-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 04

Jilid 04

Lo Sin cepat menangkis dengan pedangnya dan ketika ia melihat tubuh Lui Tik Kong melompat ke atas pagar yang tinggi, cepat tangan kiri Lo Sin mengeluarkan dua batang piauw hitam dan menyambitkannya ke arah tubuh Lui Tik Kong itu. Akan tetapi, gerakan Tik Kong cukup gesit dan telinganya cukup tajam hingga sebelum dua batang piauw menyambar ke arah leher dan punggungnya itu mengenai sasaran, ia telah menjatuhkan dirinya ke belakang tembok hingga terhindar dari bahaya maut.

Melihat lenyapnya tubuh musuh besarnya ke belakang tembok, Lo Sin menjadi marah sekali. Pedangnya diputar cepat dalam gerakan-gerakan terhebat dari Hwie-sian-liong-kiam-sut hingga berubah menjadi sinar pedang berkelebat cepat yang menyambar bagaikan kilat kepada Mo-kiam Heng-te hingga kedua saudara ini terkejut sekali dan melompat mundur. Akan tetapi terlambat, pedang Lo Sin telah diputar sedemikian rupa sehingga mengurung tubuh Thio Kun dan Thio Kiat dan sejurus kemudian kedua saudara itu berteriak kesakitan dan pedang mereka terlepas dari tangan oleh pedang Lo Sin.

Mereka cepat menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan, tetapi sebetulnya gerakan ini sia-sia saja oleh karena memang Lo Sin tidak bermaksud mengejar mereka. Kalau Lo Sin memang menghendaki jiwa mereka, tentu ujung pedangnya tidak hanya menggores di lengan tangan mereka dan mengarah sasaran yang lebih tepat.

Setelah mengalahkan Mo-kiam Heng-te, Lo Sin lalu secepat kilat melayang naik ke atas tembok di mana tubuh Lui Tik Kong menghilang tadi lalu langsung masuk ke dalam markas itu. Ia tidak melihat Tik Kong, akan tetapi sebaliknya melihat banyak sekali anggauta tentara dan para tamu yang berkepandaian menyerbu ke arahnya. Ia putar-putar pedangnya melakukan perlawanan dan sebentar saja banyak pengeroyoknya dibikin terpental senjata mereka dan dirobohkan oleh dorongan tangan kiri atau tendangan kedua kakinya.

Orang-orang yang mengeroyoknya biarpun berjumlah banyak, akan tetapi merasa jerih juga melihat sepak terjang pemuda yang luar biasa lihainya itu. Akan tetapi oleh karena para anggauta tentara itu harus membela komandan mereka, maka mereka berlaku nekad dan terus maju mengeroyok.

Jumlah mereka ratusan orang, maka Lo Sin berpikir apabila ia terus mengamuk, tidak saja ia akan membunuh banyak orang tidak berdosa, bahkan ia akan membuang-buang waktu dan memberi kesempatan kepada Lui Tik Kong untuk kabur. Maka ia lalu mengulur tangannya menangkap seorang perajurit dan melompat keluar tembok secepat kilat.

Sambil mengempit tubuh perajurit itu, Lo Sin berlari ke arah kudanya dan melompat ke atas punggung Pek-liong-ma yang segera berlari cepat sekali ke depan hingga para pengejar tak dapat mengejar terus.

“Kau bilang saja terus terang. Ke mana perginya perwira she Lui itu tadi? Awas, kalau kau membohong, pedangku akan menabas batang lehermu!!” Lo Sin mengancam tawanannya.

Perajurit itu menggigil ketakutan.

“Lui-ciangkun lari ke dusun Pek-se-chung,” katanya dengan suara gemetar. “Di mana ia bersembunyi?”

“Entahlah, tapi kalau tidak salah tentu di rumah kepala kampung dusun itu mencari perlindungan.”

Setelah mendengar keterangan ini, Lo Sin melemparkan tubuh tawanannya ke atas tanah dan ia terus menghamburkan kudanya menuju ke kampung Pek-se-chung.

Sementara itu hari telah mulai menjadi gelap, akan tetapi kebetulan sekali pada malam itu bulan keluar sepenuhnya hingga keadaan terang dan indah sekali. Lo Sin terus menghamburkan kudanya dengan hati girang dan kecewa. Girang oleh karena tanpa diduga-duga ia telah dapat menemukan Lui Tik Kong, kecewa oleh karena ia tidak berhasil membekuk pemuda keparat itu.

Mudah saja bagi Lo Sin untuk mencari keterangan di mana adanya rumah Chung-cu atau kepala kampung dusun Pek-se-chung. Setiap orang, wanita maupun pria, anak-anak maupun kakek-kakek, tahu belaka di mana rumah gedung kepala kampung itu.

Setelah mendapat tahu, Lo Sin lalu meninggalkan kudanya di sebuah rumah penginapan di dusun itu, dan ia lalu berlari cepat menuju ke rumah kepala kampung, sama sekali tidak mengira bahwa kepala kampung itu adalah Nyo Tiang Pek. Bahkan ia lupa pula akan bunyi surat Nyo Tiang Pek kepada orang tuanya dulu bahwa si Garuda Kuku Emas ini menjadi kepala kampung di Pek-se-chung.

Lui Tik Kong yang ketakutan memang melarikan diri ke Pek-se-chung dan dengan napas terengah- engah ia menghadap calon mertuanya. Kebetulan sekali Lee Ing berada dalam kamarnya dan sedang dirias oleh karena besok pagi akan dirayakan pertemuannya dengan calon suaminya.

Gadis ini semenjak pagi tadi telah menangis saja dengan sedihnya, dan ini dianggap biasa oleh para tamu wanita yang menjenguk ke dalam. Oleh karena ini Lee Ing tidak melihat dan tak tahu akan kedatangan calon suaminya yang menghadap Nyo Tiang Pek di dalam kamarnya dengan wajah pucat.

“Gak-hu (ayah mertua), celaka!” katanya dan Nyo Tiang Pek terkejut sekali melihat pundak calon mantunya mengucurkan darah.

“Eh, eh, apa yang terjadi, Hian-sai?” tanyanya dengan heran. “Celaka, musuh besarku telah mengejarku dan hampir saja aku binasa dalam tangannya.”

“Siapakah dia?” tanya Nyo Tiang Pek dengan penasaran. “Dan mengapa dia hendak membunuhmu?”

“Dia adalah seorang perampok muda yang dulu pernah bentrok denganku ketika ia mencoba merampok dan kuhalang-halangi. Celaka, kepandaiannya sekarang tinggi sekali hingga aku tak kuat melawannya. Harap Gak-hu sudi menolongku!”

Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali. “Biarlah kau bersembunyi saja di sini dan kalau ia berani datang, pedangku akan menyambutnya.”

Oleh karena ia harus melayani tamu-tamu yang sudah banyak terdapat di situ, terpaksa biarpun dengan hati tidak enak dan bingung, Nyo Tiang Pek lalu memberi sebuah kamar untuk calon mantunya dan meninggalkan mantunya ini dengan kata-kata hiburan yang membesarkan hati.

Dan pada malam hari itu, bayangan Lo Sin berkelebat cepat di atas genteng rumah keluarga Nyo itu. Karena di bawah sangat ramai dengan suara para tamu, maka gerakan Lo Sin yang ringan ini tidak ada yang mendengar atau mengetahuinya.

Pada saat itu Nyo Tiang Pek sedang sibuk melayani tamu-tamunya sedangkan Giok Lie sebagaimana biasanya kaum wanita, sedang sibuk sekali mengatur barisan dapur untuk keperluan esok hari, maka Lee Ing ditinggal seorang diri dalam kamarnya. Gadis ini merasa panas sekali ditinggal di kamar dan ingin keluar menikmati angin malam.

Oleh karena tak mungkin baginya untuk keluar dari kamar tanpa terlihat oleh para tamu yang memenuhi ruang depan yakni tamu-tamu laki-laki dan ruang belakang pun penuh dengan tamu wanita yang membantu ibunya, maka gadis ini lalu membuka jendela kamarnya dan melompat keluar dari jendela itu ke atas genteng.

Ketika ia tiba di atas genteng, ia melihat bayangan hitam sedang berjongkok di belakang wuwungan. Inilah bayangan Lo Sin yang sedang terheran melihat banyaknya tamu di rumah ini. Akan tetapi pemuda itu tidak mau ambil pusing dan matanya mencari-cari kalau-kalau diantara tamu di ruang depan itu terdapat Lui Tik Kong yang dicari-carinya.

Tiba-tiba ia mendengar suara angin di belakang. Cepat ia melompat dan membalikkan tubuh dan…… ia berhadapan dengan gadis cantik jelita yang berdiri dengan matanya yang lebar terbelalak memandangnya. Kebetulan sekali Lee Ing berdiri menghadapi bulan hingga cahaya bulan menyinari mukanya yang cantik.

Melihat wajah ini, Lo Sin lalu menuding dengan telunjuknya.

“Kau……? Kau……? Eh, nona kembali kita bertemu di tempat yang tak disangka-sangka. Kau siapakah nona, dan ada apa kau bisa berkeliaran sampai ke sini?”

Marahlah Lee Ing mendengar dirinya disebut “berkeliaran” dan dengan muka cemberut ia menjawab, “Aku tak perIu memperkenalkan diriku kepada segala maling!” “Eh, eh, mengapa tiba-tiba kau menyebutku maling? Barangmu yang manakah pernah kucuri?” “Kalau kau bukan pencuri, mengapa kau mengintai di atas rumah orang lain?”

Gadis ini merasa heran sekali melihat putera Ang Lian Lihiap mengintai di atas rumahnya, diam-diam ia teringat kepada diri sendiri yang dulu pernah juga mengintai seperti maling di rumah keluarga Lo Sin.

“Kau salah sangka, nona. Aku bukan mengintai untuk mencuri, akan tetapi aku mencari bangsat she Lui!”

“Apa? Siapa katamu tadi?”

“Aku mencari Lui Tik Kong, hendak kutabas batang lehernya dan kubawa kepalanya!” Pucat wajah Lee Ing mendengar ini.

“Mengapa kau mencari dia di sini?”

“Karena kata orang dia berlari ke sini! Eh, nona, kau tahu-tahu muncul di depanku, apakah kau tinggal di rumah ini?” Lo Sin bertanya penuh harapan oleh karena mungkin dari gadis ini ia akan mendapat keterangan tentang Lui Tik Kong.

“Memang aku tinggal di sini dan pemilik rumah ini adalah ayahku!”

Lo Sin terkejut dan air mukanya berseri. “Jadi, benar-benarkah Lui Tik Kong berada di sini?” Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”

Lo Sin menjadi marah. “Nona, jangan kau main-main dalam hal ini. Aku perlu sekali mengetahui hal ini. Apakah kau mengenal kepada orang she Lui itu?”

“Tentu saja kenal padanya.”

“Dan kau tidak melihat dia datang di sini?? Ingat, nona, jangan kau membelanya.” Kedua mata dara itu mengeluarkan sinar marah. “Siapa hendak membela dia?”

“Nah, janganlah marah dulu, nona. Dengarlah pemuda perwira yang gagah itu sebenarnya adalah seorang pembunuh kejam dan seorang yang berjiwa rendah! Dia telah membunuh Kong Sin Ek yang menjadi gurunya sendiri dan Kong Sin Ek adalah peh-peh ku. Maka aku harus menangkapnya untuk membalas dendam ini, katakanlah terus terang.”

“Kau jangan mencari di sini, akan sia-sia saja dan kau lekas pergilah! Kalau ayah mengetahui kau datang hendak membunuh Lui Tik Kong, kau akan mendapat celaka!” “Aku tidak takut! Bagaimanapun juga, Lui Tik Kong harus mampus dalam tanganku!” seru Lo Sin dengan geram.

Tiba-tiba terdengar bentakan kasar. “Bangsat perampok kurang ajar! Kau berani bermain gila di sini?”

Dan berbareng dengan bentakan ini, Nyo Tiang Pek dengan pedang di tangan tahu-tahu telah melompat dan menyambar ke arah Lo Sin dengan serangan pedangnya yang lihai! Lo Sin terkejut sekali melihat seorang setengah tua tiba-tiba menyerang dengan gerakan demikian kuat dan cepat, maka ia cepat mengelak samping dan menangkis dengan pedangnya.

“Ayah!” teriak Lee Ing. “Dia...... dia adalah si Walet Hitam…… dan….. dan…… Tik Kong……”

Akan tetapi oleh karena Nyo Tiang Pek telah yakin betul bahwa pemuda ini adalah musuh yang mengejar dan hendak membunuh Tik Kong, ia tidak memperhatikan seruan anaknya, lalu langsung menyerang lagi terlebih hebat pula.

Lo Sin kaget ketika mendengar bahwa orang tua yang gagah ini adalah ayah si nona, maka ia tidak mau melayani lebih lama lagi. Dengan cepat ia melompat turun dan berkata.

“Maaf dan sampai bertemu lagi, nona!”

Akan tetapi, mendengar kata-kata ini yang ditujukan kepada puterinya makin marahlah Nyo Tiang Pek yang mengira bahwa pemuda itu berlaku kurang ajar dan berani berkenalan dengan puterinya, maka secepat kilat ia mengejar turun sambil membentak.

“Bangsat perampok, kau hendak lari ke mana?”

“Ayah……!” Lee Ing berseru lagi sambil melompat turun juga, akan tetapi pada saat itu, di bawah tembok Nyo Tiang Pek sudah menyerang lagi dengan gerak tipu Malaikat Menyambar Nyawa!

Gerakan ini bukan main cepat dan hebatnya hingga Lo Sin makin terkejut saja. Tidak disangkanya bahwa di tempat ini terdapat orang yang begini tinggi ilmu pedangnya! Ia berkelit lagi secepatnya dan belum berani membalas oleh karena ia merasa segan untuk melawan ayah gadis yang menarik hatinya itu.

Sementara itu, Lee Ing berdiri di dekat tembok menyaksikan pertempuran itu dengan tak berdaya dan bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa dan hanya memandang dengan hati sedih dan tidak karuan, oleh karena ia masih terpukul oleh kata-kata Lo Sin yang menerangkan bahwa bakal suaminya adalah seorang penjahat rendah dan kejam yang telah menganiaya Kong Sin Ek, si Dewa Arak yang namanya telah seringkali didengar dari ayah ibunya sebagai seorang gagah perkasa dan kawan baik kedua orang itu!

Melihat betapa dua kali serangannya yang paling berbahaya dengan mudah dapat dielakkan oleh pemuda baju hitam itu, diam-diam Nyo Tiang Pek merasa terkejut juga dan mengertilah ia mengapa Lui Tik Kong tidak dapat melawan dan takut kepada pemuda lihai ini. Ia berseru keras dan menyerang lagi dengan sebuah tusukan Kera Putih Memetik Bunga. Serangan ini ditujukan ke arah perut Lo Sin sambil melompat maju dengan kaki kiri melangkah ke depan, kaki kanan terangkat dan bersiap mengirim tendangan susulan, sedangkan tangan kiri diangkat ke belakang tinggi-tinggi untuk mengimbangi tenaga tusukan pedangnya!

Lo Sin terkejut lagi. Inilah sebuah serangan maut yang benar-benar berbahaya oleh karena pemuda ini maklum bahwa serangan ini akan disusul dengan tendangan dan pukulan tangan kiri. Maka tidak ada lain jalan baginya selain mempergunakan kelincahan dan ginkangnya yang tinggi.

Sambil berseru nyaring tiba-tiba tubuh Lo Sin telah melayang ke atas dengan kaki ke atas dan kepala di bawah ia berjungkir balik dan menggunakan pedangnya untuk menangkis pedang lawan dan berbareng gerakannya ini telah mematahkan kehendak lawan yang hendak menyusul dengan sebuah tendangan.

Inilah gerakan Naga Terbang Memutar ekor yang sungguh indah dipandang dan juga lihai sekali. Nyo Tiang Pek makin terheran dan kagum sekali melihat gerakan Naga Terbang Memutar Ekor ini dan sebelum ia dapat menyerang lagi, tahu-tahu tubuh Lo Sin sudah melayang naik ke atas genteng dan menghilang cepat sekali!

Nyo Tiang Pek menghela napas dan berkata, “Sungguh lihai. Sayang ia jahat.” Kemudian orang tua ini memandang kepada gadisnya yang masih berdiri tanpa dapat bergerak di dekat tembok dan ia makin marah ketika melihat betapa dari kedua mata Lee Ing mengalir keluar air mata.

“Sungguh memalukan kau ini! Apa kerjamu di atas genteng dan bercakap-cakap dengan seorang penjahat? Apakah kau kenal padanya? Ah, Ing-ji, kalau para tamu mengetahui hal ini, bukankah kita semua akan mendapat malu? Hayo kau masuk ke kamarmu!”

“Ayah…… dia itu…… pemuda tadi…… adalah Ouw-yan-cu si Walet Hitam. Dia adalah Lo Sin, putera dari Ang Lian Lihiap!”

Pucatlah muka Nyo Tiang Pek mendengar pernyataan yang tak disangka-sangkanya ini. “Apa katamu??”

“Benar, ayah. Aku tidak membohongimu. Dia adalah putera tunggal dari Lo Siok-hu di Tit-lee. Dan menurut katanya, Tik Kong adalah seorang jahat!”

Tiba-tiba sinar mata Nyo Tiang Pek menjadi tajam dan ia marah sekali.

“Dan kau percaya kepadanya? Anak bodoh! Pemuda itu, biarpun ia anak Cin Han, akan tetapi ia telah tersesat dan menjadi perampok! Lihat saja pakaiannya, lihat saja sepak terjangnya! Ia mengejar- ngejar Tik Kong untuk membunuhnya oleh karena dulu pernah bermusuhan! Kau tahu apa? Biar dia anak Ang Lian Lihiap sekalipun, kalau dia bermaksud jahat dan hendak mencelakakan keluarga kita, aku tak rela dan takkan membiarkan saja!”

“Tapi ayah…… mungkinkah putera Ang Lian Lihiap menjadi orang jahat?” “Hm, siapa tahu? Ang Lian Lihiap di waktu mudanya ganas dan menjagoi di dunia kang-ouw, ia keras hati dan bagaikan seekor naga betina. Tidak heran apabila darahnya yang liar itu menurun kepada puteranya! Kalau ia memang datang dengan maksud baik mengapa dia tidak mau datang pada siang hari menemuiku yang sudah selayaknya mendapat penghormatannya oleh karena aku bagaimanapun juga lebih tua daripada ayah ibunya? Mengapa ia datang malam-malam sebagai seorang penjahat dan sama sekali tidak menghargai aku? Dia kurang ajar dan kelakuannya seperti seorang maling!”

“Tapi, ayah…… aku dulupun masuk ke rumah orang tuanya seperti maling pula!”

“Diam dan jangan sebut-sebut hal itu lagi. Kau telah membuat aku malu setengah mati! Jangan kau membela Walet Hitam si penjahat kurang ajar itu!”

Nyo Tiang Pek marah sekali oleh karena ia merasa terhina oleh kedatangan Lo Sin yang seperti maling dan dadanya panas memikirkan bahwa Lo Sin datang hendak membunuh calon mantunya!

“Betapapun juga, ayah, apakah tidak lebih baik kalau kita selidiki keadaan Tik Kong? Menurut kata Ouw-yan-cu, Tik Kong telah membunuh Kong Sin Ek supek!”

Makin marah Nyo Tiang Pek mendengar ini. “Bohong besar! Si kurang ajar itu sengaja memburukkan nama Tik Kong di depanmu. Mana ada seorang murid membunuh gurunya? Tak mungkin! Apakah kau lebih percaya kepada penjahat itu daripada calon suamimu sendiri?”

“Tapi, ayah……” Lee Ing yang keras kepala hendak membantah lagi, akan tetapi ayahnya memotong.

“Tutup mulut, dan kaumasuklah! Jangan sampai terdengar oleh tamu kita. Atau, apakah kau sengaja hendak membuat cemar dan malu nama keluarga kita?”

Melihat kemarahan ayahnya yang meluap-luap ini, Lee Ing tak berani membantah lagi dan ia lalu melompat ke atas genteng untuk kembali ke dalam kamarnya melalui jendela, dan setibanya di dalam kamar, gadis ini duduk diam bagaikan patung dengan wajah pucat dan nampak air matanya mengalir turun dengan derasnya!

Sementara itu, Nyo Tiang Pek lalu menemui calon mantunya yang bersembunyi di dalam kamar dan menuturkan akan kedatangan Ouw-yan-cu yang telah diusirnya. Kemudian untuk menjaga keselamatan Tik Kong, Nyo Tiang Pek mengusulkan agar supaya calon pengantin ini tidak pergi lagi dari rumah situ dan besok hari melangsungkan pertemuan pengantin langsung saja dari rumahnya. Pada malam itu juga, Tik Kong lalu menyuruh seorang utusan untuk pergi ke bentengnya dan minta kepada semua tamu supaya langsung pergi menghadiri perayaan kawin di rumah kepala kampung Nyo dan sekalian membawa alat-alat keperluan kawin.

Maka sibuklah keadaan di rumah Nyo Tiang Pek dan para pelayan merasa terheran-heran akan adanya perubahan ini, akan tetapi tak seorangpun diantara mereka dan para tamu tak pernah menyangka bahwa telah terjadi hal yang mengejutkan di atas genteng rumah keluarga Nyo pada malam hari itu.

Ketika Nyo Tiang Pek memberitahukan hal itu dengan muka marah kepada Giok Lie, nyonya ini terkejut sekali dan ia segera berlari ke dalam kamar anaknya. Namun Lee Ing sedikitpun tidak mau memberi keterangan apa-apa, oleh karena gadis ini marah sekali terhadap keputusan ayahnya yang dianggap kurang bijaksana.

“Sudahlah, sudahlah! Ibu dan ayah memaksaku kawin dengan siapa juga aku tidak perduli! Biar ayah dan ibu bergirang dengan pilihannya, dan aku menderita dibawah paksaanmu berdua!” kata Lee Ing sambil membanting-banting kaki dengan marah dan sambil menangis bagaikan seorang anak kecil.

Dengan sia-sia Giok Lie menghibur anaknya, kemudian nyonya ini menemui suaminya yang masih marah. “Apakah kita tidak salah melihat? Agaknya memang tidak mungkin anak Lian Hwa cici menjadi seorang penjahat?”

“Apakah kau juga sudah dipengaruhi oleh anak setan itu? Apakah kau lebih percaya kepadanya yang belum kita kenal daripada calon mantu kita?”

Ucapan ini dikeluarkan sambil melototkan matanya kepada Giok Lie hingga nyonya ini yang baru pertama kali melihat suaminya demikian marahnya, lalu mundur sambil menundukkan mukanya dengan bingung dan duka.

Kemarahan Nyo Tiang Pek ini memang dapat dimengerti. Orang tua ini sedang bergirang dan berbahagia sekali menghadapi perkawinan puteri tunggalnya dan ia percaya penuh bahwa Tik Kong adalah calon suami puterinya yang tepat dan bijaksana.

Perkawinan akan dilangsungkan esok hari dan semua tamu dari semua jurusan telah berkumpul, segala-galanya telah siap tinggal menerima kedua pengantin saja. Lalu tiba-tiba datang Lo Sin yang mengacau dan membawa berita buruk dan mengejutkan!

Sudah tentu saja Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali karena ia menganggap bahwa Lo Sin sengaja datang mengacaukan dan hendak menghancurkan kebahagiaannya! Apalagi ketika mendapat kenyataan bahwa Lo Sin adalah putera Cin Han, maka kemenyesalannya memuncak. Ia mengharapkan kedatangan kedua kawan baiknya itu dan saat ini telah dinanti-nantinya dengan hati gembira karena ia memang telah rindu sekali kepada kedua suami isteri kawan baiknya itu. Akan tetapi, apa yang terjadi?

Kedua suami isteri itu tidak datang, bahkan yang datang adalah puteranya yang mengacau! Kalau kedatangan Lo Sin secara baik-baik sebagai tamu, tentu akan disambutnya dengan pelukan mesra, akan tetapi pemuda itu datang malam-malam dengan pedang di tangan dan dengan maksud membunuh calon mantunya!

Memikirkan ini semua, tentu saja Nyo Tiang Pek menjadi bingung, marah dan menyesal. Ia hendak cepat-cepat melangsungkan pernikahan anaknya, lalu kemudian ia hendak segera mencari Cin Han dan mengadukan kekurangajaran Lo Sin itu.

Malam hari itu dilewati oleh keluarga Nyo tanpa dapat memeramkan mata dan dalam keadaan tidak bahagia dan semua ini adalah gara-gara Lo Sin. Maka bertambah bencilah Nyo Tiang Pek kepada pemuda itu. Lo Sin meninggalkan rumah keluarga Nyo dengan penuh keheranan. Ia tidak pergi jauh, bahkan lalu kembali dan bersembunyi di atas sebatang pohon yang tinggi dan besar dan dari situ ia mengintai ke arah genteng dan pintu rumah Nyo Tiang Pek, mengintai dengan penuh perhatian oleh karena ia menanti munculnya Lui Tik Kong dari dalam rumah itu.

Sambil menanti, tak habis ia heran memikirkan kelihaian tuan rumah atau ayah gadis itu. Ia benar- benar merasa heran oleh karena belum pernah ia menghadapi seorang lawan segagah orang tua tadi. Kalau saja ia tidak berlaku cepat, dalam tiga jurus yang berbahaya itu saja pasti ia akan dirobohkan.

Ternyata ia menanti dengan sia-sia. Sampai fajar menyingsing dan matahari mulai muncul, ia tidak melihat bayangan Lui Tik Kong keluar dari rumah gedung itu, hingga Lo Sin merasa benar-benar kesal dan gemas. Kemanakah perginya penjahat itu?

Ia takkan mau berhenti mencari sebelum berhasil membekuk batang leher Lui Tik Kong. Ia mempunyai kecurigaan sepenuhnya bahwa pemuda keparat itu tentu masih bersembunyi di dalam rumah kepala kampung itu. Maka dengan hati-hati ia menghampiri rumah itu dari depan.

Lo Sin merasa heran sekali melihat bahwa rumah itu ternyata terhias indah dan banyak tamu yang bermalam di situ telah nampak duduk-duduk di ruang depan. Siapakah tuan rumah ini? Lo Sin lalu menemui seorang penduduk kampung dan bertanya kepada orang yang sudah tua ini.

“Lopek, mohon tanya, siapakah pemilik rumah ini dan sedang diadakan pesta apakah di situ?”

Kakek petani itu memandang kepada Lo Sin dengan heran. “Bukankah tuan juga hendak bertamu? Rumah itu adalah rumah Nyo-chungcu yang sedang merayakan perkawinan puterinya.”

Tiba-tiba bagaikan baru sadar dari mimpi, Lo Sin teringat akan bunyi surat Nyo Tiang Pek kepada orang tuanya, maka cepat-cepat dan dengan wajah berubah ia bertanya.

“Lopek yang baik, siapakah nama kepala kampung she Nyo ini dan siapa pula nama puterinya, hendak dikawinkan dengan siapa?”

Pertanyaan yang datang bertubi-tubi ini membuat kakek itu tercengang, akan tetapi kemudian ia tersenyum sambil menjawab,

“Pertanyaan-pertanyaanmu ini aneh, Nyo-chungcu bernama Nyo Tiang Pek, seorang pendekar gagah yang berjuluk Kim-jiauw-eng si Garuda Kuku Emas. Sedangkan puterinya yang hendak dikawinkan adalah nona Nyo Lee Ing yang cantik dan yang gagah pula. Calon suami Nyo-siocia juga bukan sembarangan orang. Dia adalah seorang perwira yang cakap dan gagah serta berkedudukan tinggi. Namanya Lui Tik Kong dan……”

“Terima kasih, lopek!” Lo Sin memotong kata-kata ini dengan muka pucat sekali, lalu ia lari dari depan kakek itu yang memandangnya dengan melongo keheranan.

Sambil berlari Lo Sin merasakan betapa jantungnya memukul keras. Ah, jadi orang tua yang gagah perkasa adalah Nyo-pekhu, pikirnya. Pantas saja ia demikian gagah dan ilmu pedangnya demikian tinggi. Dan gadis itu, gadis yang dulu dilihat di dekat rumahnya, yang berdiri kehujanan di tepi jalan, gadis yang menarik hatinya, yang selalu terbayang di depan matanya gadis itu adalah Nyo Lee Ing, puteri Nyo Tiang Pek.

Amboi…… gadis ini adalah gadis pilihan kedua orang tuanya, yang telah dilamar untuk dijodohkan dengannya dan yang telah membuat ia marah kepada ayah ibunya. Kini gadis ini hendak dikawinkan dengan Lui Tik Kong si keparat yang hendak dibunuhnya. Memikirkan semua ini Lo Sin menjadi pening dan debar jantungnya makin mengeras.

Tidak bisa! Tidak bisa! Ia harus menghalangi perkawinan ini, biarpun ia harus berkorban dengan nyawa sekalipun. Puteri Nyo-pekhu tidak boleh menjadi isteri bangsat penjahat pengkhianat itu.

Lo Sin berlari cepat menuju ke rumah Nyo Tiang Pek. Ia marah sekali, marah kepada Lui Tik Kong. Bencinya terhadap pemuda itu meluap dan membuatnya menjadi seperti orang gila.

Ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarga Nyo dan melihat betapa para tamu telah duduk dengan wajah gembira, ia tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Sambil menerjang masuk dan menendang roboh meja-meja yang terpasang di situ hingga meja kursi beterbangan ke sana ke mari membuat para tamu terkejut dan geger, ia berteriak-teriak bagaikan orang gila.

“Lui Tik Kong, bangsat hina dina! Keluarlah untuk terima binasa!”

Sebagian besar para tamu itu terdiri dari orang-orang yang mengerti ilmu silat, hingga mereka yang merasa diri berkepandaian dan berkewajiban membela tuan rumah yang mereka hormati, lalu berdiri dengan muka tidak senang. Dua orang muda yang mengerti ilmu silat lalu maju menghalang di depan Lo Sin sambil menuding dan memaki.

“Bangsat gila dari mana berani datang membuat kekacauan?”

Mata Lo Sin menjadi merah melihat adanya orang-orang yang berani menghadang. Ia menubruk sambil berseru.

“Minggir kamu!”

Dua orang tamu muda itu mencoba untuk mengelak dan membalas menyerang akan tetapi tanpa mereka ketahui bagaimana Lo Sin bergerak, tahu-tahu leher mereka telah tertangkap oleh kedua tangan Lo Sin dan sekali pemuda ini menggerakkan kedua tangannya, tubuh mereka terlempar jauh ke kanan kiri dan roboh menimpa tamu-tamu lain!

Empat orang tamu yang menjadi marah maju lagi, akan tetapi dalam dua gebrakan saja, kembali empat orang ini dibikin jatuh tunggang langgang oleh Lo Sin yang sedang marah dan mengamuk.

“Bangsat besar Lui Tik Kong! Hayo keluarlah menebus dosa!” kembali Lo Sin berseru dengan keras bagaikan orang kemasukan setan. Kembali ia menendang-nendang meja kursi di kanan kirinya hingga keadaan menjadi makin kalut.

Memang pada saat itu Lo Sin sudah lupa akan segala-galanya, yang teringat hanyalah malapetaka yang menimpa keluarga Nyo dengan datangnya penjahat she Lui yang entah bagaimana telah berhasil memikat hati mereka hingga hendak diambil mantu, dijodohkan dengan gadis keluarga Nyo yang manis dan menarik hati itu!

Malapetaka yang mengancam ini terlampau berat menekan perasaan Lo Sin yang masih muda, maka hal ini menggelorakan semangat perlawanannya dan menambah rasa bencinya kepada Lui Tik Kong!

“Bangsat she Lui! Benar-benarkah kau begitu pengecut tak berani keluar? Kong peh-peh telah menantimu di pintu akhirat!”

Diantara para tamu yang berkepandaian tinggi, terdapat pula dua orang kakek pendekar yang menjadi kawan baik Nyo Tiang Pek, bahkan juga menjadi kawan baik Kong Sin Ek dan Ang Lian Lihiap serta Cin Han di waktu para pendekar itu masih muda. Mereka ini dulu ketika mudanya tinggal di Tit- lee dan mendapat julukan Sepasang Naga dari Tit-lee.

Mereka adalah dua orang hiap-kek bersaudara yang bernama Ong Su dan Ong Bu. Keduanya merupakan anggauta rombongan Nyo Tiang Pek yang dulu ketika masih muda menyerbu dan menghancurkan perkumpulan jahat Pek-lian-kauw dan boleh dibilang bahwa Ong Su dan Ong Bu ini adalah sahabat-sahabat kekal dari Nyo Tiang Pek, juga sahabat-sahabat baik Cin Han dan Lian Hwa.

Keduanya membuat nama besar di kalangan kang-ouw ketika muda oleh karena permainan tombak mereka memang lihai sekali. Kini kedua kakek ini sengaja datang memenuhi undangan Nyo Tiang Pek, maka mereka hadir di situ pada saat Lo Sin mengamuk.

Ketika Sepasang Naga dari Tit-lee melihat amukan seorang pemuda berpakaian hitam yang sedang marah bagaikan kemasukan iblis mereka menjadi tidak senang. Apalagi setelah Lo Sin menjatuhkan beberapa orang tamu dengan mudahnya, mereka lalu melompat maju sambil membentak keras,

“Pengacau muda tak tahu adat! Jangan berlaku kurang ajar!” Mereka ini lalu maju menyampok tangan ke arah muka Lo Sin.

Si Walet Hitam berkelit ke kiri dari sampokan tangan Ong Su, akan tetapi hampir saja ia terkena pukulan tangan Ong Bu hingga cepat-cepat ia menangkis. Tangkisan ini membuat keduanya terkejut oleh karena Ong Bu merasa betapa lengan tangannya sakit sekali sedangkan Lo Sin juga terhuyung beberapa langkah!

“Minggir, minggir! Aku tidak ingin berkelahi dengan siapa juga! Minggirlah semua! Aku hanya ingin menangkap bangsat Lui Tik Kong!” teriak Lo Sin tanpa memperdulikan kedua kakek yang tangguh itu.

“Bangsat muda, apakah kau ingin mati?”

Sambil berseru demikian, Ong Su lalu maju menyerang lagi dengan pukulan ke dada Lo Sin, akan tetapi kembali Lo Sin menangkis dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga hingga Ong Su terpental dengan penuh heran dan terkejut.

Tak disangka sama sekali oleh Sepasang Naga dari Tit-lee ini bahwa anak muda yang mengamuk itu demikian tangguhnya! Memang semenjak pergi dan pindah dari Tit-lee belasan tahun yang lalu, kedua orang kakek ini tak pernah menginjakkan kaki di Tit-lee hingga mereka tidak kenal kepada Lo Sin dan tidak tahu akan keadaan di kota itu.

Namun, sebagai sepasang pendekar tua yang telah membuat nama besar di dunia kang-ouw, mereka merasa malu kalau sampai mundur dan jerih menghadapi seorang pemuda, maka keduanya lalu mengeroyok.

“Jiwi, mundurlah! Aku tidak ingin bertempur melawan kalian!” Lo Sin berseru sambil menendang- nendang meja yang masih malang melintang di situ.

Ia menendang meja kursi hingga beterbangan bukan saja untuk melampiaskan marah dan mendongkolnya, akan tetapi juga untuk mencari tempat yang agak lega oleh karena ia maklum bahwa ia tentu akan menghadapi pengeroyokan sedangkan kedua orang kakek yang mengeroyoknya ini saja sudah berkepandaian begini tinggi!

Ketika Ong Su dan Ong Bu tetap mendesaknya dengan pukulan-pukulan maut. Lo Sin lalu memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Dengan ginkang warisan ibunya dan lweekang warisan ayahnya ia dapat mempermainkan kedua orang kakek gagah ini bagaikan seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus!

Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dan tiap kali ia mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan maut, ia hanya mendorong saja tubuh kakek itu hingga Ong Su dan Ong Bu beberapa kali terdorong sampai menabrak kursi atau meja!

Kedua Naga dari Tit-lee menjadi kagum dan juga marah sekali. Diam-diam mereka teringat kepada Ang Lian Lihiap ketika melihat sepak terjang pemuda ini di dalam hati mereka menduga-duga siapa adanya pemuda baju hitam yang luar biasa lihainya ini.

“Tik Kong, keluarlah kamu!!” lagi-lagi Lo Sin berteriak dan ia lalu mendesak kedua pengeroyoknya dan lari ke dalam dengan maksud hendak mencari ke dalam rumah!

Akan tetapi pada saat itu, dari dalam rumah keluarlah seorang tua gagah perkasa dengan pedang di tangan dan orang tua ini tak lain ialah Nyo Tiang Pek sendiri! Wajah orang tua ini merah karena marah dan matanya menyinarkan cahaya yang seakan-akan hendak membakar tubuh Lo Sin yang segera memandangnya dengan sikap hormat.

“Nyo-pekhu, maafkan aku dan harap kau orang tua suka menyerahkan bangsat she Lui itu kepadaku!” kata Lo Sin dengan sikap menghormat.

“Anak muda, apakah benar kau bernama Lo Sin dan putera dari Lian Hwa dan Cin Han?” tanya Nyo Tiang Pek dengan suara keren dan ia menahan marahnya sedapat mungkin.

“Benar, Nyo-pekhu. Akan tetapi kedatanganku ini atas kehendakku sendiri dan aku harus menangkap dan membinasakan bangsat she Lui itu. Serahkanlah dia kepadaku dan lain waktu aku bersama kedua orang tuaku tentu akan datang menghaturkan maaf atas kelancanganku ini.” Semua orang, terutama Ong Su dan Ong Bu, terkejut mendengar bahwa anak muda ini benar-benar adalah putera Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang sangat terkenal.

“Lo Sin! Perbuatanmu kali ini sungguh mencemarkan nama orang tuamu! Kau minta hal yang bukan- bukan. Tidak tahukah kau bahwa Lui Tik Kong adalah calon mantuku dan hari ini kami sedang merayakan perkawinannya dengan puteriku?”

“Inilah celakanya! Perkawinan ini harus dibatalkan! Harus, kataku! Puterimu tidak boleh kawin dengan bangsat pengkhianat rendah itu! Dia itu telah membinasakan Kong Sin Ek pek-hu! Dia itu telah menganiaya Kong peh-peh hingga orang tua itu menemui kematiannya. Dia harus dihukum.”

“Kau bohong dan jangan mengandalkan kegagahan orang tuamu untuk mengacau di sini!” seru Nyo Tiang Pek dengan marah.

“Aku tidak membohong, Nyo-pekhu, dan orang tuaku jangan dibawa-bawa dalam hal ini!” jawab Lo Sin yang menjadi marah dan tidak sabar melihat bahwa orang tua ini tidak mau mengerti dan demikian kukuh.

“Anak muda kurang ajar! Jangan kau hendak berlagak di depan Nyo Tiang Pek!” seru si Garuda Kuku Emas dan secepat kilat ia menyerang dengan pedangnya ke arah dada Lo Sin.

“Nyo-pekhu, aku tidak berani mengangkat senjata terhadap kau orang tua!” seru Lo Sin yang cepat menangkis serangan berbahaya itu. Akan tetapi Nyo Tiang Pek yang sudah menjadi marah sekali oleh karena merasa malu mendengar calon mantunya dihina di depan orang banyak, lalu melancarkan serangan bertubi-tubi dan setiap serangannya adalah gerakan ilmu pedang kelas tinggi yang amat berbahaya dan lihai!

Tentu saja Lo Sin harus curahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya untuk menghindarkan diri dari ancaman pedang pendekar tua itu. Sampai duapuluh jurus Nyo Tiang Pek menyerang, akan tetapi berkat kegesitannya yang luar biasa, Lo Sin dapat melesat ke sana ke mari mengelak tanpa berani membalas menyerang!

Nyo Tiang Pek merasa gemas, malu dan juga kagum, lalu mendesak makin keras sambil mengertak gigi karena marahnya. Pedangnya berkelebatan bagaikan seekor harimau mengamuk dan mengurung diri Lo Sin dengan sinar pedangnya.

Akan tetapi Lo Sin yang sudah menerima latihan dan gemblengan dari ibunya dalam ilmu gin-kang hingga kepandaiannya dalam hal ini masih lebih tinggi daripada Nyo Tiang Pek, dapat bergerak lebih cepat lagi hingga tubuhnya lenyap dari pandangan mata, merupakan gulungan sinar hitam yang berkelebatan di antara sinar pedang lawannya.

Semua penonton melongo menyaksikan pertempuran hebat yang berlangsung di tengah-tengah ruang pesta perkawinan ini, sedangkan Ong Bu dan Ong Su yang maklum bahwa Nyo Tiang Pek sukar sekali menundukkan pemuda itu, merasa tidak enak kalau tinggal diam saja.

Mereka tadi memang ragu-ragu ketika mendengar bahwa anak muda adalah putera Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong dan tidak berani segera turun tangan, akan tetapi kini setelah melihat betapa Nyo Tiang Pek betul-betul hendak menjatuhkan anak muda itu, sebagai dua orang tamu, mereka merasa mempunyai kewajiban untuk membantu tuan rumah menghalau seorang pengacau.

Apalagi tuan rumah ini adalah sahabat karib mereka. Cepat sekali kedua jago tua ini lalu mencari tombak dan dengan tombak di tangan mereka lalu menyerbu.

Ilmu silat tangan kosong Sepasang Naga dari Tit-lee memang tidak seberapa tinggi maka mereka tadi dipermainkan oleh Lo Sin, akan tetapi setelah mereka memegang tombak, maka tombak mereka segera terputar mengeluarkan angin dingin dan menambah tebal dan kuatnya sinar pedang Nyo Tiang Pek ketika mereka maju dari kanan kiri mengurung Lo Sin.

Bukan main terkejutnya Lo Sin melihat kehebatan ilmu tombak ke dua saudara Ong yang tua ini. Dengan cepat pemuda ini lalu merobah ilmu pedangnya dan ia lalu menggunakan kepandaiannya dan memainkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian mempertahankan diri, yakni gerak tipu Naga Sakti Mandi di Air.

Tubuh Lo Sin berdiri di tengah-tengah bagaikan seekor naga sakti melingkar dan pedangnya digerakkan sedemikian rupa sehingga seluruh tubuhnya tertutup oleh sinar pedang dan ketika ia mainkan Ilmu Pedang Naga Sakti Mandi di Air ini, segera terasa hawa yang amat dingin menjalar keluar dari angin gerakan pedangnya.

Nyo Tiang Pek dan kedua saudara Ong menjadi heran dan terkejut sekali. Mereka merasa betapa hawa dingin itu menyerang lengan tangan mereka hingga terasa kesemutan. Dilihatnya bahwa Lo Sin seakan-akan tidak bergerak, akan tetapi pedang di tangan pemuda itu berada di mana-mana dan selalu dapat menangkis dengan tenaga luar biasa pada tiap saat senjata ketiga pengeroyoknya mengancam.

Inilah kemujijatan Hwie-sian-liong-kiam-sut yang jarang diperlihatkan kepada umum hingga biarpun Nyo Tiang Pek dan kedua saudara Ong itu sendiri selamanya belum pernah menyaksikan ilmu pedang yang luar biasa ini. Dengan ilmu pedangnya yang mujijat, Lo Sin dapat menahan serangan ketiga jago tua itu, biarpun ia sama sekali tidak pernah membalas menyerang.

Tiba-tiba dari dalam berkelebat bayangan putih yang gerakannya cepat sekali dan sebatang pedang tipis menyerbu masuk dan berhasil memasuki tembok baja yang dibuat oleh pedang Lo Sin.

Hampir saja pundak Lo Sin terluka oleh pedang ini dan ia menjadi terkejut sekali. Ketika ia memperhatikan, ternyata yang menyerang nya adalah seorang wanita setengah tua yang berwajah cantik dan bergaya lembut.

Wajahnya ini hampir sama dengan wajah Lee Ing dan melihat ilmu gin-kang yang hebat itu Lo Sin dapat menduga bahwa wanita ini tentulah Coa Giok Lie isteri Nyo Tiang Pek, atau sumoi dari ibunya sendiri.

“Ie-ie……! Kau tentu Ie-ie Giok Lie!” Lo Sin berseru dengan terharu.

Memang Ang Lian Lihiap menganggap Giok Lie sebagai adik kandung sendiri maka ia menyuruh anaknya menyebut ie-ie atau bibi kepada nyonya Nyo Tiang Pek itu. Mendengar seruan ini, terdengar isak tangis dari mulut Giok Lie karena hatinya terharu, dan nyonya ini berkata dengan suara halus.

“Lo Sin, janganlah kau melawan pek-humu. Menyerahlah, nak dan mari kita berunding secara baik- baik!”

Lo Sin memikir bahwa ia takkan dapat bertahan terus dengan mempertahankan diri tanpa membalas menyerang, sedangkan untuk menyerang, tidak berani. Apalagi setelah ie-ienya yang berkepandaian tinggi dan memiliki ilmu gin-kang luar biasa itu ikut menyerbu, ia tidak tahu berapa lama pertempuran ini akan berlangsung.

Akhirnya ia tentu akan membalas dan kalau sampai ia kesalahan tangan melukai pek-hunya atau ie- ienya, hal ini tentu akan menimbulkan keributan besar. Setelah memutar otaknya, ia lalu berseru keras.

“Awas pedang!” dan tiba-tiba saja ia merobah ilmu pedangnya dan kini ia mainkan Hwie-sian-liong- kiam-sut bagian menyerang, yakni gerakan Naga Sakti Mandi di Api. Hawa pedangnya tiba-tiba berubah panas dan gerakannya ganas dan dahsyat sekali.

Terkejut sekali para pengeroyoknya dan untuk sesaat mereka melangkah mundur dengan tercengang. Memang inilah yang dikehendaki oleh Lo Sin. Ia memang hanya ingin menggertak saja agar kepungan itu menjadi terbuka.

Saat itu digunakan olehnya untuk melompat cepat ke dalam rumah. Kecepatannya memang luar biasa dan gerakannya tiada ubahnya seperti seekor burung walet hitam menyambar. Suami isteri Nyo dan kedua saudara Ong terkejut sekali dan Nyo Tiang Pek dengan suara parau lalu berseru.

“Kejar!” Lalu mereka beramai mengejar dengan cepat ke dalam rumah.

Para tamu di luar menjadi geger dan bingung, tak tahu harus berbuat apa. Yang bernyali kecil diam- diam keluar dan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Yang rakus lalu mempergunakan kesempatan pada saat semua orang tidak ada yang memperhatikannya, menyambar makanan dan memenuhi mulutnya dengan hidangan-hidangan terbaik.

Ketika Lo Sin melompat ke dalam ruang dalam, ternyata keadaan di situ sepi oleh karena semua pelayan laki-laki dan wanita telah lari bersembunyi ketakutan ketika di luar terjadi pertempuran tadi! Lo Sin memandang ke sana ke mari mencari-cari, dan ketika itu melihat seorang pelayan hendak melarikan diri dari pintu belakang.

Ia cepat melayang dan menangkap pundak pelayan itu, ia menempelkan pedangnya di leher orang lalu membentak dengan suara mengancam.

“Di mana adanya calon pengantin laki-laki? Hayo cepat beritahukan padaku!” “Dia…… dia telah semenjak tadi melarikan diri ke belakang!” Dalam keadaan yang tegang itu, Lo Sin masih teringat kepada Lee Ing, maka ia lalu bertanya lagi. “Dan di mana nona Lee Ing?”

“Nyo-siocia…… berlari mengejar pengantin laki-laki dengan pedang di tangan!”

Lo Sin lalu mendorong pelayan itu hingga terjengkang, dan saat itu Nyo Tiang Pek dan yang lain-lain telah mendatangi dengan pedang terangkat.

“Bangsat muda she Lo jangan lari!” teriak Nyo Tiang Pek sambil mengirim serangan hebat.

Lo Sin menangkis dengan keras hingga Nyo Tiang Pek merasa telapak tangannya tergetar, kemudian Lo Sin melompat pergi melalui pintu belakang sambil berteriak.

“Nyo-pekhu, lain waktu aku akan datang memohon maaf darimu!”

Ketika Nyo Tiang Pek, Giok Lie dan kedua saudara Ong mengejar ke belakang, mereka tidak melihat lagi bayangan Lo Sin.

Giok Lie segera berlari memasuki kamar Lee Ing, akan tetapi dengan terkejut ia mendapatkan pakaian pengantin telah rusak dan tersobek berhamburan di atas pembaringan, sedangkan gadis itu sendiri telah pergi entah ke mana! Pedang Lee Ing yang biasanya tergantung di dinding juga turut lenyap! Giok Lie menjatuhkan diri di atas pembaringan sambil menangis dan memanggil-manggil nama puterinya!

Nyo Tiang Pek berlari ke kamar di mana Lui Tik Kong bersembunyi akan tetapi ia juga tidak dapat menemukan bayangan calon mantunya ini! Nyo Tiang Pek dan Giok Lie lalu bertanya kepada para pelayan dan ketika semua pelayan melihat bahwa pengacau telah pergi, mereka datang berkerumun dan ramai menceritakan peristiwa yang terjadi di ruang dalam pada saat di luar terjadi pertempuran itu.

Ternyata bahwa pada saat Lo Sin berteriak-teriak memaki-maki nama Lui Tik Kong dan mengamuk di ruang tamu, Lee Ing mendengar juga. Gadis ini dengan hati tidak karuan rasa lalu menjenguk ke luar dan melihat betapa Lo Sin dikeroyok oleh ayah ibunya dan oleh kedua orang tua she Ong. Ia merasa malu sekali oleh karena peristiwa hebat yang terjadi pada saat perkawinannya dirayakan ini tentu akan menjadi buah tutur orang-orang dan memalukan nama keluarganya.

Aneh, ia tidak menjadi marah kepada Lo Sin yang dianggapnya telah menolongnya daripada bahaya dikawin oleh seorang penjahat! Bahkan ia menumpahkan kemarahannya kepada Lui Tik Kong.

Pada saat itu, Tik Kong yang ketakutan dengan wajah pucat sekali keluar pula dari kamarnya dan ketika melihat Lee Ing, ia lalu berkata,

“Niocu, marilah kita melarikan diri!”

“Ah, orang tak tahu malu! Mengapa melarikan diri? Hayo kau keluar dan lawanlah dia kalau kau memang laki-laki gagah!” “Niocu, jangan begitu. Dia…… dia mau membunuhku. Bukankah aku suamimu? Hayo kau pergi ikut aku melarikan diri!”

“Bangsat hina!” Lee Ing berseru sambil memaki-maki dan berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Di situ Lee Ing lalu melepaskan baju pengantin dan merobek-robeknya hingga berkeping-keping, kemudian dengan cepat ia mengenakan pakaian ringkas dan mengambil pedangnya terus digantung di pinggang.

Pada saat itu, kembali terdengar suara Lui Tik Kong di luar kamarnya.

“Niocu, isteriku yang manis, marilah kita pergi meninggalkan tempat yang berbahaya itu!”

Bukan main marah dan sebal hati Lee Ing mendengar ini. Ia menendang daun pintu kamarnya dan mencabut pedangnya.

“Tutup mulutmu yang kotor! Siapa sudi menjadi isterimu?”

Bukan main kagetnya Tik Kong melihat bahwa Lee Ing telah berganti pakaian dan bahkan kini berdiri dengan sikap mengancam dan pedang di tangan, maka ia lalu melarikan diri.

“Bangsat jangan kau lari, kau harus membuat pengakuan dulu tentang terbunuhnya Kong Sin Ek!”

Mendengar ini, Lui Tik Kong makin takut oleh karena maklum bahwa rahasianya telah diketahui oleh calon isterinya itu, maka tanpa menoleh lagi ia berlari makin keras meninggalkan tempat itu.

Lee Ing sambil memaki-maki lalu lari mengejar dengan pedang di tangan!

Melihat bahwa Lui Tik Kong telah melarikan diri oleh karena takut kepada Lo Sin dan betapa Lee Ing juga melarikan diri, sedangkan Lo Sin yang menjadi biang keladi kekacauan itu tidak tertangkap, maka saking marah dan malunya Nyo Tiang Pek berseru keras dan roboh pingsan!

Giok Lie menangis dengan sedih, bingung dan juga malu. Akan tetapi nyonya ini yang mempunyai kesabaran lebih besar dan mempunyai kebijaksanaan lalu bertindak tegas.

Dengan segera ia mengangkat tubuh suaminya yang pingsan itu ke dalam kamar, merebahkannya di atas pembaringan dan minta kepada semua orang supaya jangan mengganggu dan semua pelayan lalu diperintahkan pulang meninggalkan rumahnya. Setelah itu, nyonya ini lalu bertindak keluar dan menjura kepada semua tamunya dan dengan hormat berkata,

“Cuwi sekalian yang mulia. Kami merasa sangat menyesal bahwa kami telah mengecewakan cuwi sekalian oleh karena terpaksa kami mengumumkan bahwa perayaan ini dibatalkan. Cuwi maklum bahwa telah terjadi peristiwa yang semua timbul oleh karena kesalahpahaman dan kami harap sudilah kiranya cuwi memandang muka kami untuk tidak menyiarkan berita mengenai peristiwa ini agar jangan sampai ditambah-tambah dan dibesar-besarkan oleh mulut orang-orang yang tak tahu malu dan jail! Namun kami percaya penuh bahwa cuwi tentu bukan tergolong orang-orang yang jail seperti itu.

“Pernikahan puteri kami dibatalkan dan anggaplah bahwa perkawinan ini tidak jadi diadakan. Kami minta maaf sebanyak-banyaknya kepada cuwi sekalian oleh karena suami saya tidak dapat mengantar cuwi keluar dan tidak dapat menghaturkan maaf sendiri oleh karena suami saya menderita sakit dengan tiba-tiba. Sekali lagi maaf dan banyak-banyak terima kasih kami haturkan atas budi kebaikan cuwi sekalian.”

Semua tamu mendengar suara yang diucapkan dengan halus, tetapi nyaring dan mengandung sindiran yang melarang mereka menyiarkan terjadinya peristiwa itu, tidak ada yang berani membuka mulut dan kemudian mereka pergi seorang demi seorang berpamitan dan meninggalkan tempat itu pulang ke tempat masing-masing. Setelah semua orang pergi, Ong Su dan Ong Bu juga berpamitan sebagai orang-orang yang terakhir.

Ketika menghadapi kedua saudara Ong, yang telah menjadi sahabat baiknya itu, tiba-tiba sikap Giok Lie berubah. Tadi ia bersikap gagah dan tidak mau memperlihatkan kelemahannya terhadap para tamu, akan tetapi sekarang menghadapi kedua saudara Ong yang telah dikenalnya sebagai sahabat- sahabat baik, ia tidak dapat menahan lagi jatuhnya air mata dan menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan dirinya di atas sebuah kursi!

Ong Bu dan Ong Su saling memandang sambil menghela napas.

“Sudahlah jangan terlalu bersedih, toanio,” hibur Ong Su, “hal ini harus kau hadapi dengan tabah dan tenang. Lebih baik segera dapat dibereskan.”

“Benar, toanio. Berduka saja tidak ada artinya bahkan akan merusak semangat dan kesehatan sendiri. Sekarang perkenankanlah kami berdua kembali dulu,” berkata Ong Bu.

Giok Lie mengangkat muka dan mengangguk, bibirnya bergerak menyatakan terima kasihnya. Setelah kedua saudara Ong ini pergi, ia lalu kembali ke kamar suaminya dan ternyata Nyo Tiang Pek telah sadar dari pingsannya dan kini duduk di atas pembaringan sambil menghela napas panjang pendek.

Ketika melihat isterinya masuk, ia lalu berkata dengan tetap,

“Isteriku, kita harus segera pergi ke Tit-lee untuk membalas sakit hati ini kepada Cin Han dan Lian Hwa. Kalau kedua orang itu tidak bisa mengajar anak mereka, biarlah kita yang menghajar mereka. Biarlah, betapapun pandai dan lihainya Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, aku Nyo Tiang Pek kalau disinggung kehormatanku, tidak merasa takut dan hendak mengadu jiwa dengan mereka!”

Giok Lie terkejut, lalu dengan gerakan halus duduk di samping suaminya.

“Suamiku, di mana ketenanganmu yang dulu, dan jangan melakukan sesuatu menuruti nafsu marah yang sedang menggelombang. Siapa tahu kalau cici Lian Hwa dan suaminya tidak tahu menahu dalam hal ini, hingga kalau kita tiba-tiba muncul sambil marah-marah bukankah kita yang keterlaluan? Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati dan berpikir luas. “Memang tindakan Lo Sin itu keterlaluan dan terlalu menghina kita, sama sekali tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan oleh pengacauannya itu hingga kita mendapat malu besar. Akan tetapi, bukankah lebih baik kita selidiki secara teliti sebab-sebab yang menjadikan ia bersikap demikian? Dan mengapa pula anak kita sampai lari mengejar Tik Kong sambil membawa pedang? Semua ini terlalu aneh dan membingungkan bagiku, maka lebih baik kita berlaku hati-hati.”

Untuk sejenak Nyo Tiang Pek berdiam saja, tanda bahwa ia sedang berpikir keras. Kemudian ia menghela napas dan berkata.

“Dasar anak kita yang keras kepala! Kita jangan terlalu percaya kepada anak kurang ajar she Lo itu! Memang, kalau kita memikirkan keadaan orang tuanya, kita bisa menjadi lemah. Bukankah kau dan aku sudah tahu sampai habis sikap Tik Kong yang benar-benar jujur dan baik? Sudahlah, kalau kau tidak setuju kita menyerbu ke Tit-lee, sedikitnya aku mau menulis surat tegoran kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong agar mereka mau menyelidiki keadaan putera mereka yang tidak tahu adat itu!”

Giok Lie menghela napas dan ia cukup tahu akan kekerasan hati suaminya. Sedikitnya ia telah berhasil menahan maksud Nyo Tiang Pek yang hendak menyerbu dan mengadu jiwa dengan Ang Lian Lihiap dan suaminya.

Nyo Tiang Pek lalu membuat sepucuk surat kepada Cin Han dan Lian Hwa. Oleh karena ketika menulis surat itu hatinya masih panas dan marah, maka sudah tentu saja suaranya berbunyi keras dan marah pula. Ia lalu menutup surat itu dan menyuruh seorang kampung untuk segera berangkat ke Tit-lee pada hari itu juga untuk mengantar surat itu kepada Lo Cin Han. Ia bahkan memberi seekor kuda kepada pesuruh itu agar dapat segera sampai di Tit-lee.

Oleh karena mendapat pesan dari Nyo Tiang Pek agar cepat-cepat mengantar surat tanpa banyak menunda perjalanan, maka pesuruh itu lalu membalapkan kudanya menuju ke Tit-lee. Sepekan kemudian, dengan pakaian penuh debu dan lelah sekali, pesuruh itu tiba di Tit-lee lalu menyerahkan surat Nyo Tiang Pek kepada Lo Cin Han suami isteri.

Kebetulan sekali pada waktu itu Lian Hwa dan suaminya sedang duduk di ruang depan dan mereka heran melihat datangnya seorang penunggang kuda. Ketika penunggang kuda itu sudah turun dari kudanya dan menanyakan nama mereka, lalu ia mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Cin Han.

“Terima kasih, akan tetapi saya terpaksa tidak dapat menerima kebaikan taihiap, oleh karena saya setelah memberikan surat ini harus segera kembali tanpa menanti balasan,” jawab penunggang kuda itu yang terus menaiki kudanya kembali dan pergi dari situ.

Cin Han dan Lian Hwa saling memandang dan mengangkat pundak karena merasa heran dan tidak mengerti melihat sikap penunggang kuda itu. Keduanya segera ingin sekali mengetahui apakah gerangan isi surat Nyo Tiang Pek. Dibukanya surat itu dan dibaca oleh mereka berdua dengan berbareng.

Alangkah terkejut mereka membaca surat yang keras bunyinya itu sehingga keduanya menjadi merah mukanya dan menahan napas. Bunyi surat itu memang keras sekali. Saudara Lo Cin Han dan Han Lian Hwa!

Kalau sekiranya aku tidak ingat bahwa kalian adalah sahabat-sahabat baikku dan kalau saja isteriku tidak mencegahku, mungkin bukan surat ini yang kini berada di hadapan kalian, akan tetapi aku sendiri dengan pedang di tangan!

Seperti kalian ketahui, kami merayakan hari perkawinan anak kami Lee Ing, dan kalian pun sudah kami undang, sungguhpun kalian tidak mau datang menjenguk. Hal ini bukan apa-apa dan aku takkan merasa menyesal sedikitpun, akan tetapi ketahuilah bahwa pada saat perayaan perkawinan dilakukan, tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengacaukan pesta dan mengandalkan kepandaiannya menghina kami sekeluarga!

Tahukah kalian apa yang dilakukan oleh pemuda itu? Ia memaksa hendak membunuh mati calon mantuku! Bahkan ia telah berani menghadapi dan bertempur dengan aku, bahkan telah menyerang pula saudara Ong Bu dan Ong Su, kawan-kawan lama kita itu! Entah apa yang terjadi antara pemuda itu dengan calon mantuku yang bernama Lui Tik Kong, akan tetapi menurut penuturan Tik Kong pemuda itu adalah seorang perampok jahat!

Hal ini aku belum dapat membuktikan kebenarannya. Akan tetapi yang sudah pasti dan terbukti ialah bahwa pemuda itu benar-benar kurang ajar, tidak memandang mata kepada kami dan bahkan menghina kami, membuat kami malu dan mencemarkan nama keluarga kami.

Dengan pengacauannya yang kurang ajar itu perkawinan menjadi batal, calon mantuku melarikan diri, karena takut, bahkan anak perempuanku juga melarikan diri sehingga sekarang belum kembali. Sayang kami tidak dapat membekuk batang leher pemuda pengacau itu!

Dan tahukah kalian siapa orang muda tak tahu adat itu? Dia bukan lain adalah puteramu! Dia adalah Lo Sin, yang mengandalkan kepandaian dan mungkin mengandalkan nama orang tuanya untuk menghina aku, Nyo Tiang Pek.

Kalian tentu mengerti bahwa aku marah dan menyesal kepadamu berdua. Tak dapatkah kalian mengajar adat kepada anakmu itu?

Dengan terjadinya peristiwa yang mencemarkan nama keluarga kami itu, mulai sekarang aku tidak menganggap keluargamu sebagai kawan lagi dan harap kalian menjaga jangan sampai bertemu dengan Nyo Tiang Pek, oleh karena pertemuan itu hanya akan diakhiri dengan pertumpahan darah kita!

Sekian dan harap maklum! Dari aku,

Nyo Tiang Pek

Dapat dimengerti bahwa bunyi surat itu membuat wajah kedua suami isteri ini merah sampai ke telinga. Mereka heran, bingung, marah dan menyesal sekali. Bahkan tangan Cin Han yang memegang surat itu sampai menggigil. Sampai tiga kali mereka berdua membaca isi surat itu seakan-akan tidak percaya kepada mata sendiri, akan tetapi makin sering dibaca makin memerahkan telinga. Cin Han yang biasanya lebih sabar saja tidak kuat menahan marahnya, apalagi Ang Lian Lihiap yang terkenal keras hati.

“Brakk!!” tiba-tiba meja di depan nyonya ini roboh dan remuk berkeping-keping terkena pukulan tangan Ang Lian Lihiap.

“Nyo Tiang Pek! Kau orang tua tak tahu diri! Makin tua kau tidak makin bijaksana, sebaliknya kau berpemandangan sempit dan berotak gelap! Apakah kau kira aku Ang Lian Lihiap takut kepadamu?”

Muka yang cantik itu merah bagaikan kepiting direbus sedangkan kedua tangannya mengepal tinju. Sepasang matanya bersinar-sinar memandang ke arah jauh tanpa berkedip, seakan-akan pada saat itu Nyo Tiang Pek berdiri di depannya.

“Sabar, sabar, isteriku! Tenanglah kau!”

“Sabar? Kaukata aku masih harus bersabar sedangkan orang seperti si Garuda Kuku Emas itu menghina kita?? Apakah kau belum dapat mengerti atau menduga akan timbulnya peristiwa yang ia sebutkan itu? Sudah jelas bahwa calon mantunya adalah Lui Tik Kong, murid murtad dari Kong-twako yang membunuh dan menganiaya gurunya sendiri, seorang pemuda palsu dan durhaka. Maka ketika Sin-ji mencari-cari dan mendapatkan jejaknya, lalu mengetahui bahwa Tik Kong berada di tempat Nyo-twako dan bahkan akan dipungut mantu, tentu saja Sin-ji merasa marah dan hendak menghalangi perkawinan itu untuk menolong puteri Nyo-twako dan juga untuk membinasakan bangsat she Lui itu.

“Akan tetapi, agaknya mata Nyo Tiang Pek telah menjadi buta, tidak dapat melihat mana yang benar mana yang salah dan bahkan menyangka anak kita itu perampok dan pengacau. Ah, sungguh terlalu! Hendak kulihat sampai di mana kepandaian tua bangka she Nyo itu!” Sambil berkata demikian cepat sekali tangan Han Lian Hwa mencabut pedang yang akhir-akhir ini selalu dipakainya setelah terjadi penyerhuan Hek Li Suthai.

Cin Han terkejut melihat ini. Ia mengangkat kedua tangannya dan berkata. “Eh, eh, kau mencabut- cabut pedang segala ini mau apakah?”

“Hendak kulihat kelihaian orang she Nyo yang telah menghina dan mencaci maki anakku yang berarti ia menghina aku sendiri!”

“Sabar, sabar! Nyo-twako tidak berada di sini, mengapa kau mengamuk tidak karuan dan mencabut pedang? Sadarlah isteriku, kalau dilihat orang dari luar, dikira kau marah-marah dan mencabut pedang hendak menikam aku!”

Cin Han mencoba untuk meredakan kemarahan isterinya dengan berkelakar. Ia telah dapat menekan kemarahannya dan dapat pula berlaku tenang, oleh karena ia yakin bahwa di sini tentu telah terjadi kesalah pahaman. Setelah dihibur-hibur suaminya, Lian Hwa mulai sabar dan memasukkan kembali Kong-hwa-kiam di sarung pedangnya.

“Marilah kita bicarakan dengan kepala dingin!” kata Cin Han sambil menarik tangan isterinya untuk duduk di sampingnya. “Jangan kita meniru-niru Nyo-twako yang tidak dapat menahan marahnya itu. Kita bukanlah anak-anak kecil yang sedikit-sedikit lalu menjadi marah tidak karuan. Kita cukup tahu bahwa Nyo-twako tidak biasanya menghina orang, apalagi kepada kita yang menjadi kawan baiknya.”

“Tidak ingatkah kau akan surat undangan itu?” tiba-tiba Lian Hwa yang masih panas hatinya itu memotong bicaranya. “Semenjak semula pun Nyo-twako telah memandang rendah kepada kita! Kita dengan baik-baik melamar puterinya, akan tetapi ia tidak perduli sama sekali, bahkan menjawabpun tidak! Tahu-tahu ia mengirim surat undangan dan memberitahukan bahwa puterinya hendak dikawinkan dengan orang lain tanpa menyebut-nyebut perihal peminangan kita.

“Bukankah itu sudah cukup menghina? Kita sudah cukup bersabar dan tidak menyatakan penyesalan kita, akan tetapi sekarang ia menulis surat macam ini, memaki-maki anak kita! Kau masih mau bilang bahwa Nyo Tiang Pek tidak biasa menghina orang? Suamiku, kesabaran ada batasnya dan kalau kau memaksa-maksa aku supaya bersabar menghadapi penghinaan yang berkali-kali ini, jantungku bisa meledak!”

Cin Han memegang tangan isterinya dengan mesra dan tersenyum. “Jangan isteriku. Kalau jantungmu meledak, siapa yang akan susah selain suamimu?”

Akan tetapi Lian Hwa menarik tangannya dan cemberut.

“Memang sikap Nyo-twako yang tidak menjawab surat lamaran kita itu sangat keterlaluan dan hal itu perlu penjelasan sejujurnya apabila kita bertemu dengan mereka. Aku akan bertanya kepadanya secara laki-laki dan secara sahabat baik. Adapun peristiwa yang terjadi dengan Sin-ji inipun perlu pula diselidiki lebih jauh. Mungkin Sin-ji yang ketularan adat keras darimu, tidak dapat menahan marah melihat Tik Kong sehingga berlaku kasar di depan Nyo-twako.

“Harus diingat bahwa pengacauan yang dilakukan oleh Sin-ji untuk menangkap Tik Kong itu telah membatalkan perkawinan anak mereka, dan tentu saja mereka menjadi malu sekali! Hal ini harus kita pertimbangkan masak-masak dan baiklah kita menanti sampai Sin-ji datang kembali untuk ditanya bagaimana duduknya peristiwa yang sebenarnya.”

Di dalam, hatinya, Lian Hwa mengakui kebenaran pandangan suaminya ini, maka hatinyapun menjadi agak sabar, akan tetapi mulutnya tetap mengomel.

“Mengapa Sin-ji tidak membiarkan saja? Biarlah, biar Nyo Tiang Pek tahu rasa dan mendapatkan seorang menantu bajingan, besar!”

“Sttt, isteriku, apakah kau tidak kasihan kepada mereka? Apakah kau tidak ingat kepada Giok Lie yang begitu mencintaimu? Ingatlah, surat itu ditulis oleh Nyo-twako, bukan oleh Giok Lie. Mungkin sekali pada saat ini Giok Lie sedang menangis sedih menyesalkan sikap suaminya dan ia sedang terkenang kepadamu.” Mendengar disebutnya nama Giok Lie, tiba-tiba Lian Hwa lalu menjatuhkan mukanya di pundak suaminya dan menangis terisak-isak.

“Giok Lie      kasihan kau, Giok Lie ,” keluhnya dengan suara perlahan.

“Nah, nah, kau sekarang menangis! Kau mengingatkan daku akan Ang Lian Lihiap, gadis jelita yang bisanya hanya dua macam saja itu, yakni menangis dan marah-marah!” kata Cin Han sambil mengusap-usap rambut isterinya.

Setelah agak reda tangisnya, Lian Hwa lalu berkata kepada Cin Han.

“Kita tidak boleh mendiamkan hal ini begini saja oleh karena rasa tidak enak hati dan permusuhan akan makin mendalam. Lebih baik sekarang juga kita berangkat ke Bong-kee-san mencari Nyo-twako untuk menjelaskan dan membereskan semua perkara ini dengan damai,” katanya dengan suara perlahan.

Cin Han mengangguk. “Demikian pula pendapatku. Biarpun Nyo-twako telah mengeluarkan ancaman, akan tetapi jalan satu-satunya untuk membikin terang perkara yang ruwet ini hanyalah menjumpainya dan bicara dari hati ke hati sebagai sahabat-sahabat lama.”

Tiba-tiba pada saat itu, dari pintu luar berkelebat masuk bayangan orang dengan gesitnya dan terdengar seruan seorang wanita dengan suara nyaring.

“Lian Hwa cici, tolonglah kami!”

Cin Han dan Lian Hwa terkejut sekali dan serentak bangkit dari tempat duduk mereka.

“Mei Ling kau kenapakah?” tanya Han Lian Hwa sambil memandang kepada seorang gadis cantik yang berusia kurang lebih duapuluh lima tahun dan yang segera menubruk dan memeluknya dengan menangis.

Juga Cin Han terkejut sekali. “Mei Ling duduklah dengan tenang dan ceritakan mengapa kau datang- datang menangis dengan sedih.”

Gadis ini adalah seorang dara pendekar yang berilmu silat tinggi. Namanya Song Mei Ling, dan dia ini bukan lain adalah cucu dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan yang menjadi guru Han Lian Hwa. Oleh karena Mei Ling juga menjadi murid neneknya, maka Lian Hwa boleh dibilang adalah sucinya (kakak seperguruan).

Song Cu Ling atau Dewi Tanpa Bayangan adalah seorang li-hiapkek yang terkenal sekali di waktu masih hidup. Akan tetapi nasibnya malang dan ia ditinggal mati suami dan puteranya yang meninggalkan sepasang anak kembar, yakni cucunya yang bernama Kong Liang dan Mei Ling, sepasang anak kembar laki perempuan. Oleh karena ayah kedua anak ini telah meninggal, maka Song Cu Ling memberi she Song kepada mereka, dan ia menggunakan seluruh kepandaiannya untuk mendidik kedua anak kembar ini hingga menjadi sepasang hiap-kek yang berkepandaian tinggi. Kakak beradik ini setelah ditinggal mati oleh nenek mereka, lalu hidup sebagai perantau-perantau yang seringkali menolong sesama hidup hingga terkenal sebagai sepasang pendekar budiman. Lian Hwa dan suaminya sudah sering kali minta supaya kedua anak yatim piatu ini tinggal saja bersama mereka, akan tetapi Kong Liang dan Mei Ling tidak mau, bahkan ketika mereka mengunjungi Nyo Tiang Pek Coa Giok Lie yang juga terhitung suci mereka, keluarga Nyo minta mereka di Bong-kee-san, akan tetapi keduanya lebih suka melakukan pengembaraan berdua.

Anehnya sepasang anak kembar ini tidak mau kawin, agaknya mereka ini belum menemukan jodoh yang cocok sehingga pada waktu itu Kong Liang telah berusia duapuluh lima tahun, demikianpun adiknya, dan mereka masih tinggal membujang. Seringkali keduanya datang mengunjungi Lian Hwa untuk beberapa hari, kemudian pergi lagi merantau, bagaikan dua ekor burung yang bebas lepas di udara tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.

Oleh karena belum pernah sekali juga melihat Mei Ling datang seorang diri, maka Lian Hwa lalu bertanya,

“Mei Ling, mengapa kau datang seorang diri? Mana Kong Liang?”

Mendengar nama kakaknya disebut, kembali Mei Ling mengalirkan air mata, sehingga Lian Hwa memandang wajah yang cantik itu dengan khawatir.

“Mei Ling, lekas ceritakan apakah yang telah terjadi?”

“Cici Lian Hwa, kami mendapat kecelakaan. Kami telah bertemu dengan si iblis wanita Hek Li Suthai dan muridnya yang bernama Bi Mo-li. Ketika mereka tahu bahwa Liang-ko dan aku adalah murid dan cucu Song Cu Ling, mereka lalu menyerang kami. Akan tetapi kami berdua berhasil memukul mundur mereka. Tidak tersangka sama sekali, pada malam harinya mereka kembali bersama seorang pendeta tua sekali yang kedua lengan tangannya buntung.”

“Bong Cu Sianjin!” kata Lian Hwa dan Cin Han dengan suara berbareng dan kaget sekali.