-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 16

Jilid XVI

"WAH, sekarang aku datang. Untuk menentukan kedudukanku, tentu sudah sepatutnya kalau aku diuji dan siapa pengujinya kalau bukan Paman Ouw Kian atau Paman Ouw Sian sendiri? Paman berdua hanya baru mendengar bahwa aku telah mempelajari ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi tanpa menguji, bagaimana kedua paman akan menjadi yakin akan kemampuanku?"

"Bagus, memang sudah sepantasnya begitu. Biarlah sekarang juga, kami akan mengujimu. Sian-te (adik Sian), cobalah engkau dulu yang menguji Ki Seng. Engkau harus bersilat sungguh-sungguh dan mengeluarkan semua kemampuanmu, baru kita dapat menilai sampai di mana tingkat kepandaiannya. Mari kita pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat)." Dia mengajak semua keluarganya, termasuk isterinya, dua orang anak laki-laki berusia tiga belas dan dua puluh lima tahun isteri Ouw Sian dan seorang anak perempuan Ouw San yang berusia sembilan belas tahun, untuk menonton ujian kepandaian silat Ki Seng itu. Bahkan beberapa orang anggauta Ban-tok-pang yang menjadi pembantu-pembantu, yang merupakan tokoh-tokoh Ban-tok- pang yang sudah memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup, ikut pula menonton.

Ouw Sian berhadapan dengan Ki Seng di lian-bu-thia, ditonton oleh keluarga dan para pembantu. Semua orang berwajah gembira karena mengharapkan pertunjukan yang menarik dan tentu saja tidak ada bahayanya karena adu kepandaian itu hanya merupakan ujian belaka, tidak sungguh- sungguh.

"Ki Seng, engkau hendak menggunakan senjata apakah?

Pilihlah di rak senjata itu. Aku sendiri akan menggunakan siang-to (sepasang golok) ini!" kata Ouw Sian sambil mencabut sepasang goloknya yang biasanya tergantung di punggungnya.

"Suhu mengajarkan bahwa segala benda di dunia ini dapat saja dijadikan sebagai senjata, kecuali kaki dan tangan sendiri." kata Ki Seng dengan senyum dingin. Dia tidak berbohong karena memang demikian yang diajarkan Cheng Hian Hwesio. Buktinya, Nelayan Gu dapat mempergunakan dayung sebagai senjata, dan Petani Lai juga dapat mempergunakan sebatang cangkul sebagai senjatanya yang ampuh. Dia melirik ke arah kursi dan menyambung, "misalnya kursi itu, dapat saja kupakai sebagai senjata untuk menghadapi serangan golokmu, Paman Ouw Sian."

Dua orang pimpinan Ban-tok-pang itu mengerutkan alisnya.

Mereka menganggap Ki Seng terlalu sombong. Baru belajar silat lima tahun sudah berani menantang untuk menghadapi Ouw Sian dengan sepasang goloknya yang amat lihai hanya dengan bersenjatakan sebuah kursi kayu!

"Ki Seng, jangan gegabah. Sepasang golok pamanmu Ouw Sian amat hebat, bagaimana akan kau lawan dengan sebuah kursi? Pilihlah pedang atau golok!" kata Ouw Kian.

"Tidak, paman, aku cukup mengguna-kan kursi kayu ini dan seandainya aku kalah oleh Paman Ouw Sian, biarlah aku menempati kedudukan sebagai anggauta biasa saja."

Ucapan ini walaupun dikeluarkan dengan sederhana, namun mengandung tantangan yang memandang rendah Ouw Sian! Ouw Kian dan Ouw Sian adalah murid-murid Toa Ok. Mereka merasa diri mereka sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat, maka melihat sikap dan mendengar ucapan Ki Seng, tentu saja mereka menjadi penasaran sekali.

Terutama Ouw Sian, wajahnya yang biasanya kekuningan kini menjadi agak merah dan dia sudah menjadi marah.

"Baiklah, Ki Seng, engkau yang berjanji sendiri. Kurasa tingkat kepandaianmu juga tidak terlalu jauh dari tingkat seorang anggauta perkumpulan kita yang biasa. Nah, mari kita mulai!" Setelah berkata demikian, Ouw Sian sudah menyilangkan sepasang goloknya di depan dada dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Melihat ini, Ki Seng mengambil sebuah kursi kayu berkaki empat. Dia menganggap kursi itu merupakan senjata yang cukup baik untuk menghadapi sepasang golok pamannya. "Aku sudah siap, Paman Ouw Sian!" katanya lantang dan sikapnya biasa saja. Dia berdiri tegak dan memegang kursi itu secara terbalik sehingga empat buah kaki kursi berada di depan.

Ouw Sian merasa dipandang rendah sekali. Dia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada keponakannya yang bersikap jumawa ini. Akan dihancurkannya kursi yang dipegangnya, kemudian dia akan merobohkan Ki Seng dengan tendangan kakinya. Maka dia lalu memutar sepasang goloknya di atas kepala dan berseru, "Awas, Ki Seng, lihat serangan- ku!" Dan diapun menyerang dengan dahsyatnya. Dia memperhitungkan bahwa serangan sepasang goloknya tentu akan ditangkis dengan kursi itu dan itulah saatnya sepasang goloknya membikin remuk kursi itu menjadi berkeping-keping.

Akan tetapi ternyata tidak terjadi seperti yang ia sangka. Ketika sepasang goloknya menyambar, mengancam tubuh Ki Seng dengan bacokan dan tusukan, pemuda itu sama sekali tidak menggunakan kursi itu untuk menangkis, melainkan dia mengelak dengan gerakan cepat sekali sehingga mengejutkan hati Ouw Sian. Akan tetapi hati orang tinggi kurus ini selain terkejut, juga penasaran sekali melihat betapa amat mudahnya Ki Seng mengelak dari serangan-serangannya, seolah penyerangannya itu tidak ada artinya dan dipandang rendah. Dia lalu mempercepat gerakan sepasang goloknya dan menyerang dengan hebat.

Akan tetapi dia terkejut sekali ketika kehilangan Ki Seng! Pemuda itu berkelebat dan lenyap dari depannya dan tahu tahu telah berada di belakangnya! Demikian cepat gerakan tubuh Ki Seng seolah olah dia pandai menghilang saja. Ouw Sian memutar tubuhnya dan menggunakan sepasang goloknya untuk membacok dengan cara menyilang dan menggunting

Sekali ini Ki Seng menggerakkan kursi nya dua kali, akan tetapi dia tidak menangkis dengan memapaki pedang, melainkan menghantam dari samping mengenai badan golok. "Trang-trang !!" Demikian kuatnya tangkisan itu

membuat Ouw Sian menjadi terpelanting dan terhuyung! Tentu saja kursi itu tidak menjadi rusak karena menangkis dari samping, tidak bertemu dengan mata golok yang tajam. Ouw Sian menjadi semakin terkejut dan dia hampir tidak percaya bahwa tangkisan kursi itu dapat membuat dia terhuyung. Dari terkejut, heran dan penasaran, dia menjadi marah. Wakil ketua Ban-tok-pang ini bukanlah orang yang dapat menerima kekalahan. Dia selalu mengagulkan kepandaian sendiri dan tidak memandang mata kepada orang lain. Karena marahnya, lupalah dia bahwa yang dihadapinya adalah keponakan sendiri dan dia sedang menguji kepandaian sang keponakan itu. Kini dalam pandang matanya, yang dihadapinya adalah seorang musuh besar yang telah membuat dia malu! Dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat lalu menyerang dengan dahsyat pula, sepasang goloknya berubah menjadi tangan-tangan maut yang siap mencengkeram dan membinasakan Ki Seng!

Namun Ki Seng tersenyum dingin. Diapun tahu akan kemarahan pamannya dan bahwa kini pamannya sudah mata gelap dan penyerangannya adalah untuk mematikannya. Akan tetapi dia bersikap tenang saja karena maklum bahwa dia dapat mengatasi pamannya ini dengan mudah. Ketika golok kiri pamannya menyambar lagi, dia mengelak ke kanan dani sebelum golok kanan bergerak, dia sudah mendahului pamannya, menggunakan kursi untuk balas menyerang dan menghantami ke arah tangan kanan Ouw Sian. Kaki kursi itu menotok ke arah siku dan seketika lengan kanan Ouw Sian menjadi kaku dan golok kanannya terlepas dari pegangan. Hal ini membuat Ouw Sian semakin marah dan tanpa memperdulikan apapun dia sudah menubruk dan melancarkan pukulan Ban-tok-ciang yang ampuh itu ke arah tubuh Ki Seng! Jari-jari tangan terbuka itu menyambar ke arah dada dengan kecepatan luar biasa dan mendatangkan hawa panas yang beracun. "Wuuuuttt !" Pukulan Ban-tok-ciang itu meluncur ke

arah dada Ki Seng. Melihat ini, Ki Seng tersenyum dan sinar matanya mencorong, berubah kejam. Tahulah dia bahwa kalau Ouw Sian dibiarkan hidup, kelak hanya akan menjadi orang yang memusuhinya. Maka, cepat dia menangkis serangan itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya secepat kilat menotok dengan satu jari. Itulah It-yang-ci dan dengan tepat sekali jari telunjuk kanannya masuk dan menotok dada Ouw Sian bagian kiri.

"Tukkkk I" Ouw Sian mengeluh dan roboh terjengkang,

tewas seketika karena totokan tadi telah merusak jantungnya!

Ouw Kian terkejut bukan main ketika adiknya roboh dan tidak bangkit kembali. Apalagi ketika dia melihat betapa mata adiknya mendelik dan tidak bergerak-gerak. Cepat dia meloncat ke dekat adiknya dan berjongkok untuk memeriksa. Matanya terbelalak ketika dia mendapat kenyataan bahwa adiknya ternyata telah tewas! Dia lalu bangkit berdiri, memutar tubuhnya menghadapi Ki Seng dengan mata melotot.

"Ki Seng !!" bentaknya dengan kemarahan luar biasa.

"Apa yang telah kaulakukan ini? Engkau telah membunuhi pamanmu Ouw Sian!"

"Hemm, paman sendiri tentu tahu bahwa yang menggunakan Ban-tok-ciang dan bermaksud membunuhku adalah Pa-man Ouw Kian. Aku hanya membalas apa yang hendak dia lakukan terhadap diri-ku." jawab Ki Seng dengan sikap tenang-tenang saja, bahkan pandang matanya menantang.

"Ki Seng, engkau anak durhaka. Engkau telah membunuh Ouw Sian dan karena itu aku harus menghukummu!" bentak Ouw Kian marah dan dia sudah mencabut pedangnya.

Ki Seng mengerutkan alisnya. "Hemm kalau paman hendak menyusulnya, mari kuantarkan paman!" Ucapan ini bagaikan minyak yang disiramkan kepada api kemarahan Ouw Kian, membuat kemarahannya semakin berkobar. "Anak setan, mampuslah engkau!" Setelah berkata demikian, Ouw Kian menyerang dengan pedangnya. Melihat ini, Ki Seng membungkuk dan menyambar sebatang golok milik Ouw Sian yang tadi terjatuh dan dia menangkis dengan golok itu ketika pedang menyambar.

Sementara itu, ketika mendengar bahwa suami dan ayah mereka telah tewas, isteri Ouw Sian dan anak perempuannya lalu menubruk mayat Ouw Sian sambil menangis.

Perkelahian antara Ouw Kian dan Ki Seng makin hebat dan ketika tangkisan golok Ki Seng membuat tangannya tergetar dan pedangnya terpental, Ouw Kian menjadi terkejut sekali dan segera meneriaki para pembantunya untuk turun tangan membantunya. Lima orang pembantu ketua itu lalu mencabut golok masing-masing dan berlompatan maju mengeroyok Ki Seng. Serangan Ouw Kian dan para pembantunya itu merupakan serangan mematikan karena mereka semua sudah bertekad untuk membunuh pemuda yang berbahaya itu.

Akan tetapi Ki Seng kini mengamuk, dan goloknya berkelebatan, menjadi sinar yang bergulung-gulung dan belasan jurus kemudian, lima orang pembantu ketua itu roboh satu demi satu dan tewas seketika karena golok di tangan Ki Seng menyerang dengan amat hebatnya! Melihat itu Ouw Kian menjadi marah akan tetapi juga gentar. Bagaimana juga, dia tidak dapat menghindarkan diri lagi dan ketika dia menangkis golok yang menyambar dahsyat, pedangnya terpental dan terlepas dari tangannya. Pada saat itu tangan kiri Ki Seng sudah meluncur ke depan dan totokan satu jari yang demikian dahsyatnya sehingga gerakan itu mengeluarkan suara mencicit. Itulah It-yang ci yang dipergunakan untuk menyeran ke arah ulu hati.

"Tukk !!" Tubuh Ouw Kian terjengkang lalu roboh

menggelepar, mulutnya muntahkan darah segar dan dia hanya dapat terbelalak, tangannya menuding ki arah Ki Seng dan diapun tewas seketika

Pada saat itu terdengar teriakan nyaring. Ouw Cun, putera Ouw Kian yang berusia dua puluh lima tahun sudah menerjang dengan sebatang pedang di tangannya. Juga Ouw Ci Hwa, puteri Ouw Sian yang tadi menangisi ayahnya kini menyerang dengan sebatang pedang. Bahkan janda kedua orang pimpinan Ban-tok-pang itu sudah mencabut pedang dan ikut menyeroyok untuk membalas kematian suami mereka.

Ki Seng tersenyum lebar. Golok di tangannya berkelebat dan Ouw Ci Hwa, gadis berusia sembilan belas tahun itupun roboh mandi darah, dadanya terobek golok dan dia tewas di dekat jenazah ayahnya. Ouw Cun dengan marah dan nekat menubruk maju dengan pedangnya, dibantu oleh dua orang janda yang juga sudah nekat. Ki Seng memutar goloknya.

"Trang-trang-tranggg !" Tiga batang pedang itu

terpental dan terlepas dari tangan tiga orang pengeroyok itu dan sebelum mereka sempat menghindar, golok di tangan Ki Seng menyambar-nyambar dan robohlah tiga orang itu, tewas seketika terkena bacokan golok yang dilakukan dengan tenaga dalam yang amat kuatnya.

Sunyi di tempat itu. Kesunyian yang mencekam. Para anak buah Ban-tok-pang yang tadi berlari-lari mendatangi ruangan yang menjadi tempat pembantaian itu berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat. Di lantai berserakan sebelas orang yang telah menjadi mayat dan darah membanjiri lantai itu. Ki Seng berdiri tegak, memandang ke kanan kiri, menyapu wajah-wajah para anak buah Ban-tok-pang,

Sinar mata Ki Seng mencorong ketika dia mengamati wajah-wajah para anggauta itu sehingga setiap orang anggauta yang bertemu pandang dengan dia merasa ngeri dan menundukkan muka. Para anggauta Ban-tok-pang adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perbuatan sewenang-wenang dan kejam, tidak mengenal rasa takut. Akan tetapi kini menghadapi Ki Seng yang membantai sebelas orang, di antaranya paman-paman dan bibi-bibinya sendiri, mereka menjadi ketakutan dan merasa ngeri.

"Hayo siapa lagi yang berani menentang aku?" bentak Ki Seng sambil mengelebatkan goloknya.

Tak seorang pun berani menjawab, bahkan tidak ada yang berkutik. Dua orang di antara para anggauta itu melangkah maju dan memberi hormat kepada Ki Seng.

"Ouw-kongcu (tuan muda Ouw), tidak ada seorangpun di antara kami yang akan menentang kongcu." kata seorang di antara mereka. Dua drang itu adalah A Kiu dan A Hok, dua orang anggauta Ban-tok-pang yang memang sejak dahulu menjadi sahabat Ki Seng, bahkan kedua orang ini yang menemuinya di waktu malam ketika Ki Seng membunuh Nelayan Gu dan Petani Lai.

"A Kiu dan A Hok, kalian berdua menjadi dua orang pembantuku. Heiii kalian semua, kalau tidak ada yang berani menentangku, kalian semua harus berlutut. Akulah yang menjadi pangcu (ketua) Ban-tok-pang mulai saat ini!" kata Ki Seng sambil meluncurkan goloknya ke atas lantai sehingga golok itu menancap sampai ke gagangnya di lantai.

Mendengar ini, semua anggauta lalu menjatuhkan diri berlutut dan serempak mereka berseru. "Pangcu !"

Hati Ki Seng merasa senang sekali. "Bagus, aku akan memimpin kalian dan membuat Ban-tok-pang menjadi perkumpulan terbesar. A Kiu dan A Hok, pimpin orang-orang ini untuk mengubur mayat-mayat itu dan membersihkan ruangan ini. Aku hendak beristirahat!" Setelah berkata demikian, Ki Seng memasuki gedung itu, masuk ke dalam kamar besar yang biasanya ditempati ketua Ban-tok-pang dan di lain saat ia telah tidur mendengkur di atas pembaringan!

Pada keesokan harinya, Ki Seng memeriksa gedung itu dan mengumpulkan emua barang-barang berharga yang kini menjadi miliknya. Kemudian ia memerintahkan A Kiu A Hok yang diangkatnya menjadi pembantu-pembantunya untuk menggerakkan anak buahnya mengadakan pesta untuk merayakan pengangkatan diri nya sendiri sebagai ketua Ban- tok-pang.

Semua anggauta diharuskan ikut berpesta pora. Pesta itu dilakukan semalam suntuk dan para anak buah itu rata-rata merasa senang karena mereka tahu bahwa ketua baru yang sekarang ini adalal seorang yang sakti, jauh lebih lihai di bandingkan para pimpinan mereka yang telah tewas. Hal ini tentu saja membesarkan hati mereka. Ketua mereka yang baru ini seorang yang masih amat muda, baru dua puluh satu tahun usianya, tampan sekali dan gagah perkasa! Hati siapa tidak akan bangga menjadi anak buahnya?

Ban-tok-pang adalah sebuah perkumpulan sesat yang terkenal suka mempergunakan racun. Sesuai dengan namanya Ban tok-pang (Perkumpulan Selaksa Racun) perkumpulan ini terkenal sekali dalam mempergunakan senjata beracun, juga sarang mereka penuh dengan jebakan jebakan yang mengandung racun berbahaya. Sebelum menjadi murid Chen Hian Hwesio, Ki Seng sudah hafal akan racun-racun yang dipergunakan Ban-to pang. Setelah dia menjadi ketua, di memperbarui jebakan-jebakan itu untuk mencegah orang luar memasuki perkampungan Ban-tok-pang. juga dia melarang anak buahnya untuk melakukan perampokan seperti yang biasa mereka lakukan. Biasanya, para anak buah Ban-tok- pang tidak segan-segan untuk melakukan pencurian dan perampokan, dan membunuh kalau ada yang melawan.

"Kita adalah sebuah perkumpulan besar, harus dapat menjaga nama dan kehormatan. Mulai sekarang, kalian tidak boleh mencuri atau merampok. Kalau ada yang melanggar, akan dihukum mati!" kata Ki Seng. Para anggauta itu tidak ada yang berani membantah. Akan tetapi A Kiu yang diangkat menjadi pembantu, lalu maju dan berkata, "Akan tetapi, Ouw-kongcu..."

"Bodoh! Jangan sebut aku kongcu lagi. Aku adalah ketua kalian, mengerti?"

"Ah, baiklah, pangcu dan maafkan saya. Akan tetapi, pangcu, kalau kami dilarang untuk melakukah pencurian atau perampokan, lalu dari mana kita akan memperoleh hasil untuk membiayai kehidupan kita yang sebanyak puluhan orang ini?" kata A Kiu.

"Benar, pangcu. Biasanya, kita mempergunakan hasil pencurian dan perampokan untuk biaya hidup lima puluh orang anggauta kita." A Hok membenarkan rekannya.

"Jangan khawatir, akan ada orang-orang lain yang mencarikan biaya untuk kita. Mari kalian berdua, A Kiu dan A Hok, ikut dengan aku!" ajak Ki Seng dan dua orang itupun tidak banyak membantah lagi, lalu mengikuti pemuda itu keluar dari perkampungan mereka.

Sudah merupakan peraturan tidak tertulis dari Hek-houw- pang untuk mengharuskan setiap orang yang lewat melalui daerah kekuasaan mereka di lereng sebelah timur Pegunungan Thai-san untuk membayar "pajak", istilah yang diperhalus dari perbuatan merampok. Maka, ketika Ki Seng, A Kiu dan A Hok melangkah tenang di lereng itu, tiba-tiba dari balik pohon-pohon dan semak belukar berloncatan belasan orang yang rata-rata bertubuh tegap dan kuat, bersikap kasar dan bengis, dan di dada baju mereka terdapat gambar seekor harimau hitam. Setiap orang dari mereka memegang sebatang golok yang tajam mengkilap.

"Berhenti. !" Seorang di antara mereka yang bermuka

hitam dan menjadi pemimpin mereka, mengacungkan golok dan membentak dengan suara garang. Belasan orang itu kini mengepung tiga orang yang tampak tenang-tenang saja. Ki Seng melangkah maju menghadapi si muka hitam. Dengan sikap tenang dia berkata, "Sobat, apa artinya ini? Mengapa kalian menghentikan dan mengepung kami bertiga?"

"Kalian bertiga harus membayar pajak jalan kepada kami karena kalian melanggar wilayah kami. Hayo cepat keluarkan semua bawaan dan harta kalian untuk kami ambil separuhnya. Jangan membantah atau melawan karena kami akan membunuh kalian kalau berani melawan. Dan jangan main- main. Kami adalah orang-orang Hek-houw-pang yang menguasai wilayah ini!"

Ki Seng mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Ah, kiranya orang-orang Hek houw-pang! Bukankah ketua kalian adalah Toat-beng Hek-houw dan wakil ketua kalian Tiat-ciang Hek-houw? Kebetulan sekali, aku memang ingin bertemu dan bicara dengan mereka. Hayo bawalah kami menghadap dua orang pimpinan kalian itu!"

Tentu saja tokoh Hek-houw-pang itu tidak memperdulikan kata-kata ini dan dia bahkan marah sekali. "Lancang sekali mulutmu! Siapakah engkau yang berani hendak bertemu dengan para pimpinan kami? Hayo cepat keluarkan semua milikmu kalau tidak ingin mampus!" Sambil berkata demikian, si muka hitam mengelebatkan goloknya penuh ancaman.

"A Kiu dan A Hok, wakili aku dar hajar mereka!" kata Ki Seng kepada dua orang pembantunya.

A Kiu dan A Hok adalah dua orang tokoh Ban-tok-pang yang berpengalaman Mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan kepercayaan para pimpinar Ban-tok-pang yang telah tewas maka mereka berdua sudah diberi pelajaran ilmu pukulan Ban-tok-ciang dan memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi. A Kiu yang berusia lima puluh tahun itu bertubuh tinggi besar dan membawa sebatang pedang di punggungnya. A Hok bertubuh kecil kurus akan tetapi gerak-geriknya gesit, usianya sekitar empat puluh lima tahun dan diapun membawa sebatang pedang di punggungnya. Mendengar perintah ketua baru mereka, keduanya lalu melangkah maju dan A Kiu berkata kepada si muka hitam dengan suara membentak bengis, "Mundurlah kalian dan jangan ganggu kami lagi!"

Akan tetapi melihat dua orang itu maju seperti menantang, si muka hitam berseru kepada kawan-kawannya, "Serbu!

Bunuh!!"

Belasan orang itu bergerak dengan golok mereka, akan tetapi A Kiu dan A Hok mendahului mereka, menggerakkan tangan kanan dan sinar-sinar kecil hitam meluncur ke arah para pengepung. Terdengar jerit-jerit mengerikan dan robohlah enam orang. Mereka berkelojotan dan tak lama kemudian mereka tewas dengan muka berubah menghitam. Ternyata mereka telah menjadi korban jarum-jarum beracun yang amat ampuh. Melihat ini si muka hitam terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Dia menerjang dengan goloknya, diikuti sisa kawan-kawannya yang masih ada sebelas orang. Dua belas orang itu menerjang dan menyerang A Kiu dan A Hok dengan golok mereka.

A Kiu dan A Hok mencabut pedang mereka dan mengamuk. Tingkat kepandaian dua orang ini memang sudah cukupi tinggi dan ilmu pedang mereka juga hebat, maka biarpun dikeroyok dua belas orang, mereka tidak terdesak, bahkan sebaliknya mereka dapat melukai empat orang dan mendesak para pengeroyoknya.!

Akhirnya si muka hitam sendiri tertusuk pedang A Kiu yang mengenai pundak kanannya. Goloknya terlepas dan maklumlah dia bahwa melawan terus sama dengan bunuh diri. Maka dia meneriaki kawan-kawannya untuk melarikan diri, meninggalkan mereka yang tewas dan terluka parah.

"Kejar mereka sampai ke sarangnya!" kata Ki Seng dan diapun membayangi segerombolan orang yang melarikan diri itu, diikuti oleh A Kiu dan A Hok. Akan tetapi sebelum memasuki perkampungan Hek-houw- pang, baru tiba di luar pintu, mereka melihat berbondong- bondong para anggauta Hek-houw-pang telah keluar dari pintu gerbang perkampungan, mengikuti dua orang laki-laki yang gagah perkasa. Ki Seng yang pernah datang ke perkampungan Hek-houw-pang bersama mendiang Nelayan Gu dan Petani Lai segera mengenal dua orang pimpinan Hek- houw-pang itu.

Si muka hitam menunjuk ke arah Ki Seng, A Kiu dan A Hok dan dua orang pimpinan Hek-houw-pang bersama semua anak buahnya segera menghadapi tiga orang itu di depan pintu gerbang.

Toat-beng Hek-houw, ketua Hek-houw-pang yang bertubuh sedang tegap dan bersikap gagah itu memandang ke arah Ki Seng dan dua orang pembantunya dengan alis berkerut. Dia sudah tidak ingat lagi kepada Ki Seng yang lima tahun lalu pernah datang ke sarangnya. Tiat-ciang Hek-houw, wakil ketua yang bertubuh tinggi besar itupun tidak mengenal Ki Seng dan dua orang pembantunya.

Ki Seng yang dihadang itu berhenti melangkah dan berhadapan dengan dua orang pemimpin Hek-houw-pang. Dia ter-| senyum dan berkata, "Bagus sekali kalian yang datang sendiri menemuiku, Toat beng Hek-houw dan Tiat-ciang Hek- houw. Aku memang ingin bicara dengan kalian berdua!"

Dua orang pimpinan Hek-houw-pay itu tidak merasa heran kalau pemuda itu mengenal nama mereka karena mereka berdua memang terkenal sekali untuk daerah itu. Akan tetapi mereka merasa heran sekali melihat sikap Ki Seng yang sama sekali tidak menghormatinya, bahkan suaranya seperti menantang!

"Orang muda, engkau dan dua orang kawanmu telah berani membunuh beberapa anak buah kami, untuk itu kalian harus mati di tangan kami. Katakanlah siapa engkau dan mau apa engkau mencari kami, jangan kalian mati tanpa nama!" kata Toat-beng Hek-houw sambil menahan kemarahannya karena dia sudah mendengar pelaporan si muka hitam bahwa enam orang anak buahnya telah tewas dan beberapa orang luka-luka.

Ki Seng tersenyum, senyum dingin yang membuat wajannya yang tampan itu tampak mengandung sesuatu yang menyeramkan. Matanya mencorong seperti mata harimau dan senyumnya mengandung penuh ejekan dan memandang rendah.

"Toat-beng Hek-houw, ketahuilah bahwa aku adalah pangcu (ketua) dari Ban-tok-pang. Kedatanganku ini untuk bertemu dan bicara dengan pimpinan Hek-houw-pang."

Toat-beng Hek-houw terkejut bukan main. Dia sudah mendengar tentang Ban-tok-pang dan menurut apa yang pernah didengarnya, para pimpinan Ban-tok-pang adalah keluarga Ouw. Sama sekali tidak disangkanya bahwa ketuanya masih begini muda, seorang pemuda remaja atau yang belum dewasa benar, paling banyak dua puluh satu tahun usianya!

Akan tetapi mendengar bahwa pemuda itu ketua Ban-tok- pang, dua orang pimpinan Hek-houw-pang bersikap hati-hati.

"Hemm, kalau benar engkau Ban-tok- pangcu, lalu apa yang hendak kau bicarakan dengan kami?" tanya Toat-beng Hek-houw.

"Hemmm, apakah kalian tidak meng-undang kami untuk masuk dan bicara didalam? Layakkah kalau kita bicara diluar seperti ini?" tanya Ouw Ki Seng.

Toat-beng Hek-houw mengerutkan alisnya. "Bagaimana kami dapat menerima dan menyambut kalian sebagai tamu yang terhormat setelah kalian membunuhi dan melukai anak buah kami?"

"Anak buak kalian itu mencari mati sendiri. Mereka telah berani menghadangi kami dan mencoba untuk merampok kami. Nah, sekarang kalian mau mengundang aku bicara di dalam atau tidak?"

"Hemm, kalau engkau hendak bicara di sini saja juga sudah cukup. Apa yang hendak engkau bicarakan dengan kami?!"

"Tidak banyak. Aku hanya minta agar kalian menyerahkan semua tempat perjudian dan tempat pelesiran di kota-kota sekitar sini kepada kami dan setiap hasil rampokan yang kalian lakukan harus diserahkan separuhnya kepada kami. Aku minta agar kalian mengakui Ban-tok-pang sebagai perkumpulan yang membawahi Hek-houw-pang dan mengakui aku sebagai pimpinan!"

Toat-beng Hek-houw dan Tiat-ciang Hek-houw terbelalak dan muka mereka menjadi merah sekali karena marah.

Sungguh pemuda itu mengajukan tuntutan yang berlebihan dan sangat menghina mereka! Dengan suara gemetar saking marahnya Toat-beng Hek-houw membentak.

"Keparat! Bagaimana kalau kami menolak semua permintaanmu itu?"

Ouw Ki Seng tersenyum dingin. "Kalau begitu, terpaksa kalian berdua akan kubunuh dan Hek-houw-pang kupaksa menjadi cabang Ban-tok-pang, siapa yang menentang akan kubunuh!"

"Jahanam sombong! Engkaulah yang akan kami bunuh!" Setelah berkata demikian, Toat-beng Hek-houw memberi isarat kepada para anak buahnya, kemudian dia mencabut pedangnya dan menyerang Ki Seng dengan dahsyat. Tiat-cang Hek-houw juga mencabut pedang dan menyerangnya.

Menghadapi serangan dua orang itu, Ki Seng bersikap tenang saja. Dengan lincahnya dia melompat ke belakang sehingga serangan kedua orang pimpinan Hek-houw-pang itu mengenai tempat kosong. Kembali dua orang itu menerjang dengan ganasnya. Namun, Ki Seng bergerak cepat sekali. Tubuhnya seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua sinar pedang kedua orang pengeroyoknya.

Sementara itu, melihat puluhan orang anak buah Hek- houw-pang sudah bergerak mengepung, A Kiu dan A Hok mencabut pedang masing-masing dan mereka meng-amuk. Pedang mereka menyambar-nyambar dan dengan cepat sekali mereka telah merobohkan empat orang yang berada paling depan. Mereka lalu dikepung dan dikeroyok karena para anak buah Hek-houw-pang itu tidak ada yang berani membantu dua orang pimpinan mereki yang mereka anggap pasti akan mampu mengalahkan pemuda yang mengaku sebagai ketua Ban-tok-pang itu.

Akan tetapi kenyataannya terjadi tidak seperti yang mereka harapkan dan bayangkan. Toat-beng Hek-houw dan Tiat-ciang Hek-houw sudah memainkan pedang mereka dengan cepat dan kuat, mengerahkan sepenuh tenaga mereka, namun tetap saja pedang mereka tidak mampu menyentuh tubuh Ki Seng yang melawan dengan tangan kosong saja! Pemuda itu bergerak amat lincahnya dan membiarkan kedua orang lawannya melancarkan serangan bertubi-tubi sampai belasan jurus tanpa dibalasnya.

"Kalian belum mau menyerah?" bentak Ki Seng karena sebetulnya dia ingin agar kedua orang pimpinan Hek-houw- pang ini taluk kepadanya dan menjadi pembantu- pembantunya. Akan tetapi, karena sejak tadi hanya mengelak saja tanpa membalas, dua orang ketua Hek-houw-pang itu menganggap dia takut, maka mereka menyerang terus semakin gencar dan tentu saja tidak mau menyerah.

Setelah membiarkan dua orang itu menyerangnya secara bertubi selama belasan jurus dan mereka tetap tidak mau menyerah, Ki Seng menjadi marah.

"Baik, kalau begitu matilah kalian!" bentaknya dan tiba-tiba dia mengelak dengan loncatan ke atas, lalu berjungkir balik, menukik dan kedua tangannya bergerak menyambar seperti seekor ular terbang menyerang ke arah kedua orang pimpinan Hek-houw-pang itu.

"Tukk! Tukk!" Dua orang itu tidak dapat menghindarkan diri dari totokan It-yang-ci yang amat dahsyat dan jari tangan Ki Seng telah menotok kepala mereka. Tampaknya totokan itu tidak terlalu kuat, akan tetapi akibatnya, dua orang itu terjungkal dan tewas seketika!

Melihat dua orang pemimpin mereka tewas, para anak buah Hek-houw-pang menjadi terkejut bukan main. Pada saat itu, Ki Seng berseru dengan suara lantang.

"Ketua dan wakil ketua kalian telah tewas! Siapa yang tidak mau menyerah akan mati juga! Lemparkan senjata kalian dan berlututlah, baru kami akan mengampuni nyawa kalian!"

Mendengar ini, para anak buah Hek-houw-pang yang sudah ketakutan itu lalu membuang senjata masing-masing dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap ke arah Ki Seng. A Kiu dan A Hok berhenti mengamuk dan merekapun berdiri di belakang Ki Seng dengan hati bangga. Mereka berdua tidak pernah dapat membayangkan betapa pemuda itu dengan amat mudahnya telah membunuh ketua dan wakil ketua Hek- houw-pang yang terkenal gagah itu.

Mereka sendiri sudah merobohkan belasan orang anak buah Hek-houw-pang, akan tetapi hanya melukai mereka dan tidak sampai membunuh mereka seperti yang dipesankan Ki Seng sebelum mereka menyerbu ke situ. Ki Seng menginginkan agar anak buah Hek-houw-pang tidak dibunuh karena dia ingin mereka menjadi anak buahnya untuk memperkuat kedudukan Ban-tok-pang.

"Kalian sudah menyerah? Bagus! Mulai sekarang, Hek- houw-pang dan semua usahanya berada di bawah pengawasan kami, dan Hek-houw-pang menjadi perkumpulan yang berada di bawah kekuasaan Ban tok-pang. Mulai sekarang, yang menjadi pemimpin Hek-houw-pang adalah A Hok! A Hok, engkau kuserahi tugas memimpin Hek-houw- pang. Umumkan hal ini kepada seluruh anak buah Hek-houw- pang yang mengurus rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelesir di semua tempat."

A Hok merasa girang sekali. Tak pernah dia membayangkan bahwa dia akan, "naik pangkat" sedemikian cepatnya, tahu tahu telah menjadi ketua Hek-houw-pang!

"Baik, pangcu!" katanya girang.

"Kalau ada yang membangkang bunuh saja!" kata pula Ki Seng. "A Kiu, mari kita pergi mengunjungi Pek-eng-pang, Aku ingin melihat-lihat keadaan di sana."

Setelah menyerahkan semua urusan mengenai Hek-houw- pang kepada A Hok juga urusan mengenai keluarga kedua orang ketua lama yang tewas itu, Ki Seng lalu mengajak A Kiu untuk pergi dari situ.

Anggauta Pek-eng-pang yang masih muda, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun dan bertubuh tinggi tegap itu berlari-lari secepatnya. Terengah-engah dia tiba di perkampungan Pek-eng-pang. Teman-temannya menyambutnya dengan heran. Mereka bertanya mengapa dia berlari-lari seperti itu. Akan tetapi pemuda itu hanya menggeleng kepala dan bergegas lari ke dalam mencari Pek- eng Pang-cu Ciang Hok, ketua perkumpulan Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih). Setelah mendapat keterangan bahwa sang ketua berada di dalam rumah nya, dia lalu memasuki rumah ketuanya dan minta kepada para penjaga untuk disampaikan kepada ketuanya bahwa dia mohon menghadap karena akan memberikan pelaporan yang teramat penting.

Tak lama kemudian dia sudah menghadap Pek-eng Pang-cu Ciang Hok. Ciang Hok adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, bertubuh tegap dan rambutnya dibiarkan terurai di punggungnya. Jenggot dan kumisnya pendek dan tebal, dan alisnya hitam tebal. Dengan sikap tenang dan alis berkerut dia menyambut anggauta yang menghadap dengan napas masih terengah-engah itu.

"Mengapa engkau seperti orang ketakutan begitu? Apa yang hendak kau lapor-kan?" tegur sang ketua, tak senang melihat anggautanya begitu penakut.

"Ada berita yang amat mengejutkan pangcu. Saya mendengar dari seorang anggauta Hek-houw-pang yang melarikan diri bahwa Hek-houw-pang geger, ketua dan wakil ketuanya terbunuh dan banyak pula anak buahnya yang luka- luka. Serangan itu dilakukan oleh tiga orang yang mengaku datang dari Ban-tok pang dan kini mereka menguasai Hek houw-pang dengan kekerasan."

Ciang Hok mengerutkan alisnya dani mengelus jenggotnya yang tebal dan pendek. "Hemmm, mengapa engkau ributi ribut setengah mati? Apa yang terjadi pada Hek-houw-pang tidak ada sangkut pautnya dengan kita sama sekali!"

"Pangcu, saya khawatir sekali kalau-kalau mereka akan menyerang kita juga." kata pelapor itu.

Pek-eng Pang-cu Ciang Hok tersenyum tenang, penuh kepercayaan kepada diri sendiri. "Kita melakukan pekerjaan sebagai piauwsu (pengawal barang kiriman), mencari nafkah secara halal, tidak pernah mengganggu siapapun juga, mengapa ada orang hendak menyerang kita? Kalaupun ada yang menyerang, apa yang harus kita takuti? Kedudukan kita cukup kuat, anggauta kita tidak kurang dari enam puluh orang dan aku sendiri tidak takut menghadapi siapapun yang berniat buruk terhadap perkumpulan kita. Engkau masih muda, di mana nyalimu? Keluarlah dan beritahu kepada semua anggauta untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, akan tetapi jangan gegabah bertindak sebelum ada perintah dariku." Pelapor itu lalu keluar dan memberitahukan teman- temannya tentang perintah sang ketua. Ciang Hok adalah seorang ahli silat yang pandai. Dia telah menguasai ilmu silat yang disebut Pek-Eng Sin-kun (Silat Sakti Garuda Putih). Pek- eng Sin-kun adalah ilmu silat yang menggubahnya sendiri dari ilmu silat Bu-tong-pai yang pernah dipelajarinya. Karena dasarnya adalah ilmu silat Bu-tong-pai, maka tentu saja ilmu silat itu cukup hebat dan selain dapat dimainkan dengan tangan kosong, dapat pula dimainkan dengan pedang dan disebut Pek-eng Kiam-sut (Ilmu Pedang Garuda Putih). Karena memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh, apalagi anak buahnya merupakan juga murid-muridnya yang sudah digembleng dengan ilmu silat selama bertahun-tahun, dia merasa bahwa kedudukannya cukup kuat dan dia tidak takut menghadapi ancaman dari manapun juga datangnya. Karena kepercayaan kepada diri sendiri inilah maka dia berani membuka Piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) untuk mengawal barang barang kiriman dan menjaganya dari gangguan perampok.

Matahari telah condong ke barat ketika Ki Seng dan A Kiu tiba di depan pintu gerbang perkampungan yang menjadi pusat Pek-eng-pang. Pek-eng-pang memilih tempat di lereng itu sebagal perkampungannya, walaupun pekerjaan mereka berada di kota karena hanya orang-orang kota yang menjadi pedagang yang suka mengirim barang dagangan yang berharga untuk dikirim dan dikawal. Di atas pintu gerbang terdapat papan nama bertuliskan Pek-eng-pang dengan huruf- huruf besar dan ada sehelai bendera bergambar garuda putih berkibar di tempat jaga di pintu gerbang itu. Ki Seng pernah datang ke tempat ini bersama mendiang Petani Lai dan Nelayan Gu, lima tahun yang lalu. Dia tahu bahwa sikap Pek- eng-pang tidak seperti orang-orang Hek-houw-pang, tidak kasar dan bengis. Juga ketuanya adalah seorang gagah, tidak seperti ketua Hek-houw-pang yang mengandalkan pengeroyokan. Oleh karena itu, diapun mengambil sikap lain dalam menghadapi Pek-eng-pang.

Ketika Ki Seng dan A Kiu tiba di depan pintu gerbang, belasan orang yang berjaga di situ, yaitu para anak buah Pek- eng-pang yang melaksanakan perintah ketua mereka untuk bersiap siaga, berdiri dan keluar dari gardu penjagaan.

Seorang di antara mereka yang menjadi kepala jaga segera menegur dua orang pendatang itu.

"Siapakah ji-wi (anda berdua) dan ada keperluan apakah mendatangi tempat kami?" Pertanyaan itu tegas akan tetapi cukup hormat. Ki Seng memandang kepada mereka, lalu berkata dengan nada suara halus.

"Aku bernama Ouw Ki Seng, ketua dari Ban-tok-pang dan ini adalah pembantuku bernama A Kiu. Kami datang untuk bertemu dan bicara dengan ketua kalian. Pek-eng Pang-cu."

"Orang muda, harap jangan berkati bohong. Aku sendiri sudah pernah bertemu dengan para pimpinan Ban tok-pang. Mereka adalah orang-orang yang sudah setengah tua, ketuanya adalah Pangcu Ouw Kian dan wakilnya bernama Ouw Sian. Bagaimana engkau berani mengaku bahwa engkau yang menjadi ketua Ban-tok-pang?" kata kepala jaga, seorang yang usianya sudah lima puluh tahun dan bertubuh tinggi kurus.

Ki Seng tersenyum. "Benar apa yanh kaukatakan, paman. Akan tetapi kedua orang pemimpin Ban-tok-pang itu sekarang telah meninggal dunia dan sebagai penggantinya, akulah yang kini menjadi ketua Ban-tok-pang. Harap sampaikan kepada lo- eng-hiong (pendekar tua) Ciang Hok, dan dia tentu akan mengerti setelah bicara dengan aku."

Pada saat itu muncul seorang gadis berpakaian serba kuning. Gadis ini berusia kurang lebih delapan belas tahun, wajahnya cantik sekali, manis dan menggairahkan. Bentuk tubuhnya ramping padat, rambutnya panjang sampai ke pinggang, sebagian disanggul dan sebagian pula dibiarkan menjuntai ke bawah. Alisnya kecil panjang melengkung indah, menghias sepasang mata yang tajam bersinar, dengan kerlingan setajam gunting. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya selalu dibayangi senyum manja. Ia melangkah maju dan mengerutkan alisnya sambil memandang kepada Ki Seng.

"Siapakah yang ingin bertemu dengan ayahku?" tanyanya dengan suaranya yang nyaring dan merdu.

Ki Seng memandang dan dia terpesona. Pemuda ini belum pernah bergaul dengan wanita, belum pernah jatuh cinta kepada seorang wanita, bahkan belum pernah memikirkan tentang wanita sama sekali. Akan tetapi, begitu melihat gadis itu, darah mudanya bergolak dan dia terpesona. Belum pernah dia melihat seorang atau sesuatu yang membuat jantungnya terguncang sedemikian rupa. Dari ujung rambut sampai kaki yang bersepatu hitam itu, gadis itu memiliki daya tarik yang luar biasa sekali baginya. Setiap bagian tubuh gadis itu mempesona, bahkan suaranya terdengar sedemikian merdunya sehingga Ki Seng seperti kehilangan kesadaran dan hanya berdiri memandang dengan mulut ternganga!

Sebaliknya, gadis itupun termangu ketika melihat bahwa yang ditegurnya adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan ia merasa geli melihat pemuda itu hanya ternganga memandangnya. Akan tetapi ada rasa rikuh menyelubungi rasa girang karena dari pengalamannya dipandang mata pria yang terkagum-kagum kepadanya, ia dapat menduga bahwa pemuda tampan inipun kagum melihatnya. Hatinya merasa girang dan juga bangga!

"Hei, aku bertanya kepadamu! Siapakah engkau yang ingin bertemu dengan ayahku?" kembali ia menegur dan kini langsung memandang wajah Ki Seng.

Ki Seng gelagapan, seolah baru saja disentakkan kembali ke dunia. "Eh..... ohh aku, aku yang ingin bertemu dengan Pek-

eng Pangcu. Apakah dia itu ayahmu, nona?" Akhirnya dia dapat menguasai ketegangannya dan berbalik mengajukan pertanyaan yang terdengar ramah dan sopan.

"Dia adalah ayahku. Siapakah engkau dan apa perlumu mencari ayah?"

Ki Seng menjura dengan sikap hormat. "Aku bernama Ouw Ki Seng, dan aku ingin bertemu dengan Pek-eng Pang-cu untuk membicarakan urusan yang penting sekali."

Gadis itu mengamati Ki Seng, meman dang dengan penuh selidik dari kepala sampai ke kaki. "Hemm, engkau datang sebagai kawan atau lawan?"

Kembali Ki Seng tertegun mendengar pertanyaan yang merupakan todongan ini. Akan tetapi, kemunculan gadis ini, perjumpaannya dengan gadis itu telah sama sekali mengubah semua rencana terhadap, Pek-eng-pang dalam hatinya.

"Aku datang sebagai kawan tentu saja!" katanya cepat

setelah agak tergagap sedikit.

Gadis itu mengerutkan alisnya, "Hemm, sebagai kawan?

Agaknya engkau tidak pantas menjadi sahabat ayahku. Pertama, usiamu tidak sebaya dengan dia, dan ke-dua, apakah kepandaianmu sudah patut untuk dijadikan sahabat ayahku? Para sahabat ayahku tentu orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!"

Ki Seng makin tertarik kepada gadis ini. Bicaranya begitu ceplas-ceplos, terbuka dan jujur, "Aku juga memiliki ilmu kepandaian yang kiranya tidak akan mengecewakan ayahmu, nona." jawabnya sambil tersenyum.

"Hemm, aku meragukan hal itu. Beranikah engkau kalau kuuji dulu sebelum engkau menemui ayahku? Kalau kepandaianmu hanya dangkal saja, engkau tidak pantas minta bertemu ayah dan urusanmu cukup kau bicarakan dengan anak buah Pek-eng-pang, atau paling-paling juga kau bicarakan dengan aku sudah cukup. Beranikah engkau?"

Ki Seng tersenyum lebar. Makin tertarik hatinya. Dalam pandangannya, gadis itu selain cantik menarik juga amat lucu dan manja, menyenangkan sekali baginya.

"Tentu saja aku berani, nona, asal nona tidak terlalu kejam kepadaku dan menggunakan tangan besi terhadap diriku."

"Jangan khawatir! Ini hanya ujian saja, dan memang aku suka sekali bertanding ilmu silat. Karena itu, kita bertanding tangan kosong saja, tanpa senjata."

"Baiklah, nona."

"Mari ikut aku ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) di belakang, mari kita mengambil jalan memutar lewat taman bunga." kata gadis itu, mendahului Ki Seng sebagai penunjuk jalan. Ki Seng mengikutinya dari belakang dan A Kiu mengikuti di belakangnya. Para anak buah Pek-eng-pang yang ingin sekali melihat nona mereka "menguji" tamu itu, menjadi tertarik sekali dan ikut pula memasuki taman untuk pergi ke ruangan berlatih silat yang berada di bagian belakang rumah itu. Mereka ini tahu mengapa si gadis mengambil jalan lewat taman bunga menuju ke belakang. Gadis itu takut kalau perbuatannya "menguji" tamu diketahui ayahnya. Gadis yang pemberani dan keras hati itu hanya merasa takut kepada ayahnya saja.

Setelah tiba di dalam ruangan yang luas dan kosong itu, gadis yang lincah itu menghadapi Ki Seng dan bertanya "Hayo, siapa yang akan maju lebih dulu, engkau ataukah temanmu itu?" Ia menunjuk kepada A Kiu.

"Temanku ini hanya pengikut, kalau hendak menguji, akulah yang harus diuji," jawab Ki Seng tenang.

"Bagus, bersiaplah, orang she Ouw!" seru gadis itu dan ia segera memasang kuda-kuda. Karena ia seorang ahli Pek-eng Sin-kun (Silat Sakti Garuda Putih) maka ia memasang jurus pembukaan yang disebut Pek-eng-tiam-ci (Garuda Putih Pentang Sayap), kaki kiri berdiri tegak, kaki kanan diangkat sampai ke lutut kaki kiri, kedua lengan terpentang ke kanan kiri, kedua tangan ditegakkan dengan jari-jari menunjuk ke atas. Sikapnya gagah sekali seperti seekor burung garuda yang hendak terbang!

Ki Seng menjadi semakin kagum dan dia berkata sambil tersenyum manis. "Nona, karena engkau sudah mengetahui namaku, maka sebelum kita bertanding, harap nona suka memperkenalkan nama. Aku hanya tahu bahwa nona sebagai puteri Ketua Ciang Hok, tentulah bermarga Ciang."

"Aku bernama Ciang Mei Ling. Sudahlah jangan banyak cakap dan bersiaplah jntuk menghadapi seranganku!" kata Mei Ling tanpa bergerak dari pasangan kuda-kudanya.

"Sejak tadi aku sudah siap, nona Ciang Mei Ling. Namamu begitu indah "

"Awas, lihat seranganku!" bentak Mei Ling dan iapun sudah menyerang ke depan. Lengan yang berkembang tadi terayun dan sambil membanting kaki kanan ke depan, tangan kanannya mengirim pukulan langsung ke arah dada Ki Seng.

Ki Seng yang tadinya berdiri santai saja, melihat datangnya pukulan yang cukup cepat dan kuat mendatangkan angin pukulan yang menyambar itu, mengelak dengan menarik kaki kirinya ke belakang dan miringkan tubuhnya sehingga, pukulan tangan kanan Mei Ling luput dan lenyap di samping dadanya.

Akan tetapi gerakan gadis itu memang cepat sekali. Begitu pukulan itu luput, ia sudah menggeser kakinya dan menekuk lengan kanannya sehingga kini siku kanan nya meluncur ke arah dada Ki Sengl. Pemuda itu tentu saja dapat mengikuti gerakan cepat ini dan diapun menggunakan tangan kirinya untuk menangkis serangan siku itu. Akan tetapi Ki Seng menggunakan sin-kang yang membuat tangannya menjadi lunak dan kuat. Ketika siku Mei Ling bertemu dengan tangan kiri Ki Seng, gadis itu merasa betapa sikunya bertemu dengan daging lunak yang seolah menyedot tenaga serangannya! Ia terkejut dan cepat melompat ke belakang lalu kakinya mencuat dengan tendangannya yang cepat ke arah perut pemuda itu. Kembali Ki Seng mengelak dengan loncatan ke samping. Akan tetapi kaki kiri gadis itu bukan hanya melakukan serangan satu kali saja, melainkan merupakan tendangan berganda! Begitu luput, kaki itu ditekuk pada lutut dan sudah menendang lagi, mengikuti ke mana pemuda itu mengelak. Sampai empat kali kaki itu menyerang bertubi-tubi, dan yang terakhir kalinya ditangkis oleh tangan yang lunak namun kuat dari Ki Seng.

Mei Ling merasa penasaran bukan main setelah melihat betapa serangannya yang bertubi-tubi itu semua dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda itu. Selama ini belum pernah ada seorangpun, wanita maupun pria yang mampu mengalahkannya. Tingkat kepandaiannya sudah hampir dapat menandingi tingkat kepandaian ayannya! Akan tetapi sekali ini, serangannya yang bertubi dan dilakukan dengan sungguh- sungguh itu semua dapat dihindarkan pemuda itu dengan baik dan tampaknya amat mudah! Penasaran membuat ia marah dan sambil berseru nyaring ia menyerang lagi.

"Hyaaaatttt !" Kedua tangannya kini membentuk cakar

garuda dan bergerak-gerak ke depan, menyerang dengan cakaran dan cengkeraman ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari lawan. Sasaran nya adalah lambung, tenggorokan, dan muka! Akan tetapi kembali Ki Seng hanya mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak, dia sengaja membiarkan Mei Ling menyerang sampai tiga pulu jurus lebih tanpa membalas satu kalipun juga. Hal ini membuat gadis itu merasa gemas dan marah. Ia. merasa dipandang rendah sekali. Maka ketika ada kesempatan, ia berseru, "Balaslah kalau engkau mampu!" Ditantang begini, Ki Seng tersenyum dan tiba-tiba tangannya terjulur ke depan meluncur dengan cepat sekali ke arah hidung Mei Ling, seolah hendak memegang hidung gadis itu. Tentu saja Mei Ling cepat mengelak dengan merendahkan tubuh dan menundukkan kepalanya dan pada saat itu ia merasa ada sesuatu hinggap di kepalanya. Ketika ia meloncat ke belakang dan meraba rambutnya, ternyata hiasan rambutnya yang terbuat dari emas ditabur permata telah lenyap dari kepalanya. Ketika ia memandang ke arah pemuda itu, ternyata perhiasan kepala itu telah berada di tangan Ki Seng! Wajah Mei Ling berubah merah dan tahulah ia bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sehingga dengan sekali serangan saja sudah dapat mengambil hiasan rambutnya! Kalau dikehen-daki tentu saja tangan pemuda itu tidak hanya mengambil hiasan rambut, akan tetapi melakukan serangan yang akan membahayakan nyawanya. Dengan dirampasnya hiasan rambut itu berarti ia sudah kalah mutlak dan hal ini tidak mungkin dapat dibantahnya lagi.

"Maafkan aku, nona Ciang Mei Ling!" kata Ki Seng dengan lirih dan sekali tangannya bergerak, ada sinar meluncur ke arah kepala Mei Ling dan tahu-tahu hiasan rambut itu telah terselip pula di rambutnya tanpa melukainya sedikitpun. seolah dipasang oleh sebuah tangan yang tidak tampak.

Pada saat itu terdengar suara bentakan halus. "Apa yang terjadi di sini?"

Ki Seng memandang dan dia segera mengenal pria yang gagah perkasa itu. Dia adalah Pek-eng Pangcu Ciang Hok yang pernah dijumpainya ketika dia ber-kunjung ke perkampungan perkumpulan itu bersama mendiang Petani Lai dani Nelayap Gu.

"Eh, orang muda, siapakah engkau?" tanya pula Ciang Hok sambil memandang kepada Ki Seng.

Ki Seng tersenyum ramah, lalu memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. "Apakah saya berhadapan dengan yang terhormat locianpwe (orang tua gagah) Ciang Hok ketua Pek-eng-pang?"

Dia pura-pura bertanya dan suaranya terdengar lembut dan sikapnya sopan.

"Benar, orang muda. Aku adalah Ciang Hok ketua Pek-eng- pang. Siapakah engkau dan bagaimana engkau dapat berada di sini? Apa yang telah terjadi?"

"Maafkan saya, locianpwe. Nama saya Ouw Ki Seng, ketua Ban-tok-pang."

"Apa? Bukankah ketua Ban-tok-pang adalah Ouw Kian dan wakilnya adalah Ouw Sian kakak beradik itu?"

"Benar, mereka adalah paman-paman saya, locianpwe.

Akan tetapi kedua orang paman itu telah meninggal dunia dan sayalah yang menggantikan mereka menjadi ketua Ban-tok- pang."

"Hemm, begitukah? Lalu apa yang menjadi keperluanmu datang berkunjung ke sini dan apa yang telah terjadi di sini?" Dia bertanya dan menoleh untuk memandang kepada puterinya yang menunduk sambil tersenyum-senyum manja.

"Maaf, Ciang-locianpwe. Ketika saya dan pengikut saya ini, A Kiu, tiba di depan perkampungan, saya bertemu dengan Nona Ciang Mei Ling. Nona Ciang mengatakan bahwa untuk dapat bertemu dengan locianpwe saya harus diuji lebih dulu. Saya diajak ke sini kemudian saya diuji ilmu silat oleh Noa Ciang Mei Ling.

Harap locianpwe sudi memaafkan karena saya terpaksa datang ke lian-bu-thia ini."

Ciang Hok mengerutkan alisnya dan memandang puterinya. "Benarkah itu, Mei Ling? Engkau telah menguji kepandaian silatnya?" Gadis itu kembali tersenyum lalu mendekati ayahnya dan memegang lengan ayahnya dengan manja. "Benar, ayah. Aku pikir, orang sembarangan saja tidak pantas untuk minta bertemu dengan ayah, maka aku sengaja menguji kepandaian silatnya."

"Dan hasilnya?" "Aku kalah, ayah."

"Hemmm !" Kini Ciang Hok memandang kepada Ki

Seng dengan penuh perhatian. Orang yang dapat mengalahkan puterinya tidak boleh dipandang ringan karena tingkat kepandaian puterinya itu sudah mendekati tingkatnya sendiri.

"Ouw-pangcu, engkau belum menjawab pertanyaanku tadi.

Apakah keperluanmu datang berkunjung ke Pek-eng-pang?"

"Karena saya telah menjadi ketua Ban-tok-pang dan mengingat bahwa perkumpulan kita sama-sama berada di wilayah Thai-san, maka saya datang berkunjung untuk memperkenalkan diri dan mengikat persahabatan."

Ciang Hok mengangguk-angguk dan senang hatinya mendengar ini. Pemuda ini cukup tampan dan pembawaannya gagah, juga sopan, ramah dan halus tutur sapanya. Juga sebagai orang tua dia dapat menarik kesimpulan, melihat sikap puterinya, bahwa puterinya agaknya tertarik kepada pemuda yang telah mengalahkannya itu.

"Kalau begitu, silakan masuk, Ouw-pangcu, dan pengikutmu yang bernama A Kiu itu. Kita bicara di dalam."

"Terima kasih, Ciang-locianpwe." jawab Ki Seng dengan girang. Setelah bertemu dan berkenalan dengan Ciang Mei Ling, rencananya berubah sama sekali. Tadinya dia berniat untuk menguasai Pek-eng-pang pula seperti- dia telah menguasai Hek-houw-pang, kalau perlu mem bunuh ketuanya. Akan tetapi setelah bertemu Mei Ling, dia mengubah sama sekali rencananya itu sehingga diam-diam A Kiu merasa heran bukan main.

Ciang Hok juga dapat menghargai persahabatan dengan seorang ketua perkumpulan yang amat terkenal seperti Ban- tok-pang, walaupun sebenarnya dia merasa agak risi mengingat bahwa Ban-tok-pang adalah sebuah perkumpulan sesat yang kabarnya amat kejam dan suka mempergunakan racun terhadap musuh-musuhnya. Akan tetapi karena sikap Ouw Ki Seng yang demikian ramah dan sopan, rasa risinya menjadi hilang dan dia sudah menjamu pemuda itu dengan sebuah pesta kecil. Yang duduk di sekeliling meja pesta itu adalah Ciang Hok, isterinya, Ciang Mei Ling, lalu dua orang tamunya, Ouw Ki Seng dan A Kiu.

Dengan sopan dan sikap yang menyenangkan sekali, Ki Seng tiga kali mengangkat cawan araknya untuk menghormati Ciang Hok, lalu isterinya, kemudian Mei Ling. Sikap ini amat menyenangkan keluarga itu dan mereka segera merasa akrab. Ciang Hok dan isterinya merasa tertarik sekali, dan suka kepada pemuda ini. Masih begitu muda menjadi ketua sebuah perkumpulan besar, dan melihat kenyataan bahwa dia mampu mengalahkan Mei Ling mudah diduga bahwa dia juga telah memiliki kepandaian tinggi.

"Ouw-pangcu, kalau boleh aku bertanya, apakah pangcu sudah berumah tangga?"

Ki Seng tersenyum mendengar pertanyaan ini. "Sama sekali belum, locianpwe."

"Ah, Ouw-pangcu, harap jangan menyebut aku locianpwe. Setelah kita berkenalan, lebih akrab kalau engkau menyebut pangcu atau paman saja kepadaku."

"Baiklah, Paman Ciang dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya."

"Engkau sudah menjadi ketua sebuah perkumpulan besar seperti Ban-tok-pang, mengapa belum beristeri?" "Ah, saya masih terlalu muda, paman, baru berusia dua puluh satu tahun, juga baru saja menjadi ketua."

"Akan tetapi tentu sudah mempunyai seorang tunangan, seorang calon isteri." kata Ciang Hok.

Secara otomatis Ki Seng melirik ke arah Mei Ling yang duduk di depannya di seberang meja dan dia tersenyum, agak tersipu dan menggeleng kepala. "Juga belum, paman."

Pada saat itu, terdengar bunyi genderang dipukul di luar gedung tempat tinggal Ketua Ciang.

"Ah, rombongan piauwsu (pengawal kiriman barang) telah pulang!" kata Ciang Hok dan diapun bangkit dari tempat duduknya. Mei Ling dan ibunya juga bangkit berdiri dan mengikuti Ciang Hok keluar. Dengan sendirinya Ki Seng dan A Kiu juga bangkit berdiri dan mengikutil mereka keluar yang agaknya hendak menyambut kedatangan para piauwsu yang baru pulang dari mengawal barang. Biasa nya, para piauwsu yang kembali dara kota itu membawa barang-barang belanjaan untuk mereka dari hasil yang mereka peroleh dari biaya pengawalan barang. Bahkan Nyonya Ciang dan anak perempuannya memesan beberapa bahan pakaian kepada pimpinan piauwsu dan sekarang tentu saja dengan girang mereka menyambut kedatangan rombongan itu untuk "melihat" pesanan mereka.

Akan tetapi alangkah terkejut hati keluarga Ciang ketika melihat keadaan belasan orang piauwsu itu. Jumlah piauwsu yang mengawal kiriman itu berjumlah tujuh belas orang karena sekali ini barang yang dikawal amat berharga, dan ketujuh belas orang piauwsu itu rata-rata piauwsu pilihan atau para murid tingkat pertama yang sudah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan tingginya, rata-rata telah menguasai ilmu silat Pek-eng Sin-kun dan ilmu pedang Pek- eng Kiam-sut. Akan tetapi mereka kembali tanpa membawa kereta yang biasa mereka bawa untuk memuat dan menarik barang kiriman, dan mereka semua dalam keadaan luka-luka! Bahkan ada tiga orang yang lukanya berat sehingga harus digotong.

"Apa....... apa yang terjadi. ?" Ciang Hok bertanya

kepada seorang piauwsu yang berwajah brewokan dan bertubuh tinggi. Piauwsu ini adalah kepala dari rombongan piauwsu yang mengawal barang berharga itu.

"Ah, celaka, pangcu!" kata piauwsu brewok itu dengan muka pucat. Pangkal lengan kanannya masih dibalut dan ada bekas darah pada balutan itu. "Kami dihadang perampok di lereng Bukit Merak. Kami melawan akan tetapi perampok itu lihai sekali, kami semua terluka dan kereta bersama barang- barang itu dibawa pergi perampok!"

Ciang Hok mengerutkan alisnya. Sudah puluhan kali dia sendiri mengawal barang lewat Bukit Merak, akan tetapi belum pernah menghadapi gangguan perampok.

"Berapa orang banyaknya perampok itu?" "Hanya seorang saja, pangcu."

Ciang Hok terbelalak. "Hanya seorang saja dan kalian tujuh belas orang kalah olehnya?" teriak Ciang Hok penasaran.

"Siapakah orang itu?"

Ciang Mei Ling yang juga merasa penasaran lalu menyambung ucapan ayahnya. "Paman, ceritakan sejelasnya bagaimana terjadinya peristiwa perampokan itu."

Piauwsu brewok itu lalu menghela napas panjang dan bercerita dengan sikap yang lebih tenang. "Ketika kereta kami tiba di lereng Bukit Merak, suasananya tenang dan sunyi. Kami sama sekali tidak menyangka buruk ketika tiba-tiba dari atas lereng turun seorang wanita yang memakai sebuah payung merah. Akan tetapi tentu saja kami tertarik sekali karena penglihatan itu sungguh luar biasa dan aneh. Di tempat yang sunyi itu tampak seorang wanita muda yang cantik, berpakaian mewah memakai payung seperti orang sedang berjalan-jalan saja. Akan tetapi ketika kami berpapasan, wanita itu sengaja menghadang di tengah jalan sehingga terpaksa kereta barang kami yang ditarik dua ekor kuda itu kami hentikan agar jangan menabraknya."

"Hemm, tindakannya itu aneh, apakah kalian tidak mencurigainya?" tanya Ciang Hok.

"Kami sama sekali tidak curiga, pangcu. Ia hanya seorang wanita yang tampaknya baru berusia kurang lebih dua puluh tahun, selain cantik juga pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang yang kaya raya, dan iapun sama sekali tidak membawa senjata. Akan tetapi ketika kami bertanya dan menegurnya supaya menyingkir dan minggir, ia mengatakan bahwa ia menghendaki kereta barang kita! Tentu saja kami marah dan timbul pertengkaran, kemudian kami berusaha menangkapnya karena dari tingkah dan ucapannya jelas bahwa ia seorang perampok yang hendak merampok kereta barang yang kami kawal. Akan tetapi, ternyata ia lihai bukan main. Ia menggunakan sehelai sabuk merah sebagai senjata dan kami semua tidak mampu menandinginya, bahkan kami semua dapat ia robohkan dengan menderita luka-luka. Ia lalu meloncat ke atas kereta, memukul jatuh kusirnya dan ia mengusiri sendiri kereta itu, melarikannya menuju ke atas bukit. Kami tidak kuasa mengejarnya, pula kami memang bukan tandingannya, maka terpaksa kami pulang dan melaporkan kepada pangcu."

00dewi00