-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 24

Jilid XXIV

KEMUDIAN, Ki Seng itu membantu ayahnya mendapatkan kembali kereta berisi barang kawalan yang di-rampas oleh Sian Hwa Sian-li. Kemudian ia dijodohkan oleh ayahnya kepada Ouw Ki Seng. Dan terjadilah malapetaka itu. Ayahnya terbunuh penjahat, Dan secara aneh penuh rahasia, ia telah menyerahkan diri kepada Ouw Ki Seng. Sampai sekarang hal itu masih menjadi rahasia baginya. Tentu saja ia bukan gadis semurah itu, menyerahkan diri begitu saja di luar pernikahan kepada seorang pemuda. Hal itu terjadi di luar kesadarannya, hal yang amat aneh dan sampai sekarang masih merupakan teka-teki yang belum dapat terjawab olehnya. Sekarang, baru tampak olehnya watak aseli pria yang menjadi tunangannya, bahkan yang telah merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis itu. Ternyata di antara Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li terjalin hubungan gelap, Bukan hanya itu, bahkan setelah berada di gedung keluarga Pangeran Cheng Boan, ia melihat sendiri betapa Ki Seng juga berhubungan mesum dengan ketujuh selir pangeran itu. Ia merasa muak sekali dan mulai merasa tidak betah tinggal di situ.

"Tok-tok-tok !" Daun pintu kamarnya diketuk orang dari

luar.

"Siapa di luar?" tanya Mei Ling sambil bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pintu.

"Adik Mei Ling, engkau belum tidur? Ini aku, bukalah pintumu!" terdengar jawaban suara Sian Hwa Sian-li.

Mendengar suara itu, Mei Ling lalu membuka daun pintu dan masuklah Sian Hwa Sian-li. Ia membawa seguci anggur dan dua cawan. Diletakkannya guci dan cawan ke atas meja dan iapun duduk di atas sebuah kursi tanpa dipersilakan lagi. Hubungannya dengan Mei Ling memang sudah akrab.

"Sukur engkau belum tidur, Mei Ling." katanya sambil tersenyum. "Aku masih belum mengantuk dan belum ingin tidur." kata Mei Ling sejujur-nya.

"Sama kalau begitu. Akupun tidak dapat tidur, maka aku lalu mencarimu untuk kuajak minum anggur agar nanti enak tidur. Mari kita minum dan lupakan segala masalah, Ling-moi (adik Ling)." Sian Hwa Sian-li menuangkan anggur ke dalam dua cawan itu.

Mei Ling merasa bersukur juga atas kedatangan Sian Hwa Sian-li. Setidaknya kedatangan wanita itu mengalihkan perhatiannya daripada renungan yang menyedihkan hatinya. Ia menerima cawan dan minum isinya. Dadanya terasa hangat setelah anggur itu memasuki perutnya. Mereka duduk berhadapan dan Sian Hwa Sian-li menuangkan anggur lagi ke dalam dua cawan mereka.

Mei Ling menghela napas panjang berulang kali, masih teringat akan renungannya tadi.

"Eh, Mei Ling, kulihat engkau seperti sedang bersusah hati.

Ada apakah?"

"Enci Sian-li, aku merasa tidak betah tinggal di sini lebih lama lagi!" kata Mei Ling, mengungkapkan perasaan hatinya karena tidak orang lain lagi yang dapat diajak bicara.

"Eh? Mengapa, Mei Ling? Bukankah kita hidup di sini serba mewah, cukup dan senang, dan juga setiap hari kita dapat berjumpa dengan Pangeran Cheng Lin?" tanya Sian Hwa Sian- li sambil memandang heran penuh selidlk.

Mei Ling menghela napas panjang lagi. "Justru karena kedatangannya setiap hari di sini membuat aku merasa tidak betah tinggal di sini!" katanya, teringat dengan hati muak ketika Pangeran Cheng Lin memasuki kamar para selir Pangeran Cheng Boan dan bercumbu dengan mereka di kamar itu. "Eh? Mengapa begitu? Oh, mengerti aku sekarang. Agaknya engkau merasa cemburu dan tidak senang melihat Pangeran Cheng Lin bermesraan dengan para selir muda itu. Memang begitulah watak pria. Selalu menyakiti hati wanita dengan penyelewengan-penyelewengannya. Akan tetapi menurut pendapatku, kita wanita jangan mudah saja dipermainkan seperti itu. Kalau pria pandai menyeleweng, kenapa kita tidak? Kita balas penyelewengan mereka, baru hati ini tidak penasaran dan merasa puas!"

Mei Ling mengerutkan alisnya. "Enci Sian-li, aku bukan wanita macam begitu!" katanya ketus.

"Hemm, baiklah. Sudahlah, jangan memikirkan itu lagi. Mari kita minum sepuasnya dan melupakan semua itu." ia menuangkan lagi cawan yang ketiga, mereka minum, lalu dituangkannya lagi cawan ke empat dan seterusnya.

Setelah anggur satu guci itu habis, Mei Ling merebahkan kepalanya di atas meja, berbantalkan lengannya sendiri. Sian Hwa Sian-li tersenyum puas. Ia lalu mengeluarkan selembar kertas bertulis dari balik ikat pinggangnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia memapah Mei Ling yang sudah mabok, lalu membawa gadis itu terhuyung menuju ke kamar sebelah dalam, yaitu kamar Cheng Kun. Diketuknya pintu kamar itu lima kali sebagai isarat. Daun pintu terbukii dan Cheng Kun menyambut dengan senyum girang. Dia menerima Mei Ling yang harus dipapahnya memasuki kamat dan Sian Hwa Sian-li lalu pergi setelah pintu kamar ditutup dari dalam. Sambil tersenyum ia kembali ke kamar Mei Ling mengambil guci dan dua cawan, lalu keluar lagi, menutupkan daun pintu dari luar, kemudian ia kembali ke dalam kamarnya sendiri.

Di bawah pengaruh obat perangsang yang memabokkan, dalam keadaan tidak sadar Ciang Mei Ling menyerahkan diri dengan gairah dan dengan suka rela kepada Cheng Kun yang tentu saja merasa girang bukan main. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mei Ling terbangun dan sadar sepenuhnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan yang asing baginya, rebah telentang tanpa pakaian, di samping tubuh Cheng Kun yang masih tidur mendengkur. Pemuda itu juga dalam keadaan tanpa pakaian. Ia kaget setengah mati dan lapat-lapat terbayang olehnya betapa ia telah melayani pemuda itu bermain cinta.

Cepat Mei Ling menyambar pakaiannya dan setelah mengenakan semua pakaiannya, ia menyambar selimut dan melemparkan ke atas tubuh. Cheng Kun yang telanjang, lalu mengguncang pundak pemuda itu dengan kuat.

Cheng Kun terbangun dengan kaget, lalu bangkit duduk, badan bagian bawah tertutup selimut. Dan terbelalak memandang Mei Ling yang sudah berpakaian dan kini berdiri memandangnya seperti seekor singa betina marah.

"Jahanam busuk! Apa yang telah kau lakukan padaku? Engkau memperkosa aku selagi aku berada dalam keadaan mabok! Engkau patut kubunuh!" Ia sudah siap menyerang dengan pukulan maut.

"Nona Ciang Mei Ling, tenang dan lihatlah baik-baik!

Bagaimana kaukatakan bahwa aku memperkosamu? Bukan aku yang datang memasuki kamarmu, melainkan engkau yang berada di kamarku! Engkau yang mendatangi aku bukan aku yang mendatangimu."

Mei Ling memandang ke sekeliling, Kamar itu diterangi lampu yang remang-remang, namun ia masih dapat melihat dengan jelas bahwa ini bukanlah kamarnya.

"Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bagaimana aku dapat berada di kamar ini dan.... dan.... apa yang telah terjadi. ?"

tanyanya bingung dan menyadari bahwa ucapan Cheng Kun tadi benar. Ia tidak mungkin dapat menuduh pemuda itu yang menggaulinya dengan paksa karena ialah yang berada di kamar pemuda itu!

"Tadi malam aku sudah tidur ketia daun pintu kamarku terketuk. Ketika aku membukanya, ternyata engkau yang mengetuk dan engkau langsung masuk ke dalam kamarku ini dan engkau yang menghendaki untuk tidur bersamaku di sini. Aku sama sekali tidak memaksamu, nona. Semua terjadi dengan suka rela, atas kehendak kita berdua."

Mei Ling tidak tahan mendengarkan terus. Ia merasa malu, merasa rendali dan hina. Ia lari ke pintu membukanya dan berlari keluar ke kamarnya. Pintu kamarnya tertutup dari luar, ia membukanya dan berlari masuk. Dilihatnya di atas meja terdapat sepotong kertas bertulis dan cepat diambil dan dibacanya surat itu.

"Adik Mei Ling,

Karena engkau mabok berat, maka aku tidak dapat pamit dan aku tinggalkan engkau melepaskan lelah. Senang sekali telah dapat minum bersama malam, ini.

Sian Hwa Sian-li."

Mei Ling terduduk lemas di atas kursi. Ia mengingat-ingat. Kini teringat-lah ia bahwa semalam ia minum anggur bersama Sian Hwa Sian-li di kamarnya ini. Hanya sampai di situ ingatannya. Tahu-tahu ia terbangun dalam keadaan telanjang bulat di samping Cheng Kun, di atas pembaringan pemuda itu, dalam kamar pemuda itu. Dan samar-samar teringatlah ia betapa ia telah melayani pemuda itu dengan senang hati.

Teringat akan semua itu, meledaklah tangis Mei Ling. Ia menangis tersedu-sedu, menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar sampai keluar kamarnya.

"Tidak mungkin.....! Tidak mungkin...!" Ia berseru dalam tangisnya. Bagaimana mungkin ia berbuat seperti itu? Mendatangi kamar Cheng Kun dan mengajak pemuda itu tidur bersama? Ia bukan wanita macam itu. Sedikitpun tidak pernah ada dalam benaknya untuk berbuat tidak senonoh seperti itu.

Tiba-tiba ia melempar dirinya ke atas pembaringan, menangis tersedu-sedu, membenamkan mukanya pada bantal. Akan tetapi ia bangkit duduk dan sedu-sedannya terhenti tiba-tiba. Ia teringat sesuatu. Teringat akan peristiwa yang dialaminya bersama Ki Seng. Betapa mirip benar dengan peristiwa semalam. Ketika itu, ia minum-minum dengan Ki Seng di taman. Kemudian ia tidak tahu apa-apa lagi, tidak ingat apa yang terjadi dan tahu-tahu ia terbangun di dalam kamar Ki Seng, di atas pembaringannya dan ia telah menyerahkan kehormatannya, kegadisannya, kepada Ki Seng tanpa ia sadari.

Betapa besar persamaannya dengan peristiwa semalam.

Agaknya rahasianya terletak pada minuman itu. Setelah minum, ia menjadi mabok dan selanjutnya ia tidak tahu apa yang terjadi dan tahu-tahu terbangun di atas tempat tidur dalam kamar seorang laki-laki dan ia telah menyerahkan dirinya. Teringat ini, ia bangkit berdiri dan menyambar pedangnya yang tergantung di dinding kamar. Sian Hwa Sian- li agaknya yang menjadi biang keladinya, atau setidaknya ia tahu akan hal ini. Ia akan memaksa wanita itu mengakui terus terang apa yang terkandung dalam anggur semalam dan apa yang sebenarnya telah terjadi. Akan tetapi baru saja tiga langkah ia menuju pintu, ia menahan kakinya, memutar tubuh dan dengan lemas kembali duduk di atas kursi dan meletakkan pedang yang sudah dicabutnya ke atas meja.

Ia teringat bahwa ia sama sekali bukan tandingan Sian Hwa Sian-li. Kalau ia menggunakan kekerasan, ia pasti kalah. Pula, Sian Hwa Sian-li sudah menjelaskan peristiwa semalam dalam surat yang ditinggalkannya di atas meja. Kepada siapa ia harus menuntut? Tidak ada bukti apapun bahwa Sian Hwa Sian-li yang mengatur semua itu. Tidak ada bukti bahwa ia keracunan. Tidak ada bukti bahwa ia diperkosa. Bahkan buktinya ia sendiri yang berada di kamar Cheng Kun! Kalau ia ribut-ribut, tentu peristiwa itu terbuka dan diketahui semua orang bahwa semalam ia telah tidur di kamar Cheng Kun.

Akibatnya ia sendiri yang akan menderita malu.

Mei Ling mengembalikan pedangnya, disarungkan dan digantungkan di dinding kembali. Ia tidak menangis lagi. Pada wajahnya terbayang suatu tekad dan keteguhan hati. Ia akan menyelidiki mereka semua. Ia akan mempergunakan kesempatan selagi ia berada di istana pangeran itu untuk menyelidiki semua. Ia harus dapat membongkar rahasia Sian Hwa Sian-li yang ia duga menjadi biang keladi sehingga dirinya dua kali menyerahkan kehormatannya kepada dua orang pria. Iapun akan menyelidiki keadaan Pangeran Cheng Lin yang sama sekali tidak mendatangkan rasa kagum dan hormat dalam dirinya. Bahkan rasa cinta yang pernah ada terhadap pemuda itu kini hampir lenyap, terganti kemuakan dan kecurigaan. Ia harus menyelidiki apa hubungan yang ada antara Pangeran Cheng Lin dan Pangeran Cheng Boan yang membiarkan Pangeran Cheng Lin menggauli semua selir mudanya. Pasti ada apa-apa-nya di sini, pikirnya.

"Enci Siang Kui, kenapa engkau menangis begini sedih?" Tanya Sian Eng yang memasuki kamar Lo Siang Kui dan mendapatkan gadis itu menangis terisak-isak di atas pembaringannya. Sian Eng duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak saudara sepupunya itu. Mendengar pertanyaan dan merasakan sentuhan tangan Sian Eng, Siang Kui menjadi semakin mengguguk menangis. Sian Eng maklum bahwa gadis itu sedang tercekam kesusahan, maka ia tahu bahwa sebaiknya dalam keadaan seperti itu, ia membiarkan menangis agar sedihnya larut bersama air matanya.

Setelah tangisnya mereda, Siang Kui bangkit duduk dan pada saat itulah Sian Eng yang masih duduk di tepi pembaringan mengulangi pertanyaannya. "Enci Siang Kui, apakah yang terjadi sehingga engkau menjadi sedih begini? Katakanlah kepadaku, barangkali aku dapat menolongmu."

Siang Kui menyusut air matanya dengan saputangan. "Apakah engkau tidak melihat, Eng-moi (adik Eng)? Biasanya setiap seminggu dua kali dia pasti datan berkunjung. Akan tetapi akhir-akhir ini, belum tentu dua minggu sekali dia datang dan kalau dia datang, sikapnya kepadaku dingin saja. Aku tahu dan merasakan bahwa tentu ada apa-apa yang terjadi kepadanya yang membuat dia seolah-olah tidak tertarik dan tidak perduli lagi kepadaku, tidak mencinta lagi. " Sian

Kui menghapus lagi air matanya yang bercucuran.

"Aahhh Cheng Kun Kongcu yang kau maksudkan? Aku

tahu itu dan aku pun diam-diam merasa heran."

"Eng-moi, apa yang dapat kulakukan? Apa yang harus kulakukan agar dia dapat berubah kembali sikapnya seperti dulu?"

"Kui-ci (kakak Kui), engkau amat mencinta Cheng Kongcu, bukan?"

"Tentu saja! Aku mencintanya setengah mati!" "Kalau memang begitu, kenapa engkau tidak segera

menikah saja dengannya? Setelah menikah, engkau tentu akan tinggal serumah dengan dia dan setiap hari dapat berkumpul."

"Kepastian hari pernikahan tentu saja bergantung kepadanya, Eng-moi. Aku dan ayah hanya menanti keputusannya saja."

"Kalau begitu, nanti bila dia datang, utarakanlah keinginanmu untuk segera menikah dengannya."

"Sudah, Eng-moi. Tempo hari aku sudah kemukakan hal ini, minta agar dia segera menentukan hari pernikahan, akan tetapi dia malah menjadi marah dan mencelaku terlalu tergesa-gesa karena dia masih harus menyelesaikan dulu banyak urusan penting tanpa menerangkan apa urusan penting itu."

"Hemm, kalau begitu, terpaksa engkau harus menunggu, enci Kui."

"Akan tetapi yang merisaukan hatiku adalah sikapnya, Eng- moi. Menunggu hari pernikahanku sih bukan masalah, aku dapat menunggu sampai kapanpun. Akan tetapi sikapnya yang dingin, dan jarangnya dia datang berkunjung. Bayangkan, sudah hampir tiga minggu ini dia tidak pernah datang, memberi kabarpun tidak. Padahal, kalau dia memang ingat kepadaku, dia kan mempunyai banyak pelayan untuk disuruh memberi kabar kepadaku? Jarak dari istana ayahnya sampai ke tempat ini pun tidak berapa jauh."

Melihat kesedihan dan kemarahan kakak sepupunya, Sian Eng lalu menghibur dan berkata, "Sudahlah, tidak perlu bersusah hati benar, enci Kui. Kalau memang engkau merasa penasaran, kenapJ engkau tidak datang saja menyusul ke sana, bertemu dengannya dan menanyakan sendiri? Engkau bukan seorang gadis lemah dan cengeng!"

Bangkitlah semangat Lo Siang Kui mendengar ucapan Sian Eng ini. Ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri dan berkata, "Engkau benar! Tentu ada apa-apa yang tidak beres dengan dia dan aku harus mengetahui hal itu. Aku harus menyusulnya ke rumahnya dan menanya kan hal ini kepadanya. Dia harus berterus terang. Kalau dia sudah tidak cinta lagi kepadaku, biar putus saja hubungan ini. Aku tidak mau dipermainkan!"

"Bagus! Begitulah seharusnya sikap seorang wanita gagah, bukan seperti wanita-wanita lemah dan cengeng yang bisanya hanya menangis kalau dipermainkan pria." kata Sian Eng.

Dara perkasa ini bukan sekadar memanaskan hati Siang Kui, melainkan ucapannya itu keluar dari lubuk hatinya, sesuai dengan wataknya yang keras. Andaikata apa yang dialami Siang Kui itu menimpa padanya, tentu iapun akan mengambil sikap tegas seperti yang ia anjurkan kepada Siang Kui.

Siang Kui segera berganti pakaian baru dan membedaki mukanya agar tidak tampak bekas tangisnya. Kemudian, tanpa pamit kepada ayah dan keluarganya, dan hanya Sian Eng saja yang mengetahuinya, iapun meninggalkan perguruan Hek- tiauw Bu-koan dan menuju ke rumah gedung besar milik Pangeran Cheng Boan yang seperti istana itu.

Ketika Siang Kui tiba di pintu gapura pekarangan istana Pangeran Cheng Boan, lima orang perajurit penjaga menghadangnya. Seorang di antara lima orang perajurit itu, melihat Siang Kui yang cantik, segera timbul niatnya untuk menggoda.

"Selamat siang, nona manis. Nona hendak mencari siapakah?" tanyanya sambil menyeringai dan memasang gaya cengar-cengir.

"Aku hendak bertemu dengan Cheng Kongcu." kata Siang Kui singkat tanpa menanggapi ucapan ceriwis itu.

"Wah, tidak mudah bertemu dengan Cheng Kongcu, nona manis. Bagaimana kalau bertemu dan bicara dengan aku saja? Aku akan melayanimu dengan baik-baik. Percayalah!" kata penjaga itu dengan sikap genit. Empat orang penjaga yang lain tertawa-tawa melihat tingkah rekan mereka yang genit itu.

Selagi Siang Kui hendak marah dan menghajar penjaga yang kurang ajar itu, muncul seorang kepala jaga yang lebih tua. Begitu melihat Siang Kui, dia segera mengenal gadis itu dan cepat maju memberi hormat. "Ah, kiranya Lo Siocia (Nona Lo) yang datang. Apa yang dapat kami lakukan untukmu, nona?"

"Aku ingin bertemu dengan Cheng Kongcu." "Tadi saya lihat dia berada di taman bunga. Biar saya laporkan, nona."

"Tidak usah, biar aku mencarinya sendiri di taman." kata Siang Kui dan ia lalu cepat masuk dan membelok ke taman bunga yang berada di kiri gedung. Taman itu luas sekali, berada di sebelah kiri gedung terus sampai ke belakang gedung.

Lima orang penjaga muda itu merasa heran melihat sikap kepala jaga yang demikian hormat kepada gadis cantik tadi.

"Kau gila! Kaukira siapa yang kau permainkan tadi?" bentak kepala jaga kepada penjaga yang tadi menggoda Siang Kui.

"Ia.... ia siapakah ?" tanya si penggoda tadi.

"Mau tahu? Ia adalah tunangan Cheng Kongcu! Dan ia adalah puteri Lo Kauwsu (Guru Silat Lo) ketua dari Hek-tiauw Bu-Koan. Ia tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi!"

Si penggoda tadi menjadi pucat dan matanya terbelalak. "Wah..... celaka.....! Aku.... aku tidak tahu !"

"Hayo cepat engkau hajar mulutmu yang lancang itu sendiri atau aku akar melaporkan kelakuanmu kepada Cheng Kongcu!"

"Ah, jangan..... jangan jangan lapor. Baik, aku akan

menghajar mulutki sendiri !" kata si penggoda itu dar

diapun lalu menggunakan kedua tangannya untuk menampari mulutnya sendil dari kanan kiri. "Plok-plak-pIok-plak ”

berulang kali sampai bibirnya pecah berdarah, ditertawakan oleh teman-temannya

Sementara itu, Lo Siang Kui memasuki taman. Setelah tiba di taman bunga bagian belakang, dari jauh ia melihat Cheng Kongcu berjalan perlahan bersama seorang wanita. Ia melihat mereka dari belakang dan tampaknya mereka berdua itu berjalan berdampingan dan bercakap-cakap dengan asyik.

Siang Kui mengerutkan alisnya dan ia lalu membayangi dari belakang, bersembunyi di balik-balik rumpun bunga atau batang pohon, makin mendekati mereka.

"Sian-li." ia mendengar suara Cheng Kun bicara, "aku sudah menerangkan semua hal kepadamu, apakah engkau masih juga tidak percaya?"

Siang Kui mendengarkan dengan penuh perhatian. "Akan tetapi, Cheng Kongcu, agaknya tidak masuk di akal." terdengar wanita itu berkata. "Bukankah dia telah membuktikan dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan memiliki Suling Pusaka Kemala, bahkan Sribaginda kaisar sendiri telah menerima dan mengakuinya sebagai puteranya?"

"Semua orang memang dapat terpedaya, akan tetapi pembantu ayahku yang bernama Suma Kiang tidak dapat dikelabuhi karena dia mengenal Pangeran Cheng Lin yang aseli. Ketika dia didesak dan diterima sebagai sekutu ayah, akhirnya dia mengaku. Suling itu dicurinya dari Pangeran Cheng Lin yang aseli. Sebenarnya dia adalah Ouw Ki Seng ketua Ban-tok-pang."

"Aih, sungguh tidak kusangka sama sekali. Aku juga telah ditipunya!" seru wanita itu.

"Hal ini sebetulnya harus dirahasiakan. Yang mengetahuinya hanya ayah, aku, Paman Suma Kiang dan Paman Toa Ok. Akan tetapi karena engkau telah menjadi sekutu dan kekasihku yang ku-percaya, maka aku

memberitahu kepadamu."

"Terima kasih, Kongcu. Engkau sungguh baik sekali kepadaku!" kata wanita itu yang membiarkan dirinya dipeluk dan dicium. Siang Kui tidak dapat menahan diri lagi. ia melompat keluar dan gerakannya ini dapat ditangkap pendengaran Sian Hwa Sian-li yang amat tajam. Sian-li cepat melepaskan rangkulan Ciang Kun, membalikkan tubuhnya dan melompat ke depan Lo Siang Kui. Melihat bahwa wanita yang dicumbu Cheng Kun ternyata amat cantik, Siang Kui menjadi semakin cemburu. Wataknya memang keras dan galak, maka melihat wanita itu menghampirinya, tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan jurus Hek-tiauw-pok-touw (Rajawali Hi-tam Menyambar Kelenci), tangan kirinya mencengkeram ke arah muka sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke arah dada. Serangan ini sungguh keji dan berbahaya. Kalau tangan kiri mengenai sasaran, muka yang cantik dari Sian Hwa Sian-li tentu akan rusak dan kalau tangan kanan yang mengenai dada, dapat menewaskan wanita cantik itu!

Namun, tingkat kepandaian Sian Hwa Sian-li jauh lebih tinggi daripada tingkat Lo Siang Kui, maka biarpun ia juga harus berlaku waspada dan hati-hati, dengan Cepat ia dapat menghindarkan diri dengan melangkah ke belakang dan men- jauhkan sasaran yang diserang. Melihat serangennya gagal, Siang Kui menjadi penasaran dan menyambung dengan serangan beruntun. Karena tidak mengenai siapa wanita itu yang tanpa sebab menyerangnya, Sian Hwa Sian-li tidak bertindak sembrono dan iapun mempergunakan kecepatan gerakan untuk menghindar. Sampai tujuh kali ia menghindarkan diri dengan elakan-elakan.

Cheng Kun terkejut melihat munculnya Siang Kui yang tiba- tiba menyerang Sian Hwa Sian-li kalang kabut.

"Kui-moi, jangan serang!" bentaknya, akan tetapi Siang Kui yang galak sudah terlalu marah untuk dapat menghentikan serangannya. la.menyerang terus.

"Dukk !" Sian Hwa Sian-li kini menangkis dan karena

tenaga sin-kangnya lebih kuat, maka Siang Kui terhuyung ke belakang. Akan tetapi, kenyataan bahwa ia kalah kuat itu tidak membuat ia mundur. Ia menyerang lagi dengan gencar.

Cheng Kun tahu bahwa Sian Hwa Sian-li amat lihai. "Sian-li, jangan, bunuh ia!" Dia memperingatkan. Sambil mengelak ke kanan kiri, Sian-li bertanya, "Kongcu, ia ini siapakah?"

"Ia tunanganku, jangan bunuh!" kata lagi Cheng Kun.

Pada saat itu, Sian Hwa Sian-li memperoleh kesempatan. Ia menggunakan sebagian besar tenaganya untuk menangkis pukulan Siang Kui sehingga gadis itu terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan Sian Hwa Sian-li untuk balas menyerang. Tangan kirinya menampar pundak, membuat Siang Kui terputar dan tangan kanannya menampar tengkuk. Siang Kui yang pingsan itu tidak sampai terbanting jatuh.

"Dia terluka ?" tanya Cheng Kun khawatir.

"Tidak, hanya pingsan. Sebaiknya kita bawa ke dalam dan kalau ia siuman, kau bujuk ia agar lain kali jangan bersikap galak kepadaku. Pergunakan ini untuk menjinakkannya." kata Sian-li sambil menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan merah kepada Cheng Kun.

Cheng Kun tersenyum dan dia lalu memondong tubuh Siang Kui yang pingsan, lalu dia membawanya ke rumah gedung. Di dalam rumah, dia bertemu dengan para pelayan dan para ibu tirinya, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri urusannya dan tidak berani bertanya. Ketika ibunya sendiri yang muncul, ibunya bertanya.

"Ada apakah? Kenapa ia ? Ehh, bukankah ia Lo Siang

Kui, tunanganmu? Kenapa ia?"

"Agaknya masuk angin, ibu. Ia pingsan, biarlah aku akan merawatnya dalam kamarku." kata Cheng Kun dan ibu kandungnya tidak berkata apa-apa lagi. Ibu yang anaknya hanya tunggal ini sejak Cheng Kun masih kecil terlalu memanjakannya. Tidak ada permintaan yang tidak diturutinya.

Setelah kini Cheng Kun dewasa, ibunya tidak berani menghalangi semua perbuatannya karena kalau ia melakukan itu, anaknya tentu akan melawannya dan bersikap kasar kepadanya. Karena itu, melihat puteranya membawa tunangannya itu ke dalam kamar, iapun tidak berani melarang, hanya menggeleng kepala dan menghela napas lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Di dalam kamarnya, Cheng Kun merebahkan tubuh Siang Kui di atas pembaringan dan seperti yang telah diajarkan oleh Sian Hwa Sian-li, dia mengurut perlahan tengkuk gadis itu.

Tak lama kemudian Siang Kui mengeluh lirih dan bergerak, lalu membuka matanya. Melihat dirinya rebah di atas pembaringan dan Cheng Kun duduk di tepi pembaringan, ia terkejut dan mencoba untuk bangkit duduk.

"Di mana ia? Perempuan busuk itu...!"

"Tenanglah, Kui-moi." Cheng Kun me-nekan kedua pundak gadis itu dengan lembut agar Siang Kui tetap rebah telentang. "Ia adalah seorang di antara pembantu-pembantu ayah yang amat lihai. Engkau sama sekali bukan tandingannya dan ia tidak ingin mencelakaimu. Bukti nya engkaupun tidak terluka. Akan tetapi engkau masih lemah dan pikiranmu kacau, maka minumlah dulu anggur ini agar hati dan pikiranmu menjadi tenang." Sambil berkata demikian, Ciang Kun mengambil sebuah cawan penuh anggur merah yang sudah dipersiapkan sejak tadi dan dia membantu Siang Kui bangun duduk, merangkul pundaknya dan memberinya minum anggur itu.

Melihat betapa dirinya dirangkul dan diperlakukan dengan sikap lembut dan manis oleh tunangannya, meredalah kemarahan Siang Kui dan ia tidak menolak ketika dianjurkan untuk minum anggur dalam cawan yang sudah ditempelkan ke bibirnya oleh Cheng Kun. Ia minum anggur secawan itu sampai habis.

"Nah, sekarang rebahlah kembali dan mengaso sebentar sampai tubuhmu segar dan pikiranmu tenang kembali." kata Cheng Kun sambil membantu gadis itu merebahkan kepalanya di atas bantal. Matanya terpejam dan ia merasakan betapa seluruh tubuhnya dijalari kehangatan setelah anggur tadi diminumnya. Rasa hangat yang nikmat sekali. Rasa hangat itu perlahan-lahan menjadi semakin panas dan akhirnya ia mengerang lirih karena tubuh, hati dan pikirannya telah dibakar oleh gairah berahi yang berkobar. Ia merasakan betapa kedua tangan Cheng Kun membelainya, akan tetapi ia tidak menolak, bahkan menyambutnya dengan girang. Gairah yang tidak wajar membakarnya dan menuntut kepuasan.

Akhirnya ia lupa akan segala. Bukan saja ia menurut saja akan apapun yang akan dilaku-kan Cheng Kun atas dirinya, bahkan ia menyambutnya penuh gairah.

Dalam jaman apapun, wanita selalu terancam oleh bujuk rayu pria. Oleh karena itu, para pria, terutama para gadis remaja dan mulai dewasa, haruslah waspada sekali, pandai menjaga diri, kehormatan dan harga dirinya. Tentu saja tidak semua pria berwatak seperti srigala kelaparan, namun banyak sekali pria yang tampak baik-baik, sopan santun dan terhormat, bagaikan srigala berbulu domba siap untuk menerkam bila diberi kesempatan. Dengan mempergunakan segal macam daya, pamer harta, bujuk rayu, sumpah palsu pria-pria macam itu selalu mengintai para gadis yang dipilihnya Sedikit saja gadis itu lengah, terkulai oleh bujuk rayu dan sumpah palsu, sila oleh pamer kekayaan, pria srigala itu akan menerkamnya. Maka hancurlah martabat, harga diri dan kehormatan gadis itu!

Masih mending kalau pria bertanggung jawab dan menikahinya sebagai isterinya yang sah. Akan tetapi, tidak jarang terdapat pria yang benar-benar berwatak srigala.

Setelah calon korban jatuh oleh rayuannya, srigala itu akan menggerogoti daging korbannya sekenyang dan sepuasnya, kemudian meninggalkan pergi bangkai korban itu begitu saja, tergeletak di tepi jalan sampai membusuk.

Betapa ngerinya kalau sudah begitu. Karena itu, wahai para gadis, waspadalah dan perkuatkan imanmu, hargailah diri dan kehormatanmu sendiri, jangan mabok oleh bujuk rayu gombal, jangan silau oleh pameran harta, jangan tertipu oleh sumpah setia sampai mati, jangan secara murah menyerahkan diri dan kehormatanmu sebelum kamu dinikahi sebagai isteri. Dan Wahai para pria pada umumnya dan para pemuda khususnya. Waspadalah, jangan membiarkan nafsu daya rendah menguasai dirimu sehingga kamu lupa diri dan menodai seorang gadis, apalagi kalau ia pacar dan calon isterimu.

Ingatlah bahwa menikmati sejenak itu dapat mengakibatkan penyesalan seumur hidup!

Jangan terpikat dan minum anggur yang digunakan iblis karena anggur yang rasanya nikmat itu mengandung racun yang amat berbahaya sekali!. Akan tetapi kalau hal itu memang telah terjadi karena kamu tidak dapat mengalahkan nafsumu sendiri, ber-sikaplah jantan. Bertanggung jawablah! Karena meninggalkan seorang gadis yang telah kamu nodai merupakan perbuatan yang amat terkutuk dan yang akan menghantui dirimu selama hidup.

Pada keesokan harinya, setelah pengaruh racun perangsang itu habis daya pengaruhnya, Lo Siang Kui terkejut melihat keadaan dirinya. Ia menangis dan menyesali perbuatannya, Akan tetapi Cheng Kun merangkulnya dan menghiburnya.

"Sudahlah, Kui-moi. Mengapa engka menangis? Bukankah kita saling mencinta dan bukankah engkau adalah calon isteri- ku? Kita melakukan ini karena salin mencinta. Kenapa disesali?"

"Kun-ko.... akan tetapi.... kita belum menikah " tangis

Siang Kui mereda karena kata-kata tunangannya tadi telah menghibur hatinya.

"Kalau belum, mengapa? Kita menikah hanya menunggu waktu saja. Sudahlah jangan menangis dan jangan bersedih. Engkau akan menjadi isteriku, maka perbuatan yang kita lakukan tadi sama sekali tidak ada salahnya, Kui-moi.

Sekarang beriaslah dan pulanglah dulu." Lo Siang Kui mengeringkan air matanya dan iapun mengenakan pakaiannya dan membedaki mukanya yang agak pucat. "Kun-ko, siapakah perempuan jahat yang amat lihai itu?" Hatinya terasa panas kembali mengingat betapa tunangannya bersikap demikian akrab dan mesra terhadap wanita cantik yang ilmu silat-nya amat lihai itu.

"Ah, ia bukan orang sembarangan, Kui-moi. Ia seorang tokoh besar dalam dunia kang-ouw yang sekarang menghambakan diri kepada ayahku. Namanya Kim Goat dan julukannya adalah Sian Hwa Sian-li. Ilmu silatnya tinggi sekali dan ia menjadi seorang di antara para pengawal keluarga kami. Sudahlah, sekarang engkau pulang dulu dan tak lama lagi kita menikah."

"Akan tetapi, kapankah kita menikah, Kun-ko? Tetapkanlah hari dan tanggalnya agar aku tidak menunggu-nunggu."

"Ah, hal itu dapat kita bicarakan nanti, Kui-moi?"

Siang Kui mengerutkan alisnya dan menatap wajah tunangannya dengan tajam. "Kenapa nanti? Engkau harus menentukan sekarang, Kun-ko. Ingat, aku telah "

"Akan kupikirkan dulu, Kui-moi."

"Tidak, Kun-ko. Aku minta kepastiannya sekarang juga. Aku tidak akan pulang sebelum memperoleh kepastian dari-mu!" kata Siang Kui dengan keras kepala.

Cheng Kun menghela napas panjang. "Baiklah, begini saja.

Dalam waktu satu minggu ini aku pasti akan datang ke rumahmu dan memberi kepastian hari dan tanggal pernikahan kita."

"Betul dalam minggu ini? Jangan melanggar janji, Kun-ko. Aku tunggu kedatanganmu dalam minggu ini. Sekarang aku pulang dulu!" Gadis itu lalu meninggalkan gedung itu, diantar Cheng Kun sampai di luar gedung. Setelah agak jauh meninggalkan istana Pangeran Cheng Boan menuju ke Hek-tiauw Bu-koan yang berada di ujung kota, dari sebuah gang kecil tiba-tiba muncul seorang gadis cantik manis. Gadis berusia sekitar sembilan belas tahun itu adalah Ciang Mei Ling dan ia menghampiri Siang Kui lalu berkata lirih.

"Enci Lo Siang Kui, bukan?"

Siang Kui memandang heran karena ia merasa belum mengenai gadis ini.

"Benar, aku Lo Siang Kui. Siapakah engkau dan ada keperluan apakah engkau menegur aku di jalan?"

"Namaku Ciang Mei Ling, enci. Aku mempunyai urusan penting sekali untuk dibicarakan denganmu."

"Aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu. Aku tidak mengenalmu. Jangan ganggu aku!" kata Lo Siang. Kui dengan suara ketus karena hatinya sedang risau dan timbul watak galaknya.

"Enci Siang Kui, aku tinggal di rumah gedung Pangeran Cheng Boan dan aku tahu apa yang telah terjadi semalam atas dirimu. Aku hendak bicara denganmu mengenai diri tunanganmu Cheng Kun. Apakah engkau tetap tidak tertarik dan tidak mau mendengarkan omongan-ku?"

Wajah Siang Kui berubah merah. Gadis ini mengetahui tentang peristiwa yang terjadi semalam. Ia memandang penuh perhatian dan melihat bahwa wajah yang cantik manis itu seperti diliputi awan kedukaan.

"Bicaralah." katanya singkat.

Ciang Mei Ling memandang ke kanan kiri. Banyak orang berlalu-lalang di jalan raya itu.

"Tidak enak kalau kita bicara di sini enci. Banyak orang berlalu-lalang di sinl membuat kita tidak leluasa bicara." Ia menengok ke kiri di mana terdapat sebuah rumah makan yang cukup besar dan yang baru saja dibuka dan masih sepi, "Bagaimana kalau kita masuk ke rumal makan itu, minum teh dan bicara?"

Lo Siang Kui menengok dan melihat rumah makan yang masih sepi itu dan ia mengangguk. Tanpa bicara kedua orang gadis itu lalu melangkah dan memasuki rumah makan itu.

Seorang pelayan menyambut tamu pertama itu dengan ramah.

"Ji-wi siocia (Nona berdua) hendak sarapan?" tanyanya. "Kami hanya mau minum teh panas dan sediakan beberapa

kue kering." pesan Mei, Ling. Pelayan pergi dan tak lama

kemudian dia sudah menyuguhkan pesanan itu. Setelah pelayan pergi bertanyaiah Siang Kui dengan tidak sabar.

"Nan, sekarang bicaralah. Apa yang ingin kaubicarakan mengenai diri Cheng Kongcu?"

"Enci Lo Siang Kui, aku mengetahui semua yang telah terjadi atas dirimu semalam, Engkau telah menjadi korban kebiadaban pemuda bangsawan Cheng Kun yang kau anggap sebagai seorang tunangan yang baik itu. Engkau telah menjadi korban persekutuan busuk antara Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li, iblis betina itu."

Wajah Siang Kui menjadi pucat, lalu menjadi merah. Ia terkejut dan juga merasa malu sekali karena rahasianya semalam diketahui orang lain.

"Apa apa yang kau bicarakan ini? Jangan main-main

engkau, Ciang Mei Ling!"

"Aku tidak main-main, enci. Aku tahu bahwa engkau telah menjadi korban kecabulan Cheng Kun. Bukankah engkau diberi minum anggur sebelumnya dan setelah minum anggur itu engkau menjadi lupa keadaan?" Wajah Siang Kui menjadi merah sekali, malu teringat akan sikapnya semalam, betapa ia menyambut semua perbuatan Cheng Kun terhadap dirinya dengan penuh gairah dan baru pagi tadi ia sadar dan menyesali perbuatannya.

"Bagaimana...... bagaimana engkau bisa tahu ?"

tanyanya gagap.

Melihat gadis itu kebingungan, Mei Ling menyadari bahwa ia terburu-buru dalam pengakuannya. Ia lalu berkata dengan lebih tenang. "Enci Lo Siang Kui, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, biarlah engkau lebih dulu mengenal siapa aku dan mengetahui keadaanku di istana Pangeran Cheng Boan. Seperti kukatakan tadi, aku bernama Ciang Mei Ling. Aku puteri dari mendiang ketua Pek-eng-pang di lereng pegunungan Thai-san. Aku telah bertunangan dengan seorang pangeran. Pangeran Cheng Lin namanya dan atas kehendaknya aku dijemput Sian Hwa Sian-li dan diharuskan tinggal di istana Pangeran Cheng Boan. Kurang, lebih sebulan yang lalu, aku akupun menjadi korban kebiadaban Cheng

Kun: Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah diberi minum anggur oleh Sian Hwa Sian-li dan tahu-tahu. aku berada di dalam kamar Cheng Kun dan aku dipermainkannya seperti dia mempermainkanmu."

"Ahhh !" Lo Siang Kui terkejut bukan main.

"Sejak engkau memasuki taman, aku sudah mengikuti, enci. Aku memang sedang melakukan penyelidikan terhadap mereka semua sejak aku dijadikan korban kebiadaban Cheng Kun. Aku tahu bahwa mereka semua itu bersekongkol.

Pangeran Cheng Lin tunanganku itu bersekongkol dengan Pangeran Cheng Boan, dibantu oleh Sian Hwa Sian-li. Mereka semua bukan orang baik-baik, juga tunanganku Pangeran Cheng Lin itu. Mereka bersekongkol, entah untuk urusan apa sedang kuselidiki. Mereka itu semua orang hina Sian Hwa Sian-li itu seorang iblis betina. Ia tidak saja berjina dengan Pangeran Cheng Lin, akan tetapi juga dengan Cheng Kun." Hati Lo Siang Kui merasa panas bukan main. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mempercayai semua ucapan Ciang Mei Ling yang baru saja dikenalnya. Apaiagi ia teringat bahwa Cheng Kun sudah berjanji dalam waktu seminggu akan memberi keputusan tentang hari pernikahan mereka.

Dengan marah Siang Kui bangkit berdiri dari kursinya. "Sudahlah, jangan bicara lagi. Aku tidak percaya akan semua omonganmu!" Setelah berkata demikian, ia cepat keluar dari rumah makan itu dan berjalan cepat menuju pulang. Ia menahan air matanya yang sudah me-ngembang di pelupuk matanya.

Ciang Mei Ling menghela napas panjang. Ia merasa iba kepada Lo Siang Kui. Gadis itu telah salah memilih, pikirnya. Memilih seorang laki-Iaki busuk seperti Cheng Kun. Tiba-tiba ia teringat akan dirinya sendiri dan berulang kali menghela napas. Ia sendiripun telah salah memilih jodoh. Ia terkecoh oleh sikap Ouw Ki Seng yang semula tampak baik sekali itu. Biarpun kemudian ia mengetahui bahwa Ouw Ki Seng yang menjadi tunangannya itu seorang pangeran, namun hal ini tidak menghibur hatinya yang terluka.

Bukan saja ia telah terpedaya, menyerahkan diri dan kehormatannya kepada pangeran itu dalam keadaan terbius, akan tetapi juga kini ia menjadi korban kebiadaban Cheng Kun. Kini ia dapat menduga bahwa semua itu tentu atas usaha licik dari Sian Hwa Sian-li. Ketika ia diajak minum anggur, tentu anggur itu diberi sesuatu oleh iblis betina itu yang membuat ia terangsang dan tidak sadar. Iapun dapat menduga bahwa dulu, ketika ia menyerahkan kehormatannya kepada Pangeran Cheng Lin, iapun berada dalam keadaan yang sama, terbius oleh racun perangsang yang dicampurkan dalam minuman anggur. Presis seperti yang dialami oleh Lo Siang Kui. Setelah melihat hubungan jina antara Pangeran Cheng Lin atau dahulu-nya Ouw Ki Seng itu dengan Sian Hwa Sian-li, iapun dapat menduga bahwa dahulupun ia menjadi korban Ouw Ki Seng atas muslihat Sian Hwa Sian-li. Akan tetapi ia akan menyelidiki terus untuk mengetahui persekutuan apakah sebetulnya yang ada antara mereka semua.

Setelah membayar harga minuman dan makanan, Ciang Mei Ling lalu bergegas kembali ke istana Pangeran Cheng Boan. Ia bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Sudah sepuluh hari lamanya Lo Sian Kui menungu-nunggu dengan tidak sabar, namun Cheng Kun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Padahal sebelum adanya Sian Hwa Sian-li di rumah tunangannya itu, Cheng Kun selalu berkunjung ke rumahnya hampir setiap hari. Putera pangeran itu berjanji akan datang berkunjung dalam seminggu untuk membicarakan tentang hari pernikahan. Akan tetapi ditunggu sampai sepuluh hari, dia tidak kunjung datang dan tidak mengirim berita apapun.

Padahal, ia sudah menyerahkan kehormatannya, walaupun penyerahan itu dilakukannya dalam keadaan tidak sadar, terpengaruh oleh sesuatu yang membuat ia kehilangan pertimbangan. Teringat akan semua ini, Siang Kui menangis tersedu-sedu dalam kamarnya. Setelah lewat seminggu Cheng Kun belum juga datang, Lo Siang Kui mengu-rung diri dalam kamarnya. Ia tidak mau makan dan hanya menangis saja dengan sedihnya, membuat ayah dan ibunya dan juga kakaknya menjadi bingung. Ketika ditanya, Siang Kui tidak mau menjawab, hanya menangis dan mengusir pergi orang orang yang bertanya. Bahkan ayah dan ibunya tidak ia perdulikan, apalagi kakak nya.

Dengan hati khawatir Lo Kang lalu menemui Lo Sian Eng. "Sian Eng, tolong-lah encimu Siang Kui itu. Sudah tiga hari ia tidak mau makan dan hanya menangis dalam kamarnya. Kalau kami tanya, ia tidak mau menjawab bahkan mengusir kami dari kamarnya. Tolonglah, Sian Eng, barangkali engkau yang akan mampu mengajaknya bicara." Demikian Lo Kang meminta kepada Sian Eng.

Sian Eng sudah tahu akan keadaan Siang Kui, akan tetapi ia memang diam saja tidak ingin mencampurinya karena ia tahu bahwa Siang Kui adalah seorang gadis yang keras hati. Akan tetapi setelah pamannya mengajukan permintaan itu dengan suara mengandung kegelisahan, iapun menyanggupi dan ia segera menuju ke kamar Siang Kui yang tertutup daun pintunya.

Siang Eng pernah digembleng selama lima tahun oleh mendiang Hwa Hwa Cinjin, seorang datuk besar ahli silat dan ahli sihir. Maka, selain ilmu silat tinggi, iapun pernah mempelajari ilmu sihir, ilmu untuk menguasai atau mempengaruhi pikiran orang lain. Ia tahu bahwa pada saat itu pikiran Siang Kui sedang kacau dan karena dilanda suatu kedukaan maka pikirannya menjadi lemah sehingga akan mudah untuk dipengaruhi. Maka, ia lalu mengerahkan kekuatan batinnya, menyalurkan kekuatan itu pada suaranya dan ia mengerahkan khi-kang agar suaranya terdengar nyaring dan jelas ke dalam kamar itu dan mengetuk daun pintunya.

"Tok-tok-tok! Enci Siang Kui, dengar-kan aku, enci Siang Kui. Aku Sian Eng yang akan mengangkatmu dari kedukaan- mu. Bukalah pintunya, enci Siang Kui. Buka pintu kamarmu dan biarkan aku masuk!"

Terdengar suara kaki diseret dan daun pintu itupun dibuka dari dalam oleh Siang Kui. Sian Eng terkejut melihat gadis yang biasanya cantik pesolek itu kini keadaannya amat menyedihkan. Pakaiannya kusut, rambutnya awut-awutan, mukanya pucat dan matanya merah, tubuhnya tampak lemas dan lesu! Sian Eng cepat merangkulnya dan membawanya ke tempat tidur.

"Duduklah, enci Siang Kui. Duduklah di sini." Siang Kui duduk di tepi pembaringan dengan taat. "Sekarang berbaringlah. Engkau perlu beristirahat." kata pula Sian Eng yang suaranya mengandung kekuatan sihir. Siang Kui tidak membantah dan merebahkan diri, telentang di atas pembaringan.

Sian Eng mengetahui apa yang dibutuhkan gadis itu pada saat ini. "Enci Siang Kui, engkau rebah dan mengaso dulu, aku akan mengambilkan makanan dan minuman untukkmu.

Sebelum aku kembali, tenangkanlah hati dan pikiranmu, jangan merisaukan apa-apa dan mengaso sajalah." Ia lalu meninggalkan Siang Kui, menutupkan daun pintu dari luar dan bergegas pergi ke dapur. Cepat ia minta kepada pelayan untuk menyediakan bubur dan air teh yang ia bawa ke kamar Siang Kui. Ketika ia memasuki kamar, ia minta agar Lo Kang dan isterinya yang mengikutinya tidak mengganggunya dan meninggalkan kamar itu.

"Jangan khawatir, paman dan bibi Aku akan mencoba untuk menghiburnya dan mengajaknya bicara. Sebaiknya kalau kami ditinggalkan berdua saja di kamar ini."

Lo Kang dan isterinya mengangguk dan meninggalkan kamar itu. Sian Eng lalu memasuki kamar, menutupkan daun pintunya dan membawa bubur dan air teh mendekati Siang Kui yang masih rebah telentang di atas pembaringan.

"Enci Siang Kui, bangun ,dan duduklah. Ini ada semangkuk bubur. Makanlah dulu agar tubuhmu kuat dan minumlah air teh ini."

Karena terpengaruh oleh ucapan Sian Eng yang mengandung kekuatan sihir, bagaikan orang yang sedang bermimpi Siang Kui bangkit duduk, menerima cangkir berisi air teh dan meminumnya. Kemudian dengan taat iapun makan semangkuk bubur itu. Karena sudah tiga hari ia tidak makan atau minum, sebentar saja semangkuk bubur dan secangkir air teh itupun habis. Setelah makan, kedua pipi Siang Kui yang tadinya pucat kini menjadi kemerahan. Sian Eng duduk di tepi pembaringan di samping Siang Kui. Sambil merangkul pundak gadis itu, Sian Eng bertanya. "Enci Siang Kui, engkau percaya kepadaku, bukan?"

Siang Kui mengangguk sambil menatap wajah Sian Eng. "Dan engkau yakin bahwa kalau engkau membutuhkan

pertolongan, aku akan menoiongmu dan hanya aku yang akan

dapat menoiongmu?"

Kembali Siang Kui mengangguk penuh keyakinan. "Nah, kalau begitu, sekarang ceritakanlah kepadaku

mengapa engkau begini bersedih, enci Siang Kui. Apa yang telah terjadi denganmu dan ketika tempo hari engkau tidak pulang, engkau bermalam di manakah?"

Ditanya begitu, tiba-tiba Siang Kui menangis tersedu-sedu. Ketika Sian Eng merangkulnya, Siang Kui juga memeluKi Sian Eng sambil menangis. Sian Eng membiarkan gadis itu menangis sepuasnya karena hal itu merupakan pelepasan segala kedukaannya.

Setelah tangis Siang Kui mereda, Sian Eng menggunakan sehelai saputangan untuk mengusap air mata dari muka Siang Kui. "Nah, bicaralah, enci. Percayalah bahwa aku tentu akan dapat membantumu memecahkan segala persoalan yang mengganggu hatimu."

"Sian Eng, bagaimana aku harus mengatakan kepadamu?

Ah, Eng-moi, hatiku sakit sekali, kebahagiaanku hancur, kehidupanku rusak binasa "

Sian Eng terkejut. "Ah ! Apakah yang telah terjadi

denganmu, enci? Tentu Cheng Kun itu penyebabnya! Hayo kata-kan, apa yang telah dia lakukan kepadamu?" Sian Eng dapat menduga dengan mudah. Bukankah ia yang menganjurkan Siang Kui untuk mencari Cheng Kun yang tak pernah datang lagi berkunjung. Kemudian Siang Kui pergi dan semalam suntuk tidak pulang. Seminggu setelah pulang gadis itu lalu mengeram diri dalam kamar, tidak makan tidak minum sampai tiga hari lamanya! Siapa lagi yang menjadi penyebabnya selain Cheng Kun?

Siang Kui menghela napas, melepaskan ganjalan hatinya.

Memang Sian Eng satu-satunya orang yang akan dapat menolongnya menghadapi Sian Hwa Sian-li yang lihai. Tanpa dipengaruhi kekuatan sihir sekalipun ia sudah mengambil keputusan untuk menumpahkan semua kedukaannya kepada Sian Eng.

"Ketika engkau berkunjung ke rumah Cheng Kun, apa yang terjadi, enci Siang Kui?" Sian Eng mendesak.

"Banyak hal terjadi, Eng-moi. Ketika aku berkunjung ke sana, aku langsung mencari Kun-ko ke dalam taman. Dan tahukah engkau apa yang kulihat? Dia sedang berkasih- kasihan dengan seorang wanita yang cantik dan pesolek. Wanita yang menurut perkiraanku sudah berusia tiga puluhan tahun akan tetapi genitnya bukan main. Seorang iblis betina!" Wajah gadis itu menjadi merah sekali karena kemarahannya timbul ketika ia teringat kepada Sian Hwa Sian-li.

"Hemm, sudah kuduga bahwa dia seorang laki-laki yang tidak setia. Lalu apa yang terjadi, enci Siang Kui?"

"Melihat mereka berkasih-kasihan, aku menjadi panas hati dan aku menyerang wanita itu untuk membunuhnya. Akan tetapi..... ternyata ia lihai sekali, Eng-moi. Aku aku kalah

dan roboh tertotok oleh wanita itu."

"Hemm, kiranya ia lihai?" kata Sian Eng dengan kaget. Ia tahu bahwa ilmu silat Siang Kui cukup tinggi. Kalau wanita itu mampu menotok roboh Siang Kui, jelas bahwa wanita itu memang lihai sekali.

"Aku jatuh pingsan dan ketika aku siuman kembali, aku telah berada di kamar Kun-ko. Dia menghiburku dan memberi minum anggur. Setelah minum anggur, aku aku menjadi

seperti mabok dan tidak dapat menguasai diriku. Kesadaranku seperti hilang dan aku...... aku bahkan tidak menolak

ketika dia menggauliku " Siang Kui menundukkan mukanya

dan merasa malu sekali.

"Ya Tuhan......!" Sian Eng berseru, "Jahanam itu !!"

"Keesokan harinya baru aku menya-dari apa yang telah kulakukan. Aku menyesal dan menangis. Kun-ko menghiburku, dan mengatakan bahwa dalam waktu seminggu dia akan datang untuk menentukan hari pernikahan kami. Tentu saja aku percaya kepadanya dan aku merasa terhibur dan aku lalu pulang. Akan tetapi di tengah perjalanan, seorang gadis cantik mengajak aku bicara. Ia bernama Ciang Mei Ling dan ia mengaku sebagai tunangan Pangeran Cheng Lin. Apa yang ia ceritakan benar-benar membuat aku merasa gelisah sekali. Ia menceritakan bahwa ia sendiripun menjadi korban kebiadaban Cheng Kun, digauli setelah ia diberi minum anggur yang sama dengan yang kuminum. Katanya semua itu diatur oleh Sian Hwa Sian-li "

"Siapa itu Sian Hwa Sian-li?"

"Ia adalah wanita yang berkasih-kasihan dengan Cheng Kun."

"Ah, kiranya begitu?"

"Aku masih tidak percaya akan semua omongan Ciang Mei Ling karena Kun-ko sudah menjanjikan kepadaku untuk datang menentukan hari pernikahan kami. Akan tetapi setelah lewat seminggu, dia tidak muncul dan tidak memberi kabar.Aku menjadi khawatir sekali, Eng-moi, apalagi kalau aku teringat akan cerita Ciang Mei Ling. Jangan-jangan Kun-

ko itu memang benar seorang yang jahat dan hanya akan mempermainkan aku dan menurut Ciang Mei Ling, mereka

semua, Pangeran Cheng Lin, Pangeran Cheng Boan, Cheng Kun dan Sian Hwa Sian-li, mereka semua itu bersekongkol, entah untuk apa " "Gila! Aku harus turun tangan. Tak dapat kubiarkan saja laki-laki itu merusak kehidupan dan kebahagiaanmu, enci Siang Kui. Kalau perlu aku akan menggunakan kekerasan untuk memaksa dia menikahimu. Tenang sajalah, aku pasti akan menyeret dia bertekuk lutut di depanmu!" kata Sian Eng dengan nada suara penuh kemarahan.

"Hati-hatilah, Sian Eng. Iblis betina Sian Hwa Sian-li itu lihai bukan main dan Pangeran Cheng Boan mempunyai banyak jagoan lihai yang menjadi pengawal keluarganya." Siang Kui memperingatkan.

"Jangan khawatir, enci Siang Kui. Aku tentu akan berhati- hati." jawab Sian Eng.

Malam itu bulan bersinar hampir sepenuhnya. Tidak ada awan menghalang sehingga sinar bulan menerangi kota raja. Suasana amatlah indahnya. Seluruh kota bermandikan cahaya bulan dan hampir semua orang berada di luar rumah mereka. Kanak-kanak bermain-main di pelataran rumah, teriakan- teriakan mereka mengundang suasana gembira. Orang-orang dewasa berjalan-jalan dengan riangnya. Akan tetapi, suasana yang ramai meriah itu tidak berlangsung lama.

Angin yang membawa hawa dingin datang bertiup. makin lama hawa udara menjadi semakin dingin sehingga kanak- kanak sudah diteriaki ibu mereka untuk masuk ke dalam rumah agar tidak sampai masuk angin. Orang-orang dewasa juga tidak betah bertahan di luar. Tak lama kemudian suasana menjadi sepi. Jalan-jalan ditinggalkan orang, jendela dan pintu rumah ditutup agar hawa dingin tidak menyerang masuk ke dalam rumah. Yang berkeadaan mampu segera membuat perapi-an di tungku untuk menghangatkan badan.

Para perajurit yang bertugas jaga malam itu di gardu-gardu penjagaan gedung-gedung para pembesar atau bangsawan tinggi, mengenakan mantel bulu yang tebal dan ada pula yang membuat api unggun di gardu penjagaan. Akan tetapi dalam udara yang dingin itu ada orang yang berada di luar. Bahkan ia bergerak cepat sekali, hanya tampak bayangannya saja yang berkelebatan dan selalu ia memilih tempat yang terlindung kegelapan bayangan bangunan atau pohon. Ketika ia tiba di sebuah rumah, ia berhenti di dalam bayangan rumah itu yang gelap. Dari situ ia memandang ke seberang jalan di mana berdiri gedung megah seperti istana milik Pangeran Cheng Boan. Bayangan itu adalah Lo Sian Eng, Pakaiannya yang ringkas berwarna merah muda itu tampak gelap dalam sinar bulan itu. Di punggungnya tergantung sebatang pedang beronce merah.

Sian Eng marah sekali ketika mendengar cerita Lo Siang Kui tentang perbuatan biadab yang dilakukan Cheng Kun atas diri kakak sepupunya itu. Malam ini, tanpa memperdulikan hawa udara yang amat dingin, gadis perkasa itu mengenakan pakaian ringkas, membawa pedangnya dan keluar dari rumah pamannya pergi menuju gedung tempat tinggal Cheng Kun.

Agar tidak menarik perhatian orang, Sian Eng menyelinap dalam bayangan gelap dan kini ia berada di dalam bayangan rumah yang berdiri di seberang gedung Pangeran Cheng Boan. Dari tempat gelap di seberang jalan itu ia dapat melihat sebuah gardu penjagaan dan melihat belasan orang perajurit yang berjaga di sekitar gardu itu. Rumah gedung itu sendiri sudah menutup semua daun jendela dan pintunya. Akan tetapi di luar gedung tergantung banyak lampu teng yang cukup memberi penerangan kepada pekarangannya yang luas. Dari tempat persembunyiannya Sian Eng dapat melihat pula bahwa gedung itu dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi, bahkan di bagian atas pagar tembok dipasangi hiasan runcing seperti tombak berjajar.

Dengan jalan memutar, melalui tempat-tempat yang gelap oleh bayangan bangunan dan pohon-pohon, Sian Eng tiba di bagian belakang pagar tembok itu. Tempat itu sepi sekali dan dengan pengerahan gin-kangnya (ilmu meringankan tubuhnya) ia melompat dan bagaikan seekor burung tubuhnya melayang ke atas dan mtangannya menangkap sebatang tombak yang berada di atas pagar tembok. Dengan mudah ia mengangkat tubuhnya dan kini ia berdiri di 4atas pagar tembok, di antara tombak-tombak yang berjajar. Setelah menjenguk ke sebelah dalam pagar tembok ia melihat bahwa itu adalah sebuah taman yang berada di belakang gedung. Ia lalu melompat turun tanpa menimbulkan suara ketika kakinya menginjak tanah seperti seekor kucing saja. Akan tetapi ia cepat menyusup ke belakang rumpun bunga ketika mendengar kentungan dipukul orang dan ia melihat dua orang perajurit datang meronda sambil membawa sebuah lampu gantung di ujung sebatang tongkat.

"Bagus, inilah yang kuharapkan." bisik nya kepada diri sendiri sambil menyelinap ke balik pepohonan untuk menghadang datangnya dua orang peronda itu. Ia tidak mengenai keadaan di gedung itu dan ia membutuhkan seorang penunjuk jalan!

Dua orang perajurit peronda itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di depan mereka terdapat seorang gadis perkasa yang telah siap menyerang mereka seperti seekor singa betina siap menerkam dua ekor kelenci. Kemunculan Sian Eng memang mengejutkan sekali. Dua orang itu hanya tampak dua buah lengan berkelebat dan tahu-tahu mereka sudah roboh dan tidak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok. Sian Eng menyambar tongkat yang ujungnya tergantung lampu teng itu agar tidak sampai ter-banting dan terbakar. Ia meniup padam lampu itu dan memandang kepada dua orang yang sudah rebah telentang tanpa dapat bergerak. Ia memilih seorang dari mereka yang wajahnya membayangkan ketakutan. Inilah yang akan dapat dijadikan penunjuk jalan, pikirnya dan tangan kirinya diayun memukul leher orang ke dua yang matanya melotot. Orang itupun mengeluh dan pingsan. Sian Eng menepuk pundak orang yang dipilihnya. Ketika orang itu menggerakkan tubuhnya dan hendak bangkit duduk, pedang Coa-tok Sin-kiam (Pedang Sakti Bisa Ular) telah menodong lehernya. Ujung pedang yang runcing itu terasa menggigit kulit sehingga orang yang sudah ketakutan itu menjadi semakin takut sehingga dia menggigil.

"Ampun.... ampunkan saya.... jangan bunuh saya " dia

meratap.

"Aku tidak akan membunuhmu asal engkau dapat menunjukkan kepadaku di mana. adanya kamar tuan muda Cheng Kun!" bisik Sian Eng dengan nada suara mengancam. "Awas, kalau engkau menipuku atau engkau berteriak, pedangku ini akan menembus lehermu!"

"Baik.... baik..... lihiap (pendekar wanita) kamarnya

berada di bagian belakang, di sebelah kiri. " Tangan orang

itu menunjuk ke arah gedung besar itu.

"Tunjukkan, bawa aku ke sana. Awas, jangan sampai ketahuan orang, ambil jalan yang aman." kata Sian Eng dan orang itupun bangkit berdiri, dan pedang di tangan Sian Eng itu tidak pernah meninggalkan kulit lehernya.

Peronda itu lalu berjalan menyeberangi taman menuju ke bagian belakang gedung. Sian Eng berjalan di belakangnya menodongkan pedangnya.

Sebagai seorang perajurit pengawal yang biasa meronda di seluruh bagian gedung itu tentu saja orang itu mengenai semua bagian gedung dan, diapun tahu pintu-pintu rahasia dari mana dia memasuki gedung. Tentu saja pintu-pintu rahasia itu hanya diketahui oleh penghuni gedung dan para perajurit pengawal. Sian Eng terus menodong punggung penjaga itu sampai penjaga itu berhenti melangkah dan dengan telunjuk kanannya menuding ke arah pintu sebuah kamar yang berada di bagian belakang sebelah kiri gedung itu.

"Lihiap, itulah kamar Cheng Kongcu." bisiknya lirih. "Jangan bohong! Kalau engkau berani berbohong, akan kubunuh kau!" desis Sian Eng sambil menodongkan pedangnya ke dada orang itu.

Orang itu menggigil ketakutan. "Tidak saya tidak berani

berbohong, lihiap." katanya. Setelah yakin bahwa orang itu tidak akan berani berbohong kepadanya, tangan kiri Sian Eng bergerak dan orang itu terkulai roboh dengan tubuh lemas tak mampu bergerak.

Setelah menyeret tubuh penjaga itu ke belakang sebuah pot kembang besar, Sian Eng lalu menghampiri pintu kamar itu dan mengetuk.

"Tok-tok-tok!" Terdengar suara seorang laki-laki dari dalam kamar.

"Siapa itu?"

-00dw-00kz-00-