-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 08

Jilid 08

“Anakku yang semenjak kecil taat patuh kepada orang tua, yang kudidik dengan susah payah, yang menjadi pengharapanku satu-satunya, telah membelakangi ayahnya dan rela pergi minggat bersama bangsat muda itu! Ya, ya, baru sekarang kalian tahu dan menjadi pucat mendengar ini! Anakku telah melarikan diri dengan pemuda keparat yang menodai nama keluargaku dan apalagi yang harus didamaikan??” “Dengarkan, kalau sampai Lo Sin dan Lee Ing bertemu dengan aku tua bangka yang rendah ini, pasti akan kuhabiskan nyawa keduanya! Ya kalian boleh memberitahukan hal ini kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang gagah perkasa, aku tidak takut! Kuulangi lagi, kalau sampai kedua setan itu bertemu dengan aku, akan kuhabiskan nyawa mereka, atau aku sendiri yang akan mampus di tangan mereka!”

Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek mengepalkan tinjunya dan berdiri dengan dada turun naik dan dari kedua matanya keluar air mata!

Kong Liang dan Mei Ling berdiri saling memandang dengan muka pucat sekali, sedangkan tangisnya Giok Lie makin keras saja hingga Mei Ling lalu memeluknya dan ikut menangis.

Bwee Hwa merasa kedua kakinya gemetar ketika melihat kemarahan hebat ini. Belum pernah ia melihat orang marah sedemikian hebat dan mengingat bahwa orang ini adalah Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang kegagahannya telah menggegerkan dunia persilatan ketika ia masih muda, Bwee Hwa menjadi takut dan gentar. Akan tetapi, ia merasa penasaran mendengar betapa ayah yang murka ini menjadi begitu mata gelap dan telah mengeluarkan ancaman untuk membunuh Lee Ing puteri tunggalnya sendiri, maka tanpa terasa pula ia berkata dengan perlahan.

“Lo-cianpwe, Lee Ing tidak bersalah. Pemuda busuk bernama Tik Kong itu.     ”

“Tutup mulutmu!!”

Tiba-tiba Nyo Tiang Pek yang sudah marah itu merasa seakan-akan api di dalam dadanya ditambah minyak dan sambil membentak ia lalu menepuk kursi yang tadi didudukinya. Kursi itu tidak hancur, akan tetapi keempat kakinya masuk ke dalam lantai sampai habis tak kelihatan pula! Inilah tenaga lweekang yang hebat sekali hingga Bwee Hwa yang kena dibentak menjadi pucat.

“Beritahukan kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, kalau mereka berdua tidak mencari putera mereka yang jahat dan membawa pula Lee Ing untuk dihadapkan keduanya di depanku, untuk menerima keputusan dan hukumanku, selamanya aku tidak mau berdamai dengan mereka!” Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek masuk ke dalam rumah dengan marah.

Melihat keadaan ini, tidak ada lain jalan bagi Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa, selain meninggalkan tempat itu. Giok Lie memeluk Mei Ling dan menangis sambil berbisik.

“Adikku, dan kau juga Kong Liang, serta kau pula, nona, harap kalian maafkan suamiku. Kasihan dia...... dia menderita kedukaan besar, maaf ”

Melihat keadaan Giok Lie, lenyaplah kemarahan yang tadi mendesak di dada ketiga orang muda karena sikap Nyo Tiang Pek. Mereka tidak dapat menyelami hati Nyo Tiang Pek dan tak dapat merasakan pula penderitaan pendekar tua itu, tetapi mereka terharu melihat sikap Giok Lie yang terang sekali tertekan hebat batinnya itu.

Sambil memeluk Giok Lie, Mei Ling berkata, “Tidak apa, cici, sudah selayaknya kami yang muda-muda menerima marah dari Nyo-twako. Kalau ia sudah menjadi sadar kembali, tentu ia akan menyesal.” “Terima kasih, Mei Ling…… terima kasih……” Mereka bertiga lalu meninggalkan nyonya yang sedang berduka itu.

Setelah ketiga tamunya pergi dengan hati marah Giok Lie berlari masuk ke kamar suaminya, siap untuk menegur sikap suaminya, yang amat tak pantas itu. Akan tetapi, ketika melihat Nyo Tiang Pek duduk di atas pembaringan dengan wajah pucat dan pipi basah air mata, nyonya ini tidak jadi marah. Bahkan lalu menubruk suaminya. Nyo Tiang Pek merangkul isterinya dan air matanya makin deras mengalir keluar.

Giok Lie maklum sepenuhnya akan derita, yang membuat suaminya hancur hatinya. Ia tahu, bahwa suaminya merasa malu, kecewa, menyesal, sedih, tercampur aduk menjadi satu dan semua ini lalu memperkuat kekerasan hatinya, hingga ia berlaku panas dan keras.

Siapa orangnya yang takkan hancur hatinya menghadapi peristiwa yang memalukan itu? Anak sedang dirayakan hari kawinnya tahu-tahu datang kekacauan yang dilakukan oleh Lo Sin dan yang memburukkan nama calon mantu mereka, kemudian bahkan anak dan calon mantu lari berkejaran.

Kemudian, ternyata bahwa calon mantunya itu terpukul hampir mati oleh Lee Ing, sedangkan Lee Ing bahkan membela Lo Sin dan agaknya mencinta pemuda itu hingga keduanya lari bersama.

Sebenarnya, Nyo Tiang Pek bukanlah seorang yang buta atau terlalu bodoh hingga ia membela Tik Kong mati-matian. Akan tetapi, karena tidak melihat bukti-bukti kejahatan Tik Kong dan pula karena pemuda yang pandai mengambil hati itu telah mendatangkan kepercayaan sepenuhnya, maka Nyo Tiang Pek belum tahu bahwa Tik Kong adalah seorang pemuda jahat.

Pula, biarpun ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun ia segera melenyapkan keraguan itu, karena ia telah terlanjur memilih pemuda itu sebagai menantunya, maka ia tidak berani membayangkan kenyataan ngeri bahwa ia telah salah pilih dan memberikan anak tunggal yang disayangnya itu kepada orang jahat.

Pada saat kedua orang suami isteri itu masih terbenam dalam kesedihan, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara orang berseru keras.

“Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek! Kau keluarlah menemui pinto!”

Suara ini terdengar keras sekali dari dalam rumah hingga Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie maklum bahwa orang yang datang itu tentu seorang berilmu tinggi, maka keduanya dengan cepat lalu menghapus air mata dan berlari keluar.

Untuk beberapa lamanya Nyo Tiang Pek memandang kepada orang yang berada di luar rumah dan ia tidak kenal siapa adanya pertapa itu. Orang itu adalah seorang tosu tua yang rambutnya telah putih, akan tetapi mukanya masih segar kemerah-merahan.

Tosu ini memegang sebuah tongkat bambu dan berdiri dengan sepasang mata memandang tajam kepadanya. Di belakang tosu ini masih terdapat dua orang tosu lain yang juga sudah tua serta di punggung masing-masing terdapat pedang panjang. “Nyo Tiang Pek, pinto datang hendak merasai pukulanmu Gin-san-ciang seperti yang telah kau jatuhkan kepada murid keponakan pinto itu!” kata tosu ini dengan suara marah.

Nyo Tiang Pek merasa heran sekali. Ia seperti pernah bertemu dan mengenal muka tosu ini akan tetapi ia lupa lagi bila dan di mana. Giok Lie yang memperhatikan pakaian ketiga orang tosu itu, lalu berbisik, “Bukankah mereka itu tosu- tosu dari Kun-lun-san?”

Teringatlah Nyo Tiang Pek. ”Kalau aku tidak salah sangka, yang berdiri di depan adalah Lui Siok Tojin dari Kun-lun-san. Betulkah?”

Tosu itu memang betul Lui Siok Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang terkenal dan ia ini bukan lain, ialah guru dari Can Kok In, perwira raksasa muda yang gagah itu! Lui Siok Tojin datang bersama dua orang adik seperguruannya oleh karena ia merasa marah sekali mendengar tentang terbunuhnya seorang tosu yang menjadi murid Kun-lun-san, yakni tosu yang telah terbunuh oleh Lui Tik Kong di dusun hingga pedang Ceng-lun-kiam pemberian Nyo Tiang Pek tertinggal di tubuh tosu yang terbunuh itu.

Dan oleh karena tosu itu terbunuh dengan pukulan Gin-san-ciang dan pedang Ceng-lun-kiam, maka tentu saja semua orang menjatuhkan tuduhan kepada Nyo Tiang Pek.

Biarpun tidak mempunyai hubungan erat dengan Lui Siok Tojin, akan tetapi selamanya Nyo Tiang Pek mengindahkan tokoh ini dan tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka, maka sudah tentu saja ia heran sekali mendengar ucapan tosu, itu. Akan tetapi, pada saat itu, hati Nyo Tiang Pek sedang panas urusan puterinya, sedangkan pikirannya pun menjadi gelap, maka kesabarannya pun lenyap, terganti oleh sifat berangasan dan mudah marah.

Rasa malu yang dideritanya karena gagalnya perkawinan, anaknya, membuat ia menganggap bahwa setiap orang memandangnya dengan penuh ejekan dan penghinaan dan kini kedatangan tosu-tosu yang tiba-tiba menuduhnya tidak karuan inipun tentu saja menambah kemarahan hatinya.

“Nyo Tiang Pek, kalau bukan pinto sendiri Lui Siok Tojin yang datang, dari pihak kami Kun-lun-pai siapa lagi yang akan sanggup menghadapimu? Kau terkenal ahli Gin-san-ciang yang lihai dan bertangan maut!”

“Lui Siok Tojin! Aku berhadapan dengan seorang anak kecil atau dengan seorang tua yang telah miring otaknya? Mengapa kau datang-datang menghinaku?”

Lui Siok Tojin marah sekali dan menuding dengan tongkat bambunya.

“Orang she Nyo! Membunuh dan melukai orang tak berdosa dengan kejam adalah perbuatan rendah, akan tetapi mengingkari perbuatan sendiri dan berpura-pura suci bersih adalah perbuatan yang lebih rendah lagi. Kau membunuh seorang murid keponakanku yang tak berdosa, namun masih berpura- pura lagi. Sungguh rendah dan memalukan!”

Bukan main marahnya Nyo Tiang Pek mendengar ini. Sambil berseru ia menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat dalam sebuah lompatan indah dan turun di depan tosu itu.

“Lui Siok Tojin! Jangan sembarangan membuka mulut! Apa kaukira aku takut padamu?” “Ha, ha, ha! Anjing kalau terinjak ekornya akan tampak sifat aslinya! Majulah, majulah! Memang pinto ingin sekali mencoba Gin-san-ciangmu yang lihai!”

Dalam keadaan biasa, tentu Nyo Tiang Pek akan mencari tahu persoalannya lebih dahulu sebelum bertindak, akan tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, ia tidak perduli akan segala sebab-sebab yang membuat tosu itu datang-datang marah kepadanya. Ia hanya menganggap bahwa orang telah menghinanya dan penghina itu perlu dihajar! Maka dengan berseru marah, Nyo Tiang Pek lalu maju memukul!

Lui Siok Tojin adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, maka dengan mudah ia lalu mengelak dan membalas menyerang dengan tongkat bambunya. Tongkat ini biarpun hanya terbuat daripada bambu dan kecil sekali, justeru bentuknya yang kecil dan ringan itu membuat tongkat itu menjadi sebuah senjata penotok yang lihai sekali!

Tongkat itu diputarnya cepat dan sebentar saja tongkat itu telah melakukan serangan bertubi-tubi mengarah jalan darah di tubuh Nyo Tiang Pek! Si Garuda Kuku Emas merasa terkejut dan marah karena tongkat itu benar-benar berbahaya sekali. Dalam pertempuran kurang lebih sepuluh jurus saja hampir ia kena tertotok, maka sambil berseru keras ia lalu memukul dengan ilmu Gin-san-ciangnya yang luar biasa!

Lui Siok Tojin tahu akan kehebatan ilmu pukulan ini, maka cepat ia mengelak, akan tetapi terlambat! Angin pukulan Gin-san-ciang masih menyerempet pundak kanannya hingga ia merasa betapa pundak dan lengannya menjadi kesemutan dan hampir saja tongkat bambunya terlepas!

Pada saat itu, Giok Lie melompat ke dekat suaminya untuk mencegah Nyo Tiang Pek menurunkan tangan kejam. Melihat gerak lompatan nyonya ini, bukan main terkejutnya hati Lui Siok Tojin, oleh karena memang gin-kang dari Giok Lie lihai sekali, bahkan lebih tinggi tingkatnya dari ilmu gin-kang Nyo Tiang Pek sendiri!

Sebetulnya, kalau ia mau, pada saat Lui Siok Tojin terhuyung karena terserempet angin pukulan Gin- san-ciang, mudah saja bagi Nyo Tiang Pek untuk menyusul dengan pukulan maut, akan tetapi betapapun sedang marahnya, ia masih ingat dan tidak mau sembarangan membunuh orang.

Lui Siok Tojin merasa bahwa ia masih belum dapat menandingi Nyo Tiang Pek, apalagi di situ ada isteri pendekar itu yang agaknya memiliki ilmu silat tinggi juga, maka ia lalu menjura dan berkata,

“Orang she Nyo! Tiga bulan lagi pinto minta pengajaran darimu!”

Setelah berkata demikian, tosu itu pergi, diikuti oleh kedua adik seperguruannya yang tidak berani sembarangan bergerak tanpa perintah dari Lui Siok Tojin.

“Lui Siok Tosu, tunggu dulu dan minta penjelasan!” kata Giok Lie.

Akan tetapi, sambil berjalan terus dan hanya menengok dengan kepala, Lui Siok Tojin berkata. “Penjelasan apalagi? Tanya saja kepada suamimu yang gagah!” Lalu ia mempercepat larinya meninggalkan Bong-kee-san! Giok Lie menghela napas panjang dan berkata, “Celaka benar, datang lagi orang mencari permusuhan! Heran sekali, siapakah orangnya yang membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan menggunakan Gin-san-ciang?”

Nyo Tiang Peki tidak menjawab, hanya bertindak perlahan memasuki rumah. Pikirnya juga ruwet sekali.

Dulu ketika ia dan Cin Han serta Lian Hwa dengan banyak orang yang gagah lagi menyerbu ke puncak Hoa-mo-san untuk mengadakan pertandingan dengan pihak Pek-lian-kauw, Lui Siok Tojin itupun ikut datang pula, bukannya dengan maksud membantunya atau membantu pihak musuh, akan tetapi hanya berusaha mendamaikan dan mencegah pertempuran, dan ternyata kemudian tidak berhasil.

Dan semenjak itu, ia tidak pernah mengadakan hubungan dengan Kun-lun-pai. Mengapa tosu ini datang-datang menuduhnya membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan pukulan Gin-san-ciang?

“Jangan-jangan anak kita yang durhaka itu yang melakukannya,” katanya perlahan.

Giok Lie memandang dengan penasaran. Sinar matanya menyangkal keras dan ia lalu menjawab. “Tak mungkin! Aku lebih menduga bahwa ini tentu perbuatan Lui Tik Kong!”

Nyo Tiang Pek menggeleng kepalanya. “Biarpun ia mempelajari Gin-san-ciang, namun belum cukup pandai untuk dapat digunakan memukul mati seorang anak murid Kun-lun-pai,” katanya.

“Suamiku, kau terlalu membela Lui Tik Kong,” isterinya mencela.

Nyo Tiang Pek membalas pandangan isterinya. “Dia dimusuhi semua orang tanpa salah dan kita sudah memilihnya sebagai calon mantu, kalau bukan kita yang membela, siapa lagi?”

Giok Lan hanya menghela napas panjang dan sedih karena dia sendiri sebetulnya juga bingung dan ragu-ragu menghadapi persoalan yang menyangkut diri Tik Kong itu.

Ketika Kong Liang dan Mei Ling diikuti oleh Bwee Hwa cepat menuju ke Tit-lee untuk memberitahukan hasil kunjungan mereka di rumah Nyo Tiang Pek itu kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, mereka kebetulan sekali bertemu dengan Ang Lian Lihiap yang hendak mencari suami dan puteranya.

Dengan hati-hati sekali Kong Liang dan Mei Ling lalu menceritakan pengalaman mereka dan di dalam penuturannya ini, seringkali Kong Liang menghibur Ang Lian Lihiap yang mendengar dengan wajah pucat.

“Harap cici suka bersabar,” kata Mei Ling juga dalam usahanya menghibur dan menyabarkan Ang Lian Lihiap, “pada saat itu Nyo-twako benar-benar sedang marah sekali hingga sukar untuk mengajaknya bicara.” Tiba-tiba Ang Lian Lihiap tertawa keras dan agaknya ia mengeluarkan semua hawa amarah melalui suara ketawa ini.

Bwee Hwa memandang dengan kagum semenjak pertemuan tadi. Telah lama sekali ia mendengar nama Ang Lian Lihiap dan kini melihat orangnya, ia merasa kagum sekali. Dari sikap dan sinar matanya saja, sudah dapat diduga dengan mudah bahwa nyonya ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.

“Nyo Tiang Pek, kau memang terlalu dan sesat,” katanya, kemudian sambil memandang kepada Kong Liang dan Mei Ling ia berkata. “Mudah saja ia menuduh Lo Sin melarikan anaknya. Anakku takkan berwatak serendah itu. Nyo Tiang Pek terlalu menghina anakku, apa dia kira hanya dia sendiri yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan gagah? Hem, Tiang Pek, Tiang Pek! Seandainya kau berikan juga anak perempuanmu kepadaku untuk dijodohkan dengan Lo Sin, aku takkan sudi menerimanya. Aku sendiri yang melarang Lo Sin mendekati anakmu!”

“Cici mengapa begitu? Lee Ing jangan dibawa-bawa, anak itu tidak bersalah apa apa,” kata Mei Ling. Juga Bwee Hwa tak tahan untuk tidak ikut berkata.

“Toanio, Lee Ing adalah seorang gadis yang baik budi dan gagah.”

Mendengar semua kata-kata ini, Ang Lian Lihiap makin cemberut. “Betapapun baiknya gadis she Nyo itu, ia akan menjadi rusak karena terlalu dibanggakan ayahnya yang sesat. Nyo Tiang Pek telah melemparkan anak sendiri ke langit dan menjajarkan dengan bintang-bintang, sedangkan ia merendahkan derajat anakku sampai serendah tanah lumpur. Apa sih hebatnya gadis she Nyo itu? Lihat saja, aku akan dapat mencarikan jodoh untuk anakku yang seratus kali lebih cantik dari pada gadis she Nyo itu dan seribu kali lebih gagah dan pandai.”

Kong Liang dan Mei Ling melihat betapa Lian Hwa mulai gemas dan marah, tidak berani membuka mulut lagi. Mereka berdua sudah mengenal baik watak Ang Lian Lihiap yang kalau sedang baik dan sabar, mau mengalah terhadap siapapun juga, akan tetapi kalau sedang marah, hatinya yang keras sukar sekali ditundukkan dan ia tidak takut kepada siapapun.

“Eh, nona ini siapakah?” tiba-tiba Lian Hwa bertanya sambil memandang Bwee Hwa setelah marahnya agak reda, seakan akan ia baru melihat gadis itu.

Dengan sikap manis dan penuh hormat, Bwee Hwa memperkenalkan diri dan Mei Ling lalu menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan Bwee Hwa. Mendengar bahwa gadis ini bukan lain ialah Kim-gan-eng yang telah terkenal juga, Ang Lian Lihiap memandang kagum.

Sekali pandang saja, ia merasa suka kepada gadis yang manis dan bersikap gagah ini, dan ia teringat akan masa mudanya. Walaupun ia tidak menjadi perampok akan tetapi ia juga merantau dan malang melintang di dunia kang-ouw, menjatuhkan banyak orang-orang gagah hingga nama Ang Lian Lihiap terkenal sekali.

“Siapakah gurumu, nona?” tanyanya.

“Suhu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan,” jawab Bwee Hwa. “Pernah aku mendengar nama ini, aku tetapi sayang aku belum mendapat kehormatan untuk bertemu muka dengan dia,” kata Lian Hwa mengingat-ingat.

Melihat betapa cicinya sudah menjadi sabar kembali, Mei Ling lalu mengajak dia pergi menjauhi Kong Liang dan Bwee Hwa, minta agar supaya kakaknya itu beserta Bwee Hwa suka menanti sebentar.

Ang Lian Lihiap merasa heran melihat sikap Mei Ling yang hendak bermain rahasia-rahasiaan ini, akan tetapi sambil tersenyum ia menurut saja ketika Mei Ling menarik tangannya dan mengajaknya ke bawah sebatang pohon yang tak jauh dari situ letaknya.

“Cici, ada satu hal yang amat menggirangkan. Cici sudah melihat Bwee Hwa itu dan bagaimana pendapat cici?”

“Dia cantik dan gagah,” kata Ang Lian Lihiap dengan ragu-ragu karena tiba-tiba ia timbul dugaan bahwa tentu Mei Ling hendak mengusulkan perjodohan antara Kim-gan-eng itu dengan puteranya Lo Sin.

Wajah Mei Ling girang mendengar pujian Lian Hwa ini, maka ia lalu berkata lagi. “Cici bagaimana kalau gadis itu dijodohkan dengan. engko Kong Liang?”

“Apa     ?” Lian Hwa benar-benar tercengang karena tidak menyangka, kemudian bayangan ragu yang

tadi menyelimuti wajahnya, terganti oleh seri gembira. “Kong Liang……”

“Benar, ketahuilah, cici, keduanya sudah saling suka……” kemudian dengan suara bisik yang ramai seperti yang hanya dapat dilakukan oleh dua orang wanita yang sedang membicarakan urusan orang lain sambil berbisik-bisik, Mei Ling menceritakan kepada Lian Hwa tentang pengalaman malam hari itu ketika Kong Liang terluka senjata berbisa dan ditolong oleh Bwee Hwa. Lian Hwa mendengarkan dengan tersenyum-senyum gembira, kemudian ia berkata.

“Baiklah, aku setuju sekali! Biarlah aku akan sekalian mencari-cari di mana adanya Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, agar aku dapat mengajukan lamaran untuk Kong Liang.”

Mei Ling menjadi girang sekali dan kedua orang wanita cantik ini tertawa-tawa. Dari jauh Kong Liang dan Bwee Hwa melihat keadaan mereka ini, ikut tersenyum gembira dan beberapa kali mereka saling bertukar pandang. Mereka berdua menduga-duga apakah yang sedang dibicarakan oleh Mei Ling dan Ang Lian Lihiap itu hingga perlu menjauhkan diri dan merahasiakannya dari mereka.

Tiba-tiba Bwee Hwa yang cerdik itu dapat menduganya. Apalagi yang perlu dirahasiakan oleh Mei Ling kepada mereka selain perkara perjodohan? Bwee Hwa lalu menundukkan mukanya yang berubah merah dan ia tidak berani lagi menatap pandang mata Kong Liang.

Ang Lian Lihiap dan Mei Ling kembali ke tempat itu dengan muka gembira, dan melihat betapa Bwee Hwa menundukkan mukanya yang kemerah-merahan diam-diam Lian Hwa mengagumi kecerdikan gadis ini yang agaknya telah tahu akan apa yang dirundingkannya dengan Mei Ling tadi. Sebaliknya, Kong Liang memandang mereka dengan penasaran karena ia tidak diikutkan dalam perundingan itu. Lian Hwa lalu menghampiri Bwee Hwa dan memegang tangannya, kemudian tanyanya halus,

“Bwee Hwa, kita telah menjadi sahabat-sahabat baik yang sepaham, maka harap kau suka menjawab pertanyaanku dengan terus terang saja.”

Bwee Hwa tidak berani memandang wajah Lian Hwa, hanya sambil bertunduk ia mengerling dan tersenyum.

“Berapakah usiamu tahun ini?”

Dengan suara hampir tidak terdengar oleh orang lain, Bwee Hwa menjawab, “Duapuluh tahun.”

“Dan dari Mei Ling aku mendengar bahwa kau tidak mempunyai orang tua lagi. Maka kau anggaplah aku sebagai wakil orang tua atau cicimu sendiri. Bwee Hwa, kami semua suka sekali kepadamu dan bagaimana pikiranmu apabila kita mengikat tali perhubungan lebih erat lagi?”

Bwee Hwa adalah seorang gadis yang cerdik dan tentu saja ia telah maklum apa yang dimaksudkan oleh Ang Lian Lihiap yang bicara terus terang ini, akan tetapi, mana ia berani menyatakan perasaan hatinya? Ia menjadi makin malu dan tidak berani bergerak, bahkan dalam kebingungan dan malunya, keringat sampai keluar membasahi dahinya!

Melihat keadaan ini, Kong Liang yang masih belum mengerti, lalu menegur Ang Lian Lihiap. “Suci, sebenarnya apakah artinya semua ini? Kau seakan-akan bicara dengan bahasa rahasia!”

Tiba-tiba Mei Ling memandang kepada kakaknya dengan tertawa geli, hingga Kong Liang menjadi heran dan Lian Hwa juga ikut tertawa.

“Anak bodoh! Lebih baik aku berterus terang saja. Aku mempunyai usul dan pikiran untuk merangkapkan jodoh antara kau dan Bwee Hwa, bagaimana pendapatmu?''

Kong Liang menjadi bengong dan warna merah menjalar di seluruh mukanya. “Ini      ini…… terserah

kepada cici saja……” katanya gagap dan memandang kepada adiknya dengan mata mendelik akan tetapi sinar matanya mengandung pernyataan terima kasih yang besar sekali!

Ang Lian Lihiap tersenyum girang.

“Bwee Hwa seperti juga engkau, Kong Liang telah yatim piatu dan boleh dibilang akulah yang menjadi wakilnya. Bagaimana pendapatmu tentang pinangan ini?”

“Toanio……” jawab Bwee Hwa.

“Jangan menyebut aku toanio, sebutlah saja dengan cici, bukankah kita telah menjadi orang sendiri?” Bwee Hwa makin jengah dan malu. “Cici……” katanya perlahan sekali, “kau...... kau baik sekali dan terima kasih atas kebaikan kalian ini akan tetapi, hal itu…… aku harus bertanya kepada suhu karena suhu adalah seperti orang tuaku

sendiri ”

Lian Hwa tersenyum. “Tentu saja, Bwee Hwa. Tentu saja harus mendapat perkenan dari gurumu, akan tetapi hal itu kurasa tak perlu disangsikan lagi. Aku mendengar bahwa Pat-chiu Koai-hiap adalah seorang gagah dan budiman, maka sudah tentu dia ingin sekali melihat muridnya berbahagia. Bagiku yang terpenting adalah perasaan hati kalian berdua, kau dan Kong Liang, orang lain hanyalah ikut bergembira belaka dan ingin melihat kalian hidup berbahagia. Maka, sebelum aku bertemu dengan suhumu, apabila kalian berdua tidak berkeberatan, aku ingin melihat kalian bertukar pedang sebagai tanda persetujuan hati masing-masing!”

Tentu saja Bwee Hwa dan Kong Liang merasa malu dan tidak berani bergerak. Melihat hal ini, Mei Ling menjadi kasihan sekali dan ia lalu menghampiri Kong Liang dan berkata,

“Koko, kalau kau tidak setuju, jangan biarkan aku mengambil pedangmu!” Setelah berkata demikian, gadis ini lalu mengambil pedang dan sarung pedang yang tergantung di pinggang Kong Liang.

Pemuda ini merasa berdebar dan girang dan sama sekali tidak mencegah adiknya mengambil pedang itu!

Kemudian, dengan pedang di tangan, Mei Ling lalu menghampiri Bwee Hwa yang masih berdiri diam sambil menundukkan kepala. Mei Ling lalu memberikan pedang Kong Liang pada gadis itu yang diterima tanpa berani memandang.

“Adikku yang manis, pedangmu harus diberikan kepada dia!” bisik Mei Ling kepadanya dan dengan tangan gemetar Bwee Hwa lalu melepaskan pedangnya dan diberikannya kepada Mei Ling yang segera membawanya kepada Kong Liang. Kedua orang anak muda itu setelah bertukar pedang lalu memakai pedang itu di pinggang masing-masing dan wajah mereka merah sekali.

Setelah itu, Bwee Hwa lalu berkata kepada Ang Lian Lihiap dengan terharu. “Cici yang mulia, sungguh besar sekali budi kalian terhadap aku yang bodoh dan hina. Sekarang aku mohon diri karena aku hendak mencari suhu.”

Lian Hwa mengangguk-anggukkan kepala. “Memang kau harus selekasnya menemui suhumu dan kalau mungkin memberi kabar kepadaku di mana dia berada agar aku dapat pula menjumpainya. Agaknya akan sukar bagiku untuk mencari perantau aneh itu!”

Setelah berpelukan dengan Mei Ling dan bertukar kerling dengan Kong Liang, Bwee Hwa lalu cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan.

Setelah Bwee Hwa pergi, baru Kong Liang berani buka mulut. “Mei Ling, kau benar-benar nakal dan suka menggoda orang!”

“Eh, eh! Bilang saja seperti apa yang dibisikkan hatimu. Jangan bicara lain di mulut lain di hati!” tegur adiknya. “Apa maksudmu?”

“Aku mendengar hatimu berkata ‘Mei Ling terima kasih atas bantuanmu’ akan tetapi mulutmu pura- pura menegur lagi!”

Lian Hwa tertawa dan Kong Liang dengan gemas berkata. “Awas kau! Sekarang juga akan kubuka rahasia hatimu kepada suci!”

Terbelalak mata Mei Ling memandang kakaknya. “Rahasia? Rahasia apa?” “Apalagi kalau bukan rahasia tentang kau menyamar menjadi laki-laki!” Mendengar ini, merahlah wajah Mei Ling karena malu.

“Eh, eh, anak-anak. Kalian sedang bicara apakah?” tanya Lian Hwa.

“Cici, jangan percaya padanya. Mulutnya memang usil dan jahat!” kata Mei Ling sambil cemberut.

“Siapa usil dan jahat? Kalau tidak ada Yap Bun Gai yang menolong kau dan Bwee Hwa, apakah kita akan dapat bergirang pada saat ini? Dan kalau tidak ada kau yang menolong pemuda gagah itu, apakah dia tidak akan mendapat celaka?”

Lian Hwa makin tertarik hatinya mendengar nama Yap Bun Gai disebut oleh Kong Liang, maka ia lalu mendesak kepada pemuda itu untuk menceritakan pengalaman mereka.

Kong Liang dengan girang lalu menceritakan tentang kebaikan dan pertolongan Bun Gai, bahkan tentang cara Mei Ling menolong dan membela pemuda itu. Mei Ling mendengarkan ini semua dengan menundukkan mukanya dan kini dialah yang tidak berani berkutik.

Setelah mendengar cerita itu dan melihat betapa Kong Liang memberi isyarat mata ke arah Mei Ling, Lian Hwa lalu memandang kepada gadis itu dan bukan main girang hatinya.

“Baiklah,” katanya, “kalau aku sudah bertemu dengan suamiku, akan kubicarakan hal ini kepadanya. Aku sendiripun setuju kepada pemuda yang baik hati itu, sayangnya dia muncul di tengah-tengah pihak mereka yang jahat!”

“Suci, emas murni tidak takut karat, dan bunga teratai tidak takut kena lumpur!” Kong Liang berkata dalam pembelaannya sehingga diam-diam Mei Ling merasa berterima kasih kepada kakaknya itu yang membela Bun Gai.

“Ya, ya, aku tahu,” jawab Lian Hwa. “Memang tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku melainkan melihat kalian berdua mendirikan rumah tangga yang penuh kebahagiaan.” Kata-kata terakhir ini diucapkan dengan suara mengharukan karena pendekar wanita ini teringat akan puteranya. Kemudian kakak beradik itu menyatakan bahwa merekapun hendak membantu mencari Cin Han dan Lo Sin dan oleh karena tidak diketahui di mana adanya kedua orang itu, maka mereka lalu mengambil keputusan untuk mencari sambil berpencar Kong Liang dan Mei Ling mencari ke utara dan Lian Hwa mencari ke timur.

Setelah Lian Hwa pergi, Mei Ling dengan gemas lalu mendekati kakaknya dan hendak dicubitnya sambil berseru. “Kau lancang dan kurang ajar!”

Sambil tertawa-tawa Kong Liang berlari cepat dan kemudian berkata, “Adikku yang baik, mengapa kau tidak bicara seperti hatimu?” Ia membalas menggoda. “Kalau menurut suara hatimu, kau seharusnya berlutut dan menghaturkan terima kasih kepadaku!”

Demikianlah, kedua kakak beradik yang bahagia itu bersendau gurau di sepanjang jalan dalam perantauan mereka mencari jejak Lo Sin atau Cin Han.

Lo Sin melarikan diri dari depan Nyo Tiang Pek yang marah sekali kepadanya, sedangkan Lee Ing mengikutinya sambil menangis terisak-isak. Setelah berlari jauh dan memasuki sebuah hutan pohon siong, Lo Sin berhenti dan Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu sambil mengeluh,

“Ayah…… ayah……”

Lo Sin segera memeluk pundak Lee Ing dan berkata perlahan.

“Ing-moi, tenangkanlah hatimu dan jangan bersedih. Ayahmu sedang marah, maka kemarahan telah membuat pikirannya gelap. Biarlah kelak kalau ayahmu sudah sadar, tentu ia akan menjadi baik kembali. Untuk sementara waktu, biarlah kita menjauhkan diri dan jangan kau khawatir, bukankah masih ada aku yang melindungi dan mencintamu?”

Mendengar kata-kata ini, terhibur juga hati Lee Ing dan gadis ini lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Pada saat itu, terdengar bunyi ringkik kuda dan sebentar juga Pek-liong-ma telah muncul di situ sambil berlari congklang.

“Lihat Pek-liong-ma juga tidak mau berpisah dari kita!” Keduanya lalu bangun berdiri dan memeluk kuda yang menjadi sahabat baik itu.

“Sayang sekali bahwa Tik Kong terlepas lagi dari tangan kita!” kata Lo Sin dengan gemasnya.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam hutan yang ternyata besar sekali dan di sebelah dalam terdapat banyak pohon-pohon yang mempunyai buah-buahan hingga mereka girang sekali karena di dalam hutan ini mereka tidak usah khawatir kekurangan makanan. Juga banyak sekali binatang-binatang hutan yang dapat diburu dan dimakan dagingnya.

Lo Sin lalu menceritakan tentang semua pengalamannya hingga Lee Ing makin jelas dan mengerti tentang kejahatan Tik Kong. Gadis ini merasa menyesal sekali bahwa ayahnya telah tertipu dan terpikat oleh pemuda jahat itu. “Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu,” kata Lo Sin dengan sejujurnya. “Aku sendiri kalau belum mengetahui tentang segala perbuatannya, apabila bertemu muka dengan Tik Kong yang berwajah tampan dan bersikap menarik itu, tentu akan tertipu dan terpikat. Pemuda itu memang pandai membawa diri dan mempunyai muka palsu yang sama sekali tidak mencerminkan keadaan hatinya.”

“Akan tetapi, semenjak pertama kali bertemu aku sudah mempunyai rasa tidak suka dan benci kepadanya,” kata Lee Ing. “Juga aku tahu bahwa ibupun kurang suka kepadanya, hanya sayangnya, ibu selalu menurut kehendak ayah tanpa membantah sedikitpun.”

“Memang sudah seharusnya demikian!” kata Lo Sin.

Lee Ing memandangnya dengan tajam. “Apa katamu? Sudah seharusnya demikian, bagaimana maksudmu?”

“Sudah seharusnya seorang isteri menurut kehendak suaminya.”

Tiba-tiba Lee Ing berdiri lurus, mengedikkan kepalanya dan mendelikkan mata. “Enak saja kau bicara! Apakah perempuan dianggap patung saja yang hanya boleh mengangguk dan menurut segala macam kehendak laki-laki? Apakah segala macam kehendak suami, biarpun tidak pantas dan tidak benar harus diturut saja dan isteri tidak boleh membantah sedikitpun, bagaikan seekor lembu yang dituntun pada hidungnya? Ah, dasar kaupun laki-laki! Dan laki-laki biasanya hendak menang sendiri saja, hendak enak sendiri, hendak diturut segala kehendaknya!”

Lo Sin tersenyum. “Aku tidak hendak menang sendiri saja, Ing-moi, juga tidak hendak enak sendiri atau diturut segala kehendakku. Aku bukan laki-laki seperti itu, Ing-moi!”

Pandangan mata Lee Ing melembut. “Lebih baik kau jangan bersifat seperti itu, karena akupun bukan seorang perempuan yang mau dijadikan boneka yang hanya bisa mengangguk dan berkata. “Baik, tuan besar!”

Tiba-tiba Lo Sin memandang kepada gadis itu dengan mata berseri dan ia tertawa bergelak. “Ing- moi…… ha-ha-ha! Kalau sudah begini, kau sama betul dengan ibuku! Ha-ha-ha! Sama-sama keras hati, liar dan tak mau ditundukkan.”

Merah muka Lee Ing mendengar ini. “Memang ibu jauh lebih baik daripada aku, akan tetapi, ia terlampau lemah dan mengalah!”

“Akan tetapi ibuku sangat mencintai ayahku, biarpun ia tukang membantah. Bahkan tidak jarang setelah bersitegang, ibu menyatakan kesalahannya dan menurut kata-kata ayah!”

“Apa kaukira akupun tahuku hanya membantah dan sekehendakku sendiri saja? Akupun mempunyai pikiran!”

Kembali Lo Sin tertawa, ia merasa gembira sekali melihat watak dan sifat-sifat gadis ini yang benar- benar seperti ibunya. Keras hati, panas, dan bergelora, akan tetapi memiliki kehalusan budi, penuh kegembiraan hidup seperti kuda liar yang indah! “Sin-ko, bagaimana kalau…… kalau orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita?” tiba-tiba Lee Ing bertanya dengan suara sedih. “Ayahku terang tidak menyetujui, biarpun aku berani menanggung bahwa ibu tentu setuju dan kalau orang tuamu juga tidak setuju, bagaimanakah akan jadinya dengan nasib kita?”

Lo Sin tersenyum untuk menghibur hati kekasihnya itu. “Jangan khawatir, Ing-moi. Ayah ibuku memang tadinya bermaksud melamarmu, mengapa mereka tidak setuju? Bahkan terus terang saja, aku sendirilah yang tadinya tidak setuju ketika mereka melamar kau.”

“He?!?” Lee Ing memandang dengan mata terbuka lebar dan mulut cemberut hingga dalam pandangan mata Lo Sin ia nampak makin cantik dan makin manis!

“Memang, aku bahkan menjadi marah,” kata pula Lo Sin sambil tertawa. “Aku tidak suka dijodohkan dengan puteri Nyo peh-peh oleh karena pada waktu itu hatiku telah tercuri oleh seorang gadis!”

“Apa katamu?” Lee Ing makin marah.

“Hatiku telah tercuri oleh gadis yang berdiri di bawah pohon dengan pakaian basah kuyup!”

Lenyaplah sinar kemarahan dari wajah Lee Ing, terganti oleh senyum yang membuat wajahnya kemerah-merahan.

“Sin-ko, kau harus memberi pelajaran ilmu silat padaku,” katanya kemudian dan karena memang Lo Sin menganggap bahwa ilmu kepandaian Lee Ing masih jauh daripada mencukupi untuk menjaga diri, maka ia lalu mulai mengajar silat kepada gadis itu.

Ia mulai mengajarkan gerakan pertama dari ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut dan ia tidak ragu- ragu lagi untuk menurunkan ilmu pedang luar biasa ini kepada Lee Ing biarpun dulu ia telah disumpah oleh orang tuanya bahwa ia tidak boleh menurunkan ilmu pedang itu kecuali kepada isteri atau anaknya kelak! Dengan perbuatan ini, Lo Sin ternyata telah bertekad bulat untuk mengambil Lee Ing sebagai isterinya, biarpun seluruh dunia akan menentangnya!

Ia tidak takut akan ancaman Nyo Tiang Pek dan tidak takut pula kalau-kalau kedua orang tuanya melarang ia berjodoh dengan gadis ini! Memang, kekerasan dan kenekatan hati Lo Sin ini adalah warisan dari Ang Lian Lihiap yang terkenal memiliki hati keras dan keteguhan iman. Kalau telah menghendaki sesuatu, maka segala rintangan akan diterjang dan diberantas!

Berhari-hari mereka hidup di dalam hutan, berlatih silat dan bersendau-gurau. Pek-liong-ma juga senang tinggal di hutan yang banyak mempunyai rumput-rumput hijau yang gemuk untuknya itu. Akan tetapi, biarpun perhubungan kedua anak muda ini mesra sekali, namun mereka selalu menjaga diri dan membatasi hati mereka sehingga tidak mau melanggar batas-batas kesusilaan. Mereka terlampau gagah untuk dapat dikuasai oleh nafsu-nafsu buruk dan rendah.

Mereka tidak tinggal di tempat yang tertentu dalam hutan itu dan setiap hari berpindah tempat mencari tempat yang lebih indah dan menyenangkan. Pada suatu hari mereka tiba di sebelah timur hutan itu tiba-tiba mereka mendengar suara orang bertempur. Ketika Lo Sin dan Lee Ing cepat memburu ke tempat itu, mereka terkejut sekali oleh karena melihat bahwa yang bertempur itu adalah Bwee Hwa si Garuda Mata Emas dan Hek Li Suthai. Kim-gan-eng Bwee Hwa sedang didesak keras sekali oleh kedua pedang Hek Li Suthai hingga keadaan gadis itu dalam bahaya. Pedang yang bersinar hijau dan hitam di kedua tangan to-kouw itu telah mengurung rapat dan Bwee Hwa hanya dapat menangkis dan mengelak sambil mundur dalam keadaan terjepit!

Lo Sin lalu melompat dengan pedang di tangan dan sekali ia bergerak, maka kedua pedang Hek Li Suthai telah ditangkis! Melihat datangnya orang yang membantunya, Bwee Hwa lalu mundur dan alangkah girangnya ketika melihat bahwa yang membantunya adalah Ouw-yan-cu Lo Sin, si Walet Hitam! Dan lebih girang lagi ketika ia melihat Lee Ing berdiri di situ.

Serta merta gadis ini lalu lari menghampiri Lee Ing dan memeluknya sambil menangis! Lee Ing heran sekali melihat gadis ini nampak sedih dan menangis, maka ia lalu balas memeluk dan menghiburnya.

Kemudian keduanya lalu berdiri memandang ke arah Lo Sin yang menghadapi Hek Li Suthai yang menjadi marah sekali karena ternyata olehnya bahwa yang menolong Bwee Hwa adalah putera Ang Lian Lihiap yang sudah dikenal kelihaiannya itu! Dan di bawah pohon, di belakang Hek Li Suthai, berdiri si kakek buntung Bong Cu Sianjin yang lihai!

“Ouw-yan-cu! Bagus sekali kau datang mengantarkan jiwa!” teriak Hek Li Suthai dengan marah sekali dan dengan sikap mengancam, akan tetapi ia tidak berani sembarangan bergerak atau menyerang. Sementara itu ketika mendengar nama ini, Bong Cu Sianjin melangkah maju dengan penuh perhatian.

“Hm, inikah putera Ang Lian Lihiap yang tersohor?” katanya sambil tersenyum memandang rendah.

Bagaimana tiba-tiba saja Hek Li Suthai dan Bong Cu Sianjin bisa berada di situ dan bertempur dengan Kim-gan-eng Bwee Hwa?

Ternyata bahwa setelah mendengar dari Yap Bun Gai akan perjanjian mengadu kepandaian di puncak Hoa-mo-san tiga bulan kemudian, Bong Cu Sianjin lalu mengajak Hek Li Suthai untuk mengunjungi kawan-kawan dan mencari pembantu untuk menghadapi Ang Lian Lihiap dan suaminya yang lihai itu. Juga Lui Tik Kong menyatakan hendak mencari bala bantuan dari orang-orang pandai yang dikenalnya dan Bi Mo-li yang tidak dapat berpisah dari Tik Kong, lalu ikut pergi dengan pemuda itu.

Kebetulan sekali ketika mereka bertemu dengan Bwee Hwa yang sedang berjalan mencari suhunya. Melihat Kim-gan-eng, tanpa banyak cakap lagi Hek Li Suthai lalu menyerangnya dan terpaksa Bwee Hwa melakukan perlawanan sengit. Semenjak mendapat latihan-latihan dari suhunya, memang kepandaian Bwee Hwa telah maju pesat.

Apalagi pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan dengan Hek Li Suthai dan kawan- kawannya membuat ia berlaku hati-hati dan dapat menjaga diri dengan baik hingga walaupun ia selalu didesak hebat, namun sebegitu jauh Hek Li Suthai belum berhasil merobohkannya! Sementara itu, Bong Cu Sianjin tidak mau merendahkan diri untuk ikut menyerbu, betul bahwa Hek Li Suthai seorang diripun akan sanggup merobohkan Kim-gan-eng. Kini mehhat bahwa putera Ang Lian Lihiap datang menolong Bwee Hwa, Bong Cu Sianjin memandang dengan penuh perhatian dan berkata kepada Hek Li Suthai, “Ceng Hwa, seranglah dia dan jangan khawatir, aku melihat dari sini.”

Biarpun sudah maklum akan kelihaian Lo Sin, namun Hek Li Suthai tidak mau menunjukkan rasa takut, maka sambil berseru nyaring ia lalu memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat. Harus diingat bahwa to-kouw ini telah menerima latihan ilmu silat yang lebih tinggi dari Lan Bwee Niang-niang, maka serangannya pun hebat sekali, jauh lebih hebat daripada ketika ia bertempur melawan Lo Sin di hujan badai dulu itu.

Namun Lo Sin menyambut serangannya dengan tenang saja. Pemuda ini mempergunakan pedang pusakanya yang disebut Kim-hong-kiam atau Pedang Burung Hong Emas yang mengeluarkan sinar kuning keemasan lalu memainkan ilmu pedangnya yang luar biasa.

Biarpun sepasang pedang Hek Li Suthai itu menyambar-nyambar merupakan dua buah sinar hijau dan hitam dengan hebat dan garang, namun dengan sebatang pedangnya ia dapat menangkis dengan baik dan kuat hingga tiap kali pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Hek Li Suthai, to-kouw itu merasa betapa telapak tangannya tergetar.

Lo Sin kali ini tidak mau memberi hati kepada lawannya dan ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya bagian menyerang hingga sebatang pedang di tangannya itu berkelebat bagaikan seekor naga sakti mengamuk. Belum juga mereka bertempur tigapuluh jurus. Hek Li Suthai sudah terdesak hebat dan terpaksa mengerahkan segala ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dari desakan ini.

Bong Cu Sianjin merasa kagum sekali melihat kelihaian pemuda itu, maka ia lalu berseru, “Ceng Hwa, kau mundurlah dulu. Biar aku tangkap tikus kecil ini!”

Lega hati Hek Li Suthai mendengar perintah susioknya, karena memang ia telah mengeluarkan peluh dingin pada dahinya menghadapi rangsekan yang membuatnya tidak berdaya itu.

Sementara itu, ketika melihat bahwa kakek buntung itu mengajukan diri dengan tabah dan berani sekali, Lo Sin lalu menyimpan kembali pedangnya.

“Bong Cu Sianjin, kebetulan sekali. Aku telah lama ingin menyaksikan kelihaian kedua kakimu!” katanya dengan tenang dan memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan kaki yang kabarnya lihai sekali itu. Kalau Bong Cu merasa girang dan juga heran melihat keberanian Lo Sin, Lee Ing dan Bwee Hwa sebaliknya merasa khawatir sekali.

“Sin-ko, hati-hatilah, kakinya lihai sekali!” seru Lee Ing memperingatkan Lo Sin agar pemuda ini suka mempergunakan pedang menghadapi kakek buntung itu. Akan tetapi Lo Sin hanya tersenyum danmenjawab,

“Aku tidak tega untuk menghadapinya dengan pedang, Ing-moi.”

Jawaban ini membuat alis Bong Cu Sianjin seakan-akan berdiri karena marahnya. Ia merasa dianggap rendah dan dihina oleh Lo Sin, maka sambil menggeram keras ia lalu melangkah maju dan mengirim serangan dengan tendangan kakinya yang mengeluarkan angin keras. Lo Sin maklum akan kelihaian lawan, maka ia tidak berani berlaku sembrono, bahkan menghadapinya dengan hati-hati sekali. Ia mempergunakan kelincahan dan keringanan tubuhnya untuk berkelit cepat dan membalas dengan serangan kilat yang tidak kalah hebatnya.

Menyaksikan ginkang pemuda ini yang tinggi, diam-diam Bong Cu Sianjin terkejut sekali. Selama berpuluh tahun setelah kedua lengannya buntung, Bong Cu Sianjin setiap hari melatih kedua kakinya hingga kehebatan kedua kaki ini tidak kalah dengan kedua lengan tangannya dulu ketika masih belum buntung. Bahkan kini tenaga kakinya hebat sekali dan ia telah berhasil melatih kakinya sedemikian rupa hingga ujung kakinya dapat digunakan untuk menotok jalan-jalan darah lawan.

Tiap kali ia menendang, bukanlah merupakan tendangan biasa yang hanya mempergunakan tenaga besar belaka, akan tetapi selalu tendangannya itu mengarah urat-urat kematian atau bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Juga ia dapat memainkan kedua kakinya sedemikian rupa hingga kakinya dapat menendang dari belakang, depan dan kanan kiri. Bahkan ia dapat melompat tinggi sambil menendang dari udara, atau ia dapat menendang hingga kakinya itu mengarah kepala lawan.

Menghadapi ilmu tendangan yang luar biasa dan yang agaknya tiada keduanya ini, Lo Sin diam-diam merasa terkejut sekali. Bukan kosong belaka kebesaran nama Bong Cu Sianjin dan ilmu tendangannya yang benar-benar membuat Lo Sin terpaksa harus berlaku hati-hati sekali.

Melihat betapa tendangan-tendangannya tak berhasil mengenai lawan yang muda dan tangguh ini, Bong Cu Sianjin menggereng hebat karena penasaran dan marahnya. Ia lalu merubah gerak kakinya dan kini ia melancarkan gerakan tendangan yang dinamai Jian-liong-tiam-jiauw atau Ribuan Naga Mengulur Kuku. Tendangannya dilakukan dengan kedua kaki yang susul menyusul hingga serangan itu datang bagaikan hujan mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Lo Sin.

Melihat serangan hebat ini, diam-diam hati Lee Ing berdebar cemas dan ia lalu memegang tangan Bwee Hwa erat-erat. Juga Bwee Hwa merasa khawatir sekali, sungguhpun semenjak tadi tiada habisnya ia mengagumi kepandaian Lo Sin, bukan main hebatnya sepak terjang putera Ang Lian Lihiap ini, pikirnya. Ke dua orang gadis itu memandang dengan mata tanpa berkedip ke arah perkelahian yang hebat itu.

Diserang secara demikian, Lo Sin terkejut sekali. Ia merasa betapa akan sukarnya untuk mengelakkan diri dari serangan kedua kaki yang bertubi-tubi ini, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu ia telah mempergunakan ginkangnya dan tubuhnya mencelat ke atas. Akan tetapi, bukannya kaget, bahkan Bong Cu Sianjin lalu tertawa girang dan kedua kakinya cepat mengejar dan kini tendangan-tendangan ditujukan ke atas menjaga turunnya tubuh pemuda itu. Agaknya sudah tidak ada jalan lagi bagi Lo Sin untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.

Akan tetapi, tidak kecewa Lo Sin mendapat gemblengan sepenuh hati dari kedua orang tuanya dan ia telah menerima pula pelajaran ginkang yang tinggi dari ibunya, yaitu warisan ilmu ginkang dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan. Melihat datangnya kedua kaki yang menyambar ke arah dirinya, tiba-tiba tubuh Lo Sin berjungkir balik di tengah udara, kaki ke atas dan kedua tangan ke bawah. Ia lalu menyambut ujung kaki lawannya yang menyambar dari bawah itu dan yang didahului oleh angin tendangan keras. Lo Sin mengerahkan lweekangnya dan dengan tangannya ia menotol ujung kaki yang datang menyambar hingga ia terdorong oleh tenaga tendangan itu dan tubuhnya melayang kembali ke atas. Berkali-kali Lo Sin turun dan menotol ujung kaki hingga tubuhnya melayang lagi tanpa menderita luka.

Pemandangan ini sungguh indah dan mentakjubkan hingga Lee Ing dan Bwee Hwa memandang dengan melongo. Juga Hek Li Suthai diam-diam merasa kagum sekali dan memuji dalam hatinya. Rasa penasaran di dalam hatinya karena dikalahkan oleh Lo Sin, kini menjadi menipis oleh karena memang pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

Sementara itu, dari atas, tubuh Lo Sin menyambar-nyambar naik turun sambil meminjam tenaga tendangan lawan hingga seolah-olah ia merupakan seekor burung besar yang menyambar-nyambar turun dan kedua kaki Bong Cu Sianjin merupakan dua ekor ular yang mencoba untuk menggigit burung yang menyambar turun itu.

Dan dari atas, Lo Sin melihat betapa kedua kaki lawannya itu bergerak bagaikan dua batang tongkat besar yang lempeng menyerang ke atas. Tiba-tiba ia mendapat kenyataan hahwa seluruh kaki itu, dari ujung sampai pangkalnya, yang paling lemah adalah bagian sambungan lutut. Maka ia lalu menotol ujung kaki lawan yang menyambar lagi dan mengenjot tubuhnya jauh dari situ lalu turun di atas tanah.

Bong Cu Sianjin memburu sambil berteriak. “Jangan lari!”

“Siapa yang lari?” jawab Lo Sin sambil menyambut serangan lawannya lagi.

Kini Lo Sin sambil membalas dengan serangan pukulan dan tendangan yang semua ditujukan ke arah lutut Bong Cu Sianjin. Memang sukar menghadapi lawan buntung yang tidak diketahui gerak geriknya. Jika menghadapi seorang lawan yang berlengan, kita dapat mengikuti dan menduga gerakan lawan itu dari pundaknya yang bergerak lebih dulu sebelum melakukan serangan, akan tetapi oleh karena Bong Cu Sianjin tidak berlengan dan tidak melakukan serangan dengan tangan, maka pundaknya tidak bergerak hingga Lo Sin tidak dapat menduga cara-cara ia bergerak melakukan serangan.

Kini pemuda itu mendapatkan akal dan memusatkan seluruh serangan pembalasan ke arah lutut lawan hingga Bong Cu Sianjin menjadi sibuk juga. Kini ia tidak dapat mendesak seperti tadi oleh karena serangan-serangan Lo Sin ke arah sambungan lututnya itu berbahaya sekali dan ia harus menjaga sekuatnya agar sambungan lututnya jangan sampai kena terpukul. Dari paha, betis, sampai ke jari kakinya ia tidak takut menghadapi pukulan, akan tetapi sambungan lututnya kalau sampai terpukul dan terlepas sambungannya, berarti ia akan mendapat celaka.

Pertempuran menjadi makin hebat karena keadaan mereka kini seimbang. Kalau saja Lo Sin mempergunakan pedangnya, agaknya Bong Cu Sianjin takkan dapat tahan lama, akan tetapi pemuda itu merasa malu untuk mempergunakan senjata apalagi setelah tadi ia menyatakan bahwa ia tidak tega menghadapi Bong Cu Sianjin dengan senjata. Sedangkan sekarang, biarpun ia telah mengetahui letak kelemahan lawannya, namun oleh karena Bong Cu Sianjin benar-benar kosen, ia tidak berdaya untuk mendesaknya apalagi hendak merobohkannya. Lee Ing dan Bwee Hwa yang melihat betapa Lo Sin tidak terdesak hebat lagi, merasa lega, akan tetapi mereka tetap merasa khawatir dan bingung karena tidak berdaya menolong kawan ini. Tadinya Bwee Hwa hendak maju membantu, akan tetapi Lee Ing menahan tangannya sambil berbisik.

“Sin-ko tidak mau dibantu. Kalau dia sendiri tidak minta dibantu, kita tidak boleh turun tangan.”

Akan tetapi tidak demikian dengan Hek Li Suthai. Melihat betapa kini susioknya tidak dapat mendesak lawan bahkan keadaan mereka berimbang dan saling menyerang dengan hebatnya, ia lalu melompat maju dan berkata.

“Susiok, biar kita bersama menangkap anjing ini.”

Tiba-tiba Lo Sin tertawa bergelak dan merasa bahwa kedatangan Hek Li Suthai itu menguntungkannya. Oleh karena dikeroyok dua dan Hek Li Suthai mempergunakan sepasang pedang hijau hitamnya yang lihai, maka ia tidak malu untuk cepat-cepat menarik keluar pedangnya dan kini ia mengamuk dengan pedang Kim-hong-kiam di tangan.

Kini ia tidak mau berlaku setengah hati lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian gerakan menyerang yang paling hebat, yakni Naga Sakti Mandi di Api. Gerakan pedangnya bagaikan bunga api menjilat-jilat atau cahaya kilat menyambar-nyambar, menimbulkan hawa panas yang keluar dari hawa pedang dan ia mengurung kedua lawannya dengan sinar pedangnya yang lihai itu.

Bong Cu Sianjin kini terkejut sekali, demikian Hek Li Suthai. Biarpun keadaannya masih sanggup mempertahankan diri, namun permainan pedang ini benar-benar hebat dan mengerikan. Kalau saja yang menghadapi permainan pedang Lo Sin bukannya Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai, maka pasti keduanya sudah sedari tadi kena dirobohkan.

Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai yang berilmu tinggi itu merasa sangat penasaran dan terus mempertahankan diri dengan ulet dan nekad. Akan tetapi setelah bertempur menghadapi ilmu pedang sakti ini sampai seratus jurus, mereka tidak dapat menahan lagi. Keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka dan pandangan mata mereka telah berkunang-kunang.

“Ouw-yan-cu! Ibumu telah berjanji hendak bertanding dengan kami di puncak Hoa-mo-san pada bulan ketiga, kalau kau memang berani, datanglah pada waktu yang ditentukan!” kata Bong Cu Sianjin sambil melompat berjumpalitan ke belakang!

Hek Li Suthai juga hendak melompat keluar dari kurungan pedang Lo Sin, akan tetapi tiba-tiba pedang Lo Sin telah bergerak sedemikian cepat sehingga kedua lengan tangannya tergores pedang dan mengeluarkan darah dan kedua pedangnya itu terlepas dari pegangan!

“Ha-ha-ha, Hek Li Suthai! Biarlah kali ini aku memberi kesempatan padamu. Lain kali kubikin buntung kedua lenganmu seperti susiokmu itu!”

“Walet Hitam! Biarlah lain kali aku membalas dendam ini di puncak Hoa-mo-san,” kata Hek Li Suthai sambil menahan marahnya dan memungut pedangnya, sedangkan luka goresan pedang di kedua tangannya mengeluarkan banyak darah ketika ia mengikuti Bong Cu Sianjin melarikan diri situ dengan perasaan marah, malu mendongkol dan penasaran!

Pertemuan dengan Lo Sin ini lebih menguatkan niat Bong Cu Sianjin untuk pergi mencari bala bantuan oleh karena ia maklum bahwa dengan adanya Lo Sin ini, pihak Ang Lian Lihiap menjadi lebih kuat!

Lo Sin lalu menghampiri Bwee Hwa yang menjura kepadanya dan berkata.

“Terima kasih, taihiap. Kalau tidak ada kau dan adik Lee Ing yang membantu, tentu saat ini Kim-gan- eng hanya tinggal namanya saja.”

Ia lalu memeluk Lee Ing dengan terharu sekali dan ketika ia teringat akan nasib Lee Ing dan keadaan orang tua kedua pemuda pemudi ini, tiba-tiba Bwee Hwa menangis sambil mengeluh.

“Lee Ing…… sungguh kasihan sekali kau.    ”

Lee Ing terkejut sekali. “Eh, eh, enci Bwee mengapa kau ini? Mengapa kau menyusahkan keadaanku? Ada apakah?”

Juga Lo Sin menjadi tidak enak hati dan berkata. “Nona, kau datang dari manakah dan hendak ke mana?”

“Lo-taihiap belum lama ini aku telah bertemu dengan Nyo lo-enghiong dan juga bertemu dengan ibumu.”

Terkejutlah Lee Ing dan Lo Sin mendengar ini.

“Bagaimana keadaan mereka?” mereka berdua bertanya dengan suara hampir berbareng.

Dengan masih menahan tangisnya, Bwee Hwa lalu menceritakan betapa ia ikut dengan Kong Liang dan Mei Ling ke rumah Nyo Tiang Pek dan bahwa pendekar itu masih marah sekali bahkan mengancam hendak membunuh Lo Sin dan Lee Ing apabila mereka dapat bertemu dengan kedua anak muda ini!

Mendengar ancaman ayahnya ini, Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis sambil mengeluh. “Ayah...... ayah…… sekejam itukah hatimu kepadaku… ?”

Bwee Hwa memeluk pundak Lee Ing dan ikut menangis, sedangkan Lo Sin lalu berkata menghibur. “Tenangkanlah hatimu, Ing-moi. Akulah yang akan bertanggung jawab terhadap semua ini. Dan bagaimana dengan ibu, nona? Bagaimana sikap ibu setelah mendengar ucapan Nyo-pehpeh itu?”

“Ibumu marah sekali dan kalau sampai kedua pendekar tua itu bertemu muka, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi! Ibumu bahkan menyatakan bahwa oleh karena ayah Lee Ing membencimu dan mengancam hendak membunuh, maka ibumu juga tidak rela kalau…… kalau kau berjodoh dengan Lee Ing. ”

Mendengar ini, Lee Ing memekik ngeri dan roboh pingsan dalam pelukan Bwee Hwa! “Lee Ing...... Lee Ing…… ah, ampunkan aku, taihiap…… aku telah gila! Lee Ing.     mengapa mulutku

begini lancang     ?” Bwee Hwa memeluk tubuh Lee Ing dan menangis dengan bingung.

Lo Sin merasa terharu sekali dan ia lalu menggunakan kepandaiannya untuk menotok pundak Lee Ing dan membuat gadis itu siuman kembali. Ketika sadar dari pingsannya dan melihat Lo Sin berlutut di dekatnya, Lee Ing mengeluarkan keluhan dan menubruk pemuda itu, memeluknya lalu menangis terisak-isak.

“Sin-ko...... aku lebih rela mati di tanganmu daripada daripada mati oleh ayah atau oleh ibumu     ”

Lo Sin mendekap kepala kekasihnya pada dadanya dan pemuda inipun tidak dapat menahan pula air matanya yang keluar menitik turun ke atas pipinya.

“Jangan begitu, Ing-moi. Mana kegagahanmu? Mana sifatmu yang gembira dan hatimu yang tabah? Tidak pantas kau bersikap begini, Ing-moi. Apakah tiba-tiba kau menjadi seorang gadis yang lemah dan penakut? Di sini masih ada aku, Ing-moi, dan mati-hidup kita akan selalu bersama!”

Ucapan ini membuat Bwee Hwa merasa terharu sekali, akan tetapi bagaikan api yang disiram air, tiba- tiba lenyap pula keraguan dan kehancuran semangat yang tadi mempengaruhi Lee Ing. Ia melepaskan diri dari pelukan dan berkata dengan gagah.

“Terima kasih, Sin-ko. Hampir saja aku tersesat oleh kelemahan sendiri. Kau benar! Biar mereka semua membenci kita. Biar mereka semua mengutuk memusuhi kita. Kita akan hadapi bersama, mati atau hidup!”

Melihat kasih sayang yang demikian besar antara kedua orang muda itu, diam-diam Bwee Hwa merasa kagum dan amat terharu dan mengingatkan ia kepada Kong Liang yang gagah dan tampan. Tak terasa pula tangannya lalu meraba-raba dan mengusap-usap pedang pemberian Kong Liang yang tergantung di pinggangnya.

Lo Sin yang melihat hal ini dan matanya yang tajam lalu mengenal pedang itu. “Hei! Bukankah yang kaubawa itu pedang panjang paman kecil Kong Liang?” teriaknya dengan heran. Juga Lee Ing yang sudah kering pula air matanya itu lalu maju memeriksa.

“Betul, betul, akupun kenal pedang ini! Lihat di gagangnya terukir huruf Kong dan Liang! Cici yang baik, bagaimana pedangnya bisa terjatuh dalam tanganmu?'! tanyanya sambil memandang heran pula.

Dihujani pertanyaan dari kedua muda mudi ini, tiba-tiba wajah Bwee Hwa menjadi merah sekali seperti kepiting direbus.

“Cici…… Lian Hwa menukarkan pedangku dengan…… pedang ini,” katanya sambil menundukkan kepala. Lee Ing yang tadi bersedih, menangis, bahkan sampai jatuh pingsan, kini tertawa dan memeluk dan menciumi Bwee Hwa! Gadis ini girang sekali dan sambil menepuk-nepuk pundak Bwee Hwa ia berkata.

“Ah, bagus sekali, cici! Kau memang cocok menjadi isteri paman kecil Kong Liang! Kiong-hi, kiong-hi (Selamat, selamat)……!”

Juga Lo Sin lalu menjura dan berkata, “Kiong-hi, kiong-hi!”

Mereka bertiga lalu bercakap-cakap dengan girang dan baik Bwee Hwa maupun Lo Sin terpengaruh oleh sikap Lee Ing yang sungguh-sungguh mengherankan, karena gadis ini telah bisa tertawa dan bersendau gurau dengan gembira sekali! Diam-diam Lo Sin merasa kagum karena ia lagi-lagi melihat persamaan yang luar biasa dalam tabiat kekasihnya ini dengan sifat ibunya, Ang Lian Lihiap!

Dan ia merasa bersyukur sekali karena ia sendiri pun tidak suka melihat sifat seorang gadis yang terlampau mudah berputus asa dan berduka.

Kemudian, setelah menyatakan janjinya bahwa iapun akan berusaha membujuk kedua orang tua Lee Ing dan Lo Sin agar mereka suka berdamai, Bwee Hwa lalu melanjutkan perjalanannya mencari suhunya dan meninggalkan kedua anak muda itu.

Setelah Bwee Hwa pergi, Lee Ing dan Lo Sin teringat lagi akan keadaan orang tua masing-masing dan diam-diam mereka merasa khawatir juga. Mereka agaknya mengetahui perasaan masing-masing tanpa mengeluarkan kata-kata dan sampai malam tiba, keduanya tidak banyak bicara.

Hawa malam itu dingin sekali hingga beberapa kali Pek-liong-ma meringkik-ringkik kedinginan. Lee Ing dan Lo Sin lalu mengumpulkan ranting kering dan membuat api unggun. Mereka tadi telah keluar dari hutan itu dan kini berada di luar hutan yang indah dan penuh dengan bunga-bunga.

Malam itu terang sekali biarpun bulan muncul seperempat bagian saja. Udara bersih dan hawa sejuk sekali. Mereka sengaja keluar dari hutan oleh karena di dalam hutan itu banyak nyamuk yang mengganggu mereka.

Setelah api unggun menyala, keduanya lalu duduk di dekat api. Keadaan malam yang dingin dan sunyi itu membuat mereka yang sedang merasa berduka menjadi makin terharu. Betapapun juga mendengar bahwa kedua orang tua mereka bermusuhan, bahkan keduanya tidak menyetujui hubungan mereka itu membuat keduanya tidak dapat banyak bicara dan merasa seakan-akan mereka ditinggalkan berdua saja di dunia yang ramai ini.

Memang, mereka telah bertekad untuk melawan segala rintangan dan telah bersumpah di dalam hati masing-masing untuk saling bersetia dan membela, akan tetapi di malam yang dingin dan sunyi ini mereka tiba-tiba teringat akan kebaikan orang tua mereka.

Terutama sekali Lo Sin. Pemuda ini teringat kepada ayah ibunya dan kalau ia memikirkan cerita Bwee Hwa bahwa ibunya yang marah itu tidak rela membiarkan ia menjadi suami Lee Ing, membuat ia berulang kali menghela napas. Dengan tubuh lemas ia duduk memeluk lutut di dekat api unggun itu. Tiba-tiba sentuhan jari tangan Lee Ing yang halus itu pada pundaknya membuat ia sadar dari lamunan.

“Sin-ko, apakah sekarang kau yang kehilangan ketenangan dan keteguhan hatimu? Aku ada di sini, jangan kau bersedih.”

Mendengar ucapan kekasihnya ini, makin perih rasa hati Lo Sin. Gadis ini demikian cantik jelita, demikian gagah, dan dengan sepenuh hati mencintainya. Gadis manakah lagi yang dapat melebihi Lee Ing? Dan ibunya hendak melarangnya berjodoh dengan gadis ini!

Tiba-tiba Lo Sin menjatuhkan dirinya dan rebah telungkup di atas rumput yang hijau dan lunak. Ia membenamkan muka di dalam pelukan kedua lengan dan menahan kepedihan hatinya.

Melihat keadaan pemuda itu, Lee Ing merasa terharu dan gadis inipun lalu menubruk tubuh Lo Sin dan merebahkan kepalanya pada punggung pemuda itu.

“Sin-ko, kalau kau merasa berat sekali dan tidak sanggup membantah kehendak orang tuamu, biarkanlah aku merantau sampai di mana saja nasib membawaku. Aku tidak sudi kalau harus menikah dengan bangsat Lui Tik Kong itu dan hatiku akan hancur lebur dan mungkin sekali aku takkan dapat tahan untuk hidup lebih lama lagi apabila kau meninggalkan aku. Akan tetapi, daripada aku menghancurkan kebahagiaanmu, lebih baik aku mengundurkan diri!” Dan gadis ini menangis terisak- isak di atas punggung Lo Sin.

Lo Sin mengangkat mukanya dari pelukan lengannya. Tanpa bergerak atau bangkit ia menjawab. “Jangan kau bicara seperti itu, adikku. Apakah kau masih tidak percaya kepadaku? Apapun yang akan terjadi, aku tetap mencintamu dan akan membelamu, dan untuk itu aku telah bertekad menghadapi siapa juga, bahkan menghadapi Nyo-pehpeh atau ibuku sekalipun.”

Mendengar ucapan ini, Lee Ing merasa girang dan terharu. Sambil merebahkan pipinya di punggung Lo Sin, ia berbisik, “Sin-ko, kau baik sekali, Sin-ko. ”

Pada saat itu terdengar ringkik Pek-liong-ma dan disusul oleh ringkik kuda lain. Lee Ing dan Lo Sin terkejut. Ketika Lee Ing menengok dan memandang ke belakang, ia berseru.

“Sin-ko, lihat! Ada kuda lain di dekat Pek-liong-ma!” Sambil berkata demikian gadis ini melompat berdiri.

Lo Sin juga bangun dan berdiri, memandang kuda yang berdiri di depan Pek-liong-ma itu dengan heran sekali. Kuda siapakah malam-malam datang di tempat ini?

Ketika mereka berdua berlari mendekati, kuda itu sedang mencakar-cakar tanah dengan kaki depannya hingga seakan-akan mengangguk-angguk dan memberi hormat kepada Pek-liong-ma, tiada ubahnya seseorang memberi salam kepada sahabatnya. Pek-liong-ma meringkik perlahan dan keduanya mengembang kempiskan hidung seakan-akan mencium-cium. Melihat kuda berbulu hitam yang cukup baik itu Lee Ing merasa suka sekali. Kuda itu tiada penunggangnya dan ia masih dipasangi sela dan kendali. Ketika Lee Ing memegang kendalinya ternyata kuda itu jinak sekali, tanda bahwa ia adalah kuda peliharaan yang baik.

Lee Ing dan Lo Sin memandang ke sekeliling, akan tetapi tidak kelihatan ada orang di sekitar tempat itu. Kalau ada orang tentu ia akan dapat melihat api unggun yang mereka nyalakan di tempat ini. Maka keduanya merasa heran sekali mengapa kuda itu tiada penunggangnya dan bisa sampai ke situ sendiri. Kuda itu datangnya dari arah utara, di mana terdapat sebuah hutan cemara yang liar.

Karena tidak melihat ada seorangpun di sekitar tempat itu, Lee Ing lalu menambatkan kendali kuda itu di dekat Pek-liong-ma dan ia bersama Lo Sin lalu kembali ke dekat api unggun.

Lo Sin minta supaya Lee Ing tidur dan beristirahat dan ia yang akan menjaganya, akan tetapi gadis ini tidak dapat tidur. Bagaimana ia dapat tidur dengan pikiran penuh persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya dan juga memikirkan keadaan ayah ibunya dan orang tua Lo Sin? Gadis ini bahkan lalu menambahkan kayu bakar pada api unggun itu dan mengajak Lo Sin bercakap-cakap tentang pertempuran yang hendak diadakan di puncak Hoa-ma-san pada bulan tiga.

“Tentu saja kita harus pergi ke sana,” kata pemuda itu dengan suara tegas. “Mereka itu adalah musuh-musuh orang tua kita, maka tidak dapat tidak kita harus membela orang tua kita, betapapun mereka ini marah kepada kita.”

Lee Ing merasa setuju dan mengingat bahwa mereka akan menghadapi lawan-lawan yang amat tangguh, Lee Ing lalu mencabut pedangnya dan berlatih pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Lo Sin. Pemuda ini memberi petunjuk-petunjuk dan mereka berlatih dengan rajin.

Lo Sin girang mendapat kenyataan bahwa gadis itu mendapat kemajuan pesat dan ternyata bahwa Lee Ing mempunyai otak yang tajam dan cerdik hingga mudah mengingat bagian-bagian yang sulit dan penting dari ilmu pedang yang luar biasa ini.

Tanpa terasa lagi mereka berlatih silat sampai pagi! Dan setelah mendengar ayam hutan berkeruyuk dan burung-burung pagi berkicau, Lee Ing menghentikan latihannya dengan lelah dan mengantuk sekali sehingga ketika ia merebahkan diri di atas rumput yang kering oleh karena api unggun itu mengusir embun yang mendekat, ia terus saja tidur pulas!

Melihat keadaan Lee Ing ini, Lo Sin tersenyum geli. Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh rasa kasih sayang dan kasihan. Kemudian ia sendiri duduk bersila di dekat api dan bersamadhi untuk melepaskan lelahnya.

Ketika matahari telah naik tinggi, Lee Ing terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat dengan enaknya dan melihat bahwa tubuhnya diselimuti mantel oleh Lo Sin. Ketika ia menengok, ia mendapatkan pemuda itu masih duduk bersila tanpa bergerak dan dengan mata terpejam, maka maklumlah ia bahwa pemuda kekasihnya itu sedang beristirahat, akan tetapi dalam keadaan duduk itu biarpun tubuh dan pikiran Lo Sin “tidur”, ia masih sadar dan suara sedikit saja sudah cukup untuk menyadarkan Lo Sin dari samadhinya. Maka ia lalu bangun duduk dengan perlahan dan menggigil, karena biarpun matahari sudah naik tinggi, namun kabut embun masih tebal dan api unggun telah padam sejak lama tadi. Ketika ia menengok ke arah kuda Pek-liong-ma, ternyata bahwa kuda hitam itu masih berdiri di situ dan kedua ekor kuda itu membanting¬banting kaki depannya seakan-akan tidak sabar sekali melihat betapa kedua majikan mereka masih belum berangkat membawa mereka berlari! Mereka telah merasa bosan berdiri dan menanti sampai semalam suntuk.

Biarpun Lee Ing bergerak dengan hati-hati dan perlahan, namun tetap saja Lo Sin dapat mendengarnya dan pemuda ini membuka mata samhil tersenyum dan bertanya. “Kau sudah bangun? Enakkah tidurmu?”

“Ah, aku terlalu sekali, Sin-ko, tidur sepanjang malam dan membiarkan kau berjaga terus sampai siang!”

“Kau baru tidur setelah fajar menyingsing, mana bisa disebut sepanjang malam? Dan kebetulan sekali tadi datang sendiri makanan pagi untuk kita.”

Lee Ing terheran. “Makanan pagi datang sendiri?”

Lo Sin tersenyum dan dengan tangan kirinya ia mengambil seekor kelinci dan memegang pada telinganya tinggi-tinggi ke atas. “Lihat ini, tadi pagi datang dan berkata. Tangkaplah aku untuk sarapan pagi!”