-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 04

Jilid IV

BIARPUN tingkat kepandaian Sam Ok sudah tinggi dan ia seorang diri mampu mengalahkan It-kiam-sian, namun kini menghadapi Suma Kiang ia berhadapan dengan lawan yang lebih lihai. Pertahanan tongkat ular hitam dari Suma Kiang memang hebat sekali. Terutama tenaga sin-kangnya yang amat kuat sehingga setelah lewat lima puluh jurus, Sam Ok merasakan kelebihan tenaga awan ini. Pedang hitamnya mulai terpental bilamana bertemu langsung dengan tongkat lawan.

"Sam Ok, kalau engkau tidak cepat pergi, engkau akan mampus di tanganku!" Suma Kiang membentak dan tongkatnya menyambar lagi dengan dahsyatnya.

"Tranggg !!" Tiba-tiba sinar keemasan menyambar,

menangkis tongkatnya dan membuat tongkat itu hampir saja terlepas dari pegangan. Demikian kuatnya! sinar keemasan itu menangkis tongkatnya. Suma Kiang terkejut bukan main dan cepat melompat ke belakang. Dia melihat seorang laki-laki tinggi besar, berusia sekitar enam puluh tahun, berpakaian mewah seperti seorang hartawan atau bangsawan, tersenyum-senyum memandangnya dan dia memegang sebatang pedang yang berbentuk seekor naga emas yang indah sekali.

Wajah Suma Kiang berubah agak pucat ketika dia memperhatikan orang itu. "Hemm, benarkah dugaanku bahwa yang berhadapan denganku adalah Thai Ok Toat-beng Kui-ong (si Jahat Pertama Raja Iblis Pencabut Nyawa)?"

Orang tinggi besar itu tertawa bergelak dan wajahnya yang tampan itu tampak toapan (berbudi) dan ramah sekali, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia memiliki watak yang jahat. Akan tetap mengingat julukannya, sukar dibayangkan betapa jahat dan kejamnya orang ini Sampai mendapat julukan si Jahat Pertama, tentu wataknya luar biasa kejam dan jahatnya. Ban-tok-ci yang demikian kejam dan jahat saja baru mendapat julukan si Jahat ke Tiga atau Sam Ok! Apalagi yang berjuluk Toa Ok atau Thai Ok tentu lebih kejam lagi!

"Ha-ha-ha, matamu memang tajam sekali, Huang-ho Sin- liong! Dugaanmu tidak keliru. Akulah yang disebut Toa Ok!"

"Hcmm, aku mendengar bahwa ketiga Sam Ok adalah orang-orang gagah yang pantang berlaku curang dan tidak sudi melakukan pengeroyokan. Akan tetapi mengapa sekarang engkau membantu Sam Ok dan mengeroyok aku?"

"Ha-ha-ha, kalau berita sama dengan kenyataannya, untuk apa kami disebut si Tiga Jahat? Pula, aku datang bukan untuk membantu Sam Ok mengeroyokmu, melainkan aku datang untuk mendapatkan anak ini dari tanganmu. Maka, kalau engkau masih ingin hidup, pergilah, tinggalkan anak ini untukku!"

"Setan! Untuk apa pula engkau menghendaki anak ini, Toa Ok?" teriak Sam Ok penasaran. "Ha-ha-ha, semua orang mempunyai kebutuhan masing- masing, Sam Ok. Ak butuh anak ini karena dia merupakan harta pusaka yang amat berharga bagi kerajaan Beng!"

"Toa Ok, anak ini adalah hakku, milik ku. Akulah yang diutus oleh kerajaan Beng untuk menangkap dan membawanya ke kota raja!"

"Hemmm, kaukira kami tidak tahu akan hal itu, Suma Kiang? Engkau diutus oleh Pangeran Cheng Boan, bukan oleh Kaisar. Akan tetapi aku berhak membawanya kepada Kaisar yang tentu akan mem beri hadiah yang lebih besar lagi.

Bahkan kalau aku beruntung, Kaisar akan menghadiahkan sebuah kedudukan yang cukup mulia bagiku, ha-ha-ha!"

"Jahanam, aku yang bersusah payah sejak bertahun-tahun yang lalu, sekarang engkau mau enaknya saja!" bentak Suma Kiang.

"Ha-ha-ha, tentu saja dan itu sudah baik dan adil namanya, bukan?" jawab Toa Ok seenaknya.

Suma Kiang tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia sudah menerjang ke depan dengan tongkat ular hitamnya. Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Toa Ok, orang pertama dari Tiga Jahat yang tentu saja memiliki ilmu kepandaian yang paling hebat diantara ketiganya. Tongkat ular hitamnya bertemu dengan sinar emas yang amat kuat sehingga kembali tongkatnya terpental begitu bertemu dengan Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) dan dia terpaksa berlompatan ke belakang agar tidak dikejar senjata lagi. pertahanannya goyah.

"Mampuslah......! Wushhhh !" Serangkum hawa

menyerangnya dari samping dan dia cepat mengelak. Ternyata itu adalah jari telunjuk tangan kiri Sam Ok yang menyambutnya dengan sebuah serangan tusukan yang amat berbahaya karena jari itu mengandung hawa beracun yang amat ampuh. "Curang!" Bentak Suma Kiang. Akan tetapi Sam Ok malah terkekeh seolah teriakan itu merupakan pujian baginya.

Serangan pedang Kim -liong-kiam telah datang membalas dan serangan itu seperti kilat datangnya. Tidak mungkin bagi Suma Kiang untuk mengelak maka terpaksa dia memutar tongkatnya untuk menangkis.

"Trang-trang !" Kembali dua kali tongkatnya menangkis

dan untuk dua kali pula tongkatnya terpental sehingga terpaksa dia melompat lagi ke belakang karena kalau lawan mendesak dia tentu tidak mampu mempertahankan diri lagi. Suma Kiang bukan orang bodoh. Dia maklum bahwa melawan Toa Ok seorang saja sukar baginya untuk menang, apa lagi di situ terdapat Sam Ok yang mengeroyoknya. Belum lagi kalau Ji Ok muncul, tentu dia akan celaka. Maka sambil mengeluarkan teriakan panjang karena kesal dan kecewa bercampur penasaran dan marah, dia melarikan diri pergi dari tempat itu.

"Toa Ok, untuk apa engkau anak ini? Aku membutuhkannya untuk memperdalam latihanku dan menghisap sari tenaganya. Anak ini keturunan kaisar, tentu hawa sakti di tubuhnya melebihi anak-anak lain. Berikanlah kepadaku, Toa Ok!"

"Hemm, bodoh! Engkau hanya memikirkan dirimu seorang, Sam Ok. Ketahuilah, untuk kebutuhan itu di dunia ini masih terdapat banyak sekali anak yang baik. Akan tetapi kesempatan memetik keuntungan dengan mengembalikan anak ini ke kerajaan Beng, hanya ada satu kali ini. Kalau tidak kita pergunakan kesempatan ini, sungguh kita amat bodoh!"

"Akan tetapi, Toa Ok. Kaisar tentu sudah mendengar akan nama kita, dan dia tentu akan mengambil sikap bermusuhan dengan kita. Jangan-jangan dengan menyerahkan anak ini kepadanya, kita malah ditangkap dan dihukum! Aku lebih setuju dengan pendapat Suma Kiang. Kita serahkan saja anak ini kepada Pangeran Cheng Boan dan minta uang tebusan yang besar. Dia pasti akan memenuhi permintaan kita, apalagi kalau kita ancam bahwa kalau dia tidak mau memberi uang tebusan besar, kita akan berikan anak ini kepada Kaisar Chenp Tung!"

"Hemm, usulmu itu baik sekali!" kata Toa Ok mengangguk- angguk sambil memandang ke arah Hari Lin yang masih menggeletak tidak dapat bergerak di atas tanah.

"Kalau begitu, biar aku yang membawa anak itu dan menjaganya agar jangan sampai direbut orang lain." Sam Ok segera meloncat ke dekat Han Lin. Dia membebaskan totokan Suma Kiang pada anak itu, akan tetapi sebelum Han Lin dapat meronta, dengan sikap penuh kasih sayang Sam Ok sudah memegang tangan kirinya.

"Anak yang baik, engkau menurut majalah kepada kami dan kami tidak akan bersikap keras kepadamu."

Han Lin memandang ke arah jurang dan berseru dengan suara bercampur tangis. "Ibuuuu !" Namun hanya suara

gema saja yang menjawab, gema yang terdengar mengaung aneh dan mengerikan.

"Ibumu sudah jatuh ke dasar sana dan tentu hancur, percuma saja kau panggil dan tangisi. Sudahlah, jadikan aku sebagai pengganti ibumu!" kata Sam Ok menghibur dengan kata-kata lembut.

"Tidak, ibuku tidak mati! Ibuku tidak boleh mati!" teriak Han Lin dan dia meronta untuk melepaskan diri dari pegangan tangan Sam Ok. Ketika merasa betapa pegangan itu erat sekali dan dia tidak mampu melepaskan diri, Han Lin lalu menggunakan suling yang masih dipegang di tangan kanannya untuk memukul.

Sam Ok menangkap pergelangan tangan kanan itu dan sekali tangan kirinya bergerak menotok, Han Lin tidak mampu bergerak lagi dan tubuhnya menjadi lemas. Namun tetap saja tangan kanannya masih memegang suling kemala. Sam Ok lalu memanggul tubuh yang lemas itu dengan kepalanya di depan.

"Anak baik, engkau menurut saja ke pada ibumu yang baru, hidupmu tentu akan senang sekali!" kata Sam Ok dan ia mendekatkan mukanya untuk mencium pipi Han Lin.

Kemudian mulutnya yang berbibir merah itu tiba-tiba berada di dekat leher Han Lin dan mulut itu mengecup leher itu.

"Sam Ok, jangan lakukan itu!" tiba tiba Toa Ok menghardik. Sam Ok melepaskan kecupan mulutnya dan di kulit leher

Han Lin tampak bekas bibirnya. Kulit leher yang dihisap tadi

tampak kemerahan namun belum terluka.

"Aih, Toa Ok. Aku hanya hendak mencicipi beberapa tetes darahnya!" bantah Sam OK.

"Lepaskan dia, engkau tidak boleh membawanya. Biar aku yang membawanya!" kata Toa Ok.

"Toa Ok mari kita berlaku adil. Biar kuhisap dulu darahnya sampai habis, lalu kita penggal kepalanya dan bawa kepala itu ke kota raja untuk minta uang tebusan!"

"Tidak, kalau dia sudah mati, tidak ada harganya lagi!

Berikan dia kepadaku!"

Sam Ok mendekati Toa Ok dan tiba-tiba ia melontarkan tubuh Han Lin kepada kakek itu dengan kuat.

"Terimalah!"

Tubuh anak itu meluncur dengan cepatnya ke arah Toa Ok. Kakek ini menyambut dengan tangan kanannya dan pada saat itu, Sam Ok telah menyerangnya dengan Hek-kong-kiam disusul tusukan jari telunjuk kirinya yang mengandung hawa maut! Demikianlah kelicikan Sam Ok. Akan tetapi Toa Ok tidak akan menjadi si Jahat Nomor Satu kalau dia tidak tahu akan hal ini. Dia sudah siap siaga menghadapi kelicikan rekannya, maka begitu diserang, dia sudah melempar tubuh Han Lin ke atas tanah, lalu memutar Kim-liong-kiam di tangannya untuk menangkis pedang Sam Ok. Kemudian tangan kirinya membuat gerakan melingkar dan mengeluarkan hawa yang menangkis serangan telunjuk kiri Sam Ok.

"Tranggg...... plakkk !" Tubuh Sam Ok terpelanting

saking kerasnya tangkisan Toa Ok.

"Ha-ha-ha, agaknya engkau sudah bosan menjadi Sam Ok (si Jahat Ketiga) dan ingin menjadi si Jahat Mampus!" Toa Ok berseru dan dia pun sudah mengelebat-kan pedang sinar emasnya ke arah leher Sam Ok untuk memenggal leher rekannya itu.

"Wuuuttt..... tinggg !" Sebuah batu kecil menyambar dan

menangkis pedang sinar emas itu, akan tetapi hantaman batu kecil itu sedemikian kuatnya sehingga pedang itu hampir terlepas dari tangan Toa Ok sedangkan kaki Toa Ok terpaksa melangkah mundur sampai tiga langkah!

Tentu saja Toa Ok terkejut bukan main. Dia mengelebatkan pedangnya di depan mukanya lalu memandang ke depan.

Ternyata di situ lelah berdiri seorang kakek yang tubuhnya kecil bongkok, rambutnya tidak sependek tubuhnya melainkan panjang dan terjurai sampai ke perut, demikian pula jenggot dan kumisnya tergantung ke depan dadanya. Rambut yang sudah banyak bercampur uban. Sukar menaksir usia kakek itu. Kalau melihat rambut yang sudah separuhnya beruban itu, tentu usianya sudah enam puluh tahun lebih Akan tetapi kalau melihat wajahnya yang segar dan kemerahan seperti wajah kanak kanak, dia kelihatan jauh lebih muda. Pakaiannya sederhana sekali, dari kain kasar dan potongannya seperti yang di pakai para petani sederhana.

"Heh-heh-heh!" Kakek itu tertawa dan tampak sebelah dalam mulutnva yang sudah tidak bergigi lagi. Sudah ompong sama sekali! "Toa Ok dan Sam Ok sudah saling serang dan berusaha saling membunuh. Ini artinya bahwa Toa Ok dan Sam Ok sudah tidak jahat lagi, berubah menjadi orang baik yang hendak menyingkirkan orang jahat! Heh-heh, bagus sekali!"

Toa Ok memandang dengan alis berkerut. Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi dia tidak berani memandang rendah. Dari sambitan batu kecil tadi saja dia sudah dapat mengukur kekuatan dari tenaga sakti kakek itu yang amat dahsyat.

"Sobat, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"

Kakek itu memandang ke langit, lalu menjawab dengan sikap seperti orang mendeklamasikan sajak. "Nama itu sungguh berbahaya, Dapat membuat kepala seseorang menggelembung kemudian pecah di udara. Nama dapat pula membuat seseorang disanjung-sanjung dan dipuja-puja, dapat pula membuat seseorang dikutuk dan diinjak-injak. Nama adalah suatu kepalsuan! Karena itu aku merasa ngeri dan memilih tidak mempunyai nama. Toa Ok, aku adalah seorang tua tanpa nama. Dan tentang mencampuri urusan pribadi itu, mana bisa disebut urusan pribadi kalau menyangkut diri orang lain? Kalau di sini tidak ada anak yang kalian perebutkan itu, engkau dan Sam Ok hendak gempur-gempuran sampai matipun aku tidak akan perduli. Akan tetapi melihat anak itu, terpaksa aku campur tangan dan aku melarang kalian membawa anak itu. Pergilah kalian berdua dengan aman dan tinggalkan anak itu. Aku akan mengurusnya baik-baik, tidak seperti kalian yang berpamrih untuk] keuntungan diri pribadi."

"Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tani Nama), lagakmu demikian sombong sekali. engkau dapat meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan! Apakah kau kira kami takut kepadamu?"

Tiba-tiba Sam Ok berseru dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan pedangnya yang bersinar hitam. Ia menyerang dari belakang dan bukan pedangnya saja yang menyerang, akan tetapi telunjuk kirinya juga menyerang dengan tusukan yang ngandung hawa beracun ke arah punggut kakek pendek itu.

"Sam Ok, kita bunuh kakek tua bangka bosan hidup ini!" Toa Ok juga menyerang dengan pedang sinar emasnya, serangannya dahsyat sekali, membarengi serangan Sam Ok yang dilakukan dari belakang kakek itu.

Menghadapi serangan hebat dari depan dan belakang, kakek itu tampak tenang saja, sama sekali tidak tampak gugup. Karena datangnya serangan Sam Ok dari belakang datang lebih dulu, tanpa menoleh dia melompat ke depan seperti menyambut serangan Toa Ok. Pedang sinar emas itu meluncur ke arah dada kakek itu. Akan tetapi kakek itu tenang-tenang saja menggerakkan tangan kirinya menangkis! Tusukan pedang pusaka yang demikian ampuh ditangkis dengan tangan kosong saja! Agaknya kakek itu mencari penyakit.

Melihat ini Toa Ok tersenyum lebar dan menggetarkan pedangnya dengan pengerahan sin-kangnya yang amat kuat. Jangankan tangan kosong yang terdiri dari kulit dan daging, biar pedang yang kuat menangkis pedangnya yang digetarkan seperti ini akan menjadi patah!

"Plakkkk H"

Tubuh Toa Ok terpelanting keras dan hampir saja dia jatuh terbanting. Pedangnya bertemu dengan benda lunak namuir lentur sehingga pedang itu membalik seperti tenaganya kembali bertemu dengari tenaga yang amat aneh, yang membuat seluruh tenaga sin-kangnya membalik dan menyerang dirinya sendiri sehingga dia terpelanting.

Pada saat itu, dari belakang Sam Ok kembali menyerang dengan telunjuk kirinya, ditusukkan ke arah lambung kakek itu. Kakek tanpa nama itu membalikkan tubuhnya dan melihat jari telunjuk itu ditusukkan ke arah lambungnya dan kini menuju perutnya, dia tertawa dan membusungkan perutnya, menerima tusukan dengan ilmu Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun) yang mengandung hawa beracun yang amat jahatnya itu.

"Cusss !" Telunjuk kiri itu bukan hanya menyerang

dengan hawa beracun, bahkan langsung mengenai perut yang dibusungkan itu dan telunjuk itu "masuk" ke perut sampai ke pergelangan tangan.

Sam Ok terkejut sekali karena merasa tangannya dingin seperti direndam ke dalam es saja. Ia cepat menarik kembali jari telunjuknya, akan tetapi tidak dapat ditarik lepas, seolah- olah telah terjepit ke dalam benda lunak yang amat kuat!

Selagi ia bersitegang berusaha mencabut telunjuk kirinya, tiba-tiba kakek itu me-lembungkan perutnya dan tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Sam Ok terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung dan dengan susah payah baru ia dapat mengatur keseimbangan dirinya sehingga tidak jatuh terbanting!

Kakek itu mencium-cium ke arah perutnya dan menyeringai, "Wah, telunjukmu bau, kotor dan jahat sekali!"

Sam Ok marah bukan main, akan tetapi ia juga terkejut sekaligus merasa jerih. Seperti Toa Ok, ia menyadari bahwa ia sama sekali bukan lawan kakek tanpa nama itu. Mungkin hanya gurunya atau uwa-gurunya saja yang akan mampu menandingi kakek pendek ini. la memandang kepada Toa Ok dan kebetulan Toa Ok juga sedang memandang kepadanya.

Keduanya bertukar pandang dan tahulah mereka apa yang harus mereka lakukan.

"Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Nama), kalau kami tidak boleh memiliki bocah itu, tidak seorangpun di dunia ini yang boleh!" Setelah berkata demikian, Toa Ok dan Sam Ok menggerakkan tangan kirinya. Sinar-sinar hitam meluncur dari tangan kiri mereka menuju ke arah tubuh Han Lin. Ternyata Toa Ok telah menyerang dengan Hek-tok-teng (Paku Beracun Hitam) dan Sam Ok menyerang dengan beberapa batang Ban- tok-ciam (Jarum Berlaksa Racun), keduanya merupakan senjata yang amat ampuh karena mengandung racun yang seketika dapat mematikan orang yang terkena am-gi (senjata gelap) itu. Akan tetapi, bagaikan segumpal asap saja saking ringannya, tubuh kakek tanpa nama telah melayang ke arah Han Lin dan sekali mengebutkan lengan bajunya ke arah sinar-sinar yang menyambar ke tubut Han Lin, paku-paku dan jarum-jarum iti meluncur kembali ke arah pemiliknya. Toa Ok terkejut sekali dan terpaksa mereka berloncatan untuk menghindarkan diri dari senjata yang hendak makan tuannya sendiri itu. Mereka maklum bahwa kalau mereka melanjutkan, keadaan mereka berbalik akan terancam bahaya sedangkan Ji

Ok yang ditunggu-tunggu tidak kunjung muncul. Maka setelah saling pandang dan berkedip, tanpa banyak cakap lagi kedua orang itu lalu melompat jauh dan melarikan diri dari puncak bukit itu.

Setelah kedua orang itu pergi jauh, kakek itu lalu menghampiri Han Lin dan sekali tangannya bergerak, ujung lengan bajunya menyambar ke arah pundak dan dada Han Lin yang segera dapat menggerakkan kaki tangannya kembali.

Anak itu tadi telah dapat melihat semua yang terjadi, maka begitu ia dapat bergerak, dia sengaja menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu, membentur-benturkan kepalanya di tanah tanpa hentinya.

"Locianpwe (Orang tua yang gagah), harap jangan kepalang tanggung menolong saya. Harap locianpwe suka menyelamatkan pula ibu saya yang tadi terjatuh ke dalam jurang itu!" Berkata demikian, Han Lin menunjuk ke jurang sambil menangis sesenggukan.

"Han ? Terjatuh ke jurang itu dan menyelamatkannya?

Anak yang baik, yang dapat menyelamatkan orang yang jatuh ke jurang itu hanyalah Tuhan, dan aku bukan Tuhan. Juga bukan burung yang bersayap dan pandai terbang. Bagai mana aku dapat menolong ibumu kalau ia sudah terjatuh ke jurang itu?"

"Ibuuu....! Jadi. jadi locianpwe berpendapat bahwa tentu

ibuku sudah tewas ?" Han Lin bertanya sambil terengah-

engah menahan tangis.

Kakek itu menggunakan tangannya mengusap kepala Han Lin. "Tenanglah, nak. Sudah kukatakan bahwa hanya Tuhan yang dapat menolongnya. Kalau Tuhan mengulurkan tangan menolongnya, entah melalui jalan apa, tentu ibumu masih hidup. Akan tetapi kalau Tuhan tidak menolongnya, biarpun seorang yang berilmu setinggi apapun kalau terjatuh ke situ tentu akan menemui kematiannya."

Mendengar ucapan itu, Han Lin lalu menangis tersedu- sedu, membayangkan, ibunya jatuh ke dasar jurang dan hancur tubuhnya. Kemudian diapun menjatuhkan dirinya berlutut lagi di depan kakek itu.

"Harap locianpwe tidak kepalang tanggung menolong saya "

"Ha-ha-ha, permintaan apalagi yang akan kau ajukan kepadaku, anak yang baik?"

"Setelah ibu tidak ada, maka saya hidup sebatang kara di dunia ini. Mengingat bahwa banyak orang jahat yang lihai mempunyai niat jahat terhadap diri saya dan saya tidak akan mampu melindungi diri sendiri, saya mohon sudilah kiranya locianpwe menerima saya menjadi murid. Saya akan mengerjakan apa saja untuk locianpwe dan akan menaati semua perintah locianpwe."

Kakek itu mengamati wajah Han Lin dengan pandang mata tajam, lalu bertanya dengan suara tegas, "Bukankah engkau telah memiliki tiga orang guru? Bagaimana engkau dapat tiba- tiba melupakan mereka dan hendak ikut aku?" Han Lin terkejut sekali. Sama sekali tidak pernah dikiranya bahwa kakek ini tahu pula akan Gobi Sam-sian. "Locianpwe, memang benar saya telah menjadi murid sam-wi suhu (ketiga guru) Gobi Sam-sian. Akan tetapi sam-wi suhu ternyata tidak mampu melindungi ibu sehingga ibu meninggal di tempat ini dan hampir saja saya juga tewas kalau tidak ditolong oleh locianpwe. Keberadaan saya hanya membuat sam-wi suhu Gobi Sam-sian mengalami kesulitan harus menentang orang jahat seperti Suma Kiang yang lihai sekali. Sama sekali saya tidak ingin meninggalkan Gobi Sam-sian, locianpwe, hanya saya ingin mempelajari ilmu silat setinggi mungkin agar kelak saya mampu menandingi Suma Kiang dan kawan-kawannya."

"Sejak kecil engkau digembleng oleh Gobi Sam-sian dan engkau memperoleh ilmu kepandaian dasar yang kokoh dari mereka. Karena itu engkau harus melanjutkan mematangkan dasar itu dari mereka. Belajarlah kepada mereka selama lima tahun, baru kemudian engkau boleh mencari aku dan menjadi muridku."

"Akan tetapi, locianpwe, ke mana kelak saya dapat mencari locianpwe? Dan ke mana sekarang saya harus mencari sam-wi suhu Gobi Sam-sian? Tadi mereka berada di lereng bawah sana untuk menghadang Suma Kiang dan temannya, akan tetapi melihat Suma Kiang dan temannya sudah dapat mengejar saya dan ibu ke sini, saya khawatir mereka..."

"Aku tahu di mana mereka berada. Mari, pegang tanganku dan ikut aku."

Kakek itu lalu memegang tangan kiri Han Lin dan tiba-tiba saja Han Lin merasa dirinya meluncur cepat sekali turun dari puncak dan dia seolah bergantung kepada tangan kakek itu. Melihat pohon di kanan kirinya meluncur cepat dari depan seperti hendak menabrak dirinya, Han Lin memejamkan mata dan membiarkan dirinya seolah dibawa terbang oleh kakek itu.

Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan di lereng dekat kaki bukit dan ketika kakek itu membawa Han Lin ke tengah hutan di mana terdapat sebuah lapangan rumput, mereka melihat Gobi Sarn-sian sudah berdiri saling berdekatan dan mereka siap dengan senjata masing-masing. Akan tetapi ketika mereka bertiga melihat kakek itu, ketiganya segera menyimpan senjata dan cepat berlutut di depan kaki kakek itu.

"Supek (uwa guru)!" Mereka berseru dengan suara

menunjukkan kejutan besar. Mereka mengenal uwa guru mereka ini sebagai seorang manusia setengah dewa yang sudah puluhan tahun tidak pernah tampak di dunia ramai bahkan mereka mengira bahwa supek mereka yang tidak pernah mempunyai nama ini sudah meninggal dunia. Kini tiba- tiba saja muncul menggandeng Han Lin !

"Ha, bagaimana keadaan kalian?" tanya kakek itu dan dia lalu menghampiri Ang-bin-sian, memeriksa kesehatannya dengan meraba sana-sini, lalu menghampiri It-kiam-sian, memeriksa lengannya yang buntung, kemudian memeriksa Pek-tim-sian.

"Bagus, ternyata kalian dapat mengatasi bahaya dan dalam keadaan selamat dan sehat."

"Supek, teecu bertiga bertemu dengan lawan yang amat lihai," kata Ang-bin-sian.

"Hemm, itu wajar saja. Setinggi-tingginya gunung masih ada awan yang melebihi tingginya dan di atas awan masih ada langit yang lebih tinggi. Tidak ada sesuatu yang paling tinggi di dunia ini, dan wajarlah kalau sekali waktu kita bertemu dengan orang lain yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi daripada kita. Aku akan memberikan sesuatu kepada kalian masing-masing untuk penambah pengetahuan dan kalian bertiga harus melanjutkan membimbing anak ini selama lima tahun. Setelah lewat lima tahun, bawalah dia kepadaku di puncak Thaisan dan aku yang akan menjadi gurunya."

Setelah berkata demikian, kakek katai ini tinggal bersama Gobi Sam-sian di tengah hutan itu selama sebulan dan selama itu dia mengajarkan ilmu silat kepada tiga orang murid keponakannya yang membuat mereka bertiga menjadi lebih lihai daripada sebelumnya. Bahkan It-kiam-sian yang lengan kanannya buntung itu mendapat pelajaran ilmu pedang tunggal yang dimainkan dengan tangan kiri yang kehebatannya melebihi ketika kedua lengannya masih utuh. Juga kakek yang sakti itu mengajarkan cara menghimpun tenaga sakti dari alam, menghimpun inti sari tenaga matahari dan rembulan sehingga kalau hal ini dilatih terus, dalam waktu beberapa tahun saja tenaga sini kang (tenaga sakti) tiga orang itu akan memperoleh kemajuan pesat.

Setelah sebulan memberi gemblengan kepada tiga orang murid keponakannya; Bu-beng Lo-jin (Orang Tua Tanpa Nama) itu lalu pergi meninggalkan bukit itu.

Gobi Sam-sian bersikap hati-hati Mereka maklum bahwa bukan tidak terjadi Suma Kiang akan muncul lagi karena orang jahat itu tentu masih merasa penasaran dan akan mencari Hari Lin. Maka mereka lalu mengajak Han Lin pergi dari daerah Pao-tow, pindah ke sebuah dusu yang berada di kaki Pegunungan Yin san di sebelah utara kota Tai-goan yan telah berada di sebelah dalam Tembok Besar, jauh sekali di sebelah selatan dari daerah Pao-tow. Mereka tinggal di dusun yang sunyi, hidup sebagai petani dan sama sekali tidak memperlihatkan diri sebagai orang-orang dunia persilatan.

Melihat Han Lin selalu tenggelam ke dalam kedukaan, Ang- bin-sian menghiburnya. "Han Lin, tidak ada gunanya bagimu untuk menenggelamkan diri ke dalam kedukaan karena kematian ibumu. Ingat bahwa manusia hidup sewaktu-waktu tentu akan mati juga. Saat kematian setiap orang manusia sudah ditentukan oleh Thian. Oleh karena itu tidak perlu disesali sampai berlarut-larut. Boleh saja engkau bersedih, karena tidak wajar kiranya kalau seorang anak ditinggal mati ibunya tidak bersedih, akan tetapi ingatlah bahwa kedukaan yang berlarut-larut hanya akan melemahkan semangat dan kalau awak tidak beruntung akan menimbulkan penyakit."

"Akan tetapi, suhu. Kalau teecu teringat betapa tewasnya ibu terlempar ke dalam jurang karena ulah Suma Kiang...!"

"han Lin," kata It-kiam-sian. "Engkau kehilangan ibumu, pinto kehilangan lengan kananku, hal ini sudah merupakan takdir yang tidak dapat dibantah pula. Kenyataan ini harus kita hadapi dengan tabah dan sama sekali jangan sampai kenyataan ini menimbulkan dendam yang hanya akan meracuni hati sendiri."

"Ji-suhu! Apakah suhu hendak mengatakan bahwa teecu tidak boleh mendendam kepada Suma Kiang? Apakah kelak teecu tidak boleh membalaskan dendam sakit hati karena kematian ibu ini kepadanya?"

It-kiam-sian tersenyum lebar. "Bukan tidak boleh, Han Lin.

Akan tetapi ketahuilah bahwa ada dua keadaan hati kalau engkau kelak menentang Suma Kiang Pertama, engkau menentangnya karena engkau membenci orangnya dan ingin membalas dendam. Dan kedua, engkau menentangnya karena engkau anggap bahwa dia itu orang jahat dan bahwa perbuatan jahatnya harus ditentang. Nah yang pertama itulah yang tidak benar."

"Akan tetapi, teecu belum mengerti benar. Apa bedanya antara keduanya itu Ji-suhu?"

Pek-tim-sian kini berkata, "Han Lin diantara kedua yang diceritakan ji-suhu mu itu tentu saja terdapat perbedaan besar sekali. Kalau hatimu diracuni dendam, engkau membenci orang itu dan selalu menganggapnya keliru dan harus dibasmi sehingga andaikata Suma Kiang kelak telah berubah menjadi orang baik, dendammu akan membuat engkau tetap menganggapnya sebagai orang jahat yang harus dibunuh, membuatmu menjadi kejam. Sebaliknya kalau engkau menentangnya berdasarkan kejahatannya, bukan orangnya, maka engkau akan menghadapinya sesuai dengan keadaannya pada waktu itu. Kalau dia jahat, engkau menentangnya, menentang kejahattannya. Sebaliknya kalau dia berubah menjadi manusia yang baik, engkau tidak akan menentangnya lagi dan tidak terdorong oleh nafsu dendammu."

Han Lin terdiam, tenggelam ke dalam pikirannya sendiri. Dapatkah dia bersikap seperti yang dikatakan guru-gurunya itu? Dapatkah ia memaafkan seorang seperti Suma Kiang yang pernah membuat ibunya sampai menggigit putus lidahnya sendiri,kemudian bahkan yang membuat ibunya terjatuh ke dalam jurang dan menewaskannya, juga menjadi penyebab dia dan ibunya melarikan diri dari perkampungan Mongol?

Dendamnya bertumpuk, begitu teringat akan Suma Kiang kebenciannya meluap. Andaikata kelak Suma Kiang telah menjadi seorang baik, mampukah dia melupakan semua sakit hati ini dan memaafkannya?

"Tidak mungkin!" teriaknya. "Tidak mungkin tcecu dapat melupakan apa yang pernah dilakukan Suma Kiang terhadap ibu!"

Ang-bin-sian tersenyum dan mengangguk-angguk. "Perasaan itu wajar saja; Han Lin. Manusia tidak akan dapat terbebas daripada nafsunya sendiri. Akan tetapi kalau kelak engkau sudah dewasa dan jiwamu sudah lebih matang, engkau akan mengetahui sendiri bahwa membiarkan dendam bertengger di hati sama dengan meracuni diri pribadi.

Sudahlah, sekarang engkau harus mencurahkan seluruh perhatianmu kepada latihan silat yang akan kami berikan kepadamu. Waktu lima tahun bukan waktu yang panjang kalau engkau hendak melanjutkan pelajaran silatmu kepada Toa-supek (Uwa Guru Pertama). Beliau adalah seorang sakti dan untuk dapat menerima pelajarannya, engkau harus memiliki dasar yang kuat. Mudah-mudahan kami akan berhasil mempersiapkan dirimu untuk menerima pelajaran dari su pek."

Demikianlah, semenjak hari itu, Han Lin berlatih silat dengan amat tekunnya, diajarkan oleh tiga orang tua itu tanpa ada seorang pun di dusun itu mengetahuinya. Han Lin memang berbakat sekali dan diapun patuh sehingga apapun yang diajarkan ketiga orang gurunya dapat dikuasainya dengan cepat dan baik sehingga Gobi Sam-sian menjadi girang dan puas sekali.

Orang-orang bijaksana jaman dahulu mengatakan bahwa: Kalau Tuhan menghendaki, apapun dapat terjadi. Dan kalau Tuhan tidak menghendaki, apapun dapat terjadi sebaliknya.

Kata-kata ini bukan sekadar pendapat belaka, melainkan diucapkan berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup.

Banyak sekali terjadi hal-hal yang tidak terjangn kau oleh hati akal pikiran manusia tidak terjangkau oleh perhitungan manusia. Banyak terjadi perubahan musim yang tidak sesuai dengan perhitungan manusia. Banyak sekali terjadi hal-hal yang berlawanan dengan perhitungan dan perkiraan, hati akal pikiran manusia. Melihat hal-hal ini terjadi, orang-orang bijaksana lalu mengatakan bahwa itulah kehendak Thian kehendak Tuhan yang tidak dapat diubah oleh siapapun juga. Tuhan Maha Kuasa. Jalan yang ditempuh kekuasaan Tuhan ka dang tidak terjangkau oleh hati akal pikiran manusia. Bencana alam terjadi di mana-mana, musim-musim berubah dari perhitungan sehingga mengakibatkan bencana besar. Musim kering berkepanjangan, musim hujan berlebihan, semua itu mendatangkan bencana bagi manusia, merenggut banyak nyawa dan harta benda.

Dalam hal kematian seseorangpun, tidak pernah kepandaian manusia dapat menentukan. Kalau Tuhan belum menghendaki kita mati, biar kita dihujani ribuan batang anak panah sekalipun, kita akan mampu lolos dan tidak akan mati. Sebaliknya kalau Tuhan sudah menghendaki kita mati, biar bersembunyi di lubang semut, maut akan tetap datang menjemput. Seorang tentara yang puluhan tahun menjadi tentara, hidup di antara kelebatan pedang dan hujan anak panah, nyawanya terancam setiap saat oleh maut, akan tetap hidup karena Tuhan belum menghendaki dia mati. Akan tetapi setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pulang kampung, gigitan seekor nyamuk saja sudah cukup untuk membuat dia sakit dan mati!

Mujijat terjadi setiap saat dan di manapun. Namun kita tidak percaya karena kita menganggapnya tidak masuk di akal, sampai kita menyaksikaan sendiri peristiwa kemujijatan itu dan kita mengangguk-angguk mengakui bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi yang mengatur segalanya sehingga kadang-kadang tidak masuk dalam perhitungan akal pikiran kita.

Orang menyebut kemujijatan yang ter jadi itu sebagai Nasib. Namun, betapapun juga, orang tidak boleh meninggalkan Ikhtiar, walaupun ikhtiar itu tidak menentukan akibatnya. Orang sakit harus berikhtiar berobat, walaupun tidak dapat dipastikan bahwa ikhtiar ini akan berhasil. Akan tetapi patut kita ketahui bahwa tangan Tuhan menyentuh melalui ikhtiar kita ini! Kalau Tuhan hendak menolong kita dari penyakit, mungkin saja pertolongan itu terjadi melalui ikhtiar pengobatan kita. Walaupun kalau Tuhan menghendaki kematian kita, segala macam bentuk ikhtiar itu akan sia-sia dan tidak mungkin dapat mengubah kehendakNya. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki kita sembuh, mungkin dengan secawan air putih saja penyakit kita akan dapat disembuhkan!

Bagi pendapat manusia pada umumnya, Chai Li yang terjatuh ke dalam jurang yang ternganga itu pasti akan mati! Agaknya tidak terdapat sedikit pun kemungkinan bagi wanita itu untuk lolos dari maut. Namun, apabila Tuhan Menghendaki, ada saja jalannya untuk dapat lolos dari cengkeraman maut. Ketika tubuh itu mula-mula meluncur jatuh, Chai Li masih sadar dan ia menjerit karena merasa ngeri mendapatkan dirinya melayang ke bawah seperti seekor burung. Akan tetapi segera jeritannya terhenti dan ia pingsan ketika tubuhnya melayang tanpa daya dekat tebing.

Tiba-tiba tampak seseorang di tengah tebing, di mana terdapat celah-celah seperti guha. Orang Ini melihat Chai LI yang melayang jatuh dan cepat dia meloloskan ikat pinggangnya yang berwarna putih dan terbuat dari kain.

Dengan cekatan, dia lalu menggerakkan tangan kanannya yang memegang ujung sabuk putih itu. Sinar meluncur ke depan dan tepat pada saat tubuh Chai Li meluncur ke depannya, sabuk itu telah membelit pinggang Chai Li dan menarik tubuh yang melayang jatuh itu ke arahnya. Dengan tangan kiri dia menyambut tubuh itu dan mengerahkan tenaga sin-kangnya sehingga dia mampu menahan tenaga luncuran tubuh wanita itu. Tubuh Chai Li terdekap dalam rangkulan lengan kirinya yang; kuat.

Ketika sadar dari pingsannya, Chai Li mendapatkan dirinya rebah di atas tanah bertilamkan rumput kering dan tak jauh| dari tempat ia rebah, tampak seorang laki-laki duduk di atas batu dan memandangnya sambil tersenyum ramah. Laki-laki itu tampaknya berusia tiga puluhan tahun, pakaiannya bersih dan mewah seperti seorang sasterawan yang kaya.

Rambutnya digelung ke atas dan dijepit dengan penjepit rambut terbuat dari emas. Wajahnya yang bundar itu tampan sekali dengan sepasang mata yang bersinar dan senyumnya selalu merekah di bibirnya. Kulit mukanya putih. Seorang laki- laki yang tampan dan bersikap lembut.

Chai Li terheran-heran melihat ia rebah di situ. Teringatlah ia betapa ia telah terjatuh ke dalam jutang! Tentu tubuhnya telah terbanting hancur di dasar jurang. Akan tetapi mengapa ia masin hidup, tubuhnya masih utuh dan rebah di tempat ini? la bangkit duduk dan mengeluh lirih karena pinggangnya terasa nyeri. Sabuk yang tadi melibat pinggangnya dan menahannya dari kejatuhan menbuat pinggangnya terasa nyeri. Setelah ia duduk, barulah tampak olehnya tebing jurang menganga di depannya dan mengertilah ia bahwa ia telah ditolong oleh orang ini, walaupun ia tidak tahu bagaimana orang itu dapat menolongnya dari kejatuhan.

Mendengar Chai Li mengeluh dan melihat ia bangkit duduk, orang itupun bangkit dari batu yang didudukinya. Setelah dia bangkit baru tampak tubuhnya tinggi tegap dan tegak yang membuatnya tampak gagah di samping ketampanannya. Dia menghampiri dan bertanya, "Apakah ada yang terasa nyeri, nona?" Suaranya tenang lembut dan ramah.

Chai Li menoleh kepadanya dan wanita ini lalu menulis dengan telunjuk kanannya ke atas tanah. Ketika merasa betapa tanah itu keras, ia lalu mengambil sebuah batu yang runcing dan menulis dengan batu itu.

"Aku bukan nona, melainkan seorang nyonya dan pinggangku terasa nyeri. Apa kah engkau yang menyelamatkanku dari kejatuhan tadi?"

Laki-laki itu tercengang. Tidak menduga sama sekali bahwa wanita di depannya itu gagu, akan tetapi tulisannya demikian indah, jelas bukan tulisan wanita dusun biasa! Masih belum yakin apakah wanita itu tidak gagu dan tuli, dia mengangguk dan berkata, "Benar, aku yang telah menolongmu."

Mendengar ini, Chai Li lalu menjatuh kan dirinya berlutut di depan pria itu. Pria itu cepat-cepat memegang kedua pundak Chai Li dan membangunkannya dan merasakan dengan jari- jari tangannya betapa lembut dan halus kulit di bawah baju itu. Dia memandang dan mengamati. Wajah itu amatlah cantiknya dan memiliki daya tarik yang amat kuat. Terutama mata itu. Sepasang mata yang bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora!

"Siapakah suamimu dan engkau tinggal di mana, nyonya?" Chai Li menulis lagi di atas tanah.

"Saya..... suami saya meninggalkan saya... dan saya tinggal bersama seorang anak saya di.... di dusun "

Melihat betapa Chai Li menulis dengan ragu-ragu, pria itu menjadi semakin tertarik.

"Siapa namamu, nyonya? Dan siapa pula nama suamimu yang meninggalkanmu itu?" tanyanya.

Chai Li menjadi rikuh dan bingung. Tidak mungkin ia mengaku bahwa suaminya adalah Kaisar Cheng Tung! Ia tidak mengenal pria ini. Biarpun pria ini sudah membuktikan bahwa dia seorang baik-baik yang telah menyelamatkannya, akan tetapi ia tidak boleh mempercayai begitu saja dan menceritakan kebenaran tentang dirinya, la lalu menulis lagi.

"Nama saya Chai Li dan suami saya bernama Han Tung. In- kong (tuan penolong), tolonglah saya untuk naik ke atas tebing dan untuk mencari anak saya."

Pria itu tersenyum. "Jalan menuju ke puncak tebing tidak mudah, nyonya. Untuk itu engkau harus kupondong!"

Mendengar ini, wajah Chai Li berubah kemerahan dan hal ini menambah kecantikannya yang aseli. ia menulis lagi, "Terserah kepada in-kong dan sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih dan maaf bahwa saya telah merepotkan in-kong."

"Ha-ha-ha, terlalu banyak terima kasih kau ucapkan, aku menghendaki terima kasih dalam perbuatan nyata! Nyonya, jawab saja pertanyaanku dengan geleng atau angguk. Apakah engkau akan menyatakan terima kasihmu dengan mentaati semua kata-kataku?"

Chai Li mengangguk. "Engkau akan menaati semua kata-kataku, menuruti semua permintaanku tanpa membantah dan selanjutnya menggantungkan hidupmu kepadaku?"

Chai Li berpikir agak lama akan tetapi kemudian iapun mengangguk, ia sudah terlanjur percaya kepada laki-laki yang tampaknya lembut, baik hati dan ramah sekali itu.

"Bagus kalau begitu, kuperintahkan engkau untuk merebahkan dirimu di atas tanah, memejamkan kedua matamu dan tertidurlah!" Dalam suara itu terkandung wibawa yang amat kuat. Chai Li memandang heran, akan tetapi ia segera melakukan apa yang dipinta orang itu. Ia rebah telentang dan memejamkan kedua matanya.

"Engkau tidak dapat menahan kantukmu, engkau tertidur tidur pulas sekali"

Pria itu menggerakkan kedua telapak tangannya di atas muka dan tubuh Chai Li, seperti membelai dan segera pernapasan Chai Li menjadi halus karena ia sudah tertidur pulas.

"Chai Li, setelah nanti engkau sadar dari tidurmu, ingatlah selalu bahwa aku ini adalah penolongmu, penyelamat nyawa mu, kekasihmu juga suamimu yang mencintamu dan kaucinta. Engkau akan melakukan apa saja yang kuperintahkan kepadamu. Aku juga menjadi gurumu dan engkau menjadi kekasih, isteri dan juga pembantuku yang setia." Berulang- ulang pria itu mengeluarkan kata-kata yang sungguh aneh ini, ada tujuh kali berulang-ulang dan Chai Li hanya mengangguk- anggukkan kepala tanda mengerti dan setuju.

Setelah melihat betapa Chai Li sudah mengerti betul dan sudah tunduk dalam pengaruh sihirnya, pria itu lalu berkata! lagi, "Ingat, aku adalah suamimu dan kekasihmu. Engkau amat mencinta dan setia kepadaku, aku suamimu yang bernama Phoa Li Seng. Engkau akan siap mati untuk membelaku. Mengertikah engkau?" Chai Li mengangguk-angguk lagi. Ia| telah benar-benar berada di bawah pengaruh sihir yang dilakukan oleh pria iti dengan amat kuatnya.

"Sekarang bangunlah dari tidurmu dan laksanakan semua kata-kataku!"

Chai Li membuka kedua matanya, berkedip-kedip, lalu bertemu pandang denga pria yang mengaku bernama Phoa Li Seng itu. Dan Chai Li memandang mesra lalu tersenyum dan ketika Phoa Li Sen menjulurkan tangan membantunya bangkit duduk, lapm memegang tangan itu.

Phoa Li Seng mendekatkan mukanya dan mencium pipi Chai Li. Wanita itu menerima ciuman bahkan membalasnya Chai Li telah benar-benar jatuh ke dalam pengaruh sihir pria itu.

"Sekarang kulatih engkau menerima hawa sakti dan mengendalikannya." kata Phoa Li Seng yang lalu duduk bersila di depan Chai Li yang disuruhnya duduk bersila pula.

"Luruskan kedua lenganmu," perintahnya. Chai Li menurut tanpa ragu. Pria itu lalu menyambut dengan kedua tangan nya sehingga dua pasang telapak tangan bertemu.

"Terima saja, jangan melawan!" katanya dan diapun mengerahkan sin-kangnya. Tenagd yang hangat menjalar dari kedua telapak tangannya memasuki tubuh Chai li melalui telapak tangan pula. Chai Li merasakan ini dan dengan patuh ia menerima tanpa meronta atau melawan.

"Sekarang coba kerahkan tenaga dari bawah pusar dan kendalikan hawa hangat itu di seluruh tubuhmu."

Chai Li menaati. Biarpun pada mulanya ia mengalami kesukaran untuk menguasai hawa liangat itu, namun lambat laun ia dapat pula menguasainya dan mengendalikannya. "Bagus! Terus kendalikan, dorong keseluruh bagian tubuh sampai ujung jari kaki dan tanganmu." kata Phoa Li Seng sambil perlahan-lahan melepaskan kedua tangannya.

Sejam lamanya Chai Li berlatih. "Cukup, tarik napas dalam- dalam lalu turunkan tanganmu. Kelak akan kuajarkan engkau bagaimana untuk menghimpun hawa murni untuk memperkuat tenaga saktimu." Chui Li tersenyum dan mengangguk-angguk dengan wajah memperlihat kan kegembiraan. Hatinya memang merasa senang sekali kepada pria ini, dan ia suka diajar ilmu silat.

Phoa Li Seng merangkulnya dan membelainya, menciumnya. "Kelak engkau akan menjadi seorang wanita sakti, menjadi pembantu utamaku, Chai Li." Dan wanita itu merebahkan kepalanya di atas dada pria itu dengan wajah bahagia!

Tak lama kemudian Phoa Li Seng memondong tubuh Chai Li dan dibawanya mendaki tebing itu, naik ke atas. Chai Li memejamkan matanya, ngeri melihat ke bawah karena pendakian tebing yang amat terjal itu memang berbahaya sekali.

Kalau orang tidak memiliki ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang lihai, tidak mungkin dapat mendaki tebing seperti itu, apalagi dengan memondong tubuh seorang wanita dewasa! Dari kenyataan ini saja mudah diketahui bahwa Phoa Li Seng adalah seorang yang memiliki ilrnu kepandaian tinggi.

Akhirnya Phoa Li Seng dapat sampai di puncak yang berbatu-batu. Di situ terdapat hanya sebatang pohon dan dia melepaskan tubuh Chai Li di bawah pohon itu. "Mengasolah di sini Sebentar, kita nanti akan melakukan perjalanan jauh.

Akupun ingin mengaso," katanya dan dia pun mengambil tempat duduk di atas sebuah batu datar, bersila dan duduk melakukan siu-lian (samadhi). Chai Li yang merasa tubuhnya lelah sekali setelah tadi berlatih sin-kang, menyandarkan kepalanya di batang pohon lalu memejamkan mata mencoba untuk tidur, la sama sekali tidak ingat lagi kepada Han Lin, tidak ingat akan semua hal yang telah lalu. Yang memenuhi ingatannya hanyalah Phoa Li Seng yang dianggapnya sebagai kekasih, suami dan juga guru yang harus ditaatinya, disayang dan mencintainya!

Tiba-tiba terdengar suara orang yang lembut. "Bagus! Kiranya engkau bersenang-senang dengan seorang wanita cantik di sini!" Yang bicara itu adalah seorang laki-laki tinggi besar.

Orang kedua, seorang wanita cantik juga berkata mencemooh, "Orang tak tahu diri! Orang lain sedang repot membutuhkan bantuan, engkau malah enak-enak dan bersenang-senang dengan seorang wanita di sini. Rekan macam apa engkau ini?"

Phoa Li Seng membuka matanya dan memandang kepada dua orang itu sambil tersenyum. "Toa Ok dan Sani Ok, jangan salah mengerti. Wanita ini adalah kekasihku, isteriku dan juga muridku! Ada urusan apakah kalian berdua marah-marah kepadaku?"

"Ji Ok, kami bertemu dengan lawan yang amat tangguh. Kalau engkau muncul tadi, setidaknya dengan bertiga kami akan mampu melawannya."

Phoa Li Seng, atau lebih terkenal dengan julukan Ji Ok (si Jahat Kedua) tertegun dan terkejut mendengar ada orang yang mampu membuat dua orang rekannya itu kewalahan. Dia menoleh kepada Toa Ok dan terbelalak melihat Ton Ok menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam meluncur dari tangan kiri itu ke arah Chai Li yang masih bersandar di pohon.

"Crottt !!" Darah mengalir di leher yang berkulit putih

mulus itu.

Ji Ok melompat turun dari atas batunya dan tangannya sudah melolos sabuk sutera putihnya. "Toa Ok, berani engkau mengganggu kekasihku, isteriku dan juga muridku?" Sekali tangannya bergerak, sabuk sutera putih itu meluncur dan menyerang dengan totokan ke arah tubuh Toa Ok. Sabuk sutera putih ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, kaiena di tangan Ji Ok, sabuk yang lunak dan lemas itu dapat berubah menjadi kaku menegang sehingga dapat dipakai menotok jalan darah yang mematikan.

Toa Ok maklum akan bahayanya serangan sabuk itu, maka dia melompat kesamping menghindarkan diri dan berseru marah, "Ji Ok, cinta telah membuat matamu menjadi buta!

Lihat dulu baik-baik keadaan kekasihmu!"

Ji Ok menarik sabuk suteranya dan sekali melompat dia sudah berada dekat pohon di mana Chai Li masih bersandar sambil tertidur. Dia melihat dengan mata terbelalak kepada seekor ular yang berada di pohon itu, tepat di atas Chai Li dan moncong ular itu berada dekat sekali dengan lehernya. Kepala ular itu kini meneteskan darah dan sudah ditembusi se-batang paku yang menancap di pohon. Kiranya darah yang mengalir di leher Chai Li itu adalah darah ular itu.

"Toa Ok, kau maafkanlah aku!" kat Ji Ok dengan muka berubah merah. Tadi nya dia mengira bahwa Toa Ok membunuh Chai Li.

"Apakah aku sudah gila membunuh wanita yang menjadi isterimu?" kata Toa Ok mengejek, sedangkan Sam Ok tertawa- tawa cekikikan.

Agaknya kekuasaan sihir masih amat menguasainya dan membuatnya seperti orang mabok sehingga dalam keadaan seperti itu Chai Li masih saja tertidur pulas! Ji Ok lalu menggunakan daun membersihkan darah dari lehernya, kemudian membangunkan Chai Li.

"Bangunlah, Chai Li."

Chai Li terbangun dan ia memandang kepada Toa Ok dan Sam Ok dengan alis berkerut karena ia tidak mengenal dua orang itu. la menengok dan memandang kepada Ji Ok dengan mata mengandung pertanyaan.

"Perkenalkan, Chai Li. Ini adalah Toa Ok dan yang ini adalah Sam Ok. Mereka berdua ini adalah rekan-rekan dan sahabat-sahabatku, juga sahabatmu. Aku sendiri disebut Ji Ok."

Karena pada dasarnya Chai Li memang wanita sopan, maka setelah diperkenalkan, ia lalu memberi hormat dan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Toa Ok dan Sam Ok, ketahuilah bahwa Chai Li ini tidak dapat bicara, akan tetapi ia pandai menuliskan kata-kata yang akan ia ucapkan. Telah kuperiksa dan ternyata lidahnya tinggal sepotong, Entah siapa yang telah memotong lidahnya sehingga ia tidak bisa bicara, ia belum sempat menceritakan kepadaku."

"Ji Ok, kalau engkau mengambilnya sebagai isteri dan murid, engkau harus mengetahui benar riwayatnya agar kelak tidak menyesal."

Ji Ok mengangguk angguk. "Kata-katamu itu benar juga, Toa Ok." Setelah berkata demikian, dia memegang pundak Chai Li dengan sikap lembut dan mesra, dan berkata dengan halus namun mengandung wibawa, "Chai Li, sekarang ceritakanlah semuanya. Untuk itu, rebahlah di atas tanah ini dan tidurlah."

Chai Li menurut saja. la merebahkan dirinya telentang dan memejamkan kedua matanya. "Sekarang engkau tertidur, tidur yang nyenyak, tubuhmu terasa lelah sekali dan membutuhkan tidur. Tidurlah yang pulas dan nikmat " Ji Ok

menggerak-gerakkan kedua tangannya dekat wajah dan tubuh Chai Li dan dalam waktu singkat saja Chai Li telah tertidur nyenyak dan napasnya menjadi halus. "Chai L i, sekarang engkau ingat akan semua riwayatmu, sejak engkau masih gadis. Dari mana engkau berasal, siapa pula yang memotong lidahmu."

"Hi-hi-hi-hik, aku tahu siapa ia!" Tiba-tiba Sam Ok berkata, sementara itu Chai Li dalam tidurnya menangis terisak-isak.

"Sarn Ok, biarkan ia bercerita sendiri!" kata Toa Ok menegur.

"Chai Li, ingat di sini ada aku, kekasihmu, suamimu, gurumu dan penolongmu. Engkau ingat semua peristiwa itu dan dengan singkat tuliskanlah semua itu agar aku mengerti. Bangkit dan tuliskanlah semua riwayatmu!" perintah Ji Ok.

Masih dalam keadaan trrsihir Chai Li bangkit duduk, kemudian menerima sepotong batu runcing dari tangan Ji Ok dan mulailah ia menulis.. Tulisannya cepat namun indah dan cukup jelas, dibaca oleh tiga orang itu.

"Aku bernama Chai Li, keponakan Kapokai Kham kepala suku Mongol. Aku diperisteri Kaisar Cheng Tung ketika dia menjadi tawanan paman. Akan tetapi dia meninggalkan aku, kembali ke selatan. ketika aku mengandung, dengan janji akan menjemputku kelak. Anakku terlahir bernama Cheng Lin dan kuberi nama panggilan Han Lin agar tidak ada yang tahu bahwa dia keturunan Kaisar Ceng-tiauw (kerajaan Beng). Lalu muncul si jahat Suma Kiang. Dia menculik aku dan Han Lin, membawa kami pergi meninggalkan perkampungan Mongol. Dia hendak memperkosaku dan aku menggigit lidahku sendiri untuk membunuh diri. Kami ditolong oleh Gobi Sam-sian dan Han Lin menjadi muridnya dan kami pindah tinggal di kota Pao-tow. Akan tetapi Suma Kiang yang jahat dapat mengejar kami beberapa tahun kemudian dan dia mengejar-ngejar kami. Aku dan anakku melarikan diri sampai di tepi jurang.

Suma Kiang mendesakku dan hendak menangkapku, maka aku lalu meloncat terjun ke dalam jurang " Chai Li

berhenti menulis dan menangis. Ji Ok memegang kedua pundak Chai Li dan berkata lembut, "Akan tetapi aku telah menolongmu. Tidurlah kembali, Chai Li." Seperti binatang peliharaan yang jinak sekali Chai Li menurut dan tidur telentang, seketika tidur nyenyak.

"Sekarang dengar baik-baik, Chai Li. Setelah engkau bangun dari tidurmu, engkau tidak ingat apa-apa lagi kecuali bahwa aku adalah penolongmu, kekasihmu dan suamimu, juga gurumu. Engkau hanya menaati semua kata dan perintahku." Dia mengulang ucapan ini sampai tujuh kali, setiap kali menambah tekanan dalam suaranya. Kemudian dia membiarkan wanita itu tidur pulas.

"Nah, sekarang ceritakan bagaimana engkau bisa tahu siapa ia!" kata Ji Ok sambil memandang kepada Sam Ok.

Wanita ini cekikikan dan kalau ia tertawa seperti itu, keadaannya sungguh menyeramkan, seperti bukan manusia lagi. "Aku ditemui Suma Kiang dan diajak untuk menandingi Gobi Sam-sian, untuk merampas ibu dan anak. Dia bilang padaku bahwa ibu itu adalah seorang puteri Mongol yang hendak diperisteri, dan anak itu adalah seorang pangeran, putera Kaisar kerajaan Beng. Untuk bantuan itu, dia menjanjikan untuk menyerahkan bocah itu kepadaku. Bocah itu sudah berada di tanganku, akan tetapi celaka sekali, muncul Bu-beng Lo-jin itu yang merampasnya dari tangan kami berdua. Kami menanti-nantimu untuk membantu, akan tetapi engkau tidak kunjung muncul, Ji Ok!"

"Hemm, siapakah Bu-beng Lo-jin itu?" tanya Ji Ok penasaran kepada Toa Ok. Kalau ada orang mampu mengalahkan pengeroyokan Toa Ok dan Sam Ok, orang itu tentu memiliki kesaktian luar biasa sekali. Mengalahkan Toa Ok dan Sam Ok saja sudah merupakan suatu hal yang amat sukar, apalagi mengalahkan pengeroyokan mereka berdua! Siapakah tokoh di dunia ini yang sanggup melakukan hal ini?

"Kami juga tidak tahu dan tidak mengenalnya. Dia merupakan tokoh sakti yang sama sekali tidak terkenal, mungkin seorang tokoh yang selama ini bertapa di pegunungan sebelah utara. Akan tetapi ilmu kepandaiannya sungguh luar biasa," kata Toa Ok.

"Aha, baru sekarang aku mendengar Toa Ok menyatakan rasa jerihnya terhadap seseorang!" kata Ji Ok sambil tertawa mengejek.

"Tidak perlu saling mengejek dan main-main. Sekali ini aku bersungguh-sungguh. Kita bertiga tidak mendapat kemajuan selama ini karena kita selalu mengandalkan kerja sama.

Karena itu, karena kini muncul lawan yang amat tangguhnya, bahkan Suma Kiang itupun merupakan lawan yang tangguh sekali, sebaiknya kita berpencar untuk mencari tambahan pengetahuan masing-masing. Setahun sekali kita mengadakan pertemuan bersama untuk memperlihatkan kemajuan masing- masing."

"Bagus!" Sam Ok tertawa genit. "Pertemuan itu sekaligus untuk menentukan siapa yang berhak disebut Toa Ok, siapa yang menjadi Ji Ok dan Sam Ok."

"Ha-ha-ha, Sam Ok agaknya sudah rindu sekali untuk menjadi Toa Ok. Agak nya ilmumu Ban tok-ci kini sudah maju pesat karena banyak darah dan sumsum anak remaja yang kauhisap!"

Sam Ok tertawa genit. "Untuk menjadi Toa Ok, aku harus lebih dulu menjadi Ji Ok, dan setahun kemudian engkaulah yang menjadi Sam Ok, Phoa Li Seng!"

"Ha-ha-ha, kita sama lihat saja! Dalam setahun ini, aku juga tidak akan tinggal diam untuk memajukan ilmu kepandaianku." kata Ji Ok.

"Sudahlah jangan bertengkar. Kita tentukan waktunya.

Setahun kemudian pada bulan dan hari seperti ini kita mengadakan pertemuan di tepi Huang-ho, di luar kota Pao- tow. Setuju?" "Setuju, dan bersiap-siaplah kalian, karena kalau aku tidak dapat menjadi Toa Ok, setidaknya menjadi Ji Ok. Sudahi bosan aku menjadi orang nomor tiga, ha-ha-ha!" Sambil tertawa-tawa Sam Ok menggerakkan tubuhnya dan ia sudah melesat cepat sekali lenyap dari situ. Diam-diam Ji Ok terkejut dan kagum. Kalau dia tidak berhati-hati dan memajukan ilmunya, bukan tidak boleh jadi kedudukan Ji Ok akan direbut wanita itu.

"Ji Ok, kalau engkau hanya tenggelam dalam pelukan kekasihmu, setahun kemudian engkau akan menjadi Sam Ok dan kedudukanmu akan digeser oleh Ban-tok-ci! Ha-ha-ha!" Setelah berkata demikian, tubuh Toa Ok berkelebat lenyap dari situ sedangkan suara tawanya masih bergema.

Ji Ok tersenyum, lalu menghela napas dan menghampiri Chai Li. "Chai Li, bangunlah. Engkau tidak akan menghalangi kemajuanku, bahkan engkau akan menjadi pembantuku yang baik dan kita bersama akan mempelajari ilmu-ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang dikuasai Sam Ok, bahkan Toa Ok. Marilah, kekasihku, kita pergi dari sini." Dia menggandeng tangan Chai Li dan wanita itu tampak gembira, tersenyum girang dan mereka pergi sambil bergandeng tangan seperti dua orang kekasih yang saling mencinta.

Pegunungan Thai-san adalah sebuah pegunungan yang luas dan memiliki banyak gunung yang puncaknya tinggi menembus awan. Juga pegunungan itu kaya akan bukit-bukit dan hutan-hutan. Para pemburu binatang hanya berani berburu binatang di bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi.

Banyak puncak yang belum pernah dikunjungi manusia karena merupakan daerah berbahaya dan amat sukarlah untuk mendaki puncak itu.

Akan tetapi pada suatu pagi yang cerah, di sebuah diantara puncak-puncak yang menembus awan itu, tampak sinar bergulung-gulung dibarengi suara mendesing-desing. Kalau orang melihat ini, dia tentu akan merasa heran sekali dan tidak tahu sinar apa itu yang bergulung-gulung karena selain sinar bergulung itu tidak tampak apa-apa. Sinar yang mengeluarkan suara mendesing-desing itu berwarna kehijauan dan ketika sinar itu menyambar-nyambar ke bawah sebatang pohon, tampak daun-daun pohon berguguran. Bukan hanya daun kuning, juga tampak daun hijau ikut berguguran.

Namun gerakan sinar itu makin melambat dan mulai tampaklah kaki tangan orang diantara gulungan sinar itu, kemudian bahkan tampak bahwa gulungan sinar kehijauan itu adalah sebatang pedang yang dimainkan secara hebat sekali oleh seorang anak perempuan. Anak itu masih remaja, usianya kurang lebih tiga belas tahun. Sungguh menakjubkan sekali betapa seorang anak berusia tiga belas tahun dapat memainkan ilmu silat pedang sedemikian hebatnya!

Kalau orang mengetahui siapa yang memberi pelajaran ilmu silat kepada si gadis cilik ini, tentu orang tidak merasa heran lagi melihat bahwa ia masih begitu muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebat. Gurunya adalah ayahnya sendiri dan ayahnya itu bukan lain adalah Huang-ho Sin-liong Suma Kiang!

Bagaimana pula ini? Bagaimana Suma Kiang yang kita ketahui hidup menyendiri itu memiliki seorang puteri?

Sebetulnya bukan anak kandmgnya sendiri dan peristiwanya terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.

Ketika itu, Suma Kiang sedang dalam perjalanan dari kota raja menuju ke utara untuk mendatangi perkampungan orang Mongol yang dikepalai Kapokai Khan, mencari keturunan Kaisar Cheng Tung dan membunuhnya seperti ditugaskan kepadanya oleh Pangeran Cheng Boan.

Dalan perjalanan itu, pada suatu pagi di luar sebuah dusun, Suma Kiang melihat seorang wanita muda bersama seorang anak perempuannya yang berusia tiga tahun sedang mandi berdua di anak sungai yang airnya jernih. Melihat wanita yang usianya dua puluh tahun lebih itu mandi, hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, jantung Suma Kiang bergejolak dan bangkitlah nafsu berahinya.

Wanita muda itu memang cantik dun memiliki tubuh yang padat menggairahkan.