-->

Si Rajawali Sakti Jilid 08

Jilid 08

"Menurut aku, siasat itu bagus sekali dan kiranya hanya dengan cara itulah kalian akan berhasil, Chou Kongcu."

"Engkau tidak cemburu, bukan?" muda itu menggoda sambil mengamati wajah wanita yang menjadi kekasih barunya itu.

Cu Yin tersenyum. Kemarin malam memang ia merasa tak senang ketika perkenalkan kepada Hui Lan dan mendengar bahwa gadis itu adalah calon isteri Kian Ki. Ia menganggap gadis itu akan menjadi penghalang niatnya? Bermain gila dan bersenang-senang denjan Kian Ki, maka diam-diam ia berusaha membunuhnya.

Akan tetapi usahanya itu gagal karena Liu Cin menyambitkan batu-batu ke arah tempat ia bersembunyi. Agar jangan ketahuan, ia cepat melarikan diri. Akan tetapi setelah ia banyak bicara dengan Kian Ki dan mulai mengenal? watak pemuda yang mata keranjang ini ia tahu bahwa Hui Lan tidak akan me jadi penghalang.

"Aih, Kongcu, mengapa cemburu? Kita sudah sepakat untuk sama-sama mencari kesenangan dan tidak ada ikatan di antara kita. Engkau bebas bermain cinta dengan wanita manapun, sebaiiknya aku pun tidak terikat kepadamu dan aku pun memperoleh kebebasan. Apalagi Hui Lan adalah calon isterimu yang sudah ditentukan oleh orang tuamu dan orang tua Hui Lan. Tentu saja aku tidak cemburu bahkan aku akan membantumu." "Membantuku? Membantu bagaimana?"

"Membantu engkau mencapai kehendakmu tanpa harus menggunakan paksaan secara kasar karena kalau engkau melakukan perkosaan, aku sangsi apakah Hui Lan akan mau tunduk. Gadis itu memiliki watak yang keras. Aku mempunyai cara yang jauh lebih baik. Mendekatlah, agar kubisikkan siasatku dan tidak terdengar orang lain."

Kian Ki mendekatkan telinganya ke mulut wanita itu dan sambil merangkul leher pemuda itu, Cu Yin berbisik-bisik. Kian Ki tampak senang sekali dan sambil menanti datangnya tengah malam mereka tenggelam dalam gelombang nafsu mereka sendiri.

Manusia adalah mahluk yang paling sempurna perlengkapannya dan menjadi mahluk yang memiliki kepandaian dan kekuasaan karena kita disertai hati atau pikiran. Akan tetapi justeru pikiran kini yang dapat menyeret kita menjadi mahluk yang paling rapuh dan kejam. Kita mengadakan hukum-hukum, hukum adat, hukum agama, hukum pemerintah dan hukum-hukum kesusilaan dan lain-lain. Makin banyak kita manusia mengadakan hukum, makin banyak pula yang kita langgar sendiri!

Mahluk selain manusia sejak lahir juga disertai nafsu-nafsu karena tanpa adanya nafsu yang menyertai hidup, makhluk tidak dapat hidup. Di antaranya selain mendorong untuk terdapat gairah hidup, nafsu juga memberi kenikmatan Kenikmatan nafsu dalam makan membuat semua mahluk suka makan sehingga tinggal hidup tidak mati kelaparan. Nafsu dalam hubungan sex membuat semua mahluk dapat menikmatinya dan mau melakukannya sehingga semua mahluk dapat berkembang biak dan tidak musnah. Akan tetapi semua mahluk selain manusia mempergunakan dan melakukan hasrat nafsunya di bawah pengendalian nalurinya sehingga semua berlangsung apa adanya dan wajar saja, apalagi karena makhluk mengadakan hukum apa pun maka tidak terjadi pelanggaran apa pun.

Demikian pula manusia sejak lahir disertai berbagai macam nafsu yang mendatangkan kenikmatan sehingga menolong manusia mempertahakan hidupnya. Akan tetapi selain disertai nafsu, manusia juga dikaruniai hati akal pikiran dan kelebihan ini bahkan seringkah mendorong manusia berbuat menyimpang dari kewajaran dan batasan hukum-hukum yang mereka adakan sendiri. Pikiran yang membuat manusia bukan menjadi majikan dari nafsu-nafsunya sendiri, melainkan menjadi budak yang dikuasai nafsunya sendiri. Pikiran membayangkan kenikmatan- kenikmatan itu, ingin mengulang lalu mulailah kita melakukan pengejaran untuk dapat memperoleh kenikmatan yang ditimbulkan nafsu itu. Dan kalau nafsu sudah menjadi majikan, kita menjadi budak yang dikuasainya, maka terjadilah perbuatan- perbuatan yang melangga hukum-hukum yang kita adakan sendiri. Kenikmatan memiliki harta benda yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidup seperti sandang-pangan-papan kita kejar-kejar dan dalam pengejaran ini muncullah segala macam cara yang melanggar hukum-hukum kita sendiri seperti mencuri. merampok, menipu, korupsi, manipulasi, dan sebagainya. Kenikmatan dalam hubungan sex yang sesungguhny amat indah dan suci karena hal itu m rupakan syarat mutlak untuk perkembangbiakan manusia, juga merupakan pencurahan yang paling inti dari kasih sa yang antara suami / isteri, oleh pikiran dibayang-bayangkan seolah dikunyah- kunyah sehingga membangkitkan gairah untuk mengejarnya. Pengejaran ini menimbulkan segala cara yang melanggar hukum-hukum yang diadakan manusi sendiri dan terjadilah perkosaan, perjinahan, pelacuran dan sebagainya!

Kalau nafsu sudah memperbudak manusia, maka segala pengetahuan tidak ada artinya. Sejak ribuan tahun yang lalu, Tuhan telah memberi petunjuk melalui manusia-manusia yang dipilihNya agar menyebarkan pelajaran tentang hal yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan, melaksanakan kebaikan dan mengharamkan serta menjauhi kejahatan atau perluatan yang melanggar hukum tadi. akan tetapi kenyataannya, segala pengetahuan yang ditampung dalam pikiran sama sekali tidak mampu mengendalikan nafsu. Adakah seorang pun pencuri di dunia ini yang tidak tahu bahwa mencuri itu jahat? Adakah seorang pun koruptor di dunia ini yang tidak tahu bahwa. korupsi itu jahat? Semua telah tahu! Setiap orang yang melakukan kejahatan tentu tahu bahwa apa yang dilakukannya ! tidak baik dan tidak boleh!

Akan tapi tetap saja di mana-mana terjadi tindakan yang jahat itu. Pengetahuannya, hati akal pikirannya, tidak mampu mengekang gairah nafsunya sendiri. Bahkan sang pikiran yang suka mengaku-aku sebagai Aku itu membela nafsu dan membantah pengetahuan tentang hukum dan pelanggarannya itu. Misalnya seorang pencuri, kalau kesadarannya akan kesalahannya itu muncul, hati akal pikirannya segera berbisik. "Tidak apa, ini kulakukan karena terpaksa untuk mencukupi kebutuhan hidup keluargaku." Seorang koruptor melawan kesadarannya sendiri dengan bisikan pikiran "Tidak apa-apa semua pejabat juga melakukan itu dan itu lebih banyak lagi!" Dan yang paling menyedihkan bahkan sang pikiran berbisik "Jangan khawatir, tidak ada orang yaitu tahu, tidak ada orang melihatnya." Dengan bisikan ini dia lupa bahwa dirinnya juga orang, akan tetapi sudah tidak di-orangkan sendiri, dan memang benar karena padas saat itu, orangnya sudah hampir berubah menjadi setan!

Demikian pula halnya dengan dua orang anak manusia bernama Chou Kia Ki dan Lai Cu Yin itu. Mereka berkecimpung dalam lautan berahi yang mengasyikkan dan memabukkan. Apakah mereka tidak tahu bahwa perbuatan mereka itu melanggar hukum kesusilaan? Tentu saja mereka tahu, akan tetapi gairah nafsu sudah membuat mereka menjadi buta. Mereka menjadi hamba-hamba kenikmatann nafsu dan kesenangan sehingga menghalalkan segala cara demi memperoleh kenikmatan itu!

Berbahagialah orang yang menyadari akan kelemahannya dan selalu berserah diri, mohon bimbingan Tuhan karena hanya Kuasa Tuhan yang akan mampu meredakan dan mengendalikan nafsu sehingga dia akan selalu ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap setiap langkah dan tindakan dalam hidupnya.

Setelah menjelang tengah malam, Kian Ki dan Cu Yin berindap-indap menghampiri kamar tidur Ong Hui Lan. Sebagai calon mantu Jenderal Chou, tentu Ong Hui Lan diberi sebuah kamar yang lebih indah, lebih besar dan lebih lengkap dibandingkan kamar-kamar lainnya. Mereka berdua mendekatkan telinga di jendela dan pendengaran mereka yang tajam dapat menangkap pernapasan Hui Lan dan tahu bahwa gadis itu sudah tidur pula. kemudian, dengan tenaganya yang amat kuat, Kian Ki dapat membuka jendela kamar itu dari luar tanpa menimbulkan suara keras.

Kemudian Cu Yin mengeluarkan belasan batang hio-swa (dupa biting),. menyalakannya dan menimpukkan dupa-dupa biting ke dalam kamar, denngan tepat gagang dupa-dupa itu menancap di atas meja. Asap hio yang baunya harum dan aneh itu segera mememnuhi kamar yang jendelanya sudah ditutup kembali oleh Kian Ki dari luar kamar.

Mereka berdua menunggu selama kurang lebih satu jam sampai belasan batang hio yang menancap di atas meja am kamar itu terbakar habis dan asapnya merembes perlahan-lahan keluar kamar melalui celah-celah atap. Ketika mereka menempelkan telinga pada jendela dan mendengar betapa pernapasan Hui Lan kini terdengar berat tanda bahwa ia sudah terpengaruh asap dan berada dalam keadaan tidur yang amat dalam seperti tiak sadar, Cu Yin sambil tersenyum dan memberi isarat agar dia memasuki kamar.

Kian Ki juga tersenyum, lalu memasuki kamar melalui jendela itu, dan dia mencabuti gagang belasan batang hio dan menyerahkan kepada Yu Cin yang berada di luar. Cu Yin menerimanya lalu meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya sendiri.

Agaknya setan-setan sendiri menggerakkan hati akal pikiran Kian dan Cu Yin yang malam itu melaku perbuatan terkutuk. Dalam keadaan tidur nyenyak dan tidak sadar atau kesadaranya hanya layap-layap saja, Ong Hui Lan tidak berdaya akan apa yang dilakukan Chou Kian Ki terhadap dirinya!

Chou Kian Ki sesungguhnya mencintai Ong Hui Lan. Dia tidak ingin menyakiti gadis yang menjadi calon istcrinya itu dan memang dia melakukan perbuatan terkutuk itu dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Sebetulnya dia terpaksa melakukan ini karena niatnya itu bukan terdorong nafsu berahi, melainkan untuk mematahkan perlawanan Hui Lan yang menentang rencana ayahnya. Siap untuk menggauli Hui Lan secara ini memang sudah direncanakan oleh Hongs Siansu dan juga disetujui ayahnya. Kalau Hui Lan sudah digaulinya biarpun dengan setengah memperkosanya karena gadis itu berada dalam keadaan hampir tidak sadar oleh pengaruh dupa pembius, tentu tida ada alasan lagi bagi Hui Lan untuk mengulang rencana Jenderal Chou. la sudah menjadi isteri Kian Ki, sudah menjadi putusan Jenderal Chou, maka tidak ada jalan lain kecuali mendukung rencana oleh mertuanya! Keyakinan inilah yang mendorong Kian Ki tega menggauli tunangannya sendiri yang berada dalam keadaan hampir tidak sadar. Bagi Hui Lan, peristiwa yang dialaminya itu tentu saja membuatnya terkejut dan menolak. Akan tetapi karena ia sudah terbius, maka peristiwa itu hanya lapat-lapat saja, seperti orang bermimpi. Ketika keesokan harinya pagi-pagi sekali, pembius itu sudah melepaskan cengkeramannya dari kesadaran Hui Lan dan gadis itu terbangun dari tidur dan, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mendapatkan dirinya berada dalam rangkulan dan pelukan Kian Ki. Matanya terbelalak, jeritnya tertahan ketika ia melihat betapa mereka berdua dalam keadaan telanjang!

"Ihhh !" Hui Lan bangkit dan suaranya membuat Kian Ki terbangun. Pemuda ini juga bangkit dan dia merangkul Hui Lan.

"Lan-moi !"

"Apa ........ apa yang terjadi ?

yang kau lakukan ini       ?" Hui Lan kata tergagap dan ia menarik seprei untuk

menutupi badannya, mukanya pucat sekali dan matanya terbelalak memandang wajah Kian Ki. Kamar itu hanya diterangi sebuah lampu yang tidak begitu terang !

"Lan-moi, maafkan aku !” Hui Lan melihat pakaiannya bertumpuk di sudut pembaringan. Cepat disambarnya pakaiannya dan sambil berkerudung selimut ia melompat turun dari pembaringan, bersicepat mengenakan pakaiannya di balik almari dan biarpun karena tergesa-gesa pakaiannya masih belum beres benar, ia sudah menghampiri pembaringan lagi. la melihat Kian Ki juga sudah mengenakan pakaiannya dan pemuda itu duduk di tepi pembaring dengan wajah khawatir.

"Ki-ko, katakan, apa yang telah tejadi? Kenapa engkau berada di atas pebaringanku dan ......... dan........ apa yang ka Apa ........... apa yang terjadi ? Apa yang mau

lakukan ini ?" Hui Lan berkata tergagap dan ia menarik selimut untuk menutupi

badannya, mukanya pucat sekali dan matanya terbelalak memandang wajah Kian Ki

Lakukan?” la Terbelalak memandang kearah pembaringan di mana terdapat tanda- tanda bahwa ia telah ternoda! la telah dinodai Chou Kian Ki! "Kau kau. la

menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka pemuda itu. "Engkau telah mengauliku, menodaiku.......Keparat !"

"Tenang dan sabarlah, Lan-moi. jangan ribut-ribut, apakah kau ingin seorang mendengar dan tahu akan keadaan ini?" Mendengar itu, tiba-tiba Hui Lan menangis. Ia menangis sesenggukan, la terisak-isak, akan tetapi ia mengguna kedua tangan menutupi mukanya menahan agar isak tangisnya tidak sampai terdengar kuat. la menyadari bahwa kalau ada orang mendengar bahwa telah ternoda, hilang kegadisannya, itu akan merupakan aib yang tak tertanggungkan perasaannya.

Kian Ki menghibur dengan kata-kata lembut, akan tetapi dia tidak berani mendekat apalagi menyentuh tunangann itu. "Lan-moi, engkau tahu aku amat mencintamu. Malam tadi, karena kebanyakan minum arak, aku tidak kuat lagi menanggung rindu hatiku kepadamu.

Aku ingin dekat denganmu, maka aku........ aku memasuki kamarmu dan aku..........

ahhh, Lan-moi. Hal itu telah terjadi. Engkau tunanganku, bukan? Calon isteriku. Kita saling mencinta dan apa salahnya kalau malam tadi kita sudah menjadi suami isteri? Besok aku akan minta kepada ayah agar kita segera melangsungkan pernikahan, menjadi suami isteri yang sah. Aku cinta kamu, Lan-moi, aku bersumpah, aku cinta kamu dan engkau akan menjadi isteriku, ibu anak-anakku "

"Tidak! Engkau jahanam keparat yang terkutuk. Setelah apa yang kau lakukan terhadap diriku ini, aku tidak sudi menjadi isterimu, tidak sudi menjadi sahabatmu sekalipun. Engkau menjadi musuhku, musuh yang harus kubunuh!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba Hui Lan melompat ke depan dan menyerang dengan pukulan ke arah dada Kian Ki. Pemuda yang memang amat sayang kepada Hui Lan itu tidak melawan.

"Wuuuttttt bukkk!" Pukulan tangan kanan Hui Lan itu tepat mengenai dada Kian

Ki dan tubuh pemuda itu terjengkang di atas pembaringan. Pada saat terdengar suara orang-orang di luar kamar. Mendengar ini, Hui Lan yang kwatir kalau mereka mengetahui apa yang terjadi, segera menyambar pedang Ceng hwa-kiam miliknya dari dinding dia pun membuka daun pintu kamar pergi cepat keluar gedung. Para pada yang melihat gadis itu tergesa-gesa pergi hanya memandang heran akan tetapi tidak berani bertanya. Kian Ki yang tidak terluka parah oleh pukulan itu karena tadi dia telah melindungi dirinya dengan tenaga sakti segera melaporkan kepada ayahnya akan peristiwa itu. Dia menceritakan bahw dia telah berhasil melaksanakan siasat yang diajukan Hongsan Siansu, akan tetapi setelah sadar Hui Lan lalu pergi meninggalkan gedung.

“Hemmm, gadis itu sungguh keras kepala dan keras hati? Yang menodainya adalah calon suaminya sendiri, mengatakan tidak mau menerima keadaan menghilangkan aib dengan cepat-cepat menikah denganmu? Mengapa ia malah pergi dan membawa aib yang akan menyiksa perasaan hatinya? Ah, agaknya gadis itu sesungguhnya tidak cinta padamu, Kian Ki”

"Ayah, akan tetapi aku mencintainya! Aku harus mendapatkannya, aku akan mengejarnya, Ayah!"

Setelah berkata demikian, Kian Ki cepat merapikan pakaian dan membawa pedangnya lalu keluar dari gedung untuk melakukan pengejaran terhadap Hui Lan yang melarikan diri. Tiba di pekarangan depan, Lai Cu Yin menyusulnya.

"Chou Kongcu, sepagi ini engkau hendak ke mana?"

Kian Ki berhenti melangkah dan setelah berhadapan dengan Cu Yin, dia menghela napas dan berkata, 'Yin-moi, aku harus mengejar dan mencari Lan-moi!"

Cu Yin tersenyum dan berkata. "Aku tadi sudah mendengar bahwa Hui Lan melarikan diri. Akan tetapi, engkau sudah berhasil, bukan?"

"Sudah, akan tetapi ia keras kepala.

Setelah terbangun pagi tadi, ia mar marah, memukulku, lalu melarikan di Aku harus mendapatkannya kembali, Yin moi, aku tidak mau kehilangan Lan-moi isteriku!"

Cu Yin tersenyum mengejek. "Hem, engkau amat mencintanya. Kalau engkau dapat menyusulnya akan tetapi ia kukuh tidak mau kembali apa yang akan lakukan?"

"Aku akan minta maaf kepadanya aku akan membujuknya." "Kalau ia tetap menolak?"

"Ah, aku tidak tahu harus berbua apa "

"Aku dapat menolongmu, Kongcu."

"Bagus! Engkau memang cerdik. Kalau ia tetap menolak untuk kembali, padahal aku tidak mau kehilangan isteriku, lalu bagaimana, Yin-moi?"

"Kita tangkap dan bawa ia kembali dengan paksa." "Akan tetapi ia akan bertambah benci padaku!"

"Tidak, Kongcu. Kebenciannya hanya sebentar. Ingat, Hui Lan seorang perawan ketika kau gauli, tentu saja dara itu menjadi kaget, marah, dan bingung. Kalau kita tangkap dan bawa pulang, lalu kau bujuk perlahan-lahan, tentu ia akan menurut. Tidak mungkin ia membiarkan dirinya ternoda dan membawa aib kemana-mana. Kalau menjadi isterimu berarti ia tidak terkena aib dan hidup terhormat."

"Ah, engkau kekasihku yang pandai!" Kian Ki menjadi girang dan merangkul Cu Yin. "Ih, nanti dilihat orang. Mari kita lipat kejar dan susul Hui Lan, Kongcu."

Mereka berdua lalu keluar dari pekarangan dan mulai mencari jejak dan mengejar Hui Lan.

ooOOoo

Hui Lan berlari keluar dari kota raja sambil menangis. Air matanya bercucuran dan hatinya menjerit-jerit, la telah dinodai, ia telah diperkosa si jahanam Chou Kiah Ki, demikian hatinya jerit. Apa gunanya hidup lagi? la masuki hutan di tepi jalan umum dan tampak lagi dari jalan. Ia menyelinap antara pohon-pohon, kini melangkah perlahan tanpa arah tertentu. Kedua kaki melangkah sendiri tanpa digerakkan pik annya yang melayang-layang di antara kegelapan yang mengerikan. Pikiran yang keruh menimbang-nimbang, mencari jalan keluar terbaik, namun selalu nemukan jalan buntu.

Kembali ke gedung Jenderal Chou menurut, menjadi isteri Chou Kian Tidak sudi, bantah hatinya. Dua hal yang membuat ia bagaimanapun juga tidak akan sudi menjadi isteri Chou Kian Pertama, karena keluara itu merencanakan pemberontakan dengan cara yang licik dan curang, berlawanan dengan nuraninya yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Kedua, kalau tadinya ada sedikit rasa kagum dan suka bukan cinta, terhadap diri Chou Kian Ki kini semua itu sirna dan berubah menjadi dendam dan benci! Laki-laki itu secara muram, tak mungkin ia dapat mencinta apalagi menjadi isterinya. Tidak, sampai mati pun ia tidak sudi kembali ke gedung Jenderal Chou, tidak sudi tunduk menjadi isteri jahanam Chou Kian Ki.

Lalu bagaimana? Melarikan diri dan membawa aib yang akan bertahan selama hidupnya? Membiarkan kemungkinan keluarga Chou, kalau tidak berhasil membujuknya kembali, menyiarkan berita bahwa ia bukan perawan lagi dan mungkin menyebar fitnah bahwa ia yang bertindak menyeleweng dan membiarkan kegadisannya direnggut orang? Ah, betapa semua orang akan membicarakannya, mencibir, mengejek dan menghinanya! Dan ayah ibunya! Ayah ibunya bisa mati karena malu mendengar akan aib yang menimpa dirinya ini!

Hui Lan berhenti dan menjatuhkan diri terduduk dan bersandar pada batang pohon besar dengan bingung. Dunia ini seolah gelap baginya. Kembali kepada Keluarga Chou ia tidak sudi, sebaliknya kalau tidak kembali ia menghadapi bencana yang lebih menyeramkan lagi, yang namanya dan nama ayah ibunya akan tercoreng kotoran yang tidak dapat dihapus sampai mati! Maju salah mundur tak benar! Lalu apa yang harus ta lakukan?

"Ayah ............! Ibu !" Gadis itu menangis menggerung-gerung. Kini, di dalam

hutan ia tidak menahan-nahan lagi suara tangisnya dan ia menjerit-jerit menyebut ayah ibunya dengan air mata oercucur Ia bersimpuh di bawah pohon itu, tubuhnya membungkuk-bungkuk sampai dahinya menyentuh tanah.

"Suhuuuuu !!" Kini ia menyebut suhunya karena hanya tiga orang itulah

ayahnya, ibunya, dan gurunya yang disambatinya.

Akan tetapi tangis menggerung-gerung menyebut nama mereka bukan menghibur, bahkan semakin, menyayat meremas hatinya sehingga pandang matanya menjadi gelap dan membuat ia hampir jatuh pingsan. Akan tetapi ia menguatkan dirinya.

Mati! Itulah jalan satu-satunya untuk membebaskan diri dari kedua pilihan yang sama-sama mengerikan dan amat dibencinya itu. Kembali ke Keluarga Chou tidak sudi, melanjutkan hidup menderita aib juga ia tidak sudi karena mengerikan, maka matilah yang akan membebaskannya dari kedua pilihan itu. Mati, bebas dari semua kesengsaraan dan penderitaan. Ia mengangkat kepala, memandang kepada dahan yang melintang di atasnya. Dahan yang cukup kuat, sebesar pahanya. Perlahan- lahan dengan kedua tangan gemetar akan tetapi tanpa ragu sedikitpun, Hui Lan menanggalkan pedang dari punggungnya, lalu meloloskan ikat pinggangnya yang panjang berwarna merah.

Ia mengikatkan sabuknya di dahan pohon itu, lalu melompat ke atas dahan pohon,diikatkannya ujung sabuk ke lehernya.

"Ayah, Ibu, Suhu, maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian bertiga. Maafkan aku dan selamat tinggal !" la lalu melompat turun dan tubuhnya tertahan dan

tergantung ketika tali itu menjerat lehernya. Semua lalu gelap gulita.

Hui Lan membuka matanya dan medapatkan dirinya rebah telentang di bawah pohon besar itu. Dengan heran melihat wajah seorang laki-laki duduk di atas batu, di dekatnya.

"........... di mana aku............? Sorga atau Neraka ?" la menggumam dan

suaranya serak, lehernya terasa agak nyeri.

"Nona, engkau masih berada di dunia di dalang hutan " kata Liu Cin dengan

terharu. Dia merasa iba sekali melihat gadis ini, yang meraba-raba lehernya mecoba untuk bangkit duduk akan tetapi rebah kembali.

Hui Lan yang mulai sadar itu memandang ke arah dahan pohon dan ia teringat semua. "Akan tetapi......... aku ............. aku mati, seharusnya aku mati "

Liul Cin memperlihatkan gulungan sabuk merah di tangannya dan berka "Nona,! engkau tidak mati, nyaris mati memang ”

"Kenapa? Ah, kenapa engkau mengagalkan aku mati? Kenapa?" Ia kini memaksa diri bangkit duduk dan memandang dengan mata melotot penasaran kepada pemuda itu. Kini baru ia menyadari bahwa ketika ia menggantung diri, pemuda ini tentu telah menyelamatkannya.

"Nona, bunuh diri bukan perbuatan gagah. Bunuh diri itu dosa besar dan hanya dilakukan seorang pengecut, padahal aku tahu bahwa engkau bukanlah seorang pengecut, engkau seorang gadis gagah perkasa." '

"Siapa engkau ??" Hui Lan dengan marah menatap wajah pemuda itu.

"Nona Ong Hui Lan, lupakah engkau kepadaku? Aku Liu Cin."

"Liu Cin? Ah, Liu Cin ............, mengapa tidak kau biarkan aku mati saja ?" Gadis

itu menangis sesenggukan.

Liu Cin merasa kasihan sekali. Dia menyentuh kedua pundak gadis itu dan berkata dengan suara gemetar penuh perasaan. "Nona, apa yang terjadi denganmu? Siapa yang mengganggumu? Aku tersumpah untuk menghajar orang yang berani membuat engkau berduka seperti ini."

Liu Cin !!" Hui Lan mengeluh danterkulai kedepan, cepat dirangkul Liu Cin dan

dalam keadaan setengah pingsan itu Hui Lan merangkul dan membenamkan mukanya di dada pemuda itu sambil menangis tersedu sedan.

Liu Cin membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di dadanya. Gadis itu kini seolah menemukan tempat untuk menumpahkan semua kesedihannya, setelah menumpahkan semua kehancuran hatinya melalui air mata yang membanjir keluar dan membasahi baju Liu Cin perlahan lahan Hui Lan menjadi tenang dan setelah ia merasa betapa ia menangis di dada Liu Cin dan membasahi baju pemuda itu, ia cepat menarik mundur tubuhnya dari pangkuan Liu Cin

.

"Liu Cin, ........... maafkan aku ........ tidak semestinya aku menangis begini "

"Tidak mengapa, Nona. Bukankah kita telah berkenalan dan menjadi sahabat?"

"Tapi, aku tidak dapat berterima kasih karena engkau selamatkan dari maut. Engkau bagiku malah menggagalkan kebebasanku."

"Maafkan kalau aku membuat engkau merasa kecewa dan penasaran, Nona Ong. Akan tetapi sekali lagi kutekankan bahwa perbuatan bunuh diri adalah perbuatan para pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan dan hendak melarikan diri. Akan tetapi melarikan diri dengan cara bunuh diri bahkan membuat kita lebih menderita lagi. Apa engkau tahu bahwa bunuh diri membuat kita penjadi arwah penasaran? Coba Nona ingat-ingat lagi semua yang diajarkan oleh gurumu.

Bukankah beliau juga mengeluarkan hal yang sama dengan apa yang katakan tadi?"

Hui Lan menghela napas panjang.Sejak pertemuannya pertama dengan pemuda ini di taman bunga belakang gedung Jenderal Chou, ia entah bagaimana sudah mempunyai perasaan percaya kepada pemuda murid Siauwlimpai ini. Tadinya ia memandang Liu Cin dengan curiga karena pemuda itu datang bersama Lai Cu Yin yang genit, akan tetapi setelah mereka bercakap-cakap di taman, pandangannya terhadap pemuda ini menjadi lain. Dan kini, ucapan pemuda yang tampak lugu dan jujur ini begitu mengena dalam hatinya. Ia teringat akan nasehat-nasehat gurunya dan terbuka kesadarannya bahwa hampir saja ia melakukan hal yang amat bodoh dan pasti ditentang oleh gurunya. "Terima kasih, Liu Cin," Ia kini rasa heran sendiri mengapa ia menyebut nama pemuda itu begitu saja seolah mereka telah menjadi sahabat baik lama sekali.

"Nona "

"Nanti dulu, Liu Cin. Sejak semula aku telah menyebut namamu begitu saja maka tidak enaklah kalau engkau menyebutku Nona. Engkau tahu bahwa namaku Hui Lan."

Liu Cin tersenyum. Sebetulnya di merasa rikuh (canggung) untuk menyebut gadis itu namanya saja karena bagai manapun juga dia telah mendengar bahwa gadis ini masih keturunan bangsawan, selain puteri seorang bangsawan Kerajaan Chou yang pejabat tinggi, juga calon mantu seorang jenderal yang dahulunya seorang pangeran. Akan tetapi mendengar ucapan Hui Lan, dia merasa senang juga.

"Baiklah, Hui Lan. Nah, sekarang engkau telah menyadari bahwa tindakanmu tadi itu sama sekali salah sehingga aku tidak khawatir engkau akan kedakukannya lagi.

Ceritakanlah mengapa engkau begini berduka seperti orang putus asa? Apa yang telah terjadi? Padahal waktu kemarin dulu engkau masih hidup baik-baik di rumah calon mertuamu?"

Hui Lan menghela napas panjang berulang kali. Bagaimana mungkin ia menceritakan apa yang telah terjadi, malapetaka yang menimpa dirinya, kepada Liu Cin yang sebetulnya merupakan orang asing baginya? Menceritakan aib yang menimpa dirinya? Ah, tidak mungkin. Akan tetapi ia tidak dapat mencari alasan lain, tidak biasa berbohong, maka ia berkata lirih.

"Maafkan aku, Liu Cin. Aku tidak dapat menceritakan apa yang terjadi, hanya dapat kuceritakan bahwa aku telah melarikan diri meninggalkan Keluarga Chou. Tadinya aku memang merasa tidak mungkin dapat hidup terus dan mau membunuh diri, akan tetapi sekarang menyadari kekeliruanku. Aku tidak akan membunuh diri, Liu Cin dan terima kasih atas semua peringatan dan nasehatmu.

Liu Cin mengangguk. Dia tidak dapat apa yang telah terjadi, akan tetapi yakin bahwa tentu terjadi bentrok antara Hui Lan dengan Keluarga Chou.

"Apa engkau tidak akan kembali rumah Keluarga Chou? Ingat, engkau adalah calon mantunya, calon isteri Chou Kian Ki."

"Aku tidak sudi! Aku bukan calon mantu Keluarga Chou lagi. Aku tidak sudi kembali ke sana, tidak sudi membantu rencana busuk mereka, tidak sudi menikah dengan jahanam itu!"

Liu Cin merasa heran sekali dan yakin bahwa tentu telah terjadi sesuat yang hebat. "Akan tetapi kenapa ?

Dia teringat bahwa gadis itu tidak mau menceritakan apa yang terjadi, maka tidak baik kalau ia memaksa terus hendak mengetahui urusan orang lain. "Maaf Hui Lan, aku lupa bahwa engkau tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi. Akan tetapi kalau engkau tidak mau kembali ke sana, apakah engkau kini akan pulang ke rumah orang tuamu?" Gadis itu menggelengkan kepalanya. '"Tidak juga, Liu Cin. Ayah ibuku yang tinggal di Nan-king tentu akan menjadi marah dan berduka melihat aku yang mereka jodohkan dengan Chou Kian Ki itu kini tidak mau membantu Jenderal Chou bahkan lari meninggalkan rumah mereka. Aku tidak tega melihat mereka berduka." ,

"Kalau begitu, engkau hendak pergi ke tempat seorang dari para sanak keluargamu? Di mana?"

Kembali Hui Lan menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak mempunyai sanak keluarga yang dapat kudatangi dan menampungku."

"Eh? Kalau begitu, engkau hendak pergi ke mana, Hui Lan?" tanya Liu Cin bingung, kasihan dan khawatir.

"Entahlah, Liu Cin. Yang jelas, aku harus pergi dari semua ini, aku...... aku akan

merantau dan aku akan mencari guruku, atau mencari guru lain untuk memperdalam ilmu silatku" Ia berteriak bahwa ia bersumpah dalam ha untuk membunuh Chou Kian Ki. Itu kini satu-satunya tujuan hidupnya, bahkan yang mendorongnya untuk tetap hidup. Membalas dendam!

"Memperdalam ilmu silatmu? Akan tetapi, engkau sudah cukup lihai dan tangguh, Hui Lan."

"Tidak, sama sekali belum cukup, Li Cin." Tentu saja masih jauh dari cuku karena Kian Ki merupakan lawan yan amat berat.

"Kalau begitu, mari kita cari guru bersama, Hui Lan. Aku juga seorang yang hidup sebatangkara, tiada sanak saudara, dan aku pun ingin memperdalam ilmu silatku. Akan tetapi , tentu saja kalau engkau mau melakukan perjalanan bersamaku."

"Akan tetapi, kenapa engkau dapat tiba-tiba berada di sini, Liu Cin? Bukankah engkau menjadi tamu di rumah Keluarga Chou, bersama wanita genit itu dan menjadi pembantu apa yang dipetakan sebagai perjuangan Jenderal Chou?" tanya Hui Lan yang memang maklum tahu bahwa Liu Cin telah pergi sendiri sana.

"Tidak, Hui Lan. Sejak pagi kemarin ku sudah pergi dari sana dan sudah Mengambil keputusan untuk tidak kembali l.igi ke sana."

"Akan tetapi bagaimana dengan saha-Kit baikmu, Lai Cu Yin itu? Apakah ngkau tinggalkan ia begitu saja?"

"Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin bukan abat baikku, Hui Lan. Sejak awal telah kukatakan bahwa kami hanya kebetulan saja bertemu di perjalanan dan berkenalan. Aku mau melakukan perjalanan bersamanya karena tadinya ia bersikap baik sebagai seorang gadis pendekar yang sopan dan baik budi. Akan tetapi setelah melihat ulahnya di gedung lenderal Chou, baru aku tahu orang macam apa adanya gadis itu. Nah, maukah engkau kutemani mencari seorang guru uk memperdalam ilmu silat kita?" Hui Lan mengangguk. Dalam hatinya ia merasa girang dan berterima kasl sekali kepada pemuda sederhana ini. Tentu saja, dengan adanya teman seperjalanan seorang pemuda yang gagali sopan, dan jujur seperti Liu Cin, ia akal lebih bersemangat dan tabah. Ia sendiri belum pernah melakukan perjalanan jau| seorang diri, apalagi perjalanan yai tidak tentu arah tujuannya.

Hui Lan lalu menanggalkan semui perhiasannya, anting, kalung, hiasan rami but, gelang yang kesemuanya terbuai dari emas permata, dan menyerahkannj kepada Liu Cin.

"Simpanlah semua ini, Liu Cin, untuk keperluan dan bekal perjalanan kita. Aki pun memerlukan beberapa setel pakaiai pengganti karena semua pakaianku tidak kubawa serta ketika aku melarikan diri.* Liu Cin tidak membantah, menerim* perhiasan itu dan memasukkannya ke dalam buntalan pakaiannya. "Mari kit; tinggalkan hutan ini dan mulai dengar perjalanan kita, Hui Lan." "Ke mana?"

"Ke mana saja hati kita membawa Hui Lan." Mereka lalu melangkah keluar dari tan dan setelah tiba di jalan umum, reka menuju ke selatan karena ke ra berarti kembali ke kota raja dan t u saja mereka tidak menghendaki mbali ke sana.

Matahari telah naik tinggi ketika Hta-reka tiba di daerah terbuka. Tidak Brfa pohon di daerah yang cukup luas itu Ha:i melihat banyak pangkal pohon di Tatrah itu, mudah diketahui bahwa agaknya pohon-pohon di situ telah ditebangi iang. Mungkin tadinya merupakan se-«i mpulan pohon pilihan yang baik untuk n cmbangun rumah, dan kini sudah habis ti tebangi orang. Yang tampak hanya pangkal-pangkal pohon mencuat dari talilah dan kini tempat itu menjadi lapang-in rumput yang lengang.

Tiba-tiba mereka melihat dua bayang nu orang berlari cepat dari depan. Mereka itu bukan lain adalah Cnou Kian Ki dan Lai Cu Yin yang pagi tadi melakukan pengejaran terhadap Hui Lan. Mereka mengejar mengikuti jalan umum ke selatan dan karena mereka tidak me bahwa Hui Lan meninggalkan jalan l memasuki hutan, maka mereka mei tempat itu sampai jauh. Setelah m beberapa dusun dan tidak ada yang lihat Hui Lan dalam dusun-dusun Kian Ki dan. Cu Yin lalu kembali, lum bahwa agaknya Hui Lan tidak mp ambil jalan menuju ke selatan itu. K ka mereka berlari ken bah ke utara lah mereka bertemu dengan Hui Lan Liu Cin yang sedang melakukan perjal an ke selatan setelah keluar dari da hutan.

Ketika dua bayangan itu sudah de dan mengenal bahwa mereka adalah K' Ki dan Cu Yin, Hui Lan menjadi mar sekali. Ia sama sekali tidak gentar wal pun ia maklum bahwa ia tidak a' mampu mengalahkan Kian Ki. Maka, sudah cepat mencabut Ceng- hwa-ki dan siap. menyerang.

Kian Ki mengerutkan alisnya keti melihat Hui Lan bersama Liu Cin. "L moi, bagaimana engkau bisa bersama o ngan Liu Cin di sini?" tegurnya dengan dipenuhi cemburu.

"Huh, aku berada di manapun bersama siapapun, apa pedulimu?"

"Lan-moi, mari kita pulang. Aku se a datang menjemputmu." "Tidak sudi! Aku

tidak sudi kembali rumahmu yang terkutuk!" "Aih, Lan-moi-, engkau adalah isteriku, ingat?" "Jahanam, siapa isterimu? Aku bukan Isterimu dan aku tidak sudi menjadi isterimu jahanam macammu!" bentak Hui Lan dan tangannya yang memegang pedang kmetar karena rasanya sudah tidak salur lagi untuk menyerang pemuda itu.

"Kongcu, gadis begini galak dan jahat, W ngapa kaupilih menjadi isterimu? Mali) banyak gadis yang jauh lebih cantik !»n lebih ramah daripada ini." kata Lai U Yin. Akan tetapi Kian Ki tidak mempe-lulikan ucapan Cu Yin. Dia tetap me-ndang Hui Lan dan merasa betapa tanya masih besar terhadap gadis ini. "Lan-moi, kau tahu aku amat men-mtaimu. Marilah pulang bersamaku, sayang."

"Tidak sudi!!"

"Lan-moi, mau tidak mau e harus bersamaku karena engkau a isteriku. Terpaksa aku akan menggu kekerasan dan membawamu pulang." "Nanti dulu!!" Tiba-tiba Liu Cin langkah maju.

"Hemmm, engkau mau apa?" ben Kian Ki semakin marah kepada Liu karena memang dia merasa cem' melihat pemuda itu bersama tunangan

"Chou Kian Ki, engkau tidak memaksanya."

"Peduli apa kamu! Jangan menca puri urusan rumah tangga orang. Hui adalah isteriku, apa sangkutannya nganmu?" bentak Kian Ki.

"Cin-ko, jangan ikut campur. Ini kan urusanmu." kata Ang Hwa Niocu Cu Yin sambil tersenyum mengejek.

"Di mana saja, kapan saja, terj kejahatan, penindasan, dan kesewena wenangan, itu adalah urusanku! Ti peduli siapapun pelaku kejahatan i pasti kutentang!"

"Keparat kurang ajar! Liu Cin, wanita adalah isteriku, apakah engkau hendak i

^halangi aku membawa pulang isteri-Pendekar macam apa engkau ini itg hendak mencampuri pertikaian an-i suami isteri?"

"Chou Kian Ki, biarpun engkau meng-<ni Hui Lan sebagai isterimu, akan tapi buktinya Hui Lan tidak mengakui-Ia tidak sudi menjadi isterimu, tidak di menuruti kehendakmu, tidak sudi nibali ke rumahmu. Kalau engkau hen-k memaksa, berarti engkau melakukan aan dan penindasan. Aku terpaksa n menentangmu!"

"Keparat busuk! Yin-moi, kau hajar bocah kurang ajar ini, biar aku tangkap Hulu isteriku!" kata Kian Ki dan cepat Bla menubruk ke arah Hui Lan dengan » rangan totokan untuk merobohkan dan 'menangkap gadis itu. Namun Hui Lan iM-pat melompat ke kiri dan mengamuk '<l«-ngan pedangnya yang dipergunakan untuk menyerang Kian Ki secara bertubi-tubi. Bagaimanapun juga, Hui Lan bukan «orang gadis lemah. Ia telah digembleng dengan ilmu silat tinggi oleh Tiong <M Cihjin, maka ilmu pedangnya uga dajfl syat sekali. Pedangnya lenyap berubdfl menjadi gulungan sinar hijau yang mJ nyambar-nyambar. Biarpun Kian Ki jaufl lebih lihai, akan tetapi karena dia tidal ingin melukai gadis yang dicintanya ipM maka tidak mudah baginya untuk dapafl menangkap Hui Lan yang mengamuB dengan marah itu. Sementara itu, sambil tersenyum mal nis Lai Cu Yin menghampiri Liu Cinl "Cin-ko, kita adalah sahabat baik. Untufcl apa kita bermusuhan? Lebih baik cepafl pergi dari sini dan jangan mencampur» I urusan Kongcu Chou Kian K i."

"Henimm, Lai Cu Yin. Sekarang aktm mengerti bahwa engkau adalah seekoJ srigala berbulu ayam' Sekarang aku ter-| ingat akan cerita orang-orang dusun ten-l tang siluman rase itu. Sudah pasti eng-l kaulah siluman rase itu!"

Mendengar ini, marahlah Ang Hwa| Niocu Lai Cu Yin. Biarpun ia tidak mencinta Liu Cin, tidak mungkin gadis yang membenci laki-laki ini dapat jatuh cinta, k<imun tadinya ia tertarik kepada Liu n yang sederhana dan lugu namun ga-Hnh dan tampan. Kini, rahasianya di-tahui Liu Cin maka sambil mengeluarkan jerit melengking ia sudah mencabut Ipfdang merahnya dan menyerang dengan (t rpat dan kuat.

"Trang.,...!" Liu Cin sudah siap siaga, tua tadi sudah mengeluarkan sepasang tongkatnya yang terselip di buntalan I akaian lalu menangkis pedang Cu Yin n sekaligus balas menyerang dengan tongkat ke dua.

"Cring-tranggg !" Kembali pedang bertemu tongkat ketika Cu Yin menangkis. Mereka segera bertanding dengan hebat.

Sementara itu, Hui Lan masih terus mengamuk dan menyerang Kian Ki de-rgan penuh kebencian. Pedangnya ber-ibah menjadi sinar kehijauan, akan tetapi kini Kian Ki juga mengeluarkan pedangnya yang bersinar hitam. Pedangnya adalah sebatang pedang mustika yang bernama Hek-kang-kiam (Pedang Baja Hitam) yang amat kuat. Akan tetapi, dia menggunakan pedangnya hanya untuk r lindungi dirinya, untuk menangkisi pe " Hui Lan. Dia sendiri membalas den totokan-totokan tangan kirinya un merobohkan Hui Lan.

Akan tetapi karena sinkang (ten^ sakti) yang dikuasai Kian Ki jauh lel kuat daripada Hui Lan, ketika pedi hitam itu menangkis pedang hijau, set' kali kedua pedang bertemu Hui Lan r rasa betapa lengannya tergetar hebat d lama kelamaan lengan kanannya semak lemah kehilangan tenaga. Lewat seki tiga puluh jurus, akhirnya jari tangan k' Kian Ki berhasil menotok jalan darah pundak Hui Lan dan gadis itu terkul roboh akan tetapi pedang Ceng-hwa-kia masih tetap dipegangnya. Ia tidak marr bangkit kembali karena tubuhnya menja lemas dan seperti lumpuh!

Yakin bahwa Hui Lan tidak mungki dapat melarikan diri, .Kian Ki melompa dan membantu Cu Yin yang masih ber tanding seru melawan Liu Cin.

Menghadapi Cu Yin saja Liu Cin s dah merasa repot untuk dapat mengala nnya, apalagi kini Kian Ki maju mem- tu gadis itu. Liu Cin melawan mati-tian, akan tetapi tiba-tiba sebuah iur merah kecil menyambar dan me-ruai pundak kanannya.

Seketika pundak i lengan kanannya lumpuh, pegangan la tongkat kanannya terlepas dan se-i ih tendangan yang menyusul dari kaki i.m Ki mengenai pahanya. Liu Cin ter-i par dan roboh.

"Bunuh keparat itu, Yin-moi!" kata n Ki yang hendak menghampiri Hui iin

sedangkan Cu Yin menghampiri Liu . Akan tetapi pada saat itu, tiba-Iba terdengar bunyi lengking nyaring iri dari atas menyambar seekor burung ijawali besar. Dengan kecepatan kilat ll-urung rajawali itu menyambar ke arah I pala Cu Yin yang menjadi terkejut dan < pat melempar diri ke bawah lalu ber-I lingan agar terlepas dari ancaman ktdua cakar burung. Burung rajawali itu kini menyambar ke arah Kian Ki, namun Kian Ki sudah melompat mundur dan mbaran itu luput. Burung rajawali terus iaja mengamuk, menyerang dua orang itu bergantian.

Sementara itu, seorang pemuda pakaian serba putih sederhana, pem yang bukan lain adalah Sin-*iauw hiong (Pendekar Rajawali Sakti) Si Lin, muncul dan cepat dia mengham Hui Lan dan sekali tangannya berge ke arah punggung dan pundak gadis I Hui Lan terbebas dari totokan. Gadis memandang dan ia teringat akan pem aneh pemilik rajawali yang dulu per menolongnya dan menyelamatkannya % pengeroyokan orang-orang jahat. A tetapi Han Lin hanya tersenyum kepa nya lalu cepat Han Lin melompat arah Liu Cin. la memeriksa keadaan Cin yang terkena senjata rahasia A hwa-piauw (Piauw Bunga Merah) ya tadi dilepas Cu Yin. Han Lin meno" dan mengurut pundak kanan Liu C membubuhkan obat gosok pada luka k di pundak setelah mencabut Piauw Bun Merah yang menancap di situ. Seketi Liu Cin dapat bergerak kembali kar pundak dan lengan kanannya tidak lumpuh.

"Terima kasih, sobat!" kata Liu Cin «i cepat dia melompat untuk menyam-f tongkat kanannya yang tadi terlepas i tangannya.

"Wuuuttttt desss !" Pukulan jarak jauh tangan kiri Kian Ki menyepi pet tubuh rajawali akan tetapi cukup lut untuk membuat rajawali terpental beberapa puluh helai bulunya rontok, lihat ini, Han Lin berseru kepada Itrung rajawali.

"Tiauw-ko, mundur!" Burung itu mengeluarkan bunyi dan segera terbang fli njauhkan diri. Kini Kian Ki menjadi rah sekali kepada Han Lin yang sudah i' cnggagalkan dia membunuh Liu Cin dan (t«'i!tu saja akan menghalangi kehendak-ya. Dan bocah berpakaian putih yang memiliki burung rajawali itu masih tampak begitu muda!

"Bocah lancang, mampuslah!!" Kian Ki Jierseru nyaring, melompat ke depan dan etelah berhadapan dalam jarak satu t mbak dari Han Lin, dia merendahkan diri, menyimpan pedangnya lalu mendorong dengan kedua tangan terbuka kearah Han Lin sambil mengerahkan selu tenaga saktinya. Tenaga sakti Kian kuat luar biasa setelah dia dibanjiri naga sakti dari mendiang Thian Siansu, juga menyedot sebagian te sakti dari Hongsan Siansu, Im-yang T dan Kwan In Su. Maka begitu dia m dorongkan kedua tangannya, hawa pur an seperti angin badai melanda Han L Pemuda ini. sudah menduga akan ked syatan tenaga lawan, maka dia pun r nyambutnya dengan tenaga ler as unt melindungi dirinya.

"Wuuuttitt desssss !" Bagaik

sehelai daun kering tertiup angin kc cang, tubuh Han Lin terlempar jauh | belakang. Akan tetapi tubuh itu tid terbanting jatuh, melainkan melayang d membuat putaran melangkah kembali tempat tadi, di depan Kian Ki dan berdiri sambil tersenyum, jelas sam sekali tidak menderita 'apalagi terluk Kian K i memandang dengan mata ter belalak. Tidak mungkin ini, pikirny Tadi dia memukul dahsyat sekali, me ngerahkan seluruh sinkangnya. Akan tetapi bocah itu hanya terlempar dan m layang kembali, bahkan sedikit pun ti terlukai "Siapa kau bocah lancang berani m campuri urusan orang lain!" bentakny karena di samping kemarahannya, d' juga heran dan ingin sekali mengetah siapa gerangan pemuda yang kelihata masih remaja ini.

Si Kan Lin tersenyum dan dia pu mengamati pemuda gagah berpakaia mewah ini. "Wah, sobat, puku anmu tadi hebat sekali, sayang dipergunakan dengan kejam untuk membunuh orang. Kau ingin tahu namaku? Aku Si Han Lin, dan engkau siapa sih, begini galak hendak membunuhi orang?"

"Aku Chou Kian Ki, putera Jenderal Chou, Penasehat Angkatan Perang Kerajaan! Gadis itu adalah isteriku yang minggat bersama laki-laki itu, maka aku hendak mengambil isteriku kembali dan membunuh laki-laki jahanam itu!" Dia menuding ke arah Hui Lan dan Liu Cin yang kini sudah mengeroyok Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin yang tampak kerepot-

*n menghadapi pengeroyokan dua orang ku. Mendengar keterangan Chou Kian Ki ni, Han Lin terkejut. Bukan terkejut mendengar pemuda gagah itu putera \eorang jenderal yang berpangkat tinggi, i elainkan terkejut mendengar bahwa Ong Hui Lan yang pernah dikenalnya itu ternyata isteri Chou Kian Ki yang ming-

at dan melarikan diri bersama pemuda yang terluka pundaknya tadi. Dia tidak

boleh gegabah, harus mengetahui benar duduknya perkara jangan sampai dia malah membela orang-orang yang jahat dan bersalah. Maka dia lalu melompat- ke tengah antara tiga orang yang sedang berkelahi itu sambil berseru,

'Tahan dulu !"

Melihat, pemuda yang tadi menolong mereka, Liu Cin dan Hui Lan biarpun sudah mendesak Lai Cu Yin, segera melompat ke belakang n ei tunda serangan mereka. Sebaliknya, Cu Yin yang tadi melihat betapa Han Lin menolong Hui Lan dan Liu Cin, cepat menyerang pemuda itu dengan sambitan dua Ang-hwa-piauw ke arah sepasang mata Han Lin.

Sambitan itu dilakukan dari jarak dek hanya sekitar tiga tombak! Dua si merah itu meluncur cepat sekali karena yang diserang itu mata, bag1 tubuh paling lemah, maka tentu saja i merupakan serangan yang amat berbahay Tentu saja Hui Lan dan Liu Cin menja terkejut sekali dan marah melihat C Yin menyerang orang yang hanya melee mereka dengan cara demikian curangnya Akan tetapi dengan tenang saja H Lin menggerakkan tangan kirinya.

"Ceppp! Ceppp!" Dua buah senja rahasia itu menancap di celah-celah jar tangannya! Kemudian dia menggerakk tangan kiri itu ke arah Cu Yin. D sinar merah itu meluncur sedemikia cepatnya sehingga Cu Yin tidak sempa mengelak lagi. Tahu-tahu dua batah piauw bunga merah penghias rambut i sudah bersarang kembali di rambutnya akan tetapi ujung tangkai 'penghias ram but yang dijadikan senjata rahasia iti melukai kulit kepalanya.

"Aduhhh !" Tak tertahankan lagi

Lai Cu Yin berteriak dan cepat meng-J

Bibi I dua tangkai bunga itu lalu meng Biuk-garuk kepalanya yang terluka. Ada B h menodai jari tangannya yang meng- k.

B "Wah, maafkan aku, Nona. Kusangka Blit kepalamu sudah cukup keras ter-B tuh tangkai bunga merah yang indah Bj1" kata Han Lin sambil tersenyum B> nggoda. Cu Yin marah sekali akan B tapi ia pun bukan orang bodoh dan I» kat. la dapat menduga bahwa pemuda Irrpakaian putih sederhana itu memiliki l>*pandaian yang amat tinggi, maka sambit merengut ia pun mundur mendekati hou Kian Ki. Kini Han Lin menghadapi Liu Cin dan g Hui Lan. Dia tersenyum kepada Hui an dan bertanya. "Nona, apakah engkau masih mengenalku?"

"Tentu saja, Han Lin. Engkau dan ra-walimu pernah menolongku." jawab Hui Lan. "Nah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, Hui Lan. Menurut keterangan fhou Kian Ki putera jenderal ini, engkau adalah isterinya yang minggat dari mahnya.

Benarkah itu?"

"Bohong! Aku bukan isterinya,. mang tadinya aku ditunangkan kepa oleh orang tua kami, akan tetapi membatalkan ikatan perjodohan itu. bukan isterinya dan aku tidak sudi jadi isterinya. Aku benci Keluarga C dan aku memang melarikan diri me galkan mereka karena aku tidak tinggal di sana, tidak sudi menjadi Jenderal Chou! Jahanam busuk ini hong, aku bukan isterinya, aku bah bukan tunangan, bukan apa-apanya lagi Chou Kian Ki hendak membant akan tetapi Si Han Lin mengangkat ngan mencegahnya bicara. "Biar aku tanya kepada sobat ini." Dia menghad Liu Cin. "Siapa namamu, Sobat?" "Aku she Liu, bernama Cin." "Sobat Liu Cin, aku mendengar terangan dari Chou Kian Ki ini ba engkau mengajak lari Ong Hui Lan, narkah?" "Bohong dan fitnah! Sama sekali t' dak!"

"Kalau begitu, mengapa engkau ber-m Hui Lan? Bagaimana ceritanya?" v a pula Han Lin.

[ 'Aku pergi dari rumah Jenderal Chou }rna aku tidak suka diajak bekerja >a olehnya. Kebetulan tadi pagi aku temu dengan Nona Ong ini. Aku me-i ia hendak bunuh diri dengan meng-:ung diri. Aku mencegahnya dan aku «dengar bahwa ia juga melarikan diri Keluarga Chou karena tidak suka i berada di sana. Lalu kami ber-ma-sama melakukan perjalanan. Sama Kali tidak ada hubungan apa pun antara mi, hanya merasa senasib dan aku :in menolongnya." Liu Cin lalu meman-ng kepada Chou Kian Ki. "Kemudian iagi kami berjalan, muncul Chou Kian 1 dan wanita itu. Chou Kian Ki hendak emaksa membawa Ong Hui Lan pergi, arena gadis itu tidak mau dan hendak ipaksa, aku membelanya dan kami ber-jrlahi melawan mereka!"

Kini Si Han Lin memutar tubuhnya ncnghadapi Kian Ki dan Cu Yin.

"Nah, sekarang aku sudah mendengar pengakuan mereka dan ternyata, se dugaanku, mereka berdua ini bersih dak bersalah apa pun dan kalau mer tidak bersalah, maka jelas kalian ber lah yang bersalah, hendak mera kemerdekaan orang dan bahkan he~ membunuh. Terpaksa aku harus m halangi niat jahat itu, Chou Kian Ki!"

Chou Kian Ki marah sekali. Dia " rasa ditantang oleh pemuda berpaka putih yang masih amat muda itu. T ketika dia menyerang dengan puku jarak jauh, pemuda itu terlempar j akan tetapi dapat melayang kembali sama sekali tidak terluka. Biarpun hal merupakan keanehan dan membuat menduga bahwa pemuda itu meru kan lawan yang tangguh, namun Kian tidak merasa gentar. Pemuda ini mem menjadi sombong bukan main, mengan gap diri sendiri tanpa tanding. Tak orang pun dapat mengalahkannya.

"Keparat, kalau begitu engkau sud bosan hidup!" Teriaknya dan dia mene jang dengan dahsyat, menggunakan ngan kosong yang dipenuhi penyalur

Kinng untuk menyerang Han Lin. Akan tetapi dengan tubuh ringan se-i Han Lin menghindarkan diri dengan »ij;kah Ajaib Jiauw-pouw-poan-sin. Ke-kakinya melangkah ke sana sini de-Jn aneh, akan tetapi hebatnya, semua Imlan dan tendangan Kian Ki yang i't dahsyat itu tidak ada yang mampu pnyentuh tubuhnya! Sementara itu, Hui Lan sudah me-nng Lai Cu Yin lagi, dibantu oleh U Cin. Mereka berdua menyerang gadis tnit yang mereka tahu kini menjadi f f k Chou Ban Heng itu dan mulai i desaknya lagi karena betapapun lihai-i, menghadapi dua orang itu Cu Yin rasa kewalahan juga. Kian Ki menjadi penasaran bukan Min setelah belasan jurus dia menyerang f ara bertubi-tubi, tak sebuah pun se-i pannya berhasil mengenai tubuh lajunya. Gerakan kedua kaki Han Lin i-mikian aneh akan tetapi langkah-lang-ih itu selalu seolah dapat mendahului inya serangannya sehingga pada saat ringan dia lakukan, lawannya telah bergerak menjauh sehingga selalu luput pukulan atau tendangannya.

"Hyaaaaattttt !!" Tiba-tiba Kian

memekik dan mengubah serangan. Tubuhnya berputar dan kedua lengan membuat gerakan pukulan aneh dari nan kiri dan angin pukulan yang b£ sing seperti angin puyuh menyambar ngan dahsyatnya.

"Aih !" Han Lin mengeluarkan

ruan karena kaget dan heran. Tentu dia mengenal baik serangan p ikulan ai puyuh itu karena itu adalah sebuah j dari ilmu silat Keluarga Kok yang j' dia pelajari dari gurunya. Thai Kek Si sktl Bagaimana mungkin Kian Ki da melakukan pukulan rahasia ini den demikian baiknya, padahal ilmu keturu Keluarga Kok ini dirahasiakan dan tid boleh diajarkan kepada seorang mur' Gurunya sendiri hampir dibunuh Th; Beng Siansu, susiok*couwnya (kakek ; man gurunya) karena menurunkan il .sirat Keluarga Kok kepadanya!

Keheranan menjadi-jadi ketika *. berhasil menghindarkan diri dari pukul

, Kian K i mendesak dan menyerangnya ..ra bertubi-tubi dan kini bersilat de |n ilmu silat Keluarga Kok itu!

"Wirrr duk-duk-takkk !!" Han Lin

paksa mengerahkan tenaga sinkangnya c menangkis karena mengandalkan u langkah ajaib tidak menjamin diri— V.< dapat terhindar dari pukulan-pukulan ku t ilmu silat Keluarga Kok itu.

Kini Kian Ki yang merasa heran. La-»nnya yang masih muda itu menangkis bngan gerakan ilmu silat yang sama »ogan yang dia mainkan dan ternyata \an Lin memiliki tenaga "Jemas" yang ' guh hebat. Pukulannya yang kuat itu lah benda keras dipukulkan kepada kr, amblas tanpa meninggalkan bekas a yang dipukul! Pada saat itu, Ang Hwa Niocu Lai. Yin juga terdesak hebat sekali oleh u Cin dan Hui Lan yang mengeroyok-ya. Tadinya ia masih mengharapkan lan Ki yang amat lihai akan dapat * galahkan lawannya dengan cepat hingga dapat membantunya menghadapi ia orang pengeroyoknya, maka ia masih bertahan dengan mati-matian. Akan tapi setelah lewat beberapa lama dan sudah mulai terdesak dengan hebat ketika ia melirik ia melihat betapa Ki sama sekali tidak mampu mend lawannya, bahkan lawan pemuda putih yang muda itu agaknya ma> mengimbanginya, Cu Yin menjadi gen dan panik. Tak mungkin ia dapat tahan lebih lama lagi karena pang lengan kirinya sudah disentuh ujung dang Hui Lan sehingga baju berikut dikit kulitnya robek dan berdarah, harus menyelamatkan diri! Tiba-tiba melompat jauh ke belakang, mengger kan tangan kirinya dan dua sinar me meluncur ke arah Hui Lan dan Liu C Itulah dua batang kembang merah pe hias rambut yang tadi disambitkan ke bal i oleh Han Lin. Hui Lan dan Liu terkejut, maklum akan bahayanya senja rahasia itu.

Mereka cepat memutar se jata untuk menangkis. Hui Lan yang membenci Kian rl melihat betapa Kian Ki masih bertandir melawan - Han Lin, cepat melompat

Irndak mengeroyok, diikuti Liu Cin. kkan tetapi Han Lin cepat berseru. 'Jangan mengeroyok!" Kian Ki kini sudah mencabut pedang-rya, akan tetapi tidak segera menyerang elainkan berseru lantang. "Majulah, alian pengecut-pengecut tak tahu malu. Aku tidak takut dikeroyok. Majulah!"

Liu Cin memegang lengan Hui Lan dan menggelengkan kepala, tanda mencegah gadis itu untuk mengeroyok. Se-I agai seorang pendekar yang berwatak I agah, mendengar tantangan Kian Ki itu i a merasa malu dan tidak mau maju i elakukan pengeroyokan. Akan tetapi Hui Lan menudingkan pedangnya ke muka Kian Ki. "Engkau sendiri yang pengecut tak tahu malu. Engkau tidak mampu mengalahkan Han Lin dengan tangan kosong, sekarang hendak r-.cry*i«»ng dia yang bertangan kosong dengan pedangmu!"

Kian Ki tampak ragu-ragu dan dia memandang kepada Han Lin dengan sinar mata penuh permohonan. "Lan-moi, engkau isteriku, marilah kita pulang dan di rumah nanti aku akan berlutut m ampun kepadamu. Marilah, Sayang Dia membujuk dengan suara bersunggi sungguh.

"Tidak sudi! Lebih baik aku ma daripada harus menjadi isteri seora jahanam busuk sepertimu!" kata Hui Lj dengan marah.

Kian Ki menghela napas panjang menyarungkan kembali pedangnya, mandang kepada Han Lin dan berka "Si Han Lin, temanku sudah pergi. A seorang diri dan engkau bertiga, ma tidak adil kalau kita melanjutkan per tandingan di sini! Kelak akan tiba saat nya aku menantangmu bertanding sat lawan satu sampai seorang di antara kit kalah dan tewas!"

Han Lin tersenyum. "Chou Kian Ki, aku tidak mempunyai permusuhan denganmu, akan tetapi aku akan selalu menentang semua perbuatanmu yang tidak adil dan tidak benar."

Kian Ki tidak menjawab, melainkan berkelebat pergi dengan gerakan yang cepat sekali. Han Lin memandang kagum

berkata lirih, seperti kepada diri ftttdiri. "Dia hebat ilmu silatnya lihai

kkali, dan dia itu sungguh amat men- ir tamu, Hui Lan "

"Han Lm, engkau tidak tahu! Jahanam i merayuku hanya dengan maksud untuk birnarikku agar aku mau mendukung ren-t.ina jahat ayahnya!" kata Hui Lan, ten-p<i saja tidak mengatakan keadaan yang -benarnya yang telah terjadi dengannya. "Benar, Sobat" kata Liu Cin. "Aku »endiri tadinya juga bermaksud untuk bekerja kepada mereka, akan tetapi setelah mengetahui rencana jahat mereka, aku melarikan diri keluar dari gedung mereka."

"Hui Lan, semua ini membingungkan. Dia mengaku bahwa engkau isterinya dan dari sikap dan suaranya, aku percaya bahwa dia sungguh mencintaimu. Benarkah engkau isterinya dan apa yang telah terjadi sehingga engkau meninggalkan-ya?"

"Aku bukan isterinya. Memang kami telah ditunangkan oleh orang tua kami.

Aku tidak dapat menolak kehendak ora tuaku dan tadinya aku mengira dia or baik- baik maka aku menerima menja tunangannya. Akan tetapi kemudian a" mengetahui rahasia busuk mereka. 3e derai Chou hendak memberontak d' mendirikan atau membangun kemba Kerajaan Chou dengan dia yang kcl menjadi kaisarnya. Dia berusaha mengu pulkan orang-orang yang memiliki ilmi silat tinggi untuk melaksanakan lencana nya yang jahat, yaitu menyingkirkan ar kalau perlu membunuh para pejabat ting gi yang setia kepada Kaisar Sung Tha Cu agar Kerajaan Sung menjadi lemah Setelah itu baru dia akan mengerahka para sekutunya untuk memberontak da merampas tahta kerajaan. Aku menentangnya dan mereka semua mulai curiga dan membenciku, maka aku lalu melarikan diri dari sana."

Han Lin mengangguk-anggukkan kepalanya lalu memandang Liu Cin. "Dan bagaimana dengan engkau, Liu Cin?"

"Dalam perantauanku, aku bertem ngan Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin yang rsikap gagah, sopan dan baik. Aku per t ya dan aku tidak menolak ketika selang panglima mendatangi kami di ru-vih penginapan, mengatakan bahwa kami («indang Jenderal Chou. Setelah kami 'tang, kami pun dibujuk untuk mem-«iitu Jenderal Chou yang katanya ber-ang menentang para pembesar yang >rup dan sewenang-wenang. Aku akan piempertimbangkan dulu, dan Lai Cu Yin l'u langsung menerimanya, kemudian aku l<iru mengetahui bahwa ia bukan wanita iiik-baik. Aku curigai ia sebagai gadis j bunuh para pemuda secara keji dan g disangka siluman srigala oleh para 'penduduk dusun. Ketika aku bertemu Hui 1 an di gedung itu dan mendengar keterangannya, aku lalu pamit dan pergi «lari sana. Kemudian, di dalam hutan aku melihat Hui Lan menggantung diri, maka pat aku menggagalkan bunuh diri itu tl.m menasehatinya. Akhirnya kami melakukan perjalanan bersama dan tiba-tiba muncul Chou Kian K i dan Lai Cu N m yang hendak menangkap Hui Lan dan membunuhku."

Han Lin mengerutkan alisnya djfl memandang kepada gadis itu dengfl pandang menyelidik. "Hui Lan, sulij dipercaya bahwa seorang gadis gagj perkasa seperti engkau hendak bunuh dii Benarkah itu dan kalau benar mengapa?

Dengan muka tunduk lesu Hui Lt menjawab. "Aku bingung, malu dan khi watir, Han Lin. Aku malu karena tela menjadi tunangan jahanam itu dan mer jadi calon mantu seorang jemberonu yang jahat karena hendak membunula orang-orang yang setia dan tidak beri dosa. Aku khawatir karena kalau oranri tuaku mendengar bahwa aku melariki diri dari rumah Jenderal Chou, merek pasti akan merasa kecewa dan berduka Maka aku menjadi bingung sekali sehingga aku mengambil keputusan pendeS untuk menghabisi saja hidupku."

Han Lin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. D, dalam hatinya dia tidak dapat percaya begitu saja pengakuan gadis itu. Biarpun baru mengenal sepintas, dia tahu bahwa

«n Lan memiliki watak yang gagah i-rani. Tak mungkin kalau hanya karena rgitu saja ia hendak bunuh diri! Akan tapi tentu saja dia tidak mau men-

sak.

"Dan sekarang, engkau hendak ke una, Hui Lan? Apakah ingin kembali ke mah orang tuamu?" "Tidak, Han Lin. Aku tahu, mereka itu pasti mengabarkan hal-hal bohong 'l engenai diriku. Orang tuaku tentu akan [marah sekali karena aku memutuskan tali [iM-rjodohan yang dibuat orang tuaku dan Jenderal Chou. Orang tuaku tentu akan berduka sekali, maka aku tidak berani I lang karena tidak berani menghadapi [orang tuaku yang berduka karena aku."

"Lalu ke mana engkau hendak pergi, kalau aku boleh tahu?"

Tiba-tiba Hui Lan teringat akan sesuatu, la ingin rnempercVlc-n ilmu silatnya agar kelak dapat membalas dendamnya, dapat membunuh Chou Kian Ki yang telah menodai dirinya. Dan ia ingin mencari guru. Pemuda di depannya ini tadi mampu menandingi Chou Kian Ki! Tibatiba gadis itu berlutut di depan Han sehingga Han Lin menjadi heran dan ngung. Dia cepat menyentuh kedua dak Hui Lan.

"Eeuit, apa-apaan ini, Hui Lan7 Affl yang kau lakukan ini?"

"Han Lin, aku mohon kepadamu, suit; lah engkau menerima aku sebagai murf Aku hendak pergi mencari guru unri memperdalam ilmuku, dan melihat betafl engkau tadi mampu menandingi ChijJ Kian K i, maka aku ingin berguru kcpa mu. Tolonglah aku, Han Lin, terima aku menjadi muridmu!"

"Bangkitlah dulu, Hui Lan dan kita bicarakan hal ini dengan sebaikn Mungkin aku akan dapat membantu dengan cara lain." Tiba-tiba Hui L merasa betapa kedua telapak tang pemuda itu yang menyentuh pundakn seolah memiliki daya yang amat kua menariknya bangkit. Ia mencoba unt mempertahankan dengan mengerahk sinkang, namun tetap saja tubuhnya per lahan-lahan bangkit berdiri tanpa dapa ia pertahankan lagi.

I "Nah, sekarang katakanlah, mengapa Igkau ingin memperdalam ilmu silatmu? I'i lhat engkau sebagai seorang gadis m-tah memiliki ilmu bela diri yang cukup TiKguh."

"Aku ingin menentang Keluarga|k>u yang jahat, terutama Chou Kian K i Lig berhasil mengikat tali perjodohan 3nganku hanya untuk menarik aku men-ptli sekutu pemberontakan ayahnya! Kain a aku tahu bahwa Kian Ki lihai se-Icii, maka aku ingin belajar ilmu silat lu>Kgi darimu, Han Lin!"

Hemmui, itukah tujuan perjalananmu lu r sama Liu Cin tadi?"

"Aku hanya kasihan kepadanya dan tn^in menemani dan membantunya mentari guru yang pandai. Akan tetapi melihat kelihaianmu, aku dapat mengerti n engapa ia hendak berguru padamu."

Diam-diam Han Lir. dapat menjenguk Im hati pemuda yang dari gerakan silatnya tadi dia dapat menduga bahwa Liu f n tentu murid Siauwlimpai. Pemuda lugu sederhana itu mencinta Hui Lan, (ukirnya. Karena cinta itulah maka baru saja berkenalan, Liu Cin sudah be banyak membela gadis itu!

"Hui Lan, bukan aku tidak mau m bantumu, akan tetapi tidak mungkin menjadi gurumu. Aku sendiri sedang lakukan perjalanan merantau meme perintah guruku."

"Kalau begitu, bawa aku mengh gurumu, Han Lin. Aku akan sujud depan kakinya dan mohon agar gur sudi menerimaku sebagai murid."

Han Lin menggelengkan kepalan "Hal itu tidak mungkin, Hui Lan. S tidak akan mau menerima murid siapa juga. Hal ini aku tahu dengan pasi Akan sia-sia belaka kalau engkau mer hadap guruku mohon menjadi muridny bahkan Suhu melarang aku menceritak siapa beliau. Akan tetapi, aku terin akan cerita guruku. Beliau mempuny seorang sahabat yang sakti, pewarist il silat sakti yang berinti kekuatan Ini d Yang.

Nah, kalau engkau dan Liu Ci pergi mencarinya, siapa tahu, kalau<Thi mengijinkan, kalian akan diterima tme jadi muridnya."

I 'Siapakah dia, Han Lin? Katakan, >-.i a dia dan di mana tempat tinggal v i " kata Hui Lan dengan penuh selu ngat. "Suhu hanya mengatakan bahwa namakan orang sakti itu adalah Thian Te .nkouw (Nona Dewi Langit Bumi) dan k puluhan tahun bertapa di Puncak ikit Tengkorak yang berada di tepi Su-, u Luan. Bukit Tengkorak itu berada di i>elah utara, di luar Tembok Besar, dak sangat jauh dari kota raja dan h'kat Tembok Besar, sebelah selatan lota Yehol (Cengkeh). Nah, carilah ke Lina. Perjalanannya tentu saja amat iikar, melewati Tembok Besar dan aku iga tidak berani memastikan bahwa ia Itusih hidup atau masih tinggal di sana."

"Baiklah, terima kasih, Han Lin. Aku n/kan mencarinya ke sana."

"Aku akan menemanimu sampai engkau menemukan guru sakti itu, Hui Lan." kata Liu Cin.

"Aih, Liu Cin, aku menjadi tidak i ak. Tidak perlu engkau bersusah payah n mengorbankan waktumu yang berharga untuk aku."

"Sama sekali tidak susah payah 1 mengorbankan waktu, Hui Lan. Ena tahu bahwa aku juga seorang perant dan aku senang bertualang ke ter yang belum pernah kukunjungi. Apa] bertemu dengan seorang sakti!"

"Hui Lan, niat baik seorang sahabat jangan ditolak. Aku tahu bahwa Liu Cin berkata dan bertindak jujur menurutkan kata hatinya. Nah, sekarang aku harus pergi!" Han Lin mengeluarkan suara melengking dan dari atas terdengar jawaban lengkingan, lalu tampaklah rajawali itu melayang turun. Sebelum rajawali itu hinggap di atas tanah, tubuh Han Lin Ludah melompat ke punggungnya dan burung itu pun terbang pergi dengan kepakan sayapnya yang besar dan kuat sehingga sebentar saja burung itu telah melayang tinggi dan hanya tampak sebagai sebuah titik hitam yang semakin jauh dan akhirnya tidak tampak lagi.

Hui Lan dan Liu Cin memandang dengan kagum. Mereka lalu melanjutkan perjalanan, kini tidak jadi ke selatan, melainkan ke barat karena mereka tidak ingin melalui kota raja yang mengandung bahaya bagi mereka. Mereka mengambil jalan memutar untuk kemudian ke utara melintasi Tembok Besar. Dalam perjalanan ini Hui Lan bercerita kepada Liu Cin akan pertemuannya yang pertama dengan Han Lin sehingga pemuda murid Siau-limpai itu menjadi semakin kagum pada Si Pendekar Rajawali Sakti.

ooOOoo

Gadis berpakaian serba hitam itu memang cantik jelita dan manis sekali. Usianya masih muda, sekitar delapan belas tahun lebih sedikit. Rambutnya panjang di kuncir tebal bergantungan di belakang sampai ke pinggul, sebagian yang berada di atas berjuntai dan membentuk lingkaran anak rambut halus di dahi dan pelipisnya! wajahnya berbentuk bulat telur, dagunya meruncing, sepasapg matanya jeli dan bersinar-sinar penuh gairah hidup seperti sepasang bintang, mulutnya yang manis dengan bibir berbentuk indah kemerahan itu selalu tersungging senyum setengah mengejek nakal. Tubuhnya sintal, pinggang kecil akan tetapi padat dengan lekuk lengkung yang memiliki daya tarik amat kuat, terutama terhadap kaum pria.

Pakaiannya dari sutera hitam, bentuknya sederhana, la Memakai sabuk merah. Sepatunya juga hitam. Karena pakaiannya serba hitam maka kulit tubuhnya yang tampak, yaitu muka, leher dan sebagian lengannya kelihatan putih mulus kemerahan.

Gadis ini adalah Song Kui Lin yang pernah bertemu dengan Si Han Lin ketika ia ikut berlagak di Puncak Pegunungan Thaisan di mana menjadi arena perebutan kejuaraan silat untuk memperebutkan julukan Jago Nomor Satu Di Dunia! Dari sepak terjangnya ketika ia membikin ribut di Puncak Thaisan karena menentang tindakan sewenang-wenang dari murid Tung Hai-tok yang bernama Boan Su Kok, dapat diketahui bahwa Song Kui Lin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, pemberani, nakal, lincah Jenaka, dan agak liar walaupun ia memiliki watak gagah perkasa penentang kejahatan. Song Kui Lin adalah anak yang pilih oleh Louw Keng Tojin untuk i jadi muridnya. Seperti kita ketahui, Loi Keng Tojin adalah tosu (Pendeta yang berdebat dengan Thong Leng L pendeta Buddha Lama dan Tiong Gi jin pendeta Agama Khong-cu, tenta agama. Perdebatan itu berakhir keti muncul Thai Kek Siansu yang meter dan menjelaskan bahwa tugas sen» agama itu sama, yaitu menjadikan man sia insan-insan yang baik dan penuh kasi terhadap sesamanya. Kemudian, mere" saling berpisah dan berjanji bahwa m reka masing- masing akan mencontoh Th Kek Siansu, mengambil seorang mun Louw Keng Tojin bertemu dengan Son Kui Lin yang ketika itu berusia tuju tahun. Akan tetapi dalam usia tuj tahun Song Kui Lin sudah menguas dasar-dasar ilmu silat yang baik karei sejak kecil sekali ia dilatih ayahnya sen diri. Ayahnya adalah seorang pendeka silat yang terkenal bernama Song Kak yang tewas setelah menderita luka dalam pertempuran melawan segerombolan peimpok yang mengganas di dusun te-»ngga. Dia terluka namun berhasil mengiur para perampok dan membunuh bayak anak buah perampok dan beberapa Sang pemimpin mereka. Luka ini mem-wanya kepada maut, meninggalkan lerinya yang baru berusia dua puluh am tahun dan anak tunggalnya, Song Uh Lin yang berusia enam tahun. Ketika ouw Keng Tojin bertemu dengan Kui i pada saat dia hendak mengunjungi long Kak yang menjadi sahabatnya, Song Cak telah tewas setahun yang lalu. Me-li >at gadis cilik ini, Louw Keng Tojin memilihnya sebagai murid dan Nyonya 'v>ng juga menyetujuinya. Demikianlah, Kui Li dilatih oleh gurunya di rumah ibunya yang menjanda, selama sepuluh tahun lebih, la berusia sekitar delapan k>las tahun kurang ketika Louw Keng Tojin meninggalkan rumah Janda Song.

urunya berpesan kepadanya agar ia meluaskan pengalaman dengan terjun ke dunia kangouw dan menganjurkan murid-i ya itu untuk menonton pertandingan silat memperebutkan juara dengan sebutan Jago Nomor Satu.

Seperti kita ketahui, di Puncak Th«| san itu Kui Lin menentang Boan Su K yang sombong dan ia bertemu dengan Han Lin, akan tetapi ia meninggalk pemuda itu dengan marah karena ia buat jatuh ketika memaksa burung ra wali untuk menerbangkannya.

Pada pagi hari itu, Song Kui h melakukan perjalanan menuju pulang || kota Cin-an di mana ibunya tinggal. Ibt nya, Nyonya Janda Song, telah mempj lajari soal pengobatan dari mcndian suaminya dan sekarang membuka sehufl toko obat yang penghasilannya lebih dai cukup untuk membiayai kebutuhan hidu mereka berdua dan dua orang pembant» seorang laki-laki dan seorang perempuai keduanya sudah berusia lima puluh tahu lebih.

Setelah turun dari Pegunungan Thal san, Kui Lin merantau dan melakukai perjalanan seenaknya. Sudah beberapj kali ia menentang kejahatan, membeli yang benar dengan cara yang adil dai keras, sesuai dengan wataknya yang ga»

«k. Karena tindakannya sebagai seorang »ndekar wanita yang gagah perkasa dan i jarang memperkenalkan namanya, ma-.» orang-orang menyebutnya Hek I Li-lap (Pendekar Wanita Baju Hitam).