-->

Si Rajawali Sakti Jilid 06

Jilid 06

Karena sikap wanita itu mesra ramah, rasa takut Liong Cin atau yang biasa disebut Aon, berkurang walau dia masih merasa ngeri kalau harus jadi kekasih siluman!

"Maafkan saya, Niocu , saya akan dibawa kemanakah?" Dia memberanikan diri

bertanya.

"Liong Cin, sudah kukatakan agar engkau memanggil aku Yin-moi, bukan Niocu (Nona). Aku mempunyai sebuah pondok diluar dusun, kita pulang sana dan bersenang-senang."

Pada saat itu, terdengar seruan lantang. "Iblis betina, kembali engkau telah membunuh orang yang tidak bersalah dalam hutan itu! Akhirnya kutemukan juga engkau dan sudah saatnya engkau menerima hukuman!" Kemudian muncul seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar, berpakaian sederhana dan kain kasar.

Sikapnya gagah, wajahnya ganteng dan jantan. Dia memegang sebatang toya yang dipegang melintang di depan dada. Sepasang matanya yang tajam memandang Ang- hwa Niocu dengan marah.

Ang-hwa .Niocu menahan kudanya dan telah kereta berhenti, ia segera meloncat dan melayang dengan gerakan ringan, hinggap di depan pemuda yang memegang toya itu. Sejenak mereka berdua saling pandang. Ang-hwa Niocu, terenyum mengejek, sama sekali tidak genntar bahkan memandang tubuh yang kokoh dari pemuda itu dengan kagum, pemuda yang usianya sekitar dua puluh ya tahun dan begitu melihatnya, gairah berahi telah bangkit dalam hati wanita sesat itu.

"Aih-aih, datang-datang engkau memaki orang! Siapa sih engkau, orang muda yang gagah, dan mengapa pula engkau memaki aku padahal kita belum pernah saling berjumpa dan tidak mempunnyai urusan apa pun?" Suara Ang-hwa locu merdu dan ketika bicara, sepasangnya yang jeli indah itu mengerling tajam dan bibirnya bergerak-gerak dengan manis penuh daya tarik dan tanpa tangan.

"Siluman betina Ang-hwa Niocu! memang kita berdua belum pernah saling bertemu, akan tetapi jangan dikira bahwa di antara kita tidak.ada urusan apa pun Iblis betina, sejak engkau membunuh pemuda di kota Gak-ciu, aku telah mencari dan mengikuti jejakmu. Dengan keji engkau membunuh pula dua orang pemuda yang tidak mau menuruti nafsu iblismu, kemudian di dalam hutan itu aku melihat jenazah seorang laki-laki pula. Aku yakin bahwa pemuda yang diatas kereta itu juga menjadi korbanmu!”

Mendengar ini, Ang-hwa Niocu tertawa manis, mulutnya terbuka dan karena tawanya bebas maka seluruh wajahnya tampak ikut tertawa.

"Hemmm, orang muda, engkau salah paham. Siapakah namamu dan mengepa engkau mengejar-ngejar aku?” "Namaku Bu Eng Hoat dan memang aku secara pribadi tidak mempunyai permusuhan denganmu. Akan tetapi di Gak-ciu aku mendengar akan kejahatanmu. Engkau mengambil harta milik orang dan tidak segan membunuh kalau mendapat perlawanan. Engkau menggoda pria-pria muda dan kalau mereka menolak, engkau Membunuhnya. Aku mendengar engkau pembunuh seorang pemuda di Gak-ciu dan sejak itu aku mengambil keputusan untuk mencari dan membunuhmu! Ternyata di sepanjang jalan engkau menyebar kejahatan, membunuhi laki-laki muda, Maka aku sekarang setelah menemukanmu, harus membunuhmu!"

"Hi-hi-hik, Bu Eng Hoat, engkau muda dan gagah. Semua yang kulakukan itu sama sekali bukan urusanmu, mengapa engkau mencampuri? Sayang kalau engkau nanti mati pula di tanganku, lebih baik mari ikut kami bersenang-senang. Aku membunuh orang bukan tanpa alasan. Mereka berani menolak dan menghinaku, maka sudah sewajarnya kalau aku membunuh mereka!"

"Ang-hwa Niocu, sejak kecil aku mempelajari ilmu dan semua itu kupelajari dengan maksud agar dapat kupergunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, membasmi iblis iblis jahat macam engkau!"

"Wah, kiranya engkau ini seorang pendekar, ya? Bu Eng Hoat, sekali lagi kuperingatkan engkau. Mari kau ikut denganku bersenang-senang daripada eragkau mati di tanganku!" Berkata demikian wanita itu menghunus pedangnya yang mengeluarkan sinar kemerahan.

"Huh, perempuan tidak tahu malu Lebih baik aku mati daripada harus menuruti kemauanmu yang rendah!" Bu Eng Hoat memasang kuda-kuda dengan toyanya.

Bu Eng Hoat adalah seorang pendekar berusia dua puluh dua tahun yang baru sekitar setahun terjun ke dunia kang-ouw dan bertindak sebagai seorang pendekar gagah perkasa pembela kebenaran dan keadilan, selalu menentang para penjahat dengan penuh keberanian. Ke tika dia mendengar tentang Ang-hwa Niocu yang melakukan banyak kekejaman, apalagi membunuhi para pemuda yang tidak sudi menuruti kehendaknya yang kotor, dia marah sekali dan segera melakukan penyelidikan dan pengejaran. Pendekar muda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah ganteng dan jantan itu adalah murid tunggal dari Thong Leng losu yang sudah kita kenal. Thong Leng losu adalah seorang di antara tiga orang kakek yang melakukan pertemuan di Bukit Naga Kecil, berbantahan tentang agama dan lain-lain kemudian dilerai oleh Thai Kek Siansu. Melihat betapa Thai Kek Siansu mempunyai seorang murid, Thong Leng Losu, seperti dua yang rekannya yang lain, segera mencari seorang murid pula. Pilihannya jatuh kepada Bu Eng Hoat, seorang anak yatim piatu berusia dua belas tahun yang hidup bagai seorang pengemis karena korban perang saudara. Selama sembilan tahun dia menggembleng muridnya itu dan setahun yang lalu, dia mengutus muridnya untuk memanfaatkan semua pelajaran itu dengan bertindak sebagai seorang pendekar.

Kini Ang-hwa Niocu menjadi marah bukan main. Tadinya, kalau bisa, ia membujuk pemuda yang bertubuh kokoh kuat ini agar ia dapat bersenang-senang dengan dua orang pemuda itu. Akan tetapi Bu Eng Hoat bukan saja menolaknnya bahkan memaki-makinya. Keramahannya kini berubah menjadi kemarahan. "Kalau begitu, engkau lebih suka mampus daripada bersenang-senang. Setelah berkata demikian, cepat sekali bergerak dan pedangnya berkelebat, bagai sinar kemerahan menyerang Bu Eng Hoat dengan dahsyat!

"Tranggggg !" Tongkat itu atau toya itu merupakan senjata andalan Eng Hoat.

Gurunya adalah seorang pendeta Buddha aliran Tibet yang terkenal dengan ilmu toyanya. Biasanya, para pendeta tidak suka menggunakan senjata apalagi senjata tajam karena hal itu tidak sesuai dengan pelajaran agama mereka yang menghindari semua kekerasan. Toya itu tadinya adalah semacam tongkat yang dipergunakan para hwesio untuk membantu mereka dalam perjalanan, terutama kalau melalui jalan yang sukar, seperti pendakian gunung, jalan yang berbatu-batu dan lain-lain.

Juga dapat mereka pergunakan untuk melidungi dirinya dari serangan binatang buas. Dan toya itu akhirnya menjadi senjata andalan setelah selama berabad-abadan mengalami perubahan dan kemajuan berupa silat toya.

Ang-hwa Niocu kagum juga ketika merasa betapa tenaga dalam toya yang menangkis pedangnya cukup kuat. Akan letapi, setelah wanita itu kini menyerang bertubi-tubi, Bu Eng Hoat terdesak. Ilmu silat pemuda itu sebetulnya sudah cukup tinggi dan kokoh kuat. Sebagai murid tunggal Thong Leng Losu dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari pendeta itu. Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan lawan yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi. Terutama sekali dalam ilmu gin-kang (meringankan tubuh), dia masih kalah sehingga wanita itu dapat bergerak lebih cepat. Pedang itu berkelebatan menyambar-nyambar menjadi sinar yang bergulung- gulung. Terpaksa Bu Eng Hoat mencurahkan semua tenaga dan ilmu kilatnya untuk bertahan dan melindungi dirinya. Toyanya berputar cepat menyelimuti seluruh tubuhnya menjadi semacam perisai yang kokoh kuat sehingga dimanapun juga pedang itu menyerang selalu dapat tertangkis oleh toya. Akan tetapi, setelah lewat tiga puluh jurus lebih, Bu Eng Hoat terdesak karena dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Ang-hwa Niocu tadinya setelah melihat betapa ia lebih unggul, seperti main-main karena ia masih mempunyai harapan kalau-kalau Bu Eng Hoat mau menuruti kehendaknya. Akan tetapi ketika ia menoleh ke arah kereta dan melihat bahwa Liong Cin tidak berada lagi di atas kereta, ia menjadi marah sekali. Tahulah ia bahwa Liong Cin diam-diam menggunakan kesempatan selagi ia bertanding melawan Bu Eng Hoat, melarikan diri. Tentu saja sukar, bahkan agaknya tidak mungkin ia dapat menemukan la pemburu yang tidak ia ketahui di mana tempat tinggalnya itu. Kini kemarahnya ia tumpahkan kepada Bu Eng Hoa yang dianggap telah menyebabkan kehilangan Liong Cin.

"Jahanam Bu Eng Hoat, sekali lagi engkau kuberi kesempatan! Engkau mau menyerah atau tidak?"

"Tidak sudi!" jawab Bu Eng Hoat.

"Trang-cringgg !" Bunga api kembali berpijar ketika toya itu menangkis

sambaran pedang. "Kalau begitu mampuslah kau!!" Dengan kemarahan meluap Ang-hwa Niocu lalu mengerahkan semua kepandaiannya untuk menyerang lebih gencar lagi sehingga Bu Eng Hoat menjadi terkejut dan kini dia bukan saja tidak mampu balas Menyerang, bahkan dia terpaksa harus diundur karena desakan sinar pedang itu amat hebat dan mengancam keselamatan nyawanya.

Ketika keadaan Bu Eng Hoat amat gawat dan pangkal lengan kirinya bahkan lelah terkena sambaran sinar pedang hingga kulitnya robek berdarah, tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang bertubuh tinggi tegap. Pemuda ini memegang sepasang tongkat pendek yang dia mainkan seperti siangkiam (sepasang pedang).

"Tak-tak-tranggg !" Sepasang tongkat pendeknya itu menyambar di antara dua

orang yang sedang bertanding sekaligus menangkis pedang dan toya Otomatis dua orang yang sedang bertanding itu terkejut dan masing-masing melompat ke belakang. Akan tetapi Ang-hwa Niocu yang tadinya marah melihat ada orang mencampuri urusannya menggagalkan ia menumpahkan kemarahannya kepada Bu Eng Hoat yang hampir kalah, ketika memandang kepada orang yang datang melerai, wajahnya menjadi berseri. Yang datang adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tidak kalah ganteng dan gagah dibandingkan Bu Eng Hoat!

"Hemmm, orang muda, siapakah engkau yang datang mencampuri urusan kami yang sedang bertanding?" tegur Ang-hwa Niocu dengan senyum manis.

Pemuda yang berpakaian sederhana berwarna kuning itu adalah Liu Cin. Seperti telah kita ketahui, sekitar puluh tahun yang lalu, ketika Ceng In Hosiang hwesio tokoh Siauw-limpai itu dilukai lalu dikejar oleh Kanglam Sin-Kiam Kwan In Su, Im Yang Tosu, dan Hongsan Siansu, melarikan diri dan akkhirnya jatuh pingsan, dia ditolong oleh seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang kemudian menjadi murid tunggalnya. Anak itu adalah Liu Cin, seorang anak yatim-piatu lain yang juga menjadi korban perang saudara. Setelah digembleng selama sepuluh tahun oleh Ceng In Hosiang, Liu Cin lalu dilepas oleh Ceng In Hosiang, diperbolehkan turun gunung dan merantau untuk menambah pengalaman dan memanfaatkan semua pelajaran yang telah diterimanya dari gurunya. Oleh Ceng In Hosiang, Liu Cin sudah diberi banyak pelajaran tentang cara hidup seorang pendekar dan dia diharuskan menjaga sepak terjangnya sebagai murid yang mewarisi ilmu silat Sia Lim-pai agar jangan sampai mencemarkan nama besar dan nama baik perguruan silat terbesar itu. Kalau sampai dia menyeleweng dari jalan benar, maka bukan hanya Ceng In Hosiang yang akan mencari dan menghukumnya, bahkan semua tokoh Siau lim-pai yang terdapat di mana-mana pasti akan menghukumnya. Selain diajar watak-watak seorang pendekar budiman juga Liu Cin diberitahu tentang tokoh-tokoh dunia persilatan yang terkenal baik mereka yang termasuk golongan putih (pendekar) ataukah golongan hitam (pe jahat).

Akan tetapi, setelah merantau berapa bulan saja, tentu Liu Cin belum banyak mendapatkan pengalaman sehingga ketika dia melerai perkelahian antar Ang-hwa Niocu dan Bu Eng Hoat, dia berhati-hati agar jangan melukai seorang di antara mereka. Dia tidak berani berpihak karena dia tidak tahu apa urusannya yang membuat pemuda dan gadis itu bertanding, siapa berada di pihak benar atau salah. Maka setelah tadi menangkis kedua senjata mereka dengan sepasang tongkat pendeknya, Liu Cin melompat kebelakang dan ketika gadis cantik itu bertanya kepadanya dengan sikap ramah dan senyum manis otomatis perasaan hatinya berpihak kepada wanita itu! Hal ini tidak mengherankan karena agak sukar menduga seorang gadis secantik dan selembut itu berada di pihak yang bersalah! Kalau sang gadis cantik bersikap ramah dan manis seperti itu, di tempat yang sepi, bertanding melawan seorang laki-laki, siapapun akan condong berpihak kepada wanita!

Dia merangkap kedua tangan depan dada sebagai salam penghormatan kepada wanita itu lalu menjawab. "Saya bernama Liu Cin dan maafkan kalau saya tadi lancang melerai Ji-wi (Anda berdua) yang sedang rkelahi. Saya yang kebetulan lewat disin dan melihat Ji-wi berkelahi, tidak Ingin melihat seorang wanita terluka, apalagi menjadi korban dan tewass di tangan seorang laki-laki." Lalu dia memandang kepada Bu Eng Hoat dan bertanya dengan nada menegur. “saya kira seorang laki-laki tidak pantas untuk berusaha membunuh seorang wanita muda!"

Bu Eng Hoat tentu saja menjadi marah sekali. Tadi dia terdesak hebat dan nyaris celaka di tangan iblis betina itu. Masih untung dia hanya mengalami lecet di pangkal lengan kirinya. Kini seorang pemuda yang tampaknya lihai yang dapat dia ketahui dari cara pemuda itu melerai dan menangkis senjata mereka berdua. Akan tetapi pemuda yang baru tiba ini tampaknya berpihak kepada Ang-hwa Niocu. Hai ini dapat diduga dari nada bicaranya!

"Sobat!" katanya gemas. "Engkau agaknya tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan! Ketahuilah bahwa wanita adalah Iblis Betina Ang-hwa Niocu yang suka mempermainkan pria dan sudah banyak membunuh laki-laki muda. Iblis betina ini sudah sepatutnya dibasmi agar jangan mengganggu para pria dan mengotorkan dunia!"

"Liu-enghiong (Pendekar Liu), jangan percaya obrolan manusia palsu ini! Dia yang hendak kurang ajar dan merayu aku, ketika aku tidak sudi dan menolaknya, dia malah hendak merampas kereta dan kudaku. Nah, siapakah di antara kami yang jahat?" kata Ang-hwa Niocu dengan suara merdu sambil menudingkan pedangnya ke arah muka Bu Eng Hoat.

Pemuda murid Thong Leng Losu ini miliki watak yang keras. Mendengar ucapan Ang- hwa Niocu yang memutarkan kenyataan itu, menuduh balik padanya, membuat dia tidak dapat menahan diri lagi.

"Iblis betina jahanam!" bentaknya dan dia sudah menerjang lagi dengan nekat, menggunakan toyanya untuk menusuk kearah dada Ang-hwa Niocu. Gadis ini dengan gerakan ringan sengaja melompat belakang Liu Cin seolah, minta perlindungan. Liu Cin cepat menggerakkan sepasang tongkatnya sambil maju menangkis serangan Bu Eng Hoat.

"Jangan menghina seorang wanita!" bentak Liu Cin sambil mengerahkan tenaganya menangkis.

"Dukkkkk!!" Dua orang pemuda itu terdorong ke belakang. Mereka terkejut dan maklum bahwa tenaga mereka seimbang. Bu Eng Hoat semakin mendongkol. Pemuda yang baru datang ini jelas berpihak kepada Ang-hwa Niocu. Dia bukan seorang yang bodoh dan nekat tanpa perhitungan. Dia tahu bahwa melawan pemuda ini saja sudah merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan, padahal tadi melawan Ang-hwa Niocu dia terdesak dan mungkin sekarang sudah terluka atau tewas kalau pemuda itu tidak muncul. Maka kalau sekarang dia nekat melawan keduanya, sama saja dengan bunuh diri. Dia lalu melompat jauh dan melarikan diri secepatnya.

Melihat Bu Eng Hoat melarikan diri, Ang-hwa Niocu tertawa terkekeh-kekeh. ''He- he-hi-hi-hik, bocah sombong, baru Memiliki ilmu kepandiaan sebegitu saja sudah berani menggangguku!"

Melihat wanita cantik itu tertawa terkekeh-kekeh seperti itu, Liu Cin yang masih belum banyak pengalamannya itu memandang heran, sampai bengong. Belum pernah dia melihat seorang gadis secantik dan sepesolek itu, juga belum pernah melihat ada wanita, apalagi yang masih begitu muda, tertawa sebebas itu.

Ang-hwa Niocu kini memandang Liu Cin dan sambil tersenyum manis dan mata dimainkan sehingga tampak memikat, dan mengangkat kedua tangan didepan dada lalu membuat gerakan membungkuk dengan gemulai, ia berkata suaranya merdu merayu.

"Liu-enghiong, terima kasih, engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu dengan cara apa aku harus membalas budimu yang sebesar gunung ini"

Wajah Liu Cin berubah agak merah mendengar ucapan yang merayu ini. "Aih Nona, aku sama sekali tidak menyelamatkan nyawamu. Kulihat tadi bahwa eng'kau sama sekali tidak terancam bahaya, bahkan engkau yang mendesak orang itu. Aku hanya datang melerai."

"Ah, agaknya engkau tidak tahu, enghiong. Orang jahat seperti itu biasanya memiliki banyak kawan. Kalau engkau tidak segera datang membuat dia melarikan diri, tentu kawan-kawannya akan datang mengeroyokku. Engkau telah menyelamatkan aku dan aku berterima kasih sekali!"

"Sudahlah, Nona, tidak perlu terlalu dilebih-lebihkan perbuatanku yang tiada artinya itu. Nona telah mengetahui namaku, sebaliknya, kalau boleh aku mengetahui, siapakah namamu?"

"Namaku adalah Lai Cu Yin dan duta kangouw menyebutku Ang-hwa Niocu. Aku merasa berbahagia sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Liu-enghiong."

"Aku pun senang berkenalan denganmu, Nona Lai."

"Pertemuan antara kita yang terjadi secara kebetulan ini membuat kita menjadi sahabat, bukan? Bolehkah aku meng-ggapmu sebagai seorang sahabat baik?" "Tentu saja, Nona Lai! Aku merasa terhormat menjadi sahabatmu."

Ang-hwa Niocu tersenyum lebar, wajahnya yang cantik itu berseri gembira, selama dua tahun lebih ia menjadi liar dan suka memburu dan mempermainkan pria untuk memuaskan nafsu berahinya, belum pernah ia mendapatkan seorang pendekar. Biasanya, ia hanya dapat mempermainkan pemuda-pemuda lemah dengan menggunakan paksaan. Kini, bertemu dengan seorang pendekar seperti Liu Cin, ia ingin memperoleh pemuda gagah ini sebagai kekasihnya tanpa mengunakan paksaan, melainkan dengan sukarela. Ia merindukan belaian seorang laki laki yang jantan yang mencintanya, bukan yang melakukan karena takut atau terpaksa. Maka ia mencoba untuk menaklukkan Liu Cin dengan cumbu rayu.

"Aih, sungguh lucu dan tidak enak didengar kalau di antara sahabat baik mesti memanggil dengan sebutan sungkan seperti engkau menyebut Nona pada seolah- olah aku ini seorang yang asing bagimu."

Liu Cin tersenyum. "Lalu aku har menyebut bagaimana?" "Tidak perlu pakai nona-nonaan! berapakah usiamu sekarang?" "Dua puluh satu, hampir dua puluh dua tahun."

"Ah, kalau begitu mungkin aku lebih muda setahun atau kurang," kata Ang-hwa Niocu yang sesungguhnya sudah beri usia dua puluh lima tahun, akan tetapi tentu saja ia juga pantas berusia dua puluh satu tahun karena memang pandai menjaga dan merias diri sehingga tampak jauh lebih muda. "Maka, lebih baik dan lebih akrab kalau kusebut engkau Cin-Ko (Kakak Cin) dan engkau menyebut aku Yin-moi (Adik Yin). Bagaimana, setujukah engkau, Cin-ko?"

Liu Cin merasa girang sekali. Dia adalah seorang yatim piatu yang sejak kecil hidup sengsara. Ketika berusia sebelas tahun, baru dia terbebas dari belenggu kesengsaraan seorang anak miskin yang tertindas, yaitu ketika diambil murid oleh Ceng In Hosiang. Akan tetapi dari kehidupan seorang anak yang miskin dan papa, penuh penderitaan, dia memasuki kehidupan terpencil dan sepi, setiap hari selain melayani suhunya, juga dia harus berlatih silat dengan tekun dan keras. Boleh dibilang dia tidak pernah merasakan kehangatan hubungan persahabatan. Juga setelah dia turun gunung, dia menemukan banyak kejahatan dan belum sempat bertemu seorang yang baik kepadanya. Kini dia bertemu dengan seorang gadis yang selain cantik jelita dan lihai ilmu silatnya, juga yang demikian ramah, baik dan akrab sekali sikapnya.

'Tentu saja aku setuju, Yin-moi!" sebutan itu demikian ringan diIndahnya juga demikian mesra rasanya, membuatnya terharu karena ia tidak pernah memiliki saudara, apalagi saudara wanita dan belum pernah mempunyai seorang sahabat wanita.

"Ah, aku senang sekali, Cin-ko. lum pernah aku memiliki seorang sahabat pria yang begini gagah perkasa dan baik hati sepertimu!"

"Wah, jangan terlalu memuji, Yi-moi. Aku pun terus terang saja selama hidupku belum pernah mempunyai seorang sahabat seperti engkau dan aku masih merasa heran bagaimana seorang gadis seperti engkau mau bersahabat dengan seorang miskin dan tidak punya apa-apa seperti aku." "Wih, sudahlah tidak perlu lagi bersungkan-sungkan, Cin-ko. Sebetulnya engkau datang dari mana dan hendak kemana?"

"Setelah beberapa bulan yang lalu aku disuruh turun gunung oleh guruku ”

"Siapakah nama gurumu yang mulia? Beliau tentu seorang datuk yang sakti."

"Suhu adalah Ceng In Hosiang, seorang pendeta Siauwlimpai. Aku disuruh turun gunung dan aku merantau, tadinya aku berniat pergi ke kota raja untuk melihat keadaan kota raja, akan tetapi mendengar akan keramaian kota Pao-ting, aku ingin mengunjungi kota itu lebih dulu. Ketika lewat di sini aku melihat perkelahian tadi."

"Aih, sungguh kebetulan sekalil Ini g dinamakan jodoh! Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju ke Pao-ling dan tujuanku terakhir memang kota raja Peking! Maka, kalau saja engkau sudi melakukan perjalanan bersamaku, kita dapat pergi ke sana bersama, Cin-ko!" kata gadis itu dengan girang.

"Ah, tentu saja aku senang sekali, Yin-moi, dan terima kasih!"

"Nah, naiklah ke keretaku, Cin-koi. Sekarang ada engkau yang tentu suka menggantikan aku menjadi kusir!"

Liu Cin tertawa senang. Mereka berdua menaiki kereta dan Liu Cin memegang kendali kereta setelah membantu gadis itu memasang dua ekor kuda, sedangkan gadis itu duduk di sampingnya Kereta bergerak cepat menuju ke timur, ke arah kota Pao-ting.

Liu Cin merasa betapa jantungnya berdebar aneh ketika karena kereta bergoyang, tubuhnya bersentuhan dan terkadang merapat dengan tubuh Ang-hwa Niocu yang duduk disampingnya. Dia merasakan tekanan tubuh yang lembut dan hangat, mencium bau harum dan rambut dan tubuh wanita itu. Pengalaman yang baru pertama kali dalam hidupnya dia rasakan ini membuat jantungnya berdegup dan dia merasa bingung dan tegang.

Akan tetapi sekali ini Ang-hwa Nioc sengaja tidak menuruti gejolak berahinya. Biasanya, berdekatan dengan orang laki-laki muda yang menggairahkan hatinya, ia langsung merangkul dan merayu. Akan tetapi ia maklum bahwa Liu Cin adalah seorang pendekar muda yang sama sekali belum mempunyai pengalaman bergaul dengan wanita. Masih seoorang perjaka, maka ia tidak mau membikin pemuda itu terkejut dan takut, la tidak mau kehilangan Liu Cin, juga tidak ingin menggunakan paksaan atau kekerasan kepada pemuda ini. la menginginkan Liu Cin mencintanya dengan sukarela. Lama ia merindukan cinta kasih tulus seorang pria, tanpa paksaan, dan bukan hanya tertarik oleh kecantikannya belaka. Karena itu ia membatasi diri, walaupun sentuhan-sentuhan yang terjadi kepada badan mereka karena duduk bersanding dan kereta berguncang di jalan yang kasar itu cukup membuat nafsu berahinya berkobar.

Baru sekarang Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin benar-benar haus kasih sayang sejati seorang pria. Karena itu, ketika dalam perjalanan itu Liu Cin bertanya tentang riwayatnya, ia mau menceritakan. Lai Cu Yin dibawa lari oleh ibu kandungnya keluar dari Ko-le-kok (Korea), mengungsi ke daerah pedalaman Cina bagian utara. Ibu kandungnya adalah seorang wanita berkepandaian tinggi yang menjadi isteri seorang jenderal di kerajaan Ko-le kok. Karena sakit hati melihat jenderal yang menjadi suaminya itu mulai menyia-nyiakannya setelah ia berusia empat puluh tahun, dengan mengambil semakin banyak selir muda dan tidak mempedulikannya. Leng Kin, wanita itu tergoda oleh seorang perwira muda dan menjalin hubungan cinta gelap dengan perwira itu. Akan tetapi setelah hubung an itu berjalan setahun, sang perwira juga meninggalkannya. Bukan itu saja, perwira itu membuat laporan palsu kepada suaminya bahwa ia telah melakukan penyelewengan. Suaminya marah dan hendak menghukumnya, akan tetapi berkat ilmunya yang tinggi, Leng Kin dapat menyelamatkan diri dan pergi membawa lari puterinya, Cu Yin yang baru berusi sepuluh tahun. Mula-mula ia hanya lari keluar dari lingkungan keluarga bangsawan dan berhasil membunuh perwira yang telah mengkhianatinya. Kemudian karena menjadi buronan, ia membawa puterinya lari keluar dari daerah Ko-le-kok memasuki daerah Cina bagian Timur Laut.

Di sana dia bertemu dengan seorang pendekar yang usianya lima puluh tahun, bernama Lai Koan, kemudian menjadi Isteri pendekar itu. Cu Yin yang berusia lima puluh tahun itu lalu memakai nama marga Lai dari ayah tirinya. Akan tetapi pernikahan itu pun hanya bertahan selama satu tahun karena setelah terjadi keributan di perbatasan yang menimbulkan permusuhan antara bangsa Ko-le-kok dan bangsa Cina, Lai Koan mulai membenci isterinya yang berbangsa Ko-le-kok.

Apalagi dia mendengar akan riwayat isterinya yang sebagai isteri telah melakukan penyelewengan. Mereka bertengkar dan berpisah.

Sejak saat itu, Leng Kin membenci kaum pria. Ia memperdalam ilmu silatnya dan mempelajari ilmu silat banyak aliran sehingga ia menjadi seorang datuk wanita yang lihai dan di daerah Timur Laut dikenal dengan julukan Hwa Hwa Mo-li. Ia mempunyai seorang murid wanita yang usianya lima tahun lebih tua dan Lai Cu Yin. Muridnya ini juga seorang anak yatim piatu, akan tetapi ketika menjadi murid Hwa Hwa Mo-li, ia telah menjadi seorang gadis berusia enam belas tahun yang memiliki ilmu silat cukup tinggi. Gadis ini bernama Pek Bian Ci seorang gadis peranakan Mancu/Han. Maka, ketika menjadi murid Hwa Hwa Mo-li Leng Kin, ia menjadi lihai sekali Ia mewarisi semua ilmu Hwa Hwa Mo-li karena ia memang berbakat baik sekali dan ia juga amat disayang gurunya karena ia merupakan murid yang taat tekun dan setia. Hwa Hwa Mo-li yang membenci pria itu bahkan berhasil membuat Pek Bian Ci bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan seorang laki-lak menyentuhnya. Kalau ada yang menyentuhnya maka laki-laki itu harus dibunuhnya. Kalau terdapat pertikaian antara pria dan wanita, ia harus membantu wanita itu, tidak peduli wanita itu bersalah! Pendeknya, Hwa Hwa Mo-li berhasil mewujudkan kebenciannya terhadap pria yang telah banyak menyakiti hatinya dalam diri Pek Bian Ci!

Sejak kecil Lai Cu Yin juga dijejali perasaan benci terhadap pria. Pendeknya pria adalah musuh mereka dan harus dibenci, kalau perlu dihukum mati!

Ketika Lai Cu Yin berusia dua puluh liga tahun dan Pek Bian Ci dua puluh delpan tahun, pada suatu hari Hwa Hwa moli Leng Kin meninggal dunia karena menderita sakit yang ditimbulkan oleh sakit hatinya terhadap pria. Setelah ia meninggal dunia, yang melanjutkan tinggal di Puncak Ang-hwa-san (Bukit Bunga Merah) adalah Pek Bian Ci yang setia kepada gurunya itu.Lai Cu Yin yang wataknya lebih lincah, tidak betah tinggal lebih lama di puncak bukit sunyi itu dan turun bukit untuk merantau. Sucinya (Kakak seperguruannya) memesan dengan keras agar sumoi (adik seperguruan) itu ingat akan sumpah dan pesan Ibunya, yaitu tidak boleh menikah dengan Laki-laki manapun!

Akan tetapi, berbeda dengan watak Pek Bian Ci yang keras seperti batu, Lai Cu Yin memiliki watak lincah gembira, bahkan romantis. Ia tidak dapat menghilangkan rasa sukanya kepada pria, bahkan ia dicengkeram nafsu berahi yang berkobar. Karena itu, setelah ia turun gunung dalam usia dua puluh tiga tahun ia bagaikan seekor kuda binal lepas kendali! Ia suka bermain cinta dengan pemuda yang menarik hatinya.

Akan tetapi ia pun memegang sumpah ibu kandungnya untuk tidak menikah dengan seorang laki-laki. Bahkan perasaan sakit hati dan bencinya terhadap pria masih tetap ada Maka mulailah Lai Cu Yin menjadi budak nafsu berahi dan sekaligus budak dendam kebencian! Mulailah ia dengan petualangannya yang mengerikan. Kalau ada seorang pemuda tampan yang menggairahkan hatinya, ia akan mengejar dan berusaha menjadikan pemuda itu kekasihnya. Kalau pemuda itu menolak, ia merasa terhina dan langsung membunuhnya. Akan tetapi kalau pemuda itu mau melayaninya dengan senang ia akan membebaskannya setelah bergaul beberapa hari dan merasa bosan. Bahkan ia memberi hadiah emas kepada pemuda itu! Selain itu, Lai Cu Yin juga tidak segan-segan untuk mengambil harta siapa saja kalau membutuhkannya!

Setelah ia mulai dengan petualanganya, mulai terkenal pulalah julukannya, yaitu Ang-hwa Niocu. Ia disebut Ang hwa karena ia selalu memakai tiga tangkai bunga merah di rambutnya, bunga-bunga yang dapat dipergunakannya sebagai senjata rahasia. Sejak dulu ia senang memakai bunga merah sebagai hiasan rambut dan di bukit tempat tinggalnya memang terdapat banyak bunga merah, karena itu bukit itu dinamakan Ang-hwa-san. Suci-nya, Pek Bian Ci, adalah seorang ahli tentang racun dan jahat, dan gadis itu berhasil meramu obat

yang dapat membuat setangkai bunga berrtahan sampai berbulan-bulan tanpa layu karena telah mengering namun masih tetap baik bentuk dan warnanya.

Demikianlah riwayat singkat Ang-Hwa Niocu Lai Cu Yin. Akan tetapi ketika ia menceritakan riwayatnya kepada Liu Cin, ia tidak menceritakan hal-hal yang buruk dari ibunya maupun dirinya sendiri! Liu Cin hanya mendengar bahwa ibu gadis ini adalah gurunya sendiri, berbangsa Ko-le-kok dan sekarang sudah meninggal dunia.

Setelah Cu Yin selesai bercerita, Liu Cin menghela napas panjang. "Ah, kasihan engkau, Yin-moi. Jadi Ayahmu yang di Ko-le-kok seorang jenderal dan sek rang sudah meninggal dunia, demikian pula Ibumu? Engkau masih begini muda sudah yatim piatu! Melihat ilmu silat yang demikian lihai, tentu mendiang Ibumu seorang wanita yang sakti!"

"Ah, biasa saja, Cin-ko. Engkau seorang murid Siauwlimpai, tentu ilmu silatmu hebat karena aku mrndengar bahwa aliran Siauwlimpai merupakan aliran persilatan paling tua dan paling hebat. Sekarang giliranmu menceritakan riwayatmu, Cin-ko." Liu Cin merasa betapa pinggul dan dada gadis itu merapat pada tubuhnya sehingga terasa kelembutan kehangatannya. Dia menganggap hal itu terjadi karena guncangan kereta dan merasa senang sekali!

"Aih, apa sih yang menarik tentu diriku, Yin-moi? Aku ini seorang anak yatim piatu yang miskin sejak kecili Kalau aku tidak bertemu Suhu Ceng Hosiang dan diambil murid, mungkin Aku sudah mati kelaparan atau tersiksa orang jahat. Orang tuaku yang juga miskin telah meninggal dunia sebagai korban perang, dan sejak kecil aku sudah hidup sebatang kara. Suhu menganjurkan aku merantau untuk menegakkankebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar dan disuruh mencari pekerjaan yang baik di kota raja. Itulah riwayatku, sama sekali tidak ada yang menarik."

"Bagiku amat menarik, Cin-ko. Engkau seorang pendekar muda yang gagah perkasa, jujur dan sederhana. Sungguh aku senang sekali dapat melakukan perjalanan bersamamu."

Dengan cerdik Ang-hwa Niocu dapat merasakan betapa pemuda itu mulai tertarik kepadanya, mulai merasa senang bersentuhan dan berdekatan dengannya. Akan tetapi ia tidak terlalu mendesak, khawatir kalau hal itu akan mengejutkan hati pemuda yang masih hijau ini. Akhirnya mereka memasuki kota Pao-ting yang ramai. Orang-orang di kota itu merasa heran melihat sepasang muda-mudi dengan kereta mereka, yang mengherankan adalah bahwa gadis itu amat cantik dan berpakaian mewah sebagai seorang gadis bangsawan kaya akan tetapi yang duduk di sampingnya walaupun juga seorang pemuda tampan gagah, namun pakaiannya sederhana dan dari kain kasar, menunjukkan bahwa dia bukan seorang pemuda hartawan.

Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin menyuruh Liu Cin menuju ke sebuah rumah penginapan besar bernama Ai-koan. Setelah menyerahkan kereta dan kuda agar diurus oleh pelayan, ia mengajak Liu Cin memasuki rumah penginapan merangkap rumah makan itu untuk menyewa kamar?

"Cin-ko, kita sewa satu atau dua buah kamar?" tanya Cu Yin sambil lalui seolah pertanyaan itu biasa saja dan tidak mempunyai maksud tertentu. Ia memandang wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Liu Cin menjadi kebingungan. Dia memang masih mempunyai sedikit uang, akan tetapi tentu tidak akan cukup kalau untuk menyewa dua buah kamar berikut makan malamnya. Dan sebagai seorang prla, tentu amat memalukan kalau mengharapkan uang sewa kamar dan makan malam ditanggung oleh wanita! Akan tetapi dia berwatak jujur, maka biarpun mukanya merah dia menjawab.

"Yin-moi, uangku tinggal sedikit. Tentu tidak cukup kalau untuk menyewa dua buah kamar, belum lagi nanti membayar makan malam."

Cu Yin tersenyum. "Aih, Cin-ko, mengapa mengkhawatirkan hal itu? Aku yang akan membayarnya, jangan khawatir tentang uang. Aku membawa banyak. Nah, sebuah atau dua buah kamar?" Wanita itu mulai menguji hati pemuda itu. "Tentu saja dua buah kamar, Cin-moi. Akan tetapi........., kalau itu terlalu mahal........

biar sebuah kamar saja untukmu. Aku dapat tidur di dalam kereta."

Melihat keraguan pemuda itu, Lai Cu Yin yang ingin memikat hati Liu Cin cepat berkata dengan sikap sopan dan tahu susila. "Wah, mana mungkin aku membiarkan engkau tidur di kereta, Cin-ko. Juga, kalau kita tinggal sekamar, hal itu tentu akan menimbulkan dugaan yang tidak-tidak dan melanggar kepantasan dan tata susila.

Kita sewa dua buah kamar saja, seorang satu. Aku yang akan membayar semua pengeluaran selagi kita melakukan perjalanan berdua."

Hati Liu Cin menjadi lega. Tadi mendengar mereka menyewa sebuah kamar sehingga mereka akan tinggal beli sama saja sudah membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Tak dapat dia membayangkan apa akan jadinya kalau mereka tidur sekamar.

Kepada seorang pelayan setengah tua yang menyambut mereka, Cu Yin minta diberi dua buah kamar yang berdampingan. Pelayan itu agaknya mengenal C uYin. Dia memberi hormat dan berkata dengan gembira.

"Selamat datang, Nona. Ketika Nona bermalam di sini dahulu, Nona masih meninggalkan sisa kembalian uang pembayarang Nona dan belum sempat kami berikan karena Nona terburu-buru pergi.”

"Ah, tidak mengapa, Paman. Sisa uang itu boleh untuk Paman saja, untuk tambah kebutuhan di rumah."

Pelayan itu berulang-ulang memberi hormat. "Ah, banyak terima kasih, Nona. Nona telah memberi banyak hadiah kepada para pelayan di sini. Nona sungguh murah hati dan suka menolong kami yang miskin."

"Sudahlah, Paman. Jangan ganggu kami, kami lelah dan ingin segera mandi lalu makan sore ini."

Pelayan itu mengundurkan diri setelah Menunjukkan dua buah kamar yang berdampingan. Diam-diam Liu Cin semakin Kagum. Dia mendapatkan bukti sebuah sifat baik lagi dari gadis itu, yaitu bahwa Lai Cu Yin ini suka menolong orang dan murah hati!

Ketika mereka makan dalam rumah tuakan di bagian depan rumah penginapan Itu, setelah mereka mandi dan bertukar pakaian, dalam ruangan makan itu terlihat beberapa meja lain yang ditempati para tamu. Liu Cin maklum betapa pandang mata semua tamu pria di ruangan Itu, secara berterang atau pun diam-diam melirik, ditujukan kepada Cu Yin dengan sinar mata kagum. Diam-diam dia merasa bangga sekali karena dialah duduk dekat gadis itu, dialah yang jadi sahabat Cu Yin!

Selagi mereka makan minum dengan hidangan yang bagi Liu Cin terlalu mewah karena belum pernahdia makan dengan hidangan lauk pauk sebanyak itu, tiba-tiba pandang mata Liu Cin yang tajam dapat menangkap sikap dua orang laki-laki yang mencurigakan. Mereka adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun dan yang lain seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Dari sikap mereka, juga dari pedang yang mereka bawa dan kini mereka letakkan di atas meja, Liu Cin dapat menduga bahwa dua orang itu tentulah orang kangouw yang melakukan perjalanan berhenti melewatkan malam di Pao-ting. Akan tetapi ketika mereka memandang ke arah Lai Cu Yin dengan sinar mata tajam kemudian saling berbisik-bisik sikap mereka jelas sedang membicarakan Cu Yin, Liu Cin menjadi curiga.

"Yin-moi," dia berbisik. "Dua oral laki-laki di sana itu agaknya sedang membicarakanmu. Apakah engkau mengenal mereka7"

Cu Yin sambil makan mengerling kearah dua orang itu, lalu ia melanjutkan makan dan berbisik pula. "Cin-ko, jangan pedulikan mereka. Kebanyakan laki-laki itu memang tidak baik dan jahat, setidaknya kurang ajar. Aku kecualikan engkau Cin-ko, akan tetapi jarang ada laki-laki sebaik engkau."

Karena Cu Yin tidak mempedulikan lagi dua orang itu, maka Liu Cin juga melanjutkan makan dengan enak dan lahapnya. Setelah selesai makan, Cu Yin mengajak pemuda itu keluar berjalan-jalan. Ketika mereka keluar dari rumah makan, ternyata dua orang laki-laki tadi telah pergi.

Biarpun Liu Cin merasa malu dan menolak, namun dengan sangat Cu Yin membujuk dan memaksanya agar suka menerima beberapa potong pakaian baru yang oleh gadis itu dibeli dari sebuah loko pakaian di kota itu.

"Cin-ko, sudah kukatakan bahwa aku mempunyai banyak uang dan kulihat engkau perlu memiliki beberapa potong pakaian baru untuk bekal dalam perjalanan, Pakaian yang baik itu amat penting, Cin-ko karena orang-orang akan menilai tinggi dan menghargainya. Kalau kita mengenakan pakaian murah dan buruk, belum apa- apa orang sudah memandang rendah."

Sebetulnya Liu Cin tidak setuju dengan pendapat ini, akan tetapi dia merasa tidak enak untuk membantah atau menolak. Pula, agaknya gadis itu tahu akan warna kesukaannya. Semua pakaian yang dibelinya berwarna serba kuning!

Bagaikan seekor laba-laba mulai memasang jerat, Cu Yin mulai memikat hati Liu Cin dengan sikapnya yang baik sehingga pemuda itu menganggapnya seorang gadis yang cantik, ramah, baik budi, dan sopan!

Malam itu, mereka tidur di kamar masing-masing dan tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan hati Liu Cin. Pemuda ini sama sekali tidak tahu betapa Lai Cu Yin gelisah tidak mudah pulas di kamarnya, membayangkan betapa di kamar sebelah pemuda yang menarik hatinya berada seorang diri dan ia membiarkannya tanpa diganggu.Belum pernah melakukan kesabaran seperti ini pada laki-laki lain.

ooOOoo

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik cukup tinggi dan mereka sudah mandi, tukar pakaian dan sarapan, Lai Cu Yin dan Liu Cin melanjutkan perjalanan mereka menuju ke utara, ke ko raja. Liu Cin mengenakan pakaian baru yang semalam dibelikan Cu Yin dan dan tampak semakin ganteng.

Ketika kereta sudah keluar dari ko Pao-ting dan tiba di jalan yang sepi tiba-tiba dari balik pohon-pohon berlompatan lima orang laki-laki dan mereka berdiri menghadang di tengah jalan dengan sikap bengis dan di tangan mereka terdapat senjata. Ada yang memegang toya sebanyak dua orang, dan tiga yang lain memegang pedang.

"Berhenti!!" bentak seorang di antar mereka yang paling tua.

Liu Cin yang menjadi sais menghentikan kudanya. Dia memandang kepada Cu Yin dan gadis ini tersenyum mengejek. "Huh, gerombolan perampok menjemukan sudah bosan hidup!"

Liu Cin kini mengamati lima orang itu. Dari pakaian mereka dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang kang-ouw, akan tetapi dia tidak setuju dengan pendapat Cu Yin bahwa mereka perampok. Mereka tidak tampak kasar dan kotor seperti para perampok. Ketika melihat dua orang di antara mereka, dia terkejut karena dia mengenal wajah mereka. Mereka itulah dua orang yang dia lihat di rumah makan dan mereka memandang dengan sinar mata marah kepada Cu Yin!

Dengan sikap tenang Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin sudah melompat turun dari atas kereta dengan gerakan ringan dan tanpa mencabut pedangnya.

"Hei, siapa kalian dan apa maksud kalian menghadang kereta kami?"

"Iblis betina! Tidak perlu banyak cakap lagi. Engkau telah membunuh adikku dua pekan yang lalu dan sekarang engkau harus menebusnya dengan nyawamu!' bentak seorang di antara mereka, yaitu laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunyang dilihat oleh Liu Cin di rumah makan bersama laki-laki tertua yang kini agaknya memimpin rombongan lima orang itu.

"Aih, betulkah? Yang mana adikm itu? Sudah terlalu banyak penjahat kubunuh maka aku tidak ingat satu persatu. Kalau adikmu itu terbunuh olehku berarti dia jahat dan kalau engkau hendak membelanya dan menyusulnya untuk menemaninya di neraka, majulah!" tantang Ang-hwa Niocu sambil mencabut pedangnya. Ia tidak menjawab bohong karena memang ia tidak tahu siapa yang dimaksudkan mereka.

"iblis betina keji, mampuslah engkau. Laki-laki tua yang bersenjata toya iti menyerang Cu Yin dengan gerakan cepat dan kuat. Namun Cu Yin yang sudah siap siaga dengan ringan melompat kesamping untuk menghindar. Akan tetapi pada saat itu, empat orang laki-laki lainnya sudah mengepung. Laki-laki berusia tiga puluh tahun yang tadi menuduh Cu Yin membunuh adiknya juga bersenjata toya dan dialah yang paling bernafsu, menyerang dengan sengit. Tiga orang lain yang bersenjata pedang kini juga mengeroyok. Cu Yin yang berada di tengah segera memutar pedangnya. Tampak sinar merah bergulung-gulung ketika ia memutar pedang melindungi dirinya yang dihujani serangan lima orang pengeroyok itu.

Liu Cin yang tidak mengerti apa urusannya, tadinya diam saja. Akan tetapi melihat Cu Yin dikeroyok lima orang dan biarpun gadis itu dapat melindungi dirinya dengan gerakan pedangnya yang hebat, dia merasa tidak semestinya dia membiarkan sahabatnya dikeroyok seperti itu. Yang membuat dia tadi agak sangsi adalah karena dia melihat betapa dua orang yang semalam dia lihat di rumah makan dan yang keduanya menggunakan senjata toya, ternyata menyerang dengan permainan silat toya dari Siauwllmpai!

"Tahan senjata!!" Akhirnya Liu berseru dan dia melompat dari atas kereta dan menyerbu ke dalam perkelahiai menggunakan dua batang tongkatn untuk membantu Cu Yin menangkisi senjata para pengeroyok.

Merasa betapa tangkisan sepasang tongkat itu kuat sekali, para pengeroyok terkejut dan menahan senjata karena tidak mengenal pemuda ini tidak tahu dia akan berdiri di pihak si apa

"Cuwi (Anda sekalian) adalah lima orang laki-laki gagah. Apakah tidak malu mengeroyok seorang gadis muda? Kalau ada urusan, sebaiknya dibicarakan baik- baik." kata Liu Cin.

"Bicara baik-baik dengan gadis muda Huh, ia ini iblis betina yang amat jahat pembunuh keji! Mau bicara apa lagi?” bentak laki-laki yang menuduh Cu Yin membunuh adiknya lalu dia menyerang lagi, tidak peduli lagi kepada Liu Cin. Paman gurunya, yaitu laki-laki setengah tua yang juga bersenjata toya, cepat membantunya mengeroyok Cu Yin. Liu Cin terpaksa maju dan menyambut tiga orang lain yang bersenjata pedang. Terjadilah perkelahian yang hebat. Cu Yin dikeroyok dua orang bersenjata toya dan Liu Cin menghadapi pengeroyokan tiga orang yang bersenjata pedang.

Liu Cin mendapat kenyataan bahwa tiga orang pengeroyoknya bukan merupakan lawan berat. Kalau dia menghendaki, dia akan dapat merobohkan mereka dengan cepat. Akan tetapi dia masih ragu dan merasa tidak enak untuk merobohkan tiga orang yang belum dia ketahui kesahannya itu. Dia tidak khawatir akan keselamatan Cu Yin karena tadi pun dia sudah melihat betapa Cu Yin dengan mudah menahan pengeroyokan lima orang. Gadis itu memiliki tingkat ilmu silat yang lebih tinggi daripada dua orang pengeroyoknya. Yang dia khawatirkan adalah kaiau-kalau Cu Yin melakukan pembunuhan. Dia harus tahu lebih dulu apa kesalahan dua orang murid Siauwlimpai Itu! Bagaimanapun juga, walaupun dia bukan murid dari Kuil Siauwlimsi, namun gurunya adalah tokoh Siauwlim maka dia pun dapat dibilang seorang murid Siauwlimpai itu pula. Ini sebabnya dia tidak mau melawan dua orang murid Siauwlimpai itu dan memilih melawan tiga orang yang lain, yang bersenjata pedang dan tidak memiliki ilmu silat aliran Siauwlimpai.

"Yin-moi, jangan bunuh orang !" Liu Cin berseru untuk ke dua kalinya kepada Cu

Yin.

Sebetulnya, kalau menuruti kehendaknya sendiri, Cu Yin ingin membunuh lima orang laki-laki yang berani menentangnya. Kalau ia tidak bersama Liu Cin semua pengeroyok itu tentu sudah di bunuhnya. Akan tetapi ia khawatir hal itu akan mendatangkan rasa tidak senang dalam hati Liu Cin, maka sampai sekian lamanya ia masih belum mau merobohkan dua orang lawannya.

Kini mendengar seruan Liu Cin untuk ke dua kalian, ia lalu mencabut dua tangkai bunga merah dari rambut kepalanya dengan tangan kiri dan dua kali ia menggerakkan tangan kiri, sinar merh meluncur dan dua orang pengeroyoknya mengaduh lalu berlompatan ke belakang. Pundak mereka terkena bunga merah yang meluncur cepat tadi dan setangkai bunga itu menancap di pundak mereka, menembus baju dan kulit, terasa pedih dan panas. Sementara itu, melihat tiga orang temannya yang berpedang juga kewalahan dan terdesak oleh Liu Cin, dua orang murid Siauwlimpai itu berseru kepada tiga orang temannya yang segera berlompatan ke belakang.

Laki-laki berusia lima puluh tahun itu kini memandang kepada Liu Cin dan bertanya, "Orang muda, bukankah engkau seorang murid Siauwlimpai? Siapa namamu?"

"Namaku Liu Cin dan siapa guruku tidak perlu kukatakan." jawab Liu Cin.

"Sahabatku ini berjuluk Siauwlim Enghiong (Pendekar Siauwlim)!" kata Cu Yin sambil tersenyum.

Laki-laki setengah tua itu lalu berkata, "Sekali ini kami mengaku kalah, akan tetapi lain kali kami akan membuat perhitungan!" Setelah berkata demikian, dia membalikkan tubuhnya dan pergi diikuti empat orang yang lain.

Setelah mereka pergi. Cu Yin dan Ll Cin kembali duduk di atas kereta yang segera dijalankan melanjutkan perjalanan mereka.

"Yin-moi, mengapa engkau mengatakan kepada mereka bahwa aku seorang pendekar Siauwlimpai?"

"Kenapa, Cin-ko? Tidak keliru, bukan Engkau memang seorang enghiong (pendekar) dari Siauwlimpai." kata Cu Yi sambil tersenyum. Hatinya senang karena lagi-lagi pemuda ini membelanya ketika ia dikeroyok lima orang itu. Ini baginya merupakan pertanda bahwa Liu Cin mulai "ada hati" kepadanya.

"Dua orang itu juga murid Siauwilm pai, Yin-moi. Aku dapat mengenal llmu toya mereka ketika mereka mengeroyokmu."

"Akan tetapi tingkat ilmu silat mereka masih rendah, Cin-ko."

"Biarpun begitu, jelas mereka itu murid Siauwlimpai, maka aku merasa heran sekali bagaimana engkau dapat dimusuhi murid-murid Siauwlimpai. Hal Ini tentu saja membuat hatiku merasa tidak enak, karena bagaimanapun juga mereka adalah saudara-suadara seperguruan denganku, walaupun aku tidak mengenal mereka."

"Hemmm, Cin-ko, agaknya engkau memang belum banyak pengalaman di dunia kangouw. Ketahuilah bahwa nama aliran tidak menjamin seorang murid itu mesti baik. Banyak saja murid perguruan besar yang menjadi penjahat dan biarpun saudara seperguruanmu kalau mereka jahat, apakah engkau juga akan membelanya?"

Liu Cin memang tidak pandai bicara dan dia sudah mulai percaya sepenuhnya kepada Cu Yin, maka dia menerima semua keterangan gadis itu.

Di sepanjang perjalanan menuju ke kota raja itu, Cu Yin selalu bersikap ramah, akrab dan terkadang mesra namun masih dalam batas kesopanan sehingga Liu Cin mulai merasa bahwa gadis itu mencintanya dan dia pun amat tertarik karena gadis itu bersikap demikian lembut, ramah, dan baik hati. Bahkan di sepanjang perjalanan, sering Cu Yin dengan sengaja membagi-bagi uang kepada penduduk dusun yang miskin sehingga pemuda itu menjadi semakin kagum!

Pada suatu hari mereka berhenti sebuah dusun yang cukup ramai dan seperti biasa, kembali mereka bermalam di dalam sebuah rumah penginapan, menyewa dua buah kamar. Baru saja Liu Cin memasuki kamarnya dan melepas sepatu lalu merebahkan diri di atas pembaringan sambil membayangkan wajah Lai Cu Yin yang kini benar- benar telah memikatnya,daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar.

Dengan kaki telanjang Liu Cin turun dari pembaringan dan membuka dauri pintu. Cu Yin berlari masuk sambil menangis! Tentu saja Liu Cin menjadi terkejut, heran dan khawatir. Dia menutupkan daun pintu agar tangis gadis itu tidak terdengar atau terlihat orang lain dari luar. Kemudian dia menghampiri Cu Yin yang sudah duduk di tepi pembaringan sambil menutupi muka dengan kedua tangan, terisak-isak dan pundaknya bergoyang-goyang.

Karena khawatir dan bingung, Liu Cin lupa akan kepantasan dan tanpa dia sadari dia pun duduk di sebelah Cu Yin, memegang pundaknya dan bertanya dengan halus dan khawatir. "Yin-moi, ada apakah? Kenapa engkau menangis, Yin-moi? Apa yang terjadi ?"

Mendengar suara pemuda itu dan merasa betapa pundaknya dipegang, dengan sentuhan mesra, tiba-tiba Cu Yin merangkul dan menangis di pundak pemuda itu. Tangisnya mengguguk dan sedih sekali. Liu Cin tentu saja terkejut dan juga rikuh dan bingung, akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat menolak?

"Yin-moi, katakanlah, kenapa engkau menangis sesedih ini? Apa yang terjadi ?" Dia merasa betapa air mata gadis itu merembes dan menembus

bajunya, membasahi kulit pundaknya. Dia merasa terharu sekali.

Cu Yin masih terisak-isak. Akan tetapi isaknya makin berkurang dan ia akhirnya melepaskan rangkulannya dan kedua tangan menggosok-gosok kedua mata dengan kedua tangannya. Ketik tangannya diturunkan Liu Cin melihat mata yang indah itu kini agak kemerahan dan pipinya masih basah.

Kemudian Cu Yin menundukkan pandang matanya dan dengan suara masih diselingi isak tertahan ia berkata, suaranya gemetar dan lirih.

"Cin-ko........ besok siang.......... besok siang kita sudah akan tiba di kota raja "

Liu Cin menjadi semakin heran. "Kalau begitu, kenapa? Bukankah memang tujuan kita ke kota raja, Yin-moi? Mengapa engkau bersedih?"

“.............. setelah tiba di sana.......... kita ............ kita akan berpisah engkau

akan ........... tinggalkan aku.............. hu-hu-hu-huuuh ” Kembali Cu Yin

merangkul dan kini ia menangis tersedu-sedu di dada Liu Cin!

Kembali Liu Cin gelagapan, akal tetapi dia merasa tidak tega untuk melepaskan rangkulan gadis itu yang membuat dia menjadi serba salah dan tida karuan rasanya. Jantungnya berdebar-debar, tubuhnya panas dingin ketika merasa betapa tubuh gadis itu melekat pada tubuhnya, pakaian penutup tubuh itu terasa seolah tidak ada.

"Tapi tapi, Yin-moi, sudah semestinya kita berpisah. Akan tetapi persahabatan

kita tidak akan pernah hilang " Dia mencoba untuk menghibur, diam-diam

merasa heran sekali mengapa perpisahan yang sudah semestinya terjadij itu demikian menyedihkan hati Cu Yin.

“……. uhu-huuuh....... aku........ aku akan mati kalau kau tinggalkan, Cin-ko aku

aku cinta padamu, Cin-ko.......... jangan kau tinggalkan aku " Cu Yin menangis

lagi.

Jantung dalam dada Liu Cin semakin berdegup kencang "Yin-moi, aku juga sayang padamu "

"Cln-ko !!" Dan dengan tarikan kuat, Cu Yin merebahkan diri telentang di atas

pembaringan sambil tetap merangkul leher Liu Cin sehingga pemuda itu pun ikut pula jatuh rebah di atas tubuh wanita itu. Sejenak mereka berdekapan, lalu tiba-tiba Liu Cin sadar bahwa perbuatan itu tidak layak dan tidak baik, melanggar tata susila yang diajarkan gurunya kepadanya. Maka cepat dia melepaskan rangkulan wanita itu dan bangkit duduk, menarik napas panjang untuk meredakan gelora dalam hatinya.

"Cin-ko " Cu Yin memanggil dengan suara yang merdu dan ruyu dan terengah-

engah.

Liu Cin menoleh dan memandang Wanita itu rebah telentang dengan gaya yang amat memikat sehingga dia cepat mengalihkan lagi pandang matanya dan memandang ke lain jurusan.

"Cln-ko, kenapa engkau menjauhkan diri."

"Yin-moi, apa yang kita lakukan ini tidaklah benar. Salah dan buruk sekali!"

"Tapi, Cin-ko, bukankah engkau juga sayang padaku? Bukankah engkau mencintaku seperti aku mencintamu?" suara wanita itu kini lebih keras dan mengandung tuntutan dan penasaran.

"Yin-moi, cinta bukan berarti harus melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan."

“Cin-ko!" Suara Cu Yin kini terdengar kaku dan ia pun bangkit duduk di sebelah Liu Cin. "Apa maksudmu dengan melanggar kesusilaan? Kita saling mencinta apa salahnya bermesraan dan melampiaskan perasaan cinta kita?"

"Yin-moi, kita adalah sahabat, sama sekali tidak boleh melakukan perbuatan yang hanya boleh dilakukan suami isteri.”

"Kita bisa menjadi suami isteri! Aku mau menjadi isterimu, Cin-ko!"

Liu Cin menghela napas dan bangkit berdiri, lalu pindah duduk di atas kursi tetap tidak berani menentang pandangan mata Cu Yin. "Yin-moi, pernikahan bukanlah urusan semudah itu. Harusdilakukan dengan persetujuan orang tua "

"Akan tetapi kita sudah yatim piatu Tidak perlu mendapat restu orang tua lagi. Kita dapat begitu saja menjadi suami isteri atas persetujuan kita sendiri!"

Liu Cin bangkit berdiri. "Tidak, Yin moi. Aku masih mempunyai guruku yang menjadi wakil orang tuaku. Hal ini harus dibicarakan dulu dengan guruku, aku tidak berani melanggar. Nah, tidurlah, Yin-moi dan tenangkan hatimu. Jangan bicarakan hal itu lagi sekarang, tidurlah karena besok pagi pagi kita harus melanjutkan perjalanan ke kota raja. Selamat tidur, Yin-moi." Setelah berkata demikian, Liu Cin membuka daun pintu dan memberi isarat dengan sikap hormat agar gadis itu suka kembali ke kamarnya sendiri.

Cu Yin hampir tidak percaya. Ia merasa sudah berhasil memikat Liu Cin dan yakin bahwa pemuda itu cinta padanya dan memiliki gairah terhadap dirinya. Akan tetapi setelah ia hampir yakin usahanya berhasil, tiba-tiba saja pemuda itu menolaknya! Bangkit kemarahan dalam hatinya. Kalau bukan Liu Cin yang bersikap menolak seperti itu, pasti ia sudah turun tangan membunuhnya. Akan tetapi, ia tidak mau membuat ribut di rumah penginapan yang tentu akan menarik perhatian karena pemuda itu tentu akan melawan dan tidak begitu mudah dibunuh. Selain itu, juga ia merasa sayang kalau pemuda itu dibunuh begitu saja. Sudah sekian lamanya ia bersabar dan berusaha menalukkannya. la berhasil membuat pemuda itu jatuh cinta kepadanya, akan tetapi sama sekali tidak berhasil merayunya untuk melayani nafsu berahinya.

Tanpa bicara lagi la lalu berlari keluar dari kamar itu dan kembali ke dalam kamarnya. Liu Cin menghela napas panjang, setengah lega setengah menyesal harus smenolak ajakan Cu Yin yang telah menjatuhkan hatinya. Pelajaran tentang kesusilaan yang ditanamkan dalam batinnya telah tumbuh kuat sehingga menyelamatkannya dari perbuatan yang melanggar sendi-sendi kesusilaan yang dijunjung tinggi oleh gurunya. Akan tetapi, dia benar-benar terguncang karena hawa nafsu juga berkobar dalam dirinya, maka dia cepat bersila di atas pembaringannya untuk bersamadhi dan memadamkan api berahi itu.

Pada keesokan harinya, ketika Liu Cin keluar dari kamarnya setelah mandil dan tukar pakaian, dengan heran dia melihat Liu Cin sudah duduk di ruangan depan, sudah mandi dan mengenakan pakaian baru, dan diam-diam dia merasa heran karena sejak tadi dia sendiri merasa gelisahdan salah tingkah merenuangkan pertemuannya pagi itu dengan Cu Yin, akan tetapi dia melihat Cu Yin berwajah cerah, bahkan berseri-seri, biasanya tersenyum manis dan matanya pun sama sekali tidak memperlihatkan tanda habis menangis. Ia tidak tampak sedih, marah, atau malu, seolah semalam tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Di samping rasa heran, juga Liu Cin diam-diam merasa lega dan bersukur karena sikap gadis itu benar-benar mengusir semua kegelisahannya.

"Selamat pagi, Cin-ko." katanya sambil tersenyum. Wajahnya tampak berseri seperti orang yang merasa puas dan serang. "Selamat pagi, Yin-moi. Sepagi ini engkau sudah selesai berkemas rupanya." Liu Cin melihat betapa buntalan pakaian dan pedang gadis itu sudah diletakkan di atas meja di dekatnya. "Kalau begitu, aku juga harus berkemas!"

"Cepatlah, Cin-ko. Kita sarapan dulu di rumah makan sebelah timur penginapan ini, lalu kembali mengambil kereta dan melanjutkan perjalanan."

Liu Cin mengemasi pakaiannya. Mereka berdua lalu pergi ke rumah makan yang pagi-pagi sudah buka karena biasa melayani orang-orang sarapan pagi di situ. Meja- mejanya penuh dan masih untung mereka mendapatkan sebuah meja kosong yang baru saja ditinggalkan tamu.

Mereka makan bubur ayam dan minum teh hangat. Setelah selesai sarapai dan hendak membayar, tiba-tiba percakapan orang-orang dari meja sebelah menarik perhatian mereka.

"Apa? Engkau belum mendengarnya Sungguh, semalam ada siluman rase (musang) mengambil korban dua orang pemuda!" kata seorang laki-laki gemuk kepada temannya yang kurus.

"Benar, kami juga mendengar berita menyeramkan itu " kata seorang tamu lain yang duduk di meja sebelah kiri bersama dua orang temannya.

"Aku yang menjadi saksi hidup bahwa berita itu memang benar, bukan kosong belaka!" tiba-tiba seorang laki-laki tua kurus yang penuh keriput berkata sambil mengangguk-angguk. Semua orang, termasuk Liu Cin dan Lai Cu Yin, memandang kepada orang tua itu. Laki-laki tua itu tampak gembira. Dia adalah model orang tua yang suka berceloteh dan bangga kalau dapat menceritakan berita yang belum diketahui orang lain sehingga semua perhatian ditujukan kepadanya, seolah dia yang menjadi pahlawan dalam apa yang dia ceritakan.

"Bagaimana ceritanya, Lo-pek (Paman tua)?" tanya beberapa orang.

Kakek itu memasang gaya ketika semua orang memandang kepadanya dengan penuh perhatian, seolah pandang mata mereka semua bergantung pada bibirnya yang kering.

.

"Malam tadi seperti kalian semua tahu, malam tidak hujan akan tetapi bulan sepotong memberi cahaya yang menyeramkan dan udaranya amat dingin sehingga aku sendiri tidak mempunyai niat untuk keluar dari rumah "

Aih, ceritakan tentang siluman rase itu, Lo-pek!" cela seseorang. "Tidak sabaran benar sih, engkau!" Kakek itu cemberut.

"Biarkan dia bercerita." Orang lain mencela orang yang memotong cerita tadi."Lanjutkan, Lo-pek!"

"Akan tetapi pada tengah malam aku mendengar burung hantu terbang lewat rumahku dan mengeluarkan bunyi yang menyeramkan itu. Nah, pada keesokan paginya, pagi-pagi sekali sebelum fajar menyingsing, aku teringat bahwa saluran air ke sawahku belum dibuka bendungannya. Aku lalu pergi di bawah sinar bulan reman-remang menuju ke sawah di luar dusun. Nah, di sana, di dekat gubuk besar yang kita bangun bersama di tepi sawah itu, dalam keremangannya sinar bulan, aku melihat seorang wanita cantik sekali terbang "

"Ihhh!" Beberapa orang berseru ngeri. Pada jaman itu, semua orang percaya bahwa apa yang disebut siluman rase adalah siluman yang suka beralih rupa menjadi wanita yang sangat cantik dan biasanya suka menggoda laki-laki.

"Lo-pek, bagaimana engkau tahu bahwa ia itu wanita cantik kalau cuacanya tidak begitu terang?" tanya seseorang.

Kakek itu tampak marah. "Hemmm, tua-tua begini mataku masih awas dan aku sudah biasa melihat dalam gelap. Tampak jelas ia seorang wanita, tubuhnya ramping menggairahkan dan wajahnya cantik jelita seperti dewi! Jelas ia seorang wanita muda yang cantik sekali, aku berani bersumpah! Wanita itu pergi seperti terbang saja. Tubuhnya seperti melayang di atas tanah dan tak lama kemudian ia sudah menghilang. Karena merasa ngeri, aku lalu berlari pulang, tidak jadi membuka bendungan air. Lalu tadi aku mendengar ramai-ramai orang meributkan bahwa di gubuk itu ditemukan mayat dua orang pemuda, yaitu Ang Kongcu (Tuan Muda Ang) putera kepala dusun kita dan seorang temannya, Si A-lok! Tentu dua orang pemuda itu menjadi korban Siluman Rase yang kulihat sebagai puteri cantik itu!"

Tampak jelas betapa hampir semua orang bergidik dan ketakutan.

Liu Cin saling pandang dengan Cu Yin dan melihat wajah gadis itu juga tampak ketakutan. Dia merasa penasaran. "Lo-pek, apa buktinya bahwa dua orang itu terbunuh oleh wanita yang kau anggap siluman rase itu?"

Kakek Itu memandang kepada Liu Cin dan berkata, "Ah, agaknya engkau bukan penduduk sini, ya? Sudah jelas mereka menjadi korban siluman rase. Mendengar ribut-ribut itu aku segera berlari ke sana dan aku melihat sendiri dua mayat pemuda itu. Jelas mereka berdua dibunuh oleh siluman rase."

"Bisa saja dia terbunuh oleh orang jahat seperti perampok misalnya." bantah Liu Cin,

"Tidak mungkin! Pakaian mereka masih lengkap berada di gubuk ita dan uang di saku baju Ang Kongcu masih utuh. Bukti lain yang tidak dapat diragukan lagi, dua orang pemuda itu mati dalam keadaan telanjang bulat"

"Ihhh !!" Banyak mulut berseru dan bergidiklah mereka yang berada di situ.

Bahkan yang sedang makan membatalkan makannya karena merasa muak.

"Tepat seperti dalam cerita tentang siluman rase. Mereka itu tentu diculik siluman yang menjadi wanita cantik, dipaksa untuk bercinta kemudian darah mereka dihisap sampai habis. Buktinya, dua orang pemuda itu mati tanpa ada luka sama sekalil"

Kembali semua orang bergidik dan satu demi satu segera meninggalkan rumah makan karena merasa ngeri dan ada yang hendak membuktikan sendiri. Banyak orang berbondong menuju ke luar dusun di mana dua mayat itu ditemukan. Liu Cin dan Cu Yin juga keluar dari rumah makan itu. Mereka mengambil kereta dari rumah penginapan. Setelah kereta mereka keluar dari dusun itu, Cu Yin berkata, "lhhh, ngeri benar cerita mereka tadi !"

"Mungkin dilebih-lebihkan," kata Liu Cin. "Bisa saja dibunuh orang yang balas dendam dengan pukulan mematikan, kemudian mereka ditelanjangi agar tersiar bahwa pembunuhnya adalah iblis."

Cu Yin diam saja. Ia tidak merasa menyesal membunuh dua orang pemudi itu. Sejak bergaul dengan Liu Cin, ia telah menahan-nahan gelora nafsunya dan malam itu merupakan puncaknya ketika ia ditolak oleh Liu Cin. Maka kumatlah penyakitnya dan diam-diam ia mencari mangsanya. Sebetulnya dengan senang hati dua orang pemuda itu menuruti kemauannya. Ia terpaksa membunuh mereka pada keesokan paginya karena ia tidak ingin mereka itu membuka rahasianya sehingga terdengar oleh Liu Cin. Ia sudah terlanjur bersikap sebagai seorang gadis terhormat dan sopan di depan Liu Cin dan mengharapkan cintanya.

Mereka melanjutkan perjalanan dani Liu Cin sama sekali tidak mencurigai Cu Yin walaupun hatinya merasa heran melihat Cu Yin yang malam tadi ia buat kecewa itu kini bersikap manis seperti biasa.

ooOOoo

Ong Hui Lan melangkah dengan tenang dan la melamun. Perjalanannya sudah tiba dekat tujuan, yaitu kota raja. Ia melakukan perjalanan dari Nan-king menuju ke kota raja untuk memenuhi perintah ayahnya.

Ong Su, ayah Ong Hui Lan, adalah seorang bangsawan Kerajaan Chou yang dulu menjadi Kepala Kebudayaan Kerajaan Chou. Setelah Kerajaan Chou jatuh, dia tidak mau membantu pemerintah baru Kerajaan Sung dan pindah ke Nan-king di mana dia menjadi pengajar sastra bagi anak-anak para hartawan dan bangsawan.

Ketika puteri tunggalnya, Ong Hui Lan, sudah selesai belajar ilmu silat dari Tiong Gi Cln-jin dan kini menjadi seorang gadis yang bukan saja ahli sastra akan tetapi juga ahli silat tingkat tinggi, Ong Su mengutus puterinya untuk pergi ke kota raja dan membantu perjuangan Pangeran Chou Bun Heng yang bercita-cita membangun kembali Kerajaan Chou!

Sebetulnya Hui Lan tidak ingin membantu Pangeran Chou Ban Heng yang hendak memberontak terhadap pemerintah yang berkuasa, karena gurunya sudah menasihatnya agar ia jangan melibatkan diri dalam perang saudara yang dicetus kan orang-orang yang saling memperebut kan kekuasaan. Akan tetapi Ong Su marah melihat puterinya merasa ragu dan tidak ingin pergi.

"Hui Lan, ingatlah! Agama kita meng ajarkan bahwa manusia hidup haruslah mengutamakan Hauw (Berbakti)! Bakti pertama kepada Thian (Tuhan) telah kau lakukan dengan selalu berusaha menjadi manusia yang baik budi. Bakti ke dua kepada orang tua dan ini dapat kau lakukan dengan menuruti semua pengarahan orang tua, mengangkat tinggi nama darah kehormatan orang tua dan menyenangkan hati orang tuamu. Kini bakti ke tiga yang belum kau lakukan, yaitu bakti kepada negara! Kita adalah warga dari Kerajaan Chou, karena itu bagi kita, negara adalah Kerajaan Chou yang telah dirampas oleh pemberontak yang sekarang mendirikan Kerajaan Sung. Sekarang! Pangeran Chou Ban Heng sedang berusaha untuk berjuang membangun kembali Kerajaan Chou dan menumbangkan kerajaan pemberontak Sung. Pangeran Chou Ban Heng adalah keponakan mendiang Kaisar Chou Ong, dan dengan kita masih ada hubungan saudara misan, biarpun agak jauh. Nah, sekarang, setelah engkau memiliki kepandaian bun (sastra) dan bu (silat), sudah menjadi tugasmu untuk berbakti kepada negara dengan membantu perjuangan Pangeran Chou Ban Heng dan sekaligus berbakti kepada orang tua karena menjunjung tinggi nama dan kehormatan ayahmu."

"Akan saya taati perintah Ayah, akan tetapi dengan satu ketentuan bahwa kalau di kota raja saya disuruh melakukan perbuatan yang jahat dan menyimpang dari kebenaran, saya akan menolaknya, Ayah.,"

"Tentu saja, anakku. Jangan khawatir, Pangeran Chou Ban Heng bukanlah seorang jahat. Dia seorang patriot yang setia terhadap Kerajaan Chou kita. Ini kuberi sesampul surat, berikanlah kepada Pangeran Chou Ban Heng dan engkau tentu akan diterima dengan senang."

Demikianlah, Ong Hui Lan berangka ke kota raja. Setelah tiba di kota raja mudah saja dia menemukan tempat tinggal pangeran yang dicarinya, yang ketika itu telah menjadi seorang pejabat tinggi, yaitu Penasehat Angkatan Perang! Sebutannya kini bukan lagi pangeran, melainkan jenderal, yaitu Chou Coanswe (Jenderal Chou). Siang hari itu ia tiba di depan pintu gerbang pekarangan gedung Chou Goanswe. Dua orang perajurit pengawal yang berjaga di gardu dekat pintu gerbang segera menghadangnya. Karena belum tahu dengan siapa mereka berhadapan, dan melihat sikap gadis cantik itu yang demikian gagah, dua orang perajurit itu bersikap hati-hati dan sopan, tidak berani mengganggu walaupun mata mereka memandang kagum dan bagaikan pandang mata anjing kelaparan.

"Siapakah Nona dan ada keperluan apa Nona datang ke sini?" tanya seorang dari mereka.

"Aku datang dari Nan-king, hendak menyampaikan surat dari Ayah Ong Su kepada Paman Pangeran Chou Ban Heng."

"Pangeran Chou ? Ah, maksudmu Jenderal Chou Ban Heng, Nona?"

"Benar, aku ingin menghadap Paman Jenderal Chou, membawa surat dari Ayah Ong Su di Nan-king, harap laporkan kepada beliau." Hui Lan sengaja tidak memperkenalkan namanya karena ia anggap tidak perlu memperkenalkan namanya kepada para perajurit.

Mendengar gadis cantik itu menyebut kepada atasan mereka, dua orang perajurit jaga itu tentu saja tidak berani bertanya lebih lanjut. Mereka mempersilakan Hui Lan duduk menunggu di bangku depan gardu, dan seorang dari mereka lalu melaporkan tentang kedatangan gadis itu ke dalam gedung. Ketika itu, Pangeran Chou Ban Heng yang kini lebih umum disebut Jenderal Chou sedang berbincang-bincang dengan puteranya. Chou Kian Ki telah menyusul ayahnya di kota raja dan sudah sekitar dua pekan berada di gedung ayahnya. Juga tiga ofang gurunya, Kanglam Sin-kiam Kwan ln Su, Im Yang' Tosu, dan Hongsan Siansu Kwee Cin Lok kini telah berada dikota raja. tinggal di dalam gedung Jenderal Chou. Tiga orang tokoh kangouw ini pun duduk dalam ruangan itu, ikut membicarakan tentang cita- cita Jenderal. Chou untuk membangun kembali Kerajaan Chou, kini dengan mengambili siasat dan cara lain. Dulu dia terang-terangan memberontak dan menyusun pasukan, akan tetapi karena kalah dan gagal, kini dia sengaja mendekati Kaisar dan menerima pekerjaan menjadi Penasehat Angkatan Perang sambil menanti kesempatan untuk melaksanakan cita-citanya.

Mendengar laporan perajurit jaga bahwa ada puteri Ong Su dari Nan-king hendak menghadapnya, Jenderal Chou menjadi girang. Tentu saja dia ingat akan Ong Su, bekas Kepala Kebudayaan Kerajaan Chou, seorang yang amat setia kepada: Kerajaan Chou sehingga kini lebih suka mengungsi ke Nan-king daripada harus bekerja pada pemerintahan baru Ong Su itu masih terhitung saudara misannya. Maka dia lalu menyuruh puteranya, Chou Kian Ki untuk keluar dan menyambut kedatangan puteri Ong Su itu.

Kian Ki segera keluar dan setelah tiba di pintu gerbang, dia tercengang melihat seorang gadis yang cantik, pakaiannya rapi akan tetapi tidak mewah dan sikapnya agung, duduk di atas bangku.

Kian Ki menghampiri dan segera bertanya. "Apakah Nona lni puteri Paman Ong Su dari Nan-king?"

"Benar, saya puterinya. Siapakah Kong-cu (Tuan Muda)?" tanya Hui Lan sambil bangkit berdiri dan memandang pemuda tinggi tegap berpakaian mewah dan berwajah jantan dan tampan itu.

Kian Ki segera mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat. "Ah, kiranya Ong Siocia (Nona Ong). Selamat datang di rumah kami! Aku adalah Chou Kian Ki, putera Jenderal Chou. Mari, silakan masuk untuk bertemu dengan ayah, Nona."

"Terima kasih," kata Hui Lan dan mereka berdua segera berjalan menuju gedung.

Setelah memasuki ruangan yang luas itu dan berhadapan dengan Jenderal Chou Hui Lan segera memberi hormat dengan sikap lembut dan sopan.

"Paman, saya Ong Hui Lan memenuh perintah ayah untuk menyampaikan surat ini kepada Paman." katanya sambil menyerahkan surat itu.

"Hui Lan, aku ingat pernah melihatmu di rumah ayahmu dahulu belasan tahun yang lalu. Engkau masih kecil ketika itu. Duduklah, Hui Lan." kata Jenderal Chou, senang dan kagum melihat keponakannya yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik dan gagah.

"Terima kasih, Paman." Kian Ki cepat mengambilkan sebuah kursi untuk gadis itu dan ditaruhnya kursi itu berhadapan dengan dia. Selagi ayahnya membaca surat, Kian Ki memperkenalkan tiga orang gurunya.