-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 05

Jilid 05

“Benar, pendeta itu adalah Bong Cu Sianjin yang dulu pernah menjadi ketua Pek-lian-kauw yang dipecahkan oleh cici dan kawan-kawan lain, termasuk pula nenek kami itu. Biarpun kedua lengan tangannya telah buntung, akan tetapi Bong Cu Sianjin ini lihai sekali. Setelah bertempur mati-matian, akhirnya Liang-ko terkena tendang olehnya sehingga mendapat luka parah pada dadanya.”

Lian Hwa dan Cin Han terkejut. “Dan di mana sekarang kakakmu itu berada?” tanya Cin Han penuh hati khawatir.

“Liang-ko kusembunyikan dalam sebuah kelenteng dan dirawat oleh kepala hwesio di kelenteng itu. Setelah Liang-ko kena tendang, aku berhasil menolong dan melarikannya di dalam gelap, sedangkan Bong Cu Sianjin lalu berkata menantang Song Cu Ling, cici dan cihu berdua, Nyo-twako berdua dan semua orang yang pernah menyerbu dan menghancurkan Pek-lian-kauw.”

“Bangsat tua Bong Cu sombong sekali,” Ang Lian Lihiap memaki.

“Apakah ia mengatakan di mana ia menantang kita?” tanya Cin Han yang juga merasa gemas. “Ya, dia mengatakan bahwa dia menanti kita di Bukit Hoa-mo-san.”

“Hm, tentu Lan Bwee Niang-niang masih berada di sana. Agaknya Sin-kun Mo-li (Iblis Perempuan Kepalan Dewa) itu masih belum mengubah sifatnya!” kata Cin Han lagi.

“Marilah kita mengunjungi Kong Liang untuk melihat keadaannya. Kemudian kita pergi ke Hoa-mo- san untuk melihat sampai di mana kelihaian mereka!” kata Ang Lian Lihiap yang tabah dan keras hati.

Cin Han menghela napas. “Belum juga urusan pertama kita bereskan, datang lagi urusan kedua.”

“Biarlah, urusan dengan Nyo-twako kita tunda dulu dan menengok Kong Liang serta membalaskan sakit hatinya lebih penting lagi.”

Inilah sifat Ang Lian Lihiap, selalu mementingkan keperluan orang lain dan membelakangkan keperluan sendiri. Apalagi, pendekar wanita ini memang sayang sekali kepada Kong Liang dan Mei Ling yang ia anggap sebagai adik-adiknya sendiri.

Setelah mengadakan persiapan, Lian Hwa dan Cin Han lalu berangkat bersama Mei Ling hari itu juga, pergi ke kelenteng di mana Mei Ling menyembunyikan Kong Liang untuk diobati dari luka di dalam dadanya.

Memang benar dugaan Cin Han suami isteri dan keterangan Mei Ling. Pertapa buntung yang lihai dan melukai Kong Liang itu adalah seorang pertapa tua yang tinggi ilmu kepandaiannya dan bernama Bong Cu Sianjin.

Bong Cu Sianjin dulu pernah mendirikan perkumpulan rahasia Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) dan oleh karena perkumpulan ini diperalat oleh kaisar yang hendak mengadu domba dan membasmi para enghiong dan anak buah Pek-lian-kauw banyak yang melakukan kejahatan mengandalkan pengaruh perkumpulan dan kepandaian mereka, maka perkumpulan ini lalu bentrok dengan Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong dan kawan-kawannya.

Ketika itu suami-isteri ini masih muda, bahkan kawin, mereka berdua bersama Tiang Pek si Garuda Kuku Emas, Kong Sin Ek si Dewa Arak, Ong Su dan Ong Bu Sepasang Naga dari Tit-lee dan dengan bantuan para locianpwe yang luar biasa seperti Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan guru Lian Hwa, Gwat Liang Tojin guru Cin Han, bahkan akhirnya mendapat bantuan dari seorang pertapa sakti setengah dewa yang bernama Beng San Siansu yang akhirnya menjadi guru suami isteri Lo Cin Han dan Han Lian Hwa.

Mereka semua ini naik ke sarang Pek-lian-kauw dan di situ terjadi pertempuran-pertempuran yang luar biasa hebatnya dan yang berakhir dengan runtuhnya Pek-lian-kauw. Di dalam pertempuran hebat ini pulalah Bong Cu Sianjin kehilangan kedua lengan tangannya hingga menjadi buntung. Ia lalu ditolong oleh kakak seperguruannya yang bernama Lan Bwee Niang-niang dan berjuluk Sin-kun Mo-li (Iblis Perempuan Kepalan Dewa) dan yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi daripada Bong Cu Sianjin. Tentu saja kekalahan-kekalahan hebat ini membuat Bong Cu Sianjin dan Lan Bwee Niang-niang menjadi sakit hati. Bong Cu Sianjin dibawa oleh sucinya ini ke atas puncak Gunung Hoa-mo-san dan di situ ia mendapat rawatan sehingga luka-lukanya sembuh. Biarpun kedua lengannya telah buntung, akan tetapi karena dorongan ingin membalas dendam kepada musuh-musuhnya, Bong Cu Sianjin tiada bosannya melatih diri, bahkan ia melatih kedua kakinya yang menjadi anggauta yang kini amat diandalkan oleh karena ia tidak berlengan lagi.

Ia melatih bermacam-macam ilmu tendangan yang hebat-hebat hingga ilmu kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada dulu sebelum lengannya buntung! Kini tenaga lweekangnyapun makin kuat dan seluruh tenaganya dikumpulkan pada dua kakinya.

Lan Bwee Niang-niang sebetulnya sudah kapok dan bosan mengurus urusan dunia yang selalu mendatangkan kecewa dan duka, maka urusan sakit hati ini tidak terlalu mendalam menggores hatinya. Pertapa yang berkepandaian tinggi ini mengerti bahwa ia telah makin tua dan dalam usianya yang tua ia tidak mau mencari perkara dan bertempur.

Oleh karena itu, ia lalu menerima seorang murid yang berbakat dan ia melatih murid ini menjadi seorang yang lihai sekali. Muridnya ini bukan lain ialah Hek Li Suthai yang berkepandaian tinggi.

Juga Bong Cu Sianjin menerima seorang murid lelaki. Akan tetapi berbeda dengan Hek Li Suthai yang sudah berusia tinggi juga, murid Bong Cu Sianjin ini adalah seorang pemuda yang berusia paling banyak duapuluh enam tahun dan belum kawin.

Pemuda ini bernama Yap Bun Gai dan berasal dari keluarga tani. Oleh karena pemuda ini berbakat baik, maka Bong Cu Sianjin lalu menerimanya sebagai murid dan menurunkan seluruh kepandaiannya. Ketika mula-mula diterima menjadi murid Yap Bun Gai baru berusia limabelas tahun.

Yap Bun Gai ini selain berwajah tampan gagah dan bertubuh tinggi besar, juga ia mempunyai pikiran yang baik dan hati yang jujur. Juga ia amat setia kepada suhunya, oleh karena ia memang kasihan sekali melihat kakek berilmu tinggi yang buntung ini.

Baik Bong Cu Sianjin, maupun Lan Bwee Niang-niang, mendidik kedua orang murid itu dengan sungguh-sungguh dan dengan maksud agar supaya murid-murid ini mewakili mereka membalas sakit hati kepada musuh-musuhnya. Oleh karena kepandaian Hek Li Suthai telah tinggi, maka Lan Bwee Niang-niang lalu menuturkan siapa adanya musuh-musuhnya yang harus dibalas oleh murid ini, bahkan ia lalu memerintahkan muridnya ini untuk turun gunung dan pergi menyelidiki di mana adanya musuh-musuhnya itu.

Sedangkan Bong Cu Sianjin yang memang seorang berpikiran licin dan pintar, biarpun kepandaian Bun Gai tidak lebih rendah daripada Hek Li Suthai, namun kakek buntung ini tidak mau melepaskan Bun Gai pergi lebih dulu. Bong Cu Sianjin hendak mendengar dulu keadaan musuh-musuhnya dari Hek Li Suthai, kalau to-kouw ini sudah kembali. Oleh karena itu ia tidak mau menyuruh muridnya turun gunung untuk kemudian dikalahkan oleh musuh-musuhnya!

Maka Yap Bun Gai belum mengerti tentang sakit hati dan usaha pembalasan dendam dari gurunya ini. Pemuda ini selain mencintai dan kasihan kepada gurunya, juga ia taat dan takut sekali, maka iapun tidak berani banyak bertanya. Beberapa hari yang lalu, Hek Li Suthai dan muridnya yang bernama Bi Mo-li dengan cepat naik ke atas puncak Hoa-mo-san. Sambil menangis Hek Li Suthai menceritakan kepada gurunya bahwa ia bertemu dengan sepasang saudara kembar yang bernama Kong Liang dan Mei Ling di sebuah dusun di kaki bukit Hoa-mo-san ini. Karena ia mendengar bahwa kedua saudara kembar ini adalah adik-adik seperguruan Ang Lian Lihiap, maka ia segera menyerangnya, akan tetapi sungguh celaka, kedua saudara kembar itu terlampau tangguh dan ia tidak kuat melawannya.

Pada saat itu, Lan Bwee Niang-niang tengah duduk bercakap-cakap dengan sutenya, yakni Bong Cu Sianjin. Mendengar kekalahan muridnya, pendeta wanita yang kini sudah banyak sabar ia tersenyum dan berkata.

“Ceng Hwa mengapa kau begitu bersedih hanya oleh karena sebuah kekalahan saja? Ketahuilah bahwa kepandaian manusia memang tidak ada batasnya, siapa yang pandai tentu ada orang lain yang melebihinya. Kau kalah dengan murid-muridnya Song Cu Ling? Jangan kau bersedih, sekarang jangan kau kembali merantau. Kau tinggal saja di sini untuk menerima pelajaran-pelajaran baru. Kutanggung dalam beberapa bulan saja kepandaianmu akan meningkat dan kau takkan dapat dikalahkan oleh murid-murid Song Cu Ling.”

Akan tetapi, Bong Cu Sianjin yang mendengar tentang kekalahan murid keponakannya dan bahwa dua murid Song Cu Ling berada di bawah gunung, segera mengajak Hek Li Suthai untuk melihat sendiri sampai di mana kehebatan murid-murid Song Cu Ling itu! Lan Bwee Niang-niang tak dapat mencegah sutenya, hanya tertawa melihat betapa sutenya itu masih saja berdarah panas!

Demikianlah, ketika Bong Cu Sianjin dengan diantar oleh Hek Li Suthai dan Bi Mo-li turun gunung dan bertemu dengan Kong Liang dan Mei Ling, akhirnya mereka bertempur dan tentu saja Kong Liang dan Mei Ling tidak kuat melawan Bong Cu Sianjin yang berilmu tinggi hingga akhirnya Kong Liang kena ditendang oleh kaki Bong Cu Sianjin yang, lihai dan dahsyat!

Baiknya Mei Ling dapat menolong dan membawa lari kakaknya dan berkat ginkangnya yang tinggi ia dapat menghilang di dalam kegelapan malam hingga mereka berdua tak sampai dibinasakan oleh tangan musuh-musuh mereka itu!

Lee Ing yang mengejar Lui Tik Kong, tak mau melepaskan pemuda yang dibencinya itu. Tik Kong maklum bahwa apabila ia melawan, ia takkan menang menghadapi nona yang gagah perkasa itu, maka ia berlari secepat mungkin, akan tetapi Lee Ing tetap mengejar dan merupakan bayangan yang menakutkan!

Berpuluh lie mereka lalui dan ketika mereka tiba di luar sebuah hutan yang gelap akhirnya Lee Ing dapat menyusul Tik Kong. Sebenarnya ilmu berlari cepat Lee Ing masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian Lui Tik Kong, akan tetapi oleh karena pemuda yang ketakutan itu mempergunakan taktik berlari sambil bersembunyi, maka kadang-kadang Lee Ing dapat ditipunya dan gadis ini terpaksa mencari-cari pemuda yang bersembunyi itu.

Setelah tidak terdapat tempat persembunyian lagi dan tersusul di luar hutan, terpaksa Tik Kong berlaku nekad dan mencabut pedangnya. “Bangsat pengecut Lui Tik Kong! Kau hendak lari ke mana?” bentak Lee Ing sambil menyerang dengan pedangnya.

Tik Kong menangkis dan tanpa berkata-kata ia melakukan perlawanan mati-matian sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya! Biarpun kepandaiannya masih kalah jika dibandingkan dengan Lee Ing yang lihai, namun berkat latihan-latihan yang ia terima dari Kong Sin Ek si Dewa Arak, ia dapat juga melakukan pertahanan yang kuat dan untuk beberapa lama ia dapat menghindarkan serangan- serangan maut yang dilancarkan oleh Lee Ing dengan pedangnya.

Sementara itu senja telah mendatang dan karena hutan itu penuh dengan pohon pohon besar, maka keadaan di situ menjadi gelap dan matahari telah tertutup oleh daun-daun pohon. Beberapa kali Tik Kong mencari kesempatan untuk melarikan diri, akan tetapi pedang Lee Ing tidak mengenal kasihan karena hati gadis ini telah menjadi gemas dan marah sekali kepada Lui Tik Kong.

Ia berpikir bahwa kalau pemuda yang dibencinya ini tidak membuat gara-gara melamar dirinya, tentu takkan terjadi peristiwa hebat itu, di mana ayah ibunya sampai berkelahi melawan Lo Sin, putera Ang Lian Lihiap! Dan ia sendiri tak usah menderita malu. Maka sambil mengertak gigi Lee Ing mengirim serangan-serangan paling berbahaya.

Tiba-tiba Tik Kong berteriak kesakitan karena pundak kirinya termakan ujung pedang Lee Ing. Pakaian di pundaknya robek oleh ujung pedang Lee Ing yang langsung melukai kulit pundaknya. Ia merasa betapa pundaknya terasa perih dan sakit, maka tiba-tiba ia lalu membentak.

“Mampus kau!” Bentakan ini dibarengi dengan ayunan tangan kiri dan Lee Ing cepat mengelak oleh karena Tik Kong menyambitnya dengan sebuah batu yang cepat dipungutnya dari bawah kaki. Kesempatan ini digunakan oleh Tik Kong untuk melompat jauh ke dalam hutan dan melarikan diri!

“Anjing rendah, jangan lari!” teriak Lee Ing yang cepat mengejar.

Hutan itu benar-benar gelap dan terdapat banyak tetumbuhan liar. Tik Kong yang sudah merasa bingung lalu melompat dengan nekad ke dalam serumpun alang-alang yang liar dan banyak durinya.

Ia lenyap di balik rumput yang tinggi itu dan dengan nekad terus maju ke dalam. Terpaksa Lee Ing mengambil jalan memutar. Matanya tajam dan mencari-cari.

Di dalam bingungnya, Tik Kong mempergunakan akal. Ia memungut batu karang dan melemparkan ke arah lain. Mendengar suara ini, karena keadaan telah menjadi suram dan gelap, Lee Ing mengejar ke arah jatuhnya batu itu dan Tik Kong melihat akalnya berhasil baik. Diam-diam ia lalu melarikan diri menjauhi gadis yang kosen itu.

Lee Ing merasa gemas sekali. Ia memaki-maki dan memanggil nama Tik Kong menyuruh dia keluar. Akan tetapi, yang menjawabnya hanyalah gema suaranya sendiri.

Akhirnya keadaan menjadi demikian gelapnya hingga terpaksa Lee Ing keluar lagi dari hutan dan melewatkan malam itu di atas sebatang pohon besar di pinggir hutan. Ia mengambil keputusan untuk menanti di situ sampai besok, karena iapun yakin bahwa di dalam hutan gelap itu, tak mungkin Tik Kong akan melanjutkan larinya. Besok aku akan menangkap dan membunuhnya, demikian gadis ini berpikir dengan gemas.

Semalam suntuk Lee Ing duduk di cabang pohon sambil melamun sedih. Ia dapat membayangkan betapa ayahnya tentu marah sekali dan ibunya tentu amat berduka dan tak terasa lagi dari kedua mata gadis ini mengalir air mata.

Peristiwa itu telah merusak nama baik keluarga Nyo. Tentu ayahnya akan merasa marah sekali kepada Lo Sin dan mengambil sikap memusuhi keluarga Lo dan ini hebat sekali.

Hubungan baik antara ayah ibunya dengan Ang Lian Lihiap dan suaminya yang telah menjadi sahabat baik semenjak masih muda, kini menjadi rusak oleh karena dia? Ini semua adalah kesalahan Tik Kong!

Lee Ing bergidik kalau mengingat ucapan Lo Sin yang menceritakan bahwa Tik Kong telah menjadi pembunuh Kong Sin Ek yang menjadi guru pemuda itu sendiri! Dan diam-diam ia merasa beruntung bahwa ia tidak jadi kawin dengan pemuda jahat itu.

Sedikitpun ia tidak meragukan keterangan Lo Sin dan entah bagaimana, ia mempunyai kepercayaan besar sekali kepada Lo Sin. Dan diam-diam Lee Ing menghela napas panjang tanpa ia ketahui sebabnya ketika ia teringat bahwa Lo Sin telah mempunyai isteri!

Pada keesokan harinya pagi-pagi Lee Ing telah melompat turun dari atas pohon, untuk mulai mencari dan mengejar Tik Kong. Sambil mencari-cari dan membawa pedang di tangan gadis ini memaki-maki.

“Tik Kong, bangsat besar! Keluarlah untuk terima binasa!”

Ia masuk makin dalam di hutan yang liar itu dan tiba-tiba ia mendengar suara kaki menginjak daun kering sebelah depan. Bukan main girangnya karena ia merasa pasti bahwa itu tentu Lui Tik Kong yang sedang dicarinya.

Sambil memegang pedangnya erat-erat di tangan kanan, ia lalu berlari ke arah suara itu. Ia melihat seorang sedang duduk membelakanginya sambil makan buah.

“Tik Kong, mampuslah kau sekarang!” bentak Lee Ing sambil melompat lalu menubruk dari belakang, menyerang dengan pedangnya.

Orang itu menengok kaget lalu menggerakkan tubuh berjungkir-balik di udara.

“Eh, eh, apakah kau gila?” teriaknya sambil melempar buah yang dimakannya tadi ke atas tanah.

Lee Ing berdiri sambil memandang heran. Ternyata bahwa orang yang disangkanya Tik Kong adalah seorang gadis yang cantik dan gagah, berpakaian warna hijau. Karena keadaan masih agak gelap, maka tadi ia menyangka bahwa orang ini Tik Kong adanya.

“Perempuan liar dari manakah datang-datang menyerang orang?” kata gadis baju hijau itu sambil memandang dengan sepasang matanya, yang indah dan tajam. “Berani benar kau bermain gila dihadapan Kim-gan-eng!” “Aku tadi salah sangka, harap kau tidak menjadi marah,” kata Lee Ing dengan suara ketus karena hatinya masih panas dan marah. “Kalau kau tadi melihat seorang laki-laki muda lewat di sini, harap kau suka memberitahukan padaku. Aku mencari dia!”

“Siapa melihat laki-laki? Mataku bukan khusus untuk menjaga dan melihat setiap orang laki-laki yang lewat di depanku! Kau gadis yang mengejar laki-laki mengapa tidak membuka mata lebar-lebar dan berlancang tangan menyerangku? Sampai di mana sih kepandaianmu maka kau sesombong ini?” Gadis baju hijau yang bukan lain adalah Kim-gan-eng Coa Bwee Hwa itu berkata dengan penasaran dan mencabut pedangnya.

Lee Ing menjadi marah sekali.

“Bagus! Bangsat lelaki melarikan diri, sekarang muncul bangsat perempuan! Biar kubasmi sekalian!” Sambil berkata demikian, Lee Ing lalu menyerang dengan pedangnya. Biarpun serangan ini hebat, namun Kim-gan-eng dapat mengelak dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Juga Lee Ing mempergunakan ginkangnya dan meloncat tinggi di udara hingga sabetan pedang Kim- gan-eng tak mengenai sasaran. Lee Ing merasa penasaran sekali, dan ketika tubuhnya melayang turun, ia menyerang lagi dengan gerak tipu Garuda Putih Menyambar Ikan. Pedangnya bergerak cepat dan meluncur membabat ke arah lawan, kakinya menendang dengan hebat.

Kim-gan-eng terkejut sekali melihat kelihaian gerakan ini dan sambil berseru keras ia menggulingkan tubuhnya ke bawah untuk menghindari serangan istimewa itu. Setelah berdiri lagi, Kim-gan-eng lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya karena maklum bahwa gadis lawannya ini bukanlah seorang lemah. Ia memainkan ilmu pedang Pat-kwa-hoan-kiam-hoat yang istimewa hingga sinar pedangnya berkeredepan dan bercahaya menyilaukan mata.

Biarpun Lee Ing tercengang juga menyaksikan lihainya ilmu pedang lawan, namun gadis yang berhati tabah ini sama sekali tidak merasa gentar. Ia lalu memutar-mutar pedangnya dan mengerahkan seluruh kepandaian yang ia pelajari dari ayah-ibunya. Dalam hal gin-kang, ia tidak usah takut, karena ia telah memiliki ilmu kepandaian gin-kang dari ibunya yang luar biasa sedangkan ilmu pedang yang dipelajarinya dari ayahnya juga ilmu pedang pilihan yang kuat dan cepat gerakannya.

Kedua orang muda itu bertempur seru dan hebat, seakan-akan dua ekor singa betina berebut kelinci! Dan keduanya merasa kagum karena ternyata bahwa mereka sama kuatnya dan sama tangkasnya!

Kim-gan-eng yang belum pernah bertemu dengan seorang gadis sebaya dengannya yang memiliki ilmu kepandaian yang setingi ini, menjadi tertarik hatinya dan timbul keinginan tahunya untuk mengenal gadis lihai ini, maka ia melompat ke belakang sambil berkata.

“Sobat, tahan dulu!”

Lee Ing yang merasa marah dan penasaran karena tak dapat merobohkan lawan nya, berdiri dengan muka merah dan dada turun naik, lalu membentak.

“Kau mau apa?” Melihat sikap Lee Ing yang masih marah itu, Kim-gan-eng lalu tersenyum dan memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang. Kemudian ia lalu menjura dengan sikap hormat.

“Lihiap, ilmu pedangmu hebat sekali. Bolehkah aku mengetahui siapakah lihiap ini dan murid siapa?”

Lee Ing yang memang berwatak keras menjawab. “Apa perlunya kau hendak mengetahui namaku? Aku tidak kenal padamu dan juga kita tidak mempunyai urusan sesuatu!”

Kembali Kim-gan-eng tersenyum, “Justeru karena kita tidak mempunyai urusan sesuatu, maka tidak seharusnya kita bermusuhan! Tadi aku hanya terkejut karena tiba-tiba kauserang dan kemudian aku hanya ingin sekali mencoba sampai di mana kepandaianmu. Ternyata benar-benar lihai. Sahabat baik, ketahuilah bahwa aku Kim-gan-eng bukanlah seorang jahat. Kalau ada sesuatu yang membikin kau penasaran, aku sanggup membantumu!”

Melihat sikap ini, lenyaplah amarah dari hati Lee Ing. Ia juga tidak suka bermusuhan dengan orang tanpa sebab, maka ia lalu berkata.

“Namaku Nyo Lee Ing dan guruku adalah ayah sendiri yang bernama Nyo Tiang Pek dari Bong-ke- san!”

Wajah Kim-gan-eng berseri mendengar ini “Ah, tidak tahunya kau adalah puteri si Garuda Kuku Emas! Tidak aneh bagiku sekarang mengapa ilmu pedangmu demikian lihai! Telah lama aku mendengar nama besar Nyo Lo-enghiong dan kini melihat ilmu pedangmu, dapat kubayangkan betapa hebatnya kepandaian ayahmu yang terhormat itu!”

Lee Ing merasa senang mendengar ayahnya dipuji-puji. “Akupun merasa pernah mendengar nama Kim-gan-eng yang tersohor, akan tetapi tak pernah kusangka bahwa Kim-gan-eng yang disohorkan sebagai perampok wanita tunggal itu ternyata adalah seorang gadis secantik kau! Dan aku lebih tidak percaya lagi bahwa kau adalah seorang perampok.”

Kim-gan-eng tersenyum. “Adik Lee Ing yang manis. Biarpun usiamu hanya sedikit lebih muda dariku dan kepandaianmu tidak kalah dengan kepandaianku, akan tetapi dalam hal pengalaman hidup, kau kalah jauh.

“Oleh karena itu kau belum dapat membedakan antara perampok budiman dan perampok jahat. Aku bukan sembarang perampok yang merampas harta benda orang hanya karena ingin memiliki benda itu. Ah, untuk apa aku bicara panjang lebar tentang ini! Kau takkan mengerti. Tadi kau memaki-maki orang dan agaknya kau mencari-cari dan mengejarnya. Sebetulnya siapakah lelaki itu dan mengapa kau mengejarnya? Kulihat tadi bayangannya berlari ke arah selatan.”

“Ia adalah seorang penjahat besar, seorang yang berbudi rendah! Ia adalah murid dari Kong peh-peh akan tetapi dengan kejamnya ia membunuh mati gurunya sendiri!”

Wajah Kim-gan-eng berubah merah karena marah. “Seorang murid yang membunuh mati gurunya sendiri sama busuknya dengan seorang anak yang menyakiti hati orang tuanya sendiri! Manusia macam itu memang harus dibasmi! Mari kuantar kau menyusulnya! Aku lebih kenal keadaan hutan ini dan kita ambil jalan yang lebih dekat untuk mencegatnya di luar hutan sebelah selatan!”

Lee Ing merasa girang sekali, lalu ia mengikuti Kim-gan-eng yang berlari cepat di antara pohon-pohon dan tetumbuhan liar. Tak lama kemudian, mereka telah menembus hutan itu dan berada di pinggir hutan sebelah selatan.

Mereka mengintai dan menanti dari balik pohon sambil menuturkan riwayat masing-masing. Keduanya cocok dan saling suka, terutama Lee Ing merasa kagum sekali melihat Kim-gan-eng yang sudah mengalami banyak peristiwa hebat itu.

Kim-gan-eng mengaku bahwa ia adalah murid tunggal dari Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan si Pendekar Aneh Tangan Delapan! Oei Gan ini adalah seorang hiap-kek tua yang telah amat tersohor namanya sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dan juga beradat aneh hingga, ia disebut Koai-hiap (Pendekar Aneh). Tempat tinggalnya tak tentu karena Oei Gan adalah seorang pendekar perantau yang bebas lepas seperti seekor burung di udara.

Setelah Kim-gan-eng yang bernama Bwee Hwa tamat mempelajari ilmu silat dari suhunya, maka gadis inipun meniru kebiasaan suhunya dan hidup merantau ke sana ke mari. Kepandaiannya yang tinggi dan wajahnya yang cantik, terutama, sepasang matanya yang indah dan tajam itu membuat ia mendapat julukan Kim-gan-eng atau Garuda Bermata Emas!

Setelah menanti beberapa lama, akhirnya dari dalam hutan keluarlah orang yang mereka tunggu- tunggu, Lui Tik Kong! Perwira muda ini dengan wajah pucat dan pedang di tangan berjalan perlahan karena ia merasa lelah sekali. Ia telah merasa aman karena menyangka bahwa Lee Ing yang mengejar- ngejarnya itu kini tentu masih tertinggal di hutan dan tak mungkin dapat menyusulnya.

Akan tetapi, Lee Ing ketika melihat Tik Kong, tak dapat menahan sabar lagi. Ia melompat keluar dari tempat pengintaian dengan pedang di tangan sambil berteriak.

“Tik Kong manusia bangsat! Kali ini kau tentu mampus dalam tanganku!”

Kalau pada saat itu Tik Kong bertemu dengan seorang iblis mengerikan, belum tentu ia sekaget ketika melihat tiba-tiba Lee Ing muncul di situ! Bagaimana gadis yang tadinya ditinggalkan di dalam hutan itu tiba-tiba dapat berada di luar hutan? Ketika melihat munculnya seorang gadis lain yang kelihatan gagah perkasa, makin terkejutlah hati Tik Kong dan tanpa menoleh lagi ia lalu berlari secepatnya ke jurusan timur bagaikan dikejar setan!

“Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana?” Lee Ing mengejar dengan cepat, dan Kim-gan-eng juga ikut mengejar di belakang Lee Ing.

Lui Tik Kong berlari cepat dengan hati penuh khawatir dan takut karena tidak berani menghadapi Lee Ing dan gadis kedua yang dapat diduga tentu berkepandaian tinggi juga itu, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari secepat mungkin. Napasnya telah mulai memburu kedua kakinya telah lemas, akan tetapi ia memaksa dirinya dan berpikir bahwa lebih baik mati berlari daripada mati tangan nona yang ganas itu! Pada saat kedua orang gadis itu mulai menyusulnya, tiba-tiba dari depan datang dua orang to-kouw, yang seorang agak muda dan berwajah cantik genit, yang kedua adalah seorang tua dengan roman menyeramkan dan tahi lalatnya di ujung hidung menambah keburukannya. Mereka ini adalah Hek Li Suthai dan Bi Mo-li!

Ketika Lui Tik Kong berlari di dekat mereka, Bi Mo-li mengulur tangan dan berhasil menangkap lengan tangan pemuda itu. Ia memandang dengan matanya yang genit kepada wajah Tik Kong yang tampan, lalu bertanya.

“Kongcu mengapa berlari-lari ketakutan?”

Akan tetapi, tiba-tiba Hek Li Suthai berkata. “Ah kau dikejar-kejar oleh mereka berdua itukah?”

Sementara itu Lee Ing dan Bwee Hwa telah datang dekat dan alangkah terkejut hati Lee Ing ketika melihat kedua to-kouw yang lihai itu.

Hek Li Suthai tertawa terkekeh-kekeh ketika melihat Lee Ing. “Hm, hm! Ternyata kau masih hidup. Lekas berlutut agar aku dapat mengampuni jiwamu!”

Biarpun hatinya gentar menghadapi to-kouw yang lihai itu, namun Lee Ing mana sudi berlutut. Ia bahkan berdiri dengan gagah dan berkata tenang.

“Hek Li Suthai! Jangan kau ikut mencampuri urusan pribadiku! Lepaskan laki-laki itu agar dapat kubunuh mati, karena dia adalah seorang penjahat besar!”

Tiba-tiba Bi Mo-li tertawa genit. “Enak saja kau bicara! Kau memiliki kepandaian apakah maka sembarangan hendak membunuh kongcu ini?”

“Kau hendak membelanya?” Lee Ing bertanya gemas.

Bi Mo-li memandang gurunya karena ia tidak berani bertindak sebelum mendapat berkenan Hek Li Suthai. To-kouw tua buruk rupa ini tersenyum lalu berkata kepada muridnya.

“Bi-nio, kau telah melatih diri, sekarang cobalah lawan dia lagi!”

Bi Mo-li lalu berseru keras dan mencabut keluar hud-tim dan pedangnya. Kemudian ia melompat ke depan Lee Ing dan membentak, “Perempuan rendah, coba kauperlihatkan kebodohanmu!”

Lee Ing ketika melihat betapa Tik Kong dengan licik sekali lalu pergi dan berlari di belakang Hek Li Suthai seakan akan minta perlindungan, menjadi marah sekali. Tanpa berkata sesuatu ia lalu menggerakkan pedangnya menyerang Bi Mo-li dengan sengitnya. Bi Mo-li lalu menggerakkan kebutan dan pedangnya dan setelah menangkis serangan Lee Ing, lalu membalas dengan tak kalah hebatnya.

Memang benar bahwa selama ini Bi Moli telah melatih diri dan menerima pelajaran tambahan dari gurunya, hingga kelihaiannya bertambah. Akan tetapi, oleh karena Lee Ing mengerahkan tenaga dan kepandaiannya dan mainkan kiam-hwat dari ayahnya yang lihai, ia dapat mendesak Iblis Cantik itu dan setelah bertempur beberapa lama, sambil berseru keras pedangnya menyambar dan putuslah hud-tim lawannya. Bulu hud-tim itu terbang berhamburan dan senjata itu kini tinggal gagangnya saja.

Bi Mo-li marah sekali dan mengayun tangan melempar gagang kebutan itu ke arah Lee Ing. Akan tetapi gadis ini mengelak cepat dan gagang hud-tim itu meluncur cepat lewat di atas kepala Lee Ing dan menyambar leher Kim-gan-eng yang masih berdiri menonton sambil bertolak pinggang.

Ketika melihat gagang hud-tim itu menyambar ke arah lehernya, Kim-gan-eng tidak berkelit, hanya mengulur kedua jari tangan kirinya dan menyambut gagang itu dengan jepitan jarinya. Kemudian dengan tersenyum ia melemparkan gagang itu ke atas tanah.

Tidak saja Bi Mo-li menjadi terkejut, akan tetapi Hek Li Suthai sendiri juga memandang tajam kepada Kim-gan-eng. Kemudian Hek Li Suthai lalu menghadapi Lee Ing dan berkata.

“Gadis, ilmu pedangmu mengingatkan aku kepada Nyo Tiang Pek si kepala batu. Kau masih ada hubungan apakah dengan orang she Nyo itu?”

Sebetulnya Lee Ing cukup maklum bahwa apabila ia mengaku sebagai puteri Nyo Tiang Pek, tentu iblis wanita ini takkan mau melepaskannya, akan tetapi mendengar ayahnya dimaki-maki, hatinya telah menjadi panas dan marah sekali. Sambil menuding muka Hek Li Suthai dengan ujung pedangnya, ia membentak.

“To-kouw iblis jangan kau membuka mulut kotor memaki ayahku!”

Tiba-tiba tertawalah Hek Li Suthai hingga suara ketawanya itu berkumandang di seluruh hutan. “Bagus, bagus…… aha, bangsat Nyo Tiang Pek, jangan harap kau akan dapat bertemu dengan puterimu lagi!”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah menyerang Lee Ing dengan kedua tangannya yang kurus akan tetapi yang mengandung tenaga menyeramkan itu.

Lee Ing berlaku waspada, dan ia cukup maklum akan kelihaian to-kouw tua ini, maka ia lalu mempergunakan gin-kangnya yang cukup mengagumkan untuk mengadakan perlawanan.

Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau dan tahu-tahu Kim-gan-eng telah menarik tangan Lee Ing dan menghadapi Hek Li Suthai.

“Tidak baik yang tua menghina yang muda,” katanya hingga Hek Li Suthai menahan serangannya dan memandang tajam.

“Siapakah kau, nona?”

“Aku yang muda adalah Kim-gan-eng Bwee Hwa. Pernah aku mendengar dari suhu tentang kelihaian Hek Li Suthai, akan tetapi tak kusangka bahwa ternyata Hek Li Suthai yang gagah dan tersohor itu mau merendahkan diri dengan menyerang dan menghina yang muda.”

“Siapakah suhumu?” “Suhu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan!”

Walaupun pada wajahnya tak nampak perubahan sesuatu, namun di dalam hatinya Hek Li Suthai terkejut juga mendengar nama yang cukup terkenal ini.

“Kim-gan-eng, aku dan suhumu tidak mempunyai permusuhan apa-apa, baiknya kau lekas mundur dan jangan ikut mencampuri urusanku dengan nona ini.”

Bwee Hwa maklum bahwa nama suhunya cukup membuat iblis wanita ini sungkan menyerangnya, akan tetapi untuk melindungi Lee Ing ia berkata dengan berani.

“Hek Li Suthai, aku yang muda juga sekali-kali takkan berani mengganggumu, dan kau boleh berbuat sesukamu tanpa aku ambil perduli. Akan tetapi, nona Lee Ing ini adalah sahabat baikku dan siapa saja yang mengganggunya, tentu akan kubela.”

Merahlah wajah Hek Li Suthai mendengar ini. “Sekali lagi Kim-gan-eng, kau mundurlah. Memandang muka suhumu, biarlah aku anggap omonganmu tadi seperti tak pernah kau ucapkan.”

“Tidak bisa, Hek Li Suthai. Tak mungkin aku bertega hati melihat kawan baikku diganggu.”

Sementara itu, ketika mendengar ucapan Kim-gan-eng, Lee Ing berdiri memandang Bwee Hwa dengan heran. Ia merasa kagum, berterima kasih, dan girang sekali. Kawan dalam bahaya dan duka adalah kawan sejati, dulu ayahnya pernah berkata.

Dan kini, biarpun menghadapi seorang lawan yang demikian lihainya, tiba-tiba Kim-gan-eng membelanya dengan berani. Gadis perampok ini benar-benar boleh dijadikan kawan yang sejati, pikirnya. Maka ia lalu berkata kepada Hek Li Suthai.

“Dengarlah, Hek Li Suthai! Akupun tahu bahwa kau menaruh dendam kepada orang tuaku, juga kepada Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong dan yang lain-lain pula, oleh karena para orang gagah itu dulu pernah menghancurkan kejahatan gurumu. Dan karena kau tidak becus dan tidak berani membalas kepada mereka, orang-orang tua yang gagah perkasa itu, maka hendak menumpahkan kemarahanmu kepada kami orang-orang muda. Akan tetapi, jangan kira kami takut kepadamu. Benar ucapan ciciku Bwee Hwa ini tadi, selama ada dia disampingku, takkan ada orang boleh menggangguku, seperti juga selama aku berada disampingnya, orang tak boleh mengganggunya.”

“Bagus, kalau begitu majulah kalian berdua. Jangan dikira aku orang tua akan menghina yang muda.”

Hek Li Suthai sengaja menantang kepada dua orang gadis itu supaya maju bersama agar kelak apabila guru Kim-gan-eng mendengar bahwa pertempuran dilakukan dengan satu lawan dua, maka ia takkan dianggap keterlaluan, sebaliknya, karena maklum bahwa mereka menghadapi seorang lawan yang tangguh, maka mendengar tantangan ini, Bwee Hwa dan Lee Ing segera saling pandang, lalu menerjang dengan hebat. Hek Li Suthai tersenyum dan menyambut terjangan mereka itu dengan sabetan ujung lengan bajunya yang panjang. Agaknya Hek Li Suthai sangat memandang rendah kedua lawannya karena to-kouw tua ini menghadapi mereka dengan tangan kosong dan tidak mau mengeluarkan senjatanya.

Akan tetapi, segera to-kouw tua yang lihai itu merasa kecele dan ia telah memandang terlalu rendah kepada dua orang lawannya yang muda. Mungkin kalau hanya menghadapi seorang saja, ia masih akan dapat melawan dengan tangan kosong, akan tetapi dua orang gadis itu maju bersama merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya! Ia tak kuat lagi bertahan maka sambil berseru marah ia lalu mencabut keluar sepasang pedang Ceng-ouw-coa-kiam yang lihai!

Kim-gan-eng Bwee Hwa ketika melihat iblis betina itu mencabut keluar sepasang pedang yang mengeluarkan cahaya hijau dan hitam, segera mendesak keras sambil memainkan ilmu pedang yang luar biasa, yakni Pat-kwa-hoan-kiam-hwat. Juga Lee Ing lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, hingga pedang di tangannya menyambar-nyambar dengan ganasnya.

Ketika Kim-gan-eng dari arah kiri menyerang dengan gerak tipu Pohon Liu tertiup Angin menusuk leher Hek Li Suthai, Lee Ing membarengi gerakan kawannya itu dengan serangan Angin Ribut Memukul Ombak dan menyerang ke arah lambung dan dada lawan dengan gerakan pedang memutar! Kedua serangan yang dilakukan berbareng dan dengan cepat sekali ini benar-benar berbahaya dan orang yang berkepandaian biasa tentu takkan dapat menghindarkan diri.

Akan tetapi, sambil tertawa mengejek, Hek Li Suthai menggunakan pedang di tangan kiri menyampok pedang Kim-gan-eng, sedangkan pedang di tangan kanannya cepat sekali diputar sedemikian rupa hingga ketika menempel pedang Lee Ing, pedang gadis ini telah dapat dibetot dan terlepas dari tangan!

Pedang itu melayang ke atas dan ketika turun, kebetulan sekali jatuh di dekat tempat Lui Tik Kong berdiri. Pemuda itu lalu tersenyum dan mengambil pedang itu, terus di selipkan di ikat pinggangnya.

Lee Ing merasa terkejut dan marah sekali, dan ia terus maju menyerang Hek Li Suthai dengan tangan kosong, mempergunakan ilmunya Gin-san-ciang yang lihai. Ketika angin pukulan Gin-san-ciang ini membuat tangan Hek Li Suthai menggetar, to-kouw tua itu terkejut sekali dan marah.

Ia memutar pedangnya berubah menjadi sinar hitam dan hijau yang mengurung tubuh Kim-gan-eng dan Lee Ing! Ternyata Hek Li Suthai telah mengeluarkan kepandaiannya dan keadaan kedua orang dara muda itu benar-benar berbahaya sekali.

Pada saat jiwa kedua orang gadis itu terancam bahaya maut yang memancar keluar dari ujung kedua pedang, Hek Li Suthai, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan bagaikan seekor ular, sehelai saputangan panjang telah meluncur dan menahan gerakan pedang Ceng-ouw-coa-kiam di tangan Hek Li Suthai!

“Suhu!” Seru Bwee Hwa dengan girang dan ia segera melompat mundur, diturut oleh Lee Ing.

Ketika Lee Ing memandang, ia melihat bahwa bayangan hitam yang datang dan yang mempergunakan saputangan panjang secara istimewa itu adalah seorang laki-laki yang sudah tua, bertubuh kecil kurus pendek, mukanya buruk dan hidungnya mencuat ke atas. “Ha, ha, Hek Li Suthai! Mengapa main-main dengan orang muda? Kalau kau sudah haus darah, biarlah kita tua sama tua boleh mengukur tenaga!” kata kakek ini yang bukan lain ialah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, Pendekar Aneh Tangan Delapan!

Hek Li Suthai memandang tajam. “Apakah pinni berhadapan dengan Pat-chiu Koai-hiap?”

Oei Gan tertawa bergelak sambil memandang ke atas udara. “Benar dugaanmu. Aku si tua bangka Oei Gan selama hidup tak suka mencari perkara, apalagi mencari permusuhan. Juga aku telah memesan kepada murid tunggalku agar jangan mencari permusuhan dengan orang-orang kang-ouw. Hari ini entah kedosaan apa yang dilakukan oleh muridku hingga Hek Li Suthai yang lihai dan berkepandaian tinggi sampai turun tangan memberi pengajaran kepadanya!”

Biarpun kata-kata ini seperti menyesalkan kesalahan murid sendiri, akan tetapi bersifat menegur dan menyindir kepada Hek Li Suthai. Hal ini bukan tidak terasa oleh Hek Li Suthai, karena wajah iblis wanita ini menjadi merah.

“Pat-chiu Koai-hiap! Bukan pinni yang memulai pertempuran dengan muridmu ini! Pinni mempunyai persoalan pribadi dengan gadis puteri Nyo Tiang Pek, akan tetapi muridmu secara lancang lalu membantunya. Apakah pinni harus mendiamkan saja kalau diserang orang?”

Oei Gan lalu berpaling kepada muridnya “Bwee Hwa, benarkah keterangan Hek Li Suthai?”

Kim-gan-eng Bwee Hwa dengan suara lantang berkata, “Memang benar, suhu. Teecu melihat betapa Hek Li Suthai menyerang Lee Ing yang bukan tandingannya. Teecu telah menjadi sahabat baik Lee Ing, maka sebagai orang yang menjunjung tinggi kegagahan, melihat seorang kawan baik diserang orang jahat, apakah teecu harus mendiamkannya saja? Mohon petunjuk, suhu!”

Oei Gan tertawa bergelak. “Hek Li Suthai, persoalannya mudah saja dimengerti olehku sekarang. Kau tentu mewakili Lan Bwee Niang-niang untuk membalas dendam kepada Nyo Tiang Pek dan kawan- kawannya. Dan mungkin sekali karena kau tidak sanggup melawan mereka, kau lalu hendak mengganggu anaknya. Muridku hanya membela kawan baik, maka aku pun tidak dapat menyalahkannya. Kau seharusnya mencari Nyo Tiang Pek Si Garuda Berkuku Emas, dan jangan mengganggu anaknya yang masih hijau.”

“Oei Koai-hiap! Apakah kau orang tua juga hendak ikut mencampuri urusanku sendiri?” teriak Hek Li Suthai dengan alis berdiri.

“Hek Li Suthai, siapa sudi mencampuri urusanmu? Aku berada di sini dan oleh karena muridku tidak bersalah, apabila ada orang yang berani mengganggunya, berarti orang itu mengganggu aku sendiri.”

“Dan siapa saja yang mengganggu Lee Ing sahabat baikku ini, berarti ia mengganggu aku sendiri,” kata Kim-gan-eng meniru suara gurunya.

Bukan main marahnya Hek Li Suthai mendengar ini. Ia berseru keras dan tiba-tiba menyerang Pat-chiu Koai-hiap dengan pedang di kedua tangannya. “Bagus! Memang akupun ingin melihat sampai di mana keganasan Hek Li Suthai!” kata Oei Gan yang cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya yang terselip di punggung.

Kedua ahli silat yang berkepandaian tinggi itu lalu bertempur hebat. Oei Gan mengeluarkan kepandaian ilmu pedangnya Pat-kwa-hoan-kiam-hoat yang hebat, sedangkan Hek Li Suthai mainkan ilmu pedang Ceng-ouw-coa-kiam-hwat yang ganas. Tubuh kedua orang tua ini lenyap terbungkus sinar pedang mereka yang bergerak-gerak seperti naga bercanda di tengah mega.

Sementara itu, ketika melihat bahwa Hek Li Suthai tidak sempat melindungi Tik Kong lagi, Lee Ing lalu melompat dan menyerang pemuda itu dengan tangan kosong, oleh karena pedangnya yang tadi dirampas Hek Li Suthai kini telah berada di tangan pemuda itu. Namun ia tidak menjadi gentar dan serangan tangan kosongnya tak kurang hebat.

Bi Mo-li melompat dan membela Tik Kong, akan tetapi Kim-gan-eng tak mau tinggal diam. Gadis ini lalu menyambut Bi Mo-1i sambil membentak. “Kau juga mau turut campur?”

Makin ramailah pertempuran yang terjadi di luar hutan itu. Biarpun sesungguhnya belum tentu Lee Ing dapat memenangkan Tik Kong dengan bertangan kosong saja, namun oleh karena Tik Kong telah merasa gentar dan takut, pemuda itu tidak mau melayani Lee Ing lebih lama lagi.

Ia melihat betapa Bi Mo-1i kena didesak oleh Kim-gan-eng, sedangkan Hek Li Suthai juga payah menghadapi desakan Pat-chiu Koai-hiap, maka Tik Kong lalu menyerang hebat dengan pedangnya dan ketika Lee Ing melompat ke samping, pemuda ini lalu membalikkan tubuh dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu!

“Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana?” Lee Ing membentak dan terus mengejar!

Dengan perlahan tapi tentu, Oei Gan dan Bwee Hwa berhasil mendesak kedua orang itu hingga akhirnya Hek Li Suthai berseru.

“Biang keladi pertempuran telah pergi, tak perlu kita bertempur terus!”

Oei Gan tertawa bergelak. “Hek Li Suthai, kau cerdik! Akan tetapi akupun memang tidak ada nafsu untuk mengalahkan kau!! Bwee Hwa, lepaskan lawanmu itu!”

Hek Li Suthai merasa malu sekali oleh karena sesungguhnya memang ia dan muridnya terdesak hebat tadi. Kalau sekiranya ia yang mendesaknya, belum tentu ia mau menghentikan pertempuran ini. Maka dengan wajah merah ia berkata.

“Koai-hiap, lain kali kita bertemu pula!” Lalu ia pergi dengan cepat, diikuti oleh muridnya. Setelah Hek Li Suthai dan muridnya pergi jauh, barulah Oei Gan menegur muridnya.

“Bwee Hwa, mengapa kau begitu lancang memusuhi mereka? Untung aku datang pada saat yang tepat, kalau aku tidak ada di sini, apakah kau masih bisa mengharapkan untuk hidup?” Bwee Hwa menundukkan kepalanya dan tak dapat menjawab teguran suhunya, kemudian Oei Gan melanjutkan setelah menghela napas panjang.

“Kau tidak tahu, muridku. Diantara Hek Li Suthai dan Nyo Tiang Pek memang terdapat dendam yang besar. Hal ini terjadi ketika aku masih muda, juga ketika itu Nyo Tiang Pek masih seorang pemuda.

“Guru Hek Li Suthai yang bernama Lan Bwee Niang-niang dan susioknya bernama Bong Cu Sianjin dan menjadi ketua dari Pek-lian-kauw, pernah bentrok secara hebat sekali dengan Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya, diantaranya bahkan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang tersohor dan kini menjadi suami isteri itu, ikut pula membantu. Karena Bong Cu Sianjin membela anggauta- anggauta Pek-lian-kauw yang kebanyakan memang jahat, dan Lan Bwee Niang-niang membantu sutenya ini, maka terjadilah pertempuran yang maha hebat di puncak Hong-lai-san antara Bong Cu Sianjin dan kawan-kawannya melawan Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya.

“Pertempuran itu hebat sekali dan aku sebagai orang luar hanya berani mengintai saja dan diam-diam menonton pertempuran maha dahsyat.

“Akhirnya karena pihak Pek-lian-kauw terdapat Lan Bwee Niang-niang yang benar-benar sakti, pihak Nyo Tiang Pek mengalami kekalahan, akan tetapi tiba-tiba datanglah Beng San Siansu, manusia setengah dewa itu yang menjadi suhu dari suami isteri Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong! Dan Lan Bwee Niang-niang dapat ditundukkan sedangkan Bong Cu Sianjin kedua lengannya terpotong!

“Sakit hati inilah yang kemudian menimbulkan permusuhan antara Hek Li Suthai yang hendak membalaskan sakit hati gurunya pada pihak Nyo Tiang Pek dan kawan-kawannya. Ketika aku menyaksikan pertempuran adu jiwa yang mengerikan itu, aku diam-diam merasa beruntung bahwa aku tidak terlibat dalam urusan itu.

“Karena apakah untungnya bermusuh-musuhan dan saling membunuh? Dan kau sekarang telah menyakiti hati Hek Li Suthai, bukankah ini berarti kau menyeret gurumu ke dalam jurang permusuhan pula?”

Kembali Oei Gan menghela napas panjang.

Kim-gan-eng Bwee Hwa merasa penasaran sekali mendengar ucapan gurunya ini. Memang ia amat disayang oleh Oei Gan yang menganggapnya seperti anak sendiri, dan Bwee Hwa telah biasa bersikap manja terhadap gurunya ini, maka ia lalu berkata.

“Akan tetapi, suhu, melihat Lee Ing yang gagah dan yang telah menjadi sahabat baikku itu terancam bahaya maut di tangan Hek Li Suthai, apakah teecu harus berdiam berpeluk tangan saja? Kalau sampai terjadi Lee Ing terbunuh dan teecu diam saja sebagai penonton, bukankah teecu percuma saja mempelajari ilmu kepandaian dari suhu dan tidak patut disebut seorang gagah?”

Oei Gan tersenyum dan berkata halus. “Dalam hal itu aku tidak bisa mempersalahkan kau, Bwee Hwa. Hanya kusesalkan bahwa kau telah menanam bibit permusuhan dengan mereka, sedangkan aku tahu bahwa pihak mereka itu selain jahat, juga lihai sekali.”

Kembali Bwee Hwa berkata dengan semangat bernyala. “Suhu, teecu tidak takut! Menurut cerita suhu sendiri, pihak Nyo Tiang Pek lo-enghiong berada di pihak benar, dan pihak Hek Li Suthai yang jahat, maka apa salahnya kita bermusuh dengan pihak yang jahat? Teecu tidak takut dan teecu rela mengurbankan nyawa demi membela yang benar dan melawan yang jahat!”

“Ha, ha, ha! Kau anak kecil yang keras hati dan sombong! Kepandaianmu seberapa tingginyakah maka kau berani berkata demikian? Sekarang, perkara sudah menjadi begini, dan setiap waktu apabila kau bertemu dengan Hek Li Suthai dan kawan-kawannya, tentu jiwamu terancam bahaya. Maka mulai sekarang kau harus belajar silat lagi yang lebih tinggi untuk menjaga diri. Tidak selamanya gurumu akan dapat datang dalam waktu yang kebetulan dan tepat!”

Bwee Hwa lalu berlutut dan menghaturkan terima kasih dan mulai saat itu, Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan lalu melatih lagi muridnya itu dengan ilmu silat yang lebih tinggi hingga kepandaian gadis ini makin hebat dan maju pesat.

Lee Ing dengan hati panas dan penasaran terus mengejar Lui Tik Kong ke arah timur. Tik Kong mengerahkan tenaganya untuk cepat berlari karena ia maklum bahwa tak jauh dari situ terdapat sebuah benteng tentara dan kalau saja ia bisa masuk ke benteng itu, ia akan selamat bahkan ia akan mendapat banyak pembantu untuk melawan Lee Ing!

Tentu saja Lee Ing tidak mengetahui hal ini dan mengejar terus.

Benar saja, tak lama kemudian nampak tembok putih dan tinggi mengelilingi sebuah benteng di satu dusun yang berada di lereng bukit, hingga ketika melihat tembok ini, Tik Kong lalu berlari makin cepat. Ketika tiba di dekat benteng, Tik Kong berteriak-teriak minta tolong dan dari pintu benteng itu keluarlah belasan orang tentara yang segera memburu ke tempatnya.

“Lekas tangkap perempuan penjahat!” seru Tik Kong dengan napas tersengal-sengal dan karena telah merasa lelah sekali, pemuda ini lalu berlari masuk ke dalam benteng.

Semua perajurit mengenal Tik Kong maka mereka lalu mencegat Lee Ing dengan pedang di tangan.

Melihat hal ini, bukan main marahnya Lee Ing yang segera menyerbu belasan orang perajurit itu dengan tangan kosong. Sekali saja ia berkelebat, ia telah berhasil menendang roboh seorang pengeroyok dan merampas pedangnya. Dan dengan pedang rampasan ini, Lee Ing mengamuk!

Pengeroyoknya terkejut sekali melihat kegagahan ini dan dari benteng itu keluarlah lebih banyak lagi tentara yang mengiringkan Tik Kong dan seorang perwira yang tinggi besar seperti seorang raksasa muda! Perwira ini bernama Can Kok In, dan biarpun usianya masih muda dan mukanya yang lebar itu hanya ditumbuhi kumis kecil sedikit, namun tubuhnya benar-benar menakutkan, tinggi besar dan gemuk.

Can Kok In adalah seorang perwira yang berhati jujur bersuara keras dan besar, sedangkan ilmu silatnya amat tinggi oleh karena dia adalah anak murid Kun-lun¬pai. Mendengar Tik Kong dikejar- kejar oleh penjahat wanita, Can Kok In cepat membawa pedangnya yang besar panjang dan berat, lalu berlari keluar. Ketika melihat betapa Lee Ing mengamuk bagaikan seekor banteng betina mencium darah, Can Kok In lalu berteriak keras seperti guntur, memerintahkan semua anak buahnya mundur, sedangkan ia sendiri lalu melompat maju sambil menuding dengan telunjuknya.

“Penjahat perempuan yang ganas dan kejam! Sekali ini kau berhadapan dengan Can Kok In, jangan kau menjual lagak!”

Melihat perwira yang tinggi besar dan bermata lebar ini Lee Ing lalu menubruk dan mengirim tusukan dengan pedangnya. Can Kok In tertawa bergelak dan menangkis dengan pedangnya yang besar.

Lee Ing terkejut sekali karena sekali menangkis saja, pedangnya hampir terlepas dari pegangan! Ia maklum bahwa perwira raksasa ini bertenaga besar sekali, maka ia lalu berseru keras dan menyerang lebih hebat mempergunakan kelincahan dan ginkangnya. Akan tetapi, lagi-lagi ia menjadi terkejut, oleh karena perwira yang tinggi besar inipun, lalu bergerak cepat hingga sukar dipercaya bahwa tubuh yang kaku dan besar itu dapat bergerak sedemikian lincahnya.

Lui Tik Kong tidak tinggal diam saja lalu maju mengeroyok.

Lee Ing diam-diam mengeluh, oleh karena menghadapi perwira tinggi besar ini saja ia telah merasa kewalahan, apalagi ditambah dengan Tik Kong yang juga memiliki kepandaian. Maka ia lalu putar- putar pedangnya dengan cepat sekali dan tiba-tiba melompat mundur untuk melarikan diri!

Can Kok In tertawa bergelak-gelak.

“Kejar dan tangkap dia!” bentak Lui Tik Kong, akan tetapi Can Kok In berkata.

“Lui-ciangkun untuk apa kita mengejar seorang perempuan? Memalukan sekali. Kalau orang lain melihatnya, bukankah kita akan menjadi bahan ejekan?”

“Tapi ia jahat dan berbahaya sekali. Kalau kali ini kita tidak membasminya, tentu lain kali ia menimbulkan bencana!” kata Lui Tik Kong.

“Kalau ia datang, biarlah, serahkan saja kepadaku untuk menghadapinya. Akan tetapi untuk mengejarnya, ah, aku malu, Lui-ciangkun!”

“Kau ini memang orang aneh, Can-ciangkun.” kata Lui Tik Kong yang terpaksa menahan rasa mendongkolnya. Kemudian ia lalu masuk ke dalam benteng itu bersama Can-ciangkun dan mengambil keputusan untuk istirahat beberapa lama di benteng itu sebelum kembali ke bentengnya sendiri.

Can Kok In berjanji hendak memberi barisan pengawal untuk mengantarnya pulang ke Le-hu-tin, markas Lui Tik Kong di Bong-kee-san. Tik Kong mendapat ganti pakaian sebagai perwira lagi dan nampak gagah. Kembalilah kegagahannya yang dulu, sungguhpun di dalam hatinya ia merasa berkhawatir sekali kalau mengenangkan segala perbuatannya yang menimbulkan akibat hebat itu. Sambil membawa lari pedang rampasannya yang ia gantungkan di pinggang, Lee Ing merasa gemas sekali. Lagi-lagi ia gagal dan lagi-lagi penjahat she Lui itu mendapat pembela yang berkepandaian tinggi!

Akan tetapi Lee Ing telah mengambil keputusan tetap untuk mengejar terus. Ia maklum bahwa selama pemuda itu bersembunyi di dalam benteng yang dilindungi oleh banyak sekali anggauta tentara dan juga oleh perwira raksasa muda yang tangguh itu, ia tidak berdaya sama sekali.

Akan tetapi, tidak mungkin kalau Tik Kong akan bersembunyi selamanya di situ! Lee Ing bersembunyi di sekitar itu dan menanti saatnya Tik Kong keluar dari benteng dan apabila hal ini terjadi, ia akan menyerang!

Lo Sin dengan hati marah sekali setelah mengamuk dan mengacau rumah Nyo Tiang Pek, mengejar dengan menunggang kudanya Pek-liong-ma, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu jurusan mana yang diambil oleh Lui Tik Kong ketika melarikan diri, terpaksa ia harus mencari jejak pemuda itu dengan teliti.

Ia turun dari Bong-ke-san dan bertanya-tanya kepada para penduduk dusun di sekitar bukit itu barangkali diantara mereka ada yang melihat ke mana berlarinya perwira muda yang dikejar-kejar oleh seorang gadis.

Biarpun andaikata ada yang melihat Lui Tik Kong dan Lee Ing, namun orang itu tentu takkan berani menceritakannya kepada Lo Sin, maka usaha pemuda itu sia-sia belaka. Kemudian Lo Sin mendapat akal. Ia bertanya kepada serombongan kanak-kanak yang sedang bermain-main dan benar saja, seorang diantara anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini, dengan sejujurnya menceritakan bahwa tadi ia melihat Nyo-siocia yang telah amat dikenal itu berlari cepat ke jurusan timur.

Lo Sin menjadi girang sekali dan ia lalu mengaburkan kudanya menuju ke timur.

Namun, ternyata bahwa kudanya mengambil jalan yang berlainan sekali dengan jalan yang ditempuh oleh Tik Kong dan Lee Ing yang berkejaran, hingga hati pemuda itu menjadi penasaran dan kecewa ketika ia tak melihat bayangan dua orang yang dicarinya itu, biarpun ia telah mengejar sehari penuh. Terpaksa pada malam hari itu ia bermalam di sebuah kampung dan pada keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanannya mencari-cari Lui Tik Kong dan juga mencari Lee Ing.

Ia merasa berduka kalau memikirkan gadis ini dan juga merasa berdosa. Bukankah ia telah menghancurkan kebahagiaan gadis yang hendak menikah dan gagal oleh karena perbuatannya itu? Dan apabila ia mengenangkan segala peristiwa yang terjadi di rumah Nyo Tiang Pek, diam-diam Lo Sin merasa bergidik!

Alangkah akan marahnya Nyo Tiang Pek, dan Coa Giok Lie! Tentu kedua orang tua itu membenci sekali padanya, yang tentu dianggap pengacau rumah tangga!

Bukan tak mungkin bila Nyo Tiang Pek mengejarnya, atau bahkan mencari orang tuanya untuk mengadukan perbuatannya itu. Lo Sin menghela napas dengan penuh rasa menyesal apabila mengingat akan hal ini. Semenjak kecil ia rindu dan ingin sekali bertemu dengan Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie yang seringkali disebut-sebut ayah ibunya itu. Dan sekarang, begitu bertemu ia bertempur dengan mereka, bahkan membuat mereka marah, mendatangkan nama buruk dan mencemarkan kehormatan dan nama keluarga Nyo!

Akan tetapi, Lo Sin mengangkat dada. Biarlah! Biar aku yang tanggung jawab. Kalau Nyo-pehpeh marah, biar ia marah kepadaku. Aku rela binasa di bawah tangannya daripada Lee Ing menjadi isteri si bangsat Tik Kong!

Dengan ini, Lo Sin merasa terhibur, karena ia berpendapat bahwa ia melakukan sesuatu yang benar, oleh karenanya ia tidak takut menghadapi akibat-akibatnya yang mungkin terjadi.

Lo Sin terus mengaburkan kudanya ke Timur dan pada suatu hari ia bermalam di dusun Ki-ciang yang cukup besar dan ramai. Yang menarik perhatian Lo Sin ialah bahwa di dusun itu kelihatan beberapa orang tentara berkeliaran. Ia memang telah mendengar tentang gerakan suku bangsa Turki yang mencurigakan dan bahwa kini pemerintah telah memperkuat barisan pertahanannya dan bahkan mencari banyak anggauta barisan suka rela, maka ia tidak perdulikan pemandangan yang memang agak ganjil ini, karena jarang terjadi di sebuah dusun nampak anggauta tentara.

Lo Sin berpakaian seperti biasa apabila melakukan perjalanan, yakni baju yang ringkas warna biru kehitam-hitaman dengan ikat pinggang dan topi berwarna kuning emas. Hiasan burung walet hitam di kepalanya menambah kegagahannya dan pedangnya tergantung di pinggang dihias dengan ronce- ronce merah. Sulingnya terselip di punggung.

Melihat sekelebatan saja, orang akan dapat mengetahui bahwa dia adalah seorang pendekar perantau yang memiliki ilmu kepandaian silat. Oleh karena itu, banyak mata memandangnya dengan kagum, karena memang Lo Sin kelihatan gagah dan cakap sekali. Apalagi karena ia menunggang kudanya yang berbulu putih dan tinggi besar itu, hingga kuda dan penunggangnya merupakan pasangan yang sedap dipandang dan menimbulkan kagum.

Ketika Lo Sin melompat turun dari kudanya dan memberikan kuda itu kepada pelayan rumah penginapan, ia tidak tahu bahwa banyak pasang mata memandang kudanya dengan kagum dan iri. Lo Sin lalu memilih sebuah kamar dan setelah makan malam, ia lalu beristirahat.

Malam hari itu menjelang pagi, tiba-tiba Lo Sin dikejutkan oleh suara kudanya meringkik keras. Ia mengenal suara kuda Pek-liong-ma, maka cepat ia membereskan pakaiannya melompat keluar, langsung menuju ke kandang kuda.

Alangkah terkejutnya ketika mendapat kenyataan bahwa kudanya telah lenyap dari tempat itu! Lo Sin cepat melompat ke atas genteng memperhatikan sekeliling tembok itu. Tiba-tiba ia mendengar ringkik kudanya dari jauh, di arah selatan, maka ia lalu cepat melompat turun lagi bagaikan seekor burung walet hitam melayang, lalu berlari mengejar!

Ia merasa marah sekali. Siapakah yang begitu kurang ajar berani mencuri kudanya?

Dengan mengerahkan ilmu berlari cepat, Lo Sin mengejar ke arah suara itu, karena gin-kangnya memang sudah mencapai tingkat tinggi, sebentar saja ia telah hampir menyusul. Ia mendengar suara kaki kuda berlari cepat di sebelah depan, dan diantara kabut tebal ia melihat bayangan orang-orang berkuda dengan cepat sekali meluncur ke depan!

“Pencuri kuda yang hina dina?” Lo Sin menegur dan memaki, “Kalian hendak berlari ke mana?”

Melihat bahwa di belakang mereka terdapat seorang pemuda yang berlari luar biasa cepatnya mengejar, ketiga orang penunggang kuda itu lalu memecut kuda masing-masing dan membalap makin cepat. Lo Sin melihat bahwa kudanya berada di tengah-tengah, ditunggangi oleh seorang yang bertubuh tinggi kurus, sedangkan dua orang lain yang menunggang kuda di kanan kiri berpakaian sebagai pelayan-pelayan pembesar.

“Hai, berhenti!” Lo Sin menegur lagi akan tetapi ketiga orang itu bahkan mempercepat jalannya kuda dan kini mereka menghampiri sebuah benteng yang menghadang di depan!

Kuda Pek-liong-ma yang ditunggangi orang kurus itu maju lebih dulu dan masuk melalui pintu gerbang benteng yang terbuka, sedangkan dua orang yang berpakaian pelayan itu menanti di depan pintu benteng sambil memutar tubuh kuda mereka.

Ketika Lo Sin datang dekat, mereka berdua membentak.

“Kau ini siapakah dan mengapa berani lancang mengejar kami sampai ke benteng kami? Apakah kau tidak tahu bahwa benteng ini adalah markas tentara?”

Lo Sin tercengang dan juga marah sekali. “Tak perduli tempat apa adanya ini, akan tetapi siapakah yang berani mencuri kudaku tadi? Hayo suruhlah dia keluar dan membawa kudaku untuk dikembalikan kepadaku!”

Seorang diantara mereka tersenyum mengejek dan berkata. “Jangan sembarang menuduh orang, kawan. Tahukah kau siapa orang kurus yang kami iringkan tadi? Dia adalah Hwee-ma-ong (Raja Kuda Terbang) yang terkenal kaya dan memiliki banyak sekali kuda baik. Mana dia mau melihat kudamu?”

Lo Sin terkejut dan tercengang. Ia pernah mendengar nama Hwee-ma-ong ini yang bernama Lie Cit Un, seorang hartawan besar yang terkenal sekali karena kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi juga terkenal sebagai pemilik kuda-kuda bagus hingga kaisar sendiri sampai memesan kuda dari hartawan ini. Akan tetapi, iapun maklum bahwa Raja Kuda Terbang ini tak segan-segan untuk mencuri kuda baik apabila ia tidak bisa mendapatkannya dengan jalan baik.

“Siapa adanya dia. Hwee-ma-ong si Raja Kuda Terbang, maupun Raja Kuda Setan, ia harus keluar dan mengembalikan kudaku.”

Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam benteng keluarlah banyak sekali anggauta tentara yang segera menerjang keluar dan mengeroyok Lo Sin. Pemuda ini menjadi marah sekali dan ia lalu memutar pedangnya menangkis serangan ini. Terdengar seruan-seruan kaget karena sekali saja ia memutar- mutar pedangnya, beberapa buah golok dan pedang para pengeroyoknya telah terbabat putus.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang menyuruh semua perajurit mundur dan dari pintu gerbang itu melompat keluar seorang perwira tinggi besar seperti raksasa dengan pedangnya yang besar mengerikan di tangan perwira yang bukan lain orang adalah Can Kok In sendiri ini, lalu membentak sambil memutar-mutar sepasang matanya yang lebar.

“Eh, eh, orang gagah darimanakah datang-datang membikin kacau di bentengku??”

Sebelum Lo Sin dapat menjawab, dari pintu gerbang itu keluar pula seorang tinggi kurus berwajah pucat kuning dan ia kenali orang ini sebagai penunggang kudanya tadi. Maka ia lalu menuding kepada orang itu.

“Kaukah yang bernama Lie Cit Un berjuluk Raja Kuda Terbang dan yang telah mencuri kudaku?” Lie Cit Un tertawa bergelak sambil mencabut keluar pedangnya.

“Bangsat bermulut lancang. Apa buktinya kau berani menuduh aku sebagai pencuri kudamu?”

Juga Can Kok In merasa heran mendengar ini, lalu berkata. “Jangan sembarangan menuduh. Orang ini adalah Lie-wangwe yang menjadi sahabat baikku dan tak mungkin ia mencuri kuda. Ketahuilah, ia ini adalah seorang pemilik banyak kuda-kuda jempolan, mana ia sudi mencuri kudamu?”

Lo Sin merasa kurang baik untuk berlaku kasar, maka sambil menekan kemarahannya, ia berkata. “Kuda yang kau tunggangi itu adalah kudaku Pek-liong-ma yang kaucuri dari rumah penginapan.”

“Gila!” teriak Si Raja Kuda Terbang. “Kuda itu adalah kudaku sendiri!” lalu ia memberi tanda kepada dua orang pelayannya tadi untuk mengambil kuda itu.

“Coba ambil kuda putihku itu ke sini!”

Dua orang pelayan itu lalu berlari ke dalam dan tak lama kemudian mereka menuntun kuda putih yang Lo Sin kenali bukan lain adalah kudanya sendiri.

“Nah, kau lihatlah, apakah tandanya bahwa kuda ini kudamu?” Si kurus menantang.

Lo Sin tersenyum. “Jangan kau pergunakan akal bangsat. Kuda ini adalah kudaku dan ia tentu menurut segala omonganku. Lihat!” Lo Sin lalu berkata kepada kudanya itu.

“Pek-liong! Kau ke sinilah!”

Akan tetapi aneh, kuda itu hanya menggunakan kaki depannya untuk mencakar-cakar tanah hingga debu mengebul, akan tetapi tidak menurut perintah Lo Sin.

Pemuda ini membelalakkan mata dengan heran sekali. Belum pernah kudanya ini membantah perintahnya. Ia memandang lagi dengan penuh perhatian dan ternyata bahwa kuda ini benar-benar adalah kudanya Pek-liong-ma.

“Pek-liong! Siapa yang mengganggumu? Berlututlah!” Akan tetapi kuda itu tetap berdiam dan menggaruk-garuk tanpa memperdulikan suara perintah Lo Sin.

“Ha-ha-ha!” Lie Cit Un tertawa geli. “Maling kecil, jangan kau memperlihatkan lelucon busuk di sini. Terang bahwa kuda itu tidak menurut perintahmu. Bukti apa lagi yang dapat kauperlihatkan bahwa kuda ini benar-benar kudamu?”

Can Kok In juga memandang marah. “Sobat, kau seorang berpakaian begini indah dan sikapmu gagah. Mengapa kau tidak malu mengaku kuda orang lain sebagai kudamu?”

Lo Sin menjadi pucat dan serba salah. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa Pek-liong-ma kali ini tidak mau mentaati perintahnya. Ia lalu berkata. “Entah apa yang terjadi dengan kudaku ini. Akan tetapi, orang she Lie. Kau berkukuh mengaku bahwa kudaku ini adalah kudamu, apa pula tanda- tandanya?”

“Ha-ha-ha! Kau hendak mempergunakan senjata yang kukeluarkan? Aku tidak sedungu kau, sobat. Lihatlah ini!”

Sambil berkata demikian, ia menunjuk ke arah paha kiri kuda putih itu dan Lo Sin menjadi terkejut dan marah sekali ketika melihat bahwa kulit paha kuda itu terdapat tanda cap huruf “Lie”, tanda yang selalu terdapat pada paha semua kuda milik Lie Cit Un.

Pemuda ini memandang terheran-heran. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Mengapa kudanya telah mempunyai tanda cap itu dan mengapa pula Pek-liong-ma tidak mau menurut perintahnya? Ia memutar-mutar otak, akan tetapi tidak mendapat jawaban.

Tentu saja ia tidak berdaya menghadapi Lie Cit Un, penggemar dan pemelihara kuda yang telah berpengalaman dan mempunyai banyak sekali akal bulus itu. Kuda Pek-liong-ma dicap olehnya pada saat ia mencurinya dari rumah penginapan itu dan karena ia memang mahir sekali dalam hal menjinakkan kuda, maka ia mempunyai semacam obat yang apabila dimakan oleh seekor kuda, binatang itu menjadi jinak dan penurut. Obat ini pulalah yang membuat Pek-liong-ma lupa akan suara perintah majikannya.

“Bangsat, kau telah menyihir kudaku tiba-tiba Lo Sin berkata sambil menggerakkan pedangnya. Akan tetapi pedang panjang besar di tangan Can Kok In berkelebat dan menangkis pedangnya hingga Lo Sin terkejut karena tenaga perwira raksasa itu benar-benar mengagumkan. Ia hendak mengamuk, akan tetapi, merasa bahwa ia tentu akan dianggap keterlaluan karena sudah nyata bahwa kuda itu ada tanda-tanda memang benar milik orang she Lie.

Tiba-tiba Can Kok In dapat melihat perhiasan burung walet hitam di kepala Lo Sin. Matanya yang sudah lebar itu makin melebar dan ia lalu berkata,

“Hai! Bukankah kau ini si Walet Hitam?”

Ketika Lo Sin mengangguk, Can Kok In melanjutkan. “Aneh. Aku mendengar bahwa Ouw-yan-cu si Walet Hitam adalah seorang gagah perkasa, akan tetapi tidak tahunya ia sekarang datang mengacau bentengku dan hendak merampas kuda orang. Bukankah ini aneh sekali? Atau, barangkali kau ini Ouw-yan-cu palsu?”

Lo Sin menjadi serba salah dan maklum bahwa keadaan makin sulit. Hendak menggunakan kekerasan, selain menghadapi banyak lawan tangguh dan keroyokan ratusan tentara, juga ia merasa betapa pihaknya akan mendapat kesan buruk sekali.

Peristiwa ini tentu akan tersebar luas dan nama Walet Hitam akan menjadi rusak sebagai seorang maling kuda hina dina.

Ia lalu menjura kepada Can Kok In dan berkata.

“Maafkanlah semua kekasaranku tadi. Mungkin aku telah keliru sangka dan mungkin sekali kuda ini memang mempunyai persamaan luar biasa dengan kudaku yang hilang. Nah, selamat tinggal!”

“Ouw-yan-cu, nanti dulu! Telah lama aku mengagumi namamu, maka sudilah kau mampir sebentar agar kita bisa bercakap-cakap sambil minum arak!” teriak Can Kok In.

Akan tetapi, Lo Sin yang merasa amat malu, penasaran dan menyesal itu tentu saja tidak sudi menerima undangan ini. Sambil mengucapkan terima kasih, tubuhnya lalu berkelebat cepat dan meninggalkan tempat itu.

“Sayang……” kata Can Kok In sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar, “aku ingin sekali mencoba kepandaiannya.”

Mereka lalu menutup pintu benteng dan kembali ke dalam benteng untuk menjamu tamunya yang baru datang, yakni Lie Cit Un si Raja Kuda Terbang!

Dengan tubuh terasa lemas, Lo Sin meninggalkan benteng itu. Hatinya berduka dan pikirannya kacau balau. Ia amat sayang kepada kudanya dan kini tahu-tahu kuda itu lenyap, atau bukan lenyap melainkan berubah hebat sekali. Ia tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa kuda yang berada di dalam benteng itu pasti kudanya Pek-liong-ma, sungguhpun ia sama sekali tidak mengerti mengapa kudanya bisa berubah seperti itu!