-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 17

Jilid 17

Adapun hwesio itu begitu melihat wajah Lee Ing. cepat menggerakkan tangan memukul sambil berseru, "Puteri Souw Teng Wi, bagus!" Pukulannya itu cepat bukan main lagi keras.

Lee Ing yang mencurahkan seluruh perhatian kepada Lo Houw, tidak sempat menangkis atau mengelak, hanya mengerahkan tenaga Iweekang ke arah bahu yang dipukul. Tubuh gadis itu terlempar bagaikan tertumbuk oleh tenaga raksasa, akan tetapi sedikitpun Lee Ing tidak merasa sakit karena ia sudah dilindungi oleh pengerahan tenaga. Iweekang tadi.

Di lain fihak, hwesio itu ketika melihat betapa gadis yang dipukulnya terlempar sampai tiga meter lebih akan tetapi turunnya berdiri tegak, sedikitpun tidak terluka atau terlihat tanda-tanda kesakitan, menjadi melongo dan..... melarikan diri tunggang langgang ke arah kelenteng! Geli hati Lee Ing menyaksikan kelakuan hwesio itu dan ia teringat ketika melihat wajah itu. Tak salah lagi, hwesio itu adalah Bu Lek Hwesio yang telah merampasnya dari tangan kakeknya lima enam tahun yang lalu. Hwesio itu lihai sekali.

Kakeknya juga kalah. Akan tetapi sekarang baginya hwesio itu hanya seorang kasar yang besar tenaganya, tidak lebih. Setelah membenarkan letak tangan Lo Houw dan menutupi muka mayat orang tua itu dengan pakaian Lo Houw sendiri, Lee Ing lalu melompat dan berlari cepat mengejar ke kelenteng. Semua orang telah datang, semua orang mencari ayahnya. Benar-benar ayahnya amat malang nasibnya.

Ketika tiba di dekat kelenteng, di sini nampak sunyi saja. Lee Ing yang dapat menduga bahwa di situ tentu bersembunyi musuh-musuh tangguh, cepat mengeluarkan pedangnya dan bagaikan disulap, Li-lian-kiam sudah berada di tangan kanannya. Ia melirik ke sana ke mari, sunyi saja.

Tiba-tiba ia mendengar suara ribut di belakang kelenteng. Lee Ing tidak mau berlaku sembrono. Dengan jalan memutar ia tiba di belakang kelenteng dan melihat hwesio tadi, Bu Lek Hwesio, muntah-muntah darah dan pedang ular yang dipegangnya terlepas. Sedangkan di depan hwesio itu, Auwyang Tek berdiri sambil memaki-maki. Lee Ing melihat bahwa hwesio itu telah terkena pukulan Hek-tok-ciang di dada kiri dan mudah diduga bahwa hwesio buruk watak ini takkan dapat hidup lama.

"Setan gundul, kau berani main-main di depanku? Tadinya kau bilang mengetahui tempat persembunyian Souw Teng Wi, kemudian kau bilang Souw Teng Wi diculik orang dan membawaku ke tempat ini. Kelenteng ini kosong pula dan kau bilang Souw Teng Wi sudah dibawa kabur oleh penculiknya. Setelah itu. kau setan gundul tak tahu malu, kau berani memerasku di sini dan minta seribu tael baru mau memberi tahu siapa penculiknya. Apa kau kira aku ini bocah yang mudah diperas dan kau tipu? Rasakan Hek-tok-ciang, baru tahu kelihaianku!"

"Pin.... pinceng tidak bohong...... murid Lui Siu Nio-nio.... ketua Hoa-lian-pai di Tapie-san... aaahhhhh. " Bu Lek Hwesio terguling roboh dan tamatlah riwayatnya, tewas di saat itu juga.

Lee Ing tadinya hendak menyerang pemuda yang dibencinya itu, akan tetapi tiba-tiba melayang turun tiga hwesio aneh, seorang bermuka merah, yang ke dua bermuka kuning dan ke tiga bermuka hitami Mereka ini melayang bagaikan tiga ekor burung gagak, langsung menubruk Lee Ing Mereka itu bukan lain adalah Hu-niu Sam-lojin yang bernama Ang Bin Hosiang. Oei Bin Hosiang, dan Ouw Bin Hosiang!

"Auwyang-Kongcu, di sini ada mata-mata!" teriak Ang Bin Hosiang, akan tetapi teriakannya itu disusul teriakan kaget dan heran ketika ia melihat bahwa ia telah saling tubruk sendiri dengan Oei Bin Hosiang dan Ouw Bin Hosiang! Sedangkan gadis cantik yang ditubruk tadi lenyap entah ke mana!

"Mana mata-mata itu?" Auwyang Tek bertanya ketika ia melompat ke balik dinding itu. Tiga orang hwesio tadi saling pandang dengan bengong.

"Siluman. !" kata Ang Bin Honsiang.

"Omitohud..... siang-siang muncul setan. " kata Oei Bin Hosiang.

"Tak mungkin manusia. Kita telah bertemu dengan iblis," kata Ouw Bin Hosiang. Auwyang Tek membanting-banting kakinya. "Aku sedang kecewa dan mendongkol, masa sam-wi lo-suhu mengajakku bermain-main di tempat

seperti ini?"

"Kami tidak main-main, memang tadi terlihat seorang wanita. Kami bertiga menubruk hendak menangkapnya, akan tetapi ia menghilang," kata Ang Bin Hosiang.

"Benar, dia lenyap begitu saja seperti asap," kata Ouw Bin Hosiang sambil bergidik. Mereka bertiga adalah hwesio-hwesio berilmu tinggi, maka mengandalkan kepandaian sendiri mana mereka percaya ada orang, apa lagi seorang gadis muda, dapat meloloskan diri dari tubrukan mereka bertiga secara begitju gaib?, Maka jalan satu-satunya yang paling murah agar jangan menurunkan nama, adalah menyatakan bahwa yang ditubruknva tadi adalah setan!

Ke mana perginya Lee Ing? Gadis ini setelah dapat menyelinap pergi dengan kecepatan luar biasa dari tubrukan tiga orang hwesio itu, maklum bahwa kalau dia menyerang Auwyang Tek, tentu ia dikeroyok empat dan ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan. Tubrukan tadi saja sudah memperingatkan kepadanya bahwa tiga orang hwesio itu tidak boleh dibuat main-main sedangkan Auwyang Tek sendiri dengan pukulan Hek-tok-ciang, juga cukup lihai. Biarpun ia tidak gentar dan tak mungkin kalah, akan tetapi itu hanya akan membuang waktu saja sedangkan ia perlu cepat-cepat menyusul Sim Hong Lui dan Hui-ouw-tiap. Dari ucapan penghabisan Lo Houw, gadis ini menjadi makin yakin bahwa, penculik ayahnya tentu pemuda itu. Siapa lagi kalau bukan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang disebut murid Lui Siu Nio-nio? la tahu ke mana ia harus menyusui. Ke mana lagi kalau bukan ke Ta-pie-san, ke pusat perkumpulan Hoa-lian-pai yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio? Maka tanpa melayani Auwyang Tek lebih lanjut, Lee Ing mempergunakan ilmu lari cepatnya pergi dari tempat itu.

Apakah sebetulnya yang terjadi dengan diri Souw Teng Wi? Untuk mengetahui akan hal ini, baik kita tinggalkan dulu, Lee Ing yang melakukan pengejaran ke Ta-pie-san untuk mencari ayahnya dan mari kita menengok pengalaman pahlawan rakyat Souw Teng Wi yang bernasib buruk itu.

Semenjak Souw Teng Wi dibawa oleh Tiong-gi-pai ke utara, memang ia telah hidup dalam keadaan aman. Di utara tidak ada orang yang berani mengganggunya, dan lagi siapakah yang mau mengganggunya? la terkenal sebagai seorang pahlawan rakyat yang dahulu tiada hentinya berusaha mengusir kekuasaan penjajah Mongol dari wilayah Tiongkok. Sekarang ia telah berubah ingatan, seperti orang gila sebentar tertawa terbahak-bahak sebentar menangis menyebut-nyebut nama Namilana dan Lee Ing. Dia telah

menjadi seorang kakek yang buta, akan tetapi amat berbahaya kalau lagi mengamuk. Ilmu kepandaiannya aneh dan tinggi sekali sehingga kalau dia lagi mengamuk, tidak ada orang berani mendekatinya.

Mungkin sekali teringat akan pertemuan kembali dengan puterinya di atas perahu bajak laut Sim Kang, setelah dibawa ke kota raja utara. Souw Teng Wi minta supaya ia ditempatkan di sebuah perahu. Untuk menyembunyikannya, maka ia lalu dibikinkan sebuah perahu besar dan gembiralah hati Souw Teng Wi. Ia hidup di dalam perahu itu seorang diri, segala keperluannya dilayani oleh para penjaga yang selalu meronda di-sungai itu dengan perahu-perahu kecil. Sampai bertahun-tahun Souw Teng Wi hidup aman terjaga dan setiap pagi atau kadang-kadang pada malam hari terdengar suaranya bernyanyi lagu perjuangan yang penuh semangat.

Akan tetapi pada malam hati itu. tepat pada saat Lee Ing datang ke kota raja menemui Siok Bun, terjadi hal aneh dan hebat di sungai tadi. Dalam kegelapan malam, tanpa terlihat oleh para penjaga dari perahu-perahu mereka, sesosok baayangan hitam meluncur maju di permukaan sungai tanpa mengeluarkan suara. Kalau para penjaga itu melihatnya, tentu mereka akan menggigil ketakutan, oleh karena apa yang mereka lihat itu memang benar-benar mengerikan dan tak masuk di akal.

Kalau manusia, bagaimana bisa berjalan di atas air? Akan tetapi melihat sesosok tubuh hitam itu, tak salah lagi bahwa dia seorang manusia. Memang seorang manusia, masih muda malah. Seorang pemuda yang berwajah tampan namun pucat, dengan senyum aneh menghias kulit mukanya yang halus putih, menggerak-gerakkan tangan kakinya dengan teratur dan..... tubuhnya meluncur di permukaan air!

Apakah ia memiliki ilmu gaib dan dapat berjalan di permukaan air? ataukah barangkali ia pandai terbang? tak mungkin, selama sejarah berkembang, belum pernah ada manusia bisa terbang atau mengambang di permukaan air.

kecuali dalam dongeng. Apakah ia siluman atau iblis? Lebih tak mungkin lagi. Mana di dunia ini ada siluman atau iblis yang muncul begitu saja! Siluman atau iblis, kalau ada, selalu sembunyi dalam pandang mata orang-orang penakut, dan sembunyi dalam hati dan pikiran orang-orang jahat.

Kalau dilihat lebih dekat, baru diketahui bahwa sesosok bayangan itu memang betul-betul seorang manusia tulen, manusia darah daging, hanya bedanya dengan manusia biasa, ia memiliki kepandaian tinggi. Kalau bukan orang yang memiliki ginkang sampai di puncaknya, tak mungkin, bisa melakukan apa yang ia lakukan di malam itu. la benar-benar meluncur di permukaan air, mengambang dengan bantuan dua potong papan. Dua potong papan yang panjangnya dua kaki lebar setengah kaki itu diinjaknya, diikat dengan sepatunya, lalu ia menggerak-gerakkan kedua tangan, mengerahkan Iweekang pada kaki tangannya dan demikianlah ia meluncur maju dengan kecepatan luar biasa!

Orangnya masih muda namun sudah memiliki ginkang dan Iweekang sedemikian tingginya, benar- benar sukar dicari bandingnya. Dengan kecepatan mengagumkan sehingga tidak-terlihat oleh para penjaga, pemuda ini sudah melompat ke atas perahu Souw Teng Wi dan melepaskan dua bilah papan itu. Kemudian ia maju hendak memasuki ruangan dalam perahu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan angin dahsyat menyambar dari dalam perahu.

Pemuda itu terkejut. Ia tahu itulah angin pukulan yang kuat sekali. Dengan hati-hati ia mengelak dan mengibaskan tangannya, kemudian dengan berani sekali ia menyelonong masuk. Ia disambut dengan pukulan oleh Souw Teng Wi, namun dengan gerakan aneh sekali pemuda ini dapat menangkis.

"Sobat, kau hebat sekali!" Souw Teng Wi menegur sambil tertawa. "Kau pantas menemani aku minum, arak, ha-ha-ha!"

Pemuda itu tersenyum, akan tetapi hanya bibirnya saja yang tersenyum, sedangkan sepasang matanya berputaran liar, lebih liar dari mata Souw Teng Wi yang selalu melirik ke sana ke mari sebelum pendekar ini dibikin buta matanya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin. Sekarang mata Souw Teng Wi kosong melompong, hitam mengerikan.

"Souw Teng Wi, dulu, kau yang menjadi tamu, sekarang aku yang kau tawari arak. Akan tetapi lain dulu lain sekarang. Dulu kau tidak buta, dan aku masih amat lemah dan bodoh. Hah-hah-hah-hah!" Suara ketawa pemuda ini benar-benar dapat membikin orang waras menjadi, beku darahnya kalau mendengarnya. Bukan suara ketawa manusia lagi, tinggi berirama seperti lagu neraka dinyanyikan oleh para setan!

Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi. "Ya, lain, dulu lain sekarang. Dulu aku pahlawan besar, sekarang orang buta hina-dina ! Dan kakek ini, bekas pahlawan rakyat yang dicintai kawan dlsegani lawan,

lalu menangis sambil menyodorkan arak.

Pemuda itu melangkah maju, menerima arak, akan tetapi tidak diminum, melainkan disiramkan ke arah muka Souw Teng Wi sampai kakek itu gelagapan.

"Souw Teng Wi, kau telah membunuh ayahku, ingat?" Sambil berkata demikian, secepat kilat pemuda itu mencengkeram pundak Souw Teng Wi. Kakek buta yang sudah mewarisi ilmu silat aneh itu cepat mengelak, akan tetapi sama anehnya, dengan gerakan seperti orang terhuyung roboh ke depan, pemuda itu melanjutkan serangannya dengan dua kali totokan.

Betapapun pandainya Souw Teng Wi, ia sudah tua, sudah buta, dan terlalu banyak minum arak. Apa lagi pemuda itu benar-benar lihai sekali, gerakannya aneh dan cepat dan tahu-tahu Souw Teng Wi telah roboh lemas terkena totokan. Sambil tertawa aneh pemuda itu lalu menyeret tubuh lawannya dipondongnya lalu melompat ke luar setelah lebih dulu memukulkan tangannya pada dinding kamar itu. Dipakainya dua bilah papan di bawah sepatunya dan seperti datangnya tadi, ia meluncur di permukaan air sungai, menghilang di dalam gelap sambil membawa tubuh Souw Teng Wi yang tak dapat bergerak lagi. Setelah berhasil menculik Souw Teng Wi, pemuda aneh ini berlari cepat sekali ke selatan dan pada pagi hari ia sampai di dalam hutan kecil dekat kota Paoting, lalu melompat ke dalam kelenteng. Seorang wanita setengah tua yang masih cantik menyambut kedatangannya dengan muka girang.

"Hong Lui, anakku yang ganteng, kau betul-betul berhasil menawan bajingan ini!" seru wanita itu yang bukan lain adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

sedangkan pemuda aneh yang mukanya tampan akan tetapi mengerikan itu adalah Sim Hong Lui.

Pemuda itu tidak menjawab, melainkan melempar tubuh Souw Teng Wi di atas lantai sedangkan dia sendiri melepaskan lelah, duduk bersila di atas lantai yang kotor. Sekarang, di bawah sinar matahari pagi, kelihatan Wajah pemuda ini. Dibandingkan dengan dulu, ia banyak kurusan. Juga sikapnya jauh berbeda, ia pendiam, bibirnya tersenyum aneh, matanya liar seperti mata orang yang miring otaknya. Benar benar Sim Hong Lui sekarang ini jauh sekali dengan dahulu, sekarang dia bermuka pucat seperti orang menderita batin yang hebat, namun kepandaiannya luar biasa, aneh dan lihai sekali.

Melihat Souw Teng Wi, orang yang telah membunuh suaminya, biarpun sudah lama bercerai dari suaminya itu. hati Hui-ouwtiap Yap Lee Nio masih panas, la cepat mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap ia menubruk ke depan untuk menusukkan pedangnya ke dada musuh besar itu. Souw Teng Wi yang sudah siuman akan tetapi tak dapat bergerak itu, masih tertawa-tawa perlahan, la sama sekali tidak ambil perduli akan pedang yang berkelebat meluncur ke dadanya itu.

"Tranggg !"

"Ayaaaa...! Lui-ji (anak Lui), kenapa kau menahan pedangku?" tanya Yap Lee Nio terkejut sambil memegang-megang tangan kanan yang terasa sakit sekali kemudian membungkuk untuk memungut pedangnya yang terlempar ke bawah. Pedang itu telah disentil oleh kuku jari Sim Hong Lui dan sekali sentil saja cukup kuat membuat pedang terlepas dari tangan ibunya!. Benar-benar pemuda ini telah menjadi hebat sekali, kepandaiannya jauh melampaui ibunya, malah jauh melampaui kepahdaian Souw leng Wi!

"Aku yang akan menghukum dia, menggunakannya sebagai umpan memancing datang si cantik manis Souw Lee Ing," kata Sim Hong Lui, wajahnya tidak berubah sedikitpun akan tetapi suaranya perlahan berpengaruh dan mengandung nafsu. Ibunya memandang bingung. "Di mana?"

"Kita bawa dia ke Ta-pie-san," kata pula pemuda aneh itu yang masih tetap duduk bersila, kemudian pemuda itu meramkan mata dan ibunya tidak berani lagi mengganggu puteranya yang sedang tidur itu. Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio hanya duduk menatap wajah puteranya, dalam hati masih belum habis keheranannya melihat keadaan Sim Hong Lui. Telah tiga tahun lebih pemuda itu pergi tanpa meninggalkan bekas kemudian baru beberapa bulan ini muncul lagi dengan kepandaian yang luar biasa, akan tetapi otaknya agak miring.

Setelah cukup beristirahat, Sim Hong Lui lalu memanggul tubuh Souw Teng Wi dan berangkat, diikuti oleh ibunya. Akan tetapi baru saja ia melompat keluar dan lari tidak berapa jauh dari kelenteng, seorang laki-laki muncul dan langsung menyerangnya dengan pukulan tangan kiri sedangkan tangan kanan orang itu berusaha merampas Souw Teng Wi. Orang ini bukan lain adalah Lo Houw yang segera mengenal Souw Teng Wi yang terculik. Akan tetapi dengan mengeluarkan suara mengejek, Sim Hong Lui menangkis pukulan itu dan sekali kakinya diangkat tubuh Lo Houw terlempar jauh Mana Lo Houw mau sudah begitu saja? Pendekar ini merayap bangun lagi dan dengan kemarahan meluap ia mencabut pedangnya. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, menyambar benda-benda kecil ke arah dadanya. Lo Houw mengeluh dan roboh lagi, dadanya terluka oleh beberapa butir Thi-lian-ci, senjata gelap yang dilepas oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Lo Houw mengerang sekali, la hanya mendengar suara ketawa dua orang ibu dan anak im, sama sekali tak berdaya untuk mengejar, bahkan untuk bangun saja ia tidak kuat.

Demikianlah. Sim Hong Lui dan ibunya membawa lari Souw Teng Wi dan seperti telah dituturkan di bagian depan, Lee Ing mengejar ke Ta-pie-san. Juga Auwyang Tek menjadi penasaran sekali. Mendengar penuturan Bu Lek Hwesio yang ia bunuh, pemuda ini lalu menyuruh Ouw Bin Hwesio untuk memanggil Tok-ong Kai Song Cinjin di selatan. Adapun dia. sendiri ditemani oleh Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang, langsung melakukan pengejaran ke Ta-pie-san. Ouw Bin Hwesio atau Ouw Bin Hosiang segera berangkat ke kota raja, membawa surat pemuda itu.

Ta-pie-san adalah pegunungan di Tiongkok Selatan, di sebelah barai kota raja Nan-king. Pemandangan alam di pegunungan ini indah sekali karena tanahnya amat subur. Sungai Huai bermata air dari pegunungan ini. Seluruh permukaan gunung ditumbuhi pohon-pohon menghijau, hutan-hutan lebat yang penuh binatang-binatang hutan beraneka macam dengan burung-burungnya yang indah rupa dan suaranya.

Memang pantas sekali kalau tempat ini dijadikan pusat atau markas perkumpulan Hoa-Iian-pai, perkumpulan wanita yang diketuai oleh Lui Siu Nio-nio, nenek perkasa yang masih gadis itu. Seperti sudah dituturkan di bagian depan, Lui Siu Nio-nio adalah bekas kekasih Im-Yang Thian-Cu yang dahulu di waktu muda bernama Can Hoat. Karena perbedaan faham, keduanya berpisah dan tetap tidak mau menikah.

Perkumpulan Hoa-Iian-pai tadinya dibuka oleh Lui Siu Nio-nio dengan dua maksud. Pertama untuk menghibur hatinya yang terluka agar hidupnya tidak begitu kesunyian, mempunyai banyak kawan dan murid. Ke dua untuk memberi kesempatan kepada para wanita yang terlantar mendapatkan tempat untuk belajar memperkuat diri.

Boleh dibilang Lui Siu Nio-nio berhasil dalam usahanya ini, tidak saja hatinya sedikit banyak terhibur, juga ia telah menolong banyak sekali wanita yang tadinya sudah putus asa dan mengambil jalan pendek dengan menceburkan diri dalam pelacuran dan kejahatan. Di bawah bimbingan Lui Siu Nio- nio, para anggauta Hoa-Iian-pai menjadi berdisiplin dan terutama sekali mereka bukan lagi merupakan wanita-wanita lemah yang boleh diperbuat sesuka hati kaum pria. Malah banyak di antara anggauta Hoa-Iian-pai yang menjadi pendekar wanita, banyak pula yang sudah berumah tangga dan hidup bahagia.

Hanya satu hal yang dianggap gagal oleh Lui Siu Nio, yakni dalam memilih murid. Jarang ada murid bertulang dan berbakat baik, hanya satu-satunya murid yang berbakat adalah Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Akan tetapi sayang sekali, murid ini selain nasibnya buruk sampai bercerai dari suaminya malah akhirnya kehilangan suaminya yang tewas oleh SouwTeng Wi, juga harus diakui bahwa murid nomor satu ini kurang baik, terlalu ganas dan kejam, mudah sekali membunuh orang yang dibencinya atau dianggapnya musuh.

Memang tadinya Yap Lee Nio terkenal sebagai seorang pendekar wanita, seorang perampok tunggal budiman yang membagikan hasil perampokannya kepada rakyat jelata. Pula ia hanya merampok hartawan-hartawan kikir dan bangsawan-bangsawan jahat. Akan tetapi hati Yap Lee Nio terlampau keras dan kalau wanita ini sudah marah, mudah saja menyebar maut! Kematian Sim Kang yang membuat Yap Lee Nio merasa sakit hati sehingga murid ini menangis di depan gurunya, membuat Lui Siu Nio-nio tak enak hati dan terpaksa guru besar Hoa-lian-pai ini turun gunung untuk mencari Souw Teng Wi atau Souw Lee Ing agar sakit hati muridnya dapat terbalas. Ia terlalu sayang kepada muridnya itu.

Akan tetapi, seperti telah dituturkan di bagian depan, tidak saja Lui Siu Nio-nio gagal menolong muridnya mendapatkan kembali Souw Teng Wi atau puterinya, malah Lui Siu Nio-nio bertemu muka dengan Souw Lee Ing dan mendapat malu besar karena alat tetabuhan khim yang juga menjadi senjata istimewa darinya itu rusak sedikit oleh Lee Ing! Hal ini merupakan sesuatu yang amat merendahkan namanya, maka Lui Siu Nio-nio segera pulang ke Ta-pie-san dan kepada Yap Lee Njo ia menyatakan bahwa ia tidak sanggup membantu muridnya karena kepandaiannya masih terlampau rendah.

Semenjak kekalahannya itu dan semenjak pertemuannya dengan Im-Yang Thian-Cu atau Can Hoat. yang menolak untuk melanjutkan cita-cita mereka di waktu muda (baca jilid sebelumnya), Lui Siu Nio-nio lalu menyembunyikan diri saja di dalam kelenteng Hoa-lian-pai dan bertapa menenteramkan batin dan memperkuat hawa murni.

Sungguh sedikitpun juga wanita sakti ini tak pernah mengira bahwa hari itu perkumpulan dan tempatnya akan mengalami hal-hal hebat yang diakibatkan oleh kedatangan muridnya yang tersayang, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio dengan puteranya, Siin Hong Lui.

Kedatangan Hui-ouw-tiap di lereng atau dekat kaki Bukit Ta-pie-san disambut dengan girang oleh para anak murid Hoa-lian-pai, akan tetapi para wanita itu menjadi terheran-heran melihat bahwa kedatangan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio disertai seorang pemuda tampan bersikap aneh yang memanggul tubuh seorang kakek yang tertawa-tawa dan memaki-maki. Lui Siu Nio-nio yang mendengar laporan tentang kedatangan muridnya segera keluar. Yap Lee Nio cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Teecu. datang mengganggu, harap niocu sudi memaafkan. Teecu datang beserta putera teecu yang berhasil membekuk musuh besar, Souw Teng Wi."

Lui Siu Nio-nio mengerutkan kening melirik ke arah pemuda itu. Sim Hong Lui sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat kepada guru ibunya itu, malah ia melemparkan tubuh Souw Teng Wi ke atas lantai lalu mengebut-ngebut pakaiannya, membersihkannya dari debu. Debu dari pakaiannya inengebul ke sana-sini, di antaranya terbang ke arah Lui Siu Nio-nio yang berpakaian bersih sekali. Para murid Hoa-lian-pai mengerutkan alis dan menggerutu melihat pemuda itu bersikap tidak tahu adat sama sekali.

"Lui-ji, ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua Hoan-lian-pai dan guru ibumu, hayo kau memberi hormat kepada niocu!" kata Yap Lee Nio yang merasa jengah juga melihat sikap puteranya itu.

Sim Hong Lui tertawa. "Lui Siu Nio-nio. tuan mudamu datang, tidak lekas-lekas pergi ambil minuman malah berdiri seperti patung. Sungguh tak tahu adat, ...tak tahu adat !"

Wajah Yap Lee Nio menjadi pucat, juga wajah para anak murid Hoa-lian-pai menjadi merah sekali. Bahkan Lui Siu Nio-nio sendiri berobah air mukanya. Ia melirik ke arah Yap Lee Nio.

"Lee Nio, kau bawa dari mana bocah gila ini. Kalau kau sudah berhasil menangkap Souw Teng Wi, bawalah pergi dari sini, pinni tidak sudi mencampuri lagi. Mengapa kau membawa ke sini bersama anakmu yang berotak miring ini?" Ketua Hoa-lian-pai sekali pandang saja maklum bahwa putera muridnya itu tidak beres otaknya, maka ia dapat menindas kemarahannya ketika pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang tak patut tadi.

Adapun Yap Lee Nio yang ditegur gurunya, hanya bisa menundukkan muka, tak dapat menjawab. Apa yang harus dijawabnya? Adalah kehendak Hong Lui maka ia terpaksa mengantar puteranya itu kc Ta-pie-san. Ibunya tidak menjawab, akan tetapi Sim Hong Lui yang menjawab dengan suara ketawanya yang membikin bulu tengkuk meremang, "Ha-ha-hi-hi-ha-ha! Nenek-nenek tua, mana anakmu yang baru? Suruh keluar dong, jangan yang tua-tua buruk rupa saja, siapa sudi kepada mereka? Hayo, tuan mudamu sudah haus, haus arak wangi dan haus belaian kasih sayang. Ha-ha- hah!"

Yap Lee Nio menjadi makin pucat, la maklum bahwa kalau puteranya itu sudah angot (kambuh) penyakit gilanya, makin ditentang makin menggila. Biasanya kalau puteranya itu mengoceh tentang wanita secara tak tahu malu, ia mendiamkannya saja sampai reda kembali. Pernah ia memaki dan melarangnya, eh, bukannya berhenti malah makin menggila.

Memang Sim Hong Lui pada dasarnya berwatak rendah. Sudah terlampau banyak ia melakukan kejahatan, sudah terlampau dalam ia terperosok ke dalam lumpur kehinaan. Dahulu tempat bermainnya adalah tempat-tempat perjudian dan tempat pelacuran, maka sekarang dalam keadaan gila ia masih saja mengoceh tentang tempat pelacuran dan pelbagai kejahatan!

Saking marah dan kagetnya, Lui Siu Nio-nio dan anak-anak muridnya sampai tak dapat mengeluarkan suara apa apa. Yang menjawab kata-kata ini adalah suara ketawa lain lagi, yang keluar dari mulut Souw Teng Wi. Juga kakek ini tertawa, terbahak-bahak, biarpun tubuhnya masih lemas di bawah pengaruh totokan namun suara ketawanya keras bagaikan geram seekor harimau jantan.

Sebentar saja ruangan yang biasanya sunyi aman, bersih dan tak pernah didatangi laki-laki, yang selalu hanya berisikan suara-suara nyanyian halus, atau suara-suara doa penuh khidmat, kadang- kadang anak-anak murid Hoa-lian-pai itu juga bergurau akan tetapi dengan suara lemah-lembut, kini penuh oleh dua suara ketawa yang aneh dan sama gilanya dari dua orang laki-laki berotak miring. Mendengar Souw Teng Wi ketawa. makin geli hati Hong Lui sampai ia terpingkal-pingkal tertawa dan memegangi perutnya. Kemudian ia menepuk-nepuk pundak Souw Teng Wi seperti kepada seorang sahabat baik, lalu berkata di antara tawanya,

"Dua orang laki-laki seperti kita dan perempuannya begini banyak. Hayaaa, siapa kuat? Apa lagi perempuannya tua-tua, eh, kakek Souw, kau mau yang mana?"

Lui Siu Nio-nio tidak kuat lagi menahan kemarahannya. Ia melangkah maju sambil menggerakkan senjatanya kembang emas ke arah pundak Sim Hong Lui sambil membentak, "Bocah tidak sopan, pergi kau dari sini!"

Ilmu kepandaian Lui Siu Nio-nio tinggi sekali senjatanya kembang emas itupun hebat, dimainkannya seperti sebatang pedang. Mengingat bahwa pemuda itu adalah putera muridnya yang terkasih, ia hanya menyerang pundak untuk menakut-nakuti. Akan tetapi segera ia mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya ketika tiba-tiba, dengan gerak tangan yang aneh, pemuda itu tidak saja dapat mengelak, malah hampir berhasil merampas tangkai kembang emas itu kalau saja Lui Siu Nio-nio tidak cepat-cepat menariknya kembali.

"Heh-heh-heh, nenek tua, pergi ke mana? Aku tidak mau pergi, di sini enak banyak perempuannya," jawab Hong Lui yang kumat gilanya. "Hong Lui   !" ibunya membentak, akan tetapi pemuda itu hanya tertawa ha-hah-heh-heh saja, juga

Souw Teng Wi tertawa-tawa mendengar ketua Hoa-lian-pai marah-marah.

Lui Siu Nio-nio tak dapat menahan marahnya. Ia berseru keras dan kini senjatanya kembang emas meluncur cepat melakukan serangan maut ke arah dada Sim Hong Lui. Yap Lee Nio menjadi pucat. Serangan gurunya ini hebat bukan main dan di dunia ini tidak banyak orang yang akan dapat menghindarkan diri dari ancaman maut dari serangan itu.

Akan tetapi sambil terkekeh-kekeh aneh dan matanya tetap liar Sim Hong Lui membuat gerakan luar biasa, seperti orang mabok terhuyung-huyung, namun serangan itu menjadi luput. Lui Siu Nio-nio kaget dan penasaran, terus melakukan penyerangan lanjutan yang bertubi-tubi dan berbahaya. Akan tetapi sia-sia belaka, setiap kali ujung senjatanya mendekati tubuh pemuda itu, seakan-akan ada semacam hawa ajaib yang menolak senjata itu menyeleweng ke samping. Pemuda itu tertawa sambil berkata,

"Nenek tua masih banyak lagak, heh-heh-heh!" Tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke arah dada Lui Siu Nio-nio.

Biarpun sudah tua, Lui Siu Nio-nio adalah seorang wanita yang masih gadis, mana ia mau membiarkan tubuhnya tersentuh tangan pria? Mukanya menjadi merah sekali dan cepat ia menangkis tangan kurang ajar itu dengan kembang emasnya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika serangan itu hanya pancingan saja karena dalam sekejap mata tangan pemuda itu berubah menjadi cengkeraman ke arah kembang emas dan di lain saat senjata istimewa itu telah berpindah tangan. Sim Hong Lui menggunakan kedua tangannya menekuk senjata itu sampai menjadi bengkak-bengkok tidak karuan dan menyodorkannya kepada Lui Siu Nio-nio sambil tertawa mengejek!

Belum pernah Selama hidupnya Lui Siu Nio-nio dihina orang seperti ini. la cepat merenggut alat tetabuhan khim, senjatanya yang luar biasa ini, lalu memukul kepada Hong Lui dengan pengerahan seluruh tenaga lweekangnya. Hong Lui merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya memukul.

"Brakkkkk!!" Khim itu pecah berantakan dan tubuh Lui Siu Nio-nio sendiri terguling roboh. Nenek ini bergerak hendak bangun dengan susah payah, wajahnya pucat sekali. Hong Lui tertawa bergelak dan melompat maju, agaknya hendak memukul.

"Bocah kurang ajar, mundur kau!" Yap Lee Nio membentak dan melompat di depan puteranya sambil mendorongnya ke belakang. Menghadapi ibunya, pemuda berotak miring itu tidak melawan, hanya melangkah sambil tersenyum. Yap Lee Nio hendak menolong gurunya bangun, akan tetapi sekali sampok saja Lui Siu Nio-nio membuat muridnya itu terguling. Dengan isak tertahan Lui Siu Nio- nio meninggalkan ruangan itu, kepalanya ditundukkan, hatinya patah. Dua kali ia mengalami kekalahan yang memalukan.

Pertama kali ketika ia kalah oleh Souw Lee Ing, puteri Souw Teng Wi sehingga senjata yang diandalkannya, alat tetabuhan khim itu, putus senarnya. Akan tetapi kekalahan itu tidak sehebat sekarang ini, senjata kembang emas dirusak, khim-nya hancur, masih dihina lagi oleh seorang pemuda gila seperti putera muridnya itu! Kalau saja ia bukan seorang wanita tua, tentu ia akan menangis dan bergulingan di atas lantai. Lui Siu Nio-nio lari ke dalam, kamarnya dan duduk bersila, meramkan matanya, hatinya perih dan tekadnya ingin saat itu mati saja.

Pada saat itu, terdengar teriakan nyaring dari luar, kelenteng. "Lui Siu Nio-nio! Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio! Kalian keluarlah, aku mau bicara!" Teriakan ini terdengar ke dalam kelenteng seakan-akan orangnya bicara di dalam, demikian jelas dan bergema, padahal orangnya tidak kelihatan karena berada di luar. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan bahwa orang itu memiliki ilmu mengirim suara dari jauh yang amat hebat. Kalau Sim Hong Lui tertawa-tawa tidak perdulian mendengar suara ini adalah Yap Lee Nio yang menjadi berubah air mukanya.

"Puteri Souw Teng Wi yang datang itu.    " katanya.

Mendengar ini, Sim Hong Lui mengeluarkan seruah aneh dan ia melompat keluar dengan kecepatan kilat. Yap Lee Nio yang dapat menduga bahwa gadis itu tentu datang hendak merampas Souw Teng Wi, cepat menyeret kakek yang masih lumpuh oleh totokan itu ke dalam sebuah kamar tahanan di dalam kelenteng, kamar yang biasa dipergunakan untuk menghukum murid Hoa-lian-pai yang melanggar peraturan atau yang bersalah.

Memang benar dugaan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Yang datang dan berteriak-teriak di luar kelenteng adalah Souw Lee Ing. Dengan melakukan perjalanan cepat tak mengenal lelah, akhirnya Lee Ing tiba di depan kelenteng yang merupakan asrama perkumpulan Hoa-lian-pai. Melihat keadaan kelenteng yang bersih terawat, juga terutama sekali mengingat akan kedudukan Lui Sin Nio-nio yang menjadi ketuanya, Lee Ing tidak mau berlaku lancang. Maka ia tidak menyerbu ke dalam melainkan berteriak- teriak memanggil keluar Lui Siu Nio-nio dan Yap Lee Nio.

Ketika melihat seorang pemuda aneh yang keluar dari kelenteng, Lee Ing segera mengenalnya. Akan tetapi alangkah jauh bedanya Hong Lui dahulu dan sekarang. Wajahnya masih tak berubah, tampan dan gagah seperti dulu akan tetapi kulit muka yang dulu kemerahan itu sekarang menjadi pucat tak berdarah seperti muka mayat. Mata yang dulu jalang liar itu kini berputaran tidak normal, bibir yang dulu selalu tersenyum memikat sekarang masih tersenyum, akan tetapi senyumnya mengejek dan aneh seakan-akan di balik senyumnya ini terkandung tekanan dan penderitaan batin yang sukar dilukiskan.

Melihat gadis itu, sepasang mata Sim Hong Lui makin cepat berputaran, mulutnya terbuka tertawa, ha-hah-he-heh, lalu berkata dengan suara parau,

"Manisku, kau sudah datang? Ke sinilah, aku memerlukan jantungmu!" Lee Ing bergidik. Tak salah lagi pandang matanya, pemuda jahat dan ceriwis ini telah menjadi seorang gendeng yang berotak miring.

"Sim Hong Lui, agaknya Thian telah menghukummu karena kejahatanmu sudah melewati batas sehingga kau menjadi gila," katanya perlahan.

Kemudian ia melihat Yap Lee Nio muncul dari pintu, segera Lee Ing membentak, "Hui-ouw-tiap, kau bawa ke mana ayahku?"

Yap Lee Nio sudah mengenal kelihaian gadis itu maka ia tidak berani mendekat, juga tidak menjawab, hanya memandang ke arah puteranya yang gila. Biarpun sudah gila, nyonya ini maklum akan kehebatan kepandaian puteranya itu, maka ia mengandalkan kepada Hong Lui untuk menghadapi Lee Ing.

Jangan berpura-pura tuli dan gagu, hayo katakan di mana ayahku!" Lee Ing membentak lagi dan tubuhnya melayang ke arah Yap Lee Nio untuk menangkap wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa aneh di belakangnya dan tahu-tahu lengannya ada yang memegang dari belakang sehingga ia terpaksa memutar tubuh dan membatalkan niatnya menangkap Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

"Manisku, jangan ganggu ibuku!" kata Hong Lui yang telah memegang lengan Lee Ing dari belakang sambil menarik gadis itu.

Lee Ing memutar tubuh, membetot lengan yang terpegang sambil mengirim pukulan langsung ke arah lambung. Inilah serangan yang luar biasa hebatnya dan kalau orang tidak memiliki kepandaian tinggi sekali pasti akan roboh oleh pukulan aneh dan dahsyat ini.

Akan tetapi pemuda gila itu benar-benar habat Dengan gerakan tubuh sama anehnya, seperti orang sakit ayan sedang kumat, tiba-tiba tubuhnya limbung dan kejang, kedua tangannya menegang ke depan melindungi lambungnya dan. serangan Lee Ing dapat ditangkisnya dengan baik sekali!

Lee Ing terkejut, membelalakkan kedua matanya. la mengenal betul gerakan pemuda tadi. Itulah gerakan yang disebut "Si Gila Mengusir Iblis" semacam gerak tipu dari ilmu silat warisan Bu-Beng Sin- Kun yang terdapat di gua Siluman! Bagaimana pemuda ini dapat melakukan gerakan itu? Padahal gerakan ini termasuk gerakan yang paling sulit dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah belajar di dalam gua itu seperti dia sendiri. Ayahnya saja kiranya belum dapat melakukan gerakan ini! la menjadi penasaran dan terus menyerang Sim Hong Lui dengan ilmu pukulan-ilmu pukulan terhebat dari dalam Gua Siluman, pukulan-pukulan yang belum pernah ia keluarkan.

Maka terlihatlah Lee Ing seperti seorang mabok menari-nari, atau seperti seorang gila mengamuk, tubuhnya berputaran, berjungkir-balik, jongkok berdiri melompat ke sana ke mari, akan tetapi semua gerakannya mengandung daya serangan yang hebat, menimbulkan angin pukulan yang membuat Yap Lee Nio cepat-cepat pergi menjauhkan diri karena tidak kuat berada dekat tempat pertempuran itu.

Lee Ing mengeluarkan seruan kaget sekali ketika ia melihat betapa pemuda itu benar-benar telah menghadapinya dengan ilmu silat yang sama. Malah pemuda itu menggunakan Ilmu Silat Gua Siluman dengan hawa pukulan yang aneh dan amat jahat untuk membalasnya.

Karena ketika mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun itu Lee Ing berada dalam keadaan waras, maka yang memasuki tubuhnya adalah hawa murni yang bersih. Sebaliknya, hawa pukulan pemuda ini mengandung hawa yang kotor dan dahsyat, benar-benar merupakan pukulan-pukulan iblis yang mengandung bahaya maut. Lee Ing terdesak hebat! Hong Lui terkekeh-kekeh sambil mendesak terus.

Lee Ing penasaran sekali. Untuk mencabut Li-lian-kiam dan menggunakan pedang itu, ia merasa malu. Pemuda gila itu bertangan kosong, masa ia harus menggunakan pedang? Masa melawan pemuda gila ini saja ia akan kalah, biarpun andaikata pemuda itu pernah mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-Beng Sin-Kun sekalipun?

Lee Ing mengertak gigi dan mengerahkan seluruh kepandaiannya, menerjang pemuda itu. Baru kali ini selama keluar dari Gua Siluman ia mempergunakan semua ilmu silat yang dipelajarinya. la merasa girang ketika melihat pemuda itu berkurang daya serangannya. Bagaimanapun juga, kepandaiannya lebih matang, pikirnya. Hanya yang ia herankan, ilmu silat warisan Bu-Beng Sin-Kun yang diukir di atas dinding batu.

Ketika mendapat kesempatan baik, tiba-tiba Lee Ing menggunakan semacam pukulan dengan kedudukan kaki tangan yang amat aneh, tangan kiri menggaruk ke atas tangan kanan menepuk- nepuk lantai. Inilah ilmu silat tangan kosong dengan gerakan Lo-thian-tong-te (mengacau Langit Menggetarkan Bumi) yang merupakan kunci terakhir dari Ilmu Silat Thian-te-kun peninggalan Bu- Beng Sin-Kun, gerakan paling hebat yang baru dapat ditemui atau dipecahkan rahasianya oleh Lee Ing setelah ia melihat kedudukan kaki tangan rangka guru besar itu (baca jilid sebelumnya).

Memang Lee Ing cerdik sekali. Ketika bertempur sampai puluhan jurus, otaknya bekerja dan ia menjadi yakin bahwa entah secara bagaimana, pemuda gila ini tentu telah berhasil memasuki Gua Siluman dan mempelajari ilmu silat aneh itu. Akan tetapi ia teringat bahwa ia telah mengubur rangka gurunya sehingga orang lain takkan mungkin dapat memecahkan rahasia gerakan Lo-thian-tong-te itu. Maka ia mempergunakan ilmu silat ini untuk

menghantam Sim Hong Lui.

Ternyata akalnya berhasil baik. Menghadapi gerakan yang belum dipelajarinya ini, Hong Lui terkejut sekali, gerakan tangan kakinya kacau. Ia mengeluarkan pekik aneh, agaknya ia mengenal gerakan Lee Ing yang membingungkan akan tetapi tak dapat ia elakkan ini. Pundaknya terpukul dan pemuda gila itu terjungkal dan merintih-rintih. Souw Lee Ing menjadi girang sekali. Selagi ia hendak mengirim pukulan terakhir untuk melenyapkan pemuda gila yang amat berbahaya ini, tiba-tiba ia mendengar seruan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.

"Souw Lee Ing, kau lihat siapa ini? Kalau kau tidak melepaskan anakku, aku akan membunuh ayahmu!"

Lee Ing cepat menengok dan apa yang dilihatnya membuat kedua kakinya terasa lemas tak bertenaga lagi. Ayahnya rebah di dekat kaki Hui-ouwtiap Yap Lee Nio, rebah tidak berdaya seperti orang kehabisan tenaga, sedangkan Hui-ouw-tiap yang memegang pedang menodongkan ujung pedangnya di leher ayahnya. Orang tuanya kelihatan amat sengsara, matanya yang sudah lenyap bijinya itu kelihatan cowong menghitam, mukanya kotor, rambutnya awut-awutan, tubuhnya kurus, akan tetapi anehnya, ayahnya masih mengeluarkan suara ketawa-tawa perlahan. Hancur hati Lee Ing menyaksikan keadaan ayahnya yang tercinta itu. Air mata bercucuran dari kedua matanya.

"Ayah. "

Mendengar suara ini. Souw Teng Wi menggerakkan lehernya, matanya yang buta seakan-akan sedang mencari-cari.

"Namilana " bibirnya bergerak lemah.

"Ayah, aku Souw Lee Ing, anakmu.......! Jangan khawatir, ayah. Aku datang untuk menolongmu." Sudah tegang seluruh urat dalam tubuh gadis ini untuk menerjang Hui-ouw-tiap dan puteranya. Kemarahannya memuncak.

"Souw Lee Ing, jangan bergerak. Sedikit saja . kau bergerak, pedangku akan menembusi leher ayahmu!" bentak Hui-ouw-tiap, matanya tajam memandang gadis itu, ancamannya bukan main- main. Souw Lee Ing ragu-ragu. Sementara itu, Souw Teng Wi yang mendengar suara anaknya ini, tiba-tiba awan gelap yang menyelubungi ingatannya buyar dan ia mulai teringat.

"Lee Ing.... anakku...... ah, anakku sayang " Kakek buta ini mencoba untuk berdiri, akan tetapi oleh

karena jalan darah di punggungnya sudah ditotok, ia roboh lagi. "Ayah. " Lee Ing melangkah maju. "Berhenti kau! Kalau tidak dia kubunuh!" bentak Hui-ouw-tiap, tetap menodongkan pedang pada leher Souw Teng Wi.

Akan tetapi Lee Ing maju terus, mengira bahwa itu hanya gertak belaka. Manusia mana tega membunuh seorang kakek yang sudah buta dan keadaannya demikian lemah seperti ayahnya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika Hui-ouw-tiap benar-benar menggerakkan pedang menusuk leher Souw Teng Wi. Kakek buta ini tinggi sekali kepandaiannya akan tetapi totokan yang dilakukan oleh Sim Hong Lui hebat bukan main. Ia mencoba untuk mengelak, namun sia-sia. Terdengar suara "cesss.." dan darah muncrat keluar dari leher kakek tua itu yang roboh miring!

"Ayaaaahhhh....!" Souw Lee Ing menjerit nyaring sekali. Tubuhnya mencelat ke depan dan kedua tangannya digerakkan.

"Krakkk!" Pedang di tangan Hui-ouw-tiap patah-patah terkena benturan lengannya, kemudian kedua tangannya bergerak maju menghantam.

"Krek! Krek!" Dua kali tangan Lee Ing menghantam kepala Yap Lee Nio dan nyonya itu terjungkal roboh, kepalanya pecah dan mati di saat itu juga. Gadis itu tidak memperdulikan korbannya lagi, terus saja berlutut di dekat ayahnya yang masih rebah miring dengan leher bercucuran darah.

"Ayah..." Souw Teng Wi membuka mulutnya, bibirnya bergerak-gerak. Dalam saat-saat terakhir dari hidupnya ia benar-benar waras, pikirannya jernih. Ia

tersenyum.

"Lee Ing anakku.... kau hendak menyusul ibumu.... kau....kau. "

"Ayah, jangan tinggalkan aku. aku belum sempat berbakti kepadamu!" Lee Ing menahan tangisnya.

Souw Teng Wi tersenyum.

"Negara ayahmu, tanah air ibumu, berbaktilah kepada mereka..... bantu rakyat..... aahhhh " Souw

Teng Wi menghembuskan napas terakhir dalam pelukan puterinya.

"Ayaaaaah. " saking sedih dan marahnya, Lee Ing pingsan di samping jenazah ayahnya!

Ketika siuman kembali, Lee Ing sudah mendapatkan dirinya terikat pada sebuah tiang besar di belakang kelenteng. Kedua tangannya dibelenggu ke belakang, juga kedua kakinya dibelenggu, diikat ke tiang itu. Pada pinggangnya juga terdapat ikatan belenggu besi yang tebal dan kuat sekali. Gadis ini siuman dalam keadaan lemah dan tahulah ia bahwa jalan darah thian-hu-hiat di tubuhnya ditotok orang. Akan tetapi hal ini bukan apa-apa baginya. Ia memejamkan mata, menahan napas dan menyalurkan sinkang di tubuhnya. Dalam sekejap mata saja ia berhasil mempergunakan hawa murni mendesak pengaruh totokan dan jalan darahnya pulih kembali seperti biasa.

Inilah ilmu membuka jalan darah dari dalam yang ia pelajari di dalam Gua Siluman. Akan tetapi, biarpun ia sudah bebas dari totokan dan tubuhnya tidak

lemas lagi, tetap saja ia tidak mampu bergerak, tidak mungkin melepaskan diri dari belenggu besi sekuat itu. Kalau tidak terikat kedua tangannya ke belakang, kiranya ia masih sanggup mematahkan belenggu. Akan tetapi kedua tangannya diikat ke belakang, jari-jari tangannya tak bisa berbuat apa- apa.

Ketika ia melirik ke bawah, di depannya dipasangi meja kecil dan di atas meja itu terdapat hio yang sudah dinyalakan. Tentu belum lama ini ada orang bersembahyang di situ. Ia teringat lagi. Siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui pemuda gila itu yang bersembahyang? Lee Ing diam-diam bergidik, la dapat menduga apa maksudnya. Tentu ia dijadikan semacam hidangan, dijadikan semacam "samseng" untuk korban sembahyangan. Mudah diduga bahwa pemuda edan itu menyembahyangi arwah ayah bundanya dan ia sengaja diikat di dekat meja sembahyang agar ayah bunda pemuda edan itu dapat melihat dari alam baka dan dapat tertebus penasarannya.

Lee Ing lalu teringat kepada ayahnya dan air matanya mengucur deras, la tidak memperdulikan nasib sendiri, akan tetapi mengingat kematian ayahnya ia menjadi berduka bukan main. Dari duka yang menghebat timbul kemarahan dan sakit hatinya.

"Keparat Hong Lui! Awas kau kalau aku bisa terlepas!" gerutunya dan Lee Ing mengusir segala kedukaan yang melemahkan. Ia mengerahkan tenaganya, memeramkan mata mengumpulkan semangat. "Aku harus dapat mematahkan belenggu ini..." pikirnya. Ia hendak mempergunakan segenap tenaga sinkang yang berada di tubuhnya dan ia percaya akan dapat berhasil mematahkan belenggu.

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa semangatnya buyar, hidungnya mencium keharuman yang memuakkan berbareng memabokkan la membuka mata dan melihat asap hio di atas meja itu mengebul. Kening gadis ini berkerut. Tentu bukan sembarang hio. Asapnya bukan asap biasa, melainkan asap yang mengandung pengaruh memabokkan. Celaka, pikirnya gelisah. Pemuda edan itu ternyata telah mempergunakan hio yang dicampuri obat berbisa sehingga asapnya mengandung racun, memabokkan dan tak mungkin ia mengerahkan segenap sinkang di tubuhnya.

Asap itu menyiarkan bau yang mengacau semangatnya. Lee Ing menjadi bingung. Ia maklum bahwa kalau ia tidak dapat melepaskan diri, ia tentu akan menjadi korban pemuda gila itu. Tiba-tiba terdengar orang tertawa terkekeh-kekeh. Sim Hong Lui muncul di depannya sambil tersenyum mengerikan, seperti senyum sebuah mayat hidup. Wajah pemuda itu pucat sekali.

Matanya kemerahan dan liar berputar. Lee Ing memandang dengan tabah, sedikitpun tidak gentar. Akan tetapi ia merasa jijik melihat pemuda ini. Apa lagi pada saat itu kegilaan Sim Hong Lui memuncak. Mulutnya mengeluarkan sedikit busa dan senyumnya makin mengerikan. Melihat munculnya pemuda ini, ia teringat akan kepandaian pemuda gila ini. Tak salah lagi, tentu pemuda ini telah berhasil memasuki Gua Siluman dan telah mempelajari ilmu peninggalan Bu-Beng Sin-kun, biarpun cara mempelajarinya hanya mengambil bagian yang penuh hawa jahat saja.

"Heh-heh-heh, Souw Lee Ing. Sekarang akulah orang paling pandai di dunia ini! Hah-hah-hah!" Melihat pemuda itu tertawa-tawa sambil memandang ke atas, Lee Ing makin benci. Akan tetapi ia menahan kemarahannya karena timbul keinginan hatinya untuk mengetahui apakah dugaannya tadi betul.

"Sim Hong Lui. kau memang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, kepandaianmu itu hanya kepandaian yang kau curi di Gua Siluman. Betul tidak?" Berubah wajah Hong Lui mendengar disebutnya Gua Siluman.

"Mencuri? Kau gila! Akulah murid Gua Siluman, aku yang mewarisi kepandaian mujijat. Aku seorang, ha ha-ha, kalian ayah dan anak she Souw tidak akan menjadi saingan lagi! Kau tahu apa yang hendak kulakukan padamu? Lihat ini!" Pemuda itu mengeluarkan sebilah pisau yang berkilauan saking tajamnya. "Sekarang masih terlalu pagi. Nanti menjelang tengah hari, di bawah sinar matahari yang menjadi saksi, aku akan belek dadamu, kukeluarkan jantungmu dan kumakan mentah-mentah. Ha- ha-ha, dengan demikian hatimu selamanya akan menjadi milikku, aku dapat membalaskan sakit hati ayahku, dan kau takkan lagi menjadi sainganku. He-he-he!" "Sim Hong Lui, kau bukan murid Gua Siluman, kau hanya pencuri hina dina! Kau tidak berhak mengaku menjadi murid suhu Bu-Beng Sin-Kun, karena suhu Bu-Beng Sin-Kun adalah seorang pendekar besar, tidak patut mempunyai murid seperti engkau seorang pengecut besar!"

"Eh....eh.....kau bilang apa? Aku pengecut?" Pemuda edan itu melangkah dekat sampai mukanya hampir menyentuh muka Lee Ing, membuat gadis itu meramkan mata saking jijiknya. Akan tetapi ia tidak hendak memperlihatkan takutnya, ia membuka kembali matanya dan meludahi muka di depannya itu. Hong Lui mengelak dan tertawa-tawa.

"Memang kau pengecut! Kalau kau memang jantan, mengapa kau menangkap aku selagi aku pingsan? Hayo kau coba buka belenggu ini dan kita bertempur untuk membuktikan siapa murid Bu- beng Sin-kun yang sejati!"

Sim Hong Lui menggerakkan tangannya yang memegang pisau ke arah ulu hati di dada Lee Ing. Gadis itu merasa betapa bajunya tertembus ujung pisau dan kulit dadanya tersentuh benda runcing itu, maka tahulah ia bahwa saat kematiannya sudah tiba. la tidak berdaya, maka ia meramkan mata sambil menanti maut. Akan tetapi pisau itu ditarik kembali dan terdengar suara Hong Lui mengejek, "Kau sudah tertawan, berarti kau sudah kalah. He-he-he, mana bisa kau menangkan aku yang sudah menjadi murid Raja Siluman di Gua Siluman? Ha-ha-ha, sungguh lucu... sungguh mengerikan... hiiii... menakutkan sekali!" Sim Hong Lui tiba-tiba mundur-mundur dan menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Takut, takut... iblis dan siluman mengamuk. "

Lee Ing membuka matanya dan memandang penuh perhatian kepada pemuda itu. Sim Hong Lui berubah seperti seorang bocah kecil yang takut di waktu malam gelap, mengoceh tentang setan dan iblis. Kemudian dengan suara pelahan sekali pemuda ini mengoceh terus, menceritakan pengalaman pengalaman hebat di dalam Gua Siluman. Dari ocehan yang tidak karuan ini akhirnya Lee Ing dapat mengetahui bahwa dugaannya memang tepat.

Sebelum ayahnya berhasil memasuki Gua Siluman dan membuka rahasia pusaka Gua Siluman itu kepadanya, ternyata ayah pemuda ini, Sim Kang, sudah mendengar tentang Gua Siluman yang aneh itu, malah sudah mencari-cari namun tidak berhasil. Kemudian melihat kepandaian hebat dari Souw Teng Wi, Sim Kang dan Sim Hong Lui menjadi makin tergerak hatinya ingin mencari Gua Siluman.

Setelah Sim Kang tewas oleh Souw Teng Wi dan Sim Hong Lui terpaksa melompat ke dalam laut (baca jilid sebelumnya), pemuda ini menjadi begitu prihatin dan sakit hati sehingga ia mati-matian mencari Gua Siluman. Atas petunjuk ibunya yang menyatakan bahwa Souw Lee Ing telah menjadi seorang sakti setelah lenyap di daerah pegunungan Gua Siluman. Akhirnya setelah melakukan perantauan di daerah liar itu sampai lama, tidak perduli lagi akan lapar dan lelah, pemuda yang sudah nekat ini akhirnya dapat menemukan Gua Siluman!

Ia memasuki gua itu dan alangkah girangnya ketika mendapatkan pelajaran-pelajaran aneh dan sakti di dalam gua. Akan tetapi dasar wataknya sudah bejat dan pikirannya tidak bersih, ia tidak kuat menahan godaan di dalam gua. tidak kuat melawan hawa iblis yang memang terdapat di dalam gua itu sehingga biarpun ia berhasil mempelajari ilmu-ilmu vang aneh, ia telah menjadi gila.

Kegilaannya malah melebihi Souw Teng Wi dan pemuda ini seakan-akan telah berubah menjadi iblis sendiri! Setelah mengoceh dan tanpa disadari membuka rahasia, Sim Hong Lui lalu bangun berdiri, mengacung-acungkan pisaunya ke arah Lee Ing sambil berkata, "Kau tunggu saja sampai tiga hari, sampai matahari muncul seterangnya dan tidak ada iblis menggangguku. aku akan makan jantungmu mentah-mentah."

Pemuda itu lalu memandang ke angkasa dan mulutnya berkemak-kemik. Lee Ing mendengar ia berkata perlahan, "Ayah, ibu, tunggulah sebentar lagi. Nanti anak akan membelek dada gadis ini, makan jantungnya, membelek perutnya, menarik semua isi perutnya supaya dimakan anjing. Baru ayah dan ibu puas!"

Setelah itu, pemuda gendeng itu lalu berlari-lari pergi memasuki kelenteng.

Segera terdengar jerit dan kekacauan di dalam kelenteng karena anak-anak murid Hoa-lian-pai dikejar-kejar oleh pemuda gila ini!

Lee Ing bergidik. Biarpun ia mempunyai nyali baja dan tidak takut sama sekali menghadapi maut dan bahaya apapun, menghadapi kegilaan pemuda yang menjijikkan itu meremang bulu tengkuknya. Akan tetapi ia tidak putus asa. la masih mempunyai waktu sedikit lagi. Dicobanya lagi untuk mengerahkan tenaga dalamnya dan mematahkan belenggu kaki tangannya.

Akan tetapi asap celaka itu masih saja menguasainya, membuat semangatkacau dan lemah sehingga tidak mungkin ia dapat memusatkan panca inderanya untuk membangkitkan sinkang di tubuh.

Tiba-tiba ia melihat bayangan berkelebat dan seorang tosu yang memegang kipas mendatangi tempat itu. Berdebar hati Lee Ing, penuh harapan. Tosu itu bukan lain adalah Im-yang Thian-cu, guru Liem Han Sin! Ia tahu bahwa tosu ini adalah seorang simpatisan Tiong-gi-pai dan karenanya tentu akan suka menolongnya.

Im-yang Thian-cu cepat menghampirinya dan berkata lirih, "Sudah sejak tadi pinto mengintai. Nona yang begini gagah mengapa sampai bisa tertawan?"

" Aku tertawan oleh kecurangan Sim Hong Lui. Totiang harap sudi menolongku sedikit, buang dan padamkanlah hio menyala ini."

Im yang Thian-cu yang telah berpengalaman tahu bahwa hio itu mempunyai pengaruh buruk terhadap diri Lee Ing, maka dengan kipasnya ia mengebut sehingga tidak saja hio itu padam, malah meja-mejanya sekalian ikut terbang terpental jauh! Kemudian kakek ini inencoba untuk mematahkan belenggu, namun sia-sia. Belenggu itu terlampau kuat.

"Harap totiang mundur, biar kucoba mematahkan belenggu ini!" seru Lee Ing yang kini sudah dapat membebaskan diri dari pengaruh asap hio tadi. Gadis ini meramkan mata mengumpulkan napas memusatkan hawa murni di tubuhnya, lalu mengerahkan tenaga dalamnya ke arah kedua lengan yang diikat ke belakang. Terdengar suara "krek-krek-krek!" dan tak lama kemudian putuslah rantai besi tebal itu!

"Hebat..!" kata Im-yang Thian-cu memuji. "Nona, pinto benar-benar kagum melihat kepandaianmu. Akan tetapi lihat, di kelenteng ini tentu akan terjadi hal-hal hebat. Pinto terpaksa harus pergi dulu menolong ketua Hoa-lian-pai."

Sambil menunjuk ke arah belakang kelenteng, Im-yang Thian-cu lalu melompat pergi. Lee Ing menengok dan melihat api berkobar-kobar di sebelah belakang kelenteng, kemudian di sebelah kanan kiri kelenteng itu. Nampak anak murid Hoa-lian-pai berlari ke sana ke mari berusaha memadamkan api.

Di antara sinar api yang berkobar-kobar Lee Ing melihat beberapa orang laki-laki bertempur dengan anak murid Hoa-lian-pai dan kagetlah hati Lee Ing ketika mengenal orang-orang itu sebagai anggauta-anggauta pasukan kerajaan, yaitu para pasukan pengawal yang dulu pernah dipimpin oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya. Akan tetapi Lee Ing tidak perdulikan itu semua. Pada saat itu, keinginan hatinya hanya satu, ialah mencari Sim Hong Lui dan membalas penghinaan pemuda gila itu. la meraba pinggangnya. Untung baginya, pemuda gila itu tidak merampas pedang Li-lian-kiam yang dilibatkan di pinggang. Lee Ing mencabutnya, kini ia tidak akan ragu-ragu lagi untuk mempergunakan pedang pusaka itu guna menewaskan Sim Hong Lui, pemuda gila yang lihai itu.

Apakah sebetulnya yang terjadi dan mengapa terbit kebakaran di Kelenteng Hoa-lian-pai? Seperti diketahui, Auwyang Tek yang cepat menyuruh Ouw Bin Hosiang memberi tahu tentang terculiknya Souw Teng Wi kepada kaki tangannya di kota raja setelah ia sendiri membunuh Bu Lek Hwesio, tidak membuang waktu lagi, langsung ia menyusul pula ke Ta-pie-san. Rombongan kaki tangannya terdiri dari Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, Toat-beng-pian Mo Hun dan jagoan-jagoan lain telah menunggu di sebelah barat kota raja, lalu mereka berangkat bersama merupakan rpmbongan terdiri dua puluh orang lebih.

Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut, menjaga di kota raja karena dianggapnya tidak perlu menggunakan tenaga terlalu kuat untuk menyerbu tempat seperti itu saja. Ketua Hoa-lian-pai, Lui Siu Nio-nio, cukup dihadapi oleh Kui Ek atau Mo Hun. Kebetulan sekali di tengah jalan rombongan ini dilihat oleh Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian- cu.

Dua orang tokoh kang-ouw ini tentu saja timbul curiganya melihat rombongan Auwyang Tek yang jahat ini menuju ke Ta-pie-san. Apa lagi karena Im-yang Thian-cu mengkhawatirkan keselamatan bekas kekasih dan sumoinya, Lui Siu Nio-nio yang menjadi ketua Hoa-lian pai di Ta-pie-san, melihat rombongan ini lalu cepat mengajak Pek Mao Lojin mengikuti rombongan ini dengan diam-diam.

Ketika dua orang kosen ini betul melihat rombongan itu mendatangi Hoa-lian-pai, Im-yang Thian-cu lalu mengambil jalan dari belakang untuk menemui Lui Siu Nio-nio sedangkan Pek Mao Lojin terus mengikuti rombongan itu dengan diam-diam.

Demikianlah, lm-yang Thian-cu yang mengambil jalan dari belakang itu kebetulan sekali dapat menolong Lee Ing. Ketika melihat pemuda gila itu di sana, Im-yang Thian-cu tidak berani secara lancang turun tangan. Sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman ia dapat menduga bahwa biarpun gila, pemuda itu tentu lihai sekali kalau ia sudah berhasil menawan Lee Ing. Memang perhitungannya ini tepat. Kalau ia siang-siang muncul dan tidak dapat menahan kemarahannya lalu menyerang Sim Hong Lui, kiranya bukan saja Lee Ing takkan tertolong, malah dia sendiri tentu akan roboh oleh pemuda gila yang luar biasa itu.

Sementara itu, Pek Mao Lojin melihat bagaimana begitu datang di kelenteng, kaki tangan Auwyang Tek segera berteriak-teriak minta supaya Souw Teng Wi diserahkan. Beberapa orang anak murid Hoa-lian-pai keluar melakukan perlawanan dan segera terjadi pertempuran. Auwyang Tek segera memerintahkan anak buahnya yang lain, dipimpin oleh dia sendiri dan Mo Hun serta Kui Ek, untuk menggeledah ke dalam kelenteng. Malah ia menyuruh bakat bagian-bagian kelenteng, untuk memancing keluar Souw Teng Wi.

Melihat perbuatan kaki tangan Auwyang Tek, kakek botak Pek Mao Lojin tak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerbu, membantu para anak murid Hoa-lian-pai menghantam pasukan pengawal kerajaan itu. Pertempuran menjadi makin hebat. Ketika Pek Mao Lojin melihat Auwyang Tek dan jago-jagonya masuk ke dalam, iapun mengejar.

Kakek botak ini betapapun juga tidak ingin melihat pahlawan rakyat Souw Teng Wi terjatuh ke dalam tangan Auwyang Tek Memang ia kurang perduli tentang perjuangan Tiong-gi-pai, akan tetapi ia masih tahu membedakan mana patriot mana pengkhianat, mana pahlawan mana anjing penjilat menteri-menteri durna yang tak segan-segan menjual negara dan bangsa demi kepentingan golongan sendiri.

"Pemberontak Souw Teng Wi berada di dalam kamar ini!" terdengar seruan Mo Hun, manusia iblis yang bersenjata pian kelabang itu. Akan tetapi maklum betapa lihainya Souw Teng Wi, manusia pengecut ini hanya berteriak-teriak dan tidak berani menyerbu masuk, la tadi menggunakan kekerasan, memaksa seorang anak murid Hoa-lian-pai mengaku. Karena disiksa, anak murid ini berterus terang bahwa Souw Teng Wi berada di kamar itu. Memang ia tidak membohong dan tadi ia melihat bagaimana Sim Hong Lui memanggul tubuh kakek itu dan meninggalkannya di dalam kamar ini.

"Bakar ruangan ini, paksa dia keluar!"’ Auwyang Tek berteriak-teriak pula memberi perintah.

Sebentar saja ruangan ini menjadi korban api. Pada saat itu, Pek Mao Lojin menyerobot memasuki pintu yang sudah dijilat api. Kakek ini nekat masuk untuk menolong Souw Teng Wt dari korban api. Sungguh perbuatan yang amat berani dan patut dipuji. Melihat hal yang tidak disangka-sangka ini, Auwyang Tek dan kaki tangannya untuk sejenak menjadi bengong.

"Bagus, biar kakek botak itu menjadi hangus. Kepung kamar ini, jangan perbolehkan dia keluar. Kalau Souw Teng Wi yang keluar, tangkap hidup-hidup!" Auwyang Tek memberi perinlah pula.

Akan tetapi, apa yang dilihat oleh Pek Mao Lo-jin di dalam ruangan yang ternyata amat luas itu, sama sekali bukan Souw Teng Wi, melainkan.    Im-yang Thian-cu yang berlutut df dekat tubuh Lui

Siu Nio-nio yang duduk bersila dalam keadaan.   tak bernyawa pula! Ternyata bahwa saking sedih

dan malunya, maklum pula bahwa kali ini nama baik dan nama besar Hoa-lian-pai akan rusak oleh Hui-ouw-tiap dan puteranya, ketua Hoa-lian-pai ini mengambil keputusan pendek dan mengakhiri hidupnya dengan jalan menelan napasnya sendiri, la mati dalam keadaan duduk bersila.

Demikianlah Im-yang Thian-cu mendapatkan bekas kekasihnya dan dapat dibayangkan betapa duka dan pedih hati kakek ini, penuh rasa kasihan kepada sumoinya.

"Im-yang Thian-cu, apa yang terjadi?" Pek Mao Lojin menegur dengan penuh keheranan. Im-yang Thian-cu seakan-akan baru sadar dari mimpi buruk, la bangkit dan cepat mengeluarkan kipas dan pilnya, sepasang senjatanya yang amat ampuh.

"Pek Mao, Lui Siu Nio-nio telah tewas. Hoa-lian-pai kedatangan iblis-iblis jahat   "

"Souw-taihiap di mana ?"

"Juga sudah tewas, kumelihat tadi mayatnya di kamar sebelah. Iblis dan setan merajalela, kewajiban kita untuk menentangnya!" Setelah berkata demikian, Im Yang Thian-cu dengan kemarahan meluap- luap menerjang keluar pintu yang sudah ambruk daunnya karena dimakan api. Ia disambut oleh dua orang kaki tangan Auwyang Tek. akan tetapi dua orang itu segera terjungkal terkena to-tokan pit di tangan kanan Im-yang Thian-cu yang sudah rusak hatinya dan marah sekali melihat bekas sumoinya mati.

"Tar-tar-tar! Im-yang Thian-cu, akulah mu-siihmul"

"Toat-beng-pian Mo Hun manusia berhati iblis. Siapa takut padamu?" bentak Im-yang Thian-cu dan terjadilah pertempuran yang amat dahsyat di tempat yang sudah penuh oleh asap dan api itu. Pek Mao Lojin maklum bahwa melawan musuh tangguh dari depan dan diancam api dari belakang, mereka berdua takkan dapat menang. Kebetulan sekali ia melihat gentong besar tempat air di ruangan itu, yaitu persediaan air untuk ketua Hoa-lian-pai. la segera menenggak habis kedua guci araknya yang merupakan senjatanya yang istimewa. Benar-benar hebat kakek ini. Dua guci arak yang masih setengahnya berisi arak itu ditenggak habis dua kali saja, la sama sekali tidak menjadi mabok. malah bertambah-tambah semangatnya.

Cepat sekali ia mengisi guci-guci arak itu dengan air dan menyirami api yang mulai memakan segala apa yang terbuat dari pada kayu di ruangan itu. la mengerahkan tenaga Iweekangnya, air dari guci menyambar dengan kuat dan daya pemadamnya melebihi air berpuluh ember! Sementara itu Im- yang Thian-cu juga masih melawan mati-matian terhadap serangan Toat-beng-pian Mo Hun dan di belakang Mo Hun ini sudah kelihatan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang hendak mengeroyok. Baiknya asap dan api menjadi penghalang, sehingga untuk sementara Im-yang Thian-cu hanya menghadapi seorang musuh saja.

Akan tetapi Im-yang Thian-cu maklum bahwa biarpun berkat ketangkasan Pek Mao Lojin mereka berdua selamat dari ancaman api, namun fihak lawan di depan terlampau banyak dan terlampau kuat. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa sampai begitu lama Lee Ing tidak muncul? Kalau gadis itu datang membantu, ia tidak usah khawatir lagi, tentu mereka bertiga akan sanggup mengusir musuh.

Ke mana perginya Lee Ing? Gadis ini setelah berhasil mematahkan rantai yang membelenggu tubuhnya, segera lari pula mencari Sim Hong Lui. Juga ia hendak mencari dan menegur Lui Siu Nio- nio yang agaknya membantu muridnya, Hui-ouw-tiap melakukan penculikan atas diri ayahnya.

Lee Ing juga melihat adanya kebakaran di kelenteng dan melihat pula betapa Auwyang Tek dan kaki tangannya menggempur anak buah Hoa-lian-pai. la tersenyum getir, hatinya sudah dilukai oleh Hoa- lian-pai dengan adanya Yap Lee Nio dan puteranya di situ, maka ia tidak sudi membantu, malah ia hendak mencari ketuanya. Ia heran mengapa dua orang itu, Lui Siu Nio-nio dan Sim Hong Lui tidak kelihatan di antara keributan itu.

Betapapun lihai, kaki tangan Auwyang Tek tanpa disertai Tok-ong Kai Song Cinjin, mana mampu melawan Sim Hong Lui? Kenapa pemuda gila itu tidak muncul? Karena ktiawatir kalau-kalau pemuda gila itu akan melarikan diri, Lee Ing cepat memeriksa semua bagian yang belum didatangi rombongan Auwyang Tek, yaitu di bagian ujung kiri, di belakang ruangan yang terbakar di mana Pek Mao Lojin dan lm-yang Thian-cu sedang mati-matian melawan musuh dan api.

Melihat Im-yang Thian-cu bertempur melawan Mo Hun, Lee Ing segera hendak membantu. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara ketawa bergelak dari belakang tempat itu. Ia kenal suara ketawa ini, suara ketawa iblis. Siapa lagi dapat tertawa seperti itu kalau bukan pemuda gila Sim Hong Lui? Lee Ing melompat cepat naik ke atas genteng untuk menjaga kalau-kalau pemuda itu hendak melarikan diri dari atas. Api menjilatnya, akan tetapi Lee Ing tidak merasakannya lagi, malah ia tendang-tendangi usuk yang dimakan api sehingga api tidak menjalar lebih jauh.

Akan tetapi ia tidak melihat bayangan Sim Hong Lui. Lee lng penasaran sekali dan melompat-lompat dari sana ke mari melalui api dan asap di atas genteng. Kemudian dari atas ia melihat pemandangan yang membuai ia mengeluarkan seruan tertahan dan terpaksa ia melompat ke tempat itu. Ruangan tempat tinggal Lui Siu Nio-nio yang kini menjadi medan pertempuran, ternyata telah ambruk gentengnya.

Hal ini dilakukan oleh Pek Mao Lojin. Kakek ini dapat menyiram padam semua api di bawah, akan tetapi api yang sudah memakan atap rumah sukar disiram. Terpaksa ia mengerahkan Iweekangnya membobol dinding merobohkan tiang sehingga gentengnya ikut pula runtuh! Sekarang ruangan itu sebagian tak beratap lagi sehingga Lee Ing dapat memandang dari atas.

Gadis ini melihat Lui Siu Nio-nio duduk bersila, tak bergerak dan Im-yang Thian-cu sudah terdesak hebat. Baiknya Pek Mao Lojin sudah selesai dengan tugasnya memadamkan api, sekarang kakek botak inipun membantu kawannya mengamuk dengan sepasang guci araknya!

Hebat sepak terjang kedua orang kakek itu. Im-yang Thian-cu dikeroyok dua oleh Mo Hun dan Kui Ek, tentu saja menjadi repot sekali dan baiknya kipas di tangannya merupakan perisai yang sukar ditembusi lawan. Melihat banyaknya pengeroyok yang mulai mendesak dari dinding yang bobol, Pek Mao Lojin lalu membentak nyaring dan menyerang dua orang hwesio yang berada paling depan. Dua orang hwesio yang mukanya merah dan kuning. Dengan sepasang guci araknya Pek Mao Lojin menghantam kepala mereka yang gundul pelontos.

Akan tetapi dua orang, itu ternyata kosen juga. Tidak terlalu sukar mereka mengelak dan membalas serangan Pek Mao Lojin dengan senjata mereka, yaitu toya-toya pendek. Pek Mao Lojin tercengang melihat, kehebatan serangan mereka, akan tetapi ia tidak gentar, malah tertawa terbahak karena gembira mendapatkan lawan tangguh, la tidak tahu bahwa kedua orang lawannya adalah Ang Bin Hcsianu dan Oci Bin Hosiang, dua orang dari tiga saudara Hu niu Sam-lojin. Tentu saja mereka itu merupakan lawan yang amat tangguh dan di lain saat terjadilah pertempuran yang tidak kalah serunya dari pertempuran antara Im-yang Thian-cu yang dikeroyok Mo Hun dan Kui Ek.

Lee Ing mengerutkan keningnya, alisnya yang bagus itu bergerak naik turun. Ia memang ingin sekali segera mendapatkan Hong Lui, akan tetapi melihat Im-yang Thian-cu dan Pek Mao Lojin terkurung dan terdesak hebat, ia tidak tega. Apa lagi Lui Siu Nio-nio kelihatannya diam saja dan agaknya nenek ini tidak ikut apa-apa dalam semua keributan, hal yang amat mengherankan dan mencengangkan hatinya.

Mengapa nenek itu tidak membantu bekas kekasihnya atau suhengnya, Im-yang Thian-cu? Tiba-tiba ia mengetahui sebabnya ketika Ma-thouw Koai tung Kui Ek menyerang Im-yang Thian-cu dengan ayunan tongkatnya dan dielak oleh Im-yang Thian-cu. Tongkat itu menyambar sebuah bangku yang melayang ke arah tubuh Lui Siu Nio-nio yang duduk bersila. Tubuh itu terguling roboh dalam keadaan masih bersila juga! Baru Lee Ing tahu bahwa ternyata ketua Hoa-lian-pai itu telah tak bernyawa sejak tadi! Hal ini mengusir semua keraguan dan kelambatannya.

Ia memekik keras dan tubuhnya melayang turun bagaikan seekor burung elang menyambar korban. Tangan kirinya bergerak mendorong sebelum tubuhnya sampai dan dorongan dari jauh ini demikian hebatnya sehingga orang-orang lihai seperti Ang Bin Hosiang dan Oei Bin Hosiang sampai terhuyung mundur dan kehilangan keseimbangan tubuhnya! Memang Lee Ing sengaja menyerang mereka karena melihat Pek Mao Lojin terdesak hebat dan terancam keselamatannya.

Kini melihat dua orang pengeroyoknya terhuyung mundur, Pek Mao Lo-jin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dua buah guci araknya terayun cepat sekali ke depan dan terdengar suara "prak! prak!" ketika guci-guci itu bertemu dengan kepala dua orang hwesio itu. Pek Mao Lojin tersentak ke belakang dan napasnya agak memburu, akan tetapi dua orang hwesio dari Hu-niu-san itu roboh dengan kepala pecah dan tewas di saat itu juga.

"Ha-ha-ha, dengan kau di sini, musuh terlampau empuk!" kata Pek Mao Lojin sambil menengok ke arah Lee Ing yang sementara itu sudah melayang turun.

Di lain fihak. ketika Mo Hun, Kui Ek. Auwyang Tek dan yang lain-lain melihat turunnya Lee Ing, mereka menjadi pucat dan cepat-cepat Mo Hun dan Kui Ek yang berada paling depan melompat ke belakang sambil memutar senjata menjaga diri dan di sepanjang jalan Auwyang Tek menyumpah- nyampah mengapa Tok-ong Kai Song Cinjin tidak ikut serta.

Kalau ada hwesio Tibet itu, kiranya dia dan kawan-kawannya tidak harus berlari-lari seperti itu menjauhkan diri dari Souw Lee Ing. Adanya Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu, dibantu oleh anak murid Hoa-lian-pai yang berani-berani itu sudah merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan, lalu muncul Souw Lee Ing, gadis yang lihai itu. Betul-betul merupakan lawan berat, apa lagi setelah Ang Bip Hosiang dan Oei Bin Hosiang tewas di tangan Pek Mao Lojin. Melarikan diri adalah jalan paling aman.

"Kejar mereka! Pemuda jahat Auwyang Tek itu kalau tidak dibasmi, lain kali hanya akan mendatangkan keributan saja!" kata Pek Mao Lojin. Akan tetapi Lee Ing tidak mau mengejar, menggeleng kepala karena gadis ini lebih mengutamakan mencari Sim Hong Lui. melihat gadis Ini tidak mengejar, Pek Mao Lojin maupun Im-yang Thian-cu tidak berani mengejar sendiri. Apa lagi karena Im-yang Thian-cu segera mengangkat jenazah Lui Siu Nio-nio, dibawa keluar dari tumpukan puing itu.

Murid-murid Hoa-lian-pai menangis sedih melihat ketua mereka sudah tewas. Im-yang Thian-cu tidak mau bersikap lemah. Setelah menyerahkan jenazah itu kepada para anak murid Hoa-lian-pai, ia lalu mengikuti Lee Ing dan Pek Mao Lojin yang sementara itu sudah mencari-cari ke belakang kelenteng. Secara singkat Lee Ing memberitahukan bahwa yang menculik ayahnya adalah Sim Hong Lui dan bahwa ayahnya telah tewas di tangan Yap Lee Nio. Kini ia mencari pemuda gila itu, sambil mencari jenazah ayahnya yang lenyap tak berbekas.

Dua orang kakek itu makin kagum melihat Lee Ing. Baru saja kematian ayahnya, namun gadis itu tetap gagah sikapnya, sungguhpun agak pucat mukanya dan agak merah matanya.

"Dia takkan pergi jauh-jauh." kata Im-yang Thian-cu. "Sebelum pertempuran, pinto juga melihat jenazah Souw-taihiap. Sekarang lenyap, tentu dia bawa."

Tiga orang ini setelah memeriksa semua tempat di sekitar kelenteng dengan sia-sia, mulai mencari di lereng-lereng. Tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari jauh. Mendengar suara ini, Lee Ing berkelebat cepat dan lenyap dari samping dua orang kakek itu. Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu cepat mengejar ke arah berkelebatnya Lee Ing, yaitu ke arah datangnya suara ketawa tadi.

Memang tidak salah dugaan Lee Ing. Yang ketawa tadi adalah Sim Hong Lui. Ketika gadis ini mengejar ke tempat itu, ia melihat Sim Hong Lui berdiri sambil tertawa bergelak, berhadapan dengan dua orang kakek tua sekali.

“Heh-heh-heh, dua ekor kambing tua tak usah banyak omong lagi. Minggat dari sini!" bentak pemuda itu dan tangan kanannya bergerak menghantam ke depan. Lee Ing yang melihat gerakan ini tahu bahwa pemuda itu menggunakan gerakan pukulan jarak jauh Twi-hong-hok san (Dorong Angin Balikkan Gunung), ilmu pukulan dahsyat dari Gua Siluman! Akan tetapi dua orang kakek itu cepat mengelak dan keduanya saling pandang. Kakek yang seorang, yang buntung tangan kirinya, menggunakan tangan kanan menggaruk-garuk kepalanya yang botak.

"Aneh! Hek-mo (Setan Hitam), bukankah itu tadi pukulan Bu bengSin-kun pula"

"Tak salah lagi, Sin-kai (Pengemis Sakti)! Selain Souw Teng Wi, agaknya bocah inipun telah menuruni ilmunya!" kata kakek ke dua, kakek hitam mukanya buruk, sambil menggerak-gerakkan tongkat ularnya. Dua orang kakek ini bukan lain adalah Tok-pi Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan Im-kan Hek- mo (Iblis Hitam dari Akhirat). Seperti telah di tuturkan di bagian depan, dua orang kakek ini bersama Pek-kong Sin-ciang Bu Kam Ki. dahulu pernah dikalahkan oleh Bu-beng Sin-kun. Mereka belajar lagi dengan giat, namun tidak mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Bu-beng Sin-kun.