-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 06

Jilid VI

MELIHAT ini, Nelayan Gu merasa tidak enak sekali. Dayung bajanya akan dihadapi oleh pemuda remaja itu hanya dengan sebatang kayu! Dia sejak mudanya telah mempelajari ilmu silat dan bekerja sebagai seorang pengawal. Kemudian dia bahkan memperdalam ilmunya, bersama Petani Lai, dibawah bimbingan Cheng Hian Hwesio sendiri yang sudah menjadi orang sakti setelah berguru kepada seorang hwesio perantau dari siauw-lim-pai. Bagaimana mungkin kini dia harus menghadapi seorang pemuda remaja yang hanya bersenjatakan sebatang kayu sedangkan dia mempergunakan dayung bajanya yang ampuh?

"Anak muda, aku menggunakan dayung baja, bagaimana mungkin engkau akan melawanku hanya menggunakan sebatang tongkat kayu?"

"Maaf, Paman Nelayan. Hanya ini senjata yang saya kenal." "Apakah kakek yang menjadi gurumu itu tidak mengajarkan

ilmu menggunakan senjata lain kepadamu?"

"Kakek itu baru saja menjadi guru dan belum mengajarkan apa-apa. Ketiga guruku yang dahulu mengajarkan saya menggunakan tongkat seperti ini yang dapat dipergunakan sebagai tongkat, sebagai pedang, dan juga sebagai gagang kebutan. Saya tidak mengenal senjata lain, paman."

"Hemm, baiklah kalau begitu. Akupun hanya bertugas untuk mengukur sampai di mana kemampuanmu. Sekarang, lihat seranganku dan sambutlah!"

Setelah berkata demikian, Nelayan Gu menggerakkan dayungnya. Dayung itu berat dan digerakkan dengan tenaga yang kuat, maka dayung itu menyambar dan mengeluarkan suara mendengung! Dayung itu menyambar ke arah kepala Han Lin. Anak ini selama lima tahun telah digembleng oleh Gobi Sam-sian dan tiga orang tokoh itu telah menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada Han Lin. Biarpun usianya baru lima belas tahun namun Han Lin sudah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi. Melihat sambaran dayung yang dahsyat ini, Han Lin mempergunakan keringanan tubuhnya dan mengelak dengan cepat sambil menekuk kedua lututnya sehingga ubuhnya merendah dan dayung itu lewat di atas kepalanya.

Menggunakan kesempatan yang amat singkat itu, Han Lin sudah menusukkan tongkatnya ke arah ulu hati lawan.

"Hemm !" Nelayan Gu kagum juga. baru segebrakan saja

anak muda Itu sudah mampu membalas serangannya! Dia meemutar tongkatnya dengan kuat untuk menangkis tongkat kayu dan sekaligus mengukur kekuatan pemuda itu. Demikian cepatnya tangkisan itu sehingga Han Lin ndak sempat lagi untuk menghindarkan tongkatnya dari benturan dengan dayung baja.

"Tunggg '!" Han Lin merasa lengannya tergetar akan

tetapi dia sudah memutar tubuhnya untuk mematahkan getaran itu dan meloncat ke kiri ketika dayung itu menyambar ke arah pinggangnya. Akan tetapi dayung itu dengan cepat dan hebatnya sudah menyambar lagi, kini menyerampang kedua kakinya. Dengan gerakan amat ringan dan cepat, gin- kang yang dilatihnya dari Pek-tim-sian, Han Lin melompat ke atas dan dayung itu menyambar ke bawah kakinya. Dan dari atas itu kaki kanan Han Lin mencuat dan sudah menyambar ke arah dagu Nelayan Gu!

Nelayan Gu terkejut sekali dan tahu bahwa anak itu telah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.

Terpaksa dia mengelak ke belakang katau tidak ingin dagunya tertendang!

Mereka sudah bergerak lagi saling serang. Hebatnya, Han Lin tidak terdesak hebat, bahkan dapat membalas serangan lawan. Tentu saja Nelayan Gu tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh karena diapun hanya ingin menguji saja.

Setelah tiga puluh jurus mereka bertanding, Petani Lai berseru sambil melompat ke depan.

"Biarkan aku mengujinya!" Mendengar ini, Nelayan Gu melompat kebelakang dan Petani Lai sudah menggerakkan cangkul gagang panjangnya, menyerang dan serangannya memang aneh. serangan itu digerakkan seperti orang mencangkul. Cangkul menyerang ke arah kepala Han Lin dan ketika Han Lin mengelak, cangkul itu membuat gerakan membalik dan menyerang lagi seperti mengungkit! Han Lin terkejut. Serangan senjata cangkul itu asing baginya, namun dengan menggunakan gin-kangnya, dia selalu dapat mengelak dan kadang dia menangis dengan tongkatnya. Dia tahu bahwa menghadapi lawan inipun dia kalah kuat dalam hal tenaga sakti, akan tetapi bagaimanapun juga dia masih menang dalam hal kecepatan gerakan. Karena itu dia mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak dan membalas serangan lawan. Diam-diam Petani Lai, seperti juga Nelayan Gu, merasa kagum sekali. Biarpun kalau dalam perkelahian yang sungguh-sungguh anak ini belum dapat mengalahkannya, akan tetapi tingkat kepandaiannya sudah demikian tinggi sehingga mampu menandinginya selama tiga puluh jurus lebih. Kalau anak ini memiliki tenaga sin-kang lebih hebat sedikit saja, tentu dia akan sukar mengalahkannya.

Setelah lewat tiga puluh jurus, dia pun merasa cukup dan melompat ke belakang sambil berseru, "Cukup!"

Han Lin juga menghentikan gerakannya dan membuang tongkatnya lalu menjura kepada mereka berdua. "Banyak terima kasih atas petunjuk yang paman berdua berikan kepada saya." Dua orang itu merasa senang. Seorang anak yang pandai membawa diri dan sopan sekali, seperti seorang anak yang terpelajar baik.

"Mari kita kembali menghadap suhu" kata Nelayan Gu dan mereka bertiga kembali ke depan pondok. Di sana mereka melihat betapa Bu-beng Lo-jin kini sedang asyik bermain catur melawan-Cheng Hian Hwesio.

Dua orang kakek itu berhenti berma catur dan Cheng Hian Hwesio memandang kepada Han Lin, kemudian kepada dua orang pembantunya lalu bertanya.

"Bagaimana dengan hasil ujian kalian terhadap anak ini?" "Suhu, dia sudah memiliki dasar yang kuat, dapat

menandingi teecu (murid) berdua lebih dari tiga puluh jurus

dengan bersenjatakan sebatang kayu. Biarpun tecu masih menang dalam hal tenaga Sin-kang, namun ilmu gin-kang yang dimilikinya sudah lebih tinggi dari yang tecu kuasai." Nelayan Gu melapor.

Mendengar ini, wajah Cheng Hian Hwesio tampak berseri. "Bagus! Han Lin, maukah engkau mempelajari ilmu silat dari pinceng?"

Mendengar ini, Han Lin yang cerdik segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu. "Sebelumnya teecu menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan suhu."

"Omitohud, pinceng senang sekali. Akan tetapi ingatlah bahwa engkau adaan murid Bu-beng Lo-jin dan bahwa pinceng hanya ikut memberi beberapa macam ilmu yang kiranya berguna bagimu. Setiap bulan sekali engkau boleh endaki puncak ini untuk menerima bimbingan beberapa macam ilmu dari pinceng."

"Cepat haturkan terima kasih, Han Lin!" kata Bu-beng Lo- jin sambil tertawa, "sebelum hwesio yang aneh ini balik pikir!" Han Lin memberi hormat kepada Cheng Hian Hwesio. "banyak terima kasih teecu haturkan dan teecu berjanji akan menaati semua petunjuk suhu."

Pada saat itu, terdengar teriak orang. "Losuhu, tolonglah saya !"

Semua orang menengok dan tampaklah seorang pemuda remaja dengan wajah pucat, rambut awut-awutan dan pakai cabik-cabik, napas terengah-engah mendaki puncak itu lalu menjatuhkan diri dan berlutut di depan batu yang diduduki Ceng Hian Hwesio.

Cheng Hian Hwesio mengamati wajah pemuda itu dengan penuh perhatian. Pemuda itu berusia sekitar enam belas tahun, bentuk tubuhnya tinggi besar dan gagah, wajahnya juga tampan sekali, walaupun pakaiannya seperti pakaian seorang petani dan sudah compang-camping pula. Kedua lengannya tampak luka-luka Berdarah.

Nelayan Gu dan Petani Lai mengerutkan alisnya dan sudah hendak menegur anak muda yang berani mendaki puncak itu, mengganggu ketenangan guru mereka. akan tetapi Cheng Hian Hwesio mendahului mereka.

"Omitohud, anak muda, siapakah engkau dan mengapa pula engkau berlari lari minta tolong kepada pinceng?"

Ditanya demikian, pemuda itu lalu menangis. "Celaka, losuhu (guru tua, sebutan untuk pendeta). Seluruh keluarga saya mereka bunuh ! Dan saya nyaris dibunuh juga, maka

saya melarikan diri ke puncak ini. mohon pertolongan

losuhu " Anak itu menengok ke belakang, agaknya

khawatir kalau ada yang mengejarnya dari belakang.

"Omitohud, siapakah mereka yang membunuh dan mengapa pula keluargamu dibunuh?"

"Saya saya tidak tahu, losuhu. mereka serombongan

terdiri dari lima utau enam orang, datang-datang mengamuk dan membunuhi orang. Ayah dan ibu saya, dua orang saudara saya dan dan seorang paman saya mereka bunuh. empat orang tetangga sebelah yang datang hendak menolong kami mereka bunuh. Saya telah melawan mati-matian namun mereka itu demikian ganas kejam. Akhirnya saya mampu meloloskan diri dan mereka kejar-kejar dan sampai melarikan diri naik ke puncak ini."

"Di mana engkau tinggal?"

"Kami tinggal di dusun bawah lereng sana, losuhu '"

Pemuda remaja itu menuding ke bawah, dan air matanya mas bercucuran.

"Nelayan Gu, obati luka-lukanya dan kemudian bersama Petani Lai kalian lihatlah apa yang terjadi di dusun anak ini. Ajak dia untuk menjadi petunjuk jalan," kata Cheng Hian Hwesio.

Nelayan Gu dan Petani Lai mengajak anak itu memasuki pondok, mengobati luka-luka di lengannya, kemudian mengajaknya turun dari puncak. Ternyata anak muda itupun pandai berlari cepat dan tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah dusun yang terpencil. Sebetulnya bukan dusun karena hanya terdiri dari tiga rumah yang sederhana! Ketika mereka menghampiri rumah itu, Nelayan Gu dan petani Lai segera melihat mayat beberapa orang berserakan di situ.

Ketika mereka sedang memeriksa mayat-mayat itu, terdengar rintihan dan pemuda itu lalu melompat dan menubruk seorang laki-laki yang agaknya belum tewas.

"Ayah !" Pemuda itu berseru dan dia mencabut sebatang

pisau yang masih menancap di dada orang itu.

Nelayan Gu dan Petani Lai melompat. "Jangan cabut " Akan tetapi terlambat.

Pemuda itu sudah mencabutnya dan dia memanggil- manggil ayahnya, mengguncang-guncang tubuhnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang pisau yang masih berlumuran darah itu.

"Ayah.....! Ayah U" teriaknya sambil menangis.

Laki-laki berusia lima puluh tahun itu masih mampu bergerak, mengangkat mukanya memandang pemuda itu, menggerakkan tangan dengan lemah mencoba meraih kepala anak itu.

"Kau..... kau !" Diapun terkulai tewas. Nelayan Gu dan

Petani Lai meloncat mendekat, akan tetapi ketika mereka memeriksa, laki-laki itu telah meninggal dunia.

"Ayah.....! Ayah !" Anak itu memanggil-manggil terus.

"Lepaskan dia. Dia telah tiada." ka Petani Lai. "Ayah !!!" Pemuda Itu melempar pisau yang berlumur

darah, menubruk ayahnya dan menangis tersedu-sedu atas dada ayahnya sehingga darah ayahnya mengenai baju dan dagunya.

"Cukup! Yang mati tidak perlu ditangisi lagi. Tidak ada gunanya!" Nelaya Gu membentak dan pemuda itu melepaskan rangkulannya, berhenti menangis akan tetapi masih sesenggukan menahan tangisnya.

Nelayan Gu dan Petani Lai lalu mengadakan pemeriksaan. Mereka memeriksa mayat itu satu demi satu dan semuanya tewas karena tusukan pisau belati itu. Ayah dan ibu anak itu, lalu dua orang kakak dan adiknya, dua orang pamannya dan empat orang laki-laki lain yang menurut pemuda itu adalah tetangganya. semua ada sepuluh orang yang terbantai di tempat itu secara kejam sekali.

Dua orang bekas pengawal itu mengadakan pemeriksaan dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa rumah itu tidak diganggu barang-barangnya. "Apakah ada barangnya yang hilang?" tanya Petani Lai kepada pemuda itu. Pemuda itu seperti orang yang ling-lung Karena duka mengadakan pemeriksaan. Tidak banyak yang dimilikinya dan dia menggeleng kepala.

"Tidak ada barang yang hilang." katanya lirih, dan air matanya kembali mengalir bila mana dia menoleh kepada mayat ayah dan ibunya.

"Hemm, berarti para pembunuhnya bukan golongan perampok. Keadaan tiga keluarga ini sederhana saja, tidak memiliki barang-barang berharga, juga tidak kehilangan sesuatu. Lalu apa yang menyebabkan pembunuhan begini banyak orang ini?" kata Nelayan Gu.

"Anak malang, siapakah namamu?"

"Saya she (marga) Coa, bernama Se akan tetapi panggilan sehari-hari adalah A-seng," jawab pemuda remaja itu.

"Seluruh keluargamu terbunuh akan tetapi engkau mampu membebaskan diri juga tadi engkau pandai berlari cepat.

Siapakah gurumu dalam ilmu silat?"

"Seorang tosu pengembara yang kebetulan lewat di tempat tinggal kami mengajarkan ilmu silat kepada saya, akan tetapi dia tidak mengatakan siapa naman dan bahkan tidak ingin diketahui siapa namanya. Saya sempat dilatih selama beberapa tahun kemudian disuruh latihan seorang diri.

Dengan segala kemampuan saya, saya melawan ketika hendak dibunuh dan akhirnya dapat melarikan diri walaupun luka-luka pada lengan saya."

"Siapakah orang-orang yang membunuh keluargamu? Apakah engkau mengenal mereka?" tanya Petani Lai yang juga tertarik sekali ingin mengetahui siapa pembunuh- pembunuh sadis yang membantai sepuluh orang dusun yang tak berdosa Itu. "Saya tidak mengenal mereka, akan tetapi di baju mereka bagian dada ada gambar seekor harimau hitam."

"Seekor harimau hitam? Apa engkau tahu apa artinya itu?" Nelayan Gu bertanya.

A-seng menggeleng kepalanya. "Saya hanya pernah mendengar bahwa di balik puncak ini terdapat sebuah perkampungan yang menjadi tempat tinggal Hek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam) yang kabarnya ditakuti semua orang karena mereka bersikap ugal-ugalan. Akan tetapi saya sendiri tidak pernah pergi ke sana, apa lagi bertemu dengan mereka."

"Hek-houw-pang ? Petani Lai, pernahkah engkau

mendengar tentang Hek-houw-pang?" tanya Nelayan Gu kepada Petani Lai yang dijawab dengan gelengan kepala.

"Sekarang lebih baik kita mengurus mayat-mayat ini terlebih dulu. Karena di sini tidak ada orang lain, terpaksa kita bertiga yang harus menguburnya dan setelah itu baru kita melapor kepada suhu" kata Petani Lai.

Mereka bertiga lalu bekerja. Menggunakan cangkul gagang panjang yang selalu dibawa Petani Lai, dia menggali tanah belakang rumah-rumah itu dengan cepat Nelayan Gu dan A- seng membantunya dengan menggunakan cangkul yang mereka temukan di pondok ketiga orang tani itu.

Kalau tidak dikerjakan oleh Petani Lai dan Nelayan Gu, tentu akan makan waktu lama menggali sepuluh buah lubang kuburan itu. Akan tetapi kedua orang adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki tenaga sakti yang membuat pekerjaan itu dapat dilakukan cepat sekali.

Apalagi A-seng ternyata juga merupakan seorang pemuda yang kuat dan dapat menggali dengan cepat walaupun dilakukan dengan kadang diselingi tangisnya karena kematian keluarganya. Setelah selesai mengubur sepuluh jenazah itu dan membiarkan A-seng berlutut sambil menangis menyebut ayah ibunya nelayan Gu lalu menyentuh pundaknya,

"Sudahlah, cukup engkau menangis. Sekarang mari kita menghadap suhu untuk mendapatkan petunjuk beliau selanjutnya." A-seng bangkit dan sambil menundukkan mukanya dengan sedih diapun mengikuti kedua orang itu mendaki Puncak Awan utih.

Setelah Nelayan Gu, Petani Lai dan A-seng pergi meninggalkan puncak, Bung Lo-jin berkata kepada Han Lin. "Han Lin, sekarang tunjukkanlah kepada kami apa saja yang sudah diajarkan Gobi Sam-sian kepadamu. Bersilatlah menggunakan tongkat seperti ketika engkau melawan Nelayan Gu dan Petani Lai tadi. Aku sendiri juga ingin mengetahui sampai di mana kemampuanmu."

Han Lin mematuhi permintaan Bu-Beng Lo-jin. Dia mencari lagi sebatang kayu cabang pohon, dijadikannya tongkat lalu mulailah dia bersilat. Tongkat itu dimainkan sesuai dengan ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Ang-bin-sian, kemudian dia mainkan seperti pedang sesuai dengan ajaran It-kiam-sian, kemudian dia mainkan sebagai gagang kebutan yang melakukan totokan-totokan seperti yang diajarkan Pek-tim- sian.

Dua orang kakek itu menonton dengan senang dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Cheng Hian Hwesio, apakah engkau hendak menerima pemuda tadi sebar muridmu?"

"Kalau perlu, mengapa tidak? Ayah ibunya telah tewas dan dia hidup sebatang kara, perlu ditolong, bukan?"

"Akan tetapi aku melihat bahwa anak itu terlalu cerdik, hal ini dapat dilihat dari gerakan matanya. Engkau belum mengenal benar asal-usulnya, bagaimana demikian mudah menerimanya sebaga murid? Bagaimana kalau engkau salah pilih?"

"Omitohud, pinceng bermaksud baik. Kalau ternyata keliru, hal itu adalah sudah menjadi karma masing-masing. Kenapa engkau menaruh curiga kepada orang anak malang yang belum kau kenal keadaannya?"

Bu-beng Lo-jin tertawa. "Ha-ha bukan curiga, Cheng Hian Hwesio. Hanya aku teringat bahwa ilmu silat yang kau Ajarkan tentulah ilmu silat tingkat tinggi dan ilmu itu akan berbahaya sekali kalau sampai dimiliki seorang yang pada dasar-nya memang jahat. Kalau engkau salah memilih murid, berarti engkau mencipta-kan bencana bagi dunia di kemudian hari."

"Omitohud, maksudmu memang baik, Bu-beng Lo-jin. Akan tetapi engkau kurang tebal kepasrahanmu kepada Yang Maha Kuasa. Yang terpenting bagi kita adalah meneliti dengan waspada bahwa apa yang kita lakukan tidak menyimpang daripada kebenaran. Adapun hasilnya bagaimana, hal itu terserah kepada Yang Maha Kuasa. Bukankah begitu seharusnya?"

"Ha-ha-ha, aku tidak hendak berbantahan denganmu, Cheng Hian Hwesio. Aku hanya memperingatkan, karena kalau engkau salah pilih, kelak engkau sendiri akan terseret ke dalam kesulitan."

"Omitohud, terima kasih atas perhatianmu, Lo-jin. Akan tetapi tentu saja pinceng bertanggung jawab sepenuhnya atas segala yang pinceng lakukan."

"Bagus kalau begitu. Sekarang, perkenankan kami untuk pulang lebih dulu. sebulan sekali aku akan menyuruh Lin datang ke Puncak Awan Putih untuk menerima petunjuk darimu."

"Baiklah, Lo-jin. Dan engkau, Han Lin. Setiap malam bulan purnama, datanglah ke sini. Nelayan Gu dan Petani Lai tentu akan membiarkanmu masuk karena mereka berdua sudah tahu bahwa engkau akan belajar ilmu dari pinceng."

"Baik, losuhu dan terima kasih atas budi kebaikan losuhu." kata Han Lin sambil memberi hormat. Kemudian, dia dan Bu- beng Lo-jin meninggalkan puncak itu, kembali ke puncak tempat kediama mereka sendiri.

Ketika Nelayan Gu, Petani Lai da A-seng kembali ke puncak, mereka melihat Cheng Hian Hwesio masih duduk di atas batu sambil memejamkan kedua matanya. Melihat hwesio tua itu sedang bersamadhi, mereka tidak berani mengganggunya.

Akan tetapi A-seng menangis dan isak tangisnya agaknya membangunkan hwesio itu. Dia bergerak menoleh dan melihat mereka bertiga, maka dia lalu menegur.

"Nelayan Gu, Petani Lai, apa yang telah terjadi di sana?" Dua orang itu menghadap guru mereka, sambil berlutut,

diikuti pula oleh A-seng, mereka bercerita.

"Seluruh keluarga A-seng, juga empat orang tetangganya, berjumlah sepuluh orang semua terbantai dan tewas, suhu. Pembantaian yang kejam karena agaknya sepuluh orang itu tidak mampu melawan sama sekali. Para pembunuh itu tidak mengambil apa-apa dan tidak meninggalkan bekas. Akan tetapi menurut keterangan A-seng ini, dia melihat bahwa di baju bagian dada para pembunuh itu terdapat lukisan seekor harimau hitam, dan dia pernah mendengar tentang gerombolan yang menamakan diri mereka Hek-houw-ang dan tinggal di balik puncak."

"Omitohud! Begitu kejam mereka itu. Nelayan Gu dan Petani Lai, kalian harus menyelidiki ke balik puncak dan bertanya mengapa mereka membunuhi warga dusun yang tidak berdosa. Kalau perlu mereka itu pantas dihukumi"

Meskipun sudah menjadi hwesio selama puluhan tahu namun watak adil seorang kaisar masih melekat di hati Cheng Hian Hwesio "Engkaupun ikutlah dengan mereka, kalau perlu menjadi saksi mata terhadap para pembunuh itu!" Sambungnya kepada A-seng.

Berangkatlah ketiga orang itu menuruni Puncak Awan Putih dan Cheng Hian Hwesio melanjutkan samadhinya. Mereka turun dari puncak melalui timur dan belum pernah mereka melalui jalan ini maka mereka mencari jalan yang amat sukar itu. Namun kedua orang pembanti atau murid Cheng Hian Hwesio itu adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka mereka dapat maju terus menuruni puncak yang sukar itu. Yang membuat mereka kagum adalah ketika mereka melihat kenyataan betapa A-seng juga mampu mengikuti mereka walaupun perjalanan itu kadang-kadang amat sukar, harus menuruni tebing dan memanjat sambil berpegangan kepada akar-akar dan hatu-batu gunung.

Matahari telah condong ke barat ketika mereka tiba di lereng puncak yang ditumbuhi hutan. Mereka memasuki hutan itu dan di tengah hutan mereka melihat buah perkampungan. Ketika mereka tiba di pintu gerbang perkampungan itu, di depan pintu gerbang terdapat papan nama yang berbunyi "Hek Houw Pang" (Perkumpulan Harimau Hitam). Mereka berhenti dan tiba-tiba saja tampak banyak tubuh berkelebatan dan di lain saat mereka telah dikepung oleh belasan orang yang memegang golok di tangan dan sikap mereka garang sekali. Seorang di antara mereka yang mukanya penuh brewok dan bertubuh tinggi besar mengelebatkan goloknya dan bertanya dengan suaranya yang parau. "Siapakah kalian bertiga yang berani datang ke tempat kami tanpa ijin?"

Nelayan Gu dan Petani Lai bersikap tenang. Nelayan Gu melihat bahwa pada baju bagian dada orang-orang itu memang terdapat sulaman gambar seekor harimau hitam. Cocok dengan keterangan A-seng maka dia berpendapat tentu mereka inilah yang telah melakukan pembantaian terhadap sepuluh orang dusun itu. "Aku disebut Nelayan Gu, dan rekanku ini adalah Petani Lai, sedangkan anak ini bernama A-seng. Kami datang untuk bicara dengan pimpinan kalian, maka kami minta menghadap Ketua Hek-houw pang." kata Nelayan Gu dengan sikap tenang.

"Ha-ha-ha, tidak begitu mudah untuk dapat bertemu dengan ketua kami. Kalau engkau ada urusan, cukup bicara dengan aku saja sebagai wakil ketua di sini."

"Kami membawa urusan besar dan hanya ingin bicara dengan ketua kalian. Harap bawa kami menghadap." kata pula Nelayan Gu.

"Hemm, untuk dapat bertemu dengan ketua kami, engkau harus mendapatkan kuncinya!"

"Bagaimana kami mendapatkan kuncinya?"

"Kuncinya ada padaku! Kalau engkau dapat menandingi aku Tiat-ciang Hek-houw (Harimau Hitam Tangan Besi) baru engkau boleh bertemu dengan ketua kami."

Setelah berkata demikian, Tiat-ciang -houw itu lalu memutar goloknya di depan dada dengan sikap menantang sekali.

"Bagus, kalau begitu biar aku yang akan menandingimu.

Apakah engkau hendak berjanji bahwa kalau aku dapat menangkan engkau, kami bertiga boleh langsung menghadap ketua kalian?"

"Ha-ha-ha, tidak mungkin engkau akan mampu mengalahkan Tiat-ciang Hek-houw! Baik, kalau engkau mampu menangkan aku, kalian boleh bertemu dengan ketua kami, Toat-beng Hek-houw (Harimau Hitam Pencabut Nyawa)!"

Kemudian dia berseru kepada teman-temannya yang masih mengerumuni mereka. "Minggir kalian, beri kami lapangan yang luas untuk bertanding!" Semua orang mundur dan kini dua orang itu berhadapan, sama-sama tinggi besar bagaikan dua orang raksasa yang sedang berlagak hendak mengadu kesaktian. Petani Lai juga membawa A-seng untuk mundur dan hanya menonton dari pinggiran. Dia percaya penuh akan kemampuan kawannya, maka dia menonton dengan sikap tenang saja. Sebaliknya A-seng yang kelihatan gelisah.

"Coba amati, siapa di antara mereka yang membunuh keluargamu?" tanya Petani Lai perlahan kepada A-seng. A- seng memandangi mereka itu lalu menggeleng kepalanya.

"Saya tidak tahu, Paman. Saya rasa para pembunuh itu tidak berada di antara mereka walaupun baju mereka sama."

Jawaban ini membuat alis Petani Lai berkerut dan dia merasa kecewa. Akan tetapi mungkin gerombolan pembunuh itu masih berada di dalam perkampungan itu. Nelayan Gu bertindak benar untuk minta bertemu kepalanya saja agar dapat bicara dengan ketua mereka, karena kalau harus mencari sendiri, tentu akan suka apalagi kalau para pembunuh itu menyembunyikan diri.

"Aku sudah siap, engkau mulai lah Tiat-ciang Hek-houwl" kata Nelayan yang telah melintangkan dayung bajanya di depan dada.

"Bagus! Lihat golokku!" bentak wakil ketua Hek-houw-pang itu dan diapun sudah menerjang ke depan, goloknya membacok miring ke arah leher lawan. Tenaganya besar sekali, hal ini dapat di-lihat dari gerakan golok besar yang amat cepat dan mengeluarkan suara berdesing.

"Singggg !" Golok meluncur dan menyambar ke arah

leher. Namun Nelayan Gu dengan tenangnya mengelak ke belakang dan melintangkan dayung bajanya Menangkis.

"Trangggg !" Tampak bunga api berpijar ketika golok

bertemu dengan dayung baja. Kedua orang itu merasa tapak tangan mereka yang memegang senjata tergetar hebat. Ini menandakan bahwa kekuatan mereka seimbang. Keduanya melompat mundur dan memeriksa senjata masing-masing. Ternyata senjata mereka tidak rusak dan Tiat-ciang Hek-uw sudah menerjang maju lagi, kini goloknya membacok ke arah kepala Nelayan Gu dari atas. Nelayan Gu melihat datangnya golok yang berat dan tajam itu, cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya, sambil memutar dayung bajanya balas menyerang dengan pukulan dari samping ke arah leher. Wakil ketua Hek-houw-pang itu menangkis dengan goloknya.

"Tranggg !" Kembali bunga api berpijar dari pertemuan

kedua senjata ini. Nelayan Gu menjadi penasaran dia mainkan dayung bajanya dengan dassyat, dayung itu berubah menjadi seperti kitiran angin, menyambar-nyambar dengan ganasnya. Tiat-ciang Hek -houw terkejut dan diapun memutar golok untuk melindungi diri sehingga tampak gulungan sinar goloknya membentuk dinding menangkis, setiap ujung dayung baja itu menyambar dekat.

"Trakk!" Golok itu tertahan oleh dayung dan seperti melekat. Melihat kesempatan ini, Tiat-ciang Hek-houw menggunakan tangan kirinya, dengan telapak tang terbuka dia menghantam sambil mengerahkan ilmu dan tenaga Tiat-ciang (Tangan Besi) yang kuat sekali. Melihat Nelayan Gu melepaskan tangan kanan yang bersama tangan kiri memegang dayung dan tangan kanan itu menyambut hantaman tangan kiri lawan.

"Wuuutttt..... plakkk I!" Dua telapak tangan saling

bertumbukan di udara dan akibatnya, tubuh Tiat-ciang Hek- houw huyung ke belakang. Dari pertemuan telapak tangan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenaga sin-kang (tenaga sakti) wakil ketua Hek-houw-pang itu masih kalah setingkat!

Melihat pimpinan mereka terhuyung, lima belas orang anak buah Hek-houw-pang segera melompat maju dan mengeroyok dengan golok mereka! Petani Lai dan Nelayan Gu tidak menjadi gentar dan mereka mengamuk sambil mencoba untuk melindungi A-seng. Akan tetapi ternyata A-seng tidak membutuhkan perlindungan. Ketika seorang pengeroyok membacokkan goloknya ke arah kepalanya, dengan gerakan yang gesit A-seng mengelak dan ketika golok menyambar ke bawah, dia menggunakan tangan kanannya yang dimiringkan untuk memukul pergelangan tangan lawan yang memegang golok.

"Wuuttt..... plakk tranggg..!" Golok itu terlepas dari

pegangan dan cepat sekali A-seng sudah menyambar golok itu dan diapun menangkis sambaran golok yang ditujukan kepadanya. Pemuda remaja itu segera berkelahi melawan seora anggauta Hek-houw-pang dan ternyata dia mampu menandinginya.

Nelayan Gu dan Petani Lai mengamuk dan para pengeroyoknya terdesak mundur. Namun mereka berdua tetap bersikap sebagai orang gagah yang tidak mau sembarangan membunuh sebelum tahu benar kesalahan orang. Kesalahan Hek-houw-pa belum jelas, maka mereka tidak mau membunuh atau membuat para pengeroyoknya terluka parah, hanya menggertak saja dengan dayung baja dan cangkul mereka.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring "Berhenti! Tahan semua senjata!"

Mendengar bentakan ini, Tiat-cia Hek-houw dan anak buahnya berlompat ke belakang. Nelayan Gu dan Petani Lui juga menahan gerakan senjata mereka A-seng melompat ke belakang mereka-sambil masih memegang golok rampasan.

Diam-diam Nelayan Gu dan Petani Lai merasa kagum juga kepada pemuda remaja itu yang ternyata gagah dan memiliki keberanian. Mereka memandang kepada orang yang membentak tadi dan melihat seorang laki-laki berusia lima puluh tahunn berdiri di situ dengan sikap berwibawa. Laki-laki ini bertubuh tegap senang, mukanya yang persegi itu tampak gagah, jenggotnya pendek dan rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan pita biru. Di punggungnya tergantung sebatang pedang dan pandangan matanya tajam sekali dan kini mengamati Nelayan Gu dan petani Lai dengan penuh selidik. .

Dengan sikap gagah, pria itu mengangkat kedua tangan didepan dada lalu bertanya kepada Nelayan Gu dan Petani Lai. "Siapakah sam-wi (kalian bertiga) dan mengapa pula berkelahi dengan anak buah kami?"

Tahulah Nelayan Gu bahwa dia berhadapan dengan ketua Hek-houw-pang, maka diapun membalas penghormatan itu dan menjawab, "Maafkan kalau kami menimbulkan keributan di sini, pangcu (ketua). Akan tetapi sesungguhnya kami tidak bermaksud menimbulkan perkelahian. Kami datang untuk bertemu dengan pangcu karena ada sesuatu yang penting sekali ingin kami bicarakan dengan pangcu akan tetapi saudara-saudara ini memaksa kami untuk beradu kepandaian."

Hek-houw Pang-cu (Ketua Hek-hou pang) itu kelihatan marah kepada anak buahnya. Dia bahkan menegur wakilnya "Tiat-ciang (Tangan Besi), kenapa engkau bersikap demikian terhadap tamu? Sepantasnya engkau persilakan mereka bertemu dan bicara denganku. Maafkan, jikalau Kalau kalian hendak bicara dengan aku, silakan masuk perkampungan kami."

Biarpun mereka tahu bahwa tawaran masuk ke perkampungan ini dapat berbahaya bagi mereka, namun Nelayan Gu dan Petani Lai lidak merasa gentar dan dengan gagah mereka mengikuti Ketua Hek-houw-pang yang berjuluk Toat-bei Hek-houw (Harimau Hitam Pencabut Nyawa) itu memasuki perkampungan. A-seng juga masuk dan pemuda remaja ini tampak tabah dan tidak memperlihatkan rasa takut, sehingga semakin senanglah hati Nelayan Gu dan Petani Lai kepadanya.

Mereka dipersilakan duduk di ruangan dalam dan segera hidangan makan minum dikeluarkan. Karena memang sehari itu mereka bertiga belum makan, maka suguhan itu tentu saja mereka terima dengan senang hati.

"Sebelum kita bicara, mari kita makan dulu sebagai sambutan kami terhadap tamu yang kami hormati." kata ketua hek-houw pang yang tadi melihat betapa tiga orang tamunya, terutama dua orang laki-laki gagah itu, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia sendiri belum tentu akan mampu menandingi mereka. Inilah sebabnya mengapa dia bersikap hormat sekali.

Tanpa curiga Nelayan Gu dan Petani Lai makan minum bersama tuan rumah. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan mereka akan tahu apabila pihak tuan rumah bertindak curang, misalnya menggunakan racun. Mereka yakin bahwa tuan rumah tidak akan melakukaan kecurangan itu, karena mereka semua makan dari tempat makanan yang sama, dan minum dari guci arak yang sama pula. Setelah mereka selesai makan minum, ketua Hek- houw Pang segera bertanya kepada para tamunya.

"Nah, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk bicara." Dia memberi isarat kepada pelayan untuk membersihkan meja dan mereka siap untuk bercakap-cakap. Setelah meja dibersihkan, Nelayan Gu berkata sambil menatap tajam wajah rumah.

"Pangcu, kami datang untuk minta keterangan kepadamu tentang sepak terjang lima atau enam orang anggautamu yang telah membantai sepuluh orang petani yang tidak berdosa. Mengapa anak buahmu melakukan perbuatan yang kejam tak berprikemanusiaan itu?"

Hek-houw Pang-cu membelalakkan matanya. "Apa? Anak buah Hck-houw-pang tidak pernah melakukan pembantaian terhadap petani!"

"Pangcu, kami bukan sekedar menuduh secara membabi buta. Anak ini, A-seng menjadi saksinya. Sekeluarganya, yaitu ayah ibunya, dua orang saudaranya, dan Juga orang pamannya berikut empat orang tetangganya semua dibunuh oleh anak buah Hek-houw-pang. Hanya dia seorang yang dapat meloloskan diri."

Ketua Hek-houw-pang itu mengerutkan alisnya, menoleh ke kanan kiri seperti hendak bertanya kepada anak buahnya, lalu memandang kepada A-seng dan beranya, "Anak muda, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa anak buah Hek- houw-pang yang melakukan pembunuhan itu?"

"Karena aku melihat bahwa mereka Mengenakan baju yang bagian dadanya tergambar seekor harimau hitam seperti yang kalian pakai sekarang ini." kata A-seng dengan tabah.

"Akan tetapi tidak mungkin! Katakan, dusun mana yang diserbu anak buah kami dan orang-orang apa yang terbunuh?"

"Bukan dusun, hanya sekelompok orang dengan tiga pondok di tempat terpencil. Dan mereka yang terbunuh adalah petani-petani miskin." kata pula A-seng.

"Lebih tidak masuk akal lagi! Membunuhi petani miskin? Untuk apa? Kami akui bahwa kami suka menghadang para hartawan dan bangsawan yang melakukan perjalanan melalui wilayah kami dan kami minta pajak jalanan, kalau mereka melawan kami mungkin membunuh mereka, juga kami menguasai tempat-tempat pelesir dan tempat-tempat perjudian \ kota-kota yang termasuk wilayah kami. Akan tetapi membunuhi petani miskin Tidak pernah kami melakukan hal itu Apalagi tanpa sebab!"

Melihat sikap dan mendengar kata kata ini, Nelayan Gu dan Petani Lai dapat menerimanya. Nelayan Gu menoleh kepada

A-seng kemudian berkata kepada ketua Hek-houw-pang.

"Sebaiknya kumpulkan semua anak buahmu, pangcu, agar A-seng dapat melihat dan meneliti untuk mengenal mereka yang telah membantai keluarganya." "Baik, kalau memang ada anak buah yang melakukan pembunuhan terhadap petani miskin, berarti dia melanggar peraturan dan aku sendiri yang akan menghukum mereka!"

Tak lama kemudian semua anak buah Hek-houw-pang yang jumlahnya kurang lebih lima puluh orang itu telah berdiri berjajar di situ. Obor-obor dipasang untuk menerangi muka mereka. Kemudian A-seng dipersilakan untuk meneliti mereka satu demi satu. Anak itu tampak bingung setelah memeriksa mereka dan setelah pemeriksaan itu berakhir, dia memandang kepada Nelayan Gu dan Petani Lai sambil menggeleng kepalanya.

"Saya tidak melihat mereka " katanya ragu.

"Ha-ha-ha-ha, tentu saja engkau tidak dapat menemukan mereka di antara anak buahku karena anak buahku tidak mungkin melakukan pembunuhan itu."

"Hemmm,- kalau begini berarti ada orang-orang yang telah menyamar sebagai anak buahmu, pangcu!" kata Petani Lai. "Tentu ada orang-orang yang memusuhi Hek-houw-pang."

Hek-houw Pang-cu yang berjuluk Toat Beng Hek-houw itu mengerutkan alisnya dan dia menepuk pahanya sendiri. "Tidak salah lagil Ini tentu perbuatan kelompok Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih) di hutan cemara! Sudah lama antara kami dan mereka terdapat permusuhan memperebutkan wilayah. Tentu mereka yang menyamar sebagai kami untuk memburukkan nama kami!"

"Hemm, kalau begitu sebaiknya kalau kami menyelidiki ke sana. Jauhkah hutan cemara itu?" tanya Nelayan Gu kepada Toat-beng Hek-houw.

"Tidak jauh, di puncak bukit depan itu," jawab ketua Hek- houw-pang itu. "Akan tetapi sekarang malam telah tiba dan perjalanan ke sana juga tidak mudah. sebaiknya kalau kalian berangkat besok dan malam ini bermalam di sini sebagai tamu kami." "Terima kasih atas kebalkan dan keramahan pangcu terhadap kami," kata Nelayan Gu.

"Ah, tidak mengapa, Gu-enghlong (pendekar Gu). Kami suka membantu untuk membuktikan bahwa kami memang tidak melakukan pembantaian itu." kata Hek-houw-pangcu.

Mereka bertiga bermalam di perkampungan Hek-houw- pang dan pada keesokan paginya, mereka berangkat menuju ke bukit di depan. Perjalanan itu juga tidak mudah, namun dapat mereka lakukan dengan cepat.

"Aneh juga kalau ada yang menyamar sebagai orang Hek- houw-pang hanya untuk membunuh sepuluh orang petani itu. Aku yakin ada sebab lain di balik semua ini. A-seng, yakinkah engkau bahwa di antara para korban, orang tuamu, para pamanmu dan tetanggamu itu tidak menyimpan sesuatu yang amat berharga?"

A-seng mengerutkan alisnya dan berpikir, mengingat-ingat, kemudian dia berseru, "Ah, mengapa aku lupa akan hal itu Benar, tentu banyak yang menginginka benda itu kalau mereka mengetahuinya."

"Benda apakah itu?" tanya Nelayan Gu dan Petani Lai hampir berbareng dan rupanya tertarik sekali.

"Tiga tahun yang lalu, ketika ayah pergi mencari kayu di dekat puncak, di kembali membawa sebatang pedang yang sarungnya indah sekali, berukir gambar burung Hong, juga gagang pedang itu menyerupai kepala burung Hong dari emas. Pedang itu indah sekali, akan tetapi ayah menyimpannya sebagai benda pusaka. Bahkan ketika saya belajar silat, saya tidak boleh meminjam pedang itu."

"Ah, sebatang pedang pusaka bergagang emas? Ayahmu seorang petani miskin, kenapa tidak mau menjual pedang itu ke kota? Tentu akan mendapatkan uang banyak." kata Petani Lai. "Ibu dan kami sudah membicarakan hal itu, akan tetapi ayah tidak mau menjual benda itu. Katanya, di kota banyak orang jahat dan ayah takut kalau-kalau pedang itu dirampas orang."

"Dan ketika engkau memeriksa keadaan rumah, engkau tidak menemukan pedang itu?" tanya Nelayan Gu.

A-seng menggeleng kepalanya. "Biasanya ayah menaruh pedang itu dalam peti pakaian, akan tetapi sekarang pedang itu tidak lagi berada di sana."

"Hernmm, kalau begitu pantas! Pedang itu dipakai berebutan, tentu berita tentang pedang Itu telah bocor dan sekarang aku tidak merasa heran mengapa mereka itu dibunuh. Tentu untuk mendapatkan pedang itu dan kalau begitu bukan tidak mungkin ada yang menyamar sebagai angauta Hek-houw-pang, selain untuk menjatuhkan fitnah atas nama Hek-houw-pang juga untuk menghilangkan jejak Kalau para tokoh dunia kang-ouw (sungai telaga, dunia persilatan) mendengar akan adanya pedang itu, terutama- mereka dari golongan sesat, tentu akan mencoba untuk memperebutkannya. Akan tetapi, mengapa baru sekarang engkau ceritakan kepada kami, A-seng?" tanya Petani Lai sambil mengamati wajah pemuda rema Itu penuh selidik.

A-seng menghela napas panjang. "Maafkan saya, paman. Karena bingung dan sedih oleh kematian ayah ibu dan semua keluarga saya, maka saya sama sekali lupa akan pedang itu, dan baru sekarang setelah paman berdua bertanya." A-seng memandang, dengan menyesal sekali.

"Sudahlah," kata Nelayan Gu. "Setidaknya sekarang kita mengetahui mengapa mereka dibunuh, tentu karena pedang itu. Mari kita melanjutkan perjalanan dengan cepat. Kita selidiki di sarang Pek-eng-pang lalu kita pulang ke Puncak Awan Putih." Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan tak lama kemudian tibalah mereka di hutan cemara dan di tengah hutan itu tampak sebuah perkampungan. Di depan pintu gerbang terdapat papan nama perkumpulan itu ditulis dengan huruf-huruf besar: PEK ENG PANG. Di dekat papan nama Itu terdapat sebuah bendera yang bergambarkan seekor burung garuda putih di atas dasar biru. Beberapa orang yang tampak berada di sekitar pintu gerbang itu segera berlarian datang menyambut tiga orang itu dengan pandang mata penuh kecurigaan. Bahkan ada yang membunyikan sempritan sehingga tidak lama kemudian, tiga orang itu telah dikepung oleh belasan orang.

Seorang yang bertubuh tinggi kurus datang dan semua orang memberi jalan kepadanya. Melihat ini saja Nelayan Gu dan Petani Lai dapat menduga bahwa orang ini tentu pimpinan mereka. Nelayan Gu melangkah maju mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat dan berkata, "Kami datang untuk bicara dengan ketua Pek-eng-pang. Apakah engkau ketuanya, sobat?"

Orang tinggi kurus itu memandag dengan penuh selidik, lalu berkata dengan lantang. "Benar, aku adalah Pek-Eng Pang-cu (Ketua Pek-eng-pang). Siapakah engkau dan ada keperluan apakah hendak bicara denganku?"

"Aku adalah Nelayan Gu dan sahabatku ini adalah Petani Lai dan anak itu bernama A-seng. Kami datang untuk bertanya kepada pangcu apakah kemarin lalu ada anak buah pangcu yang melakukan serangan dan membantai sepuluh orang petani di balik bukit ini dan merampas sebatang pedang pusaka bergagang burung Hong emas?"

Orang tinggi kurus itu mengerutkan alisnya. "Orang she Gu, jangan sembarangan saja engkau bicara! Aku Cian Hok, ketua Pek-eng-pang, bukan pemimpin perampok dan pembunuh Kami bekerja sebagai piauwsu (pengawal pengkiriman barang) dan selalu bertindak sebagai orang gagah, bagaimana engkau berani melakukan tuduhan sembarangan kepada anak buah kami?"

"Sebetulnya kami tidak mencurigai Pek-eng-pang, karena yang melakukan pembantaian itu adalah orang-orang yang mengenakan pakaian yang dadanya bergambarkan harimau hitam."

"Ah! Kalau begitu orang Hek-houw-pang yang melakukannya!" bentak ketua Pek-eng-pang yang bernama Ciang Hok Itu.

"Tadinya kami juga menduga demikian," jawab Nelayan Gu, "akan tetapi setelah kami menyelidiki ke sana, kami tidak menemukan orang-orang yang melakukan pembunuhan itu.

Dan dari ketua Hek-houw-pang kami mengetahui bahwa Pek- eng-pang bermusuhan dengan Hek-Houw pang, maka menurut keterangan ketua Hek-houw-pang, sangat boleh jadi orang Pek-eng-pang yang menyamar sebagai anak buah Hek- houw-pang dan melakukan pembantaian itu untuk membumikan nama Hek-houw-pang."

"Keparat Si Toat-beng Hek-houw. Ini merupakan fitnah yang hanya dapat dite-bus dengan darah! Dan engkau telah mendengar hasutan mereka, lalu datang ke sini, mau apa?" teriak Ciang Hok dengan marah.

"Kami hanya hendak mencari pembunuh-pembunuh keji itu, dan karena kami tidak mempunyai permusuhan dengan Pek-eng-pang, maka kami datang dengan baik menanyakan kepadamu sebagai ketuanya."

"Aku katakan bahwa tidak ada anak buahku yang melakukan pembunuhan itu! Yang kami bunuh hanya bangsa perampok dan pencuri! Kedatangan kalian dengan tuduhan anggauta kami yang melakukan pencurian pedang dan pembunuhan merupakan penghinaan!"

"Kalau memang benar anak buahmi tidak ada yang melakukan pembunuhan itu, sudahlah, kami juga tidak memaksa kalian untuk mengaku. Kami akan pergi dari sini dan tidak mengganggu kalian lagi." kata Nelayan Gu yang melihat sikap dan bicara ketua Pek-eng-pang itu sudah merasa percaya. Kaum piauw-su (pengawal barang kiriman) ini agaknya tidak mungkin menyamar sebagai anggauta Hek- houw-pang melakukan pembunuhan dan merampas pedang. Tentu ada gerombolan lain yang melakukannya.

"Hemm, tidak begitu mudah kalian pergi dari sini setelah menghina kami!" bentak Ciang Hok yang sudah marah sekali.

"Habis kalian mau apa?" tanya Petani Lai yang perangainya lebih keras ketimbang rekannya.

"Kau baru boleh pergi setelah dapat menandingi sepasang golokku ini!" Ciang Hok meraih ke belakang punggung dan dia sudah melolos dua batang goloknya yang besar dan mengkilat saking tajamnya.

"Nelayan Gu, biarkan aku yang menandinginya!" kata Petani Lai sambil melangkah ke depan dan menggerakkan cangkulnya, siap menandingi sepasang golok di tangan Ciang Hok yang kini tampak galak itu karena marahnya. Dia merasa dihina sekali dengan tuduhan bahwa anak buahnya telah menyamar sebagai anak buah Hek-houw-pang, melakukan pembunuhan terhadap petani dan mencuri pedang.

"Marilah, pangcu, kalau engkau ingin bermain-main denganku, aku sudah siap menandingi sepasang golokmu!" tantang Petani Lai.

"Baik, lihat sepasang golokku!" bentak Ciang Hok dan dia sudah menerjang dengan dahsyatnya. Sepasang goloknya berputar dan menyerang dari kedua jurusan dengan gerakan menggunting. Petani Lai yang melihat datangnya serangan yang dahsyat, tidak berani memandang rendah dan dia sudah mengelak dengan langkah ke belakang dan begitu sepasang golok itu menyambar lewat, dia menggerakkan cangkulnya dari atas mencangkul ke arah kepala lawan! . "Wuuuttt..... tranggg !" Cangkul itu bertemu dengan

sebatang golok, menimbulkan bunga api yang berpijar. Keduan merasa betapa tangan mereka tergetar. akan tetapi Ciang Hok mundur dua langkah, tanda bahwa dia masih kalah kuat dalam hal tenaga sln-kang melawan Petani Lai. Akan tetapi setelah golok kanannya menangkis, golok kirinya sudah membacok ke arah lambung kanan Petani Lai. Kembali yang diserang mengelak cepat, lalu membalas dengan ayunan cangkulnya.

"Cringggg !" kembali bunga api berpijar dan keduanya

lalu saling serang dengan dahsyatnya. Nelayan Gu yang menyaksikan pertandingan ini, menjadi semakin yakin bahwa agaknya tidak mungkin orang-orang Pek-eng-pang ini yang melakukan pembantaian. Dalam hal pertandingan ini saja tampak kegagahan dan watak ketua Pek-eng-pang. Mereka tidak melakukan pengeroyokan, tidak seperti orang-orang Hek-houw-pang. Kalau memang mencurigai kedua kelompok ini, tentu Hek-houw-pang yang lebih patut dicurigai.

Perkelahian itu berlangsung sampai lima puluh jurus dan kini perlahan-lahan Petani Lai mulai mendesak lawannya.

Nelayan Gu melihat hal ini dan dia tidak mau kalau sampai rekannya itu melukai lawan. Dia tidak ingin menanam permusuhan dengan Pek-eng-pang. Oleh karena itu, ketika cangkul Petani Lai mendesak hebat dan ketua Pek-eng-pang itu mundur mundur mempertahankan diri, Nelayan Gu melompat ke depan, menahan cangkul rekannya dengan dayung bajanya dan berseru nyaring.

"Cukup sudah pertandingan ini!" Petani Lai maklum dan diapun melompat ke belakang. "Ilmu kepandaian PeK eng Pangcu cukup mengagumkan!" katanya dengan jujur tanpa maksud mengejek karena walaupun dia mampu mendesak lawan, namun agaknya akan makan waktu yang cukup lama untuk mencapai kemenangan. Ketua Pek-eng-pang itu menyimpan sepasang goloknya di punggung dan dia memberi hormat, "Ilmu kepandaianmu hebat dan aku mengaku kalah. Akan tetapi tetap saja kami menyangkal keras kalau dikatakan bahwa kami menyamar sebagai orang Hek-houw-pang, mencuri pedang dan melakukan pembunuhan terhadap sepuluh orang petani!" Kata-katanya tegas.

"Sudahlah, pangcu. Kalau memang anak buahmu tidak ada yang melakukannya, kamipun percaya akan ucapanmu.

Maafkan kami dan biarkan kami pergi dari sini."

"Silakan, akan tetapi kami tetap akan nembikin perhitungan kepada Hek-houw-pang yang telah menjatuhkan fitnah atas diri kami!"

"Terserahlah kepadamu. Kami tidak mencampuri urusan di antara kalian. Permisi!" Nelayan Gu lalu mengajak Petani Lai dan A-seng untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Matahari telah condong ke barat ketika mereka tiba kembali di Puncak Awan Putih. Cheng Hian Hwesio masih saja duduk di atas batu besar seperti kemarin! agaknya batu besar yang datar itu menjadi tempat kesukaan hwesio ini untuk bersamadhi di luar pondok dan memang dari batu itu tampak pemandangan alam yang luar biasa eloknya.

"Hemm, kalian telah pulang. Bagaimana hasil penyelidikan kalian" tanyanya lembut kepada dua orang murid dan pembantunya itu. Dua orang itu berlutut menghadap Cheng Hian Hwesio dan A-seng juga berlutut di sebelah mereka.

Nelayan Gu lalu menceritakan semua pengalamannya betapa mereka telah menguburkan semua jenazah mereka yang terbantai, kemudian betapa mereka telah mendatangi Hek-houw-pang dan Pek-eng pang.

"Teecu tidak mendapatkan bukti kedua perkumpulan itu bahwa mereka yang telah melakukan pembantaian. Biar pun A-seng ini mengatakan bahwa para pembunuh itu memakai baju yang ada gambarnya Harimau Hitam, akan tetapi-dia tidak menemukan orang-orang itu antara anak buah Hek- houw-pang. Dari Hek-houw-pang kami mendapat keterangan bahwa mungkin Pek-eng-pang yang telah sengaja menyamar sebagai orang Hek-houw-pang, melakukan pembunuhan dan mencuri pedang dari ayah A-seng Akan tetapi hal itupun tidak dapat dibuktikan, bahkan Pek-eng-pang mengancam akan membuat perhitungan dengan Hek houw-pang."

"Omitohud, urusan menjadi berlarut-larut. Kalau ada pedang pusaka yang lenyap, maka sangat boleh jadi bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah gerombolan penjahat. Akan tetapi sudah-lah, kita tidak perlu mencampuri urusan mereka. Anak muda, namamu A-seng?"

"Nama saya Coa Seng, biasa dipanggil A-seng, losuhu.

Sekarang ayah dan ibu dan semua keluarga saya telah tewas, saya hidup sebatang kara, saya mohon sudilah losuhu menerima saya sebagai murid untuk belajar ilmu agar kelak saya dapat mencari para pembunuh keluarga saya." Setelah berkata demikian, A-seng menangis lalu membentur- benturkan kepalanya ke atas tanah sebagai penghormatan.

"Omitohud, pinceng tidak ingin mengambil murid, A-seng. Lebih baik engkau segera pulang dan bekerja sebagai petani melanjutkan pekerjaan orang tuamu."

Sambil menangis A-seng berkata, "Losuhu, saya telah kematian orang tua, kematian semua keluarga, tidak memiliki apa-apa lagi. Bagaimana saya dapat hidup seorang diri di tempat sunyi itu, tanpa keluarga dan tanpa tetangga? Pun saya ingin sekali memiliki ilmu kepandaian agar kelak dapat mencari pembunuh keluarga saya."

"Omitohud, sungguh tidak baik menyimpan dendam dalam hati. Apalagi mengajarkan ilmu untuk kelak dipakai membalas dendam dan melakukan pembunuhan, tentu tidak akan pinceng lalukan. Sudahlah, A-seng, engkau pergilah, pin ceng tidak dapat menerimamu sebagai murid." Tangis A-seng semakin menjadi-jadi. Sambil sesenggukan dia tetap berlutut dan berkata, "Saya tidak akan bangkit dan akan berlutut di sini sampai mati sebelum suhu menerima saya sebagai murid."

Nelayan Gu dan Petani Lai menghampiri.

"A-seng, engkau tidak boleh memaksa Suhu tidak mau menerimamu sebagai murid!" kata Nelayan Gu.

"Benar, A-seng. Pergilah dan jangan memaksa!" kata pula Petani Lai.

"Tidak, saya tidak mau pergi dari sini. saya tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa lagi di dunia ini. Saya mohon lo-suhu menerima saya sebagai murid dan saya tidak akan beranjak dari sini sebelum saya diterima sebagai murid." kata anak itu kukuh dalam tangisnya.

"Sudahlah, mari kita tinggalkan dia!" terdengar suara lembut Cheng Hian Hwesio. Tiga orang itu lalu meninggalkan A-seng dan memasuki pondok. Dua orang pembantu itu bekerja di belakang pondok mengurus tanaman sayur, sedangkan Cheng Hian Hwesio bersamadhi dalam kamarnya. Mereka bertiga tidak memperdulikan A-seng lagi.

Namun A-seng tetap berlutut menghadap batu besar dan tidak bergerak pergi dari situ. Dia sudah mengambil ke- putusan untuk berlutut di situ sampai mati kalau hwesio tua itu tidak mau menerimanya menjadi murid. Malam tiba dan A- seng tetap berlutut di tempat itu.

Malam itu gelap dan dingin sekali, hawa dingin menembus pakaian dan kulit, nenyusup ke dalam tulang-tulang. Dapat dibayangkan betapa dinginnya berada di luar rumah, di udara terbuka. Namun, A-seng masih tetap berlutut seperti sore tadi, menggigit bibir menahan rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil. Dapat dibayangkan penderitaan yang dialami bocah itu.

Perutnya mulai berkruyuk minta diisi dan hawa dingin membuat semua bulu di tubuhnya bangkit berdiri dan tubuhnya menggigil. Namun dengan keras hati dia tidak pernah bergerak dari tempatnya! Semalam suntuk itu dia tetap berlutut dan pada keesokan harinya, ketika fajar menyingsing hawa dingin menjadi hampir tak tertahankan lagi. Giginya sampai berbunyi ketika di menahan hawa dingin dan tubuhnya mengigil. Akan tetapi setelah matahari naik cukup tinggi, hawa udara menjadi hangat dan nyaman, membuat penderitaanny banyak berkurang walaupun dia merasa lapar dan tubuhnya penat sekali karena sejak kemarin sore terus dalam keadaan berlutut. Namun, dia sama sekali tidak memperdulikan semua itu dan tetap berlutut.

Nelayan Gu dan Petani Lai sampai mengoyang-goyang kepala melihat kekerasan hati pemuda remaja itu. Akan tetapi Cheng Hian Hwesio yang melihat ini hanya diam dan tersenyum saja.

Malam kedua tiba dan tetap A-seng masih berlutut di tempat semula. Nelayan Gu dan Petani Lai merasa tidak tega dan mereka mengantarkan makanan dan minuman sederhana untuk A-seng.

"Ini makanan dan minuman, kau makan dan minumlah A- seng, agar perutmu tidak kosong dan terserang hawa dingin ang akan membuat engkau sakit," kata mereka.

Akan tetapi A-seng hanya menggeleng kepalanya dan tidak bergerak. Makanan dan minuman itu ditinggal di situ, akan tetapi pada keesokan harinya lagi makanan dan minuman itu masih tetap berada di situ dalam keadaan utuh! Dan tubuh pemuda remaja Itu mulai tampak lemah setelah lewat dua hari dua malam.

"Suhu," mereka menghadap Cheng Hian Hwesio. "A-seng masih tetap berlutut di luar. Teecu khawatir kalau dia jatuh sakit." kata Petani Lai. "Omitohud ketahanan yang luar biasa, kekerasan hati

yang mengagumkan, Biarkan saja, pinceng ingin melihat sampai di mana kekuatannya." kata hwesio itu sambil tersenyum menerima laporan kedua orang pembantu dan muridnya.

Malam ke tiga merupakan malam penyiksaan bagi A-seng. Tubuhnya sudah lemah dan kaku semua rasanya, perutnya lapar sekali sehingga terasa menusuk nusuk nyeri. Namun dia tetap bertahan dan ketika pada keesokan paginya Nelayan Gu dan Petani Lai menengoknya, mereka mendapatkan pemuda remaja itu masih dalam keadaan berlutut, akan tetapi dia telah jatuh pingsan! Kalau dibiarkan pemuda ini tentu akan mati dalam keadaan berlutut.

Ketika mereka melapor kepada Cheng Hian Hwesio, barulah hwesio ini bangkit dan berjalan keluar mendengar bahwa pemuda remaja itu berlutut dalam keadaan pingsan. Dia menghampiri A-seng dan melihat keadaan pemuda itu, di menggeleng kepalanya dan menghela napas.

"Omitohud, ingin pinceng mendengar apa akan kata Bu- beng Lo-jin melihat kenekatan anak ini." Dia lalu meraba tubuh itu, menotok beberapa jalan darah.

A-seng mengeluh lirih dan siuman akan tetapi begitu siuman tubuhnya terguling roboh telentang. Akan tetapi, dia sudah berusaha pula untuk bangkit duduk dan berlutut lagi!

Cheng Hian Hwesio berkata kepada dua orang muridnya yang juga mengikutinya keluar. "Angkat dia ke dalam dan buatkan bubur cair untuknya."

Dua orang itu segera mengangkat tubuh A-seng, dibawa masuk ke dalam pondok dan direbahkan ke atas sebuah pembaringan.

"Tidur sajalah dan jangan banyak bergerak.

Permohonanmu telah dikabulkan suhu." kata Nelayan Gu kepada A-seng. Akan tetapi ketika Cheng Hian Hwest masuk ke pondok untuk melihat keadaan A-seng, anak itu lalu nekat turun dari pembaringannya dan berlutut di depan kaki Cheng Hian Hwesio.

"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan suhu yang telah menerima teecu sebagai murid." dia lalu mencoba untuk memberi penghormatan dongan delapan kali berlutut, akan tetapi tubuhnya terlampau lemah dan diapun terguling roboh.

"Omitohud, cukuplah. Kekerasan hatimu yang membuat engkau menjadi muridku . Mudah-mudahan saja kelak engkau akan mempergunakan ilmu dari pinceng untuk kebenaran dan keadilan dan tidak mempergunakan untuk kejahatan." Dengan tongkatnya dia membantu A-seng berdiri dan mendorong anak itu kembali rebah telentang di atas pembaringannya.

"Mengasolah sampai tubuhmu kuat dan sehat kembali." kata Cheng Hian Hwesio yang lalu meninggalkannya.

A-seng memang memiliki tubuh yang kuat sekali. Dalam dua hari saja kesehatannya telah pulih kembali dan ternyata diapun seorang anak yang pandai membawa diri. Tanpa diperintah dia membantu Nelayan Gu dan Petani Lai dengan pekerjaan mereka sehari-hari, bahkan kini dialah yang mengerjakan pekerjaan yang berat untuk keperluan mereka berempat. Mengambil air, mencari kayu bakar membersihkan pondok dan halamannya juga membantu pekerjaan di ladang.

Karena merasa kasihan akhirnya Cheng Hian Hwesio mulai mengajarkan ilmu silat kepadanya dan ternyata pemuda remaja itu memiliki bakat yang baik sekali. Juga dia telah memiliki dasar yang kuat, pernah mempelajari ilmu sllat dari guru yang baik, sehingga dasarnya tepat dan mudah menerima pelajar yang lebih tinggi.