-->

Rajawali Lembah Huai Jilid 09

Jilid 09

Wanita yang nyaris diperkosa tadi tidak menangis lagi, akan tetapi kini, sambil duduk bersimpuh di atas rumput, matanya terbelalak penuh kegelisahan memandang ke arah perkelahian. Penolongnya, hwesio itu, dikepung dan diserang tiga orang jahat itu dengan golok, sedangkan hwesio itu sendiri sama sekali tidak memegang senjata. Tentu saja ia merasa khawatir sekali dan merasa ngeri untuk melihat hwesio itu nanti roboh dan mandi darah.

Akan tetapi dengan ilmu silatnya yang amat tangguh itu, Bouw In Hwesio yang bertangan kosong sama sekali tidak dapat disentuh oleh tiga batang golok itu. Bahkan gerakannya membuat tiga orang pengeroyoknya mulai merasa pening, tubuh lawan itu seperti beterbangan saja dan ketika mendapat kesempatan, ujung lengan jubah Bouw In Hwesio menyambar tiga kali dan tiga orang pengeroyok itupun terpelanting roboh, golok mereka beterbangan. Masih untung bagi mereka bahwa Bouw In Hwesio tidak ingin membunuh mereka, maka ujung lengan jubah tadi hanya mematahkan tulang pundak dan lengan kanan saja, membuat mereka menyeringai kesakitan, tidak mampu melawan lagi dan begitu mereka dapat bangkit, mereka seperti dikomando, lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

Bouw In Hwesio tidak mengejar, lalu membalikkan tubuh menghadap ke arah perempuan tadi. Ketika melihat betapa hwesio itu telah berhasil mengusir tiga orang penjahat, wanita itu lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio, menangis tersedu- sedu, tidak dapat mengeluarkan kata apapun untuk menyatakan terima kasihnya.

Melihat wanita itu berlutut di depan kakinya sambil menangis, tangis yang menunjukkan kesedihan yang mendalam, Bouw In Hwesio merasa kasihan sekali. Dia membungkuk, menyentuh kedua pundak wanita itu dan berkata dengan lembut, “Toanio (nyonya), bangkitlah dan hentikan tangismu. Bahaya telah lewat dan kita patut bersyukur bahwa malapetaka tidak jadi menimpa dirimu.”

Dia setengah menarik wanita itu agar mau bangkit berdiri, kemudian mengajaknya duduk di atas rumput tebal, di mana tadi tiga orang penjahat menggumulinya. Wanita itu menurut diajak ke situ, akan tetapi masih tetap menangis sesunggukan.

“Duduklah, toanio dan ceritakan apa yang telah terjadi. Bagaimana engkau sampai dapat dibawa oleh tiga orang sesat tadi ke tempat ini? Di mana rumahmu, dan di mana keluargamu?”

Ditanya demikian, tangis itu menjadi-jadi. Wanita itu menutupi mukanya dengan kedua tangan, duduknya hampir menelungkup dan dari celah-celah jari tangannya mengalir air mata.

Bouw In Hwesio menanggalkan jubahnya yang lebar, lalu menyelimuti tubuh yang setengah telanjang karena pakaian yang koyak-koyak itu. Merasa ada kain menyelimutinya, wanita itu membuka kedua tangan, lalu menangkap kedua ujung jubah dan menyelimuti tubuhnya rapat- rapat, kemudian ia menangis lagi. Tangisnya amat menyedihkan dan Bouw In Hwesio hanya duduk memandang, membiarkan tangis itu memperoleh penyaluran agar hati yang nampaknya ditekan duka itu dapat meringan. Ketika wanita itu tadi menurunkan kedua tangan dari muka untuk memegang ujung jubah sehingga wajahnya terbuka dan nampak jelas, diam-diam Bouw In Hwesio terkejut dan jantungnya berdebar keras. Dia merasa seolah-olah isterinya yang telah meninggal dunia hidup kembali! Dua puluh tahun yang lalu, isterinya tewas di tangan penjahat dan ketika itu, usia isterinya seperti wanita ini, dan sungguh ajaib, ada kemiripan wajah yang luar biasa! Ketika itu, dua puluh tahun yang lalu, dia belum menjadi hwesio, hidup bahagia dengan isterinya. Akan tetapi, karena sejak muda dia menentang kejahatan sebagai seorang pendekar, dia dimusuhi banyak penjahat dan pada suatu hari, penjahat- penjahat datang ke rumahnya untuk membunuhnya. Dia dapat menyelamatkan diri, akan tetapi isterinya tewas di ujung senjata para penjahat. Karena hampir gila oleh kematian isterinya yang tersayang, akhirnya diapun menjadi hwesio! Dan kini, dia menyelamatkan seorang wanita dari tangan tiga orang penjahat, dan wanita itu persis isterinya!

Setelah membiarkan wanita itu menangis beberapa lamanya, akhirnya tangis itupun mereda, tinggal isaknya saja. Bouw In Hwesio maklum bahwa kini tiba saatnya untuk mengajak wanita itu bicara.

“Nah, sekarang ceritakanlah kepada pinceng, apa yang telah terjadi, nyonya. Siapa tiga orang jahat itu, kenapa engkau berada di sini. Siapa engkau dan siapa pula keluargamu.”

“Nama saya Kui Lan Bi tinggal di dusun Kwa-ci bersama suami saya bernama Tang Lok. Kami hanya tinggal berdua sebagai petani karena kami tidak mempunyai anak. Biarpun hidup kami miskin, namun kami cukup berbahagia. Akan tetapi tadi... ketika saya dan suami saya sedang bekerja di ladang, muncul tiga orang itu. Mereka... mereka bersikap kurang ajar kepada saya dan suami saya...” wanita itu mengerang dan menangis lagi.

“Suamimu kenapa, nyonya?” Bouw In Hwesio bertanya, namun alisnya berkerut karena dia menduga apa yang mungkin terjadi. Dugaannya memang benar.

“Suami saya... dia membela saya dan... dan... mereka membunuhnya... lalu melarikan saya ke sini...”

“Omitohud...! Kalau pinceng tahu begitu, tidak akan pinceng biarkan mereka melarikan diri begitu saja! Nyonya, mari kita cepat ke sana menengok keadaan suamimu!” Wanita itu bangkit dan berselimut jubah lebar, terhuyung berlari meninggalkan tempat itu. Khawatir kalau wanita itu terjatuh, Bouw In Hwesio memegang tangannya dan menggandeng sambil setengah menunjang agar wanita itu tidak sampai terjatuh.

Ketika mereka tiba di ladang itu, mayat suami wanita itu sudah dirubung banyak penduduk dusun. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa suami wanita itu, Tang Lok, tahu- tahu tewas di ladang dengan leher hampir putus terbacok. Kini, Kui Lan Bi datang berlari- larian, berselimut jubah, bersama seorang hwesio yang tidak mengenakan baju hanya bercelana saja, tentu hal ini membuat para penghuni dusun menjadi semakin heran dan mereka hanya dapat memandang terbelalak ketika Kui Lan Bi menubruk mayat suaminya dan menangis tersedu-sedu.

Dengan sabar dan tenang, Bouw In Hwesio menceritakan kepada para penghuni dusun itu apa yang telah terjadi. Mendengar bahwa hwesio itu telah menyelamatkan Kui Lan Bi dari perkosaan yang dilakukan oleh para pembunuh Tang Lok, para penduduk dusun baru mengerti, dan di antara mereka ada yang memberikan pakaian kepada wanita itu dengan mengambilkan pakaiannya dari rumah. Jubah milik Bouw In Hwesio dikembalikan oleh Kui Lan Bi yang kini sudah menjadi agak tenang.

Bouw In Hwesio merasa kasihan sekali kepada Kui Lan Bi, apa lagi ketika dia melihat betapa sikap dan pandang mata para penduduk terhadap Lan Bi mengandung rasa tidak suka dan merendahkan, pandang mata para pria di dusun itu mengandung kekurang ajaran dan pandang mata para wanitanya mengandung perasaan tidak senang dan cemburu. Diapun tahu mengapa demikian, Kui Lan Bi adalah seorang janda, tanpa anak, masih cukup muda dan berwajah manis menarik. Bahkan dia kini tahu bahwa Kui Lan Bi hidup sebatang kara setelah kematian suaminya, maka tentu banyak mata pria di situ menaksirnya, dan para wanitanya menjadi cemburu dan curiga. Bouw In Hwesio melihat pula betapa miskin keadaan Kui Lan Bi.

Bahkan untuk membeli peti mati saja ia tidak mempunyai uang, dan terpaksa menjual semua perabot rumah untuk ditukarkan dengan peti mati sederhana! Dia merasa kasihan sekali dan dengan sukarela, dia ikut berkabung, mengatur persembahyangan jenazah dan membantu sampai jenazah itu dikubur.

Bouw In Hwesio yang menghibur Kui Lan Bi dengan nasihat-nasihat selama tiga hari janda itu menangisi kemaratian suaminya yang kini telah dikubur. Dan lebih menyedihkan lagi, jarang ada tetangga yang datang. Yang pria takut kalau dicurigai dan dicemburui isterinya, yang wanita merasa iru dan cemburu. Mereka yang masih membujang juga merasa rikuh karena bagi para pemuda, janda itu merupakan seorang wanita yang lebih tua dengan usianya yang tiga puluh lima tahun dibandingkan mereka yang baru dua puluhan tahun!

Pada hari ke empat, Bouw In Hwesio berpamit kepada Lan Bi yang nampak pucat dan kurus karena selama tiga hari itu ia hanya menangis saja, lupa makan lupa tidur.

“Nyonya, hari ini pinceng akan pergi melanjutkan perjalanan pinceng, harap engkau baik-baik menjaga dirimu dan jangan menenggelamkan hati dan pikiran ke dalam lautan duka.”

Mendengar ini, Lan Bi yang sudah mulai mau bekerja dan pagi itu mempersiapkan makan pagi untuk Bouw In Hwesio, terbelalak memandang kepada pendeta itu. Wajah yang pucat itu, mata yang sayu dan kini dibuka lebar-lebar, bibir yang setengah terbuka dan gemetar, kembali mengingatkan Bouw In Hwesio kepada isterinya, menjelang kematian isterinya yang terluka parah oleh serangan penjahat. Kemudian, tanpa dapat mengeluarkan kata-kata apapun, Kui Lan Bi menjatuhkan diri berlutut dan menangis sesunggukan, menutupi mukanya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan, lebih baik aku mati saja... lebih baik mati saja...” demikian ratapnya di antara tangisnya.

Diam-diam Bouw In Hwesio terkejut. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pamitnya itu akan membuat nyonya muda itu menjadi berduka kembali, bahkan seolah kehilangan pegangan, kehilangan harapan.

“Omitohud, kenapa begini, nyonya? Bangkit dan duduklah, mari kita bicara baik-baik dan tenangkan hati dan pikiranmu,” katanya dan dia menarik wanita itu bangun lalu menuntunnya agar duduk di atas bangku kasar yang tidak laku dijual. “Nah, sekarang katakan, kenapa setelah pinceng berpamit untuk melanjutkan perjalan pinceng, engkau menjadi berduka dan putus asa?”

Kui Lan Bi menyusut air matanya, “Suhu telah membebaskan saya dari malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut, kemudian suhu membantu saya mengurus penguburan suami saya. Sekarang, setelah saya masih dapat bertahan hidup karena ada suhu yang menghibur dan menasihati, tiba-tiba suhu hendak pergi meninggalkan saya. Membayangkan harus hidup seorang diri di sini, tidak mempunyai apa-apa lagi, hidup sebatang kara sebagai seorang janda... ah, saya merasa ngeri, suhu. Saya akan menjadi bahan gunjingan, bahan ejekan, bahkan bahan penghinaan orang-orang. Saya tidak sanggup menghadapi semua itu dan lebih baik saya mati saja, suhu...” Kembali wanita itu menangis sedih.

“Omitohud...!” berulang kali Bouw In Hwesio menggumamkan pujian ini dan di dalam hati dia merasa kasihan sekali. Dia tahu betapa takutnya wanita ini menghadapi kehidupan seorang diri, dan dia tahu pula bahwa kekhawatiran wanita itu bukan tak berdasar. Sebagai janda muda tanpa anak, tanpa keluarga sama sekali, sudah pasti akan banyak pria datang menggoda dan banyak wanita mencemburuinya. Hidupnya akan merupakan siksaan belaka, apa lagi keadaannya amat miskin.

“Nyonya, apakah engkau sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi kepada siapa engkau akan dapat minta bantuan dan tinggal bersama mereka? Kalau tidak sanak keluarga, sanak keluarga suamimu?”

“Tidak, tidak ada, suhu. Biarpun ada akan tetapi sama dengan tidak ada. Dahulu, dalam usia delapan belas tahun, orang tuaku hendak memberikan aku kepada seorang hartawan unuk menjadi selirnya. Akan tetapi aku tidak mau, dan aku lalu melarikan diri dengan Tang Lok, pemuda tetanggaku yang menjadi suamiku kemudian. Kalau aku pulang, orang tuaku tentu tidak akan sudi menerimaku, demikian pula orang tua Tang Lok yang semua mengutuk perbuatan kami melarikan diri. Suhu, saya tidak mempunyai sanak keluarga lagi...”

“Hemm, kalau begitu, lalu bagaimana kehendakmu, nyonya?”

Wanita itu bangkit dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio, “Hanya suhu seorang manusia di dunia ini yang sekarang menjadi harapanku. Suhu, kalau suhu pergi, bawalah saya. Saya akan merawat dan melayani semua keperluan suhu, mencuci pakaian, menyediakan makanan, bekerja sebagai pembantu, sebagai budak.

Setidaknya ada artinya saya hidup. Kalau suhu tidak mau menerima saya, dan meninggalkan saya di sini seorang diri, saya lebih senang mati menyusul suami saya dari pada hidup menderita siksaan lahir batin.”

Bouw In Hwesio terkejut, sejenak tak dapat bicara. Dia sendiri seorang hwesio, perantau pula, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, tidak mempunyai harta kekayaan. Bagaimana mungkin dia menerima seorang wanita, seorang janda, yang ingin mengikutinya? Sebagai pembantu? Betapa janggal dan anehnya, seorang pendeta miskin perantau mempunyai pembantu! Menjadi murid? Kui Bi Lan tidak memiliki bakat menjadi seorang pesilat, apa lagi ia seorang wanita, seorang janda yang usianya sudah tiga puluh lima tahun. Akan tetapi kalau dia menolak? Dia hampir yakin bahwa tentu wanita yang putus asa ini akan membunuh diri! Kalau dia yang hidup tidak mau diikutinya, tentu wanita itu memilih ikut suaminya yang sudah mati! Dan kalau terjadi wanita ini membunuh diri karena dia, berarti dia yang menyebabkan wanita itu mati, dan dia memikul karma yang buruk. Akan tetapi kalau dia menerimanya, lalu bagaimana? Tiba-tiba timbul harapannya. Biarlah wanita ini mengikutinya, kalau nanti merasa tidak tahan dengan kehidupan perantauan yang miskin dan sukar, tentu wanita itu akan mundur sendiri. Dan kalau wanita itu yang meninggalkannya, bukan dia yang meninggalkan wanita itu, lalu terjadi apa-apa dengan wanita itu, dia tidak bertanggung jawab lagi, lahir maupun batin. Akan tetapi, bayangan inipun tidak mengenakkan hatinya. Dia sungguh merasa kasihan kepada wanita ini, wanita yang mengingatkan dia kepada isterinya!

“Omitohud, apa yang dapat pinceng lakukan? Baiklah, nyonya, kalau itu yang kaukehendaki. Engkau boleh ikut pinceng, hanya ketahuilah bahwa pinceng seorang pendeta perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal, yang miskin dan...”

Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena wanita itu sudah menubruk kakinya dan menangis sambil mengucapkan terima kasih. Air matanya bercucuran membasahi dan membasuh kedua kaki Bouw In Hwesio yang masih bertelanjang karena belum mengenakan sepatunya itu.

“Terima kasih, suhu, terima kasih... suhu telah menyambung kehidupan saya...”

“Nyonya, jangan begitu. Bangkitlah...!” Bouw In Hwesio mengangkatnya bangun dan kini wanita itu memandang kepadanya dengan mata yang merah dan muka basah, akan tetapi mulutnya mengandung senyum kebahagiaan dan penuh harapan.

“Suhu, nama saya Kui Lan Bi, panggil saja Lan Bi, harap jangan menyebut nyonya lagi, suhu sudah siap? Biar saya ambilkan sepatu suhu...!” Dengan cekatan seolah ada semangat dan hidup baru yang menggerakkan tubuhnya yang selama beberapa hari nampak layu dan lemah, Lan Bi setengah berlari ke bilik dan mengambilkan sepatu hwesio itu. Dengan cekatan pula ia membawa sepatu itu, berlutut di depan kaki Bouw In Hwesio dan hendak membantu hwesio itu mengenakan sepatunya, sikapnya seperti seorang hamba sahaya yang setia dan taat!

Bouw In Hwesio merasa terharu. “Mulai sekarang, engkau harus mentaati semua petunjukku, Lan Bi. Nah, perintahku yang pertama, jangan engkau membantuku memakai sepatuku, akan tetapi cepat kauselesaikan mempersiapkan sarapan pagi. Sebelum kita pergi, engkau harus makan dulu. Sudah tiga hari ini engkau tidak makan, engkau dapat jatuh sakit. Cepat laksanakan perintahku ini!”

Lan Bi bangkit berdiri, memandang kepada hwesio itu penuh rasa terima kasih, lalu menjawab penuh semangat, “Baik, suhu, akan saya laksanakan perintah suhu!” Dan iapun setengah berlari pergi ke dapur. Bouw In Hwesio menjatuhkan dirinya di atas bangku, mengenakan sepatunya lalu termenung dan berulang kali menghela napas panjang, menggeleng kepala, tersenyum-senyum pahit, menggeleng kepala lagi, lalu mengangguk- angguk.

Pada keesokan harinya, mereka berdua pergi meninggalkan dusun, diiringi jebiran dan gunjingan orang sedusun. Akan tetapi Lan Bi tidak menghiraukan itu semua, bahkan setelah ia dan hwesio itu jauh meninggalkan dusun, semakin ringan rasa hatinya, seolah seekor burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya.

Mungkin karena merasa hutang budi, apa lagi karena di dunia ini tidak ada orang lain lagi yang bersikap baik terhadapnya, yang dapat digantungi harapan masa depannya, Lan Bi benar-benar amat taat dan berbakti terhadap Bouw In Hwesio. Di lain pihak mungkin karena iba hati dan karena persamaan janda itu dengan mendiang isterinya, Bouw In Hwesio juga merasa sayang. Suka duka mereka dalam perjalanan, dalam perantauan, dalam menghadapi bahaya, ketika mereka saling membela, saling menghibur, bukan hal yang aneh kalau akhirnya timbul perasaan lain dalam hati masing-masing. Cinta kasih dapat bersemi di tempat manapun juga, dan dapat melanda di hati siapapun, tua muda, kaya miskin. Bouw In Hwesio yang semenjak ditinggal mati isterinya, dua puluh tahun yang lalu, hidup sebagai pendeta, mengekang nafsu duniawi dan menjauhi segala kesenangan, kini setelah bergaul dengan Lan Bi yang hidup di sampingnya, tak kuasa menahan gairah cintanya. Akhirnya, dengan sukarela, keduanya mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri! Bouw In Hwesio rela meninggalkan kependetaannya, menjadi orang biasa yang berkepala botak, namun bagi Lan Bi, dia merupakan pria terbaik di dunia ini, pengganti suaminya!

Cinta asmara memang sesuatu yang ajaib. Bukan monopoli pria ganteng dan wanita jelita saja. Juga cinta asmara bukan didatangkan karena ketampanan atau kecantikan belaka. Bukan pula karena harta kekayaan. Bahkan lebih sering dan lebih kuat cinta asmara yang dibangkitkan oleh persamaan watak dan kebaikan pribudi ini biasanya lebih kuat dan lebih awet, sebaliknya, yang dibangkitkan oleh keelokan wajah dan banyaknya harta benda, kadang kala malah rapuh. Memang tidak mengherankan. Kecantikan dan ketampanan wajah hanyalah setipis kulit, tidak menembus batin. Maka, yang tadinya nampak cantik atau tampan, setelah timbul pertikaian karena keburukan watak, maka yang cantik atau tampan itu nampak buruk seperti setan! Demikian pula harta kekayaan, hanya menempel di luar kulit belaka. Betapa banyaknya orang yang menikah dengan hartawan, akhirnya menderita batinnya dan harta kekayaan yang tadinya diidamkan, kehilangan daya tariknya, bahkan kehilangan daya hiburnya. Sebaliknya, suami isteri miskin yang tidak cantik tidak tampan sekalipun, dapat hidup berbahagia dan saling mencinta karena mereka memang memiliki cinta yang murni, cinta yang mendatangkan perasaan belas kasihan, mendatangkan kemesraan, mendatangkan perasaan tenang dan aman tenteram, ada ikatan batin yang mendalam.

Setelah menjadi suami isteri, Lan Bi menceritakan kepada suaminya bahwa ia memiliki seorang kakak misan yang juga merupakan seorang ahli silat kenamaan akan tetapi sudah lama ia tidak pernah berhubungan dengan kakak misan itu. Suaminya, Bouw In Hwesio yang sekarang kalau memperkenalkan diri bernama Bouw In saja, terkejut ketika mendengar bahwa kakak misan isterinya itu bukan lain adalah Twa-sin-to Coa Kun dan karena kebetulan perantauan mereka tiba tak jauh dari Nan-king, merekapun pada suatu hari mengunjungi Coa Kun atau Coa-pangcu (ketua Coa) di kota Nan-king. Pertemuan antara saudara misan itu tentu tidak akan mengesankan atau pihak keluarga Coa tidak akan menyambut dengan gembira kalau saja Lan Bi datang seorang diri. Akan tetapi, adik misan ini datang sebagai isteri Bouw In Hwesio! Tentu saja demi bekas pendeta itu, Coa Kun menyambut dengan penuh kegembiraan dan kehormatan dan mereka diterima sebagai tamu kehormatan.

Akan tetapi, Bouw In Hwesio atau sebaiknya kalau kita sebut nama barunya, Bouw In tanpa embel-embel hwesio, tidak mau tinggal menumpang di rumah besar ketua Hek I Kaipang.

Atas bantuan Coa Kun, dia memilih tinggal di sebuah dusun di luar kota Nan-king, dibelikan sebuah rumah oleh Coa Kun. Untuk membalas budi Coa Kun, Bouw In tidak menolak ketika puteri Coa Kun, yaitu Coa Leng Si, mengangkatnya sebagai guru. Bahkan setelah melihat bakat besar yang dimiliki Leng Si yang memang sudah mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, Bouw In merasa suka sekali kepada murid ini dan dia bahkan mengajarkan ilmu simpanannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat! Tentu saja Leng Si maju pesat selama dua tahun digembleng Bouw In, dan tingkat kepandaiannya bahkan melebihi tingkat ayahnya! Demikianlah sedikit riwayat Bouw In mengapa dia kini dekat dengan pimpinan Hek I Kaipang. Biarpun dahulu dia tidak pernah menentang pemerintah secara berterang, namun diapun tidak suka membantu pemerintah Mongol. Dia tidak mau terlibat dalam urusan pemerintahan maupun pemberontakan. Beberapa kali dia dibujuk oleh Coa Kun untuk membantu pemerintah menumpas pemberontak, akan tetapi selalu ditolaknya dengan halus.

“Coa-pangcu, sejak semula aku sudah memberi tahu kepadamu bahwa aku tidak ingin terlibat dalam urusan pemerintah yang bermusuhan dengan para pemberontak. Aku tidak ingin membantu pemerintah, juga tidak mau membantu pemberontak. Aku ingin hidup tenteram di dusun bersama isteriku, menghabiskan masa tuaku,” demikian dia memberi alasan.

Akan tetapi, pada siang hari itu, muridnya, Coa Leng Si datang bersama seregu prajurit yang membawa surat undangan dari Panglima Yauw Tu Cin. Leng Si membujuk suhunya untuk datang menghadap, menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Yauw-Ciangkun di rumah ayahnya. “Suhu, urusannya bukan sekedar penumpasan pemberontakan. Suhu tidak akan dilibatkan dengan urusan itu, akan tetapi ada hal lain yang amat penting, yang membutuhkan bantuan suhu. Bahkan ayah telah mengundang kakek dan nenek guru untuk datang membantu.”

Bouw In tentu saja merasa tertarik. “Apasih urusannya?” akhirnya dia bertanya, karena biarpun dia dapat menolak undangan Coa Kun, ia merasa tidak enak kalau tidak menghiraukan undangan Yauw-Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Nan-king. Menolak undangan itu berarti dia mengambil sikap menentang, dan dia bisa dianggap bersekutu dengan pemberontak!

“Teecu (murid) sendiri belum tahu, suhu. Agaknya urusan penting yang dirahasiakan.” Demikianlah, Bouw In berangkat menunggang kuda bersama Leng Si dan belasan orang prajurit, dan dapat membantu Coa Kun yang bertanding melawan Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen sehingga kedua orang muda itu akhirnya tertawan.

Setelah dua orang tawanan itu dibawa pergi oleh pasukan untuk dihadapkan komandan mereka, Coa Kun lalu memperkenalkan Bouw In dengan sepasang kakek dan nenek itu. Akan tetapi sebelum dia memperkenalkan, baru berkata, “Ini adalah suhu dan suboku...” Bouw In sudah memotongnya sambil tersenyum.

“Aku sudah mengenal mereka. Siapa yang tidak akan mengenal Thian Moko (Iblis Langit) dan Tee Moli (Iblis Bumi)? Ha-ha, sudah bertahun-tahun tidak pernah bersua, apakah kalian baik-baik saja, Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua)? Dan angin apa yang meniuo kalian memasuki dunia ramai?”

Sepasang kakek nenek tua renta itu saling pandang, lalu mengamati pria tinggi besar yang kepalanya botak dan berjubah lebar itu. Kemudian, kakek tua renta yang berjuluk Thian Moko mengerutkan alisnya, memandang tajam dan berkata, suaranya tinggi kecil, cocok dengan tubuhnya yang tinggi kurus pula.

“Sungguh mata ini sudah terlalu tua, ingatan ini sudah terlalu pikun. Akan tetapi, kami rasanya tidak pernah jumpa dengan si-cu (orang gagah), walaupun gerakan si-cu tadi jelas berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-pai yang tangguh. Siapa gerangan si-cu?”

“Ilmu silat tadi aneh, biarpun dasarnya Siauw-lim-pai, akan tetapi belum pernah aku menyaksikan orang Siauw-lim-pai bersilat seperti itu, seperti gerakan burung!” kata si nenek tua renta yang usianya sekitar hanya satu dua tahun lebih muda dari suaminya, yaitu sekitar delapan puluhan tahun. Kalau kakek itu suaranya meninggi kecil, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi kurus, nenek yang berjual Tee Moli ini memiliki suara yang parau besar, sesuai pula dengan tubuhnya yang pendek dan gemuk sekali.

Bouw In tertawa. “Omitohud! Apakah Siang Lomo hanya mengenal orang karena pakaiannya belaka? Andai kata aku mengenakan jubah merah dan kepalaku gundul, lalu bersikap sebagai seorang hwesio, agaknya baru kalian akan mengenalku. Memang aku murid Siauw-lim-pai, akan tetapi sekarang tidak lagi menjadi seorang hwesio.”

“Ah, kiranya Bouw In Hwesio!” kini kakek itu berseru.

“Luar biasa!” kata isterinya. “Bagaimana mungkin ini? Kalau orang biasa mengubah dirinya menjadi pendeta untuk menebus dosa dan kembali ke jalan benar, itu baru wajar. Akan tetapi kalau hwesio mengubah diri menjadi orang biasa, menambah dosa memilih jalan sesat, barulah luar biasa!”

Bouw In tertawa. “Kembali kalian hanya menilai orang dari pakaian dan kedudukannya. Pada hal, pakaian dan kedudukan itu hanya kulitnya belaka, dan yang terpenting adalah isinya, bukan? Bagi manusia, isi dirinya nampak pada sepak terjangnya dalam kehidupan, pada pikiran, kata-kata dan perbuatannya.”

Siang Lomo saling pandang dan tertawa. Thian Moko tertawa dengan suaranya yang kecil tinggi, lalu berkata, “Bukan main! Sejak dahulu menjadi seorang hwesio sampai sekarang, Bouw In Hwesio memang seorang yang aneh dan menyimpang dari orang lain, ingin sekali kami berdua melihat apakah ilmu kepandaianmu juga tetap aneh dan menyimpang dari orang lain! Dahulu ketika engkau menjadi hwesio, engkau tidak pernah tinggal di kuil mengajarkan agama, tidak pernah mengemis makanan, melainkan berkelana seperti seorang petualang sejati. Kini, setelah menjadi orang biasa, engkaupun aneh, bahkan bersembunyi di dusun dan tidak ikut dengan persaingan keramaian dunia. Heh-heh-heh!”

Melihat percakapan itu menjurus kepada kritikan yang mungkin akan menimbulkan bentrokan, atau setidaknya mengadu kepandaian, Hek I Kai-pangcu Coa Kun cepat menengahi.

“Suhu dan subo, dan juga Bouw In suhu, harap sam-wi (kalian bertiga) bersabar sampai kita tiba di rumah, barulah kita dapat melakukan percakapan panjang yang lebih dan penting. Apa lagi, sekarang tentu Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah kami dan saya tidak ingin mengecewakan hati Yauw-Ciangkun dengan membiarkan dia menunggu terlalu lama.”

Mereka lalu menuju ke rumah Coa Kun dan benar saja, Yauw-Ciangkun telah menanti di rumah itu. Akan tetapi, komandan kota Nan-king ini tidak marah, bahkan dia merasa gembira sekali mendengar ditawannya pemberontak Cu Goan Ciang dan cucu dari Pek Mau Lokai yang menjadi pimpinan Hwa I Kaipang, perkumpulan pengemis yang dianggap menentang pemerintah. Mendengar bahwa pasukan telah membawa merka ke benteng untuk menyerahkan mereka kepada Shu-Ciangkun, komandan ini tertawa gembira.

“Bagus, Shu-Ciangkun tentu akan dapat memaksa mereka mengakui di mana adanya pimpinan para pemberontak yang lain. Hanya Shu-Ciangkun yang akan mampu menindas pemberontakan dan memadamkan api pemberontakan sebelum menjalar luas,” kata Yauw- Ciangkun yang merasa bangga dengan pembantu barunya yang masih muda dan lihai itu.

Mereka semua lalu mengadakan pertemuan di ruangan yang luas dan memang disediakan untuk pertemuan yang penting. Ruangan itu tertutup dan di sekelilingnya dijaga ketat oleh anak buah Hek I Kaipang sehingga jangan harap ada orang luar akan mampu ikut mendengarkan apa yang dibicarakan di dalam ruangan itu. Panglima Yauw Tu Cin atau nama aslinya Yatucin, komandan kota Nan-king, duduk sebagai pimpinan di kepala meja. Coa Kun dan puterinya, Coa Leng Si, duduk di sebelah kananya. Di sebelah kirinya duduk suami isteri Siang Lomo atau sepasang Iblis, kemudian baru duduk Bouw In yang bersikap sederhana, bahkan agak acuh.

“Pertama-tama, kami atas nama pemerintah mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada sam-wi lo-cian-pwe (tiga orang tua gagah), yaitu Huang-ho Siang Lomo (Sepasang Iblis Tua Sungai Kuning) dan lo-cian-pwe Bouw In yang sudah banyak kami dengar kesaktiannya dari saudara Coa Kun.”

“Aihh, kami berdua adalah sepasang kakek dan nenek yang sudah tua dan loyo,” kata Thian Moko dengan suaranya yang tinggi.

“Akan tetapi, untuk murid kami Coa Kun, kami akan mempersiapkan tenaga kami kalau memang dapat membantunya,” sambung Tee Moli dengan suaranya yang parau dan besar.

“Omitohud..., saya telah lama mengambil keputusan untuk tidak mencampuri urusan negara, Ciangkun,” kata pula Bouw In.

“Terima kasih kepada ji-wi Siang Lomo yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu saudara Coa Kun. Sebetulnya, urusan ini memang bukan hanya menyangkut diri saudara Coa Kun, akan tetapi terutama sekali menyangkut kehidupan rakyat. Bouw lo-cian- pwe, biarpun lo-cian-pwe tidak mau mencampuri urusan negara, akan tetapi kami percaya bahwa seorang gagah perkasa dan juga beribadat seperti lo-cian-pwe, akan suka menyumbangkan tenaganya demi kesejahteraan dan ketenteraman rakyat, bukan?”

“Hemm, terus terang saja, Ciangkun. Saya menghormati Ciangkun sebagai komandan di Nan- king yang bertanggung jawab akan keamanan dan ketertiban di sini, maka saya datang memenuhi undangan Ciangkun. Sebelum saya menyatakan pendapat dan keputusan saya menyambut tawaran Ciangkun, saya ingin mendengar dulu, apa yang dapat saya lakukan untuk membantu Ciangkun. Terus terang saja lebih dulu saya beritahukan bahwa kalau saya disuruh membantu Ciangkun untuk menumpas pemberontak, saya tidak akan dapat menerimanya. Bukan karena saya memihak pemberontak, melainkan karena di antara para pemberontak itu terdapat banyak sahabat-sahabat baik saya. Saya tidak ingin menjadi seorang pengkhianat terhadap para sahabat saya sendiri, Ciangkun.”

“Baiklah, lo-cian-pwe. Kami tidak akan memaksa siapapun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan suara hati sendiri. Akan tetapi kamipun tidak mengajak sam-wi untuk membantu kami menumpas pemberontakan. Kami hanya mengajak sam-wi untuk membantu agar jangan sampai terjadi perang, jangan sampai terjadi bentrokan besar-besaran yang akan menghancurkan persatuan orang-orang kang-ouw. Kami dari pihak pemerintah merasa amat penting menjaga keutuhan para tokoh dunia persilatan karena kekuatan mereka yang akan mampu mempertahankan keamanan dalam kehidupan rakyat jelata. Para penjahat tidak berani merajalela hanya karena mereka takut kepada para pendekar, bukankah demikian? Nah, masalah yang akan kami bicarakan, yaitu tentang pemilihan Beng-cu di antara para tokoh persilatan.”

“Apa yang dapat saya lakukan dalam urusan pemilihan Beng-cu, Ciangkun? Saya tidak ingin menjadi Beng-cu, kalau itu yang Ciangkun maksudkan,” kata pula Bouw In Hwesio.

“Heh-heh, kamipun sudah terlalu tua untuk menjadi Beng-cu!” kata Thian Moko dan isterinya mengangguk membenarkan.

“Harap sam-wi tidak keliru dan salah sangka. Bukan maksud kami minta kepada sam-wi untuk menjadi Beng-cu. Akan tetapi, sam-wi tentu mengetahui apa akibatnya kalau sampai kedudukan Beng-cu dipegang seorang pemberontak. Sudah pasti dia akan mengerahkan semua tenaga orang-orang dunia persilatan untuk memberontak terhadap pemerintah. Nah, kalau begitu maka akan terjadi perang dan terjadi perpecahan di antara para tokoh kang-ouw. Tidakkah itu menyedihkan sekali? Sebaliknya, kalau yang menjadi Beng-cu seorang yang tidak suka adanya perang, yang menghendaki rakyat hidup tenteram dan sejahtera, tentu dia akan mencegah adanya perang. Di sinilah bantuan sam-wi kami butuhkan, yaitu untuk memberi suara kepada calom yang suka damai dan menentang dipilihnya calon yang akan menimbulkan perang.”

Setelah mendapatkan kesempatan, Coa Kun sendiri lalu bicara. “Suhu, subo dan Bouw-suhu, apa yang dikemukakan yauw-Ciangkun tadi adalah garis besarnya, dan pokok persoalan.

Akan tetapi banyak sekali kaitannya. Pemilihan Beng-cu masih lama, akan tetapi yang sekarang perlu kita tanggulangi adalah bahaya yang mengancam kedamaian rakyat. Baru saja sam-wi melihat sendiri betapa kami diserang oleh dua orang pemberontak. Yang seorang sudah terkenal sebagai pemberontak berbahaya, yaitu Cu Goan Ciang yang telah membunuhi banyak orang, dan yang ke dua adalah cucu Pek Mau Lokai ketua Hwa I Kaipang. Nah, sudah jelas bahwa Hwa I Kaipang adalah perkumpulan yang memberontak. Mereka mendatangkan kekacauan, pembunuhan, dan segala macam kejahatan yang meresahkan rakyat. Akan tetapi harus diakui bahwa Pek Mau Lokai amatlah lihainya. Untuk menghadapi dia dan para pembantunyalah kami mohon bantuan sam-wi. Selama para pimpinan Hwa I Kaipang tidak ditangkap atau dibunuh, selalu akan timbul kekacauan dan ketidak amanan di Nan-king.”

Huang-ho Siang Lomo tentu saja siap untuk membantu murid mereka menghadapi Hwa I Kaipang. Bouw In tadinya merasa enggan untuk mencampuri, akan tetapi mengingat bahwa isterinya masih adik misan Coa Kun, dan ketua Hek I Kaipang ini sudah banyak membantu dia dan isterinya, menerimanya dengan ramah dan baik, lebih-lebih kini puteri ketua itu, Coa Leng Si, telah menjadi muridnya yang dia sayang, maka diapun tidak dapat menolak lagi.

Demikianlah, sejak hari itu, Hek I Kaipang diperkuat oleh tiga orang tokoh besar ini sehingga selain Coa Kun merasa gembira, juga Yauw-Ciangkun senang karena di pihak yang pro pemerintah bertambah tenaga yang dapat diandalkan.

Dalam keadaan kaki tangan terbelenggu, Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen didorong jatuh menjerembab di atas lantai, di depan seorang panglima muda yang duduk di kursinya dengan sikap angkuh. Cu Goan Ciang mengangkat mukanya memandang dan dia terbelalak.

Panglima muda itu! Dia berani bersumpah bahwa panglima ini adalah sutenya, Shu Ta! Akan tetapi, dia membantah keyakinannya sendiri. Tidak mungkin sutenya kini menjadi panglima yang menghambakan diri kepada pemerintah penjajah Mongol! Mustahil! Dia mengenal benar siapa dan bagaimana watak sutenya. Shu Ta adalah seorang yang berjiwa patriot, yang seperti juga dia, bertekad untuk berjuang mengusir penjajah Mongol. Bagaimana mungkin kini menjadi panglima Mongol? Tentu dia salah lihat, atau memang wajah panglima ini mirip Shu Ta.

Panglima itu memandang kepada dua orang tawanannya, lalu memberi perintah kepada para pengawalnya. “Kosongkan ruangan ini! Aku sendiri yang akan memeriksa mereka!”

Mendengar suara panglima ini, hampir saja Cu Goan Ciang berteriak. Suara itu! Tak salah lagi, orang ini pasti Shu Ta. Mana ada dua orang yang serupa segala-galanya, termasuk suaranya? Para pengawal dan prajurit yang membawa dua orang tawanan itupun tidak berani membantah perintah sang panglima. Hanya kepala regu penawan itu yang berkata, “Tai- Ciangkun, dua orang tawanan ini lihai sekali, mereka berbahaya!”

Panglima itu melotot. “Biar mereka tidak terbelenggu sekalipun, aku dapat mengatasi mereka. Apa lagi mereka terbelenggu. Kaukira aku takut! Hayo cepat keluar, aku akan memeriksa dan memaksa mereka mengaku!” Dibentak demikian, semua prajurit segera meninggalkan ruangan itu.

Setelah mereka pergi, Cu Goan Ciang yang tidak dapat menahan lagi penasaran di hatinya, berseru, “Kau...?”

“Sssttt...!” Panglima itu yang bukan lain adalah Shu Ta, cepat menaruh telunjuknya di atas bibir, memberi isarata kepada Cu Goan Ciang untuk diam. Panglima itu lalu menulis di atas sehelai kertas dengan cepat, dan menyerahkan “surat” itu kepada Cu Goan Ciang yang cepat membacanya. Singkat saja, akan tetapi cukup meyakinkan. “Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal. Jangan khawatir, aku akan membebaskanmu.” Hanya demikian isi surat. Cu Goan Ciang mengangguk dan surat itupun diambil kembali oleh Shu Ta.

“Nah, sekarang kalian ceritakan, siapa saja dan di mana adanya kawan-kawan kalian, para pimpinan pemberontak itu!” tiba-tiba Shu-Ciangkun membentak dengan suara nyaring.

Tang Hui Yen tadi juga membaca tulisan panglima itu. Dara ini amat cerdik sehingga melihat sedikit tulisan itu, ia telah tanggap, apa lagi ketika Cu Goan Ciang memperkenalkan dengan bisikan. “Dia suteku.” Tahulah gadis ini bahwa sute dari Cu Goan Ciang ini merupakan satu- satunya harapan mereka untuk dapat lolos, maka iapun membantu permainan sandiwara panglima itu.

“Hemm, apa perlunya membujuk atau menakut-nakuti kami? Kami sudah tertawan, mau hukum, hukumlah, mau bunuh, bunuhlah, kami tidak takut mati dan tidak perlu lagi engkau banyak bicara!” Bentakan gadis itu nyaring sekali dan Shu Ta tersenyum, matanya bersinar gembira dan kagum. Seorang gadis yang hebat, pikirnya.

Tadi ketika para prajurit menyerahkan tawanan, Shu Ta mendengar laporan mereka bahwa gadis itu adalah cucu Pek Mau Lokai, pimpinan Hwa I Kaipang, maka tahulah dia bahwa gadis ini seorang pejuang yang gagah. Diapun tertawa bergelak, suara tawa yang seperti mengejek. “Ha-ha-ha-ha, engkau ini yang menjadi pimpinan perkumpulan jembel Hwa I Kaipang yang membuat kerusuhan dan kekacauan di Nan-king, ya? Seorang wanita muda! Aku mempunyai cara yang membuat seorang wanita akan menyesal menjadi manusia kalau engkau tidak cepat membuat pengakuan!” Cu Goan Ciang tadinya terkejut bukan main ketika mengenal komandan Mongol itu ternyata sutenya sendiri, akan tetapi sekarang diapun sudah dapat menenangkan diri. Entah apa alasan Shu Ta menjadi seorang panglima Mongol! Apapun alasannya, dapat dibicarakan kelak. Kini yang terpenting, sutenya itu berjanji akan membebaskan dia dan Yen Yen! Maka, melihat sikap Yen Yen, diapun segera menanggapi.

“Perwira Mongol keparat! Kami memang pemberontak, kami berjuang untuk membebaskan rakyat dari pada cengkeraman penjajah. Sekarang kami telah tertawan, tidak perlu banyak cakap lagi. Kami siap menerima hukuman mati sekalipun!”

“Jadi kalian tidak mau mengaku siapa kawan-kawan kalian dan di mana mereka?” “Tidak sudi!” Goan Ciang dan Hui Yen menjawab serentak.

Shu-Ciangkun tertawa lagi. “Hemm, aku memberi waktu kepada kalian sampai besok pagi. Malam ini pikirkan baik-baik karena kalau besok kalian tetap berkeras kepala tidak mau menunjukkan tempat sembunyi kawan-kawan kalian, maka kalian akan mati sekerat demi sekerat!” Shu-Ciangkun bertepuk tangan memberi isarat kepada para pengawal. Biarpun para pengawal tadi tidak ada yang berani mengintai ke dalam, akan tetapi telinga mereka dapat menangkap percakapan yang nyaring itu.

Setelah empat orang pengawal masuk, Shu-Ciangkun memberikan perintahnya.

“Masukkan mereka ini ke dalam sel. Satukan dalam sel agar mereka dapat berunding. Biarkan belenggu kaki tangan mereka dan baru boleh dilepaskan kalau mereka akan makan dan ada keperluan ke belakang. Jaga ketat, dan di luar kamar tahanan mereka harus selalu dijaga oleh dua belas orang pengawal. Malam ini, semua penjaga di luat pintu sel jangan ada yang tertidur atau aku akan memberi hukuman berat!”

“Baik, panglima!” kata kepala pengawal dan empat orang itu lalu menarik Goan Ciang dan Hui Yen keluar dari ruangan itu, memasukkan mereka di dalam sel yang istimewa, yaitu sel yang terpisah dan dijaga ketat.

Setelah mereka berdua didorong masuk dalam keadaan kaki tangan terbelenggu sehingga mereka terpelanting roboh dan rebah miring, pintu sel ditutup dan dipasangi gembok baja yang besar dari luat. Sel itu hanya tiga kali tiga meter luasnya, tanpa ada perabot apapun sehingga mereka berdua terpaksa harus rebah di atas lantai yang dingin. Temboknya amat tebal dan di depan terdapat pintu baja dan juga lubang angin yang dipasangi terali baja yang kokoh kuat.

Goan Ciang bergulingan mendekati Hui Yen dan mereka rebah miring saling berhadapan. “Kenapa sutemu menjadi panglima Mongol?” Hui Yen bertanya dalam bisikan.

“Entahlah, akan tetapi dia pejuang sejati.”

“Hemm, bagaimana kita dapat percaya padanya? Jangan-jangan sikapnya tadi hanya pancingan agar kita tunduk dan taat, suka bekerja sama dengan dia.” “Tidak mungkin! Aku mengenal dia sejak kecil. Dia cerdik sekali dan aku bahkan yakin bahwa masuknya menjadi panglima Mongol merupakan siasatnya.”

“Jadi engkau percaya bahwa dia pasti akan membebaskan kita?”

“Aku percaya. Kita tunggu saja dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.” Hening sejenak, kemudian terdengar bisikan halus Hui Yen, “Cu-twako...”

Goan Ciang memandang heran karena dalam suara gadis itu kini terkandung getaran aneh dan ketika dia melihat mukanya, jelas nampak betapa rasa takut terbayang di sana. “Ada apakah, Yen-moi?” Lalu melihat wajah gadis itu, dia menyambung, “Engkau takut...?”

Dalam keadaan biasa, kalau ada yang menyangka ia takut, gadis yang lincah periang dan galak ini tentu akan marah-marah. Akan tetapi saat itu, ia sama sekali tidak marah, bahkan mengangguk! “Twako, bagaimana andai kata... seandainya saja sutemu itu hanya berbohong dan menjebak kita? Bagaimana andai kata ancamannya tadi bukan hanya kosong belaka? Kita akan disiksa...”

“Yen-moi, dalam keadaan seperti ini, jangan membiarkan pikiran membayangkan hal yang belum terjadi, karena rasa takut timbul oleh ulah pikiran yang membayangkan hal-hal yang tidak enak. Kita melihat kenyataan saja, siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam keadaan waspada dan siap siaga, tanpa membayangkan sesuatu, tidak akan ada rasa takut. Yang akan terjadi, terjadilah, namun kita selalu siap menanggulanginya, selalu wajib berikhtiar sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri. Kita adalah orang-orang yang berjuang demi membela rakyat dan tanah air, dan jelas bahwa taruhannya adalah kalau atau terbunuh. Dan kita akan melawan sampai titik darah yang penghabisan, bukan?”

Perlahan-lahan, bayangan rasa takut meninggalkan wajah yang cantik manis itu dan kini kembali sepasang mata itu bersinar dan wajah itu berseri. “Terima kasih, koko. Engkau telah menenteramkan hatiku. Maaf... rasa takut tadi menguasaiku..., sungguh memalukan sekali...”

“Ah, Yen-moi, kenapa memalukan? Takut itu wajar saja. Kaukira akupun tidak mengenal takut? Semua manusia mempunyai rasa takut ini, akan tetapi kalau kita tidak membiarkan pikiran kita melayang dan membayangkan hal-hal yang belum terjadi, maka rasa takut akan menghilang.”

“Terima kasih, dan kini hatiku mantap dan tenang. Andai kata sudah takdirnya aku akan matipun, aku tidak gentar! Bukankah ada engkau di sampingku? Kalau ada engkau mendampingiku, biar matipun aku tidak takut. Kita akan mati bersama, toako!”

Goan Ciang merasa terharu. Dia mengerti apa yang terjadi dalam hati gadis ini. Ia jatuh cinta kepadanya! Dan dia sendiri? Ah, belum sempat dia berpikir tentang cinta, belum hilang luka di hatinya oleh kematian Kim Lee Siang, wanita yang pertama kali menjatuhkan hatinya, yang dicintanya dan mencintanya. Akan tetapi, dia yakin pula bahwa tidak akan sukar bagi hatinya untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Hui Yen ini. Akan tetapi, belum waktunya untuk membiarkan diri hanyut dalam kemesraan cinta lagi. Perjuangan masih belum selesai, bahkan kini mereka berdua menjadi tawanan dan mereka hanya dapat mengandalkan sutenya untuk dapat meloloskan diri. Tanpa bantuan sutenya, bagaimana mungkin membebaskan diri dalam kamar tahanan sebuah benteng? “Yen-moi, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Semua ancaman bahaya kita hadapi bersama, dan kalau perlu, kita mati bersama demi perjuangan!”

“Demi perjuangan!” kata pula Yen Yen dengan penuh semangat.

“Sekarang, kita harus sedapat mungkin tidur dan menghimpun tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan,” bisik Goan Ciang.

Sementara itu, tertawannya Cu Goan Ciang membuat Shu Ta menjadi risau. Bagaikan seekor harimau yang tertangkap dan dikurung dalam kerangkeng, pemuda yang berhasil menjadi panglima Mongol ini berjalan hilir mudik di dalam kamarnya. Dia memang merasa seperti seekor harimau dalam kerangkeng. Sambil berjalan hilir mudik berjam-jam lamanya, dia mencari jalan keluar dari dalam kerangkeng itu. Mencari akal yang baik untuk dapat keluar dari keadaan yang mencemaskan keadaan hatinya itu. Dia harus membebaskan suhengnya dan gadis pemberani itu, apapun resikonya! Dan dia harus mencari cara yang tepat, karena ada dua hal yang harus dapat dia kerjakan dengan baik. Pertama tentu saja mengusahakan agar suhengnya dna gadis itu dapat lolos dengan berhasil, dan ke dua agar usaha meloloskan dua orang itu tidak sampai melibatkan dirinya! Pada hal, dia tidak mempunyai seorangpun yang dapat dipercaya dalam benteng itu, tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya. Dia tidak dapat mengharapkan bantuan orang lain, dan harus dia lakukan seorang diri!

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Shu Ta baru saja menghadap Yauw-Ciangkun, atasannya dan dia melaporkan bahwa dia sedang berusaha agar dua orang tawanan itu membuka rahasia dan mengakui tentang kawan-kawan mereka agar pasukan dapat melakukan pembersihan total.

“Mereka berdua adalah orang-orang penting dalam gerombolan pemberontak,” demikian antara lain dia melapor dan mengajukan usul. “Oleh karena itu, saya bersikap sabar dan memberi waktu kepada mereka semalam ini untuk berpikir dan memilih, yaitu pada besok hari, mereka menceritakan tentang tempat persembunyian kawan-kawan mereka, atau mereka akan disiksa perlahan-lahan sampai mereka tidak tahan dan terpaksa mengaku juga. Hal ini penting sekali, Ciangkun. Kalau membunuh mereka begitu saja, mereka mati tanpa ada manfaatnya bagi kita. Sebaliknya kalau mereka mau mengaku, kita untung besar dan dapat membasmi para pemberontak dengan cepat.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Aku percaya padamu, Shu-Ciangkun. Terserah kepadamu untuk bertindak.”

Demikianlah, ketika malam itu turun hujan, Shu Ta merasa gembira di dalam hatinya. Agaknya alam juga membantu lancarnya siasat yang akan dilakukannya malam itu. Dia telah mempersiapkan segalanya. Dia lalu mengadakan perondaan, hal yang tidak luar biasa karena komandan muda ini memang seringkali turun ke lapangan dan di waktu malam suka melakukan perondaan untuk memeriksa sendiri para prajurit yang melakukan penjagaan.

Dalam hal ini, dia bersikap keras dan berdisiplin. Maka, ketika malam itu dia meronda, dari ujung benteng di pintu gerbang sampai ke tempat tawanan umum dan tawanan istimewa, para penjaga tidak merasa heran. Shu Ta sempat memberi teguran di sana-sini, dan memperingatkan bahwa malam itu terdapat dua orang tawanan penting, maka penjagaan harus diperketat. Bahkan dia memerintahkan agar malam itu diadakan perubahan pada cara perondaan.

“Malam ini, setiap satu jam sekali, dari menara harus dibunyikan lonceng lima kali dengan nyaring agar semua penjaga tidak sampai tertidur. Dan setelah lonceng berbunyi, seregu penjaga harus melakukan perondaan memutari tembok benteng dengan mengambil searah jarum jam, dari kanan terus memutar sampai kembali, ke pintu gerbang. Hujan lebatpun, perondaan harus dilakukan! Siapa melanggar, akan dihukum berat! Ingat, aku ikut mendengarkan lonceng itu, dan perondaan harus tepat pada waktunya.” Setelah meninggalkan pesan ini kepada kepala penjaga, yaitu perwira yang bertugas malam itu, Shu-Ciangkun lalu meronda ke tempat tahanan istimewa, di mana malam itu hanya ada dua orang tahanan, yaitu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen.

Dia memeriksa keadaan ruangan tahanan itu. Ada seorang penjaga di setiap pintu dan tempat itu mempunyai tujuh lapis pintu! Sungguh merupakan tempat yang amat kokoh kuat dan betapapun tinggi tingkat kepandaian seseorang, kalau dia disekap di dalam tempat itu, jangan harap akan mampu meloloskan diri. Di bagian dalam sendiri terdapat tujuh orang penjaga sehingga jumlah mereka dari depan sampai ke dalam ada empat belas orang penjaga. Setiap tiga jam sekali, empat belas orang ini diganti dengan tenaga yang masih baru sehingga tidak mungkin ada yang mengantuk. Kalau ada tahanan hendak melarikan diri, lebih dahulu dia harus membunuh tujuh orang penjaga sebelah dalam itu, lalu dia harus mampu membuka setiap pintu baja sampai tujuh kali, pada hal semua pintu terkunci dari luar, dan harus membunuh setiap orang penjaga. Sebelum dia dapat melakukan ini, si penjaga tentu saja dapat memukul kentungan tanda bahaya dan dalam waktu sebentar saja tempat itu akan dipenuhi pasukan. Tidak, tidak mungkin orang dapat melarikan diri dari situ, betapapun lihainya.

Shu Ta memesan kepada semua penjaga agar malam itu hati-hati melakukan penjagaan dan siapapun juga orangnya, malam itu tidak diperkenankan masuk, kecuali kalau dia sendiri hendak memeriksa tahanan.

Tak lama setelah Shu Ta kembali ke bangunan tempat tinggalnya sendiri dalam perbentengan itu, nampak bayangan hitam berkelebat dan menyelinap di antara kegelapan bayang-bayang bangunan di dalam benteng itu. Agaknya dia mengenal baik keadaan di situ. Dia menyusup- nyusup dan menghindarkan pertemuan dengan para petugas yang melakukan penjagaan malam itu. Betapapun ketatnya penjagaan karena malam itu turun hujan, maka para petugas agak enggan untuk berhujan-hujan dan mereka hanya berjaga-jaga di pos penjagaan. Tak seorangpun dapat melihat berkelebatnya bayangan yang gerakannya amat cepat itu, apa lagi malam itu amat gelapnya, biarpun hujan turun sejak tadi, langit masih saja gelap.

Setelah tiba di pintu pertama tempat tahanan istimewa, bayangan itu telah berubah menjadi Panglima Shu Ta, berpakaian lengkap. Tentu saja penjaga pintu pertama terkejut melihat munculnya komandan ini. Memang tidak aneh, kalau sang komandan melakukan perondaan, akan tetapi di malam hujan dan gelap dingin seperti itu!

“Buka pintu, aku akan memeriksa tawanan, lalu tutup lagi pintu, kunci dari dalam dan kau ikut mengawalku masuk,” kata sang komandan dengan singkat, namun suaranya mengandung perintah yang tidak boleh dibantah. Penjaga itu tentu saja melaksanakan perintah ini dengan girang bahwa dia disuruh mengawal masuk karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan panglima yang bertangan besi terhadap para penjahat itu terhadap dua orang pemberontak yang ditawan. Shu Ta mengulangi perintahnya di pintu-pintu berikutnya, yaitu mengunci pintu kembali dari dalam dan memerintahkan penjaga ikut pula mengawalnya masuk. Sikap ini tentu saja tidak membuat para penjaga itu seujung rambutpun tidak mencurigai panglima ini. Panglima itu menyuruh mereka mengunci pintu dan mengajak mereka ikut masuk. Jelas ini merupakan langkah keamanan dan mereka merasa terhormat dipercaya untuk ikut masuk ke dalam tempat yang sesungguhnya terlarang oleh siapapun kecuali sang komandan dan petugas yang melakukan tugas jaga di dalam.

Tujuh orang penjaga di dalampun merasa heran ketika melihat komandan mereka muncul dikawal tujuh orang penjaga pintu. Kini Shu Ta berada di depan ruang tahanan bersama empat belas orang prajurit penjaga.

“Kalian semua harus berjaga dengan ketat di luar ruangan tahanan. Aku akan memeriksa tahanan dan membujuk mereka agar mengaku. Awas, semua siap, akan tetapi sebelum ada perintah dariku, jangan bergerak. Mereka terbelenggu, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kepala jaga, serahkan kunci-kuncinya kepadaku!”

Seuntai kunci diserahkan kepala jaga kepada Shu Ta, terdiri dari dua kunci pintu baja dan dua buah kunci belenggu kaki tangan dua orang tawanan itu. Setelah sekali lagi memperingatkan mereka untuk berjaga-jaga di luar menanti perintahnya, Shu Ta sendiri membuka pintu ruangan itu. Ketika dia memasuki ruangan itu, Goan Ciang dan Hui Yen yang sejak tadi sudah mendengarkan suara Shu Ta dan mereka berdua sudah siap siaga.

“Panglima Mongol jahanam busuk, mau apa engkau masuk ke sini? Pergi, engkau memuakkan perutku saja!” terdengar Yen Yen berteriak memaki-maki.

“Hemm, panglima Mongol, kami sudah tertawan dan kami siap menerima hukuman mati. Tidak ada gunanya bagi engkau membujuk kami, kami tetap tidak mau membantumu.

Bunuhlah kalau kau mau membunuhku!” kata pula Goan Ciang dengan suara penuh geram.

Sementara itu, Shu Ta sudah mengeluarkan kunci dan membuka belenggu kaki tangan dua orang itu selagi mereka memaki-makinya, dan dia berbisik, “Di luar ada empat belas orang pengawal, kita harus membunuh mereka dengan serentak, suheng. Kalau ada seorang saja yang lolos, kita bertiga takkan dapat lolos, dari sini!”

Goan Ciang sudah dapat mengerti dan dia merangkul Shu Ta. “Baik, sute, mari kita bunuh mereka!”

“Kalian pura-pura masih terbelenggu dan rebah, akan kupanggil mereka semua ke sini,” bisik Shu Ta dan diapun menjenguk keluar dari pintu kamar tahanan dan berteriak, “Kalian semua ke sini, aku membutuhkan bantuan kalian. Semua ke sini, jangan ada yang berada di luar!”

Mendengar perintah ini, empat belas orang penjaga itu seperti berlomba memasuki kamar tahanan. Hal ini tidak aneh karena seorang di antara dua tawanan itu adalah seorang gadis yang amat cantik manis dan mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh tugas menggarap gadis itu agar mengaku.

Melihat empat belas orang itu sudah masuk semua, Shu Ta malah melangkah keluar dan menjaga di pintu, seolah menjaga agar dua orang tawanan itu tidak dapat lari keluar. Setelah empat belas orang itu memasuki kamar tahanan sehingga agak berhimpitan, mereka tidak tahu harus berbuat apa karena belum ada perintah. Mereka semua menghadap ke arah pintu sehingga membelakangi dua orang tawanan yang masih rebah miring. Mereka semua menanti perintah dari sang komandan. Akan tetapi pada saat itu, dua orang tawanan yang tadinya nampak rebah miring dengan kaki tangan terbelenggu, tiba-tiba berloncatan bangun dan begitu kaki tangan mereka bergerak, empat orang penjaga roboh! Yen Yen merampas sebatang tombak, sedangkan Goan Ciang merampas sebatang pedang, lalu kedua orang ini mengamuk dari dalam.

Tentu saja para penjaga itu terkejut setengah mati menghadapi amukan dua orang itu. Mereka tadinya tertegun melihat empat orang rekan mereka roboh, tidak tahu apa yang terjadi. Ketika melihat empat orang itu roboh oleh serangan dua orang tawanan yang tadinya rebah di lantai, mereka tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi. Mereka segera mencabut senjata dan melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena tempat itu sempit dan mereka tidak melakukan persiapan, diserang secara mendadak sehingga panik, maka sebentar saja, empat orang roboh lagi oleh tombak Yen Yen yang dimainkan seperti tongkat, dan pedang di tangan Goan Ciang.

Enam orang prajurit, sisa dari empat belas orang itu menjadi semakin panik dan mereka berdesakan hendak keluar dari kamar tahanan. “Ciangkun..., bagaimana ini...?” teriak mereka dengan bingung. Akan tetapi, sambutan yang mereka dapat dari Shu Ta menghilangkan kebingungan mereka, Shu Ta menggerakkan pedang dan membunuh dua orang yang berada paling depan. Tahulah mereka bahwa ini merupakan suatu pengkhianatan dari komandan mereka itu! Empat prajurit membalik dan melawan mati-matian, namun dengan mudah Goan Ciang dan Hui Yen merobohkan mereka. Habislah empat belas orang itu, roboh semua oleh tiga orang itu. Shu Ta tidak mau mengambil resiko, dia mengajak Goan Ciang untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti dan menambah tusukan maut bagi mereka yang belum tewas sehingga mereka yakin bahwa empat belas orang itu sudah tewaas semua.

“Sekarang, dengar baik-baik, suheng. Aku menjadi panglima agar kelak dapat membantumu dari dalam. Engkau dari luar dan aku dari dalam. Bagus, bukan?”

Goan Ciang tidak menjawab, hanya merangkul dan menepuk-nepuk pundak sutenya. “Sekarang, apa yang akan kita lakukan, sute?”

“Nah, perhatikan rencanaku ini. Siasat ini harus dilaksanakan sebaik mungkin karena kalau gagal, membahayakan keselamatan kita dan berarti menggagalkan pula perjuangan kita.” Dia lalu bicara berbisik-bisik namun singkat dan jelas. Setelah Goan Ciang dan Hui Yen mengangguk-angguk mengerti, barulah Shu Ta merasa puas.

“Nah, sekarang aku akan membuka satu demi satu tujuh pintu depan. Bantu aku mengambil kunci-kunci itu dari dalam saku baju para penjaga, suheng. Yang itu, dan itu, dan di sana itu...” Bukan hanya Goan Ciang, juga Hui Yen tanpa diperintah sudah ikut membantu, mencari dan mengambil kunci dari saku baju para penjaga yang ditunjuk dan yang telah menjadi mayat.

Tidak lama kemudian, tujuh lapis pintu itu terbuka semua dari dalam dan yang keluar dari pintu paling luar adalah dua orang prajurit dan seorang berpakaian dan berkedok hitam! Tentu saja si kedok hitam adalah Shu Ta dan dua orang pelarian itu melucuti dan mengenakan pakaian dua orang di antara para prajurit yang tewas. Karena sudah hafal benar akan keadaan dalam perbentengan itu, tentu saja tidak sukar bagi Shu Ta untuk mencari jalan paling aman sehingga mereka dapat mendekati pagar tembok tanpa diketahui seorangpun penjaga.

Dari dalam segerombolan semak Shu Ta mengeluarkan segulung tali yang dipasangi kaitan di ujungnya. Semua terjadi sesuai dengan rencana yang sudah dipersiapkannya sore tadi. Dia mengajak dua orang pelarian itu bersembunyi di belakang semak yang jaraknya sekitar lima puluh meter dari pagar tembok dan menanti. Hujan masih turun rintik-rintik dan malam gelap sekali. Tak lama kemudian, terdengar bunyi pukulan lonceng dan seperti yang sudah diperintahkan Shu-Ciangkun, beberapa orang peronda lewat.

Goan Ciang dan Hui Yen cepat keluar dari balik semak belukar, berlari mendekati pagar tembok dan Goan Ciang segera melemparkan ujung tali yang ada kaitannya ke atas. Sekali lempar, kaitan itu meluncur ke atas membawa tali dan berhasil menggait tepi pagar di atas. Setelah menarik-narik tali itu dan mendapat kenyataan bahwa kaitannya cukup kuat, dia memberi isarat kepada Hui Yen dan mereka lalu merayap naik melalui tali yang kuat itu. Setibanya di atas pagar tembok, mereka mendekam dan Goan Ciang menarik tali itu ke atas tembok. Tali itu masih mereka butuhkan. Meloncat begitu saja ke bawah dari pagar tembok setinggi itu, mengandung bahaya besar karena di luar pagar tembok masih terdapat banyak penjaga yang selalu melakukan perondaan. Sesuai dengan siasat yang sudah diatur Shu Ta, mereka kini menanti di atas pagar tembok dan memandang ke arah pos penjagaan di depan pintu gerbang benteng. Shu Ta sudah memilih tempat yang paling tepat. Benteng itu terkurung parit yang berisi air dan keadaannya amat berbahaya, sukar untuk dapat diseberangi. Bagian yang dipilih Shu Ta itu dekat dengan pintu gerbang yang merupakan bagian paling sulit dilalui karena banyaknya pasukan yang berjaga. Ketika Goan Ciang dan Hui Yen memperhatikan ke bawah, ternyata di luar pagar tembok di bawah mereka terdapat bangunan kecil seperti pondok berjajar lima. Tempat ini adalah tempat peristirahatan bagi para prajurit yang tidak berjaga, juga menjadi tempat penyimpanan ransum, dapur dan penyimpanan senjata.

Kedua orang pelarian itu ingat benar akan pesan Shu Ta tadi, pesan yang barus dilaksanakan dengan cermat. Sebentar lagi rombongan peronda di atas pagar tembok benteng yang tebal itu akan lewat dan di atas itu tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri. Mereka akan ketahuan, dan kalau ketahuan di atas tembok itu, tentu saja amat membahayakan mereka dan sukar untuk dapat meloloskan diri.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan keributan di bawah, sebelah dalam. Tahulah Goan Ciang bahwa sutenya sudah bertindak, sesuai dengan siasat yang telah diaturnya. Shu Ta telah memancing perhatian di sebelah dalam pagar tembok.

“Mari kita turun cepat dan hati-hati,” bisiknya kepada Hui Yen dan diapun melepas gulungan tali yang ujungnya sudah dikaitkan di atas itu, ke bawah. Lalu keduanya merayap turun dengan cepat sehingga mereka dapat tiba di atas atap pondok-pondok itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Akan tetapi, tetap saja ada seorang penjaga yang melihat mereka. Penjaga itu berteriak dan sedikitnya tiga puluh orang prajurit mengepung pondok itu sambil berteriak- teriak. Di antara mereka bahkan ada yang sudah berloncatan ke atas genteng pondok.

Dua orang pertama yang meloncat ke atas genteng, disambut oleh Goan Ciang dan Hui Yen. Mereka terjungkal ke bawah sambil mengaduh. Para prajurit yang berada di bawah menjadi gempar. Kini banyak orang yang berloncatan ke atas, dan pada saat itu, Goan Ciang dan Hui Yen meloncat turun! Dua orang pelarian ini menyelinap di antara para prajurit yang berteriak- teriak itu dan karena tempat itu gelap, hanya remang-remang saja diterangi lampu gantung dari pondok, maka tentu saja para prajurit menganggap mereka itu kawan sendiri.

“Ini penjahatnya!” Seorang prajurit yang berada dekat dengan Hui Yen berseru, akan tetapi teriakannya tadi menyadarkan para rekannya bahwa dua orang yang berpakaian seperti mereka itu adalah orang-orang yang tidak mereka kenal, maka mereka segera mengepung dan mengeroyoknya. Goan Ciang dan Hui Yen mengamuk. Mereka dikepung oleh kurang lebih tiga puluh orang prajurit. Di antara mereka ada yang membawa obor sehingga tempat itu menjadi agak terang, Goan Ciang dan Hui Yen mengamuk, dapat merobohkan empat orang pengeroyok.

“Lari...!” teriaknya kepada Hui Yen. Seperti telah dipesankan oleh Shu Ta, mereka harus cepat-cepat melarikan diri karena kalau sampai bala bantuan tiba, mereka akan dikepung oleh ratusan, bahkan ribuan orang prajurit dan tidak mungkin lagi mereka akan dapat meloloskan diri. Jalan satu-satunya untuk dapat keluar dari daerah perbentengan itu hanya melalui jembatan di depan pintu gerbang. Saat itu, yang bertugas jaga di depan pintu gerbang hanya sekitar empat puluh orang. Akan tetapi dalam waktu singkat, jumlah itu dapat bertambah menjadi puluhan kali lipat banyaknya! Shu Ta menjamin bahwa penambahan jumlah itu tidak akan dapat terjadi dengan cepat karena dia yang akan mengacau dan memancing perhatian di sebelah dalam sehingga tidak ada perhatian di luar tembok. Apa lagi, puluhan orang prajurit di luar tembok itu tentu merasa tidak perlu minta bantuan dari dalam kalau hanya menghadapi dua orang pelarian saja.

Terjadi pengejaran di sekitar pintu gerbang. Kembali Hui Yen dan Goan Ciang mendapatkan keuntungan karena penyamaran mereka. Mereka berdua berloncatan dan berlarian, menyelinap di antara pondok dan kadang, kalau mendadak bertemu prajurit, si prajurit agak tertegun karena mengira rekan mereka sendiri. Keraguan yang hanya beberapa detik ini cukup bagi kedua orang pelarian itu untuk merobohkan lawan.

Akhirnya, Goan Ciang dan Hui Yen berhasil menyeberangi jembatan setelah merobohkan belasan orang prajurit. Para prajurit menjadi gempar, sebagian melakukan pengejaran dan ada pula yang memukul tanda bahaya memberi isarat ke dalam!

Sementara itu, di dalam perbentengan terjadi kegemparan. Seorang yang berpakaian hitam dan berkedok hitam telah merobohkan empat orang berturut-turut. Yang diserang adalah para peronda, kemudian bayangan hitam itu nampak berkelebatan di dekat pintu gerbang, merobohkan lagi dua orang prajurit. Tentu saja dia segera dikeroyok, akan tetapi dengan gesitnya dia berloncatan dan menyusup ke sana sini, dikejar oleh para prajurit. Tentu saja suasana menjadi geger dan kacau. Teriakan-teriakan para prajurit membuat suasana menjadi semakin kacau.

Ketika si kedok hitam lenyap ditelan kegelapan, ada prajurit yang memukul tanda bahaya dengan gencarnya. Tak lama kemudian, Panglima Shu Ta muncul dengan pedang di tangan. Dia nampak seperti baru bangun tidur dan pakaiannyapun tidak lengkap, seperti tergesa-gesa.

“Apa yang telah terjadi?” bentaknya. Para perwira juga bermunculan dan semua bertanya apa yang terjadi.

“Ada seorang berkedok hitam mengacau dan membunuh beberapa orang prajurit, Ciangkun!” seorang prajurit melapor. “Ahhh! Kita cepat memeriksa tempat tahanan. Hayo ikut dengan aku!” kata Shu-Ciangkun. Tujuh orang perwira dan belasan orang prajurit segera mengikutinya dan mereka berlari-lari menuju ke tempat tahanan. Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya semua orang ketika mendapat kenyataan bahwa tujuh lapis pintu itu telah terbuka semua. Mereka menyerbu masuk dan ketika mereka tiba di tempat tahanan, mereka terbelalak melihat betapa empat belas orang prajurit penjaga telah tewas semua dan mayat mereka bertumpuk dan berserakan di dalam kamar tahanan! Dua orang tahanan telah lenyap!

“Celaka!” Shu-Ciangkun berteriak. “Tentu si kedok hitam itu yang membebaskan mereka. Hayo kerahkan semua pasukan, cari dan kejar!”

Para perwira berlarian keluar untuk melaksanakan perintah itu, dan ketika Yauw-Ciangkun datang, diapun menjadi marah bukan main. “Bagaimana mungkin dua orang tawanan yang berada di dalam benteng dapat melarikan diri begitu saja? Ini tentu ada bantuan dari dalam!” katanya.

“Sayapun berpendapat begitu, Ciangkun!” kata Shu Ta. “Kita harus dapat menangkap si kedok hitam itu, dan menangkap kembali dua orang tahanan!”

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya. “Shu-Ciangkun, sekali ini aku agak kecewa. Kenapa engkau tidak segera suruh bunuh saja dua orang pemberontak itu, dan menggantungkan kepala mereka di pintu gerbang? Kini mereka lolos dan ini merupakan pukulan hebat bagi kita.”

“Maaf, Yauw-Ciangkun. Tadinya saya berniat untuk membujuk mereka agar mengaku di mana adanya kawan-kawan mereka. Saya memberi waktu semalam ini, bahkan malam tadi saya masih sempat mengunjungi mereka dan membujuk serta menggertak mereka.”

“Hemm, dan apa hasil bujukan itu? Sia-sia saja.”

“Tidak sia-sia, Ciangkun,” bantah Shu Ta. “Dalam kunjungan itu saya memeriksa keadaan para penjaga dan memesan agar mereka waspada. Selain itu, juga ada hasil lain, yaitu pengakuan tawanan perempuan itu setelah dia saya ancam. Tapi ini, mereka yang terluka dibawa menghadap, kita dapat menanyai mereka, Ciangkun.”

Memang Shu Ta memerintahkan agar para prajurit yang terluka dibawa menghadap agar dapat ditanyai akan tetapi kini yang dibawa menghadap bukan hanya prajurit yang berada di dalam, juga prajurit yang dari luar benteng! Pintu gerbang benteng sudah dibuka dan bala bantuan dari dalam ikut pula melakukan pengejaran keluar namun sia-sia. Dua orang itu telah lenyap.

Panglima Yauw dan Panglima Shu menanyai para prajurit yang terluka. Mereka yang terluka oleh si kedok hitam, segera menceritakan pengalaman mereka. Akan tetapi mereka hanya melihat seorang yang berpakaian hitam dan berkedok, berkelebatan dan ketika hendak ditangkap, si kedok hitam itu merobohkannya dengan pedang.

“Si kedok hitam itu lihai sekali, Ciangkun. Kami tujuh orang sudah mengepungnya dan mengeroyoknya, akan tetapi dua orang di antara kami roboh dan dia sudah meloncat dan hilang.” “Si kedok hitam mengamuk dekat pintu gerbang, merobohkan dua orang termasuk saya, dan ketika dia dikepung, diapun dapat meloloskan diri, meloncat dan menghilang, gerakannya cepat bukan main, Ciangkun,” kata prajurit ke dua yang terluka.

Kemudian, prajurit yang terluka di luar benteng, menceritakan pengalamannya. “Kami melihat dua orang turun dari pagar tembok dan berada di atap pondok penjagaan di luar, Ciangkun. Kami segera menyergap mereka, akan tetapi mereka itu lihai. Selain itu, ketika mereka berloncatan turun, kami sempat dibikin bingung karena mereka mengenakan pakaian prajurit seperti kami dan malam cukup gelap. Dalam keadaan ragu dan bingung, mereka dapat merobohkan beberapa orang di antara kami dan mereka melarikan diri melalui jembatan.”

“Kalian semua tolol! Goblok!” Shu-Ciangkun membentak-bentak marah. “Hanya menghadapi dua orang buronan di luar benteng, dan seorang berkedok hitam di dalam benteng saja kalian tidak mampu menangkap mereka? Kalian semua patut dihukum!”

Akan tetapi, Yauw-Ciangkun mengajak Shu-Ciangkun untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian. Mereka mendapatkan bahwa dua orang di antara empat belas prajurit yang tewas di kamar tahanan, hanya berpakaian dalam saja. Kemudian mereka juga menemukan tali berujung kaitan di atas pondok penjagaan di luar pintu gerbang.”

“Hemm, sekarang jelas sudah,” kata Yauw-Ciangkun. “Si kedok hitam itulah yang membantu dua orang tawanan. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali bagaimana dia mampu melewati pintu yang tujuh lapis dan membunuh semua penjaga di sebelah dalam sehingga tidak ada yang mendengar atau yang mengetahui. Setelah membebaskan dua orang tawanan yang menyamar sebagai prajurit, lalu dua orang tawanan itu melarikan diri menggunakan tali ini.

Dua orang tawanan itu berhasil meloloskan diri karena si kedok hitam di sebelah dalam benteng sengaja menimbulkan kekacauan sehingga para prajurit di sebelah dalam benteng tidak sempat membantu ke luar benteng untuk ikut mengepung dan menangkap dua orang buronan. Sungguh cerdi sekali si kedok hitam!”

“Akan tetapi bagaimana dia dapat memasuki benteng?” Shu-Ciangkun membantah. “Kalau dia orang luar, tidak mungkin dapat masuk benteng tanpa diketahui! Saya hampir yakin bahwa dia tentulah mata-mata yang berhasil menyelundup ke dalam benteng, mungkin selama ini dia telah bersembunyi dan kita tidak tahu di mana. Dan lebih besar lagi kemungkinan dia masih berada di dalam benteng. Saya akan memerintahkan pasukan penyelidik melakukan penggeledahan dan pemeriksaan di dalam benteng, Yauw-Ciangkun.”

“Memang sebaiknya begitu. Kalau saja kau suruh bunuh dua orang tawanan itu, tentu tidak akan terjadi peristiwa malam ini. Akan tetapi tadi kau mengatakan bahwa penundaan hukuman mati sampai besok itu tidak sia-sia dan menghasilkan pengakuan tawanan perempuan itu. Pengakuan yang bagaimana?”

“Inilah yang saya katakan tidak sia-sia, Ciangkun. Kita dapat melakukan pembalasan atas kekalahan kita malam ini dengan lolosnya kedua orang tawanan itu! Perempuan muda itu telah memberitahukan di mana sarang kawan-kawannya, yaitu orang-orang Hwa I Kaipang yang kini tidak lagi memperlihatkan diri.”

“Bagus sekali kalau begitu! Memang akupun merasa heran mengapa setelah kita ketahui bahwa Hwa I Kaipang menentang pemerintah, dan bermusuhan dengan Hek I Kaipang, kini tak pernah nampak seorangpun pengemis berpakaian kembang. Tentu mereka telah bersembunyi. Dan engkau mengetahui tempat persembunyiannya? Di mana, Shu-Ciangkun?”

“Di lereng Bukit Bambu Kuning lembah sungai Yang-ce! Dan kita harus cepat bertindak sebelum mereka melarikan diri lagi. Siapa tahu, di sana kita dapat menemukan pula dua orang buronan itu!” Shu Ta lalu berbisik-bisik mengatur siasat dengan atasannya itu. Mendengar keterangan pembantu utamanya ini, Yauw-Ciangkun menjadi gembira dan berkuranglah rasa tidak senangnya oleh peristiwa lolosnya dua orang buronan itu. Apa lagi melihat bawahannya memang tidak bersalah, bahkan kini bersungguh-sungguh untuk menumpas pemberontak.

Tak seorangpun dapat menduga bahwa lolosnya dua orang buronan itu karena siasat Shu- Ciangkun. Para prajurit melihat betapa malam itu panglima ini masih melakukan perondaan, bahkan memesan kepada para penjaga untuk melakukan penjagaan yang ketat. Bahkan dalam keadaan malam gelap, hujan dan dingin itu, dia masih memeriksa penjagaan, ke pintu gerbang, ke tempat tahanan umum, ke tempat tahanan istimewa. Siapa yang akan menyangka bahwa orang berkedok hitam yang membebaskan dua orang pemberontak itu adalah sang panglima yang begitu getol memberantas pemberontak dan penjahat?

Pasukan yang kuat telah dikumpulkan dan tak lama kemudian, Panglima Shu sendiri yang memimpin pasukan itu, menjelang pagi bergerak menuju ke Bukit Bambu Kuning di lembah sungai Yang-ce.

Dengan tubuh lelah namun semangat tinggi dan hati penuh perasaan gembira, Goan Ciang dan Hui Yen akhirnya dapat lolos dari pengejaran para prajurit benteng. Mereka langsung saja keluar dari pintu gerbang kota Nan-king setelah menanggalkan pakaian prajurit yang mereka pakai di luar pakaian mereka sendiri.

Mereka berlari terus biarpun sudah keluar kota, dan baru berhenti mengaso setelah mereka bertemu dengan tempat persembunyian para anggota Hwa I Kaipang yang bermusuhan dengan Hek I Kaipang yang menjadi antek Mongol sehingga Hwa I Kaipang dicap sebagai pemberontak dan dikejar-kejar pasukan pemerintah, Hwa I Kaipang terpaksa meninggalkan markas besar mereka dan hanya mempunyai tempat-tempat pertemuan yang dirahasiakan.

Ketika para anggota Hwa I Kaipang menyambut wakil ketua mereka dan pembantunya, yaitu Tang Hui Yen dan Cu Goan Ciang, mereka gembira bukan main. Mereka telah mendengar berita ditawannya kedua orang pimpinan itu dan mereka sedang prihatin dan berbincang- bincang bagaimana mereka akan dapat menolong kedua orang pimpinan mereka yang kabarnya ditawan dalam benteng pasukan pemerintah di Nan-king.

Akan tetapi, kedua orang itu menghentikan kegembiraan mereka dengan memberi tugas kepada mereka. Semua anggota yang berada di situ dikumpulkan. Jumlah mereka hanya ada tiga puluh orang lebih.

“Sekarang juga, kita pergi ke Bukit Bambu Kunig dengan gerak cepat. Di lereng bukit itu terdapat sarang gerombolan perampok yang dipimpin oleh Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Sungai Yang-ce), dan kita bersembunyi tak jauh dari sarang mereka. Kalau nanti sarang mereka itu telah diserbu pasukan pemerintah, baru kita keluar dan kita terjun ke dalam pertempuran. Untuk gerakan ini kita semua mengenakan pakaian lama Hwa I Kaipang, yaitu baju kembang,” kata Hui Yen, membuat semua anggota Hwa I Kaipang terheran-heran. “Maaf, nona,” kata seorang di antara mereka, seorang anggota yang sudah setengah tua dan sudah lama menjadi anggota perkumpulan itu. “Setahu saya, kita adalah sekumpulan orang miskin yang tidak pernah mendekati penjahat, apa lagi bersekutu dengan mereka. Menentang pasukan pemerintah, memang tugas kita, akan tetapi membantu gerombolan perampok...??”

Cu Goan Ciang maklum akan keraguan mereka, maka cepat dia bicara. “Harap saudara sekalian ketahui bahwa gerakan kita sekarang ini sama sekali bukan untuk membantu para perampok. Biasanya kita bahkan menentang para perampok. Dalam gerakan kita ini, kitapun hanya berpura-pura saja membantu mereka, yaitu dengan jalan memperlihatkan diri sebagai anggota Hwa I Kaipang dengan pakaian kita, lalu kelihatan membantu. Hal ini merupakan siasat agar pasukan pemerintah benar-benar mengira bahwa tempat itu adalah sarang Hwa I Kaipang seperti yang mereka duga. Setelah kita memperlihatkan diri seperti membantu para perampok, kita harus cepat-cepat meninggalkan gelanggang pertempuran dan melarikan diri. Jangan sampai ada seorangpun di antara kita yang tewas. Mengerti?”

“Ada satu hal lagi. Di antara kalian yang merasa memiliki kepandaian dan kemampuan, sebelum melarikan diri harus sedapat mungkin menanggalkan baju kembang kalian dan mengenakan baju kembang itu pada mayat anggota gerombolan perampok agar nantinya pasukan itu mengira bahwa yang mereka tumpas benar-benar adalah anak buah Hwa I Kaipang. Nah, kiranya sudah jelas sekarang?”

Para anggota Hwa I Kaipang mengangguk-angguk dengan hati lega. Biarpun mereka tidak mengerti mengapa para pimpinan mereka mempergunakan siasat itu, namun mereka mentaati, apa lagi karena gerakan itu sama sekali bukan berarti mereka membantu para perampok, melainkan pelaksanaan dari suatu siasat para pimpinan mereka yang tidak mereka mengerti.

Tanpa beristirahat terlalu lama, Goan Ciang dan Hui Yen kembali melakukan perjalan, akan tetapi sekali ini, anak buah mereka menyediakan dua ekor kuda untuk mereka supaya tidak akan terlalu lelah menempuh perjalanan ke bukit itu.