-->

Sakit Hati Seorang Wanita Jilid 04

Jilid 04

KETIKA tiba di depan pondok kayu kasar yang menjadi tempat tinggal mereka, Cui Hong melihat suhunya sudah duduk bersila di depan rumah, tidak seperti biasanya karena pada saat seperti itu biasanya gurunya itu masih bersamadhi di depan kamarnya dan baru akan keluar kalau ia sudah me mber itahukan bahwa ma kanan siang telah tersedia. Dan gurunya itu me mandang kepadanya dengan matanya yang kecil mencorong itu dengan sinar aneh. Agaknya gurunya me lihat perubahan pada wajahnya yang kemerahan, pada sinar matanya yang berapi itu.

"Cui Hong, apakah yang telah terjadi?"

"Suhu, teecu seperti yang telah teecu katakan ketika berpamit pagi tadi, pergi menjua l ikan kering dan me mbe li bumbu-bumbu dan kain hitam untuk pakaian kita. Sayang benang hitamnya habis dan tidak ada yang menjual, suhu, terpaksa nanti teecu menjahit dengan benang merah. "

"Bukan itu ma ksudku. Engkau penuh dengan se mangat berapi, penuh kemarahan. Apakah engkau telah me mbunuh orang?" Cui Hong terkejut. "Tidak,   suhu.   Mana berani teecu me langgar sumpah teecu sendiri? Teecu tidak me mbunuh orang, hanya..... teecu menghajar seorang laki-laki yang kurang ajar terhadap teecu."

"Apa yang dia lakukan dan apa pula yang telah kaulakukan?"

"Dia kurang ajar terhadap teecu, tidak teecu layani, akan tetapi dia berani meraba tubuh teecu. Teecu mematahkan tangan   itu   dan    melemparkannya    akan    tetapi   tidak me mbunuhnya, lalu teecu pulang."

Kakek itu mengangguk-angguk, me mandang muridnya dan berkata, "Cui Hong, sudah berapa la ma engkau menjadi muridku?"

"Teecu tidak dapat menghitung tepat, akan tetapi kurang lebih tujuh tahun."

"Nah, bersiaplah, mari kau hadapi serangan-seranganku. Ini merupakan latihan terakhir, kalau lulus engkau boleh pergi, kalau tidak lulus engkau harus mene mani aku sa mpai aku mati." Tiba-tiba kakek itu bangkit berdiri.

Dia m-dia m Cui Hong terkejut mendengar ini. Suhunya sering mengajak latihan dan kadang-kadang menyerangnya dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dalam batas-batas latihan. Kini, suhunya ingin men gujinya, sebagai latihan terakhir dan yang mengejut kan hatinya adalah kalimat terakhir itu. Kalau ia lulus, ia boleh pergi, kalau tidak lulus, ia harus mene man i suhunya itu sampai suhunya mati! Jantungnya berdebar keras, inilah saat yang dinanti-nantikannya selama ini, yang ditunggunya dengan menyabarkan hatinya. Agaknya pelajarannya sudah tiba di saat terakhir, sudah ta mat!

"Teecu menaati perintah suhu." katanya dan ia pun menyingkir kan buntalan itu, lalu berdiri tegak, menghadap suhunya, kedua tangan lurus ke bawah di kanan kiri tubuh, kedua kaki rapat. Inilah kuda-kuda yang aneh dari Toat-beng- kun! Gurunya juga me masang kuda-kuda yang sama. Mereka berdua itu saling berhadapan dengan berdiri tegak seperti patung, dengan kedua tangan merapat di kanan kir i dan kedua kaki juga merapat. Pasangan kuda-kuda yang lucu sekali, akan tetapi jangan dikira bahwa kuda- kuda seperti ini le mah! Biarpun pe masangan kuda-kuda itu de mikian kaku, akan tetapi kaki dan tangan ini dapat bergerak setiap saat ke segala jurusan, baik ketika menghadap i serangan maupun ketika menyerang. Keistimewaan kuda-kuda ini adalah sukar bagi lawan untuk me nduga ke arah mana kaki dan tangan akan bergerak dalam serangan pertama.

"Lihat serangan!" tiba-tiba kakek itu berseru dan mula ilah dia menyerang dengan cepat, kuat dan dahsyat sekali. Namun, Cui Hong sudah siap s iaga dan ke manapun gurunya menyerang, ia selalu dapat mengelak atau menang kis dengan tepat sekali. Dan gadis itu pun tidak sungkan-sungkan lagi, hal yang diperbolehkan dalam latihan itu, dan ia pun me mba las serangan gurunya setiap kali terbuka kesempatan baginya. Terjadilah serang-menyerang antara guru dan murid itu. Kakek itu tidak ma in-main, me lainkan me ngeluarkan se mua keahliannya dan mengerahkan se mua tenaganya. Juga Cui Hong tidak bersikap sungkan dan gurunya itu dianggap seorang lawan yang harus dilawannya mati- matian. Dia m- diam Toat-beng Hek- mo merasa kagum, bangga dan girang sekali. Tidak percuma sela ma tujuh tahun mengge mbleng muridnya ini. Biarpun d ia berkelahi sungguh-sungguh, na mun dia sama sekali tidak ma mpu mendesak muridnya dan setelah mereka bertanding sela ma seratus jurus, napasnya sendiri mulai terengah-engah sedangkan muridnya mas ih segar bugar.

"Haiiiitttt....." Tiba-tiba kakek itu berseru keras dan tahu- tahu tongkat hitam sudah berada di tangannya. Dia menyerang dengan tongkatnya, memukul ke arah kepala Cui Hong. Gadis ini cepat mengelak dengan melempar diri ke kiri. Tongkat itu menyambar, dekat sekali dengannya dan agak la mbat sehingga me mikat orang untuk menang kap dan mencoba merebutnya. Namun Cui Hong tidak mau melakukan ini. Ia tahu bahwa itulah satu di antara keampuhan Ilmu Tongkat Toat-beng   Koai-tung.   Nampak   begitu   mudah dira mpas, akan tetapi sekali lawan mera mpasnya, tentu dia akan terkena hantaman tongkat itu sendiri. Tongkat itu menya mbar ke bawah, me mbabat kedua kakinya. Cui Hong me lo mpat ke atas dan berjungkir balik ke belakang. Akan tetapi tongkat   itu   terus   mengejar-sehingga terpaksa ia me mbuat jungkir balik berkali-kali ma kin me ndekati pohon yang berada di sebelah kanan pondok. Ketika tongkat itu masih terus mengejar, Cui Hong tiba-tiba melempar tubuh ke belakang dan bergulingan di atas tanah, menuju ke pohon. Ketika tiba di bawah pohon, tiba-tiba ia mengeluarkan suara me lengking dan tangannya bergerak. Segenggam pasir dan tanah menyambar ke depan, ke arah muka Toat-beng Hek- mo. Kakek ini tentu saja tidak mau kalau mata atau hidungnya kena sa mbaran pasir dan tanah. Dia me loncat ke sa mping menghindarkan diri. Akan tetapi pada saat itu, Cui Hong sudah me loncat ke atas, menyambar sebatang dahan pohon sebesar lengannya. Terdengar dahan patah dan ketika meloncat turun kembali, gadis itu sudah me megang tongkat dari dahan pohon yang masih ada daunnya pada ranting-ranting kecil.

"Haiiittt....!" Cui Hong berteriak, menggerakkan tongkatnya dan berhamburanlah ranting dan daun-daun itu sehingga dahan itu kini gundul dan berubah menjadi sebatang tongkat yang menjad i senjatanya.

"Bagus!" Gurunya me muji kagum dan menyerang lagi. Cui Hong menangkis dan balas menyerang. Kembali guru dan murid itu saling serang dan kedua tongkat mereka berkali-kali saling bertemu mengeluarkan bunyi tak - tuk - tak - tuk. Keduanya bergerak cepat sehingga tubuh mereka lenyap terbungkus sinar kedua senjata itu. Kembali seratus jurus telah lewat dan Toat-beng Hek-mo sudah merasa lelah. Tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang dan berseru,

"Cui Hong, kau lulus!"

Cui Hong girang bukan ma in, me mbuang tongkatnya dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya.

"Su-he, teecu menghaturkan terima kasih atas segala budi suhu yang telah me mbimbing teecu selama tujuh tahun ini. Teecu tidak akan mampu me mba las budi kebaikan suhu."

"Hemm, akupun t idak mengharapkan balasan, Cui Hong. Asal saja engkau me megang teguh sumpah mu, tidak me lakukan pe mbunuhan, berarti engkau telah me mbalas b udi itu."

"Teecu pasti akan me megang teguh sumpah teecu."

"Bagus, kalau begitu kau pergilah turun gunung, muridku." "Tapi, suhu. Suhu sudah tua, bagaimana teecu tega

men inggalkan suhu hidup sendirian di sini? Siapa yang akan menanak nasi untuk suhu, me mbuatkan minuman hangat, siapa yang akan merawat suhu?"

Kakek itu menyeringai dan mulutnya menjadi sebuah guha kecil meng hita m. "Heh-heh, engkau ini me mbuat diriku menjad i manja saja. Sebelum ada engkau, aku pun hidup sendirian dan ma mpu merawat diri sendiri. Pula, setelah engkau pergi, aku pun hendak pergi dari sini. Sudah bosan aku terlalu la ma tinggal di sini. Pergilah dengan tenang, muridku, engkau berhak untuk men ikmat i hidup di dunia ramai."

Cui Hong me mber i hormat lagi la lu mengusir keharuan hatinya yang tiba-tiba saja muncul. Ia tidak pernah merasa cinta kepada gurunya ini dan ia bahkan ingin menguasai ilmu silat tinggi. Akan tetapi setelah secara tiba-tiba gurunya menga mbil keputusan bahwa ia telah selesai belajar me mperbo lehkan turun gunung, setelah secara tiba-tiba mereka hendak saling berpisah, timbul juga keharuan itu di dalam hatinya. Baru terasa olehnya betapa selama tujuh tahun ini, tanpa mengenal lelah, kakek ini me latihnya dengan ilmu silat yang hebat dan biarpun tak pernah memperlihatkan sikap kasih sayang, namun dari ketekunan kakek itu saja ia pun kini dapat melihat dengan jelas bahwa kakek itu a mat sayang kepadanya! Dan selama hidup bersa ma tujuh tahun itu, Toat- beng Hek-mo yang sudah me lepas budi, me mberikan ilmunya yang tinggi, sebaliknya ia tidak pernah me mberi apa-apa.

"Suhu, teecu akan selalu ingat kebaikan-kebaikan suhu dan tidak akan melanggar sumpah teecu. Selamat tinggal, suhu, harap suhu menjaga diri baik-baik."

"Selamat jalan, muridku. Engkaulah yang harus menjaga diri baik-baik dan ingatlah bahwa ilmu silat ada batasnya dan betapapun tinggi ilmu kepandaian mu, mas ih ada orang-orang lain yang lebih lihai lagi. Karena itu, jangan terlalu menganda lkan ilmu silat. Kecerdikan dan kewaspadaan selalu lebih berguna daripada sekedar kekerasan ilmu silat."

Cui Hong lalu turun dari puncak, me mbawa buntalan terisi dua stel pakaian hitamnya, dan juga me mbawa bekal daging kering dan roti yang tadi dibelinya di dusun. Sebagian belanjaannya ditinggalkan untuk suhunya.

Hanya sebentar saja rasa keharuan karena berpisah dari gurunya itu menyelubungi hatinya. Setelah ia tiba di lereng gunung, melihat ke bawah, melihat dunia yang luas terbentang di bawah kakinya me mbayangkan betapa ia mulai sekarang hidup seorang diri, bebas lepas seperti seekor burung di udara, hatinya berdebar penuh ketegangan dan kegembiraan, la sudah bebas, berarti boleh berbuat apa saja sesuka hatinya sendiri. Dan tentu saja ia harus pergi mencari musuh-musuhnya. Itulah tujuannya me mpelajari ilmu silat! Bahkan itu lah tujuan hidupnya, karena kalau bukan untuk me mba las dendam, tentu ia sudah mati me mbunuh diri. Untuk apa hidup me nanggung aib, malu dan penghinaan yang sedemikian hebatnya, menderita kesengsaraan yang demikian menda la m? Ia harus membalas dendam! Tanpa disadarinya, ia berjalan sambil mengepal kedua tangannya dan bibirnya bergerak-gerak, akan tetapi suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, karena hanya hatinya yang berbisik melalui gerak bibirnya,

"Jahanam keparat Pui Ki Cong, Gan Tek Un, Koo Cai Sun, dan Louw Ti, tunggulah pembalasanku!"

Kemudian gadis ini pun me mpercepat langkahnya, dengan penuh semangat ia lalu turun gunung menuju ke kota Thian- cin. Kalau dibandingkan dengan tujuh tahun yang la lu, sukarlah mengenal dara re maja puteri guru silat Kim Siok itu. Kim Cui Hong kini bukan seorang gadis re maja lagi, bukan setangkai bunga yang sedang mulai me kar kuncupnya. Ia kini seorang gadis yang dewasa, berusia dua puluh dua tahun lebih seorang gadis bertubuh ra mping dan padat, ma kin menonjol lekuk lengkung tubuhnya oleh pakaian serba "hitam yang ketat dan ringkas itu. Di dagunya masih na mpak tahi lalat kecil yang me mbuat dagu itu nampak manis sekali. Sepasang matanya lebar dan jeli, bahkan kini me mancarkan sinar yang mencorong taja m. Mulutnya bahkan lebih indah daripada dahulu, kini mulut itu na mpa k selalu segar basah kemerahan, dengan bibir yang dapat bergerak secara hidup dan mengge maskan, seakan-akan menantang dan menjanjikan kegairahan yang penuh nikmat. Mulutnya itu merupakan bagian yang paling manis dan indah dari wajah gadis ini. Selain buntalan digendong di punggungnya, ia tidak me mbawa apa-apa lagi. Tidak ada apa pun padanya yang me mbayangkan bahwa ia adalah seorang gad is yang me miliki ilmu silat tinggi!

Ia tidak akan menarik perhatian orang sebagai seorang ahli silat, akan tetapi jelas bahwa seorang gadis seperti Cui Hong akan selalu menarik perhatian kaum pria karena gadis itu cantik jelita dan man is sekali. Justru pakaiannya yang serba hitam dan a mat sederhana itulah yang me mbuat kecantikannya menonjol, kemulusan kulit yang putih kuning itu nampa k jelas dan me mbuat ia berbeda daripada wanita lain. Akan tetapi tentu saja Cui Hong tidak menyadari hal ini sebelum ia terjun dalam dunia ra mai.

0odwo0

Perubahan besar terjadi di mana-mana, juga di Thian-cin semenjak ditinggalkan sela ma tujuh tahun oleh Cui Hong. Dalam waktu tujuh tahun itu telah terjadi banyak sekali peristiwa penting. Bukan hanya diri Cui Hong yang berubah banyak sekali, akan tetapi juga keadaan dalam negeri telah menga la mi perubahan.

Karena lemahnya kaisar Beng-tiauw terakhir, yaitu Kaisar Cung Cen, yang menjad i seperti boneka di tangan para pembesar thai-kam (kebiri), pemerintahan yang penuh dengan para pejabat korup itu men imbulkan kekacauan dan pemberontakan di mana- mana. Mereka yang merasa kecewa dengan pemer intah yang le mah dan korup itu me mberontak dan yang paling terkenal adalah pemberontakan- pemberontakan yang dipimpin oleh Lee Cu Seng dan Bu Sam Kwi.

Sementara itu, kekuasaan bangsa Mancu se makin berkembang dan pasukan-pasukan telah menerobos ke selatan, menguasai banyak wilayah di utara dan timur. Pada waktu itu, bangsa Mancu yang berhasil menaklukkan banyak suku bangsa liar di utara, dan sudah mulai melebarkan sayapnya ke selatan dan mendesak pe mer intah Beng yang mulai sura m, segera mend irikan suatu wangsa baru yang mereka na makan Kerajaan Ceng-tiauw. Yang menjadi kaisar pada waktu itu adalah Kaisar Thai Cung yang di waktu mudanya berna ma Pangeran Huang Thai Ci, seorang pe muda yang gagah perkasa dan ta mpan, juga a mat terkenal sebagai seorang penakluk wanita. Dan seperti tercatat dalam sejarah, di dalam kekuasaan Kaisar Thai Cung dari Kerajaan baru Mancu yang disebut Kerajaan   Ceng   itu,   permaisurinya me mpunyai jasa yang amat menonjol. Per maisuri dari Kaisar Thai Cung ini berasal dari puteri seorang kepala suku bangsa liar, dan namanya Ta Giok (Ke ma la Besar). la amat dicinta oleh Kaisar Thai Cung karena me mang sejak muda, di antara mereka telah terjadi suatu jalinan cinta yang mesra.

Ketika Kaisar Thai Cung masih muda dan masih disebut Pangeran Huang Thai Ci, di perbatasan Mancuria sebelah selatan terdapat sekelompok suku bangsa yang masih belum takluk kepada bangsa Mancu, penakluk oleh kepala suku yang gagah perkasa. Kepala suku ini me mpunyai dua orang puteri yang sudah menjelang dewasa. Yang perta ma diberi na ma Kema la Besar atau Ta Giok, sedangkan yang ke dua diberi nama Siauw Giok atau Kema la Kecil. Keduanya merupakan dara-dara remaja yang cantik sekali, terutama Ta Giok yang amat jelita dan manis. Sebagai puteri kepala suku, dua orang dara ini sejak kecil sudah pandai berburu binatang buas, pandai menunggang kuda,   pandai melepas anak panah, me ma inkan senjata dan me mbe la diri. Suku bangsa Mancu me mang lebih besar, dan me mbiar kan wanita-wanita mereka bekerja seperti laki-laki, terbiasa dengan hidup yang serba keras dan sukar karena mereka adalah bangsa Nomad, yaitu bangsa yang suka berpindah-pindah dalam kelo mpok, mencari daerah baru yang lebih mencukupi kebutuhan hidup mereka. Suku bangsa yang dipimpin o leh ayah Ta Giok ini merupakan suku bangsa yang gagah perkasa dan dengan gigih mereka me mpertahankan kedaulatan mereka, tidak mau tunduk kepada bangsa lain, juga tidak mau tunduk kepada bangsa Mancu yang mulai berkembang kuat itu. Mereka juga tidak peduli akan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Ceng-tiauw yang didirikan oleh bangsa Mancu yang mulai menguasai wilayah luas di sebelah selatan Tembok Besar. Dan agaknya, meng ingat bahwa kelompok ini hanya merupakan sekelompok suku bangsa pe mburu yang kecil jumlahnya, Kerajaan Ceng- tiauw yang baru ini pun tidak mengganggu mereka, apalagi kerajaan yang baru ini ingin menar ik para kepala suku bangsa yang kecil- kecil itu sebagai sekutu, ma ka kebebasan suku bangsa ini pun tidak mereka ganggu. Bangsa Mancu tidak mau mengganggu wilayah suku bangsa ini yang tidak begitu luas, dan menghindarkan setiap kesalah-pahaman atau bentrokan kecil antara perajurit mereka.

Pada suatu pagi yang cerah, di sebuah sungai kecil yang menga lir di tepi hutan, terdengar dua orang gadis bersenda- gurau. Mereka mand i di sungai yang jernih airnya itu, berenang ke sana ke mar i, saling siram, tertawa-tawa dan me mbuat suara berirama dengan menepuk-nepu kkan telapak tangan ke permukaan air. Memang sejuk dan segar sekali mand i di air sungai itu, ditimpa sinar matahari pagi yang hangat. Suasana amat gembira dan meriah, apalagi karena tempat itu sunyi sekali. Dua orang gadis itu adalah Ta Giok dan Siauw Giok. Karena tempat itu sunyi dan tidak ada manus ia la in kecuali mereka maka dua gadis itu ma ndi bertelanjang bulat tanpa malu-ma lu lagi. Mereka menangga lkan pakaian mereka di tepi sungai, ditumpuk di atas batu kering dan bagaikan dua ekor ikan yang aneh mereka masu k ke dalam air. Tubuh mereka yang berkulit mulus dan agak coklat karena sering kali tertimpa matahari itu nampak kee masan.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan dua orang dara remaja itu terkejut bukan main. Tak mereka sangka bahwa di tempat itu akan ada orang lewat! Mereka tentu saja cepat mende kam ke dalam air dan hanya nampak kepala mereka saja, dengan dua pasang mata yang lebar jernih itu terbelalak mereka me mandang ke arah jalan di tepi hutan, tak jauh dari tempat mereka mand i.

Tak la ma kemudian, muncullah lima orang pria muda yang menunggang kuda. Mereka itu adalah lima orang muda, berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, kesemuanya na mpak gagah dan bertubuh tegap, dengan pakaian indah dan kuda mereka merupakan kuda pilihan Mereka itu adalah seorang perwira dan empat orang pembantunya, perajurit-perajurit Kerajaan Ceng, orang-orang muda Mancu yang pandai menunggang kuda. Ketika mereka me lihat dua wajah cantik tersembul di atas permukaan air sungai, mereka pun tertegun dan menahan kuda mereka.

"Aihhh.... ada dua orang bidadari di sana....!" kata perwira itu dan mereka berlima segera mengajukan kuda dan mengha mpiri sungai itu ke tepinya.  Di situ mereka me mandang dengan penuh kagum. Melihat ini, Ta Giok yang tadi sudah me mbis iki adiknya, tiba-tiba bangkit berdiri sehingga tampaklah tubuhnya dari pusar ke atas, telanjang sama sekali, diikuti adiknya. Tentu saja penglihatan   ini me mbuat lima orang pria itu melongo, mata terbelalak dan mulut ternganga saking kagumnya menyaksikan segala keindahan di depan mata mereka itu. Akan tetapi, sebelum mereka se mpat melompat turun untuk men uruti dorongan hati mereka, tiba-tiba dua orang dara remaja itu menggerakkan kedua tangan mereka bergantian dan hujan batu kerikil menyerang lima orang itu. Tiba-tiba lima ekor kuda itu mer ingkik kesakitan lalu meloncat dan kabur! Kiranya, dua orang dara itu memiliki kepandaian menya mbit dengan baik sekali sehingga mereka berhasil menya mbit dengan jitu dan kerikil- kerikil mereka me ngenai mata lima ekor kuda itu.

Binatang-binatang itu menjadi ketakutan sekali dan mereka kabur tanpa dapat dikendalikan lagi. Saking kuatnya mereka me lo mpat dan mengang kat kedua kaki ke atas, dua di antara lima orang pria itu terlempar dari atas punggung kuda, dan karena kaki mereka masih terlibat, mereka pun terseret sampai beberapa mil jauhnya sebelum kuda mereka dapat ditenangkan dan mereka dapat me mbebaskan diri, dengan tubuh penuh luka dan babak belur! Tentu saja mereka menjad i marah sekali dan setelah mereka ma mpu menguasai kuda mereka, lima orang itu kembali ke tepi sungai, akan tetapi dua orang dara yang cantik jelita dan bengal itu sudah tidak na mpak lagi batang hidungnya.

Berita tentang peristiwa itu tersiar di kalangan perajurit dalam pasukan pe merintah Ceng dan lima orang itu menjadi bahan tertawaan mereka. Akan tetapi, ketika Pangeran Huang Thai Ci men dengar tentang dua orang dara itu, hatinya tertarik bukan main. Dia adalah seorang pria yang suka sekali mende kati wanita cantik, seorang mata keranjang dan penakluk wanita yang terkenal karena me mang dia gagah perkasa, berwajah tampan dan bertubuh tegap. Kenyataan bahwa dua orang dara itu ter masuk keluarga suku yang tidak bersahabat, yang tentu akan menyerang setiap orang asing yang me masuki wilayah mereka, tidak me mbuat pangeran mata keranjang dan petualang as mara ini menjadi gentar.

Pangeran Huang Thai C i ingin sekali berkenalan dengan dua orang dara itu. Dia lalu mengutus pembantu- pembantunya yang cerdik dan pandai untuk melakukan penyelidikan, siapa adanya dua orang dara itu dan kapan kiranya ia dapat bertemu dan berkenalan dengan mereka bertiga saja. Petugas itu me lakukan penyelidikan dan segera me laporkan bahwa dua orang dara itu bernama Ta Giok dan Siauw Giok, dua orang puteri kepala suku itu dan melaporkan pula kebiasaan dua orang dara itu berburu binatang di dalam hutan dalam waktu-waktu tertentu.

Mendengar laporan ini, sang pangeran lalu berangkat seorang diri. Dengan penuh keberanian dan menyembunyikan kudanya di dalam sebuah guha di tepi hutan di mana dua orang gadis itu akan datang berburu, dan diapun mengenakan kulit harimau yang sudah dipersiapkannya, dan menunggu di tengah jalan. Tak lama ia menunggu. Sesuai dengan laporan yang diterimanya, terdengar derap kaki kuda dan tak la ma kemudian dua orang dara itu nampak menunggang kuda perlahan-lahan, me mbawa belasan ekor kelinci dan ayam hutan hasil buruan mereka, dan mereka lewat sa mbil bercakap-cakap dan bersendau-gurau penuh kegembiraan. Pangeran Huang Thai C i me mpersiapkan diri di balik se mak- semak belukar, dan pada saat dua ekor kuda itu t iba di depannya, dia meloncat ke depan sa mbil me ngeluarkan gerengan yang nyaring.

Biarpun terkejut, dua ekor kuda itu agaknya tahu bahwa yang muncul dan menggereng ini bukan harima u aseli. Akan tetapi tidak demikian dengan dua orang dara itu. Siauw Giok menjad i de mikian kagetnya sehingga ia me mbedal kudanya dan kabur meninggalkan tempat itu tanpa meno leh lagi, penuh rasa takut karena seolah-olah merasa ada harimau mengejar di belakangnya! Memang de mikian lah orang yang dicengkera m rasa takut.

Ta Giok lebih tabah daripada adiknya, akan tetapi ia pun terpaksa harus mencabut pedangnya karena tidak mungkin lagi me mperguna kan busur dan anak panahnya. Harimau itu terlampau dekat dan sebelum ia siap dengan busur dan anak panahnya, harimau itu dapat menyerangnya lebih dahulu. Dengan gagah sekali, dara ini siap dengan pedang di tangan, menghadap i harima u itu.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hatinya ketika ia me lihat harima u itu t iba-tiba dapat bangkit berdiri di atas kedua kaki belakang, seperti seorang manus ia! Ta Giok adalah puteri kepala suku yang masih terbelakang dan tentu saja ia percaya akan tahyul. Melihat betapa ada harimau dapat berdiri seperti manusia ia pun segera menduga bahwa tentu ia berhadapan dengan seekor harimau jadi-jadian atau seorang siluman! Ketabahannya luntur dan ia pun me mandang pucat dengan tubuh agak menggigil. Apalagi ketika tiba-tiba harimau itu dapat menge luarkan suara ketawa, ia sema kin takut lagi.

Harimau itu tiba-tiba bergerak dan terlepaslah kulit harimau itu dan kini yang nampa k berhadapan dengan dirinya adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali! Pe muda itu, Pangeran Huang Thai Ci, dengan sigapnya melompat ke depan, sekali renggut dia sudah merampas pedang dari tangan Ta Giok yang masih terpesona dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya meraih dan dia me mondong tubuh Ta Giok dari punggung kuda. Dara itu meronta-ronta, akan tetapi dia sama sekali tidak berdaya dalam dekapan Huang Thai Ci yang pandai meray u. Dihujani rayuan dan belaian pemuda yang sudah amat menar ik hatinya itu, akhirnya Ta Giok bertekuk lutut, takluk dan tidak melawan lagi, bahkan menya mbut pencurahan cinta birahi Pangeran Huang Thai Ci dengan penuh gairah dan

semangat pula.

Tanpa bicara kedua orang   muda    itu menurut kan gelora hati penuh birahi di balik semak belukar, di atas rumput hijau yang lunak tebal. Baru kemudian Tanpa bicara kedua orang muda itu menurutkan gelora hati penuh birahi di balik se ma k belukar, di atas rumput hijau yang lunak tebal.

Ta Giok bertanya dengan lembut, me mandang kekasihnya itu dengan sinar mata penuh kagum dan kasih sayang siapa adanya pemuda itu yang demikian beraninya melakukan siasat untuk menghadangnya. Sa mbil tersenyum dan merang kul leher kekasihnya, menciumnya, pemuda itu berbisik di dekat telinga Ta Giok.

"Aku adalah Pangeran Huang Thai Ci"

"Ahhhh.....!" Pengakuan ini me mbuat Ta Giok terkejut, akan tetapi juga kagum dan girang sekali. Kekasihnya, pria pertama yang menyentuhnya, adalah sang pangeran yang sudah amat terkenal itu. Dan dia pun balas merangkul dan keduanya kemba li tenggelam ke dalam kemesraan yang menda la m.

Kemudian mereka beristirahat, rebah di atas rumput sambil me mper kenalkan diri mas ing-masing. Pangeran itu me mbujuk Ta Giok agar suka ikut bersama dia ke istana keluarganya. Ta Giok merasa ragu-ragu. Kalau ayahnya atau anggauta suku bangsanya tahu bahwa ia bukan hanya berkenalan dengan pangeran pihak musuh, bahkan telah bermesraan dan menyerahkan dirinya, tentu ayahnya akan marah sekali. Bahkan kalau pangeran itu ketahuan, besar sekali kemungkinannya Pangeran Huang Thai Ci akan dikeroyok dan dibunuh tanpa banyak cakap lagi.

Selagi ia ragu-ragu dan belum dapat menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi banyak kaki kuda menuju tempat itu, diseling teriakan-teriakan me manggil na manya! "Celaka.   mereka

datang....!" kata Ta Giok. "Cepat, kau pergilah, pangeran.   !"

Huang Thai Ci juga terkejut sekali dan maklum akan bahaya yang mengancam, tanpa berkesempatan pamit lagi kepada kekasihnya, cepat melompat dan lari menuju ke guha di mana dia menyimpan kudanya, kemudian dia m-dia m dia kabur dari tempat itu melalui lain jurusan.

Sementara itu, Ta Giok setelah me mbereskan pakaiannya, lalu pura-pura rebah pingsan di dekat semak-se ma k di tepi jalan. Ternyata rombongan itu terdiri dari belasan orang perajurit dipimpin oleh ayahnya sendiri dan dite mani oleh Siauw Giok yang menjadi penunjuk jalan.

Ayahnya segera melompat turun dan bersama Siauw Giok menyadarkan Ta Giok. Kepala suku itu menghujaninya dengan pertanyaan di mana adanya harimau itu, akan tetapi karena khawatir kalau-kalau ayahnya merasa curiga, Ta Giok hanya mengge leng kepala ketakutan dan pura-pura tidak ma mpu bicara saking takutnya. Mereka me mbawa Ta Giok pulang dan dara ini dapat menyimpan rahasianya, hanya menyimpan pertemuannya dengan Pangeran Huang Thai Ci itu sebagai sebuah kenangan yang manis dan indah sekali. Akan tetapi ayahnya bukan orang bodoh dan diam-dia m ayahnya menaruh hati curiga karena terjadi perubahan dalam sikap Ta Giok yang suka duduk ter menung. Karena itu, ayahnya lalu me maksanya untuk menikah dengan seorang kepala suku yang masih muda dan yang menjadi sahabatnya.

Pernikahan Ta Giok ini terdengar pula oleh Pangeran Huan Thai Ci. Tentu saja hati pangeran ini merasa kecewa sekali dan ketika terbuka kesempatan, yaitu ketika kaisar menga mbil keputusan untuk me mbasmi kelo mpok-ke lo mpok suku bangsa yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Ceng-tiauw, pangeran ini lalu mengepalai sendiri pasukan yang kuat dan dia lalu menyerbu ke perka mpungan suku bangsa di mana Ta Giok ini menjadi isteri kepala sukunya. Dia me mbas mi kepala suku itu dan berhasil merampas Ta Giok dan Siauw Giok. Pertemuan dua hati yang dipisahkan keadaan ini a mat mengge mbirakan kedua pihak. Dengan penuh kasih sayang, Huang Thai Ci lalu mengangkat Ta Giok menjad i isterinya, dan Siauw Giok lalu dinikahkan pula dengan adiknya, yaitu Pangeran Tuo Ek Kun.

Sifat mata keranjang Pangeran Huang Thai Ci me mang sudah tidak ketulungan lagi! Biarpun d ia sudah me nguasai Ta Giok sebagai isterinya, namun melihat betapa Siauw Giok yang menjad i adik iparnya kini pun nampa k cantik jelita menyaingi kakaknya, dia tidak dapat menahan gelora hatinya. Dan karena adiknya pun merupakan seorang pria yang tidak pantang melakukan pelanggaran susila, maka terjadilah tukar- menukar antara kakak beradik ini! Bukan merupakan ha l yang aneh lagi kalau seringkali Ta Giok mene mani adik iparnya dalam kamarnya, sebaliknya Siauw Giok tidur bersa ma Huang Thai Ci' Peristiwa seperti itu tidak jarang terjadi di dalam istana yang megah dan mulia, bahkan seringkali di te mpat- tempat yang dianggap penuh kemuliaan dan kemewahan ini terjadi pelanggaran susila yang lebih hebat dibandingkan dengan yang terjadi di luar tembok istana. Hal ini adalah karena kebebasan para wanita di dalam tembok istana a mat terbatas, dan kehidupan mereka itu seperti di dalam rumah penjara saja, di dalam tahanan walaupun mereka berenang dalam kemewahan. Dan para pangeran, keluarga kaisar, yang merasa bahwa mereka berada di puncak kekuasaan, kadang- kadang tidak pantang melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan yang tidak akan dilakukan oleh seorang petani gunung yang bagaimana terbelakang dan bodoh sekalipun. Tentu saja hal-hal se maca m itu tidak pernah dicatat di dalam sejarah. Sejarah orang-orang besar selalu penuh dengan kebaikan- kebaikan dan kebersihan-kebersihan belaka, penuh dengan catatan perbuatan yang patut-patut dan mulia.

Demikianlah, ketika Pangeran Huang Thai Ci diangkat menjad i kaisar menggantikan ayahnya dan berjuluk Kaisar Thai Cung dari kerajaan Ceng, Ta Giok yang berasal dari keluarga kepala suku bangsa kecil sederhana itu diangkat pula menjad i Per maisuri! Dan ia masih menjadi per maisuri yang amat berpengaruh dan berkuasa ketika balatentara Mancu terus mengancam kota raja Kerajaan Beng-tiauw yang sudah hampir runtuh itu.

Dalam keadaan Kerajaan Beng-tiauw yang sudah makin le mah itu, tentu saja roda pemerintahan tidak dapat berjalan lancar. Para pembesar di daerah-daerah seperti terlepas dari pengaruh kota raja dan mereka itu seolah-olah berdiri sendiri, menjad i raja-raja kecil di daerah masing-mas ing yang berada di dalam kekuasaan mereka. Dan dalam hal ini pun, hukum rimba tetap berlaku. Pe mbesar yang dekat dengan pasukan, terutama pembesar yang menguasai atau mengepalai pasukan yang terkuat, dialah yang menjadi raja tanpa mahkota! Dengan moda l kekuatan pasukannya, dia dapat memaksakan kehendaknya di daerah yang dikuasainya dan tidak ada siapa pun yang berani menentangnya. Hal ini terjadi karena atasan mereka yang lebih kuat dan besar kekuasaannya berada di kota raja dan kota raja sedang kacau dilanda pemberontakan- pemberontakan.

Akan tetapi, di mana ada kekeruhan, di situ pasti ada yang ingin me manc ing ikan di air keruh, manus ia- manusia yang ingin me mpero leh keuntungan dari keadaan kacau itu. Setiap kali negara mengalami kekacauan, pasti muncul oknum- oknum yang mencari sasaran dan ingin me mperoleh keuntungan diri sendiri me lalui kekacauan-kekacauan itu. Hal ini terjadi karena terbukanya kesempatan-kesempatan bagi mereka. Karena itu, ada benarnyalah kalau dikatakan bahwa kesempatan men imbulkan kemaksiatan! Demikian pula dengan para pe mbesar tinggi di kota raja. Mereka melihat kesempatan terbuka dengan adanya penguasa-penguasa daerah yang berdiri sendiri di daerah-daerah. Dengan pengaruh dan kekuasaan mereka, para pe mbesar tinggi ini mendatangi para pe mbesar daerah, menggertaknya dan menganca mnya dengan tuduhan korupsi dan kalau mereka me lawan, akan dituduh pe mberontak! Tentu saja, di jaman merajalelanya pe mberontakan itu, para pejabat daerah paling takut dituduh pemberontak dan untuk meredakan kemarahan dan ancaman para pejabat tinggi yang datang dari kota raja untuk "mencar i-cari kesalahan" itu, para pembesar daerah tidak sayang untuk menge luarkan banyak harta guna menyogok. Maka merajalela pula penyogokan dan penyuapan, agar para pemeriksa dari kota raja itu me laporkan yang baik- baik saja men genai daerah mereka!

Di kota Thian-cin yang dekat dengan kota raja, hal serupa juga terjadi. Para pejabat kota ini, tidak terkecuali, menggunakan keadaan selagi pe merintah pusat le mah, mereka ini hidup sebagai raja-raja kecil. Sebagai seorang kepala jaksa, maka Pui Kian atau Pui Taijin (Pembesar Pui), tidak mau ketinggalan berlumba mengumpulkan kekayaan dan me mper kuat kedudukan. Dipeluknya komandan pasukan keamanan kota Thian-cin sebagai kawan akrabnya dan mereka berdualah yang seakan-akan menjadi raja-raja kecil di Thian-cin. Pui Taijin sebagai seorang kepala jaksa, berhak untuk menangkap siapa saja dan menuntutnya dengan tuduhan-tuduhan palsu atau tidak, dan men jebloskan mereka yang dianggap tidak taat atau menentang ke dalam tahanan penjara. Dan komandan pasukan itu, Ji-ciangkun (Perwira Ji), berdiri di belakang sang jaksa bersama pasukannya dan tidak seorang pun berani menentang atau me lawan mereka! Dengan cara demikian, mudah saja bagi Pui Kian untuk me meras para hartawan, merampas tanah-tanah pertanian yang luas dan melakukan segala maca m penindasan lagi.

Karena itu, tidaklah mengherankan apabila dia me njadi panik setengah mati ketika mendengar berita pengumuman bahwa pekan depan akan datang seorang pe mbesar tinggi dari kota raja untuk mengadakan pemer iksaan di Thian-cin! Dan dia mendengar bahwa Kwa Taijin (Pembesar Kwa) itu adalah seorang pembesar tinggi yang keras dan suka menga mbil tindakan tegas, juga me miliki kedudukan yang kuat di kota raja! Tentu saja dia menjadi panik dan ketakutan, maka cepat dia me ne mui 3i Ciangkun, sekutunya di Thian-cin.

"Ciangkun, engkau harus dapat menyelamatkan aku sekali ini. Aku gelisah sekali meng hadapi pe meriksaan Kwa Taijin. Kabarnya dia keras sekali dan suka bertindak tegas!" demikian katanya dengan muka agak pucat membayangkan kemungkinan-ke mungkinan buruk yang akan dapat menimpa dirinya.

Wajah pembesar militer itu juga na mpak gelisah. "Pui Taijin, permintaanmu itu sungguh me mbingungkan hatiku. Bagaimana aku akan dapat menolongmu? Aku sendiri pun bingung mendengar dia akan muncul di sini. Sungguh heran, bagaimana dia tahu-tahu akan me lakukan pe meriksaan di sini? Aku khawatir kalau-kalau ada orang yang mengadu ke kota raja." "Apa..... apa maksudmu? Apakah engkau tidak dapat me mperguna kan kekuasaan dan pengaruhmu untuk. untuk

sekedar me le mahkan semangatnya?"

"Aih, kau tidak tahu, Taijin. Pembesar she Kwa itu amat berkuasa dan hatinya seperti terbuat dari baja. Kalau dia sedang tidak senang, biarpun disogok harta berapa banyak sekalipun, dia t idak akan goyah. Dan aku bahkan pernah menjad i korban ketegasannya. Ketahuilah bahwa aku dipindah ke Thian-cin dari kota raja juga karena dia!"

"Apa..... apa maksudmu?" tanya pembesar she Pui itu dengan kaget dan semakin panik.

Perwira itu menarik napas panjang, mengenang kembali pengalamannya yang pahit ketika dia menjad i korban ketegasan Kwa Taijin. Ketika itu, lima tahun yang lalu, kedudukannya adalah seorang panglima di kota raja yang berkedudukan baik. Akan tetapi, pada suatu hari dia telah me lakukan kesalahan, menggunakan kedudukannya untuk menekan keluarga yang sejak lama menjad i musuhnya. Dia berhasil menggunakan kekuasaannya untuk menuntut keluarga itu sehingga mereka ditahan dan dihukum dengan tuduhan me lakukan perlawanan kepada alat negara dan me mberontak, dan dia berhasil menguasai se mua harta milik musuh itu. Dan gara-garanya hanyalah karena pu-teranya bentrok dan berkelahi dengan putera keluarga itu, dan puteranya itu kalah dalam perkelahian itu dan terluka. Akan tetapi, akhirnya urusan itu sa mpai ke tangan Kwa Taijin yang turun tangan menyelidiki dan mengad ilinya me lalui pengadilan kota raja. Dalam urusan ini, dia dianggap bersalah. Keluarga musuh itu dibebaskan, harta mereka dikemba likan dan dia sendiri lalu diturunkan pangkatnya dan dipindahkan ke Thian- cin. Dan kini, sahabatnya ini minta kepadanya agar mau me lindunginya dari Kwa Taijin! Tentu saja nyalinya belum apa- apa sudah menjadi kecil. Se mua ini dia ceritakan kepada Pui Taijin yang menjadi semakin panik. "Celaka, kalau begitu, bagaimana baik nya?"

"Jangan khawatir, sahabatku. Sebaik-baiknya orang, sekeras-kerasnya orang, pasti   ada   cacatnya   dan   ada kele mahannya. Kukatakan tadi bahwa kalau hatinya sedang tidak senang, Kwa Taijin itu dapat keras seperti baja dan sukar sekali dibelokkan kehendak dan keputusannya, bahkan disogok pun tidak dapat. Akan tetapi kalau hatinya sedang senang, dia pun murah hati sekali. Karena itu, engkau harus berusaha menyenangkan hatinya.”

"Bagaimana caranya, ciangkun? Ingat, ini kepentingan kita berdua. Engkau harus membantuku me mikirkan jalan yang baik agar kita berdua dapat lolos dari bahaya. Bagaimana caranya untuk menyenangkan hatinya? Perempuan? Makan minum yang lezat?"

Perwira itu menggeleng kepala. “Bukan, dia bukan tukang ma in perempuan, bukan pula pelahap ma kanan lezat. Akan tetapi dia punya kelemahan terhadap batu-batu permata yang indah, terutama sekali batu kemala dan mutiara. Terhadap dua maca m batu permata itu, melebihi batu-batu mulia yang lain, dia tergila-gila."

"Batu  giok  (ke mala)?  Mutiara?  Wah.   alangkah

mahalnya !"

"Apa artinya harta benda, taijin? Habis harta, bisa cari lagi. Kalau kehilangan kedudukan, apalagi dihukum, kita akan mati seperti tikus dalam jebakan."

Pembesar itu mengangguk-angguk seperti ayam makan jagung. "Kau benar, kau benar! Baiklah, mula i sekarang aku akan mengumpulkan batu giok dan mutiara, akan kubeli dari semua pedagang batu per mata. Akan kukumpulkan yang paling bagus, biar sampai habis uang simpananku asal hatinya menjad i senang."

Pada saat itu, di dalam kegelapan ma la m, ada bayangan orang mengangguk-angguk pula ketika mendengar percakapan dua orang pembesar ini. Orang itu tadi menyelinap dan meloncat seperti seekor kucing saja, tanpa menge luarkan suara dan tidak kelihatan oleh para penjaga. Orang itu bertubuh ra mping, berpakaian serba hita m dan me miliki gerak-an luar biasa r ingan dan cepatnya. Bayangan hitam ini adalah Kim Cui Hongl Sepasang matanya mencorong menger ikan ketika na mpak berkilat.

Seperti telah kita ketahui, gadis ini turun dari sebuah di antara puncak Pegunungan Lu-liang-san, berpisah dari guru nya, Toat-beng Hek-mo, me mbawa buntal an pakaian dan juga ilmu kepandaian t inggi yang dipelajarinya sela ma tujuh tahun setiap hari tak pernah berhenti secara tekun sekali. Tentu saja ia langsung menuju ke Thian-cin. la melakukan penyelidikan tentang jenazah ayahnya dan suhengnya, namun ia gagal dalam penyelidikannya. Tak seorang pun tahu di mana kuburnya dua orang itu. Tadinya ada niat di hatinya untuk meng hubungi saudara-saudara seperguruannya, akan tetapi niat ini la lu d ibatalkannya. Tidak, la t idak akan mencari teman atau pe mbantu dalam usahanya me mba las denda m. Akan ditanganinya sendiri dan andaikata gagal pun akan ditanggungnya sendiri! Balas dendam ini merupakan satu- satunya tujuan sisa hidupnya.

Pertama-tama ia harus dapat mencari dana untuk penyelidikan dan usahanya me mbalas denda m. Ia tahu  ke mana harus mencari uang. Ke rumah gedung keluarga jaksa Pui! Ke mana lagi kalau bukan ke rumah musuh besar nomor satu itu? Mengambil harta dari situ merupakan sebagian pembalasan denda mnya.

Demikianlah, dengan menggunakan ilmu kepandaiannya, ia berhasil menyelinap dan naik ke atas wuwungan rumah gedung keluarga Pui Taijin. Secara kebetulan saja ia melihat dan mendengar percakapan antara Kepala jaksa Pui Kian dan ji Ciangkun. Tentu saja percakapan antara kedua orang itu amat penting baginya. Dari percakapan itu ia dapat menang kap bahwa akan ada pembesar tinggi dari kota raja datang ke Thian-cin dan agaknya Kepala jaksa Pui bersama sekutunya yang berpakaian perwira itu akan berusaha menga mbil hati pe mbesar tinggi itu dengan jalan menyogok dengan barang-barang yang amat disukainya, yaitu batu-batu mulia berupa batu kemala dan mutiara yang tentu amat mahal harganya. Kebetulan sekali, pikirnya dan kepalanya yang penuh dengan siasat terdorong oleh keinginannya me mba las dendam itu sudah diputarnya dan ia sudah me mperoleh siasat yang baik sekali. Sekali turun tangan, ia harus dapat menguasai barang-barang berharga itu dan juga me mukul keluarga Pui! Setelah selesai urusan ini, baru ia akan turun tangan langsung kepada Pui Ki Cong yang belum dilihatnya di gedung itu.

Diurungkannya niatnya mencuri barang berharga dari gedung itu dan pada keesokan harinya, kemba li ia melakukan penyelidikan tentang keluarga Pui dan tentang segala sepak- terjang kepala jaksa itu. Dan ia memperoleh keterangan- keterangan yang amat penting. Kiranya sudah empat tahun lebih Pui Kongcu atau Pui Ki Cong tidak tinggal lagi di Thian- cin, dan men urut keterangan yang diperolehnya, musuhnya nomor satu itu telah pergi pindah. kini tinggal di kota raja, menduduki jabatan tinggi dan penting di istana! Dan tentang Jaksa Pui sendiri, ia me mperoleh berita bahwa pe mbesar itu kini seperti raja kecil, seolah-olah dialah yang paling ber kuasa di Thian-cin, menentukan segala hukum yang berlaku di Thian-cin, berbuat sewenang-wenang mengandalkan kedudukannya dan dilindungi pula oleh sekutunya, yaitu Ji Ciangkun, komandan pasukan kea manan Thian-cin. Juga gadis yang cerdik ini berhasil mendengar percakapan antara dua orang pegawai kabupaten yang sudah tua tentang diri Kwa Taijin, pe mbesar tinggi yang datang dari kota raja untuk mengadakan peneliti an dan pe meriksaan di Thian-cin dalam pekan depan ini. Cui Hong mengangguk-angguk dan ia mulai me mintal siasat yang direncanakannya seperti seekor laba- laba me mintal jaring laba- labanya dengan teliti dan tekun.

Beberapa hal penting dicatatnya dan dikumpulkannya dari pendengarannya dalam percakapan Pui-taijin dan Ji Ciangkun, dan dari hasil penyelidikannya, yaitu

Kwa Taijin, pembesar yang keras dan tegas dari kota raja akan tetapi me miliki kele mahan terhadap batu-batu permata, akan datang mengadakan pe mer iksaan dan agaknya pembesar tinggi itu sudah mendengar akan sepak-terjang Pui Taijin di Thian-cin. Pui Taijin dibantu oleh sekutunya, Ji Ciangkun, sudah me mpers iapkan diri untuk menyogok pembesar Kwa itu dengan batu-batu kemala dan mutiara yang indah-indah untuk menyenangkan hatinya agar terlepas dari pengamatan dan tuntutan, tentu saja.

Malam terakhir dari hari kedatangan Kwa Taijin, kembali Pui Kian dan Perwira Ji mengada kan pertemuan di dalam kamar Jaksa Pui. Kepala jaksa itu me mperlihatkan hasil usahanya mengumpulkan batu-batu kema la dan mutiara, dan me mbuka sebuah bungkusan kain merah. Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah peti berukir indah dari kayu berwarna hitam.

"Ciangkun, coba kauperiksa, apakah barang-barang ini kiranya cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin?" kata Pui Kian sa mbil tersenyum bangga. Ditaruhnya peti itu di atas meja dan ketika peti dibuka, Ji Ciangkun mengeluarkan seruan kagum. Di dalam peti itu nampak benda-benda indah dari batu giok yang berwarna kehijauan, gilang-gemilang dengan ukiran halus sekali. Ada sepasang naga berebut mustika terbuat dari batu giok kemerahan, ada burung merak hijau, burung hong terbang sepasang juga dari giok hijau, ada pula gelang-gelang batu giok yang amat halus dan indah, semua itu diukir dengan halus dan pengikatnya dari e mas putih. Benda-benda ukiran yang demikian indahnya, terbuat dari batu-batu giok murni, sukar ditaksir berapa harganya. Tentu amat mahal! Dan di samping itu ada pula perhiasan-perhiasan terbuat dari batu- batu mut iara pilih an. Ada kalung mutiara, ada pula giwang yang terbuat dari mutiara bermaca m warna, dan ada pula gelang dari mutiara hitam yang tentu amat mahal harganya.

"Ah, selama hidupku belum pernah aku melihat kumpulan giok dan mut iara seindah ini, Taijin!" kata Ji Ciangkun dengan kagum. "Kalau dia tidak puas dan senang dengan benda- benda ini, aku sendiri tidak tahu harus me mberi yang bagaimana! Hebat sekali!"

"Tentu saja hebat! Benda-benda ini adalah barang-barang pilihan, ciangkun. Bahkan ukiran naga dan burung hong kemala ini tadinya adalah benda dari kamar pusaka istana kaisar yang !olos keluar! Tak ternilai harganya dan untuk mengumpulkan benda-benda ini, apalagi dalam waktu tiga empat hari ini, uangku tidak cukup dan a ku harus pinjam dari banyak kawan."

"Ah, apa artinya uang, Taijin? Yang penting, kedudukanmu masih selamat dan engkau mas ih tetap berkuasa. Apa sukarnya kelak mencari uang lagi? Yang penting, harimau dari kota raja itu harus dibikin senang hatinya agar tidak mencakar dan menggigit!" Ji Ciangkun mengakhiri kata-katanya sambil tertawa.

Pui Taijin juga tertawa bergelak dan menutup kembali peti itu. "Ha-ha-ha, engkau benar. Harimau! Dia me mang seperti harimau yang galak. Akan tetapi harimau pun akan kehilangan galaknya kalau dia diberi daging kesayangannya dan perutnya kenyang, bukan? Ha-ha-ha!"

Pui Taijin na mpak ge mbira sekali karena kekhawatirannya hilang atau   setidaknya   banyak   berkurang   setelah   dia me mpero leh kepastian sahabat dan sekutunya bahwa hadiah itu cukup untuk menyenangkan hati Kwa Taijin yang ditakutinya itu. Dia me mbungkus lagi peti hita m itu dan me letakkan bungkusan merah ke da lam almar i yang berdiri di sudut ka mar itu, di belakang te mpat tidurnya. "Mari kita rayakan hasil ini, ciangkun. Hatiku terasa lega dan aku berterima kasih padamu atas nasihat mu. Kelak aku tentu tidak akan melupakan budimu ini. Mari, mar i kita makan minum sepuasnya di ruangan ma kan." Kepala jaksa itu mengajak sekutunya untuk mengadakan pesta di kamar makan.

"Akan tetapi, engkau tentu tidak akan men inggalkan begitu saja barang-barang yang amat berharga itu di dalam kamar ini, Taijin!" Ji Ciangkun berseru ketika mereka hendak men inggalkan kamar. Pui Taijin tersenyum lebar dan me mbuka pintu kamar. "Kau lihat, aku tidaklah sebodoh itu, ciangkun. Kamar itu kusuruh jaga siang ma la m. Aku selalu berhati-hati menjaga diriku, dan setiap hari, kamar ini dijaga oleh enam orang penjaga secara bergilir. Mereka berada di luar kamar dan siapa pun, kecuali aku dan keluargaku, tidak mungkin dapat me masu ki kamar ini. Belum lagi diingat bahwa di sekeliling gedung kami ini selalu d ijaga pengawal-pengawal siang malam. Penjahat yang berani mencoba me masu ki gedung kami sa ma saja dengan bosan hidup dan mau bunuh diri. Ha-ha-ha!" Ji Ciangkun juga tertawa dan men gangguk kagum ketika dia me lihat enam orang penjaga yang bersenjata lengkap me mang na mpak berjaga di depan kamar itu. Mereka lalu men ingalkan kamar yang hanya ditutupkan begitu saja daun pintunya oleh Pui Taijin, dan menuju ke ruangan makan di mana telah menanti pelayan-pelayan wanita yang siap melayani mereka berdua ma kan minum dengan hidangan-hidangan yang masih panas dan mewah.

Para penjaga di luar kamar itu, mau pun yang berjaga di sekeliling gedung Pui Taijin, adalah penjaga-penjaga biasa yang menjaga keamanan keluarga pembesar itu dari gangguan orang-orang biasa yang hendak memusuhi keluarga itu. Tentu saja mereka itu tidak ada artinya bagi seorang pengunjung seperti Kim Cui Hong yang sejak tadi sudah meng intai di antara wuwungan rumah dan mendengarkan, bahkan me lihat ke dalam kamar ketika Jaksa Pui dan Ji Ciangkun bercakap-cakap dan me lihat kumpulan batu permata yang hendak diserahkan sebagai sogokan kepada pembesar Kwa Taijin yang akan datang besok. Selagi dua orang pembesar itu bersenang-senang makan minum di ruangan makan dilayani oleh pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, Cui Hong yang memang sejak tadi sudah me mpers iapkan rencana siasatnya, melayang turun ke dalam kamar tidur pe mbesar itu. Ia me mbuka genteng dan me mbongkar langit- langit, melayang turun bagaikan seekor burung walet ke dalam kamar itu sehingga sama sekali tidak terlihat atau terdengar oleh para penjaga.

Cui Hong menggendong sebuah buntalan yang kini diturunkannya dari atas punggung dan diletakkannya di atas meja. Ia pun lalu me mbuka almari di belakang te mpat tidur, menga mbil buntalan kain merah yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melakukan pengintaian. Dengan tenang namun cepat dibukanya buntalan itu dan dengan hati-hati agar tidak menge luarkan suara, dibukanya peti hitam yang penuh dengan barang-barang indah dari batu giok dan mutiara. Semua benda itu dikeluarkan ke atas meja, kemudian peti itu ia isi dengan isi buntalannya sendiri yang terisi batu-batu biasa. Setelah penuh dan beratnya sama dengan berat barang-barang berharga tadi, ditutupnya kemba li peti Itu dan dibuntalnya kembali dengan kain merah, kemudian dikembalikan benda itu ke dalam almar i. Barang-barang berharga itu kini dibuntalnya dan digendongnya di atas punggung. Setelah me meriksa dengan telit i dan merasa yakin bahwa ia tidak meningga lkan bekas-bekas yang mencurigakan, Cui Hong lalu me loncat ke atas, tangannya menya mbar tiang melintang dan menerobos melalui langit- langit yang sudah dibongkarnya dan me lalui genteng-genteng yang sudah dibukanya. Ia me mbetulkan kembali langit-langit dan genteng dari luar, kemudian tersenyum puas me lihat hasil perbuatannya. Ia telah melakukan siasat yang telah direncanakannya dengan sempurna. Seperti sebatang pedang yang tajam kedua sisinya, sekali bergerak ia telah mendatangkan dua hasil yang baik. Pertama, ia me mperoleh barang-barang berharga yang akan dapat menja min biaya semua usahanya me mba las denda m, me mpero lehnya dari keluarga Pui Ki Cong musuh besarnya nomor satu, dan ke dua, ia pun dapat menjerumuskan Jaksa Pui ke dalam kesulitan kalau peti yang sudah diganti isinya dengan batu- batu kali itu besok diserahkan kepada pe mbesar tinggi dari kota raja!

Memang tadinya tidak sedikit pun terkandung dalam hati Cui Hong untuk mence lakakan Kepala Jaksa Pui ini, kecuali menga mbil harta untuk dipakai sebagai biaya mencar i dan me mba las dendam kepada empat orang musuhnya. Akan tetapi, ketika ia mendengar bahwa putera jaksa itu tidak berada lagi di   situ,   dan ketika secara kebetulan selagi me lakukan penyelidikan hendak me ncuri harta ia mendengar percakapan antara Jaksa Pui itu dengan Perwira Ji, timbullah rencananya untuk mencelaka kan Pui Taijin. Bagaimanapun juga, kepala jaksa ini adalah ayah Pui Ki Cong dan telah me mbantu perbuatan puteranya tujuh tahun yang lalu! Ia maklum bahwa belum tentu usahanya mendatangkan kesulitan kepada keluarga Pui ini berhasil. Bisa saja gagal, misalnya, kepala jaksa itu kebetulan me mer iksa peti atau me lihat kemba li isi peti sebelum diserahkan kepada pe mbesar tinggi dari kota raja itu. Andaikata benar demikian, ia pun tidak akan terlalu kecewa karena tujuan utamanya adalah mencari dana untuk biaya usahanya me mba las dendam dan dalam hal itu ia telah berhasil dengan baik. la akan menanti saja sampai besok dan menyelidiki hasil perbuatannya malam ini.

Agaknya me mang nasib Cui Hong sedang baik atau nasib Kepala Jaksa Pui Kian sedang sial. Peti hita m itu tak pernah dibuka lagi oleh pe mbesar itu sa mpai t iba saatnya peti itu diserahkan kepada Kwa Taijin dari kota raja! Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya rombongan yang dinanti-nanti dengan jantung berdebar tegang oleh para pejabat di Thian-cin itu tiba. Sebuah kereta berkuda empat yang dikawal oleh pasukan pengawal kota raja yang berpakaian indah dan gagah sebanyak lima puluh orang. Pada waktu itu, para pembesar kota raja tidak berani rne lakukan perjalanan ke luar kota raja tanpa pengawal yang kuat, karena banyak nya kerusuhan dan pemberontakan yang timbul di mana- mana.

Biarpun di Thian-cin ada kepala daerah yang sebetulnya me miliki kedudukan lebih tinggi dari Kepala Jaksa Pui, na mun pengaruh dan kekuasaan kepala daerah Teng itu kalah oleh Pui Taijin sehingga ketika para pembesar melakukan penyambutan, kepala daerah ini diam saja, bahkan menganjurkan ketika Pui Taijin me mpersilakan tamu agung itu untuk tinggal di gedungnya. Diam-dia m Kwa Taijin mencatat sikap ini. Memang dia sudah mendengar desas-desus dan keluhan ra kyat di Thian-cin yang sampai ke kota raja tentang pembesar she Pui ini, yang menurut kabar h idup sebagai raja yang berkuasa penuh di Thian-cin! Maka, me lihat sikap Pui Taijin dan mendengar penawarannya agar dia suka tinggal di gedung pembesar itu, dia pun menerimanya karena hal itu akan me mudahkan usahanya untuk me lakukan penelitian dan penyelidikan.

Penyambutan di gedung Pui Taijin a mat meriah. Hal ini me mang sudah dipersiapkan lebih dahulu oleh Pui Taijin. Pembesar tinggi Kwa dari kota raja itu disa mbut seperti orang menya mbut kaisar sendiri saja. Dan begitu tiba di rumah gedung Pui Taijin yang luas, pe mbesar dari kota raja itu bersama para pengiringnya lalu dija mu dengan hidangan- hidangan yang mewah dan lezat. Bahkan lima puluh orang pengawal itupun dija mu d i ruangan la in oleh kepala pengawal yang dikepalai oleh Ji Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Thian-cin. Di dalam kese mpatan ini, setelah me mberi sa mbutan selamat datang dan penghormatan dengan cawan-cawan arak, disaksikan oleh para pe mbesar lain, dengan wajah penuh senyum, Pui Kian lalu menyerahkan buntalan kain merah terisi peti hita m itu kepada Kwa Taijin.

"Mendengar akan kesukaan taijin, maka sebagai penyambutan selamat datang dan penghormatan, saya haturkan sedikit barang-barang kesenian terbuat dari batu kemala dan mutiara ini, harap taijin sudi menerimanya dengan senang hati."

Kwa Taijin adalah seorang yang paling suka mengumpulkan barang-barang terbuat dari batu kemala dan mutiara. Mendengar ucapan itu, dengan mata berseri dia memandang ke arah buntalan kain merah itu.

"Batu giok dan mut iara? Ah, Pui Taijin terlalu sungkan," katanya sambil menerima buntalan itu, me letakkannya ke atas meja dan karena ingin sekali melihat benda-benda yang tentu amat indah itu, dibukanya bundalan itu, kemudian dikeluarkannya peti kecil hita m itu, diikuti oleh pandang mata Pui Taijin yang tersenyum ge mbira karena hadiahnya diterima dengan sikap demikian ge mbira oleh pe mbesar tinggi yang amat ditakuti ini.

Peti hita m itu dibuka o leh Kwa Taijin sendiri dan.  wajah

Kwa Taijin berubah keruh, sinar matanya penuh kemarahan, sebaliknya wajah Pui Taijin me njadi pucat, matanya terbelalak dan dikejap-kejapkan beberapa kali seolah-olah dia tidak dapat percaya kepada matanya sendiri melihat betapa barang- barang ukiran batu giok dan mutiara yang a mat indah itu kini telah berubah menjadi setumpuk batu-batu kali biasa! Juga mereka yang duduk dekat meja itu me mandang dengan kaget. Gilakah   kepala jaksa   itu? Sungguh berani   mati me mper ma inkan Kwa Taijin dari kota raja, memberi hadiah berupa batu-batu biasa dikatakannya perhiasan dari batu giok dan mutiara! Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan yang bergelora di hati Kwa Taijin. Dia merasa dipermainkan, bahkan dihina oleh kepala jaksa yang dia dengar merupakan orang paling berkuasa di Thian-cin ini. Dia begitu datang ke Thian- cin dihina dan dijadikan bahan tertawaan oleh kepala jaksa ini! Diangkatnya peti terbuka itu dan dilemparkannya ke atas lantai dengan wajah -berubah merah sekali.

"Brakkkk....!" Peti itu pecah dan isinya, batu-batu kali itu berantakan di atas lantai. Pe mbesar itu lalu me mutar tubuhnya menghadapi Kepala Daerah Teng yang duduk di dekatnya. "Teng Taijin, mari kita pergi!" Dan dia pun me mberi isarat kepada komandan pasukan pengawalnya untuk pergi dari situ tanpa pamit kepada Pui Taijin.

Tentu saja Pui Kian tidak ma mpu bicara apa-apa, saking kagetnya, heran dan takutnya. Baru setelah pembesar itu pergi, dia berjongkok dan me munguti batu-batu itu, menga matinya satu-satu seperti orang kehilangan ingatan.

"Taijin, apakah yang terjadi? Bagaimana bisa menjad i batu- batu ini....?" Suara Ji Ciangkun menyadarkan Pui Taijin dan dia pun cepat me megang tangan Ji Ciangkun.

"Ciangkun, ada..... ada yang tidak beres....." Dan dengan marah sekali, tanpa me mperdulikan betapa para pejabat lainnya sudah berbondong-bondong meninggalkan ruangan itu untuk meningga lkan te mpat itu agar tidak terlibat, Pui Kian lalu berteriak me manggil kepala pasukan pengawalnya.

"Periksa mereka yang semalam berjaga di luar kamarku! Siksa mereka agar mengaku s iapa yang telah mencuri barang- barang dari dalam peti ini. Lakukan penggeledahan di te mpat tinggal mereka!"

Dengan marah akan tetapi juga khawatir sekali Kepala jaksa Pui mengaja k Perwira Ji berunding di dalam kamarnya. Mereka berdua juga melakukan pe meriksa an di dalam kamar itu, akan tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa kamar itu kebobolan. Keduanya menga mbil kesimpulan bahwa yang bermain gila tentu seorang di antara para pengawal!

Kita tinggalkan dulu dua orang pe mbesar yang berunding dengan hati penuh kekhawatiran itu, dan mengikuti perjalanan Kwa Taijin yang dengan muka merah saking marahnya kini menuju ke gedung Kepala Daerah Teng. Karena marah dan juga kesal hatinya, pembesar dari kota raja ini langsung saja me masu ki kamar yang sudah disediakan untuknya dan menyatakan kepada pihak tuan rumah bahwa malam itu dia tidak mau diganggu lagi dan baru pada keesokan harinya dia mulai bekerja! Dia m-dia m Kepala Daerah Teng merasa girang me lihat adanya peristiwa aneh itu. Dia pun menduga bahwa pasti terjadi hal-hal yang luar biasa karena dia tahu bahwa orang she Pui itu kaya raya dan sudah biasa me mberi hadiah kepada atasannya. Tak mungkin Jaksa Pui itu sengaja menghina Kwa Taijin. Hal ini sa ma dengan bunuh diri! Akan tetapi, diam-dia m dia merasa girang karena peristiwa itu mungkin saja akan menjatuhkan Pui Taijin yang menjadi saingan utamanya, atau setidaknya akan mengurangi kekuasaan Pui Taijin sehingga dia sendiri akan ma mpu menge mbangkan kekuasaannya di Thian-cin yang sebenarnya merupakan wilayahnya karena dialah kepala daerah di situ, sedangkan Pui Taijin hanyalah kepala jaksa yang terhitung anak buahnya.

0 oo o -d-w- ooo 0