-->

Sakit Hati Seorang Wanita Jilid 09

Jilid 09

CUI HONG mengangguk-angguk. "Saya akan member ikan keterangan yang sejujurnya, Taijin. Laki-laki yang bernama Tan Siong itu baru saja kenal ketika dia muncul di rumah makan itu dan melindungi saya dari gangguan beberapa orang laki- laki kurang ajar, bahkan kemudian muncul Koo-inkong ini yang menolong saya. Ada pun wanita berkedokitu saya kenal ketika ia muncul di malam hari itu."

"Yang kami butuhkan adalah keterangan di mana adanya mereka? " desak pula Pui Ki Cong. Sejak tadi Cui Hong me mutar otak mencari siasat terbaik demi keuntungannya.

"Sesungguhnya, saya tidak pernah mereka beri tahu di mana mere ka tinggal. Setahu saya, Tan Siong tadinya tinggal di dalam kuil tua itu, akan tetapi entah sekarang, saya sendiri tidak tahu, apalagi tempat tinggal wanita berkedokitu, saya tidak pernah diberi tahu."

Empat orang itu saling pandang. "Mengakulah saja kalau engkau tidak ingin kami paksa!" Tiba-tiba Su Lok Bu yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu menggertak. Cui Hong me mperlihatkan wajah ketakutan dan melihat ini, Pui Ki Cong yang sudah mulai tertarik kepada wanita cantikini cepat berkata.

"Kita tidak perlu me nggunakan kekerasan, Su-enghiong!" Kemudian dia me ma ndang wajah Cui Hong dan berkata ramah, "Aku percaya, Nona ini pasti akan dapat me mberi petunjuk bagaimana kita akan dapat bertemu dengan kedua orang itu. Benarkah begitu, Nona? Kuharap saja kepercayaanku kepadamu takkan sia-sia belaka."

Cui Hong meng geser duduknya mendekat ke arah Pui Ki Cong yang duduk di sebelah kanannya sa mbil me lir ik ketakutan kepada Su Lok Bu. Kemudian, ia me mandang Ki Cong dan berkata dengan merdu dan bernada sungguh- sungguh. "Taijin, seorang pere mpuan seperti saya ini, mana berani berbohong kepada Taijin? Saya berkata dengan sesungguhnya ketika mengatakan bahwa saya tidak tahu di mana mereka tinggal. Akan tetapi, seperti yang Taijin katakan tadi, kalau me mang Taijin ingin bertemu dengan mereka atau seorang di antara mereka, agaknya saya dapat memberi petunjuk..."

"Ah, Nona manis!" Ki Cong berseru gembira sekali. "Itulah yang kuharapkan! Dapatkah engkau member i petunjuk agar kami dapat bertemu dengan wanita berkedokitu?"

"Dapat, Taijin.... karena memang ia telah.... ah, akan tetapi ini rahasia! Kenapa sih Taijin ingin berte mu dengan wanita aneh yang selalu berkedokitu? Saya sendiri ngeri dan takut terhadap dirinya yang penuh rahasia."

Su Lok Bu sudah hendak menghard ik lagi untuk me maksa wanita itu cepat bercerita di mana tempat sembunyi wanita berkedok, akan tetapi Ki Cong me mber i tanda dan berkedip kepadanya sehingga jagoan ini terdia m. Kemudian Ki Cong berkata lagi kepada wanita itu, nada suaranya membujuk. "Ketahuilah, Nona Ok. Wanita berkedokitu dan laki- laki yang bernama Tan Siong, mereka adalah penjahat-penjahat kejam, pembunuh-pembunuh keji. Mereka sedang kami cari-cari untuk ditangkap dan dihukum karena kalau mereka tidak ditangkap, tentu mereka akan melakukan lebih banyak pembunuhan lagi atas diri orang-orang yang tidak berdosa. Nah, sekarang katakan bagaimana agar kami dapat menang kap mereka? "

"Ihhh....! Mengerikan! Memang saya sudah merasa takut terhadap mereka. Akan tetapi kalau saya me mbuka rahasia ini, tentu mereka akan marah kepada saya dan bagaimana kalau saya dibunuh?" la menggigil dan mukanya berubah pucat.

"Ha-ha, jangan takut, Adik man is. Di sini ada Kakanda Cai Sun yang akan me lindungi!" kata Cai Sun, ge mbira bahwa ternyata dugaannya benar dan siasatnya berhasil baik karena wanita ini agaknya akan menjad i kunci pe mbuka te mpat persembunyian dua orang musuh itu, terutama tempat persembunyian Kim Cui Hong yang menganca m nyawanya.

"Ka mi akan melindungimu!" kata Ki Cong tak mau kalah. "Nah, bagaimana kami dapat menangkap mereka?"

"Dalam pertemuan terakhir antara kami, wanita berkedokitu me mbawa saya lari ke sebuah pondok kecil di tengah hutan. Kemudian wanita itu berpesan bahwa kalau saya memer lukan bantuannya, saya disuruh ke pondokitu dan menanti sampai la datang."

"Ah! Di mana pondokitu? Di hutan ma na?" "Tapi..... tapi saya takut Taijin."

"Jangan takut, kami akan melindungimu. Katakan saja di mana pondokitu?"

"Di sebelah timur pintu gerbang kota, ada sebuah bukit sunyi dan pondokitu berada di tengah hutan, di lereng bukit itu. Hutan yang a mat sunyi, penuh pohon ce mara. "

"Ah, di hutan cemara bukit itu?" Koo Cai Sun berseru, girang.

"Ya, sebuah pondok kosong di tengah hutan. Sunyi sekali.

Saya..... saya takut untuk pergi ke sana, Taijin."

"Dan pere mpuan berkedokitu tinggal di sana?" kini Cia Kok Han yang bertanya.

Cui Hong menoleh dan beradu pandang dengan sepasang mata yang sipit sekali na mun yang sinar matanya mencorong menakutkan.

"Saya tidak tahu, ia hanya mengatakan bahwa saya disuruh datang ke sana dan menunggu kedatangannya." "Apakah ia mengaku siapa na manya?" Koo Cai Sun ingin kepastian.

Cui Hong menggeleng kepala, "la hanya mengaku bahwa ia she Kim."

Itu saja sudah cukup bagi Cai Sun dan Ki Cong. Kim Cui Hong, musuh besar mereka! Gadis puteri guru s ilat Kim yang kini datang sebagai siluman yang hendak me mbalas dendam kepada mereka. Harus didahului sebelum mereka celaka di tangan siluman itu. Bergidik mereka me ngingat akan nasib yang diderita Louw Ti.

"Biarkan Nona ini pergi ke sana malam ini. Kita mengepung tempat itu dan menyergapnya ketika ia me masuki pondok." kata Cia Kok Han dan rekannya, Su Lok Bu men gangguk menyetujui.

"Ah, ah..... saya tidak berani....." Cui Hong berkata seperti mau me nangis dan wajahnya menjadi pucat. "Ia tentu akan me mbunuhku, setelah tahu aku me ngkhianatinya tidak, saya tidak berani.!"

"Mau atau tidak, engkau harus me mbantu kami agar kami dapat menangkapnya!" kata pula Cia Kok Han tegas.

"Ahh..... tapi apakah tidak dapat dia mbil jalan lain yang lebih tepat? Ia bukan seorang bodoh, tentu ia akan menaruh curiga dan kalau sudah begitu, selain Cu-wi (Anda Sekalian) tak dapat menang kapnya karena ia tidak akan muncul, juga saya pasti akan dibunuhnya. Lalu apa artinya segala jerih payah ini?"

"Adik yang man is, apakah engkau me mpunyai siasat lain yang lebih baik?" Cai Sun bertanya karena kata-kata gadis itu me mang masuk di akal. Kalau sa mpai gagal, dan wanita itu terbunuh secara sia-sia, sungguh sayang sekali.

"Ia harus dapat dipancing dengan umpan yang menar ik tanpa menimbulkan kecurigaan padanya. Kalau saja Cu-wi mengetahui apa yang menjad i keinginan hatinya yang paling besar, yang akan me maksanya keluar dari te mpat persembunyiannya dan datang ke pondokitu. "

"Hemm, keinginannya yang paling besar adalah membunuh kami..... " Cai Sun terlanjur bicara dan isarat dari Ki Cong sia- sia saja.

Pui Ki Cong menar ik napas panjang. "Karena Koo-toako sudah terlanjur mengatakan kepada mu, Nona, biarlah kuceritakan saja dengan terus terang. Kami sudah percaya kepadamu dan kami mengharapkan   bantuan   untuk menang kap siluma n betina yang amat jahat ini. la telah menganca m untuk me mbunuh aku dan Koo-toako ini. "

"Ihhh.....! Jahatnya....!" Cui Hong berseru dengan wajah kaget dan ngeri, me mandang bergantian kepada Ki Cong dan Cai Sun, seolah-olah t idak percaya bahwa dua orang yang demikian baiknya akan dibunuh orang.

"Me mang siluman itu jahat sekali, karena itu kami akan menang kap atau me mbunuhnya, " kata pula Pui Ki Cong.

"Kalau begitu, Ji-wi saja yang datang ke pondokitu, tentu ia akan muncul! Sementara itu, dipersiapkan orang-orang untuk mengepung dan me nangkapnya," kata Cui Hong me mberi saran.

"Ah, itu berbahaya   sekali!"   kata   Cai   Sun,   bergidik me mbayangkan betapa dia dan Ki Cong berada di pondok sunyi dalam hutan ke mudian muncul musuh besarnya itul

"Heh, engkau takut? Bukankah ada kami dan pasukan yang telah mengepung pondokitu? " Su Lok Bu me ncela.

"Sejak kapan Koo Cai Sun yang terkenal itu me njadi seorang penakut?" Cia Kok Han juga mengeje k.

Koo Cai Sun merasa disudutkan. Dia tidak ma mpu menge lak lagi, dan teringat bahwa yang diusulkan oleh Ok Cin Hwa adalah dia dan Ki Cong. Kalau ada Ki Cong, tentu akan berkurang rasa takutnya. "Aku tidak takut, hanya aku khawatir Pui-kongcu yang tidak berani bersama aku pergi ke pondokitu." Berkata demikian, Cai Sun memandang Ki Cong sambil me nyeringai.

Pui Ki Cong mengerutkan alisnya. Dia me mang menghenda ki dengan sangat agar musuh besar yang berbahaya itu secepat mungkin dapat terbunuh agar dia dapat tidur dengan nyenyak, akan tetapi kalau dia harus ke tempat berbahaya itu, sungguh me mbuat dia merasa ngeri.

"Hemm, perlukah aku ke sana sendiri? Tidak cukup engkau saja, Koo-toako? Dengan engkau menjadi umpan, sudah cukup untuk me mancing ia datang, atau setidaknya laki-laki she Tan itu." katanya meragu.

"Aih, Kongcu. Kita takut apakah? Selain ada kita berdua, masih ada lagi Cia dan Su-enghiong, dan kalau kita siapkan seratus orang perajurit mengepung te mpat itu, me mbuat barisan pendam, apa yang akan dapat dilakukan oleh siluman itu? Sebelum ia sempat menyerang kita berdua, tentu ia sudah lebih dulu disergap dan ma mpus! Selain itu perlu apa takut kalau di sa mping kita ada nona yang begini manis dan hangat?" Berkata demikian, dengan ceriwis sekali tangan kiri Cai Sun menge lus pipi Cui Hong. Wanita ini pura-pura malu dan mengerling tajam ke arah Ki Cong, menepiskan tangan Cia Sun dengan berkata.

"lhhh.... Koo-inkong harap jangan nakal...!" Dan ia tersenyum dan mengerling dengan daya tarik yang a mat kuat ke arah Ki Cong, me mbuat orang mata keranjang ini menelan ludah. Di dalam pondok bersama wanita cantikini! Menarik sekali, dan pula, kalau ada pasukan seratus orang yang dipimpin oleh dua orang pe mbantunya yang lihai, me mang tidak ada yang perlu ditakuti. Pula, Cai Sun di sa mpingnya juga merupakan seorang pengawal yang cukup tangguh.

"Baiklah, aku akan Ikut ke sana. Kita semua harus bekerja sama untuk dapat me mbekuk siluman itu secepatnya!" Akhirnya dia menga mbil keputusan setelah me lihat betapa mata kir i Cui Hong berkedip le mbut me mberi isyarat kepadanya yang hanya dapat dilihatnya sendiri! Kedipan mata yang merupakan janji yang Cai Sun dan suaranya terdengar gemetar.

Cai Sun mengang kat kedua pundaknya dan me noleh kepada Ok Cin Hwa. "Bagaimana pendapatmu, Adik manis? Akan berhasilkah pancingan kita ini?" Suaranya lirih sekali seolah-olah dia takut kalau- kalau suaranya akan terdengar musuh.

"Saya tidak tahu, akan tetapi mudah-mudahan berhasil, la hanya mengatakan bahwa kalau saya perlu sesuatu darinya, saya disuruh datang ke sini dan menanti, tentu ia akan datang."

"Bagaimana kalau ia tiba-tiba muncul di dalam pondokini, Toako?" Ki Cong bertanya dan jelas nampa k betapa dia menggigil ketakutan.

"Ha-ha-ha!" Cai Sun tertawa, walaupun dia menahan suara ketawanya agar jangan terdengar terlalu keras. "Bagaimana mungkin? Sebelum ia tiba di pintu, ia akan disergap seratus orangl Kita di sini a man seperti di ruma h sendiri, Kong-cu, harap jangan khawatir."

"Saya pun tidak merasa takut, karena bukankah di luar sana ada seratus orang pasukan yang berjaga? Apalagi di sini ada dua orang gagah perkasa yang menemani saya. Koo- inkong dan Pui-taijin, saya mau beristirahat dulu di kamar yang kiri itu. Silakan Ji-wi beristirahat pula di kamar kanan kalau Ji-wi tidak sedang ketakutan." Cui Hong tersenyum dan me le mpar kerling genit sekali dan ia pun bangkit berdiri, langkahnya dibuat semenarik mungkin ketika ia melenggang dan me masuki ka mar yang sebelah kiri, tahu bahwa dua orang pria itu mengikuti nya dengan pandang mata kehausan. Dua pasang bukit pinggulnya sengaja dibuat menari-nari ketika ia me lenggang tadi. Dan hasilnya memang baik sekali, dua orang pria itu me mandang dengan mata melotot, bahkan Cai Sun tak dapat menahan dirinya untuk tidak mene lan ludah.

"Kongcu, saya akan meneman i nona itu, silakan kalau Kongcu mau beristirahat di kamar kanan. Selamat malam, Kongcu....!" Dia pun bangkit dan hendak segera menyusul wanita itu, akan tetapi Pul Ki Cong cepat menegurnya.

"Koo-toako, engkau hendak me mandang rendah kepadaku?"

"Ehh? Apa maksud Kongcu....?" Cai Sun menahan langkah dan me mbalikkan tubuhnya.

Pui Ki Cong sudah bangkit berdiri dan mukanya berubah merah. "Sudah sejakia ditangkap, la me mberi isyarat-isyarat kepadaku. Akulah yang akan mene man inya!"

"Tapi, saya yang telah mengenalnya lebih dulu, Kongcu!" Cai Sun me mbantah dengan mata melotot dan merasa penasaran. Tak disangkanya bahwa majikan nya ini ternyata tertarik kepada Ok Cin Hwa dan hendak mera mpas daging gemukitu dari depan mulutnya.

Pui ki Cong mengerutkan alisnya dengan marah. '"Koo Cai Sun! Apakah engkau hendak menentang aku?" bentaknya.

Cai Sun terkejut dan sadar bahwa orang she Pui ini bukan hanya tertarik, melainkan sudah tergila-gila kepada Ok Cin Hwa sehingga bersikap de mikian kasar keji, Tentu saja dia tidak berani menentang orang Itu. Perpecahan akan amat merug ikan    dirinya,    apalagi     kalau     hanya     karena me mperebutkan seorang wanita, seorang janda saja. Kalau Pui Ki Cong mengusirnya, dia bisa mati konyol di dalam tangan iblis wanita itu. Maka dia pun cepat menjur.i dan tertawa lebar.

"Aha, mengapa kita harus bertengkar karena seorang perempuan saja? Maaf, Pui-kongcu. Tidak kusangka bahwa Kongcu demikian bergairah terhadap dirinya. Kita tidak perlu berebut karena seorang janda muda seperti wanita itu tentu tidak akan kewalahan me layani dua orang seperti kita. Nah, silahkan Kongtu lebih dulu, baru nanti saya yang menggantikan Kongcu."

Pui Ki Cong juga teringat dan dia pun tersenyum. me mang tidak se mestinya dalam keadaan nyawanya terancam seperti itu me mperebutkan seorang janda yang belum tentu akan me muas kan hatinya, walaupun wajahnya, bentuk badan dan sikap janda itu de mikian mengga irahkan. Sudah banyak dia menga la mi kekecewaan dari wanita-wanita yang tadinya nampak cantik dan me nawan hati.

"Maaf, Toako, tadi aku telah lupa diri. Baiklah, aku akan ma in-main dengannya lebih dulu, dan biar nanti kusuruh ia keluar mene mani dan me layanimu." Dengan langkah lebar Pui Ki Cong mengha mpiri kamar yang sebelah kiri, me mbuka daun pintunya, masuk dan menutupkan lagi daun pintu kamar itu dari dalam.

Sambil menyeringai Cai Sun kembali duduk di atas kursi, matanya me mandang ke arah kamar itu seolah-olah ingin mene mbus dinding untuk mengintai apa yang terjadi di dalamnya. Dia mendengar suara Pul Ki Cong bicara, lalu disusul suara ketawanya lirih dan suara ketawa Ok Cin Hwa. Bahkan terdengar suara wanita itu cukup je las, "Aihhh. Tai-

jin, jangan begitu"

Cai Sun terkekeh, me mbayangkan per mainan cinta mereka dan dia pun mendengar suara dipan berderit diduduki mereka. Suasana lalu menjad i sepi di kamar itu dan Cai Sun me mper lebar senyumnya. Kalau wanita itu pandai, sebentar saja tentu Pui Ki Cong kalah dan dia memperoleh giliran! Dia akan mengajak wanita itu ke kamar sebelah.

Agaknya tidak me leset dugaan dan harapan Cai Sun. Tak la ma kemudian, daun pintu ka mar itu terbuka dan Ok Cin Hwa nampak keluar setelah menutupkan lagi daun pintu dari luar. Pakaian dan rambutnya kusut, bahkan kancing-kancing bajunya hanya tertutup sebagian sehingga Cai Sun dapat me lihat sebagian kulit dan dada yang kuning mulus. Wanita itu mengha mpirinya sambil tersenyum man is sekali.

Cai Sun bangkit berdiri me nyambut dengan pujian. "Wah, engkau hebat sekali, Adik manis. Mana Pui-taijin?"

"Dia kelelahan dan tidur, harap jangan diganggu." bisik wanita itu dengan muka merah dan na mpak tersipu.

"Ha-ha, engkau sungguh hebat, menga lahkannya dalam waktu singkat, tidak ada seperempat jam. Ha-ha, lawannya yang seimbang adalah aku, ha-ha!" Cai Sun la lu maju merangkul wanita itu yang mandah saja ditarik sambil dirangkul, me masuki ka mar yang di sebelah kanan.

Tadi ketika dia mendengarkan dari luar di antara kesunyian dalam kamar sebelah kir i, dia mendengar suara dipan berderit dan Pui-kongcu terengah-engah, maka sudah bangkitlah berahinya sampai ke ubun-ubun. Maka, begitu dia me masu ki kamar yang kosong itu, dia me mpererat rangkulannya dan mende katkan mukanya menc ium mulut Ok Cin Hwa. Yang dicium ma ndah saja sehingga Cai Sun mencium mulut itu penuh nafsu. Akan tetapi pada saat dia mengecup bibir perempuan itu, tiba-tiba tengkuknya dihantam oleh tangan miring yang amat kuat.

"Kekkk....!" Tubuh Cai Sun menjadi le mas dan dia pun pingsan seketika! Untuk mencegah agar robohnya Cai Sun tidak menimbulkan suara, Cui Hong sudah menja mbak rambutnya dan menyeretnya keluar kamar, merebahkannya di atas lantai. Ia bekerja dengan cepat sekali. Ia tadi tidak berani menotok Cai Sun untuk meroboh kannya seperti yang dilakukannya pada Ki Cong karena ia tahu bahwa Cai Sun lihai. Kalau sampai totokannya meleset tentu Cai Sun akan berteriak dan    rencananya    dapat    menjadi    gagal.    Maka,     ia me mperguna kan pukulan dengan tangan miring pada saat Cai Sun menc ium tadi sehingga ia yakin takkan gagal. Cui Hong me ludah dan mengusap bibirnya dengan ujung lengan baju. Muak rasanya teringat akan ciuman tadi. Ia me ludah ke arah muka Cai Sun, kemudian me ngeluarkan borgol dari ra mai besi yang sudah dipersiapkan untuk keperluan itu. Diborgolnya kedua tangan Cai Sun itu ke belakang tubuhnya, kemudian ia menotok beberapa jalan darah untuk me mbuat orang itu t idak dapat bergerak atau menge luarkan suara kalau siuman dari pingsan nanti. Setelah itu, ia pun me masuki kamar sebelah kiri. Ternyata Pui Ki Cong juga sudah menggeletak di atas lantai dalam keadaan tertotok, tak mampu bergerak atau bersuara, hanya matanya saja yang bergerak-gerak me mandang kepada Cui Hong dengan ketakutan. Kiranya ketika tadi Ki Cong masuk dan mengha mpirinya, ia melayani orang itu bercakap-cakap dan bergurau.

Akan tetapi ketika tangan Ki Cong mulai meraba-raba dan hendak menciumnya, secepat kilat tangan kiri Cui Hong me- notok jalan darah dan Ki Cong roboh seketika tanpa ma mpu berteriak. Cui Hong lalu me mbuat dipan bergerak-gerak, dan kakinya menginjak-injak perut Ki Cong sehingga orang itu menge luarkan suara terengah-engah seperti yang didengarkan oleh Cai Sun tadi. Kini Cui Hong juga me mborgol kedua tangan Ki Cong, dan menyeret tubuhnya dengan cara menja mba k dan menar ik ra mbutnya. Ki Cong hanya terbelalak ketakutan dan kedua matanya mengeluarkan air mata, bahkan kini celananya menjad i basah saking takutnya.

Cai Sun juga sudah siuman dan dia teringat akan segala yang dialaminya tadi. Mula- mula dia terheran dan merasa seperti mimpi. Kedua tangannya diborgol, bahkan dia tidak ma mpu menggerakkan kaki tangan, tidak ma mpu menge luarkan suara. Ketika pintu kamar kir i terbuka dan muncul Ok Cin Hwa yang menyeret tubuh Pui Ki Cong, barulah dia tahu bahwa semua itu bukanlah mimpi buruk, melainkan kenyataan! Dan dia pun me ngeluarkan keringat dingin dan matanya terbelalak ketakutan. Akan tetapi, Cui Hong kini sudah menja mbak ra mbut kepalanya dan menyeret dua tubuh itu menuju ke ruangan kecil di antara kedua kamar itu. Dilepas kannya papan lantai dan ternyata di tempat itu terdapat lubang yang bergaris tengah satu meter, la menyeret tubuh dua orang musuhnya itu ke dalam lubang, lalu ditutupnya kemba li papan lantai itu dengan rapi dari bawah. Ternyata lubang itu merupakan sebuah terowongan yang mene mbus ke dasar jurang di belakang pondok!

Memang sela ma ini Cui Hong tidak tinggal diam menganggur. Ia telah me mpersiapkan segala-galanya sehingga ketika muncul kese mpatan yang amat baikitu, yaitu ketika anak buah musuh-musuhnya mulai mencari wanita bernama Ok Cin Hwa, semua telah dipersiapkannya, dari tempat jebakan sampai terowongan untuk melarikan diri tanpa diketahui oleh seratus pasukan yang mengepung pondokitu!

Tak seorang pun akan   menyangka bahwa   ia   dapat me larikan dua orang musuhnya itu dari dalam pondok tanpa diketahui orang! Dan s iapa pula yang menduga bahwa Ok Cin Hwa, perempuan yang dianggapnya me mbantu komplotan itu untuk menjebak Kim Cui Hong, ternyata adalah musuh itu sendiri!

Cia Kok Han dan Su Lok Bu bersama seratus orang anak buahnya berjaga di tempat masing-mas ing dengan hati diliputi ketegangan. Mereka sudah me mpersiapkan senjata untuk menyergap, begitu ada orang masuk ke hutan mendekati pondok. Akan tetapi, sampai lewat tengah ma la m, tidak nampak ada orang datang. Juga tidak ada gerakan sesuatu di dalam pondok.

"Hemm, sialan! Kita kedinginan dan dikeroyok nyamuk di sini, akan tetapi mereka berdua tentu kini sedang men iduri perempuan itu!" Su Lok Bu men gomel, karena dia mengenal baik orang-orang maca m apa adanya Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun. Dua orang laki-laki mata keranjang, tukang main perempuan. Kini semalam suntuk berada di sebuah pondok kosong, bersama seorang janda muda yang manis. Mudah saja diduga apa yang akan mereka lakukan.

"Terkutuk me mang iblis betina itu. Kenapa ia tidak juga muncul?" Cia Kok Han juga mengo mel. Memang berat tugas mereka saat itu. Malam begitu dingin dan di hutan itu terdapat banyak nyamuk yang mengeroyok mereka. Akan tetapi mereka tidak berani me mbuat api unggun dan terpaksa harus menahan se mua derita. Untuk mengha mpiri pondok dan me lihat ke dalam, mereka pun t idak berani. Hal itu akan merug ikan karena siapa tahu perempuan iblis itu kini sedang meng intai dan kalau me lihat bahwa pondoknya dikepung banyak musuh, tentu perempuan itu tidak berani mende kat.

Dua orang jagoan itu bersama seratus orang anak buahnya, melewatkan malam yang menyiksa di hutan itu. Mereka harus tetap dalam persembunyian mereka, tidak berani mengeluarkan suara, tidak berani keluar. Mereka sudah menyumpah-nyu mpah di dalam hati.

Baru setelah terdengar ayam berkokok dan burung- burung pagi berkicau tanda bahwa fajar mulai menyingsing, Cia Kok Han dan Su Lok Bu yang sudah tidak sabar lagi, meloncat ke luar dari te mpat perse mbunyian mereka dan mengha mpiri pondok. Siasat mere ka telah gagal! Ikan yang dipancing tidak mau menyambar umpan! Hasilnya hanya kulit muka mereka merah- merah dan gatal-gatal, juga seluruh sendi tulang linu dan pegal.

Keduanya mendorong pintu pondok terbuka dan mereka me longo. Kosong pondokitu. Keduanya meloncat ke arah dua buah kamar itu, mendorong daun pintu kamar terbuka. Kosong pula!

"Heiii....! Ke mana mereka?" Cia Kok Han berseru heran. "Tak mungkin mere ka bertiga menghilang begitu saja!"

kata Su Lok Bu. Tentu saja dua orang jagoan itu menjad i terkejut, terheran kemudian panik karena setelah mereka me mer iksa seluruh pondok, jelaslah bahwa Pui Ki Cong, Koo Cai Sun dan Ok Cin Hwa me mang benar telah lenyap tanpa men inggalkan jejak.

Wajah kedua orang jagoan ini menjad i pucat sekali.

"Tak masuk akal!" kata Cia Kok Han sambil me mbanting kakinya. "Bagaimana mungkin mereka lenyap dari tempat yang terkepung ketat itu? Dan siapa pula yang dapat datang ke pondok ini tanpa kita ketahui? Sungguh aneh sekali!"'

Su Lok Bu yang sejak tadi termenung, kini berkata, "Datang secara berterang rasanya tidak mungkin. Akan tetapi bagaimana kalau datangnya itu secara rahasia?"

"Secara rahasia? Kalau begitu ada jalan rahasianya di sini." kata Cia Kok Han, terkejut.

"Hanya, itulah satu-satunya kemungkinan. Mari kita mencarinya."

Dua orang jagoan ini la lu me manggil anak buah mereka dan pondok itu pun penuh dengan perajurit yang sibuk mencari jalan rahasia. Tidak sukar untuk dite mukan karena tempat itu tidak begitu luas. Tak lama kemudian mereka pun sudah me mbongkar papan dan mereka mene mukan terowongan bawah tanah itu.

"Celaka! Dari sinilah mereka keluar atau.... dilarikan orangl" teriak Cia Kok Han dan dengan hati-hati, bersama Su Lok Bu dan dengan senjata di tangan, mereka lalu me masu ki terowongan itu, diikuti pula oleh anak buah mereka.

Akan tetapi pengejaran mereka itu sudah jauh terlambat karena baru pada keesokan harinya mereka men dapatkan rahasia terowongan itu, sedangkan Cui Hong telah me larikan dua orang musuhnya pada ma lam tadi.

Setelah menyeret dua orang musuh besarnya melalui terowongan, akhirnya Cui Hong me mbawa mereka ke luar di pintu te mbusan yang berada di dasar jurang, dan ia terus menyeret mereka naik dan me masuki sebuah hutan lain yang lebat dan gelap, la memang sudah me mpersiapkan te mpat- tempat itu dan berhenti di sebuah lapangan rumput di tengah hutan, la lalu me mbuat dua api unggun yang cukup besar sehingga tempat itu menjadi terang, la tidak khawatir akan dilihat orang la in karena ia sudah selidiki bahwa te mpat itu, terutama di waktu malam, sunyi bukan main dan tidak pernah didatangi manusia. Juga ia tidak khawatir akan tersusul oleh pasukan yang dipimpin oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu karena sudah ia perhitungkan bahwa mereka tentu tidak akan mende kati pondok sampai keesokan harinya. Malam ini ia bebas dari gangguan orang luar!

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun mas ih rebah terlentang tak ma mpu bergerak ataupun bersuara, hanya mata mereka saja yang terbelalak ketakutan me mandang kepada wanita itu. Cui Hong kini mengha mpiri Cai Sun yang menjadi ketakutan dan sekali tepuk, Cai Sun mendapatkan kemba li suaranya. Dia tidak mengeluarkan teriakan karena maklum bahwa hal itu akan sia-sia belaka. Teman-temannya berada di tempat yang jauh sekali dan di tempat seperti ini mana ada orang yang akan dapat mendengar teriakannya? Kemba li wanita itu menotoknya sehingga dia ma mpu bergerak, dan dia hanya dapat bangkit duduk karena kedua tangannya masih terbelenggu di belakang tubuhnya. Dia terbelalak menatap wajah wanita itu yang me mandang kepadanya dengan mata mencorong dan mulut tersenyum mengejek.

"Kenapa.... kenapa kau melakukan ini kepadaku.?" tanyanya, masih terlalu ngeri me mbayangkan apa yang ditakutinya ketika se maca m dugaan menyelinap di dalam benaknya. "Ok Cin Hwa, siapakah sebenarnya engkau?"

Cui Hong tidak menjawab, me lainkan tersenyum dan kini ia me matahkan belenggu yang me ngikat kedua tangan Cai Sun. Laki- laki itu bebas dan ketika ia meraba senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek, ternyata sepasang senjata itu masih terselip dengan aman di punggungnya. Hatinya terasa agak aman, setidaknya dia dapat me mbela diri, pikirnya. Dia bangkit berdiri, me mbiar kan darahnya yang tadi berhenti menga lir itu kini menjad i normal kembali. Dia masih belum mengerti. Memang ada dugaan menyelinap di dalam benaknya bahwa Ok Cin Hwa ini mungkin penya maran Kim Cui Hong. Akan tetapi   tidak   mungkin,   bantahnya.   Musuhnya   itu me mpunyai tahi la lat di dagunya, dan selama ini sikap Ok Cin Hwa a mat baik. Akan tetapi yang jelas, Ok Cin Hwa ini pun me mpunyai ilmu kepandaian t inggi sehingga dapat menyeret dia dan Ki Cong keluar dari pondok setelah meroboh kan dia dengan tamparan pada tengkuknya. Dan lebih jelas lagi, Ok Cin Hwa ini tidak me mpunyai maksud baik terhadap dia dan Ki Cong.

Cui Hong meraba dagunya, menghapus bedak tebal yang menye mbunyikan tahi lalat di dagunya, kemudian melangkah maju, me mbiarkan sinar api menerangi wajahnya, mulutnya tersenyum mengeje k, "Koo Cai Sun, jahanam besar. Buka mata mu lebar-lebar dan lihat baik-baik, siapakah aku?"

Cai Sun terbelalak, mukanya menjadi se makin pucat dan napasnya terengah-engah. Dia menderita pukulan batin yang amat meng getarkan jantungnya. Dengan tangan gemetar dia menuding ke arah muka Cui Hong. "Kau.... kau....?" Akan tetapi dia tidak ma mpu me lanjutkan karena rasa takut dan ngeri sudah me ncekik lehernya.

"Ya, akulah Kim Cui Hong. Lupakah engkau kepada gadis puteri Kim- kauwsu yang telah kauhina dan perkosa, kemudian kau buang seperti seekor binatang yang sudah ha mpir menjad i bangkai?”

Saking takutnya, Cai Sun la lu me mba likkan tubuhnya dan me loncat untuk melarikan diri. "Brukkkk!!" Tubuhnya terjengkang karena tahu-tahu gadis itu telah berada di depannya, mendahuluinya dan menghadangnya, lalu menendang perutnya yang gendut.

"Ah, tidak.... aku.... aku hanya ikut-ikutan.... yang bersalah adalah dia....!" Cai Sun dengan tubuh menggigil dan telunjuk tangan gemetaran menuding ke arah tubuh Ki Cong yang masih mengge letak tak jauh dari situ dan yang sedang me mandang dengan mata me lotot ketakutan.

"Dia? Dia akan mendapatkan gilirannya. Sekarang aku akan me mba las denda mku kepada mu, Koo Cai Sun!"

"Tidak.... tidak!" Dan t iba-tiba Cai Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Cui Hong. "Nona... Lihiap. ampunkan

saya.... ampunkan saya. " ratapnya.

Ratap tangis ini terdengar merdu bagaikan nyanyian bagi Cui Hong. la mendengarkan sambil tersenyum senang dan setelah Cai Sun berhenti me mohon, menangis sa mbil berlutut, baru ia berkata dengan suara yang halus na mun tajam menusuk.

"Jahanam busuk, keparat hina Koo Cai Sun, lupakah engkau betapa gadis Kim Ciu Hong itu pun meratap dan menang is, me mohon ampun kepada mu dan tiga orang kawanmu yang me mper kosa-nya? Akan tetapi kalian tertawa- tawa senang mendengar ia meratap, merintih dan menangis, me lihat ia menggeliat-geliat kesakitan, terhina lahir batin, lupakah kamu?"

"Ampun..... Lihiap, ampunkan saya. Saya merasa menyesal sekali, saya bertobat, ah, ampunkan saya, kasihanilah keluarga saya, anak isteri saya...." Kini Cai Sun tanpa malu- ma lu lagi me nangis! Lenyaplah se mua kegarangan dan dia merasa menyesal sekali. Mengapa dia begitu bodoh, tidak mengenal Ok Cin Hwa sebagai musuh besarnya? Kini setelah tahi lalat itu terhapus, dia mengenal wajah itu, wajah yang tujuh tahun yang lalu pernah dikenalnya baik-baik sebagai wajah seorang gadis berusia Lima belas   tahun,   yang diper mainkannya sepuas hatinya, bersama Louw Ti, Gan Tek Un, dan didahului oleh Pui Ki Cong!

Akan tetapi, ratapan ini bahkan mena mbah rasa sakit di hati Cui Hong, mena mbah kemarahannya seperti minyak bakar disira mkan pada api yang sudah menyala.

"Bangsat rendah! Lupakah kalian yang telah membunuh ayahku dan suhengku? Dan sekarang engkau minta aku mengasihani anak isterimu? bangkitlah dan lawanlah aku seperti seorang laki-laki. Engkau pengecut hina, bukan saja berwatak kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut tak tahu ma lu. Bangkitlah dan lawan aku, atau.... aku akan menyiksa mu sekarang juga!"

Cai Sun adalah seorang yang amat licik dan cerdik. Dia pun maklum bahwa tidak ada gunanya segala maca m ratap tangis itu, dan dia tadi melakukannya hanya terdorong oleh rasa takutnya, juga merupakan semaca m siasat karena harus mencari jalan untuk dapat menyelamatkan dirinya. Ketika Cui Hong bicara, dia m-dia m tangannya meray ap ke arah gagang sepasang senjatanya dan begitu Cui Hong habis bicara, tiba- tiba saja, dari keadaan berlutut, dia sudah meloncat dan menerjang dari bawah, sepasang siang-kek (tombak pendek) bercabang itu sudah menyambar dengan kecepatan kilat, yang kiri menyerang ke arah kaki, yang kanan ke arah pusar lawan!

"Ma mpuslah.!" Dia me mbentak nyaring untuk mengejutkan lawan.

"heiiiittt....!" Dengan gerakan a mat ringan, tubuh Cui Hong me layang ke atas belakang, lalu berjungkir balik sa mpai tiga kali baru turun ke atas tanah. Akan tetapi ternyata serangan Cai Sun yang hebat tadi hanya untuk mencari kese mpatan saja, karena begitu lawan meloncat untuk mengelak, dia sudah me mbalikkan tubuhnya dan me larikan diri! Sesosok bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Cui Hong telah menghadang di depannya sa mbil bertolak pinggang. "Koo Cai Sun, engkau bukan saja seorang jahanam yang kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut dan curang!"

Di tangan Cui Hong tergenggam sebatang kayu ranting pohon dan melihat Ini, Cai Sun menjadi nekat. Dia tidak me mpunyai jalan keluar lagi. Bagaimanapun juga, sepasang senjatanya masih berada di tangannya, sedangkan lawan hanya me megang sebatang kayu ranting. Mustahil kalau dia sampai kalah, pikirnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu me nerjang maju sa mbil menggerakkan kedua to mbak pendeknya yang mengeluarkan suara berdengung dibarengi angin pukulan yang keras dan sepasang to mbak pendekitu pun lenyap berubah menjadi dua gulungan sinar. Koo Cai Sun bukan seorang le mah. Ilmu silatnya tinggi dan dia pun sudah me miliki banyak pengala man dalam perte mpuran. Akan tetapi bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Cui Hong kini sudah berada di atasnya. Ilmu silat yang dimiliki Cui Hong adalah ilmu-ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu silat Cai Sun. Selain itu, kalau Cui Hong tekun berlatih dan me miliki tenaga dan ketahanan yang kuat, sebaliknya Cai Sun yang setiap hari hanya suka mengejar perempuan dan bermain cinta saja menurut kan nafsu berahinya, menjadi se makin le mah tanpa disadarinya. Tenaganya banyak berkurang, napasnya pendek dan sebentar saja bersilat, dia telah menjadi lelah.

Akan tetapi, karena sekali ini dia harus melindungi nyawanya, dan dia maklum bahwa musuhnya takkan mau menga mpuninya, dia menjadi nekat dan me lawan mati- matian. Segala maca m ilmu yang ada padanya dikeluarkannya, dan dia pun me ngerahkan seluruh tenaga yang ada.

Tiba-tiba dia menge luarkan gerengan keras dan dari tangan kakinya menyambar benda hita m ke arah perut dan dada lawan. Melihat senjata rahasia yang dilepas dari jarak dekat dan amat berbahaya ini, Cui Hong me mutar rantingnya dan belasan batang paku hitam runtuh ke atas tanah. Melihat senjata rahasianya gagal, Cai Sun menekan gagang tombak pendeknya yang kanan dan dari gagang senjata ini pun me luncur sebatang anak panah kecil yang cepat sekali ke arah leher lawan! Cui Hong terkejut, tidak keburu menangkis maka ia mengelak dengan tubuh dimiringkan sambil mengerahkan sinkang me lindungi tubuh atas.

"Takkk!" Anak panah yang dielakkan itu luput dari leher akan tetapi mengenai pundak gadis itu dan meleset karena pundakitu telah dilindungi sinkang. Anak panah itu tidak me lukai kulit, meleset dan hanya merobek baju di pundak saja.

Cui Hong tertawa mengejek, "Keluarkan se mua kepandaian mu, Koo Cai Sun, karena saat ini merupakan saat terakhir bagimu untuk dapat me ma merkan kepandaian mu!" Gulungan sinar yang dibentuk dari gerakan ranting itu se ma kin ketat mengepung Cai Sun, me mbuat dia menjadi se ma kin repot. Bukan hanya repot menghadapi anca man ranting yang meno-tok-notok ke arah jalah darah di tubuhnya, akan tetapi juga repot mengatur pernapasannya yang hampir putus dan me mpertahankan tubuhnya yang sudah ha mpir kehabisan napas.

"Pertahankan dirimu baik-baik, karena sebentar lagi aku akan me mbuat engkau kehilangan semua kepandaian mu, kehilangan se mua tenaga dan daya tarikmu, dan kemudian sekali aku akan menyiksa dan me mbunuh anak-anak dan isterimu setelah aku me mbakar habis tokomu kemarin dulu. Puaslah hatiku sekarang, hik-hik!" Cui Hong sengaja menge luarkan kata-kata ini untuk menyiksa hati lawan.

Dan me mang kata-kata itu mendatangkan rasa takut yang lebih berat bagi Cai Sun. Dia tahu bahwa wanita ini tidak hanya menggertak saja. Buktinya, tokonya sudah habis menjad i abu dan kini dia se makin terdesak dan dia tahu pula bahwa dia takkan dapat bertahan terlalu lama. Napas dan tenaganya semakin berkurang sedangkan wanita itu kelihatan semakin kuat dan se makin cepat saja. Dan siapa yang akan me lindungi isterinya dan anak-anaknya kalau wanita ini meng- ganggu mereka? Dia menjad i semakin nekat dan tanpa me mperdulikan keselamatan diri sendiri dia menubruk maju untuk mengadu nyawa. Sepasang siang-kek di tangannya menya mbar dari kanan kir i, atas bawah. Namun, dengan mudah Cui Hong me ngelak dengan loncatan ke belakang dan begitu kedua senjata itu menyambar, ranting di tangannya menusuk dua kali dengan kecepatan kilat.   Cai   Sun menge luarkan teriakan kaget karena kedua pergelangan tangannya seperti disengat, seketika lumpuh dan kedua senjatanya telah terlepas dari pegangan kedua tangannya. Sambil terkekeh Cui Hong menendang dua senjata itu sa mpai terlempar hilang ditelan kegelapan malam.

Ternyata kelumpuhan tangan akibat totokan itu hanya sebentar saja dan Cai Sun sudah me mperoleh tenaganya kembali. Kini dia menubruk dengan dua tangan kosong yang dibuka seperti cakar harimau, menubruk dan menerka m untuk mengadu nyawa.

"Dukkk....!" Sebuah tendangan menghantam perutnya yang gendut dan dia pun terpelanting roboh, terbanting keras. Cai Sun meringis karena perutnya terasa mendadak mulas, nyeri sekali. Mungkin usus buntunya yang tercium ujung sepatu Cui Hong tadi.

"Bangunlah, anjing hina! Bangunlah!" Cui Hong menantang, ingin men ikmati perkelahian itu sepuasnya, la menendang- nendang perlahan untuk me mbangunkan Cai Sun.

Cai Sun mengerang sa mbil mende kam, akan tetapi ini pun hanya siasatnya, karena tiba-tiba ia menubruk dan menang kap kaki kiri Cui Hong! Sekali tertangkap, dia menggunakan kedua lengannya untuk merangkul kaki itu dan menggunakan seluruh tenaganya untuk menyeret gadis itu.

Hal ini sa ma sekali tidak pernah di sangka oleh Cui Hong sehingga ketika kakinya tertangkap, sejenak ia terkejut dan tidak ma mpu berbuat sesuatu dan ia pun ikut roboh ketika lawan menggunakan tenaga terakhir untuk me mbetotnya ke bawah.

Cai Sun mengeluarkan suara ketawa aneh dan kedua tangannya lalu menerka m, maksudnya hendak mencekik leher wanita itu yang kini sudah digumulinya. Akan tetapi, Cui Hong sudah dapat me mulihkan lagi ketenangannya dan secepat kilat, jari tangan kanannya yang terbuka menusuk ke depan.

"Hekkk....!" Seketika Cai Sun kehilangan tenaganya dan saat itu dipergunakan oleh Cui Hong untuk me loncat bangun. Ia merasa gemas sekali. Hampir saja ia celaka oleh kecurangan Cai Sun. Kini ia harus berhati-hati.

"Bangunlah, anjing busuk, bangun dan berkelahilah!" bentaknya.

Hanya sebentar saja tusukan jari ke arah ulu hatinya tadi me mbuat Cai Sun kehilangan tenaganya. Dia maklum bahwa dia harus berkelahi sa mpai napas terakhir, maka dia pun me loncat bangun dan kembali menyerang. ilmu silat tangan kosong Thian-te Sin-kun yang   menjadi andalannya,   dia ma inkan dengan pengerahan tenaga terakhir.

Cui Hong menyelipkan ranting tadi di ikat pinggangnya dan ia pun menyambut serangan lawan itu dengan tangan kosong saja. Akan tetapi, kini tenaga Cai Sun sudah hampir habis, dan bukan saja tenaganya habis, juga napasnya terengah-engah, me mbuat gerakannya la mbat dan tak bertenaga. Tentu saja dia merupakan lawan yang terlalu le mah kini bagi Cui Hong, menghilang kan kegembiraan Cui Hong untuk berkelahi terus. Maka gadis itu kini mencabut rantingnya.

"Anjing keparat Koo Cai Sun, sekarang rasakanlah pembalasan ku!" bentaknya dan ranting di tangannya berkelebat ke depan dengan cepat dan amat kuatnya. Dua kali ranting itu menya mbar ke arah kedua daun telinga Cai Sun. Bagaikan sebatang pedang saja, ranting itu me mbabat dan dua kali Cai Sun berteriak ketika sepasang daun telinganya terbabat buntung dan darah pun muncrat keluar dari luka di telinganya. Dapat dibayangkan betapa nyerinya ketika Cai Sun meraba telinga dengan kedua tangan dan melihat daun telinganya sudah lenyap dan telapak tangannya penuh darah. Dia meraung seperti seekor binatang buas, dengan nekat menubruk ke depan, akan tetapi dengan gerak langkah yang aneh, dengan mudah saja Cui Hong menge lak dan kemba li ranting di tangannya menya mbar.

"Crottt....!" Cai Sun terpelanting dan meraung kesakitan, mukanya penuh berlepotan darah karena bukit hidungnya remuk dan rata dengan pipi, juga kedua bibirnya hancur dan lenyap terbabat sehingga na mpak giginya yang besar-besar! Dia bangkit dan mengeluarkan suara tidak karuan karena setelah bibirnya hilang, sukar baginya untuk bicara, apalagi hidungnya juga buntung, yang keluar hanya suara "ngak- ngeng-ngang-ngeng" tidak karuan. Dia menerka m lagi akan tetapi Cui Hong menendang ke arah pergelangan tangan kanannva.

"Krekkk!" Tulang pergelangan tangan kanan itu re muk dan tangan itu pun menjadi lu mpuh. Cui Hong me lanjutkan dengan sabetan ranting ke arah pundak kiri. Kemba li terdengar tulang re muk ketika ranting itu me nghancurkan tulang pundaknya. Tulang itu sa ma sekali hancur sehingga tidak mungkin tersambung lagi, me mbuat lengan kir inya bengkok dan mir ing. Cai Sun kembali meraung-raung, akan tetapi suara raungannya menjadi se makin le mah, juga tubuhnya yang ber-kelojotan menjadi me le mah dan akhirnya dia tidak bergerak lagi karena sudah jatuh pingsan! Dia tidak tahu betapa Cui Hong menaburkan obat pada luka di telinga, hidung dan mulutnya. Ia tidak ingin me mbunuh musuhnya, dan kalau darah dibiarkan terlalu banyak keluar, mungkin saja Cai Sun tewas karena kehabisan darah. Obat bubukitu seketika mengeringkan luka, me mbuat bekas luka menghitam dan seperti terbakar, akan tetapi darah tidak keluar lagi. Sejak tadi, Pui Ki Cong menyaksikan semua itu dan melihat betapa Cai Sun disiksa, beberapa kali dia me meja mkan mata dan hampir jatuh pingsan saking ngerinya. Dia mulai merasa menyesal bukan main. Terbayanglah di pelupuk matanya ketika dia mengeram Cui Hong sela ma tiga malam di kamarnya, me mper mainkan gadis itu, me mperkosanya sampai sepuas hatinya, sampai dia menjadi bosan! Teringat akan itu, dan me lihat betapa gadis itu kini menyiksa Cai Sun, teringat pula akan keadaan Louw Ti, Ki Cong menjadi ketakutan setengah mati dan tanpa disadarinya, dia telah terkencing- kencing dan terberak-berak di dalam celananya!

Tidak la ma Cai Sun pingsan. Dia siuman akan tetapi begitu sadar, dia menjerit-jerit dan meraung-raung kembali. Mungkin rasa nyeri yang luar biasa itulah yang me mbuat dia siuman. Ketika dia me mandang dengan matanya yang sudah nanar karena kemasukan darahnya sendiri, dia melihat betapa kedua ujung kakinya terbakar! Kiranya, Cui Hong telah menyiram kedua ujung kaki itu dengan minyak dan me mbakarnya! Sia- sia saja Cai Sun menendang-nendangkan kedua kakinya untuk me mada mkan api dan akhirnya, dengan teriakan yang menyayat perasaan dia jatuh pingsan lagi!

Api baru padam setelah minyak pada kakinya habis terbakar, membuat ujung kedua kaki itu melepuh, jari-jari kakinya hangus terbakar. Kini Cui Hong merasa puas dan mengha mpiri Ki Cong, me mbebaskan totokannya dan me lepaskan borgol kedua tangannya. Begitu bebas, Pui Ki Cong lalu menjatuhkan diri berlutut sa mbil menangis.

"Nona, ampunkan saya.... ah, kau ambillah seluruh harta kekayaan saya.... akan tetapi ampunkan saya, Nona" ratapnya sambil me nangis sesenggukan.

"Bangsat Pui Ki Cong yang biadab! Coba ingat kembali betapa engkau menyuruh bunuh Ayah dan Suhengku, dan lupakah engkau akan apa yang kaulakukan terhadap tubuhku ini selama tiga hari t iga malam?" "Ampun.... saya mengaku salah, ampun.. .." Ki Cong meratap. Dia takut sekali, dan tidak seperti Cai Sun tadi, dia sama sekali tidak me mpunyai niat untuk melawan, karena apakah yang akan dapat dia lakukan terhadap wanita yang amat lihai ini? Cai Sun saja tidak ma mpu berbuat banyak, apalagi dia yang hampir tak pandai ilmu silat sa ma sekali!

"Engkau masih dapat minta a mpun kepadaku? Hemm, Pui Ki Cong, selama bertahun-tahun aku mendenda m dan aku bersumpah bahwa aku akan me mba las dendam se mua perbuatanmu kepadaku tujuh tahun yang lalu! Seluruh sisa hidupku kutujukan untuk pe mba lasan dendam ini dan engkau minta ampun? Jangan harap!" Kini Cui Hong mencabut ranting dari ikat pinggangnya. "Aku akan menyiksamu sa mpa i engkau menjad i manus ia bukan setan pun bukan, aku akan menghab iskan seluruh harta mu dan me mbunuh seluruh keluarga mu!" Tentu saja ini hanya merupakan anca man- ancaman untuk menyiksa batin Ki Cong.

"Lakukanlah semua itu, akan tetapi ampunkan saya, Nona." "Apa? Engkau membiarkan aku menghab iskan hartamu dan

me mbunuh seluruh keluarga mu asal engkau diampuni?"

"Benar, Nona. Lakukanlah segalanya, akan tetapi ampunkan aku. "

"Jahanam! Benar-benar seorang pengecut dan iblis berhati kejam!" bentak Cui Hong yang tadinya merasa heran mendengar ada orang mau men gorbankan anakisteri dan hartanya asal dirinya se lamat! Dari sikap ini saja dapat dilihat betapa rendahnya martabat manusia berna ma Pui Ki Cong ini. "Sikap mu ini me ndorongku untuk segera turun tangan karena manus ia maca mmu ini pantas sekali dihajar!" ranting di tangannya menyambar-nyambar, terdengar bunyi ranting itu bercuitan dan meledak-ledak di atas tubuh Ki Cong yang meraung-raung kesakitan. Cui Hong menyalurkan seluruh denda mnya melalui cambukan-cambukan itu, akan tetapi ia masih ingat untuk menyimpan tenaganya agar tidak me mukul terlalu keras dan me mbunuh orang itu. Ia terus menca mbuki seluruh tubuh Ki Cong sampai pakaiannya hancur semua, sampai kulit tubuhnya pecah-pecah dan penuh darah, la memukul terus sedangkan tubuh Ki Cong berkelojotan di atas tanah, dan ketika me mukul kedua lengan dan kaki, Cui Hong mena mbah tenaganya sehingga tulang-tulang dari siku ke bawah dan dari lutut ke bawah remuk-re muk se mua! Ki Cong tidak ma mpu meraung lagi, hanya mer intih dan men ggeliat, ha mpir tak ma mpu bergerak lagi. Ketika ranting itu menghujani mukanya, muka itu menjad i hancur kulitnya, kedua biji matanya keluar, hidung dan bibirnya hancur, juga kedua daun telinganya putus. Keadaannya lebih menger ikan daripada keadaan Cai Sun karena dia kehilangan kedua matanya!

Menjelang pagi, Cui Hong menyeret dua tubuh yang empas-e mpis itu, yang sudah tidak men geluarkan darah lagi karena dibubuhi obat bubuk, dua tubuh yang pingsan, menuju ke kota raja. Dengan kepandaiannya, ia dapat membawa mereka melompati pagar tembok dan menggantung kedua tubuh itu dengan kepala di bawah kaki di atas, tepat di depan pintu gerbang keluarga Pui!

Pagi hari itu, gegerlah kota raja. Semakin banyak saja orang berlarian mendatangi rumah gedung keluarga Pui dan mereka berkumpul di depan pintu gerbang yang menjadi ramai seperti pasar. Pemandangan di   situ   sungguh menger ikan semua orang. Dua tubuh itu digantung terbalik, dalam keadaan pingsan dan kalau siuman hanya dapat mer intih lir ih lalu pingsan lagi. Karena tadinya orang sukar mengenali dua tubuh itu, ma ka para penjaga dan pelayan di gedung itu merasa ragu-ragu untuk menurunkan mereka. Yang me mbuat orang merasa ngeri adalah me lihat wajah dua orang itu. Sudah hancur penuh darah dan sukar dikenali lagi. Hidung, telinga dan bibir mereka hilang, na mpak lubang hidung dan gigi mereka, apalagi yang seorang me miliki sepasang kaki yang hangus dan me lepuh bekas terbakar. Yang seorang lagi, tidak ada bagian tubuhnya yang tidak berdarah, seolah-olah dia telah dikuliti. Kulit tubuhnya masih ada, akan tetapi sudah hancur dan penuh darah!

Baru setelah Cia Kok Han dan Su Lok Bu datang ber larian, semua orang tahu bahwa dua tubuh itu adalah tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun! Tentu saja dua tubuh itu segera diturunkan dan dirawat. Memang nyawa mereka tertolong, akan tetapi tubuh mereka tidak mungkin tertolong lagi. Tubuh itu telah menjadi penuh cacat, menjadi tubuh yang menakutkan. Tanpa hidung tanpa bibir tanpa daun telinga, dengan kaki dan tangan lumpuh bengkok-bengkok, bahkan Pui Ki Cong kini menjadi buta! Sungguh, hukuman yang dijatuhkan Cui Hong kepada musuh-musuhnya terlalu kejam dan sadis, me mbuat mereka na mpak seperti bukan manusia lagi, seperti ga mbaran iblis-iblis yang a mat mena kutkan dan menyeramkan,

Yang menggegerkan mereka yang menonton, kecuali keadaan dua orang yang amat mengerikan itu, juga sehelai kain putih yang ditulis dengan huruf-huruf besar, tintanya merah karena yang dipergunakan adalah darah korban-korban itu MEWAKILI PARA WANITA YANG MEREKA PERKOSA DAN ORANG-ORANG TAK   BERDOSA   YANG   MEREKA   BUNUH.

Gegerlah penduduk kota raja, akan tetapi banyak di antara mereka yang ikut merasa puas karena Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun sudah terkenal sebagai pengganggu para wanita cantik, baik wanita itu isteri orang lain, atau janda, ataukah masih perawan. Dan banyak pula orang yang tewas di tangan mereka tanpa berani menuntut balas. Akan tetapi banyak pula yang merasa penasaran karena kedua orang itu pandai menutup i kejahatan mereka dengan sikap der mawan, menggunakan uang mereka yang kelebihan. Mereka yang pernah ditolong tentu saja merasa penasaran dan menyesal me lihat betapa dermawan penolong mereka menga la mi nasib yang demikian mengerikan.

Ketika banyak orang berkerumun dan tubuh manusia setengah mati yang tergantung terbalik itu, terdapat pula seorang tosu yang menonton sambil menang is! Dia hendak menye mbunyikan  dan  menahan  tangisnya,  tidak menge luarkan bunyi, akan tetapi kedua matanya bercucuran air mata.

Ketika dua tubuh itu diturunkan oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu, ditangisi oleh keluarga Ki Cong dan Cai Sun, dibantu oleh anak buah pasukan pengawal tosu iu menyelinap pergi di antara para penonton yang berjubel di tempat itu. Dia seorang tosu yang usianya belum begitu tua, di bawah lima puluh tahun akan tetapi wajahnya yang penuh kerut merut tanda penderitaan batin itu membuat wajahnya nampak lebih tua. Pakaiannya sederhana sekali, berwarna kuning yang agak luntur dan kumal. Tosu ini ber mata tajam, akan tetapi matanya me mbayangkan kedukaan besar, apalagi setelah tadi dia melihat dua orang yang keadaannya amat menger ikan itu.

"Siancai....! Kekuasaan alam tak mungkin diingkari manus ia. Tangan kanan menana m tangan kir i menuai, itu sudah adil na manya. Semoga aku t idak akan menyeleweng daripada Jalan Kebenaran, siancai, siancai!" Berkali-kali tosu itu bicara kepada diri sendiri, menarik napas panjang dan berkali- kali me nggeleng kepala seperti hendak mengusir penglihatan yang tidak menyedapkan hatinya.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak di tempat kerama ian tadi, ada  seorang  laki-la ki  muda  yang me mperhatikannya, bahkan ketika dia men inggalkan depan gedung keluarga Pui, laki-laki muda itu me mbayanginya dari jauh. Tosu itu berjalan terus, seperti orang kehilangan semangatnya, seperti orang me la mun, keluar dari pintu gerbang kota sebelah barat, dan terus berjalan dengan wajah penuh duka. Laki-laki muda itu tetap me mbayanginya dari jauh. Setelah meningga lkan kota sejauh kurang lebih lima belas Li, barulah tosu itu berhenti dan masuk ke dalam sebuah kuil yang tua dan sunyi me nyendiri, di tepi jalan simpangan yang kecil, di luar sebuah dusun kecil te mpat tinggal para petani.

Dan begitu dia me masu ki kuil itu, sampai di ruangan dala m, tosu itu pun menjatuhkan diri berlutut dan menang is dengan suara terisak-isak seperti anak kecil! Kemudian terdengar dia menge luh dengan suara yang cukup keras, karena dia yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali dia sendiri, "Nah, menangislah, Gan Tek Un! Sesalilah semua perbuatanmu yang terkutuk dan bertaubatlah, camkanlah bahwa semua perbuatan jahat akhirnya akan mendatangkan ma lapetaka yang lebih hebat, yang akan menimpa diri sendiri. Buah dari pohon yang kautanam akan kaumakan sendiri...!" Dan dia pun menangis sa mbil menutup i muka dengan kedua tangan, teisak-isak dan kedua pundaknya terguncang.

Tiba-tiba dia menghentikan tangisnya. Ada suara kaki orang tertangkap oleh pendengarannya yang tajam. Dia bangkit berdiri dan me mbalikkan tubuh setelah cepat-cepat menghapus air matanya dan dia berhadapan dengan seorang laki- laki muda yang tidak dikenalnya. Tosu itu mengerutkan alisnya dan me mandang penuh selidik. Kemunculan laki- laki ini yang secara tiba-tiba mendatangkan kecurigaan. Seorang laki- laki berusia t iga puluh tahun, pakaiannya seperti seorang petani, dari kain kuning yang kasar, rambutnya digelung ke atas dengan pita biru, tubuhnya sedang dengan dada yang bidang. Dia tidak mengenal pe muda ini dan jelas dia bukan seorang pemuda dusun dekat kuil itu. Akan tetapi, sudah menjad i kebiasaan tosu itu untuk menyambut siapa pun dengan ramah dan sopan, walaupun kedatangan pemuda ini kurang sopan, tahu-tahu langsung saja masuk ke ruangan dalam. Tosu itu menjura dengan sikap hor mat. "Selamat datang di kuil pinto yang sederhana inij orang muda. Tidak tahu apakah yang dapat pinto lakukan untukmu? Mari, silakan duduk di ruangan depan, di mana ada bangku dan kita boleh bercakap- cakap dengan enak. Apakah ada yang sakit dan me mbutuhkan obat? Atau engkau datang untuk bersembahyang?"

Akan tetapi orang muda itu me mba las penghormatan tosu itu, kemudian me mandang tajam penuh selidik dan akhirnya dia berkata, "Paman Gan Tek Un, apakah Pa man tidak ingat lagi kepada saya?"

Tosu itu na mpak kaget sekali me ndengar ada orang me manggil na manya, nama yang selama beberapa tahun ini tidak pernah dipergunakannya. Kini dia lebih dikenal dengan sebutan Gan Tosu. Dia me mandang dengan alis berkerut dan penuh perhatian, mengingat-ingat siapa gerangan orang muda ini, akan tetapi tetap saja dia tidak ma mpu mengenalnya.

"Orang muda, pinto adalah Gan Tosu, dan pinto merasa tidak pernah bertemu atau berkenalan denganmu. Siapakah engkau, datang dari mana dan ada keperluan apakah?" Akhirnya dia berkata dengan heran.

Pemuda itu tersenyum. "Paman Gan Tek Un, saya adalah Tan Siong, keponakan Paman sendiri."

Tosu itu terbelalak, pandang matanya menatap wajah Tan Siong penuh selidik dan akhirnya dia teringat. Kurang lebih dua puluh tahun, seorang anak laki-laki yang bernama Tan Siong, keponakannya, putera encinya yang pada waktu itu baru berusia sepuluh tahun, telah pergi dibawa oleh seorang tosu! Dan teringatlah dia akan semua perbuatannya.

"Siancai.... siancai. siancai....!" Dia menengadah dan mengang kat kedua tangan ke atas. "Betapa cepatnya dan tidak terduganya datangnya hukuman bagi seseorang!" Lalu dia me mandang kepada Tan Siong. "Tan Siong, sekarang pinto teringat, engkau me mang keponakanku, putera dari mend iang Enciku. Ahh, engkau baru datang, Tan Siong? Nah, inilah pinto, orang yang penuh dosa. Kalau engkau datang untuk menghukumku, lakukanlah, pinto siap untuk menebus dosa-dosa pinto terhadap orang tuamu, Tan Siong!" Dan tosu itu la lu menjatuhkan diri berlutut, kedua lengan bersilang di depan dada, kepalanya menunduk dengan sikap pasrah!

Sejak tadi Tan Siong sudah me mbayangi tosu ini. Dia tadi ikut pula tertarik oleh keributan orang-orang yang mengabarkan bahwa di depan pintu gerbang keluarga Pui terdapat dua orang yang digantung dalam keadaan luka-luka parah. Ketika dia berdesakan dengan banyak orang untuk menonton, dia segera mengenal Cai Sun, dan orang ke dua yang digantung itu walaupun tidak dikenalnya, akan tetapi di antara orang banyak ada yang mengatakan bahwa dia adalah Pui Ki Cong, majikan gedung besar itu. Dan melihat tulisan di atas kain putih, tulisan dengan darah itu, jantung Tan Siong berdebar penuh ketegangan. Kim Cui Hong! Siapa lagi kalau bukan Kim Cui Hong yang dapat melakukan hal itu? Ah, kini baru dia sadar. Kiranya Cai Sun merupakan seorang di antara empat orang musuh besar Cui Hong, empat orang yang pernah merusak kehidupan Cui Hong dengan perbuatan mereka yang keji, yaitu me mperkosa dan menghinanya. Tahulah dia kini mengapa Cui Hong berada di kota raja dan menya mar sebagai Ok Cin Hwa. Kiranya sedang melakukan penyelidikan dan. sedang berusaha me mbalas dendam dan kini, melihat cara wanita itu memba las dendam, dia bergidik. Keterlaluan! Wanita itu harus dicegah me lanjutkan usahanya yang kejam. Tidak, dia tidak akan me mbiarkan wanita yang sampai kini masih dicintanya itu menjadi tersesat seperti itu. Dalam denda mnya berubah menjadi iblis yang luar biasa kejamnya. Bergidik dia melihat keadaan dua orang itu. Dia tahu bahwa biarpun mereka berdua itu dapat tertolong nyawanya karena tidak menderita luka yang parah, hanya luka-luka di kulit saja, namun mereka akan menjadi seorang penderita cacat yang mengerikan keadaannya. Dengan muka yang rusak dan menjadi buruk dan menakutkan sekali, tanpa telinga, tanpa hidung dan bibir, dan dengan kaki tangan tidak norma l. Betapa mengerikan!

O 00 0 -d-w-000 O