-->

Sakit Hati Seorang Wanita Jilid 10

Jilid 10

DAN pada saat itu Tan Siong me lihat sesuatu yang a mat menarik hatinya. Seorang tosu yang mengis me lihat keadaan dua orang itu, walaupun tangisnya itu ditahan dan hendak dise mbunyikan. Dan selain keadaan yang aneh ini, juga dia tertarik kepada tosu itu. Ada sesuatu yang menar ik hatinya. Dia seperti sudah mengenal wajah itu. Maka ketika tosu itu pergi, dari jauh Tan Siohg me mbayanginya dan setelah tosu itu keluar dari pintu gerbang kota, dia pun teringat. Wajah itu seperti wajah ibunya! Wajah itu adalah wajah pamannya yang sedang dicarinya selama ini!

Dan ternyata benar! Ketika dia meng intai tosu yang sedang menang is di dalam kuil, dia mendengar keluhan tosu itu yang menyebutkan na manya sendiri, yaitu Gan Tek Un. Maka dia pun la lu menjumpainya dan tak disangkanya bahwa pa mannya yang kini telah menjadi tosu itu telah berubah pula. Kini bukan seorang yang ganas, melainkan seorang tosu yang berbudi le mbut, yang siap menerima hukuman dan mengakui dosanya terhadap ayah dan ibunya.

Akan tetapi dia tidak mendenda m. Dia sudah mendengar dan tahu se muanya. Pamannya ini sejak dahulu me mang seorang yang tergolong jahat, suka me lakukan apa saja yang kurang patut dan   mengandalkan   kepandaiannya   untuk me lakukan kejahatan dan penindasan. Dia tahu pula bahwa pamannya ini telah me nipu kedua orang tuanya sehingga harta kekayaan orang tuanya yang tidak seberapa, termasuk rumahnya, terjatuh ke tangan Gan Tek Un dan setelah harta bendanya habis, kedua orang tuanya terlunta-lunta men inggalkan dusun dan kabarnya telah men inggal dunia, entah di mana. Dia mencari pa mannya bukan untuk me mba las dendam, bukan men untut kemba linya harta kekayaan orang tuanya, melainkan untuk bertanya di mana adanya orang tuanya, dan kalau mereka sudah meningga l, di mana kuburnya.

Sejenak Tan Siong menunduk, me lihat kepala tosu itu yang berlutut didepannya. Dia lalu ikut berlutut meng hadapi tosu itu. "Paman, jangan begitu. Aku datang mencari Paman, sama sekali bukan untuk me mbalas dendam karena tidak ada dendam di dalam hatiku. "

"Karena engkau belum tahu apa yang telah kulakukan terhadap Ayah Ibumu."

"Sudah, Paman. Aku me ndengar bahwa Pa man telah men ipu mereka dan menguasai harta kekayaan mereka, me mbuat mereka menjad i orang mis kin yang hidup terlunta- lunta dan terlantar, sehingga mereka akhirnya men inggal dunia dalam keadaan miskin."

"Benar sekali! Akulah yang me mbuat mereka menjadi miskin, menjadi sengsara sampai mereka men inggal dunia dalam keadaan orang terlantar. Dan engkau mau bilang bahwa engkau tidak mendenda m kepada Pinto?"

"Tidak sa ma sekali, Pa man."

"Kalau begitu engkau tentu pengecut, penakut sekali! Engkau mengerti bahwa pinto lihai ma ka engkau tidak berani mendenda m! Jangan khawatir, kau pukulilah aku, kau bunuhlah aku, dan aku takkan melawan. Pinto siap menebus dosa, anakku!" kata pula tosu itu dengan suara sedih.

"Paman salah sangka. Biarpun belum tentu aku dapat menga lahkanmu, akan tetapi sedikitnya  aku    pernah me mpe lajari ilmu-il mu yang tinggi di Kun lun-san. Pa man lihat, apakah dengan tangan sekuat ini aku harus takut menghadapi Paman? Aku sa ma sekali tidak takut." Dan Tan Siong lalu menggunakan jari-jari tangannya menusuk lantai yang terbuat dari batu. Nampak jelas bekas jari-jari tangannya menusuk lantai itu! Dia m-dia m tosu itu terkejut bukan ma in.

"Engkau telah menjad i seorang yang lihai! Akan tetapi kenapa... kenapa engkau tidak mendenda m walaupun sudah tahu bahwa aku penyebab kesengsaraan, bahkan mungkin penyebab kematian orang tuamu?"

Tan Siong me megang kedua pundak orang tua itu. "Marilah bangun dan mari kita duduk dan bercakap-cakap dengan baik, Paman.”

"Siancai... siancai.... siancai....! Tak pinto sangka sama sekali bahwa sikap mu akan begini tehadap pinto. Aihhh....

keponakanku yang gagah dan bijaksana, tahukah engkau bahwa sikap mu ini bukan main menyiksa hatiku, lebih

menyakit kan daripada kalau engkau  menyerang  dan me mukuhku? Ah, penyesalan dalam hatiku se ma kin bertambah berat dengan sikap mu ini...." Dan tosu itu menggunakan ujung lengan bajunya menghapus air matanya. "Makin terasa kini oleh pinto betapa dahulu pinto menjadi seorang yang sejahat-jahatnya...., dan hati pinto takkan pernah tenteram sebelum datang huku man bagi pinto."

"Mari kita duduk, Paman," kata Tan Siong, me mbimbing tosu yang kelihatan le mas itu untuk sa ma-sama duduk berhadapan di atas bangku di dalam ruangan itu.

Setelah mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan beberapa lamanya. tosu itu kembali bertanya dengan suara heran dan penasaran. "Tan Siong, pinto lihat bahwa engkau telah menjad i seorang laki- laki dewasa yang berilmu tinggi. Melihat cara mu menusuk lantai dengan jari tangan itu, pinto dapat menduga bahwa engkau telah me miliki sin-kang yang amat kuat dan agaknya tingkat kepandaianmu sudah melampaui tingkat pinto. Mengapa engkau tidak turun tangan me mbalas kejahatan yang telah pinto lakukan terhadap orang tuamu?" "Paman, segala peristiwa yang menimpa diri manus ia, walaupun diakibatkan oleh ulah manus ia sendiri, na mun segalanya telah ditentukan oleh Thian. Kematian orang tuaku tentu sudah menjadi kehendak Thian pula, dan perbuatan Paman yang Pa man lakukan dahulu itu hanya menjad i satu di antara sebab saja."

"Ya, Tuhan.... kenapa engkau yang masih begini muda dapat me miliki kebijaksanaan yang demikian tinggi, sedangkan pinto.... ah, pinto bergelimang dengan kejahatan." Tosu itu nampak sedih sekali.

"Sudahlah, Pa man. Betapapun juga, melihat betapa Paman kini telah menjadi seorang tosu yang penuh dengan penyesalan, melihat Paman telah bertobat, maka hal itu sudah merupakan satu kenyataan yang baik sekali. Lebih baik menjad i seorang yang sadar dan bertobat akan kejahatannya yang lalu, daripada seorang yang merasa dirinya paling bersih sehingga menjadi t inggi hati dan so mbong. Yang perta ma itu, bagaikan orang sakit telah se mbuh dari sakitnya, sedangkan yang ke dua adalah orang yang jumawa dan se mbrono sehingga mudah sekali dihinggapi penyakit. Aku mencari Paman bukan untuk men untut sesuatu, hanya ingin mohon pertolongan Paman agar suka me mberi tahu kepadaku, di mana adanya Ayah Ibuku, atau lebih tepat, di mana kuburan mereka karena aku ingin mengunjungi ma kam mere ka."

Tosu itu bangkit dan merang kul keponakannya sa mbil menang is. "Ah, agaknya bukan hanya ilmu silat tinggi yang pernah kau pelajari di Kun-lun-san, akan tetapi para tosu yang bijaksana dari Kun lun-pai telah meng isi batinmu dengan kebajikan-kebajikan yang tinggi pula. Ayah Ibumu men inggal secara wajar, yaitu karena penyakit dan karena berduka, dan mereka dimakamkan dengan sederhana oleh para penduduk dusun, di dusun Hek- kee-cun di sebelah selatan kota. Namun….." Girang sekali rasa hati Tan Siong setelah dia mengetahui di mana adanya ma kam orang tuanya. Dan dia pun merasa kasihan kepada pa mannya. Jelaslah bahwa pa mannya ini sekarang telah terhukum di dalam hatinya, menyesali semua perbuatannya yang telah lalu. Tidak ada hukuman yang lebih berat menjadi derita batin daripada derita yang timbul karena penyesalan yang tak kunjung pada m. Dia dapat menduga bahwa tentu banyak kejahatan dilakukan pa mannya ini di waktu muda, karena kalau hanya kejahatan menipu untuk menguasai harta benda ayah ibunya yang tidak berapa banyakitu saja, kiranya tidak seperti ini keadaannya. Apalagi pamannya sa mpai menang is ketika me lihat orang tersiksa di pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui. Tentu pa mannya ini dahulunya menjad i seorang penjahat besar. Akan tetapi, dia ikut merasa lega dan girang bahwa adik kandung ibunya ini sekarang telah sadar dan bertobat dan untuk menghibur hati orang tua, dia tidak tergesa-gesa me-ninggalkan pamannya dan tidak menolak ketika pa mannya mengajaknya makan siang. Bahkan pa mannya minta kepadanya untuk tinggal di kuil itu mene man inya sela ma beberapa hari.

"Selama ini kau meng ira bahwa aku hidup seorang diri saja tanpa sanak keluarga di dunia ini, dan tiba-tiba engkau, keponakanku satu-satunya muncul dalam keadaan yang begini mengagu mkan. Temani lah pinto sela ma beberapa hari untuk me lepas kerinduanku, Tan Siong."

"Maaf, Paman. Aku harus cepat pergi mencari makam orang tuaku, maka sore nanti, atau paling lambat besok pagi aku harus pergi men inggalkan Paman."

Paman dan keponakan itu lalu bercakap-cakap dan dengan penuh perhatian dan girang dan bangga, Gan Tosu mendengarkan cerita keponakannya tentang masa belajarnya di Kun-lun-san. Bahkan untuk menyenangkan hati pa mannya, ketika diminta, Tan Siong lalu mainkan beberapa jurus ilmu silat Kun-lun-pai, baik dengan tangan kosong maupun dengan pedang tipisnya. Gan Tosu menonton de monstrasi itu dengan hati penuh kagum karena baru melihat keponakannya bersilat saja, dia pun tahu bahwa dia tidak akan ma mpu menandingi kehebatan keponakannya!

"Hebat, hebat...!" Serunya dengan girang. "Ilmu silat mu demikian indah dan me ngandung kekuatan dahsyat."

"Ah, Paman terlalu me muji. Aku masih mengharapkan petunjuk dari Pa man."

"Pinto tidak sekedar me muji, Tan Siong. Tingkat ilmu silat mu sudah jauh lebih tinggi daripada tingkat pinto. Akan tetapi, sebaiknya kalau ilmu sepasang pedang pinto, yaitu Siang-liong-kiam (Pedang Sepasang Naga) kau pelajari dan biarlah kuturunkan kepada mu. Nah, lihatlah pinto ma inkan ilmu itu perhatikan baik-baik." Tosu itu kini bergembira dan agaknya sudah mulai melupakan kesedihannya karena penyesalan itu. Dia menge luarkan sepasang pedang hitam putih dan bersilat pedang. Memang inilah ilmu silat andalannya dan sepasang pedang itu membentu k dua gulungan sinar hita m putih yang saling bantu dan saling me lindungi, merupakan ilmu pedang pasangan yang tangguh.

Girang sekali rasa hati Tan Siong dan setelah pamannya berhenti bersilat, pa mannya lalu menyerahkan sebuah kitab. "Ilmu pedang Siang-liong-kiam itu sudah pinto catat dalam kitab ini. Pelajarilah dan kau terima lah sepasang pedang ini, Tan Siong."

"Akan tetapi, Paman. Sepasang pedang ini adalah pedang pusaka milik Pa man, masih Pa man perlukan untuk pelindung diri."

Tosu itu menarik napas panjang. "Terimalah, baru akan puas hati pinto kalau pedang-pedang ini berada di tangan seorang bijaksana dan gagah seperti engkau." Dia me ma ksa dan akhirnya Tan Siong menerima nya. "Di tangan pinto, sepasang pedang ini dahulu hanya membuat dosa. Biarlah mereka pun menebus dosa-dosa mereka dengan perbuatan baik, menentang kejahatan di tangan seorang pendekar seperti engkau. Pinto sekarang tidak me mbutuhkan perlindungan pedang, tidak me mbutuhkan kekerasan lagi. Ancaman kematian akan pinto hadapi dengan tenang dan ikhlas."

Pada saat itu terdengar suara orang dari luar kuil, suara yang halus, suara wanita. "Gan Tek Un, keluarlah dari kuil, aku ingin bicara denganmu!"

Gan Tojin terkejut dan wajahnya berubah puoat ketika ia mendengar suara itu. Tan Siong mengerutkan alisnya dan bangkit berdiri. Akan tetapi pamannya sudah mendahuluinya. "Tan Siong, kuminta dengan sangat kepadamu agar engkau berdiam saja di sini dan jangan menca mpuri urusan di luar kuil. Ini adalah urusan pribadi pinto sendiri. Duduklah saja dan kau tunggu di sini."

Tan Siong mengangguk dan mengerutkan alisnya. Hatinya merasa kecewa. Tadi dia melihat pa mannya sudah bertobat

Ia dan bahkan sudah menjadi seorang tosu. Akan tetapi bagaimana sekarang muncul seorang wanita dalam kehidupan pamannya sebagai tosu? Apakah pamannya hanya pura-pura saja menjad i tosu untuk menutup i se mua perbuatannya? Dan pamannya jelas me mesan agar dia tidak menca mpuri karena urusan dengan wanita itu adalah urusan pribadi! Kekecewaan me mbuat hatinya merasa penasaran dan marah. Sebaiknya dia cepat meninggalkan pamannya ini, yang me miliki kepribadian yang tidak meyakinkah. Dia lalu menyambar buntalan pakaiannya dan biarpun agak meragu, terpaksa dia menyimpan pula sepasang pedang dan kitab pe mberian pamannya. Keadaan pamannya me mbuat kegembiraan untuk me mpe lajari ilmu sepasang pedang itu menjadi kendur. Akan tetapi, baru saja dia bangkit dan hendak pergi, tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang tadi lantang me maki- maki! Cepat dia berjalan berindap dan biarpun pamannya sudah me mesan, dia kini menuju ke luar dan meng intai ke luar dari balik jendela depan.

Siapakah wanita yang me manggil Gan Tosu dengan na ma aselinya itu? Baru mendengar suaranya saja, Gan Tosu sudah dapat menduga siapa yang me manggil, dan dengan muka pucat dia pun keluar. Di luar kuil, berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang, Cui Hong telah menantinya. Ya, wanita itu adalah Kim Cui Hong! Ketika ia menyeret tubuh Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong keluar dari dalam pondok kecil dan me masu ki hutan, ia telah berhasil me maksa kedua orang tua itu untuk mengaku di mana adanya musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un. Dari kedua orang tawanannya yang sudah ketakutan setengah mati itu, ia mendengar bahwa Gan Tek Un kini telah menjad i seorang tosu berna ma Gan Tosu, tinggal di sebuah kuil tua di sebelah barat kota raja, kurang lebih belasan mil dari kota raja.

Maka, setelah ia menyiksa kedua orang musuhnya dan menggantung tubuh mereka di depan pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui, Cui Hong lalu beristirahat di te mpat persembunyiannya.

Hatinya terasa puas dan ia dapat tidur nyenyak setelah semalam suntuk tidak tidur dan tubuhnya letih sekali. Setelah tidur sampai sore, barulah ia men inggalkan te mpat persembunyiannya dan dengan pucat ia pergi mencari musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un.

Sejak melihat tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun tergantung di depan gedung keluarga Pui, dan pernah pula dia bertemu dengan Louw Ti yang telah menjadi manus ia cacat, tahulah Gan Tosu bahwa cepat atau lambat, gadis she Kim puteri guru silat Kim itu tentu akan mene mukan dirinya. Dia merasa menyesal sekali dan   merasa   bahwa   dia   telah me lakukan perbuatan yang amat keji terhadap gadis itu. Maka dia pun sudah siap untuk menerima hukuman untuk menebus dosanya. Maka, begitu dia mendengar seruan wanita yang me manggilnya, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis itu pula yang kini datang mencarinya. Dia lalu me mesan kepada Tan Siong agar tidak menca mpuri, kemudian dengan muka pucat dan hati tenang dia pun berlari keluar.

Melihat wanita cantik dan gagah yang kini berdiri bertolak pinggang di pekarangan kuil, Gan Tosu segera teringat akan gadis remaja yang pernah diperkosanya bersama Koo Cai Sun dan Louw Ti, setelah Pui Ki Cong yang me mper mainkan gadis itu sela ma tiga hari merasa bosan dan menyerahkan gadis itu kepada mereka bertiga. Teringat dia betapa dia pun ikut pula me mper kosa dan meng hina gadis itu. Mukanya yang tadinya pucat, kini berubah menjad i merah sekali. Dia merasa menyesal dan juga malu mengingat akan kejahatan itu. Tergopoh dia mengha mpiri gadis itu dan menjura.

"Nona baru datang? Pinto memang sudah mengharapkan kedatanganmu," katanya dengan sikap tenang. Setelah kini berhadapan dengan orang yang hendak me mbalas dendam kepadanya, tosu ini bersikap tenang dan pasrah, bahkan dia me mbayangkan betapa sebentar lagi dia akan dapat menebus dosanya yang amat keji terhadap wanita ini, beberapa tahun yang lalu ketika wanita ini masih seorang gadis re maja.

Cui Hong me mandang dengan sinar mata mencorong dan ia mengerutkan alisnya. "Hemni, Gan Tek Un, engkau masih mengenalku? Bagus sekali kalau begitu! Biarpun berganti baju domba atau kelenci, seekor serigala tetap serigala. Biarpun engkau sudah berganti pakaian menjadi tosu, bagiku engkau tetap saja Gan Tek Un si jahanam keparat yang lebih jahat dari iblis sendiri. Gan Tek Un, apakah engkau mas ih ingat kepada semua perbuatan yang pernah kaulakukan terhadap diriku?"

"Tentu saja pinto ingat se muanya, Nona, dan karena itulah pinto menanti kedatangan mu agar pinto dapat membayar hutang dan melunasi dosa pinto yang amat besar itu dengan hukuman yang akan nona jatuhkan kepada pinto." Melihat sikap yang pasrah ini, kata-kata yang lembut dan penuh penyesalan, hati Cui Hong agak kecewa, la ingin me lihat lawan atau musuh terakhir ini juga masih dalam keadaan jahat dan pongah seperti tiga orang musuhnya yang telah dihukumnya, agar hatinya menjadi puas dalam pembalasan denda mnya, karena di sa mping me mba las dendam pribadi, juga berarti ia telah menyingkirkan seorang manus ia berwatakiblis dari dunia ramai, me mbuat si jahat itu tidak akan ma mpu berbuat jahat lagi.

"Gan Tek Un pendeta palsu banyak cakap, keluarkan sepasang pedangmu dan mari kita bertanding sampa i seorang di antara kita menggeletak di sini!" tantangnya, tangannya hanya memegang sebatang kayu ranting pohon sebesar per- gelangan tangannya.

"Nona Kim Cui Hong, sudah pinto katakan bahwa pinto me mang menanti datangnya hukuman atas dosa pinto terhadap Nona. Pinto tidak akan melawan, juga tidak akan minta ampun. Nah, pinto sudah siap. Jatuhkanlah hukuman apa saja yang Nona kehendaki atas diri pinto. Pinto tidak akan me lawan!" Berkata de mikian, tosu itu lalu menjatuhkan diri berlutut, bersedakap dan memeja mkan mata, dengan tubuh dan kepala tegak, siap me nanti siksaan yang bagaimanapun tanpa melawan atau mengeluh. Dia me musatkan seluruh perhatian kepada keyakinan bahwa dia sedang menebus dosa dengan hati iklas

Melihat sikap musuhnya itu, Cui Hong mengerutkan alisnya dan sejenakia ter mangu-mangu. Bagaimana mungkin ia menyerang seorang yang sa ma sekali tidak melawan, bahkan kini duduk bersila dengan kedua mata dipejamkan? Akan tetapi, bagaimana mungkin pula ia melepaskan musuh yang satu ini? Bagaimanapun juga, Gan Tek Un ini tidak lebih baik daripada yang   lain.   Seperti yang   lain,   dia   dulu   juga me mper kosanya dan menghinanya dan hal itu sa ma sekali tak pernah dilupakan. Selama tujuh tahun ini, bayangan menger ikan diperkosa secara bergantian oleh empat orang musuh besarnya itu selalu me mbayanginya, kalau malam menjad i mimpi buruk dan kalau siang me mbuat ia ter menung seperti orang kehilangan se mangat. Dan hanya dendam dan pembalasan itu saja yang me mbuat ia dapat bertahan untuk hidup terus, bahkan me mberi ia se mangat untuk belajar silat dengan tekun. Balas dendam! Tak mungkin ia melepaskan orang ini.

"Can Tek Un, jahanam busuk! Bangkitlah dan jangan menjad i pengecut. Bangkitlah dan kaulawan aku, keparat!"

Akan tetapi Gan Tek Un sudah siap untuk menerima siksaan yang betapa hebat pun, dan dia sudah pasrah, kini sama sekali tidak menjawab dan tidak pula me mbuka kedua matanya.

“Gan Tek Un, sekali lagi. Bangkitlah dan lawanlah aku, kalau tidak, aku terpaksa akan turun tangan me mba las dendam padamu!" Suara Cui Hong penuh dengan kemarahan dan rasa penasaran, dan ranting di tangannya sudah tergetar ujungnya.

Kembali Gan Tek Un tidak menjawab dan duduknya tidak pernah bergoyang. "Keparat! Jangan mencoba menggunakan kele mbutan untuk men ghapus denda mku! Sa mpa i mati pun aku tidak akan dapat menghapus denda mku. Nah, terimalah pembalasan ku!" Berkata de mikian, Cui Hong sudah mengang kat ranting itu ke atas kepalanya, siap untuk menghajar tubuh Gan Tek Un seperti ia pernah meng hajar tubuh Pui Ki Cong sa mpa i kulitnya pecah-pecah semua.

"Tahan dulu!" Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan ranting di tangan Cui Hong itu tertahan oleh sebatang pedang tipis. Cui Hong me langkah ke belakang dan me mandang dengan marah, ke mudian matanya terbelalak.

"Engkau.....!?!?" la me mandang wajah Tan Siong dengan bingung, sama sekati tak pernah meng ira bahwa pemuda ini akan muncul, bahkan menghalanginya untuk me mba las dendam. "Kau.mau apa kau.?" tanyanya, agak gagap, hatinya

“lihiap, aku harus mencegah engkau me lakukan kekeja man, menyerang orang yang   tidak   berdosa   dan tidak   mau me lawan mu." kata Tan Siong sa mbil menar ik kembali pedang yang tadi dipakai menang kis ranting di tangan Cui Hong.

Cui Hong tersenyum dingin. "Tan-toa-ko, apakah engkau tahu siapa orang yang kau katakan tidak berdosa ini?"

"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah Can Tosu yang dulu bernama Gan Tek Un, yaitu adik mendiang ibuku, Pamanku yang sela ma ini kucari."

Cui Hong terkejut dan kerut di alisnya makin menda la m. "Ahhh! Kiranya dia inikah Pa man mu? Inikah orangnya yang dulu pernah menipu orang tuamu sehingga orang tuamu menjad i terlunta-lunta dan men inggal dunia?"

"Benar, lihiap."

"Dan engkau kini hendak me mbelanya? Betapa anehnya sikap mu! Toako, jangan menca mpuri urusan kami. Mundurlah dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku dengan Gan Tek Un!"

"Tidak, Lihiap. Engkau tidak boleh bertindak keja m."

"Apa? Engkau benar-benar hendak me lindungi Pa man mu yang jahat ini?"

"Biar dia Pa manku ataukah orang lain, aku tetap akan mencegah engkau bertindak kejam, Lihiap. Menyerang orang yang tidak bersalah, orang yang tidak melawan, sungguh merupakan perbuatan yang kejam dan tidak patut dilakukan seorang pendekar wanita seperti engkau ini."

"Hemm, Tan-toako, tahukah engkau mengapa aku hendak menyiksa orang ini?" Tan Siong menggelengkan kepalanya, "Apa pun kesalahannya, tidak sepatutnya kalau engkau kini hendak menyerangnya karena dia sudah t idak mau melawan sama sekali."

"Tan-toako, sudah kuceritakan kepada mu tentang empat orang manus ia iblis yang telah menghinaku, me mperkosaku sampai lewat   batas perikemanusiaan, perbuatan mereka me lebihi kekeja man iblis sendiri dan yang tiga orang sudah kubereskan. Hanya tinggal seorang lagi dan yang seorang itu adalah Gan Tek Un!"

Bukan main kagetnya hati Tan Siong mendengar ini. Dia tahu bahwa pamannya me mang pernah menjadi penjahat, akan tetapi tak pernah disangkanya bahwa pa mannya pernah me lakukan perbuatan sekeji itu, meniper kosa gadis yang tidak berdaya, beramai-ramai dengan tiga orang kawannya! Dengan muka berubah pucat dia membalik dan me mandang kepada tosu yang masih duduk bersila itu.

"Paman, benarkah Paman dulu me lakukan perbuatan keji dan hina itu?" tanyanya dengan suara nyaring.

Gan Tosu me ma ng sejak tadi mendengarkan dan kini dia menarik napas panjang, tanpa me mbuka kedua matanya. "Se mua yang dikatakan Nona ini benar belaka. Tan Siong. Memang aku pernah me lakukan perbuatan jahat itu dan perbuatanku terhadap Nona inilah yang merupa kan satu di antara banyak perbuatanku yang membuat aku menyesal setengah mati. Biarkan dia menyiksa atau me mbunuhku untuk menebus dosaku, Tan Siong."

"Nah, engkau mendengar sendiri, Toa-ko. Apakah engkau kini mas ih hendak melindungi dia?" Cui Hong menuntut.

"Kim-lihiap, pendirianku tidak berubah Aku tetap mencegah engkau melakukan perbuatan kejam itu. Aku me mbelanya bukan karena dia Pamanku, melainkan seorang yang tidak me lawan terancam oleh kekerasan. Dan aku mencegah engkau melakukan kekejaman itu karena.... terus terang saja, Lihiap, cintaku kepada mu mas ih tetap. Aku mencegah engkau menjad i pe mbunuh kejam demi cintaku kepada mu!"

Kembali Cui Hong tersenyum, akan tetapi kini senyumnya mengejek dan sepasang matanya mencorong penuh kemarahan, la merasa diper mainkan.

"Tan Siong!" bentaknya dengan suara ketus. "Engkau bilang bahwa engkau mencintaku, akan tetapi engkau menentang aku yang hendak me mbalas dendam kepada orang yang telah merusak kebahagiaanku, yang telah menghancurkan harapanku, yang telah menggelapkan sinar kehidupanku, yang telah me mbunuh ayahku dan suhengku! Cinta maca m apakah itu? Tidak perlu engkau meray u, kalau engkau me mbe la jahanam Gan Tek Un ini, berarti engkau adalah musuhkul Majulah!" Cui Hong me nodongkan rantingnya, siap untuk menyerang.

"Kim-lihiap, sungguh engkau me mbuat aku bersedih bukan ma in. Tentu saja aku tidak akan me layani tantanganmu, karena sampai mati pun aku tidak akan me mu-suhimu. Aku hanya melindungi orang yang teranca m,   bukan   berarti me musuhi- mu. Engkau tidak dapat mengerti pendirianku. Sekali lagi, ingatlah dan hapuslah dendam dari dalam hatimu, karena itu merupakan racun yang hanya akan merusak lahir batinmu sendiri."

"Cerewet! Aku mau hajar dan siksa dia untuk me mbalas dendam, baik engkau suka maupun tidak!" Dan Cui Hong kini dengan kemarahan meluap sudah mengayun rantingnya untuk me mukul re muk tulang kaki Can Tosu yang duduk bersila itu.

"Singggg...... takkkk!" Ranting itu tertangkis pedang di tangan Tan Siong. Pemuda ini sudah cepat menangkis dan kini dia berdiri menghalang di antara Cui Hong dan tosu itu dengan sikap melindungi. "Tan Siong, terpaksa aku harus menyingkir kan segala penghalang untuk me mbalas denda mku, termasu k engkau!" teriak Cui Hong dan ia sudah menyerang dengan rantingnya, ujung rantingnya tergetar dan seolah-olah terpecah menjadi tujuh yang melakukan serangkaian totokan ke arah tujuh jalan darah di tubuh bagian depan dari lawan.

Tan Siong terkejut sekali. Dia me mang sudah tahu betapa lihainya wanita Ini ketika me mbantunya menghadapi jagoan- jagoan yang menjad i pelindung Pui Ki Cone, akan tetapi baru sekarang dia men ghadapinya langsung sebagai lawan. Dia pun cepat menggerakkan pedang tipisnya, diputarnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya. Namun, pe mutaran pedang saja tidak cukup dia harus berlompatan kesana-sini karena ujung ranting itu seolah-olah dapat menerobos di antara gulungan sinar pedangnya.

Cui Hong tidak berma ksud mencelaka i pemuda itu, sama sekali tidak. Dia masih merasa kagum dan suka kepada pemuda perkasa itu, apalagi mendengar betapa sampai kini pemuda itu masih tetap mencintanya, walaupun sudah mendengar r iwayatnya, tahu bahwa ia bukanlah seorang perawan terhormat lagi, melainkan seorang wanita yang sudah ternoda dan terhina. Ia hanya ingin meroboh kan Tan Siong agar tidak dapat mengha langi pelaksanaan balas dendamnya terhadap Gan Tek Un, maka semua serangannya me rupakan totokan-totokan yang amat hebat. Sebaliknya, Tan Siong juga hanya ingin me lindungi pa mannya, bukan berniat untuk melukai apalagi me mbunuh gadis yang dikagumi dan dicintanya itu, maka dia pun hanya menggerakkan pedangnya untuk melindungi tubuhnya, menangkis dan menge lak tanpa balas menyerang.

Akan tetapi, segera dia terdesak hebat. Andaikata dia me mba las se mua serangan Cui Hong pun belum tentu dia akan ma mpu menga lahkan gadis perkasa itu, apalagi kini dia hanya menangkis tanpa bisa menyerang. Gulungan sinar pedangnya semakin menye mpit, terjepit dan tertekan oleh sinar hijau dari ranting di tangan Cui Hong.

"Tahan senjata kalian! Jangan berkelahi dan dengarkan pinto!" Tiba-tiba terdengar teriakan Gan Tojin, tosu yang tadi duduk bersila. Mendengar ini, Tan Siong melompat ke belakang dan Cui Hong juga menahan gerakan rantingnya, ingin tahu apa yang akan dikatakan musuh besarnya itu. Siapa tahu musuh besarnya itu timbul keberanian untuk maju sendiri menghadap inya dan melarang Tan Siong menca mpuri urusan pribadi mere ka.

Tosu itu mas ih duduk bersila, mukanya pucat akan tetapi sinar mata mencorong penuh se mangat. Agaknya kesedihannya yang tadi sudah lenyap. "Siancai...! Dengan sikap kalian, maka dosa pinto berta mbah dalam dan besar saja. Setelah menjadi seorang pe meluk aga ma yang taat, pinto bahkan mengakibatkan perpecahan dan perkelahian antara dua orang muda yang saling menc inta. Nona Kim Cui Hong, engkau sudah sepatutnya membalas dendam kepada pinto karena perbuatan pinto terhadapmu dahulu itu me mang tak dapat diampuni. Dan engkau pun benar, Tan Siong, karena engkau me lindungi yang le mah, bukan karena pinto paman mu, dan itu merupakan sikap seorang pendekar. Akan tetapi kalau pinto me mbiarkan kalian saling berkelahi sa mpai seorang di antara kalian roboh tewas atau terluka, pinto akan merasa berdosa lebih hebat lagi yang takkan dapat pinto lupakan sela ma hidup. Karena itu, biarlah pinto mengakhiri saja semua derita ini!" Tiba-tiba na mpak s inar berkelebat dan tahu-tahu tosu itu sudah menusukkan sebuah pisau ke dadanya.

"Creppp....!" Pisau itu mene mbus dada sampai ujungnya nampak sedikit di punggung dan dia masih tetap duduk bersila!

"Paman....!" Tan Siong terkejut bukan main dan cepat berlutut di dekat tubuh pa mannya. Perbuatan tosu itu sama sekali tak pernah disangkanya, maka dia pun tidak sempat lagi mencegah bunuh diri itu.

Cui Hong me mandang dengan mata terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah antara penasaran, marah dan kecewa, la pun sa ma sekali tidak pernah mengira bahwa tosu itu akan me mbunuh diri, maka seperti juga Tan Siong, ia tidak sempat mencegah dan kini hanya berdiri sa mbil me mandang dengan mata terbelalak.

"Paman, mengapa Paman melakukan perbuatan yang bodoh ini?" Tan Siong menegur pa mannya, tanpa berani menyentuhnya karena dia me lihat bahwa nyawa pa mannya tak mungkin dapat di sela matkan lagi dengan dite mbusnya dada itu dengan pisau.

"Tan Siong..... bunuh diri me mang bodoh.... dan dosa. akan tetapi.... setidaknya pinto dapat menyelamatkan kalian .. kasihan ia ..... bimbinglah ia.... dengan kasih sayang. " Tosu

itu tidak kuat lagi. Jantungnya tertembus pisau dan dia pun menjad i le mas, terkulai dan roboh terjengkang. Tan Siong cepat merangkulnya dan merebahkannya baik-baik.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa Cui Hong. Tan Siong terkejut dan meloncat bangkit, me mandang dengan mata terbelalak. Gadis itu tertawa bebas lepas, sambil menengadah me mandang langit. "Ha-ha-ha-.... habislah sudah mereka! Ayah, Suheng.... aku telah berhasil me mbalas denda m, selesailah sudah tugas hidupku, lenyaplah sudah ganjalan hatiku, beban yang demikian berat menekan batinku, ha-ha- ha-hi-hi-hi !"

Gadis Itu tertawa-tawa seperti orang kemasukan setan sehingga Tan Siong merasa ngeri. Cui Hong seperti telah menjad i gila, tawanya bukan tawa seorang wanita normal lagi, tawa terkekeh-kekeh dan terbahak-bahak. Tan Siong segera me lo mpat dekat gadis itu dan me megang kedua pundaknya, diguncang-guncangnya tubuh gadis itu. "Hong-mo i (Adik Hong)! Sadarlah engkau! Sadarlah...!" Dia me mbentak-bentak dan mengguncang-guncang, maklum bahwa gadis itu dikuasai perasaan yang mengguncang ingatannya. Maka dia mengerahkan tangannya sehingga kedua tangannya seperti cengkeraman kuat pada pundak gadis itu, mengguncang-guncangnya sehingga tubuh Cui Hong terdorong dan tertarik ke depan belakang.

Tiba-tiba Cui Hong berhenti tertawa, me mandang kepada orang yang me megang kedua pundaknya dengan mata nanar dan bingung. Akhirnya, kedua matanya normal kembali, tidak liar seperti tadi.

"Toako..., engkau??"

Cui Hong men dadak menangis, menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Tangisnya mengguguk, seperti anak kecil.

Kedua punggung tangannya mengusap air mata yang jatuh bercucuran, pundaknya terguncang dan suara tangisnya seperti Drang mer intih-rintih, terisak dan tersedu-sedu. Air matanya bagaikan air bah menerobos bendungannya yang pecah. Selama bertahun-tahun ini, ia menyimpan saja segala rasa dukanya,   bahkan   berusaha   sekuat   tenaga   untuk me lupakan ma lapetaka yang men impa dirinya setiap kali ia teringat akan keadaan d irinya. Hidupnya sebatang kara, tidak ada keluarga, tidak ada harapan sedikit pun akan dapat merasakan kebahagiaan hidup masa depan. Namun, selama ini ia menyembunyikan se mua kedukaan dan kecemasan akan keadaan dirinya di dasar kalbunya dengan cara mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dendam sakit hatinya, kepada usahanya yang mati- matian untuk me mbalas denda mnya. Kini setelah empat orang musuhnya mener ima hukuman, menerima, pe mbalasan denda mnya dengan setimpa l, seolah- olah dendam yang selama ini me mbendung air bah kedukaannya, menjadi bobol dan muncullah semua kedukaan dan kegelisahan yang sela ma bertahun-tahun mengendap di dasar batinnya. Tan Siong tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hati gadis itu. Dia hanya berdiri bengong me mandang gadis yang menang is tersedu-sedu. Mengapa gadis itu menangis seperti ditinggal mat i orang yang amat dicintanya? Bukankah sepatutnya ia bersuka cita karena dendamnya telah terbalas? Akan tetapi Tan Siong tahu bahwa tangis merupakan saluran yang amat baik untuk melepaskan perasaan yang meluap- luap, maka dia pun mendia mkannya saja dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

Setelah isak tangis gadis itu agak mereda, barulah Tan Siong berlutut di depan Cui Hong dan dengan hati-hati dia berkata lembut.

"Hong-mo i, mengapa engkau menang is demikian sedih?" Tangannya menyentuh lengan Cui Hong, hatinya diliputi perasaan iba yang mendalam karena dari tangis tadi dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya gadis itu tenggelam ke dalam kesengsaraan batin yang amat hebat dan lendalam. Sepasang mata gadis itu merah me mbengkak, wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan, mukanya mas ih basah air mata. Perasaan iba menusuk hati Tan Siong sehingga kedua tangannya nenggigil ketika dia merangkul gadis itu. "Hong- mo i...., jangan bersedih "

Bagaikan dipatuk ular, Cui Hdng menar ik lengannya yang disentuh Tan Siong lan melompat bangkit berdiri me njauhi pemuda itu. Dengan mata merah rne mbengka k ia me mandang pumuda itu, terbelalak.

"Jangan! Jangan sentuh aku...! Aku .. aku sudah kotor, aku sudah ternoda aku bergelimang aib...!" serunya tergagap dan kembali ia tersedu dan air mata yang agaknya tidak akan pernah habis itu bercucuran lagi menetes-netes di kedua pipinya.

Kini baru Tan Siong mengerti mengapa gadis itu me nangis sedih. Dia merasa iba sekali, bangkit berdiri dan suaranya bergetar penuh keharuan. "Hong-mo i... aku cinta padamu... engkau tetap suci dan mulia bagiku... cinta ku tak berubah sejak perta ma kita bertemu..." Tan Siong melangkah maju mengha mpiri, hendak me megang kedua tangan Cui Hong. Gadis itu menge lak dan mundur menjauh.

"Tidak! Tidak...! Jangan bohong aku tidak percaya! Aku... aku bukan perawan lagi, aku.... telah ternoda kehormatan-

ku diinjak- injak e mpat orang laki- laki iblis itu...! Seorang dari mereka adalah pa man mu sendiri! Aku tidak percaya!" Cui Hong melo mpat jauh dan melarikan diri.

"Aku tidak percaya...!" suaranya masih terdengar dari jauh. "Hong-mo i !"

Tan Siong mengejar, akan tetapi gadis itu sudah jauh dan

terdengar suara bergema. "Jangan kejar.....! Aku tidak sudi mendengar rayuanmu. !"

Tan Siong menahan kakinya. Dia menghe la napas panjang berulang kali, berdiri dengan muka pucat. Hatinya terasa pedih dan kosong. Dia harus menga ku dengan jujur kepada dirinya sendiri bahwa me mang ada perasaan hampa dan kecewa kalau dia men gingat betapa gadis yang dicintanya itu telah dirusak kehormatannya oleh e mpat orang laki- laki jahat, termasuk pa mannya sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa Cui Hong telah berubah menjadi seorang gadis kejam yang dihantui denda m, bertindak kejam kepada orang-orang yang dulu me mperkosanya. Memang gadis itu t idak me mbunuh mereka, akan tetapi penyiksaan yang ia lakukan bahkan lebih menger ikan daripada kalau ia me mbunuh mereka sebagai balas dendam. Empat orang yang dulu me mper kosanya itu dihukumnya dengan amat mengerikan. Pui Ki Cong menjadi seorang laki- laki cacat dan buruk seperti setan, tidak akan berguna selama hidup-nya. Demikian pula Koo Cai Sun, menjad i cacat, tapadaksa yang sudah bukan seperti manusia norma l lagi. Lauw Ti menjad i cacat dan gila. Keadaan mereka bertiga lebih menyedihkan dan mengerikan daripada kalau mereka mati. Dan pa mannya sendiri, orang ke empat yang dulu me mperkosa Cui Hong, terpaksa me mbunuh diri dengan perasaan penuh penyesalan. Sungguh pembalasan dendam Cui Hong itu terlalu keja m.

Kembali Tan Siong menghela napas panjang ketika terbayang olehnya semua kekeja man yang dilakukan Cui Hong terhadap orang-orang yang dibencinya, termasuk pa mannya. Akibat kekeja mannya itu, bukan hanya empat orang yang pernah me mper kosanya itu yang mender ita, terutama yang tiga orang kecuali pamannya yang sudah tewas. Mereka itu mati tidak, hidup pun bukan. Apa artinya hidup dalam keadaan tapadaksa separah itu? Lengan dan kaki patah bahkan ada yang buntung sehingga tubuh amat sukar bergerak, muka cacat, ada yang matanya buta, ada yang hidungnya hancur, pendeknya badan lumpuh sukar bergerak, muka cacat menjijikkan, batin terguncang sehingga menjadi seperti gila! Bukan mere ka saja yang menderita hebat bukan kepalang, me lainkan juga keluarga mere ka, anakisteri mereka!

"Aahh, Hong-mo i.... betapa kejamnya engkau... dendam kebencian telah me mbuat engkau seperti iblis! Akan tetapi, ya Tuhan, aku cinta pada mu, Hong-mo i, aku tetap cinta padamu!" Tan Siong menge luh la lu pergi dari situ dengan perasaan hampa. Semangatnya seolah ikut terbang bersama Cui Hong.

0odwo0

Sudah banyak tercatat dalam sejarah betapa perkara- perkara besar yang menyangkut bangsa dan negara, dipengaruhi oleh a mbis i pribadi para pe mimpinya. Perasaan dendam, ir i, murka, dan keinginan pribadi untuk mereguk kesenangan me lalui kekuasaan dari seorang pe mimpin negara dan para pembantunya, terkadang menyeret bangsa ke dalam kehancuran.

Seperti tercatat dalam sejarah Negeri Cina, bangsa Cina tadinya hidup dalam keadaan yang lebih baik di bawah pemerintahan Kerajaan Beng (Terang) dibandingkan dengan keadaan rakyat di ja man penjajahan Mongol yang mendir ikan Dinasti Goan yang bertahan selama hampir satu abad (1280- 1368). Setelah rakyat Han dapat menggulingkan penjajah Mongol dan yang berkuasa adalah bangsa sendiri dengan berdirinya Kerajaan Beng, kehidupan rakyat mula i menjadi makmur. Akan tetapi, setelah berjaya selama hampir tiga abad (1368-1644), mulailah pe merintah Beng menjad i le mah sekali sehingga mengakibatkan rakyat kemba li hidup menderita, bahkan keadaan kehidupan rakyat jelata lebih parah dibandingkan keadaan ketika dijajah orang Mongol! Hal ini disebabkan karena Kaisar terakhir Kerajaan Beng yang bernama Kaisar Cung Ceng (1620-1644) merupakan seorang kaisar yang le mah dan yang hanya mengejar kesenangan diri sendiri. Kele mahan ini tentu saja memunculkan banyak pejabat penjilat, terutama para Thai-kam (orang kebiri, sida- sida) yang berkuasa di dalam istana yang sedianya menjadi pelayan-pelayan kaisar dan keluarganya. Pada mulanya, Kaisar me mperguna kan tenaga para pria yang dikebiri ini sebagai pelayan-pelayan dalam istana untuk mencegah terjadinya perjinaan antara banyak selir dan gadis-gadis dayang istana dengan para pelayan pria. Karena itu, semua pelayan pria dikebiri sehingga tidak me mungkinkan terjadinya penyelewengan. Karena para Thaikam ini tidak dapat lagi berhubungan dengan wanita, maka mereka me la mpiaskan semua nafsunya kepada kedudukan dan harta. Mulailah mereka menggunakan segala daya upaya untuk me mperoleh kekuasaan dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuasaan itu adalah mendekati Kaisar dan menga mbil hati Kaisar.

Mungkin karena merasa senasib sependeritaan, para Thai- kam ini kompak sekali dan dapat bekerja sama dengan baik. Juga mereka biasanya merupakan orang-orang p ilihan. Kaisar tentu saja ingin me miliki pelayan-pelayan dalam istana yang berwajah tampan, bersih, pandai me mbawa diri, cerdas dan cekatan. Bahkan banyak di antara mereka yang pandai . ilmu silat untuk dijadikan pengawal pribadi, menjaga keselamatan Kaisar sekeluarga. Akan tetapi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang terpelajar, ahli sastra. Maka, tidak mengheran kan kalau sekumpulan orang pandai ini mudah menggunakan kecerdikan mere ka, menguasai politik pemerintahan dan me mpengaruhi Kaisar.

Kaisar Cung Ceng yang me mang pada dasarnya lemah itu seolah men jadi boneka dan menurut saja kepada para Thai- kam pimpinan yang dia anggap sebagai ha mba-ha mba yang baik dan setia! Maka, biarpun kekuasaan masih berada di tangan Kaisar, namun sesungguhnya segala keputusan yang disahkan dan ditanda tangani Kaisar itu keluar dari pikiran para Thaika m.

Memang tepatlah pendapat dan ajaran para bijaksana jaman dahulu bahwa yang terpenting bagi manus ia adalah hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Benar dan baik merupakan syarat bagi manus ia untuk dapat hidup berbahagia. Para bijaksana selalu menasihati keturunan dan muridnya begini

"Aku tidak ingin me lihat kamu menjad i orang kaya raya, atau menjadi orang pintar, atau menjadi orang berkuasa! Aku hanya ingin kamu menjadi orang yang baik dan benar! Hanya orang yang baik dan benarlah menjadi kekasih Thian (Tuhan) dan menerima kasih karunia dan kebahagiaan dunia dan akhirat!"

Baik dan benar merupakan dasar bagi ketenteraman dan kebahagiaan. Orang kaya belum tentu benar, orang pintar belum tentu benar, orang berkuasa belum tentu benar. Orang yang baik dan benar tentu merupakan penyalur berkat Tuhan bagi manusia lain, bagi dunia. Akan tetapi sesungguhnya, orang kaya, orang pintar, orang berkuasa tanpa didasari sifat baik dan benar, sering malah mendatangkan malapetaka bagi manus ia dan dunia karena keadaannya itu terkadang me mbuat dia sewenang-wenang, memikirkan kesenangan diri pribadi saja, bahkan menggunakan kekayaan, kepintaran atau kekuasaannya untuk men indas orang lain yang dianggap menjad i penghalang kesenangannya.

Demikianlah keadaan para Thaikam di dalam istana Kaisar Cung Ceng, pada masa terakhir pemerintah Kerajaan atau Dinasti Beng. Mereka berdiri dari orang-orang pintar, kaya raya, dan berkuasa, namun tidak me miliki watak dasar baik dan benar tadi. Maka sepak terjang dewikz mereka hanya men imbulkan kesengsaraan bagi negara dan bangsa. Pemerintahan Kaisar Ceng Cung menjad i le mah, banyak peraturan yang sewenang-wenang menindas rakyat. Para pejabat   pemerintah yang baik,   yang setia,   yang ingin me mbawa roda pemer intahan me lalui jalan yang benar dan yang menyejahterakan rakyat, menjadi penghalang bagi para Thaikam dan mereka itu, satu de mi satu, disingkir kan dari jabatannya. Bahkan, yang dianggap berbahaya karena sikapnya menentang para Thaika m, banyak di antara mereka bukan hanya dipecat oleh Kaisar atas bujukan para Thaikam, me lainkan  dihukum  berat  dengan  tuduhan  fitnah me mberontak.

Kalau pe merintah gagal menyejahterakan rakyat, bahkan menyengsarakan rakyat, maka akibatnya mudah diduga. Di mana- mana terjadilah pe mberontakan.

Muncul orang-orang gagah yang t idak suka dengan keadaan itu dan mereka ini me miliki banyak pengikut, me mbentu k laskar-laskar rakyat dan mulai mengadakan aksi menentang kerajaan!

Di antara para pemberontak itu, yang paling kuat memiliki banyak sekali pengikut sehingga na manya terkenal dan menjad i bagian sejarah, adalah Li Cu Seng. Sebetulnya, Li Cu Seng tadinya adalah seorang pendekar ahli silat dari dusun, bukan orang penting dan bukan orang ternama. Namun, sikapnya yang gagah dan wibawanya yang kuat menggerakkan ratusan ribu orang yang dengan suka rela menjad i pengikutnya. Terbentuklah barisan yang kokoh kuat dan mulailah pasukan Li Cu Seng bergerak. Pendekar yang berasal dari Propinsi Shensi ini, me mimpin laskarnya dan mulai penyerangannya dari utara dan barat. Pada waktu itu orang- orang Mancu sudah menge mbangkan kekuasaannya ke selatan, namun gerakan mereka itu terbentur dan terhenti oleh pertahanan pasukan pe mer intah Kerajaan Beng yang berjaga di Tembok Besar yang kokoh itu.

Dalam tahun 1640 Honan terjatuh ke tangan Li Cu Seng, dan dengan cepat pasukannya bergerak dan menduduki Propinsi Shensi dan Shansi. Di beberapa daerah ini, jumlah pengikutnya bertambah dan dia berhasil menghimpun pasukan yang besar dan kuat. Pemerintahan Kaisar Cung Ceng yang dipenuhi para Thai-kam dan pejabat tinggi yang korup, tidak mendapat dukungan rakyat. Bahkan banyak pula panglima perang yang besar kekuasaannya seolah kurang mengacuhkan adanya pemberontakan Li Cu Seng yang semakin mendekati kota raja Peking. Banyak panglima perang juga sudah muak dengan pe merintahan Kaisar Cung Ceng yang korup dan dikuasai Thaikam itu. Dia m-dia m mereka mengharapkan pergantian pimpinan pada pe merintah Dinasti Beng.

Di antara para panglima besar ini, yang terkenal adalah Panglima Bu Sam Kwi. Panglima Bu Sam Kwi me miliki pasukan yang besar dan kuat dan berkat pertahanannya di Tembok Besar Sa-hai-koan di ma na Tembok Besar sampai di tepi lautan, maka pasukan Mancu tidak ma mpu me ne mbus ke selatan. Panglima Bu Sam Kwi terkenal sebagai seorang panglima yang pandai me mimpin pasukan, dan dia m-dia m dia menaruh simpati kepada gerakan Li Cu Seng yang merupakan seorang   Beng-cu   (Pe mimpin   Rakyat)   yang    berjuang me mbebaskan pe mer intah dari cengkera man para pejabat korup. Maka, Panglima Bu Sam dewi Kzwi seolah-olah menutup sebelah mata dan pura-pura t idak tahu bahwa gerakan pemberontakan Li Cu Seng sudah menguasai beberapa propinsi, bahkan mula i mende kati kota raja Peking!

Pada suatu pagi bulan kedua tahun 1644, tiga orang penunggang kuda menjalankan kudanya dengan santai di jalan umum di luar kota raja Peking sebelah barat. Yang berada di tengah adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh sedang namun tegap dan gagah, duduk di atas punggung kuda dengan tegak lurus menunjukkan seorang ahli, wajahnya membayangkan kegagahan dan kekerasan, sepasang matanya tajam bagaikan mata burung rajawali, pakaiannya seperti seorang petani sederhana dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Dua orang yang menunggang kuda di kanan kir inya adalah pria-pria berusia sekitar lima puluh tahun, yang seorang bertubuh tinggi kurus wajahnya seperti tengkorak dan yang ke dua bertubuh tinggi besar seperti raksasa, wajahnya penuh brewok menyeramkan. Juga dua orang ini me mpunyai senjata golok yang terselip di punggung mere ka.

Pria yang berada di tengah dan dari sikap kedua orang pendampingnya mudah diduga bahwa dialah yang menjadi pemimpin, bukanlah orang biasa. Dialah pende kar Li Cu Seng yang amat terkenal dan dipuja ratusan ribu orang sebagai pejuang yang hendak menumbangkan kekuasaan yang dianggap lalim di Kerajaan Beng. Adapun dua orang pendampingnya itu adalah dua orang pe mbantunya yang setia. Yang seperti raksasa brewok bernama Gu Kam, sedangkan yang bertubuh tinggi kurus bermuka tengkorak adalah Giam Tit, sute (adik seperguruan) dari Gu Kam. Kedua orang ini adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai yang terkenal lihai ilmu goloknya.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang a mat terkenal dan dia me mpunyai pasukan yang amat besar jumlahnya. Sebagai seorang panglima besar, mengapa dia sekarang berkeliaran di luar kota raja, diteman i dua orang pembantunya, berpakaian seperti tiga orang desa biasa?

Li Cu Seng, selain lihai ilmu silatnya, juga merupakan seorang pemimpin barisan yang pandai. Setelah menguasai beberapa propinsi di barat dan daerah utara, dia me mimpin barisannya menuju kota raja Peking. Dan sebagai seorang ahli perang vang ulung, kini dia turun tangan sendiri melakukan penyelidikan di luar benteng kota raja sebelah barat, ditemani dua orang pembantunya. Dia me mang sudah menyebar para mata- mata dan penyelidik untuk me mpe lajari kekuatan musuh di kota raja, akan tetapi dia tidak merasa puas kalau tidak terjun sendiri melakukan penyelidikan. Di sinilah letak kekuatan dari Li Cu Seng. Dia teliti dan penuh perhitungan, me lengkapi kekuatan pasukannya dengan kecerdikannya. Dua kelebihan ini digabung dan mendatangkan keberhasilan kepadanya.

Karena kini pasukannya sudah siap untuk melakukan penyerbuan ke kota raja Peking, maka Li Cu Seng, dite mani dua orang pe mbantunya yang setia, melakukan penga matan sendiri untuk me lihat bagaimana kekuatan pasukan kerajaan yang melakukan penjagaan di kota raja.

Sementara itu, di kota raja sendiri, para panglima yang masih setia kepada Kaisar Cung Ceng, sibuk melakukan persiapan untuk me mpertahankan kota raja dari anca man laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng yang sudah menguasai sebagian besar daerah barat dan utara. Akan tetapi mereka ini sebagian besar adalah para panglima yang berpihak pada para Thaika m, para panglima yang me mpero leh kedudukan tinggi karena jasa para Thaikam dan yang mendapatkan pe mbagian harta benda yang mereka korup. Karena mereka hanya setia kepada harta, kedudukan, dan kesenangan, maka tentu saja mereka juga tidak sepenuh hati membela Kerajaan Beng, walaupun jumlah pasukan mereka masih cukup banyak dan kuat. Kaisar Cung Ceng sendiri tidak menyadari bahwa kota raja sudah terancam oleh laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng. Para Thaikam sengaja men imbuni Kaisar dengan segala maca m pesta dan kesenangan. Akan tetapi mereka juga berusaha untuk menyelamatkan diri. Mereka menghubungi   dan meng irim sogokan kepada para panglima besar yang bertugas di perbatasan. Juga Panglima Bu Sam Kwi mener ima sogokan dan hadiah dengan per mintaan agar Panglima Bu Sam Kwi meng irim bala-tentaranya untuk melindungi kota raja dari ancaman musuh. Akan tetapi, Panglima Bu Sam Kwi yang me mang sudah t idak suka kepada Cung Ceng, tidak mengacuhkan per mintaan itu. Bahkan dia m-dia m Panglima Bu Sam Kwi condong me ndukung gerakan Li Cu Seng untuk menumbangkan Kaisar Cung Ceng yang menjadi kaisar boneka di bawah pengaruh para Thaikam.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, terlalu me man dang rendah kepada para pimpinan pasukan pertahanan kota raja. Karena memandang rendah, mereka menjad i lengah, tidak tahu bahwa rahasia kedatangan mereka mende kati kota raja telah diketahui mata- mata pasukan kerajaan! Bagaimanapun juga, di kota raja masih terdapat panglima tua yang a mat setia kepada Kerajaan Beng. Biarpun mereka juga t idak suka me lihat Kaisar dikuasai para Thaikam, namun mereka tetap setia kepada Dinasti Beng dan siap untuk me mbe la kerajaan itu mati- matian dengan taruhan nyawa. Dalam keadaan kota raja terancam bahaya, maka para panglima yang setia inilah yang mengundang para pendekar untuk me mbantu pasukan kerajaan me mpertahankan Peking dari serangan musuh.

Di antara panglima ini terdapat seorang panglima tua, yaitu Panglima Ciok Kak yang biasa disebut Ciong-goanswe (Jenderal Ciong). Usianya sudah enam puluh lima tahun, namun dia mas ih gagah perkasa, terkenal sebagai seorang ahli silat dan ahli perang yang berpengala man. Bahkan dia mengenal baik para pendekar di dunia kang-ouw karena dia sendiri adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai. Dialah yang mengepalai bagian para penyelidik yang merupakan bagian penting dari pasukan pertahanan kota raja. Dia mengundang para pendekar gagah untuk menjadi penyelidik.

Ciong Goanswe ini yang mengutus tujuh orang pendekar, dijadikan mata-mata yang melakukan penyelidikan dan pengawasan di luar kota raja, bersama belasan orang pendekar lain. Tujuh orang ini melakukan penga matan di sebelah barat, luar benteng kota raja. Mereka adalah Su Lok Bu, seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai, juga seorang pen-siunan perwira kerajaan. Orangnya berusia sekitar lima puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar berkulit hita m, mukanya penuh brewok dan matanya lebar seperti Panglima Thio Hwi dalam cerita Sam Kok, dan dia seorang ahli ber main siang-kiam (sepasang pedang) yang kosen.

Orang ke dua adalah seorang pensiunan perwira pula, sahabat dari Su Lok Bu sejak muda, berna ma Cia Kok Han, berusia sekitar lima puluh dua tahun pula. Cia Kok Han ini seorang murid Bu-tong-pai yang terkenal dengan senjata twa- to (golok besar). Tubuhnya pendek dengan perut gendut, kulitnya putih, matanya sipit sekali dan seluruh ra mbut dan jenggotnya sudah putih semua.

Kita mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han ini karena mereka ini, kurang lebih dua tahun yang lalu, bekerja sebagai pengawal pribadi Pui Ki Cong atau yang dikenal sebagai Pui Kongcu (Tuan Muda Pui), yaitu orang pertama yang menjadi musuh besar Kim Cui Hong dan yang kemudian disiksa sampai menjad i seorang tapadaksa berat oleh gadis   itu   yang me mba las dendamnya. Setelah terjadi peristiwa pembalasan dendam dari Kim Cui Hong terhadap empat orang yang pernah me mperkosa dan meng hinanya, yang telah disiksa tiga orang dan yang seorang me mbunuh diri, dua orang jagoan ini segera mengundurkan diri. Mereka berdua adalah pendekar, tokoh Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Setelah mereka mengetahui duduknya perkara, mereka segera meninggalkan keluarga bangsawan Pui. Keduanya menyadari bahwa mereka telah bekerja sebagai pengawal seorang pemuda bangsawan yang pernah melakukan perbuatan keji terhadap Kim Cui Hong. Mereka merasa ma lu dan pergi tanpa pamit.

Kemudian, dua orang sahabat ini me me menuhi panggilan Jenderal Ciong Kok yang mereka kenal baik, dan mendapat tugas menga mati keadaan di luar benteng kota raja bagian barat. Dua orang jagoan ini diteman i oleh lima orang jagoan lain yang terkenal dengan sebutan Liong-san Ngo-eng (Lima Pendekar Bukit Naga). Mereka adalah kakak beradik seperguruan, tokoh-tokoh perguruan silat Liong-san-pa i yang merupakan ahli-ahli silat pedang yang cukup tangguh.

Tujuh orang mata-mata pe merintah ini telah me ndapat berita dari para penyelidik yang me mbuat pengamatan lebih jauh dari benteng kota raja bahwa ada tiga orang penunggang kuda yang pakaiannya seperti penduduk dusun, akan tetapi cara mereka men unggang kuda dan di punggung mereka terdapat senjata, menimbulkan dugaan bahwa mereka itu bukanlah penduduk dusun biasa dan patut dicurigai dan diselidiki lebih lanjut karena tiga orang penunggang kuda itu menuju ke arah kota raja.

Demikianlah, karena me mandang rendah pertahanan kota raja Peking, ma ka pemimpin laskar rakyat Li Cu Seng menjadi lengah. Ketia dia dan dua orang pe mbantunya tiba di luar tembok benteng, di tepi sebuah hutan, mereka men ghentikan kuda mereka. Li Cu Seng me mber i isyarat dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, ikut pula turun dari atas punggung kuda mereka. Mereka mena mbatkan kuda di pohon tepi hutan itu.

"Dari sini kita harus berjalan kaki. Bersikaplah biasa dan kalau ada pertanyaan, kita menga ku akan mengunjungi keluarga yang tinggal di kota raja." kata Li Cu Seng dengan sikap tenang.

Dua orang pembantunya mengerutkan ali dan ta mpak ragu dan khawatir.

"Me masuki kota raja?" tanya Gu Kam. "Akan tetapi itu berbahaya sekali, Li-bengcu (Pemimpin Li)!"

"Hemm, Gu-twako, apakah engkau takut?" Li Cu Seng bertanya sambil menatap wajah raksasa brewok itu dengan sinar mata tajam.

"Li-bengcu, engkau tahu bahwa aku tidak pernah takut!" kata Gu Kam..

"Suheng (Kakak Seperguruan) Gu Kam tentu saja tidak takut, Li-bengcu. Akan tetapi yang kami khawatirkan adalah bengcu sendiri. Kalau sa mpai ketahuan musuh bahwa bengcu sendiri yang me masu ki kota raja, bagaimana mungkin kami berdua dapat melindungi bengcu dari ser-gapan balatentara kerajaan yang berkumpul di kota raja?" kata Giam Tit.

Li Cu Seng tersenyum, mengangguk-angguk. Tentu saja dia tidak pernah meragukan kesetiaan dan kegagahan dua orang pembantunya ini.

"Gu-twako dan Gia m-twako, aku tahu benar bahwa kalian berdua tidak takut menghadapi apapun juga. Sejak se mula kita semua sudah menyadari bahwa perjuangan ini berarti me mpertaruhkan nyawa kita. Hanya ada dua pilihan, berhasil atau mati! Karena itu, mengapa kita ragu kalau ada bahaya menanti dalam kota raja? Kiranya tidak ada yang tahu akan penyamaran kita bertiga. Kalau ada yang bertanya, jangan lupa mengatakan bahwa kita datang dari dusun dan hendak mengunjungi keluarga Panglima Bu Sam Kwi yang tinggal di kota raja."

"Akan tetapi, apakah bengcu benar-benar mengenal Jenderal Bu Sam Kwi?" tanya Giam Tit. Li Cu Seng tersenyum. "Tentu saja aku mengenalnya, bahkan kami dulu menjad i sahabat baik. Aku akan me ma kai nama marga Cu, dan kalian berdua adalah kakak beradik she (bermarga) Kam. Nah, mari kita me masuki kota raja. Kita tinggalkan kuda di sini." Mereka bertiga mena mbatkan kuda pada batang pohon, akan tetapi melepaskan kendali dari hidung dan mulut kuda-kuda itu sehingga tiga ekor binatang itu dapat makan rumput yang tumbuh subur di bawah pohon- pohon itu.

Su Lok Bu dan Cia Kok Han me mber i isarat kepada lima orang Liong-san Ngo-heng untuk mende kat. Mereka bertujuh lalu berunding.

"Kita belum yakin siapa mereka dan apa niat mereka. Belum tahu benar apakah mereka itu lawan atau kawan. Maka kita bayangi saja ke mana mereka pergi. Lihat, mereka bertiga men inggalkan kuda dan kini berjalan menuju ke pintu gerbang kota raja. Kita bayangi dari jauh!" bisik Cia Kok Han.

Tujuh orang itu me mbayangi tiga orang yang berjalan dengan santai menuju ke pintu gerbang. Setelah tiba di pintu gerbang, para penjaga pintu gerbang menghadang dan menghentikan t iga orang itu.

"Berhenti! Kami men dapat tugas untuk me mer iksa se mua pendatang yang tidak kami kenal. Hayo katakan, siapa kalian, datang dari mana dan hendak kemana?" tanya komandan jaga dengan sikap tegas.

Li Cu Seng me langkah maju dan me mber i hormat. "Sobat, dalam keadaan seperti sekarang ini, me mang kalian sebagai penjaga-penjaga harus teliti dan tegas. Sikapmu ini mengagu mkan dan pasti akan mendapat pujian dari Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan me laporkan ketegasanmu ini kepada beliau!"

"Panglima Besar Bu Sam Kwi?" Koman dan jaga bertanya, matanya terbelalak. Tentu saja dia tahu siapa Panglima Besar Bu Sam Kwi. Se mua orang mengena l panglima besar yang amat terkenal itu, apalagi perajurlt seperti dia dan kawan- kawannya.

"Engkau menyebut na ma Panglima Besar Bu Sam Kwi? Apakah kalian bertiga ini perajurit-perajurit anak buah Bu Thai-ciangkun (Panglima Besar Bu)?"

Li Cu Seng tersenyum, sengaja menga mbil sikap angkuh dan dua orang pembantunya juga meng imbangi sikap ini, mereka membusungkan dada.

"Perajurlt? Kami adalah perwira-perwira pe mbantu beliau yang amat dipercaya sehingga beliau kini mengutus kami untuk mengunjungi keluarga beliau di kota raja."

Sikap komandan jaga dan anak buahnya yang berjumlah selosin orang itu berubah. Komandan jaga memandang hormat. "Ah, maafkan karena kami tidak mengenal sa m-wi (tuan bertiga). Akan tetapi, kalau sam-wi para pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, mengapa sa m-wi tidak mengenakan pakaian dinas?"

0 oo odwkzo oo 0