-->

Sepasang Pendekar Kembar Jilid 6

Jilid VI

SEMENTARA itu, semenjak kepergian Ouwyang Bun, Lie Eng menjadi pendiam. Wajahnya yang cantik itu tampak muram saja dan ia jarang tersenyum, kecuali kalau sedang bicara dengan Ouwyang Bu, karena diam-diam ia merasa sangat kasihan kepada pemuda ini. Ia tahu bahwa pemuda ini sekarang menaruh seluruh pengharapannya kepada dia seorang, maka tidak sampai hatinya untuk menolak cinta Ouwyang Bu, biarpun ia juga tidak menyatakan bahwa ia menerima atau membalas cinta itu. Diam-diam gadis ini masih mengingat dengan hati penuh rindu Kepada Ouwyang Bun, pemuda idaman hatinya itu.

Setelah Ouwyang Bun pergi, Lie Eng dan Ouwyang Bu tiada bernapsu lagi untuk melanjutkan perantauan mereka, maka langsung mereka menyusul pasukan yang dipimpin oleh Cin Cun Ong. Beberapa hari kemudian mereka dapat menyusul pasukan itu karena Cln-ciangkun menggerakkan pasukannya sambil melakukan pembersihan di sana-sini.

Sambil berlutut Ouwyang Bu memintakan ampun untuk kakaknya yang telah pergi tanpa pamit itu. Cin Cun Ong menghela napas dan diam-diam ia  merasa menyesal karena ia sungguh mengharapkan tenaga anak muda itu, tapi mulutnya berkata,

"Tidak apalah, memang segala sesuatu tidak dapat dipaksakan. Mungkin dia mempunyai pendapat lain. Mudah-mudahan saja dia tidak mengambil   jalan berlawanan dengan jalan kita. Dan kau sendiri bagaimana?"

"Teecu sudah berjanji hendak membantu pekerjaan susiok sampai titik darah peng habisan." sambil berkata demikian pemuda itu melirik ke arah Lie Eng yang berdiri di dekat ayahnya bagaikan patung, seakan-akan pikirannya melayang-layang pergi jauh dari tubuhnya. Cin Cun Ong adalah seorang kang-ouw yang sudah ulung dan banyak punya pengalaman. Ia maklum bahwa saudara kembar she Ouwyang itu mempunyai hubungan persaudaraan yang luar biasa. Dan kalau ada sesuatu yang mampu memisahkan mereka berdua, maka sesuatu itu tentulah seorang wanita. Dan dalam hal ini, siapakah lagi kalau bukan Lie Eng anak gadisnya sendiri?

"Ouwyang Bu, baik sekali kalau pendirianmu demikian. Aku percaya penuh kepadamu. Ketahuilah, sekarang ini dari sekeliling jurusan yang menuju ke kota raja, telah penuh dengan barisan pemberontak yang bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Menurut perhitunganku, yang berbahaya adalah barisan-barisan pemberontak yang bergerak dari timur dan utara. Maka kebetulan sekali kedatanganmu ini. Aku akan menjaga di sebelah timur dan kau menjaga di sebelah utara. Karena kau belum berpengalaman, maka biarlah Lie Eng membantumu."

Bukan main girang hati Ouwyang Bu, bukan terlalu girang karena diberi tugas besar yang berbahaya itu, tapi gembira karena gadis yang dicintainya itu dijadikan pembantunya. Cin Cun Ong dapat melihat sinar bahagia memancar dari muka pemuda itu, maka dugaannya makin tebal. Tapi ketika ia menengok dan memandang muka Lie Eng, gadis itu menyambut perintah ini dengan dingin saja, walaupun ia berkata,

"Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Bu-ko." "Kalian harus memimpin barisan yang kini sudah berada

di benteng Liok-kwa-shia. Di situ terdapat seribu orang

tentara di bawah pimpinan Gui-ciangkun. Kau bawalah suratku untuknya dan boleh ambil alih pimpinan dan angkatlah ia menjadi pembantumu. Biarpun kepandaian Gui-ciangkun tidak berapa tinggi, namun ia dapat memimpin   anak   buahnya   dan   ia   cukup   setia.   Ingat, kewajiban kalian hanya untuk menjaga daerah itu yang panjangnya lima li dan jangan bergerak terlalu jauh. Ingatlah baik-baik akan gerak-gerik barisan pemberontak yang menggunakan taktik perang secara sembunyi- sembunyi dan jangan percaya kepada segala petani dan pengemis. Mereka ini mungkin sekali adalah anggauta- anggauta pemberontak atau mata-mata. Pendeknya, tanggung jawab benteng itu kuserahkan kepadamu dan hati- hatilah jangan sampai pemberontak dapat menerobos dan melewati benteng itu."

Setelah menerima nasihat-nasihat banyak sekali dari panglima tua yang ulung itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng berangkat dengan diiringkan oleh satu regu tentara pilihan. Ouwyang Bu mengenakan pakaian perwira kelas satu yang terbuat dari kain berwarna hijau dengan sulaman-sulaman kuning. Topinya dihias benang emas hingga berkilauan kena cahaya matahari sedangkan pedangnya digantungkan di pinggang. Ia tampak gagah sekali dan untuk sesaat Lie Eng memandang padanya dengan mata mesra karena Ouwyang Bu memang dalam hal rupa dan bentuk badan serupa benar dengan Ouwyang Bun. Juga Lie Eng berpakaian sebagai seorang panglima wanita, tapi ia tidak menggantungkan sepasang pedangnya di pinggang. Ia lebih suka mengikatkan pedangnya itu di punggungnya hingga dilihat dari depan, hanya gagang pedang saja yang nampak mengintai dari balik bahunya.

Kedatangan mereka disambut oleh Gui Li Sun atau Gui- ciangkun, panglima yang tinggi besar itu. Gui-ciangkun tentu saja merasa tidak puas dan kecewa sekali ketika ia harus menyerahkan pimpinan benteng itu kepada Ouwyang Bu. Anak muda yang baru saja masuk lingkungan ketentaraan itu dan belum mempunyai pengalaman perang sama sekali, telah diserahi tugas ini? Sungguh gemas sekali hati Gui Li Sun dan kalau ia tidak ingat bahwa Ouwyang Bu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya, pula kedatangan anak muda itu membawa surat perintah dari Cin-ciang-kun, bahkan Cin Lie Eng juga ikut membantu, tentu ia akan memperlihatkan rasa menyesal dan marahnya. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa selain memberi hormat secara militer kepada Ouwyang Bu yang semenjak saat itu menjadi pemimpinnya.

Dengan bantuan Lie Eng dan Gui Li Sun, Ouwyang Bu mengadakan peraturan baru yang keras pada seluruh anak buahnya dan penjagaan dilakukan lebih kuat lagi.

Semenjak Ouwyang Bu menjabat pimpinan di situ, benar saja para pemberontak yang hendak menerobos daerah itu selalu dapat digagalkan. Telah lebih dari lima kali rombongan-rombongan kecil pemberontak yang lewat di situ dapat digagalkan bahkan dihancurkan. Beberapa orang pemberontak yang berkepandaian tinggi tidak kuat menghadapi Ouwyang Bu yang dibantu oleh Lie Eng, pula tidak dapat melawan barisan yang besar jumlahnya dan dapat menerobos penjagaan yang sangat kuat itu.

Di waktu tidak ada serbuan pemberontak, tiap hari Ouwyang Bu melatih semua anak buahnya dengan latihan- latihan main senjata. Ia sengaja menurunkan kepandaian silat yang praktis dan yang mudah dipelajari serta dapat digunakan pada saat terjadi pertempuran.

Dan pada suatu hari sampailah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Siauw Leng ke benteng itu. Berbeda dengan serbuan-serbuan pemberontak yang sudah-sudah, pasukan Siauw Leng ini ternyata cukup kuat hingga ketika terjadi pertempuran pertama di antara mereka, banyak juga serdadu penjaga jatuh menjadi korban. Keadaan penjagaan menjadi kacau dan mendengar akan kehebatan para pemberontak yang kali ini menyerbu bentengnya, Ouwyang Bu menjadi marah dan ia sendiri ikut bertindak. Alangkah marahnya ketika ia melihat bahwa yang menyerang adalah pemberontak-pemberontak yang dipimpin oleh gadis yang pernah mengadu kepandaian dengan dia dulu itu. Ia menjadi terkejut dan berlaku hati-hati sekali. Diam-diam ia atur barisannya untuk mengepung, dan ia sendiri bersama Lie Eng lalu menyerbu hingga rombongan pemberontak itu terpukul mundur dan melarikan diri ke dalam hutan.

Karena tahu bahwa rombongan itu terdiri dari banyak orang-orang pandai yang perlu sekali dibasmi agar tidak membahayakan pertahanan bentengnya, Ouwyang Bu lalu mengejar mereka ke dalam hutan. Per tempuran seru terjadi berkali-kali dan pihak pemberontak selalu terdesak hingga mundur dan dikejar terus.

"Sudah, Bu-ko. Jangan-jangan kita kena dipancing." Lie Eng memperingatkan ketika mereka mengejar sampai di pinggir hutan lain yang lebat dan gelap.

Ouwyang Bu berkata dengan penuh napsu,

"Eng-moi, biarlah kita bergiliran menjaga di sini dengan tigaratus orang tentara. Kita dapat mendirikan tenda-tenda di sini, karena kalau tempat ini dijaga, maka tak ada pemberontak dapat mendekati benteng. Juga, pada siang hari kita dapat mengejar ke dalam hutan dan membasmi mereka semua."

Karena Ouwyang Bu yang memegang pucuk pimpinan, maka Lie Eng hanya menurut saja. Tigaratus orang tentara dikerahkannya dan di situ didirikan perkemahan besar. Lie Eng dari Gui Li Sun diperintahkan menjaga benteng, sedangkan tigaratus orang tentara itu dipimpin sendiri oleh Ouwyang Bu.

Keputusan inilah yang membingungkan Siauw Leng dan kawan-kawannya yang berjumlah enampuluh orang, karena dengan dijaganya mulut hutan itu, benar-benar mereka tak dapat keluar.

Demikianlah keadaan Ouwyang Bu, pemuda gagah perkasa yang terpaksa berselisih jalan dengan kakaknya karena pengaruh asmara.

O0odwoO

Pada malam itu ketika Ouwyang Bu sedang mengepalai sendiri anak buahnya melakukan penjagaan di sekitar mulut hutan itu, maka di tengah-tengah hutan sedang diadakan perundingan antara Cui Sian dan kawan-kawannya, bahkan terdapat pula Ouwyang Bun di antara mereka. Seperti telah diketahui, Cui Sian mengambil keputusan untuk memimpin sendiri empatpuluh orang pada pagi hari itu dan menyerbu serta memancing barisan tentara negeri yang menjaga di luar hutan.

Dengan hati-hati dan cekatan, Cui Sian yang berjalan paling depan dapat melihat keadaan penjagaan Ouwyang Bu yang betul-betul kuat dan rapi. Ia memberi tanda kepada kawan-kawannya dan tiba-tiba sambil memekik nyaring, ia perintahkan anak buahnya menyerbu di bagian sayap kiri di mana berkumpul para penjaga terdiri dari kira-kira limapuluh orang berpencaran di sana-sini.

Mendapat serangan tak terduga-duga yang dilancarkan pada waktu pagi sekali itu, para perajurit menjadi panik dan bingung. Sebentar saja di pihak mereka telah jatuh korban beberapa belas orang. Tapi bala bantuan segera datang, dikepalai oleh Ouwyang Bu sendiri.

Melihat bahwa yang memimpin penyerbuan itu adalah Cui Sian, maka panglima muda ini tertawa keras dan berkata, "Aah, It-to-bwee sendiri yang mengantarkan jiwa."

Ouwyang Bu lalu menyerang dengan   pedangnya, dibantu oleh beberapa orang yang berkepandaian cukup tinggi. Biarpun ia belum tentu kalah menghadapi Cui Sian seorang diri saja, tapi di dalam peperangan seperti itu, tidak ada yang harus dibuat malu jika melakukan pengeroyokan, maka Ouwyang Bu juga tidak melarang anak buahnya mengeroyok, karena memang ia ingin segera membereskan pemberontak-pemberontak ini, termasuk juga nona cantik ini.

Cui Sian memang franya ingin memancing mereka saja, bukan bermaksud hendak bertempur mati-matian, maka sambil memutar pedangnya menangkis serangan para lawannya, ia mengeluarkan tiupan yang terbuat dari gading. Setelah ia meniup benda itu, terdengar suara melengking yang tinggi dan nyaring dan serentak anak buahnya meloncat mundur dan melarikan diri ke dalam hutan. Cui Sian sendiri lalu berkata sambil tertawa,

"Ouwyang Bu, sayang aku tidak ada waktu lebih lama untuk melayanimu." Dan sekali loncat, melayanglah tubuhnya cepat sekali ke atas pohon.

Ouwyang Bu kagum melihat ginkang yang hebat ini, tapi ia tidak mau kalah. Sambil memberi aba-aba agar semua anak buahnya mengejar, iapun meloncat mengejar dengan cepat sekali.

Akan tetapi, biarpun merasa gemas dan marah, Ouwyang Bu masih dapat mengendalikan perasaannya dan tidak mau meninggalkan anak buahnya karena ia khawatir kalau-kalau ia lupa diri dan meninggalkan mereka hingga jika terjadi penyerbuan dan pencegatan sewaktu-waktu tidak ada yang memimpin anak buahnya lagi. Ia hanya berteriak keras agar semua anak buahnya cepat mengejar. Ouwyang Bu Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Cui Sian yang sengaja menyuruh kawan-kawannya berteriak memaki-maki sedang memancing ia masuk ke perangkap.

Akan tetapi, biarpun Ouwyang Bu tidak sangat cerdik, namun ia masih teringat sekali tipu muslihat. Oleh karena pikiran inilah ia menjadi curiga.

Pada saat ia hendak memberi perintah supaya anak buahnya berhenti dan mundur, tiba-tiba dari depan dan dari atas pohon datang serangan anak panah yang berhamburan bagaikan hujan. Ouwyang Bu cepat menggunakan pedangnya diputar sedemikian rupa hingga .semua anak panah yang menuju kepadanya dapat dipukul runtuh.

Tapi terdengar pekik-pekik kesakitan dari anak buahnya yang menjadi korban anak panah hingga Ouwyang Bu menjadi terkejut dan marah sekali. Ia pungut sebatang golok dari seorang., anak buahnya yang binasa dan sekali

\angannya bergerak maka golok itu terbang ke atas pohon dan terdengar jeritan ngeri ketika golok itu dengan tepat sekali menancap di perut seorang anggauta pemberontak yang bersembunyi di atas pohon sambil melepaskan a-nak panah, hingga tubuh itu terjungkal ke bawah.

Tapi datangnya anak panah makin banyak dan korban yang jatuh di pihak serdadu sampai belasan orang. Maka Ouwyang Bu lalu meneriakkan aba-aba mundur kepada anak buahnya yang sudah panik itu. Akan tetapi baru saja bergerak mundur beberapa puluh langkah, dari sebelah kanan kiri yang penuh dengan rumpun dan alang-alang, menyambut pula puluhan anak panah hingga sekali lagi barisan Ouwyang Bu menjadi kacau dan kocar-kacir. Sementara itu, sambil berteriak-teriak, pasukan yang dipimpin oleh Cui Sian maju menerjang lagi, kini dibantu oleh pasukan Siauw Leng dan pasukan Lui Kok Pauw.

Bukan main marah Ouwyang Bu melihat betapa tentaranya yang berjumlah banyak itu dapat ditipu hingga mengakibatkan banyak sekali jatuh korban. Dalam marahnya ia mempergunakan   pedangnya   mengamuk hingga sebentar saja beberapa orang ang-gauta pemberontak roboh di tangannya. Tapi karena ia merasa khawatir kalau- kalau masih banyak pemberontak yang bersembunyi dan menyangka bahwa jumlah pemberontak yang   mengepung di hutan itu jauh lebih besar daripada sangkaannya semula, terbukti dari serangan-serangan anak panah yang dilakukan dari mana-mana, terpaksa Ouwyang Bu memberi perintah untuk mundur terus dan lari keluar dari hutan itu.

Ketika ia sedang lari, Ouwyang Bu mendengar suara tertawa merdu dari atas dan ia mengenal suara itu sebagai suara Cui Sian. Gadis itu tertawa lalu berkata,

"Ouwyang Bu, kau tersesat. Kalau tidak mentaati pesan kakakmu, pasti hari ini kau telah menemui ajalmu di rimba ini." Kemudian sunyi senyap.

Ouwyang Bu terkejut sekali dan menduga bahwa Ouwyang Bun pasti berada di hutan itu, menggabungkan diri dengan para pemberontak. la tahu pula bahwa tadi Cui Sian tentu bicara dari atas sebuah pohon dan menggunakan tenaga tan-tian hingga suara ketawa dan kata-katanya terdengar sampai jauh.

Dengan menderita kekalahan besar dan kehilangan tigapuluh orang lebih, Ouwyang Bu keluar dari hutan itu dan terus kembali ke benteng, karena ia perlu mengatur siasat dan merasa bahwa malam ini ia dan barisannya bermalam di pinggir hutan, banyak sekali bahaya yang mungkin akan mendatangkan kerugian lebih besar lagi di pihaknya.

Lie Eng menyambut kedatangannya dengan ikut merasa dendam serta marah. Ia menyatakan penyesalannya mengapa tidak ikut dalam pertempuran itu. Sebaliknya, biarpun di luarnya Gui-ciangkun menyatakan menyesal dan marah, di dalam hati ia mentertawakan   kegagalan Ouwyang Bu.

Ketika berdua saja dengan Lie Eng, Ouwyang Bu lalu menceritakan pengalaman dan pertempurannya dengan Cui Sian.

"Sayang aku tidak mendapat kesempatan untuk merobohkannya, karena ia keburu mengundurkan diri dan lari ke dalam hutan," katanya, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh ia menyambung ceritanya, "Dan aku mendapat dugaan keras bahwa Bun-ko berada pula di dalam hutan itu."

Bukan main terkejut hati Lie Eng mendengar warta ini. Memang telah lama ia merindukan Ouwyang Bun dan seringkali ia termenung dan menduga-duga bagaimana keadaan pemuda itu dan bagaimana nasib serta di mana ia berada. Kini mendengar bahwa pemuda kenangannya itu mungkin berada di dalam hutan yang tampak dari atas benteng itu, tentu saja ia merasa terkejut dan dadanya berdebar-debar. Tapi Lie Eng dapat menekan perasaannya hingga tidak tampak perubahan air mukanya.

Dan Ouwyang Bu sama sekali tidak pernah menyangka betapa setelah ia pergi ke kamarnya, gadis yang ditinggalkan seorang diri itu duduk' termenung seakan-akan kehilangan semangat dan sampai hari berobah senja gadis itu tidak bergerak dari tempat duduknya yang tadi. Sementara itu, kawanan pemberontak di   tengah hutan itu bergembira-ria dan merayakan kemenangan mereka. Tiada hentinya mereka memuji-muji Cui Sian yang berhasil siasatnya. Walaupun di pihak mereka terdapat beberapa orang korban, di antaranya seorang yang tertancap oleh golok yang dilemparkan oleh Ouwyang Bu, tapi jika dibanding dengan jumlah korban di pihak musuh, mereka memang sudah sepatutnya bergembira. Di pihak mereka hanya dua orang binasa dan lima orang luka, sedangkan pihak. lawannya yang mati saja sudah tigapuluh orang lebih, belum yang luka.

Biarpun telah memperoleh kemenangan, namun   Cui Sian tidak berlaku lalai. Ia mengatur penjagaan di sekitar hutan itu dengan sangat rapi.

Di samping itu ia selalu memikir-mi-kirkan bagaimana caranya agar ia dapat membawa kawan-kawannya melewati benteng itu hingga dapat menggabungkan diri dengan kesatuan induk yang dipimpin oleh pemimpin besar Lie Cu Seng. Oleh karena ini, ia tidak ikut bergembira-ria dengan kawan-kawannya, tapi bahkan menjauhkan diri dan duduk di bawah sebatang pohon pek dengan Ouwyang Bun. Ia merasa lebih senang dan tenteram untuk duduk dan bercakap-cakap berdua saja dengan pemuda ini.

"Moi-moi, tadi aku sudah hampir tidak kuat menahan diri mendengar bahwa Bu-te sendiri yang memimpin barisan menyerbu ke sini. Aku ingin sekali keluar dan menemuinya, tapi karena pertempuran berjalan hebat, aku khawatir kalau-kalau kedatanganku malah akan mendatangkan salah paham di   kedua pihak. Untungnya kau tidak berlaku kejam dan tidak membinasakan adikku itu."

Cui Sian menghela napas. "Adikmu sungguh hebat, belum tentu aku dapat mengalahkannya. Sayang sekali dia tidak insyaf, ah, sungguh sayang. Ia akan merupakan pasangan yang tepat sekali untuk Siauw Leng...." Nona itu menghela napas, dan Ouwyang Butf juga ikut merasa terharu.

Alangkah baiknya kalau Ouwyang Bu dapat berada di situ bersama dia dan dapat bertemu sebagai tunangan dengan Siauw Leng, seperti halnya dia dengan Cui Sian. Diam-diam ia merasa heran sekali akan kebijaksanaan ibunya dan ibu Cui Sian. Kedua orang tua itu agaknya telah tahu lebih dulu bahwa mereka akan menjadi pasangan yang saling mengasihi dan saling mengagumi.

"Betul katakatamu moi-moi. Alangkah bahagianya rasa hatiku kalau Bu-te dapat bertemu dengan adik Siauw Leng seperti kau dan aku "

Cui Sian diam saja dan ia tidak membantah ketika tunangannya memegang tangannya.   "Moi-moi,   kau sungguh mengagumkan. Tidak saja kau lemah lembut dan baik budi sebagaimana terbukti ketika kau merawat aku di waktu aku mendapat luka, tapi kau juga gagah perkasa dan cerdik sekali. Aku heran di mana kau belajar ilmu perang hingga bisa mengatur siasat yang begitu berhasil siang tadi. Sungguh-sungguh aku kagum padamu."

"Ah, kau memuji saja. Apakah artinya kepandaianku kalau dibandingkan dengan kepandaianmu yang tinggi?"

Pada saat itu bulan telah muncul hingga keadaan yang remang-remang itu tampak romantis sekali dan sepasang anak muda itu tenggelam dalam cahaya bulan yang mendatangkan hikmat gaib bagi para muda yang sedang dimabok asmara. Biarpun hanya saling berpegang tangan sambil saling memandang, namun dalam sentuhan jari dan pertemuan sinar mata ini mereka telah sama-sama mengutarakan semua isi hati hingga bagi kedua pihak lebih jelas daripada seribu macam katakata. Mereka demikian asyik dan masyuk hingga tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang tajam memandang mereka dengan sinar mata marah, tapi dengan pipi basah oleh air mata.

Pada saat itu terdengar teriakan. "Tangkap mata-mata musuh."

Ouwyang Bun dan Cui Sian terkejut sekali dan meloncat

ke arah suara itu. Tiba-tiba mereka melihat bayangan orang ber kelebat di belakang mereka. Keduanya lalu mengejar: Dan terdengarlah suara senjata beradu ketika bayangan itu diserang oleh seorang anggauta penjaga yang tadi melihat dia mengintai Cui Sian dan Ouwyang Bun.

Ketika dua anak muda itu tiba di tempat pertempuran, ternyata mata-mata musuh itu ialah Lie Eng sendiri yang sedang dikeroyok tiga orang penjaga.

"Sumoi.." Ouwyang Bun berseru dan ia cepat meloncat ke kalangan pertempuran dan berkata keras kepada tiga orang penjaga yang mengeroyok. "Tahan dulu."

Lie Eng mengenakan pakaian serba hijau yang kelihatan hitam ditimpa sinar bulan yang remang-remang itu dan sepasang tangannya memegang siang-kiam. Sikapnya tegas sekali dan ia berdiri dengan kedua kaki terpentang dengan sikap menantang.

"Kau... kau juga menjadi pemberontak?"   tegurnya kepada Ouwyang Bun dengan sikap menghina.

"Sumoi.... kita memang berbeda paham. Kalau kau sudah tahu akan hal itu, mengapa....... kau malam-malam ke tempat ini..?” Tiba-tiba mata dara itu mengeluarkan eatiaya penuh kemarahan. Sambil menuding ke arah Ouwyang Bun dengan pedangnya, ia memaki.

"Kau... kau pengkhianat. Kau murid murtad.. Kau tidak kenal apa artinya bakti dan setia, tidak malu mengkhianati guru dan susiok sendiri.. Kau..... kau...," dan tiba-tiba saja gadis itu menangis karena merasa betapa hatinya hancur lebur dan krcewa.

Sementara itu, Cui Sian yang mendengar betapa tunangannya dimaki-maki orang, tentu saja tidak rela. Apalagi karena ia tahu bahwa gadis ini anak musuh besar semua hohan dan patriot, maka ia segera meloncat maju dan membentak,

"Perempuan kasar dan sombong, apa yang kaukchendaki maka kau berani lancang memasuki daerah kami? Menyerahlah kau menjadi tawanan kami."

Tiba-tiba Lie Eng tertawa dengan nyaring dan tinggi. "Ha, It-to-bwee. Bukalah telinga dan matamu lebar-lebar. Aku Cin Lie Eng, sengaja datang ke sini untuk mencari engkau. Aku telah mendengar tentang kegagahan dan kecantikanmu maka sekarang aku sengaja datang hendak melihat sendiri kegagahan yang disohor-sohorkan orang itu. Majulah dan mari kita bertempur sampai seorang di antara kita mati di ujung pedang."

Ouwyang Bun terkejut sekali. Tadinya ia hanya menyangka bahwa gadis yang tabah itu hanya datang untuk menyelidiki para pemberontak. Tidak disangkanya sama sekali bahwa sikap gadis itu akan senekat ini dan tiba-tiba ia dapat. menduga apa yang menjadi sebabnya. Lie Eng tadi telah mengintainya dan tentu mengerti bahwa ia dan Cui Sian saling mencintai. Dan inilah agaknya yang menjadi sebab kenekatan gadis itu dan yang membuat ia menantang Cui Sian bertanding sampai mati.

"Sumoi......" tegurnya sambil berdiri menghadapi gadis itu. "Kenapa kau begini nekat? Kenapa kau hendak mengadu tenaga tanpa alasan? Sumoi.... bukankah Bu-te menanti-nantimu dan alangkah akan hancur   hatinya kalau.... kalau kau menjadi korban kenekatanmu ini "

"Diam. Kau perduli apa dengan tindakanku? Aku bukan sumoimu. Kau..... kau.... pengkhianat....." kembali ia terisak, kemudian ia berkata kepada Cui Sian,

"Eh, Cui Sian. Bagaimana? Takutkah kau kepadaku?"

Cui Sian lalu memegang lengan Ouwyang Bun dan menarik pemuda itu untuk mundur dan Ouwyang Bun menurut. Kemudian gadis yang tenang sikapnya ini-maju menghadapi Lie Eng dan berkata dengan suara halus tapi tetap, "Lie Eng, sekarang aku tahu. Kau... mencintai Bun- ko. "

"Perempuan rendah, jangan jual obrolan busuk." Lie Eng merasa marah sekali dan cepat menusuk dengan pedangnya, tapi Gui Sian mengelak sambil mundur.

"Nanti dulu, Lie Eng. Dengarlah dulu omonganku. Memang kau adalah musuhku, musuh semua orang yang berjiwa patriot dan yang kau sebut pemberontak- pemberontak. Sudah sepatutnya kalau aku menyiapkan semua kawan untuk membunuhmu. Tapi, terus terang saja kukatakan bahwa aku mengagumi kau. Aku kagum karena kau berani dan karena kau berhati... setia." Kalau tidak demikian, tak mungkin kau berani datang seorang diri ke sini. Aku kagum padamu, seperti juga guruku kagum kepada ayahmu yang gagah perkasa. Tapi melihat sikapmu ini, aku khawatir bahwa kita berdua terpaksa harus mengadu pedang sampai penentuan terakhir. Sungguh satu kehorm atan besar, kawan. Memang sayang bahwa justeru kau yang kukagumilah yang menjadi musuh besarku dalam hal ini, tapi sebaliknya aku takkan dendam kalau sampai terjatuh dalam tangan seorang wanita gagah seperti kau."

Lie Eng adalah seorang gadis yang juga memiliki otak yang cerdik dan pandangan yang luas, maka biarpun Cui Sian mempergunakan kata-kata kiasannya yang mengandung sindiran-sindiran, namun ia dapal menangkap seluruh isi dan maksudnya. Untuk sesaat ia tak dapat menjawab karena merasa terharu. Alangkah cerdiknya gadis ini, pikirnya. Sepintas lalu saja ia telah dapat membaca seluruh isi hatiku. Bukan main.

"Cui Sian, aku girang bahwa kau juga patut menjadi lawanku. Kita sama-sama dapat memahami. Nah, cabutlah pedangmu dan mari kita segera menyelesaikan urusan ini."

Pada saat itu yang paling bingung adalah Ouwyang Bun. Ia juga seorang cerdik dan pintar maka tentu saja ia tahu apa yang hendak dilakukan oleh kedua nona itu dan mengapa mereka hendak mengadu tenaga. Ia segera meloncat di tengah-tengah antara kedua nona itu sambil mengangkat kedua tangan dengan bingung.

"Sumoi. Kau pulanglah. Aku yang akan menjamin bahwa kau tentu keluar dari sini dengan selamat dan aman. Pulanglah kau dan jangan bikin ribut di sini lebih lama lagi."

"Kau laki-laki tidak setia, jangan banyak cerewet. Aku tidak berurusan dengan kau. Aku mempunyai urusan dengan Cui Sian. Kau minggirlah." Ia menggerakkan pedangnya hendak menusuk.

Tapi Ouwyang Bun mengangkat dada dan sama sekali tidak mengelak. Ketika ujung pedangnya sudah hampir menyentuh dada pemuda itu, Lie Eng menarik kembali senjatanya.

"Kau mau membunuh aku? Boleh, hayo tusuklah aku, sumoi. Aku juga tidak takut mati."

"Kau..... mengapa kau menghalang-halangi maksudku? Aku hendak bertempur melawan Cui Sian, bukan dengan kau."

"Sumoi, dengarlah. Kalau misalnya besok kau dan Cui Sian bertemu dalam peperangan dan bertempur mati- matian, aku takkan merasa apa-apa. Tapi keadaan kalian pada waktu ini bukan sewajarnya, kalian hanya terdorong oleh napsu hati yang sedang bergolak. Kau pulanglah dan jangan berlaku seperti anak kecil."

"Kau pergilah..... biarkan aku bertanding dengan Cui Sian. Ah, Cui Sian seribu kali lebih berharga daripada engkau."

Dan pada saat itu Ouwyang Bun merasa tubuhnya lemas dan ia roboh di atas tanah. Ternyata Cui Sian telah menotoknya dari belakang tanpa ia duga sama sekali.

"Koko, kau memang terlalu mulia untuk membiarkan dua orang gadis beradu tenaga karenamu. Tapi sikap Lie Eng kuhargai, dan kalau aku menampik ajakan maka aku akan merasa malu dan menyesal selama hidupku. Nah, kau lihatlah saja dan maafkan bahwa aku terpaksa menotokmu dengan diam-diam."

Kemudian Cui Sian memerintahkan orang-orangnya membuat lingkaran besar dan semua orang yang hendak menonton harus berada di luar lingkaran. Beberapa obor dipasang untuk menerangi tempat itu dan semua orang dipesan agar jangan ikut mencampuri pertempuran ini.- "Kawan-kawan semua," Cui Sian berkata dengan suara lantang, "kali ini aku bukan bertempur sebagai seorang pemimpin-mu. Ingat, ini adalah urusan pribadi yang menyangkut nama dan kehormatan. Biarpun aku sampai kalah dan mati dalam tangan nona Cin Lie Eng ini, jangan sekali-kali kalian berani mencampuri. Dan lagi, sebagai seorang pemimpinmu, aku memberi pesan dan perintah, yakni andaikata aku kalah dan roboh mati, janganlah nona ini diganggu dan biarkan dia pergi dari sini dengan aman. Mengerti semua?"

Tiba-tiba Siauw Leng meloncat memeluk cicinya. "Cici, mengapa kau lakukan ini?"

Cui Sian dengan halus mendorong adiknya keluar lingkaran dan berkata,

"Adikku, kita adalah murid seorang gagah dan kita harus menghadap? kegagahan orang lain. Kalau aku kalah, kaulah yang menjadi pemimpin kawan-kawan kita."

Ouwyang Bun yang didudukkan di dekat situ sambil menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon dengan lemah tak ber daya, merasa hatinya seperti dipotong-po tong. Ia menyesal sekali mengapa tadi berlaku lalai hingga kena ditotok oleh tunang annya, karena kalau tidak demikian, biarpun bagaimana juga, ia takkan membiarkan dua singa betina ini saling terkam. Diam-diam ia mengerahkan Iweekangnya untuk membebaskan diri dari totoknn, tapi karena Cui Sian tahu akan kehebatan pemuda itu, ia telah   menotok dua kali hingga tak mungkin pemuda itu dapat membebaskan diri dengan mudah begitu saja.

Sementara itu, Cui Sian berkata kepada Lie Eng, "Lie Eng, marilah kita mulai."

Lie Eng sekali lagi memandang wajah Ouwyang Bun dan ia gunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap air mata yang tiba-tiba memenuhi pelupuk matanya, kemudian ia menghadapi Cui Sian dengan tabah.

"Marilah, Cui Sian." jawabnya dan sepasang pedang di tangannya telah siap sedia.

"Kau sebagai tamu, bergeraklah lebih dulu." kata Cui Sian dengan pedang melintang di dada dengan sikapnya tenang sekali.

Lie Eng lalu mulai menyerang dengan hebat yang ditangkis oleh Cui Sian dengan tenang, dan beberapa saat kemudian kedua, dara remaja itu telah bertempur hebat sekali. Bayangan kedua dara itu lenyap ditelan sinar pedang yang bergulung-gulung dan angin pedang mereka sampai terasa oleh para penonton di luar lingkaran.

Ouwyang Bun yang lumpuh kaki tangannya itu berkali- kali memejamkan mata karena merasa ngeri, sedangkan semua penonton melihat pertempuran istimewa ini dengan hati tegang dan hampir tak berani bernapas. Lui Kok Pauw meremas-remas tangannya, Siauw Leng membanting- banting kakinya dan tiba-tiba gadis ini menangis perlahan. Semua orang tak berani mengeluarkan suara sedikitpun dan pada saat itu mereka merasa seakan-akan pertempuran ini adalah sesuatu yang suci dan yang harus dipandang dengan penuh penghormatan.

Sementara itu, kedua dara yang bertempur mati-matian itu berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa lawannya adalah seorang yang kuat. Lie Eng segera memainkan ilmu pedangnya yang paling hebat, yakni Im-yang-siang-kiam- hoat. Ilmu pedang berpasangan ini betul-betul hebat sekali, karena gerakan pedang kanan dan pedang kiri sungguh jauh bedanya dan bahkan boleh dibilang berlawanan. Oleh karena ini, tampaknya permainannya kacau dan kalut, tapi sebetulnya kedua pedang itu merupakan imbangan atau kesatuan gerakan yang bukan main kuatnya. Kalau pedang kiri digerakkan dengan tenaga halus, pedang kanan bergerak didorong tenaga kasar dan demikian sebaliknya hingga kalau saja yang bertanding melawan Lie Eng bukannya Can Cui Sian si Bunga Bwee, pasti takkan mampu bertahan lama.

Akan tetapi Cui Sian adalah murid pertama dari Sin- liong Ciu Pek In si Naga Sakti yang telah menggemparkan dunia kang-ouw dengan kehebatan ilmu pedangnya. Biarpun baru belajar paling banyak lima tahun, namun kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi dan biarpun ia belajar bersamaan dengan adiknya, tapi karena ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, maka tentu saja kepandaiannya menjadi lebih tinggi daripada Siauw Leng. Dalam hal ilmu pedang ia tak khawatir kalah oleh Lie Eng, hanya ia kalah latihan karena Lie Eng telah belajar silat semenjak kecil. Akan tetapi sebaliknya, Cui Sian menang tenaga dan ketabahan serta ketenangan wataknya membuat permainan silatnya kuat dan tetap.

Menghadapi ilmu pedang Im-yang-siang-kiam-hoat yang luar biasa hebatnya dan serangan-serangan yang bagaikan badai datangnya itu, terpaksa Cui Sian tidak berani berlaku sembarangan dan iapun segera mengeluarkan ilmu pedang tunggal yang menjadi pokok kepandaiannya yakni Sin-liong Kiam-hoat. Ilmu pedang Naga Sakti ini adalah kepandaian tunggal dari Ciu Pek In dan selama orang tua itu malang melintang di dunia kang-ouw, belum pernah ilmu pedangnya terkalahkan, maka ke-hebatannyapun luar biasa. Pedang di tangan Cui Sian bagaikan hidup dan sinarnya merupakan gulungan putih yang tebal dan panjang hingga benar-benar bagaikan seekor naga sakti menyambar- nyambar dan bermain-main di antara mega-mega yang terbentuk dari gundukan kedua pedang Lie Eng. Telah seratus jurus lebih mereka bertempur dengan mati- matian dan mata para penonton di sekeliling lingkaran itu menjadi kabur karena hebatnya  pertandingan itu. Sedangkan Ouwyang Bun menonton dengan muka pucat. Perasaannya tertekan sekali dan kesedihan  hatinya memuncak. Bagaimana kalau Cui Sian sampai mati oleh Lie Eng? Ah, hal ini tentu akan menghancurkan hatinya, melenyapkan kebahagiaan hidupnya. Dan bagaimana kalau Lie Eng yang binasa? Juga susah, karena hal itu berarti hancurnya kebahagiaan adiknya. Ia menjadi serba salah, tapi apa daya? Tubuhnya masih berada di bawah pengaruh totokan, bahkan, andaikata ia tidak tertotokpun,   belum tentu ia sanggup memisah kedua pendekar wanita yang sedang    bergumul  mati-matian  karena  kedua dara  itu kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri.   Karena   merasa   tidak   berdaya,  Ouwyang Bun terpaksa menekan perasaan hatinya dan ia menyerahkan nasib kedua gadis itu ke tangan Thian Yang Maha Kuasa

Lie Eng juga merasa kagum sekali menghadapi ilmu pedang Cui Sian yang begitu hebat dan kuat, sedangkan Cui Sian diam-diam memuji kelihaian Im-yang-siang-kiam- hoat.

Pada suatu saat Lie Eng menggunakan pedang kanan menusuk ke arah mata kiri Cui Sian dengan gerakan Bidadari Petik Teratai, sedangkan pedang kirinya pada saat itu juga membabat kaki dengan gerakan Angin Menyapu Daun Kering Bukan main hebat dan   berbahayanya serangan bercabang ini. Seluruh perhatian lawan ditujukan untuk menghadapi serangan pedang yang menusuk mata, akan tetapi sebetulnya serangan ke arah kaki itulah yang lebih berbahaya karena mengandung perubahan tipu-tipu berbahaya. Biarpun ia pandai, namun Cui Sian terkejut juga, karena ketika ia menggunakan pedangnya menangkis serangan pedang kanan yang menyambar matanya itu dengan gerakan Naga Sakti Perlihatkan Ekor, tiba-tiba pedang kiri Lie Eng telah melayang ke arah kakinya. Ia cepat berseru dan menggunakan ginkang-nya untuk meloncat menyelamatkan kedua kakinya. Tapi tidak ia sangka pedang yang dilayangkan ke kaki itu segera berobah dengan gerakannya yang membabat tadi diteruskan menjadi sebuah tusukan yang berbahaya ke arah perut.

Ouwyang Bun terkejut sekali melihat kehebatan serangan ini, apalagi ketika ia melihat betapa pedang Lie Eng di tangan kanan menyambar pula untuk menjaga dan digunakan sebagai serangan susulan apabila lawan itu mengelak. Pemuda ini merasa betapa dadanya berdebar ngeri dan terbayanglah matanya betapa tubuh kekasihnya itu mandi darah.

Tapi, kembali kali ini ketenangan dan kecerdikan Cui Sian menolong dirinya. Melihat datangnya pedang yang menusuk perutnya, ia tidak mau menangkis, dan karena tubuhnya masih berada  di tengah  u-dara, ia segera menggerakkan tubuh itu miring ke kiri sambil menarik perutnya ke dalam hingga pedang Lie Eng menyambar angin. Cui Sian  dapat menduga akan bahaya  yang mengancam dari pedang kanan Lie Eng Benar saja, ketika ia mengelakkan pedang kiri lawannya ke kiri, tiba-tiba terdengar Lie Eng berseru girang dan pedang kanannya menyambar cepat membabat leher Cui Sian.

Kali ini tak mungkin Cui Sian mengelak karena selain datangnya pedang itu sangat cepat, juga tubuhnya masih miring biarpun kakinya telah menginjak tanah. Jalan satu- satunya bagi dia ialah melemparkan tubuh ke belakang dan bergulingan. Dara inipun melakukan hal itu, tapi ia tidak menjatuhkan diri ke belakang untuk bergulingan, hanya menggunakan ginkangnya yang tinggi untuk berjungkir balik ke belakang.

Akan tetapi Lie Eng tidak mau memberi kesempatan kepada Cui Sian untuk melepaskan diri dari kurungan pedangnya sedemikian mudah. Ia   meloncat   cepat menubruk dan mengirimkan tusukan maut dengan ujung pedang digetarkan. Ketika itu, baru saja Cui Sian menurunkan kakinya, melihat datangnya   tusukan   maut yang digerakkan dalam tipu Macan Buas Sambar Hati ini, ia segera kertak giginya dan mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya, lalu dengan gerakan Naga   Sakti Menyabetkan Ekor ia menangkis dengan pedangnya sekuat tenaga.

"Traang.." dan bunga api biru dan merah memancar keluar ketika dua batang pedang itu beradu dengan kerasnya. Alangkah terkejut kedua dara itu ketika melihat bahwa pedang mereka ternyata telah putus di tengah- tengah. Lie Eng melempar gagang pedang itu dan kini ia menggunakan pedang kirinya untuk menyerang lagi kepada lawan yang telah tak bersenjata lagi itu.

Dalam keadaan seperti itu Cui Sian masih dapat berlaku tenang. Iapun melempar gagang pedangnya yang telah patah itu dan siap menghadapi serangan Lie Eng dengan tangan kosong. Akan tetapi, tiba-tiba Lie Eng menahan pedang yang telah digerakkan hendak menusuk itu. Ia berdiri bagaikan patung karena pada saat itu ia menggunakan pikirannya. Liang-simnya (hati   nuraninya) dan sifat gagahnya tidak mengijinkan ia menggunakan kesempatan dan keuntungan itu untuk memperoleh kemenangan. Ia lalu berkata,

"Kau bertangan kosong? Baik, lihatlah ini." setelah berkata demikian, Lie Eng lalu melemparkan pedangnya hingga menancap di atas tanah. Lalu tanpa banyak membuang waktu ia maju menubruk dan melancarkan serangan dengan kepalan tangan dalam gerak tipu Sian-jin- ci-louw (Dewa Tunjukkan Jalan). Kepalan tangan ini bergerak ke arah leher dan segera berobah menjadi tusukan dengan dua jari tangan. Cui Sian mengelak dan balas menyerang.

Maka kembali dua dara jelita itu bertempur mati-matian. Kali ini dengan tangan kosong, tapi kehebatannya tidak kalah dengan pertempuran menggunakan pedang tadi. Lie Eng yang telah berpeluh dan lelah menggunakan kecerdikannya dan ia bersilat dengan ilmu gerakan Cian-jiu Koan-im-hian-ko, yakni Dewi Koan Im Tangan Seribu Persembahkan Buah. Biarpun ilmu silat ini hebat dan dapat menghadapi serangan yang bagaimanapun, tapi cukup dimainkan dengan tak banyak perubahan kaki hingga tidak membuang tenaga. Tampaknya Lie Eng berdiri diam saja dan hanya bergerak apabila diserang dan membalas dengan serangannya.

Sebaliknya, Cui Sian juga sama keadaannya dengan Lie Eng. Gadis inipun telah lelah dan peluhnya telah membasahi jidat. Menghadapi ilmu silat Lie Eng, gadis yang cerdik inipun tahu bahwa jika ia menurutkan napsu hati dan menyerang tanpa perhitungan biarpun ia takkan dikalahkan dengan ilmu silat itu, namun ia akan kehabisan tenaga juga, sedangkan Lie Eng dapat beristirahat sambil mempertahankan diri. Oleh karena itu, iapun lalu berdiri diam tidak mau menyerang, hanya memasang kudakuda di depan Lie Eng dan menanti lawannya maju menyerang.

Melihat sikap lawannya itu, diam-diam Lie Eng mengeluh sambil memuji, karena ternyata gadis yang amat cerdik itu telah tahu akan maksudnya dan tahu pula rahasia ilmu silat Cian-jiu Koan-im-hian-ko ini. Biarpun keduanya sama-sama cerdik dan tinggi ilmu silatnya, namun Lie Eng kalah tenang d an adat yang berangasan dan keras dari gadis ini membuat ia kalah sabar. Ia segera berseru keras dan menubruk maju sambil melancarkan serangan   maut. Tangan kanannya memukul dada sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk menusuk kedua mata lawan. Serangan ini luar biasa hebat dan berbahayanya karena dilakukan dengan nekat. Dengan dua tangan menyerang ini, maka otomatis Lie Eng telah membuka lubang bagi diri sendiri karena sama sekali tidak ada penjagaan. Ia memang telah nekat dan biarpun ia tahu bahwa lawannya akan mudah mengirim serangan, namun ia tahu juga bahwa kalau Cui Sian menyerang, tak mungkin lawannya itu menghindarkan serangan kedua tangannya.

Tapi agaknya Lie Eng terlalu memandang rendah lawannya dan inilah kesalahannya. Otak Cui Sian yang memang cerdas itu dalam saat sekilat saja sudah dapat melakukan perhitungan untung rugi dalam menghadapi serangan ini. Ia maklum bahwa kalau selalu menghindari pukulan Lie Eng, maka pertempuran ini takkan ada habisnya, apalagi ia telah merasa lelah sekali. Kini melihat datangnya serangan ia maklum bahwa Lie Eng telah berlaku nekat. Maka cepat sekali ia merendahkan tubuhnya hingga serangan tangan kiri lawan yang menusuk matanya itu lewat di atas kepalanya sedangkan tangan kanan Lie Eng yang memukul dadanya, kini tepat menghantam pundaknya. Tapi pada saat itu juga, dari bawah ia melayangkan pukulan ke arah lambung Lie Eng.

Keduanya menjerit ngeri dan keduanya terhuyung mundur lalu roboh pingsan. Para pemberontak segera maju hendak menghabiskan jiwa Lie Eng, tapi terdengar bentakan keras dari Siauw Leng.

"Mundur semua. Siapa berani menyentuh dia akan berkenalan dengan tanganku." Maka semua kawannya yang tadinya telah marah sekali kepada Lie Eng itu tiba-tiba teringat akan pesan Cui Sian. Sementara itu, Siauw Leng lalu membebaskan totokah yang mempengaruhi Ouwyang Bun hingga pemuda itu dapat bergerak. Ia maju menubruk Cui Sian yang rebah dengan wajah pucat seperti mayat. Tapi hatinya menjadi lega ketika mengetahui bahwa gadis itu hanya menderita luka yang tak berapa berat di pundaknya dan jatuh pingsan hanya karena terlalu lemah dan lelah. Kemudian ia teringat kepada Lie Eng dan segera memeriksa keadaan gadis itu. Diam-diam Ouwyang Bun terkejut sekali karena di bibir gadis ini tampak darah mengalir. Siauw Leng yang juga mempelajari ilmu pengobatan dari suhunya, mengerutkan jidat ketika memeriksa lambung Lie Eng yang terpukul karena ternyata gadis ini menderita luka dalam yang mengkhawatirkan keadaannya.

Ouwyang Bun lalu mendukung tubuh Cui Sian masuk ke tenda, sedangkan Siauw Leng mengangkat tubuh Lie Eng masuk ke tendanya sendiri. Tenda Siauw Leng ini berdekatan dengan tenda Cui Sian. Lie Eng masih pingsan ketika dibawa masuk, sedangkan Cui Sian telah sadar. Gadis ini sadar dalam dukungan Ouwyang Bun dan ia berbisik,

"Koko, maafkan aku tadi telah menotokmu."

Ouwyang Bun menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, kalian gadis-gadis kepala batu. Gila sekali untuk bertempur mati-matian hanya karena seorang tak berharga seperti diriku."

"Untuk menjaga nama dan kehormatan, koko....," Cui Sian berbisik lemah. Ketika ia telah dibaringkan di atas dipannya, ia bertanya,

"Koko, bagaimana dengan dia?" "Siapa? Lie Eng? Ah, pukulanmu terlalu hebat." Cui Sian diam saja dan memejamkan mata.

"Kasihan Lie Eng yang malang...." sambil memejamkan mata ia berkata lirih.

Ouwyang Bun memandang wajah kekasihnya dengan heran. Sungguh ia tak dapat mengerti sikap ini. Tadi berkelahi mati-matian dan kini mengucapkan kata-kata menyatakan iba hati kepada bekas lawannya itu.

Sementara itu, dengan napas terengah-engah, Lie Eng sadar dari pingsannya. Ia membuka mata perlahan-lahan dan melihat betapa Siauw Leng sedang merawat dia. Maka ia menutup matanya lagi.

Rasa dendam dan gemas membuat lukanya makin terasa sakit. Gadis ini memang mempunyai watak tidak mau kalah, maka tentu saja kekalahan ini menyakitkan hatinya benar. Ia mencoba untuk mengerahkan Iweekangnya menahan rasa sakit itu dan tahulah ia bahwa lukanya memang berat dan berbahaya. Ia diam-diam kagum akan kehebatan Cui Sian dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gadis itu memang pantas menjadi isteri Ouwyang Bun.

Pada saat itu, telinganya yang tajam mendengar suara Ouwyang Bun di tenda sebelah, dan ia mendengar pula suara Cui Sian. Hatinya terasa perih karena ia tahu bahwa pemuda itu tentu sedang merawat Cui Sian. Ia teringat bahwa Cui Sian juga kena pukulannya, tapi hanya di pundak dan tehtu saja tidak berbahaya. Kembali ia memejamkan mata dengan hati sakit. Mengapa ia tidak mati saja? Ah, ia malu dan apa artinya hidup menanggung malu dan patah hati? Melihat wajah yang cantik itu nampak sedih, Siauw Leng merasa terharu. Iapun merasa suka kepada gadis yang gagah dan jujur serta keras hati ini, sifat yang juga menjadi sifatnya. Maka katanya perlahan,

"Lihiap, enciku itu telah ditunangkan dengan Ouwyang Bun semenjak mereka masih kecil oleh orang tua kami. Ouwyang Bun dengan enciku, dan Ouwyang Bu dengan aku.”

Ucapan Siauw Leng ini sebetulnya dimaksudkan untuk memberi penjelasan agar dapat menghibur hati gadis itu, tapi tidak mengira bahwa penjelasan ini bahkan lebih menyakiti hati Lie Eng. Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu dan membentak.

"Pergi kau. Jangan rawat aku, pergi      "

Dengan mengangkat pundak dan muka menyatakan kasihan, Siauw Leng keluar dari tenda itu.

Lie Eng menangis sedih tapi ia kuatkan hatinya untuk menahan suara tangisnya agar jangan sampai   terdengar oleh o-rang lain. Hatinya makin terasa sakit. Ia malu sekali, karena ternyata bahwa Ouwyang Bun adalah tunangan Cui Sian yang sah hingga dialah yang sesungguhnya bersikap rendah, hendak merampas tunangan orang. Dan lebih-lebih lagi, dia telah menjadi sebab hingga Ouwyang Bu terpisah dari kakaknya, bahkan kini menjadi musuh Siauw Leng, tunangan pemuda itu sendiri. Ah, kalau saja tidak ada dia, tentu kedua pemuda itu akan berkumpul dengan kedua tunangan mereka dan semuanya akan beres dan lancar. Semua akan berbahagia. Tapi sekarang dengan adanya dia, segalanya menjadi kacau.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, semua orang di situ mendengar jerit tangis Siauw Leng yang memilukan, karena ketika gadis ini memasuki tendanya hendak menjenguk Lie Eng, ternyata ia mendapatkan gadis ini telah menjadi mayat. Lie Eng telah menggunakan sebilah pisau yang terdapat di tenda itu untuk bunuh diri. Pisau itu menancap di dada kirinya dan ia mati telentang di atas dipan. Tangan kirinya memegang sehelai kertas yang ternoda darah yang memercik keluar dari dadanya.

Melihat keadaan Lie Engr-Oywyang Bun tak dapat menahan keharuan hatinya. Ia maju dan berlutut di dekat tubuh itu sambil menundukkan kepala. Diam-diam m merasa bertanggung jawab akan peristiwa ini dan tahu pula bahwa kematian gadis ini adalah karena dia. Sementara itu, Cui Sian yang juga sudah dapat turun dan berada pula di situ, hanya berdiri sambil menghela napas berulang-ulang. Ketika Ouwyang Bun mengangkat muka, ternyata wajah pemuda ini pucat dan kedua matanya basah, sedangkan pada wajah, itu terbayang kedukaan besar hingga membuat ia tampak lebih tua. Ia tidak saja menyedihi kematian sumoinya ini, tapi juga bersedih karena Ouwyang Bu. Ia maklum bahwa kematian Lie Eng ini akan menghancurkan kebahagiaan hidup Ouwyang Bu.

Dengan perlanan ia ambil surat di tangan gadis itu.

Ternyata surat itu ditujukan kepadanya.

Bun-ko,

Sudah Sepantasnya aku tewas di tangan. Cui Sian yang gagah, tapi sayang ia memukul kepalang tanggung hingga terpaksa aku sendiri yang menamatkan hidupku, Tapi agaknya arwahku takkan tenang sebelum mendapat ampun dari engkau dan dari Bu-ko. Aku adalah seorang gadis yang tak tahu diri dan hanya, mengacaukan kebahagiaan orang.

Dengan membabi-buta dan tak tahu malu aku telah berani mencintaimu, Bun-ko, mencintai seorang pemuda yang telah mempunyai tunangan secantik dan segagah Cui Sian.

Oleh karena akulah maka Bu-ko terpisah darimu. Karena aku pula Bu-ko menjadi pembantu ayah dan karenanya tak dapat berkumpul dengan Siauw Leng, tunangannya.

Aku tak mungkin menjadi isterimu, dan tak mungkin pula menjadi isteri Bu-ko, hingga akibatnya aku hanya akan hidup menderita dan merusak hati Bu-ko yang mencintaiku.

Karena inilah lebih baik aku mati.

Bun-ko, aku percaya bahwa kau tentu suka memaafkan daku karena aku tahu betapa mulia hatimu. Tapi aku masih ragu-ragu apakah Bu-ko dapat mengampuni dan melupakan aku. Sukakah kau mintakan ampun padanya?

Selamat tinggal dan tolong sampaikan permohonan ampun kepada ayah untuk anaknya yang tidak berbakti.

CIN LIE ENG

Semakin keraslah sedu-sedan dari dada Ouwyang Bun ketika ia baca isi surat ini dan tanpa berkata apa-apa ia berikan surat itu kepada Cui Sian untuk dibaca. Gadis itupun menjadi merah mukanya karena terharu sedangkan Siauw Leng yang juga membaca surat itu menangis keras. Ouwyang Bun lalu menyimpan surat itu dalam saku bajunya.

Ouwyang Bu merasa heran, khawatir, dan bingung ketika tidak melihat Lie Eng dalam benteng. Ia mencari ke sana-sini dan bertanya kepada anak buahnya yang berjaga di sepanjang daerah penjagaannya, tapi tak seorangpun melihat gadis itu.

Ketika matahari telah naik tinggi, tiba-tiba ia diberi tahu oleh penjaga bahwa di luar benteng ada seorang pemuda berpakaian putih datang dengan sebuah kereta hendak bertemu dengannya. Hati Ouwyang Bu berdebar aneh dan segera ia lari keluar.

"Bun-ko....." ia berseru keras sambil lari keluar menyambut kakaknya itu. Tapi ia heran sekali melihat betapa kakaknya itu berpakaian putih dan wajahnya nampak sedih sekali.

"Bun-ko, kau dari mana dan hendak ke mana? Mari, mari masuk, kita bicara di dalam," kata Ouwyang Bu setelah berpelukan dengan kakaknya.

Tapi Ouwyang Bun tidak menjawab, bahkan tiba-tiba saja matanya menjadi merah dan ia pandang wajah adiknya yang gagah dan kini berpakaian perwira itu. Pandangan mata Ouwyang Bun membuat Ouwyang Bu terkejut sekali.

"Bun-ko." teriaknya dengan hati tidak karuan. "Ada kabar apa?"

Ouwyang Bun hanya menunjuk ke arah kereta yang tertutup kain putih yang ditarik oleh seekor kuda. Ouwyang Bu masih tidak mengerti walaupun hatinya berdebar-debar cemas. Ia lalu menghampiri kereta itu dan membuka kain putih yang menutupi kendaraan itu. Di dalam kereta terdapat sebuah peti mati.

Dengan   terkejut   Ouwyang   Bu   melangkah   mundur.

Mukanya menjadi pucat.

"Bun-ko, apa artinya ini? Peti mati siapa ini dan apa maksudmu?"

"Bu-te..... sumoi..."

Tiba-tiba saja Ouwyang Bu menggigil dan mukanya semakin pucat ketika ia berteriak, "Lie Eng.....?." dan cepat sekali ia meloncat ke arah peti mati itu. Dengan tangannya yang kuat ia buka peti itu hingga peti mati yang telah dipaku itu terbongkar seketika itu juga. Ia buka kain penutup muka mayat itu.

"Lie Eng.... kau...." dan pemuda itu tak dapat melanjutkan katakatanya karena pada saat itu juga ia roboh pingsan.

"Bu-te.... ah, Bu-te..... kasihan kau...... adikku..." Ouwyang Bun-lalu menubruk dan memeluk tubuh adiknya. Ia angkat kepala Ouwyang Bu dan dipangkunya serta diciuminya dengan penuh kasih sayang.

Para penjaga yang melihat peristiwa ini berdiri bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Mereka belum tahu siapakah yang berada di peti mati itu dan mereka tidak berani melakukan apa-apa karena tidak mendapat perintah.

Ketika Ouwyang Bu sadar sambil merintih memanggil- manggil nama Lie Eng, ia dapatkan dirinya sedang dipeluk dan dipangku oleh kakaknya. Tiba-tiba ia meloncat berdiri dan mencabut pedangnya.

"Bun-ko.... siapa.... siapa yang membunuh dia? Kaukah...?" ia menghampiri kakaknya dengan sikap mengancam. "Ya, tentu kau. Siapa lagi yang dapat membunuh dia? Dan kau sekarang sudah menjadi pemberontak? Hayo, mengakulah kau."

Ouwyang Bun hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu ia mengeluarkan surat Lie Eng. Ouwyang Bu menerima surat itu dengan kedua tangan menggigil. Ketika ia membaca isinya surat itu, mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Ia lalu memukul-mukul kepala sendiri dengan tangan hingga topi besi yang dipakainya berbunyi tang-tung dengan keras. Setelah habis membaca surat itu, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakaknya dan berkata,

"Bun-ko.... kaubunuhlah aku, Bun-ko.... aku hendak menyusul Lie Eng..."

Tapi Ouwyang Bun memegang kedua pundak adiknya dan ditariknya Ouwyang Bu berdiri. "Bu-te. Bukankah kau seorang laki-laki dan seorang jantan pula. Janganlah bersikap lemah."

Tiba-tiba katakata ini bagaikan cahaya kilat yang memasuki tubuh Ouwyang Bu. Ia berdiri tegak dan kedua matanya memandang kepada kakaknya sedemikian rupa hingga Ouwyang Bun mundur dua langkah. Mata itu bagaikan mata seorang buta melek. "Baik, Bun-ko. Aku tetap seorang laki-laki dan sudah menjadi tugasku untuk membalas dendam ini. Jangan kau menyesal kalau kelak aku pasti membunuh Cui Sian, Siauw Leng, dan engkau juga."

Biarpun hatinya merasa sakit dan pilu, tapi Ouwyang Bun tahu bahwa inilah sikap terbaik bagi seorang perajurit seperti Ouw yang Bu.

"Bu-te, aku tahu bahwa surat ini telah menyakiti hatimu dan kau tentu marah kepadaku. Kalau kau sakit hati dan hendak membunuh aku, lakukanlah itu sekarang juga, adikku."

"Tidak membunuh pemberontak ini sekarang, mau tunggu kapan lagi?" tiba-tiba terdengar orang berseru keras dan Gui Li Sun yang mengeluarkan katakata ini lalu menyerbu dan menyerang Ouwyang Bun, diikuti oleh beberapa orang perwira lain.

"Tahan." Ouwyang Bu membentak hingga semua penyerang itu mengundurkan diri. "Jangan serang dia."

"Ciangkun, dalam menghadapi musuh, perajurit sejati tidak kenal saudara." Gui Li Sun memperingatkan.

"Tutup mulut." Ouwyang Bu membentak marah. "Kaukira aku tidak tahu aturan seorang perajurit sejati? Aku larang kau serang dia bukan karena ia saudaraku, tapi karena kedatangannya adalah sebagai seorang utusan yang membawa jenasah Cin-lihiap. Pantaskah kalau kita serang dia? Perbuatan ini akan dipandang rendah dan aku melarang siapa saja menyerang dia pada waktu sekarang ini."

Semua orang terpaksa mengakui kebenaran katakata ini. “Sekarang kau pergilah." kata Ouwyang Bu dengan

suara dingin. "Bu-te.... marilah kita pergi saja, pergi dari segala peperangan ini..."

Untuk sesaat Ouwyang Bu ragu-ragu, tapi ia segera menetapkan hatinya dan berkata,

"Sudahlah, jangan banyak ribut. Bujuk-anmu tidak ada artinya bagiku..Aku seorang perajurit sejati dan harus tetap menu naikan tugasku sebagai seorang perwira. Dan kau....

kau pergilah kembali kepada tunanganmu." Kemudian Ouwyang Bu memerintahkan anak buahnya untuk mendorong kereta berisi peti mati itu ke dalam benteng dan ia sendiri lalu masuk ke dalam benteng tanpa menoleh lagi kepada kakaknya. Ouwyang Bun menghela napas berkali- kali dan terpaksa ia lalu kembali ke dalam hutan.

Setelah berada dalam benteng, barulah Ouwyang Bu menangisi jenasah Lie Eng, sedangkan Gui Li Sun berkata dengan suara gemas.

"Ciangkun, marilah kita kerahkan tenaga dan menyerbu ke dalam hutan. Kalau belum dapat membasmi habis pemberontak-pemberontak hinadina itu, belum puas rasa hatiku."

Ouwyang Bu tidak menjawab tapi diam-diam ia mengatur siasat untuk membalas kematian Lie Eng kepada para pemberontak itu.

Benar saja, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ouwyang Bu bersama Gui Li Sun dengan tiga ratus orang tentara telah menyerbu ke dalam hutan. Pertempuran hebat terjadi dan Ouwyang Bun melihat betapa Cui Sian dan kawan-kawannya terkurung, terpaksa turun tangan   hingga di pihak tentara negeri menjadi kacau. Amukan Ouwyang Bun dihadapi oleh beberapa orang perwira yang cukup tinggi kepandaiannya. Karena para pemberontak itu menggunakan taktik berpencar, maka pertempuran menjadi berkelompok-kelompok. Yang mengherankan ialah bahwa Ouwyang Bu tidak tampak dalam pertempuran itu.

Karena pihak tentara sangat banyak, maka banyak sekali jatuh korban dan akhirnya pihak pemberontak terpaksa meng undurkan diri. Tapi pada saat itu muncul tiga orang tosu tua yang datang membantu pihak pemberontak. Tiga orang tosu ini berkepandaian tinggi sekali hingga para tentara kocar-kacir tidak kuat menghadapi mereka bertiga yang bersenjata pedang.

Ke manakah perginya Ouwyang Bu? Sebetulnya tadinya pemuda ini memang memimpin sendiri penyerbuan ke dalam hutan, tapi setelah pertempuran terjadi, ia memisahkan diri karena bermaksud hendak   menawan hidup, seorang di antara tiga pemimpin pemberontak itu. Ia melihat betapa Ouwyang Bun bertempur di samping Cui Sian merupakan sepasang anak muda gagah perkasa hingga sukar sekali didekati. Maka ia lalu mencari ke kelompok lain dan melihat Siauw Leng sedang mengamuk dikeroyok beberapa orang anak buahnya. Ouwyang Bu segera meloncat membantu karena anak buahnya yang dipimpin Gui Li Sun ternyata sangat terdesak oleh gadis lincah itu.

"Bun-ko, bantulah aku membereskan beberapa ekor tikus ini." Siauw Leng berkata tanpa menengok. Ouwyang Bu heran, tapi ia segera tahu bahwa gadis itu salah sangka. Ia memang berpakaian putih untuk menyatakan kesedihannya atas kematian Lie Eng, dan gadis itu tentu menyangka, bahwa ia adalah Ouwyang Bun.

Karena inilah maka ketika Ouwyang Bu meloncat di dekatnya dan mengulurkan tangan menotok, Siauw Leng tidak menyang ka sama sekali bahwa ia bukan Ouwyang Bun dan mudah saja ia kena ditotok roboh. Seorang pengeroyok mengayun senjata hendak membunuh gadis itu, tapi Gui Li Sun mendahuluinya dengan memegang dan mendukung tubuh Siauw Leng.

Karena tidak ingin melihat gadis itu dibunuh, Ouwyang Bu lalu mengangguk kepada Gui-ciangkun dan berkata,

"Bawa tawanan ini dan jaga baik-baik," kemudian ia sendiri lalu pergi menghadapi tiga orang tosu yang sedang mengamuk itu. Ternyata tiga orang tosu itu benar-benar gagah perkasa dan kini semua pemberontak yang tadi melarikan diri mendapat tambahan semangat dan melawan lagi.

Ouwyang Bu melihat gerakan-gerakan ketiga orang itu, maklum bahwa pihaknya takkan menang, maka ia segera memberi aba-aba dan menarik mundur semua orangnya, lalu kembali ke dalam benteng.

Ouwyang Bu langsung menuju ke tempat tahanan untuk menemui Siauw Leng yang ditawannya tadi. Tapi alangkah herannya ketika ia tidak mendapatkan gadis itu di antara tawanan-tawanan lain. Ia lalu bertanya kepada penjaga yang segera dijawab bahwa tawanan wanita itu dibawa pergi oleh Gui-ciangkun

0oooo0dw0oooo0