-->

Sakit Hati Seorang Wanita Jilid 07

Jilid 07

MENDENGAR ucapan-ucapan itu dan me lihat sikap mereka. Cui Hong mulai naik darah. Ia merasa serba salah, menghajar mereka berarti akan me mbuka rahasianya. Mendiamkan saja, mereka tentu akan semakin kurang ajar dan ia tidak akan kuat menahan kesabarannya lagi.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara seorang laki-laki yang terdengar tegas dan halus, biarpun penuh dengan nada teguran. "Saudara-saudara adalah laki-laki, maka tidak sepatutnya kalau mengganggu seorang wanita baik-baik di tempat umum. Nona ini sudah ma kan dan meno lak undangan kalian, kenapa me ngeluarkan ucapan yang tidak sopan?"

Cui Hong cepat me mandang dan ternyata yang menge luarkan kata-kata itu adalah pe muda yang berpakaian kuning yang tadi duduk seorang diri di sudut belakang. .Kini pemuda itu telah   bangkit   dari   tempat   duduknya   dan me mandang kepada Si Muka Bopeng dengan sinar mata penuh teguran.

Tentu saja Si Muka Bopeng menjadi marah. Mukanya berubah merah sekali. Dia dan kawan-kawannya terkenal sebagai jagoan-jagoan di lorong itu, dan kini seorang pe muda yang asing berani menegur mereka! Si   Muka   Bopeng men inggalkan meja Cui Hong dan cepat melangkah mengha mpiri meja Si pe muda berpakaian kuning dengan mata me lotot dan tangan terkepal. Akan tetapi dia berhati-hati, ingin tahu dulu siapa adanya orang yang berani menegur dia dan teman-temannya. Di kota raja banyak terdapat orang pandai dan golongan-golongan yang kuat, maka dia tidak boleh salah tangan menentang orang yang lebih tinggi kedudukannya atau lebih kuat. Memang, di bagian ma na pun di dunia ini, orang-orang yang suka bertindak sewenang- wenang, yang suka me mpergunakan kekerasan untuk menekan orang la in, selalu me miliki watak pengecut dan beraninya hanyalah kepada orang-orang yang lebih lemah dari padanya. Sekali bertemu yang lebih kuat atau lebih tinggi kedudukannya, maka akan na mpaklah wataknya yang aseli dan dia akan berubah dari s inga buas menjadi seekor do mba yang mengembik, menjad i seorang penjilat yang tidak mengenal malu.

"Siapakah engkau, berani menca mpuri urusan kami?" bentak Si Muka Bopeng. Juga tiga orang kawannya sudah bangkit berdiri dan me mandang ke arah pe muda berpakaian kuning itu dengan mata me lotot dan muka menganca m.

Dengan sikap mas ih tenang pe muda itu menjawab, "Na maku Tan Siong dan aku tidak ber maksud menca mpuri urusan kalian, me lainkah hanya menasihatkan bahwa tidak sepatutnya laki- laki menggoda wanita di te mpat umum."

"Perduli apa engkau? Apa sih kedudukan dan pekerjaan mu maka engkau berani menentang kami?" Si Muka Bopeng kembali bertanya karena dia mas ih ragu-ragu untuk turun tangan terhadap pemuda yang belum dikenalnya ini. Sementara itu, sambil me lir ik dan mengikuti peristiwa itu dengan sudut matanya, Cui Hong men gha mpir i pelayan dan menyerahkan pembayaran harga makanannya. Akan tetapi ia masih berdiri di dekat pintu, me mandang ke arah dua orang laki- laki yang sedang bertengkar itu. Hatinya semakin tertarik karena pemuda berpakaian kuning itu bersikap de mikian tegas, jujur dan penuh dengan keberanian. juga hatinya senang sekali karena pemuda itu telah me mbe lanya, walaupun ia yakin bahwa pemuda itu akan me mbela wanita mana pun yang diganggu orang. Pemuda itu tidak me mbela pribadinya, me lainkan me mbe lanya karena ia wanita yang mengalami gangguan laki-laki kurang ajar .

"Aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa, dan pekerjaanku adalah bertani Aku seorang perantau yang baru saja masuk ke kota raja dan kebetulan melihat apa yang kalian lakukan terhadap Nona itu. Aku hanya memberi nasihat kepada kalian, tidak ber ma ksud buruk..

Mendengar bahwa pemuda itu hanya seorang petani dan perantau, Si Muka Bopeng men jadi marah sekali. "Keparat! Kiranya hanya seorang petani dusun busuk! Berani engkau menegur aku? Tidak tahu engkau siapa aku? Aku adalah Si Harimau Sakti, jagoan di kota raja. Manusia usil maca m engkau ini harus dihajar!" Dan Si Muka Bopeng lalu menendang meja di depannya itu.

"Brakkk....!" Meja itu terpelanting, berikut man gkok piring dan semua benda itu menabrak pe muda berpakaian kuning. Ada kuah sayur me mercik ke pakaian pe muda dusun itu yang terpaksa melangkah ke belakang dan agak terhuyung karena meja itu men impa dadanya cukup keras.

Melihat ini, Cui Hong mengerutkan alisnya. Pemuda itu adalah pemuda dusun yang sama sekali tidak pandai ilmu silat. Kalau pemuda itu pandai ilmu silat, tentu akan dapat menghindarkan diri dengan mudah. Akan tetapi, kenyataan ini me mbuatnya semakin kagum. Kalau pe muda itu gagah perkasa, maka tidak aneh kalau dia berani menentang Si Muka Bopeng yang berjuluk Harimau Sakti itu bersama teman- temannya. Akan tetapi, pemuda tani ritu t idak pandai ilmu silat namun berani menentang. Kegagahan ini amat mengagu mkan hatinya dan ia pun siap untuk me lindungi pemuda itu kalau sa mpai terjadi perkelahian karena ia dapat menduga bahwa tentu pemuda tani itu akan disiksa oleh Si Muka Bopeng dan kawan-kawannya yang kini sudah datang beramai-ra mai dan mengep ung pe muda itu.

"Toako, perlu apa banyak bicara dengan cacing tanah ini? Hajar saja dia agar dia tahu rasa dan tahu diri! ” kata seorang teman Si Muka Bopeng yang hidungnya pesek.

"Ya, mar i kita pukul dia setengah mati!" teriak yang la in. Melihat sikap mereka, pemuda yang bernama Tan Siong itu kelihatan penasaran, akan tetapi sedikit pun tidak nampak rasa takut me mbayang di wajahnya. "Kiranya kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan. Aku tidak takut karena aku percaya bahwa di kota raja ini tentu berlaku hukum yang melindungi orang-orang yang tidak bersalah."

"Heh-heh-heh, siapa yang akan melindungimu? Aku akan menghajar mu, siapa yang akan melarang? Di sini tidak ada hukum, hukumnya berada di dalam gengga man tanganku."

"Hemm, siapa bilang di sini tidak ada hukum?" Tiba-tiba terdengar suara keras dari ambang pintu muncullah tiga orang. Orang- terdepan adalah seorang laki-laki berusia e mpat puluh tahun lebih, berperut gendut, mukanya putih bersih berbentuk bulat, wajahnya nampak ge mbira dan ramah, pakaiannya indah-indah dan di pinggangnya tergantung sepasang tombak pendek bercagak. Di belakangnya masuk dua orang laki-laki berusia lima puluhan tahun, yang seorang pendek putih gendut, yang ke dua tinggi besar hitam. Hanya tiga orang ini saja yang me masuki restoran, mas ih ada dua belas orang perajurit yang menanti di luar rumah ma kan itu.

Cui Hong yang tadi lebih dulu melihat tiga orang ini. Melihat orang pertama, diam-dia m ia terkejut. Orang itu bukan lain adalah Koo Cai Sun! Dan dua orang kakek di belakangnya adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan yang kini menjadi kepala pengawal di rumah gedung keluarga Pui Seperti biasa, setiap kali me lihat wanita cantik, sepasang mata Cai Sun mulai ma in dengan lirikan genit dan senyum penuh gaya. Dan dia pun langsung saja me mperlihatkan kekuasaan dan pengaruhnya juga hendak mema mer kan "kebaikannya" kepada wanita cantik yang begitu dilihatnya me mbuat hatinya terguncang keras karena kagum itu.

Sementara itu, empat orang jagoan yang ternyata hanyalah jagoan-jagoan kecil yang banyak berkeliaran di kota-kota besar begitu melihat masu knya Koo Cai Sun, menjadi terkejut dan seketika sikap mereka berubah. Bagi mere ka Koo Cai Sun adalah seorang jagoan yang lebih besar, baik kedudukannya maupun kekuatannya.

"Aihh, kiranya Koo-enghiong yang datang!" kata Si Muka Bor-ng. "Maafkan, kami sedang menegur seorang pemuda tani yang tidak tahu diri, berani hendak menentang kami berempat."

Koo Cai Sun melirik ke arah Cui Hong dan kemudian mengang kat muka me mandang pe muda berpakaian kuning itu. "Siapakah kamu dan apa yang telah terjadi di sini?" tanyanya, sikapnya demikian angkuh seolah-olah ia berpangkat hakim yang berwenang untuk me meriksa seseorang!

Pemuda itu menjura dengan sikap hor mat, mengira bahwa penanya itu tentulah seorang pembesar. "Saya bernama Tan Siong, ketika saya sedang makan di sini, saya melihat empat orang saudara ini mengganggu Nona di sana itu. Saya lalu menegur untuk menasehati mereka, akan tetapi mere ka malah marah dan hendak me mukul saya, bahkan me mbalikkan meja saya."

Koo Cai Sun kemba li melirik ke arah Cui Hong dan dia lalu bertolak pinggang me nghadapi Si Muka Bopeng. "Hem, bagus sekali perbuatan kalian, ya? Berani mengganggu seorang gadis di tempat umum! Apa kalian kira di sini tidak ada hukum? Sela ma aku di sini, kalian tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Hayo cepat kalian minta maaf kepada Nona itu!"

Si Muka Bopeng dan teman-te mannya saling pandang dengan bingung. Mereka cukup mengenai Cai Sun, seorang yang paling suka kepada perempuan cantik dan sering pula me mperguna kan kepandaian dan uangnya untuk me ma ksa perempuan cantik yang dikehendakinya. Akan tetapi kini bersikap sebagai seorang satria yang hendak melindungi seorang perempuan. Akan tetapi Si Muka Bopeng itu agaknya mengerti. Tentu Cai Sun hendak mencari muka kepada gadis cantik itu, pikirnya! Dia dan kawan-kawannya tidak berani me mbantah. Keempatnya lalu mengha mpir i Cui Hong, menjura dan Si Muka Bopeng berkata, “Harap Nona suka me maafkan kelancangan kami tadi."

Akan tetapi Cui Hong hanya mengangguk dan ia pun sudah me mba likkan tubuhnya dan melangkah pergi dari rumah makan itu. Hati sendiri terlalu tegang berhadapan dengan Cai Sun, seorang di antara musuh-musuh besarnya, bahkan merupakan orang ke dua sesudah Pui Ki Cong, yang paling hebat menghinanya tujuh tahun yang lalu. Maka, ia tidak mau menge luarkan suara, takut kalau-kalau suaranya akan terdengar gemetar saking menahan kemarahan dan kebenciannya.

"Kalian harus meng ganti semua kerusakan di sini." kata Cai Sun dengan suara keras, dengan maksud agar terdengar oleh Cui Hong yang meninggalkan tempat itu.

Pemuda berpakaian kuning itu la lu menjura kepada Cai Sun dan berkata, "Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan." Cai Sun hanya mengangguk. Memang tidak ada sedikit pun juga maksudnya untuk meno long atau me mbe la pe muda tani itu. Andaikata di situ tadi tidak ada gadis cantik itu, agaknya ia pun tidak akan peduli apakah pemuda tani ini akan dihajar setengah mati ataukah dibunuh sekali pun! Pemuda itu pun cepat meninggalkan rumah makan setelah me mbayar harga makanan.

Cai Sun me mang datang ke rumah makan itu untuk menja mu Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang rekan barunya yang dianggap cukup kuat untuk me mbantunya menghadap i Kim Cui Hong. Dia sudah me mbuktikan sendiri betapa hebatnya kepandaian dua orang ini, tingkat mereka bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya. Dengan adanya kedua jago ini, dia sama sekali tidak takut akan ancaman gadis puteri Kim- kauwsu itu. Kalau saja di situ tidak ada dua orang kakek jagoan ini, tentu dia me mbayangi gadis cantik tadi untuk dirayunya karena dia sudah tergila-gila kepada gadis yang cantik man is tadi. Akan tetapi setidaknya dia telah berdaya dan gadis itu tentu berterima kasih kepadanya, pikirnya. Tentu sudah ada kesan baik dalam hati gadis itu mengenai dirinya, dan kalau lain kali dapat bertemu kembali, hemm, tidak akan sukar me nundukkannya!

"Nona, mari ikut bersama ku, cepat!"

Cui Hong meno leh dan melihat bahwa pemuda berpakaian kuning tadi telah berjalan dengan cepat mengejarnya dan me mber i isyarat kepadanya untuk mengikutinya. Tentu saja ia merasa heran, bahkan ada perasaan kecewa menyelubungi hatinya. Apakah pemuda ini, yang tadi sempat menarik perhatiannya dan membangkitkan rasa kagumnya, pada kenyataannya hanyalah seorang laki-laki biasa saja, seperti yang lain-la innya dan yang selalu menyembunyikan pa mrih di balik semua sikap dan perbuatannya terhadap seorang wanita? Seorang pe muda yang me mpergunakan kehalusan sikapnya untuk me mikat seorang gadis, dan kini, setelah merasa bahwa dia tadi melindungi dan me mbelanya, pemuda itu lalu me mperlihatkan watak yang sesungguhnya dan mengajaknya ikut ke rumahnya untuk minta imbalan jasa? Akan tetapi, pandang mata pe muda itu de mikian serius, sedikit pun tidak na mpak ma ksud kurang ajar. Dan karena me mang ingin sekali tahu dan mengenal pe muda ini lebih menda lam untuk mengetahui apakah benar pemuda ini seorang laki- laki yang patut dikagumi. 'Cui Hong tidak banyak berpikir lagi dan segera mengangguk dan mengikuti pe muda itu.

"Cepat, ke sini....!" Berkali-kali pe muda itu berseru dan nampak tergesa-gesa mengajak Cui Hong keluar masuk lorong sempit di antara rumah-ru mah di dalam kota raja itu. Akhirnya, dengan mengambil jalan melalui lorong-lorong sempit, mereka tiba di ujung selatan kota raja dan pemuda itu mengajaknya untuk me masu ki sebuah kuil tua yang nampaknya sudah tidak terpakai lagi. Di depan kuil itu na mpak beberapa orang gelandangan berteduh. Mereka adalah para tuna wis ma yang me mpergunakan kuil tua itu sebagai te mpat berteduh mereka. Agaknya pemuda itu sudah biasa me masu ki kuil tua itu sehingga para pengemis itu t idak ada yang me mperhatikannya, walaupun ada beberapa orang yagg meno leh dan me mandang heran melihat betapa pemuda itu datang bersama gadis demikian cantiknya. Cui Hong merasa semakin heran dan hatinya tambah tertarik. Dengan hati yang agak tenang dan menduga-duga, ia pun terus mengikuti pemuda itu masuk kuil rusak yang sudah tua itu dan akhirnya pemuda yang menga ku berna ma Tan Siong itu berhenti di ruangan belakang yang biarpun sudah rusak dan tidak terawat, namun lantainya sudah dibersihkan. Di situ tidak terdapat lain orang kecuali mereka berdua.

"Nah, di sini kita a man sudah." kata Tan Siong sa mbil menarik napas panjang, wajahnya yang tadi serius nampak lega. Kembali timbul kecurigaan di dalam hati Cui Hong. Benarkah kekhawatirannya tadi bahwa pemuda ini ber maksud kurang ajar terhadap dirinya?

"Apakah artinya semua ini? Apa maksudmu mengajak aku pergi ke sini dengan tergesa-gesa seperti menyembunyikan diri?" Cui Hong bertanya sambil menatap tajam. Pe muda itu balas me mandang dan kembali, seperti terjadi di dalam rumah makan tadi pada saat mereka berte mu pandang untuk pertama kali, dua pasang mata itu berte mu pandang, bertaut dan sampai la ma mereka saling pandang, seolah-olah dua pasang mata itu saling menjajagi dan sinarnya saling melekat, sukar dipisahkan lagi. Akhirnya pe muda itu yang menundukkan sinar matanya karena dia harus menjelaskan tindakannya yang agaknya menimbulkan keheranan dan kecurigaan wanita itu.

"Maafkan aku,   Nona,   tadinya   aku   tidak   sempat menje laskan, dan terima kasih bahwa engkau begitu percaya kepadaku dan me menuhi permintaanku tanpa ragu-ragu."

Lega rasa hati Cui Hong. Bukan begini sikap seorang pria yang hendak berbuat kurang ajar, pikirnya, la tersenyum dan kembali pe muda itu terpesona. Biarpun usianya sudah tiga puluh tahun, na mun sela ma hidupnya, rasanya baru sekali ini dia me lihat senyuman yang demikian man is, demikian menyentuh perasaannya.

"Tidak ada maaf dan tidak perlu berterima kasih. Yang penting jelaskan apa maksudnya engkau mengajak aku bersembunyi di sini."

"Nona, sungguh aku merasa kagum dan heran sekali me lihat betapa dalam keadaan terancam bahaya tadi, Nona bersikap de mikian tenangnya, bahkan sampai sekarang engkau seperti tidak merasa bahwa dirimu terancam bahaya. Empat orang tadi, apakah engkau kira akan mau sudah begitu saja, Nona? Mereka tentu akan mencari dan mengejar mu, dan karena itulah, sebelum mere ka keluar dari ru mah makan, aku cepat mengejar mu dan mengajakmu pergi berse mbunyi, dan di te mpat ini mere ka tentu tidak akan mene mukan mu."

Hampir Cui Hong tertawa geli. Pe muda ini terlalu khawatir, padahal pe muda ini sendiri tadi demikian tabah menghadapi empat orang itu walaupun dia t idak pandai ilmu silat sedikit pun. Kenapa pe muda ini tidak meng khawatirkan diri sendiri, sebaliknya a mat meng khawatirkan dirinya?

"Tapi, bukankah tadi muncul orang yang mereka takuti?" "Aih, Nona, apakah Nona tidak dapat menduga? Orang

gendut tadi jelas me miliki kedudukan atau kekuasaan yang

lebih t inggi daripada e mpat orang itu, dan dengan adanya orang tadi, Si Muka Bopeng tidak berani mengganggumu. Akan tetapi, jelas bahwa di antara mereka ada hubungan, buktinya Si Muka Bopeng de mikian men ghormat, dan aku me lihat bahwa Si Gendut yang baru datang tadi lebih jahat" dan berbahaya lagi bagi dirimu."

"Ehhh...?" Cui Hong benar terkejut. Pemuda ini me mang dapat menduga dengan amat cepatnya! Tentu saja Koo Cai Sun jauh lebih berbahaya daripada empat orang bajingan kecil tadi. "Bagaimana kau bisa tahu bahwa orang yang baru datang tadi lebih jahat dan berbahaya? Apakah engkau mengenalnya?"

Tan Siong menggeleng kepalanya. "Aku tidak mengenalnya, Nona, akan tetapi   siapapun dapat   melihat   bahwa   dia me mpunyai niat buruk di dalam benaknya tehadap dirimu, ketika dia melirik ke arahmu, Nona. Dan melihat senjata di pinggangnya itu.... hemm, aku sungguh khawatir terhadap keselamatan mu, maka aku segera menyusul dan mengajakmu dan lari bersembunyi ke sini." Ketika menyadari bahwa sejak tadi mere ka hanya bercakap-cakap sambil berdiri saja, Tan Siong lalu cepat me mpersilakan Cui Hong duduk.

"Silakan duduk, Nona. Akan tetapi maaf, tidak ada tempat duduk yang layak di sini. Lantainya sudah kubersihkan dan kita hanya dapat duduk di atas lantai."

Cui Hong men gangguk dan melihat pe muda itu duduk, ia pun duduk bersimpuh di atas lantai dan memandang ke kanan kiri. "Te mpat ini adalah sebuah kuil tua yang tidak dipakai lagi. Mengapa engkau tinggal di te mpat ini? Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau seorang petani dari luar kota?"

Tan Siong menarik napas panjang. "Benar, Nona. Namaku Tan Siong dan pekerjaanku sela ma ini hanya bertani     dan

bertahun-tahun aku tinggal di pegunungan yang sunyi. Aku datang ke kota raja ini karena hendak mencari seorang Pamanku. Karena belum berhasil, untuk menghe mat biaya

karena bekalku tidak banyak, aku menga mbil keputusan untuk me lewatkan malam di te mpat ini. Dan, kalau boleh aku mengetahui, siapakah na ma mu, Nona, dan di mana engkau tinggal?"

"Na maku..." Cui Hong teringat bahwa ia harus menye mbunyikan rahasia dirinya, maka disa mbungnya cepat, Cin Hwa, she Ok, dan aku.... aku pun sebatangkara di kota raja ini. Aku seorang yatim piatu. "

Tan Siong me ma ndang dengan penuh selidik dan alis berkerut, agaknya dia merasa heran karena melihat betapa pakaian gadis itu cukup indah dan mahal, dan betapa seorang yang demikian cantik jelita hidup seorang diri saja di dunia ini! "Tapi.... tapi kau.... benar-benar hidup sendirian saja, Nona?" tanyanya, seperti tidak percaya.

Cui Hong maklum bahwa tentu pemuda itu heran melihat pakaiannya yang indah dan mahal. "Aku me mang hidup sendirian saja, akan tetapi aku menerima peninggalan warisan yang cukup banyak dari orang tuaku. Untuk kehidupanku, aku tidak khawatir, dan aku suka sekali pesiar." Ia merasa bahwa ia telah bicara terlampau banyak, maka ia pun bangkit berdiri. "Sudahlah, Saudara Tan Siong, aku harus pergi sekarang dan terima kasih atas semua kebaikanmu terhadap diriku "

Tan Siong juga ikut bangkit. "Tapi, Nona Ok Cin Hwa...

alangkah berbahayanya kalau engkau keluar dari sini. Bagaimana kalau sampai bertemu dengan mereka bere mpat yang tentu masih penasaran dan sedang mencar i-carimu?" Cui Hong tersenyum man is. "Aku tidak takut. Bukankah selama ini aku pun merantau seorang diri dan selalu sela mat? Aku tidak khawatir, karena bukankah seperti kaukatakan tadi, di kota raja ini terdapat hukum yang melindungi orang-orang yang tidak berdosa?"

"Benar, itu untuk diriku, Nona. Siapa yang akan mengganggu aku dan untuk apa mengganggu aku, seorang laki- laki yang tidak punya apa-apa. Akan tetapi engkau! Engkau begini. ah, keadaan mu. "

Cui Hong me ma ndang tajam dan senyumnya masih menghias bibirnya yang merah me mbasah bukan karena gincu.

"Begini..... apa, Saudara Tan Siong?" tanyanya mendesak. "Maaf engkau begini cantik jelita dan pakaian mu....

menunjukkan engkau me miliki uang. Keadaan dirimu dan pakaian mu itu saja sudah cukup untuk me mbangkitkan selera buruk dalam hati orang-orang jahat."

Untuk ke tiga kalinya Cui Hong merasa heran terhadap hatinya sendiri. Kenapa hatinya begini girang, sampai berdebar mendengar pemuda tani ini mengatakan bahwa ia cantik jelita? Padahal biasanya, kalau ada laki-laki yang berani me mujinya, me muji kecantikannya di depannya, ia akan merasa sebal dan marah. Mengapa demikian? Apakah karena laki- laki lain me muji untuk meray u dan untuk berkurang ajar, sedangkan pe muda ini me muji dengan sinar mata jujur dan untuk me mperingatkannya akan bahaya yang menganca mnya karena kecantikannya? Entahlah, akan tetapi yang jelas, ia merasa senang sekali mendengar pe muda itu mengatakan ia cantik jelita!

"Jangan khawatir, Saudara Tan. Aku me lihat bahwa di kota raja ini pusat wanita-wanita cantik dengan pakaian-pakaian mereka yang serba indah. Apakah mereka semua itu pun takut untuk keluar rumah? Tak mungkin kiranya empat orang itu hanya mengejar-ngejar aku seorang saja. Nah, sela mat tinggal dan sampai berjumpa lagi!" Berkata demikian, Cui Hong lalu men inggalkan ruangan belakang kuil itu.

"Nanti dulu, Nona Ok....!" Tan Siong mengejar dan berjalan di sa mping Cui Hong. "Biar aku mengantar Nona sa mpa i ke tempat tinggalmu."

"Ah, tidak perlu, Saudara Tan, tidak perlu," kata Cui Hong yang khawatir kalau orang ini mengetahui tempat ia bermalam. Dengan uangnya ia telah menyewa sebuah rumah gedung kecil di pinggir kota, tempat yang dipergunakannya untuk beroperasi dan berusaha me mbalas dendam terhadap musuh-musuhnya, la akan merasa tidak enak kalau sa mpai ada orang yang mengetahui te mpat tinggalnya.

"Baiklah, Nona Ok. Setidaknya aku akan merasa lega dan aman kalau engkau sudah t iba di te mpat tinggalmu. Di manakah engkau tinggal?"

"Di.... di rumah penginapan." Terpaksa Cui Hong berkata me mbohong dan ia pun mendapatkan akal. Kalau ia menolak terus, tentu akan menimbulkan kecurigaan pemuda ini, dan pula rasanya ia pun segan untuk berpisah begitu saja. Ingin ia berada lebih la ma dekat dengan pemuda ini dan bercakap- cakap.

Mereka lalu berjalan ke luar dari kuil. Matahari sudah condong ke barat dan sambil berjalan, mereka bercakap- cakap. Percakapan kecil saja, hanya omong-omong dan ngobrol tentang hal-hal re meh untuk meng isi kesunyian, akan tetapi sungguh aneh, Cui Hong merasa gembira bukan main karena belum pernah ia mengalami keakraban seperti dengan pemuda yang baru saja dikenalnya ini.

Dia m-dia m, ketika bercakap-cakap, ia me lir ik dan menga mati wajah pe muda itu penuh perhatian. Seorang pemuda yang ganteng, menarik, jujur, sopan dan me miliki keberanian yang mengagu mkan. Kesopanan dan keberanian itu wajar, sesuai dengan kejujurannya, tidak berpura-pura atau menyembunyikan pa mrih apa pun. Seorang pemuda yang belum tentu dapat ditemukan di antara seribu orang pemuda lain, pikirnya.

Setelah tiba di depan sebuah penginapan, Cui Hong berkata, "Di sinilah untuk se mentara aku menginap, Tan-toa- ko (Kakak Tan). Terima kasih engkau telah mengantarku sampai di sini."

Wajah pemuda itu nampak berseri mendengar Cui Hong menyebutnya kakak, sebutan yang lebih akrab daripada sebutan saudara. "Baiklah, aku pergi sekarang, Hwa-mo i (Adik Hwa). Harap kau suka berhati-hati menjaga diri. Ingat, di kota raja ini banyak terdapat orang jahat."

"Terima kasih, Toako. Sa mpai berju mpa kembali." "Tapi. tapi.... dapatkah kita berju mpa kembali?"

"Mengapa tidak? Kita sudah saling mengena l, bukan? Dan

selama kita berada di kota raja, tentu saja besar kemungkinan kita akan saling jumpa."

"Mudah-mudahan begitu. Selamat tinggal, Hwa- moi." Pemuda itu lalu me mbalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah cepat dari situ. Cui Hong mengikutinya dengan pandang matanya. Seorang pemuda yang amat baik, pikirnya, dan selalu menjaga kesopanan. Kalau tidak de miki-an, tentu setelah tiba di depan rumah penginapan ini, Tan Siong akan berusaha meng ikutinya sampai ke kamarnya. Tentu saja ia tidak tinggal di rumah penginapan ini dan setelah bayangan Tan Siong t idak na mpak, ia menyelinap ke sa mping rumah penginapan itu dan me nga mbil jalan lain untuk kembali ke rumah yang disewanya, yang berada di satu jalan dengan rumah penginapan itu.

-odwo- Koo Cai Sun merasa tersiksa batinnya setelah dia tinggal di dalam gedung Pui Ki Cong bersa ma keluarganya. Memang, gedung itu besar dan megah, jauh lebih mewah daripada rumahnya sendiri, dari di situ terjaga ketat oleh para pengawal, juga merasa a man karena adanya dua orang jagoan yang tangguh. Akan tetapi perasaan aman dan tenteram ini hanya dinikmatinya di waktu ma la m. Dia dapat| tidur nyenyak, tidak khawatir lagi akan kedatangan musuh besar yang ditakutinya. Cai Sun adalah orang yang suka keluyuran, suka mencari kesenangan di luar rumah. Setelah beberapa belas hari lamanya dia tinggal terkurung saja di dalam rumah, akhirnya dia tidak kuat, merasa seperti di dalam rumah tahanan saja. Dia rindu untuk me ngunjungi rumah rumah pelesiran, rindu untuk mencari wanita-wanita baru yang akan dapat menghibur hatinya yang selalu haus akan kesenangan itu.

Dan ternyata bahwa bayangan musuh itu sa ma sekali t idak pernah muncul! Juga setelah beberapa kali dia pada siang hari keluar rumah bersa ma Cia Kok Han dan Su Lok Bu. Tak pernah dia menga la mi gangguan dari Kim Cui Hong. Hal ini me mbuatnya berbesar hati dan mulailah dia berani keluar dari rumah gedung itu di waktu siang. Dia berpendapat bahwa Kim Cui Hong tentu hanya berani turun tangan di waktu malam saja, hanya berani bertindak secara sembunyi. Kalau terang- terangan di waktu siang tentu wanita itu tidak berani karena pertama, dia sendiri me miliki kepandaian cukup untuk me lawannya dan kedua, di waktu siang hari wanita itu tentu akan dikenal orang dan di kota raja terdapat banyak penjaga keamanan yang telah dikenalnya. Kalau di waktu siang dia berkelahi dengan seorang wanita asing, tentu banyak orang akan me mbantunya. Jelaslah bahwa Kim Cui Hong tidak akan berani menyerangnya di waktu siang di tempat umum yang ramai.

Dengan pikiran seperti itu, Cai Sun mula i berani keluar dari gedung untuk berjalan-jalan dan tak lama kemudian, dia pun mulai berani keluar mengunjungi rumah-ru mah pelesiran untuk bersenang-senang dengan pelacur-pelacur baru. Dan pada suatu hari, setelah matahari naik tinggi, pergilah Cai Sun keluar dari gedung seorang diri saja, tidak diteman i Cia Kok Han, Su Lok Bu atau seorang pun pengawal. Dengan santai ia me langkah keluar dan berjalan-jalan menuju ke pasar.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh seorang wanita muda yang me ma kai pakaian merah muda, pakaian yang cukup indah dan mewah berjalan seorang diri di depannya. Melihat lenggang yang me mikat dari belakang, pinggul yang seperti menari-nari di balik celana sutera tipis, tergeraklah hati Cai Sun yang mata keranjang. Dia tidak ingat lagi dari mana wanita itu tadi muncul, karena tahu-tahu sudah berjalan di sebelah depan, dengan lenggang yang nampak dari celah-celah rambut yang hitam itu a mat putih mulus dan timbul keinginan hati Cai Sun untuk melihat bagaimana wajah pere mpuan itu. Dari belakang me mang a mat meng gairahkan, dengan bentuk tubuh yang ramping dan padat, dengan lekuk lengkung tubuh yang matang, akan tetapi hatinya belum puas kalau belum melihat bagaimana wajahnya. Betapa pun indah tubuh dan kulit seseorang, kalau tidak disertai wajah yang cantik, maka wanita itu tidak akan dapat menarik hati pria, terutama pria mata keranjang seperti Cai Sun. Dia pun me mpercepat langkahnya dengan hati berdebar penuh kegembiraan Sebentar saja Cai Sun dapat menyusul wanita itu dan dia lewat di sebelah kanannya, mendahului dan sengaja melepas batuk. Wanita itu terkejut dan menoleh ke kanan. Mereka saling bertemu pandang dan Cai Sun merasa jantungnya seperti akan copot. Wanita itu cantik jelita dan man is sekali! Dan yang lebih daripada itu, dia men genal wanita itu sebagai gadis yang pernah menimbulkan keributan di dalam rumah makan beberapa hari yang lalu! Selama itu, dia tidak pernah dapat melupakan gadis itu. Sudah dicobanya untuk bertanya- tanya para pelayan rumah ma kan, sudah diusahakannya untuk mencari, na mun dia tak pernah berhasil. Dan sekarang, tanpa disangka-sangka, dia berte mu dengan gadis cantik menar ik itu. Juga wanita itu nampak kaget, lalu tersipu-sipu malu.

"Ah, kiranya engkau, Nona...l" Kata Cai Sun dengan sikap ramah dan segera ia me masang aksinya, tersenyum-senyum dan mencoba untuk me mper lebar matanya yang sipit dan kecil seperti mata babi itu. Memang wajah Cai Sun yang bulat dan gemuk itu mirip wajah seekor babi.

"Ah, In-kong (Tuan Penolong) Wanita itu berseru dengan suara tertahan sehingga terdengar merdu sekali, lalu ia menundukkan mukanya yang berubah merah.

Bukan ma in besar dan girangnya rasa hati Cai Sun disebut in-kong oleh gadis itu. Bagus, pikirnya, setelah gadis itu mengakuinya sebagai tuan penolong, tentu tidak akan sukar menariknya.

"Engkau masih ingat kepadaku, Nona?" pancingnya.

Dengan sikap ma lu-malu karena ditegur seorang laki- laki di tempat umum, gadis itu menjawab lir ih. "Tentu saja, semenjak mendapat pertolongan darimu,   aku tidak pernah dapat me lupakan penolongku."

Hampir berjingkrak laki-laki itu saking girangnya. "Benarkah itu? Kalau begitu, bolehkah aku berkenalan dengan mu dan singgah ke rumah mu, Nona?"

Dengan sikap masih tersipu gadis itu pun menjawab, "Tentu saja boleh, in-kong dan aku akan merasa terhormat sekali."

Cai Sun hampir bersorak penuh kemenangan. Tak disangkanya akan begini mudahnya me mperoleh seorang calon pacar baru. Demikian muda, cantik jelita, dan agaknya semua ini berkat ketampanan dan kegagahannya, di samping kepandaiannya meray u dengan rayuan mautnya. Bangga akan diri sendiri, lubang hidung Cai Sun mere kah dan kembang- kempis. "Kalau beg itu, mar i kuantar engkau pulang, Nona. Ataukah engkau masih ada keperluan lain?"

"Aku me mang hendak pulang, In-kong. Sudah lelah berjalan-jalan sejak pagi pulang. Di mana kah rumah mu?"

"Di ujung kota sebelah sana, In-kong."

Mereka berjalan bersa ma dan dengan hati girang bukan ma in berkali-kali Cai Sun melirik ke arah gadis itu yang berjalan sa mbil menundukkan mukanya dan tak pernah me mbuka mulut. Seorang gadis yang luar biasa manisnya, pikir Cai Sun, dan tentu mudah didapatkannya karena gadis yang me makai bedak agak tebal "tu tentu bukan wanita yang suka jual mahal! Akan tetapi dia teringat akan keluarga gadis itu, dan timbul kekhawatirannya bagaimana kalau keluarga gadis itu berkeberatan dia menggau li gadis ini?

"Nona, selain engkau, siapa lagi yang tinggal di rumah mu?" Wanita itu menggeleng kepala. "Tidak ada orang lain,

hanya aku dan seorang pelayanku, In-kong.” "Orang tuamu. ?"

"Mereka tinggal di dusun di luar kota raja. "

"Engkau seorang gadis t inggal seorang diri saja?"

“”ua miku sudah men inggal beberapa bulan yang lalu. "

Cai Sun hampir bersorak. Seorang janda! janda muda yang beberapa bulan menjanda. Janda kembang! Bukan main girang rasa hatinya. Dia lebih senang seorang janda daripada seorang gadis. Seorang janda mempunyai banyak pengalaman dan jauh lebih pandai me nyenangkan hati pria daripada seorang gadis yang masih bodoh!

Tanpa disadarinya, Cai Sun mengikuti wanita itu sa mpai di ujung kota, bagian yang cukup sepi dan agak jauh dari tetangga, tidak seperti di tengah kota yang rumahnya berhimpitan Namun, Cai Sun yang sudah tergila-gila ini lupa akan keadaan dirinya, menjad i lengah dan lupa lagi akan ancaman terhadap dirinya selama ini. Yang dibayangkannya hanyalah janda kembang yang cantik molek itu sebentar lagi tentu akan menjadi miliknya, me masrahkan diri dengan suka rela kepadanya yang menjad i tuan penolongnya!

"Di sana itulah rumahku, In-kong, yang bercat hijau. Sebaiknya In-kong menunggu dulu. Tidak baik kalau kita masu k bersama, aku.... aku merasa malu. sebagai seorang

janda.... ah, tentu In-kong mengerti. Biar aku pulang dulu baru nanti In- kong datang bertamu. Dengan demikian, kalau pun ada yang melihatnya, tentu disangka bahwa In-kong masih ada hubungan keluarga denganku. Akan tetapi sebaiknya jangan sampai ada orang lain me lihatnya, In- kong..." Ucapan itu disertai senyum dikulum dan kerling tajam menya mbar. Kata-kata dan sikap itu saja sudah merupakan janji yang amat mesra bagi Cai Sun. Kalau wanita ini hendak merahasiakan perte muan mereka, berarti wanita itu memang "ada maksud" dan tentu saja dia mengangguk-angguk dengan muka merah dan berkali- kali menelan ludah. Dipandangnya lenggang yang mengga irahkan itu, dan nafsu-nya semakin me muncak.

Setelah wanita itu lenyap ke dalam rumah cat hijau, dengan tergesa-gesa Cai Sun setengah berlari menuju ke sana dan dengan girang dia melihat bahwa tempat itu sunyi dan tidak seorang pun melihatnya. Dan pintu depan itu tidak terkunci karena ketika daunnya ditolakkan, segera terbuka. Dia masu k dan men utupkan kembali daun p intu depan itu. Ia me lihat wanita tadi telah berdiri   di   ruangan   tengah, me mandang kepadanya dengan senyum simpul. Cai Sun sengaja mengunci daun pintu itu, me masangkan palang pintunya dan ternyata janda muda itu hanya tersenyum saja. Ingin Cai Sun lar i dan menubruknya, karena semua sikap itu jelas menandakan bahwa dia telah me mperoleh "lampu hijau". Berbeda dengan dandanan wanita itu yang agak mewah, dengan pakaian yang indah dan mahal dan perhiasan di tubuhnya, keadaan di dalam rumah itu sendiri agak gundul. Hanya nampa k meja kursi di ruangan tengah.

"In-kong, silakan duduk. Kita dapat bercakap-cakap di sini. Pelayanku sedang keluar kusuruh me mbeli arak karena arakku telah habis."

"Ah, tidak perlu repot-repot. Oh ya, pintunya terlanjur kupalang, bagaimana nanti pelayanmu dapat masuk?" katanya setengah berkelakar.

"Ia menga mbil jalan pintu belakang, In-kong."

Cai Sun lalu duduk, berhadapan dengan wanita itu, terhalang sebuah meja bundar yang kecil. Ingin Cai Sun menendang pergi meja itu dan langsung me me luk janda kembang yang duduk dengan manisnya di depannya. Bau semerbak harum telah tercium olehnya, bau harum yang sejak di jalan tadi sudah mengganggu hatinya. Akan tetapi, dia belum mengenal siapa janda muda ini, ma ka dia menahan hatinya untuk bersabar. Perlu apa tergesa-gesa kalau domba sudah tergiring masuk kandang?

"Nona, ataukah aku harus me manggil Nyonya? Akan tetapi kurasa lebih baik kupanggil Adik saja, bagaimana? "

"Terserah kepada mu, In-kong."

"Aih, jangan menyebut In-kong, membikin hubungan kita menjad i kaku dan canggung saja. Moi- mo i, aku berna ma Koo Cai Sun, dan pekerjaanku adalah pedagang senjata-senjata pusaka yang maha l. Aku me mpunyai sebuah toko di pusat kerama ian kota. Nah, kau sebut saja aku Koko (Kakanda). Siapakah na ma mu dan ceritakan keadaanmu agar perkenalan antara kita menjadi se ma kin. akrab dan mesra."

Wanita itu menundukkan mukanya yang menjadi merah dan ia tersipu malu. "Na maku Ok Cin Hwa dan seperti sudah kuceritakan tadi, orang tuaku tinggal di dusun dan suamiku telah meningga l dunia e mpat bulan yang lalu."

Tiba-tiba daun pintu depan digedor orang. Cai Sun terkejut, juga wanita itu. Seperti para pembaca tentu sudah dapat menduga, wanita itu yang mengaku bernama Ok Cin Hwa sesungguhnya adalah Kim Cui Hong yang menyamar! Sudah berhari-hari ia me mbayangi Cai Sun yang suka berjalan-jalan seorang diri keluar dari gedung keluarga Pui dan kese mpatan itu dipergunakannya untuk me mancing musuh besar itu. Tentu saja ia dapat menyerang roboh musuhnya di tengah jalan, akan tetapi hal ini ia tidak mau me lakukannya. Ia ingin me mba las denda mnya sepuas hatinya, dan hal itu baru dapat tercapai kalau ia dapat berhadapan berdua saja dengan musuhnya. Dengan kecantikannya, ia berhasil me mikat hati Cai Sun yang mata keranjang dan kini sudah bersiap-siap untuk me lakukan balas denda mnya. Maka ketika daun pintu digedor orang dengan kerasnya, Cui Hong terkejut bukan ma in.

"Pelayanmukah itu?" Tanya Cai Sun, mengerutkan alisnya.

Cui Hong mengge leng kepalanya, "la tidak berani menggedor seperti itu, akan tetapi masuk melalui pintu belakang."

Tiba-tiba wajah Cai Sun menjad i pucat. Baru dia teringat akan ancaman musuh besarnya. Jangan-jangan yang datang itu adalah musuhnya yang melihat dia berada di dalam rumah sunyi ini! Dia meraba gagang sepasang to mbak pendeknya dan berkata kepada Cui Hong, "Hwa-mo i, kau tanya dulu siapa yang menggedor pintu itu sebelum me mbukanya. " katanya dan suaranya terdengar agak gemetar. Batu sekarang dia sadar bahwa dia telah terlalu jauh meninggalkan gedung keluarga Pui, bahwa dia telah terlalu lengah.

Dengan sikap takut-takut Cui Hong men gha mpir i pintu, sementara itu Cai Sun sudah mencabut sepasang senjata tombak pendeknya. Ke mbali terdengar pintu digedor dari luar. "Siapa itu yang menggedor pintu?" teriak Cui Hong dengan nyaring.

Suasana hening dan menegangkan, terutama bagi Cai Sun yang menanti terdengarnya jawaban dari luar, siap dengan senjata di tangan. Kemudian terdengarlah suara laki-la ki menjawab dari luar, "Buka pintu, kami datang mencari Saudara Koo Cai Suni Tadi dia masuk ke dalam rumah ini. Buka atau.... akan kami jebol pintu ini! "

Mendengar suara itu, Cai Sun tertawa. Legalah hatinya ketika mengenal suara Su Lok Bu, seorang di antara dua jagoan yang diangkat menjadi kepala pengawal oleh Pui Ki Cong. Lenyaplah rasa khawatirnya.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau, Su-toako!" teriaknya dan dia pun me mandang Cui Hong dengan penuh gairah. "Dia sahabatku sendiri, Hwa- mo i, jangan takut. Bukalah pintunya."

Tentu saja Cui Hong diam-dia m merasa mendongko l sekali. Musuh besar yang amat dibencinya ini telah berada di dalam genggaman tangannya, tinggal melaksanakan balas dendamnya saja dan kini datang gangguan yang merupakan pertolongan bagi Cai Sun. Tentu saja mudah baginya untuk meroboh kan Cai Sun dan melarikannya dari situ, akan tetapi tempatnya telah diketahui orang dan kalau dilakukannya hal itu, berarti ia membuka rahasia sendiri. Padahal masih ada Pui Ki Cong yang harus dibalasnya   pula.   Tidak,   ia   harus me lakukan pe mbalasan tanpa diketahui orang. Setelah semua musuhnya dibalas, ia tidak perduli lagi apakah ia dikenal orang ataukah tidak. Maka, sambil menyembunyikan kekecewaannya, ia lalu me mbuka daun pintu.

Di depan pintu berdiri seorang laki- laki bertubuh tinggi besar bermuka hita m penuh brewok yang me megang sepasang pedang. Laki-laki itu bukan lain adalah Su Lok Bu, jagoan yang menjadi pelindung keluarga Pui, dan di belakangnya nampak setengah losin perajurit pengawal yang bersenjata lengkap. "Su-toako, ada urusan apakah engkau menyusulku?" Cai Sun bertanya.

Sejenak Su Lok Bu me mandang kepada Cui Hong penuh perhatian, lalu bertanya, "Koo-siauwte, siapakah wanita Ini?"

Cai Sun tertawa. "Ia adalah..... sahabatku yang baru, Toako, namanya Ok Cui Hwa, seorang.. eh, janda kembang. "

Su Lok Bu mengerutkan alisnya me mandang kepada rekannya itu. "Koo-siauwte, engkau terlalu se mbrono, pergi seorang diri sampai di bagian yang sepi ini. Seorang pengawal me lihat mu dan me mber i laporan kepada Pui Kongcu yang mengutus aku untuk segera menyusulmu. Engkau me mbikin pekerjaan ka mi menjadi repot saja, Koo-siauwte."

"Maaf, maaf! Dalam bersenang-senang aku sampai lupa diri, Toako. Akan tetapi, di rumah Hwa- mo i ini aku a man, harap jangan khawatir dan laporkan saja kepada Pui- kongcu bahwa aku sedang bersenang-senang di dalam rumah sahabat baruku."

"Tidak, Koo-te, engkau harus kembali, demikianlah perintah Pui-kongcu." bantah Su Lok Bu dengan suara tegas.

Cai Sun ragu-ragu untuk me mbantah lagi. Dia tahu bahwa di dalam keluarga Pui, dia masih kalah berkuasa dibandingkan orang tinggi besar ini, dan pula, dia tahu bahwa kepandaiannya pun masih belum ma mpu menandingi kepandaian Su Lok Bu.

"Akan tetapi..... mengapa aku tidak boleh bersenang- senang?"

"Tidak ada yang melarangmu bersenang-senang, akan tetapi tidak boleh men inggalkan gedung keluarga Pui terlalu jauh. Kenapa tidak kaubawa saja sahabatmu ini ke sana?" Wajah Cai Sun nampak berseri. "Ya, kenapa tidak demikian? Hwa- moi, mari ikut dengan aku ke gedung keluarga Pui, engkau akan senang di sana!"

Tentu saja Cui Hong tidak sudi dibawa ke rumah keluarga Pui, karena se lain hal itu amat berbahaya baginya, ia pun tidak sudi diper mainkan untuk kedua kalinya! "Tidak, aku.....

aku tinggal saja di sini    "

"Eh, kenapa, Hwa-mo i? Bukankah kita telah bersahabat baik? Aku ingin menyenangkan hatimu, percayalah, di sana engkau akan ge mbira sekali. Rumahnya indah dan mewah, tidak seperti di sini dan. "

"Terima kasih, akan tetapi, aku malu ..... apa akan kata orang"

Melihat penolakan itu, Cai Sun men jadi kecewa dan marah. Kesenangan yang sudah dibayangkan sejak tadi, akan gagal. Seolah-olah makanan lezat yang sudah berada di depan bibir, kini akan terlepas. Tentu saja dia t idak rela melepaskannya.

"Hwa- mo i, engkau tidak boleh menolak lagi. Engkau harus ikut denganku. Harus kubilang tadi, mengerti?" berkata demikian, Cai Sun hendak menangkap lengan tangan Cui Hong, akan tetapi wanita itu sudah melangkah mundur sehingga tangkapannya tadi luput.

"Hemm, lagi-lagi ada laki- laki hendak me ma ksakan kehendaknya kepada seorang wanita baik-baik! Apakah di kota raja ini seperti di dalam hutan rimba?" Ucapan itu mengejutkan se mua orang dan mere ka meno leh ke luar. Kiranya dari luar muncul seorang pe muda yang me mandang kepada Cai Sun dengan alis berkerut dan pandang mata marah. Melihat pe muda itu, Cui Hong terkejut sekali.

"Tan-toako, harap jangan menca mpuri ....." Ia khawatir sekali karena ia tahu betapa lihainya Cai Sun, apalagi di situ terdapat pasukan pengawal yang dipimpin oleh Su Lok Bu yang ia sudah dengar memiliki kepandaian tinggi itu. Sekali ini Tan Siong tentu akan celaka.

"Biar lah, Hwa-mo i. Siapa pun akan kuhadapi kalau ia berani mengganggu dan menghina mu!" kata Tan Siong dengan sikap tenang dan tabah sekali.

Sementara itu, ketika melihat bahwa pe muda yang muncul ini adalah pe muda petani yang pernah ribut di dalam rumah makan menghadapi e mpat orang pria yang mengganggu wanita itu, bangkitlah kemarahannya dan sekali loncat, Cai Sun sudah berada di depan pe muda itu.

"Petani dusun busuk! Mau apa kau? Apakah sudah bosan hidup? Hayo menggelinding pergi!" Berkata demikian, tangan kanannya mena mpar. Tamparan yang kuat sekali karena dia sengaja mengerahkan tenaga dan kalau pe muda tani itu terkena tamparan tadi yang mengarah kepalanya, tentu dia akan roboh dan mungkin akan terluka berat atau bahkan tewas. Cui Hong terkejut bukan ma in dan ia sudah siap untuk me lindungi Tan Siong ketika tiba-tiba ia me lihat hal yang luar biasa, hal yang terjadi di luar dugaan sama sekali. Dengan gerakan yang amat lincah dan ringan, dan dengan amat mudahnya, Tan Siong telah menggeser kakinya dan mengelak!

"Sudah mengganggu wanita baik-baik masih memukul orang tanpa dosa lagi. Wah, sungguh jahat sekali kau ini!" kata Tan Siong, menudingkan telunjuknya ke arah hidung Cai Sun yang bentuknya merupaan cir i khas hidung laki- laki mata keranjang.

Melihat betapa tamparannya dapat dielakkan oleh pemuda tani itu, Cai Sun menjadi marah bukan main. "Jahanam busuk, engkau sudah bosan hidup!" Dan dia pun menerjang maju, sekali ini bukan sekedar ta mparan saja, melainkan serangan dengan jurus ilmu silatnya yang ampuh. Dengan gerakan yang cepat walaupun tubuhnya bundar dengan perut gendut, dia meng irim pukulan dengan tangan kanan ke arah ulu hati lawan, sedangkan pukulan ini disusul dengan tendangan kaki kirinya mengarah selangkangan. Hebat serangan ini karena merupakan serangan dari Ilmu Silat Thian-te Sin-kun yang menjad i kebanggaannya. Sesuai dengan namanya, Ilmu Silat Thian-te Sin-kun (Silat Sakti Bumi Langit) mendasarkan gerakan kombinasi atas dan bawah dan dia menyerang dengan jurus Kilat Mengguncang Bumi Langit.

Senyum kagum me mbayang di bibir Cui Hong ketika dia me lihat sikap Tan Siong menghadapi serangan itu. Kalau tadi ia masih khawatir dan juga terheran-heran, kini hatinya mulai merasa tenang dan bahkan kagum. Melihat sikap pemuda itu" yang amat tenang, ia percaya bahwa pemuda yang disangkanya petani dusun sederhana itu ternyata adalah seorang pendekar yang memiliki kepandaian silat tinggi! Kalau tidak tinggi t ingkat kepandaiannya, tidak mungkin sikapnya demikian santai dan tenang menghadapi serangan Cai Sun yang dahsyat.

"Wuuuutttt....!" Tan Siong mengelak ke kiri me mbiarkan pukulan tangan lawan ke arah ulu hatinya lewat, dan ketika tendangan susulan menyambar, dia me mutar lengan kanannya ke bawah untuk menang kis.

"Dukk....!" Kaki yang menendang itu tertangkis dan terpental, bahkan Cai Sun menyeringai karena merasa betapa tulang keringnya nyeri, tanda bahwa pemuda petani itu me miliki tenaga yang amat kuat! Tahulah dia bahwa pemuda yang kelihatannya bodoh itu sebenarnya adalah seorang yang me miliki kepandaian silat tinggi, maka dengan marah sekali Cai Sun mencabut sepasang senjata tombak pendeknya. Nampa k sinar berkilauan ketika sepasang senjata itu digerakkan, dan dua gulungan sinar segera menyerang ke arah Tan Sio ng.

Pemuda itu cepat meloncat ke belakang dan ketika Cai Sun menerjang lagi, dia sudah mencabut sebatang pedang yang tadi dipergunakan sebagai ikat pinggang. Sebatang pedang yang lemas dan lentur sekali, tipis akan tetapi juga tajam berkilauan ketika tercabut dari sarungnya yang me lingkari pinggang. Terdengar suara berdenting berkali-kali dan Cai Sun segera menjadi silau   karena gulungan sinar pedang itu me mbuat sepasang to mbaknya seperti mati langkah.

"Hwa- mo i, larilah cepat.....pergilah...!"

Tan Siong yang tahu bahwa lawannya amat tangguh, berteriak kepada Cui Hong yang masih berdiri dengan bengong.

Mendengar ini, Cui Hong la lu berlari masu k ke dalam rumahnya, untuk melarikan diri dari pintu belakang. Tentu saja ia tidak merasa takut, akan tetapi sebagai Ok Cin Hwa, tentu saja ia harus berpura-pura takut dan melarikan diri selagi Cai Sun terlibat dalam perkelahian melawan Tan Siong.

Lega rasa hati Tan Siong melihat gadis itu sudah melarikan diri. Dia melawan dengan penuh semangat dan tak la ma kemudian, Koo Cai Sun mulai terdesak. Jagoan ini juga me lihat betapa wanita yang diinginkannya itu lari maka dia cepat berteriak, "Apakah kalian diam saja terus? Hayo bantu aku menghadapi bocah ini! "

Enam orang perajurit pengawal itu segera bergerak mengepung Tan Siong me mbantu Cai Sun, akan tetapi Su Lok Bu masih berdiri saja menonton. Jagoan ini merasa sungkan untuk melawan pengeroyokan, dan juga dia kagum terhadap pemuda itu. Nampaknya seorang pemuda sederhana, pemuda petani dusun yang bodoh, akan tetapi ternyata pemuda berpakaian kuning itu adalah seorang ahli silat yang amat pandai, dan lebih dari itu, dia mengenal gerakan ilmu pedang itu sebagai ilmu pedang dari Kun-lun-pai yang besar dan amat terkenal! Pemuda ini seorang murid Kun-lun-pai yang pandai dan hal inilah yang me mbuat hati Su Lok Bu merasa tidak enak. Dia sendiri adalah murid Siauw-lim-pai dan di antara kedua perkumpulan itu, biarpun Siauw-lim-pai dipimpin oleh para hwesio beragama Buddha sedangkan Kun-lun-pai dipimpin oleh para tosu beragama To, na mun terdapat persahabatan yang baik.

Biarpun kini dikeroyok oleh Cai Sun dan enam orang pengawal, ternyata Tan Siong ma mpu menand ingi mereka, bahkan ketika dia me mpercepat gerakan pedangnya, dua orang pengawal terpaksa melom pat mundur karena yang seorang terluka pundaknya, seorang lagi terluka pahanya yang robek berdarah. Empat orang penga wal lainnya menjadi gentar juga menghadapi kegagahan pe muda itu, dan kini Tan Siong me mpercepat serangannya untuk merobohkan Cai Sun. Si mata keranjang yang gendut perutnya ini men jadi sibuk sekali. Dia pun mengerahkan seluruh tenaganya dan menge luarkan se mua ilmu silatnya untuk melawan, namun tetap saja dia terdesak hebat. Kembali dua orang pengawal roboh oleh tendangan kaki Tan Siong sehingga kini t inggal dua orang, tiga bersama Cai Sun yang mengepungnya. Melihat ini, hati Su Lok Bu merasa tidak enak. Bagaimanapun juga, Cai Sun adalah rekannya yang sama-sama melindungi Pui Ki Cong, dan kini bahkan e mpat orang pengawal telah kalah dan tidak dapat maju lagi. Dia mencabut sepasang pedangnya dan me loncat ke dalam kalangan perkelahian sambil me mbentak,

"Tahan dulu!"

Melihat berkelebatnya dua sinar pedang yang panjang dan kuat, Tan Siong meloncat mundur dan perkelahian itu terhenti. "Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau berani me lawan kami yang bertugas sebagai pengawal-pengawal bangsawan di kota raja?"

Tan Siong me mandang kepada orang tinggi besar ber muka hitam yang na mpak gagah dan kuat ini. "Na maku Tan Siong dan semua orang tahu bahwa bukan aku yang mencari perkara. Aku hanya kebetulan lewat dan melihat perlakuan sewenang-wenang terhadap seorang wanita baik-baik, maka aku pun menegur." "Hemm, engkau telah lancang tangan melukai pengawal- pengawal, bagaimana fyp p ta' '' (fasBjjaiaw suara dosa

yang harus dihukum. Menyerahlah untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada majikan kami." Su Lok Bu masih berusaha agar tidak usah berkelahi melawan pe muda itu dan kalau pe muda itu menyerah, dia akan menjaga agar Cai Sun tidak ber tindak sewenang-wenang, dan agar pemuda itu diadili secara baik-baik.

"Aku harus menyerah?" Tan Siong me mbentak penasaran. "Kawan mu inilah yang harus dihukum, bukan aku!"

"Berani engkau melawan? Nah, sambutlah pedangku ini!" Su Lok Bu menyerang dengan sepasang pedangnya. Diam- diam terkejutlah hati Tan Siong menyaksikan gerakan pedang itu, yang demikian cepat dan juga kuat. Serangan yang a mat dahsyat dilakukan Su Lok Bu, dengan sepasang pedang me lakukan gerakan meng dari kanan kir i

"Trang-tranggg.....!" Nampak bunga api berpijar dan Tan Siong berhasil men ghalau dua pedang yang mengguntingnya dengan tangkisan beruntun ke kanan kiri. Su Lok Bu menge luarkan seruan me muji, lalu menyerang lagi dengan lebih dahsyat.

Melihat gerakan pedang Su Lok Bu, Tan Siong merasa semakin kaget. Dia pun mengenal gerakan ilmu pedang Siauw-lim-pai, ma ka sambil meloncat jauh ke belakang dia berseru,

"Tahan senjata!"

Tan Siong mengang kat kedua tangan ke depan dada me mber i hormat kepada Su Lok Bu sa mbil berkata, "Kiranya bertemu dengan seorang gagah dari Siauw-lim-pai. Terimalah hormat seorang murid Kun-lun-pai, sahabat, dan maafkan kalau aku kesalahan tangan."

Su Lok Bu mengerut kan alisnya. Kalau pertikaian ini merupakan urusan pribadinya, tentu dia pun akan merendah dan mengalah terhadap murid Kun-lun-pai seperti sikap pemuda itu. Akan tetapi, pada saat ini dia adalah seorang petugas yang harus me mbela rekan-rekan nya. Dia harus me mbantu Cai Sun, dan dia pun harus me mbantu para pengawal yang sudah menderita kerugian dengan kalahnya empat orang itu.

Dalam urusan ini, Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tidak ada sangkut-pautnya, dan ia pun melihat yang ada hanyalah seorang pemuda yang telah melukai para perajurit pengawal dan aku sebagai seorang kepala pengawal. “Menyerahlah untuk kutangkap dan aku pun tidak akan me mpergunakan senjata terhadap dirimu."

Tan Siong me ngangguk. "Baiklah, ini urusan pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun Kun-lun-pai. Akan tetapi aku tidak merasa bersalah, maka terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap."

"Su-toako, pemuda ini so mbong sekali. Kalau tidak diberi hajaran tentu akan memandang rendah kepada kita!" teriak Cai Sun marah karena dia merasa khawatir kalau-kalau rekannya itu akan berda mai dan tidak me lanjutkan perkelahian melawan pe muda itu. Dia sendiri sudah menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan dahsyat yang disambut oleh Tan Siong dengan tenang. Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maj u lagi me lakukan serangan dengan sepasang pedangnya. Juga dua orang pengawal me mbantu dengan pedang mere ka.

Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih se mua. "Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!" bentak orang itu dan begitu tiba di situ, dia me mbentak dan menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan gerakan yang amat dahsyat. Suara golok itu se ma kin berdesing-desing dan menya mbar-nyambar ganas menyerang Tan Siong.

Tentu saja Tan Siong terkejut bukan main karena golok itu tidak kalah bahayanya dengan sepasang pedang di tangan Su Lok Bu! Orang yang baru datang ini adalah Cia Kok Han yang menyusul rekannya dan begitu melihat rekan-rekannya mengeroyok seorang pemuda yang amat lihai dan me lihat ada empat orang pengawal yang terluka, dia pun segera maju mengeroyok.

Kini Tan Siong kewalahan sekali, apa lagi karena dia tahu bahwa yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai hatinya merasa semakin ragu dan khawatir. Karena itu, gerakan pedangnya agak terlambat dan tiba-tiba saja sebuah bacokan pedang kir i Su Lok Bu menc ium pangkal lengan kirinya sehingga bajunya yang kuning terobek berikut kulit dan sedikit dagingnya. Untung luka itu tidak terlalu dalam benar, tidak sa mpai mengena i tulangnya. Namun rasa nyeri, perih dan panas membuat dia terhuyung dan cepat me mutar pedang dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang dilancarkan para pengeroyoknya, terutama sekali Cai Sun, Cia Kok Han, dan Su Lok Bu. Dia m- diam dia menge luh karena rasanya akan sukar untuk dapat meloloskan diri dari kepungan tiga orang yang lihai   ini.    Akan   tetapi   tiba-tiba   tiga   orang   lawannya me mper la mbat gerakan mereka, bahkan mereka seperti tertahan oleh sesuatu dan tidak mendesaknya lagi. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tan Siong untuk melompat jauh ke luar pintu depan pekarangan rumah itu dan dia pun terus berlompatan dan melarikan diri.

Tiga orang jagoan itu t idak me lakukan pengejaran, bahkan mereka bertiga la lu me mandang ke kanan kir i seperti orang yang merasa gentar. Ketika tadi mereka mendesak Tan Siong dan pedang kiri Su Lok Bu berhasil me lukai pangkal lengan pemuda itu, dan mereka bertiga sudah siap untuk meroboh kannya tiba-tiba saja ketiganya terkejut karena berturut-turut ada sepotong batu kerikil yang menyambar dan mengenai tubuh mere ka. Hanya batu-batu kerikil kecil saja, akan tetapi datangnya demikian kuat dan hampir mengenai jalan darah sehingga terasa nyeri dan bagian yang kena menjad i kese mutan hampir lumpuh. Hal inilah yang mengejutkan mereka dan sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka maklum bahwa pe muda itu telah diarn-diam dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi!   Maka,   ketika   Tan   Siong me larikan diri, mereka tidak melakukan pengejaran, melainkan menanti munculnya orang yang telah menya mbit mereka dengan kerikil-kerikil kecil tadi. Akan tetapi, tidak ada orang muncul sa mpai bayangan pemuda itu lenyap.

"Ke mana perginya Cin Hwa? Ialah yang men jadi biang keladinya!" Tiba-tiba Cai Sun berseru ketika dia me ncari-cari wanita itu dengan pandang matanya. "Biar kubawa wanita itu!" Diapun lalu masu k ke dalam rumah. Akan tetapi, di dalam rumah itu tidak ada seorang pun juga. Ok Cin Hwa telah lenyap, dan tidak nampak bayangan seorang pun pelayan. Selain itu, Cai Sun melihat bahwa peralatan dalam rumah itu sederhana sekali.

"Ah, tentu ia melarikan diri karena ketakutan." kata Cai Sun dengan hati menyesal sekali. "Aku akan mencarinya, tentu ia tidak lar i jauh."

Akan tetapi Su Lok Bu yang merasa marah karena gara- gara Cai Sun yang keluyuran sa mpai mereka berte mu dan berkelahi melawan orang pandai, berkata dengan suara ketus, "Kita pulang sekarang, dan harap kau jangan mencari gara- gara lagi, Koo-te!"

Melihat   sikap   rekannya   itu,   Cai   Sun   tidak   berani me mbantah lagi dan berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu, kembali ke gedung keluarga Pui. Pui Ki Cong juga menegur Cai Sun yang dikatakan   sembrono   sekali dan me larang teman dan pe mbantu itu untuk pergi jauh tanpa kawan.

0 o odwo o 0