-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 19

Jilid XIX

"LING-MOI, kurasa pertanyaanmu itu terbalik. Semestinya engkau bertanya apa yang telah kaulakukan! Lihatlah, engkau yang telah tidur bersamaku di dalam kamarku, bukan aku yang tidur di kamarmu."

Mei Ling memandang bingung dan tangan kirinya diangkat memijat-mijat keningnya. "Kita makan minum dalam taman, setelah itu "

Ki Seng menyambung, "Setelah itu engkau kuantar kembali ke kamarmu, akan tetapi engkau tidak mau dan memaksa ingin tidur bersamaku dalam kamarku ini. Engkau yang menghendakinya, Ling-moi. Aku hanya memenuhi apa yang kau kehendaki."

"Ah !" Mei Ling mengangkat kedua tangannya dan

ditutupkan pada mukanya. "Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kita lakukan, Seng-ko? Kita kita masih belum

menikah " Gadis itu tidak dapat menahan penyesalan dan

kesedihan hatinya. Ia menangis sesenggukan.

Ki Seng maju dan merangkul gadis itu. "Sudahlah, jangan menangis, Ling moi. Apa yang telah kita lakukan bukan kesalahanmu, juga bukan kesalahan kita. Kita saling mencinta dan bukankah kita ini kelak akan menjadi suami isteri? Kita kini telah menjadi suami isteri, hanya tinggal menanti pengesahan saja, kalau masa berkabung sudah lewat. Tidak perlu disesalkan, Ling-moi, bukankah engkau mencintaku seperti aku mencintamu?"

Mei Ling yang tadinya merasa menyesal dan hendak marah kepada Ki Seng, tidak jadi marah melihat kenyataan bahwa ialah yang tidur di kamar Ki Seng. Walaupun ia tidak ingat lagi mengapa begitu, akan tetapi kenyataannya, memang berada di kamar itu maka tidak dapat ia menyalahkan Ki Seng. Dan kata-kata Ki Seng dapat menghibur hatinya akan apa yang telah mereka lakukan. ia lalu merangkul Ki Seng dan menangis didada pemuda itu. Ki Seng diam-diam tersenyum penuh kemenangan!

Kalau hati akal pikiran telah menjadi rimba nafsu, maka hati akal pikiran akan melakukan segala usaha dan daya upaya untuk memuaskan nafsu yang telah menjadi majikannya.

Nafsu sex bukanlah sesuatu yang kotor, buruk atau jahat, sebaliknya malah. Nafsu ini, seperti se-macam nafsu lainnya, merupakan pembawaan sejak kita lahir, menjadi peserta kita yang amat bermanfaat bagi kehidupan kita. Bahkan nafsu ini menjadi sarana perkembang-biakan manusia di dunia. Selama nafsu ini menjadi peserta ini kita menguasai dan mengendalikannya, maka nafsu ini mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan kita. Akan tetapi sebaliknya, kalau kita membiarkan nafsu sex ini merajalela dan menguasai kita, menjadi majikan kita, naka kita akan diseretnya. Hati akal pikiran kita akan berdaya upaya untuk mendirikan kepuasan bagi nafsu itu. Akibatnya, terjadilah perjinaan, perkosaan, dan pelacuran.

Ki Seng sudah menjadi hamba nafsu berahinya sendiri. Dia selalu menurut dorongan nafsunya dan untuk memuaskannya dia kini telah mendapat korban, yaitu Mei Ling yang percaya penuh kepadanya dan semenjak malam itu, gadis itu menuruti segala kehendak Ki Seng. Bukan akhirnya rahasia itu tidak dapat ditutup-tutup lagi dan semua anggauta Pek-eng-pang tahu bahwa kedua orang muda itu sudah melakukan hubungan seperti suami isteri. Sering mereka tidur sekamar. Akan tetapi tentu saja tidak seorangpun dari mereka yang berani memberi komentar mengenai hal ini.

Ki Seng memenuhi janjinya kepada Sian Hwa Sian-li. Dia tidak melupakan wanita itu dan seringlah dia datang berkunjung dan bermalam di rumah wanita ini. Dia memuaskan nafsunya dengan Mei Ling dan dengan Kim Goat. Akan ini tapi makin dipuaskan, nafsu akan semakin murka, akan semakin kuat dan menuntut lebih banyak, lagi!

Kini Ban-tok-pang yang diketuai Ki Seng tidak kekurangan penghasilan dari Hek-houw-pang, dia dapat memungut hasil dari rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelacuran yang tidak sedikit jumlahnya. Dari Pek-eng-pang, dia dapat memperoleh hasil dari perusahan pengawal kiriman barang. Setelah semua perkumpulan yang kini dipimpin oleh A Kiu dan A Hok berjalan lancar, dan dia bersenang-senang selama beberapa bulan dengan Mei Ling dan Sian Hwa Sian-Li, akhirnya Ki Seng mengambil keputusan bahwa waktunya sudah tiba baginya untuk pergi ke kota raja, menemui "ayahnya", yaitu Kaisar Cheng Tung sebagai putera kaisar itu yang bernama Cheng Lin dan terlahir didaerah Mongol di utara. Sudah tiba waktunya pula untuk membuka "rahasia" dirinya itu kepada Mei Ling agar wanita itu tidak banyak rewel dan menuntutnya untuk segera menikahinya setelah masa berkabung lewat.

Pada suatu malam, setelah mempertimbangkan baik-baik, diapun bercakap-cakap dengan Mei Ling di dalam kamarnya.

"Ling-moi, dalam beberapa hari ini, aku akan pergi dari sini.

Aku akan pergi ke kota raja."

Mei Ling terbelalak. "Ke kota raja, Aku ikut, Seng-ko." "Jangan, Ling-moi. Aku sedang menghadapi urusan besar.

Engkau tidak boleh ikut dan tinggallah saja di sini." "Urusan apakah itu, Seng-ko? Untuk urusan apakah engkau hendak pergi ke kota raja, seorang diri pula?"

"Ini merupakan rahasia besar, Ling moi. Akan tetapi karena engkau sekarang telah menjadi isteriku, biarlah engkau mengetahui rahasia besar ini sebelum aku pergi. Ketahuilah, aku akan pergi ke kota raja, menghadap Kaisar untuk menuntut hakku."

"Menuntut hakmu? Hak apakah itu Seng-ko?"

"Akan kuceritakan kepadamu, akan tetapi aku minta agar engkau untuk sementara merahasiakan keadaanku ini sampai aku memperoleh hakku. Berjanjilah"

Mei Ling memandang heran dan mengangguk. "Aku berjanji, Seng-ko."

"Begini ceritanya. Dua puluh tahun yang lalu, Kaisar Cheng Tung yang pada waktu itu masih muda, tertawan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh kepala suku Mongol bernama Kapokai Khan dan dibawa ke utara, ke daerah Mongol. Ditempat tawanan itu dia diperlakukan dengan baik dan hormat dan di perkampungan Mongol itu Kaisar Cheng Tung bertemu dengan keponakan Kapokai Khan yang bernama Chai Li. Mereka saling jatuh cinta dan Puteri Chai Li lalu diperistri oleh Kaisar Cheng Tung.

Ketika Pu-U-ri Chai Li mengandung, Kaisar Cheng Tung dibebaskan dan kembali ke selatan. Puteri Chai Li ditinggalkan dengan janji bahwa kelak akan dijemput. Puteri Chai Li melahirkan seorang putera, akan tetapi Kaisar Cheng Tung tak kunjung datang menjemput sampai akhirnya Puterti Chai Li tewas di tangan penjahat dan anak itu menjadi besar dalam keadaan terlunta-lunta. Akan tetapi anak itu akhirnya dapat mempelajari ilmu silat yang cukup tinggi sehingga dia dapat mengangkat dirinya sendiri memperoleh kedudukan yang cukup baik. Nah, sekarang anak itu telah dewasa dan dia hendak menuntut agar diterima oleh ayah kandungnya dan diakui sebagai seorang pangeran, keturunan Kaisar Cheng Tung."

Mei Ling terbelalak memandang wajah Ki Seng. "Maksudmu..... engkau adalah putera Kaisar Cheng Tung

itu "

Ki Seng tersenyum dan mengangguk sambil mengeluarkan suling kemala dari balik bajunya. "Benar. Akulah Cheng Lin putera Kaisar Cheng Tung dan benda ini adalah peninggalan ayah kandungku itu kepada mendiang ibuku, menjadi tanda bahwa aku adalah puteranya yang terlahir di daerah Mongol."

"Ohhh !!" Mei Ling berseru dengan kaget, heran dan

juga amat girang mendengar bahwa kekasihnya, calon suami- nya, adalah seorang pageran! Ia cepat menjatuhkan dirinya berlutut dan memberi hormat kepada pemuda itu. "Ampun- kan saya, karena tidak tahu saya "

"Husssh , bangkitlah, Mei Ling." kata Ki Seng sambil

merangkul pundak wanita itu. "Sudah kukatakan bahwa engkau harus merahasiakan keadaanku ini. kalau engkau bersikap seperti ini dan ketahuan orang lain tentu akan terbuka rahasiaku. Bersikaplah wajar dan seperti biasanya saja. Setelah aku secara resmi menjadi pangeran, boleh engkau bersikap lain,"

"Baik...... Seng-ko " kata Mei Ling dengan suara gemetar

karena ketegangan hatinya. Masih berdebar keras jantungnya mendengar bahwa tunangan yang secara belum resmi telah menjadi suaminya itu adalah seorang pangeran, putera Kaisar!

"Nah, engkau tahu sekarang mengapa aku hendak pergi ke kota raja dan seorang diri pula. Engkau tinggallah di sini dan kalau ada sesuatu yang penting, ajaklah A Hok dan A Kiu untuk berunding. Untuk sementara ini, kau pimpinlah Pek-Eng- pang dan A Kiu biar memimpin Ban-tok-pang."

"Baik, Seng-ko." kata Mei Ling dan dalam suaranya terkandung kepatuhan harus terhadap laki-laki itu. Dalam pandangan Mei Ling, laki-laki itu bukan hanya menjadi calon suaminya, melainkan juga seorang pangeran yang harus dipatuhi perintahnya.

Beberapa hari kemudian, Ki Seng meninggalkan Pek-eng- pang, diantarkan sampai keluar dari perkampungan oleh Mei Ling. Mei Ling melihat Ki Seng pergi dan mengira bahwa laki- laki itu akan langsung pergi ke kota raja. Akan tetapi Ki Seng mengambil jalan lain karena dia akan pergi dulu ke Bukit Merak di markas Sian Hwa Sian-li telah menunggu. Dia mengajak wanita itu untuk menemaninya ke kota raja, selain untuk menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan, juga dapat menjadi pembantu kalau-kalau dia menghadapi rintangan dalam usahanya menjadi seorang pangeran!

Setelah tiba di rumah Sian Hwa Sian li, wanita itu telah siap dan mereka berdua segera berangkat meninggalkan Bukit Merak yang ditinggalkan untuk diatur oleh sembilan orang pelayan wanita. Mereka berdua melakukan perjalanan dengan gembira, masing-masing membawa sebuah buntalan pakaian di punggung. Sian Hwa Sian-li tidak lupa membawa payungnya karena selain benda ini dapat menjadi senjatanya yang ampuh, juga ia memerlukannya untuk melindungi kulit wajahnya yang halus dan putih mulus itu dari sengatan sinar matahari.

ooo00d00w0ooo

Dua orang pemuda itu mendaki kaki pegunungan Tai-hang- san. Mereka adalah dua orang pemuda yang berwajah tampan dan usia mereka masih muda sekali. Yang seorang baru berusia paling banyak dua puluh satu tahun, tubuhnya sedang tegap dengan dada yang bidang, matanya mencorong penuh semangat, hidungnya mancung dan bibirnya yang berbentuk indah itu selalu tersenyum ramah, langkahnya tegap seperti langkah harimau dan pakaiannya sederhana seperti seorang petani. Pemuda ke dua lebih muda lagi. Paling banyak enam belas tahun usianya. Wajahnya tampan sekali, lebih tampan dari pemuda pertama. Tubuhnya sedikit agak kecil dengan pinggang kecil. Matanya lebar dan kocak, dan senyumnya membuat wajah itu cerah dan segar. Rambutnya hitam dan lebat, digelung ke atas dan sebagian kepalanya tertutup kain pengikat rambut yang lebar. Pakaiannya juga sederhana namun tidak mengurangi ketampanannya. Seperti pemuda pertama, diapun membawa sebuah buntan pakaian berwarna kuning di punggungnya. Mereka melangkah dengan tegak sambil bercakap-cakap dengan sikap lincah dan gembira.

Kita sudah mengenal baik dua orang pemuda ini. Yang pertama adalah Han Lin dan pemuda ke dua bukan lain adalah Suma Eng yang menyamar sebagai seorang pemuda bernama Eng-ji. Sebetulnya Suma Eng adalah seorang yang usianya sudah hampir sembilan belas tahun, akan tetapi setelah menyamar sebagai seorang pemuda, ia tampak masih muda sekali, seperti seorang pemuda remaja berusia enam belas tahun!

Setelah melakukan perjalanan berdua selama belasan hari, hubungan di antara mereka makin akrab saja. Dan Han Lin, seorang pemuda yang belum pernah bergaul dengan wanita kecuali dengan Tan Kiok Hwa yang dicintanya, akan tetapi itupun hanya sebentar saja, sama sekali tidak pernah dibayangkan bahwa pemuda menjadi sahabat yang amat menyenangkan dan bernama Suma Eng-ji itu sebetulnya adalah seorang gadis yang setengah mati jatuh cinta kepadanya!

Sikap Eng-ji amat baik kepadanya sehingga Han Lin terkadang lupa bahwa pemuda remaja ini adalah putera Suma Kiang, musuh besarnya. kadang-kadang kalau dia teringat akan kenyataan ini, hatinya merasa tidak enak sekali. Suma Kiang begitu jahat terhadap dirinya dan ibu kandungnya, akan tetapi puteranya, Suma Eng-ji ini, begitu baik kepadanya. Akan tetapi kebaikan sikap Eng-ji kepadanya kadang terganggu kalau ia teringat bahwa pemuda remaja ini jatuh cinta kepada Tan Kiok Hwa, gadis berpakaian serba putih yang berhati emas, yang setiap saat siap menolong siapa saja dengan pengobatan tanpa pandang bulu. Akan tetapi kalau dia melihat sikap dan watak Eng-ji yang aneh dan kadang

ugal-ugalan itu, teringatlah bahwa Eng-ji adalah seorang pemuda yang masih mentah.

Cintanya terhadap Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat Berbaju Putih) Tan Kiok Hwa tentu hanya menrupakan cinta monyet yang tidak akan tahan lama! Teringat akan ini, legala hatinya dan Han Lin senyum-senyum sendiri.

"Ehh, Lin-ko, apanya sih yang lucu?" Eng-ji menegur kawan seperjalanannya itu.

"Apa yang lucu?" balas tanya Han Lin, tidak mengerti. "Kulihat engkau senyum-senyum sendiri, tentu ada yang

lucu!"

"Ah, itukah? Aku tersenyum melihat engkau, Eng-ji."

Eng-ji berhenti melangkah, matanya yang lebar menatap wajah Han Lin penuh selidik dan mulutnya cemberut. "Engkau tersenyum melihatku? Engkau menertawakan aku? Apaku yang lucu dan harus ditertawakan?" Eng-ji menuntut, marah karena ia merasa ditertawakan.

"Tenang dan sabarlah, Eng-ji, dan jangan marah dulu. Aku tersenyum melihatmu karena sikapmu yang aneh-aneh.

Engkau mengajak aku untuk membelokkan arah perjalanan ke kota raja dan menuju ke pegunungan ini. Mau apakah engkau sebenarnya? Apakah sekadar pesiar ke pegunungan?

Bukankah dalam perjalanan kita selalu melewati gunung- gunung?"

"Itukah yang membuatmu tersenyum? Kukira engkau menertawakan aku. Aku mengajakmu ke sini untuk mencari dusun tempat tinggal mendiang ibuku, Lin-ko. Aku ingin sekali bersembahyang di depan makam ibu kandungku yang tidak pernah kulihat atau kuingat. Aku rindu sekali kepada ibu!" Suara Eng-ji agak gemetar karena hatinya terharu, teringat akan ibunya yang menurut cerita ayahnya telah meninggal dunia. Ayahnya tidak pernah mau bercerita tentang ibunya sehingga dia amat merindukan ibunya.

"Ibumu sudah meninggal di dusun yang berada di pegunungan ini, Eng-ji? Ah, maaf, aku tidak tahu akan maksud dan tujuan perjalananmu ke sini. Jadi ibumu telah meninggal dunia sejak engkau masih kecil?"

"Menurut ayah, ibu meninggal sejak aku berusia tiga tahun."

"Ibumu masih muda, mengapa meninggal dunia? Karena sakit atau apa?"

"Ayahku tidak pernah mau menceritakan tentang kematian ibu. Bahkan kalau aku bertanya tentang ibu, dia marah marah. Agaknya ayahku amat mencintai ibu dan kematian ibu amat menghancurkan hatinya. Bahkan nama ibupun tidak pernah diberitahukan kepadaku" kata Eng-ji dengan suara mengandung kekecewaan dan kesedihan.

Han Lin membayangkan watak Suma Kiang yang amat jahat itu. Dia sangsi apakah seorang manusia berwatak iblis seperti itu dapat mencinta seorang wanita sedemikian besarnya.

"Kalau engkau tidak ingat akan wajah ibumu dan tidak tahu namanya, bagaimana engkau akan dapat mencari keterangan tentang ibumu itu?"

"Ayah hanya memberitahu bahwa ibu berasal dari dusun Cia-lim-bun di pegunungan Tai-hang-sang ini. Karena itulah aku mengajakmu untuk singgah di pegunungan ini untuk mencari dusun Cia-lim-bun. Barangkali di dusun itu aku akan dapat mencari keterangan tentang ibu dan dapat menemukan makamnya, bahkan siapa tahu akan dapat kutemukan keluarga ibu, kakek dan nenek misalnya, atau saudara- saudara dari mendiang ibuku."

Han Lin merasa iba kepada Eng-ji. "Marilah, kita mencari di depan, kalau bertemu dusun, kita mencari keterangan tentang dusun Cia-lim-bun." katanya dan pereka melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, masih di kaki gunung, mereka memasuki sebuah dusun Kecil. Kepada seorang petani yang mencangkul sawahnya, Eng-ji bertanya, "Paman, dapatkah engkau menunjukkan dimana adanya dusun Cia-lim-bun?"

Petani itu menunda pekerjaannya. "Cia-lim-bun? Itu di sana, di lereng pertama. Dusun itu dapat tampak dari sini." katanya sambil menuding ke arah lereng bukit. Han Lin dan Eng-ji melihat dan benar saja. Di lereng bukit itu terdapat sebuah dusun. Genteng-genteng rumah dusun itu sudah dapat terlihat dari situ.

"Mari, Lin-ko!" kata Eng-ji sambil menarik tangan Han Lin diajak berlari. Agaknya pemuda itu lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada petani saking girang hatinya.

"Terima kasih, paman!" kata Han Lin kepada petani. Dia harus mengikuti Eng ji yang berlari cepat mendaki lereng bukit itu.

Karena mereka berdua berlari cepat, sebentar saja mereka telah tiba di dusun itu. "Eng-ji, sebaiknya kalau kita menemui kepala dusun saja. Dari dia tentu kita akan memperoleh keterangan lebih lengkap dan lebih banyak."

Eng-ji mengangguk. "Kukira sebaiknya begitu, Lin-ko." Suara Eng-ji agak gemetar dan jelas tampak betapa hatinya berdebar gelisah dan harap-harap cemas menghadapi keterangan tentang ibu kandungnya dan mungkin ia dapat bertemu dengan keluarga ibunya. "Akan tetapi bagaimana cara menanyakannya? Aku tidak tahu nama ibuku."

"Tenanglah, Eng-ji. Biar aku yang akan bertanya kalau engkau merasa gugup. Nama ayahmu Suma Kiang, bukan? Nama ibumu engkau tidak tahu. Mungkin kepala dusun itu mengenal nama ayahmu atau teringat akan namamu."

Eng-ji hanya mengangguk karena ia merasa bingung, tidak tahu harus bertanya secara bagaimana. Dari petunjuk beberapa orang dusun, dengan mudah mereka menemukan rumah kepala dusun Cia-lim-bun.

Kepala dusun itu masih muda. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun dan melihat kepala dusun yang masih muda itu, Han Lin mengerutkan alisnya. Akan tetapi karena kepala dusun itu menyambut mereka dengan ramah, diapun bersikap hormat.

"Ji-wi (anda berdua) silakan duduk dan apa yang dapat kami bantu untuk ji-wi?" kata kepala dusun itu setelah mempersilakan mereka duduk.

"Maafkan kalau kami mengganggu kesibukan, chung-cu (lurah)." kata Han Lin. "Kedatangan kami menghadap ini untuk minta keterangan tentang suami istri dan anaknya yang tinggal di dusun cia lim-bun ini kira-kira lima belas tahun yang lalu."

"Lima belas tahun yang lalu? Ah, ketika itu kami belum menjadi lurah di sini, bahkan belum tinggal di dusun ini. Kami baru sekitar sepuluh tahun tinggal di sini, dan baru lima tahun menjadi kepala dusun." jawab lurah itu dengan ramah.

Eng-ji kecewa sekali mendengar ini dan dengan suara penuh harapan ia bertanya, "Chung-cu, apakah sekiranya kami boleh bertanya kepada orang yang sudah tinggal di sini pada lima belas tahun lebih yang lalu?" "O, itu mudah saja. Seorang paman kami telah puluhan tahun tinggal di sini, mungkin dia mengetahui. Tunggu dulu, kami memanggilnya." Kepala dusun itu lalu masuk ke ruangan belakang dan tak lama kemudian dia kembali lagi bersama seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih.

"Inilah, paman, dua orang muda yang ingin bertanya tentang suami isteri dan anaknya yang pernah tinggal di sini lima belas tahun yang lalu." kata kepala dusun itu kepada pamannya.

Laki-laki tua itu memandang kepada Han Lin sampai beberapa lamanya, lalu da menggeleng kepala. Setelah itu dia memandang kepada Eng-ji dan mengamati pemuda remaja itu penuh perhatian. Agaknya perhatiannya tertarik kepada Eng-ji dan dia bergumam.

"Ya, aku pernah melihat wajah ini. kenapa yang akan

dapat melupakan peristiwa mengerikan itu? Orang muda, kalau saja engkau seorang wanita, wajahmu persis dengan wanita yang malang itu."

Mendengar ucapan itu, Eng-ji merasa jantungnya berdebar. "Paman, apakah maksudmu? Siapa wanita yang malang itu, yang wajahnya mirip wajahku?"

"Nanti dulu, orang muda. Laki-laki dan wanita itu, suami isteri dan anaknya yang kau cari itu, siapakah nama mereka?" tanya kakek itu.

"Suaminya bernama Suma Kiang sedangkan isterinya aku tidak tahu namanya. Anaknya bernama Suma Eng-ji." kata Eng-ji penuh harapan

Akan tetapi laki-laki itu menggeleng kepalanya. "Aku tidak mengenal nama itu. Akan tetapi, tentang wanita yang malang itu, ada yang lebih mengetahuibta karena dialah saksi peristiwa yang mengerikan itu. Sebaiknya kita panggil saja dia karena kami semua mendengar tentang peristiwa itu darinya. Dia yang lebih tahu." Kakek itu lalu menyuruh keponakannya, kepala dusun itu untuk memanggil seseorang.

"Panggil A-lok ke sini, biar dia bercerita sendiri." katanya.

Kepala dusun lalu menyuruh orangnya untuk memanggil orang bernama A-lok itu dan sambil menanti datangnya orang yang dipanggil, dia mempersilakan Han Lin dan Eng-ji duduk sambil menghidangkan minuman teh.

Tak lama kemudian orang yang bernama A-lok itupun datang di situ. Laki-laki ini berusia sekitar lima puluhan tahun dan jalannya terpincang-pincang, agaknya mengalami cacat pada kaki kanannya.

"Paman A-lok, silakan duduk," kata kepala dusun dan setelah A-lok mengambil tempat duduk dia berkata, "Dua orang muda ini datang untuk mencari keterangan tentang suami isteri dan anaknya yang tinggal di sini kurang lebih lima belas tahun yang lalu. Dan menurut pamanku, saudara muda ini wajahnya mirip sekali dengan seorang wanita yang pernah kau ceritakan tertimpa nasib yang mengerikan."

A-lok memandang kepada Eng-ji dan matanya terbelalak, seolah dia baru melihat kemiripan yang disebut kakek paman kepala dusun tadi.

"Ya Allah! Benar sekali!"

"Nah, apa kataku?" kata kakek yang menjadi paman kepala dusun. "Pemuda ini wajahnya mirip sekali dengan wajah mendiang Siu Lin, bukan?"

"Siapa itu Siu Lin?" Eng-ji bertanya dengan jantung berdebar. "Paman yang baik, apakah engkau mengenal suami isteri dan anaknya itu? Suaminya bernama Suma Kiang, dan anaknya bernama Suma Eng-ji."

A-lok menggeleng kepalanya. "Tidak cocok. Suami Siu Lin bernama Lo Kiat yang kini telah meninggal dunia dan mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Lo Sian Eng." Setelah memandang Eng-ji sesaat dan mengerutkan alisnya, diapun melanjutkan. "Apakah mereka itu benar-benar tinggal di dusun ini, kongcu (tuan muda)?"

Eng-ji hampir putus harapan, akan tetapi dia mencoba untuk menerangkan.

"Wanita itu berasal dari dusun Cia lim-bun ini. Ia meninggal dunia dan suaminya yang bernama Suma Kiang lalu membawa pergi anak mereka yang bernama Suma Eng-ji dan ketika itu baru berusia tiga tahun."

A-lok mengerutkan alisnya semakin dalam sambil menatap wajah Eng-ji "Nanti dulu! Apakah laki-laki bernama Suma Kiang itu usianya ketika itu sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus, mukanya merah dahinya lebar, matanya sipit, jenggotnya panjang, di punggungnya terdapat sepasang pedang dan tangannya memegang sebatang tongkat yang mengerikan karena tongkat itu mirip seekor ular?"

Eng-ji menahan diri untuk tidak terlonjak kegirangan.

Betapa tepat gambaran itu! Itulah ayahnya!

"Benar! Benar sekali!" teriaknya. "Paman yang baik, ceritakan tentang mereka, terutama tentang sang isteri yang telah meninggal itu!"

A-lok menggeleng-geleng kepalanya dan bergumam. "Sungguh aneh sekali. Agaknya ada kesalahan paham di sini. Akan tetapi baiklah, akan kuceritakan apa yang telah kami lihat. Aku tidak akan pernah melupakan peristiwa itu selama hidupku, dan kau lihat, cacat di kaki kananku ini menjadi bukti kebenaran ceritaku." Dia berhenti dan menghela napas panjang.

"Ceritakanlah, paman yang baik. Ceritakanlah segalanya tentang wanita itu dan apa yang telah terjadi!" Eng-ji sudah tidak sabar lagi dan ucapannya mengandung desakan sehingga Han Lin menyentuh lengannya memberi isarat agar kawannya itu bersabar dan membiarkan A lok menceritakan dengan tenang.

A-lok minum air teh yang disuguhkan. tampaknya tidak tergesa-gesa, penuh keyakinan bahwa ceritanya akan menarik sekali. Kemudian dia mulai bercerita "Wanita bernama Teng Siu Lin itu memang seorang yang cantik sekali. Ketika itu usianya sekitar dua puluh satu tahun dan memang sejak masih gadis ia menjadi kembang di dusun ini. Ia menikah dengan seorang sasterawan bernama Lo Kiat yang datang dari kota, akan tetapi setelah menikah, Lo Kiat tinggal di dusun ini dan mengajarkan ilmu baca-tulis kepada anak-anak di dusun ini dan sekitarnya. Ketika itu, mereka telah mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Lo Sian Eng yang ketika peristiwa terjadi berusia kurang lebih tiga tahun," Kembali dia berhenti dan minum air teh-nya. Dia agaknya menikmati ceritanya sendiri karena maklum bahwa kedua orang muda yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu menanti kelanjutan ceritanya dengan tak sabar.

"Lalu bagaimana tentang kematian wanita itu? Apakah karena sakit?" Eng-ji mendesak. Ia meragu dan tidak yakin apakah wanita yang diceritakan itu benar Ibunya, walaupun katanya berwajah mirip dia karena wanita itu isteri seorang sastrawan bernama Lo Kiat.

"Pada suatu pagi, aku bersama tiga orang kawan, berjalan keluar dari dusun Ini mendaki bukit. Suasananya amat sunyi ketika itu dan tiba-tiba kami mendengar jerit suara wanita.

Kami cepat pergi ke arah suara itu dan ketika kami tiba di sana, kami tercengang menyaksikan pemandangan yang mendirikan bulu roma dan membuat kami tercengang dan ngeri. Seorang laki-laki agaknya baru saja memperkosa wanita yang bukan lajn adalah Teng Siu Lin! Dalam keadaan marah telanjang, wanita malang itu melompat dan membenturkan kepalanya pada sebuah batu sehingga ia tewas seketika.

Anaknya, Lo Sian Eng yang baru berusia tiga tahun itu menangis di atas rerumputan. Tentu saja kami terkejut dan marah. Kami segera berlari untuk bertindak terhadap laki-laki laknat itu.

Akan tetapi dia lihai bukan main. Dia lalu mengamuk dan kami berempat dia robohkan dengan tongkat ularnya. Tiga orang kawanku tewas dan aku sendiri mengalami cedera berat pada kaki kananku, akan tetapi aku masih sadar dan aku pura pura mati sehingga laki-laki iblis itu tidak menyerangku lagi.

Aku melihat betapa laki-laki itu memondong Sian Eng dan dibawanya anak itu pergi dari situ."

Han Lin melihat betapa wajah Eng ji menjadi pucat sekali dan pemuda remaja itu menggerakkan bibirnya yang menggigil, "Lalu.... laki-laki jahanam iblis itu siapakah

dia ?"

A-lok berkata. "Laki-laki itu tidak meninggalkan nama, akan tetapi dia adalah orang yang kugambarkan tadi, tinggi kurus, membawa sepasang pedang di punggungnya, tangannya membawa tongkat ular, mukanya merah dan "

"Aihhhhh !!" Eng-ji mengeluh dan ia terkulai pingsan

dan tentu akan roboh dari kursinya kalau saja Han Lin tidak dengan cepat menyambar tubuhnya.

"Eh, kenapa dia ?" Kepala dusun, pamannya, dan A-lok

bertanya heran.

Han Lin memangku Eng-ji. "Dia pingsan, agaknya masuk angin."

"Orang muda, bawa dia ke kamar, biarkan dia rebah di pembaringan." kata kepala dusun yang ramah itu. Han Lin menurut karena memang dia perlu meredakan Eng-ji untuk disembuhkan. Dia tahu bahwa pemuda remaja itu mengalami guncangan batin yang hebat mendengar akan kejahatan Suma Kiang, ayahnya itu. Dia memondong tubuh Eng-ji dan membawanya masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh kepala dusun. Dengan hormat dia minta agar mereka semua keluar dari kamar.

"Saya akan menyadarkannya, harap paman sekalian keluar dulu." katanya. Kepala dusun dan dua orang itupun keluar dari dalam kamar, bahkan kepala dusun menutupkan pintu kamar dari luar.

Karena maklum bahwa Eng-ji mendapat guncangan hebat. Han Lin lalu mempergunakan ilmu It-yang-ci untuk menotok kedua pundak dan tengkuk Eng-ji, lalu dia melepaskan kancing baju pemuda remaja itu untuk mengurut dadanya Akan tetapi tiba-tiba dia menarik kedua tangannya seperti dipagut ular dan matanya menatap ke arah dada yang telah terbuka kancing bajunya itu.

"Ya Tuhan.....! Dia..... dia ...... perempuan !" bisiknya

dan cepat dia mengancingkan lagi baju itu dengan jari tangan gemetar. Setelah itu dia mengurut punggung Eng-ji dan menekan bawah hidungnya. Tak lama kemudian Eng-ji mengeluh, menarik napas panjang dan membuka matanya.

"Jahanam keparat!" Tiba-tiba Eng ji memaki dan bangkit duduk, memandang ke sekeliling, lalu mendapatkan Han Lin yang duduk di tepi pembaringan dan diapun tersadar.

"Lin-ko, mana paman yang bercerita tadi? Kenapa aku rebah di sini?"

"Kau tadi pingsan, Eng-ji. Mereka berada di luar."

"Aku ingin mendengarkan ceritanya lagi. Mari kita keluar, Lin-ko."

"Engkau sudah merasa sehat? Tenangkanlah hatimu, Eng-

ji."

"Aku tidak apa-apa. Mari kita keluar." Diapun turun dari

pembaringan dan bersama Han Lin keluar dari kamar itu. Melihat dia sudah sembuh kembali, kepala dusun menjadi lega dan girang. "Siauwte (adik), engkau tadi mengagetkan dan menggelisahkan kami." katanya pada Eng-ji.

Eng-ji tersenyum. "Maafkan aku, Chung-cu (lurah), agaknya aku masuk angin sehingga jatuh sakit dengan tiba- tiba. Akan tetapi sekarang aku sudah sembuh kembali. Paman, teruskanlah ceritamu tadi. Lalu bagaimana setelah laki-laki jahanam itu membawa pergi anak itu?"

A-lok melanjutkan ceritanya. "Setelah dia pergi dan tidak tampak lagi, barulah aku berani bangkit berdiri. Tanpa memperdulikan kaki kananku yang cedera dan nyeri sekali, aku berlari setengah merangkak memasuki dusun dan minta bantuan penduduk. Kami berbondong-bondong lari ke tempat itu dan mengurus jenazah Teng Siu Lin dan tiga orang kawanku. Suami Teng Siu Lin, yaitu Lo Kiat, hancur hatinya melihat isterinya tewas secara demikian mengerikan. Dia jatuh sakit dan beberapa bulan kemudian diapun meninggal dunia menyusul isterinya," A lok berhenti bercerita dan keadaan menjadi sunyi sekali. Han Lin memandang wajah Eng-ji. Dia melihat betapa dengan susah payah Eng-ji menahan diri untuk tidak menjerit-jerit. Kini tampak jelas olehnya apa yang sesungguhnya terjadi. Eng-ji bukanlah putera Suma Kiang!

Namanya bukan Eng-ji melainkan Lo Sian Eng, seorang gadis, puteri mendiang Lo Kiat dan mendiang Teng Siu Lin yang malang itu, yang menjadi korban kekejian Suma Kiang lalu membunuh diri.

Lo Sian Eng menjadi gadis yatim piatu. Dia melihat gadis yang selama ini mengelabuhi dan dalam pandangannya merupakan seorang pemuda remaja yang lincah menyenangkan itu menelan ludah agaknya untuk menenangkan hatinya yang tergoncang, lalu bertanya dengan suara lemah.

"Jadi mereka berdua telah meninggal dunia? Di mana makam mereka?" "Mereka kami makamkan berjajar di pemakaman umum dusun ini." kata A-Lok.

Han Lin dan Eng-ji lalu mengucapkan banyak terima kasih kepada kepala dusun dan dua orang tua itu, kemudian berpamit meninggalkan rumah kepala dusun. Eng-ji segera mengajak Han Lin pergi ke perkuburan umum di luar dusun dan memasuki tanah kuburan yang sepi. Tidak sukar bagi mereka untuk menemukan sepasang kuburan itu karena di depan gundukan tanah itu terdapat batu nisan yang tertuliskan nama Lo Kiat dan Teng Siu Lin.

Mereka berdiri di depan sepasang makam itu dan Han Lin berkata dengan suara lembut. "Eng-moi. "

Eng-ji yang bukan lain adalah Sian Eng itu terkejut dan menoleh, memandang kepada Han Lin dengan wajahnya yang masih pucat. "Lin-ko, kau menyebut aku apa ?"

"Eng-moi, aku tahu bahwa engkau sesungguhnya adalah Lo Sian Eng, puteri suami isteri yang terkubur di sini."

"Kau...... kau..... sudah tahu ?"

"Mudah saja menduga, Eng-moi. Aku yang selama ini seperti buta, tidak tahu bahwa engkau seorang gadis."

Kesedihan yang sejak tadi ditahan-tahan oleh Sian Eng, kini seperti bendungan air bah yang pecah. Ia jatuh berlutut dan menangis tersedu-sedu, hal yang sejak tadi ingin ia lakukan.

Banyak hal yang menusuk-nusuk hatinya dan membuat ia ingin menjerit-jerit menangis. Pertama karena ayah dan ibu kandungnya telah tewas, kedua karena kematian ibu kandungnya demikian mengenaskan, ketiga karena orang yang selama ini dianggap ayah yang mencintanya, ternyata adalah musuh besarnya, pembunuh ibunya dan menghancurkan keluarga orang tuanya. Ia menangis sesenggukan sampai kedua pundaknya terguncang-guncang. "Ayah, ibu..... ampunkan anakmu tadinya aku tidak

tahu..... aku menganggap dia ayahku yang baik ampunkan

aku ayah, ibu, aku bersumpah, akan kubalaskan sakit hati

dan kematian ayah dan ibu akan kubunuh si jahanam

keparat Suma Kiang, iblis busuk jahat itu !!" katanya sambil

memukuli tanah di depannya.

Ia lalu menangis lagi sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak ada maknanya.

Han Lin memandang dengan terharu, teringat akan ibu kandungnya sendiri. Ibu kandungnya juga menderita lahir batin karena ulah Suma Kiang. Dia menghela napas panjang. Dia tahu bahwa Sian Eng sedang dilanda kesedihan besar dan jalan satu-satunya yang terbaik adalah membiarkannya melampiaskan kesedihannya melalui tangis.

Air matanya saja yang akan mencuci kesedihannya, menjadi penyalur sakit hatinya. Karena itu dia mendiamkannya saja, hanya memandang dengan perasaan iba. Sekarang dia merasa betapa bodohnya dia. Setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu bersama gadis itu, dia masih belum tahu bahwa ia adalah seorang wanita, bukan seorang pemuda remaja seperti yang dianggapnya selama ini.

Dan teringat akan sikap Eng-ji yang demikian baik kepadanya, teringatlah betapa Eng-ji dengan mesra merangkul Pek I Yok Sian-li sehingga membuatnya cemburu, teringat betapa Eng-ji mengatakan bahwa ia mencinta Pek I Yok Sian li, Han Lin merasa betapa mukanya menjadi panas. Dia merasa malu sekali, akan tetapi juga timbul perasaan tidak enak dalam hatinya, perasaannya tidak nyaman.

Bukankah semua ulah dan sikap Sian Eng ketika menyamar sebagai pria itu menunjukkan bahwa gadis ini agaknya menaruh hati kepadanya?

Kalau diingat betapa Eng-ji marah-marah melihat dia memandang wanita cantik dalam rumah makan itu! Tak salah lagi, Sian Eng mencintanya! Bukan cinta sahabat seperti yang tadinya dia sangka, melainkan cinta seorang gadis terhadap seorang pria!

Dari dugaan ini mendatangkan rasa tidak enak sekali dalam hatinya. Sebetulnya, betapa mudahnya bagi dia untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Sian Eng yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula, berwatak baik dan ternyata keturunan orang baik-baik, bukan puteri Suma Kiang seperti yang tadinya dia sangka. Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat terjadi? Dia sudah jatuh cinta kepada Tan Kiok Hwa, gadis ahli pengobatan yang berhati emas itu. Teringat akan ini, betapa Sian Eng mencintanya dan dia tidak akan mampu membalasnya, hatinya terasa pedih dan dia merasa amat iba kepada Sian Eng.

Setelah tangis Sian Eng mereda, barulah Han Lin berani menghiburnya. "Sudahlah, Eng-moi. Tidak baik menurutkan kedukaan hati, tidak sehat membenamkan hati dalam kesedihan. Orang tuamu sudah terbebas dari kesengsaraan hidup, sudah kembali ke alam asal. Kita doakan saja semoga mereka mendapatkan tempat yang baik, aman dan tenteram. Bagaimanapun juga, sekarang engkau telah dapat menemukan siapa sebenarnya dirimu, dan aku sungguh merasa berbahagia sekali mendapat kenyataan bahwa engkau bukanlah anak dari manusia iblis Suma Kiang itu."

Sian Eng menyeka sisa air matanya dan memandang kepada Han Lin dengan mata merah. "Lin-ko, hati siapa tidak kan hancur melihat kenyataan ini? Ibuku diperkosa sampai membunuh diri sehingga ayahku juga menjadi sakit dan meninggal dunia, semua ini akibat perbuatan terkutuk iblis Suma Kiang. Akan tetapi sejak kecil aku dipelihara dan dididik oleh iblis itu dengan penuh kasih sayang! Ternyata dia musuh besarku. Suma Kiang, manusia iblis jahanam, aku pasti akan membalaskan sakit hati ayah dan ibu kandungku!" "Tenangkan hatimu, Eng-moi, aku pasti membantumu karena akupun mencari orang bernama Suma Kiang itu."

"Kenapa engkau mencarinya, Lin-ko?"

"Ingatkah engkau akan ceritaku dulu bahwa ibuku menjadi sengsara hidupnya karena seorang yang amat jahat? Orang itu bukan lain adalah Suma Kiang!"

Sian Eng membelalakkan matanya yang kemerahan. "Jadi. selama ini engkau tahu bahwa aku adalah anak dari

musuh besarmu? Akan tetapi kenapa engkau bersikap amat baik kepadaku Lin-ko? Padahal engkau tahu bahwa aku yang ketika itu menyamar adalah puteri musuh besarmu."

"Tadinya akupun terkejut sekali ketika engkau sebagai Eng- ji menceritakan bahwa ayahmu adalah Suma Kiang. Akan tetapi bagaimana aku dapat membencimu, walaupun yang kusangka ayahmu itu telah menghancurkan kehidupan ibuku? Engkau amat baik dan engkau tidak jahat seperti Suma Kiang, maka akupun tentu saja bersikap baik kepadamu."

Sian Eng memandang penuh haru. "Lin ko, engkau seorang yang bijaksana dan baik sekali. Semestinya engkau benci kepadaku yang waktu itu tentu kau kira putera orang yang telah berbuat keji terhadap ibumu, akan tetapi engkau malah baik sekali kepadaku."

"Dan aku girang bahwa ternyata engkau bukan putera Suma Kiang, Eng-moi. engkau adalah Lo Sian Eng, puteri mendiang sasterawan Lo Kiat dan isterinya yang bernama Teng Siu Lin."

"Dan bagaimana engkau mengetahui bahwa aku adalah Lo Sian Eng seperti diceritakan paman A-lok?" Sian Eng ingin sekali tahu.

Wajah Han Lin menjadi agak kemerahan. Dia teringat betapa dia mengetahui bahwa Eng-ji adalah seorang wanita ketika dia membuka kancing baju gadis yang menyamar sebagai pemuda remaja itu Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mengatakan hal ini kepada Sian Eng karena tentu gadis itu akan menjadi malu sekali dan mungkin juga marah kepadanya.

"Setelah melihat reaksimu ketika mendengar penuturan A- lok, timbul dugaanku itu, Eng-moi. Aku menduga bahwa engkaulah Lo Sian Eng itu, dan aku lalu teringat akan sikap yang aneh dari Eng ji, maka semakin yakinlah aku bahwa engkau adalah seorang gadis yang menyamar sebagai seorang pemuda."

"Sikap aneh yang bagaimana, Lin ko?" Percakapan itu menarik hati Sian Eng sehingga sejenak ia melupakan kesedihannya. Memang duka itu diberi umpan oleh ingatan yang mengingat-ingat keadaan masa lalu dan membayangkan keadaan dirinya sehingga timbul perasaan iba dan Kalau pikiran dipergunakan untuk memperhatikan hal lain dan tidak bermaim main dengan ingatan masa lalu, maka kedukaannya akan menghilang.

"Banyak setelah kuperhatikan dan ingat sekarang, Eng-moi.

Di antaranya, engkau tidak mau tidur sepembaringan bersamaku. Engkau selalu sembunyi-sembunyi kalau mandi dan bertukar pakaian. engkau pandai memasak. Bahkan engkau menjadi marah-marah ketika aku memandang gadis- gadis cantik di rumah makan itu."

Kini wajah Sian Eng yang berubah kemerahan. "Aku paling tidak suka melihat laki-laki yang mata keranjang, maka aku tidak senang engkau memandangi gadis-gadis cantik." katanya. Kemudian ia bangkit berdiri dan dan berkata, "Lin-ko, aku hendak pergi sebentar."

"Ke mana, Eng-moi?"

"Membeli perlengkapan sembahyang. Aku ingin bersembahyang dengan pantas di depan makam ayah ibuku."

"Mari kutemani, Eng-moi." Keduanya lalu meninggalkan tanah kuburan itu. Kebetulan sekali dalam dusun yang cukup besar itu terdapat beberapa buah toko yang menjual barang-barang cukup lengkap. Sian Eng, masih berpakaian sebagai Eng-ji, membeli perlengkapan sembahyang dan juga membeli tiga stel pakaiian wanita dusun.

Dalam perjalanan mereka kembali ke tanah kuburan, Han Lin bertanya.

"Untuk apa engkau membeli pakaian wanita, Eng-moi?" Sian Eng menoleh, menatap wajah Han Lin dan tersenyum!

Han Lin menjadi lega. Gadis ini memang memiliki watak yang lincah dan gembira sehingga tidak berlarut-larut tenggelam dalam kedukaan dan wataknya yang gembira itu sudah muncul kembali dengan cepat.

"Lin-ko, engkau sudah tahu bahwa aku seorang wanita. Kukira tidak ada gunanya lagi aku menyamar sebagai pria karena engkau sudah mengetahuinya. Mulai sekarang aku akan mengenakan pakaian wanita biasa."

"Wah, aku akan kehilangan Eng-ji, sahabatku yang lucu dan ramah itu!" Han Lin menggodanya.

Tiba-tiba Sian Eng berhenti melangkah sehingga Han Lin terpaksa berhenti juga dan memandang wajah Sian Eng yang kelihatan gelisah.

"Eh, ada apa, Eng-moi?"

"Lin-ko, setelah Eng-ji menjadi Sian Eng, engkau masih akan suka memandangnya sebagai sahabat baik, bukan? Kita masih menjadi sahabat yang saling membantu, iya kan?" Di dalam suaranya terkandung permintaan dan harapan yang mendesak.

Han Lin merasa tidak tega untuk menyangkal. Pula, bukankah memang dia amat suka kepada Eng-ji? Setelah Eng- ji ternyata adalah seorang gadis bernama Sian Eng, hal itu tidak perlu menghilangkan rasa sukanya.

"Tentu saja, Eng-moi. Kita adalah sahabat-sahabat yang baik!" katanya sungguh-sungguh.

Wajah yang tadinya membayangkan kegelisahan itu menjadi cerah kembali. Senyumnya menghias wajah itu manis sekali dan mata itu amat indah, seperti sepasang bintang kejora. Han Lin kagum dan baru sekarang setelah dia tahu bahwa Eng-ji adalah seorang gadis, dia melihat betapa "cantik" wajah pemuda remaja itu, terlalu cantik. Mengapa dia begitu bodoh sehingga tidak pernah menduga bahwa Eng-ji sebenarnya seorang gadis yang amat cantik?

Mereka kini tiba di tanah kuburan dan kembali mendung menyelimuti wajah Sian Eng yang tadinya berseri. Dengan khidmat ia mengatur peralatan sembahyang, membakar hio- swa (dupa biting) dan bersembahyang. Han Lin tanpa diminta juga ikut bersembahyang. Setelah bersembahyang dengan hio, Sian Eng lalu berlutut di depan makam kedua orang tuanya dan berkata dengan suara terharu.

"Ayah, ibu, di sini anakmu Lo Sian Eng bersumpah untuk membalaskan sakit hati ayah dan ibu. Tenanglah ayah dan ibu, aku akan mencari jahanam Suma Kiang dan tidak akan berhenti sebelum dapat menemukan dan membunuhnya!" Suaranya lirih akan tetapi mengandung ancaman yang terasa oleh Han Lin. Sua ra itu demikian dingin dan mengandung ancaman maut!

Sian Eng menancapkan batu nisan dan dibantu oleh Han Lin, ia menuliskan nama ayah dan ibunya di batu nisan masing-masing. Kemudian ia duduk termenung di tempat kuburan yang teduh oleh pohon-pohon yang ditanam orang dan tumbuh subur di situ.

"Eng-moi, sekarang apa yang hendak kau lakukan? Setelah meninggalkan tempat ini, engkau akan pergi ke manakah?" tanya Han Lin memecahkan kesunyian yang menyelubungi mereka berdua.

"Aku akan melaksanakan tugasku!" kata Sian Eng dengan pasti.

"Apakah tugasmu itu kalau boleh aku mengetahui?"

"Ada dua tugas yang harus kulaksana-kan dalam hidupku. Pertama mencari dan membunuh Suma Kiang karena dia yang menyebabkan kematian ayah ibuku."

"Akan tetapi bukankah menurut pengakuanmu sendiri, Suma Kiang telah memelihara dan membesarkanmu, mendidikmu dengan kasih sayang?" tanya Han Lin untuk meredakan dendam yang dia tahu amat mendalam itu.

"Hemm, tidak ada budi, betapa besarpun, yang sanggup menghapus dosa yang telah dia lakukan terhadap orang tuaku terutama terhadap ibu kandungku. Aku harus membunuh manusia berwatak iblis itu!"

"Dan tugas yang kedua?"

"Tugasku yang kedua adalah mencari dan membunuh Thian-te Sam-ok karena mereka bertiga telah membunuh guruku Hwa Hwa Cinjin." kata Sian Eng dengan suara tegas.

Han Lin terkejut. Melihat tingkat kepandaian gadis itu, untuk membunuh Suma Kiang, mungkin saja ia dapat melakukannya. Akan tetapi melawan Thian-te Sam-ok yang demikian lihai?

"Eng-moi, bagaimana engkau akan mampu membunuh Thian-te Sam-ok? Mereka itu lihai sekali! Engkau akan terancam bahaya besar jika menghadapi mereka bertiga!"

"Aku tidak takut, Lin-ko! Untuk melaksanakan tugasku, aku mempertaruhkan nyawaku. Aku tidak akan menyesal kalau sampai aku tewas dalam melaksanakan tugas ini. Pula, aku yakin bahwa tidak sia-sialah aku mempunyai seorang sahbat baik seperti engkau, Lin-ko. Aku yakin bahwa engkau tentu akan suka membantuku menghadapi para musuh besarku itu. Bukankah Suma Kiang itu merupakan musuh besar kita bersama?" Ia berhenti sebentar, mengamati wajah Han Lin peluh selidik. "Dan bukankah Thian-te Sam Ok juga memusuhimu, bahkan hampir saja membunuh kita? Aku yakin engkau akan suka membantuku dan melawan mereka."

"Tentu! Tentu saja aku suka sekali membantumu, Eng-moi.

Akan tetapi, aku sendiri mempunyai beberapa tugas yang amat penting."

"Tugas apakah itu, Lin-ko?"

Han Lin meragu sejenak, lalu menjawab, "Aku harus mencari seseorang yang telah mencuri sebuah benda pusaka peninggalan ibu kandungku." Dia berhenti sampai di situ, tidak ingin membuka rahasia pribadinya.

"Siapakah yang telah mencuri benda pusaka itu, Lin-ko?

Aku teringat akan pesan ibumu bahwa engkau harus mencari ayah kandungmu pula."

Han Lin hanya mengangguk, menghela napas dan berkata lirih, nadanya minta maaf. "Maafkan aku, Eng-moi. Aku tidak dapat menceritakan hal itu kepadamu, untuk sekarang ini."

Sian Eng mengerutkan alisnya dan menatap Han Lin dengan penuh selidik, akan tetapi ia lalu menghela napas dan berkata, "Baiklah kalau engkau ingin merahasiakan hal itu, Lin-ko. Akan tetapi setidaknya aku boleh mengetahui, bukan! ke mana engkau hendak mencari pencuri benda pusakamu itu?"

"Aku hendak mencarinya ke kota raja." jawab Han Lin terus terang.

Wajah Sian Eng berseri ketika ia memandang kepada pemuda itu. "Ke kota raja? Ah, kalau begitu tujuan kita sama, Lin-ko! Aku tidak tahu ke mana harus mencari Thian-te Sam- ok yang tidak tentu tempat tinggalnya itu. Akan tetap aku tahu atau dapat menduga bahwa Suma Kiang mungkin sekali berada di kota raja pula. Dahulu, ketika dia meninggalkan aku di Puncak Ekor Naga di Cin-ling san, dia mengatakan bahwa dia hendak pergi ke kota raja. Karena itu, sekarang aku hendak pergi mencarinya ke kota raja. Kita dapat melakukan perjalanan bersama, bukan? Kuharap engkau tidak menolaknya, Lin-ko. Aku aku tidak dapat membayangkan

berpisah denganmu dalam keadaan seperti ini. Aku akan merasa kesepian dan kehilangan segala-galanya."

Han Lin merasa terharu. Dia dapat membayangkan perasaan duka yang sangat menghimpit hati gadis itu. Baru saja gadis itu menemukan siapa sebenarnya ayah dan ibu kandungnya, akan tetapi hanya menemukan mereka dalam nama saja karena mereka telah menjadi segunduk tanah berjajar dua. Ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Orang yang tadinya dianggap ayahnya dan masih hidup, ternyata merupakan orang yang telah mengakibatkan kematian ayah dan ibu kandungnya, ternyata merupakan musuh besarnya.

Satu-satunya orang yang kini dianggap dekat adalah Han Lin, yang dianggap sebagai seorang sahabat baik. Dan dia dapat merasakan bahwa gadis itu mencintanya.

Tentu saja gadis itu akan merasa hancur hatinya dan berduka sekali kalau dalam saat seperti itu dia meninggalkannya. Tidak mungkin dia dapat menolak permintaan Sian Eng untuk melakukan perjalanan bersama ke kota raja. Tidak ada alasannya yang tepat. Apalagi kalau dia teringat bahwa gadis itu mempunyai musuh besar lain yang amat berbahaya, yaitu Thian-te Sam-ok.

Melihat watak Sian Eng dia tahu bahwa kalau gadis itu bertemu dengan mereka, tentu Sian Eng akan berlaku nekat dan menyerang mereka. Akibatnya tentu akan mencelakakan bagi gadis itu. Thian-te Sam-ok terlalu tangguh bagi Sian Eng. "Baiklah, Eng-moi. Kita melakukan, perjalanan bersama ke kota raja. Akan tetapi sebelumnya aku lebih dulu hendak memberitahu kepadamu bahwa setelah kita tiba di kota raja, terpaksa kita harus berpisah karena aku harus melaksanakan tugasku seorang diri saja."

Sian Eng menjadi girang sekali. Sepasang matanya bersinar dan wajahnya berseri. Saking girangnya, ia lupa diri bahwa ia bukan lagi pemuda remaja Eng-ji. Ia memegang kedua tangan Han Lin ambil berkata penuh senyum, "Aku tahu, engkau tentu tidak akan keberatan, Lin-ko. Aku tahu engkau seorang yang baik bati sekali, berbudi luhur dan bijaksana. Aku sangat berterima kasih kepadamu, Lin-ko!"

Biarpun gadis itu masih berpakaian pria namun karena dia sudah tahu bahwa ia adalah seorang gadis, kini dipegang kedua tangannya dengan jari-jari tangan yang memegang kuat-kuat, Han Lin merasa rikuh sekali dan mukanya berubah kemerahan. Dengan lembut dia menarik lepas tangannya dan untuk mengalihkan perhatian dan percakapan diapun berkata ambil tersenyum. "Eng-moi, engkau lupa bahwa sekarang engkau tidak perlu menyamar lagi, kenapa engkau tidak berganti pakaian?"

"Ah ya, aku sampai lupa, Lin-ko! Akan tetapi. " Ia

memandang ke sekeliling mencari tempat untuk berganti pakaian.

"Di sana ada pohon-pohon besar, engkau dapat berganti pakaian di belakang pohon. Biar aku yang berjaga di sini agar tidak ada orang lewat dan melihatmu" kata Han Lin yang mengerti bahwa gadis itu kebingungan mencari tempat sembunyi untuk bertukar pakaian.

Sian Eng lalu pergi ke pohon besar itu dan kebetulan di situ terdapat semak semak yang agak tebal. Di belakang semak semak itulah ia berganti pakaian, yakin bahwa Han Lin tidak akan menoleh atau memandang ke arahnya. Han Lin berdiri membelakangi tempat itu. Tanpa dapat dicegahnya, benaknya membayangkan Sian Eng bertukar pakaian menanggalkan pakaian pria yang membungkus tubuhnya. Mukanya terasa panas dan ada bisikan-bisikan di belakangnya,

"Kalau engkau menoleh dan memandang, apa salahnya?

Alangkah bagusnya penglihatan itu "

"Hushh! Tidak sopan kau!" hati Hari Lin membantah dan menegur.

"Aihh, siapa bilang tidak sopan? Bukankah gadis itu pernah melihat engkau telanjang ketika mencuri pakaianmu selama engkau mandi? Kini tiba giliranmu melihat ia bertelanjang!"

"Setan !" Han Lin memaki.

"Tidak orang melihatnya, apa sih salahnya? Ia tidak akan rugi. Tengoklah! pandanglah!"

"Keparat!" Han Lin menampar kepalanya sendiri. Rasa nyeri mengusir bisikan-bisikan itu dan diapun duduk termenung, mengatur perasaannya dan menentramkan hatinya yang sempat terguncang oleh bisikan-bisikan pembujuk tadi.

"Lin-ko. !" Tiba-tiba Han Lin terkejut ketika mendengar

suara Sian Eng memanggilnya dari arah belakang. Akan tetapi dia menahan diri untuk tidak segera menoleh.

"Eng-moi, engkau sudah selesai berpakaian?" Dia bertanya. "Tentu saja sudah, kalau belum, masa aku datang

menghampirimu?" jawab Sian Eng.

Han Lin memutar tubuhnya dan matanya terbelalak! Dia berhadapan dengan seorang gadis yang bertubuh ramping padat, wajahnya cantik dan manis sekali. walaupun ia hanya mengenakan pakaian wanita dusun yang sederhana.

Rambutnya terurai, diikat tengahnya dengan pita merah dan ada setangkai bunga menghiasi rambutnya. Wajahnya segar berseri dan senyumnya sungguh menawan. Ternyata Sian Eng jauh lebih cantik daripada yang dia bayangkan! Seperti setangkai bunga yang amat indah.

"Lin-ko, engkau kenapa?" tanya Sian Eng sambil tersenyum menggoda, hatinya girang dan bangga sekali melihat Han Lin menatapnya dengan sinar mata membayangkan kekaguman.

"Aku aku kenapa?" Han Lin bertanya gagap dan baru

menyadari bahwa dia tadi hanya berdiri bengong dan terpesona.

Sian Eng tersenyum makin lebar dan bagi Han Lin, dunia seakan ikut tersenyum.

"Lin-ko, kenapa engkau memandangku seperti itu?" "Seperti apa?" tanya Han Lin yang kini sudah dapat

menguasai hatinya.

"Seperti. seperti orang melihat setan!" Sian Eng tertawa.

Han Lin juga tertawa. Tawa mereka itu membuyarkan semua pesona dan dia merasa biasa kembali, seperti kalau berhadapan dengan Eng-ji karena tawa Sian Eng itu wajar dan sama dengan tawa Eng-ji.

"Tidak, bukan seperti melihat setan melainkan seperti melihat seorang bidadari turun dari kahyangan! Engkau canti jelita seperti bidadari, Eng-moi."

Ucapan ini keluar dari lubuk hatinya, dengan tulus dan tanpa maksud memuji untuk merayu.

Wajah Sian Eng berubah kemerahan dan ia menjadi semakin tampak cantik. Matanya berbinar-binar. "Lin-ko, sesungguhnyakah ucapanmu itu atau sekedar pujian kosong belaka?"

Han Lin menjawab dengan sungguh sungguh. "Demi Tuhan, aku bicara sesungguhnya, Eng-moi. Engkau memang cantik luar biasa." "Mana lebih cantik antara aku dan Pek I Yok Sian-li, Lin- ko?"

Han Lin terkejut bukan main mendengar pertanyaan ini, seperti dipagut ular Dia tersentak dan memandang kepada Sian Eng, sampai lama tidak dapat menjawab. Pada saat yang amat pendek itu, dalam benaknya muncul bayangan Pek I Yok Sian-li (Dewa Obat Baju Putih Tan Kiok Hwa, cantik jelita lemah lembut bijaksana!

Dan dalam waktu amat singkat itu pikirannya telah membuat perbandingan. Ibarat burung, Kiok Hwa adalah burung merak yang indah lembut penuh damai sedangkan Sian Eng adalah seekor burung rajawali yang gagah perkasa, liar dan ganas.

Ibarat kembang, Kiok Hwa adalah setangkai kembang seruni yang berwarna lembut dan tenang sedangkan Sian Eng adalah setangkai mawar yang berwarna merah menyala dan penuh duri! Keduanya sama-sama cantik menarik, memiliki daya tarik yang khas masing-masing.

"Jawablah, Lin-ko. Jawablah dengan jujur. Aku tahu bahwa engkau adalah seorang laki-laki yang jujur dan tidak berhati palsu."

"Apa? Apa yang harus kujawab?" Han Lin tergagap. "Jawablah, menurut engkau, siapa yang lebih cantik antara

aku dan enci Tan Kiok Hwa?"

Han Lin sudah dapat menenangkan hatinya yang terguncang dan bingung oleh pertanyaan itu. Dia menjawab sambil tersenyum.

"Kedua-duanya cantik jelita, tidak ada yang lebih tidak ada yang kurang."

"Lin-ko, engkau mencintai enci Kiok Hwa, bukan?" Han Lin tidak tahan menentang pedang mata yang demikian tajam dan bersinar penuh selidik. Dia menjadi bingung. Dia tahu bahwa gadis ini mencintanya maka akan tidak enaklah kalau dia mengatakan bahwa dia mencinta Kiok Hwa seperti keadaan yang sesungguhnya.

Akan tetapi, tidak baik pula kalau dia berbohong mengatakan tidak. Kini teringatlah dia ketika dulu Eng-ji mengaku cinta kepada Kiok Hwa dan kini tahulah dia mengapa Eng-ji mengaku demikian. Tentu ada maksud lain kecuali agar dia tidak mencinta Kiok Hwa!

"Aku kagum dan suka kepadanya, Eng-moi." Akhirnya dia berkata, mengambil jawaban yang berada di tengah-tengah.

"Dan kepadaku, Lin-ko? Apakah terdapat sedikit perasaan suka di hatimu terhadap aku?" Mata yang bersinar seperti bintang itu mengandung harapan dan permintaan.

Han Lin menjawab sejujurnya, seperti apa yang dirasakannya. "Aku juga kagum dan suka sekali padamu, Eng- moi."

"Lin-ko, sungguhpun engkau mencintai enci Kiok Hwa, jangan jangan engkau lupakan aku dan membiarkan aku

merana seorang diri. " Suara gadis itu gemetar dan pandang

matanya sayu.

"Aku tidak akan melupakanmu, Eng-moi. Sudahlah, mari kita berangkat. Hari telah hampir sore, apakah kita harus melewatkan malam di tanah kuburan ini?"

Sian Eng lalu memberi hormat kepada makam ayah ibunya, diturut oleh Han Lin dan keduanya melangkah meninggalkan tanah kuburan itu. Sian Eng beberapa kali menoleh, memandang ke arah batu nisan yang sudah terukir nama ayah ibunya. Karena tidak ingin menarik perhatian semua orang di dusun Cia-lim-bun, mereka meninggalkan dusun itu dan menuruni lereng pertama di mana dusun itu berada.

Setelah tiba di kaki pegunungan Tai hang-san mereka mendapatkan sebuah dusun lain. Senja telah datang mereka mendapatkan sebuah rumah penginapan sederhana di dusun itu. Rumah penginapan ini biasanya disewa oleh para pemburu dari kota yang suka berburu di hutan hutan pegunungan Tai- hang-san. Sebuah rumah penginapan kecil yang sederhana namun lumayan karena mereka bisa mendapatkan dua buah kamar yang mereka sewa.

Malam itu mereka dapat memesan masakan dan nasi kepada pemilik rumah penginapan. Seekor ayam disembelih dan dimasak menjadi beberapa macam masakan untuk mereka.

Ketika mereka sedang makan di dalam ruangan belakang, Sian Eng teringat dan berkata kepada Han Lin. "Ah, Lin ko. Aku sampai terlupa karena kedukaan yang melandaku siang tadi. Kenapa aku begitu bodoh? Aku sama sekali tidak ingat untuk menyelidiki apakah ayah dan ibuku mempunyai keluarga di dusun Cia-lim-bun."

Han Lin juga tertegun. "Ah, kenapa aku juga lupa untuk mengingatkanmu, Eng-moi? Jangan khawatir, besok pagi-pagi aku akan kembali ke Cia-lim-bun dan akan menanyakan keterangan kepada lurah dusun itu. Engkau menunggu saja di sini."

"Baik, Lin-ko. Akupun tidak ingin menjadi pusat perhatian orang yang tentu akan mengetahui bahwa aku adalah bocah yang dibawa pergi oleh pembunuh ibuku. Nanti kalau ternyata ada keluarga orang tuaku di dusun itu, baru aku akan menemui mereka di sana."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Lin meninggalkan rumah penginapan itu seorang diri dan dia berlari cepat menuju ke dusun Cia-lim-bun. Sebentar saja dia sudah tiba di dusun itu dan langsung saja dia menuju ke rumah kepala dusun.

Kebetulan sekali kepala dusun sedang hendak keluar melakukan pemeriksaan terhadap para pekerja di sawahnya dan pamannya yang tua menemaninya.

"Hei, orang muda. Engkau sepagi ini sudah datang ke sini?

Ada keperluan apakah yang membawamu pagi-pagi datang berkunjung?" tanya kepala dusun yang ramah itu.

"Harap suka memaafkan saya, chung cu (lurah) karena sepagi ini saya sudah berani datang mengganggu. Saya hanya mohon sedikit keterangan mengenai mendiang Lo Kiat dan isterinya, mendiang Teng Siu Lin. Yaitu, apakah mereka menpunyai sanak keluarga di dusun ini, atau di tempat lain?

Saya ingin sekali mengetahui siapa dan di mana adanya keluarga mereka itu?"