-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 17

Jilid XVII

"APAKAH ia tidak meninggalkan nama?" tanya Ciang Mei Ling penasaran sekali.

"Kami juga meneriakinya agar ia meninggalkan nama dan ia berseru bahwa namanya Sian Hwa Sian-li (Dewi Bunga Dewa)." Cang Hok mengerutkan alisnya. "Sian Hwa Sian-li? Hemm, tak pernah aku mendengar ada tokoh dengan julukan seperti itu. Ouw-pangcu, apakah engkau pernah mendengar nama julukan itu?" Tanya Ciang Hok kepada Ki Seng yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.

"Belum pernah, Paman Ciang." jawab Ki Seng.

"Julukan itu bukan seperti julukan seorang tokoh sesat," kata Mei Ling. "Lebih pantas menjadi julukan seorang pertapa wanita."

"Siapapun adanya wanita itu, ia telah merampok barang berharga yang menjadi tanggungan kita. Aku harus mengejarnya ke Bukit Merak sekarang juga!" kata Ciang Hok penuh kemarahan sambil meraba golok besar yang tergantung di punggungnya.

"Ayah, biar aku saja yang akan mencari dan menghajarnya, lalu merampas kembali barang tanggungan kita!" kata Mei Ling dengan sikap gagah. "Ia seorang wanita muda, akulah lawannya!"

"Aku akan menemanimu, Nona Ciang!" kata Ki Seng sambil memandang wajah gadis itu. Kemudian disambungnya cepat sambil memandang kepada Ciang Hok. "Paman Ciang, ijinkan saya membantu untuk merampas kembali kereta barang itu, sebagai tanda persahabatan antara kita."

Ciang Hok mengangguk-angguk. "Terima kasih atas bantuanmu, Ouw-pangcu. Akan tetapi karena urusan ini cukup gawat, aku sendiripun akan pergi mencarinya. Biarlah kita pergi bertiga, siapa tahu kalau-kalau wanita itu mempunyai kawan-kawan di sana."

Demikianlah, Ciang Hok, Ciang Mei Ling dan Ouw Ki Seng berangkat menuju ke Bukit Merak. Mereka bertiga menunggang kuda dan untuk keperluan itu, Ciang Hok telah menyediakan tiga ekor kuda terbaik. oo000oo

Karena hari telah menjadi malam, dan cuaca yang gelap tidak memungkinkan mereka melanjutkan perjalanan, Ciang Hok mengajak dua orang muda itu untuk berhenti di sebuah dusun. Dia sudah mengenal baik kepala dusun karena dia sering melakukan pengawalan barang lewat dusun itu. Kepala dusun menerima mereka dengan ramah dan selain menjamu mereka makan malam, juga menyediakan tiba buah kamar untuk mereka. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Hok sudah berpamit dari tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Merak yang jauhnya dari situ masih setengah hari perjalanan naik kuda.

Ketika mereka bertiga tiba di kaki Bukit Merak, suasana di tempat itu sudah sunyi karena jauh dari dusun-dusun. Jalan raya yang kasar itu memang melewati Bukit Merak, mendaki lereng bukit itu. Matahari telah naik tinggi ketika mereka bertiga melarikan kuda mendaki lereng bukit.

Tiba di tempat di mana para piauWsu kemarin dulu dihadang dan dirampok seperti diterangkan para piauwsu, Ciang Hok menghentikan kudanya, diturut oleh Mei Ling dan Ki Seng. Mereka bertiga memandang ke sekeliling yang tampak sunyi, tidak ada seorangpun di sekitar situ.

"Sunyi sekali di sini, ke mana kita harus mencarinya?" kata Mei Ling.

"Menurut keterangan mereka, kereta barang itu dilarikan menuju ke puncak bukit. Mari kita kejar ke sana, mungkin penjahat itu bersembunyi di bagian atas bukit." kata Ciang Hok.

Tiba-tiba Ki Seng berkata, "Lihat, siapa itu yang datang!" Ayah dan anak itu menoleh kepadanya dan melihat bahwa Ki Seng menunjuk ke arah belakang dari mana mereka tadi datang dan mereka berdua terbelalak melihat seorang wanita berjalan datang. Wanita muda berpakaian mewah dan berpayung merah! Ciang Hok segera meloncat turun dari atas kudanya, diikuti oleh Mei Ling dan Ki Seng.

Ki Seng memandang dengan kagum. Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh tahun. Cantik jelita dengan dandanan yang mewah dan rapi. Rambutnya hitam panjang, digelung tinggi di atas kepala dan dihias dengan burung Hong dari emas permata. Telinganya memakai anting-anting yang juga terbuat dari emas permata. Demikian pula lehernya dihias kalung dan pada kedua lengan tangannya terhias gelang emas. Pakaiannya dari sutera halus berkembang. Pinggangnya yang ramping memakai sabuk merah. Payung yang dipegangnya juga berwarna merah dan payung itu ujungnya runcing, gagangnya terbuat dari perak. Ia berjalan menghampiri dengan ayunan kaki berlenggang seperti langkah seorang penari yang pandai, berlenggang-lenggok. Pinggang yang ramping itu seperti patah-patah ke kanan kiri dan pinggul yang besar itu membuat ayunan ke kanan kiri.

Wajahnya yang cantik menjadi semakin manis karena ia tersenyum dan sepasang matanya yang tajam itu mengamati mereka bertiga lalu berhenti pada wajah Ki Seng dan tersenyum melebar sehingga tampak kilatan giginya yang putih. Kulitnya putih kuning dan mulus. Sungguh merupakan seorang gadis yang cantik, bahkan dalam pandangan Ki Seng kecantikan wanita itu menandingi kecantikan Mei Ling!

Ciang Hok juga tertegun dan agaknya dia merasa agak rikuh untuk menegur seorang gadis cantik seperti itu. Mei Ling yang tidak ragu lagi bahwa inilah orangnya yang merampok kereta barang para piauwsu, segera melangkah maju menyambut kedatangan gadis berpayung itu. Payung berwarna merah itu mendatangkan bayang-bayang merah sehingga wajah gadis itupun menjadi agak kemerahan, menambah kejelitaannya.

"Berhenti dulu!" bentak Mei Ling setelah ia berhadapan dengan gadis berpayung itu. Gadis itu berhenti melangkah dan memandang kepada Mei Ling, mengamatinya dari kepala sampai ke kaki dan tetap tersenyum manis dengan sikap tenang sekali.

"Apa yang kau kehendaki, adik yang manis?" tanyanya, sikapnya mengejek dan memandang rendah.

Mei Ling menudingkan telunjuk kanan nya ke arah muka gadis itu dan bertanya, "Apakah engkau yang berjuluk Sian Hwa Sian-li?"

Wanita itu tersenyum dan memainkan matanya yang tajam, kerlingnya menyambar ke arah Ki Seng. "Hemm, matamu tajam juga, adik yang manis. Memang benar akulah yang disebut Sian Hwa Sian-li. Dan engkau siapakah?"

"Aku bernama Ciang Mei Ling, puteri dari ketua Pek-eng- pang. Benarkah engkau telah merampok dan melarikan kereta berisi barang-barang yang dikawal oleh para piauwsu Pek- eng-pang dan melukai mereka?"

Wanita itu memutar-mutar payung yang dipanggul di atas pundak kirinya dan tertawa sehingga deretan giginya tampak berkilauan. "Kalau benar, engkau mau apa, Ciang Mei Ling?" Pertanyaan ini diajukan seperti bertanya kepada seorang anak kecil, nadanya mengejek dan memandang rendah sekali.

"Kembalikan kereta berisi barang-barang itu!" bentak Mei Ling sambil mencabut pedangnya dan mengelebatkan pedangnya itu di depan Sian Hwa Sian-li yang masih tersenyum mengejek.

"Hik-hik, ambillah dariku kalau engkau mampu!" "Perempuan jahanam, engkau patut dihajar!" bentak Mei

Ling yang sudah menjadi marah sekali dan ia menggerakkan pedangnya lalu berseru, "Lihat pedangku!" Pedang itu ia gerakkan dengan tusukan yang meluncur cepat ke arah dada Sian Hwa Sian-li. "Singgg...!" Pedang itu berdesing seperti anak panah ketika menusuk ke arah lawan. Akan tetapi Sian Hwa Sian-li bersikap tenang saja dari. ia menggerakkan payung yang tadi dipanggulnya di pundak kiri itu dengan tangan kiri, menghadang pedang Mei Ling.

"Tranggg !" Ujung payung yang runcing itu sudah

menangkis pedang dan Mei Ling merasa betapa tangannya yang memegang pedang terguncang hebat. Diam-diam ia terkejut dan maklum bahwa lawannya memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Namun, gadis perkasa ini tidak menjadi gentar dan ia menyerang lagi dengan gencar dan dahsyat. Karena maklum bahwa lawannya adalah seorang yang tangguh maka ia lalu mainkan pedangnya dengan ilmu pedang Pek-eng Kiam-sut. Pedangnya menyambar-nyambar laksana seekor garuda menerkam mangsanya.

"Trang-trang-trang !" Kembali pedang yang menyerang

secara bertubi-tubi itu tertangkis oleh payung dan tiba-tiba payung itu menutup lalu ujungnya yang runcing meluncur dan menusuk ke arah lambung Mei Ling! Dara perkasa ini pun cepat mengelak dan pedangnya balas menyerang. Terjadilah saling serang yang hebat, dan payung itu terbuka tertutup membingungkan Mei Ling. Setiap kali menghadapi serangan berbahaya, payung itu terbuka dan berubah menjadi semacam perisai yang kokoh kuat karena tulang-tulangnya terbuat dari baja murni yang kuat dan kalau digunakan untuk menyerang, payung itu tertutup dan dalam keadaan tertutup payung itu dapat digunakan untuk menusuk atau juga memukul.

Setelah lewat lima puluh jurus belum juga ia dapat mengalahkan Mei Ling yang melakukan perlawanan dengan gigih walaupun ia sudah dapat mendesaknya, Sian Hwa Sian-li menjadi penasaran dan tiba-tiba tangan kanannya melolos sabuk sutera merah dari pinggangnya. Ketika ia menggerakkan tangan kanan itu, tampak sinar merah bergulung-gulung seperti kilat menyambar ke arah kepala Mei Ling! Dara ini cepat menggerakkan pedangnya ke atas untuk menangkis dan sekaligus memutuskan sabuk sutera merah itu. Akan tetapi ujung sabuk sutera merah itu, seperti seekor ular saja, telah menggulung dan membelit ujung pedang sehingga pedang Mei Ling tidak dapat ditarik kembali. Pada saat itu, payung itu tertutup dan meluncur ke arah dada Mei Ling dengan cepat sekali.

Mei Ling terkejut. Tak mungkin menangkis karena pedangnya masih tertahan oleh belitan sabuk. Maka ia menarik pedang dengan tenaga sepenuhnya sambil menambah tenaga dengan berat badannya yang ditarik condong ke belakang untuk mengelakkan tusukan payung. Pada saat itu, secara tiba-tiba Sian Hwa Sian-li melepaskan libatan sabuknya dan tidak dapat dicegah lagi, tubuh Mei Ling terjengkang ke belakang dengan kerasnya, terdorong oleh tenaga tarikan dan berat badannya sendiri.

Untung bahwa Mei Ling telah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi dan memiliki ketenangan. Ia masih dapat mematahkan tenaga dorongan itu dengan cara melompat ke belakang membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali sebelum kakinya hinggap di atas tanah, walaupun dalam keadaan terhuyung-huyung. Wajahnya berubah kemerahan. Nyaris ia terancam maut di ujung payung lawan.

"Mundurlah, Mei Ling!" kata Ciang Hok yang sudah mencabut golok besarnya dan dia melompat ke depan menghadapi gadis berpayung yang kini tersenyum-senyum mengejek itu. Melihat ayahnya maju, dan merasa bahwa ia tidak mampu menandingi lawan, Mei Ling mundur ke dekat Ki Seng yang hanya berdiri menonton.

"Sian Hwa Sian-li, kami tidak ingin bermusuhan denganmu. Kami datang dan minta dengan baik-baik agar barang dalam kereta dikembalikan kepada kami. Barang-barang itu bukan milik kami, hanya menjadi tanggung jawab kami sebagai piauwsu yang mengawal barang itu. Harap engkau suka memandang persahabatan di dunia kang-ouw dan mengembalikan barang-barang itu kepada kami."

Pada saat itu Sian Hwa Sian-li melihat Ki Seng dan segera perhatiannya tertuju kepada pemuda yang tampan dan tinggi tegap itu. Senyumnya melebar sehingga deretan giginya yang putih mengkilap dan matanya mengerling tajam. Ia seolah tidak mendengar ucapan Ciang Hok karena perhatiannya tertuju kepada Ki Seng.

Melihat wanita cantik itu hanya senyum-senyum dan melirik-lirik kepada Ouw Ki Seng, Ciang Hok mengerutkan alisnya dan bertanya lagi dengan suara nyaring. "Sian Hwa Sian-li, jawablah ucapanku!"

"Eh..... oh apa? Apa yang kauucapkan tadi?" tanya Sian

Hwa Sian-li sambil memandang ketua Pek-eng-pang itu.

Ki Seng yang sejak tadi memperhatikan wanita itu diam- diam merasa geli, juga merasa senang hatinya. Dia telah tertarik sekali kepada Sian Hwa Sian-li sejak pertama kali melihatnya. Sungguh seorang wanita yang amat cantik, juga memiliki mata dan mulut yang menggairahkan dan menggemaskan. Apa lagi dia melihat bahwa wanita itu bermain mata dan tersenyum-senyum manis kepadanya!

Biarpun selama ini Ki Seng belum pernah bergaul dengan wanita, bahkan tidak pernah memperhatikan wanita dan untuk pertama kalinya hatinya tertarik adalah ketika bertemu Ciang Mei Ling, akan tetapi dia dapat merasakan bahwa Sian Hwa Sian-li menaruh hati dan suka kepadanya.

"Kukatakan tadi kepadamu agar engkau suka mengembalikan barang-barang dan kereta yang kaurampas dari tangan para anak buah kami. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu dan kalau engkau mengembalikan kereta dan isinya kepadaku, kita habiskan perkara antara kita sampai di sini saja." kata pula Ciang Hok. Sian Hwa Sian-li yang sudah membuka payungnya dan memanggul payung itu di pundak kiri dengan tangan kirinya, memutar-mutar payung itu dan tersenyum. "Agaknya engkau ini yang menjadi ketua Pek-eng-pang, Benarkah?" tanyanya.

"Benar, aku adalah Ciang Hok, pangcu (ketua) dari Pek- eng-pang. Kami harap sekali lagi agar engkau mengembalikan kereta dengan isinya kepada kami."

Kembali Sian Hwa Sian-li memutar-mutar payung di atas pundaknya dan ia pun berkata dengan suaranya yang merdu dan lantang. "Pangcu, aku telah merampas kereta dan isinya menggunakan kepandaian, karena itu kalau mampu, pergunakanlah kepandaianmu untuk merampasnya dariku.

Kalau engkau dapat mengalahkan aku, kereta dan isinya itu boleh kau ambil kembali dan tidak ada satupun dari isinya yang berkurang."

"Engkau adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi. Apakah dengan perbuatanmu ini engkau ingin disebut sebagai seorang perampok?" kata pula Ciang Hok penasaran. Dia ingin agar wanita itu menjadi malu dan mengembali kan barangnya tanpa harus bertanding karena tadi dia melihat betapa lihainya wanita itu ketika bertanding melawan Mei Ling dan dia sendiri sangsi apakah dia akan mampu mengalahkan wanita berpayung itu.

Mendengar ucapan Ciang Hok itu, Sian Hwa Sian-li tertawa. Ketika mulutnya terbuka karena tawa itu, Ki Seng yang sejak tadi mengikuti setiap gerak-

geriknya, melihat di antara deretan gigi putih itu tampak lidah yang ujungnya merah dan rongga mulut yang lebih merah lagi. Selama ini belum pernah dia memperhatikan penglihatan seperti ini dan jantungnya berdebar. Wanita ini sungguh cantik luar biasa dan memiliki daya tarik yang amat kuat, pikirnya. Tampaknya sebaya dengan Mei Ling, tidak lebih dari dua puluhan tahun usianya, walaupun Ki Seng dapat menduga bahwa wanita itu tentu lebih tua dari tampaknya, melihat sikap dan gerak-geriknya yang matang dan terkendali.

"Heh-heh-hi-hik! Ciang-pangcu, aku bukan seorang perampok murahan! Akan tetapi sekarang aku adalah penguasa Bukit Merak, oleh karena itu, siapapun juga yang lewat di jalan melalui Bukit Merak ini, harus mendapat ijin dariku. Akan tetapi para piauwsu anak buahmu tidak mau menghormati aku dan mengakui kekuasaanku. Oleh karena itu aku tahan kereta mereka dan semua isinya, hendak kulihat kalian dapat berbuat apa!"

"Hemm, begitukah, Sian Hwa Sian-li? Kalau begitu, biarlah sekarang aku yang menyatakan hormatku kepadamu dan aku yang mintakan ijin untuk mereka. Lain kali kalau mereka mengawal barang lewat di tempat ini akan kupesan mereka agar menghadapmu untuk menyampaikan hormat mereka."

"Tidak semudah itu, Ciang-pangcu. Aku sudah merasa tersinggung, dan aku katakan tadi, aku merampas kereta itu menggunakan kepandaian. Karena itu, seperti kebiasaan dunia kang-ouw, engkau pun harus mempergunakan kepandaianmu kalau ingin mendapatkannya kembali!" Dalam ucapan yang dikeluarkan dengan suara halus merdu itu terkandung tantangan!

"Bagus! Kalau begitu terpaksa aku harus mempergunakan kekerasan seperti yang kau kehendaki, Sian Hwa Sian-li!" kata Ciang Hok dengan muka berubah merah dan tangan kanannya sudah mencabut sebatang golok besar yang tadi tergantung di pinggangnya.

Sian Hwa Sian-li juga maklum bahwa lawannya sekali ini tentu memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Mei Ling, maka iapun sudah menggerakkan tangan kanannya untuk melolos sabuk merah yang tadi sudah dikenakan kembali melingkari pinggangnya yang amat ramping itu. Sambil memutar-mutar payung di pundak kirinya dan menggantungkan sabuk merah di tangan kanan, Sian Hwa Sian-li melangkah maju menghampiri Ciang Hok.

"Perlihatkan kemampuanmu, Ciang-pangcu!" katanya dan kembali matanya mengerling ke arah Ki Seng disertai senyuman memikat.

"Sian Hwa Sian-li, lihat serangan golokku!" Ciang Hok membentak dan dia pun segera menggerakkan goloknya menyerang dengan jurus Tiong-sin-hian-in (Menteri Setia Persembahkan Cap Kebesaran). Golok menyambar ke depan dan tangan kiri juga membantu tangan kanan memegang gagang golok sehingga tusukan itu dilakukan dengan pengerahan tenaga kedua tangan. Golok meluncur dengan amat cepat dan kuatnya. Akan tetapi dengan gerakan tubuh yang ringan sekali.

Sian Hwa Sian-li telah mengelak ke samping sambil memutar payungnya yang menyambar ke depan untuk menghalau golok lawan, kemudian dari samping, sabuk merahnya menyambar dan menotok ke arah pelipis kiri Ciang Hok. Serangan balasan inipun cepat dan berbahaya sekali karena kalau ujung sabuk merah itu sampai mengenai sasaran di pelipis, dapat merenggut nyawa lawan!

Ciang Hok maklum akan datangnya se rangan maut, maka diapun sudah melangkah mundur dan menarik goloknya lalu memutar tubuh dengan jurus Sin-eng-hoan-sin (Garuda Sakti Memutar Badan). Tubuhnya berputar satu kali dan tiba-tiba goloknya mencuat dan menyambar ke arah leher lawan!

Sian Hwa Sian-li memutar pergelangan tangan kirinya dan payungnya yang masih terbuka itu menangkis golok. Tak dapat dicegah lagi golok beradu dengan ujung payung, keras sekali.

"Tranggg !" Bunga api berpijar dan Ciang Hok merasa

betapa tangannya tergetar hebat dan cepat dia menarik goloknya agar tidak sampai terlepas dari pegangannya. Tahulah dia bahwa wanita cantik itu memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya. Diapun cepat memutar goloknya dan memainkan ilmu golok Pek-eng To-hoat (Ilmu Golok Garuda Putih) yang merupakan ilmu andalan Pek-Eng-pang. Goloknya berubah menjadi gulungan sinar putih dan mengeluarkan suara berdesingan.

Akan tetapi Sian Hwa Sian-li menghadapi gulungan sinar golok ini dengan tenang saja. Ia menggerakkan payungnya sehingga tertutup dan kini ia mainkan payung yang tertutup itu sebagai sebatang pedang, mengimbangi putaran golok lawan, sedangkan sabuk merahnya siap untuk melakukan serangan selingan. Terjadilah pertandingan yang seru. Akan tetapi setelah pertandingan berlangsung tiga puluh jurus, Ki Seng melihat dengan jelas betapa Ciang Hok akan kalah.

Goloknya kini hanya bergerak untuk mempertahankan diri saja dari desakan sepasang senjata yang amat lihai dari lawan.

"Haaaiiiiiitttt........ singgg !!" Golok menyamoar dahsyat

karena dalam keadaan terdesak itu, Ciang Hok yang merasa penasaran mengerahkan seluruh tenaganya dan membalas serangan bertubi lawan dengan bacokan golok dalam jurus Pek-ho-to-coa (Bangau Putih Sambar Ular). Bacokan itu hebat sekali, menyambar dari atas ke bawah ke arah leher lawan.

Seperti tadi ketika mengalahkan Mei Ling, sabuk merah Sian Hwa Sian-li meluncur dan menyambut golok itu, ujungnya melilit bagaikan ular dan golok itu tertahan di udara. Pada saat mereka bersitegang saling tarik, payung itu menyambar ke bawah. Dua kali payung itu me-notok ke arah lutut Ciang Hok dan ketua Pek-eng-pang ini tidak mampu mengelak. Kedua lututnya tersentuh ujung payung dan diapun jatuh berlutut!

Kini payung itu meluncur dan menyambar ke arah kepala.

Akan tetapi tiba-tiba payung itu bertemu dengan sebuah lengan yang amat kuat sehingga payung itu terpental kembali. Sian Hwa Sian-li terkejut dan cepat melompat kebelakang sambil menarik sabuk merahnya. Ketika dengan kaget dan heran ia memandang, ternyata yang menangkis payungnya tadi adalah pemuda yang sejak tadi telah amat menarik perhatiannya. Pemuda yang tampan gagah dan sikapnya tenang sekali itu. Sementara itu, Mei Ling segera membantu ayahnya untuk bangkit dan Ciang Hok mengundurkan diri sambil terpincang-pincang. Untung wanita itu tidak mempergunakan seluruh Lenaganya ketika menotok dengan ujung payungnya tadi sehingga tulang lututnya tidak patah dan tidak ada otot yang putus.

Kini Ki Seng berhadapan dengan Sian Hwa Sian-li. Sejenak kedua orang itu hanya saling pandang. Keduanya tersenyum karena dari tatapan mata keduanya jelas sekali memancarkan kekaguman. Senyum Sian Hwa Sian-li manis sekali karena wanita ini menjadi semakin kagum. Kalau tadi ia hanya kagum melihat ketampanan dan kegagahan sikap Ki Seng, kini kekagumannya meningkat melihat betapa pemuda itu sanggup menangkis payungnya dengan lengan dan membuat payungnya terpental. Hal ini hanya berarti bahwa pemuda itu memiliki tenaga yang kuat sekali.

"Sian Hwa Sian-li, tidak ada gunanya engkau mendesak orang yang sudah kalah. Kalau hendak bertanding, akulah lawanmu!" kata Ki Seng dengan suaranya yang lembut dan sikapnya yang halus, matanya menggerayangi tubuh wanita itu dari kepala sampai ke kaki. Melihat ini, Sian Hwa Sian-li memperlebar senyumnya dan sebelum mengeluarkan kata- kata, lebih dulu ia menjilat bibirnya dengan lidahnya yang merah.

"Orang muda yang gagah, siapakah engkau dan apa hubunganmu dengan Pek-eng-pang maka engkau mencampuri urus-anku dengan mereka?" suaranya seperti orang bernyanyi.

"Aku bernama Ouw Ki Seng, ketua Ban-tok-pang yang berada di Puncak Bi-ruang di Thai-san." "Ahh! Kiranya ketua Ban-tok-pang yang telah terkenal di seluruh dunia kang-ouw! Dan mengapakah Ban-tok Pangcu mencampuri urusanku dengan Pek-Eng-pang?"

"Ketahuilah, Sian Hwa Sian-li. Pada saat ini aku menjadi tamu dari Pek-eng-pang. Di antara kedua perkumpulan itu terdapat hubungan persahabatan. Karena itu, sebagai sahabat Pek-eng-pang, aku tidak dapat melepas tangan begitu saja.

Kuharap engkau suka memandang aku sebagai ketua Ban-tok- pang untuk mengembalikan kereta berikut isinya kepada Ciang-pangcu yang tidak ingin bermusuhan denganmu."

Sian Hwa Sian-li tersenyum manis. "Sebetulnya, setelah Pek-eng Pangcu dan puterinya tidak dapat mengalahkan aku, maka kereta berikut isinya itu sudah mutlak menjadi hak dan milikku. Akan tetapi karena Ouw-pangcu dari Ban-tok-pang yang memintakannya, baiklah aku akan menurut omonganmu, akan tetapi dengan dua syarat. Kalau kedua syarat itu tidak dipenuhi, sampai bagaimanapun uga aku tidak akan mengembalikan kereta dan barang-barang itu."

"Katakan, apa kedua syarat itu?" tanya Ki Seng sambil menatap wajal cantik itu sambil tersenyum.

"Pertama, engkau harus mampu menandingiku aku selama seratus jurus" tantang wanita itu sambil memutar pa yungnya di belakang pundaknya.

Ki Seng mengangguk. "Aku sanggul melakukan hal itu.

Asalkan engkau tidak mempergunakan tangan kejam, kiranya aku akan mampu bertahan melayanimu sampai seratus jurus. Apa syaratnya yang kedua?"

"Syarat ke dua tidak sukar untuk engkau lakukan. Kalau engkau sudah mampi menandingi aku sampai seratus jurus, aku akan mengembalikan kereta beserta seluruh isinya. Akan tetapi tidak ada orang lain yang boleh pergi bersamaku ke puncak Bukit Merak untuk mengambilnya kecuali engkau, Ouw-pangcu. Engkau harus mengambilnya dari puncak dai berdiam di sana sebagai tamuku selama tiga hari. Bagaimana?"

Mendengar syarat yang ke dua itu Ouw Ki Seng tersenyum dan jantungnya berdebar aneh. Sedangkan Ciang Hok dan Mei Ling, terutama gadis itu, mengerutkan alisnya dan menganggap usul itu tidak tahu malu! Seorang wanita mengundang seorang pemuda menjadi tamunya selama tiga hari! Akan tetapi karena mereka sudah kalah, pula karena mereka mengharapkan dikembalikannya kereta beserta semua isinya, mereka hanya mengerutkan alis dan tidak dapat memberi komentar apapun.

"Bagaimana, Ouw-pangcu? Kalau engkau tidak bersedia memenuhi kedua syaratku itu, lebih baik engkau pergi saja bersama Ciang-pangcu dan jangan mengganggu aku lebih lama lagi!"

"Syaratmu yang kedua cukup pantas. Aku sanggup melaksanakannya!" kata Ouw Ki Seng yang merasa suka sekali kepada wanita cantik dan aneh itu. Wanita seperti itu lebih baik menjadi kawan daripada menjadi lawan, dan akan menjadi seorang pembantu yang baik dan menyenangkan.

Wajah yang cantik itu berseri dan kerling matanya semakin tajam ke arah wajah Ki Seng. "Bagus, kalau begitu mari kita mulai bertanding. Ingin sekali kuke tahui sampai di mana kemampuanmu!" Setelah berkata demikian, Sian Hwa Sian-li memutar payungnya dan melambai-lambaikan ujung sabuk merahnya. Akar tetapi Ki Seng hanya berdiri tegak menanti saja sambil mengikuti gerak-gerik wanita itu. Melihat betapa Ki Seng tidak segera mengeluarkan senjatanya, Siar Hwa Sian-li berkata sambil menghentikan putaran payungnya.

"Ouw-pangcu, harap segera keluarkan senjatamu!"

Ki Seng tersenyum. "Kita bukan musuh dan tidak sedang bertanding untuk saling membunuh, mengapa menggunakan senjata? Pula, aku tidak mempunyai senjata apapun, dan aku akan menghadapimu dengan kaki tangan kosong saja."

Biarpun ucapan Ki Seng ini halus dan tidak dimaksudkan untuk menghina, akan tetapi wajah Sian Hwa Sian-li menjadi kemerahan dan ia merasa dipandang rendah! Pemuda itu akan menghadapi payung dan sabuk merahnya dengan tangan kosong? Kalau saja ia tidak sudah terlanjur tertarik hatinya oleh wajah dan sikap pemuda itu, tentu ia akan menyerangnya dengan serangan maut. Akan tetapi, ia menekan rasa penasaran di hatinya, lalu menancapkan ujung payungnya yang sudah tertutup itu ke atas tanah.

"Baiklah, aku akan menggunakan sabukku ini saja agar jangan sampai melukaimu terlalu parah. Nah, lihat serangan- ku!" Tiba-tiba ujung sabuk sutera merah itu meluncur cepat dan sudah menotok ke arah jalan darah di pundak kiri Ki Seng. Serangan itu tampaknya saja ringan, akan tetapi sesungguhnya hebat sekali. Sabuk yang digerakkan dengan saluran tenaga sakti itu ujungnya menjadi keras dan kuat dan meluncur untuk menotok jalan darah Kin-ceng-hiat-to di pundak kiri. Kalau jalan darah Jni terkena dengan tepat, tubuh bagian kiri dari pemuda itu akan menjadi lumpuh sejenak.

Akan tetapi, Ki Seng juga maklum akan lihainya serangan ini. Kalau dia menghendaki, tentu saja dengan pengerahan ilmu kekebalannya, dia akan mampu menerima totokan ini tanpa terpengaruh.

Akan tetapi dia memperlihatkan kelincahannya dan cepat sekali tubuhnya bergerak, berkelebat dan dia sudah mengelak sehingga sambaran ujung sabuk merah itu luput.

"Bagus!" Sian Hwa Sian-li memuji melihat gerakan yang amat cepat dari Ki Seng. Ia lalu mempergunakan seluruh kecepatan gerakannya dan seluruh tenaga saktinya untuk mengirim serangan beruntun. Sabuknya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar merah yang indah dan panjang, berputar-putar dan bergulung-gulung mengejar ke arah Ki Seng, kemanapun tubuh itu bergerak!

Kegembiraan Sian Hwa Sian-li menjadi-jadi ketika Ki Seng dapat menghindarkan serangannya yang dilakukan bertubi- tubi itu. Belasan jurus sudah ia menyerang dengan cepat sekali, namun semua serangannya itu kalau tidak dielakkan, tentu ditangkis oleh Ki Seng dan gagal mengenai tubuhnya. Bukan main kagum dan gembiranya hati Sian Hwa Sian-li. Ia semakin tergila-gila kepada pemuda itu yang bukan saja tampan dan gagah, akan tetapi juga ternyata memiliki Kepandaian yang amat hebat pula.

Setalah menghindar terus sampai dua puluh jurus, mulailah dia membalas dengan tamparan dan tendangan yang semua ditujukan ke daerah tubuh yang tidak berbahaya seperti pundak, pangkal lengan, pinggul dan paha. Dan serangan balasannya itu ternyata membuat Sian Hwa Sian-li repot sekali untuk mengelak. Terjadi keanehan dalam hati Ki Seng.

Sebelum ini, kalau berhadapan dengan lawan, dia selalu menurunkan tangan kejam dan dengan hati dingin dia akan membunuh lawannya. Akan tetapi sekali ini, berhadapan dengan Sian Hwa Sian-li, dia bukan saja tidak mau membunuh atau melukainya, bahkan timbul keinginannya untuk menggoda. Setiap kali tamparan atau totokannya akan mengenai tubuh lawan, begitu jarinya menyentuh kulit, dia tidak jadi menampar atau menotok, melainkan mengelus dan membelai! Akan tetapi gerakannya demikian cepat sehingga Ciang Hok dan Ciang Mei Ling yang menonton pertandingan itu tidak melihatnya. Tentu saja Sian Hwa Sian-li merasakannya dan wanita ini menjadi girang bukan main.

Pemuda ini ternyata bahkan melebihi apa yang diharapkan dan disangkanya. Lihai bukan main sehingga dengan tangan kosong tidak hanya mampu menandinginya, bahkan agaknya kalau dikehendaki, dengan mudah mampu merobohkan-nya! Lebih gembira lagi hatinya melihati kenyataan betapa Ki Seng tidak ingin melukai atau merobohkannya, bahkan meng-elus dan membelai!

Bagi Ciang Hok dan Ciang Mei Lina yang menjadi penonton, pertandingan itu berjalan seru bukan main, juga amat indahnya. Gulungan sinar kemerahan dari sabuk sutera merah itu membentuk lingkaran lebar dan dua bayangan itu seperti berkelebatan dan menari-nari di dalam lingkaran itu. Gerakan kedua orang itu terlalu cepat untuk dapat mereka ikuti dengan pandang mata.

Sian Hwa Sian-li merasa senang bukan main. Ia adalah seorang wanita petualang yang sudah malang melintang di dunia kang-ouw selama bertahun-tahun, bukan saja bertualang dalam pertandingan silat melawan siapa saja yang dianggap pantas menjadi lawannya. Akan tetapi juga bertualang dalam mengumbar cinta berahi. Ia seorang wanita yang mata keranjang. Oleh karena itu, bertemu dengan Ki Seng, ia segera tergila-gila dan jatuh cinta. Apalagi setelah mendapat kenyataan bahwa Ki Seng memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripadanya dan ternyata pemuda itu tidak mau mengalahkannya, hanya menggoda dan mengelus dan menowel. Akan tetapi dari elusan dan belaian yang kaku itu iapun mengetahui bahwa Ki Seng adalah seorang pemuda yang tidak biasa bergaul dengan wanita. Hal ini bahkan menambah kegembiraan hatinya.

Untuk lebih dalam menguji kepandaian pemuda yang luar biasa itu, tiba-tiba Sian Hwa Sian-li melompat dan menyambar payung yang tadi ditancapkan di atas tanah. Kemudian secepat kilat ia menyerang Ki Seng dengan payung dan sabuk merahnya! Melihat kini wanita itu menggunakan dua macam senjatanya yang li-hay, Mei Ling merasa khawatir sekali. Akan tetapi Ciang Hok yang merasa bahwa pertandingan itu tentu sudah lebih dari seratus jurus, berseru.

"Sian Hwa Sian-li, seratus jurus sudah lama terlewat, berarti engkau telah kalah!" Akan tetapi, wanita itu tidak menjawab bahkan menyerang Ki Seng dengan lebih dahsyat lagi. Diserang menggunakan ilma senjata yang ampuh itu, Ki Seng merasa bahwa kalau dia tidak turun tangan mengalahkan, tentu dapat berbahaya juga bagi dirinya. Maka, tiba-tiba tangan kirinya meraih dan menangkap ujung payung, kemudian tangan kanannya secepat kilat menotok dengan It-yang-ci! Demikian cepat gerakannya sehingga sebelum Sian Hwa Sian-li dapat mengelak, tahu-lahu jalan darah di pundaknya telah tertotok dan seketika tubuhnya menjadi kaku tak dapat digerakkan.

Tentu saja Sian Hwa Sian-li menjadi terkejut sekali, akan tetapi ia merasa betapa jari-jari tangan pemuda itu mengelus dan menekan pundaknya dan iapun dapat bergerak kembali! Tahulah ia bahwa pemuda itu benar-benar lihai sekali dan kalau dikehendakinya, ia tentu sudah roboh sedari tadi. Maka iapun cepat melompat kebelakang, melibatkan sabuk sutera merahnya ke pinggang, dan memanggul payungnya yang sudah terbuka kembali. Ia tersenyum ke arah Ciang Hok dan membungkuk ke arah Ki Seng.

"Aku mengaku kalah, Ouw-pango, Engkau telah mampu menandingi aku selama seratus jurus. Sekarang tinggi syarat ke dua. Engkau harus pergi bersamaku untuk mengambil kereta dan semua isinya, dan menjadi tamu kehormatanku selama tiga hari tiga malam!"

Ki Seng menghadapi Ciang Hok dan Ciang Mei Ling, lalu berkata, "dan Pangcu, harap suka menanti sampai tiga hari lamanya. Saya akan membawa kereta berikut isinya kembali kepadamu!"

Ciang Hok merasa girang sekali melihat pemuda itu telah mampu menandingi Sian Hwa Sian-li yang lihai selama seratus jurus dan mendapat janji bahwa kereta berikut isinya yang dirampas Wanita itu akan dikembalikan kepadanya. Akan tetapi dia juga merasa tidak enak karena pemuda itu harus pergi bersama wanita berbahaya itu selama tiga hari. seolah- olah usaha mendapatkan kereta kembali itu hanya dipikul oleh Ouw Ki Seng seorang dan dia tinggal enak-enakan saja menanti hasilnya di rumah!

"Kami sungguh telah membikin repot Ouw-pangcu," katanya sambil memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan didepan dada.

"Ah, tidak mengapa, locianpwe. Bukankah di antara kita telah terjalin persahabatan? Sudah menjadi kewajiban searang laki-laki untuk menolong sahabatnya. Selamat tinggal, locianpwe, dan selamat tinggal, nona Ciang Mei Ling, aku harus ikut pergi bersama Sian Hwa Sian-li." katanya sambil memberi hormat yang dibalas oleh Ciang Hok dan puterinya.

Kemudian dia menoleh kepada wanita berpayung itu dan berkata, "Marilah, Sian Hwa Sian-li, kita pergi mengambil kereta itu."

Sian Hwa Sian-li tersenyum dan memutar payungnya. "Mari, Ouw-pangcu."

Setelah berkata demikian, ia memuta dengan gerakan seperti seorang penari membelakangi Ciang Hok dan Mei Ling kemudian dengan langkah gontai ia berjalan pergi.

Lenggangnya lemah-gemulai dan karena pinggangnya amat kecil dan ramping, maka pinggulnya tampak besar membusung dan ketika ia melangkah pinggulnya bergoyang- goyang seperti menari-nari. Akan tetapi gerakan langkah kakinya amat cepat dan tubuhnya meluncur cepat ke depan, diikuti Ki Seng yan berjalan di sampingnya.

Ciang Mei Ling berdiri bengong, memandang ke arah tubuh belakang Sia Hwa Sian-li dan alisnya berkerut, wajahnya tampak muram. Ciang. Hok melihat keadaan puterinya ini dan dia berkata "Kenapakah, Mei Ling? Engkau kelihatan seperti orang yang murung. Bukanka Ouw-pangcu sedang mengambil kembal kereta kita?" "Ayah, aku mengkhawatirkan Ouw pangcu. Wanita itu sungguh berbahaya sekali, seperti seekor ular berbisa yang cantik."

"Aah, apa yang dapat ia lakukan terhadap Ouw-pangcu? Tadi jelas bahwa ia telah mengaku kalah. Aku yakin Ouw- pangcu akan berhasil membawa kereta Kita." Dia lalu memegang tangan puterinya. "Hayo kita kembali, pulang!"

Ciang Mei Ling mengikuti ayahnya. Akan tetapi yang ia khawatirkan bukan seperti yang disangka ayahnya. Naluri Kewanitaannya membisikkannya bahwa wanita itu amat berbahaya bukan karena ilmu silatnya, melainkan karena kecantikan dan kegenitannya. Ia khawatir apakah Ki Seng akan mampu dan kuat mempertahankan diri terhadap rayuan wanita yang seperti siluman itu. Dan ia cemas. Hatinya sudah terpikat oleh ketua Ban-tok-pang yang muda itu semenjak ia dikalahkan olehnya. Apalagi mendengar pengakuan Ouw Ki Seng bahwa dia belum menikah dan belum bertunangan.

Diam-diam ia mengharapkan untuk dapat menjadi jodoh ketua yang menarik hatinya itu.

Sian Hwa Sian-li kini tidak berjalan biasa lagi, melainkan berlari dengan cepat sekali mendaki bukit. Kiranya ie telah mengerahkan seluruh gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan berlari cepat sekali biarpun ia masih memakai payungnya, Tubuhnya meluncur bagaikan larinya seekor kijang muda. Ia sengaja mengerahkan seluruh tenaganya untuk menguji kemampuan Ki Seng. Akan tetapi, betapa kagum dan girang hatinya melihat pemuda itu tetap dapat berlari di sampingnya dan dapat mengimbangi kecepatannya. Seorang pemuda pilihan yang jarang terdapat, pikirnya.

Ki Seng sendiri menanti perkembangan apa yang akan dialaminya dengan wanita itu. Hatinya berdebar tegang. Akar tetapi diapun tidak mengurangi kewaspadaan karena dia maklum bahwa wanita ini selain lihai, juga cerdik dan berbahaya sekali, di samping menggairahkan dan menarik hati. Dia masih belum yakin apakah sikap Sian Hwa Sian-li dengar kerling memikat dan senyum manisnya itu benar-benar jatuh cinta kepadanya?

Dia tidak ingin terjebak.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak Bukit Merak dan Ki Seng melihat sebuah rumah besar yang agaknya belum lama dibangun di puncak itu. Bangunan ini seluruhnya dari kayu. Kokoh dan indah, selain dicat beraneka warna, juga banyak terdapat ukir-ukiran yang indah. Bangunan itu cukup besar dan dikelilingi oleh sebuah taman bunga yang terpelihara rapi, penuh dengan bunga-bunga beraneka warna. Di bagian luar dari taman bunga itu terdapat pagar yang mengitari, pagar bambu runcing dan di bagian depan terdapat pintu gapura yang lebar.

Begitu mereka memasuki pintu gapura, dari bangunan itu datang berlarian sembilan orang wanita menyambut. Ki Seng memandang penuh perhatian dan dia merasa heran sekali.

Sembilan orang wanita itu masih muda-muda, paling tinggi dua puluh lima tahun usianya dan pakaian mereka dari sutera indah beraneka warna, bentuk tubuh mereka juga menggairahkan, akan tetapi wajah mereka semuanya buruk! Ketika sembilan orang wanita itu menyambut kedatangan Sian Hwa Sian-li mereka merubungnya dan seperti dikomando mereka mengeluarkan ucapan riuh rendah.

"Selamat datang, Sian-li yang mulia"

Sian Hwa Sian-li tertawa-tawa dan dirubung oleh sembilan orang wanita yang berwajah buruk itu, kecantikannya semakin menonjol. Ia bagaikan seolah seekor burung Hong di antara sembilan ekor burung gagak.

Sambil tersenyum Sian Hwa Sian-melambaikan tangannya dan berkata "Sudah, cepat kalian mempersiapkan pesta besar untuk menjamu tamuku ini. Dia ini adalah pangcu dari Ban- tok-pang!" Mendengar ucapan ini, sembilan oran wanita itu lalu menghadap Ki Seng, memberi hormat dengan membungkuk sampai dalam dan dari mulut mereka terdenga salam merdu, "Selamat datang, pangcu!"

Setelah mengucapkan selamat denga sikap hormat, sembilan orang wanita it sambil tertawa-tawa lalu berlarian masuk kembali ke dalam rumah itu. Merek bagaikan sembilan orang gadis remaja yang lincah dan gembira, dan melihat dari gerakan mereka Ki Seng dapat menilai bahwa mereka semua memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

"Hemm, engkau mempunyai pelayan-pelayan yang lincah, Sian-li." katanya sambil menoleh dan memandang wajah Sian Hwa Sian-li. Wanita itu kini menutup payungnya dan juga menatap wajah Ki Seng sambil tersenyum.

"Jangan pandang rendah mereka, Ouw pangcu. Biarpun mereka itu hanya merupakan pelayan dan pembantuku, akan tetapi kalau mereka membentuk Kiu-seng-tin (Barisan Sembilan Bintang), akan sukarlah untuk memecahkan dan mengalahkan barisan mereka. Dan mereka juga merupakan orang-orang yang setia sampai mati kepadaku!" kata Sian Hwa Sian-li dengan bangga.

"Hebat sekali," Ki Seng memuji. "Tentu engkau yang melatih mereka."

"Memang. Mereka merupakan murid-murid pula yang baik dan berbakat. Engkau hendak melihat bukti kelihaian dan kesetiaan mereka? Lihat!" Sian Hwa

Sian-li bertepuk tangan tiga kali di segera tampak sembilan orang wanita datang berloncatan dan mereka sudah memegang sebatang pedang dan tanpa diperintah mereka sudah mengepung Ki Seng. Gerakan mereka gesit, rapi dan agaknya merupakan barisan pedang yang tangguh. Wajah mereka dingin seperti arca dan mereka agaknya hanya menanti perintah Sian Hwa Sian-li untuk bergerak menyerang Ki Seng! Melihat ini, dengan sendirinya Ki Seng juga bersiap siaga untuk melawan mereka dan mengira bahwa Sian Hwa Sian-li memang sengaja hendak menjebaknya dengan barisan pedang ini.

Akan tetapi ternyata tidak demikian, Sian Hwa Sian-li menggerakkan tangan memberi isarat dan berseru, "Kembalilah kalian ke rumah dan cepat persiapkan hidangan untuk pesta itu. Potong ayam bebek dan kelenci yang paling gemuk dan muda. Pergilah!" Sembilan orang itu tanpa berkata apapun segera berloncat pergi.

"Bukan main!" Ki Seng memuji. "En kau memang hebat, Sian-li."

"Hemm, engkau belum melihat kemampuan-kemampuanku yang lain. Mari kita masuk ke rumah."

Dengan gembira dan bebas wanita itu menyambar tangan Ki Seng, dan menariknya memasuki rumah. Merasa betapa ringannya digandeng tangan yang berkulit halus dan hangat itu, Ki Seng tersipu dan jantungnya berdebar. Akan tetapi dia membiarkannya saja dan ikut memasuki rumah itu. Setelah melangkahi ambang pintu, Ki Seng terbelalak. Rumah yang terbuat dari kayu itu ternyata dalamnya mewah bukan main! Prabot-prabot rumah yang serba indah dan mahal, permadani yang tebal dan beraneka warna, hiasan dinding berupa lukisan dan tulisan yang luar biasa dan mahal, digantungi tirai-tirai sutera. Seperti ruangan rumah hartawan atau bangsawan seperti yang pernah dia dengar diceritakan orang.

Melihat pemuda itu terkagum-kagum, Sian Hwa Sian-li menjadi girang dan ia menarik tangan pemuda itu diajak duduk di atas kursi berukir. Mereka duduk berhadapan, terhalang sebuah meja bundar.

"Inilah rumahku, baru tiga bulan aku tinggal di sini. Telah bosan aku merantau dan melihat kesuburan dan keindahan Bukit Merak ini, aku lalu mengambil keputusan untuk tinggal di sini bersama sembilan orang pelayanku yang setia. Bagaimana pendapatmu tentang rumahki ini? Mari kita melihat-lihat sebelum duduk mengobrol!" Ia bangkit lagi dan kembali menggandeng tangan Ki Seng Mereka berdua lalu berjalan- jalan dalam rumah itu, memeriksa setiap ruangan. Ki Seng semakin kagum. Rumah itu memiliki dua kamar induk yang amat indah dan luas, memiliki kamar mandi yang lengkap, dan dapur yang memiliki prabot serba lengkap pula. Di bagian belakang terdapat lima buah kamar yang menjadi kamar sembilan orang pelayan tadi. Ki Seng melihat sembilan orang pelayan itu sedang sibuk bekerja di dapur dan tercium bau masakan yang sedap.

"Hebat! Rumahmu bagus dan menyenangkan sekali!" Ki Seng memuji.

Sian Hwa Sian-li tersenyum. Mereka sudah duduk kembali di ruangan tengah.

"Bagian mana yang kau anggap paling indah menyenangkan, pangcu?"

"Hemm , semua bagian indah," Ki seng mengingat-

ingat dan memandang ke sekeliling, "akan tetapi yang paling menyenangkan adalah kamar tidur itu. Begitu indah menyenangkan dan berhawa sejuk, jendelanya menghadap taman bunga sehingga udaranya segar dan berbau harum." Ki Seng memuji dengan sejujurnya tanpa mengandung maksud tertentu.

Sian Hwa Sian-li tertawa sehingga mulutnya terbuka.

Wanita ini memang manis sekali kalau tertawa. Muncul lesung pipit di pipi kirinya. "Kita berpesta dulu, makan minum, kemudian kita akan bersenang-senang dalam kamar itu." Ia menatap wajah Ki Seng dan pemuda itu melihat Sian Hwa Sian-li memandangnya dengan sepasang mata hampir terpejam. Jantungnya berdebar aneh dan dia merasa mukanya menjadi panas. Dia tidak tahu bahwa mukanya menjadi merah sekali dan melihat ini, Sian Hwa Sian-tersenyum. Ki Seng makin tersipu karena dia merasakan sesuatu yang asing baginya, namun dia tahu bahwa dia amat tertarik kepada wanita ini.

"Ouw-pangcu, sekarang kita harus mempererat persahabatan antara kita dengan mengenal riwayat diri masing masing. Aku ingin sekali mengetahui riwayatmu, siapa orang tuamu dan bagaimana engkau yang semuda ini sudah dapat menjadi pangcu dari Ban-tok-pang dan telah memiliki ilmu kepandaian demikian hebat. Siapa pula gurumu? Aku melihat tadi totokanmu itu luar biasa sekali. Apakah itu yang dinamakan It yang-ci? Aku hanya pernah cerita tentang ilmu itu, akan tetapi belum pernah menyaksikannya."

Ki Seng merasa bahwa sudah sewajarnya kalau mereka saling mengenal lebih dekat dengan menceritakan keadaan masing-masing. Akan tetapi, dia merasa tidak kalah tinggi kedudukannya sehingga kalau mereka saling menceritakan keadaan masing-masing, sepatutnya Sian Hwa Sian-li yang lebih dulu menceritaka keadaannya. Diapun ingin sekali mengetahui riwayat hidup wanita cantik yang memikat hatinya itu.

"Usulmu baik sekali dan aku dapat menerimanya, Sian-li.

Akan tetapi, riwayatku tidak menarik, karena itu akan kuceritakan kepadamu setelah lebih dulu Engkau bercerita tentang dirimu."

"Ah, tidak ada apa-apanya yang menarik tentang diriku, Ouw-pangcu." kata wanita itu dengan sikap manja.

"Segala sesuatu tentang dirimu amat menarik hatiku, Sian- li." kata Ki Seng terus terang.

Sian Hwa Sian-li membelalakkan matanya dan wajahnya berseri. "Benarkah, Pangcu? Benarkah engkau tertarik kepadaku?" "Aku amat tertarik kepadamu, Sian-li. Engkau seorang wanita yang memiliki daya tarik yang kuat dan aku ingin sekali mengetahui riwayatmu."

"Aihhh.......! Aku menjadi khawatir "

"Apa yang kaukhawatirkan?"

"Aku khawatir kalau isteri atau tunanganmu menjadi cemburu kepadaku!" mata Sian Hwa Sian-li mengerling tajam.

Ki Seng tertawa dan pada saat itu, seorang pelayan datang membawa seguci arak dan dua buah cawan. Setelah mengisi kedua cawan dan meletakkannya di depan Sian Hwa Sian-li dan Ki Seng, dai menaruh guci di atas meja, pelayan itu lalu pergi lagi. Semua dilakukannya dengan cekatan dan tanpa kata-kata.

"Engkau tidak perlu khawatir, Sian li. Aku belum beristeri dan juga tidak mempunyai tunangan." kata Ki Seng.

"Bagus sekali kalau begitu. Girang aku mendengarnya dan mari kita minum untuk memberi selamat kepadaku!" Ia mengangkat cawan.

"Memberi selamat kepadamu? Untuk apa?" tanya Ki Seng yang juga mengangkat cawannya.

"Ya, memberi selamat kepadaku karena aku dapat berkenalan dengan engkau yang masih perjaka, belum beristeri di belum bertunangan. Mari kita minum demi persahabatan kita!"

Keduanya lalu minum arak dan suasana menjadi semakin akrab. "Nah, ceritakanlah tentang dirimu, Sian-li."

Sebelum menceritakan riwayatnya, Sian Hwa Sian-li mengajak minum lagi sampai mereka menghabiskan arak tiga cawan. Lidahnya menjadi ringan oleh pengaruh arak dan iapun mulai bercerita dengan sikap dan gaya yang genit dan manja. "Aku berasal dari selatan, jauh di selatan, di Propinsi Yunnan. Aku hidup sebatang kara, orang tuaku telah tewas ketika terjadi perang di daerah selatan. Semenjak berusia lima belas tahun aku hidup di bawah asuhan seorang pamanku, yaitu adik ibuku. Akan tetapi dia jahat dan aku dijualnya untuk menjadi budak pada sebuah keluarga hartawan. Di sana aku bekerja sebagai budak, akan tetapi hartawan itu mempunyai niat untuk mengambil aku menjadi selirnya. Aku merasa takut dan pada suatu malam aku berhasil melarikan diri. Karena khawatir dikejar, aku berlari terus sampai memasuki sebuah hutan. Pakaianku koyak-koyak terkait duri, perutku lapar dan tubuhku lemas dan pada saat menjelang senja itu, para pengejar, para tukang pukul hartawan itu dapat menyusulku di dalam hutan itu "

"Kasihan sekali engkau, Sian-li." kat Ki Seng yang mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian.

"Ki Seng, kita telah menjadi sahabat Lupakan saja sebutan Sian-li dan pangcu itu, ya? Nama kecilku adalah Kim Goat panggil saja aku dengan nama itu dan akupun memanggil engkau dengan nama mu saja."

Ki Seng tersenyum dan merasa lebih akrab. Wanita ini sungguh menyenangkan pikirnya.

"Baiklah, Kim Goat. Nama yang bagus Kim Goat (Bulan Emas)."

"Akan tetapi nasib dan peruntunganku tidak sebagus itu. Ketika aku dapat di kejar dan disusul, tubuhku sudah begitu lemah sehingga aku tidak dapat berlari lagi. Tukang pukul yang lima orang jumlahnya itu sudah mengepungku, siap untuk menangkapku. Pada saat itu muncullah seorang laki-laki berusia sekita enam puluh tahun. Dia menyelamatkanku dan membunuh lima orang tukang pukul it dan setelah mengetahui bahwa aku hidup sebatang kara, dia lalu mengajakku pergi. semenjak hari itu aku menjadi muridnya sampai lima tahun aku menjadi muridnya dan selanjutnya, aku bukan saja menjadi muridnya, akan tetapi juga menjadi isterinya."

"Hemmmm " Ki Seng mengerutkan alisnya, terasa

sesuatu yang tidak enak dalam hatinya mendengar wanita itu menjadi isteri gurunya sendiri.

"Ya, aku tidak mempunyai pilihan lain, Ki Seng. Dialah satu- satunya orang di dunia di mana aku bergantung, menjadi sandaranku, menjadi pengganti orang tuaku, juga guruku, juga suamiku. Akan tetapi setahun kemudian, dia tewas di tangan seorang musuh. Aku hidup sebatang kara lagi. Hatiku dipenuhi dendam. Karena itu aku selalu berusaha untuk memperdalam ilmu silatku dan setelah aku merasa mampu, aku lalu membunuh hartawan yang pernah menyuruh para tukang pukulnya mengejar dan menangkapku, aku mencari pamanku dan membunuhnya pula. Dan akhirnya aku berhasil membunuh musuh besar yang telah menewaskan guruku.

Nah, semenjak itulah aku malang melintang seorang diri di dunia kang-ouw dan mendapatkan julukan Sian Hwa Sian-li, karena aku selalu meninggalkan bunga setiap melakukan sesuatu sebagai tanda."

"Dan selama itu engkau tidak pernah bersuami lagi? Juga sekarang tidak?"

Sian Hwa Sian-li menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Aku lebih senang hidup sendiri, bebas dan dapat memilih kawan sesuka hatiku, bergaul dengan siapa saja yang kusukai. Seandainya aku bersuami, tentu aku tidak dapat mengundangmu menjadi tamuku dan kita mengobrol berdua sesantai ini, bukan?"

Ki Seng mengangguk-angguk dan tersenyum pula. "Beruntung sekali aku karena engkau tidak bersuami sehingga aku dapat menjadi tamumu. Riwayatmu amal menarik hati dan aku percaya bahwa selama bertualang di dunia kang-ouw engkau tentu telah memiliki banyak pengalaman. Pantas saja ilmu kepandaianmu demikian hebat sehingga Ciang-pangcu dari Pek-eng-pang tidak mampu menandingimu."

"Akan tetapi kenyataannya, aku tidak dapat menandingimu padahal engkau masih begini muda, Ki Seng."

"Usiaku tidak berselisih jauh dengan usiamu, Kim Goat.

Engkaupun masih amat muda."

"Hemm, berapa sih usiamu, Ki Seng?" "Aku sudah berusia dua puluh satu tahun." "Ah, masih amat muda."

"Tentu tidak jauh selisihnya denganmu, kalau tidak dapat dikatakan bahwa engkau lebih muda lagi."

Sian Hwa Sian-li tertawa. "Hi-hik, biarpun aku sendiri tidak tahu berapa sesungguhnya usiaku, akan tetapi sudah pasti lebih dari dua puluh satu tahun."

"Akan tetapi engkau kelihatan masih muda sekali, paling banyak dua puluh tahun!"

"Sesungguhnyakah?" Sian Hwa Sian-li tersenyum gembira.

Tidak ada pujian yang lebih menyenangkan bagi seorang wanita daripada pujian bahwa ia masih tampak muda!

"Sekarang ceritakanlah riwayatmu, Ki Seng."

Pemuda itu menghela napas panjangi "Riwayatku tidak menarik dan menyedihkan, Kim Goat. Sebetulnya, nama Owh Ki Seng adalah nama samaranku. Aku... tidak dapat kuceritakan rahasia tentang diriku, Kim Goat. Kita baru saja berkenalan."

Kim Goat atau Sian Hwa Sian-li mengerutkan alisnya yang kecil panjang dari hitam. "Akan tetapi, bukankah kita telah menjadi sahabat baik? Ah, sudahlah! Kalau engkau hendak merahasiakan dirimu, terserah. Akan tetapi setidaknya ceritakan siapa orang tuamu, gurumu dari bagaimana semuda ini engkau sudah menjadi ketua Ban-tok-pang."

"Siapa orang tuaku belum dapat kuceritakan. Guruku berjuluk Cheng Hian Hwesio dan bertahun-tahun waktuku kuhabiskan untuk belajar ilmu silat. Setelah aku tamat belajar aku berkunjung ke Ban tok-pang dan karena para pimpinan Ban tok-pang takluk kepadaku, maka setelah pimpinannya meninggal dunia, lalu aku diangkat menjadi ketua Ban-tok- pang. Sampai sekarang, baru kurang lebih satu bulan aku menjadi ketua Ban-tok-pang."

"Dan hubunganmu dengan Pek-eng-pang?"

"Tadinya aku datang untuk menalukkan Pek-eng-pang dan menariknya menjadi bawahan perkumpulanku. Aku sudah mengalahkan mereka dan pada saat para Piauwsu mengabarkan betapa kereta mereka kau rampas, aku masih berada di sana sebagai tamu. Maka aku lalu membantu mereka menghadapimu."

"Dan aku girang sekali kau lakukan itu karena dengan begitu maka kini kita saling berkenalan dan menjadi sahabat baik."

Para pelayan berdatangan membawa hidangan yang masih mengepul. Sian Hwa Sian-li lalu mengajak tamunya untuk makan minum, dilayani para pelayan wanita yang sembilan orang jumlahnya itu. Hidangan itu mewah sekali dan Ki Seng juga tidak malu atau sungkan lagi. Pia makan minum dengan lahap dan gembiranya, apalagi karena Sian Hwa Sian-li melayaninya dengan ramah dan manis.

Malam telah tiba ketika mereka berdua akhirnya merasa kenyang dan menyudahi perjamuan berdua itu. Ketika diajak bangkit dari kursinya, Ki Seng merasa kepalanya ringan dan perasaannya mengapung. Dia tidak biasa minum arak sedemikian banyaknya, maka pengaruh arak membuatnya agak mabok. Sian Hwa Sian-li membimbingnya dani mempersilakannya untuk mandi. Ki Seng merasa diperlakukan sebagai raja!

Bahkan Sian Hwa Sian-li sudah menyediakan pakaian pengganti untuknya, pakaian pria yang amat bagus, terbuat dari sutera halus, pakaian yang biasa dipakai oleh seorang bangsawan atau hartawan dan pakaian itu masih baru!

Setelah mandi dan berganti pakaian baru, Ki Seng keluar dari kamar mandi dan dia tertegun, terpesona ketika melihat Sian Hwa Sian-li telah berdiri di depan kamar mandi menyambutnya. Wanita itu agaknya juga sudah habis mandi dan mengenakan pakaian yang amat indah, wajahnya cantik jelita berseri-seri pun tersenyum kepadanya! Ki Seng menelan ludah sendiri, tidak dapat berkata-kata dan juga tidak menolak ketika Sian Hwa Sian-li menghampirinya dan menggandeng tangannya.

Sian Hwa Sian-li yang sudah berpengalaman itu tersenyum geli ketika merasa betapa tangan Ki Seng yang digandengnya itu gemetar. Maklumlah wanita ini bahwa Ki Seng adalah seorang pemuda yang mungkin belum pernah bergaul dengan wanita. Tanpa berkata apapun ia lalu menggandeng pemuda itu memasuki kamarnya yang luas dan indah.

Bagaikan seekor kerbau yang jinak, Ki Seng membiarkan dirinya dituntun ke dalam kamar itu. Dalam diri Sian Hwa Sian- li dia menemukan seorang guru yang amat pandai yang mengajarnya berenang dalam lautan nafsu berahi. Dia segera terbuai dalam kemesraan yang memabokkan dan lupa segala- galanya.

Nafsu memegang peran penting dalam kehidupan manusia.

Nafsu memiliki pengaruh yang amat kuat. Manusia, betapa pun kuatnya dia, seringkali menjadi lemah menghadapi nafsunya sendiri, kalau nafsu itu telah berubah menjadi majikan yang mencengkeram dan menguasainya, Nafsu menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani, menyuguhkan kepuasan. Oleh karena itu maka tidak mengherankan kalau manusia jatuh olehnya. Bagi seorang yang sudah dicengkeram oleh nafsu, hidup ini merupakan medan untuk mengejar kesenangan duniawi, kesenangan jasmani dan dalam pengejaran kesenangan inilah manusia sanggup melakukan apa saja, melanggar peraturan apa saja. Nafsu membuatnya mabok dan lupa daratan. Nafsu bagaikan nyala api, makin diturut makin diberi umpan, akan menjadi semakin besar yang akhirnya akan membakar segalanya termasuk dirinya pribadi.

Nafsu bagaikan kuda yang kalau dibiarkan meliar akan kabur dan menyeret kita sendiri ke dalam jurang. Akan tetapi kalau kita dapat mengendalikan dan menguasai api dapat mengendalikan dan menguasai kuda maka kita akan dapat memanfaatkan dan mempergunakan untuk kepentingan hidup Ini. Begitu kuat pengaruh nafsu yang mencengkeram hati akal pikiran kita sehingga semua pengetahuan dan kepandaian kita tidak ada artinya sama sekali untuk menentangnya karena pusat pengetahuannya dan kepandaian itu, ialah hati akal pikiran kita, sudah dicengkeramnya dan menjadi budaknya.

Satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat terbebas dari pengaruh nafsu kita sendiri yang demikian kuat hanyalah dengan selalu ingat dan waspada. Ingat kepada Tuhan Maha Pencipta dengan penuh keimanan dan kepasrahan lahir batin, kepasrahan yang penuh ketawakalan dan keikhlasan. Dan waspada terhadap diri kita sendiri, terhadap kiprahnya hati akal pikiran kita sehingga kita akan selalu dapat mengamati ulah nafsu kita sendiri. Hanya dengan penyerahan kepada Tuhan, maka Kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita menundukkan nafsu kita sendiri.

Ki Seng adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam pengalaman dengan wanita. Dia belum pernah bergaul dengan wanita. Dan memang pada dasarnya pemuda ini sudah membiarkan dirinya takluk terhadap nafsunya sendiri sehingga bertemu dengan Sian Hwa Sian-li, dia mudah terjun dan menyelam dalam gairah nafsu berahinya. Mabok oleh kemesraan yang dinikmatinya. Sian Hwa Sian-li merasa gembira bukan main mendapatkan seorang pemuda yang selain masih perjaka, juga seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, seorang pemuda yang boleh diandalkan sebagai rekan dan sahabat karena kesaktiannya, seorang pemuda yang amat menyenangkan dijadikan kekasih barunya. Dan keduanya ternyata memiliki watak yang cocok!