-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 22

Jilid XXII

KI SENG membelalakkan kedua matanya, hampir tidak percaya melihat sikap dan mendengar ucapan gadis itu, "Akan tetapi, engkau sudah minum "

"Hemm, jangan dikira bahwa aku tidak tahu akan perbuatan keji itu, mencampurkan racun perangsang ke dalam air teh! Akan tetapi jangan harap dapat menjebak aku dengan segala macam racun pembius atau perangsang. Sobat, aku melihat bahwa engkau bukan orang bodoh, bahkan engkau memiliki tenaga sin-kang yang sudah cukup tinggi sehingga engkau dapat main-main seperti orang menderita sakit berat. Kenapa engkau hendak menggunakan kepandaianmu itu untuk melakukan kejahatan yang amat keji, menjebak seorang wanita? Apakah engkau tidak malu? Sepatutnya engkau mempergunakan ilmu yang tentu telah engkau pelajari bertahun-tahun itu untuk melakukan kebaikan, bukan untuk mengumbar nafsu melakukan kejahatan yang keji. Nah, aku pergi!"

Setelah berkata demikian, Kiok Hwa melangkah menuju ke pintu. Ki Seng hanya memandang dengan mata terbelalak keheranan, juga dia semakin kagum kepada gadis ahli pengobatan itu. Kiranya bukan hanya seorang gadis tabib biasa, melainkan agaknya juga seorang ahli silat yang pandai. Buktinya tahu bahwa dia berpura-pura sakit menggunakan sin- kang dan pula, dua kali tangannya meraih namun selalu luput.

Pada saat Kiok Hwa hampir tiba dI pintu, daun pintu itu terbuka dari luar dan masuklah Sian Hwa Sian-li. Wanita ini melihat Kiok Hwa melangkah hendak pergi dan melihat pula Ki Seng berdiri dekat meja dengan mata terbelalak.

"Eh, apa yang terjadi?" tanyanya heran. Ia tadi mendengarkan dari luar pintu dan mendengar ucapan Kiok Hwa maka ia membuka pintu karena menduga telah terjadi kegagalan. Maka, ketika melihat Kiok Hwa sudah menggendong buntaiannya hendak pergi dari situ sedangkan Ki Seng diam saja tidak mencegah, ia merasa heran sekali.

Melihat wanita itu, Kiok Hwa memandang tajam dengan hati merasa jijik. ia tahu bahwa wanita ini bersekongkol dengan pemuda itu untuk menjebaknya.

"Aku tidak dibutuhkan siapapun di sini. biarkan aku pergi!" katanya dan ia melangkah hendak keluar dari dalam kamar.

"Hemm, engkau tentu telah menelan obat penawar tadi.

Perlahan dulu, jangan pergi!" kata Sian Hwa Sian-li dan cepat tangannya meluncur untuk menotok pundak Kiok Hwa. "Wuuuttt !" Dan totokan itu luput, dengan gerakan

langkahnya yang aneh, Kiok Hwa telah dapat mengelak dari totokan itu. Sian Hwa Sian-li terkejut dan cepat tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap Kiok Hwa, akan tetapi pundak itu bergerak ke bawah dan cengkeraman itupun luput

"Biarkan ia pergi!" tiba-tiba terdengar Ki Seng berseru. "Akan tetapi " Sian Hwa Sian-li membantah.

"Biarkan ia pergi kataku!" Ki Seng membentak dan Sian Hwa Sian-li tidak berani membantah lagi, lalu melangkah mundur membiarkan Kiok Hwa yang melangkah keluar dari pintu kamar itu.

Setelah Kiok Hwa pergi, Sian Hwa Sian-li cepat menghampiri Ki Seng yang telah duduk di atas kursi. "Ki Seng, apa yang telah terjadi? Kenapa ia....ia tidak "

"Hemm, kau lihat sendiri. Obatmu itu tidak dapat mempengaruhinya!" kata Ki Seng agak ketus karena kecewa.

"Kau tidak melihat tadi, ketika ia akan minum air teh, lebih dulu ia mencampurkan bubuk putih ke dalam air teh itu. Itu tentu merupakan obat penawar. Tidak aneh kalau ia tidak terpengaruh oleh obat perangsangku." Sian Hwa Sian-Li membela obatnya. "Akan tetapi apa sukarnya untuk menangkap dan menundukkannya? Kenapa engkau tidak menangkapnya dan engkau malah mencegah aku menangkapnya dan membiarkan ia pergi?" Pertanyaan ini mengandung penasaran.

"Tidak! Aku tidak suka mendapatkan seorang gadis dengan paksa, aku tidak sudi melakukan perkosaan. Dan lagi, aku......

mencintanya, Sian-li, aku sungguh mencintanya, aku kagum kepadanya."

Sian Hwa Sian-li tidak menyadari bahwa ialah yang menjadi guru pertama bagi Ki Seng dalam bercinta. Dan ia merupakan seorang guru yang bukan hanya sukarela menyerahkan diri, bahkan penuh kemesraan dan penuh cinta kasih. Karena itu, sedikit banyak hal ini membentuk watak Ki Seng terhadap wanita, dia menghendaki agar semua wanita menyerahkan diri kepadanya seperti yang dilakukan Sian Hwa Sian-li, dengan suka rela dan mesra.

"Akan tetapi engkau telah membiarkan ia pergi, Ki Seng.

Bagaimana engkau kelak akan bisa mendapatkannya?"

"Biarlah. Kalau aku sudah menjadi seorang pangeran, tentu aku akan dapat nenemukannya kembali. Dan aku ingin tahu apakah ia akan menolak cinta seorang pangeran kepadanya! Aku ingin ia menyerah dengan suka rela dan membalas cintaku."

Sian Hwa Sian-Li mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak senang dan tidak enak. Ia merasa cemburu kepada Kiok Hwa yang agaknya demikian dicinta oleH Ki Seng.

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

"Aku akan segera pergi menghadap Kaisar. Sekarang mari kita makan dulu. perutku terasa lapar sekali."

Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng meninggalkan rumah penginapan karena rumah penginapan itu tidak menyediakan restoran. Akan tetapi mereka tidak perlu berjalan jauh. Tak jauh dari situ terdapal sebuah rumah makan yang besar. Siang itu banyak tamu mengunjungi rumah makan itu. Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li mendapatkan meja di sudut, agak terpisahl dari ruangan depan yang luas dan penuhi tamu. Tak jauh dari situ duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, seorang diri dan agaknya dia juga masih menanti hidangan yang dipesannya karena di mejanya belum terdapat hidangan, kecuali sebuah guci arak dan cawannya, kakek itu minum arak seorang diri. Ki Seng duduk dan kebetulan posisi duduknya menghadap ke arah kakek yang duduk seorang diri itu. Pandang mata mereka bertemu, akan tetapi kakek itu lalu mengalihkan pandangan matanya, sama kali tidak memperhatikan pemuda itu. Akan tetapi Ki Seng mencuri pandang dengan penuh perhatian. Sepasang pedang yang tersembul gagangnya di belakang pundak kakek itu menarik perhatiannya, membuat dia memperhatikan kakek itu. Seorang kakek yang bertubuh kurus tinggi, mukanya kemerahan, dahinya lebar dan sepasang matanya sipit. Mulutnya seperti tersenyum mengejek dan jenggotnya panjang sampai ke leher.

Sian Hwa Sian-li duduk di depan Ki Seng dan wajah wanita cantik ini tampak muram, mulutnya yang menggairahkan dan penuh nafsu itu sekali ini cemberut. Seorang pelayan menghampiri mereka dan Ki Seng memesan masakan dan minuman setelah bertanya kepada Sian Hwa Sian-li dan wanita itu mempersilakan dia saja yang memilih macam masakan yang di pesan.

Ketika mereka menanti datangnya hidangan yang mereka pesan, Ki Seng me lihat wajah temannya yang cemberut "Eh, Sian-li, kenapa wajahmu muram dan engkau cemberut saja? Apa yang meng ganggu pikiranmu?" tanya Ki Seng yanj melihat bahwa kakek di meja depan itu masih asik minum arak dan makan kue kering dengan sikap tidak acuh. Namun tetap saja dia bicara dengan suara lirih hampir berbisik. Sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa yang duduk di depannya bukan orang biasa, melainkan seorang datuk yang berilmu tinggi sehingga biarpun dia berbisik, datuk itu tetap saja mampu menangkap suaranya. Apalagi ketika dia menyebut Sian-li (Dewi) kepada temannya. Kakek itu walaupun tampak tidak mengacuhkan, sebenarnya diam diam memasang telinga dan kadang-kadang mengerling dengan matanya yang sipit sehingga tidak kentara bahwa matanya itu mengerling ke arah meja Ki Seng. Sian Hwa Sian-li menjawab sambil berbisik pula. "Perlukah engkau bertanya lagi? Engkau menyakitkan hatiku. Engkau jatuh cinta kepada seorang wanita di depan mataku, sungguh menyakitkan hati ekali!"

Ki Seng mengerutkan alisnya. "Hemm, jadi engkau cemburu, Sian-li? Bukankah kita tidak saling terikat dan memberi kebebasan kepada masing-masing? Kepada Mei Ling pun engkau tidak cemburu. Kenapa sekarang engkau cemburu kepada gadis itu, padahal aku belum melakukan apa-apa terhadapnya?"

"Justeru itulah yang membuat hatiku panas!" kata Sian Hwa Sian-li dan saking marahnya, suaranya agak kuat. "Andaikata engkau memaksanya menyerah, aku tidak akan cemburu. Akan tetapi tidak, engkau tidak tega memaksanya karena ngkau jatuh cinta kepadanya. Gadis itu telah membuat engkau lupa diri. Kalau lain kali aku bertemu dengannya, pasti ia akan kubunuh!"

Ki Seng yang benar-benar jatuh cinta kepada Kiok Hwa, menjadi marah pula mendengar ucapan itu. "Hemm, kalau engkau hendak membunuhnya, maka aku yang akan membelanya mati-matian! Sian-li, apakah engkau sudah lupa kepada ini?" Dia menyingkap bajunya memperlihatkan suling kemala yang terselip di pinggangnya.

Melihat benda itu, seketika Sian-li diam dan menundukkan mukanya. Teringatlah ia bahwa pemuda yang duduk di depannya ini adalah seorang pangeran. Dan bagi seorang pangeran, tentu saja wajar kalau membagi-bagi cintanya di antara banyak wanita!

Pelayan datang mengantarkan hidangan di atas meja. "Sudahlah, tidak perlu bicara yang bukan-bukan. Mari kita makan!" ajak Ki Seng dan Sian-li menurut tanpa banyak membantah lagi, wajahnya juga tidak semuram tadi. Ia memaksa diri untuk bermuka manis kembali. Ki Seng mengangkat muka dan kebetulan ia bertemu pandang dengan kakek itu yang juga sudah mulai makan hidangan yang dipesannya. Sejenak Ki Seng terkejut melihat sinar mata yang mencorong dari kakek itu. Akan tetapi kakek itu lalu mengalihkan pandangan dan melanjutkan makan dengan sikap tak acuh sehingga Ki Seng kehilangan kecurigaannya.

Tentu saja Suma Kiang terkejut sekali ketika tadi Ki Seng menyingkap bajunya memperlihatkan suling kemala kepada Sian-li. Dia segera mengenal suling pusaka kemala itu sebagai milik mendiang Chai Li yang tentu saja terjatuh ke tangan puteranya yang dia tahu bernama Cheng Lin, putera Kaisar Cheng Tung! Karena itu dia memperhatikan wajah pemuda itu. Dia masih ingat baik-baik akan wajah Cheng Lin dan yakin benar bahwa biarpun usia dan perawakan pemuda ini sama dengan Cheng Lin, namun wajahnya berbeda. Apalagi setitik tahi lalat di bawah telinga kanan pemuda ini jelas menunjukkan bahwa dia bukanlah Cheng Lin, putera kaisar!

Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di tangan pemuda ini? Dan pemuda itu memperlihatkan suling pusaka itu kepada teman perempuannya dengan lagak mempengaruhi. Tentu ada maksud tertentu dengan suling itu bagi pemuda yang tidak dikenalnya ini.

Suma Kiang adalah seorang yang amat cerdik. Dia segera dapat menduga bahwa pemuda itu mungkin sekali akan mengakui dirinya sebagai Cheng Lin agar diterima kaisar sebagai puteranya. Pemuda itu hendak memalsukan Cheng Lin yang tidak diketahuinya kini berada di mana, masih hidup ataukan sudah mati. Dia telah selesai makan. Akan tetapi sengaja dia atur sehingga selesainya sama waktunya dengan pemuda dan gadis yang sudah selesai makan pula. Suma Kiang memanggil pelayan dan membayar harga makanan dan minuman. Akan tetapi dia tidak segera pergi melainkan duduk menghadapi mejanya. Ketika melihat pemuda dan gadis itu membayar makanan, dia cepat bangkit dan menghampiri meja kasir d mana duduk pengurus rumah makan itu. Di situ dia minta pinjam alat tulis dan kertas, lalu membuat tulisan pendek, Setelah itu, dia keluar dari rumah maka dan berdiri di tepi jalan. Kertas bertulis itu dilipatnya beberapa kali.

Ki Seng dan Sian Hwa Sian-li keluar dari rumah makan. Setelah mereka tiba di tepi jalan, tiba-tiba Ki Seng melihat sebuah benda putih melayang ke arah mukanya. Cepat dia menangkap benda itu dan mengangkat muka memandang. Ternyata kakek yang tadi duduk berhadapan meja dengannya itulah yang telah melemparkan benda itu kepadanya. Benda itu ternyata sehelai kertas yang dilipat-lipat. Dapat melontarkan kertas seringan itu dari jarak jauh dengan cukup kuat menunjukkan bahwa kakek itu memiliki tenaga sakti yang kuat. Cepat dibukanya surat itu.

"Apakah itu?" tanya Sian Hwa Sian-li yang melihat ketika Ki Seng menangkap benda kecil yang terbang menyambar tadi. Wanita inipun segera dapat mengetahui siapa pelempar benda itu.

Ki Seng tidak menjawab melainkan membuka surat itu dan membacanya, Sian Hwa Sian-li mendekatkan mukanya dan ikut membaca.

"Aku tahu akan rahasiamu. Ikuti aku keluar kota dan kita bicara tentang Suling Pusaka Kemala!"

Membaca surat itu, tentu saja Ki Seng terkejut bukan main. Orang itu mengetahui tentang suling pusaka, berarti dia tahu pula bahwa dia bukan Cheng Lin yang asli. Dia mengangkat muka dan melihat kakek itu sudah melangkah pergi menuju ke pintu gerbang sebelah timur.

"Mari kita ikuti dia!" kata Ki Seng kepada Sian Hwa Sian-li dan mereka berdua cepat melangkah dan mengikuti kakek pengirim surat tadi.

Kakek yang kita kenal sebagai Suma Kiang itu berjalan menuju ke pintu gerbang sebelah timur yang sepi keadaannya. Dia antara ke empat pintu gerbang kota raja, yang paling ramai lalu lintasnya adalah pintu gerbang selatan. Di pintu gerbang timur ini jarang ada orang berlalu lalang. Suma Kiang keluar dari pintu gerbang, maklum bahwa dua orang muda itu terus mengikutinya. Setelah tiba di tempat yang sunyi dan tidak tampak ada orang lain, dia lalu mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari cepat menuju ke sebuah bukit. Seperti telah diduganya, dua orang muda itu kini juga berlari cepat dan dapat mengimbangi kecepatan larinya.

Setelah tiba di kaki bukit yang amat sepi, dekat sebuah hutan, Suma Kiang berhenti dan membalikkan tubuh, menanti dua orang muda itu yang cepat telah datang di depannya.

Kini Ki Seng berhadapan dengan Suma Kiang. Keduanya saling pandang dengan penuh perhatian, kemudian Ki Seng bertanya dengan suara lantang. "Siapakah engkau dan apa maksudmu dengan surat ini?"

"Orang muda, aku telah melihat suling yang kau bawa di pinggangmu itu. Aku mengenal suling itu sebagai suling pusaka kemala. Suling itu milik Kaisar Cheng Tung yang diberikan kepada isteri-nya yang bernama Chai Li dan kemudian diberikan kepada putera mereka bernama Cheng Lin. Bagaimana suling pusaka kemala itu dapat berada di tanganmu?"

Bukan main kagetnya hati Ki Seng mendengar ucapan itu.

Kakek itu ternyata telah mengetahui dengan jelas akan riwayat suling pusaka kemala, Bahkan agaknya tahu benar tentang Pangeran Cheng Lin, ibunya dan ayahnya. Teringatlah dia akan cerita Han Lin tentang ibunya yang tewas oleh seorang musuh besarnya bernama Suma Kiang!

"Akulah Pangeran Cheng Lin. Chai Li adalah mendiang ibuku dan Kaisar Cheng Tung adalah ayahku!" kata Ki Seng. Dia harus mati-matian mempertahankan pengakuannya sebagai Pangeran Cheng Tung karena di situ terdapat pula Sian Hwa Sian-li. "Ha-ha-ha! Aku mengenal siapa itu Pangeran Cheng Lin.

Bukan engkau. Pangeran Cheng Lin yang aseli tidak mempunyai tahi lalat di bawah telinga kanannya dan wajahnya juga beda darimu! Ha-ha-ha!" Suma Kiang menertawakan Ki Seng.

Wajah Ki Seng berubah merah. "Kakek jahanam pembohong! Akulah Pangeran Cheng Lin dan aku tahu siapa engkau! Engkau tentu jahanam Suma Kiang yang telah menyebabkan tewasnya ibu kandungku Puteri Chai Li!"

"Benar, akulah Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Suma Kiang. Serahkan suling pusaka kemala kepadaku atau terpaksa aku akan membunuhmu!"

"Suma Kiang, hari ini engkau harus menebus dosamu terhadap ibuku. Aku akan membalas dendam atas kematian ibuku!" Setelah berkata demikian, Ki Seng segera menyerang dengan dahsyatnya. Pemuda ini tahu bahwa dia harus membunuh Suma Kiang yang telah mengetahui rahasianya bahwa dia bukan Pangeran Cheng Lin yang aseli! Maka begitu menyerang dia telah mempergunakan ilmu silat Sin-liong- ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang gerakannya amat hebat dan kuat.

Melihat datangnya serangan yang membawa angin pukulan dahsyat itu, Suma Kiang terkejut bukan main. Dia segera dapat mengenal serangan ampuh, maka cepat dia bergerak mengelak dan membalas dengan ilmu silat Ciu-siai Ciang-hoat (Ilmu Silat Dewa Mabok) yang gerakannya aneh seperti orang mabok.

"Hyaaattt !" Suma Kiang balas menyerang dengan

pengerahan tenaga sepenuhnya karena dia ingin segera membunuh pemuda yang agaknya merupakan lawan tangguh ini. Diserang dengan pukulan yang amat kuat itu, Ki Seng tidak mengelak melainkan menyambut pukulan itu dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaga saktinya. "Wuuutttt..... desss !!" Suma Kiang terkejut bukan main

karena benturan lengan itu membuat dia terhuyung ke belakang sedangkan pemuda itu masih tetap berdiri dengan tegak. Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini. Dia tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya karena bermaksud untuk membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Akan tetapi ternyata pemuda itu bukan hanya dapat menangkis pukulannya, bahkan dapat membuat dia terhuyung.

Suma Kiang adalah seorang yang terbiasa mengagulkan diri dan kepandaian sendiri. Dia menjadi penasaran sekali dan tidak mau mengaku bahwa dia kalah kuat. Dia tidak percaya bahwa dirinya kalah oleh seorang lawan yang masih begitu muda. Yang pantas menjadi cucunya! Sambil mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas yang terluka, Sum Kiang melompat dan menerjang maju mengeluarkan semua jurus simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dengan ilmu Ciu-sia Ciang-hoat yang dapat membingungkan lawan karena, gerakannya yang aneh itu.

Ki Seng yang maklum akan ketangguhan lawan, tidak berani memandang rendah dan diapun melawan dengan terus memainkan Sin-liong Ciang-hoat. Terjadilah perkelahian yang amat seru. Sian Hwa Sian-li yang menonton menjadi semakin kagum kepada kekasihnya itu. Ia dapat melihat betapa tangguhnya kakek itu, akan tetapi Ki Seng sama sekali tidak tampak terdesak, bahkan sebaliknya pemuda itu mulai mendesak lawannya setelah pertandingan itu berlangsung tiga puluh jurus lebih.

"Haiiitt !" Tiba-tiba Suma Kiang melakukan serangan

totokan dengan satu jari. Ki Seng cepat mengelak dengan cepat dan heran karena dia mengenal jurus serangan ilmu It- yang-ci (Totokan Satu jari). Akan tetapi melihat betapa jurus It-yang-ci itu tidak begitu sempurna, dia-pun lalu mengeluarkan ilmu It-yang-ci yang dipelajarinya dari Cheng Hian Hwesio, membalas serangan lawan. jurus It-yang-ci yang dia pergunakan lebih hebat karena sudah dia campur dengan Bin-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) sehingga totokan It- yang-ci yang dipergunakan Ki Seng itu mengandung hawa beracun yang amat jahat. Kini giliran Suma Kiang yang kaget setengah mati melihat betapa Ki Seng juga mempergunakan It-yang-ci, bahkan lebih dahsyat dari pada serangannya sendiri.

Karena kewalahan dan maklum bahwa kalau dia sampai terkena totokan It-yang-ci yang mengandung hawa panas luar biasa itu dia dapat celaka, Suma Kiang mencabut sepasang pedangnya dan memainkan Coa-tok Siang-kiam (Sepasang Pedang Racun Ular) yang amat dahsyat itu. Sepasang pedang itu bagaikan dua ekor ular yang mematuk-matuk dari segala jurusan. Gerakannya amat cepat dan juga mengandung tenaga yang amat kuat. Melihat dirinya dihujani serangan dua sinar pedang yang bergulung-gulung itu, Ki Seng maklum bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai. Maka, diapun segera mengerahkan sin-kang dan memainkan ilmu silat Sin- liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) dengan menggunakan tenaga Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih). Hebat bukan main ilmu silat yang dimainkan Ki Seng dengan tenaga yang mengandung kekuatan sihir itu. Kedua tangannya mengeluarkan uap putih yang tebal dan uap itu mengandung tenaga luar biasa, membuat sepasang pedang di tangan Suma Kiang selalu terpental kalau sinarnya bertemu dengan uap putih itu.

Suma Kiang menjadi semakin terkejut. Tak disangkanya pemuda yang memalsu putera kaisar ini memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya. Dengan kedua tangan kosong pemuda itu mampu melawan sepasang pedangnya yang telah mengangkat namanya menjadi datuk persilatan yang jarang bertemu tanding. Dia penasaran sekali dan masih mencoba berlaku nekat dan melawan sambil menghujankan serangan dengan jurus-jurus pilihan. Namun, semua serangannya gagal, bahkan akhirnya, setelah lewat lima puluh jurus dalam perkelahian yang amat seru, dia sendiri yang mulai terdesak oleh uap putih tebal itu. Karena tidak ingin roboh di tangan pemuda itu, kemungkinan yang besar sekali mengingat bahwa pemuda itu masih mempunyai teman wanita cantik yang belum turun tangan, Suma Kiang mengeluarkan seruan yang disertai kekuatan sihirnya.

"Berhenti!!!" Seruan itu kuat sekali pengaruhnya sehingga biarpun Ki Seng juga memiliki kekuatan sihir, namun bentakan itu sempat membuat dia menghentikan gerakannya sejenak. Kesempatan itu dipergunakan Suma Kiang untuk melompat dan melarikan diri ke dalam hutan lebat di samping jalan.

Hutan itu lebat dan gelap maka Ki Seng tidak berani melakukan pengejaran. Selain dia tidak mempunyai urusan dengan Suma Kiang, juga mengejar lawan yang amat lihai di dalam hutan yang gelap itu amat berbahaya baginya.

"Ki Seng, mengapa tidak kejar dia?" Sian Hwa Sian-li bertanya.

"Kim Goat, mengejarnya merupakan kebodohan." kata Ki Seng yang kadang menyebut nama aseli wanita itu dan kadang hanya menyebut Sian-li saja.

"Kenapa merupakan kebodohan? Bukankah engkau tadi sudah mulai dapat mendesaknya?" tanya Kim Goat atau Sian Hwa Sian-li.

"Engkau melihat sendiri betapa lihainya orang itu. Setelah bersusah payah demikian lamanya, barulah aku mulai dapat mendesaknya. Akan tetapi kalau mengejar seorang lawan selihai itu dalam sebuah hutan lebat yang asing bagiku, hal itu merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya sekali. Dia dapat menyebabkan aku terjebak, juga dia dapat menyerangku secara tiba-tiba. Hal itu berbahaya sekali."

"Akan tetapi dia tadi menuduhmu yang bukan-bukan, mengatakan bahwa engkau bukan pangeran putera kaisar!" kata Sian Hwa Sian-li dengan khawatir. "Dan engkau percaya? Bodoh sekali! Dia sudah lupa kepadaku karena ketika kami bertemu dahulu, aku masih kecil. Dia adalah seorang yang teramat licik dan jahat. Sayang aku tadi belum berhasil membunuhnya."

"Siapa sih sebetulnya orang itu, Ki Seng?"

"Namanya Suma Kiang. Dialah orangnya yang memaksa ibu kandungku meninggalkan perkampungan Mongol di utara, bahkan kemudian dia mengejar-ngejar ibu sampai akhirnya ibu terjatuh ke dalam jurang dan tewas. Dia yang menyebabkan kematian ibu kandungku!"

"Aku khawatir, orang yang licik itu akan merupakan ancaman bahaya bagimu, Ki Seng. Kita harus berhati-hati sekali. Aku dengar banyak sekali terdapat orang orang yang berkepandaian tinggi di kota raja. Siapa tahu Suma Kiang itu mempunyai teman-teman yang juga amat lihai."

Ki Seng mengangguk. "Karena itu, aku harus secepat mungkin menghadap Kaisar. Kalau Kaisar sudah menerimaku sebagai puteranya dan menjadi pangeran. siapa yang akan dapat menggangguku? Malam ini kita bermalam di rumah penginapan dan besok pagi aku akan berusaha untuk menghadap Kaisar. Engkau tinggal saja di rumah penginapan agar tidak menarik perhatian. Nanti kalau aku sudah diterima sebagai pangeran, akar kucarikan jalan agar engkau dapat pula masuk istana."

Mereka kembali ke kota raja dan memasuki kamar mereka di rumah penginapan An Lok. Mereka menyewa sebuah kamar nomor sebelas dengan mengaku sebagai suami isteri, maka ketika mereka masuk ke kamar itu, seorang pelayan yang melihatnya tidak menaruh curiga apapun.

Setelah tiba di dalam kamar dan menutupkan daun pintu, Sian Hwa Sian-li segera menuntun Ki Seng duduk di tepi pembaringan dan wanita itu dengan sikap manja merangkulnya. "Ki Seng, benarkah engkau akan mengusahakan agar aku dapat masuk ke dalam istana? Jangan-jangan setelah engkau menjadi pangeran dalam istana, engkau akan melupakan aku begitu saja!"

Ki Seng memeluk dan mencium wanita itu. "Aih, Kim Goat! Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu? Engkau adalah pembantuku yang utama, pembantuku yang cantik manis, yang kusayang. Tidak mungkin aku melupakanmu,, kau tunggu sajalah besok di sini, aku pasti akan datang menjemputmu!" Mereka berangkulan dan bermesraan seperti biasa.

Setelah melalui pasukan pengawal yang berlapis-lapis, akhirnya Ki Seng dapat membujuk para perwira yang bertugas menjaga keamanan istana untuk dibawa menghadap kaisar.

Kepada para perwira itu dia menyatakan bahwa dia datang membawa berita yang teramat penting bagi Kaisar dan sebagai tanda bahwa dia memiliki hubungan dekat dan dipercaya oleh Kaisar, dia memperlihatkan Suling Pusaka Kemala yang dibawanya. Melihat suling milik Kaisar itu akhirnya para panglima yang bertanggung jawab atas keselamatan Kaisar mengawal Ki Seng menghadap. Dua orang panglima yang bertugas menjaga keselamatan Kaisar mengawal Ki Seng ke ruangan di mana Kaisar biasanya menerima pelaporan-pelaporan dari para pembantunya.

Biarpun dia seorang pemuda yang tabah dan penuh keberanian, namun sekali ini, memasuki istana yang dilengkapi perabotan yang serba indah dan megah, di mana-mana terdapat perajurit pengawal yang berpakaian indah dan gagah, dia merasa dirinya kecil dan timbul perasaan rendah diri. Sayang dia tidak mungkin mengajak Sian Hwa Sian-li untuk bersama-sama menghadap Kaisar, pikir-nya. Kalau ada wanita yang penuh pengalaman itu, dia tentu tidak akan merasa demikian gugup. Lebih lagi ketika kedua orang panglima itu membawanya memasuki sebuah ruangan yang luas di mana sang kaisar duduk di atas singasana. Kemewahan dan kemegahan ruangan yang indah itu, keagungan kaisar yang duduk dengan sikap berwibawa sekali, dihadap beberapa orang menteri dan di pinggir ruangan di kanan kiri duduk para perajurit pengawal, di belakang berderet pula pasukan thaikam, membuat hati Ki Seng merasa tegang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang dan timbul perasaan takut dalam hatinya kalau dia teringat bahwa dia datang sebagai Cheng Lin yang palsu! Dua orang panglima itu berbisik kepadanya agar dia menjatuhkan diri berlutut. Dia segera berlutut bersama dua orang, panglima itu.

Pembesar yang bertugas menjaga dan mengatur ketertiban di ruangan persidangan itu lalu dengan suara lantang melapor kepada Kaisar. Dia sudah diberi-tahu oleh seorang pengawal tadi bahwa Ki Seng mohon menghadap Kaisar dengan membawa berita yang teramat penting. Tentu saja Kaisar mengerutkan alis dengan heran dan juga tidak senang karena persidangannya terganggu oleh datangnya seorang pemuda yang mohon menghadap kepadanya. Akan tetapi karena pemuda itu menyatakan bahwa dia datang menghadap membawa berita yang teramat penting, sebagai seorang kaisar yang bijaksana Kaisar Cheng Tung lalu bertanya.

"Orang muda, siapakah engkau!"

Ki Seng menekan perasaan takutnya dan menjawab sambil menunduk, suaranya terdengar tegas dan tenang.

"Hamba bermarga Cheng, bernama Lin, Yang Mulia."

Kaisar Cheng Tung mengerutkan alisnya lebih dalam lagi dan matanya memandang pemuda itu penuh perhatian.

Bahkan semua pembesar yang duduk menghadap di situ, semua mengerling ke arah pemuda itu dengan hati bertanya- tanya. "Engkau bernama Cheng Lin? Datang dan berasal dari mana?"

"Hamba berasal dari perkampungan Mongol di utara, Yang Mulia."

Kerut di kening Kaisar Cheng Tung semakin mendalam. Kaisar berusia kurang lebih lima puluh tahun itu tentu saja segera teringat akan pengalamannya sekitar dua puluh tahun yang lalu. Teringatlah dia betapa ketika itu dia meninggalkan seorang wanita Mongol yang diper-isterinya dan wanita itu dalam keadaan mengandung. Dia meninggalkan pesan kepada isterinya itu bahwa kalau isterinya melahirkan seorang putera agar diberi nama Cheng Lin! Dia masih ingat semuanya karena dia mencinta wanita Mongol itu. Akan tetapi, ketika dia berkehendak mendatangkan isterinya itu ke kota raja dan tinggal di istana sebagai isterinya yang sah, para penasihatnya mencegah dan mengingatkannya bahwa hal itu akan merendahkan derajatnya. Dan ia menyetujui para penasehat itu. Dia lalu memandang kepada menteri yang duduk menghadapnya. Mereka telah menyampaikan pelaporan masing-masing sebelum pemuda itu datang, maka dia lalu berkata kepada mereka sambil menggerakkan tangan.

"Kalian semua boleh meninggalkan ruangan ini. Kami ingin berbincang-bincang dengan pemuda ini berdua saja."

Mendengar peritah itu, semua pejabat memberi hormat lalu pergi dengan perasaan heran. Segera ruangan itu menjadi sunyi. Yang ada hanya Kaisar Cheng Tung bersama Ki Seng.

Tentu saja belasan orang perajurit pengawal pribadi kaisar masih berjaga di dekat pintu-pintu ruangan itu. Akan tetapi mereka ini adalah pengawal-pengawal pribadi yang amat rahasia, pengawal-pengawal thaikam yang berkepandaian silat tinggi dan mereka seperti robot-robot saja. Mereka tidak akan perduli bahkan tidak memperhatikan semua percakapan antara kaisar dan tamunya, akan tetapi mereka selalu waspada terhadap keselamatan kaisar. Menjaga dan menyelamatkan kaisar dari bahaya, itulah satu-satunya tugas mereka yang akan mereka laksanakan dengan taruhan nyawa.

Setelan semua pejabat pergi, dan setelah memandang ke sekelilingnya, Kaisar Cheng Tung memandang Ki Seng yang masih menundukkan mukanya.

"Nah, sekarang semua orang telah pergi, tinggal kita berdua yang berada di sini. Orang muda, kenapa engkau menghadap kami tanpa dipanggil dan berita penting apakah yang hendak kau sampaikan kepada kami?"

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Ki Seng menjawab. "Yang Mulia, hamba berani menghadap paduka karena hamba ingin memenuhi pesan terakhir ibu hamba dan berita yang hendak hamba sampaikan kepada paduka adalah bahwa ibu hamba telah meninggal dunia."

"Siapa ibumu itu?" tanya Kaisar Cheng Tung dan dalam suaranya terkandung nada gemetar.

"Nama mendiang ibu adalah Puteri Chai Li, keponakan kepala suku Kapokai Khan, Yang Mulia."

"Ahh !" Kaisar Cheng Tung tidak dapat menahan

kekagetan dan kedukaan nya. Terbayanglah wajah Chai Li yang pernah dicintanya dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya.

Tak lama kemudian dia menurunkan kedua tangannya memejamkan kedua matanya yang tampak agak basah.

"Coba angkat mukamu!" perintah Kaisar Cheng Tung kepada Ki Seng yang sejak tadi menundukkan muka, tidak berani menatap wajah kaisar yang berwibawa itu. Ki Seng mengangkat mukanya dan dia bertemu pandang dengan sepasang mata Kaisar Cheng Tung, membuat pemuda itu merasa bulu tengkuknya meremang. Kaisar Cheng Tung memperhatikan wajah Ki Seng. Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah. Dia sudah dapat menduga dari tadi bahwa pemuda ini tentu putera Chai Li, puteranya. Akan tetapi dia tidak dapat menerimanya begitu saja tanpa bukti yang pasti.

"Jadi engkau ini adalah Cheng Lin putera Puteri Chai Li?" tanyanya.

Dengan mengerahkan kekuatannya Ki Seng mempertahankan diri sehingga tetap mengangkat mukanya. "Benar sekali Yang Mulia. Hamba putera ibu Chai Li satu- satunya."

"Dan tahukan engkau siapa ayah kandungmu?" tanya Kaisar Cheng Tung dengan pandang mata tajam seolah hendak menembus melalui mata Ki Seng untuk menjenguk isi hatinya.

"Hamba...... hamba tidak berani, Yang Mulia " kata Ki

Seng sambil menundukkan mukanya, dan suaranya gemetar.

"Hemm, katakan saja siapa ayah kandungmu, jangan takut asalkan engkau tidak berbohong. Awas, kalau engkau membohong dan hendak menipu, engkau akan dihukum berat!" kata Kaisar Cheng Tung.

"Menurut ibu hamba ketika ibu hamba hendak

meninggal..... beliau mengatakan..... bahwa bahwa ayah

hamba adalah paduka yang mulia sendiri."

"Hemm, orang muda. Tidak semudah itu untuk mengaku sebagai seorang puteraku! Apa buktinya bahwa engkau ini benar Cheng Lin putera Puteri Chai Li dan putera kami?

Engkau harus mampu membuktikannya!"

"Ampun, Yang Mulia.,. Hamba hanya mendengar semua ini dari mendiang ibu hamba. Ibu hamba yang menceritakan bahwa hamba adalah putera yang mulia Sri Baginda Kaisar Cheng Tung. Ibu hamba menceritakan bahwa paduka meninggalkan ibu ketika ibu sedang mengandung hamba dan paduka ada meninggalkan sebuah suling pusaka kemala kepada ibu hamba. Inilah suling pusaka kemala itu Yang Mulia."

Ki Seng mencabut suling yang suda dipersiapkannya dari ikat pinggangnya dan menyerahkan benda itu dengan kedua tangan kepada Kaisar Cheng Tung.

Dengan tangan kanan yang gemetar Kaisar Cheng Tung menerima suling kemala itu, mengamatinya dan setelah yakin bahwa itu benar sulingnya yang pernah dia berikan kepada Chai Li, dia memejamkan matanya dan menekan suling itu ke dadanya. Seolah terngiang dalam telinganya ketika Chai Li meniup suling itu, memainkan lagu Mongol yang dia sudah lupa lagi namanya.

Setelah agak lama dan Kaisar Cheng Tung dapat menenteramkan lagi hatinya dia memandang kepada Ki Seng yang sudah menundukkan lagi mukanya dan berkata, suaranya terdengar ramah. "Cheng Lin, engkau memang benar putera mendiang Chai Li, engkau putera kami.

Terimalah suling ini."

Ki Seng mengangkat mukanya dan menerima suling itu dengan hati berdebar girang. "Beribu terima kasih hamba haturkan, Yang Mulia, bahwa paduka sudah menerima hamba sebagai putera paduka yang mulia."

"Bangkitlah, Cheng Lin dan mari ikut kami ke dalam, kami perkenalkan kepada seluruh keluarga istana." Kaisar bangkit berdiri dan Ki Seng juga berdiri. Kaisar memberi isarat kepada para pengawal pribadinya dan perlahan-lahan kaisar berjalan masuk ke bagian dalam istana, di ikuti oleh Ki Seng dan para pengawal yang belasan orang banyaknya itu.

Dengan jantung berdebar-debar karena tegang dan girang, juga agak rendah diri, Ki Seng diperkenalkan kepada seluruh keluarga Kaisar di istana! Ki Seng diperkenalkan sebagai Pangeran Cheng Lin dan diterima secara sah oleh keluarga bangsawan tinggi itu. Dia mendapatkan sebuah kamar tersendiri, juga pakaian yang biasa dipakai seorang pangeran dan masih banyak lagi barang yang indah indah diterimanya.

Ki Seng merasa bagaikan terbang ke angkasa. Kepalanya terasa membesar dan dadanya makin membusung ketika dia diperlakukan dengan sikap hormat oleh semua perajurit pengawal istana dan para pelayan yang amat banyak jumlahnya. Juga hatinya gembira bukan main ketika dia diperkenalkan dengan belasan orang puteri-puteri istana yang menjadi adik-adiknya. Puteri-puteri yang cantik jelita, membuat dia merasa seperti dirubung serombongan bidadari. Biarpun lima orang pangeran putera Kaisar Cheng Tung menerimanya dengan pandang mata yang tampaknya tidak senang, dia tidak perduli.

Hanya lima orang pangeran itu yang menyambutnya dengan senyum merendahkan dan tampaknya tidak senang, akan tetapi sisa keluarga yang lain semua menerimanya dengan ramah. Sehari penuh itu dihabiskan waktunya oleh Ki Seng untuk berjalan-jalan, ditemani seorang thai-kam sebagai penunjuk jalan, memeriksa seluruh istana sampai ke dalam taman-tamannya yang luas dan indah. Dia merasa seperti hidup dalam sorga.

Dia mendapat sebuah kamar yang indah, luas dan megah dalam sebuah bangunan yang khusus menjadi tempat tinggal para pangeran. Bersama lima orang pangeran lainnya dia tinggal di situ dan dia mulai memperhatikan dan mempelajari keadaan lima orang "saudara" isterinya itu. Dua orang pangeran lebih tua darinya, berusia dua puluh lima dan dua puluh tujuh tahun, sedang yang tiga lagi lebih muda darinya, berusia antara tujuh belas sampai dua puluh tahun. Lima orang pangeran itu agaknya memandang rendah kepadanya. Ki Seng yang cerdik maklum bahwa hal itu mungkin karena "ibunya" seorang Mongol.

Dia tidak merasa takut kepada mereka. Dia harus dapat menyesuaikan diri di dalam istana dan di antara keluarga Kaisar. Setelah dapat menyesuaikan diri, barulah dia akan mengatur siasat, apa yang selanjutnya akan dia lakukan. Dia juga melihat bahwa hanya para pangeran yang belum menikah saja yang tinggal dalam bangunan untuk pangeran itu. Demikian pula puteri-puterinya, yang belum menikah tinggal bersama dalam sebuah bangunan. Adapun puteri yang sudah menikah lalu keluar dari bangunan itu dan tinggal dalam bangunan lain bersama suami dan anaknya, walaupun masih dalam kompleks istana.

Akan tetapi, kesenangan dan kepuasan yang memenuhi hati Ki Seng yang kini menjadi "Pangeran Cheng Lin" itu mulai menipis setelah lewat dua hari saja. Namanya bukan sifat nafsu kalau merasa puas dan cukup. Nafsu memang selalu mendorong kita untuk mendapatkan apa yang kita kejar dan inginkan, akan tetapi kalau yang kita kejar sudah terdapat, maka kepuasan yang ditimbulkannya hanya bertahan sebentar saja. Segera kepuasan itu lenyap terganti kehausan untuk mengejar yang lain lagi, yang kita anggap akan lebih menyenangkan daripada apa yang sudah kita peroleh. Nafsu adalah kelaparan yang tak kunjung kenyang.

Cawan tanpa dasar sehingga diisi berapa pun takkan pernah penuh.

Demikian pula dengan Ki Seng. Tadinya dia mengejar kedudukan pangeran dan untuk memperoleh kedudukan yang dianggap akan amat menyenangkan itu, dia tidak segan untuk mencuri suling pusaka, tidak segan untuk menipu kaisar. Akan tetapi setelah kedudukan pangeran itu dia peroleh, kepuasan dan kesenangan akan hasilnya hanya berlangsung sebentar saja karena sudah tertutup oleh keinginan lain untuk memperoleh sesuatu yang dia anggap akan lebih memuaskan dan menyenangkan. Setelah kini menjadi pangeran, dia membayangkan betapa akan senang dan nikmatnya kalau dia dapat menjadi pengganti kaisar. Dia menjadi kaisar! Bukan hanya mimpi kosong, karena dia sekarang telah menjadi seorang pangeran Dan kaisar tentu selalu mewariskan tahta kerajaannya kepada seorang di antara putera-puteranya!

Yaitu, seorang di antara dia dan saudara-saudara tirinya! Dia harus mencari jalan agar warisan tahta itu dapat terjatuh ke tangannya. Bayangan akan kesenangan menjadi kaisar ini sekaligus menghapus semua kesenangan menjadi pangeran.

Pangeran Cheng Boan yang sudah berusia empat puluh delapan tahun itu memasuki gedungnya yang megah dengan muka merah dan mulut cemberut. Ketika pelayan menyambutnya, dia memandang dengan mata melotot sehingga pelayan itu menjadi ketakutan, maklum bahwa majikannya sedang marah. Maka dia hanya berdiri di pinggir memberi hormat, membiarkan majikannya lewat memasuki rumah.

"Cepat panggil Suma Lo-sicu (Orang Tua Gagah Suma) ke sini. Cepat! Suruh dia langsung masuk ke kamar kerjaku!" bentak Pangeran Cheng Boan kepada pelayan tua itu.

Pelayan itu membungkuk dalam dan berkata penuh hormat, "Baik, yang mulia pangeran!"

Pangeran Cheng Boan dengan uring uringan langsung memasuki kamar kerjanya. Pangeran ini seorang laki-laki bertubuh tinggi gendut dengan wajah bunda dan kekanak- kanakan. Akan tetapi matanya tajam dan membayangkan kecerdikan dan kelicikan. Pakaiannya mewah sekali Dia adalah seorang adik dari Kaisar Cheng Tung yang terlahir dari seorang selir. Karena dia pandai mengambil hati kakaknya yang berkuasa, maka Kaisar Cheng Tung memberi kedudukan yang cukup penting kepadanya. Dia menjadi pengawas keuangan kerajaan. Pangeran Cheng Boan mempunyai seorang isteri yang memberinya seorang putera, yaitu Cheng Kun atau yang biasa disebut Cheng Kongcu yang sudah kita kenal sebagai tunangan dari Lo Siang Kui saudara sepupu Lo Sian Eng. Selain isterinya yang menjadi ibu Cheng Kun, Cheng Boan juga mempunyai tujuh orang selir, namun tak seorangpun dari tujuh orang selir yang masih muda-muda dan cantik-cantik itu menurunkan anak. Cheng Kun menjadi anak tunggal yang amat dimanja.

Begitu memasuki kamar kerjanya, Pangeran Cheng Boan menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi besar dan meneriaki pelayannya. Seorang pelayan wanita berlari-lari memasuki kamar itu.

Setelah membungkuk dengan hormat, wanita pelayan itu bertanya, "Perintah apa yang harus hamba lakukan, yang mulia?" Pangeran Cheng Boan, walaupun hanya seorang pangeran, namun dia mengharuskan para pelayan dan pengawalnya bersikap hormat kepadanya seperti orang menghormati kaisar.

"Cepat ambilkan huncwe, tembakau dan peralatannya. Aku mau isap. Cepat!"

Pelayan yang sudah biasa melayaniangeran itu bergegas mengambilkan huncwe (pipa tembakau), tembakau, pemuat api dan dengan cekatan ia memasukkan tembakau ke dalam kepala huncwe, menyerahkannya kepada pangeran itu, kemudian menyulut tembakau. Pangeran Cheng Boan menyedot huncwenya dan matanya terpejam dengan nikmatnya ketika asap tembakau itu memasuki paru-parunya. Pelayan itu lalu mengundurkan diri sambil membungkuk- bungkuk karena pada saat itu masuk seorang pemuda yang bukan lain adalah Cheng Kun yang baru pulang dari kebiasaannya sehari-hari, yaitu pergi melancong ke mana saja bersenang-senang dengan kawan-kawannya sesama pemuda bangsawan di kota raja.

"Hemm, engkau baru muncul, Chenji Kun? Tadi kucari-cari tidak ada. Kemana saja engkau?" tegur Pangeran Cheng Boan.

"Aku pergi melancong dengan teman-teman, ayah. Ada keperluan apakah ayah mencariku?" tanya pemuda bangsawan itu. "Kita diundang Kaisar." "Aku juga, ayah?"

"Ya, engkau dan aku. Ibumu tidak-masuk hitungan."

"Eh, ada urusan apakah Paman Kaisar mengundang kita?" "Itulah yang mengesalkan hatiku. Kita diperkenalkan

dengan seorang pangeran baru."

"Pangeran baru? Bibi yang manakah yang melahirkan putera?"

"Tidak ada isteri Kaisar yang melahirkan. Pemuda itu seperti muncul dari neraka. Dia adalah anak dari wanita Mongol yang pernah diperisteri Kaisar ketika dia ditawan orang-orang Mongol di utara, dua puluh tahun yang lalu. Sialan benar! Bocah keturunan Mongol itu kini menjadi seorang pangeran yang harus dihormati!" Suara Pangeran Cheng Boan mengandung kemarahan dan penasaran besar.

Pada saat itu muncullah Suma Kiang yang tadi dipanggil oleh pelayan yang disuruh Pangeran Cheng Boan. Suma Kiang memberi hormat sambil membungkuk dan bertanya dengan nada menghormat. "Yang mulia Pangeran mengundang saya?"

Pangeran Cheng Boan memandang wajah Suma Kiang dengan muka cemberut.

"Suma-sicu, duduklah." katanya pendek dan dari sikap ini saja tahulah Suma Kiang bahwa majikannya ini sedang berada dalam keadaan marah besar. Diapun duduk di atas kursi, berhadapan dengan Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun.

Setelah jagoannya itu duduk, Pangeran Cheng Boan segera melontarkan rasa penasaran di hatinya. "Suma-sicu, semua ini gara-gara kegagalanmu ketika dua puluh tahun yang lalu engkau kuutus untuk membunuh wanita Mongol dan anaknya itu. Gara-gara kegagalanmu itulah sekarang pemuda itu muncul menuntut haknya dan dia diterima oleh Kaisar sebagai seorang pangeran yang sah!"

"Pemuda yang manakah paduka maksudkan?" tanya Suma Kiang dengan sikapnya yang tenang.

"Pemuda mana lagi kalau bukan si keparat anak perempuan Mongol itu!" bentak Pangeran Cheng Boan.

"Bagaimana dia dapat diterima oleh Yang Mulia Kaisar? Apa buktinya bahwa dia itu benar-benar Pangeran putera Kaisar dari ibu wanita Mongol itu? Apakah ada tanda-tandanya, Pangeran?"

"Buktinya sudah jelas dan dapat diterima oleh Kaisar. Pemuda itu membawa Suling Pusaka Kemala, milik Kaisar yang dulu oleh Kaisar diberikan kepada wanita Mongol, ibu pemuda itu. Nama pemuda itu Cheng Lin, Pangeran Cheng Lin!"

Segera Suma Kiang teringat akan pemuda pembawa suling kemala yang dijumpainya pada hari kemarin. Sekarang tahulah dia bahwa pemuda yang dia tahu bukan putera Chai Li yang sesungguhnya itu telah memperdaya kaisar dengan menunjukkan suling kemala dan mengaku sebagai Pangeran Cheng Lin putera Puteri Chai Li.

"Dia bukan putera wanita Mongol itu! Dia adalah Pangeran Cheng Lin yang palsu!" seru Suma Kiang.

"Suma-sicu! Jangan bicara sembarangan! Pemuda itu telah membawa bukti suling kemala dan dia sudah diterima oleh Kaisar sebagai puteranya dan kini menjadi pangeran!"

Suma Kiang tertawa sehingga matanya menjadi semakin sipit, hampir terpejam dan tangan kirinya mengelus jenggotnya yang panjang. "Ha-ha-ha! Saya berani tanggung bahwa dia bukan putera wanita Mongol itu. Saya telah bertemu dengan pangeran palsu itu kemarin, Pangeran, bahkan sudah sempat bertanding silat dengannya. Ternyata dia lihai bukan main. Akan tetapi dia bukanlah Pangeran Cheng Lin walaupun dia benar membawa suling pusaka kemala yang entah bagaimana telah terjatuh di tangannya. Saya sudah pernah bertemu dengan pangeran yang aseli, putera dari Chai Li wanita Mongol itu. Yang sekarang mengaku pangeran dan diterima oleh Kaisar sebaga puteranya jelas bukan yang aseli. Yang palsu ini mempunyai setitik tahi lalat di bawah telinga kanannya, sedangkan yang aseli tidak memiliki tahi lalat di mukanya. Saya mengenal betul Pangeran Cheng Lin yang aseli, yang menggunakai nama Han Lin. Maka saya berani memastikan dengan yakin bahwa pemuda yang mengaku Pangeran Cheng Lin dan diterima oleh Sribaginda Kaisar itu adalah pangeran palsu."

"Keparat!" Pangeran Cheng Boan mengepal tinju dan memukul pahanya sendiri. "Aku akan membongkar rahasia jahanam itu agar dia dijatuhi hukuman mati!"

"Biar sekarangpun juga aku pergi membawa pengawal dan menghadap Sri baginda Kaisar untuk melaporkan hal itu, ayah. Aku sendiri yang akan menghajar hocah palsu itu!" kata Cheng Kun dengan marah.

"Cheng Kongcu harap sabar dulu." kata Suma Kiang. "Sabar? Engkau menyuruh Cheng Kun bersabar

menghadapi seorang yang memalsukan pangeran?" tegur

Pangeran Cheng Boan sambil mengerutkan alis memandang kepada Suma Kiang.

"Harap paduka tenang dulu, Pangeran. Menghadapi segala hal, kita perlu bersikap tenang dan dapat memanfaatkan segala keadaan. Paduka sudah tahu akan rahasia pangeran palsu itu, berarti nasibnya berada di telapak tangan paduka. Nah, dengan demikian, tidaklah paduka dapat memanfaatkan dia yang sudah diterima sebagai pangeran di dalam istana?

Pangeran palsu itu adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, hal ini sudah saya buktikan sendiri. Kalau dia dapat diancam lalu dibujuk sehingga mau menjadi pembantu paduka, terbukalah jalan bagi paduka untuk menyingkirkan lawan-lawan paduka dalam istana."

Mendengar ucapan Suma Kiang itu Pangeran Cheng Boan termenung. Tent saja sebagai orang kepercayaannya yang sudah bertahun-tahun, Suma Kiang mengetahui segala rencananya. Pangeran Cheng Boan mempunyai cita-cita yang besar dan sudah mengatur rencana yang belum juga dapat dia laksanakan. Bahkan bantuan Suma Kiang juga tidak membuka kesempatan baginya untuk melaksanaka rencana itu.

Rencananya adalah menyingkirkan lima orang pangeran putera Kaisar Cheng Tung. Kalau semua pangeran itu dapat disingkirkan, maka tahta kerajaan besar sekali kemungkinannya akan terjatuh ke dalam tangannya kelak. Dia adalah adik kaisar tertua dan terdekat dengan kaisar. Kalau lima orang pangeran itu lenyap, kiranya tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk mewarisi tahta kerajaan kecuali dia.

"Plakkkk!!" Dia menampar pahanya sendiri sambil memandang kepada Suma Kiang dengan mata bersinar dan wajah berseri gembira. "Benar! Engkau benar sekali, Suma- sicu! Bagus! Kini aku mendapatkan jalan! Kesempatan terbuka lebar bagiku."

"Ayah, apa maksud ayah?" Cheng Kun bertanya ketika melihat kegembiraan ayahnya.

"Cheng Kongcu, apakah kongcu tidak dapat menduganya? Sekarang Pangeran akan mempunyai seorang mata-mata dan pembantu yang amat boleh diandalkan dalam istana kaisar." kata Suma Kiang sambil tersenyum.

"Suma-sicu, engkau tentu mengerti akan rencana dan siasatku. Malam besok akan kuundang makan Pangeran Cheng Lin untuk menyambutnya sebagai ucapan selamat datang dan menghormatinya. Dalam kesempatan itu aku akan membuka matanya bahwa aku telah memegang kunci rahasia dirinya dan bahwa dia harus menuruti kehendakku kalau ingin selamat. Engkau kumpulkan para jagoan untuk menyertaiku menyambutnya dengan pesta makan, untuk berjaga-jaga kalau dia bertindak yang bukan-bukan."

"Pangeran, pemuda itu lihai sekali, Terus terang saja, kalau saya seorang diri menghadapinya, akan berbahaya sekali. Dan kalau saya membawa terlalu banyak kawan untuk menjaga keselamatan paduka, hal itupun tidak baik karena berarti rencana rahasia paduka akan di ketahui banyak orang. Akan tetapi saya mempunyai seorang kawan yang berilmi tinggi dan yang sudah menyatakan ingin menghambakan diri kepada paduka asalkan diberi janji bahwa kelak dia akan mendapatkan anugerah pangkat tinggi Dengan orang itu di samping saya, maka saya yakin akan dapat menundukkan pemuda lihai yang memalsu pangeran itu."

"Hemm, baik sekali. Siapakah tokoh itu?"

"Namanya terkenal di dunia kang-ouw sebagai Toat-beng Kui-ong atau juga disebut Toa Ok karena dia adalah orang tertua dari Thian-te Sam-ok. Adapun nama aselinya, tidak pernah ada orang tahu."

"Bagus, panggil dia ke sini agar besok malam dapat bersamamu menyertai kami berpesta menyambut pangeran baru. Rahasianya sudah kuketahui, dan kalau dia masih membandel, ada engkau dan Toa Ok yang akan menekannya. Dia pasti tidak akan terlepas dari tanganku!" kata Pangeran Cheng Boan gembira.

"Akan tetapi, dia tidak akan dapat menjadi pembantu yang benar-benar dapat dipercaya kalau hanya ditundukkan dengan ancaman, Pangeran. Sebaiknya kalau dia diberi janji yang akan menguntungkan dan menyenangkan hatinya. Dengan demikian maka dia akan bersungguh sungguh membantu paduka karena ada harapan memperoleh keuntungan."

"Hadiah apakah yang akan kita janjikan kepadanya?

Sebagai seorang pangeran yang hidup dalam istana, tentu saja dia sudah tidak kekurangan apa-apa." kata Pangeran Cheng Boan.

"Aku tahu, ayah! Aku tahu hadiah yang pasti akan sangat menarik hatinya dan yang membuat dia mati-matian membantu ayah!" kata Cheng Kun.

"Hemm, hadiah apakah itu?"

"Kita janjikan bahwa kalau rencana ayah berhasil dilakukan dengan bantuan-nya, maka kelak kita akan membantu dia agar dia dapat naik tahta!"

"Gila! Hadiah gila itu!" bentak Pangeran Cheng Boan. "Sama sekali tidak gila, Pangeran. Bahkan usul Cheng

Kongcu itu baik sekali!" kata Suma Kiang. "Besok malam kalau

kita menjamu dia, selain paduka menyatakan bahwa rahasianya telah berada dalam tangan paduka, juga paduka janjikan bahwa kalau dia mau membantu sehingga rencana paduka berhasil baik, kita akan membantu dia agar kelak dapat naik tahta menggantikan Sribaginda Kaisar. Tentu saja ini hanya merupakan janji agar dia lebih bersemangat membantu. Kelak, kalau semua rencana berhasil baik, saya kira tidak akan sukar untuk menyingkirkan dia dari permukaan bumi. Untuk hal itu, saya dan Toa Ok akan sanggup untuk melakukannya dengan baik."

Wajah Pangeran Cheng Boan berseri dan dia tertawa-tawa, lalu bangkit dan menghampiri puteranya, menepuk-nepuk pundak puteranya dengan girang dan bangga.

"Bagus sekali! Semua boleh diatur sesuai rencana. Suma- sicu, sekarang pergilah untuk menghadang Toa Ok agar besok malam dia dapat bersamamu menghadiri perjamuan.

Sementara itu, sore ini juga aku akan pergi ke istana menemui dan mengundang Pangeran Cheng Lin. engkau ikut, Cheng Kun, agar dapat ku-perkenalkan dengan Yang Mulia Pangeran Cheng Lin." Dia tertawa-tawa sinis. Cheng Kun dan Suma Kiang juga tertawa gembira, seolah telah dapat membayangkan hasil dari siasat yang mereka rencanakan.

Pada sore hari itu juga, Pangeran Cheng Boan dan Cheng Kun berkunjung ke istana. Sebagai seorang pangeran adik kaisar, tentu saja dengan mudah dia dapat masuk ke istana tanpa banyak gangguan. Apalagi kedatangannya hanya untuk menjumpai seorang pangeran. Dengan mudah Pangeran Cheng Boan dan puteranya bertemu dengan Pangeran Cheng Lin di bangunan tempat tinggal para pangeran.

Pangeran Cheng Lin palsu atau Ouw Ki Seng menyambut kedua orang tamunya dengan wajah ramah. Dia memang pandai membawa diri dan dia tahu bahwa untuk mendapatkan kepercayaan seluruh keluarga kaisar, dia harus bersikap ramah dan baik terhadap semua keluarga. Dia sudah berjumpa pada kemarin harinya dengan Pangeran Cheng Boan yang juga diperkenalkan dengannya, maka dia menyambut kunjungan pamannya itu dengan hormat dan ramah.

"Selamat sore, paman pangeran. Persilakan duduk dan apakah yang dapat saya lakukan untuk paman?" katanya lalu dia memandang kepada Cheng Kun yang belum dikenalnya.

"Selamat sore, pangeran. Perkenalkan ini adalah anak saya bernama Cheng Kun, masih terhitung sepupu pangeran." kata Pangeran Cheng Boan setelah dia dan puteranya duduk.

"Ah, terimalah hormatku, kakak Cheng Kun." kata Ki Seng sambil bangkit dan memberi hormat. Cheng Kun juga bangkit dan membalas penghormatan itu.

"Terima kasih, Lin-te, (adik Lin). Ayah sengaja mengajakku ke sini karena tadi tidak sempat bertemu dan berkenalan denganmu. Karena itu aku sengaja datang untuk berkunjung dan mengundangmu agar besok malam engkau suka berkunjung ke rumah kami." kata Cheng Kun dengan ramah pula. "Benar sekali, Pangeran Cheng Lin. kami ingin sekali memperkenalkan engkau kepada keluarga kami di rumah. Harap engkau tidak menolak undangan kami ini. Besok malam kami sungguh mengharapkan kedatanganmu untuk berkunjung dan berkenalan dengan keluarga kami."

Tentu saja Ki Seng tidak berani menolak. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk. "Baiklah, paman dan Kun-ko (kakak Kun). Besok malam saya pasti akan datang berkunjung. Akan tetapi, di manakah rumah paman? Maaf, karena baru tiba di kota raja maka saya belum mengetahui di mana rumah paman."

"Ah, dekat saja. Di luar istana ini kalau engkau pergi ke kiri engkau akan tiba pada sebuah simpang empat. Nah, sebelah kiri ada sebuah gedung bercat kuning dan ada arca seekor harimau depan gedung. Itulah tempat tinggal kami."

Ki Seng mengangguk-angguk. "Baiklah paman. Besok malam saya akan datang ke sana."

Setelah minum arak yang disuguhkan oleh pelayan, Cheng Kun bertanya, "Kabarnya Lin-te dilahirkan dan dibesarkan di daerah utara. Tentu banyak sekali pengalamanmu."

Ki Seng tersenyum. "Benar, Kun ko Akan tetapi aku hanya hidup di perkampungan di utara sana. Tentu saja keadaan di sana yang sunyi dan sederhana tidak dapat dibandingkan dengan keadaan kota raja yang ramai dan serba mewah."

"Pangeran, tentu engkau senang tinggal di istana, bukan?" tanya Pangeran Cheng Boan.

"Wah, senang sekali, paman. Selama tinggal dekat ayah kandung dan saudara saudara, juga di sini serba ada, berkecukupan dan serba indah."

"Lin-te, kabarnya kehidupan di utara amat keras dan sukar. Tentu engkau yang dibesarkan di sana menjadi seorang yang kuuat dan terbiasa menghadapi kekerasan, engkau tentu pandai ilmu silat dan sudah biasa berkelahi dengan lawan- lawan yang kuat." kata Cheng Kun memancing.

Ki Seng tersenyum. Dia tidak ingin memamerkan kelihaiannya dalam ilmu silat agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Ah, aku hanya mempelajari ilmu bela diri biasa saja. Maklum, di utara kehidupan memang keras sehingga kita harus membekali diri dengan ilmu bela diri untuk menjaga keselamatan, Kun-ko."

Setelah puas mengobrol, ayah dan anak itu lalu berpamit dan berpesan wanti-wanti agar besok malam Pangeran Cheng Lin datang berkunjung.

"Kami sekeluarga akan menantimu dengan gembira." kata Pangeran Cheng Boan. Kemudian dia pergi bersama puteranya meninggalkan istana.

Ketika Ki Seng datang pada keesokan malamnya ke rumah gedung tempat tinggal Pangeran Cheng Boan, dia disambut oleh Pangeran Cheng Boan, Cheng Kui Nyonya Cheng, dan tujuh orang selir yang muda-muda dan cantik-cantik. Melihat sambutan yang demikian meriah dan manis, terutama dari para selir yang berusia dari dua puluh sampai dua puluh lima tahun, cantik-cantik dan agak genit, Ki Seng merasa rikuh juga. Pengalamannya dengan wanita hanya sempat bergaul dengan Sian Hwa Sian-li Kim Goat dan Ciang Mei Ling, Kini, dirubung demikian banyak wanita muda yang cantik dan berpakaian mewah, dia menjadi bingung.

-00dw00kz00-