-->

Si Teratai Emas Jilid 8

Jilid 8

“Ibu memesan agar Bibi jangan begitu bodoh, membiarkan diri menjadi janda selamanya tinggal di sini. Sebaiknya Bibi mengumpulkan uang dan perhiasan sebanyak mungkin, dan kembali kepada kami. Bibi harus mengingat masa depan Bibi sendiri.” demikian Bi Hwa mengakhiri pesan itu. Li Kiao tentu saja memperhatikan pesan ini dan berjanji akan bertindak semestinya.

Wang Liok Hwa juga melayat, akan tetapi tak seorangpun dari isteri-isteri Shi Men mau menyambutnya. Dari A Tai, ia mendengar bahwa para isteri itu menyalahkannya karena bagaimanapun juga, Shi Men jatuh sakit setelah malam sebelumnya datang berkunjung kepadanya. Tentu saja Wang Liok Hwa merasa malu dan marah, dan diam-diam ia berjanji akan membalas penghinaan ini. Semenjak hari kematian Shi Men, banyak kesempatan didapatkan oleh Kim Lian dan Chen Ceng Ki untuk mengadakan pertemuan. Setiap hari kedua orang ini mengadakan pertemuan rahasia untuk mengadakan perjinaan, memuaskan gejolak berahi mereka setelah kini mereka tidak melihat adanya penghalang lagi. Shi Men telah mati, dan Goat Toanio tidak dapat meninggalkan kamarnya maka mereka berdua bermain cinta sepuas hati mereka.

Demikianlah kesetiaan hanya menjadi janji mulut belaka. Beberapa hari setelah Shi Men mati, selagi jenazahnya masih hangat berada di dalam peti jenazah dan belum dikubur, masih di dalam lingkungan rumahnya, isterinya yang paling disayangnya mengkhianatinya, berjina dengan mantunya sendiri! Sementara itu, Li Kiao, isteri ke dua Shi Men, juga sudah bersiap-siap mengumpulkan uang dan perhiasan sebanyak mungkin. Setelah jenazah suaminya dikubur, ia selalu mencari kesempatan untuk dapat berselisih pendapat dengan Goat Toanio. Kesempatan itu tiba ketika pada suatu sore ia mendengar dari pelayan bahwa Goat Toanio sedang minum teh bersama Mong Yu Lok, isteri ke tiga. Li Kiao memasuki ruangan itu dan menangis karena merasa dihina dan tidak dihargai oleh Goat Toanio. Kenapa kalau Mong Yu Lok diajak minum teh bersama, ia yang menjadi isteri ke dua tidak diundang?

Ia menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang suaminya dan menangis bergulung-gulung seperti gila. Bahkan malam itu ia berusaha untuk menggantung diri, dan tentu saja para pelayan mencegahnya. Melihat ini, Goat Toanio menjadi marah, memanggil Bibi Li dan minta agar Bibi Li mengajak Li Kiao kembali ke rumah pelesiran. Inilah yang dikehendaki Bibi Li, juga Li Kiao. Wanita seperti Li Kiao adalah wanita yang menganggap tubuhnya sebagai barang dagangan. Siapa mampu membelinya, dia akan memiliki tubuhnya. Pembeli terakhir adalah Shi Men, maka begitu Shi Men meninggal dunia, iapun merasa dirinya bebas untuk dijual kepada siapa saja yang mau dan mampu membelinya. Wanita seperti ini tidak pernah mengenal arti cinta antara suami isteri, rnelainkan hanya mengejar pemuasan nafsu berahi dan nafsu untuk hidup wah dan senang.

Ketika puteranya berusia hampir satu. tahun, Goat Toanio ingin sekali memenuhi, keinginannya yang sudah lama terpendam di dalam hatinya, yaitu mendaki Gunung Thai-San untuk bersembahyang. Perjalanan itu akan memakan waktu kurang lebih dua minggu dan ia dikawal oleh Kakaknya dan dua orang kacung yaitu Lai An dan A Tai.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di kota distrik Tai-An-Couw, dan Gunung Thai-San sudah nampak menjulang tinggi di depan mereka. Mulailah mereka mendaki Gunung Thai-San. Perjalanan yang cukup melelahkan dan sukar. Tujuannya adalah sebuah Kuil di satu diantara puncak Pegunungan Thai- San yang tidak begltu tinggi namun cukup melelahkan bagi Goat Toanio walaupun ia dipikul dalam sebuah joli. Ketika mereka kemalaman di lereng gunung, mereka melihat sinar api di kejauhan. Mereka segera menghampirinya dan ternyata api itu adalah lampu minyak yang menyinar dari dalam sebuah guha dan seorang Pertapa duduk bersila di situ. Kakak Goat Toanio segera memberi salam dan menanyakan jalan ke Kuil yang mereka ingin kunjungi.

“Pinto adalah Pertapa Pu Ceng yang sudah tiga puluh tahun bertapa dan tinggal di guha” kata Kakek itu.

“Kalian berada di lereng timur Thai-San. Bukan kebetulan saja kalian tiba di guha ini, melainkan sudah dlkehendaki oleh Takdir. Kelak akan kalian rnengerti sendiri. Akan tetapi sebaiknya kalian tidak melanjutkan perjalanan malam ini. Di daerah ini tidak aman, terdapat perampok dan binatang buas. Kalian boleh melewatkan malam di sini dan besok Pinto (saya) akan menunjukkan jalan kepada kalian.” Terima kasih, Totiang (bapak Pendeta),” kata Kakak Goat Toanio.

“Siapakah Nyonya itu?” tanyanya.

“Nyonya itu adalah adik saya, janda dari mendiang Hakim Distrik Ceng-Ho-Sian.” Sepasang mata yang tajam dari Pertapa itu mengamati Goat Toanio penuh perhatian. Kemudian ia menunjukkan kamar- kamar dalam guha yang luas itu kepada para tamunya. Pada kesokan harinya, ketika hendak melanjutkan perjalanan setelah mengaso semalam dalam guha yang melindungi mereka dari kegelapan dan angin dan hawa dingin itu, Goat Toanio hendak menghadiahkan segulung kain untuk membalas kebaikan Pertapa itu. Akan tetapi Pertapa itu menggeleng kepala dan berkata, “Pinto tidak menghendaki benda, akan tetapi menginginkan putera Toanio. Dia akan menjadi murid Pinto dan kelak melanjutkan pekerjaan Pinto yang suci.” Tentu saja permintaan ini mengejutkan hati Goat Toanio yang memandang kepada Kakaknya dengan bingung.

“Memang benar bahwa adik saya mempunyai seorang putera, akan tetapi puteranya hanya seorang itu,” kata Wu, Kakak Goat Toanio.

“Kelak dia akan menjadi ahli waris tunggal dari, keluarganya, dan akan melanjutkan pekerjaan Ayahnya. Karena itu, kiranya Totiang maklum bahwa tidak mungkin kami memenuhi permintaan Totiang. Andaikata ia memiliki beberapa orang putera, tentu akan senang sekali ia memenuhi permintaan Totiang.”

“Juga puteraku itu masih terlalu kecil, belum satu tahun usianya, sehingga tidak akan ada gunanya bagi Totiang,” Goat Toanio menambahkan.

“Pinto dapat menunggu,” Kakek itu mendesak. “Dalam waktu lima belas tahun Pinto akan mengulangi permintaan Pinto. Apakah Toanio akan memenuhi permintaan Pinto kelak?” Goat Toanio berpikir. la tidak ingin menyinggung perasaan Kakek yang sudah begitu baik kepadanya. Dan lima belas tahun adalah waktu yang lama, segala boleh terjadi dalam waktu selama itu, Kakek ini mungkin sudah mati, dan urusan itupun akan dilupakan.

“Baiklah, saya setuju. Setelah lewat lima belas tahun, Totiang boleh mengambil puteraku,” katanya dengan hati ringan. Kita pada umumnya demikian mudah melempar janji, dan kita mengabaikan urusan kecil. Kita lupa bahwa api yang besar berkobar itu dimulai dari api kecil.

Segala sesuatu terjadi karena kata-kata yang keluar dari mulut kita. Oleh karena itu, orang bijaksana lebih suka menutup mulut daripada membukanya. Selalu yakin bahwa, sekali membuka mulut, yang masuk mulut hanyalah yang bersih dan bermanfaat saja, sebaliknya yang keluar dari mulut juga hanya yang bersih dan bermanfaat saja. Setelah selesai bersembahyang di Kuil Pegunungan Thai-San itu, Goat Toanio pulang dan ia disambut dengan gembira oleh semua anggauta keluarga. la segera bersembahyang di depan meja sembahyang suaminya, kemudian menimang puteranya yang sudah dirindukannya, dan mengambil keputusan untuk beristirahat di dalam kamarnya selama dua tiga hari untuk melenyapkan kelelahan yang diderita tubuhnya selama melakukan perjalanan mendaki gunung itu.

Hubungan jina antara Kim Lian dan Chen Ceng Ki sudah menjadi rahasia umum bagi semua keluarga di rumah itu. Siauw Giok, pelayan Giok Toanio, sudah merasa gatal mulut untuk melaporkan peristiwa memalukan itu kepada majikannya. Akan tetapi ia ingin agar majikannya menangkap basah pertemuan rahasia itu agar ia tidak dituduh pelempar fitnah tanpa bukti. Ia harus hati-hati menghadapi Kim Lian yang licik dan cerdik. Karena itu, setelah majikannya pulang, mulailah ia membayangi Kim Lian dan melakukan pengintaian. Beberapa hari kemudian, usahanya berhasil. la melihat Kim Lian dan Cheng Ceng Ki memasuki kamar di loteng. Cepat ia menghadap Goat Toanio dan membuat laporan.

“Sudah lama sekali mereka mengadakan hubungan kotor,” katanya mengakhiri pelaporannya. “Bahkan saat inipun mereka sedang berjina di dalam kamar di atas loteng. jika Toanio tidak percaya kepada saya, marilah, Toanio dapat melihat dan membuktikannya sendiri.” Goat Toanio cepat bangkit dan mengikuti Siauw Giok memasuki taman. Pada saat itu, Kim Lian sedang berpelukan dan berciuman dengan Chen Ceng Ki, ketika Siauw Giok lari naik ke loteng sambil membuka pintu kamar loteng dan berteriak, “Awas Goat Toanio datang!” Mendengar ini, Chen Ceng Ki berlari keluar kamar dengan hati merasa tidak enak sekali. Kemudian barulah Kim Lian keluar dari dalam kamar, rambutnya awut-awutan, demikian pula pakaiannya. “Hemm, engkau sepatutnya memiliki sopan santun dan menjaga tata susila di rumah tangga ini!” kata Goat Toanio marah dan iapun lalu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Kim Lian yang berdiri dengan muka merah. Dan akibatnya, malam itu Chen Ceng Ki bertengkar dengan isterinya yang mendengar akan hal itu dari Goat Toanio. Ceng Ki dapat menerima makian isterinya tentang ketidaksetiaannya, akan tetapi dia bangkit marah ketika isterinya memakinya sebagai orang yang hidup bermalasan dan tidak tahu malu bersandar kepada keluarga Ayahnya.

“Siapa yang bersandar?” bentaknya.

“Bukankah ketika aku datang ke sini, aku menanam saham sebanyak lima ratus ons? Akupun bekerja di sini, bukan bermalas-malasan saja!” Teriaknya dan dengan marah diapun pergi meninggalkan isterinya yang menangis.

Tentu saja peristiwa itu tidak memungkinkan bagi Kim Lian dan Ceng Ki untuk mengadakan pertemuan rahasia lagi. Sampai sebulan mereka tak pernah saling bertemu, bahkan tidak pernah saling berpapasan. Tentu saja keduanya merasa rindu dan gelisah sekali. Pada suatu hari, Ceng Ki berjumpa dengan Bibi Pi, seorang yang sudah biasa menjadi perantara dalam pernikahan maupun dalam pencarian seorang calon selir. Dia mengajak wanita tua itu ke dalam sebuah kedai arak dan di situ, sambil berbisik-bisik dia menceritakan bahwa dia telah mengadakan hubungan rahasia dengan Kim Lian dan betapa mereka berdua telah dipergoki Goat Toanio sehingga selama sebulan terakhir ini mereka merasa tersiksa dan sama sekali tak pernah dapat saling bertemu. Bibi Pi rnembelalakkan matanya dan bertepuk tangan menyatakan keheranan dan kekagetannya mendengar keterangan Ceng Ki itu.

“Ya Tuhan, engkau sungguh keterlaluan sekali, Kongcu Bermain cinta dengan selir dari Ayah mertua sendiri,! Sungguh suatu pelanggaran dari kesusilaan. Nah, apa yang dapat kulakukan dalam urusan ini?”

“Tolonglah aku untuk menyampaikan suratku ini kepadanya.”

“Ah, begitukah? Baiklah, akan kuadakan kunjungan kepada Goat Toanio dan kesempatan itu dapat kupergunakan untuk menghadap padanya.” Tentu saja Ceng Ki menjadi girang, menyerahkan suratnya berikut satu ons uang untuk “minum teh.” Pada hari berikutnya, Bibi Pi mengunjungi keluarga Shi Men. Pertama-tama ia menghadap Goat Toanio, menawarkan beberapa macam perhiasan rambut seperti yang sering ia lakukan. Kemudian iapun berkunjung kepada nyonya ke Tiga dan ke Empat, dan untuk menjaga agar tidak dikatakan tidak sopan, iapun berkunjung kepada Nyonya ke Lima. Pada saat itu, Kim Lian sedang menghibur hatinya yang kesepian dengan minum arak, dilayani oleh Cun Bwe, pelayannya. Melihat betapa kedua orang wanita itu dalam keadaan gembira karena pengaruh arak, Bibi Pi lalu berbisik,

“Kemarin Tuan Muda Mantu mengunjungi saya dan mengeluh betapa kerasnya Nyonya Pertama memegang peraturan di dalam keluarga ini. Dia minta kepada saya untuk menyerahkan surat ini kepadamu, agar nyonya ketahui bahwa dia bersungguh-sungguh dalam hatinya. Dia mengharapkan agar nyonya tidak berputus asa.” Kim Lian membaca surat pendek itu di mana Ceng Ki menyatakan perasaan hatinya yang penuh rindu, dan mengharapkan agar kelak mereka akan dapat memperoleh jalan sehingga mereka dapat hidup sebagai suami isteri. Setelah membacanya, senyum kegembiraan kembali muncul di bibir Kim Lian yang mungil, dan isi surat itu ternyata telah melegakan hatinya. “Cheng-Kongcu minta agar nyonya suka membalas atau memberi tanda bahwa suratnya telah nyonya terima,” kata Bibi Pi yang pandai sekali dalam urusan semacam itu. Kim Lian masuk ke dalam kamarnya, mengambil sehelai saputangan sutera putih dan sebuah cincin emas. Di atas saputangan putih itu ia tuliskan kata-kata tentang pernyataan dan setianya, juga kerinduannya kepada Ceng Ki. Bibi Pi cepat menyimpan surat saputangan itu dan cincinnya, berikut pula upahnya sebanyak lima potong uang, dan cepat ia keluar dari rumah keluarga itu dan menjumpai Ceng Ki yang telah menantinya di kedai arak.

Setelah menyerahkan saputangan dan cincin yang diterima dengan girang oleh Ceng Ki, ia memberitahukan bahwa sebelum pergi tadi ia dipanggil oleh Goat Toanio dan diberitahu bahwa ia harus kembali malam hari itu untuk membawa pergi Cun Bwe karena dianggap bahwa Cun Bwe bekerja sama dengan Kim Lian dalam hubungannya dengan Ceng Ki, bahkan pelayan itu sendiripun mempunyai hubungan dengan Ceng Ki. Karena itu, menurut Goat Toanio, ia harus dikeluarkan dan dijual kepada keluarga lain. Mendengar ini, Ceng Ki menarik napas panjang. Goat Toanio yang berkuasa dalam keluarga itu, dan dia tidak dapat berbuat sesuatu dan tidak berani menentang keputusan yang di- ambilnya. Malam itu, Bibi Pi kembali menghadap Goat Toanio.

“Dahulu aku membelinya darimu untuk enam belas ons,” kata Goat Toanio kepada perantara ini, “Sekarang aku hanya minta harga yang sama.” Kemudian Goat Toanio dengan sikap tenang berwibawa berkata kepada Siauw Giok, pelayannya sendiri, “Bawa Bibi Pi kepada Cun Bwe. Ia harus membawa semua miliknya sendiri dan siap untuk berangkat sekarang juga bersama Bibi Pi. Akan tetapi semua pakaian dan perhiasannya tidak boleh dibawa.” Kim Lian terkejut sekali melihat Bibi Pi datang lagi dan memberitahukan bahwa ia diperintahkan oleh Goat Toanio untuk membawa pergi Cun Bwe malam itu juga. Ia merasa berduka karena harus kehilangan satu-satunya orang di dalam rumah itu yang dipercayanya.

“Aih, kami telah menjadi sahabat baik,” katanya dengan mata basah.

“Sejak kematian suamiku, kami telah mengalami banyak kesulitan bersama, dan sekarang ia diambil dariku, ini sungguh kejam, sungguh jahat Goat Toanio terhadap diriku! Hanya karena dapat mempunyai seorang anak yang buruk itu ia mengira bahwa ia dapat menginjak-injak kami!” Betapapun juga, Kim Lian tidak mungkin dapat membantah atau menentang keputusan yang diambil oleh Goat Toanio yang kini menjadi orarng yang paling berkuasa di dalam rumah tangga itu. la dan Cun Bwe hanya dapat saling rangkul, dan bertangisan ketika pembantunya itu berpamit. Pada keesokan harinya, Chen Ceng Ki mengunjungi rumah Bibi Pi dan minta bertemu dengan Cun Bwe.

“Bagus sekali engkau ini!” Cun Bwe menyambutnya dengan celaan. “Engkau dan majikanku telah melempar aku ke dalam lembah kesengsaraan!”

“Adik manis,” kata Ceng Ki dengan ramah. “Setelah engkau pergi aku tidak tahan lagi tinggal di rumah itu. Aku telah mengambil keputusan untuk menceraikan isteriku dan menikah dengan majikanmu. Akan tetapi aku harus lebih dulu pergi ke Ibukota Timur untuk berunding dengan orang-tuaku. Dan untukmu sendiri, dengan bantuan Bibi Pi, kuharap dengan setulus hatiku agar engkau dapat memperoleh jodoh yang baik.” Dan Bibi Pi memang merupakan seorang perantara yang pandai sekali. Baru beberapa hari saja, ia telah dapat menarik hati Pembesar Chouw yang berani membeli gadis muda yang segar dan hangat, juga pandai dan cantik dengan harga lima puluh ons. Bibi Pi mengantungi keuntungan tiga puluh empat ons dalam jual beli ini, dan dengan wajah berseri ia menyerahkan enam belas ons kepada Goat Toanio. Di depan Goat Toanio, ia masih dapat mengeluh bahwa ia hanya menerima hadiah satu ons saja dari pembesar yang membeli Cun Bwe, dan tentu saja Goat Toanio tidak tinggal diam dan memberinya hadiah setengah ons lagi. Demikianlah nasib Cun Bwe, seorang gadis yang tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri yang dijadikan seperti barang dagangan, dapat diperjual-belikan sesuka hati yang “memilikinya” atau menguasainya. Pada suatu hari, Chen Ceng Ki dan Pengurus Toko Obat yang bernama Fu sedang sibuk melayani para langganan, ketika pengasuh Yu I masuk menggendong putera Goat Toanio. Melihat banyak orang yang tidak dikenalnya di tempat itu, anak itu mulai merengek dan menangis.

“Diamlah engkau, anak nakal!” Ceng Ki membentak dan seketika anak itu diam karena takut dibentak seperti itu. Melihat hasil ini, Ceng Ki berkata kepada para langganan yang berada di situ, “Lihat, dia mentaati perintah Ayahnya. Aku adalah Ayahnya, tentu saja.” Tentu saja ucapan ini dimaksudkan sebagai kelakar, akan tetapi Yu I menerimanya dengan hati panas karena marah.

“Bagus sekali apa yang kau katakan di depan semua orang ini. Tunggu saja. Akan kuberitahukan majikanku!”

“Kalau kau berani, akan kutendang pinggulmu!” Ceng Ki masih berkelakar dan membuat gerakan seolah- olah hendak menendang pinggul Yu I. Akan tetapi Yu I tidak melayani kelakar Ceng Ki, bahkan segera lari dengan marah menghadap Goat Toanio dan melaporkan kejadian itu.

“Coba nyonya bayangkan, tuan muda Ceng Ki mengatakan di depan semua orang bahwa dia adalah Ayah dari putera nyonya!” Mendengar ini, wajah Goat Toanio menjadi merah sekali.

Keterlaluan kelakar Ceng Ki itu yang dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya, seolah-olah mengatakan bahwa ia telah berbuat serong dengan mantu suaminya! Seketika ia jatuh pingsan. Tentu saja seluruh keluarga menjadi panik dan lari berdatangan mendengar jeritan Siauw Giok dan Yu I. Setelah Goat Toanio ditolong, diberi minum jahe hangat dan siuman kembali, ia tidak dapat berkata apa- apa saking marahnya. Para isteri yang lain, juga para pelayan, mengundurkan diri dan hanya Sun Siu Oh, nyonya ke empat saja yang masih tinggal. Sun Siu Oh memang sejak dahulu merasa tidak suka kepada Kim Lian yang dianggap memonopoli suami mereka. Kini ia memperoleh kesempatan untuk menyatakan tidak sukanya kepada saingan itu di depan Goat Toanio.

“Ceng Ki tentu merasa jengkel karena engkau tidak membolehkan dia bermain gila dengan Kim Lian, dan juga karena engkau telah mengusir Cun Bwe. Karena itu dia menyatakan kejengkelannya dengan menghinamu. Kalau aku menjadi engkau, Taci, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan bertindak. Engkau tidak akan dapat tenteram sebelum menyingkirkan pasangan yang busuk itu. Satu-satunya kesukaran hanyalah bahwa kita harus mengingat kepada puteri suami kita. Akan tetapi bagaimanapun juga, setelah ia menikah ia sudah menjadi keluarga lain. Tidak seorangpun akan membenarkan kalau engkau terus menahan mereka tinggal di sini, selamanya. Kalau aku, hemm, aku akan memberi hukuman cambuk kepada Ceng Ki, kemudian aku akan mengusirnya. Dan aku akan memanggil Bibi Wang agar membawa pergi Kim Lian dari sini. Dengan adanya perempuan yang selalu mendatangkan keributan itu di sini, hidup kita takkan tenteram. Ia harus pergi dari sini. Untuk apalagi mempertahankan seorang yang jahat sepertinya”

Goat Toanio mendengarkan ucapan itu dengan hati yang sedang marah dan iapun mengangguk, menyetujui ucapan madunya dan berunding dengan Sun Siu Oh, tindakan apa yang harus diambil. Pada keesokan harinya mereka melaksanakan rencana mereka. Dengan alasan hendak membicarakan urusan perusahaan, Chen Ceng Ki dipanggil menghadap di ruangan duduk. Begitu dia muncul, Goat Toanio memerintahnya untuk berlutut, sambil membentak,

“Apakah engkau mengakui kesalahanmu?” Akan tetapi Chen Ceng Ki tidak mau berlutut dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka, atas isyarat Goat Toanio, delapan orang pelayan yang kuat-kuat dan yang tadi bersembunyi di balik tirai, kini datang mengepung Ceng Ki dan mengeroyok, memukulinya dengan tongkat-tongkat panjang dan pendek.

Tentu saja Ceng Ki terkejut sekali dan percuma saja dia mencoba melakukan perlawanan karena tubuhnya sudah dihujani pukulan tongkat-tongkat itu sehingga dia roboh ke atas lantai. Dia menjadi panik sekali. Bisa mati dia dikeroyok dan dipukuli wanita-wanita yang sedang marah ini. Maka muncullah suatu gagasan yang baik untuk menyelamatkan dirinya. Cepat dia membuka dan memerosotkan celananya sehingga bertelanjang. Melihat ini, delapan oreng wanita itu tentu saja menjadi malu sekali dan mereka segera mengundurkan diri, berlarian bersembunyi di balik tirai seperti kanak-kanak melihat setan. Goat Toanio sendiri diam-diam merasa geli dan untung ia masih dapat menahan diri untuk tidak tertawa. Melihat Ceng Ki merangkak bangun dan melarikan diri tanpa berkata sepatahpun kata, ia hanya memaki,

“Manusia tak tahu malu!” Sambil melarikan diri, Ceng Ki memuji diri sendiri. Akalnya tadi sungguh baik dan telah menyelamatkan dirinya, karena setidaknya dia tentu akan mengalami siksaan dan luka-luka kalau pengeroyokan tadi dilanjutkan.

Goat Toanio menyuruh pelayan Lai An mengejar Ceng Ki dan memberitahu bahwa orang itu harus segera membuat perhitungan dan menyerahkan urusan toko kepada pengurus Fu. Chen Ceng Ki maklum bahwa tak mungkin dia tinggal terus di rumah itu, maka diapun mengemas barang-barangnya dan pergi hari itu juga meninggalkan keluarga itu mengucapkan selamat tinggal. Dia pergi pindah ke rumah orang- tuanya, di mana Paman dan Bibinya Chang tinggal. Beberapa hari kemudian Goat Toanio yang sudah berhasil mengusir Chen Ceng Ki, mengutus kacung A Tai ke rumah Bibi Wang. Belum lama ini, Bibi Wang telah menutup kedai tehnya, karena puteranya yang tadinya bekerja keluar kota kini telah pulang, berhasil mengumpulkan sedikit modal dan kini membuka penggilingan gandum di pekarangan rumah mereka. Bibi Wang menerima kacung A Tai.

“Aih, sudah lama sekali aku tidak mendapatkan kehormatan kunjungan dari keluarga majikanmu. Tentu engkau datang atas suruhan Nyonya Ke Lima. Apakah barangkali ia ingin minta bantuanku dalam suatu hal?”

“Sama sekali tidak “ jawab A Tai.

“Yang mengutus aku ke sini adalah Nyonya Pertama. Ia menghendaki agar bibi mengambil Nyonya Ke Lima dan mencarikan seorang suami untuknya. la telah berbuat serong dan melakukan hubungan gelap dengan tuan muda Chen, mantu majikan.”

“Ya Tuhan, sungguh memalukan! Aku pernah berkata kepada diri sendiri bahwa Ia takkan dapat bertahan lama setelah majikan Shi Men meninggal dunia. Ketika suaminya. masih hidup dan aku pernah datang berkunjung, wah sombongnya bukan main dan Ia hampir tidak mengenalku lagi. Aku diberi suguhan teh murah dan ketika aku pulang, aku diberi penjepit rambut yang patah. Sekarang, lenyaplah semua kemuliaan darinya.” Ketika Kim Lian dipanggil oleh Goat Toanio. diberitahu akan keputusan yang diambil, bahwa ia harus meninggalkan keluarga itu, diam-diam Kim Lian merasa lega. Semenjak kepergian Chen Ceng Ki dan pelayannya, Cun Bwe, ia memang sudah merasa tidak tahan lagi tinggal dalam kungkungan keluarga itu, merasa seperti dalam penjara. Akan tetapi, mendengar keputusan itu, ia bersikap pura-pura penasaran, seolah-olah orang tak berdosa menerima hukuman.

“Apakah yang kulakukan maka engkau mengusir aku begini tiba-tiba sekali?” ia bertanya dengan Suara penuh rasa penasaran kepada Goat Toanio, “Sesungguhnya tidak benar kalau engkau mendengarkan celoteh para pelayan yang melontarkan fitnah kepadaku sehingga engkau mengusir aku begini kejam setelah aku tinggal di sini sebagai saudaramu selama bertahun-tahun. Tentu saja aku tunduk kepada perintahmu yang memegang kekuasaan di sini. Akan tetapi, tidak sepantasnya kalau engkau memamerkan kekuasaan sampai berlebihan dan memukul rekan sendiri di mukanya.” Tak seorangpun di antara para anggauta keluarga yang mengantar Kim Lian keluar, kecuali Siauw Giok yang diam-diam merasa kasihan juga melihat pengusiran terhadap Kim Lian. Siauw Giok mengantarnya sampai ke pintu gerbang dan memberikan dua buah tusuk sanggul dari emas kepada Kim Lian.

“Terima kasih, engkau ternyata masih memiliki perikemanusian,” kata Kim Lian yang merasa oleh sikap Siauw Giok. Kemudian ia memasuki joli, dan beberapa orang kuli yang dikirim Bibi Wang, memikul dua buah peti pakaian Kim Lian. Dunia berputar terus! Nasib ikut pula berputar, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah! Karena maklum akan hal ini, bahwa manusia tidaklah abadi, seorang bijaksana tidak menjadi mabuk dan tinggi hati apabila sedang berada di atas akan tetapi juga tidak putus asa dan rendah diri apabila sedang berada di bawah.

Di dalam rumah Bibi Wang, Kim Lian Menempati sebuah kamar, duduk sendiri, akan tetapi di Waktu malam ia harus tidur dalam satu kamar dengan Nenek itu. la menghabiskan waktunya dengan berias diri kemudian berdiri di depan untuk melihat orang-orang yang lalu lalang, presis seperti keadaannya dahulu. Atau ia duduk dalam kamarnya dan bermain siter, atau kadang-kadang ia bermain kartu dengan Chouw, putera Bibi Wang, kalau kebetulan Bibi Wang pergi. Dalam kesepian dan haus kasih sayang pria, dalam waktu beberapa hari saja, diam-diam Kim Lian telah mengadakan hubungan gelap dengan Chouw, Pada malam hari, kalau Bibi Wang telah pulas, dia meninggalkan kamar itu dan masuk ke dalam kamar pemuda itu untuk menyalurkan gairahnya yang tak pernah padam! Berbeda sekali dengan nasib Kim Lian,

Kini Cun Bwe, bekas pelayan Kim Lian, mendapatkan nasib yang amat baik sebagai seorang selir dari Pembesar Chouw yang terkasih, ia menjadi isteri ke tiga, akan tetapi karena isteri pertama sudah tua dan berpenyakitan sehingga setiap hari hanya tinggal di dalam kamar sedangkan isteri ke dua baru saja melahirkan seorang anak perempuan, maka segala urusan rumah tangga berada di tangan Cun Bwe sehingga seolah-olah kedudukannya bukan Isteri Ke tiga, melainkan yang pertama. Pada suatu hari, Bibi Pi yang menjadi perantara datang berkunjung dan dari perantara ini, Cun Bwe mendengar bahwa Kim Lian telah diusir dari rumah keluarga Shi Men dan kini tinggal di rumah Bibi Wang, dengan masa depan yang tidak tentu akan nasib bekas majikannya itu, tergeraklah hati Cun Bwe dan ia kasihan sekali, Ia segera membujuk suaminya dengan kedua mata basah air mata,

“Ia adalah sahabatku, sepenanggungan dan kawan sependeritaan. Aku merasa kasihan sekali padanya. Aku akan berterima kasih sekali kalau engkau mengambilnya sebagai isterimu Kalau engkau suka menerimanya, biarlah aku mengalah dan aku menjadi Yang Ke Empat dan ia menjadi Yang Ke Tiga.” Cun Bwe lalu menceritakan tentang kecantikan Kim Lian, memuji-mujinya dengan maksud agar suaminya suka menerima bekas majikannya itu. Tentu saja penawaran isteri tercinta ini menggerakkan pula hati Pembesar Chouw. Dia lalu menyuruh dua orang kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan apakah benar seperti yang digambarkan oleh Cun Bwe, tentang kecantikan wanita yang berada di rumah Bibi Wang, menghubungi Bibi Wang. Agaknya matahari mulai bersinar terang lagi bagi nasib Kim Lian! Niat baik dari Cun Bwe yang penuh setiakawanan itu membuka kesempatan besar baginya untuk kembali memasuki kehidupan yang penuh dengan kemewahan dan kesenangan! Akan tetapi, hal inipun belum dapat ditentukan melihat adanya awan hitam tebal yang perlahan-lahan terbawa angin mendekat matahari, mengancam untuk menutup kembali sinar matahari yang baru saja muncul sehabis hujan.

Para pembaca tentu masih ingat kepada Bu Siong, pendekar perkasa pembunuh harimau dengan tangan kosong itu! Dia telah menjalani hukuman buang, kini telah diberi pengampunan dari Istana, bahkan dia diperbolehkan menduduki kembali jabatannya sebagai Komandan Keamanan di distrik. Bu Siong melakukan perjalanan jauh dan pada suatu hari tibalah dia di Ceng-Ho Sian. Dengan Surat keputusan pembebasan dan pengangkatannya kembali sebagai komandan keamanan, dia menghadap pembesar setempat dan diterima dengan gembira karena para pejabat tentu saja senang dengan adanya seorang kepala jaga yang demikian lihainya untuk menjaga keamanan di kota mereka.

Dia tinggal di bekas rumah mendiang kakaknya, Bu Toa, yang berada di Jalan Batu Ungu Dia lalu mengambil keponakannya, Bu Ying, yang dahulu di titipkan kepada keluarga Yao yang menjadi tetangga. Ketika dia mengambil keponakannya, dia mendengar banyak hal dari para tetangga. Dia mendengar bahwa musuhnya, Shi Men, telah meninggal dunia, dan bahwa bekas kakak iparnya, Kim Lian kini tinggal bersama Bibi Wang dan kabarnya akan menikah lagi. mendengar tentang Kim Lian, dendam dalam hatinya berkobar dan dia mengambil keputusan untuk melaksanakan pembalasan sakit hati yang sudah di kandungnya terlalu lama itu.

Pada keesokan harinya, dia mengenakan pakaian baru dan berkunjung ke rumah Bibi Wang, Kim Lian yang seperti biasa berdiri di ambang pintu depan telah melihat kedatangannya dari jauh dan segera mengenalnya. Dengan wajah pucat ketakutan, Kim Lian melarikan diri ke dalam rumah dan bersembunyi ke dalam kamar. Bu Siong melihat hal itu, akan tetapi dia diam saja dan melihat Bibi Wang di pekarangan sibuk dengan penggilingan gandum, Bu Siong memberi hormat dengan ramah. Bibi Wang juga terkejut melihat munculnya pendekar ini, dengan gugup mempersilakan tamunya masuk ke depan, dan menyambut dengan gembira.

“Ah, kiranya engau telah tiba ke rumah.” Nenek ini menyambut Bu Siong Ciangkun (Perwira) untuk mengambil hati.

“Ya, aku telah diampuni dan aku telah kembali untuk beberapa hari lamanya. Aku ingin menghaturkan terima kasih atas kebaikanmu yang telah membantu untuk mengamati rumah kami selama aku tidak ada!” Bibi Wang menarik napas lega.

“Aih, Ciangkun kini sungguh telah berubah sekali. Engkau tampan dan gagah daripada dahulu. Dan jenggot itu cocok sekali untukmu. Tentu kehidupan di tempat jauh itu telah menambah kebijaksanaan Ciangkun.” Bu Siong dipersilakan duduk dan di suguhi air teh.

“Ada hal lain yang mendorongku datang berkunjung, Bibi, Wang. Aku mendengar bahwa Tuan Shi Men telah meninggal dunia dan bahwa bekas Kakak iparku kini tinggal bersamamu, juga aku mendengar bahwa ia mau menikah lagi bibi, maukah bibi bertanya kepadanya apakah ia bersedia untuk menjadi isteriku? Aku ingin agar keponakanku Bu Ying mempunyai sėorang pengganti ibu. la sekarang telah cukup usia untuk menikah, dan aku ingin agar bekas Kakak iparku itu memberi pelajaran kepadanya agar ia dapat memperoleh jodoh yang layak. Selain itu, aku ingin menghilangkan prasangka buruk orang- orang kalau aku hanya tinggal berdua. saja dengan keponakanku itu.” Bibi Wang berpikir sejenak.

“Benar bahwa ia tinggal. bersamaku akan tetapi aku tidak tahu apakah langkah selanjutnya yang akan diambilnya. Sebaiknya aku bertanya kepadanya apa pendapatnya tentang lamaranmu ini.”

“Terima kasih, sampaikanlah kepadanya.” Semetara itu, diam-diam Kim Lian telah mengintai dan mendengarkan percakapan mereka. Melihat pendekar yang gagah perasa itu, dan kiní nampak lebih matang dan lebih tampan, jantung dalam dada Kim Lian sudah berdebar penuh gairah. Inilah seorang laki-laki jantan! jauh sekali bedanya dengan Chen Ceng Ki yang lemah, atau dengan putera Bibi Wang yang kasar dan dusun!

“Ah, kiranya Nasib mempertemukan kita,” pikirnya, girang sekali dan iapun tidak sabar menanti masuknya Bibi Wang ke dalam kamar. Dengan senyum memikat dan menantang, iapun keluar menemui Bu Siong dan memberi hormat dengan sikap paling manis yang dapat diambilnya. Suaranya merdu merayu, matanya mengerling tajam dari sepasang barisan bulu mata yang ditundukkan, mulutnya tersenyum memikat dan tubuhnya yang ramping itu membungkuk seperti batang pohon liu tertiup angin.

“Dengan seluruh perasaanku, adik iparku yang baik, aku menerima penawaranmu dan akan kulakukan apa yang kau inginkan untuk mendidik Bu Ying dengan penuh perhatian.”

“Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan!” Tiba-tiba bibi Wang berkata,

“Goat Toanio tentu tidak akan membiarkannya pergi kalau imbalannya kurang dari seratus ons!”

“Kenapa ia minta demikian banyak!” tanya Bu Siong. “Ia mengatakan bahwa mendiang tuan Shi Men telah mengeluarkan uang begitu banyak untuk Kakak iparmu ini, maka sudah selayaknya kalau kini iapun minta tebusan yang pantas.”

“Baiklah. Aku akan membayar seratus ons, juga lima ons untuk upah perantara, untuk menyatakan terima kasihku.” Wajah Bibi Wang segera terbuka penuh senyum ompong.

“Hal itu tentu saja terserah kepadamu, Ciangkun. Sungguh kini Ciangkun telah menjadi seorang yang bersikap bangsawan.” Kim Lian pergi ke dapur dan dalam kegembiraannya ia memasak teh yang terbaik untuk adik ipar yang kini menjadi calon suaminya itu. Sementara itu, Bibi Wang menjadi girang bukan main. Rejeki nomplok ini sama sekali tidak pernah disangkanya akan dilimpahkan kepadanya. Ketika Kim Lian datang lagi menyuguhkan teh wangi, ia segera berkata kepada Bu Siong.

“Sudah ada tiga empat orang berminat kepada Kakak iparmu, Ciangkun, agaknya banyak yang tertarik untuk mengambilnya sebagai isteri dan mereka adalah para pembesar dan hartawan. Karena itu, sebaiknya kalau engkau segera membayar uang tebusan itu, Ciangkun, jangan sampai engkau didahului orang lain.”

“Benar sekali, adik iparku yang baik. Kalau memang engkau ingin mengambil aku sebagai isterimu, jangan sampai terlambat. Aku akan merasa jauh Iebih berbahagia menjadi isterimu daripada dimiliki orang lain.” “Jangan khawatir, besok akan kukirim pembayaran itu dan malamnya aku akan membawamu pulang.” Setelah Bu Siong pergi, Bibi Wang meragukan apakah seorang yang berpangkat komandan pasukan keamanan saja mampu mengeluarkan uang sebanyak itu. Akan tetapi, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Bu Siong sudah datang dan mengeluarkan uang seratus ons dari sebuah kantong kulit. Sebenarnya uang ini adalah milik komandan penjara di Mong-Chouw di Tembok Besar yang mempercayainya untuk menyerahkan uang itu kepada seorang keluarganya. Dapat dibayangkan betapa gembira hati Bibi Wang melihat perak bertumpuk-tumpuk di atas meja dan mengeluarkan sinar berkilauan Dengan teliti ia menimbang perak-perak itu karena ia tidak mau kalau dikurangi sedikit saja jumlah yang telah ditentukannya.

“Sekarang aku ingin mengajak Kakak iparku pulang,” kata Bu Siong.

“Kenapa begitu tergesa-gesa? Malam nantipun tidak akan terlambat. Aku akan pergi dulu menyerahkan uang ini kepada Nyonya Goat Toanio, kemudian aku akan mengantarkan Kakak iparmu kepadamu. Sementara itu, di rumahmu engkau dapat mempersiapkan segalanya untuk menerimanya. Peristiwa yang begitu penting selayaknya disambut dengan upacara yang patut pula.” Bu Siong tidak membantah dan pergi. Setelah dia pergi, Bibi Wang berpikir.

“Yang menjadi keinginan utama dari Goat Toanio adalah menyingkirnya Kim Lian yang tidak disukainya, ia tidak menentukan suatu jumlah tertentu. Kuberi dua puluh ons saja ia tentu sudah akan merasa puas.” Ia lalu menimbang dua puluh ons perak, menyimpan sisanya yang delapan puluh, kemudian pergi berkunjung ke rumah Goat toanio. Benar saja seperti diduganya, Goat Toanio puas dengan jumlah itu. Memang yang penting baginya adalah perginya Kim Lian dari rumahnya.

“Siapakah yang membelinya?” tanyanya sambil lalu. Bibi Wang tersenyum memperlihatkan mulut ompong.

“Betapapun jauhnya seekor kelinci berkeliaran, ia akan kembali ke semak-semak semula, Kim Lian, akan menikah dengan adik iparnya sendiri, Bu Siong.”

“Hemm, kalau saja semua itu akan berjalan dengan beres, syukurlah,” kata Goat Toanio kepada Mong Yu Lok, akan tetapi diam-diam ia merasa tidak. enak, seolah-oiah ada firasat tidak baik. Setelah kembali ke rumahnya , Bibi Wang menyuruh puteranya untuk mengangkat dua buah peti pakaian dan meja rias Kim Lian ke rumah sebelah.

Kemudian, menjelang senja, setelah Kim Lian bersolek tebal, Bibi Wang menggandeng tangannya dan mengajaknya ke rumah barunya. Bu Siong rnenyambut mereka dan mengajak mereka ke ruangan dalam yang dihiasi dengan lilin-lilin bernyala. Tiba-tiba kedua orang wanita itu terhenyak kaget. Di tengah ruangan mereka melihat meja sembahyang dari mendiang Bu Toa! Tentu saja mereka merasa terkejut dan tidak enak hati. Seolah-olah ada tangan tak nampak yang mencekik leher dan menyambak rambut mereka. Sementara itu, atas isyarat dari Bu Siong, Bu Ying menutupkan daun pintu depan dan menguncinya. Hal. ini dapat dilihat oleh Bibi Wang. Karena ia merasa curiga dan menduga akan terjadi buruk, Bibi Wang ingin keluar secepatnya dari situ. Akan tetapi Bu Siong menahannya.

“Aih, Bibi Wang, bukankah engkau ingin minum arak pengantin bersama kami?” kata Bu Siong sambil tertawa. Tentu saja Bibi Wang tidak dapat menolak dan terpaksa ia ikut duduk menghadapi meja di mana tersedia masakan dan arak yang disuguhkan oleh Bu Ying. Biarpun mereka bertiga duduk menghadapi meja, namun Bu Siong kini makan minum tanpa memperdulikan mereka berdua sehingga mereka saling pandang dan merasa tidak enak dan gelisah. Dengan terpaksa sekali Bibi Wang dapat menelan sedikit makanan dan minuman, kemudian ia berkata,

“Sekarang aku harus pulang. Kurasa kalian orang-orang muda tentu ingin berduaan saja.”

“Omong kosong, Nenek tua! Engkau tetap tinggal di sini! Masih ada satu dua buah kata yang ingin kusampaikan kepadamu!” kata Bu Siong dengan keren. Pada saat itu terdengar suara berdesing dan betapa kagetnya perasaan hati kedua orang wanita itu ketika melihat Bu Siong telah mencabut sebatang pedang dari balik jubahnya. Terutama sekali Bibi Wang, karena pada saat itu Bu Siong memandang dengan mata mendelik kepadanya dan kata-kata yang keluar dari mulut pendekar itu sungguh menakutkan.

“Nah, tua bangka, jangan berpura-pura sedang tidur dan mimpi! Tidak ada hutang tanpa penagih, tidak ada kebencian tanpa sebab, itulah peribahasa kuno. Engkau bertanggung jawab atas kematian Kakakku!”

“Ah, Ciangkun. Hari telah malam dan agaknya engkau sudah mulai mabuk. Dalam keadaanrnu itu, sebaiknya jangan main-main dengan pedang “

“Diam! Aku akan berurusan dengan yang lain dulu, baru tiba giliranmu, tua bangka. Dan jangan engkau berani melangkah pergi, kalau tidak” Bu Siong mengelebatkan pedangnya di depan mata Bibi Wang yang terbelalak dengan muka pucat itu. Kemudian Bu Siong menghadapi Kim Lian. “Dengar baik-baik, perempuan hina! Bagaimana Kakakku sampai mati? Bicara terus terang dan mungkin aku akan mengmpunimu!” Tentu saja Kim Lian tidak berani membuat pengakuan. “Kakak kandungmu itu meninggal dunia karena serangan penyakit jantung. Aku tidak bisa menerangkan apa-apa lagi, aku tidak tahu apa-apa lagi tentang kematiannya.”

“Cappp...!” Pedang pendek itu kini menancap di atas meja di depan Kim Lian, gagangnya bergoyang- goyang. Kemudian Bu Siong menjambak rambut Kim Lian dengan tangan kiri, tangan kanannya mencengkeram baju wanita itu dan dia mengguncangkan dengan keras, menendang meja yang menjadi penghalang di depannya sehingga mangkok piring jatuh berserakan. Melihat ini, Bibi Wang bangkit berdiri dán lari menuju pintu. Akan tetapi pintu itu terkunci dan dengan langkah lebar Bu Siong telah mengejarnya, menendangnya roboh dan menggunakan ikat pinggang untuk mengikat kaki tangannya sehingga Nenek ini tidak mampu bergerak lagi.

“Lepaskan aku, ciangkun!” Ia berteriak ketakutan. “Apa hubunganku dengan semua urusan Kakak iparmu? Aku tidak berdosa!”

“Tutup mulutmu, Nenek jahat! Aku sudah tahu semuanya. Kebohonganmu tidak akan menolongmu. Tunggu Saja giliranmu. Pertama-tama aku harus menyelesaikan urusanku dengan perempuan hina ini." Dia menyeret Bibi Wang kembali ke ruangan dan melemparnya ke atas lantai di depan meja sembahyang Kakaknya. Kemudian dia mengambil pedang pendeknya dan menghadapi Kim Lian yang sejak tadi berdiri menggigil. di sudut ruangan.

"Adik ipar… ampunilah aku…” Ia memohon, Bu Siong menangkap lengannya dan menyeretrya ke depan meja sembahyang, memaksanya untuk berlutut di depan meja sembahyang mendiang Bu Toa. "Dan sekarang mengakulah!" bentaknya sambil menempelkan pedangnya dileher Kim Lian. Dengan semangat terbang meninggalkan tubuhnya saking takutnya dan karena tidak melihat kemungkinan lain untuk menyelamatkan diri, saking takutnya Kim Lian lalu dengan suara terputus-putus menceritakan semua peristiwa yang terjadi, tentang hubungannya dengan Shi Men ketika dia masih menjadi isteri Bu Toa, betapa Shi Men melukai Bu Toa dengan tendangannya, dan betapa atas nasihat Bibi Wang, ia meracuni suaminya sendiri itu sampai mati. Mendengar semua pengakuan Kim Lian yang ketakutan itu , tentu saja bibi Wang menjadi panik.

"Bocah tolol," pikirnya. "Celaka kita semua " Dengan tenang, Bu Siong mendengarkan semua pengakuan Kim Lian. Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menuangkan arak dan membakar kertas sembahyang. Kemudian terdengar dia bicara, suaranya terdengar keren menakutkan.

"Dengarlah, Toako, aku tahu bahwa arwahmu tentu dekat di sini. Saat pembalasan telah tiba dan aku. Bu Siong, yang membalaskan dendam sakit hatimu!" Dengan ketakutan yang hebat Kim Lian kini mulai menjerit minta tolong. Akan tetapi teriakannya terhenti ketika Bu Siong menjejalkan abu hio ke dalam mulutnya, dan tangan yang kuat dari pendekar itu menekan kepala Kim Lian ke atas lantai di depan meja sembahyang. Dalam ketakutan yang hebat, Kim Lian dapat melepaskan tekanan itu untuk beberapa saat dan ia merenggut lepas semua perhiasan dari tubuhnya seperti orang yang tiba-tiba menjadi gila. Sebuah tendangan pada perutnya oleh Bu Siong membuat ia terguling dan sebuah sepatu besar menindih dadanya.

"Perempuan hina, engkau sungguh berhati kejam dan tak berperikemanusiaan! Sekarang aku ingin melihat sendiri bagaimana macamnya hatimu!"

Seperti kilat menyambar, pedang itu telah menembus dada Kim Lian dan memutar pedang itu sehingga dada itu terbuka lebar. Kim Lian berkelojotan lalu terdiam karena nyawanya sudah melayang pergi. Bu Siong menggigit pedangnya dan dengan kedua tangannya, dia menguak lubang di dada itu dan mencabut keluar hati yang berlumuran darah. Ditaruhnya benda itu ke atas piring dan meletakannya ke atas meja sembahyang. Kemudian dia menghampiri Nenek Wang yang sudah setengah mati menyaksikan kengerian itu. lapun menjeri-jerit minta tolong, akan tetapi sekali saja pedang di tangan Bu Siong berkelebat, kepala Nenek itu sudah terpisah dari lehernya!

"Paman, aku... aku takut!" Ying berkata sambil menggigil dan bersandar pada dinding, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

"Bu Ying, saat ini aku tidak dapat mengurusmu, nak," dia berkata, kemudian dia berlari ke belakang rumah dan melompati pagar memasuki rumah Nenek Wang.

Dia bermaksud untuk membunuh putera Nenek itu, akan tetapi pada saat itu Ciang Chouw yang mendengar jeritan-jeritan tadi sudah lari keluar dan minta tolong kepada para tetangga. Akan tetapi para tetangga juga takut menghadapi Bu Siong dan tidak ada yang berani mencampuri urusan itu. Karena tidak menemukan pemuda itu, Bu Siong lalu mengaduk-aduk kamar Nenek Wang sampai dia menemukan perak yang delapan puluh ons itu, membawanya pergi menghilang di kegelapan malam dan mulai malam itu diapun melarikan diri ke dalam hutan-hutan di Pegunungan Liang, di mana dia menjadi buronan pemerintah dan kemudian bahkan terkenal sebagai, seorang perampok yang ditakuti oleh para pembesar dan para hartawan karena yang diganggunya hanyalah dua golongan itu saja.

Akan tetapi dia dicinta dan dikagumi oleh orang-orang miskin karena semua hasil rampokannya selalu dibagikannya kepada kaum miskin di dusun-dusun. Tuhan Maha Adil. Siapa menanam dan memelihara padi akan menuai padi, siapa menanam pohon beracun akan memetik buah beracun. Orang baik pada akhirnya akan menerima berkah dan orang jahat akan menerima hukumannya, cepat ataupun lambat. Hidup menuruti nafsu, mengejar kesenangan, menjauhkan perikemanusiaan dan kasih sayang kepada manusia lain, mendekatkan kejahatan dari kekejaman demi untuk memperoleh kesenangan yang dikejarnya. Menerima kesenangan seperti apa adanya tanpa menginginkan yang tidak ada merupakan berkah, sebaliknya mengejar kesenangan yang tidak ada merupakan awal daripada penyelewengan dan kejahatan.

Kematian Kim Lian dan Bibi Wang tentu saja menggemparkan seluruh penduduk kota Ceng-Ho-Sian. Semua penghuni dalam keluarga Goat Toanio juga mendengar, dan mereka merasa heran mendengar betapa Cun Bwe mengeluarkan biaya secukupnya untuk penguburan jenazah Kim Lian secara pantas, bahkan dengan sebuah peti jenazah yang tebal dan cukup indah. Ketika mendengar semua ini dari cerita Bibi Pi yang datang berkunjung ke rumah keluarga Goat Toanio Sun Siu Oh berkata dengan heran,

"Peti jenazah seperti itu tentu mahal harganya, dan upacara perkabungannya juga memakan biaya yang tidak kecil. Bagaimana anak yang dulu menjadi pelayan di sini itu mampu mengeluarkan biaya untuk semua itu? Apakah ia yang menjadi selir pembesar itu tidak akan mendapat marah dari suaminya?"

"Aih, engkau tidak dapat membayangkan keadaannya sekarang!" kata Bibi Pi sambil tertawa.

"Pembesar Chouw tergila-gila kepadanya dan memenuhi segala permintaannya. Ia kini mendapat tiga buah kamar yang lengkap dengan perabot-perabot mewah di bagian timur perumahan besar itu, memiliki dua orang gadis pelayan, dan begitu ia tiba di sana, ia telah dibuatkan pakaian untuk empat musim selama setahun penuh. Isteri pertama tidak masuk hitungan lagi, usianya sudah lima puluh tahun lebih, setengah buta, hanya duduk dalam kamarnya dan makan sayur-sayuran, setiap hari hanya membaca kitab suci bersembahyang. Isteri ke dua baru saja melahirkan seorang anak perempuan dan masih beristirahat di tempat tidur. Karena itu, semua kunci diserahkan kepada Cun Bwe dan ialah yang mengatur seluruh urusan rumah tangga, memutuskan apa yang harus dibeli, apa yang harus dimasak, dan biarpun ia hanya isteri ke tiga, akan tetapi ia seperti isteri pertama saja. Dan agaknya iapun sekarang sudah mengandung."

Goat Toanio dan Sun Siu Oh saling pandang dan tidak memberi tanggapan. Akan tetapi mereka diam- diam merasa heran akan jalannya nasib seseorang, dan merasa kagum dan juga iri melihat nasib cemerlang dari seorang gadis pelayan yang kini memasuki masa gemilang dan bahkan lebih mulia daripada keadaan dan kedudukan mereka sebagai janda-janda. Hari raya Ceng-beng tiba. Hari raya di mana keluarga pergi berkunjung ke kuburan Nenek moyangnya, untuk membersihkan kuburan, bersembahyang. Goat Toanio dan keluarganya juga pergi, dan setelah melakukan upacara sernbahyang, diantar oleh kacung A Tai,

Mereka mengikuti orang-orang yang membanjiri lapangan untuk menonton pertunjukkan kesenian dan olah raga. Pertandingan olah raga dipimpin oleh Li-Kongcu, putera dari Li-Taijin, pembesar yang berkedudukan tinggi dari Ceng-Ho-Sian. Li-Kongcu berusia tiga puluh tahun, bertubuh tegap dan sejak kecil dia suka akan olah raga, pandai silat, suka berburu binatang, menunggang kuda dan dia terkenal di antara para ahli silat dan olahragawan di sekitar daerah Ceng-Ho-Sian. Ketika itu, Li-Kongcu meninggalkan lapangan dan masuk ke dalam rombongan penonton untuk melihat-lihat dan tiba-tiba dia melihat serombongan wanita yang menarik perhatiannya, terutama seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi semampai. Dia tertarik sekali dan ingin tahu siapa adanya wanita itu, sudah menikah ataukah masih bebas.

"Cepat kau selidiki siapa adanya tiga orang wanita yang mengenakan pakaian putih berkabung itu," perintahnya kepada kacungnya. Tak lama kemudian kacung itu kembali dan melaporkan hasil penyelidikannya dengan suara berbisik,

"Mereka adalah keluarga dari mendiang Hakim Distrik Shi Men. Yang tubuhnya paling kecil itu adalah Kakak iparnya bernama Wu, yang bertubuh sedang itu adalah isteri pertamanya bernama Goat Toanio. Yang tinggi itu adalah isteri ke tiga, namanya Mong Yu Lok, dan sampai sekarang, seperti yang lain itu, ia belum menikah."

"Bagus, terima kasih," kata Li-kong girang. Pemuda ini terus mengamati Mong Yu Lok, sampai akhirnya wanita ini bersama rombongannya memasuki joli dan meninggalkan tempat keramaian itu.

Sementara itu, ketika Goat Toanio dan Mong Yu Lok, ditemani enci dari Goat Toanio, nonton keramaian, yang menjaga rumah adalah Sun Siu Oh, isteri ke empat, dan puteri Shi Men. Mereka berdiri di pintu gerbang, melihat orang-orang yang lalu lalang di depan rumah mereka. Kebetulan sekali selagi mereka berdiri memandang orang-orang yang lewat, muncullah seorang pedagang barang-barang kelontong kebutuhan rumah tangga dan alat-alat rias, menawarkan dagangannya dengan teriakan nyaring. Puteri Shi Men menyuruh penjaga pintu gerbang untuk mengejar pedagang itu, menanyakan apakah pedagang itu menjual minyak gosok untuk membersihkan cermin. Pedagang itu mengatakan tidak menjual barang itu, akan tetapi dia tetap saja datang mendekat dan memandang dengan penuh perhatian kepada Sun Siu Oh.

"Kalau engkau tidak menjualnya, sudah saja! Kenapa berdiri di situ dan memandang seperti itu?" Sun Siu Oh menegur.

"Apakah engkau tidak ingat lagi kepadaku? Aku adalah Lai Wang, dahulu menjadi pegawai di sini."

"Apa? Engkau Lai Wang?" seru Siu Oh, terkejut. "Bagaimana aku dapat mengenalmu, engkau sekarang begini gemuk. Ke mana saja engkau seIama bertahun-tahun ini?" Tentu saja Siu Oh ingat pada Lai Wang, orang yang menjadi korban karena ulah isterinya, Lian Cu, yang berjina dengan Shi Men sehingga akibatnya, Lai Wang dihukum buang dan Lian Cu menggantung diri sampai mati.

"Setelah aku diusir keluar dan aku menjalani hukuman sampai akhirnya diberi pengampunan dan keluar. Aku kembali ke kampung halamanku di Sui-cou. Sampai beberapa lamanya aku menganggur, kemudian aku bekerja sebagai pelayan seorang bangsawan. Kemudian aku berhenti dan membantu seorang pandai perak di kota ini dan aku berkeliling menjualkan barang-barang kelontong buatannya. Ketika aku melihatmu, aku tidak berani memperkenalkan diri, kalau saja tidak disusul."

"Engkau tidak perlu takut kepada kami. Apa saja sih daganganmu itu? Masuklah dan biarkan kami melihat-lihat," kata Siu Oh dengan ramah dan akrab. Lai Wang membawa dagangannya masuk ke pekarangan sebelah dalam dan di situ dia memperlihatkan dagangannya yang banyak macamnya. Puteri Shi Men membeli hiasan rambut berupa kembang dan Siu Oh sendiri membeli mainan sepasang burung Hong dan sepasang ikan yang sedang bermesraan. Tentu saja pilihan ini merupakan suatu isyarat halus untuk Lai Wang. Akan tetapi Siu Oh mengatakan bahwa Lai Wang boleh mengambil uangnya besok dan hal inipun merupakan suatu undangan agar Lai Wang datang lagi pada keesokan harinya. Ketika Lai Wang... datang lagi dengan dagangannya, Goat Toanio juga menegurnya dengan gembira.

"Wang, mengapa selama ini engkau tidak pernah memperlihatkan dirimu?" "Setelah apa yang terjadi dahulu, saya tidak berani lagi datang ke sini."

"Ah, kenapa begitu? Majikanmu telah meninggal dunia untuk beberapa lamanya dan dahulu engkau sudah seperti anggauta keluarga kami sendiri. Engkau boleh datang berkunjung kapan saja engkau suka. Adalah wanita itu, Nyonya ke Lima, yang bertanggung jawab atas peristiwa yang tidak menyenangkan dan yang menimpa dirimu itu. lalah yang selalu mencari gara-gara, dan ia pula yang membuat isterimu Lian Cu sampai membunuh diri, dan ia pula yang membuat majikanmu terpaksa mengusirmu dengan bermacam cara. Akan tetapi sekarang ia telah menerima hukumannya yang setimpal."

"Toanio, sungguh melegakan hati mendengar toanio bicara seperti itu."

"Apa saja sih macamnya daganganmu? Coba buka dan biar aku mellhat-lihat." Goat Toanio lalu memilih- milih dan berbelanja seharga tiga ons lebih, bahkan menyuruh pelayan menghidangkan arak dan kue. Siu Oh sendiri yang membuatkan makanan-makanan yang enak untuknya, dan setelah Lai Wang dengan berterima kasih berpamit dari Goat Toanio, Mong Yu Lok, dan puteri Shi Men, Siu Oh berhasil untuk bicara sendiri dengannya di luar.

"Datanglah lebih sering," katanya berbisik.

"Jangan ragu-ragu. Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Kalau engkau suka, aku akan menantimu besok malam di dalam kamar kosong di dekat tembok merah." Lai Wang mengerti apa yang dimaksudkannya.

"Akan tetapi bagaimana aku dapat berkunjung malam hari? Bukankah pintu sebelah dalam ditutup sore- sore?"

"Tunggulah di luar tembok di ujung selatan sampai hari menjadi gelap. Aku akan memberi tanda dan engkau dapat menggunakan tangga naik ke tembok. Aku akan berada di dalam dan membantumu turun ke dalam."

"Tentu saja Lai Wang merasa girang bukan main. Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum, lalu memanggul dagangannya dan pergi dari situ. Pada keesokan malamnya, setelah semua penghuni rumah itu telah pergi tidur, Lai Wang membawa tangga dan menyandarkannya di tembok di ujung selatan, lalu menunggu.

Dia tidak perlu menanti terlalu lama karena segera dia mendengar suara batuk seorang wanita dari balik tembok. Dia lalu menaiki tangga itu dan tiba di atas tembok. Di sana, di sebelah dalam, Siu Oh telah menantinya dengan sebuah tangga lainnya. Dengan mudah Lai Wang menuruni tangga itu dan ketika tiba di atas tanah, mereka saling peluk dan bergandengan tangan memasuki kamar yang tidak dipergunakan oleh keluarga itu. Bertemulah dua orang yang sama-sama haus akan belaian kasih sayang dan malam itu mereka mencurahkan semua perasaan rindu ini dalam suatu kemesraan yang memabukkan. Menjelang pagi, ketika Lai Wang harus pergi, Siu Oh memberinya sebuah bungkusan besar berisi perhiasan emas dan perak, juga pakaian-pakaian sutera mahal yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Datang lagi besok malam," ia berbisik. "Masih banyak barang berharga yang harus kau bawa keluar. Dan carilah sebuah rumah yang pantas untuk kita. Hubungan kita tidak mungkin dilanjutkan seperti ini seterusnya. Suatu malam kita harus minggat dari sini dan menjadi suami isteri."

"Aku mempunyai seorang bibi yang tinggal di tempat sunyi, baik sekali untuk kita jadikan tempat persembunyian. Kelak, kalau kita lari, kita dapat bersembunyi di situ. Kemudian, setelah Goat Toanio tidak meributkan lagi soal kita, kita dapat pergi ke kampung halamanku dan di sana kita membeli tanah dan ber-tani. Kita akan hidup bahagia di sana."

Demikianlah setiap malam Lai Wang datang mengunjungi kekasihnya, bermain cinta dan membuat rencana-rencana untuk kehidupan mereka di masa datang, dan paginya Lai Wang keluar membawa makin banyak barang berharga yang dapat dikumpulkan oleh Siu Oh. Setelah hal ini berulang sampai beberapa malam, dan merasa bahwa sudah cukup barang yang mereka ambil dari rumah itu, mereka berdua lalu lari minggat dari rumah itu dan langsung saja menuju ke rumah Bibi Kue seperti yang sudah direncanakan oleh Lai Wang. Nenek Kue ini mempunyai seorang anak laki-laki yang nakal, yang setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukan dan berjudi. Pemuda ini tentu saja dapat melihat betapa Kakak misannya datang ber-sama isterinya dan membawa banyak barang-barang berharga. Maka, terjadilah hal yang sana sekali tidak diduga oleh Lai Wang dan Siu Oh.

Pemuda itu mencuri beberapa buah benda berharga, dan menjualnya untuk berjudi mabuk-mabukan. Pada suatu malam, dia dan gerombolannya ditangkap petugas keamanan dan karena dia masih mempunyai beberapa barang perhiasan dari emas yang amat berharga, tentu saja para petugas itu menjadi curiga dan diapun disiksa untuk membuat pengakuan dari mana dia mencuri barang itu. Pemuda itupun mengaku dan terbukalah semua rahasia pelarian Lai Wang dan Siu Oh itu. Mereka ditangkap, juga bibi mereka, Nenek Kue itu. Ramailah orang-orang melihat dan membicarakan peristiwa itu. Segera semua orang tahu belaka bahwa isteri ke empat dari Shi Men itu telah minggat dari rumah keluarga itu bersama kekasihnya, seorang bekas pegawai mendiang Shi Men, dan mereka berdua membawa lari banyak barang-barang berharga yang mereka curi dari dalam rumah.

Ketika Goat Toanio pada keesokan paginya mendengar dari pelayan bahwa Siu Oh melarikan diri membawa barang-barang berharga, semua barang berharga yang berada di kamar pondok madunya yang ke empat itu, hanya meninggalkan tiga potong pakaian tua, tentu saja ia menjadi kaget setengah mati. Kemudian ia mendengar bahwa bekas madunya itu tertangkap bersama Lai Wang, bibinya dan adik misan Lai Wang. Segera ia menghubungi pengadilan dan setelah empat orang itu diadili, ia memperoleh kembali barang-barang yang dicuri dari rumahnya itu. Lai Wang dan adik misannya dijatuhi hukuman buang dan kerja keras selama lima tahun. Nenek Kue dan Siu Oh dihukum cambuk dan jepit jari. Setelah menerima hukuman itu, Nenek Kue diperbolehkan pulang, dan hakim memberitahukan kepada Goat Toanio agar mengambil kembali Siu Oh.

Akan tetapi, Goat Toanio tidak sudi menerima kembali Siu Oh yang terpaksa harus dicarikan tempat baru melalui perantara yang diatur oleh kantor pengadilan. Berita tentang peristiwa memalukan itu dengan cepat tersiar, bukan hanya di selurub kota Ceng-Ho-Sian, bahkan ke luar kota sampai pula terdengar oleh Cun Bwe yang menjadi isteri ke tiga dari Pembesar Chouw. ia merasa kasihan mendengar akan hal itu, akan tetapi juga teringat akan permusuhan antara Nyonya ke empat itu dengan mendiang Kim Lian, majikannya, juga betapa isteri ke empat dari Shi Men itu dahulu bersikap tidak manis bahkan keras terhadap dirinya, karena ia adalah pelayan Kim Lian. Inilah saatnya untuk membalas perlakuan tidak patut itu, di samping menolong pula karena dalam keadaan dilelang secara umum seperti itu belum diketahui akan terjatuh ke tangan orang macam apakah wanita yang malang itu.

"Ia pandai masak, dan kita membutuhkan tukang masak yang pandai,"

Demikian antara lain ia membujuk suaminya untuk diperbolehkan menebus Siu Oh dan dipekerjakan di dapur mereka. Chouw-Taijin seperti biasa memenuhi permintaan lsterinya yang tersayang ini. Dia mengirim utusan dan berhasil mendapatkan Siu Oh dengan harga yang retu-rah sekali, hartya delapan ons. Siu Oh dibawa ke rumah gedung pejabat tinggi itu dan diperkenalkan kepada semua keluarga yang menjadi majikannya. Ketika ia memberi hormat kepada Nyonya Ke Tiga ia terkejut sekali mengenal bahwa majikannya itu bukan lain adalah Cun Bwe! Biarpun ia merasa malu dan terhina sekali, terpaksa Siu Oh harus berlutut di depan wanita yang pernah menjadi pelayan dan yang pernah pula dibentak- bentaknya, yang dulu harus mentaati perintahnya itu. Ia masih mengenakan pakaian yang cukup indah, juga ada perhiasan di leher, telinga dan le-ngannya.

"Lepaskan pakaian dan perhiasannya itu, dan berikan pakaian tukang masak biasa saja yang bersih padanya. Ia harus bekerja di dapur!" demikianlah perintah Cun Bwe kepada para pelayannya. Dengan menundukkan muka dan merasa malu sekali, Sun Siu Oh mengikuti para pelayan dan mulai saat itu iapun berubah menjadi tukang masak yang sederhana. Ia menyesali nasibnya. Akan tetapi ia lupa bahwa yang dinamakan "nasib" tiada lain hanyalah buah daripada pohon yang ditanamnya sendiri, akibat daripada ulah perbuatannya sendiri.

Penyesalan tiada gunanya sama sekali, hanya memperbesar iba-diri dan mendatangkan duka. Yang penting adalah kesadaran akan kesalahan sendiri yang telah dilakukan sehingga kesalahan macam itu tidak akan terulang kembali di masa mendatang. Peristiwa memalukan yang terjadi di dalam keluarga Goat Toanio itu terdengar pula oleh Chen Ceng Ki. Dia mendengar dari Bibi Pi dan dia mengambil keputusan untuk menuntut haknya. Sudah tiba waktu baginya untuk menuntut Goat Toanio mengenai keluarganya sendiri dan diapun menyatakan maksud hatinya kepada Bibi Pi yang dijadikan utusannya mengunjungi Goat Toanio. Pada suatu hari, datanglah Bibi Pi berkunjung kepada Goat Toanio dan ia menyampaikan pesan dan permintaan Ceng Ki.

"Mantu mendiang suamimu itu menyebarkan berita di kota bahwa dia ingin bercerai dari isterinya yang kata-nya ditahan di sini. Juga katanya dia hendak menuntut Nyonya ke Pengadilan karena katanya banyak barang dan uang-nya ditahan di rumah ini, padahal barang-barang itu dibawanya ketika, pertama kali dia datang ke rumah ini, dan barang-barang serta uang itu adalah pemberian dari Pamannya, yaitu mendiang Jenderal Yang."

Goat Toanio yang masih belum pulih kembali perasaannya dari peristiwa yang terjadi pada diri Siu Oh dan Lai Wang, kini merasa gelisah mendengar akan ancaman dari Ceng Ki. Tidak ada jalan lain baginya. Puteri Shi Men telah menjadi isteri Chen Ceng Ki, maka laki-laki itulah yang lebih berhak. Terpaksa ia lalu menyuruh A Tai, untuk mengantar puteri Shi Men, dalam sebuah joli, ke rumah Chen Ceng Ki. Juga beberapa orang kuli disuruh mengangkat beberapa buah peti berisi barang-barang yang menjadi milik Ceng Ki dan isterinya. Akan tetapi Chen Ceng Ki tidak puas menerima isterinya dan barang-barang itu dan dia memberitahu Bibi Pi agar kembali lagi kepada Goat Toanio, menyampaikan tuntutannya. "Barang-barang ini hanyalah bagian dari milik kami berdua dalam pernikahan. Akan tetapi aku menghendaki kembalinya peti uangku. Dan selain itu, akupun minta agar pelayan isteriku, Yen Shiao, diserahkan kepadaku."

"Akan tetapi Ibu mertuamu itu mengatakan bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang peti uangmu dan hanya inilah barang-barang yang dulu kau bawa datang ke sana," kata Bibi Pi. Akan tetapi ia harus kembali kepada Goat Toanio menyampaikan permintaan Ceng Ki. Akan tetapi kembali Goat Toanio mengatakan tidak tahu menahu mengenai peti uang, dan mengenai Yen Shiao, ia mengatakan bahwa ia berkeberatan karena pelayan itu kini telah disuruh mengasuh puteranya. Perebutan ini akhirnya ditengahi Ibu Chen Ceng Ki. Dipanggilnya kacung A Tai menghadap dan ia berkata,

"Sampaikan salam dan hormatku kepada Nyonya majikanmu dan sampaikan pesanku bahwa ia tidak seharusnya menahan pelayan Yen Shiao karena pelayan itu adalah pelayan dari isteri anakku. Pelayan itu bukan hanya sudah melayani isterinya, akan tetapi bahkan telah pula melayani dan menyerahkan diri kepada puteraku." Menghadapi alasan ini, Goat Toanio terpaksa mengalah dan iapun mengirim pelayan itu ke rumah Chen Ceng. Ki yang membuat dia girang sekali dia memang merindukan pelayan yang merupakan seorang gadis muda yang manis dan segar ini.

Kita tinggalkan dulu Chen Ceng Ki yang kini berkumpul kembali dengan isterinya dan terutama, yang amat menyenangkan hatinya, dapat pula menguasai diri Yen Shiao, dan kita menengok Li-Kongcu, putera seorang di antara penguasa di distrik Ceng-Ho-Sian itu. Semenjak dia melihat Mong Yu Lok, dia tergila-gila dan merindukan wanita itu, mengambil keputusan untuk memperisteri wanita yang sudah janda itu. Sesungguhnya bukan hanya Li-Kongcu yang tergila-gila kepada Mong Yu Lok, akan tetapi janda muda inipun amat tertarik melihat pemuda bangsawan yang bertubuh tegap itu. Dan diam-diam janda inipun mengkhawatirkan keadaan dirinya.

"Shi Men telah mati dan sekarang yang berkuasa adalah Goat Toanio. Diriku tidak ada arti dan harganya lagi dalam keluarga ini, karena aku tidak mempunyai anak. Sungguh bodoh kalau aku harus selalu berada di sini, membiarkan diriku melayu sampai tua. Alangkah baiknya kalau aku dapat mencari tempat baru bagi diriku, demi masa depanku, demi masa tuaku." Maka, dapat dibayangkan betapa jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan harapan ketika pada suatu pagi, Goat Toanio memberitahu kepadanya bahwa ada seorang perantara datang ingin bertemu dengannya, katanya diutus oleh seorang yang disebut Li-Kongcu.

"Ah, aku tidak percaya!" kata Mong Yu Lok, menyembunyikan kegembiraannya dari Goat Toanio. Betapapun juga, ia bersedia menemui perantara itu dan segera mengenakan pakaian baru. Perantara itu adalah Bibi Tao yang segera memberi hormat kemudian berkata,

"Benar, inilah wanita yang dimaksudkan Li-Kongcu, tepat seperti yang digambarkannya kepadaku. Nona memang seorang wanita yang teramat cantik jelita dan sungguh patut untuk menjadi isteri pertama dari putera bangsawan Li!" Mong Yu Lok tersenyum mendengar pujian yang muluk ini.

"Bibi yang baik, harap jangan melebih-lebihkan. Lebih baik kita bicara serius dan membicarakan persoalannya. Berapa usia tuan muda itu? Apakah dia telah menikah? Apakah dia mempunyai selir-selir? Siapakah namanya? Apakah dia telah menjabat kedudukan? Harap jawab sejujurnya." Bibi Tao menarik napas panjang. "Ya Tuhan! Betapa kurang percaya sekali engkau ini, nona. Aku adalah seorang perantara yang diangkat oleh pemerintah, bukan seperti para perantara lain yang penuh dengan kebohongan dan suka membual. Dengarlah baik-baik, nona. Dia adalah putera tunggal Bangsawan Li. Ayahnya berusia lima puluh tahun, dia sendiri berusia tiga puluh satu tahun, lahir tanggal dua puluh tiga bulan pertama, shio Naga. Dia bersekolah di Akademi Pangeran Istana, dan sebentar lagi dia akan menerima gelar Siucai. Dia seorang putera bangsawan yang terpelajar, juga ahli olah raga dan ahli menunggang kuda. Dua tahun yang lalu dia kematian isterinya yang pertama, yang meninggalkan seorang pelayan wanita yang dibawanya ketika ia menikah dengan Li-Kongcu. Dia tidak mempunyai selir maupun anak.”

Tentu saja Yu Lok girang bukan main mendengar keterangan ini, Hampir ia tidak percaya akan keberuntungan yang mengangkat dirinya setinggi itu. Pada malam tanggal lima belas bulan itu, juga, Mong Yu Lok dalam dandanan yang membuatnya kelihatan semakin cantik, meninggalkan rumah keluarga Goat Toanio, menuju ke rumah baru. Barang-barangnya telah dikirim ke rumah baru pagi tadi, dan Goat Toanio memperbolehkan ia membawa semua barangnya, dari perhiasan sampai perabot- perabot kamarnya. Tempat tidurnya, yang biasa ia pakai tidur bersama Shi Men, ia tinggalkan dan ia hadiahkan kepada puteri Shi Men yang menerimanya dengan gembira. lapun diperbolehkan membawa dua orang pelayannya. Pernikahan Mong Yu Lok itu dirayakan dengan cukup meriah dan Goat Toanio juga datang berkunjung.

Ketika Goat Toanio pulang dari pesta ini, barulah merasa betapa sunyinya rumah besar yang ditinggalinya. Dahulu, sewaktu suaminya masih hidup, setiap kali pulang dari bepergian, ia tentu disambut oleh sekelompok keluarga yang bergembira dan tiada akan habisnya celoteh di antara mereka diseling senda-gurau tertawa. Akan tetapi sekarang, sunyi saja. Tidak ada keluarga yang menyambutnya kecuali beberapa orang pelayannya. la merasa demikian kesepian dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang Shi Men sambil menangis. Kita manusia mempunyai kelemahan, yaitu tidak mau membuka mata melihat keadaan seperti apa adanya, karena pikiran kita selalu dipenuhi oleh keinginan untuk menjangkau yang lebih, mencari kesenangan yang belum ada sehingga mata kita tidak melihat lagi keindahan yang terkandung dalam apa adanya.

Seorang yang tinggal di pegunungan ingin sekali tinggal di kota, karena dia tidak lagi mampu menikmati keindahan di pegunungan tertutup oleh keinginan mencari kesenangan yang dianggapnya akan dapat ditemukan di kota yang ramai. Sebaliknya, mereka yang tinggal di kota, selalu haus akan keindahan di pegunungan yang jauh dari kotanya. Kalau segala keindahan diraih untuk diri sendiri, maka keindahan itu berubah menjadi kesenangan, dan segala macam kesenangan sudah pasti dengan kebosanan. Akan tetapi, kaiau kita mau membuka mata melihat keadaan apa adanya, tanpa adanya penggambaran pikiran yang mencari hal-hal yang tidak ada, maka akan nampak oleh kita bahwa keindahan itu ada di mana-mana, karena keindahan itu sebenarnya adalah keadaan batin yang tidak lagi mengejar sesuatu.

Chen Ceng Ki diberi modal oleh Ibunya sebanyak dua ratus ons perak untuk membuka sebuah toko cita di depan rumah mereka dan untuk mengurus toko itu dia mengangkat seorang pelayan tua bernama Ceng Ting. Akan tetapi, kehidupan Ceng Ki amatlah royalnya. Dia seorang yang gila perempuan dan suka berjudi, maka banyaklah dia menggunakan uang tokonya sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, toko itupun semakin kosong dan akhirnya bangkrut. Untuk ini, Ceng Ki menyalahkan pengurusnya, Ceng Ting yang tua, dan setia sehingga pegawai ini dipecat dan diusir keluar bersama isterinya. Sebagai penggantinya, Ceng Ki mengangkat seorang sahabatnya bernama Yang untuk mengurus tokonya yang kini dibuka kembali karena dia mendapat pinjaman dari Ibunya sebanyak tiga ratus ons. Ceng Ki sama sekali tidak tahu bahwa Yang adalah seorang yang amat cerdik dan curang. Dengan modal barunya, Ceng Ki mengajak Yang pergi ke kota pelabuhan Lin-Cing untuk membeli cita. Kota pelabuhan ini, seperti kota pelabuhan lain, bukan hanya ramai oleh perdagangan, melainkan juga ramai dengan banyaknya pelacur yang melayani para pedagang yang banyak berdatangan ke kota ini. Keadaan ini sungguh menyenangkan hati Ceng Ki dan dari uangnya, hanya sebagian kecil saja yang dibelikan cita. Sebagian lain dipakai pelesir sepuasnya, bahkan ketika ia pulang, ia membawa seorang gadis penghibur berusia delapan belas tahun bernama Kim Giok yang dibelinya tidak kurang dari seratus ons.

Melihat kelakuan puteranya ini, Ibu Ceng Ki yang sudah tua dan berpenyakitan, menjadi sedemikian marah dan jengkelnya sehingga ia jatuh sakit berat sampai membawanya ke lubang kubur. Setelah Ibunya meninggal dunia, bagaikan seekor harimau tumbuh sayap, Ceng Ki menjadi semakin binal karena kini semua warisan Ayahnya terjatuh ke tangannya. Kim Giok yang pandai merayu itu dihujani kemewahan. Kamar terbesar yang tadinya dihuni Ibunya, kini diberikan kepada Kim Giok yang dilayani oleh seorang pelayan dan hidup dalam kemewahan. Sebaliknya, isterinya sendiri, puteri Shi Men, hanya, tinggal di bagian samping rumah dan diabaikan oleh suaminya. Karena hidupnya royal-royalan bersama Kim Giok yang pandai membuang uang,

Ceng Ki maklum bahwa dia harus mendapatkan sumber keuangan baru kalau dia tidak ingin hartanya ludes sama sekali. Dan di dalam otaknya yang cerdik lalu timbul suatu siasat licik. Dia sudah mendengar akan nasib baik Mong Yu Lok, bekas isteri ke tiga Ayah mertuanya, betapa kini Yu Lok hidup serba kecukupan sebagai isteri Li-Kongcu. Dia masih menyimpan sebuah bros, perhiasan indah milik Mong Yu Lok yang kehilangan perhiasan itu di taman dan diam-diam ditemukan dan disimpan oleh Ceng Ki. Benda ini sekarang amat berharga, karena dapat dia pergunakan untuk memeras wanita yang kini menjadi kaya raya itu. Dia dapat menuduh bahwa peti uang yang dulu dibawanya, yang tidak dikembalikan oleh Goat Toanio, terjatuh ke tangan Yu Lok dan kini dia menuntut dikembalikannya uang itu.

Dia dapat mempergunakan perhiasan bros itu untuk memaksakan kehendaknya agar Yu Lok mau membayarnya, atau kalau tidak, perhiasan itu akan diperlihatkannya kepada mertua wanita itu, sebagai bukti bahwa Yu Lok bermain gila dengan dia Dan telah memberi hadiah perhiasan bros itu! Kalau sampai terjadi demikian, tentu bangsawan Li akan menceraikan puteranya dari Yu Lok, dan menyerahkan Yu Lok kepadanya berikut sernua kekayaan yang telah menjadi milik Yu Lok. Ceng Ki menggosok-gosok kedua tangannya dengan girang. Siasatnya itu baik sekali! Sementara itu, keluarga bangsawan Li telah pindah ke kota Yen-Cou-Fu di Propinsi Ce-Kiang karena dia telah memperoleh kenaikan pangkat dan kini menjadi Wakil Gubernur di kota itu.

Karena kota Yen-Cou-Fu merupakan kota besar di mana terdapat banyak industri sutera, maka Chen Ceng Ki hendak pergi ke sana berkunjung kepada Mong Yu Lok dan sekalian berbelanja sutera. Berangkatlah dia, ditemani oleh Yang, dan membawa seribu ons perak. Dia singgah di kota Hu-Couw yang menjadi pusat sutera dan dia membelanjakan setengah jumlah uangnya membeli sutera. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat tujuan, seorang diri karena Yang dia tinggalkan untuk mengurus belanjaannya. Kepada Yang dia memberitahukan bahwa dia akan pergi mengunjungi seorang sanak keluarganya di Yen-Cou-Fu selama Iima hari.

Yang menemani Ceng Ki pergi hanya kacungnya, Cen An, yang membawakan beberapa macam barang hadiah atau oleh-oleh untuk Mong Yu Lok dan suaminya. telah tiba di kota itu, dia bermalam di sebuah Kuil dan pada Keesokan harinya menyelidiki di mana tinggalnya bangsawan Li. Mudah saja baginya menemukan gedung tempat tinggal pejabat baru itu. Setelah berdandan, Chen Ceng Ki lalu pergi berkunjung ke gedung itu, pelayannya yang membawa barang hadiah. Kepada penjaga pintu, dia berkata, bahwa dia adalah adik laki-laki dari isteri putera Li-Taijin yang ingin berkunjung kepada Kakak dan Kakak iparnya. Kedatangannya disambut oleh Li-Kongcu sendiri. Li-Kongcu memandang tajam penuh perhatian, setelah mereka saling memperkenalkan diri dan memberi hormat, lalu bertanya,

"Adik ipar yang baik, kenapa saya tidak mendapatkan kehormatan berkenalan denganmu ketika saya menikah dengan Kakakmu?"

"Harap dimaafkan, Cihu (Kakak ipar). Pada waktu itu, saya melakukan perjalanan perdagangan menuju ke Se-Cuan dan Kwan-Tung, sehingga selama hampir satu tahun tidak berada di rumah. Baru setelah saya pulang dari perjalanan saya mendengar akan pernikahan Kakak saya, maka saya sekarang datang berkunjung untuk menyampaikan selamat dan sedikit hadiah pernikahan yang agak terlambat." Li- Kongcu lalu mengutus seorang pelayan untuk menyampaikan kepada isterinya bahwa adik laki-laki isterinya datang berkunjung.

"Adik laki-laki?" pikir Mong Yu Lok ketika menerima kabar ini. "Dia tentu adikku Mong Jui. Akan tetapi bagaimana dia dapat datang berkunjung dari tempat yang sedemikian jauhnya?" Akan tetapi memang benar Mong Jui karena ia membaca nama ini di dalam daftar hadiah yang kini ditaruh di depannya.

"Bawa dia masuk," katanya kepada pelayannya dan ia sendiri segera berganti pakaian, siap untuk menerima tamunya. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ia melihat dari tirai bahwa yang datang berkunjung itu sama sekali bukan Mong jui, melainkan Chen Ceng Ki! Apa artinya ini, pikirnya heran. Betapapun juga, Chen Ceng Ki bukanlah seorang asing dan ia harus pergi menemuinya. Maka iapun memberi perintah kepada pelayan untuk mempersiapkan hidangan. Biarpun hatinya penuh kecurigaan melihat betapa Chen Ceng Ki datang berkunjung mempergunakan nama Mong Jui,

Akan tetapi melihat orang yang pernah tinggal bersamanya di dalam keluarga Shi Men, timbul keinginan hati Mong Yu Lok untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Ceng Ki. Seseorang yang baru saja meninggalkan tempat lama dan pindah di tempat baru yang asing, akan selalu bergembira bertemu dengan seorang kenalan yang datang dari tempat lama. Kebetulan sekali pada saat Mong Yu Lok memasuki ruangan tamu, suaminya menerima laporan seorang pelayan bahwa di luar datang lagi seorang lain sehingga terpaksa Li-Kongcu meninggalkan isterinya dan adik isterinya itu untuk bicara berdua saja. Tentu saja hal ini amat menyenangkan hati Ceng Ki karena kesempatan inilah yang ditunggunya agar dia dapat menyampaikan hasrat hatinya kepada Yu Lok. Setelah saling mengucapkan selamat seperti layaknya dua orang anggauta keluarga saling bertemu, Ceng Ki segera berkata.

"Enci Yu Lok, selama ini aku rindu kepadamu seperti seorang kehausan merindukan air dingin. Masih ingatkah engkau betapa bahagia kita dahulu ketika kita bersama duduk semeja bermain catur? Betapa menyedihkan bahwa semua itu telah berlalu dan nasib demikian kejamnya memisahkan kita." Mong Yu Lok yang masih belum dapat menangkap maksud hati pengunjungnya, tersenyum.

"Kita harus dapat menerima hal-hal yang tak dapat dihindarkan lagi." Ceng Ki mengambil sebuah dompet yang terisi manisan. Dompet itu digambari sepasang kekasih yang saling memeluk. Dia menawarkan manisan itu kepada Yu Lok.

"Enci, kalau engkau masih mempunyai perasaan terhadap diriku, ambillah ini dan rasakanlah." Seketika wajah Mong Yu Lok menjadi marah sekali, melepaskan dompet yang diterimanya itu ke atas lantai. "Hemm, harap jangan engkau bermain gila! Aku telah menerimamu dengan baik, sebagai seorang sahabat. Harap jangan menyalahgunakan keramahanku, atau aku takkan sudi menerimamu." Chen Ceng Ki maklum bahwa dia tidak dapat memikat hati wanita itu dan bahwa dia harus merubah siasatnya. Dengan tenang dia memperlihatkan perhiasan bros itu dan berkata dengan suara yang lain, penuh nada mengancam,

"Akupun bermaksud baik, akan tetapi agaknya engkau tidak mengerti maksudku. Apakah engkau mengenal barang ini? Bahkan namamu terukir di sini. Apakah engkau dapat menyangkal bahwa engkau telah memberikan benda ini sebagai hadiah kepadaku untuk menyatakan cintamu, setelah engkau menyerahkan diri kepadaku? Kemudian engkau melupakan diriku, dan malah menikah dengan Li- Kongcu. Sudahlah, akupun tidak perduli, akan tetapi engkau harus mengembalikan milikku, yaitu peti- peti berharga yang kau bawa dari rumah Shi Men, karena semua itu sebetulnya adalah hak milikku yang datang dari mendiang Pamanku, Jenderal Yang."

Mong Yu Lok terkejut bukan main. Ia mengenal benda perhiasan bros itu. Ia kehilangan benda itu dan tak pernah dapat menemukannya kembali. Bagaimana kini dapat terjatuh ke tangan Ceng Ki? Iapun bukan seorang bodoh, sama sekali tidak, bahkan ia seorang wanita yang cerdik sekali. Seketika ia mengerti persoalannya. Perhiasan yang hilang itu ditemukan Ceng Ki dan kini dipergunakan oleh manusia jahat ini untuk memerasnya! Akan tetapi, iapun maklum akan bahaya besar yang mengancamnya, maka ia dapat menyembunyikan semua kemarahannya dan iapun tersenyum, melangkah maju dan dengan sikap ramah dan mesra ia memegang tangan Ceng Ki.

"Aih, jangan marah, sayang. Akupun tetap sama seperti dulu dan aku juga amat merindukanmu." Bukan main girangnya rasa hati, Chen Ceng Ki. Semua pria memang dapat menjadi lunak seperti malam hangat kalau wanita menghendakinya. Dirangkulnya Yu Lok dan diciuminya dengan mesra. Yu Lok tidak menolak, bahkan membalas ciuman itu dengan tak kalah mesranya.

"Katakanlah engkau cinta padaku, agar aku dapat percaya bahwa engkau bersungguh-sungguh" bisik Ceng Ki yang merasa diayun di antara awan.

"Ssttt, hati-hati kalau ada yang melihat dan mendengar kita" Yu Lok juga berbisik dan melepaskan rangkulan mereka, memandang ke kanan kiri.

"Dengarlah, sebuah kapal dengan muatan banyak kain sutera yang kubeli menungguku di Sungai Cing- kiang. Aku akan menunggumu di luar pintu gerbang malam ini. Engkau dapat menyamar sebagai penjaga pintu dan melarikan diri bersamaku."

"Aku akan melakukan semua permintaanmu. Akan tetapi lebih dulu aku harus dapat mengeluarkan barang-barang perhiasan yang amat banyak keluar dari rumah ini. Malam nanti, tepat tengah malam, engkau tunggulah di belakang tembok kebun rumah ini. Aku akan melemparkan bungkusan-bungkusan emas dan perak keluar tembok. Akan menarik perhatian kalau aku harus membawa semua barang itu keluar melalui pintu gerbang."

"Baik sekali!" kata Ceng Ki dengan girang. "Aku akan menunggumu dan memberi tanda batuk tiga kali di luar tembok."

Dia minum tiga cawan arak ketika Li-Kongcu memasuki ruangan dan diapun berpamit, diantar oieh Li- Kongcu sampai ke pintu gerbang. Chen Ceng Ki memang cerdik dan licik. Akan tetapi dia lupa akan satu hal. Andaikata Yu Lok menikah dengan seorang laki-laki yang tua dan lemah, yang sama sekali tidak menarik dan tidak memiliki kedudukan tinggi, mungkin siasatnya itu akan berhasil baik dan Yu Lok akan suka pergi minggat bersamanya dengan senang hati. Akan tetapi, Yu Lok menjadi isteri Li-Kongcu, seorang laki-laki yang tampan dan gagah, yang berkedudukan tinggi, putera wakil gubernur yang kaya raya. Oleh karena itu, tidak mungkin ia bersungguh-sungguh mau melarikan diri bersama Chen Ceng Ki yang sudah ia kenal baik bagaimana macam kelakuannya. Ketika Ceng Ki sudah pergi, Li-Kongcu yang sama sekali tidak menyangka buruk, bertanya kepada isterinya,

"Di mana menginapnya adikmu itu? Aku ingin sekali berkunjung padanya besok untuk membalas kebaikannya."

"Adik apa? Dia sama sekali bukan Mong Jui adikku, melainkan Chen Ceng Ki mantu dari mendiang Shi Men! Dan dia berani datang menggodaku, jahanam kurang ajar itu! Aku tadi tidak membuat ribut untuk menghindarkan aib, dan aku pura-pura menyetujui. Dia memang orang yang berhati busuk sekali, Aku menjanjikan untuk memberinya emas dan perak melalui tembok taman tengah malam ini, dan dia akan menunggu. Kita harus mengatur agar dia ditangkap sebagai pencuri dan mendapat hukuman agar di kemudiann hari tidak akan mengganggu kita lagi." Tentu saja. Li-Kongcu menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk itu! Dia ingin meracuni pernikahan kita yang berbahagia? Dia harus membayar untuk itu Dan aku tidak memulainya, dia sendiri yang datang mencari penyakit." Tepat pada tengah malam, Chen Ceng Ki berdiri di luar tembok dan dia memberi isarat dengan batuk tiga kali. Dari balik tembok, Mong Yu Lok menjawabnya dengan lirih. Tak lama kemudian, sehelai tali turun dari atas tembok ke depan kaki Ceng Ki dan di ujung tali ini terdapat sebuah buntalan besar yang terisi dua ratus ons perak. Uang ini diambil dari gudang harta yang lebih dulu pintunya telah dirusak sehingga agaknya seolah-olah ada pencuri masuk ke situ mengambil uang. Chen Ceng Ki membuka bungkusan itu dan memeriksa isinya, dibantu oleh pelayannya, Cen An. tiba-tiba dari dalam gelap muncul empat orang laki-laki menyerang dan memukul mereka dengan tongkat sambil berteriak-teriak,

"Pencuri-Pencuri...!" Sebelum Ceng Ki dan pelayannya dapat menyadari apa yang terjadi, mereka telah dibelenggu dan ditangkap, lalu digiring dan di masukan kedalam tahanan di mana Chen Ceng Ki termenung dengan gelisah memikirkan peristiwa yang sama sekali tak pernah diduga-duganya itu. Pada keesokan harinya, Li-Taijin sendiri yang memeriksa pesakitan itu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa peristiwa pencurian itu diatur oleh puteranya dan mantunya.

"Semalam, dua orang pencuri ini memasuki gudang harta dan mencuri dua ratus ons perak. Mereka ditangkap pada saat mereka hendak melarikan diri melalui tembok kebun. Mereka harus dihukum seberatnya," demikian Li-Taijin berkata kepada hakim yang mengadili perkara itu. Hakim minta kepada dua orang tertuduh untuk mendekat dan dia merasa heran melihat Chen Ceng Ki yang sikapnya seperti seorang keturunan bangsawan, terpelajar dan bukan seperti seorang pencuri.

"Bagaimana engkau dapat memasuki gudang harta dan melakukan pencurian?" dia bertanya, heran. Tentu saja Chen Ceng Ki tidak mampu menjawab. Dia hanya berlutut dan berkali-kali bersoja-sambil berkata,

"Saya tidak bersalah!" Li-Taijin berbisik kepada hakim itu.

"Pemeriksaan kukira tidak perlu dilakukan lagi. Bagaimanapun juga, mereka berdua ini ditangkap basah. Dua ratus ons perak yang ada pada mereka merupakan bukti yang kuat. Dan pintu gudang harta juga dirusak oleh mereka. Mereka harus diberi hukuman!" Hakim mengangguk dan memerintahkan petugas untuk menghukum mereka dengan dua puluh kali cambukan. Chen Ceng Ki berteriak-teriak kesakitan.

"Aduh... aduhhh saya tidak bersalah wanita itu yang menjebakku..." Ucapan ini dapat ditangkap oleh pendengaran hakim. Setelah sepuluh kali dicambuk, dia memerintahkan petugas untuk menghentikannya. Dia adalah seorang hakim yang bijaksana, dan dia menduga bahwa tentu terjadi hal yang aneh di balik peristiwa pencurian ini. Dia mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan untuk membongkar rahasia itu.

“Bawa mereka pergi. Pemeriksaan akan dilanjutkan besok pagi," katanya. "Kenapa masih harus dipertimbangkan?" bisik Li-Taijin.