-->

Si Teratai Emas Jilid 2

Jilid 2

“Hem, jangan khawatir, Bibi. Aku akan memenuhi semua permintaanmu.”

“Bagus kalau begitu. Saya mempunyai rencana yang baik sekali untuk mempertemukan Kongcu dengan si cantik manis itu.”

“Begitukah? Lekas katakan bagaimana rencana itu!” kata Shi Men. girang.

“Pertama-tama Kongcu harus pulang dengan tenang, dan tiga atau enam bulan kemudian kembali ke sini untuk membicarakan lagi urusan ini,” Nenek itu menggoda.

“Gila! Ini penyiksaan namanya! Ingat hadiah yang akan kuberikan padamu, Bibi Wang.”

“Ha-ha, sabarlah, Kongcu. Memang benar bahwa nona Pang Kim Lian adalah keturunan orang biasa saja. Ayahnya, Kakek Pang, hanya seorang penjahit kecil di luar Gerbang Selatan, akan tetapi ia cerdik dan terpelajar. la dapat bernyanyi dan bermain siter, bermain dadu dan catur. la pandai pula membaca sajak, dan pandai dalam segala pekerjaan rumah tangga. la mempelajari nyanyian dan permainan musik di rumah keluarga Thio Wangwe yang kaya raya. Dialah yang menghadiahkan si cantik itu kepada Si Cebol Bu Toa. la hanya sendirian di rumah, bersama anak tirinya dan saya sering menemaninya. la sering bertanya nasihat kepada saya dan hubungan kami akrab sekali.” “Baik sekali kalau begitu, Bibi Wang,” kata Shi Men ketika wanita tua itu menghentikan kata-katanya, untuk mendesak agar Nenek itu melanjutkan ceritanya tentang wanita yang membuatnya tergila-gila itu.

“Sekarang rencanaku begini, Kongcu. Pertama-tama, belilah dua gulung kain sutera, biru dan putih, juga segulung sutera putih yang halus, juga sepuluh, tali kain kapas yang baik. Kirimkan semua itu kepada saya. Saya akan mengunjunginya kemudian, berpura-pura menanyakan tanggal dan hari baik untuk menjahitkan pakaian kepada tukang jahit. Jika ia tidak menawarkan pekerjaan menjahit itu untuk dikerjakan sendiri, berarti rencana kita gagal. Namun jika ia mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menjahitkan kebutuhan saya, berarti rencana kita berhasil sepersepuluh bagian. Jika kemudian, atas bujukan saya, ia mau datang ke sini untuk melakukan pekerjaan itu, berarti dua persepuluh bagian rencana kita berhasil. Saya lalu akan mempersiapkan arak dan makanan dan minta kepadanya untuk makan di sini. Kalau ia menolak, berarti rencana kita gagal. Kalau ia mau, berarti tiga sepersepuluh bagian rencana kita berhasil.”

Shi Men mendengarkan sambil mengangguk-angguk dan menggosok-gosok ke dua telapak tangannya, membayangkan betapa rencana itu akan berhasil setapak demi setapak dan diam-diam dia mengagumi kecerdikan Nenek ini.

“Untuk sementara Kongcu jangan datang ke sini sampai kunjungannya yang ke tiga. Kongcu datanglah lewat tengah hari, mengenakan pakaian terindah, dan ketika datang Kongcu batuk-batuklah di luar. Kemudian saya keluar dan katakan bahwa sudah lama Kongcu tidak datang berkunjung dan ingin menikmati minum semangkuk teh. Saya lalu akan minta Kongcu masuk. Jika nona Kim Lian bangkit dan pergi ketika Kongcu masuk dan saya tidak dapat menahannya, berarti rencana kita gagal. Kalau ia mau tinggal, rencana kita berhasil empat persepuluh bagian, Kemudian saya akan memperkenalkan Kongcu sebagai pemberi sutera-sutera itu dan menceritakan kepadanya tentang semua kebaikan dan keroyalan Kongcu. Di pihak, Kongcu, Kongcu harus memuji kepandaian dan keterampilannya. Kalau ia menjadi canggung dan tidak berani menjawab, gagallah rencana kita. Kalau ia menjawab, setengah bagian rencana kita berhasil baik.”

“Aku akan berusaha sebaik mungkin, Bibi Wang.” kata Shi Men sebagai seorang murid yang patuh. “Saya lalu akan membujuk agar pertemuan yang kebetulan antara dua orang yang telah berbuat baik terhadap saya, Kongcu yang memberi kain dan ia yang menjahitkan, dihormati dengan suguhan arak. Dan Kongcu agar cepat mengeluarkan úang dan menyuruh saya membeli arak. Kalau ia menolak saja tinggal sendirian bersama Kongcu, berarti rencana kita gagal. Kalau ia tinggal duduk, berarti enam persepuluh bagian berhasil. Saya akan membawa uang itu dan pergi membeli arak, dan minta kepadanya untuk menemani Kongcu, kalau ia menolak dan memaksa diri untuk pergi, berarti gagallah rencana kita. Kalau ia mau, tujuh persepuluh bagian rencana kita berhasil baik. Saya akan kembali membawa arak, mengeluarkan hidangan dan arak dan minta kepadanya untuk menemani kita minum arak. Kalau ia menolak minum semeja dengan kengcu berarti rencana kita gagal sama sekali. Kalau ia hanya pura-pura berkeberatan namun tidak beranjak dari bangkunya, kita berhasil delapan persepuluh bagian.”

Kembali Nenek itu berhenti dan Shi Men sudah berkeringat walaupun hawa cukup sejuk. Membayangkan semua keberhasilan itu membuat dia bernafsu sekali dan dia ingin mendengar kelanjutan rencana itu.

“Lalu bagaimana, Bibi Wang? Lanjutkanlah!” Nenek itu pura-pura mengerutkan alisnya dan berpikir. “Kita bertiga lalu minum beberapa cawan. Kalau bicaranya mulai lepas dan sikapnya mulai lunak, saya akan mengatakan bahwa araknya habis dan Kongcu memberi uang lagi kepada saya. Saya akan meninggalkan kalian untuk membeli arak lagi. Setelah keluar, saya akan mengunci pintu depan. Kalau ia ketakutan dan memaksa diri hendak pergi, gagallah rencana kita. Kalau ia membiarkan saja saya mengunci pintu, rencana kita berhasil sembilan persepuluh bagian.”

“Lalu bagaimana, lalu bagaimana baiknya, Bibi Wang.” Shi Men mendesak.

“Masih ada sepersepuluh bagian lagi yang harus dimenangkan, dan berhasil tidaknya bagian terakhir ini, tergantung dari kemampuan Kongcu sendiri. Setelah pergi, Kongcu harus menghujaninya dengan pujian dan kata-kata yang muluk-muluk dan manis, dan jangan takut mempergunakan belaian. Carilah akal. Misalnya, jatuhkan sumpit Kongcu dari meja tanpa disengaja nampaknya, dan ketika mencari sumpit belailah kakinya. Jika ia marah-marah dan memaki-maki, saya akan masuk dan membantu Kongcu agar tidak mendapatkan malu. Tentu saja kalau hal itu terjadi, berarti gagallah semua rencana kita. Maka, Kongcu harus pandai membawa diri.”

“Aku pasti berhasil!” Shi Men mengepal tinju, merasa yakin akan kepandaiannya merayu wanita. “Kalau sudah berhasil, apakah Kongcu akan ingat kepada saya?”

“Tentu saja! Engkau telah merencanakan dengan bagus sekali, Bibi Wang, dan kalau sudah berhasil, aku akan memberi hadiah yang cukup banyak. Akan tetapi, kapankah rencana ini akan dilaksanakan?”

“Sekarang juga, Kongcu. Si kerdil sedang pergi berjualan, saya akan menemui nona Kim Lian untuk membicarakan urusan memilih hari baik untuk menjahitkan. Kongcu cepatlah kirim semua keperluan itu sekarang juga, dan hasilnya akan dapat saya beritahukan Kongcu malam ini.”

“Bagus, akan segera kukirimkan kain sutera itu.” Shi Men lalu cepat meninggalkan kedai Bibi Wang untuk melaksanakan rencana itu. Setelah membeli semua keperluan yang dipesan Bibi Wang, dia lalu mengutus Siauw Thai, pelayannya, untuk mengirimkannya kepada Bibi Wang. Janda Wang mengunjungi Kim Lian melalui pintu belakang. Kim Lian menyambutnya dengan ramah karena sudah biasa janda tua ini menemaninya bercakap-cakap dan Nenek ini biasanya membawa kabar-kabar yang menegangkan dan menggembirakan untuk didengar.

“Aih, sudah lama nona tidak pernah mengunjungi tempatku yang buruk,” kata janda Wang. la memang biasa menyebut “nona” kepada Kim Lian, seolah-olah menganggap Kim Lian masih seorang gadis saja, dan agaknya sebutan ini malah menyenangkan hati Kim Lian karena seperti membuat ia lupa bahwa ia telah menjadi isteri seorang laki-laki seperti Bu Toa.

“Akhir-akhir ini aku malas untuk meninggalkan rumah, Bibi Wang.”

“Apakah nona mempunyai penanggalan di dalam rumah? Saya ingin memilih tanggal dan hari baik untuk pergi ke tukang jahit.”

“Bibi hendak menjahitkan apakah?”

“Aih, Nenek tua ini bernasib buruk, makin lama makin tua dan harus memikirkan kematianku, sedangkan puteraku tidak berada di rumah.” “Di manakah anakmu itu, Bibi Wang?”

“Dia pergi mengikuti seorang pedagang keliling pergi ke daerah-daerah asing. Dia tidak pernah menyurat dan setiap hari aku menjadi semakin gelisah memikirkannya.”

“Berapakah usianya, Bibi?” “Tujuh belas tahun.”

“Kenapa tidak dicarikan isteri saja? Dengan demikian akan ada seseorang yang membantumu dengan pekerjaan rumah.”

“Betul juga. Akan tetapi tanpa ada yang membantu rumah, aku tidak sempat pergi mencari seorang calon mantu. Akan tetapi kalau dia pulang, aku akan bicara tentang hal ini dengannya. Akhir-akhir ini aku menderita sesak napas dan batuk-batuk. Seluruh tubuhku sakit-sakit. Aku harus memikirkan pakaian kematianku. Kebetulan sekali seorang hartawan yang baik hati, yang sering kali menolongku karena aku suka bekerja sebagai perawat orang sakit di rumahnya, atau mencarikan pelayan atau selir untuknya, hartawan yang dermawan ini telah menghadiahkan sutera-sutera yang cukup bagus untuk menjadi bahan pakaian kematianku. Bahan-bahan itu telah kusimpan lebih dari setahun di dalam almariku. Akan tetapi belum juga kubuatkan pakaian, sekarang, melihat keadaan kesehatanku, aku tidak boleh menundanya. Akan tetapi, tukang jahit langgananku itu menolak, mengatakan, dia memiliki pekerjaan bertumpuk dan tidak sempat mengerjakan pakaianku. Aih, agaknya si tua bangka ini masih harus bersusah payah sendiri, dan mataku sudah kurang awas untuk memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Ahhh nasibku yang buruk.” Kim Lian tersenyum.

“Bibi yang baik, kalau saja engkau tidak, kecewa melihat hasil pekerjaanku, aku suka sekali membantumu. Aku akan menjahitkan pakaianmu dalam beberapa hari ini.”

“Aih, kalau saja nona sudi! Dengan mengenakan pakaian kematian hasil jahitanmu, wah, aku akan dapat mati dengan mata tertutup. Aku sudah mendengar akan kepandaianmu menjahit, nona Kim Lian.”

“Jangan terlalu memuji, Bibi, Aku suka membantu, karena akupun tidak memiliki pekerjaan yang merepotkan, Nah, bawalah penanggalan ini dan pilih hari mujur untuk memulai jahitan itu.”

“Akan tetapi, nona yang baik, perlukah aku pergi mencari seseorang untuk membacakan penanggalan dan memilihkan hari baik, kalau nona sendiri adalah seorang yang terpelajar dan pandai membaca dan memilih hari baik untukku?”

“Aku sudah lama lupa akan semua yang kuketahui, Bibi.”

“Aihh, alasan saja, siapa mau percaya? Tolonglah, pilihkan hari baik untukku,” Nenek itu menggembalikan penanggalan kepada Kim Lian. Kim Lian tidak berpura-pura lagi dan membaca.

“Esok hari dan lusa merupakan hari gelap. Akan tetapi keesokan harinya lagi adalah hari yang mujur.” Janda Wang dengan tak sabar mengambil penanggalah itu dan memasangnya lagi di atas dinding. “Kenapa susah-susah amat memilih hari baik untuk itu? Kenyataan bahwa nona mau membantuku menjahit sudah merupakan suatu kemujuran besar bagiku.”

“Kalau Bibi berpendapat begitu, sebetulnya kalau menjahit pakaian kematian, hari yang gelap malah lebih tepat,” kata Kim Lian.

“Asal saja nona membantuku, hari apapun, jadilah, baik atau buruk. Kalau begitu, apakah besok pagi aku boleh mengharapkan kunjungan nona ke gubukku?”

“Aih, kenapa? Tidakkah lebih baik kalau Bibi yang datang ke sini?”

“Aku akan senang sekali melihat nona menjahit di sini, akan tetapi aku tidak mungkin dapat meninggalkan rumah karena tidak ada siapa-siapa lagi di rumah. Aku sungguh mengharapkan nona akan sudi datang ke rumahku saja untuk mengerjakan jahitan itu.” la membujuk.

“Benar juga. Baiklah, Bibi Wang. Besok sehabis makan pagi, aku akan datang ke rumahmu.” Bukan main girangnya hati janda Wang ketika ia berpamit dan meninggalkan rumah Kim Lian sambil membungkuk- bungkuk menghaturkan terima kasih. Awal rencananya berhasil dengan baik sekali dan malam itu juga ia mengirim berita kepada Shi Men bahwa rencananya berhasil dan pada hari ke tiga, pria itu diharapkan datang berkunjung seperti yang telah direncanakan.

Kim Lian memenuhi janjinya kepada Bibi Wang. Pada, keesokan harinya setelah suaminya berangkat berjualan, ia mengunjungi rumah janda Wang melalui pintu belakang. Nenek itu menyambutnya dengan semangkuk air teh yang kental dan panas. Kim Lian lalu mulai bekerja, mengukur dan memotong kain sutera itu dengan hati-hati, menggunakan jari-jari tangannya yang lentik dan kecil mungil. Bibi Wang mengamati pekerjaannya dan memujinya tiada hentinya. Kim Lian bekerja dengan tekun dan hati-hati, tidak tergesa-gesa karena ia hendak membuat pakaian kematian itu serapi mungkin. Pada siang harinya, janda Wang mengajak Kim Lian makan siang, dan wanita muda yang cantik itu bekerja sampai hari menjadi sore. Ketika ia kembali ke rumah, kebetulan Bu Toa juga baru tiba. Dia melihat isterinya baru masuk rumah dan segera bertanya.

“Dari mana saja engkau?”

“Dari rumah Bibi Wang. la minta tolong kepadaku untuk menjahitkan pakaian kematiannya dan ia mengajakku makan siang di rumahnya.”

“Eh, sebaiknya engkau tidak makan siang di sana. Kita selalu menerima kebaikan darinya. Makanan itu memang tidak ada artinya akan tetapi lebih baik kau pulang makan di rumah sehingga tidak mendatangkan beban baginya. Kalau sudah begitu, sebaiknya kalau engkau pergi lagi besok kepadanya, engkau membawa sedikit uang dan memberikan kepadanya agar perhitungan menjadi lunas. Tetangga lebih penting daripada keluarga yang jauh. Kita harus menjaga agar jangan menyusahkan tetangga. Kalau ia menolak pemberianmu, lebih baik engkau melakukan penjahitan itu di rumah saja.” Kim Lian mendengarkan tanpa membantah. Pada keesokan harinya, ketika ia bekerja menjahit di rumah janda Wang dan menjelang siang, ia mengeluarkan tiga ratus uang tembaga dan menyerahkannya kepada janda Wang.

“Inilah, Bibi Wang, untuk beli makanan dan minuman.” “Heii, apa artinya ini?” Janda Wang berseru heran. “Aku minta bantuanmu, dan engkau malah memberi uang kepada ku untuk makanan. Apakah barangkali makanan yang kuhidangkan tidak mencocoki seleramu, nona?”

“Bukan begitu, Bibi. Suamiku yang bodoh yang menghendakinya. Jika engkau tidak mau menerima uang ini, aku harus menyelesaikan. pekerjaan jahitan ini di rumah.”

“Ah, suamimu yang terhormat itu sungguh sungkan sekali, nona. Baiklah kalau memang nona menghendaki, aku menerima pemberianmu ini.” kata Nenek itu cepat-cepat karena ia melihat bahaya dalam rencananya. la menambahkan beberapa uang kecil lagi dari kantungnya sendiri lalu membeli arak yang baik dan masakan-masakan yang lezat untuk makan siang mereka. Menjelang sore, Kim Lian meninggalkan rumah itu, diiringkan ucapan terima kasih berulang kali oleh Nenek Wang. Pada hari ke tiga, ketika Kim Lian sedang menjahit dan janda Wang duduk menemaninya, tiba-tiba terdengar orang batuk-batuk di luar, kemudian disusul suara yang nyaring.

“Hai, Bibi Wang! Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Bibi yang baik!” Janda Wang memicingkan matanya dan mengangkat muka memandang ke arah luar. Siapakah yang berada di luar?”

“Aku, Bibi, aku Shi Men.”

“Ah, kiranya Shi-Kongcu (Tuan muda Shi) yang datang. Silakan masuk Kongcu, silakan masuk!” Munculah Shi Men yang mengenakan pakaian indah dan baru, menggerakkan kipasnya buatan Se-Cuan yang indah, wajahnya berseri dan tampan, sekali. Setelah Shi Men masuk, Ia segera melihat Kim Lian yang sedang menjahit. Kim Lian juga mengangkat muka memandang dan wajahnya yang cantik itu segera menunduk, warna kemerahan menjajar keatas sepasang pipinya yang sudah merah.

“Nona Kim Lian, perkenankan aku memperkenalkan pemberi kain sutera bahan pakaian yang kau jahit ini, Tuan muda Shi Men.” Shi Men terpesona dan tak mampu mengalihkan pandang matanya dari wajah yang jelita itu, yang menunduk di atas tumpukan kain yang sedang dijahitnya, rambutnya yang hitam panjang itu terurai dari sanggulnya, manis sekali. Kim Lian hanya menundukkan mukanya dan sikapnya ini menambah daya tariknya, ini membuat Shi Men beberapa kali menelan ludah sebelum dapat mengeluarkan suara.

“Terimalah hormat saya, nona,” katanya dengan suara agak gemetar. Mendengar ini, dan ketika mangerling Ia melihat pria itu menjura dengan hormatnya, Kim Lian terpaksa mengesampingkan jahitannya, dan membalas penghormatan itu.

“Semoga Kongcu berbahagia.”

“Kongcu yang baik, ketahuilah, sampai sekarang saya belum juga mendapat kesempatan untuk mengerjakan kain, yang Kongcu berikan kepada saya setahun yang lalu. Dan sekarang, berkat bantuan jari-jari tangan yang demikian ahli dari nona Pang Kim Lian, bahkan pakaian itu baru dapat dijahit. Dan betapa indah dan rapinya jahitan-jahitannya Kongcu, mengagumkan sekali! Sukar dipercaya kalau tidak melihat sendiri. Coba mendekatlah, dan lihat sendiri, betapa rapi dan indahnya jahitan ini!” Shi Men melangkah maju mendekat.

“Ah, bukan main! Seperti hasil pekerjaan para dewi saja!” serunya penuh kagum. “Aih, jangan Kongcu terlalu memuji!.” kata Kim Lian sambil tersenyum dan kepalanya makin menunduk. Walaupun mulutnya berkata demikian, namun jantungnya berdebar saking girang dan bangganya menerima pujian itu.

“Bolehkeh aku tahu dari keluarga manakah nona ini?” tanya Shi Men sambil menoleh kepada janda Wang, pura-pura tidak tahu.

“Coba silakan menerka kalau Kongcu bisa.” kata janda Wang, sedangkan Kim Lian makin menundukkan mukanya.

“Saya tidak mampu menerka.”

“Kalau begitu biarlah saya beritahukan Kongcu. Akan tetapi, silahkan duduk dulu, Shi Kongcu.” Janda Wang menarik kursi yang tepat berhadapan dengan Kim Lian.

“Ingatkah Kongcu, tempo hari ketika Kongcu melewati depan sebuah rumah, Kongcu menerima hantaman sebatang bambu penyangga tenda?”

“Oh, peristiwa itu? Ya, aku ingat dan ingin kuketahui rumah siapakah itu.” Kim Lian menjadi malu sekali dan ia berkata dengan suara lirih.

“Saya harap Kongcu tidak lagi marah karena kecerobohan saya itu.” “Apa? Apa yang nona maksudkan? Saya tidak mengerti.”

“Ah, Kongcu ia inilah orangnya yang memukul kepala Kongcu dengan bambu itu, ia adalah isteri dari tetangga saya yang bernama Bu Toa,” kata janda Wang.

“Ah, kiranya nona sendirikah orangnya? Maaf, saya bersikap kurang hormat,” kata Shi Men sambil menjura lagi. Janda Wang menoleh kepada Kim Lian.

“Apakah nona tidak mengenal Tuan muda ini?” “Tidak.”

“Dia adalah yang terhormat Tuan muda Shi Men, seorang di antara mereka yang paling kaya di daerah ini. Dia mendapat kehormatan untuk menjadi sahabat pribadi Yang Mulia kepala daerah ini, dan kekayaannya tak dapat dihitung lagi saking banyaknya. Toko obat yang besar di dekat benteng itu adalah miliknya, dan di dalam gudang berasnya bertumpuk beras sampai membusuk saking banyaknya dan tidak termakan. Segala sesuatu yang kuning dalam rumahnya adalah emas, segala yang putih perak, segala yang bundar mutiara, dan segala yang berkilau adalah berlian, dan di sana terdapat pula tanduk badak gading gajah yang serba mahal. Isterinya yang pertama adalah puteri dari keluarga Wu, komandan yang telah pensiun dari kota, la amat pandai dan bijaksana, hal ini saya ketahui benar karena sayalah yang mengatur pernikahannya. Akan tetapi, Shi-Kongcu, kenapa sedemikian lamanya Kongcu tidak pernah datang menjenguk saya?” “Pertunangan puteriku membuat aku sibuk selama beberapa hari ini,” kata Shi Men yang kemudian menceritakan tentang keadaan keluarganya kepada janda Wang. Dalam percakapan mereka ini, janda Wang berusaha keras untuk menonjolkan segala kekayaan dan kebaikan Shi Men.

Sementara itu, Kim Lian melanjutkan pekerjaannya, menjahit dengan diam, dengan kepala tunduk, namun ia membuka telinga mendengarkan seluruh percakapan itu dengan hati tertarik. Dengan hati yang puas, Shi Men yang berpengalaman itu dapat melihat bahwa rencananya telah dimenangkan sepersepuluh bagian dan dia merasa menyesal sekali harus bersabar dan tidak dapat segera merangkul si cantik jelita yang menggairahkan hatinya itu. Dia bersabar hati, maklum bahwa dia harus melaksanakan rencana itu setapak demi setapak kalau dia ingin berhasil dengan sempurna. Saatnya tiba bagi janda Wang untuk melaksanakan siasatnya, membujuk kepada hartawan muda itu bahwa seyogianya Shi Men membeli seguci arak yang baik untuk menghormati Kim Lian. Shi Men berpura-pura kaget.

“Ah, karena tak menyangka-nyangka akan bertemu dengan nona yang terhormat ini maka aku tidak bersiap-siap. Untung, aku membawa uang. Nah, ambillah ini dan belilah arak yang baik, Bibi Wang.” Kim Lian memberl isyarat dengan pandang mata dan gerakan tangannya kepada janda Wang agar wanita tua itu tidak menerima uang pemberian Shi Men, akan tetapi Nenek itu maklum bahwa sikap nyonya muda ini hanya pura-pura saja karena bagaimanapun juga, wanita cantik itu tidak bangkit dari tempat duduknya. Karena itu janda Wang tidak memperdulikan isyaratnya, melainkan segera membeli arak.

“Bolehkan saya mohon kepadamu, nona Kim Lian, untuk menemani. Tuan muda Shi Men sebentar? Saya akan segera kembali.”

“Ah, sebaiknya tidak begitu, Bibi Wang,” kata Kim Lian dengan sikap malu malu, namun penolakannya ini amat lemah karena ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Janda Wang pergi tergesa-gesa meninggalkan mereka berdua saja. Keduanya berdiam diri. Sepasang mata Shi Men seolah-olah hendak menelan bulat-bulat tubuh wanita cantik yång duduk di depannya, sebaliknya Kim Lian menunduk di atas jahitannya, akan tetapi tak dapat menahan untuk tidak melirik sesekali kepada pria yang amat menarik hatinya itu. Tak lama kemudian janda Wang kembali, membawa arak yang baik, bebek panggang, daging tim, ikan kuah, sayur-sayuran dan masakan-masakan pilihan, juga buah-buahan terbaik. Semua itu lalu diaturnya di atas meja dan dengan wajah berseri Nenek itu lalu berkata kepada Kim Lian.

“Nona yang baik, hentikanlah dulu pekerjaanmu, dan marilah minum secawan dua cawan arak bersama kami.”

“Aih, tidak, Bibi Wang. Hal itu makin tidak pantas bagiku, lebih baik engkau menemani Tuan muda ini makan minum!”

“Hayaa, nona Kim Lian yang Baik, kenapa begitu? Justeru untuk menghormatimulah maka Shi-Kongcu membeli semua ini, Marilah, nona, jangan sungkan-sungkan karena Kongcu bermaksud baik.” Tanpa menanti jawaban, janda Wang menaruh beberapa mangkuk masakan pilihan dan arak di depan Kim Lian. Pada permulaannya masih ada sikap malu-malu dan sungkan pada diri Kim Lian, dan sikap Shi Men juga penuh dengan penghormatan dan kesopanan sehingga lambat laun kecanggungan yang terasa oleh Kim Lian mulai menipis. Setelah memberi selamat dengan minum arak sampai yang ke tiga kalinya, ketika janda Wang meninggalkan kamar sebentar untuk mengambil arak lagi, sikap mereka sudah lebih leluasa dan bebas. “Kalau saya boleh bertanya, berapakah usia nona sekarang?” Shi Men bertanya dengan sikap hormat dan penuh kesopanan.

“Dua puluh lima...” Jawab Kim Lian lirih.

“Ah, kalau begitu usiamu sebaya dengan isteriku. la lahir pada tahun Naga, tanggal dua puluh lima bulan depan.”

“Aih, terlalu tinggi penghormatan itu bagi saya! Membandingkan saya dengan isteri pertama Kongcu, sama dengan membandingkan langit dan bumi.” Janda Wang yang sudah kembali dan mendengarkan percakapan itu, diam-diam girang melihat şikap Kim Lian yang sudah lebih bebas dan iapun cepat menyambung,

“Ah, nona Pang Kim Lian memperoleh pendidikan yang tinggi. la tidak hanya pandai menjahit dengan indah dan rapi, akan tetapi ia hafal pula akan seratus sajak dan semua filsafat, belum lagi kepandaiannya dalam tulis menulis, bermain catur, melempar dadu dan bermain kartu, menafsirkan lambang-lambang dan masih banyak lagi kepintarannyą dalam segala macam pekerjaan halus.”

“Bukan main! Di mana bisa didapatkan begitu banyak kebaikan dimiliki oleh seseorang?” Shi Men berseru penuh kekaguman.

“Hemm, saya si tua bangka ini tidak mengada-ada, akan tetapi, Shi-Kongcu coba katakan, apakah ada wanita di dalam keluarga Kongcu yang dapat dibandingkan dengan nona Pang Kim Lian, baik kecantikannya maupun kepandaiannya?” Shi Men mengangguk-angguk.

“Engkau benar, Bibi Wang. Memang nasibku malang sekali. Aku tak pernah berhasil membawa pulang seorang wanita yang tepat dan cocok. Aahhh, memang aku sial...”

“Bagaimana dengan isteri Kongcu yang meninggal itu, keturunan keluarga Cen Itu?” Yang dimaksudkan oleh janda Wang adalah isteri pertama Shi Men yang telah meninggal dunia, sebelum menikah dengan Goat Toanio sebagai isteri pertamanya.

“Aih, membicarakan dia menambah kedukaanku, Bibi Wang. Benar bahwa ia adalah keturunan orang biasa, akan tetapi ia pandai dan bijaksana! Aku dapat mempercayanya dalam segala hal. Sungguh celaka bagiku, ketika tiga tahun yang lalu ia meninggal dunia. Kalau saja ia masih ada, tidak akan begini jadinya di dalam rumah tanggaku. Tidak ada di antara isteri-isteriku yang tahu akan kewajiban. Aku membutuhkan seorang selir yang bijaksana. Isteriku selalu berpenyakitan sehingga rumah tanggaku menjadi kacau. Inilah sebabnya mengapa aku selalu keluar rumah, karena di rumah aku tidak memperoleh kebahagiaan.”

“Harap jangan marah kalau saya bicara sejujurnya, Shi-Kongcu. Akan tetapi baik isterimu yang pertama maupun isterimu yang sekarang tidak dapat dibandinglan dengan nona Kim Lian ini baik lahir maupun batinnya.”

“Memang benar, baik kecantikannya maupun kebijaksanaannya.” “Akan tetapi Kongcu mempunyai seorang kekasih di Jalan Timur, bukan? Kenapa tidak mengiutus saya menjadi perantara melamarnya?”

“Ah, si mungil Chang yang merdu sekali suara nyanyiannya. Akan tetapi setelah aku mendengar bahwa ia suka menyeleweng, saya tidak lagi tertarik kepadanya.”

“Dan nona Li Kiao, yang mungil itu, yang datang dari rumah hiburan? Bukankah Kongcu sudah lama mengenalnya?”

“Sekarang ia menjadi isteriku yang kedua. Sayangnya, la sama sekali tidak mampu mengurus rumah tangga. Kalau ia pandai, tentu sudah kuangkat menjadi isteri pertama.

“Akan tetapi Kongcu selalu memuji nona Co Tiu!”

“Aih, jangan bicara tentang dirinya. la telah menjadi isteriku yang ke tiga, akan tetapi belum lama ini ia jatuh sakit dan meninggal dunia.”

“Ya Tuhan! Kasihan sekali kau, Shi-Kongcu. Bagaimana kalau saya mengenal seorang wanita yang cocok untuk Kongcu, apakah tidak ada keberatannya kałau saya datang untuk membicarakan dan mengusulkannya?”

“Karena kedua orang tuaku sudah tiada, maka akulah kepala keluarga. Siapa yang dapat melarangku?”

“Maaf, saya hanya bergurau, Kongcu Akan tetapi bagaimana saya bisa mendapatkan seorang gadis yang tepat dan cocok untukmu dalam waktu dekat?”

“Kenapa tidak, Bibi Wang? Carikanlah saja, ah, betapa malang nasibku dalam kehidupan rumah tanggaku...” Shi Men menarik napas panjang dengan muka berduka.

“Wah, araknya habis sama sekali!” tiba-tiba Nenek itu berseru.

“Aih, selagi orang ingin sekali minum, arakmya habis. Maafkan saya. Bagaimana kalau saya membeli lagi seguci?” Shi Men cepat mengeluarkan uang dan menyerahkannya kepada Bibi Wang.

“Ambillah semua uang ini dan belikan arak secukupnya agar jangan sampai kehabisan lagi, Bibi Wang.” Nenek itu menerima uang dan mengucapkan terima kasih, kemudian pergi setelah lebih dulu melirik ke arah Kim Lian. Tiga cawan arak yang telah diminum Kim Lian nampaknya telah memperlihatkan pengaruhnya. Wajahnya kemerahan penuh gairah. Tentu saja semua percakapan tadi dimengertinya benar kemana arahnya dan selama itu ia tadi mendengarkan dengan diam, tanpa bergerak, dan dengan mata menatap ke lantai, akan tetapi jantungnya berdegup keras dan jalan darahnya berdesir cepat di seluruh tubuhnya. Sambil menyeringai, Nenek Wang menoleh kepada Kim Lian.

“Saya akan pergi ke Jalan Timur untuk membeli arak terbaik. Harap nona suka menemani Kongcu sampai saya kembali.”

“Demi aku, jangan pergi, Bibi,” Kim Lian memprotes, akan tetapi ia tidak bangkit dari tempat duduknya. Nenek Wang hanya tersenyum penuh arti, keluar dari kamar itu dan menutupkan pintu dari luar bahkan mengunci pintu. dari luar mengikatkan tali pada pegangan daun pintu Kemudian la duduk di luar dan mulai memintal benang. Kini Shi Men dan Kim Lian berada di dalam ruangan tertutup itu, berdua saja, Kim Lian mendorong kursinya mundur dari meja, menundukkan mukanya dan diam-diam melirik Shi Men berulang kali. Sebaliknya, Shi Men menatap kepadanya dengan mata kemerahan, mengandung penuh gairah nafsu. Akhirnya, dengan suara agak gemetar bersama dengan degup jantungnya yang mengencang, Shi Men bertanya.

“Siapakah nama suami nona seperti yang diceritakan Bibi Wang? Saya lupa...”

“Bu,” jawab Kim Lian singkat, karena hatinya tidak senang membicarakan suaminya. “Oya, she Bu,” Shi Men mengulang sambil lalu.

“Bukan nama keluarga yang biasa di daerah ini. She Bu. Apakah barangkali si penjaja makanan yang bernama Bu Toan, yang disebut Si Cebol itu, masih ada hubungan keluarga denganmu?” Wajah Kim Lian menjadi merah sekali karena malu.

“Dia suami saya,” katanya lirih sembil menundukkan mukanya. She Men nampak terbelalak dan tertegun, kemudian dia berteriak,

“Aih, sungguh penasaran!”

“Hemm, siapakah yang membuat Kongcu penasaran?” tanya Kim Lien, menahan senyum.

“Penasaran untukmu, bukan untuku!” Dengan suara yang diatur seindah mungkin, Shi Men lalu memuji- muji kecantikan Kim Lian, menyatakan betapa seorang wanita secantik Kim Lian cukup pantas untuk menjadi seorang puteri dan hidup di istana, betapa membuat hatinya penasaran melihat kenyataan betapa -wanita secantik itu menjadi isteri seorang laki laki yang demikian mengecewakan. Semua pujian itu membuat Kim Lian makin menunduk, dan hanya kadang-kadang saja ia mengerling dan tersenyum penuh simpul.

“Aih, hawanya terasa gerah setelah minum arak!” Tiba-tiba Shi Men berkata dan membuka jubahnya dari, sutera hijau dan melemparnya ke arah dipan tempat tidur janda Wang. Ketika dia melakukan ini, lengan bajunya seperti tak disengaja telah menggeser sebuah sumpit yang jatuh di atas meja dan, ah, betapa mujur dia karena sumpit itu jatuh menggelinding ke bawah kaki Kim Lian! Dan ketika Shi Men mengisi cawan Kim Lian lagi dan ingin menawarkan makanan, tentu saja dia kehilangan sumpitnya.

“Wah, ke mana hilangnya sumpitku yang sebuah?”, tanyanya, pura-pura mencari di antara mangkok- mangkok sayuran.

“Inikah barangkali sumpit itu?” Kim Lian berkata sambil tersenyum, menekan sumpit itu dengan kakinya yang kecil. Shi Men melihat ke bawah meja.

“Ah, itu dia!” Dan pura-pura terkejut, diapun membungkuk, akan tetapi bukan sumpit yang dipegangnya, melainkan kaki wanita itu, Kim Lian tak dapat menahan rasa kegelian dan tertawa.

“Ihhh! Apa yang kau lakukan ini? Aku akan menjerit!” Shi Men segera berlutut di depan Kim Lian tanpa melepaskan kedua tangannya, “Nona yang baik budi, kasihanilah aku, laki-laki yang malang ini.” Dan... kedua tangannya membelai- belai. Kim Lian bangkit berdiri, tubuhnya menggigil.

“Ah, engkau laki-laki kurang ajar. Kupukul engkau, lepaskan, aku” Akan tetapi Shi Men yang tahu bahwa semua itu hanya pura-pura belaka, segera bangkit, memondong tubuh wanita yang membuatnya tergila- gila itu dan membawanya ke atas dipan Bibi Wang. Kim Lian yang memang sudah terbakar oleh gairah nafsu birahi sejak tadi, tidak membuat ribut lagi. Nafsu membuat orang buta terhadap segala apa yang dilakukannya, tidak perduli lagi akan sebuah akibat,

Tidak ingat akan keadaan sekeliling yang terasa hanyalah hasrat yang bernyala, gairah yang mendorong pemuasan berahi. Tidaklah mengherankan kalau seorang wanita muda seperti Pang Kim Lian lupa akan segala. Ketika ia masih remaja puteri, orang pertama yang menggaulinya hanyalah seorang hartawan tua renta Thio. Hartawan ini sudah amat tua dan lemah, tidak aneh kalau pria ini jauh daripada memuaskan hati seorang remaja puteri berusia lima belas tahun seperti Kim Lian pada waktu itu. Kemudian ia diperisteri oleh Bu Toan, seorang yang cebol dan buruk, yang tentu saja juga tidak memuaskan hati Kim Lian yang memang memiliki gairah yang besar. Maka, setelah kini ia bertemu dengan Shi Men, menerima pencurahan kasih sayang dengan belaian jari-jari tangan yang penuh pengalaman,

Mempunyai seorang kekasih seperti Shi Men yang selain masih muda juga tampan dan kuat dan berpengalaman, tentu saja ia merasa takluk dan puas. Buah cinta curian memang selalu terasa lebih menggairahkan, manis dan nikmat. Segala sesuatu yang dilarang memilki daya tarik yang amat kuat, karena di dalam melakukan sesuatu yang di larang itu sendiri sudah terdapat suatu ketegangan yang menggairahkan. Bunga dikebun orang selalu nampak lebih indah dari pada bunga di kebun sendiri. Mengapa kita selalu merasakan hal seperti itu? Rahasianya terletak kepada batin kita sendiri yang selalu menginginkan sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang tidak kita miliki, sesuatu yang baru dan yang berada diluar jangkauan tangan kita. Keinginan seperti inilah yang membuat segala sesuatu yang kita miliki menjadi hambar.

Mata kita selalu tertuju jauh ke depan,mencari dan mengejar yang berada didepan. Sehingga kita lupa bahwa segala keindahan sesungguhnya terletak pada saat ini. Dua orang pencari cinta itu, dua orang pelanggar susila dan penjina itu lupa diri, seperti mabuk tenggelam dalam lautan cinta yang sesungguhnya hanya gelimang nafsu berahi semata. Mereka mereguk anggur nafsu berahi sepuasnya dan setelah segala hasrat terlaksana, barulah mereka teringat akan ketidak wajaran itu. Keduanya membereskan pakaian dan Kim Lian sama sekali tidak tahu betapa semua perbuatannya itu sejak tadi diintai oleh Nenek Wang dari luar daun pintu! Baru saja ia duduk kembali di atas kursi, daun pintu terbuka dan masuklah janda Wang sambil berpura-pura terkejut dan berkata penuh perasaan sesal dan penasaran.

“Hayaaa. Apa saja yang kalian lakukan ini? Nona Kim Lian, aku minta engkau ke sini untuk menjahit, bukan, untuk berjina! Paling baik sekarang aku harus menemui suamimu dan menceritakan segala perbuatanmu ini kepadanya agar kelak aku tidak akan dia salahkan!” Janda Wang membalikkan tubuh hendak, pergi, seolah-olah hendak melaksanakan ancamannya dan Kim Lian yang menjadi merah sekali mukanya itu segera memegang ujung bajunya.

“Bibi Wang, kasihanilah aku,” katanya lirih, suaranya penuh permohonan. “Baik, akan tetapi dengan satu syarat bahwa mulai hari ini engkau harus mau menemui Shi-Kongcu setiap saat dia kehendaki. Kalau hal ini kau setujui, aku akan, diam saja. Kalau tidak, aku akan melaporkan kepada suamimu.” Kim Lian hanya menundukkan muka, tak mampu bicara saking malunya.

“Hayo, bagaimana?” Jawablah cepat Nenek itu mendesak.

“... aku berjanji.” kata Kim Lian, lirih sekali. Nenek Wang lalu berpaling kepada Shi Men.

“Nah, Kongcu yang baik, Kongcu telah memperoleh kepuasan dan terlaksanalah segala keinginan Kongcu, maka harap tidek melupakan semua janji kongcu, kalau tidak “ Nadanya mengancam.

“Jangan khawatir, Bibi, akan kupenuhi semua janjiku!” kata Shi Men. Mereka minum beberapa cawan arak lagi, kemudian Kim Lian terpaksa harus menyelinap kembali ke rumahnya melalui pintu belakang karena sudah tiba waktunya sang suami akan pulang dari pekerjaannya. Setelah wanita cantik itu pergi, janda Wang bertanya kepada Shi Men.

“Bagaimana, Kongcu? Apakah siasatku itu tidak hebat? “Bukan main! Aku berterima kasih sekali Bibi,”

“Dan bagaimana dengan nona itu? memuaskankah?”

“Hebat! la bagaikan setangkai bunga mawar hutan yang harum, bagaikan seekor kuda betina yang masih liar, senang sekali menundukannya.”

“Kalau begitu jangan lupakan janji hadiah itu.” “Akan kukirim setelah aku tiba di rumah.”

Pada keesokan harinya, baru saja Bu Toa berangkkat memikul dagangannya, Shi Men telah berada di rumah janda Wang mengantarkan hadiah dengan tambahan sepuluh tail perak kepada Nenek Itu. Dia datang mengantar sendiri hadiah itu karena semalam dia tidak tidur, wajah dan tubuh Kim Lian selalu terbayang di depan matanya. Begitu menerima hadiah ini Nenek Wang menjadi demikian gembiranya sehingga seketika itu juga ia menjemput Kim Lian untuk diajak menemui Shi Men. Shi Men menyambut kemunculan Kim Lian dengan wajah berseri. Tanpa malu-malu lagi dia menyambut dengan rangkulan mesra dan menarik tubuh yang molek itu ke atas pangkuannya, tanpa memperdulikan Nenek Wang yang tersenyum-senyum memperlihatkan, rongga mulut tanpa gigi.

“Apakah suamimu mengatakan sesuatu kemarin?” Janda Wang bertanya sambil lalu ketika ia menghidangkan air teh dan arak.

“Dia bertanya apakah aku sudah menyelesaikan pakaianmu. Aku mengatakan sudah, akan tetapi aku masih harus membuatkan sandal dan kaus kaki,” jawab Kim Lias malu-malu. Shi Men mengamati kekasih barunya itu dengan penuh perhatian dan gairah cinta berahi. Betapa cantiknya kekasihnya ini. Betapa kedua pipi yang halus itu menjadi kemerahan ketika ia minum arak dari cawan itu. Dan anak rambut yang melingkar-lingkar di pelipis dan dahi itu seperti lukisan seorang seniman yang amat pandai. Kekasihnya ini cantik jelita, begaikan seorang bidadari dari Buian! Dengan penuh gairah dan kemesraan, Shi Men mendekap kekasihnya dan mereka minum arak dari satu cawan. Ketika Shi Men mencium kekasihnya, janda Wang diam-diam meninggalkan mereka berdua saja dan menutupkan daun pintu.

“Berapakah sesungguhnya usiamu?” Kim Lian bertanya. “Tiga puluh lima tahun.”

“Berapa orang isterimu?”

“Di samping isteri pertama, aku mempunyai empat orang selir. Akan tetapi tak seorangpun dari mereka menyenangkan hatiku.”

“Berapa orang anakmu?”

“Hanya seorang anak perempuan yang tak lama lagi akan menikah?” Percakapan mereka itu tak lama kemudian dilanjutkan dengan bisik-bisik di atas dipan.

Mulai saat Kim Lian menyerahkan tubuhnya kepada Shi Men kemarin, setiap hari Kim Lian mengadakan pertemuan rahasia dengan Shi Men di dalam rumah janda Wang. Mereka itu seperti arak dan cawan, seperti ikan dan air, tak terpisahkan lagi, berenang di dalam lautan asmara curian di dalam kamar yang bergelimang dengan nafsu berahi itu. Sudah menjadi hal yang wajar bahwa perbuatan baik jarang diketahui orang lain dan agaknya tidak melangkah ambang pintu rumah, akan tetapi perbuatan yang buruk tersiar luas sampai ribuan mil jauhnya. Tak mungkin menutupi asap, tak mungkin menyimpan bangkai berbau busuk. Baru setengah bulan saja hubungan gelap antara Kim Lian dan Shi Men yang terjadi setiap hari di dalam rumah janda Wang, telah menjadi kabar hangat yang didesas-desuskan oleh para tetangga di tepi-tepi jalan.

Agaknya satu-satunya orang, yang masih belum mengetahuinya hanyalah Bu Toa sendiri. Pada suatu siang, seorang pemuda berusia lima belas tahun yang membawa sebuah keranjang berisi buah apel yang segar berdiri di depan rumah Bibi Wang. Anak muda ini adalah A Goan, seorang pedagang buah yang mempunyai banyak langganan. Seorang di antara para langganannya yang baik adalah Shi Men, dan kadang-kadang hartawan ini memberi hadiah uang kecil kepadanya kalau membeli buah. Sudah beberapa hari lamanya dia tidak bisa menjumpai Shi Men untuk menawarkan buah-buah segar dan seorang memberi tahu kepadanya bahwa kalau dia hendak mencari Shi Men agar suka datang saja ke kedai teh Nenek Wang, itulah sebabnya maka pada siang hari itu dia berdiri di depan rumah Nenek Wang. Dia melihat Nenek Wang duduk sendirian di depan pintu, memintal benang.

“Selamat siang, Bibi Wang” katanya dengan wajah berseri.

“Aku datang mencari seorang Kongcu untuk menawarkan buah agar memperoleh sedikit uang untuk Ayahku yang tua.

“Kongcu manakah yang kau maksudkan?” janda Wang bertanya sambil mengerutkan alisnya.

“Aih, Bibi Wang, jangan bergurau. Tentu saja yang kumaksudkan adalah Shi Men Kongcu.” Dan A Goan sudah menghampiri pintu dengan maksud untuk memasuki kedai itu dan menemui orang yang dicarinya. Akan tetapi Nenek Wang menangkap lengannya dan mencengkeram. “Berhenti, kau setan cilik! Di sini tidak ada orang yang kau cari”

“Bibi Wang, jangan begitu murka, akupun membutuhkan sedikit penghasilan. Apa salahku? Lepaskan aku” Bibi Wang yang merasa khawatir kalau-kalau rahasia yang sedang terjadi didalam rumahnya itu diketahui orang, menjadi marah dan menggunakan tangannya memukuli A Goan.

“Hei, Nenek tua bangka yang jahat. Apa salahku maka engkau memukuli aku?” Anak itu berteriak-teriak. Akan tetapi Nenek Wang menjadi semakin marah dan memukul, menjambak dan mencakar sehingga akhirnya A Goan terpaksa melarikan diri, memunguti buah apel yang berserakan sambil menangis dan memaki-maki, mengancam bahwa dia akan membalas dendam. Dengan hati yang masih panas dan penuh dengan dendam terhadap Nenek Wang, pemuda remaja A Goan membawa keranjang buahnya pergi mencari si cebol Bu Toa. Akhirnya dia melihat Bu Toa memikul keranjang kuenya di sebuah jalan dan cepat A Goan menghampiri Bu Toa.

“Paman Bu Toa, aku membutuhkan sedikit makanan ternak dan orang bilang bahwa aku dapat membelinya darimu.” Bu Toa menghentikan langkahnya, menurunkan pikulannya dan menyeka keringat dari muka dan lehernya, sambil memandang dengan heran kepada anak pedagang buah itu.

“Ah, mana mungkin? Aku tidak memelihara ternak. Aku tidak memiliki ayam atau bebek.” “Begitukah?” A Goan memicingkan mata dan mulutnya tersenyum mengejek.

“Barangkali engkau sendiri seekor bebek jantan yang gemuk dan malas, yang membiarkan dirinya siap untuk disembelih dan dimasukkan ke dalam panci masak tanpa meronta sedikitpun!” Bu Toa mengerutkan alisnya dan mukanya menjadi merah. Istilah menjadi bebek jantan yang gemuk dan malas, ini merupakan kata-kata sindiran terhadap seorang suami yang tidak tahu atau membiarkan isterinya menyeleweng dengan laki-laki lain.

“Penjahat cilik, apakah engkau hanya menggodaku? Isteriku tidak mempunyai hubungan dengan laki-laki lain, maka kenapa engkau menamakan aku bebek jantan kekenyangan?”

“Paman Bu, terus terang saja kukatakan bahwa isterimu memang mempunyai hubungan gelap dengan seorang laki-laki lain!” Bu Toa menangkap lengan anak remaja itu,

“Katakan siapa namanya!”

“Ha-ha, Paman Bu, sungguh menggelikan sikapmu ini! Engkau menekan aku, padahal seharusnya engkau memukuli Nenek tua di sebelah rumahmu yang menjual air teh!”

“Benarkah ini?” Bu Toa berseru. Tentu saja benar! Mereka berdua menanti sampai engkau pergi meninggalkan rumah memikul daganganmu, dan mereka mengadakan pertemuan rahasia di rumah Nenek Wang! Aku tidak membohongimu, Paman.” Bu Toa merasa terpukul sekali.

“Aihh, sahabat kecilku A Goan, keteranganmu ini mengingatkan aku akan keadaan isteriku. Akhir-akhir ini memang ia setiap hari pergi mengunjungi Nenek Wang, akan tetapi katanya untuk menjahitkan pakaian kematian Nenek itu. Ada satu hal lagi. Akhir-akhir ini sikapnya terhadap Bu Ying anakku amatlah kejam. la suka memukulinya, memaki-makinya tanpa henti, bahkan kadang-kadang tidak memberinya makan. Ah, bagaimanakah pendapatmu sekarang? Apakah aku harus segera pulang dan datang langsung ke rumah Nenek itu dan menangkap basah dua orang jahanam tak bermalu itu?”

“Hemm, biarpun sudah tua, Paman masih bodoh. Apakah kau pikir Nenek tua bangka itu akan membiarkan engkau menangkap basah mereka? la tentu akan segera memberi isyarat begitu melihatmu, dan isterimu tentu akan menyelinap pulang melalui pintu belakang. Dan engkau akan berhadapan dengan hartawan Shi Men sendiri yang tentu akan memutar balik kenyataan dan engkau akan dihajarnya. Selain itu dia, amat kaya dan dengan mudah akan menyogok para jaksa untuk mengadukan engkau dan akhirnya engkau yang akan masuk penjara.”

“Ah, engkau benar sekali lalu bagaimana aku dapat membalas dendam atas, penghinaan ini?” Satu- satunya jalan hanya menangkap basah selagi kedua orang pejina itu masih berada bersama di dalam kamar Nenek gila itu! Besok, setelah keluar membawa pikulan keranjang, harap kau suka menyelinap dan bersembunyi tak jauh dari rumah Nenek Wang. Aku juga bersembunyi dan begitu melihat tuan Shi Men memasuki rumahnya, aku akan memberi isyarat kepadamu, Kemudian aku akan muncul untuk mengoda Nenek Wang. Ia tentu akan memukuli aku lagi, dan pada saat ia memukulku, aku akan memegang erat-erat pakaiannya dan engkau boleh cepat lari mendobrak dan membuka pintu, dan menangkap basah isterimu dan tuan Shi Men.

“Baik sekali! Ah, aku berhutang budi padamu, adik A Goan yang baik, Nah, terimalah sedikit uang kecil ini. Jadi, besok pagi kita bertemu di sudut jalan Batu Ungu.”

A Gon menerima hadiah itu dengan girang dan mengangguk-angguk. Dan merekapun berpisah. Bu Toa pada sore hari itu pulang. Betapapun panas rasa hatinya dia diam saja dan hanya menekan perasaan kemarahannya Itu. Kini dia melihat jelas perubahan yang besar, terjadi pada diri isterinya. Pakaiannya semakin rapi, dan sepasang matanya memancarkan cahaya yang lain dari biasanya, sepasang pipinya kemerahan, tampak demikian cantik bagaikan setangkai, bunga yang menerima banyak siraman air hujan setelah menderita di musim kering. Pada keesokan harinya, setelah keluar dari rumahnya memikul keranjang dagangannya, Bu Toa menyelinap dan melalui jalan memutar, kembali ke jalan di depan rumahnya. sambil bersembunyi. Di sudut jalan, dia bertemu dengan A Goan yang sudah menanti di situ.

“Nah, sekarang perhatikan, Paman. Kalau nanti keranjang buahku ini kujatuhkan dan buah-buah itu berhamburan di depan rumah Nenek Wang, berarti sudah tiba saatmya, bagimu untuk menyerbu ke pintu rumah Nenek itu Mengerti?”

Bu Toa mengangguk, menggigit Bibir dan mengepal tinju, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Dia, lalu mencari, tempat persenbunyiannya agar tidak kelihatan orang, akan tetapi dari tempat persembunyiannya itu dia dapat melihat ke arah rumah Nenek Wang. Tak lama kemudian, dengan menggunakan mantelnya dan topi untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya dan mukanya Shi Men memasuki rumah Nenek Wang. Setelah membiarkan orang itu, masuk beberapa lamanya dan melihat Nenek Wang sudah duduk memintal benang, A Goan maklum bahwa waktunya telah tiba untuk bertindak. Dia lalu keluar dari tempat sembunyinya, melangkah lebar menuju ke depan rumah Nenek Wang sambil membawa keranjang buahnya. Setelah berhadapan dengan janda Wang, dia lalu berteriak memaki dengan sikap mengejek.

“Heh, babi tua, kenapa engkau berani memukuli aku kemarin?” Melihat pengganggunya berani datang lagi Nenek Wang yang galak itu segera memaki, “Monyet cilik, aku tidak ada urusan dengan kamu! Kenapa kau berani datang lagi? Minta dipukuli sampai mampus barangkali!” Dan Nenek itu sudah menyerang A Goan dengan pukulan dan cakarannya. A Goan melemparkan keranjang apelnya sehingga buah itu berhamburan di atas tanah, berseru,

“Kalau begitu, marilah!” dan diapun menangkap ikat pinggang Nenek itu, memukul perutnya dengan kepala dan serangan ini membuat Nenek Wang terhuyung ke belakang dan tentu saja akan roboh, kalau tidak tertahan oleh dinding rumahnya. la tak mampu melepaskan diri dari pegangan A Goan dan selagi mereka bersitegang, muncullah Bu Toa dari tempat persembunyiannya. Melihat si cebol ini, Nenek Wang terkejut bukan main dan berteriak,

“Bu Toa datang...!” Mendengar terlakan ini, dua orang yang sedang mengadakan pertemuan gelap di dalam rumah itu terkejut sekali dan cepat mereka membereskan diri. Terlambat bagi Kim Lian untuk melarikan diri, maka iapun cepat menahan daun pintu kamar itu dengan tubuhnya, sedangkan Shi Men yang juga kaget setengah mati, saking gugupnya telah merangkak ke bawah tempat tidur.

“Bagus, ya... Perbuatan busuk terjadi di sini” Bu Toa berteriak-teriak sambil berusaha untuk mendobrak pintu kamar yang dipertahankan oleh Kim Lian dari dalam. Melihat betapa kekasihnya bersembunyi di bawah tempat tidur, Kim Lian merasa mendongkol bukan main dan ia berkata kepada kekasihnya yang berada di kolong itu,

“Hemm, biasanya engkau mengagulkan kegagahanmu dan membual tentang kekuatan tanganmu. Akan tetapi kalau saatnya tiba, engkau menggigil ketakutan melihat seekor macan kertas.” mendengar ini, Shi men dapat menguasai dirinya dan merangkak keluar dari kolong membereskan pakaiannya,

“Ah, aku tadi gugup. Sekarang akan kuperlihatkan padamu!” Dia menghampiri daun pintu yang masih dipertahankan Kim Lian, lalu menarik daun pintu itu terbuka dengan tiba-tiba sedangkan Kim Lian lari ke arah pintu belakang.

“Pergilah kau” bentaknya kepada Bu Toa. Dengan marah sekali karena melibat bayangan isterinya lari ke belakang, Bu Toa hendak menerjang ke dalam, akan tetapi sebuah tendangan yang keras sekali menyambut perutnya, membuat Bu Toa terjengkang dan terbanting keras.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Shi Men untuk cepat melarikan diri melihat betapa urusan menjadi gawat dan gagal, A Goan juga melepaskan Nenek Wang dan melarikan diri pula karena merasa segan dan takut kepada Shi Men, para tetangga pura-pura tidak tahu dan tidak mau mencampuri urusan itu. Kini Nenek Wang menolong Bu Toa yang masih rebah diatas tanah. Melihat mulut Bu Toa mengeluarkan darah dan mukanya pucat sekali, Nenek itu cepat memanggil Kim Lian dan dengan susah payah, dua arang wanita ini lalu mengangkat Bu Toa masuk ke dalam rumah, naik loteng dan merebahkan tubuh kecil itu ke atas pembaringan di dalam kamarnya. Sejak saat itu, Bu Toa jatuh sakit. Dua orang pelanggar susila itu tidak menjadi jera. Bahkan pada keesokan harinya, Shi Men dan Kim Lian sudah mengadakan, pertemuan mereka lagi di rumah janda Wang.

Mereka meneruskan perjinaan dalam hubungan antara mereka yang mesra dan penuh nafsu berahi yang bergelimang, bahwa mereka menyatakan harapan agar Bu Toa mati saja karena perkelahian itu. Bu Toa rebah di atas pembaringannya, sakit berat dan sampai lima hari dia tidak mampu bangun dari pembaringannya. Tendangan yang dilakukan Shi Men itu kuat sekali dan membuat Bu Toa menderita luka dalam yang cukup parah. Yang membuat dia semakin menderita adalah karena Kim Lian tidak memperdulikan suaminya yang sedang menderita sakit itu, bahkan Kim Lian melarang Bu Ying untuk merawat Ayahnya. Anak itu disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, melebihi seorang pelayan, bahkan dilarang untuk memasuki kamar Ayahnya. Pada suatu hari Bu Toa memanggil Kim Lian untuk duduk di tepi pembaringannya dan diapun berkata,

“Aku tahu bahwa engkau melakukan penyelewengan. Baiklah, engkau bersenang-senanglah. Aku tidak mampu berbuat apa-apa dan pula, semua itu sama saja kalau aku sudah mati. Akan tetapi ingatlah engkau kepada adikku, Bu Siong! Engkau tahu orang macam apa dia. Cepat atau lambat dia akan kembali dan nah, sekarang pilihlah. Engkau rawatlah aku sampai aku sembuh dan aku tidak akan bicara kepada Bu Siong tentang segalanya. Akan tetapi kalau engkau tetap bersikap acuh dan kejam kepadaku, dia akan tahu segalanya!” Kim Lian tidak menjawab, dan cepat ia menghubungi janda Wang untuk minta nasihat. Kebetulan Shi Men berada di situ dan mendengar laporan Kim Lian, Shi Men merasa seolah-olah disiram air dingin.

“Terkutuk!” Dia berseru sambil memandang Kim Lian.

“Aku tak pernah memikirkan pembunuh harimau Gunung King Yang itu. Akan tetapi aku sudah berhubungan denganmu terlalu lama, aku telah jatuh cinta padamu dan tak mungkin aku melepaskanmu. Bibi Wang, apakah tidak ada jalan keluar? Tolonglah kami.”

“Hemm, lihatiah Kongcu kita ini.” Janda Wang mengejek.

“Seorang laki-laki harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya, tidak menggigil seperti ini. mendengar akan ancaman sebagai akibatnya. Saya, biarpun seorang Nenek tua saya tidak takut.”

“Baiklah, aku seorang penakut, Bibi Wang. Akan tetapi apakah Bibi mempunyai akal muslihat yang baik?”

“Saya mempunyai akal, akan tetapi tergantung dari ji-wi (anda berdua) apakah akan menjadi pasangan untuk selamanya ataukah hanya sementara saja.” Shi Men memeluk Kim Lian dan berkata,

“Aku cinta padanya, Bibi... Kami ingin menjadi pasangan selamanya.”

“Kalau begitu, dengarlah baik-baik. Saya yakin bahwa di dalam toko obat milikmu terdapat racun warangan, bukan? Nah, sekarang si cebol sedang sakit dan ini merupakan kesempatan yang baik sekali. Biarkan nona Kim Lian, mencampurkan sedikit racun warangan ke dalam obatnya dan memberinya minum. Kalau dia mati, maka ji-wi tidak perlu takut lagi terhadap adiknya itu. Bukankah ada istilah kuno yang mengatakan Pernikahan pertama untuk menyenangkan hati orang tua, pernikahan ke dua untuk menyenangkan diri sendiri?” Kalau nona Kim Lian sudah menjadi janda, tiada halangannya untuk menjadi milikmu selamanya.

“Ah, bagus sekali, Bibi Wang! Engkau memang seorang yang amat cerdik sekali. Kami tentu akan segera melakukan siasatmu itu!” Shi Men berseru dengan girang bukan main. Demikianlah, seperti telah mereka rencanakan. Shi Men menyerahkan sebungkus racun warangan kepada Kim Lian. Nafsu adalah keinginan untuk senang, dan kalau orang sudah dikuasai nafsu, ia mampu melakukan apa saja. Kalau ada penghalang kesenangan itu, maka ia akan menyingkirkan penghalang itu dengan cara apapun juga. Dari mana timbulnya nafsu berahi yang demikian menyala membakar badan dan batin Kim Lian? Seperti segala macam nafsu, berahi inipun dikobarkan oleh pikiran. Pikiran mengingat-ingat kesenangan yang pernah dinikmati atau didengar dari lain orang, dan timbullah keinginan untuk mengulang kesenangan itu seperti juga. rasa takut, duka, benci dan selanjutnya, semua lahir dari pikiran yang mengingat-ingat hal yang telah lalu dan yang akan datang, dihubungkan dengan si aku yang selalu mengejar kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Sambil membawa obat yang dicampur racun warangan, Kim Lian memasuki kamar suaminya sambil mengusapi air matanya. Bu Toa yang kini menjadi kurus kering itu memandang kepada isterinya yang kini duduk di tepi pembaringan sambil menangis. Dia merasa heran,

“Kenapa engkau menangis?” Pandang matanya sudah agak kabur sehingga dia tidak mampu lagi membedakan antara tangis duka ataukah tangis pura-pura.

“Dalam keadaan tidak sadar aku telah menyeleweng dan membiarkan diriku terbujuk si Shi Men itu. Aku merasa menyesal sekall. Siapa mengira bahwa si kejam Itu menendang perutmu? Aku telah mengusahakan obat untukmu, akan tetapi aku selalu meragu untuk memberikan kepadamu karena karena barangkali engkau tidak percaya lagi kepadaku dan tidak mau minum obat yang kucarikan Itu” Melihat isterinya menangis penuh penyesalan, Bu Toa merasa kasihan juga.

“Aku percaya kepadamu, isteriku. Semua pengalaman yang lalu ini akan kuhapus dari ingatanku asal engkau mau merawatku sampai sembuh. Berikan obat itu kepadaku.”

“Inilah obat itu, mari kubantu engkau meminumnya, suamiku.” Dengan lembut Kim Lian membantu Bu Toa bangkit duduk dan memberinya minum obat itu.

“Setelah minum engkau harus tidur dan berselimut agar berkeringat, dan mungkin besok engkau sudah akan sembuh kembali.”

“Aih, keras dan tidak enak rasanya!” kata Bu Toa. Akan tetapi karena dia sudah terlanjur minum, dan Kim Lian mendorong dan menuangkan semua isi mangkok itu ke dalam mulutnya, terpaksa Bu Toa menelan semua obat itu dan Kim Lian lalu melompat mundur menjauhi pembaringannya. Begitu obat itu memasuki perut Bu Toa, laki-laki yang malang ini segera merasa nyeri yang luar biasa. Dia menggeliat- geliat memegangi perut dengan kedua tangannya.

“Aduh aduh Kim Lian, perutku terbakar rasanya!”

“Aduh, aku.. aku tidak tahan lagi” Melihat suaminya sekarat, Kim Lian yang ingin melihat agar suaminya itu cepat mati dan agar rencananya Itu tidak gagal, cepat menutup muka suaminya dengan selimut dan bantal.

“Aku tak dapat bernapas” Si cebol Bu Toa meronta-ronta dan terengah-engah.

“Biar engkau berkeringat,” kata Kim Lian menghibur. Kembali Bu Toa meronta sekuat tenaga dan Kim Lian merasa takut kalau-kalau usahanya akan gagal, maka iapun cepat naik ke atas pembaringan dan menduduki perut Bu Toa yang terlentang itu sambil menekan selimut dan bantal kuat-kuat di atas muka suaminya itu. Bu Toa meronta terus, makin lama makin lemah sampai akhirnya dia tidak mampu bergerak lagi. Setelah agak lama tidak terasa gerakan dari orang di bawah selimut, barulah Kim Lian mengangkat sedikit selimutnya untuk melihat wajah suaminya. Bu Toa sudah mati, menggigit Bibirnya sendiri sampai pecah-pecah dan dari tujuh lubang di tubuhnya keluarlah darah. Baru Kim Lian merasa ngeri dan ia meloncat dari atas pembaringan, dan memukuli dinding sebelah untuk memberi tanda kepada Nenek Wang. Tak lama kemudian muncullah Nenek itu.

“Sudah selesai?” tanya jands Wang. “Sudah...” Kim Lian terengah-engah.

“Mari kubantu.” Dengan air panas dan kain Nenek Wang lalu membersihkan semua darah yang keluar dari lubang-lubang di tubuh Bu Toa, kemudian dibantu oleh Kim Lian Nenek itu mengganti pakaian yang baik pada tubuh mayat, memakaikan sepatu, topi, menyisir rambutnya,

Kemudian mereka mengangkutnya turun, merebahkannya di bangku dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain bersih. Setelah itu mereka berdua membersihkan kamar, melenyapkan segala yang dapat menimbulkan kecurigaan. Setelah itu, Nenek Wang pulang dan Kim Lian lalu berlutut didekat mayat suaminya dan menangis melolong-lolong seperti lajimnya orang yang kematian keluarganya. Pada jaman itu ada tiga macam cara bagi seorang yang ditinggal mati suaminya untuk meratapi si mati, yaitu petmrtama adalah meratap tangis dengan suara keras dan meratap-ratap mengeluarkan kalimat-kalimat yang memilukan, kedua adalah menangis dengan air mata bercucuran tanpa mengeluarkan ratapan dan ke tiga berkabung dengan muka penuh duka tanpa tangis maupun ratap, seolah-olah yang berkabung sudah kehabisan air mata. Dan agaknya Kim Lian memilih cara terakhir ini.

Palsu! Palsu! Palsu! Kepalsuan melanda dunla ini! Munafik! Muhafik! Munafik!

Lain di kata, lain di perbuatan! Lain dihati!

Tentu saja Shi Men girang bukan main melihat, betapa siasat itu berhasil baik. Cepat dia mengeluarkan uang, melalui Nenek Wang dia menyuruh beli peti mati dan segala keperluan pemakaman. Tentu saja dalam, kesempatan ini, sedikitnya biaya itu menjadi dua kali lipat besarnya, dan yang setengahnya lebih dari uang pemberian Shi Men masuk ke dalam kocek uang Nenek Wang.

“Ada lagi suatu kesulitan, Shi-Kongcu,” kata Nenek Wang yang banyak akal itu.

“Besok, kalau mayat hendak dikubur, kita harus berhadapan dengan petugas pemerintah yang memeriksa kematian. Tuan Hu Kiu itu pintar sekali, harap Kongcu suka mengusahakan agar dia tidak menaruh curiga dan mengadakan pemeriksaan. Saya tidak berdaya menghadapinya.”

“Haha jangan khawatir, akan kubereskan Hu Kiu itu.” kata Shi Men. Setelah mayat Bu Toa dimasukkan peti mati dan di depannya dipasangi meja sembahyang, para tetangga mulai berdatangan dan bertanya penyakit apa yang menyebabkan kematian Bu Toa si cebol itu.

“Dia mempunyai penyakit perut yang sudah, lama. Akhir-akhir ini kumat dan payah. Biarpun sudah kuusahakan pengobatannya, percuma saja.” Dan janda Kim Lian menangis terisak-isak di depan para tetangga. Para tetangga menghiburnya dengan kata-kata yang sudah kuno itu, yaitu,

“Yang sudah mati tak dapat hidup kembali. Semua orang hidup akhirnya mesti mati. Jangan bersedih terlalu mendalam karena hal itu akan mengganggu kesehatanmu sendiri.” Kim Lian lalu menghaturkan terima kasih dengan sikap seperti orang yang merasa amat terharu, Kepalsuan-kepalsuan seperti ini agaknya takkan lenyap selama manusia masih memiliki kebudayaan berpalsu-palsu macam sekarang ini. Sementara itu, Nenek Wang mengatur segala-galanya dengan uang pemberian Shi Men. Dialah yang membeli peti, membeli dupa, membeli kain dan segala macam keperluan penguburan, menguruskan tempat kuburan, laporan kepada penguasa dan sebagainya lagi. Pagi itu, pembesar Hu Kiu berjalan seenaknya untuk mengunjungi rumah kematian dan tiba-tiba dia berjumpa dengan Shi Men yang tentu saja memang sudah sengaja menghadangnya.

“Selamat pagi, hendak ke manakah, sobat baik?” tanya Shi Men yang sudah mengenal baik pejabat itu.

“Ah, saya hendak pergi mengunjungi rumah Bu Toa yang meninggal dan akan dikubur hari ini juga, sore nanti,” jawab Hu Kiu.

“Tunggu sebentar, kawan ada sesuatu yang penting yang perlu kuberitahukan kepadamu. Marilah kita singgah sebentar di kedai arak itu” Tanpa banyak cakap lagi Shi Men menggandeng tangannya dan mengajaknya ke loteng kedai arak yang sunyi, karena sepagi itu belum ada tamu yang datang berkunjung. Shi Men memesan anggur hangat dan beberapa makanan ringan. Diam-diam Hu Kiu merasa heran apa yang menyebabkan hartawan ini demikian baik hati kepadanya pagi hari ini. Setelah mereka minum-minum, Shi Men mengeluarkan sekantung uang perak dan berkatalah dia dengan suara yang lembut.

“Sahabatku Hu, harap jangan menolak, terimalah pemberianku ini sebagai tanda persahabatan dan penghormatan. Saya akan berterima kasih sekali kepada anda.” Hu Kiu berpura-pura menolak dengan gerakan tangannya dan hatinya terguncang ketika dia melihat mengkilapnya perak.

“Aih, Kongcu, alasan apakah yang menyebabkan Kongcu demikian baik hati kepada saya? Saya tidak pernah membantu Kongcu dalam urusan apapun juga. Bagaimana saya dapat menerima hadiah tanpa melakukan sesuatu? Barangkali saja, kalau ada sesuatu yang dapat saya lakukan?”

“Tidak mengapalah, sahabat Hu. Simpan saja perak ini.” Seperti bermain sulap saja, kantung itu telah menghilang ke dalam saku jubahnya yang lebar dan dalam.

“Sekarang katakanlah, Kongcu. Apa yang dapat saya łakukan untukmu?”

“Ah, urusan kecil, sobat baik. Sudah sepatutnya kalau anda menerima sedikit uang lelah untuk tugasmu di rumah keluarga Bu Toa. Oya, maukah anda menolong saya agar mayat Bu Toa tidak diganggu dengan segala pemeriksaan dan dibiarkan saja tertutup?”

“Aha, hanya itu sajakah permintaan Kongcu? Saya kira urusan yang besar. Untuk hal yang sekecil itu kenapa memberi hadiah begini besarnya?”

“Jika anda tidak menerima penghormatan saya ini, berarti anda menolak permintaan tolong dariku.” Tentu saja Hu Kiu mengenal siapa adanya Shi Men yang bersahabat baik dengan para pejabat tinggi. Dia mengerti bahwa tentu ada sesuatu di balik permintaan Shi Men itu, akan tetapi itu bukanlah urusannya, Rejeki yang datang tak boleh ditolak, pikirnya. Setelah tiba di rumah kematian Hu Kiu disambut oleh Nenek Wang dan dia bertanya,

“Karena penyakit apakah dia mati?” “Menurut isterinya, karena penyakit perut,” jawab Nenek Wang. Hu kiu mendekati peti mayat. Para Pendeta sedang bersembahyang di sekitar meja dan peti mati. Hu Kiu lalu menyingkap kain putih yang menutupi muka mayat. Dia melihat betapa kuku-kuku tangan mayat itu membengkak dan berwarna hijau kebiruan, Bibirnya menghitam, mukanya kuning seperti malam dengan mata melotot. Jelaslah baginya bahwa ini bukan kematian karena penyakit, melainkan karena kejahatan. Juga dua orang pembantunya yang datang terlebih dahulu merasakan suatu keanehan

“Warna mukanya itu mencurigakan,” kata mereka kepada Hu Kiu yahg menjadi atasan mereka, “Bibir itu berbekas gigitan gigi, dan ada darah di dalam mulutnya...”

“Omong kosong!” Hu Kiu membentak mereka.

“Itu adalah akibat hawa yang panas. Tutuplah petinya!” Nenek Wang menjadi girang sekali, maklum bahwa pengaruh Shi Men terasa di situ dan setelah peti ditutup Ia menyerahkan seuntai uang tembaga kepada pejabat itu. Hu Kiu lalu meninggalkan tempat itu dengan hati lapang. Setelah jenazah Bu Toa dikubur, Kim Lian sama sekali tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang janda yang berkabung. la mendorong meja abu suaminya ke sudut ruangan menutupinya dengan kertas putih.

la tidak membuat masakan untuk meja sembahyang seperti yang selayaknya dilakukan bagi meja sembahyang orang yang baru meninggal, melainkan masak untuk dimakan sendiri. Bahkan Bu Ying yang kehilangan ayahnya itu tidak diperbolehkannya untuk berkabung, apalagi menangis. Anak itu oleh Kim Lian disuruh bersembunyi saja di bagian belakang rumah membenamkan diri di dalam kamarnya yang kecil. Kesibukan satu-satunya bagi Kim Lian hanyalah berias muka. Dan selagi perkabungan masih berlangsung, baru beberapa hari saja setelah kematian Bu Toa, pada suatu pagi Kim Lian sudah mengadakan pertemuan rahasia dengan Shi Men, tentu saja seperti biasa di dalam rumah janda Wang. Karena tidak bertemu dengan Shi Men untuk beberapa hari lamanya, begitu bertemu Kim Lian bersungut-sungut dan berkata manja,

“Laki-laki memang tidak setia, apakah Kongcu telah melupakan aku dan membiarkan aku tersiksa dan menderita dalam kerinduan selama berhari-hari. Sungguh engkau kejam sekali, Kongcu. Apakah barangkali engkau telah menemukan seorang kekasih baru?” Shi. Men merangkul dan menciumnya sambil tertawa.

“Ah, jangan menyangka yang bukan-bukan sayang. Aku sibuk oleh urusan dagang, akan tetapi hari ini aku meninggalkan pekerjaan untuk menyerahkan oleh-oleh kepadamu. Ini kubeli dari Pasar Kuil.”

Shi Men menggapai A Thai yang menunggu di luar membawa buntalan besar, Anak itu datang dan membuka buntalan. Ternyata Isinya gulungan kain sutera dan berbegai macam perhiasan yang serba indah dan mahal. Kim Lian menerima pemberian itu dengan girang sekall dan ia memanggil Bu Ying untuk melayani mereka. Bu Ying yang setiap hari dibentak dan dipukul itu telah menjadi seperti sebuah boneka hidup, tak berani berkutik di depan Kim Lian sehingga Kim Lian tidak merasa segan untuk mengadakan pertemuan mesra dengan Shi Men di depan hidung anak tirinya sendiri. Segera dua orang yang tak bermalu itu duduk mepet berendeng, makan dari satu mangkok dan minum dari satu cawan. Setelah merasa kenyang, Kim Lian bahkan berani mengajak Shi Men berkunjung ke rumahnya melalui pintu belakang, diikuti oleh Bu Ying yang melayani mereka. Sedangkan A Thai disuruh menanti di rumah Nenek Wang. Ketika memasuki kamar dan melihat ada yang-kim (siter) di tembok, Shi Men lalu minta kepada Kim Lian untuk memainkan sebuah lagu untuknya. Dengan lagak malu-malu kucing Kim Lian lalu memainkan siter sambil bernyanyi. Suara siter yang myaring mengiringi suara nyanyiannnya yang merdu, dan Kim Lian sudah menyanyikan sebuah lagu yang romantis tentang kegembiraan seorang wanita yang menjemput kedatangan kekasih yang sudah lama meninggalkannya. Bagaikan terpesona Shi Men melihat jari-jari tangn yang Putih mungil dan halus itu bermain-main dan menari-nari di atas senar-senar siter, dan melihat pula gerakan mulut kekasihnya, yang bernyanyi. Setelah lagu itu selesai dinyanyikan, Shi Men menjadi kagum sekali dan menghadiahkan sebuah cuman mesra pada mulut kekasihnya.

“Ah, kiranya engkau seorang seniwati yang hebat” serunya. “Sesungguhnyalah bahwa belum pernah aku bertemu dengan seorang wanita sehebat engkau, di seluruh kota ini!”

“Aih, engkau merayu, Kalau saja selamanya hatimu akan tertuju kepadaku seperti pada saat ini, dan tidak akan melupakanku.”

“Tidak, tak mungkin aku melupakanmu, kekasihku yang tersayang” Tak lama kemudian merekapun menutupkan pintu kamar dan Bu Ying disuruh membersihkan meja dan mencuci mangkok piring. Shi Men yang sedang mabuk oleh kecantikan dan kepandaian Kim Lian, tanpa segan-segan lagi melepaskan sepatu sutera yang dipakai Kim Lian, menuangkan anggur di dalam sepatu itu dan meminumnya, Mereka berdua lalu bercumbu rayu menceburkan diri ke dalam gelombang-gelombang nafsu yang tak kunjung puas.

Mereka bermain cinta seperti dua ękor ikan dalam danau yang bening, seperti dua ekor burung Hong di angkasa. Keduanya merupakah ahli-ahli dalam permainan yang mengasyikkan itu dan baru setelah matahari tenggelam ke barat, mereka saling berpisah. Seperti biasa, Shi Men memberi hadiah sekedarnya kepada Nenek Wang yang selama itu duduk didapur bersama Bu Ying. Nafsu berahi bagaikan api yang membakar, makin diberi umpan semakin ganas tak mengenal padam, tak mengenal puas. Makin dituruti makin menjadi-jadi. Akan tetapi, yang demikian sama sekali bukanlah cinta kasih yang sesungguhnya, melainkan nafsu berahi belaka. dan nafsu berahi, seperti semua nafsu lainnya, condong untuk memudar, menjadi bosan, bahkan mendatangkan segala macam konflik kalau dituruti dan dibiarkan mencengkeram diri.

Sebulan telah berlalu dan Kim Lian merasa kesepian karena selama itu tak pernah nampak bayangan Shi Men. la tidak tahu bahwa selama itu Shi Men telah asyik masyuk dengan wanita-wanita lain. Seorang, janda berusia tiga puluh tahun bernama Mong Yu Lok, yang jauh lebih berpengalaman dalam hal permainan cinta dibandingkan Kim Lian, telah diambil oleh Shi Men menjadi isteri ke tiga, menggantikan Co Tiu yang meninggal dunia. Selain ini, juga seorang pelacur wanita, gadis muda belia yang mulus bernama Sun Siu Oh, diangkatnya menjadi isteri ke empat setelah ternyata gadis pelayan Ini memiliki pula keistimewaan-keistimewaan yang menyenangkan hati Shi Men.