-->

Rajawali Lembah Huai Jilid 03

Jilid 03

“Lurah Koa, aku bukan anak kecil Siauw Cu lagi, namaku Cu Goan Ciang. Tidak enak dipanggil Siauw Cu seolah aku masih seorang kanak-kanak. Nah, aku percaya bahwa engkau akan bertindak jujur dan benar-benar hendak bertaubat. Oleh karena itu, pelaksanaan pengembalian tanah sawah kepada para pemiliknya semula, kuserahkan kepada kakak beradik Koa!”

“Suheng, mereka ini sudah terbiasa bertindak curang, bagaimana kalau pelaksanaan itu tidak berjalan dengan seadilnya dan mereka menipu para petani?” tiba-tiba Shu Ta berkata.

“Tidak, sute. Mereka adalah dua orang pemuda yang tentu saja akan berani mengubah sikap dan tindakan masa lalu yang keliru, dan memulai dengan kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan mereka. Pemuda-pemuda yang sudah mempelajari ilmu silat yang cukup baik, sudah sepatutnya menjadi orang-orang gagah perkasa berwatak pendekar, tidak pantas menjadi penjahat yang curang dan kejam!” kata Cu Goan Ciang sambil memberi isarat dengan pandang matanya kepada Shu Ta. Diam-diam Shu Ta kagum kepada suhengnya. Suhengnya ini, ternyata pandai bersiasat untuk membangunkan semangat orang, untuk memberi harapan kepada orang agar dapat hidup lebih baik dan bermanfaat!

Perhitungan Goan Ciang memang tepat sekali dengan penyerahan tugas itu kepada dua orang pemuda Koa itu. Dua orang pemuda itu, yang tadinya dengan munculnya Siauw Cu merasa amat terpukul dan terbanting, merasa tidak berarti, kini mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka, merasa diri penting. Bahkan merekalah yang menghapus keraguan ayah mereka yang tidak rela mengembalikan sawah ladang kepada penghuni dusun. Mereka berdua segera membuat daftar, dan membuat pengumuman, memanggil para penghuni dusun yang bersangkutan dan mengembalikan hak milik atas sawah ladang yang dahulu disita oleh kepala dusun dari mereka sebagai pembayar hutang dan pajak. Gegerlah seluruh dusun! Dan mereka tahu bahwa semua ini berkat pembelaan Siauw Cu. Mereka bersyukur sekali dan memuji-muji Siauw Cu sebagai dewa penolong. Akan tetapi masih banyak di antara mereka yang masih merasa sengsara karena tertimbun hutang mereka kepada hartawan Ji yang kini bahkan memaksa mereka membayar hutang dengan tenaga mereka sebagai buruh tani tanpa bayar, hanya sekedar diberi makan! Juga mereka yang dahulu terpaksa membayar hutang mereka berikut bunganya kepada hartawan Ji dengan menyerahkan sawah ladang, kini masih belum mendapatkan kembali tanah mereka seperti para penghuni yang menerima kembali tanah mereka dari Lurah Koa.

“Hidup Cu-taihiap (pendekar Cu)!” terdengar seruan orang-orang di dusun itu. Kehidupan di hari itu seperti dalam suasana pesta, kecuali mereka yang masih tertindas oleh kekuasaan Ji wan-gwe.

Dengan hati gembira Goan Ciang dan Shu Ta menyaksikan pengembalian tanah yang diatur oleh kedua orang kakak beradik Koa, sedangkan Lurah Koa yang tidak berdaya ternyata jatuh sakit! Dia tinggal di kamarnya saja, namun dia sudah benar-benar menyerah, bahkan diam- diam dia menyesali semua sikap dan prilakunya selama ini. Dia terlalu gila kekuasaan, terlalu mabok kemewahan dan juga dengan kekuasaannya dia mengumbar kesenangannya akan wanita cantik, melakukan pemaksaan dan merampas anak isteri orang! Diam-diam diapun merasa terhibur dan timbul harapannya melihat sikap dua orang puteranya yang memenuhi permintaan Goan Ciang dengan rela dan sepenuh hati. Mudah-mudahan mereka tidak seperti aku, pikirnya, agar kelak tidak harus memetik buahnya yang pahit seperti aku.

Ketika Goan Ciang dan Shu Ta sedang menyaksikan pengembalian tanah yang dilakukan dua orang kakak beradik Koa, tiba-tiba datang beberapa orang dusun berlari-larian menghampiri Cu Goan Ciang. Wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, nampaknya mereka ketakutan sekali.

“Cu-taihiap... celaka... sungguh celaka...” teriak mereka setelah tiba dekat.

Cu Goan Ciang dengan sikap tenang bertanya, “Harap paman sekalian tenang. Apakah yang terjadi maka paman kelihatan begitu ketakutan?”

Shu Ta juga ingin tahu, demikian pula Koa Hok dan Koa Sek. Seorang di antara orang-orang yang datang berlarian itu, mewakili teman-temannya dan berkata, “Hartawan Ji... dia... dia mendatangkan lagi semua jagoan bekas anak buah Lurah Koa yang telah diusir keluar dusun. Berbondong-bondong mereka datang dengan lagak sombong, di sepanjang jalan menendangi penghuni yang menonton di sepanjang jalan dan kini mereka semua memasuki perumahan hartawan Ji.”

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya dan Shu Ta menggeleng-geleng kepalanya, “Suheng, jelas ini sebuah tantangan. Agaknya kita harus membersihkan penyakit kedua di dusun ini, hartawan Ji!”

Cu Goan Ciang mengangguk, “Agaknya demikian, sute. Akan tetapi kita harus mendidik penduduk agar dapat membela diri terhadap penindasan penjahat. Koa Hok dan Koa Sek, kalian dengar laporan mereka tadi?”

Dua orang kakak beradik Koa itu mengangguk. “Kalau kalian sudah mendengar, lalu apa yang akan kalian lakukan?” tanya pula Goan Ciang.

Kakak beradik itu saling pandang, tertegun lalu memandang kembali kepada Goan Ciang. “Apa yang dapat kami lakukan?” Koa Hok balas bertanya. “Kami tidak dapat berbuat apa- apa.”

“Hemm, jawaban macam apa itu?” Kalian adalah putera-putera lurah di dusun ini yang berkewajiban untuk mengatur dan menenteramkan dusun ini! Juga kalian adalah dua orang pemuda yang sudah susah-payah mempelajari ilmu silat dan telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk membuat kalian menjadi orang-orang gagah. Dan kini, melihat di dusun ini terancam penindasan hartawan Ji yang mengumpulkan banyak penjahat sebagai anak buah, kalian mengatakan tidak dapat berbuat apa-apa? Kalian harus bangkit dan menghadapi ancaman bahaya bagi dusun itu, kalian harus menentangnya dan menghalau para penjahat dari dusun ini!”

“Maksudmu... kami harus melawan paman Ji?”

Ketika Goan Ciang mengangguk, Koa Sek yang berseru kaget. “Tapi itu tidak mungkin. Paman Ji adalah sahabat baik ayah dan kedua, mungkin dia akan menjadi ayah mertua seorang di antara kami, ke tiga, puterinya itupun adalah sumoi (adik seperguruan) kami! Dan ke empat, kami hanya berdua, bagaimanan mungkin menentang anak buah paman Ji yang banyak apa lagi sekarang ditambah dengan bekas anak buah ayah?”

Cu Goan Ciang memandang tajam kepada kakak beradik itu, dan sementara itu, di situ sudah berkumpul banyak sekali penduduk dusun yang ketakutan mendengar berita bahwa semua tukang pukul Lurah Koa kini telah dipanggil oleh hartawan Ji. Kemudian Cu Goan Ciang berkata dengan suara lantang dan pandang mata tajam.

”Koa Hok dan Koa Sek, dengar baik-baik, kujawab satu demi satu alasanmu tadi. Pertama, kini hartawan Ji bukan lagi sahabat ayah kalian yang telah sadar, bukan lagi sekutu hartawan Ji dalam memeras penghuni dusun. Ke dua dan ke tiga, seorang gagah selalu bertugas untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan, meluruskan yang bengkok dan membela yang lurus tidak perduli calon mertua, tidak perduli sumoi sendiri, kalau tidak benar haruslah dihadapi sebagai lawan. Yang dimusuhi bukanlah orangnya melainkan perbuatannya. Membela yang melakukan kejahatan, sama saja dengan kita sendiri membantu kejahatan itu. Alangkah akan baiknya kalau kalian dapat menyadarkan hartawan Ji seperti halnya ayah kalian. Kemudian ke empat, untuk membela kebenaran dan keadilan, kenapa kalian harus takut menghadapi puluhan orang anak buah hartawan Ji? Tengoklah, bukankah semua saudara kita di dusun ini akan siap membantu kalian?” Cu Goan Ciang lalu menghadapi para penghuni dusun yang berkumpul di situ, melihat dan mendengarkan, “Saudara-saudara sekalian, kalau kakak beradik Koa bangkit melawan anak buah hartawan Ji, apakah kalian berani membantu mereka demi keselamatan dusun kita dari penindasan?”

Serentak semua orang berteriak-teriak, “Berani! Berani!”

Cu Goan Ciang tersenyum. “Nah, mereka berani. Apakah kalian tidak berani, Koa Hok dan Koa Sek?”

Kakak beradik itu saling pandang, lalu sama-sama tersenyum. “Tentu saja kami berani!” Shu Ta bertepuk tangan. “Bagus! Mari kita hajar mereka!”

Ketika semua penduduk menyambut ajakan Shu Ta itu dengan sorak-sorai, Cu Goan Ciang mengangkat kedua tangan ke atas minta perhatian dan semua orang berdiam diri, memperhatikan. “Saudara sekalian! Mulai sekarang, kalian sebagai warga dusun haruslah taat kepada Lurah Koa yang telah menyadari kekeliruannya di masa lampau. Dia diwakili oleh dua orang puteranya yang gagah. Ingat, ketaatan kalian adalah demi menjaga keamanan dusun kita sendiri. Kalau kalian, di bawah pimpinan dua saudara Koa, bersatu padu, kiranya tidak mungkin ada gerombolan penjahat berani mengusik dusun kita, tidak ada yang berani melakukan penindasan kepada kalian. Akan tetapi ingat, kalian menghadapi perampok, haruslah bersikap benar dan menentang kejahatan. Jangan lalu kalian membalas dengan jalan merampok pula sehingga tidak tahu lagi kita bedanya antara kalian dan para perampok. Dan ingat pula, bukan maksudku mengajak kalian menjadi pembunuh kejam. Kita hajar mereka, agar mereka bertaubat. Kita hajar kekuasaan sewenang-wenang dari hartawan Ji, bukan hendak mencelakai dia dan keluarganya. Mengerti?”

“Mengerti!” teriak para penghuni dusun. Kalau mereka mendapatkan kembali tanah mereka, tidak lagi ditindas dan dapat hidup aman dan tenteram di dusun mereka sendiri, hal itu sudah cukup, lebih dari pada baik. Tentu saja mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk membalas dengan jalan merampok dan membunuh. Mereka bukan orang-orang jahat.

“Saudara sekalian, sekarang harap kalian mempersenjatai diri, bukan dengan senjata tajam, melainkan alat-alat pemukul saja dari kayu, atau tongkat, apa saja yang dapat kita pakai untuk melawan, akan tetapi bukan untuk membunuh!” terdengar Koa Hok berteriak lantang, membuat Goan Ciang dan Shu Ta saling pandang dan tersenyum girang. Para penghuni itu bersorak dan segera mereka berlari ke sana-sini untuk mencari alat pemukul.

“Bagus, dengan semangat kalian, aku yang kalian akan menang,” kata Goan Ciang kepada kakak beradik itu.

“Terima kasih, Goan Ciang. Akan tetapi kami membutuhkan bantuan engkau dan sutemu,” kata Koa Sek.

Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika nampak berkelebat sesosok bayangan dan di situ telah berdiri seorang gadis yang bukan lain adalah Ji Kui Hwa! Gadis ini berdiri tegak dengan wajah marah, sepasang matanya bersinar dan mulut yang manis itu kini cemberut.

”Sumoi...!!” Koa Hok dan Koa Sek berseru hampir berbareng. Dalam suara mereka saja sudah diketahui bahwa kakak beradik ini sayang kepada sumoi mereka.

“Hok-suheng dan Sek-suheng, aku datang bukan untuk berurusan dengan kalian, melainkan dengan orang yang bernama Siauw Cu! Yang mana dia?” Ucapan itu terdengar ketus dan mata yang indah tajam itu mengamati Goan Ciang dan Shu Ta.

Goan Ciang melangkah maju menghadapi gadis itu. “Akulah yang dipanggil Siauw Cu, nona.”

Sepasang mata itu berkilat dan mulut yang indah bentuknya itu tersenyum mengejek. “Bagus jadi engkau yang bernama Siauw Cu, si sombong! Engkau dahulu adalah seorang anak dusun ini, akan tetapi setelah minggat, kini engkau kembali ke sini, mengandalkan kepandaian untuk mengacau! Jangan dikira bahwa semua orang takut padamu. Aku Ji Kui Hwa tidak takut!”

“Sumoi... tunggu dulu...!” seru Koa Sek sambil mendekati sumoinya. Akan tetapi, kibasan tangan gadis itu membuat dia terpaksa mundur.

“Sek-suheng, jangan mencampuri urusanku dengan si sombong ini! Aku bahkan merasa heran mengapa engkau akrab dengan pengkhianat ini!”

“Nona, apa sebabnya engkau mengatakan aku sombong, pengacau dan bahkan pengkhianat?” Goan Ciang bertanya penasaran.

Kui Hwa berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang sehingga seolah ia hendak mengukur pinggangnya yang ramping itu dengan jari kedua tangannya.

“Hemm, engkau masih bertanya? Engkau telah ditolong oleh Lurah Koa, sehingga selain jenazah ibumu dapat dikubur selayaknya, juga engkau diberi pekerjaan menggembala ternak. Engkau diberi makan dan pakaian secukupnya. Akan tetapi apa yang kaulakukan sebagai balas budi? Engkau memukuli kedua suhengku ini sampai pingsan, lalu engkau melarikan diri, minggat tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Setelah bertahun menghilang, kini engkau kembali dan engkau membalas budi paman Lurah Koa dengan menghinanya, bahkan membubarkan pasukannya dan membuat kekacauan di dusun ini!”

“Sumoi, nanti dulu!” kini Koa Hok yang berteriak dan di meloncat ke depan gadis itu, menghalangi gadis itu menentang Goan Ciang. “Engkau mendapatkan keterangan yang keliru! Memang Goan Ciang memukuli kami berdua sampai pingsan, akan tetapi itu kesalahan kami berdua. Kami merasa iri karena kalah pandai darinya, maka kami sengaja menghadangnya dan kami yang memukulinya untuk melampiaskan penasaran dan iri. Dia hanya melawan untuk membela diri, dan setelah kami roboh, dia melarikan diri, takut akan pembalasan ayah.”

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi Kui Hwa masih penasaran. “Kalau begitu, dia kini datang untuk membalas dendam kepada kalian dan ayah kalian?”

“Tidak, sumoi!” kini Koa Sek yang bicara. “Goan Ciang datang untuk menyadarkan ayah dan kami dari kekeliruan. Mungkin engkau sudah mendengar. Kami mengembalikan semua tanah penduduk yang pernah dirampas ayah. Kami ingin menjadi pemimpin dan sahabat penduduk dusun kita, bukan menjadi musuh mereka. Goan Ciang benar dan kami berterima kasih kepadanya!”

Kui Hwa merasa kecelik, akan tetapi ia memang galak dan keras hati, tidak mau sudah begitu saja. “Jadi kalian mengangkat dia sebagai pimpinan?”

“Dia memang patut menjadi pemimpin kita, sumoi. Dia lihai, bijaksana dan adil, mengingatkan kami akan pesan suhu bahwa kita harus membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas...”

“Huh, aku tidak mau percaya begitu saja sebelum merasakan sendiri kelihaiannya.” “Sumoi!” Kakak beradik itu berseru kaget. “Cu Goan Ciang, majulah dan cabut senjatamu!” bentak Kui Hwa sambil mencabut pedangnya.

“Sumoi, jangan...!” kembali kakak beradik itu berteriak.

Shu Ta menegur mereka. “Sudahlah, saudara Koa berdua, tidak perlu mencegahnya. Nona ini benar. Sebelum berkenalan dengan orangnya, memang lebih baik kalau lebih dahulu berkenalan dengan ketangguhannya!”

Setelah dua orang kakak beradik itu mundur Goan Ciang melangkah maju, lebih mendekati gadis itu. “Baiklah, nona. Kalau nona ingin menguji kepandaian, majulah. Nona boleh menggunakan pedangmu, dan aku akan menghadapimu dengan dua tangan kosong saja.”

“Sombong, aku bisa membunuhmu!”

“Apa boleh buat, kalau aku kalah dan terbunuh olehmu, takkan ada yang menyesal, silahkan!” “Sumoi, kau takkan menang!” teriak kakak beradik Koa itu.

Mendengar ini, kemarahan Kui Hwa bagaikan api disiram minyak. “Bagus, Cu Goan Ciang, kaulihat pedangku dan jaga serangan ini!” pedangnya berkelebat dan gadis itu sudah menyerang dengan tusukan ke arah dada Goan Ciang. Kalau Goan Ciang berani menghadapi gadis itu dengan tangan kosong, hal ini bukan karena dia sombong, melainkan karena dia sudah tahu atau dapat memperhitungkan sampai di mana tingkat kepandaian sumoi dari kakak beradik Koa yang sudah dia ketahui kepandaian mereka itu.

Tusukan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Goan Ciang dan sampai sepuluh jurus serangan, dia selalu mengelak, membuat Kui Hwa menjadi semakin penasaran. Pada jurus berikutnya, ketika pedang itu menyambar. Goan Ciang memapaki dengan gerakan kedua tangan. Tangan kiri dengan berani menyambut bacokan pedang itu, dan jari-jari tangannya mencengkeram pedang, lalu jari tangan kanannya bergerak menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang. Kui Hwa mengeluh dan tangan kanannya seperti lumpuh. Di lain saat, pedangnya telah dirampas Goan Ciang.

Akan tetapi, dasar dara ini seorang yang bandel dan tidak mau mudah mengalah, biar pedangnya sudah dirampas, ia masih belum mau menerima kalah. Ia berteriak dan maju sambil mengirim serangan dengan pukulan-pukulan. Goan Ciang hanya mundur sambil menangkis dan ketika tangan kanan Kui Hwa memukulnya dengan jari terbuka, memukul dengan dorongan telapak tangan, dia memapaki dengan telapak tangan kirinya.

“Dukkk!!” Tubuh gadis itu terjengkang roboh kalau saja Koa Hok tidak cepat menyambutnya dari belakang dan mencegah gadis itu terbanting.

Wajah Kui Hwa menjadi merah sekali. “Sumoi, kami berduapun tidak mampu menandinginya, apa lagi engkau seorang diri,” kata Koa Hok dan kini Kui Hwa yakin bahwa ilmu kepandaian Cu Goan Ciang memang jauh lebih tinggi dari pada ilmunya, bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkat gurunya.

Pada saat itu, para penghuni dusun sudah berkumpul membawa kayu-kayu pemukul dan jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang. Agaknya seluruh penghuni dusun sudah berkumpul sekarang, siap berperang! Melihat ini, Kui Hwa terkejut bukan main.

“Mau apa mereka itu? Suheng, apa yang hendak kalian lakukan?”

“Sumoi, penduduk dusun terancam, tidak tahukah engkau bahwa ayahmu telah memanggil kembali dua puluh lima orang bekas anak buah ayah kembali ke dalam dusun ini dan agaknya menjadi anak buah ayahmu?” kata Koa Hok.

Gadis itu bersungut. “Itulah yang membuat hatiku jengkel! Karena peristiwa di sini, ayah menjadi marah dan dia mengumpulkan kekuatan, mengundang para jagoan yang diusir dari sini. Bahkan aku sendiri tidak mampu mencegah, dan ketika aku memperingatkan ayah, dia malah marah kepadaku, membuat aku jengkel dan aku mencari biang keladinya di sini!”

“Ah, engkau salah sangka, sumoi. Cu Goan Ciang adalah seorang pendekar yang hendak membersihkan dusun ini dari gangguan dan berusaha agar kehidupan penghuni dusun menjadi tenteram dan makmur. Kau ingat, sumoi, dia melakukan segala hal sesuai dengan nasihat guru kita dahulu,” kata Koa Hok.

“Tapi, apa yang hendak kalian lakukan dengan para penduduk yang membawa alat pemukul itu?”

“Kami hendak menyerbu ke tempat ayahmu, sumoi,” kata Koa Sek.

“Apa?? Kalian hendak menyerang ayah? Kalian hendal menghancurkan ayah, dan membiarkan orang-orang ini untuk merampok harta benda ayah dan membunuh ayah sekeluarga?” Wajah gadis itu berubah pucat, lalu menjadi merah sekali.

“Jangan salah sangka, sumoi. Lihat, ketika Cu Goan Ciang datang bersama sutenya, diapun tidak mengganggu ayah sekeluarga, hanya ingin menyadarkan kami. Yang dia usir hanyalah para tukang pukul ayah karena merekalah yang mengganas di dusun ini. Sekarangpun, kami hendak menyerbu ke sana bukan untuk memusuhi ayahmu, melainkan untuk menghajar para tukang pukul ayahmu dan bekas tukang pukul ayah kami yang bergabung ke sana. Terhadap ayahmu, kami hanya ingin mengajak agar dia menyadari kesalahannya selama ini dan dapat bekerja sama dengan kami untuk memakmurkan dusun kita.”

“Benar, sumoi,” kata Koa Sek menyambung ucapan kakaknya. “Kita laksanakan semua nasihat guru kita dahulu. Kita tegakkan kebenaran dan keadilan, kita bela yang lemah tertindas dan menentang yang lalim dan yang menindas orang lain seperti ayah kami dan ayahmu. Kita harus menebus semua kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita.”

Kui Hwa mengangguk-angguk. “Tapi... kalian berjanji tidak akan menyerang ayahku dan keluargaku?”

“Kami berjanji!”

“Baik, kalau begitu, aku akan membantu kalian!” Ucapan Kui Hwa itu disambut sorak-sorai para penduduk yang menjadi gembira bukan main. Gadis itu memang mereka kenal sebagai seorang gadis yang wataknya baik, jauh berbeda dengan ayahnya, bahkan sering membela mereka dari penindasan ayahnya sendiri. Ketika tadi melihat gadis itu bertanding melawan Cu Goan Ciang, mereka merasa prihatin. Kini, mendengar betapa gadis itu berpihak kepada mereka untuk mengusir semua tukang pukul dari tempat tinggal ayahnya sendiri, tentu saja mereka semua merasa gembira bukan main dan berbesar hati. Juga memandang muka gadis itu, merekapun tidak ingin mencelakai orang tua gadis itu, dan semua kebencian mereka tumpahkan kepada para tukang pukul.

“Goan Ciang, apakah sekarang kita boleh berangkat?” tanya Koa Hok, Goan Ciang mengangguk, gembira melihat betapa Koa Hok dan Koa Sek, kini dibantu Kui Hwa, siap memimpin para penghuni dusun.

“Saudara sekalian,” teriaknya, “mari kita berangkat ke rumah hartawan Ji. Akan tetapi sekali lagi ingat, kita tidak bermaksud membunuh, hanya mengusir para tukang pukul dari dusun ini untuk selamanya. Jangan mengganggu keluarga Ji, jangan pula mengambil barang seperti perampok. Aku sendiri yang akan menghukum siapa yang berani melanggar!”

Berangkatlah mereka berbondong-bondong menuju ke rumah keluarga Ji. Tentu saja berita ini sudah sampai kepada hartawan Ji yang segera mengerahkan semua anak buahnya yang kini berjumlah lebih dari lima puluh orang. “Hantam mereka! Hajar dan keroyok mereka, orang- orang tak tahu diri itu!” Teriak sang hartawan dengan penuh semangat. Anak buahnya juga dengan penuh semangat menyerbu keluar dari rumah itu, dengan senjata di tangan dan penuh semangat, penuh dendam. Kini mereka berbesar hati, merasa bahwa jumlah mereka banyak sehingga mereka percaya bahwa Cu Goan Ciang dan adik seperguruannya takkan mampu menandingi pengeroyokan banyak orang.

Dua rombongan bertemu di jalan raya. Betapa kagetnya hati para pimpinan gerombolan tukang pukul itu ketika dari depan, datang bagaikan banjir, banyak sekali penghuni dusun yang semua memegang pentungan! Jumlah mereka jauh lebih banyak, ada dua ratus orang! Dan di depan mereka berjalan dengan gagahnya, bukan hanya Cu Goan Ciang dan Shu Ta, melainkan juga Koa Hok, Koa Sek, dan juga nona majikan mereka sendiri, Ji Kui Hwa! Tentu saja hal ini membuat mereka merasa jerih, akan tetapi sudah kepalang, mereka sudah berhadapan dan dengan nekat para pimpinan tukang pukul, dikepalai Bong Kit yang tinggi besar bermuka bopeng, dan Ban Su Ti yang pendek genduk, menggerakkan golok mereka menyerbu sambil memberi aba-aba kepada anak buah mereka.

Dalam beberapa gebrakan saja, Cu Goan Ciang dan Shu Ta berhasil merobohkan Bong Kit dan Ban Su Ti sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena tulang kaki mereka patah-patah. Sementara itu, Koa Hok, Koa Sek dan Kui Hwa juga mengamuk. Para penghuni dusun, biarpun tidak pandai silat, namun mereka itu rata-rata adalah para petani yang setiap hari bekerja keras di bawah terik sinar matahari. Tubuh mereka kuat dan semangat mereka besar karena mereka berkelahi untuk membela diri dan membebaskan diri dari penindasan.

Sebaliknya, para tukang pukul itu sudah jerih ketika melihat Cu Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok, Koa Sek, dan Kui Hwa. Ditambah lagi jumlah besar dari semua penduduk yang melakukan perlawanan, mereka menjadi semakin panik dan kocar-kacir, dihajar oleh para penduduk dengan pukulan-pukulan kayu sampai mereka berteriak-teriak minta ampun. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mampu meloloskan diri dari amukan penduduk dusun. Akhirnya, mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala dengan kedua tangan, minta-minta ampun!

“Cukup, semua mundur!” teriak Cu Goan Ciang dan para penduduk dusun itu cepat menahan diri dan mundur, dengan sikap seperti para prajurit yang habis menang perang. Bahkan mereka yang terluka terkena goresan senjata tajam lawan juga masih tetap bersemangat, seolah darah mereka yang mengalir merupakan tanda yang membuat mereka bangga!

Cu Goan Ciang memandang kepada lima puluh orang lebih tukang pukul yang kini berlutut semua, ada yang mengerang kesakitan, ada pula yang rebah pingsan karena pemukulan kayu yang terlalu keras.

“Kalian ini orang-orang jahat yang agaknya tidak tahu diri! Apakah kami harus membunuh dulu kalian agar kalian benar-benar bertaubat?”

Mereka menjadi ketakutan dan terdengar seruan mereka minta ampun. “Biarlah, sekali ini kami memberi ampun. Kalian boleh pergi sekarang juga, cepat tinggalkan dusun ini dan siapa di antara kalian yang berani memperlihatkan diri, tentu kaliaan akan dikeroyok semua penduduk dan dibunuh dengan tubuh hancur lebur! Nah, pergi kalian dan bawa teman-teman kalian yang pingsan dan terluka!” Berbondong-bondong, para tukang pukul itu meninggalkan dusun, membawa keluarga mereka dan juga menggotong teman-teman yang terluka dan tidak mampu berjalan. Suasana menjadi sunyi dan semua orang masih berdiri di jalan raya, di depan rumah besar hartawan Ji yang daun pintunya tertutup semua.

Koa Hok menoleh kepada Cu Goan Ciang. Dia dan adiknya kini mempunyai perasaan yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu perasaan bangga bahwa mereka telah berhasil melakukan sesuatu yang baik dan gagah sesuai dengan keadaan mereka sebagai putera seorang kepala dusun, dan sebagai laki-laki. Mereka merasa menjadi pendekar! “Apa yang akan kita lakukan sekarang, Cu-taihiap?”

Goan Ciang tersenyum kepadanya. Baru sekarang Koa Hok menyebutnya taihiap dan diapun tidak menanggapi sebutan ini. “Masih ada satu hal terakhir yang harus kita selesaikan,” katanya sambil menoleh dan memandang kepada Kui Hwa, “yaitu menyadarkan hartawan Ji dan untuk tugas ini, saya kira nona Ji lebih tepat untuk bertindak, kalau saja ia mau melakukannya/”

Kui Hwa memandang kepada Goan Ciang, memandang kagum. Orang ini memang hebat, pikirnya, dan selain pandai memimpin orang, juga tegas, jujur dan memegang janji. Tidak ada tukang pukul yang dibunuh, dan rumah ayahnyapun tidak dijamah. “Baik, aku siap melaksanakan tugas. Apa yang harus kulakukan?” tanyanya dengan sikap yang tegas pula.

“Bagus, engkau sungguh nampak gagah perkasa, sumoi!” kata Koa Sek.

“Nona Ji, kami sudah berjanji padamu dan kita semua bersepakat untuk tidak mengganggu ayahmu. Kami ingin agar dia, seperti juga Lurah Koa, menyadari kesalahannya ini dan menjadi warga dusun yang baik.

Kami ingin menyadarkannya, oleh karena itu, engkau masuklah dan bujuklah mereka semua keluar dan bicara dengan kami di halaman depan.” “Baik akan kulaksanakan!” kata Kui Hwa tanpa ragu lagi dan iapun berlari memasuki halaman rumah ayahnya yang luas. Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok dan Koa Sek juga memasuki halaman, diikuti dari belakang oleh para penduduk dusun yang baru sekali ini merasa gembira dan penuh harapan.

Kui Hwa memasuki ruangan depan rumahnya, akan tetapi daun pintunya terkunci dari dalam. Ia mengetuk pintu dan berteriak memanggil ayah ibunya. Mendengar suara puteri mereka, hartawan Ji memberi isarat kepada pelayan untuk membuka daun pintu. Pelayan wanita membuka daun pintu, membiarkan Kui Hwa masuk, akan tetapi ia segera menutupkan kembali daun pintu dengan mata terbelalak dan muka pucat melihat begitu banyaknya orang memenuhi halaman rumah.

Begitu melihat puterinya, Nyonya Ji segera menubruk dan merangkul sambil menangis. Kui Hwa merangkul ibunya seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel. Sementara itu, hartawan Ji mengerutkan alisnya. Dia tadi sudah mendengar betapa puterinya ini membantu pihak musuh, ikut menyerbu dan menghajar para tukang pukul sampai mereka semua kocar- kacir dan melarikan diri meninggalkan dusun.

“Kui Hwa, apa yang kaulakukan ini! Engkau menyerang dan memusuhi ayahmu sendiri?” bentaknya dengan muka merah dan mata melotot.

Kui Hwa melepaskan rangkulan ibunya dan menghadapi ayahnya, “Ayah, mereka yang benar. Memelihara tukang-tukang pukul itu mendatangkan penyakit. Mereka adalah orang-orang jahat. Keluarga Lurah Koa sudah sadar dan mengubah jalan hidup mereka, hendak membangun dusun kita dan memakmurkan kehidupan penghuninya. Saya mohon ayah juga menyadari kekeliruan sikap hidup ayah yang sudah-sudah, tidak lagi menindas penghuni dusun, melainkan mengulurkan tangan membantu mereka agar kehidupan di dusun ini menjadi makmur, tenteram dan damai.”

“Huh, mereka itu hanya orang-orang malas yang kini bermaksud merampok harta kita!”

“Tidak, ayah. Buktinya setelah semua tukang pukul dienyahkan, tidak ada seorangpun dari mereka mengganggu rumah ini. Mereka menanti di halaman, menanti ayah keluar agar dapat bicara dengan mereka. Mari kita keluar, ayah.”

“Tidak! Tidak sudi aku bertemu dan bicara dengan para perampok itu! Engkau anak murtad! Seharusnya engkau membela keluargamu, bukan malah membantu musuh menghancurkan keluarga sendiri!”

“Aku tidak berpihak kepada musuh. Mereka bukan musuh kita, ayah. Yang mereka musuhi adalah para tukang pukul. Mereka hendak menyadarkan ayah dari kekeliruan.”

“Sudahlah, aku tidak mau keluar. Hendak kulihat mereka mau apa?”

“Kalau begitu, biarlah aku tinggal di sini, mati hangus bersama seluruh keluarga kita.”

“Mati hangus? Apa maksudmu?” Hartawan Ji Sun memandang wajah puterinya dengan alis berkerut.

“Kalau ayah tidak mau keluar, mereka akan membakar rumah ini untuk memaksa semua keluarga keluar dan membiarkan rumah ini habis dimakan api. Kalau kita tetap tidak mau keluar, berarti kita akan mati hangus di dalam sini.” Mendengar ucapan itu, Nyonya Ji dan para pelayan menjerit.

Wajah hartawan itu menjadi pucat sekali. “Kau... kau anak murtad... anak durhaka...”

Kui Hwa menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. Dengan kedua mata basah ia berkata, “Ayah, bukan maksudku untuk murtad dan durhaka. Bahkan aku bermaksud baik. Ayah, apa artinya harta bertumpuk kalau penghuni dusun ini hidup sengsara dan kita dikelilingi musuh? Bukankah jauh lebih baik hidup tenteram dan damai, menggunakan sebagian dari harta kita untuk menolong manusia lain dari kelaparan dan kesengsaraan? Kalau ayah menganggap aku durhaka, terserah, akan tetapi Tuhan yang tahu bahwa bukan maksudku untuk menjadi anak durhaka. Mari, ayah, mari kita keluar dan bicara dengan mereka. Percayalah, sampai bagaimanapun, aku akan melindungi dan membela ayah.”

Setelah Kui Hwa membujuk, juga ibu gadis itu, akhirnya hartawan Ji mau keluar dari pintu depan, mereka disambut sorak-sorai para penghuni dusun. Hartawan itu terbelalak pucat melihat betapa dapat dibilang seluruh penduduk dusun itu, yang pria, hadir di halaman rumahnya! Dan yang berada di depan adalah dua orang pemuda gagah bersama dua orang pemuda Koa putera-putera Lurah Koa.

Koa Hok dan Koa Sek yang oleh Goan Ciang diserahi tugas memimpin penghuni dusun dan bicara dengan hartawan Ji, segera melangkah maju dengan tegap dan sikap gagah, sampai mereka berhadapan dekat dengan keluarga hartawan itu.

“Paman Ji, kami girang sekali bahwa paman suka keluar untuk bicara dengan kami,” kata Koa Hok setelah mereka berdua memberi hormat kepada hartawan itu.

“Hemm, kalian berdua telah melupakan hubungan baik antara aku dan ayah kalian, dan kalian membawa penduduk untuk menyerbu dan mengusir anak buahku. Mau bicara apa lagi?” tanya hartawan itu dengan nada marah!

“Paman, justeru karena kami menyayang keluarga paman, maka kami melakukan ini. Ayah kami telah menyadari kesalahannya selama ini, dan kami mengharap agar paman juga menyadari. Ayah kami dan paman merupakan dua orang tokoh di dusun kita ini yang dapat memperkuat dusun, memakmurkan kehidupan penghuni dusun, bukan menjadi dua orang tokoh yang menekan dan menindas penghuni dusun. Dengan kekayaan kedua keluarga, dengan kedudukan ayah sebagai kepala dusun, keluarga kita berdua dapat berbuat banyak demi kebaikan dusun dan para penghuninya.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya hartawan itu dengan alis berkerut.

“Yang terpenting, paman menyadari bahwa menggunakan tukang-tukang pukul untuk menindas penghuni dusun kita merupakan tindakan yang salah. Kalau paman sudah menyadari, tentu paman tahu apa yang dapat paman lakukan. Hal itu kiranya dapat paman tanyakan kepada puteri paman sendiri, sumoi Ji Kui Hwa.”

Mendengar ucapan itu, hartawan Ji menoleh kepada puterinya dan gadis itu dengan suara lantang berkata, “Ayah, sekarang bukan waktunya lagi bagi ayah untuk menumpuk harta. Apa artinya kaya-raya kalau hidup ini tidak tenteram dan dimusuhi semua penghuni dusun? Kita dapat pertama-tama mengembalikan seluruh sawah ladang yang pernah ayah sita dari para penduduk dusun, kemudian, kita memberi pinjaman kepada mereka berupa bibit dan lain keperluan dengan janji pinjaman itu akan dikembalikan ketika panen, tanpa bunga! Dan kita harus membantu penduduk yang benar-benar kekurangan, memberi mereka pekerjaan dengan upah memadai.”

Hartawan itu terbelalak, seperti mimpi saja mendengar ucapan puterinya itu dan hatinya tentu saja membantah, “Tapi... tapi...”

“Ayah, dengan cara itu, kita akan hidup tenang dan tenteram, menjadi sahabat baik seluruh penghuni dusun! Dan kita tidak perlu lagi mempunyai tukang-tukang pukul. Kalau ada gerombolan penjahat berani mengacau dusun kita, maka seluruh penduduk akan bangkit melawan penjahat! Kita semua akan membangun dusun ini menjadi tempat yang makmur dan tenteram! Atau ayah memilih menjadi hartawan yang diasingkan semua penduduk, kalau ada gerombolan penjahat mengganggu kita, penduduk diam saja? Apakah ayah lebih senang hidup di antara orang-orang yang membenci kita?”

Hartawan Ji menjadi pening tujuh keliling. Mendadak dia merasa betapa kepalanya pusing dan tubuhnya gemetar, lemas, “Sesukamulah, Kui Hwa. Kau atur sajalah, aku tidak tahu lagi... terserah kepadamu bagaimana baiknya saja...” dan dengan terhuyung diapun masuk ke dalam dibimbing isterinya.

“Ayah telah setuju untuk bekerja sama! Seluruh tanah yang pernah disita ayah akan dikembalikan kepada pemilik semula!” teriak Kui Hwa, disambut sorak-sorai para penduduk dusun Cang-cin.

Dusun itu dalam suasana pesta, bukan pesta makan minum, melainkan pesta meriah yang nampak di wajah, senyum, dan suara mereka. Orang bergembira ria dan merasa seperti orang- orang yang tiba-tiba saja dibebaskan dari hukuman berat. Dengan bijaksana, Cu Goan Ciang lalu memancing persetujuan semua penghuni, termasuk Lurah Koa dan hartawan Ji, bahwa mulai saat itu, kedudukan kepala dusun dipegang oleh Koa Hok dan dibantu oleh Koa Sek.

Kakak beradik ini bertugas untuk mengatur keamanan dan keadilan di dusun itu, menyusun dan melatih para pemuda dusun sehingga terbentuk pasukan keamanan yang kuat untuk menjaga keamanan dusun, menetapkan pajak yang adil dan uang pajak dipergunakan untuk upah dan pembangunan dusun. Sedangkan urusan kesejahteraan dan perdagangan dusun itu diserahkan kepada Ji Kui Hwa.

Diam-diam Shu Ta kagum bukan main melihat tindakan suhengnya yang tegas dan yang demikian pandainya mengatur orang banyak sehingga dusun itu dalam sehari saja telah berubah sama sekali keadaannya. Kalau tadinya, seolah-olah ratap tangis penghuni dusun membubung ke angkasa mohon keadilan kepada Tuhan, kini ratap tangis itu berubah menjadi tawa riang menghaturkan terima kasih kepada Tuhan. Setelah semua beres, beberapa hari kemudian Cu Goan Ciang dan Shu Ta meninggalkan dusun Cang-cin, diantar oleh Koa Hok, Koa Sek, Kui Hwa dan bahkan hampir seluruh penghuni dusun mengantar kedua orang pemuda itu sampai keluar dari pintu gerbang dusun.

Setelah tiba di luar dusun dan semua pengantar kembali ke dusun, Shu Ta memandang kepada suhengnya. “Suheng, selain bakatmu dalam ilmu silat amat baik, juga engkau berbakat untuk menjadi pemimpin. Semua itu dapat kulihat ketika engkau mengatur dusunmu itu.” “Ah, sute terlalu memuji. Semua itu kulakukan karena sejak kecil aku merasa prihatin sekali menyaksikan kehidupan penghuni dusunku. Bahkan keluargaku sendiri habis karena kehidupan yang menderita kekurangan. Andai kata kita berdua tidak datang dan mengatur seperti itu, suatu ketika mungkin saja penduduk akan memberontak dan keluarga Koa dan Ji akan menjadi korban penumpahan kebencian yang terpendam selama puluhan tahun.”

“Engkau benar, suheng. Tindakanmu itu, selain menolong keadaan hidup para petani miskin di dusun itu, juga telah menyelamatkan keluarga Koa dan Ji. Mereka semua kini hidup berbahagia dan aku yakin dusun itu akan menjadi sebuah dusun yang paling makmur di seluruh daerah ini.”

“Mudah-mudahan begitu. Sekarang engkau hendak pergi ke mana, sute?”

“Seperti usulmu tempo hari, suheng, kita berpisah di sini dan mari kita berdua memperluas pengalaman di dunia kang-ouw, menyelidiki keadaan dan menyusun kekuatan untuk menentang pemerintah penjajah Mongol yang lalim.”

“Baik, sute. Selamat berpisah dan sampai berjumpa kembali.” Kakak beradik seperguruan itu saling peluk, kemudian saling memberi hormat dan keduanya mengambil jalan masing- masing di persimpangan itu.

Sungai Yang-ce merupakan sungai kedua sesudah sungai Kuning yang terbesar di seluruh Cina. Sungai ini merupakan penampungan dari banyak sungai yang lebih kecil, mengalir sejak ribuan kilometer dari barat, bermula dari dua sumber yang berada di pegunungan

Thang-la, yang bertemu menjadi sungai Chin-sa, mengalir turun ke selatan sampai ke propinsi Yun-nan, kemudian membelok ke timur, menerima penumpahan banyak sungai seperti sungai Cia-ling. Sungai Han-sui dan masih banyak lagi sungai yang lebih kecil sampai akhirnya tiba di Nan-king dan memuntahkan airnya di sebelah timur Nan-king, ke laut Kuning. Karena sungai ini melalui banyak propinsi, banyak kota dan dusun, maka tentu saja sungai ini merupakan sarana pengangkutan dan lalu lintas yang teramat penting. Saking panjangnya sungai ini disebut pula sungai Panjang.

Satu di antara kota yang dilalui sungai Yang-ce adalah kota Wu-han. Kota ini menjadi besar dan ramai, satu di antara sebabnya adalah karena menjadi kota bandar sungai Yang-ce itulah. Wu-han menerima kiriman barang-barang yang mengalir dari barat, dan mengirim barang- barang dagangan ke timur, sampai ke Nan-king dan kota-kota lainnya.

Pada suatu pagi, Cu Goan Ciang memasuki kota Wu-han. Dia melakukan perjalanan dari dusunnya menuju ke selatan dan baru sekarang dia melihat sebuah kota yang demikian ramai dan besarnya seperti Wu-han. Beberapa kali dia berhenti dan bengong penuh kekaguman memperhatikan bangunan besar yang indah atau taman yang rapi, toko-toko penuh dengan barang yang serba aneh baginya. Rumah-rumah makan yang mengeluarkan uap yang sedap. Namun, dia tidak berani masuk ke dalam sebuah di antara toko-toko atau rumah makan itu karena memang dia tidak mempunyai uang. Ketika kakak beradik Koa hendak memberi bekal kepadanya, dia menolak keras, demikian pula Shu Ta. Goan Ciang mempunyai hati yang keras, yang tidak mau menerima pemberian begitu saja. Aku harus bekerja untuk mencari uang pembeli makanan dan pakaian, pikirnya.

Sampai lama dia melihat para kuli angkut sedang memangguli dan membongkar muatan dari atau ke perahu-perahu yang berlabuh di bandar sungai Yang-ce pinggir kota Wu-han. Ketika dia melihat empat orang memanggul sebuah peti besar, dan mereka itu nampak terhuyung dan hampir tidak kuat sehingga semua kuli yang lain merasa khawatir, Goan Ciang cepat melompat maju mendekat, menyusup ke bawah peti di tengah-tengah, menggunakan kedua lengannya menyangga peti lalu berteriak, “Kalian berempat lepaskan peti ini, biar kuangkat sendiri!”

Empat orang yang tadinya sudah ketakutan akan terhimpit peti yang amat berat itu, ketika tiba-tiba merasa betapa peti itu tidak lagi menekan pundak mereka, diangkat oleh kedua tangan seorang pemuda yang tiba-tiba menyusup di tengah-tengah antara mereka, segera melepaskan peti dan melompat ke samping sehingga kini peti itu diangkat sendiri oleh kedua tangan Goan Ciang. Empat orang itu terbelalak, lalu terdengar seruan-seruan kagum ketika Goan Ciang dengan tenang melangkah dan menurunkan peti itu ke tempat di mana barang- barang bongkaran itu dikumpulkan. Meledaklah sorak dan tepuk tangan memujinya karena semua orang merasa kagum bukan main. Peti itu hampir tak terangkat empat orang kuli yang bertubuh kokoh kuat, namun pemuda yang tinggi tegap dan sederhana itu dengan mudahnya mengangkat peti itu seorang diri, dan nampak ringan saja!

Setelah menurunkan peti itu, Cu Goan Ciang segera meninggalkan tempat itu karena maksudnya tadi hanya hendak menyelamatkan empat orang kuli yang akan terhimpit peti, dan melihat semua orang memujinya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.

“Heii, tunggu dulu, orang muda yang kuat!” terdengar seruan orang dan diapun menoleh. Seorang pendek gendut berjalan setengah berlari terseok-seok menghampirinya, wajahnya yang bulat itu penuh senyum lebar. Orang itu berusia sekitar empat puluh tahun dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang mandor kuli yang mengepalai rombongan kuli yang bekerja di situ. Goan Ciang sudah mendengar bahwa di bandar itu terdapat ratusan orang kuli, terbagi dalam beberapa kelompok atau rombongan dan masing-masing ada mandor atau kepalanya yang mengatur dan membagi pekerjaan.

“Ada apakah, paman?” tanyanya.

Si gendut itu mengerutkan alisnya, agaknya tidak suka disebut paman. Dia masih merasa terlalu muda untuk disebut paman, dan biasanya para kuli menyebutnya toako (kakak tertua), sebutan yang juga merupakan sebutan kehormatan dalam suatu kelompok, karena toako bukan saja berarti yang tertua, melainkan juga yang terkuat, terpandai dan biasanya yang menjadi pemimpin disebut toako.

“Orang muda, maukah engkau bekerja kepada kami?” “Bekerja apa?”

“Apa lagi? Aku adalah mandor kuli, tentu saja bekerja mengangkut barang-barang, membongkar dan memuat di perahu-perahu yang berlabuh di sini.”

Goan Ciang berpikir sejenak. Memang dia membutuhkan uang untuk makan, dan dia harus bekerja. “Kalau upahnya memadai...”

“Tentu saja! Kalau engkau mau mengangkat peti-peti seperti tadi seorang diri, kami akan membayarmu lima belas keping sehari.” Goan Ciang mengerutkan alisnya. Lima belas keping tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk makan sehari saja. Lalu bagaimana dia dapat membeli pakaian? Bekerja seberat itu tentu cepat menghabiskan pakaiannya. “Berapa upah mereka itu sehari?” katanya menunjuk kepada para kuli yang sibuk bekerja.

“Sama saja, lima belas keping sehari.”

“Akan tetapi, aku dapat bekerja empat lima kali lipat dari mereka!”

“Baiklah, kuberi dua puluh lima keping untukmu, akan tetapi engkau harus bekerja dari pagi sampai sore, hanya berhenti mengaso untuk makan di tengah hari seperti yang lain.”

Hemm, dua puluh lima keping, lumayan, pikir Goan Ciang. Diapun mengangguk dan mulailah dia bekerja. Tenaganya memang besar, maka mandor itu merasa gembira bukan main. Dengan menerima Goan Ciang bekerja di situ, dengan gaji kurang dari dua orang, berarti dia untung besar. Dia dapat memasukkan di daftar gaji lima orang untuk pemuda itu, karena memang hasil pekerjaannya sama dengan hasil pekerjaan lima orang.

Baru dua hari Goan Ciang bekerja di situ ketika terjadi peristiwa yang membuat dia kehilangan pekerjaannya. Hari itu adalah hari gajian bagi rombongan kuli di mana dia bekerja, yang terdiri dari dua puluh orang. Dalam dua hari bekerja, semua kuli menaruh hormat kepada Goan Ciang yang pendiam dan bertenaga amat kuat, namun tidak sombong atau berlagak itu. Setelah sore, pekerjaan dihentikan dan para kuli itu berdiri dalam antrian untuk menerima gaji mereka yang dibagikan oleh si gendut yang duduk di atas bangku menghadapi meja kecil dan di belakangnya berdiri dua orang tinggi besar yang berwajah bengis. Mereka adalah tukang-tukang pukul yang mengawal mandor itu. Tukang-tukang pukul ini bertugas untuk menjaga agar para kuli tidak malas dan tidak melakukan pencurian terhadap barang-barang yang diangkut, dibongkar dan dimuat di perahu-perahu.

Semua berjalan lancar ketika tiba giliran seorang kuli dan Goan Ciang yang menjadi orang terakhir dan berdiri di belakang kuli itu. Kuli itu masih muda, berusia dua puluhan tahun, kurus dan agak pucat tanda bahwa dia tidak sehat namun memaksakan diri bekerja karena membutuhkan uang. Ketika tiba giliran si kurus itu, mandor gendut menghitung beberapa keping uang sambil berkata, “Nah, ini gajimu untuk sepuluh hari!”

Orang muda itu menerima dan menghitungnya, dan dia berkata heran, “Eh, Lai-toako, kurasa engkau salah menghitung. Kenapa dikurangi begini banyak? Mestinya aku menerima seratus keping, bukan lima puluh!”

“Hemm, engkau sudah lupa barangkali? Potongan pajak lima puluh keping, dan potongan yang lima puluh keping adalah untuk mengganti kerusakan barang dari peti yang kau angkut seminggu yang lalu.”

“Tapi, toako, itu bukan kesalahanku. Peti itu sudah kutumpuk dengan baik, lalu ada anjing yang berlari menubruk peti sehingga terguling. Bukan salahku kalau isinya ada yang rusak!”

“Tidak perduli! Yang jelas, pemiliknya minta ganti dan mana mungkin aku minta ganti kepada anjing itu? Engkau yang mengangkut dan menaruh di situ, engkau pula yang harus mengganti.” “Tapi... aku butuh sekali uang ini, ibuku sakit dan...”

”Cukup, jangan banyak rewel, atau engkau ingin dihajar?” bentak mandor gendut itu dengan muka merah dan mata melotot.

“Biarlah lain kali saja potongan itu, Lai-toako, sungguh mati, sekarang aku membutuhkan uang itu untuk berobat ibuku...”

“Ibumu boleh mampus, apa sangkut pautnya denganku?” Si gendut itu memberi isarat kepada dua orang tukang pukulnya. “Usir dia!”

Dua orang tukang pukul yang tinggi besar itu melangkah maju. Yang berjenggot lebat seperti jenggot kambing bandot maju dan menangkap lengan kanan pemuda itu, lalu memutar lengan itu sehingga si pemuda berteriak kesakitan. Tukang pukul ke dua, yang kepalanya botak, juga maju dan mengamangkan tinjunya yang sebesar kepala kanak-kanak itu ke depan hidung si pemuda yang menyeringai kesakitan karena lengannya masih dipuntir. “Kau ingin mukamu kuhancurkan? Hayo cepat minggat dari sini!” bentaknya

Melihat ini, Cu Goan Ciang tidak sabar lagi. Dia melangkah ke depan dan sekali tangannya bergerak, dia menangkap siku lengan kanan si jenggot yang sedang memuntir lengan pemuda itu.

“Aduuuuhhhhh...!” Si jenggot itu berteriak-teriak karena merasa betapa lengan di bagian siku seperti terjepit baja dan tulang lengannya seperti retak-retak rasanya, nyeri bukan main sampai kiut-miut rasanya menusuk jantung. Terpaksa dia melepaskan lengan si pemuda, Cu Goan Ciang tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah dagu si jenggot lebat dan sekali dia mencengkeram dan merenggut, jenggot itu jebol dan dagu itu berdarah.

”Adoouuuhhhh... augghhhh...” Si jenggot yang kehilangan jenggotnya itu mengaduh-aduh sambil memegangi dagunya yang berdarah, berjingkrak kesakitan.

Melihat ini, tukang pukul pertama yang kepalanya botak menjadi marah dan diapun sudah mengayun tinjunya yang besar ke arah kepala Cu Goan Ciang. Cu Goan Ciang mengelak ke samping, secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan yang memukul itu, kemudian dengan pengerahan tenaga, dia mendorong tangan yang terkepal itu sehingga memukul kepala si penyerang itu sendiri. Kepalan yang besar itu kini memukul kepala yang botak.

“Takkk...!!” Si botak itu terpelanting dan ketika dia merangkak bangun, dia mengelus kepala botaknya yang kini tumbuh benjolan sebesar telur angsa!

Cu Goan Ciang sudah melangkah maju. Melihat mandor gendut hendak melarikan diri, tangannya dijulurkan dan dia menangkap orang itu, mencengkeram pada pundaknya sehingga si gendut berteriak-teriak seperti kerbau disembelih.

“Aduhhh... aduhhhh... ampun, lepaskan aku... aughhhh...”

Goan Ciang memaksanya duduk kembali di atas bangkunya. Si gendut terpaksa duduk dan tubuhnya menggigil, mukanya pucat. “Cu Goan Ciang... apa... apa yang kauinginkan...?” tanyanya, suaranya tiba-tiba menjadi pelo dan gemetar saking takutnya. “Apa artinya potongan pajak tadi? Sehari pajak lima keping, apa artinya ini?”

“Ahh... itu... itu sudah peraturan, aku hanya melaksanakan saja. Sudah menjadi aturan sejak bertahun-tahun...”

“Aturan siapa itu? Gaji sehari lima belas keping, dipotong pajak lima keping? Ini perampokan namanya! Hayo katakan, aturan siapa ini? Aturan yang kaubuat sendiri? Kuhancurkan kepalamu!”

“Tidak, tidak...! Bukan aku... aku hanya mandor, eh, hanya pengawal, ini aturan yang telah ditetapkan oleh Yo-loya (tuan besar Yo)...!”

“Tidak perduli aturan siapa, itu perampokan dan tidak boleh dilakukan! Hayo bayarkan kembali seluruh pajak tadi kepada mereka semua, dan kerusakan barang itupun tidak boleh dipotong. Cepat!!”

“Tapi... tapi...” si gendut itu mengambil kantung uang yang tadi telah disimpannya, akan tetapi Goan Ciang merampasnya dan menaruh kantung uang itu ke atas meja, di mana masih terdapat daftar para kuli, berikut alat tulis yang tadi dipergunakan untuk mencatat oleh si gendut.

“Tidak ada tapi! Cepat bayar mereka tanpa dipotong pajak atau kerusakan barang!” bentak Goan Ciang. Sementara itu, dua puluh orang kuli yang masih berkumpul di situ, memandang dengan mata terbelalak. Tak mereka sangka bahwa kuli baru yang bertenaga besar itu demikian beraninya, juga demikian perkasanya, sehingga segebrakan saja dapat menghajar dua tukang pukul yang lihai dan kejam itu. Seorang kuli yang usianya sudah lima puluh tahun, segera mendekati Goan Ciang.

“Cu-hiante... jangan mencaro gara-gara... mereka itu kuat sekali. Kalau sampai Yo-loya mengetahui, engkau dapat celaka... lebih baik sekarang pergilah, larilah sebelum terlambat...”

Goan Ciang merasa jengkel sekali. Sikap pengecut inilah yang membuat orangnya diperas dan ditindas! “Sudah, biarkan aku yang bertanggung jawab, paman. Engkau larilah kalau takut!” katanya marah dan kuli itu yang bermaksud baik karena menyayangkan, kalau sampai Goan Ciang celaka, mundur dan berkumpul lagi dengan teman-temannya.

Mendengar ucapan kuli tua itu, agaknya si gendut mendapatkan kembali semangatnya. Dia bangkit berdiri, “Cu Goan Ciang, engkau boleh saja menghina dan memaksaku, akan tetapi tunggu sampai Yo-loya datang! Engkau akan dicincang, dan dagingmu menjadi makanan ikan sungai! Hayo, bunuh saja dia dengan golok kalian!” teriaknya kepada dua orang tukang pukul.

Si jenggot yang kehilangan jenggotnya dan si botak yang tumbuh tanduk itu memang merasa penasaran dan sakit hati telah dipersakiti dan dipermalukan di depan banyak orang. Bahkan rombongan kuli-kuli yang lain tertarik oleh keributan itu dan kini datang mendekat. Mereka berdua mencabut golok dan bagaikan gila mereka menyerang Goan Ciang sambil mengerahkan tenaga dan mengeluarkan suara menggereng seperti dua ekor beruang marah.

Goan Ciang juga marah. Beberapa kali dia mengelak, menggunakan kegesitan gerakan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari sambaran dua batang golok itu. Ketika dia melihat kesempatan baik, dia menggerakkan kedua tangannya, mengisinya dengan tenaga sin-kang sekuatnya dan begitu kedua tangan itu bergerak menangkis dengan kedua lengan lawan, terdengar suara “krakk-krakk” dan dua batang golok itu terpental, dan dua orang lawannya juga terpelanting dan mengaduh-aduh tanpa mampu menggerakkan kedua lengan mereka karena tulang-tulang lengan mereka telah patah-patah! Dengan wajah pucat dan mata terbelalak mereka hanya mampu mengaduh-aduh, bahkan sukar untuk bangkit duduk karena kedua lengan mereka terasa nyeri kalau digerakkan.

Si mandor gendut terkejut sekali, hendak melarikan diri, akan tetapi dua kali loncatang saja sudah cukup bagi Goan Ciang untuk menangkap leher bajunya, mengangkat tubuh itu ke atas, tangan kanan menampar ke arah mulut sehingga rontoklah semua gigi dalam mulut itu lalu dia melontarkan tubuh gemuk pendek itu ke air sungai.

“Byurrr...!” Air muncrat dan mandor gendut itu dengan susah payah berenang ke tepi, disambut tawa geli secara diam-diam oleh para kuli.

Dua orang tukang pukul itu melihat ini, lalu terkulai dan pura-pura pingsan! Goan Ciang dengan tenang lalu duduk di bangku tadi, membuka kantung uang, memeriksa daftar dan menghitung uang memenuhi gaji dua puluh orang itu termasuk si pemuda kurus dan dia sendiri. Dia mengambil lima puluh keping, gajinya dua hari, dan membiarkan sisanya dalam kantung di meja itu. Juga dia mencorat-coret daftar gaji itu, menuliskan angka-angka gaji yang semestinya tanpa memotong dengan pajak dan lain-lain.

Para mandor dan tukang pukul rombongan lain tidak berani mencampuri ketika mereka melihat kelihaian pemuda itu, akan tetapi diam-diam mereka melapor kepada majikan mereka. Kuli yang bekerja di bandar itu berjumlah ratusan orang, terbagi dalam kelompok-kelompok. Namun semua berada di bawah kekuasaan majikan yang disebut Yo-loya, namanya Yo Ci, seorang hartawan yang juga menjadi kepala gerombolan penjahat yang merajalela di kota

Wu-han, terutama yang menguasai bandar itu. Yo Ci inilah yang mengadakan aturan pajak, dan dia pula yang menentukan segalanya, dan para pelaksananya adalah mandor-mandor yang dikawal dua orang tukang pukul. Begitu mendengar berita bahwa ada seorang pengacau di bandar, Yo Ci marah dan diapun mengajak selosin pengawalnya cepat pergi ke bandar itu.

Ketika itu, Cu Goan Ciang sudah selesai membayarkan semua gaji dan dia berkata, “Mulai sekarang, jangan mau membayar pajak. Kalian harus berani menentang kalau ada aturan yang tidak adil, jangan diam saja ketakutan. Nah, sekarang kalian pulanglah.”

“Tapi, Cu-taihiap, kami takut. Bagaimana kalau Yo-loya marah? Kami pasti akan dihukum!” kata seorang di antara mereka dan ternyata semua orang membenarkan ucapan itu.

“Aku yang bertanggung jawab! Aku tidak akan lari!”

“Bagus! Sungguh ucapan yang gagah sekali!” terdengar suara orang memuji dan mendengar suara ini, semua kuli nampak ketakutan dan cepat mereka itu membungkuk dan memberi hormat kepada orang yang bicara tadi. Goan Ciang memutar tubuh memandang.

Dia seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun, namun masih nampak tampan dan muda, tubuhnya masih ramping dan kokoh. Seorang pria yang gagah, dengan pakaian yang mewah pula, memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang dilapis emas, kepalanya memakai topi bulat hitam. Di belakang orang ini nampak selosing orang yang berpakaian seperti tukang-tukang pukul, pakaian ringkas dan mereka semua membawa pedang di pinggang, seperti pasukan yang berpakaian seragam saja. Goan Ciang segera dapat menduga bahwa tentu inilah yang disebut Yo-loya dan yang ditakuti semua orang. Inilah kepala dari para penindas kuli itu.

“Bertanggung jawab atas perbuatannya adalah sikap seorang laki-laki. Mempergunakan gerombolan tukang pukul untuk memeras dan menindas para pekerja miskin adalah sikap seorang penjahat keji yang curang!” kata Goan Ciang dan pandang matanya dengan tajam mengamati wajah pria itu.

Pria itu tersenyum, menghisap huncwenya dan mengepulkan asap tipis dari mulutnya, sikapnya tenang dan juga mengandung ketinggian hati, seperti sikap seorang guru menghadapi seorang muridnya.

“Hebat, engkau seorang pemuda yang hebat. Siapakah namamu, orang muda?” suaranya berlogat selatan, namun cara dia bicara lembut dan sopan.

“Namaku Cu Goan Ciang, dan kalau tidak salah, engkau tentu yang disebut Yo-loya dan ditakuti para kuli di sini, bukan?”

Orang itu mengangguk-angguk dan menyapu keadaan sekeliling. Hampir semua orang di situ, baik kuli maupun pedagang, kini berada di situ dan menonton dengan wajah tegang dan tertarik. Yo Ci sudah mendengar tentang kehebatan pemuda ini. Sayang kalau pemuda seperti ini dibunuh saja. Alangkah baiknya kalau dapat ditarik menjadi anak buah, atau setidaknya menjadi sekutunya. Juga, kalau sampai dia turun tangan di tempat umum dan dia kalau, walaupun dia amat meragukan hal ini, hal itu akan merusak nama besarnya dan membuatnya malu.

“Cu-sicu (orang gagah Cu), namaku Yo Ci dan aku merasa bergembira sekali dapat berkenalan dengan seorang gagah sepertimu. Harap suka memaafkan orang-orangku yang tidak tahu diri dan percayalah, aku akan membereskan semua kekeliruan di sini. Akan tetapi, aku ingin membicarakan urusan di sini dengan sicu, dan kami persilahkan sicu untuk ikut dengan kami agar kita dapat bercakap-cakap dengan leluasa di rumah kami. Silahkan, sicu.”

Cu Goan Ciang merasa heran akan sikap yang amat sopan dan ramah dari orang ini. Bukankah majikan ini yang melakukan pemerasan terhadap para kuli itu, melalui anak buahnya? Ketika dia menoleh dan bertemu pandang dengan kuli setengah tua yang tadi memperingatkannya, dia melihat betapa orang itu menggeleng kepala sebagai tanda agar dia menolak undangan itu. Akan tetapi justeru sikap kuli setengah tua itulah yang membuat dia penasaran. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan majikan Yo ini kepada dirinya.

“Baik, mari kita bicara di rumahmu, Yo-loya,” katanya gagah. Diiringkan pandang mata khawatir dan juga kagum oleh semua kuli yang bekerja di bandar itu, Goan Ciang mengikuti rombongan Yo Ci dan para pengawalnya dan ternyata di luar bandar terdapat sebuah kereta yang tadi dinaiki Yo Ci. Goan Ciang dipersilahkan ikut pula ke dalam kereta bersama hartawan itu. Para pengawal menunggang kuda di kanan kiri dan belakang kereta yang dilarikan menuju ke pusat kota Wu-han.

Rumah itu besar, megah dan mewah. Goan Ciang merasa dirinya kecil dan kotor ketika memasuki rumah gedung mewah itu bersama Yo Ci. Belum pernah dia memasuki rumah semewah ini. Rumah Lurah Koa dan hartawan Ji di dusunnya menjadi tidak ada artinya dibandingkan dengan rumah majikan di kota besar ini. Akan tetapi dengan tegak dia berjalan mendampingi tuan rumah. Di ruangan dalam, Yo Ci sengaja menyuruh semua keluarganya hadir dan dia memperkenalkan Gu Goan Ciang kepada keluarganya. Goan Ciang hanya memandang sambil lalu saja dan membalas penghormatan mereka. Dia diperkenalkan kepada empat orang isteri Yo Ci, dan tiga orang anaknya, yaitu dua orang puteri yang sudah remaja dan seorang pemuda. Kemudian, setelah semua anggota keluarga diperkenalkan dan mengundurkan diri, Goan Ciang sudah lupa lagi kepada mereka, baik nama maupun wajah mereka, walaupun para isteri dan puteri tuan rumah itu merupakan wanita-wanita yang cantik jelita. Dia memasuki ruangan tamu bersama tuan rumah dan di situ mereka bercakap-cakap.

“Cu-sicu, aku mendengar bahwa engkau menghajar beberapa orangku yang bertugas di bandar. Memang ada di antara orang-orangku yang kasar dan kurang ajar, pantas untuk dihajar. Akan tetapi kalau aku boleh mengetahui, mengapa engkau menjadi begitu marah? Apa yang menjadi sebab perkelahian itu?”

Tak enak juga rasa hati Goan Ciang menghadapi majikan yang begini lembut dan sama sekali berbeda dengan sikap mandor gendut dan tukang pukulnya. “Maafkan aku, Yo-loya...”

“Hemm, orang lain pantas menyebut aku loya (tuan besar), akan tetapi sebaiknya engkau menyebut aku paman saja, sicu. Tak enak rasanya kausebut loya.”

“Baiklah, paman Yo. Maafkan aku yang naik darah melihat betapa mandor gendut itu memotong semua gaji para kuli dengan lima keping, pada hal gaji mereka sehari hanya lima belas keping. Lebih gila lagi, mandor itu memotong gaji seorang kuli sebanyak lima puluh keping, katanya untuk mengganti barang rusak yang jatuh karena ditabrak anjing.”

Beberapa saat lamanya, Yo Ci diam saja dan menarik napas beberapa kali, lalu berkata, “Aku mengerti perasaanmu, sicu. Memang sepintas lalu nampak betapa aturan yang kami tentukan itu kejam dan memeras. Akan tetapi ketahuilah bahwa hal itu kami lakukan dengan terpaksa karena kami harus membayar pajak besar kepada para pejabat pemerintah di kota ini. Semua yang kami terima dari pajak itu tidak masuk ke kantong kami, melainkan ke kantong para pejabat. Kami hanya pemungut pajak saja.”

“Kalau begitu, untuk apa diadakan mandor yang mengurusi para kuli? Biarkan mereka bekerja sendiri dan menerima upah dari pemilik barang yang mereka bongkar dan muat.”

Yo Ci menggeleng kepala. “Hal itu tidak mungkin dilakukan, sicu. Kalau dibiarkan demikian, tentu akan timbul kekacauan dan perkelahian di bandar. Mereka akan berebut muatan, bersaing upah dan memperebutkan kekuasaan untuk menjadi kepala. Dengan adanya aturan yang kami adakan, mereka semua dapat bekerja dan tidak pernah terjadi keributan.”

“Tapi mereka diperas namanya. Upah lima belas keping sudah terlalu kecil, tidak cukup untuk hidup mereka yang sudah mempunyai anak-isteri, untuk diri sendiripun hanya cukup untuk makan. Bagaimana mungkin dapat hidup kalau upah sekecil itu dipotong lima keping lagi? Ini tidak adil! Untuk apa para pejabat itu diberi uang? Apakah itu sudah menjadi peraturan pemerintah?”

Yo Ci menggeleng kepala. “Agaknya engkau tidak tahu, sicu. Setiap daerah mempunyai penguasa dan dia yang menentukan peraturan sesuai dengan seleranya. Itulah wewenangnya. Yang menentukan peraturan di bandar tentu saja penguasa bandar itu. Kami hanya membantu kelancaran aturan itu, bahkan, dengan usaha kami ini, maka keamanan para kuli itu terjamin.”

Goan Ciang yang belum berpengalaman, mendengar hal seperti itu merasa penasaran bukan main. Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan menghadapi penguasa, yaitu pejabat pemerintah? Seorang diri saja, bagaimana mungkin dia menentang kekuasaan pejabat yang tentu mempunyai pasukan yang besar dan amat kuat? Sama dengan seekor capung hendak merobohkan tembok.

Melihat pemuda itu termenung dengan alis berkerut tanda penasaran, Yo Ci lalu menghiburnya. “Cu-sicu, semua orang juga merasa penasaran, akan tetapi apa yang dapat kita lakukan terhadap pemerintah? Kalau engkau ingin melindungi para pekerja kasar itu, bagaimana kalau engkau kuberi pekerjaan sebagai kepala dari seluruh mandor yang berada di sana? Dengan adanya engkau yang menjadi kepala, semua mandor tentu tidak akan berani berlaku curang dan tidak berani merugikan para pekerja di bandar. Dan kami akan memberi upah besar kepadamu, juga rumah tinggal yang lengkap.”

Diam-diam Cu Goan Ciang terkejut mendengar penawaran yang amat menguntungkan dirinya itu. Dari seorang pemuda miskin setengah gelandangan, tiba-tiba dia menjadi kepala semua mandor dan mendapat upah besar dan rumah tinggal! Akan tetapi bukan itu yang dia cari.

Cita-citanya lebih besar dari sekedar menjadi kepala mandor!

“Cu-sicu, engkau tidak perlu tergesa-gesa menerima penawaranku. Engkau tinggallah dulu di sini beberapa lamanya dan pertimbangkan baik-baik penawaranku tadi. Sementara itu, engkau boleh mempelajari keadaan di bandar agar kalau engkau menerima tawaranku, seketika engkau sudah menguasai keadaan dan hafal akan lingkungan di bandar.”

Cu Goan Ciang yang masih bimbang itu mengangguk. Akan tetapi, di dalam hatinya, dia bukan minta waktu untuk mempertimbangkan penawaran kedudukan itu, melainkan minta waktu agar dia dapat menyelidiki keadaan di bandar dan mendapat jalan bagaiman sebaiknya untuk menolong nasib para pekerja kasar di sana.

Yo Ci lalu menjamu Goan Ciang dengan hidangan yang mewah, kemudian pelayan mengantarnya ke sebuah kamar yang disediakan untuk dia selama tinggal di gedung itu.

“Kongcu,” kata pelayan itu, “di dalam almari itu terdapat pakaian yang sengaja disediakan oleh Yo-loya untuk kongcu pakai.”

Setelah pelayan itu pergi, Goan Ciang berdiri tertegun, mengagumi kamar yang indah itu. Bagaikan seorang anak kecil menemukan mainan baru, dia mencoba duduk di kursi yang terukir itu, mencoba rebah di dipan yang lunak, dan membuka almari melihat dengan mata terbelalak pakaian yang terbuat dari sutera halus, lengkap dan ketika dicobanya, ukurannyapun tepat dengan tubuhnya!

Mulai hari itu, Goan Ciang tinggal di rumah Yo Ci, diperlakukan sebagai seorang tamu yang terhormat. Setiap hari dia pergi meninggalkan rumah itu menuju ke bandar untuk melakukan penyelidikan. Dia merasa heran sekali melihat betapa dua puluh orang pekerja yang kemarin dibantunya, kini acuh saja melihatnya, bahkan membuang muka seolah tidak mengenalnya lagi. Mandor gendut juga tidak ada, diganti seorang mandor yang kurus dan nampak ramah. Dalam pengamatannya, dia mendapat kenyataan bahwa semua pekerja itu bekerja dengan tertib dan rajin, dan memang tidak pernah terjadi keributan di situ karena semua pekerja takut kepada para pengawal atau tukang pukul. Dan memang keamanan terjaga, tidak ada barang yang hilang, tidak pernah terjadi pencurian. Akan tetapi, dia melihat pula bahwa dalam segala bidang diadakan uang pungutan atau semacam pajak yang besar. Hal ini dia ketahui ketika dia mendekati para pemilik perahu. Biarpun takut-takut, para pemilik perahu inilah yang menceritakan kepada Goan Ciang bahwa setiap orang pemilik perahu harus menyerahkan sebagian dari hasil penyewaan perahunya kepada penguasa melalui anak buah Yo-loya.

Bukan hanya pemilik perahu yang dikenakan pajak, juga pemilik barang. Baik barang yang masuk di bandar itu, maupun yang keluar, semua dikenakan pajak yang besar jumlahnya. Hal ini,menurut tukang perahu, membuat pekerjaan mereka tidak lancar. Terpaksa tukang perahu menaikkan tarip sewa perahum dan para pedagang menaikkan harga dagangan mereka. Inipun secara sembunyi, karena kalau ketahuan nak buah Yo-loya, maka pajakpun akan dinaikkan sesuai dengan kenaikan sewa perahu atau harga barang dagangan! Cu Goan Ciang melihat betapa para pedagang, tukang perahu, sampai pekerja kasar semua sudah dicengkeram oleh penguasa melalui anak buah Yo-loya, dan diperas habis-habisan!

Malam itu, setelah makan malam yang mewah seorang diri karena Yo-loya sedang keluar rumah, Goan Ciang berjalan-jalan di taman bunga yang luas dan indah milik keluarga itu. Kamarnya memang berada di samping, menembus taman sehingga dia dapat dengan leluasa meninggalkan kamar untuk keluar rumah atau memasuki taman. Malam itu terang bulan, udaranya juga hangat karena tidak ada angin dan terangnya bulan ditambah pula dengan lampu-lampu gantung beraneka warna yang berada di taman.

Goan Ciang duduk di atas bangku dekan kolam ikan emas, termenung. Dia bingung memikirkan keadaan bandar. Jelas bahwa semua orang, dari pedagang sampai pekerja kasar, diperas oleh penguasa. Para pedagang dan tukang perahu masih dapat berusaha menutup biaya pemerasan itu dengan menaikkan tarip sewa dan harga barang. Akan tetapi bagaimana dengan para pekerja? Mereka tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menerima nasib. Juga, kenaikan harga barang-barang itu akhirnya menimpa pula rakyat kecil yang membutuhkannya, karena harganya otomatis menjadi mahal. Dia memikirkan peran yang dipegang Yo Ci. Benarkah Yo Ci membantu para pekerja kasar, membantu para pemilik perahu dan pedagang? Mengatur dan menertibkan keadaan agar mereka semua tidak diganggu oleh penguasa setempat? Ataukah Yo Ci mempergunakan hubungannya dengan para penguasa untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari pemerasan itu? Membagi-bagi hasil pemerasan dengan penguasa? Dia harus berhati-hati sebelum melihat buktinya. Anak buah Yo Ci memang memperlihatkan kekerasan dan kekejaman, akan tetapi sikap Yo Ci baik sekali, tidak seperti orang yang suka melakukan pemerasan.

Tiba-tiba Goan Ciang dikejutkan oleh suara tawa beberapa orang wanita. Dia hendak menyelinap pergi, namun terlambat karena pada saat itu terdengar suara yang merdu, “Aih, kiranya Cu-sicu yang berada di sini! Maafkan kalau kami mengganggu ketenanganmu, sicu!”

Cu Goan Ciang memandang dan dia mengenal wanita yang bicara itu. Isteri ke empat dari Yo Ci. Isteri ke empat ini masih muda, belum tiga puluh tahun usianya dan cantik manis. Di belakangnya berjalan lima orang gadis pelayan yang juga cantik-cantik berusia dari delapan belas sampai dua puluh tahun, dengan pakaian pelayan namun tidak menyembunyikan kecantikan wajah mereka dan kemolekkan tubuh mereka. “Saya yang minta maaf, toanio (nyonya besar), saya telah lancang memasuki taman keluarga...”

“Aihh, sicu, mengapa begitu sungkan dan menyebutku toanio segala? Bukankah engkau menyebut suamiku paman? Nah, sepatutnya engkau menyebutku bibi, akan tetapi karena usia kita tidak berselisih banyak, lebih pantas kalau engkau menyebut aku enci. Namaku Yen Li, kausebut aku enci Yen Li, bukankah lebih mesra?” Setelah berkata demikian, wanita cantik selir tuan rumah itu mendekatinya, dengan berani memegang tangannya dan mengajaknya duduk kembali di atas bangku panjang dekat kolam ikan. Lima orang gadis pelayan itu sambil tersenyum-senyum juga mengepungnya, ada yang menawarkan minuman ada yang menawarkan manisan atau buah-buahan, semua dengan suara merdu dan merayu. Dikelilingi enam orang wanita cantik itu, Goan Ciang merasa seolah tenggelam ke dalam air, membuatnya gelagapan karena bau harum menyesakkan dadanya. Dia adalah seorang pemuda yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita, dan kini enam orang wanita cantik seolah saling berebut untuk menarik perhatiannya. Sentuhan jari tangan lembut, kerling tajam memikat dan senyum semanis madu seperti membuat dia tenggelam.

Akan tetapi, Cu Goan Ciang adalah seorang laki-laki yang keras hati. Dia memiliki cita-cita yang tinggi dan sebelum cita-citanya itu tercapai, dia tidak mau diganggu oleh godaan wanita, apa lagi mengingat bahwa wanita ini adalah isteri muda tuan rumah. Sungguh memalukan sekali kalau dia, sebagai tamu yang dihormati dan diperlakukan baik, kini mengkhianati tuan rumah dengan menyambut uluran tangan kotor wanita itu.

“Maaf, tidak baik begini, aku mau pergi tidur!” katanya dan diapun cepat menyelinap, melepaskan diri dari kepungan enam orang wanita itu dan berlari memasuki kamarnya dan menutupkan daun pintu, menguncinya dari dalam. Terdengar langkah-langkah kaki lembut mengejarnya dan kini daun pintu kamarnya diketuk-ketuk dari luar.

“Sicu, buka pintu, biarkan aku masuk, aku ingin bercakap-cakap denganmu!” terdengar suara selir tuan rumah itu.

“Kongcu, bukalah, saya ingin melayani kongcu!” terdengar suara gadis pelayan, disusul kata- kata bujukan dari para gadis pelayan yang lain.

Goan Ciang mengerutkan alisnya. “Bagaimana mungkin mereka begitu nekat? Andai kata mereka adalah wanita-wanita tak bermalu, tentu tidak begitu caranya, tidak beramai-ramai dan terang-terangan seperti itu.” Timbul kecurigaan di hati pemuda ini. Sungguh tidak wajar sikap mereka, pikirnya, seperti diatur saja. Diatur oleh Yo Ci! Kalau tidak demikian, kiranya selir itu tidak akan senekat itu. Andai kata tertarik kepadanyapun tentu melakukan usaha hubungan secara rahasia agar tidak diketahui para isteri lain. Akan tetapi ini demikian terang- terangan, seolah selir itu dan lima orang pelayannya tidak takut ketahuan orang lain. Ini tidak wajar!

Diapun mendekati pintu dan berkata dengan nada suara tegas, “Haii, kalian yang berada di depan pintu, pergilah dan hangan menggangguku, atau aku akan pergi meninggalkan rumah ini sekarang juga dan besok aku akan melapor dan protes kepada paman Yo Ci!”

Suara di luar itu berhenti, kemudian terdengar kaki-kaki ringan melangkah pergi dan mereka bersungut-sungut. Terdengar oleh Goan Ciang cemoohan beberapa di antara mereka, “Huh, laki-laki banci!” Semenjak malam itu, Goan Ciang tidak pernah lagi diganggu wanita. Beberapa hari kemudian, Yo Ci mengajak dia bercakap-cakap di ruangan dalam. Setelah menyuguhkan anggur dan makanan kering, Yo Ci lalu membuka percakapan.

“Bagaimana, Cu-sicu? Setelah beberapa hari tinggal di sini dan melakukan penyelidikan ke bandar, maukah engkau menerima tawaranku untuk bekerja membantuku? Aku akan memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu.”