-->

Si Rajawali Sakti Jilid 02

Jilid 02

Suasana menjadi tegang, akan tetapi suara tawa Thai Kek Siansu seolah dapat mendatangkan suasana dingin karena suara itu lembut sekali.

"Mari kita lihat dan pertimbangkan, Sam-wi. Kalau seorang beragama To kauw menipu, jelas dia itu bukan orang beragama To-kauw, melainkan seorang penipu yang mengaku beragama To! karena kalau dia benar-benar seorang agama To, dia tidak berani menipu dilarang oleh agamanya itu! Juga kalau ada penjahat mengaku beragama Khong kauw, dia adalah seorang penjahat juga hanya mengaku-aku saja dan bukan orang Khong-kauw sejati. Kalau dia benar-benar beragama Khong-kauw, tidak akan berani berbuat jahat karen hal itu dilarang oleh agamanya. Demikian pula, seorang pembunuh mengaku agama Buddha, sebetulnya dia hanya palsu dan mengaku-aku saja karena kalu dia benar seorang Buddhis, sudah pasti dia tidak berani membunuh karena itu dilarang keras oleh agamanya! Nah, kiranya sudah jelas. Bukanlah agama yang tidak benar, melainkan orangnya Tidak perlu dan tidak benarlah kalau Agama saling menyalahkan, karena tidak ada agama yang benar atau salah menurut pandangan orang-orang yang pecah belah melalui agama. Agama adalah Kebenaran itu sendiri karena datang dari Kebenaran Yang Satu."

Tiga orang pendeta itu termenung, Tiong Gi Cinjin menghela napas lalu berkata. "Siansu, aku mulai melihat kebanaran dalam keterangan ini. Akan tetapi mengapa hampir seluruh rakyat meengaku beragama, dan semua agama mengajarkan kebaikan agar kita hidup melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan, Akan tetapi kenyataannya, mengapa selalu terjadi perang, permusuhan, kejahatan dan kekacauan yang menyengsarakan rakyat?"

Thong Leng Losu dan Louw Keng Tojin juga tertarik oleh pertanyaan ini dan mereka bertiga memandang kepada Thai Kek Siansu dengan penuh perhatian.

"Pertanyaan yang baik sekali dan hal ini patut kita pertanyakan dan kita renungkan. Mengapa demikian? Kenyataannya adalah bahwa umat beragama sekarang ini hanya mementingkan sejarah dan upacara masin-masing yang saling berbeda, dan jarang yang mendapatkan Api atu inti Agama masing-masing yang sesungguhnya sama dan hanya satu. Apakah inti dari semua pelajaran itu?" kata Thai Kek Siansu.

"Inti semua pelajaran tentu saja menurut pelajaran agama masing-masing yang menuntun manusia untuk berbuat kebaikan!" kata Tiong Gi Cinjin dan seorang pendeta lainnya mengangguk menyetujui.

Pada saat itu, tiba-tiba ada sinar-sinar hitam menyambar bagaikan kilat arah empat orang itu! Kiranya sinar-sinar itu adalah empat batang anak panah berwarna hitam yang dilepas dengan kekuatan dahsyat menyerang empat orang yang sedang bercengkerama.

"Sing-sing-sing-sing !!"

Sebatang anak panah menyambar arah tengkuk Thong Leng Losu. Akan tetapi hwesio ini diam saja, tidak tahu ataukah memang sengaja diam saja, tidak mengelak maupun menangkis.

"Tukkk !!" Anak panah itu tepat mengenai tengkuk dan patah menjadi dua, jatuh di belakang tubuhnya!

Sebatang anak panah lain menyambar ke arah lambung kanan Tiong Gi Cinjin. Pendeta Khong-kauw ini pun seolah tidak mengacuhkannya. Tangan kanannya hanya bergerak ke kanan tanpa menengok dan ditang anak panah itu telah terjepit di antara jari tengah dan telunjuknya!

Sebatang anak panah lain menyambar kepala Louw Keng Tojin. Pendeta To ini menoleh dan meniup ke arah sinar hitam itu dan anak panah itu tiba-tiba menyimpang dan meluncur ke atas, terputar-putar di atas. Louw Keng Tojin mengikat tangan kirinya menggapai dan bagaikan hidup anak panah itu melayang turun ke arah tangan tosu itu yang mengkapnya!

Adapun sebatang anak panah yang menyambar ke arah dada Thai Kek Siansu tampaknya seperti akan tepat mengenai kisaran, akan tetapi setelah dekat sekali dengan dadanya, anak panah itu jatuh ke tanah seolah-olah tertahan sesuatu yang tdak tampak!

Empat orang tua yang amat lihai itu memungut anak panah dan mengamatinya. "Omitohud, bangsa Khitan selalu berusaha menguasai negeri ini dan mamerkan kepandaian mereka memanah kata Thong Leng Losu mengamati anak panah yang tadi mengenai tengkuk dan patah menjadi dua. "Orang-orang yang melakukan penyerangan secara curang adalah pengecut- pengecut dan orang-orang seperti tidak ada harganya, sebangsa Siauw-Jin (Orang Rendah). Sepantasnya kalau diberi hajaran agar mereka itu sadar dan kembali ke jalan kebenaran." kata Tiong Cinjin dengan suara dan sikap keren namun tetap tenang.

"Ha-ha-ha, harimau-harimau tidak akan mempedulikan ulah para tikus kata Louw Keng Tojin.

Sementara itu, Thai Kek Siansu diam saja, hanya tersenyum karena dia ingin melihat apa yang akan dilakukan tiga orang tokoh agama yang berbeda itu terhadap orang- orang yang menyerang dengan curang itu. Dia hanya memandang ke empat penjuru karena maklum bahwa puncak di mana mereka berempat duduk itu telah dikepung banyak orang!

"Saudara-saudara yang datang, kalau ada urusan dengan kami berempat, mengapa tidak langsung naik saja ke sini dan bicara dengan kami?" kata Thai Kek Siansu dengan suara lirih, namun suaranya dapat terdengar orang yang berada di kaki bukit sekalipun karena gelombang udara yang didukung tenaga sakti dari batin yang kuat itu memiliki gelombang yang dahsyat.

Kini bermunculanlah puluhan orang dari empat penjuru, lalu mereka berkumpul di depan Thai Kek Siansu. Tiga orang pendeta itu pun menggunakan tenaga sakti mereka sehingga tanpa menggerakkan tubuh, mereka yang duduk bersila itu berputar menghadap ke arah para pendatang itu. Sedikitnya ada tiga puluh orang Khitan berdiri di situ dan di depan mereka terdapat lima orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka.

Yang pertama adalah seorang suku bangsa Khitan. Hal ini jelas tampak pada pakaiannya. Dia memang seorang di antara para kepala suku Khitan bernama Kailon, berusia lima puluh tahun, ber tubuh tinggi besar, di punggungnya tergantung sebuah busur dan belasan batang anak panah, di pinggangnya tergantung sebuah golok dan di lengan kirinya menempel sebuah perisai. Kailon tampak gagah perkasa sebagai seorang panglima perang yang kokoh kuat.

Agaknya yang menjadi juru bica rombongan yang datang itu adalah Ce In Hosiang karena diaJah yang menjaw didahului tawa yang membuat perutn yang gendut itu bergoyang-goyang.

"Ha-ha-ha-ha, Thai Kek Siansu, sungguh merupakan kejutan besar yang mengherankan dan menyenangkan dapat bertemu denganmu di tempat ini. Terus terang saja, kami naik ke bukit ini karena mendengar akan adanya pertemuan antara Thong Leng Losu, Tiong Ci Ci jin, dan Louw Keng Tojin. Siapa tahu sini kami bertemu dengan Thai Kek Sia su yang kami sangka sebelumnya bahkan seorang manusia sepertimu ini tidak akan pernah muncul di dunia ramai! Kalau datang untuk menjumpai tiga orang tokoh besar ini karena pada saat ini bangsa kita membutuhkan semua tenaga orang sakti untuk mengakhiri semua perang saudara dan perebutan kekuasaan yang menyengsarakan rakyat. Kami ingin minta bantuan mereka bertiga agar mendukung pemerintahan baru yang kokoh, kuat dan yang akan menyejahterakan kehidupan rakyat jelata. Akan tetapi Saudara Kailon kepala- suku Khitan ini yang menjadi sekutu kami dan yang akan membantu bangsa kami, masih menyangsikan kemampuan mereka bertiga. Maka kami setuju bahwa dia akan menguji kalian dengan serangan anak panah karena kami yakin hal itu tidak akan membahayakan kalian. Dan ternyata dugaan kami benar. Serangan anak panah itu tidak ada artinya. Kalian benar-benar sakti dan orang-orang seperti kalian inilah yang kami butuhkan untuk mendukung dan memperkuat perjuangan kami."

Thai Kek Siansu mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah, kiranya kalian berempat termasuk golongan orang-orang yang mendahulukan kepentingan bangsa daripada kepentingan sendiri dan merupakan pejuang-pejuang. Kalau pilihan kali seperti itu, baik-baik saja. Akan tetapi kalau Su-wi ingin mengajak orang lain, sudah sepatutnya kalau orang yang diajak itu sependapat dan mau. Maka, aku persilakan kepada mereka bertiga ini untuk menjawab ajakan kalian tadi."

Thong Leng Losu memandang kcpada Ceng In Hosiang, lalu tertawa dan berkata, "Ha-ha, Ceng In Hosiang, sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai, apakah engkau tidak menyadari bahwa mendukung pemerintahan baru juga sama dengan menyulut api peperangan antara bangsa sendiri dan perang adalah pencetusan dari dendam kebencian? Tentu engkau tidak lupa akan sabda Sang Buddha bahwa "Kebencian takkan pernah dapat dihentikan oleh kebencian pula dalam dunia Ini. Kebencian hanya dapat dihentikan dengan Kasih. Ini adalah hukum yang berlaku sejak dahulu kala. Nah, apakah kini engkau akan menyebarkan kebencian hingga timbul perang dan bunuh membunuh antar bangsa sendiri? Pinceng jelas tidak mau ikut!" Tiong Gi Cinjin juga berkata kepada para pendatang itu.

"Aku pun tidak bisa ikut! Semua orang adalah saudara kita sendiri, apakah kita harus saling membunuh hanya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan? Kalau kalah, kita yang hancur, kalau menang, para pemimpinlah yang akan memetik buah kemenangan itu yang berupa kemakmuran dan kesenangan duniawi. Tidak, aku tidak mau ikut!'

"Siancai! Dua orang sahabatku ini berpendirian cocok dengan pinto! Bertindak kejam dan dalam hati mengandung kebencian, itulah syarat orang untuk perang. Bunuh membunuh tidaklah cocok dengan agama dan kepercayaanku. Pinto juga tidak mau ikut!"

Empat orang pendatang itu saling pandang dan mengerutkan alisnya. Kemudian terdengar suara tawa yang aneh dan tawa itu disambut suara menggelegar di udara! Hong-san Siansu Kwee Cin Lok agaknya mendemonstrasikan kedahsyat tenaga saktinya.

"Ha-ha-ha-ha, sepanjang yang kami dengar, tiga orang pendeta yang bertemu di puncak ini, biarpun dari tiga macam agama, namun mereka adalah orang-orang Pribumi Han yang gagah perkasa, yang berjiwa patriot pahlawan bangsa. Sekarang, kalian bertiga menolak untuk berjuang membantu berdirinya kerajaan yang akan melenyapkan semua perang saudara ini dan menyejahterakan rakyat melihat hadirnya Thai Kek Siansu di sini, kami mengerti bahwa tentu kalian bertiga telah terpengaruh olehnya. Thai Kek-Siansu, tepat dan benar bukan penilaianku ini?" Thai Kek Siansu tersenyum. "Hong-Siansu Kwee Cin Lok, boleh saja engkau berpendapat sesuka hatimu. Akan tapi jelas, tiga orang saudara yang kaliaan bujuk itu tidak setuju dan tidak mau membantu kalian. Setiap orang berhak untuk mempunyai pendapat sendiri dan engkau tidak boleh memaksanya, engkau adalah Hong-san pangcu (Ketua Hong-san-pang), ketua sebuah perkumpul-tentu saja ingin memajukan perkumpulannya dan memiliki cita-cita besar hingga apa yang kau putuskan dan lakukan tentu berdasarkan pamrih mencapai cita-cita itu. Silakan saja, akan tetapi jangan memaksa orang lain!"

"Thai Kek Siansu, sudah lama aku mendengar namamu sebagai seorang yang tidak mau mencampuri urusan dunia. Kalau engkau yang menolak campurtangan dalam urusan mendirikan kerajaan baru yang akan memimpin rakyat dengan bijaksana ini, kami dapat mengerti. Akan tetapi kalau engkau mempengaruhi orang-orang lain, itu merupakan perbuatan dosa terhadap rakyat!" kata Hong-san Pangcu marah.

"Aih, Pangcu (Ketua), siapakah rakyat itu dan siapa pula aku ini? Aku rakyat. Setiap pejuang menggunakan rakyat sebagai alasan, semua mengatar demi rakyat jelata, akan tetapi apa kenyataannya? Selama lima abad ini, berganti-ganti ada kerajaan baru sampai lima kali dan mereka semua ketika sedang berjuang merebut kekuasaan mengunakan nama rakyat, demi kesejahtera rakyat, akan tetapi lihat, apa buktinya? Yang jelas semua itu demi kesejahteraan para pimpinan pemberontak itu sendiri. Setelah perjuangan berhasil, para pimpinan itu hidup makmur, berkuasa, dan kaya raya sedangkan rakyat jelata tetap miskin sengsara."

"Thai Kek Siansu, engkau keterlaluan. Agaknya engkau menjadi sombong karena merasa hebat dan sakti sendiri, tidak ada yang akan berani mengganggumu? Hendak iihat sampai di mana kehebatan dan kesaktianmu!" kata Hong-san Pang-cu Kwee Cin Lok garang dan dengan muka merah karena marah.

"He-he, Hong-san Pang-cu, agaknya engkau lupa bahwa tidak ada manusia yang sakti di dunia ini. Aku tidak sakti, engkau juga tidak sakti, kalau engkau memiliki sedikit kemampuan, hal itu adalah karena engkau diberi oleh Yang Maha Mampu. Engkau mendapat kesaktian karena berkat Yang Maha Sakti, akan tetapi kalau kau pergunakan dalam kesesatan, berarti engkau menjadi alat Yang Maha Sesat atau Setan. Tenang dan buang semua api kemarahan yang membutakan mata hatimu itu."

Mendengar teguran dari Thai Kek Siansu ini, Kwee Cin Lok ketua Hong-San-pang ini menjadi semakin marah. "Manusia sombong, sambutlah ini kalau engkau memang sakti!" Ketua Hong-san-Pang itu mengeluarkan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning dan begitu dia melontarkan pedang itu ke atas, pedang itu seakan-akan hidup dan terbang menuju ke arah Thai Kek Siansu yang masih duduk bersila.

Pedang itu berputar-putar di sekitar atas kepala kakek itu, semakin cepat sehingga berubah menjadi sinar kuning. Ketika Kwee Cin Lok menggerakkan tangannya ke arah pedang terbangnya. itu, sinar kuning meluncur dan menyerang kepala Thai Kek Siansu! Thong Leng Losu, Tiong Ci Cinjin dan Louw Keng Tosu hanya duduk bersila dan menonton saja. Mereka juga ingin menyaksikan kehebatan Thai Kek Siansu yang sudah lama mereka dengar akan kesaktiannya.

Akan tetapi Thai Kek Siansu diam saja, tidak membuat gerakan untuk melawan atau menghindarkan diri. Dia hanya memejamkan kedua matanya mulutnya tersenyum. Ketika sinar kuning itu meluncur turun menghujam kepalan dan tinggal beberapa senti jaraknya tiba-tiba pedang itu terpental seolah tertolak oleh tenaga yang lembut kuat sekali. Akan tetapi sungguh aneh, pedang itu seperti dipegang dan digerakkan oleh tangan yang tidak tampak, menyerang lagi secara bertubi dengan tusukan dan bacokan ke arah seluruh tubuh Thai Kek Siansu. Namun hasilnya sia-sia, bagian tubuh manapun yang diserang tidak dapat disentuh pedang itu yang selalu terpental.

Ilmu ini merupakan puncak tenaga Liku karena bukan tenaga yang dikerahkan oleh Thai Kek Siansu, melainkan ada tenaga lain yang seolah melindunginya. Orang dapat menggunakan semacam ilmu sihir untuk mendapat perlindungan seperti itu, akan tetapi tenaga yang melindungi itu ditimbulkan oleh sihir itu hanya kuat menahan serangan orang yang lebih rendah tingkat kepandaiannya atau dari serangan senjata biasa yang tidak ampuh. Akan tetapi, yang menyerang Thai Kek Siansu adalah seorang tokoh besar, ketua Hong-san-pang, yang terkenal memiliki Imu silat dan ilmu sihir yang tinggi, juga pedangnya bukan pedang biasa, melainkan pedang pusaka yang terbuat dari logam yang ampuh.

Akhirnya pedang kuning itu terbang kembali ke tangan Hong-san Pang karena ditarik kembali oleh pemiliknya. Hong-san Pangcu Kwee Cin Lok atau yang berjuluk Hong- san Siansu ini segera maklum bahwa dia berhadapan dengan orang tingkat kepandaiannya amat tinggi mungkin lebih tinggi dari tingkat kepandaian mendiang gurunya sendiri. Maka dia lalu menyimpan pedangnya dan menjura dengan hormat.

"Thai Kek Siansu ternyata memang amat bijaksana dan sakti. Kami mengaku kalah dan amat kagum. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan maafkan kalau kami mengganggu ketenteraman di sini Setelah berkata demikian, Kwee Cin Lok membalikkan tubuh dan menuruni puncak itu. Tiga orang temannya, Ceng In Hosiang, Kwan In Su, dan Im Yang Tosu juga tahu diri. Mereka tahu bahwa antara mereka, yang paling lihai dan boleh diandalkan adalah Hong-san Pangcu. Melihat teman yang lihai ini sama sekali tidak berdaya melawan Thai Kek Siansu, mereka maklum bahwa mereka semua pun tidak akan ada yang mampu mengalahkan Thai Kek Siansu, apalagi disitu masih ada tiga orang datuk lain yang juga lihai. Maka setelah menjura sebagai permintaan maaf, mereka pun mengikuti jejak Kwee Cin Lok meningkalkan tempat itu menuruni bukit.

Akan tetapi Kailon, tokoh Khitan itu, mengerutkan alisnya dan dia tidak ikut pergi seperti empat orang datuk yang datang bersamanya di puncak itu. Dia masih merasa penasaran dan menganggap empat orang tokoh kangouw itu penakut, mereka, bersama beberapa orang pimpinan daerah yang berambisi, telah bersekutu dan berniat menggulingkan Dinasti Chou yang dipimpin Kaisar Chou Ong yang sudah tua dan lemah, dan mendirikan Kerajaan baru. Akan tetapi dalam usaha mereka untuk menghubungi dan menarik para datuk dunia persilatan, baru saja mereka mulai di puncak itu, setelah gagal dan empat orang itu bahkan m elarikan diri! Betapa pengecutnya! Sebagai seorang yang biasa berperang, Kailon tidak akan pergi sebelum bertempur.

"Hemmm, kalian berempat tidak mau membantu, berarti tentu kelak hanya akan menentang kami! Yang tidak membantu berarti musuh yang harus binasakan!" Setelah berkata demikian, memberi aba-aba kepada tiga puluh orang anak buahnya. Mereka lalu menerjang sambil berteriak-teriak dengan garang. Kailon sendiri sudah maju dan menyerang Thai Kek Siansu dengan goloknya yang besar dan berat.

Sedangkan tiga puluh orang anak buahnya menyerbu dan menyerang tiga orang pendeta yang masih duduk bersila itu dengan senjata mereka.

Thong Leng Losu tertawa dan memutar tongkatnya. Tampak sinar biru menyambar- nyambar dan terdengar bunyi nyaring ketika senjata para penyerang bertemu sinar biru dari toya yang dipegang Thong Leng Losu. Senjata mereka terpental dan terlepas dari tangan sehingga mereka terkejut apalagi merasa betapa telapak tangan mereka nyeri panas dan lecet-lecet. Mereka yang menyerang Tiong Gi Cinjin juga disambut sinar hijau menyambar-nyambar dan senjata patah-patah bertemu dengan pedang sinar hijau itu. Demikian pula mereka yang menyerang Louw Keng Tojin.

Senjata mereka bertemu kebutan dan dilibat lalu direnggut lepasl dari tangan mereka. kemudian, tiga orang pendeta itu mendorong-dorongkan tangan mereka dan tiga puluh orang itu terjengkang dan terguling-guling seperti daun-daun kering disapu angin.

Sementara itu, Kailon sudah menyerangkan goloknya kearah tubuh Thai kek Siansu. Akan tetapi seperti halnya anak-anak panah tadi, juga seperti yang terjadi pada pedang terbang Hong-san Pag-cu, golok Kailon tidak dapat menyentuh kulit. Makin kuat Kailon membacokkan goloknya, semakin kuat pula golok itu terpental dan akhirnya, begitu Thai Kek Siansu menggerakkan tangan menolak, tubuh tokoh Khitan ini terjengkang jauh ke belakang dan terbang roboh. Baru dia menyadari bahwa i tidak akan mampu mengalahkan kakek itu dan melihat betapa semua anak buahnya juga kehilangan senjata dan bergelimpangan, dia lalu memberi aba-aba kepada mereka dan larilah mereka seri turun puncak bukit.

Setelah mereka semua pergi, Thong Leng Losu, Tiong Ci Cinjin, dan Lo Keng Tojin tertawa, sedangkan Thai Kek Siansu hanya tersenyum namun mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Terbuktilah bahwa segala macam perbuatan, yang disebut baik maupun buruk, apabila keluar dari hati akal pikiran, sudah pasti menyembunyikan pamrih demi kesenangan dan keuntungan sendiri." katanya.

Tiong Gi Cinjin memandang kepada Thai Kek Siansu dan dua orang lainnya juga memandang. Kini bertiga mendapat kenyataan betapa tingginya ilmu dari Thai Kek Siansu sehingga mereka merasa kagum sekali.

"Siansu," kata Tiong Gi Cinjin, "mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang terputus oleh gangguan tadi. Kita bica tentang Inti semua pelajaran Agama aku mengatakan bahwa inti semua pelajaran itu sama, yaitu menuntun manusia untuk berbuat kebaikan."

Thai Kek Siansu menghela napas panjang. "Kalau sudah diakui bahwa semua pelajaran Agama adalah sama, yaitu mengajarkan agar semua umatnya berbuat kebaikan, mengapa di antara Agama masih ada saling menyalahkan dan membenarkan pihak sendiri? Kita mulai dengan Kebenaran. Apakah Kebenaran itu? apakah yang dinamakan Kebaikan itu? Kalau ada yang disebut kebenaran, tentu ada kesalahan. Kalau ada kebaikan, tentu ada kejahatan. Baik dan benar untuk sefihak, mungkin saja jahat dan salah untuk pihak lain. Karena itu, kebaikan yang dilakukan menurut hati akal pikiran, sesungguhnya bukan kebaikan lagi, melainkan perbuatan yang dilakukan dengan pamrih mendapat imbalan. Imbalan itu supaya kesenangan atau keuntungan untuk si pelaku perbuatan, bentuknya macam-macam. Pamrih itu bisa berupa imbalan jasa dan balasan, atau puji dan sanjungan, atau perasaan bangga diri, atau imbalan yang dijanjikan berupa kemuliaan dan kesenangan di akhir kehidupan. Pamrih apa pun juga, pada hakekat sama, yaitu melakukan sesuatu dengan pamrih agar mendapat imbalan sesuatu yang menyenangkan dan menguntung Maka, perbuatan kebaikan seperti hanya merupakan jual beli belaka, sama sekali bukan kebaikan lagi karena kalau imbalannya ditiadakan, maka perbuatan baik itu pun belum tentu dilakukan. Semua mengajarkan perbuatan baik, akan tetapi disertai janji-janji yang menyenangkan sebagai upahnya sehinngga perbuatan-perbuatan baik itu menjadi palsu, didasari keinginan untuk akhirnya mendapatkan kesenangan atau keuntungan. Karena inilah maka terjadi perebedaan, yaitu memperebutkan hak memperoleh segala macam hadiah yang dijanjikan itu."

Tiga orang itu saling pandang. Baru sekarang mereka mendengar uraian seperti itu dan mendengar uraian itu, diam-diam mereka terkejut dan menyadari mengapa para umat beragama seringkali saling bermusuhan. Mereka tidak dapat membantah apa yang dikatakan Thai Kek Siansu karena mereka merasa ditelanjangi dan melihat kenyataan yang sebenarnya.

“Siancai! Kalau begitu kenyataannya, lalu apakah yang dinamakan kebaikan itu, Siansu?" tanya Louw Keng Tojin dan dua orang lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian karena mereka pun ingin mendengar jawaban Thai Kek Siansu atas pertanyaan yang amat penting ini.

Thai Kek Siansu berkata lembut, “Sam-wi harap menaruh perhatian yang sungguhnya. Seperti telah kukatakan, Kalau Sam-wi hanya mendengar kemudian menurut apa yang kukatakan, maka Sam-wi tidak akan menemukan Kebenaran Sejati. Aku pun bukan guru yang harus diturut atau dicontoh. Mari kita bersama, dengan pikiran kosong dan tidak menggunakan tirai dengan warna kepercayaan kita masing-masing agar pandangan kita sama dan seperti apa adanya, tanpa praduga dan prasangka, tanpa penilaian. Nah, seperti yang telah kita dapatkan dalam percakapan kita tadi, perbuatan baik yang datang dari pelajaran menimbulkan pamrih demi kesenangan, kebaikan, atau keuntungan diri sendiri. Kalau kita berbuat sesuatu dan kita menilai sendiri sebagai kebaikan, maka kebaikan itu condong palsu dan menyembunyikan pamrih. Akan tetapi perbuatan apa juga yang berlandaskan Inti dari semua yang dinamakan pelajaran kebaikan, adalah perbuatan yang berlandaskan Kasih. Kasih tidak dapat dipelajari, tidak dapat disengaja, dapat dibuat- buat! sungguhnya, Inti dari semua Agama adalah Kasih ini, bukan cinta berahi, bukan cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang menyenangkan hati, karena cinta seperti itu bukan yang dimaksudkan dengan Kasih itu! Cinta mempunyai kebalikan, yaitu Benci. Namun Kasih cinta mempunyai kebalikan, tidak memilih tidak disengaja, tidak dibuat! Dapatkah Sam-wi melihat ini? Dapatkah Sam-wi melihat kenyataan tentang palsunya cinta dalam hati manusia, cinta pada umumnya disanjung dan dipuja manusia pada dewasa ini?"

"Omitohud, pinceng dapat melihatnya dan jelas, Siansu. Cinta adalah suatu perasaan yang ditujukan kepada benda atau orang yang dapat menyenangkan atau menguntungkan diri kita. Biasanya, Kalau engkau menyenangkan atau menguntungkan aku, engkau kucinta. Sebaliknya kalau engkau menyusahkan atau merugikan aku, engkau kubenci!" kata Thong gi Losu.

"Memang pada umumnya tak dapat disangkal demikian," kata Tiong Gi Cinjin. "Akan tetapi ada cinta yang. sejati, yang mungkin ini yang disebut Kasih oleh Thai Kek Siansu, yaitu cinta seorang ibu kepada anaknya. Siapa dapat menyangkal kemurniannya cinta seorang ibu kepada anaknya?" kata Tiong Gi Cinjin. "Karena, pelajaran terpenting agama kami prialah Hauw (Bakti). Seorang anak haruslah berbakti kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya!"

"Cinta seorang ibu memang lebih murni daripada cinta-cinta manusia yang lainnya," kata Thai Kek Siansu. "Akan tetapi bagaimanapun juga, walaupun tipis, teorang ibu masih memiliki pamrih, memiliki harapan agar anaknya itu berbakti kepadanya, menyenangkan hatinya masih terdapat kemungkinan cinta berubah menjadi benci kalau si anak kelak menjadi jahat kepadanya. Ada Kasih yang lain lagi, yang tidak dapat samakan dengan cinta manusia yang timbul dari hati akal pikiran, karena sedikit banyak itu mengandung pamrih."

"Siancai!" kata Louw Keng Tojin "Pinto menjadi penasaran sekali, Thai Kek Siansu. Mari kita selidiki bersama apa sesungguhnya Kasih yang maksudkan itu?"

Thai Kek Siansu memejamkan mata sejenak sebelum menjawab dengan halus "Mari kita sama-sama mengamatinya. Kita lihat bunga-bunga mawar dan bunga teratai, mereka memberi keharuman dan keindahan yang dapat dinikmati siapapun juga, yang terpelajar tinggi maupun yang tidak, yang berkedudukan tinggi maupun yang rendah, yang kaya maupun yang miskin, pendeta maupun penjahat, kaisar maupun pengemis. Keharuman dan keindahan diberikan kepada siapapun juga tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih, tanpa pamrih mendapatkan imbalan! Mari me lihat matahari yang memberi daya hidup, kehangatan, penerangan, kepada siapa saja dan apa saja tanpa pilih bulu, juha tanpa pamrih apa pun. Kalau kita mau membuka mata melihat di seluruh permukaan bumi dan di langit maupun di dalam tanah, akan tampaklah semua itu, yang memberi tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih.

Bukankah itu indah sekali? itulah Kasih yang sejati. Kasih itu Penyalur berkat. Kasih itu memberi tanpa menuntut imbalan. Kasih itu merupakan pohon yang banyak sekali buahnya, dan buahnya inilah yang disebut kebajikan atau perbuatan baik.

Kalau ada Kasih dalam diri kita, maka perbuatan apa pun yang kita lakukan, sudah pasti baik dan benar! Karena segala macam perbuatan baik itu merupakan buah dari Kasih. Dapatkan orang melakukan hal yang menyengsarakan orang lain kalau ada Kasih? Kasih itu menjauhkan segala macan dengki, iri, cemburu, marah, dendam, angkara murka, dan Kasih itu melebur si-aku yang selalu ingin menang sendiri. Nah, bukankah Inti atau Api yang dibutuhkan manusia pada umumnya itu Adalah Kasih ini? Kalau ada Kasih bersemayam dalam diri, orang tidak perlu diajar untuk berbuat baik lagi karena Kasih akan membuahkan segala perbuatan baik. Kasih tidak merusak, melainkan membangun."

Tiga orang pendeta itu memejamkan mata dan mengerutkan alisnya masing-masing dan termenung.

"Omitohud, satu di antara pelajaran dalam agama pinceng juga mengajarkan agar ada Kasih di hati kita. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa semua perbuatan, kalau tidak didasari Kasih adalah perbuatan yang tidak baik dan kalau pun ada yang kelihatan baik, kebaikan itu hanya palsu belaka?"

"Aku tidak mengatakan begitu, Thong Leng Losu. Mari kita lihat saja bersama. Aku hanya melihat dengan jelas bahwa kalau ada dalam hati sanubari kita, maka perbuatan kita itu wajar bahwa si pelaku yang sudah disemayami kasih itu tidak akan melihat perbuatan itu sebagai suatu kebaikan, melainkan kewajaran. Siapa yang telah memiliki jiwa yang bersatu dengan Kasih, maka kita akan memandang semua orang dengan tidak membeda-bedakan, akan selalu merasa ikut bahagia kalau melihat orang lain, siapa saja, berbahagia. Akan tetapi akan ikut bersedih dan merasa kasihan kalau melihat orang lain, siapa saja, menderita sehingga rasa kasihan dari Kasih ini akan menggerakkannya untuk menolong orang yang sedang menderita Itu."

"Hemmm, sekarang aku dapat melihat lebih jelas, Siansu. Akan tetapi bagaimana mungkin kita mendapatkan Kasih itu tanpa campur tangan hati dan akal pikiran?" tanya Tiong Gi Cinjin.

"Kalau menurut Agama pinceng, degan jalan bersamadhi akan dapat mencapai keadaan itu."kata Thong Leng Losu.

"Kalau menurut Agamaku, dengan hidup selaras dengan Tao, selaras dengan hukum Alam, karena Kasih yang engkau maksudkan itu bukan lain adalah Tao itu sendiri, Siansu!" kata Louw K engTojin. "Aku ingat bahwa yang dimaksudkan itu cocok dengan pelajaran Tokau (Agama To/Tao), bahwa Kasih itu tentu dengan sendirinya ada setelah orang mengosongkan diri dan tidak mempun kehendak pribadi.

Beginilah pelajara itu." Louw Keng Tojin lalu memejamkan mata dan menyanyikan atau mendeklamasikan sajak pelajaran dalam Kitab Tao te-cing (To-tek-khing).

"Langit dan Bumi itu Abadi karena mereka tidak hidup untuk diri sendiri.

Inilah sebabnya orang bijaksana

membelakangkan dirinya karena itu dirinya tampil ke depan Dia mengesampingkan dirinya

karena itu dirinya menjadi utuh. Karena dia tidak mempunyai kehendak Pribadi

maka pribadinya menjadi sempurna."

"Ah, aku jadi teringat akan ayat pertama dari Kitab Agama kami yaitu Kitab Tiong- yong," kata Tiong Gi Cinjin tertengan wajah berseri. "Yang dimaksudkan Thai Kek Siansu dengan Kasih itu menurut perkiraanku adalah Seng, watak aseli karunia Thian (Tuhan) yang diberikan kepada manusia." Pendeta Khong-kauw ini lalu membacakan ujar-ujar dalam Kitab Tiong-yong.

"Karunia Thian adalah Seng (Watak Aseli), bertindak selaras dengan Seng itulah Tao berbuat menurut aturan Tao ialah Agama."

Thai Kek Siansu mengangguk-angguk. "Semua pendapat itu boleh-boleh saja, yang penting Sam-wi benar-benar mengerti dan menghayatinya, bukan hanya merupakan teori pelajaran belaka. Tidak ada artinya sama sekali menghafal semua filsafat di dunia ini tanpa mempraktekkannya dalam kehidupan. Jauh lebih baik membiarkan diri dituntun dan dibimbing oleh Kasih yang pasti tidak menyimpang dari apa yang dikehendaki Thian."

"Akan tetapi bagaimana cara mendapatkan kasih itu?" Tiga orang itu bertanya dengan berbareng.

"Tidak ada cara untuk mendapati Kasih itu," kata Thai Kek Siansu. "Dia datang sendiri apabila kita selalu berserah diri kepada Yang Maha Kuas berserah diri sepenuhnya, bukan hanya lahiriah berupa pengakuan belaka, melainkan dengan seluruh jiwa. Kalau Kasih sudi bersemayam dalam jiwa kita, maka Kasih yang juga dapat disebut Kekuasaan Thian itu akan membimbing kita. Nafsu Daya Rendah atau Setan akan kehilangan pengaruhnya terhadap jiwa kita dan Kasih merupakan karunia yang akan menyelamatkan jiwa kita dari kehancuran dan penyelewengan. Dengan adanya Kasih dalam hati, maka apa pun yang kita lakukan bukan dikemudikan oleh si-aku (ego) yang mencengkeram hati akal pikiran kita, melainkan merupakan buah dari Kasih sehingga langkah kita dalam hidup merupakan berkat bagi orang-orang lain.”

"Akan tetapi bagaimana kita tahu bahwa sudah ada Kasih dalam hati kita, kasih yang sejati dan bukan dari hati akal pikiran?" tanya Tiong Gi Cinjin.

"Hanya kalau hati mudah tergetar penuh iba kepada orang lain yang menderita, hati sudah amat peka sehingga lupa merasakan penderitaan orang lain tanpa orang itu mengatakannya, selalu siap terdorong oleh perasaan kasihan untuk membantu dan mengangkatnya dari penderitaan, tanpa diboncengi pamrih tertentu, tanpa ingin diketahui orang, tidak merasa bahwa perbuatannya itu baik, dan merasa bahagia melihat orang lain bahagia dan dapat merasakannya, maka itu merupakan satu di antara tanda-tanda yang paling mudah diketahui bahwa Kasih mulai bersemayam dalam jiwanya."

"Omitohud, dalam keadaan seperti itu, manusia telah mencapai tujuan terakhir." kata Thong Leng Losu. "Seseorang akan benar-benar menjadi seorang Kuncu (Budiman) yang bijaksana kata Tiong Gi Cinjin.

"Kalau semua orang memiliki Kasih seperti itu, dunia akan menjadi indah tiada kebencian, tiada permusuhan, tiada perang, semua manusia saling mengasih, Sorga dapat dirasakan di dunia dalam kehidupan sekarang!" kata Louw Keng Tojin.

Tiba-tiba terdengar suara bercuit dari atas, hanya sayup-sayup suaranya Thai Kek Siansu tersenyum.

"Ah, Tiauw-cu (Rajawali) agaknya datang mencari dan menjemputku." katanya.

Tiga orang pendeta itu memandang keatas dan tampak seekor burung rajawa masih tinggi di atas, hanya tampak kecil. Akan tetapi burung itu melayang sambil mengelilingi bukit itu, makin lama semakin rendah.

"Suhu, teecu menyusul Suhu!" terdengar suara seorang anak laki-laki. Burung itu hinggap di dekat Thai Kek Siansu dan Si Han Lin, anak itu, la melompat turun dari punggung rajawali yang sudah mendekam, lalu dia berlutut di depan Thai Kek Siansu.

"Suhu, maafkan kalau teecu menyusul karena teecu melihat Tiauw-cu seperti gelisah. Maka teecu berkata kepadanya bahwa kalau dia ingin mencari Suhu, Teecu ingin ikut. Dia mengangguk dan mendekam, maka teecu lalu ikut dengannya mencari Suhu."

Tiga orang pendeta itu memandang kepada Han Lin dengan penuh perhatian. "Omitohud! Engkau telah mempunyai seorang murid, Siansu?"

"Thai Kek Siansu, mengapa engkau yang tidak mau mencampuri urusan dunia mengambil seorang murid?" tanya Tiong Gi Cinjin menyusul pertanyaan Thong Leng Losu tadi.

"Puluhan tahun tekun mempelajari ilmu, untuk apa kalau tidak dimanfaatkan? Karena aku sendiri tidak mempunyai minat mencampuri urusan dunia, maka biarlah apa yang sudah kupelajari kutinggalkan kepada seorang murid agar dia dapat memanfaatkannya. "kata Thai Kek Siansu sambil tersenyum, menjawab pertanyaan dua orang pendeta itu.

"Siancai ucapan Siansu ini menyadarkan pinto (aku)! Pinto sendiri belum

mempunyai murid, dan usia pinto! makin lama semakin tua. Apakah semua yang pinto pelajari selama bertahun-tahun harus pinto bawa mati pula? Pinto juga ingin mengambil murid, Siansu kata Louw Keng Tojin.

"Omitohud, dulu pinceng (aku) mencela para saudara di Siauw-lim-pai karena mempunyai banyak murid yang dilath ilmu silat. Sekarang pinceng menyadari dan akan mencontoh Thai Kek Siansu akan mencari seorang murid yang baik!” kata Thong Leng Losu.

"Ah, kalau begitu mari kita bertiga melanjutkan kesalah-pahaman kita bertiga tadi dengan perlumbaan yang lebih bermanfaat, yaitu kita turunkan apa yang kita pernah pelajari kepada murid masing-masing dan kita lihat kelak, murid siapa yang paling berguna bagi tanah air dan bangsa!" kata Thong Gi Cinjin.

"Bagus, ini baru perlumbaan dan persaingan yang menarik karena hasilnya pasti akan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Biarlah aku, atau kalau tidak diwakili muridku, yang kelak menjadi saksi keberhasilan kalian bertiga." kata Thai Kek Siansu. "Sekarang, aku pamit, harap Sam-wi maafkan karena aku harus pergi."

Setelah berkata demikian, Thal Kek Siansu mengangkat tubuh Han Lin, dibawanya naik ke atas punggung rajawali yang masih mendekam, duduk berboncengan dengan Han Lin di depan dan dia di belakang.

"Tiauw-cu, mari kita pulang!" kata Thai Kek Siansu.

Rajawali itu mengeluarkan bunyi nyaring, bangkit berdiri, mengembangkan sayapnya yang lebar, lalu kedua kakinya yang kokoh kuat itu mengenjot tubuhnya, lalu terbanglah dia ke atas dengan cepatnya.

Tiga orang pendeta itu bangkit berdiri Han memandang dengan kagum.

"Omitohud, Thai Kek Siansu dapat menjinakkan Sin-tiauw (Rajawali Sakti) yang hidup di daerah Himalaya dan kini amat langka itu! Sungguh luar biasa sekali!" Thong Leng Losu berseru. Sebagai seorang yang puluhan tahun berkelana di daerah Tibet dan Pegunungan Himalaya dia tahu tentang rajawali yang langka itu.

"Siancai! Pinto sendiri sudah menjinakkan seekor harimau yang dapat pula jadikan seperti kuda tunggangan, tetapi tidak ada artinya dibanding dengan Rajawali Sakti itu. Mengagum sekali!" kata Louw Keng Tojin.

Setelah mereka sepakat untuk mas masing mencari seorang murid, tiga orang pendeta itu lalu meninggalkan puncak bukit itu dan saling berpisah.

oooOOooo

Terjadi peristiwa penting di istana Kerajaan Chou. Kaisar Chou Ong yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun dan memang sudah selama beberapa tahun tidak bergairah mengurus pemerintahan dan hanya menyerahkan kepada para pejabat tinggi yang membantunya, kini menyerahkan mahkota kerajaan kepada puteranya yang masih kecil berusia tujuh tahun di bawah bimbingan Sang Permaisuri, ibu pangeran itu. Hal ini sebetulnya amat tidak disetujui sebagian besar para pejabat tinggi, terutama para panglima karena mereka tahu bahwa sewaktu Kaisar Chou Ong masih menjadi kaisar pun, pemerintahan sudah dikuasai oleh Sang permaisuri dan para pejabat tinggi yang bersaing menumpuk harta kekayaan pribadi. Apalagi sekarang, kaisarnya masih kanak-kanak dan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Permaisuri dan kaki tangannya, para pejabat tinggi yang korup. Maka sudah dapat dibayangkan betapa akan buruk akibatnya bagi rakyat. Pemerintahan lemah, pemberontakan dan kekacauan terjadi di mana-mana sedangkan para pembesarnya hanya sibuk memperebutkan kekayaan yang tidak halal.

Pada waktu itu, ada seorang jenderal atau panglima dari Kerajaan Chou yang terkenal gagah perkasa dan sudah banyak jasanya terhadap kerajaan. Dialah yang terkenal memimpin pasukannya menghancurkan pemberontakan-pemberon takan. Panglima ini bernama Chao Kuang Yin, seorang yang berusia hampir lima puluh tahun. Dia berasal dari Chou, sebuah kota di sebelah selatan Peking, sejauh kurang lebih empat puluh li (mil). Chao Kuang Yin ini keturanan orang-orang yang menduduki jabatan penting pada masa Dinasti Tang dan dinasti-dinasti berikutnya pada zaman Lima Dinasti yang kini diakhiri dengan Dinasti Chou.

Ketika Kaisar Chou Ong menyerahkan mahkotanya kepada pangeran yang masih kecil, Chau Kuang Yin termasuk di antara para pejabat tinggi yang merasa tidak setuju. Akan tetapi dia seorang yang setia kepada kerajaan, maka biarpun hatinya merasa tidak setuju, tidak mau menyatakan dalam sikap atau ucapannya. Para pimpinan baru kerajaan yang dikepalai Permaisuri tahu bahwa Chao Kuang Yin merupakan seorang panglima yang tidak menyukai mereka dan amat berbahaya, maka ketika terdapat gerakan dan ancaman dari bangsa Khitan, Permaisuri memerintahkan Chau Kuang Yin untuk membawa tentaranya ke utara untuk mengusir bangsa yang men gancam itu.

Panglima Chao Kuang Yin tentu saja menaati perintah ini. Akan tetapi para pembantunya, para panglima dan perwira pembantunya, diam-diam merasa penasaran. Mereka tahu betapa lemahnya kedaan pemerintahan yang dikuasai Permaisuri dan para pejabat tinggi yang korup itu. Setelah mereka berhasil menyisir para pengacau Khitan, para panglima dan perwira pembantu mengadakan persekongkolan. Mereka bersepakat bulat untuk mengadakan pemberontakan dan pengangkat panglima mereka Chao Kuang Yin sebagai kaisar baru! Akan tetapi para perwira itu tahu benar bahwa Panglima Chao Kuang Yin yang amat setia dan pasti tidak mau melakukan pemberontakan, maka mereka bersepakat untuk memaksanya! Demikianlah, pada suatu malam, ketika pasukan berhenti dalam perjalanan kembali ke kotaraja, belasan orang perwira memasuki tenda di mana Panglima Chao Kuang Yin tidur. Panglima ini terkejut ketika dia terbangun, dia telah dikepung belasan orang perwira pembantunya dengan pedang terhunus!

"Hei, apa yang kalian lakukan ini?” Chao Kuang Yin melompat turun dari tempat tidurnya, sama sekali tidak takut walaupun ditodong belasan batang pedang oleh para perwira yang mengepungnya. Dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat melawan belasan orang perwira itu. Biarpun dia seorang ahli perang, pandai mengatur barisan dan menggunakan siasat perang, namun ilmu silatnya tidak selisih banyak dengan seorang perwira pembantunya. Dikeroyok belasan orang itu, tentu dia tidak akan mampu menang.

Seorang perwira mengeluarkan sebua jubah kuning dengan gambar naga dan burung Hong. "Thai-ciangkun (Panglima Besar), kami hanya mohon agar ciangkun suka mengenakan jubah yarng telah kami persiapkan ini."

"Hei, apakah kalian sudah gila?" Cha Kuang Yin memandang jubah itu dengan mata terbelalak. "Jubah kuning dengan gambar-gambar ini hanya boleh dipakai seorang kaisar!" Para perwira itu lalu menceritakan apa kehendak yang telah mereka sepakati bersama, yaitu mengangkat Chao Kuang Yin menjadi kaisar baru untuk menggantikan kaisar kanak-kanak yang baru diangkat oleh Kaisar Chou Ong.

"Tidak, aku tidak mau memberontak! Chao Kuang Yin menolak keras.

"Maaf, Thai-ciangkun. Kalau engkau menolak, terpaksa kami akan membunuhmu dan mengangkat calon kaisar lain karena engkau tentu akan menentang rencana kami!"

Chao Kuang Yin tidak takut menghadapi ancaman maut. Akan tetapi di berpikir. Kalau aku dibunuh lalu mereka mengangkat kaisar lain pasti akan terjadi pembantaian di kota raja, seperti yang terjadi pada setiap pemberontakan dan pergantian kekuasaan. Tidak, dia harus mencegah malapetaka yang akan menyengsarakan rakyat itu! Dan caranya tidak mungkin dilakukan dengan kekerasan karena dia tidak akan menang menghapi mereka yang ingin mengambil alih kuasaan kaisar itu. Dia harus menggunakan akal yang halus dan terbaik.

Chao Kuang Yin menghela napas panjang. "Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu syarat aku mau menerima pengangkatan kalian sebagai kaisar baru."

Para perwira itu serentak ingin mengetahui apa syarat yang diminta Panglima Besar mereka. Chao Kuang Yin dapat menduga bahwa mereka ini mengangkatnya belum tentu didasari rasa kagum kepadanya, melainkan lebih banyak kemungkinan karena didorong kepentingan pribadi. Tentu mereka mengharapkan kalau pemberontakan ini berhasil, mereka akan mendapatkan bagian pahalanya!

"Aku mau menjadi kaisar baru akan tetapi kalian harus bersumpah dulu bahwa kalian akan menaati semua perintahku sebagai kaisar!"

Para perwira itu serentak menyatakan sumpah mereka bahwa mereka akan mematuhi semua perintah Chao Kuang Yin sebagai kaisar mereka! Demikianlah, dengan mengenakan pakaian sebagai seorang kaisar, Chao Kuang Yin memimpin balatentaranya kembali ke kota raja. Dan memerintahkan agar pasukannya tidak melakukan kekerasaan, tidak mengganggu para pembesar dan rakyat.

Sang Permaisuri yang mewakili puteranya, kaisar yang masih kecil, tidak melihat jalan lain kecuali menyerah. Apalagi ternyata bahwa Chao Kuang Yin m enggunakan taktik lunak, seluruh keluarga istana tidak ada yang diganggu. Mereka dibiarkan hidup seperti biasa, hanya mendapatkan tempat tinggal di luar istana. Bahkan hanya para pejabat yang benar-benar brengsek dan melakukan kejahatan saja yang dihukum. Yang kesalahannya tidak amat besar diampuni dan yang kesalahannya hanya sedikit masih diperbolehkan memegang jabatan yang dengan janji sumpah bahwa mereka akan memperbaiki kelakuannya.

Setelah menjadi kaisar baru, Chao Kuang Yin mendirikan kerajaan baru, yaitu Dinasti Sung dan dia memakai nama Kaisar Sung Thai Cu (960 - 976). Bukan hanya Kaisar Sung Thai Cu mengambil alih kekuasaan, mengganti Dinasti Chou dengan Dinasti Sung tanpa kekerasan sehingga tidak mengorbankan perang dan tidak ada yang terbunuh, juga dia menggunakan taktik akhirnya dengan gemilang. Dia maklum bahwa pihak yang membahayakan adalah para perwira yang dulu mengangkatnya menjadi kaisar dengan paksa. Mereka yang memiliki ambisius besar itu mungkin saja sewaktu-waktu mengulangi perbuatan mereka yang sama untuk memberontak dan menjatuhkannya, menggantinya dengan seorang kaisar baru lagi! Maka dia memanggil dua belas orang perwira itu, menjamu mereka dengan makan minum dalam sebuah pesta diantara mereka sendiri Kemudian setelah mereka makan minum sepuasnya, Kaisar Sung Thai Cu berkata.

"Para perwira yang berjasa! Setelah kini semua cita-cita kita terlaksana dan aku menjadi kaisar pertama dari Dinasti Sung yang kita dirikan, setiap malam aku tidur dengan gelisah kalau aku memikirkan dengan sangsi dan ragu, sampai dimanakah kesetiaan kalian kepadaku?"

Para perwira itu terkejut dan saling pandang, lalu seorang dari mereka yang paling tua, usianya enam puluh tahun berkata.

"Sribaginda, mengapa Paduka berkata demikian? Tentu saja hamba semua setia kepada Paduka. Bukankah selama ini hamba semua selalu menaati semua perintah Paduka?"

Kaisar Sung Thai Cu menghela napas sebelum menjawab. "Yang mengganjal dalam hati kami adalah kalau kami terringat akan perbuatan kalian ketika memaksa aku menjadi kaisar baru. Sekarang, seandainya kalian melakukan lagi hal itu pada seseorang untuk menjadi kaisar baru menggantikan aku, apakah orang itu dapat menolaknya?"

Kembali para perwira itu saling pandang dan perwira tua yang mewakili mereka segera berkata, "Sribaginda Kaisar Yang Mulia, percayalah kepada hamba sekalian. Tidak sembarang orang dapat dipilih menjadi kaisar dan kalau dulu hamba sekalian memilih Paduka, hal itu karena Padukalah satu-satunya calon yang memenuhi syarat untuk menjad kaisar!"

"Dengarlah, para pembantuku yan baik Syak wasangka dan praduga merupakan hal yang amat berbahaya bagi kedua pihak. Untuk mengatasi hal ini di antara kita, aku telah mempunyai rencana yang amat baik. Kita semua sudah semakin tua dan melihat jasa-jasa kalian, sudah sepatutnyalah kalau kalian kini hidup dalam keadaan sejahtera dan bahagia penuh kedamaian, tidak perlu memusingkan urusan negara. Maka, sebabaiknya, kalian mengajukan permohonan mengundurkan diri dan kalian semua akan kami berikan tanah, tempat tinggal yang memadai dan harta benda yang cukup. Selain itu, kita dapat memperdekat hubungan dengan ikatan-ikatan keluarga saling menjodohkan keturunan kita sehingga kita menjadi sebuah keluarg besar di mana tidak akan ada lagi curiga-mencurigai dan syak wasangka yang buruk. Bagaimana pendapat kalian?"

Dua belas orang perwira itu tentu saja merasa setuju dan merasa terhormat sekali. Mereka lalu mengajukan permohonan berhenti dari kedudukan mereka dengan berbagai alasan. Kemudian Kaisar Sung Thai Cun memenuhi janjinya. Mereka semua diberi tanah dan gedung tempat tinggal, diberi harta secukupnya sehingga mereka hidup dengan tenang. Mereka bagaikan harimau-harimau yang berbahaya akan tetapi telah diberi makan lebih dari cukup sehingga kekenyangan dan tidak ada semangat sama sekali untuk menyerang pemelihara mereka!

Taktik Kaisar Sung Thai Cun ini mendatangkan akibat yang amat baik, dan merupakan awal yang baik sekali bagi kebesaran Kerajaan Sung sehingga dapat mengakhiri jaman di mana perebutan kekuasaan terjadi tiada hentinya. Mendengar akan kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cun, yang menjadi kaisar dari Dinasti Sung yang baru tanpa ada peperangan, tanpa pembunuhan, maka banyak daerah yang tadinya memisahkan diri dan berdiri sendiri, menakluk kepada Kerajaan Sung. Pertama daerah Nan Ping (Hupei) dan Shu (Secuan) yang menakluk. Mereka diterima dengan baik oleh Kaisar Sung Thai Sun, bahkan para pemimpinnya diberi kedudukan dalam pemerintahan Kerajaan Sung. Melihat kebijaksanaan ini banyak daerah yang menakluk. Bahkan di daerah yang tadinya selalu memberontak yaitu Nan Han (Katon) dan Nan Tang (daerah sepanjang Sungai Yangce) hanya mengadakan perlawanan lemah saja sehingga mereka dapat mudah dikuasai pasukan Sung. Para pemimpinnya juga diampuni dan diberi kedudukan yang layak.

Demikianlah, Kerajaan Sung merupakan kerajaan Pribumi Han yang mengembalikan kebesaran kerajaan dari dinasti-dinasti terdahulu.

Nama besar Chao Kuang Yin yang menjadi pendiri Dinasti Sung dengan menjadi kaisar pertama sebagai Kaisar Sung Thai Cui selalu dikenang dan dicatat dalam sejarah sebagai tauladan.

ooOOoo

Akan tetapi, setiap ada penguasa baru, betapa banyak pun pendukungnya, pasti ada saja yang menentang. Pihak pendukung biasanya disebabkan karena munculnya penguasa baru atau dinasti baru itu menguntungkan. Sebaliknya, mereka yang menentang juga disebabkan arena adanya penguasa baru itu merugikan dirinya.

Di antara mereka yang merasa dirugikan tentu saja adalah para pembesar yang tadinya dengan mudah dapat menumpuk harta kekayaan pada waktu Kerajaan Chou belum dijatuhkan. Juga para hartawan yang kini menjadi berkurang penghasilan mereka karena kerja sama mereka dengan para pejabat tinggi terputus, mereka tidak senang kepada pemerintah Sung yang baru. Ada pula sanak keluarga para pejabat tinggi yang dihukum penjara karena menyalahgunakan kekuasaannya di dalam pemerintahan yang lalu, tentu saja merasa sakit hati dan mereka mudah dibujuk dan dibakar oleh mereka yang merencanakan pemberontakan terhadap kerajaan yang baru.

Pemimpin golongan pemberontak itu adalah seorang pangeran Kerajaan Chou yang telah runtuh. Dia seorang pangeran yang masih terhitung keponakan dari mendiang Kaisar Chou Ong yang baru saja meninggal tidak lama setelah Kerajaan Chou jatuh dan Kerajaan Sung belum diri. Dahulu dia menjadi seorang panglima yang bertugas di Selatan. Namanya adalah Pangeran Chou Ban Heng, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun yang tinggi besar dan gagah per kasa. Dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, karena pangeran yang menjadi panglima ini adalah murid Hong-san Sial su Kwee Cin Lok yang menjadi Hong san-pangcu (Ketua Perkumpulan Horw san-pang). Sebetulnya, dialah yang dahulu didukung oleh Ceng In Hosiang, Kwan Su, Im-yang Tosu, Kwee Cin Lok, dan kepala suku Khitan yang bernama Kailon itu, yang mempunyai niat memberontak terhadap pamannya sendiri, yaitu Kaisar Chou Ong. Pangeran Chou Ban Heng memang diam-diam mengadakan persekutu dengan suku bangsa Khitan agar membantunya merebut kekuasaan. Akan tetapidia belum berani bertindak karena Kerapian Chou mempunyai Panglima Chuo Kuang Yin yang setia. Maka dia menunda-nunda niatnya dan hendak memperkuat dulu kedudukannya dengan mencari dukungan orang-orang sakti. Untuk keperluan itulah maka lima orang pendukungnya yang lihai itu membujuk para pendeta yang mengadakan pertemuan di Puncak Bukit Naga Kecil itu. Akan tetapi usaha mereka membujuk itu gagal dan mereka bahkan meninggalkan puncak itu dan Kailon yang mengerahkan anak buahnya bahkan terpaksa melarikan diri. Maka, ketika Panglima Chao Kuang Yin mengambil alih kekuasaan dan mendirikan Kerajaan Sung, tentu saja Pangeran Chou Ban Heng menjadi marah dan penasaran sekali. Dia yang bertugas di Selatan dengan pasukannya lalu tidak mau kembali ke kotaraja melainkan memperkuat kedudukannya di Lembah Sungai Yang-ce di seberang Selatan.

Akan tetapi, kebijaksanaan pemerintah baru Kerajaan Sung yang dipimpin Kaisar Sung Thai Cu sudah tersiar sampai selatan Sungai Yangce. Banyak pimpinan pemberontak menakluk tanpa perang, dan banyak pula para bekas perwira Kerajaan Chou yang tadinya mendukung Pangeran Chou Ban Heng, mengundurkan diri dari persatuan pemberontak itu. Para perajuritnya juga kurang bersemangat untuk melawan ketika pasukan Sung datang mengadakan pembersihan ke selatan. Maka setelah terjadi pertempuran berturut-turut selama tiga bulan, pasukan yang dipimpin Pangeran Chou Ban Heng kalah dan banyak perajuritnya melarikan diri.

Usaha pemberontakan itu gagal sama sekali.

Akan tetapi, yang pecah dan menghilang hanyalah para perajuritnya. Adapun para pemimpinnya, Pangeran Cho Ban Heng dan sekutunya, masih ada. Mereka berhasil lolos dan melarikan diri.

Pada suatu malam, di dalam sebuah hutan yang sunyi terpencil di lembah Sungai Yangce, beberapa orang mengadakan pertemuan di sebuah pondok kayu yang masih baru. Pondok yang sederhana sekali dan dibangun dengan terburu-buru. Di tengah ruangan pondok itu terdapat sebuah meja bundar yang cukup besar dan di sekeliling meja duduk bercakap-cakap beberapa orang dengan serius. Di atas tergantung dua buah lampu yang besar sehingga ruangan itu cukup terang.

Yang duduk menghadap keluar adalah orang laki-laki yang berpakaian seperti seorang bangsawan, tubuhnya tinggi besar, dengan kumis dan jenggot tebal pendek dan rapi, wajahnya tampan gagah namun sinar matanya membayangkan kekerasan hati. Inilah Pangeran Chou Ban Heng yang pasukannya telah dipukul cerai-berai oleh pasukan Sung yang mengadakan pembersihan. Dia ditinggalkan para perajurit dan perwira pengikutnya, akan tetapi para datuk persilatan masih setia dan kini duduk dihadapannya. Mereka adalah Ceng In Hosiang, hwesio Sauw-lim-pai yang gemuk pendek, Kang-Lam Sin-kiam Kwan In Su yang tampan, yang Tosu tokoh berasal dari utara, dan Kwee Cin Lok yang berjuluk Hongsan Siansu atau Hongsan Pangcu (Ketua Hongsan-pang). Hong-san Siansu ini adalah guru dari Pangeran Chou Ban Heng maka dia paling dihormati di antara para tokoh persilatan itu. Ketika terjadi pertempuran, empat orang datuk ini memang tidak mau terlibat karena bagi para datuk itu, amat merendahkan diri kalau mereka ikut beramai-ramai bertempur dalam perang. Kin Pangeran Chou Ban Heng mengundang mereka untuk mengeluh akan kegagalannya dan minta bantuan dan nasihat mereka. Empat orang datuk itu mendengarkan laporan Pangeran Chou yang mengakhiri semua laporannya dengan ucapannya dengan nada sedih dan penasaran. Ucapannya dia tujukan terutama kepada gurunya, yaitu Hongsan Siansu.

"Suhu dan Sam-wi Lo-cian-pwe (Tiga Orang Tua Perkasa) yang terhormat tentu memaklumi betapa sedih dan penasaran rasa hati saya. Kita yang susah payah menyusun kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerinta Paman Chou Ong yang brengsek dan korup, ternyata didahului oleh Si Jahanan Chao Kuang Yin yang sekarang menjadi kaisar dan mendirikan Kerajaan Sung yang baru. Padahal, sayalah orangnya yang berhak duduk di singgasana sebagai eorang pangeran, bukan dia. Dia itu hanya seorang jenderal, tidak berhak sama sekali karena dia bukan keluarga istana! Karena itu, sekarang saya mohon Suhu dan Sam-wi Lo-cian-pwe sudi memberi nasihat, bagaimana selanjutnya saya harus berbuat untuk dapat merampas tahta kerajaan dari tangan Chao Kuang Yin?"

"Saya kira tidak ada jalan lain kecuali diam-diam menyusun kekuatan baru, pangeran. Saya kira di daerah Cekiang dan Shansi masih terdapat banyak orang yang belum takluk kepada Kerajaan Sung. Pangeran dapat menyusun kekuatan dan bekerjasama dengan pihak mereka. Kalau sudah memiliki balatentara yang kuat, baru kita bergerak menyerang." kata Kwan In Su.

"Siancai!" kata Im Yang Tosu. "Pinto (aku) setuju dengan usul Kanglam Sinkiam. "Dan jangan lupa untuk menghubungi Saudara Kailon. Dia dapat mengerahkan bangsa Khitan untuk memperkuat barisan kita."

Pangeran Chou Ban Heng tampak gembira dan mendapat harapan baru.

"Bagaimana pendapat Suhu?" tanyanya kepada suhunya, Hong-san Siansu Kw Cin Lok.

Sejak tadi Hongsan Siansu mendengarkan dengan alis berkerut, lalu dia berkata. "Pangeran,usul dari Kanglam Sim kiam dan Im Yang Tosu itu memang baik dan saya setuju. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan tidak gegabah atau terburu-buru sekali ini, agar jangan sampai gagal lagi. Sebaiknya, kita menggunak Hong-san-pang sebagai pusat pergerakan sehingga tidak mencolok dan tidak menimbulkan kecurigaan. Dari sana kita menyusun kekuatan. Sementara Paduka menyusun kekuatan, kita juga secara diam-diam harus memperdalam ilmu silat, terutama sekali putera Paduka harus diberi gemblengan yang mendalam. Dengan demikian, seandainya usaha Paduka Pribadi menemui kegagalan, kelak putera paduka akan dapat melanjutkan cita-cita mulia membangun kembali Kerajaan Chou ini menjatuhkan Kerajaan Sung."

Pangeran Chou Ban Heng mengangguk-an gguk setuju. Dia memandang kepada Ceng In Hosiang yang sejak tadi hanya diam saja, lalu bertanya. "Lo-suhu, bagaimana pendapatmu? sejak tadi Lo-suhu belum memberi saran, harap Lo-suhu suka memberi petunjuk."

Ceng In Hosiang yang bertubuh gendut itu tersenyum lebar akan tetapi dia menggelengkan kepalanya yang bulat. “Omitohud, apa yang dapat pinceng (aku) katakan? Cita-cita kita dahulu adalah untuk mengganti pimpinan kerajaan yang kotor dan menyengsarakan rakyat, demi kesejahteraan rakyat. Akan tetapi Paduka didahului Chao Kuang Yin yang berhasil mengambi alih kekuasaan. Cara yang diambilnya demikian bijaksana sehingga mengambil-alihan kekuasaan itu tidak menimbulkan perang. Kemudian, ternyata setelah dia mendirikan Kerajaan Sung dan menjadi Kaisar Sung Thai Cu, dia juga bijaksana dan menaklukkan banyak pemerintah daerah tanpa perang. Dia menghukum mereka yang dahulu menjadi pembesar korup dan menjalani pemerintahan, dengan tertib dan bersih ini berarti bahwa cita-cita kita sud tercapai. Mengapa kita harus memusuhi dan merebut kekuasaan dari tangan orang yang bijaksana itu? Merebut kekuasaan berarti perang dan hal itu hanya menyengsarakan rakyat. Tidak, Pangeran pinceng tidak setuju dan tidak mungkin dapat membantu usaha pemberontak ini. Sebaiknya sekarang juga pinceng mohon pamit dan mengundurkan diri."

Setelah berkata demikian, Ceng in Hosiang bangkit berdiri dari kursinya dan setelah menjura dengan hormat kepada Pangeran Chou Ban Heng, dia lalu keluar dari pondok itu. Melihat ini, Pangeran Chou memberi isarat dengan tangannya dan Hongsan Siansu segera bangkit dan keluar, diikuti oleh Kanglam Si kiam dan Im Yang Tosu.

Ceng In Hosiang keluar dari pondok dan ketika dia tiba diluar, dimana terdapat sebuah lampu gantung yang memberi penerangan remang-remang, tiba-tib berkelebat tiga sosok bayangan dan di depannya telah berdiri tiga orang datuk yang tadi duduk di dalam pondok, pelihat mereka yang berdiri di depannya Ceng In Hosiang tersenyum;

"Omitohud, kalian bertiga juga mengambil keputusan seperti yang pinceng ambil? Bagus, dengan begitu kita telah mengambil jalan benar dan mencegah terjadinya perang dan bunuh membunuh antara bangsa sendiri." Akan tetapi Hongsan Siansu berkata dengan suara kaku. "Ceng In Hosiang, engkau telah lari dari kerja sama kita, berarti engkau telah menjadi pengkhianat. Kelak engkau tentu hanya akan menjadi penghalang bagi perjuangan kami, karena itu, seorang pengkhianat seperti engkau sudah sepatutnya dibinasakan!"

Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan lagi kepada hwesio itu untuk menjawab, Hongsan Siansu sudah nenyerang dengan tamparan tangan kanan yang dahsyat ke arah kepala Ceng In Hosiang yang gundul. Pukulan ini hebat bukan main. Jangankan hanya kepala manusia, batu karang pun akan pecah berantakan terkena Thai-lek-jiu ini. Akan tetapi Ceng In Hosiang adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lihai. Dia maklum akan hebatnya tamparan itu, maka sambil mengerahkan tenaga sakti, dia menangkis dengan ilmu Thiat-ciang-kang (Tenaga Tangan Besi).

"Wuuuttt dukkkkk!!" Dua tenaga dahsyat bertemu melalui kedua lengan itu

dan tubuh Ceng In Hosiang terdorong mundur tiga langkah. Diam-diam dia harus mengakui bahwa tenaga sakti Hongsan Siansu amat kuat. Akan tetapi harus waspada karena pada saat itu, angin dahsyat menyambar dari samping. Cepat dia merendahkan tubuhnya untuk mengelak.

"Singgggg !" Sinar pedang seperti kilat menyambar lewat atas kepalanya.

Ternyata Kang-lam Sinkiam Kwan In yang menyerangnya dengan pedangnya yang lihai!

Ceng In Hosiang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi dia tetap waspada. Ketika ada sinar hitam menyambar dari sebelah kanannya, dia sudah menggerakan tongkat atau toyanya untuk menangkis.

"Tranggggg !" Toya itu menangkis sehelai sabuk kulit naga yang tadi digerakkan

Im Yang Tosu untuk menyerangnya.

Ceng In Hosiang maklum bahwa dirinya berada dalam ancaman bahaya maut. Dia dikeroyok tiga orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, yang tidak kalah lengan tingkatnya. Bahkan dia tahu bahwa tingkat kepandaian Hongsan Siansu lebih tinggi. Baru tenaga sinkangnya tadi ketika dia menangkis, membuktikan bahwa Ketua Hong-san-pai itu kuat sekali.

Kembali pedang dan sabuk kulit naga dari Kwan In Su dan Im Yang Tosu menyambar. Ceng In Hosiang cepat memutar toyanya menangkis, akan tetapi karena dua orang datuk itu menyerang berbareng, dia harus menghadapi dua tenaga kuat sehingga tangkisannya itu biarpun dapat menghindarkan serangan lawan, tetap saja membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.

Pada saat itu, ada sinar kilat menyambar dari atas ke arah lehernya. Cepat sekali pedang itu menyambar dari atas dan itu adalah hui-kiam (pedang terbang) dari Hongsan Siansu yang dapat terbang digerakkan dengan kekuatan gelombang pikiran.

Ceng In Hosiang cepat mengelak namun kurang cepat sehingga bukan lehernya yang terbabat, melainkan pundak kirinya. Dia menahan keluhannya dan cepat melompat untuk melarikan diri karena pundaknya telah terluka dan mengeluarkan darah.

"Bukkk!" Ketika dia menangkis pedang Kang-lam Sin-kiam Kwan In Su yang menyambar, dia terkena pukulan sabuk kulit naga dari Im Yang Tosu, tepat pada punggungnya sehingga dia merasa seolah isi dadanya berantakan! Rasa nyeri, panas dan pedih membuat Ceng In Hosiang terjengkang roboh. Akan tetapi tokoh Siauwlimpai ini memiliki tubuh yang terlatih dan kuat. Dia masih dapat bertahan lalu cepat bergulingan menjauhi lawan, dan setelah mendapat kesempatan, dia menggunakan toyanya menekan tanah dan dia pun melompat dengan lompatan

Hui-niau-touw-lim (Burung Terbang Masuk Hutan) dan menghilang dalam kegelapan nalam.

Tiga orang itu tidak dapat melakukan pengejaran karena malam amat gelap dan berbahayalah mengejar seorang selihai Ceng In Hosiang dalam kegelapan itu. Besar kemungkinan yang mengejar akan mendapat serangan mendadak dan celaka.

Karena yakin bahwa hwesio itu telah menderita luka parah dan sulit untuk dapat hidup, mereka lalu masuk kembali ke dalam pondok dan melanjutkan perundingan mereka.

Petunjuk Hongsan Siansu tadi disepakati. Mereka menggunakan Hong-san di mana Hong-san-pang berada sebagai pusat pergerakan mereka. Setelah terjadi kesepakatan ini, Pangeran Chou Ban Heng lalu menyuruh seorang anggota Hong- san-pang yang menjadi pengawal untuk memanggil puteranya.

Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun memasuki pondok itu. Dia adalah Chou Kian K i, putera tunggal Pangeran Chou Ban Heng. Chou Kian Ki yang berusia lima belas tahun ini bertubuh tegap da wajahnya tampan. Sejak kecil dia tela digembleng oleh kakek gurunya sendiri yaitu Hong-san Sian-su sehingga dalam usia lima belas tahun dia telah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup lihai. Juga dia menerima pelajaran bun (sastra) dari ayahnya. Kian Ki memang cerdas sekal Dia bukan hanya tangkas dan lihai dala ilmu silat, akan tetapi jug menguasai kesusastraan. Gerak geriknya lembut seperti seorang sastrawan muda sehingga orang yang tidak mengenalnya tentu tidak menyangka bahwa Chou Kongcu Ki seorang ahli silat yang lihai.

Setelah duduk, Kian Ki menerima penjelasan ayahnya akan semua kesepakatan yang dibicarakan di situ.

"Mulai sekarang, engkau harus mempelajar i ilmu-ilmu dari Lo-cian-pwe Kwan ln Su dan Lo-cian-pwe Im Yang Tosu agar kelak engkau dapat melanjutkan cita-cita kami." Pangeran Chou mengakhiri kata-katanya.

Karena dia memang suka sekali mempelajari ilmu silat, maka mendengar ini, Kian K i segera maju dan berlutut di depan kaki kedua orang datuk itu sambil menyebut "Suhu".

Demikianlah, mulai hari itu, di Hong-san diadakan usaha untuk membangun kembali Kerajaan Chou untuk merampas tahta kerajaan dari tangan Kaisar Sung Thai Cu.

Semua kegiatan ini terselubung dengan adanya Hong-san-pang yang memang sudah lama berdiri sehingga tidak ada yang menaruh curiga.

ooOOoo

Ceng In Hosiang yang terluka parah itu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melarikan diri. Malam itu gelap sekali sehingga dia lari tersaruk-saruk, beberapa kali terjatuh dan menubruk pohon. Akan tetapi karena maklum bahwa sekali terkejar dan tertangkap, pasti tidak akan diampuni, dia berusaha berlari terus, terkadang dengan merangkak. Dia dapat bertahan sampai pagi hari dan akhirnya dia roboh terguling di sebuah dusun kecil dan pingsan!

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun keluar dari dusun itu menggiring tiga ekor kerbau yang akan digembalakannya ke padang rumput tak jauh dari dusun. Anak laki-laki yang bertubuh tinggi namun kurus itu terkejut melihat seorang kakek gundul berjubah lebar dan tangannya memegang tongkat atau toya, menggeletak telentang di atas tanah. Tadinya anak itu mengira bahwa Ceng In Hosiang adalah seorang pendeta yang sedang tidur, akan tetapi ketika melihat darah melumuri pakaiannya yang berwarna kuning, anak itu lalu menghampir i dan berjongkok. Dia melihat betapa jubah pendeta itu robek di bagian pundak kirinya dan dari robekan tu darah berlepotan. Biarpun dia seorang bocah dusun, namun dia pernah melihat seorang hwesio lewat di dusunnya, maka tahulah dia bahwa kakek gemuk pendek Ini adalah seorang pendeta hwesio.

"Losuhu, Losuhu, bangunlah !" anak Itu menggoyang-goyang pundak kanan

Ceng In Hosiang. Akan tetapi hwesio yang sedang pingsan itu tidak bergerak dan tidak membuka matanya yang terpejam.

Akhirnya anak itu dapat menduga bahwa hwesio itu tentu pingsan. Tadinya dia merasa ngeri karena mengira hwesio itu mati, akan tetapi karena dada yang bidang itu masih bernapas, dia mengira bahwa tentu pendeta itu pingsan. Pernah dia melihat orang pingsan di dusunnya dan dia pernah mendengar pula bahwa orang pingsan dapat dibuat sadar dengan siraman air. Dia segera lari pergi untuk mengambil air dengan sebuah ember yang memang selalu dia bawa untuk memandikan kerbau-kerbaunya setelah kenyang membiarkan mereka makan di padang rumput siang nanti. Kemudian setelah mengisi ember itu dengan air, dia kembali ke situ dan tanpa ragu lagi dia lalu menyiramkan air pada muka dan kepala Ceng In Hosiang.

Hwesio itu gelagapan dan membuka! matanya, menggoyang kepalanya daan bangkit duduk, lalu mengeluh karena; merasa betapa pundaknya panas pedih dan dadanya terasa sesak. Ingatlah dia akan segala yang terjadi, maklum bahwa dia terluka.

Kemudian dia melihat anak yang berdiri di dekatnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun yang matanya bersinar terang akan tetapi pakaiannya butut, kasar dan tambal-tambalan. Dia melihat pula betapa anak itu masih memegang sebuah ember yang basah dan tahulah dia bahwa anak itu yang tadi menyadarkannya dengan siraman air.

Ceng In Hosiang tersenyum, memandang anak itu. "Engkaukah yang menyiram muka dan kepalaku dengan air?"

Anak itu lalu menjatuhkan dirinya berlutut memberi hormat kepada hwesio itu. "Losuhu, maafkan aku. Aku melihat Losuhu rebah telentang dan aku mendengar bahwa orang pingsan dapat sadarkan dengan siraman air, maka aku menyiram muka Losuhu dengan air."

Melihat anak itu agaknya ketakutan, Ceng In Hosiang tertawa.

"Ha-ha, jangan takut. Pinceng berterima kasih kepadamu, anak baik. Siapakah namamu?"

"Namaku Liu Cin, Losuhu."

Ceng In Hosiang mengamati wajah anak itu. Wajah yang terang dan bentuknya gagah, pikirnya. Sepasang mata yang bersinar tajam dan tampak jujur.

"Di mana tempat tinggalmu dan siapa Ayah Ibumu?" "Orang tuaku mereka sudah tiada, Losuhu. Aku bekerja di rumah Kepala

Dusun sebagai pembantu dan mengurus kerbau-kerbaunya "

Hemmm, anak yatim piatu. Ceng In Hosiang menyeringai karena merasa nyeri di dalam dadanya. Agaknya pukulan sabuk kulit naga dari Im Yang Tosu telah mendatangkan luka dalam di dadanya.

"Kenapa, Losuhu? Apakah Losuhu sakit ?" Anak itu mendekat dengan khawatir.

Melihat perhatian anak itu, Ceng Hosiang tersenyum. Dia lalu duduk sila dan berkata. "Liu Cin, engkau sudah menolongku. Maukah engkau menolong lagi?"

"Apa yang dapat kulakukan untukmu, Losuhu?" tanya Liu Cin penuh kesediaan untuk menolong.

"Aku hendak bersamadhi mengobat lukaku. Jagalah di sini dan jangan biar pun siapapun mengganggu samadhiku. Maukah engkau melakukan hal itu?"

"Tentu saja, Losuhu. Aku akan mernjagamu dan melarang siapapun menganggumu bersamadhi." kata Liu Cin.

Karena kalau tidak segera diobati, lukanya dalam dada dapat menjadi semakin parah, Ceng In Hosiang lalu bersila dan memejamkan mata, lalu mengatur pernapasan dan mempergunakan hawa murni untuk mendorong keluar hawa beracun akibat pukulan sabuk kulit naga dan menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.

Liu Cin duduk tak jauh dari hwesio itu untuk menjaganya. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian mentereng, dikawal tiga orang laki- laki tinggi besar yang membawa Kolok. Melihat mereka, Liu Cin membelalakkan matanya dan ketakutan akan tetapi dia tetap tidak mau meninggalkan penjagaannya. Laki-laki kurus itu bukan lain adalah Kepala Dusun Kui-cun di situ dan tiga orang itu adalah para pengawal atau tukang pukulnya. Pada waktu itu, setiap orang kepala dusun berlagak seolah-olah seorang raja kecil di desanya. Dia merasa sebagai orang yang paling berkuasa di dusun itu, segala kehendaknya merupakan hukum bagi para penduduk. Memang banyak kepala dusun yang bijaksana dan menjadi pelindung bagi rakyat di dusunnya, akan tetapi tidak kurang banyaknya kepala dusun yang berlagak sebagai raja! Kepala Dusun Kui-cun ini pun merupakan seorang di antaranya. Dengan adanya tiga orang, pengawal yang pandai ilmu silat dan ber tubuh kuat, maka tidak ada seorang pun di dusun itu yang berani menentang semua kehendaknya. Ketika kedua orang tua Liu Cin tewas dalam kekacauan ketika terjadi perang dan Liu Cin menjadi yatim piatu, Lurah Dusun Kui- cun itu berlagak baik budi dengan menampung nak itu dan diberi pekerjaan. Akan tetapi sesungguhnya dia hanya memeras tenaga anak itu, disuruh menggemba kerbau, mengurus semua ternaknya, membersihkan kandang dan hampir tidak pernah menganggur. Dan semua itu hanya untuk memperoleh semangkok nasi.

Bahkan pakaian yang dipakai Liu Cin juga butut dan bertambal karena dia tidak diberi pakaian pengganti lain. Pada pagi hari itu, Lurah Ci yang dikawal tiga orang tukang pukulnya keluar dari dusun untuk memeriksa tanaman sawahnya yang luas. Akan tetapi ketika tiba di luar dusun, dia melihat tiga ekor kerbaunya yang gemuk-gemuk itu berkeliaran seorang diri dan dia tidak melihat adanya Liu Cin yang ditugaskan menggembala kerbau- kerbau itu. Marahlah Lurah Ci dan dia lalu mencari anak itu. Ketika dilihatnya anak itu sedang duduk di bawah pohon, di dekat seorang wesio yang duduk bersila, kemarahannya memuncak.

"Bocah jahanam!" bentaknya sambil melangkah menghampiri, diikuti tiga orang tukang pukulnya. "Engkau gentong nasi tak mengenal budi! .Tiap hari makan akan tetapi disuruh menggembala kerbau malah bermain-main di sini!"

"Chung-cu (Lurah)........... Lo-ya (Tuan) saya tidak main-main, saya sedang

menjaga Losuhu yang sedang bersamadhi ini. Kerbau-kerbau itu sedang makan rumput, sebentar akan kumandikan di sungai."

"Cerewet! Siapa yang memberimu makan? Aku atau Hwesio Gundul ini?" bentak Sang Lurah dan dia lalu menggerakkan kakinya.

"Bukkk. !" tubuh anak itu terguling-guling. Akan tetapi dia bangkit dan segera

menghampiri lagi hwesio itu dan duduk di dekatnya, menahan rasa nyeri di pipinya yang lecet karena terguling-guling tadi.

"Setan cilik!" Lurah Ci semakin marah, karena melihat Liu Cin kembali duduk dekat hwesio itu dan terutama sekali karena kakinya terasa nyeri ketika menendang anak itu tadi. Kebetulan yan dia tendang adalah tulang lutut Liu Cin sehingga kakinya kini terasa berdenyut-denyut menendang tulang yang keras.

"Hwesio ini tentu telah mempengaruhi Liu Cin sehingga anak ini menjadi berani menentangku. Hwcsio ini mungkin orang jahat yang akan mengacau dusun kita. Heh, hwesio gendut, cepat kau pergi! menyingkir dari sini!"

Akan tetapi hwesio itu tidak mempedulikannya dan tetap saja duduk melakukan siu- lian (meditasi).

"Hei, hwesio tua! Apakah engkau tuli? Pergi cepat dari sini, engkau kularang berada di sini!" kembali Lurah Ci membentak. Dia tadi menendang Liu Cin akan tetapi betapa marah pun, dia tidak berani menendang hwesio gendut itu.

"Lo-ya, saya mohon, biarlah Losuhu ini bersamadhi sejenak di sini karena dia sedang berusaha mengobati luka-lukanya." kata Liu Cin.

"Apa? Engkau membela hwesio ini? Apamu sih hwesio ini? Bocah setan, cepat pergi sana urus kerbau-kerbaunya, kalau tidak aku akan mengusir kamu!" Ketika melihat Liu Cin tetap saja duduk, lurah itu dengan marah membentak ke-ada tiga orang tukang pukulnya.

"Cepat kalian seret hwesio ini, usir dia agar pergi dari sini. Biar aku yang nenyeret anak setan ini!" Mendengar perintah ini, tiga orang laki-laki tinggi besar itu melangkah maju, sambil tersenyum mengejek mereka mendekati Ceng In Hosiang. Dengan kasar dua orang di antara mereka memegang lengan Ceng In Hosiang, seorang memegang lengan kanan dan orang kedua memegang lengan kiri.