-->

Si Rajawali Sakti Jilid 12

Jilid 12

Kami yakin bahwa yang menyuruh nuh Menteri Liong dan para pejabat tg menjadi korban pembunuhan itu ikan lain adalah dia orangnya!"

Pangeran Chou Kuang Tian meng-«Kguk-angguk. "Bu Eng Hoat, jelas bah-i engkau telah dijebak agar engkaulah mg dituduh sebagai pembunuh yang lama ini kami cari- cari. Ketahuilah [k \ wa Panglima Chou Ban Heng itu diam i im mengusahakan pemberontakan dan la mendalangi pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di antara para pejabat t gi di kota raja. Nah, sekarang kita] mua mengetahui bahwa kita merup segolongan orang yang menentang ? pemberontakan itu. Sekarang harap k Liu Cin dan Ong Hui Lan, menceritj pengalaman kalian yang berhubu dengan Pangeran Chou Ban Heng."

Ong Hui Lan menceritakan betapa diutus ayahnya, Ong Su, untuk emba Jenderal Chou Ban Heng. "Karena a dahulu merupakan Kepala Kebuday Kerajaan Chou, maka ayah mempun hubungan baik dengan Jenderal Chou £ Heng yang dahulu merupakan seor pangeran. Ayah saya tidak tahu ba Jenderal Chou Ban Heng berkhianat J hadap Kerajaan Sung dan hendak rr.e berontak, maka dia bukan saja menyur saya membantu, bahkan ayah mencr pula ketika Pangeran atau Jenderal C Ban Heng menjodohkan saya dengan teranya yang bernama Chou Kian Akan tetapi, setelah saya mengefc bahwa Jenderal Chou Ban Heng hen memberontak, apalagi setelah saya

frnal Chou Kian Ki sebagai seorang muda yang bertabiat kurang baik, saya k melarikan diri meninggalkan keluarga ju Ban Heng."

L lu Cin juga menceritakan pengala- innya. "Ketika saya bertemu dan Der- ma lan dengan Ang-hwa Niocu, saya Tipu dan mengira bahwa ia seorang

r wanita yang gagah dan baik. la

ng membawa saya pergi menghadap nderal Chou Ban Heng dan bekerja nya. Akan tetapi setelah berada di

ia, saya baru mengetahui bahwa Ang-

*a Niocu adalah seorang iblis betina

|nii bahwa keluarga jenderal itu bukan "mg baik-baik, maka saya lalu pergi icninggalkannya. Saya bertemu dengan ' a Ong Hui Lan dan bersama-sama pitmperdalam ilmu silat. Kami kembali m kota raja memang dengan niat me-

mentang rencana pemberontakan Jenderal I nou Ban Heng, dan melihat Bu Eng

^loat dikeroyok perajurit, kami melerai- i a karena saya tahu bahwa dia seorang

f ndekar yang gagah dan penentang kerajaan." Pangeran Chou Kuang Tian mengai guk-angguk. "Kita semua kini sudah d ngetahui dengan jelas bahwa Je Chou Ban Heng berkhianat dan h memberontak. Dia pula yang menda semua pembunuhan itu. Hal itu s kuduga ketika kami berhadapan der Hongsan Siansu yang menjadi guru Kailon tokoh Khitan,* dan Ang-hwa N* Akan tetapi kini tiga orang itu ti berada lagi di kota raja. Lalu sia pembunuh yang lihai itu?"

"Saya dapat menduga siapa ada para pembunuh itu, Pangeran." kata Lan. "Selain Hongsan Siansu, Jen Chou Ban Heng masih mempunyai orang pembantu yang lihai, yaitu K< lam Sinkiam Kwan In Su, dan Im # Tosu. Mereka berdua adalah orang-or yeng lihai sekali ilmu silatnya. M tetapi masih ada seorang yang lebih 1 lagi, yaitu puteranya sendiri yang j nama Chou Kian Ki. Dia ini lebih J dibandingkan semua pembantu Jend Chou!"

"Benar sekali. Pangeran. Kalau bunuh yang amat lihai sehingga Bu Hoat sendiri tidak mampu menantinya ketika pembunuh itu membunuh interi Liong, dia tentulah Chou Kian l" kata Liu Cin memperkuat pendapat Lan.

'Saya pernah menghadapal Chou Kian l dan harus saya akui bahwa belum i nah saya melawan orang setangguh t, Pangeran."

Pangeran Chou Kuang Tian mengangin-angguk. Dia lalu minta ketegasan n orang muda yang baru dia jumpai, Itu Liu Cin, Bu Eng Hoat, dan Ong ui Lan, apakah mereka benar-benar i ggup membantu pemerintah untuk Menghadapi Jenderal Chou Ban Heng dan *vra pendukungnya. Orang-orang muda .ing berjiwa pendekar dan yang oleh juru masing-masing memang sudah di-irsan agar mereka bertindak sebagal

-ndekar untuk membantu negara dan sa, segera menyatakan kesanggupan reka. Pangeran Chou Kuang Tian men-i lega dan girang sekali. Dia telah mendapatkan bantuan lima orang muda yang gagah perkasa, yang membl pemerintah menentang para pemberon karena dorongan jiwa kepahlawanan 1 reka, sama sekali tidak mempunyai 1 mrih untuk mendapatkan imbalan ba jasa berupa kedudukan atau harta ber Pendekar-pendekar muda seperti ini ] ling dapat dipercaya. Dia menganjurk agar mereka berlima tinggal di isi seperti Song Kui Lin yang memang sua tinggal di situ. Hui Lan yang s akrab dengan Kui Lin tentu saja me senang karena ia ingin berlindung d ancaman Chou Kian K i. Juga Liu <l dan Bu Eng Hoat menerima tawar Pangeran Chou dan masing-masing me dapatkan sebuah kamar di bagian istaf di mana Pangeran Chou Kuang Tian ting! gal. Hanya Si Han Lin yang tetap ting; di luar istana karena pemuda ini ini menyendiri dan dapat bergerak beba juga dia dapat melakukan pengamat lebih teliti dan leluasa.

*

Pangeran Chou Kuang Tian diam-diam Ah .melaporkan kepada kakaknya, Kai-) Sung Thai Cu tentang sepak terjang I».- eral Chou Ban Heng yang secara |i< ia melakukan pemberontakan dengan Inn membunuhi para pejabat setia, i»kan pernah berusaha membunuh Pa-> ran Mahkota. Akan tetapi Kaisar Sung ku Cu melarang dia untuk turun ta-Jiin menangkap jenderal itu karena se-iun perbuatanya itu tidak dapat dibukti-

"Sekarang sebaiknya begini," kata /",ar yang selalu bijaksana dan penuh hitungan itu. "Engkau melakukan pen-aan yang ketat agar keluarga kita tdak ada yang terancam bahaya. Semen-tra itu, biarkan pengkhianat itu merasa ihwa perbuatannya belum kita ketahui^ hingga dia berani bertindak lebih jaufi" gi. Nah, kalau dia b ?r tindak, baru kau <>i gkap dia dan kaki tangannya sehingga nangkapan itu bukan atas dasar tuduh-i tanpa bukti dan kita kelihatan tidak til. Kumpulkan orang-orang yang ber- pandaian tinggi dan amati semua gerakgeriknya sehingga kalau dia berti kita tidak sampai kecoiongan dan menangkap basah dia dan anak buahn

Perintah Kaisar ini ditaati Pan Chou Kuang Tian. Dia menyebar penyelidiknya agar diam-diam mengan dan membayangi gerak-gerik Pangl Chou Ban Heng dan terutama puten yang bernama Chou Kian K i dan j orang pengawalnya, yaitu Kanglam kiam Kwan In Su dan Im-yang Tf Juga mengamati siapa saja yang dat dan berhubungan dengan jenderal Demikian pula lima orang muda y membantunya, hanya diperbolehkan t lakukan pengamatan dan tidak bd turun tangan, kecuali kalau ada pa bunuh yang hendak melakukan pembun an terhadap pejabat yang setia ke Kaisar. Juga kepada para pejabat setia, Pangeran Chou Kuang Tian nasehatkan agar berhati-hati dan jaga keamanan diri dan keluarga masi masing dengan ketat, menambah ju pengawal.

Jenderal Chou Ban Heng me

asa terkejut dan menyesal akan ga i>va usaha pembunuhan terhadap Pa nan Mahkota maupun Pangeran Chou wng Tian, akan tetapi dia merasa lega rna sebegitu jauh dirinya belum di-tlgai. Buktinya pihak pemerintah masih i' mengadakan tindakan apa pun »i jdap dirinya. Para penyelidiknya laporkan bahwa Liu Cin dan Ong Hui i kini muncul dan berada di istana ' ma Pangeran Chou Kuang Tian. Hal ] tentu saja menimbulkan kekhawatira -« karena Ong Hui Lan yang tadinya bnjadi calon mantunya tentu telah tahu ban niatnya untuk menggulingkan Kaisar Ih g dan merebut tahta. Akan tetapi tiknya gadis itu tidak melaporkannya, fungkin takut kalau ayahnya terlibat.

tinya belum ada tanda bahwa dirinya |c urigai.

Akan tetapi Jenderal Chou Ban Heng |m menjadi hati-hati dan waspada. Meliat betapa para pejabat tinggi yang t ia kepada Kaisar kini menjaga diri

gan perlindungan ketat, dia maklum ihwa lambat laun tentu pihak pemeritah akan mencurigai dan menindak nya. Sebelum hal itu terjadi, lebih kalau dia turun tangan lebih dulu!

Secara rahasia, Panglima Ch Heng lalu mengundang para pem dan pendukungnya, baik yang berada luar kota raja maupun beberapa or perwira tinggi yang berada di kota r untuk mengadakan pertemuan rahasia dalam hutan di Ijukit terpencil sebe Utara kota raja.

Dia sendiri tidak mungkin pergi memimpin pertemuan karena dia tahu bahwa dirinya selalu diawasi secara diam-diam oleh mata-mata pememerintah. Maka dia mengutus puteranya, Chou Kian Ki untuk memimpin pertemuan itu. Bagi Chou Kian Ki, walaupun dia juga tidak luput dari pengawasan, namun dengan ilmunya yang tinggi, dengan mudah dia mampu lolos dari istana ayahnya tanpa diketahui seorang pun yang diam-diam mengawasi keluarganya siang malam. Dengan gerakan yang cepat seperti terbang, di suatu malam dia berhasil keluar dari gedungnya, bahkan keluar dari kota raja menuju ke hutan di mana pada keesokan harinya telah ditentukan menjadi tempat pertemuan persekutuan pemberontak itu.

Sekali ini Chou BanHeng hendak mengerahkan semua kekuatan para dukung dan sekutunya. Yang diui datang menghadiri pertemuan yang pimpin oleh Chou Kian Ki sebagai ayahnya itu merupakan yang paling kap dan paling besar jumlahnya semua pertemuan yang pernah dia kan. Sejak malam sampai keesokan nya, di dalam hutan itu telah berkum tidak kurang dari tiga puluh orang ; ting. Mereka adalah para tokoh kang yang sakti, - yang sejak semula me telah membantu Chou Ban Heng, sebagian pula adalah para perwira ti yang dapat terbujuk oleh jenderal karena mereka adalah para bekas pej pemerintah Kerajaan Chou yang s jatuh.

Di antara para tokoh kangouw ad Kanglam Sinkiam Kwan In Su, Im-y Tosu, Hongsan Siansu, KaiJon, Ang-Niocu, Tung-hai Tok, Ban-tok Moko, C beng Lokui. Mereka ini pernah kita k dalam peristiwa-peristiwa yang lalu. la m itu muncul pula seorang pende Lama jubah merah yang berjuluk Tho

|tin Lama, seorang pendeta Lama dan » l yang datang ke kota raja Kerajaan K dengan niat mencari sutenya (adik rguruannya), yaitu Thong Leng Losu K dianggap berkhianat dan menjadi uin para pendeta' Lama. Secara ke-, lan dia bertemu dengan Chou Kian dan dapat dibujuk untuk membantu .ikan mereka dengan imbalan akan tu mencari Thong Leng Losu. Kare-rnemang para pendeta Lama di Tibet il.ik suka akan munculnya Dinasti Sung n mereka kehilangan hubungan baik .hgan Kerajaan Chou yang jatuh, maka tang Thian Lama tanpa ragu lagi me-nma ajakan kerja sama itu. fung-hai Tok diikuti pula muridnya, itu Boan Su Kok si muka hitam yang rnah menjadi juara dalam perebutan juaraan jago silat 5di puncak Thaisan. I.'iru dan murid ini bahkan mempersiapkan anak buah mereka, yaitu para ang-iiita Tung-hai-pang yang kini berjumlah fkitar seratus orang! Juga Kailon, utusku dari suku Khitan itu telah memper « pkan ratusan orang anak buahnya yang sewaktu-waktu dapat digerakkan V bertempur! Tentu saja demikian | dengan para perwira tinggi yang siap dengan pasukan masing-masing, laupun sebagian besar dari mereka f ragu dan belum yakin benar bahwa ruh perajurit mereka akan menaati bila digerakkan untuk menyerbu dan nyerang pasukan kerajaan yang men Kaisar. Sung Thai Cu.

Karena itulah, dalam perundi yang dipimpin Chou Kian K i pagi itu sampai siang, kebanyakan para wira tinggi tidak setuju kalau pem" takan itu dimulai dengan penyerbuan mengandalkan kekuatan pasukan mereka pimpin. Karena mereka pun bahwa pihak pemerintah memiliki kan-pasukan besar dan kuat yang pemimpinnya setia kepada Kaisar. K harus dilumpuhkan dulu, demikian para pembantunya yang setia. K pasukan pemerintah kehilangan para mimpinnya, barulah penyerbuan da dilakukan dan harapan untuk ber pasti lebih besar.

Iurnya rencana ini diterima dan jskan bahwa Chou Kian Ki dan Iriya, Chou Ban Heng akan mencari I untuk menguasai Kaisar. Untuk itu flukan bantuan para pendukung yang j. Dengan diam-diam dan rahasia, ka yang akan menyusup masuk kc raja dan bersembunyi di istana Chou Heng untuk membantu pelaksanaan nna itu adalah Tung-hai Tok, Ban-Moko, Cuiibeng Lokui, dan Tong Thian n karena empat orang tokoh ini be-lkenal di kota raja. Tentu saja «n In Su dan Im-yang Tosu juga ber-m mereka karena dua orang ini sejak liu menjadi pengawal keluarga Chou *> Heng.

Hongsan Siansu, Kailon dan »g-hwa Niocu yang sudah dikenal Pa- ran - Chou Kuang Tian sebagai tiga ung yang mengirim dua orang pem-inuh yang berusaha membunuh Pangeran kota, tentL. saja tidak berani me-ki kota raja. Mereka bertiga hanya rsembunyi di luar kota raja, siap mem-tu kalau pasukan pemberontak me rbu masuk kota raja.

Pertemuan rahasia itu dilakukan ngan amat teliti sehingga para pen dik yang disebarkan Pangeran Kuang Tian tidak ada yang dapat ngetahuinya. Bahkan Si Han Lin y seperti biasa secara diam-diam mela kan perondaan di atas wuwungan rum rumah di kota raja, tidak menemu sesuatu. Dia hanya melihat pada kee~ an harinya, sore hari, Kwan In Su Im-yang Tosu berjalan memasuki rv gerbang kota raja dan menuju ke is Jenderal Chou Ban Heng. Hal ini tki lah luar biasa karena memang dua ora itu merupakan pengawal sang jende Dia juga melihat seorang pendeta L tua berjalan pada malam hari itu pendeta itu menghilang dalam kegela malam. Karena tidak mengenalnya tidak menaruh curiga Han Lin ti mengikutinya, tidak tahu bahwa pende itu adalah Thong Thian Lama, seorang antara mereka yang secara rahasia masuki gedung Chou Ban Heng unti membantunya.

Betapapun pandai dan penuh raha ral Chou Bait Heng mengatar r e n »a sehingga semua pembantunya telah i>, namun Pangeran Chou Kuang Tian n para pembantunya tidak kalah cerdik, k reka memang tidak dapat mengetahui hwa Jenderal Cfeeut Ban Heng telah elundupkan taan bahan empat orang mg berilmu tinggi untuk membantunya, mun Pangeran Chou Kuang Tian sudah -»t menduga bahwa Jenderal Chou Ban ng tentu akan. mengadakan gerakan ng amat membahayakan keselamatan n uar dan keluarganya. Oleh karena itu, i. bantu para pendekar muda dan para lima yang setia, dia pun menyusun jagaan dan pertahanan yang amat etat secara rahasia pula sehingga di luarnya seolah pihak Kerajaan tidak mencurigai Jenderal itu dan tidak melakukan penjagaan apa pun!

*

Pada suatu malam yang gelap. Kota raja diselimuti mendung tebal ehi langit hanya tarHpafe hitam tanpa sebuah pun bintang. Kilat menyam nyambar diselingi suara guntur me gelegar* Tidak ada tampak orang di ja malam itu karena sertu» merasa I aman berada dalam rumah. Agakn hujan lebat s«g«ra akan turun.

Istana pun tampak sunyi, agak* semua' penghuninya telah tidur di ka masing- masing. Bahkan para peng pun yang sedang bertugas jaga lebih suMI duduk bergercnttwi di pos penjagaan ing«masing. Hanya ada beberapa pas» an saja ya»g melakukan peronda an, pun dengan sikap ogah-ogahan.

Di antara para perajurit penga yang malam itu melakukan penjag yang jumlahnya sekitar lima puluh or dan tersebar di seluruh bagian ist terdapat sepuluh orang perajurit pen wal yang sudah "dibeli" dan menjadi a buah Jenderal Chou Ban Heng. Ten saja sudah berbulan-bulan dia menggu kan sepuluh orang perajurit pengtf kerajaan ini sebagai mata-mata sehin

| dapat mengetahui gerak-gerik i fam istana. Dari mereka pula dia* metv mgar bahwa keadaan pep jagaan di is-rva mempunyai kelerwthan-kelemahan. derai Chou Ban Heng mendengar pula i wa selama beberapa pekan ini Kaisar .miliki kebiasaan yang ganjil, yaitu dia iii<a tidur di sebuah kamar menyendiri «i.ik ditemani permaisuri maupun se-rnya dan kalau sudah memasuki ka-Ur, sama sekaji tidak ingin diganggu, ah kan pengawal pun tidak diperbolehkan ndekati kamar dan tidak boleh ada iara berisik di luar kamar itu. Men-ngar ini, Jenderal Chou Ban Heng yang "jah bernafsu aekali untuk menguasai ihta kerajaan, segera menyusun rencana ng akan dilakukan pada malam gelap

Ja

Dia sudah mengatur rencana siasat ngan para pembantunya. Dia akan me-uasal kaisar, menyandera kaisar dan emaksa kaisar untuk menyerahkan ke-jasaan dan mengangkat dia menjadi nggantl. Adapun semua pendukung dan mbantunya harus sudah siap di luar kota raja, juga para panglima siap ngan pasukan mereka, untuk menyei kalau kaisar melawan dan tidak mau nyerahkan kekuasaan.

Demikianlah, dengan bantuan sepul orang perajurit «pengawal, tanpa dikel hui para perajurit lainnya* Jenderal ( Ban Heng, puteranya, Chou Kian Tung-hai Tok, Bao-tok Moko, Cuil Lokui, dan Thong Thian Lama, e orang Ini menutupi pakaian mereka ngan pakaian perajurit lalu mereka ; nyelundup masuk ke istana dan langj saja menuju ke kamar Istimewa di Kaisar Sung Thai Cu tidur.

Suasana amat sunyi j Selagi cm orang perajurit palsu itu berindap mer hampiri kamar itu, muncul lima om perajurit pengawal yang bertugas m jaga kamar itu dari jauh karena mer« dilarang mendekat oleh Kaisar. Melif enam orang itu menghampiri kam» nereka segera mengejar dan menegi dengan suara lirih. "Hei, kalian tidak boleh mendekat kamar itu!1'

Ketika enam orang itu membalikkan tuh mereka, lima orang perajurit itu ikejut karena tidak mengenal mereka, k--lagi ketika melihat bahwa yang se 7<»ng di antara enam orang perajurit itu fcilah Jenderal Chou Ban Keng. Akan tapi, Chou Kian K i, Tung-hai Tok.

tok Moko, Cuibeng Lokui dan Tong Wan Lama sekali menggerakkan tangan, ima orang perajurit pengawal itu roboh tewas tanpa sempat mengeluarkan ral Mereka lalu menyeret lima mayat u dan melemparkannya ke bawah pohon, rtutup bayangan pohon yang gelap, mudian mereka kembali berindap meng-piri kamar itu dan Jenderal Chou Heng sendiri lalu membuat lubang di ndela dengan pedang lalu mengintai ke alam.

Kamar itu diterangi lampu meja yang ' mang—remang. Bukan kamar yang terlalu mewah, hanya ada sebuah dipan i» rkelambu, sebuah meja dengan empat kursi, dan sebuah almari berisi kitab-kitab* Di atas dipan itu, tertutup kelam-tu tipis, tampak tubuh seorang laki-laki tidiir rel* tang. Jenderal Chou Ban Hafl yang sudah mengenal baik Kaisar, y<\k bahwa yang tidur itu adalah Kaisar Thai Cu. Dia lalu mengangguk ke puteranya dan Chou Kian Ki mer* daun pintu kamar. Dengan penger tenaga saktinya yang amat kuat,; mendorong dan berhasil membuka pintu kamar tanpa perlu merusak a mengeluarkan suara gaduh. Dengan dahnya daun pintu terbuka. Ayah anak ini lalu cepat melompat ke da kamar, sedangkan empat orang sak pembantu mereka berjaga di luar kamar]

Melihat tubuh yang rebah miring, membelakangi mereka itu bergerak, derai Chou Ban Heng segera berse "Jangan bergerak atau berteriak, Srf ginda, atau kami terpaksa akan me bunuhmu!"

Mendengar ancaman Ini, kaisar i lalu menutupi kepalanya dengan sellm dan menggigil ketakutan. Jenderal Cfc Ban Heng tersenyum mengejek. Klrany kaisar kerajaan baru itu hanya seor pengecut yang ketakutan, pikirnya.

"Dengar baik-baik, Sribaginda. Engkau <-naati kami atau kami bunuh sekarang iifiA Tulis pernyataap bahwa engkau 'nyerahkan' tahta kerajaan kepadaku, ulah yang berhak melanjutkan Keraja-i Chou, bukan engkau! Tulislah dengan tangan dan cap kebesaranmu, dan a kerajaan akan pindah ke tanganku fJa1 adanya pertempuran. Kalau engkau i lak menaati,. kami akan membunuhmu an akan mengobarkan perang yang akar, rw^iighancurkan seJ^ruA negerir.

Mean tetapi 0ada saat itu, terdengar entakan di luar kamar, seolah merupa k ah jawaban dari ucapan Chou Ban Heng Ldi. ^Chou ttah Heng, menyerahlah, kalian sudah terkepung'rt

Mendengar ini, Chou Ban Heng ter-wjut, akan tetapi dia tidak merasa gen-tar.y"Kian Ki, jaga Kaisar jangan sampai lolos, akan tetapi jangan bunuh, tunggu ^rintahku!" Setelah memesan demikian kepada puteranya, dia dengan cepat me lompat keluar. Dia melihat empat orang pembantunya itu sudah berdiri teqak membawa senjata masing-masing dan siaj.

melawan mereka yang berada di dengan banyak pera juri t yang menge tempat Itu. Dia melihat Pangeran Kuang Tlan berada di depan bersama' orang pemuda dan dua orang gadis, segera rhengenal Llu Cin dan Bu Hoat, juga mengehat Ong Hui (Um ca mantunya. Dia lalu berseru nyaring pada Pangeran Chou Kuang Tian.

"Chou Kuahg Tlan, jangan kalian rani bergerak! Ketahuilah, Kaisar Thai Cu telah berada di tangan ka kalau kalian membuat gerakan, dia a! lebih dulu kami bunuh. Dan ketahui juga bahwa para panglimaku sudah s dengan pasukan mereka, juga para p dukungku sudah siap dengan anak b mereka di luar pintu gerbang. Kalau iian menentangku, pertama Kaisar* a kami bunuh dan pasukan-pasukan dukungku akan bergerak menyerbu is

Garang bagaikan lima ekor Chou Ban Heng, Tung-hai Tok, Ban Moko, Cfu-beng Lokui, dan Tong Th" Lama berdiri berjajar menghadapi Pan ran C"hou Kuang Tian yang didampi

j Cln, Bu Eng Hoat, Song Kui Lin, dan * Hui Lan. Mereka agaknya merasa kin bahwa lawan-lawan mereka tidak «n berani menyerang selama Kaisar »ada dalam tawanan mereka dan men-1 sandera. Chou Ban Heng bahkan asa yakin bahwa gertakannya itu sti berhasil karena tidak mungkin Pa i ran Chou Kuang Tian mau mengor-nkan nyawa kakaknya Sung Thai Cu, Isar pertama dinasti Sung. Akan tetapi sungguh sama sekali ti-k disangkanya, mendengar ucapannya ng penuh semangat kemenangan, Pa d eran Chou Kuang Tian tersenyum tenang, lalu berkata.

"Chou Ban Heng, pengkhianat pemberontak, manusia tak mengenal budi. Engkau diberi kedudukan tinggi oleh Kakanda Kaisar, sekarang malah memberontak! ertakanmu itu hanya gentong kosong t>claka. Dengar baik-baik, tiga belas ang panglima yang dapat kau bujuk menjadi pengikutmu kini sudah kami langkap semua sehingga tidak akan ada pasukan yang memberontak tanpa pimpin an. 3uga para gerombolan penjahat luar kota kini sedang diserbu oleh p kan pemerintah. Nah, sebaiknya ka berlima cepat membuang senjata menyerah, rnungkin Kakanda Kaisar y bijaksana dan murah hati masih n mengampunimu."

Chou Ban Heng kalah gertak, merasa gentar juga, akan tetapi dia sih mengandalkan kenyataan bahwa ka berada di tanganriya. Melihat Panger Chou Kuang 1w agaknya bersungg sungguh dan dia bersama para pende muda itu melangkah maju, dia berseru.

"Berhenti! Selangkah lagi kalian ma akan kusuruh putefaku Vnernbunuh Ka yang berada di dalam- kamar!"

Pada saat itu, tiba-tiba terden suara yang datangnya dari atas. "C Ban Heng, ambisimu itu akan mengh curkan dirimu sendiri!"

Mendengar suara itu, Chou Ban H terkejut bukan main dan dia segera i mandang ke atas dan di sana, di sebua loteng yang menjulur di depan kamar it

i pak Sribaginda Kaisar Sung Thai Cu diri dengan sikap tenang dan agung. "Ahhh.....

bagaimana ini ?" Chou n Heng berseru, terkejut dan heran h pada saat itu

terdengar suara gaduh radunya senjata di dalam kamar dan sok bayangan melompat keluar dari „mar. Bayangan itu adalah Chou Kian \ yang membawa Hek-kong-kiam (Pe-g Sinar Hitam), dengan mata tertalak memandang ayahnya dan berkata. "Kita terjebakl Dia bukan Kaisar!" Bayangan putih berkelebat dan Han in telah berada pula di luar. Ternyata di ketika Chou Ban Heng mengintai, ng rebah di pembaringan tertutup ke-bu memang Kaisar, akan tetapi kemudian pembaringan yang sudah dipasangi la t rahasia itu turun ke bawah dan di usngan bawah kaisar turun, digantikan lan Lin. Kemudian pembaringan itu naik i«gi dan kini yang berada di pembaringan bdalah Si Han Lin yang sengaja menutupi I- palanya dengan selimut dan tubuhnya nggigll agar disangka kaisar yang ketakutan. Setelah dia mendengar suara kaisar di luar, Han Lin membuka 4W mutnya. Melihat bahwa yang beradafl situ adalah pemuda lihai yang pcrffl bertanding dengannya. Kian Ki terka! dan menyerang. Akan tetapi seranfj pedang sinar hitamnya dapat dltanjj oleh Han Lin. Tahu bahwa mereka J jebak, Kian K i melompat keluar m©* beri tahu ayahnya dan teman-temannya J "Serang !!" Pangeran Chou ftf Heng yang sudah nekat

mengandalku kelihatan puteranya dan empat oral jagoannya, lalu menerjang maju. Mer«aj disambut oleh Han Lin dan kawan-fcawrfl nya, dikepung para panglima dan pasukan nya. Maklum akan kelihaian Chou KM Kir Si Han Lin menyambut putera jenda ral ini dan mereka bertanding dengal seru. Tadinya Ong Hui Lan yang ingl membalas dendam kepada Kian Ki, hefi dak menyerangnya dan ia sudah didarfJ pingi Liu Cin karena mereka berdul maklum bahwa hanya kalau mereka befl dua maju menggunakan ilmu Thian-t4 Im-yang Kun-hoat, dapat diharapkan me* reka akan mampu menandingi dan meng

ikan Chou Kian Ki. Akan tetapi me-t Han Lin sudah menyambut putera terai itu, Hui Lan dan Liu Cin tidak in mengeroyok dan mereka menghadapi -.g lain.

Kian Ki tidaklah senekat ayahnya, lihat betapa para pendekar muda itu 1.1-rata lihai, terutama sekali pemuda kaian putih yang menyambutnya, dan belakang mereka masih ada para pang-ma dan ratusan perajurit, Kian Ki mak-n bahwa ayahnya dan para pembantu-fca tidak mungkin akan mampu menang.

"Ayah, mari kita lari!" teriaknya ke-t'ka dia melihat dua orang panglima pendukung ayahnya yang agaknya lolos lari tangkapan Pangeran Chou Kian Tian, d. i tang bersama puluhan orang perajurit I ndak membantu sehingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang antara han perajurit yang ikut memberontak 'melawan ratusan perajurit kerajaan.

Akan tetapi Jenderal Chou Dan Heng Ivorseru. "Larilah engkau, Kian Ki dan kelak, balaskan sakit hati ayahmu!!" Kian Ki beberapa kali berteriak, akan p» Chou Ban Heng tetap tidak mau fctarikan diri, bahkan mengamuk dan kti-matian menyerang Pangeran Chou

ng Tian yang dibencinya karena dia ^anggap pangeran itulah yang men-i pimpinan lawan sehingga usaha pemetakannya gagal. Akan tetapi, Pa-

ran Chou Kuang Thian adalah seorang >li silat yang tangguh dan setelah me- bertanding selama tiga puluh jurus bih, seorang panglima yang membantu wgerah Chou Kuang Tian berhasil me-uk lambungnya dari kiri dan robohlah khj Ban Heng.

Melihat ayahnya roboh, Chou Kian K i krteriak, "Ayah H"

Pangeran Chou Kuang Tian membiar-Lnn pemuda itu menubruk ayahnya dan ia malah memberi isarat mencegah tereka yang hendak menyerang pemuda ku. Kian Ki merangkul ayahnya dan lihat ayahnya terluka parah, dia lalu mengangkat tubuh ayahnya, dipondong Ulu dipanggul di atas pundaknya. Dengan ajah beringas dia lalu menerjang ke bepan dengan pedang hitamnya dan mengamuk. Demikian hebat gerakan Kian Ki sehingga para perajurlt m menjauh. Han Lin juga merasa tidak untuk menghalangi pemuda itu mem pergi ayahnya yang terluka parah dan membiarkan saja pemuda itu melari diri, apalagi setelah melihat Panger Chou K uang Tian ta li juga melar para perajurit menyerang pemuda y mungkin sekali kematian ayahnya mel luka tusukan tombak yang menembus d-lambung kiri ke lambung kanan.

Melihat Pangeran Chou Ban H roboh dan Chou Kian Ki melarikan ay nya yang terluka, empat orang dat yang membantu mereka itu pun me jalan keluar mengikuti Chou Kian melarikan diri sanvbil mengamuk di panjang jalan.

Pangeran Chou K uang Tlan mem^ tadinya mencegah per? perajurit c pembantunya meiKlesak pihak Lawan telah- melihat Chou Ban Heng, biang ladinya, telah roboh. Akan tetapi fnelih betapa Chou Kian Ki diikuti em^at ora datuk sakti itu melarikan diri, dia te

kt bahwa mereka itu tetap merupa -bahaya bagi negara. Maka dia segera ►mberi aba-aba kepada para pendekar >da dan para panglima. "Kejar mereka!" Pertgejarann dilakukan. Lima orang itu r larikan diri keluar dari pintu gerbang Uta

-raja sebelah utara, Apa yang di-«t akan Pangeran Chou K uang Tian tadi i-iak bohong karena pada saat itu, di par pintu gerbang telah terjadi pertem-iran antara ratusan orang anak buah rromboian pendukung pemberontak dan isukan kerajaan yang memang ditugaa-m untuk menggempur mereka. Biarpun tthak gerombolan pemberontak kalah raar Jumlahnya, namun mereka dipimpin iteh orang-orang yang memiliki ilmu Hat tinggi. Di antara mereka terdapat tongsan Siansu, Ang-hwa Niocu, KangUm | ' nkiam K wan In Su, Im-yang Toau, Kal-Lm dan Boan Su Kak murid Tung- hal n ok. Mereka mengamuk dengan ganas kian banyak perajurit yang roboh 4i ta-an mereka.

Ketika tiba di tempat itu, Chou Ban

Heng tewas dalam pondongan puter Kepada Chou Kian Ki dia hanya men galkan pesan dengan suara terputus-pi "Kian K i selamatkan dirimu..». I

kelak dapat membalas dendam

terutama kepada Pangeran Kuang Tlan "

Melihat ayahnya tewas, Kian K i Jadi marah bukan main. Dia metil betapa tiga orang gurunya, Hongsan Si su, Kwan In Su, dan Im-yang Tosu mengamuk, maka dia lalu meleta jenazah ayahnya dt bawah sebatang hon besar yang agak jauh dari te~ pertempuran, lalu dia terjun ke dai* pertempuran 'dari ikut mengamuk.

Ketika para pengejar dari istana t' di situ, mereka segera terjun dalam f tempuran yang dahsyat itu. Si Han segera menghadapi Okou Kian K i y sedang mengamuk dengan Hek-kong-k« (Pedang Sinar HrtamjV dan meroboh banyak perajumu "Cringgg !!" Bunga api berpijar

nyilaukan mata ketika pedang hitam i ditangkis pedang Pek-sim«kiam (Peda.

Ali Putih) yang bersinar putih di tangan B Han Lin. Ketika itu cuaca sudah mu-Li terang karena malam telah terganti myi sehingga mereka dapat saling me-li> dengan jelas. Kian K i terkejut ka-m>ia pedangnya terpental akan tetapi dia m, -ra memandang dengan mata melotot kfika melihat bahwa penangkisnya adabi pemuda yang pernah ditandinginya kali. Pertama kali ketika pemuda itu p| indung i Ong Hui Lan, dan ke dua linya ketika semalam pemuda itu me-amar sebagai Kaisar Sung Thai Cu tam kamar. Dia menjadi marah sekali, >alagi ketika diingat bahwa pemuda ini JNemiliki ilmu yang sama seperti yang rnah dipelajarinya dari mendiang Thian g Siansu.

"Keparat, siapakah engkau sebenar-hva? Dan dari mana engkau mencuri Imu Keluarga Kok?"

Dengan tenang Si Han Lin menjawab. < hou Kian K i, aku bernama Si Han Lin i .n guruku adalah Thai Kek Siansu, pewaris ilmu silat Keluarga Kok. Sebaliknya bagaimana engkau dapat mempela-

jari ilmu warisan Keluarga Kok?" "Aku belajar dari guruku, T hai n Beflg Sbnsuf "Ah, kiranya engkau murid Su couw (Paman Kakek Guru) Thian Siansu?" Sj Han Lin terkejut.

"Hemmm, kalap mendiang guru susiok-couwmu, berarti engkau murid keponakanku. Mengapa memusuhiku?"

"Aku tidak memusuhimu, Chou K

K i, aku menentang segala bentuk buatan tarku seperti yang diajarkan g ku. Engkau dan ayahmu hendak merampas tahu kerajaan, bunuh banyak pejabat tinggi dan menimbulkan perang yang menaakiba tewasnya banyak orang. Itu kejahatan besar, maka aku harus nentangnya!"

"Huh, tahu apa engkau tentang jahatan? Chou Kuang Yin (kini Ka Sung Thal Cu) itulah pemberontak penjahat besar. Kami hanya mem juangkan hak-hak kami» Engkau rr. bantunya, berarti engkau juga pengkhia»

t yang patut dibunuh! Hailiiittttt...Ml" aaikan angin badai Kian Ki menyerang bngan pedang di tangan kanannya di-» ling tamparan tangan kirinya yang *rngandung tenaga sakti amat kuat.

Han Lin cepat menangkis sambaran mar hitam dan mengelak dari tamparan, arena dia mengenal baik serangan latan, maka tidak sukar baginya untuk tenghtndarkan diri dan Nan Lin seperti Masa banyak mengalah. Dia berkelahi hanya untuk melindungi dirinya, dan dia n-embalas serangan hanya untuk melemahkan serangan lawan. Kedua orang itu bertanding dengan cepat sehingga yang tampak hanya gulungan sinar hitam melawan sinar putih yang saling desak dan saling himpit.

Sementara itu, para pendekar muda yang membantu Pangeran Chou Kuang Tian juga menemukan lawan-lawan yang amat tangguh sehingga terjadilah pertempuran antara orang-orang yang memiliki kesaktian sehingga tidak ada pera-rit kerajaan atau anak buah gerombolan pemberontak yang berani mendekati mereka. Pa*a perajurit itu bertempur lawan gerombolan dan karena ju para perajurit jauh lebih besar, n mereka mulai dapat mendesak para buah gerombolan yang Kini tidak dib~ oleh para pimpinan mereka yang s sendiri menghadapi para pendekar mu

Orang ke dua dari para datuk bantu Chou Ban Heng yang paling I setelah Chou Kian Ki adalah Thong Lama. Pendeta gundul jubah merah Tibet yang tinggi besar bermuka hi ini bersenjatakan seuntai tasbih biji hitam dan sepak terjangnya dahsyat kali.

Melihat kehebatan pendeta L' ini, Liu Cin segera melompat maju i hadapuiya. Liu Cin sekarang jauh ber" dengan Liu Cin dulu sebelum dia I sama Hui Lan mempelajari ilmu da kitab Thian-te Im-yang Sin-kun. Biar ilmu itu baru tampak kedahsyatann kalau dimainkan berdua dengan Hui L" namun latihan itu menambah kuat naga dalamnya, juga terdapat banyak rusnya yang dapat dimainkan seorang < dengan daya serang yang amat dahsyat.

Pendeta gundul jubah merah dari Tibet anc tinggi besar bermuka hitam ini ber- iatakarT seuntai tasbih biji baja hitam dan sepak terjangnya dahsyat sekali.

Dia melompat sambil memainkan semat nya yang terdiri dari dua buah tonp pendek yang dimainkan seperti sepala pedang, dapat memukul dan menotok.

Melihat lawannya seorang pemU baju kuning yang memiliki Ilmu si) dengan dasar aliran silat Siauwlimp* Thong Thian Lama tertawa bergeli Sejak dulu para pendeta Lama rnemai dang rendah ilm»-silat Siauwhmpai kafi na mereka menganggap bahwa ilmu sil itu didasari ilmu peninggalan Tat N Couwsu yang datang dari India dan d anggap kalah tua dibandingkan ilmu ya* merupakan aliran Ilmu silat para pendet! Lama di Tibet. Mereka tidak menyadari bahwa ilvtu silat Siauwhmpai telah beri kembang -pesat berbaur dengan ihnu-ilml dari lain daerah. Apalagi Lva Cin tela» memperkaya ilmu silatnya dengan ikm Thfan-te Im-yang Sm-kun, sebuah ilml yang langkah dan luar biasa.

Begitu mereka berdua saling serang Thong Thian Lara* tidak dapat menera Uwekannya lagi karena oa mendapat kenyataan bahwa lawannya yang masif

ini benar-benar amat tangguh, lihat sambaran tasbihnya selalu dapat tangkis dan dielakkan lawan, dia menit marah, melompat ke belakang dan lontarkan tasbih itu ke udara. Tasbih itu mengeluarkan bunyi "wirrr.. t dan berputar-putar di udara, lalu layang dan menyambar ke arah kepala lu Cin bagaikan seekor burung menyam-r- nyambar dengan kekuatan dahsyat pala orang dapat pecah kalau disambar tasbih dengan biji besi atau baja hitam u!

Sebagai murid Ceng In Hosiang tokoh Itauwlimpai, Liu Cin maklum bahwa [lawannya menggunakan kekuatan sihir i»ntuk menggerakkan tasbih itu. Para |K-ndeta Lama memang terkenal dengan Ilmu sihirnya. Namun dia tidak menjadi gentar. Di Siauwhmpai (Kuil Siauwli iia selain ilmu silat juga mempelajari ilmu agama Siauwlim dan dia dapat mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh sihir itu dan menggunakan tongkatnya untuk menangkis sambaran tasbih. Thong Thian Lama kini maju menyerang dengan kaki tangannya sehingga Liu merasa dikeroyok oleh pendeta itu oleb tasbih yang bergerak sendiri nyerang dari" atas.' Diserang secara d kian, Liu Cin menjadi terdesak j akan tetapi berkat meningkatnya tcn4 sakti yang diperolehnya dari latihan il Thian-te Inv-yjarjg Kun-hoat, dte rrr dapat melindungi dirinya dengan baik.

Hongsun Siansu Kwee Cin Lok amat lihai dan karena tadi dia rhei amuk di dekat Thong Thian Lama, kini Ong Hui Lan yang ingin berta melawan musuh dekat dengan Liu C segera menyerangnya. Gerakan Hui ' kini juga cepat dan kuat sekali ber latihan Thian-te Im-yang Kun-hoat. dangnya Cheng-hwa-kiam yang bers hijau berkelebat menyambar ke ar leher Hongsan Siansu. Ketua HongsarT ini tersenyum mengejek ketika meli siapa yang menyerangnya. Tentu saja d mengenal Hui Lan yang pernah tinggal istana Jenderal Chou Ban Heng, bahka telah menjadi tunangan Chou Kian K Dia pun telah mengetahui sampai

.1 tingkat kepandaian gadis itu, maka i memandang rendah dan merasa yakin iwa dalam beberapa jurus1 saja dia »n mampu mengalahkan gadis itu. Dia »1 h mendapat gagasan untuk menang-> Hui Lan hidup-hidup karena dia tahu ar bahwa Chou Kian Ki amat men-ta gadis itu dan «pemuda itu pasti n girang dan berterima kasih sekali danya kalau dia dapat menangkap «lis itu hidup-hidup dari diserahkan pada pemuda itu.

Maka begitu dia menghindar dari r ifjgan Hui Lan dengan lompatan ke lakang, dia menggunakan ilmu sihirnya, melontarkan pedangnya' ke atas menjadi knar kuning dan nui-kiam (pedang terung) itu meluncur dan menyerang ke nah kepala Hui Lan. Niatnya adalah i' embua.t gadis itu repot menangkisi M-rangan pedang terbangnya sehingga dia ii pat menggunakan kedua tangannya l«ntuk menotok dan menangkap gadis itu tanpa melukainya.

"Trang-trang-cringgg !M Tiga kali dang sinar hijau di tangan Hui Lan menangkis dan menghantam pedang bang itu sedemikian kuatnya sehl pedang itu akhirnya terpental dan baii kepada Hongsan Siansu! Ketua sanpai ini menjadi bengong, terkejut memandang terbelalak. Rasanya t mungkin! Baru beberapa bulan saja pandaian dan tenaga sakti gadis itu dah meningkat demikian hebat sehi bukan hanya mampu menangkis ped terbangnya, bahkan dapat membuat , kiam itu terbang kembali kepadanya! segera menangkap gagang pedangnya dengan marah dia menerjang ke ~ tidak ingat lagi untuk menangkap hi hidup gadis itu. Sekarang tujuannya nya satu, yakni membunuh gadis y merupakan lawan cukup berbahaya it Akan tetapi dia benar-benar kecehk. f angannya yang dahsyat dan gencar i iapat ditangkis dengan baik oleh H l.an, bahkan gadis itu pun dapat me ^alas dengan serangan yang cukup be vahaya. Mereka segera bertanding deng seru, saling serang dan biarpun Hui L masih kalah pengalaman dan kalah ti

liatnya, namun gadis itu melawan !»Krtr> gigih dan dapat bertahan walau- agak terdesak. , Song Kui Lin yang melihat Ang-hwa Jim u Lau Cu Yin tak dapat menahan u arahannya. Ia pernah bertanding me-nn gadis yang cantik dan galak ini, ka ia segera berseru mengejek. "Wah, ini nenek-nenek jelek dan jahat mcu! juga di sini. Nah, sekarang nona-u tidak akan melepaskanmu lagi. Ke-lamu yang jelek dan tua itu tentu m menggelinding putus!" Ang-hwa Niocu segera mengenal Kui Lin yang dulu mengaku berjuluk Hek | Lihiap. Biarpun gadis muda yang cantik Mil cukup lihai, namun dulu ia mampu mendesaknya dan kalau tidak ada Si Kan Lin yang amat lihai, tentu ia dapat mengalahkannya. Maka, kini mendengar rjekannya, ia hanya mampu berseru marah.

"Bocah setan, mampuslah!" Pedangnya yang mengeluarkan sinar merah Itu sudah menyerang dengan dahsyat. Kui Lin memutar pedangnya menangkis, pedang tipis yang biasa ia pakai sebagai sabuk. "Tranggg !" Bunga api berpijar keduanya segera

saling serang dengan mati-matian.

Bu Eng Hoat yang berada dekat Lin melihat pula Aog-hwa Niocu. dulu dikejarnya karena dia tahu jbe jahatnya iblis betina itu. Dia ingin membantu Kui Lin, akan tetapi baru saja memutar toyanya hendak membantu, Lin sudah berseru marah.

"Aku tidak butuh bantuan, cari lawan lain!"

Eog Hoat mengerutkan alisnya. En bagaimana, sejak pertemuan perfa hatinya amat tertarik kepada gadis yang lincah Jenaka dan galak namu cukup lihai itu. Dia sendiri berhati kerai akan tetapi terhadap Kui Lin dia tida dapat memperlihatkan kemarahannya wj laupun hatinya mendongkol mendenga teguran itu. Selagi dia meragu, tampa seorang kakek tinggi besar bermuka mc rah dengan kumis jenggot dan ramt masih hitam, mukanya persegi dan nRis.

"Heh-heh, orang muda, apa engkau i.ih bosan hidup dan mencari kemati-f Mari kuantar engkau ke alam baka!"

ck itu mencabut senjatanya siangkiam KKisang pedang). "Karena engkau membantu perriberon-dan berada di pihak yang jahat, eng lah yang akan mati!" kata Bu Eng Mt sambil maju menyerang dengan jngkatnya. Pemuda murid Thong Leng i>iu ini selain memiliki ilmu toya gaya 'ibet, juga memiliki tenaga yang kuat » hingga biarpun belum lama dia ber-Krcimpung dalam dunia persilatan, dia dikenal sebagai Sin-tung Tal-hlap (Pen-|il«'kar Tongkat Sakti) karena permainan i -ya atau tongkatnya yang luar biasa. Namun sekali ini Bu Eng Hoat bertemu tangan lawan yang amat tangguh karena ek muka merah itu adalah Tung-hai ITok (Racun Laut Timur) yang sakti! Dia [harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk dapat melindungi tubuhnya dan bertahan terhadap desakan lawan.

Di pihak pemberontak masih ada enam orang lagi yang lihai» yaitu Kwan In Im-yang Tosu, Kailon, Bantok M< Cuibeng Lokui, dan Boa Su Kok. Meti ini dikeroyok oleh para panglima perwira, dibantu para perajurit. tetapi mereka adalah orang-orang y amat lihai sehingga banyak per a j yang roboh ketika mengeroyok mer< Para panglima dan perwira juga sukar untuk dapat merobohkan e orang yang mengamuk itu.

Pertempuran Mu berlangsung seru mati-matian, terutama perkelahian an para tokoh yang mendukung pemberot... dan para pendekar muda yang memban Pangeran Chou K uang Tian. Pangeran i sendiri tidak ikut bertempur, hanya me atur pasukannya untuk membasmi p anak buah pemberontak dan dalam ini dia mulai berhasil mendesak p pemberontak. Banyak sudah anak pemberontak yang tewas dan terluka , kini sisanya mulai merasa gentar sehing ga bertempur tidak seganas tadi, bahka kurang semangat.

Perkelahian yang hebat terjadi antan Kj Kian Ki dar. Si Han Li. Kian Ki rasa penasaran bukan main karena imua serangannya selalu dapat dihindar y» Han Lin dengan tangkisan maupun ikan. Betapapun kuat dan cepat dia rnyerang dengan pedangnya, selalu it ditangkis dengan sama kuatnya dan akkan dengan sama cepatnya. "Hyaaahhhhh !" Kini dia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut-i>>a,

tangan kirinya dengan telapak ta M«n terbuka didorongkan ke arah Han Lin dengan mengerahkan seluruh tenaga «m-kangnya. Rupanya rasa penasaran dan I marah membuat Kian K i menyerang de [iigan niat mengakhir pertarungan itu. danai dia tahu benar bahwa pukulannya perti itu kalau bertemu dengan tenaga yang lebih kuat. dapat membuat tenaganya membalik dan akan melukai atau merusak isi dadanya!

Han Lili juga maklum akan serangan maut yang amat berbahaya itu. Dia melihat telapak tangan Chou Kian K i menjadi merah seperti berlumur darah. Dia teringat akan keterangan gurunya. Tha)

Kek Siansu, bahwa di antara pukulan-puj an jarak jauh yang ampuh dart rriema.i terdapat pukulan yang disebut Ang-b ciang (Tangan Merah Darah) dan pOk» itu kalau mengenai korban yang kurang naga saktinya, dapat membuat korban I tewas seketika! riahkan pukulan ini ka*r nya lebih jahat daripada Hek-tok-ciang ( ngan Racun Hitam) atau Pek-tok-C (Tangan Racun Putih), karena kalaG' pukulan itu membuat orang terluka dan lau diikhtiarkan masih ada obafpenawa nya sebaliknya Ang-jifak-cianjj mem korban tewas seketika dan tidak disembuhkan lagi.

Han Lin segera menenggelamkan di dalam penyerahan kepada Thian Ya' Maha Kuasa, menyimpan semua peria* dan yang mengalir dari tangan klriny hanyalah hawa murni yang Adi Kodrati yang timbul dari jiwa manusia yang ber serah diri dan terbimbing sepenuhny oleh Kekuasaan Tuhan. Dia menjulurk telapak tangan kirinya untuk menyambu pukulan lawan.

"Wuuttt wesss !!* Kian Ki terke"

W inya, yang kuat jitu bertemu dengan i yang lunak dan lentur, membuat an kirinya .terpental dan dia sendiri /Wong dan terhuyung ke belakang Itipai enam langkahi Dia bernapas panji dap merasa lega karena tidak men- ita luka. Dia pun maklum bahwa talinya ini benar-benar tangguh. Dia «us bertanding mati-matian melawan Si )n Lin.

"Engkau atau aku yang mati di sini!!" a membentak dan hendak menerjang I»-

"Sayang sekali kalau engkau membuat knazah ayahmu terlantar tidak ada yang Ktcngurusnya dengan baik," kata Han Lin t mang. Tiba-tiba Kian Ki teringat akan Irnazah ayahnya yang dia tinggalkan di l"wah pohon besar. Kalau dia bertanding timpai napas terakhir dan mati di situ, bukan saja jenazah ayahnya tidak ada yang mengurus dengan semestinya, bahkan siapa yang akan membalaskan dendam sakit hati ayahnya? Teringat akan Ini Kian Ki mengeluarkan pekik melengking dan dia lalu melompat jauh melampaui kepala para perajurit yang bertempur dan menghampiri mayat a nya, dipanggulnya dan dibawanya meninggalkan tempat itu sambil nangis! Han Lin tidak mau mengejar cepat dia membantu para panglima terdesak hebat oleh enam orang I yang mengamuk dan membunuhi ban perajurit. Pertama-tama dia menyerbu arah Cuibeng Lokui yang bersama Ban Moko merupakan dua orang golong sesat yang membantu pemberontak yang paling kejam membunuhi para pe jurit. Begitu dia menyerbu, Cuibeng Loku terkejut dan segera mengenal Han Li yang pernah membuat dia kewalahan da melarikan diri ketika dia ikut murid muridnya menyerbu rumah Nyonya Kak, ibu Song Kui Lin, di Ctn-an. buah tamparan dari Han Lin yang di tangkisnya membuat tubuhnya terhuyun ke belakang. Kakek tinggi besar muk codet yang berpedang biru ini menja semakin gentar dan ini membuat gerakan nya kacau dan ketika tiga orang pangmenyerangnya, dia hanya mampu »«i gkis dua batang pedang. Pedang panglima ke tiga mengenai lehernya Cui-beng Lo-kui roboh mandi darah tewas.

h.mtok Moko yang sedang mengamuk an tongkat ularnya yang beracun, iibur)uhi banyak perajurit, tiba-tiba lihat bayangan putih berkelebat dan ikat ularnya disambar sinar putih. "Crakkk. !!" Tongkat ularnya ter-Hong menjadi dua! Dia

terkejut dan mpir tidak percaya. Tongkat saktinya og mampu menandingi segala macam ljata pusaka itu demikian mudah pa-.>., hanya sekali bertemu dengan pedang rsinar putih. Ketika dia melihat siapa ng menangkis dan membikin patah, dia kejut bukan main. Dia segera menge-I pemuda yang dulu bersama seekor rung rajawali telah membuat dia dan Murid serta anak buahnya lari ketika vereka menangkap Ong Hui Lan! Hatinya enjadi gentar sekali dan keadaannya itu Atembuat dia tidak mampu menghindarkan diri ketika empat orang perwira,

menyerangnya dengan berbareng. Se tombak menembus dari punggung ke danya dan dia pun roboh dan tewas ketikal

Han Lin segera membantu para wira lain dan kini pihak ,pembe menjadi semakin kacau.

Sementara itu, Hui Lan yang me Hongsan Siansu terdesak hebat, demi pula Liu Cin yang melawan Thong Lama juga kewalahan. Hui Lan cerdik lalu sengaja menggeser diri dekati Liu Cin, dikejar oleh Hon Siansu. Setelah dekat, tiba-tiba Hui berseru.

Thian-te Im-yang!" Tiba-tiba la lompat dan menyerang Thong Thian ma dan Liu Cin yang segera maklum yang dikehendaki Hui Lan juga melom dan berbalik menyerang Hongsan Sian Dua orang kakek sakti itu terkejut ! tika tahu-tahu mereka telah berga lawan dan mulailah Liu Cin dan Hui La bersama-sama memainkan Ilmu Thian* te Im- yang Sin-kunl Tubuh mereka sel olah dikendalikan satu pikiran, berger Ml ketika merasakan betapa tenaganya i kuat itu bertemu dengan hawa yang tk dan lentur, membuat tangan kirinya kental dan dia sendiri terdorong dan Buyung ke belakang sampai enam langit Dia bernapas panjang dan merasa L karena tidak menderita luka. Dia \r> i aklum bahwa lawannya mi benar-wir tangguh. Dia harus bertanding Lu matian melawan Si Han Lin. pnp teriang karena gerakan gadis dan imuda yang berselang-seling itu sungguh pmbuat mereka bingung.

Tiba-tiba Hui Lan memindahkan pe-kngnya ke tangan kiri, kemudian ia rentangkan tangan kanan yang disam-|rt oleh tangan kiri Liu Cin. Keduanya gerahkan tenaga sakti seperti yang

r

eka pelajar i dari kitab Thian-te Im-g Sin-kun, dua aliran hawa Im dan ong kini saling tunjang dan disalurkan r arah pedang di tangan mereka. Kemu-lan. mereka menerjang maju bersama ke «ah Thong Thian Lama. Pendeta Lama ¿1 terkejut, cepat dia memutar tasbilv a dari baja hitam. Tasbih menjadi gulungan sinar merupakan perisai nangkis tusukan pedang Hui Lan totokan tongkat pendek di tangan Cin yang sudah menyelipkan tc kirinya ke Ikat pinggang.

"Blarrrrr ?" Tasbih itu putus ut annya dan biji-biji tasbih itu jatuh tebaran di atas

tanah. Sebelum 1 Thian Lama dapat mengatasi kaget pedang Hui Lan sudah menyambar ngan tenaga gabungan yang amat menusuk ke arah dada pendeta itu. "Cappp !H Pedang itu menusuk v dan ketika dicabut kembali, tubuh per ta Lama

itu terkulai roboh. Hong* Siansu marah sekali dan sambil meng luarkan teriakan nyaring, pedangnya ; bersinar kuning menyambar ke arah Lan sementara tangan kirinya m«;nggi kan Thai-lek-jiu (Tangan Halilintar/ mukut ke arah Liu Cin! Sungguh meri kan serangan sekaligus kepada dua < yang bergandeng tangan itu secara syat sekali.

Akan tetapi Hui Lan dan Liu Cl

HhK masih bergandeng tangan dan mengabungkan tenaga mereka, tidak takut

^biyambut serangan itu. Hui Lan meng-^Hinkan pedang di tangan kirinya untuk

^biangkis pedang Hongsan Siansu se-^bgkan pukulan Thai-lek-jiu itu disam-b.t tangkisan tongkat pendek yang dialiri naga sakti gabungan yang amat kuat. "Krekkk..... desss Hn Pedang kuning M< tangan Hongsan Siansu menjadi patah

Mm ketika pukulan halilintar tangan kiri-bva bertemu tongkat, tangannya Itu terbantai, diikuti tubuhnya terjengkang dan i« banting keras sekali. Wajah Hongsan piansu menjadi kebiruan dan dia tewas ►«ketika karena tenaga sakti yang me iigandung hawa beracun dalam Thai-Iek )iu tadi membalik dan menyerang jantungnya sendiri sehingga dia tewas se-ketikal

Setelah Hongsan Siansu dan Thong Thian Lama tewas, Hui Lan lalu membantu Kui Lin yang masih terdesak oleh Ang Hwa Niocu, sedangkan Liu Cin membantu Bu Eng Hoat yang kewalahan melawan Tung-hai Tok. Kini keadaannya berbal ik sama sekali. Bukan hanya , anak buah'gerombolan pemberontak ya kocar-kacir melawan pasukan pemerin* yang lebih banyak jumlahnya, juga tokoh kangouw yang mendukung berontak kini terdesak hebat.

Kailon akhirnya roboh juga di ba\ serangan pedang aan tombak para p wira yang dibantu Han Lin. 3uga Ban Kok murid Tung-hai Tok roboh dan te\

Melihat keadaan semakin berbal apalagi melihat Chou Kian Ki telah larikan dirt, Ang Hwa Niocta berser nyaring, lalu membanting sebuah alu peledak.

"BJarrr..*..!" Asap hitam menget tinggi. Kul Lin dan Hui Lan yang m, ngeroyoknya cepat berlompatan ke bela kang. Ketika asap tebal itu> membuye Ang Hwa Ntocu, Tung Hai Tok, Kwan Su, dan Im Yang Tosu sudah tidak tar pak lagi. Mereka menggunakan tirai as. hitam tadi untuk meloncat dan menyt linap di antara para anggauta geromboli yang masih bertempur dan menghilang.

Setelah ditinggalkan para pemimpir

i'ka, dan banyak di antara mereka tewas atau tcrluka, sisa para ang ta gerombolan pemberontak itu me-ikan diri cerai berai dan banyak pula ng menaluk.

Maka terbasmilah pemberontakan itu. a perajurit bersorak gembira atas n enangan mereka. Akan tetapi di an-a suara sorak sorai itu terdengar ke-i kesah dan rintihan mereka yang ter-jka dan di antara mereka yang menengik arak yang dibagikan oleh para -perwira untuk merayakan kemenangan itu, ^rnpak banyak yang sibuk mengangkuti tayat-mayat yang banyak itu. Mayat a perajurit di angkat dan diurus se-itutnya, sedangkan mayat para ang-luta gerombolan diseret dan dikubur kreara bersama, sebuah lubang besar diisi |iuluhan mayat. Di dalam perang, mereka yang kalah memang mengalami nasib buruk. Yang terluka mendapat perawatan wkadarnya dan yang menaluk menjadi tawanan untuk diadili dan menjalani hukuman. Sudah lajim terjadi di seluruh dunia, setiap kali terjadi perang, baik

perang antar bangsa, antar suku antar golongan, maka terjadilah keke an-kekejaman di luar batas prikemc an. Manusia dalam perang menjadi dan kejam yang sesungguhnya bukan jadi watak aselinya. Akan tetapi da perang, rasa ttifcut bahwa dirinya tertawan, disiksa atau terbunuh musuh mendatangkan dendam dan k cian.

Ditambah lagi rasa dendam tewasnya rekan, sahabat atau keluar Dendam ini ditujukan kepada pihak suh tanpa pandang bulu karena merupakan permusuhan atau dendam badi terhadap seseorang, melainkan t hadap pihak musuh.

Akan tetapi Pangeran Chou K uang T ternyata memiliki kebijaksanaan seperti kaknya, Kaisar Sung Thai Cu atau _ bernama Chou K uang Yin. Mungkin dia niru atau melanjutkan kebijakan kakakn Mayat para perwira pemberontak dan [ tokoh kangouw yang membantu pihak pe berontak dimakamkan dengan cukup pant Juga mereka yang tertawan, kecuali mer yang benar-benar merupakan tokoh pent"

m pimpinan, tidak dihukum mati. [ Setelah pemberontakan berhasil tik-Hapas, Pangeran Chou K uang Tian me-ftiindang lima orang pendekar muda, Bit u Si Han Lin, Liu Cin, Bu Eng Hoat, Bir Hui Lan, dan Song Kui Lin untuk Biang berkunjung ke istana. Pangeran Wuju Kuang Tian menghadapkan mereka M>ada Kaisar Sung Thai Cu yang me-P' ima mereka dengan ramah. ' "Kalian adalah pendekar-pendekar &Wda yang pantas dibanggakan, selain ah perkasa, juga merupakan pembela-m bela negara yang patriotik. Kami asa kagum dan heran. Begini muda lan telah dapat memiliki ilmu yang ggi, juga memiliki budi pekerti yang ik. Si Han Lin, siapakah gurumu?" "Guru hamba adalah Thai Kek Siansu, lbaginda."

Kaisar Sung Thai Cu mengangguk-gguk. "Ah, pantas kalau engkau muridnya. Kami mengenai siapa manusia sakti ihai Kek Siansu, per tapa Cin-lin-san ang mempunyai peliharaan burung raja-ali itul Dan engkau, Liu Cin, siapa gurumu?"

Liu Cin menjawab dengan hor "Hamba mendapat kehormatan diambil murid oleh Suhu Ceng InHo Sribaginda."

"Hemmm,* engkau murid Siauwh Kami pernah mendengar nama Ceng Hosiang sebagai seorang tokoh Si lim-pai. Dan engkau» Bu Eng Hoat? apakah gurumu?" "Hamba murid Suhu Thong Leng L Sribaginda."

"Thong Leng Losu?" Kaisar Sung Cu mengingat-ingat. "Hernmm, M belum pernah mendengar nama ini. A, kah dia juga seorang pendeta Buddha?" "Suhu adalah seorang pendeta L dari Tibet, Sribaginda."

Kaisar mengangguk-angguk. "Begi kah? Kami sudah mendengar bahwa antara para pendeta Lama di Tibet, nyak yang memiliki ilmu kepanda tinggi. Sekarang para pendekar wani yang cantik-cantik ini. Ong Hul L siapa yang membimbingmu sehingga eng kau menjadi seorang pendekar wani

ir lihai?"

"Hamba murid Suhu Tiong Gi Cin-Sribaginda."

Tiong Gi Cin-jin? Maksudmu Tung nn-ong (Si Raja Pedang Timur) yang i?nal sebagai ahli sastra dan peng-. pelajaran Guru Besar Khong-hu-cu *' Pantas engkau tampak begini lembut nun kuat dan lihai. Sekarang engkau, g Kui Lin. Engkau tampak lincah h, murid siapakah engkau?" Kui Lin tersenyum dan menjawab an suara lantang. "Guru hamba ada-i Suhu Louw Keng Tojin dan di antara reka semua ini, hamba yang paling vdoh, Sribaginda!"

"Ha-ha-ha!" Kaisar Sung Thai Cu ter-awa. "Agaknya selain diberi pelajaran jknu silat tinggi engkau juga mewarisi llsafat merendahkan diri dari tosu (pen-ta To) itu! Kami mengenal Louw Keng ojin, pendeta To-kauw (Agama To) itu.

ankah dia yang terkenal dengan ju-nkan Lam-Iiong (Naga Selatan)?"

"Benar sekali, Sribaginda Yang Mulia!" ta Kui Lin, girang bahwa kaisar itu mengenal pula gurunya.

Kaisar Sung Thai Cu merasa ge sekali. "Ahhh, sungguh senang hati kami. Semua golongan agama kauw (Tiga Agama) ternyata mendu pemerintahan kami. Ini berarti ba Thian memberkahi Kerajaan Sung! K tiga agama terbesar, Buddha, To(Tao dan Khong-kauw (Confucianism) dukung dan di antara mereka ter hubungan persaudaraan yang baik, re' tidak akan terpecah belah dan ne akan menjadi kuat.

Terima kasih k Thian Yang Agung."

Kaisar Sung Thai Cu ingin meng diahkan pangkat kepada lima orang dekar yang telah berjasa besar itu. tetapi mereka berlima tidak mau mene manya dan menolak dengan hormat halus.

"Yang Mulia, ternyata hamba beril tidak bersedia untuk terikat dengan dudukan. Hamba berlima lebih se menjadi rakyat biasa saja akan tet hamba berjanji bahwa hamba beril akan selalu siap untuk membela neg

i bangsal" Si Han Lin berkata me lli teman-temannya setelah mereka ua menyatakan tidak menerima ta-ian pangkat itu.

Sung Thai Cu menghela napas panil dan mengangguk-angguk. "Kami seperti jiwa seorang pendekar yang i menghendaki kebebasan, tidak it oleh apa pun juga.

Baiklah, kalian rlima menolak kedudukan, akan tetapi mi harap kalian berlima tidak menolak mberian bingkisan dari kami sebagai rnyataan rasa sukur dan terima kasih mi." Kaisar lalu memberi isarat kepada orang pelayan pribadi yang mengambil na buah kantung kain merah berisi g emas yang sudah dipersiapkan. Lalu tas perintah Kaisar pelayan itu merahkan lima kantung uang emas Itu patta lima pendekar Itu, masing-masing buah kantung. Lima orang muda itu tidak berani menolak. Mereka menerima dan menghaturkan terima kasih. Setelah pertemuan Itu dinyatakan selesai, lima orang pendekar itu lalu meninggalkan istana, diantar oleh Pangeran Chou* Kuang] sampai di halaman isfana. *

Liu Cih dan Ong Hui Lan yang lakukan perjalanan bersama berhenti luar kota raja bagian selatan. Tadi ketika meninggalkan kota raja. Hui yang menyatakan bahwa ia harus mel kan pengejaran terhadap Chou Kian dan dalam perjalanan melakukan pe jaran Itu, ia sekalian akan singgah rumah orang tuanya, yaitu Ong Su y tinggal di Nan-king. Kini di jalan u yang sunyi, di kaki sebuah bukit, hutan, Liu Cin yang menahan agar m ka berhenti. Hui Lan menurut dan reka lalu duduk di bawah

sebatang po besar yang rindang dan yang meljnd mereka dari terik sinar matahari. Si itu memang matahari memutahkan sin nya yang panas sehingga, menyengat, dan dan amat enak duduk di bawah

yang rindang itu, disejukkan angin illif. .

u Cin eh, maaf, Cin-ko," kata Lan yang belum lama ini ketika ber-i di kota raja. ia

sudah bersepakat Mgan Liu Cin untuk menyebut Cin-dan Lan-moi. "Kenapa engkau meng-k aku berhenti di sini? Apakah engkau kth dan ingin beristirahat?"

Liu Cin tersenyum. "Ah, tidak» Lan-ii. Hanya aku ingin bicara denganmu n tidak enak rasanya' kalau bicara ius sambil melakukan perjalanan." Hui Lan memandang wajah pemuda kj penuh perhatian dan sinar matanya mienyelidik. "Engkau hendak membicara-in apakah, Cin-ko, yang demikian serius u?"

"Lan-moi, sejak engkau menyatakan hendak melakukan pengejaran terhadap ! hou Kian Ki, aku merasa heran sekali, an tetapi di sana, di depan banyak rahg, aku tidak mau banyak bertanya. Akan tetapi hal itu selalu mengganggu pikiranku yang merasa heran dan tidak mengerti. Maka sekarang kuharap engkau suka menjelaskan, mengapa engkau susah payah hendak melakukan pengrj an terhadap putera pangeran pembe tak itu? Apa yang ingin kau laki kalau sudah dapat mengejarnya?" Dengan alis berkerut, muka mei mata mencorong marah Hui Lan biasanya lembut itu berkata tegas, harus membunuhnya!"

Liu Cin terkejut juga melihat wa gadis itu tampak penuh kebencian kel mengucapkan kata-kata itu.

"Akan tetapi maafkan aku, ^

mol, memang bukan urusanku, hanya, aku merasa penasaran sekali. Menga engkau begitu membencinya? Mengj engkau begitu benci sampai harus ngejarnya dan membunuhnya?"

Hui Lan berpikir sejenak dan tamg ragu-ragu. Kemudian ia berkata, kemo lembut. "Cin-ko, aku minta maaf pa< mu, terus terang saja, aku hanya dar, mengatakan bahwa aku harus membunv ya. Aku berjanji kepadamu, kalau sudah berhasil membunuhnya, baru ar akan memberitahu kepadamu mengaj

harus membunuh jahanam itu.** Di dalam hatinya Liu Cin menduga-a. Ada yang aneh dalam sikap Hui «' ini, pikirnya. Dulu dia menemukan fi sempat menolong Hui Lan yang hen-k bunuh diri. Gadis itu mengaku bahwa , melarikan diri dari rumah Pangeran hou karena tidak sudi dinikahkan deán Chou Kian Ki dan tidak mau pu-g pula ke rumah orang tuanya sen-ri. Dan sekarang, gadis itu bertekad ituk membunuh Chou Kian Kl setelah emperdalam Ilmu bersama dia, mengua-I ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun. Dan t janji akan memberitahu kepadanya telah berhasil membunuh Chou Kian fl. Mengapa ia demikian membenci puliera pangeran itu? Apa yang telah dilakukan Chou Kian Ki kepadanya? Liu Cin menduga-duga, akan tetapi tidak mau bertanya apa-apa, bahkan dia ber-p biasa saja. "Baiklah, Lan-moi. Memang aku tidak berhak mencampuri urusanmu."

"Bukan begitu, Cin-ko! Engkau harus mencampuri urusanku karena terus terang saja, tanpa bantuanmu aku tidak al berhas.il membunuh Chou Kian Ki. Ak lah yang akan mati di tangannya engkau tidak mau membantuku." U gadis itu keluar dengan suara sedih.

Tentu saja, Lan-moi. Aku pasti a tetap membantumu. Yang kumaksud adalah bahwa engkau tidak perlu ceritakan mengapa engkau mem Chou Kian Ki kalau engkau tidak menceritakannya kepadaku."

Hui Lan merasa sedih sekali sehin ia tidak dapat menahan ketika sepasa matanya menjadi basah dan beber butir air mata menetes keluar dan jat ke atas pipinya. "Cin-ko, sekali lagi maafkanlah ak Sesungguhnya, setelah semua budi kebai an yang kau limpahkan kepadaku, tid semestinya aku masih merahasiakan t suatu darimu. Akan tetapi, aku moh kepadamu, bersabarlah, Cin-ko. Setela aku berhasil membunuh jahanam it ?asti aku akan memberitahu kepadamu."

Melihat kesedihan Hui Lan, Liu Ci cepat berkata. "Ah, sudahlah, Lan-moi fcan bicarakan hal itu lagi. Mari kita t|utkan perjalanan kita. Kau bermaksud ih dulu pergi ke Natt-king, bukan?" jara Liu Cin biasa dan gembira Seolah hendak mengalihkan percakapan tadi tidak mau mengingatnya hrg'l. Pada-I di dalam hatinya, pemuda ini sudah t menduga, apa kiranya yang me-babkan gadis itu mendendam sedemi-n besarnya terhadap Chou Kian Ki. dak terlalu sukar ditebak. Hui Lan rnah ditunangkan dengan Kian Ki dan Lihkan tinggal di gedung pemuda itu. » mudiah tiba-tiba gadis itu meninggalkannya dan dia menemukannya hendak punuh diri! Malapetaka apa yang me-Impa diri seorang gadis sehingga ia i ndak membunuh diri dan kebenciannya edemikian besarnya? Dia dapat meraba rtrngan dugaannya. Bencana paling hebat yang membuat seorang gadis mendendam takit hati kepada seorang laki-laki adalah perkosaan! Bukan hal yang mustahil kekejian itu dilakukan oleh seorang laki-laki macam Chou Kian Ki kepada Hui Lan. Kian Ki memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga d,uj, tentu dapat maa gunakan paksaan fnenggagahl Hui Lm t g dengan tipu, meslihat lainnya. Km na itu Hpi La n merahasiakannya, tttf gadis itu merasa malu untuk mengV kepada orang lain, terutama kepada Akan tetapi ini hanya dugaannya dan dia mengharapkan semoga dugaan] itu keliru.

Mendengar pertanyaan Liu Cin yang nadanya biasa dan gembira, Hui Lan rasa lega. Tadinya ia merasa khawatir kaau-kalau pemuda itu mendesaknya atau menjadi kecewa dan marah. Akan ictapi ternyata Liu Cin sama sekali tidak bersikap demikian malah sebaliknya menghentikan percakapan tentang hal itu. la merasa bersukur dan berterima kasih kekali. Semakin yakin hatinya bahwa Liu cin adalah seorang sahabat yang paling baik baginya. Maka ia pun menjadi gembira lagi dan menjawab sejujurnya.

"Benar, Cin-ko. Aku hendak singgah ke rumah orang tuaku, selain menceritakan tentang ditumpasnya pemberontakan yang dipimpin mendiang Jenderal Chou ban Heng, juga aku ingin sekali memperkenalkan engkau kepada ayah ibuku!"

Wajah pemuda itu berubah kemerahandan hatinya berdebar girang. Kalau orang:; gadis hendak memperkenal seorang teman prianya kepada orang tuanya, biasanya hal itu berarti bahwa gi itu mencinta pria itu, agar orang tual mengenal pria pilihan hatinya! Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati ringan gembira. Keduanya merasa semakin dan cocok satu sama lain dan bagi Hui Lan sendiri kini rasa sukanya makin mendalam dan harus ia akui bahwa ia mulai jatuh cinta kepada Liu Cin.

ooOOoo

Song Kui Lin juga meninggalkan kotaraja dan melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Cin-an. Ia hendak pulang ke rumah ayah tirinya, yaitu Perwira Kwa Siong, duda yang mengawini ibunya yang sudah menjanda. Ayah tirinya dan tentu akan gembira sekali mendengar ia menceritakan tentang terbasminya penghiatan dan pemberontakan yang dipimpin mendiang Jenderal Chou Ban heng. Ayahnya itu, biarpun ayah tiri, amat baik kepadanya dan ia tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang perwira yang setia terhadap Kerajaan Sung.

Sudah dua hari ia meninggalkan kotaraja dan tiba di daerah pegunungan yang sunyi. Siang itu matahari memuntahkan sinarnya yang amat panas sehingga Kui Lin yang sejak tadi merasa betapa kulitnya disengat matahari, kini merasa nyaman setelah memasuki daerah yang berhutan dan sejuk dengan bayangan pohon-pohon.

Ketika mendengar gemerciknya air, Kui Lin baru merasa betapa tenggorokannya terasa kering karena haus. la segera penyimpang dari jalan umum menyusup di antara pepohonan mencari dari mana datangnya suara air gemercik itu. Akhirnya dengan girang ia menemukan sebuah pancuran air, yaitu air gunung yang mengalir di antara batu-batu dan terjun ke bagian yang lebih rendah. Air itu jernih sekali. Kui Lin lalu minum, membasuh mukanya dengan air yang dingin sekali, juga membasahi lehernya, lengannya, melepas sepatu menggulung celana untuk membasahi kakinya. Terasa dan sejuk bukan main. Karena tempat itu sepi, saking keenakan, Kui Lin mulai membuka bajunya karena timbul keinginannya untuk mandi!

Tiba-tiba ia mendengar bunyi seperti ranting, patah dan berkeresekan dan daun- daun kering terinjak kaki. Ia cepat menoleh dan melihat seorang laki-laki muda melangkah ke arah tempat itu.

"Kurang ajar!!" la membentak laki-laki itu baru melihatnya lalu cepat laki-laki itu memutar tubuh, berbalik membelakangi Kui Lin yang setengah telanjang. Gadis itu cepat mengenakan lagi pakaiannya dan sepatunya, kemudian dengan lengan baju masih tergulung sehingga tampak kulit lengannya yang putih mulus berlawanan dengan pakaiannya yang serba hitam. Dengan langkah ringan dan cepat ia menghampiri laki-laki itu dan memaki.

"Laki-laki kurang ajar, engkau mengintai aku, ya? Anjing kau. monyet, kuda, babi.....

" Kui Lin tiba-tiba menghentikan makiannya ketika laki-laki itu membalik tubuh menghadapinya karena ia segera mengenalnya. Pemuda itu bukan lain adalah Bu Eng Hoat, seorang di antara para pendekar yang membantu Pangeran Chou Kuang Tian membasmi pemberontak. Akan tetapi, biarpun ia tahu bahwa Bu Eng Hoat adalah seorang pendekar gagah perkasa yang kiranya tidak mungkin mau mengintai wanita dengan sengaja, ia pernah berkelahi melawan pemuda itu ketika ia hendak menangkapnya dengan tuduhan pemuda itu membunuh Menteri Liong. Teringat ini, Kui Lin yang tadinya sudah tenang, menjadi marah lagi.

"Hemmm, kiranya engkau, Bu Hoat? Mengapa engkau mengikuti aku? Engkau membayangi aku, ya? Mau apa engkau mengikuti aku?"

Wajah Bu Eng Hoat menjadi kemerah-merahan karena marah. Pemuda ini berwajah jujur dan keras. Dituduh membayangi tadinya malah dituduh mengintai, dia merasa penasaran sekali.

"Song Kui Lin, engkau ini sungguh keterlaluan sekali! Tanpa menyelidiki lebih dulu begitu mudah menuduh orang! kalau engkau menuduh aku membunuh Menteri Liong, sekarang kembali engkau menuduh sembarangan. Tadi menuduh aku mengintai dan memaki-maki aku, seorang menuduh aku membayangi dan mengikutimu! Apa kau kira di dunia ini hanya engkau seorang yang paling baik dan semua orang lain jelek dan jahat?"

"Siapa menuduh sembarangan? Aku menuduh karena ada sebabnya. Ketika aku menuduhmu membunuh Menteri Liong, aku diutus Pangeran Chou Kuang Tian untuk menangkapmu. Tadi aku menuduh engkau mengintai karena memang ketika aku membasuh badan, tahu-tahu engkau muncul. Apalagi kalau bukan mengintai? Dan sekarang, kenyataannya engkau berada di sini menyusul aku, apakah itu bukan mengikuti dan membayangi namanya? Hayo jawab kalau bisa!" kata Kui Lin galak.

"Akan tetapi buktinya semua tuduhanmu itu kosong dan tidak benar, kenyataannya, dulu aku bukan pembunuh bahkan pembela Menteri Liong. Dan tadinya aku sama sekali bukan ingin mengintaimu, tetapi aku mendengar suara gemericik air dan aku ingin minum dan cuci muka. Juga aku tidak mengikuti karena aku memang meninggalkan kotaraja dan hendak mencari Suhu Thong Leng Losu yang kini berada di sana. Nah, semua dugaanmu itu kotor dan keliru, bukan? Kebetulan saja kita bertemu di sini dan terus terang saja aku senang dapat bertemu dengan engkau yang sudah kukenal sebagai seorang pendekar wanita sehaluan. Sayang begitu bertemu, engkau menyangka yang buka bukan!"

"Ooo, begitukah? Kalau benar begitu maafkan aku. Aku tadi membentak dan memakimu karena kaget. Siapa yang tidak kaget tiba-tiba melihat seorang laki-laki melotot memandang ke arah kakiku?"

Eng Hoat tersenyum. "Aku tidak sengaja memandang, akan tetapi ketika melihat engkau membasuh kakimu, hemm, harus kuakui bahwa aku belum pernah melihat kaki seputih dan sebagus itu. ketika engkau hendak membuka baju, aku cepat memutar tubuh membelakangimu. Aku bukan golongan laki-laki yang kurang ajar. Kui Lin, walaupun terus terang saja, aku aku kagum dan suka melihat kakimu

yang indah tadi."

Kini sepasang pipi Kui Lin yang ke-«T«ihan. Mendengar kakinya dipuji indah, |>4ilagi yang memuji itu seorang pende-nr yang ia tahu berwatak jujur dan ikan sekadar memuji untuk merayu, I i gadis mana yang tidak merasa bang-dan senang? Akan tetapi pada saat itu, terdengar tara gaduh dan muncul belasan orang ang dipimpin oleh tiga orang yang sudah i' ' eks kenal sebagai tokoh-tokoh kang-uw yang dulu membantu Pemberontak i hou Ban Heng. Mereka itu adalah Tung-t tok, ketua Tung-hai-pang yang kini diikuti lima belas orang sisa anggauta Turvg-ii..,i-pang yang tidak tewas dalam perang i« mberontakan. Dia ditemani pula oleh

Kangiam Sin-kiam K wan In Su yang n rupakan ahli pedang yang terkenal hingga mendapat julukan Kangiam kiam (Pedang Sakti dari Kangiam). To ini berusia kurang lebih enam puluh hun, bertubuh sedang dan mukanya . sih. Adapun orang ke dua yang mene Tung-hai-tok adalah I m Yang Tosu, deta To tokoh dari utara yang tadi juga mendukung Chou Ban Heng dan ik melarikan diri setelah pemberontakan it gagal.

Tung-hai-tok, kakek berusia ha tujuh puluh tahun yang tinggi besar be muka merah itu tertawa bergelak ket* melihat K lu Lin dan Eng Hoat. Dat sesat yang menjadi raja para penjahat di] sepanjang pantai timur ini senang seka "j apalagi melihat Kui Lin yang jelita. D memang seorang yang memiliki wat mata keranjang.

"Ha-ha<-heh-hefi. bagus sekail! 3' T tiang (Kedua Pendeta To), mereka i alah t dua orang dj antara para pe bantu Pangeran Chou Kuang Tian. Z ngan membunuh mereka, setidaknya ke

lahan kita yang lalu dapat terbalas!" "Siancai!" Im Yang Tosu berseru, o tidak mempunyai permusuhan pri-1 'i dengan mereka, Tung-hai Pang-cu. lau pin-to (aku) membantu Pangeran liou Ban Heng, hal itu adalah untuk gakkan kembali Kerajaan Chou. ' an tetapi usaha itu telah gagal, Pa-eran Chou Ban Heng telah tewas dan i pin- to, tidak ada permusuhan pribadi dengan siapa pun, juga dengan pe-" *da dan gadis ini!"

"Hemmm, Im Yang Tosu, engkau ti-ckik setia! Mari, Kangiam Sin-kiam, kita Jk rdua bunuh pemuda ini dan tangkap gadis jelita ini, aku ingin bersenang-v nan g dulu dengannya sebelum membunuhnya. Jangan pedulikan Im' Yang [Tosu yang tidak setia!" ajak Tung-hai-tok kepada Kwan In Su. Akan tetapi tosu i pun menggelengkan kepala. "Aku pun tidak me Keri permusuhan pribadi, apalagi membantumu yang mempunyai keinginan keji menuruti nafsu setan. Tidak, aku tidak mau membantumu." Tung-hai-tok marah sekali dan pada saat itu tampak bayangan putih berMfl bat dan di situ telah berdiri sed»1 wanita berpakaian serba putih, orang memandang penuh perhatian kari mereka tidak mengenal wanita itu. U«»< nya sekitar tiga puluh tahun, wajah' cantik berkulit putih, bentuk muk bulat. Namun kecantikannya ftu mci bayangkan kekerasan hati, mulutnya berbentuk indah itu selalu tampak sini seperti tersenyum mengejek dan sepas matanya tajam dan dingin galak.

Agaknya Tung-hai-tok mengenai nita cantik itu. "Hai, bukankah engk Pek Bian Ci, murid pertama dari Hwa Moh di puncak Ang-hwa-san (( nung Bunga Merah)?" Wanita itu dengan sikap dingin merl jawab. "Benar, Tung-hai Peng-cu (Keti Perkumpulan Laut Timur). Mengapa enj kau dan para anggauta Tung-hai- mengepung pemuda, gadis, dan dua oranjj tosu itu? Siapa mereka dan apa persoalannya?"

"Kebetulan sekali engkau datang, Pc Bian Ci. Engkau tentu telah mendengar Inpa perjuangan para pahlawanan un-i menegakkan kembali Kerajaan Chou l' K telah direbut oleh para pemberon-yang mendirikan Kerajaan Sung telah jal. Banyak kawan kami pera pahlawan bela Kerajaan Chou tewas. Pemuda >> gadis ini adalah dua di antara mere-yang mefrtbantu pengkhianat Chou " ng Yin, maka aku ingin membunuh «-reka untuk membalas dendam. Akan tapi dua orang tosu ini yang tadinya i< mbantu perjuangan sekarang berbalik lak mau membantuku membunuh peda dan gadis ini. Pek Bian Ci, mengikat akan persahabatanku dengan Hwa iwa Moh gurumu, kuharap engkau suka embantuku membunuh pemuda dan pdis yang membela pemberontak Chou tuang Yin ini."