-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 18

Jilid 18

Akhirnya mendengar bahwa Souw Teng Wi mempunyai ilmu pukulan yang menjadi warisan Bu-beng Sin-kun, dua orang kakek tua ini menyuruh murid masing-masing, yaitu Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, untuk membujuk Siok Beng Hui memberi tahu di mana tempat sembunyi Souw Teng Wi. Hal ini sudah diceritakan di bagian depan. Juga Souw Lee Ing pernah melihat dua orang kakek ini menuju ke kota raja.

Memang, kakek sakti itu keduanya mencari ke kota raja dan mendengar bahwa Souw Teng Wi telah lenyap diculik orang. Mereka cepat menyusul ke selatan lagi dan di tengah jalan melihat rombongan Auwyang Tek. Diam-diam inereka mengikuti rombongan ini setelah mendengar bahwa rombongan ini juga hendak mengejar penculik Souw Teng Wi ke Ta-pie-san. Karena dua orang ini memang memiliki kesaktian tinggi, maka Auwyang Tek dan kawan-kawannya tidak melihat mereka.

Ketika mereka melihat keadaan, kelenteng yang kacau balau karena perbuatan anak buah Auwyang Tek. dua orang kakek ini diam-diam memasang mata. Akhirnya mereka melihat seorang pemuda yang cepat sekali gerakan-gerakannya, lari dari kelenteng memanggul tubuh seorang laki-laki. Mereka lalu menghadangnya dan berhadapan dengan pemuda itu yang bukan lain adalah Sim Hong Lui yang hendak melarikan diri membawa jenazah Souw Teng Wi setelah ia melihat bahwa Souw Lee Ing telah terlepas dari belenggu.

Biarpun telah gila dan memiliki kepandaian tinggi, tetap saja pemuda ini masih mempunyai watak pengecut. Ia tahu bahwa dalam hal kepandaian. ia masih kalah ssetingkat oleh Lee Ing, maka ia tidak berani melawan, apa lagi karena tempat itu kedatangan demikian banyak musuh.

Dua orang kakek itu menahannya dan bertanya tentang Souw Teng Wi. Hong Lui boleh jadi jerih terhadap Lee Ing, akan tetapi orang lain ia memandang ringan. Ditanya tentang Souw Teng Wi. ia bilang bahwa Souw Teng Wi sudah mati dan mayatnya ia bawa, kalau dua orang kakek itu hendak mengantar nyawa Souw Teng Wi boleh mampus sekarang juga!

Tentu saja Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek- mo menjadi marah-marah dan mendesaknya untuk mengaku jelas yang dijawab oleh serangan Sim Hong Lui seperti telah diceritakan di atas pada saat Lee Ing tiba di situ. Sebelum melakukan serangannya tadi, Hong Lui lebih dulu melemparkan mayat Souw Teng Wi ke atas tanah.

Sementara itu, Lee Ing yang juga telah melihat mayat ayahnya, tidak memperdulikan lagi kepada mereka, melainkan cepat-cepat melangkah maju menghampiri jenazah ayahnya dan dipondongnya ke pinggir, menjauhi mereka yang sedang bertempur. Memang Hong Lui sudah menyerang kalang- kabut kepada dua orang kakek itu karena penasaran melihat pukulannya tadi tidak mendatangkan hasil.

"Hebat, ini dia Bu-beng Sin-kun mudai" kata Tok-pi Sin-kai sambil menggerakkan tubuh mengelak dan balas menyerang dengan tangan tunggalnya.

"Malah lebih berbahaya....!"kata Im-kan Hek-mo pula sambil mencoba untuk mematahkan lengan tangan pemuda itu dengan tangkisan tongkat ulamya. Akan tetapi, hanya terdengar bunyi "takkkl" dan tongkatnya terpental, sedangkan lengan pemuda itu tidak apa-apa! "Kita harus kalahkan dia dan desak di mana adanya Bu-beng Sin-kun !*’ teriak Tok-pi Sin-kai sambil menyerang maju.

Lee Ing yang duduk di dekat mayat ayahnya, ketika menengok ke depan, melihat bahwa kakek tangan satu itu betul-betul lihai sekali ilmu silatnya. Biarpun lengan tangannya tinggal sebelah, namun tangan itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata sehingga seakan- akan berubah menjadi enam buah, sedangkan setiap pukulannya mendatangkan sambaran angin yang dingin. Di sampingnya, Im-kan Hek-mo ternyata juga lihai sekali..

Tongkat ular di tangannya seperti hidup bergerak-gerak turun naik sukar sekali diduga ke mana arahnya dan mana yang hendak dijadikan sasaran. Tongkat ini dapat dipergunakan untuk memukul maupun menotok, keduanya dapat merenggut nyawa.

Dua orang kakek ini, menghadapi seorang di antaranya saja sudah berat, apa lagi sekarang mereka maju bersama. Benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh. Kalau dua orang kakek ini ditambah lagi dengan Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, masih tidak mampu mengalahkan Bu-beng Sin- kuo, dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian Bu-beng Sin-kun!

Seperti telah diketahui, di dalam Gua Siluman keadaannya amat menyeramkan, dan di situ mengandung hawa ajaib yang mungkin sekali tercipta karena keadaan yang amat mengerikan ketika Bu-beng Sin-kun berada di dalam gua, menjaga kekasihnya sampai gadis itu mati dan membusuk di dalam gua! Penuh dengan hawa nafsu, penuh dengan kerinduan, sehingga bagi siapa yang memasukinya, kalau kurang kuat batinnya akan menjadi gila seperti halnya Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui.

Souw Teng Wi lemah batinnya karena ia sedang merana dan rindu dendam kepada isterinya yang ia tinggal pergi bertahun-tahun lamanya. Maka hawa busuk di dalam gua itu mempengaruhi otaknya dan membuatnya gila, lebih-lebih pengaruh hawa jahat dalam gua itu terhadap Sim Hong Lui, lebih hebat lagi. Pemuda ini memang sudah mempunyai kebiasaan jahat, hati dan pikirannya tidak bersih lagi.

Setelah berhasil menemukan Gua Siluman dan mempelajari ilmu di situ, ia telah berubah seperti iblis sendiri. Akan tetapi harus diakui bahwa semua ilmu silat yang tinggi dan aneh dari Bu-beng Sin-kun telah dipelajarinya dengan baik dan kalau Lee Ing dapat mewarisi hawa murninya, adalah pemuda ini sebaliknya. Mewarisi hawa jahat di dalam gua itu.

Sim Hong Lui telah menjadi demikian lihai, baik ilmu silat maupun tenaganya sehingga menghadapi keroyokan dua orang kakek itu, ia masih dapat mempertahankan diri biarpun ia hanya bertangan kosong! Gerakan-gerakannya sudah tidak karuan lagi, kadang-kadang limbung terhuyung-huyung, kadang-kadang jongkok berdiri Seperti orang liar menari-nari.

Akan tetapi makin aneh gerakannya, makin lihailah dia. Sambaran tongkat ular di tangan Im-kan Hek-mo dap pukulan-pukulan tangan kanan yang ampuh dari kakek buntung Tok-pi Sin-kai, selalu hanya mengenai angin belaka atau tertumbuk dengan kerasnya pada lengan tangan pemuda itu. Sebaliknya, desakan-desakan liar dari Sim Hong Lui kadang-kadang membuat dua orang kakek itu melompat mundur sambil mengeluarkan seruan kaget.

"Lihai sekali," seru pengemis buntung itu, "gerakan-gerakannya mirip Bu-beng Sin-kun, akan tetapi mengandung hawa iblis.." "Agaknya Bu-beng Sin-kun sudah menyerahkan diri kepada iblis, ilmu silatnya berubah ilmu hitam...!" kata Im-kan Hek-mo sambil mendesak terus dengan hati penuh penasaran.

Kedua orang ini, Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, keduanya adalah tokoh-tokoh kang-ouw, pendekar-pendekar besar yang puluhan tahun yang lalu amat terkenal. Mereka tergolong tokoh- tokoh kang-ouw yang namanya bersih, biarpun berwatak aneh namun bukan tergolong orang-orang jahat. Permusuhan mereka dengan Bu-beng Sin-kun hanya karena adu kepandaian saja. Maka sekarang menyaksikan sepak terjang Sim Hong Lui mereka kaget dan juga heran.

Sepanjang pengetahuan mereka Bu-beng Sin-kun adalah seorang tokoh besar yang bersih pula ilmunya, mengapa sekarang menurunkannya kepada seorang pemuda yang demikian gila seperti iblis? Adapun Lee Ing yang melihat pertempuran itu, diam-diam memuji Sim Hong Lui yang benar tangguh sekali, juga ia merasa penasaran ilmu di Gua Siluman dimainkan seperti iblis jahatnya, setiap serangan mengarah nyawa dan penuh sifat-sifat curang. Apa lagi mendengar ucapan dua orang kakek itu, ia menjadi penasaran sekali.

Nama baik gurunya, Bu-beng Sin-kun, tidak boleh ternoda oleh sepak-terjang seorang berotak miring Sim Hong Lui. Gadis ini setelah menutupi jenazah ayanya dengan baju luarnya, lalu melompat maju ke dalam kalangan pertempuran dan sama sekali tidak perdulikan Pek Mao Lo'jin dan Im-yang Thian- cu yang juga sudah sampai di situ dan menonton pertempuran dengan pandang mata kagum.

Dua orang kakek ini maklum bahwa orang-orang yang bertempur mempunyai tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka, sukar diukur sampai di mana tingginya. Tentu saja mereka tahu siapa dua orang yang mengeroyok pemuda gila itu. Semua orang kang-ouw mengenal Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, biarpun dua orang ini sudah belasan tahun lenyap dari dunia persilatan.

"Minggirlah kalian dua orang kakek tua. Orang gila ini musuhku!" teriak Lee Ing yang melompat ke tengah medan pertempuran sehingga pada saat itu, pukulan tangan kanan Tok-pi Sin-kai dan ayunan tongkat ular lm-kan Hek-mo yang tadinya ditujukan kepada Sim Hong Lui, kini menyambar kearahnya tanpa dapat ditarik kembali oleh para penyerangnya karena gerakan Lee Ing memasuki medan pertempuran itu terlalu cepat.

Sedangkan Sim Hong Lui yang melihat siapa yang masuk sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu menyerang pula dengan kedua tangan dibentangkan lalu ia menubruk dan memeluk ke arah pinggang Lee Ing! Dengan demikian, begitu memasuki medan pertempuran, sekaligus Lee Ing menghadapi tiga serangan dari tiga orang yang pandai.

Akan tetapi gadis lihai ini tidak menjadi gugup. la menggerakkan kedua tangan ke belakang, bagaikan dua ekor ular sakti dua tangannya menangkap pergelangan kedua tangan Sim Hong Lui lalu dengan seruan keras ia melompat sambil berpoksai sehingga tahu-tahu ia "bertukar tempat" dengan pemuda itu dan kini Sim Hong Lui yang menghadapi serangan dua orang kakek itu yang baru datang! Pemuda ini mengeluarkan seruan aneh, ke dua kakinya bergerak dan tongkat ular serta pukulan kakek buntung keduanya dapat ia tangkis dengan tendangan-tendangannya!

Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo melompat mundur dengan wajah berubah. Tidak saja mereka terheran-heran menyaksikan kehebatan gerakan Lee Ing, akan tetapi kaget sekali menyaksikan betapa dalam keadaan kedua tangan tak berdaya, pemuda itu masih dapat menangkis serangan hanya dengan tendangan-tendangan kaki! Benar-benar dua orang muda ini memiliki ilmu yang amat luar biasa. Sementara itu, Lee Ing sudah melepaskan cekalannya sambil mendorong maju pemuda itu. Hong Lui juga cepat-cepat membalikkan tubuh menghadapi Lee Ing lalu cengar-cengir menjemukan.

"Ahahhah! Kiranya kau nona manis. Kita memang cocok sekali satu kepada yang lain, kedua-duanya murid Gua Siluman, Ha-ha-hah, kakek-kakek hampir mampus ini menyebalkan saja. Baik kita tinggalkan mereka dan mari ke Gua Siluman, selanjutnya kita berdua hidup bahagia!"

Baru kali ini ia mendengar ocehan Sim Hong Lui yang agak panjang dan mukanya menjadi merah sekali. Celaka, pikirnya. Banyak pemuda mencintainya, pemuda-pemuda ganteng dan baik baik seperti Han Sin dan Siok Bun. Apa lagi Oei Siok Ho. Hemm pemuda-pemuda seperti itu sih pantas gpja kalau mencintanya. Akan tetapi pemuda seperti si otak miring ini? Menyebalkan sekali!

"Sim HongLui, jangan kau mengoceh tidak karuan. Kau ini manusia gila berani mengaku murid Bu- beng Sin-kun. Ketahuilah, hanya aku seorang murid suhu Bu-beng Sin-kun, bukan macam mukamu, manusia gila!" Sambil berkata demikian, Lee Ing sengaja melirik kepada dua orang kakek yang tadi mencela Bu-beng Sin-kun, karena memang kepada merekalah dia menujukan perkataannya itu. Sim Hong Lui ketakutan. Ia sudah merasakan kelihaian nona ini dan ia sudah kalah.

"Nona manis, ayahmu dan ayahku sudah setuju kalau kita berjodoh. "

"Tutup mulut!" Lee Ing menyerbu dan menerjang dengan pukulan dahsyat! Hong Lui mengelak dan balas menyerang, mulutnya tiada hentinya bersambatan dan mengeluh. Akan tetapi tangannya tidak tinggal diam, melainkan balas menyerang dengan kedahsyatan yang sama. Memang, di balik kegilaannya, Sim Hong Lui tetap merupakan seorang yang licik dan banyak akalnya, la pura-pura saja mengeluh dan minta dikasihani, akan tetapi

diam-diam ia mencari akal untuk merobohkan gadis itu.

Malang baginya, Lee Ing tidak memperdulikan segala ocehannya dan tetap menyerang dahsyat. Gadis ini telah menyimpan pedangnya karena ia malu kalau tak dapat mengalahkan pemuda gila ini bertangan kosong, la sekarang tahu di mana letak kelihaian pemuda ini, yaitu di dalam pukulan- pukulan yang mengandung hawa dingin.

Pemuda ini lebih memperkuat lm-kang ketika mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bu-beng Sin kun. Ia tidak mau kalah, sambil mengeluarkan seruan-seruan dan suara ketawa yang mengandung tenaga Im-kang dahsyat untuk melawan suara Hong Lui yang merengek-rengek, gadis ini terus melancarkan serangan bertubi-tubi dan menghantam mendesak lawannya dengan bagian-bagian Lo-thian-tong- te, yaitu bagian Ilmu Silat Thian-te-kun terdahsyat yang belum dipelajari oleh orang lain kecuali Lee Ing sendiri.

Benar saja. Pemuda itu sekarang main mundur dan terdesak hebat. Ia mulai celingukan mencari jalan keluar, namun Lee Ing tidak memberi kesempatan kepadanya. Jalan lari depan kanan kiri sudah tertutup oleh hawa pukulan Lee Ing yang baru sekali ini menemui lawan paling tangguh selama ia keluar dari Gua Siluman.

Jalan satu-satunya bagi Hong Lui hanya main mundur, berputaran dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menyelamatkan diri. Memang hebat sekali warisan ilmu menjaga diri dari Bu- beng Sin-kun. Pemuda itu dapat melompat ke sana ke mari dan semua pukulan Lee Ing menyambar angin. Kalau toh ada yang sudah mendekati sasaran, selalu menyeleweng ke samping.

Lee Ing maklum bahwa itu adalah berkat ilmu lweekang tinggi yang dipergunakan melindungi seluruh tubuh sehingga seakan-akan ada hawa ajaib berputaran di luar kulit tubuh, menolak setiap pukulan yang mendekat! Puncak lweekang peninggalan Bu-beng Sin-kun sudah dikuasai oleh pemuda ini, benar-benar amat berbahaya pemuda gila ini kalau dibiarkan hidup.

Sementara itu, bukan saja Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu yang menonton dengan penuh keheranan dan takjub, bahkan Tok-pi Sin-kai dan lm-kan Hek-mo mengangguk-angguk kagum dan Harus mengaku bahwa selama hidup mereka baru kali ini menyaksikan pertarungan yang demikian dahsyat di mana dua orang lawan yang memiliki kepandaian sama anehnya melakukan pertandingan mati-matian. Hawa yang timbul dari perkelahian itupun amat aneh, kadang-kadang panas kadang- kadang dingin dan pekik serta seruan dua orang muda itu membuat empat orang kakek ini sampai tergetar jantungnya.

Seratus jurus lebih mereka bertempur dan belum juga Lee Ing dapat merobohkan lawannya. Akan tetapi tempat pertempurannya makin Jauh tergeser dari tempat semula karena Hong Lui main mundur dan Lee Ing terus mengejar. Akhirnya Im-kan Hek-mo dan Tok-pi Sin-kai sempat juga memperhatikan sekelilingnya dan melihat Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu, mereka datang mendekat. Im-yang Thian-cu dan Pek-Mao Lojin menjura dengan hormat.

"Hemm, kalau tidak keliru pandanganku yang lamur, Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu di sini," kata Tok-pi Sin-kai.

"Betul sekali dugaan Sin-kai yang terhormat," jawab Im-yang Thian-cu.

"Kalian berada di sini bersama gadis itu, siapakah dia gerangan yang memiliki ilmu pukulan Bu-beng Sin-kun? Apakah betul dia itu muridnya?" tanya Im-kan Hek-mo.

Pek Mao Lojin yang tidak mengetahui tentang permusuhan dua orang kakek tua ini terhadap Bu- beng Siu-kun, menjawab tertawa, "Kami dua orang tua mana tahu dia murid siapa? Hanya yang jelas kami sama sekali bukanlah apa-apa kalau dibandingkan dengan dia. Akan tetapi yang kami ketahui nona itu adalah puteri dari pendekar rakyat Souw Teng Wi." Berkata demikian kakek botak ini menujuk ke arah mayat Souw Teng Wi yang masih menggeletak di bawah pohon.

Tok-pi Sin kai dan Im-kan Hek-mo saling pandang lalu mengangguk-angguk. Pantas kalau begitu, pikir mereka. Souw Teng Wi mewarisi kepandaian Bu- beng Sin-kun, tentu ia yang mengajar anak perempuannya. Tidak apa Souw Teng Wi sudah mati, ada anak perempuannya, pikir mereka sambil menengok ke arah pertempuran yang kini meningkat menjadi makin hebat. Hong Lui melawan mati- matian, namun ia sudah amat lelah dan terdesak terus.

Pertempuran antara Sim Hong Lui dan Souw Lee Ing benar-benar merupakan pertempuran hebat sekali. Keduanya ahli waris pusaka Gua Siluman murid-murid Bu beng Sin-kun yang belajar tanpa petunjuk siapapun juga kecuali gambar-gambar dan tulisan-tulisan di dalam gua. Oleh pelajaran manusia sakti dan aneh itu memang mengandung dua unsur dan hawa berlainan, bahkan yang bertentangan, maka pembentukan ilmu itu dijadikan menurut watak masing-masing. Atau tegasnya, kalau ilmu pelajaran kesaktian itu menjadi bahannya, watak si pelajar menjadi cetakannya.

Souw Lee Ing adalah gadis yang bersih pikirannya dan murni hatinya, tidak terisi oleh sifat-sifat jahat, jauh dari pada nafsu rendah, malah semangatnya bernyala-nyala sebagai seorang pendekar. Dia keturunan pahlawan, darahnya bersih dan di waktu menggembleng diri dengan ilmu peninggalan Bu-beng Sin-kun di dalam gua yang menyeramkan itu, perhatiannya sepenuhnya ia curahkan kepada apa yang ia pelajari tidak menyeleweng ke mana-mana. Tentu saja ia dapat menyedot hawa murni, dapat memetik sari pelajaran bagian yang bersih, ilmu aseli yang memang tadinya menjadi dasar dan milik Bu-beng Sin-kun, pendekar jarang tandingan itu. Apa lagi ia sudah dapat dibilang matang karena ia melatih diri selama empat tahun terus-menerus, hanya berhenti untuk bersamadhi melatih dan memperkuat sinkang di tubuhnya.

Selain ini, ia telah pula makan tiga biji buah karena sian-le peninggalan suhunya. Buah yang sudah ratusan tahun umurnya ini mempunyai khasiat yang istimewa, membersihkan darah memperkuat tulang sumsum sehingga dengan sendirinya tenaga sinkang (tenaga sakti) di dalam tubuhnya dapat meresap dan menjalar sampai di seluruh urat-urat dan memasuki tulang-tulangnya, membuat ia mendapat kemajuan yang melebihi latihan lima tahun.

Sebaliknya, biarpun Sim Hong Lui juga telah mempelajari ilmu-ilmu silat peninggalan Bu-beng Sin- kun dengan amat tekunnya dan berkat kecerdikannya yang luar biasa ia dapat mewarisi dan menghafal semua gerakan Ilmu Silat Thian-te-kun kecuali jurus terakhir, namun selama belajar fikirannya sering kali terisi dengan lamunan-lamunan kotor. Pemuda ini biasanya hidup senang, biasa hidup sebagai seorang pemuda pemogoran yang selalu menurutkan hawa nafsunya.

Sudah tentu saja hidup di dalam gua yang gelap dan menyeramkan itu, baginya merupakan siksaan. Hanya karena dendamnya yang besar membuat ia memaksa diri mempelajari ilmu-ilmu itu sampai habis. Namun, dasar batinnya yang tidak bersih membuat ia tidak dapat menahan pengaruh hawa jahat atau hawa iblis yang memenuhi gua itu sehingga ketika ia keluar dari gua itu, pikirannya telah berubah gila dan yang ia warisi adalah ilmu silat yang penuh mengandung hawa jahat!

Dilihat dari perbandingan itu, memang Sim Hong Lui kalah tinggi tingkatnya oleh Souw Lee Ing. Akan tetapi pemuda yang sudah menjadi gila ini menutup kekalahannya dengan kemenangan tingkat ilmu silatnya di waktu mereka berdua mewarisi ilmu silat di Gua Siluman. Inilah ya rg membuat ia kini dapat menghadapi Lee Ing dengan gigih dan tidak mudah bagi Lee Ing untuk menjatuhkan lawannya dalam waktu pendek.

Setelah seratus jurus lewat, Hong Lui lalu mulai mengeluarkan suara aneh, ketawa tidak menangispun bukan. Akan tetapi Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu merasa jantung mereka berdebar dan kaki mereka lemas ketika mendengar suara yang lebih mirip suara harimau merintih kesakitan itu. Mereka kaget sekali dan cepat-cepat memejamkan mata mengerahkan tenaga lweekang untuk melindungi jantung dan menenteramkan hati agar jangan sampai terluka oleh hawa serangan suara aneh itu.

Mereka maklum bahwa pemuda itu telah mengeluarkan semacam ilmu serangan melalui suara yang jauh lebih hebat dari pada ilmu-ilmu semacam Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) atau khi kang lainnya. Bahkan nyanyian atau suara dari alat tetabuhan khim Lui Siu Nio-nio takkan sehebat ini pengaruhnya. Ini saja sudah menjadi bukti bahwa pemuda gila itu betul-betul memiliki kepandaian hebat dan berbahaya seperti iblis. Hebatnya Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo sendiri sampat melangkah mundur dua tindak saking kagetnya. Tergetar jantung mereka.

"Pemuda gila ini hebat betul. Bu-beng Sin-kun sendiri tak pernah mengeluarkan ilmu seperti ini.." kata Tok-pi Sin-kui dengan kagum.

Memang ucapan ini betul. Bu-beng Sin-kun adalah seorang pendekar gagah perkasa. Mana ia mau mempergunakan segala ilmu yang mengandung hawa kotor? Memang ada geraman suara mengandung khikang yang membikin lumpuh lawan, akan tetapi tidak mengandung hawa kotor seperti yang dikeluarkan Hong Lui. Pemuda inipun secara otomatis mendapatkan ilmu ini setelah khikang dan sinkangnya tinggi sekali. Karena hawa sinkang di tubuhnya digerakkan oleh hawa kotor, tentu saja ilmu yang ia keluarkan juga tidak bersih.

Akan tetapi, biarpun suara itu membuat bulu tengkuk Lee Ing berdiri, mengingatkan gadis ini akan suara-suara iblis yang ditimbulkan oleh angin di dalam Gua Siluman, namun dia tidak menjadi gentar karenanya. Gadis ini lalu bersenandung lagu rakyat Mancuria yang dahulu ia pelajari ketika masih berada di utara bersama kakeknya, Haminto Losu. Akan tetapi sekarang ia menyanyikan lagu ini jauh bedanya dengan dahulu di waktu masih kecil.

Sekarang ia bernyanyi dengan merdu, perlahan akan tetapi dari suaranya tergetar hawa yang mengandung tenaga mujijat, yang mendatangkan rasa aman, tenang dan damai. Seakan-akan suara nyanyiannya itu semacam suara dewi yang mengusir suara iblis yang terkandung dalam geraman- geraman Hong Lui. Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian yii kembali membuka mata karena pengaruh geraman tadi lenyap sudah. Mereka membuka mata dan memandang ke depan. Pertempuran masih berjalan seru.

Akan tetapi jelas sekali bahwa Hong Lui sudah mati kutunya. Pemuda ini masih memukul-mukul dan menendang-nendang, namun setiap kali kaki atau tangannya bergerak, selalu terpental kembali membuat ia terhuyung, seolah-olah yang diserangnya adalah benteng baja. Ia main mundur terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia tertawa mengejek dan terdengar Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo berseru hampir berbareng,

"Jangan biarkan dia melompat ke bawah.. !"

Namun terlambat. Tubuh Sim Hong Lui sudah melayang melalui tebing jurang dan meluncur ke bawah, dibarengi suara ketawanya yang menyeramkan sekali. Lee Ing sama sekali tidak mengira bahwa lawannya akan berlaku nekat. Ia menjenguk ke bawah dan melihat betapa tubuh pemuda itu jatuh terbanting pada batu-batu karang di tebing jurang, lalu bergulingan terus ke bawah dan tiba di dasar jurang dalam keadaan remuk tidak karuan.

Beberapa ekor burung terbang menyambar ke bawah dan terbang berkeliling di atas tumpukan sisa tubuh itu, agaknya menanti sampai mayat itu membusuk baru akan disantap! Lee Ing menutupi dua matanya, penuh kengerian ketika ia mundur kembali dari tepi jurang.

"Omitohud..., tamat riwayat manusia iblis yang amat berbahaya...." kata Pek Mao Lojin sambil menarik napas panjang.

"Pinto harus bantu mengurus pemakaman sumoi..." kata Im-yang Thian-cu perlahan sambil pergi dari situ. Hatinya kembali diliputi kesedihan ketika ia teringat akan sumoinya, Lui Siu Nio-nio yang tewas dalam keadaan mengenaskan itu.

Pek Mao Lojin menghampiri Lee Ing. "Nona Souw, jenazah ayahmu juga perlu diurus sebaiknya. Kurasa dimakamkan di pegunungan ini tiada halangannya karena tanah di sini kulihat amat baik untuk dijadikan makam." Memang pada masa itu, memilih tanah baik untuk penguburan jenazah merupakan hal yang amat penting sekali bagi orang-orang di Tiongkok. Menurut kepercayaan mereka, hal ini dekat sekali hubungannya dengan nasib keluarga si mati, kalau tanah penguburannya baik, roh si mati akan senang dan akan dapat memberi berkah kepada anak cucunya dan demikian Sebaliknya.

Lee Ing timbul juga kedukaannya ketika teringat akan ayahnya, la menengok ke arah jenazah ayahnya yang ia tutupi baju tadi sambil mengangguk. Dalam kedukaannya, ia memerlukan sahabat dan pada saat itu, kiranya hanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu saja yang bisa dijadikan sahabat.

“Biar kuangkatkan jenazah ayahmu ke kelenteng Hoa-lian-pai," kata pula Pek Mao Lojin yang diam- diam merasa amat kasihan kepada nona muda itu. Kembali Lee Ing mengangguk dan menahan air matanya. Pek Mao Lojin sudah memondong mayat itu dan mereka hendak pergi ke kelenteng ketika tiba-tiba Im-kan Hek-mo menahan Lee Ing, katanya,

"Nanti dulu, nona. Kau tidak boleh pergi dulu sebelum memberi penjelasan kepada kami perihal Bu- beng Sin-kun. Bukankah kau telah mewarisi ilmu-ilmunya? Kau mempelajari dari ayahmu ataukah kau langsung menerima dari Bu-beng Sin-kun? Di mana dia sekarang?"

Lee Ing terpaksa berhenti bertindak, lalu berkata perlahan kepada Pek Mao Lojin, Lo-cianpwe harap sudi menolongku, bawa jenazah ayah ke kelenteng, biar aku menyusul belakangan setelah beres urusanku dengan dua orang kakek ini."

Pek Mao Lojin terkejut sekali. Apakah dua orang kakek yang ia tahu amat sakti inipun hendak mengganggu Lee Ing? Benar-benar keterlaluan sekali. Akan tetapi karena maklum bahwa dalam urusan ini ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu, ia hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya, memondong jenazah itu pergi dari situ, untuk merawatnya di dalam kelenteng yang bagian belakangnya sudah terbakar itu. Adapun Lee Ing dengan hati penuh kesebalan memutar tubuh dan menghadapi dua orang kakek itu.

"Kalian ini dua orang tua sungguh tak tahu diri. Sudah mendekati lubang kubur masih mengumbar angkara murka. Murid-murid kalian Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui secara tidak tahu malu hendak membujuk Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui untuk berkhianat. Benar-benar di antara kalian bertiga, hanya Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki yang patut disebut lo-enghiong (orang tua gagah) Kalian ini tiada lebih hanya kakek-kakek yang sudah terlalu tua sehingga wataknya kembali seperti anak kecil yang tidak mau mengalah. Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo, kalian minta penjelasan? Ketahuilah dan dengar baik-baik. Murid Bu-beng Sin-kun adalah aku seorang.

Mendiang suhu Bu-beng Sin-kun adalah seorang gagah perkasa, dan kalian tidak boleh menyebut- nyebut namanya. Kalau kalian masih penasaran, dan tetap tidak mau mengaku kalah oleh beliau, di sini ada aku muridnya yang akan dapat membuktikan bahwa sampai sekarangpun suhu Bu-beng Sin- kun tidak kalah oleh kalian!"

Kata-kata ini memang terdengar sombong, akan tetapi Lee Ing adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Ia bukan sembarangan bicara sombong tanpa perhitungan. Ia tadi mampu mengalahkan Sim Hong Lui, maka tentu saja ia tidak takut terhadap mereka! Sama sekali ia tidak tahu bahwa dua orang kakek ini kalah oleh Hong Lui karena tidak kuat menghadapi hawa iblis yang keluar dari pukulan-pukulan Hong Lui.

Dua orang kakek ini tingkat kepandaiannya sudah sukar diukur tingginya, dan menghadapi ilmu kesaktian yang bersih, kiranya kakek-kakek ini sukar dicari tandingannya. Mereka sekarang sudah jauh lebih maju dari pada dahulu ketika bersama Bu Kam Ki mereka dikalahkan oleh Bu-Beng Sin- Kun.

Tok-pi Sin-kai menghela napas panjang lalu berkata sambil meraba-raba lengan kirinya yang buntung,

"Orang bilang, hutang uang membayar uang, hutang nyawa mengganti nyawa. Bu-Beng Sin-Kun hutang sebuah lengan kepadaku, sekarang ia tak dapat membayar apa-apa karena baik lengan maupun nyawa ia sudah tidak punya lagi. Hayaaa, apa artinya lenganku yang sebelah lagi ini dilatih sampai puluhan tahun? Orang lain mana mampu menguji sampai di mana hasilnya latihan-latihanku selain kau sebagai murid Bu-Beng Sin-Kun Nona Cilik, dahulu gurumu tidak saja membuntungi lengan kiriku, akan tetapi juga mengalahkan kami bertiga saudara. Sekarang kalau muridnya mampu mengalahkan aku, aku tidak penasaran lagi, matipun akan puas. Mari kau coba lengan tunggalku!" Setelah berkata demikian, Tok-pi Sin-kai melangkah maju mendekati Lee Ing.

"Kalau mendiang suhu dahulu menangkan kalian maju bareng bertiga, setelah sekarang kalian menjadi tua, apakah muridnya tak sanggup menhadapi hanya dua orang saja? Im-kan Hek-mo, kau majulah sekalian. Bukankah kau juga masih penasaran dan ingin membalas kekalahanmu dahulu?" kata Lee Ing dengan berani.

"Nona cilik, jangankan mengeroyokmu, baru seorang melawan seorang saja sebetulnya sudah amat memalukan. Akan tetapi melihat kepandaianmu tadi, kau memang patut menjadu ahli waris Bu-Beng Sin-Kun dan karenanya kami berdua tidak malu-malu untuk minta pengajaran darimu sebagai wakil mendiang suhumu," kata Im-kan Hek-mo yang sudah siap dengan tongkat ular di tangannya.

Melihat sikap dua orang kakek yang merendah dan sungkan, lenyap sebagian besar kemarahan hati Lee Ing. Ia memang sudah tahu bahwa bagi ahli silat golongan atas, tidak ada keperihan hati yang lebih menyakitkan dari pada kalah dalam pibu (mengadu kepandaian).

Tidak mengherankan apa bila dua orang kakek ini masih selalu mencari-cari Bu-Beng Sin-Kun untuk menguji kepandaian lagi, dan sekarang menjadi amat kecewa mendengar Bu-Beng Si n-Kun sudah mati. Apa lagi bagi Tok-pi Sin-kai yang kehilangan lengannya dalam pibu melawan Bu-Beng Sin-Kun.

Akan tetapi dasar ia masih muda, darahnya masih bergolak panas dan masih sukar bagi orang semuda Lee Ing untuk memandang secara mendalam.

Belum pandai nona muda ini menempatkan diri dalam perumpamaan sebagai lawan untuk dapat memaklumi benar-benar perataan hati lawan. Ia masih menganggap bahwa dua orang kakek itu memandang dia yang muda amat rendah kepandaiannya.. Sambil tersenyum mengejek nona ini mencabut pedang Li-lian-kiam lalu berkata,

"Tok-pi Sin-kai dan Im-kan Hek-mo! Aku juga tidak takut untuk membela kehormatan suhu. Jangankan baru kalian berdua yang maju, biar ditambah lagi dengan seorang Bu Kam Ki seperti ketika kalian mengeroyok suhu, akupun tidak takuti. Kalau aku sampai kalah menghadapi pengeroyokan kalian berdua, biar kugunduli rambutku!" memang Lee Ing suka sekali berjenaka, akan tetapi kali ini ia agak keterlaluan.

Hal ini tidak saja karena dia memang agak aneh wataknya semenjak keluar dari Gua Siluman, akan tetapi kiranya terutama sekali karena ia baru saja mengalami goncangan batin yang hebat ketika melihat ayahnya tewas. Di dalam dadanya berkumpul perasaan marah, duka, menyesal, dan sakit yang kesemuanya hendak ia tumpahkan kini. Akan tetapi oleh karena ia tidak melihat sesuatu dalam sikap dua orang kakek itu yang bisa membuat ia marah, maka sekarang ia hanya mempergunakan kata-kata mengejek dan memandang rendah mereka untuk memuaskan hatinya yang sedang bergejolak hebat.

Dua orang kakek itu berobah air mukanya mendengar kata-kata Lee Ing seorang gadis muda remaja, cantik jelita seperti itu berjanji hendak menggunduli kepalanya kalau kalah. Inilah pertaruhan hebat sekali! Dua orang kakek itu sudah banyak mengalami segala hal dalam hidup, maklum bahwa bagi wanita, kecantikan lebih berharga dari pada nyawa sehingga pertaruhan tadi bagi Lee Ing lebih berat dari pada mempertaruhkan nyawa! Tok-pi Sin-kai menarik napas panjang.

"Semangatmu hebat sekali, nona. Membuat orang tua seperti aku menjadi malu. Karena kau sudah membuat taruhan, baiklah aku hendak menyatakan bahwa kalau dalam pibu ini kami kalah, tiada gunanya lagi lenganku yang tinggal sebelah ini."

"Nona masih muda dan cantik, kalau sudah berani mempertaruhkan rambut, tidak lebih ringan dari pada kalau aku mempertaruhkan sepasang mataku. Kalau kami kalah berarti aku mempunyai mata, akan tetapi tidak dipergunakan dengan sebaiknya sehingga tidak mengenal nona. Maka lebih baik Sepasang mata ini kubuangkan saja," kata Im-kan Hek-mo.

Mendengar ini, baru hati Lee Ing terkejut bukan main. Tidak disangkanya bahwa ejekan tadi yang dikeluarkan seperti main-main memancing pertaruhan yang demikian hebat dari dua orang kakek itu. Akan tetapi, kata-kata sudah dikeluarkan dan bagi orang gagah lebih baik mati dari pada menelan kembali kata-kata atau janji yang sudah diucapkan. Lee Ing tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan ia melintangkan pedang Li-li-an kiam di depan dadanya sambil berkata, kini tidak main-main lagi melainkan penuh kesungguhan dan hormat.

"Ji-wi (tuan berdua) mulailah!"

"Nona cilik, kau lihat tongkatku..!" seru Im-kan Hek-mo dan tongkat ularnya mulai melakukan serangan pertama yang hebat. Kelihatannya si muka hitam ini hanya menusukkan tongkatnya, namun ujung tongkat ular itu seperti berubah menjadi lima dan lima macam serangan sekaligus menghujani tubuh Lee Ing!

"Bagus!" seru Lee Ing dan tubuhnya terhuyung ke sana ke mari, dengan gerakan pedang yang aneh ia berhasil memecahkan serangan Ngo-heng-Uan-hoan ini dengan mudahnya. Akan tetapi segera ia memutar tubuh untuk menghindarkan diri dari angin pukulan Tok-pi Sin-kai yang sementara itu sudah pula terjun dalam pertempuran, mengeluarkan pukulan-pukulan yang selama ini ia latih khusus untuk menghadapi Bu-Beng Sin-Kun.

Diam-diam Lee Ing kagum. Dua orang kakek benar-benar tak boleh dipandang ringan dan bukan hal mudah untuk menyelamatkan diri dari hujan serangan mereka, la menjadi kaget. Di waktu mereka mengeroyok Sim Hong Lui. tadi, kelihatannya tidak sehebat ini. Mungkinkah sekarang dalam mengeroyok dia, dua orang kakek ini baru benar-benar mencurahkan kepandaian mereka? Apakah tadi mereka tidak sungguh-sungguh ketika menempur Hong Lui?

la tidak mau memusingkan hal ini lebih lanjut, atau lebih tepat lagi, ia tidak diberi banyak kesempatan untuk memikirkan atau memperhatikan hal lain. Serangan-serangan dua orang kakek itu benar-benar lihai dan berbahaya sekali, membuat gadis ini harus mencurahkan seluruh perhatian, mengerahkan seluruh kepandaian dan sinkang. Pada jurus ke tiga puluh, hampir saja telinga kirinya "dimakan" tongkat ular Im-kan Hek-mo yang menyambar secara tidak terduga-duga dan cepatnya bukan main.

Hanya pendengarannya yang amat tajam dan perasaannya yang amat halus saja menyelamatkannya ketika ia miringkan kepala sehingga di pinggir telinganya terdengar suara "ngiiinggg....." dan daun telinganya terasa panas sekali. Pada saat yang bersamaan pula pukulan Tok-pi Sin-kai menyambar keras ke arah lambungnya. Baru saja terlepas dari ancaman tongkat sekarang terancam pukulan sehebat itu, tidak ada lain jalan bagi Lee Ing kecuali melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik seperti trenggiling menuruni tebing jurang. "Akan tetapi baru saja ia melompat berdiri, pukulan-pukulan Tok-pi Sin-kai dan tongkat ular Im-kan Hek-mo sudah mengurungnya lagi. Yang satu memukul dari bawah kalau yang lain menyerang dari atas, yang ke dua mempergunakan tenaga Yang-kang kalau yang pertama mempergunakan tenaga Im-kang. Benar-benar amat sukar bagi Lee Ing sehingga ia lebih banyak mengelak, berloncatan ke sana ke mari dari pada menyerang, Baiknya ia memiliki gerakan cepat dan lincah seperti seekor burung walet dan cara ia bergerak meloncat-loncat demikian kacau-balau seperti orang mabok menari-nari sehingga dua orang lawannya dapat dibuat bingung dan bohwat (tak berdaya).

Demikianlah, untuk puluhan jurus Lee Ing di-desak terus tanpa dapat membalas, atau kalah dapat juga sedikit sekali. Pedang Li-li-an-kiam sudah sibuk untuk menangkis serangan tongkat ular yang seolah-olah sudah pian-hoa (berubah) menjadi belasan ekor ular hidup itu. Tangan kirinya sudah sibuk untuk kadang-kadang menangkis pukulan tangan Tok-pi Sin-kai yang amat kuat dan cepat gerakannya.

Memang, kalau dibandingkan dengan dua orang kakek itu, Lee Ing merupakan seorang tokoh yang masih hijau. Baik dalam hal pengertian ilmu silat, atau pengalaman bertempur maupun latihan tenaga dalam, gadis ini sebetulnya ketinggalan jauh sekali. Dua orang kakek itu sudah merupakan datuk-datuk atau lebih muluk lagi, sebagai dewa-dewa dalam ilmu silat, menduduki puncak tertinggi dan pada masa itu sukar dicari tandingannya.

Mereka telah menjadi jago-jago silat kenamaan ketika Lee Ing belum terlahir dari kandungan ibunya! Yang amat mengherankan hati Lee Ing, dua orang itu bermain silat dengan serasi sekali dan setiap gerakan seakan-akan memang sengaja diciptakan untuk menghadapi ilmu-silatnya, Thian-te-kun yang ia pelajari di dalam Gua Siluman! Serangan-serangan dua orang itu biarpun kelihatannya tidak diatur lebih dulu, akan tetapi merupakan serangan-serangan dengan dua unsur Im dan Yang, sungguh amat cocok dan amat berat menghadapi Thian-te-kun!

Setelah seratus jurus bertempur mati-matian, diam-diam Lee Ing memaki diri sendiri. "Kau goblok," pikirnya, "berani memandang rendah mereka ini. Hemmm, Lee Ing...... Lee Ing.... memang sudah nasibmu agaknya menjadi seorang gundul, menjadi.. menjadi... nikouw (pendeta wanita). Celaka sekali." Entah mengapa, tiba-tiba saja terbayang wajah Siok Ho di depan matanya, lalu terbayang pula wajah Han Sin, lalu Siok Bun! Bagaimana reaksi mereka, tiga orang pemuda itu kalau melihat dia menjadi gundul pelontos, menjadi nikouw?

"Lebih baik mampus....I" Pikiran ini tanpa disengaja keluar dari mulut Lee Ing. dan gerakan pedangnya menjadi nekat dan hebat, la memang sudah tidak ada harapan untuk menang, maka takut apa lagi? Pedangnya berkelebat cepat dan tangkas, berobah menjadi ganas sekali. Akan tetapi hanya untuk beberapa jurus saja dua orang kakek itu terkejut dan mundur, selanjutnya kembali Lee Ing terkurung rapat dan tertindih oleh hawa pukulan Tok-pi Sin-kai dan bayangan tongkat ular di tangan lm-kan Hek-mo!

"Kau lihat, Sin-kai, Thian-te-kun sebetulnya tidak seberapa setelah kita benar-benar melatih diri. Tanpa bantuan Bu Kam Ki. kita berdua sudah mampu menggencet Thian-te-kun," kata lm-kan Hek- mo dengan suara penuh kepuasan hati.

"Kau benar, Hek-mo," jawab Tok-pi Sin-kai.

Alangkah mendongkolnya hati Lee Ing mendengar ini. "Tua bangka-tua bangka sombongi Aku belum kalah, jangan tertawa-tawa dulu. Hayo robohkan aku kalau memang kalian merasa menang! Apa lagi baru kalian berdua, biar Pek-kong-Sin-ciang Bu Kam Ki maju sekalian membantu kalian aku takkan menyerah kalah!" "Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring, "Nona Souw memang lihai sekali, semuda ini sudah bisa menjunjung tinggi nama gurunya. Dan memang tidak kalah hebat oleh Bu-Beng Sin-Kun sendiri!" Melihat orang yang datang, dua orang kakek itu berseru girang.

"Sin-ciang (Tangan Sakti), akhirnya kau datang juga. Apa kau tidak penasaran kalau kita dikalahkan kedua kalinya oleh Thian-te-kun?" kata Tok-pi Sin-kai.

"Kam Ki, nona ini menantang kita bertiga, apa kau tidak malu?" kata pula lm-kan Hek-mo. Diam-diam Lee Ing mengeluh melihat munculnya kakek ini yang bukan lain adalah Pek-kong-Sin-ciang Bu Kam Ki sendiri yang tadi ia tantang-tantang suruh mengeroyok sekalian!

"Mampus..." pikirnya, "lengkap ketiga-tiganya. Suhu, kali ini muridmu agaknya takkan dapat menjaga nama besarmu "

Bu Kam Ki tertawa. "Benar menggembirakan, mengingatkan aku akan Bu-Beng Sin-Kun. Nona Souw, apa kau berani menghadapi kami bertiga?"

"Kakek-kakek cerewet. Siapa sih yang takut? Majulah, jangan hanya kalian bertiga, panggil anak cucu kalian semua ke sini, suruh mengeroyok aku. Aku takkan lari!" jawab Lee Ing dan pedangnya digerakkan menyambar ke arah tubuh Bu Kam Ki.

Kakek ini yang sudah pernah kalah oleh Lee Ing, cepat-cepat mengelak dan di lain saat ia bersama dua kakek yang lain sudah bergerak secara otomatis dan harmonis sekali, mengeroyok Lee Ing yang menjadi kewalahan dan kepalanya pusing melihat gerakan-gerakan tiga orang itu benar menindih semua gerakan Thian-te-kun!

Tiba-tiba Lee Ing teringat akan ilmu pukulan Lo-thian-tong-te, yaitu gerakan-gerakan terakhir dari Thian-te-kun, gerakan yang diciptakan oleh Bu-Beng Sin-Kun pada saat, terakhir sehingga guru besar itu mati berdiri dalam sikap kuda-kuda gerakan itu! Gerakan Lo-thian-tong-te ini sekaligus merangkap unsur Im dan Yang, dan sesuai sekali untuk menghadapi lawan-lawan yang menggunakan dua unsur ini yang dikombinasi tadi oleh dua orang. Dengan semangat besar Lee Ing menerjang maju, memainkan ilmu pukulan ini.

Semangatnya bangkit kembali dan ia melakukan seluruh tenaga terakhir dari sinkangnya. Akibatnya hebat. Tanpa disengaja, Lee Ing telah mengeluarkan ilmu silat yang memang sengaja diciptakan dengan pertimbangan masak-masak oleh Bu-Beng Sin-Kun, khusus untuk menghadapi tiga orang lawan kawakannya, yaitu mereka bertiga yang sekarang mengeroyok Lee Ing.

Tok-pi Sin-kai berteriak, tubuhnya terhuyung ke belakang dan tangannya yang tinggal sebelah menjadi kaku karena tertotok oleh telunjuk tangan kiri Lee Ing, dan pada saat itu juga, Im-kan Hek- mo berseru keras sambil melompat mundur karena tongkat ularnya mencelat terlepas dari tangannya. Bu Kam Ki masih sempat melompat mundur dan menyelamatkan diri dari sebuah tendangan kilat. Selagi ia hendak menyerang lagi, ia melihat sesuatu yang membuat matanya terbelalak dan mukanya pucat.

Ternyata setelah menderita kekalahan ini, cepat sekali Tok-pi Sin-kai menyerang lagi dan ketika Lee Ing menangkisnya dengan pedang Li-lian-kiam, dengan sengaja kakek buntung itu menerima datangnya pedang dengan lengannya. Lee Ing terkejut dan maklum akan maksud lawan, cepat ia hendak menarik kembali pedangnya, namun terlambat. Lengan yang tinggal sebelah itu buntung sampai sebatas siku dan Tok-pi Sin-kai tertawa bergelak memandangi lengan tunggalnya yang kini juga sudah buntung itu.

"Bagus...! lebih baik tak berlengan dari pada mempunyai lengan yang tiada gunanya!" katanya.

Selagi Bu Kam Ki tertegun, ia mengeluarkan seruan keras ketika melihat lm-Kan Hek-mo melakukan lain hal yang lebih mengerikan lagi. Kakek bermuka hitam ini berkati keras, "Untuk apa punya mata seperti buta? Lebih baik tidak bermata sama sekali!" Dan dua buah jari tangannya menusuk dan mengorek keluar matanya sendiri. Kakek ini tertawa bergelak, lalu terhuyung-huyung dan roboh pingsan, mukanya penuh darah!

Biarpun Bu Kam Ki tadinya tidak suka melihat dua orang bekas kawan baiknya ini begitu bernafsu untuk menculik Souw Teng Wi, akan tetapi menyaksikan keadaan mereka, darahnya yang sudah lama didinginkan itu mendadak menjadi panas kembali, la memandang kepada Lee Ing dan memaki, "Kau seorang bocah siluman keji sekali hatimu!" Setelah berkata demikian. Bu Kam Ki melakukan serangan, memukul dengan ilmu pukulan Pek-kong-Sin-ciang yang hebat ke arah Lee Ing.

Sejak tadi Lee Ing sudah kesima, berdiri seperti patung melihat dua orang kakek itu memenuhi janji atas taruhan mereka secara mengerikan sekali, la menyesal bukan main karena dua orang kakek itu telah menjadi demikian karena dia, karena dia tidak mau mengalah! Tiba-tiba ia merasa datangnya angin pukulan hebat sekali yang menyambarnya, la maklum bahwa Bu Kam K i marah sekali. Secepat kilat Lee Ing mengelak dan melompat jauh sambil berkata,

"Bu-locianpwe, mereka yang mendesak aku dan mereka sendiri yang bertaruh seperti itu. Bu-locian- pwe, ayah telah tewas secara menyedihkan, hatiku penuh kedukaan, apakah kaupun hendak mengganggu lebih jauh?" Suara Lee Ing bercampur isak tangis karena selelah ia menyesal setengah mati melihat dua orang kakek yang sekarang menjadi orang-orang cacad itu, ia teringat kepada ayahnya.

Bu Kam Ki menarik napas panjang, lalu membatalkan serangannya lebih lanjut, la menolong Tok-pi Sin-kai yang sudah terhuyung-huyung hendak roboh pula, lalu menotok pangkal lengannya untuk menghentikan mengalirnya darah.

"Kau pergilah, nona Souw," katanya perlahan.

Dengan langkah gontai Lee Ing membalikkan tubuh pergi dari situ, akan tetapi segera mempercepat langkahnya ketika ia teringat bahwa jenazah ayahnya tentu sedang diurus dan dirawat oleh Pek Mau Lojin. Ketika ia tiba di ruangan depan kelenteng yang belum terbakar, ia melihat jenazah ayahnya dan jenazah-jenazah lain sudah dimasukkan peti dan di situ terdapat banyak sekali orang.

Selain para anak murid Hoa-lian-pai yang memberi penghormatan terakhir dan mengabungi ketua mereka, juga terdapat banyak orang laki-laki. Akan tetapi pandang mata Lee Ing tidak memperhatikan yang lain-lain, hanya ditujukan kepada peti jenazah ayahnya dan kepada Pek Mau Lojin yang berdiri di depan peti-peti itu. Melihat hio yang banyak dan mengebul di depan peti-peti jenazah, dapat diketahui bahwa banyak orang sudah menyembahyangi jenazah-jenazah itu.

Lee Ing melihat ada empat peti jenazah di situ. Ia dapat menduga bahwa yang dua adalah peti jenazah ayahnya dan Lui Siu Nio-nio, akan tetapi jenazah siapakah yang dua lagi dan agak dipisahkan di pojok? Dan di depan peti mati yang dua ini tidak ada orang yang mengabunginya. hanya dibakari hio saja. Ia baru hendak menghampiri dan bertanya, ketika tiba-tiba dari rombongan orang-orang muncul seorang hwesio yang mukanya kehitaman. Hwesio ini melompat ke depan dua buah peti jenazah di pojok, lalu menjatuhkan diri, berlutut dan menangis!

Kemudian, di luar dugaan, hwesio ini mencabut pedang dan melompat cepat ke dekat Pek Mau Lojin lalu menusukkan pedangnya dari belakang ke arah punggung kakek itu! Pek Mau Lojin sedang menenggak araknya dari guci sambil berdiri saja. Memang kakek ini aneh sekali. Lain orang bersembahyang, lain orang berkabung dan berduka, dia malah minum arak di depan peti-peti mati! Lebih aneh lagi kalau tadi mendengar ia mengucapkan selamat kepada Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio sebelum minum araknya dengan kata-kata nyaring,

"Souw Teng Wi, Lui Siu Nio-nio, kalian benar bahagia sekali, terbebas dari pada belenggu hidup, takkan tergoda suka, takkan menderita duka, seperti kami yang masih hidup. Oleh karena itu, patut aku menghaturkan selamat!"

Demikianlah selagi ia minum arak dari gucinya untuk "memberi selamat" kepada dua orang yang telah meninggal dunia itu, tiba-tiba saja hwesio bermuka hitam yang menangisi dua peti jenazah yang lain itu tiba-tiba menusuknya dari belakang!

Para anak murid Hoa-lian-pai berseru kaget. Im-Yang Thian-Cu yang sedang duduk terpekur bersila di dekat peti mati Lui Siu Nio-njo menengok kaget. Lee Ing hendak bergerak menghalangi serangan curang ini, akan tetapi tiba-tiba matanya yang tajam melihat sebuah benda kecil melayang ke arah pedang itu. Tepat sekali ketika pedang mengenai punggung, terdengar suara keras "pletak-pletak!" dan pedang itu patah menjadi tiga potong!

Semua anak murid Hoa-lian-pai berseru kagum memuji. Juga Lee Ing kagum sekali karena biarpun ia tahu bahwa pedang itu patah-patah karena sambaran benda kecil yang dilepas orang lain, namun ujung pedang sudah mengenai punggung dan kalau Pek Mau Lojin tidak mempunyai apa-apa yang hebat untuk membuat punggungnya kebal, tentu punggung itu sudah terluka.

Pek Mau Lojin memutar tubuhnya perlahan menghadapi hwesio muka hitam itu, lalu sambil tertawa ia berkata,

"Sobat gundul, kau siapakah dan apa sebabnya datang-datang menyerangku?"

Hwesio muka hitam itu menjawab ketus, "Pek Mau Lojin, kau mau bunuh pinceng boleh bunuh sekalian. Setelah di sini berkumpul banyak , orang pandai dan pinceng tak dapat membalas sakit hati kepadamu, biarlah pinceng siap menerima binasa!"

"Eh-eh, nanti dulu. Kau siapa dan mengapa mengandung dendam kepadaku?"

Hwesio itu menudingkan telunjuknya ke arah dua peti mati di pojok, lalu berkata, "Dua orang saudaraku Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang telah tewas di tanganmu. Aku Ouw Bin Hosiang juga bukan orang takut mati."

Teringatlah Pek Mau lojin akan dua orang hwesio muka merah dan muka kuning yang tewas karena pukulan dua buah guci araknya, dan melihat si muka hitam ini iapun tahu dengap siapa ia berhadapam Katanya sambil mengerutkan kening,

"Akh, kiranya  kau dan dua  orang saudaramu itu adalah Hu-niu Sam lojin? Heran....... heran. ,

mengapa orang-orang seperti kalian bisa diperbudak oleh segala macam menteri durna?" Muka yang hitam itu menjadi makin gelap ketika Ouw Bin Hosiang mendengar ucapan ini. Akan tetapi ia tidak bisa menjawab.

Memang tak dapat disangkal pula, setelah menyaksikan sepak terjang Auwyang Tek, tahulah dia dan saudara-saudaranya bahwa anak menteri ini tak boleh dibilang manusia baik-baik! "Ada dua fihak bertentangan. Kau berdiri di Satu fihak dan aku berdiri di fihak lain. Tak perlu mencari tahu sebabnya, yang sudah jelas kau telah membunuh dua orang saudaraku. Pek Mau Lojin, bagaimanapun juga pinceng tak mungkin dapat melupakan bahwa tanganmu yang merenggut nyawa dua orang saudaraku."

Pek Mau Lojin menenggak lagi araknya, lalu berkata sambil menarik napas panjang, "Sesuka- mulah...!" Ia lalu memutar lagi tubuhnya menghadapi peti jenazah Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio, katanya keras,

"Souw Teng Wi dan Lui Siu Nio-nio, kalian melihat dan mendengar sendiri! Alangkah membosankan hidup ini, selalu terbentur permusuhan! Tanpa kucari, lagi- lagi aku ditambahi seorang musuh..."

Lee Ing segera melangkah maju. "Ouw Bin Hosiang dan saudara-saudaranya telah kena bujuk oleh Bu Lek Hwesio, menjadi kaki tangan Auwyang Tek yang jahat. Kemudian melihat Bu Lek Hwesio sendiri dibunuh Auwyang Tek, masih tidak sadar dan terus menjadi anjing-anjing pemuda bangsawan itu. Dari sini saja dapat diukur bagaimana macamnya watak Hui-niu Sam-lojin. He, hwesio gundul jangan banyak tingkah. Biarpun dua orang saudaramu terbunuh oleh Pek Mau Lojin, akan tetapi akulah orangnya yang merobohkan mereka. Kalau kau tidak terima, boleh kau balas kepadaku!"

Ouw Bin Hosiang melangkah muudur memberi hormat kepada Lee Ing, lalu berkata keras, "Jelaslah sudah sekarang. Kiranya nona rouaa yang lihai telah mengalahkan dua orang saudaraku. Tidak tahu siapakah nama besar lihiap?"

"Aku Souw Lee Ing, kau ingat baik-baik."

Hwesio itu berubah air mukanya. "Hemmin, tidak tahunya puteri Souw Teng Wi sendiri. Baik, takkan pinceng lupakan nama itu." Setelah berkata demikian, hwesio Ini menghampiri dua peti mati saudara-saudaranya, lalu memanggul pergi dua peti mati itu di kedua pundaknya. Kemudian ia berlari cepat meninggalkan Ta-pie-san. Apa yang ia lakukan ini saja sudah membuktikan betapa hebat tenaga hwesio itu, akan tetapi di hadapan orang orang pandai, ia kelihatan tidak berarti.

Setelah hwesio Itu pergi, perhatian Lee Ing kembali kepada peti jenazah ayahnya, la melompat maju dan berlutut di depan peti mati, dengan kedua tangan gemetar ia menerima hio yang dinyalakan oleh Pek Mau Lojin, bersembahyang mengangkat hio dengan muka pucat dan air mata menitik turun. Bibirnya bergerak-gerak, "Ayah..." Dan hio itu terlepas dari tangannya, tubuhnya limbung dan Lee Ing terguling, roboh pingsan! Setelah mengalami segala peristiwa yang amat tegang menekan hatinya, setelah semua peristiwa itu lewat, gadis yang terlampau banyak menahan kedukaan hatinya ini tak kuat lagi menahan dan roboh pingsan di depan peti mati ayahnya.

la tidak tahu betapa tiga orang pemuda melompat maju dan beramai menolongnya. Mereka itu adalah Siok Bun, Han Sin, dan Siok Ho. Bagaimana mereka bisa sampai di situ? Mari kita mundur sebentar dan mengikuti jejak mereka sebelum mereka berkumpul di tempat itu untuk menyaksikan Lee Ing terguling pingsan di depan peti mati ayahnya.

Liem Han Sin datang ke Bukit Ta-pie-san bersama dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui dan Pek- kong-sin-ciang Bu Kam Ki, nelayan tua di Telaga Tung-ting yang bukan lain adalah guru dari Siok Beng Hui. Seperti telah dituturkan di bagian depan, setelah bertemu dengan Siok Beng Hui, Han Sin lalu berpisah dengan Lee Ing. Pemuda ini diajak oleh Siok Beng Hui untuk menunjukkan di mana adanya gurunya, Bu Kam Ki. Makin dekat dengan Telaga Tung-ting, makin gelisah dan tidak enak hati Han Sin, Bertemu kembali dengan Bu Kam Ki baginya tidak apa-apa, akan tetapi bertemu dengan Bu Lee Siang, amat tidak enak rasanya bertemu dengan gadis yang pernah menggantung diri karena ia menolak usul perjodohan dengan gadis itu.

Hari telah senja ketika Han Sin dan Beng Hui memasuki wilayah Tung-ting, kira-kira masih tiga puluh li lagi dari kampung tempat tinggal Bu-Lo-hiap.

"Masih jauhkah?" tanya Siok Beng Hui. "Kurang lebih tiga puluh li lagi," jawab Han Sin.

"Kalau begitu kita harus mempercepat perjalanan agar jangan kemalaman di tengah jalan," kata pula Siok Beng Hui.

"Memang, apa lagi sebentar lagi kita memasuki hutan. Akan tetapi kalau lo-enghiong mengerahkan seluruh kepandaian, mana siauwte mampu mengimbangi kecepatanmu?"

"Kita berjalan menurut ukuran ilmu larimu." Memang Siok Beng Hui biasa bicara singkat. Sangat tidak menyedapkan hati Han Sin yang belum lama Ini melakukan perjalanan di samping seorang gadis jenaka dan "cerewet" yang menyenangkan hatinya!

Akan tetapi pada saat dua orang ini memasuki hutan, dari arah kiri berlompatan tiga orang menghadang. Alangkah kaget hati Han Sin ketika melihat bahwa mereka ini bukan lain adalah Sin-jiu Ciong Thai, jago Lembah Yang-ce bersama interinya, Bu-eng Sin-kiam Giam Loan, dan adiknya, Ciong Sek! Han Sin menjadi heran sekali. Bagaimana tiga orang itu masih hidup? Menurut perhitungannya, sudah hampir dua bulan semenjak mereka itu terluka oleh pukulan Pek-kon-sin-ciang dari Bu Kam Ki dan kini mereka masih segar bugar. Padahal menurut Bu Kam Ki, paling lama tiga hari semenjak hari itu mereka akan tewas!

Siok Beng Hui tidak mengenal mereka maka berhenti dan memandang dengan mata bertanya. Ketika dengan suara perlahan Han Sin membisikkan siapa adanya tiga orang itu, muka Siok Beng Hui menjadi merah. Jadi mereka inikah yang telah membunuh tunangan puteri suhunya? Mereka ini musuh suhunya dan berarti musuhnya pula. Sementara itu, Bu-eng Sin-kiam Giam Loan si genit cabul yang melihat Han Sin segera memperlihatkan senyumnya. Hatinya girang sekali.

"Kebetulan kau datang, Mana perempuan siluman itu? Mengapa tidak sekalian datang agar kami mudah memberi hukuman?" katanya garang. Tentu saja ucapan ini hanya kesombongan kosong belaka. Giam Loan sudah cukup tahu bahwa kepandaian Lee Ing luar biasa tingginya dan bahwa dia dan suami serta iparnya takkan mampu mengalahkannya. Akan tetapi karena memang sejak tadi ia dan suami serta iparnya mengikuti Han Sin, maka tahulah dia bahwa Lee Ing tidak bersama pemuda itu, juga Bu-lohiap tidak kelihatan. Kalau ada dua orang itu, mana dia dan suaminya berani muncul? Han Sin maklum bahwa mereka tidak mengandung maksud baik.

"Aku dan nona Souw tidak mempunyai urusan dengan kalian, malah-malah sedikit banyak aku dan nona Souw sudah berusaha untuk menolong kalian. Mengapa kalian memperlihatkan sikap bermusuhan?" Dahulunya memang Han Sin mengharapkan bantuan tiga orang ini dalam pergerakan Tiong-gi-pai kelak. Akan tetapi setelah ia mengenal watak mereka yang curang dan palsu, ia sekarang tidak sudi lagi bersekutu dengan mereka dan tidak mau bersikap menghormat seperti yang sudah- sudah. "Bocah she Liem! Bisa saja kau membuka mulut. Pertolongan apa yang kau telah berikan kepada kami? kau bersekongkol dengan tua bangku she Bu, memberi obat palsu kepada kami. Kalau tidak bertemu dengan susiok (paman guru) yang pandai mengobati, apa kau kira kami bertiga sekarang masih dapat bertemu muka dengan kau?" kata Sin-jiu Ciong Thai dengan marah.

Han Sin tersenyum mengejek. "Obat palsu atau bukan, bukan urusanku. Buktinya, aku dan nona Souw sudah berusaha menolongmu. Kau terima atau tidak juga bukan urusanku. Akan tetapi kau sekeluargamu tidak menghargai pertolongan orang, malah hendak mempergunakan siasat licik untuk mencelakai aku dan nona Souw. Ciong Thai, kau sekarang membawa isteri dan adikmu,menghadang perjalananku, mau apakah?"

"Menghancurkan kepalamu, apa lagi!" bentak Ciong Sek yang sudah mencabut siang-kiam (pedang pasangan) dan menusuk dengan gerakan dahsyat.

"Bagus, Memang kalian bertiga bukan manusia baik baik!" kata Han Sin yang cepat mengelak sambil mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu kipas dan pit. la maklum bahwa tiga orang ini bukanlah orang-orang lemah, akan tetapi sedikitpun Ia tidak memperlihatkan rasa takut.

"Keparat, kali ini kau tentu mampus!" bentak Ciong Thai sambil bergerak maju, kedua tangannya mulai melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh yang lihai.

"Orang muda, kalau kau mau berlutut minta ampun dan selanjutnya mau menjadi bujangku, aku akan mengampuni nyawamu!" terdengar Giam Loan tertawa genit dan menggerakkan pedangnya maju ke depan. Dikeroyok oleh tiga orang ini dan mendengar ucapan-ucapan mereka, terutama sekali ucapan Giam Loan, darah Han Sin mulai bergolak.

"Persetan dengan kalian bertiga orang-orang busuk!" bentaknya dan kipas serta pitnya bekerja cepat sekali, melakukan penjagaan diri sambil mencari kesempatan membalas serangan. Akan tetapi sukar sekali ia mendapatkan kesempatan ini karena tiga orang lawannya memang amat lihai. Tiba-tiba kelihatan dua sinar putih yang berkilauan menyambar ke dalam gelanggang pertempuran, dan terdengar bentakan keras, "Tiga ekor binatang tak tahu malu, pergilah!"

Ciong Sek yang mula-mula menerima serangan dua gulung sinar putih ini dengan sepasang pedangnya, kaget sekali karena merasa tangannya tergetar. Ketika ia memandang, ia melihat bahwa yang menyerangnya adalah orang tua yang tadi datang bersama Han Sin, yang menyerang dengan menggunakan sepasang senjata gaetan berwarna putih. Juga Ciong Thai kaget melihat hebatnya serangan ini, maka ia melompat mundur diikuti oleh isteri dan adiknya sambil berseru,

"Siapa kau berani mencampuri urusan Sin-jiu Ciong Thai sekeluarga?"

Siok Beng Hui menggerak-gerakkan sepasang senjatanya di depan dada, lalu berkata keren, "Orang she Ciong! Suhu telah memberi ampun kepadamu, itu bukan berarti bahwa kau dan keluargamu masih mempunyai kebaikan, melainkan menunjukkan betapa Suhu masih menaruh kasihan kepada kalian bertiga. Akan tetapi kalian tidak tahu diri, tidak bertobat malah memperlihatkan yang tidak parut. Aku sekarang hendak mewakili suhu menyelesaikan hukuman yang setengah-setengah itu!"

Mendengar ini, Ciong Thai memandang kepada Siok Beng Hui dengan tajam lalu pandang matanya memperhatikan sepasang senjata kaitan itu.

"Aha, bukankah kau yang disebut Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui?" Sinar mata tiga orang itu menjadi berapi. "Bagus, luput gurunya, mendapatkan muridnyapun baik!" bentak Ciong Sek yang tak dapat menahan sabar lagi, sepasang pedangnya menyambar. Siok Beng Hui menangkis dengan sepasang kaitannya dan di lain saat ia telah dikeroyok oleh Ciong Thai dan Ciong Sek. Adapun Giam Loan bagaikan seekor serigala betina menerjang Han Sin dengan pedang tunggalnya yang tentu saja tidak didiamkan oleh Han Sin, ditangkis oleh kibasan kipasnya dan pitnya menyambar melakukan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya.

Pertarungan berlangsung makin seru. Han Sin dengan sepasang senjatanya yang ringan dan mempunyai gaya tersendiri, masih dapat mengimbangi permainan pedang Bu-eng Sin-kiam Giam Loan yang cepat bukan main, yang memiliki ilmu pedang cabang Go-bi-pai yang sudah tersohor kelihaiannya. Akan tetapi, betapapun lihai permainan sepasang kaitan dari Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, menghadapi keroyokan Ciong Thai dan Ciong Sek, ia merasa kewalahan juga dan terdesak hebat. Walaupun demikian, tidak mudah bagi kakak beradik she Ciong itu untuk mengalahkan Siok Beng Hui.

Untuk dapat mendesak saja mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka. Han Sin dengan hati-hati sekali menghadapi pedang di tangan Giam Loan yang memiliki gerakan cepat. Seperti juga suaminya. Giam Loan yang maklum bahwa dengan pemuda tampan ini tak dapat dipergunakan jalan halus, kini ia menyerang mati-matian, mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Giam Loani mengeluarkan pekik nyaring dan pedangnya bergerak bagaikan ular menyambar dengan getaran aneh. Inilah gerak tipu Sin-coa-liak-sui (Ular Sakti Menyambar Air) dari Ilmu Pedang Go-bi Kiam-hoal yang hebat. Gerakan ini membutuhkan pengerahan tenaga dalam yang sepenuhnya baru sempurna. Han-Sin kaget bukan main karena pedang lawan seakan-akan berobah menjadi banyak dan yang menyambarnya dari pelbagai jurusan. Cepat ia mengerahkan tenaga, menangkis dengan pit dan menggoyangkan kipasnya.

"Praaakkk!" Ujung kipasnya sobek oleh pedang lawan dan ujung pedang itu yang sudah menembus kipas, meluncur ke arah tenggorokannya! Han Sin mengeluarkan seruan kaget dan menjatuhkan diri ke belakang. Akan tetapi sebetulnya ia tak perlu melakukan gerakan ini karena tiba-tiba sekali Giam Loan menjadi limbung, pedangnya terlepas dari pegangan dan sambil mengeluh ia meraba-raba dadanya. Itulah kesempatan yang amat baik kalau Han Sin mau menyerang lawannya.

Akan tetapi pemuda ini adalah seorang pendekar tulen. Mana ia mau menyerang lawan yang tidak menjaga diri? la malah menahan kedua senjatanya dan hanya berdiri memandang dengan penuh keheranan. Ia tahu bahwa ia tadi berada dalam keadaan tidak menguntungkan, malah berbahaya sekali. Mengapa sekarang tanpa ia menggerakkan tangan, lawannya yang lihai ini terhuyung-huyung Seperti orang terluka hebat? Sekilas ia teringat kepada Lee Ing.

Gadis itukah yang kembali dan membantunya? Siapa lagi kalau bukan Lee Ing yang dapat memukul roboh orang tanpa memperlihatkan diri? Akan tetapi, ia tidak percaya kalau Lee Ing melakukan pukulan yang begini curang. Hatinya berdebar di antara kegirangan dan juga. kecemasan. Girang karena ada kemungkinan berjumpa lagi dengan Lee Ing, akan tetapi cemas kalau-kalau benar Lee Ing yang melakukan penyerangan gelap itu. Betapapun besar rasa cintanya terhadap gadis itu, tetap saja ia tidak membenarkan penyerangan gelap yang sama sekali tidak seharusnya dilakukan oleh orang gagah. Sementara itu, Giam Loan kelihatan makin payah. Mukanya pucat sekali dan la terhuyung-huyung lalu roboh terguling. Mulutnya hanya bisa berkata perlahan, "Pek-kok Sin-ciang..." dan nyonya muda yang di waktu hidupnya berwatak cabul, genit dan kotor ini menghembuskan napas terakhir!

Melihat isterinya roboh, Ciong Thai kaget sekali.

"Celaka..., kita telah melanggar larangan Ang-susiok...!" Dan aneh sekali, tiba-tiba diapun terhuyung ke belakang.

Siok Beng Hui yang terheran melihat ini, lebih heran lagi ketika tiba-tiba senjatanya yang menangkis sepasang pedang Ciong Sek, berhasil membuat sepasang pedang itu terlepas dari pegangan lawan, kemudian juga Ciong Sek terhuyung-huyung lalu roboh mengikuti kakaknya yang sudah roboh lebih dulu. Seperti halnya Giam Loan, dua orang laki-laki ini mengeluh dan dalam sekejap mata tewas dengan luka menjadi putih sekali. Siok Beng Hui dan Han Sin berdiri bengong saling pandang. Siok Beng Hui lalu membungkuk, memeriksa muka Ciong Thai, lalu berseru,

"Ah, kiranya mereka telah menjadi korban pukulan suhu!" Ia mulai menengok ke kanan kiri, melihat kalau suhunya berada di situ. Akan tetapi bukan Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki yang datang melainkan seorang bocah gundul yang berlari cepat ke tempat itu. Bocah ini adalah Ciong Swi Kiat, putera Ciong Thai.

Melihat ayahnya menggeletak di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi, bocah gundul yang baru berusia dua belas tahun itu berlari menghampiri sambil menangis, lalu menubruk memeluki mayat ayahnya.

"Ayah, bangunlah... Jangan mati, ayah. Jangan tinggalkan aku seorang diri... aku cinta padamu, aku tidak benci padamu.... bukan kau yang jahat terhadap aku melainkan ibu tiriku...., ayah....

bangunlah. !"

Anak itu menangis terus dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya. Ketika usahanya sia-sia belaka dan ia yakin takkan mampu membangunkan ayahnya, ia menahan isaknya, menggerakkan kepalanya dan kini ia memandang kepada Han sin dan Siok Beng Hui. Sepasang mata yang tajam itu seperti mengeluarkan api. Kemudian sambil berteriak nyaring bocah gundul itu melompat dan menyerang Han Sin dan Siok Beng Hui dengan kalang kabut!

"Keturunan orang jahat kalau tidak dibasmi, kelak menimbulkan keributan saja," kata Siok Beng Hui, siap untuk menyerang.

Akan tetapi Han Sin mencegah. "Harap Siok lo-enghiong menaruh kasihan bocah ini. Dia tidak sejahat mereka."

Selagi Siok Beng Hui ragu-ragu, dari arah datangnya anak gundul tadi, berkelebat bayangan merah, dan tahu-tahu seorang kakek berjubah merah, bertopi merah sehingga kelihatan seperti seorang badut, telah berada di situ dan menarik lengan Ciong Swi Kiat ke belakang. Kemudian kakek jubah merah ini melirik ke arah tiga mayat yang bergeletakan di situ. Ia menarik napas panjang dan berkata,

"Kodrat tak dapat dirobah. Belum seratus hari sudah berani berkelahi mengerahkan Iweekang. Sama dengan membunuh diri sendiri!" Setelah berkata-kata seorang diri, ia menoieh kepada Siok Beng Hui dan Han Sin, mengerutkan kening dan bertanya,

"Kalian ini orang-orang apa, melihat tiga orang sudah terluka berat masih diajak bertanding sampai mereka mati sendiri?" Begitu melihat munculnya kakek aneh ini, Siok Beng Hui sudah menjadi terkejut sekali. Biarpun selama hidupnya belum pernah ia melihat kakek ini sebelumnya, namun ia sudah sering kali mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw aneh yang berjubah merah. Orang itu hanya dikenal sebagai Ang Sinshe (Tabib Ang) dan selain memiliki ilmu silat yang tinggi juga terkenal sebagai seorang tukang obat yang pandai. Sayangnya, nama Ang Sinshe tidak begitu harum karena praktek-prakteknya yang kotor. Dia termasuk seorang tokoh Hek-to yang ditakuti, akan tetapi tidak dimusuhi oleh orang-orang gagah karena selain ia kadang-kadang suka menolong orang-orang sakit, juga sudah lama tokoh ini tidak muncul di dunia ramai sehingga sepak terjangnya tidak begitu menyolok.

"Kalau aku tidak salah duga, bukanlah locian-pwe ini Ang Sinshe?" tanya Siok Beng Hui sambil melangkah maju. Kakek baju merah itu terbatuk-batuk, batuk buatan yang agaknya sudah menjadi kebiasaannya.

"Kau Siapa sudah tahu namaku dan mengapa berkelahi dengan orang-orang sakit?"

"Siauwte Siok Beng Hui tidak tahu bahwa mereka itu menderita luka. Karena mereka menghina Pek kong Sin-ciang Bu Kam Ki dan orang tua itu adalah guruku maka "

"Oho. jadi kau murid Bu Kam Ki? Bagus, Dia menghina murid keponakanku, apa dikira aku tidak bisa

menyerang muridnya? Ha-ha-ha, orang she Siok, kau harus mengantar murid keponakanku ke alam baka!" Setelah berkata demikian tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan segulung sinar merah menyambar cepat dan kuat sekali ke arah kepala Siok Beng Hui. Itulah ujung lengan baju kakek itu yang digerakkan dengan tenaga Iweekang yang luar biasa kuatnya sehingga kain baju itu menjadi seperti sebatang loya baja yang kuat. Jangankan baru kepala seorang manusia, biarpun kepala patung batu kiranya akan hancur lebur kalau terkena pukulan ujung lengan baju yang sudah membaja ini!

"Orang tua, jangan sombong!" bentak Siok Beng Hui sambil melompat mundur dan menggerakkan kaitannya menangkis. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kaitannya yang kiri yang dipergunakan untuk menangkis itu, ujungnya telah terlibat kain baju merah dan tak dapat dibetot kembali. Sebaliknya, ia merasa tenaga betotan yang demikian kuat sehingga kalau ia berkeras mempertahankan kaitannya, tentu tubuhnya akan terbawa dan tertarik ke arah lawan. Hal ini amat berbahaya. Setelah mengerahkan seluruh tenaganya dengan sia-sia, akhirnya Siok Beng Hui terpaksa melepaskan kaitan kirinya, terpaksa mengorbankan sebatang kaitannya untuk menyelamatkan diri.

"Ho-ho-ho, begini saja kepandaian murid Bu Kam Ki?*' ejeknya.

"Siok lo-enghiong, aku datang membantumu!" kata Han Sin yang melompat maju dengan sepasang senjatanya. Melihat senjata pemuda ini, kakek itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.

"Im-yang Thian-cu sendiri tak berani banyak berlagak di depanku. Kau ini bocah ingusan mau memamerkan senjata-senjatamu? Terimalah ini!" Sambil berkata demikian Ang Sinshe melontarkan senjata kaitan yang tadi ia rampas dari tangan Siok Seng Hui ke arah Han Sin.

Lemparan ini kuat bukan main sampai mendatangkan angin menyambar dan suara bersuitan ketika senjata itu bagaikan sebatang anak panah menyambar ke arah dada Han Sin. Pemuda ini maklum akan kelihaian kakek jubah merah itu, maka ia tidak berani sembarangan menyambut dengan tangan. Ia menangkis dengan kipasnya dan menyampok dengan pitnya. Terdengar suara keras dan kipas yang tadi sudah bolong oleh pedang Giam Loan, sekarang bolong lagi pinggirnya terkena kaitan, sedangkan pitnya hampir terpukul jatuh.

Baiknya Han Sin cepat memutar pit itu dan menggerakkan kipas dengan gerakan memutar pula sehingga daya pukul kaitan itu musnah, malah senjata Siok Beng Hui dapat dirampas kembali. Han Sin dengan muka berubah saking kagetnya tadi, lalu memberikan senjata itu kepada Siok Beng Hui, kemudian mereka berdua cepat menyambut datangnya serangan Ang Sinshe yang sudah datang, lagi dengan serbuannya, kini makin hebat karena ia marah dan penasaran melihat serangan-serangannya tadi tidak bisa sekaligus merobohkan dua orang, lawannya yang ia pandang ringan.

Biarpun Han Sin dan Siok Beng Hui lihai dan berlaku amat hati-hati, tetap saja mereka tidak dapat mempertahankan diri terhadap serangan kakek jubah merah itu yang benar-benar lihai sekali. Kini dua buah ujung lengan bajunya mengamuk seperti sepasang naga berebut mustika, membuat pertahanan Han Sin dan Siok Beng Hui menjadi kalang kabut. Betapapun juga, dua orang gagah ini masih terus melakukan perlawanan dengan gigih dan ulet.

Puluhan jurus telah lewat dan tiba-tiba terdengar Ang Sinshe mengeluarkan seruan keras sekali sambil memperhebat serangannya. Baik Han Sin maupun Siok Beng Hui sendiri berseru kaget ketika seruan lawan tangguh ini disusul dengan gerakan kedua lengan Ang Sinshe yang mendadak bisa memanjang sampai satu kaki lebih. Benar-benar hal yang mustahil dan di luar dugaan sehingga dalam satu gebrakan saja Han Sin sudah kena dicengkeram pundaknya dan Siok Beng Hui kena ditotok lambungnya.

Dua orang gagah ini berseru kesakitan dan terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat. Han Sin merasa pundaknya sakit bukan main, baju di bagian pundaknya menjadi matang biru, sakitnya bukan kepalang. Adapun Siok Beng Hui yang mencoba mempertahankan diri tetap saja tidak kuat dan terguling roboh dengan muka menjadi pucat sekali.

''Ho-ho-ha-ha, cuma sebegitu saja kepandaian kalian?"

Tiba-tiba kelihatan debu mengepul dan angin pukulan yang dahsyat menghantam ke arah Ang Sinshe, dibarengi bentakan nyaring, "Dukun siluman she Ang, kau benar-benar keterlaluan!"

Ang Sinshe yang menghadapi pukulan dari jauh ini cepat menyodorkan kedua tangan mendorong ke depan. Akan tetapi tidak urung ia terdorong mundur sampai dua langkah. Ketika ia memandang, ternyata seorang kakek gagah berpakaian sederhana sudah berada di depannya. Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki sendiri yang datang!

Ahg Sinshe menyeringai. Kedua tangannya yang tadi "memanjang" perlahan-lahan menjadi biasa lagi dan ia tersenyum melihat Bu Kam Ki memeriksa luka yang di derita oleh muridnya, Siok Beng Hui, dan Han Sin. Kemudian Bu Kam Ki menyuruh dua orang itu minggir dan menghadapi Ang Sinshe dengan muka merah dan keren.

"Dukun siluman! Kau benar tak tahu malu menjual kepandaian sulap di depan muridku. Kalau kau memang berkepandaian, marilah lawan aku, tua sama tua. Jangan main-main seperti anak kecil!" Ang Sinshe terbatuk-batuk, batuk buatan yang sudah menjadi kebiasaannya.

"Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki, semua adalah kesalahanmu sendiri. Sudah puluhan tahun kau bersembunyi. Seperti juga aku, menyaring pikiran menenteramkan hati tidak mencampuri urusan dunia. Kenapa kau tahu-tahu menurunkan tangan keji melukai muridku Ciong Thai dan Ciong Sek Serta isteri Ciong Thai dengan Pek-kong Sin-ciang? Semua ini tadinya masih kuanggap bahwa mungkin murid-muridku ada yang kurang ajar kepadamu maka kau memberi hajaran. Tidak apalah dan aku masih sanggup mengobati mereka dengan pantangan tidak boleh mengerahkan Iweekang selama seratus hari.

Sebetulnya mereka bertiga takkan tewas kalau tidak melanggar pantangan. Akan tetapi celakanya hari ini muridmu lagi datang mengajak mereka bertempur sehingga mereka terpaksa mengerahkan lweekang dan akibatnya mereka tewas. Bukankah ini sma*nu artinya dengan kau bersekongkol dengan muridmu dan membunuh mereka?"

"Orang she Ang. betul-betulkah Ciong Thai dan Ciong Sek itu muridmu?"

"Sungguhpun bukan muridku sendiri, akan tetapi mereka itu sudah kuanggap sebagai murid keponakanku. Bukankah itu berarti bahWa mereka itu murid-muridku pula yang patut kubela?"

BU Kam Ki mengangguk-angguk. "Kalau begitu memang sudah selayaknya kau membela mereka. Akan tetapi, Ang Sinshe, kau tahu satu tidak tahu dua. Kau hanya tahu mereka itu terluka oleh pukulanku akan tetapi tidak mau perduli apa sebabnya aku memukul mereka! Kau ingin tahu sebab- sebabnya?. Nah, dengarlah baik-baik."