-->

Si Tangan Halilintar Jilid 06

Jilid 06

"Anjing hina! Kematianmu sudah di depan mata masih barani mengoceh.” Teriak seorang diantara dua orang pemimpin gerombolan dan secepat kilat goloknya sudah menyambar dengan serangan kilat. Anak buahnya yang melihat pemimpin mereka sudah muIai turun tangan, segera bergerak dan berteriak-teriak, "Bunuh merekal Bunuh anjing-anjing penjilat kaisarl" Dan merekapun lalu menyerbu dan menyerang pasukan Garuda Sakti.

Heng San dan dua orang rekanya, juga selosin perajurit Garuda Sakti sudah berlompatan turun dari atas pungung kuda dan merekapun menyambut serbuan para gerombolan itu dengan gagah.

Heng San bermaksud untuk menangkap atau membunuh dua orang pimpinan gerombolan itu lalu membujuk anak buah mereka agar menakluk dan menyadarkan mereka. Akan tetapi dua orang rekannya Ban Hok dan Ouwyang Sin, mengamuk dengan hebat, merobohkan banyak anak buah gerombolan. Juga selosin perajurit Garuda Sakti mengamuk dan biarpun jumlah musuh Jebih banyak, namun para prajurit pilihan ini jauh lebih tangguh dan sebentar saja banyak anggauta gerombolan berjatuhan terbabat senjata tajam.

Melihat ini, Heng San mempercepat gerakannya. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat di antara dua orang pimpinan gerombolan yang mengeroyoknya dan dua orang itu terpelanting roboh, tak rnampu bangkit kembali. Setelah merobohkan dua orang pirnpinan gerombolan perampok itu, Heng San lalu berseru kepada para anak buahnya, "Saudara-saudara, tahan dan berhenti menyerang!"

Akan tetapi mana dia mampu menahan amukan para perajurit yang sudah keranjingan itu. Mayat para anggauta gerornbolan berjatuhan, banjir darah. di tempat itu dan akhirnya, lebih dari separuh jumlah gerombolan itu roboh tewas dan selebihnya lalu melarikan diri cerai berai ke dalam hutan lebat.

Ketika para perajurit Garuda Sakti hendak melakukan pengejaran, Heng San berteriak lantang, mengerahkan tenaga saktinya, "Berhenti, jangan dikejar!”

Semua orang berhenti dan Heng San berkata kepada dua orang rekannya, didengar pula oleh selosin perajurit yang tidak ada yang cedera parah itu. "Kita tidak mengenal hutan lebat ini, jangan kejar, kita dapat saja terjebak. Dua orang pimpinan mereka telah tewas dan sebagian besar merekapun sudah terbasmi, tentu sisanya tidak akan berani lagi membuat kekacauan. Kita kembali ke Keng-koan!"

Kepala daerah kota Bun-koan yang sudah mendengar akan hasil baik pasukan Garuda Sakti menumpas gerombolan, menyambut dengan penuh penghormatan. Segera kepala daerah itu mengadakan pesta pora menyambut kemenangan pasukan itu di rumah yang disediakan untuk tempat bermalam mereka.

Akan tetapi, sejak keluar dari hutan, wajah Heng San tidak gembira seperti kedua orang rekan dan anak buah pasukan. Wajah pemuda itu muram. Diam-diam dia merasa menyesal, bersedih dan menyayangkan bahwa dalam pertempuran itu pasukannya melakukan pembunuhan terhadap dua puluh orang lebih anak buah gerombolan. Memang benar, ada kebanggaan dalam hatinya bahwa dia telah melaksanakan tugas pertama itu dengan hasil baik. Gerombolan perampok yang suka mengganggu kehidupan rakyat telah dapat dibasminya, berarti dia sudah berjasa terhadap negara dan bangsa, telah menentang kejahatan dan melindungi yang lemah tertindas, yang di ganggu keamanan hidupnya, sesuai dengan watak pendekar seperti yang diceriterakan gurunya. Akan tetapi dia merasa sedih memikirkan bahwa orang-orang yang dibunuh itu bukan lain adalah bangsanya sendiri.

Kini dia melihat penyambutan kepala daerah kota Bun-koan yang demikian hangat dan hormatnya, diam-diam dia merasa amat muak karena mengingat betapa pembesar itu berusaha menyuapnya dengan emas. Ingin dia mendamprat dan mencaci, akan tetapi Ban Hok dan Ouw-yang Sin, dua orang rekannya, mencegah dan menyabarkan hatinya. Dia hanya menyembunyikan diri dalam kamar, tidak mau ikut berpesta, membiarkan anak buah pasukan Garuda Sakti bersenang-senang menikmati pesta perayaan kemenangan yang diadakan untuk mereka. Di dalam kamarnya, Heng San selalu membayangkan para perampok yang telah terbunuh. Terutama sekali dia tidak dapat melupakan dua orang pimpinan gerombolan yang dengan gagah dan gigihnya melakukan perlawanan.

Pada keesokan harinya Heng San mengajak pasukannya pagi-pagi meninggalkan kota itu untuk kembali ke Kengkoan. Pasukan Garuda Sakti yang hanya terdiri dari lima belas orang berikut pimpinan mereka itu menjalankan kuda. mereka berbaris rapi dan gagah. Wajah mereka, kecuali Heng San yang duduk. Bukan hanya karena mereka telah melaksanakan tugas dengan baik dan berhasil sehingga tentu akan mendapat pujian dari Thio-ciangkun, akan tetapi terutama karena di luar tahu Heng San, saku mereka telah dipenuhi emas dan perak oleh kepala daerah kota Ban-koan!

Seperti telah mereka duga dan harap¬kan, kedatangan pasukan kecil ini disambut oleh Panglima Thio Ci Gan sendiri dengan wajah berseri dan mulut tersenyum gembira.

"Lauw-sicu tentu lelah. Kami merasa girang sekali mendengar betapa engkau telah melaksanakan tugasmu dengan baik sekali. Gerombolan dapat ditumpas dan tak seorangpun perajurit kita tewas. Silakan duduk, sicu." Heng San diajak duduk di ruangan dalam dan dijamu minuman bersama Ban Hok dan Ouwyang Sin, sedangkan selosin perajurit Garuda Sakti diperkenankan mengaso dan minum-minum di ruangan belakang.

Setelah mereka minum-minum, Thio-ciangkun bertanya tentang pelaksanaan tugas pertama mereka, Heng San menceritakan dengan sederhana bahwa gerombolan perampok telah dapat dibasrni, dua orang pirnpinan mereka telah tewas. Keterangan Heng San yang sederhana itu sering diganggu Ban Hok dan Ouwyang Sin yang dengan getol menceritakan jalannya pertempuran dengan nada bang¬ga dan. menonjolkan jasa- jasa mereka.

Thio-ciangkun menghela napas panjang dan berkata, "Kalian bertiga dan pasukan kalian memang hebat dan jasa kalian besar. Hanya agak kusayangkan bahwa masih ada sisa anak buah gerombolan penjahat yang sempat meloloskan diri dan tidak semuanya dapat dibunuh.

Penjahat-penjahat macam itu kalau dapat lolos, tidak urung tentu akan membentuk gerombolan lain dan mengacau kembali di lain tempat."

"Sisa mereka melarikan diri ke dalam hutan. Karena saya tidak mengenal daerah hutan lebat itu, saya melarang para perajurit melakukan pengejaran karena ada bahayanya kami dijebak mereka dan jatuh korban, ciangkun." kata Heng San.

"Sudahlah, mungkin tindakanmu itu ada benarnya juga. Biarlah sedikit anak buah gerombolan itu meloloskan diri, hal itu tidak berapa penting. Sekarang ada persoalan yang jauh lebih penting dan berbahaya daripada itu. Lui-sicu sudah kusuruh melakukan penyelidikan teliti akan hal itu. Kami memang sengaja menanti kalian kembali baru akan bertindak, karena sekali ini kita menghadapi lawan-lawan berat." Thio-ciangkun bicara dengan sikap sungguh-sungguh sehingga Heng San menjadi tertarik sekali. Mendengar ucapan ini, Ban Hok si jagoan tinggi besar yang wataknya memang congkak segera berkata.

"Ada persoalan penting apakah, Thio-ciangkun? Harap ciangkun jangan khawatir. Sekarang pasukan istimewa Garuda Sakti telah kembali dan segala macam rintangan pasti akan dapat kami hancurkan!" Thio-ciangkun mengangguk-angguk senang mendengar ucapan yang terdengar gagah ini, akan tetapi diam-diam Heng San mencela kesombongan rekannya, namun dia diam saja. Thio-ciangkun yang cerdik dapat melihat kerut tak suka pada kening Heng San, maka diapun segera bertanya, "Lauw-sicu, bagaimana pendapatmu dengan ucapan Ban-sicu tadi?"

Heng San tersenyum dan menjawab tenang. "Ban-toako terlalu takabur. Sebelum melihat kekuatan lawan, bagaimana kita dapat memandang rendah? Akan tetapi sebenarnya apakah yang terjadi dan apakah persoalan yang amat penting dan berbahaya itu, ciangkun? Tentu saja sudah menjadi kewajiban kami untuk menanggulanginya."

"Mari kalian bertiga ikut aku ke dalam. Pasukan Garuda Sakti diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing untuk mengaso." kata Panglima Thio Ci Gan. Dua belas orang perajurit pilihan yang menjadi anggauta pasukan Garuda Sakti itu memang tinggal di luar gedung sang panglima, mempunyai rumah masing-masing. Akan tetapi empat orang jagoan itu mendapatkan kamar di dalam gedung sang panglima.

Setelah Thio-ciangkun, Ban Hok, Ouw-yang Sin, dan Heng San duduk di ruangan rahasia yang biasa mereka pergunakan untuk rapat, muncullah Si Harimau Muka Kuning Lui Tiong. Terlebih dulu Lui Tiong memberi salam dan memberi selamat kepada tiga orang rekannya yang telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Thio-ciangkun mempersilakan Lui Tiong duduk dan Lui Tiong segera memberi laporan dengan wajah serius.

"Sekarang saya merasa yakin bahwa mereka itu mengadakan kontak hubungan dengan kaki tangan pemberontak yang bersembunyi di kota ini, ciangkun."

Thio-ciangkun mengangguk-angguk, ke mudian sambil memandang kepada tiga orang jagoannya yang lain, dia berkata kepada Lui Tiong, "Lui-sicu, sekarang setelah Lauw-sicu, Ban-sicu dan Ouwyang-sicu sudah kembali, kekuatan kita menjadi lengkap. Maka, sebelum kita merundingkan dan merencanakan tindak lanjut, lebih baik engkau menceritakan dulu semua persoalan itu kepada mereka bertiga."

Lui Tiong lalu bercerita dan Heng San mendengarkan hal-hal yang baru dan asing baginya, akan tetapi yang membuat dia bertekad untuk membantu perjuangan Thio- ciangkun yang dalam pandangannya adalah seorang pejabat militer yang bijaksana, baik hati dan gagah perkasa.

Menurut cerita Lui Tiong, pada bulan terakhir ini banyak sekali terdapat gerakan-gerakan para perusuh atau pemberontak yang memberontak dan merebut kekuasaan alat-alat pemerintah dengan tujuan merampok dan menguasai kota demi kepentingan para gerombolan penjahat itu sendiri. Banyak sudah gerombolan pernberontak yang terdiri dari orang-orang kang-ouw (rimba persilatan) dan bu-lim (sungai telaga) yang dapat ditumpas dan dibubarkan oleh pasukan pemerintah. Akan tetapi masih saja mereka bermunculan dengan sembunyi-sembunyi.

"Karena gawatnya keadaan di daerah Keng-koan ini, maka Sribaginda Kaisar sendiri mengutus dan memberi tugas kepada kami untuk memimpin pasukan di Keng-koan dan membasmi para pemberontak itu sampai habis!" kata Thio-ciangkun penuh semangat.

"Beberapa hari yang lalu," Lui Tiong melanjutkan penuturannya yang dipotong oleh ucapan Thio-ciangkun tadi, "di kota ini muncul serombongan penari silat yang membuka pertunjukan. Mereka terdiri dari seorang laki-laki setengah tua, dua orang pemuda yang menjadi muridnya, dan seorang gadis muda dan cantik, yang diperkenalkan sebagai puterinya. Mereka itu sungguh menarik perhatian dan mencurigakan sekali dan Thio- ciangkun sudah memerintahkan agar aku melakukan penyelidikan dengan teliti terhadap mereka."

"Aah, Lui-toako, apa sih anehnya serombongan penari silat yang hanya terdiri dari empat orang.? Banyak rombongan penari silat yang menjual obat luka dan koyo (obat tempel), mereka adalah orang-orang yang tidak perlu dikhawatirkan." kata Ouwyang Sin dengan suara memandang rendah.

Jangan beranggapan begitu, Ouwyang-te (adik Ouwyang). Mereka itu jauh berbeda dari rombongan penari silat biasa yang suka mengadakan pertunjukan di pasar-pasar. Aku sudah menyaksikan sendiri ketika mereka mempertunjukkan kemahiran mereka bersilat. Bukan sekedar tarian silat, melainkan gerakan silat yang sungguh tangguh, terutama sekali gerakan sang pemimpin rombongan dan gadisnya yang cantik."

"Hemm, sampai di manakah kehebatan mereka?" Ban Hok juga berkata meremehkan.

"Aku telah menyelidiki mereka pada malam hari dengan mendatangi tempat mereka bermalam. Biarpun aku sudah mempergunakan. kepandaianku, mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh), namun agaknya mereka dapat mendengar langkah kakiku dan hampir saja aku menjadi korban sambaran piauw (senjata rahasia) yang menyambar cepat. Untung aku memang sudah curiga dan berhati-hati sehingga aku dapat menghindarkan diri dan pergi sebelum ketahuan mereka."

Heng San merasa tertarik sekali. "Di manakah tempat mereka bermalam?" "Di dalam kelenteng Hok-man-tong di luar kota sebelah selatan itu."

"Bagaimana engkau tahu bahwa rombongan penari itu mempunyai hubungan dengan mata-mata pemberontak yang bersembunyi di kota ini seperti yang kau ceritakan tadi, Lui- toako?" Heng San bertanya.

"Ada buktinya yang amat kuat." Lui Tiong bercerita. "Dan ini menjadi laporan saya pula kepada Thio-ciangkun. Begini, ciangkun, kemarin saya menyusup di antara penonton untuk melihat dan menyelidiki rombongan penari silat itu dengan seksama. Mereka memang menawarkan obat-obat kuat, koyo dan obat luka lainnya seperti kebiasaan penari silat lainnya yang menjual obat, walaupun kesibukan ini mereka lakukan sambil lalu saja dan tanpa semangat. Kemudian gadis puteri kepala rombongan itu menari silat pedang. Akan tetapi, saya melihat kenyataan yang luar biasa. Dalam tarian itu terkandung inti ilmu silat pedang yang luar biasa dan saya mengenalnya sebagai Sian-li Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bidadari)! Kemudian mereka semua memperlihatkan tarian silat. Dua orang pemuda yang menjadi murid itu juga memiliki gerakan cepat dan bertenaga, namun tingkat mereka itu tidaklah terlalu tinggi. Kepala rombongan itulah yang amat lihai dan sambaran pukulan dari tangannya jelas mengandung tenaga sakti yang kuat. Jadi, kepandaian kepala rombongan dan puterinya itulah yang patut diperhatikan. Kemudian, tiba-tiba terdengar pujian orang dan tampak seorang pengemis tua berlompatan ke dalam lingkaran. Dia berjungkir balik dan seolah-olah meniru gerakan silat yang tadi dipertontonkan, sambi! berkata-kata kacau balau. Semua orang tertawa dan menganggap dia itu seorang pengemis gila. Ucapannya hampir tidak ada artinya, akan tetapi saya memperhatikan semua ucapannya dan ada beberapa kata-kata terselip dalam ucapan kacau balau itu. Saya mendengar ada terselip kata-kata Garuda Sakti, dan pesan agar berhati-hati karena sedang diselidiki! Kemudian, tiba-tiba dia melompat keluar sambil berjungkir balik dan pergi diikuti sorak dan tawa penonton. Saya cepat menyelinap keluar dan mencoba untuk mengikutinya. Akan tetapi, pengemis tua itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak! Nah, karena itulah, Thio-ciangkun, saya merasa yakin bahwa rornbongan penari silat. itu memiliki hubungan dengan pihak pemberontak dan mungkin pengemis tua itu adalah seorang mata-mata pemberontak yang lihai sekali." Lui Tiong mengakhiri laporannya.

Heng San dan yang lain-lain mendengarkan dengan hati tertarik sekali. Thio-ciangkun mengerutkan alisnya. dan bertanya, "Apakah engkau mendapatkan bukti lain yang lebih meyakinkan, Lui-sicu?" "Ada bukti yang jelas, ciangkun. Semalam saya berhasil melakukan pengintaian tanpa mereka ketahui. Saya tidak berani mengambil jalan dari atas genteng. Saya menggunakan kekerasan dan mengancam seorang hwesio kelenteng Hok-man-tong. Hwesio itu menyembunyikan saya dalam sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar rombongan penari silat itu. Setelah menunggu sampai lama, akhirnya mereka berempat memasuki kamar itu dan dari percakapan mereka itu saya tahu bahwa mereka sudah mencatat nama kita. Bahkan nama-nama para anggauta Garuda Sakti mereka ketahui, demikian pula tempat tinggal kawan-kawan yang tinggal di luar. Kemudian mereka bicara tentang pengemis tua gila itu yang ternyata adalah susiok (paman guru) dari pemimpin rombongan itu.”

"Hemm, kalau begitu jelas mereka adalah mata-mata dari para pemberontak. Apakah logat bicara mereka berlidah selatan?" tanya Thio-ciangkun.

Lui Tiong mengangguk. "Jelas bahwa mereka memang orang-orang selatan, ciangkun." kata-kata ini membuat sang panglima mengepal tinju kanannya.

"Kalau begitu mereka tentu anak buah si pemberontak Lo Hai Cin. Orang-orang selatan ini memiliki kepandaian tinggi, oleh karena itu kuminta kalian semua berhati-hati. Ban-sicu, sekarang juga kumpulkan semua anggauta Pasukan Garuda Sakti dan mulai malam ini mereka harus melakukan penjagaan ketat di sini, penjagaan dipimpin Ban-sicu dan Ouwyang-sicu. Sedangkan engkau, Lauw-sicu dan Lui-sicu, kalian berdua kuberi tugas untuk menangkap empat orang mata-mata itu. Boleh membawa beberapa orang teman. Aku minta semua perintah ini dilaksanakan dengan baik!" Setelah berkata demikian, Thio- ciangkun memberi isarat agar pertemuan itu bubar dan semua pembantunya melaksanakan tugas masing-masing.

Ban Hok dan Ouwyang Sin segera pergi memanggil para anggauta Garuda Sakti yang duabelas orang banyaknya, sedangkan Lui Tiong dan Heng San membuat persiapan di luar gedung.

"Lui-toako, engkaulah yang lebih mengetahui akan keadaan para mata-mata pemberontak itu, karena itu sebaiknya kalau engkau yang memimpin penangkapan ini. " kata Heng San dan sikap pemuda ini menyenangkan hati Lui Tiong. Sudah jelas bahwa kini kedudukan jagoan nomor satu jatuh kepada Heng San, akan tetapi pemuda itu tidak menonjolkan kedudukannya itu sehingga Lui Tiong yang tergeser kedudukannya tidak merasa sakit hati karena sikap Heng San yang tetap menghormatinya dan tidak menganggap dia sebagai bawahan yang lebih rendah tingkatnya.

"Baiklah, Lauw-te. Rombongan penari silat itu hanya berempat, dan yang perlu kita hadapi berdua hanya sang ayah dan puterinya itu. Untuk menangkap dua orang muridnya, kukira cukup kalau kita dibantu Kam Seng dan Kam Eng berdua saja. Kepandaian mereka cukup tinggi."

"Terserah kepadamu, Lui-toako. Akan tetapi sebenarnya siapakah mereka itu? Mengapa begitu ditakuti, menimbulkan kekhawatiran Thio-ciangkun?" tanya Heng San.

"Yang dapat kuketahui hanya bahwa pemimpin rombongan penari silat itu adalah seorang bekas guru silat di daerah selatan yang terkenal dengan julukan Lam-Liong (Naga Selatan). Menurut penyelidikan orang-orangku, dia mengaku she Lim, akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang she (marga) Ma. Gadis itu adalah puterinya dan kedua orang pemuda itu murid-muridnya. Melihat gerakan mereka ketika mendemonstrasikan tarian silat, agaknya yang merupakan lawan berat hanyalah si ayah dan puterinya itu. Kedua orang muridnya boleh kita serahkan kepada kedua kakak beradik Kam. Nah, marilah kita berangkat." kata Lui Tiong setelah Kam Seng dan Kam Eng, dua orang jagoan pembantu Thio-ciangkun yang berusia tigapuluh dan tigapuluh tiga tahun. Dua orang saudara she Kam ini merupakan jago-jago silat yang cukup lihai dengan permainan silat siang-kiam (sepasang pedang). Malam mulai menyelimuti bumi ketika empat orang jagoan dari Thio-ciangkun ini berangkat menuju ke kelenteng Hok-man-tong yang berada di luar kota Keng-koan.

Di tengah perjalanan itu, Lui Tiong bertanya kepada Heng San, "Lauw-sicu, mana senjatamu?"

Heng San tersenyum dan menggerakkan pundaknya. "Aku tidak mempunyai senjata, Lui- toako."

"Ah, kalau begitu, pakailah pedangku ini. Aku akan mencari senjata lain."

"Terima kasih, Lui-toako. Terus terang saja, aku tidak pernah mempelajari ilmu silat pedang. Aku hanya mengandalkan kedua kaki tanganku saja."

Lui Tiong terheran. “Ah, engkau gegabah sekali, siauw-te." Di dalam hatinya, Lui Tiong sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman tidak percaya akan keterangan pemuda itu. Mana ada seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah setinggi tingkat Heng San, mengaku sama sekali tidak pandai memainkan senjata? Tentu pemuda ini mempunyai ketinggian hati dan ingin mempertahankan julukannya sebagai Kepalan Sakti Tanpa Tanding!

Ketika mereka sampai di depan kelenteng, Lui Tiong mengetuk daun pintu kelenteng yang tebal dan sudah tertutup. Seorang hwesio penjaga membuka daun pintu. Melihat empat orang yang pakaiannya gagah bergambar seekor burung garuda dan sikap mereka penuh wibawa, hwesio itu cepat merangkap kedua tangan di depan dada. Dia sudah mendengar nama besar Pasukan Garuda Sakti yang terkenal, maka tergopoh-gopoh dia menanyakan keperluan mereka.

"Di mana adanya para tamu kelenteng empat orang penari silat itu? Hayo katakan dan jangan berbohong!" kata Lui Tiong.

"Pin-ceng (aku) tidak berani berbohong, ciangkun (perwira). Baru saja mereka tadi masuk dan kini tentu mereka berada di dalam kamar mereka, di bagian belakang."

"Suruh mereka keluar dan menyerah kepada kami. Jangan membawa senjata atau kami terpaksa akan bertindak keras” bentak Lui Tiong.

"Omitohud …, baik, ciangkun…" Hwesio itu berlari masuk dengan sikap ketakutan.

"Lauw-te, engkau dan Kam Seng jagalah di atas menghadang kalau mereka melarikan diri. Aku dan Kam Eng menunggu mereka di sini." kata Lui Tiong kepada Heng San.

Heng San mengangguk, lalu memberi isarat kepada Kam Seng. Mereka berdua melompat ke atas genteng dengan gerak¬an tangkas sekali.

Untuk beberapa saat lamanya, Lui Tiong dan Kam Eng yang berjaga di luar tidak melihat hwesio tadi keluar lagi. Lui Tiong sudah menjadi tidak sabar dan hendak menyerbu masuk. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dari dalam kelenteng.

"Haii! Para anggauta Garuda Sakti! Anjing-anjing pengkhianat dan penjilat kaisar! Kalau memang berkepandaian, tunggulah kami di luar!"

"Jahanam gerombolan penjahat dan pemberontak tak tahu malu! Keluarlah kalian!" Lui Tiong balas memaki dengan marah dan tangan kanannya sudah mencabut pedangnya. Kam Eng yang berdiri di sampingnya juga sudah menggunakan kedua tangan mencabut sepasang pedangnya yang tipis dan tajam.

Tiba-tiba dari dalam kelenteng tampak sinar menyambar ke arah Lui Tiong, disusuli berkelebatnya sesosok bayangan yang berseru, "Bangsat, makan piauwku!"

Lui Tiong menggunakan pedangnya menangkis senjata rahasia piauw yang runcing itu. "Tranggg ….!" Senjata rahasia piauw yang disambitkan itu terpental. Akan tetapi bayangan yang ternyata seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun itu sudah menggunakan sebatang pedang untuk menyerang Lui Tiong. Serangannya cepat dan kuat sekali, langsung menusuk ke arah dada Lui Tiong yang tahu bahwa pimpinan rombongan penari silat itu lihai sekali, cepat mengelak ke samping lalu mengelebatkan pedangnya membacok ke arah perut lawan. Namun, lawannya juga dapat bergerak dengan gesit sekali. Dengan lompatan ke samping, serangan dari Tiong itupun dapat ditangkisnya dari samping.

"Tranggg..!" Dua pedang bertemu dan keduanya terkejut mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga masing-masing. Segera perkelahian dilanjutkan dengan seru, di bawah sinar lampu yang tergantung di de pan pintu kelenteng. Sementara itu, Kam Eng juga sudah bertanding dengan seorang pemuda yang menjadi murid kepala rombongan penari silat itu. Ternyata tingkat kepandaian merekapun seimbang. Kam Eng memainkan siang- kiam di kedua tangannya dan pemuda itupun memainkan sebatang pedang yang bergerak cepat. Terdengar bunyi berdentingan berulang kali disusul berpijarnya bunga api ketika pedang- pedang itu saling bertemu di udara.

Perhitungan Lui Tiong memang tepat. Rombongan penari silat yang terdiri dari empat orang itu juga membagi rombongan menjadi dua. Ketika Heng San dan Kam Seng menjaga di atas genteng, hanya diterangi sinar bulan yang remang-remang, tiba-tiba tampak dua bayangan berkelebat di atas genteng. Begitu dua bayangan itu muncul, Heng San dan Kam Seng segera melompat dan menghadangnya.

Tiba-tiba dua sosok bayangan itu menggerakkan tangan dan tampak benda hitam meluncur, menyambar ke arah Heng San dan Kam Seng.

"Awas senjata rahasia!" teriak Heng San dan dia sudah menggunakan kedua tangan untuk menyambut. Dia berhasil menangkap empat buah peluru besi yang disambitkan dan Kam Seng juga berhasil menyampok dua butir peluru besi yang jatuh berkerontangan di atas genteng. Heng San membuang empat butir peluru itu dan kini dia bersama Kam Seng sudah melompat ke depan dua orang yang hendak melarikan diri itu.

Setelah berhadapan dengan dua orang itu, Heng San melihat bahwa mereka adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Ketika itu, sinar bulan menimpa wajah gadis itu dan Heng San terbelalak memandang dengan terheran-heran ketika dia mengenal wajah jelita itu yang bukan lain adalah Tit-Ie Li-hiap (Pendekar Wanita dari Tit-Ie) Ma Hong Lian! Gadis yang pernah bertanding dengan dia di atas genteng pemilik toko obat di Leng-koan, gadis yang menjadi roh jahat yang ternyata seorang pencuri itu!

Sementara itu, pemuda yang keluar bersama Hong Lian, yaitu murid pimpinan rombongan penari silat yang seorang lagi, sudah cepat menyerang Kam Seng dengan pedangnya. Kam Seng menyambut dengan tangkisan dan serangan balik dengan sepasang pedang di kedua tangannya, terjadilah perkelahian pedang antara kedua orang itu.

Adapun Hong Lian, ketika berhadapan dengan Heng San, juga segera dapat mengenal pemuda itu walaupun cuaca hanya remang oleh sinar bulan. Sejenak dia menjadi bengong dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Eh, engkaukah ini, nona? Dahulu engkau menjadi roh jahat, sekarang engkau memegang peran sebagai apa pula?" tanya Heng San lirih agar jangan terdengar oleh Kam Seng yang sedang bertanding.

Gadis itu memandang kepadanya dengan mata berapi saking marahnya dan bibir yang mungil dan merah itu tersenyum menghina.

"Sudah kusangka bahwa engkau bukanlah manusia baik-baik. Ternyata sekarang bahwa engkau adalah seorang manusia yang lebih rendah daripada apa yang kusangka semula!" "Nanti dulu, nona! Apa kesalahanku maka engkau datang-datang memaki aku sesuka hatimu?" Heng San merasa penasaran dan heran sekali melihat betapa marah dan bencinya gadis itu kepadanya. Pada hal menurut pendapatnya, dialah yang sepatutnya menegur gadis itu. Dulu menjadi pengganggu penduduk Leng-koan dan sekarang malah menjadi mata-mata pemberontak!

"Tak usah banyak cerewet! Malam ini kalau bukan aku, tentu engkau yang akan mati di sini" setelah berkata demikian, pedangnya sudah menyambar dengan sebuah serangan tusukan yang amat ganas ke arah dada Heng San. Heng San cepat mengelak dan untuk kedua kalinya dia melayani gadis itu bertanding dengan menggunakan tangan kosong. Akan tetapi dia hanya selalu menangkis dari samping dengan kedua tangan yang sudah dilindungi ilmu kebal Tiat-pou-san sehingga kedua tangannya tak dapat terluka oleh pedang itu, dan diapun mengerahkan ginkang untuk menghindarkan sinar pedang yang menyambar-nyambar dengan amat ganasnya. Tubuhnya seakan berubah menjadi bayang-bayang yang amat sukar dijadikan sasaran pedang.

Sementara itu, kawan gadis itu ternyata tidak kuat menghadapi serangan Kam Seng yang amat lihai memainkan siang-kiamnya. Setelah melawan mati-matian selama tigapuluh jurus, tiba-tiba dia berteriak kesakitan dan tubuhnya terguling ke bawah genteng karena pundak kanannya terbacok pedang kiri Kam Seng.

Melihat lawannya sudah roboh dan melihat Heng San belum juga dapat mengalahkan lawan, Kam Seng hendak membantu. Akan tetapi Heng San cepat berseru, "Engkau bantulah Lui-toako di bawah! Mungkin dia membutuhkan bantu¬an. Biar yang ini aku yang akan menangkapnya!"

Mendengar perintah atasannya, Kam Seng segera melompat turun membantu Lui Tiong karena pemimpin rombongan penari silat itu ternyata memang lihai bukan main dan diapun tadi melihat bahwa Heng San tidak terdesak oleh lawan walaupun dia bertangan kosong.

Setelah melihat Kam Seng melompat turun, Heng San melompat ke belakang. "Ma-lihiap (Pendekar wanita Ma), sudahlah tahan senjatamu. Mengapa kita selalu bermusuhan? Aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"

"Pengkhianat jangan banyak mulut!"

Hong Lian menyerang lagi dengan tusukan pedangnya. Heng San cepat mengelak dan kembali dia dihujani serangan yang kesemuanya dapat dihindarkannya.Tiba-tiba terdengar teriakan orang mengaduh di bawah sana dan Hong Lian menjadi pucat wajahnya karena dia mengenal bahwa yang berteriak kesakitan itu adalah ayahnya! Dengan isak tertahan Hong Lian hendak melompat ke bawah untuk membantu ayahnya yang agaknya terluka dan terancam bahaya. Akan tetapi Heng San menghalanginya dengan kedua tangan terpentang. Dia memandang dengan rasa haru dan iba memenuhi hatinya. Entah mengapa, semenjak pertemuan pertama dengan Hong Lian ketika saling memperebutkan kantung uang curian itu, dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis itu. Dia tidak tahu perasaan apakah yang menarik hatinya terhadap Hong Lian. Entah perasaan apa namun yang jelas, dia tidak ingin melihat gadis itu celaka.

"Nona Ma, jangan turun. Kawan-kawanku di bawah lihai sekali engkau tentu akan celaka kalau turun" cegahnya.

Dalam kemarahan dan kebingungan, Hong Lian tertegun mendengar ucapan itu. Ia sungguh tidak mengerti akan sikap pemuda ini. Sejak perkelahian mereka yang pertama dulu, ia tahu benar bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripadanya, bahkan agaknya tidak kalah hebat dibandingkan tingkat ayahnya sendiri. Akan tetapi mengapa pemuda yang ternyata merupakan pemimpin Pasukan Garuda Sakti ini tidak mau merobohkan dan menangkapnya dan sejak tadi hanya mengelak dan menangkis saja,. dan ban yak mengalah, bahkan agaknya tidak ingin melihat dia celaka? Siapakah pemuda ini yang menjadi lawan namun bersikap melindungi sebagai kawan? Apa maksudnya?

Pada saat itu terdengar bentakan Lui Tiong dari bawah. "Masih ada seorang musuh lagi di atas. Hayo kita tangkap"

Mendengar ini, Heng San cepat berkata lirih kepada Hong Lian, "Cepat serang aku dengan senjata rahasiamu!" Sambil berseru demikian, tangan Heng San bergerak cepat dan tahu-tahu pedang di tangan Hong Lian sudah dapat dirampasnya! Hong Lian terkejut sekali dan mendengar ucapan tadi, ia cepat mengambil beberapa buah senjata rahasia piauw dan sambil melompat pergi kedua tangannya bergerak dan empat buah piauw menyambar ke arah tubuh Heng San. Pemuda itu menyampok tiga buah dengan kedua tangannya, akan tetapi piauw yang ke empat sengaja dia sambut dengan pundak kirinya.

"Aduhhh … !" Heng San berteriak kesakitan ketika piauw itu menancap di pundaknya. Heng San sengaja menekan piauw itu sehingga menancap lebih dalam dan ketika dia mencabutnya, baju di pundak berikut kulit dagingnya terobek dan mengeluarkan banyak darah. Pada saat itu, Lui Tiong dan kedua orang saudara she Kam berlompatan ke atas genteng dan mereka terkejut melihat Heng San terhuyung.

Heng San terhuyung ke arah Lui Tiong yang hendak mengejar Hong Lian yang melarikan diri.

Lui Tiong menangkap tubuh Heng San agar tidak jatuh dan tidak melanjutkan niatnya mengejar Hong Lian.

"Awas, toako … senjata rahasianya lihai sekali …!" kata Heng San.

"Coba kuperiksa lukamu, Lauw-te." kata Lui Tiong sambil membuka baju bagian pundak yang terobek. Akan tetapi dia hanya dapat melihat sebentar karena Heng San sudah menutupi lukanya itu dengan tangannya.

"Tidak berapa parah, toako. Bagaimana hasilnya di bawah, Lui-toako?" tanyanya.

"Orang she Ma itu telah terluka dan tertawan, sedangkan kedua muridnya tewas. Kali ini kita berhasil baik, hanya sayang gadis pemberontak liar itu dapat melarikan diri dan melukaimu."

"Ah, aku kurang hati-hati dan terlalu memandang rendah, Lui-toako. Pedangnya dapat kurampas, akan tetapi aku tidak mengira ia demikian lihai sehingga dapat menyerangku dengan empat buah piauw. Yang tiga dapat kutangkis, akan tetapi yang satu melukai pundakku."