-->

Si Teratai Emas Jilid 9 (Tamat)

Jilid 9 (Tamat)

"Mereka akan mencari akal untuk melakukan kebohongan-kebohongan kalau diberi waktu sehari untuk berpikir."

"Saya mempunyai alasan-alasan saya," kata hakim dengan tegas. Malam harinya, hakim yang cerdik itu lalu menyuruh seorang mata-matanya, menyamar sebagai , orang tahanan, untuk menyelidiki rahasia itu dari dua orang pencuri itu. Mata-mata itu berada dalam satu sel dengan Chen Ceng Ki dan kacungnya, dan dia berkata sambil lalu,

"Eh, orang muda. Engkau agaknya bukan orang yang pantas berada di tempat ini. Apakah engkau masuk ke sini karena suatu kesalahan pengertian?," Karena yang bertanya adalah seorang tahanan pula, Chen Ceng Ki mencurahkan isi hatinya yang penuh penasaran.

"Aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa sampai terjadi aku ditahan sebagai pencuri. Aku adalah mantu dari mendiang Shi Men, hakim distrik Ceng-Ho-Sian, yang mempunyai hubungan cinta dengan seorang wanita she Mong yang kini menjadi isteri Li-Kongcu. Ketika menikah, ia membawa sepuluh peti terisi barang-barang peninggalan dari Pamanku, mendiang Jenderal Yang, yang menjadi hakku. Aku datang untuk minta barang-barang itu darinya. Akan tetapi ia bersekongkol dengan suaminya, mempermainkan aku dan menuduh aku sebagai pencuri dua ratus ons perak." Ketika pada keesokan harinya diadakan pengadilan lagi, dalam persidangan itu, dengan suara nyaring hakim mengumumkan bahwa Chen Ceng Ki dan kacungnya dibebaskan dan tuduhan itu dicabut.

"Tapi kenapa?" tanya Li-Taijin. "Kesalahan mereka sudah terbukti!" Dengan sikap angkuh, yakin akan kekuasaannya sebagai hakim, hakim itu di depan para petugas di kantor itu lalu berkata,

"Kami diangkat menjadi hakim bukan untuk menindas yang lemah dan membela yang berkedudukan atau yang kaya. Pemuda itu datang untuk menuntut haknya, minta kembali barang-barangnya peninggalan mendiang Jenderal Yang dari mantumu, akan tetapi dia malah dituduh sebagai pencuri. Sungguh perbuatan itu tidak patut dilakukan oleh keluarga pejabat pemerintah yang seharusnya bertindak adil." Li-Taijin tentu saja merasa malu sekali dan wajahnya menjadi merah. Kemarahan ini ditumpahkan ketika dia tiba di rumahnya.

"Sungguh kurang ajar sekali anak kita itu!" teriaknya kepada isterinya.

"Karena ulahnya maka aku mendapat penghinaan dan menerima tamparan keras sehingga menderita malu besar di depan banyak pejabat." Dia lalu memanggil puteranya, menyuruh orangnya memberi hukuman tiga puluh kali cambukan dan membelenggunya, menahannya dalam sebuah kamar kosong, di mana dia akan dibiarkan mati kelaparan. Dan mantunya akan diusir dengan tidak hormat dari rumah itu. Akan tetapi isterinya membujuk dan memohon pengampunan kepadanya sehingga akhirnya Li-Taijin hanya menyuruh mereka berdua pergi meninggalkan rumah, dalam waktu tiga hari. Sementara itu, Chen Ceng Ki yang masih merasa nyeri tubuhnya akibat pencambukan di pengadilan, kembali ke kapal yang memuat barangnya dan dijaga oleh Yang. Uangnya sudah habis dan diapun pergi ke rumah penginapan di mana Yang tinggal ketika dia meninggalkannya. Akan tetapi pembantunya itu tidak ada lagi di situ.

"Dia telah pergi kemarin dulu," kata pengurus penginapan.

"Dia bilang bahwa engkau telah menyurat bahwa engkau tidak dapat datang dan bahwa dia tidak perlu menunggu lagi. Maka diapun sudah berangkat pulang dengan kapal yang membawa barangmu itu." Tentu saja Ceng Ki terkejut dan marah sekali. Dia lari ke pelabuhan dan benar saja, kapal itu telah pergi.

Dia harus pulang, akan tetapi uangnya telah habis. Terpaksa dia harus menjual semua perhiasan yang menempel di tubuhnya, bahkan juga pakaian suteranya. Uang hasil penjualan ini hanya cukup memberinya sebuah tempat buruk di dek sebuah perahu yang akan membawanya pulang ke Ceng-Ho- Sian. Akhirnya, dalam perjalanan yang amat melelahkan, menderita kelelahan dan kelaparan, pakaiannya kotor dan robek-robek seperti pengemis, akhirnya tibalah dia di rumahnya. Keadaan yang buruk dan sengsara ini ditambah lagi dengan keadaan rumah tangganya, yang membuat Chen Ceng Ki menjadi semakin marah. Kiranya ketika dia tidak berada di rumah, selalu terjadi keributan antara isterinya dan Kim Giok, selirnya. Dua orang wanita yang bersaingan ini selalu cekcok. Ketika dia pulang, tentu saja dua orang wanita itu melaporkan keburukan lawan.

"Perempuan itu menggunakan semua uang keperluan rumah tangga untuk kepentingannya sendiri," kata isterinya.

"Ia selalu mengundang seorang teman dari rumah pelesir ke sini dan memberi laki-laki itu entah berapa banyak uang dan selalu makan minum dengan laki-laki itu. Ia tidur sampai siang dan tak pernah membantu pekerjaan runah tangga." Sebaliknya Kim Giok juga mengadu.

"Ia tidak pernah bekerja sehingga keadaan rumah tangga morat-marit. la memasak daging untuk ia sendiri dan pelayannya, dan membuat kue-kue. Untukku, sudah cukup kalau aku mendapatkan semangkok bubur." Tentu saja Ceng Ki memihak kekasihnya.

"Engkau sungguh tidak pantas, pelit dan kejam!" bentaknya kepada isterinya, bahkan menendangi isterinya dan pelayan isterinya.

"Engkau perempuan pelacur!" Isteri Ceng Ki memaki saingannya. "Engkau memutarbalikkan kenyataan! Engkau ingin menyingkirkan aku dan menggantikan tempatku agar kelihatan penting. Akan tetapi, lebih baik aku mati daripada harus sederajat dengan perempuan macam engkau!"

"Diam!" bentak Chen Ceng Ki. "Engkau memang bukan sederajat dengannya, engkau tidak lebih berharga dari sekuku hitam jari kakinya!" Dan Ceng Ki menjambak rambut isterinya dan memukulinya sampai mulutnya berdarah dan wanita itu jatuh pingsan.

Pada malam hari itu, ketika Chen Ceng Ki tidur sambil memeluk Kim Giok, isterinya menggantung diri sampai mati dalam usia dua puluh empat tahun! Peristiwa ini tentu saja menggegerkan dan pelayan yang merasa penasaran tentu saja mengabarkan keluar sehingga peristiwa kematian wanita yang malang itu sampai juga ke telinga Goat Toanio. Memang sejak dahulu Goat Toanio membenci Chen Ceng Ki, maka berita itu membuat marah bukan main! la lalu mengajak empat pelayan laki-laki dan empat orang pelayan wanita untuk menemaninya berkunjung ke rumah Chen Ceng Ki untuk berkabung. la sembahyang di depan peti jenazah dan berkabung sejenak, kemudian ia memberi isarat kepada delapan orang pelayannya yang memang sudah dipersiapkan untuk itu. Delapan orang ini lalu mengeroyok Ceng Ki, merobohkannya ke atas lantai dan memukulinya, menganianya, mencakarnya,

Bahkan ada pelayan wanita yang menggunakan jarum dan tusuk sanggul menusukinya, Ceng Ki menjerit- jerit, babak belur mandi darah sampai setengah pingsan. Kemudian, atas perintah Goat Toanio, mereka menyeret Kim Giok yang bersembunyi di bawah tempat tidur, kini memukulinya dan mencakarinya sampai wanita ini setengah mati baru dilepaskan. Goat Toanio masih belum puas Bersama para pelayannya, ia lalu menghancurkan semua perabot rumah, memecahkan tirai-tirai, memecahkan semua mangkok piring, menyayati kasur bantal, pendeknya, tidak ada barang di rumah itu yang dibiarkan utuh! Barulah Goat Toanio mengajak orang-orangnya pergi meninggalkan rumah itu. Akan tetapi, ia masih juga belum puas dan setibanya di rumah, Goat Toanio mengadakan perundingan dengan dua orang saudara laki-lakinya.

"Dia telah mendorong isterinya untuk bunuh diri, dan hal ini dapat dilaporkan sebagai pembunuhan," demikian Kakaknya memberi nasihat.

"Dia harus diberi pelajaran dan hukuman untuk menebus dosa-dosanya dan juga agar kelak jangan berani mengganggumu lagi."

Goat Toanio setuju dan pada hari itu juga ia mengajukan dakwaan dan tuntutan terhadap mantunya. Petugas lalu datang dan menangkap Chen Ceng Ki dan Kim Giok. Setelah membaca dakwaan dan tuntutan Goat Toanio, hakim lalu memberi hukuman pertama dua puluh pukulan kepada Ceng Ki, sedangkan Kim Giok sebagai pembantu yang melakukan kejahatan, dihukum siksa jepit jari tangan, kemudian dijebloskan lagi dalam kamar tahanan. Karena pembantu Ceng Ki, yaitu Yang, telah melarikan semua barang yang merupakan kekayaan terakhir, Ceng Ki sudah tidak mempunyai apa-apa. Akan tetapi Cen Ting, pelayannya, berhasil menjual barang-barang yang berharga dan berhasil mengumpulkan uang seratus ons untuk diberikan kepada hakim yang memeriksa mayat isteri Ceng Ki melaporkan bahwa kematian itu terjadi akibat bunuh diri menggantung,

Bukan karena dibunuh walaupun wanita itu menggantung diri karena patah hati setelah dipukuli suaminya. Kenyataan ini membuat hakim merasa lega. Dia telah menerima seratus ons perak, dan kini dia mempunyai alasan untuk menghindarkan Ceng Ki dari tuduhan membunuh karena isterinya itu ternyata mati karena bunuh diri. Ketika sidang pengadilan diadakan lagi, hakim memutuskan untuk menghukum Chen Ceng Ki dengan sepuluh cambukan lagi dan hukum penjara selama satu bulan saja, sedangkan Kim Giok dikirim kembali ke rumah pelesir. Juga Ceng Ki diancam agar jangan mengganggu Ibu mertuanya, Goat Toanio, dan harus mengadakan penguburan yang patut bagi isterinya. Sekali ini Chen Ceng Ki benar-benar bangkrut! Pukulan-pukulan nasib buruk yang menimpanya bertubi-tubi, yang terakhir biaya penguburan isterinya, membuat dia habis-habisan.

Dua buah rumahnya yang lebih kecil sudah dijualnya untuk semua pengeluaran itu. Dan kini, satu demi satu, perabot rumahnya yang besar harus pula dijualnya untuk biaya hidup. Celakanya, dia sudah biasa hidup mewah dan royal, dan sukar baginya untuk menanggalkan kebiasaan ini sehingga dalam keadaan menganggur dan mengandalkan semua pengeluaran dari penjualan perabot rumah dan akhirnya rumah besarnya juga dan sisa uangnya dipakai untuk beroyal-royalan, untuk berjudi, sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, Chen Ceng Ki telah menjadi seorang pengemis! Dia harus melewatkan malam harinya di antara para pengemis, di emper-emper, di kolong jembatan, dan di Kuil-Kuil kosong. berbagi tempat dengan para pengemis lain, bahkan kadang-kadang membagi makanan dengan para pengemis lain.

Di kota Ceng-Ho-Sian tinggal seorang hartawan bernama Wang Ting Yang. Hartawan yang usianya sudah enam puluh tahun ini, kini hidup sebagai seorang dermawan. Setiap hari dia lebih suka bersamadhi, membuat doa dengan tasbihnya, dan membagi-bagikan sebagian dari harta kekayaannya kepada tempat-tempat ibadah, kepada fakir-miskin. Pada suatu hari di musim salju yang dingin, dia duduk di depan pintu gedungnya, memegang tasbih dan memandang ke jalanan yang sepi.

Di luar rumah terlampau dingin sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ada orang yang ke-luar rumah, lebih enak tinggal di dalam rumah di mana bernyala api pemanas. Kebetulan sekali, pada saat Kakek ini duduk melamun di depan rumah, lewatlah Chen Ceng Ki. Ketika dia memandang Kakek itu yang seorang kenalan baik mendiang Ayahnya timbullah keinginan hatinya untuk minta tolong Kakek hartawan itu Dia lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut memberi hormat, Kakek Wang membalas penghormatannya dengan ramah.

"Siapakah anda, orang muda? Mata tuaku sudah lamur dan tidak dapat mengenalmu lagi."

“Saya adalah putera dari mendiang Cheng Hung," kata Ceng Ki yang menggigil kedinginan, juga merasa malu, sekali mengingat akan keadaan dirinya. Kakek itu memandang terbelalak, mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kaki, lewat pakaiannya yang kotor dan koyak-koyak, mukanya yang kurus pucat.

"Aih, keponakanku, bagaimana engkau sampai menjadi begini? Bagaimana kabarnya orang-tuamu?" "Keduanya telah meninggal dunia."

"Apakah engkau tidak lagi tinggal di rumah mertuamu?

"Ayah mertua saya telah meninggal dunia. lbu mertua saya mengusir saya keluar dari rumah, bahkan ia menuntut saya ketika baru-baru ini isteri saya meningga.! Karena pernikahan yang tidak patut itu saya telah kehilangan segala-galanya, harus menjual rumah dan segala barang yang saya miliki. Sekarang saya sudah tidak punya apa-apa lagl, dan terpaksa harus mengemis...” Kakek itu menarik napas panjang

"Sekarang engkau tinggal di mana?"

"Di bawah jembatan bersama para pengemis lain...”

"Ah... ah, sungguh menyedihkan! Masih teringat olehku ketika sahabat baik ku, Ayahmu itu, masih tinggal di sini dan engkau masih seorang anak kecil. Betapa terhormat dan makmur keadaan keluargamu ketika itu. Dan sekarang keadaanmu seperti ini, sungguh mengenaskan sekali. Apakah tidak ada anggauta keluarga lain yang dapat membantumu?"

"Tidak ada dan satu-satunya Paman saya yang tinggal di sini tidak mau menerima saya." Kakek Wang Ting Yang mengajak Chen Ceng Ki masuk, memberinya makan sekenyangnya, kemudian memberinya pakaian yang pantas dan lima ratus uang tembaga ditambah satu ons perak. “Di luar kota terdapat sebuah Kuil Tao, dan aku bersahabat, baik dengan ketua Kuilnya. Bagaimana kalau kita pergi ke sana dan akan kubujuk dia agar merimamu sebagai seorang kacung Kuil? Tentu saja engkau harus bekerja disana akan tetapi, bagaimanapun juga, engkau akan hidup terhormat dan cukup makan.”

"Saya setuju sekali, Paman yang budiman.” Setelah membuatkan dua stel pakaian kacung Kuil untuk Chen Ceng Ki, Kakek itu lalu mengajaknya pergi ke Kuil Tao yang jauhnya ada tujuh belas li. Setelah diterima oleh ketua Kuil, Kakek Wang menyerahkan sumbangan berupa segulung kain Sutera, seguci anggur, beberapa potong dendeng kering, dua ekor bebek panggang, dua keranjang buah dan lima ons perak, berikut permohonannya agar Chen Ceng Ki dapat diterima bekerja di Kuil itu sebagai kacung. Yen Tosu, ketua Kuil itu, menerima sumbangan tadi dengan gembira, apalagi ketika dia melihat bahwa calon kacung itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan bertubuh tegap. Tanpa banyak alasan lagi diterimanya Chen Ceng Ki dengan gembira dan setelah Kakek Wang pergi dan mereka berdua saja di dalam ruangan belakang, Yen Tosu bertanya,

"Berapakah usiamu?”

"Dua puluh empat tahun” jawab Ceng Ki.

"Baik, mulai sekarang engkau menjadi kacung Kuil dan pembantuku yang baru dan namamu yang baru sebagai angauta Kuil adalah Tiong Bi, yaitu Sumber Kecantikan." Kepala Kuil Yen Tosu ini bukanlah seorang Pendeta yang menjauhi kesenangan dunia. Dia masih suka pesta, makan daging, minum anggur. Dia tidak kekurangan dana karena Kuilnya berada didekat kota Lin-Cing, sebuah kota pelabuhan sungai yang ramai oleh arus lalu lintas air. Banyak pengunjung datang ke Kuil itu dan mereka ini tentu saja menyumbang agar permohonan mereka kepada dewa penunggu Kuil dapat mudah terlaksana. Yen Tosu bahkan mempergunakan kelebihan uang penghasilan Kuil itu untuk membuka toko beras dan tempat penukaran uang di pelabuhan Lin-Cing, yang, menghasilkan keuntungan cukup banyak. Untuk mengurus perusahaannya, dia mempunyai seorang kepercayaan yang pandai berdagang.

Dia sendiri telah mempunyai dua orang kacung yang tampan, yang menemaninya, melayaninya untuk keperluan sehari-hari, juga menjadi teman-teman tidurnya. Semua teman dekatnya tahu belaka bahwa Yen Tosu adalah seorang Kakek yang suka membawa pemuda-pemuda tampan ketempat tidurnya. Inilah sebabnya mengapa tosu ini demikian gembira menerima Chen Ceng Ki, karena pemuda ini amat tampan. Beberapa hari kemudian, setelah mengajak Ceng Ki makan minum dan membuat pemuda itu agak mabuk oleh minuman keras, Yen Tosu mengajak Ceng Ki tidur di dalam kamarnya. Ceng Ki adalah seorang muda yang berpengalaman dan melihat keadaan ini, ia menggunakan akal demi keuntungan dirinya. Dia pura-pura menolak keras dan seolah-olah hendak berteriak. Ketika Kakek yang terkejut itu menutup mulutnya dengan tangan, Ceng Ki berkata,

"Ah, kiranya engkau suka padaku. Baiklah, aku akan melayanimu, tetapi dengan tiga syarat." Kakek pendeta yang sudah dicengkeram nafsu itu, menjawab dengan penuh gairah,

"Jangan hanya tiga, biar sepuluh syaratpun akan kupenuhi"

"Pertama, tidak boleh ada lain orang menemanimu tidur. Ke dua, aku minta kunci dari kamar-kamar di Kuil dan pintu gerbang. Dan ke tiga, aku minta agar boleh keluar dan masuk Kuil sesuka hatiku.”

"Hanya itu? Permintaanmu kusetujui!" Kembali dengan kecerdikannya Ceng Ki dapat hidup senang walaupun dia menjadi kacung Kuil. Dia bebas pergi kemana saja, dapat memakai uang dan ambil apa saja yang diperlukannya. sementara dengan, kepandaiannya dia berhasil menguasai kepala Kuil itu yang menjadi tergila-gila kepadanya dan setiap malam tidur bersama pemuda yang menjadi kekasih barunya itu,

Pada suatu hari ketika Chen Ceng Ki pergi mengunjungi kota Lin-Ceng, dari teman dia mendengar bahwa seorang sahabat lama, bekas kekasihnya, yaitu Kim Giok, berada di kota itu. Bekas pelayan di dalam rumah keluarga Shi Men, setelah keluar dari situ, menjadi anggota keluarga rumah pelesiran milik Bibi Ceng di Ceng-Ho-Sian, akan tetapi sekarang wanita muda yang cantik ini bekerja di dalam sebuah kedai arak yang besar di Lin-Ceng. Mendengar ini, giranglah hati Ceng Ki. Dia membawa uang secukupnya dari Kuil, kemudian bersama temannya pergi mengunjungi kedai arak itu. Ketika Kim Giok melihat munculnya Ceng Ki, Ia terbelalak dan sepasang mata yang indah itu lalu menjadi basah dan berderailah air matanya. Ceng Ki juga merasa terharu, dengan lembut diapun membimbing tangan wanita itu dan diajaknya duduk di sampingnya. Kini Kim Giok menangis di atas pundak bekas kekasih itu,

"Sudahlah sayang, kini aku. telah berada di sampingmu lagi, jangan bersedih.” Setelah teman Ceng Ki yang tahu điri meninggalkan mereka berdua saja, mereka saling menceritakan pengalaman masing- masing sejak berpisah, kemudian merekapun berpesta untuk merayakan pertemuan kembali itu yang ditutup dengan pelepasan kerinduan yang mesra dan memuaskan kedua pihak.

Mulailah hari itu terjadilah hubungan yang akrab antara Chen Ceng Ki dan Kim Giok, melanjutkan hubungan mereka yang dahulu terputus ketika isterinya mati menggantung diri dan Kim Giok akhirnya dijual ke rumah pelesiran. Kini seminggu dua tiga kali Chen Ceng Ki datang berkunjung dan bersenang- senang dengan kekasihnya itu. Kedai arak yang juga menjadi rumah pelesiran di mana kini Kim Giok tinggal adalah milik seorang she Liu dan dia adalah ipar dari Chang Shong, yang terkenal sebagai seorang tukang pukul yang ugal-ugalan, sewenang-wenang mengandalkan kekuatan dan keberanniannya yang didasari kedudukannya sebagai seorang pelayan pembesar tinggi. Chang Shong ini bukan hanya suka, mabuk-mabukan akan tetapi juga suka mengganggu gadis-gadis penghibur yang datang ke kedai arak itu untuk melayani para tamu.

Dia memeras mereka dengan kekerasan, mengharuskan mereka membayar semacam uang pajak. Setiap waktu dia menghendaki, wanita-wanita penghibur itu harus mau melayaninya dan dia memperlakukan mereka dengan kasar dan kejam. Pada suatu siang, ketika Cheng ki sedang duduk bersendau gurau dengan Kim Giok di dalam kamarnya sambil minum arak, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar dengan keras. Karena Kim Giok agak lambat membukakannya, pintu itu ditendang dari luar sehingga terbuka dan muncullah Chang Shong yang mukanya merah karena mabuk dan marah, matanya melotot penuh ancaman. Chen Ceng Ki terkejut dan ketakutan, akan tetapi Kim Giok dengan sikap ditenangkan lalu bangkit dan menghampirinya, bertanya dengan sikap manis,

"Ada urusan apakah, Paman Chang yang baik?"

"Hemm, enak saja engkau main-main pelacur busuk! Engkau masih berhutang uang pajak tiga bulan kepadaku. Hayo bayar!"

"Biarlah nanti akan kubayar, Paman. Harap sabar sebentar," kata Kim Giok masih menyembunyikan rasa takutnya di balik senyum manis. Akan tetapi, dengan marah Chang Shong mendorong wanita itu sampai terpelanting dan kepalanya membentur meja sampai mengeluarkan banyak darah. “Aku tidak bisa menunggu lagi! Aku harus menerimanya sekarang!" teriaknya kepada Kim Giok yang masih rebah di atas lantai. Kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadapi Chen Ceng Ki, matanya melotot marah. Sekali tendangan membuat meja di antara mereka terlempar, membuat mangkok piring berserakan. Melihat kekasihnya diperlakukan kasar, Chen Ceng Ki merasa bahwa sudah tiba saatnya dia memperlihatkan kejantanannya.

"Hai. siapakah engkau itu yang masuk dengan kekerasan seperti orang biadab?"

"Apa? Seorang Pendeta laknat macam engkau berani membuka mulut? Engkau Pendeta busuk tukang lacur, biar kuhajar engkau" bentak Chang Shong dan diapun menerjang dengan marah. Ceng Ki berusaha melawan, namun sia-sia saja. Dia seorang pemuda yang lemah dan terlalu banyak pelesir dengan wanita, mana mungkin mampu melawan seorang jagoan tukang pukul seperti Chang Shong? Dia dibanting ke atas lantai dan dihujani pukulan dan tendangan sampai jatuh pingsan. Petugas Keamanan datang dan setelah mendengar dari Chang Shong yang mereka kenal sebagai pelayan kepercayaan Jaksa Chow,

Tentu saja mereka lebih percaya kepada pelayan pembesar itu dan Chen Ceng Ki bersama Kim Giok lalu ditangkap dan diseret ke pengadilan. Sebelum diadili, mereka dijebloskan ke dalam tahanan. tempat tahanan, para petugas tahanan, yang juga merangkap sebagai tukang siksa di pengadilan, segera mengancam dan membujuk kepada Chen Ceng Ki agar “bersikap baik" terhadap mereka, dan tidak melupakan "jasa" mereka. Chen Ceng Ki mengerti apa maksud mereka yaitu mereka minta uang suapan, akan tetapi dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Baju luarnya telah terobek ketika dia dipukuli Chang Shong, dan uang dalam sakunyapun hilang. Yang dimilikinya hanyalah sebuah hiasan rambut dari perak dan benda itulah yang diberikan kepada petugas tahanan, yang diterimanya dengan wajah muram oleh para petugas itu.

Keadaan Kim Giok lebih baik. Bibi Ceng, yaitu mucikari yang mengurus semua keperluan Kim Giok, cepat membagikan empat ons uang kepada Petugas tahanan yang tentu saja merasa senang dan mereka menjanjikan untuk bersikap lunak terhadap wanita pelacur ini kalau terjadi pemeriksaan pengadilan tiba. Seperti kita ketahui,Chow-Taijin adalah jaksa yang, berkuasa dan dia telah menerima Cun Bwe sebagai selirnya yang tercinta. Cun Bwe adalah bekas pelayan Kim Lian ketika masih bekerja di rumah keluarga Shi Men. Setelah Cun Bwe melahirkan seorang putera, maka kesayangan Chow-Taijin terhadap dirinya menjadi semakin besar, Apalagi ketika isteri Pertama meninggal dunia, maka Cun Bwe diangkat menjadi isteri pertama!

Tentu saja kedudukannya menjadi tinggi dan mulia, dan segala keinginannya dipenuhi belaka oleh suaminya. Anak laki-laki yang kini berusia enam bulan itu amat dekat dengan Chang Sheng tukang pukul yang menjadi pelayan kesayangan dan kepercayaan Chow-Taijin. Seringali anak itu dipondongnya dan diajaknya bermain-main. Bahkan kalau Chow-Taijin sedang mengadakan pemeriksaan dalam sidang pengadilan, dimana Chang Shong hadir, pelayan ini seringkali mengajak anak itu bersamanya. Demikian pula, ketika Chen Ceng Ki dan Kim Giok diadili, Chang Shong juga hadir sambil mondong anak kecil putera Chow-Taijin. dan Cun Bwe itu. Keputusan pengadilan itu cepat sekali. Setelah ditanya nama dan pekerjaannya, hakim memutuskan,

"Orang muda Chen, sebagai seorang anggauta Kuil Tao, engkau telah melanggar pantangan Kuil, engkau minum arak dan melacur di tempat umum, bahkan membikin ribut! Karena itu, kami Menuntut untuk memberi hukunan Cambuk dua puluh kali kepadamu, dan engkau tidak boleh lagi menjadi Pendeta Tao.” Kemudian kepada Kim Giok, pembesar itu berkata, "Engkau kami jatuhi hukuman jepit jari lima puluh kali, dan engkau tidak boleh kembali ke kedai arak di Lin-Ceng melainkan harus kerumah pelacuran di mana engkau berasal." Hukuman itu segera dilaksanakan. Beberapa orang algojo melaksanakan hukumnan jepit jari kepada Kim Giok, akan tetapi mereka benar-benar melakukannya dengan lunak sehingga wanita itu tidak begitu tersiksa. Sebaliknya, mereka melaksanakan hukuman terhadap Chen Ceng Ki, merangket orang muda itu dengan sepenuh tenaga tanpa mengenal kasihan lagi. Tiba-tiba terjadilah suatu keanehan. Anak laki-laki yang berada dalam pondongan Chang Shong, tiba-tiba meronta ronta dan mengulurkan kedua tangan ke arah Chen Ceng Ki. Chang Shong berusaha mendiamkannya namun sia-sia saja, maka, khawatir kalau pembesar itu terganggu dan marah, Chang Shong segera mengajak anak yang masih menangis itu masuk ke dalam.

"Eh... apa yang terjadi dengannya?" tanya Cun Bwe ketika anak itu dibawa masuk ke dalam keadaan menangis semakin kuat.

"Sungguh saya sendiri merasa heran, Nyonya. Biasanya dia diam saja menyaksikan Semua peristiwa di pengadilan, akan tetapi ketika pesakitan Chen dari Kuil Tao itu dihukum cambuk, dia lalu menangis dan meronta-ronta, maka terpaksa saya ajak masuk," kata Chang Shong.

"Chen...!" Cun Bwe bertanya kaget dan iapun cepat menuju ke luar dan mengintai dari balik tirai. Dan benar saja, sekali lirik tahulah ia bahwa pemuda yang mengaduh-aduh di bawah cambukan itu bukan lain adalah Chen Ceng, mantu Shi Men yang pernah menjadi kekasihnya pula ketika pemuda itu mengadakan hubungan gelap dengan Kim Lian, bekas majikannya. Melihat ini, cepat Cun Bwe menyuruh Chang Shong untuk memanggil suaminya. Chang Shong cepat keluar dan mendengar bahwa isterinya memanggilnya sekarang juga, Jaksa Chow yang segera meninggalkan ruangan sidang dan masuk ke dalam. Para algojo yang baru mencambuk sepuluh kali, terpaksa menunda kelanjutannya hukuman itu sambil menanti kembalinya Chow-Taijin.

"Ada apakah?" tanya Chow-Taijin kepąda isterinya.

"Pendeta muda itu adalah saudara sepupuku dari pihak Ibu. Karena itu, aku mohon kepadamu, ampunkan dia dan aku ingin bicara dengannya."

"Ah, kenapa tidak lebih dulu engkau beritahu? Sekarang dia sudah menerima sebagian dari hukumannya." Chow-Taijin kembali ke ruangan itu dan memberitahu kepada para pegawainya, “Pesakitan itu dibebaskan dari sisa hukumannya, dan wanita itu segera dikirim kembali ke rumah pelacuran!" Kemudian kepada Chang Shong dia berkata,

"Jangan biarkan Pendeta muda itu pergi, isteriku ingin bicara dengannya karena dia masih saudara sepupunya." Sementara itu, dengan jantung berdebar, Cun Bwe menanti saat pertemuannya dengan Chen Ceng, sambil mengenang kembali saat-saat indah dan mesra ketika dia masih menjadi kekasih pemuda itu. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat Sun Siu Oh! Ah, hampir saja ia lupa akan adanya wanita itu di dalam rumahnya dan bekerja sebagai pelayan dapur! Tentu saja Sun siu oh akan mengenal Chen Ceng Ki dan akan membuka rahasia kepada Chow-Taijin bahwa pemuda itu bukanlah saudara sepupunya, melainkan bekas kekasihnya!

"Katakan kepada saudara misanku itu bahwa pada saat ini aku belum sempat menerimanya dan aku akan menentukan waktunya untuk bertemu dengannya," katanya kepada Chang Shong. Biarpun Chen Ceng Ki merasa menyesal bahwa dia tidak segera dapat bertemu dengan Cun Bwe lagi, namun dia merasa lega bahwa dia merasa telah dapat terbebas dengan mudah walaupun punggungnya merasa pedih oleh cambukan sepuluh kali tadi. Diapun menerima pesan melalui Chang Shong itu dan dia meninggalkan kantor pengadilan, masuk ke kota Ceng-Ho-Sian dengan bebas, Cun Bwe mengasah otaknya yang cerdik.

Bagaimanapun juga, ia harus dapat mengadakan pertemuan. dengan bekas kekasihnya itu, akan tetapi seorang yang menjadi penghalang harus disingkirkan lebih dahulu, yaitu Sun Siu Oh. Dicarilah gara-gara. Melalui pelayannya, Ia memesan kepada Siu Oh untuk membuatkan masakan sup ayam yang lezat. Siu Oh melaksanakan perintah itu dengan hati-hati, iapun memasak sup ayam yang kelihatan lezat dan dengan baunya yang harum sedap, Akan tetapi, begitu mencicipi sedikit Cun Bwe memuntahkannya kembali dan memaki-maki, mengatakan bahwa sup itu tidak ada rasanya sama sekali, hambar dan tidak enak, dan minta kepada pelayan untuk membawanya kembali ke dapur. Pelayan itu membawa masakan ke dalam dapur dan mengatakan kepada Siu Oh bahwa majikannya menganggap masakan itu hambar dan kurang bumbu. Kini, setelah dicicipi lagi, Cun Bwe marah-marah.

"Huh, apakah ia ingin meracuni aku dengan masakan ini?" dan didorongnya panci sup itu sehingga isinya tumpah. "Panggil ia ke sini untuk minta ampun, aku sungguh marah kepadanya." Mendengar Ini Siu Oh mengomel,

"Hemm, baru saja ia mendapat kedudukan sedikit saja, ia sudah bersikap congkak dan menekan pelayan-pelayannya." Si pelayan tentu saja menyampaikan omelan ini kepada Nyonya majikannya dan Cun Bwe semakin marah.

"Keparat bermulut busuk, seret ia ke sini!" lalu empat orang pelayan wanita menangkap Siu Oh dan menyeretnya ke depan kaki Cun Bwe.

"Bagus ya? Kami memperlakukanmu dengan baik-baik di Sini, memberimu tempat dan makan, dan engkau membalasnya dengan kekurang ajaran mulutmu! Aku tidak sudi mempunyai koki macam engkau!" Cun Bwe memanggil suaminya dan minta kepada suaminya untuk menghukum Sun Siu Oh yang dikatakannya kurang ajar dan berani memakinya. Tanpa banyak cakap lagi Siu Oh lalu diseret ke tempat penyiksaan dan merima hukuman tiga puluh kali cambukan dengan telanjang bulat. Akan tetapi Siu Oh melawan ketika hendak ditelanjangi dan tidak sudi bertelanjang di depan umum. Para pelayan juga meragukan perlakuan ini, sedangkan isteri ke dua Chow-Taijin juga merasa betapa hukuman itu keterlaluan Maka iapun berkata,

"Nyonya Besar, berilah ia hukuman cambuk sesukamu akan tetapi harap jangan menyuruh membuka pakaian di depan umum, ini tidak pantas." Mendengar ini, Chow-Taijin mengangguk-angguk. Diapun tidak setuju dengan keputusan itu, akan tetapi tidak berani berterang menentang kehendak isterinya yang tercinta.

"Apa, engkau membelanya?" Cun Bwe berteriak. "Apakah kalian ingin aku menjadi gila? Akan kubanting mati anakku dan aku menggantung diri!" Dan iapun melempar dirinya ke atas lantai. Chow-Taijin cepat merangkul dan memeluknya.

"Baiklah, kehendakmu akan terlaksana" Dia menghibur dan demikianlah, Sun Siu Oh yang malang terpaksa harus menelungkup dan merima cambukan Sebanyak tiga puluh kali di pinggulnya. Dan pada hari itu juga Siu Oh dijual kepada Bibi Pi yang membawanya pergi. Cun Bwe hanya menjual Siu Oh seharga delapan ons saja, amat murah, akan tetapi Ia berpesan kepada Bibi Pi bahwa harga itu diberikan dengan syarat bahwa Siu Oh harus dijual ke rumah pelacuran! Karena mendapat kesempatan untuk mengeduk keuntungan sebanyaknya, Bibi Pi lalu menyanggupi dan iapun mengatur rencana. la menghubungi rumah pelacuran terbesar dan melalui seorang perantara yang menyamar sebagai duda Iapun menjual Siu Oh kepada duda itu untuk harga dua puluh lima ons. Sang duda membayar harga itu dan membawa Siu Oh pulang, bukan ke rumahnya sebagai isterinya yang ke sekian karena isteri pertama sudah meninggal, melainkan ke rumah pelacuran itu. Siu Oh terkejut bukan main, Ia menangis dan memberontak, namunn ia disiksa, dipaksa dan akhirnya semua kemarahan dan pemberontakannyapun dapat ditekan dan ditundukkan.

Ia harus belajar memainkan alat-alat musik dan setelah ia pandai, ia diharuskan berias diri, mengenakan pakaian indah dan mulailah ia bekerja sebagai seorang pelacur! Rumah pelacuran itu bukan lain adalah milik Liu ipar dari Chang Shong! Pada suatu hari, Chang Shong yang dihormati dan ditakuti sebagai pegawai berkunjung ke rumah pelacuran milik iparnya itu. Seperti biasa, dia disambut dengan hormat dan dipersilakan memilih bunga-bunga hidup yang terdapat di situ. Mendengar akan adanya seorang bunga baru yang cantik, ia memilihnya dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal pelacur ini sebagai Sun Siu Oh, bekas tukang masak rumah majikannya yang baru saja diusir keluar dari rumah itu. Juga Siu Oh mengenalnya dan pura-pura tidak Mengenalnya di depan orang banyak. Barulah setelah. mereka bereda berdua di dalam kamar, Chang Shong bertanya.

"Bukankah engkau Sun Siu Oh? Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?" Siu Oh menangis,

"Aku ditipu Bibi Pi, katanya dinikahkan dengan seorang duda, kiranya duda itu adalah perantara yang membawaku ke tempat ini. Aku dipaksa bernyanyi dan tertawa, padahal hatiku menangis air mata darah." Chang Shong memang sejak wanita itu menjadi koki di rumah majikannya, juga merasa kagum dan suka kepada wanita ini. Maka sekarang dia memperoleh kesempatan dan diapun mengajak Siu Oh makan minum, menyuruhnya bernyanyi dan malam itu dia menjadikan Siu Oh kekasihnya. Pada keesokan harinya, Chang Shong berpesan kepada iparnya bahwa mulai hari itu, Siu Oh adalah miliknya dan tidak boleh melayani laki-laki lain. Dialah yang akan memberinya belanja setiap bulannya. Pertemuannya dengan Chang Shong ini sedikitnya merupakan hiburan bagi Siu Oh, membebaskannya dari siksaan batin harus melayani setiap laki-laki yang berani membayarnya sebagai seorang pelacur.

Pada pertengahan bulan ke dua belas, Cun Bwe berkata kepada suaminya,

"Sebentar lagi akan tiba saatnya peringatan tiga tahun kematian Shi Men dan ulang tahun kelahiran puteranya. Aku tidak ingin dianggap tidak tahu aturan, maka aku ingin mengirim beberapa sumbangan ke rumah Goat Toanio." Chow Taijin menyetujui keinginan isterinya itu, dan dikirimnya seorang utusan membawa seguci anggur yang baik dan sebaki penuh bahan-bahan sembahyang. Keluarga Goat Toanio membalas dengan kartu undangan yang diantar oleh kacung A Tai, undangan dari Goat Toanio untuk Nyonya Jaksa Chow yang terhormat. Dengan girang Cun Bwe datang berkunjung ke rumah yang mendatangkan banyak kenangan baginya itu. la mendapatkan perubahan besar dalam rumah tangga itu.

Antara lain bahwa pelayan Siauw Giok kini telah menjadi isteri kacung A Tai yang telah dewasa. Pegawai Lai Seng yang telah menjadi duda, kini menikah dengan pelayan Yu I. Akan tetapi, hatinya kecewa karena ia tidak melihat Chen Ceng Ki di rumah itu seperti yang diharapkannya. Ke manakah perginya Chen Ceng Ki, bekas kekasihnya itu? Puteranya, yang semua orang menganggap sebagai putera Chow-Taijin, agaknya Secara ajaib telah mengenal Ayahnya yang sejati ketika Chen Ceng Ki menjalani hukumamya dahulu itu. Melihat kemurungan isterinya, kemudian mendengar pengakuan isterinya bahwa isterinya mengkhawatirkan saudara misannya, Chow-Taijin lalu mengutus orang-orangnya untuk mencari Chen Ceng Ki dan mengajaknya ke gedungnya untuk dapat bertemu dengan isterinya. Ke manakah perginya Chen Ceng Ki?

Dia tidak berani kembali ke Kuil karena dia mendengar bahwa kepala Kuil telah meninggal dunia dengan mendadak tentu karena mendengar akan peristiwa yang menimpa dirinya dan Kakek itu takut kalau sampai namanya terbawa. Karena tidak ada lagi tempat berteduh, Ceng Ki kembali kepada keadaan semula, yaitu tinggal di bawah jembatan bersama para jembel dan tunawisma lainnya, mendapatkan makanan setiap harinya dengan cara mengemis! Pada suatu pagi, dia bermalas-malasan duduk di ujung pintu gerbang, membiarkan matahari pagi menyinari tubuhnya yang berpakaian compang-camping, ketika dia melihat seorang laki-laki berkuda. Seorang laki-laki yang gagah dengan pakaian mewah dan di tangannya terdapat seikat bunga seruni yang masih segar. Ketika penunggang kuda itu melihat Ceng Ki, dia menahan kendali kudanya, dan meloncat turun dengan wajah gembira.

"Ah, kiranya engkau berada di sini! Betapa sulitnya kami mencari-carimu sampai ke mana-mana" Ceng Ki memberi hormat dan bertanya dengan sikap sopan.

"Bolehkan saya bertanya, siapakah tuan dan dari mana?"

"Aih, Chen Kongcu. Lupakah engkau kepadaku? Aku adalah Chang Song pegawai Chow-Taijin. Engkau adalah saudara misan dari Nyonya Besar dan beliau khawatir sekali sejak engkau menghilang. Kami diutus mencarimu sampai dapat, dan kami sudah hampir putus asa. Tahu-tahu engkau berada di sini dan kami saling bertemu secara kebetulan. Marilah, Kongcu, kau naiki kudaku biar aku mengiringkanmu sambil jalan kaki" Demikianlah, manusia sudah kehilangan kemanusiaannya, kehilangan kepribadiannya sebagai mahluk yang paling agung di dunia ini, Yang ada hanyalah kedudukan dan uang. Kedudukan dan uanglah yang menentukan kehormatan orang, Kedudukan dan uang demikian dipuja sehingga yang dua itulah yang dihormati orang bukan manusianya! Kelucuan yang menyedihkan, namun kenyataan ini dapat dilihat di manapun juga!

Setelah bersama Chang Shong dia tiba di rumah Jaksa Chow, melihat keadaan bekas kekasihnya itu, Cun Bwe lalu mengutus pelayan untuk menyediakan air harum agar “saudara misannya” itu dapat membersihkan diri, dan memberinya pakaian yang bersih dan indah. la sendiri lalu berias dan akhirnya, kedua orang ini dapat bertemu di dalam ruangan tamu. Karena berada di tempat terbuka dan dapat terlihat oleh para pelayan, Ceng Ki dan Cun Bwe bercakap-cakap seperti selayaknya dua orang saudara misan yang baru berjumpa. Akan tetapi keduanya merasa demikian terharu sehingga dua pasang mata itu berlinangan air mata. Pada waktu itu, Jaksa Chow masih berada di ruangan sidang, masih belum selesai dengan tugas pekerjaannya untuk hari itu. Cun Bwe khawatir kalau sampai suaminya datang dan Ceng Ki salah tingkah dan salah omong, maka sambil berbisik-bisik iapun memberi peringatan.

“Jika dia datang dan bertanya kepadamu, katakan bahwa engkau adalah saudara. misanku dari pihak Ibu, Aku lebih tua setahun darimu, yaitu dua puluh lima tahun, lahir tanggal dua puluh lima bulan empat. Mengeri?”

“Mengerti”

“Ketika kukatakan kepada suamiku bahwa engkau saudara misanku, dia merasa sangat menyesal bahwa engkau telah menerima hukuman. Ketika itu aku sudah ingin menahanmu di sini, akan tapi pelayan Siu Oh itu berada di sini, maka hal itu tidak mungkin. Mengertikah engkau? Nah, aku berhasil mengusirnya keluar dan pada waktu itu, engkaupun menghilang sehingga kami bersusah payah mencarimu.” Tak dapat menahan keharuan hatinya. mereka berdua menangis. Akan tetapi mereka segera menghentikan tangis ketika seorang pelayan wanita muncul dan memberi tahu bahwa pengadilan telah selesai sehingga Chow-Taijin setiap saat akan datang.

Ternyata Chow-Taijin bersikap amat baik dan ramah terhadap Chen Ceng Ki, demi menyenangkan hati isterinya yang tercinta, Dengan rela tuan rumah ini menyediakan sebuah kamar yang besar dan cukup mewah untuk ditinggali Ceng Ki, di bagian perpustakaan sebelah barat dan Ceng Ki dianggap sebagai seorang anggauta keluarga Cun Bwe sendiri yang mengatur agar kamar itu dilengkapi dengan perabot, dan diberi pembaringan yang enak, bantal-bantal yang baru dan lunak, juga untuk saudara ltu dibuatkan pakaian yang cukup banyak, serba indah dari sutera mahal, sandal, sepatu dan pendeknya, lengkap! Bahkan seorang kacung diberikan kepada Ceng Ki untuk menjadi pelayannya. Sekali lagi bintang peruntungan Ceng Ki terang benderang dan dia hidup dalam kemewahan dan kecukupan,

Seolah-olah dia kembali seperti ketika masih menjadi mantu Shi Men dan tinggal di rumah mertuanya itu. Dan terbukalah kesempatan seluas-luasnya bagi Cun Bwe dan Ceng Ki untuk mengulang kembali hubungan yang pernah terputus, bahkan kini lebih erat dan lebih mesra daripada dahulu. Chow-Taijin banyak kesibukan di siang hari dan jarang berada di dalam rumah, oleh karena itu leluasalah kedua orang itu untuk mengadakan pertemuan dan bermain cinta mengumbar nafsu mereka yang tak pernah mengenal puas, Kadang-kadang Cun Bwe berkunjung ke dalam kamar Ceng Ki, bahkan mereka kini bermain cinta di dalam kamar Cun Bwe! Tidak ada waktu lowong dan kesempatan dilewatkan oleh dua orang yang menjadi hamba dari nafsu mereka sendiri itu. Pada, suatu hari Chow-Taijin berkata kepada isterinya,

“Mentaati perintah lstana, tak lama lagi aku harus memimpin pasukan bersama Komandan dari Ci Nam Hok untuk menumpas pemberontakan di Pegunungan Liang-San. Urusan ini akan memakan waktu beberapa bulan lamanya. Karena itu, engkau segera mengurus dan mencarikan jodoh untuk saudara misanmu, agar dia tidak tinggal sendirian. Karena sepeninggalku, aku akan mengangkat dia menjadi satu di antara pembantuku untuk mengurus pekerjaan kantor. Jika perjalananku berhasil baik maka tentu Istana akan memberi pahala dan saudara misanmu akan dapat kumasukan ke dalam daftar orang-orang yang berjasa agar dia diberi anugerah pangkat. Dengan demikian maka nama baik keluargamu akan terangkat.”

Tentu saja Cun Bwe menyambut usul ini dengan gembira. la mencinta Ceng Ki dan ingin melihat kekasihnya itu berkembang kembali nasib baiknya. lapun cepat mengutus pelayan untuk menghubungi seorang perantara, seorang comblang untuk memilihkan calon jodoh untuk Ceng Ki.

Akhirnya, ia memilih seorang gadis puteri pedagang sutera she Lo di Jalanan Raya dan iapun merencanakan persiapan pernikahan untuk Ceng Ki. Ceng Ki tentu saja tidak dapat menolak hal baik untuk kemajuan dirinya itu, apalagi calon isterinya yang bernama Lo Cui Peng cukup cantik dan molek, bahkan gadis remaja yang menjadi pelayan dalam kamar juga manis. Diam-diam Ceng Ki bersukur dengan nasibnya yang demikian baiknya. Pernikahan itu Sama sekali tidak mengganggu hubungan Ceng Ki dengan Cun Bwe. Dengan cerdik Cun Bwe segera akrab dengan Cui Peng dan membiasakan diri untuk sekali makan bersama Suami isteri itu. Tanpa menimbulkan kecurigaan dan hampir setiap hari dapat saja mengadakan pertemuan berdua saja dengan kekasihnya. Ceng Ki diangkat menjadi sekretaris dan mempunyai sebuah kamar kerja sendiri, Maka mulailah bagi Cun Bwe untuk mengunjungi kamar kerja pria ltu atau sebaliknya ia memanggil Ceng Ki dengan alasan untuk nerundingkan sesuatu yang penting mengenai pekerjaan. Lima bulan kemudian, pada suatu hari datanglah Chow-Taijin dan tugas yang pikulnya itu berhasil dengan baik sekali. Pemberontakan berhasil dipadamkan sehingga Kaisar di Istana merasa gembira bukan main. Chow-Taijin menerima banyak anugerah, di antaranya dia diangkat menjadi seorang Jenderal di Propinsi Shantung. Semua pembantunya yang tercatat dalam daftar diberi kenaikan pangkat dan di antara termasuk juga Chen Ceng Ki yang diangkat menjadi Pembantu Sekretaris dan biarpun tidak besar namun setiap bulan dia menerima upah untuk pangkat itu. Ketika pada malam harinya Cun Bwe tldur bersama suaminya, ia menceritakan tentang semua pelaksanaan dari pesan suaminya.

“Pesta pernikahan itu menghabiskan uang yang cukup banyak.”

“Ah, sudah semestinya untuk merayakan pernikahan mengeluarkan tidak sedikit uang. Bagaimanapun, semua itu untuk keperluan seorang anggauta keluarga yang terdekat. Kita harus berani berkorban sedikit untuk saudara misan.”

“Sungguh amat baik dirimu telah menolongnya mendapatkan suatu pangkat kecil yang mendatangkan kehormatan baginya. Tentu saja upahnya terlalu kecil untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan isterinya.”

“Engkau benar. Sementara ini aku tidak dapat berbuat banyak untuknya, apalagi dalam waktu dekat ini aku harus pergi ke Ci-Nan-Hok, untuk memulai dengan tugasku dalam kedudukan yang baru, Sebaiknya akan kutinggalkan sedikit uang modal baginya agar dia dapat, mempergunakannya sebagai modal berdagang sesuatu. Biarlah dia mencari seorang pengurus untuk pekerjaan itu. Dan setiap sepekan sekali, dia boleh membayar sedikit kepadaku dari keuntungan yang diperolehnya, sebagai uang bunga dari pinjaman itu. Dengan demikian, akan ada sesuatu yang membangkitkan gairah dan semangat dalam hidupnya.” Tentu saja Cun Bwe setuju dengan usul suaminya yang akan menolong kekasihnya memperbaiki kedudukannya. Ia menunggu sampai suaminya berangkat meninggalkan rumahnya, lalu mengadakan pertemuan dengan Ceng Ki.

“Aku telah membicarakan masa depanmu dengan suamiku dan dia berpendapat bahwa sebaiknya engkau melakukan dagang kecil-kecilan untuk memperoleh hasil yang akan mencukupi kebutuhan hidup keluargamu. Kami akan menyediakan modal dan engkau harus mencari seorang pengurus perusahaan yang pandai dan memilih tempat yang cukup ramai.”

Tentu saja Ceng Ki sangat menyetujui dengan gembira bukan main. Setelah mengupah Cun Bwe dengan kemesraan yang meluap-Iuap untuk berita baiknya itu, Ceng Ki lalu pergi mencari seorang calon pengurus. Kebetulan sekali pada suatu hari ia bertemu dengan, seorang bekas teman sekolah dị jalan raya, yaitu Lu. Mereka saling sapa dengan gembira dan saling menceritakan pengalaman masing-masing dan dahulunya merupakan sahabat yang akrab. Ceng Ki menceritakan semua pengalamannya tanpa tedeng aling-aling lagi. Lu mendengarkan penuh takjub, kemudian berkata,

“Sekarang dengarkan usulku yang akan mendatangkan keuntungan besar untukmu.” “Benarkah? Ceritakan usulmu itu, kawan!”

“Ingatkah engkau kepada Yang, bekas pengurusmu dahulu itu?”  Tentu saja Ceng Ki masih teringat kepada bekas pembantu yang telah menipunya itu. Ketika dia bersama pembantu itu berbelanja sutera ke Hu-Couw sebanyak setengah kapal yang kemudian kapal itu berlabuh di Sungai Ceng-Kiang dekat Yen-Couw. Ketika dia pergi berkunjung kepada Mong Yu Lok yang kini telah menjadi isteri Li-Kongcu yang bangsawan dan kaya raya, dia meninggalkan dagangannya dalam kapal, dijaga oleh pembantunya, Yang. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa Yang telah melarikan dagangan itu!

“Jangan sebut nama jahanam itu!” Ceng Ki berkata dengan Suara marah karena hatinya panas teringat akan penipuan Yang kepadanya.

“Dia pernah menipuku habis-habisan, dan ketika aku berada dalam keadaan sengsara dan aku datang kepadanya untuk minta bantuan, dia mengusir dan memakiku seperti orang mengusir anjing atau pengemis saja!”

“Nah, sekaranglah saatnya engkau balas dendam dan memperoleh keuntungan besar,” kata Lu. “Dia sekarang telah membuka sebuah kedai arak besar di Lin-Ceng, hidup serba kecukupan. Engkau tidak perlu membuka perusahaan baru, Kalau engkau dapat menguasai kedai araknya itu, engkau akan memperoleh keuntungan yang sudah berjalan dengan amat baiknya, Sekarang, ajukan sebuah gugatan ke pengadilan untuk menuntut daganganmu yang pernah dia larikan. Kedudukanmu sudah baik dan tentu pengadilan akan berpihak kepadamu Dan dia, si Yang pasti tidak akan mampu mbayarnya dan terpaksa dia akan melepaskan kedai araknya untuk membayar tuntutanmu. Engkau akan menguasai kedai arak yang sedang berjalan dengan baik itu. Engkau boleh mempertahankan pengurusnya yang sekarang, yaitu Shia, dan kalau engkau mengangkatku sebagai pembantunya, maka engkau akan mempunyai orang yang boleh kau percaya untuk mengamati jalannya perusahaan. Aku yakin bahwa sebulan kau akan mengantungi tidak kurang dari seratus ons keuntungan. Nah, bagaimana pendapatmu?”

Ceng Ki merasa girang sekali dan cepat dia pulang untuk merundingkannya dengan Cun Bwe yang segera menyetujuinya. Dan seperti yang diperhitungkan oleh Lu, ketika Chen Ceng Ki mengajukan gugatannya ke pengadilan, tentu saja pihak pengadilan yang mengakuinya sebagai keluarga Chow-Taijin dan pemilik kedai arak Yang segera ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan. Setelah mengalami siksaan, Yang mengakui bahwa dia telah melarikan dagangan Ceng Ki dan karena dia diharuskan segera membayar semua harga dagangan itu, tiada lain jalan kecuali menyerahkan perusahaannya kepada Ceng Ki.

Giranglah hati Ceng Ki. Bukan Saja dia dapat membalas dendam, akan tetapi juga dia memperoleh keuntungan besar. Dia lalu perbaiki kedai itu sehingga menjadi baru. Kedainya itu berada di dekat pelabuhan sehingga dari situ dia dapat melihat perahu-perahu yang berlabuh dan membongkar muatannya. Pada suatu siang, ketika dia duduk di depan kedainya, dia melihat dua buah perahu mendarat dan membongkar muatannya berupa beberapa peti dan karung yang oleh para kulinya diletakkan di depan kedai arak miliknya. Ceng Ki lalu melihat dua orang wanita dari perahu. Dia amat tertarik sekali dan, segera menghampiri mereka. Wanita pertama berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, sedangkan yang ke dua kurang lebih dua puluh tahun. Melihat munculnya Chen Ceng Ki, Hua, pengurus kedai, berkata,

“Chen-Kongcu, dua orang wanita ini hendak menitipkan barang-barangnya untuk beberapa hari lamanya, katanya karena rumah saudara mereka ternyata tutup dan penghuninya tidak ada. Bagaimana kita mampu menerima titipan barang-barang yang banyak ini?” Ceng Ki sudah saling pandang dengan dua orang wanita itu, merasa seperti mengenal mereka dan akhirnya wanita yang lebih tua berkata,

“Maaf, bukankah Kongcu ini Chen Kongcu, mantu dari mendiang tuan Shi Men?” “Benar sekali, akan tetapi bagaimana Nyonya dapat mengenal saya ?”

“Apakah engkau tidak mengenal saya? Saya adalah Wang Liok Hwa, dan ini puteri kami, Mei Li.”

“Ah!” Ceng Ki teringat. Wanita ini adalah isteri seorang pegawai Ayah mertuanya dan wanita inipun menjadi kekasih mendiang Ayah mertuanya itu.

“Bukankah kalian datang dari Ibukota Timur? Dan di mana adanya suami Nyonya, Han Tao Kok?”

“Di perahu, sedang mengurus pembongkaran barang-barang.” Han Tao Kok segera ditemui dan Ceng Ki melihat betapa orang ini telah nampak tua, rambut dan jenggotnya sudah memutih. Mereka lalu bercakap-cakap dan Han Tao Kok bercerita tentang keributan yang terjadi di Ibukota Timur. Di antara para pembesar tinggi terjadi persaingan dan perebutan kekuasaan. Banyak pembesar tinggi yang kalah dalam persaingan ini, terkena fitnah dan dijatuhi hukuman, dan di antara fihak yang kalah ini termasuk pula menteri Ti, suami Mei Li kepada siapa Han Tao Kok menghambakan diri. Han Tao Kok masih sempat mengajak anak isterinya melarikan diri ke Ceng-Ho-Sian.

“Maksud kami hendak, tinggal untuk sementara di rumah adik saya di Ceng-Ho-Sian ini, akan tetapi temyata adik saya itu telah pindah dan rumahnya telah dijual. Terpaksa kami akan pergi ke selatan, ke rumah keluarga kami, dan kami hanya akan menunda perjalanan di sini selama beberapa hari saja.”

“Tidak perlu bingung, tinggallah di sini untuk sementara,” kata Ceng Ki dan diapun menceritakan keadaannya bahwa dia sekarang telah menjadi Sekretaris Pembantu dan membuka kedai arak itu. Han Tao Kok dan anak isterinya berterima kasih dan tak lama kemudian Ceng Ki mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Mei Li yang sejak tadi amat dikaguminya.

“Berapakah usia Kongcu sekarang?” Mei Li bertanya sopan dan ramah. “Dua puluh enam tahun, dan engkau berapa, enci?”

“Sama,” jawabnya sambil tersenyum. “Sungguh merupakan suatu kebetulan bahwa setelah berpisah selama bertahun-tahun, dalam jarak ribuan li, kini tiba-tiba kita saling berjumpa di sini.”

“Ah, aku teringat sekarang, pernah aku melihatmu ketika engkau berkunjung bersama Ibumu di rumah Ayah mertuaku sebelum kalian pindah ke timur.” Wang Liok Hwa yang sudah berpengalaman dapat melihat kecondongan hati dua orang muda itu, lalu memberi isyarat kepada suaminya dan merekapun keluar meninggalkan mereka berdua dengan dalih hendak membereskan barang-barang mereka yang baru dibongkar dari perahu. Chen Ceng Ki yang sudah biasa bergaul dengan wanita, tidak menyia- nyiakan kesempatan itu dan tak lama kemudian mereka berdua bukan lagi duduk berhadapan melainkan bersanding dan bersendau gurau.

“lh, indah sekali penjepit rambut emas di kepalamu itu. Bolehkah aku melihatnya?” kata Mei Li dan sebelum Ceng Ki mengambilkannya, ia sudah menjangkau dan mengambil benda itu dari rambut Ceng Ki.

“Bagaimana kalau kita melanjutkan percakapan di atas? Banyak yang akan kuceritakan kepadamu,” kata Mei Li. “Aku akan senang sekali,” kata Ceng Ki dan merekapun bergandeng tangan naik ke loteng memasuki sebuah kamar yang bersih dan nyaman.

“Nah, apa yang hendak kau ceritakan?”

“Bahwa kita agaknya telah berjodoh, karena Thian telah mempertemukan kita seperti ini.” Tentu saja Ceng Ki merasa girang sekali dan diapun merangkul wanita itu dan keduanya terjatuh ke atas pembaringan. Setelah mereka merasa puas, Mei Li berkata,

“Orang tuaku sedang menderita oleh peristiwa yang terjadi di Ibukota Timur itu. Harta simpanan kami habis di perjalanan. Kalau engkau suka membantu mereka dengan sedikit uang, mereka akan berterima kasih sekali.” Tanpa banyak cakap lagi Ceng Ki mengeluarkan uang lima ons dan Mei Li lalu berlari turun dan menyerahkan uang itu kepada Ayah-Ibunya. Dan malam itu Ceng Ki tidak pulang, bersenang-senang dengan Mei Li dan dia merasa demikian puas dan bahagia seolah-olah dia menemukan Kim Lian ke dua. Pada keesokan harinya, dengan tubuh lemas kelelahan, Ceng Ki baru pulang untuk menyerahkan bunga keuntungan kepada Cun Bwe. Isterinya, juga Cun Bwe, tentu saja dapat mellhat keadaan tubuhnya yang lemas kecapaian, maka mereka tidak memperbolehkan Ceng Ki keluar lagi selama lima hari.

Hal ini membuat keluarga Han yang berada di Lin-Ceng merasa kebingungan. Uang lima ons pemberian Ceng Ki sudah habis dan mereka membutuhkan uang lagi untuk keperluan sehari-hari. Tidak ada lain jalan bagi Han Tao Ki kecuali mengandalkan isteri dan puterinya. Banyak saudagar hartawan berdatangan ke Lin-Ceng untuk berdagang dan di antara mereka terdapat seorang hartawan she Hou. Hartawan Hou ini berusia lima puluh tahunan dan dia berdagang kain sutera. Tadinya, Mei Li yang ditugaskan Ayahnya untuk memikat hati saudagar ini, akan tetapi hati Mei Li yang dipenuhi kerinduan kepada Ceng Ki, tertutup untuk pria lain. Maka Wang Liok Hwa yang turun tangan dan wanita yang sudah matang dan berpengalaman ini, segera dapat memikat hartawan Hou dan sekali mereka berhubungan, hartawan itu melekat dan tidak mau berpisah lagi.

Tentu saja kini keluarga Han tidak lagi kekurangan uang belanja, sedangkan Mei Li setiap hari masih menanti datangnya Chen Ceng Ki yang menjadi kekasih barunya. Beberapa hari kemudian, setelah memperoleh kesempatan, dengan dalih memeriksa keadaan kedai araknya, Chen Ceng Ki segera pergi ke Lin-Ceng. Tentu saja ini hanya merupakan alasan karena yang terpenting baginya adalah mengunjungi keluarga Han yang menyewa tempat tak jauh dari situ. Dia mendapatkan kekasihnya duduk menulis sesuatu, ditemani Ibunya. Ibu dan anak itu menyambutnya dengan gembira dan Wang Liok Hwa segera turun dari loteng, membiarkan puterinya berdua dengan Ceng Ki. Tentu saja kedua orang ini segera saling dekap dan mereka melepaskan kerinduan yang sudah menyesak di dada.

Mereka hanya beristirahat sebentar untuk membaca sajak yang ditulis Mei Li, sajak yang menyatakan kerinduannya terhadap Ceng Ki. Setelah membaca sajak ini, Ceng Ki merasa terharu dan merekapun melanjutkan kemesraan untuk melepaskan semua kerinduan mereka. Mei Li segera memesan makanan dan arak, dan mereka pun berpesta, makan minum yang diseling cumbu rayu dan permainan cinta. Sementara itu, Wang Liok Hwa yang duduk di bagian bawah, menerima pula kunjungan hartawan Hou. Han Tao Kok segera meninggalkan mereka dan Wang Liok Hwa menjamu tamunya dengan manis budi, berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati hartawan itu. Tiba-tiba muncullah tukang pukul Liu, ipar dari Chang Shong! Orang kasar ini berteriak-teriak, mencari hartawan Hou dan jelas bahwa dia dalam keadaan mabuk. “Mana dia. si keparat dari selatan, Hou itu? Keluarlah!” Tak seorangpun berani melarangnya ketika dia menyerbu masuk dan dia melihat hartawan Hou sedang duduk makan minum bersama Wang Liok Hwa. Melihat hartawan ini, dengan mata merah tukang pukul Liu segera membentak.

“Anjing Hou, engkau masih hutang sewa dua bulan dan uang untuk dua orang pelacur yang sudah melayanimu di kedai arakku tak lama yang lalu. Engkau tidak membayarku sebaliknya engkau malah melacur di sini bersama seorang pelacur baru.” Hartawan Hou terkejut lalu bangkit berdiri dan menyabarkan tukang pukul itu.

“Sabarlah, sahabat Liu. Besok akan kubayar semuanya dan sekarang harap jangan menggangguku.”

“Pembohong tua, engkau patut dihajar!” Bentak Liu yang mabuk dan dia sudah menerjang ke depan dan memukul muka hartawan Hou sehingga hartawan ini terpelanting dengan sebelah muka menjadi biru dan bengkak. Tukang pukul itu kini menendang meja sehingga mangkok piring beterbangan dan melihat ini, Wang Liok Hwa menjadi marah.

“Hei, engkau ini jahanam keparat busuk dari mana berani memasuki tempat orang tanpa permisi? Kau kira aku takut padamu, anjing tukang pukul yang jahat?”

“Tutup mulutmu, pelacur tua, atau akan kutendang keluar semua isi perutmu. Engkau tidak mengenal siapa aku!” bentak Liu marah. Pada saat itu, orang-orang sudah memasuki tempat itu dan melerai. Seorang di antara mereka menenangkan.

“Nyonya Wang, engkau seorang asing di sini, tentu tidak mengenal dia. Dia adalah jagoan di sini, pemilik kedai minuman Liu, ipar dari pegawai kejaksaan Chang Shong, Harap jangan membikin marah dia, Nyonya, agar Nyonya tidak menghadapi malapetaka.” Akan tetapi Wang Liok Hwa tidak takut.

“Kalian orang-orang pengecut! Apakah sudah tidak ada seorangpun laki-laki jantan yang berani menantang jahanam keparat yang jahat ini?”

Untung bagi Wang Liok Hwa bahwa pengurus rumah dan beberapa orang tetangga datang melerai dan menyabarkan Liu, sedangkan Wang Liok Hwa dengan kemarahan meluap-luap sudah lari naik ke atas loteng untuk menemui puterinya dan Chen Ceng Ki. Dua orang inipun sudah mendengar keributan tadi dan Ceng Ki sudah cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali ketika Wang Liok Hwa memasuki kamar itu. Dengan suara gemetar saking marahnya, Wang Liok Hwa menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di bawah. Mendengar ini, Chen Ceng Ki terkejut sekali. Dia mengenal siapa adanya tukang pukul Liu, ipar dari Chang Shong itu dan dia merasa gelisah. Pernah dia berurusan dengan mereka itu dan kini Liu kembali membikin ribut, seolah-olah menjadi pertanda baginya bahwa dari dua orang ini ada bahaya mengancam terhadap dirinya.

Dia harus mengenyahkan Liu dan Chang Shong, bukan hanya Liu, karena Chang Shong juga amat berbahaya. Chang Shong tahu akan hubungannya dengan Cun Bwe dan kalau orang itu mengadu kepada Chow-Taijin, celakalah dia. Dia harus dapat mencari jalan untuk mengenyahkan dua orang kasar itu. Mulailah dia melakukan penyelidikan tentang dua orang itu. Dari hasil penyelidikannya, tahulah dia bahwa Liu adalah seorang tukang pukul yang sudah biasa melakukan pemerasan, seorang yang kasar dan suka sewenang-wenang. Adapun tentang diri Chang Shong, dia mendengar berita bahwa kini Chang Shong melakukan hubungan rahasia dengan Sun Siu Oh. Berita ini menggembirakan hati Ceng Ki karena dia mempunyai bahan untuk menjatuhkan dua orang yang dianggap berbahaya baginya itu. Sementara itu, terjadilah perubahan yang akan merusak semua rencana yang mulai diatur oleh Ceng Ki.

Pada waktu itu, terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh Suku Bangsa Kin. Dengan pasukan berkuda mereka yang amat kuat, mereka menyerbu masuk melewati tapal batas utara. Kaisar Kin Cung menjadi sangat khawatir dan diapun memerintahkan pasukannya untuk memerangi Bangsa, Tartar atau Kin itu. Semua panglima dikumpulkan dan di antaranya termasuk Chow-Taijin yang sudah diangkat menjadi Jenderal. Jenderal Chow ini harus segera bergabung ke markas di Tung-Cang-Fu. Maka kesibukan terjadi di markas dan rumah Jenderal Chow yang mempersiapkan keberangkatannya untuk memenuhi perintah atasan.

Ketika Ceng Ki pulang dari Lin-Ceng dan mendengar bahwa Chang Shong juga diharuskan berangkat, dia mengambil keputusan untuk segera bertindak agar jangan sampai terlambat. Kebetulan sekali Cui Peng, isterinya pergi mengunjungi Ibunya untuk beberapa hari lamanya, maka malam hari itu dengan leluasa dia mengadakan pertemuan dengan Cun Bwe. Cun Bwe juga pada malam hari itu ditinggalkan Jenderal Chow yang sibuk di markas, maka wanita inipun segera menyelinap masuk ke dalam kamar Ceng Ki di mana keduanya melepaskan kerinduan hati masing-masing dalam kemesraan yang memabukkan. Akhirnya, di antara kesunyian malam, Ceng Ki menceritakan apa yang telah direncanakan selama ini.

“Si Chang Shong itu makin lama menjadi semakin keterlaluan,” katanya dengan suara lirih ketika mereka beristirahat dari kelelahan,

“Dia selalu menyombongkan di tempat umum, kepada siapa saja bahwa aku berhutang budi besar kepadanya, bahwa dialah yang menemukan aku. Dan diapun mempunyai saudara ipar yang sombong dan jahat, yang disebut tukang pukul Liu, pemilik kedai arak dan rumah pelesiran. Dia seorang penjahat dan pemeras, dan dia telah bersikap kurang ajar terhadap langganan kedai arakku. Dan yang lebih memalukan lagi Chang Shong itu kini mempunyai hubungan gelap dengan Sun Siu Oh, dan mengambil wanita itu menjadi peliharaannya. Sudah lama aku ingin membicarakan urusan ini denganmu. Kalau dilanjutkan mereka itu merajalela, tentu tak lama lagi kedai arakku akan bangkrut. Dan keadaannya menjadi lebih berbahaya baik bagiku dan bagimu juga, setelah dia kini mempunyai hubungan dengan Sun Siu Oh.” Cun Bwe mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.

“Baiklah, kalau suamiku pulang, aku akan bicara dengan dia dan dua orang itu tentu akan habis riwayatnya.” Kedua orang itu agaknya lupa bahwa dindingpun kadang-kadang bertelinga. Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa akan ada orang yang mendengarkan percakapan mereka. Padahal, pada malam hari itu, kebetulan sekali Chang Shong melakukan ronda demi keamanan rumah tangga majikannya. Ketika dia mendengarkan suara-suara dari dalam kamar Chen Ceng Ki, suara laki-laki dan wanita bermain cinta, dia merasa heran dan curiga.

Bukankah isteri Chen sedang tidak berada di kamarnya dan pergi berkunjung ke rumah Ibunya? Diapun berindap-indap mendekati jendela dan dia mendengarkan semua percakapan tadi mengenai dirinya dan saudara iparnya. Tentu saja Chang Shong menjadi terkejut setengah mati, juga marah. Mati hidup berada di tangan Tuhan. Hanya Tuhan yang menentukan kematian seseorang dan agaknya memang sudah dipastikan bahwa Cun Bwe akan terlepas dari ancaman maut malam itu. Ketika Chang Shong pergi ke kamarnya untuk mengambil pedangnya, datang pelayan memberi tahu Nyonya bahwa putera Cun Bwe rewel, menangis dan mencari Ibunya. Maka, ketika akhirnya Chang Shong memasuki kamar Chen Ceng Ki, dia mendapatkan orang muda itu seorang diri saja. Melihat Chang Shong membuka daun pintu kamarnya dengan paksa dan melangkah masuk, Ceng Ki terkejut dan membentak marah. “Hei, apa artinya ini?”

“Artinya aku akan membunuhmu!” kata Chang Shong. Aku mendengarkan percakapanmu dengan wanita itu. Engkau ingin menghancurkan aku, dan sekarang aku lebih dulu menghancurkanmu!”

Chang Shong menerjang dengan pedangnya dan tanpa dapat berteriak lagi Ceng Ki berkelojotan ketika pedang itu menembus jantungnya. Kemudian Chang Shong memenggal batang lehernya, dan meninggalkan kamar yang sudah banjir darah itu. Chen Ceng Ki baru berusia dua puluh enam tahun ketika dia terbunuh. Setelah membunuh Ceng Ki, Chang Shong kini mencari Cun Bwe. Setelah tidak berhasil menemukan wanita itu di kamar itu dan di kamar-kamar sebelah, dia menduga bahwa tentu wanita itu telah kembali ke kamarnya sendiri, kamar induk. Maka dengan pedang di tangan diapun segera melangkah menuju ke bangunan induk. Akan tetapi muncullah Li An, seorang kepala pengawal yang malam itu juga melakukan ronda.

“Hei, engkau hendak ke manakah?” Chang Shong tidak menjawab dan melihat Li An menghadangnya, diapun menyerangnya. Li An cepat mengelak ke samping dan setelah beberapa kali mengelak dari serangan pedang, akhirnya dia berhasil menendang pergelangan lengan Chang Shong dan menangkap pembunuh itu. Dipuntirnya lengan Chang Shong ke belakang dan sekali menendang lutut, Chang Shong roboh terhimpit dan tidak perdaya ketika dibelenggu kedua tangannya. Suara ribut-ribut di luar kamarnya itu membuat Cun Bwe berlari keluar. Dia terkejut melihat Chang Shong.

“Apakah yang telah terjadi?” tanyanya kepada Li An. Pengawal ini memberi hormat. “Dia ingin membunuh Nyonya, dia datang membawa pedang itu.”

“Tapi pedang itu bernoda darah.” Cun Bwe berseru kaget. Li An hanya menuding ke arah kamar barat di mana Ceng Ki tinggal dan Cun Bwe lalu berlari memasuki kamar kekasihnya.

Melihat kekasihnya sudah tewas dengan kepala terpisah dan mandi darah, Cun Bwe mengeluh dan jatuh pingsan. Beberapa hari kemudian, Jenderal Chow pulang dan mendengar akan peristiwa yang terjadi di rumahnya, dia marah sekali kepada Chang Shong dan menjatuhi hukuman cambuk seratus kali dengan tongkat besar. Chang Shong tewas ketika menjalani hukuman. Kemudian, Liu, tukang pukul di Lin-Ceng itupun ditangkap dan dipukuli sampai mati. Sun Siu Oh yang ketakutan telah menggantung diri sampai mati sehingga ia terbebas dari dendam Cun Bwe dan tidak sampai diseret ke depan pengadilan. Setelah mengatur penguburan Chen Ceng Ki, Jenderal Chow akhirnya harus berangkat ke utara. Cun Bwe yang masih terguncang perasaannya oleh kematian Ceng Ki, melayani suaminya makan dengan wajah muram dan penuh kekhawatiran.

“Suamiku, kapankah aku akan dapat melihatmu lagi?” katanya sambil menghapus air mata.

“Aku tidak tahu mengapa sekarang aku merasa begini gelisah melepasmu pergi perang. Berhati-hatilah suamiku, karena para pemberontak itu adalah yang ganas dan liar.”

“Jangan khawatir, isteriku. Baik-baik saja menjaga dirimu dan anak kita. Aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk Kerajaan, yang telah memberi aku kehidupan yang penuh dengan kehormatan dan kemuliaan.” Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, jenderal itu berangkat meninggalkan kotanya dengan pasukannya. Cun Bwe ditinggal seorang diri dalam keadaan kesepian dan setiap hari ia hanya menangis, menangisi kematian Ceng Ki dan menangisi kepergian suaminya. Sementara itu, orang yang paling menderita karena kematian Chen Ceng Ki adalah Mei Li. Perasaannya hancur luluh dan setelah gagal melayat, iapun pergi mengunjungi kuburan kekasihnya, di kuburan yang tidak jauh letaknya dari kuburan Kim Lian. Setelah tiba di depan kuburan yang masih baru itu, Mei Li melempar dirinya di atas gundukan tanah itu, membakar uang kertas akhirat dan menangis dengan suara nyaring.

“Kekasihku, aku mengharapkan untuk hidup sampai Kakek Nenek di sampingmu, dan sekarang engkau telah meninggalkan aku seorang diri!” Ia memukul-mukulkan kepalanya di kuburan Itu sampai jatuh pingsan. Selagi Ayah-Ibunya sibuk menolongnya, muncullah Cun Bwe dan Cui Peng, isteri Ceng Ki, di kuburan. Han Tao Kok segera memberi hormat kepada Cun Bwe yang mengenalnya.

“Dan siapakah wanita ini?” Cun Bwe bertanya sambil menunjuk kepada Mei Li yang mengenakan pakaian berkabung dan yang baru saja siuman dari pingsannya.

“Ia adalah anak kami, Mei Li.” Han Tao Kok lalu menceritakan tentang keadaannya setelah melarikan diri dari Kota Timur, betapa di Lin-Ceng mereka bertemu dengan Ceng Ki dan tentang hubungan Ceng Ki dengan Mei Li.

“la memaksa untuk mengunjungi kuburan ini dan bersembahyang...!” Han Tao Kok menutup ceritanya. Kini Mei Li melanjutkan cerita Ayahnya.

“Walaupun hubungan antara kami tidak sah, namun kami saling mencinta, hidup sebagai suami-isteri dan saling bersumpah untuk setia sampal mati.” Dan Mei Li menangis lagi sampai hampir kehabisan napas. Melihat kedukaan yang mendalam ini, Cui Peng sendiri merasa terharu dan Cun Bwe juga percaya bahwa kekasihnya itu, Chen Ceng Ki, benar-benar saling mencinta dengan wanita ini. Ketika Ayah dan lbunya akan pulang, Li berkata, “Tidak, aku tidak mau pulang!” Ia lalu berlutut di depan kaki Cun Bwe sambil menangis.

“Saya ingin hidup bersama Nyonya Besar. di rumah itulah, di rumah di mana kekasihku tinggal, aku akan melanjutkan hidupku, bersembahyang untuknya dan menjadi jandanya sampai mati. Kalau aku mati kelak, ingin dikubur di sampingnya.” Cun Bwe berkata dengan lembut,

“Adik yang baik, engkau masih muda. Engkau akan menderita kalau hldup menjanda. Apakah engkau akan meninggalkan kehidupan masa depanmu yang cerah?”

“Nyonya Besar, saya adalah milik kekasih saya itu, untuk selamanya. Biar mataku akan dicongkel dan hidungku di buntungi, saya bersumpah tidak akan melayani laki-laki lain.” Setelah berkata demikian, la menoleh kepada orang-tuanya.

“Pergilah kalian, aku akan Ikut Nyonya Besar!”

“Anakku, kami orang-tuamu mengharapkan untuk mendapat perawatanmu di waktu kami sudah tua. Inikah balas jasamu terhadap orang-tua?” kata Wang Liok Hwa. Namun Mei Li tidak mau memperdulikannya.

“Lebih baik aku mati daripada harus berkhianat kepada kekasihku.” Akhirnya, orang-tua Itu mengalah dan Mei Li ikut Cun Bwe tinggal di dalam gedung keluarga Jenderal Chow. Tentu saja kepergian Mei Li dirasakan sangat berat oleh suami-isteri Han Tao Kok dan Wang Liok Hwa. Mereka seolah-olah melihat gunung harapan mereka runtuh. Untunglah bahwa masih ada hartawan Hou yang setelah kini tidak terdapat lagi gangguan dari Liu, melanjutkan hubungannya dengan Wang Liok Hwa. Bahkan ketika dia hendak pulang ke kotanya, dia mengusulkan kepada Han Tao Kok agar suami-isteri itu, ikut saja dengan dia ke kota Hu-Couw, di mana mereka akan terjamin hidupnya.

Tidak ada jalan lain yang lebih baik bagi suami-isteri itu untuk menerima penawaran ini dan pergilah mereka mengikuti hartawan Hou. Sementara itu, Mei Li hidup menjanda dan ia akrab sekali dengan Cun Bwe. Akan tetapi, kalau Mei Li dapat hidup dengan tenang dan tenteram sebagai seorang janda yang setia, sebaliknya Cun Bwe merasa gelisah sekali. Ia amat kaya raya, cukup segala-galanya, namun apa- bila malam tiba, ia gelisah sendiri di atas pembaringannya yang dingin. Karena tidak dapat menahan gejolak berahi, yang mengganggunya setiap malam, akhirnya pandang mata Cun Bwe tertuju kepada Li An, kepala pengawal yang gagah perkasa dan cukup ganteng itu. Pada suatu malam, selagi Li An rebah seorang diri dalam kamarnya, masuklah seorang pelayan wanita.

“Hemm, apa maksudmu mengunjungiku selarut ini?” tanyanya heran. “Saya datang karena disuruh oleh Nyonya Besar,” jawab pelayan itu. “Masuklah dan apa yang dikehendaki oleh Nyonya Besar?”

“Ini,” ia mengeluarkan buntalan dua pakaian wanita. “Beliau mengirim pakaian ini untuk Ibumu, dan karena engkau telah menyelamatkannya dari maut di tangan Chang Shong, maka beliau menyuruh aku menyerahkan lima puluh ons ini kepadamu.” Setelah pelayan itu pergi, Li An termenung dan tidak dapat tidur, keesokan harinya, dia bergegas menuju ke rumah Ibunya dan membawa pakaian untuk Ibunya itu. Uang lima puluh ons itu ditinggalkannya di dalam almarinya... Sebagai seorang putera yang berbakti, dia menceritakan semua yang terjadi pada lbunya dan mohon petunjuk.

“Aihhh” wanita tua ltu berkata. “Aku melihat hal yang tidak baik di balik semua ini. Kebaikan yang berlebihan itu tentu mengandung pamrih yang membahayakan. Apa yang akan terjadi denganmu kelak kalau engkau sudah dianggap tidak berguna lagi dan mengganggu? Ingat nasib Chang Shong... Lebih baik engkau mengingat nasib Ibumu yang sudah berusia lanjut dan Jangan engkau kembali ke sana,”

“Akan tetapi, aku akan kesalahan terhadap Jenderal Chouw”

“Pakai alasan bahwa engkau sakit, kemudian bersembunyilah di rumah Pamanmu di dusun.” Li An adalah seorang gagah yang berbakti kepada Ibunya, maka diapun mentaati permintaan Ibunya, Cun bwe kecewa sekali ketika berkali-kali dikirimnya utusan, namun tak pernah utusan itu berhasil membawa laki-laki yang diinginkannya itu kepadanya. Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya dan tahu-tahu Tahun Baru telah tiba. Jenderal Chow yang bertugas di markas besarnya di Tung-Cang-Fu merasa rindu kepada keluarganya dan diapun mengutus pembantunya ke Ceng-Ho-Sian untuk menjemput kedua isterinya dan anaknya. Ketika keluarganya tiba dengan selamat, dia menanyakan ketidak hadirannya Li An yang semestinya mengawal keluarganya.

“Ah, jangan bicarakan orang tak mengenal budi itu!” Cun Bwe berkata sambil cemberut.

“Karena dia telah menyelamatkan aku, maka aku ingin menyenangkan hatinya dan memberinya beberapa potong pakaian untuk Ibunya. Akan tetapi, pada malam hari ketika berjaga, dia mencuri lima puluh ons perak dari ruangan dalam. Aku lupa menaruh hasil panen sawah kita itu ke dalam gudang uang. Pada keesokan harinya, diapun minggat. Mungkin dia tidak berani kembali karena merasa bersalah.”

“Ah, sungguh tak dapat disangka! Begitukah dia membalas budi kita? Aku akan mengutus petugas di Ceng-Couw-Fu untuk menangkapnya!” kata Jenderal Chow penasaran. Cun Bwe tidak bicara sesuatu tentang Mei Li dan pertemuan di kuburan Ceng Ki itu. Sayang bahwa pertemuan antara jenderal dengan keluarganya itu tidak leluasa dan dia dapat berkumpul dengan mereka hanya beberapa hari lamanya.

Tugas pekerjaannya bertumpuk, membuat dia tidak ada kesempatan untuk bercakap-cakap dengan keluarganya, bahkan di waktu malam dia begitu lelahnya sehingga tidur pulas. Tentu saja hal ini amat mengecewakan hati Cun Bwe dan la merasa disia-siakan. Wanita yang bernafsu besar ini tentu saja menjadi gelisah dan iapun mulai mendekati seorang kacung bernama Cu I berusia sembilan belas tahun yang bekerja di tempat tinggal suaminya. Mula-mula Cun Bwe hanya menyuruhnya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil membantunya, kemudian mengajaknya bercakap-cakap, membuatkan teh atau mengambilkan anggur untuknya, bermain catur dan kemudian wanita yang berpengalaman ini berhasil memikatnya seperti seekor laba-laba menjerat seekor lalat. Sekali terkena jerat, Cu I menjadi kekasihnya yang baru, yang harus memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam.

Jenderal Chow sama sekali tidak tahu akan hal ini karena seluruh perhatiannya dicurahkan untuk pekerjaannya. Pemberontakan pasukan Kin Fan Tartar itu semakin menghebat, bahkan kini telah melampaui garis depan di utara, mulai mengancam daerah pedalaman di Wilayah Tengah. Mereka berbondong-bondong menyerbu ke selatan, ratusan ribu orang banyaknya, semua berkuda dan setiap perajurit merupakan orang yang ganas, liar dan kuat. Pasukan kuat itu menyerang dari dua bagian, dari utara berpencar masuk ke selatan melalui timur dan barat. Tentu saja tentara kerajaan menjadi sibuk dan jenderal Chow mendapatkan tugas untuk membendung membanjirnya pasukan musuh yang mengalir ke selatan melalui Propinsi Shantung. Dan dalam tugas inilah terbukti firasat tidak enak yang pernah dirasakan Cun Bwe.

Pada hari yang panas itu, dalam pertempuran mati-matian, Jenderal Chow berhadapan dengan seorang komandan pasukan musuh yang terkenal gagah, yang bernama Kanlipu. Pertempuran antara mereka amatlah hebat dan serunya sampai tiba-tiba sebatang anak panah yang dilepas secara curang mengenai batang leher Jenderal Chow dan robohlah jenderal yang gagah perkasa ini, tewas seketika. Untung bahwa anak buahnya berhasil merampas jenazahnya dan membawanya kembali ke markas. Jerit tangis menyambut jenazah Jenderal Chow, dan Cun Bwe segera mempersiapkan peti mati yang tebal dan membawa jenazah itu kembali ke Tung-Cang-Fu agar dapat dikubur di makam keluarga di sana. Kematian ini disambut dengan penuh duka cita dan keprihatinan oleh Cui Peng dan Mei Li yang merasa kasihan kepada Cun Bwe yang sudah melepas banyak budi kebaikan kepada mereka.

Kerajaan amat menghargai pengorbanan Jenderal Chow dan menganugerahkan pangkat Panglima Besar kepada jenderal yang gugur itu, memberi uang jaminan untuk keluarganya, bahkan puteranya memperoleh jaminan untuk kehidupannya kelak. Namun, agaknya Cun Bwe tidak memiliki batin yang cukup kuat untuk membuktikan bahwa ia berharga untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia itu. Kini, setelah seluruh harta kekayaan berada di bawah kekuasaannya, ia mulai hanyut dibawa nafsunya, setiap hari ia bersenang-senang memuaskan nafsu tanpa mengenal batas lagi. Kekasihnya yang masih muda, Cu I, kini tak pernah terpisah dari sampingnya dan siang hari malam tanpa mengenal waktu. Ia mengharuskan kekasihnya itu melayani dirinya yang tak pernah mengenal puas. Segala sesuatu ada batas kemampuan dan kekuatannya, dan segala hal tidaklah langgeng. Tubuh hanyalah terdiri dari darah daging, kalau terlalu diperas kemampuannya, akhirnya akan rusak. Demikian pula dengan Cun Bwe. Karena terlalu, membiarkan nafsu menghanyutkan tanpa mengenal batas, akhirnya tubuhnya menjadi kurus kering dan lemah. Namun celaka baginya, makin lemah tubuhnya, makin besarlah nafsu berkobar dalam dirinya, nafsu yang selalu menuntut pemuasan. Akhirnya, pada suatu malam, setelah tenggelam dalam kemesraan bersama kekasihnya, wanita ini menghembuskan napas terakhir di dalam pelukan kekasihnya. Usianya baru dua puluh sembilan tahun! Ketika Cu I melihat bahwa wanita itu tak bernapas lagi, diapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Diambilnya sebanyak mungkin perhiasan dan barang berharga yang dapat dibawanya dan diapun melarikan diri melalui pintu belakang. Namun, para pelayan mengetahuinya dan diapun ditangkap. Adik laki-laki Jenderal Chow yang berkewajiban mengamati keadaan rumah tangga mendiang Kakaknya, menjatuhkan hukuman cambuk sampai mati kepada Cu I. Namun, demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga Kakaknya, dia tidak membiarkan berita itu keluar dan jenazah Cun Bwe dikubur dengan sederhana dan khidmat, di samping kuburan Jenderal Chow. Pasukan pemberontak kini semakin maju ke selatan dan akhirnya, kota Kai-Hong-Hu, Ibukota Timur, diserbu dan Kaisar Hui Cung, juga puteranya, Kin Cung, beserta keluarga Kerajaan, puteri-puteri dan Pangeran-Pangeran, ditawan oleh musuh dan dibawa ke utara.

Gegerlah seluruh penduduk di Propinsi Shan-Tung dan rakyat melarikan diri mengungsi ke selatan. Bahkan penduduk Ceng-Ho-Sian juga terseret oleh arus pengungsi yang ketakutan melihat sepak terjang pasukan pemberontak yang ganas. Setiap kali mereka menyerbu kota, terjadilah pembunuhan besar- besaran, rumah-rumah dirampok dan dibakar, wanita-wanita diculik dan diperkosa. Semua penghuni rumah keluarga Jenderal Chow, termasuk Cui Peng, lari mengungsi. Hanya Mei Li yang tadinya masih bertahan. Namun akhirnya iapun membawa buntalan pakaian dan dalam pakaian sederhana, iapun meninggalkan rumah itu menuju ke kota pelabuhan Lin-Ceng. Mula-mula la ingin mencari Ayah bundanya. Akan tetapi di kota ini, ia memperoleh kabar bahwa Ayah-Ibunya telah pergi ke Hu-Couw bersama hartawan Hou.

Mei Li lalu melanjutkan perjalanan ke Hu-Couw, berjalan kaki saja! Namun ia tetap gembira dan penuh kepercayaan kepada dirinya sendiri. Kalau ia kehabisan uang bekal, ia meniup sulingnya, bernyanyi dan memperoleh sumbangan dari mereka yang mendengarnya. Berhari-hari ia melakukan perjalanan dan hatinya tetap gembira. Hanya satu hal yang mengganggu, yaitu kakinya yang kecil itu lecet-lecet karena tidak biasa melakukan perjalanan lama dan jauh. Setelah melakukan perjalanan puluhan hari lamanya, pada suatu senja tibalah ia di sebuah dusun kecil tak jauh dari kota Shue Couw-Fu. Karena hari telah menjelang malam, ia mengetuk pintu rumah kecil yang pertama kali dilihatnya di dusun itu, untuk minta perlindungan malam itu. Seorang wanita tua membuka daun pintu dan begitu pintu terbuka, tercium bau masakan yang agaknya baru saja dimasak oleh Nenek itu.

“Selamat sore, Nek. Maafkan saya. Saya adalah seorang pengungsi dari Ceng-Ho-Sian yang hendak pergi ke Hu-Couw, di mana saya akan mencari orang tua saya. Bolehkah saya bermalam di rumahmu? Saya melanjutkan perjalanan besok pagi-pagi sekali dan saya mau membayar untuk kebaikanmu ini.”

“Ah, masuklah dan beristirahatlah di atas dipan itu,” kata si Nenek yang dapat melihat bahwa pendatangnya bukan seorang pengemis. “Maafkan dulu, saya harus menyelesaikan masakan untuk makan malam beberapa orang pekerja terusan sungai yang biasa makan malam di sini.” Tak lama kemudian, setelah masakan itu matang, enam orang laki-laki kasar memasuki rumah itu. Wajah mereka terbakar matahari, pakaian mereka kasar, kaki mereka telanjang dan berlepotan lumpur. Mereka nampak lapar sekali.

“Bibi, ada makanan?” mereka berteriak.

“Tunggu sebentar! Ada makanan cukup untuk semua orang.” “Eh, siapakah wanita di atas dipan itu?”

“Seorang pengungsi dari Ceng-Ho-Sian,” jawab Nenek. “la sedang melakukan perjalanan ke selatan, mencari orang-tuanya dan ingin bermalam untuk malam ini di sini.”

“Bolehkah aku mengetahui namamu?” tanya seorang di antara mereka kepada Mei Li. “Aku she Han, puteri dari Han Tao Kok.”

“Apa? Kalau begitu engkau tentulah keponakanku Mei Li!”

“Paman, engkaukah itu? Aih, aku tidak mengenalmu lagi.” teriak Mei Li dengan gembira sekali. Laki-laki itu bangkit dan menghampirinya dan mereka berpelukan sambil mencucurkan air mata.

“Bagaimana engkau sampai terpisah dari orang tuamu?” tanya sang Paman. “Kukira kalian semua masih berada di Ibukota Timur.” Mei Li lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan bagaimana ia sampai berpisah dari orang tuanya.

“Mereka ditolong oleh seorang pedagang sutera she Hou dari Hu-Chouw, dan sekarang saya hendak mencari mereka di sana. Saya membawa suling dan kalau bekalku habis saya mencari uang dengan jalan bernyanyi dan bermain suling. Sekarang ceritakan keadaanmu, Paman.”

“Semenjak orang-tuamu pindah ke Kai-Hong-Hu dan meninggalkan rumah kecil di Ceng-Ho-Sian itu kepadaku, aku merasa tidak betah mengganggur. Lalu kujual rumah itu dan aku pergi mengembara sampai akhirnya aku bekerja di sini dan bertemu denganmu. Kalau begitu, aku akan menemanimu ke Hu-Chouw mencari orang tuamu.” Tentu saja Mei Li merasa gembira bukan main.

Akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke selatan dan tibalah mereka di Hu-Chouw. Dengan mudah mereka dapat menemukan Han Tao Kok dan Wang Liok Hwa. Ternyata hartawan Hou telah meninggal dunia dan dia meninggalkan seluruh kekayaannya kepada suami-isteri itu, yang tentu saja kini hidup berkecukupan. Akan tetapi setahun kemudian Han Tao Kok meninggal dunia karena sakit, dan Wang Liok Hwa lalu menikah dengan adik iparnya yaitu laki-laki yang menemani Mei Li mencarinya di Hu-Chouw. Mereka berdua saling mencinta dan hidup berbahagia. Wang Liok Hwa ingin agar puterinya menikah lagi, akan tetapi Mei Li tetap tidak mau menikah. la tetap setia kepada sumpahnya, bahkan akhirnya ia mencukur gundul rambutnya dan hidup sebagai seorang Nikauw (Pendeta wanita) di sebuah Kuil.

Pasukan pemberontak semakin mendekati daerah Ceng-Ho-Sian dan hampir semua penduduk kota itu lari mengungsi. Bahkan Goat Toanio yang biasanya tenang itu, kini tidak ragu-ragu lagi untuk pergi mengungsi pula, menyelamatkan keluarganya. Setelah membawa barang-barang berharga dan mengunci semua pintu, iapun meninggalkan rumah ditemani adiknya, Wu dan puteranya yang berusia lima belas tahun, pelayan A Tai, dan pelayan wanita Siauw Giok yang setia. Mereka terpaksa pergi mengungsi dengan jalan kaki dan mereka keluar dari pintu gerbang kota sebelah selatan.

Goat Toanio bermaksud untuk mengungsi ke kota Ci-Nam-Fu, di mana tinggal Yuen Li Su, seorang di antara sahabat-sahabat baik mendiang Shi Men. Bahkan antara Shi Men dan Yuen Li Su telah ada perjanjian bahwa kelak putera Shi Men akan dinikahkan dengan puteri Yuen Li Su. Maka, Goat Toanio merasa yakin bahwa ia dan keluarganya tentu akan dapat berlindung ke rumah calon besan itu . Ketika mereka tiba di sebuah jalan perempatan, hari telah mulai senja dan di tempat ini, rombongan Goat Toanio bertemu dengan seorang Hwesio yang memegang sebatang tongkat Pendeta. Hwesio itu muncul secara tiba-tiba dan dia melangkah, lebar menghampiri rombongan pengungsi itu.

“Nyonya hendak pergi ke manakah, Nyonya Wu? Dan mana calon pembantuku yang pernah nyonya janjikan kepadaku?” Goat Toanio memandang dengan kaget dan heran, dan wajahnya berubah.

“Suhu, pembantu apakah yang kau maksudkan?”

“Harap jangan berpura-pura tidur dan mimpi, nyonya yang terhormat. Apakah nyonya sudah melupakan Pertapa Pu Ceng, yang pernah menerimamu di dalam guanya ketika nyonya tersesat ke dalam rimba pada malam hari di Thai-San? Lima belas tahun yang lalu dan sekaranglah tiba saatnya nyonya memenuhi janji itu.” Goat Toanio tertegun. la teringat semua itu. Memang benar, lima belas tahun yang lalu ia pergi berziarah ke bukit Thai-San ketika puteranya hampir setahun umurnya. la tersesat jalan dan dalam kegelapan itu, ia tiba di gua Pertapa Pu Ceng yang menerimanya dengan ramah.

Pada keesokan harinya, ketika ia hendak memberi hadiah uang dan kain, Pertapa itu menolaknya, Ia menerangkan bahwa sudah menjadi takdir, TUHAN bahwa nyonya itu tersesat ke guanya dan sudah takdir pula bahwa putera nyonya. itu berjodoh untuk menjadi muridnya. Tentu saja ia menolak dan memberi alasan bahwa puteranya merupakan anak tunggal. Akhirnya Pendeta itu berkata bahwa dia melepaskan anak itu, tetapi lima tahun lagi dia akan muncul untuk menagih janji dan mengambil anak yang menjadi calon muridnya itu. Dan ia telah menyetujui, hanya untuk membuat Pendeta itu lega, karena lima belas tahun adalah waktu yang amat lama, Pendeta tua itu mungkin akan sudah mati dalam waktu itu. Siapa kira, kini dia benar-benar muncul dan menagih janji! Wu, adik dari Goat Toanio, membantu Kakaknya.

“Suhu, anak ini merupakan anak tunggal darl Kakak saya, dia adalah satu-satunya harapan untuk menjaga Ibunya di waktu tua kelak, dan mewarisi rumah, melanjutkan nama dan pekerjaan Ayahnya. Bagaimana kini Lo-Suhu hendak mengambilnya dari Ibunya, meninggalkan keduniawian dan menjadi murid dan pengikutmu?”

“Jadi permintaanku akan ditolak dan dia tidak akan diberikan kepadaku?”

“Lo-Suhu yang baik, harap jangan mengganggu kami. Kami masih harus melakukan perjalanan jauh, dan kami harus dapat mencari tempat berlindung sebelum malam tiba.”

“Baiklah, aku tidak akan memaksa,” kata Pendeta itu, “Akan tetapi sekarang sudah mulai gelap dan amat berbahaya bagi kalian melanjutkan perjalanan di dalam kegelapan malam. Kalian akan tersesat. Ikutilah aku. Aku mengetahui Sebuah Kuil tak jauh dari sini di mana kalian dapat melewatkan malam dengan aman.”

Goat Toanio setuju dan mereka lalu mengikuti kakek Pendeta itu. Benar saja, tak lama kemudian tibalah mereka di Kuil Yung-Fu-Se. Sebagian dari para Pendeta kuil itu telah melarikan diri mengungsi, hanya beberapa orang salah yang masih tinggal dan kini mereka nampak berlutut dan membaca doa di ruangan dalam. Para pengungsi itu lalu mencari tempat beristirahat di sebelah belakang, di mana terdapat banyak ruangan kosong yang cukup bersih. Seorang hwesio lalu menyuguhkan air teh dan nasi dengan sayur tanpa daging. Setelah makan sederhana, para pengungsi yang kelelahan itu lalu beristirahat. Goat Toanio, puteranya, dan Siauw Giok berada di sebuah kamar, sedangkan Wu dan A Tai di dalam sebuah kamar lain. Sebentar saja mereka sudah tidur pulas karena kelelahan. Dan dalam tidurnya, Goat Toanio bermimpi.

Mimpi yang demikian jelas seolah-olah dialaminya benar-benar semua itu dan bukan hanya sekadar mimpi. Di dalam mimpinya itu, Goat Toanio dan keluarganya telah tiba di rumah Yuen Li Shu dan diterima dengan ramah, dan ternyata Yuen Li Shu telah menjadi seorang duda. Akan tetapi, keramahan Yuen Li Shu itu ternyata mengandung maksud yang amat mengejutkan hati Goat Toanio. Yuen Li Shu mengutus seorang perantara, meminang janda yang akan menjadi besannya itu! Bahkan memutuskan untuk mengadakan perayaan pernikahan kembar, yaitu pernikahan putera dan puteri mereka, dan pernikahan mereka sendiri. Tentu saja Goat Toanio menolak. Akan tetapi, ketika Yuen Li Shu berkesempatan berdua saja dengan Goat Toanio di dalam sebuah kamar, laki-laki itu mempergunakan kekerasan dan hendak memperkosanya! Goat Toanio menolak.

“Jangan sentuh aku! Akan kupanggil adikku dan kacungku!” Yuen Li Shu tertawa.

“Wu dan A Tai? Ha-ha-ha, percuma saja karena mereka sudah kubunuh. Kau lihat!” Dan dia memberi isyarat ke luar pintu. Seorang pelayan masuk membawa baki dan di atas baki itu nampak dua buah kepala, kepala Wu adiknya dan A Tai kacungnya! Goat Toanio hampir pingsan dan sambil tertawa Yuen Li Shu memondongnya dan hendak membawanya ke atas pembaringan.

“Jangan engkau menolak lagi, manis. Aku kaya dan berkedudukan, dan aku cinta padamu.” Goat Toanio terkejut dan ketakutan, lalu mencari akal.

“Baiklah, akan tetapi jangan memaksaku. Aku suka menjadi isterimu, akan tetapi hanya dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya?”

“Engkau harus menikahkan dulu puterimu dan puteraku.”

“Ha-ha-ha, itu urusan kecil dan mudah!” Yuen Li Shu lalu memanggil kedua orang muda itu dan pada saat itu juga dia menuangkan arak pengantin dan menyatakan kedua orang muda itu telah menikah, dan dia menyuruh mereka berdua memasuki kamar pengantin. Setelah itu, kembali dia merangkul dan memondong Goat Toanio, hendak dibawanya ke pembaringan. Goat Toanio meronta, mencakar, menggigit dan memaki. Yuen Li Shu menjadi marah sekali, lalu dengan sebatang pedang di tangan dia lari ke dalam kamar pengantin dan tak lama kemudian keluar lagi membawa kepala putera Goat Toanio yang berlumuran darah. Goat Toanio menjerit dan sadar dari mimpinya. Malam telah lewat dan mimpi yang menyeramkan itu membuat Goat Toanio bergegas hendak meninggalkan Kuil. Akan tetapi, Hwesio Pu Ceng melangkah masuk dan langsung bertanya.

“Nyonya Wu, apakah nyonya tidak bermimpi dan melihat terbukanya rahasia apa yang akan terjadi pada keluargamu itu?” Mendengar ini, Goat Toanio terkejut bukan main dan iapun menjatuhkan diri berlutut.

“Saya telah bermimpi, Lo-Suhu.”

“Nah, sebaiknya engkau dan rombonganmu tidak melanjutkan perjalanan ke Ci-Nam-Fu, karena malapetaka menanti kalian di sana. Apabila kalian melanjutkan perjalanan, maka segala yang telah kubuka semalam kepadamu itu akan sungguh terjadi dan kalian berlima akan tewas semua. Ketahuilah bahwa puteramu masih membawa kutukan karena dosa-dosa yang dilakukan mendiang suamimu, maka hanya kalau dia menjadi muridku, maka dia akan dapat dibersihkan dari pengaruh buruk itu. Biarkan dia ikut denganku, dan kalian tidak usah pergi mengungsi dan tinggal saja di sini. Tak lama lagi musuh akan pergi dan keadaan akan kembali aman, dan kalian boleh kembali ke Ceng-Ho-Sian.”

Goat Toanio kini tidak berani menolak lagi. Dirangkulnya puteranya dan merekapun bertangis-tangisan. Akan tetapi anehnya, puteranya itupun tidak mengatakan keberatan ketika Pendeta tua itu menggandengnya dan dengan lembut menariknya terlepas dari rangkulan Goat Toanio.

“Mulai sekarang, kuberi nama Kuil Beng Bu kepadamu,” kata kakek itu dan diapun menuntun pemuda itu pergi.

“Lo-Suhu, katakanlah, kapan saya akan dapat bertemu lagi dengan anakku?” Goat Toanio menangis. Akan tetapi Pendeta itu hanya tersenyum, kemudian tiba-tiba saja dia dan muridnya itu menghilang di antara kepulan asap, perlahan-lahan menghilang sambil melambaikan tangan kepada Goat Toanio dan yang lain-lain.

Mereka ini terkejut dan cepat berlutut untuk menghormati Pendeta itu yang mereka anggap sebagai penjelmaan Sang Buddha sendiri. Tepat seperti dikatakan Pendeta itu, sebelum sepuluh hari mereka tinggal di Kuil itu, pasukan pemberontak itu mundur kembali ke utara. Keadaan menjadi aman kembali dan segera Goat Toanio bersama rombongannya segera kembali ke Ceng-Ho-Sian. Ternyata rumahnya masih utuh. Kehidupan Goat Toanio menjadi tenang. Karena kini ia tidak mempunyai anak, ia mengangkat A Tai menjadi ahli warisnya. Dan ternyata A Tai menjadi seorang anak angkat yang amat baik dan berbakti, menjaga dan melayani Goat Toanio sampai di hari tua. Karena kebaktian A Tai, Goat Toanio merasa terobatlah hatinya karena kehilangan puteranya, dan iapun hidup dalam keadaan tenteram sampai akhirnya meninggal dunia dengan tenang dalam usia lebih dari tujuh puluh tahun.

Demikianlah, kisah ini berakhir, sebuah kisah klasik oleh pengarang yang tidak dikenal yang menggambarkan kemaksiatan yang terjadi di jaman itu, di mana orang-orang yang berkuasa merajalela, dan orang-orang kaya menggunakan kekayaan mereka untuk melakukan penyuapan dan penyogokan, membeli kebenaran dan kemenangan untuk diri sendiri di mana manusia sudah kehilangan peri kemanusiaannya karena buta oleh pengejaran kesenangan duniawi. Namun kisah ini menggambarkan pula bahwa segala akibat baik maupu buruk merupakan kelanjutan daripada sebab yang terjadi karena ulah manusia sendiri.

Segala peristiwa kehidupan, baik yang terjadi di dalam kehidupan, baik maupun buruk, hanya memiliki dua makna yaitu menuai ataupun menanam. Tanamlah yang baik-baik saja, dan jangan mengeluh kalau kita menuai sesuatu yang buruk sekalipun karena itu bukan lain hanyalah hasil daripada tanaman kita sendiri.

Lereng Lawu, awal Juli 1981

T A M A T