-->

Si Teratai Emas Jilid 1

Jilid 1

Ceng Ho Sian adalah sebuah kota yang cukup ramai dan memiliki pasar yang besar, letaknya tidak terlalu jauh dari Kotaraja sehingga kota itu banyak dikunjungi pedagang dari luar kota dan perdagangan berkembang dengan pesatnya. Pada waktu itu, yang menjadi Kaisar dari Kerajaan Sung adalah Kaisar Hui Tiong dan karena para pembesar di Kotaraja mencontoh kehidupan berfoya-foya, maka kota Ceng Ho Sian juga menerima kelimpahan rejeki dari keroyalan besar yang terjadi di Kotaraja. Nampaknya saja keadaan demikian makmur dan aman di kota Ceng Ho Sian karena kota ini jauh dari perbatasan utara di mana mulai terjadi pergolakan. Ceng Ho Sian berada di tapal batas Propinsi Shantung dan di kota ini hidup seorang laki-laki yang kaya raya. Namanya Shi Men. Usianya baru tiga puluh tahun dan kekayaannya membuat dia hidup makmur.

Ketika ayahnya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, ayahnya meninggalkan sebuah toko obat yang besar, juga sebuah rumah gedung yang megah dan mewah, penuh dengan perabot rumah yang serba halus dan mahal harganya. Gedung tempat tinggal Shi Men itu mempunyai belasan buah kamar, di bagian belakang terdapat kandang kuda dan kamar-kamar pelayan. Pendeknya, Shi Men terkenal sebagai seorang di antara hartawan-hartawan yang tinggal di kota itu. Semenjak muda Shi Men hidup sebagai seorang laki-laki yang royal, berenang di lautan kesenangan, terutama sekali terkenal sebagai seorang Kongcu hidung belang dan mata keranjang yang tak pernah dapat melewatkan pipi halus dan konde licin. Juga dia suka. Berlatih silat, hanya untuk berlagak, berlatih main pedang, akan tetapi juga mahir sekali bermain judi, dadu, catur dan lain kesenangan lagi di ancara kawan-kawannya.

Sudah lajim di dunia ini, di mana ada gula tentu banyak semut datang merubung. Kalau seseorang memiliki banyak uang dan royal, tentu dia akan dikerumuni banyak kawan. Kawan-kawan macam ini biasanya bermulut manis, penjilat, dan menyeret orang ke arah perbuatan ugal-ugalan. Demikian pula dengan Shi Men. Banyak sekali kawan-kawannya yang seperti itu. Ada sembilan orang kawan yang paling akrab dengannya, dan dua di antaranya bahkan dianggap sebagai kaki tangannya. Seorang bernama Ying Po Kui, seorang bekas pedagang sutera yang telah bangkrut karena judi dan foya-foya dan kini hidupnya menggantungkan sumbangan dan keroyalan Shi Men yang dibalasnya dengan mencarikan wanita-wanita cantik. Bukan hanya Shi Men yang dilayani dalam hal itu, melainkan juga dia mencarikan calon- calon baru untuk pengisi harem (kumpulan selir) para pembesar dan hartawan.

Karena pekerjaannya ini, maka dia suka diejek dengan sebutan Ying-Kai (Pengemis Ying) atau juga Makelar Ying. Akan tetapi Ying Po Kui tidak menjadi marah, bahkan mengganggap nama poyokan itu sebagai suatu penghormatan baginya. Orang ke dua yang menjadi kaki tangan Shi Men bernama Cia Si Ta yang masih berdarah bangsawan. Dia, seperti juga Ying Po Kui sebaya dengan Shi Men, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Cia Si Ta ini masih cucu bekas gubernur kota itu. Akan tetapi, ketika masih berusia muda sekali, dia ditinggal mati kedua orang tuanya dan dengan peninggalan warisan orang tuanya, dia menghambur-hamburkan uang dan hidup secara ugal-ugalan, menyia-nyiakan kesempatan untuk memperdalam pendidikan agar dapat menduduki jabatan yang bukan tidak mungkin diraihnya.

Dia lebih senang berfoya-foya dengan Shi Men, dan karena dia pandai sekali bermain yang-kim (semacam kecapi) maka dia disuka oleh teman-temannya, apalagi karena dia juga royal. Sembilan orang kawan baik itulah yang setiap hari menemani Shi Men dan yang menyeretnya ke dalam kehidupan foya- foya yang tiada puasnya. Hampir setiap malam mereka itu melewatkan waktu untuk minum-minum, atau berjudi, atau juga melacur. Terutama sekali dalam urusan mengejar wanita, mereka merupakan sekelompok serigala yang haus daging dan darah, dan dengan mempergunakan pengaruh uang dan kedudukan, mereka terkenal sebagai orang-orang yang suka mengganggu gadis-gadis dan bahkan isteri- isteri orang.

Shi Men bukan hanya pandai berfoya-foya membuang-buang uang. Di samping itu, diapun pandai berdagang dan banyak dia mengeduk keuntungan dengan jalan menempel para pejabat. Dengan cara menyuap, dia memperoleh banyak bantuan dari para pejabat yang berwenang. Bahkan pengaruhnya menjalar sampai ke Kotaraja dan dia pernah pula berhubungan dan menyuap empat orang pejabat tinggi yang terkenal dengan poyokan Empat Koruptor Negara. Mereka adalah pejabat-pejabąt tinggi di Kotaraja, yaitu Menteri Cai Cing, Jenderal Besar Yang Kian, dan dua orang Thaikam (kebiri) Kao Sui dan Tung Ksan. Empat orang ini merupakan pejabat-pejabat yang besar kekuasaannya di Kotaraja karena menjadi tangan kanan Kaisar, dan mereka berempat merupakan pula koruptor-koruptor besar yang suka suapan.

Karena Shi Men mempunyai hubungan dengan mereka, tentu-saja para pejabat kecil dan rendahan tidak berani main-main dengannya dan hal ini membuat Shi Men disegani di kotanya. Bahkan dia seolah-olah telah menjadi penasihat tak resmi dari para pejabat daerah di mana dia tinggal. Banyak usul-usulhya diterima oleh para penerima sogokan dan pejabat. Shi Men menikah ketika masih muda sekali, dalam usia tujuh belas tahun. Dalam pernikahannya yang pertama, dia mempunya seorang anak perempuan. Akan tetapi, isteri pertamanya itu meninggal dunia dan diapun menikah lagi dengan seorang wanita yang setelah menjadi isterinya disebut Goat Toanio (Nyonya Bulan). Goat Toanio ini berusia dua puluh lima tahun, puteri dari Gubernur Bu yang sudah pensiun.

Goat Toanio memiliki watak yang halus dan bijaksana dan wajahnya cukup cantik untuk menyenangkan suaminya yang liar itu. Selain Goat Toanio sebogai istri Shi Men, Ia mempunyai dua Orang isteri muda. Yang pertama bernana Li Kian yang bertubuh montok, ke dua bernama Co Tiu. dua orang wanita ini adalah bekas kembang-kembang tempat pelacuran yang diangkat oleh Shi Mien menjadi isteri-isteri mudanya. Kemudian diantara pelayan pelayan wanita yang muda-muda itu, ada tiga empat Orang yang diam-diam juga menjadi kekasih Shi Men yag selalu haus akan wanita muda dan cantik itu. Nafsu berahi bagaikan api berkobar, makin diturut makin mengganas makin banyak diberi umpan dan makan, makin lapar saja dan tidak pernah mengenal kepuasan. Demikian pula dengan Shi Men, tersedia banyak wanita yang akan melayaninya dengan gembira, namun dia belum merasa puas.

Di waktu malam, bersama kawan-kawannya, dia masih berkeliaran ke rumah-rumah pelacuran dan bagaikan segerombolan burung elang mengintai anak ayam, mereka keluyuran mencari gadis-gadis cantik untuk menjadi korban kebuąsan mereka, kalau terbuka kesempatan. Tidak sedikit wanita, baik ia gadis ataupun isteri orang, menjadi korban dan jatuh ke tangan dan pelukan Shi Men. Bukan hanya karena Shi Men kaya dan royal, akan tetapi juga karena dia seorang laki-laki yang mudah memikat hati wanita. Tubuhnya tegap karena sering latihan silat, wajahnya tampan dan ditambah lagi pesolek dengan pakaian indah dan mahal, dia merupakan seorang Kongcu (tuan muda) yang mudah menjatuhkan hati wanita. Pada suatu hari Shi Men menjumpai isterinya dan berkata,

“Isteriku, nanti pada tanggal tiga bulan depan aku ingin berpesta dengan kawan-kawanku untuk merayakan pertemuan tahunan kami. Karena itu, kuharap engkau membuat persiapan agar pesta itu terlaksana dengan meriah, dan jangan lupa memanggil beberapa orang gadis penyanyi.” Goat Toanio mengerutkan alisnya. “Ah, suamiku. Kuharap engkau tidak minta kepadaku untuk menemui orang-orang macam mereka! Mereka itu seperti bukan manusia baik-baik, seperti iblis-lblis saja yang baru keluar dari neraka untuk mengacau dunia. Apakah engkau hendak mengundang mereka ke dalam rumah kita yang terhormat ini? Setidaknya engkau harus mengingat akan kesehatan isterimu yang ke tiga, yang akhir-akhir ini tidak sehat.”

“Isteriku yang baik, biasanya dalam segala hal aku setuju denganmu, akan tetapi sekali ini terpaksa aku membantah,” kata Shi Men mengambil hati.

“Mungkin di antara kawan-kawanku ada yang kasar, akan tetapi harus dikecualikan Ying-Toako. Mereka adalah sahabat-sahabat yang baik dan boleh dipercaya.”

“Hemm, kedengarannya meyakinkan. Akan tetapi andaikata keadaanmu berbalik akan terbuktilah bahwa mereka itupun tidak ada gunanya seperti dua buah boneka saja.” Shi Men tersenyum.

“Lebih baik lagi kalau aku tidak membutuhkan bantuan orang lain dan lebih baik kalau aku selalu berada dalam keadaan yang memungkinkan aku membantu mereka. Bukankah memberi lebih baik daripada meminta? Bagaimanapun juga, isteriku, kalau engkau berkeberatan, biarlah kami akan merayakannya di dalam Kuil saja. Hal ini akan. kurundingkan dengan sahabatku Ying-Toako.” Baru saja nama itu diucapkan oleh Shi Men, tiba-tiba muncul A Thai, kacung kesayangan mereka melaporkan bahwa di luar datang dua orang tamu yang bukan lain adalah Ying Po Kui dan Cia Si Ta.! Mendengar ini, Shi Men dengan gembira keluar dari kamar isterinya, sedangkan Goat Toanio tinggal di dalam kamar. la tidak merasa perlu menyambut tamu-tamu suaminya itu yang ia kenal hanya sebagai teman-teman keluyuran dan berfoya- foya saja.

Dengan gembira Shi Men menyambut dua orang kawannya itu. Ying adalah seorang berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, yang mencoba untuk bersolek dan bergaya dengan pakaiannya yang tidak baru lagi, lagaknya seperti seorang saudagar besar. Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya yang kurus cekung karena banyak menghisap madat itu selalu nampak menyeringai, membayangkan watak yang palsu. Adapun Cia adalah seorang laki-laki yang usianya tiga puluh tahun, tubuhnya sedang akan tetapi perutnya gendut dan kepalanya botak, tanda bahwa dia kurang bergerak dan terlalu suka makan enak. Wajahnya dapat dibilang tampan, dengan kulit muka yang putih bersih dan dicukur kelimis, mata dan mulutnya ramah dan pembawaannya masih membayangkan bahwa dia keturunan bangsawan, agak tinggi hati.

“Ke mana saja kalian, beberapa hari ini tidak nampak?” tanya Shi Men setelah menyambut dua orang kawannya itu. Ying tertawa gembira.

“Ha-ha-ha, kami pelesir di rumah Bibi Li, sudah lama tidak berkunjung ke sana.” “Hemm, apakah ada bunga baru?” Shi Men bertanya, tersenyum.

“Biasa saja, akan tetapi di sana kami menemukan bunga yang luar biasa, bunga yang baru mulal mekar dan tahukah engkau siapa perawan itu, Shi-Kongcu? adalah keponakan dari isteri kedua anda! Wah, beberapa lama tidak melihatnya, tahu-tahu kini ia telah menjadi sekuntum bunga yang mulai mekar dengan indahnya. Ibunya mendesak kami untuk mencarikan seorang suami yang muda dan tampan untuk anak itu. Ibunya berkata bahwa ia takut kalau-kalau puterinya itupun akan menjadi calon korbanmu, ha-ha!” Shi Men tersenyum lebar. Kalimat terakhir itu baginya merupakan sanjungan.

“Aha, begitukah? Hemm, kalau begitu sekali waktu aku harus pergi melihatnya sendiri!”

“Oya, di mana pesta itu akan diadakan? Di sini ataukah di Kuil?” tanya Ying Po Kui sambil melirik ke arah pelayan wanita muda yang keluar menghidangkan arak. Pelayan itu menunduk saja, kemudian pergi setelah menaruh cawan-cawan dan guci arak di atas meja di depan tamu-tamu itu.

“Kami telah memilih dua buah Kuil untuk diusulkan, tinggal engkau memilih yang mana, Kongcu. Kuil Buddha Yung Hok Si ataukah Kuil Tao yang bernama Giok Ong Bio. Keduanya cukup baik dan dapat kita pergunakan,” kata Cia Si Ta.

“Lebih baik kita pergunakan Kuil Giok Ong Bio itu saja, karena pendeta Bu-Tosu telah kukenal dengan baik. Di sana juga luas dan bebas.” Mereka bercakap-cakap dan merencanakan pesta mereka, akhirnya sambil tertawa-tawa gembira karena perut mereka sudah kemasukan beberapa cawan arak, dua orang tamu itu pergi meninggalkan gedung Shi Men. Sehari sebelum pesta dimulai, Shi Men mengutus seorang pelayan untuk berbelanja. Seekor babi, seekor kambing kebiri, beberapa ekor ayam dan bebek, juga enam guci arak yang baik, dan segala bumbu dan keperluan pesta. Semua itu, berikut alat-alat bersembahyang, diangkut oleh tiga orang kacung menuju ke Kuil Giok Ong Bio (Kuil Raja Kemala) yang diketuai oleh Bu-Tosu.

“Besok pagi, Kongcu kami akan datang berkunjung dan melakukan upacara sembahyang pengangkatan saudara,” kata mereka kepada Bu-Tosu.

“Harap Totiang suka mempersiapkan segalanya untuk pesta dan upacara sembahyang itu, yang akan dirayakan sehari penuh di Kuil ini.” Tosu ini menerima dengan gembira karena hal ini berarti bahwa akan ada sejumlah uang masuk ke kas Kuil! Diapun menyatakan kesanggupannya dan membuat persiapan bersama para Tosu yang menjadi pembantu-pembantunya. Tak dapat disangkal lagi bahwa dalam keadaan atau kedudukan yang bagaimanapun juga, selama manusia masih menjadi hamba dari pada keinginannya sendiri untuk senang, maka segaia akan diselewengkan oleh manusia. Keinginan untuk bersenang diri ini menyusup sampai ke Kuil-Kuil, ke kursi-kursi pejabat tinggi sehingga di tempat-tempat yang sepatutnya mengalir keluar perbuatan-perbuatan bajik dan bijaksana,

Sebaliknya lahir perbuatan yang sebaliknya, hanya terdorong oleh keinginan untuk senang, Keinginan mengejar kesenangan biasanya menghalalkan segala cara. Bu-Tosu bukan tidak mengenal Shi Men dan bukan tidak tahu orang macam apa adanya hartawan itu dan kawan-kawannya. Diapun tahu bahwa Kuilnya akan dijadikan tempat berpesta pora yang melampaui batas kesopanan. Orang-orang itu akan mabuk-mabukan, bergurau dan bercumbu dengan gadls-gadis penyanyi yang biasanya juga merangkap menjadi gadis-gadis pelacur. Dia tahu bahwa pesta itu akan menodai kesucian Kuil, akan tetapi bayangan mengalirnya sejumlah uang membuat dia sengaja menutup mata batinnya terhadap semua itu. Dan biasanya, kita pandai sekali untuk mencari alasan guna menghapus atau setidaknya mengurangi kadar pelanggaran atau kesalahan yang kita lakukan.

Demikian pula Bu-Tosu. Dapat saja dia mengambil alasan bahwa dia telah melakukan kebaikan karena telah membantu orang-orang yang bermaksud baik, yaitu bersumpah mengangkat saudara! Dapat pula dia beralasan, bahwa dia membiarkan pesta itu karena dia perlu memperoleh uang untuk biaya memperbaiki Kuil dan sebagainya, berarti “untuk kebaikan” pula. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sembilan orang kawan itu telah tiba di rumah gedung Shi Men dan menghadapnya. Mereka itu saling memberi salam, bercengkerama sebentar sambil makan pagi, kemudian berangkatlah mereka ke Kuil yang diberi nama Kuil Raja Kemala itu. Para Tosu menyambut mereka dan mempersilakan mereka masuk saja untuk menghadap Bu-Tosu yang tinggal di sebelah dalam Kuil.

Sepuluh orang itu masuk ke dalam Kuil menikmati keindahan Kuil kuno yang memiliki ruangan lebar, atap yang tinggi, dinding batu yang tebal dan halus. Huruf-huruf indah berbentuk sajak berpasangan menghias dinding dan mengapit pintu-pintu masuk. Di sebelah dalam, dinding dan lantainya terbuat daripada marmar, indah bersih berkllauan akan tetapi karena tempat itu agak remang-remang, mendatangkan kesejukan dan keheningan. Di ruangan dalam nampak arca indah dari Lao Tze, nabi dari Agama Tao, seorang Kakek tua sederhana yang menunggang seekor kerbau hitam. Mereka melewati sebuah pintu dan masuklah mereka ke daerah yang dihuni Bu-Tosu, ketua Kuil itu. Mereka melalui lorong terbuka dan, di kanan kiri lorong ditanami bunga-bunga indah, cemara-cemara kecil dan pohon bambu. Dan didepan pintu masuk, Shi Men membaca tulisan indah sekali berbentuk sajak.

“Di dalam guha-guha ini tinggal semangat kami” “Waktu dan ruang terlupa sama sekali”

“Di dalam pulau-pulau ajaib kami ini senang dan susah tidak ada lagi.” Tempat kediaman Bu-Tosu terdiri dari tiga kamar depan, di mana dia melaksanakan tugas-tugas keagamaannya.

Ketika itu, semua tempat ini dibersihkan sampai mengkilap untuk menyambut para tamu. Di kamar tengah tergantung gambar dari Raja Kemala dari Istana Surga Emas, sedangkan di kamar-kamar sebelah terdapat patung dari Dewa Istana Ungu dan empat Panglima Surga, yaitu Ma, Cac, Wen dan Huang. Di depan meja sembahyang Bu-Tosu menyambut kedatangan para tamu dengan sikap hormat, mempersilakan mereka duduk dan minum teh. Setelah minum teh, Tosu itu mengantarkan para tamunya berkeliling untuk melihat-lihat. Setiap kali melihat patung dan arca para dewa, orang-orang yang biasanya ugal-ugalan itu tidak dapat menahan diri untuk tidak mengeluarkan pendapat-pendapat yang mengandung olok-olok. Ketika melihat gambar seekor harimau dan Panglima Surga Cao, seorang di antara mereka berolok,

“Teman-teman, lihat harimau di sebelah Cao tua itu! Harimau itu tentu jenis pemakan sayur, kalau tidak demikian, tentu Cao tua itu sudah diterkamnya.” Bu-Tosu diam saja mendengar olok-olok ini, akan tetapi dia lalu teringat akan sesuatu.

“Ah, bicara tentang harimau, Pinto (aku) teringat berita bahwa di luar kota juga terdapat gangguan seekor harimau yang buas. Dia telah menyerang banyak orang, bahkan membunuh sepuluh orang pemburu yang mencoba untuk membunuh harimau itu.

“Ahhh...” Shi Men berseru kaget.

“Apakah cu-wi (anda sekalian) belum mendengar berita itu? Para pedagang dan pesiar tidak berani lagi melewati Gunung King-Yan-San seorang diri, melainkan harus berkelompok. Kepala Daerah kita baru- baru ini menjanjikan hadiah lima puluh tall perak kepada orang yang dapat membunuh binatang itu. Adapun para pemburu yang sial, yang gagal menangkap binatang itu, mereka harus menderita hukuman pukulan.” “Aha, hal itu mengingatkan aku akan sebuah lelucon” terdengar Ying Po Kui yang tinggi kurus tertawa, “Seorang yang kikir meronta-ronta dalam gigitan seekor harimau. Puteranya datang dengan Pisau di tangan untuk menyelamatkan ayahnya dan siap menusuk perut harimau. Jangan, teriak ayah itu, begitu bodohkah engkau hendak merusak kulit harimau yang demikian berharga?” Orang-orang yang mendengar cerita ini tertawa. Kemudian Bu-Tosu mengusulkan agar upacara pengangkatan saudara dimulai. Dia mengeluarkan sebuah dokumen tertulis.

“Pinto telah membuat sumpahnya, dan bagaimanakah susunan nama cu-wi?” “Nama Shi Men harus lebih dulu, tentu saja,” berkata mereka.

“Melihat usianya, Ying harus lebih dulu.” Shi Men membantah.

“Aih, jaman sekarang ditentukan oleh uangnya, bukan usianya!” Ying juga membantah.

“Selain itu, siapakah di antara kami yang lebih terhormat terpandang daripada engkau. Tempat pertama, sepatutnya untuk namamu.” Karena didesak dan dibujuk oleh teman-temannya, akhirnya Shi Men menjadi orang pertama atau yang mereka sebut “Toako” (kakak tertua). Tempat ke dua diduduki Ying Po Kui. Ke tiga Cia Si Ta dan tempat ke empat diberikan kepada Hua Ce Shu mengingat akan kekayaannya. Demikianlah, upacara sembahyang dan pengangkatan saudara dilaksanakan dan diatur oleh Bu-Tosu.

Kemudian mereka semua berpesta pora di tempat itu. Bu-Tosu merasa lega bahwa mereka tidak memaksa untuk memanggil gadis-gadis penyanyi ketika dia menyatakan keberatan. Akan tetapi, di tengah mereka berpesta, datang seorang pelayan yang diutus oleh Goat Toanio untuk mengundang Shi Men pulang dengan alasan bahwa isteri ke tiga jatuh pingsan. Tentu saja hal ini hanya dipakai sebagai alasan agar Shi Men cepat pulang karena bagaimanapun juga, di dalam hati Goat Toanio merasa tidak rela suaminya berhubungan akrab dengan orang-orang yang ia ketahui merupakan kelompok orang yang tidak ada gunanya itu. Akan tetapi juga bukan berarti alasan bohong karena memang isteri ke tiga dari Shi Men sakit-sakitan dan lemah. Shi Men pulang ditemani oleh Hua Ce Shu yang menjadi tetangganya. Beberapa hari kemudiah Ying Po Kui datang mengunjungi Shi Men.

“Bagaimana keadaan Sam-So (kakak-ipar ke tiga)?” tanya Ying, bangga bahwa setelah kini mengangkat saudara, dia berhak untuk menyebut isteri-isteri dari Shi Men dengan sebutan Soso (kakak ipar).!

“Ah, masih belum sembuh. Baru saja aku suruh panggil tabib itu, akan tetapi, kepentingan apakah yang kau bawa dengan kunjunganmu ini?”

“Wah, ada cerita yang hebat, Toako!” “Ceritakanlah!”

“Bayangkan saja, harimau buas yang kemarin dulu kita dengar dari Bu-Tosu, kabarnya kemarin dibunuh oleh seorang yang menggunakan tangan kosong saja!”

“Bohong! Carilah lain orang kalau mau berbohong.”

“Aku tidak membohongimu, Toako. Nama orang gagah itu adalah Bu Siong, dan dia datang dari daerah Yang-Ku-Sian. Dia adalah adik dari seseorang yang tinggal di kota ini dan pernah bekerja di perkebunan tuan tanah yang kaya raya Cai di Hong-Hai-Kun. Setelah sembuh dari suatu penyakit, dia pergi mencari kakaknya itu dan dalam perjalanannya dia melewati Gunung King-Yan-San. Tiba-tiba dia bertemu dengan harimau buas itu. Dia diserang oleh binatang itu, akan tetapi dia menghajar harimau itu dengan kaki tangannya, menghujankan pukulan dan tendangan maut dan akhirnya harimau itupun menggeletak mampus di bawah kakinya. Dia mempergunakan pukulan dengan tangan miring seperti ini, dan menendang dari samping mematahkan tulang-tulang, rusuk harimau itu,”

Ying Po Kui menceritakan dengan menggerakkan kaki tangan, seolah-olah dia sendiri menyaksikan perkelahian itu, atau bahkan dia sendiri yang telah membunuh harimau itu.

“Dan dalam saat ini juga dia sedang menuju ke kota ini sambil membawa korbannya itu menuju ke gedung Kepala Daerah.” Ying melanjutkan ceritanya, seperti kebiasaan yang terdapat pada orang yang membawa berita penting, nampak bangga dengan beritanya itu.

“Aih, kalau begitu kita harus menontonnya!” Shi Men tertarik dan diapun cepat mengajak Ying Po Kui keluar dari situ, menuju ke pintu gerbang timur dari mana pendekar Bu Siong itu akan masuk kota. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Cia Si Ta.

“Ha, aku berani bertaruh bahwa kalian tentu akan nonton harimau itu.”

“Benar, mari nonton bersama kami.” Mereka bertiga bergegas menuju ke jalan raya dan mencari tempat yang bagus, yaitu dari loteng sebuah kedai arak di jalan raya itu dari mana mereka dapat melihat ke arah jalan raya dengan jelas. Mereka tidak menunggu terlalu lama. Segera terdengar suara tambur dan cang dipukul gencar mengiringi sekelompok orang yang berpawai memasuki pintu gerbang timur, ditonton oleh banyak orang yang memenuhi kedua tepi jalan raya. Dua barisan pemburu dengan tombak-tombak beronce merah berjalan di tepi jalan kanan-kiri, mengawal empat orang yang memikul bangkai seekor harimau yang besar sekali. Di belakang empat orang pemikul bangkai harimau ini nampak orang yang ditunggu-tunggu, di samping harimau itu sendiri, yaitu pendekar perkasa Bu Siong yang telah membunuh harimau buas itu hanya dengan tangan kosong.!

Seorang laki-laki muda yang gagah perkasa! Tubuhnya tinggi besar, satu kepala lebih tinggi dari ukuran orang biasa. Wajahnya berbentuk lebar dengan dagu yang, kokoh kuat, sepasang matanya tajam sekali dan terang seperti bintang, tangan kanannya memegang gagang sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya. Pedang itu tidak pernah dipergunakan ketika dia melawan harimau sehingga harimau itu tewas tanpa rusak kulitnya, hanya memar-memar kepalanya dan patah-patah tulang iganya. Kepalanya tertutup kain kepala yang dihias dua buah bunga perak. Pakaiannya, pakaian pemburu atau pendekar yang serba ringkas berlepotan darah dan mantelnya dari kain merah dan dengan gagahnya pendekar ini menunggang seekor kuda putih yang tinggi dan yang berjalan perlahan di belakang bangkai harimau yang digotong empat orang itu.

“Wah, betapa gagah dan kuatnya dia!” Shi Men berbisik kepada teman-temannya. memandang dengan penuh kekaguman. Juga teman-temannya memandang dengan kagum sekali.

“Jadi inilah pendekar Bu Siong dari Yang-Ku-Sian itu!”

Pawai itu memasuki pelataran gedung Kepala Daerah dan Bu Siong turun dari atas pelana kudanya, lalu dengan langkah lebar dia menghampiri Kepala Daerah bersama para pejabat daerah yang telah siap menanti di ruangan depan. Ketika Bu Siong memberi hormat di depan Kepala daerah, pembesar ini memandang kagum. Harimau yang demikian besar dan buas hanya dibunuh dengan tangan kosong, betapa hebatnya tenaga pendekar ini pikirnya. Dia lalu menyambut dengan gembira, mempersilakan Bu Siong duduk menghadapi meja dan pembesar itu mengajaknya makan bersama-sama para pembesar lain, bahkan memberi selamat dan penghormatan dengan tiga cawan arak, kemudian menyuruh keluarkan lima puluh tail perak yang sudah dijanjikannya itu untuk diberikan kepada Bu Siong. Bu Siong menjura dengan hormat lalu berkata sopan,

“Sesungguhnya keberhasilan saya membunuh perusak keamanan rakyat dan pembunuh ini bukan hanya karena kepandaian saya yang tidak seberapa, melainkan berkat kebesaran paduka dan juga karena keberuntungan sedang menyertai saya. Saya tidak berhak menerima hadiah itu, dan karena hati saya merasa amat berduka melihat betapa binatang buas itu membuat banyak pemburu menerima hukuman berat, maka saya mohon kepada paduka, bolehkah kiranya hadiah ini saya bagi-bagikan kepada para pemburu sehingga kebesaran paduka akan menjadi tambah bersinar.” Kepada Daerah itu mengangguk setuju.

“Silakan kalau itu yang kau kehendaki, Bu-Taihiap.” Bu Siong segera membagi-bagi perak itu di antara para pemburu yang tadi ikut mengawalnya dan tentu saja para pemburu itu merasa gembira bukan main. Kepala Daerah sendiri kagum akan kegagahan Bu Siong, maka dia ingin menarik tenaga yang amat penting ini agar dapat dimanfaatkan untuk daerahnya.

“Bu-Taihiap, kami ingin sekali menawarkan kedudukan kepadamu dan mengangkatmu menjadi Kapten pasukan keamanan daerah ini. Tugas utamamu adalah memimpin pasukan membasmi para perampok di sepanjang Sungai Cin. Kami harap saja engkau tidak akan menolaknya, sesuai dengan watakmu yang gagah perkasa untuk melepaskan kesengsaraan rakyat dari penindasan dan ancaman.” Bu Siong menghaturkan terima kasihnya sambil berlutut di depan pembesar itu.

“Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mentaati perintah paduka.” Tentu saja pembesar itu merasa girang sekali dan saat itu juga Bu Siong, diangkat menjadi kepala penjagaan keamanan dan diperkenalkan dengan semua pejabat daerah yang hadir di situ dan Bu Siong menerima ucapan selamat dari mereka. Setelah pesta berakhir, Bu Siong pamit kepada kepala daerah untuk lebih dahulu mencari kakaknya. Kakak kandung yang dicari-cari oleh Bu Siong itu bernama Bu Toa. Orang tidak akan percaya kalau melihat kedua orang kakak beradik ini, bahwa mereka adalah saudara sekandung.

Kalau Bu Siong merupakan laki-laki yang tampan gagah, bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, sebaliknya Bu Toa bertubuh kecil, wajahnya juga buruk dan nampaknya seperti seorang laki-laki tolol. Berbeda dengan Bu Siong yang bertubuh kuat, Bu Toa ini bertubuh lemah dan berpenyakitan. Karena tubuhnya yang kuat, semenjak muda sekali Bu Siong meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan. Semenjak muda sekali dia memang suka berlatih silat sehingga mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di kota-kota. Sebaliknya Bu Toa hidup sebagai petani dan menikah dengan seorang perempuan dusun. Ketika anak perempuannya yang diberi nama Ying masih kecil, isteri Bu Toa meninggal dunia, membuat dia menjadi seorang duda bersama anak perempuannya, hidup menyendiri.

Pada suatu waktu, musim kering yang panjang membuat kehidupan di dusun itu tak dapat dipertahankan lagi. Bu Toa membawa anak perempuannya untuk pergi mengungsi dan akhirnya dia tinggal di kota Ceng-Ho-Sian. Di kota ini dia berjualan kue dengan memikul dagangannya itu putar-putar kota. Karena ini dia dikenal banyak orang dan seluruh kota menyebutnya dengan nama poyokan Si Cebol dan suaranya yang tinggi melengking kalau menawarkan kuenya sering kali menjadi bahan olok-olok anak-anak kecil. Di kota Ceng-Ho-Sian ini, ketika pertama kali tiba, Bu Toa mendapatkan sebuah kamar pondokan di rumah-rumah kecil milik hartawan Thio. Karena Bu Toa pandai menyesuaikan diri, ringan tangan dan kaki untuk membantu tuan rumah, maka hartawan Thio suka dan merasa kasihan kepadanya, bahkan membebaskannya dari uang sewa, akan tetapi sebagai gantinya Bu Toa berkewajiban merawat rumah- rumah milik hartawan itu. Hartawan Thio atau Thio-Wangwe amat kaya raya, akan tetapi dia tidak mempunyai seorangpun anak. Apalagi isterinya amat galak, tidak pernah memperkenankan dia mempunyai selir, Hal ini membuat Thio-Wangwe merasa kesepian dan sering kali dia mengeluh di depan isterinya.

“Apa artinya memiliki harta kekayaan yang melimpah seperti aku ini? Hidupku kosong dan sunyi, tidak ada kesegaran, tidak ada kegembiraan.”

“Baiklah, baiklah, aku akan menyuruh perantara mencarikan dua orang budak yang muda dan cantik dan mereka boleh melayanimu dan menghiburmu dengan tarian dan nyanyian mereka dari pagi sampai malam, sampai engkau bosan!” Tentu saja si tua Thio menjadi girang sekali dan menerima usul ini. Beberapa hari kemudian, nyonya Thio telah membeli dua orang budak yang muda dan manis-manis. Nama mereka adalah Pek Yu Lian dan Pang Kim Lian. Dan begitu kedua orang gadis ini berada di dalam rumah keluarga Thio, rumah itu bagaikan mendapatkan sinar baru dan keadaan di situ menjadi segar dan gembira. Sering kali terdengar suara seruling dan nyanyian mereka menghibur Thio-Wangwe dan isterinya.

Akan tetapi, malang sekali, baru sebulan lebih tinggal di situ, Pek Yu Lian meninggal dunia karena penyakit. Kini hanya tinggal Pang Kim Lian seorang yang menjadi penghibur keluarga Thio. Pang Kim Lian berusia lima belas tahun, cantik dan manis sekali, sesuai dengan namanya, yaitu Kim Lian atau Teratai Emas! Si Teratai Emas ini adalah anak perempuan yang ke enam dari keluarga penjahit Pang yang miskin sekali. Pada jaman itu, pada umumnya orang menganggap anak-anak perempuan sebagai beban keluarga. Anak laki-laki selain dianggap sebagai penyambung nama keturunan atau marga, juga dianggap sebagai tenaga yang kelak dapat diharapkan untuk dapat menjamin orang tua di waktu usia lanjut, dan sebagai pembantu pekerjaan orang tua. Karena pendapat dan anggapan inilah, maka derajat kaum wanita amat rendahnya di jaman itu.

Orang-orang tua akan merasa lega dan bebas kalau anak perempuan mereka ada yang mengambilnya sebagai mantu. Bahkan mereka akan merasa gembira kalau ada orang mau mengambil anak perempuan mereka sebagai apa saja, asalkan keluar dari rumah dan dari tanggung jawab mereka. Tentu saja tidak demikian dengan puteri-puteri bangsawan atau hartawan. Akan tetapi, keadaan anak perempuan orang- orang yang miskin sungguh amat menyedihkan. Bukan dongeng belaka kalau banyak anak perempuan yang masih bayi dibunuh oleh orang tuanya karena mereka tidak merasa kuat untuk memelihara anak perempuan mereka itu, dan banyak pula yang memberikan anak perempuan mereka kepada siapa saja yang mau. Kalau anak perempuan itu sudah besar, maka banyak orang-orang tua miskin yang berusaha menjual anak perempuan mereka untuk dijadikan budak, selir atau bahkan menjadi pelacur.

Demikian pula dengan Si Teratai Emas. Ketika ayahnya meninggal dunia, Kim Lian ini baru berusia sembilan tahun. Sejak kecil sudah nampak bahwa Kim Lian cantik mungil den manis sekali, maka oleh ibunya ia lału dijual kepada keluarga Wang yang kaya raya dan masih. berdarah bangsawan.

Kim Lian diterima di rumah tangga keluarga itu, karena wajahnya yang manis iapun dididik membaca dan menulis, belajar bernyanyi dan meniup suling. Karena ia memang cerdik, maka Kim Lian tumbuh menjadi seorang remaja yang cantik manis, menarik, pandai bersolek, bahkan pandai pula menyulam. Pendeknya, ia merupakan seorang di antara dayang-dayang yang amat menarik dan dikasihi Wang-Loya (tuan besar Wang) yang sudah tua. Ketika Kakek Wang yang kaya raya ini meninggal dunia, Pang Kim Lian berusia lima belas tahun. Kim Lian pulang ke rumah ibunya, akan tetapi hamya sebentar saja ia tinggal di rumah ibunya yang melarat karena ibunya telah menjualnya lagi kepada keluarga Kakek Thio yang kebetulan mencari dua orang gadis muda untuk menjadi penghibur Kakek Thio yang kesepian.

Di rumah keluarga Thio ini, Kim Lian yang disuka dan dimanja memperoleh kesempatan untuk memperluas pengetahuannya dengan mempelajari banyak macam kesenian dan kerajinan tangan, dan iapun mulai pandai bermain Yang-kim, yaitu semacam siter. Di tempat itu, bagaikan setangkai bunga ia mulai mekar dan dalam usia delapan belas tahun jadilah ia seorang gadis yang, luar biasa cantiknya. Cantik, cerdik, dan memiliki daya tarik yang mempesonakan. Tidaklah terlalu mengherankan dan tidak dapat terlalu disalahkan kalau Kakek Thio selalu merasa gelisah dan dia selalu mengamati perkembangan yang terjadi pada diri Kim Lian dengan mata berminyak dan mulut berliur. Daya tarik seorang wanita akan selalu tetap mengusik birahi seorang pria,

Berapapun usia pria itu, dan agaknya berahi terhadap wanita inl hanya akan berakhir bersama masuknya badan ke liang kubur. Ada yang nampak alim dan tidak tertarik, akan tetapi hal itu hanyalah akibat dari penekanan belaka, namun hasrat itu sebenarnya tetap ada, merupakan api abadi yang bernyala di dalam batin. Hanya perasaan sungkan, malu dan takut akan akibatnya yang membuat seorang laki-laki tua memaksa diri untuk mengalihkan pandang mata dari tubuh seorang gadis muda dan menghibur diri untuk mengalihkan minat dan memadamkan atau setidaknya menutup api berahi yang selalu berkobar. Demikian pula dengan Kakek Thio. Semenjak Kim Lian berada di rumahnya, setiap saat dia selalu membayangkan kemontokan tubuh gadis itu, dan kalau berhadapan dia selalu memancarkan pandang mata penuh gairah.

Akan tetapi, dia harus selalu menekan gairahnya karena dia merasa takut kepada isterinya yang keras dan galak. Bagaikan seekor kucing melihat dendeng, dia menjilat bibir sendiri yang berliur, namun apa daya, dendeng itu berada di dalam almari kaca, mudah dipandang akan tetapi sukar didapatkan. Laki- laki tetap laki-laki, biar sudah tua, seperti juga kucing tetap kucing, biar sudah ompong. Hasrat yang besar dan gairah yang bernyala-nyala membuat orang menjadi banyak akal. Demikian pula Kakek Thio. Dia selalu mencari kesempatan, dan di depan isterinya dia berpura-pura alim. Hal Ini membuat isterinya lengah. Pada suatu hari, nyonya Thio pergi berkunjung kepada seorang tetangga. Almari kaca dibiarkan terbuka, dendeng itu dibiarkan tak terjaga, padahal kucing sudah selalu siap menubruk!

Kakek Thio tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Dipanggilnya Kim Lian dan ditariknya tangan gadis yang sedang mekar dan harum itu ke dalam kamarnya. Akhirnya, hal-hal yang selama ini hanya dibayangkannya sajapun terjadilah. Biarpun Kim Lian menghadapi peristiwa ini dengan hati tak senang dan batin meronta, namun apa daya gadis yang menjadi budak belian ini terhadap majikannya? la tidak berani melawan atau menolak, hanya dapat menangis lirih. Kesenengan hasil curian yang dinikmatinya dałam waktu hanya singkat saja itu harus dibayar mahal sekali oleh Kakek Thio. Karena membiarkan nafsu bertumpuk di dalam dirinya kemudian meledak tak terkendali, tubuhnya yang memang sudah loyo dan lemah itu tidak kuat menahan.

Segera dia jatuh sakit dan yang dideritanya bermacam-macam. Tulang punggungnya nyeri dan kaku, matanya berkunang-kunang, telinganya mengiang, kepalanya pening-pening dan mengguknya kumat, batuk-batuk tiada hentinya. Tentu saja melihat suaminya yang mendadak jatuh sakit, apalagi melihat sepasang mata Kim Lian masih merah bekas tangis, Nyonya Thio segera dapat menduga apa yang telah terjadi ketika ia meninggalkan rumah dalam waktu kurang dari satu jam itu. Nyonya yang galak ini mengamuk, Kim Lian dipanggil dan dimaki-maki, juga dipukuli dengan gagang sapu bulu ayam. Untuk meredakan keributan yang terjadi itu, terpaksa Kakek Thio yang menjadi susah sekali hatinya itu mengambil keputusan untuk mengawinkan Kim Lian dengan orang luar. Dia bersedia untuk membiayai pernikahan itu.

Maka dipilihlah Bu Toa, duda yang menyewa rumah hartawan itu, mengingat bahwa Bu Toa adalah seorang yang baik hati, sabar dan rajin, walaupun laki-laki yang sudah menduda itu berwajah buruk dan bertubuh kerdil. Tentu saja Bu Toa menerima dengan girang sekali dan mengucapkan syukur kepada Tuhan yang telah memberinya anugerah. Secara tiba-tiba dia memperoleh seorang isteri yang demikian cantiknya, baru berusia delapan belas tahun, dan pernikahan Itupun dibiayai oleh orang lain tanpa dia sendiri mengeluarkan satu sen pun. Hal ini dianggap sebagai rejeki nomplok dan sebagai anugerah Tuhan kepadanya. Sama sekali Bu Toa tidak menyadari bahwa yang nampaknya sebagai rejeki nomplok itu sesungguhnya merupakan suatu kutukan baginya, yang nampaknya lezat dan menggairahkan itu sebenarnya merupakan racun yang akan merusak hldupnya kelak.

Sejak pernikahan yang tidak seimbang ini, Bu Toa selalu menerima uluran tangan Kakek Thio, seringkali menerima bantuan uang kalau dia sedang kekurangan. Dia amat berterima kasih kepada hartawan tua itu, sama sekali tidak tahu betapa seringnya Kakek Thio memasuki kamarnya setelah dia pergi menjajakan kue dagangannya, dan betapa Kakek itu melakukan perjinaan sesuka hatinya dengan Kim Lian yang telah menjadl isterinya!. Akan tetapi, kalau dia mengetahui, apa yang dapat dilakukannya? Dia menerima Kim Lian dari tangan Kakek Thio, dan kehidupannya ditunjang oleh hartawan itu, Maka, ketika akhirnya dia tahu juga akan hubungan rahasia antara isterinya dan Kakek Thio, dia pura-pura tidak tahu saja.

Kesehatan Kakek Thio semakin memburuk setelah dia melanjutkan hubungannya dengan Kim Llan dan pada suatu hari, diapun jatuh sakit dan tak mampu bangun dari tempat tidurnya. Isterinya yang juga mendengar akan hubungan itu, menjadi marah dan mengusir Bu Toa dan isterinya. Terpaksa Bu Toa membawa isterinya dan puterinya, Bu Ying, mencari pondokan baru dan akhirnya mendapatkan juga sebuah rumah pondokan yang kecil di tepi jalan yang mempunyai loteng kecil pula, dan setelah pindah ke rumah itu, kembali Bu Toa setiap hari sibuk memikul dan menjajakan kue-kuenya berkeliling kota. Pang Kim Lian diam-diam membenci suaminya, dan sering kali timbul pertengkaran di antara mereka. Sering kali Kim Lian mengutuk Kakek Thio yang mengawinkan ia dengan Bu Toa.

“Terkutuk tua bangka Thio itu. Mengapa ia memilih manusia kerdil lemah ini, yang menelan semua penghinaan, yang menjadi mabuk hanya oleh secawan arak dan kesukaannya hanya tidur mendengkur! Aihh, dosa apakah yang telah dilakukan mahluk malang seperti aku ini sehingga aku harus menderita dalam pernikahan macam ini?” Setiap pagi, setelah suaminya pergi meninggalkan rumah sambil memikul dagangannya, Kim Lian sering nampak duduk di bełakang jendela loteng. Ia merasa gembira sekali melihat betapa semua laki-laki yang lewat di jalan raya di bawah jendelanya, selalu menengok dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kagum.

Segera Ia menjadi terkenal di kalangan kaum pria dan banyak pria yang menyayangkan bahwa seorang wanita muda yang demikian moleknya menjadi isteri seorang laki-laki yang tidak sempurna, bahkan tak pantas dinamakan laki-laki dengan tubuhnya yang kerdil dan wajahnya yang buruk itu. Karena Kim Lian melempar senyum dan kerling kepada para pemuda yang lewat di depan rumahnya, maka para muda itu, menjadi berani dan terang-terangan mereka mengeluarkan kata-kata merayu dan bahkan kurang ajar kalau mereka lewat di depan rumah itu. Hal ini akhirnya diketahui oleh Bu Toa dan laki-laki kerdil ini mengambil keputusan untuk pindah dari jaian itu. Kim Lian marah-marah mendengar akan keputusan yang diambil suaminya.

“Engkau sudah gila?” bentaknya. “Apakah engkau ingin membawaku pindah kerumah yang lebih kecil dan buruk lagi daripada ini, tinggal di kolong jembatan seperti gelandangan? Kalau memang ingin pindah, setidaknya engkau harus mencari rumah yang lebih baik dan jalan yang lebih besar daripada ini.”

“Aihh, isteriku. Dari mana aku dapat memperoleh uang banyak untuk membayar sewa rumah yang lebih besar dan mahal?”

“Huh, engkau manusia tolol yang tiada guna” Kim Lian memaki marah, mukanya menjadi merah dan matanya berkilat, sedang Bu Toa yang mencinta isteri cantik itu memandang kagum karena makin marah, isterinya itu nampak semakin cantik, pipinya demikian segar kemerahan. “Orang macam engkau ini masih berani mengaku laki-laki? Laki-laki tak tahu malu kalau engkau tidak becus mencari uang, gadaikanlah perhiasanku ini untuk mencari tempat tinggal yang lebih pantas. Kelak engkau dapat menebusnya kembali!”

Kim Lian lalu menyerahkan perhiasan-perhiasan yang dulu diterimanya dari Kakek Thio. Bu Toa menggadaikannya dan menggunakan uang itu untuk menyewa sebuah rumah yang memiliki loteng dengan empat buah kamar. Rumah itu sederhana, namun cukup pantas dan menyenangkan. Setelah pindah ke rumah baru di Jalan Barat ini, Bu Toa bekerja lagi membanting tulang, lebih rajin daripada biasanya, bahkan berjualan sampai malam untuk memperoleh hasil yang lebih, karena dia harus menebus perhiasan isterinya yang digadaikan. Dan pada suatu hari, ketika dia menjajakan dagangannya, Bu Toa melihat Bu Siong di jalan raya. Dia sudah mendengar akan pendekar pembunuh harimau itu, akan tetapi dia tidak menyangka bahwa Bu Siong pembunuh itu adalah juga Bu Siong adiknya yang sudah bertahun-tahun berpisah darinya.

“Haiii...! Bukankah engkau Bu Siong adikku?” Bu Toa berseru ketika dia melihat pendekar itu di jalan raya.

“Taoko...” Bu Siong juga berseru girang dan merangkul kakak yang sudah lama dicarinya itu. “Ah, betapa dengan susah payah aku mencarimu di mana-mana, Toako!” Kakak beradik itu berangkulan dan Bu Toa mengajak, adiknya untuk berkunjung ke rumahnya pada saat itu juga. Sambil berjalan menuju ke rumah, dengan singkat Bu Toa menceritakan tentang keadaannya selama mereka berpisah, betapa ibu Bu Ying telah meninggal dunia, dan betapa dia baru-baru ini telah menikah lagi. Ketika tiba di rumahnya, Bu Toa mengajak ke loteng dan dengan penuh kebanggaan dia memperkenalkan adik kandungnya itu kepada isterinya.

“Isteriku, inilah pembunuh harimau yang terkenal itu, pendekar gagah perkasa yang kini diangkat menjadi Komandan Keamanan, inilah Bu Siong, adik kandungku!” Bagaikan terkena pesona, Kim Lian memandang laki-laki yang berada di depannya. Seorang laki-laki jantan, ganteng, dengan tubuh yang tinggi besar dan membayangkan kekuatan yang hebat, dan membayangkan betapa laki-laki ini telah dapat memukul seekor harimau buas sampai pingsan, menggetarkan hatinya penuh dengan kekaguman. Betapa mungkin, pikirnya penuh keheranan, bahwa seorang laki-laki perkasa seperti ini dapat menjadi adik kandung suaminya. Suaminya seorang laki-laki tidak sempurna, kerdil dan buruk, hanya seperempat bagian laki-laki dan tiga perempat bagian boneka buruk, sedangkan adiknya itu, seratus prosen laki-laki yang jantan, laki-laki tulen penuh dengan kekuatan. Ah, dia harus tinggal di sini! “Adik Bu Siong yang baik, di manakah engkau tinggal?” tanyanya, suaranya dibuat semerdu mungkin dan wajahnya penuh keramahan, bibirnya yang merah basah itu mengarah senyum memikat. “Dan siapakah yang mengurus rumah tanggamu?”

“Kedudukanku mengharuskan aku tinggal di dekat benteng, So-So (kakak ipar perempuan). Aku tinggal di sebuah pondok dekat benteng. Dua orang perajurit anak buahku mengurus rumah tanggaku!”

“Aih, adikku yang baik, mengapa engkau tidak tinggal saja bersama kami di sini? Perajurit-perajurit yang kasar dan kotor memasak untukmu dan melayanimu. Hemm, sungguh tak menyenangkan! Di sini, aku sebagai kakak iparmu akan memasakkan makanan untukmu dan mengurus segala keperluanmu dengan baik.”

“Terima kasih banyak atas kebaikan So-So,” kata Bu Siong, mengelak karena dia masih merasa ragu-ragu untuk menerima penawaran kakak iparnya itu.

“Tentu engkau mempunyai keluarga. Engkau boleh tinggal bersama isteri dan anakmu di sini bersama kami,” kata pula Kim Lian, kata-katanya itu lebih merupakan pancingan untuk mengetahui keadaan pria yang menggerakkan hatinya penuh dengan kekaguman itu.

“Aku belum menikah, So-So.” kata Bu Siong, mukanya menjadi agak merah.

“Aihhh! Sudah sedewasa ini belum menikah? Berapakah usiamu sekarang, adik iparku yang baik?” “Usiaku dua puluh delapan tahun.”

“Kalau begitu engkau lebih tua lima tahun dariku” kata Kim Lian dengan hati girang karena adik ipar itu ternyata belum menikah. Mereka duduk bercakap-cakap dan dua orang kakak beradik itu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak berpisah. Mereka berdua saling rindu dan kini mereka menumpahkan semua kerinduan dalam percakapan itu. Dan tidak sebentarpun Kim Lian meninggalkan dua orang pria itu, bahkan terjun ke dalam percakapan dengan penuh keramahan dan kegembiraan. Tentu saja Bu Siong tidak berprasangka buruk dan diam-diam memuji nasib baik kakak kandungnya yang setelah menduda dapat berjodoh dengan seorang wanita yang demikian muda, cantik dan juga cerdas akan tetapi amat ramah.

“Oh, kami sampai lupa!” kata Bu Toa yang kini wajahnya berseri penuh kegembiraan. “Isteriku yang baik, bukankah sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengajak adikku ini makan?” Kim Lian bangkit dari duduknya.

“Ha-ya, saking gembiranya bertemu dengan adikmu, aku sampai lupa.” Dan iapun cepat memanggil dengan suara tinggi,

“A Ying. di mana saja engkau?”

“Aih, akupun lupa memperkenalkan Bu Ying kepada pamannya!” Bu Toa juga berseru. Mendengar panggilan ibu tirinya, dengan takut-takut A Ying, panggilan sehari-hati dari Bu Ying, muncul dari pintu belakang dan cepat naik ke loteng. Kim Lian yang biasanya bersikap galak kepada A Ying, kini cepat merangkulnya dan mendekatkan anak itu kepada Bu Siong. “Adik Bu Siong, inilah keponakanmu A Ying.”

“A Ying, berilah hormat kepada pamanmu, Bu Siong ini.” Dengan sikap malu-malu dan takut-takut, anak itu memberi hormat. Sikap malu dan takut anak yang tertekan batinnya. Anak yang haus akan kasih sayang.

“A Ying, mari bantu aku mempersiapkan makanan. Adik Bu Siong, aku minta dengan hormat dan sangat agar engkau suka menanti sebentar dan makan bersama kami.” Dengan sikap hormat Bu Siong menjura.

“Aku hanya merepotkan saja padamu, So-So.”

“Aih, apanya yang merepotkan, Sudah sepatutnya aku melayanimu makan sebagai saudara yang dekat dan baik.” Dengan lenggang yang membuat kedua pinggulnya menari-nari dan pinggangnya meliuk-liuk seperti batang pohon yang-liu (sejenis cemara) tertiup angin, wanita itu meninggalkan ruangan loteng diikuti oleh A Ying. Setelah mereka menghadapi meja makan, Kim Lian dengan manis budi dan ramah menuangkan dan menawarkan cawan arak pertama kepada adik iparnya untuk menghaturkan selamat datang.

“Selamat datang di rumah kami dan semoga nasib baik akan selalu menyertaimu, adik Bu Siong,” katanya dan setelah Bu Siong menuangkan isi cawan arak ke dalam perutnya melalui tenggorokan dengan sekali teguk, Kim Lian segera memilihkan daging-daging dan sayur terbaik dengan sumpitnya, dimasukkan ke dalam mangkok Bu Siong. la bersikap manis sekali dan mengiringi pelayanannya dengan senyum di bibir.

Bu Siong adalah seorang laki-laki perkasa yang berwatak terbuka dan jujur. Dia menerima semua perhatian dari kakak iparnya ini sebagai tanda keramahan dan keakraban keluarga. Dia sama sekali tidak pernah curiga bahwa di balik semua kemanisan Kim Lian ini terkandung pamrih yang lebih mendalam dan tidak wajar. Betapapun juga, dia mendapat kenyataan betapa pandang mata kakak iparnya itu kadang-kadang demikian penuh kelembutan dan keanehan, seolah-olah dia merasa betapa seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki dibelai oleh sinar mata itu yang membuatnya selalu menundukkan mukanya dengan canggung. Maka, begitu mereka selesai makan, Bu Siong cepat bangkit dan berpamit, dengan halus dan tegas menolak penahanan kakak iparnya yang minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ.

“Biarlah lain kali aku datang berkunjung lagi, So-So,” katanya. Suami isteri itu mengantar Bu Siong sampai ke depan pintu dan di sini wanita itu berkata lagi dengan suara mengandung penuh harapan,

“Akan tetapi, adik Bu Siong, engkau tentu akan tinggal bersama kami, bukan? Engkau tahu apa yang telah kuceritakan tadi, betapa kami menderita oleh ejekan para tetangga karena keadaan kami, dan kalau engkau tinggal bersama kami, tentu kami akan terbebas dari semua ejekan itu. Takkan ada seorangpun berani lagi menghina dan mengejek suamiku.” Bu Siong mengerti. Hatinya memang sudah merasa panas mendengar betapa kakaknya banyak menderita ejekan orang karena keadaan dirinya yang kerdil dan miskin.

“Baiklah, So-So. Karena So-So dan Toako membutuhkan aku, maka aku akan mengirim barang-barangku dan pindah ke sini.” Tentu saja Kim Lian merasa girang bukan main, akan tetapi ia menyembunyikan perasaan itu dan hanya menjura dengan hormat. “Kehadiranmu di sini akan memberi kehormatan bagi kami, adikku.” Setelah Bu Siong pindah ke rumah kakaknya, dia memberi beberapa potong uang perak kepada kakaknya untuk membeli kue-kue dan beberapa barang lain dan mengirimkannya kepada para tetangga sebagai tanda persahabatan. Para tetangga merasa girang apalagi mendengar bahwa kini pendekar perkasa Bu Siong yang namanya amat terkenal sebagai pembunuh harimau itu tinggal di rumah Bu Toa, bahkan ternyata pendekar itu adalah adik kandung Bu Toa. Mereka semua kini menghadapi Bu Toa dengah sikap lain menghormat dan kagum. Kehadiran Bu Siong, tepat seperti dikatakan oleh Kim Lian, telah mengangkat martabat keluarga itu dalam pandang mata para tetangga.

Bu Siong adalah seorang pendekar yang berwatak polos dan hormat. Dia tidak lupa untuk membelikan kain yang indah untuk kakak iparnya, dan tentu saja Kim Lian menerima hadiah ini sebagai suatu kejutan yang amat menggembirakan hatinya. Kim Lian bersikap penuh kasih sayang terhadap Bu Siong seperti terhadap adik sendiri yang disayang. Melayani pendekar itu dengan masakan-masakan yang lezat, mengerahkan segala daya upayanya untuk menyenangkan adik iparnya itu. Di pihaknya, Bu Siong yang jujur tidak pernah berprasangka buruk, berterima kasih sekali kepada kakak iparnya yang demikian baik terhadap dirinya, sama sekali tidak tahu bahwa semua perlakuan yang amat baik dari Kim Lian itu mengandung pamrih lain yang lebih mendalam. Hubungan mereka menjadi akrab seperti layaknya seorang adik dan kakak.

Beberapa bulan kemudian, musim salju pun tiba. Hawa udara menjadi dingin sekali, membuat orang merasa malas untuk keluar dari dalam rumah yang hangat. Akan tetapi, Bu Toa tidak pernah berhenti keluar rumah setiap pagi untuk menjajakan dagangannya. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Bu Toa sudah menempuh salju sambil memikul dagangannya. Tubuhnya dilindungi jubah tebal yang hangat pemberian adiknya. Malam tadi Bu Siong bertugas di benteng dan siang Ini baru akan pulang. Setelah suaminya berangkat, Kim Lian sibuk sendiri.

“Hari ini aku harus berhasil!” la mengepal tinju. “Dia tidak mungkin dapat bersikap acuh lagi terhadap diriku!” Kim Lian segera menemui janda Wang yang tinggal di dekat rumahnya untuk membeli anggur yang baik dan daging. la sendiri membakar arang di tempat perapian dalam kamar Bu Siong. Kemudian ia mempersiapkan masakan yang lezat, kemudian menanti kedatangan adik ipar itu. Akhirnya, lewat tengah hari, muncullah Bu Siong di ambang pintu, menggigil kedinginan dan mengebut-ngebutkan salju dari jubahnya. Kim Lian segera menyambutnya, wajahnya yang cantik itu penuh dengan senyum yang manis. Ketika Bu Siong membuka jubah dan topinya yang basah oleh salju, Kim Lian maju untuk membantunya.

“Aih, jangan repot, So-So.” Bu Siong mencegah. Dia mengebutkan jubah dan topinya, lalu menggantungkannya di tembok. Setelah itu seperti biasa, Bu Siong melangkah lebar menuju ke kamarnya. Kim Lian mengikutinya, sepasang matanya bersinar-sinar dengan cerdik.

“Adik Bu Siong, aku telah menanti kembalimu sejak pagi. Kenapa engkau begitu lama baru pulang?”

“Seorang kawan membujukku untuk makan di rumahnya, akan tetapi aku berhasil menolaknya dan hanya bercakap-cakap.”

“Ah, kiranya begitu. Nah, duduklah dekat perapian biar hangat, adikku.” Bu Siong menjatuhkan diri di atas kursi dekat perapian yang hangat dan menarik napas panjang. “Aahh, nyaman sekali di sini!” Dia berkata senang dan melepaskan sepatunya, kaus kakinya, kemudian memasukkan kedua kakinya kedalam sepasang sandal yang hangat. Memang nyaman dan menyenangkan sekali duduk dekat perapian seperti itu setelah tertimpa hujan salju di luar rumah tadi. Si kecil A Ying muncul membawa anggur dan masakan, dan dengan gerakan yang manis memikat Kim Lian mengatur semua iu di atas meja. A Ying lalu keluar dari kamar itu. Kim Lian mengambil sebuah bangku dan duduk pula di dekat perapian.

“Adik Bu Siong, minumlah anggur ini” katanya setelah menuangkan anggur ke dalam cawan arak. Untuk menghormati kakak iparnya, Bu Siong menerima cawan itu dan minum anggur yang dituangkan oieh Kim Lian sampai dua kali. Diapun membalas dengan menuangkan anggur ke dalam cawan Kim Lian. Wanita itu lalu mengajak adik iparnya makan minum dan berusaha untuk terus mengisi cawan arak di depan Bu Siong agar tidak sampai kosong. Dan tiba-tiba saja pakaian Kim Lian sudah tidak karuan letaknya. Bagian dadanya terbuka karena ada dua buah kancing lepas sehingga nampak lengkung dadanya. Ikatan rambutnyapun tiba-tiba terlepas sehingga rambut yang hitam panjang dan harum itu terurai di atas pundaknya. Bibirnya yang merah basah itupun terbuka dan sepatang matanya setengah terkatup, penuh gairah.

“Adik Bu Siong, ada desas-desus bahwa engkau menyimpan seorang gadis penyanyi di dalam sebuah rumah tak jauh dari benteng. Benarkah itu?”

“Jangaภ dengarkan desas-desus itu, Aku bukan laki-laki macam itu” “Siapa tahu? Jangan-jangan engkau bicara begini dan berpikir lain.” “Hemm, tanya saja kepada kakakku!”

“Kakakmu? Apa yang dia ketahui? Dia seperti mimpi dalam hidupnya, seolah-olah dia selalu dalam keadaan setengah mabuk. Apakah dia harus berdagang makanan seperti itu kalau dia memang berotak? Minumlah, adik Bu Siong.” Kim Lian membujuk adik iparnya untuk meneguk tiga cawan arak lagi bahkan masih terus mengisi cawannya. la sendiri telah minum tiga cawan dan iapun mulai mabuk, dibakar oleh api nafsu berahi yang bernyala-nyala didalam tubuhnya.

Kata-katanya menjadi semakin bebas dan tidak terkekang lagi. Biarpun dia telah minum banyak arak, Bu Siong masih sembilan persepuluh bagian sadar. Dia tidak terpengaruh oleh arak dan keadaan So-Sonya dan lebih banyak menundukkan mukanya. Karena guci arak pertama telah kosong, Kim Lian meninggalkan kamar untuk mengisinya lagi. la meninggalkan kamar itu dengan langkah gontai, dengan lenggang yang memikat. Akan tetapi Bu Siong tidak memperhatikannya, bahkan pendekar ini lalu membereskan arang yang membara di dalam perapian. Kim Lian masuk lagi ke kamar dan dengan tangan kanan memegang seguci arak ia meletakkan tangan kiri ke atas pundak Bu Siong. Pendekar ini merasa betapa jari-jari tangan itu menekan pundaknya.

“Pakaianmu begitu tipis, adik Bu Siong. Apakah engkau tidak merasa dingin?” Bu Siong tidak menjawab melainkan melanjutkan pekerjaannya mengorek-ngorek arang dengan alat pengorek. Kim Lian mengambil pengorek itu dari tangannya.

“Ihh, agaknya engkau tidak tahu bagaimana caranya untuk membikin panas, adik yang baik. Biarkan aku yang akan membuat engkau menjadi sepanas perapian itu sendiri!” Bu Siong mulai marah bukan main, akan tetapi dia menekan kemarahannya. Agaknya Kim Lian yang sudah mabuk itu tidak menyadari akan kemarahan adik iparnya. la menegak arak dari cawannya, meninggalkan setengahnya dan menyodorkan cawan dengan sisa arak yang diminumnya itu kepada Bu Siong.

“Minumlah ini, adikku yang gagah, minumlah kalau engkau kasihan kepadaku.” Bu Siong tak dapat menahan dirinya lagi. Dia mengambil cawan itu dan dengan marah menuangkan isinya ke atas lantai. Dan dengan tangan seperti hendak menolak kakak iparnya, dia berkata dengan sepasang mata berkilat marah.

“Cukup semua gila-gilaan ini, So-So! Aku adalah seorang jujur yang berdiri dengan tegak di atas kedua kakinya di antara langit dan bumi, dan yang membiarkan lidahnya di dalam mulutnya! Aku bukanlah seekor babi yang tidak tahu akan kesusilaan dan perikemanusiaan. Hentikan semua tetek bengek ini! Kalau engkau membiarkan dirimu mudah dimabuk nafsu, mataku boleh jadi akan dapat mengenalmu sebagai kakak ipar, akan tetapi kepalan tanganku boleh jadi akan melupakan hal itu!” Dengan muka merah padam, Kim Lian menundukkan mukanya. Kemudian ia memanggil A Ying untuk membersihkan meja. Setelah hal ini dilakukan dan anak itu keluar lagi dari dalam kamar, ia berkata dengan suara lirih,

“Aku hanya bergurau. Bagaimana aku dapat menduga bahwa engkau akan menanggapinya secara sungguh-sungguh? Betapa kasarnya engkau, adik Bu Siong.” la lalu meninggalkan kamar itu menuju ke dapur. Peristiwa itu terasa amat menyakitkan hati bagi Kim Lian, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya menyesali diri sendiri dan nasibnya yang dianggapnya amat buruk. Dan terjadilah perubahan dalam rumah tangganya pada hari itu juga. Ketika pada sore harinya Bu Toa pulang dari menjajakan dagangannya, dia disambut oleh adiknya yang bersikap dingin dan muram. Bahkan Bu Siong lalu pergi meninggalkan rumah itu, tidak perduli akan teriakan kakaknya yang memanggilnya. Tak lama kemudian, dia kembali bersama dua orang perajurit dan memerintahkan mereka untuk mengangkuti barang-barangnya dari rumah kakaknya.

“Wahai adikku, mengapa engkau tiba-tiba hendak meninggalkan kami?” tanya Bu Toa dengan heran dan penuh kekhawatiran.

“Tidak perlu kukemukakan alasannya, kakakku. Biarlah aku pergi dengan aman, agaknya demikianlah yang paling baik.” Dan diapun pergi bersama dua orang anak buahnya yang memanggul barang- barangnya, meninggalkan Bu Toa yang menggeleng-geleng kepala dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi maka adiknya bersikap seaneh itu.

Kurang lebih setengah bulan kemudian Bu Siong dipanggil menghadap Kepala Daerah dan dia diberi tugas untuk mengawal barang-barang berharga milik pembesar itu untuk dibawa ke Kotaraja. Perjalanan itu cukup jauh dan memakan waktu lama, dan karena yang dibawanya adalah barang-barang berharga, maka tentu saja amat berbahaya dan membutuhkan tenaga seorang gagah seperti Bu Siong. Pembesar itu menjanjikan hadiah besar kepada Bu Siong yang tentu saja menerima tugas ini dengan senang hati. Sebelum berangkat, Bu Siong mengunjungi rumah kakaknya, Dia tidak mau memasuki rumah itu dan hanya menanti di depan rumah sampai kakaknya pulang dari menjajakan dagangannya. Mereka lalu naik ke loteng dan Bu Siong duduk berhadapan dengan kakaknya dan kakak iparnya.

“Toako dan So-So. Besok aku akan pergi melaksanakan tugas selama dua bulan lebih. Toako, engkau adalah orang yang berwatak lemah dan selalu mengalah. Aku khawatir bahwa selama aku pergi, ada orang yang akan mengganggumu. Janganlah membiarkan dirimu terlibat dalam percekcokan, tunggu sampai aku pulang untuk membereskan urusannya. Dan kalau aku menjadi engkau, kakakku, aku tidak akan membawa dagangan terlalu banyak, dan tidak akan berjualan terlalu lama meninggalkan rumah. Juga, kalau engkau pergi, sebaiknya engkau mengunci pintu. Jangan minum-minum dengan teman- temanmu. Namun, perhatikanlah pesanku, Toako.”

“Baiklah, aku akan mengingat pesanmu dan mentaatinya,” kata Bu Toa sambil mengangguk-angguk.

“Dan engkau So-So. Engkau memiliki perasaan yang demikian halus sehingga kiranya tak perlu aku banyak bicara lagi. Engkau melihat sendiri betapa kakakku adalah seorang yang amat lemah dan tergantung kepadamu. Dia jujur dan sederhana, sifat yang sesungguhnya jauh lebih baik dan berharga daripada yang nampak pandai dan gemerlapan, Karena itu So-So, jadikanlah rumah tangga kalian ini menjadi sebuah rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan. Rumah tangga harus mempunyai pagar halaman yang kokoh kuat agar anjing-anjing tidak dapat sembarangan memasukinya.” Mendengar ini, wajah Kim Lian menjadi merah sekali dan ia menjadi marah. la menudingkan jari telunjuknya kepada suaminya dan berteriak marah.

“Engkau laki-laki tolol! Apa saja yang kau telah bicarakan tentang diriku sehingga aku harus menghadapi semua penghinaan ini? Apakah karena aku hanya seorang wanita maka kalian menganggap aku tidak berharga? Aku adalah seorang isteri yang setia dan jujur! Coba buktikan untuk menyangkal kesetiaanku kepadamu. Sejak aku menikah denganmu, tidak ada seekor semutpun pernah memasuki tempat tidurku. Maka, apa artinya semua omong kosong dan penghinaan tentang anjing dan pagar halaman ini? Bu Siong, tidak sepantasnya engkau mengeluarkan ucapan yang bukan-bukan, tuduhan-tuduhan yang tak berdasar dan tanpa bukti!” Bu Siong memandang kepada kakak iparnya dengan wajah berseri. Hatinya gembira melihat So-Sonya menjadi marah-marah karena hal itu menunjukkan bahwa So-Sonya masih memiliki pendirian dan keangkuhan untuk melakukan hal-hal yang tercela bagi seorang isteri.

“Eh, jadi engkau merasa bertanggung jawab untuk kedamaian rumah tangga kalian, So-So? Bagus sekali kalau begitu, asal saja bukan hanya dalam kata-kata kosong belaka. Betapapun juga, ucapanmu itu akan kuingat dan akan menenteramkan hatiku.” Pada keesokan harinya, Bu Siong berangkat melaksanakan tugasnya yang berat dan berbahaya. Dan kakaknya yang ditinggalkannya itu mulailah menghadapi sikap isterinya yang selalu marah-marah. Akan tetapi Bu Toa tidak melayaninya menahan kesabarannya dan mentaati pesan adiknya. Dia berangkat tidak terlalu pagi dan pulang tidak terlalu sore, kalau dia pergi berjualan, dia menutupkan dan mengunci pintu depan. Tentu saja hal ini membuat Kim Lian menjadi marah sekali.

“Engkau manusia tolol! Perlu apa menutup daun pintu selagi matahari masih tinggi di angkasa? Para tetangga tentu akan menertawakan kita, seolah-olah kita ketakutan di siang hari, takut melihat setan. Inilah akibat engkau terlalu mendengarkan adikmu yang tidak becus apa-apa akan tetapi bermulut besar itu!”

“Biarlah orang lain mentertawakan aku.” Bu Toa menjawab. “Adikku memang benar. Dengan begini kita terhindar dari hal-hal buruk.” Kim Lian hanya dapat bersungut-sungut marah karena merasa betapa langkahnya dibatasi, dan ia merasa semakin tidak senang menjadi isteri Bu Toa yang tidak memuaskan hatinya dalam segala hal.

Seperti segala sesuatu di dunia ini, baik yang menyenangkan maupun yang tidak, yang dianggap baik maupun yang dianggap buruk, pasti akan berlalu tanpa kesan, kesan itu sendiripun akan lewat dan terhapus. Segala sesuatu di dunia ini akan ditelan oleh waktu. Waktu meluncur dengan amat cepatnya kalau tidak diperhatikan, lebih cepat dari anak panah terlepas dari busurnya. Tanpa terasa musim semi telah muncul, menghidupkan semua tumbuh-tumbuhan, menyemarakkan dunia dengan mekarnya sejuta bunga. Pada suatu pagi musim semi yang amat cerah, Kim Lian pagi-pagi sekali telah mandi dan mengenakan pakaiannya yang paling indah dan baru.

la menanti sampai Bu Toa, suaminya, berangkat memikul dagangannya. Kemudian iapun berdiri di bawah tenda yang berada di depan pintu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang akan terjadi seperti dikehendaki oleh Nasib biasanya disebabkan oleh soal-soal kecil dan sepele saja. Ketika itu, Kim Lian sedang membereskan bambu gantungan tenda di depan pintu ketika tiba-tiba angin bertiup pada tenda membuat bambu yang dipegangnya itu menyambar ke samping dan tanpa ia sengaja, bambu itu menghantam kepala seorang laki-laki yang sedang berjalan lewat. Untung bahwa benda itu hanya sepotong bambu, namun karena mengenai kepala orang tentu saja Kim Lian merasa terkejut dan juga menyesal dan malu. Kim Lian memperhatikan orang asing yang tertimpa bambunya itu dan iapun kagum.

Seorang pria yang usianya tiga puluh tahun lebih, sikapnya seperti seorang kota. Bentuk tubuhnya yang tegap itu tertutup pakaian yang terbuat dari sutera hijau yang mahal. Kepalanya mengenakan sebuah peci yang dihias anak panah emas yang dipasangi anting-anting yang mengeluarkan gemerincing lirih kalau dia bergerak. Di pinggangnya terdapat sebuah sabuk emas dengan hiasan kemala. Kakinya memakai kaus kaki yang terbuat dari kapas, amat bersih, dengan sepatu mahal pula. Tangannya memegang sebuah kipas buatan Secuan yang gagangnya dihias emas pula. Pendeknya, seorang pria yang ganteng dan tampan seperti tokoh dongeng Cang Song, atau Pan An. Seorang pria yang akan mampu menjatuhkan hati wanita yang manapun juga! Ketika pria itu merasa betapa bambu tenda itu menyerempet kepalanya, dia berhenti melangkah dan siap untuk marah.

Akan tetapi ketika dia membalik ke kanan dan memandang, seketika napasnya memburu dan jantungnya berdebar karena dia telah berhadapan dengan seorang wanita muda yang luar biasa cantik menggairahkan. Rambut yang hitam gemuk itu digelung di atas kepalanya. Lingkaran-lingkaran anak rambut yang hitam mengkilat itu kontras sekali dengan kulit pelipisnya yang putih mulus. Alisnya yang hitam kecil dan panjang melengkung seperti bulan tanggal satu melindungi sepasang mata yang agak lebar namun sipit pada kedua ujungnya dan memiliki sinar mata yang tajam bening. Sepasang Bibirnya merah basah yang bentuknya seperti gendewa terpentang, mudah bergerak-gerak menggairahkan, hidungnya kecil mancung, sepasang pipinya lembut kemerahan seperti buah tomat masak, bentuk tubuhnya ramping dan lemah lembut seperti tangkai bunga yang indah semerbak mengharum.

Jari-jari tangannya kecil meruncing, halus seperti kemala terukir. Tubuh itu amat menggairahkan, seperti tangkai bunga yang sedang mekarnya, kulitnya putih mulus, penuh lekuk lengkung yang sempurna, dada yang membusung itu, kaki yang kecil mungil. Ah, seorang wanita muda tanpa cacad cela. Pemandangan yang amat menggairahkan di depannya itu seketika mengusir kemarahan pria itu, mengubah wajah yang tadinya cemberut itu menjadi senyum ramah, seolah-olah awan tipis tersapu angin dan memperlihatkan kembali bulan yang purnama. Kim Lian menjadi salah tingkah. Wanita inipun terpesona akan ketampanan pria yang berada di depannya. Dengan gugup iapun mengangkat kedua tangan ke depan dada, membungkuk dengan lemah gemulai ketika memberi hormat dan berkata dengan suara lirih merdu, suaranya basah menggairahkan.

“Tiupan angin menyebabkan pegangan saya kurang kuat dan bambu itu tanpa saya sengaja telah mengenai Kongcu (tuan muda). Harap Kongcu sudi memaafkan saya.” Pria itu membetulkan letak pecinya dan menjura sangat dalam untuk membalas penghormatan itu. “Ah, tidak mengapa,nona. Harap nona tenang saja.” Ibu Wang, janda sebelah yang membuka kedai teh, kebetulan berada di luar dan menyaksikan semua peristiwa itu. lapun kini melangkah maju sambil menyeringai.

“Kongcu menerima pukulan keras selagi lewat, ya?”

“Aih, semua itu kesalahanku!” kata pria itu sambil tersenyum ramah. “Harap saja nona ini suka memaafkan aku.”

“Ah, Kongcu” Kim Lian berseru. “Tidak selayaknya kalau Kongcu yang minta maaf!”

“Nona yang baik, kau maafkanlah aku!” kembali pria itu berkata, suaranya terdengar lantang dan merdu merayu, sinar matanya penuh dengan gairah yang berkobar. Pandang matanya seolał-olah melekat pada wajah cantik manis dan tubuh yang indah itu. Kemudian, diapun menjura dan pergi, akan tetapi ketika melangkah pergi, berulang kali dia menengok sambll menggerakkan kipasnya, langkahnya penuh gaya. Kemunculan pria yang tampan dengan pakaiannya yang indah dan serba mahal, juga sikapnya yang menarik dengan kata-katanya yang penuh kesopanan, mendatangkan kesan mendalam di hati Kim Lian.

“Tentu dia tertarik kepadaku,” pikirnya dengan jantung berdebar, “kalau tidak demikian, mengapa ketika dia pergi berulang kali dia menoleh kepadaku? Aih... kalau saja ia tahu siapa nama pria itu dan di mana rumahnya.” la memandang terus mengikuti pria itu sampai dia menghilang di tikungan jalan. Baru setelah pria itu tidak nampak lagi, ia menutupkan daun pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Dapatkah penbaca menduga siapa adanya pria ganteng yang menarik perhatian Kim Lian itu? Dia bukan lain adalah pemimpin kelompok pria yang memiliki kesukaan mengejar wanita-wanita cantik. Dia adalah pemilik toko rempah-rempah dan obat yang besar, yaitu si hartawan muda Shi Men!

Baru saja isterinya yang ke tiga atau selirnya yang ke dua, Coa Tiu, telah meninggal dunia karena sakit. Selama selir itu sakit berat, Shi Men menjaganya di dalam kamar sampai wanita itu meninggal dunia. Dia merasa berduka karena dia menyayang Co Tiu, dan baru hari inilah dia keluar dari rumah untuk menghibur hatinya yang masih dilanda duka. Dia berniat mengunjungi Ying Po Kui, sahabatnya yang tentu akan dapat menghiburnya, dan dalam perjalanan inilah dia mengalami peristiwa yang membuat hatinya terguncang penuh pesona. Peristiwa yang baru saja dialaminya itu membuat dia bingung, dan dia tidak jadi mengunjungi Ying, melainkan pulang ke rumah dan begitu tiba di rumah, dia lalu memasuki kamarnya dan melamun. Betapa cantik wanita itu! Ah, bagaimana dia bisa mendapatkannya? Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan wajahnya berseri.

“Ah, tentu saja! Ibu Wang, janda pemilik kedai teh di sebelah rumah si cantik itu, tentu dapat menjadi perantara!” Begitu timbul gagasan ini, Shi Men tidak menanti sampai makin siang, dan cepat dia keluar lagi dari rumahnya, mengunjungi kedai teh milik janda Wang. Tentu saja janda tua itu menyambutnya dengan wajah Berseri.

“Hai, Bibi Wang, ke sinilah. Ada hal yang harus, kutanyakan kepadamu. Nona cantik di sebelah rumah ini, siapakah ia itu?”

“Uh, tidak tahukah Kongcu? la adalah adik Pangeran Neraka, puteri dari Jenderal Lima Jalanan!” “Hushh! Jangan main-main kau! Bicaralah yang benar. Siapa ia?” “Aha, Kongcu ingin tahu benar? Baiklah, ia adalah isteri dari pedagang kue, si Bu Toa.” “Apa? Si cebol yang suka menggonggong itu, si kerdil yang buruk?”

“Benar!'“ Shi Men tertawa bergelak. Akan tetapi dia lalu berseru penuh penasaran,

“Sungguh penasaran sekali daging domba yang lunak segar itu terjatuh ke dalam rahang seekor anjing kotor!”

“Yah, begitulah selalu,” Nenek itu menarik napas Ranjang. “Orang terburuk menunggang kuda terbaik dan tidur dengan wanita paling cantik. Kakek di bulan bertanggung jawab atas perjodohan yang tidak serasi ini.” Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika janda Wang membuka kedainya, la melihat Shi Men sudah berjalan hilir mudik di atas jalan raya di depan kedai.

“Hemm, dia sangat bernafsu. Ah, sekali ini si hartawan royal terjatuh ke tanganku. Dia harus membayar sebanyaknya kalau mau bersenang-senang!” Demikian Nenek itu berpikir sambil menyeringai dan mengepal tinju dalam batin. Nenek ini tidak perduli akan tata susila. Ia bukan hanya membuka kedai teh, akan tetapi juga terkenal sebagai seorang perantara dan comblang, juga seorang dukun pijat dan dukun beranak, bahkan kadang-kadang ia suka menerima dan membeli barang-barang curian.

“Hai, selamat pagi, Kongcu. Agaknya ada keperluan penting sekali maka Kongcu pagi-pagi sudah berada di sini.” la menyapa dan menyalam dengan suara gembira.

“Dengar baik-baik, Bibi Wang. Kalau engkau dapat menduga apa yang, mendorongku datang ke sini, engkau akan kuberi hadiah!”

“Aha, tidak sukar, tuan muda! Kongcu menjadi gelisah dan resah karena Kongcu tidak mampu melupakan seseorang yang tinggal di sebelah rumah ini. Bukankah demikian?”

“Kau memang pandai sekali, Bibi Wang. Semenjak melihatnya kemarin, aku tak nyenyak tidur, tak enak makan, hatiku gelisah selalu, penuh kerinduan. Semangatku rasanya lumpuh. Bibi Wang yang baik, dapatkah engkau memberi nasihat bagaimana baiknya?”

“Aih, Kongcu. Semenjak muda aku menjadi janda dan kalau aku tidak membanting tulang bekerja keras, siapa yarg memberi makan padaku dan anakku? Dan berapa pula hasil menjual teh seperti ini? Segala macam pekerjaan kulakukan untuk dapat mencari sesuap nasi, Kongcu”

“Bantulah aku agar dapat mengadakan pertemuan dengan si cantik itu. Kalau engkau berhasil, jangan khawatir, aku akan memberi hadiah sepuluh tail perak. Cukup untuk membeli sebuah peti mati yang bagus untukmu!” Pada jaman itu, orang-orang yang sudah lanjut usianya akan merasa bangga dan terjamin kalau sudah mempunyai sebuah peti mati sehingga kalau dia mati sewaktu-waktu, tidak akan terlantar lagi! Kebiasaan yang lucu dan mengerikan, memang.

“Ha, Kongcu mudah saja kupermainkan! Saya hanya bergurau, Kongcu, dan tentu saja saya mau membantu Kongcu, tanpa mengharapkan uang sepuluh tail perak. Biarpun sudah tua, saya masih sanggup mencari uang yang lebih dari jumłah itu.” Dengan kata demikian, Nenek itu telah menaikkan harganya! “Bibi Wang yang baik, sepuluh tail itu hanya permulaan saja dan aku mau mengeluarkan uang lebih banyak lagi kalau kelak hasilnya cukup menyenangkan.”

“Kongcu, dalam urusan cinta tidaklah semudah itu. Apalagi cinta curian, Untuk itu diperlukan enam syarat : wajah tampan, banyak uang, tubuh muda, banyak waktu, sikap lemah lembut, dan akhirnya yang terpenting, tubuh kuat dan berpengalaman untuk memuaskan hati seorang wanita muda yang cantik jelita.”

“Terus terang saja, Bibi Wang, enam syarat itu kumiliki semua. Lihat wajahku, memang tidak setampan Pan An (tokoh dongeng) akan tetapi... hemmm... tidak buruk! Kedua, uangku cukup banyak sampai berlimpah. Aku masih muda dan hatiku lebih muda lagi. Akupun mempunyai banyak waktu luang karena usahaku sudah ada yang mengurus. Dan tentang lemah lembut dan kesabaran, ah, biar seorang wanita memukul aku empat ratus kali, belum tentu aku akan mengepal tinju. Dan syarat ke enam itu, aku telah berpengalaman sejak berusia muda sekali dan aku mengenal semua rahasia kaum wanita sehingga engkau tak usah khawatir, Bibi Wang.”

“Kalau begitu semua beres. Akan tetapi masih ada sesuatu yang sukar, dan kadang-kadang sesuatu ini merusak semua rencana.”

“Apakah itu?”

“Jangan marah kalau saya bicara secara terus terang, Kongcu, akan tetapi hubungan cinta ini dapat rusak kalau orang tidak memperhatikannya, yaitu masalah biaya. Saya mendengar bahwa Kongcu adalah seorang yang selalu memperhitungkan pengeluaran uangnya, sebagai seorang pedagang yang baik. Akan tetapi, dalam hal ini, tak mungkin berbuat seperti orang dagang dengan berusaha menekan biaya sekecil mungkin.”