-->

Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Jilid 11 ~ Tamat

Jilid 11 (Tamat)

Gwat Liang Tojin tidak keburu mencegah tindakan berbahaya ini. Ia maklum bahwa walaupun Song Cu Ling memiliki ginkang yang tak usah menyerah kalah dari Bong Cu, namun kepandaian silatnya masih lebih rendah daripada ketua Pek-lian-kauw itu.

“Song Cu Ling, kauantar kematianmu!” kata Bong Cu Sianjin mengejek.

Tapi Song Cu Ling sudah mengayun tangannya sambil berseru, “Awas piauw!” dan dua buah piauw berkeredepan melayang dari kedua tangannya, sebuah menyambar leher Bong Cu dan sebuah lagi menyambar kakinya.

“Bagus!” kata Bong Cu yang segera meloncat ke belakang dan pindah ke atas teratai lain, tapi segera ia mengayunkan tangannya membalas. Sebuah pelor hitam menyambar dada Song Cu Ling yang dapat berkelit dengan baik pula.

“Rasakan ini!” bentak pula nyonya tua itu dan ketika kedua tangannya terayun, enam buah piauw menyambar. Dua ke arah tubuh Bong Cu, dua lagi ke sebelah kiri dan dua buah ke sebelah kanan Bong Cu Sianjin.

Menghadapi serangan piauw yang luar biasa dan berbahaya ini, Bong Cu memperlihatkan kepandaiannya. Ia tahu bahwa ia tidak dapat berkelit, maka ia menggunakan kebutannya menyabet sehingga kedua piauw yang mengarah tubuhnya dapat dipunahkan. Sedangkan piauw yang menyambar di kanan kirinya didiamkan saja.

Berbareng dengan itu Bong Cu Sianjin menggerakkan kedua tangannya dan empat butir pelor melayang ke arah Song Cu Ling. Nyonya tua ini mengandalkan gin-kangnya yang luar biasa. Ia meloncat ke atas dan berjumpalitan dengan gerakan Naga Sakti Bermain di Awan, dan ia berhasil mengelit empat pelor itu.

Tapi sebelum kakinya dapat turun ke atas ujung tombak, tiba-tiba melayang lagi empat buah pelor. Dua pelor menuju ke tubuhnya dan yang dua menggempur ujung tombak sehingga ujung tombak yang sedianya menerima kaki Song Cu Ling, kini menjadi patah!

Serangan ini betul-betul berbahaya, karena biar pun nyonya itu dapat menghindarkan diri dari sambaran pelor, namun sukar baginya untuk turun, karena ujung tombak yang hendak diinjak telah lenyap. Tapi Song Cu Ling benar-benar mempunyai kepandaian gin-kang yang mengagumkan sekali. Ia berhasil berkelit hingga dua buah pelor melewati pinggir tubuhnya ketika kakinya turun, tiba-tiba ia melihat ujung tombak itu dipatahkan oleh lawan, maka ia menyentakkan tubuhnya hingga kedua tangannya terulur ke depan dan dapat mencapai ujung tombak di depannya, lalu dengan tenaga lweekangnya ia menekan ujung tombak itu dengan tangan hingga tubuhnya melayang lagi ke atas, untuk kemudian turun perlahan di atas tombak lain!

“Bagus benar gin-kangmu!” Bong Cu memuji, tapi kini ia berada dekat dan menyerang dengan pedangnya.

Song Cu Ling menangkis dengan pedang dan membalas menyerang. Sebenarnya dalam hal ilmu pedang, Bong Cu Sianjin masih lebih tinggi dari nyonya tua itu, tapi Song Cu Ling benar-benar memiliki gin-kang yang hebat hingga dengan mengandalkan kegesitan dan kelincahannya, ia masih dapat mengimbangi permainan pedang lawannya.

Nyonya itu berkelebat ke sana ke mari di atas ujung-ujung tombak sehingga merupakan seekor kupu- kupu terbang bermain-main di atas sekian banyak bunga teratai itu, diserang dan terbungkus oleh sinar pedang Bong Cu Sianjin yang cepat, bagaikan ular menyambar.

Tiba-tiba Bong Cu Sianjin membentak, “Roboh!” dan tangannya melepaskan barang hitam yang menyambar ke arah pundak Song Cu Ling.

Ketika nyonya itu membacok barang itu dengan pedangnya, tiba-tiba barang itu meledak dan dari dalamnya menyambar berpuluh-puluh piauw dan pelor besi ke arah Song Cu Ling! Tentu saja nyonya itu terkejut sekali dan dengan gugup mumbul ke udara tapi karena serangan senjata mujijat itu tidak tersangka-sangka datangnya dan dalam jumlah yang banyak, tidak urung sebuah piauw menancap di kaki Song Cu Ling! Nyonya itu merasa kakinya panas sekali dan kepalanya pening, maka dari atas terjatuh ke bawah dengan kepala lebih dulu.

Semua kawannya mengeluarkan suara kaget, lebih-lebih Ang Lian Lihiap yang cepat bergerak hendak meloncat menolong, tapi nona itu ditahan Cin Han. “Jangan khawatir.” kata pemuda itu.

Ketika Lian Hwa memandang ke arah gurunya, ternyata Song Cu Ling biarpun sudah terluka dan terkena racun piauw itu, ia masih dapat mengumpulkan tenaganya.

Ketika tubuhnya melayang jatuh, ia mengulurkan tangan kanannya dan dapat memegang ujung tombak sebelum tombak itu memakan dirinya, kemudian dengan mengerahkan tenaga terakhir ia mengayunkan tubuhnya hingga melayang ke pinggir. Ia turun di dekat kawan-kawannya dengan terhuyung-huyung dan pingsan dalam pelukan Lian Hwa.

Gwat Liang Tojin cepat memeriksa. “Ia terkena racun, tapi jangan takut. Beri makan pil ini yang mencegah menjalarnya racun dalam darah.”

Lian Hwa menerima pil itu dan memasukkan ke dalam mulut gurunya.

“Awas!” Tiba-tiba Tiang Pek dan Cin Han berteriak hampir berbareng dan dari jurusan kiri taman itu datang menyambar ratusan anak panah ke arah mereka. Cin Han dan kawan-kawannya cepat menggunakan pedang menangkis hujan anak panah itu. “Bong Cu jangan berlaku curang!” teriak Gwat Liang Tojin.

Tapi hanya terdengar suara Bong Cu tertawa seram dan tiba-tiba dari jurusannya melayang enam buah barang hitam seperti yang tadi digunakan untuk menyerang Song Cu Ling.

“Jangan tangkis!” Gwat Liang Tojin memberi ingat kawan-kawannya tapi terlambat.

Ong Su dan Ong Bu yang merasa marah sekali melihat kecurangan lawan, menggunakan tombaknya menusuk barang itu yang meledak hebat dan dari dalamnya menyambar puluhan senjata rahasia beracun. Sebenarnya barang hitam itu adalah bungkusan senjata-senjata rahasia yang dipasangi per dan jika pecah maka obat peledak yang dipasang di dalamnya akan meledak dan per-per bekerja hingga sekian banyak senjata beracun di dalamnya akan dilontarkan keluar ke segenap penjuru.

Ong Su dan Ong Bu mencoba berkelit, tapi sia-sia. Ong Su terkena senjata piauw beracun pada lehernya dan sebuah pelor besi runcing menghantam paha Ong Bu. Bahkan Pek Siong Tosu yang berada dekat dengan dua saudara Ong ini terkena juga oleh sebuah piauw yang menancap di punggungnya.

Ketiga orang ini sebentar saja merasa pening dan panas tubuhnya, lalu tak tertahan lagi mereka jatuh pingsan. Sibuk juga Gwat Liang Tojin menolong mereka dengan pilnya anti racun itu.

Sementara itu, Cin Han, Lian Hwa, dan Tiang Pek dengan marah sekali loncat mengejar Bong Cu. Ketua Pek-lian-kauw itu melihat hasil senjata rahasia yang dilepasnya tadi tertawa bergelak-gelak.

Tapi segera ia tidak dapat melanjutkan tawanya ketika tiba-tiba tiga bayangan cepat berkelebat dan tiga buah pedang tajam bergerak menyerangnya. Ia angkat kebutannya menangkis. Biarpun Bong Cu Sianjin memiliki kepandaian tinggi dan karena kini ia menggunakan kebutan di kiri dan tasbeh di tangan kanan, senjata yang aneh yang sangat berbahaya sekali, namun dikeroyok tiga ahli pedang tingkat tinggi ini, ia menjadi sibuk juga.

Tadi ketika melawan Song Cu Ling, Bong Cu Sianjin menggunakan pedang, karena sebenarnya ia segan mengeluarkan tasbehnya. Tasbeh ini selain merupakan senjata yang sangat ampuh darinya, juga merupakan barang perhiasan yang jarang terlihat dan tak ternilai harganya, karena terbuat daripada empatpuluh sembilan buah mutiara yang besar dan indah. Tapi kini menghadapi tiga orang pemuda pemudi ini, terpaksa ia gunakan kebutan dan tasbehnya.

Biarpun demikian, masih saja ia sangat terdesak. Ia hendak mengeluarkan senjata rahasianya yang berbahaya, tapi Cin Han bertiga tidak memberi kesempatan kepadanya. Tiba-tiba Bong Cu Sianjin menyemburkan mulutnya dan hawa hitam keluar dari mulut menyambar ke arah lawan-lawannya. Cin Han bertiga cepat berkelit, dan saat ini digunakan oleh Bong Cu Sianjin unkuk meloncat melarikan diri.

“Kejar!” Tiang Pek memberi komando dan mereka cepat mengejar.

Kembali Bong Cu Sianjin terkurung. Beberapa orang anak buahnya mencoba membantu, tapi baru beberapa gebrak saja mereka dengan mudah dapat dirobohkan oleh tiga pedang yang lihai. Pada satu saat Bong Cu Sianjin menggunakan kebutannya menangkis ujung pedang Tiang Pek yang menusuk leher, Cin Han berbareng Lian Hwa gunakan pedang menyerang ke arah dadanya.

Tidak ada jalan lain bagi Bong Cu Sianjin selain menggunakan tasbehnya untuk menangkis. Tapi kali ini agaknya Lian Hwa dan Cin Han sudah bersatu pikiran, karena tanpa berunding dulu mereka dengan gerakan berbareng telah robah jurusan pedang mereka terus menyabet ke arah tasbeh.

Dua po-kiam yang tajam dan ampuh dengan berbareng menyabet tasbeh itu sehingga kawat baja yang meronce mutiara itu tidak kuat menahan. Kawat itu putus sehingga mutiara empatpuluh sembilan butir itu terlepas dari ikatan dan jatuh ke atas tanah, tersebar ke kanan kiri.

Bong Cu kaget sekali. Ia memutar kebutannya, mengeluarkan angin menderu-deru untuk sesaat ketiga lawannya terpaksa mundur dan menjaga diri dengan pedang mereka. Bong Cu meloncat jauh ke belakang dengan maksud melarikan diri, tapi ketiga lawannya sambil berseru, “Siluman tua, jangan lari!” terus mengejar.

Sementara itu Kim Ek si Dewi Cabul dengan dibantu oleh Hong Su ketua Kwi-coa-pai, mengeroyok kepada Biauw In Suthai karena Gwat Liang sedang sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka oleh senjata beracun.

Biauw In Suthai melawan sekuat tenaga, karena kedua lawannya itu memiliki ilmu silat yang tinggi juga. Gwat Liang melihat Biauw In terdesak, segera membantu hingga kini kedua lawan itulah yang terdesak hebat.

Berkali-kali Kim Eng melepas piauw beracun dan saputangannya yang mengandung hawa memabukkan itu dikebut-kebutkan, tapi Gwat Liang hanya tertawa mengejek saja. Belum juga limabelas jurus mereka berkelahi, Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai berhasil merobohkan Kim Ek dan Hong Su.

Bong Cu dengan sibuk sekali melayani tiga pengejarnya dan ia mulai mengeluarkan keringat dingin. Berkali-kali ia melepaskan benda hitam yang menjadi senjata rahasianya, mereka tidak mau menangkis hanya menggunakan kesebatan mereka berkelit.

Pada saat Bong Cu sudah terdesak hebat hingga ketika tiga ujung pedang menyambarnya, ia berteriak ngeri dan tak berdaya menghindarkan diri lagi. Tapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring, “Tenanglah, sute!!”

Berbareng dengan itu Nyo Tiang Pek, Cin Han, Lian Hwa merasa betapa ujung pedang mereka tertahan oleh sesuatu yang panjang bagaikan ular tapi yang mengandung tenaga besar sekali. Kemudian benda panjang itu berbunyi “tar, tar, tar” dan menyambar ke arah mereka.

Tiga pendekar muda itu terkejut sekali, karena ternyata benda itu adalah sebuah cambuk panjang yang digerakkan dengan luar biasa dan yang pada saat itu dengan sekaligus dapat menyerang mereka dengan tiga sabetan. Mereka menangkis lalu meloncat mundur.

Ternyata yang menolong Bong Cu Sianjin dan menyerang mereka adalah seorang pendeta wanita berambut panjang. Tangan kiri pendeta, wanita itu memegang kebutan putih, tangan kanan memegang cambuk panjang dan di punggungnya terikat sebuah pedang. Pakaian nikouw itu dari sutera biru. Rambutnya yang panjang dikelabang dua dan tergantung di atas bahunya.

Sungguhpun usianya tidak kurang dari tujuhpuluh tahun, namun sepasang matanya yang jeli dan raut mukanya yang halus membayangkan bahwa di waktu mudanya ia tentu merupakan seorang wanita yang cantik sekali. Tapi sayang, matanya yang jeli itu, mengeluarkan sinar yang kejam dan kerut wajahnya membayangkan watak pemarah.

Pada saat itu, Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai yang telah berhasil menjatuhkan Kim Eng dan Hong Su, datang pula di situ dan siap membantu kawan-kawannya.

“Hm, jadi kaukah yang menjadi biang keladinya?” Nikouw itu mengerling kepada Gwat Liang Tojin dengan sudut matanya.

“Niang-niang pertimbangkan dulu duduknya persoalan. Sutemu mendirikan Pek-lian-kauw sih tidak ada sangkut-paut nya dengan pinto, tapi ternyata sutemu telah tersesat dan menjadi penjilat kaisar Boan.”

Kata-kata ini diputus oleh suara tawa Lan Bwee Niang-niang yang merdu dan nyaring bagaikan suara ketawa seorang gadis cantik. “Gwat Liang! Kau sudah tua tapi masih suka usilan sekali. Mau mencampuri urusan orang lain Apakah rugimu kalau suteku bersekutu dengan kaisar?”

“Suci, balaskan sakit hatiku. Perkumpulanku diobrak-abrik, kawan-kawanku banyak yang terbunuh mati oleh mereka ini,” kata Bong Cu Sianjin bagaikan seorang kanak-kanak ingin dimanja.

“Hm, kalian mengandalkan kepandaian sendiri dan menganggap tidak ada orang lain yang berani menghalangi tindakanmu yang sewenang-wenang.” Sin-kun Mo-li Lan Bwee Niang-niang menegur lagi.

“Niang-niang, dengarkan dulu,” Gwat Liang Tojin membantah, “pinto tidak suka mencari permusuhan. Tapi pinto sebagai seorang pembela kebenaran, tidak mungkin pinto dan kawan-kawan para hohan ini memangku tangan dan diam saja melihat betapa Bong Cu Sianjin dan kawan-kawannya berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, mengandalkan pengaruh para dorna keparat dan raja lalim untuk melakukan pemerasan terhadap rakyat jelata yang lemah.”

“Gwat Liang, jangan memutar-balikkan duduknya perkara! Pernahkah aku mengganggu kalian? Tapi dapatkah kau memungkiri bahwa ketika masih hidup, si jahat Ong Lun selalu memusuhi perkumpulanku? Berapa banyak jiwa anggauta Pek-lian-kauw yang telah dibunuhnya?” teriak Bong Cu Sianjin.

“Ya, karena kamu dan kawan-kawanmu adalah musuh rakyat, dan Ong Lun adalah pembela rakyat,” jawab Gwat Liang Tojin.

Bong Cu Sianjin menjadi marah dan meloncat menerjang ke arah Gwat Liang Tojin dengan pedangnya. Gwat Liang menangkis dan segera mereka bertempur hebat. Lan Bwee Niang-niang memperdengarkan suara ketawa menghina, cambuknya berbunyi keras dan berkelebat menyambar-nyambar ke arah Tiang Pek dan kawan-kawannya. Melihat lagaknya yang sombong itu, Lian Hwa menjadi marah dan maju menerjang dengan pedangnya!

Lan Bwee Niang-niang tertawa menghina dan tiba-tiba ujung cambuknya dapat menyambar membalik bagaikan bernyawa dan melibat pedang Lian Hwa!

Ang Lian Lihiap terkejut sekali ketika merasa betapa pedangnya tidak dapat digerakkan dan tak dapat ditarik kembali! Melihat hal ini, Cin Han, Nyo Tiang Pek maju berbareng mengirim serangan kilat hingga Lan Bwee Niang-niang terpaksa melepaskan pedang Lian Hwa untuk menangkis serangan baru ini.

Maka pertempuran menjadi terpecah dua rombongan. Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai mengeroyok Bong Cu Sianjin, sedangkan Lan Bwee Niang-niang menghadapi Cin Han, Tiang Pek, dan Lian Hwa.

Lan Bwee Niang-niang yang ternyata berilmu tinggi dapat melayani tiga pendekar muda itu dengan baik, dan ia merasa kagum dan sayang melihat kepandaian mereka, maka sampai saat itu ia belum menjatuhkan tangan kejam. Tapi sebaliknya, Bong Cu Sianjin terdesak hebat oleh Gwat Liang Tojin dan Biauw In Suthai yang memiliki kiam-sut yang lihai.

Ketika keadaan sangat mendesaknya, Bong Cu Sianjin mengeluarkan ilmu hitamnya. Ia menatap wajah Biauw In Suthai dengan tajam, kedua matanya seakan-akan mengeluarkan api dan membawa pengaruh besar sekali, kemudian tiba-tiba ia berteriak keras!

Teriakan ini merupakan jeritan ngeri dan ganjil, hingga menusuk telinga dan mendebarkan jantung. Lebih-lebih Biauw In Suthai yang telah terpengaruh pandangan mata Bong Cu Sianjin, tidak kuat ia menahan suara ini, tubuhnya menjadi lemas dan tak terasa pedangnya terlepas dari pegangan. Dengan buas Bong Cu Sianjin menggunakan kebutannya untuk menyabet dan menghancurkan kepala Biauw In, tapi Gwat Liang Tojin dapat menetapkan hati dan secepat kilat menangkis.

Tapi kini, setelah Biauw In Suthai yang menjadi lemas terduduk di atas tanah tidak berdaya bagaikan seorang yang hilang ingatan, ia harus menghadapi seorang diri ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu. Lama kelamaan Gwat Liang Tojin terdesak mundur oleh pedang dan kebutan Bong Cu Sianjin dan hanya dapat menangkis saja!

Di pihak Lan Bwee Niang-niang, ketika melihat betapa sutenya telah berhasil menjatuhkan seorang lawan, ia menjadi gembira dan tak mau kalah. Ia mengebut-ngebutkan kebutan putih di tangan kirinya ke arah lawan-lawannya dan suaranya yang lembut merdu berkata, “Rebah, rebah. rebah!”

Heran sekali, suara ini mengandung tenaga luar biasa yang sangat berpengaruh. Lian Hwa dan kawan- kawannya merasa betapa tenaga mereka bagaikan lenyap dan merasa tubuh mereka lemas dan lelah sekali. Mereka ingin sekali merebahkan diri di atas rumput dan tidur dengan nyenyak dan sedapnya.

Tapi ketika Lian Hwa memandang Cin Han dan kebetulan kekasihnya itu sedang memandangnya, bentrokan sinar mata mereka menimbulkan kekuatan dan tenaga mereka seakan-akan kembali memasuki tubuh. Rasa saling kasih dan saling membela disertai kekhawatiran akan nasib masing- masing, membuat kedua anak muda yang saling mencinta ini tertolong dari bahaya.

Mereka segera memutar pedang dan menyerang lagi. Tapi hati mereka berdebar cemas melihat betapa Nyo Tiang Pek agaknya tidak kuasa menahan getaran pengaruh ilmu hitam Lan Bwee Niang- niang tadi dan pemuda itu melempar pedangnya terus berbaring di atas tanah sambil meramkan kedua mata.

Keadaan mereka kini berbahaya sekali. Tapi Lian Hwa dan Cin Han, dengan hati bulat hendak saling membela atau kalau tak mungkin menang, hendak mati bersama, membuat permainan pedang mereka hebat sekali. Memang permainan pedang Lian Hwa, yakni Sian-liong-kiam-hwat ciptaan dari Ong Lun adalah luar biasa dan jarang tandingannya, juga Hwie-liong-kiam-sut yang dimainkan oleh Cin Han bahkan lebih tinggi daripada Sian-liong-kiam-hwat.

Kini kedua ilmu pedang kelas satu itu dimainkan oleh kedua anak muda yang saling membela hingga kedua ilmu pedang itu seakan-akan tergabung menjadi satu, tentu saja kehebatannya luar biasa sekali. Si Iblis Perempuan Kepalan Dewa Lan Bwee Niang-niang walaupun berilmu tinggi namun jika hanya menggunakan ilmu silatnya saja, agaknya takkan mungkin ia mendapat kemenangan. Maka sekali lagi ia menggoyang-goyangkan kebutannya dan mulutnya berkemak-kemik, lalu ia tertawa bekakakan.

Lian Hwa dan Cin Han tiba-tiba mendengar suara ketawa itu datang dari mana-mana, di belakang, di kanan kiri, di depan, dari atas, bahkan dari bawah tanah. Mereka bingung dan permainan pedang mereka kacau-balau. Tapi Cin Han berbisik, “Lian-moi, tetapkan hatimu, ada aku di sini.”

Benar saja, Lian Hwa seakan-akan terbetot dari sebuah jurang yang dalam dan ia mulai bisa mengatur, permainannya kembali. Namun, pada saat itu cambuk Lam Bwee Niang-niang bermain ganas sekali bagaikan seekor naga siluman mengamuk sehingga sekali Lian Hwa terkena ujung cambuk pada pundaknya, dan Cin Han terkena pada lengan kirinya.

Pada saat taruna dan remaja itu sedang repot sekali, tiba-tiba Lan Bwee Niang-niang membentak keras dan dari kebutannya yang dia putar-putar keluarlah asap hijau bergulung-gulung menyerang Cin Han dan Lian Hwa. Asap itu berbau busuk seperti bau mayat sehingga Cin Han dan Lian Hwa segera menahan napas karena mereka maklum betapa berbahayanya asap beracun ini.

Namun, biarpun lweekang mereka sudah tinggi, asap yang lihai itu seakan-akan dapat mendobrak hidung mereka dan hendak memaksa masuk. Keadaan mereka sungguh sangat berbahaya.

Tapi pada saat itu, terdengar suara orang berkata halus. “Sungguh kejam, sungguh keji……” dan berbareng dengan ucapan itu, tiba-tiba dari atas menyambar turun segumpal asap putih yang memasuki asap racun hijau dan menjadi satu.

Cin Han dan Lian Hwa mencium bau harum dan kepala mereka yang sudah agak pening karena pengaruh racun asap hijau tadi mendadak menjadi dingin dan sembuh bahkan asap putih itu seakan- akan memberi tambahan semangat kepada mereka. Pelepas asap putih itu ternyata adalah seorang pertapa yang berbaju putih. Rambut dan jenggotnya sudah putih semua, menandakan usianya yang sangat tinggi. Wajahnya tampak ramah-tamah dan alim sekali, tapi sinar matanya menyinarkan cahaya yang lembut namun mengandung pengaruh yang kuat tak terlawan.

Pertapa itu melihat betapa Gwat Liang Tojin terancam oleh pedang dan kebutan Bong Cu Sianjin, segera memanggil.

“Gwat Liang, ke sinilah.” Tangan kirinya melambai.

Mendengar suara ini, Gwat Liang meloncat mundur, tapi karena ia memang sedang terdesak, saat itu digunakan oleh Bong Cu Sianjin untuk menyabetkan pedangnya ke arah pinggang Gwat Liang Tojin, sedangkan kebutannya yang lihai terayun menghantam belakang kepala!

Cin Han dan Lian Hwa hampir berseru kaget melihat bahaya yang hendak menimpa Gwat Liang Tojin, tapi tiba-tiba pertapa baju putih itu mengebutkan lengan bajunya ke arah Bong Cu Sianjin. Dari lengan baju itu keluarlah angin pukulan yang hebat sekali dan Bong Cu Sianjin tiba-tiba merasa tenaga raksasa mendorongnya ke belakang hingga ia terhuyung-huyung beberapa tindak!

Cin Han dan Lian Hwa saling memandang dengan heran. Betapa takkan heran melihat bagaimana pertapa itu dari jarak jauh dapat mengundurkan Bong Cu Sianjin yang lihai hanya dengan angin pukulan saja! Dapat diukur betapa lihainya pertapa tua ini!

Gwat Liang Tojin yang terlepas dari bahaya segera maju dan berlutut dihadapan pertapa itu sambil berkata. “Supek!”

Bukan main terkejutnya Cin Han dan Lian Hwa mendengar ini. Mengertilah mereka bahwa yang berdiri dihadapan mereka ini bukan lain ialah Beng San Siansu! Dengan serta merta Cin Han membetot tangan Lian Hwa dan ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beng San Siansu meraba-raba jenggotnya yang putih seperti benang perak, wajahnya tersenyum gembira sekali.

“Ah, inikah Hwee-thian Kim-hong yang kebetulan menjadi muridku seperti yang kauceritakan dulu, Gwat Liang?”

Gwat Liang Tojin mengangguk dan Cin Han lalu maju sambil berlutut serta berkata. “Suhu, teecu menghaturkan hormat.”

Kini Beng San Siansu tertawa senang. “Sudah kulihat kiam-sutmu tadi. Memang kau sudah pandai memainkan Hwie-liong-kiam-sut, tapi masih kaku! Dan nona ini tentu Ang Lian Lihiap murid Ong Lun?”

Ketika Lian Hwa mengangguk hormat, ia lalu melanjutkan kata-katanya. “Sudah kuduga. Permainan kiam-hwatmu tentu Sian-liong-kiam-hwat. Memang Ong Lun orang cerdik. Kalau kedua kiam-hwatmu itu digabung, maka dapat merupakan ilmu pedang yang jarang dapat dilawan di dunia ini. Namanyapun indah, coba dengar Hwie-Sian-liong-kiam-hwat, Ilmu Pedang Naga Dewa Terbang!” Cin Han mengangguk-angguk kepala sambil berkata. ”Teecu mohon pimpinan suhu dalam hal ini.” “Ha, kau cerdik. Boleh, boleh, tapi urusan sekarang belum beres.”

Ia berpaling memandang ke arah Lan Bwee Niang-niang yang berdiri dengan muka merah karena marah memandang mereka.

“Hm, jadi lo-suhu ini Beng San Siansu yang tersohor?” kata Lan Bwee Niang-niang menyindir. “Kata orang, lo-suhu sudah boleh disebut manusia setengah dewa, tapi kulihat sekarang bahwa kabar itu kosong belaka. Lo-suhu masih tertarik oleh keadaan dunia dan ikut-ikut campur urusan orang lain!”

Beng San Siansu tersenyum sabar. “Lan Bwee Niang-niang, sedangkan Thian Yang Maha Tunggal sendiri masih mencampuri urusan dunia, mengapa orang tua seperti aku tidak! Apa aku haruskan saja kau menyembelih semua orang-orang tidak berdosa ini?” Jari tangannya menunjuk kepada mereka yang terluka dan terkena racun tadi yang masih rebah sambil menahan sakit.

“Salah mereka sendiri! Kenapa mereka memusuhi perkumpulanku?” jawab Bong Cu Sianjin dengan marah.

Sinar mata Beng San Slansu yang tajam menyambar ke wajah Bong Cu dan senyumnya melebar. “Sayang……” katanya bagaikan kepada diri sendiri. “Harta benda itu bagaikan tinta hitam, ke mana saja ia datang, ia selalu mengotorkan sekelilingnya. Teratai putih pun akan menjadi kotor kalau tersiram olehnya……”

“Lan Bwee Niang-niang,” katanya kemudian kepada Iblis Perempuan Kepalan Dewa itu, “Sudah terlalu banyak korban. Sudahilah saja pertempuran tiada berguna ini.”

“Beng San Siansu! Jangan kau berat sebelah. Sudah banyak kawan-kawanku terbunuh mati oleh anak muridmu. Kami harus membalas dendam!”

“Ya, ya! Begitulah sifat dunia. Balas dendam, balas membalas tiada habisnya. Kalau aku orang tua ini, andaikata dipukul orang, aku tidak akan buru-buru menuntut balas, tapi hendak kucari lebih dulu mengapa aku sampai dipukul orang. Segala akibat tentu bersebab, lupakah kau?” kata Beng San Siansu.

“Tidak perduli. Pendeknya aku hanya menghendaki murid Ong Lun, si Ang Lian Lihiap harus menebus dosa-dosa gurunya,” kata Lan Bwee Niang-niang dengan gemas.

“Lan Bwee Niang-niang,” suara Beng San Siansu terdengar keren bagaikan suara seorang guru terhadap muridnya yang nakal, “Lupakah kau kata-kata suhumu dulu? Lupakah kau bahwa kau pernah diperingatkan gurumu sehingga kau sucikan diri di Bukit Hoa-mo-san? Mengapa kau turun gunung dan hendak mengulangi dosa-dosamu yang lalu?”

Marah sekali Lan Bwee Niang-niang mendengar ini, matanya seakan-akan menyala, mulutnya seakan- akan mengeluarkan uap panas. “Beng San! Kaukira aku takut padamu!” Dan perempuan tua yang galak itu menggunakan cambuknya menyabet! “Siancai, siancai!” Beng San Siansu menyebut, tapi tidak berkelit sama sekali.

Sabetan itu hebat sekali dan dengan suara keras, cambuk panjang itu bagaikan ular melilit ke pinggang dan leher Beng San Siansu. Tapi orang tua itu tetap tersenyum saja.

Lan Bwee Niang-niang melihat bahwa Beng San Siansu seakan-akan tidak merasa sakit oleh cambuknya, ia kerahkan tenaga dalamnya dan sentakkan cambuk untuk mengiris kulitnya. Tapi alangkah heran dan terkejutnya ketika ia merasa seolah-olah cambuk itu menempel dan lengket dengan kulit Beng San Siansu. Ia mencoba lagi, tapi bahkan merasa tangannya tergetar hingga dengan sengit ia lepaskan cambuknya dan gunakan kebutannya memukul kepala Beng San Siansu, sedangkan tangan kanan mencabut pedang dari punggung.

“Eh! jangan ganggu kepalaku,” Beng San Siansu menegur halus dan angkat tangan kirinya melindungi kepala.

Kebutan lihai itu beradu dengan lengan Beng San Siansu dan aneh sekali, kebutan itu terbalik dan membentur kepala Lan Bwee Ning-niang sendiri.

Terkejut sekali nyonya tua itu. Ia berkelit dan menggunakan pedang menusuk.

Sekali kebutkan lengan bajunya, pedang inipun dibikin terlepas dari tangan Lan Bwee Niang-niang. Tapi wanita nekad itu tidak kapok. Ia merogoh ke dalam baju dan keluarkan sebuah benda yang dapat bergerak-gerak. Ternyata benda itu adalah seekor ular hitam.

Lan Bwee Niang-niang gunakan ular itu sebagai senjata dengan pegang ekornya dan ayun kepala ular ke arah leher Beng San Siansu.

“Ganas, ganas!” Beng San Siansu berkata dan tahu-tahu leher ular telah terjepit diantara kedua jari tangannya dan ular itu menjadi lemas tak bertenaga lagi.

Lan Bwee Niang-niang tekan per di dadanya dan tiga belas buah piauw dengan tiga belas macam racun yang paling jahat menyambar ke depan, langsung menyerang Beng San Siansu. Tapi pertapa sakti itu kembali kebutkan lengan bajunya dan sekaligus semua senjata rahasia itu terpukul dan tertumpuk di atas tanah.

Sementara itu, melihat betapa sucinya dipermainkan, Bong Cu Sianjin menjadi marah sekali dan ia gunakan kebutannya Memukul dari belakang. Seperti juga tadi, pukulan itu dapat dipunahkan oleh Beng San Siansu hanya dengan kebutkan ujung lengan bajunya.

Tiba-tiba Lan Bwee Niang-niang berteriak keras dan meluncurlah lima buah hui-to atau golok terbang dengan keluarkan suara mengaung keras ke arah Beng San Siansu. Pertapa ini sudah kenal akan kehebatan golok terbang itu, maka tiba-tiba dengan ringan sekali tubuhnya melayang ke atas bagaikan kapas tertiup angin. Semua hui-to melayang di bawah kakinya dan langsung menyerang Bong Cu Sianjin yang tadi berdiri di belakang Beng San Siansu. Bong Cu Sianjin kaget sekali dan menangkis dengan pedangnya, tapi dua buah hui-to tepat mengenai pundaknya kanan kiri hingga kedua lengannya putus.

Bong Cu Sianjin menjerit keras dan jatuh pingsan. Sedangkan Lan Bwee Niang-niang melihat betapa hui-tonya bahkan melukai sute sendiri demikian hebat, iapun menjerit keras dan roboh pingsan. Dari mulutnya mengalir darah karena jantungnya mendapat getaran dan tekanan keras.

Ia sebenarnya telah bertahun-tahun meyakinkan ilmu batin yang tinggi untuk menjalani Ilmu kesucian dengan bertapa di atas bukit. Maka bertahun-tahun ia dapat menahan dan mengendalikan segala macam nafsu yang merajalela di hati tiap orang. Nafsu-nafsu ini karena dapat terkendali, merupakan tenaga hebat yang merupakan pendorong kuat bagi tenaga dalamnya.

Tapi sekarang, tiba-tiba saja karena menuruti nafsu hati, segala macam nafsu itu dengan serentak berbangkit merupakan perasaan marah, malu, jengkel, penasaran, kecewa dan terkejut, akhirnya ditambah kesedihan melihat betapa ia melukai sute sendiri. Semua perasaan nafsu ini merupakan tenaga raksasa yang menyerang dari dalam hingga batinnya yang biasanya tenang tenteram menjadi tergoncang hebat dan jantungnya terkena pukulan pula.

“Siancai, siancai……” Beng San Siansu menyebut perlahan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia segera berjongkok dan menggunakan jari telunjuk menotok ulu hati Lan Bwee Niang-niang yang segera siuman kembali. Tanpa berkata apa-apa Beng San Siansu menghampiri Bong Cu Sianjin dan menotok pula kedua bahu ketua Pek-lian-kauw itu, lalu dikeluarkannya obat bubuk dan dibalurkan di luka lengan yang buntung itu.

Lan Bwee Niang-niang yang sudah berdiri melihat semua ini dengan terharu. Ia maju menjura dan berkata dengan suara mohon dikasihani. “Dapatkah aku yang hina ini diampuni?”

“Thian bersifat murah dan adil, Niang-niang,” kata Beng San Siansu. “Bawa sutemu ini ke bukit dan peliharalah dia, pelihara lahir dan batinnya.”

Lan Bwee Niang-niang mengangguk dan mengangkat tubuh sutenya, kemudian sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari situ!

Beng San Sianjin memandang keadaan kawan-kawan Gwat Liang Tojin yang masih rebah di ruang belakang itu, karena walaupun sudah diberi obat oleh Gwat Liang Tojin namun pengaruh racun jahat itu masih saja membuat mereka menderita sakit. Ia memberikan sebuah batu kepada Gwat Liang Tojin, “Rendam dalam air dan berilah mereka minum!”

“Gwat Liang Tojin menghaturkan terima kasih dan segera melakukan perintah supeknya itu, dan tidak hanya mengobati kawan-kawannya, juga ia memeriksa dan mengobati luka-luka dari para korban Pek- lian-kauw.

Sementara itu Beng San Siansu memandang Cin Han yang kembali berlutut di depannya. “Pinto sebagai orang tua ikut bergembira dan mengucap kiong-hi atas pertunangan kalian. Baiknya perkawinanmu dilakukan bulan depan hari kedelapan. Setelah kawin, boleh kalian datang ke Kim-ma- san, tempat tinggal Ong Lun dulu karena sementara waktu Pinto akan berada di sana. Kalian datanglah untuk menggabungkan kedua kiam-sut itu.”

Cin Han dan Lian Hwa menghaturkan terima kasih sambil berlutut. Dalam hati mereka merasa heran bagaimana pertapa suci itu dapat tahu akan pertunangannya!

Kemudian Beng San Siansu meninggalkan tempat itu dengan perlahan turun gunung setelah menerima kehormatan dari semua orang yang kini telah dapat berjalan setelah minum obat mujijat dari pertapa itu. Beng San Siansu meninggalkan batu mustikanya dan minta supaya Cin Han dan Lian Hwa kelak membawanya.

Biarpun pertapa sakti itu hanya berjalan perlahan saja, namun sebentar saja ia sudah lenyap dari pandangan mereka. Cin Han diam-diam menghela napas karena kagum, tapi ia merasa girang sekali bahwa suhunya itu telah berjanji hendak menggabungkan ilmu pedangnya dengan, ilmu pedang Ang Lian Lihiap!

Setelah memberi nasihat kepada sisa anggauta Pek-lian-kauw untuk membuang sifat pengkhianat dan pemeras rakyat jelata, Gwat Liang Tojin dan rombongan meninggalkan Gunung Hong-lai-san dan berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing.

Oleh bujukan Cin Han dan Lian Hwa, Nyo Tiang Pek akhirnya tak dapat menolak lagi dan ikut mereka dan Song Cu Ling kembali ke rumah Gan Keng Hiap untuk menyaksikan perkawinan mereka pada bulan depan hari kedelapan, karena Gwat Liang Tojin sendiri juga menetapkan hari itu, sesuai dengan kehendak Beng San Siansu, demikian pun Song Cu Ling.

Coa Giok Lie yang ditinggal pergi oleh gurunya, tiap hari rajin melatih ilmu silatnya dan ia tidak merasa kesunyian karena di samping berlatih silat ia memimpin Kong Liang dan Mei Ling dalam pelajaran mereka menulis dan membaca, dan dalam ilmu silat, kedua bocah ini dapat memimpinnya karena mereka biarpun kecil telah memiliki kepandaian dasar yang boleh juga.

Ketika Song Cu Ling datang dan Cin Han bersama Lian Hwa ikut bersama-sama, Giok Lie menjadi girang sekali. Ia memeluk gurunya. Ketika diperkenalkan kepada Ang Lian Lihiap oleh gurunya, ia memeluk Lian Hwa dengan terharu.

“Lihiap, aku girang sekali dapat berkenalan dengan kau yang cantik dan lihai ini,” katanya dengan muka merah.

“Ah, sumoi, jangan menyebut aku lihiap. Aku bukan kenalan biasa, tapi adalah sucimu yang kasar dan buruk. Kau jauh lebih cantik dariku, sumoi,” kata Lian Hwa sambil balas memeluk dan tertawa.

Pada saat itu juga, lenyaplah ganjalan hati diantara kedua gadis itu. Ketika Giok Lie diberi tahu oleh Song Cu Ling akan pertunangan Lian Hwa dan Cin Han, Giok Lie merangkul leher sucinya.

“Kau menjadi tunangan koko Cin Han? Ah, bagus sekali, cici, kiong-hi…… kiong-hi…..!” Dan Lian Hwa mencubit dengan wajah merah karena malu. Sementara itu, Nyo Tiang Pek mengobrol dengan Gan Keng Hiap, karena sasterawan tua ini pernah berjumpa dengan Kam Hong Tie dan memang semenjak dulu ia mengagumi pendekar ternama itu. Maka tidak heran ketika mendengar pemuda she Nyo itu adalah murid Kang-lam Taihiap Kam Hong Tie, ia menghujani berbagai pertanyaan. Nyo Tiang Pek juga senang sekali bercakap-cakap dengan Gan Keng Hiap yang terpelajar dan halus tutur bahasanya itu.

Malam hari itu karena bulan masih muncul tiga perempat lebih Lian Hwa mengajak Giok Lie keluar dari kamar dan berjalan-jalan di kebun belakang di rumah keluarga Gan yang lebar juga. Mereka duduk di bawah pohon Liu yang indah.

“Sumoi, aku pernah mendengar bahwa kau pandai sekali meniup suling. Maukah kau meniup satu dua lagu untukku?” tanya Lian Hwa.

“Aah, siapa bilang, suci? O, ya, tentu kakak Cin Han yang bilang, bukan? Siapa lagi,” Giok Lie balas menggoda.

“Eh, kau ini! Masakan segalanya hanya dia saja yang memberi tahu padaku? Ayolah, ambil sulingmu, biar aku mendengar lagu merdu.”

“Apa upahnya untuk tiap lagu suci?”

“E, e…… minta diupah segala! Aku miskin tidak punya apa-apa.” “Siapa bilang kau miskin. Kepandaianmu begitu banyak.”

“Hm, cerdik kau. Kau maksudkan minta diupah kepandaian silat?”

“Habis, apa lagi? Suci, maukah kau bermain sejurus dua jurus ilmu pukulan pedang setelah aku meniup suling untukmu?”

“Baiklah, ayoh, ambil sulingmu!”

Dan Giok Lie dengan riang berlari-lari masuk kamar untuk mengambil sulingnya. Sementara itu, Cin Han pun mengajak Nyo Tiang Pek keluar kamar berjalan-jalan.

“Nah, lihat adik perempuanku tadi. Bagaimana pendapatmu? Bukankah ia secantik bidadari? Tapi sayang, nakalnya bukan main. Ilmu silatnya cukup tinggi.”

Memang tadi telah dilihatnya Giok Lie yang cantik jelita itu dan diam-diam hati Tiang Pek tertarik sekali. Tapi ia tidak percaya bahwa gadis itu nakal, lebih-lebih tidak percaya gadis itu berkepandaian tinggi, biarpun ia mengaku murid Song Cu Ling. Maka mendengar kata-kata Cin Han ia hanya tersenyum saja.

Tiba-tiba mereka mendengar suara tiupan suling yang sangat merdu. Nyo Tiang Pek terpesona dan kagum sekali. Ia berdiri diam mendengarkan. Suara suling itu bagaikan ayunan ombak samudra yang mengombang-ambingkan hatinya, membuat seluruh tubuhnya merasa lemas dan nikmat. “Alangkah indah dan merdunya,” Tiang Pek berkata sambil menghela napas setelah suara suling berhenti. “Siapakah peniup suling sepandai itu?”

“Ia adalah tukang kebun pamanku, seorang laki-laki tua yang hidup sunyi. Kau ingin belajar menyulingkah?” Cin Han bertanya sambil senyum.

“Orang tua? Kasihan, suara sulingnya demikian halus dan mengandung kesedihan. Mari bawa aku padanya, ingin aku bertemu.”

“Maaf, twako. Masuk sajalah dan temui sendiri. Aku ada sedikit keperluan dengan paman untuk dibicarakan.” Dan Cin Han meninggalkan kawannya itu.

Tiang Pek tanpa ragu-ragu lagi segera memasuki taman. Sementara itu, Lian Hwa pun sudah meninggalkan Giok Lie seorang diri dengan alasan mau mencari dan memanggil nyonya Gan Keng Hiap untuk diajak bercakap-cakap di taman.

Coa Giok Lie yang ditinggal seorang diri segera meniup sulingnya lagi, sedikit pun tidak tahu bahwa sepasang mata memandangnya dengan kagum. Itu adalah sepasang mata Nyo Tiang Pek yang datang menghampiri dari belakang.

Pemuda itu sama sekali belum tahu bahwa yang meniup suling adalah seorang gadis cantik jelita, disangkanya seorang kakek sebagaimana yang dikatakan Cin Han tadi. Kebetulan pada saat itu bulan bersembunyi di balik awan hingga keadaan agak gelap.

“Pak tua, tiupan sulingmu sungguh merdu,” Tiang Pek berkata dan Giok Lie dengan terkejut melepas sulingnya dari bibir dan membalikkan tubuh.

Tiang Pek hampir berteriak kaget ketika melihat bahwa yang ditegurnya adalah seorang gadis yang pada saat itu memandangnya dengan mata indah yang terbelalak heran.

“Ah, oh…… maaf, nona…… kukira……”

“Nyo-taihiap, kaukah?” tegur Giok Lie yang tadi siang sudah diperkenalkan kepada pendekar muda ini.

“Maaf nona. Kakakmu berkata bahwa peniup sulingnya bukan kau……” “Kau maksudkan koko Cin Han?”

“Ya, bukankah kau adik saudara Cin Han?”

Giok Lie mengangguk dan memandangnya dengan senyum sindir ketika dilihatnya betapa pendekar yang dipuji-puji oleh Cin Han dan Lian Hwa itu kini berdiri di depannya dengan sikap kemalu-maluan. Melihat senyum sindir yang membayang di bibir gadis itu, teringatlah Tiang Pek akan keluhan Cin Han bahwa adiknya itu sangat nakal dan jumawa karena memiliki kepandaian tinggi! “Nyo-taihiap, ada perlu apakah kau memasuki taman ini?” tiba-tiba Giok Lie bertanya karena merasa tidak enak kalau diam saja.

Tiang Pek makin bingung. “A...... aku....... pernah saudara Cin Han ceritakan padaku bahwa kau memiliki bu-gee yang tinggi, tapi sama sekali tak kusangka kaupun memiliki kepandaian meniup suling demikian hebatnya!”

“Aah, kau hanya menyindir, Nyo-taihiap. Aku baru saja belajar silat, belum ada seperseratus dari Lian Hwa cici! Bahkan di kemudian hari banyak mengharap petunjuk taihiap dalam hal ilmu silat.”

Nyo Tiang Pek merasa gemas kepada Cin Han. Masakan gadis yang begini sopan santun merendah dan cantik jelita dikatakan sombong, nakal dan jumawa? Gadis ini begini halus tutur bahasanya, begini sopan gerak-geriknya, bahkan jauh lebih menarik daripada Lian Hwa!

Pada saat itu terdengar suara orang tertawa-tawa. Lian Hwa mendatangi, diikuti Song Cu Ling yang menggandeng tangan Kong Liang dan Mei Ling.

“Eh, eh, Nyo-twako sudah berada di sini? Sudah lamakah, twako?”

Wajah Tiang Pek memerah mendengar pertanyaan yang mengandung godaan ini. Ia pelototkan mata memandang Lian Hwa yang segera menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara ketawanya.

“Aah, Giok Lie cici berada di taman dengan seorang kawan, pantas saja kami cari di mana-mana tidak ada!” Mei Ling tiba-tiba menegur yang membuat Lian Hwa tertawa geli dan membuat wajah kedua pemuda pemudi itu makin merah saja.

Karena merasa serba salah, Tiang Pek segera minta maaf dan bermohon diri, keluar dari taman. Di luar taman Cin Han menantinya dan pura-pura tidak tahu akan siasat yang diaturnya dengan Lian Hwa itu.

“Hm, kau memang terlalu, lauwte.” Tiang Pek menegur cemberut.

“Eh, eh, apakah tukang sulingnya berlaku kurang ajar padamu, twako?”

“Jangan begitu, lauwte, hampir saja aku mendapat malu. Kau tukang bohong, dulu kau bilang adikmu nakal dan sombong. Tapi ”

“Tapi apa, twako?” Cin Han bertanya, sambil menggoda. “Sama sekali tidak nakal, dan sedikit pun tidak sombong ”

“Jadi kau suka padanya, twako?”

“Anak gila kau!” Tiang Pek yang digoda memaki tapi sambil tersenyum, lalu meninggalkan Cin Han ke dalam kamarnya. Malam itu juga Cin Han menjumpai paman dan bibinya untuk membicarakan hal usulnya untuk menjodohkan Giok Lie dengan Tiang Pek. Kedua orang tua itu memang suka dan kagum melihat Tiang Pek, maka tentu saja mereka senang sekali mendengar usul ini, lalu mereka ajak Song Cu Ling berunding. Nyonya tua inipun sudah cukup kenal dan tahu akan sepak-terjang pendekar muda itu, sehingga iapun menyatakan kegembiraannya.

Untuk menyatakan hal ini kepada Giok Lie, Lian Hwa lah yang bertanggung jawab, sedangkan yang bertanya kepada Tiang Pek tentu saja diserahkan kepada Cin Han. Kedua taruna remaja itu memang sudah merasa tertarik yang satu kepada yang lain, maka ketika ditanya mereka hanya bertunduk saja dengan muka merah dan dada berdebar.

Demikianlah, pada bulan berikutnya, hari kedelapan, di rumah Gan Keng Hiap dihias indah dan diramaikan dengan gembreng dan tambur. Tamu-tamu keluar masuk memenuhi ruang rumah Gan Keng Hiap. Di ruang dalam, dua pasang pengantin duduk bersanding: Lo Cin Han dengan Han Lian Hwa, dan Nyo Tiang Pek dengan Coa Giok Lie. Baik Lian Hwa maupun Giok Lie masing-masing mengucurkan air mata karena teringat akan ayah ibu masing-masing.

Di dalam perayaan itu, semua kawan dari kalangan kang-ouw pun datang untuk memberi selamat. Tidak ketinggalan datang juga Gwat Liang Tojin, Kong Sin Ek si Dewa Arak, Pek Siong Tosu, Ong Su dan Ong Bu, Biauw In Suthai, dan yang lain-lain. Bahkan ada beberapa orang pula dari pihak Pek-lian-kauw yang sudah sadar dan insaf akan kesalahan mereka.

Setelah pesta kawin bubar, Nyo Tiang Pek dan isterinya pergi ke Kang-lam mencari Kam Hong Tie, sedangkan Cin Han dan Lian Hwa pergi ke Kim-ma-san untuk menghadap Beng San Siansu. Kedua pengantin ini berbulan madu sambil menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan mereka.

Maka bahagialah penghidupan mereka sepanjang masa. TAMAT