-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 19

Jilid 19

Bu Kam Ki lalu menceritakan tentang perbuatan Giam Loan yang membunuh calon mantunya bersama Ciong Sek, hanya karena calon mantunya itu menolak untuk diajak bermain kotor oleh wanita cabul itu. Kemudian ia menceritakan pula tentang usaha Han Sin hendak menolong mereka akan tetapi malah akhirnya hendak diracuni dan dijadikan korban nafsu kebinatangan suami isteri keparat itu. Semua ia tuturkan dengan jelas.

"Pemuda yang kau lukai inilah yang bernama Liem Han Sin." Bu Kam Ki menutup penuturannya.

Ang Sinshe nampak terkejut. Tak disangkanya bahwa Ciong Thai dan isteri serta adiknya mempunyai kesalahan demikian besarnya, la memandang ke arah Bu Kam Ki dan Han Sin dengan pandang mata penuh selidik. Ia sudah terlanjur membela murid-murid keponakannya, bahkan sudah terlanjur melukai Han Sin dan Siok Beng Hul. Ia merasa malu untuk mundur, maka dengan nekat ia berkata.

"Bu Kam Ki, ada peribahasa kuno yang menyatakan bahwa mengakui kesalahan sendiri lebih sukar dari pada melihat punggung sendiri. Mana di dunia ini ada orang berani mengakui kesalahannya? Ceritamu memang bagus, akan tetapi setelah tiga orang ini mati, bagaimana aku bisa memeriksa kebenarannya? Boleh jadi kau masih belum tentu membohong, akan tetapi orang muda ini yang bernama Han Sin, siapa bilang dia tidak membohong dan memfitnah murid-muridku?"

Bu Kam Ki mengangkat dada, sikapnya Angkuh dan keren. "Ang Sinshe, pernahkah kau mendengar aku orang she Bu berbohong? Apa yang kuceritakan kepadamu tadi semua benar dan aku berani mempertaruhkan nyawaku untuk kebenarannya. Adapun orang muda ini, dia adalah Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu, juga dia sudah dipercaya menjadi utusan dan petugas Tiong-gi-pai. Mana boleh diduga ia membohong? Pendeknya, semua kesalahan sehingga kematian tiga orang ini adalah karena perbuatan mereka sendiri yang tidak patut dan kau sekarang setelah mendengar penjelasannya, apakah masih hendak membela?"

Ang Sinshe ragu-ragu, akan tetapi kalau ia mundur sama halnya dengan ia menyatakan takut terhadap Pek-kong Sin-ciang.

"Bu Kam Ki, tidak perduli siapa yang betul dan siapa yang salah, yang jelas mereka bertiga orang- orang muda ini tewas karena pukulanmu, oleh karena itu harus kubela. Akan tetapi oleh karena akupun meragukan kebenaran mereka, biarlah kita main-main sebentar. Kalau aku kalah, sudahlah aku tidak akan menarik panjang dan luka-luka muridmu dan pemuda itu akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau kau tidak bisa memenangkan aku, anggap saja kematian dua orang yang kulukai itu sebagai pengganti kematian murid-murid keponakanku."

BU Kam Ki terkejut sekali. Tadi ketika ia memeriksa luka totokan di lambung muridnya dan luka cengkeraman di pundak Han Sin, memang ia Sudah menduga bahwa kakek jubah merah itu menggunakan hawa beracun yang jahat. Sebagai seorang ahli pengobatan, tentu saja Ang Sinshe pandai mempergunakan racun. Sekarang mendengar omongan Ang Sinshe, tak dapat diragukan lagi bahwa memang nyawa Siok Beng Hui dan Hari Sin terancam bahaya maut.

"Ang Sinshe, tantanganmu ini memang cukup adil. Majulah!"

Dua orang kakek tua itu saling berhadapan penuh kewaspadaan dan siap siaga bagaikan dua ekor ayam jago sedang berlagak hendak saling terkam. Siok Beng Hui dan Han Sin menahan rasa sakit, menonton pertandingan itu dehgan hati berdebar. Hanya Ciong Swi Kiat bocah gundul itu yang duduk dengan muka penuh kesedihan dan menunggu mayat ayahnya yang sudah Ia angkat ke pinggir.

Setelah mengukur wibawa masing-masing dengan pandang mata, dua orang kakek itu mulai bergerak. Pertama-tama Ang Sinshe yang menyerang lebih dulu, menggerakkan dua lengannya dan sekaligus dua tangan dan ujung lengan baju menyerang dengan hebat ke arah empat bagian tubuh yang berbahaya dari Bu Kam Ki, Kakek berpakaian nelayan tua ini maklum akan kehebatan Serangan lawan, cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis dengan Pek-kong Sin-ciang. Ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu, akan tetapi tidak urung kuda-kuda kakinya tergempur juga, membuat Bu Kam Ki terhuyung ke belakang tiga langkah. Akan tetapi dengan amat cepatnya Bu Kam Ki mengirim serangan balasan, memukul dengan Pek-kong Siu-ciang. Hawa pukulan yang dahsyat menyambar, membuat debu tanah berhamburan.

Ang Sinshe sudah bersiap siaga. Ia mengebutkan kedua lengan bajunya sambil mengerahkan Iweekangnya. Akan tetapi terdengar suara "brettl" dan ternyata dua ujung lengan bajunya menjadi hancur dan dia sendiri terhuyung sampai lima langkah ke belakang.

Muka Ang Sinshe menjadi semerah warna jubahnya. Dalam segebrakan ini saja sudah dapat diukur bahwa tenaga dalam. Bu Kam Ki memang setingkat lebih tinggi dari pada tenaganya. Akan tetapi, mana dia mau mengalah begitu mudah? Sambil mengeluarkan suara ketawa aneh, ketawa yang mengandung hawa khikang, kakek baju merah itu menyerbu, kini menggunakan kedua tangan yang sudah mulur panjang seperti sepasang tangan raksasa.

Ia menggunakan keuntungan tangan panjang ini untuk menyerang dengan gerak cepat, tidak memberi kesempatan kepada Bu Kam Ki untuk mempergunakan ilmu pukulan Pek-kong Sin-ciang jarak jauh. Pendeknya, kakek jubah merah yang cerdik ini tidak mau menggunakan pertempuran mengadu tenaga, akan tetapi hendak mencari kemenangan mengandalkan kecepatannya.

Akan tetapi ia kecele kalau mengira akan dapat mengalahkan Bu Kam Ki dengan cara ini. Bu Kam Ki adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, juga selama ia tidak muncul di dunia kang- auw, dia tidak menyia-nyiakan. kepandaiannya, malah sering kali dilatih dan ditambah mana yang dirasa kurang sempurna. Oleh karena itu, menghadapi serangan hebat ini ia dapat mengimbanginya. Terjadilah perang tanding yang amat seru dan cepat, membuat Han Sin dan Siok Beng Hui memandang kagum dan lupa akan rasa sakit yang diakibatkan oleh luka-luka mereka.

"Ang Sinshe itu lihai sekali..." kata Han Sin kagum. "Akan tetapi suhu pasti akan dapat mengatasinya," kata Siok Beng Hui dengan suara tetap. Ia udah tahu akan cara bertempur suhunya dan karenanya ia merasa yakin bahwa akhirnya suhunya gkan menang.

Memang tidak berkelebihan keyakinan hati Siok Beng Hui ini. Setelah pertempuran berlangsung empat puluh jurus lebih, kelihatan bahwa Bu Kam Ki mulai dapat mendesak lawannya. Sungguhpun tidak mudah bagi kakek sakti ini untuk mengalahkan lawannya yang tangguh, akan tetapi perlahan- lahan ia mulai membuat Ang Sinshe kewalahan sekali.

"Bu Kam Ki, kau makin tua makin lihai!" kata Ang Sinshe sambil terengah mengatur napas ketika ia melompat mundur. Kemudian ia mengeluarkan serangannya yang terakhir, yang paling dahsyat, yaitu dengan serudukan kepala. Ilmu menyerang seperti ini hanya terdapat dalam kalangan ahli silat golongan Hek-to, karena orang-orang gagah tidak sudi mempergunakannya. Akan tetapi jangan dipandang remeh penyerangan dengan kepala, ini, karena seluruh hawa sinkang dikumpulkan di kepala dan jarang ada orang sanggup menerima serudukan kepala Ang Sinshe!

Melihat ini, Bu Kam Ki menjadi marah. Kalau ia mau, tentu ia dapat mengelak. Akan tetapi ia tidak mau dianggap takut menghadapi serangan terakhir ini. Malah dengan menantang sekali ia melembungkan perutnya untuk menerima serudukan kepala Ang Sinshe!

"Capp!" Kepala itu menancap pada perut Bu Kam Ki dan tak dapat dicabut kembali. Keduanya mengerahkan tenaga dalam, pertempuran mati-matian terjadi dalam keadaan yang amat lucu itu. Kalau Bu Kam Ki tidak kuat, isi perutnya akan rusak berantakan oleh hawa serudukan kepala Ang Sinshe. Sebaliknya kalau Ang Sinshe yahg tidak kuat isi kepalanya akan terguncang dan rusak.

Baiknya Bu Kam Ki bukan seorang yang berhati kejam Melihat perbandingan tenaga Iwee-kang, kiranya Ang Sinshe akan tamat riwayat hidupnya kalau Bu Kam Ki mau berlaku kejam dan meremukkan kepala lawan dengan gencatan perutnya. Akan tetapi sebaliknya Bu Kam Ki yang tadi mengempiskan perut menerima serudukan kepala, kini mengeluarkan pekik keras dan perutnya dibesarkan. Bagaikan didorong oleh tenaga dahsyat, tubuh Ang Sinshe terpental ke belakang dan jatuh berdebuk dalam keadaan duduk.

Tabib jubah merah ini terduduk dalam keadaan masih bileng (pusing), matanya mendadak menjadi juling dan mulutnya peot, kepalanya bergoyang-goyang seperti mendadak ada gempa bumi. Ia cepat-cepat meramkan mata dan mengatur pernapasannya. Perlahan-lahan jalan darahnya normal kembali dan pikirannya menjadi jernih. Ia membuka matanya, menarik napas panjang lalu merayap bangun dengan tubuh lemas.

"Pek-kong Sin-ciang memang hebat. Aku mengaku kalah. " katanya.

"Ang Sinshe sungguh berlaku sungkan dan mengalah. Kepandaianmu juga hebat sekali," kata Bu Kam Ki sejujurnya.

Memang, kalau dia tidak memiliki lweekang yang setingkat lebih tinggi dari pada lawannya, akan sukar sekali untuk mengalahkan tabib ini. Ang Sinshe lalu mengeluarkan obat-obat dari saku bajunya yang lebar dan memberi obat bubuk berwarna pulih untuk ditapalkan di pundak Han Sin dan obat merah untuk diminum oleh Siok Beng Hui.

Bu Kam Ki sudah mengenal watak Ang Sinshe, yaitu biarpun dia tergolong kaum Hek-to, akan tetapi amat menjunjung tinggi ilmu pengobatan, maka segala macam obat yang dikeluarkan oleh Ang Sinshe, amat boleh dipercaya. Dalam hal pengobatan, Ang Sinshe boleh disejajarkan dengan Koai Yok Sian Si Dewa Obat yang gila di Thien-mu-san di dekat Nan-king. Karena percaya bahwa obat-obat yang diberikan tentu akan menyembuhkan dua orang itu. Bu Kam Ki menghaturkan terima kasih lalu mengajak pergi Han Sin dan Siok Beng Hui.

Ang Sinshe dibantu oleh Ciong Swi Kiat lalu mengurus mayat Ciong Thai, Ciong Sek dan Giam Loan, dikubur di tempat itu juga. Adapun Bu Kam Ki setelah mendengar penuturan Siok Beng Hui bahwa dua orang bekas sahabat baiknya, yaitu Tok-pi Sin kai dan lm-kan Hek-mo, juga melakukan pengejaran terhadap Souw Teng Wi, lalu menghela napas dan berkata,

"Agaknya dua orang saudaraku Itu masih penasaran karena kekalahan kami puluhan tahun yang lalu oleh Bu beng Sin-kun. Mlereka keliru dan hanya menuruti nafsu hati. Baiklah, biarlah, biar aku ikut turun gunung dan mencegah mereka melakukan hal-hal yang memalukan. Souw-taihiap tidak boleh diganggu!"

Demikianlah, Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki bersama Han Sin dan Siok Beng Hui lalu berangkat ke utara dan akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi terculik, mereka melakukan pengejaran dan sampai di Ta-pie-san, di mana Bu Kam Ki sempat menyaksikan dua orang sahabat baiknya itu kalah oleh Lee Ing sehingga Tok-pi Sin-kai membuntungi sendiri tangannya yang tinggal sebelah dan Im- kan. Hek-mo membikin buta matanya sendiri! Dapat dibayangkan pula betapa girang hati Han Sin melihat Lee Ing di situ, girang tercampur duka dan terharu karena ayah gadis itu, Souw Teng Wi, ternyata telah tewas di Bukit Ta-pie-san.

Setelah mengikuti perjalanan Han Sin sampai pemuda itu tiba di Ta-pie-san, mari sekarang kita menengok perjalanan Siok Bun dan Oei Siok Ho, karena dua orang pemuda ini datang di Ta-pie-san bersama-sama, tak lama setelah Han Sin tiba di situ.

Seperti telah diketahui, seperti juga halnya Liem Han Sin, pemuda tampan gagah murid Kun-lun-pai Oei Siok Ho juga mendapat tugas menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan di sepanjang Sungai Kan-kian. Berbeda dengan Han Sin yang mengalami banyak hal mengesankan, adalah Siok Ho tidak menemui rintangan apa-apa. Para orang gagah yang ditemuinya rata-rata amat menghargai undangan dan ajakan Tiong-gi-pai dan menyatakan kesediaan mereka membantu kelak apa bila masanya tiba. Mereka Ini rata-rata memang tidak suka melihat kelemahan kaisar yang menyerahkan segalanya ke dalam tangan para menteri durna.

Akan tetapi perjalanan yang dilakukan oleh Oei Siok Ho amat lambat karena dia memang tidak tergesa-gesa dan melakukan perjalanannya sambil menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang jalan. Inilah sebabnya maka ketika ia mulai menuju ke utara, Han Sin sudah lebih dulu melakukan perjalanan cepat bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki.

Pada suatu hari, ketika Siok Ho sedang berjalan memasuki kola Leng-bun, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda cepat keluar dari kota itu. Keadaan sudah menjelang senja, di situ sunyi dan cuaca sudah remang-remang sehingga Siok Ho tidak segera mengenal pemuda itu. Akan tetapi sebenarnya pemuda itu segera mengenalnya karena menahan kudanya dan berseru memanggil,

"Oei-hiante (adik Oei)...!"

Siok Ho memandang dan berserilah wajahnya. Pertemuan ini benar-benar tidak disangka-sangkanya dan amat menggembirakan hatinya. Setengah berlari ia menghampiri pemuda berkuda itu dan berseru, "Eh, kiranya Siok-twako (kakak Siok)! KaU hendak ke manakah?"

Pemuda berkuda itu memang Siok Bun adanya. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah dengan kaget mendapatkan bahwa Souw Teng Wi lenyap, pemuda ini cepat melakukan penyelidikan dan akhirnya jejak penculik-penculik pendekar besar itu membawanya ke selatan, menuju ke Ta-pie- san. Pertemuannya dengan Siok Ho benar-benar membesarkan hatinya karena ia maklum betapa lihainya Ang-sin-jiu Oei Siok Ho Si Tangan Merah!

"Oei hiante, kebetulan sekali bertemu dengan kau di sini. Ketahuilah bahwa Souw-taihiap telah diculik orang dan kemungkinan besar penculiknya adalah orang-orang Hoa-lian-pai." Dengan singkat Siok Bun lalu bercerita tentang kunjungan Lee Ing ke kota raja dan betapa dia dan Lee ing yang pertama-tama mendapatkan bahwa Souw Teng Wi tidak berada di perahunya dan lenyap tak meninggalkan bekas kecuali tanda cap jari-jari tangan di dinding bilik perahu.

Oei Siok Ho mengangguk, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh dan alisnya yang hitam berkerut. Melihat wajah Siok Bun nampak muram dan berduka ketika menceritakan hal itu, ia dapat maklum dan berkata, "Aku tahu betapa buruk keadaanmu dengan terjadinya hal itu, Siok-twako. Kau boleh dibilang bertugas menjaga keselamatan Souw lo-enghiong, dan tahu-tahu pada saat puterinya datang menjenguk, orang tua itu tidak ada. Apakah nona Lee Ing marah kepadamu?"

Ditanya begini Siok Bun makin muram. "Itulah yang membuat hatiku kesal sekali, hiante. Kalau nona Souw marah-marah dan menyalahkan aku, kiranya aku akan menerima salah, biarpun kesalahan itu tidak langsung kulakukan melainkan terjadi karena keteledoran para penjaga. Akan tetapi, nona Souw sama sekali tidak menyalahkan aku, malah dia segera melakukan pengejaran sendiri dengan cepat. Akh, kalau aku tidak berhasil mendapatkan kembali Souw-taihiap, bagaimana aku berani

bertemu dengan dia lagi?"

Mendengar keluhan Siok Bun, Siok Ho memandang tajam. "Siok-twako, agaknya dia itu suka sekali kepadamu, kalau tidak demikian halnya, tentu ia akan marah sekali kepadamu."

"Entahlah.. entahlah. mudah-mudahan ia dapat bertemu kembali dengan ayahnya. Kasihan sekali

nona itu.."

"Siok-twako, kau. cinta sekalikah kau kepadanya?"

Ditodong pertanyaan tiba-tiba ini, merah sekali wajah Siok Bun. Tentu saja ia merasa malu untuk mengaku dan dia hanya menjawab, "Adikku yang baik, bagaimana kau bisa bilang demikian? Nona Souw adalah puteri Souw-taihiap, dan Souw-taihiap adalah orang yang amat kami hargai. Tentu saja lenyapnya merupakan persoalan besar dan sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha sedapat mungkin mencarinya, biar untuk itu aku harus berkorban nyawa"

Oei Siok Ho mengangguk-angguk tak sabar. "Bukann itu. maksudku. Tentu saja semua orang harus membantu mencari kembali Souw lo-enghiong. Akan tetapi.. apakah kau mencinta nona Souw Lee Ing?"

Hampir saja Siok Bun mengangguk. Kepada orang lain ia boleh membohong, akan tetapi ia mempunyai perasaan yang luar biasa terhadap pemuda ini. Bukan hanya karena Siok Ho pernah menolongnya secara mengharukan sekali ketika ia terluka oleh Hek-tok-ciang, akan tetapi ada sesuatu pada wajah dan sinar mata pemuda itu yang membuat ia tak mungkin dapat membohonginya. Akan tetapi baiknya ia teringat bahwa pemuda inipun pernah bertemu dengan Lee Ing, pernah melihat Lee Ing. Dari pertanyaan-pertanyaan pemuda ini yang agaknya mengandung rasa cemburu, siapa tahu kalau- kalau pemuda inipun mencinta Lee Ing! Ah, boleh jadi sekali. Lee Ing amat gagah perkasa dan cantik- jelita, tidak aneh kalau setiap orang pemuda mencintainya. Apa lagi pemuda seperti Siok Ho yang amat gagah perkasa dan tampan sekali. Pikiran ini amat mengganggunya, merupakan sekilat sinar yang memasuki benaknya, membakar pikiran dan hatinya, membuat ia cemburu dan panas akan tetapi wajah Siok Ho mengalahkan ini semua, mengusir rasa cemburu dan membuat ia tak berdaya, mengalah. Terhadap pemuda yang telah berlaku demikian berbudi seperti Siok Ho kepadanya, tak mungkin ia mau berebut cinta. Ia harus mengalah...

"Ti... tidak.." jawabnya gagap sambil menggeleng kepala.

Tiba-tiba Oei Siok Ho kelihatan marah. "Twa-ko, kau bohong!" katanya dan pemuda ini segera pergi meninggalkan Siok Bun.

Tentu saja Siok Bun menjadi bengong sesaat. Memang ia telah membohong, akan tetapi bagaimana pemuda itu dapat menduga demikian tepat dan mengapa pula kelihatan marah? Tentu cemburu, pikirnya. Celaka, tak salah lagi, tentu pemuda tangan merah yang lihai ini mencinta Lee Ing. Saingan yang berat sekali.

"Oei-hiante... kau hendak ke manakah?" Siok Bun mengejar, terheran melihat pemuda itu menjadi marah agaknya.

"Ke mana lagi kalau tidak ke Ta-pie-san?" jawab Siok Ho yang masih terus berlari.

"Kebetulan kalau begitul Akupun hendak ke sana!" seru Siok Bun girang dan mempercepat larinya untuk menyusul kawannya yang aneh wataknya itu.

"Aku tidak suka melakukan perjalanan bersama seorang pembohong!" terdengar Siok Ho berkata lagi.

Siok Bun menjadi serba salah. Benar-benar aneh sekali watak pemuda murid Kun-lun itu, pikirnya. Urusan dia mencinta Lee Ing atau tidak, mengapa begitu diurus? Apa sih sangkut-pautnya dengan pemuda itu? Akan tetapi karena melihat Siok Ho benar-benar tidak mau menantinya, ia segera berseru,

"Berhenti dulu, Oei-hiante, aku mau bicara. ,Aku tidak mau membohong lagi!"

Tiba-tiba Siok Ho berhenti dan memandang kepadanya, Wajah yang tampan itu kelihatan agak pucat dan mulutnya merengut.

"Hiante, kenapa kau marah-marah kepadaku?" "Karena kau suka membohong."

Siok Bun memegang tangan pemuda itu, menarik napas panjang dan berkata,

"Adikku yang baik, kau benar-benar selain memiliki ilmu silat yang lihai, juga mempunyai watak aneh! Oei-hiante, apakah sebabnya maka kau ingin mengetahui sekali apakah aku mencinta nona Souw atau tidak?" Muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan makin keras dugaan Siok Bun bahwa pemuda remaja yang masih hijau ini tentu juga jatuh hati kepada Lee Ing! Akan tetapi Siok Ho memandang dengan sungguh-sungguh dan katanya tegas.

"Aku paling menghargai kejujuran maka bencilah hatiku melihat kau tidak mau berterus terang. Twako, kau sendiri yang menganggap aku sebagai adikmu, masa seorang kakak membohong terhadap adiknya?" Sambil berkata demikian Siok Ho menarik tangannya terlepas dari pegangan Siok Bun.

"Baiklah kau maafkan aku kali ini. Aku berjanji lain kali aku takkan membohongimu, biar lidahku copot kalau aku berani membohong padamu. Oei-hiante, kebetulan sekali aku bertemu dengan kau di sini. Dengan kau berada di dekatku, aku mendapat keyakinan bahwa aku pasti akan dapat menemukan kembali Souw-taihiap."

"Penjahat yang sudah berhasil menculik Souw lo-enghiong tentu bukan seorang biasa. Belum tentu aku dapat melawannya. Akan tetapi kita sama lihat saja nanti. Yang paling penting, untuk menebus kebohonganmu tadi, sekarang harap twako suka mengaku terus terang lebih dulu bagaimana perasaanmu terhadap nona Souw Lee Ing."

Diulanginya urusan ini membuat Siok Bun benar-benar menjadi bohwat (tak berdaya). Ia bingung dan tak tahu harus menjawab bagaimana. "Hiante, apakah hal ini penting bagimu maka kau terus mendesakku?"

"Tentu saja penting, karena ini memperlihatkan kejujuranmu kepadaku. Tanpa adanya kejujuran, kurasa percuma saja ada hubungan di antara kita," kata Oei Siok Ho dengan sikap sungguh-sungguh.

Siok Bun mengangguk-angguk. Pemuda aneh, pikirnya. Akan tetapi tidak amat mengherankan karena memang di dunia kang-ouw ini banyak terdapat orang yang aneh. Seorang pemuda yang mewarisi kepandaian Kun-lun-pai seperti Oei Siok Ho ini memang sudah sepatutnya pula memiliki watak aneh.

"Apa yang harus kukatakan? Nona Souw Lee Ing adalah seorang gadis yang tidak saja cantik jelita, juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Pemuda mana yang tidak jatuh hati kepadanya? Apa lagi dia gagah perkasa, puteri seorang pahlawan rakyat yang berjiwa patriotik. Aku hanya pemuda biasa, pemuda lemah, mana ada harga untuk menyintanya? Betapapun juga, harus aku nyatakan terus terang kepadamu bahwa semenjak pertama kali bertemu dengan nona Souw Lee Ing, aku merasa amat kagum dan suka kepadanya."

"Dan menyinta    ?" tanya Siok Ho sambil lalu..

"....tentang itu.. eh.     aku tidak tahu karena belum pernah aku jatuh cinta."

Belum selesai Siok Bun bicara, pemuda tampan itu sudah lari cepat, "Oei-hiante, tunggu. "

"Mari kita cepat-cepat pergi mencari terang yang tercuiik!" jawab Siok Ho tanpa menoleh. Siok Bun melompat ke atas kudanya dan membalapkah kuda menyusul.

"Tunggu dulu, Oei-hian-te,..... kita mencari seekor kuda untukmu atau kau tunggangi kuda ini !"

"Tak usah, kau saja yang menunggang kuda!" jawab Siok Ho, terus berlari cepat. "Biar kita tunggangi berdua sampai kita mendapat seekor lagi," kata Siok Bun yang sudah dapat menyusul pemuda itu.

"Tak usah, twako. Jangan kau sungkan-sungkan, kau tahu aku dapat berlari cepat dan aku... aku lebih suka jalan kaki."

"Jangan begitu, hiante. Kau membikin aku merasa tidak enak. Mari kita naiki berdua."

"Tidak! Siapa mau. menyiksa kuda? Biar aku berlari saja!" Siok Ho berkeras, malah mempercepat

larinya.

Siok Bun menjadi serba salah. Akhirnya karena ia tidak sampai hati melihat penolongnya itu berlari seorang diri sedangkan dia berkuda, ia lalu melpmpat turun, mengambil buntalan bekal pakaian lalu menggendong buntalan itu, meninggalkan kuda dan melanjutkan perjalanan sambil berlari juga mengejar Siok Ho. Setelah agak lama dua orang pemuda itu berlari berdampingan tanpa mengeluarkan kata-kata, baru Siok Ho melirik dan bertanya,

"Lho, mana kudamu, Siok-twako?"

"Kutinggal di jalan, lebih baik aku berlari seperti kau."

Oei Siok Ho tertawa, wajahnya dan matanya bersinar-sinar. "Kau terlalu sungkan atau terlalu baik hati?"

"Tidak keduanya, aku hanya seorang bodoh."

"Lho, kenapa?" tanya Siok Ho terheran sampai ia menghentikan larinya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa.

"Karena aku terlalu bodoh untuk dapat menyenangkan hatimu." "Eh ah, kau marah, twako?"

"Bukan aku. kaulah yang marah," jawab Siok Bun mendongkol.

"Aku tidak marah. Tak baik orang marah, Siok-twako. Orang marah lekas tua. Dan orang seperti kau ini tidak patut kalau marah. Kau terlampau baik.. hanya terlalu merendahkan diri. Pemuda seperti kau ini tidak semestinya bilang kurang berharga bagi seorang nona seperti Souw Lee Ing."

Siok Bun tertegun, makin heran, tak mengerti sama sekali. Sukar baginya untuk menyelami perasaan hati pemuda aneh ini. "Apa maksudmu, hiante?"

"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan kalau kau memang ingin lekas-lekas berhasil menolong Souw Io-enghiong. Jangan-jangan jasa itu didahului Qleh pemuda lain, kan berabe untukmu!"

Siok Bun tertawa saja digoda begini, lalu mengerahkan tenaga menyusul Siok Ho yang sudah berlari cepat. Akan tetapi ia masih merasa bahwa diam-diam pemuda penolongnya ini sebenarnya masih marah kepadanya. Makin tebal keyakinannya bahwa pemuda ini tentu mencinta Lee Ing dan mencoba untuk menyembunyikannya dengan memuji-mujinya. Kalau betul demikian halnya, ia akan mengalah. Selain belum tentu Lee Ing mau menerima cintanya, juga tak mungkin ia dapat bersaing dengan Oei Siok Ho, pemuda yang telah menolong jiwanya, pemuda yang amat simpatik dan entah mengapa telah menggerakkan hatinya untuk menganggapnya sebagai saudara atau adik sendiri.

Demikianlah, kita telah mengikuti perjalanan Liem Han Sin yang datang bersama Siok Beng Hui dan Bu Kam Ki, juga telah mengikuti perjalanan Oei Siok Ho yang datang bersama Siok Bun di asrama Hoa-lian-pai di Ta-pie-san.

Han Sin tertinggal jauh oleh Bu Kam Ki yang mendahului naik ke puncak Setelah mereka tiba dekat gunung itu, maka Bu Kam Ki dapat lebih dulu sampai dan sempat melihat Lee Ing bertempur dengan dua orang sahabatnya, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo. Sedangkan Han Sin ketika sedang mendaki, bertemu dengan Siok Ho dan Siok Bun sehingga selanjutnya, tiga orang muda ini, bersama Siok Beng Hui, jalan bersama.

Alangkah kaget dan duka hati mereka ketika tiba di asrama Hoa-lian-pai, mereka melihat Souw Teng Wi dan ketua Hoa-lian-pai telah tewas, dan ternyata pula bahwa Pek Mao Lojin dan Im-Yang Thian- Cu telah berada di situ mengepalai pengurusan jenazah yang dimasukkan ke dalam peti yang dibuat secara mendadak pula.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika bersembahyang di depan peti mati ayahnya, Souw Lee Ing terguling dan jatuh pingsan. Ia mengalami tekanan batin yang hebat, membuat ia pingsan sampai lama sekali. Setelah mengantar Tok-pi Sin-kai yang sekarang menjadi buntung kedua tangannya dan Im-kan Hek-mo yang menjadi buta. itu turun gunung, Bu Kam Ki sempat menengok ke asrama Hoa-lian-pai. Kakek tua ini menarik napas panjang menyaksikan keadaan yang menyedihkan itu, dan ia sempat pula memeriksa Lee Ing yang masih belum siuman.

"Ia menderita tekanan batin yang hebat, gadis yang malang ini. Biarkan dia beristirahat, jangan diganggu, lambat-laun ia akan sembuh kembali seperti sedia kala." Setelah meninggalkan pesan ini dan memberi banyak nasihat kepada muridnya, Siok Beng Hui supaya teguh dan setia menjalankan tugasnya membela negara dan bangsa, Bu Kam Ki lalu pulang ke kampungnya di mana puterinya, Bu Lee Siang telah menantinya dengan tak sabar lagi.

Juga Im-Yang Thian-Cu yang masih berduka atas kematian bekas sumoinya, Lui Siu Nio-nio, pergi bersama Pek Mao Lojin setelah mengurus upacara pemakaman dari jenazah Souw Teng Wi, Lui Siu Nio-nio, dan Yap Lee Nio yang dikubur secara diam-diam oleh para anak murid Hoa-lian-Pai.

Kini yang tinggal di situ hanya Siok Beng Hui dan puteranya, Siok Bun. juga Oei Siok Ho dan Liem Han Sin. Mereka ini hendak kembali ke utara bersama-sama setelah Lee Ing sembuh. Nona Souw ini masih saja pingsan selama dua hari dua malam. Dan tiga orang pemuda itu, Siok Bun, Han Sin, dan Siok Ho, kelihatan muram dan gelisah saja.

Berkali-kali mereka bertiga secara bergantian atau kadang-kadang juga bersama-sama, berdiri atau duduk menunggu di luar jendela kamar, atau di ambang pintu, memandang gadis yang diam tak bergerak seperti orang tidur itu, dijaga oleh beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai.

Dari sikap masing-masing, tiga orang muda ini tahulah bahwa mereka bertiga sama-sama mencinta Souw Lee Ing, maka diam-diam di antara mereka seakan-akan timbul persaingan! Sungguh amat menarik kalau mempelajari sikap tiga orang muda yang Sedang menghadapi persaingan dalam cinta kasih yang kini diseling oleh perasaan gelisah melihat gadis yang dijadikan rebutan berada dalam keadaan menyedihkan itu.

Siok Bun kadang-kadang memandang kepada Han Sin dengan pandang mata tak senang dan penuh cemburu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah mengambil keputusan untuk berusaha supaya akhirnya Lee Ing menjadi jodoh Siok Ho. Malah diam-diam pemuda ini sudah membicarakan hal itu kepada ayahnya.

"Ayah, aku melihat bahwa nona Souw Lee Ing itu amat cocok kalau dijodohkan dengan Oei-hian-te. Nona Souw cantik jelita gagah perkasa, yatim-piatu. Demikian pula Oei-hiante, yatim-piatu dan biarpun tak dapat menandingi nona Souw dalam kegagahan, namun jarang menemukan seorang pemuda gagah-perkasa seperti Oei Siok Ho yang sudah mewarisi ilmu-ilmu lihai dari Kun-lun-pai," Tentu saja Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui memandang kepada puteranya dengan alis berkerut dan mata bersinar penuh keheranan.

Tadinya ia mengira, bahkan sudah tahu pasti bahwa puteranya ini jatuh cinta kepada Souw Lee Ing, dan dia sendiri bersama isterinya juga sudah setuju seratus prosen kalau puteranya mendapat jodoh seperti Souw Lee Ing. Akan tetapi mengapa sekarang anaknya itu tiba-tiba mengeluarkan pendapat dan usul seperti itu?

"Aku menganggap Siok Ho seperti adikku sendiri, ayah. Aku kasihan melihat dia yang sudah yatim piatu, maka kuharap ayah sudi menolongnya, menjadi walinya untuk mengatur perjodohannya dengan nona Souw Lee Ing."

Semenjak tadi Siok Beng Hui diam saja dan ia memandang kepada puteranya penuh perhatian. Juga telinganya dapat menangkap getaran suara penuh haru dalam kata-kata terakhir dari Siok Bun. Ia menepuk meja dan berkata lantang,

"Bun-ji, omongan apakah yang kau keluarkan ini? Bukankah kau sendiri yang menyinta nona Souw semenjak pertemuan pertama dahulu? Mengapa sekarang kau mengajukan usul supaya aku melamar gadis itu untuk orang lain?"

"Ayah, Oei-hiante bukan orang lain bagiku. Mungkin dengan pemuda lain aku takkan mau mengalah, akan tetapi terhadap Oei-hiante.. aku rela berkorban apapun juga. Dia telah menolong nyawaku, ayah. "

"Hemm, menolong nyawa orang adalah kewajiba setiap orang gagah. Tidak boleh kalau hanya karena ditolong lalu selama hidupnya bersedia mengorbankan kebahagiaan untuk membalas budi. Oei Siok Ho kukira tidak demikian picik untuk menanam budi agar kau balas dengan pengorbanan. Kalau demikian halnya, dia bukan seorang gagah. Seorang gagah menolong orang tanpa mengharapkan apa-apa. Kalau kau memang mencinta nona Souw dan dia mencinta kau."

"Ayah tahu aku mencinta nona itu, akan tetapi belum tentu dia mencintaku." "Apa dia mencinta Oei Siok Ho?"

"Itupun anak belum tahu betul."

"Hemm, Bun-ji, jangan kau sembarangan hendak mengatur perjodohan orang. Jodoh adalah kehendak Thian, tak dapat diatur tak dapat dihalangi. Kalau memang Siok Ho berjodoh dengan Lee Ing, tak usah kau turut campur, tentu akan terjadi. Sebaliknya kalau kau memang berjodoh dengan Lee Ing, seorang Siok Ho di dunia takkan dapat menghalangimu."

Siok Bun tak berani banyak membantah lagi, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil keputusan untuk membantu Siok Ho sampai berhasil niat pemuda itu menjadi jodoh Lee Ing. Demikianlah, biarpun di luarnya kelihatan Siok Bun ikut bersaing untuk merebut hati gadis yang masih menggeletak pingsan itu, namun boleh dibilang bahwa ia melakukan hal ini demi kemenangan Siok Ho! la selalu menjaga jangan sampai gadis itu memilih Han Sin. Bagaimana dengan Han Sin sendiri? Diapun maklum bahwa tidak hanya dia seorang yang tergila-gila kepada dewi pujaannya. Terang bahwa dua orang pemuda lain yang selalu berada di situ juga mencinta nona Souw ini. Akan tetapi, pemuda pendiam ini tidak banyak mengeluarkan perasaannya. Diam-diam ia merasa khawatir karena maklum bahwa dua orang saingannya itu merupakan saingan kelas berat. Siok Bun adalah putera Pek-kong-Sin-kauw Siok Beng Hui, seorang pemuda gagah, putera seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo.

Kedudukannya tinggi, orangnya tampan dan gagah. Terhadap Siok Bun, Han Sin merasa kagum dan kiranya ia akan menerima nasib kalau sampai Lee Ing memilih Siok Bun yang memang patut menjadi suami seorang gadis seperti Lee Ing. Akan tetapi kalau gadis itu sampai terpikat oleh Oei Siok Ho, benar-benar hati Han Sin merasa tidak rela! Bagi Han Sin, Siok Ho tidak menyenangkan hatinya. Harus ia akui bahwa Siok Ho gagah perkasa, murid Kun-lun-pai yang lihai sekali ilmu silatnya. Juga amat tampan, dari pada Siok Bun.

Akan tetapi pemuda itu terlalu tampan, terlalu pesolek, sifat yang bagi Han Sin amat tidak menyenangkan. Seorang laki-laki pesolek biasanya tidak setia, dan Han Sin paling takut melihat Lee Ing kelak menderita. Ia akan ikut merasa bahagia melihat Lee Ing hidup beruntung, biarpun dengan laki-laki lain. Cinta kasih Han Sin terhadap Lee Ing adalah cinta kasih murni, tidak mementingkan diri sendiri.

Bagaimana dengan pemuda ke tiga, Oei Siok Ho? Sukar untuk mengetahui perasaan pemuda tampan ini dari wajahnya. Hanya kadang-kadang kalau ia memandang kepada Lee Ing, sinar matanya yang lembut itu makin melembut, penuh rasa kasihan dan kelembutan sinar mata itu! mengeras apa bila ia melihat Siok Bun memandang ke arah Lee Ing dengan penuh perasaan. Terhadap Han Sin ia tidak perduli, seakan-akan saingan ini tidak berarti apa-apa baginya.

Demikianlah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri, tiga orang muda ini seperti tengah bersaing. Mereka menjaga Lee Ing dengan setia, menanti gadis ini membuka matanya. Sikap tiga orang muda ini terhadap Lee Ing yang, demikian memperhatikan, demikian mengkhawatirkan keselamatan gadis itu, jelas sekali memperlihatkan perasaan mereka terhadap gadis perkasa itu.

Para anak buah Hoa-lian-pai sudah saling mempercakapkan hal ini dan tertawa-tawa di belakang punggung tiga orang pemuda itu. Siok Beng Hui sendiri hanya memandang dengan kening berkerut dan diam-diam ia menarik napas panjang dan menggeleng kepala.

Pada hari ke tiga, menjelang senja, Lee Ing siuman. Gadis ini mengejap-ngejapkan matanya seperti orang bangun tidur melihat cahaya matahari yang terang menyilaukan mata, lalu menutup matanya lagi, la mendengar seruan-seruan girang dan dibukanya lagi kedua matanya perlahan. Sinar matanya bergerak menyapu ruangan Itu, menyapu wajah orang-orang yang mengelilinginya, kemudian sinar mata itu berhenti pada wajah Siok Ho! Dan Lee Ing tersenyum gembira!

"Saudara Siok Ho, kau juga berada di sini..!" Sungguh hebat gadis ini, selama tiga hari pingsan, sekarang begitu siuman ia telah ingat akan keadaannya, ingat mengapa ia berbaring di situ, ingat pula bahwa dia berada di Ta-pie-san maka ia mengherankan mengapa tahu-tahu Siok Ho bisa berada di situ.

"Adikku Lee Ing yang manis, sudah tiga hari tiga malam aku berada di sini, menungguimu dalam pingsan selama itu," jawab Siok Ho sambil tersenyum pula dan mendekati pembaringan. Jawaban ini membuat muka Lee Ing merah dan dadanya berdebar. Terdengar manis sekali jawaban ini, terutama panggilan "adikku yang manis" dan keterangan bahwa pemuda ini telah menjaganya selama tiga hari tiga malam! "Ing-moi, sukur kau sembuh kembali!" terdengar suara Han Sin yang juga sudah mendekati pembaringan.

"Nona Souw, sukur kau baik-baik saja, hanya menyesal taihiap telah... meninggal dunia..." kata Siok Bun yang tidak ketinggalan, menghampiri pembaringan. Lee Ing menengok. Wajahnya berseri ketika ia melihat Han Sin.

"Sin-ko (kakak Sin)..." tegurnya, akan tetapi ia sudah mendengar ucapan Siok Bun dan sekaligus ia teringat kepada ayahnya. Otomatis semua kegembiraan hatinya lenyap dan wajahnya yang berseri itn menjadi muram, pipi yang kemerahan menjadi pucat sekali. Ia melompat turun dari pembaringan, akan tetapi tentu ia jatuh tersungkur kalau tidak cepat-cepat Siok Ho memegang lengannya.

"Kau masih payah, adik Lee Ing. Jangan turun dari pembaringan," kata Siok Ho sambil menuntun Lee Ing kembali ke pembaringan. Lee Ing meramkan matanya karena pemandangannya menjadi pening, segala kelihatan berputaran. Akhirnya ia merebahkan diri lagi di atas pembaringan dan air mata mengalir turun dari kedua matanya yang dimeramkan.

"Kau kenapa, Ing-moi....? Apamu yang terasa sakit? Lukakah kau...?" tanya Han Sin penuh kekhawatiran dan suaranya menggetar tanda bahwa pemuda ini merasa terharu dan sedih sekali.

"Dia lemah, jangan kita mengganggunya. Mari kita keluar, biarkan dia mengaso dan menenteramkan pikiran," kata Siok Ho kepada Han Sin dan Siok Bun. Tentu saja dua orang muda ini tidak membantah dan keluar dari kamar itu, dan diam-diam Han Sin makin benci dan cemburu kepada Siok Ho yang tadi tanpa ragu-ragu dan malu-malu memeluk Lee Ing ketika gadis itu hendak jatuh. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memperlihatkan perasaan tak senangnya ini karena pada waktu itu iapun terlalu penuh oleh kegelisahan melihat keadaan Lee Ing, gadis pujaan hatinya itu.

Ternyata keadaan Lee Ing berlarut-larut. Tubuhnya terasa lemah dan ia hampir tak pernah turun dari pembaringan, la telah menderita pukulan batin yang hebat dan menurut dugaan Siok Beng Hui yang sudah banyak pengalaman, gadis ini membutuhkan waktu agak lama untuk beristirahat dan memulihkan kesehatannya. Akan tetapi ia maklum bahwa tidak ada bahaya mengancam keselamatan Lee Ing yang hanya menderita serangan batin dan tubuh gadis yang amat kuat berkat ilmu silatnya yang tinggi itu. Akan segera mengusir

semua kelemahan.

"Aku perlu memberi laporan ke kota raja." kata Siok Beng Hui kepada puteranya. "Kau amat-amati keadaan nona Souw, setelah sehat kembali ajak ke kota raja kalau dia mau." Setelah berpamit kepada Han Sin dan Siok Ho, juga kepada para anak murid Hoa-lian-pai yang tinggal sedikit karena sebagian besar pulang ke kampung masing-masing setelah ketua mereka meninggal, Siok Beng Hui lalu meninggalkan Ta-pie-san.

Seperti orang-orang yang sudah sama-sama maklum, tiga orang pemuda itu tidak mau mendahului pergi dari situ. Benar-benar lucu keadaan mereka, tiga orang muda yang mempergunakan kesempatan ini untuk merebut hati Lee Ing. Akan tetapi kalau bagi Siok Bun rela-rela saja melihat betapa Lee Ing selalu menunjukkan perhatiannya, kepada Siok Ho, adalah Han Sin yang menjadi makin tak enak hati. Pandangan matanya yang tajam melihat betapa Siok Ho agaknya menganggap Lee Ing seperti saudara sendiri, kadang-kadang malah tidak mengacuhkannya. Akan tetapi Lee Ing tampak gembira kalau melihat Siok Ho dan tiap kali Han Sin menengoknya, sudah tentu gadis itu menanyakan Siok Ho! Han Sin tidak bisa tidur karenanya! Dalam sepekan saja tubuh pemuda ini menjadi kurus dan mukanya pucat. Andaikata Lee Ing sudah ada kepastian memilih Siok Bun, tentu ia akan mengalah dan pergi dari situ. Akan tetapi celakanya, agaknya Lee Ing jatuh hati kepada Siok Ho, padahal menurut pandangannya, pemuda pesolek itu tidak patut menjadi sisihan Lee Ing, pemuda itu belum tentu mencinta sesungguhnya, kalau tak boleh dibilang memikat Lee Ing dengan ketampanannya! Ia harus menjaga jangan sampai Lee Ing terjeblos dalam jebakan, jangan kelak hidup Lee Ing menjadi sengsara karena salah pilih.

Tidak hanya Han Sin yang tak dapat tidur. Juga Siok Bun melihat jelas betapa sikap Siok Ho tiba-tiba berubah banyak sekali setelah berhadapan dengan Lee Ing. Pemuda Kun-lun-pai ini selain menjadi pesolek, juga sikapnya amat dibuat-buat dalam berusaha merebut hati Lee Ing. Bicaranya yang biasanya jujur dan kadang-kadang ketus, di depan Lee Ing menjadi bermanis-manis. Ia dapat menduga bahwa Siok Ho mencinta Lee Ing, akan tetapi mengapa sikapnya begitu menyolok seakan- akan hendak pamer atau sengaja menyakitkan hatinya dan hati Han Sin?

Beberapa hari kemudian, pada pagi hari sewaktu matahari mulai memancarkan cahayanya yang sehat segar, Lee Ing sudah duduk di taman bunga, ditemani oleh dua orang anak murid Hoa-lian-pai yang sudah setengah tua. Untuk memulihkan kesehatannya, Lee Ing sering kali berjemur matahari dan menjernihkan pikiran di taman itu.

Tanpa diketahui orang lain, dari dua jurusan yang berlawanan, datang Han Sin dan Siok Bun. Mereka tidak berani mengganggu, hanya melihat dari tempat agak jauh, bersembunyi di balik rumpun kembang. Siok Bun memandang penuh kasihan, Han Sin terharu dan terpaku seperti patung. Ingin ia menghibur dewi pujaannya, ingirv ia menyerahkan segalanya, rela mengorbankan nyawanya asalkan Lee Ing sembuh dan gembira lagi seperti sedia kala.

Memang Lee Ing jauh bedanya dengan beberapa pekan sebelumnya. Kalau tadinya ia merupakan seorang gadis, yang lincah jenaka, gembira dan gesit, sekarang ia kelihatan lesu dan tidak bergembira, mukanya agak pucat. Sebetulnya apakah yang diderita oleh gadis ini? Sesungguhnya, biarpun dalam rohani gadis ini terpukul dan tertekan oleh kematian ayahnya, namun jasmani dia tidak apa-apa! Lee Ing sudah makan buah dewa yang ia dapatkan di dalam Gua Siluman, tubuhnya kuat sekali, darahnya bersih dan hawa sakti dalam tubuhnya mampu menolak segala macam kelemahan tubuh.

Akan tetapi sesuatu yang membuat dia bersikap seperti itu, yakni adanya tiga orang pemuda di sampingnya yang seakan-akan berlumba untuk menarik cinta kasihnya. Inilah yang membuat ia bimbang, membuat ia lemas dan tiap malam membuat ia tak dapat tidur. Sukar bukan main mengadakan pemilihan di antara tiga orang muda ini. Ketiganya pemuda-pemuda pilihan, ketiganya amat memperhatikannya dan memperlihatkan cinta kasih yang besar. Han Sin dan Siok Bun sudah pernah menyatakan perasaan hati mereka, hanya Siok Ho yang belum. Justeru inilah yang membuat hati Lee Ing bimbang tidak karuan, membuat ia tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan.

Memang, sikap Siok Ho sudah terang-terangan bahwa pemuda ini suka kepadanya, amat setia dan manis sikapnya kepadanya. Akan tetapi belum pernah pemuda ini menyatakan cintanya. Kalau pemuda ini menyatakan cinta kasihnya, kiranya ia takkan ragu-ragu lagi karena bisikan hatinya memilih Siok Ho, biarpun sering kali ia termenung kalau teringat akan kebaikan hati dan besarnya cinta kasih Han Sin. Karena berada dalam kebimbangan dan kebingungan, gadis ini lalu "memperpanjang" sakitnya, tidak lain dengan maksud menahan tiga orang pemuda itu sampai ia dapat mengambil keputusan, kepada pemuda mana ia akan menyerahkan hatinya. Karena kepandaian Lee Ing memang tinggi sekali, tentu saja ia dapat melihat kedatangan Han Sin dan Siok Bun, biarpun keduanya bersembunyi dan biarpun ia tidak melihat ke arah mereka. Dua orang anak murid Hoa-lian pai yang bertugas melayani nona yang sedang "sakit" ini, tentu saja tidak tahu bahwa ada dua orang pemuda yang mengintai nona ilu dari jauh. Selagi Han Sin dan Siok Bun hendak menghampiri, tiba-tiba terdengar orang memanggil,

"Adik Lee Ing...!" Lee Ing menengok, wajahnya berseri ketika ia melihat Siok Ho mendatangi dengan lenggang bergaya. Seperti biasa, pakaian, pemuda ini baru diganti, bersih dan halus, topi yang menutupi rambutnya juga rapi. Rambutnya berkilat, agaknya baru diminyaki, dan sedikit rambut yang kelihatan di bawah topi atau kain kepalanya nampak hitam dan tebal. Wajahnya yang tampan berseri, bibirnya tersenyum-senyum ketika ia menghampiri Lee Ing dengan langkah tegap.

"Oei-twako, kau kelihatan gembira, sekali pagi ini!" tegur Lee Ing sambil membetulkan rambutnya yang agak kusut...

"Betaapa tidak? Pagi seindah ini, langit cerah udara sejuk hangat oleh sinar matahari, kembang- kembang pada mekar, burung berkicauan dan kupu-kupu beterbangan."

"Aduh, kau agaknya hendak mengeluarkan sajak-sajakmu, siucai (sasterawan) muda!" Lee Ing juga gembira kini, matanya memandang dengan sinar berseri. Siok Bun dan Han Sin dapat melihat pandang mata ini dan diam-diam mereka mengeluh. Kalau saja sinar mata itu ditujukan kepada mereka, alangkah bahagianya.

Sambil tersenyum senyum Siok Ho menghampiri dan pada saat Lee Ing menunduk, ia memberi isyarat cepat dengan tangannya, menyuruh dua orang anak murid Hoa-lian-pai itu pergi. Sambil tersenyum dua orang wanita itu mengangguk lalu pergi, seakan-akan mereka sudah biasa menerima isyarat seperti ini dari Siok Ho. Dengan dalih hendak membersihkan ruangan, mereka berpamit dari Lee Ing yang tidak melarang. Lee Ing tidak melihat isyarat tadi, akan tetapi Han Sin dan Siok Bun melihat dengan jelas. Siok Ho lalu duduk di atas sebuah bangku dekat Lee Ing.

"Sudah baikkah kesehatanmu, adikku?" Lee Ing hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya berdebar-debar karena sekaranglah agaknya saat bagi pemuda ini untuk menyatakan perasaannya. Akan tetapi Siok Ho hanya mengoceh tentang keharuman kembang mawar, keindahan kembang seruni, kesegaran hawa di Ta-pie-san dan lain-lain lagi.

"Oei-twako, lihat alangkah indahnya kupu-kupu itu." Lee Ing menuding ke arah sepasang kupu-kupu yang beterbangan di atas serumpun bunga seruni. Memang indah kupu-kupu itu, yang seekor bersayap kuning polos, yang ke dua kuning berkembang. Mereka beterbangan di sekeliling bunga- bunga, kadang-kadang hinggap di atas bunga, kadang-kadang hanya berkeliling berkejaran, saling sentuh dan saling kejar. Nampaknya gembira sekali.

"Memang bagus sekali. Kau juga cantik seperti kupu-kupu itu, adikku." Berdetak jantung Lee Ing. Pemuda ini kadang-kadang mengejutkan. Memuji begitu tiba-tiba dan sejujurnya. Apa lagi yang sekarang hendak diucapkan oleh pemuda ini? Akan tetapi Siok Ho diam saja, memandangi kupu- kupu itu lalu menarik napas panjang seakan-akan terpesona sambil berkata lirih, "Pasangan yang cocok, bahagia sekali!"

Lee Ing memandang, lalu berkata, mukanya merah sekali, "Kalau bukan kau yang bicara, kalau aku belum mengenal baik padamu dan tahu bahwa kau seorang pemuda sopan, tentu aku akan marah dengan perbandinganmu tadi, twako. Mana aku dapat dibandingkan dengan kupu-kupu itu? Mereka berpasangan, aku hidup sebatangkara " "Ah, mana bisa? Seorang gadis seperti kau ini. cantik seperti bidadari, pandai seperti dewi, siapa bilang tidak akan mendapat pasangan?"

"Jangan mengejek. Orang macam aku ini, yatim piatu, miskin dan bodoh, siapa yang akan sudi mengaku. ?"

"Ilihhh, bisa saja merendahkan diri. Kiranya ribuan orang pemuda yang akan bertekuk lutut di depanmu, adikku. Laksaan pria yang akan suka mengurangi umurnya asal bisa berada di sampingmu "

"Aku tidak sudi! Aku tidak perdulikan perhatian laksaan pemuda goblok. "

"Eh, tidak semua pemuda goblok. Aku melihat seorang pemuda hebat, yang kiranya patut menjadi sisihanmu, pemuda yang tiada bandingannya di dunia ini, bukan pemuda sembarang pemuda !

Dia itu.." Siok Ho menahan kata-katanya.

"....ya? Kenapa kau diam.     ?" Lee Ing mendesak, mukanya merah sekali karena ia sudah hampir

dapat menerka lanjutan kala kala itu.

"Dia itu. aahh. aku takut kau akan marah adik Lee Ing."

"Mengapa marah? Kalau orang bicara sejujurnya, tidak ada alasan bagiku untuk marah."

Sampai lama Siok Ho tidak berani melanjutkan kata-katanya, membuat Lee Ing menjadi tidak sabar sekali. Akan tetapi sebagai seorang gadis tentu saja tidak enak baginya kalau terlalu mendesak, maka ia menanti dengan sabar, dengan muka sebentar merah sebentar pucat, dengan dada berombak dan jantung berdenyut lebih kencang dari pada biasanya. Tiba-tiba Lee Ing teringat akan hadirnya dua orang pemuda lain yang bersembunyi di balik rumpun kembang, la lalu bangkit berdiri dan berkala kepada Siok Ho,

"Oei-twako, mari kita jalan-jalan sambil mengobrol. Aku sudah lelah duduk di sini terlalu lama." Setelah berkata demikian, Lee Ing berdiri dari tempat duduknya.

Ia sengaja berlaku lambat dan kakinya gemetar. Dengan sikap menyayangi Siok Ho membantunya dan memegang lengannya. Kemudian mereka berjalan-jalan, melihat-lihat kembang dan Lee Ing sengaja membawa Siok Ho menjauhi tempat bersembunyi dua orang muda yang tadi mengintai! Dapat dibayangkan betapa panas hati Han Sin melihat Lee Ing dituntun pergi oleh Siok Ho dan melihat dua orang itu berjalan-jalan sambil tersenyum-senyum dan nampaknya mesra sekali. Pemuda ini menggigil bibirnya dan matanya berkunang-kunang.

Berbeda dengan Han Sin, Siok Bun tersenyum. Biarlah, pikirnya, biarlah Siok Ho mendapatkan gadis itu. Memang sesuai dan cocok. Aku girang melihat dia bahagia, orang yang semulia-mulianya dalam hatiku. Demikianlah, kedua orang muda itu diam-diam lalu meninggalkan taman, kembali ke kamar masing-masing untuk melamun! Sementara itu, Lee Ing kembali memancing Siok Ho.

"Oei-twako, di antara kita orang sendiri tak perlu ada rahasia-rahasia yang hanya akan meninggalkan salah faham dan tidak enak hati. Kau tadi bicara belum kau lanjutkan. Kuharap saja kau tidak akan membikin hatiku penasaran dan katakanlah siapa gerangan orang yang kau maksudkan tadi?" Siok Ho berhenti bertindak dan memandang kepada Lee Ing dengan sepasang matanya yang bening tajam. "Kau benar-benar takkan marah kalau aku menyebut namanya?"

Lee Ing menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah sekali melihat mata pemuda itu menatapnya sedemikian rupa. "Mengapa marah? Aku malah mengharapkan kejujuran semua kawanku."

"Adik Lee Ing," Siok Ho berkata hati-hati sekali, "menurut pendapatku yang bodoh, di dunia ini hanya ada seorang saja pemuda yang pantas menjadi sisihanmu, karena pemuda itu jujur, berwatak mulia, dan mencintaimu dengan sepenuh jiwanya. Pemuda itu adalah.. Liem Han Sin!"

Baiknya muka Lee Ing memang sudah agak pucat maka sedikit perubahan pada kulit mukanya itu tidak sampai kentara. Juga gadis ini berilmu tinggi sekali, dengan mengerahkan lweekang ia dapat menahan guncangan dalam dadanya dan peredaran darahnya dapat ia atur sedemikian rupa sehingga tidak mempengaruhi perasaan jantungnya.

Hanya sepasang matanya yang mengerling, bagaikan kilat menyambar wajah Siok Ho, penuh selidik seakan-akan hendak menembus jantung pemuda itu untuk menjenguk isi hatinya. Akan tetapi wajah Siok Ho yang tampan itu nampak serius, sungguh-sungguh dan sama sekali tidak membayangkan ketidakwajaran atau kepalsuan.

Lee Ing menarik napas panjang dan diam saja, hanya menundukkan mukanya. Siok Ho salah sangka. Ia merasa khawatir sekali kalau-kalau Lee Ing menjadi marah, maka cepat-cepat ia berkata, "Adik Lee Ing, tadi sudah kuharapkan agar kau tidak menjadi marah. Maka apa bila kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu, aku mohon maaf sebesarnya."

Lee Ing hanya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak apa-apa."

Karena merasa tidak enak, Siok Ho akhirnya minta diri dan sekali lagi minta maaf. Sikap pemucla ini sangat mengecewakan hati Lee Ing. Benar-benar sikap yang aneh sekali, pikirnya sambil memandang punggung Siok Ho yang pergi meninggalkannya di taman bunga. Kelihatannya begitu mencintaiku, akan tetapi mengapa ia malah mengajukan Han Sin? Lee Ing menjadi makin bingung setelah mendengar pengakuan Siok Ho yang sama sekali di luar dugaannya ini.

Belum lama ia termenung setelah ditinggalkan Siok Ho, tiba-tiba terdengar langkah kaki orang dan Han Sin muncul di depannya. Tiba-tiba muka Lee Ing menjadi merah sekali. Baru saja Siok Ho mengatakan bahwa pemuda yang paling cocok menjadi teman hidupnya adalah Han Sin, maka munculnya orang ini tidak saja membuat ia jengah, akan tetapi juga tak senang karena ucapan Siok Ho telah mengecewakan hatinya. Lebih tak senang lagi ketika ia teringat bagaimana tadi Han Sin bersembunyi di balik rumpun bunga dan mengintai percakapannya dengan Siok Ho.

"Sin-ko (kakak Sin), baru sekarang kau muncul! Tadi kau bersembunyi saja di belakang rumpun kembang!" kata-kata ini terdengar dingin, juga wajah gadis itu membayangkan ketidak senangan hatinya. Han Sin terkejut sebentar, akan tetapi ia lalu teringat bahwa gadis ini memang lihai bukan main, tentu saja dapat melihat kedatangannya tadi.

"Ing-moi, harap kau suka maafkan aku, atau kalau kau anggap perbuatanku itu terlalu kurang ajar, biarlah kau boleh maki aku. Sebetulnya bukan maksudku bersembunyi-sembunyi seperti itu. Tadinya aku hendak menengokmu seperti biasa, akan tetapi tiba-tiba aku melihat munculnya pemuda she Oei itu maka terpaksa aku bersembunyi dan mundur." Ketika mengatakan sebutan "pemuda she Oei" tadi, suaranya terdengar ketus dan tak senang. Tentu saja tekanan suara ini terdengar oleh Lee Ing. "Sin-ko, kalau ada Oei-twako di sini, mengapa sih? Kau agaknya tidak suka kepadanya!"

"Memang aku tidak suka kepadanya!" Ucapan keras oleh Han Sin ini mengejutkan hati Lee Ing dan membuat gadis ini penasaran.

"Sin-ko, omongan apa yang kau keluarkan ini? Oei-twako orang baik sekali, terutama terhadap engkau, dan kau. sekarang terang-terangan bilang tidak suka kepadanya?" kata Lee Ing yang teringat betapa tadi Siok Ho malah sudah memilih Han Sin sebagai pemuda yang paling cocok untuk Lee Ing, sebuah sikap yang boleh dibilang amat menguntungkan Han Sin dan suatu tanda bahwa Siok Ho amat baik terhadap Han Sin. Akan tetapi sebaliknya pemuda ini malah bilang tidak suka kepada Siok Ho!

Han Sin menarik napas panjang. "Ing-moi, aku tidak suka berbohong, hal ini kau tentu maklum. Memang, pada hakekatnya Oei Siok Ho tidak pernah berbuat sesuatu terhadap aku yang membuat aku tidak suka kepadanya. Akan tetapi sikapnya terhadapmu. Dia begitu memikat-mikat hatimu....

dia    ah, laki-laki seperti itu sikapnya amat berbahaya bagi seorang gadis, Ing-moi. Terus terang saja,

biar kau marah kepadaku karenanya, aku nyatakan di sini bahwa pemuda seperti dia itu sama sekali tidak patut menjadi..... menjadi....

sisihanmu. "

Sepasang mata Lee Ing mengeluarkan kilat. Hatinya kecewa dan marah. Dia amat suka kepada Han Sin, ada sesuatu yang mesra dalam lubuk hatinya terhadap pemuda itu. yang menjadi samar dan suram karena muncul pemuda seperti Siok Ho. Akan tetapi sikap Han Sin kali ini benar-benar mengecewakan dan memarahkan hatinya. Coba saja bayangkan. Siok Ho memuji-muji Han Sin di depannya, bahkan menyatakan bahwa Han Sin patut menjadi sisihannya, sedangkan sekarang sebaliknya, Han Sin malah mencela Siok Ho habis-habisan!

"Hemmm, Sin-ko, kenapa tidak kau lanjutkan omonganmu bahwa yang paling patut menjadi sisihanku adalah... adalah. "

"Ya ?" Han Sin menanti. Lee Ing tadinya dalam kemarahannya hendak menyindir bahwa tentu kalau

menurut anggapan pemuda ini, ia tidak patut menjadi sisihan Siok Ho atau pemuda lain kecuali Han Sin! Hampir ia membenci Han Sin untuk anggapan ini. Betulkah Han Sin akan demikian licik dan menjemukan?

"Coba, kalau menurut kau, setelah Oei-twako tidak patut menjadi sisihanku, siapa saja yang patut?" Ia memancing, dadanya panas karena amarah. Biarpun ia masih bertanya, namun ia sudah mengerti, sudah hampir yakin bahwa jawaban Han Sin tak bisa lain tentu mengajukan diri sendiri sebagai calon yang paling tepat!

Aneh! Han Sin menjadi pucat dan menundukkan mukanya yang gagah, lalu berkata perlahan dan serak, "Kau tidak patut mempunyai sisihan macam Siok Ho Aku...... aku akan ikut gembira kalau meliat kau bahagia di samping pemuda yang amat baik seperti.. seperti misalnya Siok Bun. Dia ini baru boleh dibilang pemuda yang patut menjadi sisihanmu.."

Lee Ing melongo dan untuk beberapa saat tak dapat bicara. Jangankan mengeluarkan kata-kata, bergerakpun ia tidak sanggup. Begitu heran dia! Salah sangka dia! Han Sin ternyata bukan pemuda licik yang mau menang sendiri. Seperti yang patut dilakukan pemuda perkasa ini, ia tidak menonjolkan diri sendiri, sebaliknya malah, mengajukan Siok Bun, saingannya, sebagai pilihan Lee Ing gadis yang dicintanya sepenuh nyawa. Memang bagi Han Sin, seribu kali ia lebih rela Lee Ing berjodoh dengan Siok Bun dari pada dengan Siok Ho. Bagaikan suara yang datangnya dari atas langit, jauh sekali, Lee Ing sayup-sayup mendengar suara Han Sin,

"Ing-moi, kau percayalah kepadaku. Aku seorang laki-laki maka dalam hal ini aku kiranya lebih tahu dari padamu. Seorang pria seperti Oei Siok Ho itu, yang begitu pesolek, begitu lemah lembut, begitu memikat..... biasanya tidak boleh dipercaya. Hanya manis mulut, tidak terus ke hati. Aku aku

curiga sekali kepadanya dan sekarang juga akan kukatakan terang-terangan kepadanya. Ing-moi, percayalah karena aku...... aku akan sengsara sekali kalau melihat kau sampai salah pilih. Kepada Siok Bun aku percaya penuh. "

Seperti dalam mimpi, Lee Ing hanya mengangguk. "Hati-hatilah, Ing-moi hati-hatilah."

"Akan kuperhatikan, Sin-ko..... terima kasih atas nasihatmu...." jawab Lee Ing seperti orang lupa ingatan.

Melihat gadis itu menjadi lesu dan pucat, Han Sin bersedih, la khawatir sekali bahwa gadis ini betul- betul jatuh hati kepada Siok Ho. Karena ia sendiri merasa amat terharu, tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu pergi meninggalkan Lee Ing yang masih berdiri melamun.

Dengan langkah tegap dan hati panas Han Sin keluar dari taman, langsung pergi mencari Siok Ho! Dalam urusan mengenai diri Lee Ing, tidak ada sungkan-sungkanan lagi. Biarpun selama ini Siok Ho memperlihatkan diri sebagai sekutu yang baik, juga sebagai pembela Tiong-gi-pai, akan tetapi dalam urusan mengenai diri Lee Ing, dia tak boleh berlaku sungkan lagi. Dia harus menempatkan diri sebagai pelindung kebahagiaan gadis itu kalau ia gagal menempatkan diri sebagai calon jodohnya.

Tak seorang jugapun, baik Siok Ho atau siapa juga, boleh menghancurkan kebahagiaan hidup gadis itu. la tidak percaya kepada Siok Ho, tidak percaya dalam hal kasih sayangnya terhadap Lee Ing. la harus memperingatkan Siok Ho agar jangan main-main dengan Lee Ing, jangan menjadikan gadis itu korban ketampanannya! Akan tetapi ia tidak dapat menemukan Siok Ho. Sebaliknya ia malah bertemu dengan Siok Bun di halaman depan bangunan Hoa-lian-pai.

"Liem-suhehg. kau hendak ke mana?" tanya Siok Bun yang melihat wajah orang muram. "Aku mencari saudara Oei Siok Ho, di manakah dia?" jawab Han Sin secara singkat dan kaku.

"Dia tadi turun ke sana, mungkin dia hendak mandi di pancuran air," kata Siok Bun. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dengan langkah lebar Han Sin lalu menuju ke jurusan yang ditunjuk.

Tidak enak perasaan Siok Bun. Diam-diam pemuda ini lalu mengejar dan mengikuti Han Sin dari jauh. Semenjak terjadi persaingan dalam memperebutkan kasih Lee Ing, memang diam-diam Siok Bun selalu merasa khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa antara Siok Ho dan Han Sin. Dia sendiri memang sudah mengalah terhadap Siok Ho dan sekarang ia khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu, kalau-kalau Han Sin yang jujur dan keras hati akan menantang Siok Ho. Maka ia mengikuti dan bersiap-siap, kalau perlu melindungi Siok Ho, tuan penolongnya yang selamanya akan ia bela.

Betul saja, ketika tiba di dekat pancuran air gunung yang dari kejauhan sudah terdengar suaranya, Han Sin melihat Siok Ho sedang hendak membuka pembungkus rambut kepalanya. Siok Ho mendengar tindakan kaki orang dan cepat menengok, kelihatan pucat dan kaget sekali melihat Han Sin sudah berdiri di belakangnya. "Kau.... kau mau apa mengikuti aku.     ?" tanyanya gagap karena ia tadi benar-benar kaget melihat

Han Sin di situ. Melihat kegugupan orang, Han Sin inakin merasa yakin bahwa tentu Siok Ho sudah merasa mempunyai kesalahan, sudah merasa bersikap palsu di depan Lee Ing. Dengan senyum sindir ia berkata,

"Biarpun kau mencuci dirimu sampai Air pancuran habis, kau takkan mampu membersihkan diri dari kepalsuan!" Siok Ho makin terkejut. Cepat ia membenarkan letak kain pembungkus kepalanya, lalu menghampiri Han Sin, matanya yang tajam itu menatap penuh selidik.

"Eh, saudara Liem, kau kenapakah? Kau kelihaian tidak sewajarnya, apakah kau sakit ? Ada perlu

apa kau mencariku. ?"

"Orang she Oei, ketahuilah. Aku datang mencarimu untuk menyatakan bahwa aku melarang kau menggoda nona Lee Ing! Aku yang akan menghajarmu kalau kau berani mempermainkannya dengan ketampananmu!"

Siok Ho menjadi merah mukanya, matanya berapi. Dengan jari telunjuknya menuding ke arah hidung Han Sin,dia berseru. "Saudara Liem Han Sin, kau ini siapakah berani bicara begitu kepadaku? Kau perduli apa dengan semua urusanku?" Han Sin mencabut keluar sepasang senjatanya, kipas dan pitnya. lalu berkata, suaranya keras, "Urusanmu yang lain aku tidak perduli, akan tetapi kalau kau menggoda Lee Ing. Aku akan mengadu nyawa dengan kau tidak rela melihat Lee Ing menjadi korbanmu!"

Siok Ho tertawa mengejek. "Heh, laki-laki tak bermalu. Kalah bersaing menjadi gila karena cemburu dan iri hati! Kau sendiri kalau becus, kenapa tidak merampas kasih sayang Lee Ing? Mengapa kau tumpahkan kemarahan kepadaku?"

"Lee Ing seorang gadis suci, tidak patut bersisihan dengan kau yang bersikap palsu. Kau sudah mempergunakan pengaruhmu untuk menguasai orang-orang Hoa-lian-pai dan kau pergunakan kemanisan mulutmu untuk menjatuhkan hati Lee Ing. Apa kau kira aku tadi tidak melihat semua itu? Orang she Oei, pendeknya kalau kau tidak berjanji menjauhi Lee Ing, terpaksa aku menantangmu untuk bertempur."

"Eh, eh, orang she Liem! Kau kira aku takut kepadamu? Sungguh muka tebal, kalah bersaing marah- marah!"

"Aku tidak menghendaki Lee Ing dengan paksa. Aku lebih suka melihat gadis itu berjodoh dengan saudara Siok Bun atau tidak menikah sama sekali dari pada melihat dia kelak sengsara di dalam tanganmu yang palsu dan kotor."

"Keparat, kau menantang dan menghina." Siok Ho mencabut keluar pedangnya. Dua orang jago muda itu sudah siap-siap untuk bertanding mati-matian. Tiba-tiba melompat keluar Siok Bun. Pemuda inipun sudah memegang senjatanya, gaetan yang bersinar putih. Datang-datang ia mencela Han Sin.

"Saudara Liem, sepak-terjangmu kali ini benar benar amat mengecewakan hatiku, benar-benar tak dapat dipuji sebagai sikap seorang gagah. Kau menantang dan hendak menyerang adik Oei hanya karena kau cemburu dan iri hati. Kalau memang nona Lee Ing dan adik Oei sudah saling menyintai, mengapa kau tidak tahu diri dan mundur? Ah, saudara Liem Han Sin yang baik. Di dunia ini tidak hanya ada Lee Ing seorang, dan menjadi gelap mata karena cinta benar-benar memalukan dan tidak layak menjadi sikap orang gagah. Di mana kejantananmu?"

Merah muka Han Sin mendengar teguran ini. "Siok-twako, kata-katamu memang tepat. Akan tetapi kau salah duga. Aku bukan marah karena iri hati dan cemburu. Aku melakukan semua ini demi kebahagiaan nona Souw Lee Ing. Karena aku yakin bahwa saudara Oei ini takkan membahagiakan hidupnya kelak, maka aku bersikap seperti ini dan aku ulangi lagi, kalau saudara Oei tidak berjanji menjauhinya, aku menantangnya untuk bertempur!"

"Boleh... boleh. akupun tidak gentar!" kata Oei Siok Ho sambil melangkah maju, pedang siap di

tangan.

"Tahan...I" Siok Bun melompat ke depan dan menghadapi Han Sin, wajahnya agak pucat dan suaranya terdengar keren ketika ia berkata,

"Sungguh menyesal sekali bahwa aku harus menyatakan ketidaksenangan hatiku terhadap sikapmu itu, saudara Liem! Seperti juga kau atau aku, saudara Oei Siok Ho ini bebas memilih siapa saja menjadi kekasihnya, dan bukanlah salahnya kalau nona Souw memilih dia. Alasanmu itu kosong belaka dan biarpun selama ini aku selalu kagum kepadamu dan menganggap kau tidak saja sebagai kawan seperjuangan, akan tetapi juga sebagai saudara, sekarang terpaksa aku tak dapat tinggal diam dan akan menjadi lawan dan musuhmu kalau kaulanjutkan sikapmu yang tak baik terhadap saudara Oei Siok Ho. Aku mewakili ayah dan di sini aku mengharapkan ketenteraman. Kalau kau tidak suka tinggal di sini lagi, kau boleh tinggalkan kami!"

Wajah Han Sin sebentar pucat sebentar merah. Sama sekali tidak disangkanya Siok Bun akan semarah itu dan akan membela Siok Ho mati-matian. la tidak takut, biar andaikata harus bertempur melawan dua orang ini. Akan tetapi ia tidak ada urusan dengan Siok Bun, pula tadi ia hendak menantang Siok Ho juga bukan karena uruSan lain kecuali mengenai diri Lee Ing Kalau Siok Bun sudah memihak Siok Ho, benar-benarkah dia yang keterlaluan dan bersalah? Han Sin orangnya jujur dan baik hati, sekarang ia mulai ragu-ragu akan kebenaran sikap sendiri.

"Aku perlu memikirkan hal ini seorang diri. Siok-twako, aku hendak pergi dulu, biar lain kali kita bicara lagi." Setelah berkata demikian, Han Sin lari cepat turun gunung sambil menyimpan kembali sepasang senjatanya.

Dua orang muda itu, Oei Siok Ho dan Siok Bun, berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Han Sin. Sampai lama mereka tidak bergerak, juga tidak mengeluarkan suara. Akhirnya terdengar Siok Bun menarik napas panjang dan berkata,

"Kasihan sekali saudara Han Sin.   "

"Memang harus dikasihani dia.." jawab Siok Ho sambil menyimpan pedangnya.

"Akan tetapi salahnya sendiri, la tidak boleh begitu lemah karena pengaruh cinta kasih tak sampai. Sebagai seorang pendekar ia harus berhati teguh dan kuat." Siok Ho tak menjawab dan keduanya diam agak lama.

"Siok-twako, kenapa kau tadi membelaku? Bukankah kau juga tahu betapa saudara Liem itu mencintai nona Lee Ing? Kenapa kau seakan-akan berdiri di fihakku dan lebih suka melihat Lee Ing di sampingku?" Siok Bun mengerutkan kening, agaknya sukar untuk menjawab. "Karena kaupun mencinta Souw-lihiap dan ia juga mencintamu, karena... karena aku lebih senang melihat kau menjadi jodohnya sehingga kau dan dia hidup bahagia..."

"Siok-twako, kenapa kau justeru memperhatikan kebahagiaanku? Kenapa kau tidak memperhatikan kebahagiaan saudara Liem? Tidak melihatkah kau tadi betapa hancur hatinya? Apa kau tidak dapat membayangkan betapa akan menderita batinnya kalau Lee Ing sampai menjadi kepunyaan orang lain? Siok-twako, kenapa justeru kau mengalah kepadaku?"

"Saudaraku yang baik, mengapa kau masih mengajukan pertanyaan seperti itu? Han Sin boleh jadi sahabatku yang baik, kawan seperjuangan yang kuhormati, akan tetapi dibandingkan dengan kau....

tentu saja aku berfihak kepadamu. Kau adalah penolongku, kau orang yang kuanggap paling mulia dan karenanya aku ingin melihat kau bahagia "

Siok Ho mengerutkan alisnya yang hitam. "Jadi kau mau bilang bahwa kau lebih sayang kepadaku dari pada Han Sin?"

"Tentu saja!"

"Dan kasih sayang serta pembelaanmu itu berdasarkan atas pertolonganku dahulu itu ketika kau terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang? Jadi artinya, kau hendak membalas budi?"

Siok Bun mengangguk akan tetapi cepat disusul dengan suaranya. "Tidak..! Tidak hanya untuk membalas budi.... entah, kau... kau kuanggap seperti saudaraku sendiri, malah lebih dari itu.....

Saudara Siok Ho, entah mengapa, di dalam hatiku, aku hanya ingin melihat kau bahagia!"

Siok Ho tertawa, suara ketawanya aneh sehingga Siok Bun menatapnya dengan heran. Siok Ho menahan ketawanya dan bertanya lagi, suaranya kini sungguh-sungguh dan sepasang matanya memandang wajah Siok Bun penuh selidik. "Siok-twako, katakanlah sejujurnya. Bukankah kau mencinta nona Lee Ing?"

"Dulu memang." jawab Siok Bun cepat tanpa ragu-ragu, "memang aku suka dan kagum kepadanya, sampai sekarangpun masih suka dan kagum. Akan tetapi mencinta? Tidak lagi, semenjak kuketahui bahwa kau mencintainya!"

"Eh, Siok-twako! Jadi kau beratkan aku dari pada nona Lee Ing?" Siok Bun mengangguk.

"Lebih berat dari pada siapapun juga." Tiba-tiba muka Oei Siok Ho menjadi merah sekali dan pemuda ini tertawa sambil mendongakkan mukanya yang tampan. Suaranya tergetar aneh ketika ia berkata,

"Kau manusia aneh.! Hampir kukatakan kau gila !" Setelah berkata demikian

ia lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan Siok Bun.

Pemuda ini berdiri bengong, lalu mengangkat pundak. "Apa hendak dikata? Memang hatiku berat sekali padanya aah, aku cinta kepada saudara Oei Siok Ho. lebih besar dari pada cinta kepada Lee

Ing. Memang aneh, pantas dia menganggap aku gila. Mungkin aku sudah gila " Dengan perlahan

Siok Bun naik lagi ke puncak, pikirannya tidak karuan.

Dapat dibayangkan betapa herannya ketika seorang anak murid Hoa-lian-pai memberi tahu kepadanya bahwa nona Souw minta bertemu dengan dia di ruangan dalam, di lian-bu-thia (tempat berlatih silat). Bergegas Siok Bun pergi ke ruangan itu dan mendapatkan Lee Ing duduk di atas bangku seperti patung, mukanya agak pucat dan ada tanda-tanda basah di pipinya seperti orang baru menangis. Siok Bun merasa kasihan, mengira bahwa gadis ini tentu kembali teringat ayahnya dan menangisi nasibnya.

Akan tetapi sesungguhnya Lee Ing bukan hanya menyedihi ayahnya. Memang ia masih berduka dan berkabung karena kematian ayahnya, akan tetapi pada saat itu ia menghadapi persoalan lain yang membuat ia ingin sekali menangis menggerung-gerung saking bingung dan jengkelnya. Sikap Siok Ho tadi di taman bunga telah mendatangkan perasaan tidak karuan kepadanya, membuat ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa kecuali menangis.

Setelah ia puas memeras air mata di dalam kamar, ia mengambil keputusan untuk berterus terang minta pendapat Siok Bun. Ia dihadapkan kepada persoalan yang membingungkan hatinya. Han Sin menyatakan bahwa dia lebih baik menjauhkan diri dari Siok Ho dan lebih patut menerima cinta kasih Siok Bun.

Sebaliknya, Siok Ho menyatakan bahwa jodohnya yang paling baik adalah Han Sin. Bagaimana ini? Ia mengambil keputusan untuk bertanya kepada Siok Bun. Kalau sikap Han Sin dan Siok Ho boleh dibilang aneh sekali ia kira tidak demikian dengan Siok Bun. Ia sudah mengenal Siok Bun sebagai seorang pemuda gagah yang kiranya takkan mau membohong. Ketika melihat Siok Bun datang, Lee Ing memcoba tersenyum lalu mempersilahkan pemuda itu duduk.