-->

Si Rajawali Sakti Jilid 13

Jilid 13

Pek Bian Ci mengerutkan alisnya dan Umpak ragu-ragu. Akan tetapi Tung-i i-tok segera menyambung. "Pek Bian i r, bukankah gadis yang berjuluk Ang iwa Niocu itu juga datang dari Ang i wa-san dan merupakan murid Hwa Hwa Srtoli?"

"Ia adalah Lai Cu Yin, sumoi-ku seperguruanku). Di mana ia?" tanya Bian Ci. "Sumoi-mu? Ia pun tadinya memba kami akan tetapi ketika terjadi per ia sudah tewas juga." Tung-hai-tok bohong untuk memanaskan hati baju putih itu.

Pek Bian Ci tampak marah. "Kepar siapa berani membunuhnya? Hanya yang berhak membunuhnya!"

"Siapa lagi kalau bukan mereka-m ini yang membela pengkhianat C K uang Yin? Marilah kita bunuh mef untuk membalas dendam, Pek Bian Ci."

Mendengar ini, Pek Bian Ci lalu cabut pedangnya dan ia menghampiri Eng Hoat. "Biar kubunuh pemuda ja nam ini!" katanya dan tanpa banyak kap lagi ia sudah menyerang den dahsyatnya. Pedangnya meluncur menusuk ke arah dada Eng Hoat de jurus Sian-li-coan-ciam (Dewi Menusu kan Jarum). Gerakannya cepat dan dangnya menjadi sinar perak menyera dada lawan. Bu Eng Hoat sudah s'

V^v»^

«fran^lr..!" Pertemuan pedang to/l nSltlkan Derekan bunga api dan

begitu menangkis, «^^ajSte£ «Sah balas menyerang dengan jurus Liong ,^uwluat (Naga Masuk Gua Harimau). Dengan Toyanya. Dia menangkis dengajfl gerakan Sian- jin-sui-po (Dewa Menyama but Mustika).

"Tranggg !" Pertemuan pedang dai toya menimbulkan percikan bunga afl dan

begitu menangkis, ujung toya yaicM lain sudah balas menyerang dengan jurufl Liong-jip-houw-hiat (Naga Masuk Gvm Harimau). Toya itu dengan dahsyat sudahi menusuk ke arah perut Pek Dian Ci. Na-J mun dengan gerakan yang amat gesit! Pek Bian Ci sudah mengelak dan bala*! menyerang. Segera terjadi perkelahian I yang amat seru antara Pek Bian Ci dani Bg Eng Hoat. Pek Bian Ci adalah se-1 orang wanita pembenci pria, maka begitu! mendapat lawan seorang pria, denganl semangat berapi-api ia menyerang de-l ngan niat membunuhnya!

Sementara itu, melihat Pek Bian Ci sudah membantunya dan menyerang Bu Eng Hoat, Tung-hai-tok sambil tersenyun menghadapi Song Kui Lin. Dengan mulu cengar cengir dia berkata.

"Nona manis, apakah tidak lebih baik kalau engkau menyerah saja dan men- I" ti sahabatku? Sayang kalau sampai m< litmu yang halus itu terluka."

"Jahanam keparat tua bangka mau I»' mpus!" Kui Lin membentak marah Aambil melepaskan pedang yang dililit-an di pinggangnya sebagai sabuk. "Tutup lt< ulutmu yang busuk itu dan bersiaplah imtuk mampus!" Ia menggerakkan pedangnya yang Irmas itu. "Singgggg !" Pedang itu

ubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia memutarnya, kemudian sinar Itu mencuat dan menusuk ke arah dada Tung-hai-tok!

Tung-hai-tok sudah tahu akan kehebatan gadis ini, maka ia juga tidak berani memandang rendah. Kalau tadi dia mengharapkan untuk dapat menawan gadis ini dalah karena dia mengandalkan bantuan dua orang tosu itu. Akan tetapi ternyata Kwan In Su dan Im Yang Tosu tidak mau membantunya, maka karena dia hanva maju seorang diri, dia tidak berani memandang ringan dan segera mencabut sepasang pedangnya. Dia menangkis lalu memutar siangkiam(sepasang pedang) itu, membalas serangan Kui Lin dengan syat sehingga mereka lalu berta mati-matian.

Dua orang tosu itu tidak mau r bantu Tung-hai-tok, akan tetapi tidak mau membantu Kui Lin dan Hoat. Mereka tadinya membantu Pa ran Chou Ban Heng untuk memperj kan bangkitnya kembali Kerajaan C. Sekarang, perkelahian itu adalah uri yang sama sekali tidak menyangkut > juangan melainkan dendam pribadi. A lagi Tung-hai-tok mempunyai niat k terhadap gadis cantik itu. Mereka t ingin mencampuri dan hanya menonton

Perkelahian itu seru dan m ti-mat Akan tetapi setelah lewat tiga pt jurus, mulai tampak betapa Kui Lin repotan melawan Tung-hai-tok, dan t Hoat juga terdesak oleh Pek BianJ yang ternyata lihai bukan main. Keli an wanita itu tidaklah aneh kalau dun bahwa ia merupakan murid tersay dari Hwa Hwa Moli dan suci (kakak

rguruan) dari Ang-hwa Niocu Lai } Vin yang sudah kita kenal kelihaiannya!

Kwan In Su dan Im Yang Tosu hanya Imonton. Mereka tidak mau mencam-, i perkelahian itu karena merasa bah-i«i itu bukan urusan mereka dan tidak 'a sangkut pautnya dengan perjuangan.

an mereka merasa tidak enak dan Kiah siap untuk meninggalkan tempat u. Akan tetapi mereka terkejut men-Irngar suara melengking di angkasa dan pelihat seekor burung rajawali meluncur kurun dengan cepat. Di punggung rajawali Itu duduk seorang pemuda yang mereka .mal karena pemuda itu pernah membantu pemerintah Kerajaan Sung e i wan pemberontak. Karena hati mereka tarik, maka mereka tidak jadi pergi dan ingin melihat apa yang akan terjadi.

Yang datang adalah Si Han Lin dengan rajawalinya. Seperti diketahui, Si Man Lin dengan para pendekar muda lainnya menghadap Kaisar, diantar oleh Pangeran Chou Kuang T'an dan menolak pemberian kedudukan akan tetapi tidak mungkin menolak pemberian hadiah sekantung uang emas. Dia tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan selama dua hari dia berjalan-jalan dan gumi keadaan kota raja yang ramal serba mewah. Akan tetapi di san gedung-gedung besar dan megah, melihat kenyataan bahwa gubuk-kecil reyot lebih banyak jumlahnya mereka berada di perkampungan, sembunyi di belakang gedung-gedj megah itu. Dia melihat pula

toko-t yag dibanjiri pengunjung yang rata-berpakaian indah dan mewah, ada yang menunggang kereta. Namun ju mereka masih kalah jauh dibandin dengan mereka yang berpakaian hana, pakaian lusuh, bahkan banyak para pengemis berkeliaran di jalan r? mengharapkan dermaan dari para har wan yang kebanyakan lewat tanpa nengok seolah para pengemis itu t tampak oleh mereka.

Melihat perbedaan yang mend antara si kaya dan si miskin ini, h Han Lin menjadi terharu dan sedih, lalu menukarkan uang emasnya pemberf Kaisar kepada para pedagang besar un mendapatkan potongan uang yang le1 ll sehingga sekantung uang emas itu menjadi lima kantung uang dengan ngan yang lebih kecil. Malamnya, dia 11 berkeliling dan diam-diam, tanpa hu penghuninya, dia membagi-bagi * melemparkan potongan emas kecil ke i i gubuk mereka. Bagi para penduduk kin itu, sepotong emas kecil kiranya tip untuk makan sekeluarga beberapa I m lamanya!

Setelah uangnya habis, pada keesokan i ya Han Lin meninggalkan kota raja. tibanya di luar kota raja di waktu f>i, tiba-tiba terdengar suara yang amat i nalnya di udara. Dia menengadah dan inibirà sekali melihat rajawali terbang r* layang di udara. "Tiauw-ko !" Dia berseru sambil

engerahkan tenaga dalamnya sehingga nya dapat mengandung getaran kuat i*ng mencapai rajawali itu. Sang raja-

li mendengar dan sambil memekik

ng dia meluncur turun dan hinggap di las tanah di dekat Han Lin. Begitu

ggap di tanah, rajawali itu lalu mengidap ke arah Han Lin, mengangg k anggukkan kepalanya lalu mendekam. Lin yang sejak kecil berkumpul d rajawali itu, maklum akan bahasa t ini. Dia tahu bahwa rajawali itu mi agar dia menungganginya dan baf rajawali itu memikul tugas tertentu y diberikan Thai Kek Siansu, gurunya. T tu gurunya ingin agar dia mengha* Tanpa ragu lagi dia lalu melompat atas punggung rajawali dan terba burung raksasa itu.

Akan tetapi tak lama kemudian, I Lin melihat perkelahian di bawah di bagian hutan kecil yang terbuka hingga tampak dari atas. Dia me tanda kepada rajawali untuk melay turun dan melihat bahwa yang berk adalah Kui Lin dan Eng Hoat yang tanding dengan Tung-hai-tok dan seor wanita baju putih yang lihai. Jelas bah dua orang sahabatnya itu terdesak o lawan. Maka dia cepat menyuruh raja turun dan pada saat itu, keselamatan Lin dan Eng Hoat sudah terancam haya maut karena Tung-hai-tok y ingin cepat-cepat mengalahkan law

S mengerahkan lima belas orang i buahnya untuk mengeroyok! Melihat keadaan ini, Han Lin memberi nba kepada rajawali dan dia sendiri lompat dan menerjang Tung- hai-tok mendesak Kui Lin. Rajawali yang V.gap akan aba-aba Han Lin juga me-r >ng dan menyambar-nyambar ke arah tosan orang angga u t a Tung-hai-pang se-hgga mereka menjadi terkejut dan gen-. Banyak yang kena cakar atau kena tuk dan banyak yang terpelanting oleh kulan sayap burung sakti itu!

'Trang-cring !" Sepasang pedang di

ngan Tung-hai-tok terpental, kedua I'i gannya tergetar dan nyeri ketika seusang pedangnya disambar Pek-sim-kiam »ng menangkisnya. Tung-hai-tok terkejut ban melompat ke belakang, terbelalak Irtika melihat siapa yang datang me nangkis siang- kiam di tangannya itu. Dia merasa gentar karena dia maklum akan KHfhaian pemuda yang menunggang rajawali itu.

Sementara itu, Pek Bian Ci yang tidak mengenal Han Lin, tidak peduli.

akan munculnya pemuda dengan rajaw nya itu. Dengan penuh semangat kebencian terhadap laki-laki yang M lawannya, pedangnya yang berubah mal jadi sinar bergulung-gulung, menyambi nyambar Bu Eng Hoat yang sekuat ' naga melindungi dirinya dengan putai toyanya. Namun, desakan Pek Bian membuat dia terhuyung ke belakang.

Han Lin yang sudah membuat Tu hai-tok melompat ke belakang, melir* betapa Bu Eng Hoat terancam baha Dia melompat dan sinar putih pedang menghadang desakan Pek Bian Ci. Keti gadis yang membenci laki-laki ini i lihat ada pemuda lain menghadangnya, menerjang dengan ganas dan dahsyat.

"Mampuslah!" Pedangnya membac ke arah leher dengan pengerahan si kang (tenaga sakti) sekuatnya. Han L dengan tenang menggetarkan Pek-sirr kiam dan menangkis.

"Tranggggg !"

"Aihhh !" Pek Bian Ci terkeju

bukan main. Pedangnya hampir terle^ dari tangannya dan ia merasa beta

11 pak tangannya yang memegang pe-|ng panas dan pedih. Ia memiliki sin-kng yang amat kuat. Kalau kini ada '«ng yang menangkis pedangnya dan rmbuat tangannya tergetar hebat dan <-lapak tangannya panas, maka jelas wa tenaga sakti orang itu lebih kuat .ripada tenaganya sendiri! Ketika ia oleh, ia melihat Tung-hai-tok juga ndah menjauh dan la terbelalak melihat rekor burung rajawali raksasa meng-jrak- abrik belasan orang anggauta Tung-i -pang.

Tung-hai-tok sendiri melihat Pek Bian i melompat ke belakang dengan wajah fiticat dan melihat anak buahnya ter-i lanting ke sana sini, maklum bahwa n elawan terus sama saja dengan bunuh diri. Maka dia bersuit nyaring memberi tanda kepada anak buahnya untuk melarikan diri. Dia sendiri melompat jauh dan pergi. Melihat ini, Pek Bian Ci memaki dalam hatinya.

"Pengecut!" Karena yang ia bela sudah melarikan diri, ia pun tidak ingin elaka di tangan orang yang lebih kuat^

daripadanya. Ia juga melompat dan larikan diri. "Lin-ko !" Kul Lin mengharu

Han Lin dan memegang lengan kakak itu, kakak angkat, dengan manja, mentara itu, Bu Eng Hoat mengham dua orang tosu yang masih berdiri situ. Dia memberi hormat dan berk kepada mereka.

"Ji-wi To-tiang (Bapak Pendeta dua), kami mengucapkan terima k bahwa 3i-wi tidak ikut menyerang kam

"Siancai! Untuk apa kami menyer kalian? Kami tidak mempunyai uru pribadi dengan kalian." kata Im Y Tosu.

Kui Lin menggandeng tangan Han kini menghampiri dua orang tosu itu. Lin segera berkata, "Ji-wi adalah pende pendeta, sekarang tidak memusuhi ka akan tetapi mengapa 3i-wi memba pemberontak Chou Ban Heng? Kami y merasa diri sebagai para pendekar m bela pemerintah, akan tetapi meng wi malah membantu pengkhianat d pemberontak?"

Kanglam Sin-kiam Kwan ln Su men-wab. "Siapakah yang memberontak? Si->> pula yang membantu pengkhianat n pemberontak? Kami adalah orang-«mg setia kepada Kerajaan Chou dan mi bahkan menentang kekuasaan pem-rontak."

Mendengar jawaban ini, Si Han Lin kr r tarik dan segera menghampiri dan r- hadapan dengan dua orang tosu itu.

"Maaf, Ji-wi To-tiang. Saya merasa hrrtarik dan heran mendengar jawaban liidi. Maukah Ji-wi memberi penjelasan l'-ntang siapa yang menjadi pengkhianat il.m pemberontak menurut pendapat To-liang?»

Kini Im Yang Tosu yang menjawab. "Siancai, selalu terjadi hal seperti ini, [undangan seperti ini dari dua kelompok yang saling bertentangan. Pin-to (Aku) nhu, kalian para pendekar muda karena menganggap bahwa Chou Kuang Yin yang kini menjadi Kaisar Sung Tha. Cu itu benar, maka kalian, berpihak kepadanya dan membela Kerajaan Sung yang didirikannya! Kalian menganggap bahwa Pangeran Chou Ban Heng seorang khianat dan pemberontak!"

"Kenyataannya memang demiki Km Lin berkata dengan galak. "Dia dak membunuh Sribaginda Kaisar bermaksud merebut tahta kerajaan!"

"Itu pendapat kalian I Akan te pendapat kami lain sama sekali bah sebaliknya dari pendapat kalian. Pange Chou Ban Heng adalah seorang patr yang setia kepada Kerajaan Chou. Se~ orang tahu bahwa Chou K uang Yin i rebut tahta kerajaan Chou dan mend* kan Kerajaan Sung. Dialah yang menj pengkhianat dan pemberontak bagi Ker jaan Chou. Adapun Pangeran Chou B Heng adalah keturunan keluarga Keraj Chou yang setia dan berniat untuk m jatuhkan Kerajaan Sung dan memban kembali Kerajaan Chou. Karena ka menganggap dia benar, dan kami ju ingin memperlihatkan kesetiaan kep Kerajaan Chou yang dijatuhkan C Kuang Yin atau Kaisar Sung Thai maka kami membantu mendiang Pan ran Chou Ban Heng!" kata Kangl

ikiam Kwan In Su menggantikan ucap-sahabatnya.

Kui Lin hendak membantah lagi akan <api Han Lin memberi isarat agar ia >m, lalu Han Lin memberi hormat t ida dua orang tosu itu dan berkata. "Saya hargai pendapat Ji-wi To-tiang u karena pendapat itu memang tidak tpat disangkal kebenarannya kalau hati al pikiran kita terbebas dari keakuan »ng selalu memihak demi kesenangan n kepentingan diri pribadi. Kebenaran rang atau sepihak mungkin saja diundang sebagai yang tidak benar sama *< kali oleh orang atau pihak lain. Per- li daan ini timbul dari penilaian dan pe~ i ilaian biasanya dipengaruhi kepentingan iri sendiri. Yang menguntungkan diri iribadi tentu saja dianggap baik dan tM-nar, sebaliknya yang merugikan diri pribadi selalu dianggap tidak baik dan tidak benar.

Demikian pula dengan adanya bentrokan antara sisa pengikut Kerataan Chou dan pengikut Kerajaan Sung. Akan tetapi, kalau kita dapat menyisihkan keakuan yang selalu mementingkan diri sendiri itu, akan muncul kebijak an dapat melihat kenyataan. Melihat Jiwi Totiang, tentu Jiwi masih n akan keadaan pemerintah sebelum Ke jaan Sung berdiri. Lima Wangsa tic tenggelam dalam waktu singkat, kera* demi kera aan bangun dan jatuh karf terjadinya perebutan kekuasaan dan rang saudara. Juga tercatat dalam i an orang-orang tua betapa Kera Chou juga demikian, rapuh dan pemer tahannya dipenuhi orang-orang yang nt; jadi penguasa lalim, korup dan mempe kaya diri sendiri, bahkan memeras rak jelata. Lalu bandingkan dengan kebij sanaan pemerintah Kerajaan Sung ya sekarang! Tidak ada yang dapat meT ingkari akan kebijaksanaan Sribagi Kaisar Sung Thai Cu yang selalu i jauhi pertikaian dengan bersikap adil pemurah, juga bersikap adil dan ker terhadap pejabat yang menyeleweng * peraturan pemerintah. Karena itu kami mendukung dan membela Keraja Sung yang pemerintahannya mulai usaha sekuatnya untuk memerangi

inan dan menyejahterakan rakyat a. Kami para pendekar akan selalu 'i rubela kepentingan rakyat, bukan ke-tingah diri pribadi." Dua orang tosu itu memandang kagum, .uni berdua juga bukan orang-orang ung nekat tanpa mau melihat kekeliruan

)iii sendiri, orang muda yang bijaksana." > a Kwan In Su sambil memandang ka k'jm. "Setelah berada di gedung mendiang 'ungeran Chou Ban Heng, baru kami -tahui bahwa dia berjuang karena ambisi I» ibadi, ingin menjadi Kaisar dan dia juga mengundang tokoh-tokoh kangouw yang sesat untuk membantunya. Hal ini k.imi sadari, maka setelah usaha merebut kekuasaan itu gagal, kami tidak mau terlibat oleh permusuhan pribadi yang rl perlihatkan Tung-hai-tok tadi. Mulai rang, kami akan berhati-hati dan tidajk mudah dipengaruhi pihak yang mt-i uruti nafsu keinginan pribadi dengan berkedok perjuangan. Kami ingin tekun dalam pertapaan kami."

Dua orang tosu itu memberi salam lalu keduanya pergi dari tempat itu. Han Lin menghadapi Kui Lin dan Eng H sejenak memandang mereka bergant' lalu tersenyum. "Hemmm, bagus sekali kalian bekerja sama menghadapi serangan T hai-tok dan wanita baju putih yang li itu. Seandainya kalian tidak melaku' perjalanan bersama, tentu akan lain sudahannya."

"Akan tetapi kalau engkau tidak gera muncul menolong, kami berdua t tu tidak akan hidup saat ini." kata Eng Hoat.

"Bukan aku yang menolongmu at rajawali itu, melainkan Tuhan yang men atur sehingga aku dan Tiauw-ko (Ka* Rajawali) datang pada saatnya yang t pat. Bu Eng Hoat, aku juga berteri kasih atas perlindunganmu terhadap adi ku Kui Lin."

"Ah, aku tidak melindunginya, mungkin malah la yang melindungiku ata

kamj saling melindungi, begitulah kata Eng Hoat bingung karena dia me mang

tidak pandai bicara.

"Lin-ko, aku tidak melakukan pernan bersama dia!" kata Kui Lin. "Benar, Saudara Han Lin. Kami ha-.i kebetulan saja bertemu di sini." Kata ig Hoat membenarkan.

Han Lin tersenyum. Dia senang mevit adik angkatnya itu bergaul dengan j Eng Hoat yang gagah, ganteng dantan. "Ha-ha, ini artinya kalian sudah Hoh "

"Lin-ko !" Kui Lin menjerit sambil melotot kepada kakak angkatnya, mukanya merah padam. Eng Hoat juga terkejut dan menundukkan mukanya yang l>erubah kemerahan.

"Ha-ha-ha, dengarkan dulu omonganku il n jangan marah, dulu, anak manis!" kata Han Lin. "Omonganku tadi belum lesai sudah kau sambar begitu saja.

Yang kumaksudkan, kalian ini sudah jodoh untuk berjumpa di sini, menjadi ka- wan seperjalanan. Bukankah pertemuan kalian ini tidak disengaja? Nah, itulah artinya jodoh, sudah dipertemukan oleh Tuhan. Berjodoh untuk melakukan per- alanan bersama yang kumaksud, bukan jodoh hemmm, kalau soal jodoh itu,_ terserah kepada hati kalian mas masing. Nah, aku harus cepat pergi, moi. Guruku memanggilku dan mengi^ rajawali untuk menjemputku."

"Aku ikut, Lin-ko!"

"Hush, mana mungkin? Aku men gang rajawali dan burung ini tidak da membawa dua orang, selain itu gur tidak akan mengijinkan aku memba orang lain menghadap beliau. Eng.' pulanglah dulu ke rumah orang tuamu Cin-an dan setelah aku menghadap S aku akan menyusulmu ke sana. Pulan dan aku minta kepadamu, Saudara Eng Hoat, kau temanilah adikku ini lakukan perjalanan ke Cin-an."

Kui Lin hendak membantah dan Lin cepat melanjutkan kata-katan "Kalian berdua tadi melihat sendiri b wa masih ada sisa para pengikut Pan ran Chou Ban Heng yang lihai dan a' menyerang kalian kalau bertemu den kailan. Nah, dengan melakukan perjala bersama kalian akan dapat saling bantu dan saling melindungi, sehir akan lebih kuat kalau bertemu musu

ii, sekarang aku harus pergi!" Setelah r kata demikian, tanpa memberi kesemutan kepada Kui Lin untuk membantah w,- Han Lin melompat ke atas pung-iing rajawali yang sudah siap dan men-1 am di situ. Rajawali itu lalu terbang gan cepatnya.

Bu Eng Hoat menghela napas panjang ik ngan amat kagum. "Bukan main hebat-> a kakakmu itu, Kui Lin. Aku pernah ndengar cerita guruku Thong Leng osu* tentang Thai Kek Siansu yang amat kti dan melihat kakakmu yang menjadi muridnya, baru aku tahu bahwa apa yang diceritakan guruku itu memang benar."

Tentu saja Kui Lin merasa bangga. Ia adalah adik angkat Si Han Lin dan serang hatinya mendengar kakaknya dipuji-puji.

"Kakakku memang hebat," katanya. 'Akan tetapi, Bu Eng Hoat, engkau harus ihu bahwa aku sama sekali tidak per nan minta engkau untuk menemani aku pergi ke Cin-an!"

"Aku tahu, Kui Lin. Kakakmu Si Han Lin yang minta aku menemanimu, akan tetapi andaikata kakakmu tidak mem nya, aku pun sedang melakukan per an searah. Aku hendak pergi ke san, mencari guruku. Karena itu, t ada salahnya kafau kita melakukan jalanan bersama. Tentu saja, kalau kau sudi melakukan perjalanan bers aku, seorang pemuda yatim piatu miskin dan bodoh."

"Ih, siapa bilang engkau bodoh? tentang miskin, aku tidak peduli or kaya atau miskin, yang penting orartg benar dan berwatak pendekar. Lagi p bukankah engkau juga menerima ha sekantung uang emas dari Sribagir Kaisar? Dengan memiliki sekantung e rtu, engkau tidak miskin lagi."

"Jadi, engkau sudi melakukan pe jalanan bersamaku?" Eng Hoat berta penuh gairah karena gembira.

"Asal engkau tidak macam-macam!'

"K u i Lin, apa maksudmu dengan cam-macam itu?"

"Aih, sudahlah mari kita lanjut perjalanan!" kata Kui Lin sambil te senyum simpul. Mereka lalu melakukan perjalanan hama. Setelah melakukan perjalanan i sama selama beberapa hari saja, per-ulan mereka menjadi akrab. Kui Lin ndapatkan kenvataan bahwa pemuda u adalah seorang yang berwatak bersih "i baik, selalu bersikap sopan dan hor-«it kepadanya.

-

Chou Kian Ki berlutut, mendekam 1m menangis di depan gundukan tanah di ana dia baru saja selesai mengubur jenazah ayahnya. Dia tenggelam ke dani kenangan yang menyedihkan tentang iyahnya, tentang keluarga ayahnya, dan 'ntang dirinya sendiri. Perjuangan ayahnya membangun kembali Kerajaan Chou gal, bahkan ayahnya tewas. Dia sendiri masih belum hilang kedukaannya karena i ehilangan Ong Hui Lan, satu-satunya adis yang sangat dikasihinya, bahkan iidah menjadi tunangannya dan lebih daripada itu, sudah digaulinya. Bia dengan mudah dia dapat mencari g gadis lain yang cantik, namun tidak yang dapat dikasihinya seperti dia ngasihi Ong Hui Lan. Perjuangan ga ayahnya tewas, kekasihnya meninggal, nya. Biarpun dia mendengar bahwa dan keluarga ayahnya tidak dihukum oj Kaisar Sung Thai Cu, namun dia mer malu untuk kembali -ke kota raja. Put belum tentu Kaisar Sung Thai Cu a Pangeran Chou Kuang Tian akan mi ampuninya dan tidak menghukumnya i perti ibu dan keluarga ibunya karena sendiri terjun secara langsung da pemberontakan ayahnya. Setelah agak reda tangisnya dan menghapus air matanya, dia tampak le! tenang walaupun sepasang matanya me jadi kemerahan dan wajahnya mura rambut dan pakaiannya kusut tidak perti biasanya d?a selalu ber penampi I mentereng dan pesolek. Tiba-tiba mendengar suara banyak orang dan tika dia menoleh, ternyata yang datai adalah Tung-hai-tok bersama bela i i g anak buahnya. Wajah kakek ini mpak muram dan marah, akan tetapi i.« gembira dapat bertemu dengan Chou ian Ki di tempat itu. "Chong Kongcu!" katanya sambil mem-irri hormat.

"Pangcu (Ketua)," kata Kian Ki. "Se-L g hatiku melihat engkau dapat me i tamatkan diri. Di mana teman-teman lnin? Apakah tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dan sudah terbunuh Mrnua?"

Tung-hai-tck tidak menjawab karena memandang ke arah gundukan tanah kuburan itu. "Chou Kpngcu, siapakah yang dikubur di situ?"

Dengan lesu Kian Ki menjawab. "Aku baru saja mengubur jenazah ayah di sini." "Ahhh !" Tung-hai-tok lalu menghampiri kuburan itu lalu menjatuhkan

diri berlutut, diikuti oleh belasan orang anak buah Tung-hai-pang. Setelah mem-

beri hormat kepada kuburan Pangeran Chou Ban Heng, kembali Tung-hai-tok duduk di atas tanah berumput menghadapi Kian Ki.

"Pangcu, engkau belum menja pertanyaanku tadi. Di mana teman-terl yang lain?" Tung hai-tok mengepal kedua tang.t nya dengan wajah merah karena mani "Hemmm, sungguh menggemaskanl K tahuilah, Kongcu. Tadi aku berhasil larikan diri dengan belasan orang a buahku dan juga bersama Kwan In dan Im Yang Tosu. Di dalam perjalan kami bertemu dengan dua orang di antar musuh-musuh kita, yaitu gadis yang be nama Song Kui Lin dan Bu Eng Hoa Aku sudah merasa girang akan dapat membalas dendam membunuh dua orang itu. Akan tetapi' sungguh menggemaskan, dua orang tosu brengsek itu tidak ma membantuku dan hanya menjadi pen ton!"

"Hemmm, kenapa begitu? Bukanka selama ini mereka berdua menjadi pem' bantu setia dari mendiang ayahku?"

"Mereka mengatakan bahwa urusan memperjuangkan Kerajaan Chou telah gagal dan selesai, dan mereka tidak m membuat permusuhan pribadi. Sunggu rVnyebalkan!"

"Lalu bagaimana? Bukankah engkau Jrrsama belasan orang anak buahmu, l.ngcu?"

"Dua orang muda itu cukup lihai dan betulan pada saat itu muncul Pek Bian \\, gadis murid Hwa

Hwa Moli dari Ang--san. Ia mau membantuku karena aku pengenal baik gurunya dan kami berdua >idah mendesak dua orang musuh itu dan indah hampir membunuh mereka akan

r tapi " Tung-hai-tok menghela napas panjang.

"Akan tetapi bagaimana, Pangcu?" "5ungguh sialan! Mendadak saja mun-ful pemuda yang menunggang rajawali )tu!"

"Hemmm, Si Han Lin itu?" "Benar, Kongcu. Dia muncul dan ber-lama rajawalinya membantu dua orang musuh kita itu sehingga usahaku membunuh mereka gagal. Terpaksa kami melarikan diri karena dengan adanya penunggang rajawali itu, kami kalah kuat."

"Hemmm, menyebalkan sekali Si Han Lin itu! Aku pernah bertanding melawan dia dan aku belum kalah. Lain kali k kami saling bertemu, aku akan tr bunuh dia!" kata Chou Kian Ki ger Dia ingat bahwa selain menjadi peny: gagalnya perjuangan ayahnya, juga Han Lin itu yang menggagalkan dia n bawa pulang Ong Hui Lan, tunangan wanita yang dikasihinya.

Tung-hai-tok yang sudah tahu be lihainya putera Pangeran Chou Ban t ini, mengangguk-angguk. Aku perc Kongcu pasti akan mampu mengala dan membunuhnya. Dan kalau sew waktu Kongcu membutuhkan bant kami, Kongcu mengetahui ke mana mencari Tung-hai-pang. Kami selalu membantumu."

"Terima kasih, Pangcu. Aku t akan pernah melupakan bantuan Pa dan Tung-hai-pang yang setia memba mendiang ayah. Kalau kelak aku berh menjadi Raja Kang-ouw, aku pasti m. membantu untuk memperbesar dan i perkuat Tung-hai-pang sebagai sa utama."

Tung-hai-tok bersama anak buah

<u melanjutkan perjalanan kembali k>-ntai Timur, meninggalkan Chou Kian J yang kemudian duduk termenung lagi depan makam ayahnya. Setelah merasa puas duduk termenung depan makam ayahnya, Kian Ki lalu engambil sebuah batu gunung yang be-«r, menggulingkannya sampai di depan iburan ayahnya dan pedagnya Hek- kong-Kiam (Pedang Sinar Hitam) dia perguna m untuk mengukir nama ayahnya di permukaan batu besar itu. Pedang pusaka s mg tajam itu, digerakkan tangan yang dipenuhi tenaga sakti, mengukir huruf-huruf besar berbunyi: MAKAM YANG MULIA CHOU BAN HENG DARI KERAJAAN CHOU. Setelah merasa puas dia segera pergi setelah memberi penghormatan terakhir.

Baru saja keluar dari hutan di bukit itu, tiba-tiba terdengar suara wanita memanggilnya. "Chou Kongcu !"

Kian K i berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya. Dia melihat Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin berlari cepat menghampirinya. Wanita itu sama sekali tidak tampak seperti seorang yag b saja mengalami kekalahan perang 1 melarikan diri. Ia masih tampak cant pakaiannya indah mengenakan perhi mencolok, dan tiga bunga merah di J butnya masih seperti biasa, berseri per t i juga wajahnya yang cantik. Ro" ronce di gagang pedangnya berkibar k ka ia berlari cepat.

"Yin-moi !" Kian Ki berseru gira

"Sukur engkau dapat meloloskan dengan selamat." Ketika Lai Cu mendekat, Kian Ki merangkul yang d balas dengan penuh kemanjaan dan (< mesraan oleh Lai Yu Cin. Mereka b4 cumbu di tempat sunyi itu untuk n? lepaskan kerinduan dan terutama unti menghibur hati mereka yang gundah rena kekalahan dalam pertempuran lawan para pendukung Kerajaan Sung.

Setelah melepaskan kerinduan ha\ mereka duduk di atas batu-batu ya banyak terdapat di luar hutan itu.

"Kongcu, engkau sekarang hendj pergi ke manakah?" tanya Cu Yin. Kian Ki menghela napas panjan u u masih belum tahu ke mana aku *n pergi. Setelah kegagalan kita, aku iik berani pulang ke kota raja dan di 111 kota besar aku tentu akan dikejar-lj.-ir alat pemerintah sebagai seorang pruan. Aku ingin sekali memperdalam i ilmu-ilmuku agar kelak aku dapat rnbalas kekalahan ini dengan cara lain. i-11 ingin menjadi Raja Kangouw dan ngerahkan seluruh kekuatan dunia gouw untuk menentang Kerajaan Sung!" U menghela napas lagi. "Sayang guruku iur g terakhir, Thian Beng Siansu, telah mggal dunia. Siapa lagi yang dapat if-mperdalam ilmuku?"

"Ah, yang dapat memperdalam ilmu-i<j yang sudah hebat itu kiraku hanya la seorang saja, yaitu Ketua Beng-kauw, ongcu."

"Hemmm, Beng-kauw? Aku pernah Mendengar bahwa Beng-kauw merupakan rkumpulan rahasia yang aneh dan juga i ang ada orang luar dapat mendekati, tapakah ketuanya yang kau maksudkan lu, Yin-moi?"

"Ketuanya bernama Co Sai, berjuluk Coat-beng-kwi (Setan Penyabut Nyai dan kabarnya belum pernah ada or yang mampu menandingi ilmu-ilmu Kukira hanya dialah yang dapat memb bingmu untuk menguasai ilmu yang t1 terkalahkan, Kongcu."

"Bagus! Aku ingin berjumpa dan lajar ilmu dari Coat-beng-kwi Co Apakah engkau mengenalnya, Yin-moi.

"Aku sendiri belum pernah bertc dengannya, Kongcu».. Akan tetapi guru Hwa Hwa Moh, adalah sahabat baikn Kabarnya Coat-beng-kwi itu seorang d dan mempunyai seorang anak peremp akan tetapi selirnya banyak sekali, merupakan raja tanpa mahkota di d hitam dan semua orang takut kepadan Bahkan para pendekar sekalipun t1 berani sembarangan mencampuri urusa nya dan merasa lebih aman untuk m jauh dan tidak mempunyai perkara ngan Beng-kauw."

"Wah, kedengarannya hebat sekal Apa engkau tahu di mana adanya Coa beng-kwi? Aku ingin menghadap dia d' minta diberi pelajaran ilmu yang leb

SK'-

"Menurut keterangan su-bo (Ibu guru), Pegunungan Beng-san terdapat sebuah l<it yang disebut Hek-kwi-san (Bukit tan Hitam), di sanalah tempat tinggal >ut-beng-kwi Co Sai bersama anak buah mg-kauw yang terkenal. Mereka itu i menggunakan jebakan-jebakan, sen-ta-senjata rahasia yang aneh, peng-aan racun-racun, dan ditambah lagi mu sihir dari para pemimpinnya, yaitu urid-murid Coat-beng-kwi.

Karena itu, tidak ada orang berani mendekati tempat itu dan menurut cerita guruku, siapa yang berani mendaki Bukit Setan Hitam

bahkan bertemu maut!" "Hemmm, aku tidak takut. Aku akan pergi ke sana menghadap Coat-beng-kwi Co Sai! Untuk mendapatkan ilmu yang (aling tinggi, aku tidak takut mempertaruhkan nyawaku."

"Sudah bulat benarkah tekadmu itu, C.hou Kongcu?"

"Sudah, memang lebih baik mati kalau aku tidak mampu mencapai cita-citaku menjadi Raja Kangouw!"

Cu Yin tertawa dan merangkul muda yang menjadi kekasihnya itu. " kau tidak perlu berkorban nyawa, Kon Ada aku di sini yang akan menemani mengantarmu sampai dapat bertemu ngan Ketua Beng-kauw."

Kian Ki menjadi girang sekali dan < sudah melupakan kesedihan hati ym dideritanya tadi. Mereka* lalu melanjut' perjalanan dengan cepat menuju i gunungan Beng-san.

Pegunungann Beng-san amat luas, miliki banyak bukit besar kecil tak te hitung banyaknya. Di antara bukit-buk itu terdapat Bukit Hek-kwi-san (Buk Setan Hitam) yang merupakan bukit n nyeramkan yang ditakuti orang. Apal orang biasa, bahkan pemburu binata buas yang paling gagah sekalipun mer~ ngeri dan tidak berani mencoba unt berburu binatang di sekitar bukit i

lagi mendaki lerengnya. Sudah banyak »ng yang terkenal gagah berani dan >gguh mencoba untuk mendaki, Hek-H-san dan akibatnya mereka tewas )am keadaan mengerikan. Tentu saja tidak ada setan hitam yang berada di bukit itu seperti yang

^ngengkan penduduk sekitar Pegunung-Beng-san. Akhirnya semua orang

me-,i*tahui bahwa yang menguasai bukit menyeramkan itu adalah Beng-kauw, se- iah perkumpulan yang masih belum banyak dikenal. Beng-kauw (Agama Teng) merupakan sebuah aliran atau ke-Irrcayaan yang sebetulnya sudah kuno » kali yang di dunia barat dikenal sebagai planichaeism atau Agama dari Mani. rrndirinya adalah putera seorang bangsawan bernama Mani (tahun + 200), penduduk Ekbatana (Persia atau" Iran). Pada f.ulanya Manichaeism merupakan pencampuran dari berbagai agama dan belut tu diperkenalkan oleh Mani, banyak |>ihak yang menentang.

Bahkan Mani wndiri akhirnya ditangkap oleh Kasta (Magians dan dibinasakan. Pemerintah

Persia pada waktu itu berusaha u( membasmi Agama Mani, namun t berhasil sepenuhnya. Para pengikut melarikan diri dan menyebarkan aM baru ini ke pelbagai negara, di antara menyebarkannya ke India dan Cina. Aj tetapi, setelah disebarkan di Cina, aga itu disebut Beng-kauw (Agama Tera Mula-mula memang mengandung pelajar yang baik, karea inti pelajarannya ada.! bahwa Terang adalah Kebajikan dan C lap adalah kejahatan. Setiap anggai Beng-kauw dianggap sebagai duta Tera untuk memerangi Gelap atau menggifi kan kebajikan untuk memerangi kejah an. Namun karena agama ini selalu curigai dan dimusuhi para penganut a ma lain, maka timbul dendam kebenc' dan akhirnya para pemimpinnya me pelajar! pelbagai ilmu, dari yang te golong putih sampai yang hitam. Aga ini mengalami kejayaannya tersebar I sampai abad ke tiga belas, kemudi hancur karena seiam mendapat tentang banyak pihak, juga berubah menjadi ali an sesat yang penuh dendam.

Ileng-kauw yang berada di Hek-kwi-m hanya merupakan sisa pengikut Beng ►w yang kecil saja. Anggautanya tidak ih dari seratus orang dan perkumpulan i bukan lagi merupakan duta terang ng memerangi kegelapan atau orang-,,n& yang mengutamakan kebajikan entang kejahatan. Mereka merupakan i i.ng-orang aneh yang terkadang ber-uanan dengan pendapat umum, bahkan nyak melakukan perbuatan sesat yang ma sekali bertentangan dengan pelajar-

ii Beng-kauw sendiri!

Pada waktu itu, Beng-kauw telah < - ndirikan perkampungan yang cukup ah dan kuat di puncak Hek-kwi-san. ikit itu memiliki tanah yang subur dan unaman-tanamannya diatur sedemikian i pa sehingga tampak indah. Namun di 1.1 lik keindahan ini mengandung bahaya n.aut yang amat mengerikan kalau ada rang luar berani memasuki daerah itu. banyak jebakan dan perangkap yang berbahaya. Akan tetapi di dekat puncak rdapat kebun-kebun yang subur, ditanami sayur-sayuran untuk dimakan, pohon-pohon buah, bahkan tanaman obatan. Di puncaknya didirikan per pungan dan sebuah rumah besar be di tengah-tengah rumah-rumah yang kecil tempat tinggal ketuanya.

Ketua Beng-kauw pada waktu bernama Co Sai berjuluk Coat-befj kwi. Dia seorang duda, berusia seki enam puluh tahun. Perawakannya sed saja namun masih tegak dan tegap. A lagi melihat wajahnya masih belum a keriput tanda ketuaan, bersih dari kun» dan jenggot, ditambah sepasang matan yang tajam mencorong, dia tampak ma: tampan dan lebih muda daripada usian yang enam puluh tahun. Coat-beng-k Co Sai ini memiliki ilmu silat alir Beng-kauw yang amat hebat. Ilmu sil itupun merupakan perpaduan dari ber bagai aliran ilmu silat, diperpadukan d dikembangkan menjadi ilmu yang ama dahsyat. Apalagi dicampur dengan ilrrf sihir dan kekuatan dari daya- daya rend yang berasal dari roh-roh sesat.

Co Sai yang sudah menduda selam beberapa tahun karena ditinggal mat (trinya yang menderita sakit P3'3^ ^

iiurut kepercayaan mereka jadi sebagai "tebusan" ilmu-ilmu miam

„g dipelajari Co Sai, ™™?»Zrn*™*

»ng anak perempuan. AnaK uu p Kim Lian, kini telah ™en\a

i .mg gadis berusia delapan beiai H Ing berwajah cantik, wataknya nar °* ' Sak namun memiliki kecerdikan luar lasa, juga aneh karena terkadang ™n-

.1 watak yang amat baik akan tetapi rkadang pula amat jahat. .

Ketua Beng-kauw ini dalam kfdu°u*a" Iya dibantu oleh seorang mor«dn.y^u ,<e! lah mewarisi sebagian besar H anda/an Coat-bengkwi. Bahkan d»a pula mg menggantikan gurunya meia'

dat kepada semua anggauta Ken*S rlurid m, berusia sekitar dua pu»"h V™ jhup, bernama Cu Kian. Tubuhnya^ «ng I kurus, wajahnya tampan, berm^Invum l.im dan mulutnya selalu terhias se^^b

»mis seperti orang memandang

«tau mengejek. Pemuda inii arna ._

i-inta Co Kim Lian yang menja<» . nya (adik seperguruannya) nan Coat-beng-kwi merestui karena ketua mengharapkan Cu Kian kelak selain | jadi mantunya, juga akan menggarit nya memimpin Beng-kauw.

Akan tetapi agaknya cinta di hati Kian tidak mendapat sambutan Kim L Gadis ini suka kepada Gu Kian a tetapi rasa sukanya hanya rasa suka] orang adik kepada seorang kakak. Hal yang terkadang membuat pemuda merasa kecewa sekali. Juga Co Sai \ rasa prihatin melihat betapa puteri jelas tidak memperlihatkan tanda cinta Gu Kian. Akan tetapi guru murid ini keduanya maklum benar bah mereka tidak mungkin dapat memaksa keinginan mereka kepada Kim Lian. dis ini memiliki kekerasan hati y tidak dapat ditundukkan oleh siapa p Sekali ia menolak, sampai mati pun tidak akan mau menerimanya. Juga r reka tidak mungkin dapat mengguna ilmu sihir atau obat yang membuat dis itu jatuh cinta kepada Gu Kian. G dis itu sudah menguasai semua ilmu si" dan obat serta racun sehingga kal!

ka menggunakan cara itu, Kim Lian i mengetahuinya dan akibatnya sukar yangkan. Gadis itu tentu akan marah .ili, mungkin akan memusuhi ayah i suhengnya (kakak seperguruannya), k., j bisa juga ia akan minggat atau m an bunuh diri! Karena itulah maka Sai dan Gu Kian bersabar sambil rngharapkan agar kelak gadis itu akan ,, «t jatuh cinta kepada Gu Kian. Satu uinya upaya pemuda itu, seperti diaurkan gurunya, adalah bersikap sebaik n ngkin kepada sumoinya.

Pada suatu pagi Coat-beng-kwi Co-i duduk di ruangan depan rumahnya g besar dan cukup mewah, ditemani r h Kim Lian dan Gu Kian. Mereka r t iga membicarakan tentang pemberon-Bkan Pangeran Chou Ban Heng yang

"Ayah, sampai sekarang aku masih .«rasa heran, mengapa ayah tidak mem-tntu salah satu pihak, pihak pejuang «ng setia kepada Kerajaan Chou atau iliak Kerajaan Sung?" tanya Kim Lian pada ayahnya.

"Hemmm, apa untungnya kita bantu satu pihak? Dahulu, Kerajaan tidak pernah mengakui Beng-kauw, kini, para pendukung Kerajaan Sung lah orang-orang yang menamakan mereka pendekar dan mereka itu juga meremehkan kita. Heheh, b saja mereka saling gempur sampai duanya binasa!"

"Suhu, teecu (murid) mendengar ' wa Kaisar Sung Thai Cu merupakan nguasa yang bijaksana, yang dapat rima semua pihak untuk bekerja Apakah tidak baik kalau kita me~ pemerintah Sung?" tanya pula Gu kepada gurunya.

"Huh, apa artinya kebijak Kalau kita membantu Kerajaan Sung mereka baik kepada kita, itu yang namakan kebijaksanaan? Hemmm, lebih beruntung kalau tidak menca pertentangan dan perebutan keku itu. Bagi kita, makin kacau kea masyarakat, makin baik dan mengunt kan. Biar rakyat kehilangan keperca kepada Kerajaan Sung dan sisa peng

.jaan Chou, maka mudah bagi kita ]/h mempengaruhi rakyat yang akan «dukung Beng-kauw!" Vmentara itu, di kaki Bukit Setan im itu, Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin Chou Kian Ki berdiri dengan sikap i. Kian Ki hendak mendaki bukit itu,

tetapi Cu Yin melarangnya, ''angan bertindak sembarangan, Chou »tgcu (Tuan Muda Chou)," kata wanita . Tempat ini sungguh berbahaya, aku ndengar cerita guruku bahwa banyak ungkap dipasang dan kalau sampai luka maka luka itu mengandung racun > dapat menewaskan."

Habis, lalu apa yang harus kita la >an? Bukit ini tampak begitu sepi, an-jangan Beng- kauw telah berpindah iipat."

'Tidak mungkin. Lihat di atas itu. kankah semua tanaman demikian rapi n jelas merupakan tempat yang diatur i gan baik? Kalau ditinggalkan (tomtu bengkalai dan penuh tanaman liar. .tr kucoba mengirim berita ke sana eialui suara." Setelah berkata demikian,

Lai u Yin mengumpulkan seluruh naganya, dan hawa sakti yang ber dari bawah pusarnya mendorong sua sehingga terdengan melengking dan ngandung getaran kuat sehingga terdengar dari jauh.

"Yang mulia Locianpwe Co Sai, hon diperkenankan saya, Ang-hwa i Lai Cu Yin, murid Subo Hwa Hwa di Ang-hwa-san, menghadap Loctanpv,

Terdengar gema suara lengkingan lalu sunyi, tidak ada jawaban. Cu tidak putus asa, setelah menanti sej ia mengulangi teriakannya tadi, lalu nungga jawaban. Kemudian ia mengu lagi. Setelah permohonan itu diulang 1 kali, tiba-tiba dari arah atas melur enam batang anak panah, dua orang masing-masing diserang tiga batang a panah yang meluncur dengan cepat J nuju tubuh mereka. Pelepas anak pa itu tentu mahir sekali karena tiga bat anak panah yang datang meluncur bertubi itu tepat mengarah tengg ulu hati, dan pusar!

Akan tetapi dua orang muda itu

hgan mudah cepat mengelak sehingg < Mga batang anak panah Itu meluncur di inmping tubuh mereka dan tidak mengenai sasaran.

Kemudian dari atas tampak belasan rjrang berpakaian abu-abu dipimpin $e-ang gadis dan seorang pemuda yang (terjalan di depan.

"Kongcu, jangan melawan dengan kekerasan," bisik Cu Yin.

"Tapi mereka tadi menyerang untuk membunuh." bantak Kian Ki.

"Tidak, kurasa itu hanya menguji karena aku mengaku murid Subo Hwa Hwa Moli. Kalau mereka nanti menawan kita, harap menyerah dan ikut saja, jangan melawan. Percayalah, mereka tidak akan mau mencelakai murid Subo Hwa Hwa Moli." Biarpun hatinya merasa penasaran, Kian Ki terpaksa mengangguk karena dia memang amat membutuhkan bantuan orang sakti agar tercapai cita-citanya, yaitu menjadi Raja Kangouw!

Pemuda dan gadis yang keduanya mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan sulaman merah itu kini ber turun seperti terbang saja. Belasan or anggauta Bengkauw yang berpakaian sel ba abu-abu tertinggal jauh walau mereka juga lari. Setelah tiba di de Cu Yin dan Kian Ki, mereka berhenti dalam jarak sekitar tiga tombak dan pasangan ini saling berpandangan deng sinar mata penuh selidik.

Yang datang memimpin anak bua Bengkauw itu adalah Go Kim Lian daa Gu Kian. Pandang mata Kim Lian meng«| amati Kian K i penuh perhatian, sedang kan Gu Kian memandang kepada Cu Yin

Lal Cu Yin mendahului memberi hor mat, mengangkat kedua tangan depan dada sambil tersenyum dan berkata. "Mz afkan kalau kami berdua mengganggu ketenangan Cu-wi (Anda sekalian). Kami mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw."

"Engkau yang bernama Lai Cu Yi dengan julukan Ang-hwa Niocu murid Hwa Hwa Moli?" tanya Gu Kian.

"Benar," jawab Cu Yin sambil tersenyum manis. "Aku Lai Cu Yin murid ribo Hwa Hwa Moli, dan ini adalah Chou ain Ki, putera mendiang Pangeran Chou IVan Heng. Kami berdua mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw. Siapakah Ji-wi (Anda berdua)?"

Yang menjawab pertanyaan itu Co Kim Lian. "Aku puteri Ketua Bengkauw, lamaku Co Kim Lian. Ini murid ayah, Suheng Gh Kian, Sebetulnya, menghadap ayah bukanlah nal yang mudah dan biasanya tanpa panggilan ayah tidak ada yang boleh mengganggunya. Akan tetapi, aku tahu bahwa Hwa Hwa Moli adalah sahabat ayah, maka engkau boleh menghadap sal tidak berbuat macam-macam! Dan

dia ini hemmm, benarkah engkau ini

putera Pangeran Chou Ban Heng yang baru-baru ini gagal merebut kekuasaan dari Kaisar Sung?" Gadis itu menatap tajam wajah Kian Ki.

Kian Ki juga menentang pandang mata gadis remaja yang manis itu dan menjawab. "Benar, aku Chou Kian Ki adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang gugur dalam memperjuangka bangkitnya Kerajaan Chou dirampas oleh pengkhianat Chou K Yin yang kini menjadi Kaisar Sung tama. Aku ingin menghadap Ketua Be kauw, harap diberi kesempatan dan kabulkan."

"Kiam Lian menoleh kepada Gu Kian dan berkata dengan nada suara seorang atasan kepada bawahannya. "Su-heng, kurasa dua orang ini cukup memeuhi syarat umuk dibawa meoghadap Ayah."

"Akan tetapi, Sumoi, bagaimana kalau Suhu memarahi kelancangan menghadapkan tamu di luar kehendak Suhu?"

"Biar aku yang bertanggung jawab! Mari, Chou Kian Ki dan engkau Lai Cu Lin, kalian berjalan bersamaku dan jagah langkah kalian agar mengikuti jejakku."

Gadis itu lalu mulai mendaki bukit, ikuti oleh Kian Ki dan Cu Yin. Mereka berdua dengan hati-hati dan teliti mengikuti jejak kaki gadis puteri Ketua Beng uw itu karena mereka maklum bahwa salah langkah sedikit saja dapat menimbulkan bahaya maut bagi mereka. Gu Kian dan para anak buah Bengkauw mengiringkan dari belakang, tentu dengan maksud berjaga-jaga agar dua orang muda itu tidak melakukan hal-hal akan merugikan Bengkauw.

Ketika mendengar bahwa tamu yang tidak diundang datang untuk menghadp padanya, mula-mula Beng-kauw-cu (Ket Bengkauw) merasa terganggu dan marah. Akan tetapi Kim Lian yang datang melapor bersama Cu Kian di depan ayahnya, segera menjawab.

"Harap ayah tidak menjadi mara Tadinya, aku juga menolak mereka ya ingin menghadap ayah tanpa dipangg' akan tetapi setelah mereka menga" siapa mereka, terpaksa aku mengan mereka menghadap dan kini sudah m nunggu di luar."

"Hemmm, siapa mereka yang membuat engkau terpaksa memenuhi permintaan merekaa?" tanya Coat beng-kwi Sai dengan suara bengis. Biarpun terkesan bengis dan berwatak aneh, namun penampilan ketua Bengkauw ini sama seka tidak menyeramkan. Dia seorang tua berusia sekitar enam puluh tahun, mukanya bersih tanpa jenggot kumis, dan an dengan sepasang mata yang memandang tajam.

"Ayah, yang pemuda bernama Chou Kian Ki dan dia adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang memberontak terhadap Kerajaan Sung. Adapun yang wanita bernama Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin, murid dari Hwa Hwa Moli Ang-hwa-san."

Mendengar disebutnya Hwa Hwa Mol, h Co Sai tampak berubah cerah dan segera berkata, 'Bawa mereka menghadap!"

Melihat ketua itu menggerakkan tangan memberi isarat kepada Kim Lian Cu Kian untuk pergi meninggalkan ruagan itu, mereka lalu keluar dari ruangan.

Setelah tiba di luar, Kim Lian berkata kepada Kian Ki dan Cu Yin bahwa mereka diperkenankan memasuki ruangan dimana ayahnya telah menunggu. Kemungkinan ia sendiri mengantar mereka berdua masuk, sedangkan Cu Kian menanti di luar.

Murid ini tidak berani masuk dia tidak disuruh masuk gurunya tadi Ketua Bengkauw telah mengisarat agar dia keluar. Akan tetapi Lian yang selalu manja dan tahu ayahnya tidak akan marah kepada dengannya tenang mengantar kedua tamu itu masuk.

Sebelum melan ambang pintu ia berbisik kepada m agar berlutut di depan ayahnya. Kian Ki dan Cu Yin memasuki ruangan dan oleh Kim Lian di bawa menghampiri seorang laki-laki tua yang d dengan gagahnya.

"Ayah, inilah mereka, Chou Kian dan Lai Cu Yin!" kata Kim Lian u? perkenalkan. Cu Yin segera menjatu diri berlutut dan biarpun sebenarnya enggan, namun mengingat akan kebut annya, Kian Ki juga menjatuhkan f berlutut. Kim Lian berdiri di belak mereka.

"Locianpwe, terimalah salam guru saya Hwa Hwa Mbli!" kata Cu dengan hormat.

"Heh-heh, Hwa Hwa Moli itu ip? Gurumu itu dulu adalah kekasihku, sayang ia tidak mau menikah dengan aku dan memilih menjadi perawan tua sampai sekarang.

Apakah ia baik-baik sehat?"

Subo dalam keadaan baik-baik dan hat, Locianpwe." "Locianpwe, saya Chou Kian Ki memberi hormat kepada Locianpwe."

"Hemmm, engkau putera Pangeran Chou Ban Heng yang gagal dalam pemberontakannya terhadap Kaisar Sung? i bahkan gugur dalam usahanya itu? lu, engkau anaknya sekarang ada maksud apa datang menghadap kami?"

"Locianpwe, maksud saya menghadap Cianpwe adalah untuk mohon belas kasihan Locianpwe agar Locianpwe sudi memberi petunjuk dan pelajaran ilmu silat kepada saya. Saya membutuhkan ilmu silat yang tinggi untuk dapat membalas dendam atas kematian ayah saya."

Ketua Bengkauw mengerutkan alisnya Vilu memandang kepada Cu Yin dan bertanya. "Dan engkau, Lai Cu Yin, apa keperluanmu ikut menghadap di sini

Apakah engkau murid Hwa Hwa juga ingin belajar ilmu dariku?"

"Saya akan berbahagia sekali Locianpwe sudi mengajarkan ilmu pada saya. Akan tetapi saya tidak berani merimanya sebelum Subo mengijinkan. Saya datang menghadap hanya untuk mengantar Chou Kongcu menghadap cianpwe."

"Hemmm, apakah hubunganmu Cou Kian Ki ini?" tanya Coat-beng-Co Sai dengan sinar matanya yang corong seperti menembus dan menjer isi hati wanita itu.

Akan tetapi, Ang-hwa Niocu Lai Yin cukup tenang dan tangkas mengh« pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Saya1 membantu perjuangan i mendiang P« ran Chou Ban Heng dan sekarang menghambakan diri untuk memo] Chou Kongcu dalam usahanya membalas dendam.".

Ketua Bengkauw itu mengerul alisnya dan berpikir sejenak, agal mempertimbangkan permintaan Kian tadi. Kian Ki dan Cu Yin menanti!

ngan jantung berdebar tegang. Mereka tahu bahwa kakek itu adalah seorang yang selain sakti jaga memlBci watak aneh sekali, bahkan terkadang dapat bertindak kejam.

Coat-beng-kwi Co Sai menggee gka kepalanya lalu tiba-tiba dia berkata. "Wah, tidak bisa, tidak b «a! Engkau Lai Cu Yin mengingat akfen gurumu Hwa Hwa Mol I, engkau boleh tinggal dan bermain-main di sini asalkan tidak membuat ulah. Akan tetapi engkau Chou Kian Ki, engkau harus pergi meninggalkan tempat ini. Aku tidak bisa menga arkan ilmu kepadamu!"

Tentu saja Kian K menjadi kecewa dan penasaran sekali. "Akan tetapi, Locianpwe.^.."

Kakek itu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya ke arah "kian Ki. t>e*MJda itu terkejut dan hampir saja dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi diri, akan tetapi dia teringat akan pesan Cu Yin agar tidak memperlihatkan bahwa dia telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat berkat gemblengan mendiang Thlan Beng Siamu. Maka dia membiark diri/iya dilanda angin pukuJan yang dahsyat sehingga tubuhnya teri e r sampai dua tom^ dan jatuh. J<e at lantai ruangan itu I

Cu Yin menjerit dan segera melonc ke dekat Kian Ki, membantunya bangki la merasa khawatir sekali melihat bet wajah pemuda itu menjadi pucat seka dan perlahan- lahan ada warna kel pada wajahnya.

"Sekati aku bilang pergi tidak bol dibantah lagil" kata Coat-beng-kwi Sai.

Tiba-tiba Kim Lian menghampiri aya nya dan suaranya lantang ketika ia ber seru.

"Ayah, perbuatan ayah ini sungg» keliru dan tidak adili"

Di dunia ini agaknya hanya Co Ki Lian yang berani menyalahkan Ket~ Berigkauw, Coat-beng-kwi sendiri terkej dan seperti tercengang melihat ada oran berani mengatakan dia tidak adil da keliru* Akan tetapi yang menyaiahkanny adalah puten tunggal yang amat disayang nya, maka rasa marah itu hanya membuat mukanya menjadi merah sekal perti udang direbus.

"Anak bodoh! Mengapa engkau mengi| takan aku keliru dan tidak adil?"

Kim Lian mengeluarkan sebuah boi kecil dari ikat pinggangnya, memb» tutup botol kecil dan mengeluarkan butir pU merah, menghampiri Kian yang dipapah oleh Cu Yln dan dibai duduk lagi di atas kursi.

"Nih, telan pil ini dan engkau tldi akan mati." Diberikan* ya pil itu Kian Ki yang menerimanya dan segei menelannya. Sebentar saja rasa nyeri dadanya mengh lang. Setelah mniberi obat penawar raci akibat pukulan itu, Kim Lian kini beri di depan ayahnya dengan mulut cei beru t dan sikapnya menantang dan manj

"Ayah kehrju Ayah mengatakan mau berpihak dengan adanya permusuhan antara Kerajaan Chou dan Kerajaan Sung, akan tetapi sekarang ayah memukul pu-tera dari mendiang Pangeran Chou Ban Heng! Berarti ayah membela Kerajaan Suru*.

Bukankah hal itu bertentangan i*an perkataan ayah sendiri dan kare-iva keliru dan salah?" Coat-beng-kwi Co Sal cemberut juga, i tetapi dia lau menghela napas

pan-"Baiklah» dalam hal ini aku telah lxjru nafsu. Akan tetapi kenapa eng-i mengatakan aku tidak adil?" "Tentu saja ayah tidak adi 1. Yang

I ng tanpa diundang ada dua orang, Itu Chou Klan KI dan UI Cu Y jan tetapi mengapa ayah hanya me-*u| Chou Kian Ki saja? Apakah ayah J*k berani memukul Lai Cu Yin karena

murid Hwa Hwa Moll? Atau barangII ayah tidak mau memukulnya karena seorang wanita cantik?"

Diserang dengan kata-kata seperti Itu, tka ketua Bengkauw itu menjadi merah. * marah sekali akan tetapi menghadapi terinya yang hanya satu ini, dia seperti t kutu. Dia hanya melontarkan ke-ahannya melalui makian, "Kim Lian! Engkau anak gila !"

'Tentu aku mewarisinya dari ayahku" ab gadis itu berani dan tiba-tiba Ke-i Bengkauw itu tertawa bergelak seolah mendengar ucapan yang amat

HHoarha.-ha-»ha! 'Bagus, engkau mewarisi sesuatu dari ayahmu! I lah, anak tolol, aku memukul pemi karena aku tidak mau mener manyi bagal muridku."

"Kembali engkau keliru, ayah, kekeliruanmu yang mi besar sekail.1*

"Eh-eh, berani engkau lagMag) ngatakan aku salah, anak setan?" ' nya saking marahnya, Ketua Bei yang wataknya aneh itu lupa bahwa lau Kim Llan anak setan, maka yang menjadi setannya.

"Tentu saja aku berani karena mang ayah keliru. Ayah menga j silat kepada mur d- cnurld yang bei dari orang biasa Sekarang ada pangeran yang bercita-cita mi kembali Kerajaan Chou minta mur d, ayah malah rneaetak? kalau Chou Klan Kl menjadi murid a] kalau kelak dia bernatal membei kembali Kerajea* Chou dan menjadi sar, berarti ayah menjadi guru kal Bahkan kalau dia gagal menjadi Ml

nya dikenal sebagai seorang panen pejuang* Apakah ayah tidak akan gga kalau dikenal sebagal guru ae* g pahlawan pejuang yang gagah per

oat~beng-Jtwl termenung mendengar «pan puterinya. Seorang seperti dia itu, Um segala hai memperhitungkan un* 'B ruginya. Setelah dia renungkan» dia pat membayangkan bahwa kalau dia < «rima Chou Kian Ki sebagai murid, inya. tidak ada sama sekali. Akan p untungnya sudah jelas» seperti mbarkan puterinya tadi. Dia kini mandang kepada Chou Kian Ki yang ih duduk kembali rriendengarkan per-atan antara- ayah dan anak Itu dengan uh harapan. Diam-diam dia girang wa gadis remaja cantik itu rnembela-al Bukan hanya memberi obat penawar g manjur sehingga kini dia tidak me* takan lagi bekas serangan hawa pukul beracun tadi, akan tetapi juga dengan : h menganjurkan ayahnya untuk me-ma dia sebagal muurjl Chou Kian Ki, sudah bulat benarkah

tekadmu untuk menjadi muridku?" beng w bertanya sambil menatap wajah pemuda Itu.

"Saya sudah bertekad untuk kepada Loc anpweJ" kata Klan Ki suara mantap.

Hei, Chou Klan Ki, kenapa e menyebut ayahku masih locianpwe? harusnya engkau menyebut suhu k gurumu!" tiba-tiba Kim Lian menegu

Mendengar, ini Kian Ki menjadi rang sekali dan dia segera menjatu diri berlutut di depan kakek Itu, beri hormat dan berseru, "Suhu, (murid) menghaturkan hormat!" Coat-beng-kwl mengerutkan alis andang kepada puterinya, akan t Kim LUn balas memandang dan t nyum manis. Kakek Itu menghela panjang lalu rnernandang. kepada Kian Ki yang masih berlutut.

"Hemmm, anak setani" kembali memaki puterinya. "Chou Kian Ki, kit dan duduklah kembali, mulai seka engkau harus menaati semua per n dan petunjukku." "Terima kasih, Suhu." kata Klan KI arngani girang, lalu dia bangkit dan iduk kembali di atas kursi.

"Sebelum aku dapat mengajarkan ilmu kepadamu, Kian Ki, aku perlu mengetahui lebih dulu dari siapa engkau belajar ulat dan sampai di mana tingkat fcepan- anrmj."

Kian Ki teringat akan nasehat Cu Yin agar dia" tidak mengaku telah memiliki Ilmu silat tinggi dan tenaga sakti yang amat kuat, maka dia "berkata. "Teecu pernah dilatih oleh mendiang Suhu Hong san Slansup Suhu."

"Hemmm, Hongsan Siansu Kwee Cin Lok ketua Hong san pai Ltu? Kalau begitu, tentu'Ilmu silatmu tidak rendah dan engkau tentu sudah menguasai Thai-lek- darinya."

"Apa yang teecu pelajarl masih amat dangkal. Suhu." kata Kian KI.

Tiba-tiba Lal Cu Yln berkata. "Maaf, Locianpwe. Saya kira Chou Kong u ini merendahkan diri saja. Saya tahu benar bahwa dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi sehingga saya sendiri tldak mampu menandinginya? Hanya t saktinya yang agaknya masih poi mendapat tambahan. Saya mende dari Subo bahwa Locianpwe mem Ilmu simpanan yang mengangkat nu besar Locianpwe. yaitu Coat-beng T elang (Tangan feeracun Pencabut Nya Ka au Locianpwe mengajarkan ilmu i kepada Chou Kongcu, maka tentu d[ akan menjadi murid yang akan mer banggakan hati Locianpwe.'

Kalau orang lain yang berani usulkan dia mengajarkan ilmusim— itu, mungkifv saja Coat-beng-kwi menjadi marah. Akan tetapi ucapan Yin itu agaknya membuat dia gembi dan' bangga karena Hwa Hwa Moli ju mengagumi ilmunya yang dahsyat itu. "Ha-ha-ha, engkau pintar bicara mengapa agaknya engkau amat mem dan membantu Chou Kian K, Cu Yi Ha ha, aku tahu, dia ini putera pandan tampan, tentu engkau sangat rrv cintanya, bukan?"

Cu Yin melihat betapa Kim L tiba-tiba menoleh dan memandang badanya dengan sinar mata mengandung i' marahan. Sebagal seorang wanita yang I» nyak pengalaman, tahulah ia bahwa m aknya puteri Ketua Bengkauw itu menyukai Kian Ki sehingga ucapan ayahnya i di membuat ia merasa cemburu kepadanya.

"Locianpwe, saya hanya seorang yang t» ndukung dan membela Kerajaan Chou dan karena Chou Kongcu merupakan pewarisnya, maka tentu saja saya selalu Siap untuk membela dan mendukungnya.**

"O, begitukah? Akan tetapi, untuk menerima pelajaran ilmu Coat-beng T k r ang sama sekali tidaklah mudah. Bahkan Kim Lian dan Gu Kian juga belum rukup kuat untuk mempelajarinya. Kare-'ua itu, aku harus mengukur dulu sampai Mi mana tingkat kepandaian Kian Ki, Haru akan kupertimbangkan apakah dia ukup kuat menerima ilmu itu. Kalau tidak cukup kuat, dia boleh mempelajari Mmu-ilmuku yang lain yang tidak seberat 1 oat-beng Tok-ciang."

"Akan tetapi kalau Locianpwe yang mengujinya dengan pukulan seperti tadi, amat berbahaya bagi keselamatan Kongcu!" bantah Cu Vln berani. "Hem mm p tidak perlu aku sen yang mengujinya." kata Coat-beng-lalu dia berkata kepada puterinya. "K Llan, panggil Cu Kian ke sini!*1

"Ayah, biar aku saja yang Chou Suheng (Kakak seperguruan kata Kim Lia , tanpa ragu lagi bu t suheng kepada Kian Ki. Per min gadis ini wajar saja karena dalam ilmu kepandaian silat, tingkatnya lebih rendah dar pada tingkat Cu Kian.

"Tidak, kalau engkau yang mengu] tentu kedua p hak akan merasa sung dan pertandingan ujian Itu hanya p* pura saja " kata Coat beng-kwL "Pa/r Cu Klan ke sini!"

Kim Llan tidak membantah lagi k na ucapan- ayahnya tadi tepat se menebak isi hatinya. Ia tertarik merasa suka sekali kepada pemuda pu ra pangeran itu sehingga kalau la y Tienguji, tentu Ia akan berpura-pura mengalih agar pemuda bangsawan lulus ujian! Maka ia segera keluar

lama kemudian Ia kembali memasuki ft» gan tamu yang amat luas itu ber-bma Cu Kian. Pemuda ini segera ber [t di depan gurunya, menanti per rv-

u

"Cu Kian, Chou Klan Ki ini akan erima menjadi murid dan untuk me-tahul sampai di mana tingkat kepan-annya, engkau harus mengujinya. Tl-k mengapa kalau sampai engkau metalnya, akan tetapi jangan membunuh-al"

Di dalam hatinya, sejak semula Cu » af\ merasa tidak suka kepada Chou Klan K i karena dia melihat betapa agaknya (molnya, yaitu Kim Llan, tertarik ke-j- >da putera pangeran Itu. Apalagi kini mendengar bahwa gurunya akan menerima pemuda itu sebagal murid, hatinya semakin panas, penuh Iri dan cemburu. Maka, mendengar bahwa dia diharuskan nengujl Klan Ki dan boleh melukai asalkan tidak membunuh, dia merasa girang sekail. Dia akan menghajar dan membuat pemuda Itu jerih lalu memilih pergi dari situl

"Baik, Suhu. Kapan dan di mana cu harus mengujinya?*1

"Sekarang dan di sini juga, ini cukup luas untuk melakukan pert d ngan silat.1*

"ApakaH teecu boleh me senjata ataukah hanya dengan tan kosong, Suhu?" tanya Cu Klan.

Tiba-1 iba Klm Lian yang men ja ketus. "Gu Suheng, m engkau ini ba mana sih? Suhu menyuruh engkau me uji seorang saudara seperguruan ki bukan disuruh menyerang seorang m Tentu saja dengan tangan kosong tidak mengg nakan senjata!"

"Ha-ha-ha, Klm Lian berkata bena Mulailah, Cu Kian dan engkau, Kian K bersiaplah engkau menghadapi seranH Cu Kian. Tentu saja engkau juga ha" melawan, ingin kulihat apakah en0* mampu menandingi Cu Kian." kata <^ beng-kwi.

"Baik, Suhu." Cu Kian dan Klan menjawab hampir berbareng. Mereka ia melangkah ke tengah ruangan Itu, di ku pandang mata Coat-beng-kwl dan Ki

|*n. Cu Yin juga memandang dengan * m senang karena ia teiah Ikut men-trong Coat-beng-kwl sehingga Kian KI m hasil menjadi murid ketua Bengkauw ing lihai Itu. Ia tidak khawatir melihat a K i akan diuji Gu Klan karena ia Ikin akan kehebatan Ilmu .kepandaian tera pangeran Itu. Gu Klan pasti tidak an mampu melukai Kian Ku Yang «mpu mengalahkan Kian KI mungkin nya Coat-beng-kwi saja* Tadi pun, t ka Coat-beng-kwi menyerang dengan i ulan jarak jauh, ia tahu benar bahwa an Ki menuruti nasehat ya dan tidak ngerahkan sin-kang untuk melindungi Iuri sehingga dapat terluka. Kalau dia ►enggunakan sln-kangnya pasti pukulan at-beng-kwl itu dapat di tangkisnya. Ketika dua orang pemuda Itu saling t* hadapan, Kian Ki melihat betapa sinar mata Gu Kian mencorong penuh kebencian. Tahulah dia bahwa murid utama Coat-b ng-kwl ini tidak suka, bahkan benci kepadanya. Tentu saja dia tidak me uxli takut. Dia bahkan harus waspada, maklum bahwa Cu Kian dapat menjadi se orang musuh yang berbahaya. Seba k ket ka Cu Klan melihat betapa Kiai memandangnya dengan mulut tersen menge ek, dia menjadi semakin ma Biarpun aku tidak boleh membu uhn aku akan membuat dia terluka pa demikian pikirnya. "Chou Kian Ki» sambutlah serang* Ini!" Dia membentak dan begitu mc rang* dia menggunakan jurus pilihan] engerahkan semua tenaganya sehi serangan Itu dahsyat bukan main. angin pukulan menyambar kuat ke I Kian Ki. Akan tetapi Klan Kl de~ tenang sekali namun cepat mengelak 1 dari samping dia menggunakan te a tangan mendorong ke arah kepala awan

"Dukkkr Gu Klan menangkis den kuat dan pertemuan kedua lengan H membuat keduanya tergetar. Diam-dia Gu Kian terkejut karena dia mera betapa lengan lawannya itu kuat sekali Dia maklum bahwa lawannya ternya memiliki tenaga yang kuat. dapat mer Imbangi tenaganya sendiri. Dia menja penasaran sekali dan segera menghu"

ooOOoo

Dukkk " Gu Kian menangkis dengan kuat dan pertemuan kedua lengan itu membuat keduanya tergetarkan serangan-serangan kilat yang bei kepada Kian Kl. Pemuda ini ginya, mengelak, menangkis berbahk menyerang dengan tampai atau tendangan sehingga terjadi perit dirigen yang seru sekail.

r

iga orang itu memandang kagun -Terutama 1 sekali Kim LIan. Gadis benar-benar kagum kepada Klan Ki. ma sekali tidak pernah disangkanya wa Kian Kl benar-benar telah mei llhatkan kegagahann a, mampu dlngl Gu Klan. Padahal, gadis itu bahwa kepandaian Gu Kian amat setingkat dengan kepandaiannya : dan pada masa Itu, sukar mencari yang mampu menandinginya. Akan tei ternyata Klan Kl dapat menandingi Kian, baik dalam hal kecepatan j tenaga. Semua serangan yang i Gu Klan dapat dielakkan atau dit£ nya dengan baik dan sebaliknya dia dapat membalas dengan serangan-seran( an yang membuat Gu Kian tampak kerepotan untuk menghindari

pri atau menangkis. Bahkan sudah tiga Lfl tamparan dan tendangan Kian Ki prnyerempet tubuhnya. TidaM meroboh^ pnnya akan tetapi cukup membuat dia IrrhuyungI Saking kagumnya, Kim Lian decak dan memuji. Mendengar suara prkaguman Kim Lian ini, Gu Kiah rnen-l di semakin marah dan dia mengeluar-* km seluruh jurus simpanannya dan me-i erahkan seluruh tenaganya. Namun te-titp saja dia tidak mampu mendesak Kian Kl.

Sebetulnya, hal ini tldakft! aneh. Kian Ki telah menerima pelajaran ilmu «ilat dari Hongsan Siansu Kwee Cin Lok almarhum dari Kanglam Sinkiam Kwan Trr Nu dan Im Yang Tosu, dan semua ilmu ini masih diperhebat oleh gemblengan Thian Beng Siansu almarhum, pada waktu mana Kian Ki menyedot dan menerima pengoperan tenaga sakti dari empat orang ktl itu. Kalau Kian Kl mau menggunakan tenaga saktinya, agaknya dia dapat merobohkan Gu Klan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi dia mem- * batasi tenaganya sehingga pertandingan Itu berlangsung «eimbang sampai dari lima puluh jurus!

Coat-beng-kwi yang sejak tadi perhatikan, diam-diam merasa aer Agaknya Hongsan 5iansu audah mewa kan seluruh kepandaiannya kepada C| Kian Ki, pikirnya. Pemuda itu bent benar hebat, bukan hanya dapat meni dingi Gu Kian. bahkan kini mulai dajj mendesajcnya. Akan tetapi kalau Kian belum dapat mengalahkan Gu Kian, te saja dia belum mau mengajarkan il simpanannya Coat-beng Tok-ciang k kalau hal itu dia lakukan, tentu menimbulkan iri dalam hati Gu Duga akan berbahaya bagi Kian K i dtyi kalau dia belum memiliki si yang cukup kuat, lebih kuat dari kang yang dikuasai Gu Kian.

Gu Kian sudah kehabisan akal. jurus simpanan telah dia keluarkan, mua tenaga sinkang telah dia kerahk namun tetap saja dia tidak dapat me alahkan Kian Ki. Bahkan kini dia mu terdesak karena serangan balasan Kian Ki amat cepat dan kuatnya. Dai daan terdesak, Gu Kian khawatir kau dia sampai roboh di tangan pemuda igsawan itu. Dia akan malu sekaji» utama di depan Kim Lian yang ditanya dan yang diharapkannya menjodohnya kelak. Berpikir demikian, Klan menjadi nekat. Tiba-tiba dia angkah mundur, lalu menerjang maju gan tubuh direndahkan dan kedua apak tangannya mendorong ke depan, r *ua lengan kanannya mengeluarkan j nyi "krek-krek!" dan itulah tandanya ihwa dia mengerahkan ilmu pukulan Vk-in Tok- clang. Dari kedua telapak igannya mengepul uap hitam. Hek-Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hl-m) ini hebat bukan main. Biarpun tidak hebat Coat-beng Tok-ciang yang me-a tikan, pukulan ini juga mengandung »cun berbahaya yang dapar me bu

«n luka dalam bagi lawani

"lhhhhh !!" Klm Lian menjerit kare-d ia sendiri juga menguasai ilmu Itu ng Ia tahu