-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 07

Jilid 07

Kalau ia mendekati kakek ini, berarti ia mendapat seorang pembela yang tangguh, bahkan seorang yang menjadi musuh Ang Lian Lihiap, hingga dengan sendirinya Lo Sin juga menjadi musuh mereka.

Ia kini tak perlu merasa takut lagi, bahkan ia pergunakan kepandaiannya untuk menarik dan mengambil hati Bong Cu Sianjin. Dan betul saja, baru saja beberapa hari berkumpul, Bong Cu Sianjin, seperti juga Kong Sin Ek, Nyo Tiang Pek dan yang lain-lain, telah terpikat oleh sikap Tik Kong yang pandai membawa diri dan mengambil hati hingga Bong Cu Sianjin merasa senang sekali dan bahkan melatih pemuda ini dengan berbagai ilmu silat.

Tentu saja Tik Kong merasa girang dan ilmu kepandaiannya makin maju. Dan dengan berterang ia lalu menjadi kekasih Bi Mo-li, hingga hubungan mereka makin erat saja. Hek Li Suthai yang tidak perdulikan sama sekali tentang hal ini, juga menaruh kepercayaan kepada Tik Kong dan menganggap pemuda ini sebagai orang sendiri.

Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai mempergunakan sebuah kuil kosong dan kuno sebagai tempat tinggal sementara. Dengan pandai, Tik Kong lalu menuturkan perihal permusuhannya dengan Lo Sin, berpura-pura tidak tahu akan permusuhan yang ada antara mereka dengan keluarga Lo.

Tentu saja ketiga kawannya makin suka dan percaya kepadanya, dan mereka lalu bermufakat untuk mencari dan membalas dendam kepada si Walet Hitam.

Pada suatu hari mereka berempat bertemu dengan Kim-gan-eng Coa Bwee Hwa, gadis perantau yang perkasa itu. Kim Gan Eng sedang berjalan seorang diri karena ia hendak mencari Lee Ing, kawan barunya yang menarik hatinya itu.

Ia lalu mendengar bahwa Lee Ing tinggal di Bong-kee-san dengan ayahnya, Nyo Tiang Pek yang tersohor, maka ia lalu mengambil keputusan untuk berangkat ke Bong-kee-san mencari Lee Ing dan sekalian bertemu dengan si Garuda Kuku Emas yang telah lama ia kagumi namanya.

Akan tetapi, ketika lewat di dalam hutan, tak tersangka-sangka ia berhadapan dengan Tik Kong, Hek Li Suthai, Bi Mo-li, dan seorang pendeta buntung. Tentu saja Kim-gan-eng terkejut sekali oleh karena ia maklum bahwa mereka ini adalah, orang-orang jahat musuh Lee Ing yang lihai sekali. Maka ia lalu bermaksud hendak melarikan diri, akan tetapi, Hek Li Suthai melompat dan mencegatnya, sambil tersenyum iblis dan berkata.

“Kim-gan-eng. Gurumu dulu menghinaku dan sekarang kaulah yang harus menebus penghinaan itu!!'

Dalam keadaan terjepit, Bwee Hwa timbul ketabahannya dan ia berlaku nekad, lalu mengeluarkan pedangnya dan membentak.

“To-kouw jahat! Kau takut menghadapi suhuku, dan hendak mendesak aku! Boleh, boleh! Apa kaukira aku, takut kepadamu?” Lalu ia menubruk dan menyerang dengan hebat.

Ilmu kepandaian Bwee Hwa sudah maju pesat sekali setelah perjumpaannya dengan gurunya akhir- akhir ini karena Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan telah melatihnya lagi dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka serangannya juga luar biasa berbahayanya. Hek Li Suthai terkejut dan cepat mengeluarkan ilmu sepasang pedangnya yang lihai dan membalas serangan Bwee Hwa dengan tak kalah serunya.

Mereka lalu bertempur ramai dan biarpun Bwee Hwa masih kalah setingkat ilmu kepandaiannya apabila dibandingkan dengan Hek Li Suthai, namun kegesitan dan kenekadannya membuat Hek Li Suthai sukar sekali untuk dapat mengalahkannya.

Melihat hal ini, Lui Tik Kong yang tertarik oleh kecantikan Bwee Hwa, menjadi tidak sabar dan ia lalu melompat maju hendak mengeroyok, akan tetapi Bong Cu Sianjin lalu menegurnya.

“Jangan main keroyokan, memalukan aku saja!” kemudian, kakek buntung ini berseru kepada Hek Li Suthai.

“Ceng Hwa, kau mundurlah dan biarkan aku menangkap gadis ini.”

Mendengar seruan ini, Hek Li Suthai lalu melompat mundur dan tiba-tiba Bwee Hwa melihat berkelebatnya bayangan yang luar biasa gesitnya dan tahu-tahu kakek buntung itu telah berdiri di depannya dengan senyum lebar!

Ia maklum bahwa kakek ini adalah Bong Cu Sianjin yang ternama sekali karena lihai dan jahatnya maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan pedangnya. Betapapun lihainya, masa ia akan kalah oleh kakek yang sudah tidak bertangan ini, pikirnya! Akan tetapi, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kaki kiri Bong Cu Sianjin melayang ke atas dan menendang pergelangan tangannya yang memegang pedang! Hampir saja pergelangan tangannya kena tendangan, sedangkan angin tendangan itu saja sudah menggetarkan tangannya!

Ia berlaku hati-hati dan menyerang lagi dengan mengeluarkan ilmu pedangnya yang lihai. Akan tetapi, tanpa pindah dari tempatnya sambil masih tetap tersenyum, lagi-lagi Bong Cu Sianjin menggerakkan kakinya menendang ke arah pergelangan gadis itu.

Dengan perlawanan begini saja, Bwee Hwa sudah tak berdaya oleh karena setiap serangannya selalu dipecahkan oleh tendangan kaki yang benar-benar hebat itu. Selagi ia merasa sibuk, tiba-tiba tubuh Bong Cu Sianjin bergerak maju cepat sekali dan kakinya digerakkan berganti-ganti mengirim tendangan-tendangan kilat!

Tentu saja Bwee Hwa menjadi sibuk sekali, ia mencoba untuk memutar pedangnya membabat kaki yang mengancamnya itu, akan tetapi ketika pedangnya terbentur oleh kaki itu, pedangnya melayang karena terlepas dari pegangannya, dan sebelum ia dapat mengelak, ujung kaki kiri Bong Cu Sianjin telah melayang ke atas dan tahu-tahu ujung kaki itu telah dapat menotok jalan darahnya hingga ia roboh tak dapat bergerak lagi!

Bi Mo-li segera melangkah maju dengan pedang di tangan. Ia bermaksud membunuh Kim-gan-eng, akan tetapi tiba-tiba Hek Li Suthai mencegahnya.

“Bi-niang jangan kau bunuh dia! Pat-chiu Koai-hiap tidak pernah mengganggu kita, hanya menghinaku sedikit. Kitapun harus membalas hinaan itu dan untuk sementara waktu menahan Kim-gan-eng sampai Oei Gan datang menolong muridnya ini!”

Biarpun hatinya merasa gemas karena cemburu melihat betapa Tik Kong selalu menujukan pandang matanya dengan penuh gairah kepada gadis itu, namun Bi Mo-li tidak berani membantah perintah gurunya, maka ia mengeluarkan sabuk suteranya dan mengikat kedua tangan Kim-gan-eng dengan sabuk itu.

Pada saat itu, dari jauh berlari-lari datang dua bayangan yang cepat sekali larinya seakan-akan terbang. Setelah dua orang itu datang dekat, mereka terkejut juga karena yang datang adalah dua orang saudara kembar she Song, yakni Kong Liang dan Mei Ling!

Bagaimana kedua saudara kembar bisa kebetulan datang di tempat itu? Ternyata bahwa setelah mereka berdua bersama suami isteri Cin Han dan Lian Hwa turun dari Hoa-mo-san karena gagal menjumpai dan mencari Bong Cu Sianjin, Lian Hwa dengan sedih menuturkan tentang surat Nyo Tiang Pek. Mendengar hal ini, kedua saudara kembar itu terkejut sekali.

“Jangan khawatir suci, kami berdua akan pergi menemui Nyo-twako dan mendamaikan urusan ini,” kata Kong Liang.

“Benar, cici, ini adalah kewajiban kami berdua. Kesalahpahaman ini harus dibereskan dan diterangkan,” kata Mei Ling.

Maka berangkatlah kedua saudara kembar ini dengan tergesa-gesa karena mereka merasa gelisah sekali menghadapi urusan yang ruwet itu. Dan ketika mereka tiba di hutan, mereka melihat betapa Bong Cu Sianjin, Hek Li Suthai, Bi Mo-li dan seorang pemuda tampan sedang menawan seorang gadis cantik dan gagah. Tentu saja melihat musuh besarnya ini, Kong Liang dan Mei Ling menjadi marah sekali.

“Bagus sekali, Bong Cu. Kami mencarimu di Hoa-mo-san, akan tetapi kau tidak berada di sana. Tidak tahunya kau berada di sini melakukan perbuatan sewenang-wenang.” Melihat Kong Liang, Bong Cu Sianjin tertawa bergelak. “Ha, ha, ha. Kong Liang, kau masih belum mampus? Majulah, anak muda agar kau dapat berkenalan untuk kedua kalinya dengan sepasang sepatuku!”

Kong Liang menjadi marah sekali, akan tetapi Mei Ling yang merasa sakit hati karena kakaknya pernah terluka oleh pendeta buntung ini, mendahuluinya dan menyerang dengan pedangnya sambil berseru.

“Pendeta rendah budi. Lihat pedang!”

Bong Cu Sianjin maklum akan kelihaian Mei Ling, maka ia cepat mengelak dan balas menyerang dengan tendangan kakinya yang lihai.

Sementara itu, ketika melihat Kim-gan-eng rebah di atas tanah dengan tangan dan kaki diikat, dan melihat betapa gadis yang cantik jelita itu memandangnya dengan mata memohon pertolongan, tergeraklah hati Kong Liang. Secepat kilat ia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Bi Mo-li yang sedang mengikat kaki Bwee Hwa.

Bi Mo-li terkejut sekali dan melompat jauh karena ia telah mengenal lihainya pemuda ini yang pernah mengalahkan gurunya. Dan ketika Hek Li Suthai melangkah maju hendak menyerang, Kong Liang telah menggerakkan pedangnya dan sekali babat saja putuslah ikatan tangan dan kaki Bwee Hwa.

Melihat bahwa gadis ternyata lemas tak dapat bergerak, Kong Liang maklum bahwa gadis ini tentu terkena totokan, maka ia lalu mencabut keluar saputangannya dan dengan menggunakan kain ini ia mengebut ke arah pundak Bwee Hwa. Seharusnya untuk membebaskan totokan, orang harus mempergunakan ujung jari tangannya, akan tetapi agaknya Kong Liang merasa malu-malu dan sungkan untuk menyentuh pundak Kim-gan-eng dengan jari tangannya, maka sebagai pengganti jari tangan, ia mempergunakan ujung saputangannya, yang digerakkan dengan lweekang.

Perbuatan ini amat mengagumkan hati Bwee Hwa, oleh karena tidak saja memperlihatkan kelihaian Kong Liang, akan tetapi juga menunjukkan bahwa pemuda yang tampan dan gagah itu ternyata berwatak sopan.

Kong Liang menolong Bwee Hwa bukan hanya karena ia merasa kasihan, akan tetapi juga karena terdorong oleh kecerdikannya. Ia telah maklum akan kelihaian Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai, maka dengan menolong gadis yang kelihatan gagah itu, berarti di pihaknya akan bertambah seorang pembantu lagi.

Memang benar dan tepat dugaannya, karena begitu terbebas dari totokan, Bwee Hwa memandangnya dengan penuh pernyataan terima kasih, kemudian, tanpa berkata apa-apa, Bwee Hwa lalu memungut pedangnya yang tadi terlempar ke atas tanah, lalu membantu Mei Ling mengeroyok Bong Cu Sianjin!

Sementara itu, Hek Li Suthai, Bi Mo-li dan Tik Kong lalu maju mengeroyok Kong Liang! Pertempuran hebat terjadi dan kedua pihak berkelahi mati-matian. Bong Cu Sianjin yang berlengan buntung, biarpun dikeroyok oleh Mei Ling dan Bwee Hwa, namun ia dapat bergerak cepat, bahkan kakinya yang lihai itu dapat mendesak kedua orang gadis itu. Sebaliknya, Kong Liang juga merasa sibuk menghadapi keroyokan ketiga lawannya, terutama Tik Kong dan Hek Li Suthai. Tik Kong telah mendapat kemajuan hebat dalam ilmu silatnya, berkat latihan- latihan yang diterimanya dari Nyo Tiang Pek dan baru-baru ini dari Bong Cu Sianjin, dan desakan- desakannya membuat Kong Liang terheran-heran, karena ia mengenal ilmu pedang Nyo Tiang Pek.

Ia menduga-duga siapa adanya pemuda tampan ini, akan tetapi ketiga orang lawannya tak memberi kesempatan padanya untuk banyak bertanya atau menaruh perhatian kepada Tik Kong seorang saja. Terpaksa ia mempergunakan ginkang yang hebat untuk menghadapi ketiga orang lawan yang amat tangguh ini.

Lebih dari seratus jurus mereka bertempur seru dan di dalam hutan yang sunyi itu hanya terdengar suara senjata mereka berdua pihak. Tiba-tiba terdengar Bong Cu Sianjin tertawa berkakakan dan ketika Kong Liang melihat, ia menjadi terkejut sekali karena untuk kedua kalinya, Bwee Hwa telah roboh terkena tiam-hwat (ilmu totokan) ujung kaki Bong Cu Sianjin yang benar-benar lihai.

Melihat betapa Bwee Hwa telah dirobohkan, Mei Ling menjadi marah sekali, dengan gerak tipu Naga Sakti Mengebut Ekor ia menusuk dengan pedangnya ke arah tenggorokan Bong Cu Sianjin. Kakek buntung yang lihai ini, tiba-tiba berjongkok hingga tusukan pedang gadis lewat di atas kepalanya dan dari bawah Bong Cu lalu menyerampang kedua kaki Mei Ling dengan kaki kirinya.

Sabetan kaki ini cepat dan kuat sekali hingga Mei Ling menjadi terkejut. Gadis ini lalu mempergunakan ginkangnya dan ketika ia mengenjot tubuhnya melayang ke atas hingga ia berhasil menghindarkan diri dari serampangan kaki lawan. Akan tetapi, tak tersangka sama sekali, tubuh Bong Cu Sianjin yang tadi masih berjongkok, tahu-tahu telah melompat ke atas pula dan kaki kanannya bergerak cepat menendang ke arah lambung Mei Ling.

Mei Ling berseru keras dan menggunakan tangan kiri menolak tendangan ini, akan tetapi, kaki kiri kakek buntung itu telah menyusul dan dengan tepat menotok iganya hingga sambil mengeluh Mei Ling lalu roboh tak dapat bergerak lagi. Kembali Bong Cu Sianjin tertawa bergelak.

“Ha, ha, ha! Kita tawan mereka, kita tahan keduanya, biar Ang Lian Lihiap sendiri datang menolong mereka!” kata Bong Cu Sianjin.

Tadinya Kong Liang hendak berlaku nekad dan mengamuk karena melihat betapa kedua orang gadis itu telah dirobohkan dan tertawan, akan tetapi ketika mendengar ucapan ini, ia mendapat pikiran lain. Ia maklum bahwa ia tentu takkan dapat menghadapi semua lawan ini seorang diri saja, terutama Bong Cu Sianjin yang amat kosen itu, maka ia lalu melompat mundur dan melarikan diri, diikuti oleh suara tertawa dari Bong Cu Sianjin yang mengejek!

Kedua orang gadis yang tertotok itu lalu diikat kaki tangannya dan dibawa ke kuil, dimasukkan dalam sebuah kamar dan dijaga. Mereka ini tak berdaya sama sekali.

Untung bagi mereka bahwa yang menawan mereka bukan Tik Kong sendiri. Kalau saja mereka itu terjatuh dalam tangan Tik Kong, maka keadaan mereka berbahaya sekali. Akan tetapi, biarpun Tik Kong merasa girang dan hatinya tergila-gila melihat kecantikan dua orang tawanan ini, namun di situ ada Hek Li Suthai dan Bi Mo-li yang membuat ia tidak berani bermain gila dan tidak berani mengganggu Mei Ling atau Bwee Hwa. Kong Liang dengan hati bingung sekali masih berada di dalam hutan itu. Ia tidak melarikan diri jauh dan dengan hati marah dan berduka melihat dari tempat persembunyiannya betapa adiknya dan gadis gagah itu diikat kaki tangannya dan dibawa ke dalam sebuah kuil tua.

Di dalam hatinya ia sedikit merasa lega oleh karena maklum bahwa keadaan kedua orang gadis itu untuk sementara waktu tidak sangat mengkhawatirkan oleh karena agaknya Bong Cu Sianjin hendak mempergunakan mereka sebagai orang-orang tawanan atau umpan untuk memancing datangnya Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong!

Akan tetapi, sampai berapa lamakah keselamatan kedua gadis itu terjamin? Untuk kembali ke Tit-lee dan mengabarkan hal ini kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, terlalu lama.

Ia tidak tega untuk meninggalkan adiknya dalam tangan orang-orang jahat itu. Akan tetapi, untuk turun tangan menolong, juga sukar baginya oleh karena hal ini takkan berguna, bahkan besar kemungkinan ia sendiri akan roboh! Kalau ia sendiri sampai roboh di tangan Bong Cu Sianjin atau terluka dan tertawan, akan lebih buruk lagi keadaan mereka dan akan lebih tipis harapan untuk menolong.

Maka ia duduk di dalam hutan itu sambil termenung dan berduka. Ia Memutar-mutar otaknya mencari jalan, akan tetapi agaknya tidak ada jalan lain kecuali nekad menyerbu seorang diri atau cepat-cepat pergi ke Tit-lee mengabarkan dan minta pertolongan kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya.

Sementara itu, hari telah menjelang senja dan keadaan telah mulai gelap. Kong Liang telah mengambil keputusan tetap, untuk pergi ke Tit-lee, ia tidak tega meninggalkan adiknya lama-lama di tangan musuh-musuh itu. Maka ia mengambil jalan kedua, yakni setelah hari menjadi gelap, ia hendak menyerbu dan mencoba menolong mereka. Lebih baik mati bersama adiknya daripada adiknya terganggu oleh mereka dan ia tidak berdaya menolong.

Pada saat ia masih duduk dengan bengong, tiba-tiba terdengar suara orang menegur, “Song taihiap, mengapa kau duduk di sini seorang diri?”

Kong Liang merasa terkejut dan tak terasa pula ia melompat berdiri sambil mencabut pedangnya. Akan tetapi ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya ia mengurungkan maksud hendak mencabut pedang, dan dimasukkan lagi pedang yang sudah tercabut setengahnya itu.

“Kau di sini?” tanyanya dan memandang kepada wajah Yap Bun Gai dengan tajam.

Ternyata bahwa yang berdiri di depannya itu adalah pemuda petani yang dulu dijumpainya di puncak Hoa-mo-san, yakni pemuda murid Bong Cu Sianjin yang lihai. Biarpun ia tahu bahwa pemuda ini berhati baik, namun betapapun juga pemuda ini adalah murid Bong Cu Sianjin, maka Kong Liang bersikap dingin kepadanya.

“Song taihiap, ada terjadi apakah? Kau pucat dan kelihatan khawatir sekali. Apakah kau telah berkelahi lagi dengan suhu?” Tentu saja Kong Liang merasa malu untuk mengakui betapa ia dan adiknya kembali dikalahkan oleh Bong Cu Sianjin, maka ia lalu menjawab dengan ketus, “Kau boleh ikut bergirang hati. Gurumu yang gagah dan baik itu telah dapat menawan adikku dan seorang gadis lain.”

Tiba-tiba berubah wajah Bun Gai yang tampan dan jujur. “Adikmu tertawan? Ah     ” hanya demikian

ia berkata dan kemudian ia cepat hendak pergi dari situ, seakan-akan ia tergesa-gesa sekali.

“Hai, kau hendak ke mana?” tegur Kong Liang yang merasa heran juga me-lihat pemuda ini tiba-tiba muncul di situ.

Bun Gai menahan langkah kakinya. “Aku diperintah oleh Niang-niang untuk menemui suhu di kuil dalam hutan ini.”

Kemudian setelah menjura tanpa berkata apa-apa lagi pemuda itu lalu melompat pergi dengan cepat sekali.

Kong Liang menghela napas panjang. Celaka, pikirnya. Kini pihak mereka kedatangan seorang yang tangguh lagi. Ia telah mengetahui kelihaian pemuda tani ini yang dengan mudah dulu telah mempermainkan Mei Ling. Ia tahu bahwa ilmu kepandaian pemuda ini lebih lihai dari Mei Ling dan bahkan mungkin sekali lebih lihai dari kepandaiannya sendiri. Biarpun pemuda itu dulu memperlihatkan sikap baik, namun apabila berhadapan dengan suhunya, terpaksa pemuda itu tentu harus membantu suhunya.

Kong Liang merasa makin khawatir dan harapannya untuk dapat menolong adiknya makin menipis. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa ia menjadi takut. Bahkan mengambil keputusan nekad untuk mengadu jiwa.

Sementara itu dengan rasa hati tidak keruan, Yap Bun Gai berlari cepat sekali ke kuil di mana Bong Cu dan yang lain-lain berada. Melihat kedatangan muridnya, Bong Cu tertawa lebar dan bertanya.

“Bun Gai, mengapa kau menyusul ke sini? Apakah kau disuruh oleh suci?”

Sambil berlutut di depan suhunya, Bun Gai menjawab, “Betul, suhu. Niang-niang telah memerintahkan kepada teecu untuk menghadap kepada suhu yang telah dicari oleh Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong naik ke Hoa-mo-san.”

Kemudian ia menceritakan semua hal yang terjadi di Hoa-mo-san, akan tetapi ia tidak menceritakan pertempurannya dengan Mei Ling.

Ketika mendengar bahwa Lan Bwe Niang-niang telah mengundang Ang Lian Lihiap untuk datang bersama suaminya ke Hoa-mo-san tiga bulan lagi, Bong Cu Sianjin tertawa bergelak-gelak.

“Bagus, bagus!” katanya. “Suci memang cerdik sekali. Dia telah mengundang datang Ang Lian Lihiap untuk tiga bulan lagi di puncak Hoa-mo-san dan sementara itu, aku dapat mencari kawan-kawan untuk membantuku nanti.” “Dan Niang-niang berpesan supaya suhu dan saudara-saudara lain jangan turun tangan atau mengganggu pihak musuh sebelum tiba waktu itu, oleh karena Niang-niang khawatir kalau-kalau pihak kita akan dianggap tidak memegang teguh perjanjian.” Bun Gai berkata kembali, dan kali ini yang diucapkan adalah kata-kata menurut suara hatinya.

“Tentu, tentu!” kata Bong Cu Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Kita juga orang-orang gagah yang dapat menghargai nama sendiri. Bun Gai ketahuilah aku menawan dua orang musuh- musuh kita dan karena hendak menjaga nama baiklah maka sehingga saat ini kedua orang musuh itu tidak kubinasakan.”

Kemudian dengan suara sombong sekali Bong Cu Sianjin memamerkan kepada muridnya betapa dengan mudah ia menjatuhkan dan menawan Mei Ling dan Bwee Hwa.

Bun Gai sengaja memperlihatkan muka tidak mengacuhkan sama sekali. Biarpun di dalam dadanya, jantungnya berdebar ketika mendengar betapa Mei Ling, gadis jelita yang secara aneh sekali telah membuat ia serba salah, makan tak sedap tidur tak nyenyak dan wajah gadis itu semenjak pertempuran dulu itu terbayang-bayang di depan matanya bahkan muncul tiap malam di alam mimpinya.

Malam hari itu, Kong Liang datang menyerbu. Ia meloncat ke atas genteng kuil dan tentu saja kedatangannya ini telah diketahui oleh Bong Cu Sianjin dan kawan- kawannya yang segera melompat ke atas untuk menyambutnya.

Tiba-tiba, kuil di sebelah kiri nampak terbakar hingga Bong Cu Sianjin menjadi terkejut sekali. Ia mengira bahwa Kong Liang datang berkawan maka cepat ia memberi perintah.

“Hai, kau Tik Kong dan Bi-niang menjaga di sebelah kiri dan kau Ceng Hwa, kau menjaga di belakang kuil. Biar aku sendiri menghadapi pemuda ini. Bun Gai, kau menjaga di bawah dan awas jangan sampai ada musuh menyerobot ke dalam dan merampas tawanan kita.”

Semua orang melakukan tugas yang diperintahkan oleh kakek buntung itu. Tak seorangpun menyangka bahwa pembakaran di sebelah kiri kuil tadi dilakukan oleh Bun Gai yang telah dapat tahu lebih dulu akan serbuan Kong Liang membarengi aksi pemuda itu dengan membakar kuil.

Kebetulan sekali ia diberi tugas menjaga di bawah, maka ia lalu cepat meruntuhkan pintu kamar tahanan Mei Ling dan Bwee Hwa. Ketika Mei Ling melihat siapa orangnya yang datang dengan pedang di tangan, tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Apalagi ketika tanpa banyak cakap Bun Gai lalu menggunakan pedangnya untuk memutuskan semua tali yang mengikat Bwee Hwa kemudian menepuk pundak mereka membebaskan pengaruh totokan, gadis ini berbisik.

“Terima kasih!”

Akan tetapi setelah melepaskan mereka, tiba-tiba Bun Gai berseru nyaring sekali. “Bangsat perempuan rendah! Kalian hendak lari ke mana?” dan ia lalu menyerang Mei Ling dengan pedang di tangan kiri, ia melempar dua batang pedang gadis itu yang tadi telah diambilnya dari ruang dalam di mana pedang kedua orang gadis itu disimpan! Tentu saja Bwee Hwa menjadi kaget dan heran dan menyangka bahwa orang yang menolongnya ini tentu seorang gila! Akan tetapi, sambil menangkis serangan Bun Gai dengan pedang di tangan kanan dan mengusap matanya yang tiba-tiba terasa pedas dan mengalirkan air mata karena terharu, Mei Ling lalu berkata, “Adik Bwee serang dia!”

Biarpun ragu-ragu karena diharuskan menyerang seorang yang telah menolongnya, akan tetapi karena selama dalam tahanan dan bicara serta mengenal Mei Ling sebagai seorang wanita gagah yang lebih tinggi kepandaiannya dari dia sendiri, juga lebih tua usianya, maka Bwee Hwa segera mentaati perintah ini dan mengeroyok Bun Gai!

Bun Gai melawan mereka dengan pedangnya yang diputar hebat sekali dan tiada hentinya pemuda ini berteriak-teriak,

“Penjahat perempuan! Kali ini kalian pasti mampus di tangan Yap Bun Gai!”

Kemudian, dengan suara perlahan sekali ia berbisik kepada Mei Ling. “Lekas melarikan diri ke atas genteng dan pada saat aku mengejar, jangan ragu-ragu kau lukai aku!”

Mendengar ini, dengan terharu sekali Mei Ling mengangguk dan karena ia maklum bahwa di situ terdapat Bong Cu Sianjin, Hek Li Suthai dan lain-lain yang amat lihai, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu berseru. “Adik Bwee mari kita lari!” Mereka lalu melompat keluar dan terus naik ke atas genteng!

“Penjahat-penjahat perempuan, hendak lari ke mana?” Bun Gai mengejar dan juga melompat naik ke atas genteng!

Akan tetapi, baru saja ia naik, Mei Ling sudah mengirim tusukan ke arah dadanya dan ketika melihat betapa pemuda ini sama sekali tidak menangkis, Mei Ling terkejut sekali dan cepat miringkan pedangnya ke atas hingga tidak menusuk ke dada, akan tetapi meleset dan melukai pundak Bun Gai! Darah mengalir dan Bun Gai berteriak keras. “Aduh!” tubuhnya lalu terguling ke bawah!

Pada saat itu, Bong Cu Sianjin sedang mendesak Kong Liang dengan hebat sekali. Mendengar teriak Bun Gai dan melihat betapa tubuh muridnya itu terguling, kakek buntung ini terkejut dan cepat melompat ke bawah. Melihat betapa muridnya jatuh sambil berdiri dan tidak menderita luka berat, ia marah sekali kepada lawan-lawannya dan berseru.

“Kalian lari ke mana?” Ia hendak melompat mengejar, akan tetapi Bun Gai cepat mencegah. “Suhu biarlah mereka itu lari. Tiga bulan lagi kita membuat pembalasan di Hoa-mo-san!” Bong Cu Sianjin teringat dan ia menahan kakinya.

Sementara itu Mei Ling cepat berseru kepada Kong Liang. “Koko, lekas lari!”

Kong Liang merasa heran dan girang sekali melihat bahwa adiknya dan Bwee Hwa telah terbebas dari ikatan, maka tanpa membuang waktu lagi ia lalu ikut melarikan diri. Tiba-tiba Hek Li Suthai, Tik Kong, dan Bi Mo-li yang melihat mereka melarikan diri, lalu mengejar. Hek Li Suthai mengayunkan tangannya berkali-kali dan senjata rahasia yang berwarna hitam dan halus sekali bentuknya menyambar ke arah tiga orang itu.

“Awas jarum rahasia!” seru Kong Liang sambil membalikkan tubuh dan memutar-mutarkan pedangnya untuk melindungi kedua orang gadis itu.

Beberapa batang jarum yang dilepas oleh Hek Li Suthai terpukul oleh pedang itu sedangkan Mei Ling dan Bwee Hwa berlari terus, akan tetapi ketika Kong Liang hendak menyusul kedua kawannya, tiba- tiba ia merasa betapa pundak kirinya sakit sekali. Ia tahu bahwa ia telah terkena senjata rahasia lawan, maka ia lalu cepat menyusul adiknya dan berlari cepat.

Malam itu gelap sekali hingga memudahkan ketiga orang muda itu untuk melarikan diri dan sebentar saja Hek Li Suthai dan kawan-kawannya kehilangan bayangan mereka. Dengan gemas sekali Hek Li Suthai dan kawan-kawannya lalu kembali ke kuil.

Ternyata bahwa tadi ketika tidak melihat musuh, Hek Li Suthai, muridnya dan Tik Kong, lalu memadamkan api yang membakar kuil dan setelah api padam, mereka melihat bayangan Kong Liang dan dua orang gadis itu melarikan diri.

Sedangkan Bong Cu Sianjin setelah dicegah oleh Bun Gai untuk mengejar, lalu minta keterangan dari anak muda ini bagaimana tawanan mereka bisa lari.

“Teecu melihat bayangan seorang laki laki tua yang tiba-tiba datang menyerang dan gerakannya demikian cepatnya hingga teecu tidak melihat jelas mukanya. Kemudian orang itu melarikan diri ke dalam kamar tahanan dan teecu melihat bahwa kedua nona yang tertawan itu telah terlepas. Teecu menyerang akan tetapi laki laki tua itu dengan hebat telah menyambut serangan teecu dan ternyata bahwa ilmu kepandaiannya hebat sekali, membuat teecu tidak berdaya. Kemudian orang itu melarikan diri dan melihat bahwa kedua nona itu juga melarikan diri ke atas genteng, teecu lalu mengejar akan tetapi sial teecu karena mendapat luka di pundak akibat kena pedang salah seorang diantara, penjahat-penjahat perempuan itu!”

Di dalam hati Bong Cu merasa heran dan kurang percaya kepada muridnya ini, akan tetapi ia tidak berkata sesuatupun. Ketika Hek Li Suthai mendengar cerita ini, to-kouw tua inipun menyatakan keheranannya.

“Kalau memang musuh yang lihai datang, mengapa dia tidak muncul dan memperlihatkan diri? Siapakah laki-laki lihai itu, apakah barangkali dia Pat-chiu Koai-hiap, guru Kim-gan-eng itu?”

Sambil berkata demikian, Hek Li Suthai memandang tajam kepada Bun Gai, dan ia menaruh hati curiga sekali kepada adik seperguruan ini, akan tetapi oleh karena ia takut menuduh di depan Bong Cu Sianjin, juga oleh karena ia sendiri merasa segan kepada Bun Gai yang diketahui memiliki kepandaian tinggi, maka daripada itu ia juga diam saja.

Pembicaraan mereka itu dilakukan di luar kuil dan dengan suara keras. Tiba-tiba dari tempat gelap terdengar suara orang laki-laki tertawa dan disusul dengan ucapan mengejek. “Bong Cu, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bertemu dengan kau. Nanti saja di Hoa-mo-san kita bertemu!”

Semua orang terkejut dan yang lebih heran lagi adalah Bun Gai. Mereka cepat melompat ke arah suara, akan tetapi karena malam itu gelap sekali, mereka hanya mendengar suara kaki orang cepat berlari, akan tetapi sama sekali tidak melihat orangnya!

Suara ini otomatis melenyapkan keraguan di hati Bong Cu dan Hek Li Suthai dan mereka kini percaya penuh akan keterangan Bun Gai tadi bahwa benar-benar ada seorang laki-laki pihak lawan yang lihai telah datang menolong tawanan-tawanan itu! Sedangkan di dalam hatinya, Bun Gai menduga-duga dengan penuh keheranan. Laki-laki yang diceritakannya tadi hanyalah karangan kosong belaka untuk memperkuat kedudukannya agar jangan sampai menimbulkan curiga, akan tetapi, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki datang memperkuat cerita bohongnya!

Baik Bun Gai sendiri, maupun yang lain-lain itu sama sekali tidak tahu bahwa yang datang itu bukan lain ialah Mei Ling. Gadis ini telah berhasil melarikan diri, lalu teringat kepada Bun Gai yang telah menolongnya. Ia merasa terharu sekali, terutama kalau ia teringat betapa untuk menolongnya, pemuda itu tidak ragu-ragu untuk menerima tusukan pedang dengan dadanya!

Pemuda itu rela berkorban jiwa untuk menolong dia! Alangkah mulia hatinya. Ia bergidik kalau teringat betapa Bun Gai tadi sama sekali tidak menangkis tusukannya dan kalau ia tidak lekas-lekas merobah gerakan pedangnya, tentu dada pemuda itu telah tertembus oleh pedangnya!

Dan sekarang pemuda itu tentu berada dalam bahaya karena kalau sampai diketahui oleh gurunya dan lain-lain orang tentang pengkhianatannya, tentu ia akan menderita celaka! Mengingat hal ini, Mei Ling berlari mengucurkan air mata! Dan aku…… aku melarikan dengan selamat, membiarkan dia menderita bencana karena telah menolongku, pikirnya!

Tiba-tiba ia berkata kepada Kong Liang dan Bwee Hwa. “Kalian berangkatlah dulu, aku perlu kembali sebentar!”

Kong Liang dan Bwee Hwa terkejut dan hendak bertanya, akan tetapi Mei Ling sudah melompat dan berlari kembali. Terpaksa mereka lalu menanti di dalam hutan.

Semenjak tadi, sebetulnya Kong Liang telah merasa payah sekali akibat luka di pundaknya yang terkena jarum yang dilepaskan oleh Hek Li Suthai. Akan tetapi oleh karena mereka sedang melarikan diri, dia tidak mau mengganggu kedua orang gadis itu diam-diam ia menahan lukanya dan berlari terus. Sekarang, setelah ia berhenti berlari, luka di pundaknya terasa sakit hingga tak terasa lagi ia menjatuhkan diri sambil mengeluh dan memegangi pundaknya.

Bwee Hwa terkejut dan karena malam itu gelap sekali, ia tidak dapat melihat wajah Kong Liang. “Kau...... kau kenapa......?” tanyanya sambil berjongkok di depan Kong Liang yang duduk menyandarkan tubuh di batang pohon.

“Pundakku...... aku terluka oleh jarum yang dilepaskan oleh Hek Li Suthai      agaknya mengandung

bisa……” jawabnya dengan napas memburu karena ia menahan sakitnya. Bwee Hwa merasa bingung sekali dan hatinya berdebar penuh kekhawatiran. Semenjak Kong Liang dan Mei Ling datang menolong ketika ia tertawan oleh Bong Cu Sianjin tadi, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Kong Liang yang gagah dan tampan. Dan sekarang pemuda ini terkena jarum beracun, tentu saja ia merasa bingung sekali. Tak terasa pula ia mengulurkan tangan dan meraba pundak orang.

“Di mana……? Di mana yang terkena jarum?” Gerakan ini adalah terdorong oleh rasa khawatir hingga pada saat itu ia tidak ingat akan rasa malu-malu atau kesopanan.

“Yang kiri……” jawab Kong Liang dalam gelap, dan membantu dengan memegang tangan Bwee Hwa yang meraba-raba pundak kanannya lalu membawa tangan yang berkulit halus itu ke atas pundak kirinya.

Bwee Hwa berlutut di dekatnya dan gadis ini dengan cekatan lalu merobek baju Kong Liang di pundak itu, kemudian kedua tangannya meraba-raba. Benar saja, ia meraba sebatang jarum yang halus sekali menancap di pundak pemuda itu.

“Aduh!” Kong Liang berseru dengan suara tertahan ketika jari tangan Bwee Hwa menyentuh jarum.

“Hm, ini dia!” kata Bwee Hwa sambil meraba-raba jarum dan tahulah ia bahwa daging di sekitar jarum yang menancap itu, telah membengkak dan panas sekali.

“Engko Kong Liang, kau diamlah dan jangan bergerak, aku hendak mencabut jarum ini!”

“He, kau telah tahu namaku?” tanya Kong Liang hingga di dalam gelap Bwee Hwa tersenyum.

“Aku tahu namamu dari cici Mei Ling. Sudahlah, kau diam saja aku mencabut jarum ini!” Sambil berkata demikian, Bwee Hwa menggunakan tangan kiri menahan pundak Kong Liang dan dengan jari- jari tangan kanan ia menjepit jarum itu lalu mencabutnya perlahan.

Gadis ini telah mendapat banyak pelajaran dari suhunya tentang segala senjata rahasia, maka dalam melakukan pencabutan jarum ini, ia tidak berani mencabut dengan cepat, khawatir kalau-kalau jarum itu di ujungnya mempunyai kaitan. Banyak terdapat senjata rahasia keji yang dipasangi kaitan seperti pancing hingga kalau dicabut, kaitan itu akan mengait daging bahkan ada kaitan yang sengaja dipasang sedemikian rupa hingga kalau senjata rahasia itu dicabut, maka kaitannya akan tertinggal di dalam daging.

Kong Liang merasa sakit sekali, karena biarpun jarum itu kecil, namun mengandung racun yang membuat ia merasa panas dan perih pada lukanya. Pemuda ini menggigit bibirnya dan akhirnya jarum itu terlepas dari pundaknya. Ketika meraba dengan hati-hati sekali ujung jarum itu Bwee Hwa merasa lega sekali jarum ini tidak dipasangi kaitan.

Rasa sakit membuat tubuh Kong Liang agak menggigil dan Bwee Hwa pun tahu akan hal ini, maka diam-diam ia merasa amat kasihan kepada pemuda ini. “Kau sudah tahu namaku, akan tetapi aku belum mengetahui namamu,” kata Kong Liang hingga lagi- lagi Bwee Hwa tersenyum dalam gelap. Di dalam menderita sakit, ternyata pemuda ini masih teringat akan soal nama tadi. Sungguh lucu.

“Nanti saja soal itu,” jawabnya, “sekarang yang perlu aku harus mengeluarkan bisa dari pundakmu. Kalau tidak, racun jarum ini akan menjalar ke dalam tubuh dan hal ini akan berbahaya sekali.”

Hati Kong Liang berdebar karena baru ia teringat bahwa Hek Li Suthai terkenal sebagai ahli racun. Ia ingat akan penuturan Ang Lian Lihiap tentang kelihaian mereka ini mempergunakan benda-benda berbisa yang berbahaya. Maka ia lalu diam tak bergerak dan merasa khawatir juga.

“Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?” tanyanya dengan perlahan karena sesungguhnya debar hatinya bukan hanya karena kekhawatirannya belaka, akan tetapi sebagian besar adalah karena adanya Bwee Hwa yang duduk demikian dekat dengannya hingga ia seakan-akan dapat mendengar detak jantung gadis itu dan dapat merasai hawa panas yang keluar dari pernapasannya.

“Liang-ko, kau diamlah saja dan mudah-mudahan aku akan dapat mengeluarkan racun ini.”

Alangkah merdunya suara ini, dan alangkah mesranya panggilan yang keluar dari mulut gadis ini. Belum pernah Kong Liang merasa sesenang ini. Ia meramkan mata dan tiba-tiba ia berseru kesakitan karena merasa betapa ujung pedang yang tajam ditusukkan perlahan pada daging pundaknya.

“Aduh……”

“Tahankanlah, Liang-ko. Aku perlu membuat jalan keluar bagi darah dan racun.”

Kong Liang menggigit bibirnya dan menahan sakit. Karena keadaan amat gelap, maka ia tidak dapat melihat betapa gadis itu mengeluarkan bungkusan dari kantong bajunya dan menelan tiga butir pel ke dalam mulutnya. Bwee Hwa mengunyah pel ini, kemudian ia mendekatkan mulutnya pada pundak yang terluka itu.

Kong Liang tiba-tiba mencium keharuman rambut Bwee Hwa yang mengusap mukanya dan ia merasa heran sekali, juga kagum dan senang. Tiba-tiba pemuda itu merasa betapa mulut gadis itu ditempelkan di pundaknya dan dari luka yang dibuat oleh ujung pedang tadi, gadis itu lalu menyedot dengan mulutnya.

Kong Liang merasa betapa tubuhnya menggigil dan keringat dingin membasahi dahinya, akan tetapi ia sedikitpun tidak mengeluh. Ia bukan terlalu kuat menahan sakit, akan tetapi karena memang pada saat itu ia tidak dapat mengeluh.

Agaknya, biar lehernya ditusuk pedang, ia takkan merasa sama sekali, karena seluruh perasaannya sedang tergetar oleh haru dan bahagia. Bibir gadis itu yang menempel di pundak dan menyedot keluar darah dan racun, agaknya telah menyedot semangatnya keluar dari tubuh.

Hampir saja ia tidak percaya akan semua ini. Gadis itu telah menggunakan bibirnya yang indah dan lemas untuk menyedot racun dari lukanya. Hebat sekali. Memang, Bwee Hwa tidak melihat jalan lain untuk menolong Kong Liang dari bahaya dan ancaman racun kecuali menyedot keluar bisa itu dari pundak Kong Liang. Dan gadis ini selalu membawa pel anti racun pemberian gurunya, maka ia lalu melakukan perbuatan menolong jiwa pemuda itu tanpa ragu- ragu lagi.

Untung sekali baginya bahwa keadaan di sekitar mereka gelap sekali hingga wajah orang yang berada dekat di depan pun tidak kelihatan jelas. Kalau keadaan di situ terang, tentu ia akan merasa kikuk dan malu sekali.

Kini ia dapat bekerja dengan leluasa tanpa merasa sungkan, apalagi di situ tidak ada orang lain yang melihatnya. Ia perlu menolong pemuda ini, perlu membalas budinya, dan ia melakukannya dengan segala kerelaan hatinya bahkan ia merasa bangga dan bahagia dapat menolong pemuda yang amat baik ini.

Setelah akhirnya menyedot keluar darah yang encer, Bwee Hwa tahu bahwa racun telah dikeluarkan dari tubuh Kong Liang. Tadi ia berkali-kali menyedot dan meludahkan darah kental bercampur racun, dan Kong Liang masih saja duduk bersandar pohon tanpa berani berkutik!

“Nah, racun telah keluar semua,” bisik Bwee Hwa yang cepat mengunakan sapu tangan pembungkus rambutnya untuk membalut pundak itu. Tiba-tiba Kong Liang memegang tangannya dan menggenggam jari-jari tangannya erat-erat.

“Kau…… kau…… siapakah namamu     ?”

Kini setelah bahaya yang mengancam pemuda itu telah lenyap, mendengar pertanyaan ini meledaklah suara tertawa Bwee Hwa. Ia cepat-cepat membetot tangannya yang digenggam itu dengan gerakan halus, lalu mengundurkan diri dalam gelap. Ia anggap pemuda ini lucu sekali.

“Namaku Coa Bwee Hwa.”

“Indah sekali namamu…… Bwee Hwa……” bisik Kong Liang.

“Akan tetapi kalau kau sudah tahu benar siapa aku sebetulnya, kau tentu takkan menganggapnya indah lagi,” kata Bwee Hwa sambil menghela napas panjang.

“Mengapa begitu? Aku selamanya akan menganggap kau seorang yang termulia, seorang yang paling baik di atas dunia ini, seorang yang……”

“Sst……” cegah Bwee Hwa, kemudian karena tahu bahwa pemuda itu sudah terbebas daripada bahaya maut. Ia berkelakar. “Agaknya sedikit racun telah menjalar ke dalam kepalamu hingga kau bicara melantur tidak karuan!”

“Tidak, Bwee Hwa…… aku...... aku berhutang budi besar sekali padamu, aku.     suka padamu.”

“Biarpun aku seorang perampok jahat, biarpun aku seorang perempuan ganas?” “Tak mungkin! Siapa yang bilang bahwa kau seorang perempuan jahat dan ganas? Akan kurobek mulutnya!”

“Aku…… aku adalah. ”

Sampai lama Kong Liang menanti kelanjutan pengakuan ini, akan tetapi agaknya berat bagi Bwee Hwa untuk mengaku hingga ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tertawa dan berkata. “Koko, dia adalah Kim-gan-eng yang terkenal gagah perkasa!”

Ternyata yang datang ini adalah Mei Ling dan yang secara main-main melanjutkan kata-kata Bwee Hwa!

Kong Liang merasa terkejut karena ia pernah mendengar nama Kim-gan-eng sebagai perampok wanita tunggal yang disegani. Akan tetapi, pernah ia mendengar dari Ang Lian Lihiap yang menyatakan bahwa biarpun seorang perampok, akan tetapi Kim-gan-eng tidak jahat dan diam-diam pemuda ini menarik napas lega, karena betul gadis ini tidak jahat bahkan berhati mulia.

“Bagus sekali,” katanya dan mengubah suaranya menjadi biasa lagi, “kita telah berkenalan bahkan ditolong oleh seorang pendekar wanita yang terkenal gagah perkasa!”

Mei Ling tertawa lagi dan suara tertawanya membuat Kong Liang dan Bwee Hwa bermerah muka di dalam gelap, karena mereka merasa betapa Mei Ling mentertawakan mereka. Agaknya gadis ini sudah lama berada di situ hingga mencuri dan mendengar percakapan mereka tadi!

“Mei Ling, kau tadi pergi ke mana saja?” Kong Liang menegur dengan suara keras untuk mengalihkan perhatian mereka dan memecahkan keadaan yang membuat nya merasa malu itu.

Mei Ling lalu menuturkan pengalamannya. Terus terang ia mengaku bahwa karena mengkhawatirkan nasib Yap Bun Gai yang telah menolong dia dan Bwee Hwa, maka ia sengaja mengintai dan ketika mendengar percakapan yang terjadi antara Bun Gai dan gurunya, ia lalu membantu dan memperkuat alasan itu dengan menirukan suara laki-laki dari dalam gelap.

Tiba-tiba terdengar Bwee Hwa bertepuk tangan gembira dan berkata, “Bagus, bagus. Pemuda she Yap itu memang gagah dan berbudi, sudah sepantasnya kalau cici Mei Ling pergi membelanya.”

Syukur sekali bahwa Mei Ling berada di dalam gelap, kalau tidak tentu ia akan bermerah muka karena merasa betapa sindiran Bwee Hwa itu tepat mengenai hatinya. Kong Liang merasa tertarik sekali lalu bertanya.

“Akupun telah menduga bahwa tentu pemuda itu yang menolong kalian. Bagaimanakah terjadinya?”

Dengan suara gembira Bwee Hwa lalu menceritakan pengalamannya. Ia sengaja melakukan ini karena ia ingin membalas godaan Mei Ling tadi, maka ia menceritakan semua dengan sejelasnya kepada Kong Liang, betapa Yap Bun Gai melepaskan mereka, menipu gurunya dan bahkan rela dilukai oleh pedang Mei Ling pada pundaknya. Mendengar ini, dengan suara terharu Kong Liang berkata, “Nyata bahwa Yap Bun Gai adalah seorang yang berbudi dan mulia. Telah dua kali ia sengaja menerima tusukan pedang Mei Ling untuk membela dan menolong dia. Ia boleh diumpamakan setangkai bunga teratai yang indah bersih tumbuh di dalam lumpur.”

Kata-katanya ini mendatangkan dua akibat. Pertama, Mei Ling yang ingat akan kebaikan dan pengorbanan Bun Gai dan teringat betapa Bun Gai yang malang itu hidup diantara orang-orang jahat, maka ia merasa terharu sekali hingga ke dua matanya menjadi basah, sedangkan akibat kedua ialah bahwa Bwee Hwa merasa tertarik sekali mendengar ini dan lalu minta kepada Kong Liang untuk menceritakan mengapa Bun Gai sudah dua kali menerima tusukan pedang Mei Ling.

Kong Liang lalu menceritakan pengalaman mereka di atas bukit Hoa-mo-san dan kembali Bwee Hwa memuji kebijaksanaan pemuda she Yap itu.

Biarpun Mei Ling dengan terharu sekali mengalirkan air mata, namun tentu saja kedua orang yang lain itu tidak melihatnya.

“Eh, cici Mei Ling, mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menganggap bahwa pemuda she Yap itu benar-benar mulia sekali hatinya?”

Terdengar jawaban Mei Ling disertai tarikan napas panjang. “Memang ia seorang yang baik hati.”

“Akan tetapi aku tidak tahu siapakah pemuda, yang berada di antara mereka itu,” kata Kong Liang.

Dan Bwee Hwa lalu menceritakan bahwa pemuda itu adalah Lui Tik Kong yang menjadi musuh Lee Ing, lalu ia menuturkan pengalamannya ketika bertemu dengan Lee Ing yang mengejar-ngejar Tik Kong.

Kong Liang dan Mei Ling mendengarkan penuturan ini dengan hati tertarik dan mereka merasa makin bingung dan ruwet melihat persoalan yang hanya mereka ketahui setengah-setengah itu. Mereka mendengar penuturan Ang Lian Lihiap bahwa Tik Kong adalah murid Kong Sin Ek yang murtad dan bahwa justru pemuda ini dipilih oleh Nyo Tiang Pek untuk dijodohkan dengan Lee Ing puteri tunggal Nyo Tiang Pek dan kemudian Lo Sin datang mengacau hingga kedua pengantin itu melarikan diri dan akibatnya Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali kepada Lo Sin bahkan lalu menulis surat kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya.

Akan tetapi, mengapa kini Bwee Hwa menceritakan bahwa Lee Ing mengejar-ngejar Tik Kong dan hendak membunuhnya? Mereka diam-diam memuji Lee Ing yang merasa benci kepada calon suami itu karena telah mengerti bahwa Tik Kong telah menganiaya Kong Sin Ek, akan tetapi kemanakah perginya Lee Ing dan ke mana perginya Lo Sin?

Oleh karena melihat bahwa Bwee Hwa telah menjadi seorang kawan yang baik dan boleh dipercaya penuh, maka Kong Liang dan Mei Ling menceritakan hubungan mereka dengan Ang Lian Lihiap dan menceritakan pula bahwa mereka sedang menuju Bong-kee-san untuk menemui Nyo Tiang Pek dan mendamaikan urusan itu.

Ketika malam berganti fajar dan mereka bisa saling melihat wajah masing-masing, tak terasa pula Kong Liang dan Bwee Hwa menjadi malu dan tidak berani saling pandang. Ketika mendengar betapa Bwee Hwa telah menyembuhkan luka Kong Liang, diam-diam Mei Ling merasa bersyukur sekali dan ia telah mengambil keputusan di dalam hati untuk mengusulkan kepada cicinya, yakni Ang Lian Lihiap, untuk menjodohkan kakaknya itu dengan Bwee Hwa.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kong Liang mempunyai maksud yang sama, yakni hendak minta pertolongan Cin Han untuk menjodohkan adiknya dengan pemuda Yap Bun Gai!

Bwee Hwa yang sudah jatuh “jatuh hati” betul-betul kepada Kong Liang dan suka pula kepada Mei Ling, lalu mengajukan permintaan untuk menyertai kedua saudara kembar itu menuju ke Bong-kee- san untuk mencari Nyo Tiang Pek. Tentu saja permintaan ini diterima dengan baik dan dengan girang hati, oleh karena selain gadis ini merupakan teman seperjalanan yang menyenangkan, juga kehadiran gadis ini dihadapan Nyo Tiang Pek perlu sekali karena Bwee Hwa dapat menjadi saksi untuk meyakinkan jago tua ini bahwa ia telah salah pilih dan bahwa Lui Tik Kong memang benar-benar seorang pemuda jahat.

Demikianlah, mereka bertiga lalu berangkat, ke Bong-kee-san untuk menemui Nyo Tiang Pek!

Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong maklum bahwa nanti apabila terjadi pertempuran di puncak Hoa-mo-san keadaan musuh kuat sekali. Apalagi kalau Lian Bwee Niang-niang sendiri turun tangan, maka sukar bagi mereka berdua untuk mendapat kemenangan.

“Kalau saja ada Nyo-twako seperti dulu, tentu keadaan kita lebih kuat,” kata Cin Han.

“Sudahlah jangan mengharapkan bantuan orang,” jawab Lian Hwa, “apakah tanpa bantuan orang she Nyo itu, kita tak dapat berdiri sendiri? Kau, aku dan Sin-ji bertiga cukup untuk menghadapi Lian Bwee Niang-niang dan kawan-kawannya.”

Cin Han menarik napas panjang. “Kau terlampau memandang rendah keadaan lawan. Dan pula, kita tidak tahu bila Sin-ji akan pulang, bahkan sekarangpun kita tidak tahu dia berada di mana.”

“Mengapa kau tidak pergi mencarinya? Carilah dia, kitapun perlu mendengar tentang usahanya menangkap penjahat yang menganiaya Kong-twako.”

Mendengar ucapan isterinya ini darah perantau bergolak pula di dalam hati Cin Han. Ia tertarik sekali untuk pergi mencari puteranya sambil merantau, mengunjungi tempat-tempat indah, menengok sahabat-sahabat lama.

“Isteriku, mengapa kita berdua tidak pergi dan menikmati perjalanan lagi seperti dulu?” katanya gembira.

Untuk sejenak Lian Hwa terpengaruh oleh kegembiraan dan ajakan suaminya itu, akan tetapi ia lalu menggelengkan kepalanya. “Kalau kita berdua pergi, siapa yang menunggu rumah? Pula kalau sewaktu-waktu Sin-ji datang bukankah dia akan mencari-cari kita ke mana-mana? Tidak, suamiku. Sekarang bukan waktunya untuk melancong. Pergilah kau sendiri mencari Sin-ji, sedangkan aku akan menunggu saja di sini, menanti kedatangan Sin-ji dan kedatangan Kong Liang dan Mei Ling dari Bong-kee-san. Aku khawatir kalau- kalau pihak Bong Cu akan datang mengganggu dan kalau kita berdua pergi, siapa yang akan menyambutnya?”

Setelah berpikir-pikir akhirnya Cin Han menyetujui pendapat isterinya dan pada keesokan harinya, dengan membawa buntalan terisi pakaian dan bekal, Hwee-thian Kim-hong berangkat melakukan perjalanannya untuk mencari anaknya.

Pada suatu pagi, dua hari kemudian setelah suaminya pergi, seorang diri Lian Hwa berlatih silat di kebun belakang rumahnya. Ia akan menghadapi pertempuran besar beberapa bulan lagi, maka ia hendak melatih ilmu pedangnya untuk melemaskan tangan dan menyempumakan gerakan-gerakan yang paling sulit dan sukar dari ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut.

Pendekar wanita yang gagah perkasa ini berlatih silat seorang diri dengan gesitnya dan dalam pakaiannya yang berwarna putih itu tubuhnya lenyap berubah menjadi sinar putih yang dikelilingi cahaya berkeredepan dari pedangnya yang bergerak secara luar biasa sekali!

Tiba-tiba terdengar seruan memuji yang diucapkan dengan keras sekali. “Bagus, bagus! Ang Lian Lihiap ternyata hebat sekali ilmu pedangnya!”

Lian Hwa cepat-cepat memasukkan kembali pedangnya ke belakang punggung dan memandang. Ternyata yang datang memasuki kebunnya tanpa permisi adalah seorang perwira muda tinggi besar yang luar biasa gagahnya, seperti seorang raksasa saja!

Lian Hwa memandang kagum karena belum pernah ia melihat seorang pemuda yang sehebat ini tubuhnya, tinggi besar dan kelihatan amat kuat, sedangkan senyum pada wajahnya membayangkan hati yang jujur dan polos. Perwira muda ini tak lain ialah Can Kok In sendiri!

Lian Hwa bertanya dengan heran, “Ciang-kun yang muda ini siapakah dan apakah keperluanmu mengunjungi tempatku ini?”

Dari pertanyaan ini saja dapat diketahui bahwa Lian Hwa sekarang sudah jauh sekali bedanya dengan dulu ketika masih muda. Kalau saja tabiat dan kekerasan hati Lian Hwa masih seperti dulu ketika masa mudanya, tentu ia akan marah sekali melihat ada orang berani masuk ke dalam kebunnya tanpa permisi, akan tetapi sekarang ia memiliki pandangan tajam dan dapat membedakan orang baik atau jahat.

Can Kok In tertawa bergelak karena sesungguhnya ia merasa gembira sekali dapat bertemu dengan pendekar wanita yang telah lama sekali dikagumi namanya itu.

“Aku bernama Can Kok In, anak murid Kun-lun-pai! Aku sengaja datang ke sini hendak mencari Lo Sin, puteramu si Walet Hitam itu. Kebetulan sekali aku pernah bertemu dengan dia, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk mengukur kepandaiannya. Ang Lian Lihiap, harap kau suka memanggil keluar Lo Sin agar aku dapat mencoba kepandaianhya.”

Mendengar ucapan yang polos dan kasar ini Lian Hwa makin tertarik. Benar-benar seorang yang jujur dan kasar, pikir nya.

“Anak muda, kau ini murid siapakah?”

Can Kok In tertawa lagi. “Guruku adalah Lui Siok Tojin dari Kun-lun-san.”

Lian Hwa terkejut dan merasa girang. Lui Siok Tojin adalah seorang kenalan baik yang dulu bahkan pernah berusaha mendamaikan permusuhan yang timbul antara dia dan pihak Pek-lian-kauw, akan tetapi usahanya ini gagal. Ia maklum bahwa Lui Siok Tojin berilmu tinggi dan lihai sekali, maka ia dapat menduga pula bahwa perwira muda yang seperti raksasa ini tentu lihai juga.

“Ah, tidak tahunya kau adalah murid Lui Siok Tosu yang lihai. Bagaimana, apakah suhumu baik-baik saja?”

“Entahlah, suhu sudah tua dan tinggal di gunung saja sedangkan telah beberapa tahun aku tidak naik ke Kun-lun, Ang Lian Lihiap, harap kau orang tua suka memanggil keluar si Walet Hitam.”

“Can-ciangkun mengapa kau berkeras hendak mengadu kepandaian dengan Lo Sin? Apakah puteraku itu berbuat sesuatu yang salah dan yang menyakitkan hatimu?”

“Tidak, tidak! Puteramu gagah perkasa dan tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan aku, akan tetapi, kami telah berjanji hendak bertemu dan saling menguji kepandaian!”

Ang Lian Lihiap menjadi lega hatinya. “Kalau begitu, sayang sekali, Can-ciangkun. Puteraku itu sampai sekarang belum juga pulang. Sedangkan aku sendiripun sedang menanti-nanti kembalinya.”

Can Kok In kelihatan kecewa sekali. Alis matanya yang tebal dan panjang bergerak-gerak dan sepasang matanya yang bundar besar itu menatap wajah Ang Lian Lihiap, kemudian ia mencabut pedangnya yang panjang dan besar itu dari sarung pedang.

“Kalau begitu, Ang Lian Lihiap, kau wakililah puteramu itu dan mari kita mencoba-coba ilmu kepandaian kita.” Sambil berkata demikian, Can Kok In menggerak-gerakkan pedang besar itu di tangannya hingga berkesiurlah angin pedang bersiutan. Gerakan ini menandakan bahwa pemuda raksasa ini benar-benar memiliki tenaga yang kuat sekali.

Ang Lian Lihiap terkejut dan berkata, “Apakah perlunya itu, Can-ciangkun? Antara kita tidak terdapat permusuhan sesuatu, bahkan antara aku dan suhumu terdapat tali persahabatan yang erat, bagaimana aku dapat bertempur melayanimu? Kalau hal ini terdengar oleh suhumu, bukankah aku akan menjadi malu? Tidak, aku tak dapat melayani kau, anak muda. Kau tunggulah sampai puteraku pulang. Kalian anak-anak muda boleh main-main menguji tenaga, akan tetapi jangan kau mengajak aku berpibu!” Akan tetapi Can Kok In telah datang dari tempat jauh dengan maksud mengukur tenaga. Sudah lama sekali ia kagum mendengar nama Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, maka setelah kini bertemu dengan pendekar wanita ini, mana ia mau melepaskannya begitu saja tanpa bertanding lebih dulu?

“Ang Lian Lihiap! Kalau anakmu tidak ada, panggilah suamimu keluar, biar dia yang mewakili Walet Hitam! Sudah lama aku mengagumi Hwee-thian Kim-hong dan ingin sekali menyaksikan sampai dimana kehebatannya!”

“Suamiku juga tidak berada di rumah, sedang pergi. Hanya aku sendiri yang berada di sini.”

“Ha, ha, ha! Kalau begitu mau tidak mau kau orang tua harus melayani aku yang sudah datang dari jauh! Bagiku sama saja. Walet Hitam atau si Teratai Merah, maupun si Burung Hong! Marilah, kau cabut pedangmu dan biarkan aku merasakan kelihaianmu sebentar!”

Sambil berkata demikian, Can Kok lalu memasang kuda-kuda dengan kedua kaki bersilang, mengangkat tangan kirinya dengan jari-jari terbuka didorongkan ke depan dan tangan kanan yang memegang pedang panjangnya itu diangkat ke atas kepalanya, siap untuk melancarkan serangan. Inilah gerak pembukaan dari ilmu pedang Kun-lun yang lihai.

Melihat ini, Ang Lian Lihiap menjadi bingung. Ia merasa segan untuk melayani perwira muda yang kasar tapi jujur ini, karena hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak enak pada Lui Siok Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang menjadi sahabatnya itu. Maka ia lalu mengangkat kedua lengannya untuk mencegah pemuda itu bertindak jauh dan berkata.

“Jangan, jangan, Can-ciangkun! Aku tidak mau turun tangan terhadap murid sahabatku. Ilmu kepandaianmu tinggi dan kalau kita bertanding, sukar menjaga pukulan yang tak bermata,” kata-kata ini mengandung sindiran bahwa kalau mereka bertanding, besar kemungkinan perwira raksasa itu akan terluka olehnya.

Akan tetapi Can Kok In terlalu polos hatinya untuk dapat menangkap sindiran ini. Ia bahkan tertawa bergelak sambil berkata.

“Eh, apakah Ang Lian Lihiap yang tersohor gagah perkasa itu takut menghadapi Can Kok In?”

Ucapan yang sedikit ini cukup membuat alis Ang Lian Lihiap berdiri karena marah dan penasaran. Ang Lian Lihiap takut? Ah, pendekar wanita ini semenjak mudanya belum pernah mengenal kata-kata takut! Perasaan takut menjadi pantangan besar baginya. Orang boleh berkata apa saja terhadapnya dan ia mungkin dapat menahan kesabarannya, akan tetapi janganlah orang berani mengatakan, bahwa dia takut!

Mendengar ucapan ini, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat dan ia lalu membentak. “Can Kok In, orang muda kasar! Aku takut kepadamu? Hm, kau belajarlah seratus tahun lagi dan belum tentu aku Ang Lian Lihiap akan merasa takut padamu. Majulah dan perlihatkan kebodohan!”

Can Kok In terkejut sekali melihat perubahan ini. Kalau tadi Ang Lian Lihiap bersikap halus dan lemah- lembut hingga agaknya seperti orang takut, kini pendekar wanita itu berubah menjadi ganas dan menyeramkan. Sinar matanya saja sudah cukup membuat kuncup hati seorang laki-laki gagah, seakan-akan dari kedua mata yang jeli dan tajam itu melayang keluar anak panah yang runcing sekali!

Akan tetapi, ia sudah terlanjur menghunus pedang dan memalukan sekali kalau ia mundur lagi. Dengan cepat ia melangkah maju dan menyerang dalam gerak tipu Raja Ular Menyambar Burung sambil berseru,

“Awas pedang!” Ia heran sekali melihat betapa pendekar wanita itu tidak mau mencabut pedangnya untuk menangkis, maka cepat-cepat Kok In menahan serangannya.

“Eh, eh, mengapa kau tidak jadi menyerang?” tanya Ang Lian Lihiap dengan heran.

“Lihiap, cabutlah pedangmu. Aku bersedia menerima pengajaran darimu!” jawab Kok In dan tiba-tiba Ang Lian Lihiap tersenyum manis. Tak disangkanya bahwa perwira muda yang seperti raksasa dan yang kasar sekali sikapnya ini memiliki sifat gagah dan yang merasa sungkan untuk menyerang seorang yang bertangan kosong!

“Kalau aku yang tua menghadapi yang muda dengan pedang di tangan, bukankah berarti aku terlalu menekan padamu? Maju seranglah dan jangan ragu-ragu. Belum tentu kau akan dapat merobohkan Ang Lian Lihiap yang bertangan kosong!”

Tentu saja Kok In yang berwatak jujur menjadi marah sekali oleh karena ia menganggap bahwa pendekar wanita ini terlalu memandang rendah kepadanya! Ia lalu melangkah maju dan menyerang dengan hebat.

Memang lihai sekali gerakan raksasa muda ini. Tidak saja tenaganya yang besar membuat pedangnya yang berat itu meluncur cepat, sambil mendatangkan angin bersiutan, akan tetapi juga ia memiliki ginkang yang cukup hebat sehingga nampak mengagumkan sekali betapa seorang yang mempunyai tubuh tinggi besar itu dapat bergerak sedemikian lincahnya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuh Ang Lian Lihiap lenyap dari depan matanya! Ia hanya melihat berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu pendekar wanita itu telah lenyap. Kok In maklum bahwa lawannya memiliki ginkang yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia dapat menduga cepat. Dengan teriakan ganas ia lalu memutar tubuh sambil menyabet dengan pedangnya dan betul saja, Ang Lian Lihiap tadi telah melompat ke belakangnya dan kini cepat mengelak ketika pedang yang panjang dan berat itu menyambar pinggang!

Can Kok In kini berlaku hati-hati dan memainkan pedangnya dengan tenang dan teratur. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan menggunakan jurus ilmu pedang Kun-lun-pai yang paling lihai dan tak terduga gerakannya.

Tubuhnya berputar-putar cepat, dan pedangnya merupakan seekor naga sakti yang bergerak-gerak dan menyambar-nyambar ke arah tubuh lawan. Ujung pedangnya terus menerus mengejar bayangan putih yang berkelebat ke sana ke mari itu.

Diam-diam Ang Lian Lihiap merasa kagum. Tidak memalukan atau mengecewakan raksasa muda ini menjadi murid Lui Siok Tojin yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau saja ia tidak memiliki ginkang yang telah dilatih sempurna, akan sukarlah baginya untuk dapat menghadapi raksasa muda ini dengan hanya berkelit saja. Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal sekali karena kecepatan dan keteguhannya dan melihat gerakan Can Kok In, maka dapat diduga bahwa pemuda tinggi besar ini memang sudah memiliki sedikitnya tujuh bagian dari Kun-lun-kiam- hwat.

Makin lama menghadapi pemuda raksasa ini, makin kagumlah hati Ang Lian Lihiap dan ia makin tidak tega untuk melukai pemuda ini. Ia hanya mempergunakan kecepatannya untuk mengelak dari setiap serangan sehingga karena gerakan Ang Lian Lihiap berputar-putar, di sekeliling tubuh Kok In sehingga memaksa pemuda inipun berputar-putaran, maka lambat-laun Kok In merasa pusing sekali!

Akan tetapi, pemuda raksasa ini agaknya memiliki daya tahan raksasa pula dan hatinya pun keras tidak mudah menyerah. Biarpun napasnya telah tersengal-sengal dan keringat telah mengucur membasahi mukanya yang lebar hingga pandangan matanya berkunang, namun ia tetap menyerang hebat dan tidak mau mengaku kalah.

Akhirnya, ia tidak kuat lagi dan tubuhnya terhuyung-huyung dan berputaran karena peningnya, lalu ia roboh terduduk di atas tanah sambil memejamkan mata. Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat Ang Lian Lihiap berdiri dengan tenang di depannya. Ia tadinya menyangka bahwa pendekar wanita ini tentu akan mentertawakannya, akan tetapi ternyata Ang Lian Lihiap sama sekali tidak mentertawakannya, bahkan pendekar wanita itu berdiri memandang dengan kagum.

Kalau saja Ang Lian Lihiap mentertawakannya, tentu Kok In akan merasa penasaran dan marah, akan tetapi oleh karena pendekar wanita itu sama sekali tidak mengejek atau mentertawakannya, bahkan memandangnya sambil tersenyum kagum, maka ia buru-buru bangun berdiri dan menjura sambil mengangguk-anggukkan kepala berulang-ulang.

“Hebat, hebat! Ang Lian Lihiap memang hebat sekali, dan benarlah kata suhu bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang melebihi kegagahan Ang Lian Lihiap! Siauwte Can Kok In yang goblok telah mendapat pengajaran dan mohon maaf sebesarnya atas kelancangan siauwte!”

Setelah berkata demikian, perwira muda yang bertubuh seperti raksasa itu lalu melompat pergi setelah menjura sekali lagi sebagai penghormatan terakhir.

“Can-ciangkun! Sampaikan salamku kepada gurumu!” teriak Ang Lian Lihiap. “Akan siauwte perhatikan!” terdengar jawaban Can Kok In dari jauh.

Ang Lian Lihiap menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh seorang pemuda luar biasa, pikirnya. Dan dengan munculnya Can Kok In, pandangannya terhadap para perwira barisan pemerintah yang tadinya rendah, menjadi berubah. Ternyata bahwa di mana-mana terdapat orang pilihan pikirnya.

Setelah menanti sampai tiga hari, akan tetapi belum juga ada berita dari suaminya dan Lo Sin yang dinanti-nanti tidak kunjung pulang, Ang Lian Lihiap menjadi hilang kesabarannya. Ia tidak biasa berada di rumah seorang diri dan kalau Lo Sin pergi saja, ia sudah merasa sunyi walaupun masih ada suaminya yang mencinta dan sering berkelakar. Kini kedua-duanya, kedua orang yang tersayang, pergi meninggalkan rumah, maka ia merasa makin sunyi dan tidak betah. Ia merasa menyesal mengapa ia tidak mau ikut pergi dengan suaminya mencari Lo Sin.

Akhirnya Ang Lian Lihiap tidak dapat menahan lagi. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk suami atau puteranya apabila seorang di antara mereka pulang dan memesan kepada pembantu rumah tangganya untuk menjaga rumah dan memberi surat itu kepada anak atau suaminya. Kemudian, Ang Lian Lihiap membawa buntalan pakaian dan menunggang kuda meninggalkan rumahnya, mencari suami dan anaknya!

Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa tiba di Bong-kee-san dan dengan cepat mereka bertiga mencari tempat tinggal Nyo Tiang Pek. Kong Liang dan adiknya sudah sering datang ke tempat ini, maka mereka lalu langsung pergi ke rumah kepala kampung Nyo.

Kedatangan mereka disambut oleh Giok Lie dan alangkah girangnya nyonya ini ketika melihat Mei Ling. Datang-datang, Giok Lie lalu menubruk dan memeluk Mei Ling sambil menangis sedih.

“Tenanglah, cici, kami telah tahu semua akan urusanmu dan kami memang sengaja datang untuk mendamaikan urusan ini.”

Dalam tangisnya yang sedih terisak-isak. Giok Lie tak dapat mengeluarkan suara, hanya menggeleng- geleng kepalanya. Bwee Hwa memandang kepada nyonya ini ibu dari Lee Ing yang telah menjadi sahabat baiknya, walaupun baru satu kali bertemu. Diam-diam Bwee Hwa merasa heran dan kagum betapa seorang wanita cantik jelita yang begini lemah lembut dan halus dapat memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

Sebelum mereka sempat bercakap-cakap, bahkan Bwee Hwa pun belum diperkenalkan oleh Kong Liang dan adiknya kepada Giok Lie, tiba-tiba Nyo Tiang Pek muncul dari dalam rumah. Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling ketika melihat Nyo Tiang Pek. Kalau bertemu di jalan, tentu mereka tak mengenalnya lagi.

Demikian besar perubahan yang terjadi pada diri pendekar ini. Tubuhnya menjadi kurus pucat dan rambut kepalanya awut-awutan tak terpelihara, bahkan pakaiannyapun kusut dan agaknya sudah beberapa hari tidak diganti. Yang menakutkan adalah sepasang matanya. Kalau dulu mata ini tajam dan berbentuk gagah, kini memandang sayu dan kadang-kadang seperti ada api bernyala-nyala di dalamnya.

“Nyo-twako!” seru Kong Liang sambil memberi hormat.

Juga Mei Ling cepat memberi hormat. “Twako, kau kenapakah? Kau begini kurus dan pucat. Sakitkah kau?”

Ditanya demikian oleh Mei Ling, Nyo Tiang Pek menghela napas dan menggelengkan kepala. “Kalian baik-baik sajakah?” katanya membelokkan pertanyaan Mei Ling, kemudian ketika melihat Bwee Hwa, ia bertanya, “Dan nona ini siapakah?” Mei Ling lalu memperkenalkan Bwee Hwa kepada Nyo Tiang Pek dan isterinya. Kim-gan-eng lalu memberi hormat dengan sopan santun.

“Kalian datang dari mana?” tanya Nyo Tiang Pek dengan acuh tak acuh dan sikap serta suaranya menyatakan bahwa ia tidak gembira menerima orang-orang yang tadinya amat disayanginya itu.

“Nyo-twako, kedatanganku bersama Mei Ling ini tidak lain karena mendengar tentang urusamu dan Lian Hwa Suci. Kami datang untuk mendamaikan urusan ini dan……”

“Cukup!” tiba-tiba Nyo Tiang Pek membentak keras. “Jangan sebut-sebut lagi nama keluarga Lo di depanku. Aku tidak sudi mendengarnya.”

“Nyo-twako!” jerit Mei Ling dan kembali terdengar isak tangis Giok Lie.

“Nyo-twako, kuharap kau sudi bersabar dan mendengarkan bicaraku,” kata pula Kong Liang. “Segala hal bisa diurus dengan baik, apalagi kalau urusan itu terjadi antara kau dan Lo-twako yang sudah demikian lama menjadi sahabat baik, bahkan seperti saudara sendiri. Kesalahan dapat diurus dan diperiksa siapa yang benar siapa yang salah dan……”

“Diam……!!!” Tiba-tiba Nyo Tiang Pek bangkit dari kursinya dan berdiri sambil mendelikkan matanya kepada Kong Liang.

“Nyo-twako!” Mei Ling berseru dengan penasaran sekali.

“Kaupun diam!! Pendeknya, aku melarang siapa saja menyebut nama mereka di depanku dan kalau kau tetap hendak melanggar laranganku, lebih baik kau keluar dari rumah ini!”

Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling. Tak mereka sangka bahwa Nyo Tiang Pek menjadi marah sedemikian rupa dan kebenciannya terhadap Ang Lian Lihiap sekeluarga agaknya telah memuncak.

“Toako, kedatangan kami ini bukannya hendak membela atau memenangkan mereka, akan tetapi hendak mendamaikan urusan.”

“Sudahlah, jangan kau lanjutkan bicaramu!” kata pula Nyo Tiang Pek yang menahan keras bergolaknya api di dalam dadanya. “Kalian ini tahu apa?? Enak saja bicara mau mendamaikan urusan dan tahukah kalian urusan apa yang hendak kau damaikan? Apalagi yang harus didamaikan?

“Si bangsat muda she Lo itu telah membikin malu, menghina dan mencemarkan nama keluargaku! Bahkan bangsat besar itu kemudian memikat hati anakku dan membawanya lari bersama!