-->

Si Tangan Halilintar Jilid 15

Jilid 15

Siauw Beng yang sudah berusia dua puluh tahun itu menjadi seorang pemuda dewasa yang berwajah tampan gagah, tubuhnya sedang dan tegap sekali, namun tampak kecil berhadapan dengan A Siong. Pakaiannya juga sederhana. Ma Giok memang mendidik agar pemuda ini mempunyai sikap hidup sederhana, kesederhanaan yang. timbul dari kerendahan hati dan tidak mudah tergiur oleh keadaan lahiriah yang serba mewah dan gemerlapan. Namun, kesederhanaan pakaiannya tidak menyembunyikan ketampanan Siauw Beng. Sepasang matanya tajam bersinar-sinar, penuh semangat dan kegembiraan hidup,dan pandang matanya amat tajam, sinar matannya terkadang mencorong. Hidungnya mancung dan bibirnya selalu terhias senyum, senyuman khas yang jenaka dari orang yang suka bergurau dan yang memandang segala sesuatu dari segi keindahannya.

"Nah, A Siong sekarang kita mau latihan apa?" tanya Siauw Beng. Sejak kecil, dia biasa memanggil raksasa itu A Siong begitu saja, dan A Siong juga menyebutnya Siauw Beng. Hubungan mereka akrab karena A Siong memang tidak dianggap sebagai pelayan, melainkan sebagai keluarga sendiri. Tiga tahun yang lalu, setelah Pek In San-jin meninggal dunia karena usia tua, pondok itu menjadi tempat tinggal Ma Giok dan A Siong tetap dipertahankan sebagai anggauta keluarga.

A Siong menyeringai. Dia tahu, berlatih apapun juga dengan Siauw Beng, dia pasti akan kalah. Sejak Siauw Beng berusia lima belas tahun, lima tahun yang lalu, dia sudah tersusul dan kalah dalam segala halo Baik itu dalam ilmu baea tulis, menghafat ayat-ayat kitab suci, maupun ilmu-ilmu silat yang pernah mereka pelajari. Adu lari dia kalah cepat, adu loncat kalah tinggi. Hanya kekuatan tenaga kasar atau gwa-kang (tenaga luar) saja ia mampu mengalahkan Siauw Beng, akan tetapi kalau adu tenaga sakti atau tenaga dalam, dia masih kalah kuat. Apalagi dalam ilmu silat. Dia kalah cepat dan kalah mahir. Mungkin dalam ilmu Tiat-pouw-san (Ilmu Kebal Baju Besi) dia lebih kuat daripada Siauw Beng. "Sesukamulah, ilmu apa yang akan kauperlihatkan hari ini, Siauw Beng. Se¬kali ini akan kuusahakan untuk mengalahkanmu!"

"Sekarang begini saja, A Siong. Kita tidak melatih ilmu tertentu, akan tetapi melatih semuanya!"

"Semuanya, apa maksudmu?"

"Begini, kita bertanding seolah dua orang musuh yang saling berhadapan. Jadi, kita keluarkan semua ilmu yang kita kuasai untuk mendapatkan kemenangan."

Mendengar tantangan ini, A Siong tertawa. "Heh-heh-heh, kalau secara bebas begitu, engkau pasti akan kalah, Siauw Beng."

Siauw Beng juga tertawa. "Hemm, benarkah? Kalau belum dicoba, bagaimana engkau bisa memastikan begitu?"

"Kau tahu, aku mempunyai ilmu gulat yang tidak pernah kaupelajari. Sekali sebuah anggauta badanmu tertangkap olehku, engkau akan kubuat tidak berdaya dan akan kalah." kata A Siong sungguh-sungguh dan jawaban ini saja menunjukkan bahwa dia jujur atau kurang cerdik. Masa dalam pertandingan mencari kemenangan, dia sudah memberitahukan rahasia kemenangannya? Akan tetapi biarpun jujur dan kurang cerdik, A Siong bukan sembarangan membual. Dalam pertandingan itu, tentu saja mereka berdua sudah menguasai benar ilmunya dan dapat membatasi tenaganya sehingga kalau pukulan mengenai anggauta tubuh lawan, pukulan itu hanya mengandung se¬bagian tenaga saja. Dan pukulan Siauw Beng yang tidak dilakukan dengan tenaga sepenuhnya itu, dapat diterima oleh tubuhnya yang dilindungi kekebalan dengan baik. Sebaliknya" kalau sampai tangan, kaki, pundak atau pinggang Siauw Beng dapat ditangkapnya, dia akan membuat Siauw Beng tidak mampu berkutik lagi dengan pitingan-pitingan dan kuncian-kuncian ilmu gulatnya!.

"Baiklah, sekarang kita bertaruh," kata Siauw Beng. "Ayah tadi memesan agar siang nanti selain masak sayur seperti biasa juga kita harus merebus enam butir telur, untuk ayah dua butir dan kita masing-masing dua butir. Nah, kita pertaruhkan dua butir telur kita, kalau aku kalah, dua butir telur untukku untukmu dan sebaliknya kalau aku menang, engkau harus makan dengan sayur dan dua butir telurmu kau berikan padaku."

A Siong membelalakkan matanya yang sudah lebar itu sehingga mendelik seperti mata sapi. "Jadi semua empat butir telur rebus untuk makan siangku nanti? Hemm"

"Ingat, engkau harus dapat mengalahkan aku lebih dulu!" Siauw Beng mengingatkannya.

"Baik, mari kita mulai! Demi untuk dua butir telur rebus, sekali ini aku pasti menang!" kata A Siong.

Keduanya lalu memasang kuda-kuda yang sama, kedua kaki dipentang lebar, kedua lutut ditekuk dan dalam keadaan seperti menunggang kuda, mereka saling berhadapan. Kuda- kuda yang kokoh, na¬mun karena bentuk tubuh A Siong demi¬kian besar, maka dia tampak lebih kokoh.

"Nah, mulailah, A Siong!" Siauw Beng menantang. A Siong mulai menerjang maju. Gerakannya kuat dan cepat, kedua lengannya yang panjang besar itu seperti dua buah lengan biruang yang menyam¬bar. Siauw Beng mengenal gerakan- ini, mengelak dan. membalas. Akan tetapi karena A Siong juga mengenal gerakannya, maka A Siong dapat pula menangkis. Keduanya mulai saling serang dengan seru. Kalau ada orang menonton pertan¬dingan itu, dia tentu akan khawatir. Tampaknya mereka itu saling serang dengan sungguh-sungguh dan gerakan se¬pasang tangan mereka mengeluarkan bu¬nyi bersiutan. Akan tetapi dua orang itu telah menguasai ilmu mereka sehingga kalau ada tangan mereka yang mengenai sasaran, sebelum tangan itu menyentuh tubuh lawan, tang an itu tentu akan dikurangi tenaganya sehingga tidak akan membahayakan tubuh yang terpukul. Karena sifat pertandingan ini hanya latihan, maka mereka lebih mengutamakan gerakan otomatis untuk membuat seluruh perasaan mereka hidup dan menyatu dengan ilmu silat yang mereka mainkan.

"Haiiittt …!" A Siong membentak dan dia sudah menyerang derigan jurus yang paling disukainya, yaitu jurus Sam-hoan-to-goat (Tiga Lingkaran Bungkus Bulan). Tubuhnya menyerang dengan kaki melakukan gerakan berputar seperti melingkar-lingkar tiga kali dan  dengan  demikian  dia  menyerang  lawan  dari  tiga   jurusan   yang   berbeda. Siauw Beng mengelak ke belakang, lalu memutar tubuh dan menangkis dengan jurus Pek- liong-pai-bwe (Naga Putih Sabetkan Ekor). "Duk-duk!" Dua kali serangan A Siong dapat ditangkis      dan       ke¬duanya       tergetar       sehingga       terdorong       mundur. "Sam but inU" kini Siauw Beng mem¬bentak dan tangan kanannya membentuk seperti leher burung bangau, jari-jarinya disatukan menotok ke arah ulu hati A Siong dengan jurus Pek-ho-tek-hu (Bangau Putih Mematuk Ikan). Namun A Siong maklum akan bahayanya serangan ini dan dia sudah memutar lengan kanannya dari samping, menangkis dengan gerakan memutar dengan jurus To-tui-lim-ciang (Mendorong Roboh Lonceng Emas).

Demikianlah, kedua orang itu saling serang dengan serunya. Tentu saja kalau Siauw Beng menghendaki, dengan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan sinkang (tenaga sakti) yang lebih       unggul,       dia       akan       mampu        merobohkan        A        Siong        le bih cepat, namun untuk itu dia harus menggunakan tenaga dalam dan hal itu tentu akan membuat A Siong terluka cukup parah. Dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka pertandingan yang sesungguhnya hanya latihan itu berjalan seru, seimbang dan lama.

Akhirnya, setelah mandi peluh dan merasa sudah cukup puas dengan latihan itu, A Siong mengeluarkan simpanannya yang akan membuat dia dapat menikmati dua butir telur rebus tambahan. Tiba-tiba dia membuat gerakan aneh dan tahu-tahu jari-jari tangan kanannya yang besar itu sudah dapat menyambar dan menangkap lengan kiri Siauw Beng. A Siong memang pandai ilmu gulat yang dipelajarinya dari seorang pemburu binatang berbangsa Hui yang kesasar ke Thaisan. Bagi seorang ahli gulat, sekali lengan lawan dapat tertangkap, maka lengan itu akan dipuntir dan ditelikung dalam jurus kuncian yang akan membuat lawan tidak berdaya lagi. A Siong sudah kegirangan dan hendak menelikung lengan itu. Akan tetapi tiba-tiba Siauw Beng membuat gerakan dari samping, tangan kirinya menampar pangkal lengan A Siong yang menangkapnya, disusul tamparan lain yang mengenai pundak raksasa itu.

"Plak! Plak!!" A Siong berseru kaget, pegangannya terlepas karena dia merasa lengan kanannya seperti lumpuh dan ketika tamparan ke dua mengenai pundaknya, diapun terpelanting roboh! A Siong merangkak bangun dan memandang kepada Siauw Beng dengan mata terbelalak.

"Huh, ilmu tamparan macam apa itu? Kenapa aku tidak mengenalnya? itu bukan ilmu yang kaupelajari dari suhu! Engkau menggunakan ilmu dari luar, kau curang, Siauw Beng!" A Siong menegur, penasaran karena dia kalah sehingga kehilangan dua butir telur rebusnya.

"Tidak, A Siong. Itu adalah ilmu silat Lui-kong-ciang, memang belum kau kenaI, akan tetapi bukan ilmu dari luar, melainkan ilmu warisan dari ayah kandungku. Karena tadi aku sudah kaupegang dan hampir kaukuasai, maka dalam kegugupanku, aku terpaksa menggunakan Lui-kong-ciang. Biarlah aku mengaku kalah dan dua butir telur rebusku siang ini boleh kaumakan." "Nanti dulu! Soal telur rebus gampang. Akan tetapi engkau tadi bicara tentang warisan dari ayah kandungmu? Ma lo-sicu masih hidup, bagaimana bisa dikatakan dia meninggalkan warisan untukmu?"

Siauw Beng menjadi bingung. Ma Giok yang selama ini dia anggap sebagai ayah kandungnya, dua tahun yang lalu menyerahkan kitab Ngo-heng Lian-hoan Kunhoat kepadanya dan menceritakan tentang Lauw Heng San, ayah kandungnya yang tewas sampyuh (sama-sama tewas) dengan seorang pembesar Mancu. Ma Giok juga menceritakan tentang ibunya yang meninggal dunia ketika melahirkan dia. Baru dia tahu bahwa Ma Giok hanyalah ayah angkatnya. Dia lalu melatih diri dengan ilmu silat peninggalan ayah kandungnya itu. Dia masih menganggap Ma Giok sebagai ayahnya sendiri dan tidak menceritakan tentang rahasia dirinya kepada orang lain. Akan tetapi dia kelepasan bicara sehingga membuka rahasianya sendiri. Maka, kini dia tidak mampu menjawab, hanya memandang A Siong dengan muka bodoh.

"Sian-cai...! Sudah waktunya engkau mengetahui juga kenyataan itu, A Siong, karena engkaulah yang akan menemani Siauw Beng dalam perantauannya di dunia kangouw sebagai seorang pendekar, melanjutkan cita-cita ayah kandungnya." Sesosok bayangan berkelebat dan Ma Giok telah berdiri di dekat mereka. Ma Giok kini sudah menjadi seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, namun dia masih tampak gagah perkasa dan berwibawa walaupun rambutnya sudah bercampur banyak uban.

A Siong memandang kepada Ma Giok dengan mata bodoh. "Apa artinya ini semua, Malo- sicu?"

Ma Giok duduk bersila di atas sebuah batu bundar yang menjadi tempat duduk yang dia senangi. Seringkali bekas pim¬pinan pejuang itu duduk melamun di at as batu ini seorang diri. "Kalian duduklah dan dengarkan kata-kataku. Aku ingin bicara tentang hal yang penting, dengan kalian."

Siauw Beng dan A Siong duduk di atas batu di depan kakek itu dan siap men¬dengarkan ”A Siong, ketahuilah bahwa Siauw Beng ini sebenarnya bermarga Lauw. Mendiang ayah kandungnya bernama Lauw Heng San, seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan yang dahulu dijuluki orang Si Tangan Halilintar! Sayang bahwa dia ditipu dan terbujuk oleh seorang pembesar Mancu sehingga rela menjadi kaki tangannya, menentang kaum pejuang yang gigih melawan penjajah Mancu. Akan tetapi dia sadar bahwa dia tertipu lalu memberontak dan membunuh pembesar Mancu itu berikut para jagoannya. Isterinya yang bernama Bu Kui Siang sedang mengandung ketika itu dan aku membantunya melarikan diri dari pembalasan orang-orang Mancu. Aku membawa Kui Siang menuju ke sini, akan tetapi di tengah perjalanan ia melahirkan. Kami diserang orang-orang jahat. Aku dapat mengusir mereka akan tetapi Kui Siang meninggal dunia ketika melahirkan Lauw Beng ini."

A Siong dengan muka sedih memandang kepada Siauw Beng dan berkata, "Aku ikut merasa berduka mendengar tentang ayah ibumu, Siauw Beng."

"Ah, semua itu sudah berlalu, A Siong. Aku yakin ayah dan ibu kandungku telah mendapatkan tempat yang tenteram dan damai abadi. Kita tidak perlu berduka lagi untuk mereka." kata Siauw Beng.

"Siauw Beng benar, A Siong. Nah, sekarang kalian berdua dengarlah baik-baik. Siauw Beng, setelah engkau mempelajari Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat peninggalan ayah kandungmu, maka tidak ada ilmu lain lagi yang dapat kuajarkan kepadamu. Juga engkau telah mewarisi semua ilmu yang dulu diajarkan mendiang Pek In San-jin. Maka, sekarang tibalah saatnya bagimu untuk turun gunung. Bekal kekuatan jasmani telah engkau miliki, juga bekal kekuatan rohani telah banyak kau pelajari dari aku dan Pek In San¬jin. Engkau boleh melanjutkan perjuanganku, perjuangan ayah kandungmu, dan engkau sudah sepatutnya memakai julukan Si Tangan Halilintar. Dengan julukan ini engkau akan membersihkan nama ayah kandungmu yang sempat ternoda! karena bujukan orang Mancu. Denga perbuatan-perbuatanmu yang bijaksana sebagai seorang pendekar budiman, maka nama Si Tangan Halilintar akan terangkat, yang berarti engkau juga mengangkat nama dan kehormatan ayah kandungmu. Dan engkau, A Siong, engkau bantulah Siauw Beng dalam segala hal. Engkau jadilah seperti saudara sendiri, menentukan jalan hidup kalian masing-masing. Aku hanya dapat mendoakan dari sini semoga Tuhan selalu melindungi kalian dan memberi bimbingan ke arah jalan yang benar dan baik."

Dua orang muda itu sudah mengenal watak Ma Giok. Pendekar ini, sekali mengeluarkan kata-kata, tidak mungkin dibantah dan apa, yang dikatakan itu se¬lalu benar. Maka keduanya lalu meng¬.angguk.

"Baik, ayah. Saya akan menaati perintah ayah." kata Siauw Beng.

"Saya akan menemani Siauw Beng ke manapun dia pergi, Ma-lo-sicu” kata A Siong dengan wajah yang agak sedih dan bingung. Pikirannya kacau. Ke mana mereka harus pergi? Dia tidak mengenal daerah di luar pegunungan Thai-san ini!

”Nah, berkemaslah kalian. Bawa semu pakaian, bungkus dengan kain dan gendong buntalan pakaian itu. Siauw Beng, ada sisa sekantung emas di dalam peti pakaianku itu, boleh. kau ambil dan kau bawa sebagai bekal kalian di perjalanan.”

Ketika dua orang muda itu bangkit dan hendak melaksanakan perintah itu, Ma Giok bertanya kepada A Siong. ”A Siong, apakah enam butir telur itu sudah kau rebus?”

A Siong memandang heran. "Sudah, lo-sicu."

”Bawalah sisa roti kering dan daging kering dari dapur, juga enam butir telur rebus. Bawalah untuk bekal kalian menuruni gunung."

Dua orang muda itu dengan patuh.melaksanakan semua perintah Ma Giok. Setelah siap, sambil menggendong buntalan pakaian masing-masing, mereka menghadap lagi kepada Ma Giok yang masih duduk di atas batu bundar.

Siauw Beng menjatuhkan diri di atas lututnya dan A Siong mengikuti perbuatannya. Sambil berlutut di depan Ma Giok, Siauw Beng berkata dengan suara perlahan. "Ayah, masih ada sebuah pertanyaan lagi yang sampai sekarang belum ayah jawab.”

Ma Giok mengangguk-angguk. "Ada sebuah pantangan besar bagi seorang pendekar, Siauw Beng. Seorang pendekar haruslah bersikap adil dan kalau pantangan ini kau langgar, maka engkau akan kehilangan pertimbangan yang adil itu dan engkau tidak pantas menjadi pendekar. Pantangan itu adalah dendam sakit hati! Segala tindakan yang didasari dendam, merupakan tindakan balas dendam yang timbul dari kemarahan dan kebencian, dan sama sekali tidak diukur dengan keadilan lagi. Bahkan tindakan balas dendam menimbulkan perbuatan kejam, terkadang bahkan jahat. Engkau tentu hendak menanyakan siapa mereka yang menyerang aku sehingga ibumu sampai meninggal ketika melahirkan, bukan?"

"Benar, ayah. Ayah sudah menceritakan tentang kematian ayah Lauw Heng San yang telah berhasil membunuh musuh-musuhnya sehingga tidak ada penasaran lagi. Akan tetapi kematian ibu yang disebabkan serangan orang jahat. Saya tidak akan menentang orang itu karena balas dendam. Kalau nanti saya mendapatkan bahwa dia kini menjadi orang baik-baik, saya tidak akan mengganggunya. Akan tetapi kalau dia masih menjadi orang jahat, saya akan menentangnya, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk menentang kejahatan seperti yang Suhu Pek In San-jin dan Ayah ajarkan kepada saya selama ini."

"Baiklah kalau begitu. Para penyerang itu adalah Hui-kiam Lo-mo, seorang datuk Sungai Huang-ho. Dia lihai sekali akan tetapi sekarang tentu sudah sangat tua kalau dia masih hidup. Mungkin seka¬rang usianya sudah delapan puluh lima tahun. Ketika itu dia menyerang bersama muridnya yang bernama Can Ok dan empat orang anak buahnya. Aku berhasil membunuh empat orang anak buah itu, akan tetapi.Hui-kiam Lo-mo dan Can Ok sempat melarikan diri."

"Terima kasih, ayah." kata Siauw Beng.

"A Siong," kata Ma Giok sambil ter¬senyum. " Engkau agaknya juga hendak menyatakan sesuatu. Kalau ada yang mengganggu hati dan pikiranmu, katakan¬lah dalam kesempatan terakhir ini."

A Siong yang semula ragu-ragu, lalu berkata, "Hanya ini, lo-sicu. Kalau kami berdua pergi meninggalkan tempat ini, lalu....... lalu bagaimana dengan lo-sicu? Siapa yang akan mengerjakan kesemuanya itu? Mengangsu air, membersihkan rumah dan pekarangan, mencuci dan memasak. Ah, bagaimana lo-sicu dapat hidup seorang diri di sini? Tidak ada yang meng¬urus, tidak ada yang membantu. Sungguh, saya saya tidak tega, lo-sicu."

Ma Giok tersenyum. "Mendiang Pek In San-jin berkata benar ketika mengatakan kepadaku bahwa engkau yang tampak kasar ini memiliki hati yang lembut, di dalam batu yang sederhana itu tersimpan emas. Jangan khawatir, A Siong. Aku adalah seorang yang sudah biasa hidup sendiri dan siapa tahu mungkin akupun akan turun dari puncak ini. Temanilah saja Siauw Beng, kalian berdua dapat saling bantu sehingga kalian akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidup ini. Nah, sekarang berangkatlah!"

Siauw Beng dan A Siong lalu berangkat. Mereka menuruni puncak. Kalau Siauw Beng dengan langkah tegap terus maju ke depan, adalah.A Siong yang berjalan di belakangnya, beberapa kali menengok dan diam-diam laki-laki kasar tinggi besar itu menggunakan punggung kepalan tangan kanannya untuk mengusap air mata yang membasahi kedua matanya.

****

Kota Sauw-ciu merupakan kota yang ramai. Pada waktu bangsa Mancu menyerbu ke Cina, kota itupun menjadi kacau dan rusak. Akan tetapi sekarang kota itu telah dibangun kembali. Pemerintah baru, yaitu dinasti Ceng atau pemerintah penjajah Mancu maklum bahwa kota ini merupakan pasaran yang ramai untuk berdagang. Di sini pemerintah dapat memperoleh banyak penghasil¬an dari pemungutan pajak dan pemungut¬an-pemungutan lain sehingga pemerintah perlu membangun kota itu, menjaganya agar aman sehingga rakyat dapat berda¬gang dengan leluasa. Karena semakin maju dan ramai, maka rumah- rumah penginapan dan rumah-rumah makan yang besar bermunculan seperti jamur di mu¬sim hujan.

Di sudut barat kota itu berdiri sebuah rumah makan besar dengan nama Ho Tin Jai-koan (Rumah Makan Ho Tin). Rumah makan itu selain mempunyai sebuah ruangan besar di bawah, di bagian atas juga ada lotengnya yang memiliki ruangan cukup luas pula. Kalau di ruangan bawah, rumah makan itu mampu menampung sekitar tiga ratus orang tamu, di bagian loteng mampu menampung kurang lebih seratus orang tamu. Rumah makan Ho Tin ini merupakan sebuah di antara tiga buah restoran terbesar di kota Sauwciu dan restoran ini khusus menghidangkan masakan suku Khek dari utara.

Pada pagi hari itu, suasana kota sudah ramai. Toko-toko sudah buka dan yang paling ramai adalah toko-toko besar yang menjual rempah-rempah dan toko-toko kelontong atau toko-toko kain. Di situ orang berjual beli dengan ramainya. Sepagi itu restoran-restoran masih sunyi. Biasanya, para tamu yang bermalam di hotel-hotel, kalau pagi cukup dengan sarapan bubur atau makanan kecil yang dijual oleh penjaja makanan di depan hotel-hotel itu. Kalau hendak makan siang atau makan malam dengan kawan-kawan yang mereka sebut "makan besar", barulah mereka berkunjung ke restoran, memesan masakan- masakan yang lezat dan mahal, lalu makan-makan sambil minum arak sampai mabuk. Akan tetapi, pada pagi hari itu sudah ada belasan tamu yang duduk di ruangan bawah rumah makan Ho Tin. Mereka pada umumnya para pedagang kaya yang untuk sarapan pagi saja ingin menikmati masakan yang lezat dan mahal dari ru¬mah makan besar yang terkenal dikota Sauw-ciu itu. Kecuali dua orang tamu yang sama sekali tidak. mendatangkan kesan sebagai saudagar kaya, bahkan mereka tampak seperti dua orang dusun yang berpakaian sederhana sekali walaupun bersih. Mereka masing-masing menggendong buntalan kain dan kini mereka melepaskan buntalan kain dari punggung dan menaruh di atas lantai dekat meja yang mereka hadapi. Mereka itu bukan lain adalah Siauw Beng dan A Siong. Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan tanpa halangan di     dalam      per      jalanan      karena      siapa      yang      hendak      mengganggu dua orang dusun sederhana seperti mereka, pada pagi hari itu, pagi-pagi sekali mereka memasuki kota Sauw-ciu dan karena perut mereka terasa lapar, ketika mendum bau sedap masakan dari rumah makan Ho Tin, mereka segera memasukinya.

Seorang pelayan menghampiri mereka dengan alis berkerut. Dia pernah mengalami orang-orang yang uangnya tidak cukup untuk membayar makanan pesan masakan di rumah makan itu, maka pengalaman ini membuat dia berhati-hati. Apalagi melihat A Siong yang cengar-cengir mencoba menggerak-gerakkan hidungnya yang besar pesek ketika mencium sedapnya masakan, dia merasa curi¬ga. Bagaimana orang-orang dusun seperti mereka berani memasuki restoran Ho Tin yang besar dan tentu saja masakannya serba mahal dan lezat? Biasanya hanya para saudagar kaya saja yang berpesta pora di sini. Belum pernah ada orang dusun makan di situ. Biasanya, orang dusun membeli makan di pinggir jalan, masakan yang murah.

"Kalian berdua masuk ke sini mau apakah?" Sebuah pertanyaan yang kasar dan amat menghina dari seorang pelayan restoran kepada tamunya. Akan tetapi Siauw Beng dan A Siong tidak merasakan kekasaran itu, apalagi penghinaan. Pertanyaan itu hanya membuat Siauw Beng memandang kepada pelayan itu dengan heran.

"Sobat, melihat tulisan di luar itu, bukankah ini sebuah rumah makan? Kami lihat para tamu juga sedang makan. Tentu saja kami masuk ke sini untuk pesan makanan." kata Siauw Beng sambi! tersenyum.

A Siong mengangguk-angguk. "Ya, pesan makan yang baunya sedap ini"

Pelayan itu menyeringai, jelas dia memandang rendah. "Hemm, ketahuilah kalian berdua. Masakan di rumah makan kami ini mahal harganya. Jangan-jangan setelah makan kalian tidak mampu membayarnya!"

Mulailah Siauw Beng merasa bahwa orang ini memandang rendah kepada mereka, akan tetapi dia tidak marah, hanya tersenyum. Sebaliknya, A Siong juga mulai mengerti bahwa mereka disangka tidak mampu membayar harga makanan.

Kebetulan dia yang diserahi membawa kantung uang mereka, maka dia lalu cepat membuka buntalan pakaiannya, mengeluarkan kantung uang itu dan membukanya di depan hidung pelayan sambil membentak. "Tidak mampu membayar katamu? Lihat, kalau kepalamu dimasakpun agaknya kami masih mampu membayarnya. Tentu kepalamu tidak semahal ini, bukan?" Dia mengguncang kantung itu sehingga terdengar bunyi gemerencing emas dan perak di dalamnya. Pelayan itu terbelalak ketika melihat betapa kantung itu berisi banyak sekali emas!

"Maaf   " katanya sambi! membungkuk-bungkuk."Ji-wi (kalian berdua) hendak memesan

masakan apakah?" Sikapnya seketika berubah, kini sopan, bahkan menjilat. Siauw Beng tersenyum. Orang macam ini berwatak rendah. Suka menjilat yang di atas dan menghina yang di bawah, menjilat orang kaya dan menghina orang miskin.

"Hemm, kami akan memesan.......... eh, apakah ada masakan kepala seperti yang dikatakan saudaraku tadi?" Siauw Beng menggoda. "Masakan......... kepala........ ?" Pelayan itu otomatis memegangi kepalanya sendiri. ''ah.......... tidak ada......... tidak ada "

"Kalau tidak ada, kami memesan nasi dan dua macam masakan daging ayam dengan sayur." kata Siauw Beng.

"Seperti masakan yang baunya terciurn dari sini sekarang ini" A Siong menambahkan. "Dan minumnya, air teh!"

Pelayan itu kembali merasa heran. Biasanya, orang memesan masakan dengan minuman anggur atau arak, akan tetapi orang-orang dusun ini memesan minuman air teh! Dia mengangkat pundak lalu pergi untuk menyampaikan pesanan ini di bagian dapur.

Sambil menanti dihidangkannya pesanan mereka, dua orang itu memandang ke kanan kiri. Segala yang terdapat di situ menarik perhatian mereka, terutama perhatian A Siong. Siauw Beng masih mampu menahan keheranan dan kekagumannya, akan tetapi A Siong merasa kagum dan mulutnya berdecak-decak kalau melihat sesuatu yang membuatnya kagum dan heran. Seperti ukiran-ukiran pada dinding, lukisan-lukisan. Bahkan sumpit yang halus buatannya, yang sudah tersedia di dalam tempat sumpit di atas meja. Juga dia mengagumi pakaian orang¬orang yang sedang makan minum di ruangan itu. Ketika dia melihat jalan tangga yang menuju ke loteng, dia berdiri untuk dapat melihat ke arah loteng.

"Lihat, di atas ada ruangannya lagi. Kita bisa duduk dan makan di sana!" katanya kepada Siauw Beng. Siauw Beng tersenyum dan menarik tangan A Siong agar duduk kembali.

"Sudahlah, di sini juga sama saja. Lihat, orang-orang lain juga makan di sini. Belum tentu kalau ruangan di atas itu untuk para tamu, mungkin untuk keluarga pemilik rumah rnakan ini sendiri." katanya.

Karena Siauw Beng dan A Siong masih menunggu hidangan dan memperhatikan keadaan sekitarnya, tidak seperti para tamu lain yang sedang sibuk makan, maka perhatian mereka segera tertarik oleh munculnya dua orang laki-Iaki dari luar rumah makan. Mereka memasuki ruangan itu dan Siauw Beng merasa tertarik sekali karena dari langkah mereka, tahulah dia bahwa mereka itu adalah orang-orang yang "berisi". Dari langkah dan sikap mereka, dia tahu bahwa dua orang itu adalah ahli-ahli silat yang pandai. Tentu saja kemunculannya menarik perhatiannya. A Siong yang dalam banyak hal mengikuti gerak- gerik Siauw Beng, juga segera menaruh perhatian kepada dua orang itu.

Yang seorang berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti bambu. Tampaknya lemah saking kurusnya, seolah tertiup angin saja dia akan terpelanting. Juga saking kurusnya, wajahnya seperti tengkorak terbungkus kulit, sehingga tampak menyeramkan. Orang ke dua lebih tua, sekitar lima puluh tiga tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan jubah longgar kebesaran sehingga tampak lucu walaupun tampangnya boleh dibilang bersih tampan.

Yang lebih menarik perhatian Siauw Beng dan A Siong, di punggung kedua orang itu tergantung sebatang  pedang.  Menarik  sekali  melihat  orang-orang  ini  berani membawa pedang di punggung mereka, begitu terang-terangan tidak disembunyikan.

Padahal pada waktu itu, pemerintah kerajaan Ceng, yaitu pemerintah penjajah Mancu, melarang keras rakyat bangsa Han (pribumi) membawa senjata di tempat umum! Maka, Siauw Beng dapat menduga bahwa dua orang itu tentulah sebangsa pendekar yang terkadang tidak mengacuhkan larangan pemerintah penjajah yang mereka anggap musuh, atau mungkin juga mereka berdua sebangsa penjahat yang tentu saja tidak memperdulikan segala macam larangan. Maka diam-diam dia memperhatikan gerak-gerik dua orang itu.

Dia melihat betapa dua orang itu celingukan dan menyapu ke seluruh ruangan, mata mereka seperti mencari-cari. Agaknya mereka tidak menemukan apa yang dicari karena lalu memasuki ruangan dan langsung saja me¬reka berdua melangkahkan kaki ke arah anak tangga yang menuju ke loteng atau ruangan atas.

Pada saat itu, pelayan datang menghidangkan makanan yang dipesan Siauw Beng dan A Siong. Dua piring nasi dan dua miring masakan, sepoci air teh dan mangkok-mangkok teh. Akan tetapi be¬gitu meletakkan hidangan di atas meja, pelayan tadi melihat dua orang tadi hendak naik ke loteng.

"Heii.......... tidak boleh naik ke sana.......... !!" Pelayan itu lalu berlari menghampiri dua orang itu, A Siong tidak perduli, begitu melihat nasi dan masakan, dia lalu mulai makan dengan lahapnya sehingga semangkok nasi itu habis dalam waktu cepat. Dia segera menyambar mangkok nasi ke dua. Akan tetapi Siauw Beng yang tertarik oleh gerak-gerik dua orang itu ingin melihat apa yang hendak dilakukan pelayan yang cerewet dan suka memandang rendah orang miskin dan menjilat orang kaya itu.

Pelayan itu mendahului dua orang itu, menghadang dan menghalang mereka melangkah ke anak tangga. "Harap jiwi (kalian berdua) tidak naik ke loteng karena pada saat ini loteng telah diborong oleh Song-Loya (Tuan tua Song) untuk pesta keluarganya!"

Dua orang tamu itu memang berpakaian agak kotor, agaknya karena habis melakukan perjalanan jauh sehingga sepatu merekapun penuh debu. Maka pelayan itupun agaknya kurang menghormati me¬reka.

Orang yang tinggi kurus bermuka tengkorak itu berkata, suaranya serak, "Kami justeru hendak bertemu Song-loya! Minggirlah kau!"

Akan tetapi pelayan itu berkeras melarang. "Tidak, kalau tidak ada perkenan Song-loya, kami tidak berani membiarkan siapapun juga naik ke loteng. Apa buktinya bahwa ji-wi merupakan tamu Song-loya?"

"Buktinya?" Orang ke dua yang mukanya bersih dan bajunya kedodoran bertanya, lalu dijawabnya sendiri. "Inilah buktinya!" Dia menggerakkan tangan kiri menepuk pundak pelayan itu. Kemudian sambil tersenyum lebar kedua orang itu melanjutkan langkah mereka menaiki tangga yang menuju ke ruangan loteng di atas. Pelayan itu masih berdiri seperti tadi dan agaknya dia hanya berdiri melongo, tidak melakukan atau berkata apapun.

Sementara itu, nasi dalam mangkok ke. dua juga sudah lenyap memasuki perut A Siong yang tadi masih merasa lapar. "He, sobat pelayan! Tambah lagi nasinya!" Dia berseru dan melihat pelayan itu masih bengong berdiri di bawah anak tangga, A Siong mengomel. "He, budak uang! Kalau orang yang memanggil, engkau pura-pura tidak dengar, kalau uang yang memanggil, engkau berlari menghampiri dengan ekor bergoyang-goyang!" Karena tidak sabar, dia bangkit berdiri dan melangkah lebar menghampiri pelayan yang masih berdiri bengong di bawah tangga yang menuju ke loteng.

"Hei, bung pelayan! Apakah engkau tuli dan gagu? Hayo tambah lagi nasi putih, dua mangkok, eh, tiga lima mangkok. Cepat!" bentak A Siong sambil menyentuh lengan

pelayan itu. Akan tetapi dia sendiri terkejut ketika tangannya merasa betapa lengan pelayan itu kaku. Tahulah A Siong bahwa pelayan itu tidak mampu bergerak karena tubuhnya telah ditotok orang sehingga kaku.

Setelah mengetahui keadaan pelayan itu, A Siong menepuk pundaknya dan menggunakan jari tangannya untuk membuka jalan darah yang tertotok sambil berkata,”Hayo cepat ambilkan tambahan nasi!”

Seketika pelayan itu dapat bergerak kembali. Wajah pelayan itu menjadi pucat. Dia tahu bahwa tadi tubuhnya tidak mampu bergerak setelah tangan kiri tamu yang berjubah lebar itu menepuk pundaknya dan sekarang, setelah pemuda dusun tinggi besar itu menepuknya, dia dapat bergerak kembali. Baru dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang pandai, maka sambil membungkuk-bungkuk dia lalu menyanggupi dan bergegas pergi ke dapur untuk mengambilkan lima mangkok nasi yang diminta A Siong.

Siauw Beng melihat ini semua. Ketika A Siong duduk kembali, dia berbisik.

"A Siong, di sini gawat, jangan bertindak sembrono. Jangan mencari pertengkaran dengan orang tanpa sebab yang pasti. Kita tidak tahu orang-orang macam apa yang sedang berkumpul di atas itu."

Sambil mulai makan nasi dari mangkok ke tiga, A Siong menjawab. "Hemm, masa bodoh amat. Asalkan mereka tidak mengganggu kita, akupun tidak perduli."

Keduanya makan minum dan seakan sudah melupakan lagi peristiwa tadi. Dari tempat mereka duduk, mereka dapat mendengar suara mereka yang di loteng bicara tidak jelas dan hanya mendengar mereka tertawa-tawa.

Tiba-tiba terdengar suara dari atas. "Heiii! Pelayan, cepat naik ke sini!!”

A Siong dan Siauw Beng semakin tertarik. Suara itu terdengar biasa saja, namun mereka berdua dapat merasakan betapa suara itu didorong oleh tenaga sakti kuat sehingga mengandung getaran dan suara seperti itu dapat terdengar dari tempat jauh!

Seorang pelayan lain, karena yang tadi tidak berani naik, cepat naik ke loteng memenuhi panggilan itu. Tak lama kemudian dia turun lagi membawa sebuah kertas catatan, agaknya pesanan mereka yang berada di loteng itu dicatat dan itu menandakan bahwa pesanan itu tentu banyak. Sesampainya di bawah, pelayan itu berbisik-bisik kepada pelayan yang kena totok tadi. Kembali A Siong minta tambahan dua mangkok nasi dan ketika pelayan itu mendekati, dia bertanya,

"Apa yang dikatakan pelayan yang melayani mereka yang berada di atas?" Karena pelayan itu kini tahu bahwa raksasa muda itu bukan orang sembarangan, dia menjawab. "Tadinya ada dua orang di atas, ditambah lagi dua orang yang baru datang, akan tetapi kenapa kini yang di atas menjadi lima orang? Entah bagaimana yang seorang lagi tahu- tahu berada di loteng." Setelah berkata demikian, dia pergi untuk mengambilkan dua mangkok nasi.

Siauw Beng saling pandang dengan A Siong. "Memang mencurigakan mereka itu, A Siong. Aku khawatir akan terjadi sesuatu yang hebat di sini. Akan tetapi ingat, kalau tidak mengganggu kita, jangan mencampuri urusan orang lain." kata Siauw Beng.

A Siong yang sudah menghabiskan enam mangkok nasi, A Siong baru merasa kenyang dan dia menyeka mulutnya dengan kain lap, lalu berkata, "Kalau mereka melakukan kejahatan mengganggu orang, apakah akupun harus diam saja?"

"Tentu saja tidak. Akan tetapi hati-hati, jangan sekali-kali turun tangan sebelum ada isarat dariku." pesan Siauw Beng. A Siong mengangguk. Dia memang harus menaati Siauw Beng yang dia anggap sebagai ganti Ma Giok.

Tiga orang pelayan membawa baki penuh masakan ke atas loteng. Mereka turun lagi membawa baki kosong dan di atas terdengar orang-orang bicara dan tertawa-tawa gembira.

Siauw Beng dan A Siong sudah selesai makan. Selagi Siauw Beng hendak memberi isarat kepada A Siong untuk membayar harga makanan dan pergi dari situ, tiba¬tiba terdengar suara gaduh di luar rumah makan Ho Tin dan tampak seorang gadis cantik jelita memasuki ruangan bawah, dikawal oleh selosin pasukan Mancu yang memakai pakaian seragam gemerlapan.