-->

Suling Pusaka Kemala Jilid 02

Jilid II

DENGAN sekali loncatan, tubuhnya sudah tiba di dekat jendela. Tanpa mengeluarkan bunyi. Dia mengintai dari balik jendela. Dilihatnya bayangan beberapa orang tertangkap sinar lampu yang tergantung di luar rumah. Sebagai seorang datuk persilatan yang banyak pengalaman dia maklum bahwa ada bahaya mengancam dirinya. Dia tidak dapat menduga siapa orang-orang itu dan apa maunya, namun dia sudah yakin bahwa mereka bukan datang dengan niat baik! Orang yang datang dengan niat baik tidak seperti itu.

Karena ingin mengetahui lebih banyak, dia melangkah ke tengah pondok dan mengenjot tubuhnya ke atas, melayang ke atas dan berpegang pada tihang melintang di bawah atap.

Perlahan-lahan dibukanya genteng dan dia mengintai keluar. Kini dia dapat melihat lebih jelas lagi. Ada sedikitnya tiga puluh orang bergerak perlahan-lahan mengepung rumah itu! Dan diapun melihat bahwa diantara mereka terdapat orang- orang yang berkepandaian tinggi, dilihat dari gerakan mereka yang ringan dan gesit. Tadinya dia merasa heran bukan main. Dia adalah orang yang dipercaya oleh Kapokai Khan untuk "mengusir kesialan" Sang Puteri Chai Li dan puteranya.

Mengapa sekarang dia dikepung? Siapakah mereka itu? Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan Kapokai Khan sendiri di bawah sinar lampu dan mendadak dia menjadi waspada dan juga terkejut.

Pasti ada sesuatu yang keliru, pikirnya. Kalau Kapokai Khan sendiri yang turun tangan ikut mengepungnya, hal itu hanya dapat mempunyai satu arti saja, ialah bahwa rahasianya telah diketahui orang! Orang-orang Mongol itu telah mengetahui bahwa dia adalah utusar kerajaan Beng untuk membunuh sang puteri dan anaknya! Jawabannya pasti hanya itu, tidak dapat lain lagi.

Akan tetapi dia dapat berlagak bodoh. Maka, dengan

,tongkat ular hitam di tangan, dia membuka daun pintu dan memandang keluar. Suaranya terdengar lantang ketika dia berseru ke arah kegelapan yang mengelilingi pondok itu.

"Siapa yang berdatangan dari luar? Ada urusan apakah dengan aku yang sedang sibuk? Apakah Yang Mulia Kapokai Khan mengutus kalian untuk bicara denganku?"

Terdengar gerakan orang dan begitu tampak bayangan banyak orang berkelebat, di depan Suma Kiang telah berdiri Kapokai Khan sendiri bersama seorang laki-laki tinggi besar yang berusia lima puluh tahun, tampak gagah dan tangannya memegang sebatang ruyung yang besar dan kelihatan berat. Di belakang kedua orang ini tampak banyak sekali orang, ada tiga puluh orang lebih yang semuanya memegang senjata terhunus dan dengan sikap mengancam. Juga di bagian belakang ada beberapa orang yang memegang obor hesar yang dinyalakan sehingga keadaan disitu menjadi terang dan menegangkan karena obor-obor itu nyalanya digerakk angin membentuk bayang-bayang seol tempat itu dikepung serombongan raksasa hitam.

"Suma Kiang, manusia palsu! Kami sudah tahu bahwa engkau sesungguhnya adalah utusan kerajaan Beng untuk membunuh keponakanku Chai Li dan puteranya!"

"Yang Mulia Khan !"

"Tidak perlu menyangkal lagi. Keterangan yang kami peroleh sudah cukup. Engkau diutus oleh Pangeran Cheng Boan untuk membunuh keponakannya agar kelak keturunan Kaisar Cheng Tung tidak dapat menjadi Kaisar di kerajaan Beng!"

Suma Kiang menelan ludah dan diam diam dia harus memuji kecerdikan kepala suku itu. Bagaimana mereka sudah mendapat keterangan sedemikian cepatnya?

Melihat Suma Kian diam dan seperti orang terkejut dan terbelalak, Kapok Khan berseru lagi, "Engkau adalah seorang datuk dari Lembah Huang-ho yang berjuluk Huang-ho Sin- liong. Sekarang tidak perlu banyak cakap lagi, cepat engkau menyerahkan diri untuk kami tangkap. Engkau sudah terkepung!"

Tiba-tiba Suma Kiang tertawa bergelak, mata sipitnya mengeluarkan sinar berapi. "Ha-ha-ha-ha! Hendak menangkap Huang-ho Sin-liong? Tidak begitu mudah, Kapokai Khan!"

Kapokai Khan menggerakkan pedangnya dan berseru kepada Sabuthai yang berada di sebelah kirinya. "Panglima babuthai, tangkap dia!"

Sabuthai sejak tadi sudah siap. Begitu menerima perintah, dia mengeluarkan bentakan nyaring sekali dan ruyungnya menyambar dahsyat ke arah Suma Kiang.

"Haaaaiiiikkk I" Ruyung menyambar mengeluarkan suara

angin bersiutan saking cepat dan kuatnya. Namun dengan gerakan mudah Suma Kiang menghindarkan diri dengan menarik kaki ke kanan dan tubuhnya condong ke kanan. Dia melihat bahwa gerakan serangan orang tinggi besar ini

cukup hebat dan dari sambaran ruyung itu saja tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki tenaga besar. Akan tetapi, datuk Lembah Sung Huang-ho ini sedikitpun tidak merasa takut. Selama puluhan tahun bertualang dia sudah bertemu dan bertanding deng ratusan orang dari berbagai tingkat maka sebentar saja dia dapat mengukur kehebatan lawan dan mengetahui bahwa tingkat kepandaian dan kekuatan Sabuthai belum membahayakan dirinya. Yang berbahaya justeru pengepungan itu. Dia berada di sarang naga. Baru tiga puluh lebih orang itu saja mungkin dia masih mampu menandinginya, akan tetapi dia tahu bahwa dalam sekejap mata Kapokai Khan dapat mendatangkan beribu-ribu pasukan Lalu bagaimana mungkin dia dapat melawan mereka? Apalagi dia berniat hendak membawa Puteri Chai Li dan Ceng Lin. Akan tetapi Sabuthai tidak memberi banyak waktu untuk memusingkan hal itu. Ruyungnya sudah menyambar-nyambar bagaikan seekor elang sakti, beberapa kali menyambar ke arah kepala Suma Kiang dengan kekuatan yang dapat menghanccurkan batu karang. Apalagi kepala manusia "Wuttt..... wuuuttt.l... wuuuttt...!"

Suma Kiang mengandalkan kelincahan gerakan kedua kakinya mengelak ke sana-sini. Ketika ruyung kembali menyambar, kini ke arah dadanya, dia sengaja menyambut dengan tongkat ular hitamnya, mengerahkan sin-kangnya (tenaga sakti) mendorong ke samping.

"Wuuushhh !" Ruyung itu terdorong oleh tongkat dan

menyimpang, membuat Sabuthai terhuyung. Kesempatan itu dipergunakan oleh Suma Kiang, sekali kaki kirinya menendang, dia sudah dapat menendang pinggang Sabuthai sehingga orang tinggi besar itu jatuh tersungkur!

Akan tetapi, tubuh Sabuthai juga dilindungi kekebalan, maka begitu jatuh dia sudah melompat bangun kembali dan dengan napas terengah-engah karena marah, dia sudah menghadapi lawannya lagi. Kapokai Khan dan yang lain-lain hanya menonton karena mereka masih berharapan penuh bahwa jagoan mereka akan mampu menangkan perkelahian itu. Rasanya sulit untuk mereka percaya bahwa ada orang yang akan mampu mengalahkan Sabuthai dengan ruyung mautnya.

"Hyaaaattt !!" Sabuthai menyerang lagi, kini

mengerahkan seluruh tenaganya dan ruyungnya menimpa ke arah kepala Suma Kiang. Suma Kiang maklum bahw dia herus cepat merobohkan si raksasa ini agar sempat mencari akal untuk lolos dari tempat itu bersama Chai Li da puteranya, Cheng Lin. Begitu tongka datang menyambar, kembali dia mengelak dengan cepat. Kini ruyung diputar dan menyerangnya dengan sambung-menyambung dan terus- menerus, bahkan bentuk ruyung lenyap berubah menjadi gulungan bayangan yang menyambar-nyambar. Namun tubuh Suma Kiang berkelebatan di antara gulungan bayangan ruyung itu, dan diapun memainkan tongkatnya berkali-kali untuk mendorong ruyung ke samping. Dia mainkan ilmu tongkat Ciu-sian Tong-hoat (Ilmu Tongkat Dewa Mabok), tongkat itu mencuat ke sana-sini dan akhirnya, dalam kesempatan yang terbuka, ujung tongkatnya dapat menotok pundak kanan lawan.

"Wuuuttt tukk!" Totokan itu dapat mengenai jalan darah

diN pundak kanan dan seketika lengan kanan Sabuthai menjadi lumpuh dan ruyungnya terlepas dari pegangan. Tongkat itu menyambar lagi dan kini menotok ke arah tenggorokan Sabuthai yang sudah tidak berdaya.

"Tukk !" Tubuh tinggi besar itu terkulai dan tewas karena

jalan darah mautnya yang menuju ke otak telah tertotok ujung tongkat yang amat lihai itu.

Robohnya Sabuthai mengejutkan semua orang, akan tetapi membuat Kapokai Khan marah sekali. Sambil mengacung- acungkan pedangnya dia memberi aba-aba, "Serbu ! Bunuh

dia !"

Suma Kiang tahu akan bahaya yang mengancamnya. Cepat dia menyelipkan tongkatnya di ikat pinggang dan sekali kedua tangannya bergerak, dia sudah mencabut sepasang pedangnya dari punggung. Sinar pedang berkilauan terkena sorotnya api obor dan begitu sepasang sinar pedang berkelebatan, empat orang penyerang terdepan roboh mandi darah dengan leher hampir putus! Hal ini tentu saja mengejutkan dan membuat jerih para pengeroyok. Akan tetapi karena Kapokai Khan berada di belakang mereka, dan mereka mengandalkan banyak orang, mereka terpaksa menggerakkan senjata mengeroyok.

"Masuk pondok dan selamatkan Puteri dan anaknya!" terdengar Kapokai Khan memberi perintah.

Inilah yang dikhawatirkan Suma Kiang Kalau puteri itu dan anaknya sampai terampas oleh mereka, maka segalanya tidak berarti lagi baginya, bahkan dia dapal terancam bahaya maut di tempat berbahaya itu. Bagaikan kilat timbul dalam benaknya. Merekalah satu-satunya jalan keselamatan baginya! Puteri dan anaknya itu. Setelah berpikir demikian, dia menyerang ke kiri, merobohkan tiga orang yang hendak memasuki pintu pondok dengan pedangnya, kemudian secepat burung terbang dia sudah melayang ke dalam pondok.

Puteri Chai Li terbangun oleh suars gaduh. Juga anaknya terbangun, akan tetapi anak itu tidak menangis karena segera dipondongnya. Ketika Chai Li hendak meninggalkan kamar, tiba-tiba tirai tersingkap dan Suma Kiang telah muncul di depannya dengan sepasang pedang yang berlepotan darah di tangannya. Iapun mendengar suara gaduh di luar rumah.

"Apa apa yang terjadi?" tanya Chai Li kepada Suma

Kiang, walaupun ia memandang orang yang berpedang itu dengan wajah ketakutan. Suma Kiang menyisipkan pedang kirinya di belakang punggungnya, kemudian dia maju dan merangkul sang puteri dengan tangan kirinya.

"Jangan banyak bergerak dan menurut saja perintahku kalau engkau tidak ingin mati bersama puteramu!" bentaknya lirih. Dengan lengan kiri merangkul leher dan pundak puteri yang memondong puteranya itu, dan pedang di tangan kanan ditempelkan di leher sang puteri, Suma Kiang melangkah maju ke pintu sambil tersenyum mengejek. Orang ini paling berbahaya kalau sedang tersenyum seperti itu, karena kecerdikan dan kekejamannya sudah mencapai puncaknya ditandai senyum yang mengejek seperti memandang rendah segala sesuatu itu.

Kapokai Khan dan para pengawalnya muncul di pintu dan dia terbelalak ketika melihat Chai Li dirangkul dan pedang ditempelkan di leher puteri itu oleh Sum Kiang.

"Apa.... apa artinya ini. ? Bebaskan keponakanku dan cucu

keponakanku!" bentak Kapokai memerintah. "Engkau telah dikepung ratusan pasukan, tidak mungkin lolos dari sini!"

"Ha-ha-ha, Kapokai Khan, benarkah demikian? Dengar baik-baik, aku mengajukan usul yang menguntungkan pihakmu!!" kata Suma Kiang, senyumnya melebar dari nada suaranya seperti orang yang yakini akan kemenangan di pihaknya.

Kapokai Khan mengerutkan alisnya "Engkau sudah terkepung, nyawamu berada di telapak tanganku dan engkau masih mengajukan usul?"

"Bukan hanya usul, melainkan syarat Engkau boleh pilih, Kapokai Khan. Di satu pihak, engkau membiarkan aku bebas membawa Puteri Chai Li dan anaknya tanpa mengganggu, menyediakan dua ekor kuda terbaik dan tidak akan melakukan pengejaran!" Wajah Kapokai Khan menjadi merah saking marahnya. "Jahanam! Pilihan lain?"

"Pilihan kedua, aku akan menyembelih Puteri Chai Li dan puteranya di depan matamu, kemudian aku mengamuk dan aku tidak membual kalau kukatakan bahwa aku masih sanggup membunuh beratus orangmu, atau bahkan mungkin aku masih dapat lolos dari sini!"

Wajah Kapokai Khan menjadi pucat sekali mendengar omongan dan melihat sikap Suma Kiang saja tahulah dia bahwa orang ini tidak sekedar menggertak, melainkan dapat melaksanakan apa yang diucapkannya.

"Hemm, Suma Kiang! Jangan hendak membodohi kami!

Kalau engkau membawa pergi keponakanku Chai Li dan cucu keponakanku Cheng Lin, tetap saja engkau akan membunuh mereka. Lalu apa bedanya bagi kami?"

"Aku bukan orang bodoh, dan engkau-pun bukan orang bodoh. Aku, sebagai datuk besar, bersumpah bahwa aku tidak akan membunuh Puteri Chai Li dan tidak akan membunuh anaknya! Sumpahku merupakan kehormatanku dan kehormatan seorang datuk lebih berharga daripada nyawa!"

Kapokai merasa tersudut. Kalau dia nekat menyerbu, mungkin saja dia dengan banyak anak buahnya akan dapat membunuh durjana ini, akan tetapi yang jelas Chai Li dan Cheng Lin akan terbunuh depan matanya dan juga kalau durjana ini mengamuk, entah berapa banyak aank buahnya yang akan tewas dan bukan tidak mungkin manusia iblis ini benar-benar akan dapat meloloskan diri di tengah malam yang gelap itu. Dia menggenggam pedangnya dengan kuat dan menggertakk giginya saking marah dan jengkelnya akan tetapi dalam keadaan seperti ini apa yang akan dia lakukan? Diam- diam menyerang manusia iblis itu? Resikon terlalu besar karena dia sudah memperhatikan kehebatan kepandaiannya. Den mudah dia mengalahkan Sabuthai dengan mudah pula membunuh beberapa orang pengeroyok. Alangkah mudah baginya untuk membunuh Chai Li dan Cheng Lin Dengan teriakan marah bercampur tertahan, Kapokai Khan berseru keluar rumah. "Sediakan dua ekor kuda terbaik!"

Hati Suma Kiang bersorak, akan tetapi wajah dan sinar matanya tidak memperlihatkan sesuatu, hanya senyumnya makin menyeringai keji. Terdengar seruan-seruan protes di luar, yakni para panglima yang tidak setuju membiarkan penjahat itu meloloskan diri. Akan tetapi Kapokai Khan mengulangi bentakannya.

"Cepat sediakan dua ekor kuda terbaik dan jangan ada yang membantah perintah ku!"

Tak lama kemudian, dua ekor kuda besar dan kuat sudah dibawa masuk ke dalam pondok itu. Dengan sepasang matanya yang sipit Suma Kiang mengamati suasana di sekitarnya, sinar matanya penuh kecurigaan dan kewaspadaan.

"Kapokai Khan, aku percaya omonganmu. Sekarang, suruh semua orang mundur, biarkan kami menunggang kuda.

Engkau tahu, sedikit saja aku mengalami gangguan, Chai Li dan anaknya akan mati dan aku akan mengamuk sampai titik darah penghabisan. Biarkan kami pergi tanpa gangguan sedikitpun!"

Kapokai Khan mengangguk dan membeli aba-aba dengan suaranya yang mulai parau karena tegang agar semua orang mengundurkan diri.

"Puteri Chai Li, sekarang naiklah seekor kuda ini bersama puteramu. Aku sudah bersumpah tidak akan membunuh engkau dan puteramu selama perjalanan kita tidak dihalangi. Hayo, naiklah."

"Ahhh !" Puteri Chai Li mengeluh. ia sendiri seorang gadis

Mongol yang berhati tabah, bahkan tidak takut mati. Akan tetapi sekarang melihat puteranya terancam, ia tidak berdaya kecuali menyerah dan menurut perintah Suma Kiang yang tampaknya tidak ragu-ragu untuk segera membunuh ia dan puteranya kalau ia membangkang. Ia memondong puteranya, dipeluknya kuat-kuat dan iapun naik ke atas kuda. Sebagai seorang puteri Mongol tentu saja ia sudah biasa menunggang kuda, bahkan tidak asing untuk melepaskan anak panah dari busurnya atau memainkan senjata tajam. Akan tetapi iapun sudah tahu akan kelihaian penyanderanya sehingga setiap perlawanannya akan membahayakan puteranya.

Suma Kiang memandang ke sekeliling. Tempat itu telah ditinggalkan, sesuai dengan perintah Kapokai Khan. Dia memegang kendali kuda yang ditunggangi Chai Li dan puteranya, kemudian sekali lompat dia sudah menunggangi kuda ke dua. Sambil menuntun kuda yang ditunggangi Chai Li, dia tetap menodong leher wanita itu dengan pedangnya, dan mengendalikan kudanya dengan sebelah tangan saja.

Perlahan-lahan dua ekor kuda itu lalu melangkah keluar dari pondok.

Setibanya di luar pondok, Suma Kiang memandang ke sekeliling. Tampak orang-rang berkerumun, akan tetapi cukup jauh dari situ, dengan obor di tangan. Khawatir kalau diserang secara menggelap dengan anak panah, dia menempelkan pedangnya lebih dekat di leher Puteri Chai Li.

"Kapokai Khan, jangan mencoba-coba untuk menyerangku dengan anak panah, Usaha itu hanya akan membuat Puteri Chai Li dan puteranya mati!" teriaknya lantang.

"Suma Kiang, kami sudah berjanji, Akan tetapi jangan engkau melanggar sumpahmu!" teriak Kapokai Khan tak berdaya

Suma Kiang lalu menarik kendali kuda, melarikan dua ekor kuda itu keluar dari perkampungan, terus berjalan menuju ke selatan. Kebetulan sekali malam ini terang bulan sehingga perjalanan tidak begitu gelap baginya. Setelah dia berada cukup jauh, kembali terdengar teriakan Kapokai Khan. "Suma Kiang, engkau jangan melanggar sumpahmu!"

Suma Kiang tersenyum penuh kemenangan. Dengan adanya dua orang sandera itu, lawan tidak mampu berbuat apa apa. Maka diapun segera mengerahkan khi-kang (hawa sakti) melalui dadanya berteriak dengan suara lantang sekali "Kapokai Khan, aku bersumpah tidak akan membunuh Puteri Chai Li dan puteranya."

Ucapan ini keluar dari setulus batin. Memang dia tidak ingin membunuh mereka. Puteri Chai Li? Tidak! Dia sudah tergila- gila kepada wanita yang mirip wajah isterinya itu, bahkan sudah mengambil keputusan untuk menggantikan kedudukan isterinya dengan puteri itu. Dia akan memperisteri Puteri Chai Li. Dia akan mendapatkan isterinya kembali. Dan Cheng Lin?

Dia tidak akan membunuhnya, melainkan akan menyerahkannya hidup-hidup kepada Pangeran Cheng Boan. Dengan demikian, bukan berarti dia yang membunuhnya.

Suma Kiang tersenyum puas dan menarik kendali kuda sehingga dua ekor kuda itu melangkah lebih cepat lagi. Dia yakin bahwa orang-orang Mongol tidak akan berani melakukan pengejaran dan andaikata kemudian mereka mengikuti jejaknya, dia tahu bagaimana untuk menghilangkan jejak dua ekor kuda itu.

Kurang lebih sebulan kemudian, dua ekor kuda yang ditunggangi Suma Kiang dan Puteri Chai Li serta puteranya itu menyusuri sebuah sungai kecil. Kedua ekor kuda itu berjalan di air dan sudah belasan kali Suma Kiang melakukan hal semacam ini. Inilah caranya untuk menghilangkan jejak kedua ekor kuda itu. Sekarang dia percaya penuh bahwa orang orang Mongol tidak akan dapat menemukan jejak mereka.

Apalagi mereka sudah melewati Tembok Besar, sudah tiba pegunungan Yin-san. Dia sudah merasa berada di daerah sendiri, bukan lagi daerah yang dikuasai orang Mongoi dan sudah merasa aman.

Pada suatu pagi, berhentilah mereka di tepi sebuah sungai.

Pemandangan di sini indah bukan main. Di tepi sungai itu terdapat rumput-rumput hijau segar dan di sana-sini tumbuh bunga-bungaan yang beraneka warna dan segar indah. Pohon cemara terayun-ayun puncaknya dipermainkan angin pegunungan. Suasananya sungguh romantis dan hal ini mempengaruhi jiwa Suma Kiang. Sebulan lamanya dia- menahan gelora hatinya yang penuh rindu kepada Puteri Chai Li. Ditahan-tahannya desakan birahinya terhadap puteri itu karena mereka masih melakukan pelarian dan belum terbebas benar dari bahaya pengejaran. Akan tetapi pagi ini suasananya demikian tenteram dan penuh ketenangan, demikian damai tidak ada bahaya apapun yang mengancam mereka.

"Puteri Chai Li, silakan mandi dulu di hilir sana, di balik tebing itu, biar aku menjaga Cheng Lin di sini." kata Suma Kiang. Puteri itu memang menuntut untuk mandi pagi dan sore dan pagi ini mereka kebetulan bertemu dengan anak sungai yang dangkal dan airnya amat jernih itu.

Puteri Chai Li mengangguk, tidak membantah. Ia tahu bahwa bagaimanapun juga, laki-laki itu tidak akan memberikan anaknya mandi bersamanya agar ia tidak akan melarikan diri. Maka iapun lalu berjalan ke hilir dan mandi bersembunyi di balik tebing yang tinggi. Cheng Lin juga agaknya sudah mulai terbiasa dengan laki laki berjenggot itu, maka diapun diam saja bermain-main kembang di dekat Suma Kiang. Ketika melihat dua ekor kelinci gemuk menyusup di semak, Suma Kiang menggunakan dua buah batu membunuh mereka. Lumayan untuk sarapan pagi, pikirnya, membiarkan Cheng Lin mempermainkan bulu kelinci yang telah mati itu.

Tak lama kemudian Chai Li muncul dan Suma Kiang terpesona. Wanita itu tampak segar dan cantik bukan main, wajahnya masih basah dan sebagian rambutnya juga terkena air. Kulitnya begitu halus mulus tertimpa cahaya matahari pagi.

"Aku mendapatkan dua ekor kelinci. Kuliti dan potong- potong dagingnya untuk dipanggang selagi aku mandi bersama Cheng Lin." Setelah berkata demikian, ia memondong Cheng Lin dan dibawanya anak itu ke tebing sungai di hilir. Tentu saja dia melakukan ini bukan karena semata hendak memandikan anak itu, melainkan mengajak anak itu bersamanya lagi ibunya tidak dapat pergi ke mana- mana.

Chai Li tidak membantah. Selama sebulan melakukan perjalanan dengan Suma Kiang, ia sudah hafal akan gerak gerik Suma Kiang dan tahu bahwa laki-laki tidak akan membiarkan ia berdua dengan anaknya, agar tidak dapat melarikan diri. Iapun sudah mengasah otak mencari jalan bagaimana agar dapat membebaskan diri dari laki-laki itu, namun selalu tidak berhasil mendapatkan jalan keluar. Diam- diam ia merasa amat ngeri dan takut terhadap laki-laki itu, juga amat benci. Ia seperti sudah merasakan firasat yang mengerikan akan menimpa dirinya. Laki-laki itu seperti bukan manusia, seperti seekor anjing srigala yang buas namun berwajah anjing jinak. Hidungnya seperti selalu kembang kempis mencium sedapnya darah!

Suma Kiang meninggalkan sebilah pisau belati untuk dipergunakan menguliti dan mengerat daging kelinci. Chai Li menggenggam gagang pisau itu dengan erat, menggigit bibirnya dan mengerutkan alisnya. Ah, tidak, tidak mungkin ia dapat mengalahkan laki-laki itu dengan senjata seperti ini.

Laki-laki itu terlalu tangguh. Panglima Sabuthai saja kalah olehnya. Apalagi ia! Turun lagi semangatnya dan Chai Li lalu mengerjakan tugasnya menguliti kelinci, memotong-motong dagingnya, menusuk daging-daging itu dengan sebilah kayu dan membuat api unggun lalu memanggangnya. Ia menemukan garam di sebuah bungkusan yang ditinggalkan Suma Kiang, berikut merica. Laki-laki itu memang membawa segala macam keperluan dalam buntalannya.

Suma Kiang bersama Cheng Lin muncul, sudah mandi bersih dan segar. Bau harum daging panggang menyambutnya dan mereka semua mulai sarapan daging kelinci panggang tanpa bicara.

Akan tetapi pandang mata laki-laki itu membuat Chai Li merasa tidak enak sekali. Pandang mata seperti itu sudah sering dilihatnya akhir-akhir ini. Pandangan mata seperti menelanjanginya, penuh gairah!

"Engkau akan membawa kami ke manakah?" tanya Chai Li sambil menggigit daging kelinci yang lunak, manis dan gurih.

Suma Kiang menunda gigitannya, menelan daging yang sudah dikunyah, lalu memandang kepada wanita itu, dan menjawab, "Ke manapun aku pergi, kalian akan kubawa."

Chai Li bergidik dalam hatinya. "Suma Kiang, engkau boleh membunuh aku kalau kau kehendaki akan tetapi janganlah kau ganggu anakku."

Suma Kiang tidak menjawab, melainkan melanjutkan makannya. Chai Li menanti jawaban yang tidak kunjung tiba, lalu iapun melanjutkan makannya sambil memilihkan daging yang terlunak untuk Cheng Lin yang juga makan daging kelinci. Setelah selesai makan dan mencuci tangan dan mulut, Chai Li berkata lagi.

"Sekali lagi, Suma Kiang, jangan engkau mengganggu anakku. Aku tidak perduli akan keselamatanku sendiri, akan tetapi anakku harus selamat."

Suma Kiang tersenyum mengejek dan matanya bersinar memandang wajah cantik itu. "Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh anakmu, juga tidak akan membunuh engkau. Mana ada suami membunuh isterinya tersayang?" Sepasang mata yang seperti bintang itu terbelalak, wajah yang manis itu menjadi pucat, jari-jari tangan kanan yang gemetar itu dengan cekatan sudah meraih pisau yang tadi ia pergunakan untuk menguliti kelinci.

"Apa..... apa kau bilang ?' Ia bertanya karena masih

belum percaya akan pendengarannya sendiri.

Suma Kiang memperlebar senyumnya

"Chai Li.... engkau adalah Sui Eng.. isteriku tersayang.

Engkau akan menjadi isteriku yang setia dan baik."

"Gila! Engkau gila! Aku adalah isteri Kaisar Cheng Tung!" "Bukan, engkau isteriku yang telah mati kini hidup kembali.

Sui Eng mendekatlah, isteriku, aku sudah rindu kepadamu"

Suma Kiang menghampiri Chai Li Wanita itu dengan gesitnya menghindar dan ketika tangan Suma Kiang meraih, menggerakkan pisau itu untuk menyerang. Akan tetapi dengan amat mudahnya Suma Kiang menangkis sehingga tangan yang memegang pisau terpental dan pisau itu hampir terlepas dari genggaman.

"Ke sinilah, Sui Eng, aku butuh kau. Ke sinilah " Suma

Kiang meloncat dan tangannya meraih dengan cepat. Chai mencoba menghindar, akan tetapi ujung bajunya masih tertangkap dan sekali Suma Kiang menarik, baju itu robek besar.

"Brettt !!" Pundak dan sebagian dadanya tampak. Hal ini

membuat Suma Kiang semakin memuncak birahinya dan diapun mengejar lagi.

Melihat ibunya dikejar-kejar, Cheng Lin yang belum tahu apa-apa itu tiba-tiba menangis. Agaknya naluri anak itu yang membuat dia merasa bahwa ibunya berada dalam ancaman bahaya yang amat besar. Akan tetapi Suma Kiang tidak perduli dan dia menubruk lagi. Chai Li menghindar, akan tetapi kini celananya terpegang ujungnya. "Brettt !" Kaki dan sebagian pahanya tampak.

Chai Li yang ngeri ketakutan itu tiba-tiba meloncat berdiri dan menempelkan ujung pisau belati ke dadanya sendiri. "Dengar, kalau engkau berani menjamahku, aku akan membunuh diri!" bentaknya dan ucapannya itu bukan gertakan saja karena ujung pisau sudah menembus pakaian dalamnya dan sudah memancing keluar dua tetes darah dari kulit dadanya.

Suma Kiang yang sedang dimabok berahi itu berdiri tertegun. Matanya menjadi amat sipit, akan tetapi mencorong, mulutnya menyeringai penuh kekejaman dan ejekan.

Keduanya saling bertentang pandangan, seperti hendak menguji tekad masing-masing dan akhirnya Suma Kiang mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa wanita itu sudah nekat dan jika dia memaksa, tentu ia akan membunuh diri. Hal ini sama sekali tidak dikehendakinya. Otaknya berputar keras, kecerdikannya membuat mata sipit itu berputar putar puja.

Tiba-tiba senyumnya melebar dan sekali melompat dia sudah berada didekat Cheng Lin dan menyambar tubuh anak yang menangis keras itu.

"Ha-ha, boleh kau pilih!" katanya kepada Chai Li yang terbelalak. "Engkau bole sayang dirimu atau lebih sayang nyawa anakmu? Kalau engkau tetap menolak aku akan banting hancur anakmu di sini"

Chai Li terbelalak, terengah-engah menangis, bibirnya gemetaran tanpa dapat mengeluarkan suara. Suma Kiang merasa mendapat kemenangan.

"Nah, sekarang buang pisau itu dan aku akan menyerahkan anakmu agar engkau membuat dia tidak menangis lagi.

Kemudian, dengan baik-baik engkau harus menyerahkan diri kepadaku. Menjadi isteriku tercinta."

Chai Li hendak menjerit, menggigit bibirnya. Perlahan-lahan jari-jari tangan kanannya melepaskan pisau itu yang jatuh Ke tanah dan ia menghampiri Suma Kiang, mengembangkan kedua tangannya untuk menerima puteranya. Sambil tersenyum mengejek Suma Kiang menyerahkan Cheng Lin yang segera didekap dan dipondong ibunya. Chai Li menangis sambil menciumi puteranya, dipandang dengan mata bersinar- sinar oleh Suma Kiang.

Setelah Cheng Lin diam dan tertidur alam pondongan ibunya, Suma Kiang menghampiri Chai Li.

"Rebahkan anakmu di sana!" Dia menuding ke bawah sebatang pohon.

Chai Li tidak berani membantah lagi. Ia merebahkan Cheng Lin yang sudah tidur nyenyak ke bawah pohon dan tiba-tiba kedua lengan Suma Kiang sudah merangkul dan mendekapnya.

Chai Li meronta sekuat tenaga, akan tetapi apa dayanya terhadap pria yang bertenaga besar itu. Apalagi semua keinginan untuk melawan sudah terusir oleh kekhawatiran dibunuhnya puteranya. Ia terkulai tidak berdaya dalam pelukan Su Kiang dan hanya memejamkan kedua matanya yang mengalirkan air mata seperti air bah.

"Sui Eng, isteriku " Suma Kiang memondong Chai Li,

dibawa ke tanah berrumput tebal dan menggelutinya. Pada sua saat Chai Li sadar akan keadaannya, Kehormatannya terancam dan hanya ini yang teringat olehnya. Ikat pinggangnya terlepas dan bersama itu jatuh pula sebuah benda, yaitu Suling Pusaka Kemala yang dahulu diterimanya dari Cheng Tung.

Melihat benda ini, sadarlah ia bahwa ia adalah isteri Kaisar Cheng Tung, bahwa tidak ada laki-laki lain yang boleh menjamahnya. Ia melihat Suma Kia seperti seorang mabok, memejamkah mata sambil menciuminya dan mencoba merebahkannya. Pada saat itu Chai Li mencurahkan segala tenaga dan Kemauannya, adalah puteri Mongol, isteri Kaisar Cheng Tung. Sampai mati ia tidak akan sudi menyerahkan dirinya kepada pria lain, apalagi diperkosa secara demikian hina. Tangan kanannya meraih suling kemala, diangkatnya tinggi-tinggi dan dihantamkannya benda itu ke ubun-ubun kepala Suma Kiang!

Suma Kiang yang sedang dimabok berahi dan dirangsang nafsu memuncak itu kehilangan kewaspadaan. Penjagaan dirinya sedang "kosong" karena semua perhatian terselubung nafsu berahi oleh karena itu ubun-ubun kepalanya juga sama sekali tidak terjaga oleh tenaga sinkang (tenaga sakti).

"Dukkk !!" Hantaman itu keras sekali.

"Aduhhh !" Suma Kiang melepaskan rangkulannya dan

menggulingkan tubuhnya. Akan tetapi dasar dia seorang manusia yang sejak muda sudah menggembleng dirinya, maka hantaman yang bagi orang lain akan meremukkan tengkorak itu tidak ampai mematikannya. Dia meraba-raba Kepalanya yang terasa nyeri. Kemudian memandang kepada Chai Li dan menubruk lagi. Chai Li menyambutnya dengan hantaman suling lagi, akan tetapi sekali ini Suma Kiang menangkis dan suling itupun terlepas dari pegangannya. Dia menubruk seperti seekor harimau menubruk domba sehingga Chai Li terbanting ke atas rumput dan ditindihnya.

Tiba-tiba Chai Li mengeluarkan suara jeritan mengerikan dan Suma Kiang terbelalak melihat darah muncrat-muncrat dari mulut wanita itu! Dan berbareng pada saat itu, Cheng Lin juga menjerit dan menangis, mungkin digigit semut atau memang nalurinya yang bekerja.

Suma Kiang terbelalak memandang wajah Chai Li. Wanita itu dalam keadaan sekarat dan ketika Suma Kiang membuka mulut wanita itu, ia melihat bahwa Chai Li telah menggigit lidahnya sendiri sampai putus hingga darah mengalir dengan derasnya dan ia berada dalam keadan sekarat! Suma Kiang meloncat berdiri, memandangi wajah yang kini berlepotan darah itu dengan ngeri. Dia melihat wajah itu seperti wajah isterinya dahulu ketika dibunuhnya. Dahulu dia memenggal leher isterinya dan darah juga berlepotan mebasahi mukanya seperti sekarang ini.

"Sui Eng.... kau..... kau..... ohh, tidak !" Makin dipandang

wajah itu makin seperti wajah Sui Eng dan teringatlah dia akan semua perbuatan isterinya yang menyeleweng dan bermain cinta dengan sahabatnya sendiri di dalam kamarnya sendiri! Mendadak Suma Kiang menjadi beringas. Matanya yang sipit seperti mengeluarkan api dan tangan kanannya meraih ke belakang punggung. Dicabutnya sebatang pedangnya dan dengan penuh kemarahan pedang itu lalu diangkat ke atas kepalanya.

"Engkau perempuan pengkhianat, perempuan rendah!" Dan pedang itupun menyambar ke bawah, ke arah leher Chen Li yang sudah sekarat.

"Singgg..... tranggg !!" Tubuh Suma Kiang sampai ikut

terpental saking kuatnya tangkisan pada pedang itu. Sum Kiang melompat ke belakang dan mata yang sipit terbelalak memandang ke depan. Pandang matanya agak kabur dan bergoyang sebagai akibat hantaman pada ubun-ubun kepalanya tadi sehingga kepalanya ikut bergoyang-goyang.

Dia melihat betapa di dekat tubuh Chai Li kini terdapat tiga orang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun dan ketiganya mengenakan jubah seperti seorang pertapa atau pendeta, Jubah mereka putih bersih walaupun sederhana sekali dan rambut mereka yang panjang digelung ke atas dan diikat dengan pita kuning. Perawakan mereka sedang saja bahkan tidak tampak kuat melainkan umpak lemah lembut.

"Siancai (damai) !" Seorang di antara mereka yang

mukanya merah mengeluarkan pujian. "Tidak boleh ada kekejaman dilakukan orang selama kami berada di sini!" Suaranya juga lembut namun mengandung ketegasan yang mantap.

Suma Kiang kini sudah menyadari bahwa sabetan pedangnya tadi ditangkis orang, kini melihat seorang di antara mereka menegurnya dan yang dua orang lagi berjongkok dan melakukan totokan pada beberapa bagian tubuh Chai Li, terutama di bagian leher dan pundak, dia menjadi marah sekali.

"Jahanam keparat! Siapa kalian yang berani mencampuri urusan pribadi Huang ho Sin-liong Suma Kiang?" Dia sengaja memperkenalkan dirinya sebagai datuk besar agar mereka mendengarnya dan merasa jerih.

Seorang di antara tiga orang to (pendeta agama To) itu mendengar jeritan Cheng Lin dan tiba-tiba saja tubuhnya yang sedang berjongkok itu telah melayang ke dekat anak itu dan bagai seekor burung rajawali saja dia sudah menyambar tubuh anak itu dan dibawa dekat ibunya. Cara melayang dalam keadaan berjongkok lalu menyambar tubuh anak itu merupakan bukti bahwa orang y angjenggotnya dipotong pendek ini adalah seorang yang memiliki gin-kang (Ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sekali.

Tosu muka merah yang tadi menangkis pedang menggunakan sebatang tongkat baja yang panjangnya sebatas pundak menjawab pertanyaan Suma Kiang.

"Agaknya nama yang terkenal sekali diselatan!" katanya lembut sambil tersenyum. "Akan tetapi di utara sini kami tidak mengenal nama itu. Kami disebut orang di sini sebagai Gobi Sam-sian (Tiga Dewa dari Gobi) dan kami tidak mencampuri urusan pribadimu, melainkan urusanmu dengan wanita yang malang ini." Dia menoleh ke arah Chai Li yang kini diam tidak bergerak seperti tertidur. Darah sudah berhenti mengucur dari mulutnya dan pernapasannya mulai membaik. Agaknya totokan-totokan itu menghentikan keluarnya darah dan meringankan rasa nyeri sehingga ia kini tertidur atau pingsan. "Kenapa engkau hendak membunuhnya?"

Suma Kiang mengumpat dalam hatinya "Apa peduli kalian dengan itu? Aku harus Membunuhnya dan kalau kalian menghalangi, kalianpun akan kubunuh!" Dia mengcuncang kepalanya untuk mengusir kepeningan yang masih mengganggunya. Pukulan pada ubun-ubun kepalanya tadi keras sekali pada saat ubun-ubun itu tidak ter-lindung tenaga dalam. Masih untung baginya bahwa tengkorak kepalaya kuat, kalau tidak tentu tengkorak itu sudah retak dan nyawanya tidak mungkin dapat ditolong lagi. Dia menyelipkan pedangnya di balik punggung dan memegang tongkatnya dengan kuat.

Suma Kiang adalah seorang yang terlalu percaya kepada diri sendiri dan selalu menganggap diri sendiri yang terhebat dan terkuat. Oleh karena itu menghadapi tiga orang tosu itupun dia hanya hendak menggunakan tongkat ular hitamnya yang dia anggap sudah cukup untuk membunuh mereka bertiga yang berani menghalangi kehendaknya. Dia memutar tongkat ular hitam itu di tangan kanan dan berkata dengan suara keren,

"Gobi Sam-sian, pergilah kalian sebelum terlambat. Kalau kalian berkeras hendak melindungi wanita ini, kalian akan mampus di tanganku!"

"Mati dan hidup bukan di tanganmu Huang-ho Sin-liong.

Membela yang baik menentang yang jahat selalu mengandung resiko dan kami bertiga siap menghadapi resiko itu." kata tosu bermuka merah sambil melintangkan tongkat bajanya. Tosu kedua, yang berjenggot pendek juga sudah mencabut sebatang pedang dari punggungnya, dan tosu ke tiga yang matanya lebar meloloskan sebatang kebutan berbulu putih dari ikat pinggangnya.

"Haiiiittt !" Suma Kiang melompat ke depan dan

menyerang dengan tongkat hitamnya. Serangannya dahsyat bukan main karena dia mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) sekuatnya yang tersalur dalam tongkat itu. Pukulannya ini tenaganya sungguh berbeda dengan tenaga pedangnya yang tadi dibacokkan ke arah leher Chai Li. Bacokan itu hanya mengandung tenaga kasar saja.

Tosu muka merah melihat datangnya serangan dahsyat itu dan diapun menggerakkan tongkatnya menangkis.

"Wuuuuttt,... dukkkk!" Kedua tongkat bertemu dan akibatnya, tosu muka merah terhuyung ke belakang. Ternyata dia masih kalah kuat dalam hal sin-kang dibandingkan Suma Kiang. Suma Kiang mendesak dengan tusukan tongkatnya ke arah ulu hati tosu muka merah. Akan tetapi dari samping menyambar sebatang pedang menangkis tusukan itu.

"Trang !" Itulah tangkisan tosu berjenggot pendek dan

pada saat Suma Kiang belum dapat melanjutkan serangannya, ada angin menyambar dan ujung kebutan bulu putih meluncur ke arah lehernya. Bulu kebutan itu lemas saja, namun di tangan tosu mata lebar dapat menjadi kaku seperti sepotong tongkat yang dipergunakan untuk menotok. Serangan ini berbahaya sekali dan Suma Kiang cepat membuang diri ke kanan sambil melompat Walaupun serangan itu luput, akan tetapi ketika melompat ke kanan, kembal Suma Kiang mengeluh dalam hati karena kepalanya berdenyut pening sekali. Tahulah dia bahwa dia sudah terluka di sebelah dalam kepalanya, yang membuat kepalanya pusing dan dia tidak dapat memusatkan perhatiannya kepada pertandingan itu.

Pada hal, dia menghadapi tiga orang lawan yang cukup berat. Kembali dia menerjang dan menyerang ke arah tiga orang lawannya. Gerakan tongkatnya demikian cepat, seperti orang mabok, namun setiap sambaran tongkat mengarah jalan darah maut dari tiga orang lawannya. Tiga orang tosu itupun maklum akan hebatnya ilmu tongkat Suma Kiang. Mereka main mundur dan menangkis, kemudian membalas dari tiga jurusan dengan cepat sekali sehingga terpaksa Suma Kiang memutar tongkat melindungi dirinya dan mundur. Pada saat dia terdesak, ujung kebutan dengan tepat menyentuh pergelangan tangannya dan tangan itu seketika menjadi kejang dan tongkatnya terlepas. Suma Kiang terkejut dan cepat meraih dengan kedua tangannya ke belakang, melolos sepasang pedangnya dan kini mengamuk dengan sepasang pedangnya dan menggerakkan pedang itu seperti kilat cepatnya. Lenyaplah bentuk kedua pedang dan yang tampak hanya dua gulungan sinar pedang yang menyambar- nyambar. Namun, pertahanan tiga orang tosu itu kokoh sekali. Mereka itu bukan saja lihai, akan tetapi juga dapat bekerja sama secara kompak sekali sehingga ke manapun sinar pedang menyambar, tentu bertemu tangkisan dan sebaliknya merekapun membalas seranga/» dengan tidak kalah gencarnya.

Yang amat mengganggu Suma Kiang adalah kepalanya. Makin cepat dia bergerak, semakin pening kepalanya dan bumi yang diinjaknya seolah berputar. Tahula dia bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, akhirnya dia akan celaka. Karena semua rencananya membawa anak itu gagal, karena gagal pula dia memperisteri Chai Li, kesemua rencananya gagal, dia merasa kecewa dan marah sekali. Dia mengeluarkan suara yang disertai khi kang (hawa sakti) sekuatnya sehingg menggetarkan jantung tiga orang pengeroyoknya yang cepat melompat ke belakang suaranya melengking seperti seekor harimau terluka, kemudian Suma Kiang melompat ke atas kudanya dan membalapkan kudanya melarikan diri.

Tiga orang tosu itu saling pandang dan menghela napas panjang.

"Sungguh berbahaya !" kata tosu muka merah yang biasa

disebut Ang bin-sian (Dewa Muka Merah).

"Harus diakui bahwa ilmu kepandaiannya tinggi sekali." kata It-kiam-sian (Dewa Pedang Tunggal), julukan tosu yang berjenggot pendek. "Kalau dia belum terluka, belum tentu kita mampu mengalahkannya." kata pula Pek-tim-sian (Dewa Kebutan Putih), tosu yang bermata lebar.

Kembali mereka menghela napas sambil menengok ke arah menghilangnya Suma Kiang. Kemudian mereka menghampiri Chai Li dan Cheng Lin yang masih menangis memanggil- manggil ibunya. Anak itu kelihatan bingung melihat ibunya rebah telentang dengan muka berlepotan darah.

Mereka berjongkok dan memeriksa kembali keadaan Chai Li. Mereka merasa lega. Wanita itu dapat tertolong, tidak sampai mati kehabisan darah. Ang-bin-Man lalu menggunakan sehelai saputangan untuk membersihkan muka itu dari darah dan It-kiam-sian dengan hati-hati mengurut beberapa urat di leher dan pundak.

Akhirnya Chai Li mengeluh panjang dan membuka matanya. Begitu ia membuka matanya, ia teringat akan peristiwa tadi dan seperti seekor harimau betina ia bangkit, menyambar puteranya dan matanya terbelalak memandang ke sana-mencari Suma Kiang.

"Tenanglah, nyonya. Kami telah berhasil mengusir penjahat itu dan engkau anakmu tidak terancam bahaya lagi. Tenang dan duduklah."

Chai Li memandang kepada orang itu lalu memperhatikan dirinya sendiri. Pakaiannya robek-robek setengah telanjang namun ia menyadari bahwa ia belum ternoda. Syukur dan terima kasih meliputi dirinya tidak ternoda dan anaknya selamat membuat ia cepat menjatuhkan diri berlutut sambil memondong Cheng Lin dan mengangguk-anggukkan kepalanya menyentuh tanah sambil menangis. Air mata bercucuran dan biarpun merasa sakit pada mulutnya, dan teringat bahwa ia te menggigit lidahnya untuk membunuh d dari pada diperkosa Suma Kiang, tidak merasakannya benar. Ia berteri kasih sekali kepada tiga orang tosu yang telah menyelamatkan ia dan puteranya. "Cukuplah sudah, nyonya. Agaknya memang Thian belum menghendaki kaliab mati. Kami hanya kebetulan saja lewat disini dan semua ini Thian yang mengatur-nya." Kata Ang-bin- sian.

"Engkau terluka parah, agaknya engkau telah menggigit putus lidahmu sendiri. Engkau tidak mungkin bicara jelas. "

"Mungkin engkau dapat menulis? Menjelaskan apa yang telah terjadi?" tanya It-Kiam-sian. Tiga orang itu harus mengetahui dulu persoalannya dan mengenal siapa adanya wanita dengan anaknya ini, mengapa berada di situ bersama penjahat tadi, sebelum mereka dapat memutuskan apa yang selanjutnya mereka akan lakukan terhadap ibu dan anak ini.

Chai Li mengangguk-angguk dan cepat jari-jari tangan kanannya membersihkan tanah yang kering dan tidak ditumbuhi rumput sehingga dapat ia tulis. Ia melihat Suling kemala menggeletak di situ. Cepat la mengambil suling kemala itu dan dengan suling itulah ia mencorat-coret huruf di atas tanah. Tiga orang tosu itu merubungnya dan membaca huruf demi huruf yang ditulis dengan indah oleh wanita yang sejak kecil sudah mempelajari ilmu kesusasteraan Han itu.

"Saya adalah Chai Li, puteri Mongol" Demikian Chai Li mulai menulis, "anak saya ini bernama Cheng Lin, dia keturunan Kaisar Cheng Tung."

Tiga orang tosu itu terbelalak dan saling pandang. Mereka mendengar bahwa Kaisar Cheng Tung pernah menjadi tawanan orang Mongol selama hampir 3 tahun sehingga apa yang ditulis wanita itu bukan hal yang tidak mungkin.

"Kami diculik oleh Suma Kiang hampir saja tadi saya diperkosa olehnya. Saya memukul kepalanya dengan suling kemala ini dan saya menggigit putus lidah saya untuk membunuh diri."

Puteri ini berhenti menulis dan ia menangis lagi sambil mendekap kepala puteranya. "Puteri, buka mulutmu, pinto (aku) akan mengobati luka di lidahmu!" tiba tiba Pek-tim-sian yang ahli pengobatan itu berkata. Chai Li tidak membantah, membuka mulutnya dan tampaklah lidahnya yang tinggal sepotong. Pek-tim-si lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk hijau dan menaburkan obat itu ke lidah yang terluka.

It-kiam-sian menanggalkan jubahnya yang lebar dan menyelimuti tubuh wanita yang hampir telanjang itu. Chai Li merasa berterima kasih sekali. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata, hanya sepasang Ratanya yang indah itu memandang penuh rasa syukur.

"Sekarang bagaimana kehendakmu, puteri? Apakah engkau ingin pulang ke perampungan keluargamu? Kalau memang demikian, biarpun perjalanan itu jauh dan akan waktu lama, kami bertiga akan mengantarmu ke sana," kata Ang-bin-Han.

Akan tetapi Chai Li sudah mengambil keputusan lain. Bangsanya telah tidak mampu melindunginya dari Suma Kiang. Akan tetapi tiga orang tosu ini ternyata sanggup menyelamatkannya. Ia ingin agar puteranya kelak menjadi seorang yang tinggi ilmu kepandaiannya, bukan saja akan mampu melindungi diri sendiri terhadap penjahat macam Suma Kiang, akan tetapi juga akan dapat mencari ayahnya dan membalas dendam kepada Suma Kiang yang jahat. Dan kiranya hanya tiga orang tosu inilah yang akan mampu membim puteranya menjadi seorang yang berilmu tinggi.

Cepat ia menulis lagi di atas tanah "Saya tidak ingin kembali ke Mongol. saya mohon dengan hormat dan sangat sudilah sam-wi totiang (tiga orang pendeta) membimbing anak saya agar kelak menjadi seorang yang berilmu tinggi, agar dia dapat mencari sendiri ayahnya." Setelah menuliskan kata-kata itu, iapun berlutut dan membentur-benturkan dahi ke atas tanah di depan tiga orang tasu itu.

Kembali tiga orang tosu itu saling pandang. Mereka merasa iba sekali kepada Chai Li dan merekapun mengerti mengapa wanita itu menghendaki puteranya menjadi seorang yang tangguh. Tentu karena pengalaman pahit yang dideritanya itu. Ang bin-sian lalu meraba-raba tubuh Che Lin. Seorang anak yang bertulang baik pikirnya. Dia memberi isarat dengan anggukan kepala kepada dua orang rekannya, kemudian dia membangunkan Chai Li yang berlutut.

"Bangkitlah nyonya. Kami bertiga dapat menerima permintaanmu yang cukup pantas. Akan tetapi ketahuilah bahwa tidak mungkin engkau tinggal bersama kami tiga orang tosu yang hidup sebagai pertapa. kami akan mencarikan rumah dan keluarga untukmu di suatu kota atau dusun di mana engkau dapat bekerja sedapatnya dan setelah anakmu mulai besar kami akan mengangkatnya sebagai murid."

Chai Li mengangguk-angguk dengan air mata bercucuran. Hidup ia dan puteranya kini seluruhnya bergantung kepada pertolongan tiga orang pertapa itu.

Gobi Sam-sian (Tiga Dewa Gobi) lalu menyuruh Chai Li menggendong puteranya dan menunggang kuda. Kemudian mereka mengawal nyonya yang malang itu menuju Ke selatan.

Akhirnya mereka tiba di Pao-tow, sebuah kota yang cukup ramai di tepi Sungai Huang-ho yang mengalir ke utara. Di kota ini Gobi Sam-sian mendapatkan seorang wanita janda tua berusia lima puluh tahun lebih yang hidup seorang diri. Janda Itu menerima Chai Li dan puteranya dengan gembira, apalagi karena Chai Li berjanji akan bekerja sendiri untuk keperluan ia dan puteranya.

Setelah mendapatkan tempat bernaung untuk Chai Li, Gobi Sam-sian meninggalkan wanita itu dan berjanji akan datang dan mulai mengangkat Cheng Lin seba murid kalau Cheng Lin sudah berusia enam tahun. Chai Li merasa terharu berlutut sebagai tanda terima kasih kepada tiga orang sakti dari Gobi itu. Janda tua yang hidup seorang diri Pao-tow, menempati rumah sederhana yang tidak berapa besar, tidak kecewa menerima Chai Li. Ternyata walau Chai Li tidak dapat bicara dengan jelas wanita cantik ini pandai sekali menyulam dan sebentar saja hasil sulamannya terkenal di daerah Pao-tow. Banyak orang membelinya dengan harga mahal sehingga mereka mendapatkan hasil uang yang cukup untuk menghidupi mereka bertiga.

Setelah Cheng Lin yang tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan cerdas berusia lima tahun, Chai Li yang memiliki penghasilan cukup lalu mengundang orang guru sastera untuk mengajar putera nya. Puteranya adalah putera kaisar, maka sejak kecil harus diajar kesusasteraan dan kebudayaan, juga kitab-kitab agama yang mengajarkan tentang filsafat dan kehidupan, agar kelak menjadi seorang pandai di samping pelajaran ilmu silat yang akan diterimanya dari Gobi Sam-sian kalau Cheng Lin sudah berusia enam tahun. Anak itu kelak harus menjadi seorang bun-bu-coan-jai (ahli sastera dan silat). Beberapa orang anak tetangga yang mampu membayar guru ikut belajar sehingga terkumpul belasan orang anak seusia Cheng Lin yang ikut belajar dari guru sastera yang diundang itu. Tempat belajar mengambil tempat di sebuah gudang yang tidak terpakai lagi dan setiap hari dari tempat itu terdengar anak-anak itu menirukan gurunya membaca ujar-ujar atau filsafat dari kitab-kitab suci.

Can Sianseng (Tuan Can) begitu panggilan guru yang mengajarkah sastera kepada belasan orang anak itu, adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun. Tubuhnya kurus sekali seperti cecak kering dengan leher panjang dan mukanya memanjang dan menajam seperti muka kuda. Dia adalah seorang siucai (sarjana) yang gagal dalam ujian negara karena miskin. Pada masa itu, betapapu pandai dan cerdiknya seorang mahasiswa kalau kantongnya kempis, jangan harap akan dapat lulus ujian negara. Sebaliknya seorang mahasiswa malas yang otaknya kosong sekalipun, kalau kantungnya tebal dapat dengan mudah lulus ujian negara mendapat gelar siucai dan memperoleh kedudukan. Tidaklah mengherankan apabila mereka yang memperoleh kedudukan itu mempergunakan kedudukannya untuk mengeruk uang sebanyak mungkin, untuk menebus semua biaya besar yang telah mereka keluarkan ketika mengikuti ujian.

Can Sianseng yang miskin hanya menjadi seorang sarjana gagal dan mencari nafkah dengan mengajarkan kesusasteraa kepada anak-anak dengan menerima upah sekadarnya. Dia hidup menyendiri dan tidak berkeluarga, dan kepada para muridnya dia terkenal bersikap keras dalam mengajar. Tangan kanannya selalu memegang sebatang bambu yang siap untuk dipukulkan kepada murid yang dianggapnya malas dan bodoh, dan kalau memukul diapun tidak tanggung-tanggung, yang dipukulnya tentu kepala anak-anak yang kepalanya gundul dikuncung pada ubun-ubunnya itu.

Pada suatu pagi yang cerah, terdengar bunyi suara kanak- kanak itu menirukan gurunya, suaranya serempak dan terdengar lantang.

"Su-hai-lwe-kai-heng-te-yaaa ! (Di empat penjuru semua

orang adalah saudara)" Ucapan ini adalah sebuah ajaran Nabi Khong-cu yang mengajarkan bahwa di seluruh dunia ini manusia adalah saudara.

"Han Lin, coba terangkan. Apa artinya ujar-ujar itu?" tanya Can Sianseng kepada Cheng Lin. Menaati pesan Gobi Sam- sian, Chai Li mengubah nama panggilan Cheng Lin menjadi Han Lin, agar tidak diketahui orang bahwa dia adalah keturunan Kaisar Cheng Tung. Maka, anak itu sendiri menganggap bahwa namanya adalah Han Lin dan mulai sekarang, agar memudahkan, kita sebut saja dia Han Lin.

Han Lin mengerutkan alisnya, berpikir, Anak berusia hampir enam tahun itu tampak lebih jangkung dan tegap dibandingkan kawan-kawannya. Wajahnya bundar dan tampan, sepasang matanya bersinar sinar, hidungnya mancung dan mulutnya mengandung garis yang membayangkan kekerasan hati, daun telinganya lebar dan pembawaannya gesit dan menyenangkan.

Kemudian, setelah berpikir sejenak diapun menjawab lantang.

"Artinya bahwa semua orang ini bersaudara, antara saya dan Sianseng juga bersaudara, akan tetapi karena Sianseng jauh lebih tua, sepatutnya Sianseng saya sebut Can-toako (kakak tertua Can) bukan Can Sianseng!"

Can Sianseng terbelalak dan mukanya menjadi merah. "Apa katamu? Kau meng anggap aku ini kakakmu tertua? Kurang ajar!" Dan bambu di tangannya menyambar "Tak-tuk!" Dua kali kepala Han Li kena dipukul. Anak-anak yang lain tertawa. Mereka memang anak-anak yang sedang nakal nakalnya, maka seorang di antara mereka lalu berkata.

"Selamat pagi, Can-toako!" Ucapan disambut sorak-sorai dan Can Sianseng menjadi semakin marah. Hampir semua kepala gundul itu mendapat bagian pukulan. Karena merasa kepala gundulnya dan melihat semua kawannya dipukuli, Han Lin menjadi penasaran.

Dia mengangkat telunjuk kanannya atas dan berseru, "Sianseng, saya ingin bicara!"

"Bicaralah!" kata guru itu dan semua anak terdiam mendengarkan. Betapa beraninya Han Lin hendak membicarakan sesuatu selagi guru mereka marah-marah dan mengamuk seperti itu.

"Sianseng, apakah semua ujar-ujar seperti itu harus ditaati dan dilaksanakan?" tanya Han Lin.

"Pertanyaan tolol! Tentu saja harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh manusia di dunia ini!" jawab sang guru. "Apakah namanya orang yang mentaati dan melaksanakan ujar-ujar itu?" tanya pula Han Lin, suaranya masih lantang.

"Apa engkau lupa, bodoh? Namanya kuncu (budiman)." "Dan apa namanya orang yang tidak nentaati dan tidak

melaksanakan ujar-ujar itu?"

"Namanya siauw-jin (manusia rendah)!"

"Wah, kalau begitu, Sianseng. Kesini-kan tongkat itu, beri pinjam padaku sebentar." Han Lin bangkit berdiri dan mengangsurkan tangannya untuk minta pinjam tongkat bambu yang berada di tangan gurunya.

"Heh? Hah?" Can Sianseng menjadi bingung. "Untuk apa?" "Untuk memukul kepala Sianseng berapa kali biar benjol-

benjol!"

Semua murid terbelalak dan guru itu sendiri terbelalak, akan tetapi lalu marah sekali. "Apa? Kau anak sssee-se-

tan! berani engkau hendak memukuli kepalaku?"

"Eh-eh-eh, ingat baik-baik, Sianseng jangan marah dulu. Baru kemarin sianseng mengajarkan sebuah ujar-ujar yang berbunyi demikian : "Jangan melaku-kan sesuatu kepada orang apa yang kita sendiri tidak suka orang melakukan kepadamu!' Nah, bukankah Sianseng mengajarkan begitu? Kalau sekarang Sianseng tidak suka saya pukul kepalanya dengan tongkat itu, kenapa Sianseng seenak saja memukuli kepala kami? Bukankah berarti Sianseng tidak menaati dan tidak melaksanakan ujar-ujar itu? Kalau Sianseng tidak suka kupukuli kepalanya den tongkat ini, berarti Sianseng adalah orang siauw-jin!" Mendengar ucapan Han Lin itu, teman- temannya menjadi bersemangat dan berani, dan mereka meminta sepotong bambu itu dan berebutan untuk memukuli kepala dan muka Can Sianseng.

Biarpun hanya berhadapan dengan anak-anak kecil namun Can Sianseng  adalah seorang yang lemah dan anak anak itu amat nakal, maka ketika menerima sabetan bambu itu, dia melarikan diri keluar dari tempat itu dan setengah menangis dia pulang ke rumahnya.

Sejak peristiwa di hari itu, Can Sianseng mogok tidak mau mengajar dan Chan Li segera mendengar dari anak-anak tentang ulah Han Lin. Ia memarahi anaknya.

"Apakah kelak engkau akan menjadi seorang bodoh, menjadi seorang tukang pukul yang kasar?" tegur ibunya.

"Ah, ibu. Apa artinya mempelajari semua ujar-ujar kalau tidak dilaksanakan? seorang guru harus memberi contoh kepada muridnya, baru sang murid akan menurut, bukan? Can Sianseng bukan guru yang baik!"

Terpaksa Chai Li mengundang seorang guru lain yang lebih muda walaupun untuk itu ia harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Akan tetapi agaknya cara mengajar guru baru ini cocok dengan anak-anak dan mereka belajar dengan rajin.

Pada suatu hari, ketika Han Lin sudah berusia enam tahun, datanglah Gobi Sam-sian berkunjung ke pondok Chai Li.

Wanita mi segera menyambut dengan penuh kehormatan kepada tiga orang penolongnya dan cepat memanggil Han Lin.

Han Lin sedang bermain dengan teman-temannya ketika dipanggil ibunya. Dia berlari-lari pulang dan melihat tiga orang tosu berusia lima puluh tahun lebih duduk di dalam pondok dan dihadapi ibunya yang kelihatan amat menghormati mereka.

Mata yang tajam dari Han Lin mengamati tiga orang tosu itu penuh perhatian, hatinya bertanya-tanya. Ketika mereka dahulu menolong dia dan ibunya, usianya baru tiga tahun dan yang teringat terus dan terbayang di depan matanya hanyala ibunya rebah telentang dengan wajah berlumuran darah, terutama mulutnya yang mengucurkan darah segar. Bayangan itu tidak pernah terlupakan olehnya, bahkan sering mengganggunya di waktu tidur Akan tetapi tiga orang tosu ini sama sekali tidak dikenalnya.

Tiga orang Gobi Sam-sian itupun mengamati Han Lin dengan penuh perhatian Mereka tersenyum dan merasa gembira. Dugaan mereka tidak keliru. Anak itu telah tumbuh dengan baik, berbadan tinggi tegap dan biarpun agak kurus namun kokoh dan sinar matanya penuh semangat dan kecerdikan.

"Han Lin, cepat engkau berlutut memberi hormat kepada tiga orang suhumu (gurumu)!" kata Chai Li kepada puteranya.

Namun Han Lin tidak segera melaksanakan perintah itu. Dia masih berdiri tegak memandang kepada tiga orang tosu itu bergantian, kemudian bertanya kepada ibunya, "Ibu, bagaimana mendadak mereka ini dapat menjadi suhuku?"

"Han Lin, sam-wi in-kong (tiga orang penolong) ini pada waktu engkau baru berusia tiga tahun dahulu sudah mengatakan bahwa setelah engkau berusia enam tahun engkau akan menjadi murid mereka mempelajari ilmu silat."

"Ibu, sam-wi totiang (ketiga orang pendeta) ini mempunyai kemampuan apakah hendak mengajarkan silat kepadaku?

Kalau aku belajar silat, aku harus mempunyai seorang guru yang sakti agar kelak aku dapat menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa seperti yang pernah ibu ceritakan. Aku harus dapat menjadi sakti seperti Sun Go Kong si Raja Monyet seperti yang pernah ibu dongengkan. Aku ingin mempelajari sastera dan silat sampai sedalam-dalamnya, bukan sembarangan saja."

"Hushhh. Han Lin. Sam-wi in-kong ini adalah "

Gobi Sam-sian bangkit berdiri d mereka tertawa. Mereka tertarik sekal akan ucapan anak itu dan Ang-bin-sian Muka Merah berkata kepada Chai Li "Biarlah kami yang akan bicara dengannya."