-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 11

Jilid XI

"AKU tidak takut, selain aku dapat menjaga diri, juga siapakah orang yang mau mengganggu seorang ahli pengobatan yang siap untuk menolong siapa saja yang terkena penyakit?"

Han Lin tidak menjawab melainkan cepat memutar tubuhnya karena dia mendengar suara yang tidak wajar di sebelah belakangnya. Ternyata tampak bayangan berkelebat dan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun telah berdiri di depannya. Laki-laki itu bertubuh jangkung dan agak kurus, wajahnya merah dan jenggotnya sampai ke leher. Di punggungnya tampak gagang pedang, bajunya longgar dan lengan bajunya panjang dan lebar, seperti baju seorang pendeta. Wajahnya memperlihatkan ketenangan, akan tetapi matanya bergerak liar dan mengandung kekejaman. Dia berdiri dalam jarak empat meter dari Han Lin dan Kiok Hwa, dan matanya mengamati wajah Kiok Hwa seperti orang yang menyelidiki. Lalu pandang matanya memandangi ke arah buntalan di punggung gadis itu, setelah itu dia memandang ke arah pakaian Kiok Hwa yang serba putih. "Nona, apakah benar aku berhadapan dengan Pek I Yok Sianli (Dewi Obat Baju Putih)? Apakah nona yang sebulan yang lalu menolong dusun di hulu sungai dari wabah muntah berak?"

Kiok Hwa mengangguk. "Yang menolong dusun itu memang benar aku, akar tetapi mengenai julukan itu, mungkin hanya panggilan orang-orang saja, aku sendiri tidak pernah mempergunakan julukan itu."

"Bagus sekali! Ha-ha-ha, sudah hampir satu bulan aku mencarimu, ke dusun itu dan mencoba untuk mencari jejakmu. Akhirnya dapat kutemukan di sini. Nona, engkau harus ikut denganku ke rumah kami!"

"Kenapa aku harus ikut denganmu?"

"Engkau harus mengobati puteraku yang menderita luka keracunan yang amat parah. Marilah, nona. Engkau ikut aku ke rumah kami sekarang juga!"

Wajah Han Lin menjadi merah dan dia melangkah maju lalu berkata dengan suara tegas namun halus, "Paman, di mana ada aturannya orang minta tolong dengan memaksa?"

Laki-laki itu memandang kepada Han Lin dengan mata mencorong lalu menghardik, "Siapa engkau? Apamu nona ini?"

"Bukan apa, hanya seorang kenalan baru. Akan tetapi. "

"Kalau begitu, jangan mencampuri urusan orang lain! Atau barangkali engkau sudah bosan hidup?" Orang itu bersikap menantang.

Han Lin menjadi penasaran sekali, akan tetapi sebelum dia menjawab, Kiok Hwa sudah menengahi. "Saudara Han Lin, biarkanlah. Aku mau pergi dengan paman ini untuk menolong puteranya."

"Akan tetapi, Kiok-moi!" Saking gugupnya, Han Lin kelepasan menyebut gadis itu Kiok-moi (adik perempuan Kiok). "Engkau tidak boleh begitu saja mengikuti seorang yang sama sekali tidak kau ketahui siapa!"

Mendengar ucapan ini, orang itu mengerutkan alisnya. "Heh, pemuda dusun, Ketahuilah bahwa aku bukan orang sembarangan! Aku adalah majikan Hek-ke san (Bukit Ayam Hitam) dan orang kang ouw menjuluki aku Kim-kiam-sian (Dewa Pedang Emas)! Apa engkau ingin lehermu kupenggal dengan pedangku?"

"Sudahlah, Paman Kim!" Kiok Hwa kembali melerai. "Maafkan sahabatku ini, Aku siap untuk mengikutimu ke rumahmu untuk mengobati puteramu. Mari kita berangkat. Lin-ko (kakak laki-laki Lin)! aku pergi dulu!"

Dengan senyum dan pandang mata penuh kemenangan dan ejekan terhadap Han Lin, Kim Cun Wi, nama orang yang berjuluk Dewa Pedang Emas itu, melangkah pergi bersama Kiok Hwa. Langkahnya lebar dan cepat, akan tetapi dengan mudah Kiok Hwa dapat mengimbangi kecepatannya sehingga sebentar saja mereka telah pergi jauh. Han Lin berdiri tertegun dengan muka merah. Apa yang dapat dia lakukan? Biarpun orang itu bersikap memaksa, akan tetapi Kiok Hwa yang dipaksanya mau! Dia bahkan menjadi malu kendiri. Akan tetapi hatinya merasa kurang enak. Orang itu kelihatan seperti bukan orang baik-baik. Biarpun mengaku kebagai majikan sebuah bukit, akan tetapi sikapnya seperti orang yang biasa memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Kiok Hwa dapat terancam bahaya dari orang semacam itu dan dia tidak mungkin dapat membiarkannya saja tanpa bertindak. Tidak, dia tidak boleh menegakan, tidak boleh membiarkan Kiok Hwa pergi bersama orang itu tanpa dikawal, berpikir demikian, dia lalu mempergunakan ilmu berlari cepat dan melakukan pengejaran, kemudian membayangi dua orang itu dari jarak jauh.

Dia melihat mereka mendaki sebuah bukit yang puncaknya dari jauh tampak seperti seekor ayam hitam. Itulah agaknya yang menyebabkan bukit itu disebut bukit Ayam Hitam. Padahal yang berbentuk seperti ayam hitam itu adalah sebuah hutan yang lebat. Dia membayangi terus dan akhirnya dua orang itu memasuki hutan yang lebat itu. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah perkampungan kecil yang berada di tengah hutan di puncak itu. Sebuah perkampungan yang terdiri dari belasan rumah mengepung sebuah rumah yang besar dan megah. Sekeliling perkampungan itu tertutupi oleh pagar tembok yang setinggi manusia dan di bagian depan pagar tembok itu terdapat sebuah pintu gapura yang besar.

Kim Cun Wi dan Kiok Hwa menghilang di balik pintu gapura pagar tembok itu dan Han Lin mengambil jalan memutari pagar tembok dan meloncati pagar itu di bagian belakang perkampungan itu yang merupakan perkebunan penuh tanaman sayur-sayuran.

Tanpa rasa takut sedikitpun, Kiok Hwa mengikuti tuan rumah memasuki rumah besar. Beberapa orang wanita menyambut Kim Cun Wi. Mereka adalah isteri dan dua orang selirnya.

Begitu bertemu mereka, Kim Cun Wi segera bertanya, "Bagaimana keadaan Hok-ji (anak Hok)?"

Isterinya, seorang wanita yang berusia empat puluh tahun lebih, menangis. Sambil menahan tangisnya sehingga terisak, ia menjawab, "Badannya bertambah panas dan dia mengigau "

"Sudah, jangan menangis. Aku sudah mengundang seorang tabib yang amat lihai, dan anak kita tentu akan sembuh.

Marilah, Yok Sianli, mari silakan masuk dan langsung saja ke kamar anak kami." kata Kim Cun Wi.

Kiok Hwa merasd aneh disebut Yok Sianli (Dewi Obat), akan tetapi iapun diam saja, hanya mengikuti tuan dan nyonya rumah memasuki sebuah kamar yang besar, lengkap dan mewah. Di atas pembaringan rebah seorang laki-laki muda yang berwajah pucat. Wajah itu cukup tampan, namun pucat dan bersinar kehijauan, dan tubuh yang telentang di pem-baringan itu tinggi besar. Sepasang mata itu terpejam dan pernapasannya lemah.

Melihat sekilas saja, Kiok Hwa dapat menduga bahwa pemuda itu telah keracunan hebat dan racunnya tentu mengandung hawa panas. Tanpa diminta lagi di-hampirinya pembaringan dan ia menyeret sebuah kursi ke dekat pembaringan dani duduk di atas kursi. Ditariknya sebelah lengan pemuda itu, diperiksanya denyut nadinya dan ia mengerutkan alisnya. Ter-nyata penyakit pemuda itu lebih berat daripada yang diduganya. Ia mendekatkan jari tangannya depan hidung pemuda itu dan merasakan betapa panasnya pernapasan yang lemah itu. Dirabanya dahi pemuda itu dan akhirnya ia menoleh kepada Kim Cun Wi dan para isterinya yang menonton dengan hati gelisah namun sinar mata mereka mengandung penuh harapan.

"Bagaimana, Yok Sianli? Bagaimana keadaannya?

Berbahayakah keadaannya dan dapatkah dia diobati sampai sembuh?" tanya Kim Cun Wi dengan suara gelisah.

"Dia telah terluka dalam yang hebat, agaknya terkena pukulan beracun. Di bagian manakah dia terpukul?" tanya Kiok Hwa dengan sikap tenang.

"Di dada kanannya. Ada tanda sebuah jari yang hitam kehijauan di bekas pukulan itu." kata Kim Cun Wi yang berjuluk Kim-kiam-sian (Dewa Pedang Emas) itu. Diam-diam Han Lin merasa heran. Pemuda itu memiliki seorang ayah ahli pedang yang sudah berjuluk Dewa Pedang, bagaimana dapat terluka seperti ini? Akan tetapi ia tidak perduli akan hal itu.

Bukan urusannya.

"Tolong bukakan bajunya. Aku ingin memeriksa luka di dadanya itu." Kim Cun Wi cepat membukakan baju puteranya yang masih rebah telentang dalam keadaan pingsan. Kiok Hwa memeriksanya. Di dada sebelah kanan memang terdapat bekas jari telunjuk yang warnanya hitam menghijau, dan di seputar bekas jari itu, kulit dadanya hitam dan melepuh.

"Wah, ini pukulan Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun)! Terlambat sehari lagi saja nyawanya tidak akan dapat tertolong lagi."

Tentu saja tuan rumah dan para isterinya terkejut setengah mati mendengar ucapan itu. "Akan tetapi, Yok Sianli, engkau sekarang masih dapat menyembuh kannya, bukan?"

"Mudah-mudahan saja, kalau Thian membimbingku." kata Kiok Hwa dan ia lalu berdiri, mengerahkan tenaga sin-kang dan menotok dengan dua jari ke arah dada pemuda itu.

Beberapa bagian tertentu ditotoknya.

"Untuk apa ditotok jalan darahnya di banyak tempat?" tanya Kim Cun Wi yang mengikuti semua gerak-gerik Kiok Hwa dengan penuh perhatian.

"Aku mencegah agar darah yang keracunan tidak mencapai jantung. Dan sekarang, racun yang bercampur dengan darah itu harus dikeluarkan. Ambilkan pisau yang tajam dan bersih."

Kim Cun Wi sendiri melayani Kiok Hwa. "Sediakan air panas."

Kembali permintaannya dipenuhi. Kiok Hwa lalu membakar pisau itu di bagian ujungnya sampai ke tengah, lalu membersihkannya dengan kain bersih.

"Paman Kim, sekarang engkau harus memegangi puteramu, jangan sampai dia meronta. Darah yang keracunan harus dikeluarkan semua dari lukanya."

"Baik, Yok Sianli." Kim Cun Wi lalu naik ke atas tempat tidur dan dia memegangi kedua lengan puteranya. Kiok Hwa lalu menggerakkan pisau yang tajam itu, menoreh kulit dada di mana terdapat tanda bekas jari tangan hitam. Darah mengalir keluar dari luka yang dibuat oleh pisaunya. Darah yang kental menghitam. Tanpa jijik sedikitpun Kiok Hwa memijat-mijat dada di sekitar luka sehingg darah yang keluar banyak dan ada darah yang mengotori jari-jari tangannya. Setelah yang keluar darah merah, Kiok Hwi menghentikan pijatannya dan mencuci luka itu dengan air panas. Kemudian ia mengambil bubuk obat dari buntalan pakaiannya dan menaburkan bubuk putih ke dalam luka itu. Setelah itu, ia membalut luka di dada itu dengan kain putih yang disediakan oleh Kim Cun Wi.

Kiok Hwa lalu mengeluarkan tiga jarum emas dan tiga jarum perak dari buntalan pakaiannya, lalu menusukkan jarum-jarum itu di sekitar luka.

"Darah beracun telah keluar, akan tetapi di dalam dadanya masih ada hawa beracun. Jarum-jarum ini mencegah hawa beracun menyebar dan setelah hawa beracun dapat dikeluarkan, dia akan selamat dan sembuh."

Kim Cun Wi merasa girang sekali. "Dan bagaimana untuk mengeluarkan hawa beracun itu?"

"Paman sebagai seorang ahli silat mengapa masih bertanya kepadaku? Tentu saja dengan menghimpun hawa murni ke tan-tian (bawah pusar) dan dengan sin-kang (tenaga sakti) mendorong keluar hawa beracun itu. Kurasa sebagai putera paman, dia akan mampu melakukannya."

Pada saat itu, Kim Hok, ialah putera Kim Cun Wi mengeluh dan bergerak. Ayahnya segera menghampirinya, dan menyentuh pundaknya.

"Bagaimana rasanya badanmu, Hok-ji (anak Hok)?" Kim Hok memandang ayahnya. "Badan rasanya panas,

ayah, ada hawa bergolak di dalam dada." Dia meraba dadanya dan mendapatkan dadanya terbalut dan ada beberapa batang jarum masih menusuk di sekitar luka. "Siapa yang mengobati aku, ayah?"

"Yang menyelamatkan nyawamu adalah nona ini. Ia adalah Pek I Yok Sianli."

Kim Hok menoleh dan melihat gadis itu, dia terbelalak dan terpesona. Demikian cantiknya gadis itu dalam pandang matanya sehingga pada saat itu juga dia sudah jatuh cinta!

"Nona engkau telah menyelamatkan nyawaku. Terima

kasih banyak, nona Aku telah berhutang nyawa kepadamu, entah bagaimana aku harus membalasnya Aku bernama Kim Hok, nona, aku harus mengetahui namamu. Siapakah namamu, nona?" Kim Hok bangkit duduk biarpur dia meringis menahan sakit, dibantu oleh ayahnya.

Kiok Hwa mengerutkan alisnya, akan tetapi menjawab dengan wajar. "Namaku Tan Kiok Hwa."

Agaknya Kim Hok belum kuat duduk terlalu lama, maka dia merebahkan dirinya lagi telentang dan mulutnya berkata seperti orang mengigau. "Nama yang indah, seindah orangnya. Ayah, aku tidak mau menikah kalau tidak dengan nona Tan Kiok Hwa ini. Dengan ia disampingku sebagai isteri, aku tidak takut lagi akan pukulan beracun!"

Wajah Kiok Hwa berubah merah, akan tetapi ia bersikap tenang saja. Tanpa berkata sepatahpun ia mencabuti jarum- jarumnya, menyimpannya kembali ke dalam buntalan, lalu melangkah keluar kamar sambil berkata kepada Kim Cun Wi.

"Tugasku di sini sudah selesai, paman. Ijinkan aku melanjutkan perjalananku." Setelah berkata demikian dengan cepat ia keluar dari rumah besar itu. Akan tetapi baru saja ia tiba di depan pintu, sesosok bayangan berkelebat cepat mendahuluinya dan tahu-tahu Kim Cun Wi telah berdiri di depannya. Orang tua ini memberi hormat dengan kedua tangan terangkap di depan dada dan berkata dengan ramah. "Perlahan dulu, Yok Sianli. Kami menghendaki agar engkau tinggal beberapa hari di sini untuk kami jamu sebagai eorang tamu kehormatan untuk menyatakan terima kasih kami."

Kiok Hwa membalas penghormatan itu lalu berkata lembut, "Terima kasih Paman Kim. Akan tetapi aku tidak pernah mengobati orang dengan minta imbalan apapun juga.

Mengobati orang merupakan tugas kewajiban bagiku." "Akan tetapi, ini adalah kehendak Kim Hok!"

"Juga darinya aku tidak mengharapkah terima kasih.

Melihat dia dapat disembuhkan saja sudah merupakan imbalan yang amat berharga bagiku. Selamat tinggal, paman!" Kiok Hwa mengambil jalan menyimpang dari orang yang menghadangnya itu. Akan tetapi dengan cepat Kim Cun Wi melompat dan kembali menghadangnya.

"Akan tetapi kami mempunyai urusan penting denganmu untuk kita bicarakan."

Kiok Hwa mengerutkan alisnya. "Aku tidak mempunyai urusan apapun denganmu, paman. Kalau ada, katakan saja di sini."

"Urusan ini harus dibicarakan dengan kami sekeluarga, terutama sekali dengan Kim Hok. Engkau tentu mendengar tadi ucapan puteraku bahwa dia tidak akan menikah kalau bukan denganmu. Karena itu, marilah kembali ke dalam rumah dan kita bicarakan urusan ini."

Kembali wajah Kiok Hwa berubah merah dan alisnya berkerut. "Maaf, paman. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang perjodohan. Aku sama sekali belum siap untuk mengikatkan diri dengan perjodohan. Harap paman sekeluarga mencari saja gadis lain yang lebih cocok dengan puteramu. Nah, aku pergi!"

Setelah berkata demikian, Kiok Hwa hendak menyingkir, akan tetapi kembali Kim Cun Wi menghadangnya. Kini wajah majikan Bukit Ayam Hitam itu memandang dengan mata diliputi kemarahan dan tarikan wajahnya mengeras.

"Jadi engkau tidak mau menjadi isteri puteraku?"

Kiok Hwa tidak menjawab, melainkan menggeleng kepalanya.

"Tidak ada kata tidak mau bagiku, Pek I Yok Sianli. Mau tidak mau engkau harus menjadi isteri puteraku!"

"Kalau aku tetap tidak mau?"

"Aku akan menggunakan kekerasan menangkapmu dan memaksamu."

"Hemm, bagus. Kiranya begini macam dan wataknya orang yang menyebut dirinya Kim - kiam - sian, majikan Hek-ke-san. Aku tetap tidak mau!"

Tiba-tiba Kim Cun Wi menubruk urtuk menangkap gadis itu. Akan tetapi dengan sigapnya gadis itu mengelak. Kim Cun Wi menjadi penasaran dan menubruk lagi sambil berusaha untuk menangkap lengan gadis itu. Akan tetapi dengan lincahnya Kiok Hwa melangkah ke sana sini dan langkahnya demikian teratur. tubuhnya demikian gesit dan ringan sehingga sampai belasan kali Kim Cun Wi menubruk, belum juga dia dapat menangkap gadis itu. Menyentuh ujung bajunya-pun tidak mampu! Pada saat itu, belasan orang anak buah Bukit Ayam Hitam datang berlari-lari untuk melihat apa yang terjadi.

Melihat anak buahnya, Kim Cun Wi berseru, "Hayo bantu aku tangkapi gadis ini!"

Untuk menangkap gadis cantik itu? Tentu saja para anak buah itu bergembira mendengar perintah ini dan bagaikan anjing-anjing kelaparan melihat tulang, mereka berebut dan menubruk untuk mendekap atau menangkap Kiok Hwa. Gadis itu menjadi sibuk juga, melangkah ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sergapan mereka. Pada saat itu berkelebat bayangan yang gerakannya cepat sekali dan begitu dia terjun ke dalam pengeroyokan itu, empat orang sudah terguling roboh oleh tamparan dan tendangannya. Orang itu bukan lain adalah Han Lin.

Seperti kita ketahui, Han Lin juga me masuki perkampungan itu lewat belakang. Melompati pagar tembok dan tiba di ladang milik perkampungan itu. Dia menggunakan kecepatan gerakannya untuk menyusup ke dalam dan bersembunyi di wuwungan rumah besar. Dia tidak berbuat apa-apa dan tidak turun tangan selama Kiok Hwa tidak diganggu. Akan tetapi dia mendengarkan pembicaraan antara Kiok Hwa dan Kim Cun Wi. Gadis itu hendak dipaksa menjadi mantunya! Kemudian, melihat betapa Kiok Hwa dikeroyok oleh belasan orang yang hendak menangkapnya, dia tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi. Melayanglah dia turun dari wuwungan dan menerjang mereka yang mengeroyok Kiok Hwa.

Ketika Kim Cun Wi melihat siapa yang merobohkan orang- orangnya, dia marah sekali melihat bahwa orang itul adalah pemuda yang tadinya membujuk Kiok Hwa agar tidak mau diajak pergi untuk mengobati anaknya. Dia segera meraba punggungnya dan di lain saat tampak sinar keemasan berkelebat. Tangannya telah memegang sebatang pedang! yang berkilauan seperti terbuat dari emas, atau baja yang diselaput emas. Itulah yang membuat dia dijuluki Kim-kiam sian (Dewa Berpedang Emas)!

Han Lin melihat betapa ketika menggerakkan pedang emasnya, gerakan Kim Cun Wi itu cukup dahsyat. Maka diapun segera memungut sebatang pedang milik seorang di antara empat pengeroyok yang dirobohkan tadi dan menghadapi Kim Cun Wi dengan pedang ini.

"Bocah tidak tahu diri! Berani engkau mencampuri urusanku?" bentak majikan bukit Ayam Hitam itu sambil menuding dengan telunjuk kirinya. "Engkau yang tidak tahu diri!" jawab Han Lin. "Sudah memaksa orang untuk mengobati puteramu yang sakit, sekarang hendak memaksa orang untuk menjadi mantumu! Aturan mana ini?"

"Jangan banyak mulut! Mampuslah!" Kim Cun Wi menerjang dengan pedangnya, namun Han Lin sudah mengelak sehingga pedang itu hanya mengenai tempat kosong belaka. Kembali Kim Cun Wi nenyerang, sekali ini sambil mengerahkan tenaganya. Lenyap bentuk pedang dan yang tampak hanya sinar emas yang meluncur cepat ke arah dada Han Lin.

"Singgg !" Pedang berdesing akan tetapi kembali luput

karena Han Lin sudah menggeser kakinya ke kanan sambil nenarik tubuhnya ke belakang. Begitu sinar pedang lewat, diapun mengimbangi serangan lawan dengan menusukkan pedangnya ke samping, ke arah lambung lawan. Akan tetapi Kim Cun Wi juga dapat mengelak dan kini dia memutar pedangnya, menyerang Han Lin dengan bertubi-tubi. Karena serangan pedang itu amal berbahaya, tidak cukup hanya dielakkan saja, Han Lin menangkis ketika pedang menyambar ke lehernya.

"Trangggg !" Bunga api berpijar dan Han Lin terkejut

juga melihat betapa pedang di tangannya tinggal setengahnya saja. Pedang itu sudah buntung! Hal ini tidak aneh karena pedang yang dipegang Han Lin adalah pedang biasa, sedangkan yang berada di tangan Kim Cun Wi adalah sebatang pedang pusaka. Melihat ini, Kim Cun Wi mengeluarkan suara tawa mengejek, lalu mendesak terus dengan serangan pedang emasnya.

Namun Han Lin sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan pedang buntungnya dia balas menyerang, menjaga dengan hati-hati agar mereka tidak mengadu pedang lagi. Dia hanya mengelak dari serangan lawan, dan membalas dengan pedang buntungnya. Kalau lawan menangkis, diapun menarik kembali pedang buntungnya dan menyerang di lain bagian. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan ternyata bahwa Kim Cun Wi tidak membual menggunakan julukan Dewa Pedang. Ilmu pedangnya memang hebat sekali. Akan tetapi lawannya memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya, maka setelah Han Lin memainkan Leng-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Sinar Dingin), Kim Cun Wi mulai kewalahan.

Sementara itu, Kiok Hwa juga masih dikeroyok oleh belasan orang yang seakan berlumba untuk menangkapnya. Karena tidak mungkin hanya mengandalkan langkah-langkah kakinya untuk menghindarkan diri dari pengeroyokan banyak orang itu, mulailah Kiok Hwa menggunakan kakinya untuk menendangi mereka. Ia berhasil merobohkan empat orang pengeroyok, akan tetapi karena tendangannya tidak dimaksudkan untuk membunuh atau melukai lawan, mereka yang terkena tendangan hanya terjengkang dan segera bangkit dan mengeroyok kembali.

Pertandingan antara Han Lin dan Kim Cun Wi berlangsung seru. Pedang di tangan mereka berubah menjadi gulungan sinar yang menyelimuti tubuh mereka. Hanya kaki mereka yang tampak berlompatan atau bergeser ke sana-sini. Akan tetapi, setelah Han Lin mengeluarkan ilmu pedang Leng-kong Kiam-sut, Kini Cun Wi terdesak hebat. Dia berjuluk Dewa Pedang dan hampir seluruh ilmu pedang di dunia persilatan dikenalnya. Karena mengenal ilmu pedang dari berbagai aliran inilah yang membuat dia sukar dikalahkan. Akan tetapi sekali ini menghadapi Leng-kong Kiam-sut dia menjadi bingung karena tidak mengenal ilmu pedang itu. Han Lin mempercepat gerakannya. Gerakan ini mengandung sin-kang yang menimbulkan hawa dingin. Cepat pedang buntung itu menyambar ke arah leher Kim Cun Wi. Orang- ini terkejut bukan main. Demikian cepatnya serangan itu sehingga tidak keburu ditangkis lagi. Satu-satunya cara menghindarkan diri hanya mengelak, maka cepat dia menarik tubuh atas ke belakang. "Crattl" Pedang buntung luput mengenai leher, akan tetapi masih mengenai ujung pundak sehingga baju, kulit dan dagingnya robek dan mengeluarkan banyak darah. Kim Cun Wi terhuyung ke belakang dan menggunakan kesempatan ini, Han Lin menerjang mereka yang mengeroyok Kiok Hwa.

Dalam waktu singkat, enam orang telah berpelantingan terkena tamparan atau tendangannya. Para pengeroyok menjadi panik, dan Han Lin cepat menyambar lengan Kiok Hwa.

"Mari kita pergi dari sini!" ajaknya dan dia menarik lengan itu dan diajaknya gadis itu melarikan diri. Kiok Hwa maklum bahwa kalau lebih lama tinggal di tempat itu tentu mendatangkan hal yang tidak enak, maka iapun mengerahkan gin-kangnya dan mengikuti Han Lin meninggalkan perkampungan itu. Mereka berdua mempergunakan ilmu berlari cepat dan sebentar saja mereka sudah turun dari Bukit Ayam Hitam. Setelah tiba di kaki gunung, Han Lin mengajak Kiok Hwa ber henti di bawah sebatang pohon besar.

"Nah, engkau sekarang tentu sudah ahu benar betapa banyaknya orang jahat di dunia ini, Kiok-moi. Engkau menolong mereka, akan tetapi sebaliknya engkau malah diganggu. Sebaiknya kalau engkau hendak menolong orang, engkau lihat-lihat dulu macam apa orang yang akan kautolong itu."

"Kewajibanku menolong siapa saja tanpa membedakan keadaan orang itu Lin-ko. Tidak perduli apakah dia baik atau jahat, kaya atau miskin, kalau mereka membutuhkan bantuan pengobatan tentu akan kubantu."

"Akan tetapi, Kim Cun Wi tadi bahkan hendak memaksamu menikah dengan puteranya!"

"Aku menolak dan kalau mereka menggunakan kekerasan, aku akan membela diri mati-matian." Han Lin menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pernah mendengar dari Cheng Hian Hwesio bahwa seorang budiman sejati membalas kejahatan dengan perbuatan baik, membalas kebencian dengai kasih sayang. Agaknya Kiok Hwa merupakan orang seperti itu. Dia sendiri, biar pun sudah dijejali banyak pelajaran tertang hidup dan kebatinan, rasanya tidak sanggup membalas kejahatan dengan perbuatan baik, atau membalas kebencian orang kepadanya dengan kasih sayang!

"Engkau seorang yang luar biasa dan berbudi mulia, Kiok- moi." katanya dengan jujur sambil memandang kagum.

"Engkaulah yang luar biasa. Engkau memiliki ilmu silat yang tinggi dan aku girang dan kagum melihat engkau tidak menjatuhkan tangan, maut kepada mereka."

"Akan tetapi aku belum dapat mengalahkan kebencian di hatiku terhadap orang yang jahat, Kiok-moi. Sekarang, kalau boleh aku bertanya, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Aku hendak pergi ke pertemuan antara Sungai Fen-ho dan Huang-ho, ke puncak Hong-san "

"Dan ke Guha Dewata di puncak itu? Akupun hendak pergi ke sana, Kiok-moi, aku hendak mencoba untuk mencabut pedang Im-yang-kiam. Apakah engkau hendak pergi ke sana dengan niat yang sama?"

"Kalau banyak tokoh kang-ouw tidak berhasil mencabut Im- yang-kiam, apalagi aku, Lin-ko. Aku hanya ingin benar melihat pedang istimewa itu. Kabarnya terbuat dari baja putih yang mampu menawarkan segala macam racun."

"Kalau begitu, marilah kita pergi ke sana bersama, Kiok- moi. Tentu saja jika engkau tidak berkeberatan melakukan perjalanan bersama aku."

"Mengapa keberatan? Marilah, Lin-ko."

Hati Han Lin terasa gembira bukar main. Walaupun dia tidak memperlihatkai dalam sikapnya, namun pandang matanya berbinar-binar tanda senangnya hati. Mereka lalu melakukan perjalanan bersama dan karena sepanjang jalan itu sunyi, mereka mempergunakan ilmu berlari cepat menyusuri sungai.

00-dewi-00

Puncak Burung Hong adalah sebuah di antara bukit-bukit terakhir di kaki Pegunungan Lu-liang-san. Pertemuan antara Sungai Fen-ho dan Huang-ho terjadi di kaki bukit ini. Puncak Burung Hong mengandung banyak batu-batu besar yang dari jauh saja sudah tampak seperti raksasa berjajar.

Di antara batu-batu besar itu terdapat banyak guna yang lebar, akan tetapi yang amat terkenal adalah Guha Dewata. Menurut dongeng para dewa kalau menerima hukuman lalu diturunkan ke dunia dan para dewa terhukum itu memilih guha itu untuk bersamadhi menebus dosa. Guha itu lebarnya ada sepuluh meter dan dalamnya tiga meter. Di dalam guha tampak batu-batu besar bertumpuk-tumpuk Dan di antara batu-batu yang bertumpuk itu tampaklah sebatang pedang yang menancap di batu besar, yang kelihatan hanya gagangnya saja.

Di kanan kiri Guha Dewata ini terdapat dua losin orang serdadu yang menjaga dengan ketat, setiap hari diganti dengan pasukan penjaga lain. Mengapa ada pasukan tentara berjaga di situ? Ini adalah tindakan pemerintah untuk menjaga agar pencabutan pedang Im-yang-kiam dilakukan dengan tertib dan jujur. Tidak oleh membongkar batu-batu itu dan mengambil pedang itu harus dengan dicabut. Kalau ada yang melanggar tentu akan ditangkap oleh pasukan itu. Betapa pun inginnya para tokoh kang-ouw untuk memiliki pedang peninggalan seorang panglima yang gagah perkasa itu, namun tak seorangpun berani mencoba untuk membongkar batu-batu di situ. Siapa yang berani bermusuhan dengan pemerintah yang memiliki banyak pasukan?! Para tokoh kang-ouw, bahkan para jagoan istana dan para datuk, sudah mencoba untuk mencabut pedang itu, akan tetapi sampai saat itu, tidak ada yang berhasil. Karena itu, pedang Im-yang-kiam itu menjadi terkenal sekali dan hampir setiap orang berbondong- bondong datang, ada yang hanya ingin menyaksikan, juga ada yang ingin mencoba peruntungannya untuk mencabut pedang pusaka itu.

Karena para jagoan istana dan para datuk gagal mencabut pedang Im-yang-kiam, muncul anggapan bahwa pedang itu bertuah dan hanya orang yang berjodoh dengan pedang itu saja yang akan mampu mencabutnya.

Hari itu telah siang, matahari sudah berada di atas kepala condong ke selatan.

Orang-orang yang berdatangan di tempat itu sudah cukup banyak. Tidak kurang dari tiga puluh orang. Akan tetapi sebagian besar dari mereka hanya ingin menonton.

Han Lin dan Kiok Hwa juga tiba di tempat itu. Mereka telah melakukan perjalanan bersama selama beberapa hari. Selama dalam perjalanan itu, Kiok Hwa mendapat kenyataan bahwa Han Lin adalah seorang pemuda yang selalu sopan terhadap dirinya.

Ketika mereka tiba di tempat itu, merekapun menggabungkan diri dengan mereka yang ingin menonton pertunjukan ang menarik itu. Pada saat itu, seorang bertubuh tinggi besar dengan muka penuh brewok dengan langkah tegap menghampiri batu besar di mana pedang Im-yang-kiam menancap. Dia memandang ke kanan kiri sambil tersenyum, seolah dia sudah yakin akan mampu mencabut pedang itu.

Lalu ditanggalkan bajunya yang hitam. Dengan bertelanjang dada dia menghadapi gagang pedang itu.

"Waaaahhhh !" Banyak orang mengeluarkan seman

kagum ketika melihat tubuh dari pinggang ke atas itu. Tampak otot besar menggembung melingkari tubuh itu. Tubuh yang amat kokoh kuat dan melihat bentuk tubuh seperti itu mudah diduga bahwa orang itu tentu memiliki tenaga raksasa! Semua orang menonton dengan hati tegang. Agaknya orang inilah yang akan mampu mencabut pedang itu.

Setelah memberi waktu cukup lama untuk memamerkan otot-ototnya, sambil tersenyum si tinggi besar brewokan itu lalu memegang gagang pedang dengan tangan kirinya. Dia hendak pamer bahwa hanya dengan tangan kiri saja dia pasti sudah akan dapat mencabut keluar pedang itu. Semua orang memandang sambil menahan napas.

Setelah memegang gagang pedang dengan tangan kirinya, dia berseru dengan nyaring, "Hyaaaaaaatttt !" Dia

mengerahkan segala tenaganya pada tangan kiri dan menarik pedang itu. Akan tetapi pedang itu sama sekali tidak bergoyang, apalagi tercabut keluar! Beberapa kali dia mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka. Dengan penasaran dia menggunakan kedua tangannya, menarik dan mengeluarkan suara ah-ah uh-uh. Sia-sia, pedang itu tidak dapat tercabut. Si tinggi besar brewokan ini semakin penasaran. Dia berusaha terus sampai peluhnya membasahi badan dan dadanya berkilauan, napasnya terengah-engah.

Akhirnya dia menyerah dan terdengar suara tawa di sana-sini. Sambil menyambar bajunya dan menundukkan mukanya, si tinggi besar itu pergi meninggalkan tempat itu.

Para penonton ramai membicarakan kegagalan demi kegagalan yang terjadi sejak pagi tadi. Sudah ada belasan orang yang gagal. Tiba-tiba seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan, berpakaian seperti seorang tosu, melangkah maju menghampiri Im-yang-kiam. Orang itu bertubuh sedang saja, sama sekali tidak tampak kokoh kuat seperti si tinggi besar tadi. Gerak-geriknya bahkan tenang sekali, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam membuat orang yang bertemu pandang dengannya dapat menduga bahwa orang ini "berisi"! Dengan langkah tenang dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, tosu (pendeta To) itu menghampiri batu besar.

Sejenak dia memandang gagang pedang itu. Ronce-ronce merah pada gagang pedang itu sudah kotor dan lapuk, saking lamanya berada di situ, kehujanan dan kepanasan. Kemudian tosu itu memegang gagang pedang dan diam tak bergerak.

Dia mengumpulkan segala kekuatannya dan mengerahkan tenaga saktinya. Kemudian, dia menarik sekuat tenaga.

"Haaiiiiittttt!" Dia berseru sambil menarik. Akan tetapi sia- sia belaka. Pedang itu seolah telah melekat menjadi satu dengan batu. Tiga kali dia mengerahkan tenaga dan mencoba untuk menarik, namun selalu gagal. Akhirnya dia melepaskan pegangannya, memandang kepada gagang pedang dengan alis berkerut, lalu pergi dengan muka merah.

Dua orang tinggi besar yang kelihatan kasar kini maju dan mereka meraba batu besar, seperti hendak mendorong atau membongkarnya. Akan tetapi sebelum mereka membongkar, dua losin perajurit sudah mengepung mereka. Komandannya berkata, "Dilarang keras untuk membongkar batu-batu ini.

Bacalah pengumuman itu!" Dia menunjuk ke batu di sebelah. Dua orang itu memandang ke arah yang ditunjuk dan ternyata pada batu itu terdapat ukir-ukiran huruf yang cukup jelas.

"Siapapun juga diperbolehkan untuk mencoba peruntungan mencabut Im-yang-kiam. Akan tetapi dilarang keras untuk membongkar batu-batu untuk mendapatkan pedang itu."

Demikianlah bunyi huruf-huruf yang terukir di situ.

Dua orang itu mengerutkan alisnya, akan tetapi karena maklum bahwa kalau mereka memaksa, selain belum tentu mampu membongkar batu-batu besar itu, juga mereka akan ditangkap dan dikeroyok, maka merekapun tidak jadi mencoba-coba untuk membongkar batu. Dengan bergantian mereka mencoba untuk menarik gagang pedang, akan tetapi seperti juga yang lain, mereka gagal dan pergi dari situ dengan kecewa. Setelah menanti sampai lama tidak ada lagi yang mencoba untuk mencabut pedang itu, Kiok Hwa berbisik kepada Han Lin. "Lin-ko, apakah engkau juga ingin mencobanya? Kalau begitu, lakukan-lah sekarang juga. Siapa tahu engkau berjodoh dengan pedang itu."

Han Lin mengangguk, "Baik, akan ku-coba." Setelah berkata demikian, dengan langkah tegap namun tenang Han Lin berjalan menghampiri guha yang letaknya agak tinggi itu. Di depan batu besar di mana pedang itu menancap dia berhenti dan mengamati keadaan batu itu denganl seksama. Dia membaca pengumuman pemerintah yang melarang membongkar batu-batu itu dan yang hendak mencoba peruntungannya harus mencabut pedang itu. Dia teringat bahwa pedang itu peninggalan seorang panglima yang gagah perkasa dan setia dan tiba-tiba timbul perasaan hormatnya yang mendalam terhadap pemilik pedang itu. Panglima itu tentulah seorang yang setia dan berjiwa patriot. Rasa hormat ini membuat Han Lin tidak berani sembarangan mencabut pedang, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan batu besar itu, seolah hendak minta ijin untuk mencabut pedang. Dia memberi hormat dengan membenturkan dahinya ke atas tanah. Pada saat itu, matanya melihat ukiran yang berbentuk huruf-huruf amat kecilnya. Kalau dia tidak berlutut dan membenturkan dahinya ke atas tanah, dia tidak akan melihat ukiran-ukiran huruf-huruf itu!

"Putar batu hitam ini tiga kali kekanan"

Demikianlah bunyi ukir-ukiran itu dan di dekat ukiran itu terdapat sebuah batu hitam sebesar kepalan tangan.

Giranglah hati Han Lin membaca ini. Agaknya rahasia pencabutan pedang itu berada di sini, pikirnya, mengingat betapa banyaknya orang pandai yang telah mencoba mencabut pedang tanpa hasil. Tanpa ragu lagi dia lalu memegang batu hitam itu, mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dan memutar ke kiri. Memang ternyata berat sekali, akan tetapi karena dia sudah mengerahkan tenaga, batu itu dapat diputarnya ke kiri. Dia memutar tiga kali ke kiri, kemudian tiga kali ke kanan. Karena dia melakukannya sambil berlutut, maka tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang dilakukannya itu. Mereka yang masih menonton hanya merasa geli, bahkan ada yang tertawa mencemoohkan melihat Han Lin berlutut sampai lama di depan batu itu.

"Heii! Engkau hendak mencabut pedang atau hendak bersembahyang minta rejeki?" terdengar seorang mengolok- olok, disusul suara tawa yang lain. Namun Han Lin hanya tersenyum mendengar ini dan dia menggunakan telapak tangannya mengusap huruf-huruf yang terukir di bawah batu itu. Karena dia menggunakan sin-kang yang amat kuat, permukaan batu itu menjadi halus dan ukiran huruf itupun lenyap. Setelah itu barulah dia bangkit berdiri. Semua orang memandangnya dengan ingin tahu sekali.

Diam-diam Han Lin mengerahkan sinkang ke dalam lengan kanannya, lalu dipegangnya gagang pedang Im-yang-kiam itu, lalu ditariknya. Pada saat itu terdengar suara keras dan batu besar itu bergoyang. Han Lin memperkuat tarikannya dan......

dia berhasil mencabut pedang

Semula semua orang terdiam dan terbelalak, lalu pecah suara gaduh dan mereka semua mendekati dan menghampiri Han Lin untuk melihat macam apakah pedang itu.

Melihat kemungkinan ada orang yang berniat jahat merampas pedang dari tangan yang berhak, komandan pasukan lalu mengerahkan anak buahnya untuk melindungi Han Lin.

"Berhenti! Kalian tidak boleh mengganggu pemuda ini. Dialah yang berhak memiliki Im-yang-kiam seperti bunyi peraturan yang telah ditetapkan. Mundur semua!"

Orang-orang itu mundur. Dengan wajah berseri karena gembiranya telah dapat memenuhi pesan gurunya untuk mencabut Im-yang-kiam, Han Lin memperlihatkan pedang itu kepada Kiok Hwa yang telah mendekatinya. Gadis ini memegang pedang itu dengan kagum. Ditelitinya pedang itu. Sebatang pedang yang aneh warnanya, sebelah hitam sebelah putih! Yang hitam tajam yang putih tumpul. Tahulah ia apa maksudnya. Yang hitam itu adalah mata pedang untuk membunuh lawan, sedangkan yang putih adalah mata pedang yang dipergunakan untuk mengobati orang yang keracunan!

"Pokiam (Pedang Pusaka), kuharap pemilikmu yang baru akan lebih banyak mempergunakan putihmu daripada hitammu." kata Kiok Hwa dari ia mengembalikan pedang itu kepada Han Lin.

Karena pedang itu tidak memiliki sarung pedang, Han Lin lalu menyimpannya di dalam buntalannya. Setelah menggendong buntalan pakaiannya itu kembali ke punggungnya, dia lalu mengajak Kiokh Hwa pergi.

Para penonton yang berada di situ juga bubaran dan dalam perjalanan pulang, mereka ramai membicarakan pemuda yang dengan mudahnya dapat mencabut pedang pusaka itu setelah memberi hormat dengan berlutut.

"Nah, apa kataku. Pedang itu bertuah! Baru mau dicabut setelah diberi hormat secara berlebihan!" kata seorang.

"Kalau aku lebih percaya bahwa di dalam batu besar itu ada setannya yang memegangi ujung pedang sehingga tidak dapat dicabut. Setelah diberi hormat, setan itu lalu melepaskan pedang sehingga pemuda itu mampu mencabutnya." kata yang lain. Ramai mereka membicarakan dan mengutarakan pendapat mereka masing-masing.

Sementara itu, Han Lin dan Kiok Hwa dihadang oleh komandan pasukan yang tadi berjaga di tempat itu.

"Nanti dulu, sicu (orang gagah)," kata komandan itu dengan sikap hormat dan ramah. "Sudah menjadi peraturan dan kewajiban kami untuk mencatat nama dan alamat sicu sebagai orang yang berhasil memiliki Im-yang-kiam."

Han Lin tersenyum. "Baiklah, ciang-kun (perwira). Aku she Han dan namaku Lin dan aku adalah seorang perantau yang berasal dari Pegunungan Thai-san."

Perwira itu mencatat dalam buku catatannya untuk bahan laporan, lalu berkata, "Kami percaya bahwa engkau seorang pendekar, sicu. Karena itu kami hanya mengharapkan agar engkau mempergunakan pedang untuk membela kebenaran dan keadilan. Kalau kelak ternyata engkau mempergunakan untuk kejahatan, pemerintah tentu akan menentangmu."

"Aku mengerti, ciangkun." jawab Han Lin.

Han Lin mengajak Kiok Hwa untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan Puncak Burung Hong. Setelah mereka tiba di kaki pegunungan itu, Han Lin berhenti, menurunkan buntalannya, mengambil Im-yang-kiam dari buntalan dan menyerahkannya kepada Kiok Hwa.

"Kiok-moi, aku berpikir bahwa pedang ini lebih pantas menjadi milikmu. Engkau memang benar, lebih baik pedang ini dipergunakan untuk mengobati orang dari pada melukai atau membunuh."

"Tidak bisa begitu, Lin-ko. Pedang itu engkau yang mencabutnya, maka engkau pula yang berhak memilikinya."

"Akan tetapi aku memberikannya kepadamu dengan hati yang ikhlas karena tahu bahwa di tanganmu pedang ini akan lebih bermanfaat bagi orang banyak."

"Terima kasih, Lin-ko, akan tetapi aku tidak dapat menerimanya. Untuk mengobati orang, aku tidak membutuhkan bantuan pedang itu."

Han Lin menghela napas panjang dan tidak memaksa. Dia masih memegang Im-yang-kiam dengan tangan kanannya! ketika tiba-tiba ada lima sosok bayangan berkelebat dan tahu- tahu ada lima orang! tosu berdiri di depannya.

"Siancai. ! Engkau harus menyerahkan pedang itu

kepada kami, sicu!" Se-orang di antara mereka, yang berjenggot panjang sampai ke dada, berseru dengan! suara lembut.

Han Lin dan Kiok Hwa memandangi dengan penuh perhatian. Mereka adalah lima orang tosu yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, dipimpin tosu berjenggot panjang dan di punggung mereka masing-masing terdapat sebatang pedang. Sikap mereka tenang namun berwibawa. Di bagian depan jubah mereka, tepat di dada, terdapat gambar tanda Im-yang hitam putih.

"Mereka orang-orang Im-yang-pai (Partai Im Yang)!" bisik Kiok Hwa kepada Han Lin.

Biarpun Kiok Hwa hanya berbisik lirih, agaknya terdengar oleh para tosu itu dan si jenggot panjang tersenyum. "Bagus kalau kalian sudah mengenal pinto dan kawan-kawan sebagai orang-orang Im-yang-pai."

Han Lin juga pernah mendengar akan nama besar Im- yang-pai dari Gobi Sam-sian, guru-gurunya yang pertama. Maka dia cepat memberi hormat karena maklum bahwa orang-orang Im-yang-pai adalah golongan putih yang tidak pernah berbuat jahat, bahkan berjiwa patriot dan banyak jasanya ketika tentara rakyat dahulu menjatuhkan kekuasaan Mongol sehingga kerajaan Beng yang pemerintahannya dipegang bangsa sendiri, didirikan.

"Kiranya ngo-wi totiang (lima orang pendeta) adalah tokoh- tokoh Im-yang-pai. Terimalah hormat saya, Han Lin, dan kalau saya boleh mengetahui, apa maksud ngo-wi (anda berlima) menjumpai saya?"

"Siancai (damai)! Ternyata sicu adalah seorang pemuda yang sopan bijaksana. Pinto berharap sicu dapat mempergunakan kebijaksanaan untuk memenuhi permintaan kami."

"Permintaan apakah itu, totiang?"

"Permintaan kami ialah agar sicu suka menyerahkan Im- yang-kiam kepada kami. Kami amat membutuhkan pedang pusaka itu untuk dijadikan pusaka perkumpulan kami.

Bukankah pedang itu bernama Im-yang-kiam? Jadi cocok sekali dengan perkumpulan kami yang bernama Im-yang-pai."

Han Lin otomatis memandang pedang yang masih terpegang oleh tangan kanannya. Dia memandang tosu berjenggot panjang itu dan berkata, "Akan tetapi, totiang. Pedang ini saya dapatkan karena saya telah mencabutnya dari himpitan batu. Kalau memang totiang membutuhkan, kenapa totiang tadinya tidak mencoba untuk mencabutnya?"

Tosu itu tersipu, lalu tersenyum dan berkata sejujurnya, "Kami berlima telah mencobanya, namun kami telah gagal mencabutnya, sicu. Sebetulnya kami tidak berhak minta dari sicu, akan tetapi karena perkumpulan kami membutuhkan, kami mohon kebijaksanaan sicu untuk menyerahkan Im-yang- kiam itu kepada kami. Untuk itu, sicu boleh menerima pedang pinto sebagai penggantinya. Pedang pinto ini juga sebatang pedang pusaka yang ampuh."

Setelah berkata demikian, tosu berjenggot panjang itu mencabut pedangnya dan tampak sinar berkilauan dari pedang itu.

"Pinto harap sicu suka menukar Im-yang-kiam itu dengan pedang ini beserta ucapan terima kasih perkumpulan kami."

"Maafkan saya, totiang, bahwa saya terpaksa tidak dapat memenuhi permintaan totiang. Hendaknya ngo-wi totiang ketahui bahwa saya mencabut Im-yang-kiam itu atas perintah guru saya, dan kedua kalinya untuk menghormati mendiang pahlawan Kam Tiong yang telah mengijinkan saya mencabut pedang itu terpaksa saya harus mempertahankan pedang Im- yang-kiam ini."

Wajah lima orang tosu itu berubah kemerahan dan alis mereka berkerut.

"Kalau begitu, kami hanya ingin meminjamnya, sicu. Kami akan membuat tiruannya untuk dijadikan pusaka kami, setelah itu akan kami kembalikan kepadamu."

"Maaf, terpaksa tidak dapat kuberikan totiang."

Lima orang tosu itu menjadi marah "Kalau begitu, terpaksa pula kami akan menggunakan kekerasan mengambil pedang itu dari tanganmu!"

Kiok Hwa yang sejak tadi mendengarkan dan diam saja, kini berkata dengan suaranya yang lembut, "Selama ini saya mendengar bahwa orang-orang Im-yang-pai adalah orang- orang yang gagah perkasa. Akan tetapi sungguh mengecewakan, hari ini mereka bersikap seperti sekawanan perampok!"

Tosu berjenggot panjang itu memandang kepada Kiok Hwa dengan sinar mata mencorong. "Engkau siapakah, nona?

Berani berkata demikian terhadap kami?"

Han Lin yang menjawab. "Totiang, nona ini adalah murid locianpwe (orang tua gagah) Thian-te Yok-sian."

"Siancai. !" Tosu itu terperanjat dan memandang kepada

Kiok Hwa dengan penuh perhatian. "Kiranya nona yang berjuluk Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat Baju Putih)? Maaf kalau kami bersikap kurang hormat. Nama besar nona sudah terpuji oleh ribuan orang, membuat kami kagum. Akan tetapi kami harap dalam urusan Im yang-kiam ini, nona tidak akan mencampuri. Pinto berlima, orang-orang Im-yang-pai bukan perampok. Kami hanya ingin meminjam dan terpaksa kami menggunakan kekerasan kajau ditolak, karena kami membutuhkan sekali." "Maaf, totiang. Dipinjampun saya tidak dapat memberikan pedang ini!" kata Han Lin dengan tegas.

"Orang muda, engkau berani menantang kami?" bentak tosu berjenggot panjang itu.

"Saya tidak menantang siapa-siapa!"

"Akan tetapi engkau menolak permintaan kami, berarti bahwa engkau berani melawan kami?"

"Apa boleh buat, saya hanya membela diri."

"Hemm, kami juga terpaksa demi perkumpulan kami, bukan ingin merampok, hanya ingin pinjam selama beberapa waktu. Nah, bersiaplah, orang muda. Hendak pinto lihat bagaimana kepandaianmu maka engkau berani menentang kami!"

"Singgg !" Ketika tosu itu mengelebatkan pedangnya di

atas kepala, terdengar bunyi berdesing. Han Lin maklum bahwa orang itu memiliki ilmu pedang yang hebat. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan melintangkan pedangnya di depan dada.

"Saya sudah siap membela diri, totiang." katanya. "Lihat pedang!" tiba-tiba tosu jenggot panjang itu

membentak dan pedangnya berubah menjadi sinar

menyambar ke arah tangan Han Lin yang memegang pedang. Agaknya dia hendak memaksa pemuda itu melepaskan pedangnya untuk dirampas. Akan tetapi dengan tenang namun cepat, Han Lin sudah menarik tangannya lalu membuat geseran langkah ke lepan lalu membalik sehingga tahu-tahu dia berada di sebelah kiri lawan. Tosu itu terkejut, namun cepat diapun membalik ke kiri, didahului pedangnya yang menyambar lagi, kini ke arah muka Han Lin. Kembali Han Lin mengelak dengan gerakan ringan sekali dan tahu-tahu dia telah berada di belakang lawan. Tosu berjenggot panjang itu kembali terkejut dan juga penasaran. Di Im-yang-pai dia adalah orang ke dua setelah ketuanya, dan ilmu pedangnya juga sudah mencapai tingkat tinggi, hanya kalah setingkat dibandingkan tingkat ketua Im-yang-pai. Akan tetapi beberapa kali serangannya yang dilakukan dengan cepat dan bertenaga, dapat dielakkan dengan mudah oleh pemuda itu! Gerakan pemuda itu sedemikian ringan dan gesitnya sehingga seolah- olah dapat menghilang saja. Dia memutar pedangnya lebih gencar dan kini terpaksa Han Lin menangkis dengan pedang Im-yang-kiam yang masih dipegangnya.

"Cringgg..... trakkk !!" Tosu berjenggot panjang itu

terkejut bukan main karena ujung pedang pusakanya patah! Han Lin juga terkejut dan merasa menyesal telah mematahkan pedang pusaka lawan.

"Maaf, totiang. Saya tidak tahu..... tidak sengaja "

"Sudahlah!" dengus tosu itu. "Sekali lagi, orang muda. Kau berikan kepada kami atau tidak Im-yang-kiam itu?"

"Tidak, totiang."

Tosu berjenggot panjang memberi isarat kepada empat orang rekannya dar kini lima orang tosu itu mengepung Han Lin. "Orang muda, kalau engkau mampu memecahkan Ngo- heng-tin (Barisan Lima Unsur) kami akan mengundurkan diri dar tidak akan mengganggumu lagi."

Han Lin sudah mendengar dari Gobi Sam-sian bahwa Im- yang-pai amat terkenal dengan Ngo-heng-tin itu. Boleh dikata hampir tidak ada orang yang mampu memecahkan barisan lima unsur yang saling menunjang itu. Lima unsur itu adalah Logam, Kayu, Air, Tanah dan Api. Yang menempati kedudukan yang satu menunjang dan membela yang lain sehingga barisan pedang ini berbahaya sekali.

Namun Han Lin tidak menjadi gentar, biarpun dia belum memiliki banyak pengalaman bertanding, namun dia telah digembleng secara hebat oleh dua orang sakti dan telah menerima banyak petunjuk tentang pertandingan dari Gobi Sam-sian. Biarpun sudah mendengar akan kehebatan Ngo- heng-tin, dia malah merasa bergembira karena akan dapat membuktikan sendiri bagaimana kehebatannya. Selain itu, dia juga dapat menguji kemampuannya sendiri dan juga keampuhan Im-yang-kiam yang tadi telah mematahkan ujung pedang tosu berjenggot panjang. Han Lin penuh kepercayaan akan dirinya sendiri, apalagi dia yakin bahwa lima orang tosu Im-yang-pai itu bukanlah orang-orang jahat, melainkan hanya ingin "meminjam" pedang pusakanya. Mustahil orang-orang golongan bersih seperti mereka akan menurunkan tangan keji terhadap dirinya.

"Tidak berani saya memecahkan Ngo-heng-tin, akan tetapi saya akan membela diri sekuat tenaga!" jawabnya dan dia melintangkan pedangnya di depan dada, mengerahkan tenaga sakti Matahari dan Bulan ke dalam kedua lengannya.

"Hyaaaaattt !" Lima orang tosu itu membentak dengan

suara berbareng sehingga terdengar lantang sekali. Juga di dalam suara ini terkandung khi-kang (hawa sakti) yang amat berwibawa, dapal menggetarkan jantung dan membuat takut lawan. Namun Han Lin yang mengalami selombang suara yang menyerangnya itu segera menggeram dan me- ngeluarkan suara seperti singa. Itulah Sai-cu Ho-kang (Ilmu Auman Singa) yang mengandung getaran amat kuatnya.

Jangankan hanya bentakan lima orang tosu itu, bahkan segala macam kekuatan sihir akan punah kalau dilawan dengan Sai cu Ho-kang ini.

Lima orang tosu itu berbalik menjadi tergetar oleh auman itu, maka mereka-pun segera menyusun serangan yang silih berganti dan bertubi-tubi datangnya!

Han Lin menggerakkan pedang Im-Yang-kiam dan tampaklah gulungan sinar keabu-abuan, campuran dari warna hitam dian putih. Dia memainkan ilmu pedang seperti yang telah diajarkan oleh It-kiam-lan dan sudah disempurnakan oleh Bu-beng Lo-jin. Gerakannya seperti bayang-bayang saja, dan kecepatannya seperti seekor burung walet. Tubuhnya yang berubah menjadi bayang-bayang itu menyusup di antara gulungan lima sinar pedang lawan. Setelah dia mempergunakan kecepatan gerakannya untuk menghindarkan diri sambil memperhatikan gerakan barisan itu, tahulah dia bahwa kelihaian barisan itu terletak kepada sifatnya yang sambung menyambung dan saling melindungi seperti sehelai rantai baja yang amat kuat. Setelah memperhitungkan, dia bergerak cepat, berputaran. Lima orang lawannya terpaksa ikut berputar-putar dan mereka sama sekali tidak sempat menyerang lagi karena gerakan berputar Han Lin amat cepatnya seperti gasing! Dan selagi mereka kebingungan dan hendak menyusun kembali barisan mereka yang tidak berdaya menyerang itu, tiba-tiba saja Han Lin berbalik menyerang dan dia menyerang di bagian tengah, yaitu orang ke tiga dari pinggir yang berada di tengah-tengah. Tosu yang diserang itu terkejut karena masih bergerak melangkah berputaran, terpaksa dia menangkis sendiri tidak dapat mengandalkan kawan di sebelahnya untuk melindunginya.

"Cringgg..... trakkk !" Pedangnya patah menjadi dua

potong! Sebelum barisan itu sempat mengatur kembali posisinya, pedang Han Lin sudah menyambar-nyambar, membuat para lawannya terpaksa menangkis. Terdengar suara nyaring berturut-turut dan semua pedang di tangan lima orang tosu itu telah patah tengahnya menjadi dua potong!

Tenti saja lima orang tosu itu terkejut bukan main dan mereka cepat berlompatan ke belakang. Tahulah mereka bahwa sekali ini Ngo-heng-kiam-tin mereka telah dapat dipecahkan orang! Wajah mereka menjadi pucat lalu kemerahan. Tosu yang berjenggot panjang lalu menjura kepada Han Lin.

"Siancai. ! Ilmu kepandaian sicu sungguh hebat! Pinto

mengaku kalah. Akan tetapi kekalahan ini membuat kami menjadi penasaran dan ingin sekali mengetahui. Murid siapakah sicu yang memiliki kepandaian sehebat ini?" Terhadap lima orang tosu dari Im-yang-pai itu, Han Lin tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya. Apalagi yang ditanyakan hanya guru-gurunya dan sudah menjadi haknya untuk membanggakan siapa gurunya. Diapun balas menjura sebagai tanda penghormatan lalu menjawab, "Guru-guru saya ada lima orang. Gobi Sam-sian, Bu-beng Lo-jin dan Cheng Hian Hwesio. Merekalah yang mengajar saya, totiang."

"Siancai. ! Gobi Sam-sian adalah tiga orang datuk yang

berkepandaian tinggi. Sedangkan Cheng Hian Hwesio, hwesio perantau yang penuh rahasia itu, kabarnya seorang sakti pula. Hanya kami tidak pernah mendengar siapa itu Bu-beng Lo-jin. Akan tetapi melihat kelihai-mmu, kami percaya bahwa diapun seorang yang amat sakti. Kami tidak menjadi penasaran lagi, juga bahwa kami tidak dapat memaksamu meminjamkan Im - yang-kiam, karena kami memang tidak mampu mengalahkanmu. Selamat tinggal, sicu. Mudah-mudahan pedang pusaka itu akan kaupergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan!"

Setelah berkata demikian, lima orang tosu itu lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Han Lin menoleh ke arah di mana tadi Kiok Hwa berdiri dan dia melihat gadis itu masih berada di sana, akan tetapi pandang matanya tidak gembira dan bahkan alisnya berkerut ketika ia memandang kepada Han Lin.

"Engkau kenapa, Kiok-moi?"

Gadis itu menggeleng kepalanya, "Aku tidak apa-apa, akan tetapi engkau yang agaknya setelah mendapatkan Im-yang- kiam tiba-tiba saja dimusuhi banyak orang! Aih, betapa tepatnya kata orang-orang bijaksana bahwa silat dan pedang hanya mendatangkan permusuhan belaka."

"Akan tetapi, Kiok-moi. Pertentangan itu mana dapat dihilangkan? Bukankah sudah sejak semula terdapat dua unsur yang bertentangan di dunia ini, sebagai perwujudan dari Im-yang? Ada siang ada malam, ada susah ada senang, ada baik ada jahat? Selama ada baik dan ada jahat, pertentangan tidak akan pernah berhenti. Tergantung kepada kita hendak menempatkan diri di unsur mana. Yang jahat atau yang baik. Kalau kita berdiri berpijak kebenaran dan kebaikan, kita tidak perlu takut menghadapi tantangan kejahatan."

"Hemm, tentu saja engkau akan berdalih demikian, Lin-ko.

Akan tetapi kebaikan yang bagaimanakah? Kejahatan yang bagaimanakah? Bukankah kebaikan dan keburukan itu tergantung kepada penilainya? Engkau tentu menganggap para tosu Im-yang-pai tadi jahat karena mereka hendak memaksa pinjam Im-yang-kiam yang menjadi milikmu. Akan tetapi sebaliknya, mereka tentu menganggap engkau jahat yang tidak mau meminjamkan po-kiam (pedang pusaka) yang amat mereka butuhkan itu. Nah, bukankah dalam pandangan masing-masing kalian semua sama jahatnya?"

Han Lin merasa terdesak dan diapun berkata mengalah. "Habis, kalau menurut pcndapatmu, bagaimana, Kiok-moi? Apakah aku harus memberikan Im-yang-kiam kepada mereka tadi?"

"Bukan begitu maksudku, Lin-ko. Apa yang kaulakukan tadi sudah benar. Aku hanya ingin mengatakan bahwa setelah mendapatkan pedang itu, engkau mendapatkan banyak musuh dan hal itu sungguh amat tidak baik bagimu."

"Apa boleh buat. Yang penting aku tidak mencari permusuhan, aku tidak memusuhi mereka. Akan tetapi kalau mereka memusuhi aku, tentu aku akan membela diri." Untuk menyudahi percakapan tentang Im-yang-kiam, Han Lin lalu mengajak gadis itu. "Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Kiok- moi!"

Gadis itu mengangguk dan mereka lalu melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Huang-ho yang lebar. Akan tetapi belum ada satu li (mil) mereka berjalan, tiba-tiba terdengar seruan orang dari belakang. "Orang muda, perlahan dulu!"

Han Lin dan Kiok Hwa menengok dan sesosok bayangan berkelebat dan muncullah seorang laki-laki berusia tua renta, sedikitnya tujuh puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya mewah seperti hartawan atau bangsawan.

Wajahnya lebar dan ramah, mukanya cerah dan dipandang sepintas lalu, pantasnya dia seorang yang baik hati. Akan tetapi kalau orang menentang matanya, orang akan melihat sesuatu yang mengerikan pada pandang matanya. Pandang matanya seperti harimau kelaparan melihat domba!

Ketika Han Lin memandang kakek itu, dia terkejut bukan main. Jantungnya berdebar keras, mukanya terasa panas karena dia teringat akan ibunya. Inilah seorang di antara mereka yang mengakibatkan ibunya tewas terlempar ke dalam jurang, walaupun tidak secara langsung dia melakukannya.

Suma Kiang yang bertanggung jawab, akan tetapi kakek ini juga ikut memperebutkan dia, bahkan berusaha untuk membunuhnya belasan tahun yang lalu, atau sepuluh tahun yang lalu. Orang itu membawa sebatang pedang di punggungnya dan memandang kepadanya dengan penuh perhatian, lalu menatap ke arah buntalan di punggungnya. Han Lin tidak melupakan orang itu karena wajahnya tidak berubah dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Wajah ToaOk (si Jahat ke Satu).