-->

Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Jilid 03

Jilid 03

Hwat Khong tertawa geli. “Ha, ha, Lin lauwte agaknya mencurigai kelentengku?”

Lin Piauw buru-buru berdiri menjura dalam. “Sekali-kali tidak, lo-suhu. Mana berani siauwte, berlaku kurang ajar? Hanya tak lain, untuk urusan ini siauwte sungguh-sungguh mengharapkan budi kebaikan dan pertolongan lo-suhu karena siauwte merasa tenaga sendiri tidak cakap dan lemah. Mohon kasihanlah kepadaku lo-suhu dan juga atas nama semua penduduk kampung Pian-bong-kee-chung siauwte mohon bantuan!”

Hwat Khong Hwesio segera membalas hormat. “Jangan see-ji (sungkan) dan jangan gelisah, Lin lauwte. Duduklah dan tunggu sebentar, pinceng akan perkenalkan tamu yang kaucurigai itu kepadamu.”

Ia segera masuk ke dalam meninggalkan Lin Piauw yang menanti dengan hati tidak sedap. Sebentar kemudian Hwat Khong kembali, diikuti oleh Lian Hwa. Lin Piauw segera berdiri memberi hormat dan satu lirikan tajam ke arah gadis itu membuat ia yakin bahwa Lian Hwa bukanlah wanita yang telah melukainya pada malam itu.

“Nah, Lin lauwte, ini adalah tamu yang kaumaksudkan itu. Ia tak lain adalah Han sumoi!”

Lin Piauw terkejut dan heran mendengar Hwat Khong Hwesio memperkenalkan gadis itu sebagai adik seperguruannya! Segera ia memberi hormat kepada Lian Hwa sambil berkata.

“Han lihiap, mohon dimaafkan jika aku berlaku sembrono.” Han Lian Hwa membalas hormat sepantasnya. Ia tidak kikuk pula tentang cara kesopanan setelah mendapat didikan suhengnya. Sambil tersenyum ia berkata,

“Jangan sungkan, saudara Lin, silakan duduk.”

Kemudian Hwat Khong menjelaskan dengan singkat tentang kedatangan Lin Piauw yang minta tolong bantuan tenaga untuk menangkap kedua pengacau kampung Pian-bong-kee-chung. Lian Hwa lalu menyatakan kesanggupannya pula untuk membantu usaha suhengnya menolong kampung itu.

Dengan serta merta Lin Piauw menghaturkan terima kasihnya, kemudian ia bermohon diri dengan hati lega. Tapi dalam hatinya tak bisa heran memikirkan bagaimana Hwat Khong yang lihai ilmu silatnya itu mempunyai sumoi seorang gadis kecil seperti itu! Ia tak percaya gadis itu dapat mempunyai ilmu silat yang tinggi.

Setelah Lin Piauw pergi, Lian Hwa yang sejak tadi telah tak sabar pula menahan hatinya, kini segera mengajukan pertanyaan kepada suhengnya.

“Suheng, apakah artinya penjahat pemetik bunga seperti yang diceritakan oleh tuan Lin Piauw tadi?”

Agak bingung juga Hwat Khong Hwesio mendengar pertanyaan ini! Bagaimana ia harus menerangkan? Ia maklum bahwa sumoinya itu adalah seorang gadis yang jujur dan polos, maka terpaksa ia menjawab juga pertanyaan yang keluar dari hati yang jujur dan betul-betul belum mengerti itu.

“Sumoi, kau masih ingat Peng Bouw, laki-laki kurang ajar dulu itu? Nah, penjahat cabul ini juga seorang laki-laki kurang ajar, bahkan jauh lebih jahat daripada Peng Bouw, tidak segan-segan membunuh wanita yang tidak sudi dijadikan kurbannya! Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu menangkap penjahat dan kawannya perempuan si pencuri itu. Hanya sekarang bagaimana kita harus bertindak? Kita tidak tahu sarang mereka dan juga tidak kenal wajah mereka.”

Han Lian Hwa sungguhpun kurang pengalaman, namun ia mempunyai kecerdikan otak yang luar biasa, kalau tidak demikian halnya tidak mungkin ia bisa mempelajari segala ilmu silat yang tinggi dari Ong Lun sedemikian mahirnya. Maka segera ia tersenyum dan mengemukakan siasatnya kepada Hwat Kong. Suhengnya mendengar siasat ini mula-mula mengerutkan alis, tapi kemudian mengangguk-angguk menyatakan setuju.

Pada keesokan harinya, di rumah penginapan Kim Ma Li-koan yang berada di tengah-tengah kampung Pian-bong-kee-chung dan merupakan penginapan yang terbesar dan paling mewah di kampung itu, datang seorang nona cantik dengan pakaian indah. Ia memilih kamar terbesar, dan karena sikapnya yang royal, maka para pelayan sangat hormat padanya. Pula, tentu saja mereka sangat senang melayani seorang nona elok seperti tamu itu.

Tamu itu bukan lain ialah, Han Lian Hwa yang mulai menjalankan siasatnya “memancing harimau keluar dari guanya”. Ia sengaja bermalam di hotel itu, dan pada siang harinya ia berjalan-jalan melihat-lihat telaga kecil di pinggir kampung yang menjadi pusat pelancong. Belum lama ia berjalan, matanya yang tajam melihat seorang pemuda yang sangat memperhatikan dirinya. Ketika ia masuk ke dalam sebuah rumah makan kecil di dekat telaga itu, pemuda itupun masuk pula dan duduk tak jauh dari mejanya. Mata pemuda itu terus menerus mengincar padanya.

Lian Hwa sangat jemu melihat lagak orang itu, tapi ia bersabar diri. Diam-diam ia perhatikan pemuda yang mencurigakan itu. Pemuda itu kira-kira berusia duapuluh lima tahun, wajahnya cakap matanya bersinar. Pakaiannya mewah, baju berwarna merah dan celana biru. Dari gerak-geriknya, maklumlah Lian Hwa bahwa pemuda itu seorang yang mengerti ilmu silat.

Setelah puas berputar-putar, Lian Hwa kembali ke hotelnya, dan ia tahu bahwa pemuda itu diam- diam mengikutinya. Kini hati gadis itu setengah yakin bahwa inilah mungkin harimau yang dipancingnya keluar itu, maka diam-diam ia berhati-hati.

Malam hari itu kebetulan terang bulan. Kamar Lian Hwa siang-siang sudah gelap, menandakan bahwa gadis itu sudah masuk tidur.

Kira-kira menjelang tengah malam sesosok bayangan orang berkelebat di atas genteng rumah penginapan Kim Ma Li-koan. Tindakan kakinya ringan dan gesit, menandakan tingginya ilmu meringankan diri orang itu. Tapi ia tidak menduga sama sekali bahwa jauh di belakangnya terdapat bayangan lain yang mengintainya bayangan seorang hwesio gundul yang berlari dan berloncatan dengan gesit sekali.

Tamu malam itu menghampiri kamar Han Lian Hwa dan dengan gerak tipu Kwie-liong-seng-thian (Naga Setan Naik ke Langit) ia melayang turun dari atas genteng. Dengan hati-hati ia menghampiri jendela dan menggunakan pedangnya mencokel daun jendela terbuka. Kemudian ia meloncat masuk.

Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat, kamar itu telah kosong dan dengan cepat ia meloncat keluar lagi. Tapi ternyata di luar jendela telah menanti Han Lian Hwa yang telah bersiap-siap di luar kamar dan melihat jelas ketika penjahat itu mencokel jendelanya. Ia sengaja mendiamkan saja karena ingin menunggu penjahat itu dan ingin melihat bagaimana cara kerjanya.

Penjahat cabul itu melihat ada seorang di luar jendela tanpa banyak cakap lalu meloncat ke atas genteng hendak kabur. Tapi, sungguh heran, ketika kakinya menginjak wuwungan, ternyata gadis yang tadi berdiri tersenyum-senyum di bawah ternyata telah berada pula di situ, masih berdiri tersenyum mengejek.

“Jangan harap lari sebelum tinggalkan kepalamu!” kata gadis itu.

Si penjahat menjadi jengkel, lebih-lebih ketika melihat bahwa gadis itu justeru orang yang siang tadi ia incar dan hendak dijadikan korbannya.

“Jangan kurang ajar! Hayo pergi jangan menghalangi jalanku kalau tak ingin mampus!” bentaknya.

Han Lian Hwa tersenyum. “Engkau tadi mencariku, bukan? Nah, aku sudah berada di sini, kebetulan sekali, karena aku membutuhkan engkau!”

“Apa katamu? Apa maksudmu?” penjahat itu heran. “Aku butuh…… kepalamu! Perlu kepalamu untuk membalaskan sakit hati penduduk kampung ini.”

“Kurang ajar!” teriakan ini dibarengi dengan sinar pedangnya menyerang dengan sebuah tusukan berbahaya ke arah dada Lian Hwa.

“Hei hati-hati dengan pedangmu, kan-cat (bangsat)!” nona itu berkelit lincah sambil mengejek. Setelah terpisah dari suhengnya, maka timbullah pula kejenakaan dan kenakalannya. Tiba-tiba Hwat Khong yang sejak tadi mengintai, menjadi tak sabar lagi dan loncat menghampiri.

“Sumoi, jangan banyak buang waktu. Tangkap dia!” “Baik, suheng,” jawab Lian Hwa.

Tapi pada saat itu sebuah bayangan lain yang membawa pedang, terbang mendatangi. “Jangan khawatir, koko! Bikin mampus perempuan itu, biar aku bereskan keledai gundul ini.”

Segera bayangan yang baru datang ini menyerang Hwat Khong dengan pedangnya. Serangan berbahaya itu ditangkis oleh kebutan lengan baju Hwat Khong. Terjadilah pertempuran hebat. Dua penjahat bersenjata pedang melawan Lian Hwa dan suhengnya yang berkelahi dengan tangan kosong.

Memang Hwat Khong melarang sumoinya menggunakan senjata, karena ia ingin menangkap mereka hidup-hidup. Pula ia yakin bahwa ia dan sumoinya tak perlu menggunakan senjata melawan kedua penjahat itu. Tak disangkanya bahwa perempuan jahat yang dilawannya itu cukup lihai hingga agaknya tak mudah baginya untuk mengalahkan dengan cepat, apa pula menangkapnya hidup-hidup.

Di lain pihak Lian Hwa sengaja mempermainkan penjahat cabul itu. Ia bergerak-gerak bagaikan kupu- kupu lincah di antara sambaran pedang sambil memaki dan mengejek.

Penjahat cabul itu makin lama makin marah dan penasaran. Ia yang bersenjata pedang dapat dipermainkan dengan begitu mudah oleh seorang gadis muda yang bertangan kosong. Hampir ia tak dapat percaya dan merasa seakan-akan bermimpi. Ia menjadi penasaran dan menyerang makin hebat. Pedangnya menusuk ke arah leher dengan tipu Hui-eng-bok-thio (Elang Terbang Menyambar Kelinci), tapi dengan mudah lagi-lagi Lian Hwa berkelit sambil mengejek.

“Kurang cepat, bangsat kecil!” lalu dengan lincahnya meloncat ke sebelah kanan orang itu.

Si penjahat segera memutar pedangnya ke kanan menyabet dengan gerak tipu Ular Belang Memukulkan Ekornya. Tapi yang diserang hanya meloncat sedikit dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya. Dipermainkan secara begitu, si penjahat menjadi pening dan keringatnya mengucur deras, napasnya mulai sengal-sengal.

Ia menjadi penasaran dan nekat. “Malam ini aku si burung hantu Eng Kan akan mengadu nyawa dengan kau anjing betina!” Pedangnya lalu dipakai menyerang dengan nekat.

Lian Hwa tertawa dan menjawab. “Malam ini aku Ang Lian Lihiap akan mengirim kau pulang ke neraka!” Ia menggunakan nama julukan itu ketika ia dengar dari suhengnya bahwa di luaran ia disebut orang Ang Lian Lihiap.

Setelah berkata demikian, maka Lian Hwa mulai mengirim serangannya yang me-matikan. Ketika pedang lawannya mengarah pinggang, ia berkelit ke samping, tapi Eng Kan melanjutkan serangannya dengan berjongkok dan menyabet ke arah kaki.

Lian Hwa meloncat ke atas dan sebelum kakinya kembali ke bawah ia menggerakkan sedemikian rupa, merupakan tendangan maut. Kaki kirinya menotol dada penjahat itu yang segera menjerit lalu jatuh. Pedangnya terlepas dan dari mulutnya tersembur darah merah. Kemudian tubuhnya yang sudah tak berdaya itu bergulingan ke bawah akhirnya jatuh dari atas genteng.

Sementara itu Hwat Khong sudah mendesak musuhnya hingga perempuan jahat itu kini repot menghindari serangan-serangan hwesio kosen itu. Ketika mendengar jeritan Eng Kan, ia makin bingung dan ketika Hwat Khong mengirim serangan kepretan tangannya, pergelangan tangannya yang memegang pedang kena terpukul hingga pedangnya terpental dan jatuh ke atas genteng mengeluarkan suara berkerontangan.

Lin Piauw yang baru saja sampai ke situ berteriak, “Bagus, tangkap padanya, lo-suhu!”

Tapi perempuan itu dengan cepat meloncat ke bawah dan kabur dengan cepatnya. “Kejar! Tangkap!” teriak Lin Piauw yang segera mengejarnya.

Lian Hwa berkata, “Biarkan aku merobohkannya, saudara Lin!” Tangannya menyambar pedang penjahat perempuan yang jatuh tadi dan siap untuk dilontarkan ke arah tubuh lawan yang masih tampak.

Tapi suhengnya membentak, “Jangan!” maka Lian Hwa membatalkan niatnya.

Lin Piauw kembali dengan percuma. “Tak dapat aku mengejarnya ia menghilang dengan cepat…… sayang sekali! Lo-suhu mengapa lo-suhu tidak mengejarnya?” ia menegur agak kecewa.

“Lin lauwte, tak perlu penjahat itu dikejar-kejar, dan lebih tak perlu pula ia dibunuh karena dosanya tak sangat besar. Ia hanya pencuri biasa. Yang sangat berdosa telah membunuh jiwa orang hanya penjahat yang terbunuh oleh sumoi itu.” Kemudian ia berkata kepada sumoinya, “Mari kita pulang, sumoi!”

Di tengah perjalanan pulang ke kelenteng Hwat Khong Hwesio menegur sumoinya, “Sebetulnya tak perlu membunuhnya, sumoi.”

“Tapi suheng, ia seorang jahat sekali. Kalau tidak dibasmi mungkin membahayakan keselamatan umum.” Suhengnya hanya menghela napas. “Hm, biarlah karena sudah terlanjur, pula mungkin ia memang sudah pantas membalas jiwa para kurbannya. Hanya lain kali sabarlah sedikit, jangan terlampau ganas.”

Lian Hwa hanya tunduk dan mereka melanjutkan perjalanan mereka.

?Y?

Pada suatu hari, dua orang laki-laki yang berpakaian sebagai orang-orang dari kalangan persilatan dan menunggang kuda datang ke kelenteng Ban-hok-thong. Mereka langsung menemui Hwat Khong Hwesio yang pada saat itu tengah bercerita kepada Han Lian Hwa tentang orang-orang ternama di kalangan kang-ouw.

Begitu melihat Hwat Khong, mereka segera berlutut dan menyebut, “Suhu (guru).” Hwat Khong mengangkat bangun mereka dan berkata, “Bangun dan duduklah.”

Kedua orang itu bangun dan ketika pandangan mata mereka bertemu dengan Lian Hwa, mereka memandang guru mereka dengan mata mengandung pertanyaan, tapi mulut mereka diam saja tidak berani bertanya.

“Ini adalah aku punya sumoi, maka kalian masih terhitung sutit (murid keponakan) dari sumoi ini!”

Mendengar ini, kedua orang itu membuka mata lebar-lebar dengan penuh keheranan, tapi karena keterangan guru mereka itu, terpaksa menjura kepada Lian Hwa. Karena untuk berlutut mereka sungguh merasa tidak pantas, melihat “bibi guru”, mereka itu tak lebih baru berusia enambelas tahun!

Lian Hwa cepat-cepat balas menjura dan berkata sambil tersenyum, “Jiwi (kalian) janganlah menggunakan terlampau banyak peradatan, karena kita toh orang sendiri. Juga tak perlu kiranya memanggil aku dengan sebutan bibi guru segala, karena kalian jauh lebih tua dariku. Tentu hal ini akan sangat terasa janggal dan memalukan bagi jiwi.”

Hwat Khong pun tertawa, “Sumoi, ini adalah muridku pertama bernama Can Lun, dan ini murid kedua bernama Bwee Liong. Mereka membuka piauw-tiam (kantor ekspedisi) di Kwi-ciu.”

“Ah baru kutahu bahwa suheng juga mempunyai murid-murid. Masih ada lagikah muridmu, suheng?”

“Masih ada seorang lagi murid perempuan bernama Siu Loan ialah puteri seorang cong-tok (Pembesar) di Kwi-ciu juga.” Kemudian ia memperkenalkan Lian Hwa kepada muridnya. “Sukou (bibi guru) kalian ini adalah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa!” Tapi nama ini sama sekali mereka belum pernah mendengarnya.

“Kalau begitu aku akan memanggilmu saudara Can dan saudara Bwee saja dan jiwipun tak perlu menyebut bibi, sebut saja siauw-moi (adik) atau apa saja.”

“Rasanya tak pantas kalau saya menyebut siauw-moi, baiklah kusebut lihiap saja,” kata Bwee Liong. “Nah, cukuplah segala macam sebutan ini,” mencela Hwat Khong. “Tidak biasa kalian datang pada waktu begini. Ada keperluan apakah sebenarnya kedatangan kalian ini?”

“Teecu (murid) berdua datang, pertama untuk mengunjungi suhu karena sudah lama tidak menghadap, dan kedua teecu membawa surat undangan untuk suhu dari Ciauw Bun Liok lo-enghiong (pendekar tua) yang hendak merayakan ulang tahunnya yang ke limapuluh.” Can Lun berkata sambil menyerahkan sepucuk surat undangan.

Hwat Khong menerima surat itu dan membaca, lalu berkata sambil tertawa gembira. “Bagus, bagus. Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas (Kim-jiauw-eng) itu masih ingat kepada lohu yang tak ternama, Can Lun, engkau dan sute (adik seperguruan)mu Bwee Liong boleh mewakili aku pergi mengunjunginya dan antarkan suratku menghaturkan selamat.”

Tiba-tiba Han Lian Hwa berkata memohon, “Suheng, bolehkah aku saja mengantarkan surat itu?”

Hwat Kong berpaling memandang sumoinya, lalu tertawa, “Hem, baik juga kalau kita pergi bersama agar kau dapat bertemu muka dengan para jagoan di kalangan kang-ouw. Can Lun, biarlah kauantar saja sumbanganku dan katakan bahwa aku akan datang pada waktunya bersama seorang sumoiku.”

Kedua murid itu berdiam di kelenteng gurunya selama tiga hari dan kemudian mereka kembali dengan membawa sepucuk surat pernyataan selamat berikut sumbangan berupa sebuah kotak kecil kuno terbuat dari kayu hitam berukiran liong (naga) yang indah dan terisi sebuah kartu merah bertulisan nama Hwat Kong dan sumoinya.

Setengah bulan kemudian, Hwat Khong Hwesio mengajak sumoinya berangkat menuju ke kota Siang- kiu di Propinsi Holam, tempat kediaman Kim-jiauw-eng Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas. Karena perjalanan itu jauh dan melalui hutan-hutan, sedangkan pada masa itu keadaannya di sepanjang jalan tidak aman, maka Hwat Kong Hwesio membawa senjatanya berupa sebatang tongkat besi yang berat, Han Lian Hwa juga membawa pedangnya Siang-liong-kiam yang digantungkan di pinggang.

Mereka berdua sengaja berjalan kaki karena Hwat Khong memang ingin menunjukkan tempat-tempat yang mereka lalui untuk menambah pengalaman sumoinya. Lian Hwa bukan main senangnya melakukan perjalanan kali ini karena dengan dikawani suhengnya ia bisa mendapat penerangan- penerangan jelas tentang segala yang dilihatnya.

Mereka berjalan selama lima hari melalui beberapa buah kota yang menarik hati Lian Hwa. Gadis ini mengagumi bangunan rumah-rumah yang besar dan indah di sepanjang jalan. Tentu saja di sepanjang jalan pasangan ini tak luput dari perhatian orang.

Hwat Khong bertubuh tinggi besar berwajah angker dan agung dengan sinar matanya yang terang. Lian Hwa merupakan seorang gadis yang cantik jelita, berpakaian ringkas warna merah muda dan di atas rambutnya yang hitam gombyok itu terhias sebuah bunga teratai emas tertabur ukiran naga dengan ronce-ronce merah membuat ia tampak gagah sekali. Tiap orang bertemu dengan mereka pasti menganggap bahwa nona itu tentu murid si hwesio! Pada hari ke enam mereka tiba di kota Siang-siu. Hwat Khong pernah datang ke kota itu, maka ia tidak asing lagi dengan jalan di kota itu. Ia memilih hotel “Lian An” sebagai tempat bermalam dan menyewa dua kamar.

Keesokan harinya pagi-pagi Hwat Khong dan sumoinya berangkat menuju ke rumah Ciauw Bun Liok yang terletak di jalan sebelah barat.

Kim-jiauw-eng Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas adalah seorang gagah yang disegani orang, karena selain berkepandaian tinggi juga terkenal seorang jujur yang menjunjung tinggi persahabatan di kalangan rimba persilatan.

Ia terkenal dengan ilmu silatnya Kim-jiauw-kun (Ilmu Silat Garuda Emas) dan juga Kim-jiauw-kiam- hoat (Ilmu Pedang Garuda Emas), ilmu silat keturunan keluarga Ciauw yang ditakuti lawan dan dikagumi kawan. Terutama ilmu pedangnya yang dimainkan dengan siang-kiam (pedang sepasang) sangat terkenal kelihaiannya.

Karena memang sejak beberapa keturunan keluarga Ciauw adalah pedagang besar dan menjadi keluarga yang kaya, maka tak heran kalau rumah keluarga Ciauw merupakan gedung besar dan luas yang sangat mentereng. Di halaman belakang gedung itu terdapat taman bunga yang luas dan di tengah-tengahnya dibangun sebuah ruangan tempat bermain silat di mana terdapat delapanbelas macam senjata tajam bermacam-macam ukuran.

Di situlah Ciauw Bun Liok menurunkan ilmu silatnya kepada kedua puteranya yang bernama Lin Eng dan Lin Houw, masing-masing berusia duapuluh tiga dan duapuluh enam tahun. Selain ilmu keturunan Kim-jiauw-kiam-hoat dan Kim-jiauw-kun, Ciauw Bun Liok pun pandai menggunakan delapanbelas macam senjata kaum persilatan.

Pada hari itu, taman bunga gedung keluarga Ciauw penuh dengan tamu-tamu yang duduk mengelilingi meja, kurang lebih ada seratus orang tamu berkumpul di situ. Mereka sengaja datang dari berbagai tempat untuk ikut memberi hormat dan merayakan hari ulang tahun ke limapuluh dari Ciauw-lo-enghiong.

Tamu-tamu itu seperti orang perantauan, ada yang seperti pendeta, pelajar dan banyak pula yang lagaknya seperti seorang pendekar silat. Ada juga beberapa orang wanita yang menggantung pedangnya di pinggang atau di belakang pungung. Tapi rata-rata mereka adalah ahli-ahli silat terkemuka.

Di antara mereka yang kebanyakan adalah orang kang-ouw biasa dan berkepandaian cukupan saja, terdapat juga Liok-chiu-sin-houw Bin Goan si Harimau Sakti Tangan Enam, Hak-san-taihiap Ong Kwie si Pendekar dari Hak-san dan Kong Sin Ek yang dijuluki orang si Dewa Arak atau Ciu-sian. Mereka bertiga ini telah menjagoi di kalangan kang-ouw dan jarang menemukan tandingan. Juga di situ hadir pula wakil-wakil dari cabang Siauw-lim-si ialah Beng Sun Hosiang dan Tiat Lui In dari cabang Go-bi, pula terdapat ketua Hoa-san-pai yakni Pek Siong Tosu dan dua orang muridnya.

Para ahli yang telah berusia lebih dari setengah abad itu mendapat tempat kehormatan. Kemudian datang Hwat Khong Hwesio dan Han Lian Hwa. Ciauw Bun Liok sendiri keluar menyambut Hwat Khong yang menjadi kawan baiknya di waktu muda. Ketika mereka berjumpa dan saling memberi hormat dengan gembira, Ciauw Bun Liok hanya mengangguk untuk membalas penghormatan Lian Hwa.

“Selamat bertemu, sahabatku yang baik, mana sumoimu yang kaukatakan akan ikut datang itu?” tanya Ciauw Bun Liok sambil memegang lengan Hwat Khong.

Hwat Khong tersenyum menjawab, “Ha, Ciauw-taihiap, jangan kau orang tua mentertawakan pinceng. Sumoiku ialah nona ini yang bernama Han Lian Hwa.”

Bukan main herannya Ciauw Bun Liok mendengar ini, karena tadi ia sangka bahwa nona muda yang elok itu adalah murid kawannya. Segera ia menjura dengan hormat, “Maafkan, maafkan, lohu sudah terlalu tua hingga tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata. Silakan masuk, Lihiap.”

Han Lian Hwa membalas hormatnya dan berkata manis, “Jangan sungkan-sungkan siok-hu (paman).”

Ciauw Bun Liok lalu membimbing tangan Hwat Khong dan ditempatkan di bagian tempat terhormat dan menjadi satu dengan enam orang tua tersebut di atas.

Di antara para tamu banyak yang sudah mengenal nama dan pribadi Hwat Khong hwesio, maka mereka merasa sudah sepatutnya hwesio kosen itu diberi tempat terhormat. Tapi gadis muda yang lemah lembut itu mengapa juga diberi tempat terhormat? Gadis itu paling hebat juga murid Hwat Khong. Maka banyak diantara kaum muda yang merasa iri hati dan menganggap Ciauw Lo-enghiong telah berlaku menjilat dan kurang adil.

Setelah semua tamu lengkap jumlahnya kecuali beberapa orang yang tak dapat datang, Ciauw Bun Liok berdiri di tengah-tengah ruangan itu sambil mengangkat tangan memberi hormat ke sekeliling, kemudian membuat sambutan singkat.

“Para cianpwe (sebutan menghormat kepada golongan tua) yang terhormat dan sekalian enghiong dan saudara yang terhormat. Saya menghaturkan beribu terima kasih atas kunjungan yang menyatakan kecintaan hati saudara sekalian kepada saya yang rendah. Semoga Thian (Tuhan) saja yang akan membalas kebaikan hati ini. Dan maafkanlah kiranya jika perjamuan ini kurang lengkap.”

Kemudian pesta dimulai dengan ramai dan gembira. Sementara itu Hwat Khong dengan perlahan memperkenalkan para cabang atas yang hadir di situ kepada Lian Hwa.

Tiba-tiba, di tengah-tengah pesta, seorang yang duduk di bagian para muda berdiri mengajukan usul, yakni untuk menghormat tuan rumah dan untuk menambah pengetahuan yang muda, dimohon dengan hormat agar para cianpwe dan ahli yang duduk di tempat terhormat suka memberi sedikit pertunjukan ilmu silat. Usul ini disambut oleh semua hadirin dengan tepuk tangan yang riang gembira. Sudah tentu para jago tua itu merendahkan diri dan mengajukan keberatan, tapi karena permintaan itu disokong oleh seratus mulut, maka terpaksa Ciauw Bun Liok berdiri dan berkata kepada para jago tua. “Cuwi, saya mohon dengan hormat sudilah kiranya cuwi berbaik hati dan meluluskan permohonan mereka itu, hitung-hitung membantu saya yang tidak mempunyai apa-apa untuk menggembirakan hati para hadirin yang mulia.”

Ciu-sian Kong Sin Ek si Dewa Arak tertawa, “Ha, Ciauw-heng pandai memancing orang. Baiklah, aku terima permintaan ini tapi harus ada syaratnya, yaitu engkau sendiri harus membuka pertunjukan ini, bagaimana?”

Ciauw Bun Liok mengangkat alis dan pundak. “Ini namanya terjeblos lobang sendiri,” katanya tertawa, “Tapi apa boleh buat, untuk menghormat tamu aku harus capekkan tulangku yang tua ini.”

Lalu dengan suara keras ia memberi tahu kepada semua tamu bahwa pertunjukan akan dibuka dan ia sendiri yang pertama kali akan memulai. Lain-lain jago tua terpaksa meluluskan juga. Karena ruang berlatih silat yang merupakan panggung segi empat lebar itu berada di tengah-tengah taman bunga, maka tak perlu diadakan persiapan lagi.

Ketika Ciauw Bun Liok hendak mulai bersilat, tiba-tiba dari luar mendatangi serombongan tamu baru. Yang jalan terdepan adalah seorang berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan tindakan kakinya tetap, kelihatannya angkuh sekali.

Begitu masuk, ia berkata keras, “Ya, pantas saja Ciauw Lo-enghiong melupakan kami, kiranya sedang sibuk sekali.”

Semua orang menengok dan Ciauw Bun Liok memandang agak tidak senang tapi terpaksa ia meloncat turun dari panggung dan menyambut mereka, “Maafkan saya orang tua yang menyambut agak terlambat. Silakan.”

Ia lalu membawa mereka berempat ke ruangan itu, tapi karena tempat yang disediakan olehnya untuk para locianpwe golongan tua sudah penuh, terpaksa mereka berempat diberi tempat yang sama dengan tamu-tamu lainnya.

Banyak tamu terperanjat ketika melihat mereka, karena mengenal bahwa keempat orang itu adalah San-ciu Si-houw atau Empat Harimau dari San-ciu bernama Bu Houw, Tiat Houw, Cin Houw, dan Ban Houw. Mereka ini sangat terkenal dan belakangan ini nama mereka menjulang tinggi karena keempat orang ini mempunyai kepandaian yang istimewa dan lihai. Bahkan dikabarkan orang bahwa mereka ini beberapa kali telah melabrak jago-jago dari cabang Go-bi, hingga Tiat Hui In yang kini berada pula di situ diam-diam mengerutkan kening.

Ketika mendengar bahwa para locianpwe hendak memperlihatkan kepandaian mereka, Bu Houw harimau tertua segera tertawa bergelak-gelak dan ketiga saudaranya bertepuk tangan.

“Bagus, bagus. Alangkah baiknya, kami paling senang melihat orang bersilat,” kata mereka dengan lagak menjemukan tapi tak seorangpun berani memperlihatkan perasaan tak senangnya.

Setelah menuang arak dan menawarkan hidangan untuk tamu-tamu baru itu Ciauw Bun Liok kembali ke atas panggung dan setelah mengangguk dan menjura ke  sekeliling ia mulai bersilat pedang. Ternyata gerakannya sangat gesit dan siang-kiam (pedang pasangan) yang ia mainkan bergerak-gerak merupakan gulungan dua sinar putih melindungi tubuhnya.

Sehabis bersilat semua orang memuji dan San-ciu Si-houw empat kakak beradik itu bertepuk-tepuk dan berseru, “Bagus. Bagus.” Lagak mereka seperti anak kecil, terang bahwa mereka sengaja berlagak demikian untuk menarik perhatian.

Han Lian Hwa yang duduk di dekat suhengnya merasa sangat gemas melihat mereka, terutama melihat Ban Houw si Harimau Bungsu itu sejak tadi dengan secara menyolok dan terang-terangan selalu memandang padanya bahkan mengajak tertawa.

Kemudian Sin Ek si Dewa Arak mempertunjukkan keahliannya yang lihai juga. Setelah meneguk habis seguci kecil arak, ia berloncat ke atas panggung dan melepaskan jubahnya. Lalu dengan kain jubah itu ia bersilat. Tapi sungguhpun hanya kain, di dalam tangan si Dewa Arak itu merupakan senjata yang tak boleh dipandang ringan. Di waktu menggunakan tenaga kasar, jubah itu menyambar kaku merupakan toya (pentungan) besi dan di waktu ia menggunakan tenaga lemas, jubah itu seakan-akan ular yang dapat melibat senjata tajam.

Tentu saja permainannya ini mendapat sambutan hebat karena mereka maklum akan kelihaiannya orang tua yang brewokan ini. Bahkan Hwat Khong Hwesio mau tak mau memuji dan menyatakan kagumnya.

Berturut-turut Bin Goan si Harimau Sakti Tangan Enam memperlihatkan keahliannya bersilat Ta- houw-ciang, Ong Kwie si Pendekar dari Hak-san mempertunjukkan permainan silat dengan joan-pian (ruyung lemas) yang membuat ia terkenal duapuluh tahun lebih di kalangan kang-ouw, kemudian ketua Hoa-san-pai Pek Siong Tosu bersilat tangan kosong dikeroyok dua orang muridnya yang bersenjata pedang.

Beng Sun Hosiang wakil Siauw-lim-si terpaksa pula bersilat tangan kosong. Gerakannya kuat pukulan kedua lengannya mendatangkan angin, menandakan tenaga yang besar.

Kemudian Ciauw Bun Liok menghampiri Hwat Khong dan sambil tertawa berkata, “Nah, kaupun tak terluput harus membantuku, sahabat baik. Perlihatkan Tiat-mo-pang (Toya Ular Besi) ilmumu yang lihai itu!”

“Ah, engkau bikin pinceng malu saja. Ciauw-taihiap, baiklah pinceng main-main sebentar, tapi perkenankanlah pinceng bersilat dengan sumoiku ini agar lebih menarik kelihatannya.”

Hwat Khong sengaja berbuat ini agar nanti Lian Hwa tak usah bersilat seorang diri lagi, karena iapun maklum bahwa di antara sekian banyak tamu ada yang memperlihatkan pandangan kurang ajar pada sumoinya, sehingga jika sekarang sudah bersilat dengan ia, maka sumoi itu tak perlu lagi mempertontonkan dirinya.

Ciauw-lo-enghiong meluluskan dengan gembira, hanya para lo-cianpwe yang duduk dekat mereka menjadi heran mendengar hwesio itu menyebut sumoi kepada Lian Hwa. Kini mereka memandang gadis itu dengan penuh perhatian. Hwat Khong mempersilakan sumoinya mencabut pedang. Ketika pedang Sian-liong-kiam dicabut, para jngo tua diam-diam mengangguk kagum melihat cahaya kehijau-hijauan yang keluar dari mata pedang itu. Hwat Khong sendiri lalu menyeret tongkatnya dan mereka mulai bersilat.

Ternyata permainan itu berat sebelah, karena yang tampak menyerang hanya Hwat Khong saja, sedangkan Lian Hwa hanya berkelit ke sana ke mari menghindari sambaran tongkat suhengnya. Gadis itu tahu bahwa tongkat suhengnya tentu akan tertabas buntung jika beradu dengan mata pedangnya, maka dalam menangkis serangan ia selalu menggunakan muka pedangnya, bukan bagian tajamnya. Tapi ia selalu berlaku lambat untuk memberi muka kepada suhengnya yang sudah ternama itu. Dengan demikian, maka di mata sebagian besar para tamu Lian Hwa agaknya terdesak sekali.

Setelah mereka berhenti main silat, semua orang memuji kepandaiannya Hwat Khong yang memang lihai ilmu toyanya. Pada Lian Hwa, semua orang tak pandang sebelah mata, karena sebagian besar dari mereka menganggap bahwa gadis itu hanya murid Hwat Khong.

Kini tiba giliran Tiat Lui In dari cabang Go-bi yang diminta mempertunjukkan kepandaiannya. Orang tua berbaju putih itu dengan merendah terpaksa meloncat ke atas panggung. Tapi sebelum ia bersilat, tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu Tiat Houw yang berpakaian hitam berada pula di atas panggung dan menjura di hadapan Tiat Lui In.

Di antara keempat saudara Houw itu, Tiat Houw terkenal paling kejam dan berangasan. Sejak tadi ketika melihat seorang wakil Go-bi berada di situ, ia telah menahan-nahan ketidaksenangan hatinya. melihat Tiat Lui In mendapat ketika untuk memperlihatkan kemahirannya, ia tak dapat menahan sabar lagi dan segera meloncat ke atas pangung.

“Locianpwe maafkan saya yang muda. Melihat bahwa permainan silat pasangan lebih ramai dan menarik dari pada kalau bersilat sendirian, maka ijinkanlah saja menemani locianpwe untuk main- main,” katanya dengan suara dibikin-bikin merendah dan sopan, tapi mengandung tantangan pedas.

Ciauw Bun Liok merasa sangat tidak senang melihat gangguan ini, maka ia segera menghampiri mereka. Pada saat itu Tiat Lui In dengan sabar tersenyum menjawab.

“Congsu (orang gagah), mana lohu berani main-main dengan orang muda yang masih kuat?”

“Jangan begitu locianpwe, sebenarnya aku Tiat Houw telah sering bertemu dan mengukur kepandaian dengan beberapa orang yang mengaku murid Go-bi, tapi mereka semua itu hanya orang- orang tak berarti. Aku rasa mereka itu hanya Gobi-gobian dan palsu belaka, maka kini setelah di sini terdapat seorang ahli yang asli dari Go-bi, bagaimana aku dapat menyia-nyiakan kesempatan untuk membuktikan kelihaian cabangnya?”

“Tiat Houw-hiante, saya harap kau suka mengalah dan membiarkan Tiat Lui In lo-enghiong, bersilat seorang diri. Nanti sesudah dia, barulah engkau memperlihatkan pula kepandaianmu untuk kita lihat,” membujuk Ciauw Bun Liok.

“Jangan bikin aku kecewa karena melepaskan kesempatan baik ini, Ciauw lo-enghiong. Dan apa salahnya main-main berdua, jika Tiat locianpwe tidak menolak permintaanku?” jawab Tiat Houw tak senang. “Biarkanlah, Ciauw Bun Liok. Biar aku yang tua melayani orang muda ini kalau ia mendesak.”

Tapi Ciauw Bun Liok melihat gelagat tidak baik dan maklum akan adanya kebencian diantara keempat Harimau dan partai Go-bi, tetap pada pendiriannya melarang kedua orang itu bertanding, biarpun hanya secara “main-main”. Tiat Lui In merasa tidak baik memaksa dan terpaksa mundur sambil berkata kepada Tiat Houw.

“Maaf, bukannya aku si orang tua kurang sopan tidak mau melayani yang muda, tapi sebagai tamu aku harus tunduk kepada tuan rumah.” Ia menjura dan kembali ke tempat duduknya.

Tiat Houw menjadi kurang senang kepada Ciauw Bun Liok.

“Ciauw lo-enghiong, akupun terpaksa membatalkan niatku mohon pengajaran dari Tiat lo-enghiong. Maka kini harap kau orang tua sudi meluluskan permintaanku ini, yaitu harap kau suka memberi pelajaran sejurus dua jurus kepadaku. Tadi aku sudah menyaksikan kelihaian ilmu silatmu. Bagaimana, Ciauw lo-enghiong, suka kau bermurah hati dan mengajarku?”

Sungguh orang tak tahu diri, pikir Ciauw Bun Liok, tapi terpaksa ia tersenyum juga dan menjawab, “Kalau congsu tidak merasa rendah bermain-main denganku, marilah kulayani!”

Tadi ia menyebut hiante yang lebih ramah dari pada sebutan congsu, untuk menyatakan kemendongkolan hatinya. Tapi Tiat Hauw tidak merasa akan pergantian sebutan dan perobahan sikap tuan rumah atau memang sengaja ia berlaku nekat terdorong kesombongannya.

Mereka berdua siap untuk menguji kepandaian masing-masing, tapi pada saat itu Ciauw toa-kongcu putera pertama dari keluarga Ciauw meloncat di antara mereka sambil membentak. “Orang tak tahu adat, mengapa kau hendak mengacau tempat kami?” Dan pada ayahnya ia berkata, “Ayah, hari ini adalah hari baikmu, jangan ayah capekan hati melayani orang-orang kurang ajar. Biarlah anak mencobanya.”

Tanpa banyak cakap pula ia menjotos ke arah Tiat Houw dengan tipu Pai-san-to-hai (Menolak Gunung Menguruk Laut) sebuah pukulan yang sangat berbahaya.

“Bagus,” teriak Tiat Houw dengan suara menyindir sambil mengelak pukulan lawan menggunakan lengannya menyampok tangan kiri lawan. Ciauw-kongcu merasa dorongan sampokan itu keras sekali hingga ia terhuyung ke belakang. Tahulah ia bahwa tenaga lawan hebat sekali. Tapi ia tidak takut bahkan maju pula menyerang dengan hebat.

Baru beberapa jurus saja terlihatlah sudah bahwa Tiat Houw jauh lebih kuat. Ketika lawannya memukul ke arah pinggangnya dari samping, ia memutar tubuh secepat kilat menangkap tangan lawannya dan menarik ke belakang. Tubuh Ciauw-kongcu mendoyong ke depan dan pada saat itu kaki Tiat Houw melayang, tepat mengenai dada lawannya.

Dengan hati cemas dan marah, Ciauw Bun Liok melihat betapa anaknya roboh sambil muntahkan darah terus pingsan. Beberapa orang pelayan buru-buru menghampiri Ciauw-kongcu dan mengangkatnya ke dalam rumah. Ciauw Bun Liok tak dapat menahan pula marahnya. Ia meloncat ke atas panggung menghadapi Tiat Houw.

“Orang kurang ajar. Sungguh kau sombong sekali. Tak kusangka kedatanganmu, di sini sengaja membuat kacau. Engkau bukan hanya main-main memperlihatkan ilmu silat, bahkan telah berani melukai puteraku secara keji. Nah, jangan sesalkan kalau aku menghajar adat padamu!”

Orang tua itu siap untuk menyerang tapi pada saat itu seorang perempuan dengan gerakan indah melayang ke atas gelanggang. Ia adalah Han Lian Hwa yang mendapat perkenan suhengnya untuk mewakili tuan rumah.

Lian Hwa menjura kepada Ciauw Bun Liok dan berkata, “Maafkan aku, Ciauw-siokhu. Engkau adalah golongan cianpwee orang tua yang pantas dihormati. Kurasa tidak pantas kalau siok-hu melayani orang muda seperti Tiat Houw enghiong ini. Biarkanlah aku yang muda mewakilimu.”

Ciauw Bun Liok berdiri bingung dan bimbang, tapi ketika ia melirik ke arah Hwat Khong, hwesio ini mengangguk-angguk dan berkedip mata. Terpaksa ia mundur dengan hati khawatir.

“Nah, Harimau Besi (Tiat Houw) engkau mau main-main cara bagaimana? Tangan kosong atau bersenjata?” dengan langsung Lian Hwa menantang.

Tiat Houw agak bingung juga melihat tiba-tiba Ciauw Bun Liok diganti oleh nona cantik ini. Sebelum ia menjawab, tiba-tiba dari belakangnya meloncat seorang yang ternyata bukan lain adalah Ban Houw, harimau termuda.

Sejak tadi Ban Houw kagum melihat kecantikan Lian Hwa yang seakan-akan bunga teratai merah muda baru mekar, dan ia sudah melihat pula bahwa kepandaian silat gadis itu tak berapa tinggi, ternyata dari gerakannya ketika bersilat melawan Hwat Khong Hwesio tadi. Maka kini melihat gadis itu masuk ke gelanggang menggantikan tuan rumah, ia menjadi gembira dan meloncat pula menyusul kakaknya.

“Ji-ko (kakak kedua)! Biarkan aku main-main dengan perempuan ini!” Tiat Houw tersenyum dan meloncat turun. Kata-kata yang diucapkan Ban Houw itu sungguh kurang ajar, maka para jago tua yang berada di situ mendengar dengan wajah merah.

Bahkan Hwat Khong Hwesio yang biasanya sangat sabar, mengertak gigi karena marah.

“Eh, eh! Ini harimau kecil berani unjuk gigi! Engkau mau main-main dengan aku? Boleh, boleh, nonamu sudah siap,” Lian Hwa mengejek.

Dengan senyum aksi dibuat-buat Ban Houw mulai dengan serangannya. Tangan kanannya menyambar ke pundak Lian Hwa untuk dicengkeram. Ketika gadis itu berkelit, tangan kirinya menyelonong ke depan menyambar pinggang gadis itu.

Lian Hwa mengeluarkan suara mengejek dan meloncat ke samping sambil mengirim tendangan hebat! Gerakan berkelit sambil menyerang ini sangat sukar dilakukan dan sukar pula diduga hingga Ban Houw terkejut bukan main. Untungnya ia masih dapat memutar tangan kanannya ke bawah untuk menangkap kaki Lian Hwa yang menendang.

Tak tahunya, tendangan itu biarpun datangnya begitu cepat, tiba-tiba saja bisa ditarik pulang dan sebelum tahu bagaimana terjadinya, Ban Houw merasa tiba-tiba telinga kirinya panas dan matanya berkunang-kunang!

Terdengar suara ketawa di sana sini karena baru dua jurus saja gadis itu telah dapat menggunakan tangannya menempiling kepala lawan yang mengenakan telinganya. Tamparan di telinga itu menerbitkan suara “plok” yang keras hingga nampaknya lucu.

Ban Houw menjadi marah. Ia tadinya tidak menyerang sungguh-sungguh karena tidak mau melukai nona cantik itu, tapi kini tamparan yang memanaskan telinga dan hati itu membuat ia mata gelap. Dengan geraman buas ia menubruk dengan tipu Siok-lui-ting (Petir Menyambar di Atas Kepala), tapi Lian Hwa sambil tertawa kecil melompat ke belakang dengan gerakan Kim-lee-coan-po (Ikan Gabus Menerjang Ombak).

Dua kali Ban Houw menubruk, tapi dua kali pula gadis itu melompat dengan gerakan indah. Dalam murkanya Ban Houw lalu mengeluarkan ilmu silatnya Pat-kwa-kun dan menyerang dengan maksud membunuh. Tapi ternyata gadis itu mengenal ilmu silatnya dengan baik. Beberapa kali Ban Houw kena ditendang, ditampar dan diejek. Setelah berlangsung hampir tiga puluh jurus, tiba-tiba Lian Hwa membentak.

“Pergilah kau!” dan sebelum ia mengerti musuh menggunakan gerakan bagaimana, tahu-tahu Ban Houw terlempar ke udara dan jatuh di luar kalangan. Untung tubuhnya kuat dan lemparan itu memang bukan dimaksud untuk membanting keras, hingga ia tidak mendapat luka berat.

Ketika tadi Lian Hwa berkelit ke sana ke mari, jago tua diam-diam memuji kelincahan gadis itu dan mereka mengenal tipu-tipu silat yang digunakan gadis itu. Tapi gerakan melempar Ban Houw keluar panggung tadi sungguh membuat mereka heran. Tak seorangpun di antara mereka pernah melihat gerakan itu.

Gerakan itu seperti gerakan Cio-po-thian-keng (Batu Meledak Langit Gempur) sebuah tipu gerakan ilmu silat cabang Kun-lun-pai tapi agak berbeda dan jauh lebih sukar dilakukan karena ketika melempar, gadis itu mengangkat kaki kirinya ke atas. Apakah itu kebetulan saja?

Ban Houw yang kena dilempar merasa penasaran dan malu, tapi ia tidak kapok. Ia meloncat kembali ke panggung setelah mengambil sebatang pedang dari kakaknya.

Lian Hwa berdiri bertolak pinggang memandang lawannya dengan senyum manis, “Eh, eh, bocah ini masih berani kembali ke sini? Lho, kau bawa-bawa pedang buat apa? Buat menakut-nakuti aku? Hati- hati, jangan main pedang nanti tanganmu sendiri terluka!”

Ejekan ini sungguh hebat. Ban Houw memandang dengan mata mendelik, lalu tanpa ingat keadaan ia memaki, “Perempuan busuk, kalau engkau ada kepandaian ambillah senjatamu!” “Hem, anak tak tahu diri. Sudah dihajar masih belum kapok. Kaukira kepandaianmu itu sudah cukup untuk dipakai melagak? Haya! Seperti katak dalam tempurung saja. Untuk menghadapi pedangmu yang hanya pantas dipakai dalam dapur itu tak perlu nonamu ambil senjata. Hayo, seranglah!!”

“Perempuan sombong. Jangan jadi setan penasaran kalau kepalamu menggelinding di lantai ini!” Lalu ia menyerang dengan ganas. Lian Hwa miringkan tubuhnya dan pedang menyambar di sisi tubuhnya berbunyi “sing” karena kerasnya sabetan.

Ban Houw yang melihat serangannya dikelit demikian mudah menjadi penasaran dan makin marah. Dikirimnya serangan bertubi-tubi dan pedangnya bergerak bagaikan gulungan asap berpancaran ke sana sini. Tapi Lian Hwa dengan enak saja mengandalkan ginkangnya yang luar biasa, bergerak menyusup sana sini di antara sambaran mata pedang.

Baru sekarang para tamu tahu akan kelihaian gadis yang mereka tadinya tak pandang sebelah mata itu. Bahkan Ciauw lo-enghiong yang duduk di dekat Hwat Khong tanpa terasa memegang lengan tangan kawannya itu dan meremas-remasnya. Untung Hwat Khong bukan orang sembarangan, kalau tidak pasti lengan itu akan menjadi matang biru. Mulut orang tua itu ternganga dan akhirnya ia menghela napas berulang-ulang sambil menyebut,

“Ya Tuhan! Pantas saja ia menjadi sumoimu, tak tahunya ia demikian lihai.” Hwat Khong merasa girang mendengar pujian itu dan tersenyum lebar.

Keadaan sangat tegang karena kini tubuh Lian Hwa tak tampak lagi, hanya ikat pinggangnya yang berwarna merah berkibar-kibar di antara sinar pedang.

Lian Hwa merasa sudah cukup mempermainkan lawannya yang kini mulai berkeringat dan lelah. Ketika Ban Houw menyerang dengan nekat, yakni dengan tipu Angin Selatan Menghembus, sebuah tipu yang hanya dilakukan oleh orang nekat yaitu pedang di tangan kanan menusuk dada dan tangan kiri berbareng mencengkeram ke arah kepala lawan, Lian Hwa berayal menantikan datangnya, ia berjongkok menghindarkan pedang dan tangan kiri yang mencengkeram, lalu secepat kilat ia tangkap pergelangan lengan yang memegang pedang dan mendorong pedang itu ke arah tangan kiri penyerangnya.

Terdengar teriakan ngeri dan Ban Houw melepaskan pedangnya lalu terhuyung-huyung sambil memegang tangan kirinya yang berdarah. Ternyata dua buah jari tangannya telah terpotong oleh pedang sendiri.

“Nah, nah, nah! Apa kataku tadi? Kau main-main dengan pedang, sekarang tanganmu sendiri terpotong!” Lian Hwa mengejek.

“Bangsat perempuan sungguh kejam! Lihat pedang!” Seruan ini dibarengi berkelebatnya sebilah pedang yang menyambar ke arah leher Lian Hwa yang masih berdiri tertawa-tawa. Dengan gerakan manis Lian Hwa menghindarkan diri dari sabetan sambil meloncat mundur.

“Ah, kiranya macan tua menuntut balas. Bu Houw enghiong, apakah pandanganmu juga sepicik adikmu yang kecil itu? Kau seorang kang-ouw ternama dan tersohor gagah. Apakah kau tak dapat melihat kesalahan adikmu sendiri bahkan mau menambah kesalahan itu? Ingat, kawan, waktu ini kita semua hanya menjadi tamu dan untuk menghormat tuan rumah yang terkenal sebagai seorang budiman dan gagah, tidak seharusnya adikmu membikin ribut! Barusan aku sengaja mewakili tuan rumah menghukum adikmu, seharusnya kau sebagai kakaknya berterima kasih padaku!”

“Perempuan sombong, jangan banyak mulut! Sebelum aku balaskan kekalahan adikku, katakanlah dulu siapa kau yang ganas ini.”

“Aku orang biasa saja tidak gagah seperti kalian San-ciu Si-houw Empat Harimau dari San-ciu yang terkenal suka berkelahi dan jarang dikalahkan orang! Aku adalah sumoi dari Hwat Khong suheng namaku Han Lian Hwa atau boleh juga kau ingat agar jangan lupa bahwa aku disebut orang Ang Lian Lihiap!”

“Hm, baru saja keluar kandang sudah menjadi sombong. Baiklah, Ang Lian Lihiap, adikku yang bodoh memang kalah olehmu, tapi jangan kau mencari siasat untuk melepaskan diri dariku. Ambillah senjatamu dan lawanlah aku.”

Ang Lian Lihiap menggeleng-geleng kepala. “Kalau hanya kau sendiri, aku tidak mau melayani.” “Apa maksudmu?” tanya Bu Houw penasaran.

“Kau mau gunakan siasat maju berganti-ganti agar aku menjadi lelah bukan? Aku tidak mau! Kalau memang kau penasaran dan tetap hendak bertempur dengan aku, majulah kamu bertiga. Atau kalau adikmu yang kecil tadi masih kuat, boleh juga berempat. Agar aku dapat membereskan sekaligus. Kalau satu demi satu ogah!”

“Sumoi!” bentak Hwat Khong dengan marah.

Ia tidak senang melihat sumoinya timbul pula kenakalannya hingga terdengarnya seperti sangat sombong. Selain itu khawatir karena sumoinya telah menantang keempat harimau itu maju berbareng! Sedangkan ia maklum bahwa mereka itu sangat lihai. Ia sendiri, kalau satu lawan satu mungkin bisa menang, tapi kalau satu lawan tiga atau empat?

Lian Hwa menengok ke arah suhengnya dan menjura, “Suheng kali ini maafkanlah sumoimu, karena mereka ini menang harus dihajar!” Kemudian ia menghadap keempat penjuru sambil menjura kepada semua tamu, “Cuwi enghiong yang berkumpul di sini tentu telah melihat bahwa yang membikin kacau perjamuan ini adalah keempat harimau San-ciu ini. Maka kini aku yang muda mewakili Ciauw lo- enghiong untuk memberi hajaran kepada mereka, bagaimanakah pikiran cuwi? Aku akan menurut keputusan orang banyak. Haruskah aku turun dari panggung ini ataukah cuwi sekalian setuju?”

Hampir setengahnya para tamu itu menjawab riuh, “Setuju!”

Dengan lagak lucu Lian Hwa mengangkat pundak tanda bo-hwat (tidak berdaya) dan menjura kepada suhengnya sambil tersenyum. Kemudian gadis itu menjura kepada Ciauw Bun Liok,

“Ciauw-siokhu, maafkan aku berlaku kurang ajar dan merampas hakmu menghajar anak-anak nakal ini.” “Perempuan rendah! Kau sungguh sombong! Awas jangan menyesal nanti, kau sendiri yang minta kami bertiga maju berbareng!” bentak Bu Houw dengan marah.

“Siapa menyesal? Jangan khawatir, kalian anak-anak jangankan mau mengalahkan aku, sedangkan kalau bunga teratai di rambutku ini sampai terlepas saja, aku mengaku kalah!”

Panas hati mendengar hinaan ini Tiat Houw dan Cin Houw segera meloncat ke atas panggung sambil mencabut pedang sedangkan Ban Houw yang terpotong jarinya hanya dapat melihat dengan mendongkol. Ia hanya yakin bahwa ketiga kakaknya pasti akan dapat membalas sakit hatinya.

Melihat ketiga jagoan dari San-ciu itu dengan pedang terhunus berdiri di depan dan kanan kiri gadis kecil itu, mau tak mau Hwat Kong merasa dadanya berdebar-debar demikianpun semua orang. Tapi Lian Hwa tetap berdiri tenang bahkan tersenyum-senyum.

“Perempuan rendah, lekas keluarkan senjatamu,” teriak Tiat Houw.

“Ah, senjata kalian terlampau lemah dan empuk untuk melawan pedangku, tapi apa boleh buat, karena kalian yang minta, terpaksa aku menggunakannya.” Sambil berkata demikian Lian Hwa mencabut Sian-liong-kiamnya yang mengeluarkan sinar hijau. “Majulah berbareng!” tantangnya.

Betul saja, tiga harimau itu maju menerjang berbareng, seorang dari depan dua orang dari kanan kiri. Tiba-tiba mata mereka silau ketika Lian Hwa menggerakkan pedangnya ke kanan kiri dan “trang, trang, tring!!”

Bukan main riuh keadaan di situ dan ketiga harimau itupun kaget setengah mati ketika melihat pedang mereka ternyata semuanya terpapas buntung tinggal gagangnya saja.

“Ha, apa kataku tadi? Salahmu sendiri telah minta aku menggunakan pedangku,” kata Lian Hwa dengan tenang lalu menyimpan kembali senjatanya di dalam sarungnya.

“Hebat! Lihai sekali!” demikian seruan terdengar dari kanan kiri.

Lian Hwa tak perdulikan itu semua, lalu meloncat ke arah rak senjata dan mengambil tiga batang pedang dan sebuah sarung pedang dari kulit kerbau. “Maaf, Ciauw lo-enghiong, saya pinjam senjata- senjatamu ini sebentar.” Ia lalu melemparkan ketiga pedang itu ke arah lawan-lawannya yang segera disambut oleh mereka.

Hati ketiga harimau itu sudah menjadi gentar melihat kehebatan pedang gadis itu, tapi kini mereka mendapat pedang baru dan dengan heran melihat gadis itu kini hanya memegang sebatang sarung pedang dari kulit.

“Nah, sekarang majulah kalian! Aku cukup menggunakan sarung ini saja agar pedang-pedangmu takkan buntung lagi! Hati-hati, pedang itu milik tuan rumah, jangan sampai rusak!”

Hebat sekali hinaan ini hingga saking marah dan malunya Bu Houw bertiga menjadi merah mukanya dan Tiat Houw hampir saja menangis. Tapi mereka masih ada harapan karena mustahil kalau mereka bertiga tidak mampu membikin malu atau mencelakakan gadis setan ini. Bu Houw berseru keras dan menyerang dengan tipu-tipu dari gerakan pedang Tian-hong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Kilat dan Angin) sedangkan Tiat Houw dan Cin Houw dari kanan kiri menyerang dengan gerakan ilmu pedang Siang-houw-chut-tong (Sepasang Harimau Keluar Goa). Pedang mereka bertiga menyerang dengan hebat, seorang menusuk dada dari depan, dari kiri membacok leher dan dari kanan menyapu pinggang Lian Hwa.

Terdengar suara ketawa gadis itu dan tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat cepat sehingga sukar dilihat karena ia menggunakan ilmu meringankan tubuh Too-tiam-leng-po-pou yang sudah dipelajari sampai sempurna. Tubuhnya ringan dan gesit, gerakannya cepat dan tak terduga oleh musuh, hingga ketiga musuhnya menjadi kacau penyerangan mereka.

Sarung pedang kulit kerbau itu sungguhpun hanya sebuah benda yang tidak berapa keras, tapi di tangan Lian Hwa merupakan senjata yang bukan tidak berbahaya. Tiap kali kulit itu membentur pedang musuh, musuh merasakan sebuah tenaga besar yang membuat telapak tangan mereka yang memegang pedang merasa kesemutan.

Para jago tua, terhitung juga wakil-wakil dari Siauw-lim-si, cabang Go-bi, dan yang lain, juga Hwat Khong Hwesio, kini benar-benar kagum. Mereka tidak sangka sama sekali bahwa nona semuda itu dapat memiliki kepandaian yang luar biasa ini. Dengan sekaligus pandangan mereka terhadap Hwat Khong jadi naik tinggi sekali. Baru sumoinya saja begini hebat apa pula suhengnya. Demikian pikir mereka.

Sedikitpun mereka tak menyangka bahwa pada saat itu pun sang suheng sendiri terheran-heran melihat kelihaian sumoinya. Hanya Ciauw Bun Liok seorang yang mengerti bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada kepandaian Hwat Khong, karena ia tahu betul sampai di mana batas kepandaian kawannya itu. Maka iapun sangat heran dan tidak mengerti siapakah sebenarnya guru Ang Lian Lihiap itu.

Lebih-lebih para tamu muda, mereka menonton dengan mulut ternganga dan mata terpentang lebar. Mereka tak dapat melihat gadis itu dengan jelas lagi, sudah tentu hati mereka sangat kagum.

Biarpun Lian Hwa telah mendapat pimpinan seorang guru yang luar biasa dan kini memiliki kepandaian yang hampir mencapai puncak kesempurnaan, namun tidak mudah saja baginya untuk menjatuhkan tiga jago dari San-ciu itu dengan cepat, apa pula hanya dengan bersenjatakan sarung pedang dari kulit. Kalau sekiranya ia mempergunakan Siang-liong-kiam, sudah pasti pertempuran itu takkan berjalan lama.

Ketiga harimau dari San-ciu itu benar-benar kosen, lebih-lebih Bu Houw dengan permainannya ilmu silat Pedang Angin. Pedangnya mengeluarkan suara angin menderu-deru, sungguh agak sukar bagi Lian Hwa memecahkannya dan mencari ketika merobohkan lawannya.

Tiba-tiba ia ingat ketika masih tinggal dengan gurunya di atas bukit Kim-ma-san, pada suatu hari dia berjalan-jalan di hutan dan melihat seekor tikus hutan diserang oleh dua ekor anjing hutan. Keadaan tikus itu sangat berbahaya karena lari ke sana ia dicegat anjing pertama, dan lari ke sini dicegat anjing kedua. Kemudian tikus itu diam tidak lari lagi dan berada di tengah-tengah. Ketika kedua anjing itu menubruknya, ia berkelit dan tak ampun lagi dua ekor anjing itu saling bertubrukan. Hal ini terjadi berulang kali hingga lama kelamaan kedua anjing itu saling menggigit dalam tubrukan mereka, lalu akhirnya mereka berdua berkelahi dan tikus lari pergi dengan aman. Hal ini ia ceritakan pada gurunya yang lalu berpikir keras menciptakan gerakan tipu silat untuk melawan pengeroyokan musuh-musuh yang tangguh.

Ingat hal itu Lian Hwa menjadi girang, segera ia menggunakan kelincahannya berloncat ke sana ke sini dan selalu berusaha untuk berada di tengah-tengah kurungan ketiga lawannya itu. Usahanya berhasil baik karena musuhnya, lebih-lebih Tiat Houw dan Cin Houw yang masih bersilat dengan ilmu silat Siang-houw-chut-tong menjadi sangat repot dan kaku. Beberapa kali dua saudara ini saling beradu pedang sendiri karena orang yang diserang di antara mereka tahu-tahu melesat pergi hingga pedang mereka seakan-akan menyerang kawan sendiri.

Lian Hwa tidak menyia-nyiakan waktu baik ini. Selagi musuh masih kacau ia mendesak Cin Houw dengan sarung kulitnya dan pada saat kedua saudara itu sekali lagi hampir saling menusuk, ia melejit ke samping menangkis bacokan Bu Houw dan dengan gerakan Kim-liong-hian-jiauw (Naga Emas Mengulur Kuku) ia menotok iga kiri Cin Houw bagian jalan darah Thian-bu-hiat.

Cin Houw tak keburu berkelit dan tubuhnya menjadi lemas kehilangan tenaga. Pedangnya terlempar dan ia sendiri bagaikan sehelai baju yang terlepas dari sampiran jatuh lemas tak berdaya.

Tiat Houw terkejut sekali dan membarengi menusuk dari arah kiri ke jurusan pinggang Lian Hwa dengan cepat sekali.

Hwat Khong Hwesio berbisik “celaka” karena serangan itu betul-betul berbahaya, lebih-lebih cemasnya ketika si sumoi tidak menjatuhkan diri ke belakang, satu-satunya jalan untuk menghindarkan itu, tapi sumoinya itu bahkan miringkan badan menghadapi serangan itu dengan dada terbuka.

Semua jago tua menahan napas, mereka pikir kali ini Ang Lian Lihiap pasti celaka. Ciauw Bun Liok diam-diam menyiapkan sebuah piauw untuk menolong jika perlu.

Tapi murid Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa biarpun masih muda dan belum berpengalaman, namun ia sangat cerdik. Ia sengaja pentang dadanya agar lawannya mendapat hati dan kurang waspada.

Ketika ujung pedang sudah tinggal satu dim lagi dari dadanya, ia merendah ke kanan hingga pedang itu masuk menyusup di bawah lengannya. Gerakan ini demikian cepat hingga para tamu menyangka pedang itu telah menembus dada gadis cantik itu.

Banyak orang berteriak dan Ciauw-lo-enghiong mengayun tangannya hingga sebuah piauw (senjata rahasia) menyambar ke arah Tiat Houw. Tapi Lian Hwa segera mengayun sarung kulit dari tangannya dan menghantam jatuh piauw yang akan menancap di punggung Tiat Houw itu.

Dalam keadaan berbahaya itu ia masih ingat untuk melindungi nama baik tuan rumah yang menyerang dengan menggelap. Lalu ia mengeraskan kempitannya dan pedang dalam kempitan lengan kirinya itu tak mungkin dicabut pula oleh Tiat Houw. Berbareng itu kakinya melayang. Terdengar suara “Buk” dan tubuh Tiat Houw terpental dua tombak lebih, lalu jatuh bergedebugan ke bawah panggung!

Semua penonton bersorak memuji dengan hati lega. Kembali para jago tua menggeleng-geleng kepala. Gerakan dan tipu silat macam ini belum pernah lihat seumur hidup.

Kejadian ini sangat cepat sekali hingga Bu Houw sendiri tak tahu bagaimana adiknya itu dirobohkan musuh. Ia lalu menyerang pula dengan nekat dan mati-matian.

Kini Lian Hwa hanya menghadapi Bu Houw seorang dengan tangan kosong, karena sarung pedangnya telah dipakai menimpuk piauw dari Ciauw Bun Liok tadi. Ia tidak mau membuang banyak waktu lagi. Tubuhnya melesat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang Bu Houw. Sebelum Bu Houw dapat membalikkan badan, Lian Hwa menggerakkan telunjuknya dan dengan totokan It-ci-san (totokan satu jari) ia menotok ke arah jalan darah “houw-cing-hiat”.

Serangan ini tak mungkin dikelit oleh Bu Houw dan sesaat kemudian saudara tertua dari San-ciu Si- houw ini berdiri kaku dengan pedang masih di tangan. Ia berdiri bagaikan sebuah patung kayu.

Ciauw Bun Liok yang merasa malu atas perbuatannya menyambit dengan piauw tadi, untuk menutup rasa malunya lalu menitahkan orang-orangnya mengambil obat dan mengobati jari Ban Houw dan luka Tiat Houw yang terbanting ke bawah tadi.

Kini ia menghampiri Ang Lian Lihiap sambil menjura menghaturkan terima kasih sambil memohon gadis pendekar itu memulihkan keadaan Cin Houw dan Bu Houw yang tertotok. Sambil tertawa ringan Lian Hwa menotok jalan darah in-thai-hiat kedua lawan itu dan sekejap kemudian kedua orang itu, merintih-rintih, tapi jalan darah mereka normal kembali.

Tanpa pamit, keempat saudara itu ngeloyor pergi setelah Bu Houw berkata bahwa pada suatu hari mereka tentu mencari Ang Lian Lihiap untuk “membalas budi”.

Setelah keempat pengacau itu pergi, pesta diteruskan dengan gembira. Ciauw lo-enghiong dan kedua puteranya Lin Eng dan Lin Houw sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Ang Lian Lihiap sambil memuji-muji tiada habis-habisnya. Juga para locianpwe ikut pula menyatakan kekaguman mereka.

Ketika ditanya siapa gurunya, Hwat Khong Hwesio menerangkan bahwa sumoinya itu adalah murid tunggal dari Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa. Barulah para jago tua itu mengangguk-anggukkan kepala, karena mereka pernah mendengar tentang seorang hiap-kek (orang gagah) yang menjagoi di kalangan kang-ouw dan membuat nama besar, ialah Sian-kiam Koai-jin Ong Lun itu, tapi yang beberapa puluh tahun kemudian lenyap tanpa meninggalkan jejak. Maka berkuranglah keheranan mereka, karena pantas sekali murid tunggal manusia aneh itu demikian lihai. Hanya mereka kagum sekali bahwa gadis yang baru berusia tidak lebih enambelas tahun itu telah dapat mewarisi ilmu silat yang luar biasa itu.

Karena kuatir sumoinya akan menjadi sombong dengan segala puji-pujian itu, Hwat Khong segera memohon maaf kepada tuan rumah berpamit pergi dengan Lian Hwa. Mereka kembali ke hotel “Liang An” dan keesokan harinya mereka kembali ke bukit Bok Lun-san. ?Y?

Sebulan kemudian, setelah menganggap bahwa kini sudah sampai temponya untuk sang sumoi melakukan perjalanan membalaskan sakit hati orang tuanya, Hwat Khong memberi tahu kepada sumoinya bahwa kampung orang tuanya ialah kampung Ban-hok-cun di Kie-ciu. Ia mengijinkan Lian Hwa pergi ke tempat itu, memesan gadis itu supaya berhati-hati dan jangan melupakan segala petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihatnya yang telah diberikan selama gadis itu diam di kelentengnya tiga bulan lebih.

Atas nasihat suhengnya, Han Lian Hwa mengenakan pakaian laki-laki berwarna putih dengan ikat pinggang warna merah darah dan sepatu serta kaus kaki warna kuning. Topinya juga berwarna merah, tapi merah muda. Dengan dandanan begitu ia merupakan seorang siucai (mahasiswa) yang berwajah sangat cakap. Ia membawa pauw-hok (ransel) warna coklat yang berisikan pakaian dan uang serta pedangnya Sian-liong-kiam juga disembunyikan di dalam buntalannya itu.

Setelah berpamit kepada suhengnya yang memesannya dengan teliti agar ia menjaga diri baik-baik dan berhati-hati di sepanjang perjalanan, Ang Lian Lihiap memulai perjalanannya merantau dengan tujuan membalas sakit hati orang tuanya.

Karena telah mendapat petunjuk yang jelas dari suhengnya, ia langsung menuju ke Kie-ciu. Perjalanan ini ia lakukan dengan mengambil jalan besar, tidak seperti suhengnya ketika membawa ia lari dari kampungnya dulu, hingga ia tidak melalui bukit Kim-ma-san, tapi melalui kota-kota besar dan kampung-kampung yang ramai.

Pada suatu hari ia sampai ke sebuah kampung yang terletak di kaki gunung. Kampung itu tampak sunyi dan penduduknya rata-rata berwajah sedih, dan keadaan mereka sangat melarat. Ang Lian Lihiap masuk di kampung itu pada waktu sore, maka ia mengambil keputusan untuk bermalam di situ.

Seorang pelayan dari rumah penginapan Thian-lok menyambutnya dan Lian Hwa melihat pelayan itupun berwajah seperti orang ketakutan dan bingung.

“Kongcu (tuan muda) lekaslah masuk, jangan lama-lama berdiri di luar!” katanya sambil mempersilakan tamunya masuk.

Lian Hwa merasa heran tapi ia bertindak masuk juga.

“Sikapmu ini sungguh aneh, apakah yang terjadi di sini?” tanyanya.

Pelayan itu hanya menggeleng-geleng kepala ketakutan dan pada saat itu pemilik rumah penginapan yang mendengar pertanyaan Lian Hwa segera menghampiri.

“Kongcu, marilah kita ke dalam kalau kau ingin tahu. Agaknya Kongcu orang asing di sini.” Pemilik rumah penginapan yang bernama A Sam itu segera bertindak ke ruang dalam, diikuti oleh Lian Hwa.

“Kongcu, engkau orang baru agaknya engkau keluarga kaya,” katanya sambil menunjuk bunga teratai emas yang menghias dada Lian Hwa. “Ah, kau salah sangka, tuan, barang ini tidak berharga mahal, dan adalah milikku satu-satunya,” jawab Lian Hwa sembarangan.

“Tapi cukup untuk menarik perhatian Iblis Gelandangan!” “Apa katamu?” tanya gadis itu heran.

“Dengar kongcu, aku si tua A Sam bukan pembohong, juga bukan orang penakut, tapi apa yang akan kubicarakan ini sedikitpun tidak bohong. Telah lebih dari tiga bulan kampung ini mendapat gangguan iblis gelandangan yang keluar dari bukit Hek-mo-san (Bukit Iblis Hitam). Beberapa hari sekali pada malam hari ia pasti datang dan mengumpulkan uang yang disediakan oleh penduduk di depan pintu rumah mereka.”

“Sungguh aneh. Mengapa kalian mengumpulkan uang dan menyediakan itu di depan pintu rumah di waktu malam?”

“Karena permintaannya, kongcu. Dan siapa saja yang berani membandel, pasti celaka! Sudah ada beberapa keluarga yang terbunuh karena tidak ada uang untuk disediakan. Maka sekarang mereka yang tidak punya uang sudah pada pergi mengungsi dan yang masih bisa menyediakan uang hanya menanti bangkrutnya saja. Tiap keluarga harus menyediakan uang perak sebanyak dua tail untuk satu jiwa. Seperti rumah tanggaku ini yang mempunyai sepuluh jiwa, berikut pelayan, tiap ia datang harus menyediakan duapuluh tail perak! Coba kongcu pikir, apa ini tidak bikin aku gulung tikar?”

“Apa sudah ada yang pernah lihat iblis itu?” tanya Lian Hwa dengan hati kebat-kebit, karena selama hidupnya belum pernah ia mendengar cerita aneh dan serem seperti itu.

“Sudah, siangkong (tuan muda),” menyambung pelayan yang sejak tadi hanya menggoyang kepala dan mendengarkan. “Iblis itu tinggi besar dengan muka hitam, matanya besar dan mulutnya lebar bersenjata tombak cagak yang hebat!” Tiba-tiba ia mendekap mulutnya seakan-akan takut iblis nanti mendengar ia membicarakannya.

“Maka kongcu harus hati-hati. Iblis itu awas benar, tiap ada tamu membawa barang berharga, ia selalu menuntut agar barang-barang itu disediakan di luar pintu, kalau tidak maka tamu itu akan mati tercekik.”

“Dan diminum darahnya,” menyambung pelayan itu.

“Ya, dan diminum darahnya sampai habis,” si tuan rumah membenarkan.

“Aah, aku tidak percaya. Mana ada urusan seaneh itu di dunia ini?” kata Lian Hwa, hingga tuan rumah dan pelayannya itu menjadi kuatir dan takut, karena mereka tahu bahwa iblis itu paling benci kepada orang yang tidak takut dan tidak percaya padanya.

Cepat-cepat si tuan rumah mengajak Lian Hwa memilih kamar, meninggalkan “pemuda” itu dalam kamarnya, hatinya merasa tak enak sekali. Ketika malam tiba, tuan rumah dan seisi rumah penginapan itu makin gelisah. Betul saja, kira-kira jam sepuluh malam, tiba-tiba terdengar bunyi tertawa seram di atas genteng rumah penginapan itu dan sebuah suara tanpa rupa terdengar, “A Sam! Buntalan dan teratai merah kepunyaan tamu mudamu itu harus disediakan di depan pintu. Lekas!”

Lian Hwa yang berada dalam kamarnya terkejut juga. Suara itu demikian keras hingga kalau kiranya suara itu dikeluarkan dari mulut seorang manusia, tentu ia itu memiliki khikang yang kuat sekali. Tapi hanya sebentar ia kaget, ketabahannya timbul kembali, kemudian ia menyambar pedangnya dan meloncat keluar dari jendela terus melayang ke atas genteng.

Di atas wuwungan rumah penginapan itu berdiri seorang laki-laki tinggi besar. Mungkin inilah iblis itu. Tapi tiba-tiba Lian Hwa merasa geli melihat bahwa “iblis” itu tak lain hanya seorang manusia biasa yang berkedok hitam menakutkan. Segera ia meloncat di hadapan orang itu.

“Hm, hm, tak tahu malu. Menakut-nakuti penduduk untuk menipu barang mereka. Kaukah iblis itu? Kau mau minta barang-barangku? Perlahan dulu, bangsat!”

Orang itu kaget, ia tak menyangka ada orang yang berani keluar bahkan menghampirinya. “Kau mau mampus barangkali!” bentaknya lalu menubruk.

Lian Hwa mengelak cepat dan balas menyerang. Segera ia ketahui bahwa iblis itu memiliki kepandaian yang boleh juga. Tapi dengan mudah ia dapat mendesaknya. Ingin ia menjatuhkan iblis itu untuk melenyapkan gangguan penduduk kampung itu maka ia menyerang dengan hebat. Ia mengeluarkan ilmu silatnya Pek-coa-jiu-hoat (Ilmu Pukulan Ular Putih) untuk menyerang. Bagaimana penjahat itu bisa tahan? Baru empat jurus saja ia sudah repot sekali.

Tiba-tiba terdengar suara di belakang Lian Hwa, “Sam-ko jangan takut, aku datang membantumu!”

Iblis yang baru datang itu menggunakan tombak cagak dan menyerang Lian Hwa dengan tipu Naga Mabok Menyembur Mustika. Tombaknya bergerak cepat menusuk punggung. Tapi dengan gesit sekali Lian Hwa meloncat tiga kaki ke kiri dan menengok. Ternyata iblis kedua inipun berkedok hitam menakutkan.

Lawannya pertama tadi tak sempat mengeluarkan senjata karena desakan Lian Hwa yang hebat. Kini setelah datang pembantu, ia mencabut goloknya yang terselip di pungung, lalu dengan marah memainkan goloknya dengan ganas sekali.

Lian Hwa berkelit ke sana ke mari, tapi walaupun dengan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan senjata tajam itu sukar juga baginya untuk balas menyerang. Terutama senjata tombak cagak iblis yang baru datang itu betul-betul lihai.