-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 16

Jilid 16

"Ke mana mereka pergi?" tanyanya sambil lalu seakan-akan untuk sekedar mengisi waktu sambil makan bubur.

"Mereka bicara tentang menggunakan perahu, tentu hendak menyeberangi Huang-ho, ke mana entah, mana aku-bisa tahu, nona?"

Demikianlah, setelah membayar tukang warung, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dan dari Lok- yang ke sungai itu tidak berapa jauh maka sebentar saja ia sudah sampai di tepi sungai yang amat lebar itu. Baiknya musim hujan belum tiba, kalau sudah, sukarlah menyeberangi Huang-ho yang sedang meluap dan mengamuk. Para nelayan yang biasa menyewakan perahu segera merubungnya dan menawarkan perahu sendiri. Hanya seorang nelayan tua yang menarik perhatian Lee Ing karena pujiannya,

"Perahuku sangat kuat dan boleh dipercaya, nona. Kalau tidak masa kemarin ada pembesar- pembesar menyewanya? Lima orang kuseberangkan sekaligus, apa lagi hanya seorang gadis seperti nona yang tentu ringan sekali. Percayalah, nona. Naik perahuku sama amannya dengan duduk di kursi dalam rumah nona sendiri." Lee ing mengambil keputusan menyewa perahu

nelayan tua ini.

"Jangan terima penumpang lain, biar kuborong saja. Kubayar biaya untuk lima orang." Tentu saja kakek itu girang sekali dan cepat menyiapkan perahunya yang biarpun sudah tua namun masih kelihatan kuat seperti dia sendiri. Dan dalam penyeberangan ini Lee Ing mendapat keterangan bahwa lima orang yang diduganya adalah Auwyang Tek dan kawan-kawannya itu telah menyeberang kemarin pagi dan terus menuju ke utara.

Setelah mendarat di sebelah utara sungai, Lee Ing melanjutkan perjalanannya dengan cepat untuk menyusul rombongan Auwyang Tek itu ke utara. Di sepanjang perjalanan ia melihat tapak-tapak tangan hitam pada batang-batang pohon yang tinggi, pada batu-batu karang. Ia tidak tahu apa maksud rombongan itu meninggalkan tanda-tanda Hek-tok-ciang ini, akan tetapi melihat gambar- gambar itu Lee Ing merasa sebal sekali dan untuk memuaskan hatinya, setiap kali melihat tanda itu, ia tentu menggunakan telunjuknya untuk mencoretnya dua kali kanan kiri sebagai tanda "mematikan" gambar tangan Hek-tok-ciang itu.

Dengan perjalanan cepat akhirnya dalam tiga hari ia sudah dapat menyusul rombongan itu. Mereka sedang berdiri di puncak sebuah bukit yang bernama Bukit Tiga Menara Bukit itu bernama demikian oleh karena di puncaknya terdapat tiga buah batu karang yang amat tinggi, menjulang ke angkasa seperti tiga buah menara buatan alam.

Dari tempat pengintaiannya, Lee Ing melihat bahwa dugaannya memang tepat. Auwyang Tek berada di tempat itu bersama empat orang kawannya. Yang tiga orang adalah tiga orang hwesio tinggi kurus yang bentuk wajah dan badannya hampir sama, hanya warna kulit muka mereka saja yang berlainan. Seorang bermuka hitam, ke dua bermuka kuning dan yang ke tiga mukanya merah sekali! Benar- benar tiga orang hwesio aneh. Dari pandangan mata mereka yang berkilat-kilat, Lee Ing dapat menduga bahwa mereka ini memang orang-orang pandai. Adapun orang ke empat adalah seorang hwesio pula yang dikenal baik oleh Lee Ing, karena hwesio ini bukan lain adalah Bu Lek Hwesio yang dulu merampasnya dari kakeknya Haminto Losu kemudian "menjualnya" kepada Tiong-gi-pai dengan penukaran ilmu pedang dari Kwee Cun Gan!

Bagaimana Auwyang Tek bisa berada di tempat itu? Ternyata kaki tangan Auwyang-taijin segera mengetahui bahwa para anggauta Tiong-gi-pai melarikan diri ke utara dan berusaha untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang pandai untuk memusuhi fihak Auwyang-taijin. Oleh karena ini, Tok-ong Kai Song Cinjin juga tidak tinggal diam. Kawan-kawannya dibagi tugas, ada yang harus membasmi semua anggauta Tiong-gi-pai dan mengejar mereka ke utara, ada yang disuruh memanggil orang-orang pandai untuk dijadikan pembantu. Tok-ong sendiri pergi ke Tibet untuk mencari saudara-saudaranya. Sedangkan Auwyang Tek mendapat tugas pula mengamat-amati perbatasan utara dan selatan serta gerak-gerik Raja Muda Yung Lo, sekalian mencari kawan-kawan sehaluan.

Auwyang Tek adalah seorang pemuda sombong yang merasa diri sendiri terpandai, maka ke manapun ia pergi, ia mengobral dan meninggalkan tanda-tanda tapak tangan Hek-tok-ciang, tidak saja untuk memberi tanda kepada kawan-kawannya yang banyak disebar di daerah perbatasan, juga untuk menakuti para anggauta Tiong-gi-pai.

Maklum bahwa Souw Teng Wi merupakan pujaan kaum pemberontak dan mempunyai pengaruh besar, Auwyang Tek berusaha mencari tempat persembunyian ini. Ia pikir bahwa sekali Souw Teng Wi dapat ditangkap, kiranya orang-orang yang mempunyai pikiran untuk memberontak akan menjadi kecil hatinya. Maka ia sering kali muncul di Peking dan baginya mudah saja karena ia adalah putera Menteri Auwyang, selain itu tidak berani Raja Muda Yung Lo mengganggunya karena Auwyang Tek, dengan perantaraan ayahnya telah dapat memiliki sebuah tek pai (bambu bertulis tanda kuasa) dengan tugas kaisar: Memeriksa dan meneliti tentang keamanan di dalam negeri!

Di dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Bu Lek Hwesio. Semenjak dulu, hwesio ini terkenal curang dan cerdik. Tahu bahwa Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, hwesio licik ini menemuinya dan menyatakan bahwa ia dapat membantu Auwyang Tek mencari Souw Teng Wi, asal pemuda itu suka mengajak tiga orang kawan baiknya dan suka memberi hadiah besar dan janji pangkat apa bila usaha itu berhasil kelak.

Tentu saja Auwyang Tek menerimanya dengan gembira. Adapun tiga orang kawan baik Bu Lek Hwesio ini adalah tiga orang hwesio yang sekarang bersama mereka melakukan perjalanan ke utara. Mereka ini adalah tiga orang hwesio yang selama ini tidak terkenal karena mereka tak pernah muncul di dunia kang-ouw Akan tetapi sesungguhnya mereka memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan biarpun usia mereka sebaya dengan Bu Lek Hwesio, namun dalam hal tingkat mereka masih terhitung susiok (paman guru) dari Bu Lek Hwesio. Ini saja sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian mereka memang sudah tinggi.

Demikianlah, bersama Bu Lek Hwesio dan tiga orang hwesio yang menyebut diri Hu-niu Sam-lojin (Tiga kakek dari Bukit Hu-niu) itu, Auwyang Tek segera berangkat lagi ke utara untuk mencari Souw Teng Wi sebagaimana telah dijanjikan oleh Bu Lek Hwesio yang sanggup mencarikan tempat persembunyian pahlawan yang dikejar-kejar dan dianggap pemberontak oleh Kerajaan Beng di Nan- king. Dan pada hari itu mereka tiba di Bukit Tiga Menara tanpa mengetahui bahwa gerak-gerik mereka diawasi oleh sepasang mata bening tajam dari seorang gadis jelita, puteri dari Souw Teng Wi!

Melihat tiga batu karang yang berbentuk menara tinggi sekali itu, timbul kegembiraan hati Auwyang Tek dan ia ingin menguji kepandaian tiga orang susiok dari Bu Lek Hwesio yang mendengung- dengungkan kelihaian tiga orang hwesio itu. Auwyang Tek mengeluarkan sehelai saputangan putih, lalu berkata,

"Aku ingin sekali memancangkan saputangan ini dengan tandaku di puncak menara batu karang ini. Apakah di antiara losuhu ada yang dapat memberi petunjuk kepadaku?"

Hwesio muka merah yang berjuluk Ang Bin Hosiang menjawab sambil berdongak ke atas, "Dapat dilakukan dengan melompat tinggi." Ia memang seorang ahli ginkang yang lihai. Ilmunya meringankan tubuh dan melompat sukar ditandingi dan hal ini sudah didengar oleh Auwyang Tek dari Bu Lek Hwesio, maka ia ingin sekali mengujinya.

"Akan tetapi mana bisa aku melompat setinggi itu! Apa losuhu bisa menolongku memancangkan saputangan ini di atas sana? Tak perlu di puncaknya sekali karena terlalu tinggi, takkan kelihatan orang dari bawah. Cukup di tempat sedikit di bawah puncak." Auwyamg Tek bicara seolah-olah ia tidak sengaja menguji kepandaian orang, padahal tempat yang ia kehendaki, yaitu di bawah pncak, sudah merupakain tempat tinggi yang kiranya tak mungkin dicapai orang dengan melompat saja.

"Pinceng (aku) bisa melompat sedikit, akan tetapi entah bisa mencapai tempat setinggi itu atau tidak, baik dicoba saja.." jawab Ang Bin Hosiang.

Auwyang Tek girang sekali, cepat ia menempelkan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan itu ke tengah saputangan yang segera meninggalkan tanda tapak tangan menghitam. Kain itu telah menjadi hangus di bagian gambar ini. Benar-benar menunjukkan betapa hebat dan berbahaya adanya Hek-tok-ciang!

"Hek-tok-ciang memang hebat dan lihai sekali," kata Ang Bin Hosiang memuji serta mengangguk- anggukkan kepalanya yang gundul kelimis. Kemudian ia menerima saputangan itu dan memasang kuda-kuda, kemudian sambil berseru keras kedua kakinya mengenjot tanah dan tubuhnya melayang ke atas, berjungkir-balik lalu melayang lagi ke atas, demikian sampai tiga kali sehingga ia tiba di depan menara di bagian atas sekali dekat puncak. Tangannya yang memegang saputangan itu bergerak ke depan secepat kilat dan saputangan itu telah menempel pada batu karang, pinggirnya amblas tertekan oleh tangan hwesio itu yang tubuhnya kini sudah melayang turun kembali seperti seekor burung besar tanpa sayap. Auwyang Tek dan hwesio-hwesio yang lain bertepuk tangan memuji, dan di lereng bukit itu bergema suara tepuk tangan mereka. Lee Ing sendiri bersembunyi sambil mengintai, diam-diam memuji karena perbuatan hwesio itu memang sukar sekali dilakukan dan tak sembarang orang dapat menirunya.

"Di puncak ini ada tiga batu karang seperti menara, baiknya ketiganya diberi tanda. Aku ingin, mengukir telapak tanganku di puncak menara ke dua, entah apakah Oei Bin Losuhu suka menolongku? Aku sendiri melompat takkan sampai, merayap naik aku sanggup sampai ke puncak, akan tetapi sambil merayap tentu saja tak mungkin aku dapat mengerahkan tenaga mengecap pada batu karang."

Hwesio muka kuning tersenyum dan tahulah dia bahwa pemuda putera menteri ini sebetulnya hendak menguji kepandaian dia dan saudara-saudaranya. Ia mengangguk dan hwesio yang tidak biasa banyak bicara ini menjawab singkat,

"Mari kongcu pinceng bawa naik" Setelah berkata demikian, ia berdiri di dekat batu karang ke dua dan memberi isyarat kepada Auwyang Tek untuk berdiri di atas pundaknya. Auwyang Tek agak ragu- ragu karena mana mungkin orang merayap di atas batu karang itu sambil di pundaknya ditumpangi orang lain? Membawa diri sendiri saja sudah amat payah dan harus memiliki Ilmu Pek-houw-yu-cong secara mahir. Ilmu Pek-houw-yu-cong adalah ilmu merayap seperti cecak bermain-main di atas tembok. Akan tetapi karena memang hendak menguji, tanpa berkata apa-apa ia lalu melompat ke atas pundak hwesio bermuka kuning itu.

Seperti juga saudaranya tadi, si muka kuning ini mengeluarkan seruan keras yang menggetarkan bukit, bahkan Auwyang Tek sendiri sampai merasa tubuhnya tergetar oleh seruan ini, kemudian hwesio itu mulai merayap naik dengan kedua kaki tangannya seperti cecak besar, dengan cepat sekali! Hebat tenaga lweekang hwesio muka kuning ini. Tanpa berkurang tenaganya, ia terus merayap naik ke atas sampai mencapai puncak menara ke dua itu.

"Berhenti di sini, losuhu!" kata Auwyang Tek yang cepat memukulkan telapak tangannya pada batu karang dengan menggunakan Hek-tok-ciang sampai batu karang itu berlubang dan tangannya meninggalkan bekas di situ.

"Turun ke bawah!" kata lagi Auwyang Tek dan hwesio muka kuning itu lalu merayap turun, lebih cepat dari pada tadi ketika naik. Padahal dalam mempergunakan Ilmu Pek-houw-yu-cong ini, turunnya malah lebih sukar dari pada naiknya.

Karena merasa tidak enak dipanggul terus, sepuluh kaki sebelum mencapai tanah, Auwyang Tek sudah melompat turun, diikuti oleh hwesio muka kuning itu yang tiba di atas tanah kembali dalam keadaan biasa, hanya jidatnya berpeluh sedikit. Kembali tepuk sorak menyambut demonstrasi kepandaian yang memang hebat ini. Sekali lagi Lee Ing memuji dalam hati.

"Kepala-kepala gundul ini benat-benar tak boleh dipandang ringan," pikirnya dalam hati dan ia mengeluh bahwa fihak Auwyang-taijin betul-betul mempunyai banyak tenaga kuat.

Hwesio ke tiga yang bermuka hitam, berjuluk Ouw Bin Hosiang, juga memperlihatkan kepandaiannya. Kali ini ia mendemonstrasikan kemahirannya bermain piauw (senjata yang ditimpukkan). Sehelai saputangan bercap jari tangan Hek-tok-ciang dilempar oleh Auwyang Tek ke udara, dan selagi saputangan itu melayang, Ouw Bin Hosiang menyusul dengan empat batang piauwnya berturut-turut. Saputangan itu kena disambar piauw, melayang ke atas puncak batu karang ke tiga dan terpantek di puncak itu dengan rapinya. Piauw itu telah menancap di empat ujung saputangan seperti dipasangkan orang.

Setelah demonstrasi ini disambut tempik-sorak pula, Auwyang Tek tertawa bergelak, "Kepandaian sam-wi-losuhu (tiga bapak pendeta) benar mengagumkan. Dengan bantuan sam-wi-losuhu, pemberontak-pemberontak itu tentu lebih mudah dihancurkan I Ha-ha-ha-ha!"

Lima orang itu lalu melanjutkan perjalanan menuruni bukit sambil ketawa ketawa Hampir saja Lee Ing tak dapat menahan kesabarannya dan ingin ia melompat keluar memberi hajaran kepada Auwyang Tek yang amat dibencinya itu. Akan tetapi ia dapat menahan perasaannya. Tak perlu? mencari permusuhan untuk urusan pribadi yang tidak ada artinya, demikian sering kali Han Sin memberi nasihat.

Boleh kita mengorbankan jiwa raga, akan tetapi itu hanya demi membela negara, rakyat, atau nama dan kehormatan. Musuh besar yang telah menganiaya ayahnya adalah Tok-ong Kai Song Cinjin seorang. Biarpun Auwyang Tek itu murid Tok-ong, namun pemuda ini tak pernah berurusan dengan ayahnya. Lee Ing tersenyum seorang diri dan merasa heran mengapa ia sekarang bisa berpikir panjang seperti ini. Gara-gara Han Sin, pikirnya.

Pemuda yang jujur dan berhati terlampau baik sehingga kadang-kadang amat lemahnya. Apakah akupun ketularan menjadi lemah hati? Lee Ing melompat keluar dari tempat pengintaiannya tadi, menghampiri batu karang pertama yang tinggi seperti menara itu. Dari bawah nampak saputangan putih yang ada bekas jari tangan atau telapak tangan Auwyang Tek. Hatinya panas.

"Hemmm, menempel benda itu sambil melompat ke atas bagiku apa sukarnya? Masa aku tidak bisa?" Ia mengerahkan tenaga, kedua kakinya menotol tanah dan tubuhnya melayang ke atas. Berbeda dengan gaya Ang Bin Hosiang yang tadi berpoksai (membuat salto) sampai tiga kali untuk mencapai puncak batu karang menara, kini Lee Ing menggerak-gerakkan kaki tangannya seperti orang berenang. Aneh dan hebat, tiap kali kedua kakinya menjejak udara, tubuhnya mumbul makin tinggi.

Akhirnya gadis yang luar biasa mi dapat mencapai saputangan dengan tangannya. Ia mengulur lengan kanan, menggunakan jari-jari tangannya menggurat dua kali dan. di atas saputangan itu,

tepat di atas cap tapak tangan, terdapat garis silang yang "mematikan" tapak tangan itu. Lee Ing melayang turun lagi ke bawah dengan cara terjun, kepala di bawah kaki di atas. Sebelum membentur tanah, ia membalik dan dapat berdiri tegak bagaikan seekor burung dara melayang turun saja ringannya.

Menghadapi batu karang ke dua, diapun meniru perbuatan Ouw Bin Hosiang, merayap naik dengan enak dan cepat sekali ke atas, setelah sampai di puncak, ia memukulkan tangannya pada permukaan batu karang di mana terdapat tapak tangan Auwyang Tek. Permukaan batu karang itu hancur dan gambar tapak tangan itupun lenyap! Puas hatinya lalu merayap turun lagi dengan kecepatan luar biasa.

Saputangan bergambar tapak tangan di puncak batu karang menara ke tiga ia pukul robek-robek dengan sebuah batu dari bawah. Juga dalam menimpuk, gadis ini menandingi kepandaian Ouw Bin Hosiang! Setelah melakukan tiga perbuatan ini, Lee Ing tertawa girang, lalu berlari-lari turun gunung seperti seorang anak yang nakal. Hatinya riang karena ia telah dapat merusak hasil kesombongan pemuda Auwyang Tek yang amat dibencinya itu. Karena ia ingin cepat-cepat mencari ayahnya, maka ia tidak inemperdulikan lagi kepada rombongan ini, malah ia menyusul dan mendahului mereka tanpa terjadi bentrokan yang hanya akan menghambat perjalanan.

Karena selalu menghindarkan diri dari bentrokan-bentrokan dengan fihak lawan, malah tidak mau melayani gangguan-gangguan orang jahat di perjalanan yang mengira dia seorang gadis lemah atau makanan empuk, Lee Ing dapat melakukan perjalanan cepat sekali.

Setelah melakukan perjalanan lama sampai berpekan-pekan, akhirnya gadis ini sampai juga di kota raja utara, Peking. Girang hatinya melihat daerahnya ini, bertemu muka dengan orang-orang utara, merasa berada di kampung halaman sendiri. Hatinya berdebar kalau ia ingat bahwa ia telah dekat dengan ayahnya yang tercinta.

Memang jauh berbeda keadaan di selatan dan di utara. Di utara, rakyat nampak hidup tenang, kaum tani yang bekerja di sawah nampak gembira. Di setiap dusun yang dilalui Lee Ing nampak aman tenteram, dan wajah orang-orang kelihatan terang dan ramah, tanda bahwa mereka merasa puas dengan keadaan hidup mereka.

Keadaan di kota raja sendiri amat ramai, penuh dengan para pedagang yang datang dari luar daerah membawa dagangan mereka yang beraneka warna. Kalau negara kuat rakyat hidup aman dan dapat mencurahkan seluruh perhatian kepada pekerjaan mereka dan perdagangan menjadi maju dan ramai, mendatangkan hasil berlimpah-limpah bagi semua orang, mendatangkan kemakmuran dan karena tidak ada yang kekurangan sandang pangan jarang muncul kejahatan.

Akan tetapi, sungguhpun di kota raja utara ini nampaknya ramai dan tenteram, bagi yang mengetahui, tempat ini penuh dengan mata-mata, baik mata-mata pemerintah Raja Muda Vung Lo, maupun mata-mata dari selatan yang dikirim oleh pemerintah Kerajaan Beng.

Lee Ing memasuki kota raja dengan wajah gembira dan kagum. Bangunan-bangunan yang besar dan megah membuat ia bengong karena di selatan tidak ada ia melihat bangunan-bangunan seperti ini. Memang mengenai bangunan, kota raja selatan kalah oleh bekas kota raja Bangsa Mongol ini. Megah dan hebat. Apa lagi sekarang, setelah Raja Muda Yung Lo yang berkuasa di situ, kota raja ini nampak makin makmur.

Kalau toh kelihatan pengemis-pengemis di kota raja ini, mereka ini adalah orang-orang malas yang terlalu terpengaruh oleh kebiasaan para pendeta hwesio yang suka berjalan minta-minta makanan dari rakyat seperti biasa mereka lakukan. Karena ingin sekali mendapat makanan tanpa bekerja inilah menimbulkan adanya pengemis-pengemis di kota besar itu. Jadi bukan timbul pengemis karena kurang pangan. Memang ada orang-orang yang sudah demikian biasa dengan kehidupan mengemis sehingga bagi mereka inilah "pekerjaan" yang paling nikmat dan menyenangkan.

Lee Ing sedang enak berjalan mencari sebuah rumah penginapan ketika tiba-tiba seorang yang berpakaian pengemis menyeruduknya dari samping. Pengemis itu terhuyung karena kakinya tertumbuk batu, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat mengenal gerakan orang dan tahu bahwa pengemis ini hanya pura-pura saja jatuh. Ia cepat menggeser kakinya agar jangan kena tubruk, akan tetapi dari dua tangan pengemis itu menyambar angin yang membuat bajui Lee Ing tertiup menyingkap sehingga sekelebatan kelihatanlah pedang Li-Iian-kiam yang dililitkan di pinggangnya.

"Minta sedekah, nona..... kasihani seorang pengemis " orang itu berkata seperti biasanya orang-

orang macam dia. Lee Ing mendongkol. "Pergi kau, jangan mencari-cari urusan dengan aku!" Dengan marah gadis ini lalu membalikkan tubuh dan meninggalkan pengemis aneh itu Akan tetapi, dari jauh pengemis itu mengikutinya, sungguhpun hal ini ia lakukan seperti tidak disengaja. Lee Ing tidak perdulikan dia lagi.

Melihat sebuah rumah penginapan yang kelihatan bersih dan rapi, Lee Ing lalu masuk memesan kamar. Kebetulan sekali ia mendapatkan sebuah kamar di atas loteng. Kamar itu kecil saja namun bersih menyenangkan. Setelah memasuki kamar dan melihat dari jendela ke luar, kelihatan jalan raya di depan rumah penginapan itu dengan lalu-lintasnya berjalan hilir mudik di depan rumah penginapan, Lee Ing melihat lagi pengemis yang tadi berjalan terbongkok-bongkok.

Pengemis itu usianya belum begitu tua, paling banyak empat puluh tahun, bajunya compang- camping akan tetapi celananya masih baru. Jalannya bongkok-bongkok seperti orang menderita penyakit tulang punggung, akan tetapi matanya tajam mengerling ke arah rumah penginapan. Dengan hati sebal Lee Ing menurunkan tirai jendela.

Pelayan mengantar teh panas dan Lee Ing mulai bertanya. "Lopek, aku mencari seorang tuan muda bernama Siok Bun, putera dari Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui. Apakah kau tahu di mana dia tinggal?"

"Nona, di sini banyak sekali orang she Siok, bagaimana aku bisa tahu? Akan tetapi coba hendak kutanyakan kepada pengurus kepala, mungkin dia tahu."

'’Kalau tidak tahu biarlah, aku akan mencari sendiri besok," jawab Lee Ing karena memang ia merasa lelah dan hendak beristirahat di dalam kamarnya sebelum ia keluar lagi mencari Siok Bun. Tentu saja ia tidak tahu bahwa pelayan itupun seorang di antara penyelidik yang tentu saja menjadi kaget mendengar nona ini mencari Siok Bun yang amat dikenalnya.

Ia merasa curiga dan memang tidak seharusnya ia memberitahukan tempat tinggal keluarga Siok kepada seorang yang belum diketahui keadaannya. Diam-diam dia memberi tahu kepada kepala penyelidik tentang pertanyaan nona ini hingga saat itu nama Lee Ing sudah dimasukkan daftar "tamu-tamu yang dicurigai."

Malam itu Lee Ing tidur nyenyak setelah berpekan-pekan ia melakukan perjalanan jauh sekali. Akan tetapi menjelang tengah malam ia bangun. Ada suara membangunkannya. Suara itu demikian perlahan dan tentu takkan terdengar oleh telinga orang biasa yang sedang tidur. Akan tetapi pendengaran Lee Ing amat tajam, perasaannya juga halus sekali. Sedikit suara yang mencurigakan cukup membuat ia serentak bangun dan dalam detik-detik selanjutnya ia sudah tahu bahwa ada orang berada di aras genteng kamarnya.

Betapapun pandai orang itu menggunakan ginkang sehingga jejak kakinya hampir tidak mengeluarkan bunyi, tetap saja tertangkap oleh pendengaran gadis itu. Dengan tenang namun cepat sekali, Lee Ing menyambar pakaian luarnya, mengenakan pakaian dan terus melompat keluar jendela, sebelah tangan menyambar ujung genteng dan diayunnya tubuhnya itu melengkung ke atas genteng. Benar-benar gerakan yang amat indah, juga berbahaya, dilakukan di malam gelap itu.

"Bangsat pengecut jangan lari!" Lee Ing memaki dan terus mengejar, la tadi melihat bayangan dua orang berdiri di atas genteng.

Dua orang itu cepat sekali larinya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng rumah lain. Namun mereka kurang gesit bagi Lee ing yang cepat mengejarnya. Tiba-tiba Lee Ing sengaja mengurangi kecepatannya karena ia hendak mengetahui di mana sarang penjahat-penjahat ini yang sudah pasti tidak bermaksud baik malam-malam mengintai kamarnya. Ia hanya mengikuti dari belakang dan menjaga agar jarak antara dia dan mereka tetap dekat.

Ternyata dua bayangan orang itu membawanya ke sudut kota di mana terdapat beberapa bangunan besar. Mereka melompat ke atas genteng rumah yang besar dan tinggi dan hendak masuk ke dalam melalui wuwungan. Akan tetapi Lee Ing sudah melompat jauh dan menyerang mereka.

"Jangan lari!" bentaknya dan kedua tangannya melakukan serangan totokan yang hebat, la tidak mau menurunkan tangan maut, apa lagi ketika ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang muda yang kelihatan gagah dan berpakaian seperti pakaian penjaga keamanan. Dua orang itu cepat mengelak, namun ilmu menotok dari Lee Ing adalah lain dan pada yang lain. Bagaikan bermata, jari- jarinya mengejar terus sampai akhirnya dua orang itu roboh tak berkutik di atas genteng.

Terdengar hiruk-pikuk di bawah genteng dan alangkah kaget hati Lee Ing ketika belasan orang melompat naik sedangkan di bawah genteng masih terdapat puluhan orang yang berpakaian seragam. Kiranya ia dibawa ke sebuah markas penjaga keamanan! Makin tercenganglah ia melihat bahwa belasan orang yang melompat naik itu dipimpin oleh pengemis yang ia lihat siang tadi. Timbul marahnya. Masa datang-datang ia sudah diawasi seorang mata-mata dan malamnya ada yang mengintai kamarnya? Mereka menganggap dia orang apa?

"Bagus, kalian hendak mencari gara-gara dengan aku?" Lee Ing menggerakkan tangan kanan dan pedang Li-lian-kiam berada di tangannya.

"Kepung dan tawan dia. Gadis ini mencurigakan sekali!" teriak pengemis itu dengan nada memerintah. Sekarang mudah diduga siapa adanya pengemis ini. Pedang dan golok digerakkan ke atas mengancam Lee Ing. Gadis itu menggerakkan pedangnya seperti halilintar menyambar.

"Plak-plak-plak!!" Sebentar saja tiga pedang dan dua batang golok menempel di pedangnya dan tak dapat ditarik kembali. Selagi lima orang itu berkutetan hendak menarik kembali senjata mereka, Lee Ing mengerahkan tenaga menarik dan. lima batang senjata itu terlepas dari pegangan mereka dan

jatuh berkerincingan di atas genteng!

Akan tetapi para pengeroyok itu tidak menjadi gentar. Agaknya memang mereka sudah terlatih menghadapi orang-orang pandai. Mereka mendesak terus dan pengemis itu ternyata juga lihai. Dengan tiongkat besi ia sendiri maju mengeroyok Lee Ing. Gadis ini menggerakkan pedangnya dan "criiing!" tiga batang pedang pengeroyoknya somplak.

"Kepung rapat! Gadis ini lihai sekali pedangnya!" Pengemis itu berteriak lagi akan tetapi ia segera menjadi repot sekali karena kini Lee Ing mendesaknya. Ia mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi tanpa dapat dicegah lagi lengan kanannya terluka. Cepat ia mundur dengan muka pucat sambil memegangi lengannya yang sudah terluka. Baiknya gadis itu tidak berniat membunuh, kalau demikian halnya tentu kulit perutnya yang pecah, bukan hanya kulit lengannya!

Selagi Lee Ing dikepung rapat, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar bentakan keras, "Semua mundur! Masa menghadapi seorang gadis harus mengeroyok seperti ini? Benar-benar memalukan sekali!"

Lee Ing memandang, orang yang baru datang itu memandang dan.    keduanya bengong. Apa lagi

pemuda bertopi batok yang baru sampai ini. Ia berdiri tegak menatap wajah Lee Ing yang diterangi oleh cahaya obor yang dibawa oleh pasukan yang kini sudah memenuhi genteng. Ia ragu-ragu. Ingat- ingat lupa. Akan tetapi Lee Ing mana bisa lupa? Jarang ada pemuda tampan bertopi batok! "Saudara Siok Bun apakah baik-baik saja?" tegur Lee Ing sambil tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya.

"Aduh, tak salah lagi kiranya! Bukankah kau nona Souw Lee lng?" tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Siok Bun, pemuda yang dulu dengan mati-matian membela Lee Ing dari tangan Mo Hun dan juga Yap Lee Nio.

Ketika dengan senyum manis Lee Ing tersenyum, Siok Bun lalu memutar tubuh dan membentak orang-orang itu,

"Kalian ini tolol semua! Tamu agung datang tidak disambut dengan baik-baik malah kalian bersikap sangat keterlaluan dan memalukan!" Orang berpakaian pengemis itu menjadi pucat.

"Dia....dia mencurigakan.... dia bertanya-tanya tentang nama taihiap dan alamat Siok-ciang-kun   !"

Dia mencoba membantah.

"Goblok! Tentu saja dia menanyakan aku dan alamat ayah. Tak tahu kau siapa orangnya yang kalian keroyok ini? Dia puteri Souw-taihiap, tahu?"

Terdengar seruan di sana-sini dan semua orang cepat memberi hormat, didahului oleh pengemis itu yang berkata, "Souw-lihiap, mohon maaf sebesarnya kalau kami telah berlaku lancang dan kurang ajar."

"Tidak apa." jawab Lee Ing dengan senyumnya yang selalu siap di bibir, "betapapun juga. kalian telah membawa aku bertemu dengan saudara Siok Bun."

Gadis ini lalu membebaskan beberapa orang korban yang tadi telah dirobohkan dengan totokan. Kemudian ia melompat turun mengikuti Siok Bun yang mengajaknya memasuki ruangan dalam. Setelah berdua saja, Siok Bun bertanya girang,

"Nona, benarkah kau datang mencari aku?" Lee Ing mengangguk, tidak tahu mengapa pemuda itu kelihatan luar biasa girangnya.

"Aku telah bertemu dengan ayahmu di selatan dan dia yang memesan supaya aku mencarimu di kota raja ini."

"Kau bertemu dengan ayah? Bagaimana dia? Baik-baik sajakah? Berhasilkah usahanya?"

"Ada sedikit gangguan, akan tetapi sekarang kiranya sudah bertemu dengan Bu-lohiap, diantar oleh saudara Liem Han Sin." Dengan singkat Lee Ing menceritakan pertemuannya dengan Pek-kong-sin- kauw Siok Beng Hui.

"Dan keperluanmu ke utara ini?" tanya Siok Bun yang mendengarkan penuturan nona itu dengan hati penuh kegembiraan sambil menatap wajah yang jelita, wajah yang beberapa tahun yang lalu sudah membuat ia tergila-gila dan sekarang lebih-lebih memikat dan menjatuhkan hatinya.

"Aku minta kau antar aku ke tempat ayah." Siok Bun mengangguk-angguk sambil mengerutkan keningnya. "Banyak sekali orang pihak musuh yang mencari ayahmu dengan maksud jelek. Kami yang amat menjunjung tinggi jasa-jasa ayahmu, tentu saja berusaha sedapat mungkin untuk melindunginya. Sayangnya ayahmu tidak suka berurusan dengan siapapun juga, hendak menyendiri saja dan selalu marah-marah kalau dibawa ke dalam benteng. Karena itu, untuk menyembunyikan dan menyelamatkannya dari kejaran orang-orang suruhan para durna di selatian, terpaksa kami membawanya keluar kota dan atas permintaan ayahmu sendiri kami membuatkan sebuah perahu di mana ayahmu tinggal. Agaknya ayahmu gembira setelah tinggal dalam perahu di atas sungai. Selain itu, juga mata-mata musuh tidak ada yang pernah menduga bahwa ayahmu berada di tempat itu. Ayahmu sering bernyanyi-nyanyi dan yang disebut-sebut hanya namamu dan Namilana "

Kedua mata lee Ing menjadi basah oleh air mala. "Ibuku...! Ayah sudah cukup lama menderita, sekarang aku hendak berusaha menghiburnya. Saudara Siok Bun, bawa aku ke sana!"

"Berangkat ke sana siang hari, amat tidak baik karena khawatir terlihat oleh mata-mata musuh. Pergi malam hari seperti sekarang, juga khawatir mengganggu ayahmu yang tentu masih tidur. Paling baik pergi pagi-pagi nanti, nona."

"Tidak, aku ingin pergi sekarang! Biar kita menanti sampai ayah bangun. Aku tidak sabar lagi," kata Lee Ing, suaranya penuh permintaan.

"Baiklah, aku selalu bersedia membantumu, nona! Mari kita berangkat."

Siok Bun memesan kepada para perwira di markas itu agar supaya lebih hati-hati menjaga keamanan, kemudian bersama Lee Ing ia berangkat keluar kota raja dari pintu gerbang sebelah utara. Penjaga pintu gerbang yang melihat pemuda ini, mengenalnya baik-baik dan cepat membuka pintu. Diam-diam Lee Ing kagum. Pemuda ini masih muda namun sudah terkenal di antara para penjaga, benar patut menjadi putera seorang panglima seperti Siok Beng Hui.

Di tengah perjalanan yang dilakukan biasa itu, Siok Bun menceritakan keadaan kota raja.

"Para durna mengirim orang-orang pandai untuk menyelidiki keadaan di sini, juga mereka selalu berusaha untuk mengetahui di mana adanya ayahmu," demikian antara lain ia betcerita.

"Mengapa mereka mencari ayah? Di kota ini apakah mereka juga berani bertindak sewenang- wenang dan berani menganggu ayah?"

"Kau tidak tahu, nona. Betapapun juga, daerah utara ini masih termasuk wilayah Kerajaan Beng yang pada waktu ini dikuasai oleh kaisar di Selatan. Kaisar telah kena dihasut oleh para durna sehingga beliau suka memberi surat keputusan bahwa ayahmu dinyatakan sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak. Dengan surat keputusan itu, tentu saja orang-orang para durna itu berani menawan atau mencelakai ayahmu, dan para petugas di sini, bahkan raja muda sendiri mana berani melawan surat keputusan kaisar yang menjadi ayah?"

Lee Ing menarik napas panjang. "Menyebalkan sekali para durna itu! Membosankan sekali penghidupan di selatan yang penuh hawa nafsu dan kepalsuan itu. Kalau sudah selesai tugasku, aku akan mengajak ayah kembali ke utara, ke tempat kong-kong, di sebelah utara padang pasir Gobi "

Lee Ing lalu menerbangkan lamunannya jauh ke tempat itu, tempat sunyi akan tetapi mengamankan hati di mana tidak terdapat kepalsuan-kepalsuan dan pertentangan-pertentangan seperti di daratan Tiongkok ini.

"Di sini semua orang berhati jahat    " Tak terasa lagi ucapan ini keluar dari bibir Lee Ing. Wajah pemuda itu menjadi pucat. "Betul tidak ada orang baik menurut pendapatmu?"

Lee Ing baru sadar bahwa dia bicara keterlaluan. Bukankah orang-orang Tiong-gi-pai itu baik-baik, juga orang-orang seperti Siok Beng Hui, apa lagi Oei Siok Ho, amat baik? Masih ada lagi Liem HanSin dan. pemuda ini. Tidak tahu mana yang lebih baik, akan tetapi menurut suara hatinya, yang paling

baik tentu saja Siok Ho!

"Maaf, saudara Siok Bun. Tentu saja tidak semua, maksudku banyak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, kepalsuan-kepalsuan yang membikin jemu hatiku di selatan sini. Memang banyak kujumpai orang-orang baik, di antaranya kau sendiri dan ayahmu."

Wajah Siok Bun menjadi merah sekarang, akan tetapi oleh karena udara hanya diterangi bintang- bintang, perubahan warna pada kulit mukanya ini tidak terlihat oleh Lee Ing. Akhirnya sampai juga mereka di pinggir sungai yang dimaksudkan itu. Benar saja, di tengah sungai terdapat sebuah perahu besar yang diam tak bergerak. Penghuninya agaknya membuang jangkar di tengah sungai. Tidak ada penerangan pada perahu itu.

"Siapa itu?" tiba-tiba terdengar teguran dan dua orang muncul dari sebuah perahu kecil yang berada di tepi sungai. Mereka ini membawa pedang di tangan.

"Aku orang sendiri!" jawab Siok Bun mendekat.

"Ah, kiranya Siok-taihiap!" kata seorang di antara mereka yang ternyata merupakan penjaga-penjaga yang diberi tugas mengawasi perahu Souw Teng Wi itu.

"Semua aman? Tidak ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Siok Bun.

"Aman dan tidak ada apa-apa," jawab mereka. "Baik, pergilah kalian meronda, biar aku yang berada di sini," kata pula pemuda itu. Dua orang penjaga itu lalu naik ke dalam perahu mereka dan mendayung perahu itu untuk meronda, yaitu mengitari perahu di tengah sungai itu.

"Hemtn, mereka baru bangun tidur," kata Lee Ing tak puas. "Apakah hanya mereka berdua yang melakukan penjagaan?"

"Betul, nona. Bukan untuk menjaga keselamatan, hanya untuk segera melapor apa bila terjadi hal- hal yang mencurigakan. Di sini termasuk daerah terlarang, bahkan para nelayanpun tidak ada yang berani lewat di sini."

Lee Ing duduk di atas akar pohon yang banyak tumbuh di pinggir sungai. Hatinya tidak puas. Ayahnya seorang yang memiliki kepandaian tinggi, masa hanya dijaga oleh dua orang yang tidak ada gunanya seperti tadi? Lebih baik tidak dijaga, ayahnya mampu menjaga diri sendiri.. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau menyatakan suara hatinya ini kepada Siok Bun yang juga sudah duduk di atas akar pohon.

"Aku sering kali duduk di sini mendengarkan suara ayahmu bernyanyi," kata pemuda itu memecah kesunyian malam.

"Bernyanyi?" tanya Lee Ing heran, juga terharu.

"Ya, suara ayahmu tidak merdu, lagunya juga tidak menarik. Akan tetapi kata-katanya amat mengagumkan, penuh semangat perjuangan. Ayahmu benar-benar seorang pahlawan besar, sampai dalam keadaan seperti itupun masih bersemangat. Sering kali aku mendengarnya dan hanya satu lagu yang amat meresap di hatiku, sampai-sampai aku hafal kata-katanya."

"Lagu apakah itu?" tanya Lee Ing tertarik, karena pemuda ini begitu memperhatikan ayahnya.

"Dengarkan aku hendak menyanyikannya seperti yang dinyanyikan oleh ayahmu," kata Siok Bun yang bangkit berdiri tegak, membuka dada membusung ke depan, lalu bernyanyi. Suara pemuda ini nyaring dan merdu, akan tetapi Lee Ing tidak memperhatikan suaranya saking terpesona oleh kata- kata lagu itu.

"Berjuang mempertaruhkan nyawa. Demi membela nusa dan bangsa!

Isteri pujaan menanti di utara.

Bersama seorang puteri ataukah putera? Namilana, dewi pujaan kalbu...

Masih ingatkah kau akan daku..? Mengapa kau tidak datang mencariku? Di mana kau......

di mana kau Namilana isteriku?"

Tak tertahan lagi Lee Ing menutupi mukanya dengan tangan dan menangis tersedu-sedu mendengar nyanyian yang dinyanyikan oleh Siok Bun Ini. Ia hafal benar akan kata-kata ini, kata-kata yang diukir oleh ayahnya pada dinding batu dalam Gua Siluman. Sajak yang merupakan jerit hati ayahnya.

Sampai tergoncang-goncang pundak Lee Ing ketika ia menangis. Ia menahan-nahan sedapat mungkin, namun suara nyanyian Siok Bun demikian menusuk kalbunya, seakan-akan dengan nyanyian itu, Siok Bun telah dapat menggambarkan betapa keadaan ayahnya yang amat sengsara.

"Ayah... alangkah besar penderitaanmu. " Ia bersambat.

Tiba-tiba sebuah tangan yang halus diletakkan di atas pundaknya. Ia kaget, menoleh dan melihat Siok Bun memandang kepadanya dengan wajah aneh. Lebih aneh lagi suara Siok Bun yang sekarang berkata dengan perlahan itu terdengar gemetar,

"Nona Lee Ing... jangan kau berduka........ aku.... aku tak tahan melihat kau menangis. Jangan bersedih, di dunia ini masih ada aku yang selalu bersiap melindungimu, hidupku ini kalau perlu....

kusediakan untuk kepentinganmu, nona."

Seketika itu juga Lee Ing sadar dari keadaannya yang sedih, ia bangkit serentak seperti kena siram air dingin. Matanya terbelalak memandang kepada Siok Bun.

"Saudara Siok Bun! Apa..... apa maksudmu dengan kata-kata itu?" Siok Bun terpukul hatinya, mukanya menjadi merah sekali dan ia berkata sambil menundukkan mukanya.

"Maaf    aku telah berlaku lancang dan mengeluarkan kata-kata kurang sopan. Apa hendak dikata

kalau aku memang suka kepada nona dan hatiku penuh dengan haru dan iba? Apa dayaku kalau aku tertarik oleh diri nona, kalau aku selalu membayangkan wajah nona semenjak kita berjumpa beberapa tahun yang lalu? Maafkanlah, tidak semestinya aku mengeluarkan semua ini. Kalau aku menyinggung hatimu harap kau maafkan dan aku berjanji selamanya takkan mengulanginya lagi." Lee Ing memandang dengan muka sebentar merah sebentar pucat. Celaka tiga belas, pikirnya. Jadi pemuda inipun jatuh cinta kepadanya? Pemuda ini baik sekali dan ucapannya yang terakhir itu mengharukannya.

"Saudara Siok Bun, harap kau kasihani aku dan jangan bicara lagi soal itu. Aku ingin bertemu dengan ayah, kemudian aku ingin membalaskan sakit hati ayah yang telah dibuat sedemikian sengsara oleh orang-orang jahat. Yang lainnya aku tidak mau pikirkan...... yakni.... setidaknya...;.. pada waktu sekarang ini."

Berseri wajah Siok Bun. Hatinya lega bukan main. Tadinya ia sudah siap menerima caci-maki dari gadis itu. Tidak disangka gadis itu tidak marah, malah kalau dipikirkan secara mendalam, ia masih ada harapan. Gadis itu bilang bahwa pada waktu sekarang ini tidak mau memikirkan tentang hal lain, atau jelasnya tentang cinta, jadi dapat diartikan bahwa lain waktu atau kelak akan memikirkannya. Inilah logika pemuda yang mabok asmara. Sedikit kata-kata, sedikit senyum, sekilas kerling, sudah diterima dan diartikannya sebagai seribu janji.

Malam mulai menghilang, terganti fajar menyingsing di ufuk timur. Sinar-sinar pertama dari matahari mengusiri sisa-sisa kegelapan malam. Pergumulan antara cahaya terang berkilat dengan kegelapan menghitam tercermin di permukaan air sungai, menimbulkan pemandangan yang gaib. Burung-burung yang tak pernah malas untuk bangun pagi-pagi sekali itu mulai berkicau, siap-sedia menempuh kehidupan sehari itu dengan sikap gembira dan besar hati, sungguhpun besar kemungkinan mereka takkan mendapatkan makanan cukup untuk hari itu. Tiada pemikiran tentang hari depan, tiada kekhawatiran, tak pernah diganggu oleh tujuh perasaan nafsu seperti manusia, karenanya hidup bebas lepas, bergerak sesuai dengan kehendak yang menciptanya, itulah burung! Karena selalu nampak gembira.

Pantas saja penyair besar The Sun pernah menyatakan keinginan hatinya untuk berubah menjadi burung. Agaknya ia membuat syair itu setelah melihat burung-burung di waktu pagi, apa lagi di dekat sungai seperti itu. Akan tetapi, dua orang muda yang duduk di tepi sungai, Lee Ing dan Siok Bun, agaknya tidak memperhatikan keindahan pagi hari seperti penyair The Sun. Yang menjadi pusat perhatian mereka hanyalah perahu besar yang terapung di tengah sungai.

"Biasanya ayahmu bangun pagi-pagi sekali dan mulai mendayung perahunya itu ke sana ke mari, kadang-kadang menjala ikan, kadang-kadang kalau lagi senang hatinya malah mengajak penjaga main catur sambil menikmati hidangan ikan bakar dan arak. Mengapa sekarang sunyi saja? Apakah beliau masih tidur?"

"Mari kita ke sana, itu ada perahu kosong," kata Lee Ing sambil menunjuk ke sebuah perahu penjaga yang kosong. Memang di situ terdapat beberapa buah perahu yang disediakan untuk para penjaga.

"Biasanya Souw-taihiap tidak suka diganggu. Kalau beliau menghendaki adanya hubungan dengan orang lain, ayahmu itu suka mendayung perahunya menghampiri. Kalau diganggu suka marah. Pernah dua orang penjaga dipukul dan dilempar ke dalam air karena berani mendatangi perahunya."

"Kasihan, karena sering kali difitnah dan dicurangi orang jahat, menjadi penuh kecurigaan terhadap orang lain. Biar aku yang menghampiri perahunya. Padaku dia takkan marah."

"Nanti dulu, nona." Siok Bun mencegah penuh kekhawatiran. "Ayahmu berbahaya sekali kalau sedang marah, dan dia itu lihai bukan main. Lebih baik aku yang memanggilnya dari sini."

Pemuda itu lalu mengerahkan tenaga menggunakan khikang memekik keras, "Souw-locianpwe.....! Di sini aku Siok Bun mohon bertemu    !!"

Teriakan ini bergema sampai jauh, akan tetapi keadaan tetap sunyi. Tak ada jawaban apa-apa dan suara burung-burung yang tadi berkicau gembira menjadi sirap, agaknya terkejut dan takut akan pekik manusia yang amat nyaring tadi.

"Heran, biasanya pagi-pagi sekali ayahmu sudah bangun " Siok Bun menggerutu dan hatinya mulai

tidak enak. Melihat perahu panjang sudah bergerak mendekat lagi setelah melakukan perondaan, ia memberi isyarat memanggil. Dua orang penjaga itu mempercepat gerakan perahu yang mereka dayung sekuat tenaga menuju ke tempat dua orang muda itu. Sekarang kelihatan tegas wajah mereka, dua orang muda yang kelihatan kuat dan gagah, hanya mata mereka agak kemerahan karena mengantuk.

"Apakah tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan semalam?" tanya Siok Bun setelah mereka melompat ke darat dari perahu mereka yang diseret ke pinggir.

"Tidak. Siok-taihiap. Sunyi-sunyi saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan."

"Hemm, justeru aku curiga karena terlalu sunyi. Bukankah biasanya Souw-locianpwe sudah bangun pagi-pagi sekali?" kata pemuda itu sambil memandang ke tengah sungai di mana perahu Souw Teng Wi itu bergerak-gerak keterjang ombak kecil. Dua orang itu kelihatan kaget dan pucat. Agaknya baru sekarang mereka melihat keganjilan ini.

"Betul, biasanya pagi-pagi sudah bangun dan bernyanyi-nyanyi," kata mereka. "Tolol kalian!" Siok Bun memaki.

Akan tetapi Souw Lee Ing sudah tidak sabar lagi. "Aku hendak melihat ke sana!" katanya dengan suara agak gemetar, la gelisah kalau-kalau terjadi sesuatu dengan ayahnya. Cepat ia melompat ke dalam perahu penjaga-penjaga tadi.

"Mari kutemani!" kata Siok Bun yang cepat melompat pula.

Mereka mendayung kuat-kuat dan sebentar saja perahu kecil mereka sudah menempel pada perahu besar Sduw Teng Wi. Tanpa ragu-ragu lagi Lee Ing melompat ke atas perahu ayahnya, diikuti oleh Siok Bun yang terheran-heran menyaksikan kegesitan dan keringanan tubuh gadis itu. Alangkah banyaknya kemajuan yang diperoleh gadis itu, pikirnya. Juga ketika ia menyaksikan sepak terjang Lee Ing dikeroyok oleh para perajurit di benteng, ia sudah terheran-heran.

Akan tetapi oleh karena para pengeroyok itu memang hanya memiliki ilmu kepandaian lumayan saja, hal itu tidak dianggapnya luar biasa. Ia hanya mengira bahwa selama ini puteri Souw-taihiap itu tentu telah memperdalam kepandaiannya. lapun cepat mengikuti Lee Ing, melompat ke atas perahu sambil membawa tambang yang diikatkan pada kepala perahunya sendiri. Sampai di atas ia mengikatkan ujung tambang pada pinggiran perahu besar itu.

Lee Ing sementara itu sudah menghampiri ruangan perahu dan melongok ke dalam. Ia mengharapkan melihat ayahnya masih terbaring tidur di bawah atap peiahu yang amat sederhana itu, akan tetapi ia menjadi melongo. Wajahnya pucat. bibirnya gemetar dan sepasang matanya nampak kaget, duka dan kecewa. Tempat itu kosong, tidak ada seorangpun manusia di dalamnya!

Siok Bun yang juga sudah melongok ke dalam, mengeluarkan seruan kaget. "Celaka ! Ke mana perginya Souw-locianpwe?" katanya. Lee Ing tiba-tiba memutar tubuhnya menghadapi Siok Bun dan mencabut pedangnya, membuat pemuda itu kaget bukan main.

"Di mana ayah?" bentak Lee Ing. "Kau, ayahmu dan orang-orang kota raja sini bertanggung jawab atas keselamatan ayah! Di mana kalian menyembunyikan ayah?"

Siok Bun maklum bahwa gadis ini karena duka dan gelisah melihat ayahnya tidak berada di situ, menjadi naik darah. Ia menarik napas dan berkata

halus,

"Nona Souw, ayahmu seorang yang tinggi ilmunya, mana bisa kami paksa dia bersembunyi? Kami hanya bisa menjaga dan mengamatinya, akan tetapi menjaga seorang selihai ayahmu benar-benar tidak mudah. Memang para penjaga kami yang bersalah sampai tidak melihat ayahmu meninggalkan perahu, akan tetapi dengan kepandaian yang dimiliki ayahmu, apa sukarnya pergi tanpa diketahui oleh para penjaga? Harap nona bersabar dan jangan menyangka yang bukan-bukan. Kami amat menghargai ayahmu dan bermaksud sedapat mungkin melindunginya, sungguhpun perkataan melindungi ini kurang tepat mengingat bahwa ayahmu adalah seorang yang tak membutuhkan perlindungan karena memiliki kepandaian tinggi. Kukira sekarang dia hanya pergi karena bosan berada di sini."

Melihat sikap Siok Bun, Lee Ing menjadi lebih sabar. Ia melompat ke dalam ruangan itu dan matanya memandang ke sekitar kamar. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, demikian pula siok Bun ketika melihat ada tanda tapak tangan hitam di dinding ruangan itu.

"Bedebah she Auwyang! Jadi kaukah yang telah menculik ayah?" Lee Ing berteriak marah, teringat kepada Auwyang Tek yang juga melakukan perjalanan ke utara dikawani oleh Bu Lek Hwesio dan Hu- niu Sam-lojin.

Akan tetapi, dia telah meninggalkan mereka itu di tengah perjalanan, masa mereka sudah mendahuluinya sampai di sini? Siok Bun adalah seorang pemuda yang teliti, la sudah pernah bertempur melawan Auwyang Tek, bahkan sudah pernah merasa kehebatan Hek-tok-ciang. Melihat tapak tangan di atas dinding itu, ia menarik sebuah meja dan melompat ke atasnya untuk melihat tanda itu lebih dekat lagi. Setelah melihat dengan teliti, ia menggunakan telunjuknya meraba-raba permukaan dinding yang dinodai oleh gambar itu. dan berkata.

"Nona Spuw, menurut pendapatku ini bukan tapak tangan Hek-tok-ciang Auwyang Tek! Biarpun dilakukan dengan pukulan Iweekang yang hebat bukan main, namun hitamnya karena hangus, bukan karena racun Hek-tok-ciang."

"Dia manusianya atau bukan, bagiku sama saja. Ayah telah lenyap tak berbekas dan ini terjadi di daerah utara yang katanya aman terlindung! Ah, aku menyesal sekali!" Tak tertahan lagi Lee Ing mengusap air mata yang menitik turun dari matanya.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kecewanya, juga gelisahnya. Jauh-jauh ia menjelajah dari selatan ke utara untuk menemui ayahnya. Siapa tahu begitu ia tiba di tempat ayahnya, orang tua itu hilang secara penuh rahasia dan aneh!

"Aku menyesal sekali, nona. Akan tetapi aku bersumpah akan mencari ayahmu sampai dapat, biar untuk itu aku harus berkorban jiwa!" Kata-kata yang bersemangat dari pemuda ini kembali agak menghibur hati Lee Ing. Membuat gadis ini teringat bahwa tidak selayaknya kalau dia menyalahkan sebab kehilangan ayahnya kepada pemuda ini atau, siapapun juga yang berada di sini. Ia tahu bahwa orang-orang utara ini bersama Tiong-gi-pai yang menyelamatkan ayahnya dari tangan Tok-ong Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya, dan tahu pula bahwa tak mungkin kalau orang-orang utara menyembunyikan ayahnya dengan jalan kekerasan karena ia maklum bahwa ayahnya masih tidak beres ingatannya.

Kehendak ayahnya sendiri untuk hidup di atas sungai dan Siok Bun sudah menaruh penjaga-penjaga. Akan tetapi apa sih artinya penjaga-penjaga macam itu? Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Siok Bun tadi, siapa tahu kalau ayahnya memang sengaja pergi dari situ dan tidak ada yang menculiknya? Akan tetapi tanda tapak tangan itu? Tak mungkin ayahnya yang membuatnya. Untuk apa?

"Tanpa tenaga Hek-tok-ciang, kiranya orang macam Auwyang Tek tak dapat melakukan pukulan yang menghanguskan dinding. Akan tetapi siapa tahu? Selain bangsat she Auwyang itu, siapa lagi yang sudi meninggalkan tanda tapak tangan hitam? Saudara Siok Bun. maafkan semua sikapku tadi. Aku tidak seharusnya mencurigaimu. Biarlah aku akan mencari ayah dan terima kasih atas kesediaanmu tadi. Sampai bertemu lagi!" Gadis itu berkelebat keluar dan nampaknya seperti hendak menceburkan diri ke dalam air, karena melompat begitu saja ke air.

Siok Bun cepat mengejar dan ia menjadi melongo melihat Lee Ing sudah jauh meninggalkan perahu besar, mendayung perahu kecil tadi dengan kecepatan yang sukar dipercaya. Hebat, pikirnya. Kiranya Lee Ing juga sudah mendapat kemajuan luar biasa. Gerakannya tadi, dan cara dia mendayung itu. berlipat ganda kalau dibandingkan dengan dahulu.

Ia hanya dapat melihat betapa gadis itu sudah sampai di darat, melompat dan berkelebat menghilang. Ia berdiri bengong sampai beberapa lama, merasa menyesal sekali mengapa hanya demikian pendek waktu pertemuannya dengan gadis yang sudah merampas hatinya, dan lebih menyesal lagi mengapa kebetulan terjadi hal yang amat tidak menyenangkan, yaitu kehilangan Souw-taihiap.

"Dasar aku yang sial," gerutunya seorang diri. "Akan tetapi jangan kau khawatir, Lee Ing. Aku akan mencari Souw-locianpwe sampai dapat, biar ke neraka sekalipun, akan kukejar!" Dengan gemas Siok Bun lalu memekik memberi tanda kepada para penjaga untuk datang membawa perahu kecil, dan maki-makian sudah siap di bibirnya bagi para penjaga yang dianggapnya kurang hati-hati dan tolol itu, Setelah memaki-maki para penjaga yang ternyata sama sekali tidak tahu akan lenyapnya Souw Teng Wi, hari itu juga Siok Bun meninggalkan kota untuk mencari jejak Souw Teng Wi. Ia tidak menanti kedatangan ayahnya, hanya memberi tahu akan maksudnya kepada ibunya.

Ibunya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepalanya. "Kenapa kau tidak mengajak nona Souw datang menjumpai aku? Sekarang, setelah Souw-taihiap lenyap tanpa meninggalkan bekas, kau hendak mencari kemanakah? Siok Bun, kau tahu betapa lihainya orang-orang yang menghendaki nyawa Souw-taihiap. Kalau Souw-taihiap sendiri sampai terculik, kau akan berdaya apakah? Bukankah itu berarti mencari kecelakaan sendiri? Lebih baik menanti kembalinya ayahmu."

Siok Bun menggeleng-geleng kepalanya dengan tegas sambil berkata, "Tidak, ibu. Aku harus dapat mencari Souw-taihiap. Coba saja ibu bayangkan, Souw-taihiap lenyap dalam perlindungan dan penjagaan kita. Bukankah itu berarti kita akan mendapat muka buruk sekali dari Souw-siocia (nona Souw)? Baiknya nona Souw berpemandangan luas dan berhati mulia, kalau tidak apakah dia tidak akan menuntut kepada kita? Selain itu, orang menculik Souw Laihiap sama sekali tidak memandang muka kita, malah boleh dibilang dia atau mereka itu menghina kita. Apakah kita harus tinggal diam saja, ibu? Kalau bukan anak yang pergi mencari dan menebus hinaan itu, siapa lagi?" Dasar Ang-liang-ci Tan Sam Sam Nio juga seorang pendekar wanita yang berjiwa gagah perkasa, tentu saja mendengar pendirian puteranya ini, hilang keraguan dan kecemasan hatinya, terganti oleh rasa bangga akan kegagahan puteranya. Akan tetapi selain bangga, ada pula perasaan lain yang membuat nyonya ini menatap wajah putera tunggalnya dengan tajam penuh selidik.

"Bun-ji, belum berubahkah perasaan hatimu semenjak empat tahun yang lalu? Agaknya tepat dugaan ayahmu!" Siok Bun memandang ibunya dan kulit mukanya berubah merah sekali, akan tetapi ia masih berpura-pura dan bertanya,

"Apa maksudmu, ibu?" "Kau mencinta nona Souw!"

Sebagai anak tunggal, Siok Bun amat dimanja oleh ibunya sejak kecil. Tidak demikian dengan ayahnya yang selalu bersikap keras berdisiplin. Oleh karena ini, hubungan Siok Bun dengan ibunya jauh lebih erat dan tidak ada rahasia hatinya yang ia simpan dari ibunya. Sekarangpun, mengenai perasaan hatinya, ia berterus terang.

"Agaknya demikianlah, ibu. Entah bagaimana, aku selalu tertarik oleh nona Souw, merasa suka dan kasihan sekali. Mungkin karena rasa kagumku

terhadap ayahnya, atau. entahlah."

Ibunya tersenyum. "Sayang aku tidak bertemu dengan dia, akan tetapi puteri seorang pahlawan besar seperti Souw-taihiap tentulah seorang gadis yang baik. Jangan gelisah, Bun-ji. soal perjodohanmu, akan kubicarakan dengan ayahmu kalau dia "pulang."

Wajah Siok Bun makin merah lagi. "Paling perlu sekarang mencari jejak Sou-taihiap, ibu. Soal itu...

terserah kepada ayah bunda!"

Setelah mempersiapkan segala keperluannya, Siok Bun minta diri dari ibunya dan berangkat dan melakukan penyelidikan untuk mencari Souw Teng Wi yang lenyap secara aneh itu. Ia harus bisa mendapatkan kembali Souw Teng Wi, kalau dia ingin terpandang oleh Lee Ing, gadis yang telah mencuri hatinya. Adanya gadis itu bukan sekali-kali menjadi sebab utama akan usaha Siok Bun mencari Souw Teng Wi. Andaikata di sana tidak ada Lee Ing, tetap saja pemuda yang berhati baik dan bersemangat besar ini akan pergi mencari Souw Teng Wi, pahlawan yang amat dikaguminya.

Kita tinggalkan dulu pemuda perkasa ini dan mari kita ikuti perjalanan Souw Lee Ing yang cepat keluar dari kota raja menuju ke selatan, untuk mengejar orang yang mungkin melarikan ayahnya, juga untuk mencegat datangnya rombongan Auwyang Tek kalau saja pemuda putera menteri durna itu belum tiba lebih dulu.

"Bukankah kau Souw-lihiap.   ?"

Souw Lee Ing terkejut mendengar teguran ini dah cepat ia menengok. Orang yang menegurnya adalah seorang laki-laki berjenggot berusia hampir lima puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah. Melihat laki-laki ini, Lee Ing segera teringat akan pengalamannya ketika untuk pertama kali ia datang ke pedalaman bersama kakeknya.

"Paman Lo Houw, kau di sini ?" serunya girang. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Lee Ing

berpisah dari Lo Houw dan Haminto Losu ketika ia dibawa pergi oleh Bu Lek Hwesio (baca jilid pertama). Dan gadis ini sekarang sedang melakukan pengejaran terhadap orang-orang yang telah menculik ayahnya. Ataukah ayahnya itu memang sengaja melarikan diri? Hal ini masih menjadi pertanyaan baginya dan ia baru saja keluar dari kota raja utara menuju ke selatan. Baru tiba di sebelah utara kota Paoting ia bertemu dan ditegur oleh Lo Houw ini.

"Syukur sekali kau dalam keadaan selamat, Souw-lihiap," kata Lo Houw, terharu dan benar nampak girang kekali. Semenjak gadis puteri Souw-taihiap ini dibawa lari Bu Lek Hwesio, Lo Houw mencari kemana-mana namun tak pernah mendengar jejak gadis ini.

"Paman Lo Houw, kong-kong di mana? Apakah dia baik-baik saja?"

"Kong-kongmu sudah kembali ke utara, Souw-lihiap, mari kita rayakan pertemuan ini! Kita minum- minum sambil mengobrol. Alangkah banyaknya yang akan kita bicarakan."

Lee Ing tak dapat menolak karena ia memang sudah lapar, pula ia bisa mempercayai orang ini dan siapa tahu kalau-kalau Lo Houw yang banyak pengalaman ini akan dapat membantunya mencari jejak ayahnya. Mereka lalu berjalan cepat memasuki kota Paoting dan masuk ke dalam sebuah rumah makan. Lo Houw memesan makanan dan minuman.

"Di sini cukup berbahaya, sekarang banyak sekali mata-mata dari selatan berkeliaran," bisik Lo Houw. Lee Ing tersenyum, mengeluarkan pedangnya dan menaruh pedang itu di atas meja didepannya.

"Tak usah khawatir, siapa sih berani mengganggu kita?" katanya. Lo Houw tersenyum pahit. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Lee Ing sekarang jauh sekali bedanya dengan Lee Ing lima tahun yang lalu. Dia mengira bahwa Lee Ing masih sama dengan dulu, memiliki kepandaian ilmu silat cukup lihai, namun sama sekali belum boleh dipakai menjagoi di daerah ini.

Mulailah mereka bercakap-cakap, menuturkan pengalaman masing-masing. Akan tetapi Lee Ing tidak menceritakan bahwa dia telah menjadi ahli waris ilmu-ilmu peninggalan Bu-Beng Sih-Kun dl Gua Siluman, hanya menceritakan bahwa ia tadinya telah bertemu dengan ayahnya dan bahwa baru saja ia pergi ke Peking untuk menjumpai ayahnya yang bersembunyi dari kejaran kaki tangan menteri durna di sana. Akhirnya ia berkata,

"Celakanya, terjadi hal yang amat hebat. Ketika aku tiba di tempat persembunyian ayah, ternyata ayah telah lenyap secara aneh sekali. Entah ada yang menculiknya, entah ayah pergi atas kehendak sendiri. Orang tua yang malang itu selalu tidak tenteram pikirannya, terlalu amat menderita

sejak berpisah dari ibu...." Lee Ing menjadi merah mukanya dan sepasang matanya yang bening menjadi basah Lo Houw mengangguk-angguk.

"Sudah banyak bagian ceritamu yang kudengar," katanya. "Aku-pun mendengar bahwa Souw-taihiap berada di Peking, akan tetapi tempat tinggalnya demikian dirahasiakan sehingga aku sendiri yang ingin sekali bertemu dengan beliau, tidak berhasil mendapatkan tempat itu. Sekarang beliau ada yang menculik, sungguh aneh! Hal ini mengingatkan daku akan dua orang aneh yang kutemui di luar kota ini."

"Dua orang aneh? Siapa dan di mana? Apa hubungannya dengan lenyapnya ayah?"

"Aku tidak dapat memastikan apakah ada hubungannya. Akan tetapi aku mendengar mereka berdua menyebut-nyebut nama Souw-taihiap, dan berhenti bicara ketika aku mendekat." "Coba ceritakan yang jelas, paman Lo Houw."

Lo Houw lalu menuturkan pengalamannya. Dia masih tetap si harimau tua yang berwatak gagah, pendekar yang selalu mengulurkan tangan kepada siapapun juga yang membutuhkan pertolongan darinya. Selagi ia kebingungan mencari-cari di mana kiranya orang yang ia puja, Souw-taihiap, berada, Lo Houw tiba di daerah selatan kota raja.

Ia mendengar di sebuah dusun dekat kota Paoting hidup seorang tuan tanah yang amat keji, yang menjalankan kejahatan dan pemerasan tenaga ratusan orang kanak-kanak yatim piatu korban perang yang lalu. Dengan hati panas Lo Houw menuju ke tempat itu, akan tetapi ketika ia tiba di luar kota Paoting, di sebuah hutan kecil, ia menemui sesuatu yang membuat ia menunda rencana memberi hajaran kepada tuan tapah itu.

Kejadiannya sudah sepekan yang lalu. Ketika ia berjalan cepat, ia melihat dua orang, seorang laki-laki muda tampan bersama seorang wanita cantik, berjalan bersama menuju ke sebuah kelenteng rusak, kelenteng kuno yang tidak dipakai lagi, yang berada di dalam hutan kecil itu. Karena merasa curiga, dengan hati-hati sekali Lo Houw mengikuti mereka, la merasa malu untuk mengintai, maka ia hanya mendengarkan dari luar jendela yang penuh sarang laba-laba. Tiba-tiba ia mendengar suara wanita itu,

"Souw Teng Wi si jahanam gila itu amat lihai, aku khawatir kau takkan dapat menang."

"Tak usah takut, ibu. Dengan kepandaian yang kumiliki sekarang, biar ada dua orang Souw Teng Wi aku tidak gentar. Akan tetapi apakah betul dia berada di perahu seperti kau katakan tadi?"

"Sssttt, jangan banyak bicara. Kau lihat saja sendiri nanti."

Mendengar ini sudah cukup bagi Lo Houw. Ia dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang lihai, kalau tidak demikian mana berani menghadapi Souw Teng Wi? Maka diam-diam ia lalu pergi dari situ dan cepat-cepat melakukan perjalanan ke Peking. Akan tetapi, tidak mudah mencari perahu yang dimaksudkan pemuda itu. Ia sudah menyusuri tepi sungai akan tetapi tidak melihat perahu yang ditumpangi Souw-taihiap. Akhirnya ia putus asa dan kembali ke selatan di mana ia berjumpa dengan Souw Lee Ing.

"Nah, demikianlah ceritanya," kata Lo Houw kepada Lee Ing sambil menghirup araknya. "Entah benar-benar mereka yang menculik ayahmu, entah bukan."

Lee Ing mengerutkan keningnya. Ia kecewa karena urusannya menjadi bertambah ruwet. Kalau sekiranya Lo Houw menceritakan bahwa Auwyang Tek campur tangan dalam hal ini, ia akan merasa lebih lega karena mudah mengetahui siapa yang menculik ayahnya. Akan tetapi pemuda dan wanita itu, siapakah mereka?

"Bagaimana macamnya pemuda itu? Dan bagaimana pula wanitanya?" tanyanya penuh perhatian.

"Pemudanya tampan, matanya liar, wanitanya setengah tua, masih cantik, lincah dan gerakannya gesit bukan main, hijau pakaiannya dan..."

"Celaka..!" Lee Ing menahan seruannya dan bangkit berdiri sambil menggenggam gagang pedangnya. Tak salah lagi, wanita itu tentu Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, Si Kupu-Kupu Terbang! Dan pemuda itu, yang memanggil ibu kepada Yap Lee Nio, siapa lagi kalau bukan Sim Hong Lui? Kalau ibu dan anak itu mencari dan memusuhi ayahnya, itu tidak aneh karena mereka tentu hendak membalas kematian ayah Sim Hong Lui, yaitu bajak laut Siang-pian Hai-liong Sim Kang. Tak salah lagi, tentu mereka. Akan tetapi, tak mungkin. Mana bisa Hui-ouw-tiap dan anaknya pemuda dogol itu menculik ayahnya? Tak mungkin sama sekali. Teringat akan ini Lee Ing. lemas lagi dan kembali ia duduk, menarik napas berkali-kali. Melihat nona itu bangkit berdiri, sikapnya menakutkan, lalu bibirnya bergerak-gerak kemudian duduk kembali, Lo Houw menjadi terheran.

"Apakah kau mengenal mereka, lihiap?" Lee Ing mengangguk.

"Mereka tentu Hui-ouw-tiap dan puteranya. Memang mereka itu musuh-musuh ayah. Akan tetapi tidak mungkin mereka dapat menculik ayah, kepandaian mereka tidak seberapa"

"Ah, bagaimana kau bisa bilang begitu, lihiap? Gerakan mereka gesit dan ringan sekali, tanda bahwa ilmu kepandaian mereka jauh di atas tingkatmu atau tingkatku."

Lee Ing tersenyum. Ia tidak menyalahkan Lo Houw sampai berkata demikian karena orang tua ini memang tidak tahu sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian ayahnya dan tidak tahu pula bahwa dia bukanlah Lee Ing lima tahun yang lalu.

"Betapapun juga, sikap mereka memang mencurigakan. Tiada salahnya kalau kita mencoba-coba melihat ke dalam kelenteng itu, siapa tahu mereka masih berada di sana," kata Lee Ing.

Lo Houw mengangguk, memanggil pelayan dan membayar makanan dan minuman. Ia lalu mengajak Lee Ing keluar kota Paoting. Di tengah jalan Lee Ing teringat bahwa Hui-ouw-tiap tentu akan mengenalnya, padahal maksudnya mengikuti Lo Houw ini hanya ingin mencari keterangan bagaimana Hui-ouw-tiap bisa tahu bahwa ayahnya berada di atas perahu. Kalau Hui-ouw-tiap tahu, tentu ada orang lain yang tahu, dan Lo Houw dapat menyelidiki hal ini. Hui-ouw-tiap tidak mengenal Lo Houw, oleh karena ini sebaiknya kalau ia tidak melakukan perjalanan ke tempat itu bersama Lo Houw.

"Paman Lo Houw, kau beri tahu di mana letaknya kelenteng itu, kemudian kita berpisah agar jangan menimbulkan kecurigaan orang. Tolong kau selidiki dan pancing-pancing mereka, dari mana mereka bisa menduga bahwa ayah berada di atas perahu."

Lo Houw berpengalaman, ia mengangguk. Memang sebaiknya kalau ia melakukan penyelidikan sendiri sehingga kalau terjadi hal-hal "keras" ia tidak payah melindungi Lee Ing. Setelah menyatakan persetujuannya dan memberi gambaran di mana letak kelenteng yang ia maksudkan itu, Lo Houw lalu mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. berlari secepat mungkin menuju ke hutan itu. Lee Ing tersenyum geli melihat tingkah orang tua itu yang seakan-akan hendak memamerkan ilmu lari cepatnya kepadanya. Diam-diam ia merasa kasihan juga. Orang tua itu tentu tidak tahu bahwa dia bisa berlari lima kali lebih cepat dari pada larinya Lo Houw itu.

Lee Ing tidak mengejar terlalu cepat. Memang ia sengaja menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri, oleh karena ia tahu bahwa kalau Hui-ouw-tiap yang sudah mengenalnya melihat ia berada di situ, tentu sukar untuk mencari rahasia nyonya itu, bagaimana nyonya itu dapat mengetahui tempat persembunyian ayahnya. Diam-diam ia mengingat-ingat cerita Lo Houw di bagian ucapan Sim Hong Lui yang menyatakan bahwa dengan kepandaiannya yang sekarang dimiliki, pemuda itu tidak takut menghadapi ayahnya, la merasa heran. Seingatnya, ilmu kepandaian Sim Hong Lui rendah saja, terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahnya. Malah pemuda ini sendiripun sudah mengetahui akan hal ini, karena ketika Souw Teng Wi mengamuk di perahu, pemuda itupun hampir menjadi korban seperti ayahnya yang tewas. Kalau tidak ada apa-apanya, tak mungkin pemuda itu berani mengucapkan kala-kata itu di hadapan ibunya lagi. Padahal ibunya lihai, jauh lebih lihai dari pemuda itu.

"Tentu dia belajar lagi." pikir Lee Ing dan ia tidak menyangkal adanya kemungkinan ini. Dahulupun ketika ia bertemu dengan pemuda itu, apa sih kepandaiannya? Dibandingkan dengan Sim Hong Lui, ia kalah jauh. Sekarang, kurang lebih lima enam tahun kemudian, ia telah mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukan tidak mungkin kalau daiam waktu selama itu Sim Hong Lui juga mewarisi kepandaian tinggi.

Tiba-tiba Lee Ing sadar dari lamunannya dan cepat ia menyelinap di balik rumpun tetumbuhan. Pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki orang berlari cepat mempergunakan ginkang yang istimewa. Benar saja dugaannya, tak lama kemudian datang dua orang kakek yang berlari cepat laksana terbang melalui tempat itu. Lee Ing memperhatikan.

Dua orang kakek itu sudah tua-tua sekali, tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun. Yang seorang adalah kakek-kakek tua. yang buntung tangan kirinya, tinggi kurus tubuh tegak, pakaian putih tambal-tambalan. Orang ke dua bermuka hitam pula, mukanya kerut-merut buruk sekali, memegang tongkat ular. Keduanya mempergunakan ilmu lari cepat yang jarang tandingannya Dari cara mereka berlari ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh silat yang sakti.

Selama hidupnya belum pernah Lee Ing melihat dua orang kakek ini. Akan tetapi melihat keadaan jasmani mereka, nona ini teringat akan dua orang yang ia temui bertengkar dengan Siok Beng Hui, yaitu Gak Seng Cu si tosu berpedang dan Pek-Ke Cui si muka kodok yang berpedang ular. Sekarang kakek buruk, yang ia mendengar dahulu disebut Im-Kan Hek-mo (Iblis Hitam Akhirat) dan bukankah si kakek buntung itu guru Cak Seng Cu yang berjuluk Tok-pi Sin-kai Si Pengemis Lengan Satu?

Berdebar dada Lee Ing. Dua orang kakek ini juga mencari ayahnya, bukan untuk memusuhi ayahnya, melainkan untuk mencari tahu perihal Bu-Beng Sin-Kun, musuh lama mereka Ilmu silat ayahnya yang aneh telah sampai di telinga mereka dan tahulah mereka bahwa ayahnya mempelajari ilmu silat dari BuBeng Sin-Kun. Tadinya ia hendak mengikuti dua orang kakek itu karena ia berpikir bahwa kalau dua orang kakek ini yang menculik ayahnya, masih tidak aneh.

Dua orang kakek ini memiliki kepandaian tiriggi, setingkat dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, tidak kalah lihainya oleh Tok-ong Kai Song Cinjin. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara kakek tangan buntung, "Kita harus cepat-cepat, orang she Souw itu banyak musuhnya. Jangan sampai kita didahului orang!"

Mendengar ucapan ini dan melihat bahwa kakek-kakek itu tidak menuju ke dalam hutan kecil melainkan menuju ke utara, Lee Ing mengurungkan niatnya melakukan pengejaran. Kenyataan ini membuktikan bahwa dua orang kakek itu bukan yang menjadi sebab lenyapnya ayahnya. Mereka memang bermaksud menculik ayahnya, akan tetapi jelas bahwa maksud itu belum tercapai.

Adapun dua orang kakek itu betul-betul mengerahkan tenaga karena kini mereka berkelebat lenyap dengan kecepatan angin! Diam-diam Lee Ing kagum sekali dan mengaku bahwa ilmu lari cepat dua orang kakek tua itu benar-benar jarang tandingannya. Selagi ia termangu-mangu melihat ke-jurusan lenyapnya dua orang kakek sakti itu, tiba-tiba ia mendengar pekik dari dalam hutan kecil yang hendak ia masuki. Mendengar pekik kesakitan itu, Lee Ing cepat berlari memasuki hutan. Dari jauh ia melihat bangunan kelenteng kuno yang dimaksudkan oleh Lo Houw. Akan tetapi ia segera menuju ke kelenteng karena perhatiannya tertarik oleh seorang hwesio yang sedang berjongkok, mengguncang-guncangkan tubuh seorang laki-laki yang rebah di tanah sambil bertanya berkali-kali.

"Siapa melukaimu? Hayo katakan, siapa melukaimu! Tahukah kau di mana adanya Souw Teng Wi ?" Hwesio itu mengguncang-guncang terus, akan tetapi tubuh orang yang menggeletak itu kaku

tak bergerak, kemudian terdengar ia berbisik lemah, "Pemuda tampan. " dan orang itu tak

dapat melanjutkan kata-katanya karena kepalanya rebah miring dan ia tidak bergerak lagi, mati!

Mendengar suara orang yang rebah di tanah itu, Lee Ing kaget bukan main. Cepat ia berlari mendekati. Benar dugaan dan kekhawatirannya. Orang itu bukan lain adalah Lo Houw, kini sudah menjadi mayat!

"Paman Lo Houw.....!" Lee Ing cepat berlutut di dekat mayat itu. Hatinya menyesal bukan main mengapa ia tadi menyuruh Lo Houw melakukan penyelidikan sendiri. Kalau ia tahu bahwa di situ terdapat bahaya besar bagi keselamatan Lo Houw, tentu ia akan membayangi orang tua ini. Sekarang tahu-tahu Lo Houw sudah menjadi mayat. Benar-benar Lee Ing merasa amat kecewa dan menyesal. Saking sedihnya, ia sampai lupa kepada hwesio gundul yang tadi mengguncang-guncang tubuh Lo Houw.