-->

Rajawali Lembah Huai Jilid 04

Jilid 04

“Terima kasih, paman. Memang sudah saya lakukan penyelidikan dan saya sudah mengambil keputusan.”

“Bagus!” seru Yo Ci gembira. Tadinya dia sudah marah merasa hampir putus asa karena pemuda itu demikian keras hati. Bahkan pakaian selemari penuh yang disediakannya untuk pemuda itu, tidak pernah dipakainya. Pemuda itu selalu memakai pakaian bekalnya sendiri yang sederhana. Dan lebih dari itu, usahanya menggoda dan menjatuhkan pemuda itu di bawah pengaruh kecantikan wanitapun gagal!

“Saya mau membantu paman, dengan syarat!”

“Apa syaratnya? Katakan! Berapa gaji yang kauminta? Akan kupenuhi.”

“Bukan itu, paman Yo. Syaratnya adalah agar tidak dikenakan pajak kepada para pekerja kasar itu, dan para mandor tidak perlu membawa tukang pukul, tidak perlu dilakukan kekerasan terhadap para pekerja kasar. Selain gaji mereka tidak dipotong, juga kalau mereka sakit harus diberi biaya pengobatan dan diberi bantuan untuk mereka dapat makan selama dalam sakit.”

“Tapi itu tidak mungkin!” Yo Ci mengerutkan alisnya dan pandang matanya berkilat marah. “Kita harus membayar pajak kepada para penguasa, orang-orangnya pemerintah. Tanpa memungut pajak dari para pekerja, bagaimana kita dapat membayar pajak kepada pemerintah?”

“Paman, saya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa paman sudah menyuruh orang memungut pajak yang besar dari para pedagang pemilik barang yang dibongkar muat di bandar, dan juga dari para juragan perahu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal, cukup pantas kalau dikenakan pajak karena mereka memang mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, para pekerja kasar itu hanya bermodalkan tenaga badan, sungguh tidak adil kalau harus diperas dan dikenakan pajak dan tidak dijamin kalau jatuh sakit dan tidak dapat bekerja.”

Yo Ci mengerutkan alisnya semakin mendalam, matanya bersinar marah. “Cu-sicu, aturan yang kauajukan ini dapat membuat aku bangkrut! Ajukan syarat lain untuk dirimu sendiri, kenapa engkau begitu membela para pekerja kasar itu? Tahukan engkau bahwa di antara mereka itu banyak terdapat penjahat-penjahat kecil yang kalau tidak dikendalikan akan menjadi pencuri, perampok dan pengacau yang jahat?”

“Paman, betapapun jahatnya seseorang, kalau dia sudah mau bekerja keras, hal itu menunjukkan bahwa dia berusaha untuk kembali ke jalan benar. Karena itu, perlu ditunjang agar jangan sampai mereka kembali terperosok ke dalam kejahatan. Kalau ditekan, bukan tidak mungkin mereka akan kembali menjadi pencuri.” Sebelum tuan rumah membantah, tiba-tiba masuk seorang pengawal melaporkan akan kedatangan Bhong-Ciangkun (perwira Bhong). “Ah, persilahkan dia menunggu di ruang tamu, sebentar lagi aku akan menyambutnya,” kata Yo Ci dan setelah pengawal itu pergi, Yo Ci berkata kepada Goan Ciang, “Nah, terpaksa kita hentikan dulu percakapan kita, sicu. Yang datang adalah perwira Bhong yang berkuasa di kota ini, bahkan dia penguasa yang ditugaskan mengatur bandar. Kebetulan sekali, mari kuperkenalkan dengan dia.”

Sebetulnya Goan Ciang tidak ingin berkenalan dengan perwira pemerintah yang hendak ditentangnya, akan tetapi untuk menolak, dia merasa tidak enak kepada Yo Ci. Pula, dia ingin melihat dan mendengar apa hubungan tuan rumah ini dengan penguasa itu.

Ketika tiba di ruangan tamu dan diperkenalkan dengan tamu itu, Goan Ciang memandang penuh perhatian. Perwira itu masih muda, kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya, tegap tampan dan gagah, dengan pakaian yang gemerlapan, pedang tergantung di pinggang, lagaknya angkuh ketika dia memandang kepada Goan Ciang dengan sikap merendahkan karena Goan Ciang hanya berpakaian sederhana. Tiga orang pengawal yang tadinya berdiri di belakang perwira itu, setelah menerima isarat, lalu keluar dari ruangan tamu.

“Paman Yo Ci, siapakah pemuda ini?” tanyanya Bhong-Ciangkun dengan sikap angkuh. Dari lagak, bentuk wajah dan pakaiannya, Goan Ciang dapat menduga bahwa perwira ini, bukanlah pribumi, setidaknya tentu keturunan Mongol kalau bukan Mongol asli.

“Perkenalkan, Ciangkun. Ini adalah saudara Cu Goan Ciang, calon pembantu saya, pembantu utama yang dapat diandalkan. Cu-hiante, ini adalah yang terhormat Bhong-Ciangkun.”

Perwira itu hanya mengangguk, dan Goan Ciang juga tidak mengangkat kedua tangan, melainkan membalasnya dengan anggukan biasa pula. Tidak sudi dia bersikap hormat dan merendah terhadap seorang perwira Mongol!

Melihat sikap Goan Ciang, Yo Ci merasa tidak senang dan khawatir kalau perwira itu marah, maka cepat dia mempersilahkan perwira itu untuk duduk. Seorang pelayan wanita datang menyuguhkan minuman dan makanan. Melihat wanita muda itu, mata sang perwira menjadi jalang dan pelayan itu mengingatkan dia akan sesuatu, maka katanya, “Paman, mana Nona Yo? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sehingga merasa rindu. Bolehkah aku bertemu dan bercengkerama dengannya?”

Terkejutlah Goan Ciang. Permintaan itu sungguh tidak pantas sekali. Minta kepada tuan rumah agar dapat bertemu dan bercengkerama dengan gadis puteri tuan rumah! Akan tetapi agaknya Yo Ci sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum lebar.

“Nanti dulu, Ciangkun. Kita membicarakan urusan pekerjaan dulu, nanti Ciangkun boleh bicara sepuasnya dengannya.” Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa agaknya sang perwira memang sudah bersahabat baik dengan puteri majikan itu! Dan teringatlah Goan Ciang akan peristiwa pada malam hari itu. Dia menduga bahwa Yo Ci sengaja menyerahkan selirnya kepadanya sebagai umpan. Orang yang berwatak seperti itu, bukan tidak mungkin kalau juga mengumpankan puterinya sendiri kepada seorang penguasa seperti Bhong- Ciangkun. Diam-diam Goan Ciang merasa jijik membayangkan betapa gadis puteri Yo Ci yang cantik jelita itu dijadikan alat untuk menyenangkan hati sang perwira.

“Ha-ha-ha, baiklah, paman. Nah, urusan apa yang begitu penting sehingga paman mengundang aku datang ke sini? Dan kenapa sobat Cu ini ikut hadir?”

“Justeru aku ingin bicara tentang saudara Cu Goan Ciang ini, Ciangkun. Dia adalah seorang pemuda yang tangguh dan lihai, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Karena itu, aku ingin mengangkat dia menjadi pembantu utama untuk mengepalai semua mandor bandar agar keamanan terjamin dan tidak ada mandor yang curang dan mengurangi penghasilan. Akan tetapi dia mengajukan syarat...”

“Nanti dulu, paman. Saudara Cu ini apakah mampu untuk memimpin semua mandor dan menjamin keamanan di sana? Dibutuhkan seorang yang benar-benar tangguh untuk pekerjaan seperti itu, paman!” Pandang mata Bhong-Ciangkun kini penuh selidik menatap wajah Goan Ciang, alisnya berkerut dan sikapnya penuh kesangsian.

Yo Ci tersenyum lebar. “Percayalah, Ciangkun. Sudah terbukti ketangkasannya, dan kalau perlu boleh diuji. Akan tetapi, dia mengajukan syarat dan syarat itulah yang ingin kubicarakan denganmu, minta pendapatmu bagaimana.”

“Hemm, apa syaratnya? Kalau gaji besar, mudah saja...”

“Justeru itulah, dia tidak menghendaki gaji besar dan lain kesenangan untuk dirinya sendiri. Syaratnya adalah agar gaji para pekerja kasar di bandar diberikan penuh, tidak dipotong pajak...”

“Apa?? Tidak mungkin! Kita makan apa kalau pajak itu dibebaskan?” seru perwira itu melotot. Ucapan ini dicatat dalam hati oleh Goan Ciang karena ucapan itu mengungkapkan bahwa pembayaran pajak atau pungutan pajak dari para pekerja kasar itu merupakan penghasilan perwira ini! Yo Ci tidak berbohong ketika mengatakan bahwa pajak itu disetorkan kepada penguasa, mungkin dibagi di antara mereka.

“Akan tetapi, Ciangkun. Para pekerja kasar itu hanya berpenghasilan lima belas keping sehari, dan pajaknya lima keping, sungguh amat berat bagi mereka. Apakah tidak dapat dihapuskan, atau setidaknya dikurangi agar jangan terlalu berat dan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk makan?”

Perwira itu menatap wajah Goan Ciang dengan sinar mata berkilat. “Kalau engkau ingin bekerja pada paman Yo, kenapa mesti mencampuri urusan pemungutan pajak? Engkau bekerja saja dengan baik, menerima upah yang besar dan urusan pajak serahkan saja kepada kami. Engkau tinggal memerintahkan mandor untuk memotong gaji mereka, habis perkara!”

Wajah Goan Ciang mulai berubah merah. Perwira ini sungguh angkuh, sombong setengah mati, memandang rendah sekali kepadanya dan belum apa-apa sudah menganggap dia seorang bawahannya yang harus patuh kepadanya.

“Ciangkun, aku ingin bekerja kepada paman Yo, bukan kepadamu! Pula, syaratku itu tidak boleh ditawar-tawar lagi. Diterima syukur, kalau tidakpun tidak apa-apa, aku tidak bekerja di bandarpun tidak mengapa!”

“Cu-hiante, kenapa sikapmu begini? Ingat, engkau berhadapan dengan Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han!” Yo Ci terpaksa menegur karena dia khawatir kalau sampai perwira itu marah. “Paman, aku tidak perduli siapa dia. Siapapun dia, aku tidak sudi dipaksa untuk membantu orang memeras dan menindas para pekerja kasar yang miskin itu!” kata Goan Ciang yang sudah marah pula.

“Bocah sombong!” Perwira Bhong kini bangkit dari kursinya dan menudingkan telunjuknya kepada muka pemuda itu. “Berani engkau bersikap seperti ini di hadapanku? Engkau ini agaknya sekomplotan dengan para pekerja kasar itu, ya? Hendak memberontak, ya? Para pekerja kasar itu seperti segerombolan anjing, kalau tidak diperlakukan dengan keras, mereka akan banyak bertingkah! Kau hendak memimpin mereka memberontak terhadap pemerintah?”

Bukan main marahnya Cu Goan Ciang. Tanpa disadari, tangannya mencengkeram cawan arak di depannya dan cawan itu menjadi ringsek! Diapun bangkit berdiri dan menentang pandang mata perwira itu dengan mata mencorong. Melihat ini, tentu saja Yo Ci khawatir sekali kalau sang perwira akan marah kepadanya dan menyalahkan dia karena dia yang menampung Goan Ciang.

“Cu Goan Ciang, sungguh engkau mengecewakan hatiku. Engkau orang tidak berbudi. Kurang baik bagaimana kami menerimamu sebagai tamu? Akan tetapi engkau tidak dapat menghargai budi kebaikan kami, bahkan kini bersikap kurang ajar sekali terhadap Bhong- Ciangkun yang kami hormati?”

Melihat betapa Yo Ci membela perwira itu dan menegurnya, Goan Ciang tersenyum mengejek. “Majikan Yo, aku tahu bahwa selama beberapa hari ini engkau hanya ingin membujukku. Engkau bahkan tidak segan untuk menyerahkan isterimu sebagai umpan untuk merayuku! Akan tetapi, aku bukan orang sebodoh itu. Engkau baik kepadaku hanya untuk membujuk agar aku suka menghambakan diriku kepadamu. Hemm, aku tidak sudi untuk membantumu memeras para pekerja miskin dan menjadi antek perwira ini!”

“Keparat, engkau sungguh jahat!” Yo Ci berseru dan berteriak memanggil pengawal. Sepuluh orang pengawal yang nampak bengis dan kuat membukan daun pintu dan berdiri di luar kamar itu, siap untuk turun tangan apabila diperintah. Juga tiga orang pengawal perwira itu sudah siap di ambang pintu.

“Sudahlah, aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian,” kata Goan Ciang dan diapun melangkah hendak keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan para pengawal yang berdiri menghadang di pintu.

“Tangkap dia!” teriak Yo Ci kepada para pengawalnya.

Mendengar perintah ini, ketika Goan Ciang sudah tiba di luar kamar tamu, para pengawal itu menghadang. Namun, Goan Ciagn menyelinap dan meloncat, lari ke dalam kamarnya.

Memang dia selalu sudah mempersiapkan buntalan pakaiannya, maka begitu memasuki kamarnya, dia menyambar dan mengikatkan buntalan pakaiannya di punggung, kemudian dia keluar dari kamarnya melalui taman. Kiranya para pengawal sudah menghadang di sana, bersama Yo Ci, Bhong-Ciangkun, dan tiga orang pengawal Bhong-Ciangkun. Tidak kurang daari dua puluh orang sudah menghadangnya.

“Pemberontak, berlutut dan menyerahlah engkau!” teriak Bhong-Ciangkun sambil menghunus pedangnya. “Cu Goan Ciang, engkau telah bersalah terhadap pejabat pemerintah, menyerahlah!” bentak pula Yo Ci yang kini sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk mempergunakan tenaga pemuda yang keras hati itu karena sia-sia saja dia membujuk, dan kini bangkit kemarahannya mengingat bahwa pemuda ini pernah menghajar anak buahnya di bandar dan merugikannya.

“Aku tidak sudi menyerah!” bentak Cu Goan Ciang.

“Serang dia, bunuh dia!” Perwira Bhong yang sudah marah sekali itu berseru dan dia sendiri yang memandang rendah Goan Ciang sudah menggerakkan pedangnya menyerang, disusul oleh Yo Ci yang juga menyerang dengan menggunakan huncwenya. Ternyata serangan kedua orang ini cukup hebat sehingga Goan Ciang cepat menggunakan kegesitannya untuk mengelak. Akan tetapi dia disambut serangan belasan orang pengawal yang rata-rata memiliki tenaga kuat dan ilmu silat yang lumayan tangguh.

Maklum bahwa dia berada dalam bahaya karena dikeroyok banyak lawan yang cukup tangguh dan yang bermaksud untuk membunuhnya, Cu Goan Ciang segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat, ilmu rahasia yang dia pelajari dari gurunya, Lauw In Hwesio ketua Siauw-lim-si. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya melayang ke atas bagaikan seekor burung rajawali sehingga semua serangan lawan luput dan ketika semua pengeroyok berdongak untuk mengikuti gerakan pemuda yang melayang seperti burung itu, Goan Ciang menukik turun dan begitu dia menyambar dengan kaki tangannya, empat orang pengeroyok roboh terpelanting seperti disambar petir.

Cu Goan Ciang mengamuk dan pengeroyokan semakin ketat karena para pengeroyok marah melihat betapa pemuda itu telah merobohkan empat orang kawan mereka. Bhong-Ciangkun mengeluarkan bentakan nyaring dan dia yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara para pengawal, menerjang dengan pedangnya, mengerahkan tenaganya untuk memenggal leher Goan Ciang.

“Singgg...!!” Ketika Goan Ciang mengelak, pedang itu menyambar luput dan mengeluarkan suara berdesing. Sebelum Goan Ciang mampu membalas serangan perwira yang dibencinya itu, para pengeroyok lain sudah menyerangnya dari berbagai penjuru, bahkan huncwe emas di tangan Yo Ci ternyata lihai sekali melakukan totokan ke arah jalan darah di lehernya. Goan Ciang kembali membentak dan melengking nyaring, tubuhnya berkelebatan gesit sekali dan ketika dia melompat ke atas lalu menyambar bagaikan seekor rajawali, kembali dua orang pengeroyok dapat dia robohkan!

Sekali ini yang roboh adalah pengawal Bhong-Ciangkun, maka perwira itu menjadi penasaran dan marah. Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan cepat ke arah tubuh Goan Ciang.

Karena huncwe di tangan Yo Ci juga menyambar-nyambar dengan totokannya dan semua jalan keluar dihadang oleh sambaran senjata para pengeroyok lainnya, maka Goan Ciang agak terdesak.

“Singgg... crokk...!” Pakaian di buntalan yang terletak di punggung Goan Ciang jatuh berhamburan karena buntalan itu pecah terkena sabetan pedang di tangan Bhong-Ciangkun.

“Sekarang otakmu yang berhamburan!” Perwira yang merasa mendapat hati karena sudah berhasil mendesak lawannya dan merobek buntalan pakaian, mendesak dengan ganasnya. Goan Ciang sengaja menanti sampai pedang itu menyambar kepalanya. Dengan menarik kepala ke belakang, pedang itu menyambar lewat. Secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pedang. Perwira itu berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas. Goan Ciang menyambar pedang itu dan sekali dia mengelebatkan senjata itu, robeklah perut Bhong-Ciangkun yang mengeluarkan suara jeritan panjang lalu roboh mandi darah!

Bukan main kaget dan marahnya Yo Ci melihat perwira itu roboh dan tewas. Dia membentak nyaring, menyuruh anak buahnya mencari bala bantuan, dan dia sendiri memimpin para pengawal untuk mengeroyok. Huncwenya menyambar-nyambar dan memang ilmu silat Yo Ci cukup tinggi, lebih tinggi dari pada semua pengawalnya. Namun sekali ini Goan Ciang tidak memberi hati lagi. Dia menggunakan pedang rampasannya untuk mengamuk. Pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dalam waktu sebentar saja, para pengeroyok itu sudah kocar-kacir dan banyak yang roboh mandi darah. Yo Ci masih bertahan dan kini dia, dibantu sisa pengawalnya, bertanding mati-matian melawan Goan Ciang. Sebetulnya kalau dia menghendaki, Goan Ciang tentu sudah dapat merobohkan dan membunuh Yo Ci. Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang yang pernah menjadi tuan rumah ini, hanya ingin merobohkan tanpa membunuh.

Pada saat itu, bermunculan banyak orang berpakaian seragam. Pasukan keamanan pemerintah! Goan Ciang menjadi marah. “Yo Ci, engkau anjing penjilat penjajah!” bentaknya dan begitu pedangnya diputar, huncwe di tangan Yo Ci terpental dan sebuah tendangan yang keras mengenai dada Yo Ci, membuat dia terjengkang dan roboh pingsan! Setelah merobohkan Yo Ci, Goan Ciang lalu melompat, merobohkan tiga orang penghadang dan lari keluar dari taman, dikejar oleh banyak prajurit keamanan.

Gegerlah kota Wu-han di hari itu. Di mana-mana, para prajurit berlarian dan mencari-cari, namun bayangan pemuda yang mereka cari itu lenyap. Para prajurit menggeledah semua rumah dan kesempatan melakukan “pembersihan” ini mereka pergunakan seperti biasa, demi keuntungan diri sendiri. Ketika menggeledah rumah-rumah orang, mereka waspada terhadap barang-barang berharga yang kecil untuk disambar dan dimasukkan kantung, juga terhadap gadis-gadis atau ibu-ibu muda yang cantik untuk digoda, dicolek, bahkan ada yang sempat diperkosa! Seluruh kota menjadi geger. Semua orang kini mendengar bahwa pemuda yang bernama Cu Goan Ciang telah membunuh Bhong-Ciangkun penguasa bandar, juga membunuh banyak prajurit pengawal di rumah Yo Ci, majikan yang mengatur bandar.

Mendengar berita ini, banyak orang merasa puas dan gembira karena mereka semua rata-rata pernah diperas oleh Bhong-Ciangkun dan Yo Ci. Akan tetapi banyak pula yang mengeluh karena gara-gara pemuda itu, mereka menderita rugi, ada barang yang dirampas para prajurit yang melakukan penggeledahan, ada pula perempuan yang diganggu. Bahkan para pekerja kasar di bandar berdebar-debar penuh kekhawatiran karena mereka takut kalau-kalau para pembesar menyalahkan mereka, mengingat betapa pemuda yang mengamuk itu pada mulanya membela mereka di bandar.

Ke mana perginya Cu Goan Ciang? Dia tidak mempunyai seorangpun kenalan di kota Wu- han yang ramai itu, dan kiranya akan sukar baginya untuk bersembunyi di dalam kota karena puluhan orang prajurit melakukan penggeledahan, bahkan semua pintu gerbang kota Wu-han dijaga ketat dan setiap orang yang keluar dari pintu gerbang diperiksa dan diamati.

Ketika Goan Ciang melarikan diri, menyelinap ke sana-sini, di antara rumah-rumah, ke sana bertemu penjaga dan ke sinipun bertemu prajurit sampai dia terengah-engah kebingungan karena pengejaran semakin rapat, tiba-tiba dia melihat serombongan orang mengiringkan sebuah joli yang dipanggul oleh empat orang. Rombongan itu terdiri dari enam orang wanita dan enam orang pria, yang berjalan di belakang joli yang tertutup tirai merah.

Goan Ciang mendapat akal. Cepat dia lari ke rombongan itu dan menyusup ke tengah-tengah di antara enam orang pria dan enam orang wanita. Dua belas orang itu memandang dan nampak marah, akan tetapi dari dalam joli terdengara suara lembut seorang wanita.

“Sipa kau dan mau apa?”

“Aku mohon bantuan kalian untuk dibolehkan bersembunyi dalam rombongan ini, aku dikejar-kejar pasukan keamanan!”

“Kenapa?”

Tidak ada gunanya berbohong. Untung-untungan, pikirnya. Kalau orang ini seperti Yo Ci, menjadi antek pemerintah, tentu dia akan dikeroyok, akan tetapi kalau sebaliknya, mungkin dia akan dibantu.

“Aku telah membunuh seorang perwira.”

Dua belas orang itu mengeluarkan seruan tertahan dan suara dalam joli berkata. “Ah, kiranya engkau yang menggegerkan kota itu? Nah, engkau bersembunyilah ke sini, di dalam joli.

Turunkan joli!” perintahnya kepada para penggotongnya. Empat orang penggotong dan dua belas orang pengikut itu menjadi terheran-heran ketika nona mereka membuka tirai merah joli itu dan memberi isarata kepada Goan Ciang untuk memasuki joli! Joli itu kecil saja, kalau ditumpangi dua orang tentu akan berhimpitan! Akan tetapi karena yang menyuruhnya adalah pemilik joli, dan dia tidak melihat tempat lain yang lebih baik untuk bersembunyi, diapun masuk ke dalam joli.

“Hayo, jalan kembali, tenang dan biasa saja, jangan panik,” kata wanita itu kepada para penggotong dan para pengikutnya. Joli digotong lagi dan perjalanan dilanjutkan.

Cu Goan Ciang juga terkejut dan mukanya terasa panas, tentu berwarna merah sekali ketika dia melihat bahwa yang menyuruh dia masuk ke joli yang kini duduk di sebelahnya, bahkan duduk berhimpitan karena joli itu terlalu kecil untuk mereka berdua, adalah seorang gadis yang cantik manis berusia kurang lebih delapan belas tahun! Gadis itu berwajah bulat telur, sepasang matanya lebar dan jeli, senyumnya wajar dan pakaiannya dari sutera halus namun riasan mukanya sederhana saja. Biarpun demikian, kesederhanaan itu justeru membuat kecantikannya semakin menonjol. Keharuman yang lembut membuai Goan Ciang, dan dia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh gadis itu yang duduk berhimpitan dengan dia, beradu sisi pinggul dan paha. Selama hidupnya, belum pernah dia berdekatan dan akrab dengan wanita dan sekali ini, dia duduk berhimpitan seperti itu. Tentu saja jantungnya berdebar aneh dan dia seperti seekor tikus di sudut yang dihadapi kucing. Tidak berani bergerak, bahkan kalau mungkin dia akan menghentikan pernapasannya.

Rombongan itu menuju ke pintu gerbang timur. Di tengah perjalanan, seregu prajurit menghentikan rombongan itu. “Berhenti!” terdengar bentakan perwira regu itu. “Kami bertugas menyelidiki setiap orang yang lewat di sini.” Tentu saja Cu Goan Ciang merasa tegang. Celaka, pikirnya, pasti dia akan ditangkap. Yang membuat dia menyesal adalah bahwa gadis dalam joli yang berusaha menolongnya ini akan terbawa-bawa. Maka, diapun membuat gerakan hendak meloncat keluar, akan tetapi tiba-tiba telapak tangan yang lunak dan hangat memegang pergelangan tangannya. Ketika dia menoleh ke kiri, hampir saja hidungnya menyentuh pipi gadis itu saking dekatnya mereka berhimpitan. Gadis itu menggeleng kepala perlahan sambil tersenyum. Senyum itu! Pandang mata itu! Goan Ciang menunduk, akan tetapi biarpun dia tidak jadi meloncat keluar, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, siap melawan kalau sampai ketahuan dan akan ditangkap.

“Ciangkun, kami mengantar nona untuk ke luar kota,” seorang di antara pengawal rombongan joli itu memberi keterangan kepada kepala regu prajurit.

“Kami harus memeriksa dengan ketat, karena ada seorang buruan melarikan diri!” jawab perwira itu yang agaknya mengenal rombongan.

Gadis itu menguak tirai di sudut depannya dan menjenguk keluar. Ia tersenyum manis kepada perwira itu dan suaranya terdengar halus, namun bernada teguran, “Ciangkun yang gagah, apakah Ciangkun sudah mulai tidak percaya dan mencurigai kami dari Jang-kiang-pang?”

Melihat nona itu, si perwira cepat memberi hormat, “Aih, kiranya Kim Siocia (Nona Kim) sendiri yang berada dalam joli. Harap maafkan kami karena kami bertugas untuk mencari seorang pelarian!”

Gadis itu hanya kelihatan kepalanya terjulur keluar dari tirai joli, mengangguk-angguk. “Aku sudah mendengara akan keributan itu. Bukankah yang kaucari itu orang yang telah membunuh Bhong-Ciangkun? Betapa beraninya orang itu! Akan tetapi kenapa engkau menghentikan rombongan kami, Ciangkun? Apa kaukira pembunuh itu berada di dalam joliku yang kecil ini?”

“Aku tidak sebodoh itu, siocia! Akan tetapi, kami hanya ingin melihat, siapa tahu pembunuh itu menyusup di antara para pengiring siocia.”

“Hemm, kalau begitu periksalah semua anak buahku. Kalau atasanmu mendengar bahwa engkau mencurigai kami, tentu dia akan merasa tidak senang, dan ketua kami akan marah dan penasaran, lalu melapor kepada atasanmu.”

Wajah perwira itu berubah. Dia sudah melihat bahwa di antara enam orang pengawal pria dan empat orang laki-laki pemanggul joli, tidak terdapat pembunuh yang dicarinya.

“Maafkan kami, Kim Siocia. Kami hanya melaksanakan tugas dan sama sekali tidak bermaksud mencurigai nona. Nah, silahkan rombongan nona melanjutkan perjalanan.”

Dengan sikap seperti orang marah gadis itu menutupkan tirai joli dan membentak rombongannya untuk melanjutkan perjalanan. Joli dipanggul lagi dan rombongan itu melanjutkan perjalanan.

“Terima kasih,” Goan Ciang berbisik. Dia hanya cukup menoleh saja untuk mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.

“Belum waktunya berterima kasih, kita masih belum keluar dari kota,” gadis itu berbisik kembali. Benar saja. Di pintu gerbang, kembali rombongan itu dihentikan oleh para penjaga. Akan tetapi, gadis itu dapat pula mengatasi dengan sikapnya yang galak dan menantang akan melaporkan kepada panglima sehingga kepala penjaga menjadi takut dan membiarkan rombongan itu lewat, apa lagi karena mereka tidak melihat adanya pelarian itu di antara para pengiringnya. Gadis itu agaknya dikenal semua prajurit keamanan dan hal ini tidaklah mengherankan. Perkumpulang Jang-kiang-pang (Perkumpulang Sungai Panjang) merupakan perkumpulan yang amat terkenal. Para pemimpinnya memiliki hubungan dekat dengan para pejabat tinggi di Wu-han. Dan gadis cantik itu merupakan orang ke dua dari pimpinan perkumpulan itu karena ia adalah adik seperguruan sang ketua.

Setelah rombongan itu berhasil keluar dari pintu gerbang dengan selamat, bahkan sudah jauh dari kota Wu-han, di dekat sebuah bukit, gadis itu menyuruh rombongannya berhenti. Joli diturunkan dan Cu Goan Ciang keluar dari dalam joli, diikuti gadis itu. Kini mereka berdiri berhadapan dan baru dapat saling pandang dengan jelas, tidak seperti di dalam joli tadi walaupun saling berhimpitan, mereka merasa sungkan untuk saling bertatap muka karena terlalu dekat. Setelah kini keduanya turun dan berdiri berhadapan, barulah Goan Ciang melihat kenyataan betapa cantik manisnya gadis itu, terutama matanya yang jeli dan memancarkan kecerdikan. Tubuhnya ramping padat dan agak tinggi bagi seorang wanita. Di lain pihak, gadis itupun baru sekarang dapat melihat dengan jelas betapa gagah dan anggunnya pemuda yang ditolongnya itu. Seorang pemuda yang masih muda, baru dua puluh tahun usianya, namun pembawaannya sudah masak dan dewasa, dengan tubuh tinggi tegap, tegak dan anggun berwibawa, bagaikan seekor burung rajawali yang gagah perkasa. Beberapa lamanya mereka berdiri saling berpandangan tanpa mengeluarkan kata-kata. Hanya pandang mata mereka saja saling mengagumi.

Akhirnya Goan Ciang merasa betapa janggalnya sikap mereka, saling pandang seperti itu tanpa bicara. Dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada gadis itu. “Aku Cu Goan Ciang telah berhutang budi dan nyawa kepadamu, nona. Aku tidak akan melupakan budi kebaikan nona dan amat berterima kasih kepadamu. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama nona dan apakah nona seorang pemimpin dari sebuah perkumpulan besar maka begitu dihormati oleh para prajurit penjaga keamanan?”

Melihat sikap Goan Ciang yang sopan, bicaranya yang lantang dan tegas, gadis itu tersenyum. Iapun mengangkat kedua tangan depan dada untuk membalas penghormatan itu. “Cu- enghiong tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, apa lagi mengingat bahwa engkau seorang gagah yang berani menentang seorang perwira yang bertindak sewenang-wenang. Kami sudah mendengar akan semua sepak terjangmu yang membela kepentingan para pekerja kasar di bandar. Engkau membela para pekerja kasar yang diperlakukan tidak adil oleh Yo Ci, bahkan engkau telah membunuh Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han. Kami kagum kepadamu dan sudah selayaknya kalau kami membantumu ketika engkau dikejar-kejar.”

“Nona terlalu memuji. Akan tetapi, engkau belum memperkenalkan diri, nona.”

“Namaku Kim Lee Siang, membantu suci yang bernama Liu Bi dan dijuluki Jang-kiang Sianli (Dewi Sungai Panjang) memimpin perkumpulan kami Jang-kiang-pang. Markas kami berada di lembah sungai Yang-ce.”

“Ah, kiranya nona Kim adalah seorang pemimpin perkumpulan besar. Pantas saja para prajurit itu menghormatimu. Nah, harap nona suka menyampaikan terima kasihku kepada ketua Jang-kiang-pang atas pertolongan yang diberikan kepadaku hari ini. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas budi itu. Sekarang, aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Engkau hendak pergi ke manakah, Cu-enghiong?”

“Ke mana saja nasib membawa diriku, nona. Yang jelas, aku tidak mungkin dapat tinggal di Wu-han lagi.”

“Cu-enghiong, ketahuilah bahwa markas besar pasukan di Wu-han amat kuat dan mempunyai banyak orang pandai. Mereka tentu tidak akan berhenti sebelum dapat menemukanmu dan mereka pasti akan mengirim pasukan untuk melakukan pengejaran. Ke kota manapun engkau pergi, tentu akan dikejar-kejar. Oleh karena itu, kalau engkau suka, sebaiknya engkau bersembunyi dulu di tempat kami. Nanti setelah keadaan mereda dan tidak begitu hangat lagi, pencarian terhadap dirimu mengendur, barulah engkau dapat melanjutkan perjalananmu.”

“Ah, aku hanya akan merepotkanmu saja, nona Kim.”

“Sama sekali tidak! Suci dan aku akan merasa girang menerimamu sebagai tamu kami. Kami menghargai orang-orang gagah, apa lagi engkau sudah membuktikan bahwa engkau membela para pekerja kasar di bandar. Tentu suci akan menghargaimu pula. Dan engkau akan lepas dari ancaman bahaya pengejaran.”

Goan Ciang mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa gadis ini bicara benar. Kalau dia melarikan diri, tentu ke manapun dia pergi, dia akan selalu terancam bahaya karena dia seorang pelarian yang akan dikejar oleh pasukan keamanan. Memang sebaiknya kalau dia mendapatkan tempat bersembunyi yang aman selama beberapa waktu. Dia dapat melihat bagaimana perkembangannya. Kalau sekiranya dia tidak terlalu merepotkan orang, sebaiknya dia bersembunyi di perkumpulan itu. Andai kata perkembangannya tidak enak, sewaktu-waktu dia dapat pergi meninggalkan tempat itu.

“Baiklah, nona Kim. Dan kembali terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi, dari sini biarlah aku berjalan kaki saja,” katanya dan dia melihat betapa gadis itu nampak tersipu, tentu teringat betapa tadi mereka duduk berhimpitan, seperti sepasang pengantin saja.

Kim Lee Siang mengangguk dan iapun memasuki jolinya, kemudian memerintahkan para pemikul joli dan pengiringnya untuk bergerak cepat. Ketika para pemikul joli dan dua belas orang pengiring itu mulai berlari, diam-diam Goan Ciang kagum. Ternyata bahwa mereka semua, juga empat orang pemikul joli, bukan orang-orang sembarangan. Diapun mengikuti dari belakang dan betapa cepatnyapun mereka berlari, Goan Ciang dapat mengikuti mereka.

Rombongan baru berhenti berlari ketika mereka tiba di depan pintu gerbang sebuah perkampungan yang dikurung pagar tembok, di tepi sungai yang tinggi, merupakan tebing sungai. Di situlah markas Jang-kiang-pang. Karena letaknya di tebing sungai, maka tempat itu tidak pernah terancam banjir kalau musim hujan tiba dan air sungai meluap. Juga daerah perbukitan itu memiliki tanah yang subur. Tidak nampak dusun lain di daerah itu. Agaknya Jang-kiang-pang telah menguasai daerah itu sehingga tidak ada orang lain yang berani menempati daerah itu.

Setelah tiba di pintu gerbang, joli diturunkan dan Kim Lee Siang keluar dari dalam joli. Empat orang pemikul joli dan dua belas orang pengiringnya agak terengah dan mereka semua menghapus keringat dari muka dan leher. Akan tetapi ketika Lee Siang mengerling kepada Goan Ciang, ia melihat pemuda itu sama sekali tidak terengah dan tidak berkeringat, maka diam-diam ia yang tadi sengaja hendak menguji pemuda itu, merasa kagum dan tersenyum manis.

“Mari, Cu-enghiong, kita menghadap ketua kami. Kuperkenalkan kepada suciku,” katanya dan Cu Goan Ciang mengangguk, lalu mengikuti gadis itu memasuki perkampungan yang menjadi pusat perkumpulan itu. Setiap orang anggota perkumpulan, laki-laki dan wanita, yang bertemu dengan Lee Siang, memberi hormat dengan sikap ramah, akan tetapi mereka semua memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata curiga.

Gedung yang berada di tengah perkampungan itu, berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang berada di situ, selain besar juga megah. Ketika Cu Goan Ciang mendaki tangga di samping Lee Siang dan tiba di ruanga luar, dia sudah melihat adanya perabot rumah yang serba mewah, pot-pot kembang yang indah, meja kursi yang terukir, tembok yang dicat bersih dan dihias lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah. Dua orang wanita yang berpakaian ringkas, agaknya merupakan pengawal rumah itu, segera menyambut mereka dan kedua orang gadis manis itu memberi hormat kepada Lee Siang.

“Di mana pangcu (ketua)?” tanya Lee Siang kepada mereka.

Sambil mengerling ke arah Goan Ciang dengan pandang mata heran, seorang di antara dua pengawal itu menjawab, “Siocia, pangcu sejak pagi tadi pergi ke hutan bambu kuning dan pangcu memesan agar siocia cepat menyusul ke sana.”

Lee Siang terbelalak, nampak kaget sekali. “Apakah sudah datang tantangan dari mereka?”

“Agaknya demikianlah, siocia. Pangcu tidak menceritakan kepada kami hanya memesan agar kami melakukan penjagaan ketat di sini, dan pangcu pergi bersama Ngo-liong Ci-moi (kakak beradik lima naga).”

“Ah, kalau begitu aku harus cepat menyusulnya. Mari, Cu-enghiong, mari kita pergi, mungkin aku membutuhkan bantuanmu. Nanti dalam perjalanan kuceritakan!” kata Lee Siang dan iapun berlari keluar dari situ. Cu Goan Ciang hanya mengikuti saja, dan setelah tiba di luar pintu gerbang, Lee Siang berlari cepat sekali. Goan Ciang kagum dan diapun mempercepat larinya, menuju ke barat, menyusuri sungai Yang-ce yang lebar.

“Perlahan dulu, nona. Aku perlu mengetahui duduknya perkara sebelum dapat membantumu,” kata Goan Ciang dan Lee Siang menghentikan larinya, akan tetapi masih berjalan terus, didampingi oleh Goan Ciang. Sambil berjalan, gadis itu bercerita.

“Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar, Cu-enghiong. Di Bukit Kijang, tak jauh dari sini, tinggal seorang tokoh kang-ouw she Kwa yang mengetuai perguruan silat Yang-ce Bu- koan. Beberapa bulan yang lalu, ketua Kwa meminang suci, akan tetapi ditolak keras oleh suci sehingga mereka tersinggung dan selalu mengambil sikap bermusuhan dengan kami. Dan pernah ketua Kwa mengancam akan menantang suci untuk mengadu ilmu karena penolakan suci dianggapnya suatu penghinaan. Nah, kukira sekarang ini suci menyambut tantangannya. Kabarnya ketua Kwa itu lihai seklai, maka aku mengkhawatirkan keselamatan suci. Kuharap engkau suka membantu kami kalau diperlukan.” Goan Ciang mengangguk dan mengerutkan alisnya yang tebal. “Sungguh tidak tahu malu. Pinangan ditolak mengapa lalu marah-marah dan menimbulkan permusuhan?” dia mengomel, tak puas dengan sikap orang she Kwa itu.

Kini Lee Siang berlari lagi dan Goan Ciang juga tidak banyak bertanya. Mereka berlari cepat dan tak lama kemudian mereka telah memasuki sebuah hutan. Mudah diduga bahwa inilah yang dinamakan hutan Bambu Kuning karena di situ memang banyak tumbuh bambu kuning di samping pohon-pohon lain.

Ketika mereka tiba ditengah hutan, di mana terdapat tempat terbuka dengan petak rumput tebal, dan betapa kaget rasa hati mereka ketika melihat lima orang wanita rebah malang melintang di tempat itu, dan suasana sepi sekali walaupun masih nampak bekas pertempuran terjadi di tempat itu. Banyak darah melumuri rumput yang terinjak-injak, senjata tajam berserakan.

“Ngo-liong Ci-moi...!” Lee Siang berseru kaget dan cepat ia menghampiri mereka. Ternyata tiga orang di antara mereka telah tewas, seorang terluka parah dan seorang lagi terluka ringan, akan tetapi tidak mampu bergerak karena dalam keadaan tertotok. Agaknya baru saja mereka bertanding melawan musuh yang pandai.

Setelah membebaskan totokan kedua orang yang terluka itu Lee Siang cepat bertanya, “Apa yang terjadi? Mana pangcu?”

Wanita yang terluka parah di dadanya merintih, “Pangcu... tertawan mereka... cepat tolong ia, siocia...” Dan iapun terkulai dan tewas pula.

Lee Siang meloncat ke orang yang terluka ringan dan menguncangnya. “Siapa yang menawan suci? Orang-orang Yang-ce Bu-koan?”

Wanita itu menangis lirih dan sudah bangkit duduk. “Pangcu ditawan Kwa-kauwsu (guru silat Kwa), dan kami berlima dikeroyok belasan orang anak buahnya.”

Lee Siang bangkit berdiri, mukanya berubag merah dan ia mengepal tinju. “Keparat orang she Kwa! Enci Ciu, cepat kau pulang dan kerahkan semua saudara kita untuk menyerbu Yang-ce Bu-koan. Aku pergi dulu menolong suci!”

“Baik, siocia,” kata wanita itu yang masih menangisi empat orang saudaranya yang tewas. Biarpun hatinya hancur karena belum sempat mengurus jenazah empat orang saudaranya, terpaksa ia cepat berlari pulang untuk minta bala bantuan. Sementara itu, Lee Siang menghadapi Goan Ciang.

“Cu-enghiong, kami menghadapi urusan besar. Aku akan mencoba untuk menolong suci. Akan tetapi pekerjaan ini berbahaya sekali. Aku tidak berani memaksamu unutk membantu tetapi kalau engkau sudi membantuku, aku akan berbesar hati dan berterima kasih sekali.”

“Nona Kim, kenapa berkata demikian? Bukankah katamu sudah sepatutnya kalau kita saling bantu? Tentang bahaya, sudah sering aku terancam bahaya. Mari kita kejar mereka yang menawan sucimu itu.”

Pandang mata gadis itu berkilat penuh harapan dan kegembiraan, lalu iapun meloncat dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat secepat mungkin. Namun, dengan kagum ia melihat betapa pemuda itu selalu dapat mengimbanginya, bahkan nampaknya tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

“Nona, harap berhenti dulu,” tiba-tiba Goan Ciang berkata dan gadis itu menahan larinya, berhenti dan memandang kepada pemuda itu. Ia mengusap keringat dari lehernya karena tadi mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat.

“Ada apakah, Cu-enghiong?”

“Nona, kurasa amat ceroboh kalau kita hanya langsung saja mendatangi Yang-ce Bu-koan, menghadapi mereka yang berjumlah banyak.”

Gadis itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah, “Aku tidak takut! Untuk menolong suci, aku rela mempertaruhkan nyawaku! Apakah engkau merasa jerih? Kalau engkau takut, biar aku sendiri yang akan menolongnya!”

Goan Ciang tersenyum. “Bukan takut, nona. Akan tetapi aku khawatir kita berdua akan gagal kalau menghadapi demikian banyaknya lawan...”

“Aku tidak takut!” kembali Lee Siang berkata tegas.

“Bukan soal berani atau takut, nona. Akan tetapi, apa artinya kalau kita berdua gagal? Kita mungkin tertangkap atau tewas, akan tetapi yang jelas, kegagalan, kita tidak akan menolong sucimu itu. Lalu apa artinya usaha yang sia-sia itu?”

“Habis, bagaimana? Apakah aku harus berpangku tangan mendiamkan saja suci ditawan mereka?”

“Tentu saja tidak, nona. Kita memang harus berusaha untuk menolong sucimu, akan tetapi tidak secara ceroboh yang akhirnya bukannya berhasil malah membahayakan diri sendiri. Kita harus mempergunakan akal agar dapat berhasil.”

Kalau tadinya wajah gadis itu muram dan marah, kini wajah itu beresri karena baru ia tahu akan maksud pemuda yang dikaguminya itu. “Ah, engkau benar sekali, Cu-enghiong! Akan tetapi akal apa yang dapat kita pergunakan untuk menolong suci?”

“Mulai saat ini, engkau harus menyebut aku twako dan aku menyebutmu siauw-moi agar orang menduga bahwa di antara kita masih ada hubungan kekeluargaan. Kita datangi mereka dan tentu mereka sudah tahu bahwa engkau adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, akan tetapi mereka belum mengenalku. Nah, aku akan mengaku bahwa aku adalah seorang kakak misan dari sucimu. Aku akan menuntut agar kalau kepala Yang-ce Bu-koan sungguh-sungguh mencintai sucimu, dia harus mengajukan pinangan kepara aku sebagai walinya, agar perjodohan itu dilakukan secara terhormat. Serahkan saja kepadaku kalau sudah berhadapan dengan dia. Yang terpenting, kita dapat membebaskan sucimu terlebih dulu, bukan? Ini masih jauh lebih mengandung harapan berhasil dari pada kalau kita menyerbu secara kekerasan.”

Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh harapan dan kekaguman. “Ahhh, Cu-enghiong... ah, maksudku, twako, siasatmu sungguh bagus sekali! Mudah-mudahan saja berhasil. Engkau benar, yang terpenting adalah membebaskan suci lebih dahulu dari tangan mereka. Kalau suci sudah bebas, hemm... mereka mau mengajak perang sekalipun, boleh!

“Nona... eh, siauw-moi, mulai sekarang biarlah aku yang nanti bicara dengan mereka. Engkau mudah terpengaruh emosi sehingga dapat menggagalkan rencana kita.”

Lee Siang tersenyum dan dalam pandangan Goan Ciang, belum pernah dia melihat wajah semanis itu. “Baiklah, toako.”

Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di satu-satunya dusun yang berada di lereng Bukit Kijang. Di dusun itulah adanya perguruan silat Yang-ce Bu-koan (perguruan silat sungai Yangce) yang mengambil namanya dari sungai besar yang mengalir di kaki bukit. Semua penghuni dusun itu seolah-olah menjadi anggota perguruan itu karena mereka semua, yang muda-muda, menjadi murid perguruan itu, di samping murid yang berdatangan dari kota dan dusun lain. Karena itu, ketika penghuni dusun melihat munculnya Kim Lee Siang yang mereka kenal sebagai sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, suasana menjadi gempar dan muncullah belasan orang jagoan perguruan itu, menghadang.

Melihat sikap mereka, Goan Ciang segera berkata dengan suara yang lantang dan berwibawa. “Hemm, beginikah caranya orang-orang Yang-ce Bu-koan menyambut calon keluarganya?

Aku, Cu Goan Ciang, adalah kakak misan dari ketua Jang-kiang-pang Liu Bi yang sudah yatim piatu, aku adalah walinya dan aku ingin bicara dengan Kwa-kauwsu tentang perjodohan itu! Apakah pantas kalau aku disambut seperti seorang musuh?”

Mendengar ucapan yang lantang dan terdengara berwibawa itu, belasan orang jagoan Yang-ce Bu-koan tertegun dan bimbang. Seorang di antara mereka lalu maju dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Goan Ciang dan Lee Siang. Bagaimana juga, yang datang dari Jang-kiang-pang hanya dua orang, tidak perlu ditakuti.

“Maafkan sikap kami, karena kedatangan ji-wi tanpa memberi kabar lebih dahulu, kami tidak menyambut secara pantas. Kalau ji-wi hendak bicara tentang perjodohan, kami persilahkan ji- wi untuk mengikuti kami bertemu dengan suhu kami.”

Dengan sikap gagah Goan Ciang dan Lee Siang mengikuti mereka menuju ke sebuah bangunan besar yang megah. Di depan bangunan itu terpancang sebuah papan nama perkumpulan yang ditulis dengan huruf-huruf besar dan gagah “Yang-ce Bu-koan”.

Agaknya telah ada anggota perguruan silat itu yang telah memberi laporan kepada Kwa- kauwsu (guru silat Kwa), karena ketika dua orang tamu itu tiba di depan rumah yang pekarangannya luas, guru silat itu telah menyambut dan berdiri di atas lantai bertangga dengan sikap gagah. Sambil melangkah maju menghampiri tuan rumah, Goan Ciang memandang penuh perhatian. Guru silat itu memang gagah. Tubuhnya tinggi besar dengan perut yang gendut, nampak kokoh seperti baru karang dan usianya sekitar empat puluh lima tahun, matanya lebar bulat dan hidungnya besar, bibirnya tebal. Tidak tampan memang, akan tetapi nampak jantan dan menyeramkan bagi lawan. Pakaiannya berwarna biru, potongannya ringkas seperti pakaian ahli silat, dengan lengan baju digulung sampai ke siku sehingga nampak sepasang lengan yang berotot dan berbulu dengan jari-jari yang panjang besar dan kasar. Bukan penampilan yang dapat menarik hati wanita, maka Goan Ciang tidak heran mengapa ketua Jang-kiang-pang menolah lamaran laki-laki ini.

Untung bahwa Goan Ciang sudah memesan kepada Lee Siang untuk diam saka dan membiarkan dia yang bicara dengan guru silat itu, karena kalau saja tidak demikian, begitu bertemu dengan Kwa-kauwsu, tentu Lee Siang akan langsung memakinya atau bahkan menyerangnya untuk menuntut dibebaskannya sucinya. Gadis itu menahan diri dan diam saja. Sementara itu, Kwa-kauwsu yang sudah mengenal Lee Siang mengetahui bahwa gadis itu adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang yang membuatnya tergila-gila, akan tetapi dia tidak mengenal Cu Goan Ciang walaupun tadi dia sudah mendengar laporan bahwa Cu Goan Ciang adalah kakak misan dari calon isterinya!

“Selamat datang, Nona Kim Lee Siang, atau lebih tepat kusebut adik Kim Lee Siang saja? Dan siapakah saudara yang datang berkunjung?” Dia pura-pura tidak tahu dan bertanya kepada Goan Ciang sambil merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Cu Goan Ciang membalas penghormatan itu sedangkan Lee Siang diam saja. Sambil tersenyum ramah Goan Ciang berkata, “Aku bernama Cu Goan Ciang, dan aku adalah kakak misan dari adikku Liu Bi yang sudah bertahun-tahuntidak kujumpai. Ketika aku datang berkunjung, aku mendengar tentang peristiwanya dengan Yang-ce Bu-koan! Aku ingin sekali bertemu dengan guru silat dari bu-koan ini untuk membicarakan urusan itu.”

“Akulah Kwa Teng atau disebut Kwa-kauwsu pemilik Yang-ce Bu-koan,” kata guru silat itu sambil membusungkan dada. “Aku adalah calon suami nona Liu Bi ketua Jang-kiang-pang!”

“Ah, kalau begitu aku berhadapan dengan calon adik iparku!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi hormat lagi. “Akan tetapi aku mendengar bahwa telah terjadi keributan dan perkelahian antara engkau dan adik misanku Liu Bi, benarkah itu? Dan engkau bahkan telah menawannya? Bagaimana pula ini?”

Guru silat itu tertawa. “Ha-ha-ha, hanya ada sedikit perselisihan. Calon isteriku itu tadinya memandang rendah kepadaku dan menantang untuk mengadu kepandaian dengan janji ia akan mau menjadi isteriku kalau aku mampu mengalahkannya. Nah, ia telah kalah dan kini ia sudah berada di sini, tinggal menanti dirayakannya pernikahan kami.”

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Aih, Kwa-kauwsu, tindakanmu itu salah besar dan hanya akan merugikan nama besarmu sendiri saja. Seyogyanya engkau tidak menyanderanya dan setelah ia kalah, kalau engkau mengajukan pinangan secara terhormat, tentu kelak ia akan menjadi isterimu yang setia dan baik. Sebaliknya kalau secara menyandera begini, apa akan kata dunia kang-ouw? Engkau tentu dianggap sebagai seorang penculik dan pemaksa, dan adik misanku tidak akan merasa terhormat, bagaimana akan dapat menjadi isterimu yang mencinta? Juga, tentu para saudaranya akan memusuhimu dan permusuhan takkan pernah berhenti, mengganggu ketenteraman hidupmu.”

Kwa-kauwsu tertegun. Tentu saja dia tahu akan hal itu. Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya. Mula-mula, dia mengajukan pinangan secara resmi terhadap ketua Jang-kiang-pang yang membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi utusannya yang melakukan lamaran itu ditolak bahkan dihina. Lalu dia membuat surat tantangan, menantang Nona Liu Bi untuk mengadakan pi-bu (adu ilmu silat) di hutan bambu kuning. Dengan pengeroyokan para muridnya yang jumlahnya jauh lebih banyak, dia berhasil merobohkan lima orang anak buah gadis ketua itu dan menawannya, lalu membawanya pulang. Karena sudah dikalahkannya, dia akan memaksa Liu Bi menjadi isterinya. Tentu saja dia sendiri tidak menyukai cara pernikahan seperti ini yang mengandung paksaan, akan tetapi dia tidak melihat cara lain yang memungkinkan dia menikah dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Dia sendiri seorang duda dan ketika dia melihat ketua Jang-kiang-pang, seketika dia jatuh cinta dan tergila-gila.

“Hemm, saudara Cu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan untuk dapat menikah dengan Nona Liu Bi secara terhormat?”

“Kwa-kauwsu yang perkasa, aku adalah kakak misannya, satu-satunya keluarganya yang lebih tua sehingga aku dapat mewakili kedua orang tuanya yang sudah tiada, dapat menjadi walinya. Aku berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan terhormat. Kalau secara resmi engkau melamar Liu Bi kepadaku, lalu kuterima lamaran itu dan diadakan upacara dan pesta pernikahan secara resmi, maka pernikahan itu akan terhormat dan engkau akan mendapatkan seorang isteri yang baik dan penurut. Sebaliknya, kalau engkau menggunakan cara paksaan seperti ini, bukankah keselamatanmu akan terancam setiap saat? Engkau seperti mengawini seorang musuh besar yang tiap saat dapat saja membunuhmu.”

Kwa-kauwsu terbelalak. Tadinya dia mengira bahwa setelah ketua Jang-kiang-pang itu menjadi isterinya, wanita itu akan tunduk kepadanya. Baru sekarang dia melihat kemungkinan terjadinya hal yang diucapkan tamunya itu.

“Saudara Cu, dan engkau nona Kim, mari kita bicara di dalam kamar tamu. Silahkan!” katanya dan sikapnya kini berubah ramah karena dia melihat bahwa tamunya ini agaknya akan dapat menolongnya dari keadaan yang gawat itu. Tentu saja dia ingin memperisteri Liu Bi secara wajar. Dia bukan pula penjahat yang suka memperkosa wanita, apa lagi Liu Bi yang membuatnya tergila-gila dan dicintanya.

Cu Goan Ciang dan Kim Lee Siang melihat betapa tuan rumah masih bersikap waspada ketika Kwa-kauwsu mengiringkan mereka masuk ke kamar tamu, sepuluh orang yang agaknya menjadi murid atau pembantu utamanya, mengiringkannya dan ikut masuk ke kamar tamu.

Ketika Kwa-kauwsu mempersilahkan mereka berdua mengambil tempat duduk berhadapan dengan guru silat itu, sepuluh orang itu berdiri berkelompok di sudut ruangan, berjaga-jaga. Kalau mereka berdua menggunakan kekerasab terhadap tuan rumah, tentu sepuluh orang itu akan maju mengeroyok, dan sebentar saja seluruh penghuni dusun itu akan mengepung mereka.

Setelah kedua orang tamunya duduk, Kwa-kauwsu berkata sambil mengamati wajah Cu Goan Ciang. “Apa yang kaukatakan tadi memang ada benarnya dan aku sendiri menghendaki agar pernikahanku dengan Liu Bi dapat berlangsung secara wajar dan terhormat. Akan tetapi, bagaimana kalau ia menolak pinanganku yang resmi seperti yang pernah ia lakukan?”

Cu Goan Ciang tertawa. “Aku mengenal betul watak adik misanku itu. Wataknya memang keras dan angkuh, tidak mudah tunduk. Karena, ketika engkau mengajukan lamaran, di pihaknya tidak ada walinya, maka ia merasa tersinggung dan menolak. Akan tetapi aku tahu bahwa adikku Liu Bi itu hanya mau berjodoh dengan laki-laki yang gagah perkasa dan mampu menandingi ilmu silatnya. Nah, kurasa engkau merupakan seorang pria yang cocok sekali dan memenuhi syarat untuk menjadi suaminya.”

“Sebaiknya kalau engkau mengundan suci ke sini untuk bicara dengan kami, Kwa-kauwsu,” kata Kim Lee Siang yang sejak tadi diam saja.

Guru silat itu memandang curiga kepada gadis manis itu. “Hemm, aku meragukan apakah ia akan mau menerima pinanganku dengan baik.” Cu Goan Ciang cepat berkata, “Kauwsu, kenapa engkau masih ragu? Aku yang menanggung bahwa adikku itu pasti akan mau menerimanya. Aku yang akan membujuknya. Sebaiknya kalai ia dipanggil ke sini agar dapat bicara denganku. Pula, kami bertiga berada di rumahmu, di tengah dusunmu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan!”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, benar juga, pikirnya. Andai kata Liu Bi dan adik seperguruannya ini mengamuk, dibantu oleh kakak misannya sekalipun, mereka bertiga tidak mungkin dapat lolos dari pengepungan para muridnya. Dan pemuda yang jangkung tegap ini agaknya bicara serius dan dapat dipercaya.

“Baiklah, akan kupanggil ia ke sini. Akan tetapi, kalau usaha kalian membujuknya tidak berhasil dan ia tetap hendak menolak, terpaksa kami akan menawan kalian semua!” Kwa- kauwsu memberi isarat kepada seorang pengawal yang segera memberi hormat dan keluar dari ruangan itu.

Dengan hati berdebar tegang, Goan Ciang dan Lee Siang menunggu dan untuk menenteramkan suasana, Goan Ciang berkata, “Kwa-kauwsu, kenapa masih mencurigai kami? Kami datang dengan maksud baik, untuk mendamaikan perselisihan di antara adik misanku dan engkau sebagai calon suaminya.”

Tak lama kemudian, pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka dan muncullah seorang wanita muda yang cantik sekali. Cu Goan Ciang sendiri sampai tertegun melihat betapa cantiknya gadis itu. Di belakang gadis itu, berjalan dua belas orang pengawal yang memegang golok. Wajah gadis itu agak pucat, namun pandang matanya bersinar-sinar penuh keberanian. Ia terbelalak heran melihat Lee Siang dan Goan Ciang.

“Suci! Aku dan Cu-toako datang untuk menolongmu!” Lee Siang berseru dengan sikap gembira sekali melihat sucinya dalam keadaan selamat.

Dengan sikap wajar dan wajah gembira, Cu Goan Ciang bangkit berdiri memandang gadis itu dan berseru, “Piauw-moi (adik misan), agaknya engkau lupa kepadaku! Tidak aneh karena sudah lima tahun lebih kita tidak saling jumpa, piauw-moi, aku adalah Cu Goan Ciang, putera bibimu!”

”Suci, aku sendiri hampir tidak mengenal lagi kepada Cu-toako ketika dia datang kemarin!” kata Lee Siang dengan nada suara gembira.

Jang-kiang Sianli Liu Bi bukanlah seorang wanita bodoh. Sama sekali tidak. Ia seorang tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat cerdik. Kalau sampai ia dapat tertawan oleh Kwa-kauwsu adalah karena ia sama sekali tidak menduga bahwa guru silat itu demikian tergila-gila kepadanya sehingga tidak segan melakukan kecurangan dan mengeroyoknya untuk mendapatkan dirinya, secara halus maupun kasar! Kini, mendengar ucapan pemuda yang sama sekali tidak pernah dilihatnya itu dan ucapan sumoinya, iapun mengerti bahwa siapapun adanya pemuda itu, tentu dia datang diajak sumoinya untuk menolongnya. Ia lalu tersenyum, dan menghampiri Goan Ciang, memberi hormat dengan ramah.

“Aih, kiranya Cu-piauwko yang datang bersama sumoi? Akan tetapi, apa yang dapat kaulakukan piauw-ko? Aku telah menjadi tawanan Kwa-kauwsu!” Ia menoleh ke arah guru silat itu dan memandang marah.

Cu Goan Ciang memang sengaja hendak mengulur waktu sambil menunggu datangnya bala bantuan. Maka dia lalu memandang kepada Kwa-kauwsu. “Kwa-kauwsu, kalau kami dibiarkan bertiga saja di sini, aku akan mencoba untuk membujuk dan mengingatkan, menyadarkan piauw-moiku ini agar ia menyadari bahwa kini ia telah menemukan jodohnya yang cocok dan serasi. Jangan khawatir, kami tidak akan membuat ulah macam-macam, pula, bukankah engkau dengan seluruh anak buahmu dapat mengepung tempat ini dan kami sama sekali tidak akan dapat melarikan diri?”

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, menganggap bahwa ucapan pemuda itu memang beralasan. Tentu saja dia akan merasa berbahagia sekali kalau Liu Bi dengan suka rela suka menjadi isterinya, bukan isteri paksaan yang kelak dapat membahayakan dirinya. Dia lalu memberi isarat kepada para murid dan anak buahnya dan merekapun lalu meninggalkan Goan Ciang, Lee Siang dan Liu Bi bertiga saja di dalam ruangan tamu itu. Tentu saja dia mengerahkan murid-muridnya untuk mengepung ruangan itu dengan ketat.

Cu Goan Ciang yang sudah mengatur siasat dengan Lee Siang, lalau mulai membujuk “piauwmoi” itu dengan kata-kata yang cukup lantang sehingga akan dapat terdengar oleh orang yang melakukan pengintaian, sedangkan Lee Siang dengan berbisik memberitahu sucinya, suaranya tertutup oleh ucapan Goan Ciang yang lantang, bahwa mereka bertiga harus menanti sampai datangnya para anggota Jang-kiang-pang yang akan datang menyerbu, barulah mereka bertiga akan mengamuk. Juga ia mengatakan dengan lirih bahwa pemuda itu adalah seorang kenalan baru yang menjadi pelarian karena membunuh seorang perwira dan kini hendak membalas budi karena telah ditolongnya ketika melarikan diri, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.

Liu Bi yang cerdik melayani permainan sandiwara itu dan pura-pura menolak dengan suara keras. “Dia telah mengeroyok dan menawanku, bahkan telah membunuh Ngo-liong Ci-moi yang menjadi pembantu utamaku, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya?” demikian antara lain dia berteriak.

“Piauw-moi, pikirkanlah baik-baik. Kesalahpahaman yang menimbulkan perkelahian itu adalah karena engkau menolak lamarannya dengan keras sehingga Kwa-kauwsu merasa terhina dan marah. Sudah wajar kalau dalam perkelahian jatuh korban. Bagaimanapun juga, engkau diperlakukan dengan sopan dan baik, bukan?”

“Itu memang benar, akan tetapi aku... aku belum ingin menikah.”

“Piauw-moi, ingat bahwa arwah kedua orang tuamu tentu akan merasa tenteram kalau melihat engkau menikah. Usiamu juga tidak terlalu muda lagi, sudah sepantasnya kalau engkau menikah. Engkau dahulu selalu mengatakan kepadaku bahwa engkau hanya akan menikah dengan seorang pria yang mampu menandingimu. Sekarang, Kwa-kauwsu bahkan telah menawanmu. Dia memiliki kepandaian tinggi, juga perguruan silatnya besar, namanya cukup dikenal dan disegani, selain itu, walaupun dia seorang duda, dia belum mempunyai keturunan. Nah, mau apa lagi? Adapun tentang peristiwa perkelahian itu, aku yakin Kwa-kauwsu suka meminta maaf dan akan mengajukan pinangan dengan resmi kepada aku sebagai walimu.”

Sengaja kedua orang ini berbantahan secara panjang lebar mengulur waktu. Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar, dan tiga orang itu mendengar dengan jelas teriakan-teriakan bahwa orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu, bahkan mulai terdengar teriakan- teriakan perkelahian yang riuh rendah. Inilah saatnya mereka bergerak.

Lee Siang mencabut pedangnya. Ia sengaja membawa dua batang pedang dan ia menyerahkan sebatang kepada sucinya yang diterima dengan gembira. Adapun Cu Goan Ciang sendiri memang tidak membawa senjata.

Pada saat itu, pintu depan ruangan itu terbuka dan nampak Kwa-kauwsu dengan golok di tangan, bersama belasan orang muridnya berdiri di luar pintu dan dia berteriak, “Liu Bi, Lee Siang, dan Cu Goan Ciang! Orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu. Apa artinya ini?”

Sebelum Jang-kiang Sianli Liu Bi menjawab, Cu Goan Ciang mendahului dia dan dia berkata, “Kwa-kauwsu, biarkan kami mencegah mereka. Ini tentu kesalahpahaman dari mereka yang mengira bahwa ketua mereka diperlakukan tidak baik!”

Guru silat itu meragu, akan tetapi karena keadaan gawat, diapun mengangguk dan memperingatkan, “Cu Goan Ciang, kalau kalian menipu kami, kalian akan kami bunuh!”

“Kita adalah antara calon keluarga sendiri, kenapa harus menipu?” katanya dan dia memberi isarat kepada Lee Siang dan Liu Bi untuk mengikutinya keluar. Guru silat itu bersama belasan orang muridnya lalu mengikuti dari belakang dan ternyata memang para anggota Jang-kiang- pang sudah mulai menyerbu sehingga terjadi perkelahian di pintu gerbang.

Kini, Liu Bi yang berseru nyaring kepada anak buahnya, “Tahan senjata!”

Melihat betapa ketua mereka dalam keadaan selamat, juga di situ terdapat pula Lee Siang, para anggota Jang-kiang-pang mundur dan berteriak-teriak dengan gembira. Mereka terdiri dari puluhan orang laki-laki dan wanita.

Liu Bi sekarang memimpin dan di sebelahnya berdiri Lee Siang dan Cu Goan Ciang. Para anak buah Jang-kiang-pang berdiri di belakang mereka. Dengan mata berkilat kini Liu Bi berdiri tegak, pedang di tangan kanan dan telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka Kwa- kauwsu.

“Orang she Kwa, engkau manusia curang tak tahu malu. Sekarang tinggal engkau pilih, hendak mengadakan pertempuran mati-matian dan aku akan mengerahkan seluruh orangku untuk membakar dan membasmi perkampunganmu, atau kita mengadu kepandaian secara orang gagah tanpa ada pengeroyokan dan kecurangan lain!” Sikap ketua Jang-kiang-pang itu gagah sekali.

Kwa-kauwsu marah bukan main dan memandang kepada Cu Goan Ciang. “Orang she Cu, kiranya engkau telah menipu kami! Keparat busuk, siapa engkau sebenarnya?”

Goan Ciang tersenyum. “Kami tidak menipumu, Kwa-kauwsu, hanya mengimbangi siasatmu yang licik. Aku bernama Cu Goan Ciang dan sahabat dari nona Kim Lee Siang. Engkau menawan ketua Jang-kiang-pang dengan menggunakan kecurangan, melakukan pengeroyokan. Nah, sekarang kami menantangmu untuk mengadu kepandaian sebagai orang gagah, atau engkau lebih menginginkan diserang habis-habisan?” Kini ketua Jang-kiang-pang baru tahu akan kecerdikan pemuda yang mengaku kakak misannya itu yang ternyata mempergunakan siasat yang nampaknya mengalah dan lunak, hanya untuk menanti datangnya bala bantuan.

“Cu-twako,” katanya dengan sikap manis dan tidak ragu-ragu menyebut pemuda itu twako, “terima kasih atas bantuanmu. Akan tetapi tidak perlu twako terlibat, biar aku sendiri yang akan menghajar pengecut Kwa ini. Hayo, Kwa Teng, kita bertanding satu lawan satu! Orang macam engkau ingin memperisteri aku? Sungguh tidak tahu malu!”

Tentu saja Kwa-kauwsu marah bukan main. Dia telah dihina oleh Liu Bi di depan semua muridnya. Pada hal tadinya dia sudah mengumumkan bahwa ketua Jang-kiang-pang akan menjadi isterinya. Akan tetapi, ketika dia mengeroyok ketua itu dengan para murid andalannya, dia tahu bahwa Jang-kiang Sianli Liu Bi amat lihai dan kalau dia seorang diri menandinginya, belum tentu dia akan menang. Untuk mengadakan pertempuran, biarpun pihaknya memiliki anak buah yang lebih banyak, namun para anggota Jang-kiang-pang rata- rata lihai dan selain itu, yang amat berbahaya baginya adalah mengingat bahwa para pimpinan Jang-kiang-pang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pejabat di Wu-han sehingga kalau terjadi pertempuran, tentu pasukan keamanan pemerintah akan berpihak kepada Liu Bi. Hal ini akan merupakan malapetaka baginya. Dia menjadi serba salah. Lalu dengan mata melotot dia menghadapi Cu Goan Ciang.

“Orang she Cu! Engkau yang menjadi biang keladi dengan menipuku sehingga terjadi pertentangan ini. Aku, Kwa Teng, menantang Cu Goan Ciang sebagai sama-sama laki-laki untuk mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua anak buah kedua pihak!”

“Kwa Teng, manusia curang! Yang bermusuhan adalah engkau dan aku! Cu-twako ini adalah orang luar. Akulah yang akan menandingimu, bukan orang lain!” kata Liu Bi yang merasa khawatir kalau-kalau penolongnya itu akan kalah karena ia tahu bahwa tingkat kepandaian guru silat itu sudah tinggi, bahkan tidak banyak selisihnya dengan ia sendiri. Akan tetapi, biarpun Lee Siang sendiri belum pernah menguji ilmu kepandaian Goan Ciang, gadis ini sudah melihat betapa pemuda itu dapat berlari cepat, bahkan memiliki tenaga lebih kuat dari padanya. Maka iapun berkata dengan senyum bangga.

“Suci, biarkan Cu-twako memberi hajaran kepada manusia sombong dan curang itu!”

Mendengar ucapan sumoinya, Liu Bi percaya bahwa pemuda itu agaknya boleh diandalkan, maka iapun tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, agaknya Kwa-kauwsu tidak berani menantang aku, maka menantang Cu-twako. Biar aku menjadi penonton saja atau menunggu siapa di antara pihak Yang-ce Bu-koan yang akan berani menantangku.”

Cu Goan Ciang lalu maju menghadapi ketua atau guru dari Yang-ce Bu-koan yang marah itu. Guru silat itu memegang sebatang golok besar yang mengkilap saking tajamnya, akan tetapi Goan Ciang tidak memegang senjata. Melihat ini, Lee Siang berkata, “Twako, pakailah pedangku ini!”

Goan Ciang menoleh dan tersenyum kepadanya. “Tidak perlu, Siang-moi, terima kasih. Aku tidak biasa menggunakan pedang atau senjata lain.” Tadinya dia dan Lee Siang saling menyebut twako dan siauwmoi hanya untuk bersandiwara dan bersiasat kepada Kwa-kauwsu, akan tetapi sekarang rasanya canggung kalau mengubah sebutan yang sudah akrab itu. Melihat betapa Cu Goan Ciang menghadapinya dengan tangan kosong, guru silat Kwa menjadi semakin marah, merasa dipandang rendah. “Orang she Cu, keluarkan senjatamu!” tantangnya.

Cu Goan Ciang memandang kepadanya dengan sikap tenang. “Kwa-kauwsu, aku tidak perlu menggunakan senjata menghadapimu. Aku bukan orang yang suka mempergunakan senjata dan kekerasan untuk memaksakan kehendakku, apa lagi memaksa wanita yang tidak suka untuk menjadi isteriku. Biar kulawan engkau dengan tangan kosong saja.”

“Manusia sombong! Keluarkan senjatamu atau jangan katakan aku curang kalau nanti tubuhmu lumat oleh golokku ini!” Dia membentak sambil mengamangkan goloknya yang besar, berat dan mengkilap.

“Majulah, Kwa-kauwsu. Dalam suatu pertandingan, kalah atau menang adalah hal wajar, terluka atau matipun tidak perlu dibuat penasaran lagi. Aku sudah siap menghadapi golokmu dengan tangan kosong!” kata Cu Goan Ciang pula. Memang pemuda ini, sejak menerima ilmu Sin-tiauw ciang-hoat (Silat Rajawali Sakti), ilmu yang khas dari Lauw In Hwesio, tidak perlu lagi mempergunakan senjata. Ilmu silat itu bahkan lebih cocok dimainkan dengan tangan kosong, karena seperti gerakan seekor rajawali, tangan itu bukan hanya dapat dipergunakan untuk memukul dan menotok, namun juga mencengkeram dan keampuhan tangan dari ilmu itu tidak kalah hebatnya dibandingkan senjata yang bagaimanapun.

Kwa-kauwsu agaknya sekali ini ingin bersikap gagah. Dia memandang ke sekeliling dan berkata dengan suara lantang. “Kalian semua menjadi saksi. Dia sendiri yang menantang golokku dengan tangan kosong, dia sendiri yang mencari mati, jangan ada yang menyalahkan aku nanti. Cu Goan Ciang, bersiaplah menyambut seranganku.”

Kedua orang itu saling berdiri berhadapan dan dengan sendirinya semua orang kedua pihak membentuk lingkaran yang lebar dan bersikap di pihak masing-masing, menonton dengan hati tegang. Guru silat itu memasang kuda-kuda yang gagah, dengan golok melintang di atas kepala, siap untuk menyerang, sedangkan Cu Goan Ciang masih nampak santai saja, berdiri tegak dan mengikuti gerakan lawan yang mengitarinya dengan sudut matanya. Sikap Goan Ciang seperti seekor burung rajawali yang mengintai gerakan seekor ular yang mengitarinya dan yang mengancamnya, demikian tenang namun waspada dan setiap jaringan syaraf di tubuhnya menegang.

Setelah mengitari lawan sampai dua kali putaran, tiba-tiba Kwa-kauwsu mengeluarkan bentakan nyaring, “Hyaaaatttt...!!” dan goloknya menyambar dari samping kanan Goan Ciang, menyambar dari atas ke arah leher lawan. Terdengar bunyi berdesing diikuti sambaran angin saking tajam dan cepatnya golok itu menyambar. Golok itu lenyap berubah menjadi sinar terang yang menyambar, dan semua orang menahan napas karena agaknya akan sukar menghindarkan diri dari bacokan golok sehebat itu.

“Singg. !” Golok itu mengenai tempat kosong karena dengan mudah dan ringannya tubuh

Goan Ciang telah mengelak dengan menggesek kaki ke samping. Namun, Kwa-kauwsu sudah memutar pergelangan tangannya sehingga golok yang menyambar tempat kosong tadi kini membalik dan menyambar ke arah pinggang Goan Ciang. Kembali Goan Ciang mengelak dengan loncatan ke belakang dan sekali lagi golok itu menyambar, kini ke arah kedua kakinya seperti orang membabat ilalang saja. Goan Ciang melompat ke atas dan mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung rajawali terbang dan kini pemuda itu mulai memainkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw Ciang-hwai. Bagaikan seekor burung rajawali saja, tubuhnya berkelebatan dan berloncatan seperti terbang, cepat bukan main dan dari atas, dari segala jurusan, dia membalas serangan lawan dengan tendangan, cengkeraman dan totokan, membuat Kwa-kauwsu menjadi sibuk sekali karena biarpun semua serangan balasan itu tidak mempergunakan senjata, namun bahanya tidak kalah dengan serangan senjata tajam.

Kini, baik Lee Siang maupun Liu Bi sendiri tercengang. Mereka berdua adalah dua orang wanita gagah yang memiliki ilmu silat tinggi, sudah banyak pula melihat ilmu silat sehingga mereka tadi mengenal dasar gerakan ilmu silat Siauw-him-pai. Akan tetapi setelah Goan Ciang memainkan ilmu silat Sin-tiauw Ciang-hwat, mereka tercengang dan tidak mengenal ilmu yang amat cepat gerakannya dan aneh, mirip gerakan seekor burung rajawali yang menyambar-nyambar.

Sementara itu, Kwa-kauwsu dengan nekat dan membabi buta mencoba untuk membabat bayangan tubuh yang berloncatan itu dengan bacokan goloknya. Diam-diam dia terkejut dan menyesal mengapa dia tadi memandang rendah pemuda ini. Ternyata pemuda ini demikian lihainya, dan baginya akan lebih menguntungkan kalau dia menandingi Jang-kiang Siang-li Liu Bi sendiri dari pada melawan pemuda yang gerakannya lincah dan aneh ini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia hanya dapat bertindak nekat, mempergunakan keuntungannya memegang golok sedangkan lawannya bertangan kosong, untuk menyerang dengan ganas dan dahsyat.

Namun, semua bacokan dan tusukan golok itu tak pernah mengenai tubuh Goan Ciang, sebaliknya, dua kali Kwa-kauwsu terhuyung karena pundaknya terkena tamparan ketika tubuh Goan Ciang menyambar dari atas, kemudian punggungnya juga terkena tendangan. Walaupun dua kali serangan itu membuat dia hanya terhuyung dan belum roboh, namun cukup membuat hati Kwa-kauwsu menjadi semakin penasaran. Dia adalah seorang ahli silat yang berpengalaman, bahkan di daerah itu dia dikenal sebagai guru silat yang pandai, mempunyai banyak murid. Kalau sekali ini, dengan golok di tangan, dia sampai kalah melawan seorang pemuda bertangan kosong, pada hal disaksikan oleh semua penghuni dusunnya dan oleh semua anggota Jang-kiang-pang, maka namanya akan jatuh dan tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang di dunia persilatan.

“Mampuslah...!” Dia berteriak lantang dan secara nekat dan membabi buta dia menyerangkan goloknya dengan bacokan kilat ke arah dada Goan Ciang. Melihat kenekatan lawan, Goan Ciang merendahkan tubuhnya dan ketika golok lewat di atas kepalanya, secepat kilat tangannya menotok ke atas, menggunakan jari telunjuk dan jari tengah, tepat menotok jalan darah di pergelangan tangan lawan.

“Tukk!” Kwa-kauwsu mengeluh dan terpaksa dia melepaskan goloknya karena tangan kanannya tiba-tiba menjadi lumpuh oleh totokan itu. Dia terkejut sekali dan cepat menggulingkan tubuh agar jangan sampai tersusul serangan lawan. Tubuhnya bergulingan menjauh, kemudian dia meloncat berdiri dan biarpun kini dia sudah tidak memegang senjata lagi, dengan nekat dia lalu menerjang dan menyerang dengan tangan kosong!

Menggunakan golok besar saja dia tidak mampu menang, apalagi kini bertangan kosong. Dia masih mencoba mengerahkan tenaga dan menyerang dengan dahsyat, namun tentu saja dengan mudah serangannya dapat dipatahkan Goan Ciang, sekali ini bukan mengelak melainkan menangkis sambil mengerahkan tenaganya. “Dukkk!” Dua buah lengan bertemu dan akibatnya, Kwa-kauwsu terdorong mundur sampai beberapa langkah. Goan Ciang tidak memberi hati lagi, maju dan mengirim tendangan yang membuat tubuh guru silat itu terjengkang. Pada saat itu, sepuluh orang murid utamanya maju dengan golok di tangan mengeroyok Cu Goan Ciang. Melihat ini, Liu Bi dan Lee Siang juga berlompatan maju dan pedang mereka segera mengamuk di antara sepuluh orang itu.

Guru silat Kwa sudah maju lagi, agak berbesar hati karena kini sepuluh orang murid utamanya sudah membantu, dan dia sudah menyambar sebatang golok dari tangan seorang muridnya. Namun, Goan Ciang ang merasa marah melihat kecurangan lawan yang menggunakan pengeroyokan, sudah mendahuluinya dan sekali tangannya menyambar, tangannya sudah menghantam dada lawan, membuat guru silat itu terbanting dan terjengkang keras, muntah darah dan tidak dapat berdiri lagi, hanya bangkit duduk sambil mengerang kesakitan.

Sementara itu, Lee Siang dan Liu Bi mengamuk dan dalam waktu singkat saja, kedua orang gadis cantik itu sudah merobohkan sepuluh orang pengeroyoknya, dan mereka yang roboh oleh pedang kedua wanita itu jelas tidak mampu bangun kembali karena mereka semua telah tewas. Mayat sepuluh orang itu malang melintang dan kedua orang gadis itu, dengan pedang di tangan siap untuk mengamuk atau mengerahkan anak buahnya.

“Orang she Kwa, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih hendak melanjutkan pertempuran ini? Liu Bi menantang.

Kwa-kauwsu maklum bahwa pihaknya telah kalah. Kalau dia mengerahkan semua muridnya untuk melawan, sama saja dengan menyuruh para murid itu membunuh diri. Dia sendiri sudah tidak mampu melawan. Sepuluh orang murid kepala yang diandalkan telah tewas. Sedangkan di pihak musuh terdapat pemuda yang amat lihai itu.

“Aku mengaku kalah.”katanya dengan lirih dan menundukkan mukanya.