-->

Sakit Hati Seorang Wanita Jilid 08

Jilid 08

TAN SIONG yang mengalami luka bahunya, tidak berani langsung kembali ke te mpat perse mbunyiannya di kuil tua, me lainkan berputar-putar di tempat-tempat sunyi. Setelah matahari turun ke barat dan cuaca menjadi re mang-re mang, barulah dia menyelinap di antara gedung-gedung, melalui lorong-lorong menuju ke kuil tua. Akan tetapi tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan banyak orang bahwa ada terjadi kebakaran. Dia segera menuju ke tempat itu menyelinap di antara orang banyak. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika me lihat bekas lawannya tadi, yaitu Koo Cai Sun, bersama dua orang rekannya yang lihai, berada pula di te mpat itu dan mendengar dari orang-orang yang menonton bahwa yang terbakar itu adalah toko milik laki-laki berperut gendut yang tadi meray u Ok Cin Hwa! Huh, manusia jahat tentu akhirnya akan mengalami musibah dan ma lapetaka, pikir Tan Siong dan diapun tidak perduli lagi, la lu menyelinap di antara banyak orang dan pergi dari situ.

Dia me masuki kuil tua yang gelap itu, menuju ke ruangan belakang yang untuk se mentara menjadi te mpat dia bersembunyi. Gelap sekali ruangan itu. Dia meraba-raba untuk mencari lilin yang ditaruh di sudut ruangan. Akan tetapi tangannya tidak mene mukan sesuatu.

"Engkau mencari lilin, Toako?" Tiba-tiba terdengar suara halus.

Tan Siong terkejut, akan tetapi girang mendengar bahwa itu adalah suara Ok Cin Hwa. Lilin itu dinyalakan oleh wanita yang ternyata adalah Cui Hong itu. Tentu para pembaca dapat menduga bahwa orang sakti yang diam-dia m me mbantu Tan Siong tadi bukan lain adalah Cui Hong sendiri, la tidak lari jauh, melainkan bersembunyi dan menonton perkelahian itu. la merasa terkejut, heran dan kagum sekali karena ternyata pemuda itu me miliki ilmu kepandaian silat yang cukup t inggi, tidak terlalu banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri! Ia me lihat dengan kagum betapa dengan mudah Tan Siong menghadap i pengeroyokan Cai Sun yang dibantu enam orang perajurit, kemudian datang pula me mbantu dua orang jagoan yang amat lihai itu. Juga dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang murid Kun-lun-pai, seorang pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi, kekagumannya berubah menjadi kekhawatiran ketika ia me lihat betapa Tan Siong mulai terdesak payah dan bahkan menderita luka pada bahunya. Cepat ia me mbantu dari te mpat persem-bunyiannya, menya mbitkan batu-batu kerikil yang mengenai tubuh tiga orang lihai itu sehingga mereka terkejut dan menghentikan serangan mereka terhadap diri Tan Siong yang sudah terdesak. Kesempatan itu, seperti yang diharapkan, dipergunakan dengan baik oleh Tan Siong yang berhasil me loloskan diri. la lalu mendah ului pe muda itu me masu ki ruangan belakang kuil tua dan menanti di situ sa mpa i gelap.

Kini mereka dapat saling pandang di bawah sinar lilin yang remang-re mang. Tan Siong menye mbunyikan kegirangannya me lihat Cui Hong berada di situ dengan duduk bersila di atas lantai. "Syukur engkau dapat me loloskan diri, Hwa- mo i."

"Berkat pertolonganmu, Tan-ko. Karena tidak tahu harus lari ke mana, aku teringat akan tempat ini dan bersembunyi di sini."

"Engkau benar, di sini kita aman karena mereka tentu tidak menyangka bahwa kita berada di sini." "Tan-ko, sungguh aku kagum sekali karena engkau ternyata bukan seorang petani dusun biasa, melainkan seorang pendekar yang amat lihai sehingga engkau berhasil menyelamatkan aku dan menand ingi orang-orang jahat yang mengeroyokmu."

"Ah, jangan me muji, Hwa- moi. Bagaimana aku dapat disebut lihai kalau ha mpir saja aku tewas di tangan mere ka?"

Dia meraba luka di bahu kir inya dan meng gigit bibir menahan rasa nyeri ketika dia menco ba untuk me mbuka baju di bagian bahu yang robek dan melekat pada lukanya karena darah yang menger ing.

"Aih, engkau terluka parah, Tan-ko? Mari, biar aku yang merawatnya. Luka itu perlu dibersihkan." kata Cui Hong yang segera menghampiri lalu berlutut di dekat pemuda itu. Dengan cekatan jari-jari tangannya yang halus me mbuka bagian baju yang terobek itu lebih besar sehingga luka itu na mpak. Biarpun t idak berbahaya dan tidak sa mpai mengenai tulang, namun luka itu cukup lebar dan na mpak mengerikan, dan ia tahu bahwa luka itu tentu terasa nyeri, pedih dan panas sekali.

"Aku butuh air panas untuk mencuci luka ini sebelum diobati, Tan-ko. Aku akan mencari air panas dan obat keluar sebentar."

"Jangan, Hwa-mo i, berbahaya kalau engkau keluar sekarang. Ini ada arak, cucilah saja dengan arak ini, kemudian berikan obat ini la lu balut. Aku me mang selalu menyediakan obat untuk merawat luka." kata Tan Siong.

Tentu saja Cui Hong juga tahu akan cara pengobatan luka, maka ia lalu menc uci luka itu dengan arak. Pedih perih rasanya dan Tan Siong menggigit bibir menahan rasa nyeri. Tidak sedikit pun keluar keluhan dari mulutnya, padahal Cui Hong maklum betapa nyerinya luka yang dibakar oleh arak itu. Setelah me mbersihkan luka itu, ia lalu menggunakan obat bubuk putih yang diberikan Tan Siong, setelah itu ia membalut bahu itu dengan me mpergunakan sobekan ikat pinggangnya yang berwarna putih bersih. Selama perawatan ini, Cui Hong berlutut dekat sekali dengan Tan Siong sehingga kadang- kadang, tanpa disengaja, ada bagian tubuh mereka yang saling bersentuhan. Hal ini me mbuat Tan Siong ha mpir tak berani berkutik. Bau khas wanita yang keluar dari tubuh dan rambut Cui Hong, sentuhan jari-jari tangan yang seperti me mbe lai bahunya, geseran-geseran halus antara bagian tubuh mereka yang saling bersentuhan, mendatangkan getara dalam diri Tan Siong dan me mbuat jantungnya berdebar keras. Dia tidak tahu bahwa keadaan wanita itu pun tidak jauh bedanya dengan dirinya. Belum pernah sela ma hidupnya Cui Hong berada dalam keadaan seperti itu, de mikian dekat dengan seorang pria. Pengalamannya tujuh tahun yang lalu dengan empat orang pria yang me mperkosanya merupakan hal yang lain sa ma sekali karena di situ t idak terdapat kemesraan, yang ada hanya rasa takut, duka, dan kebencian. Akan tetapi sekarang, ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang amat mesra, yang membuat jantungnya berdebar keras dan jari-jari tangannya kadang-kadang agak gemetar. Untuk menghibur ketegangan aneh ini, Cui Hong lalu bertanya.

"Siong-toako, engkau adalah seorang pendekar yang berkepandaian tinggi. Kenapa engkau demikian baik kepadaku, me mbelaku sampai mati- matian sehingga engkau mender ita luka parah begini?"

Tan Siong menarik napas panjang. "Mula- mula hanya kebetulan saja kita saling jumpa di dalam rumah makan itu, Hwa- moi. Tentu saja aku tidak suka melihat orang-orang kasar itu mengganggumu sehingga aku menegur mereka."

"Akan tetapi ketika meja itu dibalikkan oleh Si Muka Bopeng, kenapa engkau diam saja sehingga pakaian mu tersiram kuwah?" "Ketika itu aku tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin diketahui orang bahwa aku me miliki kepandaian silat. Untung pada waktu itu t idak terjadi apa-apa, akan tetapi kemunculan Si Muka Babi itu. "

"Si Muka Babi...?" Cui Hong bertanya sambil mengang kat alis matanya karena heran.

"Itu, laki-la ki perut gendut bermuka bulat yang me mbawa senjata siang-kek "

"Ahh, dia....!" Cui Hong menahan ketawanya. "Dia bernama Koo Cai Sun."

"Ke munculannya mendatangkan perasaan tidak enak di hatiku, karena itu aku mengajakmu lar i ke sini te mpo hari. Melihat pandang matanya dan sikapnya, aku dapat menduga bahwa dia itu selain lebih lihai daripada e mpat orang kasar itu, juga lebih jahat. Dan setelah kita berpisah di dekat rumah penginapan, hatiku tetap merasa gelisah dan aku a mat meng khawatirkan keselamatan mu. Lebih gelisah lagi hatiku ketika aku tidak melihatmu di rumah penginapan itu dan aku mendengar dari para pengurus bahwa engkau tidak pernah bermalam di sana."

"Maaf, Toako. Aku me mang sengaja me mbohong te mpo hari kepada mu, karena aku tidak ingin engkau mengetahui tempat tinggalku."

"Kenapa, Hwa- moi? Kenapa? Bukankah kita sudah saling berkenalan?"

"Aku ingin merahasiakan diriku dan tempat tinggalku, Toako."

"Tapi kenapa?"

Cui Hong menarik napas panjang, menceritakan hal itu sama saja dengan me mbuka rahasia dirinya. Ia menggeleng kepala. "Sekali lagi maaf, itu merupakan rahasia besar bagiku dan belum waktunya kuceritakan kepada mu, Toako. Akan tetapi, lanjutkanlah ceritamu." la me mandang wajah pe muda itu. "Bagaimana engkau dapat muncul lagi dalam peristiwa tadi?"

"Ke mbali suatu hal yang kebetulan saja, Hwa- moi. Aku sedang berjalan-jalan, seperti biasa mencar i pa manku yang sampai sekarang belum juga kute mukan, juga untuk mencarimu karena hatiku masih merasa penasaran karena tidak dapat menemukan engkau di ru mah penginapan itu. Dan kebetulan aku me lihat engkau berjalan-jalan bersa ma Koo Cai Sun itu... ah, benar, lupa aku me mberitahukan. Tadi, menje lang senja, aku melihat kebakaran dan ternyata yang terbakar habis adalah toko dan rumah milik Si Muka Babi itu!"

Tentu saja Cui Hong tidak merasa heran mendengar ini karena kebakaran itu adalah hasil pekerjaannya. Dalam kekecewaannya karena Cai Sun terlepas dari cengkeramannya di rumah yang disewanya karena kemunculan pengawal- pengawal keluarga Pui, ia lalu pergi ke toko dan rumah musuhnya itu dan me mbakarnya habis karena sebelum me mba kar, ia menyira mkan minyak ke dalam toko dan ru mah itu. Karena ia me mpergunakan kepandaiannya yang tinggi untuk menyelinap masuk dan keluar lagi, tidak ada orang yang me lihatnya ketika ia me lakukan hal itu, dan karena ruma h itu pun kosong, ditinggal pergi oleh keluarga Koo Cai Sun yang mengungsi ke rumah gedung Pui Ki Cong.

"Bagus! Aku merasa senang mendengar itu. Memang dia jahat dan kurang ajar, sudah sepatutnya dia mengalami nasib buruk seperti itu!"

"Hwa- mo i, aku merasa heran ketika melihat engkau dan dia jalan bersama, kemudian masuk ke dalam rumah yang sunyi itu. Apakah sebenarnya yang telah terjadi?"

Kembali Cui Hong menarik napas panjang. Ia harus pandai me mbuat cerita yang lain karena tidak mungkin ia dapat me mbuka rahasianya sel-ma tugasnya me mbalas dendam belum selesai dengan lengkap. "Aku bertemu di jalan dengan dia, Toako. Dan mengingat bahwa dia pernah meno longku terlepas dari tangan orang kali tidak me mbayangkan  kekurangajaran  sehingga  tidak me mbikin ia marah. Sebaliknya, ia ma lah merasa girang sekali!”

"Toako, apa sih yang me mbuat aku menarik di hatimu?" la me manc ing pujian yang lebih terperinci.

Pemuda itu me natap tajam wajah Cui Hong, lalu berkata dengan jujur, "Tentu saja pada permulaannya ketika engkau muncul di rumah makan, yang menar ik hatiku adalah kepribadianmu, kecantikanmu. "

Cui Hong tertawa, lirih. "Aihh, Toako, di kota raja ini gudangnya wanita cantik, di setiap tempat engkau dapat mene mukan wanita yang cantik-cantik, kenapa justru tertarik kepadaku, seorang wanita biasa saja?"

"Me mang banyak wanita cantik, Hwa- moi, akan tetapi hanya ada engkau seorang saja! Engkau bukan hanya cantik man is, akan tetapi ada sesuatu dalam sinar mata mu, dalam senyummu, gerak-gerikmu, yang menarik hatiku. Apalagi setelah aku melihat sikap mu yang tabah menghadap i bahaya, dan yang lebih dari itu lagi, ada sesuatu keanehan dalam dirimu yang me mbuat aku tertarik sekali."

"Apanya yang aneh....?" Otomatis Cui Hong me lir ik ke arah tubuhnya yang dapat dilihat, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres sehingga ia disebut aneh oleh pemuda itu.

"Hwa- mo i, engkau seorang gadis yang begini cantik hidup sebatangkara dan yatim piatu na mun kaya-raya, dan tidak seperti gadis lain yang akan tinggal di ruma h dan hidup serba kecukupan, engkau malah merantau sendirian, kadang-kadang hidup serba sulit, me mbiar kan dirimu terjun ke dalam kehidupan yang penuh dengan bahaya yang menganca m keselamatan mu. Tidakkah ini a mat aneh?" "Toako, kita bukan kanak-kanak lagi, kita sudah cukup dewasa untuk bicara secara terbuka dan terang-terangan." Tiba-tiba Cui   Hong berkata karena   mendadak   ia ingin me mpero leh kepastian tentang isi hati pemuda itu, karena ia sendiri merasa betapa hatinya terpikat dan merasa suka sekali kepada Tan Siong.

"Apakah hanya karena semua itu maka engkau lalu mencari-cari aku, begitu me mperhatikan aku dan me mbelaku mati- matian sehingga engkau bentrok dengan orang-orang yang amat lihai dan engkau me nderita luka, bahkan me mpertaruhkan nyawa untukku?" Sa mbil berkata demikian, sepasang mata Cui Hong seperti mencorong dan me mandang penuh selidik.

Ditanya demikian, wajah Tan Siong nampak tegang dan bingung, sebentar pucat sebentar merah. "Aku.... aku..." Dia tergagap, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya, kemudian me lanjutkan, "Aku minta maaf sebelumnya, Hwa- moi. Memang engkau benar, kita bukan kanak-kanak lagi, sudah cukup dewasa dan seyogyanya kalau kita bicara jujur dan terus terang. Aku memang tertarik sekali kepada mu, terutama melihat persamaan antara kita, sama-sama yatim piatu dan hidup sebatangkara. Terus terang saja, sejak kita bertemu perta ma kali, hatiku tertarik dan aku kemudian merasa yakin bahwa aku.... telah jatuh cinta pada mu, Hwa- mo i. Maafkan aku.... yang lancang mulut. "

Pernyataan ini demikian tegas dan jujur sehingga me mbuat Cui Hong, yang memang sudah bersiap-siap, tetap saja tertegun dan terbelalak, kemudian ia menunduk, alisnya berkerut. Kalau saja ia bukan   Cui   Hong   yang   sudah dige mbleng oleh pengalaman-penga la man mengerikan sehingga air matanya sudah sejak dahulu habis terkuras, tentu akan ada air mata bercucuran dari matanya. Namun ia hanya termenung dan me mbisu. Melihat keadaan gadis itu yang na mpa knya berduka, Tan Siong berkata lagi. "Maafkanlah aku, Hwa-moi, kalau aku menyinggung perasaanmu. Kita baru saja berkenalan dan dalam keadaan seperti ini aku berani berlancang mulut, akan tetapi aku ingin berterus terang, Hwa-moi, agar perasaan ini tidak menyiksaku. Padahal aku pun tahu bahwa sepatutnyalah kalau engkau menolak cintaku, karena aku hanya seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan bodoh. Bisa ku hanya bermain silat dan mencangkul menggarap sawah, tidak ada harapan hidup senang di sa mping seorang sua mi seperti aku, jadi. maafkanlah aku."

"Tidak! Bukan begitu, toako, akan tetapi kalau engkau tahu.... ah, kalau engkau mengena l siapa aku "

"Aku sudah mengenalmu. Engkau seorang gadis yang cantik manis, tenang dan tabah, menentang kejahatan dan mengenal budi "

"Tidak, engkau tidak mengenal siapa aku sebenarnya!" Tiba-tiba Cui Hong bangkit berdiri dan menya mbar buntalan pakaiannya karena pada saat itu terdengar langkah kaki orang. Seorang jembel tua berdiri di a mbang pintu dan berkata lirih,

"Ssttt, ada dua orang mencari-cari orang she Tan. Apakah engkau she Tan?"

Mendengar ini, Tan Siong cepat meniup lilin itu padam dan dia mendengar suara kaki Cui Hong lari ke belakang. "Hwa- mo i, engkau bersembunyilah." kata nya dan dia sendiri pun lalu menyambar pedang yang tadi ditaruh di sudut, juga menya mbar buntalan pakaiannya dan dia meloncat ke depan, me lewati je mbel tua yang menjadi bingung dan ketakutan.

Benar seperti yang dikhawatirkan Tan Siong, ketika dia tiba di depan kuil tua, di bawah penerangan la mpu gantung tua yang dipasang oleh para jembel yang kini menyelinap pergi cerai-berai ketakutan, berdiri dua orang yang bukan lain adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan dari Bu- tong-pai dan Siauw-lim pai itu! Karena bahunya mas ih terluka dan karena maklum betapa lihainya dua orang ini, pula karena dia tidak me mpunyai per musuhan pribadi dengan mereka, ingin Tan Siong melarikan diri saja di dalam gelap. Akan tetapi dia teringat akan gadis yang bersembunyi di belakang kuil. Siapa akan me lindunginya kalau ia me larikan diri. Maka, dengan sikap hormat, sambil menalikan buntalan pakaian di punggungnya, dia bertanya.

"Kiranya Ji-wi Lo-enghiong (Dua Orang Tua Gagah) yang datang berkunjung ke tempat yang buruk ini. Apakah memang kini para murid perkumpulan-perkumpulan besar suka mendesak orang yang   sudah   terluka   dan   yang   tidak me mpunyai per musuhan pribadi sedikit pun dengan mereka?"

"Orang muda she Tan, hendaknya engkau tidak menduga buruk secara sembarangan saja. Engkau adalah murid Kun- lun-pai dan kami dua orang murid-murid Bu-tong-pai dan Siauw-lim-pai tidak me mpunyai permusuhan apa-apa denganmu. Kalau siang tadi kita bertemu sebagai lawan hanyalah karena kedudukan dan keadaan kita yang me maksa. Akan tetapi kedatangan kami yang mencarimu ini adalah karena kami me mbawa tugas yang diberikan maj ikan kami, yaitu Pui-kong-cu. Dia me ndengar tentang kegagahanmu, maka mengutus kami untuk mencar imu dan mengajakmu menghadap    Pui- kongcu     karena     dia     ingin     sekali me mperguna kan tenagamu untuk me mbantunya." kata Cia Kok Han yang pendek gendut, tokoh Bu-tong-pai itu.

Tentu saja Tan Siong merasa heran karena sekali mendengar ucapan itu. "Aku tidak mengenal siapa itu Pui- kongcu, dan aku pun tidak berniat bekerja sebagai tukang pukul orang kaya atau bangsawan."

Mendengar ucapan yang nadanya menyindir itu, Su Lok Bu berkata, "Tan Siong, tidak perlu engkau menyindir dan mengejek kami! Kami adalah bekas perwira terhormat dan kini kami bekerja dengan halal, menjadi kepala pengawal, bukan tukang pukul! Pui-kongcu sedang terancam bahaya oleh musuhnya yang amat kejam dan lihai, maka ingin mengumpulkan orang-orang yang pandai untuk me mbantunya menghadap i musuh itu. Engkau akan diangkat menjadi rekan kami dan menerima imbalan upah yang besar."

Tan Siong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala. "Maaf, akan tetapi aku tidak berniat untuk bekerja pada waktu ini, karena aku me mpunyai tugas sendiri yang penting. Harap ji-wi maafkan dan sa mpaikan kepada Pui-kongcu bahwa aku tidak dapat menerima pena-warannya."

"Bocah she Tan!" Tiba-tiba Cia Kok Han berseru marah. "Engkau sungguh besar kepala dan sombong. Engkau bersikap seolah-olah tidak me mpunyai kesalahan. Engkau telah melukai beberapa orang pengawal dan untuk itu saja engkau sudah sepatutnya ditangkap dan ditahan. Akan tetapi Pui-kongcu me maafkan kesalahanmu, bahkan menawarkan kedudukan baik dan ingin bersahabat denganmu. Namun, engkau meno laknya dengan angkuh. Kalau begitu, terpaksa kami harus menang kapmu dan menyeretmu ke depan Pui-kongcu, biar dia sendiri yang menga mbil keputusan atas dirimu!"

"Lebih baik engkau dengan suka rela ikut bersama kami agar kami tidak perlu me mperguna kan kekerasan." kata pula Su Lok Bu. Dua orang jagoan itu sudah mengeluarkan senjata masing-masing. Cia Kok Han men cabut golok besarnya, sedangkan Su Lok Bu mengeluarkan siang-kia mnya (sepasang pedang).

Tan Siong tersenyum mengejek. "Hemm, bagaimanapun alasan ji-wi, tetap saja ji-wi adalah orang-orang yang suka me ma ksakan kehendak dan menganda lkan kekuatan dan kekerasan. Dan aku mempe lajari ilmu justeru untuk menentang penindasan dan kelaliman. Aku tetap meno lak!" Berkata demikian, Tan Siong menggerakkan tangan kanannya dan sudah melolos pedang tipis yang dipergunakan sebagai sabuk dengan sarung kulit yang kuat.

"Bagus, engkau me mang murid Kun-lun-pai yang besar kepala!" kata Cia Kok Han yang sudah me nyerang dengan goloknya. Su Lok Bu juga menggerakkan sepasang pedangnya dan dua orang itu sudah mengurung Tan Siong dengan serangan-serangan dahsyat. Pemuda ini terpaksa me mutar pedangnya dan mengerahkan seluruh tenaganya, walapun dia harus menahan rasa nyeri bahu kirinya ketika tubuhnya dipakai untuk bersilat Berkali-kali terdengar suara berdencing nyaring ketika pedangnya menang kis i tiga buah senjata lawan yang amat kuat itu, dan sebentar saja Tan Siong yang sudah terluka itu terdesak hebat.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan begitu tiba di situ, bayangan hita m ini menggerakkan sebatang ranting di tangannya untuk terjun ke dalam perkelahian itu dan segera menyerang Su Lok Bu dengan gerakan-gerakan aneh. Begitu ranting meluncur, senjata sederhana ini sudah menyelinap di antara dua gulungan sinar pedang Su Lok Bu dan meluncur, menotok ke arah jalan darah di pundak kanan.

"Eh....!," Su Lok Bu terkejut bukan main karena nyaris pundaknya tertotok kalau saja dia tidak meloncat jauh ke belakang. Ketika dia dan Cia Kok Han me mandang, ternyata yang menyerang itu adalah seorang yang berpakaian serba hitam, dan mukanya juga ditutup kedok hitam dengan dua buah lubang untuk sepasang mata yang jeli dan tajam sinarnya, dan nampak pula dagunya di ma na terdapat sebuah bintik, yaitu sebuah tahi lalat hitam! Melihat tahi la lat di dagu itu dan melihat bentuk tubuh yang mudah diduga dimiliki seorang wanita, Cia Kok Han dan Su Lok Bu terkejut bukan ma in. Mereka belum pernah berte mu dengan musuh besar Pui-kongcu, wanita iblis yang kabarnya sedang berusaha untuk me mbunuh Pui-kongcu dan Koo Cai Sun, akan tetapi dari kedua orang itu yang mengingat-ingat wajah wanita yang menjad i musuh mereka, yang teringat oleh mereka hanyalah bahwa wanita itu me miliki tanda tahi lalat hitam di dagunya. Dan wanita berkedok ini pun me mi-liki tahi lalat di dagunya.

Maka tanpa banyak cakap lagi Su Lok Bu dan Cia Kok Han menerjang wanita berkedok itu yang hanya memegang sebatang ranting kayu sederhana. Melihat ini, tentu saja Tan Siong cepat menggerakkan pedangnya menyambut Cia Kok Han. Dia pun merasa heran me lihat munculnya wanita berkedok dan berpakaian hitam ini, akan tetapi yang jelas wanita ini tadi telah menolongnya, me mbantunya menghadapi dua orang pengeroyoknya yang lihai, maka kini melihat betapa dua orang pengeroyok itu berbalik me nyerang si wanita berkedok, yang hanya bersenjata sebatang ranting, tentu saja dia pun cepat me mbantunya dan me mutar pedangnya.

Kini perkelahian terjadi lebih ra ma i dan seru lagi, di bawah penerangan lampu gantung yang remang-re mang, Tan Siong me mutar pedangnya yang- tipis melawan C ia Kok Han yang me megang golok besar dan berat sedangkan wanita berkedok itu melawan Su Lok Bu yang me megang sepasang pedang dengan meng gunakan sebatang ranting kecil saja. Dan setelah kini me lawan Cia Kok Han seorang, biarpun pundak di sekitar pangkal lengan kiri masih terasa nyeri, Tan Siong dapat meng imbangi permainan lawan. Untung bahwa senjatanya adalah sebatang pedang yang tipis dan r ingan, maka dia dapat bergerak lebih cepat daripada lawannya. Dia tidak pernah mau menang kis karena senjata lawan amat berat, namun dengan kecepatan gerak pedangnya, dia me mbuat Cia Kok Han menjad i repot juga.

Yang lebih hebat adalah wanita itu. Biarpun senjatanya hanya sebatang ranting kecil, namun ternyata gerakan rantingnya itu ma mpu me mbuat Su Lok Bu menjad i mati langkah! Sepasang pedangnya bahkan hanya sibuk menang kis saja karena ranting itu bergerak secara aneh dan cepat, juga berbahaya karena ujungnya selalu me luncur ke arah jalan darah yang berbahaya.

Lewat lima puluh jurus, Su Lok Bu me ngeluarkan seruan kaget dan dia pun me loncat jauh ke belakang. Bajunya robek dan hampir saja pedang kirinya terlepas dari genggaman karena tiba-tiba tangan kirinya menjad i setengah lumpuh terkena totokan pada pundak kir inya. Mendengar temannya berseru mengeluh dan meloncat ke belakang, Cia Kok Han yang juga terdesak hebat itu melompat pula ke belakang. Mereka ma klum bahwa tanpa bantuan, mereka tidak akan ma mpu menang, maka tanpa dikomando lagi, keduanya lalu me larikan diri untuk menga mbil balabantuan.

Akan tetapi ketika bala bantuan tiba dan mereka datang kembali bersa ma Koo Cai Sun dan dua puluh lebih pasukan pengawal, kuil tua itu telah kosong. Tak seorang pun jembel yang biasanya me menuhi kuli itu mere ka te mukan, apalagi dua orang bekas lawan tadi.

Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong bergidik mendengar penuturan dua orang jagoan itu bahwa telah muncul seorang wanita berpakaian serba hitam, berkedok dan dagunya bertahi lalat yang lihai sekali. Biarpun mulut mereka diam saja, namun di dalam hati, mereka mend uga-duga bahwa besar sekali kemungkinan wanita berkedok itu adalah Kim Cui Hong yang mereka takuti!

Dugaan mereka me mang tepat. Wanita berkedok itu adalah Kim Cui Hong. Ketika Cui Hong mendengar bahwa ada dua orang mencar i Tan Siong, ia pun cepat pura-pura lari ke belakang kuil. Di dalam gelap ia cepat mengenakan pakaian hitam dan kedoknya, lalu keluar lagi dan me mbantu Tan Siong yang sedang terdesak. Dan setelah dua orang lawan itu me larikan diri, ia pun cepat meloncat ke dalam kegelapan ma lam dan me nghilang.

Tan Siong yang berterima kasih itu berusaha mengejar, namun dia kehilangan jejak wanita berkedok itu yang telah lenyap dan terutama sekali pakaian hita mnya me mbuat ia sukar dicari atau dikejar. Tan Siong masih merasa penasaran dan sampai pagi dia berkejaran di sekitar tempat itu, mencari wanita berkedok dan juga mencari Ok Cin Hwa yang me larikan diri tadi,

Setelah matahari mengusir kegelapan ma la m, dia tiba di dekat tembok kota raja dan di tempat yang sunyi, di bawah sebatang pohon, dia melihat Cin Hwa berdiri sambil me mbawa buntalan pakaiannya.

"Hwa- mo i....!" katanya girang dan cepat dia berlari mengha mpiri gadis Itu.

Gadis itu me mandangnya dan mengeluh, "Ah, agaknya tidak ada tempat a man lagi di kota raja bagiku, Tan-toa-ko. Aku ingin pergi saja dari kota raja."

Sejenak Tan Siong menga mati gadis itu, dari kepala sampai ke kakinya, kemudian berkata, "Pergi ke manakah, Hwa- moi? Kemana pun sa ma saja bagimu, di mana- mana tentu terdapat orang orang jahat, akan tetapi perlu apa engkau takut? Takkan ada yang dapat mengganggumu."

Cui Hong mengerutkan alisnya dan me ma ndang taja m. "Apa maksudmu. ?"

"Tidak apa-apa.... eh, Hwa-moi, lehermu itu terkena apakah?" Dan dia maju me ndekat.

"Ada apa?" Cui Hong meraba-raba lehernya dan tidak mene mukan sesuatu.

"Leher mu seperti kena noda, maaf, biar kubersihkan!" Dengan gerakan cepat sekali Tan Siong me ngulur tangannya ke arah leher gadis itu. Kalau saja Cui Hong tidak hendak menye mbunyikan kepandaiannya, tentu dengan mudah ia menge lak atau menang kis. Akan tetapi ia harus menye mbunyikan rahasianya dan ia pun ingin sekali tahu di lehernya ada apa karena ia percaya bahwa pe muda itu bersungguh-sungguh.

Akan tetapi sebelum jari-jari tangan Tan Siong menyentuh lehernya, jari-jari itu me mba lik ke arah dagunya dan sekali menowe l, lecet dan hapuslah bedak tebal yang menutup i dan menye mbunyikan sebuah tahi lalat di dagu dan nampaklah kini tahi lalat itu!

"Nona, terima kasih atas bantuanmu semalam sehingga aku dapat melawan dua orang yang tangguh itu!" kata Tan Siong sa mbil menjura ke arah Cui Hong.

"Leher mu seperti kena noda, maaf biar kubersihkan!" Dengan gerakan cepat sekali Tan Siong me ngulur tangannya ke arah leher gadis itu.

"Tan-toako, kenapa sikapmu seperti ini? Memanggil Nona padaku. "

Tan Siong menjura dan tersenyum. "Tentu na ma mu bukan pula Ok Cin Hwa. "

Cui Hong meraba dagunya dan tahu bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan rahasianya lagi. Ia pun menarik napas panjang menga mbil tempat bedak dari buntalan pakaiannya, juga sebuah cermin dan cepat ia menutupi lagi tahi lalat di dagunya. "Aku harus menutupi lagi cir i yang me mbuat aku dikenal ini "

"Akan tetapi, mengapa engkau bersikap begini? Apa artinya penyamaran ini, berpura-pura sebagai seorang gadis yang le mah?" Tan Siong bertanya penasaran.

"Kau pun tadinya bersikap sebagai seorang pe muda petani yang lemah, Toako aku sengaja menyamar karena memang ada sebabnya yang teramat penting. Akan tetapi sekarang aku ingin tahu lebih dulu. Bagaimana engkau bisa menduga bahwa aku adalah wanita berkedok se malam?"

Tan Siong tersenyum, senyum pahit. "Sudah terlanjur aku menga ku kepada mu, Nona. Aku tertarik dan.... cinta padamu, tentu saja segalanya yang ada padamu tidak akan pernah dapat kulupakan. Matamu di balik kedok itu, dan juga sepatumu yang agaknya tergesa-gesa belum sempat kauganti pagi ini, menjelaskan segalanya. Karena masih ragu, aku sengaja menghapus penutup tahi lalat di dagu mu itu."

"Dan dengan adanya kenyataan ini, apakah engkau masih tetap memiliki perasaan itu terhadap aku, Tan-toako?" Cui Hong bertanya, me mandang tajam penuh selidik.

Yang dipandang balas me mandang dengan taja m. Kemudian Tan Siong berkata,, suaranya tegas, "Nona, apakah cinta harus berubah-ubah? Semenjak perta ma kali, aku telah jatuh cinta kepadamu, dan bagiku, cinta takkan pernah berubah sela ma aku hidup."

Cui Hong menarik napas panjang. "Hemm, aku sungguh sangsi apakah pendirian mu itu masih akan sa ma kalau engkau sudah mendengar riwayat dan keadaanku, Toako." Ia merasa sedih me mbayangkan betapa pemuda yang dikaguminya ini akan me mandang rendah kepadanya nanti kalau ia me mbuka rahasia dirinya.

"Ceritakanlah, nona. Aku pun ingin sekali tahu tentang dirimu yang diliputi penuh rahasia itu. Siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau menya mar sebagai seorang gadis la in yang le mah? Apa artinya se mua ini?"

Cui Hong lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan, dan Tan Siong juga menga mbil tempat duduk di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah. Mereka duduk berhadapan dan pemuda itu me ma ndang wajah Cui Hong penuh perhatian, hatinya tertarik sekali karena dia dapat menduga bahwa tentu gadis ini me mpunyai riwayat yang amat hebat sehingga selain me miliki ilmu silat yang tinggi, juga me nyimpan rahasia dan menya mar sebagai gadis la in yang le mah. Sebaliknya, Cui Hong tadinya ragu-ragu, akan tetapi karena Tan Siong adalah seorang pemuda yang selama ini selalu me mbe lanya, dan karena Tan Siong telah dapat menyingkap rahasianya bahwa ia seorang gadis yang menya mar, tidak ada jalan lain baginya kecuali me mbuat pengakuan.

"Tan-toako, aku bukanlah seorang gadis seperti yang kausangka, bukan seorang Ok Cin Hwa yang terhormat dan bersih. Na maku yang sesungguhnya adalah Kim Cui Hong "

"Hemm, na ma yang indah dan gagah... ..." Tan Siong me motong, bukan pujian yang kosong melainkan pujian yang me mang sengaja dilakukan untuk mendorong gadis itu agar lebih lancar bercerita.

Cui Hong tersenyum. "Engkau selalu me mujiku, Toako. Betapa pedih me mbayangkan bahwa pujian mu itu sebentar lagi akan menjad i celaan dan cacian."

"Teruskanlah, Nona Kim yang gagah perkasa, aku ingin sekali me ndengar cerita mu."

"Tan-toako, aku hanyalah seorang wanita yang penuh dengan aib dan penghinaan, seorang sisa manusia yang hanya me mpunyai satu tujuan hidup, yaitu me mbalas dendam kepada musuh-musuhku."

Tan Siong men gerutkan alisnya. Tak enak rasa hatinya mendengar bahwa gadis ini menyimpan dendam kebencian yang amat besar di dalam hatinya.

"Apakah yang terjadi dengan dirimu, Nona Kim?"

"Aku.... aku bukan seorang gadis suci lagi, bukan seorang perawan seperti yang kausangka, Toako. Aku menjadi korban kekejian e mpat orang laki-laki yang telah menawan ku, me mper kosaku dan me mper mainkan, secara biadab. Aku sudah   hampir    mati,   namun   agaknya   Tuhan   sengaja me mbiarkan aku hidup sehingga aku dapat me mpelajari ilmu dan kini aku dapat melakukan balas dendam terhadap empat orang musuh besarku itu. Dan Tuhan akan me mberkahi aku yang telah mener ima aib yang amat hebat."

"Nona, dendam adalah racun yang hanya akan merusak batin sendiri "

"Biarpun demikian, aku tetap akan me mba las denda m!" "Dendam kebencian merupakan suatu kejahatan, Nona,

karena hal itu akan melahirkan perbuatan yang kejam dan

jahat."

"Tak perduli, aku tetap akan membalas denda m!"

"Dendam kebencian adalah api yang akan memba kar diri sendiri, karena itu, harap engkau dapat menyadarinya, Nona. Tuhan tidak akan me mber kahi orang yang menaruh denda m." Sekali lagi Tan Siong me mbujuk.

"Tidak! Tuhan pasti akan me mberkahi ku dan me mbantuku untuk menghuku m mereka yang lebih jahat daripada binatang yang paling buas itu. Mereka harus merasakan penghinaan seperti yang pernah kualami, merasakan kesakitan seperti yang pernah kuderita. Dan itulah satu-satunya tujuan hidupku. Dan untuk me laksanakan pe mbalasan dendamku itu, terpaksa aku menyamar sebagai Ok Cin Hwa yang lemah. Hanya kepadamu seoranglah aku me mbuka rahasiaku ini, toako dan aku percaya bahwa toako tentu akan menyimpan rahasia ini dari orang lain."

Tan Siong mengangguk. "Aku tidak akan me mbuka rahasiamu kepada siapa pun juga, Nona Kim Cui Hong. Akan tetapi, sekali lagi aku me mperingatkan, mengingat akan persahabatan antara kita, hendaknya engkau menyadari bahwa dendam kebencian a matlah tidak baik bagi dirimu sendiri. Karena itu, sebelum terlambat, hapuskan saja kebencian itu dari lubuk hatimu."

Cui Hong mengerutkan alisnya. "Hem, enak saja engkau bicara de mikian, Tan-toako, karena engkau tidak menga la mi sendiri penderitaan lahir batin seperti yang kualami. Aku yang pada waktu itu seorang gadis yang le mah, hanya me miliki sedikit ilmu silat, telah ditawan orang orang jahat. Ayahku dan seorang suheng-ku yang hendak menolongku, mereka bunuh di depan mataku, kemudian aku mereka perkosa dan permainkan sa mpai nyaris tewas. Mereka me mbuang tubuhku begitu saja di dalam hutan. Akan tetapi. Tuhan agaknya me mang sengaja me mbiarkan aku hidup untuk dapat menuntut balas dan sekarang engkau, yang kuanggap sebagai seorang sahabatku yang baik, me mberi nasihat agar aku tidak me mba las dendam dan me mbiarkan iblis- iblis berwajah manus ia itu berkeliaran?"

"Nona, sudah menjad i tugas dan kewajiban kita yang sejak kecil me mpe lajari ilmu silat dengan susah payah, untuk kemudian me mpergunakan ilmu itu dalam perjuangan me lawan kejahatan dan membe la orang-orang yang lemah tertindas. Akan tetapi, ada garis pemisah yang a mat besar antara membela kebenaran dan keadilan, dan pemba lasan dendam! Kalau engkau menentang perbuatan-perbuatan jahat dari empat orang itu, andaikan mereka sekarang masih me lakukannya, tentu saja aku tidak akan me-nyalahkanmu. Akan tetapi kalau engkau mencari dan menentang mereka hanya karena dendam pribadi, sungguh hal itu amat tidak baik, Nona. Dendam menjad i satu ikatan yang   akan menc iptakan karma, denda m- mendenda m dan  balas- me mba las. Memang, tak dapat disangkal bahwa perbuatan empat orang itu terhadap dirimu amatlah jahatnya, amatlah kejamnya. Akan tetapi, kalau engkau kini mencar i dan me mbunuh mere ka, bukankah perbuatanmu itu sa ma kejam dan jahatnya? Lalu mana letak perbedaan antara yang benar dan yang tidak benar, yang baik dan yang jahat?"

Cui Hong tersenyum, akan tetapi senyumnya masa m dan mengejek. Kemarahan menyelinap di dalam hatinya karena ia merasa bahwa pemuda yang dikaguminya ini agaknya hendak mengha langi nya me mba las denda m. Padahal, pemuda ini mengaku cinta padanya.

"Sudahlah, toako. Agaknya dalam hal ini tidak ada kecocokan pikiran di antara kita. Engkau sendiri, apakah yang kaucari di sini?"

"Riwayatku tidak seburuk riwayatmu, Nona, walaupun tak dapat dibilang menyenangkan. Sejak berusia tiga belas tahun, aku dibawa oleh seorang tosu Kun-lun-pai ke Pegunungan Kun-lun-san untuk belajar ilmu silat. Setelah belajar belasan tahun la manya dan tamat belajar, aku turun gunung dan pulang ke dusun te mpat tinggal orang tuaku. Akan tetapi aku tidak me lihat lagi ayah dan ibuku dan menurut penuturan penduduk yang menjad i tetangga kami, ayah dan ibuku sudah la ma men inggalkan dusun itu. Seluruh harta kekayaan orang tuaku telah dikuasai oleh pa man ku, adik ibuku, yang menipu mereka. Orang tuaku meningga lkan dusun sebagai orang miskin dan akhirnya meninggal dunia entah di mana. Karena itu, sekarang aku sedang berusaha mencari pa man ku itu."

"Ah! Tentu untuk me mbalas dendam atas kematian orang tuamu kepada pa man mu!" seru Cui Hong penuh harap.

Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala sebagai jawaban. "Tidak, Nona. Aku sama sekali tidak ingin me mba las dendam kepada pa manku."

"Aku mencar inya hanya untuk bertanya di mana kuburan ayah ibuku. Itu saja."

"Ahhh!" Cui Hong merasa kecewa mendengar penjelasan

ini.

Keduanya diam sejenak, tenggelam dalam la munan

masing-masing. Cui Hong merasa bahwa setelah mendengar keadaan dirinya, tentu pemuda itu me mandang kepadanya dengan hati mere mehkan. Ia hanya seorang gadis yang telah terhina! Diam- diam ia merasa sedih, akan tetapi kesedihannya ditutupinya dengan sikap acuh. Ia tidak perduli lagi. Biarlah Tan Siong mence moohkan nya, biarlah me mbencinya. Memang agaknya hidupnya hanya bergelimang dengan kebencian- kebencian, baik dibenci maupun me mbenci. Se mua ini bahkan menyuburkan denda mnya dan ia pasti berhasil! Sementara itu, Tan Siong juga tenggelam dalam kesedihan. Kiranya gadis itu bukanlah seorang wanita sembarangan, melainkan seorang gadis yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi juga seorang gadis yang penuh dengan dendam kebencian. Jelaslah bahwa dia sama sekali tidak pantas mengharapkan seorang gadis perkasa seperti itu, dan yang nampaknya juga kaya raya, dapat menerima uluran cinta kasihnya, cinta kasih seorang pemuda mis kin yang selain tidak me miliki apa-apa, juga keturunan petani biasa saja. Di samping itu, juga d ia berbeda paham dengan gadis itu. Gadis yang batinnya penuh dengan racun dan api dendam kebencian! Dia merasa bersedih mengingat akan hal itu. Ingin dia mengingatkan gadis itu, mencegahnya melanjutkan dendam kebencian yang hanya akan meracuni hidupnya sendiri.

Akhirnya yang me mbuka percakapan dan me mecahkan kesunyian itu adalah Cui Hong, karena gadis ini makin la ma semakin merasa tidak enak saja. "Tan-toako, setelah mendengar riwayatku, tentu engkau akan me mandang rendah kepadaku..."

"Ah, mengapa begitu, Nona? Sama sekali tidak, hanya aku.... aku merasa bersedih kalau meng ingat bahwa engkau sedang merusak kehidupan mu dengan dendam itu. Sekali lagi, aku minta dengan sangat, sukalah engkau menghapus saja dendam kebencian yang hanya akan meracuni batinmu sendiri itu."

Cui Hong mengerutkan alisnya. "Tan-toako, engkau tidak berhak menca mpuri urusan pribadiku!"

Pemuda itu menar ik napas panjang. "Maaf, aku bukan bermaksud menca mpuri hanya aku merasa kasihan kepadamu, Nona."

"Kasihan. ?"

"Ya, aku merasa kasihan karena racun dendam kebencian itu akan me mbuat mu menderita sendiri."

Makin tak senang rasa hati Cui Hong. "Biarlah, aku yang mender ita, bukan engkau, Toako. Nah, selamat tinggal dan terima kasih atas segala bantuanmu yang kau lakukan kepada Ok Cin Hwa."

Gadis itu me mbalikkan tubuh dan hendak pergi.

"Nona Kim...!" Tan Siong berseru dan Cui Hong berhenti me langkah, me mbalik dan me mandang dengan alis berkerut akan tetapi pandang mata penuh harapan. Tak sedap rasa hatinya harus berpisah dari pemuda yang dikaguminya ini dalam keadaan berbeda paha m.

"Sekali lagi kuminta kepadamu, Nona, hapuskanlah dendam itu. "

Hampir saja Cui Hong marah- marah dan me maki pe muda itu, kalau saja ia t idak ingat betapa beberapa kali pe muda itu telah me mbelanya mati- matian. "Sudahlah, jangan menca mpuri urusan pribadiku, selamat tinggal!" katanya dan ia meloncat jauh lalu lari secepatnya meninggalkan pemuda itu.

Tan Siong berdiri termangu-ma ngu, hatinya penuh penyesalan. Dia tahu bahwa dia menc inta Cui Hong. Cintanya tidak berubah walaupun dia mendengar bahwa gadis itu ternyata bukan seorang perawan lagi, melainkan seorang gadis yang pernah diperkosa oleh e mpat orang penjahat. Bahkan dia merasa rendah diri kalau dia meng ingat bahwa perempuan yang bernama Ok C m Hwa itu, yang tadinya disangkanya seorang perempuan yang le mah tak berdaya dan me mbutuhkan perlindungan, ternyata adalah seorang wanita perkasa yang tingkat kepandaiannya mungkin tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri, seorang wanita lihai yang agaknya kaya-raya pula. Dan dia merasa berduka melihat kenyataan pada diri wanita itu yang penuh dendam kebencian. Orang yang diracuni dendam kebencian seperti itu, mana mungkin dapat menc inta?

Sementara itu, Cui Hong memperguna kan ilmunya berlari cepat, dengan tubuh ringan seperti seekor kijang ia berlompatan dan berlarian cepat sekali. Sebentar saja ia sudah men inggalkan Tan Siong jauh sekali dan akhirnya ia berhenti di tepi sebuah anak sungai yang airnya mengalir dengan le mbut di antara batu-batu yang membuat air itu menjadi jernih dan menimbulkan suara berteriak tiada hentinya.

Cui Hong duduk di tepi sungai itu, di atas rumput hijau yang tebal. Ia tidak perduli pakaiannya menjadi agak basah karena rumput itu segar dan basah. Hatinya terasa berat. Kosong dan sepi. Ia merasa seperti kehilangan seorang sahabat yang dikagumi dan amat disukainya. Bahkan ia hampir merasa yakin bahwa ia telah jatuh cinta kepada Tan Siong. Pria itu sa ma sekali berbeda dengan pria-pria la in yang pernah dijumpa inya. Di dalam pandang matanya, sama sekali tidak nampa k bayangan tidak sopan atau kurang ajar, me lainkan suatu kemesraan yang mendalam. Juga sikapnya amat baik, le mbut dan kuat. Dan betapa gagahnya pria itu ketika me mbela dan melindunginya ketika ia mas ih menjadi seorang wanita lemah. Pe mbelaan yang tanpa pamr ih! Tan Siong adalah seorang pendekar budiman yang me ngagumkan hatinya dan betapa akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada seorang pria seperti itu. Sebelum bertemu dengan Tan Siong, dibakar denda mnya, ia selalu me ma ndang pria sebagai mah luk yang tidak sopan dan kurang ajar, yang menganggap wanita sebagai barang per mainan belaka. Akan tetapi, anggapan itu me mbuyar ketika ia berte mu dengan Tan Siong. Ia jatuh cinta kepada pe muda murid Kun-lun-pai itu! "Tidak!" tiba-tiba Cui Hong me mbantah suara hatinya sendiri, la tidak boleh jatuh cinta, sedikitnya untuk se mentara ini ia tidak boleh me ngikatkan diri dengan siapapun juga, apalagi dengan ikatan cinta. Ia harus me musatkan perhatiannya kepada musuh- musuhnya. Masih ada dua orang musuh yang belum dibalasnya.

Dan dia maklum bahwa kini tidak akan mudah lagi baginya untuk dapat berhadapan dengan Cai Sun dan Ki Cong. Semenjak perkelahian itu, ketika ia muncul dengan berkedok tentu dua orang musuhnya itu akan menjadi se ma kin hati-hati dan tidak se mbarangan keluar rumah tanpa pengawalan yang ketat. Ia harus mencari akal. Ia cukup bersabar untuk menyusun siasat. Sudah bertahun-tahun ia menahan kesabarannya dalam denda m. Kalau sekarang hanya menghadap i hambatan sela ma beberapa hari atau beberapa bulan saja, tidak ada artinya baginya. Sekali waktu, pasti ia akan melihat lubang dan kesempatan untuk dapat berhadapan berdua saja dengan musuh-musuhnya dan me mbalas dendam sepuasnya, seperti yang telah dilakukan terhadap Louw Ti. Ia cukup sabar.

Dugaan Cui Hong me mang benar. Bukan saja Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun menjad i terkejut dan ketakutan dengan kemunculan Cui Hong dengan kedoknya sehingga mereka selalu tinggal di dalam gedung keluarga Pui yang dijaga dengan lebih ketat lagi, akan tetapi juga Ki Cong mengerahkan orang-orangnya untuk mencari wanita yang menganca m keselamatannya itu. Dia mendatangkan jagoan- jagoan dan menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang ma mpu menangkap atau me mbunuh wanita berna ma Kim Cui Hong yang me mpunyai tanda tahi lalat di dagunya.

Hampir setiap hari dan ma lam kedua orang itu berbincang- bincang dan selalu yang menjadi bahan percakapan mereka adalah Kim Cui Hong. "Hayaaa, sungguh celaka!" Pada suatu malam Ki Cong menge luh kepada Cai Sun yang duduk di depannya. Mereka selalu hanya berdua saja kalau me mbicarakan Cui Hong karena bagaimanapun juga, apa yang pernah mereka lakukan terhadap gadis itu merupakan rahasia pribadi mereka. "Menghadapi seorang perempuan saja, kita menjad i begini tak berdaya. Untuk keluar saja tidak berani. Koo-toako, apakah selamanya kita akan begini saja, bersembunyi di dalam rumah sendiri seperti tikus-tikus yang takut keluar karena ada kucing yang siap menerkam? Kalau perempuan iblis itu belum dapat kita bekuk, maka hidup akan menjad i penderitaan besar bagi kita!" Bangsawan yang kaya-raya itu mengepal tinju dan mukanya menjadi merah padam karena menahan kemarahannya.

"Pui- kongcu, kami sudah berusaha sekuat tenaga, menyebar orang-orang untuk me lakukan penyelidikan. Akan tetapi ibiis itu agaknya pandai meng hiiang karena biarpun semua te mpat telah diperiksa, tidak ada yang mene mukan jejaknya." kata Cai Sun.

"Hemm, lalu, apakah kita harus tetap begini saja? Bagaimana kalau manusia-manus ia tolol itu tidak ma mpu mene mukan jejaknya untuk sela manya? Apakah selamanya kita lalu menjadi orang-orang huku man di rumah sendiri?" tanya Pui Ki Cong dengan jengkel.

"Jangan khawatir, Kongcu. Saya me mpunyai akal baik yang segera saya suruh mereka me laksanakan, tentu dalam waktu singkat iblis pere mpuan itu akan dapat kita ketahui te mpat sembunyinya."

Wajah Pui Ki Cong yang tampan pesolek itu, yang selama beberapa pekan ini selalu muram, kini na mpak agak berseri dan dia menatap wajah bulat tukang pukulnya itu dengan penuh harapan. "Apakah akalmu itu, Koo-toako? Lekas beri- tahukan padaku." "Begini, kongcu. Untuk me ncari jejak siluman itu, me mang tidak mudah karena ia me miliki iimu kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, saya kira tidak akan begitu sukar untuk mencari jejak perempuan yang berna ma Ok Cin Hwa itu. Kita tangkap dulu wanita itu. "

"Huh, dasar engkau paling gila perempuan! Dalam keadaan begini engkau masih me mikirkan wanita itu? Gila! Untuk apa menang kap pere mpuan itu, Toa-ko?"

"Kongcu, Ok Cin Hwa itu selalu dilindungi oleh pe muda yang bernama Tan Siong itu, ma ka besar sekali kemungkinannya ia mengetahui di mana Tan Siong bersembunyi. Dan meng ingat bahwa ketika Tan Siong dikeroyok oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dia dibela oleh siluman itu, ma ka kalau kita sudah dapat menangkap Tan Siong, tentu dapat pula mengetahui di mana adanya Kim Cui Hong. Bahkan mungkin juga Ok Cin Hwa tahu dan mengenal siluman itu."

Pui Ki Cong men gangguk-angguk dan wajahnya berseri penuh kegirangan dan harapan.

"Bagus sekali kalau begitu! Cepat panggil Cia-enghiong dan Su-enghiong, kita atur dan rencanakan siasat itu. Ok Cin Hwa harus dapat ditemukan dan ditangkap!"

Tak la ma kemudian, dua orang jagoan itu datang menghadap dan mereka bere mpat lalu mengatur siasat untuk menyebar orang-orang, sekali ini bukan mencari Kim Cui Hong me lainkan mencari seorang wanita berna ma Ok Cin Hwa. Semua anak buah yang bertugas mencar i wanita ini dibekali keterangan lengkap tentang ciri-ciri Ok Cin Hwa dan mula ilah para penyelidik itu bertebaran di seluruh kota pada hari itu untuk mencari Ok Cin Hwa.

Tentu saja hal ini segera didengar oleh Cui Hong dan gadis perkasa ini me lihat munculnya suatu kese mpatan yang amat baik baginya. Ia pun cepat menyamar sebagai Ok Cin Hwa dan sengaja me mper lihatkan dirinya di pasar. Selagi ia me milih buah-buahan di pasar, empat orang laki-laki mengha mpir inya dan mengurungnya.

"Nona Ok C in Hwa?" tanya seorang di antara mere ka yang tinggi kurus dan ber mata juling.

"Ya.„?" Cui Hong berlagak kaget dan heran menghent ikan kesibukannya me milih buah.

"Mari kau ikut dengan kami. Koo-toako ingin berte mu denganmu." kata pula si mata juling.

Kembali Cui Hong berlagak. Sambil mengerutkan alisnya ia menjawab, suaranya tak senang. "Harap kalian jangan bersikap tidak sopan. Aku tidak mengena l siapa itu Koo-toako. Pergilah dan jangan mengganggu."

Empat orang laki-laki itu saling pandang. "Nona Ok, Koo- toako adalah kenalan mu yang baik, dia adalah penolongmu dan dia minta kepada kami untuk mencar imu. Dia adalah jagoan yang pernah menyelamatkanmu di rumah makan...

Si mata juling men iru kata-kata Cai Sun yang sudah me mesan kepada para anak buah itu kalau-kalau bertemu dengan Ok Cin Hwa dan wanita itu menanyakan dirinya.

"Ahhh....dia....?" Cui Hong me mperlihatkan sikap ge mbira. "Tapi.... kenapa bukan dia sendiri yang datang mencariku?"

"Dia   sedang   sibuk   sekali,   dan   kami   disuruhnya menje mputmu, Nona. Kami sudah menyiapkan sebuah kereta di luar pasar. Marilah, Koo-toako ingin sekali me mbicarakan urusan yang amat penting denganmu."

"Akan tetapi...." Cui Hong berlagak meragu seperti pantasnya seorang wanita baik-baik yang diundang mengunjungi seorang pria, ".... eh, baiklah kalau begitu."

Ia lalu me mbereskan pakaiannya yang cukup bersih dan indah, lalu tangannya meraba sanggul dan dengan diiringkan empat orang itu, ia pun keluar dari pasar. Dengan sebuah kereta, ia lalu diajak pergi ke ru mah gedung keluarga Pui. Hati para anak buah itu merasa lega sekali karena ternyata mereka dapat me mbawa Nona Ok Cin Hwa sede mikian mudahnya. Mereka sudah khawatir kalau-kalau muncul pria yang bernama Tan Siong, yang biasanya melindungi wanita ini dan kabarnya Tan Siong itu lihai se kali. Ternyata mereka dapat mene mukan dan mengajak Ok Cin Hwa ke gedung keluarga Pui tanpa halangan apa pun dan tidak ada orang muncul mengganggu kelancaran tugas mereka. Dengan hati bangga karena tentu mereka akan menerima hadiah, empat orang itu mengawal Ok Cin Hwa memasuki gedung.

Tentu saja hati Cai Sun menjadi girang bukan main me lihat Ok Cin Hwa dapat didatangkan ke dalam gedung itu. Bukan hanya girang karena mengharapkan dapat mene mukan tempat persembunyian musuh besarnya dari wanita ini, akan tetapi juga mengharapkan untuk dapat me miliki wanita yang telah me mbuatnya tergila-gila itu.

"Moi-moi.... Akhirnya engkau datang juga....!" serunya dengan gembira sekali sa mbil men ge mbangkan kedua lengannya, kemudian me megang lengan janda itu, tanpa me mperdulikan sopan santun dan seperti lupa bahwa Pui Ki Cong juga berada di situ.

Cui Hong me nga mbil sikap malu-malu dan dengan halus ia me lepaskan lengannya dari pegangan Cai Sun sa mbil me lir ik ke arah Pui Ki Cong, dia m-dia m menekan perasaannya yang terguncang penuh kebencian. "Aih, ln-kong...! Saya dipanggil ke sini, ada keperluan apakah?"

"Ha-ha, engkau masih menyebutku ln-kong? Moi- mo i, bukankah kita sudah berjanji bahwa engkau selanjutnya akan menyebut Koko (Kanda) kepadaku? Ha-ha-ha!" Karena merasa di tempat a man, kumat kemba li sifat Cai Sun yang mata keranjang dan perayu wanita. "Koo-inkong, mana saya berani? Saya hanyalah seorang janda yang hidup sebatangkara. " Cui Hong me mper ma inkan

senyumnya dan mengerling tajam ke arah Pui Ki Cong yang sejak tadi menatap dengan tajam penuh perhatian.

Dalam hal kegemaran terhadap wanita, tingkat Pui Ki Cong tidak kalah oleh Koo Cai Sun. Maka, melihat sikap Cui Hong yang beberapa kali tersenyum dan melirik ke arahnya, dia pun menduga bahwa tidak akan sukar baginya untuk mendekati wanita ini. Sikap wanita ini menunjukkan bahwa ia "ada perhatian" terhadap dirinya. Dan Ki Cong percaya bahwa dalam segala hal, kecuali ilmu silat, dia me miliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pe mbantunya itu. Dia lebih muda beberapa tahun, juga dia lebih kaya, dengan kedudukan yang me mbuatnya menjadi seorang bangsawan. Dalam hal wajar, dia merasa yakin bahwa dia lebih ta mpan. Cai Sun me mpunyai muka yang bulat dan bersih, pandai meray u, suka bergurau dan banyak ketawa, akan tetapi tidak dapat dibilang tampan atau gagah. Perutnya gendut dan tubuh yang kegemukan itu tentu tidak menarik hati wanita. Sebaliknya, dia berwajah tampan,., jantan dan tubuhnya pun tidak gendut, bahkan agak tinggi. Jantungnya   berdebar   juga me lihat kecantikan wanita berna ma Ok Cin Hwa yang janda muda ini. Akan tetapi, me lihat sikap yang akrab dari Cai Sun, dia mengerutkan alisnya dan ingin me mper lihatkan kekuasaannya di atas pe mbantunya itu kepada Ok Cin Hwa.

"Koo-toako, bukan tempatnya kita bicara di luar. Mari, ajak Nona ini masu k ke dalam agar kita dapat bicara dengan tenang dan aman. Marilah, Nona Ok, silakan masu k ke dalam rumah ku."

Cut ftorrg tersenyum mana, r mttum bahwa Pui Ki Cong mulai me mper lihatkan sikap bersaing dengan Cai Sun, dan hal ini menandakan bahwa pancingannya berhasil. Ia telah berhasil menarik perhatian musuh utamanya itu! Sa mbil tersenyum manis, ia lalu bangkit. "Kiranya Kongcu yang menjad i tuan rumah? Koo-inkong, siapakah Kongcu ini dan mengapa saya diajak ke rumahnya ini?"

Dia m-dia m Cai Sun mendongkol juga.

Percakapan antara Ok Cin Hwa dan Pui Ki Cong itu dirasakannya seperti menyeretnya turun harga! "Marilah kita masu k dan kita bicara di dalam!" katanya singkat dan mereka pun masu k ke dalam gedung besar itu. Biarpun di dalam batinnya, Cui Hong sa ma sekali tidak tertarik akan kemewahan dan kekayaan berlimpah yang berada di dalam gedung, namun ia me maksa diri me mper lihatkan kekaguman dan berkali- kali me ngeluarkan seruan kagum sehingga Pui Ki Cong merasa girang dan bangga, sebaliknya Cai Sun se ma kin mura m wajahnya. Dia teringat betapa hatta keVayaannya habis ketika tokonya dibakar orang, dan dia dapat wietujurga bahwa pembakarnya tentulah musuh besar yang kini sedang ditakutinya.

Cui Hong diajak masu k ke ruangan dalam dan Cai Sun segera disuruh me manggil dua orang jagoan yang mengepalai pasukan pengawal keluarga Pui, yaitu Cla Kok Han dan Su Lok Bu. Melihat dua orang ini, dia m-dia m ada juga rasa khawatir di dalam hati Cui Hong. Dua orang ini lihai, kalau sa mpai rahasianya ketahuan, ia tentu akan celaka. Ia berada di dalam kepungan musuh-musuh yang lihai! Akan tetapi sikapnya nampak tenang-tenang saja, agak malu-ma lu seperti sikap seorang wanita yang berada di antara beberapa orang laki-laki asing.

Empat orang laki- laki itu kini duduk berhadapan dengan Cui Hong dan dengan suara tetap halus, dengan pandang mata berseri dan senyum menyeringai seperti biasa lagak Cai Sun terhadap wanita, Cai Sun berkata, "Adik Ok Cin Hwa, kami sengaja mengundangmu karena kami me mbutuhkan bantuanmu. Maukah engkau me mbantu kami?"

Cui Hong me mandang dengan alis dikerutkan dan mulut tersenyum keheranan. "Ah, harap jangan main-main, Koo- inkong. Seorang seperti aku ini, dapat me mbantu apakah kepada Cu-wi (Anda Sekalian)?"

"Nona, kami me mbutuhkan bantuanmu berupa keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya." Ki Cong berkata.

"Aih, kalau cuma keterangan yang sebenarnya, tentu saja saya mau me lakukannya dengan segala senang hati, Kong- cu." kata Cui Hong sambil mengarahkan pandang mata jeli dan mesra kepada Pui Ki Cong. Melihat ini, Cai Sun kemba li merasa tak senang karena cemburu. Dia merasa mendapatkan saingan berat dalam diri Ki Cong terhadap wanita cantik ini.

"Adik Ok C in Hwa, beliau ini adalah seorang pejabat tinggi, maka sepatutnya engkau menyebut Tai-jin (Pembesar) dan bukan Kongcu (Tuan Muda)." kata-kata Cai Sun ini me mbuat alis Ki Cong berkerut. Tadi ia sudah merasa girang karena sebutan kongcu itu berarti bahwa nona man is ini menganggapnya masih seorang muda! Padahal usianya sudah tidak muda lagi, ha mpir e mpat puluh tahun. Dan kini Cai Sun merusak "suasana" yang menyenangkan hatinya itu.

"Ah, maafkan saya, karena saya tidak tahu, Taijin!" kata Cui Hong sa mbil cepat menjura dengan hormat ke arah Ki Cong. Hal ini menghapus kekecewaan hati Ki Cong dan dengan sikap berwibawa dia menggerakkan tangan menyuruh wanita itu duduk ke mbali.

"Nona, kami sedang mencari dua orang dan kiranya hanya engkaulah yang dapat me mbantu kami dan menunjukkan di mana adanya dua orang itu." Ki Cong melanjutkan kata- katanya. "Yang seorang adalah laki-laki berna ma Tan Siong itu, yang sering membelamu. Sedangkan yang ke dua adalah seorang wanita yang muncul dengan muka berkedok dan me mpunyai tahi lalat di dagunya. Nah, kami mengharapkan keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya darimu. Di manakah kedua orang itu?"

O 00 o-dw-o00O