpah kepada Tuhan, langit bumi menjadi saksi bahwa aku, Pangeran Cheng Lin, tidak akan memiliki isteri lain kecuali Tan Kiok Hwa dan Lo Sian Eng. Nah, akan tetapi sekarang kalian harus memenuhi satu permintaanku."

"Apa itu?" tanya mereka berdua dari kanan kiri. "Sebut aku Lin-ko, bukan pangeran!"

"Lin-ko. !" Kiok Hwa berkata lirih dan merdu.

"Lin-koko    !" Sian Eng mendesah manja.

Pangeran Cheng Lin merangkul kedua orang calon isterinya itu dan mereka berdua bersandar ke dada yang bidang itu dari kanan kiri sambil memejamkan mata.

Berbahagialah tiga orang manusia yang selalu menjunjung tinggi dan membela kebenaran dan keadilan itu, tiga orang muda yang telah menemukan cinta kasih yang sejati, bukan sekedar cinta nafsu belaka. Cinta kasih sejati baru akan dapat bernyala di dalam hati manusia bila mana hati itu sudah bebas daripada kebencian, dan kebencian baru akan dapat lenyap apabila hati penuh dengan maaf dan pengampunan terhadap sesama yang bersalah kepada kita. Akan tetapi, karena hati akal pikiran kita sudah dikuasai nafsu, maka amat sukarlah untuk dapat mengampuni dan tidak mendendam kepada orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Hanya kalau Kekuasan Tuhan bekerja dalam hati sanubari kita, memberi bimbingan kepada kita, barulah hal itu dapat terlaksana.

Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu menundukkan nafsu-nafsu yang selalu mempermainkan dan memperhamba hati akal pikiran kita. Dan Kekuasaan Tuhan hanya akan bekerja sepenuhnya apabila kita menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh keikhlasan, dengan sepenuh keimanan kita.

Pangeran Cheng Lin menjadi tangan kanan Pangeran Cheng Hwa. Bahkan beberapa tahun kemudian, ketika Pangeran Mahkota Cheng Hwa menggantikan ayahnya menjadi kaisar, Pangeran Cheng Lin menjadi pembantu utama dan penasihatnya yang amat dipercaya dan dapat diandalkan.

Sampai di sini pengarang mengakhiri kisah Suling Pusaka Kemala ini dengan harapan semoga dapat menghibur para pembaca dan sedikit banyak mengandung manfaat bagi kita semua.

Amin.

T A M A T