-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 23

Jilid XXIII

AKAN tetapi keluarga Pangeran Cheng Boan amat ramah kepadanya sehingga akhirnya rasa rikuhnya berkurang dan mulailah dia berani mengangkat muka memperhatikan mereka satu demi satu. Di dalam hatinya dia memuji pamannya yang pandai memilih sehingga memiliki tujuh orang selir yang demikian cantik manisnya.

Sebuah pesta keluarga diadakan untuk menyambut Ki Seng yang tentu saja merasa terhormat sekali. Bermacam hidangan serba mewah dan lezat disuguhkan dan bergantian, keluarga itu menyulanginya dengan secawan arak sebagai ucapan selamat datang.

Mereka lalu bercakap-cakap dengan gembira. Hawa banyak arak yang diminumnya membuat Ki Seng setengah mabok dan lenyaplah semua rasa rikuh dan malu. Dia berani memandang kepada selir selir yang cantik itu secara terbuka dan tersenyum manis kepada mereka. Mereka makan minum dan sesuai dengan anjuran Pangeran Cheng Boan yang memang sudah mengatur sebelumnya, tujuh orang selir cantik itu secara ramah dan mesra bergantian memilihkan daging yang paling lunak dengan sumpit mereka dan menaruhnya ke dalam mangkok Ki Seng. Perbuatan ini dapat dianggap sebagai keramahan sesama anggauta keluarga, akan tetapi dapat juga sebagai suatu kemesraan yang diperlihatkan wanita terhada pria. Melihat ulah para selir yang genit itu, Pangeran Cheng Boan tertawa saja sehingga Ki Seng juga tidak merasa rikuh atau malu-malu lagi menerima semua sikap mesra itu.

Baru saja mereka selesai makan, seorang pengawal masuk dan melapor bahwa Huang-ho Sin-liong dan Toat-beng Kui- ong datang dan ingin menghadap Pangeran Cheng Boan.

Inipun sesuai dengan siasat yang sudah direncanakan sebelumnya.

"Ah, mereka sudah datang? Hampir aku lupa bahwa aku sudah berjanji untuk menyambut mereka. Pengawal, persilakan kedua orang sicu itu untuk duduk dan menanti di ruangan tamu!" kata Pangeran Cheng Boan kepada pengawal yang melapor. Kemudian setelah pengawal pergi, Pangeran Cheng Boan berkata kepada Ki Seng, "Pangeran, mari kita bicara di ruangan tamu. Kebetulan sekali dua orang pembantu kami datang, aku ingin memperkenalkan pangeran kepada mereka."

Ki Seng yang baru saja dijamu besar-besaran, tentu saja mereka sungkan untuk menolak. Dia lalu bangkit berdiri, memberi hormat dengan senyum manis kepada Nyonya Cheng dan tujuh orang selir cantik itu, kemudian dia mengikuti Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun menuju ke sebuah ruangan luas yang menjadi ruangan tamu. Ketika mereka bertiga memasuki ruangan itu, Ki Seng melihat betapa di luar pintu ruangan itu terdapat tujuh orang pengawal berjaga dan mereka memberi hormat ketika mereka bertiga lewat. Dalam ruangan itu telah duduk dua orang laki-laki tua yang segera bangkit berdiri ketika Pangeran Cheng Boan bersama Cheng Kun dan Ki Seng masuk.

Tentu saja Ki Seng merasa terkejut bukan main ketika dia melihat dan mengenal Suma Kiang. Otaknya yang cerdik bekerja cepat karena dia tahu bahwa dia berada dalam bahaya. Suma Kiang yang sudah dapat menduga dan mengetahui rahasianya bahwa dia adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu, tentu akan menceritakan rahasianya itu kepada Pangeran Cheng Boan. Bahkan mungkin sudah menceritakannya. Dia harus berkeras mempertahankan dirinya sebagai Pangeran Cheng Lin dan untuk mempertahankan ini, dia harus memperlihatkan permusuhannya terhadap Suma Kiang yang sudah membunuh "ibu kandungnya", yaitu Puteri Chai Li dari Mongol. Maka, setelah pikiran ini berkelebat dalam benaknya, dia memandang kepada Suma Kiang dengan mata mendelik marah dan mukanya berubah merah. "Suma Kiang, jahanam keparat busuk! sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku. Mampuslah untuk menebus kematian ibu kandungku!" Setelah berkata demikian, diapun menerjang ke depan, mengirim serangan sambil mengerahkan tenaga sin-kang dengan satu jari tangan, totokan ini hebat sekali karena totokan itu adalah ilmu It-yang-ci aseli yang dia campur dengan pukulan beracun Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun)!

Suma Kiang yang sudah bangkit berdiri memang sudah mempersiapkan diri. Dia masuk bersama Toat-beng Kui-ong (Raja Setan Pencabut Nyawa) Toa Ok memang sudah direncanakan semula. Dia sudah menduga bahwa untuk mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin, besar sekali kemungkinannya pemuda itu akan menyerangnya. Karena itu, begitu Ki Seng menyerangnya dengan totokan, diapun cepat menghindarkan diri meloncat ke belakang, maklum bahwa serangan pemuda itu hebat bukan main.

Melihat lawannya menghindar, Ki Seng yang ingin menjaga rahasianya, cepat melompat ke depan mengejar dan langsung menyerang lagi, sekali ini menggunakan jurus dari ilmu Sin- liong Ciang-hwat (Ilmu Silat Naga Sakti). Serangannya itu hebat bukan main karena dia telah mempergunakan jurus pilihan, yaitu Sin-liong Lo-thian (Naga Sakti Mengacau Langit), tubuhnya melayang ke atas dan dari atas dia mengirim pukulan maut ke arah kepala lawannya. Melihat ini, Suma Kiang menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Dukk " Tubuh Suma Kiang terhuyung dan Ki Seng yang

sudah turun kembali, mengejarnya dan kembali mengirimi totokan It-yang-ci yang akan mematikan lawan kalau mengenai sasarannya, yaitu leher. Dalam keadaan terhuyung itu, agaknya sulit bagi Suma Kiang untuk dapat menghindarkan diri lagi. Akan tetapi, dalam keadaan yang amat gawat-itu, Toa Ok yang melihat rekannya dalam bahaya, cepat melompat ke depan dan menggerakkan lengannya menangkis pukulan Ki Seng.

"Dukkk !!" Toa Ok dan Ki Seng sama-sama terdorong ke

belakang sehingga keduanya terkejut bukan main karena mengetahui bahwa pihak lawan memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

"Tahan dulu !!" Pangeran Cheng Boan melerai dan

mengangkat tangannya ke atas. "Pangeran Cheng Lin, ada apa ini? Mengapa engkau menyerang Suma-sicu yang menjadi pembantu kami? Jangan berkelahi dalam rumah kami, dan reritakan apa artinya semua ini!"

Ki Seng teringat bahwa Suma Kiang yang gagal dibunuhnya itu adalah pembantu dari Pangeran Cheng Boan. Dia berada dalam keadaan yang sulit sekali akan tetapi dia tetap harus mempertahankan identitasnya sebagai Pangeran Cheng Lin.

Dia menghela napas dan menyadari bahwa tindakannya tadi tentu saja amat kurang ajar, menyerang orang dalam rumah Pangeran Cheng Boan.

"Maafkan saya, paman. Akan tetapi orang ini. dia Suma

Kiang dan dia musuh besar saya yang harus saya bunuh!"

Pangeran Cheng Boan tersenyum dan mengangkat tangan memberi isarat kepada Ki Seng, Suma Kiang dan Toa Ok untuk duduk. "Tenang dan sabar dulu, Pangeran Cheng Lin, marilah kita bicara secara baik-baik. Mengapa engkau memusuhi Suma-sicu dan hendak membunuhnya?"

"Dia telah menyebabkan kematian ibi kandung saya, paman!" kata Ki Seng dengan suara tegas.

"Hemm, mungkin saya telah menyengsarakan Chai Li, puteri Mongol. Akan tetapi saya sama sekali tidak mengenal ibu pemuda ini!" kata Suma Kiang. "Apa kau kata?" Ki Seng bangkit berdiri dan sikapnya marah dan hendak menyerang. "Aku adalah Pangeran Cheng Lin dan Puteri Chai Li adalah mendiang ibu kandungku!"

Kembali Pangeran Cheng Boan membujuk Ki Seng. "Pangeran Cheng Lin duduk dan tenanglah. Kita harus bicara baik-baik dan melihat kenyataan dengan damai. Ketahuilah bahwa kami semua tidak ingin bermusuhan denganmu, sungguhpun kami telah mengetahui semua rahasiamu."

"Rahasia apakah mengenai diri saya, paman?" tanya Ki Seng, waspada.

"Tidak perlu berpura-pura, pangeran. Kami tahu benar bahwa engkau bukan Pangeran Cheng Lin!"

Mendengar ini, Ki Seng terkejut dan bangkit berdiri. Akan tetapi Suma Kiang Nan Toa Ok juga sudah bangkit berdiri dan begitu Pangeran Cheng Boan bertepuk tangan tiga kali, belasan orang pengawal dengan senjata di tangan telah berdiri di ambang pintu. Ki Seng maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali karena tadi dia sudah merasakan betapa lihainya Toa Ok. Kalau dia harus menghadapi Toa Ok dan Suma Kiang, sukar baginya untuk dapat menang, apalagi di situ terdapat belasan orang pengawal.

"Tenanglah, pangeran. Kukatakan kepadamu, tenang dan duduklah. Kita bicara baik-baik. Atau engkau memilih jalan kekerasan dan tewas di sini?"

Melihat sikap dan mendengar ucapan Pangeran Cheng Boan, tahulah Ki Seng bahwa pangeran itu agaknya hendak mengajaknya berdamai dan akan menawarkan sesuatu. Maka diapun duduk kembali. Pangeran Cheng Boan memberi isarat. Kedua orang datuk itu duduk kembali dan belasan orang pengawal juga keluar lagi dari ambang pintu.

"Nah, pangeran. Biarpun kami telah tahu bahwa engkau bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli, namun aku masih memanggilmu pangeran. Hal ini membuktikan kemauan baik kami. Kalau tidak demikian, tentu kami akan menangkapmu. Kalau kami melapor kepada Kakanda Kaisar tentang dirimu, tentu engkau akan ditangkap dan dihukum mati! Akan tetapi jangan khawatir, kami tidak akan melaporkan, dan akan terus menganggapm sebagai Pangeran Cheng Lin."

Ki Seng yang amat cerdik maklum bahwa tidak ada artinya membantah lagi. Suma Kiang yang pernah bertemu dengan Han Lin, tentu dapat mengenalnya sebagai bukan Pangeran Cheng Lin dan kalau sampai kaisar mendengar tentang hal itu, celakalah dia! Maka, tidak lain jalan baginya kecuali berdamai dengan Pangera Cheng Boan.

"Dan apa yang harus saya lakukan untuk paman?" tanyanya langsung saja karena dia yakin bahwa pangeran itu tentu menghendaki imbalan.

Pangeran Cheng Boan senang dengan sikap Ki Seng yang demikian tegas dan tidak berbelit-belit, melainkan langsung saja membicarakan syarat-syarat yang dibutuhkannya.

"Kita dapat bekerja sama dengan baik sekali, pangeran. Akan tetapi, sebelum kami menceritakan kerja sama yang bagaimana kami kehendaki darimu, kami ingin lebih dulu mengetahui, siapa sebenarnya engkau ini?"

Karena maklum bahwa keselamatan dirinya berada dalam genggaman tangan Pangeran Cheng Boan yang cerdik dan licik itu, Ki Seng menghela napas dan terpaksa mengalah.

"Nama saya Ouw Ki Seng dan saya adalah ketua Ban-tok- pang, juga saya menguasai Hek-houw-pang dan Pek-eng-Pang di lereng Thai-san."

"Hemm, masih amat muda sudah menjadi ketua Ban-tok- pang dan menguasai dua perkumpulan itu. Sungguh hebat!" kata Suma Kiang kagum.

"Akan tetapi bagaimana engkau dapat memiliki Suling Pusaka Kemala?" tanya Pangeran Cheng Boan. Ki Seng memandang tajam dan berkata dengan suara tegas. "Pangeran, saya akan menceritakan semua rahasia saya. Akan tetapi kalau sampai paman mengkhianati saya, percayalah, saya masih memiliki cukup kekuatan untuk membasmi paman sekeluarga!"

Pangeran Cheng Boan tertawa dan mengelus jenggotnya. "Ha-ha-ha, siapa yang akan mengkhianatimu? Engkau juga tentu tidak akan mengkhianatiku setelah kita bekerja sama, bukan? Nah, ceritakan saja, kami akan menyimpan rahasiamu karena itu merupakan rahasia kami juga."

"Aku mencuri Suling Pusaka Kemala dari tangan Han Lin." akhirnya dia mengaku terus terang karena tidak ada pilihan lain.

"Pangeran, saya pernah bertemu dengan pemuda bernama Han Lin itu dan dia kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi." kata Toa Ok. "Dan saya tahu benar bahwa Han Lin itu memang bukan pemuda ini."

"Akan tetapi, Ouw Ki Seng " kata Suma Kiang dan pada

saat itu Pangeran Cheng Boan memotongnya.

"Suma Sicu, kami telah berjanji kepadanya untuk tetap menganggap dan memanggilnya sebagai Pangeran Cheng Lin!"

"Ah, benar sekali. Maafkan saya, pangeran Cheng Lin! Akan tetapi saya melihat tadi bahwa engkau mempergunakan It- yang-ci dan gerakan silatmu mirip lengan gerakan silat Han Lin. Apakah ida hubungan antara engkau dan dia?"

"Kami memang saudara seperguruan." kata Ki Seng. "Akan tetapi, Paman Pangeran, paman belum menceritakan kepada saya apa yang harus saya kerjakan dalam kerja sama antara kita ini."

"Begini, Pangeran Cheng Lin, sebelumnya perkenalkanlah sicu (orang gagah) ini dalah Suma Kiang atau Huang-ho Sin- hong, seorang pembantuku yang setia. Dan yang seorang ini adalah sahabatnya yang juga ingin menghambakan diri kepada kami, nama julukannya adalah Toat-beng Kui-ong."

"Akan tetapi terkenal dengan sebutan Toa Ok!" kata Suma Kiang.

Ki Seng memberi hormat kepada dua orang datuk itu.

Pangeran Cheng Boan lalu melanjutkan. "Engkau akan tetap kami anggap sebagai Pangeran Cheng Lin yang aseli dan kita merupakan sekutu yang saling membantu. Kami membantumu mempertahankan dirimu sebagai Pangeran Cheng Lin dan kita bekerja sama untuk menyingkirkan saingan-saingan dan musuh-musuh kita yang berada di istana."

"Saingan-saingan dan musuh-musuh? Siapakah mereka yang paman maksudkan?" tanya Ki Seng, ingin sekali mengetahui.

"Pangeran Cheng Lin." Pangeran Cheng Boan menoleh ke kanan kiri dani melanjutkan ketika melihat bahwa tidak ada pengawal yang mendengarkan percakapan mereka. "Apakah engkau tidak ingin kelak menggantikan kedudukan kaisar?"

Bukan main kagetnya hati Ki Seng.

Hal inilah yang sejak siang tadi menjadi bahan pemikirannya. Otomatis dia mengangguk dan menjawab, "Tentu saja saya ingin, paman!"

"Bagus! Akan tetapi apa engkau kira mudah kelak menggantikan kedudukan Kaisar? Engkau mempunyai banyak saingan. Di sana ada lima orang pangeran, dan engkau sebagai putera keturunan Mongol tentu saja hampir tidak mempunyai harapan untuk menggantikan kedudukan kaisar. Akan tetapi dengan bantuan kami, bukan tidak mungkin, bahkan hampir dapat dipastikan engkau kelak akan menjadi kaisar, pengganti kaisar yang sekarang." Bukan main girangnya hati Ki Seng. Siang tadi ketika melamunkan kedudukan kaisar, dia sudah melihat ketidak- mungkinan itu dan membuat dia hampir putus harapan. Akan tetapi kini dia melihat kemungkinan itu kalau dibantu oleh Pangeran Cheng Boan!

"Dan apa yang harus saya lakukan, Paman?" tanyanya penuh gairah seolah-olah besok atau lusa dia sudah akan dapat duduk sebagai kaisar!

"Tenang dan bersabarlah, pangeran Kita menghadapi urusan besar yang harus diperhitungkan dengan masak- masak. Biarlah sementara ini, hubungan antara kita berjalan secara wajar saja, seperi hubungan antara keponakan dan pamannya. Kelak akan kita perbincangkan dan bagaimana kita dapat menyingkirkan lima orang pangeran yang lain itu dan membasmi pendukung-pendukung mereka. Untuk menyingkirkan lima orang pangeran itu, engkaulah yang akan mudah melakukannya karena engkau tinggal dalam istana.

Akan tetapi jangan tergesa-gesa, tunggu komandoku kapan engkau harus bergerak. 5ementara itu, engkau harus bersikap baik dan berbakti kepada kaisar agar memudahkan kami membantu dan mengangkat menonjolkanmu sebagai seorang pangeran yang baik dan penting. Dan sewaktu-waktu kami panggil, engkau harus datang ke sini agar kita dapat mengadakan perbincangan."

Ki Seng mengangguk-angguk. "Baiklah, paman, akan saya taati semua pesan paman dan saya tidak akan melakukan sesuatu sebelum menerima petunjuk dari paman. Akan tetapi yang membuat saya merasa heran, mengapa paman demikian baik terhadap diri saya? Mengapa paman suka membantu saya agar kelak menggantikan kedudukan kaisar?" Sambil bertanya demikian, mata Ki Seng menatap wajah pangeran itu dengan penuh selidik.

Pangeran Cheng Boan tertawa dan mengelus jenggotnya. "Ha-ha-ha, tidak ada pekerjaan yang sia-sia, tidak ada usaha keras yang tidak menghasilkan keuntungan. Kami juga tidak mau bekerja tanpa hasil. Pangeran Cheng Lin, kami merasa yakin bahwa tanpa bantuan kami, engkau tidak mungkin sama sekali untuk kelak menjadi kaisar. Karena itu, tentu saja kami mengharapkan imbalan untuk bantuan kami kepadamu. Kalau kelak engkau sudah menjadi seorang kaisar, engkau harus mengangkat puteraku Cheng Kun ini sebagai orang kedua yang paling berkuasa dalam negeri. Dengan demikian, hasil kerja sama kita ini akan membahagiakan kita bersama.

Maukah engkau berjanji?"

Ki Seng berkata dengan sikap sungguh sungguh. "Saya berjanji, paman, bahwa kelak kalau saya sudah menjadi kaisar, saya akan mengangkat kanda Cheng Kun menjadi perdana menteri dan wakil saya!"

"Bersumpahlah untuk itu, Pangeran Cheng Lin." kata Pangeran Cheng Boan.

Ki Seng bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang. "Saya bersumpah bahwa kelak kalau saya sudah menjadi kaisar, saya akan mengangkat kanda Cheng Kun menjadi perdana menteri dari wakil saya!"

Empat orang itu bergembira sekail dan dalam kesempatan itu Pangeran Cheng Boan mendengarkan keterangan tentang diri Toa Ok untuk lebih mengenal datuk yang baru dijumpainya itu. Ki Seng juga bergembira dan dia maklumi bahwa dia tidak boleh mempermainkan pangeran yang cerdik itu. Sekali dia mempunyai pikiran tidak baik dan ketahuan, dia akan celaka. Bukan saja rahasianya berada di tangan Pangeran Cheng Boan, akan tetapi pangeran itu juga mempunyai pembantu-pembantu yang lihai sekali. Tiba-tiba dia teringat akan dua orang wanita kekasihnya yang dia tinggalkan. Terhadap Pangeran Cheng Boan yang menjadi sekutunya dia tidak perlu merahasiakan keadaan dirinya lagi dan tempat mana lagi yang lebih aman untuk menitipkan dua orang kekasihnya itu kalau bukan di dalam istana Pangeran Cheng Boan?

Pangeran Cheng Boan melihat Ki Seng yang tiba-tiba termenung itu dan dia bertanya, "Pangeran Cheng Lin, apa yang kau risaukan? Agaknya engkau memikirkan dan merenungkan sesuatu."

"Ah, paman sungguh berpemandangan tajam sekali.

Memang ada suatu hal yang agak merisaukan hati saya dan saya mohon kebaikan dan kebijaksanaan paman untuk menolong saya."

"Pertolongan apakah yang kau butuhkan? Katakanlah dan kami akan berusaha untuk menolongmu." kata Pangeran Cheng Boan.

"Kalau engkau menghadapi musuh yang kuat, serahkan saja kepada saya Pangeran Cheng Lin!" kata Suma Kiang.

"Saya juga siap untuk menyingkirkan musuh-musuh yang mengancammu, pangeran." kata Toak Ok.

"Terima kasih atas kesediaan Ji-wi (kalian berdua) membantu saya. Akan tetapi, paman pangeran, bukan itu yang saya ingin minta dibantu. Sesungguhnya, saya mempunyai dua orang kekasih dan saya ingin mereka

berdua itu berada di kota raja. Karena tidak mungkin mengajak mereka ke istana, maka saya mohon bantuan paman agar suka menampung mereka dan membiarkan mereka berdua tinggal di istana paman agar sewaktu-waktu saya dapat menjumpai mereka."

"Wah, sebelum menjadi pangeran engkau sudah mempunyai dua orang selir, Lin-te, (adik Lin)? Hebat sekali kau!" Cheng Kun tertawa.

"Ah, kalau cuma itu yang kau butuh-kan, tentu saja kami akan membantu. Biarlah mereka berdua tinggal di sini dan sewaktu-waktu engkau boleh menemui mereka, Pangeran Cheng Lin."

"Terima kasih, paman. Mereka adalah dua orang wanita yang memiliki ilmu silat cukup tinggi dan tentu saja dapat membantu paman untuk menjaga keselamatan keluarga paman."

"Siapakah mereka berdua itu, pangeran? Kalau mereka merupakan orang-orang berkepandaian tinggi, tentu namanya sudah terkenal di dunia kang-ouw (sungai telaga atau persilatan) dan mungkin kami sudah pernah mendengar atau mengenal mereka." kata Suma Kiang.

"Yang seorang bernama Ciang Mei Ling, puteri mendiang Ciang Hok ketua Pek-eng-pang dan ia adalah tunanganku. Yang kedua adalah seorang wanita kang-ouw bernama Kim Goat dan berjuluk Sian Hwa Sian-li."

"Ah! Sian Hwa Sian-li, wanita berpayung yang lihai itu? Aku pernah mendengar namanya yang besar!" kata Suma Kiang.

"Saya pernah satu kali bertemu dengan wanita cantik berpayung yang lihai itu." kata pula Toa Ok.

Mendengar bahwa dua orang kekasih Ki Seng adalah wanita-wanita yang lihai tentu Pangeran Cheng Boan menjadi girang sekali. Berarti tidak percuma dia menampung dua orang wanita itu karena mereka dapat memperkuat kedudukannya dan dapat menjaga keselamatan keluarganya.

Setelah mereka bercakap-cakap, Ki Seng pamit dan dia tidak segera kembali ke istana, melainkan mengunjungi rumah penginapan An Lok. Sian Hwa Sian-li menyambutnya dengan hangat dan gembira dan mereka melepaskan kerinduan dalam kamar yang mereka sewa.

"Ki Seng, kenapa begitu lama engkau pergi? Sampai tiga hari, aku merasa rindu sekali padamu. Rindu dan khawatir kalau-kalau engkau sudah melupakan aku." "Kim Goat, mulai detik ini engkau harus menyebutku Pangeran Cheng Lin, apalagi kalau berhadapan dengan orang lain."

"Ah, jadi..... jadi.... engkau eh, paduka telah diterima

oleh sribaginda Kaisar dan kini telah menjadi Pangeran Cheng Lin? Saya merasa gembira sekali dan Kiong-hi (selamat), pangeran!" Sian Hwa Sian-li memberi hormat dengan membungkuk sampai dalam.

Ki Seng merangkulnya, "Kalau tidak ada orang lain, tidak perlu engkau menghormat seperti itu. Aku telah bertemu dengan ayahanda Kaisar dan aku segera diterima, diperkenalkan kepada semua keluarga istana dan aku mendapatkan sebuah kamar di dalam bangunan untuk para pangeran. Aku tinggal bersama lima orang pangeran lain yang menjadi saudara-saudara tiriku di sana."

"Wah, bagus sekali! Kalau begitu paduka tentu akan segera membawa saya masuk istana dan tinggal pula di sana!"

"Hemm, tidak semudah itu, Kim Goat. Peraturan istana tidak memperbolehkan seorang pangeran yang masih bujangan membawa isteri atau selirnya ke dalam istana. Kecuali kalau dia telah menikah dengan sah, baru dia boleh mendapatkan bangunan terpisah dan tersendiri. Akan tetapi, aku telah mendapatkan pertolongan seorang pangeran, dia adalah adik Kaisar, jadi masih pamanku sendiri. Aku telah bercerita kepadanya tentang engkau dan Ciang Mei Ling dan dia mau menerima kalian berdua untuk tinggal di istananya. Dengan demikian, maka setiap waktu aku dapat mengunjungi kalian di sana. Nah, sekarang engkau harus melakukan perintahku. Engkau pergilah ke Thai-san, jemputlah Ciang Mei Ling dan bawa ke rumah panginapan ini. Kalau ia sudah datang, aku akan membawa kalian tinggal di istana Paman Pangeran Cheng Boan."

Ketika Ki Seng berpamit, Sian Hwa Sian-li berkeras hendak menahannya. "Pangeran, paduka bermalam saja di sinl malam ini. Besok pagi saya akan berangkat ke Thai-san dan malam ini berilah kesempatan kepada saya utuk melepaskan rindu saya kepada paduka!" Ia merengek manja.

"Hushh, jangan bodoh, Kim Goat. Ingat, sekarang aku sudah sah menjadi pangeran dan aku harus cepat kembali ke istana. Sebagai seorang pangeran baru aku harus pandai membawa diri. Akupun rindu kepadamu, akan tetapi nanti kalau engkau dan Mei Ling sudah berada di istana Paman Pangeran Cheng Boan, kita dapat melepaskan rindu kita sepuas hati kita."

Ki Seng lalu bergegas pulang ke istana dan karena kesepian ditinggal kekasihnya itu, Sian Hwa Sian-li lalu berangkat malam itu juga meninggalkan kota raja.

ooo00d0w00ooo

Pria tinggi besar berusia tiga puluh tahun itu saling papah dengan seorang pria tinggi kurus berusia lima puluh tahun. Mereka berdua melangkah terhuyung-huyung keluar dari kota raja melalui pintu gerbang utara dan wajah mereka pucat, napas mereka terengah-engah eperti orang-orang yang sedang menderita sakit parah.

Mereka itu adalah Souw Tek dan suhengnya (kakak seperguruannya), Si Toan Ek. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang ini menjadi tamu dalam pesta ulang tahun Lo Kang ketua Hek-tiauw Bu-koan. Kemudian, karena merasa tak senang melihat kesombongan keluarga Lo, apalagi ketika Lo Siang Ku menantang adu kepandaian kepada para tamu, mereka maju untuk menguji kepandaian. Akan tetapi, dua orang anak Lo Kang, Lo Siang Kui dan kakaknya, Lo Cin Bu, bersikap kejam sekali dan memukuli mereka yang sudah kalah itu sehingga mereka berdua terluka parah. Dengan bersusah payah, saling papah, mereka berdua berhasil keluar dari kota raja menuju ke dusun Pak-siang-bun. Ketika mereka tiba di luar kota raja di jalan yang sepi itu mereka merasa tidak kuat menahan nyeri dan keduanya lalu beristirahat, duduk di bawah sebatang pohon besar. Su Toan Ek duduk bersila dan mengumpulkan hawa murni untuk mengurangi rasa nyeri yang menyesakkan dadanya. Souw Tek juga duduk bersila dan menggosok-gosok dadanya yang terkena tendangan keji Lo Siang Kui. Dari mulut mereka terkadang terdengar keluhan dan rintihan.

Pada saat itu, dari arah utara datang seorang wanita. Ia berjalan seorang diri di atas jalan yang sunyi itu. Wanita itu masih muda, seorang gadis yang usianya paling banyak dua puluh tahun dan ia tentu akan menarik perhatian semua pria yang melihatnya. Gadis itu cantik luar biasa. Kulitnya putih mulus dan kedua pipinya kemerahan karena sehat. Matanya yang tajam bersinar lembut seperti mata burung Hong, hidungnya kecil mancung dan bibirnya selalu membayangkan senyum ramah. Rambutnya yang amat hitam panjang digelung ke atas bagaikan mahkota hitam yang membuat kulit muka dan lehernya tampak semakin putih mulus. Ia membawa sebuah buntalan kain kuning di punggungnya dan pakaiannya terbuat dari sutera putih bersih, sepatunya berwarna hitam, terbuat dari kulit.

Gadis cantik jelita ini bukan lain adalah Tan Kiok Hwa yang dijuluki orang PeK I Yok Sian-li (Dewi Obat Baju Putih). Seperti kita ketahui, setelah ia bersama Han Lin dan Sian Eng terbebas dari tangan Thian-te Sam-ok yang dibantu orang orang Pek-lian-kauw, Kiok Hwa tinggalkan Han Lin dan Sian Eng tanpa pamit. Hal ini terpaksa ia lakukan walaupun dengan berat hati karena ia harus berpisah dari satu-satunya pria yang pernah dicintanya di dunia ini. Ia amat mencintai Han Lin, akan tetapi ia tidak suka terlibat dalam permusuhan dan perkelahian dan selain itu, iapun tahu bahwa Sian Eng amat mencinta Han Lin, karena itu ia lebih suka mengalah dan menjauhkan diri dari Han Lin, walaupun hatinya merana. Wataknya yang lembut membuat Kiok Hwa seialu suka mengalah dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain!

Ketika Kiok Hwa tiba di dekat bawah pohon di mana Souw Tek dan Su Toan Ek duduk bersila mengumpulkan hawa murni sambil kadang mengerang kesakitan, segera perhatian Kiok Hwa tertarik sekali. Bagi seorang yang sudah menjadi pekerjaannya mengobati orang sakit, setiap melihat orang sakit merupakan tantangan besar bagi Kiok Hwa. Ia harus menolong dan mengobatinya, siapapun adanya orang yang sakit itu, pria atau wanita, besar atau kecil, kaya atau miskin, baik atau jahat. Ia selalu memandang penyakit seperti lawannya yang harus dihadapi dan ditundukkan. Maka, melihat dua orang itu, ia lalu mendekat dan sekilas pandang saja tahulah gadis lihai ini bahwa dua orang laki-Iaki itu menderita luka dalam yang cukup berat.

"Sobat-sobat, kalian terluka dalam yang cukup parah!" tegurnya dengan suara lembut.

Dua orang yang menderita luka dalam itu membuka mata mereka dan mereka memandang dengan heran ketika melihat seorang gadis cantik jelita berdiri di de-pan mereka dan memandang mereka dengan sinar mata lembut dan bibir yang manis sekali itu tersenyum ramah.

Karena merasa heran dan penasaran Souw Tek bertanya, "Nona, siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa tahu bahwa kami menderita luka dalam yang parah?"

Kiok Hwa tersenyum. "Siapa aku bukan hal yang penting, akan tetapi aku mengerti bahwa kalian terluka parah karena aku adalah orang yang biasa mengobati. Maukah kalian kuobati sehingga lukamu sembuh dan kalian terhindar dari maut?"

Sebelum Souw Tek menjawab, Su Toan Ek sudah bangkit berdiri dan bertanya kepada Kiok Hwa, "Bukankah nona PeK I Yok Sian-li?" Kiok Hwa tersenyum. "Orang-orang terlalu melebih- lebihkan dalam memberi nama kepadaku."

"Ak, kiranya nona adalah PeK I Yok Sian-li yang amat terkenal!" seru Souw Tek dengan girang sekali karena dia sudah pernah mendengar nama besar gadis berbaju putih yang suka sekali mengobati dan menolong orang yang menderita sakit. "Kalau begitu, tolonglah kami, nona. Kami memang telah terluka dalam."

"Bagian tubuh yang manakah engkau terpukul? Aku akan mencoba mengobati engkau lebih dulu, paman, karena aku melihat bahwa lukamu lebih parah." kata Kiok Hwa kepada Su Toan Ek sambil menghampiri pria yang usianya sudah lima puluh tahun itu.

"Sian-li, aku terkena pukulan keji selagi aku sudah roboh, di bagian dadaku."

"Bukalah bajumu dan perlihatkan dadamu yang terpukul." kata Kiok Hwa de ngan tenang sambil menurunkan buntalan pakaian dan obat dari punggungnya, meletakkannya di atas tanah dan iapun berlutut depan Su Toan Ek.

Su Toan Ek membuka bajunya sehingga dadanya telanjang. Di atas kulit dadanya tampak warna menghitam bekas pukulan Lo Cin Bu. Kiok Hwa segera memeriksanya.

"Hemm, pukulan disertai sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat. Untung tidak mengandung hawa beracun sehingga mudah disembuhkan, apalagi karena engkau sendiri juga seorang ahli Iweekeh (ahli tenaga dalam) yang kuat, paman Sekarang aku akan mengobati dengan tusuk jarum, harap paman duduk santai dan jangan mengerahkan tenaga apapun."

Setelah berkata demikian, Kiok Hwa mengeluarkan dua batang jarum emas dan tiga batang jarum perak. Dia menusuk dengan jarum emas di dada kanan kiri bawah pundak dan menusukkan tiga batang jarum perak di seputar warna hitam di dada. Kemudian ia mengambil sebutir obat pulung berwarna putih dan menyuruh Su Toan Ek menelannya dengan bantuan secawan air putih yang dituangkan dari sebuah guci. Setelah itu, Kiok Hwa menggunakan ibu jari tangan kirinya untuk menekan-nekan bagian dada yang berwarna hitam. Sungguh hebat. Dalam waktu sebentar saja, warna hitam itu makin pudar.

"Sekarang bernapaslah dalam-dalam dan kerahkan sin-kang ke dada untuk memulihkan jalan darah." kata Kiok Hwa ambil mencabuti lima batang jarum itu. Su Toan Ek melakukan apa yang dika-takan Kiok Hwa dan setelah belasan kali menghirup udara sampai penuh dan mengerahkan sin-kang ke dada, dia merasa betapa dadanya sembuh kembali, rasa nyeri telah lenyap dan ketika dia melihat ke arah dadanya, warna hitam tadi-pun telah lenyap!

"Sian-li, aku telah sembuh sama sekali, Sungguh tidak kosong belaka julukan PeK I Yok Sian-li. Terima kasih banyak, Sian-li." Dia bangkit dan membungkuk memberi hormat.

"Ah, harap jangan bersikap sungkan, paman. Sekarang biarlah saya mencoba untuk mengobati saudara ini." katanya sambil menghampiri Souw Tek yang masih duduk bersila.

Tanpa diminta Souw Tek juga melepas bajunya dan memperlihatkan dadanya yang membiru akibat tendangan kaki Lo Siang Kui yang amat keras.

"Aku juga terluka terkena tendangan pada dadaku, Sian-li." kata Souw Tek.

Kiok Hwa memeriksa luka itu. "Ah, tidak berapa parah lukamu karena tendangan itu hanya mengandalkan tenaga kasar. Untung tulang rusukmu tidak ada yang patah." Kiok Hwa menggunakanl jari-jari tangannya untuk menotok dan menekan di sana-sini, kemudian memberi kebutir obat pulung untuk ditelan Souw Tek. Seperti halnya Su Toan Ek, sebentar saja Souw Tek sudah sembuh dan terbebas dari rasa nyeri di dadanya. Juga warna membiru pada dadanya hampir hilang. "Terima kasih, Sian-li. Engkau sungguh hebat sekali. Aku mendengar bahwa mgkau adalah murid Thian Beng Yok-sian (Dewa Obat Kurnia Langit), Melihat kelihaianmu dalam ilmu pengobatan, maka tidak mengecewakan kalau engkau menjadi murid Dewa Obat itu!" Souw Tek memuji dengan girang sekali.

Kiok Hwa menyimpan kembali obat dan jarum-jarumnya ke dalam buntalan pakaian, lalu mengikatkan kembali buntalan kain kuning itu pada punggungnya. Sambil melakukan ini, ia berkata lembut. "Sebenarnya, jauh lebih mudah menjaga agar tidak sakit daripada mengobati. luka ji-wi (kalian berdua) terjadi karena pukulan dan hal ini hanya dapat timbul Karena jiwi berkelahi. Kalau ji-wi dapat menahan diri dan tidak berkelahi, tentu tidak akan terluka dan untuk tidak berkelahi jauh lebih mudah daripada mengobati."

"Aih, Sian-li. Engkau tidak tahu. Kami sama sekali bukanlah orang-orang yang suka mengandalkan kekuatan untuk berkelahi. Akan tetapi dua orang muda ke-luarga Lo itu sungguh sombong dan kejam bukan main. Hek-tiauw Bu-koan mengandalkan kepandaian dan kedudukan calon mantunya yang seorang putera pangeran, untuk bertindak sewenang- wenang dan kejam." kata Souw Tek penasaran.

"Apakah yang terjadi?" tanya Kiok Hwa. Biasanya, ia tidak mau mencampuri urusan orang, apalagi kalau urusan permusuhan dan perkelahian. Akan tetapi kini mendengar ada dua orang muda yang sewenang-wenang, ia menjadi ingin tahu.

Souw Tek menghela napas. Mereka bertiga duduk di atas batu-batu yang berada di bawah pohon besar itu. "Hek tiauw Bu-koan adalah sebuah perguruan yang paling besar dan terkenal di kota raja. Lo-pangcu, ketua Hek-tiauw Bu koan mengadakan pesta ulang tahun dan kami berdua juga datang hadir sebagai tamu. Dalam perayaan itu, seorang anak perempuan Lo-pangcu yang bernama Lo Siang Kui memamerkan ilmu silatnya. Yang memanaskan hati, gadis sombong itu lalu bersumbar, menantang siapa saja yang merasa memiliki kepandaian silat untuk mengadu ilmu silat dengannya. Melihat kesombongannya, aku lalu maju menandinginya, hanya dengan maksud untuk menguji ilmu silatnya. Akan tetapi kalau aku hanya berniat menguji, gadis itu ternyata menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus maut. Aku terdesak karena ia memiliki gerakan yang cepat sekali. Setelah lewat lima puluh jurus, aku terkena tamparannya dan jatuh terduduk di atas panggung. Dalam keadaan sudah tidak berdaya itu, tiba-tiba gadis itu menendang dadaku sehingga aku terlempar ke bawah panggung dalam keadaan pingsan."

Kiok Hwa mengerutkan alisnya. "Hemm, kejam sekali gadis itu."

"Mungkin ia menganggap aku sebagai musuh besarnya karena aku adalah saudara seperguruan dari ketua Hek-houw Bu-koan yang menjadi saingan Hek-tiauw Bu-koan."

"Lalu bagaimana paman ini sampai terluka?" tanya Kiok Hwa sambil memandang kepada Su Toan Ek.

Su Toan Ek menghela napas panjang "Sungguh membuat orang merasa penasaran sekali. Semula sama sekali tidak ada niat di hatiku untuk melakukan pentandingan di tempat perayaan pesta ulang tahun Hek-tiauw Bu-koan itu. akan tetapi melihat kekejaman gadis itu menendang dada Souw- sute (adik seperguruan Souw) sampai terluka parah, aku menjadi penasaran dan aku segera naik ke panggung untuk memberi hajaran kepada gadis sombong itu. Akan tetapi kemudian yang maju melawan aku adalah seorang pemuda kakak gadis itu yang bernama Lo Cin Bu. Kami bertanding dan ternyata pemuda itu jauh lebih lihai dibandingkan adiknya. Dia mampu mengimbangi aku bahkan setelah lama bertanding seimbang, dia berhasil menotok punggung dan pada saat aku tidak berdaya, dia memukul dadaku dengan kuat sekali sehingga aku terluka parah. Aku dan Souw-te lalu memaksa diri meninggalkan tempat itu dalam keadaan terluka parah. Untung kami bertemu denganmu, Sian-li, sehingga kami tidak sampai tewas dan dapat tertolong."

Mendengar keterangan mereka, Kiok Hwa menghela napas panjang. "Hemmm, sayang sekali orang-orang muda menyombongkan dan mengagulkan kepandaian mereka untuk bersikap kejam melukai orang lain tanpa alasan yang kuat.

Akan tetapi, peristiwa ini harap ji-wi dapat mengambil hikmahnya. Kalau saja ji-wi bersikap sabar dan tidak timbul emosi menyambut tantangan mereka, tentu tidak terjadi perkelahian dan ji-wi tidak sampai terluka. Permusuhan, adu kepandaian dan perkelahian hanya akan merusak hubungan baik antara manusia, me-nimbulkan kebencian dan dendam. Apakah ji-wi menaruh perasaan dendam terhadap mereka dan ingin menuntut balas?"

Souw Tek saling pandang dengan su-hengnya (kakak seperguruannya). Mereka telah mendengar semua kata-kata Pek I Yok Sian-li yang bernada bijaksana, sehingga mereka merasa malu dan sungkan untuk mengaku bahwa mereka menaruh dendam.

"Tidak, Sian-li. Kami tidak mendendam." kata Souw Tek. "Bagus sekali kalau begitu. Dendam hanya akan membakar

diri sendiri dan akan menciptakan ikatan karma yang kuat.

Andaikata kalian berdua menaruh dendam lalu berusaha membalas sampai berhasil merobohkan mereka, apakah ji-wi yakin bahwa merekapun juga tidak akan mendendam. Mereka akan berusaha pula untuk menuntut balas, maka terjadilah permusuhan dan dendam-mendendam, balas-membalas, mungkin sekali terjadi bunuh-membunuh yang tidak ada akhir- nya, dilanjutkan oleh murid-murid atau anak-anak ji-wi."

"Ya Tuhan! engkau masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian pengobatan yang lihai, memiliki watak bijaksana dan suka menolong, ditambah lagi wawa-san tentang kehidupan yang demikian luas. Sungguh kami merasa kagum dan taluk, Sian-li." kata Su Toan Ek sambil memberi hormat, diturut oleh sutenya.

Kiok Hwa membalas penghormatan itu. "Ji-wi harap jangan terlalu memuji. Aku hanya melaksanakan tugas hidupku. Nah, selamat tinggal, ji-wi. Aku harus melanjutkan perjalananku ke kota raja." Setelah berkata demikian, Kiok Hwa melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja yang tembok bentengnya yang mengitari kota raja sudah tampak dari situ. Dua orang laki-laki itu mengikuti bayangannya dengan pandang mata kagum.

"Seorang wanita yang hebat luar biasa!" gumam Souw Tek setelah bayangan Kiok Hwa lenyap di sebuah tikungan ja-lan.

"Seolah Dewi Kwan Im saja yang menjelma " kata pula

Su Toan Ek.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan pulang ke dusun Pak- siang-bun.

Hubungan Ki Seng dengan keluarga Pangeran Cheng Boan menjadi semakin akrab. Dia segera mendapatkan kenyataan pahit bahwa hampir seluruh keluarga kaisar di dalam istana, dari permaisuri dan para selir sampai para thaikam dan pengawal di istana, tidak akrab dengannya. Terutama sekali para pangeran. Mereka itu seolah menjauhinya, seperti mengasingkannya. Dia merasa dibenci, hanya seorang di antara lima orang pangeran itu yang tidak kelihatan membencinya, yaitu Pangeran Cheng Hwa, pangeran yang tertua. Akan tetapi pangeran yang usianya dua puluh lima tahun inipun tidak akrab dengannya, seperti tidak acuh.

Karena merasa tidak disuka di istana, kecuali Kaisar Cheng Tung yang jarang bertemu dan bercakap-cakap dengannya Ki Seng merasa tidak betah tinggal d istana dan dia lebih sering berada di rumah Pangeran Cheng Boan. Di sana dia diterima dengan penuh keramahan, dan juga seringnya dia berkunjung ke rumah Pangeran Cheng Boan tidak mendatangkan kecurigaan apa-apa pada keluarga istana. Karena itu, hampir setiap hari dia berada di istana Pangeran Cheng Boan dan istana kaisar seolah hanya merupakan tempat untuk tidur saja.

Karena setiap hari Ki Seng berkunjung ke istana Pangeran Cheng Boan maka hubungannya menjadi akrab sekali, terutama dengan para selir muda pangeran itu yang selalu mengelu-elukan kunjungannya. Dari pagi sampai petang Ki Seng berada di istana itu, sedangkan Pangeran Cheng Boan pergi melakukan tugasnya. Juga Cheng Kun jarang berada di rumah sehingga Ki Seng berada di gedung istana itu bersama para selir yang melayaninya. Maka tidaklah mengherankan kalau segera terjadi hubungan yang nmat mesra antara Ki Seng dan para selir muda pamannya! Tujuh orang selir muda itu bagaikan tujuh tangkai bunga sedang mekar membutuhkan siraman yang menyegarkan dan mereka kehausan akan cinta kasih. Mereka bertemu dengan Ki Seng, seorang pemuda tampan gagah yang dengan senang hati suka menyirami mereka sehingga mereka dapat melepaskan dan memuaskan dahaga mereka. Sejak jatuh oleh rayuan Sian Hwa Sian-li, Ki Seng menjadi budak dari nafsunya sendiri. Maka, bertemu dengan tujuh orang perempuan muda yang genit-genit itu, mana mungkin dia mampu bertahan? Segera berlangsung perjinaan di antara Ki Seng dan tujuh orang selir itu. Ki Seng seperti mabok dan tidak ingat bahwa perbuatannya itu keterlaluan sekali, melanggar kesusilaan.

Akan tetapi aneh. Pangeran Cheng Boan seolah memejamkan mata terhadap semua itu. Dia pura-pura tidak tahu saja. Padahal, tentu saja dia segera mendengar hubungan gelap antara tujuh orang selirnya itu dan Pangeran Cheng Lin palsu, Akan tetapi dia tidak marah. Pangeran ini menganggap tujuh orang selirnya sebagai alat untuk bersenang-senang saja dan mereka itu mudah diganti wanita- wanita lain kalau dia sudah merasa bosan. Maka diapun mendiamkannya saja dan pura-pura tidak tahu. Bahkan para selirnya itu dapat menjadi pengikat bahwa Ki Seng agar pemuda itu benar-benar tunduk kepadanya.

Ketika Ki Seng menjemput Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling yang sudah tiba di hotel, lalu membawa dua orang wanita itu ke istana Pangeran Cheng lioan, dua orang wanita itupun diterima dengan ramah dan senang hati. Dua orang wanita itu merasa girang sekali dan kagum terhadap gedung besar seperti Istana yang mewah dan indah itu. Bahkan Sian Hwa Sian-li sendiri yang telah banyak pengalaman, tetap saja merasa rendah diri dan takjub melihat istana dan isinya yang demikian megah dan mewah.

Pangeran Cheng Boan merasa gembira melihat dua orang wanita cantik itu, apalagi mendengar dari Suma Kiang dan Toa Ok bahwa wanita yang lebih tua itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi sehingga dapat di- andalkan memperkuat barisan pengawal dan jagoannya.

Berbeda dengan Sian Hwa Sian-li Kim Goat yang dapat menikmati keberadaannya di dalam gedung istana Pangeran Cheng Boan itu, Ciang Mei Ling merasa tidak enak. Ia merasa dititipkan oleh Pangeran Cheng Lin kepada keluarga Pangeran Cheng Boan. Tentu saja ia mengharapkan untuk tinggal bersama Pangeran Cheng Lin. Bukankah ia sudah menjadi tunangan pangeran itu, bahkan secara sembunyi telah menjadi isterinya? Kenapa Pangeran Cheng Lin tidak mau segera menikahinya secara resmi dan membawanya ke istana? Diam-diam gadis ini merasa khawatir dan merasa tidak enak sekali. Apalagi ketika ia melihat betapa "suaminya" itu dengan bebasnya berjina dengan Sian Hwa Sian-li, juga dengan tujuh orang selir muda Pangeran Chen Boan dalam rumah itu! Ia mulai merasa muak dan menyesal bahwa ia telah terlanjur menyerahkan diri kepada Pangeran Cheng Lin yang dulunya dikenal sebagai Ouw Ki Seng. Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Suami tidak resmi itu adalah seorang pangeran.

Bukan hal yang aneh kalau seorang pangeran mempunyai banyak orang selir. Ia menyesal sekali akan tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Apa yang dapat ia lakukan kecuali menerima nasib? Mei Ling mulai segan menerima Pangeran Cheng Lin dalam kamar- nya dan ia lebih banyak menangis kalau berada dalam kamarnya seorang diri.

Kehadiran dua orang wanita kekasih Pangeran Cheng Lin ini menarik perhatian Cheng Kun. Pemuda bangsawan ini bukanlah seorang pemuda alim. Dia adalah seorang pemuda yang sejak kecil dimanja dan dituruti semua kehendaknya.

Sejak dia remaja dia sudah berkeliaran dan bergaul dengan pemuda-pemuda yang selalu mengejar kesenangan. Dia sombong dan mata keranjang. Maka, tentu saja kehadiran dua orang wanita secantik Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling di rumahnya tidak luput dari perhatiannya. Terutama sekali Sian Hwa Sian-Ji yang baginya amat menarik hati dan menggairahkan.

Wanita yang banyak pengalaman ini-pun tidak tinggal diam. Begitu melihal putera pangeran yang biarpun tidak tampan namun gagah berwibawa itu, ia segera pasang aksi. Mata dan mulutnya membuat gerakan-gerakan memikat dengan kerling tajam dan senyum manis penB tantangan. Dari percakapannya dengan Ki Seng, ia mendengar keluhan pangeran itu bahwa keluarga istana tampaknya tidak senang kepadanya, mungkin karena ibunya seorang wanita Mongol.

Hal ini menipiskan harapan Sian Hwa Sian-li untuk menjadi seorang di antara isteri Pangeran Cheng Lin yang mungkin kelak menjadi Kaisar! Maka perhatiannya beralih kepada putera Pangeran Cheng Boan. Selain alasan itu, juga pada dasarnya adalah seorang wanita mata keranjang yang tidak akan melewatkan pria, apalagi muda dan bangsawan pula, begitu saja!

Pada suatu malam bulan purnam Tujuh orang selir muda Pangeran Che Boan bersenang-senang di bawah bulan purnama dalam taman. Mereka mengajak Sian Hwa Sian-li dan Ciang Mei Ling yang sudah akrab dengan mereka setelah kedua orang wanita itu tinggal di dalam istana pangeran itu selama kurang lebih satu bulan. Dalam kesempatan itu, atas desakan dan permintaan para selir, Sian Hwa Sian-li memperlihatkan kepandaian silatnya dengan bersilat menggunakan senjata sabuk sutera merahnya. Indah sekali ketika ia bersilat dengan selendang sutera merah itu.

Selendang sutera itu lenyap bentuknya menjadi sinar merah yang bergulung-gulung. Ia tampak seperti seorang bidadari yang sedang menari.

Setelah menyelesaikan tarian silatnya, sian Hwa Sian-li, dibantu para selir ganti membujuk Ciang Mei Ling untuk nemperlihatkan kepandaiannya.

"Ah, aku malu untuk memperlihatkan ilmu silatku di depan Sian-li. Mana aku dapat dibandingkan dengan ia yang begitu lihai?" Mei Ling mencoba menolaknya karena ia tahu benar bahwa ilmu silatnya masih jauh kalah dibandingkan ilmu Sian Hwa Sian-li.

"Ayolah, adik Mei Ling," bujuk para selir itu. "Engkau tidak bermain silat untuk Sian-li, melainkan untuk kami yang sama sekali tidak bisa silat."

"Ilmu pedangnya bagus sekali!" kata sian Hwa Sian-li. Mendengar itu, para selir menggapai seorang pelayan dan memerintahkan agar para pelayan itu mengambilkan pedang milik Ciang Mei Ling yang berada di dalam kamarnya.

Setelah pelayan datang membawa pedangnya, Mei Ling tidak dapat menolak lagi. Terpaksa ia lalu mencabut pedang itu dan bersilat pedang. Tentu saja ia memainkan Pek-eng- kiamsut (Ilmu Pedang Garuda Putih), yaitu ilmu andalannya. Benar saja, para selir yang tidak mengerti ilmu silat itu terpesona dan kagum. Gerakan Mei Ling demikian gesit, demikian indah sehingga mereka yang tidak mengerti ilmu silat tidak melihat bahwa ilmu pedang Mei Ling kalah kalau bertanding melawan ilmu sabuk sutera merah Sian Hwa Sian- li.

Setelah Mei Ling berhenti bermain pedang tiba-tiba giliran para selir itu yang memperlihatkan kepandaian mereka, meniup suling, memetik yang-kim, bernyanyi bahkan ada yang menari. Mereka bersenang-senang dan minum anggur harum sampai akhirnya mereka menjadi setengah, mabok.

Setelah puas bersenang-senang, karena hawa udara mulai dingin, para selir itu lalu meninggalkan taman sambil tertawa- tawa. Mei Ling juga kembali ke kamarnya. Hanya Sian-li yang tinggal di taman. Ia masih ingin menikmati keindahan taman yang bermandikan cahaya bulan. ia minta kepada pelayan untuk meninggalkan seguci anggur dan sebuah cawan untuknya.

Sian Hwa Sian-li duduk termenung. Ia merindukan Ki Seng, atau lebih tepat lagi, ia merindukan kehadiran seorang pria di sisinya pada saat seromantis itu. Ki Seng tidak pernah datang berkunjung di waktu malam, hanya pada pagi sampai sore hari. Dituangkannya anggur dalam cawan dan diminumnya perlahan-lahan, seolah hendak menikmati anggur itu sedikit demi sedikit.

Dalam keadaan yang sunyi itu, suara langkah kaki di belakangnya dapat tertangkap pendengarannya yang tajam ter-latih. Sian Hwa Sian-li tidak bergerak, tetap duduk dengan santai di atas bangku menghadapi meja kayu yang kecil.

Pendengarannya yang tajam memberitahu kepadanya bahwa yang datang menghampiri nya adalah seorang pria! Hal ini dapat ia ketahui dari bunyi langkah itu. Langkah wanita lebih ringan dari langkah pria. Langkah kaki ini berat dan tegap. Ia sudah dapat menduga siapa yang datang menghampirinya.

"Sian-li " orang yang datang itu memanggilnya lirih.

Sian Hwa Sian-li menoleh dan wajahnya tersenyum manis sekali ketika matanya memandang kepada wajah Cheng Kun yang telah berdiri dekat di belakangnya. Ia lalu bangkit berdiri dan memberi hormat dengan gaya lemah gemulai.

"Ain, kiranya engkau, Cheng-kongcu!" kata Sian Hwa Sian- li, suaranya seperti bernyanyi.

"Sian-li, sedang apakah engkau duduk seorang diri malam- malam di dalam taman?" tanya Cheng Kun sambil memandangi wajah yang amat cantik jelita tertimpa sinar bulan yang lembut itu. Gigi yang seperti mutiara berjajar itu mengkilap ketika sepasang bibir itu terbuka.

"Saya sedang minum anggur sambil menikmati indahnya taman di malam terang bulan purnama, Cheng-kongcu.

Kongcu, silakan duduk dan maukah kongcu menemani saya minum anggur menikmati malam indah ini?"

Cheng Kun merasa girang sekali. Wanita itu terang- terangan menawarkan hubungan yang lebih akrab. Dia pun lalu duduk di atas bangku, bersanding dengan Sian Hwa Sian- li.

"Sian-li, tentu saja aku mau. Akan tetapi, benar-benarkah engkau ingin aku menemanimu minum arak malam ini?"

Sian Hwa Sian-li mengerling dan tersenyum manis sekali. "Kenapa tidak? Saya benar-benar menginginkannya. Siapakah orangnya yang tidak ingin minum anggur menikmati keindahan taman, malam bulan purnama didampingi seorai pemuda yang ganteng dan gagah?"

Cheng Kun menjadi semakin girang "Sian-li, engkaulah yang cantik jelita dan menarik hati, pula aku melihat ketika engkau bersilat sabuk sutera merah tadi. Alangkah indahnya, dan alangkah lihainya. Akan tetapi, kulihat di sini hanya ada sebuah cawan. Tidak ada cawan untukku."

"Aih, kongcu. Satu cawan bukankah sudah cukup? Secawan anggur kita minum berdua, bukankah menambah keharuman dan kehangatan anggur?" Setelah berkata demikian, Sian-li menuangkan anggur dari guci ke dalam cawan itu sampai penuh lalu menyerahkannya kepada Cheng Kun. Cheng Kun menerima cawan itu, membawanya ke dekat bibir lalu berkata dengan gembira.

"Untuk persahabatan kita!" Dia minum anggur itu setengahnya dan menyerahkan cawan yang masih ada anggur setengahnya itu kepada Sian-li.

"Giliranmu minum. Secawan diminum berdua katamu tadi!" kata Cheng Kun.

Sian-li tersenyum dan minum anggur dari cawan itu.

Kemudian ia mengisi lagi cawan kosong itu dengan anggur sampai penuh. Akan tetapi ketika ia menyerahkannya kepada Cheng Kun, pemuda itu berkata sambil tersenyum.

"Sekarang giliranmu minum lebih dulu, Sian-li."

Sian Hwa Sian-li tidak membantah. Ia mengangkat cawan itu dan berkata, "Untuk malam indah ini yang mempertemukan kita berdua!" Dan iapun minum anggur setengahnya, lalu yang setengah cawan lagi diminum habis oleh Cheng Kun. Demikianlah, mereka berdua berganti-ganti minum anggur dari satu cawan sehingga tubuh terasa hangat dan suasana menjadi gembira.

Akan tetapi tiba-tiba Sian Hwa Sian li menggerakkan kedua pundaknya seperti orang menggigil. "Ihh, malam indah sudah larut dan hawa mulai dingin sekali. Kalau minum dalam kamar tertutup tentu akan hangat dan nyaman." Tentu saja ucapan yang jelas mengandung ajakan ini tidak disia-siakan oleh Cheng Kun yang telah dicengkeram nafsunya sendiri yang berkobar.

"Benar sekali, Sian-li. Bagaimanai kalau kita melanjutkan minum angur dalam kamarmu?" Sian Hwa Sian-li pura-pura terkejut kemalu-maluan dan mengerling genit sambil tersenyum. "Ihhh, kongcu !"

desahnya manja.

"Bagaimana, maukah engkau kutemani minum anggur dalam kamarmu?" Cheng Kun yang sudah yakin menang itu mendesak. Sian Hwa Sian-li mengangguk dan keduanya bangkit. Wanita itu dengan langkah gemulai meninggalkan taman, diikuti oleh Cheng Kun yang membawakan guci anggur dan cawan masih terisi anggur setengahnya.

Bagaikan dua orang maling, mereka berindap-indap.

Namun malam itu sudah larut dan hawa udara amat dinginnya sehingga tidak ada penghuni rumah yang masih berada di luar kamarnya. Mereka dapat memasuki kamar Sian Hwa Sian-li tanpa diketahui orang lain. Dalam kamar itu mereka melanjutkan kesenangan mereka berenang dalam lautan nafsu yang memabokkan dan membuat mereka lupa akan segala.

Kemewahan dan kemegahan yang bergelimpangan merupakan wujud lahiriah yang belum tentu membungkus sesuatu yang indah dan bersih. Segala macam kekayaan, kemuliaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, bahkan agama hanya merupakan pakaian yang tidak menentukan kebersihan si pemakai. Pakaian itu memang indah dan juga bersih, namun belum dapat dipastikan bahwa si pemakai menjadi bersih pula. Bahkan banyak sekali terjadi dalam keluarga bangsawan-bangsawan tinggi, hartawan-hartawan yang kaya raya, yang hidupnya dihormati semua orang, tampak agung berwibawa, di dalamnya terdapat hal-hal yang kotor sekali, jauh lebih kotor daripada kekotoran yang terdapat dalam keluarga miskin sederhana. Hal ini tidaklah aneh karena segala kecemerlangan lahiriah itu bahkan menjadi pendorong untuk orang yang memilikinya untuk melakukan hal-hal yang kotor. Harta yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka itu yang semestinya selain untuk dipergunakan untuk kebutuhan keluarga sendiri, juga sisanya yang banyak dapat dimanfaatkan untuk menolong orang- orang yang kekurangan, bahkan mereka pergunakan untuk mencapai keinginan mereka. Untuk mendapatkan kekuasaan, untuk mendapatkan kemenangan, dan untuk mendapatkan apa yang dikejar untuk memuaskan nafsu-nafsu pribadinya.

Dalam rumah gedung milik Pangeran Cheng Boan yang indah seperti istana itu telah terjadi hal-hal yang amat kotor menjijikkan. Pertama-tama Pangeran Cheng Boan yang sudah tidak kekurangan apapun itu merencanakan siasat yang jahat dan keji untuk meraih kedudukan tertinggi! Kemudian, setelah Ki Seng bersekutu dengannya, Ki Seng melakukan perjinaan dengan semua selir pangeran itu dan sang pangeran pura- pura tidak tahu dan mendiamkannya saja. Kini terjadi lagi hal yang tidak senonoh. Cheng Kun bermain gila dengan Sian Hwa Sian-i di dalam gedung itu juga!

Menjelang fajar, sebelum meninggalkan kamar Sian Hwa Sian-li, Cheng Kun berkata kepada wanita itu, "Sian-li, kita Ini telah menjadi orang sendiri. Aku akan berterus terang kepadamu dan minta bantuanmu. Terus terang saja aku juga tergila-gila kepada Ciang Mei Ling.bantulah aku untuk mendapatkannya, Sian-li."

Sian Hwa Sian-li mengerutkan diam dan pura-pura cemberut. Padahal dalam hatinya ia merasa geli. Baginya tidak ada rasa cemburu karena ia menyerahkan diri kepada pemuda itu tidak berikut hatinya. Baginya Cheng Kun hanyalah sebuah di antara alat-alat baginya untuk menyenangkan diri, untuk memuaskan nafsu birahinya dan tentu saja demi mencapai cita-citanya agar dapat hidup mulia dan terhormat di masa depan. Tentu saja ia suka membantu karena ia tahu bahwa tidak mungkin memonopoli pemuda bangsawan ini untuk dirinya sendiri dan kalau ia membantu sampai berhasil, berati Cheng Kun berhutang budi kepadanya.

"Hemm, Cheng Kongcu, engkau mau mendapatkan Mei Ling dan lupa kepadaku." "Tidak mungkin aku melupakanmu. Bahkan kalau engkau mau membantu sampai berhasil, engkau menjadi pembantuku yang setia."

"Apakah engkau tidak takut kalau ketahuan Pangeran Cheng Lin? Ingat, kini berdua adalah kekasihnya dan kalau dia tahu bahwa kongcu menggoda kami, tentu dia akan marah."

"Kenapa dia harus marah? Dia telah merayu dan memiliki hubungan gelap dengan semua ibu tiriku, aku dan ayah juga mengetahuinya dan tidak marah kepada-nya. Sudahlah, jangan khawatir tentang pangeran Cheng Lin, dia pasti tidak akan marah. Maukah engkau membantuku, sayang?"

"Baiklah, akan tetapi setelah berhasil, engkau harus memberi hadiah yang amat langka dan berharga untukku, Kongcu."

"Jangan khawatir, kalau berhasil aku akan memberimu sepasang giwang dari berlian yang amat indah dan mahal harganya."

Tentu saja Sian Hwa Sian-li menjadi girang dan mereka berdua lalu mengatur siasat.

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam, Ciang Mei Ling duduk seorang diri dalam kamarnya. Wanita muda ini termenung sedih. Baru sekarang ia mendapat dugaan bahwa dirinya dipermainkan oleh Pangeran Cheng Lin. Terkenanglah ia akan semua pengalamannya dahulu Pangeran Cheng Lin yang dahulu bernama Ouw Ki Seng sebagai ketua Ban-tok pang itu datang dan mengadakan persahabatan dengan ayahnya yang menjadi ketua Pek-eng-pang.

-00dw00kz00-