--> -->

Suling Pusaka Kemala Jilid 13

Jilid XIII

"HAH???Mengapa engkau berkata demikian, Eng-ji?" "Kau kira aku tidak melihatnya ketika kita lewat di depan

meja keluarga itu? Matamu seperti hendak meloncat keluar ketika engkau memperhatikan dua orang gadis itu. Engkau tergila-gila kepada mereka, bukan?"

"Ah, aku hanya memandang biasa saja, Eng-ji." "Memandang biasa? Engkau memandang mereka seperti

seekor srigala melihat dua ekor domba! Aku paling benci melihat laki-laki yang mata keranjang! Memalukan sekali!" Eng-ji tiba-tiba tampak marah dan bersungut-sungut.

Han Lin merasa lucu, lalu timbul niatnya untuk menggoda. "Eh, Eng-te, jangan pura-pura. Kurasa engkaupun tentu senang melihat seorang gadis yang cantik."

Eng-ji memandang Han Lin dan matanya berapi-api. "Tidak sudi aku! Aku bukan seorang yang mata keranjang, melainkan seorang yang gagah! Sudahlah, kalau engkau mata keranjang, aku tidak sudi berdekatan denganmu!" Setelah berkata demikian, dengan gerakan marah Eng-ji menyambar buntalannya dan duduk di meja lain!

Han Lin merasa terkejut juga. Tidak disangkanya bahwa Eng-ji bersungguh-sungguh dan benar-benar menjadi marah besar kepadanya karena dia memandangi kedua orang gadis cantik itu. Benarkah Eng-ji seorang pemuda yang tidak suka kepada gadis cantik? Dan memandang rendah kepada pria yang suka melihat gadis cantik?

Dia mengalah, lalu bangkit berdiri dan menghampiri sahabatnya itu. "Maafkan aku, Eng-te, aku telah membuat engkau marah." katanya sambil duduk di meja itu. Akan tetapi Eng-ji tidak menjawab, hanya bersungut-sungut sambil melambaikan tangan memanggil pelayan, lalu memesan nasi dan masakan dengan singkat. Biasanya dia mesti bertanya kepada Han Lin, masakan apa yang hendak dipesannya. Sekali ini dia memesan sendiri, dengan sikap sembarangan saja.

Eng-ji bersikap dingin dan marah, tidak pernah memandang kepada Han Lin, bahkan ketika masakan datang, dia lalu makan tanpa mempersilakan Han Lin makan. Han Lin merasa tidak enak sekali, akan tetapi diapun makan dan bersikap seperti biasa saja. Melihat pemuda itu makan dalam keadaan tidak enak dan terpaksa, Han Lin merasa menyesal telah membikin marah sahabat yang biasanya bersikap baik itu maka sambil makan dia pun berkata, "Eng-te, aku merasa menyesal sekali telah membuat engkau marah. Maafkanlah aku, demi persahabatan kita."

Eng-ji menunda sumpitnya dan menatap wajah Han Lin. Matanya basah! Dan suaranya terdengar parau ketika dia berkata agak ketus, "Berjanjilah bahwa engkau tidak akan bersikap mata keranjang kalau melihat wanita cantik!"

Han Lin menelan ludahnya, diam-diam merasa geli, akan tetapi juga penasaran.

Sekarang dia melihat watak yang lain dari pemuda remaja yang mempunyai segi-segi yang aneh itu. "Baiklah, aku berjanji!" katanya sambil mengangguk. Dan seketika sikap Eng-ji berubah! Kembali ramah seperti biasa, bahkan memilihkan dan menyumpitkan daging pilihan dari masakan itu untuk Han Lin!

Ketika mereka selesai makan dan Eng-ji sudah membayar harga makanan, mereka meninggalkan rumah makan itu dan untuk menyenangkan hati sahabatnya itu, Han Lin menengokpun tidak ketika lewat dekat rombongan keluarga yang ada dua orang gadis cantiknya itu. Atas ajakan Eng-ji, mereka langsung meninggalkan kota itu menuju ke selatan. Sebentar saja mereka sudah meninggalkan kota dan tiba di tempat sunyi di luar kota sebelah selatan.

Han Lin menimbang-nimbang. Akan diteruskan perjalanannya bersama Eng-ji ini? Ataukah dia akan memisahkan dirinya? Akan lebih enak kalau melakukan perjalanan seorang diri, dia dapat bebas sesuka hatinya dan tidak menyinggung atau membuat tidak senang hati sahabatnya itu. Akan tetapi kalau dia teringat akan keramahan Eng-ji, akan sikapnya yang teramat baik dan ramah kepadanya, dia merasa tidak tega. Bagaimana Eng-ji akan menerimanya kalau dia mengajak berpisahan? Agaknya pemuda remaja itu sudah melekat kepadanya, dan agaknya Eng-ji akan berduka kalau diharuskan berpisah. Eng-ji sudah dia anggap dia lebih dari pada sahabat biasa, bahkan menganggap seperti kakaknya sendiri. Mencucikan pakaiannya! Mempersiapkan makanan yang enak-enak.

Bahkan pernah ketika mereka bermalam di kamar sebuah rumah penginapan di kota, pada malam hari ketika dia terbangun, dia melihat Eng-ji tertidur di atas lantai, tidak disampingnya di atas tempat tidur! Ketika pada pagi harinya dia menegur, pemuda remaja itu mengatakan bahwa dia merasa gerah sekali maka berpindah tidur di bawah, tidak berani membangunkannya! Dalam segala hal pemuda remaja itu mengalah kepadanya dan menyediakan yang terbaik untuknya. Dan dalam perjalanan selama beberapa hari itu dia merasa betapa perkenalan mereka telah menjadi persahabatan yang amat akrab. Bagaimana dia akan tega untuk mengatakan kepada Eng-ji bahwa dia ingin memisahkan diri?

"Lin-ko, mengapa engkau melamun? Apa yang kaulakukan?" Han Lin tertegun. Pemuda remaja itu begitu penuh perhatian terhadap dirinya, seperti biasa! "Tidak apa-apa, Eng- te."

"Sejak tadi engkau berdiam diri saja. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Ah, tidak ada."

"Sukurlah kalau begitu. Aku khawatir bahwa aku telah membuat hatimu tidak senang."

"Tidak, tidak ada apa-apa, Eng-te."

"Sttt dari depan ada orang-orang yang mencurigakan.

Mereka mempergunakan ilmu berlari cepat!" tiba-tiba Eng-ji memperingatkan.

Han Lin mengangkat muka memandang dan benar saja. Jauh di depan di atas jalan yang lurus itu tampak bayangan enam orang menuju ke tempat mereka dengan gerakan cepat sekali seperti terbang. Jelas mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu berlari cepat dan sedang menghampiri mereka. Han Lin bersikap waspada dan berhenti melangkah, memandang kepada mereka dengan sikap tenang walaupun hatinya merasa tegang.

"Wah, mereka datang lagi! Kini langkah mereka bertiga ditambah tiga orang lagi. Gawat keadaannya, Lin-ko!" bisik Lng-ji yang sudah cepat mengeluarkan Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dari buntalan pakaiannya! Han Lin juga segera dapat mengenal mereka. Dia mengenal Toa Ok dan Sam Ok. Akan tetapi dia tidak mengenal Ji Ok, dan dari jarak jauh itu diapun tidak mengenal tiga orang lain yang datang bersama mereka.

Karena maklum bahwa munculnya orang-orang itu tentu dengan niat buruk, yaitu hendak merampas Im-yang-kiam, maka Han Lin juga membuat persiapan dan diapun sudah melolos Im-yang-kiam dari buntalan pakaiannya. Akan tetapi setelah enam orang itu tiba di depan mereka dan Han Lin memandangi mereka satu demi satu, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. Dia memandang kepada seorang wanita dan merasa bagaikan mimpi. Wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih cantik jelita, wanita yang selama hidupnya tidak akan pernah terlupakan oleh Han Lin karena wanita itu adalah ibunya!

"Ibuuuu.....! Engkau adalah ibuku !!"

Han Lin melompat di depan wanita itu sambil berteriak memanggil. Wanita itu memang Chai Li adanya. Seperti telah di ceritakan di bagian depan, Chai Li menjadi tawanan Ji Ok setelah diselamatkan oleh datuk sesat itu. Ji Ok jatuh cinta kepada Chai Li dan dengan kekuatan sihirnya dia membuat Chai Li tunduk dan menyerah kepadanya menjadi isterinya. Ternyata bagaimanapun juga, Ji Ok merupakan suami yang baik dan amat mencinta isterinya sehingga walaupun Chai Li berada dalam keadaan di bawah pengaruh sihir, namun ia hidup cukup bahagia dengan suaminya yang mencinta. Juga Ji Ok telah menggembleng dan mendidiknya dengan ilmu silat sehingga Chai Li berubah menjadi seorang wanita yang lihai, akan tetapi wataknya juga sesuai dengan watak suaminya, keras dan kejam terhadap lawan.

Ketika Han Lin melompat ke depannya dan menyebutnya ibu, Chai Li mundur-mundur dengan wajah berubah pucat dan matanya terbelalak. Ia tampak bingung sekali, seperti tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Melihat ibunya mundur-mundur dan memandang kepadanya dengan bingung, Han Lin melangkah maju. "Ibu, aku adalah anakmu. Aku adalah Han Lin anakmu !!"

Chai Li menjadi semakin bingung. Mulutnya menggerakkan nama "Han Lin" tanpa mengeluarkan suara dan ia seperti orang yang kehilangan ingatan. "Isteriku, serang bocah itu!" tiba-tiba Ji Ok berseru dengan suara mengandung penuh wibawa dan mendengar teriakan Ji Ok ini, tiba-tiba Chai Li menyerangnya dengan ganas, menggunakan tangan kanan untuk memukul dengan telapak tangan yang mengeluarkan hawa panas. Itulah pukulan Ban- tok-ciang yang amat berbahaya.

Han Lin terkejut sekali dan cepat dia mengerahkan sinkang pada dadanya yang terkena pukulan itu sehingga dia terjengkang.

"Ibuuuu kenapa engkau memukul aku, anakmu?" Han

Lin bangkit lagi. untung sinkangnya amat kuat sehingga pukulan itu tidak melukainya. Mendengar seruan ini, kembali Chai Li ragu-ragu dan bingung sehingga tidak menyerang lagi, melainkan memandang dengan mata terbelalak.

Melihat kembali Chai Li- ragu-ragu dan bingung, Ji Ok berseru lagi, kini lebih berwibawa suaranya, mengandung kekuatan sihir yang menguasai Chai Li. "Isteriku, pemuda ini musuh kita. Bunuh dia!"

Mendengar suara itu, Chai Li mencabut pedang yang berada di punggungnya dan menyerang Han Lin dengan tusukan maut. Han Lin cepat mengelak dan dia menjadi bingung sekali.

Sementara itu, ketika melihat betapa Han Lin mengakui wanita cantik itu sebagai ibunya akan tetapi malah diserang oleh wanita itu atas perintah Ji Ok, Eng-ji menjadi marah sekali kepada Ji Ok.

"Jahanam terkutuk engkau!" bentaknya dan ia sudah menggunakan Ceng-liong-kiam untuk menyerang Ji Ok dengan dahsyatnya. Menghadapi serangan Eng-ji yang hebat ini, Ji Ok cepat mempergunakan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk sutera putih, untuk melawannya.-Akan tetapi Sam Ok segera terjun ke dalam perkelahian itu sambil memutar Hek-kong-kiam di tangannya sambil berseru. "Ji Ok, engkau bantu Toa Ok merampas Im-yang-kiam!" dan Sam Ok segera menyerang Eng-ji, dibantu oleh seorang kakek yang berpakaian seperti tosu yang tadi datang bersama mereka.

Mendengar ini, Ji Ok lalu melompat keluar dan mendekati Chai Li yang masih menyerang Han Lin. "Terus serang dia, bunuh musuh kita ini, isteriku!" katanya dan diapun segera menggunakan sabuk sutera putihnya untuk membantu Chai Li menyerang Han Lin. Melihat ini, Toa Ok tidak tinggal diam dan diapun sudah menggerakkan Kim-liong-kiamnya untuk mengeroyok Han Lin. Tosu kedua yang datang bersama mereka, tanpa di minta juga mengeroyok Han Lin,

Han Lin masih kebingungan melihat sikap ibunya yang menyerangnya dengan hebat itu, menjadi marah bukan main. Tahulah dia bahwa ibunya berada dalam keadaan tidak wajar. Berada di bawah pengaruh sihir. Akan tetapi biarpun dia marah sekali, dia masih bingung dan sedih menghadapi ibunya seperti itu sehing ga karena perhatiannya tercurah kepada ibunya, dia menjadi kurang waspada dan ketika dia memutar pedang Im-yang-kiam untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan, tendangan kaki kiri Ji Ok mengenai dadanya dan diapun terjengkang dan terbanting roboh! Dadanya terasa nyeri akan tetapi tidak dirasakannya karena pada saat itu dia melihat Chai Li udah menusukkan pedangnya ke arah lehernya.

Han Lin terpaksa menggulingkan dirinya agar terhindar dari tusukan maut itu dan kembali dia berseru, "Ibuuu !" Ini

aku, Han Lin anakmu !!"

Kembali Chai Li tersentak kaget, akan tetapi Ji Ok kembali berkata kepadanya, "Jangan dengarkan ocehannya, isteriku. Dia musuh besar kita, serang dan bunuh dia!"

Kembali Chai Li menggerakkan pedangnya menusuk, disusul oleh Ji Ok yang mengelebatkan sabuk suteranya. Bagai ikan seekor ular sabuk sutera putih itu meluncur dan ujungnya menotok ke arah tubuh Han Lin! Pemuda ini menjadi penasaran sekali melihat ibunya. Dia melompat berdiri dan menangkis pedang ibunya dan sabuk sutera putih yang menotoknya, akan tetapi dari belakang menyambar pedang Kim-liong-kiam di tangan Toa Ok dan sebatang pedang lain di tangan tosu pembantu Toa Ok. Han Lin memutar pedangnya ke belakang.

"Ibu !" Dia mencoba untuk memanggil lagi.

"Desss !" Hebat sekali tamparan tangan kiri Toa Ok yang

disertai ilmu pukulan Ban-tok-ciang. Kalau bukan Han Lin yang punggungnya terkena pukulan itu, tentu akan roboh tewas atau setidaknya terluka parah. Akan tetapi pemuda itu telah melindungi tubuhnya dengan sin-kang, maka biarpun dia terpelanting roboh, dia tidak terluka parah dan sudah melompat kembali sambil memutar pedang Im-yang-kiam melindungi dirinya.

Bukan pengeroyokan empat orang itu yang membuat Han Lin kewalahan, melainkan karena dia bingung dan sedih melihat keadaan ibunya yang tidak mengenalnya. Kenyataan ini membuat dia lengah dan lemah sehingga beberapa kali dia terkena tendangan dan hantaman. Masih untung bahwa dia tidak lupa untuk melindungi dirinya dengan sin-kang yang membuat tubuhnya kebal dan tidak dapat ditembusi oleh hawa beracun dari pukulan Ban-tok-ciang.

"Ibuuu.... ingatlah, ibuuu !" Kembali dia berseru.

"Desss !" Kembali dia terkena tendangan, sekali ini kaki

Toa Ok yang menendangnya, keras sekali sehingga tubuhnya terpental sampai lima meter! Empat orang pengeroyoknya itu mengejarnya dan kembali pedang ibunya menusuk ke arah dadanya. Dia menangkap pedang itu dengan tangan kirinya.

"Ibu, aku Han Lin !" Dia memperingatkan ibunya. Akan

tetapi Chai Li mengerahkan tenaga dan mencabut pedangnya. Ia kini telah memiliki tenaga sin-kang cukup kuat sehingga Han Lin yang tidak mencengkeram pedang dengan sungguh- sungguh itu melepaskan pedang yang mengakibatkan telapak tangan kirinya tergores pedang dan berdarah!

"lbuuuu.....! Desss !" Kembali tubuh Han Lin terkena

tendangan Ji Ok sehingga terpelanting dan terguling-guling. Kepalanya terasa pening dan pada saat itu sadarlah dia bahwa kalau dia terus terbenam dalam kebingungan dan kedukaan, dia dapat tewas di tangan para pengeroyok itu. Bangkitlah semangat Han Lin dan dia menjadi marah sekali, marah kepada mereka yang telah membuat ibunya seperti itu.

"Aaaaauuuungggg !" Tiba-tiba dia mengeluarkan pekik

semacam auman yang melengking-lengking dan empat orang pengeroyoknya terpental mundur seperti dilanda angin bddai. Itulah Sai-cu Ho-kang (Ilmu Auman Singa) yang dikeluarkannya dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga akibatnya amat hebat, membuat para pengeroyoknya terhuyung-huyung ke belakang. Juga sekaligus getaran suara itu menghancurkan semua kekuatan sihir sehingga pada saat itu Chai Li seolah-olah terbebas dari pengaruh sihir. Ia terbelalak pucat, memandang kepada Han Lin.

"Kau..... kau ?" katanya dengan suara tidak jelas. Wanita

itu masih dapat bicara walaupun kalau mengeluarkan suara tidak jelas karena lidahnya tinggal separuh. Melihat dan mendengar suara ibunya, Han Lin menjadi timbul harapannya lagi dan diapun mendekati ibunya.

"Ibu, ini aku anakmu, Han Lin!"

Akan tetapi pada saat itu, kembali serangan datang bertubi.

Han Lin yang mencurahkan perhatiannya kepada ibunya, memutar pedang menangkis, akan tetapi dari belakang dia menerima hantaman tangan kiri Ji Ok.

"Plakk !" Punggungnya kena dihantam ilmu pukulan Ban-

tok-ciang dan kembali Han Lin terpelanting jatuh. Pedang Kim- liong-kiam di tangan Toa Ok menyambar dengan tusukan ke arah dadanya pada saat dia jatuh itu. Han Lin masih sempat menggulingkan dirinya ke samping sehingga pedang itu menusuk dan menancap di atas tanah. Han Lin menggulingkan tubuhnya menjauh dan pada saat itu, pedang tosu pembantu Toa Ok sudah membacok ke arah perut Han Lin. Melihat datangnya pedang yang dibacokkan ke arah perutnya, Han Lin cepat menggerakkan kedua kakinya menendang. Kaki kiri menendang pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas, dan kaki kanan menendang ke arah dada lawan. Tosu itu mengelak namun tetap saja dadanya tertendang sehingga dia terjengkang roboh. Han Lin meloncat bangun dan sudah memutar Im-yang-kiam lagi untuk melindungi dirinya. Yang amat menyedihkan hatinya adalah ketika dia melihat ibunya kembali sudah menyerangnya dengan ganas!

Sementara itu, Eng-ji yang dikeroyok oleh Sam Ok dan seorang tosu pembantu menjadi repot sekali. Menghadapi Sam Ok seorang dia masih mampu menandingi bahkan mengungguli wanita datuk sesat itu, akan tetapi tosu yang mengeroyoknya itu lihai juga ilmu pedangnya sehingga dia mulai terdesak. Apa lagi ketika dia melihat berulang kali Han Lin terpelanting roboh dan pemuda itu tampak bingung sekali memanggil-manggil ibunya dia sendiri menjadi kacau dan pada suatu saat, ujung pedang Sam Ok telah menyerempet paha kirinya sehingga celananya robek berikut kulitnya dan mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi hal ini tidak membuat Eng-ji menjadi gentar atau lemah, bahkan membuat dia menjadi marah sekali dan gerakan pedangnya menjadi semakin hebat!

"Haiiiittt !" Eng-ji mengeluarkan teriakan melengking dan

hampir saja pedangnya membabat pundak Sam Ok yang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi datuk wanita itu masih mampu mengelak dan sebelum Eng-ji dapat mendesaknya, tosu yang mengeroyoknya telah datang membantu sehingga kembali Eng-ji menghadapi dua orang yang menyerangnya dengan bertubi-tubi. Eng-ji memutar Ceng-liong-kiam di tangannya dan dia tidak hanya melindungi dirinya, akan tetapi dapat juga membalas serangan dua orang pengeroyoknya dengan tusukan atau bacokan yang berbahaya. Ilmu pedang Coa-tok Sin-kiam yang dimainkannya memang merupakan ilmu pedang yang hebat dan ganas sekali. Pedangnya seolah menjadi seekor ular yang melenggang-lenggok dan mematuk- matuk sehingga dua orang pengeroyoknya harus berlaku hati- hati sekali.

Han Lin yang selalu masih merisaukan ibunya kini terkepung dan terdesak hebat. Terutama sekali pedang Toa Ok dan sabuk sutera putih Ji Ok amat mendesak nya sehingga dia menjadi repot. Hal ini adalah karena perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada ibunya yang juga ikut menyerangnya dengan ganas. Han Lin merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat ibunya mati-matian menyerangnya dengan tusukan- tusukan maut itu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan sebatang tongkat kayu sederhana menyambar dan menangkis pedang Toa Ok yang mengancam Han Lin. Ternyata yang datang membantu Han Lin itu adalah seorang gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Tan Kiok Hwa!

Melihat gadis ini membantu, Han Lin khawatir sekali kalau- kalau gadis itu celaka. Maka dia lalu kembali mengeluarkan pekik aumannya yang dahsyat dan Han Lin kini mengamuk! Sambil menghin darkan diri dari serangan ibunya, dia mengamuk dan melakukan penyerangan yang hebat terhadap Toa Ok, Ji Ok dan tosu pembantu mereka. Pedangnya berubah menjadi seperti kilat yang menyambar-nyambar, amat dahsyatnya. Dia sudah marah sekali. Bukan marah karena dirinya dikeroyok dan diserang, melainkan marah karena melihat keadaan ibunya yang tidak mengenal dirinya lagi. Dia mengamuk dan melihat ini. Toa Ok menjadi terkejut sekali. Datuk sesat ini merasa amat penasaran. Dia ingin sekali merampas Im-yang-kiam. Tadinya dia yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan Han Lin. Akan tetapi, ternyata bertanding satu lawan satu dia tidak mampu menang.

Kemudian dia minta bantuan Sam Ok. Juga gagal. Sekarang dia dibantu Sam Ok dan Ji Ok bersama dua orang tosu lihai lagi, akan tetapi ternyata kembali dia gagal. Han Lin dibantu pemuda remaja yang amat lihai itu dan kini bahkan dibantu pula oleh gadis berpakaian putih yang juga memiliki ilmu tongkat yang amat aneh dan gerakannya demikian luar biasa sehingga sukar disambar pedangnya.

Gadis berpakaian putih itu memiliki ilmu langkah yang ajaib sekali.

Maklum bahwa sekali inipun dia gagal, bahkan setelah Han Lin mengamuk keadaan dia dan kawan-kawannya berbalik terancam bahaya, Toa Ok lalu melempar bahan peledak.

Ledakan itu menimbulkan asap hitam tebal dan tanpa diberitahu, ledakan itu merupakan isarat kepada kawan- kawannya untuk melarikan diri.

Akan tetapi Han Lin tidak memperdulikan asap hitam tebal itu. Dia menerjangnya sambil menahan napas.

"Ibuuu....! Jangan pergi, ibu !" Dia berseru lalu berlari

melakukan pengejaran. Akan tetapi para pengeroyok itu telah lenyap dan Han Lin terus mengejar ke depan dengan nekat sambil memanggil-manggil ibunya.

Sementara itu, setelah terjadi ledakan dan timbulnya asap hitam tebal, Eng-ji melompat ke belakang. Setelah para pengeroyoknya pergi, barulah terasa oleh nya betapa luka di pahanya perih dan nyeri. Dia terhuyung.

"Engkau terluka !" terdengar teguran dan ketika dia

menoleh, dia berhadapan dengan seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita. Gadis itu membawa sebatang tongkat kayu di tangan kanannya dan sebuah buntalan besar tergendong di punggungnya.

Eng-ji melihat betapa gadis itu tadi menggunakan tongkat untuk membantu Han Lin. Dia memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi rasa nyeri di pahanya membuat dia menjatuhkan diri terduduk dan sambil memijati pahanya yang terluka dia bertanya, "Kalau aku terluka mengapa?"

Kiok Hwa tersenyum mendengar jawaban yang ketus itu. Ia tadi melihat betapa pemuda remaja itu amat lihainya, mampu menandingi Sam Ok dan seorang tosu yang mengeroyoknya. "Adik yang baik, kalau engkau terluka, aku dapat mengobatimu. Aku adalah seorang ahli pengobatan. Aku khawatir kalau lukamu itu mengandung racun."

Eng-ji terkejut dan juga girang. Dia memandang kepada luka di pahanya dan melihat betapa luka itu tidak dalam akan tetapi di sekitar lukanya terdapat warna menghitam! Itulah merupakan tanda bahwa luka itu memang mengandung racun!

"Ah, kalau begitu, periksalah lukaku dan obati, enci!" katanya khawatir.

Kiok Hwa tersenyum lalu menghampiri Eng-ji. Ia berjongkok dan merobek celana itu agar terbuka lebih lebar dan memeriksa lukanya. Ketika melihat bentuk paha dan kaki Eng-ji, Kiok-hwa berseru heran dan kaget.

"Engkau..... engkau seorang wanita !"

"Hushh, enci. Ini rahasiaku dan jangan kaukatakan kepada pemuda tadi."

"Maksudmu koko Han Lin?" tanya Kiok Hwa.

Eng-ji memandang tajam. "Engkau sudah mengenal Lin- ko?" "Aku pernah bertemu dengannya dan kami saling mengenal."

"Hemm. Sekali lagi, harap engkau tidak membuka rahasiaku ini kepada Lin-ko. Dia tetap menganggap aku sebagai seorang pemuda yang bernama Eng-ji."

Kiok Hwa tersenyum heran. Akan tetapi ia mengangguk. "Jangan khawatir, aku tidak membuka rahasiamu." Ia memeriksa lagi dan berkata. "Tahanlah, aku akan menotok dan memijat untuk mengeluarkan racun dari lukamu, agak nyeri sedikit."

"Cepat lakukan, aku akan bertahan. Cepat, jangan sampai Lin-ko melihat keadaanku ini."

Kiok Hwa lalu menotok ke jalan darah di sekitar luka, lalu memijit-mijit sehingga darah yang keracunan keluar dari luka. Memang terasa nyeri, akan tetapi, Eng-ji menggigit bibirnya dan tidak mengeluarkan keluhan sehingga mengagumkan hati Kiok Hwa. Gadis ini ternyata tabah dan tahan nyeri, seorang yang gagah sekali. Setelah racunnya keluar semua, ia menaburkan bubuk obat kepada luka itu dan membalut paha itu dengan sehelai kain bersih. Kemudian ia membantu Eng-ji menukar celananya yang robek.

Mereka bekerja cepat dan untung Eng-ji telah menukar celananya karena tak lama kemudian Han Lin muncul. Melihat wajah pemuda itu yang muram,

Eng-ji segera menyongsongnya dan jalannya agak terpincang.

"Bagaimana, Lin-ko? Apakah engkau dapat mengejar dan menyusul mereka?"

Han Lin menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang. "Tidak. Mereka menghilang dalam sebuah hutan. Aku menyesal sekali tidak dapat menyusul mereka..... ibuku.....

ahhh " Han Lin menjatuhkan diri duduk di bawah pohon dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Kedua matanya basah dan dia menahan isak tangisnya, mengeraskan hatinya sehingga kedua tangannya menjadi tegang dan kaku karena dia mengerahkan tenaganya untuk menahan tangisnya.

Kiok Hwa dan Eng-ji saling pandang sambil mengerutkan alisnya. Kiok Hwa menggeleng kepalanya perlahan seolah hendak melarang Eng-ji berbuat sesuatu dan membiarkan Han Lin tenggelam ke dalam kesedihannya. Akan tetapi Eng-ji tidak perduli dan dengan kaki terpincang dia menghampiri Han Lin dan menjatuhkan diri berlutut dekat pemuda itu, menaruh tangannya dengan lembut kepundak Han Lin.

"Lin-ko," katanya lembut, "Sudahlah jangan bersedih, Lin- ko. Benarkah wanita tadi ibumu?"

Tanpa menurunkan kedua tangannya dari depan mukanya, Han Lin. menjawab dengan suara lirih dan parau, "Aku yakin bahwa ia itu ibuku "

"Akan tetapi kenapa ia tidak mengakuimu dan seperti

tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu dengan dahsyat?" Eng-ji bertanya penasaran sekali.

Han Lin menggeleng kepalanya lalu menghela napas panjang. "Agaknya ia terpengaruh sihir laki-laki yang bersenjata sabuk sutera putih itu "

"Dia adalah Ji Ok, Si Jahat Nomor Dua, jahanam keparat itu!" kata Eng-ji.

"Melihat keadaan bibi itu, kemungkinan besar ia telah minum racun perampas ingatan." kata Kiok Hwa dengan suara lembut.

Mendengar suara ini, Han Lin melepaskan kedua tangannya dari depan mukanya dan menoleh, memandang kepada Kiok Hwa. Mukanya masih pucat dan kedua pipinya basah air mata. "Kiok-moi! Aku sampai lupa kepadamu. Terima kasih, Kiok- moi, engkau tadi telah membantuku menghadapi iblis-iblis itu."

"Ah, tidak perlu dibicarakan lagi itu, Lin-ko. Aku ikut prihatin melihat ibumu."

Han Lin memandang kepada Eng-ji. Pandang matanya menuju ke pahanya. "Dan engkau tadi agaknya terluka, Eng- ji? Aku khawatir sekali karena pedang di tangan Sam Ok itu tentu mengandung racun dan kalau melukaimu "

"Memang ia yang melukai pahaku dan memang luka itu mengandung racun yang berbahaya. Akan tetapi untung ada enci ini yang mengobatiku. Eh, enci yang baik, sampai lupa aku bertanya. Siapakah namamu?"

Kiok Hwa tersenyum. "Namaku Tan Kiok Hwa, adik Eng-ji." "Untung ada Enci Kiok, kalau tidak mungkin kakiku harus

dipotong!"

Han Lin memandang kepada Kiok Hwa. "Kiok-moi, benarkah pendapatmu tadi bahwa mungkin ibuku telah minum racun perampas ingatan?"

"Besar sekali kemungkinannya, Lin-ko. Kalau ia hanya terpengaruh sihir, teriakanmu yang mengandung tenaga khi- kang sepenuhnya tadi tentu akan mampu membuyarkan sihir dan mengembalikan ingatannya. Akan tetapi kalau ia minum racun perampas ingatan, tentu saja tidak dapat disembuhkan dengan teriakanmu tadi."

Han Lin menggangguk-angguk lalu bangkit berdiri. Eng-ji juga bangkit berdiri, akan tetapi dia terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Kiok Hwa tidak cepat merangkulnya. Eng-ji juga merangkul gadis itu sehingga keduanya saling rangkul.

Eng-ji tertawa.

"Ah, ternyata masih terasa nyeri juga pahaku ini!" katanya, tanpa menyadari bahwa dia saling rangkul dengan Kiok Hwa. Melihat sikap yang demikian mesra, saling rangkul dan tidak segera melepaskan rangkulan antara pemuda remaja dan gadis itu, tiba-tiba saja Han Lin merasa jantungnya seperti dicengkeram. Sakit dan panas! Tanpa dia sadari, dia telah dicengkeram oleh rasa cemburu yang besar. Kiok Hwa dirangkul Eng-ji, demikian suara hatinya berteriak dengan marah!

Cemburu! Suatu perasaan yang membuat orang merasa tidak enak sekali. Panas, pedih dan menimbulkan sakit hati dan kemarahan besar. Orang bilang bahwa cemburu adalah kembangnya cinta. Bahwa adanya cinta harus ada cemburu, bahkan katanya cinta tidak sungguh-sungguh tanpa adanya cemburu! Benarkah itu? Cemburu menimbulkan kemarahan, membuat cinta berbalik menjadi benci! Cemburu timbul karena perasaan bahwa orang yang dicintanya, yang dimilikinya, direbut orang. Bahwa yang dicintanya itu ternyata mencinta orang lain. Cemburu hanya timbul kalau cinta itu sifatnya ingin memiliki, ingin menguasai, ingin memonopoli orang yang dicintainya. Cemburu timbul dari cinta yang ingin menyenangkan diri sendiri, sehingga menjadi marah dan benci kalau diri sendiri tidak disenangkan lagi. Cemburu timbul dari cinta yang bergelimang nafsu berahi, nafsu memiliki dan nafsu ingin disenangkan. Cinta sejati tidak akan menimbulkan cemburu! Cinta sejati mendorong orang ingin menyenangkan hati orang yang dicintanya, ingin membahagiakan dan mengesampingkan keinginan untuk senang sendiri.

Kebahagiaan orang yang dicintanya mendatangkan kebahagiaan padanya juga. Cinta sejati tidak ingin mengikat atau diikat, memberi kebebasan kepada orang yang dicintanya.

Akan tetapi Han Lin adalah seorang manusia biasa dan semua manusia tidak akan terlepas dari cengkeraman nafsunya sendiri. Melihat Kiok Hwa berangkulan bersama Eng- ji, hatinya terasa seperti dibakar dan hal ini tampak dari pandang matanya yang berapi-api! Kiok Hwa dapat melihat pandang mata itu dan seketika ia melepaskan rangkulannya kepada Eng-ji. Ia baru sadar bahwa ia saling berangkulan dengan seorang "pemuda" menurut pandangan Han Lin.

Wajahnya berubah kemerahan, namun jantungnya berdebar tegang. Kenapa Han Lin tampak marah melihat ia berangkulan dengan seorang "pemuda"? Tentu hanya berarti satu, yaitu bahwa Han Lin tidak suka ia berangkulan dengan pemuda lain! Untuk menutupi rasa rikuh ini, Kiok Hwa menegur Eng-ji.

"Engkau berhati-hatilah kalau berdiri Engkau bisa terjatuh. Racun di lukamu memang sudah hilang, akan tetapi luka itu sendiri belum sembuh benar."

Eng-ji sendiri tidak melihat pandang mata Han Lin yang berapi-api melihat dia berangkulan dengan Kiok Hwa tadi. Dia sendiri lupa bahwa tidak sepatutnya dia sebagai seorang "pemuda" berangkulan dengan Kiok Hwa demikian mesranya. Pada saat itu memang dia lupa bahwa dia seorang pemuda.

"Lin-ko, orang bersenjata sabuk sutera putih tadi adalah Ji Ok. Tadi mereka bertiga muncul dengan lengkap, yaitu Thian- te Sam-ok dan bersama wanita tadilah mereka menyerang guruku ketika itu." kata Eng-ji.

"Dan dua orang tosu tadi adalah tosu dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), tampak dari gambar teratai putih di balik jubah mereka." kata Kiok Hwa.

"Hemm, ternyata ibuku masih hidup dan ia telah terjatuh ke tangan Thian-te Sam-ok. Bagaimanapun juga aku harus membebaskan ibuku dari tangan mereka." kata Han Lin sambil mengepal tinjunya.

"Jangan khawatir, Lin-ko. Aku akan membantumu membebaskan ibumu!" kata Eng-ji penuh semangat.

"Akupun akan suka membantumu, Lin-ko," kata Kiok Hwa. "Akan tetapi bagaimana? Ke mana kita harus mencari mereka?" "Enci Kiok Hwa, benarkah kata-katamu tadi bahwa dua orang tosu itu adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw?" tanya Eng-ji kepada Kiok Hwa.

"Benar sekali, Eng-ji. Aku melihat gambar teratai putih itu di balik jubah mereka."

"Kalau begitu, Thian-te Sam-ok agaknya tentu berdiam di sarang Pek-lian-kauw dan aku tahu bahwa di balik gunung di sana itu terdapat sebuah bukit yang disebut Bukit Perahu dan di sana terdapat sarang cabang Pek-lian-kauw. Tentu mereka melarikan diri ke sana."

"Bagus kalau begitu!" kata Han Lin. "Aku akan menyusul ke sana!"

"Aku ikut, Lin-ko!" kata Eng-ji.

"Akupun akan membantumu, Lin-ko." kata Kiok Hwa. "Sebaiknya kalian tidak ikut, apalagi engkau, Kiok-moi.

Perjalananku ini adalah untuk berusaha membebaskan ibuku dari cengkeraman Thian-te Sam-ok dan ini berbahaya sekali. Selain mereka bertiga itu sakti, juga Pek-lian-kauw memiliki tosu-tosu yang lihai. Aku tidak ingin kalian terancam bahaya kalau ikut denganku."

"Aku tidak takut bahaya, Lin-ko. Enci Kiok Hwa lebih baik tidak ikut, akan tetapi aku akan ikut denganmu. Aku tidak takut mati!" kata Eng-ji kukuh.

"Akan tetapi yakinkah engkau bahwa bibi tadi ibumu, Lin- ko?" tanya Kiok Hwa.

"Akupun heran, Lin-ko. Bukankah dulu engkau pernah mengatakan kepadaku hahwa ibumu telah meninggal dunia?" tanya pula Eng-ji.

Han Lin menghela napas panjang. Teringat dia akan peristiwa ketika dia berusia sepuluh tahun dan mereka dikejar Uejar Suma Kiang itu. "Aku melihat sendiri ketika ibuku dikejar-kejar seorang jahat, ibu terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam. Tak mungkin kiranya orang yang terjatuh ke dalam jurang tak berdasar seperti itu akan tinggal hidup. Akan tetapi aku yakin benar bahwa wanita tadi adalah ibuku! Akan tetapi sungguh aneh dan mengherankan sekali bagaimana ia muncul sebagai isteri Ji Ok dan sama sekali tidak mengenalku. Dan ibu yang dahulu tidak pandai ilmu silat itu sekarang menjadi demikian lihai." Kembali dia menghela napas panjang dengan wajah muram.

"Sudahlah, Lin-ko, tidak perlu engkau bersedih terus. Yang penting sekarang marilah cepat mencari ibumu di sarang Pek- lian-kauw di Bukit Perahu!" kata Eng-ji penuh semangat.

Mendengar ini, timbul pula semangat di hati Han Lin. "Baiklah, mari kita berangkat. Sebaiknya engkau tidak ikut, Kiok-moi. Aku khawatir kalau-kalau engkau terancam bahaya." kata-kata ini keluar dari hati Han Lin yang mengkhawatirkan dara yang dicintanya itu.

"Jangan khawatir, aku dapat menjaga diriku, Lin-ko. Mari kita berangkat." kata Kiok Hwa. Mereka lalu pergi dari situ menuju ke gunung yang tampak menghadang di depan.

Malam itu terang bulan. Akan tetapi karena terhalang hutan yang lebat di gunung itu, terpaksa Han Lin, Eng-ji dan Kiok Hwa menghentikan perjalanan mereka dan melewatkan malam di tengah hutan. Han Lin yang tampak murung dan berduka mendatangkan suasana sunyi dan diam. Bahkan Eng- ji yang biasanya lincah itu tampak pendiam, mengetahui akan kedukaan yang mengganggu hati Han Lin. Akan tetapi diam- diam diapun memperiapkan makanan malam untuk mereka bertiga, dibantu Kiok Hwa. Mereka berdua menyambit jatuh tiga ekor burung yang cukup besar dan memanggang daging burung itu untuk menjadi teman roti kering yang dibawa Kiok Hwa.

"Lin-ko, mari makanlah. Kami telah memanggang daging burung untukmu." kata Eng-ji menawarkan. Han Lin memandang tak acuh. Hatinya sedang tertindih perasaan duka yang mendalam. Mana mungkin ada selera makan dalam keadaan seperti itu? Maka dia hanya menggeleng kepalanya.

"Lin-ko, makanlah dulu. Mari kita bertiga makan bersama, tidak baik perut dibiarkan kosong. Engkau bisa masuk angin." kembali Eng-ji membujuk sambil menarik-narik tangan Han Lin. Kiok Hwa memandang ulah Eng-ji dan diam-diam ia merasa kasihan kepada Eng-ji. Dari sikap Eng-ji, ia maklum bahwa yang menyamar pria itu sebenarnya mencinta Han Lin!

Hal ini mudah diduganya dari gerak-gerik dan pandang mata Eng-ji kepada pemuda itu. Melihat Eng-ji tidak berhasil membujuk Han Lin untuk makan, padaha Eng-ji sudah susah payah memanggangkan daging burung untuk pemuda itu, Kiok Hwa menjadi kasihan juga.

"Eng-ji benar, Lin-ko. Engkau harus makan malam bersama kami. Tidak baik membiarkan hati berduka dan perut kosong. Engkau dapat jatuh sakit."

"Ah, aku tidak ada selera makan Kiok-moi."

"Harus dipaksa, Lin-ko. Bukan demi selera, melainkan demi kesehatan dan Eng-ji sudah bersusah payah membuatkan panggang daging burung untukmu."

Han Lin merasa tidak enak menolak terus, maka dengan sikap apa boleh buat diapun duduk di dekat api unggun dan mereka bertiga makan roti kering dan panggang daging burung sambil minum air teh. Akan tetapi Han Lin hanya makan sedikit.

Malam terang bulan. Bulan sepotonp itu cukup terang karena tidak terhalang awan. Langit amat bersih dan cahaya bulan sepotong mendatangkan cahaya kebiruan yang mendatangkan suasana romantis. Han Lin bangkit berdiri dan pergi menjauhi api unggun, menghampiri sebuah batu besar dan duduk di atas batu, melamun. Eng-ji saling pandang dengan Kiok Hwa dan melihat wajah Eng-ji yang demikian muram dan nelangsa, ia merasa kasihan. Ia menggunakan mukanya memberi isarat kepada Eng-ji untuk mendekati dan menemani Han Lin sedangkan ia sendiri menjaga agar api unggun tidak menjadi padam.

Eng-ji maklum akan isarat itu dan dia lalu bangkit dan menghampiri batu besar di mana Han Lin duduk melamun.

"Lin-ko. !" katanya lirih.

Tanpa menoleh Han Lin berkata kepadanya, "Eng-ji, kuminta dengan sangat agar engkau tidak menggangguku pada saat ini. Aku ingin bersendiri, tinggalkanlah aku dan beristirahatlah."

"Lin-ko, aku ingin menemanimu, menghiburmu " kata

pula Eng-ji dengan suara membujuk.

"Sudah kukatakan, jangan ganggu aku Eng-ji!" kata Han Lin dan suaranya terdengar agak ketus. Eng-ji mundur dar meninggalkannya. Dia duduk dekat apj unggun, di mana Kiok Hwa juga duduk.

"Enci Kiok, dia marah kepadaku." kata Eng-ji, penasaran dan kecewa, bahkan suaranya agak parau seperti orang mau menangis. Kiok Hwa merasa kasihan kepadanya.

"Dia sedang berduka, Eng-ji. Sebaiknya dalam keadaan seperti itu biarkan saja dia seorang diri sampai kedukaannya mereda. Lebih baik engkau istirahat saja, tidur, biar aku yang berjaga di sini."

Eng-ji memandang ke langit, ke arah bulan sepotong. Ada awan-awan tipis datang dan lewat, menipu penglihatan se- olah-olah bulannya yang bergerak, bukan awannya.

"Kau lihat bulan itu, enci Kiok. Aku merasa seperti bulan itu." Kiok Hwa menegadah. "Eh, seperti bulan itu? Mengapa?" "Menyendiri, kesepian!" jawab Eng-ji yang lalu bangkit dan

menyambung kata-katanya. "Sebaiknya aku tidur saja, untuk

apa berjaga kalau tidak diperdulikan orang?" Diapun pergi ke bawah pohon, membersihkan tanah di bawahnya, menaburkan daun-daun kering lalu dia merebahkan diri miring, berbantalkan buntalannya. Sebentar saja dia tidak bergerak-gerak lagi dan pernapasannya halui tanda bahwa dia telah tidur pulas.

Kiok Hwa memandang kepadanya, tersenyum, lalu menoleh ke arah Han Lin. Pemuda itu masih duduk termenung memandang ke langit, agaknya juga memandangi bulan.

Berulang kali dia menarik napas panjang. Kiok Hwa merasa iba kepada pemuda itu. Ia sendiri sudah tidak mempunyai ayah bunda sehingga tidak ada yang diharapkannya lagi, tidak ada yang disusahkannya. Akan tetapi ia dapat merasakan betapa bingung dan hancur hati Han Lin yang menemukan kembali ibunya yang tadinya disangka telah mati itu dalam keadaan seperti itu. Kiok Hwa menengok lagi ke arah Eng-ji. Gadis yang menyamar pemuda itu masih tidur nyenyak. Watak Eng- ji yang masih muda itu demikian mudah berubah. Sebentar susah sebentar senang! Orang yang lincah seperti dia itu tidak dapat berlama-lama dalam kesusahan. Sebentar saja apa yang mengganjal hatinya akan lewat dan terlupa. Kalau tadi kelihatan kecewa dan bersedih karena merasa diabaikan oleh Han Lin, kini dia sudah tidur dan terbuai di alam mimpi!

Sampai hampir tengah malam, Kiok Hwa melihat bahwa Han Lin masih saja duduk melamun seperti telah berubah menjadi arca batu, duduk diam tidak bergerak sama sekali di atas batu besar itu. Ia merasa kasihan sekali dan perlahan- lahan ia bangkit berdiri setelah menaruh kayu-kayu bakar kedalam api unggun. Lalu ia melangkah perlahan menghampiri batu besar dari arah belakang Han Lin. Setelah tangannya menyentuh batu besar itu iapun berkata lirih seperti kepada diri sendiri.

"Susah dan senang datang silih berganti seperti ombak samudera yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Yang satu tidak dapat berada tanpa yang lain, silih berganti saling menguasai singgasan hati. Membiarkan diri hanyut terlalu dalam ke dalam gelombang susah senang bukanlah perbuatan bijaksana."

Han Lin tersadar dari lamunannya merasa seolah ditarik oleh suara itu kembali ke dunia nyata. Dia merasa seolah mendengar suara Bu-beng Lo-jin, karena pernah gurunya itu mengeluarkan kata-kata yang sama artinya dengan yang baru saja terdengar olehnya itu. Dia menoleh dan melihat Kiok Hwa berdiri di bawah, di dekat batu besar yang didudukinya.

"Ah, engkau itu, Kiok-moi? Kata-katamu menyadarkan aku dari alam lamunan. Engkau benar. Aku terlalu membiarkan diriku terseret dan hanyut ke dalam duka. Kiok-moi, maukah engkau naik ke sini, duduk dan bercakap-cakap denganku untuk memberi kesadaran sepenuhnya kepadaku? Hatiku sedang merana, dan aku merasa kehilangan kepribadianku."

Kiok Hwa meragu, menoleh ke arah di mana Eng-ji tertidur.

Ia melihat betapa Eng-ji masih pulas tidak bergerak-gerak, dan ia merasa kasihan kepada pemuda yang amat dikaguminya itu.

"Baiklah." katanya dan iapun melompat ke atas batu besar itu dengan gerakan ringan sekali. "Aku akan menemanimu bercakap-cakap sebentar,, akan tetapi Engkau perlu istirahat, Lin-ko."

Mereka duduk saling berhadapan di atas batu besar itu. Batu itu mempunyai permukaan yang rata, maka mereka dapat duduk bersila dengan enak di atasnya. Setelah duduk saling berhadapan di bawah sinar bulan itu, Han Lin mengamati dengan tajam wajah gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya itu. "Kiok-moi, kata-katamu tadi menyadarkan aku, seolah aku ditarik kembali kealam kenyataan oleh suaramu. Dan kata- katamu tadi tidak asing bagiku karena kelima orang guruku sudah sering membicarakannya. Aku tahu bahwa susah senang adalah dua hal yang tak terpisahkan mempengaruhi kehidupan manusia, bahwa itu adalah dua sifat yang saling bertentangan akan tetapi saling mengis dari Im dan Yang, dua kekuatan yan membuat alam semesta ini berputar, du kekuatan yang kalau bertemu dapat me nimbulkan kehidupan di alam semesta ini Aku tahu akan semua itu dan bahka hafal akan pelajaran tentang Im dan Yang itu. Orang tidak akan mengenal Yan kalau tidak mengenal Im. Orang tida akan mengenal kesusahan kalau tidak mengenal kesenangan dan sebaliknya Menurut ujar-ujar para bijaksana, manusia baru akan dapat membebaskan dirinya secara penuh kalau dia tidak terseret oleh gelombang yang diakibatkan oleh Im dan Yang (Positif dan Negatif) itu. Aka tetapi, Kiok-moi, aku manusia biasa. Kedukaan yang menyelubungi hatiku ini tidak kubuat- buat, melainkan datang dengan sendirinya sebagai akibat daripada kenyataan yang kuhadapi. Betapa hatiku tidak akan hancur melihat ibuku seperi itu? Ah, engkau tidak tahu apa yang pernah diderita ibuku tercinta! Ibuku ditinggal ayah kandungku, kemudian ibu dan aku diculik penjahat, hampir saja ibuku diperkosa sehingga ia menggigit putus lidahnya sendiri. Kami dikejar-kejar penjahat sehingga hidup penuh penderitaan lahir batin. Kemudian aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa ibuku terjungkal ke dalam jurang yang tak berdasar sehingga tadinya aku yakin bahwa ibuku telah meninggal dunia. Kalau ibu meninggal dunia ketika terjatuh itu, berarti ia telah terbebas dari kesengsaraan hidup di dunia. Akan tetapi ternyata ia masih hidup dan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis seperti Thian-te Sam-ok! Ah, dapat kubayangkan betapa hebat penderitaan ibuku yang tercinta itu! Bagaimana aku dapat menahan kedukaan yang begini besar, Kiok-moi? Ahhh, kasihan ibuku !" Han Lin

tidak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan teringat akan keadaan ibunya, kedua matanya basah dan dia menundukkan mukanya.

Sudah sejak pertemuan pertama, hati Kiok Hwa terpikat oleh Han Lin dan gadis yang bijaksana ini paham betul bahwa diam-diam ia jatuh cinta kepada pemuda itu. Kini, melihat wajah pemuda itu diliputi kedukaan, kedua matanya basah dan seluruh tarikan mukanya menunjukkan kepedihan hati yang amat besar, hati Kiok Hwa terasa seperti diremas-remas. Ia merasa kasihan sekali dan ingin ia menghibur hati pemuda itu sedapatnya. Karena ia merasa terharu sekali, perasaan hatinya mendorongnya untuk menyentuh pundak Han Lin dengan tangannya.

"Lin-ko, kita memang manusia lemah Tak mungkin kita dapat menguasai hati kita sendiri. Karena itu, satu-satunya jalan hanyalah menyerah kepada Thian Yang Maha Kasih." Suara gadis itu menggetar penuh keharuan.

Sentuhan tangan Kiok Hwa pada pundaknya mendatangkan getaran yang terasa menyusup ke seluruh dirinya. Seakan mencari pegangan bagi hatinya yang sedang limbung itu Han Lin menangkap tangan itu, memegang dan meremasnya lembut. Dua pasang mata saling bertemu dan bertaut.

"Kiok-moi. !"

"Lin-ko. !"

Entahlah siapa yang bergerak lebih dahulu, akan tetapi tahu-tahu Kiok Hwa telah rebah dalam pelukan Han Lin dan gadis itu menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu. Han Lin mendekap kepala itu dengan kuat, seolah takut akan kehilangan sebuah mustika.

Sampai lama sekali mereka berdua tenggelam dalam keadaan seperti itu. tak sepatahpun kata keluar dari mulut mereka, akan tetapi detak jantung mereka seperti bicara dalam seribu bahasa. Seluruh tubuh mereka tergetar oleh kekuatan ajaib yang menyusup ke dalam diri mereka. Pernapasan mereka seolah telah menjadi satu, detak jantung mereka pun menjadi seirama.

Akhirnya Han Lin yang berbisik, suaranya penuh getaran karena keharuan dan kebahagiaan menyelubungi hatinya. "Terima kasih, Kiok-moi..... terima kasih engkau telah

memberi kekuatan hidup kembali kepadaku " Han Lin

menunduk dan mencium rambut kepala gadis itu.

Kiok Hwa terisak. Air matanya bercucuran membasahi baju Han Lin dan menembus membasahi kulit dadanya, menembus lagi menyirami jantungnya.

Terasa sejuk segar mendatangkan gairah hidup baru, membangkitkan semangatnya.

Han Lin memperkuat rangkulannya. "Engkau engkau

menangis, Kiok-moi. ,?"

Perlahan dengan lembut Kiok Hwa melepaskan kedua lengan Han Lin yang merangkulnya. Dengan mata basah ia memandang wajah pemuda itu dan tersenyum. Di bawah sinar bulan, wajah yang tersenyum dengan kedua mata basah itu tampak demikian cantik menggairahkan. "Aku aku bahagia,

Lin-ko. " Tiba tiba ia menoleh kepada Eng-ji. Gadis yang

menyamar sebagai pemuda itu telah membalikkan tubuhnya dan kini mukanya menghadap kepada mereka, akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan tidak bergerak sama sekali. "Akan tetapi..... disana ada Eng-ji. "

Han Lin juga baru teringat bahwa ada Eng-ji di situ. "Apa hubungannya dengan dia, Kiok-moi? Kita saling mencinta dan dia..... eh, Kiok-moi, apakah..... apakah dia juga

mencintamu?"

Kiok Hwa tersenyum. "Bagaimana engkau dapat menduga begitu, Lin-ko?" "Kulihat hubungan antara kalian demikian akrab dan mesra !" kata Han Lin, cemburu mulai menggerogoti

hatinya.

"Ah, kami memang saling menyayang, akan tetapi menyayang seperti saudara." Kiok Hwa lalu melompat turun dari atas batu besar. "Lin-ko, sekarang engkau harus beristirahat, biar aku yang menjaga api unggunnya." Api unggun itu sudah mengecil karena hampir kehabisan kayu bakar. Kiok Hwa menghampiri dan menambahkan kayu bakar. Han Lin masih duduk di atas batu besar. Seluruh tubuhnya masih gemetar karena gelora perasaannya ketika berpelukan dengan Kiok Hwa tadi.

"Engkau yang harus beristirahat, Kiok moi. Biar aku yang berjaga." katanya sambil melompat turun dari atas batu besar. Dia menghampiri Kiok Hwa di dekat api unggun, duduk di dekatnya dan hendak merangkul lagi. Akan tetapi dengan lembut Kiok Hwa mengelak dan menjauhkan diri.

"Sudahlah, Lin-ko. Kita harus merahasiakan perasaan hati kita." katanya sambil menoleh kepada Eng-ji. "Dan engkau tidurlah dulu, engkau perlu beristirahat untuk mengusir pergi semua perasaan dukamu."

Han Lin merasa heran ketika tiba-tiba teringat betapa dia sama sekali sudah tidak merasa berduka, bahkan sama sekali telah melupakan ibunya! Kini dia seperti diingatkan dan kemuraman mulai menyelubungi wajahnya kembali.

"Baiklah, Kiok-moi. Aku beristirahat lebih dulu, nanti kugantikan engkau berjaga."

Han Lin menjauhi api unggun dan duduk bersila. Begitulah caranya beristirahat dan dia tidak memerlukan tidur karena dengan bersila dia dapat mengendurkan semua urat syarafnya dan mengaso.

Dua orang itu sama sekali tidak tahu, tadi telah terlena oleh gelombang asmara sehingga tidak tahu bahwa Eng-ji membuka matanya dan melihat mereka saling berangkulan! Hampir saja Eng-ji melompat bangun saking marahnya.

Akan tetapi dia menahan diri dan pura pura tertidur.

Padahal setelah melihat dan menyaksikan sendiri betapa Han Li dan Kiok Hwa saling mencinta, dia sama sekali tidak dapat tidur lagi dan diam diam, tanpa suara dia menangis. Air matanya bercucuran dan dia mengepal kedua tangannya kuat- kuat, seolah hendak menahan dirinya melakukan sesuatu yan merusak.

Pada keesokan harinya, Eng-ji tidak berkata apa-apa dan tidak menyinggung tentang peristiwa yang dilihatnya semalam. Akan tetapi dia bersikap pendiam tidak seperti biasanya, bahkan setiap kali dia memandang kepada Kiok Hwa, sinar matanya seperti mengeluarkan sinar kilat

Kiok Hwa adalah seorang gadis yang berperasaan halus dan peka sekali. Ia sudah melihat perubahan sikap Eng-ji dan menduga-duga apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu. Diam-diam timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Jangan- ingar Eng-ji telah mengetahui tentang hubungan cintanya dengan Han Lin! Ia terasa khawatir sekali karena ia dapat menduga bahwa gadis yang menyamar sebagai pria itu mencinta Han Lin!

Pada suatu hari tibalah mereka di kota Tai-goan yang besar dan ramai. Mereka menyewa dua buah kamar. Sebuah untuk Kiok Hwa seorang diri dan sebuah kamar lagi untuk Han Lin dan Eng-ji. Kiok Hwa merasa tidak enak sekali melihat Han Lin tidur sekamar dengan Eng-ji akan tetapi karena mengingat bahwa Eng-ji dianggap pria oleh Han Lin, maka iapun menyingkirkan perasaan tidak enak itu.

Malam itu tanpa banyak cakap mereka makan di rumah makan, kemudian memasuki kamar masing-masing untuk mengaso. Han Lin yang melihat Eng-ji diam saja tidak mengusik, maklum akan keanehan watak "pemuda" remaja itu. Dianggapnya Eng-ji sedang mengambek, entah karena apa. Tak lama kemudian Han Lin sudah tidur pulas. Dia tidak tahu betapa Eng-ji turun dari pembaringannya, ada dua pembaringan di kamar itu, dan Eng-ji keluar dari kamar itu dengan hati-hati sambil membawa pedangnya!

Kiok Hwa sudah tidur pulas akan tetapi ia dapat menangkap suara yang tidak wajar pada jendela kamarnya. Ketika bayangan itu berkelebat memasuki kamar, ia sudah melihatnya, bahkan dari sinar penerangan yang menerobos dari luar, ia mengenal bayangan itu yang bukan lain adalah Eng-ji! Kiok Hwa terkejut, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan tetap tidur pulas, akan tetapi setiap urat syarafnya tegang berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah Eng-ji, akan tetapi dengan melihat bahwa Eng-ji membawa sebatang pedang terhunus! Kiok Hwa sudah berjaga-jaga. Kalau Eng-ji menyerang dengan pedangnya, tentu ia akan mengelak. Ia sudah bersiap siaga untuk menghadapi serangan itu. Ia melihat Eng-ji melangkah maju menghampiri pembaringan di mana ia rebah telentang. Di depan pembaringan ia berdiri mematung, tak bergerak seolah merasa ragu apa yang akan dilakukannya. Tiba-tiba ia mengangkat pedangnya ke atas, siap untuk membacok.Kiok Hwa juga sudah siap untuk menghindar. Akan tetapi setelah pedang tiba di atas kepala, pedang itu berhenti dan tidak segera dibacokkan, bahkan pedang itu turun kembali, tergantung di sisi tubuh Eng-ji. Kembali dia berdiri seperti berubah menjadi patung, sampai lama. Kiok juga berdiam diri, sama sekali tidak bergerak.

Kembali pedang diangkat, siap membacok. Kembali Kiok Hwa bersiap untuk mengelak. Sampai lama pedang diangkat ke atas, tidak juga dibacokkan.

"Kau merebutnya dariku...... kau merebutnya dariku "

Eng-ji berbisik-bisik dan kembali pedangnya bergerak, seperti hendak membacok, akan tetapi ditahannya. Akhirnya dia terisak, memutar tubuhnya dan membacokkan pedangnya pada sebuah bangku.

"Crokkk!!" Bangku itu pecah menjad dua potong. Eng-ji melempar pedangnya di atas meja dan diapun menjatuhkan dirinya duduk di atas bangku dekat meja itu dan menangis.

Kiok Hwa bangkit dari pembaringan lalu turun. "Eh, engkaukah itu, adik Eng ji? Engkau menangis? Kenapakah, dan apa maksudmu malam-malam begini datang berkunjung?" Kiok Hwa menghampir dan merangkul pundak Eng-ji.

Sambil terisak Eng-ji merenggutkar tangan Kiok Hwa yang memegang pundaknya. "Jangan sentuh aku!"

"Aih, Eng-ji! Engkau kenapakah? Kenapa engkau marah- marah kepadaku? Apa kesalahanku kepadamu?"

Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, tangis Eng-ji semakin mengguguk sampai pundaknya bergoyang-goyang Kiok Hwa membiarkannya menangis. Setelah tangis itu mereda, ia bertanya lagi "Sekarang ceritakanlah, Eng-ji.

Kenapa engkau begini marah dan berduka. Apa yang telah terjadi?" tanya Kiok Hwa

padahal di dalam hatinya ia sudah dapat menduga mengapa Eng-ji bersikap seperti itu. Tentu karena peristiwa beberapa hari yang lalu, di malam hari itu ketika ia saling menumpahkan rasa kasih sayangnya dengan Han Lin. Tentu Eng-ji telah melihatnya!

"Engkau engkau pengkhianat!" Eng-li akhirnya dapat

mengeluarkan kata-kata.

"Apa apa maksudmu, Eng-ji?" Kiok Hwa bertanya,

hatinya berdebar keras.

"Engkau mengkhianatiku! Engkau merebut Lin-ko dariku !" kata Eng-ji sambil bangkit dan menatap wajah

Kiok Hwa dengan mata mencorong marah. "Ah, itukah? Eng-ji, jadi engkau mencinta Lin-ko?" "Aku mencintanya dengan sepenuh jiwa ragaku. Aku

mencintanya lama sebelum engkau muncul. Dan engkau

mencoba untuk merebut dia dariku. Karena itu, ingin aku membunuhmu...... akan tetapi...ah, aku benci kamu! Benci kamu!" Eng-ji menangis lagi.

"Adik Eng-ji, kalau engkau memang demikian mencintanya , engkau memang jauh lebih cocok dengan

dia. Kalian sama-sama pendekar gagah perkasa, tukang berkelahi, sedangkan aku.,.,"

"Awas, enci Kiok Hwa !!" Tiba-tiba Eng-Ji berseru. Akan

tetapi pada saat itu, sebuah benda dilemparkan orang dari jendela dan benda itu meledak, menimbulkan asap hitam yang tebal memenuhi kamar itu. Eng-ji menahan napas dan dia masih dapat melihat beberapa sosok bayangan berkelebatan memasuk kamar itu dan seorang di antara bayangan itu melompat ke dekatnya. Dengan hati marah sekali Eng-ji lalu mengerahkan tenaganya dan memukul dengan ilmu Toat- beng Tok-ciang, dengan jari-jari tangan terbuka.

"Wuuuttt..... desss !!" karena keadaannya gelap,

pukulannya mengenai sasaran, tepat mengenai pundak orang itu. Orang itu terpelanting, akan tetapi karena kamar itu penuh asap tebal, Eng-ji tidak melihat apa-apa. Dia lalu melompat ke arah pintu kamar dan mendorong daun pintu terbuka. Suara ribut-ribut itu menarik perhatian para tamu losmen yang lain. Mereka keluar dari kamar dan terkejut melihat asap tebal keluar dari kamar Kiok Hwa. Han Lin juga sudah berada di situ dan melihat Eng-ji keluar dari kamar itu sambil membawa pedang, Han Lin terkejut.

"Eng-ji, apa yang telah terjadi? Mana Kiok Hwa?" tanya Han Lin.

Eng-ji terbatuk-batuk karena tadi menahan napas ketika keluar dari kamar yang penuh asap itu. "Ia berada dalam kamar. Tadi kami berdua berada di dalam kamar ketika tiba- tiba ada yang melemparkan benda meledak di dalam kamar yang mengeluarkan asap tebal." kata Eng-ji bukan tanpa rasa cemburu karena Han Lin tampaknya demikian mengkhawatirkan Kiok Hwa. Mendengar ini, Han Lin menahan napas dan melompat ke dalam kamar yang masih penuh dengan asap itu. Dia melepaskan bajunya dan menggunakan tenaga sin-kang untuk me-ngebut-ngebut sehingga asap membubung keluar dari jendela dan pintu. Setelah sap menipis, dan dia dapat melihat, ternyata Kiok Hwa tidak berada dalam kamar itu!

Eng-ji juga memasuki kamar dan dia pun merasa heran tidak dapat menemukan Kiok Hwa. Ketika dia melihat pandang mata Han Lin kepadanya, dia berkata, "Tadi enci Kiok Hwa masih berada di sini!"