-->

Si Teratai Emas Jilid 6

Jilid 6

Karena Lai Wang terus memohon, kedua orang pengawal yang juga mengharapkan agar tawanan yang mereka kawal itu mempunyai bekal uang secukupnya membawanya ke depan rumah Shi Men. Akan tetapi benar seperti dugaan kedua orang pengawal itu, pintu gerbang rumah Shi Men tertutup dan tak seorangpun mau membukakan pintu untuk Lai Wang. Lai Wang lalu pergi mengunjungi rumah Yi Pong Kui yang tak jauh dari situ, untuk minta tolong kepada sahabat bekas majikannya ini agar suka membujuk Shi Men membiarkan isterinya keluar menemuinya. Namun Ying Po Kui tidak mau keluar menjumpainya, menyuruh pelayan mengatakan bahwa dia tidak berada di rumah. Muncullah dua orang tetangga lain yang merasa kasihan kepada Lai Wang, dan mereka pergi mengunjungi Shi Men untuk membujuknya.

Namun Shi Men tidak rnemperdulikan bujukan ini, bahkan rnengutus tukang-tukang pukulnya untuk keluar dan mengusir Lai Wang dari ambang pintu gerbangnya. Akhirnya para pengawal membawanya ke rumah Ayah mertuanya, yaitu Ayah Lian Cu. Orang-tua ini menaruh hati iba dan mernberinya satu ons perak, beberapa mata uang tembaga dan nasi untuk perbekalan. Berangkatlah Lai Wang yang bernasib malang itu melakukan perjalanannya yang amat jauh dan sukar menuju Se-Couw. Sementara itu Lian Cu sama sekali tidak tahu akan semua yang terjadi itu karena para pelayan telah diancam oleh Shi Men agar jangan memberitahukan tentang kunjungan Lai Wang itu kepadanya. Lian Cu menanti kembalinya suaminya dengan sabar dan setiap hari mengirimkan makanan untuk suaminya yang disangkanya masih berada di dalam kamar tahanan.

Dan para pelayan itu karena takut kepada Shi Men, mengosongkan tempat makanan dan mengembalikannya kepada Lian Cu sehingga nyonya muda ini percaya bahwa suaminya rnasih dalam keadaan selamat dan beberapa hari lagi tentu akan dibebaskan. Namun, asap tak mungkin dapat ditutupi untuk selamanya. Akhirnya iapun mendengar desas-desus bahwa suaminya telah dikeluarkan dari penjara untuk dihukum buang, entah ke mana, dan betapa suaminya sebelum berangkat singgah di depan pintu gerbang narnun tidak berhasil menemui siapapun juga. Mendengar berita ini, Lian Cu menjadi terkejut dan bertanya ke sana-sini, akan tetapi tidak ada pelayan yang berani membuka rahasia. Akhirnya ia bertemu dengan Siauw Tai dan dari pelayan remaja inilah dia mendengar akan keadaan suaminya.

“Enci, suamimu telah dihukum buang ke Se-Couw. Engkau takkan pernah dapat melihatnya lagi. Akan tetapi, mohon jangan memberi tahu bahwa aku yang mengatakannya. Kami semua dilarang keras untuk menyampaikan berita ini kepadamu.” Setelah mendengar berita ini, Lian Cu mengurung diri di dalam kamarnya dan menangis dengan sedih sekali. Kemudian, ketika pintu kamarnya tidak juga dibuka atas ketukan dan dijebol robohkan, orang melihat bahwa nyonya muda ini telah menjadi mayat, mati menggantung diri di dalam kamarnya.

“Perempuan tolol tak tahu diuntung!” Hanya inilah kata-kata Shi Men ketika melihat kekasihnya itu mati dalam keadaan yang demikian mengerikan. Demikianiah, sekali lagi Kim Lian mencapai kemenangannya.

Pada suatu siang yang hawanya panas sekali, Kim Lian keluar dari dalam pondoknya dan berjalan-jalan di dalam taman yang luas dari keluarganya. Ia mengenakan pakaian tipis dalam kegerahan itu dan ketika ia berjalan-jalan di bawah bayangan pohoh-pohon, tertariklah ia akan bayangan Ciu Hwa, pelayan Nyonya Peng yang dulu bernama Nyonya Hua atau isteri ke enam dari Shi Men. Pelayan itu keluar dari pondok merah yang mungil itu sambil tertawa kecil dan nampak genit sekali.

Melihat ini, timbul keinginan tahu dalam hati Kim Lian untuk melihat apa dan siapa yang baru saja ditinggalkan pelayan genit itu. Maka iapun cepat berindap-indap mendekati pondok merah yang berada di ujung taman yang indah itu. Ketika ia mengintai, kedua pipinya berubah merah. Ia melihat suaminya dan madunya yang ke enam sedang bermain cinta di tempat terbuka, di atas petak rumput tebal di dekat pondok merah. Bermain cinta di tempat terbuka dan di siang hari! Pantas saja tadi Ciu Hwa meninggalkan tempat itu sambil tertawa-tawa kecil dengan genit! Dengan napas ditahan Kim Lian terus mengintai sambil mendengarkan. “Aihh Koko, jangan terlalu kasar! Biar aku mengaku, sudah satu bulan lebih aku merasa telah mengandung “Aihh! Benarkah itu? Sayangku, kenapa engkau tidak memberitahu kepadaku agar aku lebih berhati- hati?” Percakapan ini cukup bagi Kim Lian. Dengan perlahan ia meninggalkan pondok itu. Melihat suaminya bermain cinta dengan madunya yang ke enam bukanlah hal aneh dan tidak mendatangkan rasa cemburu, akan tetapi mendengar pengakuan Nyonya Peng bahwa ia telah mengandung, sungguh merupakan ujung pedang berkarat yang menusuk ulu hatinya! Ia membayangkan betapa kedudukannya akan tergeser kalau madunya itu sampai dapat melahirkan seorang anak, apalagi kalau seorang anak laki-laki. Dan tentu kasih sayang Shi Men akan lebih banyak tercurah kepada isteri yang dapat memberinya keturunan itu!

Akan tetapi dengan cerdik Kim Lian menahan perasaannya sehingga sikapnya terhadap suaminya maupun Nyonya Peng biasa saja, walaupun makin lama ia merasa semakin iri. Beberapa bulan kemudian datanglah surat undangan dari Perdana Menteri Cai di Kotaraja yang akan merayakan hari ulang tahunnya. Shi Men maklum bahwa undangan ulang tahun seorang pembesar mengandung maksud mengharapkan sumbangan. Karena itulah Perdana Menteri Cai juga mengirim undangan kepadanya, seperti kepada orang-orang kaya lainnya. Menerima undangan ini Shi Men cepat mengeluarkan tiga ratus ons perak, mengutus Lai Pao yang menjadi orang kepercayaannya untuk membeli barang-barang sumbangan yang indah dan mahal, kemudian mengutus Lai Pao dan Bu Tian Heng, membawa barang- barang sumbangan itu ke Kotaraja.

Bu Tian Heng adalah seorang sahabat, juga seorang ipar dari Shi Men yang kini membantunya sebagai seorang di antara pegawai-pegawai yang dipercaya. Berangkatlah kedua orang utusan itu ke Kotaraja, perjalanan yang jauh dan melelahkan karena dilakukan di musim panas, membawa berpeti-peti barang sumbangan. Melalui Kepala Pengawal Ti, mereka dihadapkan kepada Perdana Menteri Cai. Kedua orang ini berlutut dan mengeluarkan kartu nama majikan mereka sambil menyampaikan penghormatan mewakili majikan mereka, juga memperlihatkan daftar barang sumbangan yang mereka tumpuk di depan kaki sang Perdana Menteri. Melihat banyaknya sumbangan yang amat berharga itu, wajah Perdana Menteri Cai berseri dengan cerahnya. Akan. tetapi, dia mengerutkan alisnya dan berkata dengan sikap seolah-olah merasa tersinggung.

“Aku tak mungkin dapat menerima barang-barang ini! Bawa pergi dari sini!” Dua orang utusan itu cepat bersujud memberi hormat dan Lai Pao yang sudah berpengalaman dalam urusan seperti itu segera berkata,

“Majikan kami mengirim barang-barang tidak berharga ini hanyalah sekedar menjadi tanda peaghormatannya terhadap paduka. Paduka dapat membagi-bagikannya kepada bawahan paduka sesuka hati paduka.”

“Hemm, kalau begitu lain lagi soalnya. Biarlah aku menerima pemberian ini untuk orang-orangku.” Dia lalu memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menyimpan barang-barang sumbangan itu. Setelah itu sikap Perdana Menteri Cai menjadi lebih ramah.

“Majikan kalian berulang kali memperlihatkan perhatiannya kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana untuk menyatakan terima kasihku. Apakah dia memiliki suatu pangkat?”

“Majikan kami adalah seorang rakyat biasa, tidak memiliki tanda pangkat apapun.”

“Betulkah? Kebetulan sekali aku mempunyai beberapa tempat kosong. Aku dapat mengangkat majikan kalian menjadi seorang Hakim Pernbantu Daerah untuk mengisi tempat kosong yang ditinggalkan seorang petugas lama. Bagaimana pendapat kalian?” Lai Pao membenturkan dahinya di atas lantai dalam penghormatan yang berlebihan.

“Mendapatkan anugerah pangkat seperti itu majikan kami akan berhutang budi kepada paduka sampai selama hidupnya.” Perdana Menteri Cai lalu menulis surat pengangkatan atas nama Shi Men untuk menjadi Hakim Pembantu di daerah Shantung.

“Dan akupun berkenan memberi anugerah kepada kalian berdua Hei, Lai Pao, siapakah dia yang berlutut di belakangmu itu?”

“Dia adalah saudara ipar dari majikan hamba, namanya Bu Tian Heng.”

“Saudara iparnya? Bagus, kalau begitu akan kuberi anugerah kedudukan sebagai kepala kantor pos di Ceng Ho Sian.” Di isinya pula sebuah surat pengangkatan atas nama Bu Tian Heng. Atas anugerah ini, Bu Tian Heng tentu saja menjadi girang sekali dan diapun membentur-benturkan dahinya di atas lantai sambil menghaturkan terima kasihnya. Lai Pao tidak ketinggalan Diapun diberi anugerah dengan kedudukan sebagai Komandan Pintu Gerbang dari Istana Pangeran Guan di Ceng-Ho-Sian.

“Terimalah surat-surat pengangkatan ini dan besok pagi pergilah kalian ke kantor Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Peperangan untuk rnencatatkan nama kalian dalam daftar pegawai dan menerima tanda-tanda pangkat kalian. Dan kamu, Komandan Ti, antarlah mereka, beri makan mimun sebaiknya dan berikan masing-masing sepuluh ons perak dari perbendaharaan agar dalam perjalanan pulang, mereka tidak sampai kekurangan bekal.” Merekapun mengundurkan diri dengan hati penuh kegembiraan. Setelah kedua orang itu makan minum, Komandan atau Kepala Pengawal Ti mendekati mereka dan berbisik,

“Saya mempunyai sedikit permohonan untuk disampaikan kepada majikan kalian. Akan tetapi apakah sekiranya dia mau membantu saya?”

“Akan tetapi, Komandan, bagaimana anda masih menyangsikan kebaikan hati majikan kami? Bagaimanapun juga, dengan bantuan andalah maka kami dapat diterima menghadap Perdana Menteri sampai berhasil baik. Karena itu, apapun yang anda kehendaki, katakan kepada kami dan majikan kami pasti akan memperhatikan semua keinginan anda.”

“Baiklah kalau begitu. Terus terang saja, yang saya butuhkan adalah seorang gadis muda untuk menjadi selir saya, berusia lima belas atau enam belas tahun begitulah. Tentu saja yang cantik dan pandai menarik hati. Tentang harganya tidak menjadi soal “

“Ah, itu perkara mudah, Komandan. Majikan kami pasti akan dapat memenuhi keinginan anda itu Girang sekali hati Komandan Ti Mendengar ini. Dia mengambilkan uang sebanyak sepuluh ons perak untuk masing-masing dari perbendaharaan Perdana Menteri Cai ditambah lagi masing-masing lima ons dari sakunya sendiri.

“Aih, kami baru saja menerima hadiah dari Perdana Menteri Cai, bagaimana anda begitu repot “

“Sudahlah, ini tidak ada artinya. Demi persahabatan kita, harap anda berdua tidak menolak,”  kata Komandan Ti yang memerintahkan sekretarisnya untuk menemani dua orang itu agar pada keesokan harinya semua urusan ke kantor Kementerian Dalam Negeri dan Peperangan itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Setelah semua berjalan beres, Lai Pao dan Bu Tian Heng memberi hadiah uang tiga ons perak kepada sekretaris itu selain menjamunya makan untuk menyatakan terima kasih. Maka berangkatlah mereka pulang dengan hati ringan dan gembira.

Siang itu panas sekali, maklum pada pertengahan musim panas. Shi Men dan semua isterinya, kecuali isteri ke enam, mengadakan pesta makan dilayani oleh gadis-gadls pelayan mereka, sambil men- dengarkan musik yang dimainkan oleh gadis-gadis terlatih itu, di ruangan belakang yang terbuka, menghadap ke taman.

“Di manakah nyonya majikanmu?” tanya Goat Toanio kepada Ciu Hwa, pelayan Nyonya Peng, isteri Shi Men yang termuda.

“Ia merasa tidak enak badan, sakit dalam perutnya sehingga malas keluar dari kamar,” jawab Ciu Hwa.

“Ah, kurasa ia tidak begitu payah. Sebaiknya kalau menikmati makan minum di sini dan mendengarkan musik. Kau jemputlah majikanmu dan ajaklah ia ke sini untuk menghibur hati.”

“Ia kenapakah?” tanya Shi Men.

“Katanya sakit perut, akan tetapi kurasa sudah makan obat dan sebentar lagi tentu datang,” Jawab Goat Toanio, akan tetapi dengan perlahan ia berkata kepada Mong Yu Lok, madunya yang ke tiga,

“Kandungannya sudah delapan bulan lebih. Waktunya sudah dekat.” Degan kata-kata itu ia hendak menyatakan bahwa ketidak hadiran madunya termuda itu dapat dimaafkan.

“Kurasa masih terlalu pagi waktunya untuk melahirkan,” kata Kim Lian dengan suara tegas.

“Kalau begitu, suruh ia datang mendengarkan musik,” kata Shi Men. Tak lama kemudian muncullah Nyonya Peng diikuti oleh pelayannya.

“Tentu engkau masuk angin,” kata Goat Toanio. “Minum sedikit anggur panas akan menyembuhkanmu.” Para gadis pelayan lalu mulai memainkan alat musik mereka mengiringi nyanyian merdu seorang di antara mereka. Namun, belum habis satu lagu, Nyonya Peng mengeluh lirih dan tertatih-tatih kembali ke kamarnya.

“Wah, ia tentu akan melahirkan!” kata Goat Toanio. “Sudah kukatakan tadi, akan tetapi tentu saja Kim Lian lebih tahu! Dan kita belum memanggil seorang dukun beranak!” Shi Men mengutus seorang pelayan muda untuk cepat memanggil Bibi Cai, dukun beranak. Pesta dihentikan dan semua orang pergi ke pondok isteri ke enam itu.

“Bagaimana rasanya?” tanya Goat Toanio dengan lemah lembut.

“Semua isi perut seperti terbalik-balik, seolah-olah ada seekor kura-kura bergerak-gerak di dalam perutku.”

“Naikkanlah sedikit tubuh atasmu agar bayi itu dapat lebih mudah menemukan jalan keluarnya dan tidak tercekik.” “Eh, mana dukun beranaknya? Apakah sudah dipanggilkan? Aih, kenapa lambat amat? Hayo cepat suruh Siauw Thai untuk menyusulnya dan cepat-cepat membawa dukun beranak itu ke sini!” kata pula Goat Toanio. Kim Lian menarik tangan Mong Yu Lok keluar dari dalam kamar dan bersungut-sungut lirih,

“Huh, semua keributan ini! Dan kamar penuh sesak mencekik leher. Ribut-ribut tentang seorang bayi yang belum keluar, seolah-olah mereka menanti lahirnya seekor anak gajah!” Di dalam kamar itu semakin sibuk, suara bidan yang minta disediakan ini itu diseling perintah suara Goat Toanio dan pelayan-pelayan hilir mudik menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan. Akhirnya terdengarlah tangis seorang bayi dan bibi Cai muncul di depan pintu, dengan bangga seolah-olah ia sendiri yang menciptakan anak itu, ia berkata,

“Telah lahir seorang anak laki-laki. Cepat beritahukan kepada majikan, dia sepantasnya mengeluarkan uang dengan royal untuk berita yang membahagiakan ini.”

Ketika menerima kabar Itu, Shi Men cepat berlutut dan bersembahyang untuk menghaturkan terima kasih kepada Langit dan Bumi, kepada arwah Nenek moyangnya, dan semua ikut bergembira menyambut kelahiran bayi laki-laki itu. Semua orang, kecuali Kim Lian. Ketika mendengar bahwa madunya itu melahirkan seorang anak laki-laki, diam-diam ia kembali ke dalam kamarnya mengunci pintu, menjatuhkan diri ke atas pembaringan dan menangis dengan sedih. Baru sekarang ini ia merasa terpukul, tak berdaya, dan kalah. Benarlah kata orang bahwa nasib selalu mempermainkan manusia, bahkan kadang-kadang seperti mencemoohkan. Kalau nasib baik sedang muncul, maka selalu yang datang yang baik-baik saja dan kesenangan datang bertumpuk-tumpuk.

Sebaliknya kalau nasib sial sedang melanda seseorang, agaknya kesusahan tidak mau datang sendirian, melainkan mengajak teman sehingga berbagai rnacam kesusahan datang bergadengan tangan melanda seseorang. Demikian pula agaknya dengan Shi Men. Berita baik yang amat menggembirakan dengan terlahirnya seorang putera pertama itu ditambah lagi dengan berita kesenangan lain, yaitu datangnya Lai Pao dan Bu Tian Heng yang baru kembali dari Kotaraja membawa pengangkatan pangkat untuk Shi Men! Tentu saja Shi Men menjadi girang bukan main. Kalau saja dia masih kecil, kegirangan itu dapat membuat dia berjingkrak dan bersorak. Sambil berlari kegirangan dia membawa semua pakaian kebesaran dan tanda pangkat itu ke dalam dan memperlihatkannya kepada para isterinya!

“Aku diangkat menjadi Hakim Pembantu di daerah! Mulai sekarang aku telah menjadi seorang bangsawan tingkat lima! Dan engkau “ Dia menoleh kepada Goat Toanio,

“Mulai sekarang engkau boleh menghias rambutmu dengan bunga emas sebagai isteri bangsawan! Dua kebahagiaan datang dalam waktu berdekatan. Berkah berlimpah-limpah memenuhi rumah tangga kita! Dan ini semua dibawa oleh anakku yang baru lahir, maka kunamakan dia Kwan Ko Si Bangsawan Kecil!”

Tentu saja Shi Men merayakan kebahagiaan itu. Para tetangga dikirimi masakan bakmi panjang usia, dan berdatanglah para tetangga dan kenalan untuk memberi selamat kepada Shi Men, bukan saja memberi selamat atas kelahiran puteranya, melainkan juga memberi selamat atas pengangkatan Shi Men sebagai seorang bangsawan! Agaknya lengkaplah sudah kebahagiaan Shi Men. Betapa tidak? Harta bertumpuk, badan sehat kuat sehingga mampu menikmati segala macam kesenangan, dari makan enak, melihat tontanan, mendengarkan musik, menikmati keharuman taman bunga yang semerbak wangi, dikelilingi wanita-wanita muda yang cantik yang saling berebutan untuk melayani dan menyenangkan hatinya. Dan kini ditambah lagi dengan satu hal yang memang tadinya dirasakan masih kurang, yaitu, kedudukan, pangkat, kemulian dan kehormatan, nama besar! Akan tetapi, itukah yang dinamakan kebahagiaan? Tidak salah lagi, bahwa kesenanganlah semua itu, dan memang. kesenanganlah yang selalu dikejar oleh kita manusia di dunia ini. Akan tetapi, apakah kesenangan ada batasnya? Dan lebih meragukan lagi. Apakah kesenangan itu kekal? Biasanya yang dapat menikmati kesenangan hanyalah mereka yang belum memilikinya! Yang rnembayangkan nikmatnya punya harta banyak hanyalah mereka yang miskin. Yang membayangkan nikmatnya mempunyai kedudukan pangkat tinggi hanyalah mereka yang tidak berkedudukan. Yang membayangkan nikmatnya mempunyai isteri banyak hanyalah mereka yang belum beristeri dan sebagainya.

Bagaimana dengan mereka yang sudah memiliki apa yang dianggapnya sebagai sarana kesenangan sebelum dimilikinya itu? Jelas bahwa pertama kali memperolehnya, akan timbul perasaan puas dan senang, bahkan mungkin berbahagia. Akan tetapi, berapa lama kebahagiaan semacam ini mampu bertahan? Celaka, ternyata kesenangan itu berekor kebosanan dan kekecewaan, dan keinginan menjadi makin subur, semakin murka, semakin serakah. Segala yang sudah dicapai tangan akan kehilangan daya tariknya, dan mata ditujukan jauh ke depan, kepada hal-hal yang belum dimilikinya, yang dianggap jauh lebih menyenangkan daripada yang sudah dimilikinya semua itu! Dan kitapun hanyut dalam lingkaran setan dari kesenangan, kebosanan, kekecewaan dan kehausan akan hal-hal lain yang belum dimilikinya.

Sebulan telah lewat. Bulan lalu itu merupakan bulan yang teramat sibuk bagi keluarga Shi Men. Bapak Cou si ahli penjahit bersama tujuh orang pembantunya, setiap hari sibuk membuatkan pakaian kebesaran yang baru untuk pejabat baru itu. Kemudian, surat-surat pemberitahuan dan perkenalan harus dibuat, surat-surat pernyataan selamat diterima dan dibalas. Kemudian dipilihkan suatu hari baik oleh para peramal, untuk menentukan hari pembukaan atau permulaan dari tugas yang dipikul oleh Shi Men sebagai seorang hakim pembantu! Dengan segala kebesaran dan kebanggaan, hari itu Shi Men diumumkan menjadi seorang pejabat, seorang bangsawan.

Lalu disusul oleh pesta pora besar-besaran dan tak dilupakan sekutu atau gerombolah saudara angkat dari Shi Men yang dijamu dalam sebuah pesta yang meriah. Sembilan orang itu berpesta pora, ditemani oleh empat orang gadis panggilan, di antaranya terdapat Bi Hwa dan Gin Nio, dua orang langganan Shi Men sejak dulu. Hanya Kim Lian seorang yang tidak dapat merasakan kegembiraan dalam rumah tangga suaminya itu. Cintanya terhadap suaminya hanya berpamrih kesenangan dirinya sendiri. Betapapun mujur nasib suaminya, kalau ia sendiri tidak secara langsung menikmatinya, maka hal itu tidak disambutnya dengan gembira. Bahkan sebaliknya, ia senang duduk dengan wajah muram di depan cermin di dalam kamarnya. Percuma saja ia berdandan semoleknya, pikirnya.

Sejak kelahiran bayi itu, ia merasa betapa semakin jarang Shi Men mengunjunginya, semakin dingin terhadap semua kemolekannya. Suaminya itu tiada hentinya memuji-muji bayi itu dan ibunya, dan lebih suka tinggal di kamar isteri ke enam itu daripada di kamar isteri-isteri lainnya, termasuk ia sendiri. Dan hal ini amat mengesalkan hatinya. Selesailah sudah ia menata rambutnya. Sambil melepas kuap di balik angan karena kesal, iapun berjalan-jalan memasuki taman. Ketika ia lewat di dekat pondok Nyonya Peng, ia mendengar tangis bayi itu dan iapun melangkahkan kaki memasuki pondok. Bayi itu sedang diasuh oleh seorang pengasuh yang sengaja didatangkan untuk merawat anak itu. Pengasuh itu ditinggal suaminya yang menjadi tentara, seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang berwajah lumayan dan berkulit bersih, bernama Yu I.

“Kenapa ia menangis demikian kerasnya?” tanya Kim Lian kepada Yu I. “Dia ingin ikut ibunya yang masih berada di rumah besar,” jawab pengasuh itu.

“La-la-la” Kim Lian mendekat dan menimang anak itu. “Masih begini kecil, baru saja terlahir sudah mengenal ibunya. Mari kuantarkan dia menyusul ibunya!”

“Nyonya, harap jangan bawa dia keluar. Dia takut kepada nyonya, dan dia akan mengotorkan nanti,” pengasuh itu memperingatkan.

“Diam kau cerewet!” Kim Lian menghardik.

“Aku akan memondongnya di atas bantal. Apa yang dapat dia lakukan untuk mengotori aku?” Kim Lian mengangkat anak itu dengan kasar, kadang-kadang mendekapnya di dadanya dan kadang-kadang mengayun-ayunnya dengan kasar.

“Lihat apa yang kubawa!” Ia berseru sambil tertawa kepada Goat Toanio yang sedang duduk santai di serambi depan. “Bocah ini mencari ibunya.” Dan sekali lagi ia mengayun dan mengangkat anak itu di atas kepalanya.

“Hai, Ngo-moi (adik ke lima), bagaimana engkau begitu sembarangan menimang anak itu? Dia akan menjadi ketakutan!” Goat Toanio menegur.

“Ibunya berada di dalam. Liok-moi (adik ke enam), keluarlah! Anakmu mencarimu!” ia berteriak ke dalam. Dengan terkejut, Nyonya Peng lari keluar.

“Ah, seharusnya engkau meninggalkan anakku dalam kamarku bersama pengasuh,” la menegur Kim Lian.

“Sama sekali tidak perlu mengajaknya ke sini. Nah, kulihat noda basah pada pakaianmu, rasakan sekarang!”

“Dia menangis mencarimu, aku menjadi tidak tega.” Kim Lian membela diri. Nyonya Peng mengambil anaknya, mendekap anaknya dengan aman ke dadanya dan mengajaknya kembali ke pondoknya.

''Bagaimana engkau berani menyerahkan anakku kepada nyonya ke lima!” ia memaki pengasuh itu.

“la memaksa anak itu dan mengambilnya dari saya dengan marah sehingga saya tidak berani menentangnya,” kata Yu I. Sementara itu, setelah menjadi seorang Ayah dan menjadi seorang pejabat pula, terjadilah perubahan besar dalam hidup Shi Men. Dua kali sehari dia pergi ke kantor, di mana dia mengadakan pertemuan dan perundingan dengan pejabat Hou yang menjadi rekannya, atau duduk di bangku bersamanya. Tugas pekerjaannya itu menyita banyak waktunya dan terasa olehnya amat melelahkan. Pendeknya, kini dia tidak ada waktu sama sekali untuk melanjutkan cara hidupnya seperti yang sudah-sudah, berkeliaran di kedai-kedai dan rumah-rumah pelesir.

Bahkan dia tidak mempunyai waktu lagi untuk bergerombol dan bersenang-senang bersama delapan orang kawan yang menjadi saudara angkatnya. Hanya Ying Po Kui dan Cia Si Ta saja dua di antara mereka yang sejak dahulu menjadi sahabat baik dan anak buahnya, yang masih suka datang berkunjung kepadanya. Sebagai seorang pejabat dan bangsawan, kini dia harus lebih menjaga martabat. Pada suatu hari, seorang utusan berkuda datang, menyerahkan sepucuk surat dari Kepala Perngawal Ti, yaitu kepala pengawal Istana Perdana Menteri. Isi surat itu mengingatkan Shi Men akan permohonannya yang pernah disarnpaikan lewat Lai Pao, yaitu agar Shi Men suka mencarikan seorang gadis muda untuk menjadi selirnya. Dan bersama surat itu dia mengirimkan uang sepuluh ons emas sebagai biaya mencarikan gadis itu.

“Aih, bagaimana aku sampai dapat melupakan urusan ini!” kata Shi Men di depan Goat Toanio.

“Kita harus cepat menyuruh Bibi Hong dan Bibi Pi untuk mencarikan gadis yang cocok bagi Ti-Ciangkun (Perwira Ti)!” Dua orang mak comblang itu dipanggil dan diberi tugas mencarikan seorang gadis yang cantik dan pandai, dan pada suatu hari, ketika dia sedang menunggang kuda pulang dari kantornya, Shi Men melihat Bibi Hong. Dia cepat menyuruh Siauw Thai yang selalu mengikutinya untuk memanggil Bibi Hong.

“Bagaimana, Bibi Hong? Sudahkah engkau mendapatkan gadis yang dicari itu?” Nenek itu tersenyum menyeringai.

“Susah payah saya mencari di seluruh kota tanpa hasil. Akhirnya, secara kebetulan sekali, saya menemukan seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali, dan usianya belum cukup lima belas tahun. Setangkai kuncup bunga yang sedang mulai mekar dengan Indah dan harumnya. Wajahnya cantik jelita, tubuhnya mungil dan ramping. Kakinya kecil, kulitnya halus mulus dan putih bersih. Mulutnya ah, gadis bernama Mei Li itu memang pilihan Kongcu (Tuan muda) eh, maaf Taijin (orang besar) sendiri akan jatuh cinta sekali melihatnya.” Shi Men tertawa.

“Jangan berolok. Sekali ini, gadis itu bukan untuk aku. Puteri siapakah ia?”

“Puteri siapa? Taijin tidak perlu melihat jauh. la adalah anak dari pengurus toko Taijin sendiri, yaitu Han Tao Kok, dengan lsterinya yang pertama. Kalau Taijin menghendaki, saya akan berunding dengan Ayahnya dan menentukan suatu hari agar Taijin dapat melihatnya sendiri.”

“Baiklah, rundingkan dengan dia, dan jangan lupa catat hari dan tanda-tanda kelahiran anak itu.” Dua hari kemudian Bibi Hong datang mengunjungi Shi Men sambil membawa catatan tentang kelahiran Mei Li. Dari catatan itu tahulah Shi Men bahwa Mei Li benar puteri Han Tao Kok, berusia lima belas tahun, dan terlahir pada tanggal lima bulan lima.

“Saya sudah berunding dengan Han Tao Kok,” kata Bibi Hong.

“Dia menyatakan bahwa karena Taijin sendiri yang mengambil puterinya darinya, maka dia percaya bahwa nasib puterinya akan baik. Akan tetapi dia merasa bingung memikirkan betapa dalam keadaannya yang kurang mampu itu dia dapat menyerahkan segala keperluan pernikahan”

“Katakan padanya bahwa dia tidak perlu mengeluarkan uang, satu senpun. Untuk pakaian, alas tempat tidur perhiasan dan lain lain aku lah yang akan..., mengadakannya. Dia cukup membeli sepatu dan sandal yang pantas untuk anaknya itu. Dan pula, kau katakan padanya bahwa aku ingin, agar dia sendiri yang mengawal puterinya ke Kotaraja,aku akan memberi dua puluh ons kepadanya dan katakan bahwa Ti-Ciangkun inginmemperoleh seorang putra darinya, agar kelak menjadi nyonya perwira dan hidup dalam kemuliaan dan kecukupan”.

“Dan kapankah Taijin akan mengunjunginya untuk melihat puterinya itu?” “Aku akan berkunjung besok, akan tetapi ia tidak perlu repot-repot secangkir teh saja cukuplah, aku hanya akan tinggal sebentar, setelah melihat gadis itu aku akan pergi lagi. Pada keesokan harinya menjelang senja, Shi Men pergi mengunjungi rumah Han Tao Kok bersama dua orang kacungnya.

Ketika dia tiba di rumah, sederhana dari keluarga Han, dia diterima oleh nyonya rumah dan puteri tirinya, karena Han Tao Kok sendiri masih bekerja di toko cita milik Shi Men. Akan tetapi Bibi Hong berada di situ. Dalam kunjungan ini Shi Men menemukan sesuatu yang membuatnya terpesona. Dia adalah seorang laki-laki yang sudah bergaul dengan banyak macam wanita cantik sehingga tidak mudahlah dia memuji kecantikan seorang wanita kalau tidak wanita itu memang pilihaan. Akan tetapi, ketika dia memasuki rumah pegawainya itu dan disambut oleh nyonya rumah, dia terpesona. Nyonya rumah itu memiliki kecantikan yang dianggapnya luar biasa sekali. Wang Liok Hwa, isteri Han Tao Kok dan ibu tiri Mei Li, bertubuh tinggi semampai, dengan bentuk tubuh yang memiliki lekuk lengkung menggairahkan, padat berisi dan sudah matang.

Kulit mukanya begitu halus kemerahan sehingga tidak membutuhkan bedak dan gincu lagi, sepasang matanya demikian jeli dan hidup, memiliki daya pesona istimewa. Dan mulutnya! Mulut kecil itu memiliki sepasang bibir yang selalu merah membasah, penuh dan seperti selalu menantang untuk dikecup. Shi Men terpesona dan melongo, sampai lupa untuk mengamati Mei Li, tujuan utama kunjungannya itu. Akhirnya diapun sadar melihat sikap semua orang yang menjadi tersipu, dan diapun mengalihkan pandang matanya kepada si anak tiri. Seorang gadis remaja yang cantik jelita memang, akan tetapi dibandingkan ibu tirinya, ia bukan apa-apa. Dengan suara yang lembut dan merdu, Liok Hwa menyuruh anak tirinya memberi hormat kepada Shi Men.

Mei Li membungkuk seperti setangkai bunga tertiup angin, kemudian memberi hormat dengan bersoja sampai empat kali. Setelah itu, dengan sopan Mei Li lalu mengundurkan diri di belakang ibu tirinya. Shi Men dipersilakan duduk, akan tetapi ketika dia minum teh yang disuguhkan sedikit demi sedikit, sepasang matanya seperti mata harimau kelaparan mengintai darl balik cangkirnya. Dia lalu memanggil Siauw Thai, menyuruhnya mengambil dari kantung sela kudanya dua gulungan sutera kembang, empat cincin emas, dan dua puluh ons perak, Bibi Hong diminta untuk meletakkan semua ini di atas sebuah baki dan menyerahkan nya kepada nyonya rumah. Liok Hwa lalu memasangkan cincln-cincin itu di jari tangan puterinya. Kemudian setelah menyuruh Mei Li menghaturkan terima kasih, gadis itu mengundurkan diri ke dalam.

“Antarkan puterimu ke rumahku, esok lusa,” kata Shi Men.

“Ia dapat membuatkan pakaian pengantin di rumahku. Engkau dapat menggunakan sedikit uang ini untuk membelikan sepatu dan sandal yang pantas untuknya.”

“Atas budi pertolongan Taijin, kami sekeluarga dapat mengawinkan puteri kami dengan sepatutnya. Bahkan Taijin telah melimpahkan segala kebaikan kepada kami setelah mencarikan jodoh yang amat mulia bagi puteri kami yang bodoh. Ah, bagaimana kami dapat membalas budi Taijin yang mulia?” Mereka saling bersopan-sopan dan ketika Shi Men meninggalkan rumah itu, Wajah si cantik jelita maslh selalu terbayang olehnya, membuat dia menunggangi kudanya sambil melamun.

Dua hari kemudlan Wang Liok Hwa atau Nyonya Han muncul bersama gadisnya yang cantik manis, Mei Li di rumah keluarganya Shi Men, Sekali lagi Bapak, Cou ahli jahit Itu dipanggil untuk membuatkan pakaian pengantin yang akan dipakai Mei Li yang selama beberapa hari sebelum diberangkatkan menjadi tamu keluarga Shi Men. Pada tanggal sepuluh bulan sembilan, Mei Li berangkat menuju ke Kotaraja, dalam sebuah kereta yang dltarik oleh empat ekor kuda, dikawal oleh Ayah kandungnya dan Lai Pao, juga beberapa orang pasukan pengawal dari balai kota yang bersenjata lengkap. Beberapa hari setelah Mei Li berangkat sebagai seorang pengantin untuk menjadi isteri ke dua Ti-Ciangkun, Shi Men bertemu dengan Bibi Hong di jalan Singa. Dia memberinya sepotong perak.

“Nih, kuberi tambahan hadiah. Eh, apakah engkau melihat betapa cantiknya ibu tiri pengantin itu?” Bibi Hong adalah seorang Nenek yang sudah makan banyak garam dalam urusan seperti itu maka ia tersenyum penuh arti.

“Aih, aih! kiranya setelah mendapatkan puterinya kini Taijin mengincar ibunya! jangan khawatir, Taijin, itu urusan mudah. Akan tetapi hari ini telah terlambat, saya tidak dapat melakukan sesuatu. Harap Taijin bersabar sampai besok, akan saya usahakan sampai berhasil.”

“Sebetulnya, siapakan ia? Heran sekali, saya tidak pernah melihat isteri seorang pegawai saya, padahal ia demikian cantik seperti bidadari!”

“Ia adalah adik perempuan pejagal Wang, anak perempuan ke enam, karena itu diberi nama Liok Hwa (Bunga Enam). Usianya dua puluh tiga tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya!” Pada malam itu juga Bibi Hong mengunjungi Wang Liok Hwa dan mengajak nyonya muda yang cantik itu bicara tentang puteri tirinya yang baru saja berangkat. Akhirnya, seperti sambil lalu saja, Bibi Hong berkata,

“Setelah puterimu pergi dan suamimu mengantarnya ke Kotaraja, engkau tinggal seorang diri di rumah, tentu merasa kesepian sekali. Bagaimana kalau aku mengirim seseorang untuk menemanimu di sini? Maukah engkau menerimanya?”

“Seseorang siapakah yang kau maksudkan, Bibi Hong?”

“Siapa lagi kalau bukan bangsawan Shi Men?” Dan melihat wanita itu terkejut dan hendak memprotes, ia cepat mengangkat tangan ke atas dan melanjutkan,

“Dengar dulu! Dia bertemu dengan aku dan mengatakan bahwa dia merasa kasihan sekali melihat engkau berada dalam kesepian setelah anakmu pergi. Dia akan suka sekali menemanimu untuk setengah hari lamanya sewaktu-waktu. Bagaimana pendapatm? Tak seorangpun akan mengetahuinya, dan sekali engkau membolehkan dia masuk, jangan khawatir lagi akan pakaian dan uang. Engkau bisa mendapatkan segalanya.”

Dengan muka berubah merah karena malu, jantung berdebar penuh ketegangan, wanita muda itu termenung. Semua orang mengatakan bahwa la seorang wanita yang cantik jelita, akan tetapi selama menjadi isteri Han Tao Kok yang jauh lebih tua, ia tidak pernah menikmati kesenangan dan kepuasan lahir batin. Keadaan suaminya sebagai seorang pegawai hanya mampu memberi kehidupan sederhana saja kepadanya. Dan kini majikan suaminya, seorang kaya raya, bangsawan pula, juga tampan dan terkenal sebagai seorang laki-laki yang royal, telah mengajaknya! Akhirnya ia menarik napas panjang.

“Balklah, kalau memang benar dia menghargai aku, aku akan menerimanya di sini besok pagi.” Tentu saja Shi Men gembira bukan main ketika menerima berita dari Bibi Hong. Diiringkan dua orang kacungnya, seorang diharuskan menjaga kuda dan seorang lagi menemaninya, Shi Men pada keesokan harinya mengunjungi Wang Liok Hwa atau Nyonya Han itu. Dia disambut oleh nyonya rumah yang nampak cantik berseri dan segar dengan pakaian barunya, dan rumah itupun nampak bersih mengkilap siap menerima tamu agung. Sebagai permulaan, percakapan mereka bersopan-sopan.

“Saya berhutang budi banyak sekali darI Taijin dan terima kasih yang sebesarnya atas semua yang telah Taijin lakukan demi kebahagiaan anak saya Mei Li.”

“Ah, selama ini karena sibuk, aku telah mengabaikan engkau dan suamimu, harap engkau tidak berkecil hati.”

“Harap Taijin jangan berkata begitu karena sesungguhnya siapa lagi kalau bukan Taijin yang telah menghidupkan kami sekeluarga selama ini?” Setelah Bibi Hong menyuguhkan air teh, percakapan menjadi semakin hangat dan akrab, dan tak lama kemudian keduanya sudah pindah duduk di dalam kamar. Pintu luar ditutup, dan Siauw Thai berjaga di luar pintu. Bibi Hong yang tahu diri juga sudah mengundurkan diri dan dua orang itu kini mengganti minuman teh mereka dengan minuman arak anggur yang manis.

Setelah minum anggur hangat, makin panas pula gelora dalam tubuh dan pikiran mereka dan tak lama kemudian, kata-kata tak diperlukan lagi karena keduanya sudah menyerahkan diri terseret gelombang nafsu birahi dan membiarkan diri hanyut dan terbuai kemesraan cinta curian. Kata orang, buah curian lebih manis dan lezat daripada buah milik. sendiri. Cinta curian lebih bergelora dan memabukkan daripada cinta terbuka. Hal ini sekarang dirasakan oleh Wang Liok Hwa, dan bagi Shi Men, hal ini hanya merupakan pengulangan dari perbuatan yang sudah seringkali dia lakukan. Dengan hati puas hari itu Shi Men meninggalkan rumah kekasih barunya setelah malam hampir tiba. Pada keesokan harinya, Bibi Hong menerima hadiah, dan juga diutus untuk mencarikan seorang gadis pelayan remaja untuk menjadi pelayan Nyonya Han. Untuk itu, Shi Men harus mengeluarkan uang empat ons lagi.

Dan semenjak pertemuan pertama itu, sedikitnya seminggu dua kali Shi Men pasti datang mengunjungi kekasih barunya dan tinggal sampai setengah atau sehari penuh di rumah Wang Liok Hwa. Sebulan lebih kemudian, Lai Pao dan Han Tao Kok kembali dari Kotaraja. Ti-Ciangkun merasa gembira dan puas sekali dengan Mei Li dan untuk menyatakan terima kasihnya, dia mengirimi Shi Men seekor kuda dari Tungush, dan lima ons kepada dua orang utusan itu yang dijamunya dengan meriah. Shi Men membaca surat Ti- Ciangkun dengan puas. Apalagi di dalam suratnya, Ti-Ciangkun yang berterima kasih itu menganggap Shi Men sebagai saudara dan sekutu yang baik, dan berjanji akan melakukan apa saja untuk memenuhi keperluan Shi Men apabila waktunya tiba. Ketika Han Tao Kok hendak menyerahkan uang yang lima puluh ons dari Ti-Ciangkun, Shi Men dengan sikap bijaksana dan royal berkata,

“Simpanlah saja untukmu, sebagai hadiah atas kebijaksananmu mendidik puterimu.” Ketika Han Tao Kok dengan hormat menolaknya karena dia sudah menerima hadiah dari Ti-Ciangkun, Shi Men memaksanya.

“Terima saja, kalau tidak aku akan marah. Akan tetapi, jangan royal dan habiskan uang itu.” Ketika tiba di rumah, Wang Liok Hwa menyambut suaminya dengan gembira dan dengan cerewet menanyakan bagaimana keadaan Mei Li setelah tiba di Kotaraja.

“Wah, keadaannya baik sekali. Ia mempunyai tiga buah kamarnya sendiri dan dua orang gadis pelayan. Ia tidak kekurangan pakaian dan perhiasan. Ti-Ciangkun merasa senang sekali menerimanya dan kelihatannya amat mencintanya. Lai Pao dan aku diterima sebagai tamu selama dua hari dan kami dijamu dengan suguhan yang serba mahal dan Iezat. Kemudian dia menitipkan surat, kuda hitam dan uang lima puluh ons perak untuk diberikan kepada majikan Shi Men, akan tetapi coba bayangkan, majikanku tidak mau menerima uang itu dan memberikannya kepadaku! Nah, inilah uangnya.” Liok Hwa menerima uang itu dengan girang dan menyimpannya.

“Kita harus memberi hadiah satu ons perak kepada Bibi Hong yang selama engkau pergi, telah bersikap baik sekali dan menemaniku.” Pada saat itu, gadis pelayan masuk menghidangkan minuman teh.

“Eh, siapa ini?” tanya Han Tao Kok. “Pelayan kita yang baru. Ke sinilah dan beri hormat kepada majikanmu” katanya dan gadis pelayan itu memberi hormat kepada Han Tao Kok. Setelah pelayan itu mengundurkan diri ke dapur, Liok Hwa terpaksa harus rnenceritakan kepada suaminya tentang kunjungan Shi Men. Ia telah mengenal suaminya, yang lemah dan juga mata duitan, maka ia berani berterus terang. Diceritakannya betapa Shi Men merasa kasihan melihat ia kesepian, dan datang menemaninya, memberi uang dan membelikan pelayan, juga menjanjikan sebuah rumah baru untuknya. Han Tao Kok tertegun, lalu mengangguk-angguk.

“Ahhh, sekarang mengertilah aku mengapa aku harus menerima uang Lima puluh ons itu, kiranya untuk membeli rumah baru ltu!” katanya dengan sinar mata cerdik.

“Dan yakinlah bahwa jumlahnya tidak akan berhenti sampai lima puluh saja,” kata isterinya.

“Akan kita terima lebih banyak lagl. Nah, kalau kita mendapatkan rumah baru, pakaian dan perhiasan, apa salahnya kalau aku membiarkan dia bermain-main sedikit dengan tubuhku.” Suaminya mengangguk- angguk, membayangkan uang dalam jumlah banyak akan diterimanya dari majikannya itu. Dia sudah mengenal benar watak majikannya. Gila perempuan dan royal sekali kalau sudah tergila-gila kepada seorang perempuan, dan isterinya memiliki segala-galanya untuk membuat Shi Men tergila-gila.

“Jika dia datang lagi besok ketika aku sedang ke toko, layanilah dia dengan baik dan manis, dan berlakulah seperti aku tidak tahu apa-apa akan hubungan antara kalian. Kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini untuk mengumpulkan uang sebanyaknya tanpa bekerja susah payah.”

“Tentu saja engkau senang sekali, karena bekerja sedikitpun engkau ikut menikmati hasilnya yang berlimpah-Iimpah. Kalau saja engkau tahu penderitaan apa yang dirasakan isterimu untuk mendapatkan semua itu!” Suami isteri itu saling pandang untuk beberapa lamanya, kemudian mereka tertawa bergelak dan saling rangkul.

Kim Lian merasa berduka sekali. Segala daya upaya ia lakukan, bujuk rayu disertai air mata, curnbu rayu yang paling mesra, segala sudah ia lakukan untuk merebut kembali hati Shi Men, namun semua itu sia- sia karena kembali. Shi Men pergi mengunjungi kekasih barunya Wang Liok Hwa, atau Nyonya Han di Jalan Singa, dan bayangan Kim Lian sudah terlupakan lagi. Bahkan pada ulang tahun kelahirannya, Shi Men tidak merasa perlu untuk tinggal di pondoknya. Sebaliknya, Shi Men menghabiskan waktunya sehari lamanya di dalam Kuil Raja Kamala, ditemani oleh dua orang sahabat baiknya Ying Po Kui dan Cia Si Ta dan kakak laki-laki dari Goat Toanio,

juga kakak dari Nyonya Peng, untuk merayakan pemberian nama Kuil kepada puteranya agar bebas dari pengaruh roh jahat. Bukan hanya Pendeta Bu yang hadir, akan tetapi atas permintaan Shi Men semua pendeta enam belas orang banyaknya, hadir dalam upacara dan perayaan itu. Shi Men Bahkan mengambil keputusan untuk bermalam di dalam Kuil itu. Dengan lesu Kim Lian duduk bersama madu- madunya di rumah induk, tempat yang ditinggali oleh Goat Toanio sebagai isteri pertama. Mereka menanti munculnya Shi Men dengan sia-sia. Sementara itu, Goat Toanio berada di kamar tidurnya, ditemani seorang pendeta wanita bernama Wang Nikouw. Melihat keadaan nyonya rumah seperti orang yang berduka, nikouw itu bertanya,

“Mengapa anda nampak selalu berduka dan tidak pernah kelihatan gembira?” Goat Toanio menghela napas panjang.

“Bagaimana saya dapat bergernbira dengan nasib seperti saya ini?” Ia lalu menceritakan bahwa dalam bulan ke delapan, ketika ia menaiki tangga loteng rumah kenalannya, ia terpeleset dan terjatuh sehingga rnengalami gugur kandungan.

“Ah, hal itu sungguh menyedihkan, nyonya, siapa tahu anak itu akan terlahir sebagai seorang putera yang berjasa kelak. Akan tetapi yang melahirkan seorang putera bahkan nyonya ke enam yang belum lama tinggal di dalam keluarga ini.”

“Kehendak Tuhanpun terjadilah!” kata Goat Toanio dengan pasrah.

“Akan tetapi, Toanio, agaknya dalam hal ini saya dapat membantu. kepala pendeta Kuil kami, Pi Nikouw, mempunyai ramuan obat yang pernah dicobakan kepada Nyonya Chen, isteri Sekretaris Kementerian. Nyonya Chen itu usianya sebaya dengan Toanio dan ia tidak mempunyai anak, walaupun beberapa kali ia mengalami gugur kandungan. Akan tetapi setelah ia minum ramuan obat dari Pi Nikouw, baru-baru ini ia melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Hanya satu syaratnya pada resep obat itu.”

“Dan apa syarat itu?”

“Obat itu harus dicampur dengan ari-ari dari anak pertama. Ari-ari Itu harus dicuci dengan arak, lalu dikeringkan dan dibakar menjadi abu. Nah, abu inilah yang harus dicampur dengan obat itu, dan diminum dalam perut kosong, tak dilihat siapapun juga. Sebulan kemudian akan datanglah kehamilan itu.” Mendengar ini, wajah muram itu berubah, berseri dengan harapan baru.

“Wang Nikouw, anda harus membantu saya dan mohon kepada Pi Nikouw untuk berkunjung kepadaku.”

“Baiklah, Toanio, dan saya akan menyediakan ramuan itu. Akan tetapi saya tidak tahu ke mana saya harus mencari ari-ari itu.”

“Akan saya beri uang untuk itu.”

“Baiklah. Saya akan memberitahu setelah minuman itu siap. Tidak akan makan waktu lebih dari setengah bulan.”

“Akan tetapi hal itu harus menjadi rahasia antara kita saja.”

“Percayalah kepada saya, Toanio.” Pada keesokan harinya, ketika Wang hendak meninggalkan rumah keluarga Shi Men, Goat Toanio memberi satu ons perak kepadanya.

“Kelak, kalau anda telah mempersiapkan segalanya, akan saya beri lebih banyak.” Bagi para nyonya rumah, seyogianya kalau berhati-hati menghadapi segala macam dukun dan Nikouw. Seperti Wang Nikouw itu karena orang-orang seperti itu yang mempergunakan pengaruh kedudukan mereka, lebih banyak yang palsu daripada yang benar-benar tulen. Segala macam mujijat dan keajaiban yang mereka janjikan, baik dalam hal mengobati orang maupun mencarikan barang hilang atau menjenguk segala macam nasib memperbaiki nasib, atau memasang guna-guna agar suami lebih mencinta dan sebagainya lagi, kebanyakan hanyalah bual belaka. Jenis penipuan halus macam ini sudah seringkali terjadi di bagian manapun di dunia ini, di jaman apapun. Seperti biasa, apabila tiba musim Pesta Lentera, berhari-hari terjadilah kesibukan di dalam rumah tangga Shi Men. Dan kebetulan sekali hari Pesta Lentera merupakan hari ulang tahun kelahiran Nyonya Peng pula, sehingga pesta yang diadakan di dalam keluarga Shi Men amat meriah.

Empat orang gadis penyanyi dipanggil, dan Shi Men bahkan menghormati para tamu dengan mengundang dua puluh orang pemain panggung dari Istana Pangeran Goan yang juga tinggal di Jalan Singa. Untuk keperluan pertunjukan ini, dia membangun sebuah panggung di sebelah barat yang menyambung dengan ruangan resepsi di bagian depan rumah. Cerita klasik “Pavilyun Barat” dimainkan dan hari itu diramaikan pula dengan pembakaran mercon dan kembang api, di bawah pengawasan Pen Se dan juga tuan muda Chen, mantu Shi Men. Kembang api dibakar di luar pintu gerbang dan menarik perhatian banyak sekali penonton yang berdesakan. Shi Men sendiri tidak suka akan semua kesibukan itu. Dia lebih suka berjalan-jalan ke dalam Pasar Lentera bersama dua orang sahabatnya, Ying Po Kui dan Cia Si Ta, kemudian dia memisahkan diri dan mendekam di dalam kamar Wang Liok Hwa, kekasihnya.

Di dalam bulan pertama dari tahun yang baru itu, terjadilah dua hal penting dalam kehidupan Shi Men. Pertama-tama terjadi ketika isteri-isterinya pergi berkunjung ke rumah gedung keluarga Kiao, tetangga sebelah yang kaya raya itu. Mereka mengajak pula Kwan Ko yang masih kecil yang dipondong oleh pengasuhnya, Yu I. Ketika para isterinya itu berada di rumah gembira gedung Kiao, mereka disambut dengan gembira. Keluarga Kiao juga hanya mempunyai seorang anak perempuan yang baru berusia tiga bulan. Kwan Ko lalu oleh Yu I dibaringkan tak jauh dari bayi perempuan nyonya rumah itu. Ketika para wanita itu memasuki kamar sehabis bersantap bersama, mereka masuk kembali ke kamar, mereka melihat betapa dua orang anak kecil itu sudah saling mendekati dan bermain-main dengan tangan kaki mereka.

Para wanita itu tertawa melihat ini dan mereka semua merasa setuju dengan pendapat bahwa hal itu merupakan suatu isyarat dari Langit bahwa kedua anak itu saling berjodoh. Mereka setuju kalau dua orang anak itu ditunangkan. Goat Toanio segera mengutus seorang pelayan pulang mengambil sutera merah dan dengan sutera ini mereka menghias dinding ruangan depan gedung keluarga Kiao sebagai tanda bahwa di situ telah terjadi hal yang menggembirakan. Dan pada keesokan harinya keluarga Kiao mengirim hadiah-hadian pertunangan yang berharga kepada keluarga Shi Men. Shi Men terkejut dan merasa tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh para isterinya tentang ikatan perjodohan puteranya itu.

“Tidak dapat disangkal bahwa tetangga kita, keluarga Kiao adalah keluarga yang kaya raya dan terhormat,” demikian katanya kepada Goat Toanio. “Akan tetapi Kiao hanyalah seorang rakyat biasa, tanpa pangkat dan kedudukan apapun, sehingga dia tidak cukup pantas menjadi-besan keluarga Shi Men yang telah menjadi pejabat dan bangsawan.”

Agaknya keberatan dan tidak persetujuan Shi Men ini tentu telah sampai pula ke telinga keluarga Kiao karena dua hari kemudian, keluarga Klao berkunjung ke rumah keluarga Shi Men dan Nenek Kiao dalam percakapan mereka menyinggung bahwa seorang di antara keponakannya menjadi selir dari Sribaginda tingkat ke dua. Tentu saja pernyataan ini rnerupakan isyarat bahwa sesungguhnya martabat keluarga Kiao lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga Shi Men. Peristiwa ke dua yang menimpa keluarga Shi Men ada hubungannya dengan jabatan Shi Men sebagai pembantu hakim. Pada suatu hari Shi Men menerima undangan yang tergesa-gesa dari Hakim Cia yang menjadi rekannya. Cepat Shi Men datang ke rumah rekan itu dan mereka segera terllbat dalam pembicaraan serius di kamar hakim Cia, pembicaraan empat mata.

“Celaka, sobat Shi Men, celakalah kita sekali inil” kata tuan rumah dengan muka pucat.

“Ada apakah?” tanya Shi Men, juga terkejut dan gelisah melihat keadaan rekannya yang biasanya tenang itu.

“Pagi ini aku menerima kunjungan Komisaris Besar Distrik Li dan dia memberitahu kepadaku bahwa Pejabat Gubernur di Shantung mengirim laporan ke Kotaraja untuk mengadukan kita sebagai petugas- petugas yang tidak baik dan mengusulkan agar kita dipecat dengan tidak hormat. Dia membawa salinan surat laporan itu. inilah surat Itu.”

Dengan jari tangan gemetar Shi Men menerima surat laporan yang telah agak kumal itu dan membaca isinya. Makin lama wajahnya menjadi semakin pucat. Di situ, si pejabat Gubernur Ciong melaporkan ke Istana bahwa Hakim Cia dan Pembantu Hakim Shi Men merupakan dua, orang yang tidak layak menduduki jabatan mereka. Hakim Cia dikatakan sebagal orang yang suka menerima uang suap sehingga menjatuhkan keputusan yang tidak adil sama sekall di dalam pengadilan, mengalahkan yang benar dan memenangkan yang salah, dan tidak mampu mengurus kantor kehakiman, kejam terhadap terdakwa yang belum tentu bersalah jika terdakwa tidak mampu memberi uang sogoknya. Mengenai Shi Men sendiri dikatakan bahwa Shi Men adalah orang yang suka mempergunakan uangnya untuk mempermainkan para pejabat,

Orang yang bergaul dengan orang-orang tingkatan rendah dan golongan hitam, bahkan suka memperalat penjahat untuk memaksakan kehendaknya, seorang yang sama sekali tidak terpelajar sehingga bodoh dan buta huruf sama sekali tentang hukum, orang yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi terkenal royal di rumah-rumah pelacuran, mempunyai banyak selir dan membiarkan selirnya menjual kecantikan dijalan-jalan secara tidak sopan. Surat laporan itu ditutup dengan permohonan agar kedua pejabat daerah itu dipecat, bahkan kalau perlu dan kalau terdapat bukti-bukti penyelewengan agar mereka dituntut untuk menjadi contoh bagi para pejabat lainnya. Dengan muka pucat dan mata terbelalak penuh kegelisahan Shi Men memandang rekannya. Akan tetapi otaknya bekerja dan dia mengerutkan alisnya, termenung.

“Bagaimana sekarang?” Hakim Cia berkata dengan suara gemetar. “Hanya ada satu jalan dan kita harus bertindak secepatnya” kata Shi Men.

“Kita harus mohon pertolongan Perdana Menteri agar diri kita dapat diselamatkan.”

Kedua orang inl cepat-cepat menyediakan uang dan benda-benda berharga yang mereka miliki, batangan-batangan emas dan perhiasan, ratusan ons uang perak dan dengan barang yang amat berharga ini, Lai Pao dan seorang utusan yang dipercaya dari Hakim Cia segera berangkat ke Kotaraja. Utusan Hakim Cia itu bernama Shia Sou. Kedua orang kepercayaan ini mempergunakan kereta dan melakukan perjalanan siang malam dengan cepatnya, dan begitu tiba di Kai Hong Hu, yaitu Kotaraja timur, mereka cepat menghadap Ti-Ciangkun yang jadi kepala pengawal Istana Perdana Menteri. Ketika Ti-Ciangkun membara surat dari Shi Men, dia menghibur kedua orang utusan itu. Dia masih berterima kasih kepada Shi Men tentang pengiriman gadis cantik Mei Li yang kini menjadi isterinya yang ke dua, dan dia tahu apa yang harus dllakukan untuk menyelamatkan Shi Men dan Hakim Cia, apalagi melihat betapa kedua orang itu membawa barang hadiah yang luar biasa banyaknya.

“Tidak usah khawatir,” demikian katanya. “Laporan pejabat gubernur Ciong itu belum sampai ke sini. Kalau laporan itu datang, saya akan dapat membujuk Perdana Menteri untuk menunda dan membekukan laporan itu sampai beberapa lamanya. Pejabat gubernur Ciong itu sudah mundur dari kedudukannya, maka surat laporan itu tidak ada harganya dan tidak perlu dilanjutkan ke Istana. Karena Itu, pulanglah dan katakan kepada majikan kalian bahwa aku menjamin laporan itu tidak akan sampai ke Istana.”

Dua orang itu segera pulang dan menyampaikan berita yang amat menyenangkan itu kepada majikan masing-masing. Demikianlah kembali kekuasaan uang memperlihatkan kemenangannya dan keunggulannya. Celakalah bangsa dan negara kalau pemerintah dikendalikan oleh pejabat-pejabat yang selalu hanya memperhitungkan keuntungan bagi dirinya sendiri seperti pedagang-pedagang. Modal pejabat-pejabat macam ini adalah kedudukannya, lupa bahwa kedudukan mereka itu sesungguhnya adalah pemberian rakyat! Tanpa rakyat tidak akan ada pejabat-pejabat itu, dan setelah memperoleh kepercayaan rakyat untuk memegang kekuasaan, mereka bahkan menyalah-gunakan kekuasaan, bukan untuk melindungi rakyat melainkan uniuk menindas rakyat!

=========================================================

Tepat seperti yang dikatakan oleh Kepala Pengawal Ti dalam janjinya kepada kedua utusan itu, beberapa bulan kemudian. Pejabat Gubernur di Shantung yang bernama Ciong itu pensiun dan kedudukan gubernur untuk propinsi itu diganti oleh Sung Pan. Dia ini masih ipar dari putera Perdana Menteri. Ketika Gubernur Sung yang baru ini menuju ke Kotaraja di mana dia akan menjabat kedudukannya yang baru, dia bertemu dengan seorang pejabat tinggi lain yang juga sedang menuju ke tempat jabatannya sebagai Kepala Urusan Garam di Huai.

Kedua orang pejabat ini kebetulan lewat di kota Ceng-Ho-Sian dan Gubernur Sung yang sudah mendapat pesan dari Kepala Pengawal Ti, tidak lupa untuk mampir ke rumah Shi Men. Bagi Kepala Urusan Garam yang masih anak angkat Perdana Menteri Cai dan bernama Cai Shen, Shi Men bukanlah orang asing. Kunjungan dua orang tamu besar itu menarik perhatian penduduk kota, dan mengangkat nama Shi Men. Betapa hartawan itu kini telah menjadi orang penting, pikir mereka, sehingga dua bangsawan tinggi itu memerlukan singgah dan nenunda perjalanan mereka. Tentu saja Shi Men merasa girang dan terhormat, maka diapun menyambut secara berlebihan sehingga tidak sayang mengeluarkan biaya yang banyak sekali.

Bukan hanya kedua orang bangsawan itu yang dijamunya akan tetapi juga semua pengikut dan pengawal mereka. Dan ketika kedua orang tamu Itu melanjutkan perjalanan mereka, Shi Men membekali mereka dengan barang-barang hadiah yang amat banyak. Kunjungan dua orang ini saja telah menguras sebagian dari harta Shi Men, tidak kurang dari seribu ons banyaknya. Gubernur Sung berangkat lebih dahulu meninggalkan rumah Shi Men. Pembesar Cai Shen, atas bujukan Shi Men, mau bermalam untuk semalam di rumah itu dan tuan rumah mempersiapkan pondok yang paling mewah untuknya. Lebih dari itu, ketika Cai-Taijin memasuki pondok agak terhuyung karena setengah mabuk, di pintu depan pondok itu dia disambut oleh dua orang gadis yang amat cantik penuh senyum manis.

Tentu saja hal ini merupakan kejutan yang amat menggembirakan hati pembesar itu. Dalam keadaan setengah mabuk dan gembira, dia lalu menggunakan alat tulis untuk membuat sajak di atas dinding, dengan huruf-huruf indah memuji kebaikan tuan rumah dan kecantikan dua orang gadis. Mereka sengaja didatangkan dari rumah-rumah pelesir yang paling terkemuka di kota itu oleh Shi Men. Shi Men bukan seorang bodoh yang suka membuang-buang uang begitu saja. Semua penyambutan yang teramat royal ini sudah diperhitungkannya baik-baik. Cai-Taijin adalah kepala urusan garam menguasai pembagian dan perniagaan garam dari pemerintah. Dalam kesempatan yang baik ini, Shi Men memperkenalkan Lai Pao sebagai pembantunya yang dipercaya dan mengajukan permohonan agar atas namanya Lai Pao dapat diberi jatah garam sebagai agen tunggal untuk daerah Ceng-Ho-Sian dan sekitarnya.

Atas permohonan ini, Cai Shen menyanggupi sambil tersenyum. Shi Men juga tersenyum penuh kemenangan. Pembagian jatah untuk satu bulan saja sudah mendatangkan keuntungan yang hampir cukup untuk menutup semua biaya yang telah dikeluarkannya hari itu! Pada keesokan harinya, Shi Men mengantar tamu agungnya sampai ke pintu gerbang kota dan sebagai sambutan terakhir, dia mempersilakan tamunya menikmati hidangan perpisahan yang sudah dia persiapkan di Kuil Yung-Hok-Si. Setelah bersama-sama menikmati hidangan dan membagi salam perpisahan, rombongan Cai-Taijin berangkat dan karena lelahnya, Shi Men beristirahat di dalarn Kuil yang menjadi sunyi kembali itu.

Ketika dia hendak pulang, Shi Men mernberi sumbangan besar kepada kepala Kuil untuk biaya perbaikan dan sebelum keluar dari Kuil, lebih dulu dia berjalan-jalan dl bagian belakang Kuil yang luas itu. Di sebuah ruangan dia melihat banyak Hwesio sedang membaca ayat-ayat suci. Seorang di antara mereka yang berlutut menghadapi kitab suci itu menarik perhatiannya. Hwesio itu kurus kering, hanya tulang- tulang terbungkus kulit. Jubahnya sederhana sekali namun cukup bersih. Sepasang matanya seperti mata harimau, mengeluarkan sinar mencorong. Kepalanya yang gundul itu mengkilap, seolah-olah terbuat dari batu marmar dan di dagunya tumbuh sedikit jenggot yang tidak terpelihara. Hwesio ini, berbeda dari yang lain, nampak berwibawa dan tenggelam ke dalam samadhinya.

“Ah, Hwesio itu bukanlah manusia sembarangan,” pikir Shi Men dan timbul keinginan hatinya untuk bercakap-cakap dengan Hwesio itu. Dengan suara nyaring dia lalu bertanya sambil mendekati Hwesio itu.

“Lo-Suhu, siapakah namamu dan dari manakah Lo-Suhu datang?” Setelah diulang dua kali, barulah Hwesio itu sadar dan membuka matanya. Melihat Shi Men, diapun cepat bangklt berdiri dan menjawab dalam suara yang parau.

“Pinceng (aku) bernama Hwan Hwesio dan Pinceng datang dari daerah barat, di perbatasan india. Pinceng adalah seorang Hwesio perantau yang suka berjalan-jalan di antara awan-awan dan Pinceng menguasai, sedikit ilmu pengobatan untuk menolong orang yang sakit. Apakah yang Taijin kehendaki dari Pinceng?”

“Ah, kiranya Lo-Suhu pandai dalam hal ilmu pengobatan. Apakah kiranya Lo-Suhu mempunyai obat kuat untuk laki-lakl?”

“Pinceng punya”

“Bagus, kalau begitu saya mengundang Lo-Suhu untuk berkunjung ke rumah saya. Maukah pergi bersama saya?” “Boleh, boleh.” Hwesio itu mengambil sebatang tongkat dari bawah bangku dan membawa pula sepasang kantong obat yang dipikulnya dengan tongkat itu. Setelah tiba di luar pintu gerbang, Shi Men rnenyuruh Siauw Thai mencarikan seekor kuda untuk Hwesio itu.

“Tidak perlu repert-repot, Taijin,” Hwan Hwesio berkata. “Pinceng tidak pernah menunggang kuda tetapi dengan jalan kaki pincang akan sampai di tempat tujuan lebih cepat daripada Taijin yang menunggang kuda.” Pada waktu itu, di depan pintu gerbang rumah Shi Men nampak seorang pemuda remaja yang sudah sejak tadi hilir mudik seperti ada yang dinantikannya... Dia adalah adik laki-laki dari Liok Hwa atau Nyonya Han, kekasih Shi Men. Encinya yang merasa rindu kepada Shi Men, mengutusnya untuk menyampaikan keinginan hatinya bertemu dengan kekasihnya itu melalui pelayan Siauw Thai. Karena, mendengar bahwa Siauw Thai pergi mengikuti majikannya keluar, dia menanti di depan pintu gerbang.

Akhirnya, muncullah Siauw Thai menunggang keledai, diikuti oleh seorang Hwesio yang berjalan kaki. Anehnya, kalau Siauw Thai yang menunggang keledai nampak berkeringat kelelahan, Hwesio itu kelihatan segar saja. Melihat orang yang dicarinya, pemuda itu cepat menyampaikan pesan Encinya kepada Siauw Thai, yang berjanji akan memberitahukan majikannya. Tak lama kemudian datanglah Shi Men berkuda dan melihat betapa Hwesio itu benar-benar telah berada di situ, dia merasa heran dan kagum sekali. Cepat dituntunnya Hwesio itu masuk ke dalam rumannya. Hwan Hwesio bengong dan kagum menyaksikan isi gedung yang demikian mewah dan indahnya. Dia dipersilakan duduk di ruangan tamu dan Shi Men masuk untuk berganti pakaian. Ketika dia kembali menemui tamunya, Shi Men bertanya,

“Apakah Lo-Suhu suka minum arak?”

“Arak dan daging bukan merupakan pantangan bagi seorang Hwesio perantau seperti Pinceng. Semua adalah rezeki yang harus diterimanya.” Karena hari itu adalah hari ulang tahun kelahiran Sun Siu Oh, isteri ke empat dari Shi Men, tentu saja di dapur terdapat banyak sekali masakan dan Hwesio itu disuguhi makanan yang belum pernah atau jarang sekali dihadapinya. Diapun tanpa malu-malu menyikat masakan itu ditemani arak dan setelah perut yang kempis itu menggendut, barulah dia menghentikan makan minumnya.

“Wah, perut Pinceng kenyang sekali,” katanya puas. Seorang pelayan lalu membersihkan meja itu dan kembali mereka ditinggal berdua saja atas isyarat Shi Men.

“Nah, sekarang saya menagih janji Lo-Suhu tentang obat kuat itu,” katanya.

“Jangan khawatir, Taijin. Karena Taijin telah bersikap amat ramah dan baik kepada Pinceng, maka Taijin berhak menerima beberpa butir pil obat kuat yang luar biasa dari Pinceng, obat ini menurut resep dari nabi Lo-Cu yang mendapatkannya menurut petunjuk Ibu Suri dari Barat.” Dia mengeluarkan sebuah dompet obat dari kantong obatnya dan menuangkan keluar seratus sepuluh butir pel “Sekali minum sebutir pel saja, Taijin, tidak boleh lebih dan telanlah dengan arak,” katanya.

“Dan apakah khasiatnya?” tanya Shi Men gembira.

“Khasiatnya? Tidak saja akan membuat Taijin nampak lebih muda, mempertebal tumbuhnya rambut, memperkuat gigi, menajamkan mata, akan tetapi juga akan memperkuat kejantanan sehingga Taijin mampu mengalahkan sepuluh orang wanita dalam waktu semalam. Kalau Taijin kehabisan tenaga, segelas air putih saja cukup untuk memulihkan tenaga Taijin.” Sebagai seorang yang gila perempuan menjadi hamba dari nafsu birahinya, tentu saja Shi Men girang bukan main mendengar keterangan akan khasiat obat dan keserakahannya membuat dia membayangkan bahwa seratus sepuluh pel itu akan cepat habis, maka alangkah baiknya kalau dia mampu memiliki resep obat kuat itu untuk dibuatnya sendiri Maka, dia menawarkan berapa saja harga resep obat itu untuk dibelinya. Mendengar ini Hwan Hwesio tertawa.

“Maaf, Taijin. Pinceng sudah bersumpah untuk meninggalkan keduniawian. Karena tidak membutuhkan barang dunia, apa artinya uang banyak bagi Pinceng? Pinceng memberi obat untuk membalas keramahan taijin. Pinceng tidak mambutuhkan uang.” Setelah berkata demikian, pendeta itupun pergi. Sementara itu, di sebelah ruang dalam, di antara para tamu yang datang memberi selamat kepada Nyonya keempat Sun Siu Oh, terdapat. dua orang nikouw, yaitu Wang Nikouw yang kali ini memehuhi janjinya membawa seorang nikouw tua dan sikapnya agung, yaitu Pi Nikouw yang diiringkan dua orang nikouw muda yang cantik.

Para nikauw itu dijamu di meja terpisah oleh Goat Toanio dengan hidangan tanpa daging. Dalam kesempatan ini, Pi Nikouw memberi wejangan-wejangan tentang Agama Buddha dan pelajarannya, dan para wanita di situ mendengarkan dengan asyik, kecuali Kim Lian yang merasa bosan mendengar teori- teori tentang hidup saleh dan baik itu. Goat Toanio merupakan pendengar yang paling serius. Melihat betapa para isterinya sibuk menjamu nikouw-nikouw, setelah mengantar Hwan Hwesio sampai di depan pintu gerbang, Shi Men langsung saja pergi mengunjungi kekasihnya, Nyonya Han. Dia tadi telah diberitahu oleh Siauw Thai bahwa kekasihnya itu mengharapkan kunjungannya, karena pada hari itu kebetulan merupakan hari ulang tahun Liok Hwa pula. Kebetulan sekali, pikir Shi Men, teringat akan obat kuat di dalam sakunya.

“Siauw Thai, kalau orang rumah menanyakan, katakan bahwa aku akan mengadakan pemeriksaan ke toko-tokoku,” pesan Shi Men kepada kacungnya. dan diapun langsung saja mengunjungi Nyonya Han. Liok Hwa menyambutnya dengan girang bukan main, apalagi ketika kekasihnya itu mengeluarkan sepasang bros emas dengan huruf “Panjang Umur” yang indah sekali. Juga Shi Men memberinya setengah ons perak.

“Suruh orang membeli arak yang baik.” Dan dia menambahkan, “Arak jagung.”

“Apa? Arak jagung? Apakah engkau telah bosan dengan arak anggur yang baik maka engkau menghendaki arak jagung yang murahan?” tanya Liok Hwa heran, akan tetapi ia segera menyuruh adik laki-lakinya untuk membeli arak yang dikehendaki oleh Shi Men. Hwesio Hwan berpesan agar pel itu diminum dengan arak jagung! Setelah araknya datang, Shi Men mengeluarkan sebutir pel merah dan di- minumnya dengan arak itu. Melihat ini, Liok Hwa tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Aih, kiranya arak jagung itu untuk minum obat itu? Obat apakah itu?” Kekasihnya tidak menjawab, namun jawabannya segera didapat oleh Liok Hwa ketika ia berada dalam pelukan kekasihnya. Mereka berdua barmain cinta sedemikian rupa seperti yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Wang Liok Hwa dihantarkan ke puncak kenikmatan sampai ia hampir pingsan, dan tentu saja Shi Men girang bukan main melihat khasiat obat pemberian Hwan Hwesio itu.

“Dengar, manisku. Aku akan mengutus suamimu yang tua itu bersama Lai Po ke pusat pembuatan garam di Yang-Couw, kemudian dari sana terus ke pabrik sutera di Hu-Couw. Dengan demikian untuk beberapa lamanya kita berdua akan menikmati cinta kita tanpa ada gangguan.” Sementara itu, para isteri Shi Men bortanya-tanya ke mana perginya suami mereka, itu. “Heran, ke mana perginya?” tanya Goat Toanio kesal.

“Ke mana lagi kalau bukan ke rumah pelesir?” kata Kim Lian cemberut. Siapakah di antara mereka yang dapat menduga betapa pada saat itu suami mereka berenang di lautan nafsu bersama Nyonya Han Tao Kok? Dua orang nikouw itu bermalam di rumah Goat Toanio dan pada malam harinya, Wang Nikouw mengeluarkan sebotol obat yang telah dijanjikannya itu.

“Inilah obat yang Pinni (saya) janjikan itu,” katanya. Pi Nikouw rnenambahkan, “Obat ini harus diminum tepat pada malam bulan purnama, dan pada malam itu, minum obat ini dan Toanio tidur bersama suami Toanio, tentu Toanio akan mengandung seorang bayi laki-laki. Akan tetapi Toanio tidak boleh membicarakan hal ini dengan siapapun juga.” Goat Toanio menerima botol kecil itu.

“Terima kasih banyak atas bantuan ji-wi (kalian berdua) yang amat berharga...”

“Wah, tidak mudah mendapatkan benda yang menjadi syarat utama itu. Untuk mendapatkan benda untuk campuran obat itu, kami harus mencari ke mana-mana. Untunglah bahwa akhirnya Pi Nikouw dapat memperolehnya dan kami sudah mencucinya bersih dengan arak, mengeringkannya dan mengabukannya, melembutkannya dan mencampurkan dengan obat ini.” Goat Toanio mengerti akan maksud yang tersembunyi di balik ucapan itu. Ia lalu menyerahkan satu ons perak kepada mereka.

“Kalau berhasil permohonanku dan obat ini ternyata manjur, kelak saya akan menyumbangkan kain untuk bahan pakaian,” ia menjanjikan. Malam terang bulan masih kurang dua hari lagi dan ketika pada keesokan harinya Shi Men pulang lalu memasuki pondok Goat Toanio, suami ini memperlihatkan sikap manis, bahkan dia merangkul pinggang isteri pertamanya dan memperlihatkan sikap mengajak tidur. Akan tetapi Goat Toanio dengan halus terpaksa menolaknya karena bulan purnamanya adalah besok malam. Ia berkata dengan suara halus kepada suaminya.

“Malam ini aku merasa kurang enak badan, harap kau tidur di kamar seorang di antara mereka. Kalau besok malam “ Goat Toanio melempar senyum malu-malu. Shi Men yang setengah mabuk itu tertawa.

“Baiklah, baiklah, agaknya engkau tidak suka melihat aku mabuk

“Harap maafkan, bukan maksudku rnenyinggungmu. Bukan karena engkau agak mabuk, melainkan ah, besok malam sajalah.” Malam itu Shi Men tidur di kamar Kim Lian. Pada keesokan harinya, Goat Toanio bersiap-siap. la bersembahyang kepada Kwan Im Pouwsat memohon berkahnya setelah sehari berpuasa dan membersihkan diri, mengenakan pakaian bersih dan baru. Dibakarnya dupa dan iapun membaca ayat-ayat suci seperti yang diajarkan oleh Pi Nikouw. Kemudian ia mengeluarkan guci kecil berisi obat pemberian Pi Nikouw dan Wang Nikouw, menaruhnya di atas meja sembahyang, berlutut dan berdoa dengan suara lirih,

“Tuhan Yang Maha Kuasa, demi berkah Kwan In Pouwsat yang welas asih, dengarlah permohonan hambamu ini, dengan kekuasaanmu, melalui kekuatan obat yang hamba terima dari Pi Nikouw dan Wang Nikouw, kurniailah hamba dengan seorang anak laki-laki!”

Dibantu oleh Siauw Giok, Goat Toanio Lalu menuangkan sedikit anggur ke dalam obat itu, rnemasukkannya ke dalam cawan dan setelah diaduk rata, ia berlutut menghadap ke barat Ialu minum obat itu. Obat itu rasanya agak masam, akan tetapi ia dapat menelannya semua. Setelah kembali berlutut menghadap meja sembahyang dan menghaturkan terima kasih. Selesailah sudah upacara itu dan memasuki kamarnya, tidak keluar lagi sampai malam. Ketika malam itu Shi Men memasuki kamarnya, dia mendapatkan isteri pertamanya itu sedang menunggunya dengan pakaian bersih rapi, cantik dan anggun, dan kamar itupun bersih dan berbau harum. Mereka lalu makan malam bersama.

“Mengakulah, bahwa semalam engkau tidak mau menerimaku karena aku mabuk?” tanya Shi Men, tersenyum.

“Tidak, aku sungguh merasa agak tidak enak badan kemarin” katanya karena kedua orang Nikouw itu memesan agar rahasia obat itu jangan diceritakan kepada orang lain.

“Bagaimana engkau dapat bercuriga? Pasangan suami isteri yang begitu lamanya seperti kita tidak mempunyai rahasia terhadap satu sama lain.” Setelah makan dan minum beberapa mangkok arak, bangkitlah gairah Shi Men dan malam itu dia tidur bersama Goat Toanio, melepaskan semua kerinduannya melalui gairah cintanya karena sudah agak lama dia tidak tidur bersama isteri setia ini.

Undangan yang amat penting dari Kotaraja, yaitu undangan hari ulang tahun Perdana Menteri Cai, merupakan undangan yang amat penting bagi Shi Men maka diapun mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke Kotaraja menghadiri pesta itu. Semua isterinya membantunya bersiap-siap karena kepergiannya ini membawa barang-barang hadiah yang amat banyak. Shi Men memilih empat orang kacungnya untuk menyertainya, yaitu Kiu Tung, Ta An, Shu Tung, dan Tung, Di samping ini, ada pula pasukan pengawal dan pelayan-pelayan lain. Sebelum berangkat, Shi Men lebih dulu menjenguk isterinya yang ke enam, Nyonya Peng, yang selama beberapa hari ini tidak enak badan. Dia mengucapkan selamat tinggal dan menimang puteranya.

“Jangan lupa untuk minum obat yang diberikan oleh Tabib Yen agar engkau cepat sembuh dan sudah sehat kembali ketika aku pulang.”

“jagalah dirimu baik-baik dalam perjalanan dan cepatlah pulang dengan selamat,” kata Nyonya Peng sambil mengusap air matanya. Berangkatlah Shi Men, diantar oleh lima orang isterinya yang lain sampai ke pintu gerbang dan menunggu di depan pintu gerbang sampai suami mereka dan rombongannya menghilang di sebuah tikungan jalan. Perjalanan itu cukup jauh, membutuhkan waktu sepuluh hari barulah Shi Men tiba di Pintu Gerbang Selaksa Keturunan, dan memasuki Kotaraja timur. Di sepanjang perjalanan, banyak dia melihat pembesar-pembesar lainnya dengan rombongan masing-masing menuju ke tempat yang sama untuk memberi hormat dan selamat kepada Perdana Menteri Cai yang berulang tahun.

Shi Men langsung menuju ke gedung Kepala Pengawal Ti yang sudah dikenalnya dengan baik. Ti- Ciangkun menyambut Shi Men dengan pesta yang mewah sekali. Kesempatan ini dipergunakan oleh Shi Men untuk minta bantuan Ti-Ciangkun agar dia dapat diterima menghadap secara terpisah dari para tamu lain oleh Perdana Menteri agar dia dapat bercakap-cakap langsung dengan pembesar tinggi itu. Juga dia mengharapkan bantuan dan dorongan Ti-Ciangkun agar Perdana Menteri itu mau menerima dia sebagai “anak angkat”, julukan yang diberikan kepada pembesar-pembesar bawahan yang “dilindungi” oleh Perdana Menteri. Melihat daftar hadiah yang amat banyak yang dibawa Shi Men, Ti-Ciangkun menjawab gembira.

“Harap jangan khawatir. Biarpun kami adalah bangsawan-bangsawan dengan kedudukan tinggi, bagaimanapun juga kami adalah manusia yang mempunyai kehormatan dan kasih. Melihat daftar hadiah yang anda bawa, saya merasa yakin bahwa Perdana Menteri akan menerima anda sebagai anak angkat, bukan saja itu, bahkan besar kemungkinan anda akan diberi kenaikan pangkat.”

Tentu saja Shi Men menjadi girang bukan main dan malam itu terpaksa dia harus tidur sendirian di sebuah kamar tamu yang indah. Tentu saja dia yang biasa tidur dengan seorang wanita setiap malam, merasa gelisah dan sukar pulas. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ti-Ciangkun sudah menghadap Perdana Menteri sambil membawa daftar barang hadiah yang dlbawa oleh Shi Men dan tak lama kemudian, setelah Shi Men makan pagi dengan royal, Ti-Ciangkun menemuinya dan mengatakan bahwa Perdana Menteri berkenan menerimanya sebelum menerima para tamu lain yang hendak menghaturkan selamat.

Berangkatlah mereka berdua memasuki Istana Sang Perdana Menteri. Di sepanjang jalan memasuki Istana yang besar itu, tiada habisnya Shi Men mengagumi prabot-prabot ruman dalam Istana itu, yang membuat seisi rurnahnya sendiri nampak tidak ada artinya sama sekali, bahkan miskin! Ruangan- ruangan yang serba indah, yang selamanya belum pernah dilihatnya, membuat Shi Men merasa sesak bernapas saking kagumnya. Taman-taman indah dengan segala macam burung, sampai merak menghiasinya, bunga-bunga yang belum pernah dilihatnya, semua itu membuat Shi Men merasa dirinya kecii dan rendah. Akhirnya mereka tiba di Ruangan Pertemuan di mana Sang Perdana Menteri biasanya menerima tamu.