-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 21

Jilid 21

"Lebih baik kita berhati-hati dalain keadaan Seperti sekarang ini," kata Siok Bun.

Tidak lama mereka menunggu. Derap kaki kuda makin keras dan tak lama kemudian muncullah barisan berkuda terdiri dari seratus orang lebih. Debu mengepul tinggi dan dari jauh saja sudah dapat dilihat bahwa mereka ini adalah barisan kerajaan yang berangkat ke utara untuk menghadapi serbuan musuh.

Melihat pakaian mereka dan bendera yang mereka pasang di depan, dapat dikenal bahwa mereka itu adalah pasukan kerajaan yang diperbantukan ke utara. Beberapa orang panglima dengan baju perang yang gagah menunggang kuda di bagian depan dan di antara panglima ini nampak seorang pendek gemuk bundar yang segera dikenal oleh Siok Bun dan Siok Ho.

"Itu kaki tangan Auwyang Tek. " bisik Siok Bun. Siok Ho mengangguk dan gadis ini sudah memegang

pedangnya eraf-erat. Menurut hatinya, ingin ia menyerbu dan merobohkan sebanyak mungkin musuh. Akan tetapi Siok Bun yang dapat menduga getaran hati kekasihnya, memegang lengannya dan berbisik,

"Jumlah mereka banyak, selain Manimoko yang lihai itu masih ada beberapa orang panglima kerajaan yang tak boleh dipandang ringan. Lebih baik kita menyerang secara diam-diam dari sini.." Setelah berkata demikian, Siok Bun mengeluarkan beberapa butir Ang-lian-ci (Biji Teratai Merah). Pemuda ini sudah mewarisi kepandaian ibunya yang istimewa, yaitu menggunakan Ang lian-ci Sebagai senjata rahasia.

Melihat ini, Siok Ho juga mengambil beberapa butir batu kecil. Dengan gerakan yang hampir berbareng, keduanya menimpuk ke depan. Terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan beberapa orang penunggang kuda yang berada di pinggir terjungkal. Keadaan menjadi kacau. Barisan berhenti dan para panglima sudah melompat turun dari kuda dan dengan lompatan-lompatan jauh mereka mencari penyerang tersembunyi yang sekaligus telah merobohkan enam orang anak buah barisan.

Akan tetapi, ketika mereka menjenguk ke belakang pohon-pohon di mana tadi ada dua orang muda bersembunyi, Siok Bun dan Siok Ho sudah pergi jauh dari tempat itu, pergi dengan hati puas menikmati hasil pertama dari perjuangan mereka.

Malam harinya, Siok Bun dan Siok Ho sudah tiba di dusun Kang-le-bun di tepi pantai Sungai Kuning. Menurut kabar yang mereka dengar di sepanjang jalan, barisan-barisan dari Peking sudah mulai bergerak ke selatan dan peperangan-peperangan dahsyat terjadi di sebelah selatan Propinsi Shan-si dan Ho-pei, malah kabarnya ada barisan besar yang sedang menyerbu kota Tai-goan.

Kesibukan bala tentara selatan sudah terlihat ketika mereka tiba di Kang-le-bun. Sebelum memasuki dusun yang sekaligus menjadi pusat penyeberangan Sungai Huang-ho, Siok Bun menyembunyikan senjatanya di balik baju dan berkata kepada kekasihnya,

"Jangan perlihatkan pedangmu kepada umum. Dalam keadaan begini lebih baik jangan menimbulkan kecurigaan musuh. Kita berada di daerah musuh dan sekali kita ketahuan, bisa celaka."

Siok Ho menurut dan menyembunyikan pedangnya di balik baju pula seperti yang dilakukan Siok Bun. Akan tetapi, biarpun mereka sudah berlaku hati-hati sekali, tetap saja terjadi hal yang amat membahayakan keselamatan mereka. Baru saja mereka memasuki dusun itu, dari belakang terdengar bentakan-bentakan menyuruh orang minggir dan dari selatan jalan mendatangi sepasukan berkuda terdiri dari ipipat puluh orang lebih, dikepalai oleh seorang panglima bermuka hitam bermata besar.

Tadinya, panglima ini yang menunggang kuda berbulu putih, hanya melirik sedikit ke arah Siok Ho dan Siok Bun, dan pasukannya sudah melewati dua orang muda itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar aba-aba keras sekali dan pasukan itu berhenti. Siok Bun dan kekasihnya yang tadinya sudah bernapas lega, menjadi kaget dan khawatir, akan tetapi mereka tetap tenang, pura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan terus.

"He, berhenti!" komandan pasukan bermuka hitam itu membentak sambil memutar kuda putih nya menghampiri dua orang muda itu. Matanya yang besar itu berputaran, lalu memandang kepada Siok Ho secara kurang ajar, mulutnya menyeringai. Komandan ini tadinya adalah seorang jagoan dari Shan-tung, pernah menjadi perampok akan tetapi akhir-akhir ini dapat menghambakan diri kepada seorang di antara para pembesar korup sehingga ia mencapai kedudukan lumayan, menjadi komandan pasukan! Wataknya kasar, kejam dan sudah terkenal pengganggu wanita. Namanya saja ia "berjuang" membela negara, akan tetapi di Sepanjang perjalanan anak buahnya menyaksikan perbuatan-perbuatannya yang kotor dan terkutuk. Di mana saja terdapat gadis cantik, pasti diganggunya. Penduduk dusun mana yang berani melawan, apa lagi melawan seorang komandan pasukan yang sedang "berjuang". Siok Bun dan Siok Ho berdiri berdampingan menghadapi komandan muka hitam yang bernama Thio Sun itu.

"Ciangkun menghentikan kami ada apakah?" tanya Siok Bun sabar dan hormat, padahal hatinya mendongkol bukan main. Tanpa menjawab pertanyaan ini, malah melirik sedikitpun tidak kepada Siok Bun, komandan muka hitam itu bertanya kepada Siok Ho dengan mulut tersenyum dan mata berseri penuh nafsu.

"Nona manis, kau hendak ke mana?"

"Hendak memasuki dusun Kang-le-bun Ini, lalu menyeberang..." jawab Siok Ho acuh tak acuh, menahan kemarahannya melihat pandang mata orang yang begitu kurang ajar.

"Hai, tak boleh menyeberang. Salah-salah kau bisa disangka mata-mata. Lebih baik hayo ikut ke pondokku, selain aman kaupun akan merasai kesenangan bersamaku!" Terdengar beberapa orang anak buah pasukan itu tertawa.

"Ciangkun, aku sedang melakukan perjalanan dengan suamiku, harap jangan ganggu!" kata Siok Ho yang hampir tak dapat menahan kemarahannya.

Baiknya ia masih ingat bahwa dia dan Siok Bun berada di daerah musuh, maka untuk menyelamatkan diri terpaksa ia mengakui Siok Bun sebagai suaminya. Muka Siok Bun menjadi merah mendengar ucapan ini, akan tetapi ia cepat-cepat menjura kepada Thio Sun sambil berkata,

"Harap tai-ciangkun suka maafkan kami suami isteri yang hendak melakukan perjalanan menyeberang sungai " Tadi mendengar bahwa nona manis itu adalah isteri pemuda itu, berkerut

kening komandan itu dan jelas ia kelihatan kecewa. Akan tetapi mana ia mau mengalah begitu saja? "Kalian mau menyeberang? Tentu mata-mata musuh!" bentaknya tegas.

"Harap ciangkun jangan salah sangka," Siok Bun cepat-cepat berkata, "kami suami isteri hendak menyeberangi sungai di mana orang tua kami menjadi nelayan. Maksud kami hendak menyeberang ke selatan untuk mengungsi."

Ucapan Siok Bun lancar dan meyakinkan sehingga tidak ada alasan lagi bagi Thio Sun untuk bercuriga. Akan tetapi dasar hidung belang tak tahu malu, la mendapat akal dan membentakkan perintah kepada anak buahnya,

"Geledah mereka!" Sambil menyeringai beberapa orang serdadu melangkah maju, berebutan hendak menggeledah Siok Ho.

"Tunggu! Geledah anjing jantan ini, yang betina biar aku sendiri yang akan menggeledahnya!" bentak komandan itu pula sambil melompat menghampiri Siok Ho.

Pucatlah wajah Siok Ho saking marahnya. Juga Siok Bun tidak melihat jalan keluar lagi. Kalau sampai mereka menggeledah dan mendapatkan senjata-senjata yang tersembunyi di balik pakaian, tentu mereka berdua akan ditawan. Apa lagi melihat komandan muka hitam itu mendekati Siok Ho dengan sikap kurang ajar sekali. Namun Siok Bun masih kalah cepat oleh Siok Ho. Gadis ini sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi. Begitu ia melihat komandan muka hitam itu bergerak maju dan tangannya hendak merabanya sambil menyeringai menjemukan, Siok Ho mengerahkan tenaga pada tangan kirinya, lalu menggerakkan tangannya itu dengan telapak tangan miring menghantam lambung Thio Sun si muka hitam dengan gerak tipu Tai-peng-tiam-cl (Garuda membuka Sayap).

Serangan ini bukan saja hebat sekali, juga tidak tersangka-sangka datangnya. Thio Sun memekik mengerikan dan tubuhnya terjengkang ke belakang, la roboh dengan mata terbelalak, dari mulutnya mengalir darah segar, dan nyawanya putus tak lama kemudian!

Melihat ini, tahulah Siok Bun bahwa tidak ada Jalan mundur lagi. Ia melihat berkelebatnya pedang yang sudah dicabut oleh Siok Ho, maka cepat ia menendang seorang serdadu yang terdekat sambil mencabut senjata kaitannya yang lihai. Di lain saat ributlah tempat itu dan terjadi pertempuran kalang kabut. Sebetulnya lebih merupakan amukan-amukan Siok Bun dan Siok Ho, sedangkan para serdadu menyusun pengepungan dengan cara yang simpang-siur karena mereka masih terkejut dengan terjadinya hal-hal yang berjalan cepat itu.

Banyak serdadu yang roboh bergelimpangan terkena sambaran pedang Siok Ho dan sin-kauw di tangan Siok Bun. Dengan enaknya sepasang orang muda itu membabat dan merobohkan lawan. Akan tetapi, sebentar saja tempat itu penuh dengan serdadu-serdadu musuh yang memburu keluar dari dusun itu dan tak lama kemudian Siok Bun dan Siok Ho sudah dikepung rapat sekali. Kini bukan lagi serdadu-serdadu biasa yang mengeroyok, melainkan serdadu-serdadu pilihan dibantu beberapa orang komandan yang pandai ilmu Silat. Bahkan di antara mereka kelihatan Manimoko ikut mengeroyok.

Siok Bun mulai kewalahan. Dari pertemuan senjata, maklumlah ia bahwa para pengeroyoknya rata- rata memiliki kepandaian lumayan dan untuk melarikan diri dari kepungan yang rapat itu betul-betul sulit. Enam orang pengeroyoknya membuat ia terpaksa berpisah dari Siok Ho sehingga ia tidak tahu lagi nasib apa yang menimpa kekasihnya itu. Karena khawatir tentang diri Siok Ho, pemuda ini memutar sin-kauw di tangannya dan mengamuk hebat. Dengan pukulan-pugulan dari ilmu silat warisan ayahnya, Pek-kong-sin-kaw-hoat, ia merobohkan dua orang komandan lagi.

Akan tetapi pada saat senjatanya menahan datangnya tusukan tombak dan babatan golok, tiba-tiba ia diringkus orang dari belakang dan di lain saat ia tak dapat bergerak lagi dalam ringkusan yang amat kuat itu. Dua buah lengan yang kuat dan lemas bagaikan belitan-belitan ular menerkamnya. Ternyata ia telah kena diringkus oleh Manimoko dengan ilmu gulat. Senjatanya dirampas dan tubuhnya diikat.

Siok Bun tertawan, tak berdaya sama sekali. Biarpun diri sendiri tertawan, namun Siok Bun lebih mengkhawatirkan keadaan Siok Ho. Dia tidak perduli akan nasib sendiri dan biarpun agak sukar, ia menoleh ke kenan kiri mencari-cari di mana adanya Siok Ho, hatinya amat gelisah karena tidak melihat Siok Ho lagi, Tentu gadis itu sudah tertawan pula, pikirnya dengan gelisah.

"Bunuh, saja mata-mata pemberontak tnil" terdengar seruan para komandan. Siok Bun menghadapi ancaman ini dengan tabah. Memang ia tidak mengharapkan hidup lagi setelah tertawan.

"Jangan! Dia orang Tiong-gi-pai, malah putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui. Orang penting lebih baik ditawan, pahala kita lebih besar!" kata seorang dengan suara asing. Inilah suara Manimoko yang tentu saja ingin berjasa terhadap Auwyang-taijin yang tentu akan girang sekali melihat musuh besar tertawan. Semua orang menyetujui ucapan orang Jepang ini, maka Siok Bun lalu diseret orang dan dilempar ke dalam sebuah kamar tahanan. Pemuda ini makin gelisah karena tidak melihat adanya Siok Ho dan ia hanya bisa mengharapkan bahwa kekasihnya itu dapat melarikan diri.

Memang harapannya itu tidak sia-sia. Ketika Siok Ho melihat datangnya bala bantuan musuh yang makin lama makin kuat, gadis yang cerdik ini maklum bahwa ia dan Siok Bun takkan dapat melawan lebih lama lagi. Ia hendak mengajak kekasihnya melarikan diri, akan tetapi terlambat karena ia sudah terpaksa berpisah dari Siok Bun dan ia sendiri harus mencurahkan perhatiannya untuk melayani keroyokan para panglima musuh yang kuat-kuat.

Untung baginya, Manimoko tidak mengenalnya maka panglima-panglima musuh yang terpandai disuruh mengeroyok Siok Bun, sedangkan gadis ini sendiri yang dipandang ringan, dikeroyok oleh perwira-perwira rendahan. Hal ini merupakan nasib baik bagi Siok Ho. dengan permainan pedangnya yang hebat ditambah lagi dengan pukulan-pukulan Ang-sin-jiu tangan kirinya, ia berhasil merobohkan banyak pengeroyok, kemudian ia membuka jalan darah dan sempat melarikan diri.

Ia tadi melihat sekelebatan betapa Siok Bun ditawan musuh. Hatinya khawatir dan sedih tercampur gelisah sekali, akan tetapi sebagal seorang cerdik, ia tidak mau menurutkan perasaan marah, tidak menyerbu secara nekat karena hal itu berarti membunuh diri belaka, la lebih baik melarikan diri, karena kalau dia selamat, masih banyak jalan untuk berdaya upaya menolong Siok Bun. Kalau dia nekat menyerbu, tentu ia akan roboh atau tertawan pula.

Celakalah kalau mereka keduanya tertawan, siapa yang akan menolong?

Selagi Siok Ho mencari jalan bagajmana ia dapat menolong kekasihnya, Siok Bun dimasukkan kamar tahanan dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Kamar itu gelap sekali dan mula-mula Siok Bun tidak bisa melihat keadaan di sekitarnya. Kemudian matanya menjadi biasa dan melihat bahwa kamar itu keadaannya remang-remang karena mendapat penerangan yang menerobos dari lubang kecil di atas pintu besi lubang hawa yang mencegah tawanan mati kehabisan napas.

Setelah ia memeriksa, ternyata selain dia, masih ada satu orang lain lagi di dalam kamar itu. Orang itu kurus, kering dan meringkuk di sudut kamar seperti sudah mati. Ketika Siok Bun memperhatikan pakaiannya, ia terkejut dan heran sekali karena orang itu berpakaian seperti seorang Panglima Kerajaan Beng, seperti yang dipakai oleh Auwyang Tek dan kaki tangannya. Mengapa seorang perwira Beng-tiauw bisa meringkuk di dalam tahanan bersama dia?

Siok Bun mengira bahwa orang itu tentu telah mati dan hatinya merasa tidak enak sekali. Dia boleh disiksa, boleh dibunuh, akan tetapi kalau dia diharuskan tinggal sekamar dengan sebuah mayat, benar-benar pihak musuh sudah keterlaluan sekali, sudah melanggar batas-batas kesusilaan dan perikemanusiaan.

Tiba-tiba "mayat'* itu terbatuk-batuk, begitu hebat ia batuk-batuk disusul keluhan-keluhan mengenaskan sehingga hati Siok Bun menjadi terharu dan amat kasihan karenanya. Hanya seorang dengan watak budiman seperti Siok Bun saja yang masih dapat menaruh perasaan kasihan kepada orang lain sedangkan diri sendiri berada dalam keadaan seperti itu. Karena kaki tangannya terikat kencang, Siok Bun menggelindingkan tubuhnya mendekati orang kurus kering itu, lalu bertanya,

"Sahabat, apakah kau sakit?"

Orang itu yang tadinya menyembunyikan muka di antara lututnya yang diangkat tinggi, kini mengangkat mukanya dan ternyata ia tidak dibelenggu seperti Siok Bun. Agaknya ia terkejut karena tidak mengira di situ terdapat orang lain. Ia merasa sudah mati atau hampir mati, maka pertanyaan yang keluar dari mulut orang lain mengagetkannya. "Mereka menyiksaku.... menguburku hidup-hidup di sini.... mereka itu betul-betul keji dah jahat...!" akhirnya ia dapat berkata dan terbatuk-batuk lagi. Dari suara batuk ini saja Siok Bun dapat menaksir bahwa orang Itu memang takkan hidup lebih lama lagi.

"Mereka merampok harta rakyat dan negara, sesuka hati, menjadi penghianat, mengungsikan harta benda selagi negara terancam musuh. Aku yang mengambil sebuah mainan burung hong saja mereka siksa sampai begini..."

"Mereka siapa dan kau siapakah?" Dalam keadaan biasa kiranya Siok Bun takkan sudi bercakap- cakap dengan seorang bekas perwira musuh yang agaknya telah mencuri dan dihukum. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, seorang manusia lain, siapapun juga dia, menjadi kawan sependeritaan yang menarik hati.

"Siapa lagi kalau bukan Auwyang-taijin...." kemudian dengan suara perlahan diseling batuk-batuk yang makin menghebat, orang itu menuturkan keadaan dirinya. Agaknya penuturan ini merupakah hiburan dan pesan terakhir baginya.

Ternyata bahwa orang ini bernama Giam Hoat, seorang perwira menengah yang menjadi kaki tangan Auwyang-taijin. Ketika Auwyang-taijin mulai mengungsikan harta bendanya ke dusun Ki-chun, di antara orang-orang kepercayaan yang mengangkut harta benda di bawah pengawasan Tok-ong Kai Song Cinjin, perwira Giam Hoat inipun diikutsertakan.

Melihat harta benda yang amat banyak itu, timbul hati buruk dalam pikiran Giam Hoat. la berhasil mencuri sebuah mainan burung hong terbuat dari pada emas bertahtakan intan, tak ternilai harganya. Akan tetapi mana ia dapat terlepas dari pandang mata Tok-ong yang amat tajam? la ditangkap dan menurut keputusan Auwyang-taijin yang tidak mau ramai-ramai dan membuka rahasia sendiri, ia lalu dikirim ke garis depan di bawah pengawasan Manimoko! Tentu saja ini hanya alasan untuk dapat melenyapkannya, selain untuk menghukumnya juga untuk mencegah ia membuka mulut tentang harta benda yang diungsikan.

Demikianlah, setibanya di dusun Kang-le-bun, Manimoko yang membaca surat Auwyang-taijin lalu menangkapnya, menyiksanya dan memasukkannya dalam kamar tahanan yang merupakan kamar maut atau kuburan untuk orang hidup itu. Keadaannya sudah hampir dilupakan orang dan dia sudah dianggap mati, maka Siok Bun juga dimasukkan ke situ karena orang menganggap tidak mungkin pemuda ini melarikan diri dari tempat tahanan yang kokoh kuat ini.

Mendengarkan penuturan Giam Hoat, Siok Bun menjadi gemas sekali. Makin kelihatan olehnya macam apa adanya orang yang bernama Auwyang Peng dan anak buahnya. Diam-diam ia girang juga karena dari mulut Giam Hoat, ia mengetahui ke mana Auwyang Peng hendak bersembunyi apabila perang sudah selesai dan kerajaan yang dibantunya sudah tumbang.

Biarpun keadaannya nampak seperti sudah tidak ada harapan lagi, namun Siok Bun pantang menyerah kepada nasib. Baginya, nasib bukan urusannya, yang penting manusia hidup harus berdaya selama masih bernafas, la mulai mencari-cari dan akhirnya mendapatkan kokot pintu besi di sebelah dalam. Lumayan, pikirnya, dan mulailah pemuda yang cerdik ini dengan amat telaten menggosok gosokkan belenggunya pada kokot pintu besi itu Memang bukan pekerjaan yang mudah, namun berkat kesabarannya, tenaganya dan semangatnya, menjelang malam ia sudah berhasil mematahkan belenggu tangannya Tinggal belenggu kakinya! Akan tetapi, menjelang tengah malam Giam Hoat mengerang-erang, meronta-ronta dan menghembuskan nafas terakhir di dekat Siok Bun? Pemuda ini merasa makin tidak enak. Dia tidak berani menggedor pintu memberi tahu penjaga sebelum belenggunya patah semua. Akan tetapi kalau para penjaga hendak mengambil mayat Giam Hoat dan melihat belenggunya terlepas, apakah ia takkan dikeroyok lagi? Pemuda ini mengasah otaknya sambil tidak berhenti menggosok belenggu kakinya pada kokot sampai terasa panas kulit kakinya.

Belenggu kakinya lebih kuat dan besar dari pada belenggu tangannya. Ia harus menggunakan waktu sehari semalam untuk menggosok itu. Terpaksa ia menguatkan diri berada di kamar dengan mayat Giam Hoat selama itu, tanpa makan tanpa tidur terus bekerja menggosok-gosok belenggu pada kokot besi. Akhirnya ia berhasil Belenggu kakinya patah pula.

Siok Bun yang sudah membuat siasat cepat-cepat membuka pakaiannya, juga menanggalkan pakaian Giam Hoat dan dengan tangan-tanpa gemetar saking tegangnya, ia bertukar pakaian dengan mayat itu. Ia kini berpakaian seperti seorang perwira Beng, dan pakaiannya sendiri sudah dipakaikan pada tubuh mayat itu. Juga belenggu tangan kakinya sudah ia rantaikan pada kaki tangan mayat itu yang ia dudukkan bersandar di sudut kamar yang paling jauh, seperti orang yang mengantuk atau kelelahan. Ia sendiri lalu menggunakan debu di kamar itu dicampur ludahnya sendiri untuk mencoreng-moreng mukanya, kemudian ia merebahkan diri dan semalam itu ia tidur dengan enaknya.

Hal ini perlu sekali karena ia harus rnengumpulkan tenaga. Pada keesokan harinya, ketika sinar matahari pagi sudah menembusi lubang hawa yang kecil itu. Siok Bun berteriak teriak dari dalam kamar itu.

"Penjaga......! Bawa pergi dia ini.... dia sudah mati   !"

Seperti orang gila Siok Bun berteriak-teriak, membuat suaranya terdengar seperti orang ketakutan. Tak lama kemudian sebuah muka menjenguk dari luar lubang itu, membuat kamar itu menjadi gelap karena jalan sinar satu-satunya tertutup oleh kepala itu.

"Ada apa kau menjerit-jerit?" bentak penjaga itu.

"Perwira ini sudah mati, apa kau tidak lihat? Bawa pergi mayatnya dari sini!" teriak Siok Bun ketakutan. Kepala perwira itu bergerak sedikit ke samping untuk memberi jalan kepada sinar matahari memasuki kamar tahanan itu. Ia mengintai dan melihat "mayat" perwira Giam Hoat itu membujur tertelungkup di atas lantai di tengah ruangan sedangkan tawanan baru itu duduk di sudut ketakutan.

"Ha-ha, orang Tiong-gi-pai, kalau dia sudah mampus biar menjadi kawanmu di situ sampai membusuk!" penjaga itu mengejek.

"Manusia busuk, tidak lekas-lekas memberi laporan kepada Panglima Manimoko? Awas, arwah mayat ini yang menjadi setan akan mencekik lehermu lebih dulu!" kata Siok Hun dengan hati-hati agar jangan terlihat orang itu bahwa bukan tubuh yang duduk di pojok itu yang bicara, melainkan "mayat" yang membujur di bawah.

Muka si penjaga itu menjadi pucat dan cepat-cepat ia pergi dari situ. Tak lama kemudian muncul kepala yang bundar, kepala Manimoko. Dialah yang berkuasa atas dua orang tawanan itu, karena dia adalah panglima yang dikirim ke garis depan Oleh Auwyang-taijin. Manimoko tidak menghendaki Siok Bun mati di situ, hendak ia tunggu dulu keputusan Auwyang-taijin karena ia sudah menyuruh seorang utusan memberi laporan ke kota raja. Sebelum keputusan Auwyang-taijin datang dan pahalanya dicatat, ia tidak mau membunuh Siok Bun. Kini melihat bahwa Giam Hoat sudah mati, ia cepat memberi perintah supaya "bangkai anjing" itu dibuang saja ke sungai Huang-ho supaya dimakan setan sungai!

"Dan beri makan kepada bocah she Siok itu supaya ia tidak mati kelaparan sebelum keputusan tiba dari selatan!" pesannya sambil meninggalkan tempat itu. Tadi melalui lubang kecil ia sudah melihat betapa belenggu masih mengikat kaki dan lengan Siok Bun, maka ia tidak menaruh curiga dan tidak khawatir kalau-kalau pemuda itu terlepas selagi orang-orangnya mengangkat pergi mayat Giam Hoat. Mayat itu sudah agak berbau. Bau apak dan memuakkan keluar dari kamar tahanan, maka Manimoko tidak mau menanti sampai orang mengangkut mayat itu, demikian pula panglima- panglima lain tidak mau. Bahkan empat orang serdadu yang menerima tugas ini, melakukannya sambil mengomel panjang pendek.

Hal ini tentu saja menguntungkan Siok Bun. Kalau yang datang hanya empat orang serdadu biasa, mudah baginya untuk main sandiwara. Akan sebaliknyalah kalau yang masuk itu panglima-panglima yang tinggi kepandaiannya. Kalau demikian halnya, tentu ia akan berlaku nekat, memberontak dan mencoba melarikan diri.

Ketika melihat pintu dibuka dan yang masuk adalah empat orang serdadu penjaga, cepat Siok Bun menahan napas dan dengan Iweekangnya ia membuat tubuhnya kaku dan dingin, persis sebuah mayat yang sudah mati agak lama. Para penjaga itu kelihatan jijik meraba kulit yang dingin itu. Dengan kasar mereka menyeret kaki "mayat" itu, mengangkatnya ke atas sebuah alat pengangkut, lalu mengangkatnya keluar. Sehelai tikar butut dipergunakan untuk menutupi muka mayat yang kotor itu. Seorang penjaga lain melemparkan makanan dan sepoci minuman secara kasar kepada "Siok Bun" yang duduk menyandar di sudut kamar.

"Makanlah kalau kau tidak mau lekas-lekas mampus seperti mayat ini!" bentak penjaga itu mengejek, lalu menutup pintu kamar tahanan keras-keras.

Sementara itu, "mayat" yang sebetulnya adalah Siok Bun, telah diangkat cepat-cepat keluar dari kampung itu menuju ke tepi Sungai Huang-ho.

"Sialan benar, suruh mengangkut bangkai yang sudah bau, seorang di antara empat serdadu itu mengomel. "Dasar perwira! Di masa hidupnya sudah banyak menyusahkan anak buah, memaki dan memukul, sekarang sudah mampus masih banyak tingkah. Menjemukan benar!"

"Kenapa kita harus berpayah-payah membawanya ke sungai? Jalanan ini sunyi, kita lempar saja bangkai anjing ini di pinggir jalan, lalu memaksa penduduk dan nelayan untuk mengangkatnya, bukankah lebih baik?" kata serdadu ke dua.

"Betul usul itu, mari lempar sajal" Serentak empat orang serdadu itu melemparkan pikulan terisi mayat itu ke bawah. Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka sampai-sampai semangat mereka serasa terbang meninggalkan badan ketika mendadak "mayat" itu melompat dan jatuh dalam keadaan berdiri tegak menghadapi mereka dengan muka coreng moreng dan mata memandang seperti api bernyala nyala!

Orang tabah sekalipun akan bergidik ketakutan menghadapi hal yang hebat menyeramkan ini, apa lagi serdadu-serdadu yang pengecut itu. Setelah terbelalak sampai sekian lamanya, baru mereka lari jatuh bangun, menjauhkan diri dari "mayat hidup" itu. Akan tetapi, mana Siok Bun mau membiarkan mereka lari? Pemuda ini melompat dan beberapa kali tangannya bergerak, empat orang serdadu itu roboh mampus setelah mengeluarkan pekik mengerikan. Siok Bun membunuh mereka dengan maksud supaya siasatnya yang berhasil baik itu jangan terlalu cepat diketahui oleh musuh di dusun Kang-le bun.

Akan tetapi ia tidak memperhitungkan bahwa munculnya itu terlalu mengerikan sehingga serdadu- serdadu itu menjerit. Hal ini cukup menarik perhatian para penjaga yang cepat memburu ke tempat itu. Siok Bun sudah merampas sebatang pedang dan untuk melampiaskan kemarahannya, ia mengamuk hebat, merobohkan banyak orang serdadu musuh. Akan tetapi ia terlalu banyak membuang tenaga, juga ia sudah lelah sekali karena dua hari menggosok-gosok belenggu dan tidak makan.

Apa lagi pada saat itu, beberapa orang panglima sudah datang menunggang kuda dan di antara mereka nampak Manimoko. Semua orang tadinya terheran dan ngeri melihat Siok Bun, akan tetapi Manimoko mengenal pemuda itu dan tahu apa yang terjadi di dalam kamar tahanan.

"Dia bukan siluman. Dia pemuda she Siok itu. Tangkap! Bunuh!!" serunya sambil melompat turun dari kuda untuk ikut mengeroyok Siok Bun. Siok Bun terdesak hebat. Untuk melarikan diri sudah tidak mungkin lagi. Baiknya selagi ia kepayahan, tiba-tiba terdengar bersiutnya puluhan batang anak panah yang merobohkan para serdadu dan disusul bentakan nyaring.

"Bun-ko, jangan takut, aku datang membantumu!" Hampir saja Siok Bun tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Itulah suara Siok Ho. Ketika ia menengok, benar saja. Kekasihnya yang tercinta itu, dengan pakaian seperti seorang pemuda, Seperti dulu lagi, pemuda yang tampan sekali, memimpin serombongan nelayan terdiri dari belasan orang menyerbu dengan gagah beraninya.

Dari mana Siok Ho dapat mengumpulkan para nelayan yang gagah itu? Seperti diketahui, Siok Ho berhasil melarikan diri. Gadis ini gelisah sekali, akan tetapi ia bukanlah gadis sembarangan yang kerjanya hanya menangis apabila menghadapi bencana yang menimpanya. Biarpun ia gelisah memikirkan nasib Siok Bun, akan tetapi ia tidak berhenti dalam kegelisahan belaka, melainkan mencari daya upaya untuk menolong kekasihnya.

Ia melarikan diri di sepanjang Sungai Huang-ho sampai ia tiba di sebuah dusun yang letaknya di barat dusun Kang-le-bun. Beberapa orang nelayan yang melihat seorang gadis cantik berlari-larian, segera memapaki dan seorang di antara mereka yang sudah setengah tua, berkata dengan suara keren,

"Nona, kenapa kau berlari-larian seperti orang takut? Apakah ada anjing kerajaan selatan yang berlaku kurang ajar padamu? Jangan takut, kau sembunyilah ke dalam rumah kami, biar kami yang menghadapi mereka!"

Mendengar ucapan ini, Siok Ho terkejut, heran dan kagum.

Terkejut dan heran karena tidak mengira di tempat seperti itu terdapat nelayan-nelayan yang gagah, yang ikut pula merasakan penindasan kaum durna di kerajaan selatan dan karenanya ikut memberontak dalam batin. Kebetulan sekali, pikirnya dengan perasaan kagum terhadap orang-orang dusun yang bodoh namun perkasa itu.

"Cuwi-enghiong, harap diketahui bahwa aku adaiah Ang-sin-jiu Oei Siok Ho, murid Kun-Iun-pai yang menjadi musuh besar kaum durna dan kaki tangannya di selatan. Aku adalah pendukung Tiong-gi- pai..." Baru bicara sampai di sini saja para nelayan sudah merubungnya dan dari sana-sini orang memberi hormat. Makin besarlah hati Siok Ho.

"Kawan-kawan, kalau begitu kebetulan sekali kedatanganku ini. Agaknya Thian yang menuntunku ke sini. Dengarlah, baru saja aku melarikan diri dari kepungan anjing-anjing penindas kerajaan selatan. Seorang kawanku, tokoh Tiong-gi-pai, putera Pek-kong Sin kauw Siok Beng Hui, telah tertawan musuh. Kami berdua tadinya hendak menyeberang ke utara, hendak menggabungkan diri dengan bala tentara dari utara. Oleh karena itu, tolonglah kawan-kawan, mari ikut aku menyerbu dan berusaha menolong sahabatku itu.!"

Orang-orang Itu terkejut. Memang, tak dapat disangkal pula bahwa mereka semua berfihak kepada bala tentara utara dan diam-diam sudah siap untuk kelak menggabungkan diri apa bila bala tentara Utara sudah menyeberang. Sekarangpun mereka bersiap mengganggu musuh dengan cara bersembunyi. Akan tetapi menyerbu terang-terangan?

"Lihiap, kita belasan orang ini mana mampu menyerbu Kang-le-bun yang terjaga kuat? Kita hanya mengandalkan keberanian dan semangat, akan tetapi untuk menyerbu ke sana dibutuhkan tenaga orang-orang pandai. Kami hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia dan tak mungkin dapat menolong sahabatmu itu," kata seorang nelayan tua.

"Pula, kita harus mendapat pimpinan seorang yang berilmu tinggi, baru dapat bergerak leluasa." kata seorang nelayan muda yang tentu saja memandang rendah kepada Siok Ho. Siok Ho maklum akan isi hati semua nelayan. Kalau tidak diberi hati, tentu saja mereka ini jerih.

"Kawan-kawan, aku bukannya hendak menyombongkan kepandaian, akan tetapi aku pernah belajar ilmu. Kalian ikut hanya untuk mengacaukan pertahanan dan mengalihkan perhatian musuh saja, akulah yang akan bertindak dan turun tangan menolong sahabatku. Harap kawan-kawan percaya dan boleh melihat buktinya! Coba lihat pohon itu. Cukup tinggi, bukan? Pedangku akan mampu membabat ujungnya sampai gundul. Lihat baik-baik"

Setelah berkata demikian. Siok Ho menggunakan ginkangnya melompat tinggi, menangkap cabang pohon dan mengayun tubuhnya ke tempat yang lebih tinggi lagi. Gerakannya demikian cepat dan ringannya sehingga sebentar saja ia sudah tiba di puncak pohon, pedangnya digerakkan membabat dan rontoklah ranting-ranting dan daun-daun pohon itu. Dari bawah para nelayan menonton dengan mulut melongo. Mereka hanya melihat berkelebatnya bayangan nona itu dan kemudian bagaikan seekor kupu-kupu besar nona itu beterbangan mengitari pohon dan. sebentar saja pohon itu telah

menjadi gundul puncaknya!

Sebelum mereka sempat mengikuti gerakan-gerakan Siok Ho, mereka melihat bayangan tubuh melayang turun dan tahu-tahu nona itu telah berdiri pula di depan mereka. Bersoraklah para nelayan. Bangkit semangat mereka menyaksikan kepandaian nona itu. Serentak mereka menyatakan hendak ikut di bawah pimpinan nona yang kosen ini.

Demikianlah, Siok Ho lalu bertukar pakaian pria dan memimpin orang-orang itu. Dia tidak mau berlaku sembrono, tidak mau turun tangan secara membuta dan mengorbankan jiwa para nelayan yang tidak berdosa. Ia hendak menyerbu pada malam hari, melakukan perang gerilya.

Sudah ia rencanakan untuk menyuruh para nelayan menghujankan panah api Untuk membakar perkampungan pasukan selatan itu dan di dalam kepanikan itulah ia hendak bergerak. Ia masih selalu menanti kesempatan baik dan ia bersama para nelayan bersembunyi di tepi sungai, menyamar sebagai nelayan-nelayan biasa yang mencari ikan.

Siapa sangka, terjadilah keanehan ketika seorang nelayan melaporkan kepadanya bahwa tak jauh dari pantai terdapat seorang laki-laki aneh yang dikeroyok hebat. Siok Ho cepat membawa kawan- kawannya ke tempat itu dan telah dituturkan di bagian depan, orang aneh yang dikeroyok itu bukan lain adalah Siok Bun! Tentu saja Siok Ho tadinya terheran-heran melihat Siok Bun berpakaian perwira Kerajaan Beng dan mukanya coreng moreng tidak karuan. Akan tetapi, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menyerbu dan menyuruh kawan-kawannya melepaskan anak panah.

"Bun-ko, mundur dan lari    !" Siok Ho berseru ketika melihat fihak lawan terlampau kuat. Juga ia

memberi tanda supaya kawan-kawannya lari lebih dulu. Hebat sekali sepak terjang para nelayan itu. Biarpun mereka ini terdiri dari orang-orang kasar sederhana, namun mereka bertempur dengan nekat. Dengan ragu-ragu dan kurang puas mereka mentaati isyarat Siok Ho supaya mundur dan melarikan diri. Karena inilah maka di antara enam belas orang nelayan gagah perkasa itu yang hidup tinggal tujuh orang lagi, inipun luka-luka, sedangkan yang sembilan orang gugur dengan senjata di tangan!

Siok Bun dan Siok Ho berbasil melarikan diri, dibawa oleh tujuh orang nelayan yang sudah hafal akan daerah itu, pergi bersembunyi di dalam gua-gua rahasia di tepi sungai. Di sini Siok Bun dan Siok Ho menghaturkan terima kasih kepada mereka, juga penyesalan karena mereka sampai roboh sembilan orang sebagai korban. Akan tetapi para nelayan Itu menyatakan kegembiraan mereka bahwa mereka sudah mendapat kesempatan bertempur di bawah pimpinan orang-orang pandai.

Tiga hari tiga malam Siok Bun dan Siok Ho bersembunyi di gua-gua itu. Siok Ho merawat dan mengobati mereka yang terluka dengan penuh perhatian. la anggap mereka ini kawan-kawan baiknya sendiri dan memberi julukan Huang-ho Chit-tuap (Tujuh Pendekar Huang-ho) kepada tujuh orang nelayan yang masih hidup itu. Selama tiga hari itu, baik Siok Bun maupun Siok Ho dengan segala senang hati memberi petunjuk-petunjuk ilmu silat, bahkan membuat gambaran-gambaran tentang pelajaran ilmu silat yang ditinggalkan kepada mereka.

Pada malam hari ke empat, dengan bantuan para nelayan, Siok Bun dan Siok Ho menyeberangi Sungai Huang-ho. Penyeberangan dilakukan dengan selamat, dan menjelang fajar mereka mencapai tepi sungai sebelah utara. Akan tetapi, begitu mereka mendarat, tahu-tahu mereka sudah dikepung pasukan musuh yang dikepalai oleh Manimoko sendiri! Memang pasukan-pasukan Beng tidak berhasil mencari mereka, akan tetapi Manimoko tidak bodoh,

la maklum bahwa kalau hendak lari sudah tentu sekali Siok Bun lari menyeberang ke utara di mana terdapat kawan-kawannya. Oleh karena itu, ia lalu mendahului menyeberang dan setiap saat memasang penjagaan di tepi sungai sebelah utara untuk mengamat-amati gerak-gerik penyeberangan dua orang yang berhasil meloloskan diri itu. Dugaannya tepat dan pada malam ke empat dua orang buronan itu betul saja menyeberang sehingga dapat disergap pada fajar hari itu.

"Ha-ha-ha, kalian bocah-bocah nakal hendak lari ke manakah?" tegur Manimoko sambil tertawa- tawa mengejek.

Siok Bun dan Siok Ho sambil bergandeng tangan berdiri tegak. Tidak ada jalan lari bagi mereka. Di belakang sungai, di depan dan kanan kiri sudah terkepung musuh yang siap sedia mengeroyok. Dilihat dari sikap mereka yang mengepung, tahulah Siok Bun bahwa Manimoko sengaja mempergunakan pasukan pilihan terdiri dari Ahli-ahli silat yang lumayan.

"Tidak ada jalan lain, buka jalan darah!" bisiknya kepada Sok Ho. Gadis itu tentu saja tidak menjadi gentar. "Kita hidup berdua mati bersama," bisiknya kembali sambil menekan tangan Siok Bun.

Bisikan ini membangkitkan semangat Siok Bun dan cepat pemuda ini mencabut sebatang pedang rampasan. Sayang, senjata kaitannya telah terampas sehingga terpaksa ia menggunakan pedang. Juga Siok Ho Sudah melolos keluar pedangnya. Dengan berdiri berdampingan dua orang muda ini siap-siap menghadapi keroyokan.

"Serbu...! Jangan kasih ampun, bunuh mereka!" bentak Manimoko yang sudah marah sekali. Kini ia hendak membunuh saja dua orang itu, tak perlu membawa Siok Bun hidup-hidup, membawa kepalanya saja ke kota raja sudah cukup baik untuk mencari pahala.

Serbuan itu terjadi bagaikan gelombang Sungai Huang-ho sendiri. Dari kanan kiri gemerlapan tombak, pedang dan golok menghujani dua orang muda itu. Namun Siok Bun dan Siok Ho bukanlah makanan empuk. Sekali mereka memutar pedang, semua serangan itu dapat disampok pergi dan pembalasan mereka sekaligus sudah merobohkan empat orang lawan dalam keadaan mandi darah! Akan tetapi hal ini tidak membuat para pengeroyok menjadi jerih.

Mereka ini memang pasukan pilihan yang tidak takut mati. Sambil memekik-mekik mereka menyerbu lagi di bawah pimpinan Manimoko yang kali ini juga mempergunakan sebatang pedang Jepang yang panjang, dipergunakan dengan kedua tangan seperti orang membacok babi. Tenaganya besar sekali akan tetapi gerakannya sama sekali tak boleh dibilang gesit sehingga serangan-serangan Manimoko selalu mengenai angin kosong.

Betapapun juga, pengeroyokan sekian banyak orang itu membuat Siok Bun dan Siok Ho lambat laun menjadi lelah juga. Apa lagi karena Siok Bun tidak menggunakan senjatanya yang biasa, yaitu sin- kauw. Biarpun ia pernah mempelajari ilmu pedang dari ibunya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio, namun keistimewaan pemuda ini adalah ilmu senjata kaitan warisan ayahnya. Gerakan-gerakannya canggung dan biarpun ia sudah merobohkan banyak orang, sejam kemudian pundaknya terluka oleh tusukan tombak seorang pengeroyok. Siok Ho kaget sekali melihat ini, pedangnya berkelebat dan penyerang yang melukai pundak Siok Bun itu menjerit roboh terkena pedang gadis itu.

"Apa lukamu berat, Bun-ko?" tanya gadis Itu yang sekelebatan melihat darah merah membasahi baju pemuda itu. Sambil menangkis golok dan tombak sekaligus, Siok Bun tertawa.

"Tidak apa-apa, mari kita bertahan terus sampai titik darah terakhir!" Benar-benar hebat dua orang muda itu. Mereka dikeroyok oleh puluhan orang musuh, malah Siok Bun sudah terluka dan Siok Ho sudah lelah sekali. Akan tetapi tidak sedikitpun mereka gentar. Akibat amukan mereka hebat sekali, sudah belasan orang lawan dibinasakan!

Tiba-tiba keadaan para pengeroyok menjadi kacau-balau. Banyak yang roboh dan sebagian besar pula mundur ketakutan. Yang roboh seperti diterjang seekor gajah mengamuk karena kelihatan beberapa orang perwira terlempar ke sana ke mari, malah Manimoko sendiripun tahu-tahu terlempar di dekat kaki Siok Bun yang cepat mengayun kaki dan tewaslah Manimoko oleh tendangan Siok Bun. Ketika dua orang muda itu memandang, ternyata seorang-gadis cantik dengan kedua tangan kosong sedang mengamuk hebat sekali sambil memaki-maki.

"Anjing-anjing hina-dina, rasakan pembalasan nonamu!"

Baiknya para pengeroyok Siok Bun dan Siok Ho sudah mengundurkan diri karena gentar menghadapi amukan orang yang baru datang, kalau tidak tentu kedua orang muda ini bisa celaka. Siok Bun dan Siok Ho ketika melihat orang yang datang mengamuk itu, menjadi pucat sekali dan berdiri bagaikan patung di tempatnya sehingga kalau ada musuh menyerang tentu akan celaka. Mereka berdiri bengong memandang orang yang mengamuk itu seperti otang melihat setan di tengah hari! "Lee Ing. !" Akhirnya Siok Ho dapat mengeluarkan suara dari bibirnya yang pucat, sedangkan Siok

Bun masih saja belum dapat bersuara. Siapa orangnya yang tak akan menjadi kaget dan bingung seperti mereka kalau melihat orang yang tadinya sudah mati kini tiba-tiba muncul di depan mereka? Lee Ing mengerling ke arah mereka, wajahnya merah sekali ketika pandang matanya bertemu dengan Siok Ho yang masih berpakaian pria. Ia menggerakkan tangan kanannya dan robohlah seorang perwira musuh yang berdiri jauh, paling sedikit empat meter dari padanya.

"Tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi?" kata gadis itu yang memang Lee Ing adanya. Kemudian Lee Ing mendahului melompat jauh dan berkelebat menghilang. Siok Bun dan Siok Ho cepat melompat dan lari mengejar.

"Adik Lee Ing, tunggu.   !" Siok Ho berseru dan di dalatn suaranya terkandung isak tangis. Memang

ia menjadi terharu bercampur heran dan girang melihat munculnya gadis yang tadinya sudah dianggap mati itu. Mereka berdua terus mengejar sambil mengerahkan seluruh tenaga ginkang dan memanggil manggil nama Lee Ing. Mereka khawatir takkan dapat mengejarnya, maklum betapa hebat kepandaian nona itu.

Setelah berlari-lari cepat tiga puluh li jauhnya dan memasuki hutan besar, barulah mereka melihat Lee Ing berdiri di pinggir lorong hutan, bersandar pada sebatang pohon besar. Sukar sekali menduga isi pikiran gadis itu pada saat itu. Ia diam saja dan seakan-akan tidak mengacuhkan dua orang muda yang datang berlari-lari menghampirinya.

"Adik Lee Ing...... betul-betul kaukah ini..... kau masih hidup ?" Siok Ho serta-merta menubruk dan

menangisi Lee Ing.

Tadinya Lee Ing memandang marah kepada Siok Ho karena ia masih merasa malu kepada diri sendiri kalau teringat betapa ia telah dapat dipermainkan oleh gadis ini. Akan tetapi melihat sikap Siok Ho demikian sungguh-sungguh, dan memang dasar watak Lee Ing jujur dan gembira, tiba-tiba ia tersenyum lalu menggeleng-geleng kepala dan berkata dengan napas ditarik panjang,

"Sesungguhnya seorang tolol macam aku lebih patut kalau mampus saja," ia mengangkat bangun Siok Ho yang tadinya berlutut memeluk kakinya. "Enci Siok Ho, syukur engkau baik-baik saja."

Siok Ho gembira sekali mendengar suara Lee Ing seperti dulu lagi, la berdiri dan memeluk pinggang Lee Ing, memandang wajah yang cantik itu dengan kagum. "Lagi-lagi kau muncul sebagai dewi penolong Adikku, kau yang sudah mati dapat muncul menolong kami, benar-benar kau seorang dewi kahyangan, tidak pantas menjadi manusia biasa seperti kami "

Lee Ing mencubit dagu Siok Ho. "Bisa saja kau memuji orang. Dasar kau anak nakal!" Sementara itu, melihat sikap dua orang gadis itu begitu manis dan ramah, Siok Bun yang sejak tadi berdebar-debar tegang, sekarang menjadi tenang kembali. Ia melangkah maju dan menjura dengan penuh hormat.

"Souw-siocia, sungguh girang hatiku melihat kau ternyata masih hidup. Lebih-lebih karena kau pula yang telah menolong kami. Terima kasih, nona dan. ke manakah perginya saudara Liem Han Sin?

Aku sudah amat mengkhawatirkan keadaannya ketika ia dulu memanggul... peti matimu   "

Mendengar ini, Siok Ho juga dengan penuh perhatian memandang kepada Lee Ing. Sebaliknya, Lee Ing nampak berduka sekali mendengar pertanyaan ini, ia tidak segera menjawab, melainkan menarik napas panjang lalu cepat sekali ia menghapus dua titik air mata yang menuruni pipinya yang agak pucat. "Dia... dia telah ditawan musuh."

Siok Bun dan Siok Ho tidak kaget mendengar ini, karena memang melihat keadaan mereka dulu, mudah diduga bahwa memang sukar untuk melepaskan diri. Akan tetapi tentu saja mereka juga ikut bingung dan berduka.

"Mengapa kau tidak menolongnya, adik Lee Ing? Dengan kepandaianmu. tentu kau dapat menolongnyal" kata Siok Ho.

Lee Ing menarik napas panjang." Penjagaan terlampau kuat. Dia dibawa ke kota raja dan Tok-ong sendiri dengan kawan-kawannya menjaga siang malam. Dalam keadaan perang seperti ini, kota raja terjaga kuat sekali. Bagaimana aku dapat menerobos ke sana? Andaikata dapat menerobos masuk, juga sukar untuk dapat menolongnya dan setelah dapat menolong juga, bagaimana kami berdua akan bisa meloloskan diri?" Ketika mengucapkan kata-kata ini, Lee Ing nampak bingung dan berduka sekali.

Siok Bun menjadi terharu dan dengan suara keras, dan sikap gagah ia lalu berkata, "Nona Souw, jangan kau khawatir. Bala tentara utara sudah mulai menyerbu dan percayalah, perjuangan kami pasti akan menang. Akan kami hancur leburkan kaum penindas dan para kurcaci itu dan kalau bala tentara kami sudah memasuki Nan-king, tentu saudara Han Sin akan dapat dibebaskan."

"Betul, adik Lee Ing. Dalam masa perang seperti ini, sukar untuk mengurus soal-soal pribadi. Harap jangan kau mengira bahwa tadinya kami tidak ada niat menolong kau dan saudara Liem. Akan tetapi kami anggap bahwa perjuangan lebih penting. Marilah kau ikut kami ke utara, menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan utara pembebas rakyat tertindas. Kelak kita bersama pasti akan menyerbu Nan-king dan jika Thian menaruh kasihan, tentu saudara Liem akan dapat dibebaskan pula."

Lee Ing menggeleng kepala dengan tegas. "Tidak, aku tidak perduli dengan perang. Aku harus pergi menolong Sin-ko. Kalian pergilah memenuhi tugas kalian ke utara. Aku hanya minta sedikit petunjuk darimu, saudara Siok Bun."

"Petunjuk apakah gerangan yang nona butuhkan dariku? Tentu dengan girang akan kulaksanakan permintaanmu."

"Sin-ko ditahan di dalam kota raja. Aku tidak begitu hafal akan keadaan di sana. Kau yang sudah lama membantu ayahmu bekerja untuk negara, tentu kau tahu betul keadaan di sana. Menurut pendapatmu, di manakah kiranya Sin-ko ditahan?"

"Nona Souw, agaknya kau sudah pernah masuk ke sana akan tetapi tidak berhasil mencari saudara Han Sin?" Siok Bun yang cerdik bertanya.

Lee Ing mengangguk. "Sudah dua kali dan selalu gagal aku mencari. Karena itulah maka aku sengaja pergi ke utara untuk bertanya kepada anggauta Tiong-gi-pai. Kebetulan bertemu dengan kau di sini."

Siok Bun menggeleng kepala. "Memang tidak mudah mencari seorang tahanan di Nan-king, nona. Kota raja itu begitu besar, boleh dibilang semenjak para pembesar durna berkuasa, setiap orang pembesar mempunyai penjara sendiri-sendiri di mana mereka menahan atau menyiksa musuh- musuh pribadinya. Apa lagi Auwyang-taijin, dia mempunyai banyak sekali tempat rahasia. Kurasa saudara Han Sin ditahan oleh pembesar terkutuk itu dan... hee, nanti dulu, aku teringat akan perwira she Giam itu!" Siok Ho dan Lee lng memandang penuh perhatian. Memang kepada Siok Ho sendiripun Siok Bun belum sempat menuturkan pengalamannya di dalam kamar tahanan di mana ia bertukar tempat dengan mayat Giam Hoat. Kini dengan singkat ia menuturkan pengalamannya, didengarkan oleh dua orang gadis itu dengan Kagum atas kecerdikannya.

"Nah, menurut penuturan Giam Hoat itu, Auwyang Peng dan kaki tangannya sedang menyembunyikan harta bendanya ke dusun Ki-chun yang terletak di dekat pantai laut di Propinsi Ce- kiang. Bukan hal yang tidak mungkin kalau

saudara Han Sin disembunyikan di sana."

Lee Ing mengerutkan kening. Ia masih ragu-ragu dengan dugaan ini. Untuk apa Auwyang Peng menahan-nahan Han Sin? Apa lagi dibawa jauh-jauh ke dusun itu? la sudah dua kali menerobos kota raja dan mencari-cari, bahkan mencari berita kalau-kalau kekasihnya itu sudah dihukum mati. Akan tetapi hasilnya sia-sia. Tak seorangpun tahu di mana adanya Han Sin. tidak ada yang tahu pula masih hidup ataukah sudah mati. Hatinya sedih sekali dan tak terasa lagi ia menangis!

"Sudahlah, adik Lee Ing. Jangan kau terlalu berduka. Orang baik seperti Han Sin pasti diberkahi Thian. Lebih baik kau ikut kami ke utara dan mari kita puaskan kemarahan kita terhadap musuh yang jahat. Dengan begitu, selain membantu yang benar kaupun sudah membalaskan sakit hati saudara Han Sin."

Sambil terisak-isak Lee Ing menjawab, "Dia., dia tidak memperdulikan keselamatan sendiri... dia sudah tersiksa setengah mati..., semua untuk membelaku..., bagaimana aku bisa tinggal diam saja melihat dia ditahan musuh ?"

"Saudara Han Sin adalah seorang gagah perkasa, seorang patriot sejati! Seperti juga mendiang ayahmu, dia tidak akan ragu-ragu mengorbankan nyawa untuk membela negara. Nona Souw, arwah ayahmu dan juga saudara Han Sin pasti akan tersenyum bangga kalau kaupun mengikuti jejak mereka, berjuang demi kebenaran, untuk membasmi kelaliman dan menolong negara dan rakyat dari kekuasaan para pembesar durna terkutuk macam Auwyang Peng!" kata-kata yang bersemangat dari Siok Bun ini menggores hati Lee Ing. Gadis ini menghapus air matanya lalu tersenyum!

"Kalian benar. Aku tak boleh terlalu lemah. Mari enci Siok Ho, mari kita berjuang bahu-membahu. Mari kita berlumba, bersaing, banyak-banyakan membasmi musuh!"

Siok Ho memeluknya terharu. "Kau tidak lemah, adikku, kau gagah perkasa. Mana orang macam aku sanggup bersaing denganmu? Mari kita berangkat."

Demikianlah, dengan semangat baru, tiga orang muda itu melanjutkan perjalanan menuju ke utara untuk menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan utara dan membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan Kerajaan Beng yang bobrok akibat pengaruh pembesar-pembesar terkutuk.

Bala tentara di bawah pimpinan Raja Muda Yung Lo memang kuat sekali. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa dengan mudah saja pasukan-pasukan dari Peking ini dapat menguasai daerah selatan. Tidak sama sekali. Di setiap daerah dan kota mereka selalu menghadapi perlawanan kuat yang ulet dan terjadilah perang yang cukup ramai dan memakan waktu lama.

Memang kedudukan kaisar di Peking amat lemah, apa lagi semenjak Kaisar Beng pertama, yaitu Ciu Goan Ciang yang berjuluk Thai Cu, sudah meninggal dunia. Kaisar muda, yaitu cucunya yang bernama Cien Wen Ti, boleh dibilang hanya merupakan boneka. Sedangkan Ciu Goan Ciang sendiri, seorang bekas pejuang ulung dan kenamaan, pengusir kekuasaan Mongol, masih dapat dikelabui dan dipermainkan oleh para menteri durna, apa lagi kaisar muda ini.

Boleh dikatakan, apa saja yang disodorkan oleh menteri-menteri durna termasuk Auwyang Peng di depan kaisar muda, terus saja diteken tanpa banyak cekcok lagi! Mau naikkan pajak? Boleh! Mau memaksa rakyat masuk serdadu? Boleh!

Sayangnya keadaan yang amat buruk di kota raja selatan ini tidak banyak diketahui oleh gubernur- gubernur atau jenderal-jenderal yang bertugas menjaga di kota-kota besar. Oleh karena itu, para pembesar itu masih saja setia terhadap Kerajaan Beng-tiauw dan mereka dengan ketulusan hati, dengan kesetiaan seorang patriot sejati terhadap negaranya, mereka ini menjaga wilayah masing- masing dengan kegigihan penuh, mempertahankan setiap jengkal tanah dengan pertaruhan nyawa. Inilah sebabnya mengapa perang antara utara dan selatan ini terjadi ramai dan memakan waktu sampai bertahun-tahun.

Setelah kota Tai-goan jatuh, kota berikutnya yang amat kuat penjagaannya adalah kota An-yang, yang letaknya di ujung utara dari Propinsi Ho-nan. Kota ini dikelilingi tembok tinggi yang amat kuat penjagaannya dan dijaga barisan yang dipimpin oleh seorang jenderal tua bernama Gan Lee Kong. Gan Lee Kong ini biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun terkenal sebagai seorang jenderal yang berwatak keras, berkepandaian tinggi, dan dahulu ia juga kawan seperjuangan dari Ciu Goan Ciang, Souw Teng Wi dan para patriot rakyat lainnya yang bersama-sama berjuang mengusir penjajah Mongol dari tanah air.

Di samping dirinya sendiri yang menjadi seorang ahli perang yang terkenal, juga Gan-goanswe (Jenderal Gan) mempunyai seorang putera yang terkenal ahli panah dan memiliki ilmu silat tinggi melebihi ayahnya. Entah sudah berapa banyak panglima-panglima musuh yang roboh oleh Gan Kun, putera jenderal itu yang baru berusia dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi besar seperti ayahnya, gagah dan tampan membuat banyak dara sering bermimpikan dia.

Akan tetapi tidak hanya kepandaian perang dan silat yang membuat benteng kota An-yang terkenal kuat, terutama sekali karena ayah dan anak itu memiliki siasat-siasat yang lihai, terkenal cerdik dan pandai menjalankan tipu muslihat dalam perang.

Semua keistimewaan yang dimiliki oleh panglima penjaga kota An yang ini sudah diketahui baik oleh pasukan-pasukan utara. Oleh karena itu Panglima Cu Kong Sui sendiri menaruh perhatian besar. Jenderal Gan Lee Kong adalah bekas kawan seperjuangannya dan ia merasa sayang kalau sampai jenderal itu menjadi korban membela kelaliman kekuasaan selatan. Maka untuk menghadapi kota An-yang, Cu Kong Sui sengaja mengutus Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan pasukan istimewanya untuk mengepung kota itu dan ia sendiri menulis surat pribadi untuk Gan Lee Kong.

"Sampaikan dulu suratku kepadanya sebelun kau memukul kota An-yang," pesan Jenderal Cu Kong Sui kepada Siok Beng Hui.

Siok Beng Hui sendiri sudah mendengar akan nama besar Jenderal Gan Lee Kong, maka diam-diam iapun menaruh hati sayang kalau seorang bekas patriot rakyat yang di masa mudanya sudah banyak berjuang demi tanah air dan bangsa sekarang menjadi korban, diperalat oleh orang-orang macam Auwyang Peng dan para pembesar korup yang lain.

Setelah pasukan-pasukannya melakukan pengepungan terhadap kota An-yang, Siok Beng Hui lalu mengirim utusan menyerahkan surat Jenderal Cu Kong Sui kepada Panglima Gan Lee Kong. Isi surat itu hanyalah bujukan Jenderal Cu Kong Sui kepada bekas rekannya agar tidak melakukan perlawanan sambil memperingatkan tentang keburukan pemerintah di selatan. Jenderal Gan Lee Kong memukul meja depannya sampai remuk, membuat utusan itu kaget dan ketakutan. Kemudian jenderal tua tinggi besar ini tertawa.

"Ha-ha-lia, Cu Kong Sui sudah tidak tahu lagi tentang bakti, tidak tahu lagi tentang setia dan tidak tahu tentang aturan. Bakti terhadap negara tiada batasnya, tanpa perhitungan salah atau betul. Kesetiaan terhadap pemerintah tak dapat dirobah pula dengan alasan apapun juga, tetap setia melakukan tugas sesuai dengan jabatannya adalah watak seorang jantan. Satu-satunya aturan bagi seorang panglima hanyalah menyerang atau bertahan, untuk apa ia mengajukan bujukan-bujukan lagi? Kalau bala tentaranya sudah berada di sini dan hendak menyerang, kami sudah siap sedia!" Setelah berkata demikian, tanpa inemberi jawaban tertulis, dia mengusir utusan itu keluar dan utusan itu keluar dari benteng An-yang tanpa diganggu.

Siok Beng Hui menarik napas panjang dan diam diam memuji kesetiaan dan kegagahan Gan Lee Kong, tidak ada jalan lain baginya kecuali mencoba untuk menyerang kota itu. Akan tetapi tidak mudah menyerbu kota ini. Gan Lee Kong yang sudah banyak pengalamannya dalam perang, telah membuat benteng yang amat kokoh kuat. Benteng ini letaknya agak tinggi, dikitari tembok yang tebal dan tinggi. Selain ini, ada terowongan-terowongan yang menembus ke dalam tembok dan para perajurit yang melakukan penjagaan dapat memasang barisan baihok (barisan pendam).

Lima kali sudah Siok Beng Hui dan para perwira lain mencoba untuk melakukan serbuan dari beberapa jurusan, namun selalu gagal, malah banyak perajurit tewas menjadi korban. Pertahanan benteng itu sungguh kuat sekali. Para penyerbu tidak saja menghadapi hujan anak panah, malah jenderal tua yang lihai itu menjalankan siasat menghujani musuh dari atas tembok benteng dengan api, batu, malah menggunakan air panas!

Beberapa kali Siok Beng Hui yang menjadi marah menantang perang di depan benteng, akan tetapi sambil tertawa lebar terdengar suara Jenderal Gan Lee Kong dari atas tembok benteng.

"Ha-ha-ha, Siok Beng Hui. Kau bocah kemarin sore hendak menipu aku? Ha ha-ha! Kau mengandalkan besarnya pasukan dan banyaknya ahli-ahli silat yang membantumu maka kau menantang perang terbuka. Kalau kau ada kepandaian dan kekuatan, boleh gempur bentengku ini. Majulah! Apa pasukanmu sudah begitu pengecut hingga tidak berani lagi menyerbu?"

Panas hati Siok Beng Hui. Betapapun juga ia menantang, tetap saja Gan Lee Kong tidak mau melayaninya.

"Tua bangka!" gerutu Siok Beng Hui dengan hati mengkal. Memang sukar untuk menggempur benteng yang amat kuat itu. Tidak ada lain jalan baginya, kota itu harus dikurung terus sampai musuh kehabisan ransum. Sebulan lebih pasukannya mengepung dan mematikan lalu lintas kota dengan luar tembok. Kota itu praktis mati. Akan tetapi anehnya, di dalam kota setiap malam terdengar suara musik, seakan-akan semua penduduk bersenang-senang dan tidak khawatir apa- apa! Dan sama sekali belum nampak tanda-tanda bahwa kota itu akan kehabisan makanan.

Hal ini tidak mengherankan. Sebelum bala tentara utara datang menyerang kota An-yang, Panglima Gan Lee Kong yang waspada itu sudah memenuhi semua gudang yang ada di kota itu dengan ransum kering. Bahkan semua penduduk di kota dipaksa suruh menyimpan bahan makanan sehingga jangankan baru sebulan, biar dikepung setahun agaknya kota itu takkan kehabisan makanan!

Dua bulan kemudian Siok Beng Hui mengirim utusan untuk menawarkan supaya Gan Lee Kong menyerah, akan tetapi panglima tua itu marah-marah dan mengusir utusan itu dengan ucapan- ucapan mengejek dan memaki-maki. Siok Beng Hui mulai habis kesabarannya. Tidak ada jalan lain, kecuali harus menghujankan panah api ke dalam kota. Tadinya dia kurang setuju dengan siasat ini karena maklum bahwa dengan jalan ini rumah-rumah di dalam kota akan terbakar dan ini berarti bahwa penduduk banyak yang menjadi korban. Akan tetapi, karena sikap Gan Lee Kong yang tidak mau mengalah, terpaksa ia hendak menjalankan penyerangan, panah api di waktu malam.

Dan tepat pada senja harinya datanglah Lee Ing, Siok Bun, dan Siok Ho di markasnya. Bukan main girangnya hati Siok Beng Hui karena bala bantuan ini, terutama Lee Ing, amat besar artinya. Lagi pula ia makin girang melihat puteranya pulang membawa Siok Ho yang sekarang ternyata sudah "berubah" menjadi seorang gadis jelita dan agaknya saling menyinta dengan puteranya.

Ketika mendengar bahwa ayahnya hendak menghujankan panah api ke kota An-yang itu, Siok Bun mengerutkan kening tanda tidak setuju.

"Ayah, penduduk kota yang tidak berdosa mengapa harus dikorbankan? Apakah tidak ada jalan lain untuk mengalahkan Panglima Tua Gan Lee Kong?"

"Sukar sekali. Penjagaan dan bentengnya amat kuat, tak mungkin dapat digempur. Ditantang perang di tempat terbuka ia tidak mau. Benar-benar panglima tua yang ulet dan sukar dikalahkan," kata Siok Beng Hui sambil menari k napas panjang.

Tiba-tiba penjaga melapor bahwa ada utusan dari markas besar Jenderal Cu Kong Sui datang. Cepat Siok Beng Hui menerima utusan ini dan ternyata utusan itu membawa sepucuk surat dari The-taijin. Siok Beng Hui berdebar hatinya. The-taijin adalah The Ho, seorang cerdik pandai yang selalu membantu pergerakan Raja Muda Yung Lo, seorang yang berilmu tinggi. Dengan tangan menggigil saking tegangnya ia membuka surat itu. Ternyata bahwa keadaannya telah diketahui oleh Jenderal Cu Kong Sui dan jenderal ini bersama The Ho sendiri juga mengharapkan supaya panglima tua she Gan itu dikalahkan dengan siasat.

"Cari orang pandai," demikian nasihat The-taijin, "suruh menyelundup ke dalam kota, biarkan dirinya tertangkap, lalu buka rahasia bahwa kota akan dibumi-hanguskan. bujuk Gan supaya menggunakan siasat menangkap Siok Beng Hui, pergunakan perangkap seperti yang pernah dipergunakan oleh siasat Lauw Pi." Siok Beng Hui mengangguk-angguk. Setelah membalas surat itu menyatakan terima kasih dan berjanji mentaati perintah, ia lalu mengadakan perundingan dengan Lee Ing, Siok Bun dan Siok Ho.

"Tidak mudah memasuki kota, kecuali kalau memiliki kepandaian tinggi," kala Siok Beng Hui, matanya melirik Lee Ing karena orang tua ini merasa yakin bahwa hanya Lee Ing seorang yang akan mungkin menerobos kota itu mempergunakan kepandaiannya. "Sayang tidak ada perajurit atau panglima yang setinggi itu kepandaiannya."

"Siok-lopek, kalau kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. Aku bersedia membantumu," kata Lee Ing yang tentu saja mengerti akan maksud kerlingan itu. Siok Beng Hui menarik napas panjang.

"Memang hanya dengan kepandaian seperti yang kau miliki itu saja orang akan dapat memasuki kota An-yang, akan tetapi sayang kau seorang wanita.."

"Apa salahnya?" Lee Ing penasaran. "Apakah wanita kalah harganya oleh lelaki?"

"Bukan begitu maksudku, nona Souw. Akan tetapi tugas ini memang tugas seorang pria. Dia harus memasuki kota, kemudian membiarkan dirinya ditangkap. Semua ini hanya siasat yang telah diatur oleh The-taijin, dan siasat yang diatur oleh The-taijin tak pernah meleset, apa lagi sudah diperhitungkan masak-masak berdasarkan pengetahuan luas dan sudah mengenal watak-watak Panglima Tua Gan Lee Kong."

Lee Ing melirik Siok Ho yang rnasih berpakaian pria. Ia mendapat pikiran bagus sekali. "Dia ini," ia menuding kepada Siok Ho, "dulunya tak seorangpun tahu dia wanita. Akupun dapat menyamar menjadi pria seperti dia. Enci Ho, kau harus ajari aku bagaimana menyamar sebagai pria." Siok Ho tersenyum dan Siok Beng Hui menepuk jidatnya.

"Mengapa tidak? Dengan menyamar sebagai pria, orang tidak mencurigaimu. Dan andaikata kau gagal, jika tua bangka she Gan itu tahu kau wanita, aku tanggung dia takkan membolehkan orang menganggumu. Aku sudah kenal betul wataknya."

Dengan bantuan Siok Ho, Lee Ing lalu menyamar sebagai seorang pria. Lubang daun telinganya ditutup dengan semacam bedak kuning, alisnya ditambah tebal dan ketika keluar dari kamar, Lee Ing telah berubah menjadi seorang pemuda yang amal ganteng! Siok Bun bertepuk tangan memuji dan Siok Beng Hui mengangguk-anggukkan kepala tanda puas.

Kemudian Lee Ing dengan penuh perhatian mendengarkan pesan-pesan dari Siok Beng Hui tentang siasat-siasat yang harus ia jalankan di dalam kota An-yang. Setelah menitipkan Li-lian-kiam kepada Siok Ho, pada malam hari itu Lee Ing berangkat melakukan tugasnya. Malam itu gelap sekali, keadaan yang amat baik dan tepat bagi Orang yang hendak menerobos memasuki benteng yang terjaga kuat. Setelah melakukan pemeriksaan sambil menyusup di antara pohon-pohon di luar tembok kota, Lee Ing mendapat kenyataan bahwa penjagaan di benteng itu betul-betul amat kuat. Pantas saja sekian lamanya Siok Beng Hui belum juga berhasil membobolkannya.

Biarpun malam itu gelap sekali, namun setiap sepuluh meter di atas tembok benteng itu digantungi lampu penerangan yang besar sehingga setiap percobaan orang luar untuk mencuri masuk dengan memanjat tembok, akan mudah terlihat dari tempat penjagaan dan tentu orang itu akan terpanah sebelum sampai di atas, Lee Ing tahu bahwa dengan ginkangnya, dibantu enjotan pada cabang pohon yang tumbuh di luar tembok, kiranya ia masih sanggup mencapai tembok. Akan tetapi tentu ia ketahuan dan usahanya memasuki kota akan gagal kalau ia dikeroyok dan dihujani anak panah.

Terpaksa Lee Ing kembali ke markas Siok Beng Hui dan minta bantuan lima orang ahli panah yang pandai. Dengan sembunyi, lima orang ini memasang anak panah dan atas isarat Lee Ing, mereka melepaskan anak panah-anak panah ke arah lampu-lampu di sepanjang tembok penjagaan bagian timur di mana banyak tumbuh pohon-pohon besar di luar tembok. Lee Ing sendiri mempergunakan dua buah batu menyambit dua lampu penerangan. Sekaligus tujuh buah lampu padam.

Geger di atas tembok dan seketika itu juga dari tembok hujan anak panah, batu dan air panas!

Sekiranya dalam keadaan gelap itu tentara-tentara

utara mencoba memanjat tembok, tentu mereka ini akan mati terpanah, tertimpa batu atau tersiram air panas! Hebat bukan main penjagaan di situ. Lima orang ahli panah itu sesuai dengan rencana Lee Ing, cepat mundur sambil melepaskan anak-panah-anak panah gelap yang ternyata ada hasilnya pula, karena terdengar pekik kesakitan di atas tembok.

Penjagaan menjadi makin kuat, di atas tembok dipasangi lampu-lampu lagi. Akan tetapi di sekeliling bawah dan luar tembok sunyi Saja! Semua penjaga terheran-heran karena tak melihat seorangpun musuh di luar tembok. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa di dalam kegelapan dan keributan tadi, bagaikan seekor burung besar, Lee Ing sudah meloncat ke atas pohon, mengenjot dari cabang pohon ke atas tembok, terus menyelinap dan melompat ke dalam! Kalau saja keadaan tidak sedang panik di dalam tembok, tentu perbuatannya akan kelihatan orang. Memang ada penjaga-penjaga yang melihatnya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia dikira kawan mereka dan tak seorangpun memperdulikan apa yang terjadi di dalam, seluruh perhatian dicurahkan keluar tembok. Memang cerdik sekali siasat Lee Ing ini dan menjelang pagi ia sudah tidur-tiduran di dalam sebuah gudang tua yang penuh gandum.

Pada keesokan harinya, sebelum ada orang membuka pintu gudang, ia sudah keluar lagi dari gudang itu melalui lubang di genteng, dan di lain saat, seorang pemuda ganteng sudah berjalan-jalan di antara orang banyak yang hilir mudik di dalam keramaian kota terkurung itu. Benar-benar hebat sekali panglima tua menjaga semangat penduduk kota. Dilihat dari dalam, kota itu seakan-akan tidak apa-apa, penduduknya masih bekerja seperti biasa dan tidak nampak kekhawatiran apa-apa.

Akan tetapi, di balik ini semua, Lee Ing dapat merasakan ketegangan yang mencekam hati para penduduk. Yang mengagumkan adalah para penjaga dan tentara yang kelihatan berdisiplin, berwajah sungguh-sungguh dan penuh semangat, sama sekali tidak merupakan gangguan bagi penduduk kota seperti lajimnya dilakukan sebagian tentara. Keadaan seperti ini saja sudah membuktikan bahwa pasukan-pasukan itu dipimpin oleh seorang yang pandai dan berwibawa.

Hebatnya kota yang terkurung selama dua bulan itu, hampir tiga bulan, masih belum memperlihatkan tanda-tanda kekurangan makan. Malah masih ada rumah makan besar yang dibuka! Hanya di situ agak sunyi. Lee Ing tanpa ragu-ragu memasuki rumah makan dan memesan makanan dengan suara nyaring, la tidak tahu bahwa rumah makan ini merupakan siasat bagi Gan Lee Kong. Panglima ini sengaja membuka restoran itu untuk menjaga kalau-kalau ada mata-mata musuh yang berhasil memasuki kota, untuk memperlihatkan kepada musuh bahwa biarpun dikurung kota ini masih belum membutuhkan bantuan ransum.

Biarpun Lee Ing tidak menduga akan hal ini, namun ia tahu bahwa memasuki rumah makan ini merupakan bahaya baginya, seakan-akan menonjolkan diri. Akan tetapi ini memang ia sengaja karena sudah termasuk tugasnya untuk membiarkan diri diketahui kemudian menyerah supaya ditangkap dan dihadapkan kepada Gan Lee Kong! Penjagaan kota An-yang memang kuat sekali. Begitu Lee Ing memperlihatkan diri di jalan umum tadi ia sudah diikuti oleh lima orang secara berpencar. Begitu ia muncul, mata yang tajam dari pada para petugas sudah taliu bahwa dia itu bukan penduduk An-yang maka diam-diam ia diikuti terus.

Lebih yakin lagi para mata-mata itu bahwa pemuda ganteng itu tentulah seorang mata-mata musuh ketika Lee Ing memasuki rumah makan itu, karena tidak mungkin kalau penduduk An-yang memasuki restoran itu begitu saja. Biasanya yang memasuki restoran hanyalah petugas-petugas tinggi yang tidak sempat pulang makan karena kesibukan tugasnya!

Lee Ing dibiarkan makan sampai kenyang dan gadis inipun tahu bahwa diam diam telah ada dua belas orang memasuki restoran itu dan mereka sengaja berpencar menduduki bangku-bangku mengelilinginya. Akan tetapi Lee Ing tenang-tenang saja, malah sambil makan ia iersenyum-senyum mengejek. Setelah ia selesai makan sampai kenyang dan baru saja minum araknya, terdengar gemerincing suara senjata dan tahu-tahu dua belas orang itu sudah menghunus senjata mengurungnya!

"Kau ini orang mana dan bagaimana bisa masuk kota? Hayo mengaku dan menyerah saja sebelum kami menggunakan kekerasan!" bentak salah seorang di antara mereka yang berkumis lebat. Dengan seenaknya Lee Ing menaruh kembali cawan araknya di atas meja, lalu melirik ke kanan, ke arah orang yang menegurnya tadi. "Aku orang luar kota dan mengapa kalian masih bertanya bagaimana aku bisa masuk? Bu kankah kalian penjaganya? Salahmu sendiri tidak melihat aku memasuki An-yang!"

"Dia mata-mata, musuh! Tangkap! Bunuh!" teriak para penjaga itu dan golok pedang gemerlapan mengancam.

"Cring.... cring... cringggg....!" Suara nyaring ini disusul pekik kesakitan dan semua orang mundur saking kagetnya. Ternyata Lee Ing telah menyambar sumpit yang dipakainya makan tadi dari atas meja dan dengan tangkisan sumpit ini beberapa batang golok dan pedang kena dibikin terlepas dari pegangan para pengeroyok.

"Aku memang mata-mata utara!" katanya gagah dengan sikap menantang sambil menatap tajam orang-orang yang masih mengurungnya akan tetapi dari jarak agak jauh itu. "Akan tetapi kalau aku berniat buruk, apa aku sudi makan di sini dan apakah aku tinggal diam saja tidak melakukan pengacauan? Apa sih sukarnya membunuh-bunuh orang macam kalian? Dengar baik-baik, aku datang dengan maksud baik, hendak menolong kota ini. Maka biarkan aku bertemu dengan Jenderal Gan Lee Kong!"

"Siapa percaya obrolan mata-mata musuh?" bentak pemimpin yang kumisan tadi dan kembali belasan orang itu maju mengeroyok. Malah ada kursi-kursi yang dilontarkan ke arah Lee Ing.

"Kalau tidak diberi hajaran kalian tidak kapok!" bentak Lee Ing dan tubuhnya berkelebat ke sana ke mari. Di mana bayangannya sampai, terdengar pekik kesakitan, pedang atau golok jatuh dan orangnya berdiri kaku tertotok. Sudah enam orang dibikin tak berdaya oleh Lee Ing dalam sekejap mata saja dan tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"Para penjaga, mundur.!"

Orang-orang yang tadinya hiruk-pikuk dan sibuk menyerang Lee Ing, begitu mendengar bentakan yang berpengaruh ini. seketika melompat mundur dan berdiri tegak penuh hormat dan taat di pinggir, memberi jalan kepada orang yang membentak tadi. Lee Ing mengangkat muka dan melihat seorang pemuda tinggi tegap berwajah gagah, berpakaian seperti orang peperangan, berjalan masuk dengan langkah tegap. Di tangan kiri pemuda gagah ini memegang sebatang busur dengan tali urat harimau, di punggungnya terikat tempat anak panahnya. Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang panjang dengan sarungnya yang terukir indah.

"Benar-benar seorang pemuda yang hebat, tampan dan gagah sekali. Akan tetapi yang lebih menarik perhatian Lee Ing adalah seorang tua yang berjalan di sebelah pemuda ini. Orangnya sudah tua, akan tetapi pakaian dan topinya berwarna merah! Seorang kakek tua dengan warna pakaian yang biasanya hanya disuka oleh gadis-gadis muda. Kakek tua ini seperti badut dan di pinggangnya tergantung sebuah kantong besar seperti yang biasa dibawa tukang-tukang obat.

Biarpun kepada dua orang ini Lee Ing belum pernah bertemu, dan biarpun si pemuda itu jelas sekali kelihatan sebagai seorang gagah perkasa yang memiliki kepandaian tinggi, namun sekilas pandang saja tahulah Lee Ing bahwa ia harus lebih waspada dan hati-hati menghadapi kakek jubah merah seperti badut itu.

"Kau ini siapakah berani membikin ribut di Sini? Apa betul pengakuanmu tadi bahwa kau mata-mata dari utara? Jawab yang betul, sobat, hal ini tak boleh dibuat main-main!" kata pemuda gagah itu dengan halus tetapi keren.

"Aku bernama Hong, she Oei," jawab Lee Ing secara sembarangan saja. "Siapa orangnya yang main- main? Dibilang mata-mata utara, boleh juga karena memang aku baru saja keluar dari markas besar bala tentara yang mengurung kota ini. Dibilang bukan, juga boleh karena datangku ini sesungguhnya karena menaruh kasihan kepada penduduk kota An-yang dan berusaha menolong mereka. Akan tatapi tentang hal ini, aku hanya mau bicara sendiri dengan jenderal yang menguasai kota ini. Apakah kau jenderalnya?"

"Jenderal Gan Lee Kong adalah ayahku, aku Gan Kun. Tidak sembarang orang boleh menjumpai ayah. Kalau kau betul dari luar tembok, bagaimana kau bisa masuk?" Lee Ing tersenyum dan pemuda ganteng itu harus kagum menyaksikan deretan gigi yang putih seperti mutiara.

"Malam tadi penjagaanmu dikacau, lampu-lampu padam dan hujan anak panah. Aku melompati tembok, siapa yang melihatku?" Gan Kun mengerutkan keriing, diam-diam marah kepada para penjaganya. Akan tetapi diapun ragu-ragu. Betulkah pemuda remaja yang tubuhnya tak berapa besar, lebih patut disebut setengah kanak-kanak ini, memiliki kepandaian setinggi itu?

Tiba-tiba orang tua yang berjubah merah itu tertawa terkekeh. "Anak ini lucu, tetapi harus diakui ketabahannya. Nyalinya besar sekali. Bocah, kepandaian apakah yang kau andalkan maka kau berani bersikap begini? Sekali saja Gan-ciangkun ini memberi tanda, tubuhmu akan hancur lebur di bawah ribuan senjata."

Lee Ing melirik dan maklum bahwa ucapan ini bukan gertak sambal. Tempat itu sudah terkurung rapat dan memang tak mungkin baginya untuk dapat lolos dari ribuan orang tentara itu. Akan tetapi ia berlaku tenang dan tersenyum.